hubungan antara aktivitas asetilkolinesterase darah

advertisement
HUBUNGAN ANTARA AKTIVITAS
ASETILKOLINESTERASE DARAH DAN ARUS PUNCAK
EKSPIRASI PETANI KENTANG DENGAN PAPARAN
KRONIK PESTISIDA ORGANOFOSFAT
JURNAL MEDIA MEDIKA MUDA
Diajukan untuk memenuhi sebagian persyaratan
guna mencapai gelar sarjana strata-1 pendidikan dokter
HENDY LUTHFANTO
22010110120135
PROGRAM PENDIDIKAN SARJANA KEDOKTERAN
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
2014
LEMBAR PENGESAHAN JURNAL MEDIA MEDIKA MUDA
HUBUNGAN ANTARA AKTIVITAS
ASETILKOLINESTERASE DARAH DAN ARUS PUNCAK
EKSPIRASI PETANI KENTANG DENGAN PAPARAN
KRONIK PESTISIDA ORGANOFOSFAT
Disusun oleh
HENDY LUTHFANTO
22010110120135
Telah disetujui
Semarang, 20 Juni 2014
Pembimbing I
Pembimbing II
dr. Darmawati Ayu Indraswari
19860801 201012 2 004
dr. Gana Adyaksa, M.Si.Med
19830720 200812 1 003
Ketua Penguji
Penguji
dr. Akhmad Ismail, M.Si.Med
19710828 199702 1 001
dr. Yosef Purwoko, M.Kes, Sp.PD
19661230 199702 1 001
HUBUNGAN ANTARA AKTIVITAS ASETILKOLINESTERASE DARAH
DAN ARUS PUNCAK EKSPIRASI PETANI KENTANG DENGAN
PAPARAN KRONIK PESTISIDA ORGANOFOSFAT
Hendy Luthfanto*, Gana Adyaksa**, Darmawati Ayu Indraswari**
ABSTRAK
Latar Belakang: WHO memperkirakan bahwa sekitar satu sampai dua juta orang
mengalami keracunan insektisida setiap tahun di seluruh dunia, dan dari jumlah
ini hampir 220.000 orang meninggal dunia. Dilaporkan adanya prevalensi tinggi
gejala pernapasan disertai menurunnya hasil tes fungsi paru di kalangan pekerja
pertanian dengan paparan pestisida. Fungsi paru dapat dinilai salah satunya
dengan arus puncak ekspirasi.
Tujuan: Mengetahui hubungan antara aktivitas asetilkolinesterase darah dan arus
puncak ekspirasi petani kentang dengan paparan kronik pestisida organofosfat.
Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan
rancangan belah lintang. Sampel adalah 42 petani kentang dengan paparan kronik
pestisida organofosfat di Desa Kepakisan, Kecamatan Batur, Kabupaten
Banjarnegara. Pengambilan data berupa data karakteristik, data aktivitas
asetilkolinesterase darah, dan data arus puncak ekspirasi responden menggunakan
mini-Wright Peak Flow Meter. Uji statistik menggunakan uji Spearman dan uji
chi-square.
Hasil: Pada petani kentang dengan paparan kronik pestisida organofosfat
didapatkan 45,24% petani mengalami keracunan ringan dan 47,62% petani
menunjukkan APE yang tidak normal. Pada kelompok petani kentang yang
mengalami keracunan ringan didapatkan 78,9% petani menunjukkan APE yang
tidak normal. Pada uji Spearman didapatkan korelasi positif derajat rendah antara
aktivitas asetilkolinesterase darah dan APE (r=0,32; p=0,04). Uji chi-square
menunjukkan hubungan bermakna antara kategori aktivitas asetilkolinesterase
darah dan kategori APE dengan rasio prevalensi 3,63 (p<0,001).
Kesimpulan: Terdapat korelasi positif bermakna dengan derajat rendah antara
aktivitas asetilkolinesterase darah dan arus puncak ekspirasi petani kentang
dengan paparan kronik pestisida organofosfat.
