PENGARUH LAMA PERENDAMAN LARVA DALAM HORMON

advertisement
Jurnal Medika Veterinaria
P-ISSN : 0853-1943; E-ISSN : 2503-1600
Rosmaidar, dkk
PENGARUH LAMA PERENDAMAN LARVA DALAM HORMON METIL
TESTOSTERON ALAMI TERHADAP PENJANTANAN IKAN LELE
DUMBO (Clarias gariepinus)
The Effect of Soaking Time of African Catfish Larvae (Clarias gariepinus) in Natural Methyl
Testosterone Hormone on Masculinization
Rosmaidar1, Cut Nila Thasmi2, Ananda Afrida3*, Muslim Akmal4, Herrialfian5, dan Zakiah Heryawati
Manaf6
1
Laboratorium Farmakologi Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh
Laboratorium Reproduksi Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh
3
Program Studi Pendidikan Dokter Hewan Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh
4
Laboratorium Histologi Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh
5
Laboratorium Biokimia Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh
6
Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh
*Corresponding author: [email protected]
2
ABSTRAK
Tujuan penelitian mengetahui pengaruh lama perendaman larva ikan lele dumbo (Clarias gariepinus) dengan hormon metil testosteron alami
menjadi ikan lele jantan. Penelitian ini dilaksanakan di pusat budidaya ikan Lamnyong, Kota Banda Aceh. Hewan coba yang digunakan dalam
penelitian ini larva ikan lele dumbo berjumlah 270 ekor berumur 10 hari. Rancangan penelitian yang digunakan rancangan acak lengkap (RAL)
pola satu arah dengan tiga perlakuan dan tiga kali ulangan, yakni: P1 dengan lama waktu perendaman 10 jam, P2 dengan lama waktu perendaman
20 jam, dan P3 dengan lama waktu perendaman 30 jam. Larva ikan lele dumbo berumur 10 hari direndam dalam hormon metiltestosteron alami.
Pengamatan dilakukan pada umur ikan 50 hari. Data dianalisis dengan analisis varian (Anava) dan dilanjutkan dengan uji beda nyata terkecil.
Rata-rata jumlah persentase ikan lele jantan pada P1; P2; dan P3 masing-masing adalah 64,24; 93,11; dan 59,94% (P<0,01). Kesimpulan dari
penelitian adalah pemberian hormon metiltestosteron alami dapat mengubah jenis kelamin ikan lele dumbo (Clarias gariepinus) menjadi jantan.
____________________________________________________________________________________________________________________
Kata kunci: lele dumbo, metil testosteron alami, penjantanan
ABSTRACT
The purpose of this study was to determine the effect of immersion time on African catfish (Clarias gariepinus) larvae in natural methyl
testosterone hormone on masculinization. This study was conducted in Center of Fish Culture Lamnyong, Banda Aceh. Experimental animals
used in this study were 270 African catfish larvae aged 10 days. The study was designed using completely randomized design (CRD) with 3
treatments and 3 replications. African catfish larvae aged 10 days in group P1, P2, and P3 were immersed in natural methyl testosterone
hormone for 10 hours, 20 hours, and 30 hours, respectively. Observations were carried out until fish reach 50 days old. Data were analyzed by
analysis of variance (Anova) followed by least significant difference test (LSD). Percentage of male catfish observed in P1, P2, and P3 were
64.24 %, 93.11%, dan 59.94% respectively. As a conclusion, immersion with natural methyl testosterone hormone can change the sex of catfish
to be male.
____________________________________________________________________________________________________________________
Key words: african catfish, methyl testosterone natural, masculinization
PENDAHULUAN
Salah satu komoditas perikanan yang cukup
terkenal di masyarakat Indonesia adalah ikan lele
dumbo (Clarias gariepinus). Ikan lele dumbo
merupakan salah satu jenis ikan lele hibrida yang baru
diintroduksikan ke Indonesia dari negara Taiwan. Ikan
lele dumbo merupakan hasil kawin silang antara ikan
lele asli Taiwan Clarias focus dengan ikan lele Afrika
Clarias mossambicus. Ikan lele dumbo memiliki
pertumbuhan yang cepat dan dapat mencapai ukuran
besar dalam waktu relatif pendek (Suyanto, 2002).
Peluang pasar ikan lele dumbo tidak hanya terbatas
untuk memenuhi kebutuhan pasar konvensional seperti
konsumen rumah tangga, restoran, atau rumah makan
yang membutuhkan pasokan ikan lele dumbo ukuran
konsumsi. Setiap subsistem dalam budidayanya juga
memiliki pasar yang membutuhkan pasokan ikan lele
dumbo dari berbagai jenis ukuran, tergantung pada
subsistem usaha budi daya lele dumbo yang dilakukan.
