interaksi sosial anak jalanan di rumah singgah

advertisement
INTERAKSI SOSIAL ANAK JALANAN DI RUMAH
SINGGAH MASTER YAYASAN BINA INSAN
MANDIRI DEPOK
Skripsi
Diajukan kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
untuk Memenuhi Syarat Mencapai Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd)
Oleh
Yustia Umamah
NIM: 1110015000007
PROGRAM STUDI ILMU PENDIDIKAN SOSIAL
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
1436 H/2015 M
ABSTRAK
Yustia Umamah, 1110015000007 “Interaksi Sosial Anak Jalanan Di Rumah
Singgah Master Yayasan Bina Insan Mandiri Depok”. Skripsi. Program Studi
Pendidikan IPS, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri
Jakarta, 2015.
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui bentuk-bentuk interaksi sosial
antara anak jalanan dengan anak jalanan, anak jalanan dengan guru atau tutor dan
anak jalanan dengan masyarakat. Penelitian ini dilaksanakan di Rumah Singgah
Master Yayasan Bina Insan Mandiri yang terletak di Jalan Margonda Raya No.58
Pancoran Mas Terminal Terpadu Kota Depok. Metode yang digunakan dalam
penelitian ini adalah kualitatif deskriptif, yakni mendeskripsikan tentang
fenomena-fenomena yang ada. Adapun teknik pengumpulan data menggunakan
observasi, wawancara, dan dokumentasi.
Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa, pertama, bentuk-bentuk
interaksi sosial anak jalanan dengan anak jalanan adalah bentuk interaksi sosial
yang bersifat asosiatif dan disosiatif yang meliputi kerja sama, akomodasi
diantaranya (toleransi, mediasi ) dan pertikaian. kedua, bentuk interaksi sosial
anak jalanan dengan guru atau tutor adalah bentuk interaksi sosial yang bersifat
asosiatif dalam bentuk kerja sama. Dan ketiga, interaksi sosial anak jalanan
dengan masyarakat dalam bentuk kerja sama dalam kegiatan-kegiatan tertentu
yang harus melibatkan anak-anak jalanan dengan masyarakat sekitarnya hanya
pada waktu-waktu tertentu saja.
Kata kunci: Interaksi Sosial, Anak Jalanan, Rumah Singgah
i
ABSTRACT
Yustia Umamah, 1110015000007 "Social Interaction Street Children in Shelter
Master Yayasan Bina Insan Mandiri Depok". Thesis. IPS Education Studies
Program, Faculty of MT and Teaching, State Islamic University in Jakarta, 2015.
The purpose of this research is used for understanding the forms of
social interaction between street children with street children, street children by
teachers or tutors and their society. This Thesis is held in Master Shelter Home
Yayasan Bina Insan Mandiri, located at Jalan Raya 58 Jewel Mas Margonda
Integrated Terminal Depok. The method used in this research is descriptive
qualitative, which describe the phenomena that exist. The data collection
techniques using observation, interviews, and documentation.
Based on the results of the study found that : first, the forms of social
interaction with the street children street children is a form of social interaction
which is associative and dissociative which includes cooperation, including
accommodation (tolerance, mediation) and contention. second, forms of social
interaction street children with the teacher or tutor is a form of social interaction
which is associative in the form of cooperation. And third, the social interaction
with the community of street children in the form of cooperation in certain
activities should involve street children in the surrounding community only at
certain times only.
Keywords: Social Interaction, Street Children, Shelter Home
ii
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Tiada kata yang paling indah dan bermakna selain untaian kata syukur
kehadirat Allah SWT, atas berkat nikmat sehat, karunia serta ridho-Nya. Shalawat
dan salam penulis hanturkan kepada Nabi Muhammad SAW yang menjadi rahmat
bagi seluruh alam, sahabat dan pengikutnya hingga akhir zaman. Penulis
bersyukur karena atas berkat rahmat dan hidayah-Nya, skripsi ini dapat
diselesaikan dengan baik sebagai salah satu syarat memperoleh gelar sarjana
pendidikan (S.Pd) di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
Dalam pembuatan dan penulisan skripsi ini tak lepas dari dukungan dan
dorongan serta jasa dari seluruh pihak. Oleh karena itu, penulis ingin
menyampaikan ucapan terimakasih tak terhingga kepada:
1. Prof. Dr. Ahmad Thib Raya,MA , selaku Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan
Keguruan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Iwan Purwanto M.Pd, selaku Ketua Jurusan Ilmu Pengetahuan Sosial dan Drs.
Syaripulloh selaku Sekretaris Jurusan Ilmu Pengetahuan Sosial yang telah
memberikan layanan akademik selama penulis menempuh perkuliahan.
3. Drs. Nurrochim M.M selaku dosen pembimbing skrispsi yang telah
memberikan motivasi dan meluangkan waktu, tenaga, serta pikirannya untuk
membimbing hingga terselesaikannya skripsi ini.
4. Seluruh Bapak/Ibu dosen program studi Ilmu Pengetahuan Sosial yang telah
mendidik,
mengajar,
dan
melatih
dengan
memberikan
ilmu
dan
pengetahuannya selama perkuliahan.
5. Kedua orang tua tercinta Mad Usin dan Atih yang tidak lelah mendidik
penulis sampai saat ini, curahan kasih sayang yang tulus, do’a-do’a yang tiada
henti mengalir, nasihat, motivasi serta dukungan moril maupun materil yang
selalu diberikan selama ini. Dan tak lupa keluarga tercinta, Adik-adiku, Kakek
dan Nenek tercinta H. Jahari dan Hj. Anoy, atas segala doa dan dukungannya
selama ini.
iii
6. Pimpinan Yayasan Bina Insan Mandiri Depok atau Sekolah Master Bapak
Nurrohim, para pengurus serta para tutor dan anak binaan Yabim yang telah
memfasilitasi penulis dalam melakukan penelitian hingga selesai.
7. Keluarga Terlalu Cantik Farida Hasanah, Muhammad Fakih S.Pd, Dara
Rahmita Dewi S.Pd, Desstia Loveacna, S.Pd, dan Lesehan koceku ( Mimih
dan Ayah).
8. Keluarga Ciwis Mutia Muqri,SS, Reni Cahaya Mufidah S.Pdi, Khairunnisa
S.Pdi, Amanah Khairiyah SS dan Siti Nadiyah S.Kep yang terus memberikan
motivasi dan kebersamaannya selama 12 Tahun ini.
9. Keluarga kece tercinta Nur Amalia S.Pd, Annisa Nur Afifah S.Pd, Amirah
Nasution S.Sos.I, Minda Wh Yassin S.Sos.I , yang terus saling memotivasi
dan atas kebersamaannya selama ini.
10. Teman-teman seperjuangan Penddidikan Ilmu Pengetahuan Sosial 2010,
Sosiologi Antropologi 2010, ATK Fam’s, sahabat-sahabatku Novi Mela
Yuliani, Irot Rosita, Diah Yuniardi, Nur Aini, Bunga Anzelia, Putri Ridhania,
Fitri Amalia Azzahro, Rizka Nurazizah, Prihartini, Nisrina Augustama,
Wildati Auli Sya’bani, Ibnu Mustaqim serta Misbahudin. Atas kebersamaan
dan canda tawa yang selalu tercipta selama masa perkuliahan.
11. Keluarga
Besar
Himpunan
Mahasiswa
Bogor
(Himabo),
Himpunan
Mahasiswa Islam ( HMI) Komisariat Tarbiyah serta Himpunan Mahaswiwa
Jurusan IPS (HMJ-IPS) .
Serta semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu. Semoga
seluruh kebaikan, jasa, dan doanya yang telah diberikan kepada penulis
menjadi pintu datangnya ridho dan kasih sayang oleh Allah SWT di dunia dan
di akhirat kelak. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya
dan bagi khazanah ilmu pengetahuan.
Ciputat, 15 Januari 2015
Penulis
Yustia Umamah
iv
DAFTAR ISI
LEMBAR PENGESAHAN PEMBIMBING
LEMBAR PENGESAHAN MUNAQASAH
SURAT PERNYATAAN KARYA SENDIRI
ABSTRAK ........................................................................................................... i
ABSTRACT .......................................................................................................... ii
KATA PENGANTAR .......................................................................................... iii
DAFTAR ISI ......................................................................................................... v
DAFTAR TABEL ................................................................................................ x
DAFTAR LAMPIRAN
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah .............................................................................. 1
B. Identifikasi Masalah .................................................................................... 8
C. Pembatasan Masalah ................................................................................... 8
D. Perumusan Masalah .................................................................................... 9
E. Tujuan dan Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis .................................................................................... 9
2. Manfaat Praktis ..................................................................................... 10
v
BAB II KAJIAN TEORI
A. Interaksi Sosial
1. Pengertian Interaksi Sosial .................................................................... 11
2. Prinsip-Prinsip Dasar Interaksionalisme Simbolik
a. Kemampuan untuk berfikir ............................................................. 15
b. Berpikir dan Berinteraksi ................................................................ 16
c. Pembelajaran Makna Simbol-simbol .............................................. 16
d. Aksi dan Interaksi ........................................................................... 16
e. Diri atau Self ................................................................................... 17
f. Kelompok-kelompok dan Masyarakat ............................................ 17
3. Ciri-ciri Interaksi Sosial ........................................................................ 17
4. Syarat Terjadinya Interaksi Sosial ........................................................ 17
a. Adanya Kontak Sosial ..................................................................... 18
b. Adanya Komunikasi ........................................................................ 20
5. Bentuk-bentuk Interaksi Sosial ............................................................ 24
a. Bentuk Proses Sosial Asosiatif ....................................................... 24
b. Bentuk Proses Sosial Disosiatif ...................................................... 28
B. Anak Jalanan
1. Pengertian Anak Jalanan ....................................................................... 30
2. Faktor Penyebab Anak Jalanan ............................................................. 33
a. Tingkat Mikro ................................................................................. 34
b. Tingkat Messo ................................................................................. 34
c. Tingkat Makro................................................................................. 35
3. Karakteristik Anak Jalanan ................................................................... 36
a. Anak Jalanan Yang Hidup Di Jalanan ........................................... 36
b. Anak Jalanan Yang Bekerja Di Jalanan .......................................... 37
c. Anak Yang Rentan Menjadi Anak Jalanan ..................................... 37
vi
4. Model Pembinaan Terhadap Anak Jalanan ........................................... 42
a. Model Rumah Singgah .................................................................... 42
b. Model Mobil Sahabat Anak ............................................................ 42
c. Model Boarding House atau Pemondokan ...................................... 43
C. Rumah Singgah
1. Pengertian Rumah Singgah ................................................................... 43
2. Tujuan Rumah Singgah ......................................................................... 44
3. Fungsi Rumah Singgah ......................................................................... 45
D. Penelitian Yang Relevan ............................................................................. 47
E. Kerangka Berfikir........................................................................................ 49
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
A. Tempat dan Waktu Penelitian ..................................................................... 50
B. Populasi dan Sampel Penelitian .................................................................. 50
C. Metode Penelitian........................................................................................ 51
D. Prosedur Pengumpulan Data ....................................................................... 53
1. Data Primer ........................................................................................... 53
2. Data Sekunder ....................................................................................... 53
E. Teknik Pengumpulan Data .......................................................................... 54
1. Observasi ............................................................................................... 54
2. Wawancara ............................................................................................ 55
3. Dokumentasi ......................................................................................... 56
F. Instrumen Penelitian.................................................................................... 56
G. Teknik Pengelolaan dan Analisis Data ....................................................... 59
H. Pengecekan Keabsahan Data....................................................................... 60
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Deskripsi Data
1. Gambaran Umum Rumah Singgah Yayasan Bina Insan Mandiri ........ 65
vii
2. Visi dan Misi Rumah Singgah Yayasan Bina Insan Mandiri .............. 68
3. Keadaan Guru dan Siswa ...................................................................... 69
a. Keadaan Guru.................................................................................. 69
b. Keadaan Siswa ................................................................................ 74
4. Kurikulum Pembelajaran ...................................................................... 74
5. Sarana dan Prasarana............................................................................. 76
6. Struktur Pengurus Yayasan Bina Insan Mandiri .................................. 79
B. Deskripsi Data
a. Interaksi Sosial Anak Jalanan di Rumah Singgah Master .............. 81
b. Interaksi Sosial Anak Jalanan Terhadap Sesama Anak Jalanan ..... 85
c. Interaksi Sosial Anak Jalanan Terhadap Guru atau Tutor .............. 91
d. Interaksi Sosial Anak Jalanan Terhadap Masyarakat ..................... 94
di Sekitar Rumah Singgah
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
A. KESIMPULAN ........................................................................................... 98
B. IMPLIKASI ............................................................................................... 99
C. SARAN ....................................................................................................... 100
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN-LAMPIRAN
viii
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1 Ciri Fisik dan Psikis Anak Jalanan ..................................................... 41
Tabel 2.2 Pendekatan dan Penanganan Anak Jalanan ....................................... 44
Tabel 3.1 Waktu Penelitian ................................................................................ 52
Tabel 3.2 Instrumen Wawancara Kepala Rumah Singgah.................................. 59
Tabel 3.3 Instrumen Wawancara Guru atau Tutor .............................................. 60
Tabel 3.4 Instrumen Wawancara Anak Jalanan .................................................. 60
Tabel 3.5 Instrumen Wawancara Masyarakat ..................................................... 61
Tabel 4.1 Jumlah Guru atau Tutor di Rumah Singgah Master ........................... 72
Tabel 4.2 Tingkat Pendidikan Tutor Rumah Singgah Master ............................ 73
Tabel 4.3 Jadwal Belajar PKBM di Rumah Singgah Master .............................. 79
Tabel 4.4 Sarana dan Prsarana Yayasan Bina Insan Mandiri ............................. 81
ix
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran1 Kegiatan Observasi Interaski Sosial
Lampiran2 Hasil Kegiatan Observasi
Lampiran3 Instrumen Wawancara
Lampiran4 Hasil Wawancara
Lampiran5 Dokumentasi
Lampiran6 Data Responden
Lampiran7 Lembar Uji Referensi
Lampiran8 Surat Izin Penelitian Dari Fakultas
Lampiran9 Surat Izin Yayasan Bina Insan Mandiri Depok
Lampiran10 Daftar Prestasi Yayasan Bina Insan Mandiri Depok
x
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Pada dasarnya manusia dilahirkan seorang diri, namun demikian
mengapa manusia harus hidup bermasyarakat? Karena manusia tanpa
manusia lainnya pasti akan mati karena pada dasarnya manusia adalah
makhluk sosial. Dari sejak lahir misalnya pada saat kita masih bayi harus
diajari makan, berjalan, berlari, bermain-main dan lain sebagainya. Sudah
terlihat jelas dari lahir pun manusia memang membutuhkan pertolongan
manusia lainnya, begitu pun ketika dewasa harus saling berhubungan
dengan manusia lainnya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Menurut Soerjono Soekanto, “ketika dilahirkan, manusia diberikan
dua hasrat atau keinginan pokok yaitu keinginan untuk menjadi satu
dengan manusia lain disekelilingnya (yaitu masyarakat) dan Keinginan
untuk menjadi satu dengan suasana alam sekelilingnya”.1 Untuk dapat
menghadapi dan menyesuaikan diri dengan kedua lingkungan tersebut,
manusia menggunakan fikiran, perasaan dan kehendaknya. Jadi, sejak
dalam kehidupan manusia di permukaan bumi ini, sebagai seorang
manusia yang normal dan berfikir pasti melaksanakan ikatan batin dengan
cara berhubungan satu dengan yang lainnya. Baik sejenis maupun lawan
jenis, kelompok dengan kelompok tetapi rasa ikatan dengan dasar
kekeluargaan itu pasti ada. Maka mereka itu akan hidup secara bersama
dan bekerjasama pula dalam mewujudkan cita-cita mereka.
Menurut Henry l Tischloer dalam Gatut Murniatmo, “interaksi
sosial terjadi akibat adanya tindakan seseorang yang berhubungan dengan
seseorang atau mempunyai tujuan-tujuan tertentu dengan bermacammacam motivasi atau alasan-alasan yang mendukung”.2 Adanya motivasi
1
Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar, (Jakarta : PT Raja Grafindo Persada,
1994), h.124
2
Salamun dan Taryati, Interaksi Sosial Penduduk Perumnas Condong Catur dengan
Penduduk Sekitarnya,(Yogyakarta :Kepel Press, 2007), h.35
1
2
dan tujuan dalam melakukan interaksi antara individu dengan yang
lainnya, supaya tindakan dari interaksi yang dilakukan sesuai de ngan
tujuan yang akan dicapai oleh masing-masing individu tersebut.
Sedangkan
Interaksi
Sosial
menurut
Soerjono
Soekanto
adalah
“hubungan-hubungan sosial yang dinamis yang menyangkut hubungan
antara orang-orang perorangan, antara kelompok-kelompok manusia,
maupun antara orang perorangan dengan kelompok manusia”.3 Interaksi
sosial sangat berguna untuk memperlihatkan dan mempelajari berbagai
masalah yang ada di masyarakat.
Menurut Syarbani Syarial, “suatu interaksi sosial dimungkinkan
terjadi karena dua hal yaitu, adanya kontak sosial (social-contact) dan
komunikasi(communication)”.4 Kontak sosial pada dasarnya merupakan
aksi dari individu atau kelompok yang mempunyai makna bagi pelakunya
yang ditangkap oleh individu atau kelompok lain. Dan kontak sosial
merupakan usaha pendekatan pertemuan fisik dan rohaniah. Kontak sosial
dapat bersifat primer (berjumpa face to face) dan dapat sekunder
(berhubungan melalui media komunikasi, baik perantara orang maupun
media benda, surat kabar, televisi, radio). Komunikasi merupakan proses
pertukaran informasi serta pemindahan pengertian antara dua orang atau
lebih. Dengan komunikasi setiap individu dapat menyampaikan informasi,
opini, konsepsi, pengetahuan, perasaan, sikap perbuatan dan sebagainya
kepada sesamanya secara timbal balik. Tanpa komunikasi tidak mungkin
terjadi proses interaksi sosial.
Menurut R Linton yang dikutip oleh Ishaq Isjoni, “jika manusia
hidup dan bekerjasama dengan manusia yang lainnya dalam kelompok dan
dalam waktu yang cukup lama, sehingga akhirnya mereka dapat
mengorganisasikan dirinya dan berfikir mengenai dirinya sebagai satuan
sosial yang mempunyai batas-batas tertentu. Maka kelompok itu menjadi
3
Soerjono Soekanto,op.cit., h.66
3
masyarakat”.5 Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia
masyarakat adalah “suatu kumpulan manusia dalam arti seluas-luasnya
dan terikat oleh suatu kebudayaan yang mereka anggap sama”.6 Maka
pada dasarnya masyarakat itu adalah hubungan manusia dengan manusia
yang lainnya. Antara manusia yang satu dengan manusia yang lainnya
saling melengkapi sesuai dengan tujuan dan motivasinya untuk melakukan
hubungan interaksi sosial tersebut.
Masyarakat merupakan sebuah fenomena kehidupan sosial yang
dinamis. Kedinamisan masyarakat itu sendiri yang menjadi sebuah entitas
majemuk yang terdiri dari berbagai macam golongan atau kelompok yang
masing-masing memiliki ciri-ciri atau identitas tersendiri. Ciri-ciri yang
dimiliki tiap-tiap kelompok tersebut dapat terlihat melalui berbagai hal
seperti atribut, kebiasaan, nilai, ritual yang muncul pada saat berinteraksi
di dalam lingkungan sosial.
Negara
Kesatuan
Republik
Indonesia
(NKRI)
menjamin
kesejahteraan tiap-tiap warga negaranya, termasuk perlindungan sosial
terhadap anak yang merupakan hak asasi manusia. Setiap anak berhak
mendapatkan kesempatan yang seluas-luasnya untuk tumbuh dan
berkembang dengan wajar baik fisik, mental maupun sosial, dan berakhlak
mulia.
Dalam kenyataannya masih banyak ditemukan anak-anak yang
terlantar yang hidup dijalanan. Fenomena anak yang berada di jalanan
semakin meningkat, terutama banyak ditemukan di kota-kota besar seperti
di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang ( Jabotabek) bukan hanya
dari aspek kuantitas tetapi aktivitas yang mereka lakukan. Peningkatan ini
bukan hanya saat Indonesia mengalami krisis tetapi beberapa tahun
sebelumnya juga sudah terlihat. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor,
diantara faktor kemiskinan, pendidikan dan keluarga.
5
6
Ishaq, isjoni, Masyarakat dan Perubahan Sosial, Uni press, h.07
Kamus Besar Bahasa Indonesia, edisi ke 3 (Jakarta: Pusat Bahasa, 2008), h.721
4
Berdasarkan hasil survei Badan Pusat Statistik Republik Indonesia
“Pada bulan Maret 2013, jumlah penduduk miskin (penduduk dengan
pengeluaran per kapita per bulan di bawah Garis Kemiskinan) di Indonesia
mencapai 28,07 juta orang atau 11,37% dari jumlah penduduk di
Indonesia”.7 Kemiskinan mengakibatkan rendahnya daya beli, keluarga
miskin tidak mempunyai kemampuan yang memadai untuk memenuhi
kebutuhan sosial dasar, seperti pangan, kesehatan, dan pendidikan. Dengan
kata lain, keluarga miskin tidak mempunyai dana yang cukup untuk
membeli
makanan,
meningkatkan
status
menyekolahkan
kesehatannya.
anak
dan
Dampak
memelihara
dari
serta
kemiskinan
menimbulkan berbagai masalah sosial. Kesejahteraan keluarga semakin
menurun sehingga menimbulkan banyak anak-anak yang terpisah dari
orang tuanya.
Gambar 1.1
Sumber: Data Susenas BPS8
7
Profil Kemiskinan di Indonesia Maret 2013 (Berita Resmi Statistik No. 47/07/Th. XVI, 1
Juli 2013), h. 1.
8
Booklet Kementerian Sosial dalam Angka Tahun 2012 (Jakarta: Badan Pendidikan dan
Penelitian Kesejahteraan Sosial. Pusat Data dan Informasi Kesejahteraan Sosial, 2012), h.29.
5
Berdasarkan
tabel
hasil
survei
Sosial
Ekonomi
Nasional
(SUSENAS) Badan Pusat Statistik Republik Indonesia tahun 2009
memperlihatkan bahwa jumlah anak terlantar secara nasional berjumlah
3.176.462 anak. Dua tahun kemudian, tahun 2011, angka tersebut
mengalami penurunan 60.685 anak menjadi 3.115.777 anak. Sedangkan
anak jalanan yang sudah di tampung di Lembaga Kesejahteraan Sosial
(LKS) berjumlah 10.126 anak dari 88 LKS. Pada tahun yang sama anak
yang tergolong rawan menjadi anak terlantar berjumlah 7.175.189 anak
dari populasi anak Indonesia yaitu 58.171.746 anak anak usia 6 - 18 tahun.
Sedangkan jumlah anak terlantar di DKI Jakarta tahun 2012
sebanyak 60.336 anak. Panti Sosial Asuhan Anak yang diselenggarakan
pemerintah maupun masyarakat berjumlah 30 panti dengan daya tampung
5.989 anak, sedangkan 54.347 anak belum tersentuh pelayanan pemerintah
maupun organisasi sosial atau LSM. Angka tersebut menunjukan bahwa
kualitas hidup anak kita memprihatinkan yang mengancam masa depan
mereka, padahal mereka adalah aset, investasi Sumber Daya Manusia dan
sekaligus tumpuan masa depan bangsa.
Pada umumnya anak jalanan berasal dari keluarga yang
ekonominya lemah, sehingga para orang tua tidak mampu untuk
menyekolahkan anak-anaknya. Selain itu juga dikarenakan oleh rendahnya
tingkat pendidikan dan tidak adanya kepedulian orang tua terhadap nasib
pendidikan anak-anaknya, sehingga banyak anak turun ke jalan untuk
membantu orang tuanya dalam mempertahankan hidup. Munculnya
fenomena anak jalanan ini merupakan bukti tidak terpenuhinya
perlindungan dan kebutuhan baik jasamani, rohani, maupun sosial yang
menjadi hak anak seperti yang tercantum dalam konvensi hak-hak anak
yang disadur dalam Undang-undang Perserikatan Bangsa-bangsa, yang
selanjutnya tertuang dalam Undang-Undang perlindungan anak Republik
Indonesia. Seperti yang disebutkan dalam Pasal 34 ayat (1) UUD 1945
yang tertera dalam majalah societa bahwa “fakir miskin dan anak-anak
6
terlantar dipelihara oleh Negara”.9 Seperti yang diungkapkan oleh Bapak
Nurohim bahwa :
Anak jalanan ada yang tinggal di kota Depok, Bogor, Jakarta,
Tangerang maupun Bekasi. Ada anak jalanan yang ibunya tinggal
di kota yang berbeda dengan tempat tinggal ayahnya karena
pekerjaan, menikah lagi, atau cerai. Ada juga anak jalanan yang
masih tinggal bersama keluarga, ada yang sudah terpisah akan
tetapi sering pulang ke tempat keluarga, ada yang sama sekali tidak
pernah tinggal bersama keluarganya atau bahkan ada yang tidak
pernah mengenal sama sekali keluarganya.10
Oleh karena itu anak-anak jalanan yang tinggal di rumah singgah
Master Yayasan Bina Insan Mandiri Depok ini memiliki banyak latar
belakang keadaan yang membuat
anak-anak jalanan
memilih hidup
tinggal terpisah dari orang tuanya.
Menurut Abudin Nata, “keharmonisan keluarga antara Bapak dan
Ibu mempunyai pengaruh besar terhadap tingkah laku anak. Sekian banyak
penyakit moral anak : egois, anarkis, hilangnya rasa percaya diri,
sombong, dan tidak bertanggung jawab merupakan sumber awal dari
suasana kehidupan keluarga”.11 Perilaku anak jalanan selalu berada dalam
situasi rentan dalam segi perkembangan fisik, mental, sosial, bahkan
nyawa sekalipun. Melalui stimulasi tindakan kekerasan terus menerus,
terbentuklah sebuah nilai-nilai baru yang cenderung mengedepankan
kekerasan sebagai cara untuk mempertahakan hidup.
Di samping itu, anak jalanan dengan keunikan kerangka
budayanya,
memiliki
tindak
komunikasi
yang
berbeda
didalam
masyarakat. Perilaku sosial anak jalanan yang berada di masyarakat
terlihat dari cara komunikasi yang kasar, memaksa, brutal, tata cara bicara
9
Anak Jalanan dan Terlantar, Tanggung Jawab Siapa? Majalah Societa, ( Jakarta:
Kementrian Sosial RI edisi II/2011) h.7.
10
Hasil Wawancara dengan Nurrochim Pendiri Yayasan Bina Insan Mandiri, Depok
11
Abudin Nata dan Fauzan, Pendidikan dalam Perspektif Hadits,( Ciputat: UIN
Press,2005), Cet.1. h.236
7
yang buruk, gaya bahasa, pakaian yang tid12ak rapi, rambut yang di
warnai membuat masyarakat tidak senang dengan anak jalanan.
Dari kondisi tersebut, diperlukan suatu tempat atau lembaga untuk
menampung dan memberikan pemenuhan kebutuhan pendidikan. Dalam
khasanah penanganan anak jalanan dikenal dengan tiga pendekatan, yakni
“street based (berpusat di jalanan), centre based (berpusat dipanti), dan
community based (berpusat di masyarakat). Setiap pendekatan tersebut
mempunyai ciri khas dari segi pelayanan, strategi, dan sasaran
programnya”.
Salah satu pendekatan yang digunakan untuk penanganan anak
jalanan yaitu pendekatan centre based (berpusat dipanti) dalam bentuk
rumah singgah. Rumah singgah merupakan Lembaga Sosial Masyarakat
yang memberikan solusi alternatif dengan memberikan pelayanan sosial
kepada anak-anak yang kurang beruntung. Dimana bagi mereka disediakan
rumah penampungan dan pendidikan yang berfungsi sebagai tempat
bernaung dan media pendidikan non formal yang dapat membawa
perubahan bagi anak jalanan. Selain itu mempertahankan kemampuan
anak dimana penanganannya berdasarkan aspirasi dan potensi yang
dimiliki anak. Para pekerja sosial dalam bekerja lebih banyak berprinsip
pertemanan dalam pendampingan yang sejajar sebagai seorang sahabat.
Penyediaan rumah singgah merupakan upaya agar hak-hak anak dari para
anak jalanan dapat terpenuhi.
Upaya penanganan anak jalanan melalui Rumah Singgah di Kota
Depok khususnya yang dilakukan Rumah Singgah Master Yayasan Bina
Insan Mandiri Depok merupakan yayasan yang berperan di bidang sosial,
yang peduli dengan permasalahan sosial anak jalanan dengan melalui
pendidikan luar sekolah, didalamnya memuat berbagai kegiatan antara
lain: pembinaan keterampilan, sekolah terbuka, pendidikan nonformal,
12
Bagong Suyanto, “Masalah Sosial Anak” ( Jakarta: Kencana 2010).h. 201
8
bimbingan mental dan spiritual dan lain sebagainya. Pembinaan seperti ini
merupakan pemenuhan hak anak dalam memperoleh pendidikan, karena
pendidikan merupakan salah satu kebutuhan dasar pendidikan anak-anak,
namun terkadang kebutuhan itu tidak dapat terpenuhi dan banyak anak
putus sekolah karena faktor kemiskinan sehingga anak di tuntut untuk
memenuhi kebutuhan hidupnya, situasi ini membawa konsekuensi banyak
diantara mereka yang tidak pernah merasakan pendidikan.
Pada masyarakat luas kehidupan sosial anak jalanan saat ini
memberikan gambaran yang negatif. Dalam penelitian ini peneliti ingin
mengetahui bagaimana perilaku dan interaksi sosial anak-anak jalanan,
terutama di Rumah Singgah Master Yayasan Bina Insan Mandiri Depok.
Interaksi sosial yang dilakukan meliputi bagaimana dalam kehidupan
sehari-hari anak-anak melakukan interaksi dengan teman-teman sebaya,
guru atau tutor dan masyarakat di Rumah Singgah Master Yayasan Bina
Insan Mandiri.
B. Identifikasi Masalah
1. Adanya keberadaan anak jalanan yang berasal dari berbagai wilayah
seperti Depok, Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi.
2. Ada beberapa faktor yang melatarbelakangi interaksi sosial pada
masing-masing anak jalanan di Rumah Singgah Master Yayasan Bina
Insan Mandiri Depok.
3. Adanya bentuk interaksi sosial yang dilakukan oleh anak-anak jalanan
di Rumah Singgah Yayasan Bina Insan Mandiri Depok
C. Pembatasan Masalah
Penelitian disini hanya akan dibatasi pada cara berinteraksi anak
jalanan tingkatan pendidikan sekolah setara Sekolah Dasar terhadap teman
sebaya, guru atau tutor dan masyarakat yang berada disekitar Rumah
Singgah Yayasan Bina Insan Mandiri Depok.
9
D. Perumusan Masalah
Yang menjadi perumusan masalah dalam penelitian ini adalah:
1. Bagaimana bentuk Interaksi sosial anak jalanan terhadap sesama anak
jalanan di rumah singgah yayasan bina insan mandiri Depok?
2. Bagaimana bentuk interaksi sosial anak jalanan terhadap guru atau
tutor di rumah singgah yayasan bina insan mandiri Depok?
3. Bagaimana bentuk interaksi sosial anak jalanan terhadap masyarakat
disekitar rumah singgah yayasan bina insane mandiri Depok?
E. Tujuan Penelitian
Tujuan
penelitian
ini
adalah
untuk
mengetahui
dan
menggambarkan cara berinteraksi sosial anak-anak jalanan terhadap
sesama teman, guru/tutor dan masyarakat yang berada di sekitar Rumah
Singgah Yayasan Bina Insan Mandiri Depok.
F. Manfaat Penelitian
Berdasarkan hasil penelitian ini diharapkan akan memberikan
manfaat baik secara teoritis maupun praktis kepada berbagai pihak sebagai
berikut:
1. Manfaat Teoritis
Menambah pengetahuan dan wawasan serta bahan dalam penerapan
metode penelitian khususnya mengenai interaksi sosial pada kehidupan
anak jalanan di rumah singgah.
a. Bagi Peneliti
Dapat mengembangkan ilmu menambah pengetahuan teori yang
diperoleh dari hasil penelitian yang dilakukan.
b. Bagi Institusi Pendidikan
Dapat mengetahui bentuk interaksi sosial yang terjadi pada
kehidupan anak-anak jalanan di Rumah Singgah.
10
c. Bagi masyarakat
Dapat dijadikan khazanah keilmuan dan referensi penelitian
selanjutnya.
2. Manfaat Praktis
Dapat dijadikan sebagai rujukan dalam mengetahui bentuk-bentuk
interaksi anak jalanan yang dijalan dengan anak jalanan yang tinggal di
rumah singgah.
a. Bagi Penelitian
Dapat memberikan informasi tentang bentuk interaksi sosial anakanak jalanan di rumah singgah.
b. Bagi Institusi Pendidikan (Yayasan) dan Masyarakat
Dapat dijadikan rujukan dalam penerapan cara berinteraksi anakanak jalanan di rumah singgah. Dan untuk masyarakat Dapat
dijadikan rujukan untuk mengetahui cara berinteraksi anak-anak
jalanan
BAB II
KERANGKA TEORI
A. Interaksi Sosial
1. Pengertian Interaksi Sosial
Manusia merupakan makhluk individu dan makhluk sosial,
sebagai makhluk individu manusia memiliki dorongan atau motif
untuk mengadakan interaksi dengan dirinya sendiri, sedangkan
manusia sebagai makhluk sosial manusia mempunyai dorongan untuk
mengadakan hubungan dengan orang lain yang ada pada lingkungan
sekitarnya. Dengan adanya dorongan atau motif sosial pada manusia,
maka manusia akan mencari orang lain untuk mengadakan hubungan
atau mengadakan interaksi sosial. Dengan demikian akan terjadi
interaksi sosial antara manusia dengan manusia yang lain. Interaksi
sosial berupa hubungan pengaruh yang tampak dalam pergaulan hidup
bersama dalam masyarakat.
Salah satu sifat manusia adalah keinginan untuk hidup bersama
dengan manusia lainnya. Dalam hidup bersama antara individu dengan
individu, individu dengan kelompok, atau kelompok dengan kelompok
tersebut terjadi hubungan dalam rangka memenuhi kebutuhan
hidupnya. Melalui hubungan itu manusia ingin menyampaikan
maksud, tujuan dan keinginannya masing-masing. Sedangkan untuk
mencapai keinginan tersebut harus diwujudkan dengan tindakan
melalui hubungan timbal balik.
Tanpa adanya interaksi sosial tidak mungkin ada kehidupan
masyarakat. Bertemunya orang perorangan secara badaniah belaka
tidak akan menghasilkan pergaulan hidup dalam suatu kelompok
sosial. Pergaulan hidup semacam itu baru akan terjadi apabila orang
perorangan atau kelompok dengan kelompok manusia saling bekerja
sama, saling berbicara, dan seterusnya untuk mencapai tujuan bersama,
11
12
mengadakan persaingan, pertikaian, dan lain sebagainya. Maka, dapat
dikatakan bahwa interaksi sosial merupakan dasar dari proses sosial,
yang menunjuk pada hubungan-hubungan sosial yang dinamis.
Menurut Basrowi “Interaksi Sosial adalah hubungan dinamis
yang mempertemukan orang dengan orang, kelompok dengan
kelompok maupun orang dengan kelompok manusia. Bentuknya tidak
hanya bersifat kerja sama, tetapi bisa juga berbentuk persaingan,
pertikaian dan sejenisnya”.1 Jadi interaksi sosial merupakan hubungan
yang mempertemukan seorang individu dengan individu lainnya atau
inividu dengan kelompok, dalam bentuk interaksi sosial yang dibangun
diantaranya tidak hanya sebuah kerja sama akan tetapi terlibat dengan
persaiangan dan pertikanan juga. Sedangkan interaksi sosial menurut
para tokoh antara lain :
a. Kimball Young, interaksi sosial adalah kontak timbal balik
antar dua orang atau lebih.
b. Bonner, mengatakan bahwa interaksi sosial ialah suatu
hubungan antara dua orang atau lebihs sehingga kelakuan
individu yang satu mempengaruhi, merubah, atau
memperbaiki kelakuan individu yang lain dan sebaliknya.2
Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa,
interaksi sosial merupakan hubungan timbal balik antara individu
dengan individu, kelompok dengan kelompok ataupun individu dengan
kelompok. Hubungan yang dilakukan tidak hanya dalam bentuk kerja
sama untuk saling memenuhi kebutuhan dari masing-masing individu
atau kelompok tetapi juga dalam bentuk persaingan dan pertikaian.
