Dampak Investasi Sumberdaya Manusia dan

advertisement
76
III. KERANGKA TEORI
3.1.
Teori Pertumbuhan Ekonomi
Pertumbuhan ekonomi merupakan gambaran kemampuan / kapasitas suatu
perekonomian untuk menghasilkan barang-barang dan jasa, yang merupakan
unsur penting dan menjadi tujuan utama dari pembangunan ekonomi. Berbagai
teori yang membahas tentang faktor-faktor yang menentukan atau mempengaruhi
pertumbuhan ekonomi. Secara umum, faktor-faktor yang menentukan atau
mempengaruhi pertumbuhan ekonomi, dapat dibedakan menjadi (1) faktor-faktor
penentu dan sisi penawaran (supply side) dan (2) faktor-faktor penentu dari sisi
permintaan (demand side).
Dan sisi penawaran, faktor-faktor penentu pertumbuhan ekonomi
mencakup: jumlah penduduk (sumberdaya manusia), stok kapital, sumberdaya
alam, dan teknologi. Sedangkan dari sisi permintaan, pertumbuhan ekonomi
ditentukan atau dipengaruhi antara lain oleh pengeluaran pemerintah (government
expenditure), investasi swasta (private investment) dan jumlah uang beredar
(money supply). Berikut ini akan dibahas beberapa teori pertumbuhan ekonomi,
diantaranya adalah Teori pertumbuhan Harrod-Domar, Teori pertumbuhan Solow
dan Teori Pertumbuhan Baru dan Model Human Capital.
3.1.1. Model Harrod-Domar
Teori Harrod-Domar (H-D) pada dasarnya berusaha untuk memadukan
pandangan kaum Klasik yang dinilai terlalu menekankan sisi penawaran (ingat
Say's law of market) dan pandangan Keynes yang lebih menekankan pada sisi
permintaan (demand side). Dalam kaitan ini, Harrod-Domar mengatakan bahwa
77
investasi memainkan peran ganda (dual role) yaitu di satu sisi, investasi akan
meningkatkan kemampuan produktif (productive capacity) dari perekonomian
(Klasik) dan di sisi lain, investasi akan menciptakan atau meningkatkan
permintaan (demand creating) di dalam perekonomian (Keynes).
Dalam teori H-D, investasi merupakan faktor penentu yang sangat penting
dan pertumbuhan ekonomi. Bahkan mereka mengatakan bahwa “tabungan dan
investasi merupakan kekuatan sentral dibalik pertumbuhan ekonomi” (saving and
investment is central forces behind economic growth). Secara sederhana, kaitan
pertumbuhan ekonomi, tabungan dan investasi dalam versi model H-D dapat
dinyatakan sebagai berikut:
Misalkan tabungan (S) adalah bagian dalam jumlah tertentu, atau, s, dari
pendapatan nasional (Y). Oleh karena itu, kita pun dapat menuliskan hubungan
tersebut dalam bentuk persamaan yang sederhana :
S = sY
………………………………………………………
(3.1)
Investasi (I) didefinisikan sebagai perubahan dari stok modal (K) yang dapat
diwakili oleh ∆K, sehingga kita dapat menuliskan persamaan sederhana yang
kedua sebagai berikut :
I = ∆K
…………………………………………………………..
(3.2)
Akan tetapi, karena jumlah stok modal K mempunyai hubungan langsung
dengan jumlah pendapatan nasional atau output Y, seperti telah ditunjukkan oleh
rasio modal-output, k, maka:
K/Y = k atau ∆K/∆Y = k
Akhirnya
∆K = k∆Y
…………………………………………………….
(3.3)
78
Yang terakhir, mengingat jumlah keseluruhan dari tabungan nasional (S)
harus sama dengan keseluruhan investasi (I), maka persamaan berikutnya dapat
ditulis sebagai berikut :
S=I
…………………………………………………………..
(3.4)
Dari persamaan (3.1) telah diketahui bahwa S = sY dan dari persamaan
(3.2) dan (3.3), juga telah diketahui bahwa: I = ∆K = k∆Y. Dengan demikian,
‘identitas’ tabungan yang merupakan persamaan modal dalam persamaan (3.4)
adalah sebagai berikut :
S = sY = k∆Y = ∆k = I
………………………………………….
(3.5)
……………………………………………………….
(3.6)
Atau bisa diringkas menjadi
sY = k∆Y
Selanjutnya, apabila kedua sisi persamaan (3.6) dibagi mula-mula dengan Y dan
kemudian dengan k, maka akan didapat :
∆Y/Y = s/k
................................................................................
(3.7)
Dimana :
(∆Y/Y)
s
k
Y
= pertumbuhan ekonomi
= tingkat tabungan nasional
= ICOR (incremental capital output rasio, ∆K/∆Y atau I/∆Y)
= Output nasional atan GNP, K = stok kapital, I=investasi
Persamaan tersebut menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi (∆Y/Y)
ditentukan secara bersama-sama oleh rasio tabungan nasional (s), dan rasio modal
output nasional (k). Dengan kata lain, makna secara ekonomi dapat diartikan
bahwa agar suatu perekonomian dapat bertumbuh, maka perekonomian yang
bersangkutan haruslah menabung dan menginvestasikan sebesar proporsi tertentu
dari GNP-nya.
79
Dalam arti bahwa semakin besar suatu perekonomian menabung dan
menginvestasikan GNP-nya, maka semakin pesat pertumbuhan ekonominya
(Todaro, 2000; Perkins, et. al, 2001).
3.1.2. Model Pertumbuhan Solow
Teori lain yang juga banyak membahas tentang pertumbuhan ekonomi
adalah teori pertumbuhan ekonomi neoklasik (neoclasical growth thoery) atau
sering disebut Teori Pertumbuhan Solow (Solow growth theory). Dalam model
Harrod-Domar hanya memfokuskan pada faktor tabungan dan investasi, maka
dalam model pertumbuhan Solow, selain faktor kapital, juga menekankan
pentingnya faktor tenaga kerja dan teknologi. Model Solow umumnya digunakan
oleh ahli ekonomi untuk mengkaji issue-issue mengenai pertumbuhan. Model
pertumbuhan Solow adalah titik awal bagi sebagian besar analisis ekonomi,
bahkan untuk model-model yang secara mendasar berbeda dari model Solow.
