BAB IV KONTEKS SOSIO-BIFDAYA MASYARAKAT

advertisement
BAB IV
KONTEKS SOSIO-BIFDAYA MASYARAKAT DALAM KAITANNYA DENGAN
PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL DI SMU NEGERI l UBUD
Pendidikan IPS sebagai suatu studi sosial mempelajari dinamika masyarakat baik
dari dimensi waktu, ruang, maupun nilai-nilainya (Depdiknas, 2002). Karena itu,
sesungguhnya, praktik pendidikan IPS di sekolah tidak bisa dilepaskan dari konteks sosial
budaya masyarakat di mana program pendidikan IPS itu dilaksanakan. Begitu pula dengan
progr am pendidikan IPS di SMU Negeri I Ubud, yang terletak di daerah kawasan dan
kunjungan
wisata
Ubud, tidak terlepas dari
konteks kehidupan
sosial budaya
masyarakatnya. Pengaruh yang terjadi memang tidaklah melibatkan peran masyarakat
secara langsung dan aktif dalam proses pendidikan IPS di sekolah, melainkan t «"bentuk
melalui nilai-nilai dan sikap yang hidup pada seluruh civitas sekolah yang kemudian turut
mewarnai kebijakan serta sikap dan perilaku pendidik dan siswa dalam hubungan
edukatifnya di lingkungan sekolah pada umumnya, dan pada pola praktik pendidikan IPS
pada khususnya.
A. Konteks Penelitian
SMU Negeri 1 Ubud berlokasi di Banjar/Dusun Sambahan, Kelurahan Ubud,
Kecamatan Ubud, Kabupaten Gianyar, Propinsi Bali. SMU ini merupakan sekolah
menengah tingkat atas
negeri pertama yang ada di Kecamatan Ubud dan merupakan
sekolah menengah negeri yang dirintis pertama kali di Bali berlokasi di tingkat kecamatan
(Kepala SMU Negeri 1 Ubud, 2001). Adapun peta lokasi sekolah dapat digambarkan pada
halaman 113 berikut.
Dilihat dari latar belakangnya, SMU Negeri 1 Ubud ini dibuka pada tahun
pelajaran 1980/1981. Pendirian sekolah ini dirintis oleh keluarga puri Ubud yang dimotori
oleh Tjokorda Gde Agung Suyasa dengan memberikan sebidang tanah milik keluarga puri
untuk lokasi sekolah ini. Demikian pula keluarga puri banyak memberikan bantuan
fasilitas dan dana pendidikan untuk kepentingan sekolah ini setiap tahunnya. Oleh karena
itulah, sekolah ini sangat dekat sekali hubungannya dengan keluarga puri Ubud. Sampai
saat ini, sebagai penghormatan kepada keluarga puri Ubud, pengurus BP3 atau komite
sekolah selalu dipimpin oleh keluarga puri Ubud sendiri. Hubungan yang dekat dengan
puri Ubud ini memberikan corak budaya tersendiri
kepada sekolah ini dalam
pengembangan program-program pendidikannya maupun dalam membina hubungan
112
sosialnya dengan masyarakat di sekitarnya di wilayah Kecamatan Ubud pada umumnya
dan Kelurahan Ubud pada khususnya.
Adanya peranan keluarga puri Ubud dalam inisiasi pendirian sekolah ini serta
bantuan-bantuan fasilitas, dana, dan kontribusi pemikiran-pemikiran yang berlandaskan
sistem sosial dan budaya Bali, hal ini menunjukkan bahwa masyarakat Ubud masih
menghormati keberadaan keluarga pun Ubud dengan segala atribut (kaste/wangsa) dan
peranannya (warna) dalam masyarakat (Agung, 1974; Wiana, 1977). Ini karena tidak saja
memiliki kemampuan diri melalui kemampuan secara ekonomi, sosial, dan politik, yang
memberikan mereka status, otoritas, dan kekuasaan tinggi di masyarakat (Weber seperti
dikutip oleh Johnson, 1994), tetapi mereka juga masih memiliki pengaruh sosial budaya
secara tradisional karena mereka masih dianggap sebagai pemimpin yang memiliki
karisma, dermawan, berpengetahuan luas, dan memiliki kekuasaan sosial politik secara
sehulu dan niskala (bandingkan dengan Blumberg, 1978; Fried, 1967; Harner, 1970;
LenskL 1966; Parson, 1977,1966; Widja, 1991, 1989).
Sejak tahun ajaran 2001/2002 SMU Negeri 1 Ubud dipimpin oleh seorang kepala
sekolah bernama Drs.Anak Agung Ketut Raka yang masih ada hubungan kekeluargaan
pula dengan keluarga besar puri Ubud. Beliau ini merupakau alumni FKIP Universitas
Udayana Singaraja program SI Program studi Pendidikan Ekonomi tahun 1984. Dengan
kepemimpinannya, beliau ini dihormati, disegani, dan disukai baik oleh dewan guru, staf
pegawai, siswa, maupun oleh pengurus komite sekolah. Beliau ini dinilai banyak guru
senior, pegawai, dan siswa sebagai sosok orang Bali dari keluarga puri yang cerdas,
terbuka, bijaksana, santun, dan demokratis. Dalam komunikasi tugas sehari-hari beliau
selalu menggunakan bahasa Bali halus baik kepada guru, pegawai, orang tua
murid/masyarakat, maupun siswa tanpa membeda-bedakan kedudukan dan kasta. Dengan
bahasa Bali halus inilah beliau menyatakan bagaimana orang Bali menghormati atau
menghargai orang lain, sehingga orang lain akan hormat kepada kita. Ini adalah prinsip
utama seorang pemimpin di Bali, kata beliau, jika ingin dihormati dan disegani.
Penggunaan bahasa Bali halus tidak harus diartikan sebagai bahasa kampungan dan
tradisional. Ini harus dimaknai dalam rangka penegakan uAjeg Baii" (kelestarian Bali)
secara keseluruhan tanpa harus meninggalkan penggunaan Bahasa Indonesia sama sekali.
Dengan kepemimpinan kepala sekolah seperti di atas menunjukkan bahwa sekolah telah
memiliki seorang pemimpin yang tidak saja memiliki otoritas secara tradisional, tetapi
juga memiliki otoritas yang karismatik, dai! otoritas legal rasional (Weber, seperti dikutip
oleh Jo'inso" ' oo-i >
114
Pada tahun ajaran 2002/2003 SMU Negeri Ubud memiliki tenaga
•
. 'j* c s
sebanyak 64 orang dengan rincian per mata pelajaran, masa kerja, pangk^anJgbI(nfgafl/{'
jenis kelamin, dan tingkat pendidikan sebagai tertera dalam tabel II dan
^ /
v
/
Tabel 11: Distribusi Guru SMU Negeri I Ubud Berdasarkan Mata P c f a j a i ^
Pangkat, dan Jenis Kelamin
Guru Mata
Golongan III
i
Golongan IV
|
Pelajaran
L
P
j
L
P
I
Agama/Bahasa Bali >
3
i
I
PPKn/Tata Negara
1
1
1
1
Sejarah
j
2
1
1
1
!
Bahasa Indonesia
•
3
1
Bahasa Inggris
i
3
!
i
1
Matematika
1
1
4
!
1
Geografi
1
i
1
!
Ekonomi/Akuntansi
2
!
2
i
Sosiologi/Antropologi
!
1
I
!
3
|
2
Fisika
i
2
2
Biologi
i
Kimia
3
J
i
!
Bahasa Jepang
1
1
1
!
A. Islam/Bah. Arab
Dari Departemen Agama
j
PKK
Merangka 3 sebagai guru Sosiologi/Antropologi i
Penjaskes
I
2
:
i
i
•
Bimb. & Konseling |
3
i
i
i
*
Seni Rupa/Tari
j
3
2
;
Guru Perpustakaan
j
1
Total
j
31
3
|
U
19
Total
4
3
4
4
4
6
3
1
5
2
5
4
4
2
1 *
l *
3
5
5
I
64
j
Tabel 12: Distribusi Guru SMU Negeri 1 Ubud Berdasarkan Tingkat Pendidikan
dan Masa Kerja
Tingkat
Pendidikan
DUI/Sarmud
Sarjana
Total
5
Masa Kerja
11-20
9
33
5
42
1 -10
-
Total
|
|
!
j
21-30
I
16
10
54
17
64
j
i
i
Berdasarkan distribusi data tersebut, dilihat dari segi kuantitas, SMU Negeri 1
Ubud telah memiliki tenaga gin u yang cukup baik dati segi rasio, berpengalaman, dan
seimbang. Namun dilihat dari pengalaman mengikuti penataran atau pelatihan selama
jabatan (inservice iraintng) tampaknya pendidikan guru masih sangat kurang. Diakui pula
115
bahwa sampai saat ini belum ada guru-guru di SMU Negeri 1 Ubud yang
melahirkan
hasil karya ilmiah yang diakui dalam bidang keahlian pendidikannya masing-masing
atau mengikuti lomba karya ilmiah guru. Karena itulah, 22 orang guru yang telah
berpangkat pembina golongan IVa meyakini bahwa mereka tidak akan naik pangkat lagi
karena tidak memiliki karya tulis ilmiah.
Dari data di alas dapat ditunjukkan bahwa kualifikasi guru-guru di SMU Negeri 1
Ubud dari segi tingkat pendidikannya memang sudah memadai karena mereka umumnya
sudah mencapai sarjana pendidikan yang relevan. Sayangnya, pengalaman masa kerja
guru-gum yang sudah rata-rata mencapai 1 0 - 2 0 tahun lebih belum diimbangi dengan
pengalaman pengembangan kemampuan kualifikasi guru secara kualitas dalam bidangnya
baik secara kedinasan, organisatoris, maupun secara personal. Lemalmya pendidikan
dalam jabatan dan usaha guru secara personal dalam meningkatkan kualifikasi guru,
menunjukkan bahwa guru-guru selama masa jabatannya lebih berorientasi pada
pelaksanaan tugas sehari-hari dengan melaksanakan tugas berdasarkan pengalaman
semata-mata. Ini menujukkan pula bahwa komitmen sekolah ini untuk meningkatkan
kuah tas guru-gurunya masih sangat terbatas. Jika kualitas pendidikan sekolah dominan
ditentukan oleh kualitas guru-gurunya (Depdiknas, 2004b; Tilaar, 1999) maka upaya
sekolah ini pun dalam meningkatkan kualitas pendidikan sekolatinya masih dapat
dikatakan terbatas.
Di samping tenaga edukatif, untuk melaksanakan tugas-tugas administrasi setiap
harinya, SMU Negeri 1 Ubud memiliki 18 orang tenaga administrasi dengan rincian
tingkat pendidikan: 1 orang sarjana manajemen, 1 orang sarjana muda sekretaris, 1 orang
berpendidikan DIII sekretaris, 12 orang berpendidikan SMU/SMEA/KPAA/STM, 2 orang
berpendidikan KKP, dan 1 orang berpendidikan SD.
Dilihat dari keadaan input siswanya, SMU Negeri 1 Ubud sejak tahun ajaran
2000/2001 setiap tahunnya memiliki 17 rombongan belajar yang pada tahun ajaran
2002/2003 mencapai jumlah 721 orang siswa. Dari 17 rombongan belajar ini, enam
rombongan adalah siswa kelas I dengan jumlah siswa 243 orang, enam rombongan lainnya
adalah siswa kelas II dengan jumlah siswa 244 orang, dan lima rombongan belajar sisanya
adalah siswa kelas III dengan jumlah siswa 234 orang.
Untuk siswa kelas III, penjurusan disediakan dengan 1 rombongan belajar jurusan
IPA, I rombongan jurusan IPS, dan 3 rombongan jurusan bahasa. Penjurusan ini di
samping disesuaikan dengan pilihan minat siswa juga ditentukan berdasarkan tingkat
prestasi siswa. Pada umumnya, sejak awal siswa SMU Negeri 1 Ubud cenderung memilih
116
jurusan bahasa dari pada jurusan IPA atau IPS. Menurat siswa dan guru, kondisi ini lebih
ditentukan oleh kebutuhan pasar kerja sektor pariwisata dan kondisi sosial budaya
masyarakat Ubud yang membutuhkan siswa terampil berbahasa asing dan perlu
memahami banyak aspek budaya Bali.
Data ini jelas menegaskan bahwa perkembangan sosial budaya masyarakat dan
kebijakan-kebijakan tertentu di tingkat daerah dapat turut mempengaruhi kebijakan
pelaksanaan program-program pendidikan sekolah, khususnya dalam pengembangan
kecakapan liidup (Jife skills) siswa yang lebih dibutuhkan oleh masyarakat Hubungan
inilah yang menyebabkan sekolah dapat berperan terhadap dan atau sejalan dengan tingkat
pertumbuhan dan perkembangan sosial, budaya, dan ekonomi masyarakat sekitarnya
(Collins,1985: 60-87 ). Dalam kajian antropolgi pendidikan, proses ini dapat dikatakan
bahwa pendidikan sekolah telah melakukan produksi budaya (cutiural produclion) bagi
kepentingan sosial dan budaya masyarakatnya (Levinson & Holland, 1996: 1-54; Rival,
1996: 153-167; Skinner & Holland, 1996: 273-299)
Diakui oleh kepala sekolah, guru, dan siswa bahwa minat lulusan SMU Negeri 1
Ubud untuk melanjutkan studi ke perguruan tinggi khususnya ke universitas atau institut
memang tergolong cukup dan belum begitu tinggi. Kondisi ini diakui agak kontradiksi
dengan latar belakang status sosial ekonomi orang tua siswa yang rata-rata berada pada
kelompok menengah ke atas. Hal ini diduga ada kaitannya dengan
orang tua siswa
umumnya berlatar belakang wiraswasta dan pekerja yang cukup sukses di sektor
perdagangan dan industri pariwisata (hanya 20% orang tua siswa berstatus PNS). Siswa
lulusan SMU Negeri 1 Ubud cenderung memilih bekerja di sektor pariwisata setelah tamat
mengikuti jejak orang tuanya, atau paling tidak melanjutkan sekolah program pendidikan
kilat pariwisata (DI atau DII Pariwisata). Tidak mengherankan jika sekolah pariwisata
sangat diminati siswa di daerah Ubud dan Gianyar pada khususnya dan di daerah Bali
pada umumnya.
Temuan ini jelas menunjukkan bahwa perkembangan pariwisata telah membawa
dampak pula pada program pendidikan sekolah dan minat siswa setelah tamat. Di sini,
kebutuhan masyarakat pariwisata di Ubud terhadap pemenuhan sumber daya manusia
yang terampil untuk bekeija di sektor pariwisata telah menyebabkan tumbuh dan
berkembang secara cukup signifikan minat dan aspirasi kerja di kalangan siswa di sektor
pariwisata. Dampak ini memang sebagian positif terutama bagi sekolah dalam
mengembangkan program-program pendidikan yang relevan dibutuhkan masyarakat dan
generasi muda untuk memasuki dunia kerja di industri pariwisata. Tetapi, dalam jangka
117
panjang dikhawatirkan juga bisa menimbulkan dampak negatif, karena sekolah cenderung
dapat distimuii untuk secara pragmatis mengembangkan tujuan-tujuan pendidikan yang
hanya untuk menghasilkan tenaga-tenaga keija tingkat teknis dan terampil. Ini jelas akan
menghambat upaya peningkatan mutu pendidikan secara keseluruhan.
Menurut keyakinan siswa, Bali pada umumnya serta Gianyar dan Ubud pada
khususnya, yang terkenal dengan objek dan aktivitas pariwisatanya, perlu didukung oleh
sumber daya manusia yang dapat melestarikan dan mengembangkan potensi alam dan
budaya Bali yang diminati wisatawan. Untuk belajar tentang kehidupan sosial dan budaya
orang Bali, mereka tidak perlu belajar sampai perguruan tinggi, apalagi belajar di
perguruan tinggi belum tentu bisa mempelajari kebudayaan orang Bali dan belum tentu
akan memberikan jaminan hidup masa depan yang lebih baik. Belajar kehidupan sosial
dan budaya orang Bali haruslah dipelajari langsung dalam kehidupan bermasyarakat dalam
menjalankan swadarma masing-masing. Bekal pengetahuan formal sudah cukup sampai
sekolah menengah, selebihnya dapat dipelajari sendiri oleh siswa dalam kehidupan di
masyarakat.
Bagi
siswa,
karena
itu,
sekolah
bukanlah
satu-satunya
wahana
tempat
melangsungkan proses pendidikan, dan pendidikan formal bukanlah satu-satunya tempat
belajar siswa mengembangkan kecakapan hidup. Masyarakat dan lingkungan dunia kerja
juga dapat digunakan sebagai wahana proses pendidikan dan pembelajaran untuk
mengembangkan
kecakapan-kecakapan liidup
yang
dibutulikan dalam
kehidupan
bermasyarakat.
Sesuai dengan aspirasi dan kebutuhan belajar siswa dan kebutuhan masyarakat
Ubud pada khususnya seperti itu, maka SMU Negeri 1 Ubud mengembangkan program
pendidikan yang relevan dengan kebutuhan tersebut. Memang dari segi kurikulum, SMU
Negeri
1
Ubud
seutulmya melaksanakan
menyesuaikan dengan tuntutan kebutuhan
fungsi
kurikulum
nasional.
Namun,
siswa dan masyarakat, sekolah juga
melaksanakan kurikulum muatan lokal berbasis pelestarian budaya Bali. Ada satu mata
pelajaran sebagai muatan lokal yang disisipkan pada kurikulum sekolah, yaitu mata
pelajaran bahasa Bali. Pemberian mata pelajaran ini bertujuan, di samping melestarikan
bahasa Bali sebagai salah satu aspek budaya Bali di kalangan generasi muda, juga untuk
mempelajari keseluruhan aspek budaya Bah itu sendiri, karena bahasa diyakini merupakan
pintu gerbang dan sarana penguasaan dan pengembangan budaya itu sendiri (AhhnsaPutra, 2001). Di samping itu dikembangkan pula program-program ekstrakurikuler yang
relevan dengan pengembangan kebudayaan Bali seperti melukis, seni tari, menabuh, serta
118
kajian budaya dan agama Hindu (khususnya keterampilan menyiapkan upacara Hindu,
keterampilan memberikan dharmawacana, dan keterampilan megegilan f dharmagita)
atau menembangkan lagu-lagu suci.
Pemberian mata pelajaran bahasa Bali kepada siswa, di samping memang telah
sesuai dengan kebijakan pemerintah daerah Bali melalui Dinas Pendidikan Propinsi Bali,
kebijakan ini juga sesuai dengan visi dan misi SMU Negeri 1 Ubud. Dengan pemberian
mata pelajaran bahasa Bali kepada siswa diharapkan siswa sebagai unsur generasi muda
masyarakat Bali dapat melestarikan dan mengembangkan penggunaan baliasa dan sastra
daerah Bali yang di dalamnya dinilai dan diyakini banyak mengandung sari pati
kebudayaan Bali yang adi luhur (Sancaya, 2004 ).
Selanjutnya, pemberian kegiatan ekstrakurikuler yang bernuansa pelestarian dan
pengembangan kajian kebudayaan Bali kepada siswa adalah agar berguna bagi
pembekalan pengetahuan, nilai-nilai, dan keterampilan hidup yang diperlukan siswa dalam
kehidupan bermasyarakat Bali yang berbudaya dan religius. Di samping itu, memiliki
pengetahuan, nilai-nilai, rasa estetika, dan keterampilan hidup berbasis kebudayaan dan
kesenian Bali yang dididikkan kepada siswa melalui kegiatan ekstrakurikuler seperti
menari,
melukis,
menabuh,
seni
pahat,
megegitan,
kemampuan
memberikan
dharmawacana, dan sejenisnya diyakini telah dapat memberikan kesejahteraan hidup
kepada masyarakat Ubud dan Gianyar pada khususnya yang terkenal sebagai daerah
tujuan wisata budaya yang kaya dengan seniman dan hasil seninya (Geriya, 1996).
Untuk mendukung pencapaian tujuan di atas, sekolah menyediakan fasilitas dan
sarana belajar untuk menunjang aktivitas kurikulum tersebut. SMU Negeri 1 Ubud telah
memiliki fasilitas dan sarana pendidikan/belajar yang cukup memadai, kecuali untuk
unsur-unsur seperti lapangan olah raga atletik dan sepak bola, ruang belajar, mang dan
alat-alat
keterampilan,
alat-alat
laboratorium,
komputer,
dan
sarana
buku-buku
perpustakaan masih dirasakan kurang.
B. Visi dan Misi SMU Negeri 1 Ubud
Visi SMU Negeri 1 Ubud adalah menjadikan sekolah sebagai wahana pendidikan
sumber daya manusia kepada generasi muda Bali dalam rangka pembinaan dan
pengembangan manusia Bali yang bermutu, beriman, dan berbudaya (Kepala SMU Negeri
1 Ubud, 2002). Dengan pendidikan sumber daya manusia yang bermutu berarti SMU
Negeri 1 Ubud berupaya mengembangkan kemampuan intelektual dan akademis serta
119
komitmen yang tinggi untuk inelaliirkan lulusan yang memiliki pengetahuan, nilai-nilai,
dan keterampilan hidup yang tinggi sesuai dengan tujuan dan target sekolah.
Pendidikan manusia yang bermutu juga berarti pendidikan yang dapat melahirkan
lulusan yang memiliki nilai-nilai dan komitmen yang relevan dalam upaya penguasaan dan
pengembangan iptek, yang dicirikan oleh peningkatan kemampuan berpikir ilmiah,
kemauan belajar dan bekerja keras dengan ulet dan tekun, menjunjung tinggi pengambilan
keputusan yang rasional, bersifat terbuka dan demokratis, menghargai waktu, serta selalu
bertindak sesuai dengan norma, tujuan, dan target yang ingin dicapai.
Untuk dapat mewujudkau visi di atas, SMU Negeri 1 Ubud telah memfokuskan
programnya dengan terus berupaya meningkatkan kualitas tnpui dan proses belajar
mengajar, yang antara lain dilakukan dengan memperketat sistem seleksi penerimaan
siswa baru, meningkatkan disiplin guru dalam kegiatan belajar mengajar baik yang bersifat
perencanaan, pelaksanaan pembelajaran di kelas, melakukan evaluasi, dan pelaksanaan
supervisi kelas, serta meningkatkan peran guru dalam mengikuti kegiatan MGMP
terutama di tingkat kabupaten. Upaya lain yang dilakukan adalah memberikan tambahan
jam belajar kepada siswa kelas III yang akan menghadapi ujian, meningkatkan jumlah
jenis dan kualitas kegiatan ekstrakurikuler dengan mendatangkan pelatih profesional dari
masyarakat dan seniman di sekitar Ubud, memperbanyak kesempatan siswa untuk
berkompetisi baik dalam kegiatan akademis maupun kegiatan ekstrakurikuler, serta
menjalin kerja sama pertukaran siswa dengan beberapa SMU di Jepang. Dalam program
pertukaran siswa, SMU Negeri 1 Ubud telah empat kali mengirim ke Jepang siswa yang
berprestasi di kelas, siswa yang unggul dalam seni tari dan melukis, serta siswa yang orang
tuanya memiliki dana untuk program pertukaran siswa terutama siswa dari keluarga puri
Ubud. Sebaliknya, SMU Negeri I Ubud juga telah menerima dua kali rombongan studi
wisata siswa-siswa dari beberapa sekolah menengah di Jepang.
Ada beberapa kemajuan yang telah dicapai SMU Negeri 1 Ubud dalam upayanya
meningkatkan mutu pendidikannya, antara lain sebagai berikut. Pertama, dengan sistem
seleksi yang lebih ketat, sekolah lebih dapat menjaring input siswa dengan prestasi belajar
yang lebih baik setiap tahunnya.
Kedua, upaya
sekolah
untuk
meningkatkan
prestasi
belajar siswa
telah
menunjukkan adanya peningkatan dalam rerata hasil belajar/NEM yang dicapai siswa
setiap tahunnya, walau tidak terlalu signifikan dinilai, yang dengan begitu lulusan SMU
Negeri I Ubud lebih dapat bersaing dengan lulusan sekolah lainnya.
120
Ketiga, sekolah lebih dapat menegakkan tata tertib sekolah dan meningkatkan
disiplin belajar siswa. Dengan inpui siswa yang dalam hal prestasi lebih baik dan minat
belajar yang lebih tinggi, lebih memudahkan sekolah untuk menegakkan tata tertib sekolah
dan disiplin belajar siswa.
Keempat, jumlah lulusan yang melanjutkan ke perguruan tinggi meningkat setiap
tahunnya. Begitu pula lulusan yang diterima dengan sistem seleksi PMJK terutama pada
Universitas Udayana dan IKIP Negeri Singaraja yang mengandalkan prestasi belajar sejak
semester pertama hingga semester akhir sebelum ujian mengalami peningkatan.
Akhirnya, diakui pula bahwa prestasi akademis dan bidang ekstrakurikuler siswa,
terutama dalam minat mengikuti lomba, setiap tahunnya juga mengalami peningkatan.
Dalam hal lomba bidang akademis, walau tidak ada siswa SMU Negeri I Ubud yang
berhasil menjadi juara dalam berbagai lomba seperti dalam olimpiade fisika, biologi,
matematika, kimia, akuntansi, komputer, dan lomba karya ilmiah remaja, bahkan untuk
tingkat kabupaten sekalipun, tetapi minat siswa untuk mengikuti lomba mengalami
peningkatan. Berbeda untuk bidang ekstrakurikuler, seperti bidang olah raga; kesenian:
melukis, seni tari dan haleganjur; memberikan dharmawacam baik dalam bahasa
Indonesia maupun bahasa Bali; dan lomba mewirama, prestasi siswa SMU Negeri 1 Ubud
ternyata cukup membanggakan, baik di tingkat kabupaten maupun propinsi Bali; begitu
pula baik dalam kegiatan PORSENI daerah maupun lomba yang diselenggarakan institusi
tertentu. Dalam kegiatan PORSENI daerah Gianyar, misalnya, SMU Negeri 1 Ubud
bahkan selalu menjadi juara umum.
Dari berbagai upaya dan hasil peningkatan mutu pendidikan di SMU Negeri I
Ubud di atas, secara keseluruhan sebagai satu sistem memang tampak bahwa kebijakankebijakan dan tindakan-tindakan yang ditempuh telah mengarah kepada peningkatan mutu
secara komprehensif. Sayangnya, rumusan peningkatan mutu pendidikan sekolah terutama
dalam aspek kurikuler cenderung lebih berorientasi pada peningkatan rata-rata hasil raport
dan hasil ujian sekolah serta ujian nasional yang hanya menekankan pencapaian aspek
kognisi secara agregat (prestasi kelas dan sekolah).
Selanjutnya, dengan visi beriman, hal ini dimaksudkan bahwa pendidikan di SMU
Negeri I Ubud haruslah mampu meningkatkan keimanan dan ketaqwaan para siswa.
Dalam bahasa lokal tnereka menyatakan, sekolah haruslah mampu meningkatkan
kesadaran civitasnya, dan terutama siswa, dalam hal crada (keyakinan/keimanaty, bhakii
(pemujaan;, lan cubha karma (taqwa) kepada Ida Sang Hyang Widhi (Tuhan Yang Maha
Esa). Penetapan visi ini benar-benar disadari atas landasan keyakinan masyarakat pada
121
umumnya dan civitas sekolah pada khususnya bahwa betapa setinggi apapun ilmu yang
dimiliki manusia, tanpa memiliki crada dan bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Waca,
para dewa, betara, dan penghormatan kepada leluhur maka hidup manusia akan sia-sia.
Visi ini relevan dengan adagium yang menyatakan bahwa ilmu tanpa agama itu adalah
buta, dan sebaliknya agama tanpa ilmu adalah lumpuh. Karena itulah, masyarakat Ubud
menghendaki satu lembaga pendidikan yang mampu menyeimbangkan penguasaan iptek
dengan pengembangan crada, bhaki, dan cubha karma kepada Ida Sang Hyang Widhi
Waca. Hal ini sejalan dengan peranan agama Hindu dalam seluruh aspek sikap dan
perilaku masyarakat Hindu di Bali.
Untuk mewujudkan visi di atas, SMU Negeri 1 Ubud telah mengembangkan
program pendidikan yang meliputi program pembinaan crada dan bhakti, pendidikan budi
pekerti berbasis agama dan budaya Bah, dan pendidikan keterampilan beragama. Untuk
ini beberapa kegiatan rutin dan berkala dalam meningkatkan iklim dan pengalaman
religius siswa telah dilakukan.
Aktivitas program-program pendidikan keimanan sangat khusuk dilakukan semua
civitas sekolah termasuk oleh guru dan siswa yang memberikan iklim religius yang tinggi
pada lingkungan sekolah. Sebagaimana diakui, SMU Negeri 1 Ubud adalah sekolah yang
memiliki unit pelinggih suci paling banyak di Bali. Ada enam jenis pelinggih di sekolah
ini, yaitu: satu unit pura sekolah dengan satu padmasananya, satu unit pelinggih majeng
kangin (menghadap ke timur) merupakan pelinggih Ratu Bhaiara Pemuteran Jagai yang
melindungi semua yang ada di sekolah, satu unit pelinggih majeng kauh (menghadap ke
barat) merupakan pelinggih penyawangan Betara leluhur fisi Markandya yang pura
pemujaan utamanya di Ubud terletak di sebelah barat di sungai campuhan Ubud, satu unit
pelinggih wong samar, satu pelinggih padma capah, satu pelinggih resa dugul {Bhaiara
Indra Belaku), dan satu unit pelinggih (pelangkiran) di setiap ruangan. Dengan cukup
banyaknya pel/nggth-pelinggih ini, memberikan semacam peringatan untuk meningkatkan
kesadaran kepada setiap warga sekolah untuk menghaturkan sesaji atau persembahan dan
persembahyangan setiap harinya dan agar bersikap dan berperilaku yang baik. Dari
banyaknya tempat-tempat suci di lingkungan sekolah seperti ini yang disertai kewajibankewajiban religius yang mengikutinya, sekali lagi menunjukkan betapa besarnya peranan
agama Hindu dalam memberikan
landasan motivasi,
landasan
tuntunan moral,
pengintegrasi jati diri, dan landasan orientatif bagi pengembangan dan pelaksanaan
program pendidikan di sekolah, khususnya di SMU Negeri I Ubud. Jelaslah pula di sini
bahwa agama telah merevitalisasi nilai-nilai luhur yang berbasis ajaran Hindu yang hidup
122
di tengah-tengah masyarakat Bali untuk diapliaksikan atau diimplementasikan dalam
kehidupan pendidikan formal di lingkungan sekolah. Hal ini sesuai dengan pandangan
Alpert CCoser, 1971) tentang peran agama dalam merevitalisasi nilai-nilai sosial budaya
yang hidup dalam kelompok masyarakat.
Di samping itu, SMU Negeri 1 Ubud juga adalah salah satu dari sekolah-sekolah di
Bali yang menjalin hubungan erat dengan desa adat dan pura desanya. Hubungan ini
membelikan kesempatan kepada para guru dan siswa untuk meningkatkan crada, hhakti,
dan karma wacananya melalui hubungan sosialnya yang harmonis dengan warga atau
krama desa adat Ubud. Ini berarti praktik keliidupan ritual beragama juga memberikan
fungsi sosial dalam keliidupan bersama masyarakat (Coser, 1971: 139; Durkheiin,1965).
Kalau diperhatikan praktik-praktik dan iklim yang diciptakan untuk meningkatan
keimanan di atas tampak bahwa pelaksanaan praktik keyakinan beragama di sekolah
dilaksanakan tidak saja melalui persembahan dan penyembahan kepada Tuhan Yang Maha
Esa (Jdu Sang Hyang Widhi Wasa\ para dewa,
para Rsi, dan leluhur, tetapi juga
memberikan penghormatan kepada guru dan orang yang lebih tua atau dewasa, kepada
sesama, bahkan melalui pemeliharaan lingkungan. Dengan begitu pelaksanaan crada dan
bhakii agama serta pembentukan karma wacana tidak saja diwujudkan dalam nilai-nilai
transenden kepada Tuhan, tetapi juga memiliki nilai-nilai immarteni mistics. Artinya, di
sini dikembangkan agar manusia memiliki sikap yang selalu mencari nilai tertinggi di
dunia yang memandang dirinya sebagai bagian dari suatu totalitas. Segala yang ada di
dunia dinilai dari segi artinya bagi kehidupan rohaniah yang ingin mencapai keselarasan
antara pengalaman bathin dengan arti hidup, mencari pencipta yang tertinggi atau
kekuasaan yang absolut, yaitu Tuhan Yang Maha Esa (Allport, Vemon, dan Lindzey,
1970). Praktik religius seperti ini sejalan pula dengan pandangan Spranger (seperti dikutip
oleh Sukadi, 1994: 55-56) yang menjelaskan bahwa sifat religius adalah suatu keadaan
baik instingtif ataupun rasional yang pengalaman tunggalnya, yang positif atau negatif,
dihubungkan dengan keseluruhan nilai kehidupan. Dikaitkan dengan pandangan MagnisSuseno (1985), praktik keimanan seperti di atas akan dapat menimbulkan sikap religius
yang termasuk di dalamnya memandang masyarakat, alam, dan dunia adikodrati sebagai
kesatuan yang tidak terpecah belah.
Jelaslah bahwa kehidupan keimanan agama yang ingin dibangun di sekolah seperti
di atas tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakatnya. Seperti Durkheim (1965;
Coser, 1971; Johnson, 1994) menyatakan bahwa corak dari agama apa saja berhubungan
dengan suatu dunia yang suci (sacred realm) yang berbeda dengan dunia profan dalam
123
kehidupan yang biasa sehari-hari. Tetapi, ide tentang dunia yang suci itu juga
sesunggulmya tidak bisa dipisahkan dari kenyataan sosial, yaitu kehidupan kelompok
sosial dan sebenarnya mewakili kenyataan kelompok itu dalam bentuk simbol
(Durkkheim, 1965).
Visi berbudaya, visi ketiga SMU Negeri I Ubud, merupakan visi untuk
mewujudkan sekolah sebagai wahana pendidikan yang berbudaya berbasis pada budaya
Bali dan budaya Hindu tanpa meugabaikan upaya pengembangan kebudayaan nasional
dan kebudayaan modern. Ini terutama dilakukan dengan program-program pendidikan
yang memberikan siswa suatu iklim sentuhan budaya yang tinggi. Pertama, sekolah
memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada siswa kelas III untuk memilih
jurusan bidang bahasa dan budaya tanpa ada intervensi sekolah, seperti sekolah lain, untuk
membual keseimbangan jumlah siswa yang memilih jurusan IPA, IPS, dan Bahasa.
Dengan siswa lebih banyak memilih jurusan bahasa dan budaya inilah sekolah
mengembangkan program pendidikan sosial budaya dan seni yang cukup intensif baik
yang bersifat kurikuler, kokurikuler, maupun ekstrakurikuler. Dalam bidang kurikuler dan
kokurikuler siswa dapat mengikuti kurikulum bahasa, sastra, dan budaya yang cukup
intensif, seperti: bahasa dan sastra Indonesia, bahasa dan sastra Inggris, bahasa Jepang,
bahasa Arab, bahasa dan sastra Bali, dan sejarah masyarakat dan kebudayaan Bali. Dalam
kegiatan ekstrakurikuler, sekolah mengembangkan kegiatan ekstra, seperti: melukis,
menari Bali, menabuh, dan kajian agama Hindu dan kebudayaan Bali (dharmacanthi dan
dharmawacana).
Kedua, sekolah juga menciptakan iklim kehidupan budaya Bali yang cukup kental
dalam lingkungan sekolah. Penggunaan bahasa Bali halus oleh semua unsur civitas
sekolah dalam komunikasi di luar jam pelajaran adalah program utama menciptakan iklim
budaya Bali tersebut. Kebiasaan yang utama dilakukan juga adalah
aktivitas religius
setiap hari yang mewarnai lingkungan sekolah.
Dalam hubungan antara sekolah dan masyarakat sebagai wujud sosialisasi sekolah
di lingkungan masyarakat, sekolah juga ikut terlibat dalam kegiatan upacara ritual Hindu
yang cukup sering dilaksanakan di pura-pura yang besar di wilayah Ubud, keterlibatan
sekolah dalam kegiatan ritual di lingkungan puri Ubud, dan keterlibatan guru dan siswa
dalam kegiatan-kegiatan festival seni dan budaya yang sering dilaksanakan di Ubud
sebagai objek wisata budaya dan seni.
Salah satu yang unik juga dilakukan sekolah adalah bahwa dalam upayanya
melestarikan lingkungan lembah yang cukup luas ada di sebelah timur sekolah, sekolah
124
telah mengembangkan sikap dan perilaku siswa yang baik melalui jalur r d ^ S ^ 9 ^ ^ " "
keyakinan civitas sekolah bahwa lembah di sebelah timur sekolah merupakan teftipaf_
suci yang secara niskala (tidak kasar mata) dihuni oleh makhluk-makliluk suc^Jj"
disebut dengan wong samar. Karena itu, dikembangkanlah sikap dan perilaku untu&s&tsrii*
menjaga kelestarian dan kesucian lembah itu.
Praktik budaya seperti ini jelas sekali menunjukkan bagaimana struktur pikiran
orang Bali yang bersifat nva bhineda terhadap lingkungan alam secara fisik. Walau
lingkungan lembah sebagai buana alif merupakan lingkungan fisik biologis, namun orang
Bali percaya bahwa lembah ini juga menjadi bagian dari kekuasaan buana agung yang
hidup mengatur kelangsungan kehidupan makhluk-makhluk (tumbuh-tumbuhan dan
binatang) di lembalL Unsur kekuatan buana agung itulah yang disimbolkan atau
dipersonifikasikan dengan wong samar (makhluk yang tidak kelihatan, sesungguhnya
merupakan kekuasaan Ida Sang Hyang Widhi Waca). Dengan adanya penghormatan,
persembahan dan hidup selaras dengan kekuatan buana agprtg ini secara tidak langsung
juga merupakan upaya pelestarian lingkungan lembah. Dengan begitu struktur pikiran
seperti ini bisa didekati dengan kajian pendekatan strukturalis (Barker, 2004).
Ketiga, dengan tidak mengabaikan pengembangan unsur-unsur kebudayaan
nasional, sekolah juga secara konsisten melaksanakan kurikulum sekolah yang merupakan
kurikulum nasional yang pada dasarnya dinilai guru sebagai upaya mempertahankan dan
mengembangkan serta membawa pesan nilai-nilai yang hidup dalam perkembangan
kebudayan nasional Indonesia.
Secara kurikuler, dengan standar nasional, kurikulum mendidik dan mengajarkan
kepada siswa bahwa Pancasila sebagai kepribadian dan pandangan hidup bangsa Indonesia
merupakan
nilai-nilai
yang
harus
selalu
menjadi
pedoman
dalam
kehidupan
bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara Indonesia. Dengan model pendidikan nilai
seperti itu memang tampak lebih ditekankan kepada siswa perlunya kesadaran individu
untuk selalu berupaya selaras dengan sistem dan nilai-nilai serta norma-norma dalam
kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Tidak ada tempat dalam model
pendidikan nilai seperti ini bagi anak untuk melakukan kritik dan refleksi sosial, untuk
membuat perubahan, dan untuk menjadi bebas menjadi dirinya sendiri. Pandangan seperti
ini jelas sejalan dengan pemikiran fungsionalisme yang lebih menekankan arti keselarasan
dan keseimbangan sistem sosial budaya dalam menciptakan keteraturan sosial dan budaya
dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara (Mulder, 2003).
125
Pendidikan IPS juga memiliki peran yang besar dalam pembentukan image tentang
masyarakat dan kebudayaan nasional di kalangan siswa. Kurikulum dapat menciptakan
kesan bahwa Indonesia itu adalah daerah yang subur; kaya dengan sumber-sumber alam
termasuk flora dan faunanya; memiliki aneka ragam hasil budaya masyarakat; penduduk
dengan multi etnik, ras, bahasa, adat isitiadat, dan agama, sehingga perlu dikembangkan
sikap toleransi dan saling menghormati; bangsa yang memiliki latar belakang sejarah dan
perjuangan yang sama dalam mencapai kemerdekaaan seiiiiigga membentuk semangat
nasionalisme; dan masyarakat dengan corak budaya agraris yang bersifat komunal dan
paternalistik yang kini berada dalam masa transisi menuju modernisasi yang demokratis.
Dengan kurikulum bahasa dan sastra Indonesia, siswa belajar tentang bahasa
persatuan, bahasa komunikasi antar individu dan masyarakat dalam kehidupan berbangsa
dan bernegara Indonesia. Siswa juga belajar keterampilan berbahasa Indonesia untuk
meningkatkan pengetahuan dan wawasan dan berkomunikasi secara ilmiah. Pelajaran
sastra Indonesia juga setidak-tidaknya telah mengajarkan kekayaan ragam sastra nasional
yang menumbuhkan sikap apresiasi siswa terhadap perkembangan sastra Indonesia.
Akhirnya, dengan visi budaya, sekolah juga diakui oleh kepala sekolah dan guruguru serta siswa telah berfungsi mentransmisikan kebudayaan dan nilai-nilai global yang
berbasis pada penguasaan dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta nilainilai sertaan yang sejalan dengan kepentingan penguasaan dan pengembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi tersebut., antara lain: pentingnya belajar dan bekerja keras;
berorientasi pada prestasi; berpandangan ke depan; penguasaan dan pelestarian terhadap
alam; partisipasi dalam pemecahan masalah-masalah lokal, nasional, dan global;
menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan yang universal; hubungan dan komunikasi antar
bangsa; kompetisi dan kerja sama secara global; menjunjung nilai-nilai demokratis;
penghargaan terhadap hak-hak azasi manusia, hak-hak kelompok minoritas,
kesetaraan gender;
dan
pengembangan budaya multi kultural; dan penciptaan perdamaian
dunia (bandingkan dengan Cogan, et al.,1997).
Dari
kajian pengembangan
visi
dan
tujuan-tujuan
sekolah
seperti
yang
digambarkan di atas, jelaslah bahwa visi yang dikembangkan di SMU Negeri 1 Ubud telah
mencerminkan perwujudan fungsi dan tujuan-tujuan pendidikan nasional, yaitu pendidikan
nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban
bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk
berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa
kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri,
126
dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab (Depdiknas, 2003).
