1 BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH Menurut

advertisement
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG MASALAH
Menurut kodrat alam, manusia pada zaman apapun juga selalu hidup
bersama, hidup berkelompok-kelompok. Sekurang-kurangnya kehidupan bersama
itu tendiri dari dua orang, suami-isteri ataupun ibu dan bayinya. Aristoteles (384322 SM), seorang ahli fikir Yunani Kuno menyatakan dalam ajarannya, bahwa
manusia itu adalah zoon politicon, artinya bahwa manusia itu sebagai makhluk
pada dasarnya selalu ingin bergaul dan berkumpul dengan sesama manusia
lainnya, jadi makhluk yang suka bermasyarakat. 1 Karena sifatnya yang suka
bergaul satu sama lain, maka manusia disebut makhluk sosial. Manusia sebagai
individu (perseorangan) mempunyai kehidupan jiwa yang menyendiri, namun
manusia sebagai makluk sosial tidak dapat dipisahkan dari masyarakat. Manusia
lahir, hidup berkembang dan meninggal dunia di dalam masyarakat.2
Hasrat untuk hidup bersama memang telah menjadi pembawaan manusia,
merupakan suatu keharusan badaniah untuk melangsungkan hidupnya. Persatuan
manusia yang timbul dari kodrat yang sama lazim disebut masyarakat. Jadi
masyarakat itu terbentuk apabila ada dua orang atau lebih hidup bersama,
sehingga dalam pergaulan hidup itu timbul pelbagai hubungan atau pertalian yang
1
Aristoteles dalam C.S.T. Kansil. 1989. Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum
Indonesia. Balai Pustaka. Jakarta. Hlm. 29
2
Ibid
2
mengakibatkan bahwa yang seorang dan yang lain saling mengenal dan pengaruhmempengaruhi.3
Masyarakat sebagai bentuk pergaulan hidup bermacam-macam ragamnya
dan salah satunya berdasarkan hubungan kekeluargaan seperti rumah tangga,
sanak saudara, suku, bangsa dan lainnya. Adapun yang menyebabkan manusia
selalu hidup bermasyarakat ialah antara lain dorongan kesatuan biologis yang
terdapat dalam naluri manusia antara lain hasrat untuk mengadakan keturunan.4
Hal itu yang mendasari perlu dibentuknya suatu lembaga resmi dan peraturan
yang mengatur akibat dari pergaulan hidup kekeluargaan dan juga tercapainya
ketertiban dalam meneruskan keturunan. Representatif dari pengaturan pergaulan
hidup kekeluargaan yaitu dibentuknya peraturan berupa Undang-Undang Nomor 1
Tahun 1974 tentang Perkawinan, Peraturan pelaksananya yaitu Peraturan
Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 dan dan Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 1991
yang lebih dikenal dengan Kompilasi Hukum Islam yang digunakan oleh instansi
Pemerintah dan oleh masyarakat yang memerlukannya sebagai pedoman dalam
menyelesaikan permasalahan yang ada.
Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 ialah merupakan Undang-Undang
Perkawinan Nasional. Hal tersebut sesuai dengan penjelasan umum UndangUndang Nomor 1 Tahun 1974. Dalam perjelasan umum dikatakan bahwa bagi
suatu Negara dan Bangsa seperti Indonesia adalah mutlak adanya Undang-undang
Perkawinan Nasional yang sekaligus menampung prinsip-prinsip dan memberikan
landasan hukum perkawinan yang selama ini menjadi pegangan dan telah berlaku
3
4
Ibid., Hlm 30
Ibid., Hlm 32
3
berbagai golongan dalam masyarakat. Berdasarkan pada penjelasan umum
tersebut dapat dimaknai bahwa perkawinan merupakan suatu hal yang sangat
penting bagi masyarakat sebab sesuai kodrat manusia yang telah digariskan dalam
QS Az-Zariyat : 49 yang menyatakan bahwa segala sesuatu diciptakan Allah
berpasang-pasangan.5
Pancasila merupakan landasan Negara Indonesia dengan Sila pertama
ialah Ketuhanan Yang Maha Esa, dan memiliki hubungan erat dengan perkawinan.
Sebab pengertian perkawinan dalam pasal 1 Undang-undang No.1 Tahun 1974
erat kaitannya dengan Ketuhanan Yang Maha Esa. Pasal 1 Undang-undang No.1
Tahun 1974 menyatakan bahwa Perkawinan ialah ikatan lahir batin antara seorang
pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk
keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal bedasarkan Ketuhanan Yang
Maha Esa. Keabsahan suatu perkawinan merupakan salah satu dari berbagai
macam hal yang menunjang terjadinya perkawinan. Sah atau tidaknya perkawinan
yang dilangsungkan bergantung pada ada atau tidaknya peraturan yang dilanggar
dalam perundang-undangan tersebut. Dalam perkawinan, sah atau tidaknya harus
mengikuti pasal 2 undang-undang perkawinan. Pasal 2 ayat (1) Undang-undang
No 1 Tahun 1974 menyebutkan bahwa Perkawinan adalah sah, apabila dilakukan
menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu. Keabsahan
suatu perkawinan merupakan dasar dari diakuinya perkawinan oleh Negara dan
Negara menentukan bahwa sah atau tidaknya suatu perkawinan harus dilakukan
menurut hukum agamanya dan kepercayaannya masing-masing warga Negara.
5
Ahmad Azhar Basyir. 2007. Hukum Perkawinan Islam. UII Press. Yogyakarta. Hlm. 2
4
Mencermati hukum positif di Indonesia, perihal perkawinan diatur dalam
Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dan dalam Instruksi
Presiden Nomor 1 Tahun 1991 yang lebih dikenal dengan Kompilasi Hukum
Islam dalam buku I tentang perkawinan. Dalam Undang-undang Nomor 1 Tahun
1974 tentang Perkawinan disebutkan bahwa syarat-syarat perkawinan diatur
dalam pasal 6 sampai dengan pasal 12, namun secara substansial tidak disebutkan
secara spesifik bahwa hal tersebut merupakan syarat sahnya suatu perkawinan.
Menurut KH. Ahmad Azhar Basyir menyebutkan bahwa syarat-syarat sahnya
perkawinan ada 3 (tiga) hal yaitu :
1. Mempelai perempuan halal dinikah oleh laki-laki yang akan menjadi
suaminya;
2. Dihadiri dua orang saksi laki-laki;
3. Ada wali mempelai perempuan yang melakukan akad. Syarat ketiga ini
dianut kaum muslimin di Indonesia dan merupakan pendapat Syafii,
Ahmad bin Hambal, Ishaq bin Rahawaih, Hasan Basri, Ibnu Abi Laila,
dan Ibnu Syubrumah.6
Pengaturan mengenai larangan perkawinan diatur dalam pasal 8 hingga
pasal 10 Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 dan dipertegas dalam Kompilasi
Hukum Islam buku I tentang Hukum Perkawinan pasal 39 sampai dengan 44.
Dalam berbagai pasal yang mengatur mengenai larangan perkawinan, dapat
digolongkan ke dalam 7 (tujuh) golongan yaitu :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
6
Karena adanya hubungan darah;
Karena adanya hubungan semenda;
Karena adanya hubungan susuan;
Karena hubungan dalam perkawinan poligami;
Karena larangan agama;
Karena masih terikat dalam perkawinan;
Karena bercerai kedua kali.7
Ibid., Hlm. 31
K. Wantjik Saleh. 1980. Hukum Perkawinan Indonesia. Penerbit Ghalia Indonesia.
Jakarta. Hlm .27
7
5
Dalam hubungannya dengan syarat perkawinan, baik hukum Islam maupun
hukum nasional telah menetapkan syarat-syarat untuk melangsungkan suatu
perkawinan. Syarat perkawinan dalam hukum nasional tersebut tertulis dalam
pasal 6 hingga pasal 12 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974. Persyaratan
keabsahan suatu perkawinan terbuka kemungkinan untuk dimanipulasi oleh calon
mempelai baik dengan sengaja ataupun tidak karena berbagai macam alasan,
sehingga dimungkinkan terjadinya penipuan terhadap syarat dalam keabsahan
suatu perkawinan. Mengantisipasi kemungkinan tersebut, sebenarnya undangundang perkawinan telah mengatur mengenai antisipasi terhadap penipuan
terhadap syarat walaupun tidak disebutkan secara konkrit mengenai penipuan
terhadap syarat. Undang-undang lebih mengunakan kata “tidak memenuhi syarat”
daripada menggunakan kata “penipuan terhadap syarat”.
Istilah penipuan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai
proses, cara, perbuatan menipu; perkara menipu (mengecoh). Sedangkan menipu
yang merupakan kata kerja diartikan sebagai mengenakan tipu muslihat;
mengakali; memperdayakan. Untuk pengertian tipu dalam Kamus Besar Bahasa
Indonesia dijabarkan sebagai perbuatan atau perkataan yang tidak jujur (bohong,
palsu, dan sebagainya) dengan maksud untuk menyesatkan, mengakali, atau
mencari untung; kecoh. Namun pengertian penipuan dalam ranah hukum pidana
yaitu terdapat dalam Pasal 378 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana yang
menyebutkan bahwa barang siapa dengan maksud untuk menguntungkan diri
sendiri atau orang lain secara melawan hukum, dengan memakai nama palsu atau
martabat palsu, dengan tipu muslihat, ataupun rangkaian kebohongan,
6
menggerakkan orang lain untuk menyerahkan barang sesuatu kepadanya, atau
supaya memberi hutang rnaupun menghapuskan piutang diancam karena penipuan
dengan pidana penjara paling lama empat tahun. Penipuan yang dimaksud dalam
penulisan ilmiah ini yaitu menurut kamus besar bahasa Indonesia.
Penipuan terhadap syarat perkawinan secara tegas tidak diatur dalam
Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 namun lain halnya dengan Kompilasi
Hukum Islam yang mengatur secara tegas mengenai penipuan terhadap syarat.
Tindakan penipuan terhadap syarat diantisipasi oleh Undang-undang perkawinan
melalui 2 (dua) cara yaitu preventif dan represif. Cara preventif yaitu cara
pencegahan terhadap tindakan yang dilakukan untuk tidak terjadinya penipuan
terhadap syarat ialah dengan pengaturan yang terdapat dalam Pasal 13 hingga 21
Undang-undang perkawinan yang secara khusus mengatur mengenai pencegahan
perkawinan. Cara yang kedua yaitu cara reprsif dimana cara ini dipakai untuk
membatalkan suatu perkawinan apabila terjadi tindakan tidak terpenuhinya syarat
sahnya perkawinan apabila perkawinan tersebut telah berlangsung dan
pengaturannya terdapat dalam Pasal 22 hingga 28 Undang-Undang Nomor 1
Tahun 1974.
Pasal 11 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang
Perkawinan menyebutkan bahwa bagi seorang wanita yang putus perkawinannya
berlaku jangka waktu tunggu. Masyarakat Indonesia lebih mengenal waktu tunggu
dalam sebuah perkawinan yang telah berkahir sebagai masa iddah. Arti dari iddah
ialah masa menunggu atau tenggang waktu sesudah jatuh talak, dalam waktu
7
mana si suami boleh merujuk kembali isterinya. Sehingga pada masa iddah ini si
isteri belum boleh melangsungkan perkawinan baru dengan laki-laki lain.8
Ditinjau dari sebab terjadinya masa iddah maka terdapat dua hal yaitu
iddah kematian dan iddah talak. Hal ini tercermin dari Pasal 39 Peraturan
Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 Tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 1
Tahun 1974 yang mengatur kedua masa iddah tersebut. Dalam pasal 39 ayat (1)
Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 disebutkan bahwa waktu tunggu bagi
seorang janda apabila perkawinan putus karena kematian, waktu tunggu
ditetapkan 130 (seratus tiga puluh) hari. Waktu tunggu bagi seorang janda apabila
perkawinan putus karena perceraian, waktu tunggu bagi yang masih berdatang
bulan ditetapkan 3 (tiga) kali suci dengan sekurang-kurangnya 90 (sembilan
puluh) hari bagi yang tidak berdatang bulan ditetapkan 90 (sembilan puluh) hari.
Waktu tunggu bagi seorang janda apabila perkawinan putus sedang janda tersebut
dalam keadaan hamil, waktu tunggu ditetapkan sampai melahirkan. Pasal 39 ayat
(2) menyebutkan bahwa tidak ada waktu tunggu bagi janda yang putus
perkawinan karena perceraian sedang janda tersebut dengan bekas suaminya
belum pernah terjadi hubungan kelamin. Pasal 39 ayat (3) berbunyi bagi
perkawinan yang putus karena perceraian, tenggang waktu tunggu dihitung sejak
jatuhnya putusan Pengadilan yang mempunyai kekuatan hukum yang tetap,
sedangkan bagi perkawinan yang putus karena kematian, tenggang waktu tunggu
dihitung sejak kematian suami. Tentang masa iddah atau waktu tunggu diatur
lebih rinci dalam Kompilasi Hukum Islam pasal 153 sampai pasal 155.
8
Soemiyati. 1982. Hukum Perkawinan Islam dan Undang-Undang Perkawinan ( UndangUndang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan). Penerbit Liberty. Yogyakarta. Hlm. 120
8
Menelaah dari syarat perkawinan dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun
1974 tentang Perkawinan, apabila ada syarat yang dilanggar karena adanya
penipuan terhadap syarat dalam perkawinan, maka hal tersebut telah diatur dalam
Pasal 72 ayat (2) Kompilasi Hukum Islam yang berbunyi seorang suami atau isteri
dapat mengajukan permohonan pembatalan perkawinan apabila pada waktu
berlangsungnya perkawinan terjadi penipuan atau salah sangka mengenai diri
suami atau isteri. Dalam bunyi pasal tersebut jelas bahwa dapat dilakukan
pembatalan bila terjadi penipuan selama perkawinan.
Dalam kaitannya dengan pembatalan perkawinan karena penipuan,
terdapat
kasus
dalam
Putusan
Pengadilan
Agama
Purwokerto
Nomor
0829/Pdt.G/2012/PA.Pwt bahwa di dalam kasus tersebut disebutkan bahwa
pengadilan memutuskan untuk membatalkan perkawinan tergugat I dan tergugat II
dikarenakan pada saat melakukan pernikahan, tergugat I memalsukan identitas
yang menyebabkan tidak terpenuhinya syarat sah dalam suatu perkawinan. Dan
juga pada saat melangsungkan perkawinan, tergugat I masih dalam masa iddah
dari perkawinannya terdahulu.
Berdasarkan uraian tersebut maka penulis melakukan penelitian dengan
judul : “PENIPUAN TERHADAP SYARAT PERKAWINAN SEBAGAI
ALASAN PEMBATALAN (Tinjauan Yuridis Terhadap Putusan Pengadilan
Agama Purwokerto Nomor 0829/Pdt.G/2012/PA.Pwt)“.
9
B. PERUMUSAN MASALAH
Berdasarkan uraian latar belakang tersebut, maka dapat dirumuskan
permasalahan yaitu bagaimanakah pertimbangan hukum hakim mengenai alasan
pembatalan karena adanya unsur penipuan terhadap syarat perkawinan dalam
memutus perkara nomor 0829/Pdt.G/2012/PA.Pwt ?
C. TUJUAN PENELITIAN
Tujuan penelitian dimaksud untuk mengetahui pertimbangan hukum
hakim dalam kasus penipuan terhadap syarat perkawinan yang menjadi alasan
pembatalan
suatu
perkawinan
dalam
memutus
perkara
nomor
0829/Pdt.G/2012/PA.Pwt.
D. KEGUNAAN PENELITIAN
Adapun yang menjadi kegunaan penelitian dalam penulisan karya tulis ini
adalah :
1.