Solow neoclassical growth model merupakan pilar yang sangat memberi
kontribusi terhadap teori pertumbuhan neoklasik sehingga penggagasnya, Robert
Solow, dianugerahi Hadiah Nobel bidang ekonomi. Pada intinya, model ini
merupakan pengembangan dari formulasi Harrod-Domar dengan menambahkan
faktor kedua, yakni tenaga kerja, serta memperkenalkan variabel independen
ketiga, yakni teknologi, ke dalam persamaan pertumbuhan. Perbedaannya HarrodDomar mengasumsikan skala hasil tetap (constant return to scale) dengan
koefisien baku, model pertumbuhan Solow berpegang pada konsep skala hasil
yang terus berkurang (diminishing returns) dari input tenaga kerja dan modal jika
keduanya dianalisis secara terpisah, jika keduanya dianalisis secara bersamaan
atau sekaligus, Solow juga memakai asumsi skala hasil tetap tersebut.
80
Kemajuan teknologi ditetapkan sebagai faktor residu untuk menjelaskan
pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang, dan tinggi-rendahnya pertumbuhan
itu sendiri oleh Solow maupun para teoritisi lainnya diasumsikan bersifat eksogen
atau tidak dipengaruhi oleh faktor-faktor lain. Dalam bentuknya yang lebih
formal, model pertumbuhan neoklasik Solow memakai fungsi produksi agregat
standar, yakni:
Y(t) = F(K(t)α ,[ A(t)L(t)]1-α
......................................................
(3.8)
dimana Y adalah produk domestik bruto, K adalah stok modal fisik dan modal
manusia, L adalah tenaga kerja dan A adalah produktivitas tenaga kerja, yang
pertumbuhannya ditentukan secara eksogen. Karena tingkat kemajuan teknologi
ditentukan secara eksogen, maka model neoklasik Solow terkadang juga disebut
sebagai model pertumbuhan “eksogen”, yang berlawanan dengan pendekatan
pertumbuhan endogen. Adapun simbol α melambangkan elastisitas output
terhadap modal (atau persentase kenaikan GDP yang bersumber dari satu persen
penambahan modal fisik dan modal manusia).
Hal itu biasanya dihitung secara statistik sebagai pangsa modal dalam
perhitungan pendapatan nasional suatu negara. Karena diasumsikan kurang dari
satu dan modal swasta diasumsikan dibayar berdasarkan produk marjinalnya
sehingga tidak ada ekonomi eksternal, maka formulasi teori pertumbuhan
neoklasik ini memunculkan skala hasil modal dan tenaga kerja yang semakin
menurun (diminishing returns).
Menurut teori pertumbuhan neoklasik tradisional (traditional neoclassical
growth theory), pertumbuhan output selalu bersumber dari satu atau lebih dari tiga
81
faktor: kenaikan kuantitas dan kualitas tenaga kerja (melalui pertumbuhan jumlah
penduduk dan perbaikan pendidikan), penambahan modal (melalui tabungan dan
investasi), serta penyempurnaan teknologi. Lebih lanjut dikemukakan bahwa
perekonomian tertutup (closed economy), yakni tidak menjalin hubungan dengan
pihak-pihak luar, yang tingkat tabungannya rendah (dalam kondisi cateris
paribus) dalam jangka pendek pasti akan mengalami laju pertumbuhan yang lebih
lambat jika dibandingkan dengan perekonomian lainnya yang memiliki tingkat
tabungan lebih tinggi.
Pada akhirnya hal ini akan mengakibatkan konvergensi penurunan
pendapatan per kapita (semua perekonomian tertutup akan sama-sama mengalami
penurunan pendapatan per kapita). Di lain pihak, perekonomian terbuka (open
economy), yakni yang mengadakan hubungan perdagangan, investasi, dan
sebagainya dengan negara atau pihak-pihak luar, pasti akan mengalami suatu
konvergensi peningkatan pendapatan per kapita, karena arus permodalan akan
mengalir deras dan negara-negara kaya ke negara-negara miskin di mana rasio
modal-tenaga kerjanya masih rendah sehingga menjanjikan imbalan atau tingkat
keuntungan investasi (returns on investments) yang lebih tinggi.
Model pertumbuhan neoklasik Solow, yang membuat Robert Solow dari
Massachusetts Institute of Technology menerima Hadiah Nobel, mungkin
merupakan model pertumbuhan ekonomi yang paling terkenal, meskipun dalam
hal tertentu model Solow menggambarkan perekonomian negara maju secara
lebih baik daripada kemampuannya dalam menjelaskan perekonomian negara
berkembang, model ini tetap menjadi titik acuan dasar dalam kepustakaan
mengenai pertumbuhan dan pembangunan. Model ini menyatakan bahwa secara
82
kondisional, perekonomian berbagai negara akan bertemu (converge) pada tingkat
pendapatan yang sama, dengan syarat bahwa negara-negara tersebut mempunyai
tingkat tabungan, depresiasi, pertumbuhan angkatan kerja, dan pertumbuhan
produktivitas yang sama. Modifikasi penting dari model pertumbuhan HarrodDomar (atau model pertumbuhan AK), adalah bahwa model Solow membolehkan
substitusi antara modal dan tenaga kerja. Karena adanya skala hasil yang konstan,
jika semua input dinaikkan dengan jumlah yang sama, maka output akan naik
dengan jumlah yang sama. Notasinya adalah:
γY = F ( γK, γL)
............................................................................
(3.9)
Dimana γ > 0. Karena γ dapat berupa angka riil positif berapa pun, secara
matematis agar bermanfaat dalam menganalisis implikasi model tersebut adalah
dengan menetapkan nilai γ = 1/ L, sehingga:
Y/L = F(K/L, 1)
.......................................................................... (3.10)
atau
y = f(k)
...................................................................................... (3.11)
Penyederhanaan ini membuat kita hanya berurusan dengan satu variabel dalam
fungsi produksi. Misalnya, dalam kasus fungsi Cobb-Douglas dapat dituliskan
sebagai berikut:
Y = Akα
......................................................................................... (3.12)
Hal ini mencerminkan sebuah cara alternatif mengenai fungsi produksi, di mana
segala sesuatu dihitung dalam kuantitas per tenaga kerja. Persamaan di atas
menyatakan bahwa output per pekerja adalah fungsi yang tergantung pada jumlah
modal per tenaga kerja. Semakin banyak jumlah modal yang harus ditangani
masing-masing pekerja, maka semakin banyak pula output yang dapat dihasilkan
per pekerja.
