BAB II DASAR TEORI 2.1 Pendahuluan Panel

advertisement
 BAB II
DASAR TEORI
2.1 Pendahuluan
Panel surya menjadi sumber energi listrik alternatif yang dapat
mengkonversi langsung cahaya matahari menjadi energi listrik, namun untuk
penggunaannya
kita memerlukan perangkat tambahan agar transfer daya yang
dihasilkan maksimal. Perangkat-perangkat tersebut diantaranya konverter,
baterai, dan sistem kontrolnya. Oleh karena itu untuk mendapatkan transfer
daya maksimal dari sistem catu daya panel surya akan dibangun konfigurasi
seperti pada gambar 2.1 berikut.
Gambar 2.1 Konfigurasi panel surya dan MPPT
Terdapat beberapa komponen utama pada perancangan alat proyek akhir yang
akan penulis buat yaitu Panel surya, konverter dc-dc, MPPT kontroler, dan
baterai.
2.2 Solar Sel
2.2.1 Prinsip Kerja Solar Sel
Solar Sel adalah sebuah sel photovoltaik yaitu komponen semi
konduktor yang berfungsi mengkonversi energi radiasi matahari secara
langsung menjadi energi listrik. Daya yang dihasilkan diode semikonduktor
tergantung
pada material yang digunakan dan kondisi sinar matahari. Bahan
semikonduktor
yang banyak dipakai adalah bahan Silikon, Galium Arsinide.
Sebuah modul diklasifikasikan berdasarkan daya maksimumnya. Sel-sel itu
terbuat dari kristal silikon yang dikembangkan dalam bentuk ingot. Dalam
potongan tipis yang disambungkan melalui elektroda untuk membentuk sel.
Foton foton yang mengenai permukaan solar sel menyebabkan elektron
elektronnya akan tereksitasi sehingga timbul aliran listrik. Solar sel dapat
mengeksitasikan elektron elektron karna terdapat komponen utama yaitu
semikonduktor. Apabila aplikasi memerlukan daya yang besar sejumlah Solar
Sel dikombinasikan dalamhubungan seri paralel ke dalam suatu rangkaian yang
dikenal sebagai Panel Solar Sel (Solar Cell Panel). Bila sistem diperlukan daya
yang lebih besar lagi maka dapat dikombinasikan kedalam suatu array dan
ditunjukkan pada Gambar 2.2. Daya keluaran suatu Solar Sel tipikal hampir
sama dengan suatu baterei ukuran kecil. Sedangkan tegangan keluaran pada
cahaya matahari penuh sekitar 1,2 V, sehingga untuk mendapatkan tegangan
yang lebih besar maka beberapa Solar Sel dalam panel dihubungkan secara seri,
sedangkan untuk menghasilkan arus yang lebih besar beberapa Solar Sel
dihubungkan secara paralel sehingga satu panel surya dapat menghasilkan daya
keluaran yang tergantung jumlah yang diseri dan diparalel.
Gambar 2.2 Panel surya dalam bentuk array
2.2.2 Karakteristik Panel Surya
Pada panel surya dalam menghasilkan energI listrik kita mengetahui
adanya kurva I-V, kurva tersebut menggambarkan besarnya daya keluaran solar
sel. Daya keluaran solar sel tergantung pada intensitas cahaya matahari dan
temperatur. Besarnya intensitas cahaya yang mengenai permukaan solar sel
berbanding lurus dengan daya keluaran, jika cahaya yang mengenai permukaan
solar sel sepenuhnya diserap, Namun jika tidak sepenuhnya diserap maka
cahaya matahari yang mengenai permukaan solar sel akan menjadi panas, Oleh
karena itu semakin besar temperatur akan menyebabkan daya keluaran panel
surya semakin kecil. Berikut adalah gambar kurva I-V untuk panel surya yang
dipengaruhi intensitas cahaya dan temperatur.
Gambar 2.3 kurva I-V pengaruh intensitas cahaya
Pada intensitas cahaya kita mengenal kepadatan cahaya. Kepadatan
daya (power density) adalah daya yang dapat diperoleh oleh suatu bahan
semikonduktor yang memanfaatkan energi cahaya matahari yaitu jumlah daya
cahaya matahari yang dapat ditangkap persatuan luasan. Istilah kepadatan daya
pada Solar Sel ini dikenal sebagai Solar Cell Irradiation dalam satuan mW/cm2
atau W/m2 bahkan kW/m2. Berdasarkan gambar dapat disimpulkan bahwa
semakin besar kepadatan daya, maka semakin besar daya keluaran solar sel.
