bab ii tinjauan pustaka

advertisement
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II - 1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 PENGERTIAN UMUM PROYEK KONSTRUKSI
Pada dasarnya yang dimaksud dengan proyek adalah suatu usaha untuk mencapai
suatu tujuan tertentu yang dibatasi oleh waktu dan sumber daya yang terbatas. Sehingga
pengertian proyek konstruksi adalah suatu upaya untuk mencapai suatu hasil dalam bentuk
bangunan/infrastruktur. Bangunan ini pada umumnya mencakup pekerjaan pokok yang
termasuk didalamnya bidang teknik sipil dan arsitektur, juga tidak jarang melibatkan
disiplin lain seperti ; teknik industri, teknik mesin, teknik elektro dan sebagainya. Adapun
bentuk bangunan tersebut dapat berupa perumahan, gedung perkantoran, bendungan,
terowongan, bangunan industri dan bangunan pendukung yang banyak digunakan untuk
kepentingan masyarakat banyak.
Suatu pekerjaan konstruksi tidak selalu dapat dikategorikan sebagai proyek
konstruksi, tetapi harus memiliki kriteria-kriteria tertentu seperti dibawah ini:
1. Dimulai dari awal proyek (awal rangkaian kegiatan) dan diakhiri dengan akhir
proyek (akhir rangkaian kegiatan), serta mempunyai jangka waktu yang
umumnya terbatas.
2. Rangkaian kegiatan proyek hanya satu kali sehingga menghasilkan produk yang
bersifat unik. Jadi tidak ada dua atau lebih proyek yang identik, yang ada adalah
proyek yang sejenis.
Menurut Prijono, 1994, daur kegiatan untuk mencapai tujuan proyek tampak dalam
gambar 2.1 yang menyajikan langkah berkesinambungan dengan tujuan untuk mencapai
hasil yang baik.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II - 2
PERENCANAAN
1. Tentukan sasaran
2. Survey sumber daya
3. Menyusun strategi
PENGENDALIAN
1. Membandingkan hasil
dengan rencana
2. Laporan
3. Pemecahan masalah
PELAKSANAAN
1. Alokasi sumber dana
2. Arahan pelaksanaan
3. Motivasi staf
Gambar 2.1. Langkah Berkesinambungan dengan Tujuan Untuk Mencapai Hasil
yang Baik.
Sumber : Prijono “Tata Laksana Proyek”, 1994
2.2 MANAJEMEN PROYEK KONSTRUKSI
Metodelogi yang erat berhubungan dengan penyelenggaraan proyek adalah sistem
engineering dan sistem manajemen. Sistem engineering mencoba menjelaskan proses
terwujudnya suatu sistem, atau dengan kata lain mencoba menerangkan langkah-langkah
yang harus dilalui untuk mewujudkan suatu gagasan menjadi sistem yang berbentuk fisik.
Dengan demikian sistem engineering menjadi sejajar dengan tujuan proyek yaitu,
merealisasi gagasan menjadi kenyataan fisik, misalnya instalasi pabrik atau produk
manufaktur.
Sebagian para pemikir masalah manajemen yang mengamati aplikasi teori-teori
manajemen berkesimpulan bahwa suatu bentuk pendekatan manajemen yang efektif untuk
situasi tertentu tidak memberikan hasil sesuai dengan harapan bagi situasi yang lain. Jadi
tidak ada jaminan keberhasilan yang sama bagi setiap teknik pengelolaan pekerjaan pada
kegiatan yang berbeda. Dengan latar belakang hasil pengamatan tersebut timbul
pendekatan yang dikenal sebagai pendekatan situasional (contingency) yang menyatakan
tugas manajemen adalah mengidentifikasi teknik dan metode yang harus digunakan untuk
menangani suatu jenis kegiatan pada waktu dan kondisi tertentu. Oleh karena itu untuk
mencapai tujuan perusahaan dengan cara yang efektif dan efisien, hal ini berarti manajer
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II - 3
hendaknya memiliki pengetahuan yang luas tentang berbagai pemikiran atau teori
manajemen.
Mendalami bermacam teknik dan metode yang bersangkutan serta kapan dan dalam
situasi apa harus diterapkan. Banyak kritik yang mengatakan bahwa pendekatan situasional
tidak memberikan petunjuk langkah-langkah spesifik untuk menanggapi berbagai situasi
yang dihadapi. Meskipun demikian bagi penyelenggara proyek, suatu pengertian dasar
bahwa kegiatan harus dikelola berdasarkan tuntutan situasi yang dominan pada waktu itu
dan tidak kaku (hanya mengikuti satu macam pendekatan saja) merupakan hal yang amat
berguna untuk diperhatikan, karena itu sesuai dengan perilaku kegiatan proyek itu sendiri.
2.2.1 Manajemen Konstruksi Profesional
Perkembangan manajemen konstruksi di negara kita tidak dapat lepas dari
perkembangan industri jasa konstruksi. Sedang perkembangan industri jasa
konstruksi berhubungan erat dengan pelaksanaan pembangunan yang saat ini sedang
giat dilaksanakan. Pada umumnya industri jasa konstruksi mencakup kegiatankegiatan yang berhubungan dengan pembangunan prasarana dan sarana fisik dalam
bidang gedung, bidang teknik sipil dan bidang instalasi. Dengan meningkatnya
volume pembangunan tersebut, maka diikuti pula peningkatan cara pengelolaan
pelaksanaan pembangunan yang berupa perkembangan dalam bidang manajemen
konstruksi. Demikian pula hubungan kerja yang terjadi antara unsur-unsur pelaksana
pembangunan mengalami perkembangan yang disesuaikan dengan volume kegiatan
untuk masing-masing jenis bangunan.
Manajemen proyek adalah penerapan fungsi-fungsi manajemen (perencanaan,
pelaksanaan dan pengendalian) secara sistematis pada suatu proyek dengan
menggunakan sumber daya yang ada secara efektif dan efisien agar tercapai tujuan
proyek secara optimal. Dalam perkembangan manajemen proyek (proyek konstruksi)
berkembang secara lebih luas dengan diterapkan pada seluruh tahapan proyek, mulai
dari tahapan perencanaan, perancangan, pengadaaan dan pelaksanaan, sehingga untuk
menerapkannya akan lebih rumit dan komplek karena sumber daya yang ada
berlainan dan bervariasi dan mempunyai tujuan-tujuan sesuai dengan tahapan
proyeknya.
Pada manajemen proyek dalam pengertian diatas, kegiatan-kegiatan yang
dilakukan beraneka ragam, mulai dari perencanaan program, survei, penelitian, studi
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II - 4
kelayakan, perancangan, pengadaan barang/lelang sampai pelaksanaan, sehingga
akan melibatkan berbagai ahli dan pihak yang lebih banyak (surveyor,
perencana/arsitek, ahli geologi, konstruktor, kontraktor dsb) yang merupakan suatu
tim yang saling berkaitan dan berhubungan sehingga memerlukan pengelolaan
(manajemen) yang professional (terpadu) sehingga dengan pendekatan konsep ini
dibutuhkan seorang atau badan usaha dibidang manajemen yang akan mengelola
proyek tersebut mulai dari perencanaan, perancangan, lelang/tender sampai
pelaksanaannya. Dengan konsep ini dapat dilakukan perencanaan secara bersamaan
dengan beberapa perencana, begitu juga pada tahap pelaksanaan secara bertahap (fast
track) tanpa harus menunggu dahulu perencanaan selesai secara keseluruhan. Dengan
konsep ini peran manajer proyek konstruksi sangat besar dalam menentukan
keberhasilan proyek dari segi waktu, biaya, mutu, keamanan dan kenyamanan yang
optimal, sehingga dari sisi ini dapat berkembang perusahaan yang bergerak dalam
bidang manajemen konstruksi (konsultan MK) yang akan mengelola proyek-proyek
yang diingini oleh pemilik secara professional dan optimal. Konsep manajemen ini
terus berkembang dan dikenal dengan konsep manajemen konstruksi.
Bila dilihat dari beberapa aspek/pendekatan, Manajemen Konstruksi dapat
dibedakan menjadi :
1. Manajemen Konstruksi (MK) sebagai suatu sistem atau metode/pendekatan,
disini pengelolaan proyek didasarkan pada sistem metode MK, mulai dari
perencanaan, perancangan maupun pengadaaan dan pelaksanaannya, sehingga
diperoleh perancangan dan pelaksanaan proyek yang optimal.
2. Manajemen Konstruksi (MK) sebagai suatu proses atau prosedur, untuk proyekproyek yang menerapkan manajemen konstruksi, maka proses dan prosedur untuk
mendapatkan, melaksanakan dan mengelola poyek harus sesuai dengan sistem
tersebut, yaitu mulai dari pengelolaan, perancangan, pengadaan dan pelaksanaan
ditentukan oleh tim MK bersama pemilik.
3. Manajemen Konstruksi (MK) sebagai profesi, yaitu manajemen konstruksi
sebagai badan usaha yang bergerak dibidang MK.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II - 5
2.2.2 Manajemen Konstruksi Sebagai Sistem
2.2.2.1 Sistem Pelaksanaan Tradisional (Traditional Delivery System)
Hingga akhir tahun 1970-an di Amerika ada dua sistem pelaksanaan
proyek yang telah digunakan dalam industri konstruksi dengan cukup sukses,
yaitu :
1. Sistem Tradisional (traditional system)
Dalam sistem ini Pemilik pada tahap perekayasaan dan perancangan
(engineering design) mengadakan ikatan kontrak dengan Konsultan
Perencana. Pada tahap pelaksanaan (construction) Pemilik mengadakan
ikatan kontrak dengan pihak Kontraktor. Gambar 2.2 menunjukkan Sistem
Tradisional dimana pihak kontraktor seakan-akan bekerja sendiri-sendiri
secara
independent.
Perencana
menyelesaikan
tugas-tugas
perencanaannya sebelum Pemilik memilih Kontraktor Pelaksana. Setelah
penentuan Kontraktor biasanya Pemilik meminta perencana menjadi
pengawas pelaksanaan proyek atas nama pemilik.
Pemilik
Perencana
Ket :
Kontraktor
garis kontrak
Subkontraktor-subkontraktor
Gambar 2.2. Bagan sistem tradisional
Sumber : Tim Penyusun “Ilmu Manajemen Konstruksi Untuk Perguruan
Tingggi”, 1998
2. Sistem Rancang Bangun (Design-Built System)
Sistem ini cukup populer di Eropa dan Amerika Selatan. Pada sistem ini
perancangan dan pelaksanaan dilakukan oleh satu perusahaan sehingga
memiliki beberapa keuntungan bila dibandingkan dengan sistem
tradisional. Waktu yang dibutuhkan dari tahap perancangan hingga tahap
pelaksanaan lebih singkat, total biaya lebih rendah serta pencapaian
standar mutu lebih terjamin. Adapun hubungan antara pihak-pihak yang
terlibat di dalam sistem ini dapat dilihat pada gambar 2.3 dibawah ini.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II - 6
Pemilik
Perencana
Kontraktor
Ket :
garis kontrak
Subkontraktor-subkontraktor
Gambar 2.3. Bagan Sistem Rancang Bangun
Sumber : Tim Penyusun “Ilmu Manajemen Konstruksi Untuk Perguruan
Tingggi”, 1998
2.2.2.2
Sistem
Manajemen
Konstruksi
Profesional
(Profesional
Construction Management Delivery System)
Sistem ini merupakan sistem manajemen yang relatif lebih baru
dibanding
dengan
sistem
pelaksanaan
tradisional
dan
merupakan
perkembangan alternative dari sistem di atas. Pada umumnya PCM dibagi
menjadi empat sistem, yaitu :
1. Agency Construction Management (ACM).
Pada sistem ini konsultan manajemen konstruksi mendapat tugas dari
pihak pemilik dan berfungsi sebagai koordinator penghubung (interface)
antara perancangan dan pelaksanaan serta antar para kontraktor.
