kualitas laba dan pengaruhnya terhadap keputusan investasi

advertisement
Tahun XXV, No. 2 Agustus 2015
Jurnal Ekonomi dan Bisnis
KUALITAS LABA DAN PENGARUHNYA TERHADAP
KEPUTUSAN INVESTASI
Puput Tri Komalasari | I Gede Adi Permana
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga
ABSTRAK
Informasi laporan keuangan merupakan produk dari akuntansi perusahaan dan sistem pelaporan kepada
pihak eksternal yang telah diaudit serta menyajikan data kuantitatif tentang posisi keuangan perusahaan serta
kinerja perusahaan.Kualitas laba yang tinggi mampu memberikan informasi lebih banyak tentang
karakteristik kinerja keuangan perusahaan yang relevan dengan keputusan spesifik yang harus dibuat oleh
pengambil keputusan.Penelitian ini hendak menguji pengaruh kualitas laba yang diukur dengan discretionary
accrual terhadap pola investasi dan efisiensi investasi yang dilakukan perusahaan.Sampel penelitian ini
adalah 82 perusahaan manufaktur pada tahun 2009. Hasil penelitian ini menemukan bahwa kualitas laporan
keuangan tidak mempengaruhi tingkat investasi yang dilakukan oleh perusahaan baik perusahaan yang
sedang under ataupun over-investment. Peluang pertumbuhan dan ukuran perusahaan berpengaruh terhadap
keputusan investasi perusahaan.
Kata kunci: kualitas laba, discretionary accrual, investasi, over-investment, under-investment Abtract
ABSTRAK
Financial statement is a product of the company's accounting and reporting systems that present quantitative
data on the company's financial position and performance. High earnings quality provides more information
about the company's financial performance characteristics that are relevant to the specific decisions that must
be made by decision-makers. This research examined the effect of earnings quality as measured by
discretionary accruals on investment and its efficiency made by the company. The research sample was 82
manufacturing companies in 2009. The results of this study found that the quality of the financial statements do
not affect the level of investment made by the company both companies that are under or over-investment.
Opportunities for growth and firm size effect on corporate investment decisions.
Keywords: earnings quality, discretionary accrual, investment, over-investment, under-investment.
- 125 -
Tahun XXV, No. 2 Agustus 2015
Jurnal Ekonomi dan Bisnis
PENDAHULUAN
Aturan tentang pelaporan keuangan semakin marak
dilakukan—termasuk penerapan IFRS—guna
meningkatkan kualitas dan manfaat dari laporan
keuangan tersebut. Namun pertanyaan yang kemudian muncul adalah “Apa peran ekonomis dari
pelaporan keuangan?” (Ball, 2008). Perkembangan
penelitian tentang peran laporan keuangan dalam
pengambilan keputusan telah banyak dilakukan.
Dewasa ini penelitian lebih difokuskan pada kualitas
laporan keuangan dalam pengambilan keputusan.
Dechow, Ge dan Schrand (2010) menyatakan bahwa
kualitas laba yang lebih tinggi mampu memberikan
informasi lebih banyak tentang karakteristik kinerja
keuangan perusahaan yang relevan dengan keputusan
spesifik yang harus dibuat oleh pengambil keputusan.
Definisi ini mengimplikasikan bahwa kualitas laba
menjadi tidak bermakna ketika tidak dikaitkan
dengan konteks pengambilan keputusan.
Meskipun penelitian mengenai kualitas laba sudah
cukup banyak dilakukan, namun mayoritas penelitian tersebut menguji hubungan antara kualitas laba
dengan likuiditas saham, return serta asimetri informasi. Tidak banyak penelitian yang menguji pengaruh
kualitas laba terhadap keputusan investasi. Bushman
dan Smith (2001); Healy dan Palepu (2001); Lambert,
Leuz, dan Verrecchia (2007) menyatakan bahwa
semakin tinggi kualitas laba yang dilaporkan perusahaan seharusnya dapat meningkatkan efisiensi
investasi. Biddle and Hilary (2006) menemukan
bahwa perusahaan dengan kualitas laba yang tinggi
menunjukkan efisiensi investasi yang semakin tinggi.
mengenai kinerja perusahaan. Mekanisme pengendalian internal dan eksternal diperlukan untuk
meminimalisir asimetri informasi yang terjadi antara
prinsipal dan agen.
Informasi laporan keuangan merupakan produk dari
akuntansi perusahaan dan sistem pelaporan kepada
pihak eksternal yang telah diaudit serta menyajikan
data kuantitatif tentang posisi keuangan perusahaan
serta kinerja perusahaan. Sistem akuntansi keuangan
merupakan salah satu sarana untuk melakukan
pengendalian terhadap perusahaan. Salah satu tujuan
utama riset bidang akuntansi adalah untuk memberikan bukti mengenai peran sistem akuntansi finansial
dalam mengurangi masalah keagenan yang ditimbulkan oleh pemisahan fungsi antara manajemen dengan
pemilik, membantu alokasi sumber daya finansial
secara efisien ketika menghadapi peluang investasi
yang menjanjikan.Sistem akuntansi finansial yang
handal diyakini mampu membantu pengambilan
keputusan investasi yang efektif dan efisien.