Umumnya pembesaran ikan lele dumbo membutuhkan
waktu 2-6 bulan, tergantung pada ukuran benih yang
ditebarkan. Ikan lele dumbo yang siap konsumsi
memiliki berat 100-160 g/ekor (Budiawan, 2013).
Ikan lele dumbo menjadi komoditas unggulan di
bidang perikanan karena mudah dibudidayakan, dapat
dipelihara dengan padat tebar yang tinggi dalam lahan
terbatas dan hemat air. Selain itu, ikan lele dumbo
memiliki pertumbuhan yang cepat, relatif tahan
terhadap penyakit, dan teknologi budidaya ikan lele
dumbo relatif mudah dikuasai masyarakat, modal usaha
yang relatif rendah, dipastikan banyak menyerap tenaga
kerja, dan sudah terbukti menjadi usaha yang
menguntungkan (Departemen Kelautan dan Perikanan,
2006).
Ikan jantan merupakan faktor yang penting dalam
budidaya ikan lele dumbo, karena dalam
perkembangannya benih ikan jantan memiliki
keunggulan yang besar untuk memacu produksi ikan
lebih cepat, masa panen lebih singkat, dan menambah
125
Jurnal Medika Veterinaria
nilai ekonomis para petani ikan. Untuk memperoleh
benih ikan jantan yang unggul dapat dilakukan
penjantanan atau disebut juga dengan istilah sex
reversal, sebagai suatu teknologi yang membalikkan
arah pengembangan kelamin menjadi berlawanan
(Mantau, 2005).
Beberapa penelitian telah berhasil mengembangkan
benih ikan jantan dengan menggunakan bahan senyawa
steroid sintetik dan telah menghasilkan populasi
monosex. Hormon testosteron sangat berpotensi untuk
mengarahkan kelamin pada saat diferensiasi kelamin.
Tingkat keberhasilan merubah kelamin jantan dapat
mencapai 96-100%, dan yang umum digunakan adalah
golongan hormon androgen seperti 17α-metil testosteron
(Yamazaki, 1983). Metode pemberian hormon bisa
melalui pakan (oral) dan perendaman (Zairin, 2002).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan
hormon 17α-metil testosteron pada pakan dengan dosis
50-60 mg/kg pakan selama 3-4 minggu pada benih ikan
nila berumur 7-9 hari setelah menetas efektif untuk
penjantanan dan mampu menghasilkan populasi jantan
mendekati 100% ( Bowker et al., 2007) dan pada benih
rajungan dosis hormon 17 α-metil testosteron 2 ppm
memberikan nilai maskulin sebesar 93,3% (Ruliaty et
al., 2009).
Penggunaan hormon sintetik 17α-metil testosteron
sudah mulai dikurangi, selain karena harga yang mahal
juga karena sifat 17α-metil testosteron dapat
menimbulkan pencemaran dan menyebabkan kanker
pada manusia. Dirjen Kelautan dan Perikanan (2008)
menyatakan larangan penggunaan 21 jenis obat-obatan
dalam kegiatan budidaya perikanan, salah satunya
adalah steroid sintetik (17α-metil testosteron).
Salah satu upaya untuk menghindari penggunaan
hormon sintetik tersebut, Badan Tenaga Nuklir
Nasional (BATAN) melakukan penelitian tentang
hormon yang lebih aman digunakan, yaitu hormon
metiltestosteron alami yang dibuat dari testis sapi dan
tidak mengandung bahan-bahan residu kimia yang
dapat membahayakan manusia (Ita, 2012). Di bidang
perikanan telah dilakukan penyebaran pemanfaatan
hormon testoteron dan hormon metiltestosteron alami
untuk penjantanan ikan. Berdasarkan penelitian
tersebut, pemberian hormon metiltestosteron alami
pada perlakuan perendaman, menghasilkan jumlah
persentase jantan mencapai 88,55% (Novara, 2013).
Vol. 10 No. 2, Mei 2016
dumbo selama 20 jam dalam hormon metiltestosteron
alami, dan perlakuan III (P3) dengan perendaman larva
ikan lele dumbo selama 30 jam dalam hormon metil
testosteron alami. Pengamatan dilakukan pada umur
ikan 50 hari. Masing-masing kelompok diulangi
sebanyak tiga kali.