Pengembangan visi seperti ini juga menunjukkan bahwa tujuan pendidikan dalam rangka
pembentukan manusia modern yang beradab tidaklah semata-mata diorientasikan untuk
mengejar penguasaan iptek seperti dalam adagium iniellecius quaerrens ftdem, atau
sebaliknya, hanya berorientasi pada peningkatan keimanan semata seperti dalam adagium
fides quaerren$ inleltecium. Pengembangan visi di atas jelas menunjukkan suatu konlinum
dari kedua adagium tersebut dengan tetap memberikan tekanan pada peningkatan e
keimanan sebagai dasar yang pertama dan utama dalam pengembangan penguasaan iptek
berbasis budaya lokal, nasional, dan global secara seimbang dan demokratis (Somantri,
2001).
Pemberian penekanan pada peningkatan keimanan sebagai yang pertama dan
utama, baru kemudian diikuti dengan pengembangan penguasaan iptek seperti ini, sejalan
dengan pandangan kosmologis orang Bali yang berstruktur rwa bhimda yang
menempatkan status buana agung (keimanan atau crada dan bhakti kepada Ida Sang
Hyang Widhi Waca) sebagai tempat utama (hulu) dalam kehidupan dan status buana alit
(penguasaan iptek) sebagai tempat leben,
tetapi di antara keduanya berfungsi
komplementer dan tidak saling meniadakan.
C. Pariwisata di Kecamatan Ubud
Kegiatan pariwisata di wilayah Kecamatan Ubud dan sekitarnya telah berlangsung
sejak tahun 1920 sampai tahun 1930-an. Pada masa itu salah seorang punggawa Ubud
yang berasal dari keluarga bangsawan, Cokorda Gede Raka Sukawati, yang menunjukkan
kesetiaannya kepada raja Gianyar dan menjadi anggota Volksraad di Batavia banyak
mengundang seniman-seniman dunia untuk mengembangkan Ubud menjadi desa pusat
pengembangan kebudayaan dan kesenian Bali. Ini memungkinkan, di samping karena
daerah Ubud sejak jaman perunggu di Bali memang sudah terkenal dengan perkembangan
kebudayaan dan keseniannya, Cokorda sendiri adalah bangsawan yang memiliki interes
dan komitmen yang tinggi untuk melestarikan dan mengembangkan kesenian Bati. Tak
kurang seniman seni rupa dunia seperti Walter Spies datang dan tinggal menetap di Ubud
untuk mengembangkan seni rupa di Ubud.
Kondisi perkembangan seperti ini membuat Ubud menjadi semakin terkenal
sebagai pusat kesenian di Bali. Walau beberapa perubahan telah terjadi pada gaya dan
objek-objek lukisan dan hasil karya patung, kondisi ini sama sekali tidak meninggalkan
nilai-nilai seni tradisional seniman-seniman Ubud yang selalu mengintegrasikan dan
127
mempersembahkan karya seni mereka untuk persembahan atau yadnya kepada Tuhan
sebagai sumber kesenian (Ciwanaiamja). Sejalan dengan perkembangan seni lukis dan
seni pahat di Ubud, jenis-jenis kesenian yang lain pun turut berkembang pesat di Ubud. Di
Desa Peliatan Ubud, misalnya, sangat berkembang seni gamelan, seni tari yang terkenal
dengan legong keratonnya, dan seni drama. Pada tahun 1931, group musik tradisional dan
legong dari desa ini, yang dipimpin oleh musisi legendaris Anak Agung Gede Mandera
telah diundang oleh pemerintah Perancis untuk melakukan eksibisi di kota Paris.
Perkembangan seni musik Bali di Desa Peliatan inilah yang menarik seniman musik Kunst
untuk menulis tentang musik Bali yang dipublikasikan tahun 1925. Karya Kunst inilah
yang menarik Spies juga untuk belajar seni musik Bali dan mengantarkannya menjadi
direktur orkestra kesultanan Yogyakarta yang melanglang buana ke Eropa. Tidak itu saja,
di Desa Mas, Ubud juga, misalnya, berkembang seni kerajinan membuat wayang dari
bahan kulit dan seni kerajinan kayu yang berkembang hingga sekarang. Kedua jenis seni
kerajinan ini berkembang pesat di tangan-tangan para keluarga brahmana di Desa Mas
yang merupakan keturunan dari Dang Hyang Nirarta (Pendeta Hindu-Budha dari
Majapahit) dan diturunkan kepada para siswa-siswanya Tidak mengherankan jika hasilhasil karya seni mereka bernafaskan jiwa religius yang bermutu tinggi (Susilawati, 2002;
Anonim, tt.b).
Penjelasan di atas menunjukkan bahwa perkembangan pariwisata di Ubud diawali
oleh perkembangan keseniannya yang disertai pula dengan adanya interaksi antara
seniman-seniman lokal dan seniman-seniman barat yang difasilitasi oleh keluarga puri
Ubud.
Interaksi
antara
seniman-seniman
lokal
dan barat ini
ternyata mampu
mengembangkan kegairahan seniman-seniman lokal di Ubud untuk mengembangkan dan
memadukan hasil-hasil karya seninya, sampai bahkan melahirkan jenis kualitas seni
kontemporer (Bandem, 2005; Katja, 2005). Tidak saja yang berkembang kemudian adalah
seni rupa dan seni pahatnya saja, tetapi berkembang pula bidang-bidang seni yang lain,
antara lain seni inusik atau gamelan, seni tari, seni pertunjukan (drama, drama tari, iopeng,
arja, wayang kulit, wayang wong, gambuh, joged bumbung, dan lain-lain), seni sastra, dan
seni kerajinan atau seni kriya.
Di samping itu, interaksi ini pulalah yang menghasilkan seni wisata yang turut
mendukung
kebutuhan
pariwisata akan
nilai-nilai
keindahan.
Tetapi,
walaupun
perkembangan terjadi dalam kesenian di Bali (baik yang menyangkut bidang keseniannya,
objeknya, medianya, alirannya, maupun gayanya), orang Bah tetap dapat membedakan
hasil karya seninya menjadi dua klasifikasi, yaitu seni yang dipersembahkan untuk
128
kepentingan yadnya (upacara ritual) dan seni yang dikembangkan untuk pemuasan rasa
estetis manusia. Seni yang dipersembahkan untuk kepentingan upacara ritual ini umumnya
memiliki nilai mistis dan religius dan tidak mengalami perubahan. Sebaliknya, seni yang
ditunjukkan untuk kepentingan manusia, termasuk seni wisata, di samping memiliki nilainilai keindahan, juga memiliki nilai-nilai prestise dan komersial, dan, karena itu,
cenderung mengalami perubahan. Pembedaan hasil karya seni ini juga menunjukkan
struktur dalam, struktur pemikiran, masyarakat Bali yang menekankan adanya kekuatan
m-a-bhinneda antara kekuatan buana alil dan buana agung (Bandem, 2005).
Tidak mengherankan, karena itu, jika aktivitas pariwisata di Ubud khususnya dan
di Bali pada umumnya terus berkembang seiring dengan perkembangan yang perlahan tapi
pasti. Pada tahun 1960-an dan 1970-an mulailah masuk industri perhotelan dan caiering
ikut terlibat dalam aktivitas pariwisata dengan mulai beroperasinya beberapa hotel /
penginapan di wilayah Ubud, Sanur yang terkenal dengan Hotel Bali Beachnya, dan
Legian Kuta. Tahun 1970-an inilah yang dinilai sebagai awal booming pariwisata Ubud
pada khususnya dan di Bali pada umumnya yang didukung oleh mulai dibukanya Bandar
Udara Ngurah Rai sebagai bandara internasional (Anonim, tt.a).
Sejak tahun 1980-an hingga kini dinilai sebagai perkembangan pariwisata yang
bersifat massa di Bali. Dewasa ini jumlah kunjungan wisata ke Bali pada umumnya dan ke
Ubud pada khususnya dinilai masyarakat menunjukkan peningkatan walau ada pengaruh
global (isu terorisme, perang Irak, dan isu SARS) terhadap tingkat kunjungan wisatawan,
tei-utama dari mancanegara. Berikut ditunjukkan data kunjungan wisatawan ke Bali dalam
lima tahun terakhir (1999-2003) yang mengalami fluktuasi pasang surut setiap tahunnya.
Tabel 13: Data Kunjungan Wisatawan Mancanegara dan Domestik ke Bali dari
Tahun 1999 sampai dengan Tahun 2003 (dalam Ribuan)
j NO
1
1
i
I2
! 4
i
J
i
s
2002
2003
1.380,800
5.489,000 j
i
! .406,700
1.218,100
1.033,800
231,882
774,455 !
915,455
383,940
888,255
212,900
312,700 ;
351,500
353T700"
4137800"
440,909
78,806 i
277,848
296,160
261,086
2.951,503
2.251,900
2.616,941
1999
1
..
TAHUN
2001
KLASIFIKASI
Mancanegara
(i n
Ciassified Hotel)
Mancanegara
(Nonclassified Hotel)
Domenstik
(in
Ciassified Hotel)
Domestik
(Nonclassified Hotel)
JUMLAH
2.266,491
2000
2.654.961
j
Sumber: Badan Pusat Statistik Bali, 2004
Implikasi kunjungan wisatawan yang bersifat massa ini memberikan dampaknya
yang semakin luas dirasakan masyarakat, tidak saja terhadap perkembangan kesenian di
129
Ubud, tetapi terhadap aspek-aspek kehidupan yang lain baik dari dimensi sosial, budaya,
ekonomi, lingkungan, dan kehidupan religius masyarakat. Ubud diakui masyarakat,
budayawan, dan ilmuwan (peneliti) telah berkembang menjadi daerah tujuan wisata di Bah
yang bercorak wisata budaya. Sejarah perkembangan aktivitas pariwisata di Ubud seperti
dijelaskan di atas menunjukkan fenomena budaya dimaksud (Anonim, tt.a). Ini sesuai
dengan kebijakan Pemerintah Daerah Propinsi Bali dalam Peraturan Daerah Nomor 3
Tahun 1974 yang menetapkan jenis kepariwisataan yang dikembangkan di daerah Bah
adalah pariwisata budaya (Ahrnad Baso, 20G2). Pariwisata budaya adalah jenis
kepariwisataan yang dikembangkan bertumpu pada motivasi pengembangan berbagai
aspek luhur kebudayaan (Geriya, 1996), seperti: pemanfaatan, penataan, dan pelestarian
ekosistem lingkungan alam; pelestarian dan pengembangan berbagai karya seni;
pelestarian dan pengembangan nilai-nilai dan sistem sosial budaya; penguatan kehidupan
religi; peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui sektor pendidikan; serta
penataan, penyelarasan, dan pengembangan kegiatan politik dan ekonomi.
Sebagai objek wisata, desa-desa di Ubud sebagian menjadi desa penunjang
pariwisata, yaitu: Desa
Kedewatan, Desa Sayan, dan Desa Singakerta. Sebagian lagi
merupakan desa kunjungan wisata, yaitu Desa Mas dan Lodtunduh; sedangkan Desa
Ubud, Petulu dan Peliatan adalah sebagai desa-desa domisili wisatawan. Klasifikasi ini
memang tidaklah begitu ketat, tampaknya, terutama untuk desa penunjang pariwisata. Hal
ini karena di Desa Kedewatan dan Sayan, misalnya, telah mulai berdiri beberapa hotel/
penginapan dan beberapa wilayalmya juga telah cukup rutin mendapat kunjungan
wisatawan. Begitu pula, Desa Singakerta sebagian wilayahnya telah mendapat kunjungan
wisatawan, yang semua ini tampaknya akan berkembang terus.
Adanya klasifikasi ini tentu dapat diketahui bahwa intensitas interaksi wisatawan,
baik wisatawan nasional (domestik) maupun wisatawan manca negara dengan penduduk
atau masyarakat Ubud cukup bervariasi. Di sini intensitas interaksi yang paling tinggi
terjadi tentunya pada masyarakat di desa-desa Ubud, Peliatan, dan Petulu, diikuti,
kemudian, oleh masyarakat di desa-desa Lontunduh dan Mas, dan akhirnya masyarakat di
desa-desa Kedewatan, Sayan, dan Singakerta. Kondisi ini membawa dampak yang
beragam pula pada aktivitas dan kualitas kehidupan masyarakat Ubud secara keseluruhan
dalam kaitannya dengan aktivitas pariwisata.
Secara umum, wisatawan yang datang dan atau pernah tinggal di Ubud mencakup
baik wisatawan yang terorganisir {organized mass tourist atau inslilulionalized tourisi)
maupun wisatawan individual (the explorer or the drtfier) (Geriya, 1996). Hubungan
130
antara masyarakat dengan wisatawan tipe pertama ini umumnya lebih bersilat formal dan
mereka umumnya memanfaatkan jasa-jasa pariwisata yang bersifat formal pula, seperti
penggunaan biro peijalanan, gutde resmi, hotel-hotel berbintang internasional, dan
sejenisnya, seliingga hubungan mereka dengan masyarakat pada umumnya bersifat tatap
muka selintas.
Berbeda halnya dengan tipe wisatawan individual yang jumlahnya lebih besar di
Ubud, interaksi mereka dengan masyarakat pada umumnya sangat menyusup dan cukup
mendalam, karena mereka berinteraksi langsung dengan masyarakat. Mereka terutama
tinggal di rumah-rumah penginapw/homesiay, bungalow, bahkan di rumah-rumah
penduduk. Tidak mengherankan jika ada wisatawan asing yang tinggal di Ubud telah fasih
berbahasa Indonesia atau bahasa Bali, ikut bekerja di sektor industri pariwisata,
berkeluarga (kawin mawin) dengan penduduk setempat, menjadi anggota penduduk
setempat, belajar tentang kehidupan sosial budaya dan kesenian di Ubud, menjadi seniman
di Ubud, ikut berpartisipasi dalam kehidupan sosial budaya masyarakat, dan sejenisnva.
Dewasa ini bahkan telah berdiri sekolah TK internasional di Ubud yang menampung
putra-putri warga asing dan warga campuran yang menetap lama di Ubud.
Dapat dikatakan bahwa perkembangan pariwisata di Ubud dengan karakteristik
yang unik seperti di atas berkembang menjadi pariwisata kerakyatan yang berkelanjutan.
Dikatakan demikian karena dalam perkembangan pariwisata di Ubud, baik perencanaan,
pelaksanaan, pengembangan, pengelolaan, dan pengawasannya dapat dilakukan oleh
masyarakat desa adat dengan peranan puri Ubud sebagai cenier ofexcellencenya..
Peranan individu dan keluarga dalam menggerakkan perkembangan pariwisata di
Ubud juga cukup dominan sejak awal perkembangannya. Dimotori oleh individu-individu
dan keluarga-keluarga seniman di Ubud, mereka bekerja semata-mata demi meningkatkan
kualitas karya mereka dan untuk persembahan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang
berimplikasi pada peningkatan status sosial mereka di masyarakat dan karya-karya mereka
juga makin banyak mengundang wisatawan datang ke Ubud.
Di saat perkembangan pariwisata di Ubud mengalami booming awal di tahun
1970-an dan 1980-an mulailah generasi muda Ubud mengembangkan kreativitas mereka
untuk memajukan industri pariwisata di Ubud. Banyak generasi muda yang beralih bekeija
dari sektor pertanian ke sektor pariwisata yang lebih menjanjikan masa depan. Mereka
mulai mengembangkan usaha-usaha pariwisata secara individual dan keluarga, seperti
mendirikan arishop dan toko-toko souvenir, menyediakan rumah penginapan dan hotel
bagi wisatawan, membentuk kelompok-kelompok atau seka seni, membangun restoran,
131
cafe, dan bar; mengembangkan seni kerajinan; mengembangkan usaha cargo; memberikan
layanan guide freelance, menjadi tenaga-tenaga harian di rumah-rumah penginapan,
restoran, dan arishop, dan sejenisnya. Semua ini dapat berkembang tidak bisa dilepaskan
dari konsekuensi hubungan individual yang kuat dan mendalam antara masyarakat dengan
wisatawan-wisatawan kelas individual yang sebagian juga merupakan kelas-kelas pekerja
Para wisatawan mendapat pelayanan wisata, pengalaman keindahan, dan ketakjuban yang
memang mereka butuhkan datang ke Ubud, sementara masyarakat memperoleh materi dan
pengembangan wawasan sosial budaya dan pengetahuan bisnis pariwisata modern yang
rasional dari wisatawan (Geriya, 1996).
Untuk menghindari terjadinya konflik di antara sesama individu atau antar
keluarga dalam masyarakat serta konflik antara individu dan keluarga dengan para
wisatawan dalam pengembangan aktivitas pariwisata di Ubud, peranan desa dinas, desa
adat, dan kelompok-kelompok sosial budaya (seka) di Ubud juga cukup penting dalam
memajukan perkembangan pariwisata di Ubud. Peranan pemerintahan dan desa dinas
sangat penting dalam menyesuaikan kebijakan-kebijakannya agar tidak menyimpang
dengan kepentingan masyarakat adat, walau tidak seluruhnya dapat dilakukan terutama
yang menyangkut kebijakan penggunaan lahan tanah sebagai daya dukung lingkungan
terhadap pariwisata.
Kebijakan yang penting adalah adanya kesepakatan umum
masyarakat Ubud untuk tidak menjual tanah miliknya kepada orang asing melainkan
cukup disewakan saja, sehingga pariwisata di Ubud dapat dikembangkan dari, oleh, dan
untuk kepentingan masyarakat Ubud pada khususnya dan masyarakat Bali pada umumnya.
Desa adat, kemudian, dengan dimotori oleh keluarga puri yang dominan menjadi
tokoh-tokoh masyarakat, agama, dan tokoh adat mengembangkan awig-awig adai
(peraturan adat) secara tertulis untuk dijadikan dasar bagi pengaturan desa adat di masingmasing desa adat di Ubud, termasuk dalam penataan pengembangan pariwisata yang telah
masuk ke sektor-sektor kehidupan dan wilayah-wilayah kekuasaan desa adat di Ubud.
Pengembangan awig-awig adai
ini
sepenuhnya berlandaskan
konsep
pemikiran
keseimbangan, keselarasan, dan keserasian dalam penerapan atau perwujudan konsepkonsep dan nilai-nilai iri hita karana, walau masih ada saja pelanggaran terjadi.
Menguatkan pelaksanaan awig-awig adai ini
dinilai tidak saja mampu
mendinamisasi perkembangan pariwisata di Ubud pada umumnya melalui dinamisasi
sistem sosial berbasis seka dengan azas kekeluargaan dan dinamisasi nilai-nilai
kebudayaan dan seni dalam meningkatkan kemampuan kreativitas (manajemen, desain,
alat dan bahan, media, bentuk, gaya/siyle, dan aliran), tetapi juga mampu mengontrol dan
132
mengeliminir atau meminimalisasi ketegangan-ketegangan atau konflik yang bisa muncul.
Prinsip-prinsip dan nilai-nilai yang dipegang masyarakat dalam mengembangkan
pariwisata di Ubud sesuai dengan jiwa awig-awig desa adai, antara lain adalah sebagai
berikut. Pertama, pengembangan pariwisata diabdikan untuk kepentingan masyarakat desa
adat Ubud, dan bukan sebaliknya, desa adat dijual untuk kepentingan pariwisata. Kedua,
pariwisata dikembangkan bertujuan makin meningkatkan kemampuan warga desa adat
untuk melakukan yadnya {panca yadnya: dewa yadnya, rsi yadnya, piira yadnya, manusa
yadnya, dan butha yadnya) dan tidak semata-mata untuk mengejar kepemilikan material.
Ketiga, pariwisata dikembangkan di Ubud dimaksudkan pula untuk meningkatkan kualitas
sumber daya manusia masyarakat Ubud (pawongan) dengan karakter kehidupan sosial
budayanya yang kental dengan mengoptimalkan seluruh potensi locai
genius yang
dimiliki. Dalam hal ini lingkungan alam dan kehidupan sosial budaya serta kreativitas
berkeseniaa masyarakat di Ubud memang sangat potensial dan dapat dimanfaatkan untuk
kepentingan perkembangan pembangunan bidang pariwisata. Keempat, aktivitas program
pariwisata di Ubud relevan dengan upaya penataan dan pengembangan lingkungan
palemahan dalam upaya menjadikan lingkungan Bali pada umumnya, dan wilayah Ubud
pada khususnya, sebagai pulau taman yang dalam eksploitasi dan pengembangannya harus
tetap memperhatikan kontinuitas kelestarian daya dukung lingkungan dan mengupayakan
penataan lingkungan yang bersih, aman, lestari, dan indah (BALI). Walau dalam
realitasnya penataan ruang atau lingkungan di Ubud telah mulai sesak dan sering
menimbulkan kemacetan lalu lintas, namun diakui wisatawan bahwa lingkungan di Ubud
secara umum masih cukup baik dan terbebas dari berbagai bentuk polusi.
Aktivitas kelompok-kelompok atau seka kesenian juga sangat besar peranannya
dalam memajukan pariwisata di Ubud. Munculnya seka-seka gong kebyar, kidung
(pesanlian), arja, angklung, selonding, joged bumbung, lari legong kraion, tari kecak, dan
seka baleganjur tidak saja ikut meramaikan dan menyemarakkan kancah perkembangan
seni wisata yang lain dari yang sudah ada dan berkembang di Ubud yang sebagian untuk
kepentingan komoditi pariwisata di Ubud pada khususnya, tetapi juga menjadi basis bagi
perkembangan kesenian Bali pada umumnya yang memang menjadi karakter utama
masyarakat Hindu Bali yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan berkesenian.
Dengan kemampuan adaptasi budaya masyarakat Ubud terhadap tuntutan
perkembangan pariwisata seperti ini, tidak saja pariwisata kemudian berdampak positif
kepada masyarakat Ubud, tetapi masyarakat Ubud sendiri sesungguhnya tidak bisa
dilepaskan dari dunia pariwisata. Simpulan ini sejalan dengan apa yang dinyatakan oleh
133
McKean (1973) yang merumuskan bahwa hubungan atau interaksi orang Bali dengan
wisatawan didasarkan atas prinsip saling mengharapkan. Mantra, sebagai dikutip oleh
Erawan (1993:292-2931) juga senada menyimpulkan sebagai berikut.
A few points I ha t can be drawn out in the frame of interaclion between culture
and tourism are: l) between culiure and tourism ihere has been developing a
dynamic interacting patlem; 2) and yet, its dynamism does not terminate only
horizontally, but also moves verticaliy in the sense that culture is able to increase
tourism and tourism is also able to develop culture; and 3) in the vertical
dynamism of culture, it is obviously visible the potency of the culture in the form
offlexible, adaptibility, and creativity without losing its own identity.
Tetapi, pariwisata budaya di Ubud juga tidak luput dari berbagai masalah. Masih
ada terjadi hingga kini keluhan wisatawan yang melaporkan ke lembaga informasi
pariwisata tentang adanya kasus-kasus pelayanan yang tidak optimal, gangguan keamanan,
gangguan terhadap privacy, gangguan kenyamanan, masalah kebersihan dan kesehatan
pada fasilitas-fasilitas
umum, masalah-masalah disiplin waktu dan kerja, serta belum
adanya aturan-aturan yang menjamin seluruh kepentingan wisatawan. Terhadap masalahmasalah ini tampaknya alasan kurangnya pemahaman masyarakat lokal
secara
komprehensif terhadap kepentingan wisatawan dan nilai-nilai budaya global serta alasan
perbedaan beberapa segi nilai-nilai dan sikap sosial dan budaya antara masyarakat lokal
dan wisatawan menjadi kendalanya.
Di samping itu, masyarakat sendiri juga menerima beberapa dampak negatif dari
maraknya aktivitas pariwisata di Ubud. Beberapa masalah yang timbul antara lain adalah
sebagai berikut. 1) Adanya kesenjangan ekonomi yang semakin lebar, karena perbedaan
tingkat pendapatan masyarakat antara masyarakat berpenghasilan tertinggi dan terendah
dan antar desa-desa di Ubud yang tidak sama tingkat perkembangan pariwisatanya. 2)
Berpengaruhnya penerapan sistem ekonomi berbasis kapital, menyebabkan para pemilik
kapital lebih memperoleh pendapatan yang setinggi-tingginya dalam usaha bisnis
wisatanya, sementara para seniman, pengrajin, petani, dan masyarakat pada umumnya
yang memproduksi barang-barang dan jasa untuk kepentingan wisatawan hanya
memperoleh pendapatan yang rendah. 3) Mulai munculnya sikap materialistis yang
menempatkan kepentingan ekonomi lebih besar dari kepentingan sosial dan agama,
termasuk munculnya sikap pamer terhadap pemilikan barang-barang mewah serta
menguatnya pola sikap dan perilaku konsumtif tingkat tinggi. 4) Munculnya sikap dan
perilaku pada sebagian masyarakat yang kurang menghargai arti penting pendidikan
formal sekolah karena dinilai tidak menjamin status sosial ekonomi. 5) Menyempitnya
lahan-lahan pertanian dan lahan-lahan yang berfungsi sebagai konservasi atau perlindunga
134
lingkungan yang digantikan oleh kepentingan pengembangan aktivitas industri wisata. 6)
Mulai adanya perubahan sikap masyarakat yang lebih menonjolkan arti penting nilai-nilai
dan aktivitas kebudayaan dan kesenian pada kegiatau-kegitan ritual keagamaan yang
semestinya lebih mengutamakan aspek nilai-nilai religiusnya untuk bisa ditunjukkan pula
bagi kepentingan perkembangan pariwisata di Ubud. 7) Berkembangnya fasilitas dan
sarana-sarana industri wisata menyebabkan tampak daya dukung lahan dan jalan-jalan
terasa semakin padat atau sesak dan ramai. Pada saat-saat tertentu dimana kunjungan
wisatawan meningkat, keadaan lingkungan terasa amat menyesakkan. 8) Pada sebagian
kalangan generasi muda, mulai muncul pula kurangnya sikap apresiasi mereka terhadap
produk budaya dan kesenian lokal dan lebih mengikuti perkembangan mode-mode budaya
dan seni kontemporer yang bersifat global. Beberapa dampak negatif ini dapat terjadi
karena masyarakat juga turut menyerap pola-pola hubungan sosial, pengetahuan, dan nilainilai serta sikap dan perilaku yang berbasis nilai-nilai budaya wisatawan melalui proses
penerimaan dari yang lebih bersifat imitasi sampai pada proses akomodasi dan akulturasi
budaya yang berbasis hvalgenius (Cainilleri, 1986; Gama, 1996; Wulf, 2002).
D. Keyakinan, Nilai-nilai, dan Sikap Guru terhadap Kehidupan Sosial Masyarakat
dan Budaya Bali dalam Proses Perubahan Sosial
Pada umumnya dapat dikatakan bahwa pendidik di lingkungan SMU Negeri I
Ubud memiliki persepsi yang sama bahwa dalam proses perkembangan sosial budaya
masyarakat Bali dewasa ini perlu ditegakkan konsep tentang ajeg Bali. Secara kebetulan
memang seluruh guru di SMU Negeri 1 Ubud merupakan orang Bali. Secara harfiah ajeg
Bali didefinisikan sebagai masyarakat dan budaya Bali yang selalu lestari atau ajeg.
Sedangkan makna yang dimaksudkan adalah sebagai suatu gerakan moral yang perlu
diperjuangkan dalam rangka mempertahankan karakteristik kehidupan religius, kehidupan
sosial, dan kehidupan berbudaya masyarakat Bali yang lestari. Tetapi, ini tidak berarti
lepas dari upaya dinamika masyarakat untuk selalu dapat maju setara dengan kemajuan
masyarakat lain dengan tetap berlandaskan nilai-nilai dan pola perilaku masyarakat Bali
yang religius, mengutamakan
kebersamaan, kekeluargaan
dan kegotongroyongan,
memajukan kesenian dau bahasa Bali. selaras dengan alam, penuh kedamaian (chanlt),
serta mengejar keseimbangan kesejahteraan sekala dan niskala (moksariham jagadhita ya
ca ili dharma).
Pemberian arti dan makna pada konsep ajeg Bali seperti ini tampaknya relevan
dengan konsep pelestarian budaya Bali yang diajukan oleh Widja (1993), Bateson (1973),
135
McKean (1973) dan Dube (1980). Dalam batasan makna seperti ini, ajeg Bali menuntut
adanya nilai-nilai fundamental yang harus dipertahankan dalam rangka tetap ajegaya. jati
diri masyarakat, tetapi sekaligus dengan nilai-nilai fundamental itu memberikan
kesempatan untuk menjadikan nilai-nilai pragmatisnya menyesuaikan diri dengan
perkembangan jaman. Dalam bahasa Widja (1993), pelestarian budaya menuntut
pengembangan upaya untuk tidak lepas dari akar budaya yang secara dialektis juga
mampu mendinamisasikan budaya (unsur-unsur budaya) agar mampu tetap seirama
dengan derap kehidupan pendukungnya yang akan selalu mengalami perubahan sebagai
konsekuensi tantangan jaman
Pandangan ini memperkuat Bateson (1973) yang
menyatakan bahwa "mol ion i\ e.s sen itu t to batunce". Lebih lanjut dikatakan: "this lasi
point give us a parlia/ answer to the qutstion of why the MK'ieiy not only contirtues to
function bu/ funcltons rapidly and busi/v'. Oleh McKean (1973) pengertian pelestarian
budaya seperti ini memiliki sekaligus pengertian yang simultan antara usaha konservasi
dan reformasi budaya: "...the re i s u (.stmullaneous) izndeticy towards vonservation as well
as towards changc. a Irend towurds rzsiorutum and rejbrmation as well as towards
pregress and modernizahon'\
Dari pandangan di atas ada beberapa nilai dasar yang tampaknya bisa
menjadi core vuluts yang disepakati guru yang mencerminkan nilai dan sikap sosial
budaya masyarakat Bali yang perlu terus dipertahankan. Pertama dan paling utama, pada
umumnya guru-guru menghendaki bahwa betapapun kemajuan masyarakat Bali dalam
proses modernisasi masyarakat yang menurut penilaian guru sebagian sudah cendemng
meninggalkan nilai-nilai budaya Bali yang luhur, namun pentingnya mempertahankan
nilai, sikap, dan praktik religius itu adalah mutlak hukumnya. Beberapa guru menilai
memang ada kecenderungan di Bali, terutama di beberapa pusat pengembangan pariwisata
dan di kota besar, orang Bali mulai kelihatan lebih materialistik.
Isu lain yang dinilai guru makin memperteguh perlunya penanaman dan
pembinaan nilai-nilai religius yang bersumber pada nilai-nilai ajaran Hindu Bali adalah
adanya kecenderungan pula bahwa sebagian masyarakat Bali dewasa ini telah berubah
keyakinan dan praktik agamanya dan keyakinan/kepercayaan serta pelaksanaan praktik
beribadah yang diyakini sesuai dengan ajaran Hindu Bah bergeser kepada keyakinan
Hindu yang cenderung universal atau dicap kena pengaruh India, dan bahkan ada yang
pindah agama seperti ke agama Kristen dan Budha. Terkait dengan isu ini memang tidak
ada keseragaman pandangan guru. Kelompok guru yang cenderung Balisentris menilai
perubahan keyakinan, sikap, dan praktik ritual agama seperti di atas, apalagi terjadi
136
perpindahan agama, tetap saja merupakan penyimpangan dari akar nilai-nilai religius
Hindu Bali, karena kegagalan memahami, menghayati, dan memaknai ajaran Hindu Bali
itu sendiri secara utuh. Bagi guru-guru kelompok ini, meyakini, mempercayai, menyikapi
dan mempraktikkan ajaran-ajaran religi Hindu di Bali itu tidak bisa dipisahkan dari
kepercayaan dan karakteristik sosial budaya yang hidup dan berketnbang dalam konteks
sosio budaya masyarakat Bali. Jadi agama dan kebudayaan itu tidak bisa dipisah-pisahkan
dalam praktiknya, walau dapat dibedakan secara kognitif.
Menurut kelompok ini, hukum agama tidak bisa dipisalikan dari hukum adat yang
berlaku. Di sini hukum agama melandasi hukum adat, dan karena itu, nilai-nilainya
menjiwai hukum adat. Sedangkan hukum adai mewujudkan hukum-hukum agama dalam
praktik keliidupan sehari-hari di masyarakat yang berbudaya dengan prinsip desa, kala
patra. Persandingan hukum agama dan hukum adat ini dapat teijadi karena karakteristik
perkembangan agama Hindu Bali itu sendiri merupakan integrasi atau sinkritisme dari
pengaruh India, Cina, Hindu-Jawa (Hindu-Budha), dan kepercayaan masyarakat lokal
yang tumbuh berkembang dengan kekuatan lucui genius yang memberikan karakteristik
yang unik pada etnik Bali dengan agama Hindunya.
Pemikiran ini sejalan dengan penggunaan konsep-konsep dalam tradisi Bali yang
dikembangkan dari prinsip-prinsip desa, kala, patra, yaitu konsep catur dresta, Iri
premana kala, dan calur keluh. Semua konsep di atas dalam pelaksanaannya merupakan
satu kesatuan yang tidak bisa dipisah-pisahkan. Inilah yang mendasari secara utuh prinsip
kehidupan religi masyarakat etnik Bali yang beragama Hindu dalam kaitannya dengan
integrasi antara tradisi agama dengan tradisi adat. (Dharmayudha dan Cantika, 1991: 4041).
Kelompok guru ini menghendaki bahwa dalam pendidikan agama di Bali, para
siswa harus diberikan pemahaman, nilai-nilai, pembinaan dan pengembangan sikap, dan
praktik yang tidak melepaskan antara ajaran kaidah-kaidah talwa, etika/susila, dan ritual
agama dengan pendidikan sosial dan moral budaya Bali yang unik. Ini tidak berarti bahwa
siswa akan belajar agama, kehidupan sosial, dan budaya yang statis. Pembelajaran konsep
dan nilai-nilai iri hila ha rana baik dari dimensi ajaran agama maupun pandangan budaya
yang disesuaikan dengan prinsip desa. kala, pairu diyakini membelikan dimensi ruang
gerak yang tetap dinamis kepada siswa.
Sementara itu, kelompok guru yang lain, yang umumnya golongan muda yang
lebih rasional, modem, dan moderat tetapi tidak cukup berpengaruh, berpandangan bahwa
penanaman dan pembinaan nilai-nilai agama kepada siswa sangatlah penting. Tetapi,
137
pembelajaran agama Hindu tidaklah harus bersifat Balisentris. Pembelajaran agama
hendaklah lebih rasional dengan menekankan unsur tatwa, susila, dan upacara yang lebih
bersifat universal dari pada menekankan unsur ritual Bali yang cenderung bersifat
Balisentris seperti yang sekarang terjadi. Mereka umumnya menghendaki upaya
pemurnian nilai-nilai agama Hindu yang bersumber pada Weda yang diyakini
mengandung nilai-nilai yang universal tersebut.
Pandangan seperti irti tidak menunjukkan bahwa kelompok guru ini tidak setuju
dengan konsep ajeg Bali, melainkan mereka menunjukkan lebih moderat dalam
pandangan-pandangannya untuk menuju Bali Hindu yang lebih modern dan universal.
Mereka tidak menolak praktik-praktik ritual agama yang bersifat Balisentris dengan
mempertahankan tradisi-tradisi adat setempat. Tetapi, mereka juga tidak menolak adanya
praktik-praktik agama Hindu sesuai dengan keyakinan dan kepercayaan umat lainnya.
Dari pandangan guru-guru yang menempatkan nilai-nilai religius sebagai nilai
ulama yang harus dilestarikan dalam perkembangan sosial dan budaya masyarakat Bali
ini, jelaslah menunjukkan bahwa masyarakat Bali pada umumnya, melalui gerakan moral
ajeg Balinya., masih menempatkan agama dan tradisi ritual mempunyai peranan yang
sentral dalam perkembangan sosial budaya masyarakat Bali. Agama Hindu diyakini dapat
mempunyai fungsi tidak saja sebagai pengontrol atau pengendali sikap dan perilaku
manusia Bali dalam proses pembahan, tetapi juga diharapkan berfungsi menjadi landasan
motivasi, pengokoh jati diri, dan pengarah tindakan untuk mencapai tujuan hidup
bermasyarakat (Abraham, 1991; Geriya, 1991; Goldthorpe, 1992; Gorda, 1996; Lauer,
1989; Mantra, 1991; J.
Menempatkan fungsi dan peran agama dalam keliidupan dan proses perubahan
sosial budaya masyarakat seperti ini, menuntut interpretasi yang utuh terhadap fungsi dan
peran agama dalam masyarakat. Pertama agama haruslah menjadi kekuatan atau energi
yang memberikan etos kehidupan dan etos kerja dalam proses kehidupan masyarakat yang
terus berubah. Dalam hubungan sepeiti ini, seperti kata Weber (Johnson,. 1994), agama
dapat memberikan semangat asketisme dalam dunia (inner-world/y ascelicism).
Inilah
yang dalam pandangan Hindu Bali memunculkan konsep swadharma, laksu. dan konsep
jengah sebagai konsep utama asketisme Hindu di samping konsep-konsep penunjang
lainnya seperti yadnya. dharma, karma phalu, iri guna, dan catur purusa artha (Geriya,
1991; Gorda, 1996).
Kedua, agama dapat juga menjadi pengokoh jati diri dan sebagai kontrol atau
pengendali diri dalam perubahan sosial budaya masyarakat.
Dalam fungsi ini
138
sesunggulmya agama berintegrasi dengan kehidupan sosial dan budaya masyarakat dan
mencerminkan kehidupan sosial masyarakat itu sendiri. Inilah yang menurut Durkheim,
agama menjalankan fungsi sebagai dunia yang suci yang mempengaruhi kehidupan tiaptiap individu dalam masyarakat yang merasakan adanya kekuatan supernatural sebagai
kekuasaan transenden yang timbul justru karena kehidupan kelompok itu sendiri. Fungsi
ini juga menjelaskan bahwa agama dapat membawa manusia pada kehidupan bersama dan
meyakinkan mereka ada dalam satu ikatan bersama (ikatan komunal) yang dapat
memperkuat solidaritas sosial di antara anggota-anggota kelompok masyarakat (Coser,
1971: 139). Menyatunya agama dengan kehidupan masyarakat melalui penerapan ideologi
Tri Hila Karuna di Bali menunjukkan fungsi agama Hindu pada tataran yang kedua ini.
Ketiga, agama dapat berfungsi sebagai pengarah tujuan hidup. Menurut ajaran
Hindu, tujuan hidup setiap manusia adalah tercapainya kebahagaian abadi baik di dunia
maupun di sorga (moksarihum jagadhila ya ca iti dharma). Ini relevan juga dengan
pandangan Weberdi atas tentang asketisme dalam dunia (Johnson, 1994).
Dengan begitu, dapat ditafsirkan pula bahwa, dalam perkembangan keliidupan
masyarakat Bali kini dalam pandangan para guru. fungsi agama juga dapat merevitalisasi
nilai-nilai sosial budaya Bali yang luhur yang berbasis pada nilai-nilai agama Hindu dan
tradisi masyarakat Bali. Fungsi ini penting dalam rangka tetap lestarinya masyarakat dan
kebudayaan Bali dari waktu ke waktu.
Nilai dasar kedua yang perlu dipertahankan dalam rangka ajeg Bali, menurut
penilaian guru-guru, adalah nilai-nilai kekerabatan dan hubungan sosial bercorak Bali
yang menekankan pentingnya nilai kekeluargaan, kebersamaan, dan kegotongroyongan.
Tujuan utama pelestarian nilai-nilai ini adalah agar tercipta sistem sosial dan hubungan
sosial kemasyarakatan yang berintikan nilai-nilai luhur pawongan yang dijiwai oleh nilainilai parahyangan masyarakat Bali dengan menciptakan hubungan sosial yang harmonis
antar individu, antar anggota keluarga, dan antar anggota krama desa dengan prinsipprinsip suka-duka. paras paras sarpanaya, segilik seguluk selunglung sebayaniaka, dan
saltng asah, saling asih, saling asuh sebagai dasar penciptaan hubungan masyarakat luas
yang harmonis. Nilai ajaran agama yang melandasi prinsip-prinsip ini adalah ajaran
tentang lai twam asi yang menganggap bahwa seluruh makliluk itu sesungguhnya adalah
satu (Aku adalah kamu, kamu adalah Aku) bersumber dari Brahman i Tuhan Yang Maha
Esa. Nilai-nilai ini tampaknya merupakan elemen dasar struktur masyarakat Bali yang
sejalatt dengan
teori Levi-Strauss (1967) tentang thmtniary siruciure bahwa sesuai
dengan kebutuhan-kebutuhan sosial yang muncul, tiap-tiap unit sosial yang produktif
139
• mengembangkan saling ketergantungan satu sama lain dalam hubungan kerja sama dan
persaingan di antara mereka (social inlerchange) yang bersifat resiprositas (reciprocHy).
Dalam hubungan kekerabatan orang Bali pada umumnya, keluarga dibenfuk
dengan hubungan perkawinan yang bersifat endogen dalam satu klen/trah keluarga. Ini
bertujuan untuk melangsungkan keturunan keluarga dengan satu garis hubungan leluhur,
sehingga dapat mengembangkan tradisi saling sumbah/sembaii. Hubungan perkawinan
seperti uii tidak saja dapat mempertahankan dan mengembangkan solidaritas dan ikatan
sosial secara horizontal, tetapi juga mengembangkan ikatan-ikatan sosial dan religius
secara vertikal melalui keyakinan dan budaya saling sembah.
Hubungan kekerabatan dalam unit yang paling kecil pada keluarga di Bali disebut
kuren. Satu kuren adalah sebuah keluarga inti yang terdiri atas ayali, ibu, dan anakanaknya. Keluarga di Bah umumnya dibangun atas hukum patriakat dengan penelusuran
garis keturunan bersifat patrilineal. Dengan sistem kekerabatan ini, ayah dan anak laki-laki
memiliki kekuasaan, hak, dan kewajiban yang besar baik dalam tugas-tugas keluarga
maupun dalam pelaksanaan tugas-tugas kewajiban kemasyarakatan (Atmadja, 1998).
Dengan sistem kekerabatan seperti ini sesungguhnya, di Bali, kekuasaan kaum laki-laki
sangat besar baik dalam fungsi sosial politik, kemasyarakatan, ekonomi, maupun dalam
fungsi religius keluarga. Di sini peran perempuan tampak cenderung hanya di sektor
domestik dalam keluarga dan perannya adalah sebagai pelengkap atau pendukung
(Branson and Branson, 1988; Pusat Studi Wanita UNUD, 1996; Rahayu, 2005;
Sudiatmaka, 2001).
