mesir pada masa pemerintahan anwar sadat

advertisement
MESIR PADA MASA PEMERINTAHAN ANWAR SADAT:
UPAYA ANWAR SADAT DALAM PERDAMAIAN
MESIR ISRAEL
Skripsi
Diajukan kepada Fakultas Adab dan Humaniora
untuk memenuhi syarat gelar Sarjana (S1) Humaniora
OLEH:
Putri Meilasari
107022001188
JURUSAN SEJARAH DAN PERADABAN ISLAM
FAKULTAS ADAB DAN HUMANIORA
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
1432 H/ 2011 M
MESIR PADA MASA PEMERINTAHAN ANWAR SADAT:
UPAYA ANWAR SADAT DALAM PERDAMAIAN
MESIR-ISRAEL
SKRIPSI
Diajukan kepada Fakultas Adab dan Humaniora
untuk memenuhi Syarat mendapat gelar Sarjana (S1) Humaniora
Oleh:
Putri Meilasari
NIM: 107022001188
Pembimbing
Drs. H. M. Ma’ruf Misbah, MA
NIP: 19591222 199103 1 003
JURUSAN SEJARAH DAN PERADABAN ISLAM
FAKULTAS ADAB DAN HUMANIORA
UNVERSITAS ISLAM NEGERI
SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
1432 H/2011 M
PENGESAHAN PANITIA UJIAN
Skripsi dengan judul “Mesir Pada Masa Pemerintahan Anwar Sadat:
Upaya Anwar Sadat Dalam Perdamaian Mesir-Israel”, telah diujikan dalam
Sidang Munaqasyah Fakultas Adab dan Humaniora Universitas Islam Negeri
Syarif Hidayatullah Jakarta, pada hari Jum’at tanggal 23 September 2011. Skripsi
ini telah diterima sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Humaniora
(S.Hum) pada Program Studi Sejarah Peradaban Islam.
Jakarta, 23 September 2011
Sidang Munaqasyah
Ketua Merangkap Anggota
Sekretaris Merangkap Anggota
Drs. H. M. Ma’ruf Misbah, MA
NIP. 19591222 199103 1 003
Sholikatus Sa’diyah, M.Pd
NIP. 19750417 200501 2 007
Anggota
Penguji I
Penguji II
Saiful Umam, Ph.D
NIP. 19671208 199303 1 002
Dr. H. M. Muslih Idris, Lc, MA
NIP. 19520603 198603 1 001
Pembimbing
Drs. H. M. Ma’ruf Misbah, MA
NIP. 19591222 199103 1 003
LEMBAR PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa :
1. Skripsi ini merupakan hasil karya asli saya yang saya ajukan untuk
memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar Strata Satu ( S 1 ) di
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya
cantumkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku di UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta.
3. Jika di kemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan hasil karya asli saya
atau merupakan hasil jiplakan sari karya orang lain, maka saya bersedia
menerima sanksi yang berlaku di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Ciputat, 23 September 2011
Penulis
ABSTRAKSI
Pada tahun 1973, Anwar Sadat, bersama-sama dengan Hafez Al Assad,
Presiden Syria, memimpin Mesir dalam Perang Yom Kippur melawan Israel,
untuk merebut kembali semenanjung Sinai, yang diambil oleh Israel ketika krisis
Terusan Suez 1956 dan Perang Enam Hari. Meskipun dalam pertempuran ini
masih dipertentangkan pihak menang ataupun kalah, serta hasil Perjanjian Camp
David yang menetapkan Sinai kembali ke tangan Mesir, keberhasilan Anwar
Sadat menaikan moral rakyat Mesir dan Dunia Arab serta mengadakan perjanjian
damai beberapa tahun berikutnya.
Perjanjian damai Camp David yang diprakarsai Jimmy Carter dan Henry
Kissinger memang mengembalikan wilayah Mesir yang sebelumnya direbut oleh
Israel pada perang 1967, namun tidak mengembalikan Dataran Tinggi Golan yang
direbut Israel kepada Syria pada perang 1967. Meski secara politik, perang Yom
Kippur atau Perang Ramadhan 1973 itu menguntungkan dunia Arab, masalah
Palestina dan Jerusalem terutama Jerusalem Timur yang direbut Israel pada
perang 1967 masih mengganjal bahkan beberapa kalangan mengatakan dilupakan.
Hal ini membuat kemarahan dari kalangan PLO, kaum fundamentalis dan
pergerakan Islam dan kalangan Palestina serta dunia Arab, terutama setelah
kunjungannya ke Jerussalem atas undangan Manachem Begin.
