formulasi dan uji sifat fisis tablet vitamin c dengan metode granulasi

advertisement
FORMULASI DAN UJI SIFAT FISIS TABLET VITAMIN C
DENGAN METODE GRANULASI KERING
Ganang Adi Nurcahyo, Rahmi Nurhaini, Yetti O. K.
INTISARI
Salah satu bentuk sediaan farmasi yang banyak digunakan adalah tablet,
karena mudah pemakaiannya dan stabilitas obat yang baik selama penyimpanan.
Bahan-bahan pelicin dalam pembuatan tablet cenderung bersifat hidrofobik, sehingga
dapat menurunkan kecepatan disintegrasi dan disolusi tablet. Penelitian ini bertujuan
untuk mengetahui konsentrasi bahan pelicin yang paling baik pada sifat alir granul
vitamin C dan mengetahui uji sifat fisis tablet vitamin C.
Pembuatan tablet vitamin C menggunakan granulasi kering, penelitian ini
menggunakan dua formula, formula I dengan bahan pelicin Mg Stearat dan Talk
(1:9) 2% dan formula II dengan bahan pelicin Mg Stearat dan Talk (1:9) 3%. Metode
penelitian yang digunakan adalah eksperimental, sampel dalam penelitian ini adalah
granul dan tablet vitamin C. Data hasil penelitian kemudian dibandingkan dengan
persyaratan yang ditentukan Farmakope Indonesia dan pustaka lainnya. Untuk
mengetahui adanya perbedaan secara bermakna dari hasil uji mutu fisik dari kedua
formula, hasilnya dievaluasi secara statistik menggunakan uji T-test.
Dari hasil penelitian Formula I dan formula II dengan bahan pelicin Mg
Stearat dan Talk (1:9) 2% dan 3% terdapat perbedaan yang signifikan pada uji
kerapuhan dan waktu hancur tetapi tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada
keseragaman bobot dan kekerasan tablet. Formula I pada tablet yang telah diteliti
memiliki syarat sebagai mutu tablet yang lebih baik.
Kata kunci : Tablet vitamin C, Talk, Magnesium Stearat, Mutu fisik tablet
Ganang Adi Nurcahyo, dkk., Dosen Prodi DIII Farmasi STIKES Muhammadiyah Klaten
44
CERATA Journal Of Pharmacy Science
Ganang Adi Nurcahyo, dkk., Formulasi Dan Uji Sifat Fisis Tablet …
PENDAHULUAN
Seiring berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi yang sedemikian
pesat di era globalisasi yang serba instan ini, mengharuskan bidang teknologi
farmasi untuk selalu mengikutinya. Untuk menghadapi tantangan di masa yang
akan datang, studi tentang cara pembuatan dan formulasi sediaan obat yang lebih
optimal selalu dikembangkan untuk memperoleh hasil yang lebih baik.
Salah satu bentuk sediaan farmasi yang banyak digunakan adalah tablet,
karena mempunyai beberapa keuntungan antara lain ketepatan dosis, dapat
dikemas secara baik, praktis transportasi, serta mudah pemakaiannya dan
stabilitas obat yang baik selama penyimpanan (Voight, 1994).
Selain bahan aktif dalam pembuatan tablet diperlukan bahan tambahan.
Bahan tambahan yang digunakan dapat berfungsi sebagai bahan pengisi, bahan
pengikat, bahan pelicin dan bahan penghancur. Senyawa Asam Stearat dengan
logam Asam Stearat, minyak nabati terhidrogenasi dan talk termasuk bahanbahan yang sering digunakan dalam penambahan pembuatan tablet. Bahanbahan pelicin dalam pembuatan tablet cenderung bersifat hidrofobik, sehingga
dapat menurunkan kecepatan disintegrasi dan disolusi tablet. Oleh karena itu
kadar bahan pelicin yang berlebihan harus dihindarkan (Anonim, 1995).
Bahan pelicin Mg Stearat dan talk bersifat hidrofob, sehingga lapisan bahan
pelicin yang terjadi akan menghalangi penetrasi medium cair untuk
menghancurkan tablet dan untuk pelarutan obatnya. Bahan pelicin talk
mempunyai ukuran partikel yang lebih halus daripada Mg Stearat (Anonim,
1995). Dalam pembuatan tablet pengaruh bahan pelicin terhadap sifat-sifat tablet
belum banyak diteliti, kebanyakan digunakan sebagai kombinasi dengan Mg
Stearat dan Talk 1:9 (Anderson dkk, 1986) perbedaan ini akan memberikan
pengaruh sifat fisik terhadap tablet yang dihasilkan.
Adapun metode pembuatan tablet dapat dengan menggunakan granulasi
kering, granulasi basah, dan cetak langsung. Granulasi kering dilakukan apabila
zat aktif tidak mungkin digranulasi basah karena tidak stabil atau peka terhadap
panas dan/atau lembap atau juga tidak mungkin dikempa langsung menjadi tablet
karena zat aktif tidak dapat mengalir bebas, dan/atau dosis efektif zat aktif terlalu
besar untuk kempa langsung. Sebagai contoh, asetosal dan vitamin C pada
umumnya dibuat menjadi tablet dengan granulasi kering (Siregar, 2010).
