Paper Title (use style: paper title)

advertisement
Prosiding Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Prasarana Wilayah (ATPW),
Surabaya, 11 Juli 2012, ISSN 2301-6752
KAJIAN PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN AKIBAT PENGARUH
PEMBANGUNAN JALAN LINGKAR SELATAN KOTA SALATIGA
ARI FITRIANTO1, ANAK AGUNG GDE KARTIKA2 DAN PUTU GDE ARIASTITA3
1
Mahasiswa Magister Manajemen Aset Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, ITS Surabaya,
email : [email protected],
2
Dosen Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, ITS Surabaya
Abstrak—Pembangunan jalan lingkar bertujuan untuk mengurai dan memecah arus
lalulintas pusat kota, dalam perkembangannya keberadaan jalan lingkar memberikan
pengaruh terhadap penggunaan lahan dikawasan sepanjang jalan lingkar yaitu terjadinya
perubahan penggunaan lahan pertanian ke non pertanian.
Tujuan kajian ini merupakan rekomendasi pengendalian perubahan lahan akibat
pengaruh pembangunan jalan lingkar Kota Salatiga. Tahapan dalam mencapai tujuan
kajian ini yaitu : 1) mengidentifikasi seberapa besar perubahan lahan pertanian; 2)
mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan lahan pertanian; 3)
merumuskan tipologi perubahan lahan pertanian; 4) merumuskan rekomendasi penanganan
perubahan penggunaan lahan pertanian di kawasan jalan lingkar.
Berdasarkan hasil penelitian pertumbuhan panjang jalan lingkar mempengaruhi
perubahan lahan pertanian sebesar 0,077 Ha. Faktor yang paling kuat mempengaruhi
perubahan lahan yaitu tingkat urbanisasi. Tipologi perubahan lahan pertanian
dikelompokan menjadi cluster1 dan cluster2. Rekomendasi pengendalian perubahan lahan
pertanian ke non pertanian dikawasan jalan lingkar pada cluster 1 yaitu dengan melakukan
pengawasan, penertiban dan sosialisasi terhadap penduduk tentang Rencana Tata Ruang
terkait dengan pengendalian perubahan lahan pertanian ke non pertanian; cluster 2 yaitu
zonasi kawasan dengan membatasi pembangunan yang tidak sesuai RTRW, tidak
memberikan fasilitas jaringan air bersih dan jaringan listrik terhadap kegiatan yang tidak
sesuai dengan RTRW.
Kata kunci— Jalan, Lahan, Perubahan lahan
I.
PENDAHULUAN
Pembangunan
jalan
yang
semakin
kompleks baik di dalam maupun di luar kota
akan menimbulkan pusat-pusat kegiatan dan
fungsi-fungsi perkotaan baru yang menempati
tempat sepanjang jalur jalan yang ada
sehingga perluasan permukiman paling
banyak terjadi kiri kanan jalur transportasi.
Hal ini mengakibatkan kecenderungan
terjadinya alih fungsi lahan pertanian menjadi
kawasan permukiman, perdagangan maupun
indus tri di sekitar jalur transportasi.
Kepadatan lalulintas di jalan-jalan nasional
Kota Salatiga menyebabkan kemacetan di
pusat kota. Untuk mengantisipasi masalah
Teknologi dan Rekayasa Lingkungan
tersebut
Pemerintah
Kota
Salatiga
membangun jalan lingkar selatan sepanjang ±
11,350 km, pembangunan dilaksanakan dari
tahun 2005 hingga tahun 2010.
Dampak langsung yang di akibatkan
pembangunan jalan lingkar dapat terlihat dan
merupakan permasalahan yang kompleks
adalah terjadinya konversi lahan pertanian
menjadi kegiatan non pertanian. Masyarakat
pemilik lahan pertanian di sepanjang jalan
lingkar selatan melakukan alih fungsi lahan
pertanian mereka menjadi bangunan berupa
pemukiman maupun perdagangan dan jasa.
Perubahan lahan pertanian dapat dilihat dari
berkurangnya
lahan
pertanian
dan
meningkatnya lahan terbangun. Luas lahan
H-9
Prosiding Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Prasarana Wilayah (ATPW),
Surabaya, 11 Juli 2012, ISSN 2301-6752
pertanian sebesar 2.545 hektar pada tahun
2005, pada tahun 2010 luas lahan pertanian
berkurang menjadi 1.950 hektar (Bappeda
Kota Salatiga, 2010).