Kata Kunci: Pestisida, organofosfat, aktivitas asetilkolinesterase darah, arus
puncak ekspirasi, APE
*Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Semarang
**Staf Pengajar Bagian Fisiologi Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro
Semarang
THE CORRELATION BETWEEN BLOOD ACETYLCHOLINESTERASE
ACTIVITY AND PEAK EXPIRATORY FLOW RATE OF POTATO
FARMERS WITH CHRONIC EXPOSURE TO ORGANOPHOSPHATE
PESTICIDES
Hendy Luthfanto*, Gana Adyaksa**, Darmawati Ayu Indraswari**
ABSTRACT
Background: WHO estimates about one to two million people suffering from
insecticide poisoning occurs every year worldwide and almost 220,000 among
them died. Some earlier studies reported the higher prevalence of respiratory
symptoms supported by reduced lung function test among agricultural workers
occupationally exposed to pesticides. PEFR is one of the pulmonary function test
parameters.
Aim: To find out the correlation between blood acetylcholinesterase activity and
peak expiratory flow rate of potato farmers with chronic exposure to
organophosphate pesticides.
Methods: This cross-sectional study was done in 42 potato farmers with chronic
exposure to organophosphate pesticides in Kepakisan Village, Batur,
Banjarnegara. The data are subjects characteristics, blood acetylcholinesterase
activity, and PEFR among study subjects by using mini-Wright Peak Flow Meter.
The Spearman test and chi-square test were used for the statistical analyses.
Results: The study shows 45.24% of the farmers suffered from mild poisoning
and 47.62% showed abnormal PEFR among potato farmers with chronic exposure
to organophosphate pesticides. In the group of potato farmers suffering from mild
poisoning, 78.9% of them showed abnormal PEFR. The Spearman test showed a
low degree of positive correlation between blood acetylcholinesterase activity and
PEFR (r=0.32; p=0.04). The chi-square test showed a significant relationship
between blood acetylcholinesterase activity categories and PEFR categories with
the prevalence ratio of 3.63 (p<0.001).
Conclusions: There is a positive correlation with a low degree between blood
acetylcholinesterase activity and peak expiratory flow rate of the potato farmers
with chronic exposure to organophosphate pesticides.
Keywords: Pesticide, organophosphate, blood acetylcholinesterase activity, peak
expiratory flow rate, PEFR
*Undergraduate student of Faculty of Medicine Diponegoro University
**Department of Physiology Faculty of Medicine Diponegoro University
PENDAHULUAN
Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization, WHO) memperkirakan
bahwa sekitar satu juta orang keracunan insektisida secara tidak disengaja dan dua
juta orang keracunan insektisida secara disengaja terjadi setiap tahun di seluruh
dunia, dan dari jumlah ini hampir 220.000 orang meninggal dunia.1
Monitoring untuk paparan pestisida organofosfat dilakukan dengan penilaian
kadar asetilkolinesterase (acetylcholinesterase, AChE) darah. Pemeriksaan kadar
AChE salah satunya dapat diperiksa menggunakan metode Tintometer.2 Data
Departemen Kesehatan tahun 1996/1997 tentang monitoring keracunan pestisida
organofosfat dan karbamat pada petani pengguna pestisida organofosfat dan
karbamat di 27 propinsi Indonesia dengan 11.419 sediaan darah menunjukkan
61,8% petani mempunyai aktivitas kolinesterase normal, 1,3% keracunan berat,
dan 26,9% keracunan ringan. Tahun 1997/1998 jumlah sediaan darah yang
diperiksa meningkat menjadi 15.161 sediaan darah. Hasil pemeriksaannya adalah
65,91% petani mempunyai aktivitas kolinesterase normal, 2,14% keracunan berat,
8,01% keracunan sedang, dan 21,27% keracunan ringan.3
Paparan pestisida organofosfat dapat mempengaruhi transmisi kolinergik pada
reseptor muskarinik yang menyebabkan kontraksi otot-otot polos dan peningkatan
sekresi kelenjar di saluran pernapasan, serta pada reseptor nikotinik yang dapat
mempengaruhi kekuatan dari otot pernafasan.4-6 Beberapa studi melaporkan
prevalensi tinggi gejala pernapasan didukung oleh menurunnya hasil tes fungsi
paru di kalangan pekerja pertanian dengan paparan pestisida.7-10
Fungsi paru dapat dinilai salah satunya dengan arus puncak ekspirasi (APE) atau
peak expiratory flow rate (PEFR). APE adalah laju aliran maksimum yang
dihasilkan dari hembusan kuat, mulai dari inflasi paru-paru penuh. APE terutama
mencerminkan aliran pada saluran napas besar dan tergantung pada upaya secara
sadar dan kekuatan otot dari individu. APE sering diukur menggunakan miniWright Peak Flow Meter yang murah, mudah dibawa, tersedia dan diproduksi
untuk kepentingan klinis, serta tidak membutuhkan daya listrik untuk
penggunaannya.11, 12
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara aktivitas
asetilkolinesterase darah dan arus puncak ekspirasi petani kentang dengan paparan
kronik pestisida organofosfat.
