dan Satuan Batulempung diendapkan dalam lingkungan kipas

advertisement
Geologi Daerah Penelitian
dan Satuan Batulempung diendapkan dalam lingkungan kipas bawah laut model
Walker (1978) (Gambar 3.8).
Gambar 3.7 Struktur sedimen pada sekuen Bouma (1962).
Gambar 3.8 Model progradasi kipas bawah laut (Walker, 1978).
Untuk penjelasan lebih lanjutnya, maka akan dijelaskan deskripsi setiap
Satuan Batuan pada daerah penelitian.
26
Geologi Daerah Penelitian
3.2.1 Satuan Breksi-Batupasir
Penyebaran dan Ketebalan
Satuan Breksi-Batupasir berada di utara daerah penelitian ditandai dengan
warna coklat tua pada peta geologi terlampir, memanjang berarah barat-timur
dengan luas sekitar +10% luas daerah penelitian. Singkapan ditemukan di anak
Sungai Cidadap bagian utara.
Satuan ini memiliki ketebalan +850 m berdasarkan rekonstruksi
penampang. Ketebalan ini bukan merupakan ketebalan sebenarnya karena tidak
ditemukan kontak stratigrafi dengan satuan yang lebih tua.
Ciri Litologi
Satuan ini terdiri dari perselingan breksi dan batupasir dengan sisipan
batulempung dan batupasir tufaan. Breksi, abu-abu gelap, fragmen polimik
berupa fragmen batuan beku andesit, basalt, batupasir, dan batugamping ukuran
kerikil-bongkah, butir menyudut-menyudut tanggung, kemas terbuka, terpilah
buruk, porositas buruk, kompak, matriks berukuran pasir kasar, karbonatan.
Batupasir, abu-abu keputihan, ukuran butir sedang-kasar, butir membundar,
kemas terbuka, terpilah sedang, porositas sedang-baik, kompak, butir dan
matriks karbonatan, struktur sedimen perlapisan bersusun, laminasi sejajar,
terdapat fosil foraminifera. Batulempung, abu-abu gelap, karbonatan, terdapat
fosil foraminifera, getas, masif. Batupasir tufaan, abu-abu keputihan,
karbonatan, ukuran butir sedang-halus, butir menyudut-menyudut tanggung,
kemas tertutup, terpilah baik, porositas baik, getas, struktur sedimen laminasi
sejajar.
Secara keseluruhan, satuan ini memiliki litologi yang bersifat
karbonatan.
Satuan ini menghalus dan menipis ke atas dengan berkurangnya tebal dan
ukuran butir breksi ke arah atas yang digantikan dengan kehadiran batupasir dan
batulempung. Berdasarkan analisis petrografi terlampir, matriks breksi dan juga
batupasir pada satuan ini termasuk ke dalam lithic wacke (Gilbert, 1982).
27
Geologi Daerah Penelitian
a
b
c
Foto 3.9 a. Singkapan kontak Satuan Breksi-Batupasir dengan Satuan Batupasir Batulempung, breksi berukuran butir kerikil.
b. Singkapan breksi dengan ukuran butir kerakal.
c. Singkapan batupasir tufaan dengan struktur sedimen laminasi sejajar.
Umur
Hasil
analisis
mikropaleontologi
(foraminifera
planktonik)
pada
batulempung di lokasi D 4.7 (Lampiran B) menunjukkan bahwa satuan ini
diendapkan pada umur N16 (Blow, 1969) yang setara
dengan umur Kala
Miosen Akhir.
Lingkungan Pengendapan
Hasil
analisis
mikropaleontologi
(foraminifera
bentonik)
pada
batulempung di lokasi D 4.7 (Lampiran B) menunjukkan bahwa satuan ini
diendapkan pada lingkungan pengendapan Batial Atas (Tipsword, 1966 dalam
Pringgoprawiro, dkk, 1994).
Mekanisme pengendapan pada satuan Breksi-Batupasir ini memerlukan
arus yang sangat cepat alirannya karena pada satuan ini dominan materialnya
berukuran
kasar
berukuran
kerikil
-
bongkah
pada
litologi
breksi
28
Geologi Daerah Penelitian
(Koesoemadinata, 1985). Berdasarkan kehadiran struktur sedimen laminasi
sejajar dan perlapisan bersusun (Foto 3.9 A,B,C) yang ada pada interval Tab
sekuen Bouma (1962), dan jenis batupasir yang bersifat wacke atau kotor
menandakan mekanisme pengendapan arus gravitasi. Ciri lainnya adalah
sekuennya yang membentuk siklus menghalus ke atas (Foto 3.9 A dan B) dan
breksi yang dapat digolongkan ke dalam fasies debris dan slump endapan
turbidit (Walker, 1978) merupakan ciri dari mekanisme arus turbidit pada
lingkungan kipas bawah laut bagian kipas atas (Gambar 3.8). Selain itu, satuan
ini kemungkinan diendapkan dekat dengan sumber material gunungapi karena
ditemukan material gunungapi berupa batupasir tufaan.
