Mei 2015 Tes Keperawanan dan Selaput Dara: Tidak Ada Basis

advertisement
Physicians for
Human Rights
256 West 38th Street
9th Floor
New York, NY
10018
646.564.3720
phr.org
Mei 2015
Tes Keperawanan dan Selaput Dara:
Tidak Ada Basis Fakta, Ilmiah, atau Medis
Menggunakan Ilmu Pengetahuan dan
Ilmu Kedokteran untuk Menghentikan
Pelanggaran Hak Asasi Manusia
Risalah forensik ini mengkaji keabsahan pemeriksaan selaput dara untuk menentukan
“keperawanan” perempuan. Risalah ini tidak membahas tentang perlunya pemeriksaan ginekologi
yang komprehensif dalam konteks pemeriksaan kedokteran forensik untuk kasus penyerangan
seksual, karena keharusan untuk melakukan pemeriksaan seperti itu serta ketentuan pelaksanaannya
sudah diketahui dan diatur dengan baik dalam pedoman-pedoman yang diakui secara internasional.1
Banyak studi medis yang dilakukan dalam beberapa dekade baru-baru ini di berbagai negara
menyatakan tidak ada basis fakta, ilmiah, atau medis untuk menggunakan ukuran, bentuk
(morfologi), atau pun keutuhan selaput dara dalam menentukan apakah seorang perempuan telah
mengalami penetrasi vagina, dan dengan demikian menentukan status “keperawanannya.” Lagi pula,
evaluasi untuk memeriksa selaput dara sering dilakukan tanpa izin dari perempuan yang
bersangkutan atau dalam situasi paksaan atau ancaman kekerasan. Pemeriksaan semacam ini dapat
membahayakan perempuan dewasa maupun anak-anak secara psikologi dan – dalam beberapa kasus
– secara fisik. Karena pemeriksaan ini secara medis tidak perlu dilakukan, maka tidak etis bagi dokter
atau ahli kesehatan untuk melakukannya.2
Selaput Dara – Asumsi Indikator Keperawanan
Dalam budaya yang menghargai keperawanan sebelum menikah, indikator yang diasumsikan
umumnya adalah selaput dara yang masih “utuh” dan darah di ranjang pengantin pada malam
pertama akibat selaput dara yang “robek.” Berbagai studi medis dan ilmiah telah menyanggah
asumsi tersebut dan menunjukkan tidak ada bukti yang dapat mendukungnya.
Anatomi Selaput Dara
Selaput dara adalah selaput vestigial yang secara embriologi memisahkan 2/3 bagian atas vagina
dengan 1/3 bagian bawahnya selama pertumbuhan janin perempuan. Pada saat kelahiran, selaput
dara membuka dan bergeser ke bagian luar alat kelamin pada kebanyakan bayi perempuan.
Jaringan selaput dara biasanya mengecil pada saat kelahiran sampai tersisa beberapa milimeter saja,
dan konfigurasinya bervariasi secara bentuk, ukuran dan kelenturan pada masa kanak-kanak, dan
berubah sepanjang kehidupan dewasa.3 Biasanya, selaput dara anak perempuan memiliki bukaan
yang sangat bervariasi ukurannya, untuk menstruasi. Selaput dara berbeda ukuran dan bentuknya
dari beberapa milimeter sampai beberapa sentimeter tergantung usia, tahapan perkembangan
seksual Tanner,4 dan status hormon. Pada tahap dewasa, selaput dara memiliki bentuk dan ukuran
yang sangat beragam.5
Selain ukuran dan bentuk, selaput dara dapat memiliki berbagai ciri khusus, seperti polip, rabung,
garis, dan torehan. Karena banyaknya variasi morfologi selaput dara, maka pihak yang melakukan
pemeriksaan ginekologi forensik harus memahami baik keragaman ciri-ciri fisik maupun terbatasnya
apa yang dapat ditemukan dari pemeriksaan fisik.
