50 peningkatan keterampilan berbicara pambagyaharja

advertisement
Vol /0 2 / No. 02 / Mei 2013
PENINGKATAN KETERAMPILAN BERBICARA PAMBAGYAHARJA
MENGGUNAKAN METODE PEMBELAJARAN PEMODELAN PADA
SISWA KELAS XI SEKRETARIS 2 DI SMK N 1 KEBUMEN TAHUN
AJARAN 2012/2013
Eka Asti Nurhidayah
[email protected]
Universitas Muhammadiyah Purworejo
ABSTRAK
Permasalahan yang mendasari tujuan penelitian ini, yaitu: (1)
bagaimanakah langkah-langkah pembelajaran pambagyaharja pada siswa kelas
XI Sekretaris 2 SMK Negeri 1 Kebumen dalam keterampilan pambagyaharja
menggunakan metode pemodelan ; (2) bagaimanakah motivasi dan keaktifan
siswa kelas XI Sekretaris 2 dalam keterampilan pambagyaharja menggunakan
metode pemodelan ; (3) bagaimanakah peningkatan keterampilan pambagyaharja
siswa kelas XI Sekretaris 2 SMK Negeri 1 Kebumen setelah menggunakan
metode pemodelan.
Jenis penelitian ini yaitu penelitian tindakan kelas dengan subjek
penelitian siswa kelas XI Sekretaris 2 SMK Negeri 1 Kebumen dengan jumlah 40
siswa. Penelitian tindakan kelas dilakukan dalam tiga tahap, yaitu pra siklus,
siklus I dan siklus II. Pengumpulan data menggunakan tes dan nontes. Teknik
analisis data berupa teknik deskriptif statistik dan teknik deskriptif kualitatif.
Teknik deskriptif statistik digunakan untuk menganalisis data keterampilan siswa
berbicara pambagyaharja dengan metode pemodelan dan teknik deskriptif
kualitatif digunakan untuk menganalisis perilaku, motivasi dan aktivitas
pembelajaran siswa.
Dari hasil penelitian diketahui bahwa keterampilan pambagyaharja
menggunakan metode pemodelan mampu meningkatkan motivasi dan keaktifan
serta kemampuan berbicara pambagyaharja siswa. Pada kegiatan prasiklus dilihat
dari segi perhatian diperoleh data 8 siswa mempunyai perhatian yang baik, 12
siswa mempunyai perhatian cukup, 20 siswa mempunyai perhatian yang kurang,
dilihat dari segi keaktifan diperoleh data 9 siswa dikategorikan baik, 16 siswa
dikategorikan cukup, dan 15 siswa dikategorikan kurang. Dan setelah dilakukan
tindakan siklus I dan siklus II terjadi peningkatan. Dari hasil kegiatan siklus II
diperoleh data dari segi perhatian sebanyak 27 siswa mempuyai perhatian baik,
13 siswa mempuyai perhatian cukup dan yang mempuyai perhatian kurang tidak
ada. Dilihat dari segi keaktifan sebanyak 25 dikategorikan baik, 15 siswa
mempuyai keaktifan yang cukup, dan siswa yang mempuyai keaktifan kurang
tidak ada.
Kata kunci: berbicara, pambagyaharja, metode pemodelan
A.
Pendahuluan
Dalam standar kompetensi bahasa Jawa di SMK tahun 2012,
kemampuan berbicara khususnya pambagyaharja menjadi salah satu
Jurnal Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa_Universitas Muhammadiyah Purworejo
1
50
Vol /0 2 / No. 02 / Mei 2013
kompetensi dasar yang menjadi aspek penilaian. Untuk
diterapkan
itu, perlu
model pembelajaran di kelas yang beragam untuk
meningkatkan kemampuan berbicara siswa. Namun dalam kenyataanya
sering terjadi seorang guru bahasa Jawa tidak mengaplikasikan salah satu
model pembelajaran tertentu.
Berdasarkan pengalaman empiris di lapangan pada tanggal 4
Agustus 2012
diketahui bahwa kemampuan berbicara siswa di SMK
Negeri 1 Kebumen terutama kelas XI Sekretaris 2 dalam proses
pembelajaran masih rendah dan kenyataan pada saat pembelajaran di
kelas, diantaranya : 1) Siswa kurang memiliki keberanian diminta maju
untuk mempraktikan contoh pambagyaharja di depan kelas, 2) Siswa
kurang memahami materi tentang pambagyaharja,3) Pembelajaran
monoton, 4) Hanya beberapa siswa saja yang berani mempraktikan contoh
pambagyaharja di depan kelas, 5) Guru kurang kreatif memilih metode
pembelajaran.
Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka penelitian ini
diberi judul ”Peningkatan Keterampilan Berbicara Pambagyaharja
Menggunakan Metode Pembelajaran Pemodelan Pada Siswa Kelas XI
Sekretaris 2 di SMK Negeri 1 Kebumen Tahun Ajaran 2012/2013.
B.
Kajian Teori
Metode pemodelan yaitu pembelajaran kontekstual menekankan
arti penting pendemonstrasian terhadap hal yang dipelajari peserta didik.
Pemodelan memusatkan pada arti penting pengetahuan prosedural.
Melalui pemodelan peserta didik dapat meniru terhadap hal yang
dimodelkan. Model bisa berupa cara mengoperasikan sesuatu, contoh
karya tulis, melafalkan bahasa dan sebagainya (Suprijono, 2011: 88).
Dari pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa metode
pemodelan yaitu suatu metode pembelajaran yang digunakan dengan
melibatkan orang lain sebagai model untuk mendemonstrasikan suatu
materi pembelajaran agar siswa dapat mengalami perubahan perilaku yang
lebih baik. Model yang digunakan bisa dari guru, murid, atau orang lain
Jurnal Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa_Universitas Muhammadiyah Purworejo
51
Vol /0 2 / No. 02 / Mei 2013
yang menguasai materi pembelajaran yang sedang dipelajari, sehingga
siswa dapat meniru apa yang model peragakan.
Metode pemodelan ini menjadi jalan bagi siswa untuk melihat dan
mengamati sebelum
melakukan sesuatu. Selain itu, metode ini
mempermudah siswa untuk mengetahui cara-cara yang benar mengenai
suatu hal atau cara melakuan sesuatu. Dengan adanya metode pemodelan,
diharapkan siswa menjadi bersemangat dalam belajar, karena adanya
referensi untuk dicontoh.
Prinsip-prinsip kompenen pemodelan adalah:
a) Pengetahuan dan keterampilan diperoleh dengan mantap apabila ada
model atau contoh yang bisa dititu.
b) Model atau contoh bisa diperoleh langsung dari yang berkompeten
atau ahlinya.
c) Model atau contoh bisa berupa cara mengoperasikan sesuatu contoh
hasil karya atau model penampilan.
Keunggulan
Strategi
pemodelan
dibandingkan
dengan
strategi lain adalah siswa tidak pernah merasa bosan mengikuti
pembelajaran, karena dalam proses pembelajaran siswa selalu
mempunyai pengalaman baru, sebab siswa tidak harus melulu
mendengarkan
ceramah
dari
guru
dalam
menyampaikan
pembelajaran. Selain itu penggunaan strategi pemodelan dapat
membantu siswa untuk lebih mudah memahami materi pelajaran.
Belajar jadi lebih menyenangkan, sehingga secara otomatis dapat
meningkatkan hasil belajar siswa sesuai dengan indikator yang
ingin dicapai.
Dalam
penerapan
proses
pembelajaran,
langkah-langkah
penggunaan Strategi Pemodelan adalah sebagai berikut :
a) Setelah pembelajaran suatu topik tertentu, carilah topik-topik yang
menuntut siswa untuk mencoba atau mempraktikkan keterampilan
yang baru diterangkan.
Jurnal Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa_Universitas Muhammadiyah Purworejo
52
Vol /0 2 / No. 02 / Mei 2013
b) Bagilah siswa kedalam beberapa kelompok kecil sesuai dengan
jumlah mereka. Kelompok ini akan mendemostrasikan suatu
keterampilan tertentu sesuai dengan skenario yang telah dibuat.
c) Berikan waktu kepada siswa 10-15 menit untuk menciptakan
skenario kerja.
d) Berikan waktu 5-7 menit kepada siswa untuk berlatih
e) Secara bergiliran setiap kelompok diminta mendemonstrasikan kerja
masing-masing. Setelah selesai, beri kesempatan kepada kelompok
lain untuk memberikan masukan pada setiap demonstrasi yang
dilakukan (Suprijono, 2011: 40).
C.
Metode Penelitian
Menurut Arikunto (2010: 17) ada beberapa model penelitian
tindakan, dan salah satunya bentuk model, yang disajikan sebagai berikut
ini.