Kegunaan Teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna bagi perkembangan Hukum
Perkawinan khususnya pembatalan perkawinan dikarenakan penipuan
terhadap syarat dalam melangsungkan suatu perkawinan.
2.
Kegunaan Praktis
a. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kegunaan bagi pembaca
dan bagi instansi terkait dengan perkawinan.
b. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kegunaan bagi pembaca
dan bagi instansi terkait pembatalan perkawinan.
10
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Perkawinan
1.
Pengaturan Perkawinan
Pengaturan Perkawinan yang berlaku saat ini terdapat dalam Undang-
Undang tentang Perkawinan dan juga dalam Kompilasi Hukum Islam. Namun
demikian, ketika diberlakukan hukum perkawinan nasional yang diatur dalam
Undang-undang No.1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, maka teori “resepsi”
seperti diajarkan di jaman Hindia Belanda menjadi hapus dengan sendirinya.
Mahadi berpendapat bahwa :
“Teori resepsi adalah teori yang menyatakan bahwa Hukum Islam baru
berlaku di Indonesia untuk penganut agama Islam apabila sesuatu Hukum
Islam telah nyata-nyata diresapi oleh dan dalam Hukum Adat, maka
dengan melihat pasal-pasal tertentu dalam Undang-Undang Perkawinan ini
tidak ada keragu-raguan untuk menerima dalil bahwa Hukum Islam telah
langsung menjadi sumber hukum tanpa memerlukan bantuan/perantaraan
Hukum Adat.”9
Sekalipun
tak
menampik
bahwa
Undang-Undang
Perkawinan
Nasional
diperuntukkan bagi semua warga Negara tanpa terkecuali, secara tegas disebutkan
dalam Pasal 2 ayat (1) Undang-undang Perawinan yang menentukan bahwa
perkawinan sah apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan
kepercayaannya. Dengan demikian maka hal-hal yang belum diatur dan tidak
bertentangan dengan undang-undang perkawinan tetap berlaku menurut hukum
masing-masing agamanya dan kepercayaannya, oleh sebab itu kita masih bisa
merujuk pada hukum perkawinan Islam apabila hukum perkawinan nasional tidak
mengatur hal tersebut.
9
Mahadi dalam Soemiyati., Ibid., Hlm 1
11
Hukum perkawinan Islam bersumber dari Al-Qur‟an, Sunnah Rasul dan
Ijtihad. 10 Ayat-ayat Al-Qur‟an yang mengatur permasalahan perkawinan dapat
disebutkan mulai adanya penegasan bahwa Allah menciptakan makhluk hidup
berpasang-pasangan, baik dalam dunia manusia, binatang maupun tumbuhtumbuhan,
untuk
memungkinkan
terjadinya
perkembangbiakan,
guna
melangsungkan kehidupan jenis masing-masing. Hal tersebut tercakup dalam
Qur‟an Surah Az-Zariyat ayat 49, Qur‟an Surah Yasin ayat 36, Qur‟an Surah AlHujurat ayat 13, Qur‟an Surah An-Nisa ayat 1, Qur‟an Surah An-Nahl ayat 72.
Dari ayat-ayat Al-Qur‟an tersebut dapat ditarik suatu pengertian bahwa
perkawinan adalah tuntutan kodrat hidup yang tujuannya antara lain adalah untuk
memperoleh keturunan guna melangsungkan kehidupan jenis. 11 Dan masih
terdapat ayat-ayat Al-Qur‟an yang berhubungan dengan perkawinan.
Al-Qur‟an meskipun telah memberikan ketentuan-ketentuan hukum
perkawinan dengan amat terperinci, masih diperlukan adanya penjelasanpenjelasan Sunah Rasul, baik mengenai hal-hal yang tidak disinggung maupun
mengenai hal-hal yang telah disebutkan dalam Al-Qur‟an secara garis besar.
Beberapa contoh Sunah Rasul mengenai hal-hal yang tidak disinggung dalam AlQur‟an dapat disebutkan antara lain:
1.
2.
3.
4.
5.
10
Hal-hal yang berhubungan dengan walimah;
Tata cara peminangan;
Saksi dan wali dalam akad nikah;
Hak mengasuh anak apabila terjadi perceraian;
Syarat yang disertakan dalam akad nikah.
Ahmad Azhar Basyir. Op.cit. Hlm 2
Mohd. Idris Ramulyo. 1996. Hukum Perkawinan Islam. Suatu Analisis dari UndangUndang No.1 Tahun 1974 dan Kompilasi Hukum Islam. Bumi Angkasa. Jakarta Hlm 34
11
12
Beberapa contoh penjelasan Sunah Rasul tentang hal-hal yang disebutkan
dalam Al-Qur‟an secara garis besar antara lain sebagai berikut:
1.
2.
3.
4.
5.
Pengertian quru, yang disebut dalam Al-Qur‟an mengenai masa iddah
perempuan yang ditalak suaminya;
Bilangan susunan yang mengakibatkan hubungan mahram;
Besar kecil mahar (mas kawin);
Izin keluar rumah bagi perempuan yang mengalami iddah talak raj’i;
Perceraian yang terjadi karena lian merupakan talak yang tidak
memungkinkan bekas suami isteri kembali nikah lagi.12
Baik Al-Qur‟an maupun Sunah Rasul telah memberikan ketentuanketentuan hukum perkawinan secara terperinci, namun dalam beberapa masalah
pemahaman tentang masalah-masalah itu seringkali memerlukan adanya
pemikiran para fuqaha. Di samping itu, dalam hal-hal yang tidak terdapat
ketentuannya secara jelas dalam Al-Qur‟an dan Sunah Rasul diperlukan adanya
ijtihad untuk memperoleh ketentuan hukumnya. 13 Hal yang tidak disinggung
dalam Al-Qur‟an atau Sunah Rasul, tetapi memerlukan ketentuan hukum dengan
ijtihad misalkan mengenai harta bersama yang diperoleh selama perkawinan
berlangsung, perkawinan wanita hamil karena zina, dan akibat pembatalan
pertunangan terhadap hadiah-hadiah pertunangan.
Cita-cita masyarakat dan bangsa Indonesia untuk mempunyai sebuah
Undang-undang yang mengatur tentang perkawinan secara nasional, yang berlaku
bagi semua golongan dalam masyarakat Indonesia, yakni suatu unifikasi, telah
lama ada dan sudah diperjuangkan untuk mewujudkan baik oleh organisasiorganisasi dalam masyarakat maupun pemerintah. Barulah pada 1974, tepatnya
tanggal 2 Januari 1974, cita-cita tersebut terkabul dan menjadi kenyataan, dengan
12
13
Ibid. Hlm. 7
Ibid. Hlm. 8
13
disahkan dan diundangkannya Undang-Undang Republik Indonesia No.1 Tahun
1974 Tentang Perkawinan.14
Undang-undang Perkawinan 1974, yang mulai berlaku secara efektif
tanggal 1 Oktober 1975 adalah Undang-undang Perkawinan Nasional,
sebagaimana disebutkan dalam Penjelasan Umumnya. Adanya suatu Undangundang yang bersifat nasional itu memang mutlak perlu bagi suatu Negara dan
Bangsa seperti Indonesia, yang masyarakatnya terdiri dari berbagai macam suku
bangsa dan golongan penduduk. Maka Undang-Undang Perkawinan ini, selain
meletakkan asas-asas hukum Perkawinan Nasional, sekaligus menampung
prinsip-prinsip dan memberikan landasan hukum perkawinan yang selama ini
menjadi pegangan dan telah berlaku bagi berbagai golongan masyarakat
tersebut.15
Tak lama setelah Undang-undang perkawinan disahkan, disahkannya pula
Peraturan Pmerintah Nomor 9 Tahun 1975 Tentang Pelaksanaan Undang-undang
Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan. Tujuan dikeluarkan dan disahkannya
peraturan pemerintah ini yaitu untuk kelancaran pelaksanaan undang-undang
perkawinan. Peraturan Pemerintah tersebut juga mengatur hal-hal teknis lainnya
yang tidak diatur oleh undang-undang. Hal ini sejalan dengan peruntukan
peraturan pemerintah itu dibuat. Karena Peraturan Pemerintah dibuat untuk
menjelaskan tindak lanjut dari suatu undang-undang dibuat karena undang-undang
pada dasarnya mengatur hal-hal atau ketentuan-ketentuan umum saja sedangkan
14
15
K. Wantjik Saleh. Op.cit. Hlm 1
Ibid. Hlm 3
14
peraturan yang bersifat teknis diatur lebih lanjut dengan peraturan dibawah
undang-undang.
Tahun 1991 merupakan tahun yang dianggap sebagai penyempurnaan
peraturan yang mengatur tentang perkawinan di Indonesia khususnya warga
Negara yang beragama islam karena pada tahun tersebut dikeluarkannya Instruksi
Presiden Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1991 yang mengistruksikan
dibentuknya Kompilasi Hukum Islam yang terdiri dari 3 (tiga) buku yaitu:
a.
Buku I tentang Hukum Perkawinan;
b.
Buku II tentang Hukum Kewarisan;
c.
Buku III tentang Hukum Perwakafan.
Dalam buku I Kompilasi Hukum Islam, diatur secara terperinci segala hal
tentang perkawinan. Mulai dari pengertian-pengertian dari segala hal yang
berhubungan dengan perkawinan hingga masa berkabung yang semua diatur
dalam 170 pasal.
2.
Pengertian Perkawinan
Pengertian Perkawinan dapat ditelaah dari berbagai sudut pandang, baik
itu dari sudut pandang Islam maupun yang lainnya. Bila melihat pengertian dari
sudut pandang Islam, maka berdasarkan Qur‟an Surah Az-Zariyat ayat 49, Qur‟an
Surah Yasin ayat 36, Qur‟an Surah Al-Hujurat ayat 13, Qur‟an Surah An-Nisa
ayat 1 dan Qur‟an Surah An-Nahl ayat 72 dapat ditarik suatu pengertian bahwa
perkawinan adalah tuntutan kodrat hidup yang tujuannya antara lain adalah untuk
15
memperoleh keturunan, guna melangsungkan kehidupan jenis. 16 Nikah (kawin)
menurut arti asli ialah hubungan seksual tetapi menurut arti majazi (mathaporic)
atau arti hukum ialah akad (perjanjian) yang menjadikan halal hubungan seksual
sebagai suami isteri antara seorang pria dengan seorang wanita. (Hanafi).17 Pada
dasarnya Islam menganjurkan kawin, apabila ditinjau dari keadaan untuk
melaksanakan sebuah perkawinan, perkawinan dapat dikenai hukum:
1.
2.
3.
4.
5.
wajib,
sunnah,
haram,
makruh dan
mubah.18
Perkawinan menjadi wajib bagi orang yang telah mempunyai keinginan
kuat untuk kawin dan telah mempunyai kemampuan untuk melaksanakan dan
memikul beban kewajiban dalam hidup perkawinan serta ada kehkawatiran
apabila tidak kawin, ia akan mudah tergelincir untuk berbuat zina. Alasan
ketentuan tersebut adalah menjaga diri dari perbuatan zina adalah wajib. Apabila
bagi seseorang tertentu penjagaan diri itu hanya akan terjamin dengan jalan
perkawinan, bagi orang tersebut melakukan suatu perkawinan hukumnya adalah
wajib. Qa’idah fihqiyah mengatakan, “Sesuatu yang mutlak diperlukan untuk
menjalankan suatu kewajiban, hukumnya adalah wajib”.19
Perkawinan hukumnya sunnah bagi orang yang telah berkeinginan kuat
untuk kawin dan telah mempunyai kemampuan untuk melaksanakan dan memikul
kewajiban-kewajiban dalam perkawinan, tetapi apabila tidak kawin juga tidak ada
16
Ahmad Azhar Basyir. Op.cit. Hlm 2
Mohd. Idris Ramulyo.Op.cit. Hlm 1
18
Ahmad Azhar Basyir. Op.cit. Hlm 14
19
Ibid.
17
16
kekhawatiran akan berbuat zina. Alasan hukum sunah ini diperoleh dari ayat-ayat
Al-Qur‟an dan hadits-hadits Nabi. Diantaranya Qur‟an Surah Ar-Rum ayat 21
yang artinya berbunyi “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya, Dia
menciptakan untuk kamu isteri-isteri dari jenismu sendiri supaya kamu cenderung
dan merasa tentram kepadanya dan dijadikan-Nya rasa kasih sayang diantara
kamu...”. Dan Hadits Nabi riwayat Bukhari-Muslim dari Abdullah bin Mas‟ud r.a.
memerintahkan :
“Wahai para pemuda semuanya, barangsiapa diantara kamu telah mampu
memikul biaya perkawinan, hendaklah kawin sebab perkawinan itu lebih
mampu menundukkan mata dan lebih mampu menjaga kehormatan.
Barangsiapa belum berkemampuan hendaklah berpuasa sebab puasa itu
baginya merupakan perisai yang mampu menahannya dari perbuatan
zina.”
Kebanyakan ulama berpendapat bahwa berdasarkan ayat-ayat Al-Qur‟an dan
hadits-hadits Nabi, hukum dasar perkawinan adalah sunnah. Perkawinan
hukumnya haram bagi orang yang belum berkeinginan serta tidak mempunyai
kemampuan untuk melaksanakan dan memikul kewajiban-kewajiban hidup
perkawinan sehingga apabila kawin juga akan berakibat menyusahkan isterinya.
Al-Qurtubi, salah seorang ulama terkemuka dalam mazhab Maliki berpendapat
bahwa calon suami menyadari tidak akan mampu memenuhi kewajiban nafkah
dan membayar mahar (maskawin) untuk isterinya, atau kewajiban lain yang
menjadi hak isteri, tidak halal mengawini seseorang kecuali apabila ia
menjelaskan perihal keadaannya itu kepada calon isteri; atau bersabar sampai
17
merasa akan dapat memenuhi hak-hak isterinya, barulah ia boleh melakukan
perkawinan.20
Perkawinan hukumnya makruh bagi seseorang yang mampu dalam segi
materiil, cukup mempunyai daya tahan mental dan agama hingga tidak khawatir
akan terseret dalam perbuatan zina, tetapi mempunyai kekhawatiran tidak dapat
memenuhi kewajiban-kewajibannya terhadap isterinya, meskipun tidak akan
berakibat menyusahkan pihak isteri; misalnya, calon isteri tergolong orang kaya
atau calon suami belum mempunyai keinginan untuk kawin. Imam Ghozali
berpendapat bahwa apabila suatu perkawinan dikhawatirkan akan berakibat
mengurangi semangat beribadah kepada Allah dan semangat bekerja dalam bidang
ilmiah, hukumnya lebih makruh daripada yang disebutkan di atas. Perkawinan
hukumnya mubah bagi orang yang mempunyai harta, tetapi apabila tidak kawin
tidak merasa khawatir akan berbuat zina dan andaikata kawinpun tidak merasa
khawatir akan menyia-nyiakan kewajibannya terhadap isteri. Perkawinan
dilakukan sekedar untuk memenuhi syahwat dan kesenangan bukan dengan tujuan
membina keluarga dan menjaga keselamatan hidup beragama.21
Perkawinan dapat dilihat dari 3 (tiga) segi pandangan yaitu:
a.
Segi hukum;
b.
Segi sosial;
c.
Segi agama.
Dipandang dari segi hukum, perkawinan itu merupakan suatu perjanjian
oleh QS. An-Nisa : 21, dinyatakan “Perkawinan adalah perjanjian yang sangat
20
21
Ibid. Hlm 15
Ibid. Hlm 16
18
kuat”, disebut dengan kata-kata “miitsaaghan ghaliizhan”. Juga dapat
dikemukakan sebagai alasan untuk mengatakan perkwinan itu merupakan suatu
perjanjian ialah karena adanya:
a.