New York, NY
Kantor Pusat
Boston, MA
Washington, DC
Pendarahan
Selaput dara adalah selaput yang relatif kurang pembuluh darah sehingga – meskipun robek – tidak
akan berdarah terlalu banyak.6 Penetrasi yang dipaksakan dan kurangnya lubrikasi dapat
menyebabkan luka goresan pada dinding vagina. Keduanya dapat menyebabkan “noda darah pada
sprei”, bukan karena trauma pada selaput dara.7
Pendarahan tidak selalu terjadi pada perempuan setelah hubungan seksual yang pertama.8 Dari studi
awal pada tahun 1978 tentang pengalaman hubungan seksual pertama, 44 persen dari 100 perempuan
yang disurvei melaporkan tidak mengalami pendarahan pada hubungan seksual pertama, sedangkan
35 persen melaporkan hanya sedikit pendarahan.9 Sebuah penelitian di Belanda – diterbitkan pada
tahun 2008 – terhadap 487 perempuan dari berbagai latar belakang budaya menemukan 40 persen
perempuan tidak mengalami pendarahan saat pertama kali hubungan seksual.10 Pada sebuah studi
survei tahun 1998, seorang dokter dari Inggris menemukan 63 persen dari 41 rekan dokter perempuan
tidak mengalami pendarahan saat hubungan seksual pertama.11 Literatur medis mengaitkan
pendarahan vagina setelah persetubuhan di malam pertama dengan berbagai faktor kemungkinan
lain, termasuk penetrasi yang dipaksakan, kurangnya lubrikasi, dan infeksi.12
“Merobek” Selaput Dara
Pada masa pra-pubertas perempuan, selaput dara dan vagina berukuran lebih kecil dan tidak elastis
seperti di masa remaja dan dewasa, dengan demikian trauma akibat penetrasi dapat lebih terlihat dan
lebih menampakkan ciri-ciri tertentu.13 Pada masa pasca pubertas, selaput dara dapat meregang,
sehingga memungkinkan penetrasi vagina dengan cedera yang minim. Hanya sedikit perempuan yang
menunjukkan perubahan pada diagnosa selaput dara akibat trauma penetrasi. Dalam sebuah studi
tahun 2004 terhadap 36 perempuan remaja hamil, petugas kesehatan hanya menemukan dua kasus
penetrasi selaput dara yang pasti.14 Satu studi membandingkan morfologi selaput dara pada remaja
perempuan yang pernah dan belum pernah melakukan hubungan seksual konsensual menemukan
bahwa mereka yang mengaku pernah melakukannya ternyata memiliki selaput dara yang utuh dan
tidak robek pada 52 persen kasus.15
Studi tentang korban dari serangan seksual juga memberikan bukti bahwa selaput dara tidak selalu
robek atau mengalami kerusakan yang nyata akibat penetrasi yang dipaksakan. Sebuah studi yang
terbit pada tahun 2001 menemukan hanya 19 persen korban serangan seksual berusia antara 14 dan 19
tahun – yang mengaku tidak pernah melakukan hubungan seksual sebelumnya – memiliki luka parah
pada selaput dara.16 Studi lain di tahun 1998 yang melibatkan perempuan dalam rentang usia lebih
besar yang mengaku menderita serangan seksual menemukan hanya 9.1 persen mengalami perforasi
selaput dara setelah serangan.17 Para penyusun studi ini menyimpulkan sejumlah besar perempuan,
terlepas dari pengalaman seksual sebelumnya, tidak akan menampakkan cedera kelamin akibat