Konsultan MK dapat mulai dilibatkan mulai dari fase perencanaan tetapi
tidak menjamin waktu penyelesaian proyek, biaya total serta mutu
bangunan. Pihak pemilik mengadakan ikatan kontrak langsung dengan
beberapa kontraktor sesuai dengan paket-paket pekerjaan yang telah
disiapkan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II - 7
Pemilik
Konsultan ACM
Konsultan Perencana
Kontraktor
Ket :
garis koordinasi
Gambar 2.4. Bagan ACM Delivery
Sumber : Tim Penyusun “Ilmu Manajemen Konstruksi Untuk Perguruan
Tingggi”, 1998
2. Extended Service Construction Management (ESCM).
Jasa konsultan MK dapat diberikan oleh pihak kontraktor. Apabila
perencana melakukan jasa Manajemen Konstruksi, akan terjadi konflik
kepentingan karena peninjauan terhadap proses perancangan tersebut
dilakukan oleh konsultan perencana itu sendiri, sehingga hal ini akan
menjadi suatu kelemahan pada sistem ini (tipe a). Pada tipe b, kontraktor
kemungkinan melakukan jasa Manajemen Konstruksi berdasarkan
permintaan Pemilik (ESCM/Kontraktor).
PROYEK
ESCM/
Perencana
Ket :
PEMILIK
Para
Kontraktor
Konsultan
perencana
garis kontrak
Tipe – a
Kontraktor/
ESCM
Kontraktor
Tipe - b
Gambar 2.5. Bagan Extended CM
Sumber : Tim Penyusun “Ilmu Manajemen Konstruksi Untuk Perguruan
Tingggi”, 1998
3. Owner Construction Management (OCM).
Dalam hal ini pemilik mengembangkan bagian manajemen konstruksi
profesional yang bertanggungjawab terhadap manajemen proyek yang
dilaksanakan, seperti yang terlihat pada gambar 2.6 :
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II - 8
Pemilik
Konsultan Desain
Ket :
garis kontrak
Tim OCM
Kontraktor
Gambar 2.6. Bagan Owner CM (CM)
Sumber : Tim Penyusun “Ilmu Manajemen Konstruksi Untuk Perguruan
Tingggi”, 1998
4. Guaranted Maximum Price Construction Management (GMPCM).
Konsultan ini bertindak lebih kearah kontraktor umum daripada sebagai
wakil pemilik. Disini konsultan GMPCM tidak melakukan pekerjaan
konstruksi tetapi bertanggungjawab kepada pemilik mengenai waktu, biaya
dan mutu. Jadi dalam Surat Perjanjian Kerja/Kontrak konsultan GMPCM tipe
ini bertindak sebagai pemberi kerja terhadap para kontraktor (sub kontraktor).
Pemilik
Konsultan Perencana
Ket :
garis kontrak
Kontraktor & MK
Kontraktor
Gambar 2.7. Bagan GMPCM
Sumber : Tim Penyusun “Ilmu Manajemen Konstruksi Untuk Perguruan
Tingggi”, 1998
Pada sistem ini GMPCM lebih berperan sebagai multi kontraktor, dengan
kata lain GMPCM dapat mengatur keseluruhan proyek termasuk keberadaan
kontraktor, sehingga tidak hanya sebagai pengawas proyek saja. MK pada
sistem ini mempunyai tanggungjawab penuh dalam hal biaya dan garansi
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II - 9
kualitas pekerjaan kepada pemilik. Sistem ini sangat berbeda dengan sistemsistem diatas dalam hal tanggungjawab atas waktu, biaya dan kualitas.
2.2.3 Tujuan Manajemen Konstruksi
Konsep manajemen konstruksi menuntut adanya dapur profesional yang
mengelola keputusan-keputusan yang akan diambil oleh proyek, dan konsep ini juga
menuntut suatu pengelolaan proyek secara teknis operasional yang akan melengkapi
pengelolaan strategis yang berada ditangan pemilik (owner).
Manajemen Konstruksi dilaksanakan oleh tim profesional, yang bersamasama dengan pemilik merupakan satu kesatuan dalam pengelolaan proyek secara
terpadu. Secara diagram pengelolaan proyek dengan konsep MK dapat digambarkan
seperti dibawah ini.
Pemilik/ Pimpro
Pengelolaan Strategis
Tim Profesional MK
Pengelolaan Teknis
Operasional
P
R
O
Y
E
K
Gambar 2.8. Diagram Pengelolaan Proyek dengan Konsep MK
Sumber : Tim Penyusun “Ilmu Manajemen Konstruksi Untuk Perguruan Tingggi”,
1998
Penerapan konsep manajemen konstruksi yang baik adalah mulai tahap
perencanaan, namun dapat juga pada tahap-tahap lain sesuai dengan tujuan dan
kondisi proyek tersebut sehingga konsep MK dapat diterapkan pada tahap-tahap
proyek sebagai berikut :
1. Manajemen Konstruksi dilaksanakan pada seluruh tahapan proyek.
Pengelolaan proyek dengan sistem MK, disini mencakup pengelolaan teknis
operasional proyek, dalam bentuk masukan-masukan dan atau keputusan yang
berkaitan dengan teknis operasional proyek konstruksi, yang mencakup seluruh
tahapan proyek, mulai dari persiapan, perencanaan, perancangan, pelaksanaan
dan penyerahan proyek.
2. Tim MK sudah berperan sejak awal desain, pelelangan dan pelaksanaan proyek
selesai, setelah suatu proyek dinyatakan layak (feasible) mulai dari tahap desain.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II - 10
3. Tim MK akan memberikan masukan dan atau keputusan dalam penyempurnaan
desain sampai proyek selesai, apabila manajemen konstruksi dilaksanakan setelah
tahap desain selesai atau hampir selesai.
4. MK berfungsi sebagai koordinator pengelolaan pelaksanaan dan melaksanakan
fungsi
pengendalian
atau
pengawasan,
apabila
manajemen
konstruksi
dilaksanakan mulai tahap pelaksanaan dengan menekankan pemisahan kontrakkontrak pelaksanaan untuk kontraktor.
Dari pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa tujuan dari manajemen
proyek konstruksi adalah mengelola atau mengatur pelaksanaan pembangunan
sedemikian rupa sehingga diperoleh hasil optimal sesuai dengan persyaratan
(spesification) untuk keperluan pencapaian tujuan ini, perlu diperhatikan pula
mengenai mutu bangunan, biaya yang digunakan dan waktu pelaksanaan. Dalam
rangka pencapaian hasil ini, selalu diusahakan pelaksanaan pengawasan mutu
(quality control), pengawasan pemggunaan biaya (cost control) dan pengawasan
waktu pelaksanaan (time control). Ketiga kegiatan pengawasan ini harus
dilaksanakan dalam waktu yang bersamaan. Penyimpangan yang terjadi dari salah
satu hasil kegiatan pengawasan dapat berakibat hasil pembangunan tidak sesuai
dengan persyaratan yang telah ditetapkan.
2.3 PERENCANAAN PROYEK
Perencanaan merupakan salah satu fungsi manajemen proyek yang sangat penting,
yaitu memilih dan menentukan langkah-langkah kegiatan yang akan datang yang
diperlukan untuk mencapai sasaran. Hal ini berarti pertama-tama menentukan sasaran yang
hendak dicapai kemudian mencoba menyusun urutan langkah-langkah kegiatan untuk
mencapainya.
Dalam menyelenggarakan proyek, tahap dan kegunaan perencanaan dapat
dibedakan menjadi perencanaan dasar dan perencanaan untuk pengendalian. Segera setelah
kegiatan royek dimulai maka dipersiapkan perencanaan dasar yang berupa penyusunan
jadwal induk, anggaran, penetapan standar mutu, penetapan organisasi pelaksana dan
urutan langkah-langkah pelaksanaan pekerjaan. Jadi perencanaan tahap ini dimaksudkan
untuk meletakkan dasar-dasar berpijak bagi suatu penyelenggara proyek, yaitu bila
pelaksanaan fisik sudah berjalan, data-data dan informasi ini kemudian dianalisis dan
dibandingkan dengan data-data perencanaan dasar. Kegiatan ini berupa menganalisis dan
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II - 11
membandingkan hasil pelaksanaan fisik di lapangan terhadap perencanaan dasar kemudian
membuat pembetulan-pembetulan yang diperlukan, seringkali harus diikuti dengan
pembuatan perencanaan ulang. Pembuatan perencanaan ulang bertujuan agar pelaksanaan
pekerjaan selalu terbimbing menuju sasaran yang disebut perencanaan untuk pengendalian.
Unsur-unsur perencanaan yang berkaitan dengan manajemen proyek adalah jadwal,
prakiraan, sasaran, prosedur dan anggaran. Tidak semua perencanaan mengandung semua
unsur tersebut. Suatu perencanaan yang baik memerlukan keterangan yang jelas mengenai
hubungan antara unsur-unsur yang menjadi bagian dari perencanaan, sehingga seluruh
bagian organisasi dan personil yang terlibat mengetahui arah tindakan yang dituju.
Penjelasan lebih lanjut dari unsur tersebut adalah sebagai berikut :
1. Jadwal
Jadwal adalah penjabaran perencanaan proyek menjadi urutan langkah-langkah
kegiatan yang sistematis untuk mencapai sasaran. Pendekatan yang sering dipakai
untuk
penyusunan
jadwal
adalah
pembentukan
jaringan
kerja,
yang
menggambarkan suatu grafik hubungan urutan pekerjaan proyek. Jaringan kerja
ini sangat bermanfaat untuk perencanaan dan pengendalian proyek.
2. Prakiraan
Prakiraan adalah usaha yang dilakukan secara sistematis untuk melihat keadaan
masa depan dengan data-data yang tersedia. Tujuan prakiraan adalah memberikan
informasi untuk dipakai sebagai salah satu dasar perencanaan dan pengendalian.
3. Sasaran
Sasaran adalah tujuan yang spesifik dimana semua kegiatan diarahkan dan
diusahakan untuk mencapainya. Terdapat tiga sasaran proyek yaitu jadwal,
anggaran dan mutu.
4. Kebijakan dan Prosedur
Kebijakan dan prosedur memegang peranan penting dalam penyelenggaraan
suatu kegiatan besar. Sebab kebijakan dan prosedur merupakan alat komunikasi
yang diharapkan dapat mengatur, mengkoordinasi dan menyatukan arah gerak
bagian-bagian kegiatan yang akan dilakukan. Kebijakan dapat diartikan sebagai
petunjuk dalam pengambilan keputusan. Bila kebijakan memberikan petunjuk apa
yang perlu dan dapat dilakukan, maka prosedur menjelaskan bagaimana cara
melakukan. Prosedur dapat digunakan untuk :
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II - 12
a. Mengurangi kesalahan-kesalahan yang disebabkan oleh kurang adanya
komunikasi.
b. Mengurangi adanya tumpang tindih dan pengulangan.
c. Mengurangi tugas-tugas pengambilan keputusan, karena prosedur itu
sendiri merupakan keputusan-keputusan mengenai pekerjaan harus
dilakukan.
5. Anggaran
Anggaran menunjukkan perencanaan penggunaan dana untuk melaksanakan
pekerjaan dalam kurun waktu tertentu. Dalam penyelenggaraan proyek, suatu
anggaran yang disusun rapi yaitu anggaran yang dikaitkan dengan rencana jadwal
pelaksanaan pekerjaan, akan merupakan patokan dasar atau pembanding dalam
kegiatan pengendalian. Anggaran dapat menjadi tidak sesuai dengan kenyataan.
Bila perbedaan sudah terlalu besar maka penggunaan anggaran sebagai alat
perencanaan dan pengendalian menjadi tidak ampuh lagi. Oleh karenanya
anggaran perlu disesuaikan, bila hal ini memang diperlukan dari segi
pengendalian dan perencanaan. Jadi penyesuaian disini adalah untuk membuat
anggaran tetap terhadap situasi akhir. Dengan demikian sifat-sifat ketat dan
realistik dari suatu anggaran tetap terjaga.
2.4 PELAKSANAAN PROYEK
Tahap pelaksanaan di lapangan dimulai sejak ditetapkannya pemenang lelang dan
diawali dengan menerbitkan Surat Perintah Kerja serta penyerahan lapangan dengan segala
keadaannya kepada kontraktor. Kontraktor mengawali kegiatannya dengan mengeluarkan
surat pemberitahuan saat mulai bekerja yang sekaligus memuat informasi mengenai
organisasi dan petugas lapangannya. Kemudian dimulailah pekerjaan-pekerjaan persiapan,
pengujian material, survei pengukuran dan persiapan pula tata cara dan prosedur
penanganan masalah-masalah administratif.