Berdasarkan Rencana Tata Ruang Wilayah
(RTRW) Kota Salatiga bahwa bentang alam
wilayah yang dilewati jalan lingkar selatan
sebagai kawasan tanaman pangan lahan basah
dan lahan kering dengan fungsi utama
pertanian pangan - holtikultura serta kawasan
budidaya tanaman tahunan dan musiman.
Dengan fenomena diatas kiranya sangat
menarik untuk dilakukan kajian tentang
pengaruh dari pembangunan jalan lingkar
selatan terhadap : 1. Seberapa besar
perubahan lahan pertanian ke non pertanian;
2. Faktor-faktor apa yang mempengaruhi
perubahan lahan pertanian ke non pertanian;
3. Tipologi perubahan lahan pertanian ke non
pertanian;
4.
Penanganan
perubahan
penggunaan lahan pertanian ke non pertanian.
lahan merupakan sumber daya alam yang
terpenting dalam pembangunan wilayah, akan
tetapi perlu dipahami bahwa lahan
mempunyai karakteristik tertentu sifat khusus
permanen (tidak dapat dihancurkan atau
dibuat baru), lokasi yang pasti (tidak dapat
dipindahkan), tidak ada satupun bidang tapak
lahan yang mempunyai nilai lahan persis
sama, lahan terbatas/langka dan merupakan
tumpuan harapan dari berbagai kepentingan
dan keinginan (baik yang dikuasai secara
sah/legal, maupun tidak sah/ilegal menurut
peraturan perundangan yang berlaku)[6].
Konversi lahan merupakan peralihan
penggunaan
lahan
tertentu
menjadi
penggunaan lahan lainnya atau berubahnya
fungsi lahan dari fungsi semula menjadi
fungsi yang lain. Perubahan lahan yang
diakibatkan
pembangunan
jaringan
infrastruktur merupakan salah satu faktor
penyebab, ada beberapa faktor yang menjadi
penyebab terjadinya penggunaan lahan, yaitu:
perluasan batas kota; peremajaan di pusat
kota;
perluasan
jaringan
infrastruktur
tertutama jaringan transportasi; serta tumbuh
dan hilangnya pemusatan aktifitas tertentu [1].
Faktor-faktor yang mendorong terjadinya
konversi lahan pertanian menjadi non
pertanian seperti faktor kepadatan penduduk,
Teknologi dan Rekayasa Lingkungan
faktor kebutuhan lahan (perumahan, industri,
perdagangan dan jasa), faktor ekonomi, faktor
sosial, faktor otonomi daerah dan lemahnya
sistem perundang-undangan dan penegakan
hukum dari peraturan-peraturan yang ada [4].
Pengendalian perubahan lahan pertanian
ke non pertanian merupakan upaya
pengendalian terhadap konversi lahan. tiga
pendekatan secara bersamaan dalam kasus
pengendalian alih fungsi lahan pertanian
melalui regulation (pengambil kebijakan
perlu menetapkan aturan pemanfaatan lahan
berdasarkan berbagai pertimbangan teknis,
ekonomis, dan sosial, pengambil kebijakan
melalui (zoning) terhadap lahan yang
memungkinkan alih fungsi), Acquisition and
Management (menyempurnakan sistem dan
aturan jual beli lahan serta penyempurnaan
pola penguasaan lahan guna mendukung
upaya mempertahankan lahan pertanian) dan
Incentive and Charges (pemberian subsidi
kepada pemilik lahan yang mempertahankan
lahan pertanian serta menerapkan sistem
pajak yang tinggi terhadap pemilik lahan
yang merubah lahan pertanian menjadi
lahan non pertanian). Usaha pengendalian
perubahan lahan pertanian ke non pertanian
digunakan
perangkat
pengendalian
pemanfaatan lahan melalui pendekatan
pengambil kebijakan pewilayahan (zoning)
atau kebijakan otoritas sentral, kebijakan
insentif dan disinsentif serta mekanisme
perizinan yang jelas dan transparan dengan
melibatkan semua pemangku kepentingan
yang ada dalam proses alih fungsi
lahan.[2;3;4]
II.
METODOLOGI
Penelitian ini berlokasi di Kota Salatiga
dengan objek penelitian Jalan Lingkar Selatan
(JLS) yang berada di wilayah Kelurahan
Cebongan, Kelurahan Randuacir, Kelurahan
Kumpulrejo, Kelurahan Dukuh, Kelurahan
Kecandran, Kelurahan Pulutan dan Kelurahan
Blotongan.