penetrasi vaginal yang dipaksakan. Perlu dicatat bahwa penelitian forensik ini mengenai bergunanya
pemeriksaan selaput dara untuk menentukan apakah seorang perempuan pernah melakukan
hubungan seksual. Bila diduga terjadi serangan atau pelecehan seksual, pemeriksaan forensik secara
tuntas harus dilakukan.18
Selaput dara dapat sembuh secara alami tanpa menunjukkan tanda cedera dalam waktu beberapa
hari.19 Bahkan dokter yang berpengalaman pun mungkin sangat kesulitan untuk membedakan
torehan sebagian selaput dara yang sudah sembuh dengan torehan yang terjadi secara alami.20 Dalam
kebanyakan kasus, tidak ada korelasi antara wujud selaput dara dengan riwayat hubungan seksual
seseorang.21
Demikian pula, keutuhan selaput dara bisa dirusak oleh berbagai penyebab lain di luar hubungan
seksual, termasuk memasukkan benda-benda, penetrasi trauma yang tidak disengaja, dan prosedur
operasi bedah.22
Tes Keperawanan dan Selaput Dara: Tidak Ada Basis Fakta, Ilmiah, atau Medis
2
Anggapan bahwa bentuk selaput dara yang tidak lazim merupakan indikasi penetrasi vagina adalah
tidak benar. Juga menyesatkan adalah anggapan bahwa selaput dara yang utuh menunjukkan tidak
terjadinya hubungan seksual. Terakhir, karena pemeriksaan selaput dara tidak dapat menentukan
apakah selaput dara atau vagina mengalami penetrasi oleh penis atau benda lain, maka pemeriksaan
semacam ini tidak memiliki nilai diagnosis maupun forensik.23
Pertimbangan Etika
Sebagaimana ditunjukkan dan diterima secara luas oleh komunitas perawatan kesehatan, tidak ada
bukti medis atau ilmiah yang dapat mendukung pemeriksaan selaput dara untuk menentukan
terjadinya penetrasi vagina. Pemeriksaan tersebut menjadi masalah medis dan hak asasi manusia
yang serius jika dilakukan di luar keinginan perempuan yang bersangkutan, seperti yang sering
terjadi.
Pemeriksaan selaput dara yang dipaksakan merupakan perlakuan yang tidak manusiawi, kejam, atau
merendahkan martabat yang dilarang oleh Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (UDHR),
Kovenan Internasional Hak Sipil dan Politik (ICCPR), dan Konvensi Menentang Penyiksaan dan
Perlakuan atau Penghukuman Lain yang Kejam, Tidak Manusiawi atau Merendahkan Martabat
(CAT).24 Tergantung kondisi dalam pelaksanaannya, pemeriksaan selaput dara yang dipaksakan
untuk tujuan menentukan “keperawanan” dapat juga menjadi bentuk penyiksaan.25 Pelapor Khusus
PBB telah menyatakan tes keperawanan sebagai bentuk penyiksaan spesifik gender.26 Dalam kasus
Salmanoğlu and Polattaş v. Turkey,27 Pengadilan Hak Asasi Manusia Eropa menetapkan bahwa
pelaksanaan tes keperawanan terhadap dua orang perempuan dalam tahanan merupakan
perlakuan sangat buruk yang melanggar larangan penyiksaan dan perlakuan atau
penghukuman tidak manusiawi atau merendahkan martabat yang terkandung di dalam
Konvensi HAM Eropa.
Selanjutnya, pemeriksaan yang dipaksakan tersebut – dalam beberapa kondisi – ditemukan tidak
hanya merupakan penyiksaan, tapi juga pemerkosaan. Dalam kasus Miguel Castro-Castro Prison v.
