“Perang Pattimura: Penyerbuan Benteng Duurstede” Komposisi

advertisement
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Sejarah Perlawanan Pattimura
Kepulauan Maluku yang terkenal sebagai kepulauan rempahrempah mengundang banyak sekali bangsa besar yang ingin datang
untuk menguasainya, terkhusus oleh bangsa Eropa, mulai dari
kedatangan bangsa Spanyol, Portugis, Inggris dan kemudian bangsa
Belanda yang memonopoli perdagangan dengan cara yang salah. Hal
inilah
yang
menjadi
alasan
bangsa
Maluku
melakukan
pemberontakan.
Permulaan
abad
ke-19,
penduduk
Maluku
mengadakan
perlawanan bersenjata melawan V.O.C1 (Belanda) yang ingin
menjadi penguasa tunggal dalam dunia perdagangan didaerah
jajahan yaitu Maluku. V.O.C menggunakan kekuasaan kerajaan
sekitar Maluku untuk meluaskan kekuasaannya. Pada hakekatnya,
nafsu kaum penjajah untuk menguasai rempah-rempah inilah yang
menjadi penyebab bangsa Maluku melakukan perlawanan.
Menurut M. Sapija, sebab-sebab perlawanan rakyat Maluku
dibagi menjadi empat bagian :
1.
Penindasan
dan
penghisapan
pemerasan
(knevelarij)
terhadap
dengan
jalan
penduduk
curang
atau
Maluku
yang
terutama dilakukan oleh para pembesar belanda pada zaman
Oost Indische Compagnie dan juga pada zaman Residen Van den
Berg dengan mendapat perlindungan dari monopoli V.O.C.
1
V.O.C singkatan dari Veregnide Oost Indische Compagnie.
8
2.
Ketidakpuasan rakyat terhadap peraturan-peraturan gubernur
Van Middlekoop antara lain peraturan yang mewajibkan
penduduk negeri menyediakan perahu-perahu untuk keperluan
pemerintah Belanda, peraturan-peraturan dimana pada masa
kekuasaan Inggris telah dihapuskan.
3.
Kekurangan uang yang diderita oleh pemerintah Belanda pada
masa itu.
4.
Sifat kritis dari penduduk Maluku untuk membandingkan
perbuatan-perbuatan pemerintah yang dulu dengan peraturanperaturan pemerintah yang sekarang.2
Pelopor utama pergerakan perlawanan bangsa Maluku adalah
Thomas Matulessy yang dikenal dengan nama Kapitan Pattimura.
Sosok Pattimura adalah sosok yang menjadi pelopor dan membuka
perlawanan bersenjata terhadap Belanda yang kemudian diikuti oleh
para pahlawan dari daerah- daerah lainnya di Maluku.
B.
Biografi Singkat Pattimura
Thomas Matulessy alias Kapitan Pattimura lahir di desa Haria
pulau Saparua pada tanggal 8 juni 1783. Thomas adalah keturunan
dari keluarga besar Matulessia (Matullessy) di desa Haria pulau
Saparua.3 Pattimura beragama Kristen Protestan. Ia adalah mantan
sersan mayor dinas militer Inggris. Ia bisa membaca dan menulis
2 M. Sapija, Kisah Perjuangan Pattimura ( Jakarta: Lembaga Penunjang Pembangunan
Nasional, 1984 ), 49.
3 J.A. Pattykayhatu, Biografi Singkat: Pahlawan dan Tokoh Nasional Asal Daerah Maluku
(Yogyakarta : PT Citra Aji Parama, 2008), 1 .
9
juga memperoleh didikan militer, dan karena pendidikannya itu, dia
diangkat menjadi pemimpin pemberontakan. 4
C.
Pengertian Komposisi
Menurut The New Grove Dictionary of Music and Musician,
pengertian komposisi adalah aktivitas dari proses menciptakan
musik.5
D. Pengertian Ansambel
Ansambel adalah satuan musik yang bermain bersama-sama
dengan tidak mempedulikan jumlah sedikit maupun jumlah banyak
pemain.6 Ansambel biasanya tampil sebagai hasil kerja sama peserta,
di bawah pimpinan seorang pelatih, misalnya ansambel recorder,
ansambel gitar, ansambel vokal ataupun tari. Penyajian ansambel
dibagi menjadi dua, yaitu ansambel sejenis dan ansambel campuran.
1.
Musik Ansambel Sejenis
Musik ansambel sejenis, yaitu bentuk penyajian musik
ansambel yang menggunakan alat–alat musik sejenis. Contoh :
ansambel recorder, ansambel gesek.
