Kunjungan Komisi I ke Swiss

advertisement
BAB I
PENDAHULUAN
I.
DASAR KUNJUNGAN
Kunjungan
kerja Komisi I DPR RI ke Negara Konfiderasi Swiss
dilaksanakan berdasarkan Keputusan Pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat
Republik Indonesia Nomor : 13/PIMP/IV/2008-2009 tanggal 22 April 2009
tentang Penugasan Delegasi Anggota Komisi I DPR RI untuk
melaksanakan Kunjungan Kerja Luar Negeri ke Negara Konfiderasi Swiss
dari tanggal 27 April sampai dengan tanggal 3 Mei 2009.
II. MAKSUD DAN TUJUAN
1. Melaksanakan fungsi pengawasan DPR RI terhadap pelaksanaan
kebijakan pemerintah dan APBN, termasuk mengetahui sejauhmana
pelaksanaan tugas Dubes/ Kedutaan Besar RI di Bern dan Perwakilan
Tetap/PTRI di Jenewa sebagai aparat Pemerintah/Departemen Luar
Negeri, dilaksanakan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan
dan program pemerintah.
2. Meningkatkan hubungan dan kerjasama bilateral antara Republik
Indonesia dengan Negara Konfiderasi Swiss melalui pendekatan
Parliament to Parliament.
III. SUSUNAN DELEGASI
Susunan Delegasi Komisi I DPR RI sebagai berikut :
1. Drs. Sidharto Danusubroto, SH
Ketua Delegasi
2. Drs. Guntur Sasono, Msi
Wakil Ketua Delegasi
3. DR. Yusron Ihza, LLM
Wakil Ketua Delegasi
4. Afifuddin Thaib, SH
Anggota Delegasi
5. DR. Andreas Pareira
Anggota Delegasi
6. DR. Effendi Choirie, Mag. MH
Anggota Delegasi
7. Drs. Djoko Susilo, MA
Anggota Delegasi
8. Constan Ponggawa
Anggota Delegasi
9. Suprihartini, SIP
Sekretariat Komisi I
10. Djismun Kasri
Staf Ahli Komisi I
11. Drs. Hamdani Djafar
Departemen Luar Negeri
12. Drs.Moh. Kamal
Departemen Luar Negeri
1
IV. ACARA KUNJUNGAN
Selama berada di Swiss, Delegasi mengadakan pertemuan dengan
A. Instansi Pemerintah
1) Duta Besar dan Staf KBRI Bern;
2) Dubes/Watapri di Jenewa;
B. Masyarakat Indonesia di Bern
C. Ketua Komisi Luar Negeri Parlemen Swiss
D. Kepala Divisi Asia Pasifik – Direktorat Politik Kementerian Luar Negeri
Swiss
E. Dalam perjalanan kembali ke Indonesia, Delegasi Komisi I DPR RI
singgah di Republik Federasi Jerman dan mengadakan pertemuan
dengan Duta Besar RI di Berlin.
2
BAB II
KETERANGAN NEGARA KONFIDERASI SWISS
I. KETERANGAN DASAR
1
2
3
4
5
6
Nama Resmi
Bentuk
Pemerintahan
Ibukota Negara
Kepala Negara
Kepala
Pemerintahan
Wakil Presiden
8
Menteri
Luar
Negeri
Luas Wilayah
9
Perbatasan
7
10 Iklim
: Konfederasi Swiss
: Republik Federal dengan sistem Demokrasi
Langsung.
: Bern, jumlah penduduk 122.500 jiwa.
: Presiden Hans-Rudolf MERZ (sejak 1 Januari 2009
hingga 1 Januari 2010) *Presiden merupakan kepala
negara dan juga kepala pemerintahan
: Presiden Hans-Rudolf MERZ (sejak 1 Januari 2009
hingga 1 Januari 2010)
: Doris LEUTHARD (sejak 1 Januari 2009 hingga 1
Januari 2010)
: Mrs. Micheline Calmy-REY
: 41,290 km2, terletak di bagian tengah Benua
Eropa.
langsung dengan
: Switzerland berbatasan
Austria,
Jerman, Liechtenstein, Perancis, &
Italia
: Mempunyai 4 (empat) musim, yaitu musim panas
(Juni-Agustus),
musim
gugur
(SeptemberNopember), musim dingin (DesemberFebruari), dan
musim semi (Maret-Mei).
11 Pembagian wilayah
: 26 Kanton (semacam negara bagian): Aargau,
Ausser Rhoden, Basel Landschaft, Basel-Stadt,
Berne, Fribourg, Geneve, Glarus Graubunden, Inner
Rhoden, Jura, Luzern, Neuchatel, Nidwalden, Obwalden,
Sant Gallen,
Vaud, Zug, Schaffhausen,
Schwyz, Solothurn, Thurgau, Ticino, Uri, Valais,
dan Zurich.
12 Lagu Kebangsaan
13 Agama
: Schweizerpsalm
: Katolik Roma (46,2%), Protestan (40%), Yahudi
(0,3%), Kristen Ortodoks (0,2%), dan lain-lain
(13,4%).
: Swiss Franc (CHF)
: 7,593,500 jiwa (2007) dimana 20% diantaranya
adatah WNA
: Jerman (official) 64%, Perancis (official) 19%, Italia
(official) 8%, Rhaeto-Roman (official) 1%, dan lain-
14 Mata Uang
15
Jumlah Penduduk
16 Bahasa
3
17 Sistem Politik
lain 8%
: Multipartai; Bikameral Parlemen.
18 Angkatan
Bersenjata
: Terdiri dari Angkatan Udara, Pasukan Penjaga
Perbatasan, AntiAircraft Command dan Fortification Guards
19 Sumber
Alam
20 Indikator
(2008)
Daya
: Tenaga air, kayu, dan garam
Ekonomi
: Total GDP - $ 309.9 milyar
GDP per kapita $ 40,900
Pertumbuhan GDP - 1.9%
Tingkat Pengangguran - 3% ( Desember 2008)
II. SISTEM POLITIK DAN PEMERINTAHAN
1. Pemilihan Umum
Sesuai dengan Konstitusi Federal, kedaulatan tertinggi berada
di tangan rakyat. Pemilu untuk memilih 246 anggota
Bundesversammlung/Parlemen Federal dilakukan setiap 4 tahun
sekali. Parlemen Federal hasil Pemilu Federal kemudian
memilih anggota Dewan Federal/Kabinet (Bundesrat) dan anggota
Lembaga Yudikatif (Bundesgericht).
2. Sistem Pemerintahan
Kekuasaan Eksekutif berada ditangan Bundesrat (Kabinet) yang
nnempunyai
wewenang
mengawasi
pelaksanaan
hukum,
mengajukan Rancangan UU, melakukan hubungan luar negeri dan
memobilisir tentara. Bundesrat beranggotakan 7 orang, yang
masing-masing mengepalai Departemen Federal dan dipilih untuk
setiap 4 tahun sekali oleh Bundesversammlung (Parlemen-Federal).