Hubungan kekerabatan di Bali tidak hanya terjadi pada lingkup kuren. Sebuah
keluarga luas yang disebut pekurenan, yang terdiri dari sebuah keluarga inti senior dan
beberapa keluarga inti dari garis keturunan laki-laki dengan diikat oleh satu sanggah
(pura) keluarga dan tinggal dalam satu lingkungan pekurenan, juga masih menunjukkan
hubungan kekeluargaan yang kuat baik yang mencakup kepentingan sosial, ekonomi,
politik, pendidikan, penyelesaian hukum keluarga, maupun yang paling utama adalah
dalam pelaksanaan kewajiban ritual keluarga (Atmadja, 1998; Sudiasa, 1992).
Nilai-nilai seperti di atas ternyata tetap terpelihara juga dalam hubungan
kekerabatan yang lebih luas di Bali pada lingkungan keluarga yang disebut pada tingkat
keluarga dadya. Walau suatu dadya tidak lagi tinggal dan hidup bersama pada satu
lingkungan keluarga dan jarak tempat tinggal mereka bisa sangat berjauhan, tetapi ikatan
keluarga dari beberapa lingkup pekurenan yang sudah cukup luas ini masih bisa dijalin
140
melalui berbagai jenis kegiatan upacara keluarga yang dilangsungkan di tin
atau sanggah dadya.
Kecenderungan yang tampak menguat yang memiliki nilai positif
menurut penilaian guru-guru adalah, tumbuhnya kembali semangat kek<
sudah cukup lama redup, yaitu kuatnya kembali keinginan keluarga-keluarga atj3ay(%qa;
umumnya dan di daerah Ubud pada khususnya untuk mengenal sejarah asai usul
keluarganya. Penelusuran keluarga menurut garis leluhur laki-laki ini membentuk satu
ikatan trah/klen keluarga yang lebih kuat berdasarkan garis keturunan laki-lakinya.
Muncullah upaya keluarga di Bali untuk mengetahui kawitan (asal mula) keluarganya.
Dengan upaya ini muncullah kemudian kelompok-kelompok klen keluarga yang berbasis
pada nama atau sebutan leluhur keluarganya, sepati kelompok keluarga atau warga Pasek
Maha Goira Sanak Sapta Rsi, warga Cri Arya Kepakisan, warga Arya Wang Bang
Pinatih, warga Brahmana Keniten, warga Brahmana Mus. warga Ksatria Dalem dan
Tamanbali. warga Pande, warga Pulasari, warga Sangging, warga Bujangga Wesnawa,
warga Kayuselem dan sebagainya (Soebandi, 1985).
Nilai-nilai positif yang muncul dari upaya ini adalah menguatnya kembali ikatan
kekerabatan keluarga yang paling luas di Bali, dan pada akhirnya juga mengingatkan
persaudaraan seluruh orang etnik Bali, balikan sampai ke etnik Jawa Hindu (Soebandi,
1985).
Nilai positif yang lain yang sangat kuat adalah meningkatnya kesadaran religi
masyarakat Hindu pada umumnya. Bersatunya ikatan kekeluargaan pada tingkat trali atau
klen keluarga luas dengan semangat religius berupa bhakti kepada leluhur atau kawitan
dan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Waca sebagai asal mula (kawitan) semua manusia,
menunjukkan bahwa semangat religius sesunggulmya juga dapat tumbuh dari keliidupan
ikatan-ikatan sosial dalam masyarakat yang menumbuhkan kesadaran sosial dengan
semangat yang suci dani kesatuan dan keutuhan ikatan sosial dalam keluarga dan dalam
masyarakat itu sendiri (Coser, 1971: 139; Durkheim,I965; Johnson, 1994).
Hubungan sosial orang Bali tidak hanya terjadi pada lingkungan keluarga. Dalam
hubungan kemasyarakatan, orang Bali etnik Bali merasa hidup dalam kesatuan masyarakat
hukum adat yang disebut desa adat. Karakteristik kehidupan sosial religius desa pekraman
di lingkungan desa adat yang konsep-konsep dan implementasi awalnya telah dibangun
dan dikembangkan oleh Mpu Kuturan dengan mengintegrasikan konsep tri kahyangan
desa sebagai kewajiban utama desa adat masih berkembang kuat hingga sekarang. Dalam
melaksanakan kewajiban-kewajiban desa adat baik dalam kaitannya dengan kahyangan
141
liga desa (tiga pura desa: Bale Agung, Puseh, dan Dalem), kewajiban sosial
**' kemasyarakatan, maupun kewajiban terhadap palemahan (lingkungan) desa, krama desa
(warga desa) melakukamiya dengan berdasar pada awig-awig desa adat yang pada intinya
menerapkan ajaran lat (wam asi, nilai-nilai kekeluargaan, dan kegotongroyongan yang
kuat. (Sudiasa, 1992)
Begitulah kegiatan-kegiatan adat tersebut masih tumbuh dan berkembang hingga
sekarang; tidak ada anggota krama desa adat yang berani melanggarnya karena takut
mendapat sanksi sosial secara sekala dari warga desa adat, seperti: sanksi adat kasepekang
atau dikucilkan atau dikeluarkan dari lingkungan desa adat dan takut mendapat sanksi
secara niskala seperti kutukan leluhur dan mendapat hukum karma. Walau demikian,
sesunggulmya kegiatan-kegiatan adat di atas tidaklah semata-mata mengajarkan agar
setiap individu taat kepada kewajiban-kewajiban sosialnya, melainkan juga mengajarkan
nilai-nilai yang lebih mendasar dan mendalam seperti rela berkorban, kebersamaan, rasa
persatuan, saling menolong, mengutamakan kepentingan umum, dan semua itu dilandasi
oleh rasa bhakli kepada leluhur, bhalara pelindung, dan kepada Ida Sang Hyang Widhi
Waca (Sudiasa, 1992: Atmadja, 1998).
Kegiatan-kegiatan adat yang dilandasi nilai-nilai kekeluargaan seperti di atas tidak
saja mengajarkan adanya hubungan sosial yang bersifat horizontal dalam keluarga dan
masyarakat, tetapi juga hubungan sosial yang bersifat vertikal. Hubungan vertikal
ini
memunculkan adat sesana nganulin linggih, linggih nganuiin sesana (Sudiasa, 1992;
Atmadja, 2005). Artinya, sikap dan perilaku seseorang dalam menjalankan fungsi dan
peran sosialnya dalam keluarga atau masyarakat haruslah sesuai dengan kedudukan dan
status sosialnya atau kedudukan dan status seseorang haruslah dapat membawakan peran
sosialnya yang sesuai. Menurut Soediman Kartohadiprodjo, sebagai dikutip oleh
Dharmayudha dan Cantika (1991: 25) di sinilah sesungguhnya konsep bhinneka tunggal
ika itu diimplementasikan Taf twam asi memberikan makna bahwa setiap makhluk dan
manusia pada dasarnya adalah satu sehingga mereka hatus saling menghormati,
menghargai, dan menolong satu sama lain, tetapi dalam melaksanakan fungsi dan peran
sosialnya setiap individu dihargai perbedaan-perbedaannya.
Jika diperhatikan nilai-nilai kekerabatan dan hubungan sosial yang hendak
dilestarikan dalam rangka ajeg Bali di atas yang berlandaskan nilai-nilai kekeluargaan,
kebersamaan dan kegotongroyongan, dan nilai-nilai religius, tampaknya hal mi tidak bisa
dipisahkan dari struktur sosial dan budaya masyarakat Bali itu sendiri. Pendekatan
142
strukturalisme dapat digunakan untuk memahami hubungan-hubungan kekerabatan dan
hubungan sosial yang hendak dibangun seperti tergambar di atas.
Pada intinya, kehidupan sosial dalam kekerabatan orang Bah tidak saja dibangun
atas dasar ikatan-ikatan dan solidaritas sosial secara horizontal sebagai wujud hubungan
kekuatan buana alit, tetapi juga dibangun bersama-sama dengan ikatan-ikatan sosial yang
bersifat vertikal melalui hubungan dengan leluhur dan kawitan sebagai wujud hubungan
kekuatan buana alu dengan kekuatan buana agung, yaitu hubungan antara yang profan
dan yang suci (Barker, 2004).
Inilah juga yang tampaknya menyatukan makna kehidupan sosial budaya dengan
kehidupan religi orang Bali, yang menurut ide Durkheim,
dunia yang suci itu juga
sesungguhnya tidak bisa dipisalikan dari kenyataan sosial, yaitu kehidupan kelompok
sosial, dan sebenarnya mewakili kenyataan kelompok itu dalam bentuk simbol (totem)
(Coser, 1971; Durkheim, 1965; Johnson, 1994).
Nilai ketiga yang perlu dilestarikan dalam perkembangan kehidupan masyarakat
Bali adalah kesatuan dan keselarasan manusia dengan alam karena sesunggultnya manusia
dan alam itu adalah satu. Hal ini dapat diketahui dari adanya konsep penyatuan bhuwana
alit dan bhuwana agung. Orang Bali Hindu meyakini bahwa manusia sebagai bhuwana
alif adalah bagian dari bhuwana agung (alam semesta beserta isinya) yang universal.
Keyakinan ini didasari oleh kesamaan unsur yang membentuk manusia dan alam semesta
ini. Dalam ajaran Hindu Bali diyakini bahwa baik manusia {bhuwana alit) maupun alam
semesta (bhuwana agung) berasal dari dua unsur besar yang bersifat dikotomis, yaitu
unsur purusa dan prakerli. Unsur purusa dalam bhuwana agung adalah Paramaima atau
Brahman sebagai kekuatan tunggal dan dinamis, yaitu Tuhan Yang Maha Kuasa;
sedangkan unsur prakertia.ya adalah alam jagat raya tennasuk bumi tempat hidup manusia
sebagai unsur kekuatan statis. Pada manusia, unsur purusa adalah Atman sebagai bagian
dari Brahman yang menggerakkan dan mengaralikan hidup, dan unsui wadah fisik sebagai
kekuatan statis. Keseluruhan unsur wadah atau fisik baik pada bhuwana agung maupun
bhuwana alit dibangun dari unsur-unsur (Kinca maha bhuta, yang terdiri dari unsur-unsur
zat padat (prthiwi), zat cair (upah), api atau panas (teja), udara atau (bayu), dan unsur zat
ether (akasa). Dengan kesamaan unsur-unsur ini maka manusia tidak dapat melepaskan
diri dari kekuatan alam yang lebih besar, karena manusia itu sendiri merupakan bagian
dari alam (Sukrata, 2002).
Sifat hubungan manusia dengan alam seperti di atas dijadikan dasar dalam menata
lingkungan dan sistem kehidupan sosial, berbudaya, dan kehidupan religius manusia dan
143
masyarakat Bali. Dengan analogi manik ring cecupu manusia dapat mengembangkan
hubungan yang selaras, serasi, dan seimbang dengan alam. Di sini ada juga konotasi
keselarasan hubungan antara isi dan bentuk atau wadahnya (Ahimsa-Putra, 2001 ).
Dengan memperhatikan unsur dikotomis yang membentuk bhuwam alit dan
hhuwuna agung, yakni unsur purusa dan prakerti, maka baik bhtcwana alit maupun
bhuwana agung mengandung unsur sekala (yang tampak kasat mata/unsur prakerii) dan
niskala (yang tidak tampak atau transenden/unsur purusa). Kedua unsur ini sesunggulmya
meliki hukum kesepadanan. Karena itulah untuk dapat memahami dan menghayati dunia
niskala, manusia Bali mengembangkan sistem simbolik dari dunia nyata (sekala) yang
mengintegrasikan simbol fisik dengan sifat-sifatnya. Sebagai contoh, dunia Dewa yang
merupakan dunia kebajikan dilambangkan dengan manusia yang tampan berwibawa
dengan segala kelebihannya. Dunia raksasa sebagai dunia kejahatan, sebaliknya,
dilambangkan dengan hewan dengan segala sifat buruknya.
Implementasi konsep rwa bhineda ini dalam hubungan manusia dengan alam
diwujudkan dalam beberapa keyakinan dan tradisi/adat. Sebagai contoh, dengan adanya
konsep hulu-teben dikaitkan dengan konsep suci-leteh, maka orang Bali meyakini bahwa
tempat yang di atas (hulu) adalah lebih suci dari tempat yang di bawah. Maka, orang Bah
tidak akan menempatkan barang-barang yang kotor letaknya di atas manusia. Begitu pula
membangun rumah, misalnya, tidak boleh lebih tinggi kedudukannya dari pada tempat
suci. Orang Bali juga meyakini bahwa arah kaja (gunung) sebagai tempat yang tinggi
mempakan tempat yang suci, sedangkan arah kelod (pasih/laut) merupakan tempat rendah
yang berkonotasi leleh. Sehubungan dengan ini, dalam membangun tempat suci, misalnya,
baik untuk sanggah ataupun pura, pembangunannya harus diletakkan di arah kaja (utara
atau timur) dari bangunan untuk rumah tempat tinggal. Sebaliknya, kuburan desa adat
sebagai tempat leleh umumnya di letakkan di arah kelod (arah ke laut/selatan). Begitulah
konsep rwa bhineda ini digunakan untuk mengatur tala lingkungan baik dalam lingkungan
keluarga, banjar/desa adat, lingkungan perkantoran atau perusahaan, dan sejenisnya.
Tempat-tempat bangunan seperti ini tidak boleh ditukar tempatnya (Atmadja, 1996; 1997).
Jika di langgar, diyakini, keluarga akan mendapat mara bahaya atau mala atau dalam
bahasa lokalnya disebut pemalian.
Hubungan manusia dengan alam juga diwujudkan oleh orang Bali Hindu dengan
penghormatan dan syukur terhadap lingkungan yang telah memberi berkali kepada
manusia. Penghormatan dan syukur ini dilakukan dengan mengadakan upacara untuk
lingkungan. Karena itulah di Bali dikenal adanya upacara lumpek bubuh/iumpek uduh/
144
tumpek wariga, tumpek kandang, tumpek landep, dan tumpek wayang. Di beberapa daerah
di Bali balikan dikenal adanya upacara ngerarung bikul (mengusir tikus) yang berlaku di
Desa Adat Julali (Atmadja, 1996) dan upacara ngaben bikul (pembakaran jazad tikus)
berlaku di daerah Tabanan (Sanjaya, 1992).
Hubungan manusia Bali yang harmonis dengan alam tidak hanya terjadi pada alam
yang sekala (kasat mata) tetapi juga pada alam niskala. Di sini orang Bali umumnya
meyakini bahwa alam semesta ini (bhuwana agung dan bhuwana aUl) terdiri dari tiga
tingkatan atau loka sehingga disebut dengan iri loka. Pada bhuwana agung tiga tingkatan
itu terdiri dari swah loka (dunia para dewa), bhwah loka (dunianya manusia), dan bhur
loka (dunia alam gaib untuk makhluk-makhluk seperti jin, setan, wong samar, gandaruwa,
para bhuta, binatang, dan makhluk-makhluk tingkatan rendah lainnya). Pada bhuwana alii,
selanjutnya, dikenal adanya alam saiwam yang mempengaruhi sifat manusia bersikap dan
berperilaku dewa (berbudi pekerti luhur), alam rajas yang dapat mempengaruhi manusia
bersikap dan berperilaku seperti raksasa/iblis (egois, ambisius, sombong, serakah, kasar,
pemarah, tamak, dan sejenisnya) dan alam lamas yang dapat mempengarulii perilaku
manusia seperti binatang (pemalas, ingin yang enak dan gampang saja, pelantun, dan
sejenisnya).
Untuk terjadi keseimbangan alam yang harmonis di antara ketiga alam di atas, dan
manusia dapat hidup secara harmonis pula dalam lingkungan alamnya, maka manusia
berkewajiban menata lingkungan dan mengatur keseimbangan alam tei"sebut. Secara
sekala, manusia Bali kemudian menata lingkungannya dalam berhubungan dengan ketiga
tingkatan alam tersebut melalui konsep tri mandala. Maka lingkungan itu baik dalam
lingkungan keluarga maupun lingkungan yang lebih luas diatur ke dalam tiga
lingkataii/mtfrtdWtf. Pertama liarus ada lingkungan yang merupakan area! parahyangan
sebagai lingkungan yang suci tempat bersemayam para dewa dan roh leluhur yang telah
suci, yaitu tempat bangunan suci seperti sanggah keluarga atau bangunan pura untuk desa
yang umumnya letaknya di tempat yang tinggi atau di arah utara atau timur dalam tatanan
lingkungan keluarga atau desa. Kedua merupakan areal untuk pawongan sebagai tempat
tinggal manusia yang umumnya berada di titik pusat lingkungan. Dan ketiga merupakan
areal palemahan sebagai lingkungan pendukung.
Secara niskala, selajutnya, hubungan manusia dengan ketiga alam ini untuk dapat
tejadi hubungan yang harmonis dengan alam dilakukan dengan berbagai bentuk dan
tingkatan upacara yang pada dasarnya merupakan bagian dari panca yadnya (lima macam
korban). Untuk hubungan manusia dengan alam para dewa dan roh leluhur/para Rsi yang
145
suci agar para dewa memberikan sinar suci, perlindungan, dan anugerah sifat-sifat
kesucian, maka manusia perlu melakukan upacara yang disebut Dewa Yadnya dan Rsi
Yadnya (korban suci kepada Tuhan Yang Maha Esa, para Dewa, Bhatara pelindung, dan
roh suci leluhur atau para Rsi).
Untuk membangun hubungan yang harmonis dengan sesama manusia, di samping
secara sekala manusia perlu membina komunikasi sesuai dengan status, fungsi, dan
perannya dalam hubungan dan sistem sosial, manusia Bali juga melakukan upacara
yadnya secara niskala yang disebut upacara manusa yadnya dalam bentuk upacara daur
kehidupan (Atmadja, 19%).
Akhirnya untuk menjalin hubungan yang harmonis dengan alam bawah (bhur loka)
manusia juga melakukan upacara bhuta yadnya sebagai persembahan kepada para bhuta
dalam berbagai bentuk dan tingkatan. Tujuan upacara bhula yadnya ini pada dasarnya
adalah memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa dan para Dewa agar para bhula tetap
berada pada wilayah kehidupannya masing-masing dan tidak mengganggu keliidupan
manusia serta memberikan persembahan kepada para bhuta agar mereka bersedia turut
menjaga dan memelihara keseimbangan alam
semesta sesuai dengan fungsi dan
swadarmanya masing-masing.
Dari pandangan kesatuan manusia dengan alam seperti di atas, jelas sekali bahwa
manusia dan masyarakat Bali memandang hidup, masyarakat, dan kebudayaannya
merupakan satu kesatuan sistem organis yang sistemik yang juga tidak dapat dipisalikan
dari lingkungan alamnya, yang struktur-strukturnya hanya bermakna dalam relasi-relasi
sistem yang diciptakan dalam pandangan yang saling melengkapi (komplementer) dari
hubungan-hubungan hukum rwa bhineda: buana alit dan buana agung (Widja,1991).
Jelaslah pula bahwa pandangan hidup masyarakat Bali juga merupakan pandangan hidup
sistemik. Hal ini menekankan masalah hubungan dan bukannya pada entitias-entitas yang
terpisah, dan melihat hubungan-hubungan ini sebagai sesuatu yang secara inheren bersifat
dinamis. Kebudayaan Bali karena itu adalah kebudayaan yang berproses; bentuk dikailkan
dengan proses, interelasi dengan interaksi, dan pertentangan-pertentangan disatukan
melalui osilasi (Capra, 1998).
Strukturalisme seperti ini dapat juga dikembalikan kepada pandangan LeviStrausss yang memandang proses-proses transformasi budaya selalu terjalin dalam
hubungan relasi-relasi sistem yang terbetuk dari pasangan oposisi biner, tetapi yang justru
saling melengkapi. Relasi-relasi sistem itu antara lain menciptakan relasi tesis dan antitesis
(ada atas ada bawah; ada suci ada profan; ada kebajikan ada kejahatan, dan sebagainya),
146
relasi analogi (atas beranalogi dengan kesucian, alam kedewaan, kebajikan, dan laki-laki;
sebaliknya, bawah beranalogi dengan
kekotoran, alam raksasa dan binatang, dunia
kejahatan, dan dunia perempuan), relasi kesepadanan yang menciptakan sistem simbol
(para dewa sebagai simbol kebajikan disimbolkan dengan manusia laki-laki yang tampan
dan gagali dengan segala kelebihan; sedangkan para raksasa sebagai simbol dunia
kejahatan disimbolkan dengan wajah perempuan tua yang menyeramkan dan menakutkan
dengan lidah yang menjulur mengeluarkan api, mata mendelik marah, dan susu yang besar
bergantung), relasi perlindungan dalam hubungan "manik ring cecupu" (individu sebagai
manik berlindung pada keluarga sebagai ceaipunyu. keluarga sebagai manik berlindung
pada desa adai sebagai cecupunya, desa adat sebagai manik berlindung pada kesatuan
wilayah yang lebih besar sebagai cecupunya.), serta relasi-relasi lainnya (bandingkan
dengan Ahimsa-Putra, 2001, Barker, 2004).
Nilai-nilai dan tradisi keempat yang perlu ditegakkan dalam rangka ajeg Bali
menurut pandangan dan keyakinan guru-guru adalah nilai-nilai etika dan estetika dalam
kehidupan berkesenian orang Bali. Menurut guru-guru, keyakinan ini bersumber dari
ajaran Weda. Dalam Weda setiap penghayatan kepada Tuhan Yang Maha Esa disertai oleh
nilai keindahan (estetis); suatu penghayatan keindahan dan kesemarakan. Sebagai
pandangan agama, Bhagawad Gila menyebutnya wibhuti yoga - jalan kemegahan.
Perwu judan kemegahan itu adalah cahaya ijyoii), dan dalam pengertian yang lebih abstrak
adalah kemuliaan (bhargas), keagungan (makas) dan kecantikan (sri), keindahan (wapus),
kehebatan (cUram). dan sebagainya (Sadya, 1990:17).
Dalam keliidupan locai genius orang Hindu Bali, nilai-nilai keindalian dalam Weda
dan Bhagawad Gila seperti di atas terkreasi melalui keterpaduan keserasian, keselarasan.
dan keseimbangan hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan manusia dengan
sesamanya, dan hubungan manusia dengan alam yang melahirkan nilai-nilai etika dan
estetika yang dalam. Nilai etika dan seni dalam hal ini diwujudkan dalam bahasa simbolik
yang memiliki nilai-nilai etika yang tinggi. Dikatakan demikian karena dalam upayanya
memahami, memaknai, menghayati, dan merasakan dunia niskala yang maha agung itu
dan untuk menjembataninya dengan dunia sekala, maka orang Bali menciptakan sistem
simbol kebenaran yang di dalamnya juga mengandung nilai-nilai estetika yang tinggi.
Terwujudlah kemudian seni tabuh dan gamelan, seni tari, seni wayang, seni kidung, seni
sastra, seni pertunjukan, seni lukis, seni pahat, dan seni pembuatan banten yang
seluruhnya diabdikan untuk penghayatan pemuliaan kepada keagungan Tuhan dan
pemuliaan kedudukan manusia sebagai makhluk pencipta kedua serta pemuliaan terhadap
147
keindahan alam. Tidak mengherankan jika kesenian di Bali tumbuh dan berkembang
diabdikan untuk kepentingan agama dan yadnya (korban suci). Berpadunya kesenian Bali
dengan kegiatan agama dan yadnya ini menyebabkan kesenian Bali memiliki nilai
magis/mistis, nilai etika, dan nilai-nilai estetis yang tinggi.
Begitu pula nilai-nilai etika sangat kuat mendasari karya-karya seni Bali. Berbagai
karya sastra kekawin tentang Mahabharata dan Ramayana dengan berbagai cabangcabangnya yang kemudian menjadi basis bagi pengembangan karya seni lukis, seni drama
dan tari, seni pertunjukan wayang kulit dan wayang orang, seni pahat, dan sebagainya
memberikan pengalaman nilai etika hidup yang sangat sempurna kepada kehidupan
masyarakat Bali karena karya-karya seni itu juga mengandung nilai-nilai etika moral
kehidupan, seperti kejujuran, pentingnya ihnu pengetahuan dan teknologi, budi pekerti
yang luhur, rela berkorban tanpa painerih, cinta dan kasih sayang, ketulusildasan,
berderma kepada sesama, ketaatan, kesetiaan, hormat kepada orang tua dan leluhur,
religius, pengabdian kepada negara, kepemimpinan asta bharaia, kebenaran dan keadilan,
dan sebagainya (Suastika, 2002).
Karakteristik orang Bali yang lain dalam kehidupan berkesenian adalah bahwa
kesenian tidaklah hanya dimiliki oleh elit-elit seni mau tertentu saja seperti di daerah lain,
tetapi juga sudah berkembang menjadi milik masyarakat etnik Bali Hindu pada umumnya.
Tidak mengherankan jika setiap banjar atau desa adat di Bali memiliki seka gong. Kita
juga mengenal seni lukis gaya Penestanan Ubud, gaya Kamasan Klungkung, gaya Batuan,
dan lainnya yang menunjukkan bahwa seni lukis itu adalah milik masyarakat. Kita juga
mengenal nama seka arja Bon Bali, seka joged Silangjana, Topeng Carangsari, tenunan
Tenganan Pegringsingan, Tari Barong Batu Bulan, seni jegog Jembrana, gamelan tektekan
Kerambitan Tabanan, dan banyak lagi lainnya yang menunjukkan bahwa kesenian juga
dapat dikembangkan oleh kelompok sosial tertentu / seka atau menjadi milik yang khas
dari satu daerali tertentu. Demikian juga semua orang Bali juga tahu bahwa ukiran atau
seni pahat gaya Buleleng memiliki ciri yang khas jika dibandingkan dengan ukiran gaya
Bali selatan.
Berkembangnya kesenian Bali yang berbasis pada masyarakat luas tersebut
dimungkinkan karena adanya peran kelompok-kelompok sosial seperti seka dan peran
banjar atau desa adat yang mengintegrasikan kehidupan berkesenian dengan kehidupan
beragama dan dalam tradisi atau adat setempat di samping karena peran lembaga-lembaga
148
masyarakat lainnya dan peranan sekolah atau lembaga pendidikan formal kesenian,
seperti: SMKI, SMSR, PSSRD UNUD, ISI Bali, dan sebagainya.
Walaupun kesenian Bali beragam bentuknya dan masing-masing daerah atau
kelompok tertentu mengembangkan corak yang unik serta dalam perkembangannya
mendapat banyak pengaruh dari kesenian lain sebagai konsekuensi perkembangan
pariwista di Bali, sesungguhnya kesenian Bali pun berkembang tidak lepas dari hukum
dualisme rwa bhinneda. Pertama, dalam karya-karya klasiknya, kesenian Bali umumnya
menggambarkan perang kehidupan masyarakat Bali antara dkarma (kebajikan) dengan
adharma (kejahatan) sebagai tergambar dalam cerita-cerita epos Maha Brata dan
Ramayana serta cerita-cerita Panji atau cerita-cerita Tantri. Gambaran dualisme keltidupan
ini sangat kental kita ketemukan dalam bentuk-bentuk kesenian pertunjukan (petforming
ari), karya seni rupa, seni suara (kekawin/kiduug), seni pahat, dan seni sastra. Kedua,
dalam perkembangan seni modern, khususnya dalam karya-karya seni rupa dan seni
patung, corak dualisme itu juga ternyata tidak bisa ditinggalkan, antara lain ada gambaran
perang antara kehidupan tradisi yang sederhana dan kehidupan modern yang glamor, ada
gambaran perang antara konstruksi gender dan perlawanan perempuan, ada gambaran
perang antara hutan yang mulai punah dengan pertumbuhan beton gedung dan mesin
industri, dan pertentangan-pertentangan lain yang menunjukkan hukum rwa bhinneda itu
sendiri. Ketiga, dalam perkembangannya menerima pengaruh-pengaruh luar, masyarakat
Bali sendiri bereaksi terhadap pengaruh-pengaruh modern yang kapitalistik dengan
mengembangkan bentuk-bentuk seni akulturasi yang dibedakan dengan seni-seni tradisi
masyarakat. Reaksi seperti ini memungkinkan terjadinya penggolongan karya seni antara
seni H uli (seni untuk persembahan secara religius) dan seni bebalihan (seni untuk
tontonan masyarakat umum). Seni bebalihan inilah juga yang berkembang menjadi seni
akulturasi (Prasetyo, 2005; Soedarsono, 1993).
Orang Bali adalah juga kelompok etnis masyarakat yang suka dan cinta damai.
Demikian ditegaskan oleh guru-guru SMU Negeri 1 Ubud. Karena itu karakter seperti ini
dapat dikatakan sebagai karakter ulama orang Bali. Lihat saja salam yang diberikan orang
Bali dalam pertemuan atau perjumpaan, diawali dengan mengucapkan salam Om
Suusliusitt dan pada akhir pertemuan dengan Om Chanii, Chanii, Chanii Om menunjukkan
betapa sesungguhnya orang Bali itu cinta damai. Dengam salam Om Suasliastu memberi
makna bahwa setiap orang BaJi dengan iklas mendoakan orang !ain agar memiliki
kehidupan yang baik, karena salam ini secara harfiah berarti semoga dalam keadaan baik
149
dalam lindungan Tuhan Yang Maha Kuasa. Sementara salam Om Chanli, Chanti, Chanti
Om memberi makna bahwa setiap orang Bah menghendaki hidup yang damai: damai di
liati, dainai di dunia, dan damai selalu dalam lindungan Tuhan Yang Maha Kuasa. Karena
itulah nilai-nilai tentang kedamaian hidup ini perlu terus dilestarikan oleh orang Bali tanpa
terkecuali.
Salam orang Bali seperti di atas sesungguluiya bukanlah penciri utama sifat
masyarakat Bali yang cinta damai. Itu adalah salah satu wujud saja bagi orang Bali untuk
menunjukkan jati dirinya yang suka damai. Rasional yang mendalam mengapa orang Bali
cinta damai sesungguhnya berakar pada orientasi nilai hidup utama orang Bali yang selalu
ingin menunjukan keselarasan, keseimbangan, dan kehannonian dalam hubungan dengan
Tuhan, dengan sesama manusia, dan dengan alam yang terwujud dalam konsep ajaran iri
hita karana seperti telah tergambar secara selayang pandang di atas. Hanya dengan konsep
seperti ini orang Bali akan dapat menunjukkan seni ftidup dalam kehidupan sosial budaya
yang
damai
seperti
tergambar
dalam
karya-karya
seni
orang
Bah,
karena
keserasian/keselarasan, keseiinbanagn, dan kehannonian itu sendiri sudah menunjukkan
konsep kedamaian itu sendiri.
Kedamaian yang dituju oleh orang Bali adalah kedamaian hidup yang tertib,
teratur, indah, tenang menyejukkan, dan berdinamika sosial tetapi tanpa keegoisan, tanpa
kesombongan dan kecongkaan pribadi atau golongan, tanpa ambisi yang serakah, tanpa
kekerasan, tanpa gejolak, tanpa pembunuhan, dan tanpa pemusnahan. Landasannya adalah
nilai-nilai kebenaran dan kebijaksanaan yang disesuaikan dengan konsep desa (tempat),
kala (waktu), dan paira (keadaan). Ini maksudnya adalah bahwa setiap perilaku orang Bali
baik dalam bentuk pikiran atau ide, kata-kata, sikap, perbuatan, maupun dalam bentuk
hasil karya perbuatan haruslah dapat disesuaikan kegunaan dan pemanfaatannya dari
dimensi ruang/tempat, waktu/jaman, dan keadaan/kondisi. Kebijaksanaan seperti ini
digambarkan dalam Bhagavadgita sloka XVII, 20 yang arti bebasnya dapat dikatakan
sebagai berikut: "Sedekah yang diberikan tanpa mengharap kembali dengan keyakinan
sebagai lugas untuk memberikan pada tempat dan waktu yang tepat sekali dan kepada
orang yang patut disebut saliwika
Dalam dimensi ruang atau tempat, nilai kebenaran bagi orang Bali haruslah dalam
bungkus kebijakasanaan yang diatur oleh masing-masing dresla yang bersumber dari
catur dresla, yaitu kuna dresla (warisan leluhur), loka dresla (hukum negara), desa dresla
(tradisi desa/lokal), dan sastra dresla (aturan/hukum dalam kitab suci). Jika terdapat
150
ketidaksesuaian di antara keempat dresta di atas, maka musyawarah keluarga atau desa
adat akan menyelesaikannya secara damai.
Dari dimensi waktu, orang Bali percaya dengan konsep tri premana kala, yaitu
keterkaitan dimensi waktu masa lalu (atita), masa kini (wartamuna), dan masa yang akan
dalang ina^ata). Dalam hukum karma diyakini pula bahwa perbuatan yang dilakukan di
masa lalu jika pahalanya tidak habis dinikmati di masa lalu maka akan berbual) pada
kehidupan masa kini atau di masa yang akan datang. Begitu pula perbuatan yang
dilakukan di masa ini dapat berpahala pada kehidupan di masa sekarang juga, tetapi dapat
juga berbuah pada masa kehidupan yang akan datang.
lili tidak berarti bahwa manusia Bali tidak boleh berkreativitas dalam kehidupan
masa kini. Tetapi, kreativitas itu haruslah relevan dengan tradisi masa lalu agar tidak
menimbulkan gejolak sosial di masa yang akan datang yang dapat menghancurkan sendisendi kehidupan sosial masyarakat. Jika ini terjadi maka kedamaian itu tentu tidak akan
terwujud, karena alam dan kehidupan sosial menjadi tidak lagi selaras, seimbang, dan
harmoni.
Hal ini relevan dengan konsep pelestarian budaya sebagaimana dijelaskan oleh
Baleson (1973), McKean (1973), dan Widja (1993). Dalam pandangan pelestarian budaya,
pada prinsipnya, masyarakat berupaya dapat melestarikan nilai-nilai fundamental yang
telah dijunjung tinggi oleh masyarakat sebelumnya dalam rangka pengenalan dan
pemilikan jali diri masyarakat. Tetapi, masyarakat juga tetap menerima perubahanperubahan sosial sepanjang perubahan-perubahan tersebut tidak menggantikan struktur
sosial dan sistem nilai-nilai fundamental dalam masyarakat dengan struktur dan nilai-nilai
baru yang asing. Perubahan seperti inilah yang dimaksudkan oleh golongan strukturalisme
sebagai satu bentuk transformasi sosial budaya (Ahimsa-Putra, 2001, Barker, 2004), yang
dalam bahasa strukturalisme Levi Strauss, antara lain disebutkan, "otie need imagine n<>
SOLI
u! Mubi/ity nor aven ekuilibrium. Rather one traces cu I turut codes that uchieve
rtlaiivt and iransienl order out of relutive randomness (hrough continous adjusmenls,
shift.s. and ongoing fluctuaiion (Boori, 1985: 169) "
Konsep catur keiah, selanjutnya, merupakan pandangan orang Bali untuk
menyesuakan tindakannya kepada kondisi dan nilai-nilai yang ada. Dalam hal ini setiap
sikap perbuatan orang Bali di samping dilakukan sesuai dengan pikiran-pikiran dan
perasaannya sendiri (.swa tah), haruslah juga disesuaikan atau disepadankan dengan
kebijaksanaan orang banyak yang ada di lingkungan sekitar (para (ah), sesuai dengan
151
pendapat masyarakat pada umumnya (loka lah), dan sesuai pula dengan dasar pembenaran
pada ajaran-ajaran kebenaran, kesusilaan, hukum, dan agama (sastra (ah). Adanya konsep
catur kelali ini menunjukkan betapa kuatnya pengendalian sistem sosial dan kultural dalam
mengembangkan sistem kepribadian manusia dan masyarakat Bali untuk menyesuaikan
dirinya dengan kondisi-kondisi masyarakat dan budayanya (Ritzer dan Goodman, 2004).
Kepentingan hidup damai bagi orang Bali, menurut penilaian guru, juga adalah
karena pembangunan di Bali bertumpu pada sektor pariwisata sebagai sektor leading
berbasis pada pariwisata budaya dengan karakteristik budaya pertanian. Keberhasilan
pembangunan bidang pariwisata ini sangat diyakini bergantung sekali pada sektor
keamanan serta perdamaian dan kedamaian hidup baik bagi masyarakat Bali sendiri
maupun lebih-lebih untuk kepentingan para wisatawan, karena sedikit saja ada gejolak
yang membuat wisatawan tidak lagi tenang, aman, dan damai maka wisatawan dipastikan
tidak akan datang ke Bali.
Karakteristik utama lainnya dari masyarakat etnik Bali Hindu adalah dalam
kaitannya dengan kegiatan ekonomi masyarakat dalam rangka mengejar kesejahteraan dan
kemakmuran. Dalam hal ini guru-guru menilai bahwa masyarakat etnik Bali Hindu pada
umumnya cenderung lebih menghargai keseimbangan pencapaian kesejahteraan material
dan spiritual atau keseimbangan kesejahteraan sekala dan niskala dari pada hanya sematamata mengejar kesejahteraan material. Menurut guru-guru, ini sesuai dengau tujuan dari
dharma agama Hindu, yaitu mencapai moksariham jagadhita ya ca iti dharmah, yang
terjemahan bebasnya dapat diartikan bahwa tujuan agama itu adalah untuk mencapai
kebaliagian hidup di dunia dan di akhirat berlandaskan pada ajaran dharma atau kebenaran
(Geriya, 1988; 1996).
Dalam realitanya, nilai keseimbangan antara tujuan hidup mencapai kebaliagian di
dunia sekala dan kebagahagian hidup di dunia niskala itu diwujudkan dalam etos keija,
landasan etos kerja, dan penggunaan atau pemanfaatam hasil keija itu sendiri. Menurut
penilaian guru-guru, pada umumnya orang Bali itu meyakini bahwa kerja itu adalah
kewajiban hidup. Karena itu, setiap orang haruslah bekerja untuk Iiidup dirinya dan
keluarganya. Tidak seorangpun boleh berpangku tangan mengandalkan hidupnya kepada
orang lain. Diyakini bahwa alam semesta ini diciptakan, dipelihara, dan d\pralma melalui
karya/kerja Tuhan. Karena itu wajib hukumnya bagi setiap orang untuk bekerja. Dengan
begitu, keija bagi orang Bali sesungguhnya adalah yadnya (korban suci) bagi kehidupan.
152
.Sejalan dengan Iandasan motivasi kerja berdasarkan yadnya di atas, manusia Bali
dalam melaksanakan keija dijiwai pula oleh nilai-nilai lokal antara lain keija haruslah
dilakukan dengan metaksu, nyalanang jengah, dan semangat puputan. Dengan konsep
keija metaksu berarti bahwa keija tidaklah hanya dilakukan secara lahiriah melainkan juga
harus dilandasi oleh penjiwaan dan kecintaan terhadap kerja. Dengan melakukan kerja
sebagai yadnya yang dilandasi oleh penjiwaan dan kecintaan terhadap kerja akan
menimbulkan karisma dan etos kerja yang mulia kepada pemiliknya, sehingga ialah yang
dalam konsep modern dapat dikatakan sebagai profesional. Orang-orang seperti ini tidak
saja dihormati masyarakat, tetapi diyakini juga dihormati dan disayangi oleh para dewa
dan leluhur karena dinilai ikut memutar roda duma ini dengan dharmanyi. Selanjutnya,
dengan konsep nyalanang jengah berarti bahwa kerja hamslah dilakukan dengan usaha
yang sungguh-sungguh dan berani untuk melakukan kompetisi kerja dengan orang lain
dengan prestasi yang prima. Prinsip kerja seperti ini sesungguhnya dapat dijadikan model
bekeija dengan prinsip menjadi sang juara/pemenang. Akhirnya, bekerja dengan semangat
puputan berarti bahwa bekeija haruslah dilandasi oleh sikap dan tanggung jawab kerja
yang tidak setengah hati dan keberanian berkorban untuk mencapai hasil keija yang
maksimal. Bekeija dengan Iandasan etos atau nilai kerja seperti di atas diyakini oleh
masyarakat Bali Hindu akan memberikan produktivitas dan kepuasan kerja yang tidak saja
bersifat material tetapi juga memberikan keseimbangan secara spiritual.
Kebahagian yang seimbang antara kesejahteraan material (sekala) dan kebahagiaan
spiritual (niskala) tidaklah hanya dapat dicapai melalui proses dan aktivitas kerja saja.
Orang Bali juga meyakini bahwa hasil kerja secara material haruslah juga dapat
dimanfaatkan
baik
untuk kepentingan duniawi
maupun
rokhani.
Jadi prinsip
keseimbangan itu tidaklah hanya dapat dicapai dengan menciptakan sistem dan proses
keija yang dilandasi oleh nilai kerja yang luhur seperti di atas, tetapi juga dapat dicapai
melalui pemanfaatan hasil keija itu sendiri. Hal ini sejalan dengan kesimpulan penelitian
Geriya, dkk (1990) yang menyatakan bahwa
masyarakat Bali mementingkan
materi
bersama-sama dengan kepentingan spiritual, baik dalam kerja sebagai proses, sebagai
sistem, dan sebagai tujuan akhir dari kerja. Sehubungan dengan itu, orang Bali umumnya
menggunakan hasil kerja itu menjadi tiga bagian, yaitu: sebagian untuk kepentingan
kebutuhan hidup keluarga secara duniawi, sebagian untuk tabungan, dan sebagian untuk
bztyadnya (Gorda, 1996).
153
Dari berbagai pandangan di atas jelaslah bahwa dalam rangka mempertahankan
karakteristik masyarakat Bali terutama dalam upayanya mencapai kesejahteraan lahir dan
batliiri melalui aktivitas sosial ekonomi, agama Hindu dan beberapa nilai lokal Bali
memberikan peranan yang besar dalam memberikan landasan nilai-nilai kerja dan dalam
pemanfataan hasil kerja manusia. Di sini nilai-nilai agama Hindu tidak semata-mata hanya
berurusan dengan dunia transenden yang menurut pandangan Hindu semata-mata bersifat
niskala, tetapi juga memiliki hubungan dengan dunia imnanen bahwa untuk mencapai
tujuan agama Hindu mencapai moksa (kebahagiaan yang kekal abadi di dunia akhirat)
dapat juga dicapai melalui jalan karma yang baik di dunia. Hal ini dapat dilakukan dengan
menjadikan kerja di dunia untuk mencapai kesejahteraan hidup di dunia sebagai salah satu
bentuk yadnya (korban suci) kepada Tuhan Yang Malia Esa dan pengorbanan kepada
sesama manusia dan sesama makhluk.
Hal ini dapat disejajarkan sebagai bentuk
asketisme dalam-dunia masyarakat Hindu di Bali yang akan memberikan dorongan bagi
kemajuan kehidupan sosial ekonomi dan sekaligus memberikan karakteristik yang unik
bagaimana manusia dan masyarakat Bali mengembangkan kehidupan sosial ekonominya.