2.
Musik Ansambel Campuran
Musik ansambel campuran, yaitu bentuk penyajian musik
ansambel yang menggunakan beberapa jenis alat musik. Alat–
4 J.A. Pattykayhatu, Hasil Seminar Sejarah Perjuangan Pahlawan Nasional Pattimura
(Ambon: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1996/1997), 154.
5 Stephen Blum, “Composition” dalam The New Grove Dictionary of Music and Musician.
Stanley Sadie ed., vol. 6., (London: Macmillian Publishers Limited, 2002), 186.
6 Pono Banoe, Kamus Musik (Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 2003), 133
10
alat musik yang digunakan misalnya recorder, pianika, gitar,
castanget, triangle, tamborin, dan cymbal.
Musik ansambel dikatakan berhasil apabila hasil dari
penyajian tersebut enak didengar, indah, dan harmonis.
Keberhasilan tersebut akan terwujud apabila:
a.
Pembagian alat–alat musik seimbang.
b.
Setiap pemain tampil dalam memainkan alat musiknya
secara disiplin, tertib, dengan memperhatikan partitur dan
dirigen.
c.
Kerja sama dalam bermain musik sangat diutamakan.
d. Balance (keseimbangan dalam pembagian alat musik yang
dimaksud adalah keseimbangan dalam hasil suara yang
dibunyikan dari pembagian alat musik tersebut).7
Bentuk lainnya dalam ansambel adalah ansambel tiup,
ansambel gitar, ansambel musik perkusi, band kombo, simfoni
band, dan orkestra dengan jumlah pemain yang beragam.
E. Sejarah Singkat Musik Program
Musik program sudah ada sejak periode Renaisans. Komposer
yang memulai karya musik program salah satunya adalah William
Byrd melalui The Battel. Kemudian pada periode Barok, muncul
Antonio Vivaldi yang menulis The Four Seasons untuk karya konserto
biola dan orkes gesek. Komposisi ini menggambarkan suasana empat
musim didaerah Eropa. Pada periode Klasik, Beethoven menulis
7
ANSAMBEL MUSIK _ Senturi09's Blog.htm diunduh pada 21 Juni 2013, Pkl. 18.00
WIB.
11
Simfoni No.6 „Pastoral‟. Karya ini secara struktur sangat berbeda
dengan bentuk musik Klasik pada periode itu.
Musik
programatik
kemudian
berkembang
pada
periode
Romantik (abad 19). Perintisnya adalah Hector Berlioz. Komposisi
musik program pertamanya adalah Symphonie Phantastique. Disini ia
melukiskan kisah dirinya sendiri yaitu kegagalan cinta yang dia
rasakan kepada Harriet Smithson. Karakter Harriet Smithson
digambarkan melalui leitmotif (leitmotif artinya motif dasar, yang
selalu dipegang dalam penggarapan watak maupun ide dari sebuah
komposisi.8) Bagian-bagian dari komposisi tersebut diberi judul
“Impian dan Sengsara,” “Suatu Pesta,” “Adegan Pedalaman,”
“Perjalanan ke Tempat Algojo,” dan “Impian pada Pesta Hantu.”
Berlioz sadar bahwa bentuk sonata klasik tidak cocok untuk
menggambarkan programa. Meskipun demikian Berlioz tetap
mempertahankan istilah „symphonie‟. 9
Musik programatik di Jerman diperkenalkan oleh Frans Liszt
dalam bentuk symphonic poem atau symphonische dichtung. Temanya
diambil dari sastra atau puisi, sebuah lukisan atau juga pengalaman
pribadi. Dalam musiknya, programa dilukiskan kadang-kadang
secara samar-samar, kadang-kadang sampai mendetil. Bentuk dari
symphonische dichtung itu bebas, hanya mengikuti fantasi sang
komposer.10
Sejak
saat
itu,
di
tempat-tempat
lainnya
juga
terjadi
perkembangan musik program. Di Rusia, M.A Balakirew menulis
M. Soeharto, Kamus ..., 71.
Karl-Edmund Prier sj, Sejarah Musik II (Yogyakarta: Pusat Musik Liturgi, 1993), 190.
10 Karl-Edmund Prier sj, Sejarah Musik ..., 192.
8
9
12
sebuah symphonische dichtung berjudul “Russia” pada tahun 1862.
