MAKALAH PELAYANAN ANAK

advertisement
MAKALAH PELAYANAN ANAK
BY REBECA BAR-ISRAEL
DAFTAR ISI
BAB I
: Pendahuluan
BAB II
: Gereja dan Pelayanan Anak
A. Awal Mula Pelayanan Sekolah Minggu
B. Mengapa Melayani Anak
C. Peran Guru Sekolah Minggu dalam Pelayanan Anak
D. Mengajarkan Alkitab kepada anak-anak
BAB III
Daftar Pustaka
: Kesimpulan
BAB I
PENDAHULUAN
Allah pasti memiliki rencana yang indah ketika menciptakan anak-anak.
Allah ingin menjadikan anak-anak sebagai penyembahNya. Kasih anugerahNya
selalu dilimpahkan bagi anak-anak yang dikasihiNya. Namun melihat fenomena
yang terjadi hari-hari ini sangat memprihatinkan, bahwa pembinaan rohani anakanak cenderung bukan ditangani oleh keluarga-keluarga Kristen. Kesibukan orang
tua dan kurangnya pemahaman mereka akan Firman Tuhan sering menjadi alasan.
Akibatnya pembinaan rohani anak seringkali dibebankan kepada gereja. Namun
apakah gereja juga menganggap pelayanan anak adalah sebuah pelayanan yang
penting? Apakah pembinaan sekolah minggu juga menjadi perhatian dari hambahamba Tuhan? Beberapa kesaksian yang terdengar bahwa melalui pelayanan
sekolah minggu pemberitaan Injil itu disebarluaskan. Banyak anak dari keluarga
yang belum percaya justru menjadi alat untuk membawa keluarganya mengenal
Kristus. Betapa pentingnya pelayanan ini menjangkau anak-anak sejak dini. Jika
kita menganggap penting anak-anak maka pengelolaan Sekolah Minggu akan
menjadi perhatian utama juga dalam pelayanan gereja. Mengajar anak-anak
bukanlah pekerjaan mudah. Tujuan sekolah Minggu bukan hanya mengajak anakanak bernyanyi kemudian mendengar cerita lalu selesai. Tapi bagaimana anakanak ini akhirnya mengenal Tuhan dan Juruselamat-Nya serta hidupnya
diubahkan oleh Firman. Sementara anak-anak juga punya beban masing-masing
dari rumah seperti, beban keluarga yang tidak harmonis, tuntutan orang tua atas
studinya, tuntutan teman-temannya, dan sebagainya. Sehingga guru-guru Sekolah
Minggu perlu diperlengkapi untuk melayani anak-anak baik secara pastoral
maupun dalam skill mengajar. Sejak awal Tuhan sudah memberikan mandat, yaitu
dalam kitab Amsal 22:6 dikatakan, “Didiklah orang muda menurut jalan yang
patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari pada
jalan itu.” Masa anak-anak adalah masa potensial. Mendidik anak sejak dini untuk
diperkenalkan pada kebenaran akan memberi dampak buat hidup mereka di masa
yang akan datang. Meski mendidik anak-anak termasuk di Sekolah Minggu
adalah pekerjaan yang tidak mudah. Perlu persiapan ekstra, selain persiapan
Firman, menggunakan kata-kata yang mudah dipahami oleh anak-anak, dengan
ilistrasi dari pengalam mereka yang terbatas. Anak-anak dapat memahami Injil di
usia mereka yang muda sekali kalau kita dapat mengkomunikasikannya kepada
mereka pada tingkat mereka.1 Juga kita mempersiapkan lagu-lagu yang sesuai
dengan usia mereka, dan menyiapkan kreatifitas yang bisa mengingatkan Firman
yang disampaikan. Penggunaan waktu pun perlu berhikmat, mengingat daya
konsentrasi anak terbatas. Namun karena mereka potensial, maka tanggung jawab
pelayanan anak ini harus dikerjakan dengan kesungguhan.
1
Ronald W. Leigh. Melayani Dengan Efektif (Jakarta: Gunung Mulia, 2007),hal 96
Bab II
Gereja dan Pelayanan Anak
A.