83
3.1.3. Model Pertumbuhan Baru
Kinerja teori neoklasik yang tidak memuaskan dalam menjelaskan
sumber-sumber pertumbuhan ekonomi jangka panjang telah menyebabkan
kekecewaan yang meluas terhadap teori pertumbuhan tradisional. Bahkan,
menurut teori tradisional, tidak terdapat karakteristik intrinsik dari perekonomian
yang dapat menyebabkannya tumbuh dalam jangka panjang. Sebaliknya, literatur
tersebut malah membahas proses dinamis yang membuat rasio modal-tenaga kerja
mendekati tingkat keseimbangan jangka panjang.
Jika tidak ada “guncangan” eksternal atau perubahan teknologi, yang tidak
dijelaskan dalam model neoklasik, semua perekonomian akan menuju kepada
pertumbuhan nol. Oleh karena itu, peningkatan GNP per kapita dianggap
merupakan fenomena sementara saja, yang bersumber dari perubahan teknologi
atau proses penyeimbangan jangka pendek selama perekonomian mendekati
keseimbangan jangka panjangnya. Tidak mengherankan, teori ini gagal
memberikan penjelasan yang memuaskan atas terjadinya pertumbuhan ekonomi
yang berlangsung dengan kecepatan yang luar biasa konsisten di seluruh dunia.
Setiap peningkatan GNP yang bukan berasal dari penyesuaian jangka
pendek dalam cadangan tenaga kerja maupun modal, dianggap bersumber dari
kategori ketiga, yaitu yang biasa disebut sebagai residu Solow (Solow residual).
Residu ini, tidak seperti namanya, bertanggung jawab atas sekitar 50 persen
pertumbuhan yang terjadi di banyak negara industri. Dengan kata lain, teori
neoklasik menyebutkan bahwa sebagian besar sumber pertumbuhan ekonomi
merupakan faktor eksogen atau proses yang sama sekali independen dari
kemajuan teknologi (Todaro dan Smith, 2004).
84
Meskipun hal ini mungkin terjadi, pendekatan ini paling tidak mempunyai
dua kelemahan. Pertama, dengan menggunakan kerangka neoklasik, adalah tidak
mungkin untuk menganalisis penentu kemajuan teknologi karena kemajuan
tersebut sama sekali tidak berkaitan dengan keputusan yang dibuat oleh berbagai
lembaga ekonomi. Dan kedua, teori tersebut gagal menjelaskan besarnya
perbedaan residu yang terdapat di antara negara yang mempunyai teknologi yang
serupa. Dengan kata lain, keyakinan yang besar ditempatkan pada proses eksternal
yang kurang dipahami, dan kurang didukung oleh teori maupun bukti empiris.
Menurut teori neoklasik, rasio modal-tenaga kerja yang rendah pada
negara-negara berkembang menjanjikan tingkat pengembalian investasi yang luar
biasa tinggi, bahkan setelah menerapkan liberalisasi dalam perdagangan dan pasar
domestik, banyak negara berkembang yang tidak tumbuh atau hanya tumbuh
sedikit dan gagal menarik investasi asing, atau gagal mencegah larinya modal
domestik ke luar negeri. Perilaku aliran modal negara-negara berkembang yang
aneh (dari negara miskin ke negara kaya) turut memicu munculnya konsep
pertumbuhan endogen (endogenous growth) yang lebih sederhana kita kenal
dengan teori pertumbuhan baru (new growth theory).
Teori pertumbuhan baru tersebut memberikan kerangka teoritis untuk
menganalisis pertumbuhan endogen, yaitu pertumbuhan GNP yang persisten,
yang ditentukan oleh sistem yang mengatur proses produksi dan bukan oleh
kekuatan-kekuatan di luar sistem. Berlawanan dengan teori neoklasik tradisional,
model-model ini menganggap bahwa pertumbuhan GNP merupakan konsekuensi
alamiah dari keseimbangan jangka panjang.
85
Motivasi utama dari teori pertumbuhan baru ini adalah untuk menjelaskan
perbedaan tingkat pertumbuhan antarnegara maupun faktor-faktor yang memberi
proporsi lebih besar dalam pertumbuhan yang diobservasi. Teori pertumbuhan
endogen berusaha untuk menjelaskan faktor-faktor yang menentukan tingkat
pertumbuhan GDP yang tidak dijelaskan dan dianggap sebagai variabel eksogen
dalam perhitungan teori pertumbuhan neoklasik Solow (residual Solow).
Model pertumbuhan endogen mempunyai kemiripan struktural dengan
model neoklasik, namun sangat berbeda dalam hal asumsi yang mendasarinya dan
kesimpulan yang ditarik darinya. Perbedaan teoritis yang paling signifikan berasal
dari dikeluarkannya asumsi neoklasik tentang hasil marjinal yang semakin
menurun atas investasi modal, memberikan peluang terjadinya skala hasil yang
semakin meningkat (increasing returns to scale) dalam produksi agregat, dan
sering kali berfokus pada peran eksternalitas dalam menentukan tingkat
pengembalian investasi modal. Dengan mengasumsikan bahwa investasi sektor
publik dan swasta dalam sumberdaya manusia menghasilkan ekonomi eksternal
dan peningkatan produktivitas yang membalikkan kecenderungan hasil yang
semakin menurun yang alamiah, teori pertumbuhan endogen berupaya
menjelaskan keberadaan skala hasil yang semakin meningkat dan pola
pertumbuhan jangka panjang yang berbeda-beda antarnegara. Dan karena
teknologi masih memainkan peran penting dalam model-model ini, tidak ada
perlunya lagi untuk menjelaskan pertumbuhan jangka panjang.