Dalam penelitian ini ingin diketahui konsentrasi bahan pelicin yang
paling baik dengan menggunakan kombinasi bahan pelicin Mg Stearat dan Talk
(1:9) terhadap sifat alir granul Vitamin C kemudian dilakukan uji sifat fisis tablet.
Dalam pembuatan tablet sifat alir granul memegang peranan penting dalam
pembuatan tablet. Apabila granul mudah mengalir maka granul akan masuk
CERATA Journal Of Pharmacy Science
Ganang Adi Nurcahyo, dkk., Formulasi Dan Uji Sifat Fisis Tablet …
45
keruang kompresi dalam jumlah yang kurang lebih sama sehingga tablet yang
dihasilkan mempunyai keseragaman bobot yang baik (Voight, 1994).
Dalam penelitian sebelumnya telah dilakukan penelitian tentang pengaruh
formulasi bahan pelicin terhadap sifat fisis tablet predison (Hidayat, 2010) dan
dalam penelitian ini akan dilakukan kembali penelitian tentang pengaruh
formulasi bahan pelicin terhadap sifat fisis tablet vitamin C dan disimpulkan
formulasi bahan pelicin manakah yang mempunyai sifat fisis paling baik. Dalam
penelitian yang dilakukan oleh Setiawan (2009) menggunakan bahan pengikat
gelatin dengan berbagai konsentrasi berturut-turut yaitu 5%, 7,5%, 10%, 12,5%
kemudiaan dilakukan pemeriksaan sifat granul yang meliputi: uji waktu alir, uji
sudut diam dan uji pengetapan dan pada penelitian tersebut disimpulkan bahwa
ada pengaruh bahan pengikat gelatin terhadap sifat alir granul vitamin C.
Semakin tinggi penambahan bahan pengikat maka akan lebih baik sifat alirnya.
Berdasarkan penelitian Purwanti (2011) penggunaan jenis bahan pelicin PEG
4000 1% dan bahan pelicin campuran Mg Stearat : Talk (1:9) 1% dalam
pembuatan tablet parasetamol memberikan hasil yang berbeda secara bermakana
terhadap uji waktu alir, kekerasan dan waktu hancur tablet, sedangkan
keseragaman bobot dan kerapuhan tablet tidak ada beda yang signifikan. Bahan
pelicin Mg Stearat : Talk (1:9) akan memperlambat waktu hancur tablet
parasetamol, mempercepat waktu alir dan menurunkan kekerasan dibandingkan
penggunaan bahan pelicin PEG 4000.
Berdasarkan latar belakang di atas akan dibuat granul dan tablet vitamin
C dengan variasi konsentrasi bahan pelicin dan ditentukan sifat alir dan sifat
fisisnya.
Rumusan masalah : Berapakah konsentrasi bahan pelicin yang baik terhadap
sifat fisis granul dan sifat fisis tablet vitamin C?
Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Tujuan umum penelitian mengetahui konsentrasi bahan pelicin yang paling
baik pada sifat alir granul dan mengetahui uji sifat fisis tablet vitamin C.
2. Tujuan Khusus
a. Tujuan khusus penelitian mengetahui konsentrasi bahan pelicin yang baik
pada sifat fisik granul yang meliputi: uji waktu alir, sudut diam dan
pengetapan.
b. Mengetahui sifat fisik tablet meliputi: uji keseragaman bobot, kekerasan
tablet, kerapuhan tablet, waktu hancur tablet.
46
CERATA Journal Of Pharmacy Science
Ganang Adi Nurcahyo, dkk., Formulasi Dan Uji Sifat Fisis Tablet …
METODE PENELITIAN
Jenis penelitian ini dilakukan secara eksperimental. Metode penelitian meliputi
penyiapan bahan, formulasi sediaan, uji sifat alir dan uji sifat fisis tablet.
Variabel Penelitian
a. Variabel bebas
Variabel bebas dalam penelitian ini adalah dan variasi bahan pelicin.
b. Variabel terikat
Variabel terikat dalam penelitian ini adalah sifat fisis granul.
c. Variabel Pengganggu
Variabel pengganggu dalam penelitian ini adalah hidrofobisitas dari Mg
Stearat.
Sampel Penelitian : menggunakan granul dan tablet vitamin C
Instrumen Penelitian
1. Alat
a. Almari pengering (Memmert)
b. Corong Stainless steel (Erweka modifikasi)
c. Disintergrator tester
d. Friabilator tester (Erweka yang dimodifikasi)
e. Gelas Ukur (Pirex)
f. Hardness tester (Monsanto)
g. Jangka sorong (Einhill)
h. Pengayak granul ukuran 12 mesh (Stainless steel)
i. Stop watch (Diamond)
j. Timbangan digital (Acis)
k. Vacuum cleaner (Sayata)
2. Bahan
a. Serbuk Vitamin C (Brataco)
b. Laktosa (Brataco)
c. Magnesium Stearat (Brataco)
d. Amylum Manihot (Brataco)
e. Talk (Brataco)
f. Solutio gelatin 10%
g. Aquadest (Brataco)
Metode Pengumpulan Data
Data yang digunakan adalah data hasil uji sifat alir granul yaitu uji waktu
alir granul, sudut diam granul, pengetapan granul dan uji sifat fisis tablet yang
meliputi keseragaman bobot, kekerasan tablet, kerapuhan tablet dan uji waktu
hancur. Kemudian hasil dari data tersebut dianalisa dengan independent T-test.