Awal mula pelayanan sekolah minggu
Pelayanan anak oleh gereja atau yang biasa disebut dengan SEKOLAH
MINGGU, tidak terlepas dari peran Robert Raikes, ia kemudian dikenal sebagai
Bapak Sekolah Minggu. Robert Raikes lahir tanggal 14 September 1735 di
Glovcester Inggris, sebuat kota kecil di tepi sungai Severn, kira-kira 150 Km
Barat Laut kota London. Pada masa akhir abad 18, Inggris sedang dilanda suatu
krisis ekonomi yang sangat parah. Orang- orang bekerja keras untuk memenuhi
kebutuhan hidupnya, anak-anak dipaksa bekerja untuk bisa mendapatkan
penghidupan yang layak. Kehidupan yang sangat berat, kemudian ketika itu
seorang bernama Robert Raikes yang juga adalah seorang wartawan, mendapat
tugas untuk meliput berita tentang anak-anak gelandangan di Gloucester bagi
sebuah koran milik ayahnya. Robert melihat pemandanganyang sangat
memprihatinkan, dimana anak-anak gelandangan itu bekerja di hari Senin sampai
Sabtu. Apa yang dilakukan anak-anak pada hari Minggu itu? Hari Minggu adalah
satu-satunya hari “kebebasan”mereka. mereka menghabiskan hari minggu untuk
bersenang-senan. Mereka tidak memiliki pendidikan, sehingga membuat anakanak itu menjadi sangat liar, minum-minuman keras, berkelahi dan melakukan
berbagai macam kenakalan juga kejahatan. Orang tua mereka tidak pernah
mengajak mereka mengikuti kebaktian di gereja.
Melihat peristiwa tersebut Robert Raikers mencari solusi bagaimana
mengatasi hal itu. Robert Raikers melihat bahwa sebenarnya anak-anak itu ada
banyak potensi yang disia-siakan oleh masyarakat dan gereja. Kreativitas anakanak itu bisa berakibat buruk bagi masa depan mereka jika mereka tidak dididik
sejak muda. Pada tahun 1780, Robert Raikes bertekad untuk mengubah keadaan.
bersama beberapa teman. Ia mencoba melakukan pendekatan kepada anak-anak
tersebut dengan mengundang mereka berkumpul di sebuah dapur milik Ibu
Meredith di kota Scooty Alley. Di sana anak-anak mendapat makanan dan mereka
juga diajarkan sopan santun, membaca dan menulis. Dan hal paling indah yang
diterima anak-anak di situ adalah mereka mendapat kesempatan mendengar ceritacerita Alkitab. Mulanya pelayanan ini sangat tidak mudah. Banyak anak-anak itu
datang dengan keadaan yang sangat bau dan kotor. Robert menerapkan metode
pendidikan yang disiplin, kadang dengan pukulan rotan, tapi semuanya itu
dilakukan dengan penuh cinta kasih, akhirnya anak-anak itu belajar mau
menerima didikan dengan baik, sehingga semakin lama semakin banyak anak
datang ke dapur Ibu Meredith. Semakin banyak juga yang guru disewa untuk
mengajar mereka, bukan hanya untuk belajar membaca dan menulis tapi juga
Firman Tuhan. Dalam waktu 4 tahun sekolah minggu itu semakin berkembang
bahkan ke kota-kota lain di Inggris, dan jumlah anak-anak yang datang ke sekolah
hari minggu terhitung mencapai 250.000 anak di seluruh Inggris.
Gereja mulanya tidak mengakui kehadiran gerakan Sekolah Minggu yang
dimulai oleh Robert Raikes ini. Tetapi kegigihan Roberts menulis ke berbagai
media dan membagikan visi pelayanan anak ke masyarakat Kristen di Inggris,
juga atas bantuan John Wesley (pendiri gereja Methodis), akhirnya kehadiran
Sekolah Minggu diterima oleh gereja. Awalnya gereja Methodis, akhirnya gerejagereja protestan lain. Tahun 1811 Robert Raikes meninggal dunia dan jumlah
anak yang hadir di Sekolah Minggu di seluruh Inggris waktu itu mencapai lebih
dari 400.000 anak. Melslui pelayanan anak ini, Inggris tidak hanya diselamatkan
dari revolusi sosial, tapi juga diselamatkan dari generasi yang tidak mengenal
Tuhan. Gerakan Sekolah Minggu yang dimulai di Inggris ini akhirnya menjalar ke
berbagai tempat di dunia, termasuk negara-negara Eropa lainnya dan ke Amerika.
