universitas indonesia analisis praktik klinik keperawatan kesehatan

advertisement
UNIVERSITAS INDONESIA
ANALISIS PRAKTIK KLINIK KEPERAWATAN
KESEHATAN MASYARAKAT PERKOTAAN PADA PASIEN
DIABETES MELITUS DENGAN INTERVENSI EDUKASI DIIT
DI RUANG LANTAI V UTARA GEDUNG TERATAI RUMAH
SAKIT UMUM PUSAT FATMAWATI JAKARTA
KARYA ILMIAH AKHIR NERS
RITA MELIANNA
1106130091
FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN
PROGRAM STUDI PROFESI NERS
DEPOK
JULI 2014
Analisis praktik ..., Rita Melianna, FIK UI, 2014
UNIVERSITAS INDONESIA
ANALISIS PRAKTIK KLINIK KEPERAWATAN
KESEHATAN MASYARAKAT PERKOTAAN PADA PASIEN
DIABETES MELITUS DENGAN INTERVENSI EDUKASI DIIT
DI RUANG LANTAI V UTARA GEDUNG TERATAI RUMAH
SAKIT UMUM PUSAT FATMAWATI JAKARTA
KARYA ILMIAH AKHIR
Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh
gelar ners keperawatan
RITA MELIANNA
1106130091
FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN
PROGRAM PROFESI NERS
DEPOK
JULI 201
ii
Analisis praktik ..., Rita Melianna, FIK UI, 2014
Analisis praktik ..., Rita Melianna, FIK UI, 2014
Analisis praktik ..., Rita Melianna, FIK UI, 2014
KATA PENGANTAR
Puji syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat dan
rahmat-Nya, saya dapat menyelesaikan skripsi ini. Penulisan karya ilmiah akhir
ners ini dilakukan dalam rangka memenuhi salah satu syarat untuk mencapai gelar
Sarjana Profesi Ners pada Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia. Saya
menyadari bahwa tanpa bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak, dari masa
perkuliahan sampai pada penyusunan tugas akhir ini, sangatlah sulit bagi saya
untuk menyelesaikan tanpa bantuan berbagai pihak. Oleh karena itu saya
mengucapkan terima kasih kepada:
1. Ibu Dra. Junaiti Sahar, PhD selaku Dekan Fakultas Ilmu Keperawatan
Universitas Indonesia (FIK UI);
2. Ibu Fajar Triwaluyanti, S.Kp., M.Kep., Sp.Kep.An, selaku program studi
Ners ;
3. Ibu Arcellia Farosyah Putri, S.Kp., M.Sc, selaku pembimbing dalam
pembuatan karya ilmiah ini yang selalu memberikan masukan dan bimbingan.
4. Bapak Ns.Khairul Nasri, S.Kep, selaku penguji dalam sidang tugas akhir
yang telah memberikan masukan untuk pembuatan tugas akhir ini;
5. Teman satu bimbingan, yang telah berbagi ilmu dan hasil konsultasinya, serta
selalu memberikan masukan dan saran yang baik dalam penulisan karya
ilmiah akhir ini;
6. Teristimewa kepada kedua orang tua yang telah memberi dukungan secara
penuh, baik dukungan moral, doa, dan materi selama penulis menyusun tugas
akhir ini;
7. Suami dan Anak-anakku yang selalu memberikan dukungan, baik moril
berupa doa, semangat dan motivasi, maupun materiil sehingga menyelesaikan
penulisan ini dengan baik;
8. Serta pihak lain yang mungkin tidak sempat penulis uraikan satu persatu
tanpa mengurangi rasa terimakasih saya;
Akhir kata, semoga Tuhan berkenan membalas segala kebaikan semua pihak yang
telah membantu. Semoga tugas akhir ini membawa manfaat bagi pengembangan
ilmu.
Dengan segala kerendahan hati penulis menyadari bahwa penyusunan tugas akhir
ini masih jauh dari kesempurnaan. Maka dari itu penulis mengharapkan beberapa
kritik dan saran yang bersifat membangun untuk perbaikan tugas akhir ini
kedepannya.
Depok, 12 Juli 2014
Penulis
Rita Melianna
v
Analisis praktik ..., Rita Melianna, FIK UI, 2014
Analisis praktik ..., Rita Melianna, FIK UI, 2014
ABSTRAK
Nama
: Rita Melianna
Program Studi : Profesi Keperawatan
Judul
: Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat
Perkotaan pada Pasien Diabetes Melitus dengan Intervensi
Edukasi Diit Di Ruang Lantai V Utara Gedung Teratai Rumah
Sakit Umum Pusat Fatmawati
Prevalensi penyakit Diabetes Melitus (DM) di masyarakat perkotaan telah
mengalami peningkatan. DM pada masyarakat perkotaan disebabkan oleh gaya
hidup yang tidak sehat seperti pola makan yang tidak sehat, kurangnya aktivitas,
obesitas yang dapat memicu terjadinya diabetes melitus (DM). DM adalah suatu
penyakit kadar glukosa di dalam darah tinggi karena terdapat gangguan pada
kelenjar pankreas dan insulin yang dihasilkan baik secara kualitas dan kwantitas.
Glukosa darah yang tidak terkontrol dapat mengakibatkan komplikasi. Cara
mengontrol glukosa darah salah satunya dengan edukasi pengaturan diit DM. Diit
DM bertujuan memperbaiki kebiasaan makan untuk mengontrol glukosa darah.
Studi kasus yang dilakukan bertujuan untuk menganalisis intervensi edukasi diit
pada DM Tipe 2 di lantai 5 Utara, Gedung Teratai RSUP Fatmawati. Hasil
analisis intervensi edukasi diit dapat menurunkan glukosa darah.
Kata kunci
: Diabetes Melitus; Edukasi Diit; glukosa darah;
vii
Analisis praktik ..., Rita Melianna, FIK UI, 2014
Abstract
Name
: Rita Melianna
Study program : Ners
Title
: Analysis of Urban Health Clinical Nursing Practice in Patients
Diabetes Mellitus with Dietary Education Intervention
Prevalence of diabetes mellitus (DM) in the urban community has been increase.
DM in the urban community is caused by unhealthy life styles such as unhealthy
eat pattern, lack of activity, and obesity which can trigger diabetes mellitus. DM
is a disease that engender high blood glucose level that caused by the disorder of
pancreas which influence the quality and quantity of insulin’s production.
Uncontrolled blood glucose level will lead to many complications. One of the
method of controlling the blood glucose level is by giving education about diet’s
arrangement. Diet arrangement is aimed to correct the client’s eating pattern in
order to control the blood glucose level. This case study aim to analyze the diit
intervention in type 2 DM client at North Fifth Floor Room of Lotus Building of
Fatmawati General Center Hospital Jakarta. The result of intervention analysis is
diit arrangement can decrease the blood glucose level.
Key words : diabetes mellitus; diit education; blood glucose level
viii
Analisis praktik ..., Rita Melianna, FIK UI, 2014
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL......................................................................................
LEMBAR PERNYATAAN ORISINALITAS ..............................................
HALAMAN PENGESAHAN ........................................................................
KATA PENGANTAR ..................................................................................
HALAMAN PERSETUJUAN PUBLIKASI .................................................
ABSTRAK ....................................................................................................
DAFTAR ISI .................................................................................................
DAFTAR GAMBAR ....................................................................................
DAFTAR TABEL .........................................................................................
DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................
i
iii
iv
v
vi
vii
ix
xi
xii
xiii
BAB 1. PENDAHULUAN ...........................................................................
1.1 Latar Belakang ...........................................................................
1.2 Tujuan Penulisan ........................................................................
1.3 Manfaat Penulisan ......................................................................
1
3
3
3
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA .................................................................
2.1 Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan (KKMP) .........
2.2 Diabete Melitus (DM) ................................................................
2.2.1 Definisi ...........................................................................
2.2.2 Etiologi ...........................................................................
2.2.3 Manifestasi Klinik ...........................................................
2.2.4 Komplikasi .....................................................................
2.2.5 Pemeriksaan Diagnostik .................................................
2.2.6 Asuhan Keperawatan pada Pasien Diabetes Melitus ......
2.2.7 Masalah Keperawatan Yang Muncul..............................
2.2.8 Penataksanaan Klien Dengan Diabetes Melitus..............
2.2.9 Diit pada Diabetes Melitus .............................................
2.2.10 Pengertian ........................................................................
2.2.11 Tujuan ..............................................................................
2.2.12 Pengaturan .......................................................................
5
5
6
6
6
7
8
8
10
12
12
12
12
13
15
BAB 3. LAPORAN KASUS KELOLAAN .............................................
3.1 Pengkajian ..................................................................................
3.1.1 Identitas Pasien ...............................................................
3.1.2 Anamnesis........................................................................
3.2Rencana Auhan dan Implementasi Keperawatan .......................
3.3Evaluasi Keperawatan ................................................................
20
20
20
20
24
26
ix
Analisis praktik ..., Rita Melianna, FIK UI, 2014
BAB 4. PEMBAHASAAN ..........................................................................
4.1 Analisis Situasi Terkait Masalah Keperawatan Kesehatan
Masyarakat Perkotaan .................................................................
4.2 Analisas kasua .............................................................................
4.3 Analisis intervensi edukasi diit diabetes melitus.........................
4.4 Altennatif pemecahan yang dapat dilakukan ..............................
29
BAB 5. PENUTUP .......................................................................................
5.1 Kesimpulan ................................................................................
5.2 Saran ..........................................................................................
37
37
37
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
x
Analisis praktik ..., Rita Melianna, FIK UI, 2014
29
29
32
35
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Hasil Penunjang
Lampiran 2 Monitoring Pemeriksaan Sliding Scale
Lampiran 3 Daftar Medikasi Yang Diberikan
Lampiran 4 Analisa Masalah
Lampiran 5 Rencana Asuhan Keperawatan
Lampiran 6 Catatan perkembangan keperawatan
Lampiran 7 Satuan acara pembelajaran diabetes melitus
Lampiran 8 leaflet diabetes melitus
Lampiran 9 Satuan acara pembelajaran diit pada diabetes melitus
Lampiran 10 Leaflet diit diabetes melitus
xi
Analisis praktik ..., Rita Melianna, FIK UI, 2014
BAB 1
1.1. Latar Belakang
Diabetes Melitus (DM) adalah suatu penyakit kadar glukosa (gula sederhana)
di dalam darah tinggi karena terdapat gangguan pada kelenjar pankreas dan
insulin
yang
di
hasilkan
baik
secara
kualitas
dan
kwantitas
(Tjokroprawiro,2006). Seringkali penderita tidak menyadari apabila orang
tersebut telah menderita diabetes, dan sering kali mengalami keterlambatan
dalam menanganinya sehingga banyak terjadi komplikasi. Penyakit diabetes
mellitus dapat menyerang semua lapisan umur dan sosial ekonomi, sebagian
besar kasus DM disebabkan perubahan gaya hidup, yang cenderung kurang
aktivitas, diet tidak sehat dan tidak seimbang, mempunyai berat badan lebih,
komsumsi alkohol.
Menurut World Health Organisation (WHO, 2010) penderita DM di
perkirakan sebanyak 10% dari populasi, kemudian memperkirakan pada
2030, penyandang diabetes di Indonesia melonjak menjadi 21,3 juta jiwa,
Angka tersebut mengantarkan Indonesia sebagai negara dengan jumlah
penderita diabetes terbanyak ke-4 di dunia setelah Amerika Serikat, China
dan India. Hasil riset kesehatan dasar Riset kesehatan dasar (Riskesda, 2013)
menunjukan bahwa secara nasional, prevalensi penderita DM berjumlah 5,25
juta jiwa (atau 2,1%), dengan prevalensi di perkotan lebih tinggi dari pedesan
yaitu 2%. Hasil riset Divisi Endokrin dan Metabolik RSCM tahun 2006
terdapat penderita DM 1 dari 8 orang penduduk DKI, bila jumlah penduduk
tahun 2012 berjumlah 9,6 juta jiwa, maka berdasarkan perhitungan tadi
jumlah penderita DM adalah 1,2 juta jiwa. Di RSF lantai 5 utara pada bulan
april 2014 berjumlah 25 orang dari 165 penderita yang di rawat.
1
Universitas Indonesia
Analisis praktik ..., Rita Melianna, FIK UI, 2014
2
WHO, (2010) mengatakan di perkotaan teredia restoran siap saji sehingga
masyarakat mengkomsumsi makan siap saji, makanan siap saji ini tinggi
lemak, gula dan garam. Sistem transportasi diperkotaan juga beresiko
terganggu kesehatan karena masyarakat sehari-hari menggunakan kendaraan,
hal ini mengakibatkan masyarakat cenderung kurang aktivitas, sehingga
kondisi ini yang mengakibatkan faktor resiko terjadinya DM.
Penyakit diabetes melitus merupakan penyakit kronis yang akan disandang
seumur hidup dan memerlukan biaya yang tidak sedikit. Apalagi bila disertai
komplikasi seperti ulkus diabetik sekitar 15% (Rini, 2008), Retinopaty 60%
(Dhira, 2008) dan CKD, hal ini pasti akan menimbulkan beban biaya bagi
penyandang diabetes melitus, keluarga dan pemerintah. Pengendalian DM
dapat di lakukan dengan diet, latihan fisik, pendidikan kesehatan dan
pemantauan terapi.
Menurut Sri Anani (2012) menyatakan bahwa ada hubungan antara kebiasaan
makan dengan glukosa darah, dan sejalan dengan penelitian yang telah
dilakukan oleh Ahmad Yoga Setyo Utomo bahwa pengaturan pola makan
mempunyai hubungan yang signifikan dengan keberhasilan pengelolaan DM
tipe 2. Penelitian yang di lakukan Atika (2012) diit kurang berpengaruh
terhadap kadar HbaIc, disebabkan modifikasi diit yang dijalankan belum
sepenuhnya mengikuti anjuran diit yang direkomendasikan untuk DM tipe II,
jika modifikasi diet diaplikasikan secara benar dapat mengontrol gula darah
pada penderita DM tipe II.
Diit dan latihan fisik memegang peranan utama dalam pengobatan DM tipe
II (Smeltzer dan Bare, 2008) dan pola diit pada DM tipe II dimaksudkan
untuk mengatur jumlah kalori dan karbohidrat yang di komsumsi setiap hari
Universitas Indonesia
Analisis praktik ..., Rita Melianna, FIK UI, 2014
3
(Prince dan Wilson, 2006). Oleh karena itu pasien dengan DM tipe II perlu
pengaturan diit yang bertujuan untuk mengontrol gula darah sehingga
mencegah terjadinya komplikasi. Karya tulis ilmiah ini akan menganalisis
praktik klinik keperawatan kesehatan masyarakat perkotaan klien dengan DM
tipe II yang dilakukan intervensi berupa edukasi diit DM diruang teratai
lantai V utara Rumah Sakit Umum Fatmawati.
1.2. Tujuan Penulisan
Penulisan ini memiliki beberapa tujuan antara lain:
1.2.1. Tujuan umum :
Menggambarkan analisis
praktik
klinik keperawatan
kesehatan
masyarakat perkotaan pada pasien DM tipe II di ruang Teratai lantai V
utara RSUP Fatmawati.
1.2.2. Tujuan khusus
Tujuan khusus dari penulisan ini adalah sebagai berikut :
1. Melakukan analisis masalah Keperawatan Kesehatan Masyarakat
Perkotaan (KKMP)
2. Melakukan analisis masalah keperawatan pada pasien DM tipe II
dalam lingkup Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan
3. Melakukan asuhan keperawatan kepada pasien kelolaan dengan
masalah nutrisi pada pasien DM tipe II.