Metoda penelitian ini menggunakan
metode survei, penelitian dengan cara survei
merupakan penelitian yang dilakukan secara
instansional, dalam penelitian ini survei
H-10
Prosiding Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Prasarana Wilayah (ATPW),
Surabaya, 11 Juli 2012, ISSN 2301-6752
instansional adalah alat pengumpul data yang
pokok. Metoda penelitian dengan penelitian
deskriptif digunakan untuk menjelaskan serta
menggambarkan variabel masa lalu dan
sekarang. Variabel - variabel yang digunakan
untuk mencapai sasaran penelitian yaitu :
a. Identifikasi kawasan yang mengalami
perubahan lahan pertanian ke non
pertanian.
Variabel jenis perubahan lahan pertanian dan
variabel laju perubahan lahan pertanian
dengan definisi operasional jenis/macam
peruntukan lahan non pertanian, rata-rata
perubahan lahan pertanian menjadi non
pertanian setiap tahunnya, menggunakan
analisis deskriptif.
b. Identifikasi
faktor-faktor
yang
mempengaruhi perubahan lahan pertanian.
Variabel kepadatan penduduk,variabel tingkat
urbanisasi dan variabel tingkat pelayanan
utilitas dengan definisi operasional angka
kepadatan penduduk kelurahan-kelurahan
dikawasan jalan lingkar selatan tahun 2005
hingga tahun 2010, perbandingan antara luas
daerah terbangun dengan luas wilayah per
kelurahan yang dilewati jalan lingkar selatan,
perbandingan antara jumlah penduduk dengan
jumlah pemenuhan pelayanan jaringan air
bersih dan jaringan listrik, menggunakan
analisis regresi.
c. Merumuskan tipologi perubahan lahan
pertanian ke non pertanian.
Variabel jenis dan laju perubahan lahan
pertanian serta variabel faktor-faktor yang
mempengaruhi perubahan lahan pertanian ke
non pertanian dengan definisi operasional
pengelompokan
wilayah
kelurahan
berdasarkan tingkat perubahan lahan dan
faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan
lahan pertanian menggunakan analisis cluster.
d. Rumusan
rekomendasi
penanganan
perubahan penggunaan lahan pertanian ke
non
pertanian
sesuai
tipologi
perubahannya.
Variabel tipologi perubahan lahan, variabel
faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan
lahan dan variabel fungsi dan kelas jalan
lingkar selatan dengan definisi operasional
pengendalian perubahan lahan berdasar
tipologi perubahan lahan dikawasan jalan
Teknologi dan Rekayasa Lingkungan
lingkar
selatan,
pengendalian
dari
kelompokan (cluster) wilayah kelurahankelurahan dikawasan jalan lingkar selatan
berdasarkan
faktor-faktor
yang
mempengaruhi,
serta
pengendalian
berdasarkan fungsi dan kelas jalan lingkar
selatan dengan menggunakan analisis
kualitatif (triangulasi).
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
Dari hasil survey instansional yang
dilakukan diperoleh data dari tahun 2005
hingga tahun 2010 yaitu data pertumbuhan
panjang jalan lingkar selatan tahun 20052010, data luas lahan pertanian tahun 20052010, data jenis lahan non pertanian, data luas
wilayah kelurahan di kawasan jalan lingkar
selatan, data jumlah penduduk dan data
jumlah pelayanan utilitas (jaringan air bersih
dan jaringan listrik).
a. Perubahan lahan pertanian ke non
pertanian di kawasan jalan lingkar selatan.
Proses perubahan lahan pertanian menjadi
lahan non pertanian yang diakibatkan adanya
pembangunan jalan lingkar selatan Kota
Salatiga dalam penelitian ini hanya mengacu
pada periode tahun 2005 hingga tahun 2010.
Karateristik perubahan lahan pertanian di
kawasan jalan lingkar selatan dilihat dari
jenis-jenis perubahan lahan pertanian. Dalam
melakukan identifikasi jenis perubahan lahan
pertanian di kawasan jalan lingkar selatan
diperlukan data pertumbuhan panjang jalan
lingkar dan luasan lahan pertanian di wilayah
pada masing-masing Kelurahan.
Gambar 1 menunjukan pertumbuhan
panjang jalan lingkar selatan dan gambar 2
merupakan data luas lahan pertanian tahun
2005 hingga tahun 2010, dari kedua gambar
tersebut maka dapat diambil kesimpulan
bahwa
pertambahan
panjang
jalan
mempengaruhi penggunaan lahan pertanian
sehingga menyebabkan perubahan lahan
pertanian.