Pentingnya anak-anak melalui pernyataan Yesus dalam Injil, kita
menyadari bahwa pada umumnya anak-anak sangat dihargai. Yosefus dalam
tulisannya kira kira tahun 80 menegaskan hal tersebut. Dalam Against Apion
(1:12) Josefus mengatakan, “Tanah kita itu baik, dan kita mengolahnya secara
maksimal ,tetapi ambisi kita yang utama adalah untuk pendidikan anak-anak kita.”
Penjelaan mengenai sasaran pola membesarkan anak mendapat dukungan kuat
dalam kitab Amsal, “kita berusaha dengan keras dengan pengajaran anak-anak ,
dan menjunjung penerapan Hukum Taurat, dan kekudusan yang terkait dengan hal
itu, hal yang paling penting di seluruh hidup kita.
Yesus sangat memihak kepada anak-anak. Dalam kitab Injil di ceritakan
dimana orang- orang membawa anak-anak kecil kepada Yesus, supaya Ia
menjamah mereka; akan tetapi murid-murid-Nya memarahi orang-orang itu.
Ketika Yesus melihat hal itu, Ia marah dan berkata kepada mereka: "Biarkan
anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan menghalang-halangi mereka, sebab
orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah (Mrk 10:13-14).
Orang Yahudi punya kebiasaan membawa anak-anak mereka kepada imam atau
guru agama supaya bisa diberkati. Kemungkinan saat itu, beberapa orang tua
memohon Yesus memberkati, menumpangkan tangan dan mendoakan anak-anak
(Mat. 19:13).
Namun para murid merasa tidak senang ketika melihat gurunya diganggu
oleh anak-anak. Mungkin mereka ingin melindungi Gurunya supaya waktunya
tidak terganggu atau kuatir jika Yesus terganggu istirahatnya ataupun tidak
konsentrasi dengan pelayanan-Nya. Atau mungkin para murid tidak ingin repot
atau mungkin menganggap pelayanan penyembuhan dan pengajaran lebih penting
daripada memberkati anak-anak. Dari kejadian ini, sangat mungkin para murid
menganggap anak-anak bukan sesuatu yang penting untuk diperhatikan.
Yesus sangat marah dengan sikap para murid. Kata Yunaninya adalah kata
yang sangat kuat. Kata ini menunjukkan emosi Yesus begitu rupa terhadap para
murid. Ia marah karena para murid-Nya salah paham tentang siapa Dia dan
tindakan-Nya. Jika Yesus menganggap anak-anak begitu spesial dan menganggap
pelayanan terhadap anak-anak juga sama pentingnya dengan pelayanan-pelayanan
yang lain, apakah gereja juga sudah menganggap pelayanan anak ini juga penting?
Atau gereja sama dengan sikap para murid yang cenderung mengabaikan anakanak karena menganggap ada pelayanan yang lebih penting dan butuh
diperhatikan ketimbang mengurus anak-anak yang dampaknya belum bisa dilihat
secara langsung? Bagian dari gereja berkontribusi terhadap seluruh formasi.
Sekolah minggu adalah dapat dengan sedemikian rupa direncanakan, terstruktur
dan memiliki staff sendiri sehingga dapat berfungsi dengan baik dan mandiri.
B.
Mengapa Melayani Anak
Melayani anak merupakan bagian dari rencana Tuhan seperti yang
tertulis di dalam Alkitab, antara lain:
1. Ulangan 6:4-9
"... Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah
engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang
kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di
rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau
berbaring dan apabila engkau bangun .... "
2. Amsal 22:6
"Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada
masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu."