Kesebandingan Stratigrafi
Berdasarkan ciri litologi, pola penyebaran, lingkungan pengendapan, dan
umur satuan, maka satuan ini dapat disetarakan dengan Formasi Cantayan Unit
Breksi (Martodjojo, 1984).
Hubungan Stratigrafi
Hubungan satuan ini dengan satuan yang lebih tua tidak diketahui, karena
tidak tersingkap pada daerah penelitian.
3.2.2 Satuan Batupasir-Batulempung
Penyebaran dan Ketebalan
Satuan Batupasir-Batulempung terdapat di tengah daerah penelitian,
melampar sepanjang barat-timur. Satuan ini menempati sekitar +25% luas
daerah penelitian dan ditandai dengan warna kuning pada peta geologi
terlampir. Singkapan ditemukan di sepanjang Sungai Cidadap dengan jurus
lapisan berarah barat-timur.
29
Geologi Daerah Penelitian
Satuan ini memiliki ketebalan +600 m berdasarkan rekonstruksi
penampang. Ketebalan ini bukan merupakan ketebalan sebenarnya karena
pengaruh keterdapatan sesar naik pada satuan ini.
Ciri Litologi
Satuan ini terdiri dari dominasi batupasir gampingan dengan sisipan
konglomerat dan batulempung. Batupasir gampingan memiliki ciri berwarna
abu-abu keputihan, ukuran butir sedang-kasar, butir membundar, kemas
tertutup, porositas sedang-baik, kompak, butir dan matriks karbonatan, struktur
sedimen perlapisan bersusun, laminasi sejajar, konvolut, ripped up mud clasts,
load cast dan flute cast. Struktur ripped up mud clast menunjukkan erosivitas
pengendapan sedimen akibat arus turbidit. Konglomerat memiliki ciri berwarna
abu-abu kecoklatan, ukuran butir kerikil-kerakal berupa fragmen batuan beku
andesit, basalt, batugamping, bentuk butir membundar-membundar tanggung,
kemas terbuka, terpilah buruk, kompak, matriks batupasir kasar, karbonatan,
struktur sedimen perlapisan bersusun. Batulempung memiliki ciri berwarna abuabu gelap, karbonatan, terdapat fosil foraminifera, getas, masif. Ketebalan
batupasir berkisar antara 10-100 cm dengan sisipan konglomerat
dan
batulempung setebal berkisar antara 10-50 cm.
Pengamatan terhadap sayatan tipis (Lampiran A) menunjukkan bahwa
batupasir pada satuan ini termasuk ke dalam lithic wacke (Gilbert, 1982) dan
memiliki komponen butir menyudut tanggung- membulat tanggung. Dari contoh
batupasir pada satuan ini, komponen butir didominasi oleh fragmen litik (40%),
K-Feldspar (5%), kuarsa (5%), cangkang foraminifera (5%), dan opak (5%)
dengan matriks (35%) berupa lumpur karbonat dan mineral lempung dan semen
(3%) berupa kalsit.
30
Geologi Daerah Penelitian
a
b
c
d
Foto 3.10 a. Singkapan konglomerat dan batupasir dengan struktur channel fill yang
memperlihatkan penyebaran lateral yang terbatas.
b. Singkapan batupasir dengan struktur sedimen ripped up mud clasts yang
mengindikasikan pola pengendapan mekanisme turbidit dengan tingkat
erosivitas yang relatif tinggi
c. Singkapan batupasir dengan struktur sedimen perlapisan bersusun,
laminasi sejajar dan konvolut
d. Singkapan batupasir dengan strukutur sedimen load cast dan flute cast.
Umur
Hasil
analisis
mikropaleontologi
(foraminifera
planktonik)
pada
batulempung di lokasi D 2.1 (Lampiran B) menunjukkan bahwa satuan ini
diendapkan pada umur N17 (Blow, 1969) yang setara
dengan umur Kala
Miosen Akhir.