CERATA Journal Of Pharmacy Science
Ganang Adi Nurcahyo, dkk., Formulasi Dan Uji Sifat Fisis Tablet …
Jalannya Penelitian
1. Formula Standart Tablet Vitamin C :
Tabel 3.1 Formula Standart Tablet Vitamin C
Tablet Vitamin C
Komposisi Tiap tablet mengandung :
Acidum Ascorbicum
Zat tambahan yang cocok
2.
50 mg
Secukupnya
(Anonim, 1978)
Formula Tablet Vitamin C
Komposisi Tablet Vitamin C dengan berat 200 mg dengan variasi
konsentrasi bahan pelicin Talk dan Mg Stearat.
Tabel 3.2 Formula Tablet Vitamin C
Formula
Bahan
F1 (mg)
F2 (mg)
Vitamin C
Granulatum simplek
Amylum kering
Mg Stearat
Talk
50
131
15
0,4
3,6
50
129
15
0,6
5,4
Tabel 3.3 Formula Granulatum simplek Amylum manihot : Laktosa(1:1)
Formula
Granulatum Simplek
F1 (mg)
F2 (mg)
Amylum manihot
65,5
64,5
Laktosa
65,5
64,5
Solutio gelatin
qs
qs
(Anonim, 1978).
3. Metode Pembuatan tablet Vitamin C
a. Dibuat campuran bahan pengisi (granulatum simplek) dan bahan
pengikat (solutio gelatin), dicampur sampai terbentuk granul.
b. Granul yang telah dicampur diayak dengan ayakan 12 mesh,
dikeringkan kemudian diayak lagi.
c. Ditambahkan zat aktif (vitamin C) dan bahan pelicin (mg stearat dan
talk) dalam formula I dan formula II.
d. Diuji sifat fisis granul, dibandingkan sifat fisis granul FI dan FII.
e. Formula granul yang mempunyai sifat fisis granul yang paling baik
dimasukan ke dalam corong alimentasi, dan kemudian ditablet
f. Uji sifat fisis tablet
47
48
CERATA Journal Of Pharmacy Science
Ganang Adi Nurcahyo, dkk., Formulasi Dan Uji Sifat Fisis Tablet …
4. Pemeriksaan Sifat Alir Granul
a. Uji Waktu Alir
1. Ditimbang 100 gram granul
2. Granul dituangkan ke dalam corong yang ujung tangkainya
tertutup
3. Penutup dibuka dan granul dibiarkan mengalir sampai habis
4. Mencatat lama waktu yang diperlukan dengan menggunakan alat
pencatat waktu (stopwatch)
5. Diulang 3 kali
b. Uji Sudut Diam
1. Ditimbang 100 gram granul, masukkan secara pelan-pelan lewat
lubang bagian atas, sementara bagian bawah ditutup.
2. Buka penutupnya, dan biarkan granul mengalir keluar.
3. Ukur tinggi kerucut yang terbentuk.
4. Ulangi percobaan sebanyak 3 kali.
Tinggi kerucut yang dibentuk diukur sudut diam dihitung dengan
rumus (Fonner dkk, 1981).
tanβ = t / r
Dimana :
β = sudut diam
t = tinggi kerucut
r = jari-jari kerucut
c. Uji Pengetapan
1. Dituang granul secara pelan-pelan ke dalam gelas ukur sampai
volume 100 ml, catat sebagai V1
2. Pasang gelas ukur pada alat, dan hidupkan motor.
3. Mencatat perubahan volume setelah pengetapan (V2) bila t = 5
menit. Pengetapan diteruskan sampai permukaan serbuk tidak
turun lagi (volume sudah konstan).
4. Mencatat tinggi granul.
Indeks pengetapan dapat dihitung dengan rumus (Fassihi dkk,
1986).
ρr - ρB
V1 – V2
X 100%
atau
X 100%
ρr
V1
dimana : ρr = tapped density = massa volume 2 (M/V2)
ρB = bulk density = massa volume 1 (M/V1)
CERATA Journal Of Pharmacy Science
Ganang Adi Nurcahyo, dkk., Formulasi Dan Uji Sifat Fisis Tablet …
5. Uji Sifat Fisis Tablet
a. Uji keseragaman bobot
Ditimbang 20 tablet satu per satu dengan timbangan analitik merk
Acis, kemudian dihitung bobot rata-ratanya dan penyimpangan
masing-masing tablet yang ditimbang. Dihitung pula Cvnya.
b. Uji kekerasan tablet
Tablet diletakan pada hardness tester dengan posisi tablet berdiri,
kemudian tuas alat ditekan secara penuh. Kemudian dibaca skala yang
dicapai saat tablet pecah. Batas kekerasan tablet berkisar antara 4-6 kg
(Parrot dkk, 1997).
c. Uji kerapuhan tablet
Ditimbang 20 tablet yang telah di bebas debukan, kemudian
dimasukan ke dalam silinder friabilator. Alat uji friabilator di
jalankan selama 4 menit atau 100 putaran. Tablet kemudian di ambil
dan di bebas debukan lagi, tablet ditimbang kembali dan dihitung
selisih bobotnya sebelum dan sesudah diputar (Voight, 1994).
d. Uji waktu hancur tablet
Tablet dimasukkan satu persatu ke dalam tabung alat uji disintregasi,
kemudian alat digerakkan naik turun secara teratur 30 kali tiap menit
dalam medium air suhu 36-38˚ C. Tablet dinyatakan hancur jika tidak
ada bagian tablet yang tertinggal di atas kasa. Catat waktu hancurnya
tablet yang terakhir. Waktu hancur yang baik < 15 menit untuk tablet
tidak bersalut (Ansel, 1989).