Selanjutnya perlu mengembangkan jadwal rencana kerja menjadi jadwal yang
lebih terinci. Pengembangan jadwal rencana kerja harus mampu mengantisipasi
kemungkinan munculnya permasalahan dan hambatan, termasuk memperhitungkan jalan
keluarnya. Jadwal rencana detail berlaku sebagai kerangka induk untuk dijabarkan lebih
rinci lagi dalam bentuk jadwal pengadaan material, alat-alat dan tenaga kerja, jadwal
penagihan, pembayaran prestasi dan penyusunan arus kas. Kemudian perlu ditetapkan
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II - 13
pedoman praktis mekanisme dalam rangka mewujudkan sistem pengelolaan , koordinasi,
pengendalian dan pemeriksaan pekerjaan kontraktor sampai sedetail mungkin.
Selama proses konstruksi berjalan dilakukan pengendalian dengan selalu mengikuti
laporan dan evaluasi pekerjaan, termasuk jadwal rencana kerja yang dipersiapkan secara
teratur dalam waktu periodik harian, mingguan dan bulanan. Biasanya setiap laporan
dilengkapi foto-foto keadaan dan perkembangan lapangan yang disertai pula catatancatatan penting seperlunya. Penerapan pelaksanaan pekerjaan yang didasarkan pada
rencana kerja dari waktu ke waktu harus selalu dimonitoring, termasuk mengevaluasi
segala kendala dan hambatan yang dihadapi agar segera dapat diberikan cara
penyelesaiannya. Untuk itu perlu diadakan rapat-rapat koordinasi secara periodik.
Setiap proses pelaksanaan konstruksi memerlukan program pengendalian mutu
hasil pekerjaan berdasarkan pada sistem pengendalian yang menyeluruh. Pelaksanaan
tugas kegiatan pengendalian mutu pada hakikatnya adalah pemantauan langkah demi
langkah terhadap proses pelaksanaan pekerjaan. Jadi bukan hanya memberikan penilaian
terhadap hasil akhir suatu proyek. Proses pemantauan mencakup penilaian terhadap metode
kerja, ketrampilan kerja, pengadaan material, pengadaan peralatan, pengadaan tenaga
kerja, termasuk keselamatan dan keamanan kerja.
2.5 PEGENDALIAN PROYEK
2.5.1 Proses Pengendalian
Proses Pengendalian proyek terdiri dari beberapa kegiatan yang dilakukan
secara sistematis dan berurutan. Dalam hal ini, Soeharto, 1995, memberikan definisi
bahwa pengendalian adalah usaha yang sistematis untuk menentukan standar yang
sesuai dengan sasaran perencanaan, merancang sistem informasi, membandingkan
standar dengan pelaksanaan, kemudian mengadakan tindakan pembetulan yang
diperlukan agar sumber daya digunakan secara efektif dan efisien dalam rangka
mencapai sasaran.
Proses pengendalian proyek dapat diuraikan menjadi langkah-langkah sebagai
berikut:
1. Menentukan sasaran.
Sasaran berguna untuk menghasilkan produk dengan batasan mutu yang
ditentukan, jadwal dan biaya. Sasaran merupakan tonggak dari pengendalian.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II - 14
2. Definisi lingkup kerja.
Untuk memperjelas sasaran maka lingkup proyek didefinisikan lebih lanjut
yaitu mengenai ukuran, batas dan jenis pekerjaan apa yang harus dilakukan
untuk menyelesaikan lingkup proyek secara keseluruhan.
3. Menentukan standar dan kriteria patokan.
Dalam rangka mencapai sasaran secara efektif dan efisien perlu disusun suatu
standar, kriteria dan spesifikasi yang dipakai sebagai tolok ukur untuk
membandingkan dan menganalisa hasil pekerjaan. Standar, kriteria dan
patokan yang dipilih dan ditentukan harus bersifat kuantitatif, demikian pula
dengan metode pengukuran dan perhitungan harus dapat memberikan indikasi
terhadap pencapaian sasaran.
4. Memantau dan melaporkan.
Pada kurun waktu tertentu diadakan pemeriksaan, pengukuran, pengumpulan
data dan informasi hasil pelaksanaan kegiatan proyek.
5. Mengkaji dan menganalisa hasil pekerjaan.
Langkah ini berarti mengkaji segala sesuatu yang dihasilkan pada butir 4.
Disini diadakan analisis terhadap indikator yang diperoleh dan mencoba
membandingkan dengan kriteria dan standar yang telah ditetapkan.
6. Mengadakan tindakan pembetulan.
Apabila hasil analisis menunjukkan adanya indikasi penyimpangan yang
cukup berarti maka perlu diadakan langkah-langkah pembetulan.
Jadi pengendalian merupakan proses pengukuran, evaluasi dan pembetulan
kinerja proyek. Untuk proyek konstruksi, ada tiga unsur yang selalu dikendalikan dan
diukur yaitu kemajuan dibandingkan dengan kesepakatan kontrak, pembiayaan
terhadap rencana anggaran dan mutu hasil pekerjaan terhadap spesifikasi teknik.
Sehingga proses pengendalian dasar dalam setiap kegiatan konstruksi pada umumnya
terdiri dari 3 langkah pokok yaitu :
1. Menetapkan standar kinerja.
2. Mengukur kinerja terhadap standar.
3. Membetulkan penyimpangan terhadap standard yang diberlakukan, bila
terjadi penyimpangan.
Pada gambar 2.9. diberikan langkah-langkah operasional proses pengendalian
yang dimaksud.
Perencanaan dan
pengorganisasian
proyek
Gambar 2.9. Langkah-langkah Operasional Proses Pengendalian
Analisa penyimpangan
Pengendalian :
● Pengukuran
● Evaluasi
● Pembandingan kinerja
Pencapaian jadwal kerja
Gambar 2.3. Langkah-langkah operasional proses pengendalian
Sumber : Dipohusodo, ”Manajemen Proyek dan Konstruksi”, 1996
Tindakan korektif
Pelaksanaan proyek
Pemeriksaan kegiatan untuk
menghindarkan
penyimpangan
Proyek berhasil
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II - 15
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II - 16
2.5.2 Pengendalian Biaya
Perkiraan biaya dibedakan dari anggaran dalam hal perkiraan biaya, terbatas
pada tabulasi biaya yang diperlukan untuk suatu kegiatan tertentu proyek atau proyek
keseluruhan. Sedangkan anggaran merupakan perencanaan terinci perkiraan biaya
dari bagian atau keseluruhan kegiatan proyek yang dikaitkan dengan waktu (timephased). Definisi perkiraan biaya menurut National Estimating Society-USA adalah
sebagai berikut ”Perkiraan biaya adalah seni memperkirakan (the art of
approximating) kemungkinan jumlah biaya yang diperlukan untuk suatu kegiatan
yang didasarkan pada informasi yang tersedia waktu itu”.
Pegendalian biaya merupakan langkah akhir dari proses pengelolaan biaya
proyek, yaitu mengusahakan agar penggunaan dan pengeluaran biaya sesuai dengan
perencanaan, berupa anggaran yang telah ditetapkan. Dengan demikian, aspek dan
objek pengendalian biaya akan identik dengan perencanaan biaya, sehingga berbagai
jenis kegiatan di kantor pusat dan lapangan harus selalu dipantau dan dikendalikan
agar hasil implementasinya sesuai dengan anggaran yang telah ditentukan.
Agar suatu pegendalian biaya dapat terlaksana dengan baik, di samping
pelakunya harus menguasai masalah teknis serta tersedianya prosedur dan perangkat
penunjang, dalam perusahaan yang bersangkutan diperlukan suatu suasana atau
kondisi yang mendukung, antara lain :
1. Sikap sadar anggaran; ini berarti semua pihak penyelenggara proyek menyadari
dampak kegiatan yang dilakukan terhadap biaya.
2. Selalu berpikir untuk mencari alternatif yang dapat menghasilkan penghematan
biaya.
Salah satu cara yang mendorong terciptanya suasana tersebut adalah
mengkomunikasikan kepada pihak pimpinan dan mereka yang berkepentingan
perihal penggunaan dana dan menekankan adanya area-area yang berpotensial dapat
diperbaiki kinerjanya.
2.5.2.1
Anggaran Biaya Proyek
Acuan yang digunakan sebagai tolok ukur di dalam pengendalian
biaya proyek adalah rencana anggaran biaya. Anggaran biaya merupakan
perencanaan terperinci perkiraan biaya seluruh item pekerjaan, yang di
distribusikan sesuai dengan time schedule yang telah ditetapkan. Bahan-bahan
yang diperlukan didalam penyusunan rencana anggaran biaya antara lain
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II - 17
berupa gambar rencana, spesifikasi teknis, analisa sumber daya dan analisa
harga satuan. Contoh rencana anggaran biaya dan pendistribusiannya dapat
disajikan dalam tabel 2.1 dan 2.2 berikut ini :
Tabel 2.1. Rencana Anggaran Biaya Proyek
No
Uraian
Satuan
Volume
Pekerjaan
Harga
Harga
Satuan
Total Harga =
Sumber : Soekirno, “Pengantar Manajemen Konstruksi”, 1995
Tabel 2.2. Rencana Alokasi Anggaran Biaya Proyek
No
Uraian
Harga
Alokasi Anggaran Biaya (bulan)
Pekerjaan
Ke-1 Ke-2 Ke-3 Ke-4 Ke-5 Ke-6 Ke-7
Ke-n
Total
Sumber : Soekirno, “Pengantar Manajemen Konstruksi”, 1995
Sebelum pembangunan proyek selesai dan siap dioperasikan,
diperlukan sejumlah besar biaya atau modal yang dikelompokkan menjadi
modal tetap (fixed capital) dan modal kerja (working capital), atau dengan
kata lain biaya proyek atau investasi = modal tetap + modal kerja.
Pengelompokkan ini berguna pada waktu pengkajian aspek ekonomi dan
pendanaan.
A. Modal Tetap (fixed capital)
Modal tetap adalah bagian dari biaya proyek yang dipakai untuk
membangun instalasi atau menghasilkan produk proyek yang diinginkan,
mulai dari pengeluaran studi kelayakan, desain-engineering, pengadaan,
pabrikasi, konstruksi sampai instalasi atau produk tersebut berfungsi penuh.
Selanjutnya, modal tetap dibagi menjadi biaya langsung (direct cost) dan
biaya tidak langsung (indirect cost). Perinciannya adalah sebagai berikut :
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II - 18
1. Biaya Langsung
Menurut Soeharto, 1995, biaya langsung (direct cost) adalah biaya untuk
segala sesuatu yang akan menjadi komponen permanen hasil akhir proyek.
Biaya langsung terdiri dari :
● Penyiapan Lahan (Site Preparation). Pekerjaan ini terdiri dari
clearing, grubbing, menimbun dan memotong tanah, mengeraskan
tanah, dan lain-lain. Di samping itu, juga pekerjaan-pekerjaan
membuat pagar, jalan, dan jembatan.
● Pengadaan Peralatan Utama. Semua peralatan utama yang tertera
dalam gambar desain-engineering harus disiapkan. Contoh untuk ini
adalah kolom destilasi, reaktor, regenerator, geberator dapur dan lainlain.
● Biaya merakit dan memasang peralatan utama. Terdiri dari pondasi
struktur penyangga, isolasi dan pengecatan.
● Pipa. Terdiri dari pipa transfer, pipa penghubung antar peralatan dan
lain-lain.
● Alat-alat listrik dan instrumen. Terdiri dari gardu listrik, motor listrik,
jaringan distribusi dan instrumen.
● Pembangunan gedung perkantoran, pusat pengendalian operasi
(control room), gudang dan bangunan sipil lainnya.
● Fasilitas pendukung, seperti utility dan offsite. Terdiri dari pembangkit
listrik, fasilitas air pendingin dan tangki.
● Pembebasan tanah. Biaya pembebasan tanah seringkali dimasukkan ke
dalam biaya langsung.
2. Biaya Tidak Langsung
Menurut Soeharto, 1995, biaya tidak langsung (indirect cost) adalah
pengeluaran untuk manajemen, supervisor dan pembayaran material serta
jasa untuk pengadaan bagian proyek yang tidak akan menjadi instalasi
atau produk permanen, tetapi diperlukan dalam proses pembangunan
proyek. Biaya tidak langsung meliputi antara lain :
● Gaji tetap dan tunjangan bagi tim manajemen, gaji dan tunjangan bagi
tenaga kerja bidang engineering, inspektor, penyedia konstruksi
lapangan dan lain-lain.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II - 19
● Kendaraan dan peralatan konstruksi. Termasuk biaya pemeliharaan,
pembelian bahan bakar, minyak pelumas dan suku cadang.