Interaksi sosial merupakan kunci dari semua kehidupan sosial, karena
pada dasarnya manusia itu merupakan makhluk sosial yang tidak dapat
hidup secara individu dan memerlukan adanya hubungan antara
sesama makhluk individu yang lain. Dalam interaksi sosial dan
tindakan sosial dipengaruhi oleh dua macam orientasi.
1
Basowi,Pengantar Sosiologi,( Bogor: PT. Ghalia Indonesia,2005) h.138
Yusron Razak, Sosiologi Sebuah Pengantar Tinjauan Pemikiran Sosiologi Perspektif
Islam ( Jakarta: Laboratorium Sosiologi agama,2008) h.57
2
13
Menurut Talcott Parsons yang dikutip oleh Yusran Razak,
Orientasi
tindakan dan interaksi sosial yang pertama adalah
motivasional yaitu orientasi bersifat pribadi yang menunjuk pada
keinginan individu yang bertindak untuk memenuhi kebutuhan
hidupnya. Yang kedua adalah orientasi nilai-nilai yang bersifat
sosial, yakni orientasi yang menunjuk pada standar-standar
normatif, seperti wujud agama dan tradisi setempat.3
Oleh karena itu tindakan dan interaksi sosial memperlihatkan
dengan jelas bahwa keduanya memiliki hubungan yang tidak
terpisahkan. Karena tindakan sosial merupakan perbuatan yang
dipengaruhi oleh orang lain untuk mencapai maksud dan tujuan
tertentu, sedangkan interaksi sosial merupakan hubungan timbal balik
yang disebabkan oleh adanya tindakan atau reaksi dari kedua belah
pihak. manusia tidak bisa menghindar dari keharusan berinteraksi
dengan orang lain karena manusia adalah makhluk sosial yang
keberadaan dirinya sangat ditentukan oleh orang lain.
Seorang
manusia
tidak
bisa
lepas
dari
kelompok
masyarakatnya. Dia membutuhkan berbagai hal yang hanya dapat
dipenuhi apabila berinteraksi dengan orang lain. Menurut Douglas
yang dikutip oleh Kamanto Sunarto mengatakan bahwa “dalam
mempelajari interaksi sosial digunakan pendekatan tertentu, yang
dikenal dengan interactionist perspective”4. Diantara berbagai
pendekatan
yang digunakan dalam interaksi sosial, dijumpai
pendekatan yang dikenal dengan nama interaksionalisme simbolik
(syimbolic interactionism). Sasaran yang digunakan dalam pendekatan
ini adalah interaksi sosial dan simbolik yang mengacu kepada
penggunaan simbol-simbol dalam kegiatan interaksi. Perspektif
interaksionalisme simbolik ini memusatkan perhatiannya pada analisa
hubungan antar-pribadi. Individu dipandang sebagai pe laku yang
menafsirkan, menilai, mendefinisikan dan bertindak.
3
Ibid, h.58
Kamanto Sunarto, Pengantar Sosiologi, (Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi
Universitas Indonesia, 2004), Edisi Revisi h.35
4
14
Interaksionalisme simbolik menurut George Herbert Mead
yang dikutip oleh Bernard Ravo, SVD “menekankan tentang Mind,
Self, dan Society”.5 Mead memandang akal budi (mind) bukan sebagai
satu benda, melainkan satu proses sosial. Akal budi manusia secara
kualitatif berbeda dengan binatang. Kebanyakan tindakan manudia
melibatkan suatu proses mental. Artinya antara aksi dan reaksi terdapat
suatu proses yang melibatkan pikiran atau kegiatan mental. Herbert
Mead menekankan pentingnya fleksibilitas dari akalbudi (mind) itu.
Selain menghayati simbol-simbol yang sama dengan arti yang sama,
fleksibilitas memungkinkan interaksi biarpun dalam situasi tertentu
orang tidak mengerti arti dari stimulus atau simbol yang diberikan.
Herbert Mead juga menekankan bahwa “simbol-simbol verbal
(bahasa) penting karena kita selalu dapat mendengarkan diri sendiri
walaupun kita mungkin tidak selalu bisa melihat tanda-tanda gerakgerik fisik kita”.6 Apa yang kita katakan selalu mempengaruhi diri kita
sendiri dan orang-orang lain yang mendengarkan perkataan itu. Jadi,
ketika kita sedang berbicara, dan sebelum lawan bicara kita
memberikan reaksi atau tanggapan atas perkataan kita, kita dapat
memutuskan apakah hal yang kita bicarakan membangkitkan reaksi
yang kita inginkan atau tidak.
Setelah konsep akal budi yang ditekankan oleh Mead,
selanjutnya konsep tentang self (diri). Bagi Mead, “kemampuan untuk
memberi jawaban kepada diri sendiri sebagaimana ia memberi
jawaban terhadap orang lain, merupakan kondisi-kondisi penting
dalam perkembangan akal budi itu sendiri”.7 Akal budi yang dimiliki
setiap
individu
memiliki
persepi
yang
berbeda-beda
dalam
menafsirkan segala sesuatu yang ada dihadapannya. Dan konsep yang
5
Bernard Ravo,SVD Teori Sosiologi Modern, ( Jakarta: Prestasi Pustakaraya,2007),
cet,pertama. h.99
6
Ibid,101
7
Ibid,102
15
terakhir adalah society (masyarakat) pandangan Mead tentang
masyarakat ialah “bahwa masyarakat ada sebelum individu dan proses
mental atau proses berpikir muncul dari masyarakat”.8
2. Prinsip-prinsip Dasar Interaksionalisme Simbolik
Ada beberapa prinsip dasar pada interaksionalisme simbolik
diantaranya adalah, kemampuan untuk berpikir, berpikir dan
berinteraksi dan pembelajaran makna simbol-simbol, aksi dan
interaksi, membuat pilihan-pilihan, diri atau self, kelompok-kelompok
dan masyarakat. Adapun Penjelasan dari prinsip-prinsip tersebut
adalah:
a. Kemampuan Untuk Berpikir
Menurut Herbert Blummer,asumsi penting dari kemampuan
berpikir bahwa, “Manusia memiliki kemampuan untuk berpikir
membedakan
interaksionalisme
simbolik
dari
akarnya
behaviorisme”.9 Kemampuan untuk berpikir itu berada di dalam
akal budi tetapi interaksionalisme simbolik memahami akal budi
secara lain. Akal budi berbeda dengan otak.
Interaksionalisme simbolik juga tidak melihat akal budi
sebagai benda atau struktur fisis melainkan suatu proses yang
berkesinambungan. Proses itu adalah bagian dari proses yang lebih
luas aksi dan reaksi. Akal budi berhubungan erat dengan konsepkonsep lain di dalam interaksionalisme simbolik termasuk
sosialisasi, arti, simbol interaksi dan masyarakat.
Jadi dalam kegiatan interaksi sosial yang berlangsung pada
seorang individu harus mampu berpikir untuk memahami dan
memberikan aksi reaksi kepada individu yang lain terhadap
simbol-simbol dan makna yang diberikan dalam keberlangsungan
interaksi sosial, Karena akal budi yang dimiliki manusia harus
mampu untuk digunakan secara baik agar aksi-reaksi yang
8
9
Ibid,106
Ibid,107
16
diberikan sesuai dengan tujuan yang diinginkan pada interaksi
sosial.
b. Berpikir dan Berinteraksi
Orang memiliki hanya kemampuan untuk berpikir yang
bersifat umum. Kemampuan ini dibentuk dalam proses interaksi
sosial. Interaksi sosial adalah suatu proses dimana kemampuan
untuk berpikir dikembangkan dan diungkapkan. Segala macam
interaksi menyaring kemampuan untuk berpikir. Lebih dari itu
berpikir mempengaruhi seseorang dalam bertingkah laku.
Dalam
memperhatikan
kebanyakan
dan
tingkah
laku,
memperhitungkan
seseorang
orang
lain
harus
dalam
memutuskan bagaimana ia harus bertingkah laku supaya sesuai
dengan orang-orang lain. Namun demikian tidak semua proses
interaksi sosial melibatkan proses berpikir.
c. Pembelajaran Makna Simbol-simbol
Dalam interaksi sosial, seseorang belajar simbol-simbol
dan arti-arti. Kalau orang memberikan reaksi terhadap tanda-tanda
tanpa berpikir panjang maka dalam memberikan reaksi kepada
simbol-simbol, seseorang harus terlebih dahulu berpikir. Tanda
memiliki arti di dalam diri mereka. Orang-orang menggunakan
simbol untuk mengkomunikasikan sesuatu tentang mereka.
Menurut Bernard Ravo, Simbol-simbol menjadi penting
karena memungkinkan manusia untuk bertindak secara
sungguh-sungguh manusiawi. Oleh karena simbol-simbol,
manusia tidak memberikan reaksi secara pasif kepada
kenyataan yang dialaminya melainkan memberi arti
kepadanya dan bertindak seturut arti yang diberikannya
itu.10
d. Aksi dan Interaksi
Perhatian utama dari interaksionalisme simbolik adalah
dampak dari art-arti dan simbol-simbol dalam aksi dan interaksi
manusia. Arti dan simbol-simbol memberikan aksi dan interaksi
10
Ibid,107
17
sosial suatu kekhasan. Arti dan simbol yang dilakukan dalam
interaksi sosial akan menimbulkan tindakan sosial yang sesuai
dengan apa yang ada di dalam pikirannya.
e. Diri atau Self
Diri atau self adalah konsep yang teramat penting bagi
interaksionalisme simbolik. Guna memahami konsep diri dari apa
yang dimaksudkan oleh Mead adalah memahami ide yang
menjadi gagasan Ide Looking glass self. Adapun yang dimaksud
dengan Looking Glass Self yang dikembangkan oleh Charles
Horton
Cooley
yaitu
diantaranya
adalah
“pertama,
kita
membayangkan bagaimana kita menampakkan diri kepada orang
lain. kedua,penampilan kita dan yang ketiga, kita membayangkan
bagaimana penilaian mereka terhadap semacam perasaan tertentu
sebagai akibat dari bayangan kita tentang penilaian orang itu”.11
Self menjadi gambaran tentang perkembangan diri sendiri.
Bagaimana diri sendiri melihat dan menilai apa yang menjadi
tindakannya dihadapan masyarakat banyak, karena diri sendiri
yang menjadi objek utama atas segala bentuk interaksi yang
dilakukannya pada kehidupan di lingkungan sekitarnya.
f. Kelompok-kelompok dan Masyarakat
Kehidupan kelompok adalah keseluruhan tindakan yang
sedang berlangsung. Namun demikian masyarakat tidak terbuat
dari tindakan yang terisolasi. Disana ada tindakan yang bersifat
kolektif yang melibatkan individu-individu untuk menyesuaikan
tindakan mereka terhadap satu sama lain. Kelompok-kelompok
dan masyarakat.
3. Ciri-Ciri Interaksi Sosial
Menurut Basrowi Interaksi sosial mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
a. Ada pelaku dengan jumlah lebih dari satu orang.
11
Ibid, 114
18
b. Ada komunikasi antar pelaku dengan menggunakan simbolsimbol.
c. Ada dimensi waktu ( masa lampau, masa kini, dan masa
mendatang) yang menentukan sifat aksi yang sedang berlangsung.
d. Ada tujuan-tujuan tertentu, terlepas dari sama atau tidaknya tujuan
tersebut dengan yang diperkirakan oleh pengamat.12
Dari ciri-ciri di atas interaksi sosial hanya akan terjadi jika
dilakukan oleh dua orang atau lebih, hubungan tersebut dapat berupa
individu dengan individu, individu dengan kelompok dan kelompok
dengan kelompok. Memiliki dimensi waktu dari pelaku interaksi yang
dilakukan yang di dalam kegiatan interaksi memiliki tujuan-tujuan
yang akan dicapai oleh pelaku interaksi sosial untuk memenuhi
kebutuhannya.
4. Mengacu pada ciri-ciri interaksi sosial, terdapat pula dua syarat
terjadinya interaksi sosial yaitu:
a. Adanya kontak sosial
Menurut Bambang Pranowo “Kata kontak berasal dari
bahasa latin, yaitu con atau cum ( bersama-sama) dan tango
(menyentuh) jadi artinya bersama-sama menyentuh”.13 Kontak
sosial dapat terjadi secara langsung maupun tidak langsung antara
satu pihak dengan pihak yang lainnya. Kontak sosial secara tidak
langsung adalah kontak sosial yang menggunakan alat sebagai
media perantara, misalnya melalui telepon, radio, surat dan lainlain. Sedangkan kontak sosial langsung merupakan kontak yang
dilakukan secara langsung melalui suatu pertemuan dengan
bertatap muka dan berdialog di antara kedua belah pihak tersebut.
Dalam hubungan kontak sosial, dapat terjadi hubungan
yang positif dan hubungan yang negatif. Kontak sosial positif
terjadi oleh karena hubungan antara kedua belah pihak terdapat
12
Basrowi,op.cit., h.139.
Bambang Pranowo, Sosiologi Sebuah Pengantar Tinjauan Pemikiran Sosiologi
Perspektif Islam ( Jakarta: Laboratorium Sosiologi Agama,2008), h.57.
13
19
saling pengertian, di samping menguntungkan masing-masing
pihak tersebut, sehingga biasanya hubungan dapat berlangsung
lebih lama, atau mungkin dapat berulang-ulang dan mengarah pada
suatu kerja sama. Sedangkan pada kontak negatif terjadi oleh
karena hubungan antar kedua belah pihak tidak melahirkan saling
pengertian, mungkin merugikan masing-masing atau salah satu,
sehingga mengakibatkan suatu pertentangan atau perselisihan.
Menurut Soedjono yang dikutip oleh Abdul Syani, Kontak
sosial mempunyai dua sifat yang pertama sifat primer,
artinya terjadi apabila hubungan diadakan secara langsung
yang berhadapan muka. Yang kedua bersifat sekunder
artinya suatu kontak memerlukan suatu perantara. Kontak
sosial dapat terjadi melalui dua cara. Cara pertama adalah
verbal/gestural, yaitu kontak yang terjadi melalui saling
menyapa, saling berbicara, dan berjabat tangan. Cara kedua
adalah non-verbal/ non gestural yaitu kontak yang tidak
mempergunakan kata-kata atau bahasa melainkan dengan
isyarat. Misalnya, adalah bau minyak wangi, lambaian
tangan dan sebagainya.14
Kontak sosial dapat berlangsung dalam tiga bentuk yaitu:
1) Antara perorangan, misalnya apabila anak kecil mempelajari
kebiasaan-kebiasaan dalam keluarganya. Menurut Kingsley
Davis “Proses demikian melalui sosialiasai (socialization), yaitu
suatu proses dimana anggota masyarakat yang baru mempelajari
norma-norma dan nilai-nilai di masyarakat”.15
2) Antara orang perorangan dengan suatu kelompok manusia atau
sebaliknya, misalnya apabila seseorang merasakan bahwa
tindakan-tindakannya
berlawanan
dengan
norma-norma
masyarakat atau apabila suatu partai politik memaksa anggota-
14
Abdul Syani, Sosiologi Skematika, Teori, dan Terapan ( Jakarta: PT. Bumi Aksara,
Cet. Ke IV, 2002) h. 154.
15
Kingsley Davis: Human Society,Cetakan ke-13, The Macmillan Company, New
York,1960. H. 149
20
anggotanya
untuk
menyesuaikan
diri
dengan
ideologi
programnya.
3) Antara suatu kelompok manusia dengan kelompok manusia
lainnya. Umpanya, dua partai politik mengadakan kerja sama
untuk mengalahkan partai politik yang ketiga di dalam
pemilihan umum.
Kontak sosial yang terjadi tidak semata-mata oleh karena
adanya aksi belaka, akan tetapi harus memenuhi syarat pokok dari
kontak sosial yaitu adanya tanggapan dari lawan kontak sosial.
Karena kontak badaniah bukan merupakan syarat utama dalam
melakukan kontak sosial.
b. Adanya Komunikasi
Komunikasi adalah suatu proses saling memberikan tafsiran
kepada atau perilaku pihak lain, seseorang mewujudkan perilaku
sebagai reaksi terhadap maksud atau peran yang ingin disampaikan
oleh pihak lain itu. Komunikasi dapat diwujudkan dengan
pembicaraan, gerak-gerik fisik maupun perasaan. Selanjutnya, dari
sini timbul sikap dan ungkapan perasaan, seperti senang, raguragu, takut atau menolak, bersahabat, dan sebagainya yang
merupakan reaksi atas pesan ( message) yang diterima. Saat ada
aksi dan reaksi itulah terjadi komunikasi.
Menurut Soerjono Soekanto yang dikutip oleh Basrowi
“komunikasi adalah bahwa seseorang memberikan tafsiran pada
perikelakuan orang lain ( yang berwujud apa yang ingin
disampaikan oleh orang tersebut) orang yang ingin disampaikan
oleh orang lain tersebut”.16 Dengan adanya sekelompok orang,
dapat diketahui dan dipahami oleh pihak orang itu sekelompok
lain. Hal ini berarti, apabila suatu hubungan sosial tidak terjadi
komunikasi atau tidak saling mengetahui dan tidak saling
16
Basrowi,.Pengantar Sosioloigi ( Bogor: Ghalia Indonesia,2005), h.143
21
memahami maksud masing-masing pihak, maka dalam keadaan
demikian, tidak terjadi kontak sosial.
Dalam komunikasi terdapat banyak sekali tafsiran terhadap
perilaku
dan
sikap
masing-masing
orang
yang
sedang
berhubungan, ini halnya jabatan tangan dapat ditafsirkan sebagai
kesopanan, persahabatan, kerinduan, sikap kebanggaan, dan lainlain.
Dari uraian di atas tampak bahwa komunikasi hampir sama
dengan kontak. Namun, adanya kontak belum tentu berarti
komunikasi
telah
terjadi.
Komunikasi
menuntut
adanya
pemahaman makna atas suatu pesan dan tujuan bersama antara
masing-masing pihak. Misalnya, orang Flores bertemu dan berjabat
tangan dengan orang Madura, lalu dia berbicara dalam bahasa
Flores, padahal si orang Madura itu sama sekali tidak mengerti
bahasa Flores. Di sini, kontak sebagai isyarat pertama telah terjadi,
tetapi komunikasi belum terjadi karena kedua orang itu tidak saling
mengerti dan interaksi sosial pun tidak terjadi.
Sementara itu berlangsungnya suatu interaksi sosial dapat
didasarkan pada berbagai faktor sekalipun dalam bentuknya
sederhana, ternyata interaksi merupakan proses yang kompleks.
Menurut Sitorus dalam buku Pengantar Sosiologi yang dikutip oleh
Basrowi
mengatakan”berlangsungnya
interaksi
sosial
dapat
didasarkan pada berbagai faktor, antara lain imitasi,sugesti,
identifikasi, dan simpati”.17 Faktor-faktor tersebut dapat bergerak
dengan sendiri-sendiri secara terisah ataupun saling berkaitan
antara yang satu dengan yang lain.
1) Faktor imitasi
Imitasi adalah suatu proses belajat dengan cara meniru
atau mengikuti perilaku orang lain. Dalam interaksi sosial,
imitasi
17
Ibid,144.
dapat
bersifat
positif,
artinya
imitasi
tersebut
22
mendorong seseorang untuk mematuhi kaidah-kaidah nilai
yang berlaku. Namun, imitasi juga dapat berpengaruh negatif
apabila
yang
dicontoh
itu
adalah
perilaku-perilaku
menyimpang. Selain itu, imitasi juga melemahkan atau
mematikan pengembangan daya kreativitas seseorang.
2) Faktor Sugesti
Sugesti adalah cara pemberian suatu pandangan atau
pengaruh oleh seseorang kepada orang lain dengan cara
tertentu sehingga orang tersebut mengikuti pandangan atau
pengaruh tersebut tanpa berfikir panjang. Sugesti terjadi karena
pihak yang menerima saran tersebut tergugah secara emosional
dan biasanya emosi ini menghambat daya pikir rasionalnya.
Proses sugesti lebih mudah terjadi apabila orang yang
memberikan pandangan itu adalah orang yang berwibawa dan
bersifat otoriter. Kiranya mungkin pula bahwa sugesti terjadi
oleh sebab yang memberikan pandangan atau sikap merupakan
bagian terbesar dari kelompok yang bersangkutan, atau
masyarakat.
3) Faktor Identifikasi
Identifikasi sebenarnya merupakan kecenderungankecenderungan atau keinginan-keinginan dalam diri seseorang
untuk menjadi menjadi sama dengan pihak lain. Sifat
identifikasi
lebih
mendalam
daripada
imitasi,
karena
kepribadian seseorang dapat terbentuk atas dasar proses ini.
Proses identifikasi dapat berlangsung dengan sendirinya
(secara tidak sadar), maupun dengan disengaja karena sering
kali seseorang memerlukan tipe-tipe ideal tertentu di dalam
proses kehidupannya. Walaupun dapat berlangsung dengan
sendirinya, proses identfikasi benar-benar mengenal pihak lain
(yang menjadi idealnya) sehingga pandangan, sikap maupun
23
kaidah-kaidah yang berlaku pada pihak lain tadi dapat
melembaga dan bahwak menjiwainya. Nyatalah bahwa
berlangsungnya
identifikasi
mengakibatkan
terjadinya
pengaruh-pengaruh yang lebih mendalam ketimbang proses
imitasi dan sugesti walaupun ada kemungkinan bahwa pada
mulanya proses identifikasi diawali oleh imitasi dan atau
sugesti.
4) Faktor Simpati
Simpati adalah perasaan “tertarik” yang timbul dalam
diri seseorang dan membuatnya merasa seolah-olah berada
dalam keadaan orang lain. Proses ini seseorang merasa tertarik
pada pihak lain dan perasaan memegang peranan penting,
walaupun dorongan utama pada simpati adalah keinginan untuk
memahami pihak lain dan untuk bekerja sama dengannya.
Inilah perbedaan utamanya dengan identifikasi yang didorong
oleh keinginan untuk belajar dari pihak lain yang dianggap
kedudukannya lebih tinggi dan harus dihormati karena
mempunyai kelebihan-kelebihan atau kemampuan-kemampuan
tertentu yang patut dijadikan contoh. Proses simpati akan dapat
berkembang di dalam suatu keadaan di mana faktor saling
mengerti terjamin.
Hal-hal tersebut di atas merupakan faktor-faktor
minimal yang menjadi dasar bagi berlangsungnya proses
interaksi sosial, walaupun dalam kenyataannya proses tadi
memang sangat kompleks, sehingga kadang-kadang sulit untuk
mengadakan pembedaan tegas antara faktor-faktor tersebut,
akan tetapi dari keempat faktor interaksi di atas mereka saling
memiliki keterkaitan antara faktor yang satu dengan faktor
yang lain.
24
5. Bentuk-bentuk Interaksi Sosial
Bentuk-bentuk interaksi sosial dapat berupa kerja sama
(cooperation), persaingan (competition), dan bahkan juga berbentuk
pertentangan atau pertikaian (conflict). Suatu pertikaian mungkin
mendapatkan suatu penyelesaian. Mungkin penyelesaian pertikaian
tersebut hanya akan dapat diterima untuk sementara waktu.
Adapun bentuk-bentuk interaksi sosial menurut para tokoh
adalah sebagai berikut yang dikutip oleh Soerjono Soekanto:
a. Gillin dan Gillin, bentuk interaksi sosial adalah prosesproses yang asosiatif adalah (akomodasi, asimilasi, dan
akulturasi). Dan proses-proses yang disosiatif adalah
(persaingan, pertentangan).
b. Menurut Kimball Young, bentuk interaksi sosial adalah :
1) Oposisi (Persaingan dan pertentangan)
2) Kerja sama yang menghasilkan akomodasi
3) Diferensiasi (tiap individu mempunyai hak dan
kewajiban atas dasar perbedaan usia, seks, dan
pekerjaan)18
Bentuk-bentuk interaksi sosial menurut para tokoh terdapat
beberapa perbedaan. Namun perbedaan-perbedaan itu hanya tampak
kecil karena masing-masing sistematika tersebut apabila digabungkan
diharapkan akan dapat menghasilkan gambaran yang jelas tentang
bentuk-bentuk interaksi sosial yang ada dalam lingkungan masyarakat
sosial. Bentuk-bentuk pokok interaksi sosial tersebut tidak merupakan
suatu kesinambungan tergantung pada suatu kondisi dan situasi
tertentu.
a. Bentuk-bentuk Proses Sosial yang Asosiatif
1) Kerja Sama
Kerja sama merupakan interaksi sosial yang paling
penting. Pada dasarnya, setiap manusia melakukan interaksi
untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kerja sama timbul
18
Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar ( Jakarta : PT. Raja Grafindo
Persada,2002) cet.ke 3,h.65
25
karena orientasi orang-perorangan terhadap kelompoknya
(yaitu in-group nya) dan kelompok lainnya (yang merupakan
out-group nya).
Menurut Charles Hurton Cooley yang dikutip dalam
buku Pengantar Sosiologi Oleh Basrowi mengatakan
kerja sama timbul apabila orang menyadari bahwa
mereka mempunyai kepentingan-kepentingan yang sama
dan pada saat yang bersamaan mempunyai cukup
pengetahuan dan pengendalian terhadao diri sendiri
untuk memenuhi kepentingan-kepentingan tersebut
melalui kerja sama, kesadaran akan adanya kepentingankepentingan yang sama dan adanya organisasi
merupakan fakta-fakta yang penting dalam kerja sama
yang berguna.19
Sehubungan dengan kerja sama menurut Soerjono
Soekanto ada tiga bentuk kerja sama yaitu “bargaining,
cooptation, dan coalication”.20 Ketiga bentuk kerja sama yang
pertama adalah bargaining, yaitu pelaksanaan mengenai
pertukaran barang-barang dan jasa-jasa antara dua organisasi
atau lebih. Jadi bentuk kerja sama ini melakukan perjanjian
terlebih dahulu sebelum akhirnya melakukan kerja sama antara
individu atau kelompok dengan kesepakatan bersama. Kedua,
Cooptation, yaitu proses penerimaan unsur-unsur baru dalam
kepemimpinan atau pelaksanaan politik dalam suatu organisasi,
sebagai salah satu menghindari terjadinya guncangan dalam
stabilitas organisasi yang bersangkutan. Dan yang ketiga yaitu
coalication, yaitu kombinasi antara dua organisasi atau lebih
yang mempunya tujuan-tujuan yang sama.
2) Akomodasi
Menurut Basrowi,“Akomodasi adalah suatu keadaan
hubungan antara kedua belah pihak yang menunjukkan
19
Basrowi, Pengantar Sosiologi, h.145-146
Abdul Syani, Sosiologi Skematika, Teori, dan Terapan,(Jakarta: PT. Bumi
Aksara,2012), h.156.
20
26
keseimbangan yang berhubungan dengan nilai dan norma
sosial yang berlaku dalam masyarakat”21.
Sebagai suatu proses, akomodasi menunjuk pada usahausaha manusia untuk meredakan suatu pertentangan yaitu
usaha-usaha
untuk
mencapai
kestabilan.
Akomodasi
sebenarnya merupakan suatu cara untuk menyelesaikan
pertentangan tanpa menghancurkan pihak lawan sehingga
lawan tidak kehilangan kepribadiannya.
Menurut Soedjono yang dikutip oleh Abdul Syani
mengatakan bahwa “Akomodasi adalah suatu keadaan di mana
suatu pertikaian atau konflik, mendapat penyelesaian, sehingga
terjalin kerja sama yang baik kembali”.22 Dengan demikian,
kepribadian masing-masing yang bertikai tetap terjaga dengan
baik. Akomodasi sebagai suatu proses memiliki berbagai
bentuk diantaranya:
a) Coercion adalah suatu bentuk akomodasi yang prosesnya
dilakukan
oleh
karena
adanya
paksaan.
Coercion
merupakan bentuk akomodasi, di mana salah satu pihak
berada dalam keadaan yang lemah bila dibandingkan
dengan pihak lawan.
b) Compromise adalah suatu bentuk akomodasi di mana
pihak-pihak yang terlibat saling mengurangi tuntutannya
agar tercapai suatu penyelesaian terhadap perselisihan yang
ada.
c) Arbitration
merupakan
suatu
cara
untuk
mencapai
compromise apabila pihak-pihak yang berhadapan tidak
sanggup mencapainya.
21
22
Basrowi, Op. Cit, h. 150
Ibid, h.159
27
d) Mediation hampir menyerupai arbitration. Pada mediation
diundanglah
pihak
ketiga
yang
netral
dalam
soal
perselisihan yang ada.
e) Conciliation adalah suatu usaha untuk mempertemukan
keinginan-keinginan dari pihak-pihak yang berselisih demi
tercapainya suatu persetujuan bersama.
f) Toleration juga sering dinamakan sebagai tolerantparticipation. Ini merupakan suatu bentuk akomodasi tanpa
persetujuan yang formal bentuknya.
g) Stalemate merupakan suatu akomodasi, dimana pihak-pihak
yang bertentangan karena mempunyai kekuatan yang
seimbang berhenti pada suatu titik tertentu dalam
melakukan pertentangan.
h) Adjudication, yaitu penyelesaian perkara atau sengketa di
pengadilan.
3) Asimilasi ( Assimilation)
Menurut Basrowi Asimilasi merupakan proses sosial dalam
taraf lanjut. Ia di tandai dengan adanya usaha-usaha
mengurangi perbedaan yang terdapat antara orangperorangan atau kelompok dengan kelompok manusia dan
juga meliputi usaha-usaha untk mempertinggi kesatuan
tindak, sikap dan proses-proses mental dengan
memperhatikan kepentingan-kepentingan dan tujuan
bersama.23
Asimilasi dilakukan apabila orang-orang yang
melakukan asimilasi ke dalam suatu kelompok manusia atau
masyarakat, dia tidak lagi membedakan dirinya dengan
kelompok tersebut yang mengakibatkan dirinya dianggap
sebagai orang asing. Dalam proses asimilasi, mereka
mengidentifikasikan dirinya dengan kepentingan-kepentingan
serta tujuan-tujuan kelompok. Proses asimilasi ditandai dengan
23
Ibid, h. 162
28
pengembangan sikap-sikap yang sama, walau kadangkala
bersifat emosional dengan tujuan untuk mencapai kesatuan,
atau paling sedikit mencapai integrasi dalam organisasi,
pikiran, dan tindakan.
Dari uraian di atas jelas bahwa proses asimilai terkait
erat dengan pengembangan sikap-sikap dan cita-cita yang
sama. Sehingga perbedaan-perbedaan yang ada dapat melebur
menjadi satu karena adanya kepentingan-kepentingan dan
tujuan-tujuan dari kelompok.
b. Proses-proses Disosiatif
Menurut Soerjono Soekanto “Proses-proses disosiatif
sering disebut sebagai Oppositional processes, yang persis halnya
dengan kerja sama, dapat ditemukan pada setiap masyarakat,
walaupun bentuk dan arahnya ditentukan oleh kebudayaan dan
sistem sosial masyarakat yang bersangkutan”24. Suatu oposisi dapat
diartikan
sebagai
cara
berjuang
melawan
seseorang
atau
sekelompok manusia untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Prosesproses disosiatif diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Persaingan
Persaingan merupakan suatu usaha dari seseorang untuk
mencapai sesuatu yang lebih daripada yang lainnya. Sesuatu itu
bisa berbentuk harta benda atau suatu popularitas tertentu.
Persaingan biasanya bersifat individu, apabila hasil dari
persaingan itu dianggap cukup untuk memenuhi kepentingan
pribadi. Menurut Basrowi “Bentuk kegiatan persaingan ini
biasanya didorong oleh motivasi berikut ini untuk mendapatkan
status sosial, memperoleh jodoh, mendapatkan kekuasaan,
mendapatkan nama baik, mendapatkan kekuasaan dan lainlain”.25
24
25
Soerjono Soekanto, Op.cit. h.82
Basrowi, Loc.cit, h.146
29
Dengan kata lain adanya persaingan oleh karena ada
perasaan atau anggapan bahwa seseorang itu lebih beruntung
jika tidak bekerja sama dengan orang lain. Karena persaingan
merupakan suatu upaya untuk mencapai suatu tujuan dengan
bersaing terhadap yang lain.
2. Kontravensi
Kontravensi pada hakikatnya merupakan suatu bentuk
proses
sosial
yang
berada
antara
persaingan
dengan
pertentangan atau pertikaian. kontravensi dtitandai oleh gejalagejala adanya ketidakpastian mengenai diri seseorang atau
suatu rencana dan perasaan tidak suka yang disembunyikan,
kebencian atau keragu-raguan terhadap kepribadian seseorang.
Kontravensi
ini
dalam
bentuknya
seperti
keengganan,
kebencian, penolakan, perlawanan, protes, gangguan-gangguan
lain, dan bahkan rencana untuk menghalangi pihak lain agar itu
tidak terjadi.
Kontravensi apabila dibandingakan dengan persaingan
dan pertentangan atau pertikaian, bersifat agak tertutup atau
rahasia.
Perang
dingin,
misalnya
merupakan
bentuk
kontravensi karena tujuannya adalah untuk membuat lawan
tidak tenang. Dalam hal ini, pihak lawan tidak diserang secara
fisik, akan tetapi secara psikologis.
3. Pertikaian atau Pertentangan
Pertikaian adalah bentuk persaingan yang berkembang
secara negatif, artinya di satu pihak bermaksud untuk
mencelakakan atau paling tidak berusaha untuk menyingkirkan
pihak lainnya. Menurut Soerjono Soekanto “ada beberapa hal
yang menjadi penyebab dari pertikaian atau pertentangan
antara lain, Perbedaan antara individu-individu, perbedaan
30
kebudayaan, perbedaan kepentingan dan adanya perubahan
sosia”.26
Perbedaan-perbedaan ada di antara masyarakat yang
kemudian berkembang menjadi
sebuah pertikaian atau
pertentangan, akan tetapi tidak semua bentuk pertikaian disertai
dengan tindak kekerasan. Karena pertikaian atau pertentangan
dapat memungkinkan untuk melakukan penyesuaian diri
kembali jika fungsi-fungsi nilai dan norma sosial dan toleransi
pribadi masih cukup kuat.
Pertikaian akan dapat diselesaikan jika di antara
masing-masing pihak yang bertikai dapat mengintropeksi diri,
berusaha dan mau menyadari kesalahan dan kelemahan
masing-masing. Alternatif yang terjadi kemudian diantara yang
bertikai dapat hidup berdampingan dengan bekerja sama atau
masing-masing menjauhkan diri secara tegas karena tidak
mungkin dilakukan kerja sama.
B. Anak Jalanan
1. Pengertian Anak Jalanan
Ada beberapa pengertian anak jalanan yang dikemukakan oleh
berbagai pihak, antara lain:
a. Anak Jalanan menurut Rano Karno tatkala ia menjabat sebagai
Duta Besar UNICEF, yang dikutip oleh Bagong Suyanto
mengatakan bahwa, Anak Jalanan sesungguhnya mereka adalah
anak-anak yang tersisih, marginal, dan teraliensi dari perlakuan
kasih sayang karena kebanyakan dalam usia yang relatif dini sudah
harus berhadapan dengan lingkungan kota yang keras, dan bahkan
sangat tidak bersahabat.27 Jadi anak jalanan adalah anak yang
teraliensi dari perlakukan kasih sayang, sehingga ia sejak usia
anak-anak sudah terlibat dengan dunia dan lingkungan kota dan
jalanan.
26
Soerjono Soekanto, op. cit. , h.91.
Bagong Suyanto, Masalah Sosial Anak,( Jakarta : PT. Kencana Prenada Media
Grup,2013).h. 199
27
31
b. Menurut Soedijar (1989) dalam buku “Anak Jalanan dan
Kekerasan” dikemukakan bahwa, “Anak jalanan adalah anak-anak
usia 7-15 tahun yang bekerja di jalan raya dan tempat umum
lainnya yang dapat mengganggu ketentraman dan keselamatan
orang lain serta membahayakan keselamatan dirinya”.28
c. Menurut Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) Departemen Sosial
RI, “Anak jalanan adalah anak berusia antara 5 tahun sampai
dengan 21 tahun yang menghabiskan sebagian besar waktunya
untuk mencari nafkah, berkeliaran di jalanan maupun di tempattempat umum”.29
d. Dalam Jurnal Upaya Pemberdayaan Anak Jalanan yang disusun
oleh Armai Arief dikemukakan bahwa: UNICEF memberikan
batasan tentang anak jalanan, yaitu : Street child are those who
have abandoned their homes, school and immediate communities
before they are sixteen years of age, and have drifted into a
nomadic street life (anak jalanan merupakan anak-anak berumur
dibawah 16 tahun yang sudah melepaskan diri dari keluarga,
sekolah dan lingkungan masyarakat terdekatnya, larut dalam
kehidupan yang berpindah-pindah di jalan raya.30
Dari beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa anak
jalanan merupakan anak yang berusia di bawah 21 tahun, yang
menggunakan sebagian waktunya di jalanan atau di tempat-tempat
umum lainnya. Aktivitas anak jalanan bukan hanya yang bertujuan
mencari uang atau mencari nafkah, tetapi juga aktivitas lain seperti
bermain, istirahat, tidur, atau belajar.