Lingkungan Pengendapan
Hasil
analisis
mikropaleontologi
(foraminifera
bentonik)
pada
batulempung di lokasi D 2.1 (Lampiran B) menunjukkan bahwa satuan ini
31
Geologi Daerah Penelitian
diendapkan pada lingkungan pengendapan Neritik Luar-Batial Atas (Tipsword,
1966 dalam Pringgoprawiro, dkk, 1994).
Mekanisme
pengendapan pada
satuan Batupasir-Batulempung
ini
memerlukan arus yang sangat cepat alirannya karena pada satuan ini dominan
materialnya berukuran kasar pada litologi konglomerat (Koesoemadinata, 1985).
Dari kenampakan sekuen vertikal dan asosiasi struktur sedimen dan komposisi
batupasir yang bersifat wacke, satuan ini diendapkan pada
mekanisme
pengendapan arus gravitasi. Pada satuan ini, bagian bawah dicirikan dengan
hadirnya fasies konglomerat dan bagian atas dicirikan dengan hadirnya fasies
classic turbidite (Walker, 1978). Fasies konglomerat memiliki kenampakan
konglomerat yang terpilah buruk dan memiliki penyebaran lateral yang terbatas
yang dicirikan struktur channel fill (Foto 3.10 a). Fasies classic turbidite
dicirikan oleh perselingan batupasir dan batulempung yang menghalus ke atas
dan menunjukkan adanya sekuen Bouma (1962) Tabc (Foto 3.10 b,c) serta
struktur flute cast dan load cast yang ditemukan pada batupasir (Foto 3.10 d).
Perubahan fasies turbidit yang ada pada satuan ini mencerminkan perubahan
lingkungan kipas bawah laut (Gambar 3.6) bagian kipas atas (fasies
konglomerat) menjadi bagian kipas tengah (fasies classic turbidite).
Kesebandingan Stratigrafi
Berdasarkan ciri litologi, pola penyebaran, lingkungan pengendapan, dan
umur satuan, maka satuan ini dapat disetarakan dengan Formasi Cantayan Unit
Batupasir (Martodjojo, 1984).
Hubungan Stratigrafi
Pada satuan ini, hubungan dengan satuan yang lebih tua (Satuan BreksiBatupasir) adalah hubungan selaras. Hubungan ini disimpulkan dari pengamatan
singkapan di anak Sungai Cidadap (D 4.5) yang menunjukkan kontak tegas.
Kontak antara satuan ini ditandai oleh kemunculan terakhir litologi breksi
Satuan Breksi-Batupasir.
32
Geologi Daerah Penelitian
3.2.3 Satuan Batulempung
Penyebaran dan Ketebalan
Satuan Batulempung terdapat di tengah sampai selatan daerah penelitian
melampar sepanjang barat-timur. Satuan ini menempati sekitar +33% luas
daerah penelitian dan ditandai warna hijau muda pada peta geologi terlampir.
Singkapan ditemukan di anak Sungai Cidadap, Sungai Cigedogan, dan Sungai
Cipari dengan jurus lapisan berarah barat-timur.
Satuan ini memiliki ketebalan +1200 m berdasarkan rekonstruksi
penampang. Ketebalan ini bukan merupakan ketebalan sebenarnya karena tidak
ditemukan kontak stratigrafi dengan satuan yang lebih muda, selain itu juga sulit
untuk menentukan tebal satuan ini dikarenakan pengaruh sesar – sesar yang ada
di satuan ini.
Ciri Litologi
Satuan ini terdiri dari dominasi batulempung dengan sisipan batupasir.
Batulempung memiliki ciri berwarna abu-abu gelap, karbonatan, terdapat fosil
foraminifera, getas, masif. Batupasir memiliki ciri berwarna abu-abu, ukuran
butir
pasir halus-sedang, butir membundar, kemas tertutup, terpilah baik,
porositas sedang, getas, matriks karbonatan, struktur sedimen laminasi sejajar
(Foto 3.11). Ketebalan batupasir pada satuan ini berkisar antara 10-30 cm.
Pengamatan terhadap sayatan tipis (Lampiran A) menunjukkan bahwa
batupasir pada satuan ini termasuk ke dalam feldspathic wacke (Gilbert, 1982)
dan memiliki komponen butir menyudut tanggung- membulat tanggung. Dari
contoh batupasir pada satuan ini, komponen butir didominasi oleh K-Feldspar
(15%), kuarsa (15%), dan opak (10%) dengan matriks (45%) berupa gelas dan
mineral lempung dan semen (10%) berupa oksida besi.