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. HASIL
1. Hasil Uji Sifat Fisis Granul Vitamin C
a. Hasil Uji Waktu Alir
Sifat alir mempunyai peranan penting dalam pembuatan tablet.
Granul yang mudah mengalir, maka tablet yang dihasilkan
mempunyai keseragaman bobot yang baik. Untuk mengetahui sifat
alir granul pada penelitian ini menggunakan metode langsung (metode
corong). Hasil pengujian waktu alir granul tablet vitamin C dengan
bahan pelicin Mg Stearat dan Talk dapat dilihat pada tabel 4.1.
Tabel 4.1 : Hasil uji waktu alir granul tablet vitamin C dengan bahan
pelicin Mg Stearat dan Talk dalam dua formula.
Replikasi
F1 (detik)
F2 (detik)
I
II
III
∑
3,63
3,91
3,69
11,23
4,82
4,07
4,57
13,46
49
50
CERATA Journal Of Pharmacy Science
Ganang Adi Nurcahyo, dkk., Formulasi Dan Uji Sifat Fisis Tablet …
x
SD
3,73
0,14
4,48
0,38
Sumber : Data primer, 2013
Berdasarakan tabel 4.1 menunjukkan bahwa granul tablet
vitamin C pada formula I memiliki rata-rata waktu alir 3,73 detik ±
0,14 detik dan pada formula II memiliki rata-rata waktu alir 4,48 detik
± 0,38 detik.
Analisis data dengan statistik T-test didapatkan signifikansi
0,035 dengan demikian signifikansi < 0,05 yang berarti bahwa
formula I dan formula II memiliki varian yang berbeda.
b. Hasil Uji Sudut Diam Granul
Sudut diam diartikan sebagai sudut yang terbentuk oleh
setumpuk partikel terhadap bidang datar pada kondisi stabil. Jika
sudut diam lebih besar dari 50˚ maka akan mengalami kesulitan pada
saat pentabletan. Sudut diam dapat diukur dengan mengamati tinggi
kerucut yang terbentuk. Untuk mengetahui sudut diam granul pada
penelitian ini menggunakan metode silinder tetap dengan penyangga.
Hasil pengujian sudut diam granul tablet vitamin C dengan bahan
pelicin Mg Stearat dan Talk dapat dilihat pada tabel 4.2.
Tabel 4.2 : Hasil uji sudut diam granul tablet vitamin C dengan bahan
pelicin Mg Stearat dan Talk dalam dua formula.
Replikasi
I
II
III
∑
x
SD
F1 (˚)
34,2
33,4
33,4
101
33,6
0,46
F2 (˚)
34,9
35,7
35,3
105,9
35,3
0,40
Berdasarakan tabel 4.2 menunjukkan bahwa granul tablet
Vitamin C pada formula I memiliki rata-rata sudut diam 33,6˚ ± 0,46˚
dan pada formula II memiliki rata-rata sudut diam 35,3˚ ± 0,40˚.
Analisis data dengan statistik T-test didapatkan signifikansi
0,010 dengan demikian signifikansi < 0,05 yang berarti bahwa
formula I dan formula II memiliki varian yang berbeda.
c. Hasil Uji Pengetapan Granul
Pengetapan adalah penurunan volume sejumlah granul atau
serbuk akibat hentakan (tapping) dan getaran (vibrating), semakin
kecil indeks pengetapan (dalam persen) maka semakin baik sifat
alirnya. Untuk mengetahui pengetapan granul tablet vitamin c pada
CERATA Journal Of Pharmacy Science
Ganang Adi Nurcahyo, dkk., Formulasi Dan Uji Sifat Fisis Tablet …
penelitian ini dilakukan dengan volumenometer yang terdiri dari gelas
ukur yang dapat bergerak secara teratur ke atas dan ke bawah dengan
bantuan motor penggerak. Hasil pengujian pengetapan granul tablet
vitamin C dengan bahan pelicin Mg Stearat dan Talk dapat dilihat
pada tabel 4.3 di bawah ini :
Tabel 4.3 : Hasil uji pengetapan granul tablet vitamin C dengan bahan
pelicin Mg Stearat dan Talk dalam dua formula.
Replikasi
I
II
III
∑
x
SD
F1 (%)
9
10
10
29
9,6
0,57
F2 (%)
12
13
14
39
13
1,00
Sumber : Data primer, 2013
Berdasarakan tabel 4.3 menunjukkan bahwa granul tablet
vitamin C pada formula I memiliki rata-rata pengetapan 9,6% ± 0,57%
dan pada formula II memiliki rata-rata pengetapan 13% ± 1,00%.
Analisis data dengan statistik T-test didapatkan signifikansi
0,07 dengan demikian signifikansi > 0,05 yang berarti bahwa formula
I dan formula II memiliki varian yang sama.