- Jenis perubahan lahan pertanian
Perubahan lahan yang terjadi di wilayah
sepanjang jalan lingkar selatan terbagi
menjadi perubahan lahan perdagangan - jasa
H-11
Prosiding Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Prasarana Wilayah (ATPW),
Surabaya, 11 Juli 2012, ISSN 2301-6752
dan
perubahan
lahan
perumahan.
Berdasarkan data sekunder kemudian
dilakukan perhitungan diperoleh rata-rata
perubahan lahan perdagangan – jasa sebesar
0,118 Ha per tahun sedangkan rata-rata
perubahan lahan perumahan sebesar 19,105
Ha per tahun.
- Tingkat perubahan lahan
Tingkat perubahan lahan pertanian ke non
pertanian yang terjadi di kawasan jalan
lingkar selatan ditunjukan pada tabel 1
Tingkat perubahan lahan pertanian ke non
pertanian tahun 2005-2010.
Tabel 1 menunjukan terjadi perubahan lahan
tertinggi di wilayah Kelurahan Blotongan
yang tingkat perubahan luasnya sebesar
0,195 Ha, kemudian diikuti wilayah
Kelurahan Kecandran 0,113 Ha, Kelurahan
Cebongan 0,089 Ha dan Kelurahan Dukuh
0,076 Ha, adapun wilayah Kelurahan
Kumpulrejo, Kelurahan Randuacir dan
Kelurahan Pulutan
memiliki tingkat
perubahan lahan yaitu 0,015 Ha, 0,011 Ha
dan 0,006 Ha. Secara keseluruhan tingkat
perubahan lahan sebesar 0,077 Ha.
b. Analisis
faktor
–
faktor
yang
mempengaruhi perubahan lahan pertanian
ke non pertanian.
Analisis yang digunakan untuk mengetahui
faktor yang mempengaruhi perubahan lahan
pertanian ke non pertanian yang terjadi akibat
pembangunan jalan lingkar selatan dengan
menggunakan analisis regresi. Variabel
independen (variabel bebas) merupakan
variabel yang mempengaruhi atau yang
menjadi sebab timbulnya variabel dependen.
Variabel
dependen
(variabel
terikat)
merupakan variabel yang dipengaruhi karena
ada variabel bebas [6]. Variabel dependen
yaitu perubahan lahan pertanian ke non
pertanian sedangkan variabel independen
diantaranya kepadatan penduduk, tingkat
urbanisasi, dan tingkat pelayanan utilitas
(jaringan air bersih dan listrik). Identifikasi
faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan
lahan pertanian ke non pertanian di kawasan
jalan lingkar selatan :
- Faktor kepadatan penduduk
Pertumbuhan penduduk yang meningkat
menyebabkan kepadatan penduduk di suatu
Teknologi dan Rekayasa Lingkungan
wilayah, kepadatan penduduk merupakan
salah satu faktor penyebab terjadinya alih
fungsi lahan pertanian menjadi bangunan
perumahan dan perdagangan. Kepadatan
penduduk yang terjadi di kawasan jalan
lingkar selatan mencapai 18,69 jiwa/Ha
seperti pada tabel 2 Kepadatan penduduk di
kawasan jalan lingkar selatan.
- Faktor tingkat urbanisasi
Urbanisasi merupakan pertambahan
penduduk suatu wilayah sebagai akibat
migrasi penduduk dari daerah sekitarnya
atau perpindahan penduduk dari wilayah lain
(kamus istilah bidang PU, 2009). Tingkat
urbanisasi
diidentifikasikan
dengan
perbandingan antara luas lahan terbangun
dengan luas wilayah. Tingkat urbanisasi
yang terjadi di kawasan jalan lingkar selatan
dapat dilihat pada tabel 3 Tingkat urbanisasi
wilayah di kawasan jalan lingkar selatan.
- Faktor tingkat pelayanan jaringan utilitas
Jaringan utilitas yang tersedia di kawasan
jalan lingkar selatan terdiri dari jaringan
perpipaan air bersih dan jaringan listrik.
Tingkat pelayanan jaringan air bersih dan
listrik seperi tabel 4 Tingkat pelayanan utilitas
(jaringan air dan listrik).