4. Melakukan analisis intervensi mengenai diit DM dalam mengatasi
masalah
1.3. Manfaat Penulisan
Manfaat dari penulisan ini antara lain:
1. Bagi Pelayanan Keperawatan
Hasil penulisan ini diharapkan dapat memberikan masukan kepada para
perawat untuk memberikan asuhan keperawatan terkait DM. Khususnya
dalam memberikan intervensi keperawatan kepada penderita DM meliputi
tepat jumlah kalori, tepat waktu, tepat dan tepat jenis makanan. Intervensi
tersebut dilakukan sesuai dengan penelitian yang sudah ada.
Universitas Indonesia
Analisis praktik ..., Rita Melianna, FIK UI, 2014
4
2. Pendidikan
Hasil
penulisan
ini
diharapkan
mampu
meningkatkan
kualitas
pembelajaran dan mengembangkan ilmu yang berkaitan dengan sistem
endokrin khususnya mengenai penyakit DM dalam lingkup pencegahan
menggunakan diit sehingga diharapkan dapat menurunkan angka
kekambuhan atau terjadinya komplikasi
3. Penulis selanjutnya
Hasil penulisan ini diharapkan dapat menjadi dasar untuk melakukan
intervensi diit dengan kasus DM sesuai dengan penelitian terbaru.
Universitas Indonesia
Analisis praktik ..., Rita Melianna, FIK UI, 2014
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan
Masyarakat
merupakan
himpunan
atau
satu-kesatuan
manusia
atau
sekelompok social yang hidup bersama dan saling berhubungan yang bersifat
kompleks, kota merupakan permukiman yang relatif besar, padat dan
permanen, serta dihuni oleh orang-orang yang heterogen kedudukan
sosialnya, akibatnya hubungan sosial menjadi longgar, acuh tak acuh dan
tidak bersifat pribadi (Waluya, 2007). Keperawatan kesehatan masyarakat
adalah suatu upaya pelayanan kesehatan keperawatan yang merupakan bagian
intekral dari pelayanan kesehatan yang di laksanakan oleh perawat dengan
mengikut sertakan tim kesehatan lain dan masyarakat untuk memperoleh
kesehatan yang lebih tinggi dari individu, keluarga dan kelompok
(Departemen Kesehatan (Depkes) RI,1996). Jadi keperawatan kesehatan
masyarakat perkotaan adalah pelayanan keperawatan yang di khususkan
kepada masyarakat perkotaan.
Menurut Janes & Lundy (2009), masalah kesehatan yang ada di perkotaan
terjadi antara lain: tingginya angka obesitas di kalangan masyarakat
perkotaan, tingkat stress yang tinggi, kurangnya waktu untuk berolahraga
serta isolasi dalam keluarga. Perilaku hidup masyarakat yang kurang sehat
seperti seringnya mengkonsumsi makanan cepat saji dan junk food.
Kondisi masyarakat perkotaan dengan gaya hidup yang kurang sehat berujung
pada munculnya berbagai macam penyakit metabolik dan makin sulitnya
penanganan penyakit-penyakit tersebut. Salah satu contoh klasik yang
menjadi momok masyarakat dalam gaya hidup tersebut adalah DM. Diabetes
melitus merupakan suatu keadaan dimana merupakan gangguan metabolisme
yang secara genetik dan klinis termasuk heterogen dengan manifestasi berupa
hilangnya toleransi karbohidrat (Sundaru, 2005).
5
Universitas Indonesia
Analisis praktik ..., Rita Melianna, FIK UI, 2014
6
2.2. DIABETES MELITUS
2.2.1. Pengertian
Diabetes melitus merupakan sekelompok kelainan heterogen yang
ditandai oleh kenaikan kadar glukosa dalam darah atau hiperglikemia
(Smeltzer & Bare, 2002). Klasifikasi diabetes yang utama adalah
(Smeltzer & Bare, 2002):
o
Tipe I
Diabetes mellitus tergantung insulin (insulin dependent diabetes
mellitus/ IDDM): penyakit autoimun yang mungkin dipicu oleh
genetik dan faktor lingkungan, seperti virus, racun, stres yang
menyebabkan sel beta di pankreas rusak dan ketika 80% sampai
90% dari sel-sel beta yang hancur, gejala muncul.
o
Tipe II
Diabetes melitus tidak tergantung insulin (non insulin dependent
diabetes melitus/ NIDDM): melibatkan penurunan kemampuan
untuk menggunakan insulin yang diproduksi di pankreas (Peeples
& Seley, 2007 dalam Doenges, Moorhouse, & Murr, 2010).
Penurunan sekresi insulin sebagai respons terhadap tingkat glukosa,
resistensi insulin memblokir sel-sel dari menyerap glukosa, atau
kelebihan produksi glukosa karena kerusakan respon sekresi
insulin.
o
Diabetes melitus yang berhubungan dengan keadaan atau sindrom
lainnya
o
Diabetes melitus gestasional (gestasional diabetes melitus)
2.2.2. Etiologi
Diabetes Melitus tergantung insulin (IDDM) adalah penyakit autoimun
yang ditentukan secara genetik dengan gejala-gejala yang pada akhirnya
menuju suatu proses bertahap perusakan imunologik sel-sel yang
memproduksi insulin. Pada pasien dengan NIDDM, ditandai dengan
kelainan dalam sekresi insulin maupun kerja insulin. Pada pasien DM
Tipe 2, penyakitnya mempunyai pola familial yang kuat, jika orang tua
Universitas Indonesia
Analisis praktik ..., Rita Melianna, FIK UI, 2014
7
menderita DM tipe 2 rasio diabetes dan nondiabetes pada anak adalah
1:1 dan sekitar 90% pasti membawa carrier) diabetes tipe 2. Sekitar
80% penderita NIDDM mengalami obesitas. Karena obesitas berkaitan
dengan gangguan toleransi glukosa dan DM yang pada akhirnya terjadi
pada pasien NIDDM merupakan akibat dari obesitas (Price and Wilson,
2006).
2.2.3. Manifestasi Klinis
Gejala klinis klien dengan diabetes melitus menurut (Prince and
Wilson, 2006) adalah sebagai berikut, hiperglikemia berat dan melebihi
ambang ginjal akan timbul glikosuria, glikosuria mengakibatkan
diuresis osmotik yang meningkatkan pengeluaran urine (poliuria) dan
timbul rasa haus (polidipsia). Karena glukosa hilang bersama urine,
maka pasien mengalami keseimbangan kalori negatifdan berat badan
berkurang. Rasa lapar yang semakin besar (polifagia) akan timbul
sebagai akibat kehilangan kalori, pasian mengeluh lelah dan
mengantuk. Penderita dapat menjadi sakit berat atau timbul
ketoasidosis,
serta
dapat
meninggal
kalau
tidak
mendapatkan
pengobatan segera.
Pada masalah perkotaan tipe DM yang sering terjadi adalah DM Tipe 2,
dimana dari seluruh penderita DM terdapat 90% adalah DM Tipe 2
(Depkes, 2005. ADA, 2008, Atika, 2012). Diabetes jenis ini
dikarakteristikkan oleh resistensi insulin dan berkurangnya sensitivitas
insulin hingga mengakibatkan peningkatan lipolisis dan produksi asam
lemak, peningkatan produksi glukosa hati, dan penurunan ambilan
glukosa oleh otot skeletal. Timbulnya DM Tipe 2 dikaitkan dengan pola
gaya hidup yang buruk, seperti kurangnya olah raga, obesitas, dan diit
tinggi lemak dan rendah serat (Dipiro, Well, Scwinghhammer, 2009,
ADA, 2011, Atika, 2012). Penyebab yang di temukan serupa dengan
kondisi diperkotaan. Komplikasi yang terjadi adalah belum ditemukan
diperkotaan
secara
spesifik,
hasil
penelitian
United
Kingdom
Universitas Indonesia
Analisis praktik ..., Rita Melianna, FIK UI, 2014
8
Prospective Diabeti Study (UKPBS) tahun 2000 mengatakan bahwa
setiap 1% penurunan HbA1c menyebabkan penurunan 21% berbagai
endpoit yang berhubungan dengan DM, 14% penurunan infark miokard
dan 37% penurunan komplikasi mikrovaskuler (Standy, Herrmann,
Walters, Desache dan Choen, 2009, Atika, 2012)
2.2.4. Komplikasi
Komplikasi-komplikasi DM dapat dibagi menjadi dua kategori mayor
yaitu komplikasi metabolik akut dan komplikasi-komplikasi vaskuler
jangka panjang, (Prince and Wilson, 2006) adalah:
1) Komplikasi Metabolik Akut adalah Diabetik ketoasidosis (DKA),
hipoglikemi (syok insulin), hiperglikemia, hiperosmolar dan koma
hiperglikemi hiperosmolar.
2) Komplikasi vaskuler jangka panjang dari DM melibatkan
pembuluh-pembuluh kecil (mikroangiopati) seperti menyerang
kapiler dan arteriola retina (retinopati diabetik), glomerulus ginjal
(nefropati diabetik) dan saraf perifer (neuropati diabetik)
2.2.5. Pemeriksaan Diagnostik

Pemeriksaan darah (Doenges, Moorhouse, & Murr, 2010):
a.
Glukosa serum: Standar emas untuk mendiagnosis diabetes
adalah tingkat gula darah setelah puasa semalam. Nilai di atas
140 mg/dL pada setidaknya dua kesempatan biasanya berarti
orang memiliki diabetes. Kadar gula puasa yang normal
berjalan antara 70 dan 110 mg/dL.
b.
Asam lemak: Jenis alami dan senyawa lipid sintetik.
c.
Osmolalitas serum: Mengukur konsentrasi partikel ditemukan
di bagian cairan dari darah untuk membantu mengevaluasi
keseimbangan cairan tubuh. Nilai-nilai dihitung normal
berkisar antara 280 sampai 303 mOsm/K.
d.
Hemoglobin A1C (HgbA1C): Tes yang menentukan berapa
banyak glukosa telah menempel pada bagian Hgb dalam
jangka waktu 3 sampai 4 bulan, dengan 2 minggu sebelumnya
Universitas Indonesia
Analisis praktik ..., Rita Melianna, FIK UI, 2014
9
paling banyak terukur. Tingkat yang direkomendasikan adalah
7 %.

Elektrolit (Doenges, Moorhouse, & Murr, 2010):
a.
Sodium: ion ekstraseluler tubuh yang paling berlimpah
memainkan peran penting dalam menjaga keseimbangan cairan
dan neuromuskuler konduksi atau transmisi impuls .
b.
Kalium: kation utama cairan intraseluler dibutuhkan untuk
mengatur tekanan osmotik intraseluler dan keseimbangan air;
juga mengatur eksitabilitas neuromuskular dan membantu
dalam pemeliharaan keseimbangan asam-basa, sintesis protein,
dan metabolisme karbohidrat.
c.
Fosfor: mineral penting yang dibutuhkan untuk produksi
energi, pemanfaatan karbohidrat dan lemak dan sintesis protein
dan aktivasi berbagai enzim dan hormon
d.
Gas darah arteri: Penilaian tingkat gas darah arteri dari oksigen
(PaO2), karbon dioksida (PaCO2), bikarbonat (HCO3-)
e.
Hitung darah lengkap (CBC): tes skrining, yang biasanya
meliputi Hb, hematokrit (Ht); sel darah merah (RBC),
morfologi, indeks, dan lebar distribusi index, jumlah trombosit
dan ukuran, sel darah putih (WBC) dan diferensial.
 Pemeriksaan Diagnostik Lain (Doenges, Moorhouse & Murr,
2010):
a.
Urin: glukosa Urine berkorelasi buruk dengan glukosa darah,
tergantung pada ambang glukosa ginjal (150-300 mg/dL) dan
harus digunakan hanya jika pengukuran glukosa darah tidak
mungkin atau sebagai tes konfirmasi. Keton harus selfdimonitor selama penyakit demam atau bila gejala ketoasidosis
dibetik (DKA) yang hadir.
b.
Kultur dan kepekaan: Spesimen dapat berupa urine, sputum
atau drainase luka
Universitas Indonesia
Analisis praktik ..., Rita Melianna, FIK UI, 2014
10
2.2.6. Pengkajian Umum Klien dengan Diabetes Melitus
Pada pengkajian identifikasi
ABCD: kepatenan jalan napas,
bagaimana napas, adakah henti napas, tekan darah, nadi.
a. Aktivitas/istirahat.
 Gejala: lemah, letih, sulit bergerak/ berjalan, kram otot, tonus
otot
menurun, gangguan tidur/istirahat.
 Tanda: takikardi, dan takipnea pada keadaan istirahat atau
dengan aktivitas, letargi/disorientasi, koma, penurunan kekuatan
otot.
b. Sirkulasi
 Gejala: Adanya riwayat hipertensi, infark miokard
akut,
klaudikasi, kebas, kesemutan pada ekstremitas, ulkus pada kaki,
penyembuhan yang lama.
 Tanda: Takikardi, perubahan tekanan darah postural, hipertensi,
nadi yang menurun/ tidak ada, disritmia, krekles, distensi vena
jugularis (DVJ) , kulit panas, kering, dan kemerahan, bola mata
cekung.
c. Integritas Ego
 Gejala: Stres, tergantung pada orang lain, masalah finansial yang
berhubungan dengan kondisi.
 Tanda: Ansietas, peka rangsang.
d. Eliminasi
 Gejala: Perubahan pola berkemih (poliuria), nokturia, rasa nyeri
terbakar, kesulitan berkemih (infeksi), infeksi saluran kemih
(ISK)
 baru/berulang, nyeri teka abdomen, diare.
 Tanda: Urine encer, pucat, kuning, urine berkabut, bau busuk
(infeksi), abdomen keras, adanya asites, bising usus lemah dan
menurun, hiperaktif (diare).
Universitas Indonesia
Analisis praktik ..., Rita Melianna, FIK UI, 2014
11
e. Makanan/Cairan
 Gejala: Hilang napsu makan, haus, mual/ muntah, tidak
mengikuti diet, peningkatan masukan glukosa/ karbohidrat,
penurunan berat badan lebih dari periode beberapa hari/minggu,
penggunaan diuretik.
 Tanda: Kulit kering/bersisik, turgor jelek, kekakuan/distensi
abdomen, muntah, pembesaran tiroid, bau napas aseton.
f. Neurosensori
 Gejala:
Pusing/pening,
sakit
kepala,
kesemutan,
kebas
kelemahan pada otot, parestesia, gangguan penglihatan
 Tanda: Disorientasi, mengantuk, letargi, stupor/koma (tahap
lanjut), gangguan memori, kacau mental, reflek tendon dalam
(RTD) menurun (koma), aktivitas kejang (tahap lanjut dari
DKA).
g. Nyeri/keamanan
 Gejala: Abdomen tegang/nyeri (sedang/berat)
 Tanda: Wajah meringis dengan palpitasi; tampak sangat berhatihati.
h. Pernapasan
 Gejala: Merasa kekurangan oksigen, batuk dengan atau tanpa
sputum purulen.
 Tanda: Lapar udara.
i. Keamanan
 Gejala: Kulit kering, gatal, ulkus kulit
 Tanda: Demam, diaforesi, kulit rusak, lesi/ulserasi, menurunnya
kekuatan umum/rentang gerak, parestesi/paralisis otot termasuk
otot pernapasan.
j. Seksualitas
 Gejala: Rabas vagina (cenderung infeksi), masalah impoten pada
pria, kesulitan orgasme pada wanita.
Universitas Indonesia
Analisis praktik ..., Rita Melianna, FIK UI, 2014
12
2.2.7. Masalah Keperawatan yang Muncul
Masalah keperawatan yang biasanya muncul pada klien dengan diabetes
melitus diantaranya adalah:
a.
