BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Penduduk bumi

advertisement
1
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang Masalah
Penduduk bumi adalah penduduk multikultur, multiras, dan multietnik.
Keanekaragaman penduduk di setiap wilayah di belahan bumi ini menjadi sesuatu
yang menarik. Perbedaan budaya, etnis ataupun bahasa menjadikan hal tersebut
menjadi objek yang menarik untuk dikaji ataupun dipelajari dan ditelusuri.
Sayangnya perbedaan itu, tidak menjadi keuntungan atau keindahan dan
pelengkap bagi sebagian orang.
Bahasa yang berbeda dan beranekaragam di setiap belahan dunia, mendorong
manusia untuk mengkaji lebih lanjut bagaimana cara berkomunikasi dengan
individu atau kelompok yang memiliki kebudayaan serta bahasa yang berbeda
dengan kita. Sebagai makhluk sosial, tentunya seseorang tidak bisa hidup tanpa
adanya individu atau kelompok lain. Setiap individu memerlukan sosialisasi,
interaksi atau komunikasi untuk pencapaian hidup.
Dalam masyarakat multikultural, pencapaian kebutuhan hidup tersebut
mengalami berbagai hambatan budaya, seperti hambatan rasial. agama, etnis,
kelas, hambatan gender. Jika seseorang ingin eksis, maka ia harus berjuang
melawan hambatan-hambatan tersebut. Salah satu hambatan budaya adalah
hambatan rasial. Manusia dilahirkan dalam tas tertentu bukan karena pilihan.
kelahiran atau genetika merupakan bawaan. dalam masyarakat multikultur,
perbedaan ras menjadi penanda awal yang secara awal sudah dilabelkan
2
hambatan-hambatannya, yakni prasangka rasial. Prasangka rasial sangat sensitif
karena melibatkan sikap seseorang ataupun kelompok ras tertentu terhadap ras
lain. secara fisik ras memang berbeda,seperti warna kulit, warna dan bentuk
rambut, cara bicara, bahasa dan gaya berpakaian, makan, menjadi penyebab
potensial dalam berkomunikasi (Purwasito, 2003: 144).
Perbedaan tersebut diperkuat secara sosial dengan prasangka, stereotipe yang
dibangun dari waktu ke waktu, yang mana setiap kelompok ras mempunyai
kerangka interpretasi sendiri-sendiri berdasarkan lingkungan rasial dan latar
kepribadiannya
ketimbang
kerangka
budayanya,
meskipun
kebudayaan
merupakan sumber utama yang membentuk kepribadian. dengan kata lain,
tendensi rasialis lebih besar muncul dari benak pribadi individu atau situasi sosial
yang sifatnya spontan dan mendadak ketimbang bersumber dari kebudayaan.
Perasaan seseorang atau kelompok yang merasa dirinya lebih baik, lebih kuat
ataupun lebih beradab dengan orang lain atau kelompok lain adalah cikal bakal
munculnya rasa diskriminasi. Sikap diskriminasi ini akan mengarah kepada sikap
rasis, jika mereka merasa ras mereka lebih baik dan lebih sempurna dibandingkan
dengan ras kelompok lain. Paham rasis atau rasisme sendiri adalah suatu praktik
memperlakukan orang lain secara berbeda, dengan memberikan penilaian yang
diukur berdasarkan karakteristik ras, sosial, atau konsep mental tertentu. Rasisme
menjadi masalah karena konsep ini tidak sekedar menjadi kategori pembeda,
namun lebih dari itu ditujukan untuk menegaskan superioritas satu pihak di antara
pihak-pihak lainnya.
3
Ketika membicarakan rasisme, menurut Jusuf dan Srivanto (2001: 13-, 15),
ada dua perspektif yang saling bertolak belakang, pertama adalah rasisme dalam
perspektif ilmiah yakni usaha manusia untuk mengidentifikasi baik secara
etnologis dan antropologis tentang asal usul manusia dan mengklasifikasi manusia
berdasarkan ciri fisik yang dimilikinya. Rasisme juga dipahami sebagai perspektif
yang sifatnya non ilmiah yakni sebuah bentuk prasangka. Dalam hal ini rasisme
merupakan sebuah kepercayaan (belief) bahwa manusia dapat dibeda-bedakan ke
dalam berbagai ras dan anggota sebuah ras akan bersifat inferior terhadap ras
lainnya.
George M. Fredrickson mengungkapkan pandangannya tentang rasis.
Menurutnya, rasis mempunyai dua komponen : perbedaan dan kekuasaan.
Rasisme berasal dari suatu sikap mental yang memandang ―mereka‖ berbeda
dengan ―kita‖ secara permanen dan tidak terjembatani. Perasaan berbeda ini
menyediakan motif atau alasan untuk memanfaatkan keunggulan dan kekuasaan
kita guna memperlakukan si etnorasial Yang Lain dengan cara-cara yang akan kita
anggap kejam dan tidak adil jika diterapkan kepada anggota kelompok kita sendiri
(Fredrickson, 2005 : 13).
Rasisme adalah suatu sistem kepercayaan atau doktrin yang menyatakan
bahwa perbedaan biologis yang melekat pada ras manusia menentukan pencapaian
budaya atau individu – bahwa suatu ras tertentu lebih superior dan memiliki hak
untuk mengatur yang lainnya (Wikipedia.com). Pada dasarnya, rasisme adalah
pandangan hidup (way of life) yang mempunyai anggapan bahwa satu kelompok
tertentu tidak sederajat atau belum berderajat manusia. Dalam arti manusia yang
4
mempunyai ras yang rendah. Oleh karena itu, mereka yang memiliki ras rendah
layak dimusnahkan, diperbudak, atau diperlakukan tidak manusiawi (Darma,
2009: 127).
Rasisme sebagai prasangka telah ada sejak awal sejarah manusia. Lebih dari
2000 tahun yang lalu, orang-orang Yunani dan Romawi kuno telah memperbudak
bangsa lain yang dianggap lebih inferior (minoritas) atau terbelakang dibanding
dengan bangsa mereka yang dianggap lebih superior dan ‗beradab‘. Ratusan tahun
sejak kedatangan Marco Polo ke Cina pada tahun 1200-an, orang-orang Cina
mengenal orang Barat sebagai ‗orang Barbar putih yang berbulu‘ sebagai bentuk
xenofobi yakni perasaan takut terhadap orang asing. Antara 1700 hingga 1900,
orang-orang Eropa mengontrol sebagian besar Asia dan Afrika sebagai tanah atau
daerah jajahan mereka. Para kolonis Eropa ini membenarkan tindakan mereka
untuk mendominasi ras lain yang berwarna hitam, coklat dan kuning sebagai
orang-orang yang harus ‗dibudayakan‘ sehingga beradab oleh kulit putih yang
lebih superior.
Pada tahun 1900-an kolonialisme berakhir, namun dampaknya masih
dirasakan hingga saat ini. Sebagai contoh di Indonesia, kolonialisme Belanda
masih meninggalkan peraturan-peraturan kewarganegaraan yang mengklasifikasi
penduduk Hindia-Belanda. Pada saat itu, penggolongan atau pengklasifikasian
penduduk didasarkan pada ras masing-masing dari penduduk Hindia-Belanda.
Peraturan-peraturan yang tidak dicabut oleh pemerintah itu tidak saja berdampak
secara hukum berupa perlakuan terhadap warganegara ras/etnis Tionghoa yang
5
dianggap diistimewakan pada masa kolonial, tetapi juga berdampak sosial
sehingga menimbulkan kesenjangan dan kebencian yang berujung pada konflik.