Kurva I-V pada beberapa kepadatan daya menunjukan bahwa arus mendekati
konstan sedangkan tegangan berubah-ubah.
Besarnya daya keluaran solar sel selain dipengaruhi intensitas cahaya
dipengaruhi juga temperatur. Kurva dibawah ini menunjukan besarnya daya
keluaran panel surya yang dipengaruhi beberapa temperatur.
Gambar 2.4 kurva I-V pengaruh temperatur
Berdasarkan gambar diatas dapat disimpulkan bahwa semakin besar
temperatur, maka tegangan mendekati konstan namun arus semakin kecil. Oleh
karena itu temperatur berbanding terbalik dengan daya keluaran panel surya
karna temperatur merupakan intensitas chaya yang tidak terserap sempurna oleh
panel surya.
2.2.3 Daya Keluaran Solar Sel
Solar sel tidak selalu menghasilkan daya keluaran yang konstan, seperti
yang telah kita bahas bahwa daya keluarannya dipengaruhi intensitas cahaya
dan temperatur, sehingga tegangan dan arus yang dihasilkannya akan berubahubah. Untuk mengatahui daya keluaran dari solar sel kita akan lihat rangkaian
ekuivalen solar sel pada gambar dibawah ini.
IL
RS
ID
Iph
D
RP
V
Gambar 2.5 rangkaian ekuivalen solar sel
I = I ph
ID
I Rsh
(2.1)
V IRS V IRS
1 RSh
mVT = I ph I S exp (2.2)
Keterangan
:
V : Tegangan keluaran Solar Sel
I
: Arus keluaran Solar Sel
ID
: Arus Dioda
I ph
: Arus yang dibangkitkan
IS
: Arus balik saturasi dioda
VT
: Tegangan Termal (2,75 mV pada 25 0 C )
m
: Faktor idealitas dioda
RSh / RS
: Resistansi parallel/seri
Dengan mengabaikan faktor idealitas dioda m, maka besar arus I dapat
dinyatakan dengan :
VV I I S e T 1 I ph
(2.3)
Arus hubung singkat I hs dan tegangan hubung buka Vhb dinyatakan sebagai :
I hs I ph
(2.4)
I ph ' Iph $
Vhb VT I n 1 ! VT ln % "
& IS #
IS
(2.5)
Daya total yang didisipasikan adalah :
VV
P = V x I = I S V e T
1 I phV
(2.5)
Besar daya maksimum akan dicapai ketika dP/dV = 0, sehingga besar tegangan
dan arus maksimum dapat dituliskan sebagai :
Vm
Vm I SVm VT
dP
VT
e
0 I S e 1 I ph dV
VT
(2.6)
V Vm Vhb VT ln 1 m VT (2.7)
Vm I I S e VT 1
(2.8)
Im
2.3 MPPT Konverter
2.3.1 Pengertian MPPT Konverter
MPPT konverter merupakan sebuah konverter dc-dc ( Buck
Chopper) untuk menurunkan tegangan dari panel surya sebelum disimpan ke
baterai. Penggunaan Buck Chopper sebagai MPPT konverter karna baterai yang
digunakan memiliki spesifikasi 12 V/ 60 AH, sehingga tegangan dari panel
surya yang mempunyai maximum tegangan mencapai 20V harus diturunkan
menggunakan Buck Chopper menjadi tegangan yang diperbolehkan baterai
untuk proses pengisiannya.
+
iL
+
Vs
S
iL
D
-
VL
-
+
C
iD
Gambar 2.6 Rangkaian Buck Chopper
+
iC
L
Vo
R
-
2.3.2 Prinsip Kerja MPPT Konverter
MPPT konverter atau Buck Chopper akan bekerja ketika sinyal PWM
yang dihasilkan mikrokontroler dihubungkan ke gate MOSFET. PWM
mikrokontroler mengatur besarnya duty cycle MOSFET.