Kekurangan volume cairan.
b.
Ketidakseimbangan nutrisi; kurang dari kebutuhaan.
c.
Resiko tinggi infeksi
d.
Resiko tinggi perubahan persepsi sensori.
e.
Intoleransi aktivitas.
f.
Kurang pengetahuan tentang penyakit, prognosis dan pengobatan.
2.2.8. Penatalaksanaan Umum Klien dengan Diabetes Melitus
Ada lima komponen dalam penatalaksanaan DM yang bertujuan untuk
mencapai kadar glukosa darah normal tanpa terjadinya hipoglikemia
dan gangguan serius pada pola aktifitas pasien, yaitu (Smeltzer & Bare,
2002):
a. Pendidikan kesehatan DM (Edukasi).
b. Pengaturan aktivitas.
c. Pengaturan nutrisi (Diet DM).
d. Agen-agen hipoglikemia oral.
Penderita dengan Diabetes Mellitus tipe II terdapat resistensi insulin
dan defisiensi insulin relatif dan dapat ditangani tanpa insulin,
metabolisme gula darah didalam tubuh tidak akan berjalan baik jika
gula atau kalori yang dikonsumsi terlalu besar dan terus menerus,
sehingga pengaturan pola diit pada penderi DM tipe II dimaksudkan
untuk mengatur jumlah kalori dan karbohidrat yang dikonsumsi setiap
hari (Price dan Wilson, 2006).
2.3. Diit pada Diabetes Mellitus
2.3.1. Pengertian Diit Diabetes Mellitus
Diit adalah pengaturan jumlah dan jenis makanan yang dikonsumsi
setiap hari agar kesehatan seseorang tetap terjaga. Sedangkan terapi
diit merupakan terapi yang memanfaatkan diit yang berbeda dengan
Universitas Indonesia
Analisis praktik ..., Rita Melianna, FIK UI, 2014
13
diit orang normal untuk mempercepat kesembuhan dan memperbaiki
status gizi (Hartono, 2006). Pelaksanaan diit hendaknya disertai
dengan perubahan perilaku tentang makanan (Almatsier, 2006). Diit
dan pengendalian berat badan merupakan dasar dari penatalaksanaan
gizi pada penderita diabetes mellitus. (Smeltzer & Bare, 2002)
2.3.2. Tujuan Diit Diabetes Melitus
Tujuan diit DM adalah membantu pasien memperbaiki kebiasaan
makan untuk mendapatkan kontrol metabolik yang lebih baik dengan
cara mempertahankan kadar glukosa darah supaya mendekati normal
dengan menyeimbangkan asupan makanan dengan insulin, mencapai
dan mempertahankan kadar lipida serum normal, memberi cukup
energi untuk mempertahankan atau mencapai berat badan normal,
menghindari atau menangani komplikasi akut
bagi
pasien yang
menggunakan insulin seperti hipoglikemia, komplikasi jangka pendek,
dan jangka lama serta masalah yang berhubungan dengan latihan
jasmani (Almatsier, 2006)
Menurut Almatsier (2006). Syarat - syarat diet penyakit diabetes
Melitus adalah:
a. Energi cukup untuk mencapai dan mempertahankan berat badan
normal. Kebutuhan energi ditentukan dengan memperhitungkan
kebutuhan untuk metabolisme basal sebesar 25-30 kkal/kg BB
normal, ditambah kebutuhan untuk aktivitas fisik dan keadaan
khusus, misalnya kehamilan atau laktasi serta ada tidaknya
komplikasi. Makanan dibagi dalam 3 porsi besar yaitu makan pagi
(20%), siang (30%), dan sore (25%), serta 2-3 porsi kecil untuk
makanan selingan (masing- masing 10-15%).
b. Kebutuhan protein normal, yaitu 10-15% dari kebutuhan energi
total. Rencana makan dapat mencakup penggunaan beberapa
makanan sumber protein nabati misalnya kacang-kacangan dan
Universitas Indonesia
Analisis praktik ..., Rita Melianna, FIK UI, 2014
14
biji-bijian yang utuh untuk membantu asupan kolesterol dan lemak
jenuh.
c. Kebutuhan lemak sedang, yaitu 20-25% dari kebutuhan energi total,
dalam lemak tidak jenuh ganda, sedangkan sisanya dari lemak tidak
jenuh tunggal. Asupan kolesteral makanan dibatasi, yaitu < 300
mg hari. Rekomendasi ini dapat menguragi faktor risiko seperti
kenaikan kadar kolesterol serum yang berhubungan dengan proses
terjadinya penyakit koroner yang merupakan penyebab utama
kematian dan ketidakmampuan diantara para penderita diabetes.
d. Kebutuhan karbohidrat adalah sisa dari kebutuhan energi total, yaitu
60-70%. Tujuannya adalah meningkatkan konsumsi karbohidrat
komplek seperti roti, gandum utuh, nasi beras tumbuk, sereal dan
pasta/mi yang berasal dari gandum yang masih mengandung
bekatul.
e. Penggunaan gula murni dalam minuman dan makanan tidak
diperbolehkan kecuali jumlahnya sedikit sebagai bumbu. Bila kadar
glukosa darah sudah terkendali, diperbolehkan mengkonsumsi gula
murni sampai 5% dari kebutuhan energi total.
f. Penggunaan gula alternatif dalam jumlah terbatas. Gula alternatif
adalah bahan pemanis selain sakarosa. Ada dua jenis gula alternatif
yaitu yang bergizi dan yang tidak bergizi. Gula alternatif bergizi
adalah fruktosa, gula alkohol berupa sorbitol, manitol, dan silitol,
sedangkan gula alternatif tidak bergizi adalah aspartam dan sakarin.
Pengguanaan
gula
alternatif
hendaknya
dalam
jumlah
terbatas.Fruktosa dalam jumlah 20% dari kebutuhan energi total
dapat meningkatkan kolesterol dan LDL, sedangkan gula alkohol
dalam jumlah berlebihan mempunyai pengaruh laksatif.
g. Asupan serat dianjurkan 25 g/hari dengan mengutamakan serat larut
air yang terdapat didalam sayur dan buah. Menu seimbang ratarata memenuhi kebutuhan serat sehari. Tipe diit ini berperan dalam
Universitas Indonesia
Analisis praktik ..., Rita Melianna, FIK UI, 2014
15
penurunan kadar total kolesterol dan LDL kolesterol dalam darah.
Peningkatan kandungan serat dalam diit dapat pula memperbaiki
kadar glukosa darah sehingga kebutuhan insulin dari luar dapat
dikurangi.
h. Pasien DM dengan tekanan darah normal diperbolehkan
mengkonsumsi natrium dalam bentuk garam dapur seperti orang
sehat, yaitu 3000 mg/hari. Apabila mengalami hipertensi, asupan
garam harus dikurangi, dianjurkan 2400 mg natrium perhari.
i. Cukup vitamin dan mineral. Apabila asupan dari makanan cukup,
penambahan vitamin dan mineral dalam bentuk suplemen tidak
diperlukan.
j. Pasien DM dianjurkan untuk menghindari alkohol. Anjuran bagi
orang diabetes yang tidak dapat menghindari alkohol adalah
alkohol tidak boleh dikonsumsi apabila kadar glukosa darah belum
terkendali. Alkohol mengandung kalori tinggi sehingga tidak baik
bagi yang kegemukan, tidak baik diminum bila perut kosong
karena dapat menyebabkan hipoglikemia, alkohol mengganggu
kesadaran sehingga dapat membuat perencanaan makan kurang
bisa dipatuhi, 1 minuman alkohol setara dengan 340 g bir atau
140 g anggur (Sukardji, 2011).
2.3.3. Pengaturan Diit Diabetes Melitus
Prinsip diit diabetes mellitus untuk menyukseskan diit pada penderita
DM diperlukan suatu perilaku disiplin diri dengan prinsip 3 J yaitu
tepat jenis, tepat jumlah dan tepat jadwal (Tjokroprawiro, 2006):
a. Tepat Jenis Bahan Makanan
Untuk mengajarkan prinsip-prinsip diit dan membantu pasien
dalam menyusun rencana makan telah dikembangkan beberapa
sistem dimana diit
penatalaksanaan
yang digunakan sebagai bagian dari
Diabetes
Melitus
dikontrol
berdasarkan
Universitas Indonesia
Analisis praktik ..., Rita Melianna, FIK UI, 2014
16
kandungan energi, protein, lemak dan karbohidrat.
Untuk
memudahkan penggunaan bahan makanan selain dalam ukuran
gram, juga dinyatakan dengan alat ukuran yang lazim terdapat
dalam rumah tangga (urt) seperti buah (bh), biji (bj), batang (btg),
butir (btr), besar (bsr), gelas 240 ml (gls), gram (g), kecil (kcl),
potong (ptg), sedang (sdg), sendok makan (sdm), sendok teh (sdt).
b. Tepat Jumlah Kalori
Kebutuahn energi total pada penderita diabetes melitus diperoleh
dengan kebutuhan protein normal yaitu 10-15% dari kebutuhan
energi total, kebutuhan lemak yaitu 20-25%, dan kebutuhan
karbohidrat adalah sisa dari kebutuhan energi total yaitu 60-70%.
(Almatsier, 2006). Ada beberapa cara untuk menentukan jumlah
kalori yang dibutuhkan orang dengan diabetes. Di antaranya adalah
dengan
memperhitungkan berdasarkan kebutuhan kalori basal
yang besarnya 25-30 kalori/kg BB ideal, ditambah dan dikurangi
bergantung pada
beberapa faktor yaitu jenis kelamin, umur,
aktivitas, kehamilan/ laktasi, adanya komplikasi dan berat badan
(Sukardji, 2011). Faktor-faktor tersebut adalah sebagai berikut:
1. Jenis Kelamin
Kebutuhan kalori pada wanita lebih kecil daripada pria, untuk
ini dapat dipakai angka 25 kal/kg BB untuk wanita dan angka 30
kal/kg BB untuk pria.
2. Umur
Pada bayi dan anak-anak kebutuhan kalori adalah jauh lebih
tinggi dari pada orang dewasa, dalam tahun pertama bisa
mencapai 112 kal/g BB. Penurunan kebutuhan kalori diatas 40
tahun harus dikurangi 5% untuk tiap dekade antara 40 dan 59
tahun, sedangkan antara 60 dan 69 tahun dikurangi 10%, diatas
70 tahun dikurangi 20%.
Universitas Indonesia
Analisis praktik ..., Rita Melianna, FIK UI, 2014
17
3. Aktivitas fisik atau Pekerjaan
Jenis aktivitas yang berbeda membutuhkan kalori yang berbeda
pula. Jenis aktivitas dikelompokkan menjadi keadaan istirahat
memiliki kebutuhan kalori ditambah 10% dari kalori basal,
aktivitas ringan ditambah 20% dari kebutuhan basal, aktivitas
sedang ditambah 30% dari kalori kebutuhan basal, aktivitas
berat 24 ditambah 40% dari kebutuhan basal, dan aktivitas
sangat berat ditambah 50% dari kebutuhan basal.
4. Kehamilan/Laktasi
Pada permulaan kehamilan diperlukan tambahan 150 kalori/hari
dan pada trimester II dan III 350 kalori/hari. Pada waktu laktasi
diperlukan tambahan sebanyak 550 kalori/hari.
5. Adanya komplikasi
Infeksi, trauma atau operasi yang menyebabkan kenaikan suhu
memerlukan tambahan kalori sebesar 13% untuk tiap kenaikan 1
derajat celcius.
6. Berat badan
Bila kegemukan atau terlau kurus, dikurangi atau ditambah
sekitar
20-30%
kegemukan/kekurusannya.
bergantung
Untuk
kepada
tingkat
memudahkan
penentuan
jumlah kalori diit diabetes dan
pelaksanaanya
memudahkan teknik
didasarkan pada penghitungan
Indeks Masa
Tubuh (IMT). Tepat jumlah artinya kalori yang harus diberikan
dan dihabiskan, jumlah kalori
pada
penderita DM dapat
dihitung dengan
menggunakan rumus Indeks Masa Tubuh (IMT) yaitu:
IMT= Berat Badan (Kg)
Tinggi Badan (m) x Tinggi Badan (m)
Universitas Indonesia
Analisis praktik ..., Rita Melianna, FIK UI, 2014
18
Batas ambang IMT untuk Indonesia adalah sebagai berikut:
a. IMT 17,0 – 18,4 = Kurus
b. IMT 18,5 – 25.0 = Normal
c. IMT 25,1 – 27,0 = Gemuk
Penghitungan jumlah kalori dapat dihitung dengan Berat Badan
Relatif (BBR) dengan rumus:
BBR : BB x 100%
TB – 100
Undernutrition : BBR < 80%
Kurus (Underweight) : BBR < 90%
Normal (Ideal) : BBR 90 – 100%
Gemuk (Overweight) : BBR > 110%
Obesitas, bila BBR > 120% : Obes Ringan BBR 120 – 130%
Obes Sedang BBR 130 – 140%
Obes Berat BBR > 140%
Obes Morbid > 200%
Pedoman jumlah kalori yang diperlukan sehari untuk penderita DM
yang bekerja biasa adalah
a. Kurus : BB x 40 – 60 kalori/hari
b. Normal : BB x 30 kalori/hari
c. Gemuk : BB x 20 kalori/ hari
d. Obesitas : BB x 10 – 15 kalori/hari
Universitas Indonesia
Analisis praktik ..., Rita Melianna, FIK UI, 2014
19
c. Tepat Jadwal
Jadwal makan pada penderita diabetes melitus harus diikuti interval
tiga jam dengan rincian tiga kali makanan utama dan tiga kali
cemilan. Tiga kali makanan utama diberikan pada makan pagi,
makan siang, dan makan malam dengan pengaturan waktunya yaitu
makan pagi pukul 06.30, makan siang pukul 12.30, dan makan sore
pukul 18.30. Diantara jam makanan utama harus ada makanan
cemilan dengan aturan pukul 09.30 dan
Konsistensi
interval
mengkonsumsi
waktu
camilan
mencegah BBR =
(jika
diantara
15.30, dan 21.30.
jam
diperlukan),
makan
akan
dengan
membantu
x 100 % 27 reaksi hipoglikemia dan
pengendalian keseluruhan kadar glukosa darah (Smeltzer & Bare,
2001).
Universitas Indonesia
Analisis praktik ..., Rita Melianna, FIK UI, 2014
BAB 3
TINJAUAN KASUS KELOLAAN
3.1. Pengkajian
3.1.1. Identitas pasien
Pasien dengan nama Tn. E.M (38 tahun), datang ke RS Fatmawati,
badan lemas, tidak napsu makan, pada tanggal 11 Mei 2014. Klien telah
menikah dan memiliki anak 5 orang, dalam waktu satu tahun terahir
klien tidak bekerja dan bergantung kepada saudara- saudaranya. Klien
sebelum sakit bekerja bagian jasa periklanan di mana bekerja dari pagi
sampai malam, dan menurut klien tidak ada waktu untuk olah raga.
Klien masuk dari IGD diantar oleh petugas dan keluarga.