Ha! ini dalam rangka pencapaian kesejahteraan hidup lahir dan bathin dengan tetap
menjadikan nilai-nilai agama Hndu dan nilai-nilai lokal Bali yang relevan sebagai
landasan dalam mengembangkan nilai-nilai atau etos kerja atau karya serta dalam
pemanfaatan hasil karya Tesis ini jelas sejalan dengari pandangan-pandangan Weber
(Abraham, 1991; Goldthorpe, 1992; Horton dan Hunt, 1991; Johson, 1994; Lauer, 1989;)
dan beberapa pakar lainnya tentang peranan agama dan nilai-nilai lokal dalam proses
perubahan sosial menuju masyarakat modem (lihat Bellah, 1992; Davis, 1987; Dove,
1988; Wong, 1988).
Nilai-nilai luhur orang Bali seperti di atas perlu diwariskan dari satu generasi
terdahulu ke generasi yang lain berikutnya demi tetap ajegiiya masyarakat dan kebudayaan
Bali. Untuk ini, menurut guru-guru, diperlukan sarana komunikasi yang efektif dari
generasi
terdahulu
kepada
generasi
berikutnya
dalam
mentransmisikan
dan
mentransformasikan kebudayaan Bali itu sesuai dengan perkembangan jaman atau
kebutuhan generasi berikutnya. Salah satu sarana komunikasi pembelajaran yang dinilai
efektif itu diyakini adalah penggunaan bahasa daerah Bali Karena itu penggunaan bahasa
daerah Bali sebagai bahasa Ibu masyarakat etnik Bali Hindu dalam proses enkulturasi
budaya Bali kepada generasi muda dinilai sangat vital (Putrayasa, 2002; Sancaya, 2004).
154
Ada beberapa alasan yang mendorong perlu dan pentingnya pelestarian
penggunaan bahasa daerah Bali kepada generasi muda Bali dalam rangka proses
pewarisan nilai-nilai luhur budaya dan agama Hindu Bali. Pertama, diketahui bahwa
hampir seluruh dokumen tertulis suinber-suinber informasi pengetahuan dan nilai-nilai
agama dan kebudayaan Hindu Bali yang tertuang seperti dalam prasasti, awig-awig, karya
kesusasteraan, lontar, buku-buku lama/tua, dan sejenisnya tertulis dalam tulisan huruf
Bali. Kedua, nara sumber-nara sumber yang hidup untuk masalah-masalah adat, budaya,
agama, dan kesenian Bali .umumnya adalah orang lua-orang tua atau sesepuh yang
umumnya lebih mahir berbahasa Bali. Karena itu untuk memperoleh pengetahuan dari
mereka haruslah bisa berbaliasa Bali dengan baik. Ketiga, baik sumber-sumber tertulis
maupun nara sumber yang dimaksudkan di atas adanya, umumnya, di lingkungan keluarga
brahmana igeriya) atau di lingkungan
puri yang keduanya cenderung masih kental
mempraktikkan tradisi berbahasa Bah sebagai sarana komunikasi sosial. Dengan tiga
alasan di atas jelaslah bahwa untuk dapat memperoleh sumber pengetahuan dan nilai-nilai
tentang ajaran agama Hindu Bali, kehidupan adat dan kebudayaan di Bali, serta kehidupan
kesenian di Bali bagi generasi muda Bali diperlukan sarana komunikasi berupa
kemampuan penggunaan bahasa daerah Bali dengan baik dan benar. Kepentingannya bisa
ganda, yaitu melestarikan penggunaan bahasa Bali itu sendiri sebagai salah satu unsur
kebudayaan Bali di satu sisi, dan di sisi lain merupakan sarana untuk memudahkan serta
kemampuan untuk memaknai warisan budaya itu secara utuh, yang diyakini akan
menimbulkan banyak bias budaya terjadi jika dipaksa melakukan transfer ke bahasa lain
(Bali Post, 2005; Sancaya, 2004).
Alasan yang lebih mendalam dilandasi oleh pemikiran bahwa bahasa menunjukkan
budaya. Dengan pemikiran seperti ini diyakini bahwa budaya dan bahasa itu adalah dua
sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Budaya dapat dipahami dalam
hal ini sebagai dunia ide, gagasan, atau pemikiran yang kemudian mengarahkan cipta,
rasa, dan karsa manusia dalam hidup bermasyarakat yang kemudian melahirkan produk
budaya atau produk peradaban (Ahimsa-Putra, 2001; Supriadi, 2001). Dengan pemikiran
seperti ini dapat dikatakan bahwa bahasa itu adalah salah satu wujud budaya. Jika
demikian maka tidaklah naif untuk mengatakan bahwa dalam upaya pelestarian budaya
tentu termasuk juga upaya pelestarian bahasa sebagai produk budaya (bandingkan dengan
pengertian budaya oleh Koentjaraningrat, 2001).
155
Bahasa, di sisi lain, dapat dimaknai sebagai sistem simbolik yang diciptakan dan
digunakan manusia sebagai pencipta dan pendukung budaya dalam proses interaksi atau
koinukasi sosial masyarakat sebagai sarana untuk menjelaskan proses dan produk budaya
masyarakat tersebut. Jadi budaya dan bahasa adalah satu binatang dengan dua wujud
Budaya hanya dapat dipahami dan dimaknai secara utuh dalam bahasa penciptanya,
sementara bahasa adalah budaya itu sendiri dalam tataran dunia simbolik atau dunia ide,
yaitu pikiran manusia sendiri (Ahimsa-Putra, 2001; Levi-Strauss, 1963). Dari sudut
pandang ini, menurut Ahimsa-Putra (2001:25) lebih lanjut bahwa bahasa dapat dikatakan
sebagai peletak fondasi bagi terbentuknya berbagai macam struktur yang lebih kompleks,
lebih rumit, yang sesuai (correspond) atau sejajar dengan aspek-aspek atau unsur-unsur
kebudayaan yang lain.
Jika demikian adanya, maka, tidak mungkinlah mempelajari budaya suatu
masyarakat secara holistik dan utuh lepas dari sistem bahasa yang dikembangkan dan
digunakannya. Begitu pula tentunya dalam upaya pewarisan nilai-nilai budaya Bali kepada
generasi muda tentu tidak dapat dilakukan dengan baik tanpa menguasai sistem bahasa
Bali sebagai sistem simbolik yang diciptakan dan dipraktikkan dalain proses interaksi dan
komunikasi sosial masyarakat Bali yang menjunjung tinggi kebudayaan Bali.
E. Keyakinan, Nilai-nilai, dan Sikap Siswa terhadap Kehidupan Sosial Masyarakat
dan Budaya Bati dalam Proses Perubahan Sosial
Sebagai bagian dari masyarakat dan manusia etnik Bali Hindu, siswa SMU Negeri
I Ubud yang hampir seluruhnya sebagai orang Bali Hindu, pada dasarnya bangga merasa
sebagai orang Bali Hindu. Tidak saja ini terkait karena Bali dengan budaya dan agama
Hindunya menjadi sangat populer di mata internasional terutama melalui aktivitas
pariwisata budaya Balinya, tetapi kebanggaan ini juga muncul sebagai upaya untuk
menunjukkan jati diri sebagai manusia etnis Bali yang beragama Hindu yang eksistensinya
mempakan golongan minoritas baik di Indonesia maupun di tingkat global. Kebanggaan
seperti ini juga memunculkan sikap dan keinginan siswa untuk makin memperkuat
eksistensi manusia Bali bahwa walaupun sebagai golongan minoritas mereka bukanlah
orang-orang kerdil atau yang pantas dipinggirkan. Orang Bali memang kecil dalam
jumlah, menurut mereka, tetapi, mereka setuju bahwa yang kecil itu juga sangat indah
(smail is beau(iful).
156
Dengan sikap seperti itu, secara umum dapat dikatakan bahwa tidak ada perbedaan
pandangan yang signifikan antara siswa dan guru dalam memandang keberadaan dirinya
sebagai kelompok etnis Bali yang perlu terus mempertahan dan menunjukkan identitas
etniknya dalam proses kehidupan bermasyarakat baik di tingkat lokal, nasional, maupun
mondial. Dikaitkan dengan konsep ajegnya masyarakat dan budaya Bali, siswa pada
umumnya juga setuju dengan konsep ajeg Bali dalam proses perkembangan masyarakat
dan budaya Bali dewasa ini. Bedanya, siswa cenderung kurang menyadari atau memahami
bagaimana sesungguhnya konsep ajeg Bali itu diwujudkan, aspek mana saja dalam
kebudayaan Bali itu yang perlu dilestarikan, dau dengan upaya apa saja aspek-aspek
budaya Bali itu dipertahankan. Akibatnya, banyak siswa yang menyatakan penilaiannya
cenderung lebih afektual (suka tidak suka atau senang tidak senang) dan banyak unsur
yang menyebabkan konflik pandangan antara satu aspek dengan aspek lainnya, sehingga
sulit sesungguhnya untuk mendefinisikan makna ajeg Bali dalam konsepsi siswa dan
hampir tidak mungkin bisa dilakukan. Masalah ini tampaknya terkait dengan kurangnya
sosialisasi dan internalisasi wawasan dau nilai-nilai kebalian kepada siswa secara
sistematis dan ilmiah, sehingga konsep yang mereka bangun cenderung berdasarkan
pengalaman semata. Dalam bahasa pembangun pengetahuan (konstruktivisme), konsepsi
seperti ini merupakan konsep awal (pnor knowiedge) atau pengetahuan sehari-hari, atau
pengetahuan alamiah atau miskonsepsi tentang identitas jati diri sebagai manusia Bali
yang diperoleh melalui pengalaman siswa di lingkungan masyarakatnya (Gredler, 1992).
Identitas etnik Bali menurut siswa tampak antara lain dari aktivitas ritual agama
yaitu dalam melaksanakan catur yadnya atau panca yadnya, dari makanan khas Bali
berupa lawar Bali, dari perkembangan kesenian Balinya, penggunaan bahasa dan dialek
Bali, kuatnya kehidupan adat dalam banjar atau desa adat yang diikat oleh kewajiban
terliadap kahyangan liga, dari pakaian adatnya yang selalu digunakan pada saat kegiatau
ritual adat dan agama, dan dari salam yang digunakan bila bertemu satu sama lain
menggunakan salam Om Suastiastu dan Om Chanti, Chanti, Chanti Om. Dari pandangan
para siswa seperti ini tampak bahwa pandangan mereka lebih ditentukan oleh struktur luar
atau permukaan aktivitas kebudayaan orang Bali dari pada melihat struktur dalam yang
melandasi semua sistem aktivitas budaya orang Bali. Artinya, para siswa cenderung
menjadikan landasannya dengan membandingkan apa yang terjadi pada budaya lain yang
mereka ketahui dan apa yang unik dari budaya Bali itu yang tidak dimiliki oleh budaya
masyarakat lain. Jadi jelaslah bahwa pengetahuan mereka tentang identitas etnik orang
157
Bali masih merupakan pengetahuan
eksternal,
walau
sudah ada upaya untuk
merefleksikannya.
Pertama dan yang paling pokok merupakan identitas etnik orang Bali Hindu,
menurut pandangan para siswa, adalah pelaksanaan ritual agama orang Bali yang tampak
dalam aktivitas panca yadnya. Menurut siswa, identitas melakukan upacara panca yadnya
bagi orang Bali Hindu dilandasi oleh keyakinan adanya hutang (ma) manusia yang harus
dibayar kepada para dewa (dewa rna), leluhur (piirct rna), dan kepada para rsi (rsi rna)
yang disebut sebagai tri rna. Dengan konsep ini maka wajib hukumnya bagi orang Bali
untuk melaksanakan yadnya (persembahan korban suci), di samping hanis melaksanakan
keyakinan akan kebenaran ajaran panca crada sebagai ajaran tentang tatwa dan
melaksanakan ajaran iri kaya parisudha sebagai ajaran tentang etika/susila. Menjalankan
secara sungguh-sungguh keyakinan, ajaran etika, dan kewajiban ritual ini secara
keseluruhan akan memberi bobot kereligiusan orang Bali tampak unik dan ini perlu terus
ditingkatkan.
Tetapi, pemahaman dan penghayatan crada, bhakti, dan pembentukan karma
wacana dalam menjalankan nilai-nilai agama Hindu menurut para siswa lebih bersifat
personal. Ini karena hubungan manusia dengan Tuhan, menurut para siswa lebih lanjut,
lebih melupakan tanggung jawab pribadi.
Ini tidak berarti bahwa praktik kehidupan beragama Hindu di Bah yang selama ini
lebih menonjolkan ungkapan solidaritas sosial yang sesungguhnya menunjukkan jiwa
koletiktivitas masyarakat itu sendiri salah di mata siswa. Yang tampaknya lebih
dikehendaki adalah kebutuhan kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan segala
manifestasiNya; hubungan yang personal dan intim dengan Tuhan; doktrin tentang fungsi
sosial di dalam masyarakat; pengakuan yang pasti atas keyakinan dan kepercayaan; dan
keyakinan bahwa untuk mencapai tujuan hidup yang paling hakiki sekalipun dapat
ditempuh dengan berbagai jalan. Pandangan seperti ini tampaknya sejalan dengan
perkembangan masyarakat industri pariwisata di Ubud (bandingkan dengan Madjid,
1993:154-155).
Karakteristik etnik Bali utama yang kedua menurut pandangan siswa adalah
kuatnya ikatan kehidupan tradisi atau adat di banjar atau desa adat karena adanya ikatan
kewajiban terhadap kahyangan liga. Dalam banyak hal sesungguhnya siswa tidak banyak
mengetahui latar belakang mengapa orang Bali begitu kuat ikatannya dengan adat yang
berlaku di desa adat, khususnya dalam menjalankan kewajiban yang terkait dengan
158
kahyangan liga. Yang mereka alami sehari-hari dan mereka ketahui
kewajiban terhadap kahyangan liga adalah salah satu wujud keyakinan
dalam melaksanakan ritual dewa yadnya sebagai konsekuensi adany^ habffig. nfanasfe
W ii ia"'- '..•'' '"J""'
kepada para dewa yang telah menciptakan manusia, alam semesta, beseiij
Brahma di pura kahyangan Bale Agung), telah melindungi manusia
kahyangan Puseh), dau yang telah mengembalikan manusia dan alam ini kepada
asalnya/sumbernya {Dewa Ciwa di pura kahyangan Dalem). Sebagai konsekuensi adanya
ikatan bersama dalam desa adat dalam menjalankan kewajiban terhadap kahyangan tiga
hit, menurut siswa lebih lanjut, wajarlah jika kemudian dikembangkan sikap kekeluargaan,
kebersamaan, dan gotong royong dalam melaksanakan dan menyelesaikan tugas-tugas
ritual tersebut, karena pura-pura kahyangan tiga ini bukanlah sungsungan pribadi atau
keluarga, melainkan sungsungan bersama warga atau krama desa adat. Karena itu, wajib
hukumnya bagi setiap anggota atau krama desa adat untuk mematulii dan menjalankan
keputusan-keputusan
bersama desa adat
dalam
menyelenggarakan yadnya desa.
Pelanggaran terhadap keputusan bersama ini dapat dikenakan sanksi adat baik berupa
denda maupun kena sanksi adat kasepekang (dikucilkan dari masyarakat adat).
Persepsi siswa terhadap tradisi ikatan desa adat yang memunculkan sikap
kekeluargaan, persaudaraan, dan kegotongroyongan di antara kerama desa adat ini
ternyata cukup positif. Para siswa menilai, inilah karakteristik utama masyarakat Bali yang
paling positif untuk kepentingan bersama masyarakat desa adat atas dasar nilai-nilai
kekeluargaan, persaudaraan, dan kegotongroyongan yang masih tetap hidup kuat hingga
sekarang. Yang lebih positif lagi adalah bahwa desa adat dewasa ini tidak hanya peduli
dengan masalah-masalah yadnya saja, tetapi telah pula ikut berperan dalam meningkatkan
kesejahteraan krama desa melalui
kegiatan-kegiatan ekonomi desa adat seperti
keterlibatan desa adat di Ubud dalam turut memanfaatkan palemahan desa adat untuk
kepentingan kegiatan pariwisata yang mendatangkan kesejahteraan ekonomi bagi
kramanya, dan keterlibatan hampir seluruh desa adat sekarang dalam aktivitas lembaga
perkreditan desa adat (LPD) dalam rangka tuint memajukan perekonomian masyarakat di
wilayah desa adat masing-masing. Sebagaimana diketahui, LPD ini didirikan dan
dijalankan adalah dari, oleh, dan untuk kepentingan masyarakat desa adat.
Pandangan siswa di atas juga makin memantapkan bahwa nilai-nilai agama
memang dapat memberikan peranan yang positif dalam membentuk nilai-nilai solidaritas
sosial dalam masyarakat yang kemudian dapat juga menjadi kekuatan suci yang
159
mendorong masyarakat untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan sosial ekonomi yang
berguna demi kepentingan kesejahteraan masyarakat itu sendiri baik secara laliir maupun
bathin. Nilai-nilai fundamental ini jelas dapat dipandang sebagai bentuk asketisme dalamdunia masyarakat Hindu di Bali yang mempunyai kekuatan positif dalam proses-proses
transformasi sosial budaya masyarakat menuju kehidupan yang lebih baik (bandingkan
dengan Gertz, 1977, 1979; Gorda, 1996; Sukadi, 1994).
Karakteristik utama etnik Bali yang ketiga menurut pandangan siswa adalah
maraknya kehidupan berkesenian orang Bali dalam hampir setiap cabang kesenian.
Kesenian yang dikembangkan oleh orang Bali terutama diabdikan untuk kepentingan
yadnya.walau tidak dapat dipungkiri kesenian itu
ternyata dapat juga dijual untuk
kepentingan pariwisata (Yoety, 1986). Menurut siswa, mengapa orang Bah" memiliki
komitmen yang tinggi dalam mengembangkan kesenian Bali adalah karena agama Hindu
yang dianut orang Bali mewujudkan yadnyanya memang dalam bentuk seni. Dengan seni,
yadnya orang Bali dinilai lebih hidup, karena lebih menarik, labih halus, lebih indah, lebih
khusuk, dan lebih berdinamika. Seni, karena itu, adalah nafasnya agama Hindu. Hidup itu
sendiri bagi orang Bali adalah seni. Karena itu, kehidupan orang Bali Hindu diabdikan
untuk seni.
Seni bagi orang Bali juga diabdikan untuk kepentingan pariwisata. Dengan seni,
melalui pariwisata, orang Bali juga ingin menunjukkan kepada masyarakat lain bahwa
orang Bali itu mencintai keindahan, keselarasan, keharmonisan, kedamaian, persaudaraan,
kebajikan, dan keagungan. Orang Bali juga ingin mengajak orang lain memiliki nilai-nilai
kemanusiaan yang universal itu. Jika seni yang religius dan beretika tinggi itu bisa
diterima banyak orang lain, bukan mustahil tentunya bahwa orang Bali juga bisa
beryudnya untuk kedamaian umat manusia.
Karakteristik utama masyarakat Hindu Bali lainnya, menurut penilaian siswa,
adalah yang tampak dari sisi luar sebagai pemberian salam Om Suasliastu bila ada suatu
pertemuan atau perjumpaan atau memulai suatu pembicaaran tertentu dalam suatu
pertemuan dan salam Om Chartii, Chantt, Chanti Om sebagai penutup pertemuan atau
pembicaraan. Salam awal ini memiliki makna sebagai memberikan doa kepada orang lain
semoga ada dalam keadaan baik dalam lindungan Tuhan Yang Maha Kuasa. Sedangkan
salam akhir bermakna semoga dalam keadaan damai: damai di hati, damai di dunia, dan
damai selalu dalam lindungan Tuhan Yang Maha Kuasa. Dari kedua makna salam tersebut
dapatlah diinterpretasikan bahwa masyarakat Hindu Bali pada dasarnya memiliki sifat atau
karakteristik mencintai liidup yang damai.
160
Hidup damai bagi orang Bali, menurut pandangan siswa, adalah hidup yang tenang
tidak bergejolak, nikun, tertib, mementingkan menyama braya, hidup harmoni dalam
masyarakat, dan tidak ada kekerasan apalagi pembunuhan. Nilai-nilai yang melandasi
sikap seperti ini adalah ajaran tentang tat twam asi dan nilai-nilai lokal menyama braya.
Bagi orang Bali, persaudaraan dan kebersamaan itu jauh lebih penting dari pada
kepentingan pribadi.
Di samping karakteristik-karakteristik utama orang Bali seperti di atas yang
umumnya memiliki basis nilai-nilai yang kuat daJam ajaran agama Hindu Bali, orang Bali
juga memiliki karakteristik yang tidak begitu kuat berbasis pada nilai agama, tetapi kuat
melekatkan diri pada tradisi atau kebudayaan Bali, yaitu sifat orang Bali yang suka pada
jenis masakan/makanan khas Bali yang disebut lawar dan menggunakan pakaian adat Bali
jika melakukan ritual agama atau adat. Menurut siswa, karakteristik ini kuat tampak
terdapat pada orang Bali semata-mata karena sifat kemelekatan orang Bali pada tradisi
leluhurnya. Karena itu, di mana saja orang Bali tinggal, dua tradisi ini tidak pernah
dilupakan, sebagai bukti masih adanya ikatan orang Bali pada tradisi leluhurnya.
Akhirnya, menurut siswa juga, salah satu karakteristik orang Bali yang dikaitkan
dengan produk budaya orang Bali adalah penggunaan bahasa daerah Bali sebagai sarana
komunikasi baik dalam kehidupan keluarga, di sekolah, maupun di masyarakat.
Sayangnya, ada gejala di kalangan generasi muda siswa adalah makin melemahnya minat
siswa menggunakan produk budaya bahasa Bali terutama dalam pergaulan antar remaja,
apalagi dalam lingkungan formal. Menurut pengakuan siswa makin banyak saja siswa,
terutama di kota-kota, yang gengsi menggunakan bahasa Bali sebagai bahasa pengantar
komunikasi sehari-hari dalam pergaulan mereka. Alasannya, bahasa Bali sering dianggap
kampungan dan kurang praktis atau kurang gaul. Namun dalam praktik sehari-hari siswa
di SMU Negeri I Ubud dapat dikatakan bahwa siswa umumnya masih menggunakan
bahasa Bali dalam pergaulan sehari-hari. Balikan mereka umumnya masih terkesan malumalu bila diminta berkomunikasi dalam bahasa Indonesia, karena umumnya dialek mereka
masih kental dipengaruhi oleh dialek Bali.
Oleh karena itulah untuk menghindari kecenderungan siswa meninggalkan
penggunaan bahasa Bali sebagai bahasa pengantar sehari-hari, para siswa pada dasarnya
setuju menerima pelajaran bahasa
Bali sebagai salah satu kurikulum muatan lokal.
Balikan mereka pada umumnya juga dapat menyetujui dan senang dengan ada/iya
kebijakan sekolah untuk menggunakan bahasa Bali dengan baik dan benar sebagai bahasa
pengantar pada setiap hari Rabu dan sabtu.
161
Menurut siswa, penggunaan bahasa Bali oleh siswa perlu terus dilestarikan di
sekolah dalain rangka kesempatan siswa untuk dapat mempelajari khasanah budaya Bali
dengan baik. Diakui oleh siswa, tanpa dapat menguasai dengan baik bahasa Bali, mustahil
generasi muda siswa di Bali dapat mempelajari, melestarikan, dan mengembangkan
kebudayaan Bali yang luhur dengan baik. Padahal telah diketahui bersama bahwa program
pembangunan pariwisata di Bali berbasis pada pengembangan kebudayaan Bali. Karena
itu, menurut para siswa lebih lanjut, jika pariwisata di Bali ingin terus dipertahankan dan
berbasis pada budaya Bali, maka mau tidak mau generasi muda siswa Bali juga perlu terus
belajar melestarikan dan mengembangkan bahasa Bali demi ajegnya kebudayaan Bali.
F. Rekonstruksi Pemahaman dan Nilai-nilai Sosiobudaya Bali untuk Kepentingan
Pendidikan Sosial atau Pendidikan IPS di Sekolah
Dari pandangan-pandangan guru dan siswa seperti di atas tentang konsep ajeg
Bah, maka tidak dapat dipungkiri bahwa baik guru-guru maupun siswa pada umumnya
menginginkan bahwa kesadaran tentang ajeg Bali haruslah melandasi pengembangan dan
pelaksanaan program pendidikan sosial pada umumnya dan Pendidikan IPS pada
khususnya di sekolah.
Menurut pandangan guru-guru, pendidikan sosial pada umumnya, dan Pendidikan
IPS pada khususnya, haruslah mampu mengembangkan pengetahuan, sikap, nilai-nilai,
dan keterampilan sosial dalam hidup bermasyarakat di kalangan pebelajar yang dapat
dijadikan kecakapan hidup bagi mereka dalam kehidupan sosial budaya masyarakat
sekitarnya. Untuk mencapai tujuan di atas di samping secara kurikuler siswa di sekolah
mendapat mata pelajaran-mata pelajaran rumpun Ilmu Pengetaluian Sosial, seperti:
Geografi, Sejarah, Sosiologi dan Antropologi. Ekonomi, PPKn, dan Tata Negara, mereka
juga perlu diberikan bekal pengetahuan, nilai-nilai, sikap, dan keterampilan sosial yang
bersumber dari nilai-nilai sosio budaya Bali.
Untuk mengintegrasikan kepentingan pencapaian tujuan seperti di atas. ada tiga
level kebutuhan siswa dan masyarakat yang harus dipenuhi oleh sekolah dalam
mengembangkan kurikulumnya, baik secara fonnal maupun informal, yaitu level orientasi
global, nasional, dan lokal. Menurut guru-guru, level kepentingan global dan nasional
dapat dicapai dengan pencapaian kurikulum rumpun mata pelajaran IPS secara fonnal di
sekolah. Dikatakan demikian karena kurikulum dan pembelajaran rumpun IPS di sekolah
di
samping diyakini telah mendidik dan mengajarkan pola-pola berpikir rasional
berdasarkan nilai-nilai yang bersifat universal dalam pembentukan dan pengembangan
162
pengetahuan sosial siswa, mata pelajaran IPS juga banyak mengandung muatan
pengetahuan, nilai-nilai, dan sikap yang berorientasi pada kelu'dupan berbangsa dan
bernegara, baik melalui mata pelajaran Sejarah Nasional, Geografi Indonesia, PPKn,
Kebudayaan Indonesia, maupun dalam mata pelajaran Tata Negara dan tentang
pemerintahan Indonesia.
Sementara itu, untuk level kepentingan lokal tampaknya sekolah dan guru-guru
haruslah dapat menyesuaikan konsep-konsep, nilai-nilai, dan keterampilan-keterampilan
hidup lokal yang dapat disisipkan baik secara formal dalam bentuk kegiatan kurikuler
maupun secara informal dalam kegiatan-kegiatan kokurikuler dan kegiatan-kegiatan
ekstrakurikuler.
Pertanyaan yang muncul kemudian adalah bagaimana muatan materi pendidikan
yang demikian harus diintegrasikan dalam Pendidikan IPS di sekolah? Menurut guru-guru,
prinsip dasar yang harus digunakan adalah bagaimana dapat diintegrasikan konsep-konsep
dan nilai-nilai dasar Tri Hila Karana ke dalam pengembangan materi Pendidikan IPS di
sekolah dan ini pun harus disesuaikan dengan konsep-konsep desa kala palra. Untuk itu
Pendidikan IPS tidaklah harus dibatasi maknanya hanya sebagai pendidikan ilmu-ilmu
sosial seperti pada pendidikan Geografi, Ekonomi, Sejarah, Sosiologi dan Antropologi,
PPKn, dan Tata Negara saja. Pendidikan IPS haruslah juga mencakup seluruh kegiatan
pendidikan sosial di sekolah, termasuk di dalamnya Pendidikan Agama dan Budi Pekerti,
Bahasa, Pendidikan Kesenian, Pendidikan Budaya Lokal, serta seluruh penciptaan iklim
lingkungan belajar yang memungkinkan nilai-nilai Tri Hila Karana itu dapat diwujudkan
di sekolah.
Dalam realitanya diakui guru-guru, terutama guru-guru rumpun Pendidikan IPS,
sangatlah sulit untuk menyisipkan materi-materi muatan lokal yang berbasis nilai-nilai
budaya Tri H Ha Karana ke dalam kurikulum dan pembelajaran rumpun IPS sebagai
materi formal yang perlu dididikkan, diajarkan, dan dilatihkan kepada siswa. Ini terkait
dengan keyakinan guru bahwa sistem pendidikan dan kurikulum yang tersentralisasi
sangat sedikit memberikan peluang kepada guru untuk berkreativitas sesuai dengan
kondisi dan kebutuhan sekolah dan masyarakat setempat. Lagi pula diakui guru-guru
bahwa mereka belum memiliki pengetahuan dan wawasan yang cukup memadai tentang
konsep dan nilai-nilai Tri Hila Karana itu sendiri dan bagaimana menuangkannya ke
dalam kurikulum yang dapat disisipkan atau diintegrasikan ke dalam kurikulum nasional
yang berlaku yang dinilai padat materi. Apa yang cenderung dilakukan guru adalah
memberikan atau menyisipkan berbagai ilustrasi/contoh-contoh konsep, nilai-nilai, sikap,
163
dan tindakan yang dapat dipahami guru relevan dengan konsep dan niJai-nilai Tri Hita
Karanu tersebut yang harus dimiliki siswa ketika mengajarkan suatu pokok bahasan
tertentu. Oleh karena itu,
kelengkapannya, kemudian, dilakukan dengan memberikan
kegiatan ekstrakurikuler kepada siswa melalui berbagai aktivitas budaya lokal.
Pada umumnya guru-guru di SMU Negeri 1 Ubud menyadari bahwa konsep Tri
Hita Karana meiupakan konsep yang memiliki muatan nilai-nilai yang universal, tetapi ia
juga bersifat unik dalam implementasinya dalam kehidupan beragama dan kebudayaan
orang Bali, karena adanya konsep desa. kala, patra. Dalam konsep dan nilai-nilainya yang
bersifat universal,
konsep dan nilai-nilai Tri Hita Karana diyakini telah mengajarkan
kepada orang Bali untuk menjalani hidup ini secara seimbang antara kepentingan buana
agung (alam semesta) dan buana alii (diri manusia) atau menjaga keseimbangan antara
dunia seka/a (dunia materi yang kasat mata) dan dunia niskala (dum'a lain yang bersifat
transenden /dunia batin/alam roh/alam dewaisunia hka).
Tri Hita Karana. dengan demikian, menurut pandangan guiu-guru, merupakan way
o f life atau pandangan hidup bagi manusia Bali Hindu yang dijadikan pedoman dalam
menjalankan kehidupan sehari-hari baik sebagai makhluk religius, makhluk pribadi dan
sosial, dan sebagai makhluk berbudaya. Dalam implementasinya, dikembangkanlah
kemudian sistem religi dan ritual, sistem pengetahuan, sistem sosial dan budaya termasuk
sistem nilai, norma, dan sistem tindakan yang mencerminkan pandangan hidup Tri Hita
Karana tersebut.
Dalam disertasi ini tidak mungkin dijelaskan seluruh tatanan sistem
tersebut dan ini menjadi keterbatasan dalam disertasi ini, walau sepanjang yang dapat
di persepsi guru dan siswa telah dijelaskan pada bagian terdahulu. Apa yang menjadi fokus
penelitian ini adalah bagaimana pengetahuan dibangun oleh guru dan siswa dalam
mengembangkan dan kemudian mengimplementasikan pandangan Tri Hita Karana
tersebut.
Dalam agama Hindu di Bali dikenal adanya tiga pendekatan untuk memperoleh
dan mengembangkan pengetahuan, yaitu yang disebut dengan iri premana. Pertama
adalah pendekatan terhadap pengetahuan melalui jalan sabda premana. Jalan menuju
pengetahuan ini dilakukan melalui belajar dari sumber-sumber pengetahuan seperti
mendengarkan penjelasan guru, orang tua. membaca dari kitab suci, literatur,
mendengarkan dharma gila, dharma wacana, memperoleh dari surat kabar, mendapat
informasi dari ahli, tokoh masyarakat, rohaniawan, pejabat, mendapat informasi dari
media cetak dan elektronik, dan sejenisnya.
Kedua adalah pendekatan terhadap
pengetahuan melalui jalan pratyaksa premana. Jalan pengetahuan ini dilakukan melalui
164
keterlibatan langsung subjek terhadap pengetahuan itu sendiri melalui penggunaan panca
indrianya. Sebagai contoh, para siswa, misalnya, belajar dengan terlibat langsung
bagaimana upacara dewa yadnya dan bhula yadnya itu dilaksanakan di sekolah. Begitu
pula mereka belajar langsung bagaimana keliidupan menyama braya di lingkungan desa
pekraman itu dilaksanakan, bagaimana sekolah membangun hubungan yang baik dengan
lingkungan sosial budaya masyarakat sekitarnya melalui berbagai kegiatan pengabdian
sosial kemasyarakatan, dan sebagainya. Ketiga adalah jalan menuju pengetahuan melalui
anumana premana. Jalan ke pengetahuan ini dilakukan melalui penggunaan rasio atau
logika, empati, nilai, sikap, dan niat yang dikembangkan dari adanya berbagai fenomena
keliidupan. Penggunaan jalan ini dilakukan karena tidak seluruh objek belajar itu bersifat
konkrit, sehingga diperlukan suatu proses penalaran untuk membangun pengetahuan.
Ketiga jalan menuju pengetahuan tersebut tentu harus dilaksanakan secara
integratif dan tidak dapat dijalankan secara tunggal dan terpisah-pisah. Tidak ada orang
yang murni belajar hanya dengan jalan sabda premana, atau praiyaksa premana, atau
dengan anumana premana saja (Subagia, 2000). Begitu pula, diyakini guru-guru bahwa
belajar dengan pendekatan iri premana ini, dikaitkan dalam upaya membangun
pengetahuan, mengembangkan nilai-nilai, dan implementasi tindakan berbasis nilai-nilai
Tri Htta Karana secara alamiah, tentu subjek didik tidak dapat disekat-sekat ke dalam
kelas, jenjang, subjek materi pelajaran, dan guru-guru yang terpisah-pisah. Seluruh
pendekatan haruslah dilakukan secara terpadu untuk memperoleh hasil yang utuh, holistik,
komprehensif, dan bannakna pula bagi siswa (Subagia, 2000).
Dikaitkan dengan upaya membangun pengetahuan dan nilai-nilai yang berbasis
pada ajaran pandangan hidup Tri Htta Karana. diakui guru-guru bahwa mereka lebih
banyak membangun dan mengembangkan pengetahuan dan nilai-nilainya melalui proses
langsung dalam mempraklikkan ajaran Tri Hita Karana tersebut dalam kehidupan riil baik
di lingkungan keluarga, di masyarakat, maupun di lingkungan sekolah. Proses belajar
pertama dan ulama yang mereka lakukan adalah melalui proses peniruan atau imitasi dari
perilaku orang tua mereka, atau perilaku kerurna yang lain, atau melalui perilaku sesepuh
di lingkungan ke rama desa mereka masing-masing, ini diakui adalah sebagai ciri utama
belajar awal orang Bali dalam mewariskan nilai-nilai sosial budaya Bali kepada generasi
penerusnya.
Proses
belajar
langsung
melalui
peniruan
atau
imitasi
sosial
ini
memungkinkan mereka dapat menerima, merasakan, memahami, menghayati, dan
mempraktikkan langsung pengalaman, pengetahuan, dan nilai-nilai Tri Hila Karana
165
mereka dalam kehidupan sosial budaya yang nyata baik di lingkungan keluarga maupun di
lingkungan masyarakat.
Sebagai anggota krama desa yang memiliki pengalaman belajar formal di
lingkungan persekolahan, diakui bahwa guru-guru, di lingkungan desa adatnya masingmasing, memiliki kemampuan belajar yang tidak hanya bersifat meniru, melainkan juga
mampu mengembangkan penalaran dan nilai-nilai mereka dalam memahami fenomena
praktik kehidupan religius dan sosial budaya di lingkungan desa adatnya masing-masing.
Tidak mengherankan jika guru-guru ini banyak digunakan di desa adatnya masing-masing
oleh krama desanya sebagai tokoh-tokoh atau sesepuh agama dan adat. Hal ini
menyebabkan tidak saja mereka belajar bagaimana tradisi warisan leluhur dapat
dipertahankan atau dilestarikan, tetapi mereka juga dapat menjadi nara sumber dan tokoh
yang dihormati dalam pemahaman, penghayatan, dan pelaksanaan nilai-nilai religius dan
sosial budaya yang mencerminkan ajaran Tri Hiia Karana di lingkungan mereka masingmasing.
Model membangun pengetahuan religi dan sosial budaya kemasyarakatan yang
berlandaskan ajaran Tri Hiia Karana dari guru-guru di atas berimplikasi pula pada
bagaimana guru merekonstruksinya bagi kepentingan pendidikan sosial di lingkungan
sekolah kepada para siswa sebagai upaya pelestarian dan pengembangan praktik nilai-nilai
Tri Hiia Karana di lingkungan sekolah sebagai bagian dari upaya yang lebih luas, yaitu
upaya ajeg Bali. Diyakini guru-guru bahwa upaya pendidikan sosial kepada siswa
berlandaskan pada ajaran, nilai-nilai, dan praktik Tri Hiia Karana di lingkungan sekolah
di samping dapat disisipkan pembelajaran konsepnya dalam pembelajaran bahasa Bali dan
Agama Hindu secara kurikuler, akan berhasil jika dipenuhi beberapa persyaratan atau
prinsip utama. Pertama adalah perlunya menetapkan visi dan misi sekolah yang relevan
dengan usaha-usaha pelestarian dan pengembangan kebudayaan Bali berbasis pada nilainilai Tri Hiia Karana, Kedua adalah perlunya seluruh komponen civitas sekolah mampu
menciplakan iklim sosial budaya di lingkungan sekolah yang mencerminkan implementasi
nilai-nilai Tri Hita Karana tersebut. Ketiga adalah perlunya dimunculkan unsur
keteladanan terutama dari staf pemimpin sekolah dan guru-guru kepada siswa tentang
bagaimana mewujudkan pengetahuan dan nilai-nilai Tri Hiia Karana tersebut dalam
bentuk tindakan nyata di lingkungan sekolah sebagai bagian dari masyarakat yang lebih
luas. Keempat adalah perlunya memberikan wahana dan fasilitas pendidikan nilai-nilai Tri
Hiia Karana kepada siswa yang dapat disisipkan atau diintegrasikan ke dalam seluruh
sistem dan perangkat kurikulum dan pembelajaran di sekolah. Kelima perlunya pemberian
166
sistem reinforcement kepada siswa yang menunjukkan komitmennya dalam kesediaan
mempelajari secara serius, mengembangkan, dan mengimplementasikan nilai-nilai Tri
Hila Karana itu dalam perilaku sehari-hari di lingkungan sekolah.
Berdasarkan prinsip-prinsip di atas, sekolah, dalam hal ini pimpinan sekolah dan
guru-guru kemudian berupaya menciptakan kondisi lingkungan sekolah yang relevan
sehingga memungkinkan siswa mendapatkan kesempatan untuk memperoleh proses
sosialisasi dan sosialisasi kritis (counlersocialization) secara demokratis (Engle and
Ochoa, 1988) dalam proses transaksional mengembangkan pemahaman dan pengetahuan,
penghayatan nilai-nilai, pengembangan sikap positif, dan pengimplementasian ajaran dan
nilai-nilai Tri Hita Karana dalam perilaku nyata sehari-hari di lingkungan sekolah.
Menciptakan kondisi lingkungan sekolah yang relevan seperti di atas dinilai oleh guruguru jauh akan lebih efektif bila dibandingkan hanya dengan menyisipkan atau
mengintegrasikan muatan materi atau conieni ajaran-ajaran Tri Hila Karana itu ke dalam
kurikulum dan pembelajaran mata pelajaran rumpun IPS di sekolah. Semua ini juga
diharapkan akan menumbuhkan pendekatan dan iklim belajar yang khas sesuai dengan
kebiasaan belajar orang Bali bagi siswa, terutama dalam mengembangkan wawasan, nilainilai, sikap, komitmen, kompetensi, dan praktik kehidupan religius dan sosial budaya
berlandaskan ajaran dan nilai-nilai Tri Hila Karana tersebut.
Apa yang dipersepsi, dipahami, diyakini, dan disikapi, serta menjadi komitmen
guru-gum seperti di atas dalam upayanya mewujudkan gagasan ajeg Bali di lingkungan
sekolah ternyata tidak jauh berbeda pula dengan apa yang dipersepsi, diyakini, disikapi,
dan yang menjadi komitmen para siswa. Diakui bahwa pengetahuan dan wawasan siswa
tentang konsep-konsep dan nilai-nilai serta sikap dan komitmen mereka terhadap prinsipprinsip dan norma-norma yang diturunkan dari ajaran dan pandangan hidup Tri Hita
Karana masih sangat terbatas jangkauan atau ruang lingkup dan pendalamannya. Ini tidak
saja karena keterbatasan mereka dalam proses sosialisasi ajaran dan nilai-nilai Tri Hita
Karana di lingkungan keluarga dan di masyarakat mereka, tetapi kesempatan belajar
mereka secara fonnal di sekolah pun memang masih cukup terbatas
Pendidikan sosialisasi ajaran dan nilai-nilai Tri Hila Karam di lingkungan
keluarga siswa berlangsung secara in fonnal. Hampir identik dengan apa yang menjadi
pengalaman belajar guru-guru, siswa belajar nilai-nilai Tri Hita Karana di lingkungan
keluarga juga melalui pendekatan pralyaksa premana, anumana premana, dan sabda
premana yang terbatas. Dengan jalan praiyaksa premana, siswa memperoleh kesempatan
terlibat langsung dalam proses-proses keluarga mengimplementasikan nilai-nilai Tri Hita
167
Karana itu seudiri. Umumnya siswa terlibat dalam pelaksanaan proses-proses ritual dalam
keluarga serta kewajiban-kewajiban sosial kemasyarakatan yang menyertai proses-proses
ritual tersebut. Proses-proses ritual serta kewajiban-kewajiban sosial yang menyertainya
memang banyak mengandung muatan informasi dan nilai-nilai simbolik yang perlu
dipelajari anak dalam keluarga. Dengan jalan ini orang (ua atau orang dewasa lainnya
cukup memberikan contoh, petunjuk, dan perintah kepada anak-anak untuk turut
melaksanakan kegiatan-kegiatan keluarga. Anak-anak kemudian melakukan observasi,
langsung niendemontrasikan atau mengerjakan lugas-lugas, dan mengevaluasi serta
merefleksi tindakan mereka berdasarkan contoh atau keteladanan orang tua. Diakui siswa,
pendidikan sosialisasi nilai-nilai Tri Hita Kararta di lingkungan keluarga lebih bersifat
partisipatoris dan demokratis dengan
penekanan
pada
segi
sikap
dan
praktik
implementasinya. Ini adalah ciri utama pembelajaran nilai-nilai religius dan sosial budaya
kemasyarakatan pada masyarakat Bali pada umumnya sebagai nian a dinyatakan oleh
Suryani (1992).