Pada Tahun 1857 sampai 1858, di Ceko, Bedrich Smetana mengarang
symphonische dichtung “Richard III”. Liszt juga mempengaruhi salah
satu komposer yang bernama Jean Sibelius di Skandinavia. Karya
symphonische dichtung yang dipengaruhi Liszt bersifat rapsodis dan
membuat Sibelius terkenal.11
Struktur dan bentuk dalam musik program adalah sebagai
berikut: 12
1.
Narrative, yaitu bentuk musik program yang diangkat
berdasarkan rangkaian kejadian secara berurutan. Contoh :
2.

Symphonie Fantastique, Hector Berlioz

Don Quixote, Richard Strauss
Descriptive,
yaitu
bentuk
musik
program
untuk
menggambarkan keadaan suatu bentuk, ruang, dan waktu
(representasional) contoh :
3.

The Fountains of Rome, Respighi

Picture at an Exibithion, Moussorgsky
Appelative, yaitu bentuk musik program yang terdiri dari
karakter yang tersirat. Contoh :
4.

Carnaval, Schumann

Pinnochio Overture, Toch
Ideational, bentuk musik program yang mengekspresikan
suatu filosofi dan psikologi. Contoh :

First movement of Faust Symphony, Frans Liszt
Karl-Edmund Prier sj, Sejarah Musik ..., 193.
Leon Stein. Structure and Style: The Study and Analysis of Musical Form (New Jersey :
Summy-Birchard Music), 171.
11
12
13

Thus Spake Zarathustra, Richard Strauss
F. Sistem Tangga Nada di Maluku
Pembuatan lagu-lagu daerah di Maluku saat ini kebanyakan
berorientasi ke sistem tangga nada diatonik barat. Hal tersebut
berkaitan dengan timbulnya imperialisme bangsa-bangsa Eropa pada
abad ke-16. Walaupun telah terjadi akulturasi dalam pembuatan
lagu-lagu daerah, zaman dahulu para leluhur di Maluku telah
mempunyai tangga nada tersendiri (asli) yang terdiri dari dua nada
(dwitonik). Tangga nada ini didapati pada instrumen pong-pong yang
hanya terdiri dari nada G dan C1 atau nada C1 dan G1. Ada juga
tangga nada yang terdiri dari tiga nada (tritonik), empat nada
(tetratonik) dan lima nada (pentatonik). 13
1.
Sistem Tangga Nada Asli Maluku
Seperti telah dikemukakan, bahwa sebelum terpengaruh
tangga nada diatonik, daerah Maluku telah mengenal sistem
tangga nada dwitonik, tritonik, tetratonik, dan pentatonik. Dari
antara tangga nada tersebut kecuali tangga nada dwitonik
terdapat
pada
kapata-kapata14.
Kapata-kapata
yang
dibuat
bervariasi dari segi syair atau makna lagu maupun tangga
nadanya.
Berikut ini adalah contoh kapata yang dibuat dalam tangga
nada tritonik, tetratonik dan tangga nada pentatonik:
13
Christian I. Tamaela. Musik Tradisional Maluku Sebagai Sarana Komunikasi Injil Dalam
Jemaat GPM Gereja Pulau-Pulau Toma Arus Sibak Ombak Tegar (Ambon: Fakultas Teologi
UKIM, 1995), 119.
14 Nyanyian-nyanyian yang dinyanyikan pada upacara adat Maluku.
14
Arumbaya Sele
Gambar 2.1 Contoh kapata dalam tangga nada tritonik. 15
Arti lagu: Pada mulanya Pata Siwa dan Pata Lima hidup
rukun. Namun, suatu ketika terjadi konflik antara mereka dan
berpisah. Isi nada dalam tangga nada ini adalah G (do), A (re)
dan B (mi).
Leimanu O
Gambar 2.2 Contoh kapata dalam tangga nada tetratonik.16
Arti lagu: Apabila Pata Siwa turun dari gunung, maka
musuh dikalahkan, karena Pata Siwa memiliki banyak anggota.
15 Notasi oleh Maynart R.N Alfons, pada saat observasi di desa Amahai, dalam
Penelitian dan Pengolahan Aspek Kebudayaan Ansambel Musik Tifa Totobuang di Ambon (Ambon,
Taman Budaya Propinsi Maluku, 1998), 22.
16 Christian I. Tamaela. Musik Tradisional Maluku..., 123.
15
Isi nada dalam tangga nada ini adalah D(la), F(do), G(re), dan
A(mi).
Tuhan Kasihani
Gambar 2.3 Contoh kapata dalam tangga nada pentatonik. 17
Isi nada dalam tangga nada ini adalah E(mi), F(fa), G(sol),
A(la) dan Bes(sa).
2.