Pada tahun 1977, Anwar Sadat mengadakan kunjungan ke Jerusalem atas
undangan Perdana Menteri Israel, Menachem Begin yang merupakan awal
perundingan perdamaian antara Israel dan Mesir. Pada tahun 1978, terciptalah
Perjanjian Damai Camp David, yang mana Anwar Sadat dan Menachem Begin
menerima Hadiah Nobel Perdamaian. Bagaimanapun tindakan ini ditentang hebat
oleh dunia Arab. Banyak yang percaya bahwa hanya dengan ancaman militer
dapat memaksa Israel berunding mengenai Palestina, dan Perjanjian Damai Camp
David menepikan Mesir yang dianggap kekuatan militer di dunia Arab yang
signifikan disamping Syria dan Irak pada saat itu.
i
KATA PENGANTARÉÉ
ΟŠÏm§9$#Ç≈uΗ÷q§9$# «!$# Οó¡Î0
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha
Penyayang. Segala puji bagi Allah SWT yang telah melimpahkan nikmat-Nya
kepada penulis terutama nikmat iman dan sehat, sehingga penulisan skripsi ini
yang berjudul ”Mesir Pada Masa Pemerintahan Anwar Sadat: Upaya Anwar
Sadat Dalam Perdamaian Mesir-Israel” dapat di selesaikan pada waktunya.
Sholawat dan Salam tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, sahabat, keluarga
dan umatnya yang selalu di berikan taufik dan hidayah-Nya.
Tentunya dalam menyelesaikan skripsi ini saya tidak semata berhasil
dengan tenaga dan upaya sendiri namun banyak pihak yang telah berpartisipasi
dalam terselesaikannya penulisan skripsi ini baik yang bersifat moril maupun
materil. Maka dengan ini sepatutnya penulis menyampaikan banyak terima kasih
atas kerjasama, dorongan pengarahan dan bimbingan Bapak dan Ibu dosen,
khususnya dosen pembimbing. Akhirnya penulis mengucapkan terimakasih yang
sebesar-besarnya kepada :
1. Dr. H. Abd Wahid Hasyim M.Ag, Dekan Fakultas Adab dan Humaniora UIN
Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Drs. H. M. Ma’ruf Misbah MA, Ketua Jurusan Sejarah dan Peradaban Islam
dan Sholikatus Sa’diyah, M.Pd selaku Sekretaris Jurusan Sejarah dan
Peradaban Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
ii
3. Drs. H. M. Ma’ruf Misbah MA, selaku Dosen Pembimbing yang banyak
sekali membantu dalam menyelesaikan penelitian ini.
4. Seluruh dosen Jurusan Sejarah dan Peradaban Islam yang memberikan
sumbangsih ilmu dan pengalamannya.
5. Untuk kedua Orangtuaku, Bapak H. Syarmili Rosyadi, S. HI dan Ibu Hj.
Atikah telah memberikan perhatian dan curahan kasih sayangnya yang luar
biasa, serta kakak, adik, dan keponakanku yang telah memberikan semangat
bagi penulis.
Penulis ucapkan banyak terimakasih kepada semua pihak yang telah
banyak membantu mendukung, membimbing dan mengarahkan penulis hingga
terselesaikannya skripisi ini. Penulis sadar bahwa skripsi ini masih jauh dari
sempurna, semoga skripsi ini bermanfaat dan dapat menambah pengetahuan bagi
penulis maupun pembacanya
Jakarta, 19 September 2011
Penulis
Putri Meilasari
iii
DAFTAR ISI
ABSTRAKSI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar belakang Masalah …………………………...…………... 1
B. Identifikasi, Pembatasan dan Perumusan Masalah ……………
7
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ……………………….………... 7
D. Kajian Pustaka ………………………………………..………. 8
E. Metode Penelitian …………………………………………...... 8
F. Sistematika Penulisan ………………………………………… 11
BAB II
BIOGRAFI ANWAR SADAT
A. Latar belakang Keluarga ……………………………………… 12
B. Pendidikan …………………………………………………….. 19
C. Karya- Karya Anwar Sadat …………………………………… 22
BAB III
MESIR PADA MASA ANWAR SADAT
A. Kondisi Pemerintahan di Mesir ………………...…………….. 25
B. Kondisi Masyarakat Mesir Masa Anwar Sadat …………...….. 29
C. Peran Anwar Sadat di Mesir ………………………………...... 32
BAB IV
ANWAR SADAT DALAM UPAYA PERDAMAIAN MESIRISRAEL
A. Upaya Anwar Sadat dalam Perdamaian Mesir Israel ……...…. 37
B. Dampak Dari Perdamaian Mesir Israel ………………………. 47
C. Respon Masyarakat Mesir Terhadap Perdamaian Tersebut ….. 54
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan …………………………………….……………. 58
B. Saran ……..…………………………………………………... 60
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN-LAMPIRAN
iv
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang Masalah
Wilayah Timur Tengah merupakan kawasan yang penting dan strategis,
terutama jika dilihat dari aspek ekonomi, politik, keamanan dan ideologi.
