5 II. LANDASAN TEORI A. Tinggalan Megalitik di Indonesia

advertisement
II. LANDASAN TEORI
A. Tinggalan Megalitik di Indonesia
Megalitikum berasal dari kata mega yang berarti besar, dan lithos yang berarti batu. Zaman
Megalitikum disebut sebagai zaman batu besar, karena pada zaman ini manusia sudah dapat
membuat dan meningkatkan kebudayaan yang terbuat dan batu-batu besar. Kebudayaan ini
berkembang dari zaman neolitikum sampai zaman perunggu. Pada zaman ini manusia sudah
mengenal kepercayaan. Walaupun kepercayaan mereka masih pada tingkat awal, yaitu
kepercayaan terhadap roh nenek moyang.
Berdasarkan bentuk peninggalannya, tradisi megalitik dapat dibedakan menjadi dua yaitu
megalitik tua (order megalithic) dan megalitik muda (younger megalithic). Megalitik tua ditandai
dengan tinggalan-tinggalan berupa menhir, dolmen, teras berundak dan batu datar. Sedangkan
megalitik muda berupa arca, sarkofagus, keranda batu, kubur peti batu dan lain-lain. Sedangkan
berdasarkan masanya, tradisi megalitik dibedakan menjadi dua yaitu tradisi megalitik yang berasal
dari masa prasejarah (prehistorical megalithic tradition) yang biasanya monument tidak dipakai lagi
dan tradisi megalitik yang masih berlanjut (living megalithic tradition). Megalitik dari masa prasejarah
yang tidak berlanjut ditemukan di daerah Pasemah, Gunung Kidul, Mentesih, Bondowoso dan lainlain sedangkan tradisi megalitik yang masih berlanjut ditemukan di daerah Nias, Toraja, Sumba,
Sabu, dan Flores (Sukendar, H., 1997: 1-2). Bentuk tinggalan megalitik di Indonesia antara lain:
kubur batu, menhir, dolmen, kalamba, pandusa, sarkofagus, lumpang batu, batu berlubang, batu
bergores, teras berundak, waruga, arca megalitik, arca megalitik, arca menhir, ksadan, bosok,
areosali, neogadi, neodulomano, sitilubagi, dan lasara.
Tinggalan megalitik di daerah Sulawesi Tengah ditemukan di empat lokasi, yaitu Donggala,
Lore Utara, Lore Tengah dan Lore Selatan. Tinggalan yang menonjol di daerah Sulawesi Tengah
adalah batu kalamba. Batu kalamba yang sejenis juga ditemukan di negara lain seperti di lembah
Sungai Mekong Kamboja. Kalamba yang ditemukan di Lembah Bada (Lore Selatan) berbentuk polos
tanpa hiasan sedangkan batu kalamba yang ditemukan di Lembah Besoa (Lore Tengah) dan
Lembah Napu (Lore Utara) memiliki hiasan.
Pola hiasan berbentuk kedok (topeng) yang
digambarkan dalam bentuk sederhana. Selain itu ditemukan pula pola hias binatang melata yang
kemungkinan berupa buaya atau kadal. Di Sulawesi tengah juga ditemukan arca menhir dalam
bentuk yang bervareasi. Ada arca yang dipahatkan dengan kelamin laki-laki atau perempuan.
5
Selain itu ditemukan pula arca-arca yang dipahatkan tanpa kelamin. Arca megalit di daerah ini
dianggap sebagai bentuk transisi antara menhir dan arca. Mulut dan bagian telinga kadang-kadang
dipahatkan. Arca megalitik kadang-kadang ditempatkan di atas bukit atau dataran tinggi, dan
diletakkan di dekat kalamba atau menyendiri.