SIKLUS PENELITIAN TINDAKAN
Satu siklus terdiri dari 4 langkah yaitu:
1) Perencanaan adalah langkah yang dilakukan oleh guru ketika akan
memulai tindakanya. Adapun uraian yang perlu dan harus dikemukakan
adalah menyusun sebuah rancangan kegiatan, siswanya akan diapakan.
Supaya perencanaan ini lengkap dan difahami oleh semua siswa. Guru
membuat semacam panduan yang menggambarkan (a) apa yang harus
Jurnal Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa_Universitas Muhammadiyah Purworejo
53
Vol /0 2 / No. 02 / Mei 2013
dilakukan oleh siswa, (b) kapan dan berapa lama dilakukan, (c) dimana
dilakukan, (d) jika diperlukan peralatan atau sarana, wujudnya apa (e)
jika sudah selesai, apa tindakan selanjutnya.
2) Pelaksanaan adalah implementasi dari perencanaan yang sudah dibuat.
Untuk itu guru harus memperhatikan hal-hal (a) apakah ada kesesuaian
antara pelaksanaan dengan perencanaan, (b) apakah proses tindakan
yang dilakukan siswa cukup lancar, (c) bagaimanakah situasi proses
tindakan, (d) apakah siswa-siswa melaksanakan dengan semangat, (e)
bagaimanakah hasil dari keseluruhan dari tindakan itu.
3) Pengamatan adalah proses mencermati jalanya pelaksanaan tindakan.
Hal-hal yang diamati adalah hal-hal yang sudah disebutkan dalam
pelaksanaan.
4) Refleksi atau perenungan merupakan langkah mengingat kembali
kegiatan yang dilakukan oleh guru maupun siswa.
D.
Hasil Penelitian dan Pembahasan
1.
Langkah-Langkah
Pembelajaran
Pambagyaharja
Menggunakan
Metode Pemodelan Pada Siswa Kelas XI Sekretaris 2 SMK Negeri 1
Kebumen.
a.
Kegiatan Awal (Prasiklus)
Kegiatan prasiklus dilaksanakan pada:
Hari, tanggal
: Sabtu, 4 Agustus 2012
Waku
: 10:15-11:45 WIB
Kegiatan prasiklus merupakan kegiatan awal untuk mengetahui
keadaan
kelas
dan
kemampuan
siswa
dalam
pembelajaran
pambagyaharja. Pada kegiatan pembelajaran ini, peneliti tidak
menggunakan metode pembelajaran. Prasiklus merupakan kegiatan
awal sebelum memasuki kegiatan selanjutnya seperti siklus I dan
siklus II. Dalam tindakan prasiklus ini untuk mengetahui pemahaman
siswa tentang materi yang akan diteliti. Peneliti hanya menyampaikan
materi dengan menggunakan metode ceramah yang kemudian disusul
dengan mempraktikan naskah pambagyaharja yang diberikan. Pada
Jurnal Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa_Universitas Muhammadiyah Purworejo
54
Vol /0 2 / No. 02 / Mei 2013
tahap ini diperoleh data nilai praktik pambagyaharja siswa sebagai
berikut : 5 siswa memperoleh rentang nilai 86-100 atau masuk
kategori baik sekali, 5 siswa memperoleh rentang nilai 76-85 atau
masuk kategori baik, 21 siswa memperoleh rentang nilai 56-75 atau
masuk kategori cukup, sedangkan 9 siswa memperoleh rentang nilai
10-55 atau masuk kategori kurang. Sedangkan dilihat dari lembar
observasi keadaan kelas masih sangat kurang baik karena siswa masih
berbicara sendiri ( ramai ).
b.
Kegiatan Siklus I
Kegiatan siklus I dilaksanakan pada:
Hari, tanggal
: Sabtu, 11 Agustus 2012
Waktu
: 10:15-11:45 WIB
Pelaksanaan kegiatan siklus I meliputi tahap perencanaan tindakan,
pelaksanaan tindakan, pengamatan atau observasi, dan refleksi.
Kegiatan pada siklus I ini didasari pada hasil kegiatan prasiklus yaitu
masih rendahnya minat dan kemampuan siswa kelas XI Sekretaris 2
SMK Negeri 1 Kebumen terhadap pembelajaran pambagyaharja. Jadi
untuk mengatasi masalah-masalah tersebut, peneliti mengunakan
metode pembelajaran pemodelan dengan tujuan untuk meningkatkan
minat siswa terhadap pembelajaran pambagyaharja, sehingga akan
bisa berpengaruh pada hasil kemampuan pambagyaharja siswa kelas
XI Sekretaris 2 Kebumen.