Cara mengadakan ikatan perkawinan telah diatur terlebih dahulu yaitu dengan
akad nikah dan rukun atau syarat tertentu.
b.
Cara menguraikan atau memutuskan ikatan perkawinan juga telah diatur
sebelumnya yaitu dengan prosedur talak, kemungkinan fassakh, syiqaq dan
sebagainya.
Perjanjian dalam perkawinan ini mempunyai/mengandung tiga karakter khusus,
yaitu:
a.
Perkawinan tidak dapat dilakukan tanpa unsur sukarela dari kedua belah
pihak.
b.
Kedua belah pihak (laki-laki dan perempuan) yang mengikat persetujuan
perkawinan itu saling mempunyai hak untuk memutuskan perjanjian tersebut
berdasarkan ketentuan yang sudah ada hukum-hukumnya.
c.
Persetujuan perkawinan itu mengatur batas-batas hukum mengenai hak dan
kewajiban maisng-masing pihak.22
Persetujuan perkawinan itu pada sadarnya tidaklah sama dengan
persetujuan-persetujuan yang lain misalnya persetujuan jual-beli, sewa-menyewa,
tukar-menukar dan lainnya. Menurut Dr. Wirjono Prodjodikoro. S.H., perbedaan
antara persetujuan perkawinan dan persetujuan-persetujuan yang lainnya adalah
dalam persetujuan biasa para pihak pada pokoknya penuh merdeka untuk
22
Soemiyati. Op.cit. Hlm. 10
19
menentukan sendiri isi dari persetujuan-persetujuan itu sesuka hatinya, asal saja
persetujuan itu tidak bertentangan dengan undang-undang, kesusilaan dan
ketertiban umum. Sebaliknya dalam suatu perkawinan sudah sejak semula
ditentukan oleh hukum, isi dari persetujuan antara suami isteri itu.23
Segi sosial dari suatu perkawinan dalam masyarakat setiap bangsa, ditemui
suatu penilaian yang umum ialah bahwa orang yang berkeluarga atau pernah
berkeluarga mempunyai kedudukan yang lebih dihargai dari mereka yang tidak
kawin.24 Qur‟an Surah An-Nisa ayat 3 berbunyi:
“… maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga
atau empat, kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil maka
kawinlah seorang saja, yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak
berbuat aniaya.”
Firman Allah tersebut di atas ditentukan bahwa orang boleh kawin lebih dari satu
dan paling banyak empat dengan syarat harus berlaku adil terhadap semua
isterinya, sedangkan kalau takut tidak dapat berlaku adil sebaiknya kawin satu
saja. Karena kawin dengan hanya mengawini seorang saja, akan terhindarilah
tindakan yang menyebabkan orang lain menderita.25
Pandangan suatu perkawinan dari segi agama suatu segi yang sangat
penting. Dalam agama, perkawinan itu dianggap suatu lembaga yang suci.
Upacara perkawinan adalah upacara yang suci, yang kedua pihak dihubungkan
menjadi pasangan suami isteri atau saling meminta menjadi pasangan hidupnya
dengan mempergunakan nama Allah sebagai diingatkan oleh Qur‟an Surah AtTaubah ayat 1. Menurut Ahmad Azhar Basyir menyatakan bahwa :
23
Mohd. Idris Ramulyo. Op.cit. Hlm 18
Thalib Sajuti. 1982. Hukum Kekeluargaan Indonesia. Universitas Indonesia. Jakarta.
24
Hlm. 47
25
Loc. cit
20
“Perkawinan adalah suatu akad atau perikatan untuk menghalalkan
hubungan kelamin antara laki-laki dan perempuan dalam rangka
mewujudkan kebahagiaan hidup keluarga, yang diliputi rasa ketentraman
serta kasih sayang dengan cara yang diridhoi Allah.”26
Pengertian perkawinan dari sudut pandang Islam terlah dijabarkan di atas,
dan ada baiknya melihat pengertian perkawinan berdasarkan pada hukum nasional.
Dalam Undang-Undang Perkawinan dijelaskan bahwa perkawinan ialah ikatan
lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri dengan
tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan
Ketuhanan Yang Maha Esa. Demikianlah pengertian perkawinan menurut Pasal 1
Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974. Menurut undang-undang ini perkawinan
barulah ada apabila dilakukan antara seorang pria dan seorang wanita, tentulah
tidak dinamakan perkawinan apabila yang terikat dalam perjanjian itu dua orang
pria saja (homo sexual) ataupun dua orang wanita saja (lesbian). 27 Perkawinan
menurut Kompilasi Hukum Islam terdapat dalam Pasal 2 yaitu Perkawinan
miitsaaqan menurut hukum Islam adalah pernikahan, yaitu akad yang sangat kuat
atau gholiidhan untuk mentaati perintah Allah dan melaksanakannya merupakan
ibadah. Pengertian perkawinan menurut hukum Islam apabila dibandingkan
dengan pengertian perkawinan menurut Undang-undang perkawinan yang
tercantum dalam Pasal 1 Undang-undang No.1 Tahun 1974, maka pada dasarnya
antara pengertian perkawinan menurut hukum Islam dan menurut Undang-undang
tidak terdapat perbedaan prinsipil.28
26
Ahmad Azhar Basyir. Op.cit. Hlm 11
Mohd. Idris Ramulyo. Op.cit. Hlm 54
28
Loc.cit
27
21
Pengertian perkawinan menurut undang-undang memiliki pertimbangan
yaitu sebagai Negara yang berdasarkan Pancasila di mana sila pertamanya ialah
Ketuhanan Yang Maha Esa, maka perkawinan mempunyai hubungan yang erat
sekali dengan agama atau kerohanian, sehingga perkawinan bukan saja
mempunyai unsur lahir atau jasmani, tetapi memiliki unsur batin atau rohani juga
mempunyai peranan yang penting.29 Asas atau prinsip dalam hukum perkawinan
tak lepas kaitannya dengan hukum Islam dan hukum perkawinan nasional pada
umumnya. Dalam ajaran Islam ada beberapa prinsip-prinsip dalam perkawinan,
yaitu:
a.
Harus ada persetujuan secara sukarela dari pihak-pihak yang mengadakan
perkawinan. Caranya ialah diadakan peminangan terlebih dahulu untuk
mengetahui apakah kedua belah pihak setuju untuk melaksanakan perkawinan
atau tidak.
b.
Tidak semua wanita dapat dikawini oleh seorang pria sebab adanya ketentuan
larangan-larangan perkawinan antara pria dan wanita yang harus diindahkan.
c.
Perkawinan harus dilaksanakan dengan memenuhi persyaratan-persyaratan
tertentu, baik yang menyangkut kedua belah pihak maupun yang
berhubungan dengan pelaksanaan perkawinan itu sendiri.
d.
Perkawinan pada dasarnya adalah untuk membentuk satu keluarga/rumah
tangga yang tenteram, damai dan kekal untuk selama-lamanya.
29
Mohd. Idris Ramulyo. Op. cit. Hlm 3
22
e.
Hak dan kewajiban suami-isteri adalah seimbang dalam rumah tangga,
dimana tanggungjawab pimpinan keluarga ada pada suami.30
Prinsip-prinsip atau Asas-asas perkawinan menurut Undang-Undang
Perkawinan, disebutkan di dalam penjelasan umumnya sebagai berikut :
a.
Tujuan perkawinan adalah membentuk keluarga yang bahagia dan kekal.
Untuk itu suami-isteri perlu saling membantu dan melengkapi agar masingmasing dapat mengembangkan kepribadiannya membantu dan mencapai
kesejahteraan spiritual dan material.
b.
Dalam Undang-undang ini dinyatakan bahwa suatu perkawinan adalah sah
bilamana dilakukan menurut
hukum masing-masing agamanya dan
kepercayaannya itu, dan di samping itu tiap-tiap perkawinan harus dicatat
menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.
c.
Undang-Undang Perkawinan menganut asas monogamy. Hanya apabila
dikehendaki oleh yang bersangkutan, karena hukum dan agama dari yang
bersangkutan mengijinkannya, seorang suami dapat beristeri lebih dari
seorang. Dan dapat dilakukan apabila dipenuhi berbagai persyaratan tertentu
dan diputuskan oleh Pengadilan.
d.
Undang-Undang Perkawinan menganut prinsip bahwa calon suami-isteri
harus telah masak jiwa-raganya untuk dapat melangsungkan perkawinan, agar
dapat mewujudkan tujuan perkawinan secara baik tanpa berakhir pada
perceraian dan mendapat keturunan yang baik dan sehat.
30
Soemiyati. Op.cit. Hlm. 4-5
23
e.
Undang-Undang Perkawinan juga menganut prinsip untuk mempersukar
terjadinya perceraian, karena tujuan perkawinan adalah untuk membentuk
keluarga yang bahagia, kekal dan sejahtera.
f.
Hak dan kedudukan isteri adalah seimbang dengan hak dan kedudukan suami
baik dalam kehidupan rumah tangga maupun dalam pergaulan masyarakat
sehingga dengan demikian segala sesuatu dalam keluarga dapat dirundingkan
dan diputuskan bersama oleh suami-isteri.31
Bisa dilihat benang merahnya bahwa prinsip-prinsip atau asas-asas dalam
perkawinan menurut Hukum Islam dan menurut Undang-Undang Perkawinan
dapat dikatakan sejalan dan tidak ada perbedaan yang prinsipil.
3.
Syarat Perkawinan
Hal multak yang harus dipenuhi agar tercapainya suatu perkawinan yang
sah baik di mata hukum maupun di mata agama ialah syarat. Syarat merupakan
suatu ketentuan yang wajib dipenuhi. Dalam hukum perkawinan Islam, terdapat
yang dinamakan rukun perkawian dan syarat perkawinan yang kemudian diadopsi
ke dalam kompilasi hukum Islam. Antara rukun dan syarat perkawinan itu
terdapat perbedaan dalam pengertiannya. Yang dimaksud dengan rukun dari
perkawinan ialah hakekat dari perkawinan itu sendiri, jadi tanpa adanya salah satu
rukun, perkawinan tidak mungkin dilaksanakan. Sedangkan yang dimaksud
31
Ibid. Hlm 6-7
24
dengan syarat ialah sesuatu yang harus ada dalam perkawinan tetapi tidak
termasuk dalam perkawinan itu sendiri.32
Hal yang termasuk dalam rukun perkawinan, yaitu hakekat dari suatu
perkawinan, agar perkawinan dapat dilaksanakan ialah :
a.
Pihak-pihak yang melaksanakan aqad nikah yaitu mempelai pria dan
mempelai wanita;
b.
Wali;
c.
Saksi;
d.
Akad Nikah.
Syarat perkawinan untuk calon kedua mempelai yaitu Islam dan Baligh. Syarat
tambahan untuk mempelai wanita yaitu:
a.
Tidak mempunyai hubungan nasab/darah;
b.
Tidak mempunyai hubungan semenda;
c.
Tidak mempunyai hubungan sepersusuan;
d.
Tidak mempunyai hubungan pernikahan
Rukun perkawinan dalam Islam sendiri diadopsi ke dalam hukum perkawinan
nasional melalui Kompilasi Hukum Islam yang mengatur diatur mengenai rukun
dan syarat perkawinan. Rukun Perkawinan yaitu:
1.
Calon mempelai (Pria dan Wanita);
2.
Wali Nikah;
3.
Dua orang saksi;
4.
Ijab dan Qabul.33
32
Ibid., Hlm 30
25
Perkawinan di Indonesia dewasa ini, syarat perkawinan agama dan syarat
perkawinan nasional tidak dapat dipisah mengingat bunyi Pasal 2 ayat (1)
Undang-undang No.1 Tahun 1974 yaitu Perkawinan adalah sah, apabila dilakukan
menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya. Atas dasar pasal
tersebutlah syarat perkawinan yang sah tak lepas dari syarat perkawinan menurut
hukum agama dan perkawinan menurut hukum nasional. Menurut KH. Ahmad
Azhar Basyir menyebutkan bahwa syarat-syarat sahnya perkawinan ada 3 (tiga)
hal yaitu :
1.
2.
3.
Mempelai perempuan halal dinikah oleh laki-laki yang akan menjadi
suaminya;
Dihadiri dua orang saksi laki-laki;
Ada wali mempelai perempuan yang melakukan akad. Syarat ketiga
ini dianut kaum muslimin di Indonesia dan merupakan pendapat
Syafii, Ahmad bin Hambal, Ishaq bin Rahawaih, Hasan Basri, Ibnu
Abi Laila, dan Ibnu Syubrumah.34
Melihat syarat dari hukum perkawinan Islam maka terdapat syarat perempuan
yang haram atau tidak boleh dikawini. Berdasarkan Qur‟an Surah An-Nisaa ayat
22 sampai dengan ayat 24 menyebutkan bahwa perempuan yang haram dikawini
dapat dibagi menjadi dua yaitu haram untuk dikawini untuk selamanya dan haram
untuk dikawini untuk sementara.35
Sebab-sebab perempuan haram dinikah selamanya ada 4 (empat) macam,
yaitu:
a.
Perempuan yang haram dinikah karena hubungan nasab
1) Ibu;
2) Anak perempuan;
33
Mohd. Idris Ramulyo. Op. cit. Hlm 72-73
Ahmad Azhar Basyir. Op.cit., Hlm. 31
35
Ibid., Hlm. 31
34
26
3) Saudara perempuan kandung;
4) Bibi;
5) Kemenakan perempuan.
b.
Perempuan haram dinikah karena hubungan susuan.
1) Ibu susuan;
2) Nenek susuan;
3) Bibi susuan;
4) Kemenakan perempuan susuan;
5) Saudara perempuan sesusuan.
c.
Perempuan haram dinikah karena hubungan semenda.
1) Mertua;
2) Anak tiri;
3) Menantu;
4) Ibu tiri.
d.
Perempuan haram dinikah arena sumpah li’an.
Sedangkan sebab-sebab perempuan haram dinikah untuk sementara yaitu:
a.
Mengumpulkan antara 2 (dua) perempuan bersaudara menjadi isteri
seseorang;
b.
Perempuan dalam ikatan perkawinan dengan laki-laki lain;
c.
Perempuan sedang dalam menjalani masa iddah;
d.
Perempuan yang ditalak 3 (tiga) kali;
e.
Perkawinan orang yang sedang ikhram;
f.
Kawin dengan pezina;
27
g.
Mengawini wanita musyrik.36
Mohd. Idris Ramulyo berpendapat bahwa sahnya perkawinan menurut
hukum Islam harus memenuhi rukum-rukun dan syarat-syarat sebagai berikut :
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
Syarat Umum;
Syarat Khusus;
Harus ada persetujuan bebas antara kedua calon mempelai;
Harus ada wali nikah;
Harus ada 2 (dua) orang saksi, Islam, dewasa dan adil;
Bayar mahar (mas kawin);
Pernyataan Ijab dan Qabul.37
Pasal 4 Kompilasi Hukum Islam, ditegaskan bahwa syarat sahnya suatu
perkawinan tetap mengacu pada Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun
1974 tentang Perkawinan. Menurut Undang-Undang Perkawinan, dijelaskan
bahwa dalam melakukan perkawinan yang sah harus memenuhi persyaratan yang
telah diatur oleh undang-undang tersebut. Secara garis besar, syarat sahnya suatu
perkawinan dibagi menjadi 2 persyaratan yaitu syarat materiil dan syarat formil.
Syarat materiil diatur dalam Pasal 6 sampai Pasal 11 Undang-Undang Nomor 1
Tahun 1974. Sedangkan syarat formil diatur dalam Pasal 12 Undang-Undang
Nomor 1 Tahun 1974. Dan Pasal 22 sampai Pasal 28 Undang-Undang Nomor 1
Tahun 1974 mengatur mengenai batalnya suatu perkawinan.