Gambar 2.7 konfigurasi Buck Chopper
Keterangan :
Vd = Tegangan sumber buck chopper ( Volt )
Vo = Tegangan keluaran buck chopper ( Volt )
VL= Drop tegangan pada inductor ( Volt )
Vol= Drop tegangan pada dioda ( Volt )
Id= arus sember ( ampere )
IL= arus pada inductor ( ampere )
Io= arus keluaran buck chopper ( ampere )
Ts= perioda dalam satu gelombang keluaran ( sekon )
Untuk menghitung duty cycle pensaklaran MOSFET dapat menggunakan
rumus:
Besarnya duty cycle dapat mempengaruhi nilai tegangan keluaran buck
chopper.
Pada buck chopper semakin besar duty cycle, maka semakin besar
juga tegangan keluaran yang dihasilkan begitu juga jika semakin kecil duty
cycle maka tegangan keluaran yang dihasilkan akan semakin kecil juga.
Pengaturan nilai D ( duty cycle ) tergantung pada Ton dan Toff pensaklaran.
Berikut merupakan gambar waktu ON ( Ton ) dan OFF ( Toff ) berdasarkan
rangkaian buck chopper.
Gambar 2.8 Prinsip kerja Buck Chopper
Secara matematika praktis besarnya tegangan keluaran yang dihasilkan buck
chopper dapat dihitung menggunakan rumus Vo = D x Vs. Jenis saklar yang
digunakan untuk rangkaian buck chopper banyak sekali. Namun pada
pembuatan alat proyek akhir ini, penulis menggunakan MOSFET. Untuk
mengetahui lebih jelasnya, dibawah ini penulis akan membahas driver yang
digunakan.
2.3.3 Parameter Umum Mosfet
Karakteristik dapat menjelaskan keistimewaan atau ciri-ciri suatu
komponen
yang berdasarkan pada hasil rangakain pengujian yang akurat.
Karakteristik
juga dapat mengindikasikan batasan (range) besaran nilai yang
digunakan pada suatu komponen tersebut. Hal ini tentu sangat berguna untuk
menetukan pemakaian suatu komponen terhadap kebutuhan suatu sistem.
Adapun beberapa parameter penting yang dapat digunakan untuk menetukan
penggunaan MOSFET adalah :
1. Drain-Source voltage (VDS)
Nilai tegangan maksimum yang akan mengkonduksi bahan substrat
yang ada di antara drain dan source agar arus dapat mengalir dari drain
ke sumber.
2. Countinuous direct drain current (ID)
Nilai arus maksimum yang dapat melewati kanal drain.
3. Gate-Source voltage (VGS)
Nilai tegangan yang lebih besar dari nilai tegangan konduksi (VT) agar
MOSFET pada kondisi ON dan dapat mengalirkan arus.
4. Total power dissipation (Ptot or PD)
Nilai maksimum disipasi daya untuk komponen tersebut.
2.3.4
Prinsip Kerja Mosfet
MOSFET merupakan komponen yang terdiri dari tiga terminal yang
disebut gate , drain dan source. Antara drain dan source ada bahan substrat.
Bahan substrat ini yang akan mengalirkan arus dari drain ke source.
Konduktifitas bahan substrat ditentukan oleh tegangan yang diberikan antara
gate dan source.
Gerbang
Drain
Sumber
n
n
bahan
substrat
Konstruksi MOSFET
Gambar 2.9 konstruksi MOSFET
MOSFET dikendalikan oleh tegangan dan memiliki impedansi masukan
yang sangat tinggi. Gerbang akan mengalirkan arus bocor yang sangat kecil
pada orde nanoampere. Walaupun MOSFET memiliki impedansi yang sangat
tinggi. Tetapi masih bisa mengalirkan arus dengan memberikan tegangan
gerbang ke sumber. Hal ini akan mempengaruhi sifat konduktivitas substrat
yang ada didalam MOSFET. MOSFET memiliki masalah pengosongan elektro
statis karena substrat yang didalamnya bersifat penyimpan muatan.
Pada dasarnya fungsi MOSFET dapat dibagi dua, yaitu sebagai saklar
dan sebagai penguat arus. Sebagai saklar, MOSFET dapat mengalirkan arus
jika diberikan tegangan gerbang-sumber (VGS) yang lebih besar dari tegangan
konduksi (VT). Saat VGS < VT maka MOSFET OFF, saat VGS > VT maka
MOSFET ON. Kecepatan switching sangat tinggi dalam orde nanodetik. Dalam
aplikasinya penulis menggunakan MOSFET enhancement tipe kanal-n.