28
Heru Prasadja, Murniati Agustian, “Anak Jalanan & Kekerasan”’ (Jakarta: PKMP
Unika Atma Jaya bekerjasama dengan Depsos, 2000), h. 4.
29
Murdiyanto, “Pengaruh Penyuluhan dan Bimbingan Sosial, terhadap Persepsi
Stakeholder pada Anak Jalanan di Palembang” (Yogyakarta: Citra Media, 2008), cet 1, h. 14.
30
Armai
Arief,
Upaya
(http://anjal.blogdrive.com/archive/ 11. html)
Pemberdayaan
Anak
Jalanan,2013
32
Di berbagai sudut kota, sering terjadi anak jalanan harus
bertahan hidup dengan cara-cara yang secara sosial kurang atau
bahkan tidak dapat diterima masyarakat umum, sekedar untuk
menghilangkan rasa lapar dan keterpaksaan untuk membantu
keluarganya. Tidak jarang mereka pula dicap sebagai pengganggu
ketertiban dan membuat kota menjadi kotor dengan keberadaan
mereka.
Menurut Bagong “Marginal, rentan, dan eksploitatif adalah
istilah-istilah yang tepat untuk menggambarkan kondisi dan kehidupan
anak jalanan”.31 Anak Jalanan dikatakan marginal karena anak-anak
jalanan melakukan jenis pekerjaan yang tidak jelas dengan jenjang
kariernya, kurang dihargai, dan umumnya juga tidak menjanjikan
prospek apapun di masa depan. Mereka juga rentan dengan resiko
yang harus ditanggung akibat dari jam kerja yang sangat panjang
benar-benar dari segi kesehatan maupun sosial sangat rawan. Dan
adapun makna dari eksploitatif karena biasanya anak jalanan memiliki
posisi tawar-menawar yang sangat lemah, tersubordinasi, dan
cenderung menjadi objek perlakuan yang sewenang-wenang dari ulah
para preman atau oknum aparat yang tidak bertanggung jawab.
Menurut Farid yang dikutip oleh Bagong Suyatno dalam buku
Masalah Sosial Anak, Sebagai bagian dari pekerja anak ( child
labour), anak jalanan sendiri sebenarnya bukanlah kelompok
yang homogen. Mereka cukup beragam, dan dapat dibedakan
atas dasar pekerjaannya, hubungannya dengan orangtua atau
dewasa terdekat, waktu dan jenis kegiatannya dijalanan, serta
jenis kelaminnya. 32
Berdasarkan hasil kajian di lapangan, secara garis besar anak
jalanan dibedakan dalam tiga kelompok yaitu: Children On The Street,
31
Bagong Suyanto, Masalah Sosial Anak,( Jakarta : PT. Kencana Prenada Media
Grup,2013) h.200.
32
Ibid, h.203
33
Children from Children of the street dan Children from families on the
street33.
Pertama, children on the street, yakni anak-anak yang
mempunyai kegiatan ekonomi sebagai pekerja anak di jalan, namun
masih mempunyai hubungan yang kuat dengan orang tua mereka.
Sebagian penghasilan yang mereka dapatkan dijalanan akan diberikan
kepada orang tuanya. Fungsi anak jalanan pada kategori ini adalah
untuk membantu memperkuat penyangga ekonomi keluarganya karena
beban atau tekanan kemiskinan yang mesti ditanggung tidak dapat
diselesaikan sendiri oleh kedua orang tuanya.
Kedua, children of the street, yakni anak-anak jalanan yang
berpartisipasi penuh dijalanan, baik secara sosial maupun ekonomi.
Beberapa diantara mereka masih mempunyai hubungan dengan
orangtuanya, tetapi frekuensi pertemuan mereka tidak menentu.
Banyak diantara mereka adalah anak-anak yang karena suatu sebab,
biasanya karena kekerasan, lari atau pergi dari rumah. Anak jalanan
pada kategori ini sangat rawan terhadap perlakuan yang salah, baik
secara sosial dan emosional, fisik maupun seksual.
Ketiga, children from families of the street, yakni anak-anak
yang berasal dari keluarga yang hidup di Jalanan. Walaupun anak-anak
ini mempunyai hubungan kekeluargaan yang cukup kuat, tetapi hidup
mereka terombang-ambing dari satu tempat ke tempat yang lainnya
dengan segala resiko yang akan dihadapinya.
2. Faktor Penyebab Anak Jalanan
Secara umum ada tiga tingkatan penyebab keberadaan anak
jalanan:
a. Tingkat mikro (immediate causes), yaitu faktor yang
berhubungan dengan anak dan keluarganya,
b. Tingkat messo (underlying causes), yaitu faktor yang ada
dimasyarakat,
33
Ibid,h. 200
34
c. Tingkat makro (basic causes), yaitu
berhubungan dengan struktur makro.34
faktor
yang
Adapun uraian untuk tiga tingkatan yang telah dikemukakan di atas
adalah sebagai berikut:
1) Tingkat Mikro
Pada tingkat ini, biasanya anak menjadi anak jalanan di
sebabkan faktor internal dalam keluarga, yaitu:
a) Keluarga mengalami kesulitan ekonomi, sehingga anak dengan
sangat terpaksa lari dari keluarga, berusaha untuk mandiri dan
berjuang sendiri mempertahankan hidup dan memenuhi
kebutuhannya.
b) Orang tua mengalami perceraian, perceraian menyebabkan
berkurangnya perhatian, kasih sayang dan rasa aman yang
diterima anak dari keluarga, sehingga anak mencari
c) kebutuhan tersebut dengan cara menjadi anak jalanan.35
2) Tingkat Messo
Pada tingkat messo, faktor penyebab dapat diidentifikasi
sebagai berikut:
a) Masyarakat atau komunitas miskin mempunyai pola hidup dan
budaya miskinnya sendiri. Pola hidup yang tidak teratur dan
memandang anak sebagai aset untuk menunjang hidup keluarga
yang menyebabkan hilangnya kebutuhan-kebutuhan anak
sesuai tugas perkembangannya. Sehingga kadang anak harus
bekerja dan tidak bersekolah. Nilai bagaimana nantinya, tidak
ada orientasi masa depan menyebabkan mereka dalam kondisi
yang rentan dalam berbagai hal. Seperti ketika sakit, tidak
34
Dwi Astuti, Penelitian Rumah Singgah Se-Jawa Timur, 2013 (www.damadiri.or.id/file/
dwiastututiunairbab2.pdf).
34
Modul Pelayanan Sosial Anak Jalanan Berbasis Panti, (Jakarta: Direktorat Pelayanan
Sosial Anak, Direktorat Jenderal Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial, Departemen Sosial RI, 2006),
h. 5.
35
mempunyai uang untuk berobat. Di lain pihak perkerjaan tidak
jelas.
b) Pola urbanisasi ke kota-kota besar tanpa perbekalan yang
memadai.
c) Penolakan masyarakat terhadap anak jalanan sebagai calon
kriminal.36
3) Tingkat Makro
Pada tingkat makro, faktor penyebab dapat diidentifikasi sebagai
berikut:
a) Ekonomi. Peluang pekerjaan sektor informal yang tidak
terlalu membutuhkan modal keahlian, mereka harus lama
dijalanan dan meninggalkan bangku sekolah, ketimpangan
desa dan kota yang mendorong urbanisasi.
b) Pendidikan. Biaya sekolah yang tinggi, perilaku guru yang
diskriminatif, dan ketentuan-ketentuan teknis dan birokratis
yang mengalahkan kesempatan belajar.
c) Belum beragamnya unsur-unsur pemerintah memandang
anak jalanan antara sebagai kelompok yang memerlukan
perawatan (pendekatan kesejahteraan) dan pendekatan yang
menganggap
anak
jalanan
sebagai
trouble
maker atau
pembuat masalah. Pendekatan yang dilakukan oleh pemerintah
adalah pendekatan keamanan (security approach).37
Dwi Astuti mengutip dari BKSN mengemukakan faktor
penyebab anak turun ke jalan untuk bekerja dan hidup di jalanan
adalah sebagai berikut:
1) Faktor pendorong :
a) Keadaan ekonomi keluarga yang semakin dipersulit oleh
besarnya kebutuhan yang ditanggung kepala keluarga,
sehingga tidak mampu memenuhi kebutuhan keluarga,
36
37
Ibid,h. 9
Dwi Astuti,loc. cit
36
maka
anak-anak
disuruh
ataupun
dengan sukarela
membantu mengatasi kondisi ekonomi tersebut.
b) Ketidak serasian dalam keluarga, sehingga anak tidak
betah tinggal di rumah atau anak lari dari keluarga.
a. Adanya kekerasan atau perlakuan salah dari orang
tua terhadap anaknya sehingga anak lari dari rumah.
b.
Kesulitan
hidup
di kampung,
anak
melakukan
urbanisasi untuk mencari pekerjaan mengikuti orang
dewasa.
c) Faktor Penarik :
a. Kehidupan jalanan yang menjanjikan, dimana anak
mudah
mendapatkan uang, anak bisa bermain dan
bergaul dengan bebas.
b. Diajak teman.
c. Adanya peluang di sektor informal yang tidak terlalu
membutuhkan modal dan keahlian.38
Berdasarkan uraian para ahli di atas dapat disimpulkan,
sesungguhnya ada banyak faktor yang menyebabkan anak-anak
terjerumus dalam kehidupan jalanan, seperti: tekanan kemiskinan,
ketidak harmonisan keluarga, pengaruruh teman atau kerabat juga ikut
menentukan keputusan untuk hidup di jalanan. Selain itu juga alasan
anak memilih hidup di jalanan adalah karena kurang biaya sekolah dan
membantu pekerjaan orang tua. Kombinasi dari faktor-faktor tersebut
sering kali memaksa anak-anak mengambil inisiatif mencari nafkah
atau hidup mandiri di jalanan.
3. Karakteristik Anak Jalanan
Dalam buku Standar Pelayanan Sosial Anak Jalanan melalui
Rumah Singgah, setiap Rumah Singgah boleh menentukan sendiri
kategori anak jalanan yang didampinginya. Kategori anak jalanan
38
Ibid,89
37
dapat disesuaikan dengan kondisi anak jalanan di kota masing-masing.
Secara umum kategori anak jalanan adalah sebagai berikut:39
a. Anak jalanan yang hidup di jalanan, dengan cirinya sebagai
berikut:
1) Putus hubungan atau lama tidak bertemu dengan orang tuanya
minimal setahun yang lalu,
2) Berada di jalanan seharian untuk bekerja dan mengelandang,
3) Bertempat tinggal di jalanan dan tidur di sembarang tempat
seperti emper toko, kolong jembatan, taman terminal, stasiun,
dan lain-lain.
4) Tidak bersekolah lagi.
b. Anak jalanan yang bekerja di jalanan, cirinya adalah:
1) Berhubungan tidak teratur dnegan orang tuanya, yakni pulang
secara periodik misalnya seminggu sekali, sebulan sekali, dan
tidak tentu. Mereka umumnya berasal dari luar kota yang
bekerja di jalanan.
2) Berada di jalanan sekitar 8 s.d 12 jam untuk bekerja, sebagian
mencapai 16 jam,
3) Bertempat tinggal dengan cara mengontrak sendiri atau
bersama teman, dengan orang tua atau saudaranya, atau di
tempat kerjanya di jalan,
4) Tidak bersekolah lagi.
c. Anak yang rentan menjadi anak jalanan, cirinya adalah:
1) Setiap hari bertemu dengan orang tuanya (teratur),
2) Berada di jalanan sekitar 4 s.d 6 jam untuk bekerja,
3) Tinggal dan tidur bersama orang tua atau wali,
4) Masih bersekolah.
39
Standar Pelayanan Sosial Anak Jalanan Melalui Rumah Singgah, (Jakarta: Direktorat
Bina Pelayanan Sosial Anak, Direktorat Jenderal Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial, Departemen
Sosial RI, 2002), h. 13-15.
38
Dwi Astuti mengutip dari buku “Modul Pelatihan Pimpinan
Rumah Singgah” kategori dan karakteristik anak jalanan:40
a. Kelompok
anak
yang
hidup
dan
bekerja
di
jalanan.
Karakteristiknya :
1) Menghabiskan seluruh waktunya di jalanan,
2) Hidup dalam kelompok kecil atau perorangan,
3) Tidur diruang-ruang atau cekungan diperkotaan, seperti:
terminal, emper toko, kolong jembatan dan pertokoan,
4) Hubungan dengan orang tuanya biasanya sudah putus,
5) Putus sekolah,
6) Bekerja sebagai pemulung, ngamen, mengemis, semir, kuli
angkut barang,
7) Berpindah-pindah tempat.
b. Kelompok anak jalanan yang bekerja dijalanan dan masih pulang
kerumah orang tua mereka setiap hari. Karakteristiknya :
1) Hubungan dengan orang tua masih ada tetapi tidak harmonis,
2) Sebagian besar dari mereka telah putus sekolah dan
sisanya rawan untuk meninggalkan bangku sekolah,
3) Rata-rata pulang setiap hari atau seminggu sekali ke rumah,
4) Bekerja sebagai pengemis, pengamen diperempatan, kernet,
asongan koran dan ojek payung.
c. Kelompok anak jalanan yang bekerja dijalanan dan pulang ke
desanya antara satu hingga dua bulan sekali. Karakteristiknya :
1) Bekerja di jalanan sebagai pedagangan asongan, menjual
makanan keliling, kuli angkut barang,
2) Hidup berkelompok bersama dengan orang-orang yang berasal
dari satu daerah dengan cara mengontrak rumah atau tinggal
di sarana-sarana umum atau tempat ibadat seperti masjid,
3) Pulang antara 1 hingga 3 bulan sekali,
40
Dwi Astuti, loc.cit.
39
4) Ikut membiayai keluarga didesanya,
5) Putus sekolah.
d. Anak remaja jalanan bermasalah (ABG). Karakteristiknya :
1) Menghabiskan sebagian waktunya dijalanan,
2) Sebagian sudah putus sekolah,
3) Terlibat masalah narkotika dan obat-obatan lainnya,
4) Sebagian dari mereka melakukan pergaulan seks bebas,
pada beberapa anak perempuan mengalami kehamilan dan
mereka rawan untuk terlibat prostitusi,
5) Berasal dari keluarga yang tidak harmonis.
Dalam buku Modul Pelayanan Sosial Anak Jalanan Berbasis
Panti, seorang anak dikatakan anak jalanan bilamana mempunyai
indikasi sebagai berikut:41
a. Usia dibawah 18 tahun
b. Orientasi Hubungan
Hubungan dengan keluarganya adalah hubungan yang
sekerdarnya, tidak ada komunikasi yang rutin diantara mereka, ada
yang sama seklai tidak berhubungan dengan keluarganya, masih
ada hubungan sosial secara teratur minimal dalam arti bertemu
sekali setiap hari, dan masih ada kontak dengan keluarganya
namun tidak teratur.
c. Orientasi Waktu
Mereka tidak mempunyai orientasi waktu mendatang.
Orientasi waktunya adalah masa kini. Dan waktu yang dihabiskan
dijalanan lebih dari empat jam setiap harinya.
d. Orientasi Tempat Tinggal
1) Tinggal bersama orang tuanya,
2) Tinggal dengan teman-teman sekelompoknya,
3) Tidak mempunyai tempat tinggal, tidur disembarang tempat.
41
Modul Pelayanan Sosial Anak Jalanan Berbasis Panti, op.cit., h. 3-5.
40
e. Orientasi Tempat Berkumpul
Tempat berkumpul mereka adalah tempat-tempat yang
kumuh, kotor banyak makanan sisa, tempat berkumpulnya orangorang. Misalkan pasar, terminal bus, stasiun kereta api, tamantaman kota, daerah lokalisasi Wanita Tuna Susila (WTS),
perempatan jalan atau jalan raya, di kendaraan umum (pengamen),
dan tempat pembuangan sampah.
f. Orientasi Aktivitas Pekerjaan
Aktivitas yang mereka kerjakan adalah aktivitas yang
berorientasi pada kemudahan mendapat uang sekedarnya untuk
menyambung hidup. Seperti, menyemir sepatu, mengasong,
menjadi calo, menjajakan koran/majalah, mencuci kendaraan,
menjadi pemulung, mengamen, menjadi kuli angkut, dan menjadi
penghubung atau penjual jasa.
g. Pendanaan dalam Aktivitasnya
1) Modal sendiri,
2) Modal kelompok,
3) Modal majikan/ patron,
4) Stimulant/ bantuan.
h. Permasalahan-Permasalahan yang Dihadapi
1) Korban eksploitasi seks,
2) Dikejar-kejar aparat
3) Terlibat tindakan kriminal,
4) Konflik dengan kelompok lain atau teman dalam kelompok,
5) Potensi kecelakaan lalu lintas,
6) Ditolak masyarakat.
i. Kebutuhan-Kebutuhan Anak Jalanan
1) Haus kasih sayang,
2) Rasa aman,
3) Kebutuhan sandang, pangan (gizi), kesehatan,
41
4) Kebutuhan pendidikan,
5) Bimbingan keterampilan,
6) Bantuan usaha,
7) Harmonis hubungan sosial dengan keluarga, orang tua dan
masyarakat.
Tabel 2.1
Berikut ciri-ciri fisik dan psikis anak jalanan dalam penelitian Dwi Astuti yang
mengutip dari buku “Intervensi Psikososial”:
Ciri Fisik
Ciri Psikis













Warna kulit kusam
Rambut Kemerah-merahan
Kebanyakan berbadan kurus
Pakaian tidak terurus
Mobilitas tinggi
Acuh tak acuh
Penuh curiga
Sangat sensitif
Berwatak keras
Kreatif
Semangat hidup tinggi
Berani menanggung resiko
Mandiri42
Sumber : Modul Pelayanan Sosial Anak Jalanan Berbasis Panti, (Jakarta:
Direktorat Pelayanan Sosial Anak, Direktorat Jenderal Pelayanan dan
Rehabilitasi Sosial, Departemen Sosial RI, 2006)
Dari tabel di atas ciri anak jalanan terbagi dalam dua kategori yaitu
fisik dan psikis. Ciri fisik anak jalanan adalah anak jalanan mempunyai
warna kulit kusan, rambut kemerah-merahan, kebanyakan berbadan kurus,
dan pakaian tidak terurus. Sedangkan ciri psikis adalah mereka
mempunyai mobilitas yang tinggi terutama untuk memenuhi kebutuhan
pangan, masa bodoh, mempunyai rasa penuh curiga, sangat sensitif, sulit
diatur, berwatak keras, kreatif, semangat hidup yang tinggi, tidak berpikir
panjang (berani mengambil resiko), dan mandiri.
Mengenai profesi anak jalanan dikatakan oleh Armai Arief bahwa:
42
Ibid, h.8
42
Pekerjaan anak jalanan beraneka ragam, dari menjadi tukang semir sepatu,
penjual asongan, pengamen sampai menjadi pengemis. Banyak faktor
yang kemudian diidentifikasikan sebagai penyebab tumbuhnya anak
jalanan. Parsudi Suparlan berpendapat bahwa adanya orang gelandangan
di kota bukanlah semata-mata karena berkembangnya sebuah kota, tetapi
justru karena tekanantekanan ekonomi dan rasa tidak aman sebagian
warga desa yang kemudian terpaksa harus mencari tempat yang diduga
dapat memberikan kesempatan bagi suatu kehidupan yang lebih baik di
kota (Parsudi Suparlan, 1984 : 36 ).43
Dwi Astuti mengutip dari BKSN tahun 2000 mengemukakan
bahawa model pembinaan terhadap anak jalanan, diantaranya:
a. Model Rumah Singgah
Rumah singgah adalah suatu wahana yang dipersiapkan
sebagai perantara antara anak jalanan dengan pihak-pihak yang
akan
membantu
informal
jalanan
mereka.
Rumah Singgah
merupakan
proses
yang memberikan suasana resosialisasi kepada
terhadap
sistem nilai
dan norma
yang
berlaku
anak
di
masyarakat setempat. Rumah singgah adalah tahapan awal bagi
seorang
anak
untuk memperoleh
pelayanan
selanjutnya,
oleh
karena itu penting kiranya menciptakan suasana nyaman, tertib dan
menyenangkan bagi anak jalanan.
b. Model Mobil Sahabat Anak
Mobil sahabat anak adalah sebuah unit mobil keliling yang
dimaksudkan untuk
mengunjungi
dan
memberikan
pelayanan
kepada anak jalanan di tempat- tempat mereka berkumpul atau
berada di jalanan. Mobil sahabat anak ini bertujuan untuk membantu
anak jalanan yang tidak menikmati pendidikan formal agar mereka
mendapatkan pendidikan di tempat mereka berkumpul tanpa
menggangu aktivitas mereka untuk bekerja dijalanan. Adapun Tujuan
dari pelayanan ini adalah sebagai berikut:
43
Armai Arief, loc.cit.
43
1. Memberikan pelayanan penjangkauan yang mudah dan cepat
2. Memberikan
pendampingan
dan
pelayanan
sosial
yang
Boarding house adalah suatu wahana pelayanan lanjutan bagi
anak
dibutuhkan
3. Memberikan pelayanan rujukan.
c. Model Boarding House atau Pemondokan
jalanan yang bertujuan untuk:
1. Mempertahankan sikap dan prilaku positif,
2. Memberikan
kesempatan
kepada
memperoleh pelayanan lanjutan
anak
dalam
jalanan
rangka
untuk
penuntasan
masalah mereka,
3. Mempercepat proses kemandirian anak jalanan.44
Dari beberapa model pembinaan anak jalanan dapat diambil
kesimpulan bahwa terdapat 2 model pembinaan, yaitu; pertama,
melalui sebuah tempat penampungan yang dapat digunakan sebagai
tempat untuk berlindung, tempat untuk tinggal, dan juga untuk belajar.
Kedua,
model
pembinaan
yang
langsung
mengunjungi
dan
memberikan pelayanan kepada anak jalanan di tempat-tempat mereka
berkumpul tanpa mengganggu aktivitas mereka untuk bekerja
dijalanan.
C. Rumah Singgah
1. Pengertian Rumah Singgah
Rumah Singgah merupakan sebagai “tempat pemusatan
sementara yang bersifat non formal, dimana anak-anak bertemu untuk
memperoleh informasi dan pembinaan awal sebelum dirujuk ke dalam
proses pembinaan lebih lanjut”.45
Sedangkan menurut Departemen Sosial RI Rumah Singgah
didefinisikan sebagai “suatu wahana yang dipersiapkan sebagai
44
Dwi Astuti, Loc. cit
Armai Arief, loc.cit.
45
44
perantara anak jalanan dengan pihak-pihak yang akan membantu
mereka”.46
Rumah Singgah merupakan proses informal yang memberikan
suasana pusat resosialisasi anak jalanan terhadap sistem nilai dan
norma di masyarakat. Rumah Singgah merupakan “tahap awal bagi
seorang anak untuk memperoleh pelayanan. Selanjutnya, oleh
karenanya penting menciptakan Rumah Singgah sebagai tempat yang
aman, nyaman, menarik, dan menyenangkan bagi anak jalanan”.47
2. Tujuan Rumah Singgah
Secara umum tujuan dibentuknya Rumah Singgah adalah
membantu
menemukan
anak
jalanan
alternatif
mengatasi
untuk
masalah-masalahnya
pemenuhan
kebutuhan
dan
hidupnya.
Sedangkan secara khusus tujuan Rumah Singgah adalah:
a. Membentuk kembali sikap dan perilaku anak yang sesuai dengan
nilai-nilai dan norma yang berlaku di masyarakat.
b. Mengupayakan anak-anak kembali ke rumah jika memungkinkan
atau ke panti dan lembaga pengganti jika diperlukan.
c. Memberikan berbagai alternatif pelayanan untuk pemenuhan
kebutuhan anak dan menyiapkan masa depannya sehingga menjadi
masyarakat yang produktif.48
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa tujuan
dibentuknya rumah singgah yaitu untuk mengembalikan sikap dan
perilaku anak jalanan sesuai dengan norma, mengupayakan agar anak
kembali ke rumah, ke keluarga atau lembaga pengganti serta
46
Standar Pelayanan Sosial Anak Jalanan Melalui Rumah Singgah, op. cit., h. 6.
47
Pedoman Penyelenggaraan Pembinaan Anak Jalanan Melalui Rumah Singgah, (Jakarta:
Direktorat Jenderal Bina Kesejahteraan Sosial, Departemen Sosial RI, 1999), h. 5.
48
Standar Pelayanan Sosial Anak Jalanan Melalui Rumah Singgah, op. cit., h.7
45
menyiapkan masa depan melalui berbagai alternatif pelayanan
pemberdayaan.
3. Fungsi Rumah Singgah
Dalam buku Standar Pelayanan Sosial Anak Jalanan Melalui
Rumah Singgah, Rumah Singgah memiliki fungsi sebagai berikut:
a. Tempat penjangkauan pertama kali dan pertemuan pekerja sosial
dengan
anak
jalanan
untuk
menciptakan
persahabatan,
kekeluargaan, dan mencari jalan keluar dari kesulitan mereka.
b. Tempat membangun kepercayaan antara anak dengan pekerja
sosial dan latihan meningkatkan kepercayaan diri berhubungan
dengan orang lain.
c. Perlindungan dari kekerasan fisik, psikis, seks, ekonomi, dan
bentuk lainnya tyang terjadi di jalanan.
d. Tempat menanamkan kembali dan memperkuat sikap, perilaku,
dan fungsi sosial anak sejalan dengan norma masyarakat.
e. Tempat memahami masalah yang dihadapi anak jalanan dan
menemukan penjaluran kepada lembaga-lembaga lain sebagai
rujukan.
f. Sebagai
media
perantara
antara
anak
jalanan
dengan
keluarga/lembaga lain, seperti panti, keluarga pengganti, dan
lembaga pelayanan sosial lainnya. Anak jalanan diharapkan tidak
terus-menerus bergantung kepada Rumah Singgah, melainkan
dapat memperoleh kehidupan yang lebih abik melalui atau setelah
proses yang dijalaninya.
g. Tempat informasi berbagai hal yang berkaitan dengan kepentingan
anak jalanan seperti data dan informasi tentang anak jalanan, bursa
kerja, pendidikan, kursus keterampilan, dan lain-lain.49
49
Ibid, h.9
46
Sedangkan dalam buku Pedoman Penyelenggaraan Pembinaan
Anak Jalanan Melalui Rumah Singgah, fungsi Rumah Singgah antara
lain:
a. Tempat pertemuan (meeting point) pekerja sosial dan anak jalanan.
Dalam fungsi ini, Rumah Singgah merupakan tempat bertemu
antara pekerja sosial dengan anak jalanan untuk menciptakan
persahabatan, assessment/diagnosa, dan melakukan kegiatan
program.
b. Pusat assessment dan rujukan.
Dalam fungsi ini, Rumah Singgah menjadi tempat melakukan ass
essment atau diagnosis terhadap kebutuhan dan masalah anak
jalanan serta melakukan rujukan (referal) pelayanan sosial bagi
anak jalanan.
c. Fasilitator (media perantara dengan keluarga/lembaga lain)
Dalam fungsi ini, Rumah Singgah merupakan media perantara
antara anak di jalanan dengan keluarga, keluarga pengganti,
dan lembaga lainnya. Anak jalanan diharapkan tidak terus menerus
bergantung kepada Rumah Singgah, melainkan dapat memperoleh
kehidupan yang lebih baik melalui atau setelah proses yang
dijalaninya.
d. Perlindungan
Rumah Singgah dipandang sebagai tempat berlindung dari
kekerasan/penyalahgunaan seks, ekonomi, dan bentuk-bentuk
lainnya yang terjadi di jalanan.
e. Pusat informasi
Rumah Singgah menyediakan informasi berbagai hal yang
berkaitan dengan kepentingan anak jalanan seperti data dan
informasi tentang anak jalanan, bursa kerja, pendidikan, kursus
keterampilan, dll.
d. Kuratif dan rehabilitatif (mengembalikan dan menanamkan fungsi
sosial anak)
47
Dalam fungsi ini, para pekerja sosial diharapkan mampu mengatasi
permasalahan anak jalanan dan membetulkan sikap dan perilaku
sehari-hari
yang
akhirnya
akan
mampu
menumbuhkan
keberfungsisosialan anak. Cara-cara atau intervensi professional
dilakukan untuk fungsi initermasuk menggunakan konselor yang
sesuai dengan masalahnya.
e. Akses terhadap pelayanan
Sebagai persinggahan, Rumah Singgah menyediakan akses kepada
berbagai pelayanan sosial. Pekerja sosial membantu anak mencapai
pelayanan tersebut.
f. Resosialisasi
Lokasi Rumah Singgah yang berada ditengah-tengah lingkungan
masyarakat sebagai upaya mengenalkan kembali norma, situasi dan
kehidupan bermasyarakat bagi anak jalanan. Pada sisi lain
mengarah pada pengakuan, tanggung jawab dan upaya warga
masyarakat terhadap penanganan masalah anak jalanan.50
Dari uraian diatas, Secara ringkas fungsi rumah singgah
dapat disimpulkan sebagai tempat perlindungan dari berbagai
bentuk kekerasan yang kerap menimpa anak jalanan dari kekerasan
dan prilaku penyimpangan seksual ataupun berbagai bentuk
kekerasan
lainnya,
sebagai
tempat
rehabilitasi
yaitu
mengembalikan dan menanamkan fungsi sosial anak, dan sebagai
akses terhadap pelayanan, yaitu sebagai persinggahan sementara
anak jalanan dan sekaligus akses kepada berbagai pelayanan sosial
seperti pendidikan, kesehatan dan lain-lain.
D. Relevansi Data
Penelitian yang relevan dengan yang peneliti lakukan, juga telah dilakukan
oleh :
50
Pedoman Penyelenggaraan Pembinaan Anak Jalanan Melalui Rumah Singgah,
op.cit.,h 6-8
48
1. Luthfian Taqwa Ginanjar (skripsi 2011), melakukan penelitian tentang
Interaksi Sosial Antara Anggota Organisasi Ekstra Kampus di UIN
Syarif Hidayatullah Jakarta. Pada penelitian ini ditemukan perbedaan
pola interaksi sosial antara organisasi HMI dan organisasi PMII
cabang Ciputat, dikarenakan kepada kepentingan dan pemahaman
berorganisasi dalam menyikapi permasalahan yang dihadapinya serta
berlomba-lomba
mencari
atau
mempertahankan
eksistensitas
organisasi pada lingkungan di dalam kampus UIN Syarif Hidayatullah.
51
2. Nuraini (skripsi 2009) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, melakukan
penelitian tentang Interaksi Masyarakat Pendatang dengan Masyarakat
Pribumi dalam Membangun Toleransi Beragama di Desa Tonjong,
Bogor. Pada penelitian ini interaksi yang terjadi pada masyarakat Desa
Tonjong tergolong dalam interaksi yang mengarah dalam bentuk
kerjasama. Kegiatan-kegiatan sosial keagamaan yang merupakan
sarana untuk mengadakan komunikasi dan kontak sosial antara kedua
kelompok ini telah memberikan kontribusi yang baik dalam menjalin
interaksi yang positif antara kelompok pendatang dan kelompok
pribumi yang keduanya beragama Islam.52
3. Anik Widayanti (skripsi 2005), melakukan penelitian tentang
Perbedaan Interaksi Sosial antara Mahasiswa S1 yang Mengikuti dan
Tidak Mengikuti Organisasi Kemahasiswaan di Fakultas Ilmu
Pendidikan Universitas Negeri Semarang Tahun Akademik 2004/2005
. pada penelitian ini mahasiswa yang mengikuti organisasi mempunyai
kemampuan interaksi sosial lebih baik dibandingkan dengan
mahasiswa yang tidak mengikuti organisasi kampus. Organisasi
kampus dapat memberikan kontribusi dan pengalaman kepada
51
Luthfian Taqwa Ginanjar, Interaksi Sosial Antara Anggota Organisasi Ekstra Kampus
di UIN Syarif Hidyatullah Jakarta,( Jakarta : UIN Syarif Hidyatullah,2011)
52
Nuraini, Interaksi Masyarakat Pendatang dengan Masyarakat Pribumi dalam
Membangun Toleransi Beragama di Desa Tonjong, Bogor, ( Jakarta: UIN Syarif
Hidayatullah,2009)
49
mahasiswa dalam berinteraksi sosial melalui kegiatan kemahasiswaan.
dan mahasiswa yang mengikuti organisasi mempunyai kemampuan
menjalin hubungan timbal balik, komunikasi dan penyesuaian diri
lebih baik dibandingkan dengan mahasiswa yang tidak mengikuti
organisasi. Hal ini menunjukkan bahwa organisasi kemahasiswaan
dapat membentuk kepribadian mahasiswa.53
E. Kerangka Berfikir
Berdasarkan tinjauan pustaka dan hasil penelitian yang pernah
dilakukan, interaksi merupakan hubungan timbale balik yang dilakukan
oleh individu dengan individu, individu dengan kelompok dan kelompok
dengan kelompok. Ciri-ciri dari interaksi sosial hanya akan terjadi jika
dilakukan oleh dua orang atau lebih, hubungan tersebut dapat berupa
individu dengan individu, individu dengan kelompok dan kelompok
dengan kelompok. Memiliki dimensi waktu dari pelaku interaksi yang
dilakukan yang didalam kegiatan interaksi memiliki tujuan-tujuan yang
akan dicapai oleh pelaku interaksi sosial untuk memenuhi kebutuhannya.
Anak jalanan merupakan jalanan merupakan anak yang berusia di
bawah 21 tahun, yang menggunakan sebagian waktunya di jalanan atau di
tempat-tempat umum lainnya. Aktivitas anak jalanan bukan hanya yang
bertujuan mencari uang atau mencari nafkah, tetapi juga aktivitas lain
seperti bermain, istirahat, tidur, atau belajar.
Rumah Singgah Master Yayasan Bina Insan Mandiri,Depok
merupakan Lembaga Sosial Masyarakat yang sudah cukup lama
berpartisipasi dan peduli terhadap anak-anak jalanan yang berada
disekitarnya. Oleh karena itu aktivitas-aktivitas anak jalanan di rumah
singgah akan menghasilkan interaksi sosial terhadap sesama teman, guru
atau tutor dan masyarakat yang berada disekitar rumah singgah.
53
Anik Widayanti, Perbedaan Interaksi Sosial antara Mahasiswa S1 yang Mengikuti dan
Tidak Mengikuti Organisasi Kemahasiswaan di Fakultas Pendidikan Universitas Semarang Tahun
Akademik 2004/2005, ( Semarang: Universitas Negeri Semarang,2005)
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Tempat dan Waktu Penelitian
1. Tempat Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada Rumah Singgah Master Yayasan
Bina Insan Mandiri yang terletak di Jalan Margonda Raya No.58
Kelurahan Depok Kecamatan Pancoran Mas Terminal Kota Depok.
2. Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan proses bertahap yaitu mulai
dari tahap perencanaan, persiapan penelitian yang dilanjutkan dengan
pengumpulan data lapangan sebagai kegiatan inti penelitian dan
diakhiri dengan laporan penelitian
Tabel 3.1 : Rancangan Kegiatan
No
Bulan dan Tahun
Kegiatan
1
Desember 2013
Pengajuan Judul Skripsi
2
Januari-Februari 2014
Proposal Skripsi
3
Maret-Mei
Bimbingan Skripsi bab 1-3
4
Juli 2014
Bimbingan bab 3
5
Agustus 2014
Observasi tempat penelitian
6
Oktober-November
Penelitian
2014
7
Desember 2014
Uji Referensi
B. Populasi dan Sampel Penelitian
Menurut Sugiyono “Populasi adalah wilayah generalisasi yang
terdiri atas obyek atau subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik
tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian
50
51
ditarik kesimpulannya”.1 Adapun populasi dari penelitian ini adalah
seluruh anak jalanan yang berada di Rumah Singgah Master Yayasan Bina
Insan Mandiri Depok berjumlah 85 anak jalanan.
Sugiyono menambahkan bahwa, “sampel adalah bagian dari
jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi”.2 Berdasarkan
karakteristik yang telah dijelaskan maka pemilihan sampel dilakukan
dengan teknik snowball sampling. Dan sampel yang digunakan dalam
penelitian ini adalah 10 orang anak jalanan dengan kriteria kelas VI
Sekolah dasar.
