6 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Ikan Lele Dumbo (Clarias

advertisement
6
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Ikan Lele Dumbo (Clarias gariepinus)
2.1.1. Klasifikasi Ikan Lele Dumbo
Menurut Saanin (1989, 1995) ikan lele dumbo (C. gariepinus) mempunyai
klasifikasi sebagai berikut :
Kingdom
: Animalia
Filum
: Chordata
Kelas
: Pisces
Sub Kelas
: Teleostei
Ordo
: Ostariophysi
Subordo
: Silluroidea
Famili
: Clariidae
Genus
: Clarias
Spesies
: Clarias gariepinus
Gambar 2.1 Ikan lele dumbo (Clarias gariepinus)
6
Pengaruh Pemberian
Ekstrak …, Mufarikhatul Hidayah, FKIP UMP, 2016
7
2.1.2. Morfologi Ikan Lele Dumbo
Ikan lele dumbo memiliki ciri tertentu yang dapat dilihat dari bagian
tubuhnya. Ciri-ciri ikan lele dumbo yang membedakan dengan jenis ikan lainnya
adalah badannya yang memanjang, bagian badannya tinggi dan memipih ke arah
ekornya, tidak bersisik serta licin dan mengeluarkan lendir, kepalanya gepeng dan
simetris, serta mulutnya yang lebar dan pada mulutnya terdapat empat pasang
sungut yang digunakan sebagai alat peraba (Soetomo, 2007). Ikan lele dumbo
memiliki mulut yang lebar dan dapat menghisap makanan organisme dasar
perairan. Lele dumbo juga memiliki gigi yang tajam yang berfungsi untuk
mencabik-cabik bangkai hewan lain (Susanto, 1997).
Selain itu, bagian tubuh ikan lele dumbo juga dilengkapi dengan sirip
tunggal dan sirip berpasangan (ganda). Sirip tunggal berupa sirip punggung
(dorsal), sirip ekor (caudal) dan sirip dubur (anal) yang berfungsi sebagai alat
bantu berenang. Sirip berpasangan adalah sirip dada (pectoral) dan sirip perut
(ventral) yang berbentuk bulat dan ujung runcing dan dilengkapi dengan sepasang
duri yang disebut patil. Patil pada lele dumbo tidak begitu kuat dan tidak beracun,
terutama pada lele yang masih muda. Dibandingkan lele lokal, patil lele dumbo
lebih pendek dan tumpul (Khairuman, 2008). Ikan lele dumbo mempunyai
kemampuan meloloskan diri dari kolam piaraan dengan cara melompat. Dalam
kondisi lembab, ikan lele sanggup merangkak (gerakan zig-zag) diatas tanah tanpa
air dalam waktu cukup lama (Effendi, 1978).
Ikan lele dumbo jantan dan betina dapat dibedakan berdasarkan ciri-ciri
tubuhnya. Ikan lele dumbo jantan memiliki kepala yang relatif kecil, kulit
Pengaruh Pemberian Ekstrak …, Mufarikhatul Hidayah, FKIP UMP, 2016
8
tubuhnya berwarna kemerahan dan alat kelamin memiliki genital papilia yang
runcing. Ikan lele dumbo betina memiliki kepala yang relatif lebih besar, kulit
tubuhnya berwarna kecoklatan dan alat kelamin berbentuk bulat (Effendi, 1978).
2.1.3. Sifat Biologis Ikan Lele Dumbo
Ikan lele dumbo aktif pada malam hari, baik itu aktif mencari makan
maupun aktif berenang. Oleh karena itu ikan lele dumbo disebut hewan nokturnal.
Pada siang hari ikan lele dumbo suka bersembunyi dibalik benda-benda atau
bebatuan. Pada saat beristirahat ikan lele dumbo hidup berkelompok dan pada
situasi ini ikan lele dumbo sering muncul ke permukaan untuk mengambil oksigen
dari udara bebas (Hernowo & Suryanto, 1999).
Lele dumbo termasuk hewan omnivora atau hewan yang memenuhi
kebutuhannya dengan memakan hewan dan tumbuhan lain. Pakan alami lele
dumbo adalah cacing, kutu air, dan bangkai binatang. Lele dumbo sangat agresif
dalam memangsa makanan, karena apapun yang diberikan pasti akan dilahapnya.
Hal itulah yang membuat lele dumbo sangat cepat pertumbuhannya (Bachtiar,
2006).