2. Hasil Uji Sifat Fisis Tablet Vitamin C
a. Hasil Uji Keseragaman Bobot
Tablet harus memenuhi uji keseragaman bobot jika zat aktif
merupakan bagian terbesar dari tablet dan jika uji keseragaman bobot
cukup mewakili keseragaman kandungan. Keseragaman bobot bukan
merupakan indikasi yang cukup dari keseragaman kandungan jika zat
aktif merupakan bagian kecil dari tablet.
Untuk mengetahui keseragaman bobot dari tablet vitamin c
pada penelitian ini digunakan alat timbangan analitik. Hasil pengujian
keseragaman bobot tablet vitamin C dengan bahan pelicin Mg Stearat
dan Talk dapat dilihat pada tabel 4.4.
Berdasarakan tabel 4.4 menunjukkan bahwa tablet vitamin C
pada formula I memiliki rata-rata keseragaman bobot 0,20 g ± 0,00759
g dan pada formula II memiliki rata-rata keseragaman bobot 0,19 g ±
0,00641 g.
Analisis data dengan statistik T-test didapatkan signifikansi
0,823 dengan demikian signifikansi > 0,05 yang berarti bahwa
formula I dan formula II memiliki varian yang sama.
51
52
CERATA Journal Of Pharmacy Science
Ganang Adi Nurcahyo, dkk., Formulasi Dan Uji Sifat Fisis Tablet …
Tabel 4.4 : Hasil uji keseragaman tablet vitamin C dengan bahan
pelicin Mg Stearat dan Talk dalam dua formula.
Tablet
FI (g)
1
0,21
2
0,19
3
0,21
4
0,21
5
0,19
6
0,19
7
0,21
8
0,20
9
0,21
10
0,20
11
0,20
12
0,20
13
0,20
14
0,20
15
0,20
16
0,19
17
0,20
18
0,20
19
0,19
20
0,20
∑
4,00
x
0,20
SD
0,00759
CV
3,79%
Sumber : Data primer, 2013
FII (g)
0,20
0,21
0,20
0,20
0,19
0,19
0,19
0,19
0,20
0,20
0,21
0,19
0,20
0,20
0,20
0,21
0,20
0,20
0,20
0,20
3,98
0,19
0,00641
3,37%
b. Hasil Uji Kekerasan Tablet
Kekerasan tablet adalah suatu parameter yang menggambarkan
ketahanan tablet dalam melawan tekanan mekanik seperti goncangan,
tekanan dan kemungkinan terjadinya retakan tablet pada saat
pembungkusan atau pengempakan, pengangkutan dan penyimpanan.
Kekerasan tablet ini erat hubungannya dengan ketebalan tablet. Bobot
tablet dan waktu hancur tablet. Kekerasan tablet pada penelitian ini
digunakan alat hardness tester. Hasil pengujian kekerasan tablet
vitamin C dengan bahan pelicin Mg Stearat dan Talk dapat dilihat
pada tabel 4.5.
Tabel 4.5 : Hasil uji kekerasan tablet vitamin C dengan bahan pelicin
Mg Stearat dan Talk dalam dua formula.
CERATA Journal Of Pharmacy Science
Ganang Adi Nurcahyo, dkk., Formulasi Dan Uji Sifat Fisis Tablet …
Tablet
FI (kg)
FII (kg)
1
5,0
4,9
2
5,2
4,9
3
5,0
5,0
4
4,8
4,8
5
5,0
5,0
∑
25
24,6
x
5,0
4,9
SD
0,14
0,08
Sumber : Data primer, 2013
Berdasarakan tabel 4.5 menunjukkan bahwa tablet vitamin C
pada formula I memiliki rata-rata kekerasan tablet 5,0 kg ± 0,14 kg
dan pada formula II memiliki rata-rata kekerasan tablet 4,9 kg ± 0,08
kg.
Analisis data dengan statistik T-test didapatkan signifikansi
0,308 dengan demikian signifikansi > 0,05 yang berarti bahwa
formula I dan formula II memiliki varian yang sama.
c. Hasil Uji Kerapuhan Tablet
Kerapuhan tablet merupakan gambaran lain dari ketahanan
dalam melawan pengikisan dan goncangan. Kerapuhan dinyatakan
sebagai masa seluruh partikel yang dilepaskan dari tablet akibat
adanya bahan penguji mekanis. Kerapuhan dinyatakan dalam proses
yang mengacu kepada masa tablet awal sebelum penguji. Pengukuran
uji kerapuhan pada penelitian ini dilakukan dengan alat Friabilator.
Hasil pengujian kerapuhan tablet vitamin c dengan bahan pelicin Mg
Stearat dan Talk dapat dilihat pada tabel 4.6.
Berdasarakan tabel 4.6 menunjukkan bahwa tablet vitamin C
pada formula I memiliki rata-rata kerapuhan tablet 2,26% ± 0,14%
dan pada formula II memiliki rata-rata kerapuhan tablet 3,50% ±
0,23%.
Analisis data dengan statistik T-test didapatkan signifikansi
0,001 dengan demikian signifikansi < 0,05 yang berarti bahwa
formula I dan formula II memiliki varian yang berbeda.