Klaim kelompok mayoritas dalam hal ini bangsa Eropa terhadap kelompok
minoritas semakin berkembang terutama pada masa kolonial. Akibatnya rasisme
berkembang sangat luas dan menyebabkan berbagai masalah. Pandangan tentang
superioritas atau keunggulan dan inferioritas telah digunakan sebagai sebuah
pembenaran atau alasan yang membenarkan tindakan diskriminasi, segregasi atau
pemisahan kelompok, perbudakan dan bahkan genosida sebagai tindakan
pemusnahan sebuah ras. Praktik genosida sendiri dilakukan oleh Hitler pada masa
kekuasaannya sebagai bentuk kebenciannya terhadap kaum Yahudi.
Beberapa bentuk tindakan rasis yang banyak dikenal masyarakat dunia, dan
telah menjadi suatu catatan sejarah yang hitam sebagai bentuk penindasan hak
asasi manusia adalah praktik perbudakan kulit hitam yang dilakukan bangsabangsa Eropa pada abad pertengahan hingga pertengahan abad 20 di Amerika.
Kaum-kaum kulit hitam dianggap sebagai manusia yang memiliki derajat paling
rendah, dan sudah sepantasnya diperlakukan sebagai budak dan menjadi suatu hal
yang wajar untuk dijadikan objek penyiksaan dan penindasan.
Rasisme menyebar keseluruh belahan dunia, tentunya melalui berbagai cara.
Kolonialisasi adalah salah satunya, mereka merekam jejak penindasan mereka
terhadap ras-ras yang mereka anggap inferior atau rendah dalam berbagai bentuk
media. Bagi McLuhan dan Innis (Littlejohn, 2009: 411), media merupakan
perpanjangan pikiran manusia, jadi media yang menonjol dalam penggunaan
membiaskan masa historis apapun.
6
Media yang lazim pada masa itu, adalah lukisan ataupun dokumen-dokumen
tertulis, baik berupa buku atau sekedar perjanjian-perjanjian tertulis mengenai
sistem perbudakan tersebut. Seiring perkembangannya waktu, teknologi semakin
maju untuk mengimbangi kebutuhan masyarakat akan informasi. Penyebaran
informasi mengenai rasis juga terekam dan tersebar lewat berbagai media, baik
media cetak maupun media elektronik.
Pada era Nazi berkembang di Jerman yang dipimpin Adolf Hittler, dokumendokumen tentang propaganda dan penyiksaan kaum Yahudi terekam dengan baik.
Mulai dari rekaman video, film-film propaganda, foto, serta buku dan majalah
yang diterbitkan pada masa itu. Dokumentasi-dokumentasi tersebut seakan cukup
bagi kita untuk membayangkan kekejaman rezim Nazi pada saat itu. Pertengahan
abad ke 20, di Amerika Serikat, dimana praktik rasisme sangat merajalela, kita
bisa melihat potret kaum-kaum kulit hitam atau keturunan Afro-Amerika yang
tertindas dan tersiksa akibat kebijakan pemerintahan mereka yang tidak masuk
akal yang pada saat itu masih pro terhadap diskriminasi rasial terhadap keturunan
Afro-Amerika.
Media massa memiliki peran yang cukup penting dalam penyebaran
informasi kepada masyarakat luas, khususnya hal-hal yang mengenai isu rasisme.
Menurut Agee (dalam Ardianto, 2007: 58-59), media massa secara pasti
mempengaruhi pemikiran dan tindakan khalayak. Budaya, sosial, dan politik
dipengaruhi oleh media. Media membentuk opini publik untuk membawanya pada
perubahan yang signifikan. Di sini secara instan media massa dapat membentuk
kristalisasi opini publik untuk melakukan tindakan tertentu. Kadang-kadang
7
kekuatan media massa hanya sampai ranah sikap. Dominick (dalam Ardianto,
2007: 59) menyebutkan tentang dampak komunikasi massa pada pengetahuan,
persepsi dan sikap orang-orang. Media massa, yang menjadi agen sosialisasi
(penyebaran nilai-nilai) memainkan peranan penting dalam transmisi sikap,
persepsi, dan kepercayaan.
Media massa, baik eletronik maupun cetak memiliki andil masing-masing
dalam hal ini. Pengetahuan masyarakat bertambah mengenai rasis –baik yang pro
atau kontra- didapat dari banyak sumber, seperti film contohnya Inglorious
Bastard, Crash, dan lain-lain sebagainya. Selain lewat media elektronik, informasi
mengenai isu rasis atau rasisme tentunya banyak diakses masyarakat melalui
media cetak, seperti koran, majalah, buku dan lain-lain.
Seperti yang dikemukakan sebelumnya, salah satu bentuk dari media massa
cetak adalah buku. Tidak salah apabila buku dikatakan sebagai jenis media yang
paling stabil. Buku menjadi media yang paling dapat dipercaya sehingga menjadi
referensi bagi banyak orang. Dengan demikian, budaya buku tidak akan habis
karena sudah menjadi kebutuhan bagi orang banyak. Lewat buku, seseorang bisa
menyampaikan pesan atau pemikirannya tentang sesuatu kepada khayalak luas.
Penyampaian ide atau informasi kepada khalayak lewat media buku sudah
dilakukan sejak dulu, karena ketahanannya secara fisik membuat buku menjadi
media yang tahan lama dan abadi. Buku juga menyajikan informasi dan
pengetahuan yang detail, sehingga dapat dinikmati secara visual, yaitu
menggunakan satu indera, penglihatan. Ini menjadikan buku sebagai salah satu
media populer dan tidak multitafsir. Buku pun merupakan media yang praktis dan
8
portabel. Salah satu jenis buku adalah novel. Novel adalah sebuah teks naratif.
Novel menceritakan kisah yang merepresentasikan suatu situasi yang dianggap
mencerminkan kehidupan nyata atau untuk merangsang imajinasi (Danesi, 2010:
75).
Banyak novel yang menceritakan tentang kehidupan di masa lalu. Novel yang
mengambil tema rasisme juga telah banyak diterbirtkan, seperti dalam novel To
Kill a Mockingbird yang ditulis oleh Nelle Harper Lee. To Kill a Mockingbird
mengisahkan tentang sudut pandang gadis delapan tahun, cerita mengalir lewat
narasi seorang anak Jean Louis Finch (Scout) seorang anak perempuan tomboy
dan kakak laki-lakinya Jeremy Atticus Finch (Jem) beserta ayah mereka Atticus
Finch. Atticus adalah seorang pengacara dengan integritas yang tinggi dan
mengajarkan nilai-nilai kebaikan dan keadilan kepada anak-anaknya. Novel ini
bersetting di tahun 1930-an pada saat Resesi Ekonomi Besar-besaran (Great
Depression) di kota Maycomb, Alabama.
Kisah ini dimulai dengan rasa penasaran Scout, Jim, dan teman mereka Dill
akan tetangga mereka yang tidak pernah keluar rumah, Boo Radley. Rumor yang
beredar mengatakan Boo waktu kecil melukai kaki ayahnya dengan gunting
sehingga sang ayah terus mengurungnya di rumah sebagai bentuk hukuman.
Anak-anak itu tidak pernah berhasil melihat Boo secara langsung, tetapi sering
kali mereka mendapatkan hadiah-hadiah kecil yang ditaruh di atas pohon dekat
rumah mereka. Hal ini semakin menambah keingintahuan mereka akan sosok Boo
yang misterius.
