pendahuluan.

advertisement
BAB I
PENDAHULUAN.
1. Latar Belakang Masalah
Salah satu ciri khas dari semua agama adalah berdoa. Semua agama yang ada di Indonesia
mengajarkan kepada umat atau pengikutnya untuk selalu berdoa. Doa diyakini merupakan
salah satu sarana untuk berkomunikasi dengan Tuhan yang disembahnya. Doa adalah
pertama-tama dan terutama merupakan pengungkapan iman; dalam doa, iman dibahasakan
dengan segala kekhasan dan ciri-ciri bahasa; itu bisa bahasa puitis dan bahasa biasa; bisa
bahasa resmi maupun bahasa rakyat; bisa dengan suara lantang maupun bisa renungan dalam
hati, itulah yang kurang lebih yang dipahami oleh Tom Jacob.1
Begitu halnya dengan agama Kristen. Hal berdoa merupakan suatu keharusan dan kewajiban
dikarenakan berdoa merupakan salah satu cara untuk dapat berkomunikasi dengan Tuhan.
Dengan berdoa, orang Kristen diajar untuk menyadari mengenai relasi dengan Tuhan dan
yang paling khas ialah menyerahkan diri sepenuhnya kepadaNya.2
Kenyataan yang sangat memprihatinkan saat ini ialah banyak orang Kristen yang
menganggap doa sebagai suatu rutinitas yang sejak dulu didapatkan dari orang tua maupun
gereja. Hakekat sejati dari sebuah doa telah hilang dan digantikan dengan sebuah kegiatan
yang menunjukan “pembuktian diri” sebagai seorang yang beragama atau beriman. Bahkan
seringkali juga doa dijadikan sebagai tempat pelarian orang percaya ketika mendapatkan
jalan buntu dalam menghadapi masalah atau tekanan hidup yang berat. Kemudian jika
berbicara mengenai motifasi, maka motifasi dari setiap doa yang dipanjatkan perlu
dipertanyakan lagi. Di sini penyusun tidak mengatakan atau menilai bahwa doa orang
Kristen, secara keseluruhan, tidak benar atau sebagai pembuktian diri belaka, karena
penyusun masih yakin jika ada juga yang berdoa sebagai wujud kerinduan akan tuntunan dan
penyerahan ke dalam tangan Tuhan. Di sini penyusun hendak menyoroti akan doa orang
Kristen yang berorientasi untuk dirinya sendiri, untuk kepuasan diri semata. Memang Yesus
mengajarkan dalam Mat. 7:7 “Mintalah maka akan diberikan kepadamu, carilah maka kamu
akan mendapat, ketoklah maka pintu akan dibukakan kepadamu”, namun hal ini menjadi
1
2
Prof. Dr. Tom Jakobs, Sj, Teologi Doa, hal. 23 Sda, hal. 24 1
semacam label bahwa Tuhan adalah hamba yang mudah untuk mengabulkan semua
permintaan yang “tuannya” inginkan. Hal ini serta-merta dijadikan sebagai pernyataan tanpa
syarat, terlebih lagi jika dalam kesesakan atau malapetaka. Akibatnya, orang Kristen pada
akhirnya mencari Tuhan atau berdoa ketika ketidakberdayaan manusia merasukinya. Dan
ketika segala persoalan dapat diatasinya, maka Tuhan tidak lagi menjadi sesosok figur yang
diperlukan. Hal ini yang menurut Tom Jacobs sebagai doa permohonan.3 Doa permohonan
sering merupakan “reaksi spontan” atas situasi terjepit. Selain itu, adanya kepercayaan bahwa
orang yang tertindas berseru, Tuhan mendengar.4 Di sini juga penyusun tidak memandang
sebelah mata akan doa permohonan. Doa permohonan penting namun kita harus mengetahui
terlebih dulu akan makna sebenarnya dari doa permohonan tersebut. Selain itu, penyusun
juga sempat melakukan pengamatan terhadap doa yang telah tertulis dalam liturgi ibadah
minggu GPIB.5 Hal ini dilakukan karena penyusun melihat jika doa-doa tersebut dinaikkan,
hal tersebut tidak membuat jemaat ikut terlibat dalam doa tersebut, malah sebaliknya hal
tersebut membuat para jemaat melakukan aktifitasnya sendir (ada yang memainkan HP, ada
yang bergosip, juga ada jemaat yang ikut membaca doa-doa tersebut tanpa penghayatan).
Disamping itu, majelis yang membacakan doa tersebut melakukannya hanya seperti
membaca Koran atau tabloid, tanpa adanya penghayatan. Inilah yang membuat penyusun
bertanya-tanya, “apakah hakekat doa yang sesungguhnya?”