Syarat-syarat sahnya perkawinan menurut Undang-undang perkawinan
Nomor 1 Tahun 1974 yang disimpulkan oleh Mohd. Idris Ramulyo, sebagai
berikut :
a.
Didasarkan kepada persetujuan bebas antara calon suami dan calon isteri,
berarti tidak ada paksaan di dalam perkawinan.
36
37
Ibid. Hlm. 32-36
Mohd. Idris Ramulyo. Op. cit. Hlm 50-53
28
b.
Pada asasnya perkawinan itu adalah satu isteri bagi satu suami dan
sebaliknya hanya satu suami bagi satu isteri, kecuali mendapat dispensasi
oleh Pengadilan Agama dengan syarat-syaratnya yang berat umtuk boleh
beristeri lebih dari satu dan harus ada izin dari isteri pertama, adanya
kepastian dari pihak suami bahwa mampu menjamin keperluan-keperluan
hidup isteri-isteri dan anak-anak serta jaminan bahwa suami akan berlaku adil,
terhadap isteri-isteri dan anak-anak mereka.
c.
Pria harus telah berumur 19 (sembilan belas) tahun dan wanita 16 (enam
belas) tahun.
d.
Harus mendapat izin masing-masing dari kedua orang tua mereka, kecuali
dalam hal-hal tertentu dan calon pengantin telah berusia 21 (dua pulu satu)
tahun atau lebih, atau mendapat dispensasi dari Pengadilan Agama apabila
umur para calon kurang dari 19 dan 16 tahun.
e.
Tidak termasuk larangan-larangan perkawinan antara 2 (dua) orang yang :
1. Berhubungan darah dalam garis keturunan lurus ke bawah ataupun ke atas.
2. Berhubungan darah dalam garis keturunan ke samping yaitu antara saudara,
antara saudara dengan saudara orang tua dan antara seseorang dengan
neneknya.
3. Berhubungan semenda, yaitu mertua, anak tiri, menantu dengan ibu/bapak
tiri.
4. Berhubungan susuan, yaitu orang tua susuan dan bbi/paman susuan.
5. Berhubungan saudara dengan isteri (ipar) atau sebagai bibi atau keponakan
dari isteri, dalam hal seorang suami beristeri, lebih dari seorang.
29
6. Mempunyai hubungan yang oleh agamanya atau peraturan lain yang
berlaku dilarang kawin.
f.
Seorang yang masih terikat tali perkawinan dengan orang lain, kecuali
dispensasi oleh pengadilan.
g.
Seorang yang telah cerai untuk kedua kalinya, maka di antara mereka tidak
boleh dilangsungkan perkawinan lagi, sepanjang hukum masing-masing
agamanya dan kepercayaan itu dari yang bersangkutan tidak menentukan lain.
h.
Seorang wanita yang perkawinannya terputus untuk kawin lagi telah lampau
tenggang waktu tunggu.
i.
Perkawinan harus dilangsungkan menurut tata cara perkawinan yang diatur
oleh Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 jo. Peraturan Menteri Agama
No.3 Tahun 1975 tentang Pencatatan Nikah, Talak dan Rujuk.38
Secara umum pasal 6 mengatur mengenai kesepakatan/persetujuan para
pihak dalam melangsungkan perkawinan. Kemudian pasal 7 mengatur mengenai
usia perkawinan kedua calon mempelai walaupun bisa dilakukan penyimpangan
namun dengan syarat tertentu. Pasal 8 mengatur tentang larangan kawin dengan
wanita karena sesuatu hal dan pada pasal 9 mengatur mengenai larangan kawin
dengan wanita yang sudah kawin, sedangkan pada pasal 10 menegaskan larangan
kawin dengan wanita yang sudah ditalak. Pasal 11 menegaskan larangan kawin
dalam masa iddah dan pada pasal 12 mengatur mengenai tata cara pelaksanaan
perkawinan.
38
Ibid. Hlm 58-59
30
B. Pembatalan Perkawinan
1.
Pengaturan Pembatalan Perkawinan
Hukum perkawinan Islam terdiri dari 3 (tiga) sumber seperti dijelaskan
sebelumnya yaitu Al Qur‟an, Hadits dan Ijtihad para ulama. Dalam kaitannya
dengan pembatalan perkawinan, sumber utama hukum Islam yaitu Al-Qur‟an
tidak mengatur secara spesifik tentang pembatalan perkawinan namun diatur
dalam sumber setelah Al-Qur‟an yaitu Hadits Nabi. Pembatalan perkawinan
dalam hukum perkawinan Islam dikenal dengan adanya fasakh. Dasar dari
putusnya hubungan perkawinan dalam bentuk fasakh ini adalah Hadits Nabi, yang
diriwayatkan oleh Ibnu Majah yang isinya :
“Rosul membolehkan seorang wanita sesudah dia kawin baru mengetahui
bahwa dia tidak sekufu‟ (tidak sederajat dengan suaminya), untuk memilih
tetap diteruskannya hubungan perkawinannya itu atau apakah dia ingin
difasakhan; Wanita itu memilih terus (tetap dalam hubungan perkawinan
dengan suami yang lebih rendah derajatnya itu)”.39
Menurut ketentuan hukum Islam, perkawinan dapat putus karena :
1.
2.
3.
4.
5.
Kematian;
Talak;
Fasakh;
Lian;
Nusyus dan syaqaq40
Sedangkan menurut Soemiyati, yang menjadi sebab putusnya perkawinan ialah :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
39
40
Talak;
Khulu‟;
Syiqaq;
Fasakh;
Ta‟lik talak;
Ila;
Zhihar;
Soemiyati. Op.cit. Hlm. 114
Ahmad Azhar Basyir. Op.cit., Hlm 69
31
8.
9.
Li‟an;
Kematian.41
Berdasarkan dua pendapat di atas, sudah jelas bahwa hukum Islam mengatur
mengenai pembatalan perkawinan melalui apa yang disebut fasakh.
Pengaturan pembatalan perkawinan bersumber pada sumber-sumber
hukum perkawinan. Dalam hukum nasional, sumber dari pembatalan perkawinan
terdapat pada Undang-undang Perkawinan dalam bab IV mengenai batalnya
perkawinan yang ditaur dalam pasal 22 sampai pasal 28. Sedangkan dalam
Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 Tentang Pelaksanaan Undang-undang
Nomor 1 Tahun 1974, pembatalan perkawinan diatur dalam pasal 37 dan pasal 38.
Dan dalam Kompilasi Hukum Islam, pembatalan perkawinan diatur dalam pasal
70 hingga pasal 76.
2.
Pengertian Pembatalan Perkawinan
Pengertian pembatalan perkawinan tidak dirinci dalam undang-undang
perkawinan, namun dalam Pasal 22 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974
menyebutkan bahwa perkawinan dapat dibatalkan, apabila para pihak tidak
memenuhi syarat-syarat untuk melangsungkan perkawinan.
Menurut Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974, apabila ada syarat dari
sahnya suatu perkawinan tidak terpenuhi maka dapat dibatalkan perkawinan
tersebut. Kompilasi Hukum Islam pun tidak merumuskan definisi mengenai
pembatalan perkawinan. Dalam kompilasi hukum islam lebih mengatur sebab dan
akibat dari pembatalan perkawinan tersebut. Dalam kamus besar bahasa Indonesia,
41
Soemiyati. Op.cit. Hlm. 105
32
pengertian batal yaitu tidak berlaku atau tidak sah. Sedangkan kata pembatalan
memiliki arti proses, cara, perbuatan batal. Atau definisi lainnya yaitu pernyataan
batal. Dan pengertian perkawinan sebagaimana telah dijelaskan dalam Pasal 1
Undang-undang No.1 Tahun 1974. Dapat di telaah bahwa pembatalan perkawinan
yaitu proses atau cara untuk menyatakan tidak sah atau tidak berlaku ikatan lahir
batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri.
Tujuan dari adanya pembatalan perkawinan dapat ditinjau dalam Pasal 22
Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 yang menyiratkan bahwa tujuan dari
pembatalan perkawinan dapat dilakukan apabila para pihak tidak memenuhi
syarat-syarat perkawinan. Dapat dikatakan bahwa bila para pihak tidak dapat
memenuhi syarat-syarat perkawinan dan pada saat itu perkawinan telah
dilangsungkan maka dapat dilakukan pembatalan perkawinan. Sedangkan syaratsyarat perkawinan belum terpenuhi dan perkawinan belum dilaksanakan maka
dapat dilakukan pencegahan perkawinan. Hukum Islam telah mengatur mengenai
pembatalan perkawinan.
Kata fasakh atau fasid dalam bahasa Arab diartikan merusakkan atau
membatalkan. Jadi, fasakh sebagai salah satu sebab putusnya perkawinan ialah
merusakkan atau membatalkan hubungan perkawinan yang telah berlangsung.
Fasakh dapat terjadi karena terdapat hal-hal yang membatalkan akad nikah yang
dilakukan dan dapat pula terjadi karena sesuatu hal yang baru dialami sesudah
akad nikah dilakukan dan hidup perkawinan berlangsung.42
42
Ahmad Azhar Basyir. Op.cit., Hlm 85
33
Nikahul fasid terdiri dari dua perkataan yaitu “nikah” dan “fasid”.
Pengertian nikah secara harfiah sebagaimana yang tersebut dalam fiqh Syafi‟i
adalah “berkumpul atau bercampur” tetapi menurut pengertian fuqaha adalah
“wathi” sedangkan arti majazi adalah “aqad”. Pengertian fasid adalah “yang
rusak”. Dengan demikian nikah fasid adalah “pernikahan yang rusak”. Para
fuqaha juga membedakan nikah fasid dengan nikah bathil. Menurut Al Jaziri yang
dimaksud dengan nikah fasid adalah nikah yang tidak memenuhi syarat-syarat
sahnya untuk melaksanakan pernikahan, sedangkan nikah bathil adalah nikah
yang tidak memenuhi rukun nikah yang telah ditetapkan oleh syara‟. Hukum
nikah kedua bentuk pernikahan itu adalah sama saja yaitu tidak sah. 43 Fasakh
ialah suatu lembaga pmutusan hubungan perkawinan karena tertipu atau karena
tidak mengetahui sebelum perkawinan bahwa isteri yang telah dinikahinya itu ada
cacat celanya.44
Menurut hukum Islam, akad perkawinan suatu perbuatan hukum yang
sangat penting dan mengandung akibat-akibat serta konsekuensi-konsekuensinya
tentu sebagaimana yang telah ditetapkan oleh syariat Islam. Oleh karena itu
pelaksanaan akad pernikahan yang tidak sesuai dengan ketentuan yang telah
ditetapkan oleh syariat Islam adalah perbuatan yang sia-sia, bahkan dipandang
sebagai perbuatan yang melanggar hukum yang wajib dicegah oleh siapapun yang
mengetahuinya, atau dengan cara pembatalan apabila pernikahan itu telah
dilaksanakan. Hukum Islam menganjurkan agar sebelum pernikahan dibatalkan
perlu terlebih dahulu diadakan penelitian yang mendalam untuk memperoleh
43
Abdul Manan. 2003. Aneka Masalah Hukum Materiel Dalam Praktek Peradilan
Agama. Penerbit : Pustaka Bangsa. Jakarta. Hlm 40-41
44
Mohd. Idris Ramulyo. Op. cit. Hlm 141
34
keyakinan bahwa semua ketentuan yang telah ditetapkan oleh syariat Islam telah
terpenuhi.45
Al Jaziri meyatakan bahwa:
“Jika perkawinan yang telah dilaksanakan oleh seorang tidak sah karena
kekhilafan dan ketidaktahuan atau tidak sengaja dan belum terjadi
persetubuhan, maka perkawinan tersebut harus dibatalkan, yang
melakukan perkawinan itu dipandang tidak berdosa, jika telah terjadi
persetubuhan maka itu dipandang sebagai wathi‟ syubhat, tidak dipandang
sebagai perzinaan, yang bersangkutan tidak dikenakan sanksi zina, isteri
diharuskan beriddah apabila pernikahan telah dibatalkan, anak yang
dilahirkan dari perkawinan itu dipandang bukan sebagai anak zina dan
nasabnya teta dipertalikan kepada ayah ibunya. Tetapi jika perkawinan
yang dilakukan oleh seorang sehingga perkawinan itu menjadi tidak sah
karena sengaja melakukan kesalahan memberikan keterangan palsu, suratsurat palsu atau hal-hal lain yang tidak sesuai dengan ketentuan yang
berlaku maka perkawinan yang demikian itu wajib dibatalkan. Jika
perkawinan yang dilaksanakan itu belum terjadi persetubuhan maka isteri
tersebut tidak wajib beriddah, orang yang melaksanakan perkawinan itu
dipandang bersalah dan berdosa, dapat dikenakan tuntutan pidana,
persetubuhan itu dipandang sebagai perzinahan dan terkena had, nasab
anak yang dilahirkan tidak dapat dipertalikan kepada ayahnya, hanya
dipertalikan kepada ibunya.”46
Pasal 22 Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 menyatakan bahwa
perkawinan dapat dibatalkan apabila para pihak tidak memenuhi syarat-syarat
untuk melangsungkan perkawinan. Sedang dalam penjelasan disebutkan
pengertian “dapat” dalam pasal ini adalah dapat dibatalkan apabila menurut
ketentuan hukum agamanya tidak menentukan lain. Dengan demikian dapat
dipahami bahwa suatu perkawinan yang dilaksanakan oleh seseorang memiliki
dua kemungkinan akibat hukum yaitu batal demi hukum atau dapat dibatalkan
apabila cacat hukum dalam pelaksanaannya. Pengadilan Agama dapat
membatalkan
45
46
perkawinan
tersebut
atas
permohonan
Al Jaziri dalam Abdul Manan. Op.cit., Hlm. 42-43
Ibid
pihak-pihak
yang
35
berkepentingan. Perkawinan batal demi hukum apabila dilakukan sebagaimana
tersebut dalam Pasal 70 KHI dan perkawinan dapat dibatalkan apabila dilakukan
sebagaimana tersebut dalam Pasal 71 dan 72 KHI.47
Menurut M. Yahya Harahap menyatakan bahwa secara teoritis Undangundang Perkawinan menganut prinsip bahwa tidak ada suatu perkawinan yang
dianggap sendirinya batal menurut hukum (van rechtswegwnietif) sampai ikut
campur tangan pengadilan. 48 Hal ini dapat diketahui dalam Pasal 37 Peraturan
Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 di mana dkatakan bahwa batalnya suatu
perkawinan hanya dapat diputus oleh pengadilan. Apa yang dikemukakan oleh M.
Yahya Harahap ini sangatlah realistis, rasionya karena suatu perkawinan sudah
dilaksanakan melalui yuridis formal, maka untuk menghilangkan legalitas yuridis
itu haruslah melalui putusan pengadilan. Tentang hal ini tidak peduli apakah
perkawinan itu kurang rukun atau syarat-syarat yang ditemukan oleh hukum
agama masing-masing pihak dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Pembatalan perkawinan atas dasar putusan pengadilan itu diperlukan agar adanya
kepastian hukum terutama bagi pihak yang bersangkutan, pihak ketiga dan
masyarakat yang sudah terlanjur mengetahui adanya perkawinan tersebut. Jadi
legalitas pembatalan perkawinan yang diatur oleh peraturan perundang-undangan
yang berlaku lebih luas jangkauannya dari nikahul bathil dan nikahul fasid
sebagaimana yang tersebut dalam kitab-kitab fiqh tradisional.49
47
Ibid. Hlm 46
M. Yahya Harahap dalam Abdul Manan. Ibid., Hlm.47
49
Ibid.