C. Metode Penelitian
Metode pada dasarnya berarti cara yang dipergunakan untuk
mencapai tujuan. Oleh karena itu tujuan umum penelitian adalah untuk
memecahkan masalah maka langkah-langkah yang ditempuh harus
relevan dengan masalah yang telah dirumuskan. Menurut Hadari
Nawawi,“metode penelitian memungkinkan ditemukannya kebenaran
yang objektif karena dibentengi oleh fakta-fakta sebagai bukti tentang
adanya sesuatu dan mengapa adanya demikian atau sebab adanya
demikian”.3
Dilihat dari tujuan penelitian ini, fokus penelitian ini adalah
mengamati, dan melihat bagaimana interaksi sosial pada anak jalanan
di
Rumah
Singgah
Master
maka
pendekatan
penelitian
ini
menggunakan penelitian kualitatif. Dengan pendekatan tersebut
diharapkan dapat diperoleh pemahaman dan penafsiaran yang
mendalam mengenai makna, kenyataan dan fakta yang relevan. Dalam
penelitian
1
ini
sasaran
yang
hendak
dicapai
adalah
Sugiyono,Metode Penelitian Pendidikan,(Bandung:Alfabeta,2012) h.297.
Sugiyono, Metode Penelitian Kualitatif Kuantitatif dan R&D, (Bandung:
Alfabeta,2012),cet,7.h.81
3
Hadari Nawawi, Metode Penelitian Bidang Sosial, ( Yogyakarta: Gajah Mada
University Press,1985) h.24-25
2
untuk
52
mendeskripsikan, memahami interaksi sosial anak jalanan di Rumah
Singgah Master.
Metode penelitian kualitatif menurut Sugioyono adalah
“metode yang digunakan untuk meneliti pada kondisi objek alamiah
(sebagai
lawannya
adalah
eksperimen)
melalui
pengamatan,
wawancara atau penelaahan dokumen”.4 (sebagai lawannya adalah
eksperimen) dimana peneliti adalah sebagai instrument kunci,
pengambilan sampel sumber data dilakukan secara purpose dan
snowball, teknik pengumpulan dengan triangulasi (gabungan), analisis
data bersifat induktif/kualitatif, dan hasil penelitian kualitatif lebih
menekankan makna dari pada generalisasi.5
Sedangkan Menurut Kirk dan Miller dalam Buku Basrowi
mendefinisikan bahwa “Penelitian kualitatif adalah tradisi tertentu
dalam ilmu pengetahuan sosial yang secara fundamental bergantung
pada pengamatan pada manusia dalam kawasannya sendiri dan
berhubungan dengan orang-orang tersebut dalam bahasa dan
perisitilahannya”.6 Oleh sebab itu, berdasarkan pada kajian teori dan
kerangka berfikir telah dipaparkan didepan, untuk mendapatkan data
yang akan mengungkapkan dan menjelaskan permasalahan maka jenis
penelitian yang dianggap tepat adalah penelitian kualitatif. Pendekatan
dalam penelitian ini menggunakan metode studi kasus. Studi Kasus
tentang Bagaimana Interaksi Sosial Anak Jalanan terhadap sesama
Anak Jalanan, Anak Jalanan dengan Tutor dan Anak Jalanan dengan
Masyarakat yang terjadi di Rumah Singgah Yayasan Bina Insan
Mandiri Depok.
4
Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R & D
( Bandung : Alfabeta,2010), cet X.h.15
5
Ibid, h.15.
6
Basrowi, Memahami Penelitian Kualittaif (Jakarta: Rineka Cipta,2008) h.21
53
D. Prosedur Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini menurut Beni Ahmad Saebani dan Kadan
Nurjaman bahwa “pengumpulan data tidak dipandu oleh teori, tetapi
dipandu oleh fakta-fakta yang ditemukan pada saat penelitian
dilapangan,oleh karena itu analisis data yang dilakukan bersifat
induktif berdasarkan fakta-fakta yang ditemukan kemudian dapat
dikonstruksikan menjadi hipotesis atau teori”.7 Data merupakan sebuah
hal yang sangat penting dan menjadi dasar keabsahan atau kevalidan
dan kekuatan dalam penelitian. Data merupakan bahan yang belum
diolah atau dapat disebut juga bahan mentah yang berkaitan dengan
fakta. Sumber dan jenis-jenis data terbagi menjadi:
a. Data primer
Sumber data primer adalah sumber yang memberikan data
langsung dari sumber utama dalam penelitian ini. Adapun yang
dimaksud dengan sumber data primer adalah kepala rumah singgah
dan guru/tutor yang aktif membina Interaksi sosial anak-anak
jalanan di Rumah Singgah Master Yayasan Bina Insan Mandiri
(YABIM).
b. Data sekunder
Sumber data sekunder adalah sumber data pendukung atau
penunjang dalam penelitian ini. Adapun sebagai data penunjang
peneliti adalah dokumen atau catatan dan foto dokumentasi
kegiatan di Rumah Singgah Master Yayasan Bina Insan Mandiri
(YABIM), serta studi literatur yang berkaitan dengan penelitian.
Kedua jenis data yang didapat yakni data primer dan data
sekunder dikumpulkan dengan teknik pengumpulan data yang
terencana namun hanya berbeda dalam sumber data saja.
Pengumpulan data merupakan cara yang digunkan untuk
mendapatkan data yang diperlukan sesuai dengan rumusan
7
Beni Ahmad Saebani Dan Kadar Nurjaman, Manajemen Penelitian ,( Bandung: Penerbit
CV. Pustaka Setia,2013), h.148
54
masalah. Dalam pengumpulan data yang sangat dibutuhkan
Jamiluddin Ritonga,” untuk mendapatkan hasil penelitian yang
akurat, pengumpulan data juga harus mengikuti prosedur yang
dituntut oleh setiap metode penelitian yang sangat relevan”.8
E. Teknik Pengumpulan Data
Teknik merupakan alat bantu atau cara yang digunakan untuk
mendapatkan informasi data. Adapun teknik pengumpulan data yang
digunakan adalah sebagai berikut:
a. Observasi
Langkah
pertama
yang
dilakukan
dalam
penelitian
kualitatif ini adalah observasi atau pengamatan, langkah ini
digunakan demi melengkapi data dengan cara terjun langsung ke
rumah singgah master dan mengamati kegiatan interaksi sosial
anak-anak jalanan tersebut. Menurut Husaini dan Purnomo
“observasi adalah pengamatan dan pencatatan yang sistematis
terhadap gejala-gejala yang diteliti”.9
Maksud dari observasi ini adalah mencari data yang valid
yang hendak diteliti di lokasi penelitian yang melihat bagaimana
bentuk interaksi sosial anak-anak jalanan di rumah singgah
tersebut.
Pengumpulan data dengan menggunakan observasi ini
merupakan langkah awal dari dua teknik pengumpulan data
selanjutnya dalam penelitian ini. Hubungan antara ketiganya
diperlukan dalam proses pemeriksaan atau pengecekan keabsahan
data. Karena kevalidan data dan keajegan data yang didapatkan
dari lapangan sangat ditentukan oleh ketiga teknik pengumpulan
data ini.
8
Jamiludin Ritonga, Riset Kehumasan,( Jakarta: PT. Gramedia Grasindo,2004),h.39.
Husaini Usman dan Purnomo, Metodologi Penelitian Sosial,( Jakarta: PT. Bumi Aksara,
2000),h.54
9
55
b. Wawancara
Setelah proses studi observasi selesai, maka langkah
selanjutnya adalah kegiatan wawancara. Menurut Sugiyono
“metode wawancara adalah metode yang dilakukan melalui dialog
secara langsung antara pewawancara dengan terwawancara untuk
memperoleh data atau informasi yang dibutuhkan”.10
Pandangan lainnya yang sangat mendukung ialah pendapat
dari M. Nazir “yang dimaksud dengan wawancara adalah proses
memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara Tanya
jawab, sambil bertatap muka antarasi penanya atau pewawancara
dengan responden dengan situasi dan fenomena yang terjadi,
menggunakan alat yang dinamakan interview guide (panduan
wawancara)”.11
Hal ini menandakan dengan wawancara, peneliti akan
mengetahui hal-hal yang lebih mendalam tentang narasumber
dalam menginterpretasikan situasi dan fenomena yang terjadi,
dalam hal ini tidak bisa ditemukan melalui observasi. Keuntungan
melakukan wawancara adalah kita dapat melakukannya pada setiap
individu tanpa dibatasi oleh faktor usia atau kemampuan baca yang
sesuai dengan tujuan penelitian, wawancara juga dapat dilakukan
langsung dengan orang yang kita duga mengetahui permasalahan
yang
sedang
diteliti
dan
dengan
wawancara
kita
dapat
memperbaiki hasil yang diperoleh melalui pengamatan atau
penyebaran kuisioner yang tidak dimengerti responden.
Kegiatan wawancara ini bertujuan untuk mengetahui
interaksi sosial anak jalanan di Rumah Singgah Master.
Wawancara ini dilakukan kepada pendiri Yayasan Bina Insan
Mandiri Depok untuk mengetahui profil Rumah Singgah Master
Yayasan Bina Insan Mandiri serta pengelolan dan perhatian
10
11
Sugiyono,op.cit.,h.231
M. Nazir, Metodologi Penelitian,( Jakarta: Ghalia Indonesia,1985),h. 194
56
terhadap hubungan sosial anak-anak jalanan dirumah Singgah ini,
Dua orang guru atau tutor rumah singgah, sepuluh orang anak
jalanan dan dua orang masyarakat yang berada disekitar rumah
singgah.
c. Dokumentasi
Langkah terakhir yang dilakukan peneliti adalah akan
melakukan pengumpulan data dengan metode dokumentasi
mengenai interaksi sosial anak jalanan di Rumah Singgah Master.
Dalam kamus Besar Bahasa Indonesia, dokumentasi adalah
“pemberian atau pengumpulan bukti dan keterangan (seperti:
gambar, kutipan, guntingan koran dan bahasa referensi lain)”.12
Pedoman wawancara yang digunakan untuk mengingatkan
interview mengenai aspek-aspek apa yang harus dibahas, juga
menjadi daftar pengecek apakah aspek-aspek tersebut telah dibahas
atau belum. Dengan pedoman demikian interviewer harus
memikirkan bagaimana pertanyaan tersebut akan dijabarkan secara
konkrit.
F. Instrumen Penelitian
Instrumen atau alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah
wawancara dan observasi. Wawancara dan observasi dilaksanakan
terhadap beberapa pihak Kepala Yayasan Bina Insan Mandiri, Kepala
Rumah Singgah, Tutor, Anak-anak Jalanan dan masyrakat Sekitar
Rumah Singgah tersebut. Kisi-kisi wawancara yang akan dilakukan
disusun dan dikembangkan sebagaimana dituliskan didalam tabel
dibawah ini:
12
Tim Penyusun (Dendy Sugono,dkk.), Kamus Besar Bahasa Indonesia,(Jakarta: Pusat
Bahasa,2008),h.361
57
Tabel 3.2
Kisi-Kisi Instrumen Wawancara
Kepala Rumah Singgah Master Yayasan Bina Insan Mandiri
No
Indikator
No. Item
Jumlah
Item
1
Mengelola Rumah Singgah
2, 3, 4, 5, 6
5
1, 10, 11, 12
4
7, 8, 9
3
13,14
2
Master Yayasan Bina Insan
Mandiri
2
Pemaparan Rumah Singgah
Master Yayasan Bina Insan
Mandiri
3
Mitra Kerja Sama Rumah
Singgah Master Yayasan Bina
Insan Mandiri
4
Aturan yang berlaku di Rumah
Singgah Master
Tabel 3.3
Kisi-Kisi Instrumen Wawancara
Tutor Di Rumah Singgah Yayasan Bina Insan Mandiri Depok
No
1
Indikator
Aturan Yang Berlaku Di
Nomor
Jumlah
Item
Item
4,8
2
1,3,5,7
4
Rumah Singgah
2
Bentuk Interaksi Sosial
Anak Jalanan
58
3
Program Kegiatan Untuk
6,2
2
Anak Jalanan Di Rumah
Singgah
Tabel 3.4
Kisi-Kisi Instrumen Wawancara
Anak Jalanan Di Rumah Singgah Yayasan Bina Insan Mandiri
Depok
No Indikator
Nomor Item
Jumlah
Item
1
Lama Di Jalan
2
1
2
Hubungan dengan Orang Tua
4,5
2
3
Pendidikan
1, 3,6
3
4
Hubungan Dengan OrangLain (
7,9,10
3
8,11,12
3
Sesama anak jalanan, Tutor dan
Masyarakat).
5
Tanggung Jawab
Tabel 3.5
Kisi-kisi Instrumen Wawancara
Masyarakat Di Sekitar Rumah Singgah Master Yayasan Bina Insan Mandiri
Depok
No
Indikator
Nomor Item
Jumlah
Item
1
Perilaku Anak Jalanan
1,5
2
2
Hubungan anak jalanan dengan
2
1
3,4
2
masyarakat
3
Kerja sama masyarakat
59
G. Teknik Pengolahan dan Analisis Data
Setelah semua data yang diinginkan diperoleh, langkah
selanjutnya menggunakan data itu untuk penelitian. Data kemudian
ditelaah dan dianalisis, atau lebih dikenal dengan istilah analisis data.
Analisis data menurut Suharismi Arikunto adalah “cara mengolah data
yang telah terkumpul untuk kemudian dapat memberikan interpretasi
dan pengelolaan. Data ini digunakan untuk menjawab masalah yang
telah dirumuskan”.13
Analisis data bertujuan untuk menyusun data dengan cara
yang bermakna sehingga dapat dipahami. Penganalisaan data
merupakan suatu proses yang dimulai sejak pengumpulan data
dilapangan, kemudian data yang terkumpul diperiksa kembali dan
diklasifikasikan sehingga dapat diolah untuk dianalisis. Data yang
dianalisis berdasarkan analisis logika induktif yakni analisis yang
bergerak dari hal-hal yang khusus atau spesifik ke hal-hal yang bersifat
umum. Adapun teknik analisis data yang peneliti gunakan adalah:
a. Data Reduction ( Reduksi Data)
Mereduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal yang
pokok, memfokuskan pada hal-hal penting serta dicari tema dan
polanya. Dengan demikian, data yang direduksi akan memberikan
gambaran yang lebih jelas dan mempermudah peneliti untuk
melakukan pengumpulan data selanjutnya jika diperlukan. Proses
reduksi data dalam penelitian ini adalah merangkum hasil
observasi, wawancara, dan dokumentasi sesuai dengan rumusan
masalah, fokus penelitian dan pertanyaan penelitian. Selama ,
maka akan proses tersebut berlangsung, peneliti menentukan hal
pokok untuk disajikan. Melalui proses reduksi data, maka akan
memperlihatkan sebuah data yang jelas dan terperinci.
13
Suharismi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, ( Jakarta” Rineke
Cipta) cet.13 h.231
60
b. Data Display ( penyajian data)
Setelah data direduksi, maka langkah selanjutnya adalah
mendisplaykan data. Dalam penelitian kualitatif, penyajian data
dapat dilakukan dalam bentuk uraian singkat, bagan, hubungan
antar kategori, flowchart, matriks dan sejenisnya agar mudah
dipahami.
1. Conclusion Drawing Atau Verification (verifikasi)
Langkah ketiga dalam penelitian kualitatif adalah
penarikan kesimpulan. Kesimpulan awal yang dikemukakan
masih bersifat sementara dan akan berubah bila tidak
ditemukan bukti-bukti yang kuat untuk mendukung pada tahp
pengumpulan data berikutnya. Tetapi menurut
Ulber
Silalahi,”apabila kesimpulan yang dikemukakan pada tahap
awal didukung oleh bukti-bukti yang valid dan konsisten
selama
pengumpulan
data,
maka
kesimpulan
yang
dikemukakan merupakan kesimpulan kredibel”.14
Penarikan kesimpulan pada tahap akhir analisis data
penelitian Interaksi Sosial Anak Jalanan Di Rumah Singgah
Master Yayasan Bina Insan Mandiri Depok ini telah melalui
dua proses sebelumnya sehingga kesimpulan tersebut dapat
menjawab rumusan masalah penelitian.
H. Pengecekan Keabsahan Data
Keabsahan
data
dimaksud
untuk
memperoleh
tingkat
kepercayaan yang berkaitan dengan seberapa jauh kebenaran hasil
penelitian, mengungkapkan dan memperjelas data dengan fakta-fakta
aktual di lapangan. Dalam penelitian ini, untuk memperoleh data yang
terpercaya dan valid, menurut Sugiyono ada empat kriteria utama
menjamin keabsahan data meliputi “credibility (validitas internal),
14
Ulber Silalahi, Metode Penelitian Sosial,(Bandung: Unpar Press,2006).h.311.
61
transferability (validitas eksternal), dependability (reliabilitas), dan
confirmability (obyektivitas)”.15
1. Credibility (Validitas internal)
Menurut Nasution yang dikutip oleh said hudri dalam
melakukan penelitian ini, untuk mencapai validitas internal
(kredibilitas) dapat dilakukan dengan cara “memperpanjang masa
observasi, melakukan pengamatan terus menerus, trianggulasi data,
membicarakan dengan orang lain (peer debriefing), menganalisis
kasus negatif, menggunakan bahan referensi, dan mengadakan
member check”.16
a. Memperpanjang Masa Observasi
Adalah usaha peneliti memperpanjang keikutsertaan
dalam melibatkan diri kegiatan anak-anak jalanan di Rumah
Singgah Master. Setelah peneliti memperoleh banyak info
tentang data yang diperlukan selama waktu penelitian, maka
peneliti akan menambah waktu keterlibatan peneliti dalam
proses kehidupan keseharian sampai dinyatakan bahwa data
yang telah diperoleh dirasa dapat dipertanggung jawabkan.
b. Melakukan Pengamatan Terus Menerus
Dengan pengamatan terus menerus, peneliti akan dapat
memperhatikan sesuatu dengan lebih cermat, terinci dan
mendalam. Pengamatan yang terus menerus, akhirnya akan
dapat menemukan mana yang perlu diamati dan mana yang
tidak perlu untuk diamati sejalan dengan usaha pemerolehan
15
Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan Kuantitatif, Kualitatif dan R&D, (Bandung:
Alfabeta,2008), cet IV, h.366
16
Hudri, Said. “Keabsahan Data Instrumen Penelitian”,
http://expresisastra.blogspot.com/2013/11/keabsahan-data-instrumen-penelitian.html, 05 Oktober
2014
62
data. Pengamatan secara terus menerus dilakukan untuk dapat
menjawab pertanyaan penelitian tentang fokus yang diajukan.
c. Trianggulasi Data
Menurut Lexy J Moleong, Trianggulasi adalah “teknik
pemeriksaan keabsahan data memanfaatkan sesuatu yang lain
di luar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai
pembanding terhadap data tersebut. Teknik triangulasi yang
paling banyak digunakan ialah pemeriksaan melalui sumber
lainnya”.17
Tujuan
trianggulasi
data
dilakukan
dalam
penelitian ini adalah untuk mengecek kebenaran data dengan
membandingkan data yang diperoleh dari sumber lain, pada
berbagai fase penelitian di lapangan.
Trianggulasi data yang dilakukan dalam penelitian ini
adalah dengan sumber dan metode,18 artinya peneliti
membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan
informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda
dalam metode kualitatif. Trianggulasi data dengan sumber ini
antara lain dilakukan dengan cara membandingkan data yang
diperoleh dari hasil wawancara dengan informan dan key
informan. Trianggulasi data dilakukan dengan cara, pertama,
membandingkan
hasil
pengamatan
pertama
dengan
pengamatan berikutnya. Kedua, membandingkan data hasil
pengamatan dengan hasil wawancara. Membandingkan data
hasil wawancara pertama dengan hasil wawancara berikutnya.
Penekanan dari hasil perbandingan ini bukan masalah
kesamaan pendapat, pandangan, pikiran semata-mata. Tetapi
17
Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif (Bandung : Remaja Rosda Karya,
2002), h.178
18
Hudri, Said. “Keabsahan Data Instrumen Penelitian”,
http://expresisastra.blogspot.com/2013/11/keabsahan-data-instrumen-penelitian.html, 05 Oktober
2014
63
lebih penting lagi adalah bisa mengetahui alasan-alasan
terjadinya perbedaan.
d. Membicarakan Dengan Orang lain ((peer debriefing)
Membicarakan dengan orang lain dilakukan dengan
cara mendiskusikan hasil data dengan orang lain yang paham
dengan penelitian yang sedang dilakukan, sehingga peneliti
mendapat masukan dalam bentuk kritik, saran, arahan dan
lain-lain atas kekurangan yang mungkin terjadi dalam
melakukan penelitian.
e. Menganalisis Kasus Negatif
Menganalisis kasus negatif maksudnya adalah mencari
kebenaran dari suatu data yang dikatakan benar oleh suatu
sumber data tetapi ditolak oleh sumber yang lainnya.
f. Menggunakan Bahan Referensi
Menggunakan bahan referensi sebagai pembanding
dan untuk mempertajam analisa data. Hal ini sangat
diperlukan oleh peneliti sebagai bahan pendukung dalam
melakukan penelitian.
g. Mengadakan Member Check
Tujuan mengadakan member check adalah agar
informasi yang telah diperoleh dan yang akan digunakan
dalam penulisan laporan dapat sesuai dengan apa yang
dimaksud oleh informan, dan key informan. Untuk itu dalam
penelitian ini member check dilakukan setiap akhir wawancara
dengan cara mengulangi secara garis besar jawaban atau
pandangan sebagai data berdasarkan catatan peneliti tentang
apa yang telah dikatakan oleh responden. Tujuan ini dilakukan
adalah agar responden dapat memperbaiki apa yang tidak
sesuai menurut mereka, mengurangi atau menambahkan apa
yang masih kurang. Member check dalam penelitian ini
64
dilakukan selama penelitian berlangsung sewaktu wawancara
secara formal maupun informal berjalan.
2. Transferability (validitas eksternal)
Tranferabilitas atau keteralihan dalam penelitian kualitatif
dapat dicapai dengan cara uraian rinci. Untuk kepentingan ini
peneliti berusaha melaporkan hasil penelitiannya secara rinci.
Uraian laporan diusahakan dapat mengungkapkan secara khusus
segala sesuatu yang diperlukan oleh pembaca, agar para pembaca
dapat memahami temuan-temuan yang diperoleh. Penemuan itu
sendiri bukan bagian dari uraian rinci melainkan penafsirannya
diuraikan secara rinci dengan penuh tanggung jawab berdasarkan
kejadian-kejadian nyata.
3. Dependability (reliabilitas)
Dependabilitas atau reliabilitas instrumen adalah indeks
yang menunjukkan sejauh mana alat pengukur dapat dipercaya
atau dapat diandalkan. Reliabilitas menunjukkan sejauh mana
hasil pengukuran tetap konsisten bila dilakukan ulang terhadap
gejala yang sama dengan alat pengukur yang sama. Untuk dapat
mencapai tingkat reliabilitas dalam penelitian ini, maka dilakukan
dengan tekhnik ulang atau check recheck.
4. Confirmability (obyektivitas)
Dalam penelitian kualitatif, uji confirmability mirip
dengan uji dependability sehingga dalam penelitian ini dilakukan
bersama-sama
Perbedaannya,
pengauditan
konfirmabilitas
digunakan untuk menilai hasil (product) penelitian, sedangkan
pengauditan dependabilitas digunakan untuk menilai proses
(process) yang dilalui peneliti dilapangan.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Deskripsi Data
1. Gambaram Umum Rumah Singgah Master Yayasan Bina Insan
Mandiri
Rumah singgah Master merupakan lembaga non formal yang
memberikan naungan dan menjadi fasilitator bagi para anak jalanan dan
orang-orang yang tidak mampu untuk diberi penghidupan dan pendidikan
yang lebih baik. Rumah singgah adalah suatu wahana yang dipersiapkan
sebagi perantara anak jalanan dengan pihak-pihak yang akan membantu
mereka.
Rumah Singgah Master berada di bawah naungan Yayasan Bina Insan
Mandiri dengan alamat di Jalan Margonda Raya No.58 Kelurahan Depok
Kecamatan Pancoran Mas Terminal Terpada Kota Depok. Lembaga ini
memanfaatkan sebagian tempat di Masjid Terminal untuk kegiatan
belajar mengajar dan menampung anak jalanan, maka lembaga ini
lebih dikenal dengan sebutan Sekolah Master ( Mesjid Terminal).
Master inilah yang menjadi cikal bakal Rumah Singgah Bina Insan
Mandiri.
Rumah Singgah Master Yayasan Bina Insan Mandiri ini berdiri di
atas lahan sebesar 6000 meter persegi dan saat ini sedang dalam proses
pembangunan. Tanah ini merupakan tanah hibah dan wakaf dari
masyarakat sekitar dan donator yang diamanahkan kepada Rumah
Singgah Bina Insan Mandiri untuk dikelolanya.
Rumah singgah ini berdiri pada tanggal 28 Oktober 2000 yang
bertepatan dengan tanggal sumpah pemuda, karena melalui ide dan
pemikiran bapak Nurrohim selaku pendiri dan para aktivis, remaja,
mahasiswa yang peduli dan prihatin terhadap keadaam anak jalanan
yang terlantar. Maka dengan modal yang dimiliki, beliau mendirikan
65
66
sebuah rumah singgah yang menampung anak-anak jalanan dan
memberikan pendidikan dan keterampilan kepada mereka.
Rumah singgah ini merupakan sekolah yang didirikan khusus
untuk anak-anak jalanan atau orang-orang marginal. Mereka yang
mendaftar masuk ke sekolah ini adalah anak jalanan, seperti pedagang
asongan, pemulung, pengamen, serta anak-anak kaum dhuafa dan
yatim. Setiap siswa dan siswi yang masuk ke sekolah ini tidak
dipungut biaya atau gratis.
Rumah Singgah Master Yayasan Bina Insan Mandiri berdiri karena
bentuk keprihatinan terhadap pendidikan terutama kaum miskin dan
anak-anak jalanan. Berawal dari emperan mesjid, Berangkat dari
sebuah keyakinan dimana masih banyak orang bingung untuk
bersekolah dan banyak pula yang putus sekolah, jadi pendidikan ini
belum merata, belum bisa dijangkau, belum bisa diakses oleh semua
anak-anak. Wujud keprihatinan tersebut kehadiran master ini
bagaimana melayani yang tidak terlayani, menjangkau yang tidak
terjangkau. Nurrohim yang berlaku sebagai arsitek dari berdirinya
Sekolah Master, ia melihat banyak anak- anak usia sekolah yang tidak
sekolah dan hidup di jalanan. Padahal mereka mempunyai hak yang
sama untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Keprihatinan
Nurrohim sendiri tidak terlepas dari latar belakang kehidupannya yang
tidak jauh berbeda dengan anak jalanan. Ia pernah tumbuh di
lingkungan pasar akibat korban perceraian orang tuanya. Setelah
mereka bercerai ia dimasukkan ke Pesantren oleh kakek neneknya
untuk menyelamatkan masa depannya.
Keprihatinannya bertambah ketika anak-anak jalanan yang dia
temui tidak dididik, tidak diarahkan ke bangku sekolah, sehingga bisa
dibayangkan masa depan anak tersebut akan terus suram. Banyak anak
miskin dan anak jalanan yang menjadi korban seks bebas, perdagangan
anak, kekerasan anak dan korban eksploitasi. Itu tidak terlepas dari
kurangnya pendidikan yang diberikan.
67
Dari pengalaman pribadinya yang tumbuh di jalanan, Nurohim
ingin berbagi. Ia sadar bahwa pendidikan itu memiliki arti cukup besar,
punya andil dalam masa depan anak-anak. Bahkan pendidikan dapat
memutus mata rantai kemiskinan. Pendidikan harus dikedepankan
diantara yang lainnya mulai dari lingkungan keluarga atau rumah
tangga sampai tingkatan negara.
Jika di lingkungan
keluarga,
perhatian pendidikannya cukup bagus
maka anak-anak akan terlindungi dan masa depannya juga lebih bagus.
Anak-anak adalah calon penerus generasi bangsa, merekalah yang akan
melanjutkan kepemimpinan masa depan. Untuk itu, Nurohim bercita-cita
setiap anak-anak harus tumbuh jadi orang hebat, pendidikannya harus bagus.
Tidak boleh pendidikan itu terputus
hanya sampai SD atau SMP.
Diharapkan, kehadiran Sekolah Master menjadi jembatan bagi anak-anak
putus sekolah untuk melanjutkan sekolahnya.
Dengan motivasi yang kuat untuk membentuk masyarakat yang cerdas,
mandiri, kreatif dan berbudi pekerti yang luhur PKBM Bina Insan Mandiri
memberikan pendidikan gratis bagi para dhu'afa melalui pendidikan
kesetaraan. Kehadiran PKBM Bina Insan Mandiri telah menyelamatkan
pendidikan
siswa-siswi
yang
terancam
tidak
dapat
melanjutkan
pendidikannya.dasar dan menengah.
Suasana belajar di Sekolah Masjid Terminal sangat berbeda dengan
sekolah umum lainnya. Sekolah Masjid Terminal atau yang lebih dikenal
dengan singkatan Master ini adalah sekolah gratis yang memang
diperuntukkan bagi anak-anak dari keluarga dhuafa. Tak heran banyak anakanak yang bersekolah adalah anak-anak jalanan atau anak-anak terminal yang
sering kali sulit diatur. Sekolah Masjid Terminal Depok atau yang bernama
resmi Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Depok ini mengajarkan
program Paket A, paket B dan Paket C mulai dari TK, SD, SMP dan SMA,
serta berbagai kursus secara gratis kepada masyarakat.
Mengingat perkembangan sekolah master yang semakin pesat, akhirnya
pada tahun 2006 diresmikanlah Yayasan Bina Insan Mandiri (YABIM)
sebagai lembaga yang menaungi sekolah Master. Dimana Pada awalnya
Nurrohim hanya berfikir yang terpenting adalah kaum marginal ini
68
mendapatkan layanan pendidikan, akan tetapi sekarang harus melegalkan
kegiatan-kegiatannya karena jika ingin bekerja sama dengan lembaga
pemerintahan atau perusahaan, maka harus mengikuti ujian nasional sehingga
sekarang harus berfikir realistis untuk menyelamatkan warga belajar agar
dapat memperoleh ijazah.
Rumah Singgah Bina Insan Mandiri adalah rumah singgah yang
indepen dan bergerak pada bidang pendidikan, sosial, ekonomi
kerakyatan, dakwah serta pemberdayaan sosial bagi anak-anak jalanan
dan kaum dhu’afa yang terletak strategis di kawasan kota Depok.
Rumah Singgah ini bernaung pada sebuah Yayasan yang bernama,
Yayasan Bina Insan Mandiri. Secara letak geografis Rumah Singgah
ini beralamat di Jalan Margonda Raya NO.58 Kelurahan Depok
Kecamatan Pancoran Mas Terminal Terpadu Kota Depok Kode Pos
16431 Jawa Barat. Dengan No. Telp/HP : (021) 7721 1501/ 02192612047. Yayasan ini dilegalkan oleh seorang akta notaries dengan
nama Priharyanto S.H, No: 2 Tanggal 2 Februari 2005.1
2. Visi dan Misi Rumah Singgah Bina Insan Mandiri Depok
a. Visi Rumah Singgah Bina Insan Mandiri
“ Mewujudkan Masyarakat Cerdas Mandiri Kreatif dan Berbudi
Pekerti Luhur”
b. Misi Rumah Singgah Bina Insan Mandiri
1) Menyiapkan
masyarakat
yang mandiri,
handal
melalui
keterampilan tepat guna dan berhasil guna berdasarkan nilainilai kemandirian dan kemanusiaan.
2) Menyelenggarakan pendidikan gratis dan berkualitas sehingga
meningkatkan
kualitas
Sumber
Daya
pendukung kemandirian.
1
Profil Rumah Singgah Yayasan Bina Insan Mandiri Depok
Manusia
sebagai
69
3. Keadaan Guru dan Siswa
a. Keadan Guru
Menurut Pendiri Yayasan Bina Insan Mandiri “Jumlah tutor
dan relawan yang terdaftar di Rumah Singgah Master Yayasan
Bina Insan Mandiri ini berjumlah 200 Orang yang terdiri dari 120
orang relawan yang aktif. Dari 120 orang relawan yang aktif ini
kemudian terbagi kepada relawan sosial, relawan pendidikan,
relawan advokasi dan relawan lainnya”.2
Adapun relawan pendidikan yang memberikan pengajaran
dan pembinaan di Rumah Singgah Bina Insan Mandiri ini pada
tahun ajaran 2014/2015 terdiri dari 34 orang tutor tetap dan 18
orang relawan.
Tabel 4.1
Jumlah Tutor Tetap dan Relawan di Rumah Singgah Bina
Insan Mandiri
No
Status
Laki- Perempuan Jumlah Persentase
Laki
1
Tutor
17
17
34
70%
Tetap
2 Relawan
5
13
18
30%
22
30
52
100%
Jumlah
Adapun klasifikasi guru secara keseluruhan berjumlah 52
orang guru yang terdiri dari 22 orang guru laki-laki dan 30
orang guru perempuan. Pendidikan terakhir Strata 2 (S2) 1
orang, Strata 1 (S1) 33 orang, Pendidikan Diploma 3 (D3) 6
orang, Pendidikan Diploma 1 (D1) 1 orang dan pendidikan
terakhir SMA 11 orang.
2
Hasil Wawancara Dengan Nurrohim, Pendiri Yayasan Bina Insan Mandiri, Depok, 24
November 2014
70
Tabel 4.2
Tingkat Pendidikan Terakhir Tutor Rumah Singgah
Bina Insan Mandiri
No
Tingkat Pendidikan Jumlah
Terakhir
1
S2
1
2
S1
33
3
D1
1
4
D3
6
5
SMA
11
52
Jumlah
Persentase
2%
63%
2%
12%
21%
100%
Dari data yang diperoleh pengajar yang berada di Rumah
Singgah Bina Insan Mandiri ini masih berstatus mahasiswa dari
berbagai perguruan tinggi dan ada juga yang memang sudah
sarjana. Dengan visi dan misi rumah singgah, bagi pekerja
sosial di Rumah Singgah status akademis tidak menjadi
pembeda diantara mereka yang terpenting adalah tim kerja
yang solid dan dedikasi yang tinggi untuk bersama mengabdi
dan mengembangkan keterampilan dan pendidikan pada anakanak yang berada di Rumah Singgah Bina Insan Mandiri.
Terdapat tiga kategori staf pengajar di Yayasan Bina Insan
Mandiri ini.3
a. Guru Karir
Guru karir merupakan guru yang di ajak langsung
oleh Rumah Singgah Bina Mandiri untuk mengajar di
Rumah Singgah Bina Insan Mandiri. Pada umumnya
guru karir ini adalah lulusan dengan gelar S.Pd (Sarjana
Pendidikan). Mereka tidak dibayar tetapi Rumah
Singgah Bina Insan Mandiri memberikan kompensasi
sebagai uang transportasi mereka menuju Rumah
3
Tim penyusun proposal YABIM, Proposal Yayasan Bina Insan Mandiri, (Depok: Yayasan
Bina Insan Mandiri, 2012)
71
Singgah Bina Insan Mandiri.Pemberian uang jalan ini
diberikan setelah mereka selesai mengajar. Jika pada
hari tersebut terdapat lebih dari pertemuan, maka
mereka akan dibayar sesuai kelipatan pertemuan
mereka.
b. Alumni
Banyak para alumni yang berasal dari Rumah
Singgah Bina Insan Mandiri yang menjadi staff
pengajar seelah mereka mendapatkan ijazah kelulusan
mereka. Pengabdian ini didasarkan pada keinginan
mereka untuk
balas budi dan bentuk ucapan terima
kasih kepada pihak Rumah Singgah Bina Insan Mandiri
yang selama ini telah membasarkannya. Bahkan ada
alumni dari Rumah Singgah Bina Insan Mandiri yang
masuk universitas Indonesia yang menjadi relawan
untuk mengajar disana setelah mereka selesai kuliah.
c. Guru Tamu
Guru tamu merupakan staff pengajar yang berasal
dari kerjasama program magang antara Rumah Singgah
Bina Insan Mandiri dengan berbagai universitas di
Jabodetabek. Jumlahnya sangat banyak dan berganti
setiap bulannya. Banyak dari mereka mencari data
untuk skripsi ataupun praktek mengajar, bagi mereka
nantinya ingin berkarir sebagai seorang guru.Dalam
merekrut tenaga pengajar disini tidak ada pedoman
yang menunjukan kriteria standar minimal kualifikasi
pengetahuan, pengalaman serta keterampilan seseorang
untuk mengelola atau pekerja sosial di suatu rumah
singgah.