Peru,28 Pengadilan Hak Asasi Manusia Inter-Amerika menyatakan tindakan menyerahkan tahanan
perempuan untuk “inspeksi” vagina menggunakan jari, yang dilakukan oleh beberapa orang di
rumah sakit kepolisian, “merupakan pemerkosaan seksual dan dari dampaknya merupakan
penyiksaan” yang melanggar hak atas perlakuan manusiawi yang tercantum dalam Konvensi
Amerika tentang Hak Asasi Manusia, dan melanggar Konvensi Inter-Amerika untuk Mencegah dan
Menghukum Penyiksaan.29
Mengharuskan perempuan untuk menjalani pemeriksaan keperawanan yang dipaksakan
melanggar ketentuan non-diskriminasi dalam ICCPR,30 Kovenan Internasional tentang Hak
Ekonomi, Sosial dan Budaya,31 Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan,32 dan
UDHR.33 Pelapor Khusus PBB tentang kekerasan terhadap perempuan, penyebab dan
konsekuensinya baru-baru ini mengakui tes keperawanan sebagai “pelanggaran berat” atas hak
privasi yang tercantum dalam ICCPR34 dan UDHR,35 dan menyatakan tes tersebut “mengurangi
kapasitas perempuan untuk diakui sebagai warga negara yang utuh dan setara masyarakat
mereka.”36
Kesimpulan
Pemeriksaan selaput dara untuk menentukan “keperawanan” perempuan tidak memiliki nilai klinik
maupun ilmiah. Penggunaan pemeriksaan semacam itu dalam konteks untuk menentukan status
seksual perempuan melanggar standar dasar medis dan hukum sebagaimana diuraikan dalam risalah
ini. Oleh sebab itu, para ahli kesehatan yang diminta untuk melakukan pemeriksaan selaput dara
untuk tujuan menentukan “keperawanan” perempuan harus menolak untuk melakukannya.
Tes Keperawanan dan Selaput Dara: Tidak Ada Basis Fakta, Ilmiah, atau Medis
3
1 Organisasi
Kesehatan Dunia, Health Care for Women Subjected to Intimate Partner Violence or Sexual Violence:
Clinical Handbook, WHO/RHR/14.26, Field Testing Version, Nov. 2014,
http://apps.who.int/iris/bitstream/10665/136101/1/WHO_RHR_14.26_eng.pdf?ua=1; Organisasi Kesehatan
Dunia, Guidelines for Medico-Legal Care for Victims of Sexual Violence, 2003,
http://whqlibdoc.who.int/publications/2004/924154628X.pdf?ua=1http://whqlibdoc.who.int/publications/2004/
924154628X.pdf?ua=1http://whqlibdoc.who.int/publications/2004/924154628X.pdf?ua=1.
V. Iacopino, O. Ozkalipci, C. Schlar, K. Allden, T. Baykal, R. Kirschner, et al. Manual on the Effective
Investigation and Documentation of Torture and Other Cruel, Inhuman or Degrading Treatment or
Punishment (The Istanbul Protocol). Kantor Komisioner Tinggi untuk Hak Asasi Manusia, 2004,
HR/P/PT/8/Rev.1, http://www.ohchr.org/Documents/Publications/training8Rev1en.pdf.
2 Dewan Rehabilitasi Korban Penyiksaan Internasional, “IFEG: Forcibly Conducting Virginity Testing is a
Human Rights Violation and May Constitute Torture,” Dec. 16, 2014, http://www.irct.org/media-andresources/irct-news/show-news.aspx?PID=13767&Action=1&NewsId=3943.
3 Abbey B. Berenson, Astrid Heger, and Sally Andrews, “Appearance of the Hymen in Newborns,” Pediatrics,
vol. 87, no. 4, (Apr. 1991): 458, http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/2011421; Abbey B. Berenson,
“Appearance of the Hymen at Birth and One Year of Age: A Longitudinal Study,” Pediatrics, vol. 91, no. 4,
(Apr. 1993): 820, http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/8464674; Abbey B. Berenson et al, “Appearance of the
Hymen in Prepubertal Girls,” Pediatrics, vol. 89, no. 3, (Mar. 1992): 387,
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/1741209; Abbey B. Berenson, “A Longitudinal Study of Hymenal
Morphology in the First 3 Years of Life,” Pediatrics, vol. 95, no. 4, (Apr. 1995): 490,
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/7700746; Astrid H. Heger et al, “Appearance of Genitalia in Girls
Selected for Nonabuse: Review of Hymenal Morphology and Nonspecific Findings,” Journal of Pediatric and
Adolescent Gynecology, vol. 15, no. 1, (Feb. 2002): 27, 32, http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/11888807; Maher
Mahran and A.M. Saleh, “The Microscopic Anatomy of the Hymen,” The Anatomical Record, vol. 149, no. 2,
(Jun. 1964): 313, http://onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1002/ar.1091490213/pdf.