2.3.5
Mosfet Enhancement Mode
MOSFET tipe enhancement tidak memiliki kanal doping yang
menghubungkan antara silicon drain dan sumber secara fisik. Kanal akan
terbentuk dengan memberikan VGS. MOSFET tipe enhancement bisa
diibaratkan sebuah saklar terbuka, yang akan tertutup apabila diberi VGS yang
lebih dari tegangan konduksi MOSFET itu sendiri.
2.3.6 Mosfet Tipe Enhancement Kanal-n
Konstruksi rangkaian dan karakteristik MOSFET tipe enhancement
kanal-n
yaitu:
ID (mA)
ID (mA)
VGS = 7
8
8
VGS = 6
VGS = 5
VGS = 4
1
3
2
4
5
6
7
VGS
VGS = 3
VGS = 2 VDS
VGS = VT =1
Gambar 2.10 karakteristik MOSFET Tipe Kanal-n
Pada MOSFET tipe enhancement kanal-n. tegangan pada drain lebih
positif dari pada tegangan pada sumber. Dan sumber diberi tegangan yang lebih
negatif dari pada gate. Jika VGS diset pada 0V maka arus keluaran (ID) yang di
hasilkan 0A (MOSFET OFF). MOSFET akan mengalirkan arus apabila diberi
VGS yang lebih besar dari tegangan konduksi/disebutkan juga tegangan Tresh
hold (VT). arus akan mengalir dari drain ke sumber. Apabila VGS diperbesar
terus maka Arus drain ID akan lebih besar, dan kenaikan arusnya terlihat seperti
karakteristik diatas.
Perbedaan MOSFET tipe enhancement kanal-p dan kanal-n, adalah
terletak pada polaritas dan arah arus yang mengalir. Parameter yang bisa
didapat
ID = k(VGS-VT)2
2.3.7 Konfigurasi Optocoupler
Dalam membuat rangkaian pengendali gate MOSFET, diperlukan
sebuah optocoupler . Optocoupler adalah suatu IC yang meskipun secara fisik
menjadi satu, tetapi sebenarnya di dalamnya terdiri dari dua bagian yang
terpisah antara bagian cahaya dengan bagian deteksi sumber cahaya. Pada
optocoupler
terdapat isolasi elektris, yaitu kondisi yang terisolasi antara
masukan
dan
keluarannya
(electrical
isolation).
Penggunaannya
memungkinkan untuk memisahkan dua bagian. Optocoupler yang digunakan
adalah IC TLP 250, karena di dalamnya sudah dilengkapi rangkaian penguatan.
N.C
VCC
Anoda
Output
Katoda
Output
N.C
GND
Gambar 2.11 Pin Optocoupler TLP
+ 15
N.C
R
Dari PWM
Ke Gate MOSFET
0.1 uF
N.C
Gambar 2.12 Rangkaian Optocoupler TLP 250
Ke Source MOSFET
2.4 MPPT kontroler
2.4.1 ADC ( Analog to Digital Converter )
ADC adalah sebuah piranti yang dirancang untuk mengubah sinyal-
sinyal analog menjadi bentuk sinyal digital. Mikrokontroler dengan ADC ini
dapat digunakan untuk aplikasi-aplikasi yang memerlukan informasi analog
misalnya voltmeter, arus dan pengukur suhu. Ada banyak cara yang dapat
digunakan untuk mengubah sinyal analog menjadi sinyal digital yang nilainya
proposional.
Jenis ADC yang biasa digunakan dalam perancangan adalah jenis
Successive Approximation Convertion
(SAR) atau pendekatan bertingkat yang memiliki waktu konversi jauh
lebih singkat dan tidak tergantung pada nilai masukan analognya atau sinyal
yang akan diubah. Pada ADC ini digunakan tegangan referensi (VREF) 5 Vdc.
2.4.2 PWM ( Pulse Width Modulation )
PWM dari mikrokontroler berfungsi untuk mengatur duty cycle
pensaklaran perangkat MOSFET pada rangkaian buck chopper.
Dengan
pengaturan duty cycle MOSFET, maka tegangan keluaran buck chopper dapat
berubah-ubah. AT-MEGA 16 memiliki PWM digital 10 bit maka sinyal PWM
yang akan dibangkitkan mempunyai resolusi 0-1024 mewakili duty cycle 0100% .
Gambar 2.13 Pengaturan PWM menggunakan mikrokontroler
Resolusi adalah jumlah variasi perubahan nilai dalam PWM tersebut.