9
Cerita bergulir pada Atticus yang bersedia menjadi pembela bagi seorang
kulit hitam bernama Tom Robinson. Tom dituduh melakukan pemerkosaan
terhadap Mayella Ewell, seorang wanita kulit putih. Pada saat itu diskriminasi
rasial di Alabama sangat tinggi sehingga banyak penduduk kota yang tidak setuju
dengan tindakan Atticus. Scout dan Jem pun diejek sebagai pecinta negro (nigger
lover) sehingga membuat Scout terpancing emosinya dan berkelahi dengan anakanak lain. Istilah nigger sendiri adalah sebutan yang sangat kasar untuk menyebut
para penduduk keturunan Afro-Amerika.
Secara diam-diam, Scout, Jem, dan Dill menonton persidangan Tom
Robinson dari atas balkon. Mereka menyaksikan Atticus dengan menyakinkan
dapat membuktikan Mayella dan ayahnya, Bob Ewell, telah memberikan saksi
dusta. Meskipun telah terbukti Tom Robinson tidak bersalah, melalui perundingan
berjam-jam, juri tetap memvonis hukuman baginya. Vonis yang jelas-jelas
didasari oleh prasangka ras ini membuat Scout, Dill dan terutama Jem kaget luar
biasa. Vonis itu membuat keyakinan Jem akan rasa keadilan dan rasionalitas
kemanusiaan terguncang hebat. Atticus berusaha untuk naik banding, tetapi
kemudian Tom Robinson tertembak ketika berusaha kabur dari penjara.
Pada bagian inilah, prasangka buruk atas ras kulit hitam sangat kental dan
tergambar dengan jelas. Masyarakat Maycomb yang mayoritas berkulit putih,
menganggap semua yang dilakukan oleh kaum hitam adalah salah, apalagi pada
kasus yang dituduhkan kepada Tom Robinson. Pemikiran yang menganggap
kaum kulit hitam memiliki derajat rendah disbanding dengan kaum kulit putih,
masih melekat kuat pada masyarakat Maycomb. Rasisme pada saat itu memang
10
sangat kental dan marak terjadi di kawasan Amerika, khususnya Amerika bagian
selatan.
Kalimat "to kill a mockingbird" yang menjadi judul buku ini terucap saat
Atticus melarang anak-anaknya membunuh mockingbird, suatu jenis burung di
Amerika yang senang berkicau, hidup damai, dan tidak membahayakan siapapun.
Membunuh mockingbird sama dengan mematikan mahluk hidup yang tidak
berdosa. Dalam cerita ini, Mockingbird menjadi metafora Tom Robinson, sebagai
sosok orang yang tidak bersalah. Dengan menghukum Tom, penduduk kota
sebenarnya telah melakukan dosa "membunuh mockingbird".
Melalui penggambaran dan cerita yang diuraikan Harper Lee lewat narasi
salah satu tokoh utamanya, Scout, penulis merasa tertarik untuk mengkaji lebih
lanjut mengenai masalah rasisme, khususnya yang terjadi pada tahun 1930-an,
dimana tindakan yang menjurus ke arah diskriminasi rasial ini sangat gencar
dilakukan masyarakat Amerika.
Berdasarkan hal-hal yang dipaparkan di atas, penulis tertarik dan memilih
untuk mengkaji novel To Kill a Mockingbird ke dalam bentuk skripsi dengan
judul :
Representasi Nilai Rasisme dalam Novel “To Kill A Mockingbird” karya
Harper Lee
(Sebuah Analisis Wacana)
11
B.
Rumusan Masalah
1. Bagaimana representasi nilai rasisme dalam novel To Kill A
Mockingbird karya Harper Lee.
2. Bagaimana pemilihan kata Harper Lee dalam merepresentasikan nilai
rasisme pada novel To Kill A Mockingbird.
C.
Tujuan dan Kegunaan Penelitian
a. Tujuan penelitian
Berdasarkan rumusan masalah yang telah dipaparkan sebelumnya, maka
tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui representasi nilai rasisme dalam novel To Kill A
Mockingbird karya Harper Lee.
2. Untuk
mengetahui
pemilihan
kata
Harper
Lee
dalam
merepresentasikan nilai rasisme dalam novel To Kill A Mockingbird.
b. Kegunaan penelitian
Adapun kegunaan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Secara teoretis
Penelitian ini diharapkan mampu menambah hazanah keilmuan dari
jurusan ilmu komunikasi khususnya bagi perkembangan penelitian
yang berbasis kualitatif. Di samping itu, penelitian ini juga
diharapkan dapat dijadikan referensi bagi kajian analisis teks sebagai
salah satu kajian ilmu Komunikasi.
Selain itu, penelitian dapat
dijadikan sebagai bahan rujukan bagi mahasiswa komunikasi yang
ingin mengkaji tentang analisis wacana.
12
2. Secara praktis
Secara paraktis penelitian ini diharapkan dapat merefleksikan
representasi nilai rasisme yang terdapat dalam novel To Kill A
Mockingbird karya Harper Lee sehingga dapat memberikan manfaat
bagi civitas akademika pada khususnya dan masyarakat pada
umumnya. Penelitian ini juga sebagai salah satu syarat meraih gelar
kesarjanaan
pada
Jurusan
Ilmu
Komunikasi,
Universitas
Hasanuddin.
D.
Kerangka Konseptual
1. Novel sebagai Media
Seperti yang dipaparkan sebelumnya pada latar belakang masalah, novel
adalah salah satu jenis dari buku. Buku sendiri adalah salah satu bentuk dari
media cetak. Novel adalah sebuah teks naratif. Novel menceritakan kisah
yang merepsentasikan suatu situasi yang dianggap mencerminkan
kehidupan nyata atau untuk merangsang imajinasi. Seiring dalam proses
pengisahannya novel merujuk secara langsung atau tidak langsung ke teksteks lain. Hal ini mendatangkan adanya suatu rasa saling terkait ke tatanan
signifikasi lebih besar yang melahirkannya. Di dalam teori semiotika
mutakhir, aspek penarasian seperti ini dinyatakan sebagai intertekstualitas.
Interteks adalah teks narasi lain yang dimainkan oleh sebuah novel
melalui pengutipan atau implikasi. Bisa dikatakan ini adalah teks yang
terletak di luar teks utama. Sebuah novel juga bisa memiliki subteks, yaitu
13
kisah yang secara implisit terkandung di dalamnya yang mendorong sebuah
narasi di permukaan (Danesi, 2010: 75).
2. Bahasa ,Teks, Konteks dan Makna
 Bahasa
Bahasa adalah penggunaan kode yang merupakan gabungan fonem
sehingga membentuk kata dengan aturan sintaks untuk membentuk
kalimat yang memiliki arti (Wikipedia). Menurut Fowler (Darma, 2009:
46) bahasa merupakan medium efisien dalam pengkodean kategorikategori sosial. Selanjutnya Fowler menyatakan bahwa struktur bahasa
yang dipilih dalam komunikasi tertentu menghasilkan jaringan makna
tertentu yang mendorong ke arah perspektif yang sedang dihadirkan oleh
komunikasi itu.
Dengan menggunakan bahasa, kita bisa menciptakan representasirepresentasi realitas yang tidak pernah sekedar refleksi dari realitas yang
ada
sebelumnya,
tetapi
mampu
memberikan
kontribusi
pada
pengonstruksian realitas.(Jorgensen, 2007: 16). Manusia mengucapkan
pikirannya lewat bahasa. Bahasa mempunyai kekuatan yang bagitu
dahsyat dan lebih tajam dari sebuah pisau. Dalam bahasa itu sendiri,
yang hanya berupa bunyi dan grafis, membuat orang berjatuhan dan
malahan membunuh diri. Di dalamnya terdapat sesuatu kekuatan yang
tidak tampak yang diberi nama komunikasi. Dalam filsafat bahasa
dikatakan bahwa orang mencipta realitas dan menatanya lewat bahasa.
