program studi pendidikan biologi jurusan

advertisement
PENGARUH PENDEKATAN CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING
TERHADAP HASIL BELAJAR BIOLOGI
PADA KONSEP STRUKTUR DAN FUNGSI TUBUH TUMBUHAN
(Kuasi Eksperimen di SMP Yayasan Pendidikan Islam, Bintaro)
SKRIPSI
Diajukan Kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK)
Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh
Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd)
OLEH
YOLANDA FANTI KINASIH
NIM: 106016100568
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2011 M / 1432 H
Yolanda Fanti Kinasih. Effect of Contextual Approach to Teaching and
Learning of Biology Student Learning Outcomes of the Concept of Body
Structure and Function of Plant,, Thesis. The biology education program.
Science Department, Faculty of Tarbiyah and Teaching Science, State Islamic
University of Syarif Hidayatullah Jakarta.
ABSTRACT
The aim of this research is to know influence contextual teaching and
learning of the Concept of Body Structure and Function of Plant. The method
which is used in this research is quasi experiment with research design pre-tes
and post-test two group design. The research was done 20 October 2011 until 3
November 2011 in SMP Yayasan Pendidikan Islam (YPI) Bintaro, Jakarta. The
sample is taken by purposive sampling by sample 30 student for one class
experiment and 30 student also for one class control. The instrument that used in
this research is test like multiple choice there are 20. Technics analys in this
research is use liliefors for normal, fisher for homogen and t-test for hypothesis.
From the calculation result by t-test got thitung 4,244 and conculting from ttabel 2,00
in significantly α = 0,05. Because thitung 4,244 > ttabel 2,00, therefore significantly
influence. The result of this research is that got increase learning outcomes in
concept of body structure and function of plant with contextual teaching and
learning.
Key word : Contextual Teaching and Learning Approaches, Learning Outcomes,
and The Structure and Function of Plant Body.
i
Yolanda Fanti Kinasih. Pengaruh Pendekatan Contextual Teaching and
Learning terhadap Hasil Belajar Biologi pada Konsep Struktur dan Fungsi
Tubuh Tumbuhan, Skripsi. Program studi pendidikan biologi, Jurusan
Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), Universitas Islam negeri Syarif
hidayatullah Jakarta.
ABSTRAK
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pendekatan
pembelajaran Contextual Teaching And Learning terhadap hasil belajar biologi
pada konsep struktur dan fungsi tubuh tumbuhan. Dalam penelitian ini metode
yang digunakan adalah quasi eksperimen dengan desain penelitian pre test dan
post tes, two group design. Penelitian ini dilakukan di SMP Yayasan Pendidikan
Islam (YPI) Bintaro, Jakarta pada tanggal 20 Oktober 2011 sampai 3 November
2011. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan purposive
sampling. Adapun jumlah sampel adalah 30 siswa untuk satu kelas eksperimen
dan 30 siswa untuk kelas kontrol. Instrumen penelitian yang diberikan berupa tes
tipe pilihan ganda sebanyak 20 soal. Teknik analisa data dalam penelitian ini
menggunakan uji-t untuk menguji hipotesis. Dari hasil perhitungan uji hipotesis
diperoleh thitung 4,244 dan dikonsultasikan pada ttabel 2,00 pada taraf signifikansi
α= 0,05. Karena thitung 4,244 > ttabel, 2,00, maka terdapat pengaruh yang
signifikan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh
pendekatan contextual teaching and learning terhadap hasil belajar biologi pada
konsep struktur dan fungsi tubuh tumbuhan.
Kata kunci : Pendekatan Contextual Teaching and Learning, Hasil Belajar, dan
Struktur dan Fungsi Tubuh Tumbuhan.
ii
KATA PENGANTAR
Bismillahirrahmanirrahim
Syukur Alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah S.W.T, yang
telah
memberikan
rahmat
dan
karunia-Nya,
sehingga
penulis
dapat
menyelesaikan skripsi yang berjudul “Pengaruh Pendekatan Contextual Teaching
and Learning Terhadap Hasil Belajar Biologi Siswa dalam Konsep Struktur dan
Fungis Tubuh Tumbuhan”. Sholawat dan salam senantiasa penulis curahkan ke
haribaan junjungan Nabi Besar Muhammad SAW, yang telah mencurahkan
segala pemikirannya untuk menciptakan umat islam yang demokratis seperti
yang kita rasakan saat ini.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa penulisan skripsi ini tidak akan
terealisasikan dengan baik tanpa bantuan dari berbagai pihak, baik bantuan
materi, kesempatan, bimbingan pengarahan maupun dorongan semangat. Untuk
itu pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih dan
penghargaan yang setulus-tulusnya kepada :
1. Bapak Prof. Dr. Dede Rosyada, MA Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan
Keguruan Universitas Islam Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Ibu Baiq Hana Susanti, M.Sc, Ketua Jurusan Pendidikan Ilmu
Pengetahuan Alam (IPA) sekaligus pembimbing I atas kerendahan hati,
keterbukaan pikiran dan bimbingan dalam penyusunan skripsi ini.
3. Bapak Sigit Tri Wibowo M.Si, pembimbing II atas keterbukaan pikiran
dan bimbingannya dalam penyusunan skripsi ini.
4. Bapak Drs. Ahmad Sofyan, M.Pd, penasihat akademik atas segala
perhatian, kerendahan hati, keterbukaan pikiran dan bimbingan dalam
penyusunan skripsi ini.
5. Kepala SMP Yayasan Pendidikan Islam (YPI) Bintaro, yang telah
memberikan izin kepada penulis untuk melakukan penelitian bagi
penulisan skripsi ini.
6. Ibu Elliza, Guru bidang studi IPA, yang telah memberikan banyak
bantuan serta arahan dalam melaksanakan penelitian.
iii
7. Ibunda Ngatidjah serta ayahanda Ahmad yang telah melimpahkan
segenap kasih dan sayangnya yang tak terhingga. Adik-adikku tersayang,
Andin, Taufik, Syukron dan Farhan untuk segala bantuan dan dorongan
semangat yang tiada henti demi terselesaikannya skripsi ini.
8. Teman-teman senasib dan seperjuangan, Diah Indah, La Rosiani, Evi
Maspiah, Eka Tryuningsih, Ahmad Fauzi, Irna Purnama Sari, Lia
Hermawati, Rachmawati Rhamdania dalam mengerjakan skripsi ini
“Angkatan 2006” yang sama-sama merasakan indahnya mengerjakan
skripsi dan semua yang membantu dalam penyelesaian skripsi ini.
Penulis berharap semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat
khususnya kepada penulis dan umumnya bagi dunia pendidikan biologi.
Mudah-mudahan berkah dan hidayah-Nya senantiasa berlimpah kepada
kita semua. Amin Ya Rabbal’alamin
Jakarta, Oktober 2011
Penulis
iv
DAFTAR ISI
ABSTRACT ........................................................................................................ i
ABSTRAK ......................................................................................................... ii
KATA PENGANTAR ....................................................................................... iii
DAFTAR ISI...................................................................................................... v
DAFTAR TABEL.. ........................................................................................... viii
DAFTAR LAMPIRAN ..................................................................................... ix
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah ..................................................................1
B. Identifikasi Masalah ......................................................................6
C. Pembatasan Masalah .....................................................................6
D. Perumusan Masalah ........................................................................6
E. Tujuan Penelitian ............................................................................6
F. Manfaat Penelitian .........................................................................7
BAB II DESKRIPSI TEORITIS, KERANGKA PIKIR DAN PENGAJUAN
HIPOTESIS
A. Deskripsi Teoritis .........................................................................8
1. Hakikat Pendekatan Contextual Teaching and Learning .........8
2. Hakikat Metode Ceramah ........................................................16
3. Hakikat Hasil Belajar
........................................................19
4. Hakikat Metode Praktikum ...................................................... 25
5. Hasil Penelitian Relevan ........................................................ 27
B. Kerangka Pikir
........................................................................ 29
C. Pengajuan Hipotesis ........................................................................ 31
v
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
A. Tempat dan Waktu Penelitian ..................................................... 32
B. Metode dan Desain Penelitian ..................................................... 32
C. Populasi dan Sampel Penelitian .................................................. 33
D. Teknik Pengumpulan Data ........................................................... 34
E. Instrumen Penelitian ..................................................................... 34
F. Kalibrasi Instrumen ....................................................................... 35
1. Uji Validitas .............................................................................. 36
2. Uji Reliabilitas ........................................................................... 37
3. Uji Tingkat Kesukaran .............................................................. 37
4. Daya Pembeda ........................................................................... 38
G. Teknik Analisis Data ................................................................... 39
1. Uji Normalitas dan Homogenitas .............................................. 39
2. Analisis N-gain .......................................................................... 40
3. Uji Hipotesis .............................................................................. 40
4. Hipotesis Statistik ...................................................................... 41
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian ........................................................................... 42
1. Data Pretest Kelas Eksperimen dan Kontrol ........................... 43
2. Data Posttest Kelas Eksperimen dan Kontrol .......................... 44
3. Hasil Data N-gain .................................................................. 43
4. Hasil Nilai LKS........................................................................ 44
B. Analisis Data ................................................................................ 45
1. Uji Normalitas ...................................................................... .45
a. Hasil Uji Normalitas Pretest ......................................... .. .45
b. Hasil Uji Normalitas Posttest........................................ ... 46
2. Uji Homogenitas................................................................ ... 47
a. Hasil Uji Homogenitas Pretest .................................... ... 47
b. Hasil Uji Homogenitas Posttest .................................. ... 47
C. Pengujian Hipotesis ................................................................. 48
vi
D. Pembahasan ........................................................................... 50
E. Keterbatasan Penelitian ............................................................54
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan ...............................................................................53
B. Saran .........................................................................................53
DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………….54
LAMPIRAN.................................................................................................. 58
vii
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1 Perbedaan Pola Pembelajaran Kontekstual dan Konvensional ........... 14
Tabel 3.1 Desain Penelitian
........................................................................ 33
Tabel 3.2 Kisi-kisi Instrumen Penelitian ............................................................ 35
Tabel 4.1 Hasil Pretest
................................................................................ 42
Tabel 4.2 Hasil Posttest
................................................................................ 43
Tabel 4.3 Kategorisasi N-gain
..................................................................... 44
Tabel 4.4 Nilai LKS
..................................................................... 45
Tabel 4.5 Hasil Perhitungan Uji Normalitas Pretest Uji Liliefors ...................... 45
Tabel 4.6 Hasil Perhitungan Uji Normalitas Posttest Uji Liliefors .................... 46
Tabel 4.7 Hasil Perhitungan Uji Homogenitas Pretest ..................................... 47
Tabel 4.8 Hasil Perhitungan Uji Homogenitas Posttest ..................................... 48
Tabel 4.9 Hasil Perhitungan Uji Hipotesis Posttest ........................................... 49
viii
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1. RPP Kelas Eksperimen .................................................................. 58
Lampiran 2. RPP Kelas Kontrol ......................................................................... 67
Lampiran 3. LKS Kelas Eksperimen .................................................................. 76
Lampiran 4. LKS Kelas Kontrol ......................................................................... 82
Lampiran 5. Kunci Jawaban LKS Kelas Kontrol ............................................... 86
Lampiran 6. Nilai LKS Kelas Eksperimen dan Kontrol .................................... 89
Lampiran 7. Kisi-kisi Instrumen Penelitian Per Indikator ................................. 91
Lampiran 8. Uji Coba Instrumen Penelitian .......................................................99
Lampiran 9. Kunci Jawaban Uji Coba Instrumen Penelitian
……………..104
Lampiran 10. Rekapitulasi Data Hasil Uji Validitas………………………105
Lampiran 11. Instrumen Hasil Uji Soal......................................................106
Lampiran 12. Kunci Jawaban Instrumen Hasil Uji Soal.............................109
Lampiran 13. Perhitungan N-Gain Kelas Eksperimen…………………….110
Lampiran 14. Perhitungan N-Gain Kelas Kontrol…………………………111
Lampiran 15. Hasil Pretest Kelas Eksperimen…………………………….113
Lampiran 16. Perhitungan Uji Normalitas Pretest Eksperimen……………115
Lampiran 17. Hasil Posttest Kelas Eksperimen…………………………...116
Lampiran 18. Perhitungan Uji Normalitas Posttest Eksperimen………….117
Lampiran 19. Hasil Pretest Kelas Kontrol ………………………………...120
Lampiran 20. Perhitungan Uji Normalitas Pretest Kontrol
…………..….121
Lampiran 21. Hasil Posttest Kelas Kontrol……………………………....124
Lampiran 22. Perhitungan Uji Normalitas Posttest Kontrol……………..125
Lampiran 23. Perhitungan Uji Homogenitas Data……………………….128
Lampiran 24. Perhitungan Uji Hipotesis ………………………………….130
ix
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Semakin pesatnya perkembangan teknologi dapat dijadikan indikator
kemajuan ilmu pengetahuan. Bahkan di era globalisasi ini, daya saing suatu
bangsa lebih ditentukan oleh akumulasi pengembangan dari ilmu pengetahuan
dan teknologi. Ilmu pengetahuan dan teknologi perlu disampaikan kepada
masyarakat. Untuk itu diperlukan sarana penyampaian informasi.
Sarana penyampaian informasi dapat dinikmati lewat media informasi
seperti media cetak serta penyampaian informasi dari guru ke siswa. Namun
penyampaian informasi dari guru ke siswa yang terjadi dalam proses belajar
mengajar masih banyak mengalami kendala. Adakalanya terjadi kesalahan
pemahaman konsep yang disampaikan saat proses belajar mengajar sehingga
siswa belum mencapai pembelajaran yang bermakna, sehingga berdampak
kepada hasil belajar siswa.
Sesuai penyebutannya, proses belajar-mengajar adalah kesatuan dua
proses antara siswa yang belajar dan guru yang memberi pelajaran, sehingga
antara kedua proses ini terjadi interaksi yang saling menunjang hasil belajar
siswa dapat tercapai secara optimal lewat proses belajar itu. 1 Sedangkan
menurut Ardhana dalam I Made Sumadi, masalah besar yang dihadapi oleh
dunia pendidikan di Indonesia pada saat ini adalah krisis paradigma berupa
kesenjangan dan ketidaksesuaian antara tujuan yang ingin dicapai dan
paradigma yang digunakan.2
Dengan diberlakukannya kurikulum 2004 yang disempurnakan dalam
KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) 2006 yang menekankan pada
kecakapan hidup, maka menuntut adanya perubahan paradigma pembelajaran,
1
Nuryani Y. Rustaman dkk, Strategi Belajar Mengajar Biologi, (Malang: Universitas
Negeri Malang), 2005, Cet.I, h.5
2
I Made Sumadi, Pengaruh Penerapan Pendekatan Kontekstual Terhadap Kemampuan
Penalaran dan Komunikasi Matematika Siswa Kelas II SLTP Negeri 6 Singaraja, dalam Jurnal
Pendidikan dan Pengajaran IKIP Negeri Singaraja, No.1, th.XXXVIII, 2005, h.2
1
2
dari paradigma pembelajaran lama yang menekankan penanaman konsep dan
berorientasi kepada produk, ke paradigma pembelajaran baru yang
menekankan penggalian konsep dan berorientasi kepada proses dan kinerja3.
Pembelajaran yang dituntut dalam kurikulum berbasis kompetensi
yang disempurnakan menjadi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan adalah
bagaimana menyediakan dan memperkaya pengalaman belajar peserta didik.
Untuk menyediakan dan memperkaya pengalaman peserta didik, pembelajaran
di sekolah harusnya berubah dari yang Teacher Centered (berorientasi kepada
guru) menjadi
yang Student Centered (berorientasi kepada siswa).
Permasalahan tersebut membutuhkan solusi konkret yang harus diambil guru.
Guru sebagai mediator merupakan perantara dalam proses belajar mengajar,
khususnya dalam perolehan konsep dan sebagai fasilitator merupakan
penyedia kondisi supaya proses belajar mengajar dapat berlangsung seperti
yang diharapkan.
Hasil studi TIMSS (The Third International Mathematics and Sience
Study) dan PISA (Programe for International Student Assessment).
Framework kegiatan TIMSS meliputi: content, performance expectation,
perspectives, dan literasi sains. Dalam studi PISA mencakup kemampuan
menggunakan pengetahuan, mengidentifikasi fakta-fakta dan membuat
keputusan dalam rangka memahami fakta-fakta dan membuat keputusan
tentang alam dan perubahan yang terjadi pada kehidupan. TIMSS melaporkan
bahwa diantara 38 negara peserta, Indonesia berada pada urutan ke-32 untuk
bidang sains dan urutan ke-34 untuk bidang matematika. Untuk bidang sains
Indonesia sedikit lebih baik dibanding Turki, Tunisia, Chili, Filipina dan
Maroko, tetapi jauh di bawah Singapura yang menempati urutan ke-2.
Menurut hasil studi PISA, diantara 41 negara peserta, Indonesia berada pada
peringkat ke-39 untuk literasi membaca dan matematika, dan peringkat ke-38
untuk literasi sains. Untuk literasi sains, nilai rata-rata siswa Indonesia adalah
393, jauh dibawah Jepang, 550 dan Korea, 525. Dengan nilai 393 tersebut,
3
Sunardiyanto, Keefektifan Penggunaan Pendekatan Kontekstual Melalui Pembelajaran
Kooperatif Terhadap Keterampilan Berkomunikasi pada Mata Pelajaran Biologi Kelas II SLTP
Negeri 4 Palu, dalam Jurnal Penelitian Kependidikan, No. 1 Th.XIV, 2004, h.51-52
3
berarti siswa Indonesia rata-rata hanya mengingat fakta, terminologi dan
hukum-hukum sains, tetapi menggunakan pengetahuan yang dimiliki untuk
mengevaluasi, menganalisis dan memecahkan permasalahan kehidupan masih
amat kurang.4
Pemahaman guru akan pendekatan, model, dan metode pembelajaran
masih sangat terbatas. Hal ini mengakibatkan siswa menjadi jenuh, bosan dan
tidak semangat terhadap apa yang disampaikan oleh guru, sehingga
berimplikasi terhadap rendahnya nilai biologi siswa. Guru seharusnya dapat
merencanakan pembelajaran yang efektif yang dapat membuat suasana kelas
menjadi nyaman.
Rendahnya prestasi belajar siswa menurut Nurhadi dalam Suhirman,
dapat disebabkan oleh penggunaan metode yang belum mengaktifkan siswa
secara penuh dalam proses belajar mengajar. Kenyataan ini ditunjukan oleh
guru, belajar masih menggunakan ekspositori dan didominasi dengan
ceramah. Kondisi tersebut menyebabkan guru lebih aktif daripada siswa.
Proses belajar mengajar yang terpusat pada guru menyebabkan siswa menjadi
pasif. Siswa pasif merupakan kunci merosotnya prestasi belajar siswa. 5
Model pembelajaran selama ini yang sering diterapkan disekolah
seperti metode ceramah, diskusi dan tanya jawab belum menunjukan hasil
yang memuaskan. Kenyataan itu membuktikan adanya kesulitan bagi siswa
untuk meningkatkan prestasi belajarnya. Penelitian lain seperti Rustaman dan
Widodo dalam Sukiar melaporkan bahwa pencapaian prestasi belajar siswa
pada pendidikan IPA tidak memuaskan. Hal tersebut menunjukkan bahwa cara
pembelajaran IPA di sekolah belum mengarah pada pendekatan mengajar
yang sesuai dengan ke-IPA an6. Siswa memiliki kesulitan untuk memahami
konsep ke-IPA an sebagaimana mereka biasa diajarkan, yaitu menggunakan
4
Wasis, Contextual Teaching and Learning (CTL) dalam Pembelajaran Sains-Fisika
SMP dalam cakrawala pendidikan, Jurnal ilmiah Pendidikan, Vol. 25, No.1, 2006, h.2
5
Suhirman, Ketuntasan Belajar Melalui Pembelajaran Kontekstual Tipe Kooperatif Pokok
Bahasan Lingkungan Hidup di MAN 2 Mataram, dalam Jurnal Kependidikan, Vol.4, No.2, 2005.
h.132
6
Sukiar. Penerapan Pendekatan Kontekstual dalam Meningkatkan Prestasi Belajar IPA
SDN Karang Besuki, kecamatan Sukun Malang, dalam Jurnal Pendidikan Humaniora dan sains,
(Malang :SDN Karang Besuki), No.1, 2004, h.46
4
sesuatu yang abstrak yang biasanya diajarkan dengan pendekatan metode
ceramah.
IPA, khususnya Biologi sebagai salah satu mata pelajaran kelompok
sains mempunyai karaktersitik yang berbeda dengan mata pelajaran lainnya.
Biologi memiliki struktur keilmuan dan metode tersendiri serta terdapatnya
produk-produk keilmuan seperti konsep, teori, postulat dan lain-lain. Metode
pembelajaran biologi yang dianjurkan adalah pembelajaran yang melatihkan
beberapa keterampilan proses ilmiah melalui langkah-langkah metode ilmiah
yang sering dikenal sebagai kinerja ilmiah.7
Salah satu solusi konkret yang dapat dilakukan guru adalah dengan
meningkatkan mutu proses belajar mengajar. Antara lain dengan menerapkan
pendekatan, metode, dan model belajar yang lebih memberikan kesempatan
kepada siswa untuk menggunakan semua potensi yang dimiliki dan
mengembangkan kemampuannya sesuai dengan paradigma pembelajaran
baru.
Pembelajaran
yang
menggunakan
paradigma
tersebut
adalah
pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching and Learning ).
Pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and Learning (CTL)),
merupakan konsep belajar yang membantu guru dan siswa mengaitkan konten
mata pelajaran dan situasi dunia nyata siswa dan mendorong antara
pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka
sebagai anggota keluarga dan masyarakat8. Strategi pembelajaran CTL
berkembang dari paham konstruktivisme. Ide utamanya adalah mengaitkan
kegiatan dan persoalan pembelajaran dengan konteks keseharian anak, anak
7
Rini Prisma Gusti, Upaya Peningkatan Pemahaman Konsep Biologi Melalui
Kontekstual dengan Model pembelajaran Berbasis Gambar (Picture and Picture) pada Siswa
Kelas XI SMA MUhammadiyah Kota Padang Panjang, dalam Jurnal Guru, Vol 3, No. 1, Juli
2006, h. 33.
8
Yatim Riyanto, M.Pd, Paradigma Baru Pembelajaran: Sebagai Referensi Bagi
Pendidik dalam Implementasi Pembelajaran yang efektif dan Berkualitas, (Surabaya: Kencana),
2009, h. 161
5
belajar dari dunia nyata dimana ilmu pengetahuan yang dipelajari akan
digunakan.9
Salah satu konsep dalam pelajaran biologi di SLTP adalah struktur dan
fungsi tubuh tumbuhan. Struktur dan fungsi tubuh tumbuhan sangat sering
dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Konsep ini akan lebih tepat
diintegrasikan melalui pembelajaran CTL, karena dengan pembelajaran CTL
diharapkan siswa dapat mengalami pembelajaran tersebut sesuai dengan
kenyataan sebenarnya, tidak hanya melalui teori atau gambar saja, sehingga
siswa dapat mengenal dan mengamati jenis organ pada tumbuhan yang
dijumpai dalam kehidupan sehari-hari, apalagi melalui metode eksperimen,
dan anak belajar dari dunia nyata dimana ilmu pengetahuan yang dipelajati
akan digunakan. Sehingga melalui CTL siswa akan lebih aktif karena proses
pembelajaran menitikberatkan kepada pengembangan kreativitas siswa
(Student Oriented). Siswa diarahkan belajar mandiri dalam penguasaan
informasi dan sekaligus mengkontruksikan pemahaman dalam proses
pembelajaran yang dilaksanakannya.
Jika melihat nilai siswa mengenai pokok bahasan struktur dan fungsi
tubuh tumbuhan diajarkan melalui pendekaan konvensional yang
belum
diintegrasikan dengan CTL dengan metode eksperimen masih tergolong
rendah, untuk itu diperlukan upaya untuk meningkatkan hasil belajar siswa.
Salah satu solusi untuk meningkatkan hasil belajar siswa yaitu dengan
pendekatan CTL. Dengan demikian, maka peneliti mengambil judul:
Pengaruh Pendekatan Kontekstual Terhadap Hasil Belajar Biologi pada
Konsep Struktur dan Fungsi Tubuh Tumbuhan.
9
Diah Mulhayatiah, Model Pembelajaran Berbasis Masalah pada Pokok Bahasan
Gelombang dan Optik untuk Meningkatkan Penguasaan Konsep Siswa Kelas 1 SMA, dalam Jurnal
Edusains, Vol.1, No.1, Juni 2008, h. 50.
6
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah, maka dapat diidentifikasikan
masalah-masalah sebagai berikut:
1. Pemahaman guru akan pendekatan, model, dan metode pembelajaran
masih terbatas.
2. Rendahnya prestasi belajar siswa.
3. Penggunaan metode belajar yang belum mengaktifkan siswa, sehingga
belum dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
4. Siswa masih pasif dalam pembelajaran.
5. Ketiadakaitannya konsep dengan dunia nyata.
C. Pembatasan Masalah
Berdasarkan masalah-masalah yang diidentifikasikan di atas, agar
penelitian ini lebih terarah, maka ruang lingkup dibatasi yaitu:
1. Pendekatan CTL dibatasi pada metode praktikum/eksperimen terhadap
hasil belajar kognitif biologi siswa
2. Dalam biologi dibatasi pada konsep struktur dan fungsi tubuh tumbuhan.
D. Perumusan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah dan perumusan masalah di atas,
maka permasalahan dapat dirumuskan sebagai berikut: Apakah terdapat
pengaruh pendekatan contextual teaching and learning terhadap hasil belajar
biologi pada konsep struktur dan fungsi tubuh tumbuhan?
E. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pendekatan
Contextual Teaching Learning terhadap hasil belajar biologi pada konsep
struktur dan fungsi tubuh tumbuhan.
7
F. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi:
1. Peneliti:
Memberikan
informasi
tentang
penerapan
pembelajaran
pendekatan CTL untuk meningkatkan hasil belajar biologi pada konsep
struktur dan fungsi tubuh tumbuhan
2. Dunia pendidikan:
Membantu guru dalam melakukan perbaikan-
perbaikan metode belajar guna meningkatkan mutu pengajaran, karena
keberhasilan proses belajar mengajar tidak terlepas dari peran guru.
BAB II
DESKRIPSI TEORITIS, KERANGKA PIKIR, DAN PENGAJUAN
HIPOTESIS
A. Deskripsi Teoritis
1. Hakikat Pendekatan Contextual Teaching and Learning
Strategi pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL)
berkembang dari paham kontruktivisme. Ide utamanya adalah mengaitkan
kegiatan dan persoalan pembelajaran dengan konteks keseharian anak.
Anak belajar dari dunia nyata dimana ilmu pengetahuan yang dipelajari
bakal digunakan. John Dewey dalam Subarti dalam Diah Mulhayati
menyatakan bahwa pendidikan bukan mempersiapkan anak untuk masa
depan, tetapi pendidikan adalah kehidupan itu sendiri. Ide-ide tersebut
dipakai dalam Contextual Learning, dimana siswa diajak belajar dari
persoalan yang nyata dalam konteks kehidupan sehari-hari.1
Teori Piaget menurut Aiken, dalam Mundilarto menyatakan bahwa
seorang anak dapat menjadi tahu dan memahami lingkungannya melalui
jalan berinteraksi dan beradaptasi dengan lingkungan tersebut. Lebih lanjut
dikatakan bahwa pengetahuan dibangun sendiri oleh siswa melalui proses
asimilasi dan proses akomodasi. Melalui proses asimilasi, siswa mencoba
untuk memahami lingkungannya dengan menggunakan struktur kognitif
atau pengetahuan yang sudah ada tanpa mengadakan perubahanperubahan. Melalui proses akomodasi, siswa mencoba untuk memahami
lingkunganmya dengan terlebih dahulu memodifikasi struktur kognitif
yang sudah ada untuk membentuk struktur kognitif baru berdasarkan
ransangan yang diterimanya.2
1
Diah Mulhayatiah, Model Pembelajaran Berbasis Masalah pada Pokok Bahasan
Gelombang dan Optik untuk Meningkatkan Penguasaan Konsep Siswa Kelas 1 SMA, dalam Jurnal
Edusains, Vol.1, No.1, Juni 2008, h. 50
2
Mundilarto, Pendekatan Kontekstual dalam Pembelajaran Sains, dalam Cakrawala
pendidikan, Jurnal Ilmiah Pendidikan, No.1, Th, XXIII, 2004, h.67
8
9
Sanjaya dalam Udin Saefudin menyatakan bahwa Pembelajaran
kontekstual (Contextual Teaching and Learning) adalah suatu pendekatan
pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan siswa secara
penuh
untuk
dapat
menemukan
materi
yang
diajari
dan
menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong
siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan mereka.3
Melalui
pembelajaran
kontekstual
siswa
dapat
berlatih
menekankan keterampilan berfikir tingkat tinggi, transfer pengetahuan
lintas akademik dan berlatih mengumpulkan, menganalisis, mensintesis
informasi dan data dari berbagai sumber dan berbagai sudut pandang.