B. Material Batuan Penyusun Cagar Budaya
Di alam terdapat tiga jenis batuan yaitu, batuan beku (igneus rock), batuan endapan
(sedimentary rock) dan batuan ubahan (metamorphic rock). Batuan beku adalah batuan yang terjadi
dari pembekuan magma. Magma adalah larutan silikat alam yang bersifat cair, panas dan pijar
penuh dengan gas-gas volatil (gas-gas yang sangat mudah menguap). Batu endapan adalah
batuan yang terbentuk karena proses pengendapan, proses kimia dan proses biologis, salah satu
sifat yang khas adalah adanya pelapisan. Batuan ini dapat berasal dari batuan beku yang karena
adanya proses pelapukan, akibatnya batuan tersebut menjadi lunak dan hancur, lalu oleh media
transport (dapat berupa angin, es, dan air) dihanyutkan atau dibawa ke tempat lain yang lebih
rendah lalu diendapkan di tempat tersebut. Batuan ubahan adalah batuan yang terbentuk oleh
batuan yang sudah ada sebelumnya karena adanya proses metamorfisme akibat perubahan suhu
dan tekanan tinggi yang terjadi di kerak bumi (Suharyadi, 1984).
Asal usul batuan dan diskripsi petrologi material batuan sangat penting diketahui untuk
memahami tingkah laku materi dan karakteristiknya, sehingga dapat menentukan tindakan
pemeliharaan dan penangananya untuk mempertahankan keberadaanya sampai jangka panjang.
Adapun diskripsi petrologi yang diperlukan meliputi kekerasan permukaaan, porositas, kapileritas,
suhu pemuaian, kandungan air, ukuran pori dan distribusinya, kekuatan mekanik, kecepatan rambat
suara, dan ketahanan terhadap kristalisasi garam. Pengambilan foto menggunakan SEM (Scaning
Electro Microscope) dan analisis EDX (energy-dispersive X-ray analyses) juga akan sangat
membantu memahami karakteristik material batu tersebut (Doehne and Price, 2010: 1).
Material batuan penyusun cagar budaya di Indonesia umumnya didominasi jenis batu
andesit, selain ditemukan juga jenis batu lain seperti sandstone, limestone, dan granit. Andesit
adalah suatu jenis batuan beku vulkanik dengan komposisi antara dan tekstur spesifik. Batu andesit
umumnya ditemukan pada lingkungan subduksi tektonik di daerah-daerah dengan aktivitas vulkanik
yang tinggi seperti Indonesia. Batu andesit banyak digunakan dalam bangunan-bangunan megalitik,
candi dan piramida. Begitu juga perkakas-perkakas dari zaman prasejarah banyak memakai material
ini, misalnya: sarkofagus, punden berundak, lumpang batu, meja batu, arca dan lain-lain. Andesit
6
adalah batuan beku, yang mengandung sekitar 52 sampai 63% berat silika (SiO2). Andesites berisi
kristal yang terutama terdiri dari plagioclase feldspar dan satu atau lebih dari piroksen mineral
(clinopyroxene dan orthopyroxene) dan jumlah hornblende. (http://www.volcanodiscovery.com,
dikutip tanggal 15 Mei 2013). Andesit terbentuk (membeku) ketika temperatur lava yang meleleh
turun antara 900 sampai dengan 1,100 derajat Celsius. Merupakan jenis batuan beku luar. Massa
jenisnya 2,8 – 3 gram/cm3 dan warna agak gelap (abu-abu tua).
Granit merupakan batuan beku yang terbentuk dari hasil pembekuan magma berkomposisi
asam yang membeku di dalam dapur magma, sehingga batu ini merupakan jenis batu beku dalam.
Massa jenisnya sekitar 2,2 – 2,3 gram/cm3. Batuan ini banyak di temukan di daerah pinggiran pantai
dan di pinggiran sungai besar ataupun di dasar sungai (http://future20.wordpress.com, dikutip
tanggal 15 Mei 2013). Granit bertekstur granitik dan struktur holokristalin, serta mempunyai
komposisi kimia ±70% SiO2 dan ±15% Al2O3, sedangkan mineral lainnya terdapat dalam jumlah
kecil, seperti biotit, muskovit, hornblende, dan piroksen. Umumnya granit berwarna putih keabuan,
Sebagai batu hias warna granit lainnya adalah merah, merah muda, coklat, abu-abu, biru, hijau, dan
hitam, hal ini tergantung pada komposisi mineralnya. Menurut Croci (1998: 49), batu granit tahan
terhadap pelapukan akibat cuaca, tetapi beberapa jenis mineral dalam matriksnya sendiri mudah
mengalami pelapukan yang lebih besar.