Cadangan minyak dan gas yang banyak terdapat di wilayah Timur Tengah serta
berada dipersimpangan tiga benua Asia, Afrika dan Eropa, telah menjadikan
kawasan ini sebagai wilayah yang sangat starategis. Selain itu Timur Tengah juga
menjadi tempat lahirnya peradaban-peradaban besar sejak zaman dahulu seperti
Irak, Iran Palestina, dan Mesir. 1
Republik Arab Mesir adalah sebuah negara yang sebagian besar
wilayahnya terletak di Afrika Utara dengan luas wilayah sekitar 997.739 km².
Daerah Mesir mencakup Semenanjung Sinai (dianggap sebagai bagian dari Asia
Barat Daya), sedangkan sebagian besar wilayahnya terletak di Afrika Utara. Mesir
berbatasan dengan Libya di sebelah barat, Sudan di selatan, jalur Gaza dan Israel
di utara-timur. Perbatasannya dengan perairan melalui Laut Tengah di utara dan
Laut Merah di timur.2 Mayoritas penduduk Mesir menetap di pinggir Sungai Nil
(sekitar 40.000 km²). Sebagian besar daratan merupakan bagian dari gurun Sahara
yang jarang dihuni oleh masyarakat Mesir.
1
2
Riza Sihbudi, Menyandera Timur Tengah, ( Jakarta: Mizan, 2007, Cet I), h, v
Ensiklopedi Islam ( Jakarta: Ichtiar Baru van Hoeve, 1997), h, 226
1
2
Mesir terkenal dengan peradaban kuno dan beberapa monumen kuno
termegah di dunia yaitu Piramid Giza, Kuil Karnak dan Lembah Raja serta Kuil
Ramses. Di Luxor, sebuah kota di wilayah selatan, terdapat kira-kira artefak kuno
yang mencakup sekitar 65% artefak kuno di seluruh dunia. Kini, Mesir diakui
secara luas sebagai pusat budaya dan politik yang utama di wilayah Arab dan
Timur Tengah.3
Mesir merupakan negara Arab paling banyak penduduknya, sekitar 74 juta
orang, yang menempati wilayah Mesir. Hampir seluruh populasi penduduknya
terpusat di sepanjang Sungai Nil, terutama Iskandariyah dan Kairo, dan sepanjang
delta Nil dan dekat Terusan Suez. Hampir 90% dari populasi masyarakatnya
adalah pemeluk Islam dan sisanya Kristen (Coptic). 4
Mesir mempunyai peranan yang penting dalam dunia Islam. Peranan ini
disebabkan oleh dua faktor yakni letak geografis yang sangat strategis dan
kesuburan lembah sungai Nil sebagai area pertanian. Letak Mesir yang strategis
berada di pertemuan tiga benua, Afrika, Asia dan Eropa, menjadikannya pusat
perdagangan yang penting sekali serta menjadikannya negeri kaya sejak masa
pemerintahan Dinasti Fatimiyah, Ayubiyah dan zaman sultan-sultan Mamluk.
Perkembangan peradaban Mesir yang telah terjadi beberapa tahun silam menjadi
daya tarik bangsa-bangsa lain untuk tidak hanya menjalin hubungan kerjasama
dengan Mesir, namun bahkan menjajahnya.5
3
http://en.wikipedia.org/wiki/Mesir
Riza Sihbudi, Menyandera Timur Tengah, h,430
5
Ensiklopedi Islam, h, 228
4
3
Penduduk Mesir beragam, Ada pengaruh dari Mediterania (seperti Arab
dan Italia) dan Arab muncul di utara, ada beberapa penduduk asli hitam di daerah
selatan. Agama memiliki peranan besar dalam kehidupan di Mesir. Secara tak
resmi, adzan yang dikumandangkan lima kali sehari menjadi penentu berbagai
kegiatan. Kairo juga dikenal dengan berbagai menara Masjid dan Gereja. Menurut
konstitusi Mesir, semua perundang-undangan harus sesuai dengan hukum Islam.