Kepala
Yayasan
Bina
Insan
Mandiri
72
mengemukakan bahwa Syarat untuk mengajar disini
harus sudah lulus S3 (Sangat Sabar Sekali).4
Rumah Bina Insan Mandiri sangat membuka kesempatan bagi
mereka yang ingin mengabdikan dirinya sebagai seorang pengajar
yang rela tanpa dibayar, ataupun bagi mereka yang ingin melakukan
penelitian guna menyelesaikan tugas akhir skripsi ataupun tesis.Untuk
menjadi seorang guru di Rumah Singgah Bina Insan Mandiri sangat
mudah tanpa perlu birokrasi yang panjang. Cukup datang dan mengisi
lembar guru dan bisa langsung mengajar sesuai dengan tingkat
pendidikan dan kemampuan mereka dalam mengajar.
d. Kode Etik Tutor Sekolah Master Indonesia Yayasan
Bina Insan Mandiri Depok
1. Para tutor harus bersikap sopan dan berakhlakul
karimah.
2. Para
tutor
menjadi
motor
penggerak
shalat
berjamaah di masjid dan menjaga kebersihan
lingkungan Sekolah Master Indonesia
3. Para tutor berkewajiban menjaga nama baik Sekolah
Master Indonesia.
4. Para tutor yang diberi amanah sebagai koordinator,
sekeretaris, bendahara, kesiswaan, tutor piket, wali
kelas, diharapkan dapat mendedikasikan tanggung
jawab sesuai dengan deskripsi tugas.
5. Para tutor dilarang melakukan tindakan yang
melanggar norma agama, hukum, dan diskriminatif
terhadap warga belajar.
4
Hasil Wawancara dengan Nurrohim,, Pendiri Yayasan Bina Insan Mandiri,
Depok, 24 Nomvember 2014
73
6. Para tutor dilarang merokok dan berpacaran dengan
warga belajar selama berada di lingkungan Sekolah
Master Indonesia.
7. Para tutor hadir 15 menit sebelum kegiatan belajar
Sekolah Master Indonesia dimulai.
8. Para tutor berkewajiban masuk dan keluar pada jam
belajar yang telah disepakati lalu mengisi daftar
hadir.
9. Para
tutor
yang
tidak
dapat
hadir
dapat
memberitahukan kepada tutor piket atau koordinator
minimal satu hari sebelumnya.
10. Para tutor yang melanggar kode etik 1x akan
mendapat teguran dari sumber daya tutor dan jika
2x melanggar maka akan mendapat teguran dari
koordinator.
11. Para tutor harus mengedepankan kepentingan
lembaga di atas kepentingan pribadi atau keluarga
dengan dasar integritas, loyalitas dan kedaulatan
dengan niat berjuang karena Allah.
12. Para tutor yang masih aktif menjadi warga belajar di
Sekolah Master Indonesia diharapkan menjaga
kapasitasnya sebagai seorang tutor maupun warga
belajar.
13. Mekanisme sistem koordinasi atau komunikasi
Sekolah Master Indonesia adalah:
1) Perkembangan tutor di bawah tanggung
jawab sumber daya tutor dan apabila
ditindak lanjuti Sumber Daya Tutor akan
berkomunikasi dengan koordinator dalam
mencari solusi yang terbaik.
74
2) Pihak lembaga akan merespon dinamika
tutor atau warga belajar Sekolah Master
Indonesia berkoordinasi langsung dengan
pihak
terkait
untuk
memantau
dan
menindaklanjuti demi stabilitas Sekolah
Master Indonesia.
14. Para tutor dan koordinator yang kedatangan tamu
khusus dari wartawan, media cetak maupun
elektronik dengan keperluan meliput kegiatan
Sekolah Master Indonesia dapat terlebih dahulu
berkoordinasi dengan pihak Yayasan.
b. Keadaan Siswa
Hingga saat ini Yayasan Bina Insan Mandiri memiliki
sekitar 3000 (tiga ribu) peserta didik. Sekitar 300 (tiga ratus)
diantaranya anak jalanan yang berada di kota Depok dan
sekitarnya, 35 orang ABK (Anak Berkebutuhan Khusus) dan
sisanya adalah golongan masyarakat yang berada di bawah garis
kemiskinan.5 Sedangkan jumlah anak yang tinggal di rumah
singgah Master jumlahnya tidak menentu, dikarenakan banyaknya
anak yang kelauar masuk rumah singgah. Adapun data anak
jalanan binaan Yayasan Bina Insan Mandiri dapat dilihat
dilampiran.6
4. Kurikulum Pembelajaran
Untuk melaksanakan pembelajaran, Yayasan Bina Insan Mandiri
menggunakan kurikulum yang dikeluarkan oleh pemerintah yaitu
KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) sebagai salah satuan
acuan dalam melaksanakan pembelajaran. Akan tetapi, Para peserta
5
Hasil Wawancara Dengan Nurrohim, Pendiri Yayasan Bina Insan Mandiri,
Depok, 27 November 2014
6
Depok.
Dokumen lengkap tentang data Anjal PKSA Yayasan Bina Insan Mandiri
75
didik disini bukan hanya anak jalanan, tetapi juga anak-anak yang
belum bisa mengakses pendidikan, rata-rata mereka adalah golongan
masyarakat yang berada di bawah garis kemiskinan.
Penggunanaan kurikukulum disini disesuaikan dengan kebutuhan
masyarakat marginal yang kesulitan mengenyam pendidikan. Sehingga
Yayasan Bina Insan Mandiri harus terus mengembangkan kurikulum
dengan mengkombinasikan dengan hal-hal yang dibutuhkan anak oleh
anak-anak yang didik di sana. Jadi kurikulum yang digunakan oleh
Yayasan Bina Insan Mandiri adalah kurikulum berbasis kebutuhan.
Berkaitan dengan penggunaan kurikulum tersebut Nurrohim
mengungkapkan.“Kita memakai kurikulum perpaduan. Kurikulum
Sekolah Dasar Islam Terpadu ( SDIT), kurikulum Pondok Pesantren,
kurikulum kementrian sosial, International Labour Organitation
(ILO), dirangkum semua. Jadi bagaimana baiknya saja kita ambil. Dari
kementrian agama, kementrian sosial, kementrian pendidikan dan
budaya, kita ambil kisi-kisinya”.7
Kurikulum tersebut disusun berdasarkan kemampuan anak-anak
jalanan yang dibina di Yayasan Bina Insan Mandiri. Pada umumnya
mereka sekolah sambil bekerja, sehingga waktu belajar yang ada di
Yayasan Bina Insan Mandiri ini sangat disesuaikan dengan kebutuhan
para anak jalanan dan anak yang kuarang mampu.
Proses kegiatan belajar mengajar bersifat fleksibel, anak-anak yang
belajar pun tidak diwajibkan untuk memakai seragam.
Adapun jadwal belajar dari jenjang PAUD hingga SMA adalah
sebagai berikut:
7
Hasil Wawancara dengan Nurrohim, Pendiri Yayasan Bina Insan Mandiri,
Depok, 24 November 2014.
76
Tabel 4.3
Jadwal Belajar PKBM di Rumah Singgah Bina Insan Mandiri8
Jenjang
PAUD
SD
SMP
Jenjang
SMP
SMA
Jenjang
Paket B
Paket C
Jadwal Belajar Pagi
Hari
Waktu
Senin-Jum’at
08.00-11.00 WIB
Senin-Sabtu
08.00-12.00 WIB
Senin-Sabtu
08.00-12.30 WIB
Jadwal Belajar Siang
Hari
Waktu
Senin-Sabtu
13.00-17.00 WIB
Senin-Sabtu
15.00-17.00 WIB
Jadwal Belajar Malam
Hari
Waktu
Jum’at-Minggu
20.00-22.00 WIB
Jum’at-Minggu
20.00-22.00 WIB
5. Sarana dan Prasarana
Berdasarkan hasil observasi bahwa sarana prasarana Rumah Singgah
Master Yayasan Bina Insan Mandiri masih dalam tahap pengembangan ke
arah yang lebih baik. Penyediaan sarana prasarana dilakukan dengan
perencanaan kebutuhan yang melibatkan kepala rumah singgah dan
seluruh staff dan coordinator. Berkaitan dengan sarana dan prasarana
penunjang pembinaan anak jalanan di rumah singgah Master Yayasan
Bina Insan Mandiri, Nurrohim mengatakan”
“Yang unik dari sekolah ini adalah ruang-ruang kelas, kantor, dan
siswa yang masih semi permanen.Kebanyakan dari bangunan disini
dibuat dari papan, triplek, bahkan kontainer bekas.Kelasnya tidak
berupa sekat, tetapi semi terbuka. Sehingga sering kali perhatian
anak-anak teralihkan dengan warga yang berlalu lalang atau hal-hal
lain yang menarik perhatian mereka. Berbeda dengan sekolahsekolah kebanyakan, tidak ada kursi dan meja untuk belajar disini.
Yang ada hanya bangku-bangku panjang yang mereka gunakan
8
Dokumentasi Yayasan Bina Insan Mandiri (Yabim)
77
sebagai meja untuk menulis dan mereka duduk lesehan. Hal ini
dikarenakan begitu banyak siswa sedangkan ruangannya kecil, jadi
agar semuanya tertampung desain ruangan yang seperti itu lah
yang paling cocok. Hal ini pula lah yang menjadi alasan kenapa
ruangannya semi terbuka untuk menjaga sirkulasi dan kenyamanan
siswa. Disetiap ruangan kelas tergantung satu white board sebagai
sarana penunjang utama.”9
Dari pemaparan di atas bahwa bangunan di yayasan ini masih semi
permanen. Kebanyakan ruangan-ruangan disini yang menjadi kelas, kantor
dan tempat kegiatan siswa terbuat dari papan triplek. Dan yang unik dari
sekolah ini beberapa ruangan disini dibangun dari kontainer bekas, maka
dari itu Master terkenal dengan nama Sekolah Kontainer. Desain ruang
kelas disini dibangun semi terbuka.
Anak-anak belajar tidak
menggunakan meja dan kursi seperti sekolah lainnya, mereka duduk
lesehan dan menggunakan bangku-bangku panjang untuk menulis. Desain
seperti ini disesuaikan dengan banyaknya siswa dengan ruangan yang kecil
agar siswa dapat tertampung semua untuk belajar dan untuk menjaga
sirkulasi udara dan kenyamanan siswa. Terkait dengan fasilitas pendukung
yang tersedia di rumah singgah Master Yayasan Bina Insan Mandiri, agar
semua kegiatan berjalan dengan lancar, efektif dan efisien, maka
disediakan sarana dan prasarana sebagai fasilitas penunjang, antara lain:
Tabel 4.4
Sarana dan Prasarana Yayasan Bina Insan Mandiri
No
1
Jenis
Ruang Kelas
9
Jumlah Keterangan
Ruang kelas ini digunakan oleh anakanak asuh dalam menerima materi dari
tutor. Anak-anak yang belajar tidak
berseragam dan duduk dilantai dengan
15
sejumlah meja kecil untuk meletakkan
buku.
Ruang kelas tersebut ada yang terbuat
dari kontainer, ada juga yang berbentuk
Hasil Wawancara dengan Nurrohim, Pendiri Yayasan Bina Insan Mandiri,Depok,
24 November 2014
78
2
3
Ruang Guru
Perpustakaan
4
4
5
Ruang Tata Usaha
Ruang Lab-Skill
1
1
2
6
7
8
9
10
11
Lapangan Olahraga
Asrama Laki-Laki
Asrama Perempuan
Kamar mandi/WC
Masjid
Ruang Komputer
1
1
1
16
1
1
12
13
Ruang Kesehatan
Ambulance
2
1
saung dari papan dan triplek. Sebagian
berlantaikan ubin keramik dan papan,
beratapkan seng dan asbes.
Baik
Terdapat berbagai macam buku bacaan
dari tingkat TK, SD s/d SMA dan umum.
Baik
Ruang ini terletak dilantai 3 yang
dipergunakan untuk keterampilan sablon,
percetakan dan otomotif. Ruang ini
digunakan
untuk
latihan
praktek
keterampilan.
Baik
3 Ruang
2 Ruang
Baik
Baik
Di ruang komputer ini terdapat 10 unit
komputer yang dikhususkan untuk kursus
para siswa dan anak binaan.
Baik
Baik
79
6. Struktur Pengurus Rumah Singgah Master Yayasan Bina Insan
Mandiri
Tabel 4.5
Struktur Pengurus Rumah Singgah Master Yayasan Bina Insan Mandiri
Depok
Yayasan
Bina Insan Mandiri
Pendidikan
PKBM/Formal
Sosial Hukum
Kesehatan
Ekonomi
Paket A
DKPS
ATK
SMP/Paket B
Advokasi
Koperasi
SMA/Paket C
Bakti Sosial
TBM
Rumah Singgah
Lab. Skill
-Percetakan
-Bengkel
-Sablon
-Service HP
-Bisnis
-Menjahit
-Desain Grafis
-Salon
-Ternak
-Pertamanan
80
Penyelenggara PKBM Yayasan Bina Insan Mandiri Depok10
Pelindung
: Yayasan Bina Insan Mandiri
Pembina Teknis
: Dinas Pendidikan / Penilik PLS Diknas
Penasehat
: Drs. Poewandriyono
Ketua
: Nurrohim, Amd
Sekretaris
: Tony Zulhendra
Bendahara
: Rakibayni
Kelompok Belajar Usaha (KBU)
: Bahtiar
Program
: Deny S
Pembinaan
: Ekwanto
Pendanaan
: Ardian
Kemitraan
: Hafizullah
Litbang
: M. Ansori
Koordinator PAUD
: Ma’rifah
Koordinator SD
: Lianti
Koordinator SMP
: Muh. Natsir
Koordinator SMA
: Puja
Koordinator Kelas Musik
: - Sigit Wahyu
- Apriyanto
Koordinator Kelas Design Grafis
: Irfan
Koordinator Kelas Bisnis
: Abdul Basir
10
Dokumentasi Yayasan Bina Insan Mandiri (Yabim)
81
B. Deskripsi Data
1. Interaksi Sosial Anak Jalanan Di Rumah Singgah Master Yayasan
Bina Insan Mandiri Depok
Fenomena anak yang berada di jalanan semakin meningkat,
terutama banyak ditemukan di kota-kota besar seperti di wilayah
Jabodetabek, bukan hanya dari aspek kuantitas tetapi aktivitas yang
mereka lakukan. Peningkatan ini bukan hanya saat Indonesia mengalami
krisis tetapi beberapa tahun sebelumnya juga sudah terlihat. Hal ini
disebabkan oleh beberapa faktor, di antara faktor kemiskinan, pendidikan
dan keluarga.
Rumah Singgah merupakan sebagai tempat pemusatan sementara
yang bersifat non formal, dimana anak-anak bertemu untuk memperoleh
informasi dan pembinaan awal sebelum dirujuk ke dalam proses
pembinaan lebih lanjut. Rumah singgah sebagai suatu wahana yang
dipersiapkan sebagai perantara antara anak jalanan dengan pihak-pihak
yang akan membantu mereka. Rumah Singgah merupakan proses
informal yang memberikan suasana resosialisasi kepada anak jalanan
terhadap sistem nilai dan norma yang berlaku di masyarakat setempat.
Rumah Singgah Yayasan Bina Insan Mandiri ini sudah memiliki
ciri-ciri yayasan sosial pada umumnya memiliki visi, misi, program,
pengurus, serta sarana dan prasarananya yang mendukung pembinaan yang
dilakukan Rumah Singgah Master. Seperti yang dikatakan oleh Pendiri
Yayasan ini bahwa “Layanan pendidikan yang di berikan Rumah Singgah
Master Yayasan Bina Insan Mandiri kepada anak jalanan ini akan sangat
berguna bagi masa depan mereka. Anak jalanan tersebut akan dibina agar
memiliki masa depan yang lebih baik, karena mereka pun memiliki hak
yang sama dengan anak-anak pada umumnya yaitu berhak untuk
berprestasi, mengembangkan potensi dan mengasah bakat yang dimiliki.
82
Pendidikan di Yayasan Bina Insan Mandiri ini tidak hanya
diperuntukan untuk anak-anak jalanan akan tetapi diperuntukan juga untuk
anak-anak yang memiliki kemauan dan tekad sungguh-sungguh untuk
menuntut ilmu akan tetapi terbatas pada faktor ekonomi”.11
Rumah singgah adalah tahapan awal bagi seorang anak untuk
memperoleh pelayanan selanjutnya, oleh karena itu penting kiranya
menciptakan suasana nyaman, tertib dan menyenangkan bagi anak jalanan.
Hal ini seperti yang dikatakan oleh salah satu informan bahwa “ aku betah
tinggal dirumah singgah ini selain aku punya banyak temen dan guru-guru
yang baik, aku di sini karena mau belajar hidup mandiri ka,pengen beli
sesuatu dengan hasil keringat sendiri, uang yang didapetin dari hasil
ngamen dipake untuk biaya kehidupan sehari-hari aku ka, kalo masih ada
sisa,sisanya ditabungin deh.”12
Hal ini sependapat dengan Bayu yang mengatakan bahwa” aku
disini betah ka karena di rumah singgah ini aku bisa sekolah dan hidup
mandiri tanpa harus minta uang sama orang tua,soalnya aku engga mau
jadi beban buat orang tua aku jadi aku cari uang sendiri dan uang yang aku
dapet aku pake buat biaya hidup sehari-hari kaya makan, jajan dan
keperluan lainnya”.13
Namun hal ini tidak sependapat dengan informan lainnya yang
mengatakan “ aku lebih milih tinggal disini daripada dengan orang tua
karena faktor ekonomi, jadi aku milih bantu cari uang untuk orang tua
hasil ngamen yang aku dapet sehari-hari itu aku tabungin dan aku kasih
buat orang tua. biasanya dalam waktu satu bulan sekali biasanya aku
pulang dan kasih sebagian uang hasil ngamen yang aku kumpulin. Selain
bisa cari uang aku juga bisa lanjutin sekolah disini karena biasanya
sekolah itu pagi dan sore atau malem itu aku baru ngamen bareng sama
11
Hasil Wawancara dengan Nurrohim, Pendiri Yayasan Bina Insan Mandiri, Depok, 24
November 2014
12
Hasil Wawancara dengan Syawal, Anak Yang Tinggal di Rumah Singgah Yayasan Bina
Insan Mandiri, Depok,10 November 2014
13
Hasil Wawancara dengan Bayu, Anak Yang Tinggal di Rumah Singgah Yayasan Bina
Insan Mandiri, Depok, 10 November 2014
83
temen-temen yang lain”.14 Oleh karena itu rumah singgah memiliki salah
satu fungsi sebagai tempat penjangkauan pertama kali dan pertemuan
pekerja sosial dengan anak jalanan untuk menciptakan persahabatan,
kekeluargaan, dan mencari jalan keluar dari kesulitan mereka.
Pada dasarnya keberadaan anak-anak jalanan disini berasal dari
latar belakang ekonomi yang kurang mampu sehingga mereka pergi dari
rumah orangtuanya
dan memilih tinggal di Rumah Singgah Master
Depok. Faktor ekonomi ini yang kemudian berkembang menjadi
keterbatasan mereka untuk bisa menikmati dunia pendidikan pada usia
semestinya. Di Rumah Singgah Master Yayasan Bina Insan Mandiri inilah
yang merupakan satu lembaga sosial yang berada di wilayah Depok yang
peduli terhadap nasib anak-anak jalanan, fakir, miskin dan dhuafa dengan
tujuan meningkatkan kesejahteraan hidup anak jalanan. Anak-anak jalanan
yang pergi dari rumah orangtuanya masing-masing memilih tinggal di
Rumah Singgah Master ini.
Seperti yang dikatakan oleh pendiri Yayasan Bina Insan Mandiri
bahwa “ Penyebab dari keberadaan orang-orang Penyandang
Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) ini adalah kurangnya
pemerataan pembangunan pada setiap wilayah, lapangan kerja
yang sulit diakses oleh orang-orang PMKS, kemudian masyarakat
PMKS ini tidak mampu mengakses dunia pendidikan, ketika
memang pemerintah memiliki program wajib belajar selama 9
tahun itu diberikan pula kepada orang-orang PMKS sehingga
setelah mereka mampu mengakses pendidikan mereka pun mampu
memiliki skill dan kualitas pendidikan yang baik dari hasil
belajarnya sehari-hari”. 15
Rumah Singgah Master Yayasan Bina Insan Mandiri ini tidak hanya
diperuntukan untuk anak-anak jalanan, tapi diperuntukan juga untuk kaum
dhuafa dan orang-orang yang memiliki masalah kesejahteraan sosial.
Seperti yang dikatakan oleh Pendiri Yayasan Bina Insan Mandiri” Karena
rumah Singgah Master ini melayani masyarakat yang yang tidak terlayani,
14
Hasil Wawancara Dengan Fahrul, Anak Jalanan Yang Tinggal Di Rumah Singgah,
Depok, 10 November 2014
15
Hasil Wawancara Dengan Nurrohim, Pendiri Yayasan Bina Insan Mandiri, Depok, 27
November 2014
84
mengayomi yang tidak terayomi dan mendidik untuk yang tidak
terdidik”.16
Hal ini sependapat dengan salah satu koordinator pendidikan
bahwa
Rumah Singgah Master ini terbuka untuk siapapun, tidak
hanya diperuntukan bagi anak-anak jalanan tetapi juga
diperuntukan untuk kaum dhuafa atau orang-orang yang
memiliki keterbatasan ekonomi untuk menikmati dunia
pendidikan. Karena selain sekolah anak-anak juga diberikan
berbagai
keterampilan
dan
kemampuan
untuk
mengembangkan skill masinh-masing seperti dalam bidang
teater, bengkel, dan lain-lain yang sesuai dengan keinginan
dari anak-anak. Untuk anak-anak yang berprestasi yang
ingin melanjutkan ke dunia perkuliahan maka disini juga
ada program orang tua asuh.17.
Banyak cara yang dilakukan untuk pengembangan di
berbagai aspek tidak hanya ditekankan pada pendidikan formal
namun pengembangan dilakukan dalam bidang keterampilan,
kreativitas maupun keinginan dari anak-anak jalanan itu sendiri
untuk melatih potensi yang dimiliki sesuai dengan hobinya masingmasing. Seperti yang dikatakan oleh Pendiri Yayasan Bina Insan
Mandiri bahwa:
Upaya atau tindakan nyata yang saya lakukan di Master ini
dengan harapan bisa menjadi percontohan untuk
masyarakat lainnya yang peduli terhadap anak-anak jalanan
dalam melakukan sebuah gerakan nyata dalam merubah
cara pandang masyarakat terhadap anak-anak jalanan, anak
jalanan yang dalam cara pandang masyarakat identik
dengan sikap dan perilaku mereka yang terkesan brutal dan
mengganggu kenyamanan masyarakat, dekat dengan
narkoba, mabuk-mabukan atau berjudi dan lain-lain, maka
Nurrohim merubah perilaku-perilaku negatif yang demikian
dengan sebuah pendekatan personal kepada anak-anak
16
Hasil Wawancara Dengan Nurrohim, Pendiri Yayasan Bina Insan Mandiri, Depok, 27
November 2014
17
Hasil Wawancara Dengan Nana Sutarna, Tutor Di Rumah Singgah Yayasan Bina Insan
Mandiri, Depok, 24 November 2014
85
untuk mau belajar dan menempuh pendidikan di Rumah
Singgah Master. 18
Dalam kehidupan sehari-hari manusia hidup saling berinteraksi
antara individu dengan individu, individu dengan kelompok dan kelompok
dengan kelompok. Hal tersebut terjadi dalam rangka memenuhi kebutuhan
hidupnya. Melalui hubungan itu individu ingin menyampaikan maksud,
tujuan dan keinginannya masing-masing.
Sedangkan untuk mencapai keinginan tersebut harus diwujudkan
dengan tindakan melalui hubungan timbal balik diantara yang satu dengan
yang lainnya. Kegiatan interaksi sosial yang dilakukan dalam penelitian ini
meliputi pada tiga bentuk Interaksi anak-anak jalanan diantaranya :
1. Interaksi Sosial Anak Jalanan Terhadap Sesama Teman-teman Di
Rumah Singgah Master Yayasan Bina Insan Mandiri
Anak jalanan sesungguhnya mereka adalah anak-anak yang
tersisih, marginal, dan teraliensi dari perlakuan kasih sayang karena
kebanyakan dalam usia yang relatif dini sudah harus berhadapan
dengan lingkungan kota yang keras, dan bahkan sangat tidak
bersahabat. Interaksi sosial yang terjadi pada anak-anak jalanan di
Rumah Singgah Master ini terjadi sangat baik,mereka saling
menghormati satu sama lain terhadap teman-teman yang berada di
lingkungan Rumah Singgah ataupun teman-teman yang berada diluar
Rumah Singgah Master. Tak hanya saling menghargai anak-anak di
Rumah Singgah ini pun melakukan kerja sama yang baik diantara
anak-anak dengan anak-anak maupun anak-anak terhadap tutor-tutor
yang berada disini. Kerja sama merupakan interaksi sosial yang paling
penting.
Pada dasarnya, setiap manusia melakukan interaksi untuk
memenuhi kebutuhan hidupnya. Kerja sama timbul karena orientasi
18
Hasil Wawancara Dengan Nurrochim. Pendiri Yayasan Bina Insan Mandiri, Depok, 27
November 2014
86
orang-perorangan terhadap kelompoknya (yaitu in-group nya) dan
kelompok lainnya (yang merupakan out-groupnya).
Contoh kecil
dari kerja sama menurut salah satu informan adalah “yang dilakukan
oleh anak-anak jalanan disini adalah kerja bakti untuk membersihkan
kelas, halaman sekolah, lapangan tempat mereka bermain, saling
membantu jika ada teman yang kesulitan, bermain sepak bola antara
sesama teman baik dari tingkatan kelas yang sama ataupun dari kelas
yang berbeda”.19
Kerja sama merupakan salah satu bentuk interaksi yang didasarkan
pada kepentingan dari masing-masing individu. Oleh karena itu bentuk
kerja sama yang dicontohkan pada interaksi sosial pada anak-anak di
Rumah Singgah itu didasari oleh kepentingan untuk saling
mendekatkan diri dan saling mengenal diantara teman-teman lainnya
yang berada di Rumah Singgah, agar selalu terjaga kekeluargaan
diantara mereka. Setelah kekeluargaan diantara sesama anak jalanan
tercipta dengan baik maka interaksi sosial sehari-hari yang mereka
lakukan akan memberikan efek positif kepada perilaku mereka. Seperti
yang diungkapkan oleh Syawal,dari hasil wawancara bahwa “anakanak yang disini baik-baik, kita saling jaga dan menghormati satu
sama lain sesama teman-teman, jarang berantem, kita selalu kompak.
Kalau juga berantem paling karena teman kitanya ada yang ngocol.
Karena kita engga suka temen-temen yang ngocol ka”.20
Hal ini juga sependapat dengan informan lainnya yang mengatakan
bahwa “ kita disini sering main bareng ka sama temen-temen, engga
pilih-pilih temen selama temen-temen engga saling ganggu satu sama
lainnya dan engga ngocol maka kita engga pernah berantem. Kalau
19
Hasil Wawancara Dengan Hasan, Anak Jalanan Yang Tinggal Di Rumah Singgah
Yayasan Bina Insan Mandiri, Depok,10 November 2014
20
Hasil Wawancara dengan Syawal, Anak Jalanan yang Tinggal Di Rumah Singgah,
Depok, 11 November 2014.
87
temen ada yang ngocol baru kita engga temenin soalnya yang ngocol
biasanya suka cari ulah sendiri semaunya mereka ka”.21
Dalam kegiatan interaksi sosial yang mereka lakukan sehari-hari
mereka tidak memiliki simbol-simbol yang menjadi ciri khas dari
identitas mereka sebagai anak jalanan, hal ini sesuai dengan ungkapan
dari Syawal bahwa” kita disini engga pake bahasa atau simbo-simbol
yang aneh atau apa yang bisa jadi ciri khas, kita disini belajar hidup
bersama-sama jadi engga mikirin hal-hal aneh yang berkaitan sama
cara, simbol dan bahasa yang dipake kalau lagi sama temen-temen.”22.
Orang memiliki hanya kemampuan untuk berpikir yang bersifat
umum. Kemampuan ini dibentuk dalam proses interaksi sosial.
Interaksi sosial adalah suatu proses dimana kemampuan untuk berpikir
dikembangkan dan diungkapkan. Segala macam interaksi menyaring
kemampuan untuk berpikir. Lebih dari itu berpikir mempengaruhi
seseorang dalam bertingkah laku. Dalam kebanyakan tingkah laku,
seseorang harus memperhatikan dan memperhitungkan orang lain
dalam memutuskan bagaimana ia harus bertingkah laku supaya sesuai
dengan orang-orang lain. Namun demikian tidak semua proses
interaksi sosial melibatkan proses berpikir.
Bahasa yang digunakannya adalah Bahasa Indonesia pada
umumnya masyarakat gunakan. Hal ini tidak sesuai dengan teori
Interaksionalisme bahwa dalam kegiatan Interaksi sosial dan simbolik
yang mengacu kepada penggunaan simbol-simbol. Akan tetapi dari
mengatakan bahwa seseorang belajar simbol-simbol dan arti-arti yang
kemudian akan berkembang menjadi sebuah reaksi kepada simbolsimbol yang digunakan dalam memahami interaksi yang dibangun.
George
Herbet
Mead
menekankan
bahwa
“
simbol-simbol
verbal(bahasa) penting karena selalu dapat mendengarkan diri sendiri
21
Hasil Wawancara Dengan Akbar, Anak Jalanan Yang Tinggal Di Rumah
Singgah,Depok. 10 November 2014.
22
Hasil Wawancara dengan Syawal, Anak Jalanan yang Tinggal Di Rumah Singgah,
Depok, 11 November 2014.
88
walaupun kita mungkin tidak selalu bisa melihat tanda-tanda gerakgerik fisik kita”.23 Jadi bahasa yang digunakan untuk komunikasi
interaksi sosial mereka adalah bahasa Indonesia pada masyarakat
umumnya. Akan tetapi bahasa-bahasa yang digunakan bukanlah
bahasa baku, tetap menyesuaikan dengan bahasa yang mudah dipahami
oleh anak-anak jalanan tersebut.
Kegiatan anak-anak jalanan di Rumah Singgah terdiri dari sekolah,
adapun Jadwal sekolah anak-anak di Rumah Singgah ini selain sekolah
di waktu pagi ada juga yang sekolah di waktu siang dan sore hari, hal
ini disesuaikan dengan keinginan dari masing-masing anak jalanan.
Hal ini dijelaskan oleh koordinator pendidikan bahwa “jadwal
belajar anak-anak disini terbagi menjadi tiga waktu yaitu pagi, siang
dan sore hari”.24 Akan tetapi mereka tidak hanya terpaku pada salah
satu waktu belajar, hal ini di ungkapkan oleh salah satu informan “aku
sekolahnya kadang di waktu pagi kadang juga diwaktu siang hari
ka”.25 Terkait dengan jadwal sekolah mereka, semua tidak menjadi
permasalahan. Yang terpenting adalah kemauan mereka untuk tetap
terlibat dalam kegiatan belajar mengajar disekolah sesuai dengan
jadwalnya masing-masing, karena bagaimanapun keadaannya anak
jalanan di Rumah Singgah mereka tetap diwajibkan untuk sekolah.
Bahkan anak-anak yang di Rumah Singgah ada juga yang sekolah di
Pondok Pesantren. Pondok Pesantren yang melakukan kerja sama
dengan Yayasan Bina Insan Mandiri Depok terletak di Jonggol. Jadi
anak-anak jalanan yang berminat untuk sekolah sekaligus menuntut
Ilmu Agama maka mereka akan dititipkan di Pondok Pesantren.
Berkaitan dengan teori dari Model Pembinaan Anak Jalanan,
Pembinaan yang dilakukan pada tahap awal yaitu Model Rumah
23
Bernard Ravo, SVD, Teori Sosiologi Modern, ( Jakarta: Prestasi Pustakarya,2007),h.99
Hasil Wawancara Dengan Nana Sutarna, Tutor Rumah Singgah Yayasan Bina Insan
Mandiri, Depok, 24 November 2014.
25
Hasil Wawancar a Dengan Syawal, Anak Jalanan Yang Tinggal Di Rumah Singgah
Yayasan Bina Insan Mandiri, Depok. 11 November 2014.
24
89
Singgah dan tahap selanjutnya yaitu model Boarding House atau
pemondokan. Rumah Singgah sebagai tahapan awal bagi seorang anak
untuk menciptakan suasana yang nyaman, tertib dan menyenangkan
bagi anak-anak jalanan dan kemudian boarding house itu sebagai
wahana pelayanan bagi anak jalanan selanjutnya dengan tujuan untuk
mempertahankan sikap dan perilaku positif, memberikan kesempatan
untuk anak jalanan memperoleh pelayanan dalam penuntasan masalah
mereka yang kemudian untuk bisa mempercepat proses kemandirian
anak-anak jalanan.
Rumah Singgah Yayasan Bina Insan Mandiri Depok sebagai
tempat awal perlindungan untuk anak-anak jalanan dan kemudian
pondok pesantren sebagai tempat kedua dalam membina anak-anak
jalanan yang ingin menuntut ilmu di pondok pesantren sebagai tempat
pemondokan. Karena di Pemondokan kemudian segala keterampilan
pun akan lebih dikembangkan sesuai bakat dan minat anak jalanan
tersebut.
Berkaitan dengan kegiatan sehari-hari yang mereka lakukan di
Yayasan ini, sebagian dari mereka adalah pengamen. Tetapi waktu
mengamen hanya dilakukan pada sore hari hal ini seperti yang
dikatakan oleh salah satu informan bahwa “kita itu kalau ngamen
biasanya sore sampe malem. Soalnya kalo ngamen pagi atau siang
suka banyak razia dari satpol pp. daripada kita ketangkep sama satpol
pp mending kita cari aman aja”. Orientasi pekerjaan dari aktivitas yang
mereka lakukan berorieantasi pada kemudahan untuk mendapatkan
uang sekedar untuk menyambung hidup. Seperti sebagai pengamen,
menjajakan koran atau majalah, mencuci kendaraan dan lain
sebagainya. Meskipun dalam aktivitas yang mereka lakukan terkadang
harus bertarung dengan dikejar-kejar aparat seperti Satuan Polisi
Pamong Praja ( Satpol PP).
Tempat mereka mengamen pun tidak hanya pada satu titik tempat
saja, mereka menyebar ke wilayah sekitar Depok tidak jauh dari
90
yayasan yang mereka tempati. Hal ini di ungkapkan oleh salah satu
informan yaitu “ kalau tempat kita ngamen biasanya nyebar ka,
biasanya di Margonda, ITC, Detos, terminal Depok, dan sekitar depok
lainnya ka”.26 Orientasi tempat berkumpul mereka setelah mengamen
biasanya kembali ke Rumah Singgah Yayasan Bina Insan Mandiri
yang terletak di dekat dengan Terminal Depok.
Penghasilan yang mereka dapatkan dari hasil ngamen tidak semua
sama, Biasanya yang mereka dapatkan sekitar Rp. 10.000 sampai
dengan Rp.50.000 . Walaupun penghasilan yang mereka dapatkan
tidak sama hal itu tidak menyebabkan mereka untuk bersikap iri
diantara satu sama lainnya. Seperti yang dikatakan “ berapa juga hasil
ngamen yang kita dapet berarti itu udah rezeki dari Allah ka, jadi
engga ada hal yang harus diiriin satu sama lain. Siapa tahu besok dan
di waktu lain kan aku atau teman-teman lain yang hasil ngamennya
lebih banyak”.27
Hasil dari pendapatan ngamen itu digunakan untuk kebutuhan
hidup sehari-hari mereka seperti makan, jajan, atau keperluan lainnya.
Jika memang ada penghasilan sisa maka sebagaiannya akan mereka
sisihkan untuk ditabungkan. Hal ini seperti dikatakan “ biasanya uang
yang kita dapat dari hasil ngamen sehari-hari kita pakai untuk biaya
hidup sehari-hari kita sendiri ka, kayak makan, jajan, dan keperluan
lainnya. Kalau memang ada sisa baru nanti kita tabungin”.28
Biaya kehidupan sehari-hari hanya sebagian dari kebutuhankebutuhan anak jalanan. Akan tetapi mereka pun membutuhkan kasih
sayang, rasa aman, kebutuhan sandang, pangan, kesehatan, kebutuhan
pendidikan dan bimbingan keterampilan serta harmonisasi hubungan
sosial dengan keluarga, orang tua dan masyarakat. Dan di Rumah
26
Hasil Wawancara Dengan Akbar, Anak Jalanan yang Tinggal Di Rumah Singgah
Yayasan Bina Insan Mandiri, Depok.10 November 2014
27
Hasil Wawancara Dengan Syawal, Anak Jalanan yang Tinggal Di Rumah Singgah
Yayasan Bina Insan Mandiri, Depok, 11 November 201
28
Hasil Wawancara Dengan Sandi, Anak Jalanan Yang Tinggal Di Rumah Singgah
Yayasan Bina Insan Mandiri, 10 November 2014
91
Singgah Yayasan Bina Insan Mandiri ini sebagaian kebutuhan mereka
terpenuhi secara perlahan. Seperti bimbingan keterampilan, di Rumah
Singgah ini banyak tersedia program pengembangan keterampilan
untuk anak-anak jalanan sesuai dengan keinginan dari mereka.