2.1.4. Habitat Ikan Lele Dumbo
Ikan lele tidak pernah ditemukan di air payau atau air asin. Habitat atau
tempat hidup ikan lele dumbo adalah air tawar, seperti sungai dengan arus air
yang perlahan, rawa, telaga, waduk, dan sawah yang tergenang air. Air yang baik
untuk pertumbuhan lele dumbo yaitu air sungai, air sumur, air tanah, dan mata air.
Lele dumbo dapat bertahan hidup dalam kondisi air yang kurang baik. Hal
Pengaruh Pemberian Ekstrak …, Mufarikhatul Hidayah, FKIP UMP, 2016
9
tersebut dikarenakan lele dumbo memiliki organ arborescent yang berfungsi
untuk mengambil oksigen langsung dari udara bebas, sehingga ikan lele dumbo
dapat hidup pada air yang tidak mengalir, selain itu juga ikan lele dumbo dapat
hidup dalam lumpur dalam beberapa jam, dengan kondisi udara cukup lembab
pada kolam yang kadar oksigennya rendah (Bachtiar, 2006).
2.2. Rumput Laut Merah (Gracilaria verrucosa)
2.2.1. Karakteristik Rumput Laut Merah
Rumput laut tergolong tanaman berderajat rendah, karena tidak memiliki
struktur lengkap seperti tumbuhan daratan. Rumput laut tumbuh di alam dengan
melekatkan dirinya pada karang, lumpur, pasir, batu dan benda keras lainnya.
Selain benda mati, rumput laut dapat melekat pada tumbuhan lain secara epifitik.
Rumput laut tidak mempunyai akar, batang, maupun daun sejati tetapi hanya
menyerupai batang yang disebut thallus. Thallus pada umumnya berbentuk
silindris atau agak memipih, tetapi pada G. euchewnoides dan G. textoni bentuk
thallus kedua tumbuhan tersebut benar-benar gepeng. Ujung-ujung thallus
meruncing, permukaan thallus halus atau berbintil-bintil. Panjang thallus sangat
bervariasi, mulai dari 3,4-8 cm pada G. eucheumoides sampai mencapai lebih dari
60 cm pada G. verrucosa (Anggadireja., 2008).
2.2.2. Klasifikasi Rumput Laut Merah
Klasifikasi G.verucosa menurut (Oseanografi LIPI. 2009 dalam Edriansyah,
2013) adalah sebagai berikut :
Kingdom
: Plantae
Filum/Division : Rhodophyta
Pengaruh Pemberian Ekstrak …, Mufarikhatul Hidayah, FKIP UMP, 2016
10
Kelas/Class
: Rhodophyceae
Bangsa / Order : Gigartinales
Suku/Famili
: Gracilariaceae
Marga/Genus
: Gracilaria
Jenis/Spesies
: Gracilaria verrucosa
Gambar 2.2 Rumput laut merah (Gracilaria verrucosa)
Gracilaria hidup dengan melekatkan diri pada substrat padat, seperti kayu,
batu, karang mati dan sebagainya. Untuk melekatkan dirinya, Gracilaria memiliki
suatu alat cengkeram berbentuk cakram yang dikenal dengan sebutan 'hold fast'.
Jika dilihat secara sepintas, tumbuhan ini berbentuk rumpun, dengan tipe
percabangan tidak teratur, 'dichotomous', 'alternate', 'pinnate', ataupun bentukbentuk percabangan yang lain (Anggadireja, 2008).
2.2.3. Daur Hidup Rumput Laut Merah
Di alam dapat ditemukan Gracilaria dalam 3 bentuk pertumbuhan. Secara
morfologi ketiga bentuk pertumbuhan sangat sulit dibedakan, tetapi dilihat dari
segi anatomi dapat dibedakan antara bentuk sporofit, gametofit dan bentuk
karposporofit. Bentuk sporofit adalah tumbuhan yang memiliki kromosom diploid
(2n), gametofit adalah bentuk tumbuhan haploid (1n), sedangkan karposporofit
adalah bentuk tumbuhan haplodiploid.