4 Skala yang digunakan oleh dokter untuk mengevaluasi perkembangan perubahan pubertas.
5 Untuk gambaran umum tentang anatomi, perkembangan, dan variasi selaput dara, lihat Abdelmonem
A. Hegazy, MO Al-Rukban, “Hymen: Facts and Conceptions,” theHealth, Vol. 3, No. 4, (Oct. 2012): 109,
http://www.thehealthj.com/december_2012/hymen_facts_and_conceptions.pdf .
6 V. Raveenthiran, “Surgery of the Hymen: From Myth to Modernization,” Indian Journal of Surgery, vol. 71,
(Jul.–Aug. 2009): 224, http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3452621/pdf/12262_2009_Article_65.pdf.
7 Ibid.
8 Emma Curtis and Camille San Lazaro, “Appearance of the Hymen in Adolescents is Not Well Documented,”
British Medical Journal, vol. 318, no. 7183, (Feb. 1999): 605,
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC1115047/pdf/605.pdf; Deborah J. Rogers and Margaret Stark,
“The Hymen is Not Necessarily Torn after Sexual Intercourse,” British Medical Journal, vol. 317, no. 7155,
(Aug. 1998): 414, http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC1113684/.
9 Nancy Whitley, “The First Coital Experience of One Hundred Women,” Journal of Obstetric, Gynecologic &
Neonatal Nursing, vol. 7, no. 4, (Jul.–Aug. 1978): 41–42, http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/249348.
10 Olga Loeber, “Over het zwaard en de schede; bloedverlies en pijn bij de eerste coïtus; Een onderzoek bij
vrouwen uit diverse culturen” [Pendarahan dan Nyeri pada Persetubuhan Pertama. Studi Perempuan dari
Berbagai Latar Belakang Budaya], Tijdschrift voor Seksuologie, vol. 32, (2008): 129,
http://www.researchgate.net/publication/237500166_Over_het_zwaard_en_de_sch ede_bloedverlies_en_pijn_bij
_de_eerste_cotus_Een_onderzoek_bij_vrouwen_uit_diverse_culturen.
11 Sara Paterson-Brown, “Commentary: Education About the Hymen is Needed,” British Medical Journal, vol.
316, (Feb. 1998): 461, http://www.bmj.com/content/316/7129/461?tab=related.
12 Birgitta Essen et al, “The Experience and Responses of Swedish Health Professionals to Patients Requesting
Virginity Restoration (Hymen Repair),” Reproductive Health Matters, vol. 18, no. 35 , (May 2010): 38–39,
http://www.rhm-elsevier.com/article/S0968-8080(10)35498-X/pdf; Raveenthiran, “Surgery of the Hymen:
From Myth to Modernization,” 224.
13 Gail Hornor, “A Normal Ano-genital Exam: Sexual Abuse or Not?” Journal of Pediatric Health Care, vol. 24,
no. 3, (May–Jun. 2010): 145, 150, http://www.jpedhc.org/article/S0891-5245(08)00343-X/abstract; John
McCann, Joan Voris, and Mary Simon, “Genital Injuries Resulting from Sexual Abuse: A Longitudinal Study,”
Pediatrics, vol. 89, no. 2, (Feb. 1992): 307, http://pediatrics.aappublications.org/content/89/2/307.
Tes Keperawanan dan Selaput Dara: Tidak Ada Basis Fakta, Ilmiah, atau Medis
4
14 Nancy
D. Kellogg, Shirley W. Menard, and Annette Santos, “Genital Anatomy in Pregnant Adolescents:
‘Normal’ Does Not Mean ‘Nothing Happened,’” Pediatrics, vol. 113, no. 1, (Jan. 2004); e67,
http://pediatrics.aappublications.org/content/113/1/e67.full.pdf+html.