Sejarah Singkat Sistem Tangga Nada Diatonik di Maluku
Penyebaran tangga nada diatonik di Nusantara, salah
satunya di Maluku, adalah dari bangsa-bangsa semenanjung
Siberia yang diwakili oleh orang-orang Portugis dan Spanyol
pada abad 16 Masehi dalam rangka perdagangan rempahrempah dan untuk pengabaran Injil. Hal pengabaran Injil ini
didasari oleh dua hal yakni, pertama, minat akan hal-hal yang
eksotik di tanah yang jauh (diluar Portugis-Spanyol). Kedua,
timbulnya Pax Hisponika dikalangan rohaniawan (PortugisSpanyol) yang percaya bahwa saat akhir zaman telah tiba.
Dengan motivasi pelayanan yang tinggi dan didasari dirinya
17
Christian I. Tamaela. Musik Tradisional Maluku..., 125.
16
adalah sebagai umat pilihan Tuhan, mendorong mereka untuk
memproklamasikan shalom atau damai bagi segala bangsa.18
Untuk mencapai tujuan di atas, orang-orang Portugis
berpatokan pada pesan seorang penjelajah yang bernama
Albuquerque,
yang
mengatakan
bahwa
mereka
perlu
membangun hubungan persahabatan dengan para penguasa di
Pulau Maluku dengan menggunakan cara apa saja.19 Pesan ini
ternyata dipraktekan oleh orang-orang Portugis.
Tanda-tanda persahabatan tersebut dapat ditemui antara
lain:
a.
Pengenalan
stambul
di
tempat-tempat
transfer
perdagangan rempah-rempah.
b.
Pengenalan saudades (lagu rakyat Portugis tentang hasrat
dan kerinduan), despedades (lagu rakyat Portugis tentang
selamat tinggal)
c.
Transfer alat-alat musik instrumen diatonik seperti
cavaquinhc yaitu jenis gitar kecil berdawai empat dengan
nada G1, C1, E1, A1 yang lazim disebut ukulele (jak),
juga lud berleher panjang, guitarra portuquisa – gitar yang
berdawai empat atau lima (biola alto), bass viol (biola
alto dagamba).20
Secara definitif, di era Portugis dan Spanyol di Asia Tenggara
pada abad 15 dengan fokus Nusantara pada abad 16, telah
18 Sunardjo Parto dalam Penelitian dan Pengolahan Aspek Kebudayaan Ansambel Musik Tifa
Totobuang di Ambon (Ambon, Taman Budaya Propinsi Maluku, 1998), 24.
19 Sunardjo Parto dalam Penelitian..., 24.
20 Sunardjo Parto dalam Penelitian..., 25.
17
memberi tradisi diatonik yang sangat berpengaruh sampai saat
ini pada pembuatan lagu-lagu rakyat. Tablatur-tablatur (papan
kunci Spanyol), oktaf diatonik bersolmisasi. Semua ini adalah
bukti akulturasi. Sedangkan orang-orang Portugis dalam kurun
waktu seratus tiga puluh tahun di Nusantara, kecuali TimorTimur, memberi budaya musik diatonik juga tarian-tarian
sebagai sarana komunikasi dengan sekelompok etnik di
Nusantara.
G. Pemilihan Instrumen
Organologi merupakan suatu ilmu yang dikhususkan untuk
mengklasifikasikan semua instrumen musik yang ditinjau dari bahan
pembuatan dan bagaimana bunyi dihasilkan. 21 Hood mengutip
pendapat
Curt
Sachs
dan
Eric
von
Hornbostel
yang
mengklasifikasikan instrumen menjadi empat bagian, yakni ;
1.
Idiofon atau idiophones adalah golongan alat musik yang
dihasilkan dari badannya sendiri dengan cara dipukul. Contoh:
totobuang,
kolintang,
vibraphone,
marimba,
xylophone,
dan
sebagainya.
2.
Membranofon atau membranophones adalah golongan alat musik
yang bunyinya dihasilkan dari getaran suatu permukaan yang
terbuat dari kulit atau membran dengan cara dipukul. Contoh:
tifa, rebana, drum, timpani, dan sebagainya.
21 Mantle Hood, The Ethnomusikologist – New edition ( Kent Ohio : Kent State University
Press, 1971 ), 123-124.
18
3.
Kordofon atau cordophones adalah golongan alat musik yang
bunyinya dihasilkan dari getaran dawai/snar/string dengan cara
digesek atau dipetik. Contoh: ukulele, gitar, biola, sitar, dan
sebagainya.
4.