Penelitian ini hendak menguji pengaruh kualitas laba
terhadap pola investasi dan efisiensi investasi yang
dilakukan perusahaan pada periode berikutnya.
Efisiensi investasi dapat tercipta melalui penurunan
asimetri informasi antara manajemen perusahaan
dengan pihak penyedia sumber dana eksternal
(kreditur ataupun investor). Kualitas laba yang tinggi
dapat membantu perusahaan untuk dapat memperoleh
tambahan modal untuk melaksanakan investasi yang
menguntungkan (yaitu investasi dengan NPV positif)
serta membantu menghindarkan investor dari
peristiwa adverse selection terhadap penerbitan
saham yang dilakukan oleh perusahaan.
Bushman dan Smith (2001) menjelaskan dari perspectif teori keagenan yaitu adanya asimetri informasi
antara manajemen perusahaan dengan outside investor
KERANGKA TEORI
Kualitas Laporan Keuangan
Bushman dan Smith (2001) meringkas 3 peran
laporan keuangan dalam mempengaruhi kinerja
ekonomi:
1) Informasi akuntansi keuangan dapat digunakan
oleh manajer dan investor untuk mengidentifikasi
proyek yang “baik” dan yang “buruk”.
2) Informasi akuntansi keuangan yang berkualitas
dapat menjadi mekanisme kontrol bagi manajer
untuk mengalokasikan sumberdaya pada proyekproyek yang memang bagus dan menghindari mis-
alokasi ke proyek-proyek yang sebenarnya
merugikan.
3) Pelaporan keuangan dapat menurunkan information uncertainty yang pada akhirnya dapat menurunkan cost of equity dan cost of debt.
Li dan Shroff (2010) menyatakan bahwa semakin
baik kualitas informasi akuntansi maka identifikasi
dan pemilihan proyek investasi akan lebih akurat
sehingga cost of capital perusahaan menjadi rendah
dan pada akhirnya mendorong pada pertumbuhan
perekonomian yang lebih cepat. Keduanya menemukan bahwa pertumbuhan ekonomi di negara yang
- 126 -
Tahun XXV, No. 2 Agustus 2015
Jurnal Ekonomi dan Bisnis
memiliki informasi akuntansi yang berkualitas lebih
cepat dibandingkan negara dengan kualitas informasi
yang lebih rendah. Jadi, secara tidak langsung,
kualitas informasi akuntansi memiliki pengaruh
terhadap pertumbuhan perekonomian.
Disclosure yang diterbitkan oleh perusahaan
disinyalir memiliki pengaruh terhadap perkembangan
investasi dan pasar modal.Semakin berkualitas
laporan keuangan yang disampaikan oleh emiten
mendorong pada peningkatan transparansi dan
likuiditas di pasar modal.
Terdapat beberapa proksi untuk mengukur kualitas
laporan keuangan. Beberapa peneliti menggunakan
indeks disclosure untuk menilai kualitas laporan
keuangan (Greenstein dan Sami, 1994; Welker, 1995;
Heflin, Shaw dan Wild, 2005). Beberapa peneliti
menggunakan earnings opacity sebagai indikator
kualitas informasi (Riahi-Belkoui, 2005;
Bhattacharya, Daouk, dan Welker, 2002).
Bhattacharya, Daouk dan Welker (2001) mendefinisikan earnings opacity sebagai ukuran seberapa besar
informasi angka laba perusahaan merefleksikan true
value-nya atau kinerja ekonomisnya yang secara
sifatnya tidak dapat diobservasi. Earnings opacity
yang rendah mengindikasikan tingginya kualitas
laporan keuangan dan kondisi ini akan mendorong
terciptanya aktivitas yang produktif dan akumulasi
modal, akuisisi keahlian serta transfer teknologi.
Implikasi dari earnings opacity: tinggi kualitas
laporan keuangan—sebagai hasil dari rendahnya
earnings opacity—secara tepat dan jujur menggambarkan output unit produktif perusahaan dan
mengurangi perilaku oportunistik oleh manajemen.
Earnings opacity terjadi sebagai akibat dari tindakan
insiders (yaitu manajer dan pemegang saham
pengendali) untuk melakukan manajemen laba guna
menutupi penyimpangan yang mereka lakukan dan
tindakan rent-seeking dari pekerja dan outsiders.
Belkaoui (2004) menemukan hubungan negatif
antara output per pekerja dan earnings opacity di 34
negara. Negara-negara dengan earnings opacity yang
rendah cenderung lebih produktif.
Kualitas Laba dan Alokasi Sumberdaya
Kualitas laba seringkali diukur dengan menggunakan
manajemen laba.Sedikit sekali penelitian yang
menunjukkan hubungan antara kualitas laba dengan
misalokasi sumberdaya.Healy dan Wahlen (1999)
menyatakan bahwa hanya sebagian kecil literatur
yang membahas tentang dampak atau konsekuensi
dari manajemen laba terhadap alokasi sumber daya.
Salah satu penelitian yang sedikit menyinggung
tentang alokasi sumber daya adalah penelitian Teoh
et. al (1998) yang menemukan bahwa manajemen
laba mendorong terjadinya IPO mispricing.
