Tugas M-04

advertisement
AKTIVITAS TEKTONIK JAWA BARAT
Geologi Jawa Barat merupakan salah satu daerah di Indonesia yang memiliki daya
tarik tersendiri. Aktifitas geologi yang telah berlangsung selama berjuta-juta tahun di wilayah
ini menghasilkan berbagai jenis batuan mulai dari batuan sedimen, batuan beku (ekstrusif dan
intrusif) dan batuan metamorfik dengan umur yang beragam. Akibat proses tektonik yang
terus berlangsung hingga saat ini, seluruh batuan tersebut telah mengalami pengangkatan,
pelipatan dan pensesaran.
Dari sudut pandang ilmu kebumian, daerah Jawa Barat sangat menarik untuk
dipelajari karena geologi daerah ini dikontrol oleh hasil aktifitas tumbukan dua lempeng yang
berbeda jenis. Lempeng yang pertama berada di bagian utara berkomposisi granitis yang
selanjutnya dinamakan sebagai Lempeng Benua Eurasia, selanjutnya lempeng yang kedua
berada di selatan berkomposisi basaltis yang selanjutnya dinamakan sebagai Lempeng
Samudra Hindia-Australia. Kedua lempeng ini saling bertumbukan yang mengakibatkan
Lempeng Samudra menunjam di bawah Lempeng Benua. Zona tumbukan (subduction zone),
membentuk morfologi menyerupai lembah curam yang dinamakan sebagai palung laut
(trench). Di dalam palung ini terakumulasi berbagai jenis batuan terdiri atas batuan sedimen
laut dalam (Pelagic sediment), batuan metamorfik (batuan ubahan) dan batuan beku
berkomposisi basa hingga ultra basa (ofiolit). Percampuran berbagai jenis batuan di dalam
palung ini dinamakan sebagai batuan bancuh (batuan campur aduk) atau dkenal sebagai
batuan melange.
Jejak-jejak aktifitas tumbukan lempeng masa lampau (paleosubduk) dapat dilihat di
daerah Ciletuh, Sukabumi. Di daerah ini tersingkap batuan “melange Ciletuh” yang berumur
Kapur dan merupakan salah satu batuan tertua di Jawa yang dapat diamati di permukaan.
Daerah lain di Jawa yang juga memiliki batuan sama adalah daerah Karangsambung di
Kebumen, Jawa tengah dan Pegunungan Jiwo di Bayat, Jogyakarta.
Fisiografi Regional
Aktifitas geologi Jawa Barat menghasilkan beberapa zona fisiografi yang satu sama
lain dapat dibedakan berdasarkan morfologi, petrologi dan struktur geologinya. Van
Bemmelen (1949), membagi daerah Jawa Barat ke dalam 4 besar zona fisiografi, masingmasing dari utara ke selatan adalah Zona Dataran Pantai Jakarta, Zona Bogor, Zona Bandung
dan Zona Pegunungan Selatan.
Zona Dataran Pantai Jakarta menempati bagian utara Jawa membentang barat-timur
mulai dari Serang, Jakarta, Subang, Indramayu hingga Cirebon. Darah ini bermorfologi
pedataran dengan batuan penyusun terdiri atas aluvium sungai/pantai dan endapan gunungapi
muda. Zona Bogor menempati bagian selatan Zona Dataran Pantai Jakarta, membentang
mulai dari Tangerang, Bogor, Purwakarta, Sumedang, Majalengka dan Kuningan. Zona
Bogor umumnya bermorfologi perbukitan yang memanjang barat-timur dengan lebar
maksimum sekitar 40 km. Batuan penyusun terdiri atas batuan sedimen Tersier dan batuan
beku baik intrusif maupun ekstrusif. Morfologi perbukitan terjal disusun oleh batuan beku
intrusif, seperti yang ditemukan di komplek Pegunungan Sanggabuana, Purwakarta.
Van Bemmelen (1949), menamakan morfologi perbukitannya sebagai antiklinorium
kuat yang disertai oleh pensesaran. Zona Bandung yang letaknya di bagian selatan Zona
Bogor, memiliki lebar antara 20 km hingga 40 km, membentang mulai dari Pelabuhanratu,
menerus ke timur melalui Cianjur, Bandung hingga Kuningan. Sebagian besar Zona Bandung
bermorfologi perbukitan curam yang dipisahkan oleh beberapa lembah yang cukup luas. Van
Bemmelen (1949) menamakan lembah tersebut sebagai depresi diantara gunung yang
prosesnya diakibatkan oleh tektonik (intermontane depression). Batuan penyusun di dalam
zona ini terdiri atas batuan sedimen berumur Neogen yang ditindih secara tidak selaras oleh
batuan vulkanik berumur Kuarter. Akibat tektonik yang kuat, batuan tersebut membentuk
struktur lipatan besar yang disertai oleh pensesaran. Zona Bandung merupakan puncak dari
Geantiklin Jawa Barat yang kemudian runtuh setelah proses pengangkatan berakhir (van
Bemmelen, 1949).
Zona Pegunungan Selatan terletak di bagian selatan Zona Bandung. Pannekoek,
(1946), menyatakan bahwa batas antara kedua zona fisiografi tersebut dapat diamati di
Lembah Cimandiri, Sukabumi. Perbukitan bergelombang di Lembah Cimandiri yang
merupakan bagian dari Zona Bandung berbatasan langsung dengan dataran tinggi (pletau)
Zona Pegunungan Selatan. Morfologi dataran tinggi atau plateau ini, oleh Pannekoek (1946)
dinamakan sebagai Plateau Jampang.
Sumber : http://earthfactory.wordpress.com/2009/06/14/tektonik-regional-jawa-barat/
Download