METODE
Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan rancangan
belah lintang yang menggunakan petani kentang dengan paparan kronik pestisida
organofosfat sebagai subjek penelitian. Penelitian ini telah dilaksanakan di Desa
Kepakisan, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara pada bulan Maret 2014.
Sampel penelitian adalah petani kentang dengan paparan kronik pestisida
organofosfat di Desa Kepakisan, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara yang
memenuhi kriteria yaitu menetap selama satu tahun atau lebih di wilayah Desa
Kepakisan, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara, laki-laki yang memiliki
umur antara 20 – 50 tahun, memiliki kadar hemoglobin ≥12,5 gr/dl, dan
melakukan kegiatan penyemprotan pestisida organofosfat selama satu tahun atau
lebih. Sampel penelitian dengan riwayat dan gejala gangguan fungsi paru dan hati,
serta tanda-tanda keganasan, riwayat kebiasaan minum-minuman beralkohol dan
pemakaian obat penghambat dan pemicu kolinesterase berdasarkan anamnesis,
dan menolak untuk dijadikan sampel tidak diikutsertakan dalam penelitian.
Berdasarkan perhitungan besar sampel untuk uji korelasi dengan besar koefisien
korelasi 0,5; nilai α=0,05 dan nilai β=0,2; besar sampel yang dibutuhkan untuk
penelitian ini adalah minimal 30 orang petani kentang dengan paparan kronik
pestisida organofosfat.
Variabel bebas penelitian adalah aktivitas asetilkolinesterase darah yang diperiksa
dengan Tintometer Lovibond AF267 kit.
Hasil pemeriksaan kemudian
dikategorikan yaitu normal bila >75%, keracunan ringan bila 75% - 50%,
keracunan sedang bila 50% - 25%, dan keracunan berat bila <25%. Variabel
terikat penelitian adalah APE yang diukur menggunakan mini-Wright Peak Flow
Meter. Pengukuran ini dilakukan tiga kali berturut-turut dan diambil nilai
tertinggi. Hasil pengukuran tersebut dibandingkan dengan grafik nilai normal
APE. Masih dalam batas normal jika lebih rendah hingga 100 L/menit (pria).
Variabel perancu penelitian adalah umur, tinggi badan, berat badan, status gizi,
kadar hemoglobin, dosis pestisida, frekuensi penyemprotan, lama kerja per hari,
penggunaan APD, masa kerja, dan riwayat merokok.
Uji hipotesis untuk korelasi antara aktivitas asetilkolinesterase darah dengan APE
menggunakan uji korelasi Spearman karena data terdistribusi tidak normal.
Hubungan antara kategori aktivitas asetilkolinesterase darah dengan kategori APE
dianalisis menggunakan uji chi-square. Pengaruh variabel perancu terhadap
hubungan antara aktivitas asetilkolinesterase darah dengan APE dianalisis dengan
uji regresi logistik. Nilai p dianggap bermakna apabila <0,05. Analisis statistik
dilakukan dengan menggunakan program komputer.
HASIL
Penelitian ini telah dilakukan pada petani kentang dengan paparan kronik
pestisida organofosfat di Desa Kepakisan, Kecamatan Batur, Kabupaten
Banjarnegara. Cara pemilihan sampel adalah purposive sampling berdasarkan
kriteria yang telah ditentukan. Penelitian ini dilakukan pada 42 sampel penelitian.