Berdasakan identifikasi faktor-faktor yang
mempengaruhi perubahan lahan di kawasan
jalan lingkar selatan, kemudian dilakukan
analisis dengan alat analisis regresi terhadap
variabel dependen Y (tingkat perubahan
lahan), dengan variabel independen X 1
(tingkat urbanisasi), X 2 (tingkat pelayanan)
dan X 3 (kepadatan penduduk) diperoleh nilai
Rsquare sebesar 0,998, hal ini berarti 99,8%
variabel dependen perubahan lahan dijelaskan
oleh variabel independen dan faktor lain
sebesar 0,2%. Persamaan yang di peroleh dari
hasil regresi yaitu Y = -0,022 + 1,607X 1 +
0,022X 2 + 0,001X 3 , berdasarkan persamaan
tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa
variabel X 1 (tingkat urbanisasi) merupakan
faktor yang paling kuat mempengaruhi
perubahan lahan pertanian.
c. Tipologi perubahan lahan pertanian di
kawasan jalan lingkar selatan.
Analisis perumusan tipologi perubahan
lahan pertanian ke non pertanian di kawasan
H-12
Prosiding Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Prasarana Wilayah (ATPW),
Surabaya, 11 Juli 2012, ISSN 2301-6752
jalan lingkar selatan menggunakan analisis
cluster dengan software IBM SPSS 19.
Dengan menggunakan analisis cluster dapat
diketahui tipologi perubahan lahan pertanian
yang terjadi dimasing – masing kelurahan
berdasarkan ciri yang homogen dan faktor –
faktor yang mempengaruhi perubahan lahan.
Input data dalam analisis cluter pada
penelitian ini yaitu data kepadatan penduduk,
tingkat urbanisasi dan data tingkat pelayanan
utilitas. Analisis cluster ini menggunakan
metode
non-hirarkis,
dimulai
dengan
menentukan terlebih dahulu jumlah cluster
yang diinginkan (dua, tiga, atau yang lain).
Setelah jumlah cluster ditentukan, maka
proses cluster dilakukan dengan tanpa
mengikuti proses hirarki, yaitu metode “KMeans Cluster”. Tabel 5 merupakan hasil
clustering :
Pada tabel 5 ditunjukan bahwa cluster 1
dipengaruhi oleh faktor tingkat urbanisasi
dan pada cluster 2 dipengaruhi oleh
kepadatan penduduk dan tingkat pelayanan.
berdasarkan nilai zscore kemudian dilakukan
pengelompokan terhadap wilayah kelurahan,
maka diperoleh hasil pada tabel 6
pengelompokan wilayah kelurahan.
Berdasarkan hasil analisis cluster dengan
alat bantu software SPSS 19 maka dapat
diambil
kesimpulan
bahwa
tipologi
perubahan lahan di kawasan jalan lingkar
selatan terbagi menjadi 2 kelompok yaitu :
Cluster 1 wilayah yang dipengaruhi oleh
faktor tingkat urbanisasi yaitu Kelurahan
Cebongan, Kelurahan Randiuacir, Kelurahan
Kumpulrejo, Kelurahan Kecandran dan
Kelurahan Blotongan. Cluster 2 wilayah
yang dipengaruhi oleh tingkat pelayanan
(jaringan air bersih dan jaringan listrik) yaitu
Kelurahan Dukuh dan Kelurahan Pulutan.
d. Analisis
rumusan
penanganan
pengendalian perubahan lahan pertanian
ke non pertanian.
Penelitian kualitatif merupakan metode
yang
berlandaskan
pada
filasafat
postpositivisme, digunakan untuk meneliti
pada kondisi obyek yang alamiah, dimana
penelitian sebagai instrumen kunci teknik
pengumpulan
data
dilakukan secara
triangulasi (gabungan). Triangulasi dapat
Teknologi dan Rekayasa Lingkungan
dilakukan dengan menggunakan teknik yang
berbeda
yaitu
penggabungan
hasil
observasi/analisis,
kebijakan/teori
dan
dokumen [6].
Penanganan perubahan lahan pertanian ke
non pertanian di kawasan jalan lingkar
selatan dilakukan penanganan pada masingmasing cluster perubahan lahan adalah
sebagai berikut :
a. Penanganan terhadap cluster 1
Cluster 1 merupakan kelompok dengan
cluster yang dipengaruhi oleh faktor
tingkat
urbanisasi.
Wilayah yang
termasuk dalam kelompok ini adalah
Kelurahan
Cebongan,
Kelurahan
Randiuacir,
Kelurahan
Kumpulrejo,
Kelurahan Kecandran dan Kelurahan
Blotongan.