According to United Stated Department of education Office of
Vocation and Adult Education, 2001 in Ifraj Shamsid-Deen and Bettye
P.Smith, Contextual Teaching and Learning is definite as a conception of
teaching and learning that help teacher relate subject matter content to
real world situations.4
According to Johnson CTL is “an education process that aim to
help students see meaning in the academic material they are studying by
connecting academic subject with the context of their daily lives, that is,
with the context of their personal, social and cultural circumstances.5
Pengertian pendekatan kontekstual dijelaskan di dalam buku yang
diterbitkan oleh Departemen Pendidikan Nasional dalam Raymond
Burhano, sebagai berikut : Pendekatan kontekstual (Contextual Teaching
and Learning/CLT) adalah konsep belajar yang membantu guru
mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa
dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang
dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari,
dengan melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran efektif, yakni
konstruktivisme (Construktivism), bertanya (Questioning), menemukan
(Inquiry),
3
masyarakat
belajar
(Learning
Community),
pemodelan
Udin Saefudin, Inovasi Pendidikan, (Bandung: Alfabeta), Nov 2008, Cet. 1, h. 162
Ifraj Shamsid-Deen, Contextual Teaching and Learning Practices in Family and
Consumer Sciences Curriculum, dalam Journal of Family and Consumer Sciences Education,
Vol.24, No.1, 2006, h.14
5
Abdul Muth‟im, Contextual Teaching and Learning as a Concept in Education, dalam
Vidya Karya, No. 2, Th XXI, 2003, h.111-112
4
10
(Modeling), refleksi (Reflection), dan penilaian sebenarnya (Authentic
Assessment).6
Pendekatan ini mengasumsikan bahwa secara natural pikiran
mencari makna konteks sesuai dengan situasi nyata lingkungan seseorang,
dan itu dapat terjadi melalui pencarian hubungan yang masuk akal dan
bermanfaat. Pemaduan materi pelajaran dengan konteks keseharian siswa
di dalam pembelajaran kontekstual menghasilkan dasar-dasar pengetahuan
yang mendalam dimana siswa kaya akan pemahaman masalah dan cara
untuk menyelesaikannya. Siswa mampu secara indepenen menggunakan
pengetahuannya untuk menyelesaikan masalah-masalah baru dan belum
pernah dihadapi, serta memiliki tanggung jawab yang lebih terhadap
belajarnya seiring dengan peningkatan pengalaman dan pengetahuan
mereka.7
Pembelajaran kontekstual berorientasi kepada proses
yang
dilakukan siswa dan produk yang mereka hasilkan. Proses dapat dilihat
dari bagaimana siswa melakukan tugasnya, menemukan, mengumpulkan
dan menganalisis data. Sedangkan kelengkapan, kerapian, dan keteraturan
laporan dikategorikan produk. Menurut Nikko dalam Syafri Anwar
mengemukakan bahwa, antara proses dan produk dalam menilai kinerja
seseorang sama pentingnya (equal importance).8
Menurut University of Washington dalam Trianto, pembelajaran
kontekstual terjadi apabila siswa menerapkan dan mengalami apa yang
sedang diajarkan dengan mengacu pada masalah-masalah dunia nyata
yang berhubungan dengan peran dan tanggung jawab mereka sebagai
anggota keluarga, warga negara, siswa dan tenaga kerja.9
6
Raymond Burhano, Pendekatan Kontekstual pada Pembelajaran Matematika, dalam
Jurnal Guru Pembelajaran di Sekolah Dasar dan Menengah, Vol.2, No.2, 2005, h. 66
7
Triyanto, Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif, (Jakarta: Kencana
Predana Media Group), 2009, h.107.
8
Syafri Anwar, dkk. Penilaian Otentik dalam PembelajaranKontekstual pada Mata
Pelajaran Geografi, dalam Jurnal Pembelajaran, Vol.27, No.01, 2004. Hal. 17
9
Triyanto. Op. cit., h.105
11
Contextual
Teaching
Learning
dipengaruhi
oleh
filsafat
kontruktivisme oleh J. Piaget, bahwa setiap anak/siswa memiliki struktur
kognitif yang dinamakan skema. Skema terbentuk karena pengalaman
semakin dewasa semakin sempurna skema yang dimilikinya. Proses
penyempurnaan skema terdiri dari:
a. Asimilasi, yaitu proses penyempurnaan skema
b. Akomodasi, yaitu proses mengubah skema yang sudah ada hingga
terbentuk skema baru
c. Disequlibirum, yaitu posisi ketidaksetimbangan yang mengganggu
anak.
d. Equalibirum, yaitu posisi kembali dalam keadaan seimbang10
1)
Karakteristik Pendekatan Kontekstual
Adapun karakteristik dalam pendekatan kontekstual adalah sebagai
berikut:
a. Pembelajaran dilaksanakan dalam konteks autentik, yaitu pembelajaran
yang diarahkan pada ketercapaian keterampilan dalam konteks
kehidupan nyata atau pembelajaran yang dilaksanakan dalam
lingkungan yang alamiah (learning in real life setting)
b. Pembelajaran
memberikan
kesempatan
kepada
siswa
untuk
mengerjakan tugas-tugas yang bermakna (meaningful learning)
c. Pembelajaran dilaksanakan dengan memberikan pengalaman bermakna
kepada siswa (learning by doing)
d. Pembelajaran dilaksanakan melalui kerja kelompok, berdiskusi, saling
mengkoreksi antar teman (learning in a group)
e. Pembelajaran memberikan kesempatan untuk menciptakan rasa
kebersamaan, bekerja sama dan saling memahami antar satu dengan
lain secara mendalam (learning to know each other deeply)
10
Zulfiani. Bahan Perkuliahan Perencanaan dan Strategi Pembelajaran Biologi.
(Jakarta: UIN), 2009
12
f. Pembelajaran dilaksanakan secara aktif, kreatif, produktif dan
mementingkan kerjasama (learning to ask, to inquiry, to work
together).
g. Pembelajaran dilaksanakan dalam situasi
yang menyenangkan
(learning as an enjoy activity)11
Menurut Udin Saefuddin, terdapat lima karakteristik penting dalam
menggunakan proses pembelajaran kontekstual,yaitu:
a. Dalam CTL pembelajaran merupakan proses pengaktifan pengetahuan
yang sudah ada, artinya apa yang akan dipelajari tidak terlepas dari
pengetahuan yang sudah dipelajari, dengan demikian pengetahuan
yang akan diperoleh siswa adalah pengetahuan yang utuh yang
memiliki keterkaitan satu sama lain
b. Pembelajaran kontekstual adalah belajar dalam rangka memperoleh
dan menambah pengetahuan baru, yang diperoleh dengan cara
deduktif, artinya pembelajaran dimulai dengan cara mempelajari
keseluruhan, kemudian memperhatikan detailnya.
c. Pemahaman pengetahuan, artinya pengetahuan yang diperoleh bukan
untuk dihafal tetapi dipahami dan diyakini, misalnya dengan cara
meminta tanggapan dari yang lain tentang pengetahuan yang
diperolehnya dan berdasarkan tanggapan tersebut baru pengetahuan
baru dikembangkan.
d. Mempraktekkan pengetahuan dan pengalaman tersebut, artinya
pengetahuan dan pengalaman yang diperolehnya harus dapat
diaplikasikan dalam kehidupan siswa, sehingga tampak perubahan
perilaku siswa.
e. Melakukan refleksi terhadap strategi pengembangan pengetahuan. Hal
ini dilakukan sebagai umpan balik untuk proses perbaikan dan
penyempurnaan strategi.12
11
Masnur Muslich, KTSP Pembelajaran Berbasis Kompetensi dan Kontekstual, (Jakarta:
PT bumi aksara), 2008, Cet.4, h. 42
12
Udin Saefudin Sa‟ud. Op. cit., h.163
13
2)
Komponen dalam Pendekatan Kontekstual
Menurut
University
of
Washington
dalam
triyanto,
CTL
menekankan pada berfikir tingkat lebih tinggi, transfer pengetahuan lintas
disiplin, serta pengumpulan, penganalisisan dan pensintesisan informasi
dan data dari berbagai sumber dan pandangan. Di samping itu, telah
diidentifikasi enam unsur kunci CTL seperti berikut ini:
a. Pembelajaran bermakna: pemahaman, relevansi dan penghargaan
pribadi siswa bahwa ia berkepentingan terhadap konten yang harus
dipelajari. Pembelajaran dipersepsi sebagai relevan dengan hidup
mereka.
b. Penerapan pengetahuan: kemampuan untuk melihat bagaimana apa
yang dipelajari diterapkan dalam tatanan-tatanan lain dan fungsifungsi pada masa sekarang dan akan datang.
c. Berfikir tingkat lebih tinggi: siswa dilatih untuk menggunakan
berfikir kritis dan kreatif dalam mengumpulkan data, memahami
suatu isu, atau memecahkan suatu masalah.
d. Kurikulum
yang
dikembangkan
berdasarkan
standar:
konten
pengajaran berhubungan dengan suatu rentang dan beragam standar
lokal, Negara bagian, nasional, asosiasi, dan/atau indusrtri.
e. Responsive terhadap budaya: pendidik harus memahami dan
menghormati
nilai-nilai,
keyakinan-keyakinan,
dan
kebiasaan-
kebiasaan siswa, sesame rekan pendidik dan masyarakat tempat
mereka mendidik. Berbagai macam budaya perorangan dan kelompok
mempengaruhi pembelajaran. Budaya-budaya ini, dan hubungan
antarbudaya-budaya
ini,
mempengaruhi
bagaimana
pendidik
mengajar. Paling tidak empat perspektif seharusnya dipertimbangkan:
individu siswa, kelompok siswa (seperti tim atau keseluruhan kelas),
tatanan sekolah, dan tatanan masyarakat yang lebih besar.
f. Penilaian autentik: penggunaan berbagai macam strategi penilaian
yang secara valid mencerminkan hasil belajar sesungguhnya yang
diharapkan dari siswa. Strategi-strategi ini dapat meliputi penilaian
14
atas proyek dan kegiatan siswa, penggunaan portofolio, rubric, chek
list, dan paduan pengamatan disamping memberikan kesempatan
kepada siswa ikut aktif berperan serta dalam menilai pembelajaran
mereka sendiri dan penggunaan untuk memperbaiki keterampilan
menulis mereka.13
Dengan demikian, tujuan pembelajaran kontekstual adalah
membekali siswa dengan pengetahuan dan keterampilan yang secara
fleksibel dapat diterapkan untuk memecahkan masalah-masalah nyata
yang dihadapi.
3)
Perbedaan Pola Pembelajaran Kontekstual dan Pembelajaran
Konvensional
Menurut I Made Sumadi terdapat perbedaan antara pola
pembelajaran
kontekstual
dengan
pembelajaran
konvensional,
perbedaan tersebut disajikan dalam bentuk tabel berikut ini: 14
Tabel. 2.1
Perbedaan pola pembelajaran kontekstual dan pembelajaran
konvensional
Konvensional
Menyandarkan pada hafalan
Pemilihan informasi ditentukan oleh
guru
Cenderung terfokus pada satu bidang
(disiplin tertentu)
Memberikan
tumpukan
informasi
kepada siswa sampai pada saatnya
diperlukan
Siswa adalah penerima informasi pasif
Siswa belajar secara individual
13
Kontekstual
Menyandarkan pada memori spasial
Pemilihan informasi berdasarkan
kebutuhan individu siswa
Cenderung
mengintegrasikan
beberapa bidang (disiplin)
Selalu mengaitkan informasi dengan
pengetahuan awal yang telah
dimiliki siswa
Siswa secara aktif trlibat dalam
pembelajaran
Siswa belajar dari teman melalui
kerja kelompok, diskusi, dan saling
mengoreksi
Triyanto, Op. cit., h.105-106
I Made Sumadi, Pengaruh Penerapan Pendekatan Kontekstual Terhadap Kemampuan
Penalaran dan Komunikasi Matematika Siswa Kelas II SLTP Negeri 6 Singaraja, dalam Jurnal
Pendidikan dan Pengajaran IKIP Negeri Singaraja, No.1, th.XXXVIII, 2005. h. 6-7.
14
15
Pembelajaran abstrak, teoritis, dan
kurang dikaitkan dengan kehidupan
nyata siswa
Siswa secara pasif menerima rumus
kaidah tanpa memberi konstruksi ide
dalam proses pengajaran
Pembelajaran dikaitkan dengan
kehidupan nyata atau masalah yang
disimulasikan
Siswa menggunakan kemampuan
berfikir kritis, terlibat penuh dalam
mengupayakan terjadinya proses
pembelajaran yang efektif, ikut
bertanggung jawab atas terjadinya
proses pembelajaran yang efektif dan
membawa skemata masing-masing
ke dalam proses pembelajaran
Penilaian hasil belajar hanya melalui Menerapkan
penilaian
autentik
hafalan akademik berupa ulangan/ujian melalui penerapan praktis dalam
pemecahan masalah.
Langkah-langkah yang harus ditempuh guru dalam menerapkan
pembelajaran dengan pendekatan kontekstual adalah:
a. Kembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna
dengan bekerja sendiri, menemukan sendiri, dan menkontruksi sendiri
pengetahuan dan keterampilan barunya.
b. Laksanakan sejauh mungkin kegiatan inkuiry untuk semua topik
c. Kembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya
d. Ciptakan “masyarakat belajar” (belajar dalam kelompok-kelompok
kecil)
e. Hadirkan “model” sebagai contoh pembelajaran
f. Lakukan refleksi di akhir pertemuan
g. Lakukan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara.15
Sedangkan menurut Syaiful Sagala, penerapan pendekatan
kontekstual secara garis besar langkah-langkahnya adalah :
a. Kembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna
dengan cara bekerja sendiri, menemukan sendiri, dan mengkonstruksi
sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya
b. Laksanakan sejauh mungkin kegiatan inquiry untuk semua pokok
bahasan
c. Mengembangkan sikap ingin tahu siswa dengan bertanya
15
I Made Sumadi. Ibid., h. 7
16
d. Menciptakan masyarakat belajar
e. Menghadirkan model sebagai contoh pembelajaran
f. Melakukan refleksi diakhir pertemuan
g. Melakukan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara16
2.
Hakikat Metode Ceramah
Metode ceramah adalah metode mengajar yang menyampaikan
materi pelajaran dengan cara lisan. Metode ini merupakan metode
mengajar yang paling banyak digunakan , tetapi dalam pembelajaran IPA
dianggap kurang efektif karena dalam pembelajaran IPA tidak hanya
menekankan pada aspek produk tetapi juga pada aspek proses.17
Metode ceramah ialah penerangan dan penuturan secara lisan oleh
guru di depan siswa di muka kelas.18 Metode ceramah adalah metode
penyampaian bahan pelajaran secara lisan. Metode ini banyak dipilih guru
karena mudah dilaksanakan dan tidak membutuhkan alat bantu khusus
serta tidak perlu merancang kegiatan siswa. Dalam pengajaran yang
menggunakan metode ceramah terdapat unsur paksaan. Dalam hal ini
siswa hanya diharuskan melihat dan mendengar serta mencatat tanpa
komentar informasi penting dari guru yang selalu dianggap benar itu.
Padahal
dalam
diri
siswa terdapat
mekanisme psikologis
yang
memungkinkannya untuk menolak disamping menerima informasi dari
guru. Inilah yang disebut kemampuan untuk mengatur dan mengarahkan
diri.19
16
Syaiful Sagala, Konsep dan Makna Pembelajaran, (Bandung: Alfabeta), 2010, Cet.8,
h.92
17
Tonih Feronika, Buku Ajar Strategi pembelajaran Kimia, (Jakarta: Fakultas Tarbiyah
dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah), 2008, h.36
18
M Syafir. http://www.syafir.com/2011/01/08/metode-ceramah. Tanggal akses (16 Juni
1011)
19
Checep05, pendekatan dan metode pembelajaran, dalam
http://smacepiring.wordpress.com/2008/02/19/pendekatan-dan-metode-pembelajaran/, Tanggal
akses (16 Juni 2011)
17
a. Metode ceramah sebaiknya digunakan apabila:
a) Bahan ajar yang akan disampaikan banyak, sedangkan waktu yang
tersedia relatif singkat
b) Bahan ajar berupa instruksi
c) Peserta didik yang diajar jumlahnya juga banyak
d) Guru memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik (metode ini
sangat menuntut kemampuan berbicara).20
b. Langkah-langkah dalam metode ceramah
Langkah-langkah
pembelajaran
dengan
menggunakan
metode
ceramah:
a) Persiapan, dalam tahap ini guru menciptakan suasana belajar yang
kondusif untuk belajar siswa
b) Penyajian, dalam tahap ini, guru menyampaikan materi pelajaran
dengan ceramah
c) Asosiasi, dalam tahap ini guru memberikan kesempatan kepada
siswa untuk bertanya dan berdiskusi agar siswa dapat membuat
hubungan materi pelajaran yang telah disajikan guru
d) Generalisasi, dalam tahap ini guru dan siswa secara bersama-sama
membuat kesimpulan materi pelajaran yang telah disajikan.21
c. Kelebihan dan kelemahan metode ceramah
Adapun kelebihan metode ceramah yaitu:
a) Hemat biaya
b) Pengelolaan kelas lebih mudah, walau jumlah siswa banyak
c) Guru dalam waktu singkat dapat menyampaikan bahan ajar yang
banyak
d) Bersifat fleksibel, karena sewaktu-waktu pembelajaran dapat
diakhiri tanpa harus mengurangi cakupan bahan ajar
20
21
Tonih Feronika. Op. cit., h.37
Tonih Feronika. Op. cit., h.37
18
e) Jika guru memiliki kemampuan komunikasi yang baik, dapat
membangkitkan semangat belajar siswa
f) Dapat mengembangkan kemampuan mendengar siswa.22
Selain kelebihan, metode ceramah pun memiliki kelemahan,
adapun kelemahan metode ceramah yaitu:
a) Pengajar tak dapat mengetahui sampai di mana pembelajar telah
mengerti pembicaraannya. Kadang-kadang pengajar beranggapan
bahwa bila pembelajar duduk diam mendengarkan atau sambil
mengangguk-anggukkan kepala, berarti pembelajar telah mengerti.
Padahal anggapan tersebut sering meleset; walaupun, pembelajar
menunjukkan reaksi seolah-olah mengerti, akan tetapi pengajar
tidak mengetahui sejauh mana penguasaan pembelajar terhadap
pelajaran itu. Oleh karena itu segera setelah ia berceramah, harus
diadakan evaluasi, misalnya dengan tanyajawab.
b) Kata-kata
yang diucapkan pengajar, ditafsirkan lain oleh
pembelajar.
Dapat
terjadi
bahwa
pembelajar
niemberikan
pengertian yang berlainan dengan apa yang dimaksud oleh
pengajar.23
Adapun pendapat lain mengenai kelemahan metode ceramah antara
lain :
a) Membuat siswa pasif
b) Mengandung unsur paksaan kepada siswa
c) Mengandung daya kritis siswa
d) Anak didik yang lebih tanggap dari visi visual akan menjadi rugi
dan anak didik yang lebih tanggap auditifnya dapat lebih besar
menerimanya.
e) Sukar mengontrol sejauhmana pemerolehan belajar anak didik.
22
Tonih Feronika, Op. cit., h.37-38
Massofa. Metode Ceramah dalam Pembelajaran, dalam
http://massofa.wordpress.com/2008/07/13/metode-ceramah-dalam pembelajaran/. Tanggal akses
(16 Juni 2011)
23
19
f)
Kegiatan pengajaran menjadi verbalisme (pengertian kata-kata).
g) Bila terlalu lama membosankan.24
3.
Hakikat Hasil Belajar
Belajar merupakan komponen ilmu pendidikan yang berkenaan
dengan tujuan dan bahan acuan interaksi, baik yang bersifat eksplisit
maupun implisit (tersembunyi).25
Suatu aktivitas pembelajaran dapat dikatakan efektif jika proses
pembelajaran tersebut dapat mewujudkan sasaran atau hasil belajar
tertentu. Belajar merupakan perubahan tingkah laku sebagai hasil dari
interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.
Perubahan-perubahan tersebut nyata dalam seluruh aspek tingkah laku.
Apa yang diajarkan hendaknya dipahami sepenuhnya oleh semua
anak. UUSPN No.20 tahun 2003 menyatakan bahwa pendidikan nasional
berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta
peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan
kehidupan bangsa.26
Belajar berasal dari kata ajar yang berarti mencoba (trial), yaitu
kegiatan mencoba sesuatu yang belum atau tidak diketahui. Belajar
acapkali diidentikan dengan membaca, membaca sesuatu yang tertulis
ataupun yang tidak tertulis sehingga dapat membawa seseorang
mengetahui sesuatu yang sebelumnya tidak diketahui.27
Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk
memperoleh perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan,
sebagai
hasil
pengalamannya
sendiri
dalam
interaksi
dengan
lingkungannya.28
24
http://www.scribd.com/doc/27644307/Metode-Ceramah. Tanggal akses (16 Juni 2011)
Syaiful Sagala, Op. cit., h.11
26
Syaiful Sagala. Op. cit., h.11
27
Idris, Shaffat, Optimized Learning and Strategy. (Jakarta: Prestasi Pusaka), 2009, Cet.1,
25
h. 1
28
Slameto, Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. (Jakarta: Rineka Cipta),
2003, Cet.4. h. 2
20
Adapun menurut Chaplin dalam bukunya The Psycology of
Learning and Memory dalam Muhibbin Syah, belajar adalah prolehan
perubahan tingkah laku yang relative menetap sebagai akibat latihan dan
pengalaman dan ia mendefinisikan bahwa belajar adalah proses
memperoleh respon-respon sebagai akibat adanya latihan khusus.29
Belajar menurut pandangan B.F Skinner dalam syaiful sagala,
adalah proses adaptasi atau penyesuaian tingkah laku yang berlangsung
secara progessif. Belajar juga dipahami sebagai suatu perilaku, pada saat
orang belajar, maka responsnya menjadi lebih baik. Sebaliknya bila ia
tidak belajar, maka responsnya menurun.30
Menurut Gagne dalam Dimyati dan Mudiyono, belajar merupakan
kegiatan yang kompleks. Hasil belajar berupa kapabilitas. Setelah belajar
orang memiliki keterampilan, pengetahuan, sikap dan nilai. Timbulnya
kapabilitas tersebut adalah dari stimulasi yang berasal dari lingkungan, dan
proses kognitif yang dilakukan oleh pembelajar. Demgan demikian,
belajar adalah seperangkat proses kognitif yang mengubah sifat stimulasi
lingkungan, melewati pengolahan informasi, menjadi kapabilitas baru.31
Hilgard dalam S. nasution mengatakan: “Learning is the prosess by
which an activity originates or is changed through training procedures
(whether in the laboratory or in the natural environment) as distinguished
from changes by factors not attributable to training”. Belajar adalah
proses yang melahirkan atau mengubah suatu kegiatan melalui jalan
latihan (apakah dalam laboratorium atau dalam lingkungan alamiah) yang
dibedakan dari perubahan-perubahan oleh faktor-faktor yang tidak
termasuk latihan.32
Menurut Thursan Hakim dalam Pupuh Fathurrohman, mengartikan
bahwa belajar adalah suatu proses perubahan di dalam kepribadian
manusia, dan perubahan tersebut ditampakkan dalam bentuk peningkatan
kualitas dan kuantitas tingkah laku, seperti peningkatan kecakapan,
29
Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru, (Bandung: PT
Remaja Rosda Karya), 2002, cet ke-7, h.90
30
Syaiful Sagala. Op. cit., h.14
31
Dimyati dan Mudiyono, Belajar dan Pembelajaran, (Jakarta: PT. Rineka Cipta), 2006,
Cet. 3, h.10
32
S. Nasution, Didaktik Asas-Asas Mengajar, (Jakarta: Bumi Aksara), 1995, Cet.1, h.35
21
pengetahuan, sikap, kebiasaan, pemahaman, keterampilan, daya pikir, dan
lain-lain kemampuannya.33
Menurut Walker dalam Riyanto, belajar adalah suatu perubahan
dalam pelaksanaan tugas yang terjadi sebagai hasil dari pengalaman dan
tidak ada sangkut pautnya dengan kematangan rohaniah, kelelahan,
motivasi, perubahan dalam situasi stimulus atau faktor-faktor samar-samar
lainnya yang tidak berhubungan langsung dengan kegiatan belajar.34
Belajar adalah modifikasi atau memperteguh kelakuan melalui
pengalaman. (learning is defined as the modification or strengthening of
behavior through experiencing)35
Menurut
M.
Sorby
Sutikno
dalam
Pupuh
Fathurrohman
mengartikan belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan oleh
seseorang untuk memperoleh suatu perubahan yang baru sebagai hasil
pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.36
Dari beberapa pengertian belajar, dapat disimpulkan bahwa belajar
merupakan kegiatan yang disengaja dan sadar dilakukan untuk
memperoleh perubahan tingkah laku sebagai hasil belajar dari pengalaman
dan interaksi dengan lingkungan.
Berkaitan dengan kemampuan yang diperoleh sebagai hasil belajar,
Bloom dan rekan-rekannya membagi hasil belajar dalam tiga ranah atau
kawasan yaitu: (1) Ranah kognitif (cognitive domain), (2) Ranah afektif
(afektive domain), dan (3) Ranah psikomotor (Psychomotor domain).37
33
Pupuh Fathurrohman, Strategi Mewujudkan Pembelajaran Bermakna Melalui
Penanaman Konsep Umum dan Konsep Islami, (Bandung: PT. Refika Aditama), Cet.1, 2007, h.6
34
Yatim Riyanto, Paradigma Baru Pembelajaran Sebagai Referensi Bagi Pendidik
dalam Implementasi Pembelajaran yang Efektif dan Berkualitas, (Jakarta: Prenada Media), 2009,
Cet. 1, h.5
35
Oemar Hamalik, Kurikulum dan Pembelajaran, (Jakarta: Bumi Aksara), 2008, Cet.8,
h.36
36
Pupuh Fathurrohman. Op. cit., h.5
37
Tengku Zahara Djaafar, Kontribusi Strategi Pembelajaran Terhadap Hasil Belajar,
(Jakarta: Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas negeri Padang), 2001, h. 83
22
a. Hasil belajar penguasaan materi (kognitif)
Penilaian terhadap hasil belajar penguasaan materi bertujuan untuk
mengukur penguasaan dan pemilihan konsep dasar keilmuan berupa materimateri esensial sebagai konsep kunci dan prinsip utama.38
Ranah kognitif ini merupakan ranah yang lebih banyak melibatkan
kegiatan mental/otak. Pada ranah ini, terdapat 6 jenjang proses berfikir, yaitu:
1) Hafalan (C1)
Meliputi kemampuan menyatakan kembali fakta, konsep, prinsip, dan
prosedur yang telah dipelajari.
2) Pemahaman (C2)
Meliputi kemampuan menangkap arti dari informasi yang diterima,
misalnya dapat menafsirkan bagan, diagram atau grafik.
3) Penerapan (C3)
Ialah
kemampuan
menggunakan
prinsip,
aturan,
metode
yang
dipelajarinya pada situasi baru atau pada situasi konkrit.
4) Analisis (C4)
Meliputi kemampuan menguraikan suatu informasi yang dihadapi menjadi
komponen-komponennya sehingga struktur informasi serta hubungan
antara komponen menjadi lebih jelas.
5) Sintesis (C5)
Kemampuan untuk mengintegrasikan bagian-bagian yang terpisah menjadi
sesuatu keseluruhan yang terpadu.
6) Evaluasi (C6)
Kemampuan untuk mempertimbangkan nilai suatu pernyataan, uraian,
pekerjaan, berdasarkan kriteria tertentu yang diterapkan.
38
Ahmad Sofyan, Tonih Feronika. Evaluasi Pembelajaran IPA Berbasis Kompetensi,
(Jakarta: UIN Press), 2006, cet. 1, h. 14
23
b. Hasil belajar proses (afektif)
Hasil belajar proses berkaitan dengan sikap dan nilai. Berorientasi
kepada penguasaan dan pemilikan kecakapan proses atau metode. Ciri-ciri
hasil belajar ini akan tampak pada peserta didik dalam berbagai tingkah laku.