Tabel 4.6 : Hasil Uji Kerapuhan tablet vitamin C dengan bahan
pelicin Mg Stearat dan Talk dalam dua formula
Replikasi
I
FI (%)
2,21
FII (%)
3,53
II
2,42
3,72
III
2,15
3,26
53
54
CERATA Journal Of Pharmacy Science
Ganang Adi Nurcahyo, dkk., Formulasi Dan Uji Sifat Fisis Tablet …
∑
6,78
x
2,26
SD
0,14
Sumber : Data primer, 2013
10,51
3,50
0,23
d. Hasil Uji Waktu Hancur Tablet
Waktu hancur tablet merupakan waktu yang dibutuhkan untuk
hancurnya tablet dalam medium yang sesuai. Uji waktu hancur tablet
sangatlah penting karena supaya komponen obat sepenuhnya tersedia
untuk diabsorbsi dalam saluran pencernaan, maka tablet haruslah
hancur diabsorbsi dalam saluran pencernaan, maka tablet haruslah
hancur dan melepaskan obatnya ke dalam cairan tubuh untuk
dilarutkan. Uji waktu hancur pada penelitian ini dilakukan dengan
menggunakan alat Disintegrator tester. Hasil pengujian waktu hancur
tablet vitamin C dengan bahan pelicin Mg Stearat dan Talk dapat
dilihat pada tabel 4.7. Berdasarakan tabel 4.7 menunjukkan bahwa
tablet vitamin C pada formula I memiliki rata-rata waktu hancur tablet
4,76 menit ± 0,55 menit dan pada formula II memiliki rata-rata waktu
hancur tablet 3,26 menit ± 0,07 menit.
Analisis data dengan statistik T-test didapatkan signifikansi
0,010 dengan demikian signifikansi < 0,05 yang berarti bahwa
formula I dan formula II memiliki varian yang berbeda.
Tabel 4.7 : Hasil uji waktu hancur tablet vitamin C dengan bahan
pelicin Mg Stearat dan Talk dalam dua formula.
Replikasi
I
FI (menit)
4,12
FII (menit)
3,26
II
5,03
3,20
III
5,14
∑
14,29
x
4,76
SD
0,55
Sumber : Data primer, 2013
3,34
9,8
3,26
0,07
CERATA Journal Of Pharmacy Science
Ganang Adi Nurcahyo, dkk., Formulasi Dan Uji Sifat Fisis Tablet …
B.
PEMBAHASAN
Tablet adalah sediaan padat kompak, dibuat secara kempa cetak
dalam bentuk tabung pipih atau sirkuler, kedua permukaan rata atau
cembung, mengandung satu jenis obat atau lebih dengan atau tanpa zat
tambahan (Anonim, 1978). Granulasi adalah pembentukan partikel-partikel
besar dengan mekanisme pengikat tertentu. Metode granulasi banyak dipilih
dengan tujuan memperbaiki sifat alir dan kompresibilitas massa tablet.
Granul yang baik memiliki waktu alir untuk seratus gram granul atau
serbuk dengan waktu alir lebih dari 10 detik akan mengalami kesulitan pada
waktu pentabletan (Fudholi, 1987). Granul vitamin C yang dibuat memiliki
waktu alir untuk formula I 3,73 detik dan formula II 4,48 detik. Hal ini
menunjukkan waktu alir dari kedua formula memenuhi syarat granul yang
baik yaitu maksimal 10 detik untuk 100 g granul. Dari hasil uji statistik T-test
didapatkan signifikansi 0,035 dengan demikian signifikansi < 0,05 sehingga
kedua formula memiliki varian yang berbeda, perbedaan ini dapat disebabkan
karena penambahan bahan pelicin yang berlebih akan mempercepat waktu
alir granul tetapi penambahan bahan pelicin yang berlebihan akan
menurunkan kecepatan disintegrasi dan disolusi tablet. Apabila granul
mempunyai sifat alir yang baik, maka pengisian pada ruang kempa akan
menjadi konstan, sehingga sediaan yang dihasilkan mempunyai bobot yang
seragam.
Granul yang baik mempunyai sudut diam antara 30° sampai 40°
(Fonner dkk, 1981). Granul vitamin C yang dibuat mempunyai sudut diam
untuk formula I 33,6˚ dan untuk formula II 35,3˚. Hal ini menujukkan sudut
diam granul vitamin C yang dibuat telah memenuhi syarat granul yang baik.
Dari hasil uji statistik T-test didapatkan signifikansi 0,010 dengan demikian
signifikansi < 0,05 yang berarti bahwa kedua formula memiliki varian yang
berbeda. Perbedaan ini dapat disebabkan karena perbedaan konsentrasi bahan
pelicin yang digunakan, semakin besar bahan pelicin yang digunakan maka
sudut diam yang dibentuk akan semakin besar. Pada umumnya serbuk/ granul
dikatakan mengalir baik/ free flowing, apabila sudut diamnya antara 30˚ dan
40o. Jika sudut diam lebih besar dari 40o maka pada saat pentabletan akan
ditemui kesulitan (Lachman dkk, 1970).
Granul atau serbuk yang baik mempunyai indeks pengetapan kurang
dari 20% mempunyai sifat alir yang baik (Fassihi dkk, 1986). Granul vitamin
C yang dibuat mempunyai indeks pengetapan untuk formula I 9,6% dan
untuk formula II 13%. Hai ini menujukkan kedua formula granul vitamin C
telah memenuhi standar yaitu kurang dari 20%. Dari hasil uji statistik T-test
didapatkan signifikansi 0,007 dengan demikian signifikansi < 0,05 yang
berarti bahwa kedua formula memiliki varian yang berbeda. Perbedaan ini
55
56
CERATA Journal Of Pharmacy Science
Ganang Adi Nurcahyo, dkk., Formulasi Dan Uji Sifat Fisis Tablet …
dapat disebabkan karena perbedaan konsentrasi bahan pelicin yang
digunakan, semakin besar bahan pelicin yang digunakan maka indeks
pengetapan yang dibentuk akan semakin besar. Pengetapan merupakan
penurunan volume sejumlah granul atau serbuk akibat hentakan (tapping) dan
getaran (vibrating), semakin kecil indeks pengetapan (dalam persen) maka
semakin baik sifat alirnya.