1) Tahap Perencanaan Tindakan
Kegiatan perencanaan pada kegiatan siklus I ini, yaitu :
(a). Menyiapakan dan menetapkan rencana pelaksanaan pembelajaran
beserta
skenario
pembelajaran
yang
mencakup
materi
pambagyaharja, serta langkah-langkah kegiatan yang akan
dilaksanakan oleh guru dan siswa,
(b). Menyiapakan materi yang akan diajarkan,
(c). Menyiapkan lembar penilaian pambagyaharja.
Jurnal Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa_Universitas Muhammadiyah Purworejo
55
Vol /0 2 / No. 02 / Mei 2013
2) Tahap Pelaksanaan Tindakan
Pada tahap pelaksanaan tindakan ini guru mata pelajaran
memberikan kesempatan kepada peneliti untuk melakukan pengamatan
di kelas dari awal sampai akhir. Pada tahap ini, peneliti melakukan
pengamatan dalam proses pembelajaran. Tindakan yang dilakukan
dalam tahap ini terdiri atas kegiatan awal, kegiatan inti, dan kegiatan
akhir atau penutup.
3) Tahap Pengamatan atau Observasi
Pada tahap ini, peneliti melakukan pengamatan pada saat proses
pembelajaran. Hal yang diamati adalah suasana kelas, perhatian serta
keaktifan siswa pada saat pembelajaran pambagyaharja berlangsung,
dan
hasil
kemampuan
siswa
dalam
melaksanakan
praktik
pambagyaharja. Tahap pengamatan atau observasi ini pada dasarnya
sama dengan tahap pengamatan pada kegiatan prasiklus. Hasil
pengamatan terhadap suasana kelas, perhatian serta keaktifan siswa,
pada tahap ini sudah menunjukan adanya peningkatan kemampuan
keterampilan berbicara pambagyaharja siswa kelas XI Sekretaris 2
SMK Negeri 1 Kebumen dibandingkan dengan kegiatan prasiklus. Nilai
siswapun ikut meningkat. Hal itu dapat dilihat dari banyaknya siswa
yang nilainya dibawah batas nilai tuntas sudah menurun dibandingkan
pada kegiatan prasiklus.
4) Tahap Refleksi
Tahap refleksi pada siklus 1 ini juga pada dasarnya sama dengan
tahap refleksi pada kegiatan prasiklus, yaitu peneliti bersama guru
melakukan pengkajian secara menyeluruh terhadap tindakan yang
sudah diberikan berdasarkan hasil pengamatan dan hasil tes siswa. Pada
tahap ini diperoleh data bahwa suasana kelas, perhatian serta keaktifan
siswa, dan nilai siswa sudah menunjukan adanya peningkatan yang baik
dibandingkan dengan kegiatan prasiklus. Dari kegitan siklus 1 dapat
diperoleh data yaiu: 7 siswa memperoleh rentang nilai 86-100 atau
masuk kategori baik sekali, 23 siswa memperoleh rentang nilai 76-85
atau masuk kategori baik, 8 siswa memperoleh rentang nilai 56-75 atau
Jurnal Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa_Universitas Muhammadiyah Purworejo
56
Vol /0 2 / No. 02 / Mei 2013
masuk kategori cukup, sedangkan 2 siswa memperoleh rentang nilai 1055 atau masuk kategori kurang. Walaupun sudah terjadi peningkatan
namun hasil yang didapatkan belum maksimal. Oleh karena itu, peneliti
kemudian menganalisis kesalahan dan kekurangan yang terjadi pada
kegiatan ini guna mengadakan perbaikan pada kegiatan siklus II.
c)
Kegiatan Siklus II
Kegitan siklus II dilaksanakan pada:
Hari, tanggal
:Sabtu, 25 Agustus 2012
Waktu
: 10:15-11:45 WIB
Pelaksanaan kegiatan siklus II meliputi tahap perencanaan
tindakan, pelaksanaan tindakan, pengamatan atau observasi, dan
refleksi. Kegiatan pada siklus II ini didasari pada hasil kegiatan siklus I
yaitu belum terjadi peningkatan yang maksimal pada nilai siswa dan
minat siswa kelas XI Sekertaris 2 SMK Negeri 1 Kebumen terhadap
pembelajaran pambagyaharja.