Pengaruh Pemberian Ekstrak …, Mufarikhatul Hidayah, FKIP UMP, 2016
11
Untuk tumbuh dan berkembang, Gracilaria membutuhkan cahaya,
karbondioksida, oksigen serta nutrisi. Cahaya dibutuhkan untuk proses
fotosintesa, yaitu karbondioksida akan diubah menjadi karbohidrat (senyawa
organik). Sebaliknya, oksigen dibutuhkan untuk respirasi atau merombak senyawa
yang mempunyai molekul besar menjadi senyawa-senyawa dengan molekul yang
lebih kecil dan energi.
Pengambilan nutrisi dilakukan Gracilaria melalui proses difusi. Dalam
proses pengambilan nutrisi, Gracilaria dapat menyerap serta mengakumulasikan
unsur-unsur yang ada disekitarnya dengan baik. Nuriwati & Hartati (1985), telah
melakukan penelitian mengenai daya serap G. lichenoides terhadap merkuri di
perairan Teluk Jakarta. Hasil yang diperoleh menyatakan bahwa Gracilaria dapat
menyerap merkuri dengan baik. Pada konsentrasi merkuri 0,005 ppm dalam air
laut ternyata setelah 2 bulan kemudian diperoleh 0,20 ppm merkuri dalam
Gracilaria, namun keadaan ini tidak mempengaruhi pertumbuhannya. Gracilaria
memiliki kemampuan beradaptasi terhadap faktor-faktor lingkungan seperti: suhu,
salinitas, cahaya, dan pH.
a. Cahaya
Gracilaria mempunyai kemampuan adaptasi terhadap cahaya sangat baik.
Cahaya yang masuk ke dalam perairan baik dalam jumlah banyak atau sedikit
dapat dimanfaatkan untuk pertumbuhannya. Kim & Hum (1975) dalam Hoyle
menyatakan bahwa G. verrucosa memiliki toleransi yang tinggi terhadap cahaya
yang berlebihan, yaitu dapat tumbuh pesat pada kedalaman 5 cm.
Pengaruh Pemberian Ekstrak …, Mufarikhatul Hidayah, FKIP UMP, 2016
12
b. Suhu
Gracilaria memiliki kemampuan adaptasi yang baik terhadap suhu.
Kemampuan ini sangatlah bervariasi tergantung kepada tempat di mana tumbuhan
tersebut hidup. Gracilaria yang hidup di Atlantik Utara dapat bertahan pada suhu
7°C di musim dingin dan 30°C di musim panas. Demikian pula di Norwegia,
tumbuhan ini dapat hidup pada suhu 3°C di musim dingin, dan 14 - 18°C di
musim panas Stokke dalam Hoyle (1975). Akan tetapi Shang (1976), menyatakan
bahwa di Taiwan, pertumbuhan alga ini akan terhambat apabila suhu air di bawah
8°C. Selanjutnya, Shang (1976), menyatakan bahwa untuk budidaya Gracilaria
temperatur optimum yang diperlukan adalah 20 - 25°C. Kadi & Atmadja (1988),
menambahkan bahwa di Indonesia, salah satu persyaratan untuk membudidayakan
Gracilaria, suhu air sebaiknya berkisar antara 20° - 28°C.
c. Salinitas dan pH
Gracilaria dapat hidup pada kisaran salinitas 5-43 permil. Shang (1976),
menyatakan bahwa untuk budidaya Gracilaria kisaran salinitas yang baik adalah
15-20 permil serta kisaran pH antara 6-9 dengan pH optimum 8,2-8,7. Untuk
usaha budidaya Gracilaria di Indonesia, kisaran salinitas adalah 18-32 permil
dengan salinitas optimum adalah 25 permil, sedangkan pH berkisar antara 8-8,5
(Kadi & Atmadja, 1988).
2.2.4. Bioaktivitas Rumput Laut Merah
Kandungan senyawa bioaktif dari rumput laut merah sebagian telah
banyak diketahui, namun pemanfaatan sumber bahan bioaktif dari alga merah
belum banyak dilakukan. Berdasarkan proses biosintesisnya, rumput laut merah
Pengaruh Pemberian Ekstrak …, Mufarikhatul Hidayah, FKIP UMP, 2016
13
kaya akan senyawa turunan dari oksidasi asam lemak yang disebut ocylipin
(Putra, 2006). Kandungan senyawa kimia secara umum yang ditemukan pada
rumput laut merah yaitu turunan dari sesquiterpene, terutama dari golongan
Laurencia chondrioides. Eucheuma sp banyak mengandung senyawa karbohidrat
yaitu polisakarida dengan berat molekul terdiri dari unit D-galaktosa-4-sulfat dan
3,6-anhydro-D-galaktosa (Winarno, 1990).