Berdasarkan sistem Kolegialitas (Konkordans) yang berlaku sejak
tahun 1959, pergantian/pemilihan Presiden dan Wakil Presiden
Swiss dilakukan secara rutin setiap tahunnya secara bergantian
dengan memilih salah seorang Menteri dari 7 (tujuh) anggota
Bundesrat. Baik Presiden maupun Wapres masing-masing mulai
memangku jabatannya dari tanggal 1 Januari sampai dengan
tanggal 31 Desember setiap tahunnya. Tujuh menteri dipilih oleh
Bundesversammlung untuk masa jabatan 4 tahun. Selanjutnya
Majelis Federal memilih President de la Confederation dan Vice
President du Conseil Federal diantara para Menteri untuk jangka
waktu 1 tahun.
4
Swiss sukses dalam menjalankan sistim desentralisasi. Sejauh ini,
hampir semua Pemerintah Daerah di Swiss telah berhasil
mengelola pembangunan daerahnya masing-masing secara
mandiri dan mencapai tingkat pertumbuhan ekonomi yang hampir
sama tinggi. Dalam hal ini, koordinasi antar daerah dan antara
Pemda dan Pemerintah Pusat terjalin sangat baik, efektif dan efisien.
III. KEBIJAKAN SWISS MENGENAI HAM
Pemajuan HAM merupakan tujuan politik luar negeri Swiss. Dalam
kaitan ini, Swiss senantiasa bekerjasama dengan negara-negara lain,
masyarakat sipil, dan para ahli untuk memperbaiki situasi HAM di
seluruh dunia. Perlindungan terhadap HAM merupakan dasar dan
tradisi Swiss yang diyakini akan dapat memberikan kontribusi bagi
perdamaian dan stabilitas internasional.
Swiss memfokuskan perhatian dan keterlibatannya di bidang
pemajuan dan perlindungan HAM meliputi isu-isu perlindungan dan
pemajuan hak-hak dasar manusia yaitu penghapusan torture dan
hukuman mati, perlindungan terhadap kelompok rentan, dan dengan
pengintegrasian isu HAM dalam setiap kegiatan politik luar negeri.
Mekanisme yang ditempuh pada tingkat bilateral adalah dengan
melakukan pendekatan ke masing-masing negara melalui jalur
diplomatik dan dialog HAM dengan tujuan untuk meningkatkan
penghormatan terhadap HAM. Sementara itu, pada tingkat internasional,
Swiss berkoordinasi dengan negara-negara lain yang memiliki
pandangan yang sama di berbagai organisasi multilateral dan regional.
IV. EKONOMI
Dalam bidang ekonomi dan keuangan/perbankan, Swiss memainkan
peran yang cukup menonjol di fora internasional. Sebagai salah satu
anggota WTO, Swiss memiliki sistim perekonomian pasar yang modern
dan liberal, dimana pasar negara ini relatif terbuka dan tidak
mengenakan kuota kecuali untuk beberapa komoditi pertanian tertentu
yang mereka anggap memang perlu untuk proteksi bagi para petaninya.
Pasar Swiss memberlakukan persyaratan standar baku mutu yang
tinggi serta peraturan terkait dengan kesehatan yang ketat, hal mans
membuat suatu produk sebelum dipasarkan kepada konsumen Swiss
harus benar-benar siap dan rapi sesuai dengan kriteria yang diminati.
5
Dengan pendapatan perkapita mencapai CHF 44.100 (eqv.± US$
35.300), Swiss merupakan salah satu negara dengan pendapatan
perkapita yang tertinggi di dunia. Perekonomian Swiss selama ini
bersandar kepada sektor industri yang berorientasi ekspor. Sektor
industri metal dan farmasi merupakan penghasil devisa utama, diikuti
oleh sektor pariwisata. Secara tradisional hubungan ekonomi
perdagangan Swiss banyak dilakukan dengan negara-negara Eropa
sekelilingnya dalam hal ini terutama dengan Jerman dan
Perancis, serta negara EU lainnya yang pada dasarnya merupakan mitra
dagang mereka terbesar dengan menyerap lebih dari 50% atas total nilai
perdagangannya yang mencapai jumlah sekitar US$ 283,6 milyar.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh WEF (World
Economic Forum) terhadap 125 negara di dunia yang telah dituangkan
dalam laporan tahunan Global Competitiveness, Swiss pada tahun 2006
dinyatakan sebagai negara yang menempati ranking tertinggi sebagai
negara
yang
paling
kompetitif
dalam
segi
pelaksanaan
perekonomiannya. Hal ini dapat dikatakan merefleksikan kombinasi dari
kemampuan inovasi kelas dunia diimbangi dengan budaya bisnis
yang penuh pengalaman. Swiss dalam hal ini memiliki infrastruktur
yang berkembang dengan baik serta terkait dengan adanya
penelitian ilmu pengetahuan yang mempunyai hubungan erat dan
selaras dengan kalangan industri.
V. ISU-ISU AGAMA DAN BUDAYA
Swiss merupakan negara multirasial dan multi agama. Masyarakat
Swiss sangat menghormati perbedaan dan memiliki tingkat
toleransi tinggi terhadap keanekaragaman suku, ras serta
agama. Masyarakat Swiss pada umumnya juga mempunyai
apresiasi yang tinggi terhadap keanekaragaman seni dan budaya.
Di negara ini, jumlah penduduk muslim telah mengalami peningkatan
signifikan dalam beberapa tahun terakhir yakni dari 57 ribu pada tahun
1980-an menjadi sekitar 311 ribu pada tahun 2000.
Sepanjang periode tahun 2006, isu tentang pentingnya menumbuhkembangkan sikap toleransi
dan
penghormatan
terhadap
keanekaragaman budaya, ras dan agama terlihat makin mengemuka.
Masalah pertentangan agama dan budaya terus mewarnai liputan
media Swiss, balk cetak maupun elektronik, diawali dari isu
pemuatan kartun Nabi Muhammad dan munculnya rangkaian gerakan
protes yang terjadi di berbagai belahan dunia termasuk Indonesia.
6
Pemerintah dan masyarakat Swiss selalu menempatkan isu-isu rawan
tersebut dalam kontkes penghormatan terhadap HAM. Dalam banyak
kesempatan, Pemerintah Swiss menghimbau rakyatnya tetap
menanamkan rasa solidaritas, saling pengertian dan saling
menghormati karena Swiss adalah negara yang menjunjung tinggi
HAM. Kebebasan mengemukakan pendapat, menentukan kepercayaan
yang dianut dan menjalankan ritual agama, merupakan hal-hal yang
dilindungi sepenuhnya oleh konstitusi.
Sepanjang periode 2006, Pemerintah Swiss ditingkat Kanton maupun
Federal, banyak melakukan pendekatan, balk melalui kegiatan dialog
dan diskusi antar tokoh agama, serta pendekatan kebudayaan,
guna menekan kemungkinan terjadinya gangguan sosial di
masyarakat, sekaligus sebagai upaya untuk lebih meningkatkan
pemahaman dan rasa saling menghormati terhadap perbedaan budaya.
VI. HUBUNGAN LUAR NEGERI KEBIJAKAN POLITIK LUAR NEGERI
Dalam melaksanakan kebijaksanaan luar negerinya, Swiss berpegang
kepada prinsip netralitas. Sesuai dengan prinsip-prinsip netralitas
yang dianut, Swiss hingga dewasa ini berusaha untuk tidak menjadi
anggota suatu organisasi regional atau internasional yang mempunyai
karakter politik-militer. Namun demikian, Swiss aktif dalam berbagai
organisasi internasional seperti UNESCO, WHO, FAO, ILO, UNICEF dan
Organization for Security and Cooperation in Europe (OSCE).