Ranah afektif meliputi 5 jenjang yaitu:
1) Jenjang kemampuan menerima (A1)
2) Jenjang kemampuan menanggapi (A2)
3) Jenjang kemampuan penilaian (A3)
4) Jenjang kemampuan mengorganisasikan (A4)
5) Jenjang kemampuan kerakterisasi (A5)
c. Hasil belajar psikomotorik
Merupakan ranah yang berkaitan dengan skill atau keterampilan
bertindak seseorang setelah menerima pengalaman belajar. Adapun jenjang
ranah psikomotor adalah:
1) Jenjang peniruan (P1)
2) Jenjang memanipulasi (P2)
3) Jenjang ketepatan (P3)
4) Jenjang artikulasi (P4)
5) Jenjang Pengalamiahan (P5)
Hasil belajar yang dicapai siswa dipengaruhi oleh dua faktor utama
yakni faktor dari dalam diri siswa itu dan faktor yang datang dari luar diri
siswa atau faktor lingkungan. Faktor yang datang dari diri siswa terutama
kemampuan yang dimilikinya. Faktor kemampuan siswa besar sekali
pemgaruhnya terhadap hasil belajar yang dicapai. Seperti yang dikemukakan
oleh Clark, dalam Sudjana, bahwa hasil belajar siswa di sekolah 70%
dipengaruhi oleh kemampuan siswa dan 30% dipengaruhi oleh lingkungan.39
39
Nana Sudjana, Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar, (Bandung: Sinar Baru
Algensindo), 2002, Cet.6,, h.39
24
Di samping faktor kemampuan yang dimiliki siswa, ada juga faktor
lain, seperti motivasi belajar, minat dan perhatian, sikap dan kebiasaan belajar,
ketekunan, sosial ekonomi, faktor fisik dan psikis.40 Berhasil atau tidaknya
seseorang dalam belajar disebabkan beberapa faktor yang mempengaruhi
pencapaian hasil belajarnya, baik yang berasal dari dalam diri individu yang
sedang belajar (internal) , maupun yang berasal dari luar individu (eksternal).
Adapun faktor-faktor eksternal yang dapat berpengaruh terhadap hasil
belajar antara lain:
a. Faktor jasmaniah, yang meliputi kesehatan dan cacat tubuh
b. Faktor psikologi, sekurang-kurangnya ada tujuh faktor yang tergolong ke
dalam faktor psikologi yang mempengaruhi belajar, yaitu intelegensi,
perhatian, minat, bakat, motif, kematangan dan kesiapan.
c. Faktor kelelahan, kelelahan pada seseorang walaupun sulit dipisahkan tetap
dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu kelelahan jasmani dan
kelelahan rohani.
Sedangkan faktor internal yang dapat berpengaruh terhadap hasil
belajar, antara lain:
a. Faktor keluarga, siswa yang belajar akan menerima pengaruh dari keluarga
berupa, cara orang tua mendidik, relasi anggota keluarga, suasana rumah
tangga, dan keadaan ekonomi.
b. Faktor sekolah, faktor sekolah yang mempengaruhi belajar ini mencakup
metode belajar, model pembelajaran, pendekatan yang digunakan guru,
kurikulum, relasi guru dengan siswa, relasi siswa dengan siswa, disiplin
sekolah, keadaan gedung dan tugas rumah.
c. Faktor masyarakat, masyarakat merupakan faktor ekstern yang juga
berpengaruh dalam pembelajaran. Pengaruh itu terjadi karena keberadaan
siswa dalam masyarakat, yang meliputi kegiatan siswa dalam masyarakat,
40
Nana Sudjana. Ibid., h.39-40
25
media massa, teman bergaul, dan bentuk kehidupan masyarakat, yang
semua mempengaruhi belajar.41
Ciri-ciri perubahan dalam pengertian belajar menurut Slameto, dalam
Pupuh Fathurrohman meliputi:
a) Perubahan yang terjadi berlangsung secara sadar, sekurang-kurangnya
sadar bahwa pengetahuannya bertambah, sikapnya berubah, kecakapannya
berkembang, dan lain-lain
b) Perubahan dalam belajar bersifat kontinyu dan fungsional. Belajar bukan
proses yang statis karena terus berkembang secara gradual dan setiap hasil
belajar memiliki makna dan guna yang praktis.
c) Perubahan belajar bersifat positif dan aktif. Belajar senantiasa menuju
perubahan yang lebih baik.
d) Perubahan dalam belajar bukan bersifat sementara, bukan hasil belajar jika
perubahan itu hanya sesaat.
e) Perubahan dalam belajar bertujuan dan terarah. Sebelum belajar, seseorang
hendaknya sudah menyadari apa yang akan berubah pada dirinya melalui
belajar.
f) Perubahan mencakup seluruh aspek tingkah laku, bukan bagian-bagian
tertentu secara parsial.42
4.
Hakikat Metode Praktikum/ Eksperimen.
Mempelajari IPA kurang dapat berhasil bila tidak ditunjang dengan
kegiatan percobaan di laboratorium. Laboratorium IPA tidak hanya sebatas
ruangan khusus yang dibatasi dinding, tetapi dapat lebih luas mencakup
laboratorium terbuka berupa alam semesta. Dalam proses pembelajaran
dengan metode ini siswa diberi kesempatan untuk mengalami atau melakukan
percobaan sendiri baik secara individual maupun kelompok kecil.
41
42
Slameto. Op. cit., h. 54-71
Pupuh Fathurrohman. Op. cit., h.10
26
Metode
eksperimen
adalah
cara
penyajian
pelajaran
dengan
menggunakan percobaan. Dengan melakukan eksperimen, siswa menjadi akan
lebih yakin atas suatu hal daripada hanya menerima dari guru dan buku, dapat
memperkaya pengalaman, mengembangkan sikap ilmiah, dan hasil belajar
akan bertahan lebih lama dalam ingatan siswa43
Metode eksperimen mempunyai kelebihan dan kekurangan sebagai
berikut:
1) Kelebihan metode eksperimen :
a) Membuat siswa lebih percaya atas kebenaran atau kesimpulan
berdasarkan percobaannya.
b)
Dalam membina siswa untuk membuat terobosan-terobosan baru
dengan penemuan dari hasil percobaannya dan bermanfaat bagi
kehidupan manusia.
c) Hasil-hasil percobaan yang berharga dapat dimanfaatkan untuk
kemakmuran umat manusia.
2) Adapun kekurangan metode eksperimen yaitu :
a) Metode ini lebih sesuai untuk bidang-bidang sains dan teknologi
b) Metode ini memerlukan berbagai fasilitas peralatan dan bahan yang
tidak selalu mudah diperoleh dan kadangkala mahal
c) Metode ini menuntut ketelitian, keuletan dan ketabahan
d) Setiap percobaan tidak selalu memperoleh hasil yang diharapkan karena
mungkin ada faktor-faktor tertentu yang berada di luar jangkauan
kemampuan atau pengendalian. 44
43
Checep05, pendekatan dan metode pembelajaran, dalam
http://smacepiring.wordpress.co/2008/02/19/pendekatan-dan-metode-pembelajaran/, Tanggal
akses (16 Juni 2011)
44
Martiningsih. Macam-Macam Metode Pembelajaran, dalam
http://martiningsih.blogspot.com/2007/12/macam-macam-metode-pembelajaran.html. Tanggal
akses (16 Juni 2011)
27
B. Hasil Penelitian Relevan
Ahmad Gojali dalam skripsinya yang berjudul ”Pendekatan CTL
(Contextual Teaching Learning) Pada Pembelajaran Konsep Sistem Organ
Manusia Berbasis Nilai-Nilai Sains untuk Meningkatkan Penguasaan
Konsep dan Sikap Positif Siswa” memberikan kesimpulan sebagai berikut:
Pembelajaran dengan pendekatan CTL yang berbasis nilai-nilai sains pada
konsep sistem reproduksi manusia dan sistem imunitas manusia dapat
meningkatkan hasil belajar siswa berupa penguasaan konsep. Peningkatan
dilihat dengan membandingkan nilai mean siswa sebelum intervensi
tindakan pada siklus I dan siklus II. Mean pretest siklus I sebesar 46,82
meningkat menjadi 70,75 pada postest dengan nilai N-Gain sebesar 0,6189
(kategori tinggi). Jumlah siswa yang mencapai nilai minimal KKM biologi
≥ 60 sebesar 95% dari 40 siswa. Sedangkan mean pretest siklus II sebesar
51,17 meningkat menjadi 77,77 pada postest dengan nilai N-Gain sebesar
0,6242 (kategori tinggi). Jumlah siswa yang mencapai nilai KKM biologi
sudah mencapai 100%45
Astri Rama Yulia dalam skripsinya yang berjudul ”Pengaruh
Pembelajaran Kimia Bernuansa Nilai dengan Pendekatan Kontekstual
Terhadap
Hasil
Belajar
Siswa”
memberikan
kesimpulan
bahwa
pembelajaran kimia bernuansa nilai dengan pendekatan kontekstual
berpengaruh positif terhadap hasil belajar siswa serta didapat respon yang
baik dari siswa terhadap pembelajaran kimia bernuansa nilai dengan
pendekatan kontekstual yaitu siswa termotivasi untuk meningkatkan
prestasinya, yang dibuktikan dengan hasil análisis data pretest dan posttest.
Diperoleh nilai rata-rata sebelum perlakuan adalah 26,5 dan rata-rata
sesudah perlakuan adalah 71,7. Sedangkan rata-rata (mean) N-Gain untuk
kelompok atas sebesar 0,71 pada kategori tinggi, kelompok tengah dengan
0,62 pada kategori sedang, dan kelompok bawah 0,49 pada kategori sedang.
45
Ahmad Gojali, Pendekatan CTL (Contextual Teaching Learning) Pada
Pembelajaran Konsep Sistem Organ Manusia Berbasis Nilai-Nilai Sains untuk Meningkatkan
Penguasaan Konsep dan Sikap Positif Siswa, Skripsi, (UIN Syarif Hidayatullah : Jakarta) 2009. h.
101
28
Hal ini menunjukkan bahwa terdapat pengaruh pembelajaran kimia
bernuansa nilai dengan pendekatan kontekstual terhadap hasil belajar siswa.
Selain itu dari análisis data menggunakan uji „t‟ diperoleh nilai thitung = 20,5,
sementara pada taraf signifikansi 5% = 0,975 pada derajat kebebasan (dk) =
60 dan 120, di dapat ttabel = 1,98. Karena thitung > ttabel (20,5 > 1,98) maka Ho
ditolak, yang berarti terdapat peningkatan hasil belajar siswa tentang
kesetimbangan kimia melalui pembelajaran kimia bernuansa nilai dengan
pendekatan kontekstual.46
Encih Suwarsih dalam skripsinya yang berjudul ”Pengaruh Penerapan
Pendekatan Kontekstual dengan bernuansa Nilai Terhadap Hasil Belajar
Fisika” memberikan kesimpulan bahwa berdasarkan perhitungan hipótesis
pada data penelitian ini diperoleh bahwa thitung lebih besar dari ttabel, maka
didapar kesimpulan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan penerapan
pendekatan kontekstual dengan bernuansa nilai terhadap hasil belajar fisika
pada siswa kelas VIII A di sekolah SMP Islam Almukhlisin, parung. Dan
respon siswa yang diajarkan dengan menggunakan pendekatan kontekstual
pada materi pokok energi benuansa nilai religius, yang menjawa baik ada
40%, hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar siswa memberikan respon
yang baik/positif terhadap penerapan pendekatan kontekstual pada materi
pokok energi dengan bernuansa nilai religius. 47
Ria Irmawati, dalam skripsinya yang berjudul ”Pengaruh
pembelajaran Kimia Terintegrasi Nilai Melalui Pendekatan CTL Terhadap
Hasil Belajar Siswa” memberikan kesimpulan bahwa berdasarkan hasil
pengujian hipótesis menggunakan uji-t yang didapat pada postest yaitu
thitung > ttabel (2,0588 > 2,000), artinya terdapat pengaruh pembelajaran
46
Astri Rama Yulia , Pengaruh Pembelajaran Kimia Bernuansa Nilai dengan
Pendekatan Kontekstual Terhadap Hasil Belajar Siswa, Skripsi (UIN Syarif Hidayatullah :
Jakarta) 2009, h. 84
47
Encih Suwarsih, Pengaruh Penerapan Pendekatan Kontekstual dengan bernuansa
Nilai Terhadap Hasil Belajar Fisika, Skripsi (UIN Syarif Hidayatullah : Jakarta) 2009, h. 69
29
kimia terintegrasi nilai melalui pendekatan CTL terhadap hasil belajar
siswa. 48
Rini Prisma Gusti, dalam jurnalnya yang berjudul ”Upaya
Peningkatan Pemahaman Konsep Biologi Melalui Pendekatan Kontekstual
dengan Model Pembelajaran Berbasis Gambar (Picture and Picture) pada
Siswa Kelas XI IPA SMA Muhammadiyah Kota Padang Panjang”,
berdasarkan hasil dan pembahasan dari penelitian ini dapat disimpulkan
bahwa penggunaan pendekatan pembelajaran kontekstual secara umum
dapat meningkatkan kualitas pembelajaran Biologi di kelas XI IPA SMA
Muhammadiyah Padang Panjang, hal ini dilihat dari tujuh aspek
pembelajaran
kontekstual
yang
diamati
lima
diantaranya
sudah
menampakkan perubahan kearah yang lebih baik. Dan penggunaan
pendekatan kontekstual sampai akhir siklus 2 ini sudah terlihat efektif jika
diteliti dari hasil belajar siswa. Hal ini tampak dari peningkatan hasil tes
dari siklus 1 dan kedua menampakkan hasil kemajuan yang cukup
signifikan.49
C. Kerangka Pikir
Belajar adalah proses perilaku berkat pengalaman dan pelatihan.
Artinya, tujuan kegiatan belajar adalah perubahan tingkah laku yang
menyangkut keterampilan, sikap bahkan segenap aspek pribadi, kegiatan
belajar mengajar seperti mengorganisasikan pengalaman belajar, termasuk
menilai proses dan hasil belajar, termasuk dalam cakupan tanggung jawab
guru.
Pada proses pelaksanaan pendidikan di sekolah, guru memegang
peranan penting dalam proses pembelajaran. Dalam hal ini, guru berperan
sebagai fasilitator, organisator dan model bagi siswa agar mencapai tujuan
48
Ria Irmawati, Pengaruh pembelajaran Kimia Terintegrasi Nilai Melalui Pendekatan
CTL Terhadap Hasil Belajar Siswa, Skripsi (UIN Syarif Hidayatullah : Jakarta) 2009, h. 61
49
Rini Prisma Gusti, Jurnal Guru yang berjudul Upaya Peningkatan Pemahaman Konsep
Biologi Melalui Pendekatan Kontekstual dengan Model Pembelajaran Berbasis Gambar (Picture
and Picture) pada Siswa Kelas XI IPA SMA Muhammadiyah Kota Padang Panjang, (Dinas
pendidikan Kota Padang Panjang : Padang Panjang), 2006, No.1 Vol, 3 h. 47
30
yang diharapkan, dimana semuanya sangat menentukan keberhasilan siswa
dalam mencapai tujuan mencapai tujuan dengan adanya perubahan tingkah
laku sebagai hasil belajar.
Keberhasilan pelaksanaan kegiatan belajar-mengajar salah satunya
ditentukan oleh beberapa faktor, yaitu pendekatan, metode, serta model
pembelajaran yang dipilih dan diterapkan oleh guru. Pendekatan, metode,
serta model tersebut dapat membantu guru mengoptimalkan proses
pembelajaran sehingga kompetensi yang direncanakan dapat tercapai
dengan maksimal. Oleh karena itu, guru hendaknya mampu menerapkan
pendekatan dan metode yang sesuai dan tepat sebagai upaya mencapai
keberhasilan pembelajaran.
Pembelajaran pada dasarnya merupakan upaya untuk mengarahkan
anak didik ke dalam proses belajar sehingga mereka dapat memperoleh
tujuan belajar sesuai dengan apa yang diharapkan. Pembelajaran
hendaknya memperhatikan kondisi individu anak karena merekalah yang
akan belajar. Anak didik merupakan individu yang berbeda satu sama lain,
mereka memiliki keunikan masing-masing yang tidak sama dengan orang
lain. Oleh karena itu pembelajaran hendaknya memperhatikan perbedaanperbedaan inividual anak tersebut, sehingga pembelajaran benar-benar
dapat mengubah kondisi anak dari yang tidak tahu menjadi tahu, dari yang
tidak paham, menjadi paham. Kondisi nyata anak seperti ini, selama ini
kurang mendapat perhatian sebagian guru/pendidik yang cenderung
memperhatikan kelas secara keseluruhan, tidak perorangan atau kelompok
anak, sehingga perbedaan individual kurang mendapatkan perhatian.
Gejala lain yang terlihat pada kenyataan banyak guru yang menggunakan
pendekatan dan model pengajaran yang cenderung sama setiap kali
pertemuan di kelas.
Pembelajaran yang kurang memperhatikan perbedaan individual
anak dan didasarkan pada keinginan guru, akan sulit dapat mengantarkan
anak didik ke arah pencapaian tujuan pembelajaran. Kondisi seperti inilah
yang terjadi pada pendekatan pembelajaraan konvensional. Konsekuensi
31
dari pendekatan pembelajaran ini adalah terjadinya kesenjangan yang
nyata antara anak yang cerdas dan anak yang kurang cerdas dalam
pencapaian tujuan pembelajaran. Kondisi ini mengakibatkan tidak
diperolehnya ketuntasan dalam belajar sehingga sistem belajar tuntas
terabaikan, sehingga hasil belajarnya pun tidak sesuai dengan target yang
ingin dicapai.
Selain itu pembentukan konsep yang diinginkan guru juga akan
kurang terealisasi. Sehingga akan berimplikasi kepada hasil belajar siswa.
Pembelajaran yang baik adalah pembelajaran yang konsepnya dapat
dipahami, dan dapat dihubungkan dengan kondisi sebenarnya, sehingga
dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
Seiring dengan perubahan kurikulum dari Kurikulum Berbasis
Kompetensi ke Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, menyebabkan
perubahan pula dalam proses pembelajaran. Dengan kurikulum tersebut
ditekankan pembelajaran lebih mengaktifkan siswa. Maka dari itu, perlu
pendekatan contextual teaching and learning diterapkan di sekolah karena
sangat berguna untuk membuat siswa lebih bisa mengaitkan ilmu yang
diperoleh di kelas dengan lingkungan sekitar, karena pendekatan
kontesktual
memugkinkan
siswa
terlibat
secara
langsung
dalam
memahami konsep-konsep biologi terutama konsep mengenai struktur dan
fungsi tubuh tumbuhan yang dialami dalam kehidupan sehari-hari, dan
bisa diterapkan dengan metode praktikum.
D. Pengajuan Hipotesis
Berdasarkan deskripsi teoritis dan kerangka pikir di atas, maka
hipotesis penelitian ini adalah terdapat pengaruh pendekatan contextual
teaching and learning terhadap hasil belajar biologi pada konsep struktur dan
fungsi pada tubuh tumbuhan.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Tempat dan Waktu Penelitian
Tempat penelitian dilaksanakan di SMP Yayasan Pendidikan Islam
(YPI) Bintaro. Waktu pelaksanaan penelitian ini yaitu pada semester ganjil
tahun ajaran 2011-2012, pada bulan Oktober sampai November 2011.
B. Metode dan Desain Penelitian
1. Metode Penelitian
Metode dalam penelitian ini adalah metode eksperimen semu
(quasi experiment), yaitu suatu desain eksperimen yang memungkinkan
peneliti mengendalikan variabel sebanyak mungkin dari situasi yang ada
karena tidak memungkinkan mengontrol variabel dengan penuh.1 Jadi,
penelitian harus dilakukan secara kondisional dengan tetap memperhatikan
faktor-faktor yang mempengaruhi validitas hasil penelitian. .
2. Desain Penelitian
Peneliti akan membagi kelas yang diteliti menjadi dua kelas, yaitu
kelas
eksperimen
dan
kelas
kontrol.
Kelas
eksperimen
dengan
menggunakan pendekatan contextual teaching and learning, sedangkan
kelas kontrol menggunakan metode ceramah.
Sebelum diberikan perlakuan, pada kedua kelas dilakukan pretest
untuk mengetahui sejauh mana kemampuan dasar siswa pada konsep
struktur dan fungsi tubuh tumbuhan. Kemudian keduanya diberikan
perlakuan yang berbeda, setelah itu pada kedua kelas dilakukan posttest
untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan siswa terhadap konsep
struktur dan fungsi tubuh tumbuhan. Desain penelitian yang digunakan
1
Moh. Kasiram, Metodologi Penelitian, (Malang: UIN Malang Press, 2008), h. 222.
32
33
adalah pretest-posttest control group design . Bentuk desain penelitian
tersebut adalah:2
Tabel 3.1. Desain Penelitian
Kelas
Pretest
Perlakuan Posttest
Eksperimen
O1
X1
O2
Kontrol
O1
X2
O2
Keterangan:
Eksperimen
Kontrol
X1
X2
O1
O2
: kelas eksperimen dengan pendekatan contextual teaching
and learning
: kelas kontrol dengan metode ceramah
: perlakuan dengan pendekatan contextual teaching and
learning
: perlakuan dengan metode ceramah
: pemberian pretest
: pemberian posttest
Pada penelitian ini terdapat dua variabel, yaitu:
Variabel bebas (X)
: Pendekatan contextual teaching and learning
Variabel terikat (Y)
: Hasil belajar biologi siswa
C. Populasi dan Sampel Penelitian
Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian.3 Populasi terbagi dua,
yaitu populasi target dan populasi terjangkau. Populasi target dalam penelitian
ini adalah seluruh siswa SMP YPI Bintaro. Sedangkan populasi terjangkau
adalah seluruh siswa kelas VIII SMP YPI Bintaro. Kelas VIII dikelompokkan
secara paralel berjumlah empat kelas.
Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh
populasi tersebut.4 Sampel yang digunakan diambil dari populasi terjangkau
2
Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D,
(Bandung: Alfabeta, 2007), h. 112.
3
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, (Jakarta: Rineka
Cipta, 2006), h. 130.
4
Sugiyono, Op.cit., h. 118.
34
dengan cara purpossive sampling, yaitu pengambilan sampel dilakukan
berdasarkan pertimbangan perorangan atau pertimbangan peneliti.5
Berdasarkan pertimbangan, sampel diambil dengan kesamaan rata-rata
hasil belajar siswa pada konsep sebelum struktur dan fungsi tubuh tumbuhan,
yaitu konsep sistem peredaran darah manusia. Dengan demikian, subjek
penelitian yang dipilih yaitu kelas VIII-A sebagai kelas eksperimen, dan kelas
VIII-C sebagai kelas kontrol.
D. Teknik Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini, data diperoleh melalui teknik tes berupa pilihan
ganda. Adapun urutan pengumpulan data dilakukan sebagai berikut:
1. Memberikan tes kemampuan awal (pretest) tentang konsep struktur dan
fungsi tubuh tumbuhan di kedua kelas tersebut.
2. Memberikan tes kemampuan akhir (posttest) tentang konsep struktur dan
fungsi tubuh tumbuhan di kedua kelas dengan soal yang sama.
E. Instrumen Penelitian
Tes Objektif
Tes adalah serentetan pertanyaan atau latihan serta alat lain yang
digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan intelegensi,
kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok.6
Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah
hasil belajar pada ranah kognitif. Bentuk tes yang digunakan dalam
penelitian ini adalah tes objektif yang berupa pilihan ganda. Masingmasing item pada soal pilihan ganda terdiri empat alternatif jawaban
dengan satu jawaban yang benar. Kisi-kisi instrumen penelitian ini dapat
dilihat pada tabel 3.2.
5
Riduwan, Belajar Mudah Penelitian untuk Guru-Karyawan dan Peneliti Pemula,
(Bandung: Alfabeta, 2006), h. 63.
6
Suharsimi Arikunto, Op.cit., h. 150.
35
Tabel 3.2
Kisi-kisi Instrumen Penelitian7
∑
Soal yang
digunakan
Aspek kognitif
No
Indikator
Sub konsep
1
2
Menjelaskan
struktur
dan
fungsi akar
morfologi akar,
anatomi
kar,
fungsi akar
Menjelaskan
struktur
dan
fungsi batang.
Anatomi
batang, fungsi
batang
C1
1*, 2,
C2
4*, 6, 8
C3
-
C4
3
C5
-
4
9, 17,
10*, 11*,
-
15*
-
5
18*
12, 13*,
-
19
23,
4
5*, 7*
14, 16,
3
Menjelaskan
struktur
dan
fungsi
daun
melalui
praktikum
dan
gambar.
4
Menjelaskan
sistem
transportasi pada
tumbuhan
5
Menjelaskan
struktur
dan
fungsi bunga
Jumlah
Morfologi
daun, anatomi
daun,
fungsi
daun
22*,
20, 21*,
Sistem
pengangkutan,
xylem, floem,
osmosis
29*,
28*, 31*,
30*,
32*, 33,
35
34
Struktur bunga,
fungsi bunga.
36, 38,
25*, 26,
24*,
27,
-
-
-
5
37*, 40
-
-
-
2
21
0
3
2
20
39*
14
Keterangan:
C1 : Ingatan (recalling)
C2 : Pemahaman (comprehension)
C3: Penerapan (application)
C4 : Analisis (analysis)
C5 : Sintesis (synthesis)8
Nomor soal yang bertanda bintang (*) adalah nomor soal yang digunakan
dalam penelitian berdasarkan hasil uji coba yang dilakukan.
F. Kalibrasi Instrumen
Sebelum dilakukan pengambilan data, terlebih dahulu instrumen yang
akan digunakan diuji pada kelompok siswa yang dianggap sudah mengikuti
7
Lampiran 7, h. 91
Suharsimi Arikunto, Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan Edisi Revisi, (Jakarta: Bumi Aksara,
2005),h. 117 – 120.
8
36
pembelajaran konsep struktur dan fungsi tubuh tumbuhan. Setelah itu
instrumen diukur tingkat validitas, reliabilitas, tingkat kesukaran, dan daya
pembeda sehingga dapat dipertimbangkan apakah instrumen tersebut dapat
dipakai atau tidak.
1. Uji validitas
Salah satu ciri tes itu baik adalah apabila tes itu dapat tepat
mengukur apa yang hendak diukur atau istilahnya valid atau shahih.
Validitas adalah suatu ukuran yang msenunjukkan tingkat-tingkat
kevalidan suatu instrumen. Instrumen yang valid mempunyai validitas
tinggi. Sebaliknya, instrumen yang kurang valid akan memiliki validitas
yang rendah.9 Untuk mengukur validitas soal dalam penelitian ini
menggunakan rumus korelasi point biserial.10 Rumus yang digunakan
adalah:
rpbis( i ) 
Xi  Xt
St
pi
qi
Keterangan:
rpbis (i)
: koefisien korelasi biserial antara skor butir soal nomor i dengan skor
total
Xi
: rata-rata skor total responden menjawab benar butir soal nomor i
Xt
: rata-rata skor total semua responden
St
: standar deviasi skor total semua responden
pi
: proporsi jawaban yang benar untuk butir nomor i
qi
: proporsi jawaban yang salah untuk butir nomor i
Namun dalam penelitian ini pengujian validitas alat ukur
dilakukan dengan menggunakan ANATES. Berdasarkan perhitungan uji
validitas maka dari 40 soal tes yang diuji cobakan pada kelas VIII terdapat 22
soal yang valid dan diberikan kepada sampel sebagai prestest dan post test,
yaitu soal nomor 1, 4, 5, 7, 8, 10, 11, 13, 15, 18, 21, 22, 24, 25, 28, 29, 30,
31, 32, 34, 37 dan 39 (lampiran)11
9
Suharsimi Arikunto, Op.Cit., h. 168.
Ahmad Sofyan, Tonih Feronika, Burhanudin Milama, Evaluasi Pembelajaran IPA
Berbasis Kompetensi, (Jakarta: UIN Press, 2006), h. 109-110.
11
Lampiran 10. Hal. 105
10
37
2. Uji Reliabilitas
Setelah melakukan uji validitas, langkah selanjutnya adalah dengan
melakukan pengukuran reliabilitas. Reliabilitas alat penilaian adalah
ketetapan alat tersebut dalam menilai apa yang dinilainya. Uji reliabilitas
untuk butir soal objektif dilakukan dengan rumus Kuder Richardson atau
yang dikenal dengan K-R 20, yaitu:12
X 
 X 

2
n 
 n   S   pq 
2

r11 = 

 , dengan S =
n
S2
 n  1 

2
2
Keterangan:
r11
: reliabilitas tes secara keseluruhan
p
: proporsi subjek yang menjawab item dengan benar
q
: proporsi subjek yang menjawab item dengan salah (q=1-p)
∑pq : jumlah hasil perkalian antara p dan q
n
: banyak item
S²
: standar deviasi dari tes
Kriteria validitas dan reliabilitas adalah sebagai berikut:
(a) Antara 0,80 sampai dengan 1,00 : sangat tinggi
(b) Antara 0,60 sampai dengan 0,80 : tinggi
(c) Antara 0,40 sampai dengan 0,60 : cukup
(d) Antara 0,20 sampai dengan 0,40 : rendah
(e) Antara 0,00 sampai dengan 0,20 : sangat rendah
Berdasarkan hasil perhitungan reliabilitas instrumen tes biologi
menggunakan ANATES, diperoleh informasi bahwa untuk n=40 reliabilitas
dari 22 soal yang telah diuji cobakan tergolong memiliki reliabilitas tinggi
yaitu 0,78 (lampiran)13.