Penelitian lain yang dilakukan oleh Foster (1979),
Dechow et al. (1996) dan Palmrose et al. (2004)
menemukan bahwa pasar bereaksi negatif terhadap
pengungkapan informasi keuangan yang menyesatkan. Hal ini menunjukkan bahwa investor mulai
menyadari adanya manipulasi yang dilakukan oleh
manajemen perusahaan.Namun demikian, pada tahap
tertentu investor memiliki prediksi yang rasional
tentang besarnya manipulasi yang dilakukan perusahaan, bahkan bisa jadi investor tidak mampu
mengidentifikasi besarnya manipulasi yang dilakukan perusahaan sehingga investor bisa jadi bereaksi
negatif terhadap sebuah pengumuman yang pada
dasarnya tidak mengimplikasikan adanya misalokasi
sumber daya.
Manajemen Laba dan Keputusan Investasi
Dechow et al. (1996) menemukan bahwa salah satu
motivasi perusahaan untuk melakukan manajemen
laba adalah untuk menarik sumber pembiayaan
eksternal dengan biaya yang murah yang selanjutnya
digunakan untuk investasi barang modal. Manajer
yang memiliki peluang investasi yang menguntungkan namun menghadapi kendala finansial bisa jadi
memanipulasi labanya agar bisa memperoleh
pembiayaan eksternal dalam rangka mewujudkan
rencana investasi mereka. Namun, penelitian Dechow
et al (1996) tidak menunjukkan apakah investasi yang
dilakukan oleh perusahaan tersebut benar-benar
optimal.
Bar-Gill dan Bebchuk (2003) memprediksi bahwa
perusahaan yang memiliki kualitas laba yang buruk
seringkali melakukan investasi yang tidak efisien
karena perusahaan menyajikan kinerja keuangannya
lebih tinggi dari yang seharusnya dengan tujuan untuk
memperoleh pembiayaan yang lebih murah. Hal ini
dibuktikan oleh Wang (2006) yang menemukan
adanya over investment dalam R&D dan mergerakuisisi melalui saham pada perusahaan yang melakukan manajemen laba.
Kualitas Laba, Keputusan Investasi dan Efisiensi
Investasi
Penelitian ini menguji pengaruh kualitas laba
terhadap keputusan investasi sebagaimana penelitian
Biddle dan Hilary (2006) dan Verdi (2006) yang
memprediksi dan menemukan bahwa informasi
akuntansi yang lebih baik dapat mengurangi asimetri
- 127 -
Tahun XXV, No. 2 Agustus 2015
Jurnal Ekonomi dan Bisnis
informasi antara manajer dan penyedia dana eksternal
sehingga memungkinkan untuk meningkatkan
efisiensi investasi. Biddle dan Hilary (2006) menemukan bahwa ukuran kualitas laba akuntansi berpengaruh negatif terhadap sensitivitas investasi-arus
kas. Hal ini mengindikasikan bahwa batasan-batasan
finansial untuk berinvestasi akan menurun ketika
perusahaan menunjukkan kualitas laba yang tinggi.
Verdi (2006) menemukan bahwa kualitas akrual
berpengaruh negatif terhadap over-investment dan
under-investment.
Liang dan Wen (2007) mengemukakan hipotesis
bahwa semakin tidak reliabel laba akuntansi suatu
perusahaan akanberdampak pada keputusan investasi
yang tidak efisien baik dalam bentuk over-investment
maupun under-investment karena semakin buruk
kualitas laba akuntansi akan semakin tinggi tingkat
mispricing di pasar modal. Berdasarkan prediksi
Liang dan Wen (2007), maka keputusan investasi
perusahaan dengan tingkat discretionary accrual
yang besar menjadi kurang efisien. Ketidakefisienan
keputusan investasi yang diambil oleh perusahaan
METODE PENELITIAN
Pendekatan yang dilakukan dalam penelitian ini dapat
diklasifikasikan ke dalam pendekatan kuantitatif,
yaitu penelitian yang menitikberatkan pada pengujian
hipotesis. Data yang digunakan harus terukur dan
menghasilkan kesimpulan yang digeneralisasi, serta
menggunakan alat bantu statistik dalam melakukan
pengujian.
Variabel Penelitian
Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
1) Variabel Dependen
Variabel dependen yang digunakan dalam penelitian ini adalah besarnya investasi yang dilakukan
perusahaan.
2) Variabel Independen, terdiri dari:
a) Kualitas laba (ADA)
b) Over (Under) Investment(OverI)
c) Corporate governance yang diukur dengan
jumlah kepemilikan institusional (Gov)
3) Variabel Kontrol
Variabel kontrol yang bertindak sebagai variabel
independen antara lain:
a) Ukuran perusahaan
b) Market to book value
c) Variabilitas arus kas operasi σ(CFO)
berdampak pada kinerja keuangan perusahaan. Jadi,
perusahaan yang melakukan investasi cenderung
memiliki kinerja keuangan yang rendah ketika
mereka memiliki kualitas laba yang buruk pada saat
berinvestasi.