1) Tahap Perencanaan Tindakan
Kegiatan perencanaan pada kegiatan siklus II ini yaitu:
Tahap perencanaan ini dilakukan mulai dari awal sampai
akhir penelitian sehingga hasil dapat dicapai sesuai dengan yang
diharapkan. Rancangan yang dilakukan adalah: (1) menyusun
rencana
pembelajaran,
(2)
menyusun
instrumen
tes
yaitu
menentukan pambagyaharja yang akan digunakan, (3) menyiapkan
lembar penilaian pidato.
2) Tahap Pelaksanaan Tindakan
Pada tahap pelaksanaan tindakan ini guru mata pelajaran
memberikan kesempatan kepada peneliti untuk melakukan
pengamatan di kelas dari awal sampai akhir. Pada tahap ini, peneliti
melakukan pengamatan dalam proses pembelajaran. Tindakan yang
dilakukan dalam tahap ini terdiri atas kegiatan awal, kegiatan inti,
dan kegiatan akhir atau penutup.
Jurnal Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa_Universitas Muhammadiyah Purworejo
57
Vol /0 2 / No. 02 / Mei 2013
3) Tahap Pengamatan atau Observasi
Pengamatan atau observasi pada siklus II sama dengan
siklus I yaitu dilakukan melalui data tes dan nontes. Pada siklus II
ini diharapkan ada peningkatan kemampuan dan perubahan
perilaku siswa yang positif dalam pambagyaharaja menggunakan
metode pemodelan.
4) Tahap Refleksi
Tahap refleksi pada siklus II ini juga pada dasarnya sama
dengan tahap refleksi pada kegiatan-kegiatan sebelumnya, yaitu
peneliti bersama guru melakukan pengkajian secara menyeluruh
terhadap tindakan yang sudah diberikan berdasarkan hasil
pengamatan dan hasil tes siswa. Jika pada tahap refleksi siklus II
ini sudah selesai, kemudian peneliti menganalisa perbandingan
dengan hasil refleksi pada kegiatan-kegiatan sebelumnya yang
digunakan
sebagai
kesimpulan
mengenai
bahan
pertimbangan
pembelajaran
dalam
membuat
pambagyaharja
dengan
menggunakan metode pemodelan.
1. Motivasi dan Keaktifan Siswa dalam Keterampilan Pambagyaharja
Menggunakan Metode Pemodelan
1) Hasil Prasiklus
Hasil tes prasiklus adalah kemampuan awal pambagyaharja siswa
sebelum dilakukan tindakan penelitian. Hasil tes prasiklus dilakukan untuk
mengetahui keadaan awal kemampuan siswa kelas XI Sekretaris 2 SMK
Negeri 1 Kebumen dalam pambagyaharja.
Pada kegiatan prasiklus ini dilihat dari segi perhatian diperoleh data
8 siswa mempunyai perhatian yang baik, 20 siswa mempunyai perhatian
yang cukup, sedangkan 12 siswa mempunyai perhatian yang kurang.
Dilihat dari segi keaktifan diperoleh data 9 siswa dikategorikan baik, 16
siswa dikategorikan cukup, dan 15 siswa dikategorikan kurang.
Jurnal Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa_Universitas Muhammadiyah Purworejo
58
Vol /0 2 / No. 02 / Mei 2013
Tabel 5. Hasil Motivasi dan Keaktifan Siswa Kelas XI Sekretaris 2
SMK Negeri 1 Kebumen Terhadap Pembelajaran Pambagyaharja
dalam Kegiatan Prasiklus
NO
Hal
Baik
Cukup
Kurang
1
Perhatian
8
20
12
2
Keaktifan
9
16
15
3
Situasi
_
_
KURANG
2) Siklus I
Pada siklus I dilihat dari segi perhatian diperoleh data sebanyak 12
siswa mempunyai perhatian yang baik, 21 siswa mempunyai perhatian
yang cukup, sedangkan 7 siswa mempunyai perhatian yang kurang. Dilihat
dari keaktifan sebanyak 15 siswa dikategorikan baik, 19 siswa
dikategorikan cukup, 6 siswa dikategorikan kurang. Situasi pembelajaran
pada siklus ini berjalan cukup siswa mulai perhatian dan aktif.