Misalkan suatu PWM memiliki resolusi 10 bit berarti PWM ini memiliki
variasi
perubahan nilai sebanyak 2 pangkat 10 = 1024 variasi mulai dari 0
1024 perubahan nilai. Compare adalah nilai pembanding. Nilai ini merupakan
nilai referensi duty cycle dari PWM tersebut. Nilai compare bervariasi sesuai
dengan resolusi dari PWM. Dalam gambar nilai compare ditandai dengan garis
warna merah, dimana posisinya diantara dasar segitiga dan ujung segitiga.
Clear digunakan untuk penentuan jenis komparator apakah komparator
inverting atau non-inverting. Mikrokontroler akan membandingkan posisi
keduanya, misalkan bila PWM diset pada kondisi clear down, berarti apabila
garis segitiga berada dibawah garis merah (compare) maka PWM akan
mengeluarkan logika 0. Begitu pula sebaliknya apabila garis segitiga berada
diatas garis merah (compare) maka PWM akan mengeluarkan logika 1. Lebar
sempitnya logika 1 ditentukan oleh posisi compare, lebar sempitnya logika 1
itulah yang menjadi nilai keluaran PWM,dan kejadian ini terjadi secara
harmonik terus-menerus. Maka dari itu nilai compare inilah yang dijadikan nilai
duty cycle PWM. Clear Up adalah kebalikan (invers) dari Clear Down pada
keluaran logikanya.
Gambar 2.14 Pengaturan lebar PWM
digunakan untuk menentukan waktu perioda dari pada PWM.
Nilai
bervariasi yaitu 1, 8, 32, 64, 128, 256, 1024. Misalkan jika
prescale
diset 64 berarti timer/PWM akan menghitung 1 kali bila clock di CPU
sudah 64 kali, Clock CPU adalah clock mikrokontroler itu sendiri. Perioda dari
PWM dapat dihitung menggunakan rumus
Setting prescale disini digunakan untuk mendapatkan frekuensi dan periode
kerja PWM sesuai dengan spesifikasi yang dibutuhkan. Dengan cara mengatur
dan dalam satu perioda gelombang melalui pemberian
besar sinyal referensi output dari suatu PWM akan didapat duty cycle yang
diinginkan.
dari PWM dapat dinyatakan sebagai
! ! " #
&&'
" # $ %%
Dengan menghitung duty cycle, maka tegangan keluaran dapat dihitung secara
matematis dengan rumus:
( ) #
(+
) # $ ) **
2.4.3 Algoritma MPPT Kontroler
MPPT suatu metoda untuk menetapkan titik daya maksimum solar sel
dengan memperhatikan karakteristik baterai juga memperhatikan karakteristik
panel surya.Titik daya maksimum didapatkan dengan melihat karakteristik
grafik hubungan antara daya dan tegangan atau grafik hubungan antara
tegangan dan arus dari panel surya. MPPT ini mengoptimalkan transfer daya
antara panel surya dan baterai.
MPPT adalah sebuah metoda atau cara untuk mencari letak titik
maksimum dari kurva I-V pada sebuah photovoltaic yang selalu berubah secara
dinamis
mengikuti perubahan intensitas matahari, dan temperatur. Berikut
adalah kurva I-V
Gambar 2.15 Karakteristik kurva I-V Panel Surya
Banyak teknik atau metoda MPPT yang telah dilakukan penelitian dan
dipublikasikan, tetapi dari sekian banyak itu ada tiga algoritma utama yaitu :
1.
2.
3.
4.
Perturb and Observe
Incremental Conductance
Dynamic Approach
Temperature Methods
MPPT atau Maximum Power Point Tracker yang dibuat menggunakan
salah satu algoritma yang populer yaitu INCREMENT CONDUCTANCE.
Metoda ini membandingkan nilai konduktansi lama dengan konduktansi baru.
Konduktansi dapat dihitung secara matematis yaitu R= I/V. Pada alat proyek
akhir ini, nilai perubahan konduktansi akan menentukan naik turunnya PWM
sehingga secara bertahap daya keluaran panel surya mendekati maksimal pada
perubahan tegangan input yang berbeda-beda dan dipengaruhi intensitas cahaya
yang berbeda beda.
