Gejala dan Diagnosis Penyakit Parkinson

advertisement
Gejala dan Diagnosis Penyakit Parkinson
Esdras Ardi Pramudita
Bagian Neurologi, RS Panti Rapih, Yogyakarta
I. Pendahuluan
Penyakit parkinson pertama kali ditemukan pada tahun 1817 oleh James
Parkinson, pada awalnya dikenal dengan istilah shaking palsy. Penyakit parkinson
adalah penyakit gangguan gerak yang paling sering dijumpai terutama pada lanjut
usia. Prevalensi penyakit ini 1:200 pada usia lebih dari 70 tahun dengan penderita
terbanyak adalah laki-laki. Meskipun penyakit parkinson adalah penyakit gangguan
gerak yang paling umum tetapi tanda dan gejalanya harus dikenali dengan baik
sehingga dapat menegakkan diagnosis penyakit parkinson dan tidak rancu dengan
penyakit lain yang memiliki manifestasi klinis serupa.
II. Gejala Penyakit Parkinson
Tanda dan gejala pada Penyakit parkinson dibagi menjadi dua yaitu gejala
motor dan gejala non motor, gejala motor merupakan gejala yang dominan pada
penyakit parkinson meliputi Tremor (Resting Tremor), Rigiditas (Kekakuan),
Akinesia/bradikinesia (Gerakan yang lambat/berhenti), dan Postural instability (
Gangguan keseimbangan postural).
a. Tremor (Resting tremor)
Tremor merupakan gejala utama (75%) pada penyakit parkinson,
tremor yang terjadi muncul pada saat istirahat (resting) dan menghilang saat
melakukan gerak aktif bertujuan dengan frekuensi 4-7 Hz. Pada umumnya
tremor terjadi pada bagian tangan, kaki, rahang atau kepala. Tremor pada
tangan memiliki gambaran yang khas berupa aktivitas jari-jari tangan seperti
memilin atau dikenal dengan “pill-rolling”.
b. Rigiditas
Rigiditas atau kekakuan yang terjadi pada penyakit parkinson
sebagian besar terjadi pada persendian termasuk leher. Hal ini disebabkan
karena tonus otot yang meningkat yang berpengaruh pada gerakan fleksi dan
ekstensi, rigiditas ini dikenal dengan Lead-pipe rigidity (sustained) dan apabila
didapatkan beserta tremor maka disebut dengan cogwheel rigidity
(intermitent).
c. Akinesia/bradikinesia
Gerakan yang melambat terjadi secara menyeluruh pada bagian-bagian
tubuh anatara lain: Wajah yang kurang/tidak berekspresi (hypomimia), Mata
jarang berkedip, sulit untuk memulai bergerak dari posisi berhenti/duduk,
langkah jalan yang kecil-kecil/perubahan Gait (march a petit pas), pasien
sering hampir terjatuh kedepan, perubahan tulisan tangan menjadi
kecil/jelek (micrografia), dan penurunan fungsi kegiatan harian secara
umum.
d. Postural instability
Kondisi ini terjadi pada tahap lanjut dari penyakit parkinson berupa
kehilangan keseimbangan dan refleks postural yang berakibat pasien mudah
jatuh/roboh dan merasakan sensasi bergoyang atau dizziness (tidak
seimbang).
Selain gejala motor penyakit parkinson memiliki gejala non motor yang juga
harus diperhatikan, gejala ini muncul karena adanya degenerasi dari neuron-
neuron dopaminergik, gejala-gejala non motor yang paling sering muncul antara lain
adalah:
-
Gangguan bicara, volume suara yang kecil, suara tidak jelas
Gangguan menelan, liur menetes (drooling), sialorhea
Gangguan keseimbangan/dizziness
Nyeri yang disebabkan oleh distonia terus menerus dan kram otot.
Gangguan otonom seperti: konstipasi, inkontinesia, nokturia, urgensi,
dan impotensi.