2. Pokok Permasalahan
Dengan melihat fenomena di atas, doa seakan-akan telah hilang kewibawaannya. Doa
bukanlah menyangkut masalah Roh, melainkan sudah menjadi masalah kedagingan.6 Kita
cenderung mengganggap bahwa doa kita harus dijawab, kita harus mendapatkan apa yang
kita minta. Ini seperti mengatakan bahwa Tuhan sama seperti Sinterklas yang kepadanya kita
memberikan daftar keinginan yang harus dipenuhi. Pada akhirnya orientasi doa kita jatuh
kepada dikabulkan atau tidak dikabulkan. Dengan kata lain, jika terpenuhi akan menjadi
hamba yang baik dan jika tidak, nanti dulu!
Terlalu sering kita mencoba menggunakan doa untuk mengontrol dan memanipulasi Tuhan.
Padahal jika direnungkan secara mendalam, bagaimana mungkin Sang Pencipta dikendalikan
3
Prof. Dr. Tom Jacobs, SJ, Teologi Doa, hal. 28 Sda, hal 29 5
Liturgi yang dipergunakan oleh GPIB adalah sama karena menggunakan liturgi yang dikeluarkan oleh Sinode.
Namun dalam skripsi ini, penyusun melakukan pengamatan di GPIB “Margamulya” dikarenakan GPIB
“Margamulya” satu-satunya yang berada di Yogyakarta. 6
Ensiklopedia Alkitab Masa Kini jilid I, Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF cetakan ke delapan, hal. 249 4
2
oleh ciptaan. Atau bagaimana mungkin seorang pembantu menyuruh sang majikan untuk
mencuci baju. Seseorang berdoa oleh karena Allah menyentuh roh manusia dan bukan
“tanggapan wajar dari manusia” oleh karena apa yang dilahirkan dari daging ialah daging
(Yoh 4:24). Seringkali orang Kristen menganggap Allah sebagai Bapa yang senantiasa
mengasihi anakNya. Namun sebenarnya ini merupakan suatu alasan yang ampuh untuk
memperbudak Allah. Allah sebagai Bapa yang mengasihi anakNya adalah betul, namun
harus memenuhi syarat-syarat menjadi “anak-anak Allah” yaitu pertobatan dan iman.7 Salah
satu wujud pertobatan dan juga iman ialah memiliki relasi yang intim di dalam doa. Doa
disini bukan sebagai suatu kewajiban melainkan menjadi suatu kebutuhan seperti kita
membutuhkan makan agar tidak lapar, dan sebagainya.
Injil Markus mengawali Injilnya dengan kata-kata “Inilah permulaan Injil tentang Yesus
Kristus, Anak Allah” (1:1). Ada dua hal yang menarik dari kata-kata pembukaan dalam Injil
Markus ini. Pertama adalah kata “permulaan”. Menurut kamus besar Bahasa Indonesia, kata
“permulaan” didefinisikan dengan awal, yang paling pertama, pertama sekali.8 Bolkeistein
mengaitkan kata “permulaan” dengan pemberitaan Injil. Injil adalah pertama-tama pesan
yang diberitakan itu, yaitu suatu khotbah mengenai keselamatan dari Allah.9 Peristiwa yang
diberitakan ke seluruh dunia sebagai Injil tersebut, memaparkan kedatangan, karya
kehidupan, kematian dan kebangkitan Yesus Kristus. Dialah awal seluruh pemberitaan Injil
yang telah tersebar ke mana-mana. Kedua adalah tentang Yesus Kristus, Anak Allah.
Sebagaimana ditegaskan di awal, Injil Markus kemudian mencoba membuktikan hal tersebut
melalui pengukuhan langsung oleh Allah sendiri (1:11 dan 9:7), roh jahat (1:24, 3:11 dan
5:7), dan pengakuan kepala pasukan (15:39). Tetapi tokoh Yesus seakan-akan menutupnutupi statusNya tersebut hingga penggenapan terjadi melalui kematianNya di kayu salib.
Gelar Anak Allah yang disandang Yesus tidak membuatNya merasa sebagai raja ataupun
boss yang harus dilayani. Yesus mengubah sendiri citraNya sebagai Anak Allah – yang
seharusnya diistimewakan – dengan seorang hamba atau utusan. Hal yang paling mencolok
dari itu adalah kebiasaan Yesus untuk menghampiri BapaNya di dalam doa. Yesus berdoa
sebagaimana manusia-manusia lain, namun tentu saja doaNya tidak sama dengan doa-doa
manusia pada umumnya. Inilah titik awal keinginan penyusun untuk menemukan hakekat
7
Donald Guthrie, Teologi Perjanjian Baru I, BPK Gunung mulia, hal. 151 Tim Prima Pena, Kamus Besar Bahasa Indonesia hal. 459 9
Dr. M. H. Bolkeistein, Kerajaan Yang Terselubung, hal. 4-5 8
3
dari doa Yesus dan juga pengajaran Yesus tentang doa dan mencoba memberikan
pemahaman-pemahaman yang tepat tentang doa dengan mendasari hakekat doa dari Yesus.