Negara mengakui mazhab Hanafi lewat Kementerian Agama. Imam dilatih di
sekolah keahlian untuk imam dan di Universitas Al-Azhar, yang memiliki komite
untuk memberikan fatwa untuk masalah agama. Penduduk Mesir yang Menganut
agama Islam sebanyak 90%, mayoritas Sunni dan sebagian juga menganut ajaran
Sufi lokal. Sekitar 10% penduduk Mesir menganut agama Kristen, yang terdiri
dari Koptik Ortodok, Katolik Koptik dan Protestan Koptik.6
Meninggalnya Presiden Gammal Abdel Nasser, merupakan peristiwa yang
secara otomatis menaikan Anwar Sadat yang sebelumnya menjabat wakil
Presiden menjadi presiden. Sadat memerintah tahun 1971 hingga 1981
menggantikan presiden sebelumnya Gammal Abdul Nasser, ia mengubah
perpolitikan Mesir menjadi sistem demokrasi. 7
Sadat dilahirkan di Mit Abu Al-Kum, Al-Minufiyah, Mesir, dalam sebuah
keluarga yang berasal dari Mesir-Sudan yang miskin, dengan 13 bersaudara.
Ayahnya berasal dari Mesir, sementara ibunya orang Sudan. Ia lulus dari
Akademi Militer Kerajaan di Kairo pada 1938 dan ditempatkan di Korps Isyarat.
6
http://en.wikipedia.org/wiki/Mesir
Mohammed Heikal, Anwar Sadat; Kemarau Kemarahan, Terj, Arwan Setiawan,
(Jakarta: PT. Temprin, 1986), h. 37
7
4
Ia bergabung dengan Gerakan Perwira Bebas, yang bertekad untuk membebaskan
Mesir dari kekuasaan Britania Raya.8
Pada tahun 1964, setelah memegang berbagai jabatan dalam pemerintahan
Mesir, ia dipilih oleh Presiden Gamal Abdel Nasser untuk menjabat sebagai Wakil
Presiden. Ia menduduki jabatan itu hingga 1966, dan sekali lagi dari 1969 hingga
1970. Setelah Nasser meninggal, Anwar Sadat dilantik menjadi Presiden. Pada
tahun 1973, Anwar Sadat, bersama-sama dengan Hafez Al Assad Presiden Syria,
memimpin Mesir dalam Perang Yom Kippur melawan Israel, untuk merebut
kembali semenanjung Sinai, yang dikuasai oleh Israel ketika Krisis Terusan Suez
dan Perang Enam Hari.
Anwar Sadat berhasil menjebol benteng barlev dalam perang 6 Oktober
tahun 1973 terhadap Israel kemudian Anwar Sadat berkunjung ke Tel Aviv dan
berpidato di Knesset (parlemen) Israel, yang menyatakan keinginannya berdamai
dengan Israel. Sejak itu, Mesir dikuasai oleh Zionis–Israel, dan tidak dapat
berbuat apa-apa, ketika Israel semakin meneguhkan penjajahannya atas tanahtanah Arab. Mesir hanya mendapatkan tanah Sinai, yang itu merupakan haknya
Mesir. karena Mesir mengalami krisis ekonomi yang rapuh akibat perang 1969,
upaya penyelesaian perdamaian dengan Israel diyakini oleh Sadat dapat
meningkatkan pembangunan di dalam negeri khususnya di bidang ekonomi
karena menurutnya dalam suasana negara yang aman dan stabil dapat
meningkatkan investor asing yang masuk. Karena itu Anwar Sadat mengambil
8
15
Ahmad Munif , 50 Tokoh Legendaris Dunia, (Yogyakarts: Narasi. Cet Ke II. 2007), h.
5
keputusan damai sebagai jalan keluarnya.
Pada tanggal 20 November 1977, Sadat pernah membuat gagasan yang
belum pernah dilakukan pemimpin Mesir lainnya, termasuk Gammal Abdel
Nasser yang legendaries itu. Ia pergi ke Jerusalem untuk bertemu dengan para
pemimpin Israel. tindakan Sadat baik ketika datang ke Jerusalem maupun Camp
David
mendapat
applaus
dari
banyak
pemimpin
dunia
barat
karena
keberaniannnya. Sadat telah melakukan hal yang sangat monumental. Ia telah
melakukan sesuatu yang sebelumnya tidak pernah terbayangkan sama sekali.
Mantan Presiden AS Gerald Ford pada waktu itu, menyebut Anwar Sadat sebagai
“Sosok Manusia di Abad 20”. Ketika itu Ford diminta majalah Time untuk
mencalonkannya sebagai tokoh yang paling pantas mendapat gelar “Sosok Abad
20”.9
Perjanjian damai Camp David yang diprakarsai Jimmy Carter dan Henry
Kissinger memang mengembalikan wilayah Mesir yang sebelumnya direbut oleh
Israel pada perang 1967. Perjanjian ini dilaksanakan di Camp David pada tanggal
17 September 1978 atas bantuan Amerika Serikat.10 Dalam perjanjian ini tidak
mengembalikan Dataran Tinggi Golan yang direbut Israel kepada Syria pada
perang 1967. Meski secara politik, perang Yom Kippur atau Perang Ramadhan
1973 itu menguntungkan dunia Arab, masalah Palestina dan Jerusalem terutama
Jerusalem Timur yang direbut Israel pada perang 1967 masih mengganjal bahkan
9
Ahmad Munif, 50 Tokoh Legendaris Dunia, (Yogyakarts: Narasi. Cet Ke II. 2007), h.