3.1.2. Anamnesis
a. Keluhan utama saat di rawat
Klien mengeluh lemas, mual, nafsu makan menurun, batuk, dahak
warna kuning kental, demam naik turun.
b. Riwayat kesehatan yang lalu
Klien mengatakan belum pernah dirawat nginap, 3 bulan terahir ini
klien sakit batuk berdahak, berobat di puskesmas belum ada
perubahan. Klien di diagnosa DM sejak 5 tahun yang lalu, tidak rutin
minum obat, tetapi minum herbal, tidak rutin kontrol dan tidak
menjalankan diit karena dirasakan tidak ada keluhan
c. Riwayat kesehatan keluarga
Ibu klien menderita DM
20
Universitas Indonesia
Analisis praktik ..., Rita Melianna, FIK UI, 2014
21
d. Aktivitas/Istirahat
Klien selama setahun ini sudah tidak bekerja, aktivitas/hobi klien
main catur, aktivitas waktu luang kurang lebih setahun ini tidak
melakukan aktivitas. Keterbatasan karena kondisi, klien merasa
lemas. Respon terhadap aktivitas yang teramati :akral dingin, CRT >
3 detik, pernapasan: 28 x/menit. Klien Compos mentis, bicara
kurang jelas, pengkajian Neuromuskuler, E4 M6 V5, pupil isokor,
reflek cahaya poitif. Postur: agak membungkuk.
e. Sirkulasi
Klien tidak ada riwayat hipertensi, masalah jantung, demam rematik,
edema mata kaki, flebitis, penyembuhan lambat, dan klaudikasi.
Batuk/hemopsisis:
ya/sputum
warna
kuning
kental,
klien
mengatakan BAK sering tapi sedikit-sedikit. Tekanan darah pada
tangan kanan dan berbaring 90/60 mmHg, N 117 X/menit, RR 28
x/menit, jantung
getaran kuat, frekuensi 117 x/menit, teratur,
kualitas kuat. Friksi dan murmur tidak ada. Bunyi napas ronkhi -/+ ,
whizing -/- ,distensi vena jugularis tidak ada. Ekstermitas: 37,5oC
warna pucat. Pengisian kapiler > 3 detik , tanda Homan’s, varias, dan
abnormalitas kuku tidak ada. Membran mukosa bibir kering,
punggung kuku pucat, konjungtiva anemia, sklera tidak ikterik dan
ada diaforesis.
f. Integritas Ego
Faktor stres klien adalah dengan situasi saat ini tentang penyakit
yang di alami dan
kondisi rumah tangga klien, dimana istri
meninggalkan klien, karena istri klien kecewa tentang prilaku klien.
Klien sudah tidak bekerja dan klien menggunakan asuransi jaminan
kesehatan nasional. Klien hidup tergantung pada saudara sejak 3
bulan terakhir, perasaan ketidakberdayaan mengenai kondisi klien.
Klien Cemas, terlihat kontak mata kurang, klien menjawab
pertanyaan kurang jelas.
Universitas Indonesia
Analisis praktik ..., Rita Melianna, FIK UI, 2014
22
g. Eliminasi
Klien buang air besar (BAB) 1 kali dalam 3 hari, tidak menggunakan
laksatif, karakter faces keras, BAB terakhir 3 hari yang lalu. Pola
BAK, sering tapi sedikit, karakteristik urin warna kuning.
Inkontinensial, nyeri saat BAK dan retensi tidak ada. Nyeri tekan
pada epigastrium, abdomen lunak, masa tidak ada, bising usus 5
kali/menit. Hemoroid, perubahan kandung kemih tidak ada.
h. Makanan/Cairan
Klien makan perhari 3 kali, 2 kali porsi kecil, selera makan menurun,
mual dan nyeri ulu hati. Klien tidak ada riwayat alergi dan kesulitan
menelan. Berat badan biasa 45 kg, klien mengalami perubahan BB,
klien merasa haus dan tidak ada penggunaan diuretik. Berat badan
sekarang 45kg, TB 165cm, tugor kulit kurang, mukosa kering, lidah
kering, Bising usus 5 x/menit, gula darah sewaktu (GDS) 245 mg/dl.
Edema umum, dependen, periorbita, asites,
dan distensi vena
jugularis tidak ada. Intake : infus, 2000 ml, minum 1000 ml, output
urine 3500 ml, insensible water loss (IWL) 450 ml, balance cairan
per 24 jam adalah minus 950 ml.
i. Hygiene
Aktivitas sehari-hari makan, berpakaian, toilet di bantu. Penampilan
umum klien tampak lemah, bau badan dan mulut.
j. Neurosensori
Klien mengeluh pusing, kesemutan/kebas/kelemahan tidak ada.
Penglihatan buram, glaukoma, epistaksis tidak ada. Riwayat stroke,
kejang tidak ada. Status mental
compos mentis, klien tampak
mengantuk, ukuran pupil isokor, reflek cahaya positif, fasial drop,
gangguan menelan tidak ada. Genggaman tangan kuat dan paralisis
tidak ada.
Universitas Indonesia
Analisis praktik ..., Rita Melianna, FIK UI, 2014
23
k. Nyeri/Ketidaknyamanan
Keluhan nyeri di epigastrium skala 2-3, jika ditekan, kualitas ringan,
durasi selama ditekan, dan tidak ada penjalaran. Faktor pencetus
karena ± 3 bulan ini kehilangan nafsu makan. Mengkerutkan muka,
menjaga area yang sakit, respon emosional tidak ada.
i. Pernapasan
Klien ada dipsnea yang berhubungan dengan batuk/sputum, riwayat
bronkitis, asma, tuberkulosis, emfisema, pneumonia, disangkal dan
klien tidak ada pemajanan udara berbahaya. Klien batuk sejak 3
bulan yang lalu, sudah berobat tetapi belum ada perubahan,
penggunaan alat bantu pernapasan oksigen 4 liter/menit. Pernapasan:
28 x/menit , tidak menggunakan otot- otot asesoris, bunyi nafas
ronkhi -/+, whizing -/-. Karakteristik sputan warna kuning, kental.
m. Keamanan
Alergi/sensitivitas, perubahan sistem imun sebelumnya tidak ada,
perilaku resiko tinggi dengan menggunakan narkoba ekstasi.
Riwayat transfusi darah, cederan kecelakaan, fraktur/dislokasi,
artritis, masalah punggung, perubahan pada tahi lalat, pembesaran
nodus tidak ada. Kerusakan penglihatan ya, pendengaran tidak. Suhu
37,9OC, terdapat diaforesis, integritas kulit baik, jaringan parut,
kemerahan, laserasi dan ekimosis tidak ada.
n. Seksualitan
Klien aktif melakukan hubungan seksual, rabas penis, gangguan
prostat tidak
ada.
o. Interaksi Sosial
Status perkawinan menikah sudah 13 tahun, hidup dengan kakakkakaknya, ditinggalkan oleh istri, Orang yang mendukung adalah
Universitas Indonesia
Analisis praktik ..., Rita Melianna, FIK UI, 2014
24
saudara-saudaranya. Peran dalam struktur keluarga sebagai suami,
ayah dan adik. Klien bicara kurang jelas
p. Penyuluhan Pembelajaran
Bahasa dominan yang digunakan klien adalah bahasa Indonesia,
klien lulus SMA, klien menanyakan tentang kondisinya.
q. Pertimbangan Rencana Pulang
Tanggal informasi didapatkan 13-05-2014, perubahan-perubahan
yang diantisipasi dalam situasi kehidupan setelah pulang, pola
makan, olahraga, obat-obat dan kontrol/cek rutin gula darah.
3.2. Rencana Asuhan Keperawatan Dan Implementasi
Rencana asuhan keperawatan yang dilakukan untuk mengatasi masalah
adalah sebaga iberikut
3.2.1. Kurang volume cairan tubuh dan elektrolit berhubungan dengan
diuresis osmosis, demam, tidak adekuatnya intake cairan.
Tujuan: Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 3x24jam
diharapkan keseimbangan cairan dan elektrolit dengan
kriteria hasil: tugor kulit kembali normal, membran mukosa
lembab, tanda-tanda vital dalam batas normal dan elektrolit
dalam batas normal. Intervensi yang dilakukan adalah:
- Kaji dan dokumentasikan tugor kulit, kondisi membran
mukosa
- Lakukan pengukuran tanda- tanda vital
- Catat intake output secara adekuat
- Jika Klien mampu anjurkan untuk mengkonsumsi cairan
peroral dengan perlahan dan tingkatkan jumlah cairan
- Periksa gula darah kurve harian, AGD dan Elektrolit.
Universitas Indonesia
Analisis praktik ..., Rita Melianna, FIK UI, 2014
25
- Kolaborasi pemberian cairan intra vena yang terdiri dari
elektrolit
3.2.2. Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan akumulasi
sekret
Tujuan: Setelah diberikan tindakan keperawatan kebersihan jalan
napas efektif dengan kriteria hasil: klien mempertahankan
jalan napas paten, mengeluarkan sekret tanpa bantuan,
menunjukan perilaku untuk memperbaiki bersihan jalan
napas dan
berpartisipasi dalam program pengobatan.
Intervensi yang dilakukan adalah :
- Kaji ulang fungsi pernapasan: bunyi napas, kecepatan.
- Catat kemampuan dalam mengeluarkan sekret atau batuk
efektif, catat karakteristik, jumlah sputun
- Berikan posisi semi fowter, bantu/ajarkan batuk efektif
- Lakukan suction jika perlu
- Pertahankan intake cairan minimal 2500 ml perhari jika
tidak ada kondisi indikasi
- Berikan agen: mukolistik sesuai indikasi; ambroksol
3.2.3. ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan
intake tidak adekuat
Tujuan : Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 3x24 jam
diharapkan kebutuhan nutrisi terpenuhi dengan kriteria hasil : klien
mempertahankan GD Antara 151-180 mg/dl, GDPP tidak lebih dari
200 mg/dl, mengungkapkan pemahaman tentang aturan tindakan dan
klien menghabiskan porsi makanan
yang disajikan. Intervensi
keperawatan yang dilakukan :
- Tinjau ulang berikan informasi mengenai perubahan yang
diperlukan pada penatalaksanaan diabetik.
Universitas Indonesia
Analisis praktik ..., Rita Melianna, FIK UI, 2014
26
- Tinjau ulang pentingnya makan dan kudapan yang teratur bila
menggunakan insulin
-
Perhatikan adanya mual dan muntah
- Ajarkan klien metode finger stick untuk memantau glukosa sendiri
dengan menggunakan strip enzim.
- Kolaborasi pada ahli tentang diet individu
3.2.4. Defisiensi pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan
pengobatan berhubungan dengan tidak mengenal sumber informasi
Tujuan: setelah pertemuan 2x45 menit klien mengutarakan keluhan
tentang kondisi, efek prosedur, dan proses pengobatan, klien
memahami tentang DM dengan kriteria hasil klien melakukan
prosedur yang diperlukan dan menjelaskan alasan dari suatu tindakan
dan memulai gaya hidup serta ikut dalam regimen pengobatan.
Intervensi keperawatan yang dilakukan adalah:
- Kaji tingkat pengetahuan klien dan keluarga tenteng penyakitnya.
- Berikan penjelasan pada klien dan keluarga tentang penyakit dan
kondisinya sekarang.
- Anjurkan klien/keluarga memperhatikan diet makannya dan
berikan edukasi mengenai diet makannya.
- Minta klien/keluarga mengulangi kembali tentang materi yang
telah diberikan
Rencana asuhan keperawatan yang lengkap bisa dilihat di lampiran 3
dan implementasi yang diberikan dapat dilihat dilampiran 3.
3.3. Evaluasi Keperawatan
Hasil dari tindakan keperawatan yang sudah dilakukan sesuai dengan
masalah keperawatan ialah sebagai berikut:
Universitas Indonesia
Analisis praktik ..., Rita Melianna, FIK UI, 2014
27
3.3.1. Kurang volume cairan tubuh
Pada hari pertama dan kedua masalah kurang volume cairan
tubuh belum teratasi ditandai dengan mukosa mulut dan bibir
kering, tugor menurun, akral dingin, pada tanggal 14 juni 2014
balance cairan negatif 100 ml/shif, dan tanggal 16 juni 2014
negatif 268 ml, pada tanggal 16 juni 2014, klien mengalami
demam gengan suhu 390c sehingga kondisi ini juga menjadi
etiologi kurang volume cairan tubuh. Pada hari ketiga masalah
kurang volume cairan tubuh teratasi sebagian ditandai dengan
mukosa mulut lembab, tugor elastis, klien sudah tidak mual, dan
klien mampu menghabiskan cairan yang di anjurkan, dan balance
cairan pertujuh jam yaitu 145 ml.
3.3.2. Bersihan jalan napas tidak efektif
Masalah ini belum teratasi pada hari pertama dan kedua ditandai
dengan sekret kuning kental, pada auskultasi paru masih ronkhi di
paru kanan, dengan minum air hangat, memberi terapi mukolitik
ambroxol maka pada hari ke tiga masalah ini teratasi sebagian
dibuktikan klien dapat mengeluarkan sekret secara mandiri dan
sekret berwana putih encer dan menurut klien berkurang di
bandingkan kemari dan pada auskultasi ronkhi tidak terdengan.
3.3.3. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan
Pada hari pertama dan kedua masalah ini belum teratasi ditandai
dengan klien masih mengeluh mual, tidak nafsu makan, klien
makan bebas diluar dari porsi yang disediakan, kadar gula darah
harian antara178 mg/dl sampai 248 mg/dl dan porsi makan habis
lima sendok, memotivasi klien agar menghabiskan makanan yang
sediakan, melakukan periksa kadar guladarah,
memberikan
pendidikan mengenai nutrisi DM dan memberikan anti emetik.
Pada hari ketiga masalah ini teratasi sebagian ditandai dengan
klien mengatakan mual tidak ada, nafsu makan sudah ada,
Universitas Indonesia
Analisis praktik ..., Rita Melianna, FIK UI, 2014
28
menghabiskan porsi makan sebanyak ¾ porsi yang di sediakan,
kadar gula darah antara 156-205 mg/dl, klien hanya makan,
makanan yang disajikan oleh petugas gizi.
3.3.4. Defisiensi pengetahuan
Masalah ini pada hari pertama dan kedua tidak di lakukan
evaluasi karena belum diberikan intervensi disebabkan kondisi
klien yang tidak memungkinkan untuk dilakukan intervensi.
Kondisi tersebut adalah klien mengalami demam dan keadaan
umum klien lemah. Pada hari ke tiga intervensi dilakukan dan
maslah ini teratasi dibuktikan dengan klien mampu menyebutkan
pengertian DM, klien menyebutkan 2 dari 5 penyebab DM, klien
menyebutkan 3 dari 8 tanda dan gejala DM, klien menyebutkan 2
dari 4 akibat lanjut DM, klien menyebutkan 2 dari 5 cara
perawatan dan mengontrol DM. Pada pertemuan kedua klien
mampu menyebut pengertian diit DM dengan benar, tujuan
pemberian diit DM, pengaturan diit DM, bahan makanan yang di
hindari, bahan makanan yang di batasi, bahan makanan yang
tidak di batasi dan pembagian makanan sehari.
Universitas Indonesia
Analisis praktik ..., Rita Melianna, FIK UI, 2014
BAB 4
PEMBAHASAN
4.1. Analisis situasi terkait dengan keperawatan kesehatan masyarakat
perkotaan (KKMP)
Keperawatan kesehatan masyarakat perkotaan dilaksanakan di area klinik
karena sasaran keperawatan salah satunya adalah indivivu, individu tersebut
berada di area klinik sehingga praktek ini dilakukan untuk menyelesaikan
masalah individu tersebut. Keperawatan kesehatan masyarakat perkotaan di
berikan untuk menyelesaikan masalah kesehatan diperkotaan.