48
36
3.
Syarat Pembatalan Perkawinan
Pembatalan perkawinan tak akan terjadi apabila tidak ada syarat
perkawinan yang dilanggar. Namun sebelum menjabarkan mengenai syarat
perkawinan, tentu dalam perkawinan itu sendiri terdapat hal-hal yang dilarang.
Dalam membicarakan larangan perkawinan menurut Hukum Islam, ada 3
(tiga) asas yang harus diperhatikan yaitu:
a.
Asas Absolut Abstrak, ialah suatu asas dalam hukum perkawinan di mana
jodoh atau pasangan suami isteri itu sebenarnya sejak dulu sudah ditentukan
oleh Allah atas permintaan manusia yang bersangkutan;
b.
Asas sekeltivitas, yaitu suatu asas dalam perkawinan di mana seorang yang
hendak menikah itu harus menyeleksi lebih dahulu dengan siapa ia boleh
menikah dan dengan siapa dia dilarangnya;
c.
Asas legalitas, yaitu suatu asas dalam perkawinan, wajib hukumnya
dicatatkan. 50
Sesuai dengan asas selektivitas di atas maka dirumuskan dalam beberapa
larangan perkawinan, dengan siapa dia boleh melakukan perkawinan dan dengan
siapa dia dilarang (tidak boleh menikah). Ada bermacam-macam larangan kawin
antara lain:
a.
Larangan perkawinan karena berlainan agama;
b.
Larangan perkawinan karena hubungan darah yang terlampau dekat;
c.
Larangan perkawinan karena hubungan susuan;
d.
Larangan perkawinan karena hubungan semenda;
50
Mohd. Idris Ramulyo.Op.cit Hlm 34
37
e.
Larangan perkawinan poliandri;
f.
Larangan perkawinan terhadap wanita yang di li’an;
g.
Larangan perkawinan (menikahi) wanita/pria pezina;
h.
Larangan perkawinan bekas suami terhadap wanita yang ditalak tiga;
i.
Larangan kawin bagi pria yang telah beristeri 4 (empat) orang.51
Syarat-syarat dalam melakukan pembatalan yaitu tentu hal pertama dilihat
sebagai indikator pembatalan perkawinan adalah merujuk pada pasal 22 UndangUndang Nomor 1 Tahun 1974. Jadi harus dilihat dahulu apakah syarat sahnya
perkawinan terpenuhi semua ketika melangsungkan perkawinan atau tidak.
Kemudian dilihat indokator selanjutnya yaitu siapa yang berhak mengajukan
pembatalan tersebut.
Mengenai hal tersebut, dapat merujuk pada pasal 23 Undang-Undang No.1
Tahun 1974. Dalam Pasal 23 mengatur mengenai siapa yang berhak mengajukan
pembatalan perkawinan yaitu :
a) Para keluarga dalam garis keturunan lurus keatas dari suami atau
isteri;
b) Suami atau isteri;
c) Pejabat yang berwenang hanya selama perkawinan belum diputuskan;
d) Pejabat yang ditunjuk tersebut ayat (2) Pasal 16 undang-undang
tentang perkawinan dan setiap orang yang mempunyai kepentingan
hukum secara langsung terhadap perkawinan tersebut, tetapi hanya
setelah perkawinan itu putus.
Syarat Selanjutnya terdapat pada Pasal 24 undang-undang perkawinan
menentukan syarat diajukannya pembatalan yaitu
barangsiapa karena perkawinan masih terikat dengan salah satu dari kedua
belah pihak dan atas dasar masih adanya perkawinan dapat mengajukan
51
Ibid. Hlm 35
38
pembatalan perkawinan yang baru, dengan tidak mengurangi ketentuan
Pasal 3 ayat (2) dan Pasal 4 Undang-undang perkawinan.
Kompilasi Hukum Islam pun mengatur mengenai pembatalan perkawinan
yang diatur secara terperinci dalam pasal 70 sampai dengan pasal 76 buku I
Kompilasi Hukum Islam. Syarat pembatalan perkawinan yang dapat digolongkan
batal demi hukum terdapat pada Pasal 70 KHI yang berbunyi :
Perkawinan batal apabila:
a. Suami melakukan perkawinan, sedangkan ia tidak berhak melakukan
akad nikah karena sudah mempunyai empat orang isteri, sekalipun
salah satu dari keempat isterinya itu dalam iddah talak raj„i;
b. Seseorang menikahi bekas isterinya yang telah dili„annya;
c. Seseorang menikahi bekas isterinya yang pernah dijatuhi tiga kali
talak olehnya, kecuali bila bekas isteri tersebut pernah menikah
dengan pria lain yang kemudian bercerai lagi ba„da ad-dukhul dari
pria tersebut dan telah habis masa iddah-nya;
d. Perkawinan dilakukan antara dua orang yang mempunyai hubungan
darah, semenda, dan sesusuan sampai derajat tertentu yang
menghalangi perkawinan menurut Pasal 8 Undang-Undang No. 1
Tahun 1974, yaitu:
1. berhubungan darah dalam garis keturunan lurus ke bawah atau ke
atas;
2. berhubungan darah dalam garis keturunan menyamping yaitu
antarasaudara, antara seorang dengan saudara orang tua, dan
antara seorang dengan saudara neneknya;
3. berhubungan semenda, yaitu mertua, anak tiri, menantu, dan ibu
atau ayah tiri;
4. berhubungan sesusuan, yaitu orang tua sesusuan, anak sesusuan,
saudara sesusuan, dan bibi atau paman sesusuan;
e. Isteri adalah saudara kandung atau sebagai bibi atau kemenakan dari
isteri atau isteri-isterinya.
Syarat pembatalan perkawinan yang dapat digolongkan ke dalam dapat
dibatalkan terdapat pada Pasal 71 KHI yang berbunyi :
Suatu perkawinan dapat dibatalkan apabila:
a. seorang suami melakukan poligami tanpa izin Pengadilan Agama;
b. perempuan yang dikawini ternyata kemudian diketahui masih menjadi
isteri pria lain yang mafqud;
c. perempuan yang dikawini ternyata masih dalam iddah dari suami lain;
39
d.
e.
f.
perkawinan yang melanggar batas umur perkawinan, sebagaimana
ditetapkan dalam Pasal 7 Undang-Undang 1 Tahun 1974;
perkawinan dilangsungkan tanpa wali atau dilaksanakan oleh wali
yang tidak berhak;
perkawinan yang dilaksanakan dengan paksaan.
Syarat pembatalan perkawinan yang juga dapat digolongkan lagi ke dalam
dapat dibatalkan terdapat pada Pasal 72 KHI yang berbunyi :
(1) Seorang suami atau isteri dapat mengajukan permohonan pembatalan
perkawinan apabila perkawinan dilangsungkan di bawah ancaman
yang melanggar hukum.
(2) Seorang suami atau isteri dapat mengajukan permohonan pembatalan
perkawinan apabila pada waktu berlangsungnya perkawinan terjadi
penipuan atau salah sangka mengenai diri suami atau isteri;
(3) Apabila ancaman telah berhenti, atau yang bersalah sangka itu
menyadari keadaannya, dan dalam jangka waktu 6 (enam) bulan
setelah itu masih tetap hidup sebagai suami-isteri, dan tidak
menggunakan haknya untuk mengajukan permohonan pembatalan,
maka haknya gugur.
Kompilasi hukum Islam juga menentukan siapa saja yang dapat
mengajukan pembatalan perkawinan. Hal ini telah di atur secara jelas dalam Pasal
73 KHI yang berbunyi :
Yang dapat mengajukan permohonan pembatalan perkawinan adalah:
a. para keluarga dalam garis keturunan lurus ke atas dan ke bawah dari
suami atau isteri;
b. suami atau isteri;
c. pejabat yang berwenang mengawasi pelaksanaan perkawinan menurut
undang-undang;
d. para pihak yang berkepentingan yang mengetahui adanya cacat dalam
rukun dan syarat perkawinan menurut hukum Islam dan peraturan
perundangundangan sebagaimana tersebut dalam Pasal 67.
Mengenai hubungan hukum dari putusan pembatalan perkawinan antara
anak dan orang tuanya ditegaskan dalam Pasal 76 KHI yang menyebutkan bahwa
batalnya suatu perkawinan tidak akan memutuskan hubungan hukum antara anak
dengan orang tuanya.
40
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Metode Pendekatan
Metode penelitian yang akan digunakan adalah penelitian yuridis normatif,
yaitu penelitian yang difokuskan untuk mengkaji penerapan kaidah-kaidah atau
norma-norma dalam hukum positif.52 Untuk menunjang penulisan ini digunakan
beberapa pendekatan masalah, berupa pendekatan perundang-undangan (statute
approach) dan pendekaan analisis (analytical approach). Pendekatan perundangundangan digunakan untuk mengetahui keseluruhan peraturan hukum mengenai
pembatalan perkawinan. Pendekatan analisis digunakan untuk mengetahui makna
yang dikandung oleh istilah-istilah dalam peraturan perundang-undangan secara
konsepsional, sekaligus mengetahui penerapannya dalam praktik dan putusanputusan hukum.
B. Spesifikasi Penelitian
Spesifikasi dalam penelitian ini bersifat preskripsi (preskriptif), yaitu suatu
penelitian yang menetapkan standar prosedur, ketentuan-ketentuan, rambu-rambu
dalam melaksanakan aturan hukum, sehingga apa yang senyatanya berhadapan
dengan apa yang seharusnya agar dapat memberi rumusan tertentu.53
52
Johnny Ibrahim. 2005. Teori dan Metodologi Penelitian Hukum Normatif.: Banyumedia
Publishing. Malang. Hlm. 295.
53
Peter Mahmud Marzuki. 2010. Penelitian Hukum. Jakarta. Kencana. Hlm. 22.
41
C. Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di beberapa Kantor Urusan Agama dan juga di
Pengadilan Agama Purwokerto.
D. Sumber Bahan Hukum
Sumber bahan hukum yang diperlukan untuk dipakai dalam penelitian ini
meliputi :
1. Bahan Hukum Primer
Bahan hukum primer merupakan bahan hukum yang bersifat
autoratif artinya memiliki suatu otoritas, mutlak dan mengikat. Bahan
hukum primer terdiri dari peraturan dasar, peraturan perundang-undangan,
catatan resmi, lembar negara penjelasan, risalah, putusan hakim dan
yurisprudensi.54 Bahan hukum tersebut meliputi :
a. Undang-Undang No.1 tahun 1974 tentang Perkawinan
b. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana
c. Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 Tentang Pelaksanaan
Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974
d. Kompilasi Hukum Islam
e. Putusan Pengadilan Agama Purwokerto Nomor 0829 / Pdt.G / 2012 /
PA.Pwt
54
Ibid. Hlm 113
42
2. Bahan Hukum Sekunder
Bahan hukum sekunder yaitu bahan-bahan yang memberikan
penjelasan mengenai bahan hukum primer, berupa hasil karya dari
kalangan hukum dalam bentuk buku-buku atau artikel.
3. Bahan Hukum Tersier
Bahan hukum tersier yaitu bahan-bahan yang memberikan
penjelasan mengenai bahan hukum sekunder, berupa kamus, ensiklopedia
dan index.
E. Metode Pengambilan Bahan Hukum
Bahan hukum diperoleh dengan cara metode kepustakaan, yaitu
melakukan penelusuran terhadap bahan pustaka dengan mengumpulkan peraturanperaturan, undang-undang, buku-buku, literatur, hasil penelitian, artikel-artikel,
majalah ilmiah, bulletin ilmiah, jurnal ilmiah yang berkaitan dengan permasalahan
yang ada dan metode dokumenter, yaitu mengumpulkan bahan dengan menelaah
dokumen-dokumen
pemerintah
maupun
non-pemerintah
seperti
putusan
pengadilan, perjanjian, surat keputusan, memo, konsep pidato, buku harian, foto,
risalah rapat, laporan-laporan, mass media, internet, pengumuman, instruksi,
aturan suatu instansi, publikasi, arsip-arsip ilmiah yang berkaitan dengan
permasalahan yang ada. Hal ini bertujuan untuk memperoleh landasan teoritis
yang disesuaikan dengan permasalahan untuk kemudian dikaji sebagai suatu
kajian yang utuh.
43
F. Metode Penyajian Bahan Hukum
Bahan hukum yang diperoleh disajikan dalam bentuk teks naratif, yakni
penyajian dalam bentuk uraian-uraian yang tersusun secara logis, konsisten,
rasional dan sistematis yang diawali dengan penyajian bahan hukum yang
kemudian dibunyikan, didialogkan, dan diinterpretasikan dalam bentuk kualitatif
yaitu dalam bentuk uraian-uraian yang disusun secara sistematis, disusun sebagai
satu kesatuan yang utuh, saling berhubungan serta berkaitan dan berurutan.
G. Analisis Bahan Hukum
Analisis bahan hukum dalam penelitian ini akan menggunakan metode
analisis logika deduktif yang dilengkapi dengan metode analisis normatif
kualitatif. Metode analisis logika deduktif adalah menarik kesimpulan dari suatu
permasalahan yang bersifat umum terhadap permasalahan yang konkret yang
dihadapi. 55 Sedangkan metode analisis normatif kulitatif, yaitu pembahasan dan
penjabaran yang disusun secara logis terhadap hasil penelitian terhadap norma,
kaidah, maupun teori hukum yang relevan dengan pokok permasalahan.
55
Johnny Ibrahim. Op.cit. Hlm. 393.
44
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
Berdasarkan salinan putusan nomor : 0829/Pdt.G/2012/PA.Pwt Pengadilan
Agama di Purwokerto yang mengadili perkara tertentu dalam peradilan tingkat
pertama, dalam persidangan Majelis Hakim telah menjatuhkan putusan dalam
perkara pembatalan nikah antara :
1.
Identitas Para Pihak
a. Nama samaran Andi, umur 50 tahun, agama Islam, Pekerjaan Kepala KUA
Kecamatan Cilongok, Tempat kediaman di RT. 03 RW.04, Desa
Karangnangka, Kecamatan Kedungbanteng, Kabupaten Banyumas,
sebagai Pemohon;
b. Nama samaran Bunga, umur 25 tahun, agama Islam, Pekerjaan swasta,
Tempat kediaman di RT.03 RW.06, Desa Karangtengah, Kecamatan
Cilongok, Kabupaten Banyumas, sebagai Termohon I;
c. Nama samaran Budi, umur 32 tahun, agama Islam, Pekerjaan swasta,
Tempat kediaman di RT.03 RW.06, Desa Karangtengah, Kecamatan
Cilongok, Kabupaten Banyumas, sebagai Termohon II.
Termohon I dan Termohon II selanjutnya disebut sebagai Para Termohon.
Dan Pengadilan Agama tersebut telah mempelajari berkas perkara dan telah
mendengar keterangan Pemohon, Para Termohon dan para saksi didepan
persidangan.
45
2.
Tentang Duduk Perkara
Pengadilan Agama Purwokerto menimbang bahwa Pemohon berdasarkan
surat permohonan bertanggal 16 April 2012, yang didaftarkan di Kepaniteraan
Pengadilan Agama Purwokerto dengan register nomor : 0829/Pdt.G/2012/PA.Pwt
tertanggal 16 April 2012.
Pada tanggal 15 Januari 2012, Termohon I dan Termohon II
melangsungkan pernikahan yang dicatat oleh Pegawai Pencatat Nikah Kantor
Urusan Agama Kecamatan Cilongok (Kutipan Akta Nikah Nomor : 0054 / 054 / I
/ 2012 tanggal 16 Januari 2012). Kemudian setelah pernikahan itu Termohon I dan
Termohon II bertempat tinggal di rumah orang tua Termohon I kurang lebih
selama 3 bulan. Selama pernikahan tersebut Termohon I dan Termohon II telah
hidup rukun sebagaimana layaknya suami isteri dan telah dikaruniai anak.