10
Amin Saikal, Islam dan Barat, Konflik atau Kerjasama, (Jakarta: Sanabil. Cet. I 2006),
13-14
h, 134
6
beberapa kalangan mengatakan dilupakan. Hal ini membuat kemarahan dari
kalangan PLO, kaum fundamentalis dan pergerakan Islam dan kalangan Palestina
serta dunia Arab, terutama setelah kunjungannya ke Jerussalem atas undangan
Manachem Begin. Kemenangan Sadat dalam peperangan ini antara lain
berhasilnya Mesir menyebrangi Terusan Suez dan menghancurkan benteng
pertahanan Israel (Ar Lev Line) di tepi Timur. 11
Anwar Sadat memang sudah membuat sejarah. Kendati pun untuk itu ia
juga telah mengundang kebencian orang yang tidak menyukainya. Rakyat Mesir
tentu tidak akan melupakan hari Selasa, 6 Oktober 1981, ketika meletus tragedi
nasional terbesar di negeri lembah Nil itu. Adalah siang yang kelabu bagi bangsa
Mesir ketika hari itu berondongan peluru dari peserta parade militer menewaskan
Sadat. Tragedi kematian Anwar Sadat tidak pernah terbayangkan sama sekali.
Tidak ada yang membayangkan Sadat terbunuh saat memperingati kemenangan
Mesir atas Israel dalam perang tahun 1973. Pada saat menyaksikan “parade
kemenangan” di kursi kehormatan itulah ia ditembak.12
Berdasarkan analisa tersebut penulis ingin membahas tentang “Mesir Pada
Masa Pemerintahan Anwar Sadat: Upaya Anwar Sadat dalam Perdamaian
Mesir- Israel.
B. Identifikasi, Pembatasan dan Perumusan Masalah
Untuk mempermudah penulis membuat karya tulis berbentuk skripsi ini,
maka penulis perlu membatasi pembahasan mengenai Mesir Pada Masa
11
Hermawati, Sejarah Agama dan Bangsa Yahudi, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada,
2005), h. 171
12
Ahmad Munif, 50 Tokoh Legendaris Dunia , h. 14
7
Pemerintahan Anwar Sadat: Upaya Anwar Sadat dalam Perdamaian MesirIsrael. Hal ini dimaksudkan arah dan sasaran yang dikehendaki akan lebih jelas
dan terarah.
Dari pembatasan tersebut dapat dirumuskan sebagai berikut:
a. Apa yang melatarbelakangi Presiden Anwar Sadat berdamai dengan
Israel?
b. Mengapa Presiden Anwar Sadat mau melakukan Perdamaian tersebut?
c. Bagaimana respon masyarakat Mesir tentang Perdamaian tersebut?
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian
Penelitian skirpsi ini bertujuan Sebagai berikut: Pertama, Untuk
mengetahui Latar belakang Presiden Anwar Sadat melakukan Perdamaian MesirIsrael, Kedua, Untuk Mengetahui mengapa Presiden Anwar Sadat melakukan
Perdamaian, Ketiga, Untuk Mengetahui Respon Masyarakat Mesir tentang
Perdamaian Mesir-Israel.
Adapun dalam penelitian skripsi ini diharapkan dapat memberi manfaat
sebagai berikut:
1. Memberikan manfaat yang luas tentang negara Mesir pada masa
Anwar Sadat
2. Memberikan manfaat bagi penulis dan para pencinta studi sejarah
dalam rangka pengembangan sejarah Islam di Mesir.