Sandstone atau batu pasir adalah suatu batuan sedimen klastik yang partikel penyusunnya
kebanyakan berupa butiran berukuran pasir. Sebagian besar batu pasir dibentuk dari butiran-butiran
yang terbawa oleh pergerakan air, seperti ombak pada suatu pantai atau saluran pada suatu sungai.
Butirannya secara khas di semen bersama-sama oleh tanah kerikil atau kalsit untuk membentuk
batu pasir tersebut. (http://future20.wordpress.com dikutip tanggal 15 Mei 2013). Pada umumnya,
klasifikasi batu pasir menurut Pettijohn (1987), Folk (1974), dan Gilbert (1982) merupakan klasifikasi
yang didasarkan oleh komposisi batu pasir tersebut. Adapun komposisi batu pasir ini adalah butiran
(terdiri dari fragmen batuan, kuarsa, dan feldspar), matriks, dan semen. Hasil dari klasifikasi ini
menghasilkan beberapa jenis penamaan batu pasir, yaitu batu pasir kuarsa (quartz arenite), batu
pasir arkose (arkoses), batupasir litik (litharenites), batu pasir wacke (greywacke).
-
Batu pasir Kuarsa (Quartz Arenites): berasosiasi dengan sedimen eolian, beach, shelf
(lingkungan kerak stabil), tingkat kematangan: matang (mature) hingga sangat matang
(supermature), interbedded dengan shallow marine limestone, umumnya memiliki struktur
sedimen lapisan bersilang, mineralogi kuarsa, rijang kuarsit lebih dari 90%, semen silika,
karbonat, hematit.
7
-
Batu pasir Arkose (Arkoses): memiliki butiran feldspar dengan persentase yang tinggi,
warnanya merah atau merah muda, lingkungan non-marine (sering fluviatil pada iklim semiarid), tingkat kematangan: matang (mature) atau submatang (submature), mineralogi:
kuarsa < 90% (rata-rata 50-60%), feldspar > fragmen litik 10-75% (rata-rata 20-40%), semen
karbonat, silika, feldspar, hematit, mineral sulfat (barit, pirit, mineral lempung).
-
Batu pasir Litik (Litharenites): penamaan tergantung dari jenis fragmen butiran yang hadir,
lingkungan deltaik atau fluviatil, mineralogi fragmen litik 10-80%, feldspar, kuarsa, semen
karbonat, silika, mineral lempung, oksida besi, pirit, matriks lempung atau klorit (kalau ada).
Limestone atau batu kapur merupakan batuan karbonat dengan kenampakan tektur
aphanitik sampai phanero-cristalin. Warna putih keabu-abuan, abu-abu, abu-abu gelap, hitam,
kuning, coklat, dan lainnya oleh adanya kotoran-kotoran, oksida besi dan zat-zat organik. Limestone
berbutir mulus, pecahannya conchoidal. Bila ditetesi HCl memercik atau berbuih. Mudah larut
terutama dalam air yang mengandung CO2 sehingga terjadi lubang-lubang. Beberapa limestone
seluruhnya dapat terdiri dari butir-butir calcit. Kekerasan dari limestone sangat berbeda-beda, ada
yang keras dan ada yang lunak, agak keras, dan sebagainnya, tergantung dari tekturnya. Selama
proses pelapukan dari limestone, calcium carbonat dapat terlarut, dan yang tertinggal adalah
kotoran-kotorannya, yang kemudian dapat terkonsentrasi dan membentuk clay atau loams yang
berwarna merah atau kuning, oleh aksidasi dari mineral-mineral oksida besi.
C. Pengertian Konservasi
Konservasi berasal dari kata conservation yang terdiri atas kata con (together) dan servare
(keep/save) yang memiliki pengertian mengenai upaya memelihara apa yang kita punya (keep/save
what you have), secara bijaksana (wise use). Ide ini dikemukakan oleh Theodore Roosevelt (1902).
Rosevelt merupakan orang Amerika pertama yang mengemukakan tentang konsep konservasi.