Kemudian di tengah rumah tangga Termohon I dan Termohon II ada Pegawai
Kecamatan Cilongok yang memberi informasi kepada pihak KUA Cilongok,
bahwa ternyata Termohon I telah memiliki suami yang bernama Kaslim dan
dikuatkan dengan Kutipan Akta Nikah Nomor : 154/34/II/2005 tanggal 06
Februari 2005 yang dikeluarkan oleh Kantor Urusan Agama Kecamatan Cilongok.
Tanggal 09 Juni 2011 suami Termohon I mengajukan cerai di Pengadilan
Agama Purwokerto dengan Nomor Perkara : 1052/Pdt.G/2011/PA.Pwt dan baru
putus tanggal 13 Desember 2011, dan pengucapan ikrar Talak pada tanggal 10
Januari 2012, sehingga Termohon I masih dalam masa iddah. Pada saat Termohon
I melaksanakan pernikahan dengan Termohon II, Termohon I mengaku berstatus
perawan kepada Termohon II dan keluarganya, dan sekarang karena pihak KUA
46
Cilongok telah mengetahui perihal kejadian tersebut, maka apa yang telah
dilakukan oleh Termohon I selama ini salah. Merujuk pada pasal 9 UndangUndang Perkawinan No.1 tahun 1974 “Seorang yang masih terikat tali
perkawinan dengan orang lain tidak dapat kawin lagi kecuali dalam hal tersebut
pada pasal 3 (2) dan pasal 4 UUP no.1 tahun 1974” maka Termohon I dan
Termohon II harus dibatalkan. Dan Pemohon sanggup membayar seluruh biaya
yang timbul akibat perkara ini.
Berdasarkan dalil-dalil di atas, Pemohon mohon agar Ketua Pengadilan
Agama Purwokerto segera memeriksa dan mengadili perkara ini, selanjutnya
menjatuhkan putusan yang amarnya berbunyi :
a.
Mengabulkan Permohonan Pemohon;
b.
Menyatakan batal demi hukum perkawinan antara Termohon I dan Termohon
II yang dilakukan tanggal 15 Januari 2012 dan tercatat di KUA Kecamatan
Cilongok, Kabupaten Banyumas dengan Akta Nikah Nomor 0054/054/I/2012
tanggal 16 Januari 2012 terhitung sejak dilaksanakan perkawinan tersebut;
c.
Membebankan biaya perkara menurut hukum, atau apabila Pengadilan
berpendapat lain mohon putusan lain yang seadil-adilnya.
Adapun pertimbangan lain yaitu bahwa pada hari sidang yang telah
ditetapkan Pemohon dan Para Termohon hadir dalam pesidangan dan di dalam
persidangan Pemohon menyatakan tetap melanjutkan perkaranya. Dan kemudian
Majelis Hakim membacakan permohonan Pemohon tersebut, yang isinya tetap
mempertahankan oleh Pemohon, kemudian Para Termohon memberikan jawaban
secara lisan yang isinya membenarkan semua dalil-dalil permohonan Pemohon
47
dan tidak keberatan perkawinan Para Termohon dibatalkan. Untuk menguatkan
dalil-dalil permohonannya Pemohon telah mengajukan alat-alat bukti sebagai
berikut :
1) Bukti tertulis :
a) Fotocopy Kartu Pendudukan atas nama Pemohon (P.1);
b) Surat Keterangan Kependudukan atas nama Termohon dari Kepala Desa
Karangtengah, Kecamatan Cilongok Nomor 474.2/4/I/2012 tanggal 4
Januari 2012 (P.2);
c) Surat Permohonan Kesediaan dari Termohon I kepada Kepala KUA
Kecamatan Cilongok tanggal 4 Januari 2012 (P.3);
d) Fotocopy Kutipan Akta Nikah Para Termohon yang dikeluarkan oleh KUA
kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas Nomor : 0054/054/I/2012
tanggal 16 Januari 2012 (P.4);
e) Kronologi perkawinan Para Termohon (P.5);
Dan alat bukti yang difotocopy tersebut telah sesuai aslinya dan bermaterai
cukup serta dibenarkan Para Termohon.
2) Bukti saksi :
Saksi I , dibawah sumpah menerangkan yang pada pokoknya :
(a). Bahwa saksi kenal dan tidak ada hubungan keluarga dengan pihak-pihak
berperkara dan saksi sebagai staf atau anak buah Pemohon;
(b). Bahwa Termohon I menikah dengan Termohon II pada tanggal 15 Januari
2012, yang menikahkan mereka adalah Pemohon;
48
(c). Bahwa ketika daftar menikah Termohon I memalsukan identitasnya,
Termohon I mengaku masih gadis padahal sudah bersuami;
(d). Bahwa saksi tahu hal itu karena setelah 3 bulan para Termohon menikah
ada pegawai Kecamatan yang melapor ke KUA berisikan bahwa ketika
para Termohon nikah, Termohon I masih jadi isteri lelaki lain;
(e). Bahwa setelah ada laporan tersebut kemudian KUA mengecek dan
memeriksa kembali berkas-berkas permohonan dan memanggil Para
Termohon, ketika diperiksa Termohon I mengaku kalau status Termohon
I untuk persyaratan nikah adalah masih gadis padahal sebenarnya suami
lama Termohon I mengajukan cerai ke Pengadilan Agama dan telah
diputus serta telah ikrar dan waktu itu Termohon I masih dalam masa
iddah;
Dan pihak-pihak berperkara membenarkan keterangan saksi tersebut.
Saksi II, dibawah sumpah menerangkan yang pada pokoknya :
(a). Bahwa saksi kenal dan tidak ada hubungan keluarga dengan pihak-pihak
berperkara serta saksi selaku perangkat Desa sering ke KUA untuk
mengurus warganya yang hendak nikah;
(b). Bahwa Para Termohon nikah tanggal 15 Januari 2012 yang menikahkan
adalah Pemohon;
(c). Bahwa ketika mendaftar nikah Termohon I mengaku masih gadis padahal
telah bersuami;
49
(d). Bahwa 3 bulan setelah Para Termohon menikah ada pegawai Kecamatan
yang melapor ke KUA dan pada Desa saksi, bahwa ketika Para Termohon
menikah status Termohon I masih mempunyai suami;
(e). Bahwa kemudian KUA mengecek dan memeriksa berkas-berkas
persyaratan pernikahan Para Termohon, serta Termohon I mengakui
bahwa dirinya memalsukan identitas ketika pembuatan syarat untuk
nikah;
Dan pihak-pihak berperkara membenarkan keterangan saksi tersebut.
Saksi III, tanpa disumpah menerangkan yang pada pokoknya :
(a). Bahwa saksi kenal pihak-pihak berperkara karena saksi adalah ayah
kandung Termohon I;
(b). Bahwa ketika Para Pihak Termohon nikah, Termohon I memalsukan
identitasnya sebagai gadis padahal masih bersuami;
(c). Bahwa sebenarnya suami lama Termohon I sudah mendaftar perkara ke
Pengadilan Agama Purwokerto dan sudah putus serta telah ikrar talak
pada tanggal 10 Januari 2012;
(d). Bahwa Termohon I pulang dari Jakarta dalam keadaan hamil lalu saksi
segera didaftarkan nikah Para Termohon ke KUA;
Dan pihak-pihak berperkara membenarkan keterangan saksi tersebut.
Kemudian Para Termohon tidak mengajukan bukti apapun dan menerima
bukti yang diajukan oleh Pemohon. Dan Pemohon dan Para Termohon tidak lagi
mengajukan sesuatu hal kecuali mohon agar Majelis Hakim menjatuhkan putusan.
Kemudian
untuk
mempersingkat
uraian
putusan
ini,
Majelis
Hakim
50
mencukupkan dengan menunjuk pada Berita Acara Persidangan perkara ini yang
merupakan rangkaian tidak terpisahkan dengan putusan ini.
3.
Tentang Hukumnya
Menimbang maksud dan tujuan permohonan Pemohon sebagaimana
disebutkan dalam duduk perkara, bahwa Pemohon tetap hendak mengajukan
perkara ini dan telah dibacakan permohonan Pemohon serta Para Termohon telah
memberikan jawaban secara lisan yang pada pokoknya membenarkan semua dalildalil permohonan Pemohon.
Berdasarkan alat bukti P.4 dan keterangan pihak-pihak berperkara serta
keterangan para saksi maka terbukti bahwa antara Termohon I dan Termohon II
telah melangsungkan pernikahan pada tanggal 15 Januari 2012. Berdasarkan bukti
P.1 dan P.3 serta keterangan pihak-pihak berperkara dan para saksi, terbukti
Pemohon adalah Kepala KUA kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas,
olehnya menurut Pasal 23 huruf (c) UU Nomor 1 Tahun 1974 jo. Pasal 73 huruf
(c) KHI, Pemohon dapat mengajukan pembatalan perkawinannya Termohon I
dengan Termohon II, juga dengan merujuk Pasal 25 UU Nomor 1 Tahun 1974 jo.
Pasal 38 ayat (1) PP Nomor 9 Tahun 1975 jo. Pasal 74 ayat (1) KHI, Pengadilan
Agama Purwokerto dapat menerima pengajuan perkara Pemohon untuk diperiksa.
Berdasarkan bukti P.2, keterangan pihak-pihak berperkara dan para saksi
ternyata perkawinan Termohon I dengan Termohon II dilaksanakan pada tanggal
15 Januari 2012 status Termohon I adalah masih gadis. Berdasarkan keterangan
Pemohon dan saksi ketiga dapat Majelis simpulkan ada diterangkan bahwa suami
51
Teromohon I yang lama telah mengajukan cerai talak ke Pengadilan Agama
Purwokerto dan telah diputus pada tanggal 13 Desember 2011 serta yang
bersangkutan telah menjatuhkan talak pada tanggal 10 Januari 2012.
Berdasarkan pertimbangan di atas, dapat Majelis temukan pula ternyata :
a.
Bahwa Para Termohon telah melakukan pernikahan pada tanggal 15 Januari
2012 dengan status Termohon I sebagai gadis;
b.
Bahwa suami Termohon I yang lama telah menjatuhkan talak kepada
Termohon I didepan sidang Pengadilan Agama Purwokerto pada tanggal 10
Januari 2012;
Sehingga ketika terjadi pernikahan Para Termohon, waktu itu Termohon I masih
dalam masa iddah dari suami yang lama.
Berdasarkan pertimbangan di atas, maka :
a.
Bahwa disatu sisi terjadinya pernikahan Para Termohon pada tanggal 15
Januari 2012 status Termohon I sebagai gadis padahal senyatanya Termohon I
bukan seorang gadis;
b.
Bahwa disisi lain, terjadinya pernikahan Para Termohon pada tanggal 15
Januari 2012, dimana suami lama Termohon I menjatuhkan talaknya pada
tanggal 10 Januari 2012, sehingga Termohon I sebenarnya masih dalam masa
iddah;
Sehingga dengan keadaan tersebut dengan merujuk Pasal 40 huruf (a) dan (b) KHI
dilarang dilangsungkannya perkawinan. Berdasarkan semua pertimbangan di atas,
dengan merujuk Pasal 71 huruf (c) KHI maka permohonan Pemohon dapat
dikabulkan dengan amar tersebut dibawah ini.
52
Dikarenakan perkara ini termasuk bidang perkawinan, maka sesuai Pasal
89 ayat (1) Undang-undang Nonor 7 Tahun 1989 yang telah diubah dengan
Undang-undang Nomor 3 Tahun 2006 serta telah diubah kedua oleh Undangundang Nomor 50 Tahun 2009 biaya perkara dibebankan kepada Pemohon.
4.
Bunyi Putusan
Mengingat segala ketentuan perundang-undangan yang berlaku, dan dalil-
dalil syari yang bersangkutan dengan perkara ini, mengadili :
a.
Mengabulkan permohonan Pemohon;
b.
Membatalkan
perkawinan
Termohon
I dengan
Termohon
II
yang
dilaksanakan pada tanggal 15 Januari 2012 sebagaimana tercatat dalam
kutipan Akta Nikah Nomor : 0054/054/I/2012 tanggal 16 Januari 2012 yang
dikeluarkan oleh KUA Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas terhitung
sejak tanggal dilaksanakannya pernikahan tersebut;
c.
Membebankan kepada Pemohon untuk membayar biaya perkara yang hingga
kini sebesar Rp. 346.000,- (tiga ratus empat puluh enam ribu rupiah).
Demikian purusan ini dijatuhkan pada hari Kamis tanggal 31 Mei 2012 M.
bertepatan dengan tanggal 10 Rajab 1433 H. oleh Majelis Hakim Pengadilan
Agama Purwokerto yang terdiri dari Drs. H. Jojo Suharjo sebagai Ketua Majelis,
dan Drs. Supangat serta H. Hasan Humaedi, SH sebagai Hakim-Hakim Anggota,
putusan mana pada hari itu juga diucapkan dalam sidang terbuka untuk umum
dengan didampingi oleh Mokhamad Farid, S.Ag sebagai Panitera Pengganti yang
dihadiri oleh Pemohon dan Para Termohon.
53
B. Pembahasan
Pertimbangan hukum hakim mengenai alasan pembatalan karena
adanya unsur penipuan terhadap syarat perkawinan dalam memutus
perkara nomor 0829/Pdt.G/2012/PA.Pwt
Dasar pertimbangan hukum Hakim dalam memutus perkara nomor
0829/Pdt.G/2012/PA.Pwt bahwa hakim menerapkan Pasal 22 Undang-undang
No.1 Tahun 1974 yaitu perkawinan dapat dibatalkan apabila para pihak tidak
memenuhi syarat-syarat untuk melangsungkan perkawinan. Dalam kasus ini,
apakah benar termohon I dan termohon II tidak memenuhi syarat perkawinan akan
kita bahas. Syarat-syarat perkawinan yang tertuang dalam pasal 6 sampai dengan
pasal 12 Undang-undang perkawinan bila dirangkum dapat menjadi beberapa
syarat yaitu :
1.
Persetujuan kedua mempelai;
Suatu perkawinan dapat dilangsungkan apabila terdapat persetujuan dari
kedua calon mempelai baik calon mempelai pria maupun calon mempelai
wanita. Namun jika terjadi ketidaksetujuan salah satu dari kedua mempelai
ataupun dari kedua calon mempelai maka perkawinan tersebut tidak dapat
dilangsungkan. Apabila hendak dilangsungkan maka dapat dicegah oleh para
pihak yang berkepentingan terhadap perkawinan tersebut sesuai dengan
pengaturan dalam Undang-Undang No.1 Tahun 1974 dan apabila telah
berlangsung perkawinan tersebut maka dapat dibatalkan juga oleh para pihak
yang berkepentingan sesuai dengan pengaturan dalam Undang-Undang No.1
Tahun 1974. Dalam kasus tersebut, antara termohon I dan termohon II telah
54
sepakat dalam melangsungkan perkawinan mereka. Dan para termohon tidak
ada keterpaksaan dalam melangsungkan perkawinan. Dengan demikian kedua
mempelai telah telah setuju secara sukarela untuk melangsungkan perkawinan.
2.
Telah mencapai umur yang telah ditentukan dalam undang-undang;
Undang-undang yang dimaksud yaitu Undang-Undang No.1 Tahun 1974.