Dalam membandingkan teori pertumbuhan (endogen) yang baru dengan
teori neoklasik tradisional, sangat bermanfaat jika kita mengetahui bahwa banyak
teori pertumbuhan endogen yang dapat dinyatakan oleh persamaan sederhana,
86
yaitu Y = AK, seperti yang terdapat dalam model Harrod-Domar. Dalam
formulasi ini, A dianggap mewakili semua faktor yang mempengaruhi teknologi,
dan K mencerminkan modal fisik dan sumberdaya manusia.
Namun perhatikan bahwa dalam rumus ini tidak terdapat hasil yang
semakin menurun atas modal; sehingga terdapat kemungkinan bahwa investasi
dalam modal fisik dan sumberdaya manusia dapat menghasilkan ekonomi
eksternal dan peningkatan produktivitas yang melebihi keuntungan pribadi dalam
jumlah yang cukup untuk membalikkan efek hasil yang semakin berkurang. Hasil
akhirnya adalah pertumbuhan jangka panjang yang berkesinambungan, sebuah
hasil yang ditabukan oleh teori pertumbuhan neoklasik tradisional. Sehingga
meskipun teori pertumbuhan baru tersebut menekankan kembali pentingnya
tabungan dan investasi modal manusia untuk mempercepat pertumbuhan, teori ini
juga membawa beberapa implikasi pertumbuhan yang sama sekali berlawanan
dengan teori tradisional. Pertama, tidak terdapat kekuatan yang mengarahkan
terciptanya persamaan tingkat pertumbuhan antarnegara yang perekonomiannya
tertutup; tingkat pertumbuhan nasional tetap konstan dan berbeda antarnegara
tergantung pada tingkat tabungan nasional dan tingkat teknologinya. Selanjutnya,
tidak terdapat kecenderungan bahwa tingkat pendapatan per kapita di negaranegara yang miskin modal akan menyamai tingkat pendapatan per kapita di
negara-negara kaya meskipun tingkat pertumbuhan tabungan dan tingkat
pertumbuhan populasinya serupa.
Konsekuensi serius dari fakta ini adalah bahwa resesi yang berlangsung
sementara atau lama di sebuah negara dapat menyebabkan semakin melebarnya
jurang pendapatan yang permanen di dalam negara tersebut dan dengan negara-
87
negara lain yang lebih kaya. Namun mungkin aspek yang paling menarik dari
model pertumbuhan endogen adalah bahwa model tersebut membantu
menjelaskan keanehan aliran modal internasional yang memperparah ketimpangan
antara negara maju dengan negara berkembang.
Potensi tingkat pengembalian investasi yang tinggi yang ditawarkan oleh
negara berkembang yang mempunyai rasio modal-tenaga kerja yang rendah
berkurang dengan cepat dikarenakan rendahnya tingkat investasi komplementer
(complementary
investments)
dalam
sumberdaya
manusia
(pendidikan),
infrastruktur, atau riset dan pengembangan (R&D). Pada gilirannya, negaranegara miskin kurang mendapat manfaat dari luasnya keuntungan sosial yang
terkait dengan setiap alternatif bentuk pengeluaran modal ini. Karena para
individu tidak menerima keuntungan pribadi dari eksternalitas positif yang
tercipta dari investasi mereka sendiri, pasar bebas menyebabkan akumulasi modal
komplementer menjadi lebih sedikit daripada tingkat optimalnya (Todaro and
Smith, 2004).
Karena investasi komplementer menghasilkan manfaat sosial maupun
pribadi, pemerintah dapat memperbaiki efisiensi alokasi sumberdayanya.
Pemerintah dapat melakukannya dengan menyediakan barang-barang publik atau
mendorong investasi swasta dalam industri-industri yang padat pengetahuan
(knowledge-intensive
industries)
di
mana
sumberdaya
manusia
dapat
diakumulasikan dan akhirnya diperoleh skala hasil yang semakin meningkat.
Tidak seperti model Solow, model teori pertumbuhan baru menganggap
perubahan teknologi sebagai sebuah hasil endogen dari investasi publik dan
swasta dalam sumberdaya manusia dan industri padat pengetahuan. Sehingga,
88
berlawanan dengan contoh teori kontra revolusi neoklasik, model pertumbuhan
endogen
mendorong
peran
aktif
kebijakan
publik
dalam
merangsang
pembangunan ekonomi melalui investasi langsung maupun tidak langsung dalam
pembentukan sumberdaya manusia dan mendorong investasi swasta asing dalam
berbagai industri padat pengetahuan seperti industri perangkat lunak komputer
dan telekomunikasi.
3.1.4. Model Human Capital dan Pertumbuhan
Model ini merupakan pegembangan dari model Solow. Dalam bentuk
fungsi produksi Cobb-Douglas dapat diketahui bahwa output merupakan fungsi
dari kapital (K), stok human capital (H), dan jumlah tenaga kerja (L). Fungsi
produksi tersebut adalah (Romer, 1996):
Y(t) = K(t)α H (t)β [A(t)L(t)]1 - α - β,
............................................... (3.13)
Dimana α > 0, β > 0 dan α + β < 1. H adalah stok human capital, L merupakan
jumlah pekerja, sehingga keahlian tenaga kerja disediakan dari 1 unit L dan
beberapa jumlah H. Persamaan di atas mengimplikasikan bahwa constant return
to scale terhadap K, H dan L secara bersama-sama. Dengan membuat asumsi
tentang dinamika K dan L, maka :
K& (t ) = s K Y (t )
............................................................................. (3.14)
dan
L& (t ) = nL(t )
.................................................................................. (3.15)
Dimana sK adalah fraksi dari output dari physical capital accumulation, untuk
penyederhaan diasumsikan tidak ada depresiasi. Selanjutnya model Solow
diasumsikan constant dan kemajuan teknologi eksogen, maka :
89
A& (t ) = gA(t ) .................................................................................... (3.16)
Dan persamaan yang terakhir untuk penyederhaan, human capital accumulation di
modelkan dengan cara yang sama dengan physical capital accumulation, sebagai
berikut :
H& (t ) = s H Y (t ) ................................................................................. (3.17)
Dimana sH adalah fraksi sumberdaya dari human capital accumulation. Model ini
dapat digeneralisasi dalam beberapa cara tanpa mempengaruhi maknanya. Fungsi
Cobb-Douglas dapat digantikan dengan fungsi produksi umum sebagai berikut :
Y = F (K, H, AL) ............................................................................ (3.18)
Persamaan diatas menyatakan bahwa output suatu perekonomian merupakan
fungsi dari kapital, human capital, produktivitas tenaga kerja.