15 Joyce A. Adams, Ann S. Botash, and Nancy Kellogg, “Differences in Hymenal Morphology Between
Adolescent Girls With and Without a History of Consensual Sexual Intercourse,” Archives of Pediatrics &
Adolescent Medicine, vol. 158, no. 3, (Mar. 2004): 280,
http://archpedi.jamanetwork.com/article.aspx?articleid=485645.
16 Joyce A. Adams, Barbara Girardin, and Diana Faugno, “Adolescent Sexual Assault: Documentation of Acute
Injuries Using Photo-colposcopy,” Journal of Pediatric Adolescent Gynecology, vol. 14, iss. 4, (Nov. 2001): 175–
180,
http://www.researchgate.net/publication/223183987_Adolescent_Sexual_Assault_Documentation_of_Acute_Inj
uries_Using_Photo-colposcopy.
17 Marlene Biggs, Lana E. Stermac, and Miriam Divinsky, “Genital Injuries Following Sexual Assault of
Women With and Without Prior Sexual Intercourse Experience,” Canadian Medical Association Journal, vol.
159, no.1, (Jul. 1998): 33, http://www.cmaj.ca/content/159/1/33.full.pdf.
18 Organisasi Kesehatan Dunia, Health Care for Women Subjected to Intimate Partner Violence or Sexual Violence:
Organisasi Kesehatan Dunia, Guidelines for Medico-Legal Care for Victims of Sexual Violence.
19 Hornor, “A Normal Ano-genital Exam: Sexual Abuse or Not?,” 145, 150; McCann, “Genital Injuries
Resulting from Sexual Abuse: A Longitudinal Study,” 307.
20 Jean-Jacques Amy, “Certificates of virginity and reconstruction of the hymen,” European Journal of
Contraception and Reproductive Healthcare, vol. 13, no. 2, (Jun. 2008): 111–112,
http://informahealthcare.com/doi/pdf/10.1080/13625180802106045.
21 Pengecualian yang nyata mungkin adalah diagnosis pelecehan seksual pada masa perempuan pra-pubertas
(Lihat Dewan Rehabilitasi Internasional untuk Korban Penyiksaan, “IFEG: Forcibly Conducting Virginity
Testing is a Human Rights Violation and May Constitute Torture,” 3). Lihat juga, misalnya, Joyce A.
Adams, “Normal Studies are Essential for Objective Medical Evaluations of Children Who May Have Been
Sexually Abused,” Acta Pædiatrica, vol. 92, iss. 12, (Nov. 2003): 1378–1380,
http://onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1111/j.1651-2227.2003.tb00818.x/abstract; Abbey B. Berenson,
“Normal Anogenital Anatomy,” Child Abuse & Neglect, vol. 22, iss. 6, (Jun. 1998): 589, 592,
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/9649899; GR Bond et al, “Unintentional Perineal Injury in
Prepubescent Girls: A Multicenter, Prospective Report of 56 Girls,” Pediatrics, vol. 95, no. 5, (May 1995):
628, http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/7724296.
22 Carol D. Berkowitz, “Healing of Genital Injuries,” Journal of Child Sexual Abuse, vol. 20, iss. 5, (Sept. 2011):
537, 539–542, http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/21970645; Rebecca J. Cook and Bernard Dickens, “Hymen
Reconstruction: Ethical and Legal Issues,” International Journal of Gynecology and Obstetrics, vol. 107, (Dec.
2009): 266, http://papers.ssrn.com/sol3/papers.cfm?abstract_id=1518068. Lihat juga Paterson-Brown,
“Commentary: Education About the Hymen is Needed,” 461; Felicity Goodyear-Smith and Tannis Laidlaw,
“Can Tampon Use Cause Hymen Changes in Girls Who Have Not Had Sexual Intercourse? A Review of the
Literature,” Forensic Science International, vol. 94, iss. 1–2, (Jun. 1998): 147,
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/9670493; S.J. Emans et al , “Hymenal Findings in Adolescent Women:
Impact of Tampon Use and Consensual Sexual Activity,” The Journal of Pediatrics, vol. 125, iss.1, (Jul. 1994):
153, 158, http://www.jpeds.com/article/S0022-3476(94)70144-X/fulltext.