Bahasa mengangkat ke permukaan hal yang tersembunyi sehingga
14
menjadi kenyataan. Tetapi bahasa yang sama akan dapat dipakai
menghancurkan realitas orang lain (Sobur, 2009:16).
Bahasa bukan hanya mencerminkan realitas, tetapi juga dapat
menciptakan realitas. Kita bisa mengacu pada konsepsi Saussure
mengenai tanda (sign). Dalam setiap tanda selalu terdapat penanda
(signifier) dan tertanda (signified). Tertanda menunjuk pada konsep
sementara penanda adalah bunyi ujaran, tulisan, gambar, kata yang
mewakili tertanda. Tertanda di sini mengacu pada konsep bukan objek
itu sendiri (Eriyanto, 2009:120). Menurut Halliday (Sobur, 2009: 17),
secara makro fungsi-fungsi bahasa dapat dijabarkan sebagai berikut:
1) Fungsi ideasional : untuk membentuk, mempertahankan dan
memperjelas hubungan di antara anggota masyarakat.
2) Fungsi interpersonal : untuk menyampaikan informasi di antara
anggota masyarakat.
3) Fungsi tekstual : untuk menyediakan kerangka, pengorganisasian
diskursus (wacana) yang relevan dengan situasi.
 Teks
Sebuah teks adalah jalinan unsur secara bersama-sama dari sebuah
(atau beberapa) kode untuk mengungkapkan sesuatu (Danesi, 2010: 52).
Teks adalah semua bentuk bahasa, bukan hanya kata-kata yang tercetak
di lembar kertas, tetapi juga semua jenis ekspresi komunikasi, ucapan,
musik, gambar, efek suara, citra, dan sebagainya (Eriyanto, 2009:9).
Salah satu definisi ―teks‖ yang paling dikenal luas berasal dari de
15
Beaugrande & Dessler (Titscher, 2009: 34). Mereka mendefinisikan teks
sebagai sebuah ‗peristiwa komunikatif‘ yang harus memenuhi beberapa
syarat, yakni tujuh kriteria teks. Menurut definisi ini, tanda lalu lintas,
artikel di surat kabar, argument dan novel semuanya merupakan teks
yang berhubungan dengan kaidah-kaidah genre-genre atau tipe-tipe teks
tertentu. Semua genre yang disebutkan memiliki ciri-ciri linguistik
tertentu, memenuhi fungsi tertentu dan terikat pada situasi-situasi
pemroduksian dan penerimaan tertentu (Swales 1991 dalam Titscher,
2009: 35).
Kriteria teks tujuh dimensi de Beaugrande dan Dressler adalah
sebagai berikut; (1) Kohesi berkaitan dengan komponen dan permukaan
tekstual, yakni keterhubungan ‗sintaksis teks‘ bagaimana kalimat
(bentuk, sususan) yang dipilih. (2) Koherensi (semantik tekstual)
menyusun makna sebuah teks. (3) Intensionalitas berhubungan dengan
sikap dan tujuan produser teks. (4) Akseptabilitas merupakan cerminan
intensionalitas. Sebuah teks harus diakui oleh resipien-resipien dalam
sebuah situasi tertentu. (5) Informativitas mengacu pada kuantitas
informasi baru atau yang diharapkan dalam teks. Informativitas tidak
hanya berhubungan dengan kuantitas, namun juga kualitas dari hal yang
ditawarkan. (6) Situasional berarti bahwa konstelasi-pembicaraan dan
situasi tuturan memainkan peran penting dalam pemroduksian teks
(Wodak dkk, 1989 dalam Titscher, 2009: 36). (7) Intertekstualitas
menyatakan bahwa suatu teks hampir selalu terkait dengan wacana
16
sebelumnya, atau wacana yang muncul secara bersamaan dan, di sisi
lain, intertekstualitas juga menyiratkan kalau ada kriteria formal yang
menghubungkan teks-teks tertentu dengan teks-teks lain dalam genregenre atau jenis teks-teks tertentu.
Bagi Barthes (Sobur, 2009: 52) teks adalah sebuah objek
kenikmatan, sebagaimana diproklamasikannya dalam buku Sade/
Fourier/Loyola: “The text is an object of pleasure (Teks adalah objek
kenikmatan). Kenikmatan dalam membaca itu dilukiskan Barthes (1975
dalam Kurniawan 2001 dalam Sobur, 2009: 52) seperti ini:
Apa yang aku senangi dalam sebuah cerita, bukan secara langsung
isinya, bahkan bukan pula strukturnya, tetapi pengikisan yang aku
terapkan pada permukaan dasarnya: aku ngebut ke depan, aku
lewatkan, aku perhatikan, aku cari, aku masuk ke dalam lagi.
Ricoeur mengajukan suatu definisi yang mengatakan bahwa teks adalah
wacana (berarti lisan) yang difiksasikan ke dalam bentuk tulisan.
Dengan demikian jelas bahwa teks adalah ―fiksasi atau pelembagaan
sebuah peristiwa wacana lisan dalam bentuk tulisan‖ (Hidayat, 1996
dalam Sobur, 2009: 53).
Teks juga bisa diartikan sebagai ―seperangkat tanda yang
ditransmisikan dari seorang pengirim kepada seorang penerima melalui
medium tertentu dengan kode-kode tertentu‖ (Budiman, 1999 dalam
Sobur, 2009: 53). Sebuah teks pada dasarnya tidak dapat dilepaskan
sama sekali dengan teks lain. Sebuah karya sastra, misalnya baru
mendapatkan maknanya yang hakiki dalam kontrasnya dengan karya
sebelumnya. Teks dalam pengertian umum adalah dunia semesta ini,
17
bukan hanya teks tertulis atau teks lisan. Adat istiadat, kebudayaan, film,
drama secara pengertian umum adalah teks. Oleh karena itu, karya sastra
tidak dapat lepas dari hal-hal yang menjadi latar penciptaan tersebut,
baik secara umum maupun khusus (Ratih, dalam Jabrohim, 2001 dalam
Sobur, 2009: 54). Suatu karya sastra yang berwujud teks dan tertulis
dengan bahasa yang khas itu tidak akan berfungsi jika tidak ada
pembacanya yang menjadi penyambut, penafsir, dan pemberi makna.
 Konteks
Konteks adalah lingkungan yang dimasuki sebuah kata. Konteks
dapat membuat perbedaan pengertian yang sangat menyolok. Bahkan
kombinasi yang sama dari kata-kata dapat menghasilkan makna yang
sangat berbeda dalam lingkungan kontekstual (Keraf, 2010: 67).
Mengikuti Guy Cook, analisis wacana juga memeriksa konteks
dari komunikasi : siapa yang mengkomunikasikan dengan siapa; dalam
jenis khalayak dan situasi apa; melalui medium apa; bagaimana
perbedaan tipe perkembangan komunikasi; dan hubungan untuk setiap
masing-masing pihak. Guy Cook menyebut ada tiga hal yang sentral
dalam pengertian wacana : teks, konteks, dan wacana. Teks adalah
semua bentuk bahasa, bukan hanya kata-kata yang tercetak di lembar
kertas, tetapi juga semua jenis ekspresi komunikasi, ucapan, musik,
gambar, efek suara, citra, dan lain sebagainya. Konteks memasukkan
semua situasi dan hal yang berada di luar teks dan mempengaruhi
pemakaian bahasa, seperti partisipan dalam bahasa, situasi di mana teks
18
tersebut diproduksi, fungsi yang dimaksudkan dan sebagainya. Wacana
di sini, kemudian dimaknai sebagai teks dan konteks bersama-sama
(Eriyanto, 2009: 8-9).