3. Matius 28:19-20
"Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan
baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah
mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan
kepadamu .... "
Jadi melayani anak, seperti juga melayani sesama yang lain dalam berbagai
tingkatan usia, merupakan kehendak Tuhan. Anak-anak perlu dikenalkan jalan
keselamatan di dalam Tuhan Yesus. Anak-anak juga perlu dididik untuk hidup di
dalam terang Firman Tuhan. Pertumbuhan iman anak-anak juga tumbuh dari
kasih dan iman dari ibunya. 2 Meskipun tugas utama mendidik anak adalah
tanggung jawab orangtua, namun orang-orang percaya yang terhimpun dalam
organisasi gereja maupun organisasi Kristen lainnya sebagai Tubuh Kristus juga
memiliki peran yang sangat penting dalam melayani anak, terutama dalam
program penginjilan anak untuk menjangkau mereka yang belum mengenal
Tuhan.
Mengajarkan Firman Tuhan kepada anak tidak terhitung faedahnya.
Banyak ahli sudah membuktikan bahwa pengalaman hidup seseorang pada
masa kecilnya akan memiliki pengaruh yang besar dan menentukan pada
masa
dewasanya
kelak.
Dengan
melayani
anak,
kita
melatih
dan
mempersiapkan angkatan muda dan generasi penerus Gereja.
Selain itu mengapa kita harus melayani anak? Karena kita harus mengakui
perkembangan multimedia begitu pesat. Dan berhasil merebut perhatian anak.
Banyak dampak negative yang bias mempengaruhi anak. Tayangan televise yang
berbau kekerasan, dsb. Ada sisi positif, namun di lain sisi multimedia dapat
menjadi mesin penghancur masa depan anak. 3 Kita melayani anak karena kita
ingin menyelamatakan dan mempersiapkan generasi selanjutnya menjadi generasi
yang mengenal Allah dan hidup dalam jalan Tuhan.
Seberapa pentingkah anak-anak di hadapan Tuhan?
2
Robert. R Boehlke. Sejarah Perkembangan Pikiran dan Praktek Pendidikan Agama Kristen (
Jakarta: BPK Gunung Muila, 2009) hal 230
3
Edy Sulistyono. Anak-anak Sasaran Strategi Bidikan Iblis (Yogyakarta: ANDI,2009) hal 20
1. Tuhan marah jika ada yang menghalangi anak- anak datang kepada-Nya (MRK
10:13-14 ). MARKUS 10:13-16 13 Lalu orang membawa anak-anak kecil kepada
Yesus, supaya Ia menjamah mereka; akan tetapi murid-murid-Nya memarahi
orang- orang itu. 14 Ketika Yesus melihat hal itu, Ia marah dan berkata kepada
mereka: “Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan menghalang- halangi
mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah.
MARKUS 10:13-16 15 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa tidak
menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke
dalamnya.” 16 Lalu Ia memeluk anak-anak itu dan sambil meletakkan tangan-Nya
atas mereka Ia memberkati mereka. MATIUS 18:1-6 1 Pada waktu itu datanglah
murid-murid itu kepada Yesus dan bertanya: “Siapakah yang terbesar dalam
Kerajaan Sorga?” 2 Maka Yesus memanggil seorang anak kecil dan
menempatkannya di tengah-tengah mereka 3 lalu berkata: “Aku berkata
kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil
ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. 4 Sedangkan barangsiapa
merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam
Kerajaan Sorga.
2. Tuhan senang menyambut, memberkati, dan mengasihi anak-anak( MRK
10:15-16 )Tuhan senang dengan keberadaan dan kerohanian anak-anak MAT
18:1-5
3. Tuhan mengutuk orang yang menyesatkan anak-anak (MAT 18:6 )
Riset Penginjilan dan Brewster (Compassion International) menunjukkan
bahwa 60-85% orang dewasa yang menerima Kristus mengambil keputusan
antara usia 4 dan 14 tahun (dipopulerkan dengan sebutan Jendela 4/14).
Kebanyakan orang memutuskan apa yang akan mereka lakukan terhadap Yesus
sebelum mereka memasuki usia SLTA. Apakah mereka mengikuti-Nya dengan
segenap hati, atau
sekadar mengetahui fakta-fakta tentang Dia, atau bahkan
mengabaikan/menolak Dia.