3. Menambah perbendaharaan ilmu pengetahuan
4. Sebagai bahan perbandingan bagi penulis selanjutnya
8
5. Untuk mendapatkan gelar S1.
D. Kajian Pustaka
Pada tahapan ini peneliti melakukan apa yang disebut dengan kajian
pustaka yaitu mempelajari buku-buku referensi dan hasil penelitian sebelumnya
yang pernah dilakukan oleh orang lain. Tujuannya untuk mendapatkan landasan
teori mengenai masalah yang akan diteliti. Penelitian mengenai Anwar Sadat telah
dilakukan oleh Arief, R. A, Politik Luar Negeri Mesir Pasca Perjanjian Camp
David: Peran Mesir bagi Terciptanya Stabilitas Politik Timur Tengah, Jakarta:
Tesis UI, 2000, dan Baehaki, Ahmad, Inkosistensi Anwar Sadat tentang
Demokrasi, Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah, 2007. Tapi kajian-kajiian tersebut
belum memberikan topik pembahasan yang detail seputar upaya Anwar Sadat
dalam perdamaian Mesir-Israel. Penulisan ini dimaksudkan untuk mengisi ruang
yang masih kosong tersebut. Adapun buku yang saya jadikan sumber dalam
penulisan skripsi yang berjudul Mesir Pada Masa Pemerintahan Anwar Sadat:
Upaya Anwar Sadat dalam Perdamaian Mesir-Israel, yaitu Anwar Sadat,
“Anwar Sadat Mencari Identitas sebuah Autobiografi, terj”. Jakarta; Tiara
Pustaka. 1983. Muhammad Haekal. “Anwar Sadat: Kemarau Kemarahan”
Jakarta: Grafiti Perss. 1984, dan sumber- sumber lain yang dijadikan sumber
dalam penelitian skripsi ini.
E. Metodologi Penelitian
Laporan penelitian ini menggunakan pendekatan sejarah dan metode yang
9
digunakan adalah metode deskriptif analisis. Poin-poin penting yang akan ditulis
dipaparkan sesuai dengan bentuk, kejadian, suasana dan masanya.
Untuk memperoleh data serta bahan bacaan yang lebih lengkap, dalam
penulisan proposal ini penulis menggunakan metode penelitian sejarah melalui
kajian kepustakaan (Library Research), yaitu penelitian yang berdasarkan pada
sumber tulisan sebagai sumber utama, seperti buku, dokumen, jurnal, dan makalah
yang merekam dan memberi informasi tentang objek yang diteliti.
Pengumpulan data atau sumber informasi primer dan sekunder yang
berkaitan dengan objek penelitian, sebagai langkah awal, dilakukan dengan
mencari data-data di beberapa tempat, Perpustakaan UIN Syarif Hidayatullah
Jakarta, Perpustakaan Pasca Sarjana UIN Syarif Hidayatullah, LIPI, Perpustakaan
Nasional, Perpustakaan Kementrian Pendidikan, Perpustakaan Pemerintahan
Daerah Bogor, dan lain-lain. Selain itu juga penulis menggunakan data-data
pribadi seperti buku-buku dan koran yang berkaitan dengan tema skripsi.
Adapun pedoman yang digunakan dalam penulisan hasil penelitian ini
adalah buku Pedoman Penulisan Karya Ilmiah Skripsi, Tesis, dan Disertasi yang
diterbitkan oleh UIN Press, dengan harapan bahwa penulisan ini tidak hanya baik
dari segi isi, tetapi juga baik dari segi metode penulisan.
a. Pendekatan Studi
Dalam studi ini, penulis menggunakan pendekatan sosiologis yang mana
pendekatan ini dipergunakan dalam penggambaran tentang peristiwa masa lalu,
yang di dalamnya akan terungkap segi-segi sosial dari peristiwa yang dikaji dan
10
pembahasannya mencakup golongan sosial yang berperan, jenis hubungan sosial,
pelapisan sosial, peranan dan status sosial.13
Dalam penyusunan rencana penelitian, peneliti akan dihadapkan pada
tahap pemilihan metode atau tekhnik pelaksanaan penelitian. Metode yang
digunakan dalam penulisan hasil penelitian ini adalah Metode Sejarah yaitu proses
menguji dan menganalisis kesaksian sejarah guna menemukan data yang otentik
dan dapat dipercaya, serta usaha yang sintesis atas data semacam itu menjadi
kisah yang dapat dipercaya14.
Jenis penelitian ini adalah penelitian Kepustakaan (Library Research) yaitu
Penelitian atau Studi kepustakaan dilakukan terutama terhadap buku-buku,
majalah, serta surat kabar yang berkembang pada masanya.
b. Sumber Data
Sumber data ini merupakan bagian sangat penting untuk digunakan dalam
penelitian, untuk menjelaskan valid atau tidaknya suatu penelitian. Dalam hal ini
penulis akan menggunakan :
a. Data Primer, merupakan data utama yang diperoleh dari orang yang
menyaksikan terjadinya peristiwa sejarah.
b. Data Sekunder, merupakan data yang diperoleh dari sumber yang tidak
menyaksikan secara langsung peristiwa Sejarah.
13
Dudung Abdurrahman, M. Hum, Metodologi Penelitian Sejarah, (Jakarta : Logos
Wacana Ilmu,1999, Cet II), h. 11
14
Louis Gottschlak, Mengerti Sejarah, Terj, Nugroho Noto Susanto, (Jakarta: Universitas
Indonesia Perss, 1985), h.22.