Politik Luar Negeri Swiss pada abad ke-21 tetap berdasarkan politik
netralitas Swiss dengan 5 (lima) sasaran pokok yang merupakan
tujuan politik luar negeri Swiss, yaitu: (1) Memelihara dan
meningkatkan perdamaian dan keamanan; (2) Pengembangan
HAM, demokrasi dan negara hukum; (3) Peningkatan kesejahteraan
umum; (4) Pengembangan kohesi sosial; dan (5) Pelestarian lingkungan
hidup.
Pandangan Swiss terhadap isu-isu global
Pada tanggal 14 Januari 2009 dalam Pertemuan awal tahun
Presiden Swiss dengan kalangan Diplomat, Duta Besar Vatikan
untuk Swiss selaku Dean dalam sambutannya antara lain
menyinggung beberapa perkembangan permasalahan internasional
yang telah terjadi seperti krisis keuangan, krisis pangan dan konflik
Timur Tengah dan menyampaikan upaya-upaya pemecahan masalahmasalah tersebut.
7
Pertemuan awal tahun ini dimanfaatkan oleh Pemerintah Swiss untuk
menyampaikan beberapa kebijakan dengan berbagai krisis seperti
krisis keuangan, krisis pangan, konflik Timur Tengah juga masalah
dalam negeri seperti referendum perpanjangan free movement of
persons, penentangan pembangunan menara masjid dan events seni
budaya.
Berkaitan dengan masalah keuangan, Presiden Merz, yang juga
merangkap sebagai Menteri Keuangan Federal Swiss kembali
menekankan komitmen Pemerintah Swiss untuk membantu
kalangan perbankan di Swiss, khususnya UBS, sebagai Bang terbesar
di Swiss yang juga menjadi tempat bagi sebagian besar perwakilan asing
di Swiss menaruh dananya.
Di tengah krisis ekonomi global, Pemerintah Swiss juga tetap pada
komitmennya untuk mengatasi masalah-masalah demokratisasi, hak
asasi manusia, lingkungan hidup, pengentasan kemiskinan dan krisis
pangan, yang merupakan pilar utama kebijakan politik luar negeri
Swiss.
VII. HUBUNGAN BILATERAL RI-SWISS
A. POLITIK
Hubungan bilateral Indonesia-Swiss, yang terjalin sejak bulan
Jul' 1952, selama ini s e c a r a u m u m b e r j a l a n d e n g a n b a i k d i
s e m u a b i d a n g d a n t i d a k t e r d a p a t masalah-masalah yang
dapat menjadi hambatan.
Besarnya perhatian Pemerintah Swiss terhadap Indonesia terlihat
dari kunjungan resmi Presiden Swiss, Micheline Calmy-Rey, ke
Indonesia pada tanggal 8-10 Pebruari 2007. Dalam kunjungannya
ke Indonesia tersebut, Presiden Calmy-Rey mengadakan
pertemuan bilateral dengan Presiden Bambang Yudhoyono dan
berkunjung ke Aceh dalam rangka meresmikan proyek air bersih
yang didanai oleh Pemerintah Swiss.
Kepentingan Indonesia terhadap Swiss terletak pada sikap politik
yang netral, dan juga kepentingan ekonomi khusus dalam rangka
penanaman modal, serta bantuan ekonomi pembangunan. Politik
Swiss terhadap Indonesia selalu ditujukan untuk menjaga
hubungan balk yang telah ada sampai sekarang. Swiss menilai
potensi nasional, peranan serta pengaruh Indonesia sangat
besar dalam organisasi-organisasi internasional besar seperti
GNB, ASEAN, OPEC dan OKI.
8
Swiss memberikan perhatian terhadap situasi di Aceh, Maluku,
dan Papua. Swiss menghargai upaya Indonesia dalam
menegakkan HAM, memberantas terorisme, dan upaya keras di
bidang penegakan hukum. Swiss juga berkeyakinan, bahwa
penyelesaian militer tidak selalu membawa hasil optimal. Hal ini
pula yang membuat Swiss mendukung proses dialog yang
dilakukan oleh Pemerintah Indonesia dalam menghadapi situasi di
Aceh dan daerah lainnya. Pemerintah Swiss telah mengirimkan 4
personilnya yang tergabung dalam EU Aceh Monotoring Mission
untuk memantau Pilkada di Aceh.
Meskipun Pemerintah Federal Swiss selalu menekankan pada
penciptaan perdamaian yang melindungi HAM, penciptaan
demokrasi (khususnya bagi perlindungan kaum minoritas),
menawarkan diri sebagai good office dan perlindungan terhadap
lingkungan hidup, namun sejauh ini Pemerintah Federal Swiss
secara resmi tidak mengkaitkan bantuan pembangunan kepada
Indonesia dengan isu-isu pelaksanaan HAM, demokrasi, good
governance dan lingkungan hidup.
Kerjasama di bidang hukum
Antara pemerintah kedua negara, telah ada kesepakatan untuk
memformalkan kerjasama bantuan hukum timbal balik kedua
negara (Mutual Legal Assistance (MLA). Konsep Persetujuan
MLA telah disampaikan oleh Indonesia kepada Swiss, namun
Pemerintah Swiss, karena satu dan lain hal, belum menemukan
waktu yang tepat untuk memulai negosiasi dengan Pemerintah
Indonesia atas konsep Persetujuan MLA dimaksud.
Namun demikian, sambil menunggu penundaan sementara
negosiasi mengenai Persetujuan MLA tersebut, Pemerintah
Swiss menekankan keinginannya untuk melakukan kerjasama
yang efisien dengan Pemerintah RI di bidang bantuan hukum
untuk masalah kriminal. Dalam kerangka ini, Pemerintah Swiss pada
tahun 2006 telah menindaklanjuti permintaan bantuan hukum dari
Pemerintah Indonesia terkait dengan upaya keperluan
penyelidikan dan repatriasi kekayaan para tersangka koruptor
yang disimpan di bank-bank Swiss yakni:
 Kasus tindak pidana pencucian uang yang dilakukan oleh
Komisaris Utama PT. Bank Global Internasional Tbk. dan isterinya,
Irawan Salim dan Lisa Santoso (beserta komplotannya).
 Kasus tindak pidana pencucian uang yang dilakukan oleh E.C.W.
Neloe, mantan Direktur Utama Bank Mandiri.
Saat ini kedua negara tengah menindaklanjuti masalah tersebut
khususnya terkait dengan pemenuhan kelengkapan dokumen
9
sesuai dengan ketentuan aturan hukum Swiss di bidang ini yang
harus dipenuhi Pemerintah RI.
Keriasama bilateral di bidang hukum lainnya:
 Basel Institute on Governance dan Komisi Pemberantasan
Korupsi (KPK) mengadakan kerjasama dalam rangka bantuan
capacity building untuk pemberantasan korupsi dan
pengembalian harta hasil kejahatan korupsi serta pencucian
uang. Bentuk kerjasama yang telah dlaksanakan adalah
pengiriman Wakil KPK untuk menghadiri sebuah seminar terkait
dengan pemberantasan korupsi di Swiss.