Kegiatan ngamen adalah sebagian dari aktivitas mereka. Dengan
kegiatan ini, menurut mereka akan memperoleh uang untuk biaya
kehidupan sehari-harinya. Selain itu, mereka belajar hidup mandiri
tanpa harus bergantung pada orang tua ataupun orang lain yang ada di
sekitar mereka. Akan tetapi penghasilan ngamen yang mereka
dapatkan itu juga digunakan untuk membantu keuangan keluarganya.
2. Interaksi Anak Jalanan dengan Tutor Di Rumah Singgah Master
Hubungan sosial yang baik tidak terjadi antara anak jalanan dengan
teman sebayanya, teman-teman yang usianya lebih muda dari mereka
tetapi juga terhadap tutor-tutor yang berada di Rumah Singgah ini.
Anak-anak disini sangat menghormati tutor-tutor yang berada di
Rumah Singgah Master ini karena tutor disini memiliki peran sebagai
orang tua bagi mereka. Seperti sebagai pendidik, memberikan
perlindungan, kenyamanan, melakukan pembinaan terhadap perilaku
kehidupan sehari-hari mereka. Tanpa tutor disini anak-anak jalanan ini
tak akan mampu memiliki pendidikan dan akhlak yang baik. Hal ini
sesuai
yang
diungkapkan
oleh
koordinator
pendidikan
yang
mengatakan bahwa ”Bukan suatu perkara yang mudah dalam
melakukan pembinaan dan perhatian yang lebih kepada anak-anak
jalanan, butuh kesabaran yang luar biasa untuk bisa memahami apa
yang menjadi keinginan dari anak-anak jalanan tersebut.”29
Aturan-aturan yang dibuat sebagai tata tertib harus ditaati
berdasarkan kesepakatan bersama antara pihak Rumah Singgah dengan
anak-anak jalanan sehingga tidak terjadi benturan-benturan diantara
29
Hasil Wawancara Dengan Nana Sutarna, Tutor Di Rumah Singgah Yayasan Bina Insan
Mandiri, Depok 24 November 2014.
92
pihak Rumah Singgah dengan Anak-anak jalanan. Dalam kegiatan
belajar mengajar sehari-hari di kelas interaksi sosial pun terjadi dengan
sangat efektif. Proses kegiatan belajar mengajar tidak hanya pada
guru/tutor yang menjelaskan materi pelajaran saja. Akan tetapi, anakanak dilibatkan langsung dalam proses kegiatan belajar mengajar
seperti yang tidak mengerti materi pelajaran maka akan langsung
mengajukan pertanyaan, kemudian akan ditanggapi langsung oleh tutor
atau teman-teman yang lainnnya.
Anak-anak jalanan di Rumah Singgah Master ini sangat senang
terhadap tutor-tutor (Guru) yang sangat baik, tegas dan pengertian
terhadap mereka. Akan tetapi mereka tidak senang terhadap guru yang
bersikap terlalu galak dan keras terhadap mereka. Hal ini diungkapkan
oleh salah satu informan yaitu “ iya ka kalau di sekolah kita seneng
sama guru baik, engga pernah galak dan gebuk kita, kaau ada guru
yang galak kita engga ikut pelajaran mereka”.30 Maka jika ada tutor
yang memiliki sikap demikian mereka tidak akan pernah sungkan
untuk meninggalkan pelajaran dan tidak ikut kegiatan belajar dalam
mata pelajaran dengan tutor yang bersangkutan.
Anak-anak yang berada di Rumah Singgah Master ini masih sangat
tergolong cukup baik dan mau diatur, hal ini seperti yang dikatakan
oleh salah satu tutor yang mengatakan “ anak-anak disini baik, mereka
sopan dan mau diatur, tidak seperti anak-anak jalanan yang benarbenar hidup dijalanan. Mereka sangat nakal dan melakukan apa yang
dikehendakinya tanpa menghiraukan himbauan orang lain yang berada
disekitarnya”.31 Sikap saling menghormati dan menyayangi ini yang
kemudian memberikan efek positif terhadap suasana sosial yang terjadi
di Rumah Singgah sehingga tercipta interaksi yang baik antara tutor
dengan anak-anak jalanan.
30
Hasil Wawancara Dengan Akbar, Anak Jalanan Yang Tinggal Di Rumah Singgah
Yayasan Bina Insan Mandiri,, Depok,03 November 2014
31
Hasil Wawancara Dengan Bunda Adel,Tutor Matematika Di Sekolah Dasar Master,
Depok, 24 November 2014
93
Jika di Rumah Singgah Master ini ada sebagian anak-anak yang
bermasalah, maka para tutor memiliki peranan untuk menyadarkan
mereka atas perbuatan yang telah mereka lakukan. Pendekatan yang
dilakukan terhadap anak-anak jalanan di Rumah Singgah adalah
pendekatan secara personal (Anak Jalanan dengan Tutor). Mereka
diberikan pendekatan dan pengarahan khusus kemudian disesuaikan
dengan keinginan anak-anak jalanan tesebut akan tetapi masih dalam
pengawasan tutor.
Seperti
yang dikatakan
oleh koordinaotor
pendidikan bahwa :
Sanksi yang diberikan kepada anak-anak disini disesuaikan
dengan kesepakatan bersama, karena sebagian anak-anak disini
engga terbiasa diberikan hukuman tanpa kesepakatan dari
mereka. Anak-anak di Rumah Singgah ini terkadang jika diberi
hukuman mereka malah seneng, ada juga yang dikasih
hukuman malah jadi pemalas. Disinilah sanksi yang telah
menjadi kesepakatan bersama akan berperan untuk tindak
lanjut hukuman mereka. Karena mereka memiliki tanggung
jawab dan komitmen atas apa yang menjadi kesepakatannya 32
Maka dengan upaya dan pendekatan yang dilakukan oleh para tutor
dalam menyelesaikan pertikaian diantara masing-masing anak-anak
yang bertikai dapat mengintropeksi diri, berusaha dan mau menyadari
kesalahan dan kelemahannya masing-masing. Harapan yang akan
tercipta diantaranya dapat hidup berdampingan dengan bekerja sama
atau masing-masing menjauhkan diri secara tegas karena tidak
mungkin dilakukan kerja sama antara anak-anak yang bertikai.
Peran dan keberadaan tutor sangatlah penting dalam pengawasan
terhadap perilaku kehidupan anak jalanan di Rumah Singgah M aster
ini. Interaksi sosial antara anak dengan tutor lebih terlihat dilingkungan
sekolah. Misalnya pada kegiatan belajar mengajar di dalam kelas dan
upaya tutor dalam menyelesaikan masalah yang terjadi pada anak-anak
di Rumah Singgah Master ini. Anak-anak ketika dalam kegiatan
32
Hasil Wawancara Dengan Nana Sutarna, Tutor Rumah Singgah Yayasan Bina Insan
Mandiri, Depok,24 November 2014.
94
belajar mengajar tak sungkan untuk bertanya jika sedang mengalami
kesulitan.33
3. Interaksi Anak Jalanan dengan Masyarakat Di Sekitar Rumah
Singgah Master ( tambahkan teori)
Masyarakat menjadi bagian penting dalam proses interaksi anak
jalanan. Syarat utama dari sebuah interaksi sosial yaitu adanya kontak
sosial dan komunikasi. Di lingkungan Rumah Singgah Master anakanak jalanan pun mampu berinteraksi dengan masyarakat yang ada
disekitarnya.
Dalam Interaksionalisme Simbolik kehidupan kelompok adalah
keseluruhan tindakan yang sedang berlangsung. Namun demikian
masyarakat tidak terbuat dari tindakan yang terisolasi. Disana ada
tindakan yang bersifat kolektif yang melibatkan individu-individu
untuk menyesuaikan tindakan mereka terhadap satu sama lain.
Kelompok-kelompok dan masyarakat.
Dalam interaksi sosial yang terjadi di antara anak-anak dengan
masyarakat di sekitar terjadi komunikasi dan kontak sosial.
Komunikasi dan kontak sosial yang terjalin di antara keduanya cukup
baik. Anak-anak yang berada di lingkungan Rumah Singgah bermain
dan bergabung juga dengan anak-anak yang berada diluar dari
lingkungan Rumah Singgah. Hal ini sesuai dengan informan yang
bernama Ahmad “ saya engga tinggal dirumah singgah ini ka, tapi saya
biasa dan nyaman main bareng sama temen-temen yang ada di Master.
Anak-anak yang ada di Rumah Singgah Master baik-baik dan asikasik”.34
33
Hasil Observasi Kegiatan Belajar Di Kelas VI Sekolah Dasar Pada Mata Pelajaran
Matematika, Depok, 15 Oktober 2014
34
Hasil Wawancara Dengan Ahmad, Anak Jalanan Yang Tinggal Di Rumah Singgah
Yayasan Bina Insan Mandiri, Depok, 27 November 2014
95
Hal
tersebut
sependapat
dengan
Bapak
Muhammad
bahwa,”perilaku anak jalanan yang berada dirumah singgah tergolong
cukup baik, kenakalan yang dilakukan masih pada batas yang dapat
ditoleransi oleh masyarakat sekitar. Keberadaan anak jalanan
terkadang sedikit membuat masyarakat terganggu jika anak jalanan
sedang membuat kegaduhan saja”35
Anak-anak Jalanan yang berada di Rumah Singgah Master mampu
terlibat dalam kehidupan sosial bersama dengan teman-teman lain
yang tidak tinggal di Rumah Singgah Master, Mereka tetap melakukan
pertemanan dengan baik dan mau berinteraksi dengan masyarakat
lainnya. Hal ini sesuai dengan salah satu warga yang berada tidak jauh
dari rumah singgah, mengatakan bahwa” perilaku anak-anak jalanan
disini bisa dibilang baik, kalau ada sikap-sikap yang agak bandel
sedikit ya diwajarkan namanya juga masih anak-anak. Tapi mereka
semua mau gabung dengan orang-orang disekitar Master ini kalau
mereka lagi engga ada kegiatan sekolah ataupun ngamen.”.36
Meskipun Interaksi Sosial yang dilakukan hanya dalam bentuk saling
menyapa. Yang terpenting dalam proses saling bertegur sapa tersebut
terdapat unsur aksi dan reaksi dari anak dan masyarakat dalam
menanggapi apa yang disampaikan diantara mereka.
Dalam kehidupan sehari-hari anak jalanan di Rumah Singgah
Master, mereka mampu melakukan interaksi sosial dengan baik
terhadap masyarakat di sekitar rumah singgah. Adapun bentuk
interaksi sosial tersebut hanya sekedar saling bertegur sapa, tidak
terlalu banyak aktivitas anak jalanan dengan masyarakat dengan warga
sekitar. Karena diantara anak jalanan dan masyarakat saling
menghormati aktivitas-aktivitas masing-masing.
35
Hasil Wawancara Dengan Muhammad, Masyarakat Yang Tinggal Di Sekitar Rumah
Singgah Yayasan Bina Insan Mandiri, Depok, 25 November 2014
36
Hasil Wawancara Dengan Muhammad, Salah Satu Masyarakat Yang Berada Di
Sekitar Rumah Singgah Yayasan Bina Insan Mandiri, Depok 27 November 2014
96
Hal ini sesuai dengan pendapat dari pengurus bahwa “ pada
dasarnya anak-anak disini mampu berhubungan interaksi sosial dengan
baik kepada masyarakat sekitar rumah singgah, akan tetapi interaksi
sosial itu hanya sekedar saling menyapa atau menolong diantara
keduanya37. Tidak terlalu banyak aktivitas interaksi sosial dengan
warga yang terlibat dalam kegiatan-kegiatan. Meskipun tidak banyak
kegiatan yang meilbatkan anak jalanan dengan masyarakat akan tetapi
kegiatan kerja sama yang tercipta diantara pengelola rumah singgah
dengan rumah singgah terjalin dengan sangat baik untuk saling
mengingatkan, mengontrol dan mengawasi keberadaan dan aktivitas
anak jalanan disekitarnya. Hal ini seperti diungkapkan oleh Ibu Ani
bahwa” ada kerja sama yang terjalin diantara kami masyarakat dengan
pihak pengelolala rumah singgah untuk mengawasi dan mengingatkan
anak jalanan jika sedang terjadi keributan kecil diantara anak jalanan
yang sedang berada disekitar rumah singgah”38
Adapun kegiatan interaksi sosial masyarakat yang melibatkan
anak-anak jalanan hanya pada waktu-waktu tertent saja, seperti saat
melakukan kegiatan gotong royong dalam membersihkan aliran kali
Ciliwung, seluruh warga, anak-anak jalanan dan anggota TNI ikut
terlibat dalam melakukan kegiatan ini”.39
Bentuk dari interaksi sosial yang terjadi diantara anak jalanan
dengan masyarakat sekitar bersifat asosiatif. Interaksi sosial yang
meliputi asosiatif salah satunya adalah dalam bentuk kerja sama.
Kegiatan membersihkan kali Ciliwung yang melibatkan anak-anak
jalanan di Rumah Singgah Yayasan Bina Insan Mandiri Depok,
walaupun kerja sama itu hanya pada waktu-waktu tertentu. Karena
37
Hasil Wawancara Dengan Nana Sutarna, Tutor Di Rumah Singgah Yayasan Bina Insan
Mandiri, Depok, 24 November 2014
38
Hasil Wawancara Dengan Ibu Ani, Masyarakat Yang Berada Di Sekitar Rumah
Singgah Yayasan Bina Insan Mandiri, Depok, 20 November 2014
39
Hasil Wawancara Dengan Nana Sutarna, Tutor Di Rumah Singgah Yayasan Bina
Insan Mandiri, Depok. 24 November 2014
97
dalam kehidupan sehari-hari hubungan diantara warga sekitar Rumah
Singgah semua terlihat baik-baik saja.
Menurut Gillin dan Gillin, bentuk interaksi sosial adalah prosesproses yang asosiatif adalah (akomodasi, asimilasi, dan akulturasi).
Dan proses-proses yang disosiatif adalah (persaingan, pertentangan)40.
Bentuk-bentuk interaksi sosial anak jalanan dengan anak jalanan,
dengan tutor/ guru dan dengan masyarakat sekitar rumah singgah
bersifat asosiatif dan disosiatif. Interaksi sosial yang bersifat asosiatif
pada anak jalanan dalam bentuk kerja sama, toleransi, akomodasi dan
lain-lain. Sedangkan interaksi sosial yang bersifat disasosiatif pada
kehidupan interaksi sosial anak jalanan dalam bentuk persaingan dan
pertentangan.
40
Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar ( Jakarta : PT. Raja Grafindo
Persada,2002) cet.ke 3,h.65
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Interaksi
sosial
adalah
hubungan
yang
dinamis
yang
mempertemukan orang dengan orang, kelompok dengan kelompok
maupun orang dengan kelompok manusia. Bentuknya tidak hanya bersifat
kerja sama, tetapi juga berbentuk persaingan, pertikaian dan sejenisnya.
Anak jalanan merupakan anak yang berusia di bawah 21 tahun,
yang menggunakan sebagian waktunya di jalanan atau di tempat-tempat
umum lainnya. Aktivitas anak jalanan bukan hanya yang bertujuan
mencari uang atau mencari nafkah, tetapi juga aktivitas lain seperti
bermain, istirahat, tidur, atau belajar. Di berbagai sudut kota, sering terjadi
anak jalanan harus bertahan hidup dengan cara-cara yang secara sosial
kurang atau bahkan tidak dapat diterima masyarakat umum, sekedar untuk
menghilangkan rasa lapar dan keterpaksaan untuk membantu keluarganya.
Tidak jarang mereka pula dianggap sebagai pengganggu ketertiban dan
membuat kota menjadi kotor dengan keberadaan mereka.
Rumah Singgah merupakan proses informal yang memberikan
suasana pusat resosialisasi anak jalanan terhadap system nilai dan norma
di masyarakat. Rumah Singgah merupakan tahap awal bagi seorang anak
untuk memperoleh pelayanan selanjutnya, oleh karenanya penting
menciptakan Rumah Singgah sebagai tempat yang aman, nyaman,
menarik, dan menyenangkan bagi anak jalanan.
Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan dilapangan adalah :
1. Bentuk Interaksi Sosial Anak Jalanan Kepada Sesama Anak Jalanan
Bentuk-bentuk interaksi sosial anak jalanan kepada sesama anak
jalanan, anak jalanan dengan tutor dan anak jalanan dengan
masyarakat di Rumah Singgah Yayasan Bina Insan Mandiri Depok
adalah interaksi sosial asosiatif dan interaksi sosial disosiatif. Proses
98
99
interaksi sosial asosiatif meliputi kerja sama, dan akomodasi.
Sedangkan bentuk proses sosial yang disosiatif meliputi pertikaian
yang terjadi diantara mereka.
2. Bentuk Interaksi Sosial Anak Jalanan Kepada Tutor
Bentuk interaksi sosial anak jalanan kepada tutor di Rumah
Singgah terjalin dengan baik diantara keduanya. Kerja sama
merupakan bentuk dari interaksi yang mereka lakukan. Ketika dalam
kegiatan belajar mengajar disekolah pun hubungan diantara keduanya
sangat akrab. Sikap anak-anak jalanan akan baik sekali pada tutor yang
memang juga sangat pengertian kepada mereka, dan anak jalanan akan
bersikap acuh kepada tutor atau guru yang mereka anggap sikapnya
kurang sopan kepada anak-anak jalanan.
3. Bentuk Interaksi Sosial Anak Jalanan dengan Masyarakat
Hubungan interaksi sosial anak jalanan dengan Masyarakat yang
berada disekitar rumah baik, akan tetapi tidak ada hubungan interaksi
yang terlalu banyak terlibat dalam kegiatan masyarakat sekitarnya.
Dalam kebiasaan sehari-hari anak jalanan dengan masyarakat hanya
sekedar berinteraksi dengan duduk bersama di sekitar rumah singgah,
saling menghargai keadaan mereka masing-masing dan saling
menghormati untuk segala aktivitas yang dilakukan . Untuk kegiatan
dalam bentuk kerja sama yang mereka lakukan hanya pada saat acaraacara dan kegiatan-kegiatan tertentu yang memang melibatkan banyak
pihak.
B. Implikasi
Jika Interaksi Sosial Anak Jalanan diantara sesama anak jalanan,
Tutor atau Guru dan masyarakat dapat terkontrol dengan baik oleh pihak
Rumah Singgah maka Interaksi diantara mereka pun dapat terjalin dengan
baik dan menghasilkan sosialaisasi yang baik.
100
C. Saran
Dari hasil penelitian ini penulis mencoba memberi sumbang saran
demi peningkatan dan kemajuan Rumah Singgah Yayasan Bina Insan
Mandiri Depok dalam menjalankan dan mengontrol aktivitas dan perilaku
sosial anak-anak jalanan baik terhadap teman sebaya, interaksi sosial
terhadap tutor atau guru dan interaksi sosial anak jalanan kepada
masyarakat di sekitar Rumah Singgah Yayasan Bina Insan Mandiri,
Depok. Sehingga jika ada pengontrolan yang baik maka hubungan sosial
anak-anak jalanan pun akan baik dan dapat memberikan manfaat untuk
orang-orang yang berada disekitarnya.
DAFTAR PUSTAKA
Anak Jalanan dan Terlantar, Tanggung Jarvab Siapa? Majalah Societa, (Jakarta:
Kementrian Sosial RI edisi
IIl20ll)
Anik Widayanti. Perbedaan Interaksi Sosial antara Mahasiswa Sl yang Mengikuti
dan Tidak Mengikuti Organisasi Kernahasiswoan di Fakultas llntu
P endi dikan Universitas Se marang Tahun Akademik
Negeri Semarang, 2005.
2 00
4/2
00
5, Universitas
Armai, Arief. Upaya Pemberdayaan Anak Jalanan,20l3 (http: //anjal.blogdrive.com/
archive/1
i.html)
Arikunto, Suharismi. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek,
Rineke Cipta) cet.13
Astuti, Dwi. Penelitian Rumah Singgah Se-Jawa
(www. damadiri.or. id/fi lel dwi astututiunairbab Z.pdD.
Basrowi, Memahami
P ene
li tian
Kualittaif (Jakarta: Rineka cipta,200
(
Jakarta
Timur,
2013
g)
Basrowi, Pengantar Sosiologi (Bogor: Ghalia Indonesia,20O5)
Bina Pelayanan Sosial Anak, Direktorat Jenderal Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial,
Departemen Sosial RI,2002
Booklet Kementerian Sosial dalam Angka Tahun 2012 (Jakarta: Badan Pendidikan
dan Penelitian Kesejahteraan Sosial. Pusat Data dan Informasi Kesejahteraan
Sosial, 2012)
Davis, Kingsley : Human society, cetakan ke-r3, The Macmillan company, New
York,1960
Hasan,
Alwi. Kamus Besar
Bahasa Indonesia, edisi ke
3,
Jakarta:Pusat Bahasa, 2008
Isjoni, Ishaq. Masyarakat dan Perubahan Sosial Unipress
Luthfian Taqwa Ginanjar. Interaksi Sosial Antara Anggota Organisasi Ekstra Kampus
diUIN Syarif Hidyatullah Jakarta, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta,20l l.
Murdianto. "Pengaruh Penyuluhan dan Bimbingan Sosial, terhadap persepsi
stakeholder pada Anak Jalanan di palembang" (yogyakarta: citra Media,
2008)
Modul Pelayanan Sosial Anak Jalanan Berbasis Panti, (Jakarta: Direktorat Pelayanan
Sosial Anak, Direktorat Jenderal Pelayanan dan Rehabilitasi dosial,
Departemen Sosial RI, 2006)
Moleong, Lexy J. Metodologi Penelitian Kuatimtrt Bandung : Remaja Rosda Karya,
2002
Nata, Abudin dan Fauzan. Pendidikan dalam perspektif Hadits, ciputat: UIN
Press,2005
Narvawi, Hadari. Metode Penelitian Bidang Sosial, yogyakarta: Gajah Mada
University Press,1985
Nazir, M. Metodologi Penelitian, Jakarta: Ghalia Indonesia,lgg5
Nuraini, Interaksi Masyarakat Pendatang dengan Masyarakat Pribumi dalam
Membangun Toleransi Beragama di Desa Tonjong, Bogor, universitas
Is
lam Ne geri S yari f Hidayatu I lah J akarta,2009
.
Pedoman Penyelenggaraan Pembinaan Anak Jalanan Melalui Rumah Singgah,
Jakarta: Direktorat Jenderal Bina Kesejahteraan Sosial, Departemen Sosial RI, 1999
Pranowo, Bambang. Sosiologi Sebuah Pengantar Tinjauan Pemikiran Sosiologi
P e r sp e ktif
Isl am, J akarta: Laboratorium Sosiologi Agama,200 g
Prasadja, Heru dan Agustian. Murniati, Anak Jalanan
& Kekerasan,, Jakarta: pKMp
Unika Atma Jaya bekerjasama dengan Depsos, 2000
Profil Kemiskinan di Indonesia Maret 2013. Berita Resmi Statistik No. 47l07lTh.
XVI, 1 Juli 2013
Profil Rumah Singgah Yayasan Bina Insan Mandiri
Ravo, Bernard. Teori sosiologi Modern, Jakarta: Prestasi Pustakaraya,2007
Razak, Yusran. Sosiologi Sebuah Pengantar Tinjauan Pemikiran Sosiologi Perspektif
Islam, Jakarta: Laboratorium Sosiologi agama,2008
Ritonga, Jamiludin. Riset Kehumasan, Jakarta: PT. Gramedia Grasind o,2004
Said, Hudri. "Keabsahan Data Instrumen Penelitian,,,
http://expresisastra.blogspot.com/2013/lllkeabsahan-data-instrumen-penelitian.html,
05 Oktober 2014
Salamun dan Taryati. Interaksi Sosial Penduduk Perumnas Condong Catur dengan
P e ndudu
k S e ki t arny
a,
(Yo gyakarta :Kepel Press, 2007), h.3 5
Saebani, Beni Ahmad Dan Kadar Nurjaman. Manajemen penelitian, Bandung:
Penerbit CV. Pustaka Setia,2O13
Standar Pelayanan Sosial Anak Jalanan Melalui Rumah Singgah, (Jakarta: Direktorat
Bina Pelayanan Sosial Anak, Direktorat Jenderal Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial,
Departemen Sosial RI,2002), h. 13-15.
Silalahi, Ulber. Metode Penelitian Sosial, Bandung: Unpar Press,2006
Soekanto, Soerjono. Sosiologi Suatu Pengantar,Jakarta : PT Raja Grafindo Persada,
1994
Sugiyono. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan
D ( Bandung : Alfabeta,2010), cet X
Kuantitatif Kualitatif dan R &
S
ugiyono. Me
to
de P e ne I i t i an P e ndi di kan, B andung: A lfabeta,2O 12
Sunarto. Kamanto Pengantar Sosiologi, (Jakarta: Lembaga penerbit Fakultas
Ekonomi Universitas Indonesia, 2004), Edisi Revisi
Suyanto, Bagong. Masalah Sosial Antak (Jakarta : PT. Kencana Prenada Media Grup
20t3)
Syani, Abdul. sosiologi skematika, Teori, dan Terapan, Iakarta:
2012
pr. Bumi Aksara,
Tim Penyusun (Dendy Sugono,dkk.). Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Pusat
Bahasa,2008.
Usman, Husaini dan Purnomo. Metodologi Penelitian Sosial,Jakarta:
pr. Bumi
Aksara,2000
wawancara dengan Nurrochim, Pendiri Rumah Singgah yayasan Bina Insan
Mandiri, Depok, I I November 2014.
wawancara dengan Nana Sutama, Tutor di Rumah Singgah yayasan Bina Insan
Mandiri, Depok, 24 November 2014
wawancara dengan Bunda Adel, Tutor di Rumah Singgah yayasan Bina Insan
Mandiri, Depolg 24 November 2014
Wawancara Dengan Syawal, Anak Jalanan Yang Tinggal di Rumah Singgah yayasan
Bina Insan Mandiri, Depok, 23 Novemb er 2014
wawancara Dengan Hasan, Anak Jalanan Yang Tinggal di Rumah Singgah yayasan
Bina Insan Mandiri, Depok, 20 Novemb er 2014
Wawancara Dengan Akbar, Anak Jalanan yang Tinggal di Rumah Singgah yayasan
Bina Insan Mandiri, Depok, 23 Novemb er 2014
Wawancara Dengan Sandi, Anak Jalanan Yang Tinggal
Bina Insan Mandiri, Depok, 23 Novemb er 2014
di Rumah Singgah yayasan
wawancara Dengan Ahmad, Anak Jalanan Yang Tinggal di Rumah Singgah yayasan
Bina Insan Mandiri, Depok,23 November2014
PEDOMAN WAWANCARA
Hari/ Tanggal : Kamis, 27 November 2014
Interview
: Bapak Nurrohim
Jabatan
: Pendiri Yayasan Bina Insan Mandiri
Waktu
: 11.00 – 13.30 WIB
Tempat
: Kantor Yayasan Bina Insan Mandiri
Pokok Pembicaraan
1. Siapakah pelopor/pendiri Rumah Singgah Master Yayasan Bina Insan
Mandiri?
______________________________________________________________
______________________________________________________________
______________________________________________________________
2. Kurikulum apa yang dugunakan Rumah Singgah Master Yayasan Bina Insan
Mandiri?
______________________________________________________________
______________________________________________________________
______________________________________________________________
3. Program apa saja yang diterapkan Rumah Singgah Master Yayasan Bina
Insan Mandiri?
______________________________________________________________
______________________________________________________________
______________________________________________________________
4. Kendala apa saja yang dihadapi dalam peaksanaan pengelolaan pendidikan
Rumah Singgah Yayasan Bina Insan Mandiri?
_____________________________________________________________
_____________________________________________________________
_____________________________________________________________
5. Bagaimana cara rumah singgah untuk menarik minat para anak jalanan agar
mau mengikuti program-program di Rumah Singgah Yayasan Bina Insan
Mandiri?
_____________________________________________________________
_____________________________________________________________
_____________________________________________________________
6. Bagaimana keadaan tenaga pengajar Rumah Singgah Yayasan Bina Insan
Mandiri, apakah sudah memadai?
______________________________________________________________
______________________________________________________________
______________________________________________________________
7. Bagaimana cara pencarian dana di Rumah Singgah Yayasan Bina Insan
Mandiri?
______________________________________________________________
______________________________________________________________
______________________________________________________________
8. Berapa lamakah subsidi dana itu berlangsung?
______________________________________________________________
______________________________________________________________
______________________________________________________________
9. Dengan pihak-pihak mana sajakah Rumah Singgah Master Yayasan Bina
Insan Mandiri ini melakukan kerja sama? Dalam bidang apa saja kerja sama
itu dilakukan
10. Sudah berapa banyak lulusan dari Rumah Singgah Master Yayasan Bina Insan
Mandiri?
______________________________________________________________
______________________________________________________________
______________________________________________________________
11. Output apa yang diberika n Rumah Singgah Master Yayasan Bina Insan
Mandiri kepada lulusannya?
______________________________________________________________
______________________________________________________________
______________________________________________________________
12. Adakah prestasi-prestasi yang diraih oleh anak-anak di Rumah Singgah
Master Yayasan Bina Insan Mandiri?
______________________________________________________________
______________________________________________________________
______________________________________________________________
PEDOMAN WAWANCARA UNTUK ANAK JALANAN
Nama
:
Umur
:
Jenis Kelamin
:
Kelas
:
Alamat
:
Pokok Pembicaraan
1. Sejak kapan adik berada di Rumah Singgah Yayasan Bina Insan Mandiri
Depok?
____________________________________________________________
____________________________________________________________
____________________________________________________________
2. Berapa lama anda menghabiskan waktu dijalanan? Dan kegiatan apa yang
anda lakukan?
____________________________________________________________
______________________________________________________________
____________________________________________________________
3. Apakah anda sekolah di Yayasan Bina Insan Mandiri ini?
___________________________________________________________
___________________________________________________________
___________________________________________________________
4. Mengapa anda bisa berada di Rumah Singgah Yayasan Bina Insan Mandiri
ini?
___________________________________________________________
___________________________________________________________
___________________________________________________________
5. Apakah orang tua mengetahui keberadaan anda sekarang di Rumah Singgah ?
Bagaimana Hubungan anda dengan orang tua?
___________________________________________________________
6. Ketika anda sedang beraktivitas dijalanan, apakah anda merasa sekolah anda
terganggu?
___________________________________________________________
___________________________________________________________
___________________________________________________________
7. Bagaimana Hubungan Interasi Sosial anda dengan teman sesama anak
jalanan? adakah simbol-simbol yang digunakan sebagai ciri khas dalam
interaksi?
__________________________________________________________
__________________________________________________________
__________________________________________________________
8. Apakah anda bertanggung jawab terhadap tugas-tugas yang diberikan oleh
sekolah ataupun rumah singgah?
__________________________________________________________
__________________________________________________________
__________________________________________________________
9. Bagaimana hubungan interaksi sosial anda dengan tutor atau Guru di Rumah
Singgah Yayasan Bina Insan Mandiri ?
_________________________________________________________
_________________________________________________________
_________________________________________________________
10. Bagaimana hubungan interaksi sosial anda dengan masyarakat di sekitar
Rumah Singgah?
_________________________________________________________
_________________________________________________________
_________________________________________________________
11. Apakah anda merasa terbebani dengan peraturan-peraturan yang ada di
Rumah Singgah?
__________________________________________________________
__________________________________________________________
__________________________________________________________
12. Berapa penghasilan yang anda dapatkan? Dan digunakan untuk apa
penghasilannya tersebut?
__________________________________________________________
__________________________________________________________
__________________________________________________________
Wawancara dengan Tutor atau Guru
Nama
:
Jabatan
:
Waktu
:
Pertanyaan
1. Bagaimana
karakter dan Bentuk Interaksi Sosial Anak Jalanan terhadap
sesama Anak Jalanan di Rumah Singgah Master ini?
___________________________________________________________
___________________________________________________________
___________________________________________________________
2. Program-program apa saja yang diadakan oleh Rumah Singgah untuk
mengembangkan bakat dan kemampuan anak-anak jalanan di Rumah Singgah
ini?
___________________________________________________________
___________________________________________________________
___________________________________________________________
3. Bagaimana bentuk Interaksi Sosial Anak Jalanan terhadap guru/tutor di
Rumah Singgah Master ini?
__________________________________________________________
__________________________________________________________
__________________________________________________________
4. Bagaimana peraturan yang dibuat oleh pihak Rumah Singgah untuk anakanak jalanan di Rumah Singgah Master?
___________________________________________________________
___________________________________________________________
___________________________________________________________
5. Bagaimana interaksi sosial anak jalanan dengan masyarakat yang berada
disekitar Rumah Singgah?
____________________________________________________________
____________________________________________________________
____________________________________________________________
6. Kapan saja kegiatan mengembangkan kemampuan anak-anak jalanan tersebut
dilaksanakan?
___________________________________________________________
___________________________________________________________
___________________________________________________________
7. Bagaimana pihak Rumah Singgah mengontrol interaksi sosial anak-anak
jalanan disini?
___________________________________________________________
___________________________________________________________
___________________________________________________________
8. Apakah dalam penerapan peraturan akan ada perbedaan untuk pelaksanaan
hukuman bagi anak-anak jalanan yang melanggar aturan?
___________________________________________________________________
___________________________________________________________________
___________________________________________________________________
PEDOMAN WAWANCARA UNTUK MASYARAKAT
Nama
:
Umur
:
Jenis Kelamin
:
1. Bagaimana perilaku anak-anak jalanan di rumah singgah Master ini?
_____________________________________________________________
______________________________________________________________
______________________________________________________________
2. Bagaimana hubungan interaksi sosial anak jalanan dengan masyarakat sekitar
rumah singgah?
______________________________________________________________
______________________________________________________________
______________________________________________________________
3. Apakah anak-anak jalanan sering terlibat dengan kegiatan-kegiatan yang
diadakan dengan masyarakat sekitar?
______________________________________________________________
_____________________________________________________________
_____________________________________________________________
4. Apakah ada kerja sama antara pihak rumah singgah dengan masyarakat
sekitar dalam mengontrol kegiatan yang dilakukan oleh anak-anak jalanan?
_____________________________________________________________
______________________________________________________________
______________________________________________________________
5. Apakah masyarakat sekitar merasa terganggu dengan keberadaan anak-anak
jalan yang berada di Rumah Singgah Master?
______________________________________________________________
HASIL WAWANCARA DENGAN PENDIRI RUMAH SINGGAH
Hari/ Tanggal : Kamis, 27 November 2014
Interview
: Bapak Nurrohim
Jabatan
: Pendiri Yayasan Bina Insan Mandiri
Waktu
: 11.00 – 13.30 WIB
Tempat
: Kantor Yayasan Bina Insan Mandiri
Pokok Pembicaraan
1. Siapakah pelopor/pendiri Rumah Singgah Master Yayasan Bina Insan
Mandiri?
Awalnya saya sendiri, karena ini pekerjaan berat sampai akhirnya saya
merekrut temen-temen aktivis, remaja, mahasiswa. Jadi saya selaku insiator
yang konsep ini, saya butuh orang yang bisa jadi eksekutor. untuk
keberlangsungan ini minimal butuh 3 sampai 5 orang. Jadi pekerjaan ini tidak
mungkin dilakukan sendiri, apalagi anak-anak itu cukup antusias dan banyak,
sehingga kita tidak ingin menyia-nyiakan impian mereka. Mereka punya
semangat, punya kemauan, punya mimpi sehingga tugas kita mewujudkan
impian dan harapan mereka
2. Kurikulum apa yang dugunakan Rumah Singgah Master Yayasan Bina Insan
Mandiri?
Pada dasarnya kurikulum yang digunakan di sekolah master ini sama dengan
kurikulum yang diterapkan oleh sekolah-sekolah lain, yaitu kurikulum yang
berdasarkan peraturan dari pemerintah pusat yang dijadikan sebagai landasan
dalam kegiatan belajar mengajar sehari-hari pada anak-anak, hanya saja dalam
praktik kurikulum ini disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan pada
anak-anak di yayasan. Adapun kurikulum yang digunakan dalam perpaduan
diantaranya, kurikulum SDIT, kurikulum pesantren, kuriulum kemensos, ILO,
dirangkum semua, jadi bagaimana baiknya saja kita ambil. Dari kemenag,
kemensos, kemendikbud kita ambil kisi-kisinya. Hal ini dimodifikasi untuk
mengembangkan bakat dan kemampuan anak-anak sehingga anak-anak
memiliki keterampilan yang sesuai dengan bakat dan hobbi dari masingmasing anak.