Karakteristik Subjek Penelitian
Karakteristik subjek penelitian dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Karakteristik subjek penelitian
Karakteristik
Umur (tahun)
Tinggi badan (cm)
Berat badan (kg)
IMT (kg/m2)
Status gizi
- Underweight
- Normal
- Overweight
- Obese I
- Obese II
Kadar Hb (gr/dl)
Rerata ± SB (min - maks)
34,64 ± 7,13 (21-50)
159,70 ± 6,32 (148-181)
59,69 ± 7,83 (41-78,5)
23,37 ± 2,54 (18,61-29,67)
n (%)
-
15,47 ± 0,89 (13,6-17,2)
19 (45,2%)
13 (31%)
10 (23,8%)
-
Karakteristik
Rerata ± SB (min - maks)
n (%)
Dosis pestisida
- > 1,5 cc/L
39 (92,9%)
- ≤ 1,5 cc/L
3 (7,1%)
Frekuensi penyemprotan
per minggu
- > 1 kali
41 (97,6%)
- 1 kali
1 (2,4%)
Lama kerja per hari
- > 8 jam
- ≤ 8 jam
42 (100%)
Penggunaan APD
- Tidak lengkap
41 (97,6%)
- Lengkap
1 (2,4%)
Masa kerja (tahun)
16,12 ± 6,91 (4-32)
Riwayat merokok
- Ya
42 (100%)
- Tidak
SB= Simpangan Baku; min= minimum; maks= maksimum
Pemeriksaan Aktivitas Asetilkolinesterase Darah
Hasil pemeriksaan aktivitas asetilkolinesterase darah dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Aktivitas asetilkolinesterase darah
Pemeriksaan
Median (min - maks)
Asetilkolinesterase (%)
87,5 (62,5-100)
SB= Simpangan Baku; min= minimum; maks= maksimum
Normal
45.24%
19
Keracunan Ringan
54.76%
23
Gambar 1. Diagram lingkaran kategori keracunan pestisida
Gambar 1 menunjukkan 19 sampel (45,24%) mengalami keracunan ringan dari
total 42 sampel penelitian dan tidak didapatkan sampel yang mengalami
keracunan sedang maupun berat pada penelitian ini.
Pemeriksaan APE
Hasil pemeriksaan APE dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Pemeriksaan APE
Pemeriksaan
Rerata ± SB (min - maks)
APE (L/menit)
502,14 ± 67,01 (325-650)
SB= Simpangan Baku; min= minimum; maks= maksimum
Normal
47.62%
20
Tidak Normal
52.38%
22
Gambar 2. Diagram lingkaran kategori arus puncak ekspirasi
Sebanyak 20 sampel (47,62%) menunjukkan APE yang tidak normal dan 22
sampel (52,38%) menunjukkan APE yang normal berdasarkan Gambar 2 di atas.
Korelasi antara Aktivitas Asetilkolinesterase Darah dan APE
Tabel 4. Korelasi antara aktivitas asetilkolinesterase darah dan APE
Arus puncak ekspirasi
Koefisien Korelasi dengan Aktivitas
Asetilkolinesterase Darah
0,32 (p=0,04)
Tabel 4 menunjukkan adanya korelasi positif yang bermakna antara aktivitas
asetilkolinesterase darah dan APE (p=0,04). Derajat korelasi antara aktivitas
asetilkolinesterase darah dan APE termasuk kategori korelasi derajat rendah
(r=0,32).
Gambar 3. Diagram baur hubungan antara aktivitas AChE darah dan APE
Tabel 5. Korelasi antara kategori aktivitas AChE darah dan kategori APE
Kategori APE
Tidak Normal
Normal
Kategori
Keracunan Ringan
Aktivitas AChE
Normal
Darah
Total
2
χ = 13,652
df=1
p<0,001
Total
15 (78,9%)
4 (21.1%)
19
5 (21,7%)
18 (78,3%)
23
20
22
42
RP (95% CI)=3,63 (1,616-8,159)
Korelasi antara kategori aktivitas asetilkolinesterase darah dan kategori APE
ditampilkan pada Tabel 5. Berdasarkan hasil uji Pearson chi-square diperoleh
nilai p<0,001 sehingga dapat diketahui bahwa ada hubungan bermakna antara
kategori aktivitas asetilkolinesterase darah dan kategori APE dengan rasio
prevalensi 3,63. Hal tersebut mengindikasikan bahwa keracunan pestisida akan
memberikan risiko 3,63 kali terhadap angka kejadian APE tidak normal.
Pengaruh Variabel Perancu
Tabel 6. Pengaruh variabel perancu
Parameter
Kategori aktivitas AChE darah
Umur
Tinggi badan
Berat badan
Status gizi
Kadar Hb
Dosis pestisida
Frekuensi penyemprotan per
minggu
Penggunaan APD
Masa kerja
β
2,992
0,238
0,072
-0,105
-0,051
-0,733
-1,929
S.E.