Pembuatan Larutan Hormon Metil Testosteron
Alami
Hormon metil testosteron alami ditimbang sebanyak
0,25 g menggunakan timbangan digital, kemudian
hormon tersebut dicampur dengan alkohol 70%
sebanyak 2-3 ml dan air lalu dihomogenkan, lalu
dimasukkan batu aerator guna menghilangkan
kandungan alkohol dan dimasukkan ke dalam baskom
perendaman.
Perendaman dan Pemeliharaan
Larva ikan lele dumbo sebanyak 30 ekor yang
berumur 10 hari, dimasukkan ke dalam baskom berisi
air 1 liter yang telah dicampurkan dengan larutan
metiltestosteron alami dan direndam selama 10, 20, dan
30 jam. Kemudian, larva ikan lele dumbo dipindahkan
ke dalam kolam pemeliharaan dan selanjutnya ikan lele
dumbo dipelihara sesuai prosedur yang berlaku.
Analisis Data
Data hasil penelitian dianalisis secara statistik
dengan menggunakan analisis varian (Anava) satu arah
dan dilanjutkan dengan uji beda nyata terkecil.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil penelitian mengenai pengaruh lama
perendaman larva ikan lele dumbo menjadi ikan jantan
menggunakan hormon metil testosteron alami diamati
berdasarkan perubahan jenis kelamin jantan. Ciri-ciri
ikan lele berjenis kelamin betina yaitu memiliki bentuk
tubuh yang melebar tidak seperti ikan lele jantan yang
memiliki tubuh ramping, ikan lele betina memiliki
bentuk kelamin (urogenital papilla) berbentuk oval
serta terdapat lubang yang agak lebar dan berwarna
agak kemerahan, ikan lele betina memiliki warna kulit
dada yang lebih terang dibanding ikan lele jantan
(Harijanto, 2006). Hasil pengamatan jenis kelamin ikan
lele dumbo berdasarkan pengamatan secara morfologi
pertumbuhan gonad disajikan pada Gambar 1.
MATERI DAN METODE
Penelitian ini dilaksanakan di pusat budidaya ikan
Lamnyong, Kota Banda Aceh. Penelitian ini
berlangsung dari bulan Januari-Maret 2014. Hewan
coba yang digunakan dalam penelitian ini adalah larva
ikan lele dumbo berjumlah 270 ekor berumur 10 hari
dari Ketapang, Aceh Besar.
Penelitian ini menggunakan rancangan acak
lengkap (RAL) dengan tiga perlakuan dan tiga ulangan.
Perlakuan I (P1) perendaman larva ikan lele dumbo
selama 10 jam dalam hormon metil testosteron alami,
perlakuan II (P2) dengan perendaman larva ikan lele
126
Gambar 1. Gambaran morfologis jenis kelamin ikan lele
dumbo. A= Gonad ikan lele dumbo jantan, b= Gonad ikan
lele dumbo betina
Jurnal Medika Veterinaria
Tabel 1. Persentase rata-rata ikan lele dumbo (Clarias
gariepinus) jantan setelah perendaman dalam larutan hormon
metiltestosteron alami
Ulangan
Perlakuan
Rata-rata
1
2
3
P1 (10 jam)
66,66
62,96
63,10
64,24a
P2 (20 jam)
95,45
88,88
95,00
93,11b
P3 (30 jam)
64,70
62,50
52,63
59,94a
a, b
Superskrip yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan
perbedaan yang nyata (P<0,01)
Berdasarkan Tabel 1 menunjukkan bahwa
persentase ikan lele dumbo yang paling tinggi
ditemukan pada kelompok P2 yaitu 93,11%, dan yang
terendah diperoleh pada kelompok P3 yaitu 59,94%.
Persentase jenis kelamin ikan lele dumbo jantan pada k
(P2) lebih tinggi secara sangat nyata (P<0,01)
dibandingkan dengan P1 dan P3, sedangkan P1 berbeda
secara tidak nyata (P<0,05) dibandingkan dengan P3.
Perbedaan hasil persentase ikan lele dumbo jantan
pada masing-masing perlakuan disebabkan karena
faktor lama dan tidaknya perendaman. Hal ini sesuai
yang dikemukakan Zairin (2002), dosis hormon yang
diberikan sangat berpengaruh terhadap penjantanan
ikan. Perendaman larva ikan lele dumbo dalam hormon
dengan waktu yang terlalu singkat menyebabkan tidak
efektifnya penyerapan hormon ke dalam tubuh larva
ikan lele dumbo, sedangkan perendaman larva ikan lele
dumbo dalam waktu yang terlalu lama menyebabkan
terjadinya efek paradoksial yaitu yang diberi perlakuan
dengan metiltestosteron meningkatkan jenis kelamin
betina (Piferrer dan Donaldson, 1989).