Aerofon atau earphones adalah golongan alat musik yang
bunyinya dihasilkan lewat lubang udara atau aero dengan cara
ditiup. Contoh: suling, oboe, trompet, saxophone, clarinet, horn, fagot,
serunai, dan sebagainya.
Komposisi ini
dibuat dengan menggunakan media ansambel
yang penulis rasa bisa mewakili isi suasana dan karakter dari cerita.
Ansambel dalam kompsisi ini terdiri dari beberapa instrumen antara
lain:
a) Biola
Biola atau violin termasuk dalam instrumen musik kordofon.
Biola memiliki empat senar (G-D-A-E) yang ditala berbeda satu
sama lain dengan interval sempurna kelima. Diantara keluarga
biola, yaitu dengan biola alto, cello, dan double bass atau kontra
bass, biola memiliki nada yang tertinggi. 22
Gambar 2.4 Instrumen Biola (Violin)
22Deskripsi Biola, diunduh dari http://id.wikipedia.org/wiki/Biola, pada Selasa, 30
April 2014, pkl. 18.00 WIB.
19
b) Biola Alto
Biola alto atau viola adalah instrumen musik kordofon.
Bentuknya lebih besar dari pada biola namun suaranya lebih
rendah dari biola. Sejak abad ke-18 biola alto menjadi suara
tengah dalam keluarga biola, diantara biola dan cello. Biola alto
empat senar normalnya di-tunning dalam C3-G3-D4-A4.23
Gambar 2.5 Instrumen Biola Alto (Viola)
c)
Violoncello
Violoncello,
yang hampir selalu disingkat menjadi cello
termasuk dalam anggota dari keluarga biola dan merupakan
instrumen
kordofon.
Ukuran
cello
lebih
besar
dari
pada biola atau biola alto, namun lebih kecil daripada bass.
Seperti anggota-anggota lainnya dari keluarga biola, cello
mempunyai empat dawai. Dawai-dawainya biasanya ditala
pada nada A3, D3, G2, dan C2. Cello mirip seperti biola
alto namun satu oktaf lebih rendah, dan satu seperlima oktaf
lebih rendah daripada biola. Ia dimainkan dalam posisi berdiri di
23Deskripsi Viola, diunduh dari http://en.wikipedia.org/wiki/Viola, pada Selasa, 30
April 2014, pkl. 18.20 WIB.
20
antara kedua kaki si pemusik yang duduk, dan ditegakkan pada
sepotong metal yang disebut endpin.24
Gambar 2.6 Instrumen Cello (Violoncello)
d) Gitar Bass Elektrik
Gitar
bass
elektrik termasuk
dalam
alat
musik
berdawai (kordofon) yang menggunakan sinyal elektrik untuk
memperbesar suaranya. Gitar bass elektrik empat senar biasanya
ditalakan ke nada "G-D-A-E". Sedangkan gitar bass elektrik
dengan lima senar biasanya ditalakan ke nada "G-D-A-E-B".
Penalaan di atas diurutkan berdasarkan nomor senar (senar 1,
senar 2, dan seterusnya), di mana senar 1 adalah senar terbawah
dari gitar bass.25
24 Deskripsi Violoncello, diunduh dari http://id.wikipedia.org/wiki/Cello, pada Selasa
30 April 2014, Pkl. 18.00 WIB.
25 Deskripsi Gitar Bass, diunduh dari http://id.wikipedia.org/wiki/Gitar_bass, pada
Selasa 30 April 2014, pkl. 19.00 WIB.
21
Gambar 2.7 Instrumen Gitar Bass
e) Tahuri
Pada Tahun 1960-an pemerintah Indonesia mendirikan
Fakultas Oceanografi di desa Poka pulau Ambon. Pendirian
fakultas tersebut ditujukan untuk lebih mengarahkan perhatian
dan orientasi manusia Indonesia di Maluku menuju kelaut sesuai
dengan kondisi alam fisiknya.26 Orientasi tersebut mendorong
para budayawan di daerah ini untuk mencoba menggarap dan
menciptakan alat musik yang berasal dari bahan baku sumber
daya laut.
Pada tahun 1962, Letkol G. Latumahina menjabat sebagai
Wakil Gubernur daerah tingkat I Provinsi Maluku. Beliau adalah
seorang militer dan juga seorang budayawan. Beliau adalah
tokoh
pencetus
yang
mempunyai
andil
besar
dalam
pengembangan musik tahuri (kulit bia/siput) di Maluku saat itu.