1,070
0,138
0,155
0,175
1,263
0,630
2,252
p
0,005
0,084
0,643
0,549
0,968
0,245
0,392
20.986
40192,973
1,000
-21,080
-0,006
40192,962
0,104
1,000
0,953
Hasil uji statistik menggunakan analisis multivariat dengan uji regresi logistik
tidak menunjukkan nilai p<0,05 pada variabel umur, tinggi badan, berat badan,
status gizi, kadar hemoglobin, dosis pestisida, frekuensi penyemprotan per
minggu, penggunaan APD, dan masa kerja. Hal ini berarti bahwa variabelvariabel perancu tersebut tidak memberikan pengaruh yang bermakna terhadap
APE petani kentang pada penelitian ini. Variabel lama kerja per hari dan riwayat
merokok tidak dapat dianalisis dengan uji statistik karena seluruh sampel
termasuk ke dalam kategori yang sama.
PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil analisis statistik dengan uji Spearman didapatkan hubungan
yang bermakna antara aktivitas asetilkolinesterase darah dan APE petani kentang.
Hasil uji Pearson chi-square juga menunjukkan hubungan yang bermakna antara
kategori aktivitas asetilkolinesterase darah dan kategori APE petani kentang.
Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian oleh Mohd. Fareed pada tahun 2013
di India Utara. Hasil penelitiannya menunjukkan penurunan yang bermakna dari
aktivitas
asetilkolinesterase darah pada kelompok
penyemprot
pestisida
dibandingkan dengan kelompok kontrol (p<0,001). Beberapa parameter fungsi
paru seperti APE, FEV1, %PEFR predicted, %FEV1 predicted, dan FEV1/FVC
juga menunjukkan penurunan yang bermakna (p<0,05) pada kelompok
penyemprot pestisida dibandingkan dengan kelompok kontrol. Penelitian lain oleh
Sreeparna Chakraborty pada tahun 2009 di India telah menemukan kadar
asetilkolinesterase sel darah merah pekerja pertanian lebih rendah 34,2% dari
kadar asetilkolinesterase sel darah merah kelompok kontrol. Hasil penelitian ini
juga menunjukkan adanya penurunan fungsi paru pada 48,9% pekerja pertanian
dan pada 22,7% kelompok kontrol. Hasil analisis statistik penelitian tersebut juga
menunjukkan korelasi yang bermakna antara penurunan asetilkolinesterase sel
darah merah dengan penurunan beberapa parameter fungsi paru. Penelitian oleh
Ardiyanto pada tahun 2013 di Desa Srigading, Kecamatan Ngablak, Kabupaten
Magelang juga menunjukkan korelasi positif yang bermakna antara aktivitas
asetilkolinesterase darah dengan FVC dan FEV1 petani kentang dengan paparan
kronik pestisida organofosfat.9, 13, 14
Adanya hubungan antara aktivitas asetilkolinesterase darah dan APE dapat
dikarenakan pestisida organofosfat menghambat aksi pseudokolinesterase dalam
plasma dan kolinesterase dalam sel darah merah dan pada sinapsnya. Asetilkolin
secara normal dihidrolisis oleh enzim tersebut menjadi asetat dan kolin. Saat
enzim ini dihambat, jumlah asetilkolin meningkat dan berikatan pada reseptor
muskarinik dan nikotinik pada sistem saraf pusat dan perifer.4, 5, 15
Saraf kolinergik memediasi tonus dan reaktivitas saluran pernapasan. Transmisi
kolinergik akibat paparan kronik pestisida organofosfat menyebabkan saraf ini
melepaskan asetilkolin ke reseptor M2 muskarinik yang menyebabkan kontraksi
dari otot-otot polos saluran pernapasan sehingga terjadi bronkokonstriksi, dan
juga pada reseptor M3 muskarinik yang menyebabkan terjadinya peningkatan
sekresi dari kelenjar di saluran pernapasan. Selain itu, saraf kolinergik dapat
menyebabkan kelemahan otot bila mengenai reseptor nikotinik. Dengan demikian
pengaruh
stimulasi
asetilkolin
terhadap
reseptor-reseptor tersebut
menyebabkan penurunan APE pada petani kentang.4-6
dapat
SIMPULAN DAN SARAN
Terdapat korelasi positif bermakna dengan derajat rendah antara aktivitas
asetilkolinesterase darah dan arus puncak ekspirasi petani kentang dengan paparan
kronik pestisida organofosfat. Penulis menyarankan perlunya dilakukan penelitian
kualitatif untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi keracunan
pestisida organofosfat, penelitian menggunakan metode kuantitatif untuk
mengukur
aktivitas
asetilkolinesterase
darah,
dan
penelitian
mengenai
hubungannya dengan parameter fungsi paru lainnya. Selain itu, perlu penelitian
lebih lanjut untuk mengetahui hubungan sebab akibat aktivitas asetilkolinesterase
darah dan arus puncak ekspirasi dan perlu dilakukan juga penyuluhan mengenai
cara pencegahan keracunan pestisida organofosfat dan monitoring rutin aktivitas
asetilkolinesterase darah petani dari pihak-pihak terkait.