Di lingkungan masyarakat, anak juga belajar sosialisasi nilai-nilai Tri Hila Korona
melalui proses pelibatan langsung dalam keliidupan bermasyarakat walau tidak sebanyak
waktu yang dibutuhkan dalam berinteraksi dalam lingkungan keluarga. Untuk ini siswa
yang sudah menginjak masa remaja umumnya ikut terlibat pada keliidupan seka
teruna terani atau deha/teruna (kelompok remaja putera'puteri) di wilayah desa adatnya
masing-masing dengan ikut mengambil peran yang besar dalam pelaksanaan kegiatan
religi/ritual serta kewajiban sosial budaya kemasyarakatan yang menyertai di desa
adatnya.
Di seka ini siswa umumnya ikut terlibat aktif menyiapkan bahan-bahan upacara
untuk desa yang diadakan pada setiap upacara berdasarkan perhitungan kalender (waktu)
Bali baik yang menyangkut pelaksanaan upacara dewa yadnya, resi yadnya, pitra yadnya,
manusia yadnya, maupun upacara bhuta yadnya untuk desa. Para remaja siswa ini juga
umumnya ikut pada seluruh tahapan proses upacara, ikut menyiapkan persembahan
sesajian, ikut menyiapkan dan menyuguhkan tari-tarian dan tabuh serta kegiatan seni
lainnya yang dibutulikan dalam setiap upacara, ikut mengembangkan seka santi dengan
melakukan kegiatan dharma gila, aktif dalam kegiatan gotong t oyong dan keija bhakti
dalam menyiapkan dan melaksanakan seluruh rangkaian proses upacara, dan kegiatankegiatan desa adat lainya dalam mewujudkan nilai-nilai 't 'n Htla Karana di lingkungan
desa adai masing-masing.
168
Dengan kondisi pengalaman belajar seperti di atas, diyakini bersama-sama oleh
guru dan siswa bahwa dalam rangka pendidikan sosial siswa di lingkungan sekolah dalam
upaya mewujudkan gagasan ajeg Bali bagi kepentingan seluruh masyarakat Bali, maka
pendidikan sosialisasi beriri hila karana di lingkungan sekolah juga dinilai sangat vital
bagi kebutuhan siswa, orang tua siswa, maupun seluruh masyarakat Bali. Dan ini akan
dapat menunjukkan kontribusi sekolah dalam ikut mendinamisasi gerakan moral
masyarakat Bali dalam rangka implementasi konsep-konsep dan nilai-nilai Tri Hila
Karana.
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa upaya rekonstruksi pemahaman
dan nilai-nilai sosial budaya Bali dan pendidikan diperlukan oleh guru-guru dan siswa
dalam upayanya menyesuaikan program Pendidikan IPS dengan kebutuhan masyarakat
dalam rangka Ajeg Bali. Pertama, walau diakui guru-guru dan siswa bahwa konsep .dan
nilai-nilai sosial budaya Bali yang intinya ada dalam konsep Trt Hila Karana memiliki
juga nilai-nilai yang bersifat universal, tetapi, dalam realita praktik sehari-hari, nilai-nilai
tersebut juga bersifat unik sesuai dengan konsep desa kala paira. Karena itu, untuk dapat
diimplementasikan dalam praktik program Pendidikan IPS di sekolah, tentu memerlukan
upaya adaptasi dalam proses sosialisasi dan edukasinya di lingkungan sekolah. Setidaktidaknya program Pendidikan IPS perlu diredefinisikan agar lebih sesuai dengan tuntutan
perubahan sosial budaya masyarakat setempat sehingga dapat berfungsi dalam proses
produksi budaya bagi orang-orang terdidiknya (Levinson dan Holland, 1996).
Pendidikan IPS, karena itu, tidaklah semata-mata sebagai program pendidikan
konsep-konsep dasar Geografi, Sejarah, Ekonomi, Sosiologi dan Antropologi, dan.
pendidikan Tata Negara saja seperti yang terjadi di sekolah dan dipersepsi oleh guru-guru
rumpun IPS selama ini. Pendidikan IPS, menurut guru-guru dan siswa, haruslah dapat
menjadi program pemberdayaan peserta didik sesuai dengan tingkat perkembangannya
untuk menguasai kecakapan-kecakapa» hidup di bidang sosial baik yang mencakup
pengetahuan, nilai-nilai, sikap, setj-commUnteni. self-cunfidcnce, seria kompetensikompetensi sosial yang berguna dalatn kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan
bernegara, sehingga dapat membantu siswa berpartisipasi aktif dalam memecahkan
masai aii-m asal ah sosial dari lingkungan secara rasional baik yang terjadi di lingkungan
masyarakat lokal, daerah, nasional, maupun global. Program Pendidikan IPS seperti ini
tampaknya dapat memberikan guru-guru lebih fleksibel dalam menyesuaikan tujuantujuan Pendidikan IPS dengan tuntutan perkembangan masyarakat. Dengan begitu
program Pendidikan IPS sesungguhnya tidaklah terbatas pada pendidikan ilmu-ilmu sosial
169
seperti di atas saja, melainkan mencakup pula pendidikan agama, budi pekerti, ideologi,
pendidikan budaya lokal, pendidikan bahasa, kesenian, bahkan termasuk pendidikan
lingkungan dalam arti luas (bandingkan dengan definisi Social Studies, NCSS, 2000;
definisi IPS, Somanlri, 2001)..
Kedua, secara implisit sesungguhnya harapan-harapan yang berkembang di atas
menunjukkan bahwa progi"am Pendidikan IPS
perlu menyesuaikan dengan tiga level
tuntutan masyarakat, yaitu di samping sudah sebagaimana mestinya menyesuaikan dengan
kebutuhan masyarakat pada level nasional dan level global, Pendidikan IPS di Bali juga
seharusnya menyesuaikan dengan kebutuhan masyarakat lokal Bali, yaitu dalam rangka
memenuhi harapan pembentukan manusia modem berwatak atau berkarakter Bali yang
bersendikan nilai-nilai Tri Hila Karana (bandingkan dengan Stopsky & Lee, 1994;
Tmjillo,
1996).
Dalam kesadaran
guru-guru dan
siswa,
sesungguhnya mereka
menghendaki agar Pendidikan IPS seharusnyalah memberi peluang pula bagi tumbuhnya
kesadaran ideologi
yang memiliki ikatan sejarah dan budaya dengan kebudayaan Bah
sebagai sarana identifikasi etnis (Trujillo, 1996). Hal inilah yang sesungguhnya
memerlukan upaya rekonstruksi program Pendidikan IPS agar secara rasional dan
berkeadilan berbasis pula pada upaya pelestarian dan pengembangan kebudayaan lokal
Bali yang berdasar
pada nilai-nilai Hindu, Tri Hiia Karana. Masalahnya, bagaimana
kebudayaan lokal Bali dengan basis nilai-nilai Tri Hiia Karananya dikonstruksi pula oleh
guru-guru dan siswa untuk dapat diintegrasikan dalam program Pendidikan IPS yang ada
di sekolah.
Ketiga, harus jujur diakui bahwa guru-guru sesungguhnya belumlah memiliki
pemahaman yang memadai bagaimana konsep-konsep, nilai-nilai, norma-norma, dan
kompetensi-kompetensi yang berkaitan dengan kebudayaan Bali yang berbasis ideologi
Tri Hiia Karana dapat diintegrasikan dalam program Pendidikan IPS di sekolah sesuai
dengan standar yang berlaku dalam kurikulum 1994 disempurnakan. Hal ini tampaknya
berkaitan dengan pengalaman guru-guru sendiri dalam pemahaman tentang kebudayaan
Bali memang belum pernah diupayakan secara formal dan ilmiah. Ini berimplikasi pada
pembentukan struktur pengetahuan tentang kebudayaan Bali secara formal abstrak masih
sangat terbatas. Inilah pula kemudian yang menyebabkan guni-guru dan siswa lebih
mengandalkan pengalaman belajarnya secara alamiah dalam melakukan pola-pola
sosialisasi dan internalisasi kebudayaan Bali dalam lingkungan sosial budaya masyarakat
dengan menempatkan proses imitasi dan identifikasi terhadap model sebagai proses utama
belajar.
170
Dengan demikian, penciptaan iklim lingkungan belajar yang memungkinkan
proses sosialisasi dan internalisasi budaya melalui proses imitasi dan identifikasi model
menjadi sangat penting dilakukan di sekolah. Di sinilah penggunaan konsep belajar
melalui iri premana itu dikembangkan. Di sini, konsep kebudayaan Bali dengan nilai-nilai
Tri H Ha Karunaiiya diasumsikan dapat diciptakan strukturnya dalam lingkungan sekolah
dan dalam bubungannya dengan masyarakat desa adat dengan menganalogikan bahwa
sekolah adalah model keluarga atau kelompok masyarakat desa adat yang telati
melaksanakan nilai-nilai fundamental kebudayaan Bali berbasis nilai-nilai Tri Hita
K a rana tersebut. Dengan begitu guru-guru, kepala sekolah, dan pegawai dapat dijadikan
model sebagai orang tua di keluarga atau model pemimpin masyarakat di desa adat.
Dengan model inilah kemudian siswa melakukan imitasi dan identifikasi berdasarkan
proses-proses belajar sesuai dengan siklus iri premana: pra/yaksa premana, belajar secara
langsung melalui pengamatan, merasakan, menghayati, dan melakukan; sabda premana,
belajar melalui mendengarkan penjelasan guru, orang suci, membaca kitab suci, dan
pemanfaatan sumber-sumber belajar lainnya; dan anumana premana, belajar melalui
refleksi diri dan pengembangan penalaran reflektif atau pengembangan logika secara
mandiri.
Akhirnya, jika disimak rekonstruksi pemahaman budaya dan proses belajar seperti
di atas, hal ini bukanlah tidak memiliki dasar-dasar rasional. Beberapa dasar teori belajar
formal sesungguhnya dapat digunakan untuk menjelaskan fenomena ini. Pertama, semua
teori belajar, dari teori behavioristik hingga konstruktivisme (Gredler, 1992; Vygotsky,)
balikan teori belajar kuantum, menyatakan bahwa penciptaan kondisi lingkungan yang
kondusif adalah hal yang paling pokok keperluannya dalam proses sosialisasi atau proses
belajar. Dalam hal ini tidak ada proses belajar yang terjadi yang hampa dari faktor konteks
lingkungan belajar. Proses belajar pada dasarnya adalah proses adaptasi subjek terhadap
lingkungan agar subjek dapat menguasai lingkungan itu sendiri (lihat Gagne, Piaget,
Vigotsky, Bandura, dan lain-lain dalam Gredler, 1992).
Kedua, lingkungan belajar yang telah dibentuk dapat digunakan sebagai model
dalam belajar. Penggunaan model dalam belajar adalah sangat penting tidak saja untuk
belajar aspek-aspek prilaku konkrit, tetapi juga dapat digunakan dalatn mengembangkan
proses-proses kognisi dan afeksi (sikap) yang bersifat abstrak dan kompleks. Gagne,
Briggs. dan Wager (1992; Gredler, 1992), misalnya, menunjukkan pentingnya model
dalam belajar sikap. Dewasa ini, sudah tidak dapat disangkal lagi bahwa televisi telah
banyak berpengaruh terhadap perkembangan mental dan kepribadian anak-anak dan
171
kelompok remaja karena kemampuannya menunjukkan model dalam citra audio visual
yang menarik. Sejalan dengan ini, Bandura (Gredler, 1992) yang terkenal dengan teori
belajar kognisi sosialnya juga menunjukkan betapa penting artinya sebuali model dalam
belajar. Seseorang dapat belajar dari model melalui proses imitasi secara langsung dan
dapat pula belajar secara tidak langsung melalui konsekuensi yang diterima dari perilaku
model (Gredler, 1992). Teori belajar terbaru dari konstruktivisme juga menunjukkan
pentingnya proses modeling dalam belajar sosial. Hasil penelitian Sukadi (2005)
menunjukkan \>ahwa dengan menggunakan pendekatan kontruktivisme, mahasiswa
jurusan PPKN yang mengambil mata kuliah "Belajar dan Pembelajaran" lebih mudah
memahami konsep-konsep belajar dan implementasinya dalam pembelajaran jika
mahasiswa diberikan model simulasi pembelajaran yang sesuai dengan aplikasi teori
belajarnya di awal pembelajaran.
Ketiga, melalui model, seseorang bisa belajar melalu! proses imitasi dan
identifikasi dengan model. Belajar melalui proses imitasi ini dimungkinkan baik untuk
belajar prilaku dalam unjuk kerja maupun belajar proses-proses kognisi dan proses afeksi
yang kompleks. Teori-teori belajar behavioristik dari Skinner dan teori belajar sosial dari
Bandura memberikan dukungan untuk ini (Gredler, 1992). Begitu pula, Wulf (2002),
seorang ahli antropologi pendidikan, menjelaskan betapa pentingnya konsep mimesis
dalam berbagai aktivitas, imajinasi, pembicaraan, dan dalam pemikiran manusia; dan hal
ini menggambarkan kebutuhan yang esensial dalam kehidupan sosial. Mimesis, dalam hal
ini, secara kasar dapat diidentikkan dengan proses imitasi, sekaligus juga sebagai
presentasi dan ekspresi (Wulf, 2002:51). Imitasi di sini tidaklah dilakukan secara pasif,
melainkan berlangsung dalam proses menjadi.
Keempat, pemahaman guru dan siswa tentang konsep dan nilai-nilai Tri H t ia
Karana serta gambaran implementasinya dalam wujud-wujud kebudayaan Bali yang harus
dikembangkan dan dilestarikan dalam rangka ajeg Bah bukanlah satu produk struktur
pengetahuan yang sudah jadi. Baik guru maupun siswa sesungguhnya memahaminya,
menghayatinya, menyikapinya, mengaktualisasikannya, sena menjaganya adalah sebagai
suatu proses budaya dalam proses menjadi. Dengan begitu bersama-sama komponen
masyarakat yang lain proses rekonstruksi pengetahuan terus berlangsung. Di sini guruguru dan siswa tidak hanya belajar memahami strukturnya, tetapi juga berupaya
menghayati dan melakukannya, sehingga membentuk satu iklim kehidupan yang secara
terus menerus juga dievaluasi dan direfleksikan. Di sinilah sesungguhnya konsep belajar
dengan melakukan (learnmg by doing) dan merefleksikan dalam siklus-siklus belajar
172
menggunakan pendekatan iri premana dilakukan. Hal ini tidak lain adalah sebagai suatu
pendekatan konstruktivisme Hindu yang berlangsung dalam iklim pendidikan yang
alamiah, yang sesungguhnya pula telah menerapkan prinsip-prinsip belajar mengetahui,
belajar melakukan, belajar menjadi, dan belajar hidup bersama dalam masyarakat
pebelajar (S u bagi a, 2000).
G. Konteks Orientasi Nilai-nilai Kebangsaan (Nasionalisme) dalam Pengembangan
Praktik Pendidikan IPS di SMU Negeri 1 Ubud
1. Agama Hindu dan Ideologi Nasional Pancasila
Masyarakat Bali pada umumnya dan masyarakat Ubud pada khususnya merupakan
bagian integral dari masyarakat Indonesia. Maka. tidaklah berlebihan juga jika dikatakan
bahwa masyarakat Bali, di samping melaksanakan dan mendukung kehidupan sosial yang
berkarakter kebudayaan Bali, juga melaksanakan dan mendukung kebudayaan Indonesia;
dan, karena itu juga, mendukung nilai-nilai keindonesiaan.
Kesadaran akan keindonesiaan itu tidaklah dimiliki orang Bali baru sekarang ini
saja, melainkan telah terjadi pula balikan pada masa pergerakan nasional dan pada masa
kemerdekaan.
Sejarah
pergerakan
nasional
dan
sejarah
kemerdekaan
RI
telah
menunjukkan bagaimana kontribusi orang Bali pada pengembangan konsep dan nilai-nilai
keindonesiaan. Diterimanya konsep negara kesatuan dan menjadikan Bali sebagai bagian
integral dari Negara Kesatuan Republik Indonesia; diterimanya Pancasila dan UUD 1945;
diterimanya kepemimpinan nasional; diterimanya simbol-simbol kesatuan negara dan
bangsa Indonesia seperti bendera merah putih, lagu kebangsaan Indonesia Raya, lambang
negara Garuda Pancasila dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ikan ya, dan penggunaan
bahasa Indonesia; diterimanya program-program dan kebijakan-kebijakan pembangunan
nasional di Bali; serta keikutsertaan masyarakat Bali dalam pentas sejarah partisipasi
sosial politik, militer, sosial budaya, dan sosial ekonomi cukup untuk menunjukkan bahwa
kesadaran kehidupan berbangsa Indonesia dengan nilai-nilai nasionalismenya telah
dimiliki oleh orang Bali.
Dalam perkembangannya, kesadaran nasionalisme Indonesia orang Bali
terus tumbuh dan berkembang sejalan dengan perkembangan bangsa Indonesia. Dalam
tataran ideologi dan filosofi, keberadaan ideologi dan pandangan hidup bangsa Indonesia,
yakni Pancasila, diyakini sepenuhnya oleh masyarakat Bali sangat sesuai dengan dasar
agama dan pandangan hidup orang Bali. Relevansi ini makin menguatkan kesadaran
173
nasionalisme orang Bali bahwa pada dasarnya orang Bali itu sendiri mengidentifikasikan
dirinya sebagai orang Indonesia juga, karena memiliki kesesuian ideologis dan pandangan
hidup. Dengan keyakinan seperti ini, balikan dapat dikatakan bahwa kesadaran
nasionalisme orang Bali tidaklah saja merupakan kesadaran nasionalisme yang bersifat
politis tetapi telaii menyatu pula dalam kesadaran nasionalisme budaya (Widja, 2001).
Ini artinya, secara ideologis, kesadaran nasionlisme orang Bali tidak lagi sematamata ditentukan oleh kemauan politik atau balikan oleh tekanan politis kekuasaan dalam
hubungan kekuasaan pusat dan daerah, tetapi kesadaran itu memang telah tumbuh mejadi
bagian dari kesadaran kehidupan budaya orang Bali. Ini dapat dievaluasi dari bagaimana
pandangan hidup orang Bali dengan Hindunya terhadap dasar dan pandangan hidup
Pancasila baik pada nilai-nilainya secara sila demi sila maupun dalam satu kesatuan
maknanya Dalam hal ini, Pancasila tidak saja diterima sebagai cenier of ideas, tetapi juga
menjadi btlieve siructureny&, dan ideologi nasionalnya orang Bali (Somantri, 2001).
Pertama, orang Bali dengan ajaran Hindunya telah dapat menerima kebenaran
nilai-nilai dari sila Ketuhanan Yang Maha Esa. Dalam hal ini ajaran Hindu Bali sendiri
dalam konsep keTuhanannya memang menganut faham monoteisme, yaitu keyakinan
tentang kebenaran bahwa sesungguhnya Tuhan itu adalah Esa dan tidak ada duanya
(VViana, 1993). Mantram Tri Sundhya bait kedua salah satunya menyatakan kebenaran
tersebut, yaitu: Narayanah na dviiiyo 'sii kaset i (Wiana, 1993:19). (Tuhan/Narayaita
hanya satu tidak ada yang kedua). Karena itu, agama Hindu juga mengembangkan
keimanan dan ketaqwaan (crada, bhakii, dan karma) terhadap Tuhan Yang Maha Esa
melalui pelaksanaan kerangka agama Hindu yag meliputi taiwa (sistem filsafat), susila
(sistem etika), dan upacara (sistem ritual).
Begitu pula. ajaran Hindu mengakui adanya hak dan kebebasan setiap
individu
manusia untuk menganut agama atau ajaran keyakinan/kepercayaannya masing-masing
dan beribadah sesuai dengan agama atau keyakinannya itu. Sivananda (1993:2)
mengatakan terkait dengan kebebasan ini sebagai berikut: "Hinduisme, tidak seperti
agama-agama lain, tidak secara dogmatis menyatakan bahwa pembebasan akhir
dimungkinkan hanya melalui caranya sendiri dan tidak dapat dengan cara lain. Ia hanya
merupakan satu cara untuk satu tujuan dan semua cara yang akhirnya akan membawa pada
tujuan, disepakati secara bersama-sama". Lebih lanjut dikatakan:
Hindu memperkenalkan kemerdekaan mutlak terhadap pikiran rasional dari
manusia. Hinduisme tidak pernah menuntut sesuatu pengekangan yang tidak
semestinya terhadap kemerdekaan dari kemampuan
berpikir manusia,
kemerdekaan dari pemikiran, perasaan dan keinginan manusia, la
174
memperkenankan kebebasan yang paling luas dalam masalah keyakinan dan
pemujaan. Hinduisme adalah suatu agama pembebasan. (1993:2).
Dengan dasar-dasar keyakinan dan nilai-nilai seperti di atas jelaslah bahwa nilainilai Pancasila tidak bertentangan dengan ajaran dan keyakinan agama Hindu. Keyakinan
dan nilai-nilai di atas melandasi sikap dan perilaku manusia Bali Hindu bahwa secara
vertikal manusia harus beriman dan bertaqwa (memiliki crada, bhakli, dan karma yang
baik) kepada Tuban Yang Maha Esa; dan dengan dasar keimaan seperti itu membangun
hubungan kehidupan yang harmonis pula dengan sesama manusia dengan memberiku
hak dan kebebasan kepada setiap individu untuk memiliki dan menjalankan crada dan
bhakii sesuai dengan keyakinan dan kepercayaaannya. Untuk itulah perlu dikembangkan
sikap toleransi dan saling menghormati keyakinan dan cara menjalankan ibadah {bhakii)
setiap individu kepada Tuhan Yang Maha Esa (Wiana, 1993). Agama Hindu Bali
mengakui bhinneka tinggal ika ian hana dharma mangrua. Artinya, walau berbeda-beda,
sesungguhnya kita adalah satu dalam dharma (kebajikan), tidak ada dharma (Tuhan) yang
kedua.
Kedua, orang Bali Hindu juga memiliki konsep dan nilai-nilai yang sejalan dengan
nilai-nilai sila Kemanusiaan yang adil dan beradab. Dengan konsep pawonganaya. yang
mengajarkan perlunya manusia membangun hubungan yang harmonis dengan sesama
manusia atas landasan nilai-nilai iai iwam asi (kesamaan semua makhluk bersumber dari
Tuhan Yang Malta Esa), manusia Bali mengakui bahwa semua manusia memiliki
kedudukan, derajat, dan martabat yang sama di hadapan Tuhan tanpa membeda-bedakan
suku/etnis, agama, ras, warna kulit, pangkat dan jabatan, kecuali semata-mata karena
perbuatan atau perilakunya (karma wacananya). Pengakuan bahwa sesungguhnya manusia
itu sama-sama bersumber dari Tuhan (Brahman atman atkyam) berimplikasi kepada ajaran
dan nilai-nilai bahwa manusia haruslah saling menghormati, saling mengasihi, menjunjung
tinggi nilai-nilai kemanusiaan, tenggang rasa, tidak semena-mena kepada orang lain,
gemar melakukan kegiatan kemanusiaan melalui bentuk manusia yadrtya, berani membela
kebenaran dan keadilan, serta menjalin hubungan dengan seluruh umat manusia tanpa
membeda-bedakan agama, suku/etnis, ras, jenis kelamin, dan sejenisnya.
Ketiga, masih sejalan dengan nilai-nilai di atas, manusia Bali juga menjunjung
tinggi nilai-nilai bhinneka tunggal ika, yaitu walau kita berbeda-beda suku/etnis, agama,
kepercayaan, ras, bahasa, adat istiadat, dan sejenisnya, sesungguhnya kita adalah satu.
Dengan pengakuan bahwa manusia Bali adalah orang Indonesia, maka sesungguhnya
kesatuan itu juga meliputi persatuan dan kesatuan Indonesia.
175
Manusia Bali mengakui adanya bangsa dan negara Indonesia melalui dharmanyz
sebagai dharma negara di samping sebagai dharma agama. Dalam menjalankan dharma
negaranya, manusia Bali hanya mengakui Indonesia sebagai tanah airnya dan negaranya
sebagai wahana pengabdiannya kepada negara (dharma negara). Dalam menjalankan
prinsip dan nilai-nilai ini, manusia Bali tetap berpegang teguh pada nilai-nilai tai iwarn asi.
Ini tentu sejalan dengan konsep dan nilai-nilai persatuan dan kesatuan Indonesia hidup
dalam taman sarinya kemanusiaan.
Keempat, ajaran dan praktik adat kemasyarakatan Hindu di Bali memang tidak
secara
khusus
mengenal
konsep
demokrasi,
apalagi
konsep
demokrasi
dalam
pemerintahan. Tetapi, ini tidaklah berarti bahwa orang Bali Hindu tidak memiliki dan
tidak menjalankan praktik nilai-nilai demokrasi sesuai dengan jiwa sila keempat Pancasila.
Geertz (1984)
menemukan
bahwa praktik
demokrasi
telah
berlangsung dalam
pemerintahan desa di Bali di mana kekuasaan tertinggi pada demokrasi desa berada di
tangan dewan desa (lihat juga Atmadja, 1998). Atmadja (1998:16) menambahkan bahwa
dewan desa sebagai pemegang kedaulatan rakyat memandatkan kekuasaannya kepada
seorang pemimpin yang disebut bendesa adat (Surpha, 1992; Warren, 1991). Karena itu,
nilai-nilai demokrasi dimiliki oleh orang Bali dan penerapannya berakar pada nilai-nilai
agama dan budaya Hindu yang sangat menjunjung nilai-nilai keberagaman atau
perbedaan, tetapi yang berbeda-beda itu harmonis, indah, dan sesungguhnya berasal dari
satu kebenaran (dharma), yaitu kebenaran Tuhan Yang Maha Esa (Bhinneka lunggal ika
tan hana dhurma mangrua).
Pengakuan dan penghormatan terhadap eksistensi perbedaan ini jelas telah
mengandung nilai-nilai demokrasi dalam kehidupan masyarakat multikultur. Dengan
ajaran ia t /wam asmya, manusia Hindu Bali juga mengakui pula hak-hak dan kewajiban
setiap makhluk di bumi ini: mengakui hak dan kebebasan beragama atau keyakinan
terhadap Tuhan Yang Maha Esa, mengakui kesamaan kedudukan, derajat, dan
martabatnya: mengakui hak-hak hidupnya; dan sejenisnya. Dengan nilai-nilai ini jelas
orang Bali mengakui adanya nilai-nilai persamaan dan kebebasan sebagai nilai-nilai utama
dalam demokrasi.
Begitu pula,
dengan nilai-nilai pawongan yang dilandasi oleh nilai-nilai
paruhvangan, manusia Bali telah mengembangkan nilai-nilai demokrasi yang berpilar
Ketuhanan Yang Maha Esa (bandingkan dengan Sanusi, 1998; 1999). Demokrasi seperti
ini mengutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi atau golongan;
pengakuan terhadap hak-hak komunal (bersama) terutama pada hak-hak atas tanah desa;
176
keputusan diambil dengan musyawarah mufakat; melaksanakan hasil musj_~_— T
bertanggung jawab; dan dalam hubungan pemimpin dengan bawahan,ii^
,
menerapkan prinsip sang nala ngiras sang kaula, sang kaula ngiras sang ttaitfjjjf^jik
mengikuti kehendak suara rakyat, rakyat patuh kepada pemimpinnya). KehidSupSw tfeSgsfif^
nilai-nilai seperti di atas masih kental dapat kita ketahui dalam kehidupan pe^
desa adat di Bali (Atmadja, 1998), dan ini jelas pula merupakan nilai-nilai dasar demokrasi
dalam kehidupan masyarakat tradisional.
Akhirnya relevan dengan jiwa dan semangat nilai-nilai sila keadilan sosial bagi
seluruh rakyat Indonesia, orang Bali Hindu juga memiliki ajaran catur purusha artha,
yaitu: dharma, artha, kama, moksa,
bii mengajarkan bahwa kebahagiaan yang berupa
kesejahteraan lahir (artha dan kama) dan bathin (moksa)
haruslah dicapai dengan
Iandasan dharma atau kebenaran dan keadilan, dan kesejahteraan itu harus mencakup
kepentingan bersama orang banyak.
Ajaran catur purusha artha juga mendidik orang Bali bahwa setiap orang memiliki
hak dan kewajiban sekaligus untuk mendapatkan kesejahteraan berupa harta {artha) dan
pemenuhan kebutuhan {kama) lainnya. Ini mewajibkan setiap manusia harus mau bekerja
keras dengan Iandasan etos keija hukum karma yang didasari oleh pelaksanaan ajaran iri
kaya partsudha (manacika, wacika, kayika), yaitu bersatunya kata, hati, dan perbuatan
untuk membentuk perilaku yang baik (cuhha karma). Di samping artha dan kama,
manusia juga wajib mengupayakan kebahagian bathiniah {moksa) dengau mengikuti
ajaran kaidah-kaidah agama {dharma) (Genya, 1991; Gorda, 1996; Wiana, 1993).
Guru-guru dan siswa SMU Negeri 1 Ubud sebagai bagian kecil orang Bali
memiliki keyakinan dan nilai-nilai sebagai tergambar di atas. Bagi mereka. Pancasila
memang merupakan dasar negara dan ideologi nasional yang paling tepat digunakan bagi
kepentingan tetap tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dan kandungan nilainilai Pancasila diyakini guru dan siswa relevan dengan nilai-nilai ajaran Hindu Bali
sebagaimana dijelaskan di atas. Karena itu, mereka tidak perlu meragukan lagi bahwa
Pancasila dapat digunakan sebagai dasar negara dan ideologi nasional yang akan
menguatkan nilai-nilai nasionalisme mereka. Di sinilah maknanya Pancasila sebagai
ideologi terbuka (Kaelan, 2003).
Sejalan dengan pandangan seperti itu, Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan
masih perlu dipertahankan dalam rangka tetap tegaknya Negara Kesatuan Republik
Indonesia dan demi pendidikan nilai-nilai nasionalisme. Hanya saja menurut pandangan
siswa, Pendidikan Pancasila mestinya lebih merupakan pendidikan demokrasi dari pada
177
^menerapkan pola indoktrinasi; dan harus ada komitmen semua komponen masyarakat,
bangsa, dan negara untuk merealisasikan cita-cita pembentukan masyarakat Pancasila
yang demokratis sesungguhnya dan bukan merupakan ciri masyarakat yang munafik:
pandai
dalam
menjelaskan
nilai-nilai
Pancasila,
tetapi
tidak
bijaksana
dalam
menerapkannya.
Dari berbagai uraian di atas, secara strutural dapat dipahami bahwa masyarakat
Bali sebagai bagian dari masyarakat Indonesia seluruhnya mengakui bangsa dan negara
Indonesia sebagai tujuannya dalam menjalankan dharma negaranya.. Dalam pandangan
liukuin rwa bhinneda, masyarakat Bali sebagai bagian dari kekuatan buana alit haruslah
memiliki hubungan yang harmonis dengan kekuatan dunia yang lebih luas sebagai buana
agungnya, yaitu Bangsa dan Negara Kesatuan Indonesia. Hubungan struktural dalam
oposisi biner ini membentuk relasi peugabdian dengan menempatkan kepentingan
kehidupan berbangsa dan bernegara di atas kepentingan suku atau golongan yang dengan
demikian menjadi wahatia bagi masyarakat Bah dalam menjalankan dharma negaranya di
samping menjalankan dharma agamanya (Widja, 1991). Karena itu bagi orang Bali,
menjalankan kewajiban terhadap bangsa dan negara Indonesia dipandang sebagai bagian
dari tugas suci yang utama, yang dengan pengorbanan-pengorbanan kepadanya dapat
mengantarkan manusia mencapai sorga.
2. Peranan Agen-agen Sosial dan Pemerintahan dalam Konteks Pembentukan
Identitas Nasional Masyarakat Bali
Di samping Pancasila dan simbol-simbol kebangsaan lainnya yang diyakini guruguru dan siswa dapat menguatkan sikap nasionalisme mereka, peranan agen-agen sosial
seperti
pemerintahan,
organisasi
politik,
media massa,
lembaga-lembaga
sosial
kemasyarakatan, dan pendidikan sekolah juga memiliki andil yang besar dalam
niensosialisasikan dan membentuk citra (imagej dan nilai-nilai nasionalisme mereka.
Keterlibatan masyarakat Bali dalam keliidupan berbangsa dan bernegara yang ditunjukkan
dalam partisipasinya pada sektor pemerintahan dari level pemerintahan desa hingga level
pemerintahan pusat menunjukkan bahwa orang Bali cukup kuat nilai-nilai dan sikap
nasionalismenya.
Partisipasi masyarakat desa adat yang tinggi baik terhadap pemerintahan desa adat
maupun desa dinas sebagai perpanjangan tangan pemerintahan nasional (Waren, 1991;
Widja, 1994) sekali lagi menunjukkan bukti nilai-nilai nasionalisme masyarakat Bali juga
tinggi.
178
Pandangan dan sikap-sikap guru dan siswa SMU Negeri 1 Ubud terhadap
pemerintahan Indonesia juga masih sangat positif. Mereka mengakui eksistensi
pemerintahan Indonesia yang menjalankan sistem pemerintahannya baik secara terpusat
maupun dengan sistem desentralisasinya. Pengakuan ini menunjukkan pengakuan integrasi
masyarakat Bali dalam kekuasaan negara dan pemerintahan Indonesia yang secara
bersama-sama mewujudkan keadilan dan kesejahteraan sosial bagi seluruh rakyat
Indonesia. Sejalan dengan ini, mereka juga mengakui seluruh alat-alat kelengkapan negara
dan sistem pemerintahan Indonesia yang diwujudkan untuk menjalankan tugas-tugas dan
fungsi negara dan pemerintahan dalam mencapai kesejahteraan, keadilan, keamanan dan
stabilitas nasional, dan dalam memajukan bangsa Indonesia.
Imuge yang juga muncul di kalangan guru-guru dan siswa pada umunya terhadap
pemerintahan era reformasi di Indonesia adalah pemerintahan yang lebih demokratis.
Dimulai dengan adanya pemilu dengan sistem multi partai, dan kemudian disusul dengan
perubaltan iklim politik seperti pemilihan presiden/wakil presiden yang lebih demokratis,
perubahan UUD 1945, adanya rencana pemilihan presiden dan wakil presiden secara
langsung,
diberlakukannya
undang-undang
sistem
desentralisasi
pemerintahan,
penyederhanaan departemen pemerintahan, serta meningkatnya peran masyarakat dalam
pengambilan dan perumusan kebijakan publik, memberikan angin segar bagi tumbuhnya
faham kebebasan dan peningkatan partisipasi masyarakat dalam pembangunan.
Euporia pesta demokrasi seperti itu sebagian dimanfaatkan oleh kalangan siswa
untuk
menunjukkan
kebebasan
dalam
kreativitasnya
pada
kegiatan-kegiatan
ekstrakurikuler dan dalam kebebasan menentukan pilihan jurusan serta dalam hubungan
guru dan siswa yang tidak lagi didasari semata-mata oleh hubungan dominasi kekuasaan.
Namun, euporia demokrasi dan kebebasan ini juga sebagian ditanggapi oleh guru dan
siswa dengan sikap was-was yang memunculkan kuatnya dorongan untuk mengadakan
pendidikan budi pekerti berbasis pada budaya lokal, walau ini juga tidak selalu sejalan
antara kepentingan kebebasan berekspresi dengan pemertahauan status quo kepentingan
guru yang dinilai ingin mempertahankan dominasi kekuasaan.
Baik guru-guru dan siswa memang tetap mengkritisi lemahnya pemerintahan
Indonesia dalam menegakkan supremasi hukum, meningkatkan keadilan dan kesejahteraan
bagi kelompok masyarakat lemah, menjamin pemerataan pembangunan antar daerah,
menangani isu-isu gerakan etnisilas, memajukan ekonomi, meningkatkan kualitas sumber
daya manusia Indonesia, dan dalam memberantas perilaku menyimpang korupsi, kolusi,
dan nepotisme. Dan mi dinilai terjadi pada semua level pemerintahan baik di pusat
179
maupun di daerah. Kondisi ini, menurut guru-guru dan siswa,
memang merupakan
tantangan dalam membangun dan mengembangkan sikap nasionalisme Indonesia. Dan ini
menjadi isu-isu penting dalam menyikapi pemilihan elit-elit politik dan pemerintahan baik
di tingkat daerah maupun pusat, termasuk juga dalam pengembangan wawasan
kebangsaan di sekolah.
Peranan
gerakan-gerakan
organisasi
sosial
politik
dan
organisasi
sosial
kemasyarakatan dewasa ini juga memberikan citra yang positif terhadap guru-guru dan
siswa SMU Negeri 1 Ubud, walau eksplanasinya tidak dapat semata-mata dijelaskan
secara mekanistik dan linear. Menurut penilaian guru-guru dan siswa pada umumnya,
tumbuhnya organisasi-organisasi sosial kemasyarakatan dan organisasi sosial politik pada
umumnya di Indonesia yang bagaikan jamur tumbuh di musim hujan merupakan implikasi
dari dibukanya kran demokrasi dan kebebasan dalam berserikat dan berkumpul bagi setiap
warga negara yang memungkinkan peningkatan partisipasi sosial politik setiap anggota
masyarakat sebagai warga negara dalam pemerintahan dan pembangunan nasional. Gejala
ini menjadi isu-isu sosial yang turut mewarnai kebijakan sekolah, mewarnai iklim
demokrasi di sekolah dan di kelas, dan mewarnai praktik-praktik pembelajaran di sekolah.
Tumbuh menjamurnya organisasi-organisasi sosial politik dan kemasyarakatan di
Indonesia pada umumnya, dan di Bali, termasuk di Gianyar dan Ubud pada khususnya,
walau dinilai guru-guru dan siswa tidak selalu dilandasi oleh kepentingan nasional, hal ini
menandakan mulai munculnya kesadaran masyarakat akan pentingnya turut berpartisipasi
dan menjadi subjek dalam pembangunan dan menghindarkan mereka dari penjajahan oleh
bangsa sendiri karena dijadikan objek pembangunan. Dan ini, dari sudut kepentingan
pengembangan pendidikan sekolah, dapat dijadikan peluang dan tantangan dalam
meningkatkan
kualitas
sumber
daya
manusia
peserta
didik,
terutama
dalam
mengembangkan program-program pendidikan yang lebih relevan dengan kebutuhan
perkembangan masyar akat.
Pentingnya peningkatan kualitas sumber daya manusia ini, di samping karena
makin beragamnya muncul kepentingan-kepentingan yang dibawakan oleh organisasiorganisasi sosial politik dan kemasyarakatan ini, upaya mengelola benturan antar
kepentingan atau konflik kepentingan ini membutulikan manusia-manusia yang memiliki
pengetahuan dan wawasan yang luas, sikap yang bijaksana, bertanggung jawab dan
demokratis, keimanan dan ketaqwaan yang tinggi, serta memiliki komitmen dan dedikasi
yang tinggi pula untuk diabdikan kepada kepentingan nasional.
180
Bagi kepentingan sekolah, guru-guru, dan siswa, kebutuhan peningkatan kualitas
sumber daya siswa perlu dikembangkan melalui peningkatan kualitas kecerdasan siswa
dalam berbagai dimensinya, antara lain: kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional,
kecerdasan sosial, kecerdasan spiritual, dan kecerdasan kewarganegaraan, yang dalam
bahasa kecakapan hidup yang dikembangkan oleh UNESCO mencakup pengembangan
kecakapan personal, sosial, intelektual, akademis, dan kecakan vokasional (Depdiknas,
2004). Keseluruhan pengembangan kecakapan hidup seperti ini haruslah mampu
diintegrasikan dalam program-program pendidikan sekolah, termasuk di dalamnya melalui
program-program pendidikan IPS.
Dimensi kebutuhan lain yang perlu dikembangkan di sekolah/kelas, dengan
munculnya berbagai organisasi sosial politik dan kemasyarakatan yang membawakan
berbagai macam dan level kepentingan seiring dengan peitumbuhan dan perkembangan
konsep dan nilai-nilai demokrasi di Indonesia, adalah perlunya pengembangan wawasan
nasional dan kesadaran hidup berbangsa yang mendalam, sehingga gerakan-gerakan
demokrasi masyarakat itu tidak menyeret kepada perpecahan atau retaknya persatuan dan
kesatuan bangsa Indonesia. Kesetaraan nilai-nilai demokrasi dan nilai-nilai persatuan dan
kesatuan bangsa, karena itu, perlu terus digali dan dikembangkan berbasis pada nilai-nilai
Ketuhanan dan kemanusiaan yang universal untuk secara bersama-sama kemudian
diabdikan bagi kemajuan kesejahteraan dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Pengembangan nilai-nilai ini dapat dikembalikan kemudian pada kebutuhan akan
pendidikan nilai-nilai Pancasila yang akan membentuk dan mengembangkan center of
idtu dan be/iefsiructurenya. masyarakat Indonesia (Somantri, 2001).
3. Isu Kesetaraan Gender dalam Kehidupan Berbangsa
Isu-isu sosial aktual yang juga turut mempengarulii program pendidikan di sekolah
sebagai implikasi berkembangnya organisasi-organisasi sosial politik dan kemasyarakatan
adalah tentang perjuangan kaum perempuan Indonesia untuk kesetaraan gender. Diakui
guru-guru dan siswa bahwa isu kesetaraan gender ini memang cukup kuat pengaruhnya
kepada iklim pendidikan kesetaraan gender di sekolah, walau diakui pula bahwa tidak
seluruh permasalahan yang muncul dalam isu perjuangan kesetaraan gender itu dapat
diikuti oleh sekolah. Dalam pandangan guru-guru dan siswa, memang sudah waktunya
bagi perempuan di Indonesia pada umumnya dan perempuan di Bali pada khususnya
untuk lebih menperjuangkan kesetaraan hak-haknya baik di bidang politik, ekonomi,
sosial, hukum, pendidikan, bahkan dalam bidang pertahanan dan keamanan. Hal ini karena
181
dinilai bahwa sebegitu jauh sudah kemajuan pembangunan yang sudah dapat dicapai
bangsa Indonesia, namun perlakuan terliadap dan peranan kaum perempuan Indonesia
dalam berbagai aspek pembangunan masih dimarginalkan. Pada hal, jumlah penduduk
perempuan di Indonesia sudah melebihi jumlah penduduk laki-lakinya. Jika perlakuan
tidak adil kepada kaum perempuan ini dibiarkan tertindas oleh kuatnya pengaruh budaya
patriarkhi, maka dipastikan bangsa Indonesia tidak akan pernah mencapai kemajuan setara
dengan bangsa-bangsa maju lainnya. Ini karena sebagian besar sumber daya manusianya
dibiarkan terpasung dalam iklim ketidakberdayaan; bukan karena faktor kualitasnya yang
lemah, melainkan karena faktor agama dan budaya (Fakih, 1999).