Maka dari itu penting sekali membimbing seseorang untuk menerima
Kristus ketika mereka muda. Jika seseorang tidak menerima Kristus sebelum usia
remaja awal, kemungkinan dan keterbukaan untuk hal itu makin kecil dalam usia
selanjutnya. Juga sangat penting dalam pembinaan perkembangan moral dan
spiritual. Karena Perkembangan moral-spiritual dimulai sejak usia 2 tahun.
Prosesnya mengalami kemajuan yang cukup cepat. Fondasi moral seseorang pada
umumnya ditentukan ketika ia mencapai usia 9 tahun. Perkembangan kepribadian:
90% otak dibentukď‚— sebelum usia 3 tahun, 85% kepribadian dewasa dibentuk
hingga usia 6 tahun. Usia anak adalah usia yang paling strategis untuk membentuk
kepribadian seseorang. Usia anak akan cepat berlalu, karena itu memerlukan
perhatian yang lebih mendesak dari kelompok-orang lainnya.
Maka dari itu jika mau memiliki pengaruh besar terhadap moral-spiritual
seseorang lebih baik mempengaruhinya pada saat ia masih terbuka dan mudah
dibentuk, yaitu pada usia anak. Jika pembentukannya ditunda hingga mereka
semakin dewasa, prosesnya akan semakin kompleks karena fondasinya sudah
terbentuk dan menyatu dengan hidupnya. Penelitian kondisi kerohanian kelompok
usia 13 tahun dapat memperkirakan secara kuat kondisi kerohanian mereka ketika
dewasa. Penyerapan informasi dan prinsip Alkitab pada umumnya memuncak
pada masa pra remaja. Kebiasaan-kebiasaan yang menyangkut pertumbuhan
rohani dan keterlibatan dalam kegiatan gereja terbangun pada usia muda dan
hanya sedikit berubah ketika usia semakin dewasa. Maka dari itu pembinaan
rohani yang dalam dan kuat sangat perlu dilakukan pada tingkat usia anak hingga
remaja awal. “Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada
masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu.” AMSAL 22:6
Pembinaan Intervensi semasa anak dapat mencegah kerusakan yang akan
hampir tidak bisa diperbaiki jika dibiarkan hingga tingkat usia selanjutnya.
Kemajuan yang signifikan dapat dicapai secara fisik, intelektual, emosional,
sosial-ekonomi, dan semua aspek perkembangan seseorang jika dilayani pada
masa anak. Melayani anak memberikan kesempatan yang luar biasa berharga
untuk menolong dan memberkati mereka, keluarganya, komunitasnya, dan
negaranya.
C.
Peran Guru sekolah minggu dalam pelayanan Anak.
Jika seseorang berbicara mengenai pelayanan gereja kepada anak-anak,
maka pemikiran yang muncul adalah sekolah minggu. Sekolah minggu sebagai
suatu tempat untuk pelayanan komunitas iman bagi anak-anak.4 Dalam
keutamaan sekolah minggu, kelayakan dalam bagian ini ialah
mengkonsentrasikan pikiran pada badan yang satu ini dan memperlakukannya
sebagai panutan bagi latar belakng badan=badan yang lain. Siapakah orang-orang
4
Lawrence O. Richards. Pelayanan kepada Anak-Anak ( Bandung: Kalam Hidup, 2007) hal418
yang melayani anak-anak dalam gereja?para guru sekolah minggu lah yang
dipercaya untuk melayani anak-anak dalam sekolah minggu. Orang-orang yang
diberi kesempatan perlu diseleksi, diwawancarai, dilatih dan dimagangkan di
kelas-kelas sekolah Minggu terlebih dahulu. Minimal mereka yang menjadi guru
sekolah Minggu adalah jemaat yang sudah menerima Kristus sebagai Tuhan dan
Juruselamat, sudah melewati kelas katekisasi dan tentunya memiliki hati untuk
melayani anak-anak. Berapa banyak guru-guru sekolah Minggu yang mengajar di
gereja justru tidak memiliki relasi dengan Tuhan Yesus? Akibatnya, tidak ada