Rumput laut sebagai sumber gizi, terdiri dari air (27,8%), protein (5,4%),
karbohidrat (33,3%), lemak (8,6%), serat kasar (3%) dan abu (22,25%). Selain itu,
rumput laut juga mengandung fenol, enzim, asam nukleat, asam amino, vitamin
(A,B,C,D ,E dan K) dan makro mineral seperti nitrogen, oksigen, kalsium dan
selenium serta mikro mineral seperti zat besi, magnesium dan natrium
(Anggadireja et al., 2008).
2.2.5. Habitat dan Sebaran Rumput Laut Merah
Gracilaria umumnya hidup sebagai fitobentos, melekat dengan bantuan
cakram pelekat ('hold fast') pada substrat padat. Terdiri dari kurang lebih 100
spesies yang menyebar luas dari perairan tropis sampai subtropis. Hal ini
menyebabkan beberapa penulis menyebutnya sebagai spesies yang kosmopolit
(Anggadireja et al., 2008).
Gracilaria hidup di daerah litoral dan sub litoral, sampai kedalaman
tertentu, yang masih dapat dicapai oleh penetrasi cahaya matahari. Beberapa jenis
hidup di perairan keruh, dekat muara sungai. Di Indonesia terdapat kurang lebih
15 jenis Gracilaria (Kadi & Atmadja, 1988) yang menyebar di seluruh kepulauan.
Di Bangka, G. convervoides hidup melekat di atas batu karang pada kedalaman
Pengaruh Pemberian Ekstrak …, Mufarikhatul Hidayah, FKIP UMP, 2016
14
2 - 5 meter (Soerjodinoto, 1968). Di Lombok, G. gigas ditemukan di perairan
payau. Daerah sebaran Gracilaria di Indonesia meliputi : Kepulauan Riau,
Bangka, Sumatera Selatan, Jawa, Bali, Lombok, Sumbawa, Flores, Pulau Bawean,
Kalimantan, Sulawesi Selatan dan Maluku.
2.3. Sistem Imun Pada Ikan
Sistem imun adalah semua mekanisme yang digunakan badan untuk
melindungi dan mempertahankan keutuhan tubuh dari bahaya yang menyerang
tubuh (Tjandrawinata et al., 2005). Dalam pandangan modern, sistem imun
memiliki 3 fungsi utama, yaitu untuk pertahanan, homeostatis, dan pengawasan
(Subowo, 2009). Sistem pertahanan tubuh ikan atau respons imun ikan terdiri atas
dua macam, yaitu sistem pertahanan non spesifik dan spesifik (Mulia, 2012).
2.3.1. Sistem Imun Nonspesifik
Sistem imun nonspesifik merupakan pertahanan tubuh yang mendasar bagi
ikan. Sistem tersebut memiliki reseptor protein yang dapat mengenal tipe molekul
dari mikroorganisme patogen seperti lipopolisakarida (LPS), peptidoglycan DNA
bakteri, virus RNA, dan suatu organisme. Respons nonspesifik terhadap molekul
asing tersebut dibedakan menjadi pertahanan fisik, pertahanan seluler dan
humoral Kresno (2001). Kamiso & Triyanto (1990), menyatakan bahwa sistem
pertahanan nonspesifik berfungsi untuk melawan segala jenis patogen yang
menyerang bahkan terhadap beberapa penyakit non-hayati. Sistem pertahanan ini
bersifat permanen dan tidak perlu rangsangan terlebih dahulu, sistem pertahanan
ini juga berbeda antara ikan satu dengan lainnya. Menurut Kresno (2001), respons
Pengaruh Pemberian Ekstrak …, Mufarikhatul Hidayah, FKIP UMP, 2016
15
imun nonspesifik berupa pertahanan secara fisik dan kimiawi. Salah satu upaya
tubuh untuk dapat mempertahankan diri terhadap masuknya antigen adalah
dengan cara menghancurkan bakteri yang bersangkutan secara fagositosis, tanpa
memperdulikan adanya perbedaan-perbedaan kecil yang ada diantara substansisubstansi asing. Respons imun nonspesifik umumnya merupakan imunitas bawaan
(innate immunity) yang memberikan pertahanan terdepan dalam menghadapi
serangan berbagai organisme, oleh karena itu dapat memberikan respons langsung
terhadap antigen walaupun tubuh sebelumnya tidak pernah terpapar pada zat
tersebut (Sawitri, 2003).