3. Program apa saja yang diterapkan Rumah Singgah Master Yayasan Bina
Insan Mandiri ?
Yayasan Bina Insan Mandiri ini terdiri dari beberapa divisi. Diantara divisidivisi yang ada mereka memiliki program-program yang terdapat didalamnya.
Diantaranya antara lain: Programnya setiap divisi berbeda-beda, kalau dari
divisi pendidikan seperti PAUD, SD, SMP, SMA, baik jalur terbuka maupun
paket atau pendidikan kesetaraan (paket A setara SD, paket B setara SMP, dan
paket C setara SMA). Jalur SMP dan SMA terbuka menginduk ke SMP
Negeri 10 Depok dan SMA Negeri 05 Depok.
Selain itu, melalui pendidikan luar sekolah anak-anak diberikan keterampilan
seperti: service handphone, las, bengkel, komputer, desain grafis, tata boga,
menjahit dan lain sebagainya. Ada juga pelatihan untuk masyarakat sekitar
yaitu, pelatihan lukisan global dan batik (pemberdayaan untuk ibu-ibu yang
berada disekitar dan para siswi Yabim). Ada juga program “Coaching dan
conselling” dengan tujuan mengembangkan potensi jiwa berwirausaha,
memberikan motivasi berwirausaha, menciptakan lapangan kerja, melihat
peluang usaha, menggali dan mengembangkan potensi daerahnya. Disini para
anak didik yang telah mengikuti latihan kerja akan di serap oleh unit-unit
usaha yang dikembangkan oleh Yabim.
Ada juga dari divisi ekonomi seperti kewirausahaan, pendampingan dalam
usaha mikro, pemberian pinjaman, koperasi Master yang baru dilauncing pada
tanggal 29 November 2014 dan lain sebagainya.
Divisi sosial seperti kesehatan, hukum untuk anak-anak bermasalah, baktibakti sosial untuk masyarakat sekitar sini. Keagamaan seperti bimbingan
spiritual, kemandirian pada anak-anak jalanan.
Dari banyak program yang ada di Rumah Singgah Master semua diikuti oleh
anak-anak sesuai dengan keinginan dan bakat masing-masing anak agar
mereka mengembangkan dan menjalankan segala hobi yang dimiliki tanpa
ada unsur paksaan dari pihak manapun. Karena Rumah Singgah hanya
menjadi fasilitator untuk anak-anak dalam mengembangkan keterampilan
yang dimilikinya.
4. Kendala apa saja yang dihadapi dalam peaksanaan pengelolaan pendidikan
Rumah Singgah Yayasan Bina Insan Mandiri?
Kita kan orang-orang yang khusus dan spesial semua. Seperti orang pecandu
narkoba dan seks bebasnya dan ABH (Anak yang Berhadapan dengan
Hukum) itu agak sulit dibina, karena butuh pendampingan khusus dan orangorang bisa mengahadapi ini sangat terbatas. Jika kategori anak terlantar dan
anak jalanan masih bisa ditangani.
Anak-anak yang tuna rungu atau ABK (Anak Berkebutuhan Khusus),
walaupun jumlahnya tidak banyak tapi relawannya jarang datang, kadangkadang kan kita tidak mau terjun payung juga untuk mendidiknya. Mereka
dari keluarga miskin yang tidak bisa memilih untuk sekolah dimana, tiba-tiba
datang dan menyerahkan kepada yayasan, yang penting anaknya di disini.
Kita kan harus ada tenaga psikolog yang ahli yang bisa mendampingi anak
ini. Jadi keterbatasan sumber daya untuk penanganan ABK, belum ada
kemitraan yang permanen untuk ABK, infrastruktur dan sarana penunjang
untuk bahan ajar untuk ABK kurang.
5. Bagaimana cara rumah singgah untuk menarik minat para anak jalanan agar
mau mengikuti program-program di Rumah Singgah Yayasan Bina Insan
Mandiri?
Untuk segala program atau kegiatan yang berada di rumah singgah, ketika
anak-anak mau sekolah, kita rumahkan, ketika yang dirumahkan ini sudah
mulai bagus, baru kita kirim ke pesantren. Rumah singgah ini ada yang di
Master, ada yang di Pondok Master, ada yang mau sekolah aja, atau mau
belajar keterampilan saja disini, tapi kalau ingin mengkaji agama lebih dalam
ya di pondok master yang lebih banyak kajian agamanya, kalau yang rumah
singgah sini hanya pembinaan karakter tidak sampai menghafal qur’an, hanya
hafalan surat-surat pendek saja. Pendekatan-pendekatan yang dilakukan lebih
kepada pendekatan personal. Anak-anak diberi pengertian akan pentingnya
pendidikan ketika ia mau untuk melanjutkan sekolah yang berada di Yayasan
Bina Insan Mandiri Depok ini.
6. Bagaimana keadaan tenaga pengajar Rumah Singgah Yayasan Bina Insan
Mandiri, apakah sudah memadai?
Jumlah tutor tetap secara keseluruhan berjumlah sekitar 120 orang. disini ada
juga yang kita sebut dengan guru tamu, banyak dari mereka mahasiswa yang
magang, penelitian ataupun praktek mengajar. Jika dibandingkan dengan
murid hampir 3000 orang tenaga pengajar disini masih kurang. Murid disini
terdiri dari anak jalanan 300 orang, ABK (Anak berkebutuhan Khusus) 35
orang.
Dari orang tua murid dan lingkungan sekitar, relawan bergabung untuk
mengajar atau bisa untuk pendampingan-pendampingan anak-anak, banyak
orang tua yang kapasitasnya bagus bergabung menjadi relawan banyak disini.
Syarat untuk mengajar disini harus sudah lulus s3 untuk mengajar disini
(Sangat Sabar Sekali).
7. Bagaimana cara pencarian dana di Rumah Singgah Yayasan Bina Insan
Mandiri?
Yayasan ini tidak mencari dana. Banyak peserta didik berkualitas, banyak
mendapatkan juara dimana-mana, akhirnya banyak media yang ke yayasan
untuk mencari berita kesini. Ketika di blow up di media, banyak perusahaan
yang mengadakan program CSR (bidang kemanusiaan, bidang pendidikan,
kesehatan, pemberdayaan), badan amil zakat, para donator, pada datang untuk
meminta kerjasama.
NGO luar yang bekerjasama dengan kita hampir 10, seperti: hope our
children, program education jepang, save children, ILO, word education, dll.
8. Berapa lamakah subsidi dana itu berlangsung?
Biasanya per program Ada yang 3 bulan dan 6 bulan, mereka lebih ke
program SDM dan manajemen. Ada yang Cuma sekali aja diundang ada
semacam forum diskusi, seminar, semacam kerjasama lintas jaringan aja.
Kerjasama di program forum rumah singgah, forum PKBM, BNKS,
perguruan tinggi swasta. Pusat kegiatan masyarakat untuk penguatan
kapasitas SDM dan kelembagaan.
9. Dengan pihak-pihak mana sajakah Rumah Singgah Master Yayasan Bina
Insan Mandiri ini melakukan kerja sama? Dalam bidang apa saja kerja sama
itu dilakukan?
Kita membangun kemitraan dengan pihak praktisi, akademisi, lintas sektor,
dengan dinas terkait dengan kalangan pengusaha, bagaimana ini kita jadikan
isu bersama dan problem kita semua, sehingga orang tergerak untuk
berpartisipasi
untuk
memberikan
solusi
masalah,
sehingga
dengan
kebersamaan ini akan mudah dan lebih cepat untuk proses berkembangnya
dan semakin banyak orang-orang yang terlayani. Supaya ini gratis tapi bisa
berkualitas karena ditangani sama-sama dan orang yang memberikan
kontribusi bukan hanya memberikan materi, tetapi berupa ide, bisa saran.
10. Sudah berapa banyak lulusan dari Rumah Singgah Master Yayasan Bina Insan
Mandiri?
Sekitar 4-5 ribu orang.
Ujian di Yabim berlangsung setahun 3 kali, pesertanya sekitar 300 orang
sekali ujian.
11. Output apa yang diberikan Rumah Singgah Master Yayasan Bina Insan
Mandiri kepada lulusannya?
Mereka punya keterampilan wirausaha sesuai dengan minat dan bakatnya dan
punya bekal ijazah.
12. Adakah prestasi-prestasi yang diraih oleh anak-anak di Rumah Singgah
Master Yayasan Bina Insan Mandiri?
Prestasi-prestasi yang diperoleh oleh anak-anak di Rumah Singgah Master ini
diantaranya adalah
13. Adakah hukuman dan aturan untuk anak-anak jalanan? Siapa yang membuat
atura tersebut?
Ada. Aturan dan sanksi yang dibuat atas kesepakatan bersama dengan anakanak jalanan. Anak-anak yang membuat aturan dan anak-anak pula yang
memberikan sanksi kepada yang melanggar aturan. Hal ini dilakukan agar
semua anak-anak disini merasa nyaman tanpa ada unsure paksaan untuk
melakukan segala aktivitas dilingkungan rumah singgah. Maka ketika mereka
melanggar aturan, teman-teman mereka yang akan memberikan sanksi
tersebut agar mereka memiliki rasa tanggung jawab terhadap diri sendiri.
Karena dalam pendidikan yang ditanamkan di lingkungan ini anak-anak
diberikan pendidikan setelah itu diberikan pemahaman untuk dilakukan
sebagai pembiasaan dan pengamalan atas pendidikan, materi atau hal-hal apa
saja yang telah mereka dapatkan di Rumah Singgah. Karena ada yang bisa
karena terbiasa ataupun bisa karena dipaksa. Bisa yang dimaksud disini yaitu
menjalankan
kewajiban-kewajiban
mereka
untuk
menghindari
dari
pelanggran-pelanggaran aturan yang telah dibuat atas kesepakatan bersama.
Karena di Dunia apapun ada aturan hanya bagaimana aturan yang dibuat itu
mampu mengakomodir segala bentuk yang sesuai dengan keinginan anakanak.
Depok, 24 November 2014
Pewancara
(Yustia Umamah)
Terwawancara
Hasil Wawancara Dengan Anak Jalanan
Nama
: Sandi
Jenis Kelamin
: Laki-laki
Umur
: 14 Tahun
Kelas
: VI Sekolah Dasar
Pokok Pembicaraan
1. Sejak kapan adik berada di Rumah Singgah Yayasan Bina Insan Mandiri
Depok?
Saya tinggal di rumah singgah ini sejak tahun 2009.
2. Berapa lama anda menghabiskan waktu dijalanan? Dan apa yang dilakukan?
Biasanya kegiatan yang saya lakukan di jalanan itu adalah ngamen, ojek
payung untuk mencari uang di sekitar Depok dan itu menghabiskan waktu
sebanyak 4-5 Jam saja bersama teman-teman.
3. Apakah anda sekolah di Yayasan Bina Insan Mandiri ini?
Selain tinggal di rumah singgah ini saya juga sekolah. Tingkat Sekolah Dasar
Master kelas VI.
4. Mengapa anda bisa berada di Rumah Singgah Yayasan Bina Insan Mandiri
ini?
Awalnya karena faktor ekonomi keluarga yang kurang baik, saya kabur dari
rumah untuk belajar mandiri. Mencari uang dan memenuhi kebutuhan seharihari saya tanpa harus meminta kepada kedua orang tua. Sejak kabur dari
rumah saya pergi ke terminal Depok sini dan bertemu dengan banyak teman.
Mereka tinggal di Yayasan Bina Insan Mandiri dan saya memutuskan untuk
ikut menetap disini.
5. Apakah orang tua mengetahui keberadaan anda sekarang di Rumah Singgah ?
Bagaimana Hubungan anda dengan orang tua?
Awalnya orang tua saya tidak mengetahui, tapi sekarang mereka tahu saya
tinggal disini.
6. Ketika anda sedang beraktivitas dijalanan, apakah anda merasa sekolah anda
terganggu?
Tidak merasa terganggu.
7. Bagaimana Hubungan Interasi Sosial anda dengan teman sesama anak jalanan
? adakah simbol-simbol yang digunakan sebagai ciri khas dalam interaksi?
Hubungan saya dengan teman-teman baik-baik saja. Kita tidak memiliki
bahasa, atau simbol yang menjadi ciri khas kami sebagai anak jalanan ketika
interaksi sosial dengan yang lainnya.
8. Apakah anda bertanggung jawab terhadap tugas-tugas yang diberikan oleh
sekolah ataupun rumah singgah?
Ya saya bertanggung jawab terhadap tugas-tugas yang diberikan untuk saya.
9. Bagaimana hubungan interaksi sosial anda dengan tutor atau Guru di Rumah
Singgah Yayasan Bina Insan Mandiri ?
Hubungan interaksi sosial yang saya lakukan dengan guru atau tutor di sekitar
Rumah Singgah ini saya menjaga nya dengan baik. Menghormati mereka
sebagaimana orang tua saya sendiri.
10. Bagaimana hubungan interaksi sosial anda dengan masyarakat di sekitar
Rumah Singgah?
Hubungan saya dengan masyarakat sekitar juga terjalin baik. Saling tolong
menolong jika memang ada masyarakat yang sedang mengalami kesulitan.
11. Apakah anda merasa terbebani dengan peraturan-peraturan yang ada di
Rumah Singgah?
Saya tidak merasa terbebani.
12. Berapa penghasilan yang didapat dari hasil ngamen? Dan digunakan untuk
apa uang tersebut?
Biasanya uang hasil ngamen yang saya dapatkan adalah sebesar Rp. 15.00035.000, dan uang tersebut saya gunakan untuk keperluan saya sehari-hari
selama di rumah singgah.
PEDOMAN WAWANCARA UNTUK ANAK JALANAN
Nama
: Hasan
Usia
: 11 Tahun
Jenis Kelamin
: Laki-laki
Kelas
: VI Sekolah Dasar
Alamat
: Tangerang
Pertanyaan
1. Sejak kapan adik berada di Rumah Singgah Yayasan Bina Insan Mandiri
Depok?
Saya tinggal di rumah singgah ini sudah sejak tahun 2012
2. Berapa lama anda menghabiskan waktu dijalanan? Dan apa yang dilakukan?
3-5 Jam biasanya. Kegiatan yang saya lakukan adalah ngamen, berjualan
tissue atau menjadi tukang semir. Kegiatan itu dilakukan masih disekitar
Depok.
3. Apakah anda sekolah di Yayasan Bina Insan Mandiri ini?
Ya saya sekolah di Yayasan Bina Insan Mandiri ini. Selain tinggal di rumah
singgahnya, pendidikan saya di Sekolah Dasar Master Indonesia.
4. Mengapa anda bisa berada di Rumah Singgah Yayasan Bina Insan Mandiri
ini?
Pada awalnya saya kabur dari rumah orang tua di Tangerang, kemudian saya
nyasar dan sampai di rumah singgah ini. Sejak itu juga saya memutuskan
untuk berada di Rumah singgah ini karena banyak teman-teman sebaya.
5. Apakah orang tua mengetahui keberadaan anda sekarang di Rumah Singgah ?
Bagaimana Hubungan anda dengan orang tua?
Awalnya orang tua tidak mengetahui keberadaan saya. Tapi akhirnya saya
sempet pulang untuk memberi kabar kepada mereka bahwa sekarang saya
tinggal di Rumah Singgah Yayasan Bina Insan Mandiri, Depok. Kemudian
saya memutuskan untuk kembali kerumah singgah ini.
6. Ketika anda sedang beraktivitas dijalanan, apakah anda merasa sekolah anda
terganggu?
Saya tidak merasa terganggu dengan kegiatan sekolah saya.
7. Bagaimana Hubungan Interasi Sosial anda dengan teman sesama anak jalanan
? adakah simbol-simbol yang digunakan sebagai ciri khas dalam interaksi?
Hubungan interaksi sosial saya dengan teman yang lainnya baik-baik saja.
Diantara kami saling bergabung. Tidak ada simbol-simbol tertentu yang kami
gunakan dalam ciri khas kami sebagai anak jalanan yang tinggal di master.
Bahasa dan simbol yang kami gunakan sama dengan yang biasa digunakan
oleh masyarakat lainnya. Kami anak-anak jalanan disini juga jarang
bertengkar.
8. Apakah anda bertanggung jawab terhadap tugas-tugas yang diberikan oleh
sekolah ataupun rumah singgah?
Ya jika ada tugas yang harus dilakukan maka saya akan mengerjakan sesuai
dengan kemampuan saya.
9. Bagaimana hubungan interaksi sosial anda dengan tutor atau Guru di Rumah
Singgah Yayasan Bina Insan Mandiri ?
Hubungan saya dengan guru atau tutor yang ada di rumah singgah dan
sekolah semua baik-baik saja, saya hormat dan santun kepada guru. Hanya
saya tidak suka dengan guru atau tutor yang galak.
10. Bagaimana hubungan interaksi sosial anda dengan masyarakat di sekitar
Rumah Singgah?
Hubungan interaksi dengan masyarakat yang ada disekitar rumah singgah juga
baik-baik saja. Saya main dan berbaur juga dengan teman-teman sebaya yang
ada.
11. Apakah anda merasa terbebani dengan peraturan-peraturan yang ada di
Rumah Singgah?
Terkadang saja saya merasa terbebani dengan peraturan yang ada.
12. Berapa penghasilan yang didapat dari hasil ngamen? Dan digunakan untuk
apa uang tersebut?
Biasanya uang yang didapat sebesar 10-40 Ribu, dan uangnya saya gunakan
untuk keperluan sehari-hari, seperti membeli makan, jajan dan kadang sisanya
saya tabung.
Hasil Wawancara Dengan Anak Jalanan
Nama
: Bayu
Jenis Kelamin
: Laki-laki
Umur
: 13 Tahun
Kelas
: VI Sekolah Dasar
1. Sejak kapan adik berada di Rumah Singgah Yayasan Bina Insan Mandiri
Depok?
Saya tinggal di Master ini sejak tahun 2008.
2. Berapa lama anda menghabiskan waktu dijalanan? Dan apa yang dilakukan?
Biasanya saya menghabiskan waktu 3-6 Jam selama di jalan. Hal-hal yang
saya lakukan bersama teman-teman adalah mencari uang untuk memenuhi
kebutuhan hidup sehari-hari dengan kegiatannya adalah ngamen, ojek payung,
terkadang semir sepatu.
3. Apakah anda sekolah di Yayasan Bina Insan Mandiri ini?
Ya. Selain tinggal disini saya juga sekolah dan saat ini saya sudah kelas VI
Sekolah Dasar Master
4. Mengapa anda bisa berada di Rumah Singgah Yayasan Bina Insan Mandiri
ini?
Saya berasal dari V bersaudara dan orang tua dengan ekonomi yang paspasan. Makanya saya memilih pergi dari rumah untuk belajar mandiri. Rumah
saya di Jakarta, waktu pertama kali kabur saya naik kereta Bogor dan
kemudian turun di Stasiun Depok. Dari stasiun ada yang member tahu saya
ada sekolah gratis dekat dengan terminal. Saya langsung kesini dan betah
tinggal disini sampai dengan sekarang.
5. Apakah orang tua mengetahui keberadaan anda sekarang di Rumah Singgah ?
Bagaimana Hubungan anda dengan orang tua?
Ya, orang tua saya mengetahui keberadaan saya sekarang ini. Karena saya
pernah pula dan menceritakan keberadaan tempat tinggal saya sekarang.
Hubungan saya dengan orang tua sekarang baik, terkadang kalau saya kangen
sama orang tua saya pulang kerumah tapi tidak untuk waktu yang lama.
Karena tidak betah dirumah, tidak banyak teman seperti di Master ini.
6. Ketika anda sedang beraktivitas dijalanan, apakah anda merasa sekolah anda
terganggu?
Aktivitas di Jalanan bukan menjadi penghambat saya untuk tetap sekolah. Jadi
saya tidak pernah merasa terganggu.
7. Bagaimana Hubungan Interasi Sosial anda dengan teman sesama anak jalanan
? adakah simbol-simbol yang digunakan sebagai ciri khas dalam interaksi?
Saya sama teman-teman yang ada disini saling menjaga pertemanan satu sama
lainnya. Kita jarang bertengkar, mungkin jika bertengkar pun dikarenakan ada
teman-teman yang sedikit belagu aja. Kita juga main-main aja, komunikasikomunikasi tanpa ada simbol atau bahasa yang menjadi ciri khas dari kami.
8. Apakah anda bertanggung jawab terhadap tugas-tugas yang diberikan oleh
sekolah ataupun rumah singgah?
Jika memang ada tugas dan saya mampu mengerjakannya, maka akan saya
kerjakan.
9. Bagaimana hubungan interaksi sosial anda dengan tutor atau Guru di Rumah
Singgah Yayasan Bina Insan Mandiri ?
Interaksi saya dengan guru atau tutor disini harus saya jaga dengan baik,
karena mereka adalah orang tua saya selama saya disini. Tapi terkadang jika
ada guru atau tutor yang galak saya agak males dengannya. Saya sangat
senang dengan guru atau tutor yang baik jika mengajar dikelas ataupun diluar
dari jam belajar.
10. Bagaimana hubungan interaksi sosial anda dengan masyarakat di sekitar
Rumah Singgah?
Hubungan dengan masyarakat disekitar sini juga baik.
11. Apakah anda merasa terbebani dengan peraturan-peraturan yang ada di
Rumah Singgah?
Terkadang merasa terbebani tapi terkadang juga tidak.
12. Berapa penghasilan yang didapat dari hasil ngamen? Dan digunakan untuk
apa uang tersebut?
Pengahasilan yang saya dapatkan adalah Rp.20.000-50.000,00. Dan uang
yang didapatkan dari hasil ngamen itu saya gunakan untuk keperluan jajan
sendiri dan jika ada sisanya saya tabung.
Pedoman Wawancara
Nama
: Syawal
Jenis Kelamin
: Laki-laki
Umur
:11 Tahun
Kelas
:VI Sekolah Dasar
Pertanyaan
1. Sejak kapan adik berada di Rumah Singgah Yayasan Bina Insan Mandiri
Depok?
Saya berada di Rumah Singgah ini sudah sejak lama sekali, yaitu sejak tahun
2010.
2. Berapa lama anda menghabiskan waktu dijalanan? Dan apa yang dilakukan?
Biasanya saya dijalanan itu waktunya sore hari ka. Dari jam 15.00 s/d Selesai
( 15.00-20.00 Wib). 3-6 Jam dijalanan. Kegiatan yang saya lakukan dengan
teman-teman biasanya adalah ngamen. Ngamen disekitar terminal depok, Itc
Depok dan sekitarnya. Hanya waktunya tidak siang, karena kalau siang takut
kena razia satpol PP.
3. Apakah anda sekolah di Yayasan Bina Insan Mandiri ini?
Iya saya sekolah di Sekolah Master Indonesia. Selain saya dijalanan mencari
uang tapi saya senang disini karena saya juga bisa sekolah dan belajar dengan
teman-teman yang lainnya. Awalnya saya tidak mau sekolah, tapi oleh pihak
Yayasan anak-anak jalanan disini disediakan fasilitas sekolah dan program
yang sesuai dengan keinginan anak-anak jalanan untuk meningkatkan
kreativitas kami
4. Mengapa anda bisa berada di Rumah Singgah Yayasan Bina Insan Mandiri
ini?
Awalnya saya ikut dengan kakak saya, kemudian ada yang memberi tahu saya
tentang rumah singgah ini, saya pergi saja naik kereta dan kemudian saya
betah disini dan ingin belajar mandiri maka saya memutuskan untuk tetap
tinggal disini tanpa orang tua.
5. Apakah orang tua mengetahui keberadaan anda sekarang di Rumah Singgah ?
Bagaimana Hubungan anda dengan orang tua?
Ya. Orang tua saya tahu kok tentang keberadaan saya, kadang saya sering
disuruh pulang sama mereka, tapi saya tidak mau pulang. Karena dirumah
engga banyak temen kayak disini. Kalau disini kan selain bisa cari uang dari
ngamen, saya bisa sekolah dan punya temen yang banyak juga.
6. Ketika anda sedang beraktivitas dijalanan, apakah anda merasa sekolah anda
terganggu?
Saya tidak merasa terganggu dengan sekolah dan aktivias jalanan yang saya
lakukan. Kadang terkadang suka merasa jenuh saja.
7. Bagaimana Hubungan Interaksi Sosial anda dengan teman sesama anak
jalanan ? adakah simbol-simbol yang digunakan sebagai ciri khas dalam
interaksi?
Hubungan dengan teman-teman yang ada di lingkungan Yayasan Bina Insan
Mandiri Depok ini semua baik-baik saja. Kami merasa sudah sebagai keluarga
sendiri. Paling jika ada sedikit pertengkaran itu karena diantara kami ada yang
susah diberitahu dan sedikit bersikap kurang baik kepada yang lainnya. Tidak
ada bahasa dan simbol-simbol khusus yang kami gunakan dalam kegiatan
interaksi sehari-hari.
8. Apakah anda bertanggung jawab terhadap tugas-tugas yang diberikan oleh
sekolah ataupun rumah singgah?
Jika memang ada tugas yang harus dikerjakan saya kerjakan, tapi kadang juga
suka tidak dikerjakan karena lupa.
9. Bagaimana hubungan interaksi sosial anda dengan tutor atau Guru di Rumah
Singgah Yayasan Bina Insan Mandiri ?
Hubungan saya dengan tutor atau guru disini saya berusaha menjaga nya
dengan baik. Karena untuk saya mereka semua adalah orang tua saya disini.
Mereka baik-baik maka saya senang dan betah tinggal disini.
10. Bagaimana hubungan interaksi sosial anda dengan masyarakat di sekitar
Rumah Singgah?
Hubungan saya dengan masyarakat disekitar juga baik. Saya menghormati
yang lebih tua dari saya.
11. Apakah anda merasa terbebani dengan peraturan-peraturan yang ada di
Rumah Singgah?
Saya tidak merasa terbebani dengan peraturan yang ada. Saya nyamannyaman saja disini. Karena peraturan dibuat juga untuk kebaikan saya.
12. Berapa penghasilan yang didapat dari hasil ngamen? Dan digunakan untuk
apa uang tersebut?
Penghasilan yang didapat dari hasil ngamen dan lainnya tidak menentu ka.
Kadang 20 ribu, kadang 30 ribu. Paling besar 50 ribu tapi itu jarang. Karena
keinginan buat mandiri makanya saya ngamen buat meringankan beban orang
tua. Hasil ngamen saya gunakan buat biaya sehari-hari saya aja sebenarnya.
Hasil Wawancara
Nama
: Muhammad Fahrul
Usia
: 14 Tahun
Jenis Kelamin
: Laki-laki
Kelas
: VI Sekolah Dasar
Alamat
: Citayem
Pokok Pembicaraan
1. Sejak kapan adik berada di Rumah Singgah Yayasan Bina Insan Mandiri
Depok?
Saya tinggal di Master ini sejak tahun 2010.
2. Berapa lama anda menghabiskan waktu dijalanan? Dan apa yang dilakukan?
Waktu yang saya gunakan dijalanan dalam aktivitas sehari-hari biasanya 2-6
Jam. Kegiatan yang dilakukan adalah ngamen, berjualan tissue, ojek payung
dan lain-lain. Biasanya saya melakukan itu di wilayah sekitar Depok saja.
3. Apakah anda sekolah di Yayasan Bina Insan Mandiri ini?
Ya , saya sekolah di Master. Sekarang saya kelas VI SD, nanti mudahmudahan saya bisa melanjutkan ke jenjang sekolah berikutnya. Supaya bisa
memperbaiki kehidupan saya kedepannya dengan pendidikan yang sedang
saya jalani ini.
4. Mengapa anda bisa berada di Rumah Singgah Yayasan Bina Insan Mandiri
ini?
Awalnya saya ikut kakak saya pergi ke daerah Jakarta sekitar Monumen
Nasional ( Monas). Di Jakarta kemudian saya tidak betah, saya izin ikut
dengan adiknya dari teman kaka saya untuk pergi ke Depok. Nah, pertama
kali saya kesini saya merasa betah dan nyaman kemudian saya pun
memutuskan untuk menetap disini. Karena saya ingin belajar hidup mandiri
tanpa harus memberatkan kedua orang tua saya.
5. Apakah orang tua mengetahui keberadaan anda sekarang di Rumah Singgah ?
Bagaimana Hubungan anda dengan orang tua?
Iya, kedua orang tua saya mengetahui keberadaan saya. Kadang mereka
datang kesini untuk melihat keadaan saya.
6. Ketika anda sedang beraktivitas dijalanan, apakah anda merasa sekolah anda
terganggu?
Saya tidak pernah merasa terganggu dengan aktivitas yang saya lakukan.
Karena sekolah ya tetap harus saya jalani, dan mencari uang juga memang hal
yang harus saya lakukan.
7. Bagaimana Hubungan Interasi Sosial anda dengan teman sesama anak jalanan
? adakah simbol-simbol yang digunakan sebagai ciri khas dalam interaksi?
Hubungan saya dengan teman-teman yang berada di rumah singgah ini baikbaik saja. Kita saling bekerja sama dan bermain satu sama lainnya. Tidak ada
yang membeda-bedakan kita kelas berapa, usia berapa. Pokoknya kita saling
mengayomi satu sama lain. Dalam kegiatan sehari-hari kita menggunakan
bahasa Indonesia yang juga sama digunakan oleh orang lain, tidak ada simbolsimbol khusus yang kami miliki untuk interaksi kepada sesama anak jalanan
disini. Kita jarang bertengkar antara satu dengan yang lain.
8. Apakah anda bertanggung jawab terhadap tugas-tugas yang diberikan oleh
sekolah ataupun rumah singgah?
Ya saya bertanggung jawab terhadap tugas sekolah atau rumah singgah yang
harus saya kerjakan.
9. Bagaimana hubungan interaksi sosial anda dengan tutor atau Guru di Rumah
Singgah Yayasan Bina Insan Mandiri ?
Guru atau tutor mereka saya anggap sebagai orang tua sendiri. Oleh karena itu
saya harus menjaga hubungan baik dengannya. Menghormati dan santun
kepada mereka yang menjaga dan memberikan ilmu saya disini. Hanya saja
terkadang saya tidak suka jika ada guru-guru yang memiliki karakter galak.
Saya sangat senang dengan guru-guru yang baik.
10. Bagaimana hubungan interaksi sosial anda dengan masyarakat di sekitar
Rumah Singgah?
Hubungan dengan orang-orang yang ada disekitar rumah singgah ini juga
baik-baik saja.
11. Apakah anda merasa terbebani dengan peraturan-peraturan yang ada di
Rumah Singgah?
Saya tidak merasa terbebani dengan peraturan-peraturan yang ada.
12. Berapa penghasilan yang anda dapatkan? Dan digunakan untuk apa
penghasilannya tersebut?
Penghasilan yang saya dapatkan dari mulai 15-50 Ribu Rupiah, dan uang itu
saya gunakan untuk memenuhi kebutuhan saya sehari-hari seperti makan,
jajan, dan jika ada sisanya maka uang tersebut akan saya tabungkan.
Hasil Wawancara Dengan Masyarakat
Nama
: Muhammad
Umur
: 39 Tahun
Jenis Kelamin
: Laki-laki
1. Bagaimana perilaku anak-anak jalanan di rumah singgah Master ini?
Setahu saya perilaku anak-anak yang berada di rumah singgah master
tergolong cukup baik, adapun kalau ada yang nakal ya dimaklumi karena
mereka masih anak-anak. Selama perbuatan dan kelakuan anak-anak tidak ada
yang membuat masyarakat resah kita baik-baik saja.
2. Bagaimana hubungan interaksi sosial anak jalanan dengan masyarakat sekitar
rumah singgah?
Hubungan antara masyarakat dengan anak-anak jalanan baik. Sebatas pada
saling menghormati mereka dan menggap mereka seperi anak sendiri. hehe
3. Apakah anak-anak jalanan sering terlibat dengan kegiatan-kegiatan yang
diadakan dengan masyarakat sekitar?
Terkadang ikut terlibat, terkadang juga jarang. Tergantung pada kegiatan apa
yang memang sedang diadakan masyarakat sehingga bisa melibatkan anakanak jalanan tersebut.
4. Apakah ada kerja sama antara pihak rumah singgah dengan masyarakat
sekitar dalam mengontrol kegiatan yang dilakukan oleh anak-anak jalanan?
Ada. Masyarakat dan pihak rumah singgah saling berkomunikasi jika ada
anak-anak yang membuat masyarakat resah agar ditindaklanjuti oleh pihak
rumah singgah.
5. Apakah masyarakat sekitar merasa terganggu dengan keberadaan anak-anak
jalan yang berada di Rumah Singgah Master?
Terkadang terganggu jika anak-anak jalanan meembuat keributan. Tapi jika
tidak maka baik-baik saja tidak merasa terganggu.
PEDOMAN WAWANCARA UNTUK MASYARAKAT
Nama
: Ibu Ani
Umur
: 35 Tahun
Jenis Kelamin
: Perempuan
1. Bagaimana perilaku anak-anak jalanan di rumah singgah Master ini?
Perilaku anak-anak jalanan disini sama saja dengan perilaku anak-anak pada
umumnya.
2. Bagaimana hubungan interaksi sosial anak jalanan dengan masyarakat sekitar
rumah singgah?
Hubungan saya sendiri dengan anak-anak jalanan baik kok. Saling membantu
jika memang saling membutuhkan bantuan diantara kami.
3. Apakah anak-anak jalanan sering terlibat dengan kegiatan-kegiatan yang
diadakan dengan masyarakat sekitar?
Jarang. Terlibat dengan kegiatan masyarakat pada suatu waktu saja. Jika
memang harus mengajak anak-anak jalanan tersebut.
4. Apakah ada kerja sama antara pihak rumah singgah dengan masyarakat
sekitar dalam mengontrol kegiatan yang dilakukan oleh anak-anak jalanan?
Kerja sama antara rumah singgah dengan masyarakat sekitar ada. Saling
mengingatkan anak-anak saja jika memang kami masyarakat melihat ada
keributan kecil diantara anak-anak.
5. Apakah masyarakat sekitar merasa terganggu dengan keberadaan anak-anak
jalan yang berada di Rumah Singgah Master?
Kadang terganggu, kadang tidak. Tergantung pada situasi yang seperti apa.
Kita saling menghargai dan coba menyesuaikan diri saja dengan keberadaan
mereka.
LAMPIRAN
DATA ANAK JALANAN PKSA YAYASAN BTNA INSAN MANDIRI DEPOK
Nama Lembaga : Yayasan Bina Insan Mandiri
Alamat Lembaga : Jl. Margonda Raya No.58 Terminal Depok
wi
DATA ANAK
No
I
2
J
4
5
DATA ORANG TUA
LtP
Nama
Sandi
L
Abdul Mathin
Abdul
Rahman fuzik
Akbar
L
L
L
L
Syawal
Jakarta,
01
2000
Cirebon,
I
I
Mei
April
1998
Depok,13 Juli 1997
Jakarta,
12
April
09
Mei
2000
Jakarta,
2003
Tangerang, 19 Juli
6
Hasan
L
7
Fahrul
L
Tangerang, 08 Juni
8
Adnan
Buyung
L
Depok,
9
l0
Bayu
Agil
L
Topik
Eko
L
Agung
t1
Gunawan
L
Citra
t2
t3
Agung
Pamungkas
Agung
Pangestu
L
L
2003
2003
14
November 1998
Jakarta,
15
Mei
2003
Depok,l6
Januari
2002
Depok,l0
September 1999
Jakarta,
27
Mei
2000
Bojong Gede,31
Agustus 2000
Nama Orang Tua
Pekerjaan Orang tua
Anak
Ayah
Ib.r
Ayah
Ibu
Ngamen
Depok
DwiWakaf
Wastiri
Buruh
IRT
Ngamen
Depok-Jakarta
Karmat
Titin
Petani
Petani
Pemulung
Margonda
Deook
Alm.Abdul
Wahid
Nurhayati
Buruh
IRT
Ngamen
Depok-Jakarta
Didi
Aisyah
Ojek
TKWArab
Supryadi
Sarah
Satpam
IRT
Anak
Akti{itas
Anak
SD
5SD
Pend.