● Pembangunan fasilitas sementara. Termasuk perumahan darurat
tenaga kerja, penyediaan air, listrik, fasilitas komunikasi sementara
untuk konstruksi dan lain-lain.
● Pengeluaran umum. Butir ini meliputi bermacam keperluan tetapi
tidak dapat dimasukkan ke dalam butir yang lain, seperti small tools,
penggunaan sekali pakai (consumerable), misal kawat las.
● Laba kontinjensi (fee). Kontinjensi dimaksudkan untuk menutupi halhal yang belum pasti.
● Overhead. Butir ini meliputi biaya untuk operasi perusahaan secara
keseluruhan, terlepas dari ada tidak adanya kontrak yang sedang
ditangani. Misalnya, biaya pemasaran, advertensi, gaji eksekutif, sewa
kantor, telepon atau komputer.
● Pajak, pungutan/sumbangan, biaya perijinan dan asuransi. Berbagai
macam pajak, seperti PPN, PPh, dan lainnya atas hasil operasi
perusahaan.
B. Modal Kerja (working capital)
Modal kerja diperlukan untuk menutupi kebutuhan pada tahap awal
operasi, yang meliputi antara lain :
● Biaya pembelian bahan kimia, minyak pelumas dan material, serta bahan
lain untuk operasi.
● Biaya persediaan (inventory) bahan mentah dan produk serta upah tenaga
kerja pada awal operasi.
● Pembelian suku cadang untuk keperluan operasi selama kurang lebih satu
tahun.
Perbandingan jumlah modal kerja terhadap total investasi berkisar antara
5-10 %.
C. Biaya Pemilik, Biaya Kontraktor, dan Biaya Lingkup Kerja Pemilik
Bila implementasi fisik proyek diserahkan kepada kontraktor, maka
anggaran proyek untuk maksud perencanaan dan pengendalian di samping
klasifikasi di atas, dikelompokkan menjadi sebagai berikut ini.
1. Biaya Pemilik (Owner cost)
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II - 20
Biaya pemilik meliputi rencana pengeluaran untuk :
● Biaya administrasi pengelolaan proyek oleh pemilik, misalnya
administrasi pinjaman (loan administration), kepegawaian, perjalanan
dinas dari tim pemilik proyek.
● Pembayaran kepada konsultan, royalty, paten dan pembayaran ijin
yang berkaitan dengan penyelenggaraan proyek, seperti IMB,
Depnaker, penggunaan frekuensi (untuk proyek telkom yang
memerlukan frekuensi).
● Pembayaran pajak.
● Menyiapkan operator dan mekanik instalasi hasil proyek.
● Pendanaan.
2. Biaya Kontraktor
Biaya yang dibebankan oleh kontraktor kepada pemilik atas jasa yang
telah diberikan, sebesar biaya kontrak untuk jenis kontrak harga tetap.
3. Biaya lingkup Kerja Pemilik (Owner scope)
Dalam rangka pembinaan dan peningkatan kemampuan serta kesempatan
kerja pengusaha dan personil dalam negeri, pemilik atau pemerintah
seringkali
menyerahkan
pengelolaannya
bagian
langsung
pekerjaan
ditangani
kepada
oleh
tim
mereka,
proyek
yang
pemilik.
Pengelompokan anggaran biayanya dikenal sebagai owner scope. Jadi,
adalah biaya untuk menutup pengeluaran bagi pelaksanaan pekerjaan fisik
yang secara administratif ditangani langsung oleh pemilik (tidak diberikan
kepada kontraktor atau kontraktor utama). Umumnya terdiri dari fasilitas
di
luar
instalasi,
misalnya
pembangunan
perumahan
pegawai,
telekomunikasi dan infrastruktur pendukung lainnya.
2.5.2.2
Anggaran Kas Proyek
Setelah anggaran biaya dan pendistribusian anggaran biaya
berdasarkan time schedule dibuat, maka langkah selanjutnya dibuat anggaran
kas proyek (Project Cashflow). Project Cashflow merupakan taksiran
penerimaan dan pengeluaran yang akan atau sedang dikerjakan..
Adapun kegunaan Project Cashflow yaitu dalam hal :
1. Mengetahui kemungkinan posisi kas pada masa yang akan datang.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II - 21
2. Mengetahui terlebih dahulu kapan akan terjadi kekurangan kas, serta
kapan akan terjadi kelebihan kas.
3. Menetapkan jumlah pinjaman yang dibutuhkan untuk menyelesaikan
suatu proyek.
4. Mengetahui jumlah bunga pinjaman modal kerja.
5. Memperkirakan posisi biaya pada akhir proyek.
Penyusunan Project Cashflow pada saat dimulainya suatu proyek
sampai dengan proyek selesai (termasuk masa pemeliharaan). Skala waktu
penyusunan Project Cashflow adalah bulanan dan setiap bulan dilakukan
penyesuaian. Hal ini dilakukan mengingat realisasi umumnya tidak tidak
sesuai dengan yang direncanakan dengan dapat mengikuti penerimaan
maupun pengeluaran yang sebenarmya. Setiap kali dilakukan penyesuaian
sekaligus dilakukan perkiraan rencana anggaran dari sisa pekerjaan yang
belum dilaksanakan. Sama halnya dengan laporan kemajuan pekerjaan, maka
laporan biaya proyek dapat disajikan dalam bentuk grafik seperti dalam
gambar 2.10
Perkiraan Pengeluaran
Sampai Akhir Proyek
Biaya
A
Anggaran Proyek
B
Saat Pelaporan
BCWS
Vc
Vs
ACWP
BCWP
Waktu (bulan)
Keterangan :
Vc = varians biaya
BCWS (Budgeted Cost of Work Schedule)
Vs = varians jadwal
ACWP (Actual Cost Work Performed)
A,B = kenaikan biaya diatas anggaran
BCWP (Budgeted Cost of Work Performed)
Gambar 2.10. Perkiraan Biaya Akhir Proyek
Sumber : Soeharto “ Manajemen Proyek “, 1995
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II - 22
2.5.2.3 Laporan Biaya Proyek
Untuk mengetahui status biaya pada saat pengukuran kemajuan
pekerjaan, dilakukan dengan cara membandingkan rencana anggaran biaya
pada saat kemajuan tercapai dengan laporan pengeluaran biaya sampai dengan
saat monitoring.
Dengan adanya laporan pengeluaran biaya baik laporan harian,
mingguan maupun bulanan, manajer proyek selaku pimpinan proyek beserta
personil inti lainnya secara terus-menerus mengendalikan segala macam
sumber daya (material, tenaga kerja, dan peralatan) serta faktor penunjang lain
yang akan mempengaruhi besar kecilnya biaya proyek.
Isi laporan bulanan pembiayaan proyek meliputi :
1. Biaya umum (overhead).
2. Biaya konstruksi dilapangan, biaya ini dikelompokkan menjadi biaya
langsung dan biaya tidak langsung.
3. Pembelian material, pembayaran upah tenaga kerja dan pembelian
atau sewa peralatan.
4. Laporan penggunaan dana, meliputi rencana penggunaan dana bulan
yang akan datang dan rencana arus kas (cashflow).
2.5.3 Pengendalian Waktu
Pengendalian waktu di lapangan bertujuan untuk menjaga agar waktu
pelaksanaan sesuai dengan rencana waktu yang telah dipersiapkan sebelum proyek
dimulai. Hal ini dimaksudkan agar rencana waktu yang telah ada dapat digunakan
sebagai tolok ukur terhadap pelaksanaan untuk mengetahui kemajuan pekerjaan.
2.5.3.1 Jadwal waktu pelaksanaan
Jadwal waktu penting sekali artinya bagi pimpinan proyek didalam
melaksanakan pekerjaannya. Dengan adanya jadwal waktu ini, pimpinan
proyek
dapat
mengetahui
dengan
jelas
rancana
kerja
yang
dilaksanakannya, sehingga kontinuitas pekerjaan dapat dipelihara.
Adapun tujuan dari pembuatan jadwal waktu pelaksanaan adalah :
1. Untuk menentukan target lamanya waktu pelaksanaan proyek.
akan
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II - 23
2. Sebagai pedoman bagi pelaksana untuk memudahkan didalam
melaksanakan pekerjaannya agar suatu pekerjaan dapat berjalan
dengan lancar dan mencapai tujuan.
3. Untuk memperkirakan alokasi sumber daya yang harus disediakan
setiap kali diperlukan agar proyek berjalan lancar.
4. Untuk mengontrol kemajuan pekerjaan sehingga apabila ada
keterlambatan didalam pelaksanaan dapat diketahui segera dan
diambil langkah-langkah penanggulangannya.
5. Untuk mengevaluasi hasil pekerjaan dimana hasil evaluasi dapat
dipakai sebagai pedoman untuk melaksanakan pekerjaan sejenis.
2.5.3.2 Laporan kemajuan pekerjaan
Seiring dengan adanya kemajuan (progress) pada masing-masing
pakerjaan, untuk mengetahui kemungkinan adanya penyimpangan terhadap
rencana perlu dilakukan pengukuran pada pekerjaan yang telah dilaksanakan.
Hasil pengukuran pekerjaan dituangkan dalam suatu laporan. Laporan
kemajuan proyek menjelaskan kemajuan proyek sampai dengan saat
pelaporan, termasuk didalamnya :
1. Tabulasi persentase penyelesaian pekerjaan utama.
2. Kemajuan pekerjaan dibandingkan dengan jadwal induk.
3. Kesulitan yang dihadapi dan rencana pemecahannya.
4. Membahas masalah penting yang mungkin berdampak besar terhadap
pencapaian sasaran proyek.
Sistem informasi (laporan) sebaiknya memberikan keterangan yang
singkat, jelas dan dapat dimengerti. Tabulasi kemajuan pekerjaan menjelaskan
hasil-hasil kegiatan perencanaan, pangadaan dan pelaksanaan yang telah
dicapai sampai saat pelaporan, kumulatif dan pada bulan yang bersangkutan
seperti yang diperlihatkan pada tabel 2.1. untuk maksud tersebut, masingmasing kegiatan harus dihitung bobotnya.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II - 24
Tabel 2.3. Ringkasan Kemajuan Pekerjaan Utama.
PENYELESAIAN
Bulan ini
Komunikatif
Bobot
Bulan lalu
(%)
Kenyataan
Rencana
Kenyataan
Rencana
Kenyataan
Engineering
-
-
-
-
-
-
Pengadaan
-
-
-
-
-
-
Konstruksi
-
-
-
-
-
-
Total
100
Pekerjaan
Sumber : Soeharto “Manajemen Proyek”, 1995
Untuk membantu mempermudah penangkapan masalah yang dikemukakan,
laporan kemajuan pekerjaan sebaiknya dilengkapi dengan suatu grafik, hal ini dapat
di contohkan pada gambar 2.11.
Kemajuan Proyek
Saat
Pelaporan
Kurva Refernsi
Kurva
Pelaksanaan Pekerjaan
Waktu
Gambar 2.11. Prestasi Kemajuan Pekerjaan.
Sumber : Soeharto “Manajemen Proyek”, 1995
2.5.4 Kurva Pengendalian
Kurva-S dapat dibuat dengan cepat dan mudah dalam penggunaannya untuk
berbagai tujuan, termasuk pembandingan visual antara target dan kemajuan aktual.
Kurva dipakai juga untuk pengujian ekonomi dan mengatur pembebanan sumber
daya serta alokasinya, menguji perpaduan kegiatan terhadap rencana kerja,
pembandingan kinerja aktual target rencana atau anggaran biaya untuk keperluan
evaluasi dan analisis penyimpangan. Kurva kemajuan secara grafis dapat
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II - 25
memberikan bermacam ukuran kemajuan pada sumbu tegak dikaitkan dengan satuan
waktu pada sumbu mendatar. Kriteria kemajuan dapat berupa persentase bobot
prestasi pelaksanaan atau produksi, nilai uang yang dibelanjakan, jumlah kuantitas
atau volume pekerjaan, penggunaan berbagai sumber daya dan masih banyak lagi
ukuran lainnya.