11
c. Pengolahan dan Analisis Data
Setelah data diperoleh, maka langkah selanjutnya penulis mengolah data
dengan interpretasikan data data yang diperoleh. Dalam hal ini penulis
menggunakan deskriptif analistis yaitu penulis berusaha menggambarkan obyek
penelitian yang sesuai dengan kenyataan yang ada.
F. Sistematika Penulisan
Secara keseluruhan skripsi ini dibagi menjadi lima Bab, termasuk di
dalamnya Bab Pendahuluan dan Penutup. Adapun susunan skripsi ini adalah
sebagai berikut:
Bab I,
Pendahuluan yang terdiri dari: Latar Belakang Masalah, Identifikasi
Pembatasan dan Perumusan Masalah, Tujuan dan Manfaat Penelitian,
Kajian Pustaka, Metode Penelitian, dan Sistematika Penulisan.
Bab II, Berisi uraian singkat mengenai Biografi Anwar Sadat, Latar Belakang
Keluarga, Pendidikan, dan Karya-Karyanya.
Bab III, Mesir pada masa Anwar Sadat. Peran Anwar Sadat di Mesir, Kondisi
Pemerintahan di Mesir, Kondisi masyarakat Mesir
Bab IV, Anwar Sadat dalam Upaya Perdamaian Mesir-Israel, Kebijakan Anwar
Sadat pada Perdamaian Mesir Israel, Dampak dari Perdamaian Mesir
Israel, Respon Masyarakat Mesir terhadap Perdamaian tersebut.
Bab V, Berisi Penutup, Kesimpulan dan Saran
BAB II
BIOGRAFI ANWAR SADAT
A. Latar Belakang Keluarga
Anwar Sadat dilahirkan di Mit Abu Al-Kum, Al-Minufiyah, Mesir, dalam
sebuah keluarga Mesir-Sudan yang miskin. Ayahnya berasal dari Mesir,
sementara ibunya orang Sudan. Ayah Sadat memiliki empat orang Istri yang
pertama tidak diketahui secara jelas identitasnya, yang kedua Sitt el- Barrien,
Fatoum dan Amina, dan memiliki 13 anak dari keseluruhannya.
Ayah Sadat bernama Moehamed el- Sadaty dan ibunya Sitt el- Barrien,
anak dari seorang Budak yang didatangkan dari Sudan, Afrika Utara, yang baru
merdeka
ketika
penghapusan
perbudakan
dilakukan
Inggris
di
masa
Penjajahannya. Sebelum menikahi Sitt el- Barrien, Moehamed telah lebih dulu
menikah, Tetapi tidak dikaruniai anak sehingga
bercerai. Ayahnya bekerja
sebagai penerjemah pada sebuah datasemen Korps kesehatan tentara Inggris di
Shebin el- Kom yang melakukan riset tentang penyakit tropis.15
Setelah menerima sertifikat pendidikannya, Moehamed el-Sadaty bekerja
sebagai rombongan kesehatan, ia menjabat sebagai penterjemah dengan rakyat
desa itu.
Kemudian pada usia 13 tahun ayah Sadat dinikahkan oleh ibunya
dengan seorang gadis setempat. Dari istri pertama ini ia tidak dikaruniai seorang
anak, bahkan anggota keluarganya pun tidak ingat siapa nama dari istri pertama
15
Mohammed Heikal, Anwar Sadat: Kemarau Kemarahan, Terj, Arwah Setiawan,
(Jakarta: Temprin, 1986), h. 6
12
13
ayah Sadat . 16
Nenek Anwar Sadat bernama Siit Om-Mohamed. Ia sangat berpengaruh
pada diri Sadat pada masa kanak-kanaknya. Ia memiliki kepribadian yang sangat
kuat dan punya kearifan. Nenek Sadat sangat miskin, walaupun demikian ia sering
berkeliling ke rumah-rumah keluarga yang kaya yang lebih mampu untuk menjual
bahan-bahan makanan seperti mentega, tetapi ia bekerja keras dengan tekad
bahwa putra tunggalnya harus bisa mengenyam pendidikan. Karena keuletan yang
dimilikinya pada akhirnya ayah Sadat berhasil menyelesaikan pendidikan di
sekolah dasar pertamanya di desa tetangga yang lebih besar, Shebin el-Kom.
Setelah beberapa tahun kemudian rombongan Moehamed el- Sadaty
ditugasi bekerja ke Sudan dan ia dengan senang hati mengikuti mereka. Tetapi
sebelum kepergiannya Om-Mohammed telah mengatur perkawinan kedua
baginya. Wanita kedua yang dinikahinya adalah Sitt el-Barrien. Ia adalah putri
kedua dari Khaerallah, yang semula didatangkan sebagai budak dari Afrika.