Masalah- masalah yang terjadi di perkotaan terkait pola hidup salah satunya
adalah masalah diabetes melitus, Menurut WHO (2010) penderita DM di
perkirakan sebanyak 10% dari populasi, Hasil riset kesehatan dasar
(Riskesdas) tahun 2013 menunjukan bahwa secara nasional, prevalensi
penderita DM berjumlah 5,25 juta jiwa (atau 2,1%), dengan prevalensi di
perkotan lebih tinggi dari pedesan yaitu 2%, di DKI tahun 2012 hasil riset
Divisi Endokrin dan Metabolik RSCM tahun 2006 terdapat penderita DM 1
dari 8 orang, maka berdasarkan perhitungan tadi jumlah penderita1,2 juta
jiwa. Di RSF lantai 5 utara pada bulan april 2014 berjumlah 25 orang dari
165 penderita yang di rawat, dan sebagian besar dari jumlah tersebut
disebabkan karena pola hidup kurang sehat. Peningkatan jumlah diatas di
sebabkan diperkotaan dengan gaya hidup kurang sehat (unhealthy lifestyle)
terdapat makanan siap saji dan berkurangnya lahan olah raga sehingga
kondisi ini yang mengakibatkan faktor resiko terjadinya DM (WHO, 2010).
4.2. Analisis Kasus
Pasien dengan diabetes melitus sering dialami oleh masyarakat perkotaan,
terjadinya diabetes melitus di sebabkan beberapa faktor antara lain
keturunan, obesitas, pola makan kurang sehat dan kurang olah raga. Dari
hasil analisis di dapatkan riwayat keluarga ibu klien mengalami DM dan
29
Universitas Indonesia
Analisis praktik ..., Rita Melianna, FIK UI, 2014
30
kurangnya aktivitas, hal ini sejalan dengan teori jika orang tua menderita
DM Tipe 2, rasio diabetes dan nondiabetes pada anak adalah 1:1, dan sekitar
90% pasti membawa (carrier) diabetes tipe 2 ( Price & Wilson, 2002 ).
Kejadian paling umum dari DM adalah DM tipe 2, DM tipe 2 adalah DM
yang secara klinis dinilai tidak mendesak memerlukan insulin untuk
melestarikan kehidupannya. Karena biasanya jumlah insulin normal bahkan
berlebih tetapi jumlah reseptor insulin yang terdapat pada permukaan sel
yang kurang, DM tipe 2 yang terjadi lebih dari 90% biasanya pada usia 40
tahun keatas, DM disebabkan oleh hiposekresi atau hipoaktivitas dari
insulin. Saat aktivitas insulin tidak ada atau berkurang (deficient), kadar
gula darah meningkat karena glukosa tidak dapat masuk kedalam sel
jaringan.
Pekerjaan Tn.E adalah di bagian periklanan dengan aktivitas yang minimal,
kurangnya aktivitas fisik merupakan faktor risiko terjadinya DM dan ada
faktor keturunan dimana ibu klien menderita DM dari beberapa faktor diatas
mengakibatkan klien terjadinya DM. Berbagai penyebab DM tersebut maka
timbul berbagai masalah keperawatan terkait dengan penyakit tersebut.
Penegakan masalah keperawatan pada pasien ini berdasarkan pengkajian,
pemeriksaan fisik dan data penunjang. Dari hasil pengkajian didapatkan
data pasien laki- laki, usia 38 tahun, datang dengan keluhan badan lemas,
mual, tidak nafsu makan sejak 2 minggu ini. Pada pemeriksaan fisik mukosa
mulut dan bibir kering, tugor menurun dan pada pemeriksaan elektrolit
natrium 120 mmol/L, clorida 61 mmol/L.
Klien dinyatakan DM sejak 5 tahun ini, klien tidak minum obat rutin,
kadang minum obat herbal, klien juga tidak mengatur pola makan. Masalah
yang utama adalah kurang volume cairan tubuh, disebabkan karena diuretik
osmotik, intake tidak adekuat dan klien juga mengalami demam, hal ini
sejalan dengan konsep dimana hiperglikemia berat dan melebihi ambang
ginjal untuk zat ini, maka timbul glikosuria, glikosuria ini akan
mengakibatkan diuresis osmotik yang meningkatkan pengeluaran elektolit
Universitas Indonesia
Analisis praktik ..., Rita Melianna, FIK UI, 2014
31
dan urine (poliuria), dan timbul rasa haus (polidipsi), (Price & Wilson,
2002).
Masalah yang kedua yang dialami Tn. E adalah bersihan jalan napas tidak
efektif berhubungan dengan akumulasi sekret, akumulasi sekret disebabkan
adanya proses infeksi pada membran mukosa, ditandai
sputum warna
kekuning- kuningan, klien mengeluh batuk sejak tiga bulan ini sudah
berobat tetapi tidak ada perubahan, klien juga merokok dan mempunyai
prilaku beresiko yaitu menggunakan ekstesi. Kondisi infeksi ini akan
meningkatkan kebutuhan insulin pada penderita DM ( Price & Wilson,
2002). Hal ini menyebabkan batuk, dahak warna kekuningan, pada
auskultasi paru terdengar ronkhi di paru kanan, pemerikaan penujang
thoraks foto kesan tuberkulasis paru bilateral dan lekosit 39,4 ribu/ul.
Kondisi infeksi ini mengakibatkan terjadinya dekompensasi diabetik akut
atau KAD jika tidak di tangani, dibuktikan klien ini masuk pada tanggal 11
Juni 2014 dengan keton darah 3.30 mml/l.
Masalah yang ketiga yang dialami Tn. E adalah ketidakseimbangan nutrisi
kurang dari kebutuhan tubuh, masalah pemenuhan nutrisi timbul biasanya
karena
intake
nutrisi
tidak
adekuat.
Menurut
Wilkinson
(2012)
ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan adalah asupan nutrisi
tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan metabolik, dengan batasan
karakteristik berat badan kurang dari 20%, melaporkan asupan makanan
yang tidak adekuat, dengan keluhan menolak untuk makan dan faktor yang
berhubungan hilangnya napsu makan, mual dan muntah. Berdasarkan teori
diabetes melitus adalah gangguan metabolisme yang secara genetis dan
klinis termasuk heterogen dengan manifestasi berupa hilangnya tolerani
karbohitrat, (Prince & Wilson, 2002). Kondisi ini didukung dengan
pemeriksaan fisik pasien tidak napsu makan, mual dan IMT 16,5, selain itu
menurut penunjang diagnostik albumin serum 2,9 mg/dl serta Hb 11,2 gr/dl.
Maka pada pasien ini intervensinya salah satu adalah mengenai menagemen
nutrisi DM.
Universitas Indonesia
Analisis praktik ..., Rita Melianna, FIK UI, 2014
32
Masalah yang keempat yang timbul adalah kurang pengetahuan tentang
DM, dibuktikan dengan pasien menderita DM sudah 5 tahun, pasien tidak
mengunakan obat secara rutin tapi dengan herbal kadang- kadang, tidak
mengatur pola makan dan tidak melakukan pemeriksaan gula darah secara
rutin karena di anggap tidak ada keluhan yang dirasakan dan klien
menanyakan tentang nutrisi yang akan dikomsumsi. Pengetahuan penderita
mengenai DM merupakan sarana yang membantu penderita menjalankan
penanganan diabetes selama hidupnya.
Dengan demikian, semakin banyak dan semakin baik penderita mengerti
mengenai penyakitnya, maka semakin mengerti bagaimana harus mengubah
perilakunya dan mengapa hal itu diperlukan. Hasil penelitian (Norris, 2002
dalam Mubarti, 2013) yang mengatakan bahwa edukasi merupakan hal yang
penting dalam penanganan pasien diabetes mellitus. Sharifirad et all (2009)
dalam Mubarti, (2013) yang menyatakan bahwa edukasi gizi dapat
meningkatkan pengetahuan pasien dan mengurangi glukosa darah puasa
pasien. Menurut Wilkinson (2012) definisi kurang pengetahuan adalah tidak
ada atau kurang informasi kognitif tentang topik tertentu. Kurang
pengetahuan dapat digunakan sebagai etiologi dan sebagai masalah, bila
digunakan sebagai masalah dalam diagnosis keperawatan maka tujuan harus
pasien mendapatkan pengetahuan. Hal ini sesuai dengan masalah klien,
kurang pengetahuan terkait dengan DM dan intervensi yang diberikan
tentang pengetahuan DM.
4.3. Analisis intervensi Edukasi/Menagemen nutrisi
Salah satu masalah keperawatan dari DM Tipe 2 ini adalah ketidakeimbangan
nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan resistensi insulin
perifer, gangguan sekresi insulin, dan produksi glukosa hati yang berlebihan,
(Price & Wilson, 2002). Berdasarkan uraian masalah di atas, masalah
keperawatan yang perlu mendapat intervensi lebih adalah masalah
perencanaan nutrisi selama klien dirawat dan setelah pasien pulang, di
berikan edukasi tentang penatalaksanaan diit DM. Diabetes mellitus adalah
Universitas Indonesia
Analisis praktik ..., Rita Melianna, FIK UI, 2014
33
suatu penyakit dimana kadar glukosa (gula sederhana) didalam darah tinggi
karena terdapat gangguan pada kelenjar pankreas dan insulin yang dihasilkan
baik secara kuantitas maupun kualitas (Tjokroprawiro, 2006). Oleh
karenanya, penderita perlu menguasai pengobatan dan belajar bagaimana
menyesuaikan diri agar tercapai kontrol metabolik yang optimal. Penderita
dengan Diabetes Melitus tipe II terdapat resistensi insulin dan defisiansi
insulin relatif dan dapat ditangani tanpa insulin. Pola diit pada penderita
Diabetes Mellitus tipe II dimaksudkan untuk mengatur jumlah kalori dan
karbohidrat yang dikonsumsi setiap hari (Price dan Wilson, 2006). Prinsip diit
diabetes melitus adalah tepat jumlah, jadwal dan jenis (Tjokroprawiro, 2006).
Diit tepat jumlah, jadwal dan jenis yang dimaksud adalah jumlah kalori yang
diberikan harus habis, jangan dikurangi atau ditambah sesuai dengan
kebutuhan.
4.3.1. Tepat Jenis Bahan Makanan
Penatalaksanaan Diabetes Melitus dikontrol berdasarkan kandungan
energi, protein, lemak dan karbohidrat.
penggunaan
bahan makanan
Untuk memudahkan
selain dalam ukuran gram, juga
dinyatakan dengan alat ukuran yang lazim terdapat dalam rumah
tangga (urt) seperti buah (bh), biji (bj), batang (btg), butir (btr), besar
(bsr), gelas 240 ml (gls), gram (g), kecil (kcl), potong (ptg), sedang
(sdg), sendok makan (sdm), sendok teh (sdt).
4.3.2. Tepat Jumlah Kalori
Kebutuahn energi total pada penderita diabetes melitus diperoleh
dengan kebutuhan protein normal yaitu 10-15% dari kebutuhan energi
total, kebutuhan lemak yaitu 20-25%, dan kebutuhan karbohidrat
adalah sisa dari kebutuhan energi total yaitu 60-70%. (Almatsier,
2006). Ada beberapa cara untuk menentukan jumlah kalori yang
dibutuhkan orang dengan diabetes. Di antaranya adalah dengan
memperhitungkan berdasarkan kebutuhan kalori basal yang besarnya
25-30 kalori/kg BB ideal, ditambah dan dikurangi bergantung pada
Universitas Indonesia
Analisis praktik ..., Rita Melianna, FIK UI, 2014
34
beberapa faktor yaitu jenis kelamin, umur, aktivitas, kehamilan/
laktasi, adanya komplikasi dan berat badan.
Atau dengan menghitung BBR , diketahui BB 45 Kg dan TB 165 cm
Maka penghitungan sebagai berikut:
BBR: 45x100%
165- 100
= 69,2
= Undernutrition
: BBR < 80% kebutuhan kalori : 40 kkal
Sehingga di dapatkan jumlah kalori 40 X45 = 1800 kkal
Di tambah 13% dalam kondisi komplikasi/ demam :234
Kemudian di jumlahkan 2134 kkal.
Dalam intervesi yang di berikan adalah diet DM 1900 kkal, dengan
perencanan pulang tanpa ada komplikasi atau demam.
4.3.3. Tepat Jadwal
Jadwal makan pada penderita diabetes melitus harus diikuti interval
tiga jam dengan rincian tiga kali makanan utama dan tiga kali cemilan.
Tiga kali makanan utama diberikan pada makan pagi, makan siang,
dan makan malam dengan pengaturan waktunya yaitu makan pagi
pukul 06.30, makan siang pukul 12.30, dan makan sore pukul 18.30.
Diantara jam makanan utama harus ada makanan cemilan dengan
aturan pukul 09.30 dan 15.30, dan 21.30. Konsistensi interval waktu
diantara jam makan dengan mengkonsumsi camilan (jika diperlukan),
akan membantu mencegah BBR = x 100 % 27 reaksi hipoglikemia
dan pengendalian keseluruhan kadar glukosa darah (Smeltzer & Bare,
2001). Penatalaksanaan/ pengaturan makan terlampir (lampiran 8 ).
Universitas Indonesia
Analisis praktik ..., Rita Melianna, FIK UI, 2014
35
Berikut ini akan dibahas mengenai kelebihan dan kekurangan
intervensi untuk mengatasi hiperglikemia dan mencegah komplikasi.
Menghitung jumlah kebutuhan kalori klien, membuat kontrak dengan
klien untuk mengadakan edukasi mengenai penatalaksanaan diit.
Mengadakan edukasi sesuai dengan materi disatuan pembelajaran,
memberi pasien kesempatan untuk bertanya dan melakukan evaluasi.
Mamfaat yang dapat diobervasi setelah proses ini adalah edukasi
nutrisi berpengaruh pada pola makan pasien, pasien hanya makan
yang disediakan dari bagian gizi. Edukasi gizi dapat mengantrol kadar
gula darah pasien, sesuai penelitian yang dilakukan Norris,(2002)
dalam Mubarti, (2012), pada klien ini kadar gula darah pada hari ke
tiga antara 156-205 mg/dl.
4.4. Alternatif Dan Pemecahan Yang Dapat Dilakukan
Asuhan keperawatan yang diberikan kepada pasien memiliki beberapa
kendala, antara lain tidak adanya leatflet untuk jadwal makan penderita DM,
tidak ada keluarga klien pada saat pengakajian, intervensi. Langkah yang
diambil mahasiswa adalah mencari alternatif solusi yang tepat untuk
menyelesaikan masalah keperawatan yang dilakukan. Solusi yang dimaksud
dapat bersumber dari perawat dengan peran utamanya sebagai pemberi
asuhan keperawatan, fasilitas layanan kesehatan, peran kolaborasi dengan
profesional kesehatan lain, ataupun pelibatan pasien dan keluarga dalam
proses
pemberian
asuhan
keperawatan.
Dengan
adanya
alternatif
penyelesaian masalah, diharapkan intervensi keperawatan yang diperlukan
dapat menyelesaikan masalah keperawatan pasien dengan efektif. Masalah
keperawatan yang masih harus memerlukan perawatan sesuai dengan
analisis diatas adalah mengenai adanya penatalaksanan nutrisi klien. Pola
makan klien dengan DM jika tidak tepat jumlah, kalori, dan jenis makanaan,
maka akan terjadi hiperglikemia sehingga mengakibatkan komplikasi.
Terdapat beberapa kekurangan dalam melakukan yaitu lingkungan yang
tidak mendukung untuk edukasi, klien di tunggu bukan keluarga karena
menurut Atyati Ismon (2011) dalam Anani (2012) menyatakan bahwa ada
Universitas Indonesia
Analisis praktik ..., Rita Melianna, FIK UI, 2014
36
hubungan dukungan dengan kadar glukosa darah, karena dukungan keluarga
mempengaruhi kebiasaan respon makan. Karena menurut edukasi yang
disampaikan ini yaitu penulis juga merasakan belum ada yang menjamin
kontinuitas dari penatalaksaan diit ini tetap dilakukan pasien di rumah
sehingga pasien dirasa perlu dibekali jadwal sebelum pulang seperti yang
terdapat pada lampiran.