Proses penyerapan hormon ke dalam tubuh larva
ikan lele dumbo diduga terjadi melalui proses difusi,
dari insang hormon dibantu oleh pembuluh darah,
setelah itu hormon dialirkan ke organ dan jaringan
saraf. Sesampainya di sel atau target sasaran, hormon
yang masuk berikatan dengan reseptor yang terletak
dalam kantong spermatozoa (Djojosoebagyo, 1990).
Penambahan hormon ke dalam media perendaman
menyebabkan adanya perbedaan konsentrasi hormon
dalam cairan larva dengan konsentrasi di dalam media.
Perbedaan ini selanjutnya menyebabkan terjadinya
difusi. Menurut Hunter dan Donaldson (1983),
keberhasilan mengubah seks kelamin tidak hanya
ditentukan oleh jenis dan dosis hormon yang
digunakan, akan tetapi juga dipengaruhi oleh lama
pemberian hormon, spesies, masa perlakuan serta tata
cara pemberian hormon.
Rosmaidar, dkk
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan
bahwa pemberian hormon metiltestosteron alami dapat
mengubah jenis kelamin ikan lele dumbo menjadi
jantan.
DAFTAR PUSTAKA
Bowker J., M.P. Bowman, D. Carti, and M. Dotson. 2007.
Histological Determination of Tilapia Gender Following
Treatment with 17a-Methyl Testosterone. Global Pespectives.
Food Product Press, New York
Budiawan. 2013. Cara Memilih Indukan Lele Dumbo Siap Pijah.
http://jamurtiramkalimantan.wordpress.com/
2013/04/16/
cara-memilih-indukan-lele-dumbo-siap-pijah/.
Departemen Kelautan dan Perikanan, 2006. Kebijakan DKP:
Perikanan
Budidaya
Potensi
Ekspor
Lele
Besar.
http://www.dkp.go.id/content.php?c=2823.
DKP. Dirjen Kelautan dan Perikanan. 2008. 21 Obat-Obatan yang
Dilarang. Dirjen Perikanan Budidaya. Balai Besar
Pengembangan Budidaya Air Tawar, Sukabumi.
Djojosoebagyo. 1990. Fisiologi Kelenjar Endokrin. Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan. Direktorat Jendaral Pendidikan
Tinggi. Pusat Antar Universitas Ilmu Hayati Institut Pertanian
Bogor, Bogor.
Harijanto, A. 2006. Upaya Maskulinisasi Induk Ikan Lele Dumbo
Clarias sp. yang Telah Diovariektomi Parsial dengan Metode
Implantasi Hormon 17α-Metiltestosteron. Skripsi. Institut
Pertanian Bogor. Bogor.
Hunter, G.A., dan E.M. Donaldson. 1983. Hormonal Sex Control and
Its Application to Fish Culture. In Fish Physiology. Hoar, W.S.
and D.J. Randall (Eds.). Volume IX B. Academic Press, New
York.
Ita, A. 2012. Jantanisasi Menggunakan Hormon Methyl. http://
itaapriani.blogspot.com/ 2012/02/jantanisasi-menggunakanhormon-hormon-methyl.html.
Mantau, Z. 2005 Produksi benih ikan nila jantan dengan rangsangan
hormon metil testosteron dalam tepung pelet. J. Litbang
Pertanian. 24 (2):13-18.
Novara, E. 2013. Jantanisasi Ikan Lele Dumbo (Clarias gariepinus)
Menggunakan Hormon Methyl Testosterone (MT) Alami.
Skripsi. Universitas Syiah Kuala. Banda Aceh.
Piferrer, F. and W. Donaldson. 1989. Gonadal differentiation in coho
salmon, oncorhynchus kisutch after a single treatment with
androgen at Different stages during ontogenis. J. Aquaculture.
234:229-239.
Ruliaty, L., M., Maskur, dan P. Rudi. 2009. Jantanisasi benih
rajungan dengan perendaman hormon 17 α-metil testoteron
sebagai upaya untuk peningkatan produktivitas. Laporan
Penelitian. Balai Besar Pengembangan Budidaya air Payau
Jepara. Jawa Barat.
Suyanto, S.R. 2002. Budidaya Ikan lele. Penebar Swadaya, Jakarta.
Yamazaki, F. 1983. Sex control and manipulation in fish. J.
Aquaculture 33:329-354.
Zairin, M. 2002. Sex Reversal: Memproduksi Benih Ikan Jantan
atau Betina. Penebar Swadaya, Jakarta.
127
Download