H1 : Kualitas laporan keuangan berhubungan negatif
terhadap over investment
H2 : Kualitas laporan keuangan berpengaruh negatif
terhadap under investment
Model Penelitian
Secara umum, model yang digunakan adalah:
Investmenti,t+1 = α + β1ADAi,t + β2ADAi,t * OverIi,t+1
+ β3 OverIi,t+1 +β4 Govi,t + Σγj Controlj,i,t + εi,t+1.
Keterangan:
ADA : kualitas laporan keuangan
OverI : over-investment
Gov
: corporate governance perusahaan
Control : variabel kontrol
d) Variabilitas penjualan σ(Sales)
e) Tangibility
Definisi Operasional Variabel
Berikut ini disajikan pengukuran untuk masingmasing variabel yang digunakan dalam penelitian ini.
1) Variabel Investasi diukur dengan menggunakan
jumlah capital expenditure setelah dikurangi
dengan penjualan aktiva tetap. Variabel ini dideflasi dengan total asset pada tahun sebelumnya.
2) Kualitas laporan keuangan diukur dengan menggunakan discretionary accrual.
Tong dan Miao (2011), untuk mengukur kualitas
laba mereka menggunakan berbagai proksi.
Proksi pertama yakni ADA (absolute value of the
performance-adjusted discretionary accruals)
mengacu pada model Kothari (2001). Model
Kothari mengontrol faktor kinerja perusahaan
(ROA) untukmemodifikasi model Modified
Jones's (1991). Model Modified Jones's mencoba
memperbaiki kelemahan model Jones yang hanya
menggunakan perubahan laba dengan menambahkan perubahan piutang untuk estimasi model.
Estimasi tersebut mengasumsikan bahwa semua
perubahan dalam penjualan kredit merupakan
manipulasi. ADA menangkap tindakan oportunis-
- 128 -
Tahun XXV, No. 2 Agustus 2015
Jurnal Ekonomi dan Bisnis
(yaitu operating cash flow dan leverage) menunjukkan semakin tinggi tingkat over-investment.
tik manajemen atas laporan keuangan sehingga
mengindikasikan akurasi laporan keuangan atas
kinerja operasi saat ini.Semakin tinggi nilai ADA
semakin rendah kualitas laba. ADA diperoleh dari
nilai absolut residual dari persamaan berikut:
(ΔSALEi,t – ΔARi,t)
1
– β2
+
TACCi,t = β0 + β1
ASSETi,t
ASSETi,t
PPEi,t
β3
+ β4 ROAi,t–1 + εi,t
ASSETi,t
Dimana :
TACCi,t = Total akrual perusahaan, yaitu laba sebelum
pos luar biasa (EBEI) dikurangi arus kas
operasi (CFO) dibagi total aset pada
perusahaan i dan tahun t.
ASSETi,t = Total aset perusahaan i pada tahun t.
ΔSALEi,t = Perubahan penjualan perusahaan i pada
tahun t.
ΔARi,t = Perubahan piutang perusahaan i pada
tahun t.
PPEi,t = Nilai dari property, plant, dan equipment
perusahaan i pada tahun t.
ROAi,t–1 = Return on asset perusahaan i pada tahun t-1
εi,t
= Error penelitian perusahaan i pada periode t
3) Over-investment merupakan kecenderungan
perusahaan melakukan over investasi. Penelitian
ini menggunakan karakteristik spesifik perusahaan
yang berhubungan erat dengan kecenderungan
terjadinya over-investment, yaitu likuiditas dan
tingkat leverage. Likuiditas diproksikan dengan
saldo kas yang dimiliki oleh perusahaan dengan
argumentasi bahwa perusahaan yang memiliki
saldo kas yang minim menunjukkan adanya
financial constraint, sedangkan perusahaan
dengan saldo kas yang besar cenderung melakukan
over-investment (Jensen, 1986). Tingkatleverage
juga mencerminkan tingkat under atau overinvestment. Perusahaan dengan tingkat leverage
yang tinggi mengalami ketergantungan pada utang
yang cukup besar dengan beban tetap yang tinggi
pula. Hal ini menyebabkan rendahnya tingkat
fleksibilitas perusahaan untuk melakukan investasi
dan perusahaan cenderung mengalami under
investment(Myers, 1977).
Langkah kedua adalah mentransformasi hasil
ranking tersebut menjadi angka yang berkisar
antara 0 (nol) dan 1 (satu).
Langkah terakhir untuk mengukur variabel OverI
adalah menghitung skor gabungan antara ranking
(yang telah ditransformasi) berdasarkan operating
cash flow dan leverage. Skor gabungan ini diperoleh dengan menggunakan rata-rata geometrik
dari kedua variabel.
2) Corporate governance diukur dengan menggunakan proporsi kepemilikan saham oleh institusional.
3) Variabel kontrol ukuran perusahaan diukur dengan
menggunakan Ln dari total asset, sedangkan
Tangibility diukur dengan menggunakan rasio
aktiva tetap dibagi dengan total asset. Variabilitas
arus kas operasi diukur dengan menggunakan
deviasi standar dari CFO selama 6 tahun terakhir,
dan variabilitas sales diukur dengan menggunakan
deviasi standar penjualan selama 4 tahun terakhir.