3. Batasan Masalah
Pada penyusunan skripsi ini, penyusun akan membatasi penyusunan pada hakekat doa yang
digali dari Injil Markus. Pada penyusunan ini juga, penyusun tidak akan menafsirkan Injil
Markus secara keseluruhan sebagai suatu narasi yang utuh, melainkan mengambil beberapa
pasal beserta ayat yang dianggap mendukung penyusunan ini. Adapun beberapa pasal dan
ayat yang penyusun pakai, antara lain:
a. Markus 1 : 35 – 39
b. Markus 6 : 30 – 34, 45 – 46
c. Markus 9 : 20 – 29
d. Markus 11 : 20 – 26
e. Markus 14 : 32 – 42
4. Judul dan Alasan Pemiihan Judul
Berdasarkan latar belakang masalah, pokok permasalahan dan batasan masalah yang sudah
dipaparkan di atas, maka judul yang penyusun pilih untuk skripsi kali ini adalah:
“HAKEKAT DOA DALAM INJIL MARKUS”
(Exegese atas Markus 1:35-39; 6:30-32, 45-46; 9:20-29; 11:20-26; 14:32-42)
Penyusun memutuskan untuk menggunakan judul tersebut karena judul tersebut sesuai
dengan apa yang ingin dibahas penyusun yakni menafsirkan bagian-bagian Injil Markus yang
berhubungan dengan Doa yang sekiranya dapat memberikan pemahaman-pemahaman yang
tepat akan doa itu sendiri melalui makna, sikap dan pengajaran Yesus tentang doa.
5. Tujuan Penulisan.
Tujuan penyusunan ini dimaksudkan agar para pembaca yang membaca tulisan ini dapat
merefleksikan kembali hubungan pribadinya dengan Tuhan khususnya di dalam doa. Melalui
tulisan ini diharapkan juga para pembaca dapat mengetahui:
1. Hakekat doa dan pengajaran Yesus tentang doa.
2. Hakekat doa yang sesungguhnya dan sekiranya dapat merubah motifasi, pola doa dan
juga pengertian-pengertian yang keliru dari sebuah doa.
4
Dengan demikian penyusun sangat mengharapkan agar tulisan ini dapat memberikan
sumbangsih kepada setiap pembaca yang membaca tulisan ini, dan sekiranya dapat
membantu jemaat memberikan pemahaman-pemahaman yang tepat tentang doa.
6. Metode Penulisan.
Dalam menyusun tulisan ini, penyusun akan menggunakan metode eksegese kritik narasi
oleh karena Injil Markus sendiri merupakan sebuah cerita yang utuh. Selain itu, perikopperikop yang akan penyusun bahas memadai untuk bisa didekati dengan pendekatan naratif
karena unsur-unsur narasinya kelihatan seperti adanya komentar narator, setting tempat dan
waktu, tokoh dan karakter, dialog, konflik, dan sebagainya. Dari sini, penyusun mencoba
menggali hakekat doa dari Injil Markus.
7. Sistematika Penulisan
BAB I
PENDAHULUAN
Pada bab ini, penyusun akan memaparkan latar belakang masalah, permasalahan,
batasan masalah, tujuan penyusunan, metode penyusunan dan diakhiri dengan
sistematika penyusunan.
BAB II
INJIL MENURUT MARKUS
Pada bab ini, penyusun akan memaparkan hal-hal yang berhubungan dengan Injil
Markus itu sendiri seperti, macam-macam peristiwa-peristiwa yang ada dalam
Injil Markus, penokohan, setting atau latar dan memberikan pembagian plot yang
terdapat dalam Injil Markus.
BAB III
SIKAP DAN PENGAJARAN YESUS TENTANG DOA
a. Markus 1 : 35 – 39.
b. Markus 6 :30 – 34, 45 – 46.
c. Markus 9 : 20 – 29.
d. Markus 11 : 20 – 26
e. Markus 14 : 32 – 42.
Pada bab ini, penyusun akan menafsirkan pasal-pasal yang telah dipilih sebagai
pijakan dalam skripsi ini.
5
BAB IV
KESIMPULAN DAN RELEVANSI.
Pada bab ini, penyusun akan menarik kesimpulan dari seluruh pemaparan bab
demi bab. Setelah itu penyusun akan memberikan relevansi yang kongkrit yang
sekiranya dapat membantu para pembaca untuk mengaplikasikan tulisan ini dalam
kehidupan sehari-hari.
6
Download