Gangguan neuropsikiatri seperti depresi, cemas, demensia, dan psikosis
Hiposmia
Gangguan tidur dan rasa lelah berlebihan
Harus diingat bahwa gejala non tidak hanya berhubungan dengan perjalanan
penyakitnya saja tetapi dapat pula merupakan efek samping dari pengobatan yang
diberikan pada manajemen penyakit parkinson dan atau reaksi psikologis pasien
karena penyakit yang dideritanya.
III. Diagnosis Penyakit Parkinson
Diagnosis penyakit parkinson membutuhkan ketelitian pengumpulan data
pasien melalui anamnesis, pemeriksaan fisik neurologis yang lengkap dan spesifik
sangatlah penting. Disamping itu diperlukan juga pemeriksaan penunjang seperti
laboratorium yang berguna untuk menyingkirkan adanya kekurangan gizi,
gangguan hormon tiroid maupun pengukuran kadar tembaga yang memberikan
gambaran klinis seperti penyakit parkinson. Pemeriksaan pencitraan kepala sangat
penting untuk menyingkirkan diagnosis banding.
Penegakan Penyakit Parkinson dapat dilakukan dengan kriteria diagnosis,
kriteria yang sering digunakan adalah UK Parkinson Disease Society Brain Bank
Criteria yang memiliki 3 langkah.
Tabel 1. UK Parkinson Disease Society Brain Bank Criteria
Langkah 1
Diagnosis sindrom
parkinsonism.
•
•
Langkah 2
Kriteria eksklusi
dari penyakit
parkinson.
Bradikinesia (lambat saat memulai gerakan dengan
pengurangan kecepatan gerak yang progresif serta
amplitudo pada gerakan repetitif)
Dan diikuti 1 dari gejala ini:
•
Rigiditas otot
•
Tremor istirahat 4-6Hz
•
Postural instability bukan karena gangguan
visual,
vestibular,
cerebelar
ataupun
gangguan propioseptif
1. Riwayat stroke berulang dengan perburukan klinis
stroke
2. Riwayat cedera kepala berulang
3. Riwayat ensefalitis yang definitif
4. Krisis okulogiric
5. Terapi neuroleptik saat gejala dimulai
6. Lebih dari 1 sisi yang terkena
7. Remisi yang bertahan
8. Terbatas pada 1 sisi setelah > 3 tahun
9. Adanya supranuclear gaze palsy
10. Tanda cerebelar
11. Gejala dementia dengan gangguan
memori, bahasa, praksis.
12. Keterlibatan otonomik yang dini dan berat
13. Babinsky (+)
14. Tumor serebri atau hidrosefalus komunikan pada
pemeriksaan CT Scan kepala
15. Tidak ada respon terhadap pemberian levodopa
dosis besar (dan dipastikan tidak ada malabsorbsi)
16. MPTP (1 methyl 4 Phenyl-1,2,3,6- Tetrahydropiridine)
induced
Langkah 3
Kriteria pendukung
penyakit parkinson
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
Onset unilateral
Adanya tremor istirahat
Perjalanan penyakit progresif
Asimetri persisten
Berespon baik dengan levodopa (70-100%)
Chorea yang berat karena levodopa
Levodopa berespon baik >5th
Perjalanan penyakit >10th
Setelah menegakkan diagnosis maka perlu ditetapkan stadium dari penyakit
parkinson tersebut. Terdapat 2 macam staging yang sering digunakan untuk
menentukan stadium penyakit parkinson yaitu Unified Parkinson Disease rating
Scale (UPDRS) dan staging menurut Hoehn-Yahr. Kriteria penilaian dengan UPDRS
meliputi 4 bagian besar yaitu Nonmotor aspect of expiriences of daily living, Motor
experiences of dailiy living, Motor examination dan Motor complication. Penentuan
stadium dapat dilakukan dengan lebih cepat dan singkat dengan menggunakan
kriteria Hoehn-Yahr
Tabel 2. Kriteria Hoehn-Yahr
Stadium
Diskripsi
1
Gejala dan tanda pada 1 sisi, gejala ringan, tidak menimbulkan
disabilitas, trmor 1 anggota gerak, keluarga dekat mengenali adanya
perubahan postur dan ekspresi wajah.