26 Deskripsi Musik Kulit Bia ( Ambon: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 19931994), 7.
22
Kulit siput yang digunakan dalam komposisi ini dikenal oleh
masayarakat lokal dengan nama Tahuri. Tahuri adalah semacam
alat tiup yang digunakan dalam kehidupan adat istiadat. Tahuri
ini dibunyikan dalam rangka mengundang kehadiran arwah
nenek moyang dalam pelaksanaan satu upacara adat. 27.
Gambar 2.8 Tahuri
f)
Piano
Nama instrumen piano berasal dari kata pianoforte atau
fortepiano, dari klavir yang dikembangkan dari instrumen
tradisional bangsa Timur Tengah, dibawa ke Eropa oleh bangsa
Moor pada abad ke-13, dan waktu itu masih dimainkan dengan
menggunakan dua batang alat pukul-lazim disebut dulcimer,
hakkebord atau simbal.28
Gambar 2.9 Instrumen Piano
27
28
Deskripsi Musik Kulit Bia..., 11.
Japi Tambayong, Ensiklopedia Musik 2 M-Z ( Jakarta: Cipta Adi Pustaka, 1992), 114.
23
g) Perkusi
Perkusi termasuk alat musik yang menghasilkan musik
dengan cara dipukul atau diguncang. Alat musik pukul antara
lain bass drum, kattle drum glockenspiel, snare drum, celesta,
xylophone, triangle, tambourin, cymbal dan lain- lain. Dalam sebuah
orkestra, alat musik ini dianggap sebagai pemasok energi yang
menitikberatkan pada ritme, memberi tambahan bunyi yang
berkesan besar, menghasilkan kegembiraan pada saat klimaks,
dan memberi efek ceburan kedalam warna sebuah orkestra. 29
Pada abad ke-20 instrumen musik perkusi mulai sering
digunakan dalam pertunjukkan musik-musik klasik.
Banyaknya ragam jenis instrumen perkusi sehingga tidak
jarang ditemukan ansambel musik besar dengan keseluruhan
instrumen yang dimainkan oleh instrumen perkusi. Ritme,
melodi, dan harmoni semua muncul dan hidup dalam
penampilan tersebut, dan seringkali merupakan pertunjukan
yang menarik.
(a)
(b)
(c)
Gambar 2.10 Instrumen perkusi dari kiri ke kanan (a) Floor
Tom, (b) Snare dan (c) Cymbal
29 Muhammad Syafiq, Ensiklopedia Musik Klasik (Yogyakarta: Adi Cipta Karya Nusa,
2003), 233.
24
h) Flute
Dalam
perkembangan
sejarahnya,
flute
atau
seruling
di
kategorikan sebagai salah satu alat musik tertua. Flute termasuk
dalam alat musik yang populer pada musik jaman pertengahan.
Musik abad pertengahan dimulai dari jatuhnya kerajaan Romawi
dan berakhir di sekitar pertengahan abad ke 15. Pada zaman
moderen flute terbuat dari perak atau jenis logam yang lain, pada
era pertengahan bahan yang digunakan untuk membuat flute
adalah kayu. Demikianlah alasan mengapa flute dikategorikan
sebagai alat musik woodwind. (Sejarah Musik Klasik, 2009). Alat
ini memiliki wilayah nada yang cukup luas, mulai dari nada C
sampai C4.30
Gambar 2.11Instrumen Flute
i)
Paduan Suara
Paduan suara adalah terjemahan dari bahasa Belanda Koor
atau Choir dalam bahasa Inggris. Paduan suara terbagi atas: 1)
kor pria, terdiri dari tenor dan bass; 2) kor wanita, terdiri dari
30
Muhammad Syafiq, Ensiklopedia Musik ..., 106.
25
sopran dan alto; 3) kor campuran, terdiri dari SATB (sopran, alto,
tenor dan bass); 4) kor anak.31
Suara sopran merupakan jenis suara tertinggi dan umumnya
dimiliki oleh wanita. Jarak suara sopran berkisar antara C4
hingga G5. Suara alto dimiliki oleh wanita dengan suara rendah.
Jarak suara alto berkisar antara nada G3 sampai E5. Suara tenor
merupakan suara tinggi yang dimiliki pria. Jangkauan nada
tenor berkisar antara C3 hingga A4. Suara bass merupakan suara
rendah yang dimiliki penyanyi pria. Jangkauan nadanya berkisar
antara E2 hingga A4.32
H. Cerita Perang Pattimura: Penyerbuan Benteng Duurstede
Pagi subuh, 16 Mei 1817, matahari mulai memancarkan cahaya di
ufuk timur Indonesia. Saat itu, terdengar suara tifa dan tahuri
dibunyikan dari kejauhan untuk memanggil pasukan pattimura.