Sehubungan dengan itu, gerakan kaum perempuan untuk menuntut kesetaraan
gender ini perlu didukung semua komponen masyarakat tennasuk komponen lembaga
pendidikan sekolah. Pendidikan sekolah haruslah pula mengambil peran terdepan dalam
memberdayakan kaum perempuan Indonesia pada umumnya dan perempuan Bali pada
khususnya, sehingga mereka dapat mengembangkan seluruh potensinya secara optimal
setara dengan kaum laki-laki, serta mendapat peluang dan peran serta diperlakukan sama
dengan kaum laki-laki dalam semua aspek kehidupan dai] seluruh aspek pembangunan
(bandingkan dengan Astuti, 2000; Astuti, Indati, dan Sastriyani, 1999; Fakih, 1999;
Sanjaya, 2000; Sudiatmaka, 2001; Tokoh, 2004). Menurut penilaian guru-guru dan siswa,
ini tidak berarti bahwa keterbatasan fisik serta faktor-faktor budaya diabaikan sama sekali.
Bagaimanapun pemberdayaan kaum perempuan haruslah tetap mempertimbangkan nilainilai, norma-norma, dan praktik-praktik budaya tertentu yang masih dinilai luhur dan
dapat dipertahankan, seliingga kaum perempuan Indonesia tidak terjerumus ke dalam
kebebasan gender (Sudiatmaka, 2001).
Di sekolah, menurut guru-guru dan siswa, program pendidikan yang berorientasi
kesetaraan gender dapat dilakukan melalui pengkajian materi-materi yang berkaitan
dengan isu dan permasalahan kesetaraan gender yang diintegrasikan dalam mata pelajaran
PPKn, atau pada mata pelajaran Sosiologi dan Antropologi, sedikit pada mata pelajaran
Sejarah dan Biologi, dan dapat pula menciptakan iklim kesetaraan gender pada berbagai
kegiatan program pendidikan baik pada kegiatan kurikuler seperti di atas, kegiatan
kokurikuler, maupun pada kegiatan ekstrakurikuler.
Dalam kegiatan kurikuler dan kokurikuler, di samping beberapa guru ~ seperti
guru PPKn, Sejarah, Sosiologi dan Antropologi, dan guru Biologi - memberikan
pemahaman dan pembinaan sikap kesetaraan gender melalui beberapa pokok bahasan
yang relevan, materi-materi pembelajaran juga dinilai guru dan siswa tidak bersifat bias
182
gender; walau harus diakui bahwa dari segi sikap dan perilaku siswa dan guru dalam
interaksi di kelas tidak bisa dipungkiri bahwa dalam beberapa hal masih tetap
mempertahankan praktik bias gender. Untuk beberapa hal yang masih bias gender,
menur ut guru dan siswa tidak dianggap sebagai sikap dan tindakan yang bias gender,
melainkan karena sudah menjadi tradisi masyarakat Bali pada umumnya dan dinilai
sebagai sikap dan nilai-nilai yang luhur. Hal ini berkaitan dengan pemahaman konsep dan
nilai-nilai r*a bhinneda tentang karakteristik laki-laki dan perempuan yang dimiliki oleh
guru dan siswa (Sudiatmaka, 200]).
Pada kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler, sekolah (dalam hal ini gum-gura) memang
selalu berorientasi untuk tidak menunjukkan sikap dan perilaku yang bias gender dalam
memberikan kesempatan dan perlakuan kepada siswa dalam memilih dan melaksanakan
kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler. Guru-guru, dalam hal ini, memberikan kebebasan yang
seluas-luasnya kepada siswa
untuk
memilih
dan
melakukan
kegiatan-kegiatan
ekstrakurikuler sesuai dengan bakat dan minatnya tanpa membeda-bedakan jenis kelamin
siswa. Semua ini bertujuan untuk memberikan peluang yang sama kepada siswa laki-laki
dan perempuan untuk berkembang secara optimal dalam kemampuan, kepribadian, dan
keterampilan vokasionalnya. Namun, ini juga harus diakui bahwa, dalam realitanya,
pengaruh budaya patriarkhi dalam lingkungan keluarga dan masyarakat Ubud pada
khususnya dan masyarakat Bali pada umumnya tetap mempengaruhi pilihan-pilihan siswa
perempuan
dan
laki-laki
dalam
memilih
kegiatan-kegiatan
ekstrakurikuler yang
diminatinya, yang menunjukkan adanya bias gender.
Tidak jauh berbeda dengan kegiatan-kegiatan kurikuler dan ekstrakurikuler di atas,
dalam hal pemililian jurusan, sekolah juga memberikan kesempatan vang seluas-luasnya
kepada siswa untuk memilih jurusan sesuai dengan kemampuan, bakat, dan minatnya
tanpa mempertimbangkan perbedaan jenis kelamin siswa. Dan siswa menyadari bahwa
mereka memang telah memperoleh peluang/kesepatan dan perlakuan yang sama
dari
guru-guru dalam menentukan pilihan jurusannya. Namun, harus diakui guru-guru dan
siswa bahwa pilihan-pilihan jurusan itupun akhirnya cenderung menunjukkan bias gender,
walau sebenarnya kurang dikehendaki bersama.
Begitulah, konsep kesetaraan gender diperjuangkan dalam kondisi yang sangat
alamiah. Baik guru dan siswa sesungguhnya menyadari bahwa sekolah memiliki peranan
yang sangat penting dalam (urut memperjuangkan hak-hak kesetaraan gender bagi kaum
perempuan Indonesia pada umumnya dan Bali pada khususnya agar kaum perempuan
tidak terus tersubordinasi oleh kaum laki-laki. Tetapi, karena kurang adanya kesadaran
183
bagaimana menciptakan dan mengembangkan iklim kesetaraan gender dan bagaimana
kriteria kesetaraan gender yang diinginkan, baik guru maupun siswa tanpa disadari tidak
bisa pula melepaskan diri dari sikap dan perilaku yang bias gender dalam interaksi edukasi
di lingkungan sekolah atau kelas.
Walau guru-guru teiali beiprinsip memberi peluang dan kesempatan yang sama,
tetapi pilihan-pilihan yang alamiah tetap mempolakan mereka pada sikap dan perilaku
yang bias gender. Dalam hal ini dapat dikatakan, sekolah tidak bermaksud mendidik
{nurture) siswanya dalam sikap dan prilaku yang bias gender, tetapi secara biologis dan
alamiah (nature) guru dan siswa masih mempraktikkan pola budaya patriarklii yang bias
gender (Megawangi, 1999). Temuan seperti ini tampaknya relevan dengan temuan
Sudiatmaka
(2001)
yang
menyimpulkan
bahwa
sekolah
tidak
secara
nurture
mempraktikkan sikap dan perilaku bias gender, tetapi baik guru dan siswa secara biologis
dan alamiah tanpa menyadarinya masih mempraktikkan pola budaya patriarklii dalam
interaksi edukasinya yang menunjukkan adanya sikap dan perilaku bias gender. Kondisi
ini sebenarnya dapat dijelaskan dari praktik budaya patriarklii dalam pandangan agama
dan budaya Hindu di Bali (Miller and Branson, 1990).
Dalam pandangan agama dan praktik budaya Hindu di Bah yang berbasis ideologi
Tri Hiia Karana, dalam konsep parahyartgan, pawongan, dan paiemahan, sesunggulinya
tercermin juga, dari dimensi hukum rwa hhinnedai\y&, adanya konsep kesucian dan
kekotoran (Atmadja, 1999). Parahyangan adalah dunianya kesucian sebagai dunianya
para dewa. Sedangkan paiemahan adalah dunia yang profan, sekuler, atau leleh.
Setara dengan pemikiran di atas, konsep laki-laki dan perempuan juga membawa
implikasi, dilihat d aji dimensi rwa hhineda. suci dan profan. Laki-laki merupakan simbol
dunianya para dewa/parahyangan, sedangkan perempuan merupakan simbol dunianya
paiemahan. Kaum perempuan disimbolkan mewakili dunia profan karena dianggap pada
diri dan kodratnya membawa hal-hal yang tidak suci atau leleh (Miller and Branson,
1990).
Pandangan seperti ini membentuk sistem nilai dalam sistem sosial budaya
patriarkhi orang Bali yang menempatkan kaum perempuan dalam subordinasi kaum lakilaki yang melahirkan praktik-praktik ketimpangan gender atau perilaku bias gender di
Bali. Kondisi seperti ini disadari oleh kaum perempuan Bali dewasa ini, termasuk oleh
guru-guru dan para siswa SMU. Namun, mereka belum dapat berbuat banyak untuk
melakukan perubahan-perubahan yang mengarah kepada kesetaraan gender karena mereka
telah terikat oleh sistem nilai dalam kehidupan sosial budaya orang Bali yang terlanjur
184
dinilai luhur dan mulia; dan, karena itu, tidak mungkin mengubahnya secara revolusioner
(Sanjaya, 2000; Sudiatmaka, 2001).
Kondisi seperti ini pula, memang, tidak jarang memunculkan konflik nilai, tidak
saja bagi kaum perempuan Bali itu sendiri, tetapi bagi masyarakat pada umumnya. Di satu
sisi, mereka sudah menginginkan adanya perlakuan yang sama kepada kaum perempuan
dan kaum laki-laki pada semua bidang kehidupan sosial budaya di masyarakat, namun, di
sisi lain, mereka terlanjur telah memuliakan nilai-nilai perempuan yang dianggap luhur,
yang secara tidak langsung juga niemarginalkannva. Lantas, konsep kesetaraan gender
yang bagaimana yang mereka inginkan? Guru-guru dan siswa sepakat menyatakan bahwa
semua itu masih dalam proses belajar menjadi (leaming how (o be). Yang penting bagi
gum-gunj, mereka telah berupaya memberikan kesempatan dan perlakuan yang sama
kepada siswa laki-laki dan perempuan untuk mengaktualisasikan seluruh potensipotensinya.
4. Peranan Media Massa dalam Mensosialisasikan Nilai-nilai Nasionalisme
Peranan media massa di Bali juga tidak kalah pentingnya dalam mensosialisasikan
pandangan-pandangan dan nilai-nilai nasionalisme kepada masyarakat pada umumnya dan
kepada generasi muda dan siswa SMU pada khususnya. Menurut guru-guru dan siswa,
tiga jenis media massa, yaitu televisi, radio, dan surat kabar/tabloid memiliki peranan yang
paling penting dalam memberikan infonuasi tentang berbagai peristiwa dan isu-isu aktual
kontroversial dalam kaitannya dengan konsep dan nilai-nilai nasionalisme. Ketiga media
ini melupakan media yang paling sering dan intensif dapat digunakan guru-guru dan siswa
dalam memperoleh berbagai informasi termasuk informasi yang berkaitan dengan
peristiwa dan isu-isu nasionalisme
Berbagai informasi yang diperoleh dari berbagai peristiwa dan isu yang muncul di
berbagai media massa terkait dengan peristiwa-peristiwa dan isu-isu nasionalisme telah
membentuk tmage atau citra tentang nasionalisme Indonesia vang berubah. Menurut guruguru dan siswa, nilai-nilai nasionalisme memang masih tetap urgen untuk dimiliki dan
dilaksanakan oleh seluruh komponen bangsa dan masyarakat Indonesia untuk tetap
tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Tanpa nilai-nilai dan komitmen
nasionalisme Indonesia yang kuat, diyakini akan dapat menghancurkan keutuhan sendisendi kehidupan bernegara, berbangsa, dan bermasyarakat Indonesia. Masalalinya, nilainilai nasionalisme Indonesia yang bagaimanakah yang harus dimiliki dan dilaksanakan
oleh seluruh komponen bangsa dan masyarakat Indonesia. Inilah yang menimbulkan
185
- 'banyak- interpretasi tergantung pada bagaimana interaksi yang terjadi antara guru-guru dan
siswa dengan media itu sendiri di samping ditentukan pula oleh faktor-faktor internal
mereka.
Beberapa
guru
dan
siswa berpandangan
bahwa
sesungguhnya nilai-nilai
nasionalisme itu tidaklah pernah berubah. Sikap nasionalisme harus ditunjukkan oleh
setiap komponen bangsa dengan menunjukkan kesetiaannya kepada prinsip negara
kesatuan RI sebagai konsekuensi adanya sikap kesatuan atas tanah air, bangsa, dan bahasa
Indonesia serta kesatuan dalam seluruh simbol-simbol kenegaraan dan kebangsaan
Indonesia.
Dikaitkan dengan konsep dharma dalam agama Hindu di Bali, guru-guru dan
siswa yang berpandangan seperti ini menjelaskan bahwa untuk tetap tegaknya Negara
Kesatuan RI, setiap warga negara Indonesia haruslah sadar dalam menjalankan dharma
negaranya.. Setiap individu haruslah menempatkan kepentingan negara dan bangsa di atas
kepentingan pribadi atau golongan untuk menjalankan dharma negara seperti itu.
Beberapa guru dan siswa yang lain menyatakan bahwa persatuan dan kesatuan
bangsa dalam konsep integrasi nasional dan menempatkan kepentingan negara dan bangsa
di atas kepentingan pribadi atau golongan memang sangat penting untuk tetap
terimplementasikannya
nilai-nilai
nasionalisme
dalam
kehidupan
bermasyarakat,
berbangsa, dan bernegara Indonesia. Tetapi, nilai-nilai itu saja tidaklah cukup untuk
mempertahankan tetap tegaknya dan untuk memajukan bangsa Indonesia dalam wadah
Negara Kesatuan Republik Indonesia. Tantangan jaman serta perkembangan atau
dinamika masyarakat juga telah berubah. Karena itu, nilai-nilai nasionalisme Indonesia
juga tentunya mengalami perubahan makna (Irwan, dkk. 2001; Sukadi, 2004; Widja,
2001).
Berbagai peristiwa yang muncul yang menantang perlunya perubahan paradigma
dalam cara pandang terhadap kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara
Indonesia yang diketahui dari berbagai informasi media massa haruslah memberi pelajaran
kepada kita semua bahwa kepentingan hidup manusia dalam kehidupan bermasyarakat,
berbangsa, dan bernegara tidaklah tunggal dalam jenis maupun levelnya. Karena itu,
makna nilai-nilai nasionalisme yang mengatur bagaimana kepentingan-kepentingan itu
diatur dan diposisikan dalam kehidupan haruslah berdimensi ganda juga. Prinsip
kehidupan berdemokrasi dalam kehidupan bennasyarakat, berbangsa, dan bernegara,
karena
itu,
tampaknya
sangatlah penting juga dalam
merealisasikan
nilai-nilai
nasionalisme di era perubahan masyarakat Indonesia seperti sekarang dati di era
186
globalisasi ini. Ini artinya, nasionalisme haruslah demokratis, dan demokrasidapat membangun semangat dan nilai-nilai nasionalisme (Irwan, dkk, 2001).,f
t
Hampir sejalan dengan pandangan di atas, ada juga yang berpand&ngaifipE^
nasionalisme dewasa ini tidaklah cukup hanya bersifat politis, apalagi karertfc termmu^.^
V
^ w s ^
kekuasaan politik oleh kelompok, suku, golongan, agama, atau ideologi liin nni Tuju
(Irwan, dkk., 2001; Suwarsono dan Alvin Y. So, 1991). Nasionalisme seperti itu adalah
nasionalisme yang semu.
Nilai-nilai nasionalisme Indonesia yang dibutulikan dewasa ini semestinya adalah
di samping secara politis karena adanya kesadaran sejarah sebagai bangsa yang satu atas
dasar persamaan nasib dan peijuangan, secara sosial budaya juga harus disadari bahwa
nasionalisme Indonesia yang kuat adalah jika nasionalisme dibangun atas dasar nilai-nilai
kesamaan atau kesetaraan kedudukan, keadilan dan kepastian hukum, kesejahteraan,
kemajuan ekonomi, kecerdasan, profesionalisme, tanggung jawab, kemampuan bekeija
sama secara kooperatif dan berkompetisi secara sehat, serta keimanan dan ketaqwaan
terhadap Tuhan Yang Maha Esa dari seluruh komponen masyarakat dan bangsa Indonesia.
Nasionalisme sosial budaya seperti ini terjadi jika ada dialog yang demokratis dan
berbudaya dalam hubungan masyarakat Indonesia yang multikultur dengan tingkat
keragaman perkembangan masyarakatnya pula (Sukadi, 2004).
Dalam pandangan Hindu di Bali, nasionalisme seperti ini adalah sebuah dharma
negara yang perlu dilandasi oleh: dharma agama berupa crada (keimanan) dan bhakli
(ketaqwaan) serta karma wacana yang baik (cubha karma), nilai-nilai lal twam asi,
bhinneka tunggal ika ian hana dharma mangruwa, catur paramilha, iri kaya parisudha,
karma phala, dan catur purusa artha (dharma, artha, kama, moksa). Rangkaian ajaran
keyakinan tentang bagaimana nilai-nilai nasionalisme diwujudkan sebagai bentuk atau
wujud dharma kepada negara sepati di atas dapat digambarkan dalam bagan sebagai
tertera di halaman berikut.
Begitulah dalam pembentukan nilai-nilai nasionalisme sebagai konteks kehidupan
berbangsa pada masyarakat Bali tidak pula bisa dipisahkan dari peranan nilai-nilai agama
Hiudu yang mendasarinya. Di sini agama Hindu dengan nilai-nilai dasarnya dapat
memberikan landasan motivasi diri, landasan pengintegrasi jati diri, dan landasan dalam
mengembangkan tujuan melaksanakan dharma negara.
187
'
Gambar 08: Pemahaman orang Bali tentang Pelaksanaan Dharma Negara dalam
kaitannya dengan Pelaksanaan Dharma Agama dalam rangka
Pembentukan Nilai-nilai Nasionalisme
» t
Landasan Motivasi
Diri
C rada dan Bhakti
Tat twam asi
Karma phala
Etos keija Hindu
{Dharma agama)
Landasan Pengintegrasi Jati Diri
Tujuan
Dharma Negara
Dharma Negara
Catur Purusa Artha
{Dharma, Artha,
Kama, Moksa)
Bhinneka Tunggal Ika
Tri Kaya Partsudha
Catur Paramita
H. Pariwisata dan Isu-isu Global dalam Persepsi Guru dan Siswa
Ubud, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, merupakan daerah kawasan
wisata budaya yang ulama, baik untuk daerah Bali maupun untuk kabupaten Gianyar.
SMU Negeri 1 Ubud yang berlokasi di pusat kecamatan Ubud ini, karena itu, tidak bisa
dilepaskan dari pengaruh-pengaruh aktivitas pariwisata di lingkungan sekitarnya. Bahkan
dapat dikatakan bahwa SMU Negeri 1 Ubud memainkan peranan penting pula dalam
fenomena kepariwisataan di Ubud. Tidak berlebihan pulalah, karena itu, jika guru-guru
dan siswa turut terpengaruh oleh dan mempengaruhi aktivitas pariwisata di Ubud, setidaktidaknya dalam tataran persepsi, sikap, dan nilai-nilai, serta kebijakan sekolaluiya.
Sebagaimana telah dijelaskan pula bahwa, baik dalam tataran kebijakan maupun
dalam perkembangan alamiahnya, aktivitas pariwisata di Ubud cenderung berorientasi
pada perkembangan pariwisata budaya. Sebagai aktivitas budaya, pariwisata di Ubud tentu
dapat menjadi tempat atau wahana pertemuan antar budaya. Dalam hal ini tentu terjadi
pertemuan antara budaya masyarakat Bali lokal dengan masyarakat internasional (global).
Ada dua masalah penting kemudian yang menjadi isu dalam pertemuan atau kontak
budaya tersebut dipandang dari sudut kepentingan masyarakat Bali lokal di Ubud, yaitu
peranan apakah yang dapat dimainkan masyarakat lokal dalam proses interaksi budaya
tersebut serta pengaruh-pengaruh apakah yang diterimanya. Bagi kepentingan sekolah,
khususnya SMU Negeri 1 Ubud, isu yang ditangkap oleh sekolah kemudian adalah
peranan apa yang bisa dimainkan sekolah? Apa pengaruh-pengaruh yang diterimanya?
Dan, kebijakan apa yang dihasilkan dan dilaksanakan untuk meningkatkan peranan
188
sekolah sehingga diperoleh dampak yang positif dan optimal, sementara berusaha pula
meminimalisasi dampak-dampak negatif yang mungkin ditimbulkan?
Untuk menjawab pertanyaan
pertama,
masyarakat dan sekolah merasa
berkepentingan terhadap kedatangan wisatawan ke Ubud pada khususnya, karena
kedatangan wisatawan turut serta membawa uang atau dolar yang akan menjadi sumber
pendapatan
dan
kesejahteraan
bagi
masyarakat.
Karena
itu,
masyarakat
perlu
menunjukkan nilai-nilai, sikap dan perbuatan yang dapat menarik kedatangan wisatawan.
Di sini, masyarakat belajar memenuhi harapan-harapan atau kebutuhan wisatawan datang
ke Ubud. Sebagaimana banyak dikatakan wisatawan, kebutuhan mereka datang ke Ubud
adalah karena menyukai keindahan dan exotisme alam Ubud yang masih alami dan asri,
kaya deugan keseniannya yang mengandung nilai-nilai magis, penduduknya yang ramah
tamah dan penuh gotong royong, kehidupan religi dan ritual masyarakatnya yang masih
kental, peninggalan-peninggalan sejarah yang kaya dan luhur, serta kuat melaksanakan
adat istiadat atau tradisi-tradisi leluhur tetapi juga amat dinamis, adaptif, dan kreatif
(Anonim, tl.c; Anonim, tt.d; Anonim, tt.e)
Masyarakat Ubud dapat mempertahankan citra seperti di atas. Di samping karena
memiliki kepentingan untuk kesinambungan pariwisata budaya di Ubud yang telah banyak
memberikan sumbangan kesejahteraan kepada masyarakat Ubud melalui kebijakan
pariwisata berbasis masyarakat, dengan pariwisata ini pula masyarakat Ubud dapat
mempertaliankan sistem sosial budayanya yang telah mentradisi. Jadi. pelestarian atau
pemertahanan budaya ini memiliki dua keuntungan sekaligus. Pertama, masyarakat Ubud
dapat mempertaliankan jati diri masyarakatnya sebagai masyarakat Bali lokal yang teguh
dalam mempertahankan nilai-nilai Tri Hita Karana dalam kehidupan masyarakat adatnya.
Kedua, dengan sistem sosial budaya yang dimiliki, masyarakat Ubud sekaligus dapat
mengundang wisatawan yang tertarik datang ke Ubud memang karena karakteristik
kehidupan sosial budaya masyarakatnya.
Ini tidak berarti bahwa masyarakat Ubud tidak mengalami perubahan. Seiring
dengan perkembangan pariwisata di Ubud, masyarakatnya juga mengikuti kebutuhankebutuhan perubahan yang dikehendaki dalam perkembangan pembangunan pariwisata di
Ubud.
Terjadilah proses
belajar melalui
interaksi
langsung masyarakat dengan
kepentingan wisatawan dalam berbagai aktivitas industri pariwisata yang makin hari
menuju kepada industri dan produksi massa, antara lain dalam penyediaan dan
pengembangan
sarana
akomodasi,
prasarana
dan
sarana
transportasi,
catenng,
pengembangan barang-barang souvenir yang bersifat massa, pelayanan jasa cargo,
189
prinsip-prinsip pelayanan modem, pengembangan sarana informasi dan komunikasi,
pengembangan kreativitas seni, pengembangan perdagangan barang dan jasa pariwisata
secara internasional, sampai dengan pengembangan manajemen jasa pariwisata secara
modem dan internasional.
Bagaikan cendawan tumbuh di musim hujan dengan boomingnya pariwisata di
Ubud sekitar tahun 1970-1980an, muncullah berbagai sarana pariwisata massa di Ubud
sepeiti arlshop-artshop, sentra-sentra industri kerajinan untuk souvenir, seka-seka
kesenian, restoran, cafe, liotel dan ramali penginapan {homeslav. villa, bungalow), pasar
seni, usaha-usaha rental (komputer dengan internetnya, sepeda, sepeda motor, mobil),
wartel, usaha loundry, usaha penitipan anak, penyedia jasa informasi, usaha jasa cargo,
giude lepas, sampai dengan munculnya warung-warung dan toko-toko yang menyediakan
kebutuhan wisatawan baik domestik maupun manca negara.
Kondisi di atas membawa serta dampak kepada masyarakat Ubud baik yang
bersifat positif maupun negatif. Pertama, masyarakat Ubud tentu merasakan dampak
langsung yang positif dari perkembangan pariwisata di Ubud berupa peningkatan
pendapatan dan kesejahteraan karena terus berkembangnya lapangan kerja di sektor
pariwisata yang berhubungan langsung dengan dolar yang memiliki nilai tukar yang tinggi
bila dibandingkan dengan nilai rupiah. Tumbuhnya lapangan ketja di sektor pariwisata ini
telah mengalihkan sebagian besar mata pencaharian masyarakat yang semula di sektor
primer pertanian tradisional menuju ke sektor produksi industri barang dan jasa pariwisata
yang lebih modern bahkan global.
Dengan perkembangan seperti
inilah
masyarakat
kemudian
membutuhkan
pengetahuan, sikap, nilai-nilai, dan keterampilan keija yang rasional dan modern di bidang
pariwisata. Pengembangannya, tidak saja bisa dipenuhi melalui hubungan langsung antara
masyarakat dengan wisatawan dengan prinsip dan proses belajar partisipatifnya,
melainkan juga dikontribusi oleh peran lembaga-lembaga pendidikan yang memberikan
bekal pengetahuan, nilai-nilai dan sikap, dan keterampilan yang berhubungan dengan
aktivitas pariwisata. Pengetahuan dan keterampilan pokok yang dibutuhkan antara lain:
pengetahuan dan keterampilan tentang jenis-jenis produk barang dan jasa dalam bidang
pariwisata; pengetahuan dan keterampilan tentang standar mutu produk barang dan
layanan jasa pariwisata; prinsip-prinsip hubungan dan komunikasi antar bangsa dalam
hubungan multikultur; pengetahuan dan keterampilan berbahasa asing; penggunaan
teknologi yang lebih canggih dalam proses produksi termasuk fmishing, distribusi, dan
peningkatan daya tahan produk dalam proses penyimpanan dan transportasi jarak jauh;
190
pengetahuan tentang pemasaran produk barang dan layanan jasa pariwisata; pengetahuan
tentang prinsip-prinsip dan manajemen layanan jasa pariwisata; perencanaan dalam
penataan lingkungan pariwisata; penanganan dan pengelolaan limbah hasil produksi; dan
pengetahuan tentang penanganan hukum dalam kontrak keija dan perdagangan
internasional di bidang produk-produk wisata. Sementara itu nilai-nilai dan sikap modem
yang perlu dimiliki antara lain: orientasi produktivitas dan kreativitas yang tinggi;
menghargai tinggi mutu produksi barang dan jasa; orientasi pelayanan yang sopan dan
ramah; disiplin dan tanggung jawab kerja yang tinggi; kecepatan, ketepatan, kelenturan,
dan keselamatan keija; kebersihan, keindangan, ketertiban, keamanan, kesehatan, dan
penciptaan kenangan; menghargai waktu; kompetisi yang sehat dan keija sama secara
kooperatif; komitmen pelestarian lingkungan dalam upaya kesinambungan daya dukung
lingkungan alam dan sosial; dan menghargai pengambilan keputusan yang rasional dan
empirik.
Kedua, sejalan dengan perkembangan wisata di Bali pada umumnya dan di Ubud
pada khususnya, salah satu pengaruh positifnya juga adalah menjadikan daerah wisata
Ubud makin terkenal dan terhubung dengan kota-kota besar dunia. Karena itu,
perkembangan daerah wisata Ubud tidak saja kini menjadi kepedulian dan komitmen
masyarakat Ubud dan Bali pada khususnya, tetapi juga telah menjadi perhatian dan
komitmen dunia internasional. Ini dapat ditunjukkan dengan banyaknya peneliti,
pengamat, budayawan, penulis dan wartawan, dan seniman-seniman baik domestik
maupun mancanegara - seperti telati dijelaskan terdahulu - yang menunjukkan kepedulian
dan komitmen serta memberikan kontribusinya bagi tetap lestari dan bagi perkembangan
pariwisata di Bali pada umumnya dan di Ubud pada khususnya (Prasetyo, 2005).
Ketiga, konsekuensi dari kondisi kedua di atas, masyarakat Ubud sekarang telah
menjadi masyarakat yang terbuka bagi pengaruh-pengaruh masyarakat dan budaya asing
terutama budaya barat. Keterbukaan ini disadari masyarakat telah dapat membawa sisi
kehidupan yang lebih baik, tetapi juga bisa membawa sisi pada kematian sistem sosial dan
budaya lokal Sisi kehidupan yang positif itu telah ditunjukkan masyarakat Ubud dalam
perkembangan sejarah pariwisatanya, yang dengan semangat hcal geniusnya (keunggulan
integrasi sistem sosial budaya dan keseniannya), mampu mengembangkan pariwisata di
Ubud berbasis masyarakat dan pengembangan budaya berkesenian dalam berbagai
dimensinya di Ubud yang pada ujungnya membawa kesejahteraan bagi masyarakat Ubud
pada khususnya dan Bali pada umumnya. Sisi negatifnya, walau belum menimbulkan
konflik yang besar dan intensif, tidak dapat dipungkiri, kini masyarakat Ubud juga sudah
191
mengalami beberapa masalah rumit terkait dengan penataan lingkungan, makin
terekploitasinya lahan pertanian untuk kepentingan pariwisata, sikap kousumtif teriiadap
barang-barang mewah, mulai tumbuhnya orientasi kuat terhadap materi, dan masalah
kesenjangan kesejahteraan masyarakat antara kelompok miskin dan kaya dan antar desa.
Permasalahan-permasalahan
ini
memang
diakui
belum
cukup
signifikan
untuk
mengganggu keseimbangan sistem sosial dan budaya masyarakat Ubud. Tetapi, jika tidak
ditangani secara berencana dan serius dikliawatirkan akan dapat mengganggu kehidupan
masyarakat itu sendiri.
Apa yang sudah dilakukan masyarakat dan lembaga-lembaga kemasyarakatan dan
pemerintahan terkait untuk pemecahan masalah-masalah di atas, antara lain adalah:
perluasan penyebaran pembangunan sarana wisata ke seluruh wilayah Ubud dan
sekitarnya; penataan lingkungan desa, termasuk desa adat; mengembangkan objek wisata
alam dan agrowisata untuk melestarikan lingkungan alam dan mempertahankan daya
dukung lahan pertanian, serta pemberdayaan desa adat dalam mengembangkan,
memantapkan, dan menangani masalah-masalah yang ditimbulkan oleh aktivitas
pariwisata.
Keempat, kemajuan pariwisata di Ubud juga telah memungkinkan masyarakat
Ubud melakukan hubungan dan komunikasi multi etnis/ras dan multikultur. Ini memberi
dampak positif pula kepada pengembangan pengetahuan dan wawasan global, multikultur,
hubungan dalam kompetisi dan keija sama antar bangsa, serta tumbuhnya pola pikir serta
nilai-nilai budaya dan sikap kemanusiaan yang universal, sementara dapat bertindak
dengan cara-cara lokal (ihink globaily, act tocalfy). Pengaruh yang positif ini dapat dilihat
dari upaya masyarakat untuk menguasai bahasa asing (terutama bahasa Inggris) sementara
banyak orang asing pula yang mau belajar bahasa dan kesenian Bali, adanya perkawinan
antara orang Bali (Ubud) dengan orang asing, adanya keija sama bisnis perdagangan antar
bangsa antara orang asing dengan orang Bali (Ubud), banyak dan seringnya seka-seka
kesenian dan seniman-seniman di Ubud yang mendapat undangan untuk presentasi atau
pameran di luar negeri, adanya usaha-usaha hotel berbintang dan usaha jasa pariwisata
lainnya milik orang asing di Ubud yang inempekeijakan orang-orang Bali lokal,
pembauran orang-orang asing yang tinggal menentap beberapa waktu di Ubud dan tinggal
di lingkungan masyarakat adat, pertukaran pelajar antara pelajar-pelajar di Ubud dengan
pelajar Jepang, Amerika, Australia, dan pelajar beberapa negara Eropa, serta adanya
kesempatan beberapa siswa dari Ubud yang orang tuanya cukup mampu secara ekonomi
192
karena keberhasilan usaha pariwisatanya untuk studi di luar negeri seperti di Singapura,
Australia, Inggris, Kanada, Jepang, dan Amerika.
Perkembangan pariwisata di Ubud dengan berbagai pengarulinya terhadap
masyarakat seperti tergambar di atas ternyata memberi inspirasi kepada lembaga-lembaga
pendidikan dan sekolah-sekolah di Ubud, termasuk SMU Negeri I Ubud, untuk
mengembangkan visi, misi, tujuan, dan kebijakan sekolah yang relevan dengan kebutuhan
masyarakat Ubud sebagai masyarakat pariwisata seperti di atas.
SMU Negeri I Ubud, walau bukan merupakan sekolah kejuruan pariwisata, dapat
disetujui merupakan sekolah tingkat menengah umum di Ubud yang memiliki kepedulian
dan komitmen bersama-sama masyarakat memajukan pembangunan pariwisata budaya di
Ubud pada khususnya, dan di Bali pada umumnya. Bukti kepedulian dan komitmennya ini
dapat dilihat dari yang paling abstrak pada visi dan misi sekolah sampai yang paling
konkrit pada berbagai aktivitas budaya yang dilakukan sekolah.
Visi SMU Negeri 1 Ubud sebagai telah dijelaskan terdahulu adalah menjadikan
sekolah sebagai wahana pendidikan tingkat menengah dalam rangka membentuk generasi
muda yang bermutu, beriman, dan berbudaya dengan landasan nilai-nilai Tri Hiia Karana.
Dengan visi bermutu SMU Negeri 1 Ubud mengupayakan peningkatan kualitas proses dan
hasil belajar siswanya sehingga dapat lebih bersaing baik dalam penguasaan ilmu
pengetahuan dan teknologi, melanjutkan studi ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi,
maupun dalam persaingan dunia keija dan dalam partisipasi atau pengabdian kepada
masyarakat. Dengan peningkatan mutu ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas
sumber daya manusia yang dibutulikan dalam perkembangan pariwisata di Ubud pada
khususnya, dan pembangunan di Bali pada umumnya.
Dengan visi beriman, SMU Negeri 1 Ubud juga berupaya meningkatkan crada dan
bhakti para siswa sebagai generasi muda dan sebagai anggota masyarakat berbasis pada
ajaran nilai-nilai Hindu Bali. Dengan begitu harapan masyarakat kepada generasi muda
untuk dapat melaksanakan gagasan ajeg Bali dalam rangka pelestarian nilai-nilai budaya
Hindu Bali dapat diwujudkan. Hal ini tentu selaras dan mendukung kebijakan pemerintah
daerah Bali dalam mengembangkan pembangunan pariwisata budaya berdasarkan ajaran
nilai-nilai Hindu Bali.
Begitu pula dengan visi berbudaya yang tidak bisa dilepaskan dari visi bermutu
dan benmannya, SMU Negeri 1 Ubud berupaya terus bersama-sama komponen
masyarakat lainnya turut memajukan, mengembangkan, dan melestarikan budaya dan
kesenian Bah yang berbasis pada ajaran agama Hindu Bali, di samping turut juga
193
memajukan kebudayaan nasional dan kebudayaan umat manusia secara universal.
Berlandaskan visi sekolah seperti di atas, SMU Negeri 1 Ubud kemudian
menyelaraskan program-program pendidikannya yang langsung atau tidak langsung
bersentuhan dengan harapan-harapan masyarakat untuk memajukan pariwisata budaya di
Ubud
dengan
segala
tuntutan
perkembangan
dan
pengaruh-pengaruh
yang
ditimbulkannya. Pertama, dengan kuatnya tuntutan masyarakat, termasuk masyarakat
pariwisata di Ubud untuk upaya pelestarian budaya dan agama Hindu Bali dalam rangka
ajeg Bali, sekolah telah mengembangkan kebijakan untuk menjadikan pendidikan sekolah
sebagai wahana dan proses pemantapan dan pengembangan kebudayaan Bali yang modem
berbasis agama Hindu Bali.
Kedua, sebagai konsekuensi tuntutan perkembangan pariwisata di Ubud yang
memberikan kesempatan peluang kerja di bidang produksi barang dan jasa yang terkait
dengan pariwisata, sekolah juga telah mengembangkan program-program pendidikan yang
mengkontribusi kepada pembekalan pengetahuan, pembinaan dan pengembangan nilainilai dan sikap, serta pelatihan keterampilan yang langsung atau tidak langsung
bersentuhan dengan pariwisata.
Ketiga, pariwisata di Ubud juga telah mengembangkan hubungan multi etnis/ras
dan multi budaya antara masyarakat Ubud dengan wisatawan baik domestik maupun
manca negara. Hubungan sepati ini tentu membutulikan pengetahuan, wawasan, serta
nilai-nilai dan sikap global dalam karakteristik hubungan antar atau multi etnis/ras dan
multi budaya baik dalam hubungan sosial, hubungan kerja sama ekonomi, maupun
hubungan kebudayaan. Kebutuhan seperti ini disadari betul oleh sekolah terutama guruguru bahwa ini amat penting bagi siswa sebagai anggota masyarakat Ubud pada
khususnya, dan masyarakat Bali pada umumnya, untuk mengembangkan wawasan dan
nilai-nilai global tersebut. Karena itu, sekolah merasa berkewajiban untuk memfasilitasi
siswa dapat meningkatkan wawasan dan nilai-nilai global tersebut baik melalui kegiatan
kurikuler, kokurikuler, maupun ekstrakurikuler di sekolah. Untuk kepentingan ini, diakui
bahwa guru-guru mata pelajaran PPKn, Sejai-ah, Tata Negara, Geografi, Sosiologi dan
Antropologi, Ekonomi, Bahasa Inggris, dan bahasa asing lainnya mempunyai peranan
penting dalam pembentukan dan pengembangan wawasan dan nilai-nilai global tersebut
yang diintegrasikan ke dalam pembahasan pokok-pokok bahasan yang relevan serta dalam
pemberian kesempatan kepada siswa untuk mengikuti kegiatan pertukaran siswa.
Dari penjelasan di atas, tampak juga bahwa perkembangan pariwisata budaya di
Ubud telah memberikan pengaruh yang cukup signifikan terhadap pengembangan program
194
pendidikan di SMA Negeri 1 Ubud termasuk dalam pengembangan program Pendidikan
IPSnya. Di satu sisi, secara kultural pariwisata budaya menghendaki masyarakat lokal
untuk mempertahankan dan melestarikan nilai-nilai dan praktik kehidupan religi, sosial,
budaya, kesenian, dan pemeliharaan lingkungan yang telah menjadi tradisi masyarakat
Bali yang berbasis nilai-nilai Hindu dan lokal Bali. Secara politik dan ideologis, sekolah
merasa perlu menyesuaikan visi ideologisnya dalam rangka pemertahanan budaya
tersebut. Maka, kebijakan dan tindakan-tindakan sosio-paedagogis dan sosio-kulturalpun
dikembangkan yang memungkinkan sekolah berfungsi dalam kontribusi pemeliharaan
nilai-nilai budaya lokal yang berbasis agama Hindu tersebut.
Di sisi lain, interaksi dengan tuntutan perkembangan pariwisata budaya yang
makin banyak mengundang orang asing (mancanegara) membutuhkan juga pola adaptasi
sosial dan budaya yang memungkinkan masyarakat lokal Bah dapat berinteraksi dengan
wisatawan dengan karakteristik kehidupan sosial yang lebih modem dan berwawasan
global dalam hubungan yang saling menguntungkan. Ini tidak saja berimplikasi secara
ideologis, tetapi juga ekonomis. Secara ideologis, masyarakat lokal, di satu sisi dapat
menyesuaikan visi ideologisnya dengan tuntutan-tuntutan kemampuan dan nilai-nilai yang
lebih universal. Di sisi lain, dapat juga terjadi bahwa masyarakat lokal mengadopsi nilainilai modern yang berwawasan global untuk digunakan terutama dalam mengelola
pengembangan lapangan kerja atau bidang profesi modem (pengembangan sektor industri
barang dan jasa) yang baru sesuai dengan tuntutan perkembangan pariwisata.
Secara ekonomis, masyarakat lokal juga dapat memetik keuntungan material dalam
interaksi sosial budaya dengan wisatawan terutama sesuai dengan pengembangan
lapangan kerja atau bidang profesi yang dibutuhkan dalam pengembangan aktivitas
pariwisata budaya. Manfaat ekonomis ini tentu membawa dampak pula secara ideologis
dalam penyesuaian visi ideologis masyarakat lokal agar manfaat eokonomi dapat
ditingkatkan tanpa harus menghancurkan sama sekali nilai-nilai budaya lokal yang
dimiliki yang memang dikehendaki oleh pariwisata sendiri untuk dilestarikan.
Dilema seperti ini juga disadari oleh komponen civitas sekolah dan masyarakat.