Menurut Park (1995), human capital dapat diartikan sebagai spesialisasi
keahlian yang disediakan oleh tenaga kerja yang dapat diperoleh dengan
mengalokasikan pendapatan untuk pendidikan dan kesehatan. Alokasi pendapatan
dalam hal ini adalah pengeluaran pemerintah untuk investasi pendidikan dan
kesehatan. Dengan kata lain, pengeluaran pemerintah untuk pendidikan dan
kesehatan dapat digunakan sebagai instrumen dalam meningkatkan human capital.
3.2.
Konsep Keseimbangan Umum
Dalam suatu perekonomian terdapat berbagai macam pasar saling terkait
satu dengan yang lainnya, sehingga perubahan pada satu pasar akan
mempengaruhi pasar lainnya. Keseimbangan umum akan tercapai bila permintaan
dan penawaran masing-masing pasar berada dalam keseimbangan.
90
Pembentukan model ekonomi yang menggambarkan suatu perekonomian
dimana semua pasarnya berada dalam keseimbangan disebut dengan pendekatan
Computable General Equilibrium (CGE). Dalam model CGE terdapat
sekumpulan fungsi permintaan dan penawaran, yang mencakup pasar komoditi
maupun faktor produksi (Horrison, 1997).
Disamping itu model CGE juga
terdapat himpunan persamaan yang menentukan arus pendapatan dari setip pelaku
di dalam perekonomian.
Model keseimbangan umum dipelopori dan dikembangkan oleh sejumlah
tokoh ahli ekonomi antara lain Leontif, Manne, Johansen, Adelman, Shoven dan
Whalley (Dixon, et el., 1992). Mereka menyebutkan bahwa model ekonomi
keseimbangan umum dapat digunakan untuk menganalisis dampak dari suatu
kebijakan secara kuantitatif. Kebijakan yang dianalisis dapat berupa kebijakan
pajak, hambatan perdagangan, perubahan pengeluaran pemerintah, harga
komoditi, teknologi dan kebijakan di bidang lingkungan. Efek dari kebijakan
tersebut dapat dianalisis pada tingkat industri, jenis pekerjaan, rumah tangga,
pemerintah dan wilayah dan berbagai variabel makroekonomi lainnya seperti
tingkat pertumbuhan tingkat inflasi, neraca perdagangan, investasi dan
sebagainya.
Dixon, et al (1992) menyatakan bahwa model keseimbangan ekonomi
umum memandang perekonomian sebagai suatu sistem yang lengkap. Model ini
tidak hanya dapat dibangun pada tingkat agregat, tetapi dapat pula dibangun
dengan mempertimbangkan level mikro secara lebih detail, dimana terdapat
ketergantungan yang eksplisit diantara komponen-komponen ekonomi: antar
industri, rumah tangga, investor, pemerintah, importir, dan eksportir dan antara
91
pasar yang berbeda. Keseimbangan umum akan tercapai apabila perekonomian
diasumsikan berada pada kondisi pasar persaingan sempurna (PPS), dimana tidak
ada skala pengembalian yang meningkat (increasing return to scale).
Lebih lanjut Gilig dan Carl (2002) menyatakan bahwa disamping asumsi
tersebut, terdapat beberapa asumsi lain dari suatu model CGE, yaitu: (1) pada
pasar komoditi dan pasar input, total permintaan sama dengan total penawaran, (2)
pada tingkat harga keseimbangan keuntungan perusahaan sama dengan nol, (3)
pendapatan rumah tangga sama dengan pengeluaran rumah tangga, dan (4)
penerimaan pemerintah sama dengan pengeluaran pemerintah.
Pada model keseimbangan umum berlaku hukum Walras (Henderson dan
Quant, 1980). Walras menyatakan bahwa semua harga dan kuantitas barang di
semua pasar ditentukan secara simultan melalui proses interaksi satu dengan yang
lainnya. Keseimbangan umum tercapai bila nilai dari excess demand selalu sama
dengan nol pada semua vektor harga. Keseimbangan umum dalam struktur pasar
persaingan sempurna menjamin tercapainya kondisi efisiensi pareto.
Kondisi
efisiensi pareto yang tercapai dalam pasar persaingan sempurna juga diperkuat
oleh hasil penelitian Ono dan Maeda (2002), menyatakan bahwa kondisi pereto
optimal hanya akan tercapai jika pasar berada dalam kondisi persaingan
sempurna.
Efisiensi Pareto adalah kondisi dimana satu pihak tidak dapat
meningkatkan kepuasannya tanpa mengurangi kepuasan pihak-pihak lainnya.
Dengan kata lain pareto optimum dapat didefinsiskan sebagai suatu kondisi
dimana tidak mungkin membuat salah seorang menjadi lebih baik (better-off)
tanpa membuat orang lain menjadi lebih buruk (wose-off) (Just, et al, 1982).
92
Terdapat tiga syarat yang harus dipenuhi untuk mencapai kondisi optimal pareto
dalam keseimbagan umum, yaitu:
1.
Keseimbangan dalam konsumsi (pertukaran), tercapai jika tingkat substitusi
marginal (MRS) untuk kedua barang adalah sama untuk dua individu yang
mengkonsumsi barang tersebut. Contoh kasus, dua barang (q1 dan q2) dua
individu A dan B, dapat dituliskan sebagai berikut:
MRS qA1q 2 = MRS qB1q 2
artinya bahwa tingkat subsitusi marginal individu A dalam mengkonsumsi
barang q1 dan q2 harus dengan tingkat substitusi individu B dalam
mengkonsumsi barang q1 dan q2.
2.