Metode Jalur Kritis (CPM) merupakan dasar dari sistem pengendalian
kemajuan pekerjaan proyek. Kurva-S (S-Curve) dibuat didasarkan pada perencanaan
memulai paling dini (Earliest Start = ES) dan memulai paling lambat (Latest Start =
LS). Dibuat kemajuan pekerjaan tiap kurun waktu tertentu. Berdasarkan pada
Network Planning yang telah ditentukan, maka akan diketahui free float-nya. Free
Float adalah sejumlah waktu yang diperkenankan untuk diadakan penundaan atau
memperlambat kegiatan, tanpa mempengaruhi kegiatan yang langsung mengikutinya.
Kurva-S rangkap ini membentuk semacam pembungkus. Jika pelaksanaan
yang sebenarnya berada dalam daerah pembungkus, maka sasaran proyek besar
kemungkinannya akan tercapai. Jika pelaksanaan sebenarnya berada dalam
lingkungan pembungkus itu maka sasaran proyek besar kemungkinan akan dapat
tercapai. Bila pelaksanaan sebenarnya berada di bawah rencana memulai lambat
maka proyek umunya tidak akan dapat diselesaikan tepat pada waktunya jika tidak
diadakan revisi. Untuk mencegah sampai adanya kurva pelaksanaan berada di bawah
rencana mulai paling lambat maka pada setiap unit waktu tertentu disajikan
kecenderungan arah kemiringan kurva (trend). Pada kurun waktu tertentu, trend
kurva naik berarti kinerja pelaksanaan proyek baik. Kondisi yang demikian
mengakibatkan hasil yang dicapai lebih besar dari yang direncanakan. Tetapi ada
kalanya trend kurva mendatar atau bahkan turun. Gejala ini jika terus berlanjut
mengakibatkan kurva berada di bawah mulai paling lambat. Ini berarti prestasi kerja
yang dicapai lebih rendah dari yang direncanakan. Dengan mengetahui trend kurva
pengendalian pihak pengawas dapat memberikan saran atau peringatan kepada pihak
pelaksana proyek.
Penggunaan grafik “S” dijumpai dalam hal-hal berikut :
1. Pada analisis kemajuan proyek secara keseluruhan.
2. Penggunaan sama dengan butir di atas, tetapi untuk satuan unit pekerjaan atau
elemen-elemennya.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II - 26
3. Pada kegiatan engineering dan pembelian untuk menganalisis prosentase (%)
penyelesaian pekerjaan, misalnya jam-orang untuk menyiapkan rancangan,
produksi gambar, menyusun pengajuan pembelian, terhadap waktu.
4. Pada kegiatan kontruksi, yaitu untuk menganalisa pemakaian tenaga kerja
atau jam-orang dan untuk menganalisa prosentase (%) penyelesaian serta
pekerjaan lain yang diukur dalam unit versus waktu. Grafik “S” sangat
berfaedah untuk dipakai sebagai bulanan dan laporan kepada pimpinan
proyek maupun pimpinan perusahaan karena grafik ini dapat dengan jelas
menunjukkan kemajuan proyek maupun pimpinan perusahaan karena grafik
ini dapat dengan jelas menunjukkan kemajuan proyek.
5. Analisis perkiraan biaya dan jadwal penyelesaian proyek.
% Penyelesaian
Fisik
Proyek
Selesai
Akhir
Awal
100
Grafik S
25
0
4
8
12
16
20
24
28
32
36
40
Waktu (Bulan)
Gambar 2.12. Kurva S
Sumber : Soeharto “Manajemen Proyek”, 1995
2.6 PENGENDALIAN YANG EFEKTIF
Agar pengendalian dapat efektif maka diperlukan metode yang tepat yang didukung
oleh sistem informasi yang mencukupi. Suatu pengendalian proyek yang efektif ditandai
oleh hal-hal sebagai berikut :
1. Tepat waktu dan peka terhadap penyimpangan. Metode ataupun cara yang
digunakan harus cukup peka sehingga dapat mengetahui adanya penyimpangan
selagi masih dini. Dengan demikian dapat diadakan koreksi pada waktunya
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II - 27
sebelum persoalan berkembang menjadi besar sehingga sulit untuk diadakan
perbaikan.
2. Macam tindakan yang dilakukan tepat dan benar. Untuk maksud ini diperlukan
kemampuan dan kecakapan dalam menganalisis indikator secara aktual dan
obyektif.
3. Pada masalah dan titik yang sifatnya strategis dilihat dari segi penyelenggaraan
proyek. Dalam hal ini diperlukan kecakapan memilih masalah yang strategis agar
penggunaan waktu dan tenaga dapat efisien.
4. Mampu mengetengahkan dan mengkomunikasikan masalah dan penemuan
sehingga dapat menarik perhatian pimpinan dan pelaksana proyek yang
bersangkutan, agar tindakan koreksi yang diperlukan segera dapat dilaksanakan.
5. Kegiatan pengenadalian tidak melebihi keperluan. Biaya yang diperlukan untuk
kegiatan pengendalian tidak melampaui manfaat atau faedah dari kegiatan
tersebut. Jadi dalam merencanakan suatu pengendalian perlu dikaji dan
dibandingkan dengan hasil yang akan diperoleh.
6. Dapat memberikan petunjuk berupa perkiraan hasil pekerjaan yang akan datang
bila kecenderungan pada saat pengecekan tidak mengalami perubahan. Petunjuk
ini sangat diperlukan bagi pengelola proyek untuk menentukan langkah
berikutnya.
Salah satu metode untuk meningkatkan efektifitas dalam memantau dan
mengendalikan kegiatan proyek adalah konsep nilai hasil. Dengan memakai dasar konsep
tertentu, metode tersebut dapat dikembangkan untuk membuat perkiraan masa depan
proyek baik jadwal maupun biaya.
2.7 METODE PENGENDALIAN PROYEK
Suatu sistem pengawasan dan pengendalian proyek disamping memerlukan
perencanaan yang realistis juga harus dilengkapi dengan metode pemantauan yang segera
dapat memberikan petunjuk dan mengungkapkan adanya penyimpangan. Untuk masalah
biaya identifikasi dilakukan dengan membandingkan uang yang sesungguhnya dikeluarkan
dengan anggaran yang telah ditetapkan. Sedangkan untuk jadwal, dianalisis kurun waktu
yang telah dicapai dibandingkan dengan perencanaan. Dengan demikian akan terlihat
apabila terjadi penyimpangan antara perencanaan dengan kenyataan dan mendorong untuk
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II - 28
mencari penyebabnya. Metode yang dipakai untuk meningkatkan efektifitas dalam
memantau dan mengendalikan kegiatan proyek adalah :
1. Work Breakdown Structure (WBS).
2. Konsep Nilai Hasil (KNH).
2.7.1 Perencanaan Work Breakdown Structure (WBS)
Menurut Naylor, 1994, cara sebuah proyek dapat dibagi kedalam elemenelemen dasar konstruksi kemudian ditampilkan secara ringkas keseluruhan
proyeknya, hal inilah yang disebut dengan Work Breakdown Structure yang
selanjutnya disingkat dengan WBS. WBS merupakan sebuah diagram pekerjaan yang
harus dilaksanakan, dinyatakan secara detail dari atas sampai bawah dalam sebuah
diagram pohon. WBS mengembangkan cara pekerjaan yang akan dilaksanakan, data
biaya dan jadwal akan dicatat dan dilaporkan. Dan WBS juga dapat digunakan untuk
membuat ringkasan status biaya dan jadwal yang akan digunakan untuk mengukur
progres.
Tugas seorang manajer proyek adalah menerjemahkan proyek menjadi
satuan-satuan pekerjaan secara detail dengan membuat WBS. Tujuan WBS adalah
memecah proyek yang besar menjadi subproyek yang cukup kecil untuk membuat
perkiraan biaya yang akurat dan untuk mengendalikan dan mengawasi pelaksanaan
pekerjaan dengan mudah. Tujuan lain dari WBS adalah untuk menjamin bahwa
subproyek-subproyek yang lebih kecil melaksanakan penyelesaian pekerjaan sesuai
dengan perkiraan biaya atau schedule yang telah ditentukan.
Dengan WBS akan diperoleh angka akurat bila dilakukan dengan
menganalisa komponen-komponennya secara lebih terperinci, dibandingkan dengan
perkiraan langsung satu lingkup utuh tanpa memecah dan menganalisa lebih dahulu.
Selain pemecahan akan mempertajam analisa ketergantungan antar kegiatan, karena
dengan terincinya pemecahan, akan makin banyak komponen-komponen kegiatan
terpisahkan sehingga jumlahnya bertambah. Dengan demikian akan makin banyak
variasi hubungan ketergantungan yang terbuka, yang menghasilkan kurun waktu
penyelesaian proyek yang lebih singkat, dimana hal ini disebabkan oleh adanya
kegiatan-kegiatan yang paralel ( Soeharto, 1995).
Pada umumnya WBS merupakan dokumen yang dapat digunakan untuk
berbagai tujuan. WBS bisa menggambarkan bagaimana setiap elemen proyek
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II - 29
memberikan kontribusi terhadap kinerja proyek, penanggung jawab kegiatan atau sub
kegiatan, anggaran biaya dan jadwal waktu. Berdasarkan WBS dapat pula disusun
daftar vendor atau subkontraktor yang melaksanakan kegiatan tertentu. Disamping itu
dari WBS dapat mencatat spesipikasi detail untuk setiap paket pekerjaan, software
dan hardware yang digunakan dan mengidentifikasi kebutuhan sumber daya. WBS
adalah untuk laporan, keperluan implementasi di lapangan, apalagi untuk kegiatan
yang spesifik dan keperluan analisis atau pengkajian.
Teknik dari pembuatan WBS adalah memecah suatu proyek yang besar
menjadi beberapa subproyek, kemudian tiap subproyek itu dipecah lagi menjadi sub
dari subproyek, demikian seterusnya sampai dengan tahapan pekerjaan proyek
terkecil sekalipun. Atau dengan kata lain, dengan WBS manajer proyek dapat
memecah proyek sesuai dengan kegiatan terkecil yang ingin dikendalikan/dikuasai.
WBS sangatlah penting karena manejer proyek dapat memantau/mengendalikan
seluruh kegiatan pekerjaan bersama-sama. Dengan WBS juga memberikan
kemudahan dalam melacak bila terjadi penyimpangan atau kesalahan yang
menghambat prestasi kerja. Disamping itu WBS juga memberikan kemungkinan
untuk menyediakan kurva-S pada berbagai tingkatan/level. Untuk proyek yang
memiliki jenis kegiatan yang banyak dan kompleks, pembuatan kurva-S dengan
berbagai level merupakan langkah yang efektif dalam rangka pengendalian
pekerjaan. Namun untuk proyek yang cukup sederhana, langkah diatas menjadi
kurang efektif. Karena untuk proyek yang jumlahnya kegiatannya sedikit cukup dapat
dikendalikan dengan satu kurva-S saja.
Normalnya, pemecahan proyek sampai kedetilan tingkat level 3 adalah
sudah cukup dalam batasan pemantauan kemajuan proyek, kerena mengingat
besarnya proyek, luasnya lingkup pekerjaan dan kompleksitas pekerjaan. Secara
ideal, setiap kegiatan harus dipilih sedemikian rupa sehingga merupakan bagian
proyek yang dapat diukur. Pada umumnya proyek diterjemahkan menjadi kegiatankegiatan pada level ke-2, tetapi tidak menutup kemungkinan sampai pada level ke-3
atau lebih kecil lagi. Pembuatan perincian kegiatan yang tepat sangat menentukan
keberhasilan proyek. Karena WBS ini merupakan satu kesatuan dengan jadwal waktu
proyek, anggaran biaya, alokasi sumber daya, matriks tanggung jawab dan kurva
pengendalian. Pemecahan proyek dan system penomorannya dapat digambarkan
seperti terlihat pada gambar 2.13 sebagai berikut:
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II - 30
Kegiatan 111
Kegiatan
110
Kegiatan 112
Kegiatan 113
Kegiatan 121
Kegiatan
100
Kegiatan
120
Kegiatan 122
Kegiatan 123
Kegiatan 131
Kegiatan
130
Kegiatan 132
Kegiatan 133
Kegiatan 211
Kegiatan
210
Kegiatan 212
Kegiatan 213
Kegiatan 221
PROYEK
Kegiatan
200
Kegiatan
220
Kegiatan 222
Kegiatan 223
Kegiatan 231
Kegiatan
230
Kegiatan 232
Kegiatan 233
Kegiatan 311
Kegiatan
310
Kegiatan 312
Kegiatan 313
Kegiatan 321
Kegiatan
300
Kegiatan
320
Kegiatan 322
Kegiatan 323
Kegiatan 331
Kegiatan
330
Kegiatan 332
Kegiatan 333
Gambar 2.13. Diagram WBS
Sistem penomoran (WBS code) pekerjaan sangatlah penting untuk
memudahkan dalam penunjukkan jenis pekerjaan. Penomoran dilakukan untuk dapat
melihat dengan jelas spesipikasi pekerjaan yang akan dilakukan. Pemecahan ke level
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II - 31
yang lebih rendah ini tentunya dengan pertimbangan apakah memang pekerjaan
tersebut perlu dipecah lagi. Dengan memilah pekerjaan tertentu sampai kedetilan
yang seberapakah yang dianggap perlu. Sehingga ada pekerjaan tertentu hanya perlu
dilihat sampai level-1 saja. Kemudian suatu pekerjaan tertentu lainnya ada yang perlu
dipecah sampai level-2 atau level-3.