kuasa dalam pengajaran yang diajarkan kepada anak-anak. Tidak ada kesaksian
hidup yang dapat dilihat oleh anak-anak. Bagaimana anak-anak bisa diajak
mengenal Tuhan dan Juruselamat-Nya, jika gurunya sendiri tidak mengalami
karya keselamatan di dalam Kristus. Anak-anak yang dipercayakan orang tua
kepada gereja, justru berada di tangan yang salah jika guru-guru Sekolah Minggunya seperti ini modelnya. Dan sekali lagi tujuan sekolah Minggu bukan hanya
mengajak anak-anak bernyanyi kemudian mendengar cerita lalu selesai. Tapi
bagaimana anak-anak ini akhirnya mengenal Tuhan dan Juruselamat-Nya serta
hidupnya diubahkan oleh Firman. guru-guru perlu diperlengkapi baik secara
pastoral maupun skill mengajar. Hamba Tuhan atau Majelis perlu melakukan
pengontrolan, pemotivasian dan pembinaan para pelayan anak melalui kelas-kelas
persiapan rutin tiap minggu. Juga memperlengkapi mereka dengan buku-buku
yang berkaitan dengan pelayanan anak juga sangat membantu. Sesekali perlu
guru-guru ini diupgrade dengan cara mengikuti pelatihan Sekolah Minggu atau
Kamp Guru Sekolah Minggu yang sering diadakan oleh Sekolah-sekolah
Teologia.
Namun ada yang lebih penting selain memperlengkapi guru dengan kelas
persiapan yaitu mereka perlu bertumbuh melalui kelompok-kelompok PA guru
sekolah minggu. Guru sekolah Minggu perlu dibawa kepada kecintaan akan
Firman, yang akan mengubah pemahaman mereka yang kurang tepat, yang terus
menerus akan mengoreksi motivasi pelayanan mereka, dan mendorong mereka
untuk berkorban bagi anak-anak yang mereka layani. Intinya, para pelayan anak
perlu berinteraksi dengan Firman dan mengaplikasikan Firman. Di sinilah peran
hamba Tuhan sangat diperlukan. Meski tidak ikut terjun ke anak-anak secara
langsung (bagi gereja yang tidak memiliki hamba Tuhan khusus untuk Membina
Sekolah Minggu), namun hamba Tuhan tetap bisa mengontrol dan membina
kerohanian para guru Sekolah Minggu. Jika tidak, guru-guru sekolah minggu ini
hanya dituntut melayani tapi tidak ditolong dalam pertumbuhan rohaninya. Maka
jangan heran, guru-guru sekolah Minggu yang tidak terbina justru bisa menjadi
penghalang anak-anak datang kepada Allah. Anak-anak yang polos dan lugu
tersebut menjadi sulit meneladani Kristus karena tidak melihat teladan dalam
hidup guru-guru sekolah Minggu mereka sendiri.
Tanggung jawab umum personel sebagai guru sekolah minggu adalah:
1. Selalu hadir dengan tepat waktu untuk aktivitas awal.
2. Mempersiapkan diri dengan baik dan luwes untuk mengubah rencana bila
perlu
3. Menjaga hal-hal yang rutin secara efisien
4. Mengawasi dan mengendalikan bidang tanggung jawab mereka sendiri
5. Ikut serta dalam peluang pelatihan yang disediaan oleh gereja dan
sumberr-sumber lain
6. Menindak lanjuti murid-murid yang hadir dan yang absen
7. Menghadiri semua konferensi pengerja dan pertemuan-pertemuan lain
yang dijadwalkan untuk para pengerja
8. Mengetahui bagaimana cara memimpin murid kepada Kristus dan
membimbing mereka didalam pertumbuhan Kristen
9. Menyediakan kegiatan- kegiatan social
10. Berperan serta secara dengan aktif dalam program, entah pembukaan
ibadah, pelajaran atau kegiatan-kegiatan lain
11. Waspada terhadap gagasan baru, bersikap kreatif, dan menggunakan
variasi
12. Menggunakan sarana pengajaran yang disediakan
13. Mengaitkan kegiatan dengan pengerja-pengerja lain, badan, dan
departemen.