 Pada tanggal 7-8 November 2007, Tim Teknis Pencari
Tersangka dan terpidana Tindak Pidana Korupsi di bawah
pimpinan Wakil Jaksa Agung RI telah berkunjung ke Swiss dalam
rangka pembahasan tindak lanjut permintaan bantuan hukum
timbal balk Pemri kepada Pemerintah Swiss terkait kasus ECW
Neloe (mantan Direktur Bank Mandiri).
Dukungan dalam keanggotaan organisasi internasional
Pemerintah Swiss banyak mendukung Indonesia dalam
pencalonan pada badan-badan internasional. Pemerintah Swiss
telah memberikan dukungannya untuk: pencalonan Indonesia
pada Dewan IMO Kategori C periode 2005/2007; pencalonan
Dr. Arief Rachman sebagai anggota The Executive Board of
UNESCO untuk periode 2005;dan pencalonan RI dalam
keanggotaan tidak tetap DK-PBB periode th 2007-2008. Dukungan
tersebut merupakan cerminan kepercayaan Pemerintah Swiss
kepada Indonesia yang senantiasa memiliki komitmen terhadap
upaya-upaya untuk menjaga dan meningkatkan perdamaian dan
keamanan internasional.
Politik Swiss terhadap Indonesia selalu ditujukan untuk menjaga
hubungan balk yang telah ada. Swiss menghargai upaya
Indonesia dalam menegakkan HAM, memberantas terorisme dan
upaya kuat dalam penegakan hukum. Swiss mendukung proses
dialog dalam mencapai perdamaian di Aceh. Swiss menilai
potensi nasional, peranan dan pengaruh Indonesia sangat
besar di berbagai organisasi internasional. Pemerintah Swiss
telah memberi dukungan terhadap pencalonan Indonesia
diantaranya dalam Executive Director ITTO tahun 2007, Dewan
ITU tahun 2006, ILC tahun 2006, Dewan HAM PBB periode
tahun 2007-2010 dan Keanggotaan tidak tetap DK-PBB periode
tahun 20072008.
10
B. EKONOMI
Perdagangan
Nilai total perdagangan Indonesia -Swiss dalam periode tahun
2001-2005 memperlihatkan kecenderungan meningkat, walaupun
hampir dapat dikatakan Indonesia selalu mengalami defisit
perdagangan. Pada periode Januari-November tahun 2008, total nilai
perdagangan mencapai US$ 948,8 juta atau memperlihatkan kenaikan
sebesar 52,55 % dari total nilai perdagangan tahun 2007 di periode
yang sama yang mencapai US$ 621,9 juta.
Kerjasama dengan SIPPO
Sejak tahun 2000, Pemerintah Swiss melalui Program Promosi Impor
Swiss (SIPPO) telah memberikan berbagai bantuan teknis kepada
pengusaha Indonesia dalam melakukan promosi ekspor antara lain
untuk ikut serta dalam berbagai pameran dagang yang diselenggarakan
di Eropa. Bantuan tersebut terutama diberikan kepada UKM-UKM
dengan fasilitas penyediaan stand, akomodasi penginapan, fasilitas
operasional, serta promosi dan pertemuan bisnis. Di Indonesia, SIPPO
bekerja sama dengan pihak BPEN, Departemen Perdagangan RI. SIPPO
telah membantu sejumlah perusahaan/produsen Indonesia untuk
berpartisipasi pada berbagai pameran dagang di Swiss, Jerman dan
Belgia.
SIPPO juga melakukan kerjasama dengan Departemen Kelautan dan
Perikanan RI dalam mengadakan kali workshop dalam rangka capacity
building pada sektor perikanan di Indonesia terkait dengan peluang
pemasaran hasil produknya.
Kerja Sama Free Trade Area (FTA) antara RI - EFTA
Berdasarkan Record of Understanding yang telah ditandatangani
oleh Menteri Perdagangan RI dan Menteri Perdagangan negaranegara EFTA (Swiss, Norwegia, Islandia dan Liechtenstein) pada
tanggal 17 Oktober 2005, suatu Joint Study Group (JSG) for a Possible
Future Trade Agreement between Indonesia and the EFTA States telah
dibentuk guna mempelajari dan menginventarisir kepentingan
masing-masing pihak dalam kerangka pembentukan perjanjian
perdagangan bebas RI-EFTA.
Pertemuan ke-2 JSG tersebut telah diadakan di Jakarta pada tanggal
26-27 September 2006 dan menghasilkan laporan yang antara lain
berisi usulan mengenai elemen-elemen dan bidang-bidang kerjasama
yang akan dicakup dalam Comprehensive EFTA-Indonesia Trade
Agreement
(CEITA).
Dalam
pertemuan
antara
Menteri
11
Perdagangan RI dan Menteri Perdagangan negara-negara EFTA di
Davos, Swiss, pada tanggal 27 Pebruari 2007, telah dihasilkan
kesepakatan-kesepakatan antara lain: pihak EFTA menyetujui usul
pembentukan Working Group on Trade and Investment dan sepakat
agar kedua pihak merumuskan prinsip dan modalitas kerja dari working
group tersebut; kedua pihak sepakat untuk melakukan kerjasama
dalam bentuk capacity building dan technical cooperation. Indonesia
ingin memanfaatkan potensi negara-engara EFTA yang memiliki
keunggulan di bidang-bidang tertentu, misalnya: pendidikan atau kursus
di University of Geneve dan World Trade Institute, Swiss; bidang
kesehatan, lingkungan hidup, minyak bumi dan perikanan tradisional
di Norwegia; bidang geothermal dan perikanan di Islandia.
Investasi
Jumlah nilai kumulasi investasi Iangsung Swiss di Indonesia sampai
dengan semester I tahun 2006 mencapai sekitar US$ 2 milyar di luar
sektor keuangan, perbankan dan perminyakan. Sektor-sektor yang
selama ini sudah dimasuki oleh Swiss antara lain adalah farmasi,
pengolahan olein (produk turunan minyak kelapa sawit), makanan,
serta barang-barang konsumsi. Di bidang infrastruktur, Swiss ikut dalam
pembangunan
pembangkit
tenaga
listrik
bersama
Bank
Pembangunan Asia. Saat ini terdapat 40 perusahaan Swiss yang
melakukan bisnis di Indonesia. Beberapa perusahaan besar Swiss
yang berada di Indonesia antara lain adalah Nestle, Novartis, ABB,
Ho/cim, Bobst, Ades Water, Ciba & Sandoz, Electrowatt Engineering,
Sika, Sulzer, Credit Suisse, UBS AG, SGS dll.
Indonesia melalui BKPM terus melakukan kontak kerjasama dengan
"Swiss Organization for Facilitating Investment" (SOFI) sebagai
mitranya di Swiss guna meningkatkan kerjasama yang telah terjalin
selama ini sebagai upaya menarik investor potensial Swiss ke
Indonesia, khususnya dengan menawarkan kemudahan-kemudahan
yang dapat diperoleh berkenaan dengan adanya perubahan maupun
perbaikan terkait peraturan (UU) penanaman modal di Indonesia.