Pasal 6 ayat (2) yang menyebutkan bahwa untuk melangsungkan perkawinan
seorang yang belum mencapai umur 21 (duapuluh satu) tahun harus mendapat
izin orang tua. Dalam arti seseorang dapat melangsungkan pernikahan tanpa
seizin orang tua calon mempelai bila umur telah mencapai 21 (duapuluh satu)
tahun. Hal ini ditujukan bahwa pengaturan umur hanya untuk izin orang tua
bukan mengenai batas umur minimal untuk melangsungkan suatu perkawinan.
Sedangkan untuk pengaturan tentang umur minimal seseorang diperbolehkan
melangsungkan perkawinan diatur dalam Pasal 7 ayat (1) yang berbunyi
perkawinan hanya diizinkan jika pihak pria sudah mencapai umur 19
(sembilan belas) tahun dan pihak wanita sudah mencapai umur 16 (enam
belas) tahun. Hal ini diperkuat oleh doktrin para sarjana lebih memahami
batas umur seseorang dapat melangsungkan pernikahan ialah 19 (sembilan
belas) tahun bagi calon suami dan 16 (enam belas) tahun bagi calon isteri.
Sebagai contoh yaitu pendapat Soemiyati yang menyatakan bahwa penentuan
batas umur untuk melangsungkan perkawinan sangatlah penting sebab
perkawinan sebagai suatu perjanjian perikatan antara seorang pria dan
55
seorang wanita sebagai suami-isteri, haruslah dilakukan oleh mereka yang
sudah cukup matang baik dilihat dari segi biologis maupun psikologis.56
Pada kasus di atas, umur dari termohon I dan termohon II telah lebih dari
batas yang ditentukan oleh undang-undang yaitu umur termohon I ialah 25
tahun dan umur termohon II ialah 32 tahun. Jadi dalam kasus tersebut, tidak
terjadi pelanggaran batas umur oleh para termohon.
3.
Tidak melanggar apa yang dilarang dalam melangsungkan perkawinan;
Larangan yang dimaksud ialah larangan yang tertuang dalam Pasal 8 Undangundang No.1 Tahun 1974 yang berbunyi sebagai berikut :
Perkawinan dilarang antara dua orang yang:
a. berhubungan darah dalam garis keturunan lurus ke bawah atau ke atas;
b. berhubungan darah dalam garis keturunan menyamping yaitu antara
saudara, antara seorang dengan seorang saudara orang tua dan antara
seorang dengan saudara neneknya;
c. berhubungan semenda, yaitu mertua, anak tiri, menantu dan ibu/bapak tiri;
d. berhubungan susuan, anak susuan, saudara dan bibi/paman susuan;
e. berhubungan saudara dengan isteri atau sebagai bibi atau kemenakan dari
isteri, dalam hal seorang suami beristeri lebih dari seorang;
f. yang mempunyai hubungan yang oleh agamanya atau peraturan lain yang
berlaku dilarang kawin.
Berdasarkan isi dari pasal 8 undang-undang perkawinan tersebut maka para
termohon tidak melanggar pasal tersebut karena baik termohon I dan
termohon II tidak memiliki hubungan baik hubungan darah dalam garis
keturunan lurus ke atas atau ke bawah juga menyamping. Dan tidak juga
memiliki hubungan semenda, sesusuan dan hubungan-hubungan yang
dilarang oleh undang-undang.
56
Soemiyati. Op.cit. Hlm. 70
56
4.
Apabila masih terikat perkawinan, maka tidak dapat kawin lagi kecuali
memenuhi pengecualian tersebut;
Pengecualian yang dimasud ialah bila sang suami ingin berpoligami maka
syarat ini boleh dikesampingkan selama memenuhi syarat-syarat berpoligami
yang telah ditentukan oleh undang-undang perkawinan. Dalam undangundang perkawinan hal tersebut diatur dalam pasal 3 – pasal 5. Pasal 3 ayat
(1) menyebutkan bahwa Pada asasnya seorang pria hanya boleh memiliki
seorang isteri. Seorang wanita hanya boleh memiliki seorang suami. Dan
pada Pasal 3 ayat (2) menyebutkan Pengadilan, dapat memberi izin kepada
seorang suami untuk beristeri lebih dari seorang apabila dikendaki oleh
pihak-pihak yang bersangkutan. Pasal 4 ayat (1) berbunyi dalam hal seorang
suami akan beristri lebih dari seorang, sebagaimana tersebut dalam pasal 3
ayat (2) Undang-undang perkawinan, maka ia wajib mengajukan permohonan
ke Pengadilan di daerah tempat tinggalnya. Dan pada ayat (2) berbunyi
Pengadilan dimaksud dalam ayat (1) pasal ini hanya memberi izin kepada
suami yang akan beristri lebih dari seorang apabila:
a. istri tidak dapat memnjalankan kewajibannya sebagai isteri;
b. istri mendapat cacat badan atau penyakit yang tidak dapat disembuhkan;
c. istri tidak dapat melahirkan keturunan.
Sedangkan Pasal 5 mengatur tentang syarat-syarat pengajuan berpoligami
yaitu :
a. adanya persetujuan dari isteri/isteri-isteri;
57
b. adanya kepastian bahwa suami mampu menjamin keperluan-keperluan
hidup isteri-isteri dan anak-anak mereka.
c. adanya jaminan bahwa suami akan berlaku adil terhadap isteri-isteri dan
anak-anak mereka.
Dalam kasus ini, termohon I berjenis kelamin wanita sehingga pengecualian
tersebut tidak berlaku karena wanita secara hukum agama dilarang untuk
berpoliandri dan secara otomatis hukum perkawinan nasional juga melarang
sesuai dengan bunyi pasal 2 ayat (1) yang berbunyi perkawinan adalah sah,
apabila
dilakukan
menurut
hukum
masing-masing
agamanya
dan
kepercayaannya. Dalam duduk perkara kasus tersebut secara jelas dinyatakan
bahwa termohon I masih terikat perkawinan dengan suami pertama karena
sekalipun sudah diucapkan ikrar talak, namn ada 1 aturan yang belum dijalani
oleh termohon I yaitu masa iddah sehingga masih dianggap terikat
perkawinan dengan suami pertamanya.
5.
Bagi wanita yang telah putus perkawinannya maka berlaku masa tunggu.
Hal ini juga yang dilanggar oleh termohon I karena jarak waktu antara
pengucapan ikrar talak pada pernikahan pertama dengan pernikahan kedua
antara termohon I dan termohon II hanya berjarak 5 hari. Sebagaimana telah
diatur jarak waktu tunggu dalam Pasal 39 ayat (1) huruf (b) PP No.9 Tahun
1975 yang menegaskan bahwa waktu tunggu ialah 90 (sembilan puluh) hari
apabila putusnya perkawinan karena perceraian.
Berdasarkan syarat-syarat perkawinan yang telah ditentukan oleh undang-
undang perkawinan, dapat dilihat bahwa termohon I telah melanggar syarat-syarat
58
perkawinan sehingga perkawinan yang telah dilangsungkan antara termohon I dan
termohon II harus dibatalkan. Hakim telah tepat dalam menetapkan dasar
pembatalan perkawinan yaitu berdasar larangan perkawinan yang menjadi rujukan
Hakim dalam memutus gugatan tersebut yaitu merujuk pada Pasal 40 huruf (a)
dan (b) KHI yang berbunyi :
Dilarang melangsungkan perkawinan antara seorang pria dengan seorang
wanita karena keadaan tertentu :
a. Karena wanita yang bersangkutan masih terikat satu perkawinan
dengan pria lain;
b. Seorang wanita yang masih berada dalam masa iddah dengan pria lain.
Karena syarat-syarat perkawinan telah dilanggar oleh termohon I dan
perkawinan antara termohon I dan termohon II telah dilangsungkan maka
perkawinan tersebut harus dibatalkan. Pertimbangan hakim dalam mengabulkan
permohonan Pemohon untuk membatalkan perkawinan berdasarkan semua
pertinbangan di dalam putusan merujuk pada Pasal 71 huruf (c) KHI yang
berbunyi suatu perkawinan dapat dibatalkan apabila perempuan yang dikawini
ternyata masih dalam iddah dari suami lain.
Melihat dari dasar-dasar pertimbangan hakim dalam memutus gugatan
pembatalan perkawinan dengan nomor register 0829/Pdt.G/2012/PA.Pwt maka
analisis penulis berdasarkan pertimbangan hakim dapat dijabarkan sebagai
berikut:
1.
Dalam melihat larangan perkawinan, dasar larangan perkawinan yang
menjadi rujukan Hakim dalam memutus gugatan tersebut yaitu merujuk pada
Pasal 40 huruf (a) dan (b) KHI. Padahal bila melihat dari kronologisnya,
maka Hakim telah tepat menggunakan pasal tersebut sebagai bentuk akibat
59
dari perkawinan yang telah dilakukan oleh termohon I dan termohon II yaitu
melarang perkawinan tersebut. Pasal 40 huruf (b) KHI yang melarang
perkawinan seorang pria dan seorang wanita dalam keadaan tertentu.
Keadaan bermakna mengkhususkan ke dalam keadaan seorang wanita yang
masih berada dalam masa iddah dengan pria lain.
2.
Dasar pembatalan perkawinan yang dijadikan rujukan oleh Hakim yaitu pada
Pasal 71 huruf (c) KHI yang berbunyi suatu perkawinan dapat dibatalkan
apabila perempuan yang dikawini ternyata masih dalam iddah dari suami lain.
Dalam hal ini, Hakim hanya menggunakan satu pasal dalam KHI untuk
dijadikan dasar pembatalan perkawinan. Senyatanya bahwa pasal untuk
membatalkan suatu perkawinan banyak terdapat dalam Undang-undang
perkawinan maupun Kompilasi Hukum Islam.
Melihat dari rumusan masalah di atas, dapat dilihat bahwa dasar
pertimbangan hukum Hakim dalam memutus perkara tersebut menggunakan
sejumlah pasal baik itu dalam undang-undang perkawinan ataupun dalam
peraturan pemerintah pelaksanaan undang-undang perkawinan dan juga
bersumber dari Kompilasi Hukum Islam. Dan untuk mengetahui pertimbangan
hukum Hakim, kita telaah dari asas-asas dalam hukum perkawinan dikorelasikan
dengan pasal yang dijadikan dasar oleh Hakim dalam memutus perkara nomor
0829/Pdt.G/2012/PA.Pwt.
Asas atau prinsip dalam hukum perkawinan tak bisa lepas kaitannya
dengan hukum Islam dan hukum perkawinan nasional pada umumnya. Sesuai
dengan pendapat Soemiyati dalam bukunya menyebutkan :
60
Dalam ajaran Islam ada beberapa prinsip-prinsip dalam perkawinan, yaitu:
1. Harus ada persetujuan secara sukarela dari pihak-pihak yang
mengadakan perkawinan;
2. Tidak semua wanita dapat dikawini oleh seorang pria;
3. Perkawinan harus dilaksanakan dengan memenuhi persyaratanpersyaratan tertentu;
4. Perkawinan pada dasarnya adalah untuk membentuk satu
keluarga/rumah tangga yang tenteram, damai dan kekal untuk selamalamanya;
5. Hak dan kewajiban suami-isteri adalah seimbang dalam rumah tangga,
dimana tanggungjawab pimpinan keluarga ada pada suami.57
Soemiyati juga menyebutkan bahwa Prinsip-prinsip atau Asas-asas
perkawinan menurut Undang-Undang Perkawinan, disebutkan di dalam
penjelasan umumnya sebagai berikut :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
57
58
Tujuan perkawinan adalah membentuk keluarga yang bahagia dan
kekal;
Dalam Undang-undang ini dinyatakan bahwa suatu perkawinan adalah
sah bilamana dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya
dan kepercayaannya itu, dan di samping itu tiap-tiap perkawinan harus
dicatat menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku;
Undang-Undang Perkawinan menganut asas monogami. Hanya
apabila dikehendaki oleh yang bersangkutan, karena hukum dan
agama dari yang bersangkutan mengijinkannya, seorang suami dapat
beristeri lebih dari seorang. Dan dapat dilakukan apabila dipenuhi
berbagai persyaratan tertentu dan diputuskan oleh Pengadilan;
Undang-Undang Perkawinan menganut prinsip bahwa calon suamiisteri harus telah masak jiwa-raganya untuk dapat melangsungkan
perkawinan, agar dapat mewujudkan tujuan perkawinan secara baik
tanpa berakhir pada perceraian dan mendapat keturunan yang baik dan
sehat;
Undang-Undang Perkawinan juga menganut prinsip untuk
mempersukar terjadinya perceraian, karena tujuan perkawinan adalah
untuk membentuk keluarga yang bahagia, kekal dan sejahtera.
Hak dan kedudukan isteri adalah seimbang dengan hak dan
kedudukan suami baik dalam kehidupan rumah tangga maupun dalam
pergaulan masyarakat sehingga dengan demikian segala sesuatu dalam
keluarga dapat dirundingkan dan diputuskan bersama oleh suamiisteri.58
Soemiyati. Op.cit. Hlm. 4-5
Ibid. Hlm 6-7
61
Korelasi antara pasal-pasal yang digunakan dengan asas hukum
perkawinan baik nasional maupun islam akan dibahas berikut ini. Dalam undangundang perkawinan menganut asas monogami, hal tersebut tercermin dalam Pasal
3 ayat (1) Undang-undang No 1 Tahun 1974 yang berbunyi pada asasnya dalam
suatu perkawinan seorang pria hanya boleh mempunyai seorang isteri. Seorang
wanita hanya boleh mempunyai seorang suami.
Hal tersebut juga dipertegas dalam penjelasan undang-undang perkawinan
pasal 3 pada penjelasan pasal demi pasal yang menerangkan bahwa undangundang perkawinan menganut asas monogami. Begitu pula dengan hukum Islam
yang menganut asas monogami. Ketentuan ini tedapat dalam Al-Quran surah AnNisa ayat 3 : “… kalau kamu tidak akan adil di antara isteri-isteri kamu itu,
seyogyanyalah kamu mengawini seorang perempuan saja, yang demikian itu
adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya”. Maksud anjuran Allah S.W.T
untuk beristeri satu saja adalah untuk menghindarkan seseorang berbuat
sewenang-wenang dan membuat orang lain sengsara/menderita apabila orang
beristeri lebih dari satu.59
Menurut pendapat dari Ahmad Azhar Basyir sehubungan dengan asas
monogami, maka poligami menjadi sebuah opsi pilihan dalam bagi seseorang
untuk berkeluarga. Karena poligami merupakan sebuah opsi, maka ditertibkan
oleh Negara untuk menjaga agar kebolehan kawin poligami tidak disalahgunakan
oleh laki-laki yang kurang mendalami maksud dan tujuan perkawinan menurut
ajaran Islam atas dasar mashlahah-mursalah, Negara dibenarkan mengadakan
59
Ibid. Hlm. 74
62
penertiban, tetapi tidak berkecenderungan untuk menutup sama sekali pintu
poligami. Hal ini tercermin dalam Undang-undang Perkawinan No.1 Tahun 1974
Pasal 3, 4 dan 5 yang menentukan bahwa perkawinan berasas monogami, tetapi
membuka kemungkinan poligami atas izin pengadilan dengan alasan-alasan isteri
tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai isteri mandul, dan dengan syarat
mendapat izin isteri/isteri-isteri yang terdahulu, mampu memberi nafkah dan
dapat berlaku adil.60
Sesuai dengan pertimbangan hukum bahwa hakim menggunakan Pasal 23
(c) Undang-undang No 1 Tahun 1974 jo. Pasal 73 (c) KHI sebagai dasar dari
pengajuan pembatalan perkawinan. Namun sebab diajukannya pembatalan
perkawinan meujuk pada Pasal 22 Undang-undang No 1 Tahun 1974 yang
berbunyi perkawinan dapat dibatalkan, apabila para pihak tidak memenuhi syaratsyarat untuk melangsungkan perkawinan.