WBS juga dapat menjadi gambaran umum bagi perencanaan proyek,
organisasi proyek, perkiraan jadwal kegiatan, pembiayaan dan bagi pemberi tugas.
2.7.1.1 Durasi Kegiatan
Durasi (kurun waktu) adalah lama waktu yang diperlukan untuk
melakukan kegiatan dari awal sampai akhir. Kurun waktu ini lazimnya
dinyatakan dengan jam, hari atau minggu. Produktivitas kerja yang digunakan
untuk menaksir durasi kegiatan adalah produktivitas kerja rata-rata. Maka
rumus yang digunakan untuk menghitung durasi kegiatan adalah:
D = __V__
Pr.N
…………. (16)
Keterangan :
D
: Durasi Kegiatan
V
: Volume Kegiatan
Pr
: Produktivitas kerja rata-rata
N
: Jumlah tenaga kerja dan peralatan
Sebenarnya pada saat awal, durasi proyek direncanakan dengan
sumber daya yang tersedia (sumberdaya normal). Untuk mempercepat proses
penyelesaikan pekerjaan karena dengan alasan tertentu maka ada beberapa
cara yaitu:
1. Perubahan Logika Jaringan Kegiatan.
a. Kegiatan seri dijadikan kegiatan paralel
Dimisalkan contoh potongan suatu jaringan kegiatan seperti terlihat
pada gambar 2.14. sebagai berikut:
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II - 32
Pembersihan
lokasi
Pengangkutan
Material
Pekerjaan
Galian
Gambar 2.14. Kegiatan Seri
Dari kegiatan diatas dapat dilihat bahwa kegiatan pekerjaan
galian hanya dapat dilaksanakan apabila pengangkutan material telah
selesai dilakukan. Namun pekerjaan galian dapat dilakukan secara
bersamaan dengan pekerjaan pengangkutan material. Sehingga waktu
penyelesaian pekerjaan untuk potongan jaringan kegiatan itu dapat
dipersingkat, seperti terlihat pada gambar 2.15 di bawah ini:
Pengangkutan
Material
Pembersihan
lokasi
Pekerjaan
Galian
Gambar 2.15. Kegiatan Paralel
b. Kegiatan Seri Dijadikan Kegiatan Overlap.
Pekerjaan galian saluran diselesaikan seluruhnya sepanjang
pemasangan jaringan pipa, lalu diikuti oleh meletakkan pipa, dengan
jaringan kerja kegiatan seperti terlihat pada gambar 2.16. sebagai
berikut:
Pekerjaan
Galian
Pengangkutan
Material
Gambar 2.16. Kegiatan Seri
Bila pekerjaan diatas dibagi-bagi atas beberapa lokasi atau
seksi sehingga pekerjaan galian saluran dapat dilaksanakan secara
overlap dengan melatakkan pipa, maka waktu penyelesaian
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II - 33
pekerjaan untuk potongan jaringan kegiatan itu dapat dipersingkat,
seperti terlihat pada gambar 2.17 sebagai berikut:
Meletakkan
Material 1
Pekerjaan
Galian 1
Pekerjaan
Galian 2
Gambar 2.17. Kegiatan Overlap
c. Kegiatan Paralel Dikombinasikan dengan Kegiatan Overlap
Bila proyek dibagi atas seksi-seksi yang lebih kecil dan
pekerjaan yang lebih singkat lagi. Dari contoh peletakkan material
diatas dimisalkan lokasi dibagi atas dua seksi. Seksi pertama
memulai kegiatan galian dari salah satu ujung. Rencana peletakkan
material sedangkan pada waktu yang bersamaan penggalian dari
ujung lainnya dimulai pula. Demikian seterusnya pekerjaan
dilakukan seperti jaringan kerja pada gambar 2.18 berikut :
Pekerjaan
Galian 1
Meletakkan
Material 1
Pekerjaan
Galian 2
Meletakkan
Material 1A
Meletakkan
Material 1B
Meletakkan
Material 2A
Meletakkan
Material 2B
Gambar 2.18. Kombinasi Kegiatan Parallel dan Overlap
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II - 34
2. Penambahan Sumber Daya :
Penambahan sumber daya ini dapat menyebabkan pertambahan
biaya langsung proyek. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan dengan
cara :
a. Penambahan jam kerja (lembur).
Kerja lembur dapat dilakukan dengan menambah jam kerja setiap
hari, tanpa menambah jumlah tenaga kerja. Kerja lembur ini
mengandung bahaya dan pekerjaan akan sangat berat. Oleh sebab
itu, kerja lembur harus mendapat upah tambahan yang lebih besar
dari pada upah kerja normal, biasanya 1,5 sampai 2 kali upah kerja
normal.
Selain itu perlu disediakan peralatan tambahan lainnya seperti
lampu, keamanan kerja, fasilitas kesehatan dan peningkatan
pengawasan kualitas akibat menurusnnya kemampuan kerja para
tenaga kerja.
b. Pembagian Giliran Kerja.
Membuat giliran kerja hampir sama dengan penambahan jam
kerja. Namun disini terjadi penambahan jumlah pekerja, karena
unit pekerja giliran pagi sampai sore berbeda dengan unit pekerja
giliran
sore
sampai
malam.
Dengan
demikian
dianggap
produktivitas ini tetap maka :
1) Giliran kerja dirotasikan secara tetap.
2) Diusahakan suatu upaya agar seorang pekerja sama dengan tim
gilirannya sehingga produktivitasnya yang tinggi
c. Penambahan Tenaga Kerja
Penambahan tenaga kerja dimaksudkan sebagai penambahan
jumlah pekerja dalam satu unit pekerja untuk melaksanakan suatu
kegiatan tanpa menambah jam kerja. Penambahan tenaga kerja
yang optimum akan meningkatkan produktivitas kerja, namun
penambahan yang terlalu banyak justru menurunkan produktivitas
kerja karena terlalu sempitnya lahan untuk bekerja atau hal-hal
lain, untuk itu perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut :
1) Daya tampung tempat untuk menampung jumlah tenaga kerja.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II - 35
2) Kemudahan/keleluasaan dalam melaksanakan pekerjaan.
3) Pengawasan terhadap tenaga kerja.
4) Kemanan kerja.
d. Penambahan/pergatian peralatan.
Penambahan/pergantian peralatan dimaksudkan untuk menambah
produktivitas kerja, mendapatkan ketelitian kerja yang lebih dan
mengurangi jumlah tenaga kerja manusia. Penambahan alat perlu
memperhatikan faktor-faktor sebagai berikut :
1) Penambahan operator dan mekanik peralatan.
2) Daya tampung tempat.
3) Biaya dan waktu yang diperlukan untuk mobilisasi dan
demobilisasi peralatan.
Pergantian peralatan dengan produktivitas lebih besar dari pada
uang digunakan juga dapat dicapai utuk mencapai crash program.
e. Pergantian atau perbaikan metode kerja
Pergantian atau perbaikan metode kerja dilakukan bila metode
yang sudah dilakukan terlalu lambat dan tidak efisien. Misalnya,
pengadukan campuran beton secara manual akan memakan waktu
yang lebih lama dari pada manggunakan beton molen. Namun
pergantian metode kerja kadang kala juga mengubah hubungan
logika jaringan kegiatan atau bahkan jenis kegiatannya sendiri.
f. Konsentrasi pada kegiatan tertentu.
Percepatan
penyelesaian
proyek
dapat
dilakukan
dengan
melakukan konsentrasi khusus pada kegiatan-kegiatan pada jalur
kritis. Konsentrasi ini diartikan sebagai penambahan/pemindahan
tenaga kerja dan atau peralatan pada kegiatan itu. Hal-hal yang
perlu diperhatikan adalah :
1) Pemindahan tenaga kerja ke kegiatan baru akan menurunkan
produktivitas kerja pada awalnya karena ada fase belajar.
2) Keterlambatan kegiatan non kritis tidak melebihi float yang
dimilikinya.
3) Penambahan tenaga kerja dan atau peralatan ke kegiatan kritis
harus memperhatikanjumlah optimumnya.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II - 36
g. Kombinasi dari alternatif yang ada.
Dalam pelaksanaannya, percepatan durasi ini dapat dilakukan
dengan mengkombinasikan altenatif-alternatif yang ada sehingga
menghasilkan suatu cara yang sesuai dengan proyek itu. Terutama
sekali pada proyek-proyek besar yang mempunyai banyak
kegiatan.
2.7.1.2 Jadwal Waktu Proyek
Penjadwalan adalah pengaturan perincian yang diperlukan untuk
melaksanakan rencana itu. Dimulai dengan taraf desain, dikembangkan pada
waktu pemberian kontrak, kemudian digunakan sebagai dasar pengendalian
sewaktu pembelian subkontrak diadakan atau sampai konstruksi. Pada
hakekatnya, jadwal adalah alat yang digunakan sebagai patokan untuk
mengukur
kegiatan
pelaksanaan
pekerjaan
terhadap
waktu
untuk
penyelesaiaan kegiatan tersebut. Yang dimaksud dengan kegiatan disini tidak
hanya terbatas pada kegiatan pelaksanaan saja, melainkan juga meliputi
kegiatan alokasi sumber daya, pembagian tenaga kerja, alokasi dan pengadaan
material dan segala sesuatau yang dipengaruhi dengan waktu itu sendiri dalam
jangka waktu tertentu. Jadi dengan demikian dapat dikaitkan masalah-masalah
yang berhubungan dengan kegiatan tersebut dengan faktor-faktor yang
berpengaruh terhadap waktu, yang dapat dimanfaatkan secara produktif untuk
penyelesaiaan kegiatan.
Ada beberapa fungsi dari penjadwalan, antara lain :
1. Menentukan durasi total yang digunakan untuk menyelesaikan proyek.
2. Menetukan waktu pelaksanaan dari masing-masing kegiatan.
3. Menentukan kegiatan-kegiatan yang tak boleh terlambat atau tertunda
pelaksanaannya (kegiatan kritis) dan jalur kritis.
4. Menentukan kemajuan pelaksanaan proyek.
5. Sebagai dasar perhitungan cashflow proyek.
6. Sebagai dasar bagi penjadwalan sumber daya proyek lain, seperti
tenaga, material dan peralatan.
7. Sebagai alat pengendalian proyek.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II - 37
Jam-orang (man-hour) dari perkiraan biaya adalah dasar untuk
menghitung lamanya kegiatan pada jadwal itu. Hari-orang (man-day) atau
jam-orang dapat dirubah ke dalam hari kalender dan ini dipakai untuk
menghitung eskalasi dan menetapkan kapan perkiraan fasilitas harus siap
dibangun. Terdapat berbagai cara untuk menyusun atau membuat jadwal
proyek yang nantinya dapat dipakai sebagai tolak ukur pengendalian jadwal.
Beberapa cara akan diuraikan berikut ini :
1. Tanggal akhir ditetapkan oleh manajer proyek.
2. Tanggal akhir ditetapkan oleh pasar.
3. Jadwal ditetapkan oleh klien.
4. Memakai jaringan didasarkan atas logika ketergantungan pekerjaan dan
sumber daya.