Keseimbangan produksi, tercapai jika tingkat subsitusi teknik marginal
(MRTS) untuk pasangan input adalah sama bagi produksi dua barang yang
menggunakan kedua input tersebut. Contoh kasus, dua input (L dan K) dan
dua individu A dan dua barang Q1 dan Q2, dapat dituliskan sebagai berikut:
q1
q2
MRTS LK
= MRTS LK
artinya bahwa tingkat subsitusi teknis marginal input L dan K dalam
memproduksi barang Q1 harus sama dengan tingkat substitusi teknis
marginal input L dan K dalam memproduksi barang Q2.
3.
Kesimbangan secara serentak atau keseimbangan secara simultan di sektor
konsumsi dan produksi, terjadi apabila:
MRPTq1q 2 = MRS qA1q 2 = MRS qB1q 2
dimana, MRPT adalah marginal rate of product transformation (tingkat
transformasi marginal) antara komodit Q1 dan Q2.
93
Berikut ini akan dijelaskan masing-masing efisiensi khusus untuk contoh kasus
dimana dua konsumen, dua faktor dan dua komoditi dengan menggunakan
diagram kotak Edgeworth Bowley Box.
3.2.1. Keseimbangan Konsumsi
Keseimbangan pasar di sektor konsumsi adalah kondisi di mana konsumen
mencapai kepuasan maksimum dengan kendala pendapatan. Secara grafis
keseimbangan sektor konsumsi dapat dilihat pada Gambar 1.
q2
OB
b
U 2A
a
A
U 2B
U1
U 1B
OA
q1
Gambar 1. Edgeworth Bowley Box pada Kasus Keseimbangan Konsumsi
UA menggambarkan kurva indeferen individu A dan UB menggambarkan
kurva indeferen individu B. Secara grafis terlihat bahwa semakin jauh dari titik
origin individu maka tingkat kepuasan yang diperoleh semakin tinggi.
Disepanjang garis OA sampai dengan OB yang dihubungkan oleh titik a dan b
disebut contract curve yang dibangun dengan menghubungkan seluruh titik
94
tangen antara kurva indifferent individu A dan B. Semua titik pada garis ini,
kedua konsumen memiliki kurva indiferen dengan slope yang sama atau dengan
kata lain kedua konsumen memiliki marginal rate of substitutional (MRS) untuk
barang q1 dan q2 adalah sama.
Dalam kasus pertukaran murni (pure exchange) titik pada contract curve
disebut pareto optimum. Pareto optimal mengimplikasikan bahwa marginal rate of
substitusional (MRS) antar dua barang adalah sama untuk seluruh konsumen.
Secara matematis dapat dituliskan sebagai berikut :
MRS qA1q 2 = MRS qB1q 2
Secara teoritis kepuasan maksimum konsumen A atau B tercapai pada saat
MRS antar dua komoditi sama dengan harga relatifnya. Asumsikan bahwa p1
adalah harga komoditi q1 dan p2 adalah harga q2, secara matematis kepuasan
konsumen dapat dibuktikan sebagai berikut :
Fungsi kepuasan U = f (q1, q2,) dan
I
Maksimumkan
= Pendapatan
U = f (q1, q2) dengan kendala I = p1q1 + p2q2
γ = f (q1, q2) + λ ( I – p1q1 – p2q2)
MU 1
∂γ
= MU 1 − λ p1 = 0 atau λ =
∂q1
p1
…………………………. (3.19)
MU 2
∂γ
= MU 2 − λ p 2 = 0 atau λ =
∂q 2
p2
………………………… (3.20)
∂γ
= I − p1 q1 − p 2 q 2 = 0
∂λ
………………………………………… (3.21)
Dari persamaan (3.19) dan (3.20) kita akan menghasilkan:
MU 1
p
= 1
MU 2 p 2
……………………………………………………… (3.22)
95
Dengan melakukan diferensiasi total disepanjang kurva indiferen, dimana kita
ketahui bahwa konsumen memaksimum U=f (q1, q2) maka kita akan memperoleh
persamaan (3.23) berikut:
dU =
∂U
∂U
dq1 +
dq 2 = 0
∂q1
∂q 2
MU 1 dq1 + MU 2 dq 2 = 0
MU 1
dq
= − 2 = MRS q1q 2
MU 2
dq1
…………………………………………. (3.23)
Dari persamaan (3.22) dan (3.23) terbukti bahwa MRS q1q 2 =
p1
p2
3.2.2. Keseimbangan Produksi
Secara teoritis dalam teori produksi dinyatakan bahwa produsen berada
dalam keseimbangan jika MRTS LK =
w1
, dimana w1 adalah harga faktor L dan w2
w2
adalah harga faktor K. Asumsi pada kasus dua perusahaan yang menghasilkan
produk yang berbeda yaitu q1 dan q2, untuk melihat keseimbangan yang terjadi
dapat dijelaskan melalui Edgeworth Bowley Box seperti yang terlihat pada
Gambar 2.
Pada Gambar 2 keseimbangan simultan antara dua produk q1 dan q2
tercapai pada suatu isoquant q1 bersinggungan dengan isoquant q2 pada berbagai
tingkat output. Titik-titik singgung tersebut membentuk kurva yang disebut
contract curve (CC). Tingkat output yang diproduksi ditentukan oleh rasio harga
faktor. Secara matematis dapat diformulasikan sebagai berikut:
q1
q2
MRTS LK
= MRTS LK
=
w1
w2
……………………………………………… (3.24)
96
Formula di atas merupakan keseimbangan umum sektor produksi, yang dicapai
pada saat marginal rate of technical substitution (MRTS) untuk semua jenis
output adalah sama. Jika harga faktor diketahui maka jumlah output q1 dan q2
yang harus diproduksi agar keuntungan maksimum dapat ditentukan.
Oq2
K
q12
q 12
q11
q 22
Oq1
L
Gambar 2. Edgeworth Bowley Box pada Kasus Keseimbangan Produksi
Pada Gambar 2, tingkat output q1 dan q2 yang diproduksi perusahaan harus
sama sesuai dengan permintaan konsumen terhadap barang q1 dan q2. Permintaan
konsumen ditentukan oleh harga relatif p1 dan p2. Untuk menyesuaikan penawaran
dan permintaan diperlukan konsep kurva kemungkinan produksi (Production
Possibility Curve, PPC). PPC diderivasi dari contract curve yang terbentuk di
dalam kotak Edgewotrh.