Tabel 6. Hasil Motivasi dan Keaktifan Siswa Kelas XI Sekretaris 2
SMK Negeri 1 Kebumen Terhadap Pembelajaran
Pambagyaharja Dalam Kegiatan Siklus I
NO
Hal
Baik
Cukup
KURANG
1
Perhatian
12
21
7
2
Keaktifan
15
19
6
3
Situasi
CUKUP
3) Siklus II
Pada siklus II dilihat dari segi perhatian diperoleh data sebanyak 27
siswa mempunyai perhatian yang baik, 13 siswa mempunyai perhatian
yang cukup, sedangkan dalam siklus II yang perhatianya kurang tidak ada.
Dilihat dari segi keaktifan yang mempuyai keaktifan baik sebanyak 25
Jurnal Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa_Universitas Muhammadiyah Purworejo
59
Vol /0 2 / No. 02 / Mei 2013
siswa, 13 siswa mempunyai keaktifan yang cukup, sedangkan dalam siklus
II siswa mempunyai keaktifan yang kurang tidak ada.
Tabel 7. Hasil Motivasi dan Keaktifan Siswa Kelas XI Sekretaris 2
SMK Negeri 1 Kebumen Terhadap Pembelajaran Pambagyaharja
Dalam Kegiatan Siklus II
NO
Hal
Baik
Cukup
KURANG
1
Perhatian
27
13
_
2
Keaktifan
25
15
_
3
Situasi
BAIK
_
_
4) Peningkatan Keterampilan Pambagyaharja Pada Siswa Kelas XI
Sekretaris 2 SMK Negeri 1 Kebumen Setelah Menggunakan
Metode Pemodelan.
Peningkatan keterampilan pambagyaharja pada siswa kelas XI
Sekretaris 2 SMK Negeri 1 Kebumen dalam pembelajaran pambagyaharja
menggunakan pemodelan meliputi tiga pertemuan yaitu kegiatan prasiklus,
siklus I dan siklus II.
a. Kegiatan Awal ( prasiklus)
Pelaksanaan pembelajaran pambagyaharja pada kegiatan prasiklus
mencakup penilaian pada aspek : 1). Keakuratan dan Keluasan Gagasan, 2).
Ketepataan Argumentasi, 3). Keruntutan Penyampaian Gagasan, 4 ).
Ketepatan Kata, 5). Ketepatan Kalimat, 6). Ketepatan Stile Penuturan,7).
Kelancaran dan Kewajaran, 8). Kebermaknaan Penuturan.Hasil nilai
prasiklus perlu dianalisis untuk mengetahui keadaan awal keterampilan
pambagyaharja pada siswa. Pemerolehan nilai pada kegiatan prasiklus ini
masih banyak yang tergolong kurang. Agar lebih jelas perhatikan hasil
penilaian di bawah ini:
Jurnal Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa_Universitas Muhammadiyah Purworejo
60
Vol /0 2 / No. 02 / Mei 2013
Tabel 8. Hasil Kemampuan Siswa Kelas XI Sekretaris 2
SMK Negeri 1 Kebumen dalam Pembelajaran Keterampilan
Berbicara Pambagyaharja Pada Kegiatan Prasiklus
No
Skor Akhir
Keterangan
1
86 – 100
Baik Sekali
5
12,5%
2
76 – 85
Baik
5
12,5%
3
56 – 75
Cukup
21
52,5%
4
10 – 55
Kurang
9
22,5%
Jumlah
Frekuensi
40
Presentase
100%
Berdasarkan deskripsi di atas jumlah dari 40 siswa yang melakukan
praktik pambagyaharja diperoleh hasil atau 12,5% atau 5 siswa yang
mendapatkan nilai dalam kategori baik sekali, sedangkan yang
mendapatkan nilai dalam rentang 76-85 ada 5 siswa atau 12,5%. Rentang
nilai 56-75 atau bernilai kategori cukup terdapat 21 siswa atau 52,5%. Dan
siswa yang bernilai kategori kurang terdapat 9 siswa atau 22,5%.
Namun demikian, hasil yang diperoleh dari praktik pambagyaharja
pada prasiklus ini belum mencapai hasil yang diharapkan masih kategori
cukup.
b. Kegiatan Siklus I
Pada kegiatan siklus I peneliti menjelaskan bagaimana cara
menggunakan
metode
yang
akan
digunakan
untuk
pembelajaran
pambagyaharja nanti. Pada kegiatan siklus I ini hasil nilai sudah mengalami
peningkatan cukup baik dibandingkan pada pembelajaran awal (prasiklus).