5. Pertimbangan untuk perencanaan khusus.
6. Memakai kalkulasi biaya sebagai dasar.
7. Memakai kuantitas produktivitas untuk menetapkan schedule.
8. Persyaratan kontraktual.
2.7.1.3 Biaya Proyek
Sebelum memulai menaksir biaya kita harus terlebih dahulu
memperinci tugas-tugas yang harus dilaksanakan dalam proyek itu atau
membuat Work Breakdown Structure (WBS) dan menyusunnya dalam suatu
daftar. Tujuan pembuatan daftar adalah agar kita dapat memperinci bagianbagian dari proyek itu dalam urutan yang logis, seta mencegah kemungkinan
adanya segi-segi yang terlupa. Tentu saja Work Breakdown Structure (WBS)
itu dibuat berdasarkan dari hasil-hasil rapat dan pertemuan dengan berbagai
staf ahli. Hanya dengan partisipasi ahli-ahli itulah kita dapat menelaah semua
aspek dari proyek itu dan menyusun rencana kerja yang dapat diandalkan.
Penaksiran anggaran biaya proyek dimulai dari tingkat kegiatan yang paling
rendah. Anggaran disusun berdasarkan spesifikasi masing-masing kegiatan,
durasi, dan kebutuhan sumber dayanya.
Harga satuan adalah memperkirakan biaya berdasarkan harga satuan
yang ditentukan dari harga unit-perunitnya sehingga akan menunjukkan
volume total pekerjaan tersebut. Volume pekerjaan ialah perhitungan dari
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II - 38
3
gambar-gambar rencana/bestek yang dapat berupa jumlah dalam isi (m ), dan
2
luas (m ) dan panjang (m) atau jumlah satuan lain. Harga satuan pekerjaan
dapat diperoleh dari perhitungan dengan menggunakan buku analisis BOW
atau perhitungan yang lainnya.
Daftar Harga Bahan
Harga Satuan
Pekerjaan
Analisa (BOW/Lain)
Daftar Upah Tenaga
Daftar Harga Bahan
x
Daftar Harga Bahan
Harga Pekerjaan
=
Gambar 2.19. Alur Perhitungan Biaya
Pada studi kasus ini penyusunan anggaran juga berpegang pada
Work Breakdown Structure (WBS) yang telah dibuat. Setiap elemen dari
Work Breakdown Structure (WBS) perlu dikaji mengenai seluruh aspek yang
terkait. Dan perubahan biaya pada upah kerja dari konsekuensi pelaksanaan
Work Breakdown Structure (WBS) pada proyek., hal ini dapat dihitung
dengan :
Harga WBS
= Harga Material
Pekerja WBS
+
Harga Satuan Upah
………………….. (17)
Harga Satuan Upah Pekerja WBS = Jumlah Pekerja WBS x Harga Satuan Upah
ekerja
………………….. (18)
2.7.1.4 Anggaran Biaya Proyek dan Pembobotan (Weight Factor)
Sebelum memulai penaksiran biaya kita harus lebih dahulu
memperinci tugas-tugas yang harus dilaksanakan dalam proyek itu atau
membuat Work Breakdown Structure (WBS) dan menyusunnya dalam suatu
daftar. Tujuan pembuatan daftar adalah agar kita dapat memperinci bagianbagian dari proyek itu dalam urutan yang logis, serta mencegah kemungkinan
adanya segi-segi yang terlupakan. Tentu saja Work Breakdown Structure
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II - 39
(WBS) itu dibuat berdasarkan dari hasil-hasil rapat dan pertemuan dengan
berbagai staf ahli. Hanya dengan partisipasi ahli-ahli itulah kita dapat
menelaah semua aspek proyek dan menyususn rencana kerja yang dapat
diandalkan. Penaksiran anggaran biaya proyek dimulai dari tingkat kegiatan
yang paling rendah. Anggaran disusun berdasarkan spesifikasi masing-masing
kegiatan, durasi, dan kebutuhan sumber dayanya.
Pada studi kasus poryek ini penyusunan anggaran biaya juga
berpegang pada Work Breakdown Structure (WBS) yang telah dibuat. Setiap
elemen dari Work Breakdown Structure (WBS) perlu dikaji mengenai seluruh
aspek yang terkait. Langkah perhitungan anggaran biaya ini didapatkan
berturut-turut dari daftar-daftar di bawah ini (Djojowirono,1991)
• Daftar I
:
Daftar harga satuan bahan, berisi daftar bahan-bahan
bangunan yang akan digunakan untuk pelaksanaan pekerjaan dengan satuan
masing-masing.
• Daftar II
: Daftar satuan harga satuan upah tenaga, berisi upah perhari
tenaga kerja yang akan digunakan sebagai tenaga pelaksanaan pekerjaan.
• Daftar III
:
Daftar harga satuan bahan dan upah tenaga pada tiap
pekerjaan, yaitu semua jenis pekerjaan yang ada mulai dari pekerjaan
persiapan sampai dengan pekerjaan penyelesaian dari proyek.
• Daftar IV
: Daftar volume dan harga satuan pekerjaan, berisi
jenis/macam pekerjaan (daftar III, volume pekerjaan, satuan dari jenis
pekerjaan (daftar III), harga satuan pekerjaan dan jumlah harga pekerjaan.
• Daftar V
: Daftar rekapitulasi, berisi daftar bagian-bagian pekerjaan
dan jumlah harga pekerjaan dari masing-masing bagian pekerjaan.
Selanjutnya ditambah dengan biaya-biaya lain (biaya umum, biaya tak
terduga, pajak-pajak dan keuntungan kontraktor/pemborong).
Harga satuan adalah memperkirakan biaya berdasarkan harga satuan
yang ditentukan dari harga unit-perunitnya sehingga akan menunjukkan
volume total pekerjaan tersebut. Volume pekerjaan adalah perhitungan dari
gambar-gambar rencana atau gambar bestek yang dapat berupa jumlah dalam
isi (m3), luas (m2) dan panjang (m) atau jumlah satuan yang lain.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II - 40
Dari anggaran yang telah direncanakan tersebut, kemudian dihitung
pembobotannya. Weight Factor (WF) secara umum dirumuskan sebagai
berikut:
Anggaran biaya tiap pekerjaan
WF
=
x 100%
…….… (19)
Total anggaran proyek
Informasi tentang Weight Factor (WF) ini sangat bermanfaat dalam
pengendalian proyek, yaitu dalam pembuatan kurva pengendalian proyek
(kurva-S) per level kegiatan. Jika Weight Factor (WF) tersebut didistribusikan
pada masing-masing waktu kegiatan maka persentase target yang diharapkan
untuk masing-masing kegiatan dapat diketahui. Di samping itu Weight Factor
(WF) juga terkait dengan cashflow proyek. Dengan mengetahui bobot tiaptiap kegiatan per satuan waktu maka aliran modal yang harus dikeluarkan
pada setiap tahap dan setiap waktu dapat dikontrol.
2.7.2 Metode Konsep Nilai Hasil (KNH)
Menurut Soeharto, 1995,metode konsep nilai hasil adalah konsep menghitung
besarnya biaya yang menurut anggaran sesuai dengan pekerjaan yang telah
diselesaikan atau dilaksanakan (Budgeted Cost of Work Performed). Asumsi yang
digunakan konsep nilai hasil adalah bahwa kecenderungan yang ada dan terungkap
pada saat pelaporan akan terus berlangsung. Keterangan yang memberitahukan
proyeksi masa depan penyelenggaraan proyek merupakan masukan yang sangat
berguna bagi pengelola maupun pemilik, karena dengan demikian mereka memiliki
cukup waktu untuk memikirkan cara-cara menghadapi segala persoalan di masa yang
akan datang.
Adapun manfaat dari metode dengan menggunakan konsep nilai hasil adalah
sebagai berikut :
1. Memperlihatkan perbedaan biaya pelaksanaan dan anggaran.
2. Menghitung besar perkiraan biaya untuk pekerjaan yang tersisa.
3. Menghitung besar perkiraan biaya untuk penyelesaian proyek.
4. Memperlihatkan perbedaan waktu pelaksanaan dengan jadwal.
5. Memperkirakan lama waktu pelaksanaan dari pekerjaan yang tersisa.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II - 41
6. Memperkirakan besar proyeksi keterlambatan pada akhir proyek bila kondisi
masih seperti pelaporan.
2.7.2.1 Biaya Pekerjaan Berdasarkan Anggaran
Ditinjau dari pekerjaan yang telah diselesaikan, metode konsep nilai
hasil dapat mengukur besarnya unit pekerjaan yang telah diselesaiakan. Pada
suatu waktu bila dinilai berdasarkan jumlah anggaran yang disediakan untuk
pekerjaan tersebut. Dengan perhitungan ini diketahui hubungan antara apa
yang sesungguhnya dicapai secara fisik terhadap jumlah anggaran yang telah
dikeluarkan.
Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada salah satu contoh untuk
pekerjaan pondasi pada gambar 2.20. sebagai berikut :
● Misalkan suatu pekerjaan mengecor pondasi beton dengan volume 300
m3. Anggaran untuk pekerjaan ini sebesar 80 juta rupiah.
● Pada minggu pertama dilaporkan sebanyak 75 m3 pengecoran telah
diselesaikan. Ditanyakan : berapa nilai hasil (earned value) pada saat
pelaporan?
3
300 m beton
1. jumlah pekerjaan
Rp 80 juta
anggaran
3
75 m beton = 25%
2. pekerjaan yang terselesaikan (%)
?
anggaran yang terpakai
Rp 15 juta
Rp 35 juta
pengeluaran aktual
Gambar 2.20. Menilai biaya pekerjaan yang telah diselesaikan dilihat
dari bagian jumlah anggaran yang terpakai
Sumber : Soeharto “ Manajemen Proyek “, 1995
Nilai hasil adalah biaya yang dianggarkan dari pekerjaan yang telah
diselesaikan. Jumlah yang telah diselesaikan adalah 75 m3 atau = (75 /
300)(100%) = 25%, dengan demikian menurut anggaran, pengeluaran adalah
sebesar (25%)(Rp80 juta) = Rp20 juta. Jadi, nilai hasil adalah Rp20 juta.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II - 42
Dalam hal ini pengeluaran aktual dapat lebih kecil (Rp15 juta), lebih besar
(Rp35 juta) atau sama dengan nilai hasil, tergantung dari efisiensi
pelaksanaan pekerjaan. Bila pekerjaan dilakukan dengan amat efisien dari
yang diperkirakan dalam anggaran sehingga pengeluaran misalnya hanya
Rp15 juta, maka dikatakan nilai hasil (Rp20 juta) lebih besar dari
pengeluaran. Dan bila yang terjadi adalah sebaliknya, maka nilai hasil lebih
kecil dari pengeluaran (Rp35 juta).
Dari contoh di atas, rumus nilai hasil adalah :
Nilai hasil = (% Penyelesaian ) x (Anggaran)
2.7.2.2 Pekerjaan yang Masih Berlangsung
Pada umumnya, keadaan yang sesungguhnya terjadi di lapangan akan
semakin rumit, dengan terdiri dari berbagai macam item. Misalnya dalam satu
paket yang terdiri dari pekerjaan a, b, c dengan kemajuan sebagai berikut.
1. pekerjaan a telah selesai 100%
2. pekerjaan b masih dalam proses, sudah dimulai tetapi belum 100%
selesai.
3. pekerjaan c belum dimulai sama sekali.