Pada bab sebelumnya telah dijelaskan mengenai syarat-syarat dalam
sebuah perkawinan. Namun bila dihubungkan dengan kasus di atas, maka ada
syarat yang dilanggar khususnya pada Pasal 9 Undang Undang nomor 1 Tahun
1974 yang menyebutkan seorang yang terikat tali perkawinan dengan orang lain
tidak dapat kawin lagi, kecuali dalam hal yang tersebut pada Pasal 3 ayat (2) dan
Pasal 4 Undang-undang perkawinan. Pasal 3 dan Pasal 4 Undang-undang
Perkawinan mengatur mengenai asas monogami dan izin poligami yang telah
dibahas sebelumnya.
60
Ahmad Azhar Basyir. Op.cit. Hlm. 39-40
63
Hubungan pasal 9 dengan kasus di atas berhubungan sebab pada kasus
tersebut, perkawinan kedua dari termohon I terjadi tanggal 15 Januari 2012 dan
pegucapan Ikrar Talak pada perkawinan pertama pada tanggal 10 Januari 2012.
Hal ini mengandung arti bahwa termohon I masih dalam masa iddah. Sehingga
Pasal 11 ayat (1) Undang-undang Perkawinan berlaku bagi termohon I. Dan untuk
rentan waktu dalam masa iddah ini telah diatur dalam Pasal 39 ayat (1) huruf (b)
jo. Pasal 153 ayat (2) huruf (b) yang menentukan bahwa rentan waktu tunggu
dalam masa iddah terhadap perkawinan yang putus karena perceraian adalah
sekurang-kurangnya 90 (sembilan puluh) hari.
Menurut Ahmad Azhar Basyir, Iddah adalah masa tunggu bagi wanita
yang ditinggal mati atau bercerai dari suaminya untuk memungkinkan melakukan
perkawinan lagi dengan laki-laki lain.61
Tujuan diadakannya iddah yaitu :
1.
Untuk menunjukkan betapa pentingnya masalah perkawinan dalam ajaran
Islam. Perkawinan yang merupakan peristiwa amat penting dalam hidup
manusia dan merupakan jalan yang sah untuk memenuhi hasrat naluri hidup
serta dalam waktu sama merupakan salah satu macam ibadah kepada Allah itu
jangan sampai mudah diputuskan. Oleh karenanya, perkawinan merupakan
peristiwa dalam hidup manusia yang harus dilaksanakan dengan cara dewasa;
dipikirkan sebelum dilaksanakan dan dipikirkan masak-masak pula apabila
terpaksa harus bercerai.
61
Ibid. Hlm 94
64
2.
Peristiwa perkawinan yang demikian penting dalam hidup manusia itu harus
diusahakan agar kekal. Dalam hal terpaksa terjadi perceraian pun, kekekalan
perkawinan masih diinginkan. Iddah diadakan untuk memberi kesempatan
suami isteri kembali lagi hidup berumah tangga, tanpa akad nikah baru.
3.
Dalam perceraian karea ditinggal mati, iddah diadakan untuk menunjukkan
rasa berkabung atas kematian suami bersama-sama dengan keluarga suami.
Dalam hal ini faktor psikologis yang meonjol.
4.
Bagi perceraian yang terjadi antara suami dan isteri yang pernah melakukan
hubungan kelamin, iddah diadakan untuk meyakinkan kekosongan rahim,
untuk menjaga agar jangan sampai terjadi percampuran/kekacauan nasab bagi
anak yang lahir.62
Jarak waktu pada masa iddah dari perkawinan pertama yang berlaku bagi
termohon I selama sekurang-kurangnya 90 (sembilan puluh) hari tidak diindahkan
oleh termohon I karena termohon I melaksanakan perkawinan keduanya dengan
termohon II dalam masa iddah yang baru berjalan 5 (lima) hari sehingga masih
kurang 85 (delapan pulu lima) hari lagi. Oleh karena itu perkawinan kedua antara
termohon I dan termohon II harus dibatalkan.
Akibat dari pembatalan perkawinan, menurut C.S.T. Kansil menyebutkan :
“Lapangan keperdataan itu memuat peraturan-peraturan tentang keadaan
hukum dan perhubungan hukum yang mengenai kepentingan-kepentingan
perseorangan, misalnya : soal perkawinan, jual beli, sewa menyewa,
hutang piutang, hak milik, warisan dan lain sebagainya.”63
62
63
Ibid. Hlm 94-95
C.S.T. Kansil, S.H., Op.Cit. Hlm 329
65
Makna dalam pelaksanaan kasus di atas menggunakan prosedur beracara sesuai
dengan hukum acara perdata.
Sesuai dengan Undang-undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan
Kehakiman disebutkan dalam Pasal 25 ayat (1) menyebutkan Badan peradilan
yang berada di bawah Mahkamah Agung meliputi badan peradilan dalam
lingkungan peradilan umum, peradilan agama, peradilan militer, dan peradilan tata
usaha negara. Dan Pasal 25 ayat (3) menegaskan bahwa Peradilan agama
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berwenang memeriksa, mengadili, memutus,
dan menyelesaikan perkara antara orang-orang yang beragama Islam sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Dialam Pasal 49 Undang-undang Nonor 7 Tahun 1989 yang telah diubah
dengan Undang-undang Nomor 3 Tahun 2006 serta telah diubah kedua oleh
Undang-undang Nomor 50 Tahun 2009 Tentang Peradilan Agama yang berbunyi
Pengadilan agama bertugas dan berwenang memeriksa, memutus, dan
menyelesaikan perkara di tingkat pertama antara orang-orang yang beragama
Islam di bidang:
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
perkawinan;
warta;
wasiat;
hibah;
wakaf;
zakat;
infaq;
shadaqah; dan
ekonomi syari'ah.
Atas dasar pasal tersebut maka perkara ini masuk dalam Pengadilan Agama dan
diperkuat oleh Pasal 25 Undang-undang No 1 Tahun 1974 jo. Pasal 38 ayat (1)
66
Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 jo. Pasal 74 ayat (1) KHI maka
Pengadilan Agama memiliki kewenangan dalam menyelesaikan perkara
pembatalan perkawinan.
Hakim dalam menetapkan dasar pertimbangan hukum atas kasus di atas
mengenai pembatalan perkawinan sudah tepat menggunakan Pasal 23 (c) Undangundang No 1 Tahun 1974 jo. Pasal 73 huruf (c) KHI mengenai pejabat yang
berwenang yang berhak mengajukan pembatalan perkawinan. Hakim juga melihat
dalam perkara pembatalan perkawinan ini permohonan permohon dapat
dikabulkan berdasarkan pertimbangan dari Pasal 40 huruf (a) dan huruf (b) KHI
yang menitikberatkan pada 2 (dua) hal yaitu :
1.
karena masih terikat dengan perkawinan;
2.
karena masih berada dalam masa iddah.
Kasus tersebut jelas memenuhi 2 (dua) hal yang dilarang dalam Pasal 40 sehingga
harus dibatalkan. Hakim juga menitikberatkan pada pelanggaran atas Pasal 71
huruf (c) KHI sehingga mengabulkan permohonan pemohon. Pasal 71 huruf (c)
menitikberatkan pada suatu perkawinan dapat dibatalkan karena perempuan yang
dikawini masih dalam iddah dari suami lain. Hal ini menjadi pertimbangan hukum
Hakim dalam mengabulkan permohonan perkara nomor 0829/Pdt.G/2012/PA.Pwt.
Kasus pembatalan perkawinan tersebut bila menelaah dari pertimbangan
hukum Hakim, maka pasal-pasal yang dikenakan terhadap kasus tersebut lebih
mengarah pada pasal-pasal yang mengatur mengenai masa iddah. Namun menurut
penulis, dalam kasus tersebut ada dua faktor mengapa perkawinan kedua dari
termohon I harus dibatalkan yaitu :
67
1.
Pelanggaran masa iddah;
2.
Penipuan Terhadap Syarat Perkawinan.
Mengenai faktor pertama yaitu pelanggaran masa iddah, sudah jelas dibahas di
atas. Akan tetapi ada sisi lain yang tidak dijadikan pertimbangan hukum oleh
Hakim yang memeriksa perkara Nomor 0829/Pdt.G/2012/PA.Pwt.
Sisi lain yang tidak dijadikan pertimbangan hukum Hakim yaitu penipuan
terhadap syarat perkawinan. Pada kasus tersebut, ketika termohon I mendaftarkan
perkawinannya dengan termohon II, termohon I mengaku masih gadis padahal
termohon I telah berstatus memiliki suami atau isteri orang. Hal ini dibuktikan
dengan bukti tertulis dan bukti keterangan saksi baik yang berada di bawah
sumpah maupun tidak disumpah. Oleh sebab itu seharusnya Hakim juga
menyertakan Pasal 27 ayat (2) yang menerangkan bahwa seorang suami atau isteri
dapat mengajukan permohonan pembatalan perkawinan apabila pada waktu
berlangsungnya perkawinan terjadi salah sangka mengenai diri suami atau isteri.
Dan Pasal 72 ayat (2) KHI yang berbunyi seorang suami atau isteri dapat
mengajukan
permohonan
pembatalan
perkawinan
apabila
pada
waktu
berlangsungnya perkawinan terjadi penipuan atau salah sangka mengenai diri
suami atau isteri.
Menurut pendapat M. Yahya Harahap mengatakan bahwa :
“Alasan pembatalan perkawinan tersebut dalam Pasal 27 ayat (2) Undangundang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan adalah alasan yang agak
limitatif tetapi tidak secara mutlak. Alasan tersebut tidak menutup
kemungkinan timbulnya alasan-alasan lain yang dapat dipergunakan untuk
mengajukan pembatalan perkawinan yang didasarkan kepada ketentuan
dalam batas-batas perikemanusiaan dan kesusilaan seperti penipuan,
penyakit gila dan impoten. Hal ini penting untuk mewujudkan tujuan
perkawinan sebagaimana tersebut dalam Undang-undang Perkawinan yaitu
68
mewujudkan rumah tangga bahagia dan sejahtera serta kekal berdasarkan
Ketuhanan Yang Maha Esa. Tujuan perkawinan tersebut tidak akan
tercapai kalau dalam pelaksanaan perkawinan terjadi cacat sehingga
merugikan salah satu pihak.64
Kompilasi Hukum Islam melalui Pasal 72 ayat (2) telah mengantisipasi
kekurangan hal yang tersebut dalam Pasal 27 ayat (2) Undang-undang Nomor 1
Tahun 1974 tentang Perkawinan. Dikemukakan bahwa perkawinan dapat
dibatalkan tidak hanya salah sangka mengenai diri suami atau isteri tetapi juga
termasuk “penipuan”. Penipuan yang tersebut di sini tidak hanya dilakukan oleh
pihak pria saja, tetapi dapat juga dilakukan oleh pihak wanita. Dari pihak pria
biasanya penipuan dilakukan dalam bentuk pemalsuan identitas. Misalnya pria
tersebut sudah pernah kawin tetapi dikatakannya masih jejaka atau perbuatan licik
lainnya sehingga perkawinan tersebut dapat berlangsung. Penipuan yang
dilakukan oleh pihak wanita biasanya menyembunyikan kekurangan yang ada
padanya, misalnya dikatakan tidak ada cacat fisik, tetapi kenyataannya tidak
demikian.65
Dalam praktek Peradilan Agama, lazimnya pembatalan perkawinan dapat
dilaksanakan terhadap perkawinan yang kurang syarat dan rukunnya sebagaimana
yang telah ditetapkan oleh syari‟at Islam. Selain dari itu pembatalan perkawinan
didasarkan Pasal 26 dan 27 Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang
Perkawinan dan Pasal 70 dan 71 Kompilasi Hukum Islam.66 Hal-hal yang tidak
diatur secara khusus seperti mental disorder, impoten dan cacat fisik yang lainnya
ayat (2) Pasal 27 Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dapat
64
M. Yahya Harahap dalam Abdul Manan,. Op. cit. Hlm. 67-68
Ibid., Hlm 68
66
Ibid., Hlm 72
65
69
diperluas pengertiannya, tidak hanya kekeliruan mengenai diri orangnya tetapi
juga menyangkut keadaan orangnya sehingga hal tersebut dapat dijadikan alasan
pembatalan perkawinan. Dengan demikian tujuan perkawinan baik yang diatur
dalam syari‟at Islam maupun dalam hukum positif Indonesia dapat terpenuhi. Di
sini dituntut keberanian Hakim Pengadilan Agama melakukan ijtihad dan
menentukan yang terbaik bagi pencari keadilan.67
67
Ibid.
70
BAB V
PENUTUP
A. Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa perkawinan antara
termohon I dan termohon II dibatalkan oleh Pengadilan karena adanya penipuan
syarat perkawinan. Penipuan syarat perkawinan yang dilakukan oleh termohon I
yaitu :
1.
Masih terikatnya perkawinan dengan perkawinan sebelumnya;
2.
Wanita yang telah putus perkawinannya maka berlaku masa tunggu.
Jadi berdasarkan dua pelanggaran yang telah dilakukan oleh termohon I
maka Hakim menetapkan pembatalan perkawinan terhadap perkawinan antara
para termohon.
B. Saran
Diharapkan Majelis Hakim dalam memutus suatu perkara lebih menelaah
pokok permasalahan dalam sebuah kasus agar dalam menjatuhkan putusan lebih
tepat dasar hukum yang digunakan serta Hakim Pengadilan Agama dituntut
keberaniannya melakukan ijtihad dan menentukan yang terbaik bagi pencari
keadilan.
71
DAFTAR PUSTAKA
Buku Literatur
Azhar Basyir, Ahmad. 2007. Hukum Perkawinan Islam. Yogyakarta: UII Press.
Yogyakarta
Ibrahim, Johnny. 2005. Teori dan Metodologi Penelitian Hukum Normatif.:
Banyumedia Publishing. Malang
Manan, Abdul. 2003. Aneka Masalah Hukum Materiel Dalam Praktek Peradilan
Agama. Pustaka Bangsa. Jakarta
Marzuki, Peter Mahmud. 2005. Penelitian Hukum. Kencana Prenada Media
Group. Jakarta
Ramulyo, Mohd Idris. 1996. HUKUM PERKAWINAN ISLAM : Suatu Analisis
dari Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 dan Kompilasi Hukum Islam.
Bumi Angkasa. Jakarta
Sajuti, Thalib. 1982. Hukum Kekeluargaan Indonesia. Universitas Indonesia.
Jakarta
Saleh, K. Wantjik. 1980. Hukum Perkawinan Indonesia. Penerbit Ghalia
Indonesia. Jakarta
Sidharta, Benhard Arif. 1999. Refleksi Tentang Struktur Ilmu Hukum. CV. Maju
Mundur. Bandung
Soemiyati, Ny. 1982. Hukum Perkawinan Islam dan Undang-Undang
Perkawinan (Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan).
Penerbit Liberty .Yogyakarta
Kansil, C.S.T. 1989. Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum Indonesia. Balai
Pustaka. Jakarta
Perundang-Undangan
Kitab Undang-Undang Hukum Pidana
Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 1974 Nomor 1, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 3019)
72
Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 Tentang Pelaksanaan Undang-Undang
Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 1975 Nomor 12, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 3050)
Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1991 tentang Kompilasi
Hukum Islam
Putusan Pengadilan
Putusan Pengadilan Agama Purwokerto Nomor 0829/Pdt.G/2012/PA.Pwt
Sumber - Sumber Lain
Kamus Besar Bahasa Indonesia 2008. Pusat Bahasa Departemen Pendidikan
Nasional. Jakarta
Download