Universitas Indonesia
Analisis praktik ..., Rita Melianna, FIK UI, 2014
BAB 5
PENUTUP
5.1. Simpulan
Berdasarkan hasil analisa praktik klinik keperawatan kesehatan masyarakat
perkotaan pada pasien dengan DM Tipe 2 di ruang penyakit dalam gedung
teratai lantai 5 utara RS Fatmawati adalah sebagai berikut:
a. Penyakit DM yang sering di perkotaan adalah DM Tipe 2, kondisi
perkotaan sebagai faktor resiko DM Tipe 2 adalah karena gaya hidup
kurang sehat terdapat makanan siap saji, berkurangnya lahan olah raga
dan obesitas.
b. Pada pasien DM tipe 2 Penderita terdapat resistensi insulin dan
defisiansi insulin relatif dan dapat ditangani tanpa insulin, metabolisme
gula darah didalam tubuh tidak akan berjalan baik jika gula atau kalori
yang dikonsumsi terlalu besar dan terus menerus, sehingga pengaturan
pola diit pada penderita DM tipe II dimaksudkan untuk mengatur jumlah
kalori dan karbohidrat yang dikonsumsi setiap hari dengan tepat jumlah
kalori, tepat jadwal dan tepat jenis makanan.
c. Sesuai dengan masalah keperawatan yang keempat
adalah kurang
pengetahuan tentang nutrisi, maka intervensi yang diberikan adalah
penyuluhan tentang diit DM yang akan di lakukan selama di RS dan di
rumah jika klien di izinkan pulang. Evaluasi intervensi yang telah di
lakukan pada tanggal 17 Mei 2014 adalah klien menghabiskan 3/4 porsi
makan yang disajikan, GDS jam 06 wib adalah 156 mg/dl, jam 11 wib
179 mg/dl dan jam 16 wib 205 mg/dl.
5.2. Saran
Berdasarkan keterbatasan dan pembahasan hasil penulisan ini, maka penulis
memberikan beberapa saran kepada penulis selanjutnya dalam melakukan
37
Universitas Indonesia
Analisis praktik ..., Rita Melianna, FIK UI, 2014
asuhan keperawatan pada pasien DM tipe 2 dalam mengatasi masalah
nutrisi.
a. Penulis dapat melakukan penyuluhan mengenai diet DM selama klien
di RS dan akan di lakukan dirumah setelah klien dinyatakan pulang.
Selain itu penulis selanjutnya dapat mencari jurnal yang lebih banyak
dengan metode yang lebih baru lagi dengan alat peraga makanan
sehingga hasil penulisan dapat memberi informasi yang lebih luas
kepada pembaca. Penulis juga melakukan asuhan keperawatan tidak
hanya kepada pasien kelolaan namun juga kepada pasien yang lain
sehingga penulis mengetahui kelebihan dan kekurangan metode yang
dilakukakan.
b. Dalam bidang keperawatan, perawat khususnya dapat memberikan
penyuluhan/ edukasi tentang diet DM dalam bentuk tabel jadwal
makanan
c. Institusi pendidikan seharusnya memberikan tambahan informasi kepada
mahasiswa mengenai asuhan keperawatan pada pasien dengan masalah
masalah nutrisi
38
Universitas Indonesia
Analisis praktik ..., Rita Melianna, FIK UI, 2014
DAFTAR PUSTAKA
Almatsier, Sunita. (2006). Penuntun Diet Edisi Baru. Jakarta: Gramedia Pustaka
Utama
Atika, W Puspitasasi. (2012). Analisis Efektifitas Pemberian Booklet Obat
Terhadap Tingkat Kepatuhan Ditinjau Dari Kadar Hemoglobin
Terglikasi (HbA1c) Dan Morisky Medication Adherence Scale (MMAS)8 Pada Pasien DM Tipe 2 Di Puskesmas Bakti Jaya Kota Depok. Tesis.
Di unduh tanggal 16 juni 2014
Buku Keluar Masuk Lantai V Teratai Utara,(2014). RSUP Fatmawati
Departemen Kesehatan RI. Laporan Nasional Riskesdas 2013. Jakarta : Badan
Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan. 2013 ;
Jakarta
Departemen Kesehatan. Pedoman Pemantauan Penilaian Program Perawatan
Kesehatan Masyarakat. Depkes RI. 1996; Jakarta
Doenges, M. E. (2002. Rencana asuhan keperawatan. Ed. 3. Jakarta: EGC
Hartono A. Terapi gizi dan diet rumah sakit. Yogyakarta: EGC; 2006.
Mubarti, S (2012). Pengaruh Edukai Gizi Terhadap Pengetahuan, Pola Makan
Dan Kadar Glukosa Darah Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 RSUD
Lanto DG Pasewang Jeneponto. Media Gizi Masyarakat Indonesia,
Vol 2. Februari 20013. Diunduh 17 juni 2014.
Sundaru. (2005). Diabetes mellitus: Apa dan Bagaimana Pengobatannya. FKUI.
Jakarta
Smeltzer, dkk., (2002). Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah Brunner &
Suddarth Edisi 8. Terjemahan Agung Mulyo, I. Made Kariasa, Julia, H.
Y. Kuncoro, Yasmin Asih. Jakarta: EGC
Sri, A dkk. (2012). Hubungan Antara Perilaku Pengendalian diabetes Dan Kadar
Glukosa Darah Pasien Rawat Jalan Diabetes Melitus. (Studi Kasus Di
RSUD Arjawinangun Kabupaten Cirebon). Jurnal kesehatan
Masyarakat. Diunduh tanggal 16 juni 2014.
Tjokroprawiro, Askandar. (2006). Hidup Sehat Dan Bahagia Bersama Diabetes
Mellitus. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
Price, dkk., (2006). Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit Edisi 4.
Jakarta: EGC .
Waspadji, sarwono, dkk., (2003). Indeks Glikemik Berbagai Makanan Indonesia.
Hasil Penelitian. Jakarta: Pusat Diabetes dan Lipid RSCM/FKMUI dan
Instalasi Gizi RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo
Analisis praktik ..., Rita Melianna, FIK UI, 2014
Wilkinson, M Judith.(2012). Buku saku: Diagnosis Keperawatan. Edisi 9. Jakarta.
EGC.
World Health Organization (WHO). (2010). Global Status Report on
Noncomunicable Diaseases. 18 Juni 2014. http://www.WHO.int.
World Health Organization (WHO) & Nations Human Settlements Programe
(UNHABITAT). (2010). Hidden Cities unmasking and Overcoming
Health Inequities in Unban Settings. WHO Press: Switzerland.
Analisis praktik ..., Rita Melianna, FIK UI, 2014
LAMPIRAN 1
HASIL PENUNJANG
Thorak foto tanggal 11-5-2014
kesan: jantung dalam batas normal, TB paru bilateral terutama kanan.
Hasil Laboratorium
Jenis pemerikaan
Tanggal 12 mei 2014
Hasil
Keterangan
Nilai Normal
Hemoglobin
Hematokrit
Leukosit
Trombosit
Ureum
Kreatine
GDS
Ph
Pco2
PO2
HCo3
O2 Saturasi
BE
Natrium
Kalium
Clorida
Keton Darah
SGOT
SGPT
Albumin
11,2 gr/dl
32%
39,4 ribu/ul
789 ribu/ul
156 mg/dl
3,4 mg/dl
245 mg/dl
7,471
31,2 mmhg
85 mmhg
22,2 mmol/L
96,6%
-0,4 mmol/L
120 mmol/L
3,61 mmol/L
61 mmol/L
3.30 mml/L
21 u/L
13u/L
2,9 gr/dl
Menurun
14-16 mg/dl
33-45%
5-10 ribu
150- 440
20-40
0,6- 1,5
70- 160
7,370- 7,440
35-45
83-108
21-28
95-99
-2,5 – 2,5
135-147
3,5- 5,5
95-108
Meningkat
Meningkat
Meningkat
Meningkat
Menurun
Menurun
Menurun
Meningkat
Menurun
Analisis praktik ..., Rita Melianna, FIK UI, 2014
0- 34
0- 40
3,5- 5-5
LAMPIRAN 2
MONITORING PEMERIKSAAN SLIDING SCALE
Tanggal
Jam
11juni 2014
06
11
16
06
11
16
06
11
16
06
11
16
06
11
16
06
11
16
12 Juni 2014
13 Juni 2014
14 Juni 2014
16 Juni 2014
17 Juni 2014
Hasil pemeriksaan gula darah
sewaktu
245
338
235
331
298
267
223
267
211
178
248
201
199
208
173
156
179
205
Analisis praktik ..., Rita Melianna, FIK UI, 2014
Keterangan
LAMPIRAN 3
DAFTAR MEDIKASI YANG DIBERIKAN
Nama obat
Azitromicin
Donperidon
Kalitake
Ranitidin
Ceftriaxon
Lavemir
Novorapid
Infus NaCL 3%
Infus NaCl 0,9%
Dosis
1x500 mg
3x1 tablet
3x1sacset
2x50 mg
2x2 gr
1x10 unit
3x8-8-6 unit
8 tetes/menit
30 tetes/menit
Tujuan
Antibiotik
Anti emetik
Mengurangi hiperkalemian
Anti emetik
Antibiotik
Insulin
insulin
Analisis praktik ..., Rita Melianna, FIK UI, 2014
LAMPIRAN 4
3.2 ANALISA MASALAH
DATA
Ds: Klien merasa haus, lemas
Do: Mukosa mulut dan bibir kering,
tugor kulit kurang elastis, akral dingin.
-TD 90/60 mmhg N 117x/menit
-RR 28 X/menit, Suhu 37,9o c, demam
naik turun
-Intake: 3000 ml, output 3950 ml,
balance: 950 ml
-GDS 245 mg/dl
Na 120 mmol/L, clorida 61 mmol/L,
keton darah 3.30
-Klien tampak lemas. Diaforesis
Ds: Batuk
Do: Sekret kental, warna kuning,
Ronkhi -/+
-RR 28 x/menit
-Thokak foto: TB paru bilateral
terutama kanan
-Klien mampu mengeluarkan sekret
Ds: Mual, nafsu makan tidak ada
Do: Mukosa mulut bibir kering, makan
pagi habis 2 sendok makan.
BB: 45 kg
TB: 165cm
IMT: 16,5
Albumin: 2,9 , Hb : 11,2
Klien tampak kurus, diit DM 1900 kkal
Ds: Klien menanyakan tentang
kondisinya
Do: Pertimbangan rencana
1. Pola makan
2. Olahraga
3. Obat-obat
4. Kontrol/ cek rutin gula darah
Klien sebelumnya tidak menggunakan
obat medik tetapi herbal
MASALAH
Kurang volume
elektrolit
cairan
tubuh
dan
Berihan jalan napas tidak
Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh
Kurang pengetahuan tentang kondisi,
prognosis dan kebutuhan pengobatan
b.d tidak mengenal sumber informasi.
Analisis praktik ..., Rita Melianna, FIK UI, 2014
LANJUTAN
LAMPIRAN
5
RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN
N
O
1
DX
KEPERAWATAN
Kurang
volume
cairan tubuh dan
elektrolit
b.d
diresis
osmosis,
demam,
tidak
adekuatnya intake
cairan
TUJUAN
INTERVENSI
RASIONAL
Setelah
diberikan asuhan
keperawatan
selama 3x24jam
diharapkan
keseimbangan
cairan
dan
elektrolitdengan
K.H:
1. Tugor kulit
kembali normal
2.
Membran
mukosa lembab
3. TTV dalam
batas normal.
4.
elektrolit
dalam
batas
normal
1. Kaji dan
dokumentasika
n tugor kulit
kondisi
membran
mukosa, TTV
2. Catat intake
output secara
adekuat
3. Jika Klien
mampu
anjurkan untuk
mengkonsumsi
cairan peroral
dengan
perlahan
dan
tingkatkan
jumlah cairan
4. Tes dula
darah
kurve
harian, AGD,
Elektrolit
1.
Pengkajian
status
cairan
yang
akurat
menjadi dasar
rencana asuhan
keperawatan
2.Untuk
mendeteksi
kekurangan
cairan
3.memenuhi
kebutuhan
cairan klien
5. Kolaborasi
pemberian
cairan
intra
vena
yang
terdiri
dari
elektrolit
2
Bersihan
jalan Setelah
napas tidak efektif diberikan
b.d sekret
tindakan
keperawatan
kebersihan jalan
napas
efektif
dengan kriteria:
Mempertahanka
n jalan napas
pasien
1. Kaji ulang
fungsi
pernapasan:
bunyi
napas,
kecepatan,
trauma.
2.
Catat
kemampuan
dalam
mengeluarkan
Analisis praktik ..., Rita Melianna, FIK UI, 2014
4.Menetapkan
data dasar
yang dilakukan
secara
rutin
untuk
mendeteksi
situasi
resiko
tinggi
ketidak
adekuat .
5.untuk
mempertahanka
n keseimbangan
asam basa dan
keadaan
elektrolit yang
tidak seimbang.
Penurunan
bunyi
napas
indikasi
atelektasis.
Ronkhi indikasi
akumulasi sekret
Pengeluaran
sekret sulit bila
sekret kental.
LANJUTAN
-Mengeluarkan
sekret
tanpa
bantuan
-Menunjukan
perilaku untuk
memperbaiki
bersihan
jalan
napas
-Berpartisipasi
dalam program
pengobatan
3
Ketidakseimbanga
n nutrisi kurang
dari kebutuhan b.d
intake
tidak
adekuat
Setelah
diberikan asuhan
keperawatan
selama 3x24 jam
diharapkan
kebutuhan
nutrisi terpenuhi
K.H
Mempertahanka
n GD Antara
130- 180 mg/dl,
GDPP
tidak
lebih dari 200
mg/dl.
mengungkapkan
pemahaman
tentang aturan
tindakan
-Klien
menghabiskan
porsi yang di
sajikan.
sekret
atau
batuk efektif,
catat
karakteristik,
jumlah sputun
3.
Berikan
posisi
semi
fowter,
bantu/ajarkan
batuk efektif
4.
Lakukan
suction
jika
perlu
5. Pertahankan
intuk
cairan
minimal 2500 1
hari
jika
kondisi
klien
memang
6.
Berikan
agen:
mukolistik
sesuai indikasi;
ambroksol
1. Tinjau ulang
berikan
informasi
mengenai
perubahan yang
diperlukan pada
penatalaksanaa
n diabetik.
2. Tinjau ulang
pentingnya
makan
dan
kudapan yang
teratur
bila
menggunakan
-Mencegah
obtruksi
jalan
napas
-Suctian
membantu
mengeluarkan
sekret
-Membantu/
mencegah
kekurangan
cairan
-Menurunkan
kekentalan
sekret.
Tentang
mentaati aturan
diet.
-Membutuhkan
pemantauan
ketat pemberian
insulin.
dan
3. Perhatikan Mual
dapat
adanya
mual muntah
mengakibatkan
dan muntah
defisiensi
karbohidrat.
Untuk
4.
Ajarkan mendeteksi dini
Klien metode dan membantu
finger
stick kemandirian
Analisis praktik ..., Rita Melianna, FIK UI, 2014
LANJUTAN
4
untuk
memantau
glukosa sendiri
dengan
menggunakan
strip enzim
6. Kolaborasi
pada
ahli
tentang
diet
individu
1. Kaji tingkat
Pasien
Kurang
pengetahuan
mengutarakan
pengetahuan
dan
tentang
kondisi, keluhan tentang Klien
efek keluarga
prognosis
dan kondisi,
prosedur,
dan tenteng
kebutuhan
penyakitnya.
pengobatan
b.d proses
tidak
mengenal pengobatan.