33
Geologi Daerah Penelitian
b
a
Foto 3.11 a. Singkapan batupasir dengan struktur sedimen laminasi sejajar.
b. Singkapan Batulempung pada Satuan Batulempung.
Umur
Hasil
analisis
mikropaleontologi
(foraminifera
planktonik)
pada
batulempung di lokasi D 1.4 dan D 6.1 (Lampiran B) menunjukkan bahwa
satuan ini diendapkan pada umur N18 (Blow, 1969) yang setara dengan umur
Kala Miosen Akhir.
Lingkungan Pengendapan
Hasil
analisis
mikropaleontologi
(foraminifera
bentonik)
pada
batulempung di lokasi D 1.4 dan D 6.1 (Lampiran B) menunjukkan bahwa
satuan ini diendapkan pada lingkungan pengendapan Neritik Tengah-Neritik
Luar (Tipsword, 1966 op.cit. Pringgoprawiro, dkk, 1994).
Mekanisme pengendapan pada satuan Batulempung-Batupasir A ini
memerlukan arus yang sangat tenang alirannya (arus suspensi) karena pada
satuan
ini
dominan
materialnya
berukuran
halus
atau
lempung
(Koesoemadinata, 1985). Pada satuan ini ciri-ciri turbidit masih terlihat dengan
adanya batupasir yang bersifat wacke dan sekuen Bouma (1962) Tbc (Foto 3.11
A&B). Dari suksesi vertikal satuan ini terlihat semakin ke atas ketebalan
batulempung meningkat dan kehadiran struktur sedimen semakin sedikit. Ciriciri tersebut menandakan energi yang semakin berkurang dari pengendapan
kipas bawah laut di daerah penelitian atau dapat diartikan sebagai lingkungan
34
Geologi Daerah Penelitian
kipas bawah laut yang semakin menjauhi sumber sedimennya atau kipas bawah
laut bagian kipas bawah (Gambar 3.6).
Kesebandingan Stratigrafi
Berdasarkan ciri litologi, pola penyebaran, lingkungan pengendapan, dan
umur satuan, maka satuan ini dapat disetarakan dengan Formasi Cantayan Unit
Batulempung (Martodjojo, 1984).
Hubungan Stratigrafi
Pada satuan ini, hubungan dengan satuan yang lebih tua (Satuan
Batupasir-Batulempung) adalah hubungan selaras. Hubungan ini disimpulkan
dari pengamatan Satuan Batupasir-Batulempung berangsur-angsur berubah
menjadi Satuan Batulempung dengan meningkatnya dominasi batulempung.
3.2.4 Satuan Intrusi Basalt
Penyebaran dan Ketebalan
Satuan Intrusi Basalt terletak di sebelah selatan dan utara peta geologi
terlampir ditandai warna merah tua dengan luas daerah cakupan mencapai +7%
luas daerah penelitian. Satuan ini berupa gunung yang terisolir bernama Gunung
Gedogan dan Gunung Kuta.
Foto 3.12 Singkapan batuan beku basalt di Gunung Gedogan.
35
Geologi Daerah Penelitian
Ciri Litologi
Satuan ini berupa batuan beku basalt yang ditemukan di Gunung Gedogan
dengan kondisi segar- agak lapuk (Foto 3.12) dan juga di Gunung Kuta ()
Gambar (3.13). Batuan beku basalt ini memiliki ciri litologi berwarna hitam
keabuan, ukuran kristal halus (afanitik), masif. Sayatan tipis (Lampiran A)
menunjukkan bahwa batuan bersifat hipokristalin, porfiritik dengan komposisi
mineral plagioklas, hornblende, biotit, opak, olivin, piroksen,
dan gelas.
Berdasarkan komposisi plagioklas (oligoklas) dan kehadiran mineral olivin dari
Deret Bowen, maka batuan beku ini digolongkan ke dalam batuan beku basalt.
Foto 3.13 Singkapan batuan beku basalt di Gunung Kuta.
Umur
Satuan ini diinterpretasikan berumur lebih muda daripada satuan yang
ditembusnya (Satuan Batulempung) dan lebih tua daripada pembentukan
struktur regional di daerah ini, yaitu pada Kala Plio-Pleistosen. Penulis
berkesimpulan bahwa satuan ini berumur Miosen Akhir setelah pengendapan
satuan Batulempung karena batuan beku ini menembus satuan tersebut.