UCAPAN TERIMA KASIH
Peneliti mengucapkan terima kasih kepada Hibah Penelitian PHK-PKPD Tahun
2013, dr. Hardian, dr. Akhmad Ismail, M.Si.Med, dr. Yosef Purwoko, M.Kes,
Sp.PD, seluruh staf Bagian Fisiologi Fakultas Kedokteran Universitas
Diponegoro, Labkesda Kabupaten Wonosobo, dan pihak-pihak lain yang telah
membantu hingga penelitian dan penulisan artikel ini dapat terlaksana dengan
baik, serta para petani kentang di Desa Kepakisan, Kecamatan Batur, Kabupaten
Banjarnegara yang telah bersedia menjadi subjek penelitian.
DAFTAR PUSTAKA
1.
WHO. Guidelines for poison control. WHO in collaboration with UNEP and
ILO. Geneva: WHO, 1997:3-10.
2.
Departemen Kesehatan RI. Pengenalan pestisida. Jakarta: Direktorat Jenderal
Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan, 2000.
3.
Raini M. Toksikologi pestisida dan penanganan akibat keracunan pestisida.
Media Litbang Kesehatan 2007;XVII No.3:10-18.
4.
Klaassen C. Casarett & Doull's Toxicology: The Basic Science of Poisons,
Seventh Edition. New York: Mcgraw-hill, 2007.
5.
Krieger RI. Handbook of Pesticide Toxicology. San Diego, CA: Academic
Press, 2001.
6.
Longstaff A. Neuroscience. New York: Taylor & Francis, 2005.
7.
Bener A, Lestringant GG, Beshwari MM, Pasha MA. Respiratory symptoms,
skin disorders and serum IgE levels in farm workers. Allerg Immunol (Paris)
1999;31:52-6.
8.
de Jong K, Boezen HM, Kromhout H, Vermeulen R, Postma DS, Vonk JM.
Pesticides and other occupational exposures are associated with airway
obstruction:
the
LifeLines
cohort
study.
Occup
Environ
Med
2013;2013:2013-101639.
9.
Fareed M, Pathak MK, Bihari V, Kamal R, Srivastava AK, Kesavachandran
CN. Adverse respiratory health and hematological alterations among
agricultural workers occupationally exposed to organophosphate pesticides: a
cross-sectional study in North India. PLoS One 2013;8:e69755.
10. Kossmann S, Konieczny B, Hoffmann A. The role of respiratory muscles in
the impairment of the respiratory system function in the workers of a
chemical plant division producing pesticides. Przegl Lek 1997;54:702-6.
11. Cross D, Nelson HS. The role of the peak flow meter in the diagnosis and
management of asthma. J Allergy Clin Immunol 1991;87:120-8.
12. Daniel R Neuspiel M, MPH, FAAP. Peak flow rate measurement [Internet].
c2014 [updated 2014 Jan 30; cited 2014 Feb 7]. Available from:
http://www.peakflow.com/ top_nav/meter/index.html
13. Ardiyanto A. Hubungan antara aktivitas asetilkolinesterase darah dengan
fungsi paru petani. Semarang: Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro,
2013.
14. Chakraborty S, Mukherjee S, Roychoudhury S, Siddique S, Lahiri T, Ray
MR. Chronic exposures to cholinesterase-inhibiting pesticides adversely
affect respiratory health of agricultural workers in India. J Occup Health
2009;51:488-97.
15. Sudarmo S. Pestisida. Yogyakarta: Kanisius, 2007.
Download