Sebagaimana konflik-konflik kehidupan dalam konsep rwa bhinneda selalu dapat
diakomodasi dan ditempatkan keberadaannya dalam relasi fungsi-fungsinya yang bersifat
komplementer dalam kehidupan masyarakat Bali, dilema antara pelestarian budaya lokal
dan pengembangan budaya modem inipun dapat diakomodasi dalam pengembangan
program sekolah melalui penyesuaian visi ideologis sekolah dalam menghasilkan generasi
muda yang beriman, bermutu, dan berbudaya. Dalam pada itu, beberapa kebijakan dan
195
tindakan sosio-paedagogis, sosio-akademis, dan sosio-kultural yang relevan telah
dikembangkan sekolah untuk mencapai tujuan-tujuan sekolah sesuai dengan visi dan misi
sekolah. Dalam hal ini, sekolah tidak memandang dua kepentingan ini sebagai hambatan
dalam mencapai tujuan-tujuan program pendidikan sekolah, melainkan menjadikannya
sebagai kekuatan-kekuatan dinamis yang mengarahkan pengembangan program-program
pendidikan sekolah dalam rangka mencapai pembentukan generasi muda modem berwatak
Bali. Inilah yang mungkin dapat disebut sebagai proses produksi budaya orang-orang
terdidik yang diharapkan dapat menghasilkan generasi muda modem tanpa harus
kehilangan identitas atau jati diri budaya lokalnya (bandingkan dengan Trujillo, 1996:119349).
I. Kebijakan-Kebijakan Terkait yang Mempengaruhi Praktik Program Pendidikan
Sosial (IPS) di SMU Negeri 1 Ubud
Dilihat dari kebijakan penerapan kurikulum 1994 dengan suplemen kurikulum
1999, Pendidikan IPS di tingkat SMU dalam persepsi dan implementasi praktik guru-guru
SMU Negeri 1 Ubud lebih merupakan pendidikan dan pengajaran ilmu-ilmu sosial seperti
Sejarah, Geografi, Ekonomi, Sosiologi dan Antropologi, dan mata pelajaran Tata Negara.
Pendidikan dan pengajaran ilmu-ilmu sosial seperti itu, baik secara sendiri-sendiri maupun
dalam kebersamaannya, diharapkan mampu memberikan pengetahuan dan wawasan,
membentuk nilai-nilai dan sikap, dan melatih keterampilan sosial yang diperlukan bagi
siswa untuk keperluan melanjutkan studi yang lebih tinggi dalam bidang ilmu-ilmu sosial
terkait serta bagi kepentingan menyelesaikan masalah-masalah sosial yang terjadi di
masyarakat baik dengan pendekatan monodisiplin maupun pendekatan antardisiplin.
Pengertian IPS seperti di atas tampaknya lebih cocok dengan pelaksanaan tradisi
Pendidikan IPS sebagai pendidikan ilmu-ilmu sosial yang mengajarkan siswa konsepkonsep dasar dari beberapa disiplin ilmu sosial terkait untuk tujuan-tujuan pendidikan
sekolah (lihat Somantri, 2001).
Pengetahuan yang diberikan dalam pembelajaran ilmu-ilmu sosial seperti di atas
lebih merupakan fakta-fakta dan konsep-konsep dasarnya saja
yang sesuai dengan
karakteristik keilmuan masing-masing mata pelajaran yang dideskripsikan menjadi
kumpulan dari bahan-bahan kajian ilmu-ilmu sosial tersebut.
Hampir dapat dipastikan
bahwa, dalam implementasinya, pendidikan nilai dan keterampilan berIPS dengan
memperhatikan padatnya materi keilmuan kurikulum 1994, walau sudah disederhanakan
melalui suplemen kurikulum 1999, cenderung hanya menjadi kurikulum tersembunyi.
196
Artinya, tujuan-tujuan pendidikan nilai dan pembinaan keterampilan berIPS seperti yang
diharapkan dalam kurikulum, dalam implementasinya hanya diharapkan oleh guru dapat
terjadi melalui efek samping (nurluranl effect) pengajaran konsep-konsepnya saja. Hal ini
terjadi karena, baik dalam perencanaan pembelajaran maupun dalam praktik pembelajaran
dan penilaian di kelas, tidak ada upaya guru secara sengaja merancang dan melaksanakan
pendidikan nilai-nilai dan pendidikan keterampilan yang semestinya dapat diintegrasikan
dalam pembelajaran.
Dengan pendekatan pendidikan nilai-nilai seperti di atas, diakui guru dan siswa
bahwa nilai-nilai yang ditanamkan melalui penanaman konsep-konsep dasar pada masingmasing mata pelajaran rumpun IPS cenderung lebih mengedepankan orientasi nilai-nilai
nasionalisme dan orientasi global dan cenderung pula mengabaikan penanaman konsepkonsep dan nilai-nilai lokal yang sesuai dengan lingkungan belajar siswa. Hal ini diakui
guru-guru lebih terkait dengan upaya menempatkan kepentingan nasional serta
penggunaan
standar
nasional
dalam pengembangan
kurikulum
dan
pelaksanaan
pembelajaran serta penilaian hasil belajar siswa. Begitu pula karena buku-buku teks yang
digunakan sebagai sumber belajar cenderung menggunakan buku import dari Jawa, maka
kandungan kontekstual lokal Bali jelas terabaikan.
Implementasi kebijakan kurikulum rumpun mata pelajaran IPS tahun 1994 seperti
di atas tidak bisa dilepaskan pula dari adanya kebijakan tentang pelaksanaan evaluasi
sumatif dan ujian tahap akhir sekolah serta ujian nasional. Karena kebijakan evaluasi hasil
belajar yang masih tersentralisir ini, seluruh kebijakan sekolah sebagai kebijakan
implementasi dalam melaksanakan assessment hasil belajar siswa hanya memfokuskan
pada penilaian aspek kognisi saja, dan inipun hanya terbatas pada aspek kognisi level
rendah, yakni; pengetahuan (knowledgeiCl), pemahaman (comprhension!C2), dan aplikasi
konsep (applicaiionICh). Ini dapat diketahui dari pelaksanaan evaluasi formatif, sumatif,
dan ujian sekolah, serta ujian akhir nasional, seluruh tes prestasi belajar mata pelajaran
rumpun IPS yang digunakan sekolah sepenuhnya menggunakan instrumen tes objektif
pilihan ganda yang distribusi item-item tesnya hanya tersebar pada penilaian aspek kognisi
level Cl, C2, dan C3 saja. Kebijakan tes objektif ini dilakukan karena mempertimbangkan
segi kepraktisan guru-guru dalam melaksanakan evaluasi hasil belajar, mengingat adanya
kebijakan sekolah yang menerima daya tampung siswa tiap kelas cukup besar, yaitu antara
40 sampai 45 orang.
Memperhatikan kondisi kebijakan pelaksanaan program pendidikan, termasuk
Pendidikan IPS,
seperti di atas, secara politis dan ideologis, kenyataan ini jelas
197
menunjukkan adanya hegemoni dan dominasi politik pendidikan yang menempatkan
kepentingan pusat sebagai instrumen kepentingan nasional lebih menjadi superordinasi
dan kepentingan lokal atau daerah, termasuk otonomi sekolah, sebagai subordinasinya
(lihat Giroux, 1981; Ritzer, 1992). Hal ini benar, karena menurut keyakinan guru-guru,
dalam semua kebijakan pendidikan dari kebijakan kurikulum, bantuan fasilitas dan sarana
pendidikan, bantuan sumber belajar (buku dan LKS) sampai pelaksanaan evaluasi hasil
belajar, semuanya berasal dari pusat; dan bahkan untuk kepentingan melanjutkan studi
mencari perguruan tinggi terbaikpun bagi siswa adanya dekat dengan kepentingan pusat.
Dalam hubungan politik pendidikan seperti ini, bagi guru-guru di Bali yang dalam
keyakinan ideologisnya menempatkan kepentingan nasional sebagai unsur buana agung
lebih utama dari pada kepentingan daerali/sekolah sebagai unsur buana alitnya, maka
kebijakan ini menjadikan guru-guru IPS lebih sebagai objek pendidikan yang harus
melaksanakan semua kebijakan pusat dengan sebaik-baiknya. Tanpa disadari, ideologi
kepentingan nasional telah membentuk pola pikir, nilai-nilai, dan sistem keyakinan guruguru
bahwa
pendidikan
adalah
dalam
rangka
nation
and characler building.
Konsekuensinya, guru-guru merasakan sedikit sekali ruang untuk berkreativitas dan
berinovasi dalam mengangkat ideologi local genius menjadi sumber potensi kekuatan
dalam rangka membangun karakter bangsa yang lebih pluralistis dan demokratis. Secara
politis, dengan demikian, telah terjadi hegemoni ideologi nasionalisme pendidikan yang
secara kultural menciptakan praktik budaya pendidikan nasional yang tersentralisasi dan
mengabaikan proses produksi budaya generasi muda modem berwatak Bali (bandingkan
dengan Abdullah, 1999; Trujillo, 1996; Widja, 2001).
Bersamaan dengan implementasi kebijakan kurikulum 1994 dengan suplemen
kurikulum 1999nya, pariwisata di Bah pada umumnya mulai mendapat kritik yang tajam
dari berbagai kalangan sebagai akibat kebijakan pemerintah orde baru yang terus
mengeksploitasi pariwisata di Bali untuk kepentingan pertumbuhan ekonomi dengan
mengabaikan kontinuitas daya dukung sumber-sumber alam
dan sumber-sumber
kehidupan sosial budaya masyarakat Bali. Masyarakat Balipun mulai gerah dengan
munculnya kekhawatiran akan punahnya daya dukung di atas. Maka, muncullah kemudian
gagasan-gagasan dalam polemik untuk mengembalikan alam, masyarakat, dan kebudayaan
Bah seperti sedia kala. Muncullah, kemudian, konsep ajeg Bali yang makin kuat
berkumandang dalam kebijakan-kebijakan pemerintah, pada ulasan-ulasan berita media
massa, obrolan di balai masyarakat, pada penulisan buku-buku tentang kebudayaan Bali,
pembahasan pada seminar-seminar budaya Bali, pada berbagai kegiatan dharma wacana,
198
pada penelitian-penelitian kebudayaan Bali, dan nyanyian para peocipta lagu Bali
(Aslirama, 2004), walau harus diakui tidak ada konsep yang sama bagaimana konsep ajeg
Bali itu bisa diwujudkan.
Sejalan dengan hal tersebut, pemerintah daerah Bali dengan kebijakannya melalui
Perda No 16 tahun 2002 sebagai kelanjutan dari perda No 4 tahun 1996 kemudian
mensosialisasikan ajaran-ajaran Tri Hita Karana kepada lapisan-lapisan sosial masyarakat
sampai dengan membuat ajang lomba pembudayaan Tri Hila Karana di lembaga-lembaga
kemasyarakatan dan lembaga-lembaga pendidikan seperti pada lomba desa adat, lomba
lembaga perkreditan desa, lomba pembudayaan Tri Hita Karana antar lembaga jasa
pariwisata (terutama hotel dan restoran), lomba seka teruna-teruni, lomba subak, lomba
lingkungan wiyata mandala di sekolah, lomba perindangan di sekolah, dan sejenisnya.
Walau tidak ada kebijakan tertulis dari dinas pendidikan, sebagai bagian dari
kelompok masyarakat, sekolah-sekolah yang memiliki kepedulian dan komitmen untuk
ajeg masyarakat Bali mencoba mensosialisasikan dan membudayakan konsep-konsep dan
nilai-nilai
Tri Hila Karana di
lingkungan
sekolah melalui penataan hubungan
parahyangan, pawongan, dan penataan hubungan palemahan sekolah. SMU Negeri 1
Ubud dengan kebijakan sekolahnya mengambil peran dalam rangka sosialisasi dan
pembudayaan nilai-nilai Tri Hita Karana tersebut yang kemudian dituangkan dan
diintegrasikan dalam visi, misi, dan program keija sekolah melalui visi bermutu, beriman,
dan berbudayanya. Kebijakan ini ditempuh mempertimbangkan berbagai faktor perubahan
sosial dalam masyarakat yang turut berpengaruh kepada sikap dan perilaku siswa,
sementara disadari benar bahwa kurikulum formal sekolah saja dinilai tidak mampu
memenuhi kebutuhan masyarakat dan peserta didik yang salah satunya adalah kebutuhan
masyarakat Bali untuk mengaktualisasikan konsep ajeg Bali dalam penataan kehidupan
sosial budaya dan penataan lingkungan alam di Bali yang dinilai telah mulai mengalami
abrasi, erosi, degradasi, atau dekadensi.
Atas dasar pertimbangan-pertimbangan di atas, sekolah kemudian mencoba
merencanakan, mensosialisasikan, dan membudayakan nilai-nilai Tri Hita Karana tersebut
baik melalui kegiatan kurikuler, kokurikuler, ekstrakurikuler, maupun melalui penciptaan
iklim sekolah dan iklim belajar di kelas. Keseluruhan kebijakan yang diambil
dapat
memberikan karakteristik kepada sekolah dan memberikan arti penting bagi pendidikan
sosial pada umumnya, dan Pendidikan IPS pada khususnya, walau harus diakui
implementasi kebijakan ini bukanlah semata-mata menjadi tanggung jawab guru-guru
rumpun mata pelajaran IPS saja. Dengan demikian, ada pembahan paradigma berpikir
199
bahwa pendidikan sosial dan Pendidikan IPS bukanlah semata-mata merupakan kegiatan
pengajaran rumpun mata pelajaran ilmu-ilmu sosial, melainkan juga mencakup seluruh
aktivitas pendidikan yang bertujuan memberikan pemahaman kritis, nilai-nilai dan sikap,
seria keterampilan sosial yang dibutuhkan sebagai warga negara dan warga masyarakat
yang cerdas, berkomitmen tinggi, serta memiliki kompetensi partisipatif dalam
mengembangkan kebudayaan masyarakatnya baik di tingkat lokal, nasional, maupun
global. Perubahan paradigma ini, sejalan dengan perjuangan ideologi masyarakat Bali
untuk mengembangkan proses produksi budaya (cultural production) generasi muda
modern berwatak Bali melalui perjuangan politik pendidikan yang dapat membangun
individu-individu modem yang memiliki
kebanggan berbudaya Bali dengan landasan
nilai-nilai Agama Hindu. Wacana produksi budaya seperti ini menegaskan fungsi sekolah
sebagai wahana heterogen di mana pendidik dan siswa mengembangkan beragam wacana
dan praktik pendidikan yang mempengaruhi cara mereka membangun pengetahuan dan
identitasnya (Trujillo, 1996:144).
Implementasi kebijakan sosialisasi dan pembudayaan nilai-nilai Tri Hita Karana
sebagai bagian dari pendidikan sosial di SMU Negeri 1 Ubud ini tidak dilakukan dengan
menyisipkan kurikulum atau mata pelajaran baru. Pembelajaran konsep-konsep dasarnya
sebagai bekal pengetahuan awal siswa cenderung dilakukan dengan menyisipkan pokok
bahasan Tri Hita Karana pada mata pelajaran Agama Hindu di kelas III dengan pemberian
konsep-konsep dan deskripsi tentang latar belakang historis, pengertian, unsur-unsur,
beberapa sumber-sumbernya dalam kitab suci, penerapan nilai-nilainya, serta nilai budaya
BaJi yang relevan.
Secara ideologis, selanjutnya, ajaran dan nilai-nilai Tri Hila Karana ini dijadikan
basis bagi pengembangan iklim pendidikan yang dituangkan dalam visi sekolah yang
dengannya kemudian dijadikan dasar pula bagi pengembangan program kerja sekolah,
baik yang menyangkut kegiatan pembinaan mental spiritual, pengembangan aktivitas
kurikulum (termasuk aktivitas kokurikuler dan ekstrakurikuler), pembinaan kesiswaan,
pengembangan hubungan dengan masyarakat, serta dalam pengembangan dan penataan
fasilitas pendidikan. Pilihan implementasi kebijakan seperti ini dinilai lebih mendasar,
komprehensif, visioner, dan lebih powerjul bila dibandingkan hanya dengan memasukkan
mata pelajaran baru untuk siswa. Dan, dengan demikian pula, implementasi program ini
akan menjadi tanggung jawab bersama seluruh komponen civitas sekolah termasuk
komponen masyarakat.
200
Kehidupan mental spiritual berkarakter neligiusitas Hindu Bali di lingkungan SMU
Negeri 1 Ubud dapat dikatakan masih cukup kental. Ini dapat dilihat, walau sekolah
meiupakan tempat belajar bagi siswa dan tempat menjalankan profesi sebagai pendidik
dan pengajar bagi guru, lingkungan sekolah bukanlah tempat sekuler. Seperti bagaimana
sebuah keluarga atau desa adat di Bali ditata menurut konsep Tri Hita Karana, SMU
Negeri 1 Ubud juga ditata mengikuti konsep tersebut. Dengan menata lingkungan sekolah
menjadi tiga mandala (iri mandala), seluruh civitas sekolah dapat memanfaatkan masingmasing mandala sesuai dengan fungsinya secara optimal.
Pada daerah ulama mandala seluruh civitas sekolah dapat melaksanakan kegiatan
spiritual untuk menghubungkan diri dengan Tuhan. Di daerah utama mandala inilah
terdapat pura sekolah dan beberapa pelinggih suci yang memungkinkan guru, pegawai,
dan para siswa menghubungkan diri dengan Tuhan Yang Maha Esa dan para dewa baik
secara indivudual maupun bersama-sama sesuai dengan keyakinan, kepercayaan, dan
tradisinya.
Dengan kegiatan-kegiatan spiritual seperti ini, seluruh civitas sekolah juga dapat
melaksanakan kewajiban melaksanakan yadnya dalam melaksanakan tugas masingmasing, dan sekaligus menjadi sarana belajar bagi seluruh civitas (terutama siswa) dalam
meningkatkan c rada dan bhakii serta karma baiknya di lingkungan sekolah, sehingga
diharapkan dapat meningkatkan pula kehidupan spiritualnya sebagaimana diwajibkan
dalam ajaran tentangparahyangan dalam konsep Tri Hita Karana.
Pengembangan aktivitas pembinaan mental spiritual seperti di alas dimungkinkan
di sekolah. Pertama, sebagai Weber menyatakan bahwa agama memang dapat mempunyai
peranan
dalam
kehidupan
sosial
budaya
masyarakat
modem
terutama
dalam
pengembangan kehidupan yang rasional (Coser, 1971; Johnson, 1994). Begitu pula halnya
dengan agama Hindu di Bali (Gorda, 1996). Lebih jauh, iklim seperti ini dapat juga
digunakan sebagai basis pengembangan keliidupan beragama yang lebih rasional, karena
penerapan nilai-nilai agama di lingkungan sekolah dapat membantu siswa lebih
merasionalisasikan c rada, bhakii, dan karmanya, yang akan lebih memantapkan
keyakinannya pula. Ini tentu sejalan dengan pandangan Comte untuk mengembangkan
agama humanitas yang lebih berdasar pada pandangan-pandangan ilmiah dan tidak
terbatas pada keyakinan dogmatis belaka (Coser, 1971; Johnson, 1994). Sesuai dengan
pandangan Durkheim (1965), fungsi agama seperti ini juga diharapkan dapat lebih
menguatkan ikatan kehidupan sosial dan budaya di lingkungan sekolah, karena praktikpraktik religius di lingkungan sekolah seperti di atas pada aki lirnya dapat pula
201
menumbulikan energi jiwa kolektif di lingkungan sekolah yang dapat dikembangkan lebih
lanjut untuk pencapaian tujuan-tujuan sekolah. Akliirnya, sesuai dengan pandangan
Enstein (seperti dikutp oleh Suriasurnantri, 1985) praktik kehidupan beragama di
lingkungan sekolah seperti di atas juga dapat membantu generasi muda menguatkan
landasan kepribadian diri dengan penguasaan ilmu dan agama secara utuh. Sebab, seperti
dikatakan oleh Enstein, manusia berilmu tanpa agama adalah manusia buta; begitu pula
sebaliknya, manusia beragama tanpa ilmu adalah lumpuh.
Konsep dan nilai-nilai Tri Hita Karana juga dikembangkan dalam aktivitas
kurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler di SMU Negeri lUbud. Ini memang tidak
dilakukan dengan menambahkan mata pelajaran baru tentang Tri Hita Karana, melainkan
diintegrasikan pada beberapa mata pelajaran yang relevan. Konsep-konsep Tri Hita
karana ini dapat diintegrasikan dalam mata pelajaran, terutama mata pelajaran agama
Hindu. Di samping itu, beberapa konsep dan nilai-nilainya yang relevan juga dibahas
dalam mata-mata pelajaran Baliasa Bali, Antropologi, dan muatan lokal Budaya Bali.
Sedangkan nilai-nilai Tri Hita Karana secara umum dapat pula diintegrasikan dalam
semua mata pelajaran, seperti mengintegrasikan pendidikan budi pekerti pada semua mata
pelajaran termasuk pada mata pelajaran rumpun IPS.
Namun harus diakui, tidak mudah bagi guru untuk dapat mengintegrasikan konsepkonsep dan nilai-nilai Tri Hita Karana ke dalam mata-mata pelajaran yang ada, karena
rigidnya implementasi kurikulum 1994, baik yang mencakup pencapaian target kurikulum,
ketuntasan belajar, daya serap, dan standar evaluasi nasional/daerah. Karena itu, kegiatan
ekstrakurikuler menjadi lebih memadai untuk memberikan kesempatan kepada siswa
mempraktikkan langsung konsep-konsep dan nilai-nilai Tri Hila Karana tersebut melalui
model belajar dan pembelajaran secara partisipatif.
Pemberian kegiatan ekstrakurikuler bernuansa budaya Bah
dalam rangka
pembudayaan konsep-konsep dan nilai-nilai Tri Hila Karana relevan dengan kebijakan
bidang pembinaan kesiswaan yang mengarahkan aktivitas-aktivitas kesiswaan tidak saja
untuk kegiatan olah raga berprestasi, tetapi juga pada kegaiatan-kegiatan lain yang relevan
dengan visi sekolah, seperti: pembinaan mental spiritual siswa, pembinaan kehidupan
berkesenian, pembinaan disiplin dan tata tertib sekolah, pengenalan kebudayaan Bali,
hubungan sosial dan pengabdian kepada masyarakat, kegiatan karya ilmiah remaja,
pembinaan prestasi mata pelajaran tertentu, kegiatan-kegiatan sosial kemanusiaan, dan
kelompok pencinta alam.
202
Dalam hubungan kemasyarakatan, ada kebijakan yang unik dii
Negeri 1 Ubud yang telah disepakati bersama civitas sekolah. Keunika
1 £ "*
bahwa seluruh civitas sekolah menyatakan siap untuk menjadi anggota
(tfarga)
desa adat Ubud, tetapi hal ini tidak diatur di dalam awig-awig tertulis d e ^ a$ab feibild^
Dan, ini hanya menjadi kebiasaan yang telah mentradisi di desa adat Ubud^N^esedf^rtjm
semata-mata sebagai tindakan sukarela civitas sekolah untuk membantu kegiatan-kegiatan
agama dan adat yang berlangsung di desa adat Ubud dan kegiatan-kegiatan agama dan
adat yang berlangsung di puri Ubud, karena seluruh civitas sekolah merasa menjadi bagian
dari desa adat Ubud dan memiliki pertalian sejarah dengan keluarga puri Ubud.
Hubungan yang harmonis antara civitas SMU Negeri 1 Ubud dengan krama desa
adat Ubud dan keluarga puri Ubud seperti di atas diyakini tidak saja baik dalam
mewujudkan hubungan sosial antara sekolah dengan masyarakat, tetapi juga menjadi
sarana belajar yang efektif bagi semua anggota civitas sekokah (terutama siswa) dalam
memahami dan mempraktikkan ajaran dan nilai-nilai Tri Hita Karana berbasis agama dan
kebudayaan Hindu Bali dalam kehidupan bermasyarakat di Bali pada umumnya, dan di
Ubud pada khususnya. Dengan demikian, tidak teijadi kesenjangan yang tajam antara
pendidikan sosial di sekolah dengan pendidikan sosial bermasyarakat.
SMU Negeri J Ubud juga memiliki kebijakan untuk menata lingkungan dan iklim
pendidikan (belajar) di sekolah menggunakan prinsip-prinsip pembudayaan nilai-nilai Tri
Hita Karana. Dengan menggunakan konsep unsur-unsur Tri Hita Karana berupa konsepkonsep parahyangan, pawongan, dan palemahan, lingkungan fisik sekolah ditata ke
dalam tiga wilayah konsep tersebut yang disebut dengan iri mandala. Penataan lingkungan
sekolah menggunakan prinsip-prinsip Tri Hita Karana ini dapat digambar dalam
peta/denah lingkungan sekolah sebagai tertera di halaman berikut.
Penataan lingkungan ini kemudian diikuti oleh penciptaan kehidupan spiritual dan
iklim sekolah yang memungkinkan seluruh civitas sekolah (terutama siswa) belajar
memahami dan menerapkan konsep-konsep ajaran dan nilai-nilai Tri Hita Karana di
lingkungan sekolah.
Di daerah parahyangan sekolah seluruh civitas sekolah dapat melakukan
hubungan, baik secara sendiri-sendiri maupun bersama-sama, kehadapan Tuhan, kepada
para Dewa, dan Betara pelindung dengan menghaturkan persembahan (sesaji bebanien\
memuja, dan berdoa secara khusuk dan iklas dengan cara-cara Hindu Bali. Kegiatan
spiritual ini ada yang dilakukan setiap saat, setiap hari, dan setiap hari raya suci Hindu
sesuai dengan tingkatan yadnya yang dapat dilakukan civitas sekolah. Suasana keliidupan
203
Gambar 09: Denah Tata Ruang Tri Hiia Karana SMU Negeri I Ubud
204
Keterangan Denah:
A
Ruang Guru
Al
Monumen Sekolah (Dewi Saraswati)
B
Ruang Kepala Sekolah
BI
Tempat Parkir untuk Siswa
B2
Tempat Parkir untuk Guru
B3
Lapangan Basket/V o! lyATen ipal Upacara Bendera
C
Ruang Pegawai
Toilet Guru/Pegawai
Cl
C2
Toilet Siswa
Laboratorium IPA
D
Jalan Utama Desa
DI
Ruang Keterampilan
E
Ruang
Belajar
F
Perpustakaan dan Ruang BP
G
H - V Ruang Belajar
K1
Kantin
L1
Wilayah Lembah di Timur Sekolali
W
Ruang Pusat Komputer
Pura / Padmasana Sekolali
XI
Pelinggih Pengayatan Rsi Markandya
X2
Pelinggih Ratu Pusering Jagat
X3
X4
Pelinggih Wong Samar
X5-X6 Padma Capah (Pelinggih Ratu Indera Belaka)
Y
Tiang Bendera
Z
Aula Sekolah
spiritual yang kental ini, di samping memberikan suasana religio-magis kepada iklim
sekolah, juga dapat meningkatkan crada dan bhakti seluruh civitas sekolah kehadapan
Tuhan yang Maha Esa dengan segala manifestasinya.
Demikian pula, aktivitas ini dapat juga mempengaruhi kehidupan aktivitas
pawongan di lingkungan sekolali. Sebagai contoh, jika kepala sekolali dan dewan guru
melakukan rapat, maka mereka selalu menghaturkan canang pengrawos sebelum rapat
dimulai. Begitu pula siswa, jika mereka akan melaksanakan proses belajar di kelas, piket
kelas juga tidak akan mengabaikan untuk menghaturkan canang sari dan melakukan
persembahyangan sebelum kelas dimulai. Sebelum pelajaran dimulai
siswa juga tidak
melupakan untuk memberikan salam Om Suastiaslu kepada guru, yang bermakna semoga
ada dalam keadaan baik dalam lindungan Tuhan yang Maha Esa. Tradisi-tradisi mulia
seperti ini masih jarang dilakukan siswa di lingkungan sekolah di Bali pada umumnya,
jika tidak dapat dikatakan masih langka.
Hubungan sosial antar guru, antar siswa, antar pegawai, dan antara guiu, siswa,
dan pegawai dalam aktivitas pawongan di sekolali juga berlandaskan prinsip hidup
menyama braya (persaudaraan) yang cukup kental sebagai ciri hubungan sosial
205
masyarakat BaJi. Begitu pula hubungan antar siswa yang berbeda agama dan suku tampak
cukup baik karena disemangati rasa toleransi dan persaudaraan yang tinggi. Hubungan
yang harmonis ini dapal dilihat dari tidak adanya sikap pamer materi yang dilakukan antar
guru dan antar siswa walau diketahui kesenjangan latar belakang status sosial ekonomi
antar siswa cukup tinggi, tidak adanya hubungan dominasi kekuasaan antara siswa Bali
sebagai mayoritas dengan siswa nonHindu Bah sebagai minoritas, sangat jarang sekali
terjadi pelanggaran peraturan tata tertib sekolah baik oleh guru maupun siswa,
pelaksanaan disiplin sekolah cukup baik, penggunaan bahasa Bali kepara dalam hubungan
antar siswa setiap hari tanpa membeda-bedakan status sosial (kasta) siswa, penggunaan
bahasa Bali halus oleh seluruh guru dan siswa pada saat-saat pertemuan rapat atau
menerima tamu, penggunaan bahasa Bali halus oleh kepala sekolah kepada seluruh guru,
tidak adanya permusuhan tersembunyi terjadi antar guru, sikap dan rasa hormat yang
tinggi dari semua siswa kepada guru-guru dan kepala sekolah serta dari guru-guru kepada
kepala sekolah, serta adanya aktivitas kelompok suka duka, baik yang dilakukan siswa
maupun guru-guru dalam hubungan sosial sehari-hari.
Keharmonisan seperti di atas tidak saja terjadi dalam hubungan yang bersifat sosial
sehari-hari, tetapi juga terjadi dalam hubungan struktural antara kepala sekolah kepada
guru-guru dan kepada pegawai, atau hubungan guru kepada siswa. Bahasa Bali halus yang
selalu digunakan kepala sekolah kepada guru-guru dan pegawai, baik dalam hubungan
sehari-hari maupun hubungan kedinasan, termasuk dalam rapat-rapat, dan begitu pula
sebaliknya, menciptakan hubungan yang harmonis dan saling menghormati antara kepala
sekolah, guru-guru, dan pegawai.
Tampaknya, tiap-tiap individu guru dan pegawai serta kepala sekolah lebih
mengutamakan bagaimana keseimbangan, keselarasan, dan keharmonisan hubungan dapat
diwujudkan dan berlangsung di sekolah, ketimbang berpikir apa hak-hak yang semestinya
diperoleh. Tampaknya pula, tiap individu menyadari pula bahwa dalam kehidupan
bersama di sebuah keluarga besar, seperti di SMU Negeri 1 Ubud ini, tidak mungkin tiaptiap individu mendapatkan kepuasan yang optimal dalam hubungan hak-hak dan
kewajiban satu sama lain sesuai dengan keinginan masing-masing individu. Dan, karena
itu, sebagai orang Bali, mereka lebih menempatkan kepentingan bersama sekolah lebih
tinggi dari pada kepentingan pribadi atau kelompok.
Karakter hubungan yang bernuansa Bali dalam hubungan kepala sekolah dengan
guru-guru dan pegawai tampak juga dalam hubungan kepemimpinan kepala sekolah.
Dalam hal ini kepala sekolah berasal dari kasta ksatria yang masih memiliki hubungan
206
darah biru dengan keluarga puri Ubud. Dalam pandangan Hindu di Bali, individu-individu
dari kasta ksatria memang cocok berperan sebagai pemimpin. Sementara itu di mata
masyarakat Ubud, pemimpin-pemimpin masyarakat yang berasal dari keluarga puri Ubud
memang masih sangat disegani dan dihormati sampai sekarang baik secara sosial, budaya,
politik, dan ekonomi. Tidak saja hal ini karena karisma sejarahnya dan karena berasa! dari
kasta ksatria, tetapi karena mereka juga memang dinilai pantas dan mampu menjadi
pemimpin yang bisa mengayomi, melindungi, dan mensejahterakan masyarakat. Latar
belakang kepemimpinan seperti ini ternyata memberikan karisma yang tinggi kepada
kepala SMU Negeri Ubud untuk menjadi pemimpin yang dihormati dan disegani guruguru. Dengan pola kepemimpinannya pula, yang dinilai guru-guru dan pegawai masih
cukup demokratis, maka hubungan sosial dan kedinasan yang terjadi antara kepala sekolah
dengan guru-guru dan pegawai berlangsung cukup harmonis.
Nilai-nilai yang mendasari hubungan sosial antar kepala sekolah, dewan guru,
siswa, dan pegawai tidaklah hanya nilai-nilai menyama braya yang bersifat statis. Sebagai
sekolah yang memiliki visi menjadikan SMU Negeri I Ubud sebagai sekolah bermutu,
secara tradisional, hubungan sosial antar civitas akademika juga dilandasi oleh nilai-nilai
dinamis yang dapat menggerakkan seluruh sistem sekolah menuju sekolah bermutu
tersebut. Nilai-nilai yang dijadikan dasar itu adalah nilai yadnya, berkorban terhadap
sesama dan lembaga; nilai cubha karma untuk berbuat baik kepada siapa saja, kapan saja,
dan dimana saja; dan nilai dharma, artha, kama, dan moksa.
Dengan nilai-nilai yadnya, guru-guru, termasuk kepala sekolah, berkeyakinan
bahwa tugas sebagai pendidik adalah tugas mulia. Karena itu, guru sebagai guru pengajian
memiliki kewajiban betyadnya {korban suci) untuk mengantarkan peserta didik (anak
didiknya) mencapai tujuannya menjadi suputra (anak yang baik) dan sujana (anak yang
cerdas dan bijaksana).
Sebagai pendidik, guru juga wajib untuk selalu berbuat baik (cubha karma) kepada
siapa saja, kapan saja, dan dimana saja. Dalam hal ini guru dalam pandangan Hindu di
Bali adalah orang yang dapat digugu (dipercaya) dan ditiru (diteladani) karena guru adalah
orang yang
memiliki
pengetahuan yang
tinggi,
memiliki
kebijaksanaan
dalam
melaksanakan ajaran Weda, dan selalu dapat memberikan pencerahan kepada masyarakat.
Guru juga wajib melaksanakan ajaran keseimbangan dharma, artha, kama, dan
moksa. Guru yang dinilai memiliki pengetahuan yang tinggi tentang ajaran Weda (ajaran
tentang kebenaran dan kesucian) patut dapat melaksanakan tugas atau dharmanyz sebagai
guru sesuai dengan ajaran-ajaran dharma (kebajikan) dalam kitab suci. Dengan
207
melaksanakan kerja, guru juga wajar memperoleh artha (kesejahteraan) dan kama
(kepuasan), kareua hukum karma telah menggariskan bahwa setiap keija tentu
mendatangkan pahala: keija yang baik akan mendatangkan pahala yang baik pula.
Dengan begitulah guru dan masyarakat kemudian mencapai moksa (kebahagian abadi
tanpa menimbulkan penderitaan).
Dalam hal penataan lingkungan sekolah, lingkungan fisik dan sosial budaya, di
SMU Negeri 1 Ubud juga mencerminkan penerapan ajaran dan nilai-nilai Tri Hiia
Karana. Secara fisik {sekala), sebagai telah disebutKan di atas, lingkungan sekolah telah
dibagi mejadi tiga mandala (iri mandala) yang tiap-tiap mandala mempunyai fungsi yang
berbeda-beda, yaitu fungsi parahyangan di utama mandala, fungsi pawongan di madya
mandala, dan fungsi palemahan di nista mandala. Secara niskala pembagian ketiga area
dengan fungsinya masing-masing ini telah disucikan menggunakan tata cara ritual Hindu
Bah. Ini diyakini dapat menambatkan pikiran, keyakinan, sikap, dan perilaku seluruh
civitas sekolah kepada fungsi masing-masing area atau mandala, karena tiap-tiap mandala
diyakini telah dikuasai dan diatur berfungsinya oleh kekuatan dan sinar suci Ida Sang
Hyang Widhi Waca dengan segala manifestasinya., yaitu para dewa, dan atau, energi para
butha kala.
Ada kebijakan juga di SMU Negeri 1 Ubud dalam hal penataan lingkungan
sekolah bahwa lembah atau jurang yang berada di sebelah timur dan menjadi bagian dari
lingkungan sekolah haruslah dijaga tetap lestari. Ini terkait dengan adanya kepercayaan
masyarakat setempat dan kepercayaan warga sekolah bahwa di jurang atau lembah ini
terdapat ghya (tempat tinggal) wong samar (salah satu bentuk makhluk halus) sebagai
pengikut atau pengiring para dewa yang berstana di pura dan di pelinggih-pelinggih suci
sekolah. Karena itulah di sisi barat lembah ini, di bagian timur laut bangunan sekolah,
dibangun satu pelinggih tugu tempat memberikan sesap kepada wong samar ini agar
teijalin hubungan baik antara seluruh warga sekolah dengan makhluk ini, sehingga mereka
tidak akan mengganggu seluruh aktivitas di sekolah.
Kepercayaan ini ternyata cukup kuat diyakini warga sekolah sehingga keadaan di
lembah ini cukup lestari. Kepercayaan seperti ini bukanlah tidak rasional. Keyakinan
seperti ini pada dasarnya merupakan kearifan lokal dari masyarakat Hindu Bali dalam
upayanya melestarikan lingkungan alam sekitar. Sesuai dengan pandangan strukturalisme
masyarakat Bali, masyarakat mengakui bahwa di lingkungan lembah berkuasa dua
kekuatan besar, yaitu kekuatan buana alit dan buana agung. Buana alit dari lingkungan
lembah itu adalah semua kehidupan yang tampak di sana, yaitu flora dan fauna yang hidup
208
di lingkungan lembah. Sementara itu, kehidupan lembah itu juga diatur oleh kekuatan
buana agung. Energi atau kekuatan yang mengliidupkan dan mengatur kehidupan flora
dan fauna di lembah inilah sebagai kekuatan buana agung yang disimbolkan oleh
masyarakat sebagai wong samar. Wajarlah, karena itu, jika masyarakat tidak berkenan
merusak kehidupan wong samar tersebut, karena jika itu dirusak, maka rusak pulalah
kehidupan flora dan fauna di lembah tersebut. Dan, ini dapat membahayakan keberadaan
sekolah, di sekitarnya, karena bahaya tanah longsor. Kearifan lokal seperti ini ternyata
cukup ampuh dalain menyelesaikan masalah-masalah lingkungan, khususnya dalam
mempertahankan kelestarian kawasan konservasi lingkungan (Atmadja, 1992).
Berbagai penjelasan tentang kebijakan di atas jelas mewarnai bagaimana proses
dan iklim Pendidikan IPS di SMU Negeri I Ubud, yang tidak saja menekankan pendidikan
sosial pada aspek pengajaran ilmu-ilmu sosial, tetapi, yang penting juga adalah aspek
pendidikan yang
dengan integrasi semua kebijakan di atas diharapkan
lebih dapat
memberdayakan tifa skill siswa dalam wujud kearifan lokal, baik yang berupa kearifan
religius, sosial budaya, maupun ekologis berbasis pada ajaran dan nilai-nilai Tri Hila
Karana (Anshori, 2004). Hal ini sejalan dengan harapan-harapan masyarakat kepada apa
yang dapat dicapai oleh Pendidikan IPS untuk meningkatkan kecerdasan-kecerdasan
spritual, sosial budaya, emosional, dan kecerdasan ekologis, di samping kecerdasan yang
bersifat intelektual.
Dari penjelasan di atas jelaslah pula bahwa program-program pendidikan di
sekolah dapat menjadi wahana sosialisasi dan internalisasi nilai-nilai kebudayaan Bali
yang tidak saja memiliki nilai-nilai lokal, tetapi juga memiliki unsur nilai-nilai universal.
Proses sosialisasi dan internalisasi nilai-nilai ini dianggap penting dan menjadi tugas
sekolah dalam rangka menyiapkan generasi muda Bali untuk siap menghadapi tugas-tugas
kemasyarakatan. Pemikiran seperti ini jelas merupakan perwujudan dari paradigma
berpikir struktural fungsional yang menekankan pada tugas dan fungsi sekolah sebagai
wahana proses sosialisasi, yaitu sebagai pentransmisi nilai-nilai tradisional dan sebagai
sarana stabilitas sosial serta pemeliharaan tatanan sosial yang ada (Hallinan, dalam
BaJIantine,
1985: 33-34;
Collins, dalam Ballantine,
1985:60-87). Sekolah juga
mensosialisasikan kepada generasi muda pengetahuan intelektual, nilai-nilai etis, normanorma
budaya,
dan
keterampilan
hidup
yang
dibutuhkan
masyarakat
untuk
keberlangsungannya (Durkheim, 1985a:21).Hal ini lebih dipertegas lagi oleh Dreeben
(1968) yang mengukuhkan pentingnya empat norma esensial yang harus menjadi concern
sekolah untuk mendidikkannya kepada generasi muda agar masyarakat tetap dapat
209
berlangsung, yaitu independensi (independence), prestasi (achievemeni), universalitas
(universal ism), dan kekhususan (specificUy). Keempat norma ini tampaknya sudah
tersosialisasikan dalam pelaksanaan program pendidikan di SMU Negeri 1 Ubud dalam
upayanya mengimplemenatsikan nilai-nilai Tri Hita Karana di lingkungan sekolah.
Tetapi harus diakui, upaya-upaya sekolah seperti di atas tidaklah semata-mata
berperspektif fungsionalisme dalam kepentingan sosialisasi dan internalisasi nilai-nilai
sosial budaya Hindu Bali saja. Kesadaran sekolah dalam memaknai gerakan masyarakat
untuk ajeg Bali yang dapat diaplikasikan di lingkungan program pendidikan sekolah dari
pengaruh dominasi kebijakan pendidikan nasional yang tersentralisasi, membantu sekolah
menciptakan kesadaran dan upaya yang kritis. Di sini program pendidikan tidak lagi
menjadi wacana yang tunggal dalam menginterpretasi makna manusia modem yang
nasionalis, seperti yang terjadi sebelumnya. Ada satu dialog kritis bagaimana civitas
sekolah kemudian menciptakan image atau citra tentang generasi muda modem berwatak
Bali yang menghargai nilai-nilai nasionalisme dan mengembangkan kemampuan berpikir
global (bandingkan dengan Skinner dan Holland, 1996: 273-299). Di sinilah komponenkomponen civitas sekolah (kepala sekolah, guru, dan siswa) melakukan rekonstruksi
secara kritis dalam rangka mereproduksi citra kehidupan modem yang lebih demokratis,
yang lebih memberikan keseimbangan pada pemberian liak-hak hidup secara sosial,
politik, budaya dan ekonomi antara kepentingan lokal masyarakat Hindu Bali, kepentingan
nasional, dan kepentingan global. Hal ini sejalan dengan kondisi perubahan sosial budaya
masyarakat Ubud pada khususnya, dan perkembangan masyarakat Bah pada umumnya
dewasa ini, yang memang sedang menghadapi fenomena berbagai konflik kepentingan
antara kepentingan masyarakat lokal Bali dalam rangka ajeg Bali, kepentingan
pembangunan nasional demi tetap tegaknya kehidupan berbangsa dan bernegara
Indonesia, dan pemenuhan kepentingan interaksi global.