Pelaksanaan pembelajaran keterampilan pambagyaharja ini menekankan
pada aspek keakuratan dan keluasan gagasan,ketepataan argumentasi,
keruntutan penyampaian gagasan, ketepatan kata, ketepatan kalimat,
ketepatan stile penuturan, kelancaran dan kewajaran, kebermaknaan
Jurnal Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa_Universitas Muhammadiyah Purworejo
61
Vol /0 2 / No. 02 / Mei 2013
penuturan saat praktik berbicara pambagyaharja. Hasil tes pada siklus I ini
sudah mengalami peningkatan yang cukup baik dibandingkan pada
pembelajaran prasiklus. Agar lebih jelas perhatikan tabel di bawah ini :
Tabel 9. Hasil Kemampuan Siswa Kelas XI Sekretaris 2
SMK Negeri 1 Kebumen Dalam Pembelajaran Keterampilan
Berbicara Pambagyaharja Pada Kegiatan Siklus I
No
Skor Akhir
Keterangan
Frekuensi
Presentase
1
86 – 100
Baik Sekali
7
17,5%
2
76 – 85
Baik
23
57,5%
3
56 – 75
Cukup
8
20%
2
5%
4
10 – 55
Jumlah
Kurang
40
100%
Berdasarkan deskripsi tabel di atas jumlah dari 40 siswa yang
melakukan praktik pambagyaharja pada pada siklus I siswa yang
mendapatkan nilai 86 -100 atau dalam kategori baik sekali, ada 7 siswa
atau 17,5% . Sedangkan yang mendapatkan nilai baik dalam rentang 76-85
ada 23 siswa atau 57,5%, rentang nilai 56 – 75 ada 8 siswa atau 20%
bernilai kategori cukup , rentang nilai 10-55 atau kategori kurang 2 siswa
atau 5%.
c.
Kegiatan Siklus II
Pelaksanaan pembelajaran pidato pada kegiatan siklus II ini mencakup
materi yang sudah diajarkan pada siklus I. Hasil tes pada siklus IIini sudah
mengalami peningkatan yang signifikan. Agar lebih jelas perhatikan tabel
di bawah ini:
Jurnal Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa_Universitas Muhammadiyah Purworejo
62
Vol /0 2 / No. 02 / Mei 2013
Tabel 10. Hasil Kemampuan Siswa Kelas XI Sekretaris 2
SMK Negeri 1 Kebumen Dalam Pembelajaran Keterampilan
Berbicara PambagyaharjaPada Kegiatan Siklus II
No
Skor Akhir
Keterangan
Frekuensi
Presentase
1
86 – 100
Baik Sekali
25
62,5%
2
76 – 85
Baik
10
25%
3
56 – 75
Cukup
5
12,5%
-
0%
4
10 – 55
Kurang
Jumlah
40
100%
Berdasarkan deskripsi data tersebut dari 40 siswa yang melakukan
praktik pambagyaharja pada pada siklus II siswa yang mendapatkan nilai
86-100 atau dalam kategori baik sekali, ada 25 siswa atau 62,5%.
Sedangkan yang mendapatkan nilai baik dalam rentang 76-85 ada 10 siswa
atau 25%, rentang nilai 56 – 75 ada 5 siswa atau 12,5% bernilai kategori
cukup, rentang nilai 10-55 atau kategori kurang tidak ada atau 0%.
E.
Simpulan dan Saran
Berdasarkan analisis data pada bab-bab sebelumnya, dapat diperoleh
simpulan sebagai berikut:
1.
Dalam penerapan proses pembelajaran, langkah-langkah penggunaan
Strategi Pemodelan adalah sebagai berikut :
a.
Setelah pembelajaran suatu topik tertentu, carilah topik-topik yang
menuntut siswa untuk mencoba atau mempraktikkan keterampilan
yang baru diterangkan.
Jurnal Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa_Universitas Muhammadiyah Purworejo
63
Vol /0 2 / No. 02 / Mei 2013
b.
Siswa dibagi kedalam beberapa kelompok kecil sesuai dengan jumlah
mereka. Kelompok ini akan mendemostrasikan suatu keterampilan
tertentu sesuai dengan skenario yang telah dibuat.
c.
Siswa diberi waktu 10-15 menit untuk menciptakan skenario kerja.
d.
Berikan waktu 5-7 menit kepada siswa untuk berlatih
e.