PPC adalah kumpulan titik-titik yang menggambarkan transformasi dari
suatu produk menjadi produk lain melalui alokasi faktor produksi. Slope kurva
PPC disebut sebagai Maginal Rate of Product Transformation, MRPT. Daerah
97
batas PPC memperlihatkan berbagai kombinasi penggunaan K dan L yang efisien
untuk menghasilkan output q1 dan q2. Slope PPC memperlihatkan bagaimana
output q1 dapat tukarkan terhadap output q2 dengan tetap menggunakan sejumlah
sumberdaya (input) yang sama.
3.2.3. Keseimbangan Konsumsi dan Produksi
Pareto optimal pada produksi dan sektor konsumsi (mix product)
mengimplikasikan bahwa marginal rate of transformation product harus sama
dengan marginal rate of substitution untuk semua konsumen, secara matematis
dapat dituliskan sebagai berikut:
MRPTq1q 2 = MRS qA1q 2 = MRS qB1q 2
……………………………….. (3.25)
MRPT menunjukkan bagaimana suatu produk ditransformasikan menjadi produk
lain, dan MRS menunjukkan sejauhmana konsumen bersedia mempertukarkan
suatu komoditi dengan komoditi lainnya.
Keseimbangan terjadi jika rencana
produksi sesuai dengan rencana konsumsi. Keseimbangan ditunjukkan pada
Gambar 3.
Pengertian ekonomi dari keseimbangan total ini adalah bahwa kombinasi
output q1 dan q2 harus optimal baik dari sudut produsen maupun dari sudut
konsumen. Sedemikian rupa sehingga keseimbangan secara keseluruhan harus
terpenuhi dengan adanya keseimbangan alokasi pada sektor produksi dan
konsumsi, yang dilakukan melalui mekanisme harga pasar persaingan sempurna,
sehingga akan tercapai efisiensi dalam perekonomian. Keseimbangan ini akan
tercapai jika tiga kondisi ini terpenuhi, yaitu: (1) MRS qA1q 2 = MRS qB1q 2 , (2)
q1
q2
MRTS LK
= MRTS LK
dan (3) MRTq1q 2 = MRS qA1q 2 = MRS qB1q 2 .
98
0Q2
∆q *2
slope
P
∆q1*
E1
q 12
q 2*
E*
C
P
q11
q1*
p
p
q1*
q *2
E2
q 22
0
=−
C*
q12
U
U*
0Q1
Gambar 3. Keseimbangan Sektor Produksi dan Konsumsi
Pada Gambar 3 dapat diketahui bahwa rasio harga awal perusahaan akan
memproduksi q11 dan q 12 . Kendala anggaran masyarakat ditunjukkan oleh garis C.
Dengan kendala anggara tersebut, maka individu meminta q1 sebesar q12 dan q2
sebesar q 22 . Pada titik E2 rasio harga Pq1/Pq2 sama besarnya dengan rasio
MUq1/MUq2 sehingga konsumen mencapai utilitas maksimum. Pada titik E2 belum
tercapai keseimbangan umum karena terdapat kelebihan permintaan barang q1
sebesar q12 − q11 dan kelebihan penawaran barang q2 sebesar q 12 − q 22 . Kelebihan
permintaan pada q1 mengakibatkan harga naik, P1 naik, sedangkan kelebihan
penawaran q2 menyebabkan harganya turun, P2 turun. Bekerjanya mekanisme
pasar tersebut akan menggerakkan rasio harga Pq1/Pq2 naik sehingga kurva C
bergeser ke C*. Pada tingkat harga ini, kendala anggaran masyarakat menjadi C*.
Dengan kendala anggara seperti tersebut, maka jumlah barang q1 yang diminta
adalah q1* dan jumlah barang q2 adalah q 2* . Dalam kondisi tersebut, tidak terjadi
kelebihan permintaan maupun kelebihan penawaran, sehingga titik keseimbangan
berada titik E*.
99
3.3.
Kerangka Pemikiran
Dalam model Solow (1956) dinyatakan bahwa setiap peningkatan GNP
yang bukan berasal dari penyesuaian jangka pendek dalam tenaga kerja maupun
modal, dianggap bersumber dari kategori ketiga, yaitu yang disebut Solow
residual. Teknologi dianggap sebagai sesuatu yang eksogen, sedangkan dalam
model pertumbuhan baru, faktor teknologi bersifat endogen.
Model pertumbuhan baru yang dipelopori oleh Romer (1986) dan Lucas
(1988) pada dasarnya merupakan pengembangan dari model Solow (1956), yang
mengungkapkan bahwa peranan kapital, termasuk modal manusia (human capital)
lebih besar daripada apa yang diukur oleh pertumbuhan Solow. Ide dasar dari
model pertumbuhan baru tersebut adalah bahwa investasi kapital, baik itu dalam
mesin maupun dalam manusia, akan menciptakan eksternalitas positif (positive
externalities) yang membantu perekonomian menghindar dari diminishing return
to capital. Singkatnya, dalam model pertumbuhan baru, inovasi teknologi dan
pembentukan modal manusia dilihat sebagai sumber utama dari pertumbuhan
produktivitas, dan pertumbuhan produktivitas itu sendiri pada gilirannya
merupakan motor penggerak dari pertumbuhan ekonomi (engine of growth).
Salah satu hal yang ditekankan dalam model pertumbuhan baru adalah
pentingnya peranan pemerintah, hal mana tidak ditekankan dalam model Solow.
Menurut model pertumbuhan baru, kebijakan pemerintah terutama dalam
meningkatkan infrastruktur, membangun modal manusia (human capital) dan
mendorong penelitian dan pengembangan. Barro (1997) konsep modal di dalam
model yang baku dapat diperluas meliputi human capital dalam wujud
pendidikan, pengalaman, dan kesehatan.
100
Persoalannya adalah bagaimana masyarakat miskin akan memperoleh
pendidikan dan kesehatan yang baik, tentu saja hal ini diperlukan kebijakan
pemerintah seperti yang ditekankan dalam model pertumbuhan baru. Pada
dasarnya pemerintah dapat mempengaruhi distribusi pendapatan dan kemiskinan
melalui instrumen kebijakan fiskal. Berikut akan diuraikan bagaimana kebijakan
fiskal mempengaruhi distribusi pendapatan dan kemiskinan di Indonesia.