23 Dewan Rehabilitasi Korban Penyiksaan Internasional, “IFEG: Forcibly Conducting Virginity Testing is a
Human Rights Violation and May Constitute Torture.”
24 Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (UDHR), Art. 5, G.A. Res. 217A (III), UN GAOR, 3rd session, 183
plen. mtg., UN Doc A/810 (1948), http://www.ohchr.org/EN/UDHR/Pages/Language.aspx?LangID=eng;
Kovenan Internasional Hak Sipil dan Politik (ICCPR), Art. 7, G.A. Res. 2200A (XXI), 21 UN GAOR Supp.
(No. 16) at 52, UN Doc. A/6316 (1966), 999 U.N.T.S. 171, mulai berlaku Mar. 23, 1976,
http://www.ohchr.org/en/professionalinterest/pages/ccpr.aspx; Konvensi Menentang Penyiksaan dan
Perlakuan atau Penghukuman yang Tidak Manusiawi atau Merendahkan Martabat (CAT), Art. 16, G.A. Res.
39/46, UN Doc. A/39/51 (1984), mulai berlaku Jun. 26, 1987,
http://www.ohchr.org/EN/ProfessionalInterest/Pages/CAT.aspx.
25 UDHR, Art 5; ICCPR, Art 7; CAT, Art 1.
26 Laporan Interim Pelapor Khusus Komisi HAM perihal penyiksaan dan perlakuan atau penghukuman lain
Tes Keperawanan dan Selaput Dara: Tidak Ada Basis Fakta, Ilmiah, atau Medis
5
yang kejam, tidak manusiawi, atau merendahkan martabat; Majelis Umum PBB Sesi Ke-55, Butir 116(a), UN
Doc A/55/290, Aug. 11, 2000, http://www.un.org/documents/ga/docs/55/a55290.pdf.
27 Kasus Salmanoğlu and Polattaş v. Turkey, no. 15828/03, §§ 96, 98, Pengadilan HAM Eropa, Mar.
17, 2009, http://hudoc.echr.coe.int/webservices/content/docx/001-91777?TID=ihgdqbxnfi.
28 Kasus Miguel Castro-Castro Prison v. Peru, no. 160, Pengadilan HAM Inter-Amerika, Nov. 25, 2006,
http://www.corteidh.or.cr/docs/casos/articulos/seriec_160_ing.pdf.
29 Ibid, par. 197(50), 309, 312.
30 ICCPR, Art. 2(1), 3, 26.
31 Kovenan Internasional Hak Ekonomi, Sosial, dan Budaya (ICESCR), Art. 2(2), 3, G.A. Res. 2200A
(XXI), U.N. Doc. A/6316 (1966), 993 U.N.T.S. 3, mulai berlaku Jan. 3, 1976,
http://www.ohchr.org/EN/ProfessionalInterest/Pages/CESCR.aspx.
32 Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan (CEDAW), Art.1,2, G.A. Res.
34/180 (1979), 1249 U.N.T.S. 13, mulai berlaku Sept. 3, 1981,
http://www.ohchr.org/Documents/ProfessionalInterest/cedaw.pdf.
33 CEDAW, Art 2.
34 CEDAW, Art 17.
35 CEDAW, Art 12.
36 “Laporan Pelapor Khusus mengenai Kekerasan terhadap Perempuan, Penyebab, dan Konsekuensinya,”
Majelis Umum PBB, Sesi Ke-69, Butir 27, UN Doc A/69/368, Sept. 1, 2014,
http://www.ohchr.org/EN/newyork/Pages/HRreportstothe69thsessionGA.aspx.
Tes Keperawanan dan Selaput Dara: Tidak Ada Basis Fakta, Ilmiah, atau Medis
6
Download