Menurut Gorys Keraf, konteks terbagi menjadi dua jenis, yakni
konteks nonlinguistis dan konteks linguistis. Konteks nonlinguistis
mencakup dua hal, yaitu hubungan antara kata dan barang atau hal, dan
hubungan antara bahasa dan masyarakat atau juga disebut konteks
sosial. Konteks linguistis adalah hubungan antara unsur bahasa yang
satu dengan unsur bahasa yang lain. Konteks linguistis mencakup
konteks hubungan antara kata dengan kata dalam kata dalam frasa atau
kalimat, hubungan antara frasa dalam sebuah kalimat atau wacana, dan
juga hubungan antara kalimat dalam wacana (Keraf, 2010: 32-33).
Pada dasarnya, konteks pemakaian bahasa dapat dibedakan
menjadi empat macam, yaitu: (1) konteks fisik (physical context) yang
menjadi meliput tempat terjadinya pemakaian bahasa dalam suatu
komunikasi, objek yang disajikan dalam peristiwa komunikasi itu, dan
tindakan atau perilaku dari para peran dalam peristiwa komunikasi itu;
(2) konteks epistemis (epistemic context) atau latar belakang
pengetahuan yang sama-sama diketahui oleh pembicara maupun
pendengar; (3) konteks linguistik (linguistics context) yang terdiri atas
kalimat-kalimat atau tuturan-tuturan yang mendahului satu kalimat atau
tuturan tertentu pada peristiwa komunikasi; dan (4) konteks sosial
(social context) yaitu relasi sosial dan latar setting yang melengkapi
19
hubungan antara pembicara (penutur) dengan pendengar (Sobur, 2009:
57).
 Makna
Makna, sebagaimana dikemukakan oleh Fisher (Sobur, 2009: 19),
merupakan konsep yang abstrak, yang telah menarik perhatian para ahli
filsafat dan para teoritisi ilmu sosial selama 2000 tahun silam. Semenjak
Plato
mengkonseptualisasikan
makna
manusia
sebagai
salinan
―ultrarealitas‖. Menurut Strawson (Eco, 2009: 244) makna adalah fungsi
sebuah kalimat atau ekspresi; penyebutan dan perujukan, dan kebenaran
dan dusta, semua itu adalah fungsi dari penggunaan kalimat atau
ekspresi.
Menurut DeVito, makna ada dalam diri manusia, makna tidak
terletak pada kata-kata melainkan pada manusia. Kita menggunakan
kata-kata untuk mendekati makna yang ingin kita komunikasikan. Tetapi
kata-kata ini tidak secara sempurna dan lengkap menggambarkan makna
yang kita maksudkan (DeVito dalam Sobur, 2009: 20). Semua ahli
komunikasi seperti yang dikutip Jalaluddin Rakhmat, sepakat bahwa
makna kata sangat subjektif. Word’s don’t mean, people mean. Ada tiga
hal yang dijelaskan para filsuf dan linguis sehubungan dengan usaha
menjelaskan istilah makna. Ketiga hal itu, yakni : (1) menjelaskan
makna secara alamiah, (2) mendeskripsikan kalimat secara alamiah, dan
(3) menjelaskan makna dalam proses komunikasi (Kempson, dalam
Pateda dalam Sobur, 2009: 23).
20
Ada beberapa pendapat mengenai jenis atau tipe makna. Bredbeck
mengemukakan bahwa sebenarnya ada tiga pengertian tentang konsep
makna yang berbeda-beda. Salah satu jenis makna, menurut tipologi
Bredbeck, adalah makna referensial; yakni makna suatu istilah adalah
objek, pikiran, ide, atau konsep yang ditunjukkan oleh istilah tersebut.
Tipe makna yang kedua adalah arti istilah itu. Dengan kata lain, lambang
atau istilah itu ―berarti‖ sejauh ia berhubungan secara ―sah‖ dengan
istilah yang lain, konsep yang lain. Tipe makna yang ketiga mencakup
makna yang dimaksudkan (intentional) dalam arti bahwa arti sebuah
istilah atau lambang tergantung pada apa yang dimaksudkan pemakain
dengan arti lambang itu.
Meski begitu, pada umumnya makna kata pertama-tama dibedakan
atas makna yang bersifat denotatif dan makna kata yang bersifat
konotatif. Kata yang tidak mengandung makna atau perasaan-perasaan
tambahan disebut kata denotatif, atau maknanya disebut makna
denotatif; sedangkan makna kata yang mengandung arti tambahan,
perasaan tertentu, atau nilai rasa tertentu di samping makna dasar yang
umum dinamakan makna konotatif atau konotasi (Sobur, 2009: 25-26).
3. Konstruksi Realitas Sosial
Dalam penjelasan ontologi paradigma konstruktivis, realitas
merupakan konstruksi sosial yang diciptakan oleh individu. Namun
demikian, kebenaran suatu realitas sosial yang nisbi, yang berlaku sesuai
21
konteks spesifik yang dinilai relevan oleh pelaku sosial (Bungin, 2008:
187).
Max weber melihat realitas sosial sebagai perilaku sosial yang
memiliki makna subjektif, karena itu perilaku memiliki tujuan dan
motivasi. Perilaku sosial itu menjadi ―sosial‖, oleh weber dikatakan,
kalau yang dimaksud subjektif dari perilaku sosial membuat individu
mengarahkan dan memperhitungkan kelakukan orang lain dan
mengarahkan kepada subjektif itu. Perilaku itu memiliki kepastian kalau
menunjukkan keseragaman dengan perilaku pada umumnya dalam
masyarakat.
Pada kenyataannya realitas sosial tidak berdiri sendiri tanpa
kehadiran individu, baik di dalam maupun di luar realitas tersebut.
Realitas sosial itu memiliki makna, manakala realitas sosial dikonstruksi
dan dimaknakan secara subjektif oleh individu lain, sehingga
memantapkan realitas itu secara objektif. Individu mengkonstruksikan
realitas sosial, dan merekonstruksikannya dalam dunia realitas,
memantapkan realitas itu berdasarkan subjektivitas individu dalam
institusi sosialnya (Bungin, 2008: 188-189).
Menurut Berger dan Luckmann (Bungin, 2008: 192) realitas sosial
adalah pengetahuan yang bersifat keseharian yang hidup dan
berkembang di masyarakat, seperti konsep, kesadaran umum, wacana
publik, sebagai hasil dari konstruksi sosial. Realitas sosial dikonstruksi
melalui proses eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi. Menurut
22
Berger dan Luckmann, konstruksi sosial tidak berlangsung dalam ruang
hampa, namun sarat dengan kepentingan-kepentingan.
Realitas sosial adalah proses dialektika yang berlangsung dalam
proses simultan: (1) eskternalisasi (penyesuaian diri) dengan dunia
sosiokultural sebagai produk manusia; (2) objektivasi, yaitu interaksi
sosial yang terjadi dalam dunia intersubjektif yang dilembagakan atau
mengalami proses institusionalisasi; (3) internalisasi, yaitu proses yang
mana individu mengidentifikasikan dirinya dengan lembaga-lembaga
sosial atau organisasi sosial tempat individu menjadi anggotanya
(Bungin, 2010: 83).