Pertumbuhan
penduduk
meyebabkan peningkatan kebutuhan
perumahan, keterbatasan lahan di kota
mengakibatkan
perubahan
lahan
pertanian. Mengacu pendapat dari Efendi
(2006) dan Iqbal (2007) terhadap
pengendalian perubahan lahan, maka
penanganan
faktor
urbanisasi
ini
dilakukan dengan:
- pengawasan dan penertiban terhadap
penduduk
pendatang
yang
memanfaatkan lahan di kawasan jalan
lingkar untuk kegiatan ekonomi
dengan melibatkan peran serta
masyarakat sekitar.
- melarang warga yang datang di
kawasan jalan lingkar untuk bertempat
tinggal di kawasan lahan pertanian
Berdasarkan Undang-undang nomor 26
tahun 2007 tentang pengendalian ruang,
pengendalian lahan dilakukan dengan
penerapan pajak dan retribusi yang tinggi.
Pengendalian terhadap nilai lahan dengan
memberikan insentif kepada masyarakat
yang masih mempertahankan lahan
pertanian dan memberikan disinsentif
kepada masyarakat yang melakukan
perubahan lahan ke non pertanian.
b. Penanganan terhadap cluster 2
Cluster 2 merupakan kelompok dengan
cluster perubahan lahan yang dipengaruhi
oleh tingkat pelayanan utilitas, yang
H-13
Prosiding Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Prasarana Wilayah (ATPW),
Surabaya, 11 Juli 2012, ISSN 2301-6752
termasuk dalam kelompok ini adalah IV.
KESIMPULAN
Kelurahan Dukuh dan Kelurahan Pulutan.
Berdasarkan
hasil
analisis
dan
Sesuai teori yang dikemukakan oleh
pembahasan
di
atas,
maka
kesimpulan
dari
Efendi (2006) dan Iqbal (2007)
kajian ini yaitu :
penanganan perubahan lahan dilakukan
- Pertumbuhan panjang jalan lingkar selatan
dengan pendekatan pengambil kebijakan
mempengaruhi perubahan lahan pertanian
pewilayahan (zoning) atau kebijakan
dan mengakibatkan terjadinya perubahan
otoritas sentral, kebijakan insentif dan
lahan pertanian ke non pertanian pada
disinsentif serta mekanisme perizinan
yang jelas dan transparan dengan
melibatkan semua pemangku kepentingan
yang ada dalam proses alih fungsi lahan.
Tingkat pelayanan jaringan air bersih dan
jaringan listrik perlu adanya upaya
disinsentif
terhadap
penyediaan
pelayanan utilitas (air bersih dan listrik)
pada kawasan jalan lingkar selatan.
Upaya pengendalian yang diterapkan di
wilayah lain yaitu dengan tidak
melakukan
penambahan
fasilitas
penunjang pengembangan kegiatan yang
dapat meningkatkan perubahan lahan
pertanian ke non pertanian. Dalam
Undang-undang nomor 26 tahun 2007
tentang penataan ruang dan Undangundang nomor 41 tahun 2009 tentang
perlindungan lahan pertanian pangan
berkelanjutan mekanisme disinsentif
dengan melakukan pembatasan serta
pencabutan
peyediaan
jaringan
infrastruktur
pada
kawasan
yang
peruntukan lahannya tidak sesuai dengan
peraturan/kebijakan pemerintah (RTRW).
c. penanganan pengedalian lahan berdasar
fungsi jalan lingkar
Berdasarkan Peraturan Daerah Kota
Salatiga nomor 5 Tahun 1996 tentang
RUTRK dan Peraturan Daerah nomor 8
Tahun 1997 tentang RDTRK, jalan lingar
selatan direncanakan dan difungsikan
sebagai
arteri
primer.
Upaya
penanganannya yaitu dengan menjaga
tujuan dan syarat-syarat fungsi lahan
yang berada disepanjang jalan arteri
primer dengan pengaturan zonasi
terhadap
kegiatan-kegiatan
yang
berkembang di jalan lingkar selatan.
Teknologi dan Rekayasa Lingkungan
wilayah Kelurahan Cebongan sebesar
0,089 Ha, Kelurahan Randuacir 0,011 Ha,
Kelurahan
Kumpulrejo
0,015
Ha,
Kelurahan Dukuh 0,076 Ha, Kelurahan
Kecandran 0,113 Ha, Kelurahan Pulutan
0,006 Ha dan Kelurahan Blotongan sebesar
0,195 Ha dengan total keseluruhan
perubahan lahan sebesar 0,077 Ha.