Terkadang ada yang memaknai konservasi sama dengan preservasi, tetapi adapula yang sebaliknya
preservasi lebih luas dari konservasi atau sebaliknya. Di Negara Inggris dan Australia difinisi
konservasi lebih cenderung kepada konservasi lingkungan, dimana konservasi merupakan
pelestarian secara luas sedangkan preservasi merupakan perawatan secara kimiawi.
Tetapi
berbeda dengan negara-negara di Eropa seperti Prancis, Itali, dan Belgia dimana konservasi
merupakan bagian dari pemeliharaan yang menangani perawatan secara kimiawi sedangkan
preservasi merupakan pelestarian dalam arti umum yang mencakup perlindungan hukum,
dokumentasi, pemeliharaan dan pemugaran.
8
Di Indonesia difinisi konservasi menurut Balai Pustaka (1980) meliputi pemeliharaan
perlindungan sesuatu secara teratur untuk mencegah kerusakan dan kemusnahan dengan jalan
mengawetkan. Kata konservasi dalam UU No.11 tahun 2010 tetang Cagar Budaya tidak disebutkan
namun dalam udang-undang tersebut disebutkan tentang pelestarian dan pemeliharaan. Dimana
difinisi pelestarian adalah upaya dinamis untuk mempertahankan cagar budaya dan nilainya dengan
cara melindungi, mengembangkan dan memanfaatkan sedangkan difinisi pemeliharaan adalah
upaya menjaga dan merawat agar kondisi fisik cagar budaya tetap lestari.
D. Konservasi Cagar Budaya Berbahan Batu
Pada dasarnya benda apapun di dunia ini secara alami akan mengalami proses penuaan
yang ditandai gejala kerusakan dan pelapukan dan proses tersebut berjalan sangat lambat. Tetapi
jika terdapat faktor-faktor yang memicu proses tersebut maka proses kerusakan dan pelapukan akan
berjalan sangat cepat. Oleh karena itu mengapa benda cagar budaya perlu dikonservasi. Adapun
difinisi kerusakan (damage) digunakan untuk mengambarkan dimana suatu struktur telah kehilangan
sebagian atau semua kekuatannya, sebuah situasi yang menggambarkan kehancuran atau
keruntuhan, yang ditandai oleh retak, hancur, remuk, lepasnya komponen-komponen, deformasi
yang permanen dan kondisi ini disebabkan oleh aksi mekanik. Sedangkan pelapukan (decay atau
deterioration) adalah perubahan material yang biasanya menuju pada berkurangnya ketahanan,
meningkatnya kerapuhan, meningkatnya prorositas, dan hilangnya material yang biasanya dimulai
dari luar dan bekerja ke dalam material. Dan pelapukan utamanya disebabkan oleh aksi fisik, kimia
dan biologi (Croci, 1998:41).
Tindakan konservasi dapat dilakukan melalui langkah preventif dengan konservasi preventif
(pencegahan) dan langkah kuratif dengan konservasi kuratif (penanggulangan atau perawatan).
Berdasarkan sasaran yang diperlakukan maka konservasi benda cagar budaya dapat dibedakan
menjadi dua yakni konservasi aktif dan konservasi pasif. Konservasi aktif yaitu segala tindakan
konservasi yang dikenakan langsung ke bendanya. Konservasi pasif adalah tindakan konservasi
yang tidak secara langsung dikenakan ke bendanya tetapi tindakan konservasi dilakukan dalam
bentuk pengendalian lingkungan (Swastikawati, A.,2011:1).
Tindakan konservasi yang bersifat preventif tidak terbatas pada upaya untuk mengontrol
lingkungan batu seperti suhu dan kelembapan relative tetapi juga upaya perlindungan hukum,
pengendalian polusi, pengendalian lalu lintas, pengendalian air tanah, menejemen visitor dan
mitigasi bencana (Doehne and Price, 2010:27). Sekalipun tindakan konservasi preventif yang
9
bersifat mendesak biasanya berkaitan dengan pengendalian kandungan air batu dengan menjaga
kelembaban relatif dan suhu di sekitar batu. Perlindungan menggunakan pelindung sederhana atau
shelter untuk arca yang berada di luar, terkadang dilakukan untuk tinggalan yang sangat penting.