Pada pertengahan bulan Maret 2006, delegasi SOFI telah
mengadakan kunjungan kerja ke Indonesia guna membahas lebih
lanjut dengan pejabat terkait BKPM guna melihat peluang investasi
yang dapat dimanfaatkan oleh investor Swiss dalam rangka
meningkatkan investasinya di Indonesia. BKPM juga telah
berpartisipasi dalam Swiss Investment Forum yang diselenggarakan
oleh SOFI pada tanggal 12-13 Juni 2006 di Zurich.
12
Kerjasama Pembangunan
Dengan mempertimbangkan berbagai kemajuan dan kemandirian
Indonesia di bidang ekonomi, pada awal tahun 1990, Pemerintah Swiss cq
Swiss Development Agency (SDC) memutuskan untuk mengurangi
secara bertahap program bantuan luar negerinya pada Indonesia dan
tidak lagi menjadikan Indonesia sebagai negara prioritas dalam program
kerjasama pembangunan Swiss.
Namun demikian, aliran bantuan masih tetap diberikan kepada
Indonesia terutama untuk mendukung program pembangunan
lingkungan hidup, program peningkatan kapasitas SDM di bidang
Peace Building, HAM dan demokrasi, serta program pengembangan
sektor UKM. Bantuan Swiss yang semula ditangani SDC diambil alih
secara penuh oleh Swisscontact yakni organisasi non-pemerintah
yang didukung oleh Pemerintah Swiss.
LSM Indonesia yang saat ini menjadi mitra kerja sama Pemerintah
Swiss antara lain adalah Agrobisnis, Bina Swadaya, CUCO, Pekerti,
Dian Desa, LP3ES, Muhammadiyah, Yayasan Alpha Omega di NTT dan
Yayasan Swadaya Membangun di NTB.
Prioritas bantuan luar negeri yang diberikan Swiss untuk
Indonesia pada saat ini diberikan dalam bentuk bantuan
kemanusiaan guna membantu penanganan paska bencana tsunami di
Aceh dan gempa di Yogyakarta. Dalam kaitan ini, Pemerintah Swiss
masih terus melakukan kerjasama perbankan dengan bank-bank lokal di
Indonesia guna meningkatkan pendanaan bagi UKM, khususnya yang
berada di lingkungan daerah bencana. Bantuan untuk mendukung
program pengembangan UKM ini dikoordinasikan melalui Swiss Sate
Secretariat for Economic Affairs (SECO).
Pada tanggal 7 Maret 2008, Pemerintah Swiss telah menyetujui
pemberian bantuan pembangunan dalam rangka pengembangan
kebijakan ekonomi dan perdagangan kepada 7 negara ebrkembang
(target country) termasuk Indonesia. Total bantuan yang diberikan
adalah sebesar 800 juta Swiss francs dan akan mulai berjalan tahun
2009 hingga 2012. Indonesia dijadikan salah satu target country
karena potensi ekonomi yang dimilik. Keputusan Pemerintah Swiss
mengenai pemberian bantuan pembangunan kepada 7 negara tersebut
telah disetujui oleh Parlemen Swiss pada bulan Juli 2008. KBRI Bern
akan menjajaki dengan pihak Swiss mengenai mekanisme
penyaluran bantuan pembangunan Swiss tersebut kepada Indonesia.
13
Bantuan untuk korban bencana alam di Indonesia
Bencana Tsunami
Melalui penyaluran bantuan tsunami kepada Swiss Agency for
Development and Cooperation (SDC) pada Kemlu Swiss, Indonesia
tercatat sebagai negara penerima terbesar dari keseluruhan dana
bantuan emergency yang dialokasikan Pemerintah Swiss untuk negaranegara terkena bencana tsunami di akhir tahun 2004 lalu. Indonesia
memperoleh bantuan sejumlah CHF 12,5 juta atau 43,2 % dari
keseluruhan bantuan yang berjumlah CHF 26 juta yang disalurkan
dalam kerangka Consultative Group on Indonesia (CGI). SDC sendiri
merupakan LSM Swiss yang hingga saat ini masih terlibat aktif dalam
program rehabilitasi dan rekonstruksi paska bencana tsunami di Aceh.
Selama periode emergency relief paska bencana tsunami di Aceh,
Pemerintah Swiss juga ikut serta mengirimkan 3 pesawat helikopter
khusus ke Medan yang mengangkut bantuan logistik (obat-obatan,
peralatan kedokteran, dan tenda) dan 50 anggota militer ke wilayah
bencana pada masa emergency relief melalui kerja sama dengan badan
PBB, UNCHR.
Dukungan Pemerintah Swiss pada tahap rehabilitasi dan rekonstruksi di
Aceh antara lain dukungan untuk proyek pusat penampungan dan
distribusi air bersih (water treatment plants), pembangunan rumah,
perbaikan serta peningkatan fasilitas kesehatan masayarakat dsb.
Beberapa NGO Swiss juga aktif membantu dalam rehabilitasi dan
rekonstruksi di Aceh seperti dalam pembangunan rumah, sekolah,
fasilitas kesehatan dsb.
Bantuan untuk korban gempa Jogya
Pemerintah Swiss telah mengalokasikan bantuan Emergency Aid
berupa dana sebesar CHC 130 ribu (US$100ribu), sebagai wujud
solidaritas Pemerintah Swiss kepada para korban bencana gempa di
Yogja dan sekitarnya. Bantuan tersebut disalurkan melalui PMI segera
setelah Tim Ahli Swiss mengunjungi Jogja pada bulan Mei 2006.
Pemerintah Swiss juga telah memberikan dukungan tambahan
sebesar CHC 250 ribu untuk membantu pengadaan bahan-bahan
kebutuhan pokok bagi korban gempa. Bantuan ini disalurkan Iangsung
oleh Tim Ahli Swiss melalui koordinasi dengan Pemda setempat.
14
C. SOSIAL BUDAYA
Hubungan Indonesia-Swiss di bidang sosial budaya terjalin cukup baik
meskipun antara kedua negara belum terdapat persetujuan bilateral di
bidang ini. Dalam kaitan ini, kerja sama pendidikan antara RI - Swiss
sejauh ini terbina cukup baik, namun belum sepenuhnya berjalan
optimal. Setiap tahun, Pemerintah Swiss memberikan kesempatan bagi
para mahasiswa yang berprestasi dari berbagai belahan dunia,
termasuk Indonesia, untuk mengikuti program beasiswa tingkat paska
sarjana (S2) di Swiss. Kesempatan tersebut belum dimanfaatkan
secara maksimal (rata-rata hanya 2-3 mahasiswa per tahun).
Sebagai negara maju dengan tingkat pendapatan per kapita yang
tinggi, seharusnya Swiss dapat memberikan kesempatan lebih besar
bagi generasi muda Indonesia untuk belajar di Swiss melalui program
beasiswa. Namun, tampaknya salah satu kendala bagi mahasiswa
Indonesia untuk mengikuti seleksi beasiswa Swiss adalah faktor
bahasa. Hampir semua pendidikan tinggi di Swiss diberikan dalam 3
pilihan bahasa nasionalnya, yaitu Jerman, Perancis, atau Italia. Di
lain pihak, Pemerintah Indonesia juga memberikan kesempatan
kepada WN Swiss untuk mengikuti pendidikan bahasa Indonesia,
melalui program beasiswa Dharmasiswa. Sejak tahun 1974-2006,
terdapat 6 (enam) WN Swiss yang menjadi penerima program beasiswa
Darmasiswa. Pada umumnya, mereka belajar selama satu tahun di
Yogyakarta dan di Universitas Udayana Bali. Pada bulan Oktober 2006Pebruari 2007, Departemen Luar Negeri juga menerima magang atau
"on the job training" seorang mahasiswa Swiss di Direktorat Diplomasi
Publik.