Populasi dan Sampel
Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah
seluruh perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek
Indonesia mulai tahun 2006 sampai dengan 2009.
Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah
perusahaan manufaktur. Periode penelitian ini adalah
tahun 2009 setelah kondisi pasar modal mengalami
penurunan akibat dampak dari krisis global yang
melanda Amerika Serikat.
Langkah pertama untuk mengukur tingkat overinvestmentadalah dengan meranking perusahaan
ke dalam desil yang didasarkan pada posisi kas
(operating cash flow) perusahaan dan leverage.
Sebelum di ranking ke dalam desil, leverage
dikalikan dengan minus 1 untuk menunjukkan
semakin tinggi kedua ranking variabel tersebut
- 129 -
Tahun XXV, No. 2 Agustus 2015
Jurnal Ekonomi dan Bisnis
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Deskripsi Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif
untuk menguji hipotesis. Penelitian ini menggunakan
tahun 2009 sebagai obyek penelitian dengan total
perusahaan manufaktur yang menjadi sampel
sebanyak 82 perusahaan. Berikut ini disajikan
deskripsi variabel penelitian yang digunakan.
Tabel 1. Statistik Deskriptif Variabel Penelitian
Variabel
Min.
Max.
Mean
Std.
Deviation
INVEST
ADA
OVERI
GOV
SIZE
MTB
STD_CFO
STD_SALES
TANGIBILITY
Valid N (listwise)
(0.0840)
0.0010
0.1000
11.4000
(0.1222)
0.0144
0.0169
0.0024
82
0.3232
0.3512
0.9487
99.0000
29.2600
57.4166
0.3610
0.8906
0.7855
0.0666
0.0661
0.5148
68.4706
23.5673
2.7927
0.0743
0.1888
0.3671
0.0764
0.0626
0.2337
20.9216
4.9207
7.6578
0.0602
0.1675
0.2081
bahwa perusahaan yang menjadi sampel penelitian
ini sangat bervariasi dari ketiadaan pemilik
institusional sampai perusahaan yang didominasi
kepemilikannya oleh institusi. Salah satu variabel
yang cukup menarik untuk diperhatikan adalah MTB
(market to book ratio) yang mencerminkan tingkat
peluang pertumbuhan perusahaan. Nilai minimum
dari MTB adalah – 0,1222. Adanya nilai minus ini
disebabkan oleh ekuitas negatif yang dimiliki
perusahaan sebagai akibat dari besarnya kerugian
operasional yang dialami perusahaan tersebut.
Nilai minimum dari variabel Investasi menunjukkan
angka negatif (– 0,0840) menunjukkan bahwa perusahaan tersebut tidak melakukan investasi, melainkan
melepas aset tetap yang dimilikinya. Variabel kualitas
laporan keuangan yang diukur dengan menggunakan
ADA dan deviasi standar dari CFO memiliki variasi
data yang paling kecil dibandingkan variabel lainnya.
Berdasarkan tabel 1.terlihat bahwa variabel yang
memiliki variasi paling besar adalah GOV dengan
kisaran nilai minimum sebesar nol (0) dan maksimum
sebesar 99%. Tingginya variabilitas ini menunjukkan
Pengujian Hipotesis
Pengujian hipotesis dilakukan dengan menggunakan
analisis regresi yang memasukkan adanya variabel
moderating OVERI. Berikut ini disajikan hasil
analisis regresi linier berganda.
Tabel 2. Hasil Analisis Regresi Berganda
Variabel
(Constant)
ADA
OVERI
GOV
SIZE
MTB
STD_CFO
STD_SALES
TANGIBILITY
ADA*OVERI
Unstandardized
Coefficients
Standardized
Coefficients
B
Std. Error
Beta
.224
-.234
-.057
-.001
-.004
.004
-.064
.051
.040
.093
.062
.293
.054
.000
.002
.001
.138
.051
.044
.548
0
-.192
-.175
-.164
-.286
.366
-.051
.112
.108
.041
Collinearity Statistics
t
3.642
-.798
-1.065
-1.662
-2.700
3.022
-.468
.999
.906
.171
Sig.
.001
.427
.290
.101
.009
.003
.641
.321
.368
.865
Tolerance
VIF
0
.165
.351
.978
.846
.648
.808
.755
.668
.163
0
6.060
2.849
1.022
1.182
1.543
1.238
1.325
1.498
6.138
Keterangan: Variabel Dependen: INVEST
Tabel 2.menunjukkan bahwa secara keseluruhan,
model yang digunakan dalam penelitian ini sudah
cukup baik. Hal ini ditunjukkan dengan nilai signifikansi F sebesar 0,001 lebih kecil dibandingkan derajat
kesalahan yang bisa ditolerir sebesar 5%. Disamping
itu, Model yang digunakan dalam penelitian ini memberikan kemampuan menjelaskan sebesar 31,6% yang
ditunjukkan oleh nilai R2. Sisanya, sebesar 68,4%
dijelaskan oleh variabel lain yang tidak dimasukkan
ke dalam model penelitian.