3.3.1. Peranan Pemerintah dalam Menurunkan Ketimpangan Distribusi
Pendapatan dan Kemiskinan
Ketimpangan dalam distribusi pendapatan dan kemiskinan merupakan
persoalan yang krusial bagi setiap negara, sehingga pemerintah di masing-masing
negara berusaha untuk mengurangi persoalan tersebut melalui intrumen fiskal
pemerintah. Skema instrumen fiskal yang terkait dengan penerimaan dan
pengeluaran pemerintah Indonesia ditampilkan pada Gambar 4.
Dari sisi penerimaan, anggaran pemerintah untuk pembiayaan publik dapat
dihasilkan dari dua sumber, yaitu domestik dan pinjaman luar negeri. Penerimaan
dari dalam negeri, dapat diperoleh dari pajak pendapatan, pajak penjualan dan
pajak produksi, sedangkan dari luar negeri, pinjaman dapat dari berbagai bentuk,
tetapi dalam hal ini hanya dibatasi pada pinjaman luar negeri untuk publik.
Sedangkan dari sisi pengeluaran, penurunan kemiskinan dan redistribusi
pendapatan diimplementasikan melalui tiga instrumen alokasi anggaran
pemerintah, yaitu (1) subsidi langsung atau subsidi individu yang ditargetkan pada
rumahtangga berpendapatan rendah, (2) subsidi harga, subsidi yang dialokasikan
untuk komoditi yang digunakan oleh rumahtangga menjadi lebih murah terutama
untuk kebutuhan pokok, dan (3) pengeluaran langsung pemerintah terhadap
101
pelayanan publik dan infrastruktur, terutama dalam meningkatkan kesejahteraan,
kesehatan dan pendidikan, yang diutamakan bagi kelompok rumahtangga yang
berpendapatan rendah.
Growth lambat:
penyesuaian
Pajak
Produksi
Pajak
Pendapatan
Work-leisure
Preferences
switch
Pajak
Penjualan
Pinjaman
Luar
Anggaran Pemerintah
Transfer
Penyesuaian
Pendapatan
Susbsidi
Tekanan pada
Inflasi
Penyesuaian
Harga
Penyesuaian di dalam Pendapatan dan
Pengeluaran Rumahtangga
Pengeluaran Pembangunan
Terutama untuk
Kesehatan dan pendidikan
Gambar 4.
Æ Distribusi Pendapatan
Æ Kemiskinan
Mekanisme Transmisi Kebijakan Fiskal dalam Mempengaruhi
Distribusi Pendapatan dan Kemiskinan
Dengan mengacu pada konsep yang diajukan oleh Romer dan Lucas, maka
fokus kajian ini lebih ditekankan pada pengeluaran pemerintah untuk pendidikan
dan kesehatan. Dalam penelitian ini, instrumen pengeluaran pemerintah untuk
investasi pendidikan dan kesehatan yang akan mewakili investasi di dalam modal
manusia. Untuk mengetahui apakah investasi sumberdaya manusia efektif dalam
mengurangi ketimpangan distribusi pendapatan dan kemiskinan, instrumen
transfer pendapatan ke rumahtangga oleh pemerintah juga akan dianalisis sebagai
pembanding.
102
3.3.2. Kerangka Operasional
Untuk menjawab tujuan penelitian ini, digunakan sebuah model CGE yang
diadopsi dari model INDOF (Oktaviani, (2000), selanjutnya model INDOF
dimodifikasi dengan menambah persamaan fiskal yang diadopsi dari model CGE
WAYANG (Wittwer, 1999). Model CGE dikombinasikan dengan metode
pengukuran Beta Distribution Function (Decaluwe, 1999); Agenor, et.al (2003)
dan metode Foster-Greer-Thorbecke seperti yang dilakukan Cockburn (2001).
Karena di dalam model INDOF dan WAYANG, investasi sumberdaya
manusia tidak dinyatakan secara eksplisit dan pengeluaran pemerintah tidak
didisagregasi berdasarkan sektor,
maka digunakan pendekatan ekonometrik
dengan tujuan untuk menduga pengaruh investasi sumberdaya manusia terhadap
peningkatan produktivitas tenaga kerja. Produktivitas tenaga kerja diproxy oleh
output per effective labor. Secara ringkas, kerangka operasional penelitian
disajikan pada pada Gambar 5.
Perubahan produktivitas
Tenaga kerja sektoral
Model Ekonometrika
Investasi Sumberdaya Manusia
Perubahan
Pendapatan RT
Model INDOF dan
WAYANG
Foster-GreerThorbecke (FGT)
Beta Distributin
Function
Tingkat Kemiskinan
Rumahtangga
Distribusi Pendapatan
Rumahtangga
Gambar 5. Kerangkan Operasional Penelitian
103
Hasil simulasi perubahan produktivitas tenaga kerja yang dihasilkan dari
model ekonometrik, selanjutnya akan dimasukkan ke dalam model CGE. Salah
satu yang dihasilkan dari model CGE adalah perubahan tingkat pendapatan
rumahtangga. Perubahan tingkat pendapatan rumahtangga tersebut selanjutnya
dijadikan sebagai input untuk mengevaluasi ketimpangan distribusi pendapatan
dan kemiskinan dengan menggunakan metode Beta Distribution Function Foster-
Greer-Thorbecke.
Acuan dasar dalam memilih metode dan ukuran dari penelitian tersebut
lebih
berdasarkan pada kebutuhan dan tujuan penelitian ini. Contoh seperti
Decaluwe (1999) dan Agenor, (2003) telah memasukkan unsur beta distribution
atau beta density distribution function sebagai suatu proxy ketimpangan
pendapatan, Cockburn, (2001) memasukkan metode pengukuran FGT sebagai
ukuran kemiskinan, model WAYANG telah memasukkan unsur persamaan fiskal,
sedangkan model INDOF telah mengembangkan model CGE menjadi yang
bersifat semi dinamis.
Download