2
Gejala bilateral, disabilitas ringan, terdapat gangguan langkah dan
postur
3
Gejala gerak melambat secara signifikan, gangguan keseimbangan
4
Gejala berat, jalan sangat terbatas, rigiditas dan bradikinesia, tidak
dapat tinggal sendiri, tremor mungkin berkurang.
5
Stadium kakeksia, tidak dapat berjalan, memerlukan perawatan
dengan bantuan penuh.
IV. Diagnosis Banding
Beberapa penyakit yang memiliki manifestasi klinis yang mirip dengan
penyakit parkinson, oleh sebab itu harus dipertimbangkan diagnosis banding untuk
gejala-gejala yang muncul, diagnosis banding pada penyakit parkinson dapat
dikelompokkan menjadi Sindrom Parkinson Plus dan Sindrom Parkinson lainnya.
1. Sindrom Parkinson Plus
a. Progresive Supranuclear Palsy (Steele-Richardson-Olszewski Syndrome)
- Mirip dengan stadium awal dari parkinson
- Gejala penyakit ini antara lain rigiditas, dementia, vertical gaze palsy,
kadang disertai dengan disfagi
- Tidak berespon dengan levodopa
- Median survival < 6th
b. Multisistem Atrofi (MSA)
- Penyakit ini memiliki 3 varian:
1. Striatonigral Degeneration: Gejala menyerupai penyakit
parkinson tetapi tanpa disertai dengan tremor.
2. Shy-drager syndrome: Gejala penyakit parkinson disertai dengan
disfungsi otonom, penyakit ini membaik dengan pemberian
levodopa tapi menimbulkan hipotensi postural.
3. Olivopontocerebelar atrophy (OPCA): Gejala penyakit parkinson
disertai gangguan serebelar
2. Sindrom Parkinson lainnya
1. Drug induced parkinsonism
o Obat-obat dopamin antagonis menyebabkan bradikinesia, rigiditas,
dan kadang muncul tremor
o Penggunaan
Neuroleptik
seperti
Fenothiazine,
Reserpin,
Butrophenon, Metoklopramid.
2. Cerebrovascular disease
3. Wilson disease
o Bersifat autosomal resesif dimana terdapat deposit tembaga pada
otak (ganglia basal) juga pada kornea dan hati.
4. Normopressure Hidrocephalus
o Penyakit ini memiliki tanda trias berupa dementia, inkontinensia,
ataxia
o Pemeriksaan pencitraan kepala sangat dibutuhkan untuk kasus
ini.
5. Dementia Lewy body
o Demensia lewy body ditandai dengan adanya demensia, halusinasi
visual, dan parkinsonism.
V. Penutup
Mengenali gejala penyakit parkinson sangat penting untuk dapat
menegakkan diagnosis penyakit ini, kriteria diagnosis dapat membantu untuk
menegakkan diagnosis serta melakukan staging pada penyakit ini diperlukan untuk
menentukan langkah manajemen serta prognosis.
VI. Referensi
1. Lindsay KW & Bone I, Neurology and Neurosurgery Illustrated. UK, Churchil
Livingstone, 2003.
2. Pinzon RT & Adnyana KSG, Penyakit Parkinson. Yogyakarta. Betha Grafika,
2015.
3. Liporace J, Bahra A, Cikurel K, Parkinson`s Disease, Other Extrapyramidal
disorder, and Myoclonus. Dalam: Crash Course Neurology. Philadelphia:
Elsevier Mosby, 2006, Hlm 137-140.
4. Kelompok Studi Movement Disorder, Tatalaksana Penyakit Parkinson,
Yogyakarta, Perdossi. 2000
5. Fenderson CB & Ling WK, Parkinson Disease. Dalam: Neuro Notes.
Philadelphia. FA Davis, 2009, Hlm 243-254.
Download