Berdasarkan hasil uji parsial (uji t) terlihat bahwa
variabel yang berpengaruh signifikan secara statistik
adalah variabel SIZE dan MTB,sedangkan variabel
yang lain tidak signifikan secara statistik, demikian
pula dengan OVERI yang menjadi variabel
moderating. Variabel SIZE berpengaruh negatif terhadap tingkat investasi yang dilakukan oleh perusahaan,
sedangkan MTB berpengaruh positif terhadap tingkat
investasi yang dilakukan perusahaan.
- 130 -
Tahun XXV, No. 2 Agustus 2015
Jurnal Ekonomi dan Bisnis
Pembahasan
Pengaruh Kualitas Informasi terhadap
Over-Investment
Guna menguji hipotesis pertama, indikator yang
digunakan adalah hasil gabungan antara β1 dan β2.
Hipotesis pertama menyatakan bahwa kualitas
laporan keuangan berpengaruh negatif terhadap
over-investment. Mengingat koefisien β2 menunjukkan besarnya pengaruh incremental dari
kualitas laporan keuangan dengan investasi ketika
terjadi over-investment, maka untuk menguji
pengaruh kualitas laporan keuangan dengan
investasi ketika over-investment adalah dengan
menjumlahkan koefisien utama dan dampak dari
interaksi (β1+β2). Jadi, hipotesis pertama diuji
dengan menggunakan kriteria bahwa (β1+β2) < 0
dan β2< 0 serta signifikan secara statistik.
Hasil pengujian menunjukkan bahwa β1+β2
menunjukkan nilai sebesar –2,544, namun nilai
koefisien β2 bernilai positif 0,093. Hal ini menunjukkan bahwa hipotesis pertama tidak berhasil
dibuktikan dalam penelitian ini. Disamping arah
yang berbeda, analisis regresi menunjukkan
bahwa masing-masing koefisien tidak signifikan
secara statistik.
Jadi, hasil penelitian ini tidak berhasil menemukan
pengaruh kualitas laporan keuangan terhadap
tingkat investasi perusahaan yang mengalami
over-investment. Dengan kata lain bahwa tingkat
over-investment perusahaan dipengaruhi oleh
faktor lain selain kualitas laporan keuangan.
Kualitas laporan keuangan lebih dipengaruhi oleh
keinginan manajemen untuk menampilkan kinerja
terbaiknya terutama kinerja profitabilitasnya.
Pengaruh Kualitas Informasi terhadap
Under-Investment
Penelitian ini menguji pengaruh kualitas laba
terhadap keputusan investasi sebagaimana
penelitian Biddle dan Hilary (2006) dan Verdi
(2006) yang memprediksi dan menemukan bahwa
informasi akuntansi yang lebih baik dapat
mengurangi asimetri informasi antara manajer dan
penyedia dana eksternal (kreditur/ investor)
sehingga memungkinkan untuk meningkat-kan
efisiensi investasi.
Pengaruh kualitas informasi terhadap underinvestment dapat dilihat dari nilai koefisien β1.
Jika nilai β1>0 dan signifikan secara statistik maka
dapat disimpulkan bahwa kualitas laporan
keuangan mempengaruhi tingkat investasi
- 131 -
perusahaan dan investasi tersebut cenderung
bersifat under-investment. Interpretasi ini didasarkan pada kehadiran variabel OverI yang menunjukkan jika OverI meningkat menunjukkan overinvestment dan jika menurun menunjukkan
under-investment.
Penelitian ini menggunakan discretionary acrual
untuk mengukur kualitas informasi. Semakin
besar nilai dari ADA maka kualitas informasinya
semakin rendah. Berdasarkan hasil uji hipotesis
diketahui bahwa terdapat hubungan negatif antara
ADA dengan tingkat investasi. Artinya, semakin
tinggi kualitas informasi maka tingkat investasi
juga semakin tinggi. Namun penelitian ini tidak
mampu menunjukkan pengaruh yang kuat antara
kualitas informasi dengan tingkat investasi. Hal ini
ditunjukkan dengan nilai signifikansi yang lebih
besar dari 5%.
Penelitian ini tidak berhasil menunjukkan
pengaruh positif antara kualitas informasi dengan
tingkat investasi. Pengaruh positif menunjukkan
bahwa kualitas informasi mempengaruhi tingkat
investasi bagi perusahaan yang mengalami kecenderungan under-investment. Hal ini bisa jadi
disebabkan oleh proksi kualitas informasi yang
belum cukup merepresentasikan kualitas informasi yang dengan mudah bisa diamati dan
dianalisis oleh pihak manajemen dan investor.
Disamping itu, keputusan investasi bisa jadi lebih
mempertimbangkan free cash flow yang dimiliki
perusahaan dan bukan pada kualitas laporan
keuangan.
Pengaruh Corporate Governance terhadap
Investasi
Hasil uji hipotesis menunjukkan bahwa corporate
governance yang diukur dengan menggunakan
tingkat kepemilikan institusional berhubungan
negatif dengan investasi dan tidak signifikan
secara statistik. Hal ini menunjukkan bahwa
kecenderungan yang terjadi bahwa ketika tingkat
kepemilikan institusional cenderung meningkat,
maka tingkat investasi yang dilakukan perusahaan
semakin lebih prudent karena tingkat investasi
yang mereka lakukan akan dimonitor oleh pemegang saham institusional.