Flowchart Algoritma Increment Conductance dapat kita lihat dibawah ini :
Gambar 2.16 Flowchart Algoritma Increment Conductance
Deskripsi Kerja :
Mensensor tegangan dan arus baru, dianggap tegangan dan arus baru
adalah 0, Selanjutnya hitung perubahan arus (dI) dan tegangan (dV)
Hitung G baru yaitu arus baru dibagi dengan tegangan baru dan hitung
dG yakni dI dibagi dV.
Jika dV= 0 maka identifikasi apakah dI=0 jika benar maka itu titik
MPPT sehingga program akan kembali ke proses sensing, namun jika
dI>0 maka naikan duty cycle serta jika dI<0 maka turunkan duty cycle
r maka itu titik
MPPT sehingga program akan kembali dan melakukan sensing, namun
jika G>dG maka naikan duty cycle serta jika G<dG maka turunkan duty
cycle.
2.4.5 Konfigurasi AT-MEGA 16
Pada MPPT kontroler penulis menggunakan perangkat keras/ hardware
mikrokontroler AT-MEGA 16. Fungsi dari perangkat ini adalah untuk
menghasilkan PWM ( pulse width modulation ) dan untuk pembacaan data
ADC. PWM yang dihasilkan akan mempengaruhi duty cycle MOSFET
sehingga penurunan tegangan yang dihasilkan buck chopper dapat diatur
sebelum dihubungkan ke baterai, sedangkan ADC ( analog to digital converter)
merupakan proses pembacaan data analog berupa tegangan input dan arus
menjadi digital dan masuk ke mikrokontroler. Pembacaan ADC akan digunakan
untuk proses perhitungan di program algoritma, dengan kata lain hasil
perhitungan ADC akan mengatur lebar pulsa PWM yang dikeluarkan
mikrokontroler. Berikut adalah konfigurasi mikrokontroler AT-MEGA 16.
Gambar 2.17 Konfigurasi pin AT-MEGA 16
Berdasarkan gambar diatas susunan kaki standar 40 pin DIP
mikrokontroler AVR ATMega16 yang setiap kaki memiliki fungsi-fungsi
sebagai berikut:
VCC merupakan pin masukan positif catu daya. Setiap peralatan
elektronika digital tentunya butuh sumber catudaya yang umumnya
sebesar 5 V, itulah sebabnya di PCB kit mikrokontroler selalu ada IC
regulator 7805.
GND sebagai pin Ground
deprogram sebagai pin masukan ADC.
khusus, yaitu timer/counter, komparator analog, dan SPI.
khusus, yaitu TWI, komparator analog, dan timer Osilator.
khusus, yaitu komparator analog, interupsi eksternal, dan komunikasi
serial.
Reset merupakan pin yang digunakan untuk mereset mikrokontroler.
XTAL 1 dan XTAL 2 sebagai pin masukan clock eksternal. Suatu
mikrokontroler
membutuhkan
sumber
clock
agar
dapat
mengeksekusi intruksi yang ada dimemory. Semakin tinggi nilai
kristalnya, maka semakin cepat mikrokontroler tersebut.
AVCC sebagai pin masukan tegangan untuk ADC
AREF sebagai masukan tegangan referensi.
Berikut adalah konfigurasi hardware dari AT-MEGA 16. AT-MEGA 16
memiliki banyak fitur-fitur diantaranya adalah:
Saluran I/O sebanyak 32 buah,yaitu port A, Port B, Port C, dan Port
D
ADC (Analog to Digital Converter ) 10 bit sebanyak 8 chanel
Tiga buah timer/counter dengan kemampuan perbandingan.
CPU yang terdiri dari 32 buah register.
131 instruksi andal yang umumnya hanya membutuhkan 1 siklus
clock.
Watchdog Timer dengan osilator internal
Dua buah timer/counter 8 bit
Satu buah timer/counter 16 bit
Tegangan operasi 2.7V- 5.5V pada ATMega16
Internal SRAM sebesar 1KB
Memori flash sebesar 16 KB dengan kemampuan Read While Write
Unit interupsi internal dan eksternal.
Port antar muka SPI
EEPROM sebesar 512 byete yang dapat deprogram saat operasi
Antarmuka komparator analog
4 chanel PWM
3x8 general purpose register
Hampir mencapai 16 MIPS pada kristal 16 Mhz
Port USART programble untuk komunikasi serial
Gambar 2.18 Blok diagram AT-MEGA 16
Download