3. Uji Tingkat Kesukaran
Bilangan yang menunjukan sukar atau mudahnya suatu soal
disebut indeks kesukaran. Untuk dapat mengukur tingkat kesukaran suatu
soal digunakan rumus:14
12
Suharsimi Arikunto, Op.Cit., h. 100-101.
Lampiran 10, hal. 105
14
Ahmad Sofyan dkk, Op.Cit., h. 103-104.
13
38
P=
B
N
Keterangan:
P
: Indeks kesukaran
B : Banyaknya siswa yang menjawab soal dengan benar
N : Jumlah seluruh siswa peserta tes
Klasifikasi Indeks Kesukaran:
0,00-0,25
: soal termasuk kategori sukar
0,26-0,75
: soal termasuk kategori sedang
0,76-1,00
: soal termasuk kategori mudah
Berdasarkan
hasil
perhitungan
tingkat
kesukaran
dengan
menggunakan ANATES, diperoleh soal kategori sukar berjumlah 3 yaitu
nomor 9, 11 dan 36. Soal kategori sedang berjumlah 26 yaitu nomor 1, 2,
5, 7, 8, 10, 13, 14, 15, 16, 17, 18, 19, 20, 21, 22, 25, 26, 27, 29, 32, 33, 34,
38, 39, dan 40. Soal kategori mudah berjumlah 10 yaitu nomor 3, 6, 12,
23, 24, 28, 30, 31, 35, dan 37. Soal kategori sangat mudah berjumlah 1
yaitu nomor 4
4. Daya Pembeda
Daya pembeda adalah kemampuan suatu soal untuk membedakan
antara siswa yang pandai dengan siswa yang berkemampuan rendah.
Untuk menentukan daya pembeda, maka digunakan rumus sebagai berikut:
D=
Keterangan:
J
= jumlah peserta tes
JA
= banyaknya jumlah peserta kelompok atas
JB
= banyaknya jumlah peserta kelompok bawah
BA
= banyaknya peserta kelompok atas yang menjawab soal itu dengan benar
BB = = banyaknya peserta kelompok bawah yang menjawab soal itu dengan benar
PA =
PB
= proporsi peserta kelompok atas yang menjawab soal benar
= proporsi peserta kelompok bawah yang menjawab soal benar
Klasifikasi harga daya pembeda (DP):
D : 0,00-0,20 = jelek (poor)
D : 0,20-0,40 = cukup (satisfactory)
39
D : 0,40-0,70 = baik (good)
D : 0,70-1,00 = baik sekali (excellent)
Berdasarkan hasil perhitungan daya pembeda masing-masing butir
soal dihitung menggunakan ANATES, diperoleh hasil daya pembeda
terendah sebesar 0,009 termasuk dalam jelek, dan tertinggi sebesar 0,54
termasuk dalam kategori baik.
G. Teknik Analisis Data
1. Uji prasyarat analisis data (uji normalitas)
a.
Uji kenormalan distribusi populasi
Uji normalitas data ini dilakukan untuk mengetahui apakah sampel
berdistribusi normal atau tidak. Uji kenormalan yang digunakan adalah
uji Liliefors.15
Lo = F(Zi) – S(Zi)
Keterangan:
Lo/Lobservasi
F(Zi)
S(Zi)
: peluang mutlak tesebar
: peluang angka baku
: proporsi angka baku
Kriteria pengujian:
Lhitung < Ltabel, data berdistribusi normal
Lhitung > Ltabel, data tidak berdistribusi normal
b.
Uji homogenitas varians
Uji homogenitas dilakukan untuk mengetahui perbedaan antara dua
keadaan atau populasi. Uji homogenitas yang digunakan adalah uji
Fisher.16 Dengan rumus yang digunakan yaitu:
F=
S1
2
S2
2

Varians terbesar
n  X 2  ( X ) 2
, di mana S 2 
Varians terkecil
n( N  1)
Keterangan:
F
: Homogenitas
S12
: varians besar
17
18
Sudjana, Metoda Statistika, (Bandung: Tarsito, 2001), h. 466.
Sudjana, Ibid., h. 249-251.
40
S22
: varians terkecil
Adapun kriteria pengujiannya adalah:
1) Terima Ho jika harga Fhitung < Ftabel
2) Tolak Ho jika harga Fhitung > Ftabel = 0,05 dan derajat kebebasan
2. Analisis N-Gain
Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif. Untuk menghitung
peningkatan
pemahaman
atau
penguasaan
konsep
siswa
setelah
pembelajaran berlangsung digunakan rumus Normalized Gain oleh
Meltzer, sebagai berikut:17
N-Gain =
( skor posttest  skor pretest )
( skorideal  skorpretest )
Menurut Hake Gain skor ternormalisasi menunjukan tingkat
efektivitas perlakuan dari pada perolehan skor atau postes. Terdapat tiga
kategorisasi perolehan skor gain ternormalisasi:
g-tinggi : nilai (<g>)>0,7
g-sedang: nilai 0,7 e”(<g>)e”0,3
g-rendah : nilai (<g>)<0,318
3. Uji Hipotesis
Uji hipotesis penelitian ini dengan menggunakan uji t. Uji t
digunakan untuk mengetahui adanya pengaruh contextual teaching and
learning terhadap hasil belajar biologi siswa. Rumus Uji t:19
a.
Menentukan hipotesis.
Ho = µ1 = µ2
Ha = µ1 > µ2
19
Meltzer E. David, The Relationship between mathematics preparation and conceptual
learning gains in physics: a possible hidden variable in diagnostic pretest scores. Tersedia di
http://www.physicseducation.net/docs/Addendum_on_normalized_gain.pdf . (23 Juni 2011).
20
Richard R. Hake, Analyzing Change/Gain Scores, American Educational Research
Association’s Division, Measurrement and Research Methodology, 1999, h. 1
21
Sudjana, Op.Cit., h.239.
41
b. Menentukan 
Taraf signifikansi yang digunakan adalah 0,05.
c. Menentukan kriteria penerimaan hipotesis
Kriterianya: Ho diterima, jika thitung < ttabel
Ha diterima, jika thitung > ttabel
d. Menentukan thitung
Jika berdasarkan uji kesamaan varians, ditunjukkan bahwa kedua
kelompok mempunyai varians yang sama maka untuk pengujian
hipotesis ini digunakan rumus:
thitung=
X1  X 2
1 1
S

n1 n2
(n1  1) s1  (n2  1) s 2
n1  n2  2
2
dengan S =
2
Keterangan:
X 1 : rata-rata posttest kelas eksperimen
X 2 : rata-rata posttest kelas kontrol
S12 : variansi kelas eksperimen
S22 : variansi kelas kontrol
n1 : jumlah siswa kelas eksperimen
n2 : jumlah siswa kelas kontrol
4. Hipotesis Statistik
Secara statistik hipotesis dinyatakan sebagai berikut:
Ho : µ1 = µ2
Ha : µ1 > µ2
Keterangan:
Hipotesis nihil (Ho)
: Tidak terdapat perbedaan hasil belajar siswa
Hipotesis alternatif (Ha) : Terdapat perbedaan hasil belajar siswa
µ1
µ2
: Rata-rata hasil belajar biologi siswa yang menggunakan
pendekatan CTL.
: Rata-rata hasil belajar biologi siswa yang menggunakan metode
ceramah
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
1.
Data Pretest
Berdasarkan data yang diperoleh melalui tes yang berbentuk soal
pilihan ganda sebanyak 20 butir, nilai pretest kelas eksperimen memiliki
rentang atau sebaran 25 dengan nilai tertinggi 55, nilai terendah 30, dan
standar deviasi 9,00 dengan banyaknya kelas 6 dan panjang kelas 5 sehingga
diperoleh skor rata-rata 43, 67.1 Sedangkan data yang diperoleh berdasarkan
nilai pretest kelas kontrol memiliki rentang atau sebaran 20 dengan nilai
tertinggi yaitu 50, nilai terendah 30, dan standar deviasi 7, 35 dengan
banyaknya kelas 6 dan panjang kelas 4 sehingga diperoleh skor rata – rata 40,
50.2 Data tersebut disajikan dalam bentuk tabel 4.1.
Tabel 4.1
Hasil Belajar Pretest Kelas Eksperimen dan Kontrol
1.
Nilai tertinggi
Pretest
Eksperimen
55
2.
Nilai terendah
30
30
3.
Rata-rata
43, 67
40,50
4.
Standar Deviasi
9,00
7,35
No.
Nilai
Pretest
Kontrol
50
Berdasarkan data diatas dapat dilihat bahwa terdapat perbedaan
pretest hasil belajar biologi siswa pada kedua kelompok, antara kelompok
eksperimen maupun kelompok kontrol.
1
2
Lampiran 15, h. 112
Lampiran 19, h.120
42
43
2.
Data Posttest
Data yang diperoleh melalui tes yang berbentuk soal pilihan ganda
sebanyak 20 butir, nilai posttest kelas eksperimen memiliki rentang atau
sebaran 35 dengan nilai tertinggi yaitu 75, nilai terendah 40, dan standar
deviasi 11, 23 dengan banyaknya kelas 6 dan panjang kelas 6 sehingga
diperoleh skor rata–rata 59.17.3 Sedangkan data yang diperoleh berdasarkan
nilai posttest kelas kontrol memiliki rentang atau sebaran 40 dengan nilai
tertinggi 65, nilai terendah 25, dan standar deviasi 12,76 dengan banyaknya
kelas 6 dan panjang kelas 7 sehingga diperoleh skor rata – rata 46,004 Data
tersebut disajikan dalam bentuk tabel 4.2.
Tabel 4.2
Hasil Posttest Kelas Eksperimen dan Kontrol
No.
1.
2.
3.
4.
Nilai
Nilai tertinggi
Nilai terendah
Rata-rata
Standar Deviasi
Posttest
Eksperimen
75
40
59.17
11,23
Posttest
Kontrol
65
25
46, 00
12, 76
Hasil posttest menunjukkan bahwa kelompok eksperimen yang
diajarkan menggunakan pendekatan contextual teaching and learning
memiliki hasil belajar lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol yang
diajarkan dengan metode ceramah.
3.
Hasil Data N-gain
Hasil N-gain pada kelas eksperimen termasuk dalam kategori rendah
yaitu sebesar 0,28. Siswa yang mempunyai nilai dengan kategori tinggi
sebanyak 0 siswa, sedang sebanyak 12 siswa dan rendah sebanyak 18 siswa.5
Begitupula N-gain pada kelas kontrol termasuk dalam kategori rendah yaitu
3
4
5
Lampiran 17, h. 116
Lampiran 21, h. 124
Lampiran 13, h. 110
44
sebesar 0,14. Siswa yang mempunyai nilai dengan kategori tinggi sebanyak 0
siswa, sedang sebanyak 5 siswa dan rendah sebanyak 25 siswa.6 Adapun
kategorisasi N-gain kelas eksperimen dan kontrol disajikan dalam bentuk
tabel 4.3.
Tabel 4.3
Kategorisasi N-gain Kelas Eksperimen dan Kontrol
Kategorisasi
Tinggi
Sedang
Rendah
Jumlah
4.
Frekuensi
Eksperimen
0
12
18
30
Frekuensi
Kontrol
0
5
25
30
Hasil Nilai LKS
Hasil nilai lembar kerja siswa pada kelas eksperimen dan kelas
kontrol terdapat perbedaan hasil yang tidak terlalu jauh.
Hasil nilai LKS pada kelas eksperimen termasuk dalam kategori
sedang. Pada LKS pertemuan pertama rata-rata nilai yang diperoleh siswa
yaitu sebesar 79,34. Pada LKS pertemuan kedua rata-rata nilai yang
diperoleh siswa yaitu 72,34. Terjadi penurunan sebesar 7 poin. Sedangkan
pada LKS pertemuan ketiga terjadi peningkatan dibandingkan nilai LKS
kedua yaitu rata-rata nilai yang diperoleh siswa sebesar 757.
Adapun hasil nilai LKS pada kelas kontrol pertemuan pertama ratarata nilai yang diperoleh siswa sebesar 59,7. Pada LKS pertemuan kedua ratarata nilai yang diperoleh siswa sebesar 70,45 terjadi peningkatan sebesar
10,75 poin. Sedangkan LKS pertemuan ketiga rata-rata nilai yang diperoleh
siswa sebesar 72,48, terjadi peningkatan sebesar 1,95 poin. Adapun
kategorisasi Nilai LKS kelas eksperimen dan kontrol disajikan dalam bentuk
tabel 4.4
6
Lampiran 14, h. 111
Lampiran 6, h. 89
8
Lampiran 6, h. 89
7
45
Tabel 4.4
Nilai LKS Kelas Eksperimen dan Kontrol
Pertemuan
I
II
III
Eksperimen
79,34
72,34
75
Kontrol
59,7
70,45
72,4
B. Analisis Data
Sebelum dilakukan pengujian hipotesis dengan menggunakan uji–t,
maka terlebih dahulu dilaksanakan pengujian prasyarat analisis data berupa
uji normalitas dan uji homogenitas.
1. Uji Normalitas
a. Hasil Uji Normalitas Pretest
Pengujian uji normalitas dilakukan terhadap dua buah data yaitu
data nilai pretest kelas VIII-A sebagai kelas eksperimen dan data nilai
pretest kelas VIII-C sebagai kelas kontrol. Untuk menguji normalitas
kedua data digunakan rumus Uji Liliefors. Perhitungan uji normalitas ini
disajikan pada lampiran.9 Berikut ini adalah hasil yang diperoleh dari
perhitungan tersebut.
Tabel 4.5
Hasil Perhitungan Uji Normalitas Pretest Uji Liliefors
α
Data
Nilai Pretest
0,05 kelas
eksperimen
Nilai Pretest
kelas kontrol
Jumlah
sampel
30
Lo
Ltabel
Kesimpulan
(Lhitung)
0,1601
0,161
Data normal
30
0,1382
0,161
Data normal
Nilai Ltabel diambil berdasarkan nilai pada tabel nilai kritis L untuk
uji liliefors pada taraf signifikansi 5%. Kolom keputusan dibuat didasarkan
9
Lampiran 16, h. 113 dan 121
46
pada ketentuan pengujian hipotesis normalitas, yaitu jika Lo (Lhitung) <
Ltabel maka dinyatakan data berdistribusi normal. Sebaliknya jika Lo
(Lhitung) > Ltabel maka data dinyatakan tidak berdistribusi normal. Pada
tabel tersebut terlihat bahwa pada nilai Lo (Lhitung) kedua data lebih kecil
dari nilai Ltabel, sehingga dinyatakan bahwa kedua data berdistribusi
normal.
b. Hasil Uji Normalitas Post test
Pengujian uji normalitas dilakukan terhadap dua buah data yaitu
data nilai posttest kelas VIII-A sebagai kelas eksperimen dan data nilai
posttest kelas VIII-C sebagai kelas kontrol. Untuk menguji normalitas
kedua data digunakan uji liliefors. Perhitungan uji normalitas ini disajikan
pada lampiran.10 Berikut ini adalah hasil yang diperoleh dari perhitungan
tersebut.
Tabel 4.6
Hasil Perhitungan Uji Normalitas Posttest Uji Liliefors
α
0,05
Data
Nilai Posttest
eksperimen
∑
Sampel
30
Lo
(Lhitung)
0,1143
Ltabel
Kesimpulan
0,161
Data normal
30
0,124
0,161
Data normal
Nilai Posttest
kontrol
Nilai Ltabel diambil berdasarkan nilai pada tabel nilai kritis L untuk
uji liliefors pada taraf signifikansi 5%. Kolom keputusan dibuat didasarkan
pada ketentuan pengujian hipotesis normalitas, yaitu jika Lo (Lhitung) <
Ltabel maka dinyatakan data berdistribusi normal. Sebaliknya jika Lo
(Lhitung) > Ltabel maka data dinyatakan tidak berdistribusi normal. Pada
tabel tersebut terlihat bahwa pada nilai Lo (Lhitung) kedua data lebih kecil
dari nilai Ltabel, sehingga
normal.
10
Lampiran 18, h. 117 dan 121
dinyatakan bahwa kedua data berdistribusi
47
2. Uji Homogenitas
a. Hasil Uji Homogenitas Pretest
Sama halnya yang dilakukan pada uji normalitas, uji homogenitas
juga diperlukan sebagai uji prasyarat analisis statistik terhadap kedua data
nilai pretest. Pengujian homogenitas terhadap kedua data menggunakan
Uji Fisher yang disajikan pada lampiran.11 Berikut ini adalah hasilnya.
Tabel 4.7
Hasil Perhitungan Uji Homogenitas Pretest
Data
Nilai Pretest
kelas
eksperimen
Nilai Pretest
kelas kontrol
Nilai
Varians
Nilai Fhitung
80,91
1,573
Nilai Ftabel Keputusan
1,85
Kedua data
homogen
51,42
Sama halnya dengan penentuan keputusan pada uji normalitas,
pada uji homogenitas juga didasarkan pada ketentuan pengujian hipotesis
homogenitas yaitu jika nilai Fhitung < Ftabel maka dinyatakan bahwa kedua
data memiliki varians yang homogen, sebaliknya jika Fhitung > Ftabel maka
dinyatakan bahwa kedua data tidak memiliki varians yang homogen. Hasil
perhitungan tersebut nilai Fhitung < Ftabel sehingga dinyatakan bahwa kedua
data memiliki varians yang homogen.
b. Hasil Uji Homogenitas Posttest
Sama halnya yang dilakukan pada uji normalitas, uji homogenitas
juga diperlukan sebagai uji prasyarat analisis statistik terhadap kedua data
nilai posttest. Pengujian homogenitas terhadap kedua data menggunakan
Uji Fisher yang disajikan pada lampiran.12 Berikut ini adalah hasilnya.
11
12
Lampiran 23, hal. 128
Ibid., h. 129
48
Tabel 4.8
Hasil Perhitungan Uji Homogenitas Posttest
Data
Nilai
Varians
Nilai Posttest
kelas
eksperimen
Nilai Posttest
kelas kontrol
Nilai Fhitung
Nilai Ftabel
Keputusan
1,035
1,85
Kedua data
homogen
144,99
150,99
Sama halnya dengan penentuan keputusan pada uji normalitas,
pada uji homogenitas juga didasarkan pada ketentuan pengujian hipotesis
homogenitas yaitu jika nilai Fhitung < Ftabel maka dinyatakan bahwa kedua
data memiliki varians yang homogen, sebaliknya jika Fhitung > Ftabel maka
dinyatakan bahwa kedua data tidak memiliki varians yang homogen.
Tampak bahwa hasil perhitungan tersebut nilai Fhitung < Ftabel sehingga
dinyatakan bahwa kedua data memiliki varians yang homogen.
C. Pengujian Hipotesis
Setelah melakukan uji normalitas dan uji homogenitas, diketahui
bahwa kedua kelas berdistribusi normal dan homogen, maka dari itu
pengujian hipotesis menggunakan “t” test. “t” test yang dilakukan
bertujuan untuk mengetahui pengaruh pendekatan contextual teaching and
learning terhadap hasil belajar biologi siswa. “t” test dilakukan dengan
membandingkan
posttest
pada
masing-masing
kelas.
Berdasarkan
pengujian hipotesis didapatkan bahwa terdapat pengaruh pendekatan
contextual teaching and learning terhadap hasil belajar biologi siswa.
Perolehan thitung berdasarkan pada hasil rata-rata posttest kedua
kelas baik eksperimen maupun kontrol. Rata-rata posttest kelas
eksperimen sebesar 59.17 dengan standar deviasi 11, 23, sedangkan kelas
kontrol sebesar 46,00 dengan standar deviasi 12, 76. Nilai dari standar
deviasi masing-masing kelas digabungkan dengan mencari standar deviasi
gabungan dengan hasil yaitu 24,26.
49
Tabel 4.9
Hasil Perhitungan Uji Hipotesis Posttest
Data
Nilai Pretest
kelas
ekspeimen
Nilai pretest
kelas kontrol
Nilai Posttest
kelas
eksperimen
Nilai Posttest
kelas kontrol
Nilai
Posttest
43, 67
Nilai thitung
1, 493
Nilai
ttabel
2,00
Keputusan
Ho diterima
4,244
2,00
Ha diterima
40,50
59, 17
46,00
Hasil perhitungan antara posttest kelas eksperimen dan kontrol
diperoleh thitung = 4,244 dengan dk (derajat kebebasan) sebesar 58 (30+30–
2). Sedangkan ttabel pada taraf signifikansi 0,05 sebesar 2,00. Dengan
demikian thitung lebih besar dari ttabel.. Hal ini menunjukkan Ha diterima,
artinya pendekatan contextual teaching and learning berpengaruh terhadap
hasil belajar biologi siswa.13
D. Pembahasan
Penelitian yang dilakukan diharapkan dapat membuktikan bahwa
pendekatan Contextual Teaching and Learning berpengaruh terhadap hasil
belajar biologi siswa. Hal ini dimungkinkan karena pendekatan CTL lebih
banyak
menekankan
kepada
cara
belajar
siswa
aktif
dengan
memperhatikan proses pencapaian hasil belajar. Tugas guru tidak lagi
memberikan pengetahuan, melainkan menyiapkan situasi yang menggiring
siswa untuk bertanya, mengamati, mengadakan eksperimen, serta
menemukan fakta dan konsep sendiri.
Penulis bertindak sebagai guru dalam pembelajaran di kelas
eksperimen dengan menggunakan pendekatan CTL adalah diawali dengan
membentuk kelompok kecil yang terdiri dari lima atau enam siswa yang
13
Lampiran 24, h. 130
50
telah dibuat oleh guru secara heterogen, menyampaikan materi dasar
mengenai konsep struktur dan fungsi tubuh tumbuhan oleh guru kepada
seluruh siswa, membagikan lembar kerja pada setiap kelompok, meminta
kelompok untuk mengadakan pengamatan sesuai petunjuk LKS, meminta
siswa untuk berdiskusi dengan kelompoknya dalam menjawab lembar
kerja siswa dan mengkomunikasikannya.
Adapun proses pembelajaran pada kelas kontrol, siswa juga
diberikan perlakuan dalam mengerjakan LKS di setiap pertemuannya,
hanya saja tidak melakukan berdiskusi kelompok dan hanya guru yang
menjadi sumber pembelajaran. Dimana guru hanya berperan sebagai
pengarah dalam membangun potensi siswa sedangkan siswa sebagai pusat
pembelajaran. Pembelajaran dengan menggunakan metode ceramah ada
kecenderungan siswa dituntut mengingat konsep bukan diajak melakukan
kegiatan untuk mendapatkan darimana konsep itu diperoleh, sehingga pada
akhirnya akan berpengaruh pada lama tidaknya penyimpanan pengetahuan
di dalam memori siswa.
Setelah kedua kelas diberi perlakuan yang berbeda, yang mana
kelas eksperimen diberi perlakuan dengan menggunakan pendekatan CTL
metode praktikum dan kelas kontrol diberikan perlakuan dengan
menggunakan metode ceramah, diperoleh hasil yang berbeda pada nilai
posttest maupun nilai LKS kedua kelas. Pada nilai posttest kelas
eksperimen yang diberi perlakuan dengan menggunakan pendekatan CTL
metode praktikum menunjukkan hasil yang lebih baik dibandingkan
dengan kelas kontrol yang diberi perlakuan dengan menggunakan metode
ceramah.
Perbedaan rata-rata hasil belajar biologi antara kedua kelas
menunjukkan bahwa pembelajaran dengan pendekatan CTL lebih baik
dibandingkan pembelajaran dengan metode ceramah. Karena berdasarkan
nilai rata-rata posttest siswa kelas eksperimen (59.17) lebih tinggi dari
pada nilai rata-rata posttest kelas kontrol (46,00), hal ini menunjukkan
adanya pengaruh pendekatan CTL terhadap hasil belajar biologi siswa,
51
sehingga pada kelas eksperimen hasil belajar lebih tinggi dibandingkan
dengan hasil belajar biologi siswa pada kelas kontrol.
Untuk nilai N-Gain, hanya 5 siswa (16%) pada kelas kontrol yang
tergolong sedang, sedangkan untuk kelas eksperimen hanya 12 siswa
(40%) yang tergolong kategori sedang. Walaupun kedua kelas ini N-Gain
kelas dalam kategori rendah. Dengan demikian lebih dari 50% siswa baik
kelas eksperimen maupun kelas kontrol tergolong dalam kategori Nilai NGain rendah. Rendahnya nilai N-Gain kelas kemungkinan dikarenakan
kemampuan siswa menerima proses pembelajaran yang baru masih terasa
asing, karena mereka terbiasa menggunakan pendekatan konvensional.
Sehingga kenaikan hasil belajar, masih dalam kategori rendah. Hal ini
sejalan dengan hasil nilai LKS pada kedua kelas (tabel 4.4). Pada kedua
kelas baik kelas kontrol maupun kelas eksperimen tidak menunjukkan
jarak yang terlalu jauh.
Sebelumnya telah dilakukan uji coba instrumen untuk melihat
validitas dan reabilitas. Perbedaan rata-rata hasil belajar biologi terjadi
pada kedua kelompok tersebut menunjukan bahwa pembelajaran yang
menggunakan pendekatan CTL lebih tinggi daripada pembelajaran
konvensional (ceramah). Hal tersebut didukung oleh pengamatan yang
telah dilakukan selama proses pembelajaran berlangsung. Selama proses
penelitian diperoleh beberapa informasi pertama, pembelajaran yang
menggunakan pendekatan CTL mengaktifkan siswa dibantu dengan cara
membangun keterkaitan (relevansi) antara pengetahuan baru dengan
kehidupan sehari-hari. Kedua, siswa secara langsung terlibat memecahkan
masalah yang diberikan. Ketiga, siswa diberi kesempatan bekerjasama
untuk membantu (mengajarkan) temannya satu sama lain sehingga terjadi
proses transfer pengetahuan, keterampilan dan sikap yang telah dimiliki.
Melalui proses interaksi saat pembelajaran dengan menggunakan
pendekatan CTL akan melatih siswa untuk mengembangkan kepekaan
sosialnya tanpa menghambat kemajuan dirinya sendiri karena siswa
memiliki lebih banyak kesempatan untuk meningkatkan komunikasi,
52
partisispasi, motivasi, kreativitas, kemampuan berfikir kritis dan
menghargai perbedaan. Kondisi seperti ini membuat siswa tidak merasa
jenuh dalam proses belajar, sehingga terjadi peningkatan terhadap minat
dan hasil belajar.
Faktor-faktor tersebut adalah komponen yang sesuai dengan
kebutuhan individual siswa dan dapat diperkirakan bahwa akan terjadi
pengaruh dalam menerapkan pendekatan pembelajaran CTL terhadap hasil
belajar biologi siswa. Hasil yang didapat sesuai dengan data yang ada
adalah dapat disimpulkan bahwa pembelajaran dengan menggunakan
pendekatan pembelajaran CTL dapat meningkatkan hasil belajar biologi
siswa dan hasil yang diperoleh lebih tinggi dibandingkan dengan yang
menggunakan pola pembelajaran konvensional.
Perbedaan hasil belajar antara kelas kontrol dengan kelas
eksperimen, selain ditunjang karena perbedaan perlakuan yang diberikan
juga disebabkan karena situasi pembelajaran dikelas kontrol sangat
monoton, hal tersebut karena hanya guru yang menjadi pusat informasi
sedangkan siswa hanya menerima informasi dari guru, sehingga
menyebabkan siswa mengantuk saat pembelajaran. Berbeda dengan kelas
eksperimen yang pembelajaran tidak hanya berpusat pada guru tetapi para
siswa juga ikut terlibat dalam berbagi informasi, hal ini mengakibatkan
siswa menjadi aktif dan suasana kelas tidak monoton sehingga
menimbulkan suasana pembelajaran yang aktif dan menyenangkan.
E. Keterbatasan Penelitian
Penulis menyadari penelitian ini belum sempurna. Karena
penelitian ini masih mempunyai beberapa keterbatasan diantaranya adalah
singkatnya waktu yang diberikan pihak sekolah selama penelitian ini
berlangsung dan siswa belum terbiasa dengan proses pembelajaran yang
berpusat pada mereka
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan data hasil penelitian yang ada, dapat dinyatakan
bahwa terdapat pengaruh pendekatan contextual teaching and learning
terhadap hasil belajar biologi siswa, dengan thitung > ttabel, yaitu 4, 244 >
2,00 dengan taraf 5%. Dengan demikian penelitian ini berhasil
membuktikan bahwa hasil belajar yang dicapai oleh siswa yang
direncanakan oleh guru dipengaruh oleh pendekatan contextual teaching
and learning.