4. Pendekatan Analisis Wacana Kritis
Istilah wacana dipakai oleh banyak kalangan mulai dari studi
bahasa, psikologi, politik, komunikasi, sastra, dan sebagainya. Firth
(syamsuddin, 1992:2) mengemukakan bahwa language was only
meaningful its context of situation. Jadi, pembahasan wacana adalah
pembahasan bahasa dan tuturan yang harus dalam satu rangkaian
kesatuan situasi atau dengan kata lain, makna bahasa berada dalam
rangkaian konteks dan situasi (Darma, 2009: 1).
Ditinjau dari kelengkapan unsurnya, wacana merupakan unit
bahasa yang paling lengkap unsurnya. Wacana tidak hanya didukung
oleh unsur nonsegmental dan suprasegmental. Harimurti Kridalaksana
dalam kamus linguistiknya mengemukakan bahwa, wacana adalah
satuan bahasa terlengkap; dalam hierarkis gramatikal tertinggi atau
23
terbesar. Wacana ini direalisasikan dalam bentuk karangan yang utuh
seperti novel, buku, seri ensiklopedia, dan sebagainya. Wacana
merupakan
rangkaian
ujar
atau
rangkaian
tindak
tutur
yang
mengungkapkan suatu hal yang disajikan secara teratur, sistematis,
dalam satu kesatuan yang koheren, yang dibentuk oleh unsur-unsur
segmental dalam sebuah wacana yang paling besar. Sedangkan unsur
nonsegmental dalam sebuah wacana pada hakikatnya berhubungan
dengan situasi, waktu, gambaran, tujuan, makna, intonasi, dan tekanan
dalam pemakaian bahasa, serta rasa bahasa yang sering kita kenal
dengan istilah konteks (Darma, 2009: 3).
Jika dilihat dari fungsi wacana sebagai media komunikasi, wujud
wacana itu dapat berupa rangkaian tuturan lisan maupun tulisan.
Wacana di dalam kehidupan media juga memiliki pengertian yang
mendalam. Menurut Fairclough (1995), wacana adalah bahasa yang
digunakan untuk memrepresentasikan suatu praktik sosial, ditinjau dari
sudut pandang tertentu. (Riggins, 1997; Eriyanto, 2001; Darma, 2009:
9), wacana
berkaitan
erat
dengan
kegiatan komunikasi
yang
substansinya tidak terlepas dari kata, bahasa, atau ayat. Dalam (Sobur,
2001) wacana adalah rangkaian ujar atau rangkaian tindak tutur yang
mengungkapkan suatu hal (subjek) yang disajikan secara teratur,
sistematis, dalam suatu kesatuan yang koheren, dibentuk oleh unsur
segmental maupun nonsegmental bahasa.
24
Jadi, wacana adalah proses komunikasi yang menggunakan simbolsimbol yang berkaitan dengan interpretasi dan peristiwa-peristiwa di
dalam sistem kemasyarakatan yang luas. Melalui pendekatan wacana
pesan-pesan komunikasi, seperti kata-kata, tulisan, gambar-gambar, dan
lain-lain tidak bersifat netral atau steril. Eksistensinya ditentukan oleh
orang-orang yang menggunakannya, konteks peristiwa yang berkenaan
dengannya,
situasi
masyarakat
luas
yang
melatarbelakangi
keberadaannya, dan lain-lain. kesemuanya itu dapat berupa nilai-nilai,
ideologi, emosi, kepentingan-kepentingan dan lain-lain (Darma, 2009:
10).
Analisis wacana adalah suatu disiplin ilmu yang berusaha mengkaji
penggunaan bahasa yang nyata dalam komunikasi. Stubbs (1983:1)
mengatakan bahwa analisis wacana merupakan suatu kajian yang
meneliti dan menganalisis bahasa yang digunakan secara alamiah, baik
lisan atau tulis. Selanjutnya Stubbs menjelaskan bahwa analisis wacana
menekankan kajiannya pada penggunaan bahasa dalam konteks sosial,
khususnya dalam penggunaan bahasa antarpenutur. Jadi, jelasnya
analisis wacana bertujuan mencari keteraturan bukan kaidah. Analisis
wacana lazim digunakan untuk menemukan makna wacana yang persis
sama atau paling tidak sangat ketat dengan makna yang dimaksud oleh
pembicara dalam wacana lisan, atau oleh penulis dalam wacana tulis
(Darma, 2009: 15). Analisis wacana adalah studi tentang struktur pesan
dalam komunikasi atau telaah mengenai aneka fungsi (pragmatik)
25
bahasa. Analisis wacana lahir dari kesadaran bahwa persoalan yang
terdapat dalam komunikasi bukan terbatas pada penggunaan kalimat
atau bagian kalimat, fungsi ucapan, tetapi juga mencakup struktur pesan
yang lebih kompleks dan inheren yang disebut wacana. Analisis wacana
merupakan usaha memahami makna tuturan dalam konteks, teks, dan
situasi (Sobur, 2009: 48).
Analisis wacana tidak hanya digunakan dalam kajian disiplin Ilmu
Komunikasi, tetapi juga sering digunakan dalam kajian Ilmu Sastra.
Perbedaan yang mencolok antara kajian analisis wacana dalam ilmu
komunikasi dan ilmu sastra dapat terlihat dengan jelas. Analisis wacana
dalam ilmu komunikasi, mengkaji pesan yang disampaikan penulis atau
si pembuat wacana dalam teks yang diproduksinya. Sedangkan dalam
ilmu sastra, analisis wacana membahas soal struktur bahasa dan kalimat
yang digunakan penulis atau penghasil wacana pada teks yang
dihasilkannya.
Analisis wacana kritis adalah sebuah upaya atau proses
(penguraian) untuk memberi penjelasan dari sebuah teks (realitas sosial)
yang mau atau sedang dikaji seseorang atau kelompok dominan yang
kecenderungannya mempunyai tujuan tertentu untuk memperoleh apa
yang diinginkan. Artinya dalam konteks harus disadari akan adanya
kepentingan. Oleh karena itu, analisis yang terbentuk nantinya disadari
telah dipengaruhi oleh si penulis dari berbagai faktor. Selain itu, harus
disadari pula bahwa di balik wacana itu terdapat makna dan citra yang
26
diinginkan serta kepentingan yang sedang diperjuangkan (Darma, 2009:
49).
Menurut Fairclough dan Wodak, analisis wacana kritis melihat
wacana—pemakaian bahasa dalam tuturan dan tulisan—sebagai bentuk
dari praktik sosial. Menggambarkan wacana sebagai praktik sosial
menyebabkan sebuah hubungan dialektis di antara peristiwa diskursif
tertentu
dengan
situasi,
institusi,
dan
struktur
sosial
yang
membentuknya. Praktik wacana bisa jadi menampilkan efek ideologi.
Wacana dapat memproduksi dan mereproduksi hubungan kekuasaan
yang tidak imbang antara kelas sosial, laki-laki dan wanita, kelompok
mayoritas dan minoritas melalui perbedaan representasi dalam posisi
sosial yang ditampilkan. Melalui wacana, keadaan yang rasis, seksis,
atau ketimpangan dari kehidupan sosial dipandang sebagai suatu
common sense, suatu kewajaran/alamiah, dan memang seperti itu
kenyataannya (Eriyanto, 2009:7).