Hubungan Stratigrafi
Satuan Intrusi Basalt diperkirakan memiliki hubungan yang tidak selaras
dengan Satuan Batulempung dan Satuan di bawahnya yang lebih tua. Penamaan
36
Geologi Daerah Penelitian
intrusi didasarkan berdasarkan tekstur dari sayatan tipis berupa tekstur
hialofilitik (Lampiran A). Satuan ini kemungkinan memotong satuan yang lebih
tua (Satuan Batulempung) secara diskordan berupa intrusi dyke.
3.2.5 Satuan Lava Andesit
Penyebaran dan Ketebalan
Satuan Lava Andesit terletak di sebelah tenggara peta geologi terlampir
ditandai warna merah muda dengan luas daerah cakupan mencapai +10% luas
daerah penelitian. Satuan ini berupa gunung yang terisolir bernama Gunung
Seureuh. Satuan ini menimpa Satuan Batulempung dan diinterpretasikan pusat
erupsinya berada pada puncak Gunung Seureuh.
Ciri Litologi
Satuan ini berupa batuan beku andesit yang ditemukan di Anak Sungai
Cidadap (Foto 3.14 A) dengan kondisi segar-lapuk. Batuan beku andesit di
daerah ini memiliki ciri litologi berwarna abu – abu gelap, ukuran kristal halus
(afanitik) dengan struktur batuan kekar berlembar. Sayatan tipis (Lampiran A)
menunjukkan bahwa batuan bersifat intergranular, hipokristalin dengan
komposisi mineral plagioklas, piroksen, opak, gelas dan kalsit sebagai mineral
terubahkan. Berdasarkan komposisi plagioklas (andesin), maka batuan beku ini
digolongkan ke dalam batuan beku andesit.
a
b
Foto 3.14 a. Singkapan lava andesit dan batulempung Satuan Batulempung dengan
kedudukan bidang kontak N1150E/450 berupa efek bakar.
b. Singkapan lava andesit di Sungai Cisero dengan struktur kekar berlembar.
37
Geologi Daerah Penelitian
Umur
Satuan ini diinterpretasikan berumur lebih muda daripada satuan yang
ditimpanya (Satuan Batulempung), dan juga lebih muda daripada pembentukan
struktur regional di daerah ini yaitu pada Kala Plio-Pleistosen. Penulis
berkesimpulan bahwa satuan ini berumur Miosen Akhir karena batuan beku ini
menembus Satuan Batulempung.
Hubungan Stratigrafi
Satuan Lava Andesit Gunung Seureuh diperkirakan memiliki hubungan
yang tidak selaras dengan Satuan Batulempung. Satuan ini diinterpretasikan
sebagai aliran lava karena tekstur aliran yang terlihat di sayatan tipis dan juga
posisi kedudukan batuan beku andesit yang berada di atas lapisan batuan
sedimen batulempung pada Satuan Batulempung dengan kedudukan yang
sejajar arah umum jurus lapisan.
3.2.6 Satuan Breksi Vulkanik
Penyebaran dan Ketebalan
Satuan Breksi Vulkanik terdapat di baratdaya daerah penelitian. Satuan ini
menempati +10% luas daerah penelitian dan ditandai warna coklat muda pada
peta geologi terlampir. Singkapan ditemukan di Sungai Cipari dan di
punggungan dekat Desa Tipar dalam keadaan segar- agak lapuk. Ketebalan
satuan tidak diketahui karena kehadirannya yang menutupi satuan batuan yang
terdapat di bawahnya.
Ciri Litologi
Satuan ini merupakan endapan vulkanik yang terdiri dari breksi vulkanik.
Breksi vulkanik memiliki ciri berwarna abu terang, ukuran butir 1-20 cm,
menyudut hingga menyudut tanggung. Matriks berupa tuf, abu-abu gelap
sampai terang dengan warna pelapukan coklat kemerahan, ukuran butir pasir
sedang-halus, menyudut-menyudut tanggung, pemilahan sedang-buruk.
38
Geologi Daerah Penelitian
Foto 3.15 Singkapan breksi vulkanik di Sungai Cipari.
Pengamatan terhadap sayatan tipis (Lampiran A) pada fragmen batuan
beku menunjukkan jenis batuan beku andesit. Andesit pada satuan ini memiliki
75% fenokris yang terdiri dari plagioklas (30%), kuarsa (15%), hornblende
(20%), opak (5%), dan serisit (5%).