Tablet yang baik memiliki keseragaman bobot tablet yang di tentukan
berdasarkan banyaknya penyimpangan bobot tiap tablet terhadap bobot ratarata dari seluruh tablet yang masih diperbolehkan untuk syarat yang telah
ditentukan Farmakope Indonesia. Tablet dengan berat 200 mg memiliki
toleransi penyimpangan bobot 185 mg – 215 mg pada kolom A dan 170 mg –
230 mg pada kolom B. Tablet vitamin C yang dibuat memiliki bobot rata-rata
untuk formula I 0,20 g dan formula II 0,19 g, kedua formula juga telah
memenuhi CV yang telah ditetapkan yaitu kurang dari 5% (Anonim, 1979).
Hal ini menunjukkan kedua formula mempunyai keseragaman bobot yang
memenuhi standart. Begitu pula pada uji statistik T-test didapatkan
signifikansi 0,823 dengan demikian signifikansi > 0,05 yang berarti bahwa
kedua formula memiliki varian yang sama. Tablet harus memenuhi uji
keseragaman bobot jika zat aktif merupakan bagian terbesar dari tablet dan
jika uji keseragaman bobot cukup mewakili keseragaman kandungan.
Keseragaman bobot bukan merupakan indikasi yang cukup dari keseragaman
kandungan jika zat aktif merupakan bagian kecil dari tablet.
Tahapan selanjutnya setelah dilakukan pengujian keseragaman bobot,
dilakukan pengujian kekerasan tablet yang bertujuan untuk mengetahui
kekerasannya agar tablet tidak terlalu rapuh atau keras. Tablet yang baik
memiliki batas kekerasan tablet berkisar antara 4 – 6 kg (Parrot dkk, 1997).
Tablet vitamin C yang dibuat memiliki kekerasan untuk formula I 5 kg dan
formula II 4,9 kg, hal ini menunjukkan kedua formula mempunyai kekerasan
yang memenuhi syarat. Begitu pula pada uji statistik T-test didapatkan
signifikansi 0,308 dengan demikian signifikansi > 0,05 yang berarti bahwa
kedua formula memiliki varian yang sama. Kekerasan tablet ini erat
hubungannya dengan ketebalan tablet, bobot tablet dan waktu hancur tablet.
Kerapuhan tablet yang baik memiliki batas debu kerapuhan tidak
lebih dari 5% (Voight, 1994). Tablet vitamin C yang dibuat memiliki
kerapuhan untuk formula I 2,26% dan formula II 3,50 %, hal ini
menunjukkan kedua formula mempunyai kerapuhan yang memenuhi standart.
Dari hasil uji statistik T-test didapatkan signifikansi 0,001 dengan demikian
signifikansi < 0,05 yang berarti bahwa kedua formula menunjukan varian
yang yang berbeda, hal ini mungkin dikarenakan oleh jenis, kadar dan cara
penambahan bahan pengikat pada pembuatan granul yang akan berpengaruh
CERATA Journal Of Pharmacy Science
Ganang Adi Nurcahyo, dkk., Formulasi Dan Uji Sifat Fisis Tablet …
57
juga pada kerapuhan, waktu hancur dan disolusi tablet. Kerapuhan tablet
merupakan gambaran lain dari ketahanan dalam melawan pengikisan dan
goncangan. Kerapuhan dinyatakan sebagai masa seluruh partikel yang
dilepaskan dari tablet akibat adanya bahan penguji mekanis. Kerapuhan
dinyatakan dalam proses yang mengacu kepada masa tablet awal sebelum
penguji (Voight, 1994).
Waktu hancur yang baik untuk tablet adalah tidak lebih dari 15 menit
(Ansel, 1989). Tablet vitamin C yang dibuat memiliki waktu hancur untuk
formula I 4,76 menit dan formula II 3,26 menit, hal ini menunjukkan kedua
formula mempunyai waktu hancur yang memenuhi syarat. Dari hasil uji
statistik T-test didapatkan signifikansi 0,010 dengan demikian signifikansi <
0,05 yang berarti bahwa kedua formula menunjukan varian yang yang
berbeda, hal ini mungkin juga dikarenakan oleh jenis, kadar dan cara
penambahan bahan pengikat pada proses pembuatan granul yang berpengaruh
pada waktu hancur tablet. Waktu hancur merupakan waktu yang dibutuhkan
untuk hancurnya tablet dalam medium yang sesuai. Uji waktu hancur tablet
sangatlah penting karena supaya komponen obat sepenuhnya tersedia untuk
diabsorbsi dalam saluran pencernaan, maka tablet haruslah hancur diabsorbsi
dalam saluran pencernaan, maka tablet haruslah hancur dan melepaskan
obatnya ke dalam cairan tubuh untuk dilarutkan.