D. KEKONSULERAN
Berdasarkan usulan Ditjen HPI tertanggal 17 Januari 2008, KBRI Bern
telah melakukan penjajakan kepada instansi-instansi terkait di
Swiss mengenai kemungkinan pembentukkan perjanjian bebas visa
bagi pemegang paspor diplomatic dan paspor dinas antara kedua
Negara. Namun, sampai saat ini belum ada keputusan/tanggapan dari
Pemerintah Swiss atas usulan Pemerintah RI tersebut.
15
BAB III
PELAKSANAAN KUNJUNGAN
Dari hasil pelaksanaan kunjungan,
sebagai berikut :
Delegasi menyampaikan
hal-hal
A. PERTEMUAN DENGAN DUTA BESAR RI DI BERN (LUCIA H. RUSTAM)
DAN DUBES/WATAPRI DI JENEWA (DIAN TRIANSAH DJANI)
I. KBRI BERN
Dalam pertemuan dengan Duta Besar RI di Bern,
sebagai berikut :
dibahas hal-hal
1. Bidang Anggaran
a. Pagu tahun anggaran 2009 KBRI BERN sebesar Rp.
25’093’147’000. Dibandingkan tahun anggaran 2008 terdapat
kenaikan sebesar 2,16%, tetapi penerimaan dalam US$ menurun
karena perbedan kurs.
b. Realisasi anggaran triwulan I 2009 KBRI Bern sebesar Rp.
5’372’988’657.-(equiv. US$.446’818.18) yaitu 85,6% dari remise
yang diterima. Pada dasarnya tidak terdapat permasalahan
dalam realisasi penyerapan anggaran.
c. Pendapatan PNBP Triwulan I T.A. 2009 sebesar USD.
135.667,39. Berdasarkan
hasil pemeriksaan BPKP, BPK,
maupun Itjen Deplu, tidak terdapat penyimpangan atau temuan
dalam pemasukan dan penyetoran PNBP KBRI Bern. Visa on
arrival cukup mempengaruhi PNBP KBRI Bern, mengingat
jumlah turis Swiss yang berkunjung ke Indonesia per tahun ratarata 20.000, sementara jumlah warganegara Swiss yang
memohon visa pada KBRI Bern sekitar 1600 orang pertahun.
2. Bidang Personalia, sarana dan prasarana
a. Jumlah personalia KBRI Bern untuk Home Staff adalah 1-7 (Duta
Besar dan 7 Staf) sudah memadai untuk mendukung kegiatan
KBRI dalam menjalankan tugas dan fungsinya. Namun demikian
untuk Local Staff dirasakan kurang khususnya untuk tenaga
pengemudi. Formasi Local Staff untuk KBRI Bern berjumlah 15
sedangakan Bezeting sebanyak 13 orang termasuk bawaan
Keppri. Di KBRI Bern tidak terdapat Atase teknis.
16
b. Pada prinsipnya fasilitas yang dimiliki oleh KBRI sudah cukup
untuk mendukung pelaksanaan tugas KBRI. Sejauh ini belum ada
kendala atau hambatan dalam pelaksanaan tugas KBRI.
c. Jumlah alat transportasi (mobil) yang dimiliki KBRI Bern sudah
cukup memadai. Tetapi 3 diantarnya sudah tua (lebih dari 10
tahun) dengan kilometer diatas 150’000, sedangkan 2 kendaraan
dalam keadaan rusak tiadak operasional dan sudah di usulkan
untuk dihapus.
3. Bidang pembinaan/perlindungan terhadap WNI
a. Berdasarkan data terakhir untuk bulan Maret 2009, jumlah WNI
yang berdomisili di Swiss adalah sebanyak 1786, dengan
kategori antara lain TKI formal, karyasiswa, pelajar/mahasiswa
ibu rumah tangga, balita wanita WNI menikah dengan pria asing
dan pria WNI menikah dengan wanita asing.
b. Secara umum WNI yang tinggal di Swiss memiliki citra yang baik
di mata pemerintah maupun masyarakat Swiss. Walaupun tidak
dikategorikan sebagai masalah berat, terdapat beberapa masalah
yang melibatkan WNI seperti TKI bermasalah, TKI kabur, WNI
terlantar, maupun WNI ilegal.
c. Hubungan KBRI Bern dengan masyarakat Indonesia di Swiss
selama ini berjalan dengan baik dan semakin erat. KBRI Bern
senantiasa mendekatkan diri dan menjalin tali silaturahmi dengan
masyaakat Indonesia di Swiss melalui berbagai kgiatan dan
acara.
Dalam pertemuan dengan Dubes RI, Delegasi menyampaikan
beberapa hal sebagai berikut :
a. Delegasi memberikan masukan kepada KBRI Bern agar
menjajaki kemungkinan kejasama di bidang pariwisata dengan
Akademi Perhotelan NHI Bandung dengan sekolah perhotelan di
Swiss sebagai percontohan kerjasama pendidikan RI – Swiss
b. Berkenaan dengan rencana pembelian Penangkis Serangan
Udara buatan Swiss oleh TNI, Delegasi minta agar KBRI Bern
melakukan koordinasi dengan Atase Pertahanan RI di Paris
dalam melakukan negosiasi dengan perusahaan pembuatnya
ORLEKON.
c. Dalam kesempatan tersebut, Delegasi juga menjelaskan bahwa
saat ini di DPR RI akan dibahas RUU tentang Komponen
Cadangan Pertahanan Negara. Komponen Pasukan Cadangan di
Swiss dapat dijadikan contoh bagi Indonesia dalam memberikan
masukan terhadap RUU tersebut.
17
4. Pertemuan dengan Masyarakat Indonesia di Bern
Pertemuan tersebut dihadiri 75 orang masyarakat Indonesia di
Swiss dari berbagai elemen, seperti mahasiswa, pengusaha,
pekerja, ibu rumah tangga dan wartawan dari Koran Sindo. Delegasi
dalam kesempatan tersebut menyampaikan perkembangan politik
dalam negeri, termasuk pelaksanaan Pemilu Legislatif yang baru
saja selesai.
Dalam sesi tanya jawab, nampak antusiasme
masyarakat Indonesia yang hadir dan telah disampaikan beberapa
pertanyaan, diantaranya berkaitan dengan masalah kerjasama
bilateral Indonesia – Swiss, yang berkaitan dengan bidang usaha,
pendidikan, perlindungan WNI, perkembangan politik dalam negeri,
termasuk bidang pertahanan.
II. PTRI JENEWA
Dalam pertemuan dengan Dubes/Watapri
beberapa hal sebagai berikut :
Jenewa,
disampaikan
1. Tugas pokok dan fungsi
Jenewa merupakan salah satu pusat kegiatan diplomasi multilateral
global dengan terdiri dari berbagai organisasi internasional antara
lain sebagai berikut :
1. Kantor Perserikatan Bangsa-Bangsa(PBB) atau UN Office at
Geneva (UNOG).