Secara bergiliran setiap kelompok diminta mendemonstrasikan kerja
masing-masing. Setelah selesai, beri kesempatan kepada kelompok lain
untuk memberikan masukan pada setiap demonstrasi yang dilakukan
(Suprijono, 2011: 40).
2.
Dari hasil penelitian diketahui bahwa keterampilan pambagyaharja
menggunakan metode pemodelan mampu meningkatkan motivasi dan
keaktifan serta kemampuan berbicara pambagyaharja siswa. Pada
kegiatan prasiklus dilihat dari segi perhatian diperoleh data 8 siswa
mempunyai perhatian yang baik, 12 siswa mempunyai perhatian cukup,
20 siswa mempunyai perhatian yang kurang, dilihat dari segi keaktifan
diperoleh data 9 siswa dikategorikan baik, 16 siswa dikategorikan cukup,
dan 15 siswa dikategorikan kurang. Dan setelah dilakukan tindakan
siklus I dan siklus II terjadi peningkatan. Dari hasil kegiatan siklus II
diperoleh data dari segi perhatian
sebanyak 27 siswa mempuyai
perhatian baik, 13 siswa mempuyai perhatian cukup dan yang mempuyai
perhatian kurang tidak ada. Dilihat dari segi keaktifan sebanyak 25
dikategorikan baik, 15 siswa mempuyai keaktifan yang cukup, dan siswa
yang mempuyai keaktifan kurang tidak ada.
3.
Terdapat peningkatan kemampuan berbicara pambagyaharja pada siswa
kelas XI Sekretaris 2 SMK Negeri 1 Kebumen setelah diadakan
penelitian kemampuan berbicara pambagyaharja menggunakan metode
pemodelan. Pada prasiklus nilai rata-rata kelas mencapai 65,5. Pada
siklus 1 nilai rata-rata kelas meningkat menjadi 85,9 mengalami
peningkatan sebesar 20,4. Pada siklus II juga mengalami peningkatan
sebesar 7,6 sehingga nilai rata-rata kelas menjadi 93,5.
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, peneliti menyarankan
beberapa
hal
dalam
rangka
meningkatkan
kemampuan
berbicara
Jurnal Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa_Universitas Muhammadiyah Purworejo
64
Vol /0 2 / No. 02 / Mei 2013
pambagyaharja menggunakan metode pemodelan, antara lain sebagai
berikut.
4.
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi pertimbangan dalam upaya
memperbaiki penerapan metode pembelajaran baik di SMA maupun
SMP, karena metode pemodelan telah terbukti dapat meningkatkan
keaktifan dan motivasi siswa dalam meningkatkan kemampuan
pambagyaharja.
5.
Guru, khususnya guru mata pelajaran bahasa dan sastra Jawa hendaknya
lebih bervariasi dalam memilih metode pembelajaran pambagyahaja
sehingga siswa lebih antusias dalam mengikuti pembelajaran dan dapat
menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan dan tidak
membosankan bagi siswa sehingga hasil belajar siswapun ikut
meningkat,
6.
Peneliti dibidang pendidikan dan bahasa hendaknya dapat menggunakan
metode pemodelan sebagai salah satu alternatif atau bahan acuan dalam
penelitian serupa atau pengembanganya.
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi. 2006. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi
Aksara.
________________. 2008. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi Aksara.
_________________. 2010. Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka
Cipta.
Mudjiono, Dkk. 2006. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta :Rineka Cipta.
Nurgiyantoro, Burhan. 2010. Penilaian Pembelajaran Bahasa Berbasis
Kompetensi. Yogyakarta : BPFE-Yogyakarta.
Hamalik, Oemar. 2007. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara.
Riduwan. 2004. Belajar Mudah Penelitian Untuk Guru Karyawan dan Peneliti
Pemula. Bandung : Alfabeta.
Sanjaya, Wina. 2008. Pembelajaran dalam Implementasi Kurikulum Berbasis
Kompetensi. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Suprijono, Agus. 2011. Cooperative Learning Teori dan Aplikasi PAIKEM.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Sugiyono. 2003. Statistika Untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta.
________. 2008. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung:
Alfabeta.
Tarigan, Henry Guntur. 2008. Berbicara Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa.
Bandung: Angkasa.
Yatmana Sudi, dkk. 2005. Kabeh Seneng Basa Jawa. Semarang:Yudhistira.
Jurnal Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa_Universitas Muhammadiyah Purworejo
65
Download