Kualitas tablet dalam penelitian ini sudah cukup bagus, akan tetapi
pada tablet yang dihasilkan terdapat bercak-bercak hitam pada bagian tepi
luar tablet. Hal ini bisa dikarenakan serbuk vitamin C yang digunakan adalah
vitamin C uncoated yang kualitasnya kurang bersih dan terdapat butiranbutiran kecil hitam yang pada saat pengempakan tablet akan terjadi gesekan
kuat, hal tersebut mempengaruhi sifat dari tablet yang mengakibatkan bercak
noda hitam pada tepi luar tablet. Untuk memperbaiki hal tersebut serbuk
vitamin C uncoated dapat diganti dengan serbuk vitamin C coated dengan
memperhatikan kualitas dari serbuk vitamin C.
Dari hasil penelitian menunjukan bahwa formula I dengan bahan
pelicin Mg Stearat dan Talk (1:9) 2% dan 3% dalam pembuatan tablet
vitamin C memberikan hasil yang berbeda signifikan pada waktu alir, sudut
diam, pengetapan, kerapuhan dan waktu hancur tablet. Sedangkan
keseragaman bobot dan kekerasan tidak ada perbedaan yang signifikan.
Bahan pelicin Mg Stearat dan Talk (1:9) 3% pada formula II akan
memperlambat waktu alir, memperbesar indeks pengetapan dan sudut diam,
tetapi mempercepat waktu hancur tablet. Formula I pada tablet yang telah
diteliti lebih memiliki syarat sebagai mutu tablet yang baik.
58
CERATA Journal Of Pharmacy Science
Ganang Adi Nurcahyo, dkk., Formulasi Dan Uji Sifat Fisis Tablet …
KESIMPULAN DAN SARAN
KESIMPULAN : Dari hasil penelitian Formula I dan formula II dengan
bahan pelicin Mg Stearat dan Talk (1:9) 2% dan 3% terdapat perbedaan yang
signifikan pada uji kerapuhan dan waktu hancur tetapi tidak terdapat
perbedaan yang signifikan pada keseragaman bobot dan kekerasan tablet.
Formula I pada tablet yang telah diteliti memiliki syarat sebagai mutu tablet
yang lebih baik.
SARAN : Perlu mengganti penggunaan bahan zat aktif dengan serbuk
vitamin C coated, perlu dilakukan penyalutan tablet untuk menutupi bercak
hitam pada tablet vitamin C tersebut.
CERATA Journal Of Pharmacy Science
Ganang Adi Nurcahyo, dkk., Formulasi Dan Uji Sifat Fisis Tablet …
DAFTAR PUSTKA
Anonim, 1978. Formularium Nasional, Edisi II. Departeman Kesehatan Rupublik
Indonesia. Jakarta.
Anonim, 1979. Farmakope Indonesia, Edisi III. Departemen Kesehatan Republik
Indonesia. Jakarta.
Anonim, 1995. Farmakope Indonesia, Edisi IV. Departeman Kesehatan Republik
Indonesia. Jakarta.
Ansel, C. Howard. 1989. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi, Edisi IV. Universitas
Indonesia. Jakarta.
Fonner, D.E, Anderson N.R, Banker, G.S, 1981, Granulation and Tablet
Characterization, in Lieberman, H.A, Lachman I, (Eds), Pharmaceutical
Dosage Form: Tablets, Vol II, Marcell Dekker Inc, New York
Fudholi, A, 1987. Laktosa Monohidrat Dalam Sistem Granulasi Basah. Simposium
Laktosa. Jakarta.
Fassihi, A.R, Kanfer,L, 1986. Effect of Compressibility and Powder Flow Properties
on Tablet Weight Variation in Drug Development and Industrial
Pharmacy. Marcell Dekker Inc, New York
Hidayat, M.T. 2010. Pengaruh Kombinasi Bahan Pelicin Magnesium Stearat dan
Talk (1:9) Terhadap Sifat Fisis dan Profil Disolusi Tablet Campuran Interaktif
Prednison. SKRIPSI. Fakultas Farmasi. Universitas Setia Budi. Surakarta.
Lachman, Leon dkk. 1970. The Theory and Practice of Industrial Pharmacy. Lea and
Febiger. Philadelpia.
Lachman, Leon dkk. 1989. Teori dan Praktek Farmasi Industri II, Edisi III.
Universitas Indonesia. Jakarta.
Parrot, Eugene L. and Witold Saski. 1977. Experimental Pharmaceutics, 4th Ed.
Buergess Publising Company. Minnesota.
Purwanti, 2011. Pengaruh Perbedaan Jenis Bahan Pelicin Kombinasi Mg Stearat :
Talk (1:9) dan PEG 4000 Terhadap Mutu Fisik Tablet Parasetamol. Tugas
akhir. Fakultas Farmasi. Universitas Setia Budi. Surakarta
Setiawan, Eko W. 2009. Pengaruh Bahan Pengikat Gelatin Terhadap Sifat Alir
Granul Vitamin C. KTI. STIKES Muhammadiyah Klaten.
Siregar, J.P Charles. 2010. Teknologi Farmasi Sediaan Tablet. Buku Kedokteran
EGC. Jakarta.
Voight, R. 1994. Buku Pelajaran Teknologi Farmasi. Gadjah Mada University Press.
Yogyakarta.
59
Download