Namun hasil yang tidak signifikan ini menunjukkan bahwa tidak semua aktivitas investasi
termonitor oleh pemegang saham mengingat
rapat dengan pemegang saham jumlahnya sangat
terbatas.Investasi yang nilainya tidak cukup
material dan strategis bisa diputuskan langsung
Tahun XXV, No. 2 Agustus 2015
Jurnal Ekonomi dan Bisnis
oleh manajemen, seperti pelepasan aset tetap,
penggantian equipment dan sejenisnya.
Pengaruh Ukuran Perusahaan terhadap
Investasi
Semakin besar ukuran perusahaan maka
perusahaan memiliki kemampuan untuk mengembangkan usahanya dan melakukan investasi yang
lebih banyak dibandingkan dengan perusahaan
yang ukurannya kecil. Namun, hasil penelitian ini
menemukan bahwa ukuran perusahaan berpengaruh negatif terhadap tingkat investasi perusahaan.
Hasil ini signifikan secara statistik. Artinya bahwa
semakin besar ukuran perusahaan maka tingkat
investasi yang dilakukannya semakin rendah.
Hasil penelitian ini bisa jadi berhubungan dengan
siklus bisnis perusahaan. Ketika perusahaan sudah
semakin besar dan mendekati fase mature, maka
peluang investasi yang diambil tidak sebanyak
ketika perusahaan berada pada fase growth.
Perusahaan yang sudah memiliki skala usaha yang
besar lebih fokus untuk mempertahankan pangsa
pasar melalui inovasi produk dan service excellent,
dan tidak secara agresif melakukan investasi untuk
mengembangan perusahaan.
Pengaruh Peluang Pertumbuhan terhadap
Investasi
Penelitian ini menggunakan rasio market to book
(MTB) untuk mengukur tingkat peluang pertumbuhan dimata investor. Semakin tinggi nilai MTB
maka peluang pertumbuhan yang dihadapi oleh
perusahaan ke depan juga semakin besar.
Penelitian ini menemukan bahwa peluang pertumbuhan berpengaruh positif terhadap tingkat
investasi yang dilakukan perusahaan. Hasil ini
konsisten dengan penelitian-penelitian sebelumnya. Semakin besar peluang pertumbuhan perusahaan, maka tingkat investasi yang dilakukan oleh
perusahaan juga semakin besar.
Pengaruh Variasi Arus Kas Operasi dan
Penjualan terhadap Investasi
Variasi arus kas operasi (CFO) mencerminkan
tingkat stabilitas kas yang dimiliki oleh perusahaan. Semakin tinggi variabilitas CFO mengindikasikan bahwa perusahaan memiliki risiko yang
tinggi sehingga akan mempengaruhi tingkat
investasi yang dilakukannya.
Hasil penelitian ini menemukan bahwa variabilitas CFO memiliki koefisien regresi yang negatif
namun tidak signifikan secara statistik. Hal ini
mencerminkan bahwa perusahaan tidak semata-
- 132 -
mata mengandalkan arus kas operasinya untuk
melakukan investasi. Terdapat sumber-sumber
dana lainnya untuk meningkatkan investasi,
diantaranya adalah dari kreditur maupun investor
lainnya.
Variabilitas sales yang mengukur kinerja
penjualan perusahaan ditemukan tidak berpengaruh secara signifikan terhadap tingkat investasi.
Variabilitas sales yang tinggi mengindikasikan
risiko yang tinggi karena ketidakstabilan profitabilitas perusahaan. Namun demikian, tingginya
variabilitas sales tidak semata-mata menurunkan
tingkat investasi karena sumber dana eksternal
lainnya yang tersedia bagi perusahaan.
Pengaruh Tangibility terhadap Investasi
Tangibility menunjukkan besarnya aset tetap yang
dimiliki perusahaan. Semakin besar tangibility
memberikan indikasi bahwa nilai aset tetap yang
dimiliki perusahaan juga semakin besar.
Hasil penelitian ini menemukan bahwa tingkat
tangibility berhubungan positif namun tidak signifikan secara statistik. Hubungan positif ini bisa
dijelaskan bahwa semakin besar aset tetap yang
dimiliki perusahaan maka perusahaan memiliki
peluang yang lebih besar untuk menjaminkan aset
tetapnya guna memperoleh peningkatan kapasitas
utang. Besarnya utang yang bisa diperoleh perusahaan memberikan peluang bagi perusahaan untuk
meningkatkan investasinya.
Namun demikian, hasil penelitian ini tidak
berhasil menunjukkan pengaruh yang kuat antara
tangibility dengan tingkat investasi.Hal ini bisa
jadi dipengaruhi oleh kebijakan pendanaan yang
diambil oleh perusahaan. Mayoritas perusahaan di
Indonesia memilih menggunakan sumber dana
internal terlebih dahulu untuk mendanai investasinya sebelum memilih untuk menggunakan sumber
dana eksternal (utang).