Untuk menghitung nilai hasil paket kerja di atas, pendekatan yang
digunakan adalah dengan memperhatikan bobot komponen-komponen
pekerjaan tersebut terhadap total (a + b + c), sedangkan nilai hasil komponenkomponen adalah sebagai berikut :
1. Komponen a telah 100% selesai = 100.
2. Komponen b = besarnya persentase penyelesaian fisik sesungguhnya.
3. Komponen c belum dimulai = 0
Contoh perhitungan nilai hasil suatu paket yang terdiri dari beberapa
pekerjaan dengan tingkat penyelesaian yang berbeda ditunjukkan dalam tabel
2.4. Kegiatan konstruksi terdiri dari komponen-komponen pekerjaan
menyiapkan lahan , civil dan bangunan, memasang peralatan, memasang pipa,
listrik dan instrumen isolasi serta pengecatan, dengan anggarannya masingmasing. Pada saat pelaporan diketahui penyelesaian fisik masing-masing
komponen, sehingga dapat dihitung nilai hasil paket kerja konstruksinya,
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
yaitu
II - 43
bobot
(%)
penyelesaian
fisik
dikalikan
anggaran,
kemudian
dijumlahkan, maka diperoleh (46%) (Rp2.000 juta) = Rp (920 juta)
Tabel 2.4. Contoh Perhitungan Nilai Hasil Pada Saat Pelaporan
Anggaran
No
Item pekerjaan
Penyelesaian fisik (%)
(juta Rp)
Bobot (%)
Bagian
Konstruksi
1
Menyiapkan lahan
400
20
100
20
2
Civil dan bangunan
300
15
100
15
3
Memasang peralatan
400
20
40
8
4
Pekerjaan pipa
600
30
10
3
5
Listrik dan instrumen
200
10
-
-
6
Isolasi dan pengecatan
100
5
-
-
2.000
100
Total
46
Penyelesaian Fisik Total Konstruksi = 46 %
Nilai hasil = Anggaran x % Penyelesaian
= (Rp2.000 juta) x (46%)
= Rp920 juta
Sumber : Soeharto “ Manajemen Proyek “, 1995
2.7.2.3 Indikator-indikator Metode Konsep Nilai Hasil (KNH)
Metode konsep nilai hasil dapat digunakan untuk menganalisis kinerja
dan membuat perkiraan pencapaian sasaran. Untuk itu digunakan 3 indikator,
yaitu ACWP (Actual Cost Work Performed /jumlah biaya aktual dari
pekerjaan yang telah dilaksanakan), BCWP (Budgeted Cost of Work
Performed /anggaran yang senilai dengan pekerjaan yang telah dilaksanakan),
BCWS (Budgeted Cost of Work Schedule /jumlah anggaran untuk pekerjaan
yang direncanakan).
1. ACWP (Actual Cost Work Performed /jumlah biaya aktual dari
pekerjaan yang telah dilaksanakan).
ACWP adalah jumlah biaya aktual dari pekerjaan yang telah
dilaksanakan. Biaya ini diperoleh dari data-data bidang keuangan
proyek pada masa pelaporan (missal akhir bulan). Segala pengeluaran
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II - 44
biaya sesungguhnya dikumpulkan dan dicatat untuk dibebankan ke
masing-masing elemen kerja, termasuk perhitungan “overhead”.
Sehingga ACWP merupakan jumlah nyata / aktual dari pengeluaran
atau dana yang digunakan untuk pelaksanaan pekerjaan pada kurun
waktu tertentu.
2. BCWP (Budgeted Cost of Work Performed /anggaran yang senilai
dengan pekerjaan yang telah dilaksanakan).
Indikator ini menunjukkan nilai hasil dari sudut pandang pekerjaan
yang telah diselesaikan terhadap anggaran yang disediakan untuk
melaksanakan pekerjaan tersebut. Bila angka ACWP dibandingkan
dengan BCWP maka akan terlihat perbandingan antara biaya yang
dikeluarkan untuk pekerjaan yang telah terlaksana terhadap biaya yang
sesungguhnya dikeluarkan untuk maksud tersebut. Angka BCWP
didapat dengan mengalikan anggaran persentase penyelesaian
pekerjaan.
3. BCWS (Budgeted Cost of Work Schedule /jumlah anggaran untuk
pekerjaan yang direncanakan).
BCWS merupakan jumlah anggaran untuk pekerjaan yang dikaitkan
dengan jadwal pelaksanaan. Di sini terjadi perpaduan antara biaya,
jadwal dan lingkup pekerjaan dimana masing-masing elemen
pekerjaan telah diberi alokasi biaya dan jadwal yang kemudian akan
menjadi tolok ukur dalam penyelesaian pekerjaan.
Dengan menggunakan ketiga indikator ini dapat dihitung berbagai
faktor yang menunjukkan kemajuan pelaksanaan proyek seperti CV (Cost
Variant/Varian Biaya Terpadu), SV (Schedule Variant/Varian Jadwal
Terpadu), CPI (Cost Performed Index/Indeks Prestasi Biaya) dan SPI (Cost
Performed Index /Indeks Prestasi Waktu)
1. Analisa varian biaya dan waktu terpadu.
Menganalisis penyelesaian proyek dengan memakai metode varian
sederhana dianggap kurang mencukupi, karena analisis varian tidak
dapat mengintegrasikan aspek biaya dan jadwal. Untuk mengatasinya
digunakan metode konsep nilai hasil.
Untuk lebih jelasnya dapat dilihat contoh tabel 2.5. berikut :
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II - 45
Tabel 2.5. Varian Biaya dan Jadwal
Bulan ke-
1
2
3
4
5
6
(BCWS)
60
140
280
480
660
870
Pengeluaran (ACWP)
90
210
410
640
840
Nilai Hasil
40
100
210
380
530
Varian biaya (CV)
-50
-110
-200
-260
-310
Varian jadwal (SV)
-20
-40
-80
-100
-130
Anggaran
(BCWP)
7
8
1020 1080
Ketiga indikator ini digambarkan dalam bentuk grafik dengan
biaya sebagai sumbu vertikal dan jadwal sebagai sumbu horisontal.
Rp
1080
Batas Anggaran
840
660
Varians
Varians Biaya
Jadwal
530
ACWP
BCWS
BCWP
Saat Pelaporan
Ke-1 Ke-2 Ke-3 Ke-4 Ke-5 Ke-6 Ke-7 Ke-8
Waktu
BCWS
60
140 280 480 660 1.020 870 1.080
ACWP
90
210 410 640 840
BCWP
40
100 210 380 530
Gambar 2.21. Analisis Varians Terpadu Disajikan dengan Grafik “ S ”
Menurut Soeharto, 1995, rumus varian biaya dan jadwal adalah sebagai
berikut :
Varians biaya (CV)
= BCWP – ACWP
.............................. (1)
Varians jadwal (SV)
= BCWP – BCWS
.............................. (2)
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II - 46
Angka negatif untuk variasi biaya menunjukkan situasi dimana
biaya yang diperlihatkan lebih tinggi dari anggaran disebut overrun,
angka nol menunjukkan pekerjaan terlaksana sesuai dengan biaya, dan
angka positif berarti pekerjaan terlaksana dengan biaya kurang dari
anggaran disebut cost underrun. Demikian juga halnya dengan jadwal.
Angka negatif berarti terlambat, angka nol berarti tepat dan angka
positif berarti lebih cepat dari rencana.
Perincian analisis varian terpadu dapat dilihat pada tabel 2.6. berikut :
Tabel 2.6. Analisis Varian Terpadu
Varians jadwal
Varians biaya
SV = BCWP – BCWS
CV = BCWP – ACWP
Positif
Positif
Keterangan
Pekerjaan
terlaksana
lebih
cepat
daripada jadwal dengan biaya lebih
kecil daripada anggaran
Nol
Positif
Pekerjaan terlaksana sesuai jadwal
dengan
biaya
lebih
kecil
dari
anggaran
Positif
Nol
Pekerjaan terlaksana sesuai anggaran
dengan waktu lebih cepat dari jadwal
Nol
Nol
Pekerjaan terlaksana sesuai jadwal
dan anggaran
Negatif
Negatif
Pekerjaan
menelan
selesai
biaya
terlambat
lebih
besar
dan
dari
anggaran
Nol
Negatif
Pekerjaan terlaksana sesuai jadwal
dengan biaya diatas anggaran
Negatif
Nol
Pekerjaan selesai terlambat dengan
biaya sesuai dengan anggaran
Positif
Negatif
Pekerjaan terlaksana lebih cepat dari
jadwal dengan biaya lebih besar dari
anggaran
Sumber : Soeharto “ Manajemen Proyek “, 1995
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II - 47
2. Analisa indek prestasi
Dalam hubungannya dengan kegiatan proyek, efisiensi penggunaan
sumber daya, tenaga kerja dan waktu dinyatakan dalam bentuk
prestasi. Prestasi pada umumnya dikaitkan dengan dana dan waktu.
Menurut Soeharto, 1995, rumus untuk maksud ini adalah sebagai
berikut :
Indeks Kinerja Biaya (CPI) = BCWP / ACWP
.................... (3)
Indeks Kinerja Jadwal (SPI) = BCWP / BCWS
.................... (4)
Bila indek prestasi ditinjau lebih lanjut, didapat hal-hal sebagai
berikut:
a. Angka indek prestasi kurang dari satu berarti pengeluaran lebih
besar dari anggaran atau waktu lebih lama dari jadwal yang
direncanakan. Bila perencanaan anggaran dan jadwal sudah
dibuat secara realistis maka terdapat sesuatu yang tidak benar
dalam pelaksanaan proyek.
b. Angka indek prestasi lebih dari satu berarti prestasi
penyelenggaraan proyek lebih baik dari perencanaan, dalam
arti pengeluaran atau jadwal lebih cepat dari rencana.
c. Makin besar perbedaan dari angka satu maka makin besar
penyimpangan dari perencanaan dasar atau anggaran justru
tidak realistis.
3. Analisa kemajuan proyek
Pada saat pelaksanaan misalnya didalam laporan bulanan data yang
terkumpul mengenai kemajuan pekerjaan dan pengeluaran biaya
dianalisa untuk tiap paket kerja yang meliputi :
a. Kemajuan fisik aktual dihitung berdasarkan anggaran yang
dialokasikan.
b. Pengeluaran tercatat pada laporan keuangan.
c. Perencanaan dasar dan anggaran yang mengkaitkan jadwal dan
biaya.
Ketiga indikator diatas setelah dianalisis akan memberikan gambaran
yang tepat dan lengkap perihal kinerja tiap paket pekerjaan yaitu
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II - 48
mengenai pencapaian jadwal dan anggaran. Berdasarkan kinerja pada
saat pelaporan diperkirakan biaya dan jadwal akhir proyek.
4. Perkiraan biaya dan waktu penyelesaian proyek
Didalam membuat perkiraan biaya dan jadwal penyelesaian proyek
yang didasarkan atas hasil analisis yang diperoleh pada saat pelaporan,
akan memberikan petunjuk EAC (Estimasi at Completion/perkiraan
biaya untuk penyelesaian proyek) dan ECD (Estimate Completion
Date/waktu penyelesaian proyek).
Perkiraan tidak dapat memberikan jawaban dengan angka yang tepat
karena didasarkan pada berbagai asumsi yang dipakai. Meskipun
demikian, pembuatan perkiraan biaya atau jadwal amat bermanfaat
karena memberikan peringatan dini mengenai hal-hal yang akan
terjadi mengenai masa yang akan datang, bila kecenderungan yang ada
pada saat pelaporan tidak mengalami perubahan. Dengan demikian
masih tersedia kesempatan untuk mengadakan tindakan pembetulan.
Dalam membuat proyeksi diatas menurut Soeharto, 1995, digunakan
rumus-rumus perkiraan biaya penyelesaian sebagai berikut :
Anggaran proyek keseluruhan
: Ang
........ (6)
Anggaran untuk pekerjaan tersisa
: Ang  BCWP
........ (7)
CPI
: BCWP / ACWP
........ (8)
ETC
: (Ang  BCWP / CPI)
........ (9)
EAC
: ACWP + ETC
...... (10)
Keterangan :
Ang
: Anggaran
BCWP
: Anggaran yang senilai dengan pekerjaan
yang telah dilaksanakan.
ACWP
: Jumlah biaya aktual dari pekerjaan yang
telah dilaksanakan.
CPI
: Indeks prestasi biaya.
ETC
: Perkiraan biaya untuk pekerjaan tersisa.
EAC
: Perkiraan total biaya di akhir proyek.
Sedangkan menurut Soeharto, 1995, rumus-rumus waktu penyelesaian
proyek adalah sebagai berikut :
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II - 49
Total waktu
= Ttotal
.
.............. (11)
Waktu pekerjaan tersisa
= Ttotal  Twp
.............. (12)
SPI
= Twp / Tact
……….. (13)
ETS
= (Ttotal  Twp) / SPI
……….. (14)
ECD
= Twp + ETS
.............. (15)
Keterangan :
Ttotal
= Rencana waktu pelaksanaan.
Tact
= Rencana waktu sampai dengan saat monitoring.
Tact
= Waktu yang seharusnya dicapai sesuai kemajuan.
SPI
= Indeks kinerja waktu yang diperoleh pada saat
monitoring
ETS
= Waktu sisa pekerjaan
ECD
= Waktu penyelesaian proyek.
Download