B. Saran
Saran-saran
agar
proses
pembelajaran
dengan
pendekatan
contextual teaching and learning dapat berhasil dengan baik, yakni:
1. Manajemen waktu yang baik dalam penerapan setiap metode,
khususnya pendekatan contextual teaching and learning akan
memberikan dampak yang positif terhadap hasil belajar yang ingin
dicapai.
2. Pembelajaran pendekatan contextual teaching and learning ini dapat
dijadikan alternatif pendekatan pembelajaran biologi. Pendekatan
contextual teaching and learning akan lebih baik jika digunakan pada
konsep yang bersifat abstrak seperti konsep sel, jaringan, organ agar
siswa dapat menemukan sendiri konsep yang sedang dipelajari.
3. Hasil penelitian ini diharapkan dapat dipergunakan untuk melakukan
penelitian sejenis dalam pembelajaran yang berbeda.
53
DAFTAR PUSTAKA
Anwar, Syafri, dkk. Penilaian Otentik dalam PembelajaranKontekstual pada
Mata Pelajaran Geografi, dalam Jurnal Pembelajaran, Vol.27, No.01.
Arikunto, Suharsimi. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara),
2009, Cet.9.
________, Suharsimi. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik, (Jakarta:
Rineka Cipta), 2002.
Burhano, Raymond. Pendekatan Kontekstual pada Pembelajaran Matematika,
dalam Jurnal Guru Pembelajaran di Sekolah Dasar dan Menengah, Vol.2,
No.2, 2005.
Checep05, Pendekatan dan Metode Pembelajaran, dalam
http://smacepiring.wordpress.com/2008/02/19/pendekatan-dan-metodepembelajaran/, Tanggal akses (16 Juni 2011)
Dimyati. Mudiyono, Belajar dan Pembelajaran, (Jakarta: PT. Rineka Cipta),
2006, Cet. 3.
E. Meltzer, David, The Relationship between mathematics preparation and
conceptual learning gains in physics: a possible hidden variable in
diagnostic
pretest
scores.
Tersedia
di
http://www.physicseducation.net/docs/Addendum_on_normalized_gain.p
df . (23 Juni 2011).
Fathurrohman,Pupuh. Strategi Mewujudkan Pembelajaran Bermakna Melalui
Penanaman Konsep Umum dan Konsep Islami, (Bandung: PT. Refika
Aditama), Cet.1, 2007.
Feronika,Tonih. Buku Ajar Strategi pembelajaran Kimia, (Jakarta: Fakultas
Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah), 2008.
Hamalik, Oemar. Kurikulum dan Pembelajaran, (Jakarta: Bumi Aksara), 2008,
Cet.8.
Hartoyo,
Penerapan Model Pembelajaran Kontekstual Berbasis Kompetensi
untuk Meningkatkan Efektivitas Pembelajaran Jurusan pendidikan
E;ektro-FT Universitas Negeri Yogyakarta. Jurnal Kependidikan, Tahun
XXXIX, Nomor 1, Mei 2009.
54
55
I
Ketut Sudiana. Penerapan Pendekatan Kontekstual dengan Model
Pembelajaran Kooperatif pada Pembelajaran Kimia dan Pencemaran
Lingkungan. Jurnal Pendidikan dan Pengajaran UNDIKHA, No.2 Th
XXXX April 2007.
Kasiram, Moh. Metodologi Penelitian, (Malang: UIN Malang Press,) 2008
Made, I Sumadi, Pengaruh Penerapan Pendekatan Kontekstual Terhadap
Kemampuan Penalaran dan Komunikasi Matematika Siswa Kelas II
SLTP Negeri 6 Singaraja, dalam Jurnal Pendidikan dan Pengajaran IKIP
Negeri Singaraja, No.1, th.XXXVIII, 200
Martiningsih. Macam-Macam Metode Pembelajaran, tersedia di
http://martiningsih.blogspot.com/2007/12/macam-macam-metodepembelajaran.html. Tanggal akses (16 Juni 2011)
Massofa, Metode Ceramah tersedia di
http://massofa.wordpress.com/2008/07/13/metode-ceramah-dalampembelajaran/. Tanggal akses (16 Juni 2011)
Mulhayatiah, Diah. Model Pembelajaran Berbasis Masalah pada Pokok Bahasan
Gelombang dan Optik untuk Meningkatkan Penguasaan Konsep Siswa
Kelas 1 SMA, dalam Jurnal Edusains, Vol.1, No.1, Juni 2008.
Mundilarto, Pendekatan Kontekstual dalam Pembelajaran Sains, dalam
Cakrawala pendidikan, Jurnal Ilmiah Pendidikan, No.1, Th, XXIII, 2004.
Muslich, Masnur. KTSP Pembelajaran Berbasis Kompetensi dan Kontekstual,
(Jakarta: PT bumi aksara), 2008, Cet.4.
Muth’im, Abdul. Contextual Teaching and Learning as a Concept in Education,
dalam Vidya Karya, No. 2, Th XXI, 2003.
Nasution, S. Didaktik Asas-Asas Mengajar, (Jakarta: Bumi Aksara), 1995, Cet.1,
h.35
Nyoman, I Gita. Implementasi Pendekatan Kontekstual Berbantuan LKS untuk
meningkatkan Prestasi Belajar Matematika Siswa Kelas II SLTP Negeri
4 Singaraj. Jurnal Pendidikan dan Pengajaran IKIP Negeri Singaraja,
No.1 Th. XXXVIII Januari 2005.
Prisma, Rini Gusti, Upaya Peningkatan Pemahaman Konsep Biologi Melalui
Kontekstual dengan Model pembelajaran Berbasis Gambar (Picture and
Picture) pada Siswa Kelas XI SMA MUhammadiyah Kota Padang
Panjang, dalam Jurnal Guru, Vol 3, No. 1, Juli 2006.
R, Richard Hake, Analyzing Change/Gain Scores, American Educational
Research Association’s Division, Measurrement and Research
Methodology, 1999.
56
Riduwan, Belajar Mudah Penelitian untuk Guru-Karyawan dan Peneliti Pemula,
(Bandung: Alfabeta), 2006
Riyanto, Yatim. Paradigma Baru Pembelajaran, (Jakarta: Kencana), 2009, Cet.1
__________, Paradigma Baru Pembelajaran Sebagai Referensi Bagi Pendidik
dalam Implementasi Pembelajaran yang Efektif dan Berkualitas,
(Jakarta: Prenada Media), 2009, Cet. 1.
Saefudin, Udin. Inovasi Pendidikan, (Bandung: Alfabeta), Nov 2008, Cet. 1.
Sagala,Syaiful. Konsep dan Makna Pembelajaran, (Bandung: Alfabeta), 2010,
Cet.8.
Shaffat, Idris, Optimized Learning and Strategy. (Jakarta: Prestasi Pusaka), 2009,
Cet.1.
Shamsid-Deen, Ifraj. Contextual Teaching and Learning Practices in Family and
Consumer Sciences Curriculum, dalam Journal of Family and Consumer
Sciences Education, Vol.24, No.1, 2006.
Slameto, Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. (Jakarta: Rineka
Cipta), 2003, Cet.4.
Sofyan, Ahmad, et. Al, Evaluasi Pembelajaran IPA Berbasis Kompetensi,
(Jakarta: UIN Jakarta Press), 2006. Cet.1
Sudjana, Nana Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar, (Bandung: Sinar Baru
Algensindo), 2002, Cet.6.
Sudjana, Metoda Statistika. (Bandung: Tarsito, 1996), cet. 6, h. 466
Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan
R&D, (Bandung: Alfabeta) , 2007
Suhirman, Ketuntasan Belajar Melalui Pembelajaran Kontekstual Tipe
Kooperatif Pokok Bahasan Lingkungan Hidup di MAN 2 Mataram,
dalam Jurnal Kependidikan, Vol.4, No.2, 2005.
Sukiar. Penerapan Pendekatan Kontekstual dalam Meningkatkan Prestasi Belajar
IPA SDN Karang Besuki, kecamatan Sukun Malang, dalam Jurnal
Pendidikan Humaniora dan sains, (Malang :SDN Karang Besuki), No.1,
2004.
57
Sunardiyanto, Keefektifan Penggunaan Pendekatan Kontekstual Melalui
Pembelajaran Kooperatif Terhadap Keterampilan Berkomunikasi pada
Mata Pelajaran Biologi Kelas II SLTP Negeri 4 Palu, dalam Jurnal
Penelitian Kependidikan, No. 1 Th.XIV, 2004.
Sutini. Metode Ceramah , tersedia di
http://www.scribd.com/doc/27644307/Metode-Ceramah. Tanggal akses
(16 Juni 2011)
Syafir, M. Metode Ceramah, tersedia di
http://www.syafir.com/2011/01/08/metode-ceramah. Tanggal akses (16
Juni 1011)
Syah, Muhibbin. Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru, (Bandung: PT
Remaja Rosda Karya), 2002, cet ke-7.
Triyanto. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif, (Jakarta: Kencana
Predana Media Group), 2009.
Wasis, Contextual Teaching and Learning (CTL) dalam Pembelajaran SainsFisika SMP dalam cakrawala pendidikan, Jurnal ilmiah Pendidikan, Vol.
25, No.1, 2006.
Y, Nuryani Rustaman dkk, Strategi Belajar Mengajar Biologi, (Malang:
Universitas Negeri Malang), 2005, Cet.I.
Zahara, Tengku Djaafar, Kontribusi Strategi Pembelajaran Terhadap Hasil
Belajar, (Jakarta: Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas negeri Padang),
2001
Zulfiani. Bahan Perkuliahan Perencanaan dan Strategi Pembelajaran Biologi.
(Jakarta: UIN), 2009.
58
LAMPIRAN I
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)
Kelas Eksperimen
Mata Pelajaran
Kelas/Semester
Pertemuan
Alokasi waktu
: IPA Biologi
: VIII/1
:1
: 2 x 40 menit (1 kali pertemuan)
Standar Kompetensi
Memahami sistem dalam kehidupan tumbuhan.
Kompetensi Dasar
Mengidentifikasi struktur dan fungsi jaringan tumbuhan.
Indikator
1. Menjelaskan organ pada tumbuhan.
2. Menjelaskan struktur anatomi dan morfologi akar.
3. Menjelaskan fungsi akar.
4. Menjelaskan struktur anatomi dan morfologi batang.
5. Menjelaskan fungsi batang.
A.
Tujuan Pembelajaran
1. Siswa dapat mengetahui organ yang dimiliki tumbuhan.
2. Siswa dapat mendeskripsikan struktur anatomi dan morfologi akar.
3. Siswa dapat membedakan akar tumbuhan dikotil dan akar tumbuhan monokotil melalui
percobaan.
4. Siswa dapat mengetahui fungsi akar.
5. Siswa dapat mendeskripsikan struktur anatomi dan morfologi batang.
6. Siswa dapat membedakan batang tumbuhan dikotil dan monokotil.
7. Siswa dapat mengetahui fungsi batang.
B. Materi Pembelajaran
- Akar
Akar merupakan organ penting tumbuhan. Selain berfungsi sebagai alat melekat tumbuhan
di tempat hidupnya, akar merupakan organ untuk penyerapan air dan mineral dari tanah. Pada
beberapa jenis tumbuhan, akar mempunyai fungsi antara lain, misalnya sebagai alat untuk pertukaran
udara seperti pada beringin, sebagai tempat penyimpanan cadangan makanan seperti pada singkong,
lobak dan wortel.
Struktur morfologi luar akar terdiri dari rambut akar yang berfungsi memperluas bidang
penyerapan akar, kaliptra (tudung akar) yang berfungsi sebagai sarung pelindung akar dan meristem
apikal. Sedangkan struktur anatominya tersusun atasa bagian epidermis, korteks, endodermis dan
silinder pusat.
- Batang
Batang merupakan organ tumbuhan yang berfungsi sebagai pengangkut bahan makanan
dan air serta pengangkut hasil fotosintesis. Selain itu akar juga berfungsi sebagai tempat cadangan
makanan seperti pada tumbuhan tebu.
Struktur batang bila diiris secara melintang dari luar ke dalam akan yaitu terdidi dari
epidermis, korteks, silinder pusat.
59
C. Metode Pembelajaran
Pendekatan : CTL
Metode
: Praktikum dan diskusi
D. Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran
Tahapan
Kegiatan
Pendahul
uan
Kegiatan
Inti
Tahapan CTL
1. Guru memusatkan perhatian
siswa dengan mengecek
kehadiran
2. Guru menyampaikan tujuan
pembelajaran yang ingin dicapai.
Learning
community
Construktivism
dan
Questioning
Modelling
Inquiry
Authentic
Assessment
Reflection
Penutup
Aktivitas Guru
3. Guru memberikan apersepsi
tentang organ tumbuhan dengan
bertanya:
a. Apa saja organ yang dimiliki
tumbuhan?
b. Apakah semua tumbuhan
mempunyai organ yang sama?
4. Guru membagi siswa ke dalam
kelompok yang heterogen.
5. Guru membangun pengetahuan
awal siswa dengan bertanya :
-apa saja bagian-bagian akar?
6. Guru menjelaskan materi tentang
batang
7.Guru mengajak siswa melakukan
praktikum di laboratorium tentang
akar tumbuhan
8. Guru menjelaskan langkahlangkah kerja
9. Guru mengawasi tiap kelompok
secara bergiliran.
10. Guru membimbing siswa
membuat laporan
11. Guru mengarahkan siswa untuk
menyimpulkan hasil pengamatan
12. Guru menyimpulkan materi
akar dan batang bersama siswa.
13. Guru mengevaluasi
pembelajaran
Aktivitas Siswa
1. Siswa merespon
panggilan guru.
Alokasi
Waktu
5
menit
2. Siswa mendengarkan
tujuan pembelajaran
yang disampaikan guru
3. Siswa mendengarkan
dan menjawab
pertanyaan yang
diberikan oleh guru.
4. Siswa bergabung
dengan kelompoknya.
70 menit
5. Siswa menjawab
pertanyaan guru
6. Siswa menyimak
penjelasan guru
7. Siswa melakukan
pengamatan di
laboratorium.
8. Siswa memperhatikan
guru
9. Siswa melakukan
kegiatan dengan
petunjuk dari LKS
10. Siswa membuat
laporan tertulis
11. Siswa menyimpulkan
hasil pengamatan.
12. Siswa menyimpulkan
bersama guru.
5 menit
13. Siswa menjawab
pertanyaan guru
E. Media dan Sumber Belajar
- Buku IPA, belajar IPA membuka cakrawala alam sekitar untuk kelas VIII SMP/Mts, penerbit
pusat perbukuan Departemen Pendidikan Nasional, tahun 2008, h. 92-93
60
F. Penilaian
1. Jelaskan struktur organ akar dan fungsi nya!
2. Bedakan akar dikotil dan monokotil
3. Jelaskan struktur batang dan fungsinya!
4. Bedakan batang monokotil dan dikotil!
Kunci
1. Struktur morfologi akar terdiri dari :
a. Rambut akar yang berfungsi memperluas bidang permukaan akar
b. Kaliptra (tudung akar) berfungsi sebagai sarung pelindung akar
c. Meristem apical merupakan bagian ujung akar yang berfungsi sebagai titik awal pertumbuhan
akar
Struktur anatomi akar terdiri dari :
a. Epidermis berfungsi untuk melindungi jaringan yang ada di bawahnya
b. Korteks berfungsi sebagai tenpat penyimpanan cadangan makanan
c. Endodermis berfungsi mengatur jalannya air dan mineral dari korteks ke silinder pusat.
d. Silinder pusat berfungsi dalam proses pengangkutan di akar
2. Perbedaan akar monokotil dan dikotil
Dikotil
Monokotil
Merupakan akar tunggang
Merupakan akar serabut
Akarnya berasal dari akar lembaga yang tumbuh Akarnya tumbuh dari pangkal batang setelah
terus menerus menjadi akar primer (akar pokok) akar lembaga (embrio) mati
3. Struktur batang bila diiris melintang dari luar ke dalam antara lain :
a. Epidermis, berfungsi sebagai melindungi jaringan di sebelah dalamnya
b. Korteks, berfungsi sebagai tempat cadangan makanan
c. Endodermis, berfungsi sebagai mengatur masuknya zat ke dalam silinder pusat
d. Silinder pusat berfungsi dalam proses pengangkutan di batang
4. Perbedaan batang dikotil dan monokotil
Dikotil
Monokotil
Memiliki kambium, sehingga batangnya dapat Tidak memiliki kambium, sehingga batangnya
tumbuh besar
tidak bisa tumbuh besar
Jaringan pengangkutnya tersusun rapi
Jaringan penganngkutnya tersebar
Jakarta, Oktober 2011
Guru Bidang Studi
Peneliti
(Elyza Sovyana, SP. SPd)
NIP :
(Yolanda. FK)
NIP : 106016100568
61
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)
Kelas Eksperimen
Mata Pelajaran
Kelas/Semester
Pertemuan
Alokasi waktu
: IPA Biologi
: VIII / 1
:2
: 1 x 40 menit (1 kali pertemuan)
Standar Kompetensi
Memahami sistem dalam kehidupan tumbuhan.
Kompetensi Dasar
Mengidentifikasi struktur dan fungsi jaringan tumbuhan
Indikator
1. Menjelaskan jaringan-jaringan pada tumbuhan
2. Menjelaskan pengangkutan air pada tumbuhan
Tujuan Pembelajaran
1. Siswa dapat mengetahui jaringan-jaringan pada tumbuhan
2. Siswa dapat menggambar jaringan pada tumbuhan
3. Siswa dapat menyebutkan faktor-faktor yang mempengaruhi naiknya air ke daun
B. Materi Pembelajaran
- Jaringan tumbuhan
Beberapa jaringan pada tumbuhan diantaranya yaitu jaringan meristem, jaringan pelindung,
jaringan pengangkut, jaringan penyokong dan jaringan dasar
- Pengangkutan air pada tumbuhan
1. Penyerapan air dari tanah ke akar.
Air dan mineral masuk ke akar ada yang melalui bulu-bulu akar dan ada juga yang melalui
dinding akar. Air dan mineral masuk melalui bulu akar akan langsung masuk ke pembuluh kayu
(xylem).
2. Pengangkutan air dari akar menuju daun
Faktor-faktor yang mempengaruhi air dan mineral masuk ke daun yaitu kapilaritas batang,
dayaya isap daun dan tekanan akar.
C. Metode Pembelajaran
Pendekatan : CTL
Metode
: Praktikum dan Diskusi
D. Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran
Tahapan
Kegiatan
Pendahuluan
Tahapan CTL
Aktivitas Guru
1. Guru memusatkan perhatian
siswa dengan mengecek
kehadiran
2. Guru menyampaikan tujuan
Aktivitas Siswa
1. Siswa merespon panggilan
guru.
2. Siswa mendengarkan
Alokasi
Waktu
5
menit
62
pembelajaran yang ingin
dicapai.
3. Guru memberikan apersepsi
dengan bertanya:
a. Apa yang dimaksud dengan
jaringan?
b. Bagaimana cara makanan di
edarkan dari daun ke organ
lain? Apa jaringan yang
bertugas untuk itu?
4. Guru menghubungkan materi
sebelumnya dengan materi
yang akan diberikan.
5. Guru meminta siswa untuk
bergabung dengan
kelompoknya.
Kegiatan
Inti
Modelling
Learning
Community
dan inquiry
Penutup
4. Siswa mendengarkan.
5. Siswa bergabung dengan
kelompoknya.
6. Guru mengajak siswa
6. Siswa melakukan
melakukan praktikum tentang
praktikum
jaringan pada tumbuhan
7. Guru menjelaskan langkah7. Siswa mendengarkan
langkah praktikum
penjelasan guru
8. Guru mengamati dan
8. Siswa melakukan
mengarahkan setiap siswa
praktikum dan
untuk bekerjasama dengan
bekerjasama dengan
kelompoknya dalam melakukan
kelompoknya
praktikum.
Constructivism 9. Guru bertanya kepada siswa :
dan questioning
“Bagaimana proses air naik
dari akar menuju ke daun?”
Authentic
10. Guru mengarahkan siswa
Assessment
untuk membuat laporan.
Reflection
tujuan pembelajaran yang
disampaikan guru
3. Siswa mendengarkan dan
menjawab pertanyaan yang
diberikan oleh guru.
70
menit
9. Siswa menjawab
pertanyaan guru
10. Siswa mengerjakan
laporan
11. Guru menyimpulkan hasil
praktikum dengan siswa.
11. Siswa menyimpulkan
bersama guru.
12. Guru menyimpulkan materi
bersama siswa.
13. Guru melakukan evaluasi
12. Siswa menyimpulkan
bersama guru
13. Siswa menjawab
5 menit
E. Media dan Sumber Belajar
- Buku IPA, belajar IPA membuka cakrawala alam sekitar untuk kelas VIII SMP/Mts, penerbit
pusat perbukuan Departemen Pendidikan Nasional, tahun 2008, h. 97-99
F. Penilaian Hasil Belajar
1. Sebutkan macam-macam jaringan pada tumbuhan dan fungsinya!
2. Sebutkan faktor-faktor yang mempengaruhi naiknya air ke daun!
63
Kunci
1. Macam jaringan pada tumbuhan yaitu antara lain :
a. Jaringan meristem
Merupakan jaringan muda yang selnya aktif membelah diri untuk membentuk struktur primer
pada tumbuhan. Jaringan ini terdapat pada bagian ujung batang dan ujung akar
b. Jaringan pelindung
Disebut juga epidermis, yang berfungsi melindungi jaringan di bawahnya
c. Jaringan pengangkut
Berfungsi untuk mengangkut zat-zat yang ada dalam tumbuhan. Jaringan ini terdiri atas xylem
dan floem.
d. Jaringan penyokong
Berfungsi sebagai penguat/ penyokong tumbuhan
e. Jaringan dasar
Atau jaringan parenkim mengisi ruang antar jaringan.
2. Faktor-faktor yang mempengaruhi naiknya air ke daun yaitu :
a. Daya isap daun
b. Tekanan akar
c. Kapilaritas batang
Jakarta, Oktober 2011
Guru Bidang Studi
Peneliti
(Elyza Sovyana, SP. SPd)
NIP :
(Yolanda. FK)
NIP : 106016100568
64
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)
Kelas Eksperimen
Mata Pelajaran
Kelas/Semester
Pertemuan
Alokasi waktu
: IPA Biologi
: VIII/ 1
:3
: 2 x 40 menit (1 kali pertemuan)
Standar Kompetensi
Memahami sistem dalam kehidupan tumbuhan.
Kompetensi Dasar
Mengidentifikasi struktur dan fungsi jaringan tumbuhan
Indikator
b. Menjelaskan struktur anatomi dan morfologi daun
c. Menjelaskan fungsi daun.
d. Menjelaskan morfologi bunga
e. Menjelaskan fungsi bunga.
A. Tujuan Pembelajaran
1. Siswa dapat mengetahui struktur anatomi dan morfologi daun
2. Siswa dapat membedakan daun tumbuhan dikotil dan monokotil.
3. Siswa dapat menyebutkan fungsi daun
4. Siswa dapat menyebutkan bagian-bagian bunga
5. Siswa dapat menyebutkan fungsi bunga
B. Materi Pembelajaran
- Daun
Daun merupakan organ tumbuhan yang berfungsi sebagai tempat pembuatan makanan
melalui proses fotosintesis, sebagai tempat pertukaran gas melalui stomata yang terdapat pada
permukaan daun .
Adapun struktur morfologi daun yaitu daun lengkap terdiri dari pelepah daun, tangkai daun
dan helaian daun. Bentuk daun beraneka ragam, ada yang oval, bulat, pipih, dan lainnya. Sedangkan
struktur anatomi daun terdiri dari epidermis, dimana di epidermis terdapat stomata yang berfungsi
sebagai tempat pertukaran gas. Selain epidermis di daun terdapat jaringan tiang (palisade) merupakan
tempat berlangsungnya fotosintesis, jaringan bunga karang (spons) merupakan tempat cadangan
makanan, dan jaringan pengangkut yang terdiri dari xylem dan floem.
- Bunga
Bunga berfungsi sebagai alat perkembangbiakan generatif pada tumbuhan karena di dalam
bunga terdapat alat perkembangbiakan jantan dan betina. Selain itu bunga juga berfungsi sebagai alat
penarik perhatian serangga untuk membantu penyerbukan.
Bunga yang lengkap memiliki bagian-bagian seperti kelopak bunga, mahkota bunga, benang
sari, dan putik.
C. Metode Pembelajaran
Pendekatan : CTL
Metode
: Praktikum dan diskusi.
65
D. Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran
Tahapan
Kegiatan
Pendahulua
n
Kegiatan
Inti
Penutup
Tahapan CTL
Aktivitas Guru
1. Guru memusatkan perhatian
siswa dengan mengecek
kehadiran.
2. Guru menyampaikan tujuan
pembelajaran yang ingin
dicapai.
3. Guru memberikan apersepsi
dengan bertanya:
a. Mengapa daun berwarna
hijau? Zat apa yang
terkandung di daun
sehingga daun berwarna
hijau?
b. Apakah ada daun yang
tidak berwarna hijau?
4. Guru menghubungkan materi
sebelumnya dengan materi
yang akan diberikan.
5. Guru meminta siswa untuk
bergabung dengan
kelompoknya.
6. Guru mengajak siswa
melakukan praktikum tentang
daun
Modeling
7. Guru menjelaskan langkahlanglah praktikum
Contructivism 8. Guru bertanya kepada siswa :
dan questioning
”mengapa lebah senang
hinggap di bunga? Apa yang
menyebabkan itu terjadi? Apa
yang dimiliki bunga sehingga
lebah tertarik hinggap di
Learning
bunga?”
Community
9. Guru mengamati jalannya
dan Inquiry
praktikum
Aktivitas Siswa
1. Siswa merespon
panggilan guru.
Alokasi
Waktu
5
menit
2. Siswa mendengarkan
tujuan pembelajaran
yang disampaikan guru
3. Siswa mendengarkan
dan menjawab
pertanyaan yang
diberikan oleh guru.
4. Siswa mendengarkan
5. Siswa bergabung dengan
kelompoknya.
6. Siswa mempersiapkan
alat dan bahan
70
menit
7. Siswa menyimak
penjelasan guru
8. Siswa menjawab
pertanyaan guru
Authentic
Assessment
10. Guru membimbing siswa
untuk membuat laporan
9. Siswa melakukan
praktikum bersama
kelompoknya
10. Siswa mengerjakan
LKS
Reflection
11. Guru bersama siswa
menyimpulkan hasil
praktikum
12. Guru menyimpulkan materi
daun dan bunga
13. Guru melakukan evaluasi
11. Siswa menyimpulkan
hasil diskusi bersama
guru
12. Siswa memperhatikan
penjelasan guru.
13. Siswa menjawab
5 menit
E. Media dan Sumber Belajar
- Buku IPA, belajar IPA membuka cakrawala alam sekitar untuk kelas VIII SMP/Mts, penerbit
pusat perbukuan Departemen Pendidikan Nasional, tahun 2008, h. 94-96
66
F. Penilaian Hasil Belajar
1. Sebutkan struktur anatomi daun dan fungsinya!
2. Jelaskan struktur morfologi daun lengkap!
3. Sebutkan fungsi daun!
4. Sebutkan bagian-bagian bunga dan fungsinya!
5. Sebutkan fungsi bunga!
Kunci
1. Struktur anatomi daun beserta fungsinya :
a. Epidermis berfungsi sebagai melindungi jaringan di dalamnya dan tempat menempelnya
stomata yang berfungsi sebagai tempat pertukaran gas.
b. Jaringan tiang (palisade) merupakan tempat berlangsungnya fotosintesis,
c. Jaringan bunga karang (spons) merupakan tempat cadangan makanan,
d. Jaringan pengangkut yang terdiri dari xylem dan floem.
2. Adapun struktur morfologi daun yaitu daun lengkap terdiri dari pelepah daun, tangkai daun dan
helaian daun
3. Fungsi daun :
a. Sebagai tempat pembuatan makanan melalui proses fotosintesis
b. Sebagai tempat pertukaran gas, melalui stomata yang terdapat pada permukaan daun.
4. Bagian-bagian bunga dan fungsinya yaitu :
a. Kelopak bunga (calyx) berfungsi melindungi bunga pada waktu belum mekar (masih kuncup)
b. Mahkota bunga (corolla) berfungsi mernarik perhatian serangga untuk membantu proses
penyerbukan
c. Benang sari (stamen) berfungsi sebagai alat kelamin jantan
d. Putik (pistilum) berfungsi sebagai alat kelamin betina
5. Fungsi bunga yaitu :
a. Sebagai alat perkembangbiakan generatif
b. Sebagai perhiasan, yaitu alat penarik perhatian serangga.
Jakarta, Oktober 2011
Guru Bidang Studi
Peneliti
(Elyza Sovyana, SP. SPd)
NIP :
(Yolanda. FK)
NIP : 106016100568
67
LAMPIRAN 2
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)
Kelas Kontrol
Mata Pelajaran
Kelas/Semester
Pertemuan
Alokasi waktu
: IPA Biologi
: VIII/ 1
:1
: 2 x 40 menit (1 kali pertemuan)
Standar Kompetensi
Memahami sistem dalam kehidupan tumbuhan.