TTL
SD
VI
SD
Lokasi
Aktifitas
Terminal
SD
Ngamen
SD
Ngamen
Stasiun Depok
Cece
Mariah
Buruh
IRT
SD
Ngamen
Depok
Ahmad
Uti
Buruh
IRT
SD
Ojek payung
Terminal
Depok
Ilham
Suriati
Buruh
IRT
SD
Ngamen
Depok
Andi
Sutini
Buruh
IRT
Supamo
Kasmini
Ojek
IRT
Riyan
Ela Nurlela
Supir
IRT
Didi
Mira
Peg Swasta
IRT
Bambang
Yati
SD
Ojek payung
SD
Ojek Payung
Ojek
SD
Payung,
Ngamen
4SD
Ngamen,
Ojek palung
Depok
Terminal
Deook
Terminal
Depok
Terminal
Depok
Depok
Kuli
Bangunan
IRT
Ahmad
l4
Daman Huri L
(Adam)
15
Ahmad Fajar
L
Citayam,
28
Agustus 2000
Depok, 08 Oktober
r997
3SD
Ngamen
Depok
Yono
Dawiayah
Listrik
Pedagang
6SD
Ojek payung
Depok
Darwis
Yani
Buruh
IRT
Depok
Roni
Nurmi
Supir truk
Dagang
Emul
Darmi
Buruh
Pedagang
Ahmad
l6
Saputra
L
Depok,28 Mei 1999
3SD
Ojek payung
P
Depok,2O |uni2002
SD
Ojek payung
3 SMA
Ngamen,
Joki
Depok-Jakarta
Hendrik
Ojek Payung
Depok
Uus
Yanti
Depok-Jakarta
Tumpal
Saktiawan
Sri Tasriyah
Depok-Jakarta
Parodi
Sutri
Jaga Pos
IRT
Depok
Aden
Nunung
Clean
Service
IRT
Margonda
Denok
Eko
Soliha
Supir
IRT
Depok-Jakarta
Maing
Omas
Buruh
IRT
Maya
Dagang
Dagang
(Putra)
17
t8
Ajeng
Akbar
Feri
(Peri)
L
Semarang,
20
Maretl996
t9
Aldi Maulana
L
Depok, 12 Maret
5SD
2000
20
Ammerudin
L
Jakarta,T Mar 1999
Andi
L
21
22
andre Ahmad
Subarga
L
')?
Angelika
P
24
Anipah
Lestari
P
25
Anisa Fadilla
(Nisa)
P
Bandung,
12
Juni
1999
Jakarta,
3
Agustus
2000
Bogor, 25 desember
2000
Desember 2001
SD
Ngamen,ojek
DAytINS
Ngamen
Depok
Ngamen
Ngamen,
4SD
ngemis, ojek
payung
Depok,2l Mei2002
Jakarta,
3SD
Terminal
SD
Ngamen
O.iek
Tukang
Parkir
Kuli Cuci
IRT
Ojek
SD
Payung,
Ngamen
13
4SD
Ojek payung
Depok
26
Anita Julianti
27
Anita
Rueliyanti
28
29
30
3l
32
-t
-,
34
Apry Yanto
Arapik (Apik)
Arjuna
Gusti
Wardana
Arma Vigi
P
P
L
L
L
L
Asep
P
Astri Wardani
P
Aswandi
L
Aulia
35
36
37
38
39
Nurrahman
(Santi)
P
Ayu Sinta
P
Ayub
Juanda
Idham (Ayub)
Badi
Badrun
Jakarta,28 Juni 2001
SD
Bekasi, 04 Oktober
DO2
1996
SMP
Bekasi
t997
Depok,
L
L
2l
Maret
199s
Depok 25 Agustus
r999
1999
Banjarnegara
8
Maret 1999
Jakarta,9 September
2000
Depok,29
agustus
1996
Depok, 03 Agustus
995
Bogor,
20
November 2002
Tanggerang, l0
maret 1998
Depok, 05 Oktober
1996
Citayem,
Agustus 2004
Stasiun Depok
Zulkipli
Sri Suningsih
Pedagang
Pedagang
Ngamen
Depok
Karnadi
Siti Munayah
Supir
IRT
5SD
Joki 3 in I
Jakarta
Sumantri
Nimah
Pedagang
Pedagang
2 SMP
Ngamen
Depok-Jakarta
Anto
Mestri
Pedagang
Pedagang
SD
Payung,
JL.Juanda
Iwan Irawan
Dewi Anggraini
Wiraswasta
IRT
Ojek
Ngamen
Depok, l9 desember
1
L
,
25 April
Ngamen
16
SD
Ojek payung
Terminal
Depok
Toni
Jamilah
Wiraswasta
IRT
SD
Ngamen
Stasiun Depok
Juned
Ponidah
Pemulung
Pemulung
SD
Pedagang
Psr Kemiri
Darman
Jumi
Buruh
IRT
SD
Ojek payung
Terminal
Depok
Sadi
Seni
Buruh
IRT
3 SMP
Ngamen
Depok-Jakarta
M.
Oktariani
Satpam
IRT
SD
Ojek
Payrng,
Ngamen
Depok-Jakarta
M Tamim
M Mediyanti
Pedagang
IRT
6SD
Ngamen
Depok-Jakarta
Nadian
Idham
3 SMA
Cuci Mobil
Depok
Mat Jaih
Suryani
Bojong
Mat Jaih
Survani
3SD
Rentan
Kejalan
Daeng
Idrus
Wiraswasta
Supir
Angkot
Supir
Angkot
PRT
PRT
40
Bisma SM
L
Tasik,24 Agst 1994
3 SMA
L
Jakarta,lT Juni 2001
SD
Ngamen,
Depok-Jakarta
Rodi
Niring
Politikus
IRT
Ngamen
Psr Kemiri
Slamet
S.Sofiah
Pemulung
IRT
SD
Pemulung
Margonda
Deook
Rusman
Jumrih
Buruh
IRT
SMA
Ngamen
Depok-Jakarta
M.Yunus
Koria
Buruh
IRT
SD
Ojek payung
Depok-Jakarta
Carudi
Karmina
Buruh
IRT
Paket B
Rentan
Kejalan
Depok
M. Ihsan
Gokasina
Penrulung
Pemulung
SD
Ngamen
Psr Kemiri
Budiman
Nani Aprilia
Wiraswasta
IRT
SD
Ngamen
Margonda
Depok
Adji
Ripah
Supir
IRT
5SD
Ojek Payung
S. Masithah
Pemulung
IRT
Ojek
IRT
Jualan Koran
Boykod
41
42
43
44
45
46
47
Warda
Pansestu
Bramantyo
Birmantara
Budi
Sebastian
Candra
Wahw Dinata
Carles
Paringotan
Danu Hendrik
setiawan
Dara Zailatul
Zanah
L
L
L
L
P
P
Depok,4 Desember
2004
Bogor, 16 Oktober
1996
lndramayu,l3
Februari 2002
Jakarta,
l8
Juni
1994
Bogor,04 Desember
I
998
Depok,l0
Seotember 1999
Depok,
30
Maret
Terminal
48
Darmansysh
L
49
Delestari
P
Jakarta, 2 Desember
1999
SMP
Ngamen
Depok-Jakarta
Darman
Jumi
s0
Deni
L
Depok,30 Sep 1997
l
Ngamen,
Ojek payung
Depok-Jakarta
Sahri
Dian
5l
DeniS
L
SMA
Ngamen
Depok-Jakarta
Bidayah
Tati
Buruh
IRT
52
Desti Nuraini
P
SD
Ngamen
Terminal
Depok
Ratno
Kartono
Nuraini
Wiraswasta
IRT
5SD
Ngamen
Depok
Darwin
Diana
Pelipat
Kertas
IRT
SD
Ojek payung
Alm.Basri
Dede Cahyati
Buruh
IRT
Akbar
(Deni)
I
Depok,
54
Deva
Andalusia
Dhea
Wati
Widia
P
P
13
September 2002
Iakarta,
1
53
998
03 Oktober
998
Jakarta,3 Jan 2005
Bogor,26
2000
Februari
SMP
Depok
Terminal
Depok
Agus
S.
Ojek
Motor
IRT
55
Dhita Febriani
P
56
Diah
L
P
57
58
Diana
Pumama Sari
Diana
Diego
59
P
Warmati
Kasih
L
Saputra
(Dieso)
60
61
Diky
M.
Haidir (Diky)
Dini
Oktaviani
L
P
62
Erik Saputra
P
63
Fadli Husein
L
61
Fajar
Farel
(Fajar)
L
65
Faras Fauzan
L
66
Fazat
Romadon
L
67
68
Ferdiansyah
Ferdinand
(Kelfin)
L
L
Depok,
27
Maret
SD
Ngamen
Depok-Jakarta
Makmur
Herlina
Pemulung
IRT
Depok, 4 April 1999
SD
Ngamen
Klapa2
Alm.Yasman
Iwen
Buruh
IRT
Depok,5 Juli
SD
Ngamen
Shahrul
Arlina
Buruh
IRT
SD
Ngamen
Depok-Jakarta
2 SMP
Ngamen,
Ojek payung
Depok-Jakarta
6SD
Ngamen,
Ngemis
Depok
SMP
Ngamen
SD
2000
1998
28
Jakarta,
Mei
2000
Bogor, 22
April
1996
Jakarta,
2l
Mei
2004
Bandung,
28
Oktober 1998
Depok,
28
Desember 1998
Bogor, 27 Mei200l
Bandung, Desember
2001
Depok
19
Novemeber 2005
Depok,9
Februari
2003
Depok,
1l
Agustus
1998
Depok,
2002
1l
Oktober
Terminal
Depok
Barta
Dadang
Sapurta
Buruh
Happv
PLN
Pelipat
IRT
Darwin
Diana
Depok-Jakarta
Jaenudin
Sumirah
Buruh
IRT
Ngamen
Stasiun Depok
Salim
Beda
Buruh
IRT
SD
Ojek payung
JL.Juanda
Wahyudin
Yulianti
Seniman
IRT
6SD
Ngamen,
Ojek palung
Depok
Wawan
Sella
Pedagang
Pedagang
SD
Ojek payung
Terminal
Depok
Hadi Saputra
Mardiah
Buruh
IRT
SD
Ojek payung
Terminal
Deook
Yanto
Rasnawati
Pemulung
IRT
4SD
Ngamen,
Ngemis,
Ojek
Payung, Joki
Depok-Jakarta
Udin
lmok
Ngamen
Depok-Jakarta
Salmon
Nani
3SD
Kertas
Bandar
Kelapa
Tiada
(Alm)
IRT
PRT
Pedagang
55
Dhita Febriani
P
56
Diah
L
57
Diana
Purnama Sari
P
58
Diana
Diego
59
P
Warmati
Kasih
L
Saputra
(Dieeo)
60
6t
Diky
M.
Haidir (Diky)
Dini
Oktaviani
L
P
62
Erik Saputra
P
63
Fadli Husein
L
64
65
66
67
Fajar
Farel
(Fajar)
Faras Fauzan
Fazar
Romadon
Ferdiansyah
L
L
L
L
Depok,
27
Maret
SD
Ngamen
Depok-Jakarta
Makmur
Herlina
Pemulung
IRT
Depok,4 April 1999
SD
Ngamen
Klapa 2
Alm.Yasman
Iwen
Buruh
IRT
Depok, 5 Juli 1998
SD
Ngamen
Terminal
Depok
Shahrul
Arlina
Buruh
IRT
SD
Ngamen
Depok-Jakarta
Barta
2 SMP
Ngamen,
Ojek payung
Depok-Jakarta
6SD
Ngamen,
Ngemis
Depok
SMP
Ngamen
SD
2000
28
Mei
Bogor, 22
Apnl
Jakarta,
2000
1996
Jakarta,
2l
Mei
2004
Bandung,
28
Oktober 1998
Depok,
28
Desember 1998
Bogor, 27 Mei2001
Bandung, Desember
2001
Depok
19
Novemeber 2005
Depok,9
Februari
2003
Depok,
l1
Agustus
1998
Dadang
Buruh
Happy
PLN
IRT
Darwin
Diana
Pelipat
Kertas
IRT
Depok-Jakarta
Jaenudin
Sumirah
Buruh
IRT
Ngamen
Stasiun Depok
Salim
Beda
Buruh
IRT
SD
Ojek payung
JL.Juanda
Wahyudin
Yulianti
Seniman
IRT
6SD
Ngamen,
Ojek palung
Depok
Wawan
Sella
Pedagang
Pedagang
SD
Ojek payung
Hadi Saputra
Mardiah
Buruh
IRT
SD
Ojek payung
Yanto
Rasnawati
Pemulung
IRT
Depok-Jakarta
Udin
Imok
Depok-Jakarta
Salmon
Nani
4SD
Ngamen,
Ngemis,
ojek
Terminal
Depok
Terminal
Deook
Sapurta
Bandar
Kelapa
PRT
Payung, Joki
68
Ferdinand
(Kelfin)
L
Depok, 11 Oktober
2002
3SD
Ngamen
Tiada
(Alm)
Pedagang
69
Firmansyah
P
10
FitriA. Ani
P
71
Fitriani
P
1)
Galuh
L
73
Gilang R
L
74
Gita Ayu
P
75
Rangga
L
76
Putra
L
77
Paikem
P
78
Muhammad
Hendra
L
79
M. Rizal
L
Jakarta,l8Mei 1999
Indramayu,29 Mei
1998
Jakarta, 10 Agustus
1999
Depok, 17 April
2003
Bogor, 07
Januari
1997
Depok, 17 Mei 1999
Bogor,
01
November 2007
Depok, 17 Oktober
2000
Wonosobo,
25
Oktober 2001
Depok, 08 April
t999
Makasar, 14 Januari
1998
SD
Ngamen
SD
Ojek payung
SMP
Ngamen
Depok-Jakarta
6SD
Ngamen,
Ngemis,
Ojek Payung
Depok
Udin
Rusina
I
Ojek Payung
Bogor
Hendrik
Lasinem
Pedagang
IRT
SMP
Ngamen
Depok-Jakarta
Andi
Hati Helawati
Swasta
IRT
SD
Ngamen,
Ojek Payung
Depok
Ujang
Ita
Ojek
IRT
SD
Ngamen
Depok
M.
SMA
Depok-Jakarta
Terminal
Denok
Joko
Nur
Wahyu
Sutini
Peg Swasta
Peg Swasta
Sri Rahayu
Buruh
IRT
Heri
Setiawan
Nur
Jaya
IRT
Pesulap
Duit
IRT
Buruh
P-osadi
Ojek
SD
Payung,
ngamen
Depok
Pumowo
Rubes
SMP
Ngamen
Depok
Marnis
Kusniawati
SD
Ngamen,
Joki 3 in 2
Depok
Alm.Ilham
Almh,
Hasanah
Buruh
IRT
Juli Andrean
Sella
Suhendra
2l November 1999
SD
Depok, 22 Juni 2002
Depok,
08
Ojek Payung
April
I
27
1994
Depok,
November 2000
Mei
M. Tamin
Pedagang
SMA
IRT
Terminal
Depok
Kusniawati
Pemulung
Januari 2001
Jakarta,
Terminal
Depok
Ngamen
2000
Indramayu,
Ojek Payung
Buruh
Ngamen
Teminal
Depok
Ngamen
Jakarta
Nur kasih
Tk. Parkir
IRT
LAMPIRAN
FOTO DOKUMENTASI PENELITIAN
Ket. Gambar: Ruang belajar yang terbuat dari container sumbangan dari
Tupperware
Ket. Gambar: Suasana Belajar di Sekolah Master
Ket. Gambar: Gerbang Depan Yayasan Bina Insan Mandiri
Ket. Gambar: Ruang Kantor Yayasan Bina Insan Mandiri yang terbuat dari container
sumbangan dari PT. Antam.
UJI REFERENSI
Seluruh referensi yang digunakan dalam penulisan skripsi yang berjudul
“Interaksi Sosial Anak Jalanan Di Rumah Singgah Yayasan Bina Insan
Mandiri Depok” disusun Yustia Umamah, NIM. 1110015000007, Jurusan
Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial, Fakultas Imu Tarbiyah dan Keguruan.
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta telah diuji kebenarannya
oleh Dosen Pembimbing Skripsi pada tanggal 31 Desember 2014.
Jakarta, 31 Desember 2014
Pembimbing Skipsi
Drs. Nurrochim, MM
NIP: 19500307 97903 1 004
LEMBAR UJI REFERENSI
Nama
: Yustia Umamah
NIM
: 1110015000007
Jurusan
: Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial
Judul Skripsi : Interaksi Sosial Anak Jalanan Di Rumah Singgah Master
Yayasan Bina Insan Mandiri Depok, Jawa Barat
Pembimbing : Drs. H Nurrochim, MM
No
Sumber Referensi
Halaman
Paraf
Refersni
Pembimbing
BAB I
1
Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar,
124
(Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 1994)
2
Salamun dan Taryati, Interaksi Sosial Penduduk
35
Perumnas Condong Catur dengan Penduduk
Sekitarnya,(Yogyakarta :Kepel Press, 2007)
3
Soerjono Soekanto,op. cit.
66
4
Syarbaini, syahrial, dan Rahman, sosiologi dan
27
politik, (Bogor : Ghalia Indonesia, 2002)
5
Ishaq, isjoni, Masyarakat dan Perubahan Sosial,
7
Uni Press
6
Kamus Besar Bahasa Indonesia, edisi ke 3
721
(Jakarta: Pusat Bahasa, 2008)
7
Anak Jalanan dan Terlantar, Tanggung Jawab
Siapa? Majalah Societa, ( Jakarta: Kementrian
Sosial RI edisi II/2011)
7
8
Abudin Nata dan Fauzan, Pendidikan dalam
236
Perspektif Hadits,( Ciputat: UIN Press,2005),
Cet.1
BAB II
1
Kamanto Sunarto, Pengantar Sosiologi, (Jakarta:
35
Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas
Indonesia, 2004), Edisi Revisi .
2
Bernard Ravo,SVD Teori Sosiologi Modern, (
99
Jakarta: Prestasi Pustakaraya,2007), cet,pertama.
3
Ibid
101
4
Ibid
102
5
Ibid
106
6
Ibid
107
7
Ibid
107-108
8
Ibid
114
9
Ibid
115
10
Basowi,Pengantar Sosiologi,( Bogor: PT. Ghalia
138
Indonesia,2005)
11
Yusron Razak, Sosiologi Sebuah Pengantar
57
Tinjauan Pemikiran Sosiologi Perspektif Islam
( Jakarta: Laboratorium Sosiologi agama,2008)
12
Ibid
58
13
Basrowi,op.cit.
139
14
Bambang Pranowo, Sosiologi Sebuah Pengantar
57
Tinjauan Pemikiran Sosiologi Perspektif Islam
( Jakarta: Laboratorium Sosiologi Agama,2008)
15
Abdul Syani, Sosiologi Skematika, Teori, dan
154
Terapan ( Jakarta: PT. Bumi Aksara, Cet. Ke IV,
2002)
16
Kingsley Davis: Human Society,Cetakan ke-13,
149
The Macmillan Company, New York,1960
17
Basrowi,.Pengantar Sosiologi( Bogor: Ghalia
143
Indonesia,2005)
18
Ibid
144
19
Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar,
65
(Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 1994)
20
Basrowi, Pengantar Sosiologi (Bogor: PT. Ghalia
145-146
Indonesia,2005)
21
Abdul Syani, Sosiologi Skematika, Teori, dan
156
Terapan,(Jakarta: PT. Bumi Aksara,2012)
22
Ibid
159
23
Soerjono Soekanto, op. cit
82
24
Basrowi, loc. Cit
146
25
Soerjono Soekanto, op. cit.
91
26
Bagong Suyanto, Masalah Sosial Anak,( Jakarta :
199
PT. Kencana Prenada Media Grup,2013)
27
Heru Prasadja, Murniati Agustian, “Anak Jalanan
4
& Kekerasan”’ (Jakarta: PKMP Unika Atma Jaya
bekerjasama dengan Depsos, 2000)
28
Murdiyanto,
“Pengaruh
Penyuluhan
dan 14
Bimbingan Sosial, terhadap Persepsi Stakeholder
pada Anak Jalanan di Palembang” (Yogyakarta:
Citra Media, 2008), cet 1
29
Armai
Arief,
Upaya
Pemberdayaan
Anak
Jalanan,2013 (http://anjal.blogdrive.com/archive/
11. html)
30
Bagong Suyanto, Masalah Sosial Anak,( Jakarta :
200
PT. Kencana Prenada Media Grup,2013)
31
Ibid
203
32
Ibid
200
33
Dwi Astuti, Penelitian Rumah Singgah Se-Jawa
Timur,
2013
(www.damadiri.or.id/file/
dwiastututiunairbab2.pdf).
34
Modul Pelayanan Sosial Anak Jalanan Berbasis 5
Panti, (Jakarta: Direktorat Pelayanan Sosial Anak,
Direktorat Jenderal Pelayanan dan Rehabilitasi
Sosial, Departemen Sosial RI, 2006)
35
Ibid
8
36
Dwi Astuti,loc. Cit
35
37
Ibid
38
Standar Pelayanan Sosial Anak Jalanan Melalui 13-15
Rumah
Singgah,
(Jakarta:
Direktorat
Bina
Pelayanan Sosial Anak, Direktorat Jenderal
Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial, Departemen
Sosial RI, 2002), h. 13-15.
39
Dwi Astuti, loc.cit.
40
Modul Pelayanan Sosial Anak Jalanan Berbasis
3-5
Panti, op.cit.
41
Ibid
42
Armai,Loc.cit
43
Dwi Astuti, loc.cit.
44
Armai Arief, loc.cit.
45
Standar Pelayanan Sosial Anak Jalanan Melalui 6
Rumah Singgah, op. cit
46
Pedoman Penyelenggaraan Pembinaan Anak 5
Jalanan
Melalui
Rumah
Singgah,
(Jakarta:
Direktorat Jenderal Bina Kesejahteraan Sosial,
Departemen Sosial RI, 1999)
47
Sumber: Tata Sudrajat, YKAI Jakarta, 1996
dalam buku Bagong Suyanto. “Masalah Sosial
Anak” (Jakarta: Kencana 2010)
48
Ibid
49
Standar Pelayanan Sosial Anak Jalanan Melalui 7
Rumah Singgah, op. cit.
50
Pedoman Penyelenggaraan Pembinaan Anak 6-8
Jalanan Melalui Rumah Singgah, op. cit.
BAB III
1
Sugiyono,
Metode
Penelitian
Pendidikan, 297
(Bandung:Alfabeta,2012)
2
Sugiyono,
Metode
Penelitian
Kuantitatif
dan
R&D,
Kualitatif 81
(Bandung:
Alfabeta,2012),cet,7
3
Ibid
85
4
Hadari Nawawi,
Metode Penelitian Bidang 24-25
Sosial,( Yogyakarta: Gajah Mada University
Press,1985)
5
Sugiyono,
Metode
Penelitian
Pendidikan 15
Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R & D (
Bandung : Alfabeta,2010), cet X
6
Basrowi,
Memahami
Penelitian
Kualittaif 21
(Jakarta: Rineka Cipta,2008)
7
Beni Ahmad Saebani Dan Kadar Nurjaman, 148
Manajemen Penelitian ,( Bandung: Penerbit CV.
Pustaka Setia,2013)
8
Jamiludin Ritonga, Riset Kehumasan,( Jakarta: 39
PT. Gramedia Grasindo,2004)
9
Husaini
Usman
dan
Purnomo,
Metodologi 54
Penelitian Sosial,( Jakarta: PT. Bumi Aksara,
2000)
10
Sugiyono,op.cit.
231
11
M. Nazir, Metodologi Penelitian,( Jakarta: Ghalia 194
Indonesia,1985)
12
Tim Penyusun (Dendy Sugono,dkk.), Kamus 361
Besar
Bahasa
Indonesia,(Jakarta:
Pusat
Bahasa,2008)
13
Suharismi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu 231
Pendekatan Praktek, ( Jakarta” Rineke Cipta)
cet.13
14
Ulber
Silalahi,
Metode
Penelitian 311
Sosial,(Bandung: Unpar Press,2006)
15
Sugiyono,
Metode
Penelitian
Pendidikan 366
Kuantitatif, Kualitatif dan R&D, (Bandung:
Alfabeta,2008), cet IV,
16
Hudri,
Said.
“Keabsahan
Data
Instrumen
Penelitian”,
http://expresisastra.blogspot.com/2013/11/keabsa
han-data-instrumen-penelitian.html, 05 Oktober
2014
17
Lexy
J.
Moleong,
Metodologi
Penelitian 178
Kualitatif (Bandung : Remaja Rosda Karya,
2002)
18
Hudri,
Said.
“Keabsahan
Data
Instrumen
Penelitian”,
http://expresisastra.blogspot.com/2013/11/keabsa
han-data-instrumen-penelitian.html, 05 Oktober
2014
BAB IV
1
Profil Rumah Singgah Yayasan Bina Insan
Mandiri Depok
2
Hasil Wawancara Dengan Nurrohim, Pendiri
Yayasan
Bina
Insan
Mandiri,
Depok,
27
November 2014
3
Tim penyusun proposal YABIM, Proposal
Yayasan Bina Insan Mandiri, (Depok: Yayasan
Bina Insan Mandiri, 2012)
4
Hasil Wawancara Dengan Nurrohim, Pendiri
Yayasan
Bina
Insan
Mandiri,
Depok,
November 2014
5
Hasil Wawancara Dengan Nurrohim, Pendiri
Yayasan Bina Insan Mandiri, Depok, 27
November 2014
6
Dokumen lengkap tentang data Anjal PKSA
Yayasan Bina Insan Mandiri Depok lihat
Lampiran 13, h.155-169.
7
Hasil Wawancara Dengan Nurrohim, Pendiri
Yayasan Bina Insan Mandiri, Depok, 27
November 2014
8
Dokumentasi Yayasan Bina Insan Mandiri
(Yabim)
9
Hasil Wawancara Dengan Nurrohim, Pendiri
Yayasan Bina Insan Mandiri, Depok, 27
November 2014
10
Hasil Wawancara Dengan Nurrohim, Pendiri
Yayasan Bina Insan Mandiri, Depok, 27
November 2014
11
Hasil Wawancara Dengan Nurrohim, Pendiri
Yayasan Bina Insan Mandiri, Depok, 27
November 2014
12
Hasil Wawancara dengan Syawal, Anak Yang
Tinggal di Rumah Singgah Yayasan Bina Insan
27
Mandiri, Depok,10 November 2014
13
14
15
Hasil Wawancara dengan Bayu, Anak Yang
Tinggal di Rumah Singgah Yayasan Bina Insan
Mandiri, Depok, 10 November 2014
Hasil Wawancara Dengan Fahrul, Anak Jalanan
Yang Tinggal Di Rumah Singgah, Depok, 10
November 2014
Hasil Wawancara Dengan Nurrohim, Pendiri
Yayasan Bina Insan Mandiri, Depok, 27
November 2014.
16
Hasil Wawancara Dengan Nurrohim, Pendiri
Yayasan Bina Insan Mandiri, Depok, 27
November 2014.
17
Hasil Wawancara Dengan Nana Sutarna, Tutor Di
Rumah Singgah Yayasan Bina Insan Mandiri,
Depok, 24 November 2014
18
Hasil Wawancara Dengan Nurrohim, Pendiri
Yayasan Bina Insan Mandiri, Depok, 27
November 2014
19
Hasil Wawancara Dengan Hasan, Anak Jalanan
Yang Tinggal Di Rumah Singgah Yayasan Bina
Insan Mandiri, Depok,10 November 2014
20
21
Hasil Wawancara dengan Syawal, Anak Jalanan
yang Tinggal Di Rumah Singgah, Depok, 11
November 2014.
Hasil Wawancara Dengan Akbar, Anak Jalanan
Yang Tinggal Di Rumah Singgah,Depok. 10
November 2014.
22
Hasil Wawancara dengan Syawal, Anak Jalanan
yang Tinggal Di Rumah Singgah, Depok, 11
November 2014.
23
Bernard Ravo, SVD, Teori Sosiologi Modern, (
Jakarta: Prestasi Pustakarya,2007)
24
Hasil Wawancara Dengan Nana Sutarna, Tutor
Rumah Singgah Yayasan Bina Insan Mandiri,
Depok, 24 November 2014.
25
Hasil Wawancar a Dengan Syawal, Anak Jalanan
Yang Tinggal Di Rumah Singgah Yayasan Bina
Insan Mandiri, Depok. 11 November 2014.
26
Hasil Wawancara Dengan Akbar, Anak Jalanan
yang Tinggal Di Rumah Singgah Yayasan Bina
Insan Mandiri, Depok.10 November 2014
27
Hasil Wawancara Dengan Syawal, Anak Jalanan
yang Tinggal Di Rumah Singgah Yayasan Bina
Insan Mandiri, Depok, 11 November 201
28
Hasil Wawancara Dengan Sandi, Anak Jalanan
Yang Tinggal Di Rumah Singgah Yayasan Bina
Insan Mandiri, 10 November 2014
29
Hasil Wawancara Dengan Nana Sutarna, Tutor Di
Rumah Singgah Yayasan Bina Insan Mandiri,
Depok 24 November 2014.
30
Hasil Wawancara Dengan Akbar, Anak Jalanan
Yang Tinggal Di Rumah Singgah Yayasan Bina
Insan Mandiri,, Depok,03 November 2014
31
Hasil Wawancara Dengan Bunda Adel,Tutor
Matematika Di Sekolah Dasar Master, Depok, 24
November 2014
32
Hasil Wawancara Dengan Nana Sutarna, Tutor
Rumah Singgah Yayasan Bina Insan Mandiri,
99
Depok,24 November 2014.
33
Hasil Wawancara Dengan Ahmad, Anak Jalanan
Yang Tinggal Di Rumah Singgah Yayasan Bina
Insan Mandiri, Depok, 27 November 2014
34
Hasil Wawancara Dengan Muhaimin,
Salah Satu Masyarakat Yang Berada Di Sekita
Rumah Singgah Yayasan Bina Insan Mandiri,
Depok 27 November 2014
35
Hasil Wawancara Dengan Nana Sutarna, Tutor
Di Rumah Singgah Yayasan Bina Insan Mandiri,
Depok. 24 November 2014
Untuk memenuhi validasi skripsi yang berjudul “Interaksi Sosial Anak
Jalanan Di Rumah Singgah Master Yayasan Bina Insan Mandiri Depok”, maka perlu
pengujian daftar referensi untuk mengetahui sumber data yang diperoleh.
Jakarta, 31 Desember 2014
Mengetahui,
Dosen Pembimbing Skripsi
Drs. H. Nurochim, MM
NIP.19590715 198403 1 003
,',$6
wi':,w
zfMb
xsy"',
&**-&..
'w&*w
KEMENTERIAN AGAMA
UIN JAKARTA
FITK
J! tr .4 ruandaNogSCtpulatls4l2
No.
FORM (FR)
ndonesia
Tgl.
No.
Dokumen
:
FITK-FR-AKD-082
Terbit : 'l Maret 2010
Revisi: :
Hal
A2
1t1
SURAT PERMOHONAN IZIN OBSERVASI
Norrror : Un.O 1/F. 1 /KSM.01
.3
1
Jakarta, 20 Agustus 2014
........12014
Lamp. : OfilinelProposdl
Hal : Permohonan Izin Observasi
KepadaYth.
Kepala Rumah Singgah Master
di
Tempat
A s s al
amu' al ai kunew r.w b.
Dengan hormat kami sampaikan bahwa,
:Yustia Umamah
:1110015000007
NIM
:Pendidikan IPS
Jurusan
Semester :IX (Sembilan)
.Tudul Skripsi :lnteraksi Sosial Anak Jalanan Di Rumah Singgah Master Depok,
Nama
adalah benar mahasiswa/i Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Jakarta yang
sedang menyusun skripsi,dan akan mengadakan penelitian (riset) di instansi yang
Saudara pimpin.
Untuk
itu kami mohon Saudara dapat mengizinkan mahasiswa tersebut
melaksanakan penelitian dimaksud.
Atas perhatian dan kerja sama Saudara, kami ucapkan terima kasih.
14/tt s s
ul amu' al ai kunt w r. w b.
Dekan
Kajur Pendidikar
Dr. Iwan Purwanto, M.Pd
NrP. 1 9730 4242408Ar t0l2
Tembusan:
Dekan FITK
2. Perabantu Dekan Bidang Akademik
3. Mahasiswa yang bersangkutan
l.
KEMENTERIAN AGAMA
utN JAKARTA
FITK
,,&.
i.t3L. i
i.!*T-Ij
Jt k. H. Juaaa Nossciputat
FORM (FR)
15412 tndonesia
:
No.
Tgl.
Dokumen
No.
Revisi: :
Terbit :
Hal
FITK-FR-AKD-082
1 Maret 2010
02
1t1
SURAT PERMOHONAN IZIN PENELITIAN
Nonror : Un.0 1 /F. I iKSM.01 .3 /........12014
Larnp. : Outline/Proposal
Hal : PermohonanlzinPenelitian
Jakarta, 17 November 2014
KepadaYth.
Kepala Rumah Singgah Master
di
Tempat
A
ss
al amu' al a i kumw r. w b.
Dengan hormat kami sampaikan bahwa,
:Yustia Umamah
: I 1 i0015000007
NIM
:Pendidikan IPS
Jurusan
Semester :lX (Sembilan)
Judul Skripsi :lnteraksi Sosial Anak Jalanan Di Rumah Singgah Master Depok,
Nama
adalah benar mahasiswa/i Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Jakarta yang
sedang menyusun skripsi,dan akan mengadakan penelitian (riset) di instansi yang
Saudara pimpin.
Untuk
itu kami mohon Saudara dapat mengizinkan mahasiswa tersebut
melaksanakan penelitian dimaksud.
Atas perhatian dan kerja sama Saudara, kami ucapkan terima kasih.
li/as
s
alamu' al aikum wr.w
b.
'" a.h. Dekan,
.', .t ,, Kajur P.6ndidi
-
Dr. Iwarr Purwanto, M.Pd
NrP. 1973 0 42420080 t t 0 12
Tembusan:
Dekan FITK
2. Pembantu Dekan Bidang Akademik
3. Mahasiswa yang bersangkutan
l.
Bina InSan Mandiri rounoation
YAYASAN PENDIDIKAN SOSIAL DAKWAH DAN PEMBERDAYAAN EKONOMI UMAT
SK MENKUMHAM NO : C-1555.HI.01 02 TH2007
SURAT KETERANGAN
No : 05/YABIMIPBKM/SOS/XIUI4
Yang bertanda tangan di bawah ini
:
Nur Rohim
Ketua PKBM Bina Insan Mandiri
PAUD, Paket A, Paket B & Paket C
Jl. Margonda Raya No. 58 Terminal Depok
Nama
Jabatan
Unit Kerja
Alamat
Menyatakan bahwa
Nama
: Yustia Umamah
TTL
Bogor, 28Mei 1992
: Gunung Sindur - Bogor
Alamat
:
Adalah benar nama tersebut di atas telah melakukan penelitian untuk keperluan skripsi dengan
judul "Interaksi Sosial Anak Jalanan di Rumah Singgah Yayasan Bina Insan Mandiri Depok".
Dari mulai bulan November 2014 samapai dengan Desember 2014.
Demikian Keterangan ini dibuat agar dapat digunakan sebagai mana mestinya
Atas perhatiaanya kami ucakan terima kasih.
5 Desember 2014
ina Insan
Rohim)
Sekretoid:
Jl. Mmgonda Raya No. 58 Terminal Depok
Telp. 021 92612047 I 021 77211501 I 021 95728385
No. Rekening 06 1 00-271 -93
a.n Yayasan Bina Insan Mandiri
D^-r- 9.,^;^L a r^-l:i
n^L^-^ n^--t.
lJ+
LAMPIRAN
ppEsTArI DAH Hlrrru$. I{EPJA
'
1.
Juoro r Lombo menuris surcrt untuh presiden
Rr , tsMNAs ( 2oos
)
3.
luoro t ll don ll olimpiode rnotemcrtqihc setoro
SD lobodetqbeh
( 2006 )
4' Penghorgoon dqri MENDTKNAS dorom
rqnsho HUT Grrru (zoo5 )
s. Juoro cerdor cermr:t I setorr: sD TK
Jqwo borot zooT
6. Juoro metuhis muroi
Iuoro lll cerdos cermot pohet c setoro sMU 2oo'
g. Juora tTutor Berpreltosi
TK luwo Bqrot 2ooa
7.
9" Juoro
I Lornbo pKBM TK Jowo Borot 2oog
wqrgo belojor'l-etodon pohet B ZOoe
ll" juoro l wqrgq belojor Telodon pohet
C
iO. Juoro I
,
Juoru r Lombo Musih bcJrqng behqr ( Troshic
) TH lobodetobeh
I.i, 1ro.o I Lombo lv{enulis Bebq:
12.
1.1.
juoro Pencoh silot tinghcrt
Jrborjetobeh
t-;. Diliptrt
di lt stosirrn swqsto ( ihlon grotis
)
ilitro Kerjo pendidihcn
1.
z.
4,
Dinos pendidihon Koto Depoh
Dinos Sosiol don Tenooo Kerjo Kotq Depoh
FE UI
s. SIA| Al eudwoh
6, sTIE TRINANDRA
7,
BEM UI
Ii
Download