2. Kantor Badan-badan PBB dan Badan-Badan Khusus PBB lainnya
(31 organisasi):
3. Kantor Organisasi Internasional lainnya, antara lain :
4. Kantor LSM Internasional yang berkedudukan di Jenewa dan
sekitarnya sebanyak lebih dari 250 organisasi.
2. Bidang Anggaran
a. Besaran pagu anggaran PTRI Jenewa pada tahun Anggaran
2009 adalah sebesar Rp. 76.066.963.000,- pagu anggaran PTRI
Jenewa pada Tahun Anggaran 2009 mengalami penurunan
sebesar Rp. 999.703.000,-atau -1,30%.
b. Besaran pagu anggaran PTRI Jenewa pada Tahun Anggaran
2008 adalah sebesar Rp. 77.066.666.000,-(setelah revisi
pengurangan
dari
pagu
anggaran
awal
sebesar
Rp.85.145.964.000,-).
c. Penyerapan anggaran PTRI Jenewa pada Triwulan I Tahun 2009
(berdasarkan perhitungan kuantitatif rupiah murni) mencapai 87%
18
d. Jumlah rata-rata iuran Indonesia pada Organisasi Internasional di
Jenewa adalah sebesar USD 3,33 juta.
e. Adanya perbedaan nilai tukar mata uang dan keterlambatan
penerimaan remise setiap awal tahunnya, sehingga memaksa
PTRI Jenewa menggunakan kas besii mereka untuk biaya
operasional dan gaji karyawan.
3. Bidang Personalia, sarana dan prasarana
a. Pada saat ini, formasi Home Staff PTRI Jenewa telah memenuhi
formasi berdasarkan Surat Keputusan Menteri luar Negeri RI
nomor 06/OT/VI/2004/01 tahun 2004 tentang organisasi dan Tata
Kerja Perwakilan RI di Luar Negeri, sebagai berikut :
1. Unsur Pimpinan
Kepala Perwakilan/Duta Besar/Wakil Tetap RI
Duta Besar/Deputi Wakil Tetap RI I
Duta Besar/Deputi Wakil Tetap RI II
2. Unsur Staf
3 (tiga) pejabat setingkat Counsellor
9 (sembilan) pejabat setingkat sekertaris I
2 (dua) pejabat setingkat sekertaris II
3 (tiga) pejabat setingkat sekertaris III
1 (satu) Atase Perdagangan
1 (satu) Asiten Atase Perdagangan
3. Unsur Penunjang
2 (dua) Sandiman
1 (satu) Operator Telekomunikasi
b. Jumlah Home Staff tersebut cukup memadai untuk
mendukung pelaksanaan tugas PTRI Jenewa. Terlebih lagi
dengan sistem organisasi fungsional yang memungkinkan
megatur penanganan tugas dan penugasan staf sesuai
dengan prioritas kinerja PTRI Jenewa. Pelaksanaan tugas
PTRI Jenewa didukung pula oleh 33 orang Local Staff.
c. Gedung PTRI dan Wisma Indonesia (Wisma Watapri dan
Wisma Dewatapri I) sudah merupakan aset negara milik
Pemerintah Indonesia.
Sejauh ini biaya pemeliharaan gedung PTRI Jenewa dan
Wisma Indonesia dapat didukung secara memadai dan
mencukupi dari DIPA PTRI Jenewa.
d. PTRI Jenewa saat ini sedang melaksanakan proses
perencanaan pembangunan gedung PTRI Jenewa yang
baru, di atas tanah yang dibeli Pemerintah RI pada tahun
1997 , beralamat di 15 Avenue Appia, Pregny Chambesy,
Jenewa. Telah dilaksanakan pembuatan design awal oleh
19
arsitek sebagai persyaratan untuk proses perjanjian dari
pemerintah Swiss.
e. Saat ini proses perncanaan Pembangunan Gedung PTRI
Jenewa sampai pada permintaan ijin prinsip/PLQ (plan
localise Quartier) kepada Pemerintah Jenewa. Permintaan
ijin tersebut kepada Pemerintah Swiss, khususnya Kanton
Jenewa, memerlukan waktu mengingat peraturan di Swiss
membutuhkan berbagai persyaratan seperti analisa
dampak linkungan, analisa teknis dan lain-lain. Setelah
mendapatkan ijin PLQ, masih diperlukan pula ijin
konstruksi dari Kraton jenewa. Dengan demikian
diperkirakan pembanguna fisik Gedung PTRI Jenewa baru
dapat dimulai paling cepat pada paruh kedua tahun 2010.
f. Dukungan alat transportasi di Perwakilan RI di Jenewa
pada dasarnya sudah cukup memadai.
B.
PERTEMUAN DENGAN KETUA KOMISI LUAR NEGERI PARLEMEN
SWISS (MR. GERRI MULLER) DAN KEPALA DIVISI ASIA PASIFIK –
DIREKTORAT POLITIK KEMENTERIAN LUAR NEGERI SWISS (DUTA
BESAR PIERRE COMBERNOUS) YANG DIDAMPINGI OLEH
KOORDINATOR KAWASAN ASIA PASIFIK (MR. DANIEL DERZIC).
Dalam pertemuan tersebut, dibahas mengenai isu-isu yang menonjol
antara lain :
1. Investasi
Peningkatan kerjasama kedua negera masih dapat dilakukan antara
lain di bidang investasi dan kerjasama teknik. Untuk kerjasama
invesment protection and technical agreement, dijelaskan bahwa
negara Swiss harus berkoordinasi dengan negara Uni Eropa untuk
berbagai peraturan sebagai mitra utama dagangnya meskipun Swiss
bukan anggota EU. Oleh karena itu, berbagai perjanjian yang sifatnya
bilateral sebaiknya dilakukan re-negosiasi. Selain itu kerjasama juga
dapat lebih ditingkatkan melalui hubungan antar parlemen kedua
negara serta people to people contact dengan meningkatkan arus
wisatawan Swiss ke Indonesia.
2. Masalah Myanmar
Dijelaskan bahwa posisi Swiss terhadap masalah Myanmar sejalan
dengan pandangan Uni Eropa yaitu apa yang terjadi di Myanmar tidak
dapat dibenarkan (unacceptable). Sementara itu Delegasi menjelaskan
bahwa Pemerintah Indonesia selalu berkoordinasi dengan negaranegara ASEAN lainnya dalam masalah Myanmar, sedangkan
20
Parlemen Indonesia telah pula berhasil mempelopori keluarnya
resolusi terhadap masalah Myanmar dalam sidang IPU yang baru lalu.
3. Interfaith Dialogue
Dijelaskan oleh Delegasi bahwa Indonesia mempunyai peran dalam
beberapa pelaksanaan interfaith dialogue, diantaranya para pemeluk
dan penganut agama yang ada di dunia. Indonesia juga
mengharapkan agar Swiss dapat mendalami keinginan Indonesia
untuk bekerjasama dalam hal ini.
4. World Ocean Conference di Manado
Delegasi Indonesia telah meminta dukungan dan kehadiran Wakil
Swiss dalam World Ocean Conference di Manado pada bulan Mei
2009. Pejabat setingkat Direktur Kemlu Swiss dan Dubes Swiss di
Jakarta direncanakan akan turut serta dalam konferensi tersebut.