Kompetensi Dasar
Mengidentifikasi struktur dan fungsi jaringan tumbuhan.
Indikator
1.
2.
3.
4.
5.
Menjelaskan organ pada tumbuhan
Menjelaskan struktur anatomi dan morfologi akar
Menjelaskan fungsi akar
Menjelaskan struktur anatomi dan morfologi batang
Menjelaskan fungsi batang.
A. Tujuan Pembelajaran
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
Siswa dapat mengetahui organ yang dimiliki tumbuhan.
Siswa dapat mendeskripsikan struktur anatomi dan morfologi akar
Siswa dapat membedakan akar tumbuhan dikotil dan akar tumbuhan monokotil.
Siswa dapat mengetahui fungsi akar.
Siswa dapat mendeskripsikan struktur anatomi dan morfologi batang
Siswa dapat membedakan batang tumbuhan dikotil dan monokotil
Siswa dapat mengetahui fungsi batang
B. Materi Pengajaran
- Akar
Akar merupakan organ penting tumbuhan. Selain berfungsi sebagai alat melekat tumbuhan
di tempat hidupnya, akar merupakan organ untuk penyerapan air dan mineral dari tanah. Pada
beberapa jenis tumbuhan, akar mempunyai fungsi antara lain, misalnya sebagai alat untuk pertukaran
udara seperti pada beringin, sebagai tempat penyimpanan cadangan makanan seperti pada singkong,
lobak dan wortel.
Struktur morfologi luar akar terdiri dari rambut akar yang berfungsi memperluas bidang
penyerapan akar, kaliptra (tudung akar) yang berfungsi sebagai sarung pelindung akar dan meristem
apical. Sedangkan struktur anatominya tersusun atasa bagian epidermis, korteks, endodermis dan
silinder pusat.
68
- Batang
Batang merupakan organ tumbuhan yang berfungsi sebagai pengangkut bahan makanan
dan air serta pengangkut hasil fotosintesis. Selain itu akar juga berfungsi sebagai tempat cadangan
makanan seperti pada tumbuhan tebu. Struktur batang bila diiris secara melintang dari luar ke
dalam akan yaitu terdidi dari epidermis, korteks, silinder pusat
C. Metode Pembelajaran
Pendekatan: Konvensional
Metode : Ceramah
D. Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran
Tahapan
Deskripsi Pembelajaran
kegiatan
Aktifitas Guru
Pendahuluan
1. Guru memusatkan perhatian
siswa dengan mengecek
kehadiran
2. Guru menyampaikan tujuan
pembelajaran yang ingin
dicapai.
3. Guru memberikan apersepsi
dengan bertanya:
c. Apa saja organ yang dimiliki
tumbuhan?
d. Apakah semua tumbuhan
mempunyai organ yang sama?
4. Guru menjelaskan organ yang
dimiliki tumbuhan.
5. Guru menjelaskan anatomi dan
morfologi akar
6. Guru menjelaskan perbedaan
akar monokotil dan dikotil
7. Guru mejelaskan fungsi akar
8.Guru menjelaskan struktur
anatomi dan morfologi batang
9. Guru menjelaskan batang dikotil
dan batang monokotil
10. Guru menjelaskan fungsi
batang
11. Guru meminta siswa untuk
mengisi LKS.
Kegiatan
Inti
12. Guru menyimpulkan materi
yang telah dipelajari
13. Guru melakukan evaluasi
E. Media dan Sumber Belajar
Penutup
Aktifitas Siswa
1. Siswa merespon panggilan guru.
waktu
5
menit
2. Siswa mendengarkan tujuan
pembelajaran yang disampaikan guru
3. Siswa mendengarkan dan menjawab
pertanyaan yang diberikan oleh guru.
4. Siswa menyimak penjelasan dari guru
70
menit
5. Siswa menyimak penjelasan dari guru.
6. Siswa menyimak penjelasan dari guru.
7. Siswa menyimak penjelasan dari guru.
8. Siswa menyimak penjelasan guru
9. Siswa menyimak penjelasan dari guru.
10. Siswa menyimak penjelasan dari guru.
11. Siswa mengerjakan LKS
12.Siswa memperhatikan guru.
13. Siswa menjawab
- Buku IPA, belajar IPA membuka cakrawala alam sekitar untuk kelas VIII SMP/Mts, penerbit
pusat perbukuan Departemen Pendidikan Nasional, tahun 2008, h. 92-93
-LKS Ilmu Pengetahuan Alam untuk SMP/Mts kelas VIII-Gasal, Katwanto, SE dkk. h. 59-62, 6465
Alokasi
5 menit
69
F. Penilaian Hasil Belajar
Penilaian diambil dari tes hasil belajar pada akhir konsep materi dibahas.
1. Jelaskan struktur organ akar dan fungsi nya!
2. Bedakan akar dikotil dan monokotil
3. Jelaskan struktur batang dan fungsinya!
4. Bedakan batang monokotil dan dikotil!
Kunci
1.
a.
b.
c.
Struktur morfologi akar terdiri dari :
Rambut akar yang berfungsi memperluas bidang permukaan akar
Kaliptra (tudung akar) berfungsi sebagai sarung pelindung akar
Meristem apikal merupakan bagian ujung akar yang berfungsi sebagai titik awal pertumbuhan
akar
Struktur anatomi akar terdiri dari :
a.
b.
c.
d.
Epidermis berfungsi untuk melindungi jaringan yang ada di bawahnya
Korteks berfungsi sebagai tenpat penyimpanan cadangan makanan
Endodermis berfungsi mengatur jalannya air dan mineral dari korteks ke silinder pusat.
Silinder pusat berfungsi dalam proses pengangkutan di akar
2. Perbedaan akar monokotil dan dikotil
Dikotil
Monokotil
Merupakan akar tunggang
Merupakan akar serabut
Akarnya berasal dari akar lembaga yang tumbuh Akarnya tumbuh dari pangkal batang setelah
terus menerus menjadi akar primer (akar pokok) akar lembaga (embrio) mati
3. Struktur batang bila diiris melintang dari luar ke dalam antara lain :
a. Epidermis, berfungsi sebagai melindungi jaringan di sebelah dalamnya
b. Korteks, berfungsi sebagai tempat cadangan makanan
c. Endodermis, berfungsi sebagai mengatur masuknya zat ke dalam silinder pusat
d. Silinder pusat berfungsi dalam proses pengangkutan di batang
4. Perbedaan batang dikotil dan monokotil
Dikotil
Monokotil
Memiliki kambium, sehingga batangnya dapat Tidak memiliki kambium, sehingga batangnya
tumbuh besar
tidak bisa tumbuh besar
Jaringan pengangkutnya tersusun rapi
Jaringan penganngkutnya tersebar
Jakarta, Oktober 2011
Guru Bidang Studi
Peneliti
(Elyza Sovyana, SP. SPd)
(Yolanda. FK)
NIP :
NIP : 106016100568
70
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)
Kelas Kontrol
Mata Pelajaran
Kelas/Semester
Pertemuan
Alokasi waktu
: IPA Biologi
: VIII/ 1
:2
: 1 x 40 menit (1 kali pertemuan)
Standar Kompetensi
Memahami sistem dalam kehidupan tumbuhan.
Kompetensi Dasar
Mengidentifikasi struktur dan fungsi jaringan tumbuhan
Indikator
1. Menjelaskan jaringan-jaringan pada tumbuhan
2. Menjelaskan pengangkutan air pada tumbuhan
A. Tujuan Pembelajaran
1. Siswa dapat mengetahui jaringan-jaringan pada tumbuhan
2. Siswa dapat menggambar jaringan pada tumbuhan
3. Siswa dapat menyebutkan faktor-faktor yang mempengaruhi naiknya air ke daun
B. Materi Pengajaran
- Jaringan tumbuhan
Beberapa jaringan pada tumbuhan diantaranya yaitu jaringan meristem, jaringan pelindung,
jaringan pengangkut, jaringan penyokong dan jaringan dasar
- Pengangkutan air pada tumbuhan
1. Penyerapan air dari tanah ke akar.
Air dan mineral masuk ke akar ada yang melalui bulu-bulu akar dan ada juga yang melalui
dinding akar. Air dan mineral masuk melalui bulu akar akan langsung masuk ke pembuluh kayu
(xylem).
2.Pengangkutan air dari akar menuju daun
Faktor-faktor yang mempengaruhi air dan mineral masuk ke daun yaitu kapilaritas batang,
dayaya isap daun dan tekanan akar
C. Metode Pembelajaran
Pendekatan : Konvensional
Metode
: Ceramah
71
D. Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran
Tahapan
Deskripsi Pembelajaran
kegiatan
Aktifitas Guru
Pendahuluan 1. Guru memusatkan perhatian siswa
dengan mengecek kehadiran
2. Guru menyampaikan tujuan
pembelajaran yang ingin dicapai.
3. Guru memberikan apersepsi dengan
bertanya:
c. Apa yang dimaksud dengan
jaringan?
d. Bagaimana cara makanan di
edarkan dari daun ke organ lain?
Apa jaringan yang bertugas untuk
itu?
4. Guru menghubungkan materi
sebelumnya dengan materi yang akan
diberikan.
Kegiatan
Inti
Penutup
Alokasi
Aktifitas Siswa
waktu
1. Siswa merespon
panggilan guru.
2. Siswa mendengarkan
tujuan pembelajaran
yang disampaikan guru
3. Siswa mendengarkan
dan menjawab
pertanyaan yang
diberikan oleh guru.
5
menit
4. Siswa mendengarkan
penjelasan guru.
5. Guru menjelaskan jaringan-jaringan
penyusun organ tumbuhan
6. Guru menjelaskan faktor-faktor yang
mempengaruhi naiknya air ke daun
7. Guru meminta siswa mengisi LKS
5. Siswa menyimak
penjelasan guru
6. Siswa menyimak
penjelasan dari guru.
7. Siswa mengerjakan
LKS.
8. Guru menyimpulkan materi yang telah 8. Siswa memperhatikan
dipelajari
guru.
9. Guru melakukan evaluasi
9. Siswa menjawab
70 menit
5 menit
E. Media dan Sumber Belajar
- Buku IPA, belajar IPA membuka cakrawala alam sekitar untuk kelas VIII SMP/Mts, penerbit
pusat perbukuan Departemen Pendidikan Nasional, tahun 2008, h. 97-99
- LKS Ilmu Pengetahuan Alam untuk SMP/Mts kelas VIII-Gasal, Katwanto, SE dkk. h. 66-68
F. Penilaian Hasil Belajar
Penilaian diambil dari tes hasil belajar pada akhir konsep materi dibahas.
1. Sebutkan macam-macam jaringan pada tumbuhan dan fungsinya!
2. Sebutkan faktor-faktor yang mempengaruhi naiknya air ke daun!
72
Kunci
1. Macam jaringan pada tumbuhan yaitu antara lain :
a. Jaringan meristem
Merupakan jaringan muda yang selnya aktif membelah diri untuk membentuk struktur
primer pada tumbuhan. Jaringan ini terdapat pada bagian ujung batang dan ujung akar
b. Jaringan pelindung
Disebut juga epidermis, yang berfungsi melindungi jaringan di bawahnya
c. Jaringan pengangkut
Berfungsi untuk mengangkut zat-zat yang ada dalam tumbuhan. Jaringan ini terdiri atas
xylem dan floem.
d. Jaringan penyokong
Berfungsi sebagai penguat/ penyokong tumbuhan
e. Jaringan dasar
Atau jaringan parenkim mengisi ruang antar jaringan.
2. Faktor-faktor yang mempengaruhi naiknya air ke daun yaitu :
a. Daya isap daun
b. Tekanan akar
c. Kapilaritas batang
Jakarta, Oktober 2011
Guru Bidang Studi
Peneliti
(Elyza Sovyana, SP. SPd)
(Yolanda. FK)
NIP :
NIP : 106016100568
73
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)
Kelas Kontrol
Mata Pelajaran
Kelas/Semester
Pertemuan
Alokasi waktu
: IPA Biologi
: VIII/ 1
:3
: 2 x 40 menit (1 kali pertemuan)
Standar Kompetensi
Memahami sistem dalam kehidupan tumbuhan.
Kompetensi Dasar
Mengidentifikasi struktur dan fungsi jaringan tumbuhan
Indikator
1. Menjelaskan struktur anatomi dan morfologi daun
2. Menjelaskan fungsi daun
3. Menjelaskan morfologi bunga
4. Menjelaskan fungsi bunga.
A. Tujuan Pembelajaran
1.
2.
3.
4.
5.
Siswa dapat mengetahui struktur anatomi dan morfologi daun
Siswa dapat membedakan daun tumbuhan dikotil dan monokotil.
Siswa dapat menyebutkan fungsi daun
Siswa dapat menyebutkan bagian-bagian bunga
Siswa dapat menyebutkan fungsi bunga
B. Materi Pengajaran
- Daun
Daun merupakan organ tumbuhan yang berfungsi sebagai tempat pembuatan makanan
melalui proses fotosintesis, sebagai tempat pertukaran gas melalui stomata yang terdapat pada
permukaan daun .
Adapun struktur morfologi daun yaitu daun lengkap terdiri dari pelepah daun, tangkai daun
dan helaian daun. Bentuk daun beraneka ragam, ada yang oval, bulat, pipih, dan lainnya. Sedangkan
struktur anatomi daun terdiri dari epidermis, dimana di epidermis terdapat stomata yang berfungsi
sebagai tempat pertukaran gas. Selain epidermis di daun terdapat jaringan tiang (palisade) merupakan
tempat berlangsungnya fotosintesis, jaringan bunga karang (spons) merupakan tempat cadangan
makanan, dan jaringan pengangkut yang terdiri dari xylem dan floem
- Bunga
Bunga berfungsi sebagai alat perkembangbiakan generatif pada tumbuhan karena di dalam
bunga terdapat alat perkembangbiakan jantan dan betina. Selain itu bunga juga berfungsi sebagai alat
penarik perhatian serangga untuk membantu penyerbukan. Bunga yang lengkap memiliki bagianbagian seperti kelopak bunga, mahkota bunga, benang sari, dan putik
74
C. Metode Pembelajaran
Pendekatan : Konvensional
Metode
: Ceramah
D. Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran
Tahapan
Deskripsi Pembelajaran
kegiatan
Aktifitas Guru
Pendahuluan 1. Guru memusatkan perhatian siswa
dengan mengecek kehadiran
2. Guru menyampaikan tujuan
pembelajaran yang ingin dicapai.
Kegiatan
Inti
3. Guru memberikan apersepsi dengan
bertanya:
c. Mengapa daun berwarna hijau? Zat
apa yang terkandung di daun
sehingga daun berwarna hijau?
d. Apakah ada daun yang tidak
berwarna hijau?
4. Guru menghubungkan materi
sebelumnya dengan materi yang akan
diberikan.
5. Guru menjelakan struktur anatomi dan
morfologi daun
6. Guru menjelaskan perbedaan daun
tumbuhan monokotil dan daun dikotil
7. Guru menjelaskan fungsi daun
Aktifitas Siswa
waktu
1. Siswa merespon
panggilan guru.
2. Siswa mendengarkan
tujuan pembelajaran
yang disampaikan guru
3. Siswa mendengarkan
dan menjawab
pertanyaan yang
diberikan oleh guru.
5
menit
4. Siswa mendengarkan
penjelasan guru.
70 menit
10. Guru meminta siswa mengerjakan
LKS
5. Siswa menyimak
penjelasan dari guru.
6. Siswa meyimak
penjelasan dari guru
7. Siswa menyimak
penjelasan dari guru.
8. Siswa menyimak
penjelasan dari guru.
9. Siswa menyimak
penjelasan dari guru.
10. Siswa mengerjakan
LKS.
11. Guru menyimpulkan materi yang
telah dipelajari
12. Guru melakukan evaluasi
11. Siswa
memperhatikan guru.
12. Siswa menjawab
5 menit
8. Guru menjelaskan bagian-bagian
bunga.
9. Guru menyebutkan fungsi bunga
Penutup
Alokasi
E. Media dan Sumber Belajar
- Buku IPA, belajar IPA membuka cakrawala alam sekitar untuk kelas VIII SMP/Mts, penerbit
pusat perbukuan Departemen Pendidikan Nasional, tahun 2008, h. 94-96
- LKS Ilmu Pengetahuan Alam untuk SMP/Mts kelas VIII-Gasal, Katwanto, SE dkk. h. 58-59,
67-68
F. Penilaian Hasil Belajar
Penilaian diambil dari tes hasil belajar pada akhir konsep materi dibahas.
75
1. Sebutkan struktur anatomi daun dan fungsinya!
2. Jelaskan struktur morfologi daun lengkap!
3. Sebutkan fungsi daun!
4. Sebutkan bagian-bagian bunga dan fungsinya!
5. Sebutkan fungsi bunga!
Kunci
1. Struktur anatomi daun beserta fungsinya :
a. Epidermis berfungsi sebagai melindungi jaringan di dalamnya dan tempat menempelnya
stomata yang berfungsi sebagai tempat pertukaran gas.
b. Jaringan tiang (palisade) merupakan tempat berlangsungnya fotosintesis,
c. Jaringan bunga karang (spons) merupakan tempat cadangan makanan,
d. Jaringan pengangkut yang terdiri dari xylem dan floem.
2. Adapun struktur morfologi daun yaitu daun lengkap terdiri dari pelepah daun, tangkai daun dan
helaian daun
3. Fungsi daun :
a. Sebagai tempat pembuatan makanan melalui proses fotosintesis
b. Sebagai tempat pertukaran gas, melalui stomata yang terdapat pada permukaan daun.
4. Bagian-bagian bunga dan fungsinya yaitu :
a. Kelopak bunga (calyx) berfungsi melindungi bunga pada waktu belum mekar (masih
kuncup)
b. Mahkota bunga (corolla) berfungsi mernarik perhatian serangga untuk membantu proses
penyerbukan
c. Benang sari (stamen) berfungsi sebagai alat kelamin jantan
d. Putik (pistilum) berfungsi sebagai alat kelamin betina
5. Fungsi bunga yaitu :
a. Sebagai alat perkembangbiakan generatif
b. Sebagai perhiasan, yaitu alat penarik perhatian serangga.
Jakarta, Oktober 2011
Guru Bidang Studi
Peneliti
(Elyza Sovyana, SP. SPd)
(Yolanda. FK)
NIP :
NIP : 106016100568
76
LAMPIRAN 3
Lembar Kerja Siswa I Kelas Eksperimen
Nama kelompok
:………………
Mata Pelajaran
Kelas
Semester
: IPA Biologi
: VIII
:I
Standar Kompetensi
: Memahami sistem dalam kehidupan tumbuhan.
Kompetensi Dasar
Indikator
: Mengidentifikasi struktur dan fungsi jaringan tumbuhan
: Mengamati struktur anatomi dan morfologi akar tumbuhan dikotil
dan monokotil
: Mengamati struktur anatomi dan morfologi batang tumbuhan
Tujuan Praktikum
:
1. Pengamatan akar tumbuhan dikotil dan monokotil
2. Pengamatan batang tumbuhan melalui gambar
Alat dan bahan
: Kecambah biji kacang, Kecambah biji jagung, Kaca Pembesar,
Cara kerja :
1. Sebelumnya kamu telah mengecambahkan biji kacang dan biji jagung selama seminggu
2. Setelah satu minggu kedua jenis kecambah tersebut telah berakar
3. Amati dan teliti keadaan akar kedua jenis tumbuhan tersebut
4. Gambarlah bentuk kedua akar kecambah tersebut. Dan amatilah perbedaannya menggunakan
kaca pembesar. Serta gambarlah seperti tabel berikut sehingga terlihat perbedaan keduanya.
Table hasil pengamatan
Kecambah tumbuhan dikotil
(………………………….)
Kecambah tumbuhan monokotil
(……………..……………..)
77
Gambar Penampang luar akar.
Gambar anatomi batang
Pertanyaan :
Setelah melakukan percobaan,
1. Bagaimana bentuk tumbuhan yang kamu amati? Adakah perbedaan bentuk akar yang kamu
amati?
…………………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………………
……………………………………….
2. Tumbuhan monokotil sering disebut mempunyai sistem perakaran serabut, dengan melihat
akar tanaman tersebut mana yang termasuk ke dalam tumbuhan monokotil? Dan dapatkah
kamu menjelaskan mengapa disebut akar serabut?
78
…………………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………………
…………………………………
3. Tumbuhan dikotil sering mempunyai sistem perakaran tunggang. Dengan melihat kedua
tumbuhan tersebut manakah yang termasuk kedalam sistem perakaran tunggang? Dapatkah
kamu menjelaskan mengapa disebut akar tunggang?
…………………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………………
…………………………………………
Setelah mengamati gambar,
1. Bisakah kalian menyebut bagian-bagian akar dan batang yang telah di beri nomor?
…………………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………………
………………………………………….
2. Melalui gambar, apa perbedaan antara batang tumbuhan dikotil dan monokotil?
…………………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………………
………………………………………….
Kesimpulan :
……………………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………………………
……………………………………………
79
Lembar Kerja Siswa II Kelas Eksperimen
Nama kelompok
:………………
Mata Pelajaran
Kelas
Semester
: IPA Biologi
: VIII
:I
Standar Kompetensi
: Memahami sistem dalam kehidupan tumbuhan.
Kompetensi Dasar
: Mengidentifikasi struktur dan fungsi jaringan tumbuhan
Indikator
: Menjelaskan pengangkutan air pada tumbuhan
Tujuan Praktikum
: Membuktikan proses pengangkutan dari akar menuju daun
Alat dan bahan
:Gelas bekas air mineral, tumbuhan bayam, sepuhan serbuk
Cara kerja
1. Ambilah tumbuhan bayam yang masih terdapat akar, batang dan daun, kemudian cuci bersih
2. Siapkan gelas bekas air mineral telah diisi air.
3. Setelah itu masukan sepuhan serbuk ke dalam air dalam gelas bekas air mineral, lalu aduk
hingga sepuhan bercampur dengan air.
4. Masukan tumbuhan bayam ke dalam gelas tersebut
5. Amati apa yang terjadi
Pertanyaan :
1. Apakah air dapat sampai menuju daun tumbuhan bayam? Jika ya, mengapa demikian?
…………………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………………
…………………………………………
2. Apakah terlihat perlintasan air dari akar menuju batang dan daun?
…………………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………………
…………………………………………
3. Buatlah kesimpulan mengenai peristiwa tersebut!
…………………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………
80
Lembar Kerja Siswa III Kelas Eksperimen
Nama kelompok
:………………
Mata Pelajaran
Kelas
Semester
: IPA Biologi
: VIII
:I
Standar Kompetensi
: Memahami sistem dalam kehidupan tumbuhan.
Kompetensi Dasar
: Mengidentifikasi struktur dan fungsi jaringan tumbuhan
Indikator
: Mengamati struktur anatomi dan morfologi daun tumbuhan dikotil
dan monokotil
Tujuan Praktikum
: Pengamatan daun tumbuhan dikotil dan monokotil
: Mengetahui letak stomata daun Rhoeo discolor
Alat dan bahan
1. Mikroskop
:
7. Pinset
2. Kaca objek
8. Preparat Awetan
3. Kaca penutup
9. Air
4. Pipet tetes
10. Daun Rhoeo discolor
5. Silet
6. Daun mangga, daun singkong, rumput, daun kelapa, daun bambu, daun pepaya yang masih
muda,
Cara kerja :
A. Preparat awetan
1. Siapkan preparat awetan daun dikotil dan monokotil
2. Amati menggunakan mikroskop dengan perbesaran lemah agar tampak seluruh bagian
dari preparat, setelah jelas baru gunakan perbesaran kuat!
3. Bandingkan struktur kedua preparat
4. Gambar hasil pengamatanmu pada tempat yang tersedia!
B. Daun Rhoeo discolor
1. Sayatlah dengan silet bagian permukaan bawah dan atas sehingga didapat bagian yang
tipis. Perhatikan betul-betul mana bagian permukaan atas dan bawah
2. Letakkan kedua bagian tipis tersebut pada kaca obyek yang berbeda, tetesi air dan tutup
dengan kaca penutup
3. Amati menggunakan mikroskop dengan perbesaran lemah terlebih dahulu. Setelah jelas,
ganti dengan perbesaran kuat sampai terlihat letak stomatanya.
C. Daun Tumbuhan monokotil dan Dikotil
1. Ambilah beberapa contoh daun tanaman yang kalian bawa.
2. Amatilah bentuk luar dari daun tersebut, mulai dari bentuk daun, struktur tulang daun dan
tepi daun.
81
Gambar Hasil Pengamatan
Gambar preparat awetan daun monokotil
Gambar preparat awetan daun dikotil
Pertanyaan :
Setelah melakukan praktikum,
1. Adakah perbedaan antara daun tumbuhan monokotil dan tumbuhan dikotil? Jika ada, apakah
perbedaan itu?
……………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………
2. Dimanakah letak stomata pada tumbuhan Rhoeo discolor? Dan apa itu stomata? Serta berfungsi
untuk apakah stomata itu?
……………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………
3. Dalam hal apa sajakah persamaan antara daun tumbuhan monokotil dan dikotil?
……………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………
4. Dalam hal apa sajakah perbedaan antara daun tumbuhan monokotil dan dikotil?
……………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………
5. Bagaimana bentuk daun, struktur tulang daun dan tepi daun dari daun mangga, singkong,
pepaya, bambu, rumput dan daun kelapa?
……………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………
Kesimpulan
……………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………
82
Lampiran 4
LKS Kelas Kontrol
Pertemuan I
Sumber : LKS Ilmu Pengetahuan Alam untuk SMP/Mts kelas VIII-Gasal, Katwanto, SE dkk.
h.64-65
1.
2.
3.
4.
5.
Pilihan Ganda
Tanaman berikut ini yang mampu menyimpan cadangan makanan di dalam akar
yaitu…
a. Sawi
b. kentang
c. bengkuang
d. tebu
Bagian akar yang menembus lapisan tanah dilindungi oleh…
a. Bulu akar
b. kaliptra
c. korteks
d. cambium
Jaringan yang tersusun atas beberapa lapis sel berdinding pada akar yang berfungsi
sebagai tempat cadangan makanan disebut…
a.
Stele
b. epidermis
d. kaliptra
d. korteks
Batang yang memiliki lingkaran tahun ditemukan pada tumbuhan…
a.
Herba
b. berkayu
c. monokotil
d. dikotil
Bagian akar yang berperan mengatur masuknya air / zat ke dalam silinder pusat
adalah…
a.
Endodermis
c. silinder pusat
b.
Korteks
d. epidermis
Uraian
1. Apa perbedaan batang monokotil dan dikotil dalam hal ikatan pembuluhnya?
2.
3.
4.
5.
Jelaskan!
Apakah kegunaan bulu-bulu akar?
Sebutkan 3 fungsi batang dan fungsi akar!
Sebutkan jaringan penyusun akar!
Apa fungsi endodermis akar?
83
LKS Kelas Kontrol
Pertemuan II
Sumber : LKS Ilmu Pengetahuan Alam untuk SMP/Mts kelas VIII-Gasal, Katwanto, SE
dkk. h.58-59
Pilihan ganda
1. Jaringan adalah….
a. Kumpulan beberapa sel yang membentuk jaringan
b. Sekelompok sel yang memiliki fungsi yang sama
c. Sekelompok sel yang mempunyai struktur dan fungsi yang sama
d. Perkembangan dari sekelompok sel embrionik
2. Jaringan yang sudah tidak membelah lagi disebut jaringan…
a. Parenkim
c. korteks
b. Dewasa
d. meristem sekunder
3. Meristem yang terdapat diantara jaringan dewasa disebut…
a. Meristem utama
c. meristem interkalar
b. Meristem apikal
d. meristem lateral
4. Pertumbuhan jaringan primer disebut dengan…
a. Pertumbuhan primer
c. pertumbuhan sekunder
b. Pertumbuhan inti
d. pertumbuhan lateral
5. Jaringan yang terdiri atas pembuluh tapis dan berfungsi untuk menyalurkan
makanan hasil fotosintesis disebut…
a. Xylem
b. trakeid
c. sekretoris
d. floem
6. Kolateral tertutup dicontohkan pada…
a. Dycotyledon
c. tetracotyledon
b. Monocotyledon
d. triocotyledon
7. Berkas pengangkut dimana xylem mengelilingi floem atau sebaliknya adalah
jaringan pengangkut jenis…
a. Radial
b. kolateral
c. kosentris
d. bilateral
8. Yang merupakan jaringan penyokong adalah…
a. Kolenkim dan sklerenkim
c. kolenkim dan sekretoris
b. Kolenkim dan vaskuler
d. parenkim dan sklerenkim
9. Jaringan meristem yang terdapat pada ujung batang dan ujung akar disebut…
a. Meristem cosentral
c. meristem apikal
b. Meristem kolateral
d. meristem primer
10. Jaringan pelindung pada tumbuhan disebut…
a. Jaringan xylem
c. jaringan parenkim
b. Jaringan epidermis
d. jaringan vaskuler
84
Uraian
1.