Mereka mulai berdatangan dan mengepung benteng Duurstede yang
berisikan Residen Van Den Berg, pasukan Belanda, serta penghuni
lainnya. Di depan benteng, berdiri dengan gagah Thomas Matulessy
yang dijuluki Kapitan Pattimura. Lelaki berusia tiga puluh empat
tahun, berbadan tinggi dan tegap, warna kulit dan rambutnya hitam,
parasnya menggambarkan dia adalah orang Maluku. Pasukan rakyat
menyambutnya
dengan
sorak
sorai,
teriak-teriakan
yang
menggetarkan udara. Teriakan pada pagi itu mulai menyadarkan
dan mengejutkan penghuni benteng.
Japi Tambayong, Ensiklopedia Musik 1 A-L (Jakarta: Cipta Adi Pustaka, 1992), 299.
www.bimbingan.org/jenis-jenis-suara-vocal-dalam-paduan-suara.htm, diunduh pada
12 Mei 2014, Pkl. 15.00 WIB.
31
32
26
Menyadari banyaknya pasukan rakyat yang berdatangan,
Residen serta penghuninya menjadi panik dan tidak berani keluar
dari benteng. Kondisi di dalam benteng pun tiba-tiba menjadi suram
karena situasi diluar benteng yang semakin memanas dengan adanya
keberadaaan pasukan Pattimura.
Persiapan dilakukan sejak pagi itu oleh pasukan Pattimura,
suara-suara panggilan oleh pemimpin persiapan untuk bersiap telah
mengudara. Nyanyian-nyanyian tentang negeri telah di dendangkan
untuk menyemangati, parang-parang dan tombak juga salawaku
dikumpulkan dan diasah, tidak terasa telah siang hari. Setelah selesai
dengan persiapan, Pattimura mengajak pasukannya untuk berdoa. Ia
dan pasukannya berdoa
memohon pertolongan Tuhan, atas
perjuangan yang akan mereka lakukan.
Hari semakin siang dan keadaan semakin tegang, panas dan
genting. Pasukan Pattimura mulai mendekati benteng Duurstede
untuk melakukan penyerangan. Residen Van Den Berg yang
mungkin oleh karena bingung, tidak ingat lagi untuk meletuskan
meriam-meriam yang ada di benteng itu, dan mulai putus asa. Ia
mulai sadar, bahwa perlawanan terhadap pasukan yang dibantu oleh
rakyat adalah sia-sia. Karena itu ia bersama-sama dengan prajurit
Belanda mengibarkan bendera putih sebagai tanda menyerah. Tetapi
Pattimura telah mengetahui taktik licik Belanda, sebab sehari
sebelumnya Belanda sudah mengirimkan berita ke Ambon tentang
peristiwa yang terjadi dan meminta bantuan. Rakyat juga sudah
kenyang dengan tipu muslihat penjajah dan tidak menghiraukan
bendera putih tersebut. Karena merasa bendera putih ini tidak
27
dihiraukan, Residen Van Den Bergh kembali menurunkan bendera
tersebut.
Jam tiga siang pasukan pattimura sudah mengepung benteng,
sebagian menggunakan bedil, dan sebagian menggunakan parang
(pedang)
juga
menyerang.
salawaku
(tameng)
dan
menunggu
Komando pun diberikan “serang!
perintah
serbu!”
Bedil
dicetuskan, cakalele (tarian perang maluku) disertai teriakan-teriakan
yang mendirikan bulu roma membelah angkasa. Pasukan Belanda
menyambut
dengan
tembakan
yang
gencar.
Meriam-meriam
memuntahkan peluru yang menyebarkan maut dikalangan penyerbu
sampai beberapa serangan pasukan Pattimura dipukul balik. Tapi
akhirnya kemenangan datang ditangan pasukan Pattimura. Pasukan
Pattimura menemukan keberadaan Van Den Bergh yang telah
tertembak kakinya dan menyeret ke salah satu tiang dan Pattimura
memerintahkan
pasukan
untuk
menembak
mengakhiri
kelalimannya. Setelah itu Pasukan Pattimura bersorak sorai karena
merasa bebas dari penjajahan.
Peperangan telah usai, pasukan Pattimura telah menang, namun
meninggalkan banyak bekas bekas pada dinding Duurstede. Mayatmayat dari kedua belah pihak menumpuk di sekitar benteng
membawa suasana kegembiraan yang diliputi kesedihan.