5. Masalah lingkungan hidup
Pihak Kemlu Swiss menjelaskan bahwa Swiss sanat aktif dalam isu
climate change. Swiss mendukung Kyoto Protocol untuk perubahan
iklim, serta mendukung upaya mencari pembaruan energi. Pemerintah
Swiss memandang, bahwa masalah climate change adalah juga
masalah yang menyangkut ekonomi, oleh karena itu Pemerintah Swiss
memberikan perhatian yang sangat serius terhadap masalah ini.
6. Masalah Krisis Keuangan Global
Delegasi menjelaskan bahwa dalam penanganan krisis ekonomi global
saat ini Indonesia jauh lebih siap dibandingkan dengan krisis pada
tahun 1997. Indonesia bahkan lebih siap dibandingkan dengan negara
Asia Tenggara lainnya.
7. Penanganan Teroris
Delegasi menjelaskan bahwa Indonesia telah berhasil menangani
dengan baik masalah terorisme dengan menangkap para pelaku
pemboman Bali. Tiga orang pelaku Bom Bali bahkan sudah dieksekusi
mati karena terbukti bersalah, sedangkan yang lainnya menjalani
hukuman penjara. Dalam menangani masalah terorisme, Indonesia
juga bekerjasama dengan berbagai negara, seperti Amerika, Australia
dan negara anggota ASEAN.
21
8. Illegal logging
Delegasi menyayankan masih adanya sejumlah negara di Eropa yang
bersedia membeli kayu hasil illegal logging dari Indonesia yang dijual
oleh para pembalak dari Malaysia dan Singapura dengan harga yang
murah. Pemerintah Swiss menolak pembelian kayu hasil illegal, baik
dari Indonesia maupun dari negara lainnya. Pemerintah Swiss juga
mendukung
konservasi
energy,
alternatif
energy
dan
renewableeconomy, political and environment policies agar dapat
dijadikan satu.
C. PERTEMUAN DENGAN DUTA BESAR RI DI BERLIN (EDDY PRATOMO)
Dalam pertemuan dengan Dubes RI di Berlin, dibahas beberapa isu
menonjol, antara lain :
1. Kerjasama RI – Republik Federasi Jerman
Kerjasama kedua negara sudah berjalan denan baik, namun perlu
dilakukan optimalisasi dalam kerjasama di berbagai bidang, serta
perlunya diciptakan peluang untuk membentuk kerjasama yang baru.
Akan terus diupayakan agar Indonesia dapat terus menjadi mitra
utama Jerman di kawasan Asia. Berbagai upaya lainnya antara lain
pembentukan forum konsultasi bersama RI – Jerman, menarik Jerman
untuk menjadi user state Selat Malaka agar bergabung dalam
Cooperative
Mechanism
serta
memberikan
kontribusinya,
memanfaatkan keberadaan International Tribunal for Law of the Sea
(ITLOS) dan upaya pencabutan larangan terbang oleh Uni Eropa
terhadap maskapai penerbangan RI.
Sementara itu untuk kerjasama di bidang ekonomi terus diupayakan
promosi ekspansif investasi, pariwisata dan perdagangan, kerjasama
capacity building dan transfer teknologi di bidang energi terbarukan,
climate change, pangan dan kesehatan (RS Jantung), meneruskan
program debt swap, meneruskan kerjasama pembangunan melalui
berbagai executing agencies Jerman di Indonesia, seperti GTZ, KfW,
Inwent dan berbagai Stiftung. Diperoleh informasi bahwa BOS
Indonesia (dibawah BOS Jerman), akan memperoleh konsesi hutan di
Kaltim seluas 200.000 ha untuk perlindungan orang utan, yang
selanjutnya akan ditawarkan untuk penurunan emisi CO2 dalam
kerangka REDD melalui Prject based mechanism.
22
Rencana pembangunan rumah sakit jantung berskala internasional di
Indonesia atas bantuan seorang ahli jantung Jerman masih mendapat
halangan dari Menteri Kesehatan RI. Alasan yang dikemukakan agar
tidak menimbulkan persaingan dengan ahli jantung Indonesia, sangat
tidak rasional dan perlu dilakukan pembicaraan lanjutan dengan
bantuan DPR RI.
2. Isu-isu yang menjadi prioritas Kerjasama RI – Republik Federasi
Jerman
a. Pembentukan forum tetap bilateral menuju Genuine and Strategic
Partnership, yaitu Dialog antar peradaban, pembentukan Caucus
Friends of Indonesia di Bundestag dan Indonesia German
Professional Society.
b. Mensukseskan World Ocean Conference
c. Pengembangan kerjasama pemeliharaan habitat orang utan
d. Realisasi rencana pembangunan rumah sakit jantung
e. Upaya pencabutan larangan penerbangan maskapai Indonesia ke
Uni Eropa
f. Debt Swap
g. Penyelenggaraan berbagai business meeting, dan promosi
pariwisata Indonesia
h. Pembangunan gedung KBRI
i. Penataan dan penilaian kembali aset Pemerintah RI
23
BAB IV
KESIMPULAN DAN PENUTUP
Dari hasil kunjungan Komisi I DPR RI ke Negara Konfiderasi Swiss,
Delegasi memberikan kesimpulan dan saran sebagai berikut :
1. Kunjungan Kerja Komisi I DPR RI ke Negara Konfiderasi Swiss secara
umum berjalan dengan baik dan sesuai dengan maksud dan tujuan
kunjungan, yaitu Melaksanakan fungsi pengawasan DPR RI terhadap
pelaksanaan kebijakan pemerintah dan APBN, termasuk mengetahui
sejauhmana pelaksanaan tugas Dubes/Watapri/perwakilan RI
dilaksanakan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan dan
program pemerintah dan meningkatkan hubungan dan kerjasama
bilateral antara Republik Indonesia dengan Negara-negara sahabat
melalui pendekatan Parliament to Parliament.
2. Tukar menukar pandangan yang dilakukan juga telah memberikan
masukan kepada kedua belah
pihak mengenai perlunya
mengembangkan hubungan baik dan meningkatkan intensitas
hubungan antar kedua negara, mengingat banyaknya peluang kerja
sama yang dapat dikembangkan di masa yang akan datang.
3. Dalam menjalankan fungsi dan tugasnya, KBRI Bern, PTRI Jenewa dan
KBRI Berlin dihadapkan permasalahan mengenai nilai mata uang Dollar
terhadap mata uang setempat. Hal ini sangat dirasakan sekali oleh para
diplomat dan pegawai di perwakilan RI. Untuk itu maka dirasakan
perlunya para diplomat dan pegawai yang ditempatkan dinegara Eropa
dapat diberikan tunjangan kemahalan (penyesuaian dengan nilai mata
uang setempat).
Demikian Laporan Kunjungan Kerja Komisi I DPR RI ke Negara Konfiderasi
Swiss pada Masa Persidangan IV Tahun Sidang 2008 – 2009. Diharapkan
laporan tersebut dapat memberikan masukan kepada Pemerintah dalam
menentukan arah kebijakan pembangunan.
Jakarta,
Agustus 2009
Ketua Delegasi,
DRS. SIDHARTO DANUSUBROTO
A – 328
24
25
Download