2.
3.
4.
5.
Jaringan meristem adalah?
Sebut dan jelaskan jenis meristem berdasarkan posisinya dalam tumbuhan!
Sebutkan ciri-ciri jaringan dewasa!
Jelaskan fungsi jaringan kolenkim!
Sebutkan jenis berkas pengangkut berdasarkan posisi xylem dan floemnya!
85
LKS Kelas Kontrol
Pertemuan III
Sumber : LKS Ilmu Pengetahuan Alam untuk SMP/Mts kelas VIII-Gasal, Katwanto, SE dkk.
h.64-67
Pilihan ganda
1. Pada daun terdapat pori-pori untuk pertukaran gas yang disebut…
a. Lentisel
b. xylem
c. floem
d. stomata
2. Jaringan pada daun yang berfungsi sebagai tempat fotosintesis adalah….
a. Epidermis
b. palisade
c. xylem
d. meristem
3. Barikut ini adalah bagian dari daun lengkap, kecuali….
a. Upih daun
c. helai daun
b. Tangkai daun
d. cabang daun
4. Bunga berfungsi sebagai….
a. Alat pengangkut
c. tempat transpirasi
b. Alat untuk penyerap unsur hara
d. alat perkembangbiakan
5. Mahkota bunga disebut juga….
a. Pistilum
b. stamen
c. korola
d. kalix
Uraian
1. Sebutkan jaringan penyusun daun dari atas ke bawah!
2. Apa yang dimaksud dengan daun majemuk?
3. Sebutkan bagian-bagian daun lengkap!
4. Sebutkan bagian-bagian bunga yang merupakan alat kelamin jantan dan betina!
5. Sebutkan perbedaan antara bunga sempurna dengan bunga tidak sempurna!
86
Lampiran 5
Kunci jawaban LKS kelas kontrol
Pertemuan I
Pilihan Ganda
1.C
2B
3. D
4. D
5. A
Uraian
1. Batang tumbuhan dikotil memiliki kambium, sehingga batangnya bisa tumbuh membesar.
kambium merupakan jaringan meristem yang sel-selnya selalu membelah (tumbuh),
kedalam membentuk pembuluh kayu (xylem) dari arah keluar membentuk pembuluh tapis
(floem).
Sedangkan tumbuhan monokotil tidak memiliki kambium sehingga batangnya tidak bisa
tumbuh besar
2. Kegunaan bulu-bulu akar yaitu untuk penyerap air dan unsure hara dari dalam tanah
3. Fungsi batang : mengangkut bahan makanan dan air, mengangkut hasil fotosintesis,
sebagai tempat cadangan makanan.
Fungsi akar : menegakkan berdirinya batang, sebagai tempat cadangan makanan,
membantu pernapasan
4. Epidermis, korteks, endodermis, silinder pusat
5. Fungsi endodermis akar yaitu mengatur jalannya air dan mineral dari korteks ke silinder
pusat.
87
Kunci jawaban LKS kelas kontrol
Pertemuan II
Pilihan Ganda
1.
B
6. B
2
B
7. C
3
C
8. A
4
A
9. C
5
D
10. B
Uraian
1. Jaringan muda yang selalu aktif membelah
2. –meristem apikal : terdapat di ujung pucuk utama, pucuk lateral, serta ujung akar
-meristem interkalar : terdapat diantara jaringan dewasa, contoh : pada pangkal ruas
suku rumput-rumputan.
-meristem lateral : terletak sejajar dengan permukaan organ tempat ditemukan.
Contohnya kambium dan kambium gabus (felogen)
3. –tidak mempunyai aktifitas untuk membelah diri
- ukuran realtif besar dibandingkan sel meristem
- terdapat ruang antar sel
- kadang-kadang selnya sudah mati
4. kolenkim berfungsi sebagai penyokong bagian tumbuhan
5. –tipe kolateral : jika berkas pengangkut xylem dan floem terletak berdampingan
- tipe kosentris : apabila xylem dikelilingi floem atau sebaliknya
-tipe radial : apabila xylem dan floem letaknya bergantian menurut jari-jari lingkaran
88
Kunci jawaban LKS kelas kontrol
Pertemuan III
Pilihan Ganda
1.
2.
3.
4.
5.
D
B
D
D
C
Uraian
1. Epidermis, jaringan tiang (palisade parenkim), jaringan bunga karang (spons
parenkim) dan jaringan pengangkut
2. Yaitu daun yang apabila satu tangkai memiliki beberapa helai daun
3. Daun lengkap terdiri dari pelepah daun, tangkai daun, helaian daun
4. Benang sari (stamen) yang merupakan alat kelamin jantan dan putik (pistilum) yang
merupakan alat kelamin betina
5. Bunga sempurna adalah bunga yang memiliki seluruh perhiasan bunga dan alat
reproduksi. Sedangkan bunga tidak sempurna yaitu bunga yang tidak mempunyai
perhiasan bunga atau yang tidak memiliki alat reproduksi.
89
LAMPIRAN 6
Rekap Nilai Lembar Kerja Siswa Kelas Eksperimen
No Nama siswa
1
Ahmad Syaiful Agus Kodar
2
Ardiva Calliopeh Putra
3
Ahmad Azis Purnomo
4
Ananda Pratama
5
Asih Wijiastuti
6
Alvi Fachrul Gianur
7
Annita Claudia
8
Arum Fadillah
9
Della Isnaini S.P
10 Dewa Ayu oktaviani
11 Dinda Arista A
12
Ekki Oktaviana
13 Erna Wati
14 Haira Azmi s. A
15 Haryadi W
16 Ibrahim
17 Indah Meta R
18 Kahutsar Alfian
19 Maria Indah a
20 Mohammad farhan
21 Muhammad Kahfi
22 Munawaroh
23 Necha Rusyana
24 Niza Nadianti
25 NuZul Lailatul Ikhsan
26 Reza Anugrah
27 Rizki Pramayudha
28 Sri Lestari
29 Sri Rianti
30 Syafrifuddin
Rata-rata
I
75
75
85
75
85
75
85
75
75
85
85
75
85
75
75
75
75
75
85
85
75
75
85
75
85
85
85
75
75
85
II
65
85
65
85
70
70
65
65
85
70
65
85
70
80
65
65
65
85
65
70
80
65
70
85
65
70
70
80
80
65
III
80
80
75
80
70
70
75
80
80
70
75
80
70
70
80
80
80
80
75
70
70
80
70
80
75
70
70
70
70
75
79.34
72.34
75
90
Rekap Nilai Lembar Kerja Siswa kelas Kontrol
No
Nama Siswa
1
Adam wahyudi
2
Abdul haris
3
Adhitia Bagus M
4
Andi Kurniawan
5
Ari Izaegi
6
Badrus Zaman
7
david Sanjaya
8
Destia Ramdhini
9
Ega Prayoga
10 Fajar Ramadhan
11 Fauziah Fatiah
12 Firdha Amelia Anwar
13 Mahfur Amin Aji
14 Mahrudi
15 Mega Permata Sari
16 Mohammad Gunawan
17 Mutia Badrun Sunomo
18 Nanda Prasetyo
19 Nurjanah
20 Putri Listiyowati
21 Ridwan
22 Rifki fajar Septian
23 Sayyidina Rama Aulia
24 Shinta K
25 Sisca Marlina
26 Sonya Amanda
27 Suci Indri W
28 Tia Suliani R
29 Wahyu Febryan
30 Wiwin Caswinah
Rata-rata
Nilai I
Nilai II
Nilai III
45
60
60
65
65
55
65
65
50
35
70
65
60
45
65
70
55
65
60
70
45
65
70
60
60
65
65
55
55
60
65
65
70
75
70
75
80
85
65
65
75
70
65
65
60
75
60
75
75
85
65
55
65
75
80
85
75
65
60
65
70,45
50
50
90
75
90
75
90
75
75
75
70
70
60
50
70
75
70
70
75
70
50
90
90
70
70
75
75
75
75
75
72,4
59,7
91
A. Kompetensi
dasar
Memahami sistem
dalam kehidupan
tumbuhan
Materi
pokok
`Akar
Indikator
Menjelaskan
struktur dan
fungsi akar
Butir soal
Kunci
jawaban
1. Berikut ini adalah organ pada tumbuhan, kecuali…
C
a. akar
c. epidermis
b. batang
d. daun
2. Yang Fungsi akar adalah sebagai berikut, kecuali…
D
a. penyerap air dan garam mineral
b. pengokoh tubuh tumbuhan
c. tempat penimbunan cadangan makanan
d. tempat pembentukan makanan
Untuk soal nomor 3 dan 4, perhatikan gambar penampang
melintang akar tanaman berikut.
3. Bagian yang ditunjuk oleh nomor 3, adalah…
a. epidermis
c. korteks
D
b. ujung akar
d. tudung akar
4. Bagian akar, yang ditunjukan oleh nomor 2, berfungsi A
sebagai…
a. menyerap air dari dalam tanah
b. melindungi akar
c. memperkuat akar
d. membentuk cabang akar
Aspek yang
diukur
C1
C1
C4
C2
92
5. Contoh tanaman yang menyimpan cadangannya di akar
yaitu…..
a. tebu
c. sagu
b. wortel
d. kentang
6. Sistem perakaran tumbuhan monokotil yaitu…
a. sistem perakaran serabut
b. sistem perakaran tunggang
c. sistem perakaran tunjang
d. sistem akar utama
7. Bagian akar yang membentuk tonjolan menjadi rambut akar
adalah..
a. silinder pusat
c. korteks
b. endodermis
d. epidermis
8. Perangkat percobaan berikut yang tepat untuk menunjukkan
adanya tekanan akar adalah..
Batang
Menjelaskan
struktur dan
fungsi batang
B
C1
A
C2
D
C1
C
C2
9. Susunan jaringan pengangkut pada batang tumbuhan dikotil A
adalah…
a. teratur
c. selang-seling
b. acak
d. tidak teratur
D
10. Pernyataan yang salah adalah..
a. batang tumbuhan kayu yang masih muda bisa
berfotosintesis
b. tumbuhan herba memiliki sedikit jaringan kayu pada
batangnya
C1
C2
93
c. struktur batang terdiri dari epidermis, korteks, endodermis
dan silinder pusat
d. lentisel tidak berhubungan dengan bagian dalam batang
B
C2
D
C2
13. Yang berfungsi sebagai tempat pertukaran gas di batang B
adalah….
a. kloroplas
c. epidermis
b. lentisel
d. korteks
14. Jaringan pengangkut pada batang yang berfungsi A
mengangkut air dari dalam tanah adalah..
a. xilem
c. lapisan kambium
b. floem
d. endodermis
B
15. Batang tanaman mangga dapat bertambah besar, sedangkan
C2
11. Perhatikan gambar penampang batang di bawah ini!
Pembuluh floem dan xilem ditunjukkan oleh nomor…
a. 1 dan 2
c. 3 dan 5
b. 2 dan 4
d. 1 dan 4
12. Batang bisa pula berperan sebagai penyimpan cadangan
makanan, hal ini bisa ditemukan pada tanaman berikut ini,
kecuali…
a. tebu
c. sagu
b. kentang
d. singkong
C2
C4
94
batang tanaman jagung tidak dapat bertambah besar
meskipun umurnya bertambah. Hal ini karena…
a. tanaman jagung mempunyai jaringan kambium
b. tanaman mangga memiliki jaringan kambium
c. tanaman jagung memiliki pembuluh kayu
d. tanaman mangga memiliki pembuluh tapis
16. Waktu mencangkok, kulit batang pohon harus dibuang
sedangkan bagian kayu tidak dibuang. Hal ini dimaksudkan
agar…
a. aliran air ke daun terputus
b. makanan tidak dapat diangkut ke batang
c. makanan tidak dapat diangkut ke daun
d. oksigen tidak dapat sampai ke akar
B
C2
17. Batang tumbuhan teratai dan eceng gondok mempunyai
rongga besar yang berfungsi untuk…
a. memperlancar peredaran oksigen ke sel-sel tumbuhan
b. menyimpan udara pernapasan
c. menyimpan CO2 untuk fotosintesis
d. menghindari penguapan yang berlebihan
A
C1
18. Berikut ini yang bukan merupakan fungsi batang adalah…
a. sebagai alat reproduksi seksual
b. sarana lintasan air
c. tempat dudukan daun
d. menegakkan tubuh tumbuhan
A
C1
19. Fungsi daun antara lain adalah sebagai berikut, kecuali….
a. tempat terjadinya fotosintesis
b. tempat terjadinya penguapan
c. tempat penyerapan air melalui stomata
C
C4
95
d. tempat tejadinya pertukaran CO2 dan O2 melalui stomata
Daun
Menjelaskan
struktur dan
fungsi daun
melalui
praktikum dan
gambar
untuk soal nomor 20 dan 21, perhatikan gambar sayatan
melintang daun dibawah mikroskop
20. Jaringan yang ditunjuk dengan nomor 2, adalah jaringan….
a. epidermis
c. palisade
b. bunga karang
d. stomata
C
C2
21. Tempat terjadinya fotosintesis ditunjukkan oleh nomor…
a. 1
b. 2
c. 3
d. 4
B
C2
22. Jika kita mengamati organ daun, maka stomata (mulut daun)
dapat kita temukan pada jaringan….
a. epidermis
c. meristem
b. pengangkut
d. penguat
A
C1
23. Stomata selain berperan dalam proses fotosintesis, berperan A
pula dalam…
a. proses pernapasan
b. proses perkembangan
c. proses pertumbuhan
d. proses pengangkutan
C4
96
Sistem
Transportasi
Tumbuhan
Menjelaskan
sistem
transportasi
pada tumbuhan
24 Naiknya air dari dalam tanah ke daun disebabkan oleh faktor B
berikut, kecuali…
a. kapilaritas xilem
c. daya isap daun
b. kapilaritas floem
d. tekanan akar
25. Pada musim kemarau, tumbuhan jati menggugurkan daun- B
daunnya, tujuannya adalah…
a. mempercepat penguapan c. mempercepat pergantian air
b. memperkecil penguapan
d. memperkecil jumlah daun
26. Pada keadaan yang sangat lembab, dari ujung-ujung daun D
keluar tetesan air. Hal ini disebut peristiwa…
a. transpirasi
c. aerasi
b. respirasi
d. gutasi
27. Tumbuhan kaktus memiliki daun-daun yang kecil dan tebal C
seperti jarum. Hal ini bertujuan untuk…
a. mempercepat penguapan
c. mengurangi penguapan
b. memperbesar penguapan
d. adaptasi di daerah
lembab
28. Mekanisme membuka dan menutupnya stomata dipengaruhi D
oleh…
a. kadar garam pada sel penjaga c. kadar O2 pada sel
penjaga
b. kadar CO2 pada sel penjaga
d. kadar air pada sel
penjaga
29.Tumbuhan memiliki daya isap daun, karena pada daun terjadi A
proses…
a. fotosintesis
c. transpirasi
b. respirasi
d. transportasi
30. Pengangkutan air dan mineral secara ekstravaskuler dimulai D
C4
C2
C2
C2
C2
C1
C1
97
dari…
a. floem batang ke floem daun
b. rambut akar sampai floem akar
c. xilem akar ke xilem batang
d. rambut akar sampai ke xilem akar
31. Pada saat transpirasi, zat yang dikeluarkan oleh tumbuhan
adalah…
a. CO2
b. O2
c. H2O
d. NH2
32. Berkas pembuluh yang mengangkut air dan garam mineral
dari dalam tanah ke daun adalah…
a. xylem
c. sel pengiring
b. floem
d. serabut kulit.
33. Definisi osmosis yang benar adalah…
a. perpindahan air melawan gradient difusi
b.perpindahan air dari konsentrasi rendah ke konsentrasi
tinggi melalui selaput semipermeabel
c. penyebaran partikel melalui ruangan
d. transportasi zat dengan cara menembus penghalang
menggunakan ATP
34. Kentang yang di kupas dan di rendam di air beberapa waktu,
lama kelaman berat nya bertambah. Hal itu membuktikan
bahwa telah terjadi peristiwa…
a. difusi
c. transpor aktif
b. osmosis
d. fagositosit
35. Laju transpirasi tumbuhan dipengaruhi oleh faktor-faktor di
bawah ini, kecuali…
a. cahaya matahari
c. kelembapan udara
b. kecepatan angin
d. gravitasi
36. Bagian-bagian berikut yang merupakan ciri bunga lengkap,
C
C2
A
C2
B
C2
B
C2
D
C1
D
C1
98
Bunga
Menjelaskan
struktur dan
fungsi bunga
kecuali…
a. putik
c. mahkota bunga
b. benang sari
d. tangkai bung
37. Organ bunga merupakan modifikasi dari organ…
a. batang
c. buah
b. daun
d. biji
38. Bagian bunga yang merupakan perhiasan bunga adalah..
a. kelopak dan mahkota bunga
b. mahkota dan benang sari
c. benang sari dan putik
d. tenda bunga dan putik
39. Bagian bunga yang berfungsi untuk menarik perhatian
serangga adalah…
a. kelopak bunga
b. mahkota bunga
c. benang sari
d. putik
40. Yang bukan merupakan contoh dari buah sejati adalah…..
a. Mangga
c. Jambu monyet
b. Pepaya
d. Tomat
B
C2
A
C1
B
C1
C
C2
99
LAMPIRAN 8
Uji Coba Instrumen
Nama
: ……………………………
Hari / tanggal : …………………………..
Pilihlah jawaban yang paling tepat!
1. Berikut ini adalah organ pada tumbuhan, kecuali…
a. akar
c. epidermis
b. batang
d. daun
2. Yang bukan merupakan fungsi dari akar, yaitu…
a. penyerap air dan garam mineral
b. pengokoh tubuh tumbuhan
c. tempat penyimpanan cadangan makanan
d. tempat pembentukan makanan
Untuk soal nomor 3 dan 4, perhatikan gambar penampang melintang akar tanaman berikut.
3. Bagian yang ditunjuk oleh nomor 3, adalah…
a. epidermis
c. korteks
b. ujung akar
d. tudung akar
4. Bagian akar, yang ditunjukan oleh nomor 2, berfungsi sebagai…
a. menyerap air dari dalam tanah
c. memperkuat akar
b. melindungi akar
d. membentuk cabang akar
5. Contoh tanaman yang menyimpan cadangannya di akar yaitu…..
a. tebu
c. sagu
b. wortel
d. kentang
6. Sistem perakaran tumbuhan monokotil yaitu…
a. sistem perakaran serabut
c. sistem perakaran tunjang
b. sistem perakaran tunggang
d. sistem akar utama
7. Bagian akar yang membentuk tonjolan menjadi rambut akar adalah..
a. silinder pusat
c. korteks
b. endodermis
d. epidermis
100
8. Perangkat percobaan berikut yang tepat untuk menunjukkan adanya tekanan akar
adalah….
9. Susunan jaringan pengangkut pada batang tumbuhan dikotil adalah…
a. teratur
c. selang-seling
b. acak
d. tidak teratur
10. Pernyataan yang salah adalah..
a. batang tumbuhan kayu yang masih muda bisa berfotosintesis
b. tumbuhan herba memiliki sedikit jaringan kayu pada batangnya
c. struktur batang terdiri dari epidermis, korteks, endodermis dan silinder pusat
d. lentisel tidak berhubungan dengan bagian dalam batang
11. Perhatikan gambar penampang batang di bawah ini!
Pembuluh floem dan xilem ditunjukkan oleh nomor…
a. 1 dan 2
c. 3 dan 5
b. 2 dan 4
d. 1 dan 4
12. Batang bisa pula berperan sebagai penyimpan cadangan makanan, hal ini bisa ditemukan
pada tanaman berikut ini, kecuali…
a. tebu
c. sagu
b. kentang
d. singkong
13. Yang berfungsi sebagai tempat pertukaran gas di batang adalah….
a. kloroplas
c. epidermis
b. lentisel
d. korteks
14. Jaringan pengangkut pada batang yang berfungsi mengangkut air dari dalam tanah
adalah..
a. xilem
c. lapisan kambium
b. floem
d. endodermis
15. Batang tanaman mangga dapat bertambah besar, sedangkan batang tanaman jagung tidak
dapat bertambah besar meskipun umurnya bertambah. Hal ini karena…
a. tanaman jagung mempunyai jaringan kambium
b. tanaman mangga memiliki jaringan kambium
c. tanaman jagung memiliki pembuluh kayu
d. tanaman mangga memiliki pembuluh tapis
101
16. Waktu mencangkok, kulit batang pohon harus dibuang sedangkan bagian kayu tidak
dibuang. Hal ini dimaksudkan agar…
a. aliran air ke daun terputus
b. makanan tidak dapat diangkut ke batang
c. makanan tidak dapat diangkut ke daun
d. oksigen tidak dapat sampai ke akar
17. Batang tumbuhan teratai dan eceng gondok mempunyai rongga besar yang berfungsi
untuk…
a. memperlancar peredaran oksigen ke sel-sel tumbuhan
b. menyimpan udara pernapasan
c. menyimpan CO2 untuk fotosintesis
d. menghindari penguapan yang berlebihan
18. Berikut ini yang bukan merupakan fungsi batang adalah…
a. sebagai alat reproduksi seksual
b. sarana lintasan air
c. tempat dudukan daun
d. menegakkan tubuh tumbuhan
19. Fungsi daun antara lain adalah sebagai berikut, kecuali….
a. tempat terjadinya fotosintesis
b. tempat terjadinya penguapan
c. tempat penyerapan air melalui stomata
d. tempat tejadinya pertukaran CO2 dan O2 melalui stomata
untuk soal nomor 20 dan 21, perhatikan gambar sayatan melintang daun dibawah mikroskop
20. Jaringan yang ditunjuk dengan nomor 2, adalah jaringan….
a. epidermis
c. palisade
b. bunga karang
d. stomata
21. Tempat terjadinya fotosintesis ditunjukkan oleh nomor…
a. 1
b. 2
c. 3
d. 4
22. Jika kita mengamati organ daun, maka stomata (mulut daun) dapat kita temukan pada
jaringan….
a. epidermis
c. meristem
b. pengangkut
d. penguat
23. Stomata selain berperan dalam proses fotosintesis, berperan pula dalam…
a. proses pernapasan
c. proses perkembangan
b. proses pertumbuhan
d. proses pengangkutan
102
24. Naiknya air dari dalam tanah ke daun disebabkan oleh faktor berikut, kecuali…
a. kapilaritas xilem
c. daya isap daun
b. kapilaritas floem
d. tekanan akar
25. Pada musim kemarau, tumbuhan jati menggugurkan daun-daunnya, tujuannya adalah…
a. mempercepat penguapan
c. mempercepat pergantian air
b. memperkecil penguapan
d. memperkecil jumlah daun
26. Pada keadaan yang sangat lembab, dari ujung-ujung daun keluar tetesan air. Hal ini
disebut peristiwa…
a. transpirasi
c. aerasi
b. respirasi
d. gutasi
27. Tumbuhan kaktus memiliki daun-daun yang kecil dan tebal seperti jarum. Hal ini
bertujuan untuk…
a. mempercepat penguapan
c. mengurangi penguapan
b. memperbesar penguapan
d. adaptasi di daerah lembab
28. Mekanisme membuka dan menutupnya stomata dipengaruhi oleh…
a. kadar garam pada sel penjaga
c. kadar O2 pada sel penjaga
b. kadar CO2 pada sel penjaga
d. kadar air pada sel penjaga
29. . Tumbuhan memiliki daya isap daun, karena pada daun terjadi proses…
a. fotosintesis
c. transpirasi
b. respirasi
d. transportasi
30. pengangkutan air dan mineral secara ekstravaskuler dimulai dari…
a. floem batang ke floem daun
c. xilem akar ke xilem batang
b. rambut akar sampai floem akar
d. rambut akar sampai ke xilem
akar
31. Pada saat transpirasi, zat yang dikeluarkan oleh tumbuhan adalah…
a. CO2
b. O2
c. H2O
d. NH2
32. Berkas pembuluh yang mengangkut air dan garam mineral dari dalam tanah ke daun
adalah…
a. xylem
c. sel pengiring
b. floem
d. serabut kulit.
33. Definisi osmosis yang benar adalah…
a. perpindahan air melawan gradient difusi
b.perpindahan air dari konsentrasi rendah ke konsentrasi tinggi melalui selaput
semipermeabel
c. penyebaran partikel melalui ruangan
d. transportasi zat dengan cara menembus penghalang menggunakan ATP
34. Kentang yang di kupas dan di rendam di air beberapa waktu, lama kelaman berat nya
bertambah. Hal itu membuktikan bahwa telah terjadi peristiwa…
a. difusi
c. transpor aktif
b. osmosis
d. fagositosit
103
35. Laju transpirasi tumbuhan dipengaruhi oleh faktor-faktor di bawah ini, kecuali…
a. cahaya matahari
c. kelembapan udara
b. kecepatan angin
d. gravitasi bumi
36. Bagian-bagian berikut yang merupakan ciri bunga lengkap, kecuali…
a. putik
c.mahkota bunga
b. benang sari
d. tangkai bunga
37. Organ bunga merupakan modifikasi dari organ…
a. batang
c. buah
b. daun
d. biji
38. Bagian bunga yang merupakan perhiasan bunga adalah..
a. kelopak dan mahkota bunga
b. mahkota dan benang sari
c. benang sari dan putik
d. tenda bunga dan putik
39. Bagian bunga yang berfungsi untuk menarik perhatian serangga adalah…
a. kelopak bunga
b. mahkota bunga
c. benang sari
d. putik
40. Yang bukan merupakan contoh dari buah sejati adalah…..
a. Mangga
c. Jambu monyet
c. Pepaya
d. Tomat
104
LAMPIRAN 9
Kunci Jawaban Uji Coba Instrumen
1
C
21
B
2
D
22
A
3
D
23
A
4
A
24
B
5
B
25
B
6
A
26
D
7
D
27
C
8
C
28
D
9
A
29
A
10
D
30
D
11
B
31
C
12
D
32
A
13
B
33
B
14
A
34
B
15
B
35
D
16
B
36
D
17
A
37
B
18
A
38
A
19
C
39
B
20
C
40
C
105
LAMPIRAN 10
Rekapitulasi Data Hasil Uji Validitas
Rata2= 24. 42
Simpang Baku= 5. 78
Korelasi XY= 0.63
Reliabilitas Tes= 0.78
Butir Soal= 40
Jumlah Subyek= 40
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
Butir Soal
Asli
1
4
5
7
8
10
11
13
15
18
21
22
24
25
28
29
30
31
32
34
37
39
D.Pembeda
(%)
36.36
18.18
36.36
36.36
45.45
27.27
18.18
45.45
36.36
27.27
54.55
45.45
45.45
54.55
27.27
36.36
45.45
36.36
27.27
9.09
36.36
45.45
T. Kesukaran
Korelasi
Sign. Korelasi
Sedang
Sangat Mudah
Sedang
Sedang
Sedang
Sedang
Sukar
Sedang
Sedang
Sedang
Sedang
Sedang
Mudah
Sedang
Mudah
Sedang
Mudah
Mudah
Sedang
Sedang
Mudah
Sedang
0.361
0.326
0.394
0.361
0.410
0.332
0.341
0.353
0.321
0.332
0.469
0.419
0.435
0.469
0.400
0.395
0.435
0.395
0.341
0.179
0.419
0.353
Signifikan
Signifikan
Sangat Signifikan
Signifikan
Sangat Signifikan
Signifikan
Signifikan
Signifikan
Signifikan
Signifikan
Sangat Signifikan
Sangat Signifikan
Sangat Signifikan
Sangat Signifikan
Sangat Signifikan
Sangat Signifikan
Sangat Signifikan
Sangat Signifikan
Signifikan
Signifikan
Sangat Signifikan
Signifikan
106
LAMPIRAN 11
Instrumen Hasil Uji Soal
Nama :
Kelas :
Pilihlah jawaban yang paling tepat!
1. Berikut ini adalah organ pada tumbuhan, kecuali…
a. akar
c. epidermis
b. batang
d. daun
Untuk soal nomor 2 perhatikan gambar penampang melintang akar tanaman berikut.