Selain fagositosis, manifestasi respons imun nonspesifik yang lain adalah
reaksi inflamasi. Sel-sel sistem imun tersebar di seluruh tubuh, tetapi bila terjadi
infeksi di satu tempat perlu upaya untuk memusatkan sel-sel sistem imun itu dan
produk-produk yang dihasilkannya ke lokasi infeksi. Mekanisme fisiologik
imunitas nonspesifik berupa komponen normal tubuh yang selalu ditemukan pada
individu sehat dan siap mencegah mikroba masuk tubuh dan dengan cepat
menyingkirkan mikroba tersebut. Sistem pertahanan nonspesifik tidak ditujukan
terhadap mikroba tertentu. Mekanismenya tidak menunjukkan spesifitas terhadap
bahan asing dan mampu melindungi tubuh terhadap banyak patogen potensial.
Sistem tersebut merupakan pertahanan terdepan dalam menghadapi serangan
berbagai
mikrobia
dan
dapat
memberikan
respons
secara
langsung
(Baratawidjaya, 2004 dalam Ayuningtyas, 2012).
Pada ikan pertahanan pertama untuk melawan patogen terdapat pada
permukaan tubuh. Selain fisik, daerah permukaan tubuh dapat menghambat
Pengaruh Pemberian Ekstrak …, Mufarikhatul Hidayah, FKIP UMP, 2016
16
masuknya patogen ke dalam tubuh ikan, yang meliputi mukus, kulit, insang, dan
saluran gastrointestinal. Sistem pertahanan nonspesifik kimiawi meliputi
komponen-komponen
pertumbuhan
dalam
mikrobia
serum
(Mulia,
darah
2012).
yang
Sistem
berfungsi
menghambat
pertahanan
nonspesifik
menggunakan mekanisme efektor seluler berupa aktivitas fagositosis yang
melibatkan sel-sel organ dan sel-sel motil. Sel-sel organ meliputi sel jaringan
penghubung (fibroblast), jaringan lymphoid dari saluran pencernaan, sel
reticuloendothelial, sel dinding kapiler, dan jaringan monosit. Sel motil terdiri dari
makrofag, leukosit nongranular (monosit dan limfosit), dan leukosit granular
(neutrofil, eosinofil, dan basofil) (Schaperclaus, 1982 dalam Mulia, 2012).
2.3.2. Sistem Imun Spesifik
Respons imun spesifik dapat dihasilkan secara dapatan (aquired) yang
berfungsi untuk melawan penyakit tetapi memerlukan rangsangan terlebih dahulu.
Respons kekebalan merupakan suatu fungsi koordinasi diantara organ-organ
tubuh dan bagian selulernya (Donando, 2002). Fungsi dari organ-organ ini untuk
menunjukan tipe antibodi yang diproduksi, menghasilkan antibodi spesifik serta
menghancurkan mikroorganisme. Inti dari proses respons imun spesifik ini adalah
limfosit, karena sel-sel ini dapat mengenal setiap jenis antigen, baik antigen yang
terdapat intraseluler maupun ekstraseluler misalnya dalam cairan tubuh atau
dalam darah (Anderson, 1974 dalam Donando, 2002).
Terdapat dua jenis respons imun spesifik, yaitu respons imun seluler dan
respons imun humoral. Respons imun seluler dikendalikan oleh sel limfosit T,
sedangkan respons imun humoral dikendalikan oleh sel limfosit B. Respons imun
Pengaruh Pemberian Ekstrak …, Mufarikhatul Hidayah, FKIP UMP, 2016
17
terhadap suatu antigen tergantung oleh dosis dan cara pemasukanya ke dalam
tubuh (Mulia, 2012). Pada umumnya, cara pemasukan antigen ke dalam tubuh
dapat langsung melalui kulit, organ pernafasan, saluran pencernaan atau
disuntikan, dan masing-masing cara tersebut dapat menimbulkan respons imun
yang berbeda intensitasnya (Subowo, 1993 dalam Mulia, 2012).
2.4. Kualitas Air
Kualitas air merupakan suatu peubah (variable) yang dapat mempengaruh
pengelolaan, kelangsungan hidup, pembenihan, serta produksi ikan. Kondisi air
harus disesuaikan dengan kondisi optimal bagi pertumbuhan biota yang dipelihara
(Mulyanto, 1992). Kualitas air dipengaruhi oleh berbagai bahan kimia yang
terlarut dalam air, seperti oksigen terlarut, derajat keasaman (pH dan suhu).