D.
Mengajarkan Alkitab Kepada Anak-Anak.
Kita memulai pemikiran kita mengenai bagaiman mengajarkan Alkitab
kepada anak-anak dengan seperangkat asumsi yang istimewa.
1. Alkitab adalah pernyataan Allah tentang realistas. Kebenarankebenaran Alkitab bukan hanya sekedar konsep-konsep yang abstrak.
Kebenaran itu berkaitas erat dengan realistas. Karena keterkaitan ini
maka kebenaran Alkitab bertujuan untuk membentuk persepsi kita dan
untuk membimbing pengalaman hidup kita.
2. Anak-anak sebagai pribadi yang dapat mengalami realistas. Mungkin
anak-anak tidak mampu monkonsepkan Alkitab secara memadai
namun mereka dapat mengalaminya.
3. Realistas yang dialami itu menyediakan dasar yang sama antara
Alkitab dengan anak-anak.
Pandangan kita mengenai Kitab Suci sebagai kebenaran ( realistas
yang disingkapkan) menolong kita untuk melihat bahwa isu dalam
pengajaran anak-anak bukanlah komunikasi tentangkonsep-konsep
Alkitab dan penguasaanya dalam tingkat formal. Namun sebaliknaya
isu dalam mengajar anak-anak adalah menerjemahkan kebenaran iman
yang agung kedalam unit-unit yang dapat dialami oleh anak-anak.
Pemahaman tentang pengajaran ini menolong kita untuk melihat
sebuah hal penting . “mengajarkan Alkitab” bukanlah sekedar
menceritakan kisah Alkitab dan kemudian menggunakan buku
pegangan pengerja dan sarana-sarana lain untuk melatih penguasaan
muatan cerita atau penerapannya. 5 Mengajarkan alkitab menuntut
suatu rancangan dari berbagai pembelajaran dalam latar belakang
pengajaran melalui nama anak-anak akan mengalami secara langsung
5
Lawrence O. Richard. Pelayanan kepada Anak_anak(Bandung: Kalam Hidup, 2007) hal 564
atau sebagai pengganti, realitas yang dikomunikasikan pada tingkat
mereka sendiri. Seluruh proses kelas harus dirancang untuk
menrjemahkan apa yang diajarkan dalam realistas yang dapat dialami,
yang kemudian dapat dikaitkan dengan istilah-istilah Alkitabiah.
Selain itu,
Bab III
Kesimpulan
Melihat pentingnya pelayanan anak maka kita tidak lagi menyepelekan
dalam melayani anak. Baik orang tua maupun guru-guru sekolah minggu akan
lebih lagi mempersiapkan diri untuk sungguh-sungguh dalam pelayanan anak.
Meng-upgrade diri, lebih kreatif dan dengan kasih melayani anak-anak. Anakanak sangat penting dimata Allah. Oleh sebab itu sebuah kehormatan apabila kita
dipercaya mengambil bagian dalam pelayanan anak. Beberapa kali Yesus
mengatakan kita harus “seperti anak kecil” untuk dapat masuk dalam Kerajaan
Sorga. Anak- anak adalah generasi selanjutnya yang akan memberitakan Injil
kepada dunia ini. Dan iblis tentu saja tidak akan tinggal diam. Dunia modern telah
banyak merusak generasi muda. Gadget , games, telah merebut perhatian anak.
Mari kita lebih lagi serius dalam menbawa anak- anak untuk mengenal Tuhan dan
bertumbuh dalam iman serta memiliki pengenalan yang benar akan Allah serta
mengalami Tuhan.
.
Daftar Pustaka
Desti Samarenna, M. Th. 2016. Diktat Pelayanan Anak. Semarang. STT Harvest
Boehle , R. Robert. 2009. Sejarah Perkembangan Pikiran dan Praktek Pendidikan
agama Kristen. Jakarta: BPK Gunung Mulia
Leigh,W Ronald. 2007. Melayani dengan Efektif. Jakarta: Gunung Mulia
Sulistyono, Edy. 2009. Anak-anak Sasaran Strategis Bidikan Iblis. Yogyakarta:
ANDI
Download