- Faktor yang mempengaruhi perubahan
lahan pertanian ke non pertanian di
kawasan jalan lingkar selatan berdasarkan
analisis regresi yaitu faktor tingkat
urbanisasi.
- Tipologi perubahan lahan pertanian
dikawasan
jalan
lingkar
selatan
beradasarkan analisis cluster terbagi
menjadi 2 kelompok, pada cluster 1 yaitu
wilayah Kelurahan Cebongan, Kelurahan
Randiuacir,
Kelurahan
Kumpulrejo,
Kelurahan Kecandran dan Kelurahan
Blotongan yang dipengaruhi faktor tingkat
urbanisasi. Cluster 2 terdiri dari wilayah
Kelurahan Dukuh dan Kelurahan Pulutan
dengan
dipengaruhi
faktor
tingkat
pelayanan utilitas (jaringan air bersih dan
jaringan listrik).
- Penanganan pengendalian perubahan lahan
pertanian di kawasan jalan lingkar selatan
dirumuskan
berdasarkan
tipologi
perubahan lahan dan faktor-faktor yang
mempengaruhi perubahan lahan pada tiap
cluster.
Penanganan Cluter 1,
pengendalian
perubahan lahan pertanian berdasarkan
faktor tigkat urbanisasi yaitu dengan
melakukan pengawasan dan penertiban
terhadap penduduk pendatang yang
memanfaatkan lahan pertanian dikawasan
jalan lingkar untuk kegiatan ekonomi; dan
Insentif berupa keringanan pajak bumi
terhadap masyarakat pendatang maupun
H-14
Prosiding Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Prasarana Wilayah (ATPW),
Surabaya, 11 Juli 2012, ISSN 2301-6752
sekitar yang penggunaan lahannya sesuai
dengan peruntukan tata ruang wilayah
dalam hal ini lahan pertanian.
Penanganan Cluter 2, pengendalian
perubahan lahan pertanian berdasar pada
faktor tingkat pelayanan utilitas (jaringan
air bersih dan jaringan listrik) yaitu dengan
tidak memberikan fasilitas jaringan air
bersih dan jaringan listrik terhadap
kegiatan yang tidak sesuai dengan RTRW;
Pencabutan instalasi air bersih dan instalasi
jaringan listrik terhadap masyarakat
pemilik lahan yang melakukan kegiatan
alih fungsi lahan pertanian ke non
pertanian; dan Membatasi fasilitas jaringan
air bersih dan jaringan listrik terhadap
peruntukan lahan yang tidak sesuai dengan
kebijakan pemerintah Kota Salatiga
dikawasan jalan lingkar selatan.
V.
DAFTAR PUSTAKA
[1] Bourne, Larry S. 1982. Internal Structure
of the City, Readings on Urban form,
Growth and Polic. New York: Oxford
University Press.
[2] Effendi. 2006. Alternatif kebijakan
pengendalian konversi lahan sawah
beririgasi di indonesia jurnal Litbang
pertanian, Bogor.
[3] Iqbal, M dan Sumaryanto. 2007. strategi
pengendalian alih fungsi lahan pertanian
bertumpu pada partisipasi masyarakat.
Pusat Analisis Sosial Ekonomi dan
Kebijakan Pertanian. Bogor.
[4] Iwan, Isa.--. Startegi pengendalian alih
fungsi lahan pertanian. Badan Pertanahan
Nasional, Jakarta.
[5] Sugiyono. 2011. Statistika untuk
Penelitian. Alfabeta, Bandung.
[6] Tamin O. Z. dan Russ Bona Frazilla.
1997. Arah Penerapan Konsep Interaksi
Tata Guna Lahan–Sistem Transportasi
Dalam Perencanaan Sistem Jaringan
Transportasi “ Jurusan Teknik Sipil, ITB.
Bandung.
Teknologi dan Rekayasa Lingkungan
H-15
Prosiding Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Prasarana Wilayah (ATPW),
Surabaya, 11 Juli 2012, ISSN 2301-6752
Tabel 2 Kepadatan penduduk di kawasan jalan
lingkar selatan
No
1
2
3
Gambar 1 pertumbuhan panjang jalan lingkar
tahun 2005-2010
4
5
6
7
Wilayah
Kel.