2.4.1. Suhu
Suhu merupakan salah satu faktor fisika yang sangat mempengaruhi
kehidupan ikan. Suhu atau temperatur air sangat berpengaruh terhadap
metabolisme dan pertumbuhan organisme serta mempengaruhi jumlah pakan yang
dikonsumsi organisme perairan. Suhu mempengaruhi distribusi mineral dalam air,
mempengaruhi kekentalan (viskositas) air, tingkat konsumsi oksigen, dan
kandungan oksigen terlarut. Suhu air yang optimal berkisar antara 25-270C
(Effendi, 1978). Suhu air yang baik antara siang dan malam tidak begitu besar
perubahannya, tidak lebih dari 50C, antara 25 – 300C (Kusno, 1990).
Selain itu, suhu mempengaruhi aktifitas metabolism organisme dan daya
angkut darah, sehingga secara umum suhu mempengaruhi laju pertumbuhan biota
Pengaruh Pemberian Ekstrak …, Mufarikhatul Hidayah, FKIP UMP, 2016
18
dalam air. Semakin tinggi suhu air, semakin tinggi tingkat metabolism organisme,
yang berarti semakin tinggi konsumsi oksigennya. Setiap kenaikan 10oC akan
mempercepat laju reaksi kimia sebesar 2 kali. Akan tetapi perubahan suhu secara
tiba-tiba dapat menyebabkan ikan mati, karena terjadi perubahan daya angkut
darah.
2.4.2. Derajat keasamaan (pH)
Derajat keasamaan (pH) merupakan indikator tingkat keasaman perairan.
Faktor yang mempengaruhi pH perairan diantaranya aktifitas fotosintesis, suhu,
dan terdapatnya anion dan kation. Derajat keasamaan (pH) air mempengaruhi
tingkat kesuburan perairan karena mempengaruhi kehidupan jasad renik.
Nilai pH pada banyak perairan adalah 4-9. Apabila pH air kurang dari 4,5
air bersifat racun bagi ikan. Pada kisaran pH 5-6 pertumbuhan ikan terhambat dan
ikan sangat sensitif terhadap bakteri dan parasit. Ikan akan mengalami
pertumbuhan optimal pada pH 8,5 (Soetomo, 1987).
2.4.3. Oksigen Terlarut
Oksigen terlarut diperlukan untuk respirasi, proses pembakaran makanan,
aktifitas berenang, pertumbuhan, reproduksi dan lain-lain. Sumber oksigen
perairan dapat berasal dari difusi oksigen yang terdapat di atmosfir sekitar 35%
dan aktifitas fotosintesis oleh tumbuhan air dan fitoplankton. Kekurangan oksigen
dalam air dapat mengganggu kehidupan ikan budidaya termasuk pertumbuhannya.
Rendahnya kandungan oksigen terlarut dalam air akan berakibat biota menjadi
stress, mudah terserang penyakit atau parasit, dapat memperlambat pertumbuhan
yang berakibat konsumsi pakan rendah (Boyd, 1982).
Pengaruh Pemberian Ekstrak …, Mufarikhatul Hidayah, FKIP UMP, 2016
19
Pada kadar DO (Dissolved Oxygen) kurang dari 4-5 mg/L, nafsu makan
ikan berkurang dan pertumbuhan tidak berkembang dengan baik. Apabila
kandungan oksigen dalam air mencapai 3-4 mg/L untuk jangka waktu yang lama,
ikan akan berhenti makan dan pertumbuhan berhenti. Untuk jenis-jenis ikan
kolam, kandungan oksigen yang diharapkan adalah lebih dari 3 mg/L. Secara
umum kadar DO minimum bagi kehidupan ikan adalah 50% dari kejenuhan
(Mulyanto, 1992).
Kandungan oksigen terlarut optimal adalah 5 mg/L dan lebih baik jika 7
mg/L. Oksigen terlarut dalam air sebanyak 5-6 mg/L dianggap paling ideal untuk
tumbuh dan berkembangbiak ikan dalam kolam (Susanto, 1997).
Pengaruh Pemberian Ekstrak …, Mufarikhatul Hidayah, FKIP UMP, 2016
Download