Umur
Dari kesamaan penyebaran satuan ini dengan penyebaran batuan vulkanik
pada Peta Geologi Lembar Cianjur (Sudjatmiko, 1972) maka satuan ini
kemungkinan merupakan bagian dari Breksi dan Lava Gunungapi Tua (Qot)
yang berumur Pleistosen dan diendapkan secara tidak selaras di atas satuansatuan sebelumnya.
Selain itu, satuan ini juga tidak terpengaruh oleh
pembentukan struktur yang diinterpretasikan berumur Plio-Pleistosen sehingga
kemungkinan satuan ini berumur lebih muda daripada pembentukan struktur.
Lingkungan Pengendapan
Satuan ini diinterpretasikan terendapkan di lingkungan darat karena pada
umur yang lebih muda dari Plio-Pleistosen daerah ini sudah merupakan darat
secara regional (Martodjojo, 1984).
39
Geologi Daerah Penelitian
3.2.7 Satuan Aluvial
Penyebaran dan Ketebalan
Satuan aluvial terdapat di hilir Sungai Cidadap. Satuan ini menempati
+2% luas daerah penelitian dan ditandai warna abu-abu pada peta geologi
terlampir. Ketebalan satuan tidak diketahui karena kehadirannya yang menutupi
satuan batuan yang terdapat di bawahnya.
Ciri Litologi
Satuan ini tersusun atas material lepas berupa breksi, batugamping,
batupasir,
batulempung, basalt, andesit.
Berukuran lempung-bongkah,
menyudut sampai membundar. Material-material tersebut merupakan hasil erosi
dari satuan-satuan batuan yang lebih tua.
Foto 3.15 Endapan material lepas hasil erosi batuan yang lebih tua di Sungai Cidadap.
Umur
Satuan ini berumur Resen karena pembentukannya masih berlangsung
hingga sekarang dan diendapkan secara tidak selaras di atas satuan batuan yang
lebih tua.
40
Geologi Daerah Penelitian
Lingkungan Pengendapan
Satuan ini diinterpretasikan terendapkan di lingkungan darat karena pada
umur yang lebih muda dari Plio-Pleistosen daerah ini sudah merupakan darat
secara regional (Martodjojo, 1984).
3.3 Struktur Geologi
Struktur geologi yang berkembang di daerah penelitian terdiri dari sesar
naik berarah relatif barat-timur dan sesar-sesar mendatar berarah relatif
baratlaut-tenggara. Bukti-bukti lapangan yang mendukung kehadiran struktur
geologi tersebut berupa kekar gerus, kekar tarik, breksiasi, cermin sesar, dan
kedudukan batuan.
a
b
Foto 3.16 a. Lapisan tegak berupa air terjun di anak Sungai Cidadap.
b. Contoh kekar gerus dan kekar tarik pada daerah penelitian
Sesar naik yang dijumpai di daerah penelitian adalah Sesar Naik Mengiri
Cidadap, sesar naik tersebut memiliki arah umum relatif barat-timur degan arah
kemiringan bidang sesar ke selatan. Jenis pergerakan sesar didapatkan melalui
analisis stereonet dengan data shear fracture pada lokasi D 3.12 dan D 4.2.
41
Geologi Daerah Penelitian
Sesar-sesar mendatar di daerah penelitian adalah Sesar Mendatar
Menganan Kebonjagung yang diinterpretasikan berdasarkan intensifitas rekahan
yang ada pada lokasi D 5.7 dan D 5.9.
Sesar Mendatar Menganan Cidadap yang diinterpretasikan berdasarkan
intensifitas rekahan pada lokasi D 5.2 dan D 8.1.
Sesar Mendatar Menganan Gedogan yang diinterpretasikan berdasarkan
intensifitas rekahan pada lokasi D 2.7 dan D 2.13.
Sesar-sesar mendatar
tersebut berarah relatif baratlaut-tenggara. Sesar-sesar ini memotong perlipatan
dan sesar naik dengan arah menganan.
Struktur lipatan di daerah penelitian berupa sayap lipatan yang memiliki
sumbu searah dengan jurus sesar anjak yaitu relatif barat-timur. Berdasarkan
arah sumbu lipatan tersebut dapat kita ambil kesimpulan bahwa arah tegasan
utama yang bekerja di daerah penelitian memiliki arah relatif utara-selatan.
Arah-arah umum struktur geologi tersebut juga diinterpretasikan dari polapola umum kelurusan dari citra SRTM. Pola kelurusan dan pembelokan tajam dari
lembahan atau punggungan ditafsirkan sebagai akibat dari pergerakan sesar-sesar
yang terbentuk.
42
Download