Jurnal Ekonomi dan Bisnis
Tahun XXV, No. 2 Agustus 2015
SIMPULAN DAN SARAN
perusahaan, dan pertumbuhan penjualan berpengaruh
positif terhadap investasi perusahaan. Hasil ini sangat
mungkin dipengaruhi oleh siklus bisnis perusahaan
serta kemudahan bagi perusahaan untuk memperoleh
sumber dana alternatif selain perusahaan.
Simpulan
Tujuan utama penelitian ini adalah untuk menguji
pengaruh kualitas informasi terhadap tingkat efisiensi
investasi. Lebih lanjut, penelitian ini juga menguji
asosiasi antara over dan under-investment dengan
kualitas informasi.
Penelitian ini menemukan bahwa kualitas laporan
keuangan tidak mempengaruhi tingkat investasi baik
bagi perusahaan yang cenderung mengalami underinvestment maupun over-investment. Hasil yang
serupa juga terjadi untuk variabel corporate governance, variabilitas arus kas operasi dan leverage serta
tangibilitas perusahaan.
Saran
Penelitian ini menggunakan desain penelitian cross
sectional untuk menguji hipotesis dalam rangka
menghindari adanya autokorelasi. Penelitian selanjutnya hendaknya menggunakan model data panel agar
dapat menangkap fenomena secara lebih luas dan
menguji beberapa alternatif pengukuran kualitas laporan keuangan.Siklus bisnis juga perlu dipertimbangkan sebagai salah satu variabel yang mempengaruhi
tingkat investasi yang dilakukan oleh perusahaan.
Penelitian ini menemukan bahwa ukuran perusahaan
berpengaruh negatif terhadap tingkat investasi
DAFTAR PUSTAKA
Ball, Ray., 2008, What is the Actual Economic Role of Financial Reporting?, Accounting Horizon, Vol. 2, No. 4, 427-432.
Bar-Gill, O., and L. Bebchuk. 2003. Misreporting corporate performance. Working paper, Harvard University
Bhattacharya, Utpal., Daouk, Hazem., dan Welker, Michael., 2003, The World Price of Earnings Opacity, Accounting
Review, vol. 78, No. 3, 641-678.
Biddle, G., and G. Hilary. 2006. Accounting Quality and Firm-Level Capital Investment. The Accounting Review, 81, 963-982
Bushman, R. dan A. Smith, 2001, Financial Accounting Information and Corporate Governance,Journal of Accounting
and Economics,32, 237-333.
Dechow, 1994, Accounting Earnings and Cash Flows as Measures of Firm Performance: The Role of Accounting Accrual,
Journal of Accounting and Economics, 17, 3-42.
Dechow, P., R. Sloan, and A. Sweeney, 1996, Causes and consequences of earnings manipulation: An analysis of
firmssubject to enforcement actions by the SEC. Contemporary Accounting Research 19: 1-36.
Dechow, Ge. Weili, dan Schrand, Chaterine., 2010, Understanding earnings quality: A review of the proxies, their
determinants and their consequences, Journal of Accounting and Economics, 50, 344-401.
Foster, G. 1979. Briloff and the capital market.Journal of Accounting Research 17: 262-274
Greenstein, M. dan H. Sami, 1994, The Impact of the SEC's Segment Disclosure Requirement on Bid-Ask Spreads,
Accounting Review 69, Januari, 179-199
Hayne, 1995, The Information Content of Losses, Journal of Accounting and Economics, 20, 125-153.
Healy, P., and K. Palepu, 2001. Information asymmetry, corporate disclosure, and the capitalmarkets: A review of the
empirical disclosure literature. Journal of Accounting and Economics 31, 405-440.
Heflin, Shaw dan Wild, 2005, Disclosure Policy and Market Liquidity: Impact of Depth Quotes and Order Sizes,
Contemporary Accounting Research, 22, 829-865.
Jensen, M., 1986. Agency Costs of Free Cash Flow, Corporate Finance, and Takeovers. American Economic
Review 76, 323-329.
Lambert, R., C. Leuz, and R. Verrecchia, 2007. Accounting information, disclosure, and the costof capital. Journal of
Accounting Research 45, 385-420
Li, Feng., dan Shroff, Nemit., 2010, Financial Reporting Quality and Economic Growth, working paper, www.ssrn.com
- 133 -
Tahun XXV, No. 2 Agustus 2015
Jurnal Ekonomi dan Bisnis
Liang, P. and Xiaoyan Wen, 2007, "Accounting Measurement Basis, Market Mispricing,and Firm Investment Efficiency,"
Journal of Accounting Research 45(1), 155-197
Palmrose, Z-V., V. Richardson, and S. Scholz. 2004. Determinants of market reactions to restatement announcements.
Journal of Accounting and Economics 37: 59-89
Teoh, Siew Hong, Ivo Welch, and T. J. Wong, 1998, "Earnings management and thelong-run market performance of initial
public offerings," Journal of Finance 53, 1935-1974.
Verdi, R. 2006. Financial Reporting Quality and Investment Efficiency. M.I.T. Working Paper
Wang, T. 2006. Real investment and corporate securities fraud.Working paper, University of Minnesota
Welker, 1995, Disclosure Policy, Information Asymmetry, and Liquidity in Equity Markets, Contemporary Accounting
Research, 11, 801-827.
- 134 -
Download