2.
Berikan
sumber informasi
Kriteria
hasil penjelasan pada
Klien
dan
melakukan
prosedur yang keluarga
diperlukan dan tentang
penyakit
dan
menjelaskan
alasan dari suatu kondisinya
sekarang.
tindakan.
Memulai gaya
hidup
yang
Anjurkan
diperlukan dan 3.
ikut serta dalam Klien/keluarga
memperhatikan
regimen
diet makannya
pengobatan
dan
berikan
edukasi
mengenai diet
makanya.
4.
Minta
klien/keluarga
mengulangi
kembali tentang
materi
yang
telah diberikan.
Analisis praktik ..., Rita Melianna, FIK UI, 2014
klien
-Diet
spesifik
pada
individu
perlu
untuk
mempertahanka
n
normo
glikemia.
-Mengetahui
seberapa
jauh
pengalaman dan
pengetahuan
klien
tentang
penyakitnya
-Dengan
mengetahui
penyakit
dan
kondisinya
sekarang.
Klien/keluarga
akan
merasa
tenang
dan
mengurangi
cemas.
-Diet dan pola
makan
membantu
proses
penyembuhan
-Mengetahui
seberapa
jauh
pemahaman
Klien/keluarga
serta
menilai
keberhasilan.
LANJUTAN
LAMPIRAN
6
3.3. CATATAN PERKEMBANGAN KEPERAWATAN
TANGGAL
/JAM IMPLEMENTASI
-Mengkaji
ulang
14/5
fungsi
pernapasan;
Jam 10.00
bunyi
napas,
kecepatan irama
-Mencatat
kemampuan
mengeluarkan sekret
-Mengajarkan batuk
efektif
-Menganjurkan
air
minum ± 2500mL.
-Mengukur TTV
-Mengevaluasi tanda
dehidrasi.
-Memberikan
medikasi ranitidin i
ampul IV
Jam 11.00
Jam 13.00
SOAP
TTD
S: Klien mengatakan
batuk (+), slim (+),lemas,
mual dan nafsu makan
kurang.
O: klien tampak lemas,
Slam warna hijau kuning
kental,
klien
dapat
mengeluarkan
sekret,
Ronkhi +/- , Whizing +/-,
RR 26 x/menit. TD 100/60
mmHg, Suhu 37,90c, nadi
120x/menit
mulut kering,
-Mukosa
tugor menurun,gds 248
gr/dl.
Natrium
121
mmol/l, clorida 91mmol/l
-Balance cairan minus
-Melakukan
100ml
pemeriksaan GDS.
-Klien makan habis 5
-Meninjau
ulang sendok,
klien
masih
pentingnya makanan makan yang tidak di
dan kudapan yang sediakan dari bagian gizi.
teratur
karena
penggunanan insulin. A:
Memberikan insulin 8 -Kurang volume cairan
unit.
dan
elektrolit
belum
-Memberi Mukolitik teratasi
1 sendok
-Bersihan jalan napas
-Mengukur
dan belum efektif
mencatan intake out -Ketidakseimbangan
put, minum: 600 ml, kebutuhan nutrisi belum
infus 600 ml, urin teratasi
1300 ml
P:
‐ Kaji ulang fungsi
pernapasan, pertahankan
minum air hangat ± 2500
Ml, pertahankan batuk
efektif.
-Berikan Terapi mukolitik
sesuai program
- Observasi TTV, tingkat
kesadaran
-Evaluasi
tanda-tanda
dehidrasi
-Ukur balance cairan
Analisis praktik ..., Rita Melianna, FIK UI, 2014
LANJUTAN
-Anjurkan Klien minum
+1500 mL
-Monitor hasil elektrolit.
- Observasi asupan nutrisi
berikan insulin sesuai
program, periksa GDS
sesuai jadwal berikan anti
emetik aesuai program.
Rita
16/5/2014
Jam 9.30
Jam 10.30
Jam 11.00
Jam 13.10
Jam 13.30
-Mengukur
tandatanda vital. TD 100/60
mmhg N 130 x/mnt , Sh
39oC RR 26 x/mnt
-Mengobservasi
tetesan infus. RL 30
gt x/menit
-Mengevaluasi/
mengobservasi tanda
dehidrasi.
-Mengkaji
ulang
suara napas
-Mengevaluasi
pengeluaran seket
-Menganjurkan
minum air hangat
-Memoitor
asupan
nutrisi klien
-Memberikan
medikasi ranitidin 50
mg
-Melakukan
pemeriksaan GDS
-Melakukan
tepid
water spoeng
-Memberi kompres
hangat
-Memberi infus NaCl
3% :8 tetes/menit
-Memberikan insulin
8 unit intra kutan
-Memonitor balance
cairan
S: Klien mengatakan
lemas, mual, nafsu makan
belum ada, batuk, slim
warna kuning kental.
O: Kesadaran: Compos
mentis, mukosa bibir dan
mulut
kering,
tugor
menurun, TD 100/60
mmHg, N 130 x/menit , RR
26 x/menit
SH 39oC, akral dingin.
Ronkhi+/_
-Basane cairan/ 7 jam
*Infus 550 mL
*Minum 800
Urine: 1400 mL, IWL131
ml, kenaikan suhu tubuh
87,5 ml.balance cairan
minus 268 ml.
Na: 125 mmol/L
Clorida: 93 mmol/L
GDS : 208 mg/dl
Leukosit tanggal 13 mei
2014: 29,1 ribu/dl.
A:
-Kurang volume cairan
belum teratasi
-Bersihan jalan napas
tidak
efektif
belum
teratasi
- Hipertermia
-Ketidakseimbangan
nutrisi
kurang
dari
kebutuhan tubuh belum
teratasi
P:
Observasi
TTV,
ketingkat kesadaran
Analisis praktik ..., Rita Melianna, FIK UI, 2014
LANJUTAN
17
Mei -Mengevaluasi bunyi
suara napas.
2014-Mengukur
tandaJam 09
tanda vital
-Memonitor tetesan
infus.
-Memonitor asupan
nutrisi klien
-memberikan
Jam 10.00
medikasi ranitidin 1
ampul IV
Memberikan edukasi
Jam 10.15
tentang
DM:
pengertian, penyebab,
tanda dan gejala,
akibat lanjut, cara
perawatan
dan
mengontrol DM.
Jam 11
Jam12.30
-Melaksanakan
finger
stick/GDS=
179 mg/dl
- Memberikan insulin
8 unit.
-Menganjurkan
menghabiskan makan
-Evaluasi
tanda-tanda
dehidrasi
-Ukur banlance cairan
-Anjurkan Klien minum
+1500 mL
-Monitor hasil elektrolit,
GDS
- Kaji ulang fungsi
pernapasan, pertahankan
batuk efektif.
-Berikan Terapi mukolitik
sesuai program
-Observasi asupan nutrisi,
berikan insulin sesuai
program, periksa GDS
sesuai jadwal berikan anti
emetik aesuai program
-Pertahankan
kompres
jika masih demam
-Beri antipiretik dan anti Rita
biotik.
S: Klien mengatakan
mual tidak ada, napsu
makan sudah lebih baik,
makan habis ¾ porsi tadi
pagi, batuk kadang, slim
berkurang di bandingkan
kemarin, warna putih,
encer.
Klien
menyebutkan
pengertian DM, klien
menyebutkan 2 dari 5
penyebab DM, klien
menyebutkan 3 dari 8
tanda dan gejala DM,
klien mneyebutkan 2 dari
4 akibat lanjut DM, klien
menyebutkan 2 dari 5 cara
perawatan danmengontrol
DM
O: Kesadaran: compos
mentis, akral hangat,
mukosa mulut lembab,
tugur kulit elastis,
-Klien
makan
yang
disediakan dari bagian
gizi, TD 100/55 mmHg,
Analisis praktik ..., Rita Melianna, FIK UI, 2014
LANJUTAN
Jam 13.00
yang disiapkan.
nadi 112 x/menit, suhu
-mengukur
balance 380c, RR 24X/menit.
Ronhki-/- ,
cairan
-GDS 179 mg/d
-Balance cairan/ 7 jam ;
145 ml
- Infus RL1 kolf/ 8 jam
-Infus NaCl 3% 1 kolf/24
jam
-Klien mengatakan DM:
kencing manis
-Klien
mengatakan
penyebab DM keturunan
dan pola makan
-Kklien
mengatakan
tanda dan gejala DM :
lemas, cepat haus, dan
cepat lapar
- Klien menyebutkan
komplikasi DM: buta dan
jantung koroner
Klien menyebutkan cara
mengontrol DM dengan
diit dan latihan jasmani.
A:
-kurang volume cairan
tubuh teratasi sebagian
-Bersihan jalan napas
teratasi sebagian
-hipertermia teratasi
-Ketidakseimbangan
nutrisi
kurang
dari
kebutuhan
teratasi
sebagian.
Kurang
pengetahuan,
tentang
kondisi,
prognosis,
kebutuhan
pengobatan belum teratasi
P:
-Observasi
TTV,
ketingkat kesadaran
-Evaluasi
tanda-tanda
dehidrasi
-Ukur banlance cairan
-Anjurkan Klien minum
Analisis praktik ..., Rita Melianna, FIK UI, 2014
LANJUTAN
+1500 mL
-Monitor hasil elektrolit,
GDS
-Kaji ulang fungsi
pernapasan, pertahankan
batuk efektif.
-Berikan Terapi mukolitik
sesuai program
-Observasi asupan nutri,
berikan insulin sesuai
program, periksa GDS
sesuai jadwal, berikan anti
emetik aesuai program
Pertahankan kompres jika
masih demam
-Beri antipiretik dan anti
biotik.
-berikan edukasi tentang Rita
diit DM
Analisis praktik ..., Rita Melianna, FIK UI, 2014
LAMPIRAN 7
SATUAN ACARA PEMBELAJARAN
Bidang studi
: Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan
Pokok bahasan
: Diabetes Mellitus dan perawatannya
Sub pokok bahasan
: Diabetes Mellitus dan perawatannya
Hari/Tanggal
: Rabu, 18 juni 2014
Waktu
: 30 menit
Tempat
: Lantai V Utara
Sasaran
: Tn.E
A .Latar Belakang
Diabetes mellitus (DM) merupakan kumpulan gejala yang timbul pada
seseorang akibat tubuh mengalami gangguan dalam mengontrol kadar gula
darah. Sebagian besar faktor risiko dari kasus diabetes mellitus adalah perubahan
gaya hidup yang cenderung kurang aktivitas fisik, diet tidak sehat dan tidak
seimbang,
mempunyai
berat
badan
lebih
(Obesitas),
hipertensi,
hipercholesterolemi, dan konsumsi alkohol serta konsumsi tembakau (merokok).
Oleh karena itu, titik berat pengendalian Diabetes Melitus adalah pengendalian
faktor risiko melalui aspek preventif dan promotif secara integrasi dan
menyeluruh. Edukasi diberikan bertujuan untuk self management yang
berkesinambungan untuk mencegah komplikasi akut maupun kronis.
B. Tujuan Penyuluhan
1. Tujuan Umum
Setelah mengikuti pelajaran tentang diabetes mellitus dan perawatannya,
diharapkan sasaran mampu menerapkan perawatan yang tepat pada anggota
keluarga dengan diabetes mellitus.
2. Tujuan Khusus
Setelah diberikan penyuluhan kesehatan, diharapkan klien mampu:
a. Menjelaskan pengertian diabetes mellitus dengan benar.
b. Menjelaskan 4 dari 7 faktor risiko dari diabetes mellitus dengan benar.
Analisis praktik ..., Rita Melianna, FIK UI, 2014
LANJUTAN
c. Menjelaskan 4 dari 9 tanda dan gejala dari penyakit diabetes mellitus
dengan benar.
d. Menjelaskan 3 dari 6 akibat lanjut dari diabetes mellitus dengan benar.
e. Menjelaskan 3 dari 7 cara perawatan diabetes mellitus dengan benar.
A. Materi Penyuluhan
1. Pengertian penyakit diabetes mellitus.
2. Penyebab penyakit diabetes mellitus.
3. Tanda dan gejala dari penyakit diabetes mellitus.
4. Akibat lanjut penyakit diabetes mellitus.
5. Perawatan penyakit diabetes mellitus.
Analisis praktik ..., Rita Melianna, FIK UI, 2014
LANJUTAN
B. Kegiatan Acara Penyuluhan
Kegiatan Penyuluhan
Kegiatan Masyarakat
Waktu
1. Pendahuluan
a. Memberi
salam
pembuka, Menjawab
salam
dan
5 menit
memperhatikan sikap dan tempat menyimak
atau posisi klien dan keluarga.
b. Mengeksplorasi
pengetahuan Menyimak
sasaran
c. Menjelaskan pokok materi yang Menyimak
akan disampaikan
d. Menginformasikan
tujuan Menyimak
penyuluhan
2. Kegiatan Inti
a. Pengertian diabetes mellitus
Menyimak
20 menit
b. Menjelaskan faktor-faktor penyebab Menyimak
diabetes mellitus
c. Menjelaskan
tanda
dan
gejala Menyimak
diabetes mellitus
d. Menanyakan
kembali
tentang Menjawab
pengertian, faktor penyebab dan
tanda gejala
e. Menjelaskan
akibat
lanjut
dari Menyimak
diabetes mellitus
f. Menjelaskan
perawatan/mengontrol
cara Menyimak
diabetes
mellitus
3. Penutup
a. Memberi evaluasi secara lisan
Menjawab pertanyaan
b. Menyimpulkan materi yang
Menyimpulkan
disampaikan bersama-sama
c. Salam penutup
sama
Menjawab salam
Analisis praktik ..., Rita Melianna, FIK UI, 2014
bersama-
5 menit
LANJUTAN
C. Metode
1. Ceramah
2. Tanya jawab
D. Media dan Alat
1. Media
: leaflet, lembar balik
2. Alat
: penggaris
E. Sumber Pustaka
Brunner and Suddarth. (2002). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, edisi 8,
Volume 2. EGC: Jakarta.
Suegondo, S. (2004). Penatalaksanaan Diabetes Mellitus. Pusat Diabetes dan
Lipid. FKUI: Jakarta.
F. Evaluasi
1. Prosedur
: Diberikan setelah materi penyuluhan
2. Waktu
: 5 menit
3. Bentuk soal
: Lisan
4. Jumlah soal
: 5 soal
5. Jenis soal
: Essay
Butir soal
Jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini dengan singkat dan jelas !
1. Apa pengertian DM?
2. Sebutkan 3 dari 5 penyebab DM?
3. Sebutkan 3 dari 9 tanda dan gejala DM?
4. Sebutkan 3 dari 6 akibat lanjut DM?
5. Sebutkan 3 dari 7 cara perawatan/cara mengontrol DM?
Analisis praktik ..., Rita Melianna, FIK UI, 2014
LANJUTAN
Kunci Jawaban
1. Pengertian Diabetes Melitus
Diabetes Mellitus atau kencing manis adalah suatu keadaan dimana tubuh
tidak cukup menghasilkan insulin, sehingga kadargula darah meningkat atau
bertambah.
2. Penyebab Diabetes Melitus adalah
a. Faktor genetik atau keturunan.
b. Kegemukan
c. Hipertensi
d. Gaya hidup (makanan, aktifitas kurang/olahraga kurang, merokok).
e. Riwayat kehamilan dengan kelahiran berat bayi lahir > 4000gr.