Analisis wacana kritis digunakan untuk mendeskripsikan sesuatu,
menerjemahkan, menganalisis, dan mengkritik kehidupan sosial yang
tercermin dalam teks dan ucapan. Analisis wacana kritis berkaitan
dengan studi dan analisis teks serta ucapan untuk menunjukkan sumber
diskursif, yaitu kekuatan, kekuasaan, ketidaksetaraan, ketidakadilan dan
prasangka. Habermas (1973) mengemukakan pendapatnya tentang
analisis wacana kritis, bahwa analisis wacana kritis bertujuan membantu
menganalisis dan memahami masalah sosial dalam hubungannya dengan
27
ideologi dan kekuasaan. Tujuan analisis wacana kritis adalah
mengembangkan
asumsi-asumsi
yang
bersifat
ideologis
yang
terkandung dibalik kata-kata dalam teks atau ucapan dalam berbagai
bentuk kekuasaan. analisis wacana kritis bermaksud untuk menjelajahi
secara sistematis tentang keterkaitan antara praktik-praktik diskursif,
teks, peristiwa, dan struktur sosiokultural yang lebih luas. Analisis
wacana kritis dibentuk oleh struktur sosial (kelas, status, identitas etnik,
zaman, dan jenis kelamin), budaya, dan wacana (bahasa yang
digunakan) (Fairclough, 2000 dalam Darma 2009: 53).
Analisis wacana kritis mempelajari tentang dominasi suatu
ideologi serta ketidakadilan dijalankan dan dioperasikan melalui
wacana, Fairclough (1998) mengemukakan bahwa analisis wacana kritis
melihat wacana sebagai bentuk dan praktik sosial. Menggambarkan
wacana sebagai praktik sosial menyebabkan sebuah hubungan dialektis
di antara peristiwa diskursif tertentu dengan situasi institusi dan struktur
sosial yang membentuknya. Praktik wacana menampilkan efek ideologi.
Ideologi sendiri adalah sebuah sistem nilai atau gagasan yang dimiliki
oleh kelompok atau lapisan masyarakat tertentu, termasuk proses-proses
yang bersifat umum adalah produksi makna dan gagasan.
Ideologi ini dikonstruksi oleh kelompok yang dominan dengan
tujuan untuk mereproduksi dan melegitimasi dominasi mereka. Salah
satu strateginya adalah membuat kesadaran khalayak, bahwa dominasi
itu diterima secara taken for granted. Ideologi dalam hal ini secara
28
inheren bersifat sosial dan analisis wacana kritis melihat wacana sebagai
bentuk dari praktik sosial. Beberapa ciri analisis wacana kritis
dikemukakan oleh Fairclough (1992b) yang menggabungkan antara
kajian linguistik tentang pemikiran sosial politik yang relevan dengan
pengembangan teori sosial dan bahasa. untuk merealisasikannya
Fairclough mengajukan pendekatan tiga dimensi, bahwa suatu
pemunculan wacana dipandang secara simultan sebagai sebuah teks
praktik diskursif dan praktik sosial (Darma, 2009: 56-58). Fairclough
(1985:98) menggambarkan tiga dimensi analisis wacana kritis secara
simultan, yaitu analisis teks, analisis praktis wacana, dan analisis praktis
sosiokultural yang digambarkan sebagai berikut.
Proses produksi
analisis teks
analisis pemrosesan
Teks
Proses interpretasi,
praksis wacana
analisis sosial
Praksis sosiokultural
Situasi, konstruksi, masyarakat
dimensi wacana
dimensi analisis wacana
Gambar 1: tiga dimensi analisis wacana kritis Norman Fairclough
(Sumber Fairclough, 1995, Darma, 2009: 81)
Dari gambar di atas dapat diperoleh pemahaman bahwa tiga
langkah analisis wacana kritis (deskripsi, interpretasi, dan eksplanasi)
29
bersifat simultan sesuai dengan asumsi dasar hubungan antara struktur
mikro (teks) dan struktur makro (institusi sosial dan masyarkat) yang
bersifat dialektis. Analisis teks merupakan kegiatan pemberian linguistik
dan bahasa teks.
Seperti van Dijk, analisis Norman Fairclough didasarkan pada
pertanyaan besar, bagaimana menghubungkan teks yang mikro dengan
konteks masyarakat yang makro. Fairclough berusaha membangun suatu
model analisis wacana yang mempunyai kontribusi dalam analisis sosial
dan budaya, sehingga ia mengombinasikan tradisi analisis tekstual yang
selalu melihat bahwa dalam ruang tertutup dengan konteks masyarakat
yang lebih luas. Titik perhatian Fairclough adalah melihat bagaimana
pemakai bahasa membawa nilai ideologi tertentu. Dalam hal ini
dibutuhkan analisis yang menyeluruh. Bahasa secara sosial dan kritis
adalah bentuk tindakan, dalam hubungan dialektik dengan struktur sosial.
Oleh karena itu, analisis harus dipisahkan pada bagian bahasa itu
terbentuk dan dibentuk dari relasi sosial dan konteks sosial tertentu
(Fairclough, 1998. Darma, 2009: 89). Berdasarkan penjelasan di atas,
berikut ini adalah skema atau kerangka penelitan penulis:
30
Novel
To Kill a Mockingbird
1. Teks
2. Kognisi Sosial
3. Konteks Sosial
Konstruksi realitas
sosial
Analisis Wacana
Norman Fairclough
Representasi nilai rasisme
Gambar 2: Kerangka konseptual
E.
Definisi Operasional
Representasi adalah bagaimana penulis novel To Kill a Mockingbird dalam
hal ini Harper Lee menampilkan, menunjukkan dan mendeskripsikan
rasisme dalam novelnya melalui penggunaan bahasa yang dipilih dalam
penyusunan novelnya.
Rasisme adalah suatu kepercayaan atau doktrin yang menganggap bahwa
suatu kelompok masyarakat atau ras (ras mayoritas) memiliki kedudukan,
kecerdasan dan peradaban yang lebih dibandingkan kelompok masyarakat
lain (ras minoritas) yang dilihat dari bentuk fisik dari masyarakat atau
kelompok tersebut, seperti warna kulit, bentuk wajah, dan lain sebagainya.
Doktrin atau kepercayaan ini akhirnya membolehkan adanya perlakuan
31
kasar, perbudakan, penyiksaan pada ras minoritas yang dianggap tidak
memiliki derajat yang sama dengan ras yang lebih mayoritas.
Analisis Wacana adalah suatu disiplin ilmu yang berusaha mengkaji
penggunaan bahasa yang nyata dalam komunikasi. Analisis wacana
mengkaji muatan pesan, nuansa, dan makna yang tersembunyi dalam sebuah
teks.
Novel To Kill a Mockingbird adalah novel fiksi karya Harper Lee yang
menceritakan tentang kehidupan seorang anak perempuan dan kakaknya di
kota Maycomb, Alabama, pada tahun 1930-an. Novel ini mengalir lewat
narasi seorang gadis delapan tahun, Scout Finch, yang menceritakan semua
yang dialaminya di lingkungan tempat tinggalnya, termasuk tentang sebuah
prasangka yang sering kali membutakan manusia, dan sebuah keadilan
hanya dapat dilahirkan dari rasa cinta yang tak membedakan apa pun latar
belakang seseorang. Novel ini pertama kali diterbitkan tahun 1960,dan telah
terjual lebih dari 30 juta kopi di seluruh dunia.
F.
Metode Penelitian
a. Waktu dan Objek Penelitian
1. Waktu Penelitian
Waktu penelitian dimulai pada bulan Juni 2011, dimana penulis
telah melakukan pra penelitian dengan membaca literatur yang
berhubungan dengan objek yang diteliti oleh penulis. Sehingga
penelitian ini bisa selesai pada bulan September 2011.