Penekanan pada proses sosialisasi dan internalisasi nilai-nilai Tri Hita Karana di
atas, dengan demikian, menjadi sarana perjuangan seluruh komponen sekolah untuk
memperoleh hak-hak emansipasi dalam proses pendidikan atas proses medemisasi yang
berbasis nilai-nilai nasionalisme dalam program pendidikan di sekolah umum selama ini.
Di sinilah rekonstruksi pengalaman sosial budaya secara kritis berbasis nilai-nilai Tri Hita
Karana telah dikembangkan untuk memformulasikan satu model Pendidikan IPS yang
memberdayakan kecakapan-kekapan hidup yang esensial perlu dikembangkan pada siswa
sebagai generasi muda, baik yang mencakup kesadaran politis dan ideologis, sosial
210
budaya, spiritual, maupun kesadaran ekologis yang lebih relevan dengan tuntutan-tuntutan
kebutuhan masyarakat lingkungannya.
J. Agen-agen Sosial yang Mempengaruhi Praktik Pendidikan IPS di Sekolah
Banyak pihak diakui oleh civitas sekolah yang berkepentingan terhadap
pengembangan program pendidikan di SMU Negeri 1 Ubud pada umumnya dan pada
praktik Pendidikan IPS pada khususnya. Akomodasi terhadap berbagai kepentingan itu
dianggap wajar oleh sekolah sebagai konsekuensi adanya hubungan dan saling pengaruh
antara sekolah dengan masyarakat pada umumnya.
Hanya dengan menjalin hubungan
yang harmonis dengan masyarakat sekolah akan tetap eksis dau dapat berkembang di
tengah-tengah pertumbuhan dan perkembangan masyarakatnya.
Seluruh civitas SMU Negeri I Ubud juga menyadari bahwa sekolah perlu
mengakomodasi, mengadaptasi, dan mengembangkan tiga level kepentingan yang harus
menjadi orientasi nilai dan tindakan seluruh warga sekolah dan masyarakat, yaitu level
kepentingan
eksistensi masyarakat lokal,
level kepentingan nasional, dan level
kepentingan global. Ketiga level kepentingan itu bisa saja sejalan satu sama lain, tetapi
bisa juga menimbulkan konflik kepentingan. Di sini menjadi tugas sekolah, bagaimana
dapat merekonstruksi masing-masing level orientasi kepentingan dan nilai-nilai tanpa
menghapuskan orientasi nilai yang lain.
Ada sejumlah agen sosial yang diyakini civitas sekolah turut membawa
kepentingan dan orientasi nilainya dalam
pelaksanaan berbagai kebijakan
turut mempengaruhi pengambilan dan
implementasi program pendidikan di SMU Negeri 1
Ubud; dan dengan demikian mempengaruhi pula praktik program Pendidikan IPSnya.
Pertama, adanya kepentingan nasional yang dibawa ke sekolah melalui saluran kurikulum
sekolah oleh agen-agen pemerintah terkait, khususnya oleh dan dari Departemen
Pendidikan Nasional dengan seluruh hubungannya di daerah. Dalam hal ini, Departemen
Pendidikan Nasional setelah mengakomodasi kepentingan-kepentingan politik, pertahanan
dan keamanan nasional (hankamnas), ekonomi, sosial, dan budaya yang berkembang
secara nasional, mengintegrasikannya ke dalam kurikulum sekolah yang secara
tersentralisasi
memandatkannya
kepada
sekolah
untuk
melaksanakan
atau
mengimplementasikannya melalui pendidikan dan pengajaran berbagai disiplin mata
pelajaran bidang studi termasuk mata pelajaran rumpun IPS.
Dengan kebijakan secara nasional oleh Departemen Pendidikan Nasional seperti di
atas, mata pelajaran rumpun IPS jelas pula membawa kepentingan dan orientasi nilai-nilai
211
nasional. Ini dapat dilihat dari relevansi tujuan pendidikan nasional dengan karakteristik
dan tujuan Pendidikan IPS dalam rangka pembentukan manusia Indonesia seutuhnya dan
pembentukan warga negara yang baik. Somantri (2001:40) menyalakan bahwa sebagian
besar aspek tujuan pendidikan nasional banyak yang menjadi daerah tujuan Pendidikan
IPS karena nilai-nilai yang terkandung di dalamnya berkenaan dengan ideologi, politik
dan pemerintahan, kewarganegaraan, sejarah perkembangan bangsa Indonesia, distribusi
sumber-sumber daya Indonesia, kekuatan ekonomi nasional, dan puncak-puncak
kebudayaan bangsa. Karena orientasi nilai dan dominasi kepentingan berskala nasional
inilah tampaknya menjadikan mata pelajaran IPS banyak membawa visi dan misi bangsa;
dan karenanya, karakteristik ini menyebabkan perbedaan substansi materi dan kandungan
nilai-nilai yang terjadi antar IPS (Social Studies) di berbagai negara (Winataputra, 2001).
Menyadari kelemahan-kelemahan standar kurikulum yang bersifat nasional,
masyarakat yang menyadari tidak terjadi link and match antara pendidikan dan pengajaran
di sekolah dengan kebutuhan masyarakat lokal, melalui berbagai agen-agen pembahan
sosialnya yang terkait, menghimbau dan meminta pemerintah daerah beserta jajarannya di
dinas
pendidikan
propinsi dan
kabupaten
serta kepada
sekolah-sekolah
untuk
mengembangkan program pendidikan di sekolah lebih menyesuaikan dengan tuntutan
kecakapan hidup masyarakat lokal tanpa mengabaikan kepentingan-kepentingan nasional
dan global. Pada kasus di SMU Negeri I Ubud, lembaga-lembaga dan tokoh-tokoh berikut
ini mengambil peranan yang besar dalam turut mempengaruhi kebijakan sekolah dalam
melaksanakan program pendidikannya untuk menyesuaikan dengan kebutuhan masyarakat
lokal, antara lain: lembaga keluarga, Badan Pembina Lembaga Adat (BPLA) Kabupaten
Gianyar atau yang dewasa ini akan diubah menjadi Majelis Madya Desa Pekraman, serta
Musyawarah Pembinaan lembaga Adat (MPLA) Kecamatan Ubud atau Majelis Alit Desa
Pekraman, Parisada Hindu Dharma Kabupaten Gianyar dan Kecamatan Ubud,
tokoh-
tokoh puri Ubud, tokoh-tokoh desa adat dan desa dinas Ubud, media massa lokal seperti
Harian Bali Post, Harian NusaTenggara, majalah SARAD Bali, media elektronik TV Bali
dan Bali TV, seku-seka kesenian di Ubud, pemilik-pemilik galeri di Ubud, dan beberapa
pengusaha industri dan jasa pariwisata di Ubud.
Keluarga merupakan lembaga pendidikan yang pertama dan utama bagi anak.
Karena itu dapat diyakini bahwa keluarga merupakan agen sosial yang
turut juga
berpengaruh terhadap pendidikan di sekolah (Sukeini, 1994; Suyasa, 2003). Peranan
keluarga dalam fungsi-fungsi religius, sosial, budaya, politik, dan ekonominya tetap tidak
dapat diabaikan (Lauer, 1989; Sudiasa, 1992; Sukadi, 1994; Suyasa, 2003). Melalui
212
fungsi-fungsi seperti di atas, pendidikan dalam keluarga turut juga mewarnai wawasan,
nilai-nilai dan sikap, serta kecakapan siswa ketika hadir di sekolah. Dan, semua ini dapat
menjadi pengalaman awal siswa yang akan dikembangkan lebih lanjut dalam pendidikan
di sekolah. Inilah yang disebut dengan pendidikan sekolah berbasis pada pengalaman
dunia nyata anak yang sebagian dibentuk dalam lingkungan pendidikan keluarga (Sadia,
1996; Santiyasa, 1999; Widja, dkk. 2002).
Pengaruh pendidikan keluarga terhadap proses pendidikan di SMU Negeri I Ubud
termasuk dalam proses pendidikan sosialnya dapat tetjadi melalui pengalaman yang
dibawa siswa, dan dapat pula pada pengalaman yang dibawa guru-guru ke sekolah. Di sini
baik guru-guru dan siswa dapat sama-sama membawa pengalaman-pengalaman religius,
sosial, budaya, politik, ekonomi, bahkan pengalaman hidup berkesenian sebagai orang
Bali dan sebagai orang Ubud yang banyak terlibat dalam bidang pariwisata budaya.
Kesamaan-kesamaan pengalaman ini diakui guru-guru dan siswa lebih memudahkan
proses tranmisi nilai-nilai budaya lokal Tri Hiia Karana, karena adanya kesamaan nilainilai dan tujuan-tujuan pendidikan yang diharapkan guru-guru dan siswa. Dalam hal ini
pengalaman-pengalaman belajar nilai-nilai budaya di sekolah lebih banyak sebagai upaya
makin menguatkan atau memantapkan tradisi-tradisi, norma-norma, dan nilai-nilai yang
telah dibentuk dalam lingkungan keluarga dan masyarakat, baik yang bersangkutan
dengan nilai-mlai parahyangan, pawongan, maupun palemahan, sehingga nilai-nilai
tersebut lebih terinternalisasi dalam kepribadian siswa.
Ini tidak berarti bahwa seluruh aspek dan strategi pendidikan nilai-nilai dan
keterampilan berbudaya Bali dalam lingkungan keluarga dikukuhkan begitu saja dalam
proses pendidikan sosial dan nilai-nilai di sekolah Apa yang dilakukan di sekolah
kemudian adalah membantu memilih materi-materi pendidikan agama dan nilai-nilai
budaya yang diperlukan siswa dalam keliidupan bermasyarakat yang berubah serta
membantu siswa memberikan landasan ideologis/filosofis dan landasan rasional yang
lebih kuat secara kritis dan kreatif kepada siswa tentang berbagai praktik tradisi nilai-nilai
budaya yang telah dilakukan di lingkungan keluarga yang tidak dapat dijelaskan oleh
pihak orang tua atau orang dewasa lainnya di lingkungan keluarga (Sudiasa, 1992).
Dari penjelasan di atas jelaslah bahwa pendidikan sekolah tidak dapat melepaskan
diri dari pendidikan dalam keluarga. Keberadaan ini tampaknya tidak dapat dilepaskan
dari pandangan strukturalisme fungsional, bahwa sesungguhnya pendidikan sekolah
berfungsi dalam menyiapkan generasi muda untuk memiliki sistem bahasa, pengetahuan,
nilai-nilai
dan
sikap,
dan
keterampilan-keterampilan
yang
dibutuhkan
dalam
213
melaksanakan fungsi di dalam masyarakat, termasuk dalam keluarga. Sekolah, dengan
demikian, dapat dianggap sebagai pentransmisi nilai-nilai tradisional dan sebagai sarana
stabilitas sosial serta pemeliharaan tatanan sosial yang ada (Hallinan, dalam Ballantine,
1985:33-34; Collins, dalam Ballantine, 1985:60-87).
BPLA dan Parisadha, selanjutnya, umumnya berperan melalui saluran dharma
wacananya di sekolah turut memberikan pencerahan baik kepada pemimpinan sekolah,
dewan guru, staf pegawai maupun siswa untuk menata lingkungan sekolah dan
menciptakan iklim pendidikan dan pengajaran berbasis nilai-nilai Tri Hita Karana.
Wawasan dan nilai-nilai yang diterima dalam dharma wacana inilah yang dijadikan
pedoman oleh sekolah untuk membuat kebijakan penataan lingkungan dan penciptaan
iklim pendidikan di SMU Negeri 1 Ubud berbasis pada nilai-nilai Tri Hila Karana yang
dilaksanakan menurut prinsip-prinsip desa, kala, paira.
Tokoh-tokoh dan keluarga puri Ubud juga mempunyai andil yang besar terhadap
pendirian, pembangunan, dan pengembangan program pendidikan di SMU Negeri 1 Ubud.
Peran mereka di samping sebagai pendiri, penyedia lahan untuk pembangunan sekolah,
donatur, dan dewan pembina/penasehat adalah juga sebagai pengurus atau fungsionaris
BP3/koraite sekolah. Tidak mengherankan jika keluarga puri Ubud memiliki kepentingan
yang besar terhadap perkembangan SMU Negeri I Ubud sebagai sekolah menengah
umum yang pertama dan utama bagi proses pendidikan masyarakat.
Keluarga puri Ubud, termasuk puri Peliatan, juga merupakan yang ditokohkan
masyarakat baik dalam bidang sosial, adat, agama, politik, ekonomi, maupun dalam
pengembangan pariwisata di Ubud pada khususnya, dan di kabupaten Gianyar pada
umumnya. Karena itu, keluarga puri Ubud juga memiliki kepentingan terhadap proses
pendidikan di SMU Negeri 1 Ubud dalam rangka memenuhi harapan masyarakat Ubud
terhadap upaya mempertahankan karakteristik masyarakat Ubud berkarakter Bali dan
dalam upaya pengembangan pariwisata budaya di Ubud yang diyakini benar sebagian
merupakan jasa para leluhur keluarga puri Ubud yang telah membesarkan pariwisata
budaya di Ubud. Dua kepentingan inilah yang melandasi bagaimana penataan lingkungan
dan penciptaan iklim belajar di SMU Negeri 1 Ubud dikembangkan oleh sekolah dengan
mendapatkan bahan-bahan pertimbangan dan nasehat dari keluarga puri Ubud. Bahanbahan pertimbangan ini pulalah yang membantu dan sekaligus mengikat sekolah untuk
merumuskan visi dan misi sekolahnya (beriman, bermutu, dan berbudaya), yang pada
gilirannya juga mempengaruhi iklim pembelajaran pendidikan sosial (IPS) di SMU
214
Negeril Ubud berbasis pada nilai-nilai tradisional Tri Hila Karana yang
dengan prinsip-prinsip desa, kala, patra di Ubud.
jelas sekali bahwa, sesuai dengan pandangan teoritisi interpretivis, struktur
masyarakat Ubud terdiri dari sistem ketidaksamaan kelas (karena berlakunya sistem kasta)
yang dilanggengkan dalam keluarga melalui proses transmisi kode-kode linguistik dan
pola komunikasi kepada anak (Karabel dan Halsey, 1977:63).
Sekolah sebagai agen sosialisasi kedua setelah keluarga tidak dapat melepaskan
diri dari pengaruh budaya keluarga yang pada umumnya mencerminkan dominasi budaya
kelas-kelas atas. Tidak mengejutkan, karena itu, sekolah, baik langsung maupun tidak
langsung, sesungguhnya berharap semua siswa belajar kode-kode linguistik dan
kompetensi budaya kelas dominan, yaitu yang dihasilkan oleh keluarga-keluarga puri
Ubud (Pai, 1990). Bourdieu (1977:494) menuliskan situasi ini: "The educational syslem
demands of everyone alike that ihey have what it does nol give. This consisls mainly o/
linguistic and cullural compelencies and ihal relationship of familiarUy v/Uh culiure which
can only be producedby family upbringing when H iransmils the dominani culiure ".
Hubungan antara SMU Negeri 1 Ubud dan desa dinas serta desa adat Ubud juga
sangat harmonis. Tidak saja karena lokasi SMU Negeri 1 Ubud berada di wilayah teritorial
desa dinas dan desa adat Ubud, tetapi, sebagai lembaga pendidikan, sekolah yang berada
di wilayah desa adat dan dinas tersebut memiliki kewajiban moral untuk berinteraksi
dengan masyarakat sekitar, memenuhi tuntutan pelestarian nilai-nilai budaya masyarakat
setempat dalam rangka proses enkulturasi dan transmisi budaya, dan memenuhi harapan
masyarakat untuk pengembangan kualitas sumber daya manusia setempat.
Begitu pula, ada kewajiban moral bagi desa-desa dinas dan desa adat Ubud untuk
turut serta membantu, membina, dan mengembangkan lembaga pendidikan masyarakat
yang dimilikinya, sehingga SMU Negeri 1 Ubud dapat menjadi center of excellence bagi
pengembangan
sumber daya manusia masyarakat Ubud.
Dengan
adanya
saling
kepentingan antara SMU Negeri I Ubud dengan masyarakat sekitarnya, memungkinkan
bagi desa adat dan desa dinas Ubud sebagai agen-agen sosial turut mempengaruhi
kebijakan sekolah dan mewarnai iklim pendidikan di SMU Negeri 1 Ubud, terutama
dalam iklim pendidikan sosialnya.
Proses hubungan masyarakat seperti ini dapat menjadi sarana belajar secara
langsung dan paitisipatif (pratyaksa premana) bagi siswa SMU Negeri 1 Ubud, khususnya
215
dalam
mempraktikkan
kehidupan
beragama
(parahyangan),
keliidupan
sosial
bermasyarakat (pawongan), dan dalam pemeliharaan lingkungan palemahan yang riil
dalam kehidupau masyarakat Ubud berlandaskan prinsip-prinsip ajaran Tri Hila Karana
Hubungan antara sekolah dengan desa adat di atas juga makin menguatkan
keyakinan bahwa sekolah juga mempunyai fungsi yang sentral dalam melestarikan sistem
sosial dan budaya dalam masyarakat. Dalam hal ini, sekolah yang berada di wilayah
teritorial desa dinas dan desa adat Ubud jelas tidak dapat melepaskan diri dari
kepentingan-kepentingan lokal masyarakat desa adat Ubud untuk turut melestarikan
tradisi-tradisi keliidupan sosial, budaya, dan berkesenian masyarakat; tidak saja untuk
kepentingan internal masyarakat Ubud, tetapi juga penting bagi masyarakat desa Ubud
secara keseluruhan yang berkeinginan dapat menjaga tetap lestarinya kebudayaan Bali di
Ubud yang sangat dipentingkan dalam rangka mengembangkan pariwisata budaya di
Ubud.
Sekolah,
dengan
demikian,
dapat
menjamin
bahwa
program-program
pendidikannya dapat mensosialisasikan kepada siswa aspek-aspek sosial budaya yang
esensial yang diperlukan masyarakat untuk dilestarikan, seperti pelestarian penggunaan
bahasa Bali, pelestarian sistem struktur sosial yang berbasis kasta, pelestarian tradisitradisi keliidupan gotong royong di dalam masyarakat, pelestarian sistem ritual dan
kehidupan beragama Hindu dalam masyarakat, tradisi kehidupan berkesenian, dan
sejenisnya. Pandangan seperti ini sekali lagi menguatkan pandangan strukturalisme
fungsional masyarakat Bali dalam rangka ajeg Bali.
Media massa lokal di Bali juga merupakan agen-agen sosial yang mempunyai
peranan penting bagi pendidikan yang memberikan wawasan dan nilai-nilai budaya lokal
bagi masyarakat Bali dan Ubud pada umumnya dan civitas SMU Negeri l Ubud pada
khususnya, baik melalui media cetak harian Bali Post, harian Nusa Tenggara, dan majalah
SARAD Bali,
maupun melalui media elektronik stasiun TVRI Bali (dulunya disebut
TVRI Stasiun Denpasar) dan Bali TV. Ini dapat diketahui dari digunakannya ketiga media
cetak ini sebagai sumber bacaan, baik bagi guru-guru maupun siswa SMU Negeri 1 Ubud
dan penggunaan siaran TVRI Bali dan Bali TV yang dominan menayangkan kajian
budaya lokal sebagai salah satu sumber belajar di sekolah.
Sebagaimana diketahui, harian Bali Post dan Nusa Tenggara serta majalah SARAD
Bali adalah media cetak lokal di Bali yang juga turut menyajikan informasi-informasi,
artikel-artikel atau bahasan-bahasan tentang kehidupan sosial, kehidupan agama,
kehidupan pariwisata, dan kehidupan budaya Hindu Bali. Sebagai media lokal, kedua
216
harian ini memang cukup rutin (hampir setiap hari) menyajikan berita-berita, informasiinformasi, dan artikel-artikel seperti di atas walau jumlah informasi, berita, atau artikelartikelnya tidaklah selalu dominan. Sedangkan majalah SARAD Bali memang merupakan
salah satu majalah yang berfokus pada keliidupan agama dan kebudayaan Hindu Bali pada
khususnya dan kebudayaan Hindu di Indonesia pada umumnya. Tidaklah mengherankan,
karena itu, pendidikan yang memberikan wawasan, nilai-nilai, dan sikap positif terhadap
kehidupan budaya lokal dan agama Hindu Bali dapat diperoleh melalui akses yang intensif
terhadap media massa lokal Bali ini, seperti
Temuan Suyasa (2003) yang menyimpulkan
bahwa akses yang intensif dari siswa SMU di kota Singaraja terhadap media massa dapat
meningkatkan sikap politik berdemokrasinya dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa,
dan bernegara.
Media elektronik melalui siaran TVRI Bah dan Bali TV juga tidak kalah
intensifnya dalam menyajikan berita-berita, gambar-gambar, ulasan-ulasan, topik-topik
pembahasan, sajian kesenian, tayangan sinetron, tayangan film, dan kegiatan dharma
wacana yang menggambarkan kehidupan sosial, religius, budaya, dan keliidupan
berkesenian masyarakat Bali. Bahkan untuk siaran Bali TV yang memiliki visi dan misi
ajeg Bali
hampir seluruh tayangannya memang difokuskan untuk pengembangan dan
pelestarian kebudayaan, agama Hindu, dan kesenian Bali. Diyakini, masyarakat yang
memiliki minat yang besar menjadi pemirsa TV Bali dan Bah TV dipastikan memiliki
minat yang besar dan sikap yang positif pula dalam upaya pengembangan dan pelestarian
kebudayaan lokal Bali yang berbasis pada ajaran agama Hindu Bali. Memang melalui visi
dan misi ajeg Balinya., Bali TV memiliki komitmen yang kuat untuk mengajak seluruh
masyarakat Bali secara bersama-sama mengcyegkan atau melestarikan kebudayaan dan
agama Hindu Bali yang telah dinilai sebagai kebudayaan yang luhur warisan para dewata
leluhur.
Prinsip yang digunakan dalam pemilihan tayangan-tayangannya memang adalah
continuity and change dalam kebudayaan Bali. Artinya, redaktur telah sangat objektif
dalam menentukan mana unsur-unsur kebudayaan dan ajaran agama Hindu Bati yang
harus dipertahankan dan perlu disosialisasikan kepada masyarakat dan mana unsur-unsur
kebudayaan Bali yang masih perlu dieksplorasi dan dikembangkan bersama oleh
masyarakat. Terlepas masih adanya pro dan kontra dari masyarakat terhadap berbagai
tayangan tentang berbagai bentuk kebudayaan Bali di Bali TV dan media cetak seperti
SARAD Bah, harus diakui bahwa masyarakat Bali secara keseluruhan memang bangga
terhadap keberadaan Bali TV dan SARAD Bah yang sangat berani dengan visi dan
217
misinya tentang ajeg Bah. Misi pelestarian budaya yang di dalamnya juga mengakui
adanya penerimaan unsur-unsur luar atau unsur-unsur asing ini sesungguhnya tidak dapat
dilepaskan dari konsepsi strukturalisme masyarakat Bah yang percaya bahwa di dunia ini
bekerja dua kekuatan atau kekuasaan kosmis, yaitu buana alu dan buana agung (Widja,
1991).
Dikaitkan dengan prinsip coniinuily andchange, masyarakat Bali mengakui bahwa
kehidupan masyarakat dan kebudayaan Bali juga tidaklah dapat lepas dari hubungannya
dengan kekuasaan buana agung, yaitu kehidupan sosial budaya yang lebih luas di bumi
ini. Jadi masyarakat Bali tidak hanya mengakui adanya kebudayaan Bali, tetapi ada juga
kebudayaan lain yang berpengaruh terhadap kehidupan sosial dan budaya masyarakat Bah.
Namun, apapun bentuk kebudayaan asing atau kebudayaan modern yang diterima
pengaruhnya terliadap kebudayaan Bali haruslah dapat didekati dari berlakunya hukum
r»'a bhinneda yang telah terstruktur dalam kehidupan sosial dan budaya masyarakat Bali.
Artinya, apapun bentuk kebudayaan baru itu, tidaklah harus menyerang untuk merobohkan
dinding mental spiritual masyarakat Bali yang direkatkan oleh jiwa kolektif yang
menumbuhkan semangat suci (Widja,1991).
Civitas SMU Negeri 1 Ubud mengakui bahwa mereka secara keseluruhan memiliki
akses yang intensif terhadap ketiga media cetak (harian Bah Post, Nusa Tenggara, dan
SARAD Bali) dan kedua media elektronik di atas, terutama kepada Bah TV, baik secara
individual di lingkungan keluarga maupun dalam memanfaatkan sarana yang dimiliki
sekolah. Hampir setiap hari guru dan siswa dapat mengakses informasi media Bali Post,
NusaTenggara, dan SARAD Bali yang tersedia baik di kantor kepala sekolah, kantor
guru, maupun di perpustakaan. Begitu pula tayangan acara-acara terutama Bah TV dapat
diikuti guru-guru dan siswa setiap hari pada televisi sekolah yang ada di kantor guru atau
perpustakaan sekolah. Secara umum dapat dikatakan pula bahwa baik kepala sekolah,
guru-guru, pegawai, maupun siswa memiliki minat dan sikap yang positif terhadap
tayangan-tayangan kebudayaan Bali yang ada di berbagai media massa lokal di atas. Ini
dapat ditunjukkan pada komitmen sekolah ketika menayangkan presentasi budaya dan
keseniannya sebagai hasil kreativitas para siswanya pada perayaan-perayan seperti hari
ulang tahun sekolah dan hari-hari raya suci Hindu tertentu, sekolah juga ikut
mempublikasikannya ke media-media cetak dan elektronik lokal di atas. Di samping itu,
diakui bahwa SMU Negeri 1 Ubud telah beberapa kali mengikuti kegiatan lomba
presentasi budaya, kesenian Bali, dharma tufa, dan dharma wacana yang diselenggarakan
oleh organisasi-organisasi media massa di atas (terutama oleh Bali Post dan Bali TV); dan,
218
karena itu, turut berkontribusi pula pada tayangan-tayangan budaya yang disajikan oleh
kedua media tersebut kepada masyarakat. Dari penjelasan ini jelaslah bahwa media massa
lokal Bali yang telah mempresentasikan karakteristik keliidupan masyarakat Bali secara
religius, sosial, budaya, berkesenian, dan hubungannya dengan lingkungan alamnya telah
memberikan pengaruh pula kepada civitas SMU Negeri 1 Ubud dalam upayanya
melestarikan kehidupan religi, sosial, budaya, dan kesenian masyarakat Bali.
Daerah Ubud, sebagai telah dijelaskan di atas, juga sangat terkenal dan marak
dengan kehidupan berkeseniannya dengan berbagai jenis cabang kesenian. Untuk seni
rupanya bahkan telah juga berkembang berbagai alirannya. Walau ada indikasi pada
beberapa seginya telah berkembang ke arah aliran yang lebih modem melalui
pengembangan seni rupa kontemporer (Bandem, 2005; Kaija, 2005), secara umum
masyarakat Ubud masih bergulat dengan kesenian tradisional Balinya. Karena itu, tidak
mengherankan kalau di Ubud itu dikenal banyak muncul seniman-seniman tradisional
muda dengan berbagai seka atau kelompok, sanggar, dan galeri keseniaimya. Kelompokkelompok atau seka dan sanggar-sanggar serta galeri-galeri kesenian inilah yang banyak
berpengaruh kepada masyarakat dalam menghasilkan seniman-seniman baru termasuk
kepada siswa-siswa di sekolah, antara lain kepada para siswa SMU Negeri 1 Ubud.
Pengaruh seniman dan seka-seka kesenian di Ubud terhadap kebijakan program
pendidikan di SMU Negeri Ubud cenderung tidak bersifat langsung. Sekolah dengan
komitmen
visi
kebudayaannya
yang
mengupayakan
turut
mengembangkan
dan
melestarikan kebudayaan Bali, tentu termasuk juga turut mengembangkan kecakapan para
siswa dalam kehidupan berkesenian. Ini tidak saja dimaksudkan untuk menyiapkan caloncalon seniman muda atau pengrajin seni yang dibutuhkan oleh masyarakat Ubud dalam
proses regenerasi seniman, tetapi, sebagai pendukung kebudayaan Bali, kehidupan
berkesenian oleh siswa sebagai orang Bali sudah menjadi bagian dari kehidupan. Di
samping itu, dalam rangka pengembangan program pendidikan seutuhnya dan terpadu,
pendidikan kesenian memang menjadi bagian integral dari pendidikan siswa untuk tujuan
pengembangan
kepribadian
siswa
secara
utuh
pula,
karena
diyakini
dapat
mengembangkan sifat-sifat kepribadian yang halus, lembut, indah, dan luhur (Mulyanto.
1994). Di sini kehidupan para seniman dan keberadaan seka-seka atau sanggar kesenian
cenderung dapat dijadikan teladan, orientasi, dan tempat belajar secara informal dan
nonformal
bagi
siswa,
sekaligus
dalam
mengembangkan
kecakapan-kecakapan
berkeseniannya.
219
Kehidupan berkesenian para seniman di Ubud memang dapat diteladani oleh dan
menjadi teladan serta orientasi para siswa SMU Negeri 1 Ubud. Ini tidak saja mengacu
kepada seniman-seniman muda dewasa ini, tetapi termasuk juga meneladani para maestro
seniman Ubud yang sudah tiada, seperti almarhum Gusti Nyoman Lempad, I Ketut Cokot,
Ida Bagus Sobrat, Ida Bagus Made, I Made Cakra, Antonio Blanco, Walter Spies, Ary
S midi, Han Snell, dan sebagainya yang telah mengabdikan seluruh jiwa dan raganya untuk
perkembangan dan kemajuan seni dan ketenaran Ubud. Para maestro seni ini tidak saja
diteladani para siswa karena pengabdiannya kepada seiii yang sangat tulus, tanpa pamerih,
jujur, dan kualitas seninya yang tinggi karena mengandung nilai-nilai religius magis,
tetapi juga karena kepribadiannya secara keseluruhan yang sederhana dan bersahaja
memang pantas diteladani,
terutama juga karena pengabdiannya kepada Ubud pada
umumnya, serta kepedulian dan pengabdiannya kepada masyarakat adat tempat
tinggalnya. Dalam pandangan dan nilai-nilai serta sikap para guru dan siswa SMU Negeri
1 Ubud, para seniman maestro Ubud di atas diyakini telah menjadi seniman Ubud yang
memiliki taksu seniman Bali (profesional, berkarisma atau berwibara karena profesinya,
dan karena itu menjadi terkenal atau kasub).
Para seniman, pengrajin seni,
dan seka-seka atau sanggar-sanggar, termasuk
galeri-galeri kesenian di Ubud juga menjadi tempat belajar siswa dalam mengembangkan
kecakapan, keterampilan, dan nilai-nilai seninya, baik karena permohonan bantuan yang
diminta sekolah kepada para seniman dan sanggar-sanggar kesenian untuk menjadi
pembimbing atau pembina siswa maupun sebagai tempat belajar secara informal maupun
nonformal. Di sini siswa tidak saja belajar menari, menabuh, menggambar atau melukis,
memahat atau mengukir, dan menembang gita, tetapi, mereka juga belajar tentang nilainilai seni dan kehidupan yang religius, nilai-nilai sosial dalam kehidupan masyarakat Bali,
kreativitas,
menghargai
keindahan,
keluhuran,
kebesaran
dan
kemegahan
serta
kegemerlapan Tuhan dan para Dewa, melestarikan lingkungan, keuletan dalam belajar
dan berkarya, mengembangkan imaginasi dan intuisi, kesederhanaan dan kebersahajaan,
kejujuran, kepekaan sosial dan lingkungan, serta mengagumi keindahan alam. Semua
pembelajaran seni seperti ini umumnya dilakukan secara praktik partisipastif secara
langsung dan para guru atau seniman pembimbing memberikan pemodelan, fasilitasi,
arahan, pelatihan, pengulangan, memberikan pujian dan kritikan, serta memberikan
tantangan kepada siswa. Dengan demikian dapatlah disimpulkan bahwa seka-seka atau
sanggar-sanggar kesenian dengan para senimannya sebagai agen-agen sosial mempunyai
pengaruh juga pada praktik program pendidikan di SMU Negeri 1 Ubud terutama dalam
220
memberikan pengalaman berkesenian serta pembentukan nilai-nilai kehidupan beragama,
sosial, dan budaya lokal masyarakat Bali berbasis nilai-nilai Tri Hiia Karana kepada
siswa.
Usaha-usaha
industri barang dan jasa pariwisata dengan para pengusalia
wirausahanya juga merupakan agen-agen sosial yang mempunyai pengaruh penting
terhadap kebijakan, implementasi program, dan penciptaan iklim pendidikan dan belajar di
SMU Negeri 1 Ubud yang pada gilirannya berpengaruh pula pada praktik program
pendidikan sosial dan Pendidikan IPS di sekolah. Diakui bahwa pengaruh kelompok dunia
industri pariwisata di Ubud terhadap sekolah memang belum bersifat langsung, karena
sampai saat ini belum pernah dilakukan kerja sama kemitraan secara formal antara sekolali
dengan kelompok-kelompok pengusaha industri barang dan jasa pariwisata di Ubud.
Namun demikian, iklim berusaha masyarakat Ubud pada bidang pariwisata jelas
mempengaruhi sekolah. Ada image di masyarakat Ubud pada umumnya bahwa jika
seseorang memiliki jiwa dan kecakapan dalam seni serta memiliki kemampuan berbahasa
asing yang memadai, maka orang itu bisa sukses dalam berkarya dan memperoleh dolar di
bidang pariwisata di Ubud. Image seperti inilah yang paling mempengaruhi sekolah
sehingga turut mempengaruhi kebijakan sekolah dan iklim belajar siswa. Kebijakan
sekolah memberikan kebebasan yang lebih leluasa kepada siswa dalam memilih jurusan
bahasa sehingga pesertanya lebih banyak dari pada jurusan IPS dan IPA, serta kebijakan
sekolah untuk terus meningkatkan terutama kualitas pembelajaran bahasa asing
menunjukkan indikasi ini. Begitu pula pemantapan dan peningkatan kualitas pembelajaran
dan kegiatan ekstrakurikuler bidang seni dapat dikatakan sebagian merupakan implikasi
dari berkembangnya bidang-bidang usaha industri kerajinan dan kesenian dalam bisnis
pariwisata di Ubud.
image di atas juga memberi peluang terbentuknya image di kalangan siswa tentang
pentingnya jiwa dan semangat serta keterampilan berwirausaha yang ternyata cukup kuat
pengarulmya dalam menggantikan sikap untuk menjadi pegawai negeri yang umum terjadi
di kalangan siswa pada umumnya. Karena itu, siswa SMU Negeri 1 Ubud umumnya lebih
suka menggunakan waktu di luar jam sekolahnya untuk belajar mengembangkan bakat dan
kecakapan seninya dengan belajar pada kelompok-kelompok usaha wirausaha kerajinan
dan seni, seperti belajar mengukir kayu, kerajinan seni dari logam, kerajinan seni dari
bambu, pelepah pisang, kerajinan seni dari kulit, kerajinan seni dari kain perca, melukis,
menari, menabuh, dan sejenisnya. Tidak sedikit siswa SMU Negeri 1 Ubud yang lebih
suka bekerja membantu orang tua atau bekerja secara mandiri untuk memperoleh nafkah
221
uang dari bekerja di sektor industri seni kerajinan, atau mengikuti seni pertunjukan dari
pada belajar secara fonnal untuk menguasai ilmu.
Pengaruh iklim berwirausaha oleh agen-agen sosial para pengusaha di atas
terhadap sekolah tidaklah semata-mata pada image bisa menguasai seni dan bahasa asing
saja. Lebih dari itu, membelajarkan masyarakat dan para siswa juga tentang pentingnya
memiliki etos atau nilai-nilai kerja modem dan berkomitmen mewujudkannya agar dapat
berkompetisi di era persaingan pasar bebas dengan tetap memegang nilai-nilai kerja
metaksu dan kasub. Ini telah dicontolikan oleh beberapa orang yang sukses secara
profesional dan ekonomi di Ubud, baik di kalangan pengusaha, seniman, maupun
pengrajin.
Selanjutnya mereka juga perlu belajar nilai-nilai kerja modem yang rasional dalam
persaingan bisnis, antara lain: keberanian berinvestasi, keberanian dalam menanggung
resiko, mau dan mampu bekerja keras, perlunya memanfaatkan sumber-sumber alam
secara kreatif dengan tetap mempertimbangkan kelestarian dan kesinambungannya,
pentingnya membaca peluang bisnis, membangun jaringan kerja sama kemitraan dengan
dunia usaha, membaca kebutuhan dan prospek pasar, sikap yang positif terhadap teknologi
modem, bersaing secara sportif, jujur, dan objektif, disiplin dengan janji binis, manajemen
usaha yang baik dan profesional, perlunya memiliki data bisnis dalam setiap mengambil
keputusan usaha bisnis, serta perlunya memiliki sikap yang positif dan kreatif dalam
menghadapi dan memecalikan masalah-masalah bisnis yang ditemui. Etos dan nilai kerja
seperti ini tidak diperoleh oleh guru dan siswa secara langsung dan formal dari
pengalaman bekerja sama dengan pengusalia, melautkan karena adanya hubunganhubungan kerja secara personal yang bersifat informal serta upaya interpretasi baik oleh
guru dan siswa atas iklim kerja dan berusaha yang terjadi di masyarakat Ubud yang
menunjukkan makin tumbuh dan berkembangnya wirausaha-wirausaha baru di bidang
pariwisata.
Demikianlah beberapa agen sosial di masyarakat telah memberikan pengarulinya
terhadap pengambilan kebijakan dan implementasi program pendidikan, tennasuk praktik
program pendidikan IPS di SMU Negeri 1 Ubud, baik secara langsung maupun tidak
langsung mewarnai iklim Pendidikan IPS dalam membawakan misinya mewujudkan
kepentingan dan nilai-nilai lokal, nasional, dan global. Secara fonnal, implementasi
kebijakan kurikulum dan pembelajaran IPS di sekolah dengan dasar kebijakan oleh
Departemen
Pendidikan
Nasional
beserta jajarannya
di
daerah
memang
lebih
menampakkan visi, misi, dan tujuannya yang sejalan dengan tujuan pendidikan nasiona.
222
Karena itu, lebih mengutamakan kepentingan nasional dalam rangka membentuk warga
negara
yang menjunjung tinggi nilai-nilai nasionalisme serta memiliki kemampuan
berpikir dan bertindak dalam persaingan global.
Namun demikian, pengaruh-pengaruh agen-agen sosial lokal d e n ^ n visi, misi, dan
tujuan-tujuan
pengembangan
dan
pelestarian
budaya
lokal
Balinya juga
turut
mempengaruhi baik secara formal maupun secara tidak langsung terhadap praktik program
Pendidikan IPS di SMU Negeri 1 Ubud, terutama dalam menciptakan kebijakan dalam
penataan lingkungan sekolah, pengembangan program pendidikan berbasis budaya lokal,
dan dalam penciptaan iklim pendidikan dan belajar siswa dengan basis nilai-nilai budaya
lokal Bali berideologi Tri HUa Karana.
Pengaruh berbagai agen-agen sosial terhadap pelaksanaan program pendidikan di
sekolah seperti telah digambarkan di atas juga menunjukkan bahwa Pendidikan IPS pada
khususnya tidaklah selalu diperoleh melalui belajar secara formal di lingkungan kelas atau
sekolah saja, melainkan dapat juga berlangsung secara informal di lingkungan keluarga
dan secara nonformal di lingkungan masyarakat. Dengan prinsip belajar sepanjang hayat
dan belajar dapat dilaksanakan sambil bekerja (learning by dotng), warga belajar
sesunggulmya dapat mengembangkan model belajar yang betul-betul bermakna dalam
mengembangkan kecakapan-kecakapan hidup yang dibutuhkan untuk dapat berinteraksi
dan berintegrasi dengan kehidupan sosial budaya masyarakat.
Apa yang terjadi di SMU Negeri lUbud, walau tidak sepenuhnya peugaruhpengaruh sosial budaya di masyarakat tersebut dapat diakomodasi dalam mengembangkan
program Pendidikan IPS khususnya secara formal di kelas, seluruh komponen civitas
sekolah sesunggulmya pula telah mengakomodasi dan mengadaptasikannya ke dalam
pengembangan program pendidikan di sekolah. Hal ini khususnya yang berkaitan dengan
menciptakan iklim pendidikan di sekolah, menyediakan sarana pendidikannya, mengambil
inti sari materi pendidikannya untuk kepentingan bimbingan-bimbingan belajar kepada
siswa, mengembangkan program keija samanya dengan masyarakat, serta menjadi basis
bagi sekolah dalam mengembangkan visi dan tujuan-tujuan pendidikan SMU Negeri 1
Ubud dalam rangka melahirkan generasi muda modern berwatak Bah yang bermutu,
beriman, dan berbudaya. Dan, inilah sesungguhnya pula yang menjadi salah satu sumber
bagi komponen-komponen sivitas sekolah dalam upayanya merekonstruksi pengalaman
sosial budayanya berbasis ideologi Tri hita Karana untuk kepentingan pengembangan
program pendidikan di SMU Negeri 1 Ubud pada umumnya, dan pengembangan program
Pendidikan IPS pada khususnya dalam rangka melahirkan generasi muda Bali modem
223
yang
benmUu,
mengembangkan
beriman,
dan
kebudayaan
berbudaya
lokal,
yang
memiliki
kemampuan
menghargai
nilai-nilai
nasionalisme,
dalam
dan
mengembangkan kemampuan berpikir global.
Gambaran di alas juga jelas menunjukkan bahwa dalam rangka menghadapi
masyarakat dan kebudayaan Bali pada umumnya dan Ubud pada khususnya yang
bertransformasi dari masyarakat tradisional ke masyarakat modem, pihak sekolah lelah
berupaya mendekatinya dalam pandangan slruluralisme masyarakat Bali. Dalam hal ini,
oposisi biner yang nienstruktur masyarakat Bali ke dalam masyarakat tradisional dan
masyarakat modern
tidaklah dipandang sebagai
sualu
diskontinuitas, melainkan
masyarakat yang bertransformasi (shifiing) dalam konsep binarian tetapi tetap dapat
menjamin teijadinva keseimbangan {ba/anting) dan dapat melakukan penyesuaian
(adjuamtnl), yang dengan kemampuan adaptasinya {adapiing) dapat memperoleh
(acqutrmg) kemajuan-kemajuan yang diinginkan (Ahimsa-Putra, 2001; Boon, 1985;
Badcock, 2006)
224
Download