2. Bagian akar, yang ditunjukan oleh nomor 2, berfungsi sebagai…
a. menyerap air dari dalam tanah
b. melindungi akar
c. memperkuat akar
d. membentuk cabang akar
3. Contoh tanaman yang menyimpan cadangannya di akar yaitu…..
a. tebu
c. sagu
b. wortel
d. kentang
4. Bagian akar yang membentuk tonjolan menjadi rambut akar adalah..
a. silinder pusat
b. endodermis
5. Pernyataan yang salah adalah..
c. korteks
d. epidermis
a. batang tumbuhan kayu yang masih muda bisa berfotosintesis
b. tumbuhan herba memiliki sedikit jaringan kayu pada batangnya
c. struktur batang terdiri dari epidermis, korteks, endodermis dan silinder pusat
d. lentisel tidak berhubungan dengan bagian dalam batang
6. Perhatikan gambar penampang batang di bawah ini!
107
Pembuluh floem dan xilem ditunjukkan oleh nomor…
a. 1 dan 2
c. 3 dan 5
b. 2 dan 4
d. 1 dan 4
7. Yang berfungsi sebagai tempat pertukaran gas di batang adalah….
a. kloroplas
c. epidermis
b. lentisel
d. korteks
8. Batang tanaman mangga dapat bertambah besar, sedangkan batang tanaman jagung tidak
dapat bertambah besar meskipun umurnya bertambah. Hal ini karena…
a. tanaman jagung mempunyai jaringan kambium
b. tanaman mangga memiliki jaringan kambium
c. tanaman jagung memiliki pembuluh kayu
d. tanaman mangga memiliki pembuluh tapis
9. Berikut ini yang bukan merupakan fungsi batang adalah…
a. sebagai alat reproduksi seksual
b. sarana lintasan air
c. tempat dudukan daun
d. menegakkan tubuh tumbuhan
10.
Tempat terjadinya fotosintesis ditunjukkan oleh nomor…
a. 1
b. 2
c. 3
d. 4
11. Jika kita mengamati organ daun, maka stomata (mulut daun) dapat kita temukan pada
jaringan….
a. epidermis
c. meristem
b. pengangkut
d. penguat
12. Naiknya air dari dalam tanah ke daun disebabkan oleh faktor berikut, kecuali…
a. kapilaritas xilem
c. daya isap daun
b. kapilaritas floem
d. tekanan akar
13. Pada musim kemarau, tumbuhan jati menggugurkan daun-daunnya, tujuannya adalah…
a. mempercepat penguapan
c. mempercepat pergantian air
b. memperkecil penguapan
d. memperkecil jumlah daun
14. Mekanisme membuka dan menutupnya stomata dipengaruhi oleh…
a. kadar garam pada sel penjaga
c. kadar O2 pada sel penjaga
b. kadar CO2 pada sel penjaga
d. kadar air pada sel penjaga
15. Tumbuhan memiliki daya isap daun, karena pada daun terjadi proses…
a. fotosintesis
c. transpirasi
108
b. respirasi
d. transportasi
16. Pengangkutan air dan mineral secara ekstravaskuler dimulai dari…
a. floem batang ke floem daun
c. xilem akar ke xilem batang
b. rambut akar sampai floem akar
d. rambut akar sampai ke xilem akar
17. Pada saat transpirasi, zat yang dikeluarkan oleh tumbuhan adalah…
a. CO2
b. O2
c. H2O
d. NH2
18. Berkas pembuluh yang mengangkut air dan garam mineral dari dalam tanah ke daun
adalah…
a. xylem
c. sel pengiring
b. floem
d. serabut kulit.
19. Organ bunga merupakan modifikasi dari organ…
a. batang
c. buah
b. daun
d. biji
20. Bagian bunga yang berfungsi untuk menarik perhatian serangga adalah…
a. kelopak bunga
b. mahkota bunga
c. benang sari
d. putik
109
LAMPIRAN 12
Kunci Jawaban Instrumen Hasil Uji Soal
1. C
2. A
3. B
4. D
5. D
6. B
7. B
8. B
9. A
10. B
11. A
12. B
13. B
14. D
15. A
16. D
17. C
18. A
19. B
20. B
110
LAMPIRAN 13
Nilai Normal Gain (N-Gain) kelas Eksperimen
Perhitungan nilai N-Gain berdasarkan rumus berikut ini:
Nilaiposte s  Nilai Pr etes
N-Gain =
SkorIdeal  Nilai Pr etes
Sedangkan ketegorisasi ditentukan dengan nilai N-gain sebagai berikut.
g-tinggi
: nilai G ≥ 0,7
g-sedang
: nilai 0,30 ≤ G ≤ 0,70
g-rendah
: nilai G < 0,30
Nilai N-gain hasil pretes dan postes pada kelas eksperimen sebagai berikut ini.
Tabel Nilai N-gain kelas eksperimen
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
Nama Siswa
Ahmad Syaiful Agus Kodar
Ardiva Calliopeh Putra
Ahmad Azis Purnomo
Ananda Pratama
Asih Wijiastuti
Alvi Fachrul Gianur
Annita Claudia
Arum Fadillah
Della Isnaini S.P
Dewa Ayu oktaviani
Dinda Arista A
Ekki Oktaviana
Erna Wati
Haira Azmi s. A
Haryadi W
Ibrahim
Indah Meta R
Kahutsar Alfian
Maria Indah a
Mohammad farhan
Muhammad Kahfi
Munawaroh
Necha Rusyana
Niza Nadianti
NuZul Lailatul Ikhsan
Reza Anugrah
Rizki Pramayudha
Sri Lestari
Sri Rianti
Syafrifuddin
Pretest
Postest
Gain (G)
30
55
55
40
30
45
50
40
50
50
30
40
55
50
45
30
55
35
45
55
30
45
35
55
45
35
55
35
45
45
40
60
65
60
60
65
60
45
65
65
45
45
75
70
75
40
70
65
70
70
50
55
55
70
50
45
70
45
75
50
43, 67
59, 17
0.142857143
0.111111111
0.222222222
0.333333333
0.428571429
0.363636364
0.2
0.083333333
0.3
0.3
0.214285714
0.083333333
0.444444444
0.4
0.545454545
0.142857143
0.333333333
0.461538462
0.454545455
0.333333333
0.285714286
0.181818182
0.307692308
0.333333333
0.090909091
0.153846154
0.333333333
0.153846154
0.545454545
0.090909091
Kategori
Rendah
Rendah
Rendah
Sedang
Sedang
Sedang
Rendah
Rendah
Sedang
Sedang
Rendah
Rendah
Sedang
Rendah
Rendah
Sedang
Rendah
Rendah
Rendah
Rendah
Rendah
Rendah
Sedang
Sedang
Rendah
Rendah
Sedang
Rendah
Sedang
Rendah
0.279168239 Rendah
111
LAMPIRAN 14
Nilai Normal Gain (N-Gain) kelas kontrol
Perhitungan nilai N-Gain berdasarkan rumus berikut ini:
Nilaiposte s  Nilai Pr etes
N-Gain =
SkorIdeal  Nilai Pr etes
Sedangkan ketegorisasi ditentukan dengan nilai N-gain sebagai berikut.
g-tinggi
: nilai G ≥ 0,7
g-sedang
: nilai 0,30 ≤ G ≤ 0,70
g-rendah
: nilai G < 0,30
Nilai N-gain hasil pretes dan postes pada kelas kontrol sebagai berikut ini.
Tabel Nilai N-gain kelas kontrol
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
Nama Siswa
Adam wahyudi
Abdul haris
Adhitia Bagus M
Andi Kurniawan
Ari Izaegi
Badrus Zaman
david Sanjaya
Destia Ramdhini
Ega Prayoga
Fajar Ramadhan
Fauziah Fatiah
Firdha Amelia Anwar
Mahfur Amin Aji
Mahrudi
Mega Permata Sari
Mohammad Gunawan
Mutia Badrun Sunomo
Nanda Prasetyo
Nurjanah
Putri Listiyowati
Ridwan
Rifki fajar Septian
Sayyidina Rama Aulia
Shinta K
Sisca Marlina
Sonya Amanda
Suci Indri W
Tia Suliani R
Wahyu Febryan
Wiwin Caswinah
Pretest
Posttest
40
45
30
40
45
30
40
45
40
40
30
45
50
40
30
35
45
35
30
45
35
30
50
50
50
35
50
50
50
35
45
50
25
45
50
25
45
50
45
45
30
55
55
45
25
50
50
45
30
55
40
30
55
65
65
30
65
65
65
35
40, 50
46, 00
Gain (G)
0.090909
0.1
-0.06667
0.090909
0.1
-0.06667
0.090909
0.1
0.090909
0.090909
0
0.222222
0.111111
0.090909
-0.06667
0.3
0.1
0.181818
0
0.222222
0.083333
0
0.111111
0.428571
0.428571
-0.07143
0.428571
0.428571
0.428571
0
Kategori
Rendah
Rendah
Rendah
Rendah
Rendah
Rendah
Rendah
Rendah
Rendah
Rendah
Rendah
Rendah
Rendah
Rendah
Rendah
Sedang
Rendah
Rendah
Rendah
Rendah
Rendah
Rendah
Rendah
Sedang
Sedang
Rendah
Sedang
Sedang
Sedang
Rendah
0.134957 Rendah
112
LAMPIRAN 15
Hasil Pretes Kelas Eksperimen
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
Rata-rata
Nama
Ahmad Syaiful Agus Kodar
Ardiva Calliopeh Putra
Ahmad Azis Purnomo
Ananda Pratama
Asih Wijiastuti
Alvi Fachrul Gianur
Annita Claudia
Arum Fadillah
Della Isnaini S.P
Dewa Ayu oktaviani
Dinda Arista A
Ekki Oktaviana
Erna Wati
Haira Azmi s. A
Haryadi W
Ibrahim
Indah Meta R
Kahutsar Alfian
Maria Indah a
Mohammad farhan
Muhammad Kahfi
Munawaroh
Necha Rusyana
Niza Nadianti
NuZul Lailatul Ikhsan
Reza Anugrah
Rizki Pramayudha
Sri Lestari
Sri Rianti
Syafrifuddin
Nilai
30
55
55
40
30
45
50
40
50
50
30
40
55
50
45
30
55
35
45
55
30
45
35
55
45
35
55
35
45
45
43, 67
113
LAMPIRAN 16
Perhitungan Uji Normalitas (UJi Liliefors)
Data prestes kelas eksperimen
A. Perolehan data
30
30
30
30
30
35
35
35
35
40
40
40
45
45
45
45
45
45
45
50
50
50
50
55
55
55
55
55
55
55
B. Distribusi Frekuensi
1. Menentukan skor terbesar dan terkecil
Skor terbesar = 55
Skor terkecil = 30
2. Menentukan rentangan (R)
R = skor terbesar-skor terkecil
R = 55-30
R = 25
3. Menentukan banyak kelas (BK) dengan banyak data (n) = 30
BK = 1 + 3,3 log n
= 1 + 3,3 log 30
= 1 + 4,87
= 5,87
= 6 (dibulatkan)
4. Menentukan panjang kelas interval (i)
i=
R
K
=
25
= 41,7
6
= 5 (dibulatkan)
5. Menentukan distribusi frekuensi
114
Interval
f
30-34
35-39
40-44
45-48
50-54
55-59
X=
=
xi
5
4
3
7
4
7
30
32
37
42
47
52
57
267
 fxi
n
1370
= 43, 67
30
7. Menentukan varians (Si2)
2
(Si ) =
n. ( fXi 2 )  ( fXi) 2
n.(n  1)
30.(6490)  (1370) 2
=
30.(30  1)
= 80,91
8. Menentukan simpangan baku (standar deviasi)
SD =
SD =
n. ( fXi 2 )  ( fXi) 2
n.(n  1)
30.(6490)  (1370) 2
30.29
SD = 9,00
Xi2
f.xi
160
148
126
329
208
399
1370
1024
1369
1764
2209
2704
3249
12319
f.xi2
5120
5476
5292
15463
10816
22743
64910
115
Tabel
Uji Normalitas Data Pretes Kelompok Eksperimen
Skor
frekuensi
30
35
40
45
50
55
Zi =
5
4
3
7
4
7
30
Zn
Zi
5
9
12
19
23
30
98
-1.74268
-1.1865
-0.63033
-0.07416
0.482017
1.038191
-2.11346
F(Z)
0.0409
0.419
0.27
0.473
0.6844
0.8486
S(Zi)
0.166667
0.3
0.4
0.633333
0.766667
1
3.266667
F (Z) – S (Zi)
-0.12577
0.119
-0.13
-0.16033
-0.08227
-0.1514
-0.53077
Lo : 0.1603
xx
SD
S (Zi) =
Zn
, n = jumlah siswa
n
L tabel (Lt) ; karena n = 30, maka :
L tabel (Lt) ; = 0,161
Lo < Lt (0,160 < 0,161) sehingga diambil kesimpulan bahwa sampel berdistribusi normal.
116
Lampiran 17
Hasil postes kelas eksperimen
No Nama siswa
1
Ahmad Syaiful Agus Kodar
2
Ardiva Calliopeh Putra
3
Ahmad Azis Purnomo
4
Ananda Pratama
5
Asih Wijiastuti
6
Alvi Fachrul Gianur
7
Annita Claudia
8
Arum Fadillah
9
Della Isnaini S.P
10 Dewa Ayu oktaviani
11 Dinda Arista A
12
Ekki Oktaviana
13 Erna Wati
14 Haira Azmi s. A
15 Haryadi W
16 Ibrahim
17 Indah Meta R
18 Kahutsar Alfian
19 Maria Indah a
20 Mohammad farhan
21 Muhammad Kahfi
22 Munawaroh
23 Necha Rusyana
24 Niza Nadianti
25 NuZul Lailatul Ikhsan
26 Reza Anugrah
27 Rizki Pramayudha
28 Sri Lestari
29 Sri Rianti
30 Syafrifuddin
Rata-rata
Nilai postes
40
60
65
60
60
65
60
45
65
65
45
45
75
70
75
40
70
65
70
70
50
55
55
70
50
45
70
45
75
50
59. 17
117
LAMPIRAN 18
Perhitungan Uji Normalitas (Uji Liliefors)
Data postes siswa kelas eksperimen
A. Perolehan data
40
55
65
40
55
70
45
60
70
45
60
70
45
60
70
45
60
70
45
65
70
B. Distribusi Frekuensi
1. Menentukan skor terbesar dan terkecil
Skor terbesar = 75
Skor terkecil = 40
2. Menentukan rentangan (R)
R = skor terbesar-skor terkecil
R = 75-40
R = 35
3. Menentukan banyak kelas (BK) dengan banyak data (n) = 30
BK = 1 + 3,3 log n
= 1 + 3,3 log 30
= 1 + 4,87
= 5,87
= 6 (dibulatkan)
4. Menentukan panjang kelas interval (i)
i=
R
K
=
35
= 5,8333 = 6 (dibulatkan)
6
50
65
75
50
65
75
50
65
75
118
5. Menentukan distribusi frekuensi
Interval
f
40-45
46-51
52-57
58-63
64-69
70-75
xi
7
3
2
4
5
9
30
42.5
48.5
54.5
60.5
66.5
72.5
345
6. Menentukan rata-rata (mean)
X=
=
 fxi
n
1795
= 59. 17
30
7. Menentukan varians (Si2)
2
(Si ) =
=
n. ( fXi 2 )  ( fXi) 2
n.(n  1)
30.(109699,5)  (1779) 2
30.(30  1)
= 144,99
8. Menentukan simpangan baku (standar deviasi)
SD =
SD =
n. ( fXi 2 )  ( fXi) 2
n.(n  1)
30.(109699,5)  (1779) 2
SD = 11, 23
30.29
x.i2
f.xi
297.5
145.5
109
242
332.5
652.5
1795
1806.25
2352.25
2970.25
3660.25
4422.25
5256.25
20467.5
f.xi2
12643.75
7056.75
5940.5
14641
22111.25
47306.25
109699.5
119
Tabel
Uji Normalitas Data Postes Kelompok eksperimen
Skor frekuensi
40
45
50
55
60
65
70
75
Zi =
2
5
3
2
4
5
6
3
30
Zn
Zi
2
7
10
12
16
21
27
30
30
-1.60299
-1.18771
-0.77243
-0.35714
0.05814
0.473422
0.888704
1.303987
-1.19601
F (Z)
0.0538
0.119
0.2506
0.3632
0.5199
0.6808
0.7518
0.9032
3.6423
S (Zi)
0.066667
0.233333
0.333333
0.4
0.533333
0.7
0.9
1
4.166667
F (Z) – S (Zi)
-0.01287
-0.11433
-0.08273
-0.0368
-0.01343
-0.0192
-0.1482
-0.0968
Lo : 0.1143
xx
SD
S (Zi) =
Zn
, n = jumlah siswa
n
L tabel (Lt) ; karena n = 30, maka :
L tabel (Lt) ; = 0,161
Lo < Lt (0,1143 < 0,161) sehingga diambil kesimpulan bahwa sampel berdistribusi normal.
120
LAMPIRAN 19
Hasil pretes kelas kontrol
No Nama Siswa
1
Adam wahyudi
2
Abdul haris
3
Adhitia Bagus M
4
Andi Kurniawan
5
Ari Izaegi
6
Badrus Zaman
7
david Sanjaya
8
Destia Ramdhini
9
Ega Prayoga
10 Fajar Ramadhan
11 Fauziah Fatiah
12 Firdha Amelia Anwar
13 Mahfur Amin Aji
14 Mahrudi
15 Mega Permata Sari
16 Mohammad Gunawan
17 Mutia Badrun Sunomo
18 Nanda Prasetyo
19 Nurjanah
20 Putri Listiyowati
21 Ridwan
22 Rifki fajar Septian
23 Sayyidina Rama Aulia
24 Shinta K
25 Sisca Marlina
26 Sonya Amanda
27 Suci Indri W
28 Tia Suliani R
29 Wahyu Febryan
30 Wiwin Caswinah
Rata-rata
Nilai Pretes
40
45
30
40
45
30
40
45
40
40
30
45
50
40
30
35
45
35
30
45
35
30
50
50
50
35
50
50
50
35
40,50
121
LAMPIRAN 20
Perhitungan Uji Normalitas (UJi Liliefors)
Data pretes kelas kontrol
A.
Perolehan data
B.
30
30
30
30
30
30
35
35
35
35
35
40
40
40
40
40
40
45
45
45
45
45
45
50
50
50
50
50
50
50
Distribusi Frekuensi
1. Menentukan skor terbesar dan terkecil
Skor terbesar = 50
Skor terkecil = 30
2. Menentukan rentangan (R)
R = skor terbesar-skor terkecil
R = 50-30
R = 20
3. Menentukan banyak kelas (BK) dengan banyak data (n) = 30
BK = 1 + 3,3 log n
= 1 + 3,3 log 30
= 1 + 4,87
= 5,87
= 6 (dibulatkan)
4. Menentukan panjang kelas interval (i)
i=
=
R
K
20
= 3,3
6
= 4 (dibulatkan)
122
5. Menentukan distribusi frekuensi
Interval
30-33
34-37
38-41
42-45
46-49
50-53
f
6
4
6
7
0
7
30
xi
31.5
35.5
39.5
43.5
47.5
51.5
249
6. Menentukan rata-rata (mean)
X=
=
 fxi
n
1233
= 40,50
30
7. Menentukan varians (Si2)
2
(Si ) =
n. ( fXi 2 )  ( fXi) 2
n.(n  1)
30  (52167.5)  (1233) 2
=
30.(30  1)
= 51.42
8. Menentukan simpangan baku (standar deviasi)
SD =
SD =
n. ( fXi 2 )  ( fXi) 2
n.(n  1)
30.(52167,5)  (1233)
30.29
SD = 7, 35
2
f.xi
189
142
237
304.5
0
360.5
1233
xi2
992.25
1260.25
1560.25
1892.25
2256.25
2652.25
10613.5
f.xi2
5953.5
5041
9361.5
13245.75
0
18565.75
52167.5
123
Tabel
Uji Normalitas Data Pretes Kelompok kontrol
Skor (xi)
frekuensi
Zn
Zi
F (Z)
S(Zi)
F(Z) - S(Zi)
30
35
40
45
50
6
4
6
7
7
30
6
10
16
23
30
30
-1.54812
-0.85077
-0.15342
0.543933
1.241283
-0.76709
0.0618
0.1977
0.4404
0.7054
0.8925
0.2
0.333333
0.533333
0.766667
1
2.833333
-0.1382
-0.13563
-0.09293
-0.06127
-0.1075
Lo : 0.1382
Zi =
S (Zi) =
xx
SD
Zn
, n = jumlah siswa
n
L tabel (Lt) ; karena n = 30, maka :
L tabel (Lt) ; = 0,161
Lo < Lt (0,1382 < 0,161) sehingga diambil kesimpulan bahwa sampel berdistribusi normal.
124
LAMPIRAN 21
Hasil postes kelas kontrol
No
Nama Siswa
1
Adam wahyudi
2
Abdul haris
3
Adhitia Bagus M
4
Andi Kurniawan
5
Ari Izaegi
6
Badrus Zaman
7
david Sanjaya
8
Destia Ramdhini
9
Ega Prayoga
10 Fajar Ramadhan
11 Fauziah Fatiah
12 Firdha Amelia Anwar
13 Mahfur Amin Aji
14 Mahrudi
15 Mega Permata Sari
16 Mohammad Gunawan
17 Mutia Badrun Sunomo
18 Nanda Prasetyo
19 Nurjanah
20 Putri Listiyowati
21 Ridwan
22 Rifki fajar Septian
23 Sayyidina Rama Aulia
24 Shinta K
25 Sisca Marlina
26 Sonya Amanda
27 Suci Indri W
28 Tia Suliani R
29 Wahyu Febryan
30 Wiwin Caswinah
Rata-rata
Nilai Postes
45
50
25
45
50
25
45
50
45
45
30
55
55
45
25
50
50
45
30
55
40
30
55
65
65
30
65
65
65
35
46,00
125
LAMPIRAN 22
Perhitungan Uji Normalitas (UJi Liliefors)
Data postes kelas kontrol
A. Perolehan data
25
25
25
30
30
30
30
35
40
45
45
45
45
45
45
45
50
50
50
50
50
55
55
55
55
65
65
65
65
65
B. Distribusi Frekuensi
1. Menentukan skor terbesar dan terkecil
Skor terbesar = 65
Skor terkecil = 25
2. Menentukan rentangan (R)
R = skor terbesar-skor terkecil
R = 65-25
R = 40
3. Menentukan banyak kelas (BK) dengan banyak data (n) = 30
BK = 1 + 3,3 log n
= 1 + 3,3 log 30
= 1 + 4,87
= 5,87
= 6 (dibulatkan)
4. Menentukan panjang kelas interval (i)
i=
R
K
=
40
= 6.66
6
= 7 (dibulatkan)
126
5. Menentukan distribusi frekuensi
Interval
f
25-31
32-38
39-45
46-52
53-59
60-66
xi
7
1
8
5
4
5
30
28
35
42
49
56
63
273
6. Menentukan rata-rata (mean)
X=
=
 fxi
n
1351
= 46,00
30
7. Menentukan varians (Si2)
2
(Si ) =
=
n. ( fXi 2 )  ( fXi) 2
n.(n  1)
30.(65219)  (1351) 2
=
30.(30  1)
= 150.1
8. Menentukan simpangan baku (standar deviasi)
SD =
n. ( fXi 2 )  ( fXi) 2
SD = 12, 76
n.(n  1)
Xi2
f.xi
196
35
336
245
224
315
1351
784
1225
1764
2401
3136
3969
13279
f.xi2
5488
1225
14112
12005
12544
19845
65219
127
Tabel
Uji Normalitas Data Postes Kelompok kontrol
skor
frekuensi
25
30
35
40
45
50
55
60
65
Zi =
3
4
1
1
7
5
4
0
5
Zn
3
7
8
9
16
21
25
25
30
Zi
-1.64082
-1.23265
-0.82449
-0.41633
-0.00816
0.4
0.808163
1.216327
1.62449
F(Z)
0.0504
0.1093
0.2061
0.3409
0.4681
0.6554
0.7681
0.8869
0.9474
S(Zi)
0.1
0.233333
0.266667
0.3
0.533333
0.7
0.833333
0.833333
1
F (Z) – ( Zi)
-0.0496
-0.12403
-0.06057
0.0409
-0.06523
-0.0446
-0.06523
0.053567
-0.0526
Lo : 0.12403
xx
SD
S (Zi) =
Zn
, n = jumlah siswa
n
L tabel (Lt) ; karena n = 30, maka :
L tabel (Lt) ; = 0,161
Lo < Lt (0,12403 < 0,161) sehingga diambil kesimpulan bahwa sampel berdistribusi
normal.
128
LAMPIRAN 23
Uji Homogenitas Data
A. Perhitungan Uji Homogenitas Pretes Kedua Kelompok
Perhitungan uji homogenitas yang dilakukan adalah uji homogenitas dua varians atau
uji Fisher, dengan rumus :2
2
n. ( f .xi )  ( f .xi) 2
S1
F=
, Si2 =
n.( n  1)
1
S2
Untuk menguji homogenitas data pretes menggunakan langkah-langkah sebagai berikut :
1. Hipotesis
Ho = Data yang memiliki varians homogen
Ha = Data yang tidak memiliki varians homogen
2. Kriteria pengujian
a. Jika Fhitung < F tabel, maka Ho diterima, yang berarti kedua varians homogen
b. Jika Fhitung > F tabel, maka Ha diterima, yang berarti kedua varians tidak
homogen
3. Menentukan nilai F hitung
Diketahui varians semua skor pretes kelas eksperimen = 80.99 dan variansi skor
pretes kelompok kontrol =51.42 maka variansi terbesar (S12) = 80.99 dan variansi terkecil
(S22) = 51,42 dengan menggunakan rumus diatas diperoleh :
F=
S1
2
S2
1
=
80.99
51.42
Fhitung = 1.57
4. Menentukan derajat kebebasan
db = n-1
db1 = 30-1 =29
db2 = 30-1 =29
5. Menentukan F tabel (lihat tabel)
F tabel = F (a)(db1/db2) = F (0,05)(29/29) = 1,85
6. Kesimpulan
Karena Fhitung < Ftabel (1.57 < 1,85), berarti Ho diterima, maka dapat diambil
kesimpulan bahwa kedua data memiliki varians homogen.
129
B. Perhitungan Uji Homogenitas Postes Kedua Kelompok
Perhitungan uji homogenitas yang dilakukan adalah uji homogenitas dua varians atau
uji Fisher, dengan rumus :
2
n. ( f .xi 2 )  ( f .xi) 2
S1
F=
, Si2 =
n.( n  1)
1
S2
Untuk menguji homogenitas data postes menggunakan langkah-langkah sebagai berikut :
1. Hipotesis
Ho = Data yang memiliki varians homogen
Ha = Data yang tidak memiliki varians homogen
2. Kriteria pengujian
c. Jika Fhitung < F tabel, maka Ho diterima, yang berarti kedua varians homogen
d. Jika Fhitung > F tabel, maka Ha diterima, yang berarti kedua varians tidak
homogen
3. Menentukan nilai F hitung
Diketahui varians semua skor postes kelas eksperimen = 144.99 dan variansi skor
postes kelompok kontrol = 150.1, maka variansi terbesar (S12) = 150.1 dan variansi terkecil
(S22) = 144.99 dengan menggunakan rumus diatas diperoleh :
F=
S1
2
S2
2
=
150 .1
144 .99
Fhitung = 1.035
7. Menentukan derajat kebebasan
db = n-1
db1 = 30-1 =29
db2 = 30-1 =29
8. Menentukan F tabel (lihat tabel)
F tabel = F (a)(db1/db2) = F (0,05)(30/30) = 1,85
9. Kesimpulan
Karena Fhitung < Ftabel (1.035 < 1,85), berarti Ho Ho diterima, maka dapat diambil
kesimpulan bahwa kedua data memiliki varians homogen.
130
LAMPIRAN 24
Perhitungan Uji Hipotesis
Perhitungan uji hipotesis berdasarkan data postes menggunakan Uji-t. langkahlangkahnya adalah sebagai berikut :
1. Menentukan hipotesis
Ho : rata-rata data kelompok eksperimen
Ha : rata-rata data kelompok kontrol
2. Menentukan α
Taraf signifikan yang digunakan adalah α = 0,05
3. Menentukan kriteria penerimaan hipotesis
Berdasarkan uji kesamaan varians, ditunjukan bahwa kedua kelompok
mempunyai varians yang tidak homogen, maka untuk pengujian hipotesis ini
digunakan rumus :
X1  X 2
Thitung =
Sg
dengan Sg =
1
1

n1
n2
(n  1) S12  (n2  1) S 2 2
n1  n2  2
Criteria : Ho diterima, jika Fhitung < Ftabel dan Ha diterima, jika Fhitung > Ftabel
4. Menghitung t
- Mencari Sg
=
(n1  1) S12  (n2  1) S 2 2
n1  n2  2
=
(30  1)144.99  (30  1)150.1
30  30  2
(4204.71  4352.9
58
= 12. 14
Menghitung nilai thitung
=
-
x1  x 2
thitung =
Sg
= 4,244
1
1

n1
n2
59,17  46.00
=
12.14
1
1

30
30
131
5. Kesimpulan
Karena thitung > ttabel (4,244 > 2,00), berarti Ha diterima, maka rata-rata data
kelompok eksperimen tidak sama dengan rata-rata data kelompok kontrol, hal imi
menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara skor postes
kelompok eksperimen dan kelompok kontrol
Download