Cebongan
Kel.
Randuacir
Kel.
Kumpulrejo
Kel.
Dukuh
Kel.
Kecandran
Kel.
Pulutan
Kel.
Blotongan
Jumlah
Jumlah
penduduk
(jiwa)
Luas
wilayah
(Ha)
Kepadatan
(jiwa/Ha)
4.417
138,10
31,98
5.178
377,60
13,71
7.322
629,03
11,64
11.084
377,15
29,39
5.323
399,20
13,33
3.249
237,10
13,70
11.683
423,80
27,57
48.256
2.582
18,69
Tabel 3 Tingkat urbanisasi wilayah di
kawasan jalan lingkar selatan
Gambar 2 luas perubahan lahan pertanian
tahun 2005-2010
N
o
1
Tabel 1 Tingkat perubahan lahan pertanian ke
non pertanian tahun 2005-2010
Luas lahan
pertanian (Ha)
Wilayah
Tahun
3
Luas
perub
lahan
(Ha)
Tingk.
Perb. lahan
(Ha)
4
6
2005
2010
(05-10)
(05-10)/05
54,54
49,66
4,88
0,089
222,99
220,43
2,55
0,011
209,94
206,71
3,22
0,015
Kel. Dukuh
161,88
149,56
12,31
0,076
Kel.
Kecandran
215,77
191,45
24,31
0,113
Kel. Pulutan
136,41
135,56
0,84
0,006
Kel.
Blotongan
244,80
197,17
47,62
0,195
jumlah
1246,36
1150,59
95,76
0,077
Kel.
Cebongan
Kel.
Randuacir
Kel.
Kumpulrejo
2
Teknologi dan Rekayasa Lingkungan
5
7
Wilayah
Kel.
Cebongan
Kel.
Randuacir
Kel.
Kumpulrejo
Kel.
Dukuh
Kel.
Kecandran
Kel.
Pulutan
Kel.
Blotongan
Jumlah
luas
terbang
un (Ha)
luas
wilayah
(Ha)
Tingkat
urbanisasi
4,88
138,10
0,04
2,557
377,60
0,01
3,224
629,03
0,01
12,318
377,15
0,03
24,483
399,20
0,06
0,931
237,10
0,004
47,723
423,80
0,11
96,116
2.581,98
0,04
H-16
Prosiding Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Prasarana Wilayah (ATPW),
Surabaya, 11 Juli 2012, ISSN 2301-6752
Tabel 4 Tingkat pelayanan utilitas (jaringan
air dan listrik)
jumlah
penduduk
(jiwa)
Wilayah
Kel.
Cebongan
Kel.
Randuacir
Kel.
Kumpulrejo
Kel.
Dukuh
Kel.
Kecandran
Kel.
Pulutan
Kel.
Blotongan
air
tingkat
pelayan
an
listrik
4.417
248
165
0,094
5.178
-
1.475
0,285
7.322
-
924
0,126
Wilayah
Z
kep.
penddk
Z
tingkat
urbanis
asi
Z
tingkat
pelaya
nan
No
cluster
Kel.
Cebongan
1,31506
0,0608
7
1,2078
3
1
Kel.
Randuacir
0,72254
0,2137
1
1
-0,9534
0,9696
7
1
1,3970
9
2
0,7380
9
0,7380
9
0,2054
5
11.084
2.253
2.665
0,444
Kel.
Kumpulrej
o
5.323
492
500
0,186
Kel.
Dukuh
1,02621
3.249
131
1.205
0,411
Kel.
Kecandran
0,76492
0,5935
1
0,5231
1
1
Kel.
Pulutan
0,72365
0,8978
8
1,1514
8
2
Kel.
Blotongan
0,82323
1,9251
2
0,0616
7
1
11.683
48.256
jumlah
jumlah
pelayanan
Tabel 6 Pengelompokan wilayah kelurahan
1.431
1.465
4.555
0,248
8.399
0,268
Tabel 5 hasil clistering
Final Cluster Centers
Cluster
1
Zscore(Kepadatan.pendud
2
-,06051
,15128
Zscore(Tingkat.urbanisasi)
,22067
-,55166
Zscore(Tingkat.pelayanan)
-,50971
1,27428
uk)
Teknologi dan Rekayasa Lingkungan
H-17
Prosiding Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Prasarana Wilayah (ATPW),
Surabaya, 11 Juli 2012, ISSN 2301-6752
Teknologi dan Rekayasa Lingkungan
H-18
Download