Salah seorang anak Van Den Berg yang bernama Jean Lubert Van
Den Berg ditemukan belum meninggal oleh Pieter Matheus Souhoka,
dia dibawa menghadap Pattimura untuk mendengar keputusan
mengenai nasib anak itu. Setelah anak itu dihadapkan, berkumpulah
para Kapitan (Pemimpin Perang) dan para penasehat untuk
28
menentukan nasib anak itu. Pasukan mendesak agar dia dibunuh
saja, tetapi Salomon Pattiwael, seorang tua anggota keluarga Patih
Tiow, maju kedepan dan memohon agar anak itu jangan dibunuh,
tetapi diserahkan kepadanya untuk dirawat dan dipelihara.
Pattimura berpaling kepada para hadirin dan melihat anak itu
dengan terharu. Pattimura memutuskan dan berkata” ini suatu tanda
bahwa Tuhan tidak menghendaki anak ini dibunuh.” Salomon
Patiwael ditugaskan oleh Pattimura untuk memelihara anak itu.
Suatu episode yang berdarah telah berlalu, kemenangan telah
didapatkan dengan pengorbanan baik lawan maupun kawan.
I.
Rancangan Penyusunan Komposisi
Dalam tugas akhir ini penulis merancang komposisi dengan
bentuk free form. Komposisi ini secara keseluruhan merupakan
akulturasi musik etnik Maluku dan musik barat dengan bumbu
harmoni moderen. Komposisi ini akan dibagi menjadi empat bagian
(movement) yang masing-masing diangkat dari bagian-bagian penting
pada isi cerita.
Bagian pertama berjudul “Kadatangan” (Kedatangan). Bagian
komposisi ini menceritakan tentang kedatangan pasukan Pattimura
dibenteng Duurstede. Penulis memaparkan situasi dan suasana yang
terjadi pada saat itu. Penulis membagi menjadi tiga sub bagian yang
menceritakan tentang suasana di pagi hari, kedatangan pasukan
Pattimura dan kepanikan dalam benteng Duurstede.
Bagian kedua berjudul “Parsiapang Voor Baprang” (Persiapan
untuk berperang). Bagian komposisi ini menceritakan tentang
29
persiapan yang dilakukan pasukan Pattimura setelah kedatangan
dan dibagi menjadi dua sub bagian yaitu persiapan dan doa. Sub
bagian persiapan adalah bagian dimana
pasukan Pattimura
mempersiapkan diri untuk melakukan peperangan. Sub bagian doa,
menceritakan tentang Pattimura yang mengajak segenap pasukannya
pada saat itu untuk melakukan doa sebelum berperang.
Bagian ketiga berjudul “Panyerbuan” (Penyerbuan). Suasana
penyerbuan digambarkan pada bagian ketiga dari komposisi ini.
Bagian ini dibagi menjadi lima sub bagian, sub bagian pertama
adalah mendekati benteng. Bercerita tentang pasukan Pattimura
yang
perlahan-lahan
mendekati
benteng
untuk
melakukan
penyerangan. Sub bagian kedua adalah bendera putih, menceritakan
dimana Residen Van den Berg menaikan bendera putih sebagai tanda
menyerah dan tidak diperdulikan oleh pasukan Pattimura. Sub
bagian ketiga adalah serbu yang menceritakan tentang penyerbuan
pasukan Pattimura kepada pasukan Belanda. Sub bagian keempat
adalah kematian Residen Van den Berg menceritakan tentang
kematiannya. Sub bagian kelima adalah kemenangan menceritakan
tentang suasana kemenangan yang dirasakan pasukan Pattimura.
Bagian
keempat
berjudul
“Kaputusang,
Kahidopang
deng
Kamenangan” (Keputusan, Kehidupan dan Kemenangan). Bagian
komposisi ini merupakan penggambaran suasana yang terjadi
setelah penyerbuan benteng Duurstede, dibagi atas empat sub bagian
yaitu suasana setelah peperangan, bayi yang ditemukan, bayi yang
diselamatkan dan Penutup. Sebagian besar bagian komposisi ini
adalah interpretasi penulis terhadap situasi dan suasana yang
30
dirasakan oleh pasukan Pattimura setelah peperangan. Penulis ingin
menggambarkan perasaan pasukan Pattimura yang diliputi rasa
bahagia setelah memenangkan pertempuran ini. Dalam bagian ini
juga diceritakan bagaimana pasukan Pattimura menemukan bayi
dari Residen Van Den Berg, yang pada akhirnya diputuskan untuk
tetap hidup oleh Pattimura.
31
Download