Sekalipun merupakan tindakan yang sangat ektrem karena secara visual dapat mengganggu tapi
penggunaan shelter dapat berguna untuk melindungi jumlah air hujan yang mencapai batu dan
membantu menstabilkan suhu dan kelembapan batu. Sedangkan tindakan konservasi yang bersifat
aktif meliputi pembersihan, desalinasi, konsolidasi dan pelapisan permukaan.
Pembersihan merupakan satu langkah awal dalam konservasi setelah melakukan survai,
sekalipun terdapat banyak pertentangan terhadap pembersihan permukaan batu cagar budaya.
Pembersihan permukaan yang kotor pada batu granit pada bangunan bersejarah dianggap sebagai
perbaikan penampilan sekalipun ada yang berpendapat proses pembersihan batu granit dapat
merusak permukaanya. Sehingga penting untuk membuat petunjuk (guideline) untuk mengurangi
seminimal mungkin resiko kerusakan akibat kekurang hati-hatian dalam proses pembersihan. Oleh
karena permukaan batu granit yang dibersihkan harus memiliki kriteria antara lain tingkat kotorannya
sangat tinggi dan sifat kotoran tersebut dapat merusak batu granit itu sendiri (Anonim, 2009: 1).
Adapun metode pembersihan batu yang telah dikembangkan didunia selain metode mekanik
tradisional adalah metode pembersihan menggunakan laser (laser cleaning), latex poutice methode
dan
pembersihan
menggunakan
mikroorganisme
(biological
cleaning)
(Doehene and Price. 2010: 32).
Desalinasi dilakukan untuk menghilangkan garam-garam terlarut, desalinasi pada artefak
bata yang berukuran kecil dapat dilakukan dengan cara merendam dalam air atau membalutnya
dengan poultice. Tetapi ini menjadi bermasalah ketika terdapat hiasan warna pada permukaannya.
Poultice yang digunakan dapat berupa lempung (clay), pasir, dan bubur kertas. Jika pada artefak
tersebut juga terdapat kalsium sulfat (CaSO4) maka meningkatkan kelarutannya dapat ditambahkan
EDTA. Usaha desalinasi seharusnya juga dimbangi dengan usaha untuk mengurangi sumber
garam. Sejak tahun 2006, beberapa penelitian dikembangkan untuk menghilangkan garam
menggunakan mikroorganisme seperti halnya penggunaan bakteri pereduksi sulfur untuk
mengilangkan kerak hitam. Tetapi metode desalinasi menggunakan mikroorganisme masih perlu
dikembangkan dengan berbagai penelitian (Doehene and Price. 2010: 34-35).
Konsolidasi diperlukan untuk memulihkan kekuatan batu akibat pelapukan, bahkan yang
diharapkan konsolidasi dapat mengembalikan kekuatan batu seperti aslinnya serta diharapkan pula
dapat mencegah kerusakan lebih lanjut. Bahan konsolidan diharapkan dapat penetrasi ke dalam
10
batu yang lapuk, mengikat secara bersama-sama, mencegah siklus kristalisasi garam, bahkan
mampu membuat batu menolak air sehingga mampu mencegah swelling. Treatmen yang dilakukan
seharusnya cukup murah, mudah diaplikasikan, aman dan ramah terhadap lingkungan serta efektif
untuk beberapa puluh tahun untuk siklus treatmen berikutnya. Untuk dapat menembus batu dengan
baik maka konsolidan harus memiliki vikositas yang rendah dengan sudut kontak yang rendah pula.
Beberapa bahan konsolidan yang telah diaplikasikan umumnya merupakan polimer organik, tetapi
bahan anorganik layak pula untuk dipertimbangkan seperti kalsium hidroksida (kapur mati) dan
barium hidroksida (Doehene and Price. 2010: 36-37).
Pelapisan permukaan (surface coating), mencakup berbagai bahan yang diaplikasikan pada
permukaan batu seperti bahan penolak air (water repellent), emulsions antigraffiti coatings, salt
inhibitors, protective oxalate layers, sacrificial lime coatings, colloidal silica, biocides, dan
bioremediation treatments (Doehene and Price. 2010: 43-44).
11
Download