32
2. Objek Penelitian
Objek yang diteliti adalah novel yang berjudul To Kill A
Mockingbird sebuah novel terjemahan karya Harper Lee, yang
merupakan cetakan keempat tahun 2008 dalam versi Bahasa
Indonesia. Novel ini dibagi ke dalam dua bagian dan terdiri dari 31
bab. Novel ini pertama kali diterbitkan dalam versi Bahasa Inggris
pada tahun 1960. Versi Bahasa Indonesia dari novel ini diterbitkan
pertama kali pada bulan April 2008.
b. Tipe Penelitian
Penelitian ini menggunakan tipe penelitian kualitatif dengan
menggunakan pendekatan deskriptif. Riset kualitatif bertujuan untuk
menjelaskan
fenomena
dengan
sedalam-dalamnya
melalui
pengumpulan data sedalam-dalamnya. Riset ini tidak mengutamakan
besarnya populasi atau sampling bahkan populasi atau samplingnya
sangat terbatas (Kriyantono, 2008:56).
Pendekatan
deskriptif
bertujuan
membuat
deskripsi
secara
sistematis, faktual dan akurat tentang fakta-fakta dan sifat-sifat
populasi atau objek tertentu. Riset ini untuk menggambarkan realitas
yang sedang terjadi tanpa menjelaskan hubungan antarvariabel
(Kriyantono, 2008: 67-68).
Penelitian
sosial
menggunakan
format
deskriptif
kualitatif
bertujuan untuk mengkritisi kelemahan penelitian kuantitatif ( yang
33
terlalu positivisme), serta juga bertujuan untuk menggambarkan,
meringkaskan berbagai kondisi, berbagai situasi, atau berbagai
fenomena realitas sosial yang ada di masyarakat yang menjadi objek
penelitian, dan berupaya menarik realitas itu ke permukaan sebagai
suatu ciri, sifat, model, tanda, atau gambaran tentang kondisi, situasi,
ataupun fenomena tertentu (Bungin, 2010: 68).
c. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan penulis
berdasarkan kebutuhan dalam penganalisisan dan pengkajian objek
yang diteliti. Pengumpulan data dalam penelitian ini sudah dilakukan
sejak penulis menentukan permasalah yang dibahas. Pengumpulan data
yang dilakukan adalah:
1. Pengumpulan data berupa buku To Kill A Mockingbird karya
Harper Lee serta sejumlah data yang terkait dengan objek
penelitian yang dikaji seperti seperti berita-berita terkait, biografi
penulis/penerjemah dan dokumen-dokumen lainnya.
2. Penelitian pustaka dengan mengkaji dan mempelajari berbagai
literatur yang berkaitan dengan permasalahan yang diteliti untuk
mendukung asumsi sebagai landasan teori permasalahan yang
dibahas.
3. Penelusuran data online, yaitu menelusuri data dari media online
seperti internet sehingga peneliti dapat memanfaatkan data
informasi online secepat dan semudah mungkin serta dapat
34
dipertanggungjawabkan secara akademis. Peneliti memilih sumbersumber data online yang kredibel dan dikenal banyak kalangan.
d. Teknik Analisis Data
Analisis data yang digunakan peneliti dalam penelitian ini adalah
analisis wacana yang dikembangkan oleh Norman Fairclough. Seperti
van Dijk, analisis Norman Fairclough didasarkan pada pertanyaan
besar, bagaimana menghubungkan teks yang mikro dengan konteks
masyarakat yang makro. Fairclough berusaha membangun suatu model
analisis wacana yang mempunyai kontribusi dalam analisis sosial dan
budaya, sehingga ia mengkombinasikan tradisi analisis tekstual dengan
konteks masyarakat yang lebih luas. Titik perhatian besar dari
Fairclough adalah melihat bahasa sebagai praktik kekuasaan. Untuk
melihat bagaimana pemakai bahasa membawa nilai ideologis tertentu
dibutuhkan analisis yang menyeluruh. Bahasa secara sosial dan historis
adalah bentuk tindakan, dalam hubungan dialektif dengan struktur
sosial. Oleh karena itu, analisis harus dipusatkan bagaimana bahasa itu
terbentuk dan dibentuk dari relasi sosial dan konteks sosial tertentu.
Fairclough memusatkan perhatian wacana pada bahasa. Fairclough
menggunakan wacana menunjuk pada pemakaian bahasa sebagai
praktik
sosial,
lebih
daripada
aktivitas
individu
atau
untuk
merefleksikan sesuatu. Fairclough membagi analisis wacana dalam
tiga dimensi: teks, discourse practice, dan sociocultural practice.
35
Teks disini dianalisis secara linguistik, dengan melihat kosakata,
semantik, dan tata kalimat. Fairclough juga memasukkan koherensi
dan kohesivitas, bagaimana antarkata atau kalimat tersebut digabung
sehingga membentuk pengertian. Semua elemen
yang dianalisis
tersebut dipakai untuk melihat tiga masalah berikut. Pertama,
ideasional yang merujuk pada representasi tertentu yang ingin
ditampilkan dalam teks, yang umumnya membawa muatan ideologis
tertentu. Analisis ini pada dasarnya ingin melihat bagaiman sesuatu
ditampilkan dalam teks yang bisa jadi membawa muatan ideologis
tertentu. Kedua, relasi, merujuk pada pada analisis bagaimana
konstruksi hubungan di penulis dengan pembaca. Ketiga, identitas,
merujuk pada konstruksi tertentu dari identitas penulis dan pembaca,
serta bagaimana personal dan identitas ini hendak ditampilkan.
Discourse practice merupakan dimensi yang berhubungan dengan
proses produksi dan konsumsi teks. Sebuah teks pada dasarnya
dihasilkan lewat produksi teks yang berbeda. Proses konsumsi teks
bisa jadi juga berbeda dalam konteks sosial yang berbeda pula.
Konsumsi juga bisa dihasilkan secara personal ketika seseorang
mengkonsumsi teks atau secara kolektif. Sementara dalam distribusi
teks, tergantung pada pola dan jenis teks dan bagaimana sifat institusi
yang melekat dalam teks tersebut.
Sedangkan
sociocultural
practice
adalah
dimensi
yang
berhubungan dengan konteksi di luar teks. Konteks di sini
36
memasukkan banyak hal, seperti konteks situasi, lebih luas adalah
konteks dari praktik institusi dari media sendiri dengan hubungannya
dengan masyarakat, atau budaya dan politik tertentu. Ketiga dimensi
tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:
Produksi teks
TEKS
Konsumsi teks
DISCOURSE PRACTICE
SOCIOCULTURAL PRACTICE
Gambar 3 : Model dari analisis Norman Fairclough
(Sumber: Eriyanto, 2009: 288)
Sebelum dimensi tersebut dianalisis, kita perlu melihat praktik
diskursif dari komunitas pemakai bahasa yang disebut sebagai order of
discourse. Order of discourse adalah hubungan di antara tipe yang
berbeda, seperti tipe diskursif, ruang kelas, dan kerja, semuanya
memberikan batas-batas bagaimana teks diproduksi dan dikonsumsi.
Bukan hanya pada struktur wacana, apa yang dibicarakan, tetapi juga
pemakai bahasa yang berbeda-beda pula. Pemakai bahasa menyesuaikan
dengan praktik diskursif di tempat di mana ia berada, ia tidak bebas
memakai bahasa. Ketika menganalisis teks, perlu dilihat dulu order of
discourse. Ini akan membantu peneliti untuk memaknai teks, proses
produksi dari teks, dan konteks sosial dari teks yang dihasilkan.
37
Download