3. Tanda dan gejala Diabetes Melitus adalah
TRIAS DM: Polifagi, polidipsi, poliuri.
a. Polifagi atau sering merasa lapar.
b. Polidipsi atau serinh merasa haus.
c. Poliuri atau sering kencing.
d. Cepat merasa lelah dan mengantuk.
e. Berat badan menurun.
f. Penglihatan kabur atau buram.
g. Pada daerah kaki dan tangan sering terasa kesemutan/baal.
4. Akibat lanjut Diabetes Melitus adalah
a. Penyakit jantung.
b. jika ada luka, luka sukar sembuh.
c. Terganggunya fungsi ginjal (lebih mudah mengidap gagal ginjal terminal).
d. Cenderung mengalami kebutaan akibat kerusakan retina.
e. Impotensi
Analisis praktik ..., Rita Melianna, FIK UI, 2014
LANJUTAN
5. Cara perawatan Diabetes Melitus
a. Perencanaan makanan yang baik (batasi gula, lemak dan komsumsi
sayuran )
b. Latihan jasmani
1) Jalan kaki : jangan lupa pake sendal.
2) Lari pagi.
3) Renang.
4) Bersepeda.
c. Perawatan kaki : senam kaki DM.
d. Uji kadar gula darah secara berkala
e. Minum obat dengan teratur
f. Kontrol berat badan
g. Kontrol tekan darah
h. Kontrol kadar kolesterol
Pembimbing
(Ns.Khairul Nasri S.Kep)
Analisis praktik ..., Rita Melianna, FIK UI, 2014
Jakarta, 17 juni 2014
Penyuluh
(Rita melianna)
LANJUTAN
MATERI PENYULUHAN
1. Pengertian Diabetes Melitus
Diabetes Mellitus atau kencing manis adalah suatu keadaan tubuh tidak mampu
menghasilkan insulin seperti seharusnya, sehingga kadar gula darah meningkat.
2. Penyebab Diabetes Melitus adalah:
a. Faktor genetik atau keturunan.
b. Kegemukan
c. Hipertensi
d. Riwayat kehamilan dengan kelahiran berat badan bayi > 4000gr.
e. Gaya hidup (makanan, aktifitas kurang/olahraga kurang).
3. Tanda dan gejala Diabetes Melitus adalah
TRIAS DM : Polifagi, polidipsi, poliuri
a. polifagi atau sering merasa lapar.
b. polidipsi atau sering merasa haus.
c. poliuri atau sering kencing.
d. Cepat merasa lelah dan mengantuk.
e. Berat badan menurun.
f. Penglihatan kabur atau buram.
g. Pada daerah kaki dan tangan sering terasa kesemutan/baal
4. Akibat lanjut Diabetes Melitus adalah
a. Penyakit jantung.
b. Jika ada luka, luka sukar sembuh.
c. Terganggunya fungsi ginjal (lebih mudah mengidap gagal ginjal terminal).
d. Cenderung mengalami kebutaan akibat kerusakan retina.
e. Impotensi
5. Cara perawatan dan mengontrol Diabetes Melitus
a. Perencanaan makanan (Batasi gula,lemak dan komsumsi sayuran)
Analisis praktik ..., Rita Melianna, FIK UI, 2014
LANJUTAN
b. Latihan jasmani
1) Jalan kaki: jangan lupa pakai sandal.
2) Joging.
3) Lari pagi.
4) Renang.
5) Bersepeda.
c. Perawatan kaki: senam kaki DM.
d. Minum obat dengan teratur
e. Kontrol berat badan
f. Kontrol tekan darah
g. Kontrol kadar kolesterol
h. Kontrol kadar gula minimal 1 bulan sekali.
Analisis praktik ..., Rita Melianna, FIK UI, 2014
LAMPIRAN 8
SATUAN ACARA PEMBELAJARAN
Bidang studi
: Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan
Pokok bahasan
: Diet pada Diabetes Melitus
Sub pokok bahasan
: Diet pada diabetes melitus
Hari/Tanggal
: Rabu, 18 juni 2014
Waktu
: 30 menit
Tempat
: Lantai V Utara
Sasaran
: Tn. E
A. Tujuan Penyuluhan
1. Tujuan Umum
Setelah mengikuti pelajaran tentang
diit diabetes mellitus diharapkan sasaran
mampu menerapkan program diit yang tepat.
2. Tujuan Khusus
Setelah diberikan penyuluhan kesehatan, diharapkan klien mampu:
a. Menjelaskan pengertian diit diabetes mellitus dengan benar.
b. Menjelaskan 2 dari 4 tujuan diit dari diabetes mellitus dengan benar.
c. Menjelaskan 2 dari 2 pengaturan diit diabetes mellitus dengan benar.
d. Menjelaskan 5 dari10 bahan makanan yang di hindari dengan benar.
e. Menjelaskan 2 dari 3 bahan makanan yang dibatasi dengan benar.
f. Menjelaskan 4 dari 9 bahan makanan yang tidak di batasi
g. Menjelaskan pembagian makanan sehari
B. Materi Penyuluhan
1. Pengertian diit diabetes mellitus.
2. Tujuan diit diabetes mellitus.
3. Pengaturan diabetes mellitus.
4. Bahan makanan yang di hindari.
5. Bahan makanan yang di batasi
6. Bahan makanan yang tidak di batasi
7. Pembagian makanan sehasi.
Analisis praktik ..., Rita Melianna, FIK UI, 2014
LANJUTAN
C. Kegiatan Acara Penyuluhan
Kegiatan Penyuluhan
Kegiatan Masyarakat
Waktu
1. Pendahuluan
a. Memberi
pembuka, Menjawab
salam
salam
dan
5 menit
memperhatikan sikap dan tempat menyimak
atau posisi klien dan keluarga.
pengetahuan Menyimak
b. Mengeksplorasi
sasaran
c. Menjelaskan pokok materi yang Menyimak
akan disampaikan
tujuan Menyimak
d. Menginformasikan
penyuluhan
2. Kegiatan Inti
a. Pengertian diit diabetes mellitus
Menyimak
b. Menjelaskan tujuan diit diabetes Menyimak
20
menit
mellitus
c. Menjelaskan
diit Menyimak
pengaturan
diabetes mellitus
d. Menanyakan
pengertian,
kembali
tentang Menjawab
tujuan
dan
pengaturan diit diabetes melitus
e. Menjelaskan
bahan
makanan Menyimak
bahan
makanan Menyimak
yang dihindari
f. Menjelaskan
yang dibatasi
g. Menjelaskan bahan makan yang Menyimak
tidak di batasi.
h. Menjelaskan
pembagian Menyimak
makanan sehari
3. Penutup
Menjawab pertanyaan
a. Memberi evaluasi secara lisan
Menyimpulkan bersama- 5 menit
b. Menyimpulkan materi yang
sama
Analisis praktik ..., Rita Melianna, FIK UI, 2014
LANJUTAN
disampaikan bersama-sama
Menjawab salam
c. Salam penutup
D. Metode
1. Ceramah
2. Tanya jawab
E. Media dan Alat
1. Media
: leaflet
2. Alat
:-
F. Sumber Pustaka
Almatsier, Sunita. (2006). Penuntun Diet Edisi Baru. Jakarta: Gramedia
Pustaka Utama
Brunner and Suddarth. (2002). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah,
edisi 8, Volume 2. EGC: Jakarta.
G. Evaluasi
1. Prosedur
: Diberikan setelah materi penyuluhan
2. Waktu
: 5 menit
3. Bentuk soal
: Lisan
4. Jumlah soal
: 5 soal
5. Jenis soal
: Essay
Butir soal
Jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini dengan singkat dan
jelas !
1. Apa pengertian diit DM?
2. Sebutkan 3 dari 4 tujuan dair diit DM?
3. Sebutkan 2 dari 2 pengaturan diit DM?
Analisis praktik ..., Rita Melianna, FIK UI, 2014
LANJUTAN
4. Sebutkan 4 dari 9 bahan makanan yang dihindari penderita DM?
5. Sebutkan 2 dari 3 bahan makanan yang di batasi.
6. Sebutkan 3 dari 7 dahan makanan yang tidak dibatasi.
7. Sebutkan pembagian makanan sehari.
Kunci Jawaban
a. Pengertian diit Diabetes Melitus
adalah
pengaturan
pemberianmakanan
yang
dianjurkan
pada
pasiendiabetes melitus mengacu pada berat badan ideal/normal..
b. Tujuan diit Diabetes Melitus adalah
1. Menurunkan kadar gula darah menjadi normal
2. Menurunkan gula darah dalam urine menjadi negatif
3. Mencapai berat badan ideal/normal 4. Dapat melakukan kegiatan sehari- hari c. Pengaturan diit
1.
Makan secara teratur sesuai dengan jumlah, jenis, dan jadwal
makan yang telah ditentukan. Jumlah disesuaikan dengan berat
badan ideal/normal, jenis makanan yang bersifat mudah di cerna,
lama di serap perlahan- lahan” Slow realesed”, jadwal makan
disesuaikan waktu pemberian makan (6 kali pemberian :3 kali
makan besar,2-3 kali makan selingan).
2.
Gunukan daftar gahan makanan penukar (DBMP) untuk memilih
bahan makanan yang di senangi.
d. Bahan makanan yang di hindari
Badan makanan yang mengandung didrat arang murni seperti: gula
murni (gula pasir, gula merah), dan makanan yang diolah dengan
menggunakan gula murni yaitu: permen, dodol, cake, es krim, makanan
dan minuman dalam kaleng/ botol, tape, susu kental manis, serta bahan
makanan banyak natrium sepert, ikan asin, telur asin, dll.
e. Bahan makanan yang di batasi
Analisis praktik ..., Rita Melianna, FIK UI, 2014
LANJUTAN
1. Sumber karbohidrat kompleks,seperti nasi, ketan, roti, mie,
kentang,singkong, ubi, talas, makaroni, bihun, tepung- tepungan dan
bahan olahan lainnya.
2. Sumber protein seperti, kacang- kacangan, tahu, tempe.
3. Sumber vitamin dan mineral seperti sayur- sayuran dan buah-
buahan disesuaikan dengan jumlah porsi yang dianjurkan. f. Bahan makanan yang tidak di batasi
Bahan makanan yang termasuk di dalam kelompok sayuran seperti :
oyong, jamur kuping segar, ketimun, labu air, lobak, slada air dan
tomat.
g. Pembagian makanan sehari
Pagi: 07
Nasi :
150 gr
¾ gelas
Telur :
50 gr
1 butir
Tempe/tahu:
25 gr
1 potong
Sayur:
100 gr
1 gelas
Minyak:
5 gr
½ sdm
Pkl 10.00
Buah
200
Nasi
200 gr
2 porsi
Siang
Daging/ikan
40 gr
1 gelas
1 potong
Analisis praktik ..., Rita Melianna, FIK UI, 2014
LANJUTAN
Sayur
100 gr
Minyak
5 gr
1 gelas
½ sdm
Pkl 16.00
Buah
200 gr
2 porsi
Nasi
200 gr
1 gelas
Daging/ikan
40 gr
1 potong
Tempe/tahu
50 gr
1 potong
Malam
Sayur
bebas
Minyak
2gr
½ sd
Pembimbing
(Ns. Arcellia Faroky S.Kep )
Analisis praktik ..., Rita Melianna, FIK UI, 2014
Jakarta, 18 2014
Penyuluh
(Rita melianna)
LANJUTAN
MATERI PENYULUHAH
Diabetes mellitus merupakan sekelompok kelainan heterogen yang ditandai oleh
kenaikan kadar glukosa dalam darah atau hiperglikemi. Diabetes mellitus
merupakan gangguan metabolisme yang secara genetic dan klinis termasuk
heterogen
dengan
manifestasi
berupa
hilangnya
toleransi
karbohidrat
(Sundaru,2005). Sebagian besar faktor risiko dari kasus diabetes mellitus adalah
perubahan gaya hidup yang cenderung kurang aktivitas fisik, diet tidak sehat dan
tidak seimbang,dan mempunyai berat badan lebih (Obesitas). Oleh karena itu, titik
berat pengendalian Diabetes Melitus adalah pengendalian faktor risiko melalui
aspek preventif dan promotif secara integrasi dan menyeluruh. Kontrol glukosa
darah merupakan hal yang terpenting di dalam pengendalian dan pengelolaan
DM. Sri Anani (2012) menyatakan ada hubungan antara kebiasaan makan dengan
kadar gula darah., dan penelitian yang di lakukan oleh Prayoga dan Suprihatin
(2012) mengatakan ada hubungan antara pola diit tepat jumlah, jadwal, jenis
makanan dan kadar gula darah. Pengendalian DM ditujukan untuk menormalkan
kadar glukosa darah dengan perencaan makanan yang baik.
1. Pengertian diit pada Diabetes Melitus
Adalah pengaturan pemberianmakanan yang dianjurkan pada pasiendiabetes
melitus mengacu pada berat badan ideal/normal.
2. Tujuan diit adalah:
a. Menurunkan kadar gula darah menjadi normal
b. Menurunkan gula darah dalam urine menjadi negatif
c. Mencapai berat badan ideal/normal
d. Dapat melakukan pekerjaan sehari-hari.
3. Pengaturan diit
a. Makan secara teratur sesuai dengan jumlah, jenis, dan jadwal makanan yang
telah ditentukan. Jumlah disesuaikan dengan berat badan ideal/normal, jenis
makanan yang bersifat mudah di cerna, lama di serap perlahan- lahan” Slow
Analisis praktik ..., Rita Melianna, FIK UI, 2014
LANJUTAN
realesed”, jadwal makan disesuaikan waktu pemberian makan (6 kali
pemberian :3 kali makan besar,2-3 kali makan selingan).
b. Gunukan daftar gahan makanan penukar (DBMP) untuk memilih bahan
makanan yang di senangi.
4. Bahan makan yang di hindari
Badan makanan yang mengandung didrat arang murni seperti: gula murni (gula
pasir, gula merah), dan makanan yang diolah dengan menggunakan gula murni
yaitu: permen, dodol, cake, es krim, makanan dan minuman dalam kaleng/ botol,
tape, susu kental manis, serta bahan makanan banyak natrium sepert, ikan asin,
telur asin, dll.
5. Bahan makanan yang dibatasi
a. Sumber karbohidrat kompleks,seperti nasi, ketan, roti, mie, kentang,singkong,
ubi, talas, makaroni, bihun, tepung- tepungan dan bahan olahan lainnya.
b. Sumber protein seperti, kacang- kacangan, tahu, tempe.
c. Sumber vitamin dan mineral seperti sayur- sayuran dan buah- buahan
disesuaikan dengan jumlah porsi yang dianjurkan.
6. Bahan makanan yang tidak di batasi
Bahan makanan yang termasuk di dalam kelompok sayuran seperti : oyong, jamur
kuping segar, ketimun, labu air, lobak, slada air dan tomat.
7. Pembagian makanan sehari
Pagi: 07
Nasi :
150 gr
¾ gelas
Telur :
50 gr
1 butir
Tempe/tahu:
25 gr
1 potong
Sayur:
100 gr
Minyak:
5 gr
1 gelas
½ sdm
Pkl 10.00
Buah
200
2 porsi
Analisis praktik ..., Rita Melianna, FIK UI, 2014
LANJUTAN
Siang
Nasi
200 gr
Daging/ikan
40 gr
Sayur
100 gr
Minyak
5 gr
1 gelas
1 potong
1 gelas
½ sdm
Pkl 16.00
Buah
200 gr
Malam
Nasi
200 gr
1 gelas
Daging/ikan
40 gr
1 potong
Tempe/tahu
50 gr
1 potong
Sayur
Minyak
2 porsi
bebas
2 gr
Analisis praktik ..., Rita Melianna, FIK UI, 2014
LANJUTAN
Analisis praktik ..., Rita Melianna, FIK UI, 2014
Download