Khaerullah adalah budak yang dibebaskan oleh majikannya pada saat setelah
pendudukan Inggris yang melakukan tekanan untuk menghapus perbudakkan pada
saat itu. Sitt el-Barrien inilah yang melahirkan Sadat ke dunia, Sadat sangat mirip
sekali dengan ibunya dengan warisan raut wajah dan kulit
negronya. Sadat
merupakan anak kedua dari empat bersaudara, Talaat, Anwar Sadat, Esmat, dan
Nefisa. Nama-nama tersebut mencerminkan kekaguman ayah mereka terhadap
pemimpin Kaum Muda Turki setelah Revolusi 1908. Keluarga Sadat tinggal di
rumah berdinding tanah milik neneknya, yang di panggil Om- Mohammed artinya
16
Mohammed Heikal, Anwar Sadat: Kemarau Kemarahan, h. 6
14
ibunya Mohammed. Pada tahun 1925 ketika Sadat berusia tujuh tahun, seluruh
keluarganya pindah ke Kairo melanjutkan sekolah di kota itu.17
Setelah ayah Sadat meninggalkan Sudan pada tahun 1925 ia pergi ke
Mesir untuk pekerjaannya. Moehamed el-Sadaty kemudian mencari tempat
tinggal untuknya dan keluarganya dan menemukan tempat tinggal di suatu tempat
yaitu di Flat tingkat satu dari rumah bertingkat di Kubri el-Kubba, suatu daerah
pinggir Kairo, Sharia Mohamed Badr No. 1.
Akan tetapi karena sudah terbiasa dengan lingkungan negara asalnya, yaitu
Sudan, ibu Anwar Sadat tidak dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan Kairo,
maka Siit Om-Mohamed sangat paham dengan kepentingan putra kesayangannya
itu, dan dia pun mulai mencarikan istri lagi untuk anak kesayangannya.
Moehamed el- Sadaty hanya bisa patuh terhadap ibunya. Ia pun menikahi Fatoum
wanita dari Mansura. Pada pernikahan yang ke tiga ini dengan Fatoum ia tidak
dikaruniai seorang anak.
Kemudian pada suatu hari ada beberapa tamu datang dari Mit Abu el-kom
ke rumah Moehamed el- Sadaty. Mereka berkunjung dengan membawa anak
gadis, yang bernama Amina. Ia berumur delapan belas tahun. Gadis ini berkulit
terang, Moehamed el-Sadaty jatuh cinta kepadanya. Iapun mengatur penikahan
yang ke empat dan segera melamarnya. Amina menggantikan posisi Fatoum yang
malang itu.
Sulit dimengerti bahwa Sitt el-Barrien sudah dikalahkan oleh dua saingan
dari istri-istri ayahnya Sadat. Amina sangat cepat menguasai Moehamed el-
17
Ahmad Munif , 50 Tokoh Legendaris Dunia, h. 15
15
Sadaty. Ia pun dikaruniai Sembilan orang anak yaitu dua laki-laki dan tujuh orang
anak perempuan. Sadat muda sangat kehilangan masa kebebasan dan gairah
hidupnya. Ia juga sering menyaksikan ibunya diturunkan ke posisi perbudakan.
Segala beban pekerjaan rumah tangga dipikul oleh Sitt el-Barrien. Bila ia
membuat kesalahan, ia dipukul oleh ayahnya Mohamed el-Sadaty di depan anakanaknya.18
Pada usia dua puluh dua tahun Anwar Sadat lulus akademi militer
kerajaan Kairo. Sadat menikah dua kali, istri yang pertama yaitu Ekbal
Mohammed Madi dan mempunyai tiga putri yaitu Rokaya, Rowiya, Camelia.19
Pada tahun 1942-1945 tanpa alasan yang jelas, Anwar Sadat ditahan. Setelah
keluar dari penjara, pada tahun 1945, setahun kemudian ia ditangkap lagi.
Mungkin penangkapannya kali ini dikaitkan dengan terbunuhnya Menteri
Keuangan Mesir. Tahun 1948, Sadat diadili dan divonis bebas. Bulan Maret tahun
1949 ia menceraikan Ekbal dan 2 bulan kemudian menikah dengan Jihan Raouf
(kemudian dikenal dengan Jehan Sadat) Mereka punya satu anak laki-laki yaitu
Gamal, dan tiga anak perempuan: Lobna, Noha dan Jehan. Tahun 1954 Sadat
diangkat menjadi Menteri Penerangan.20
Jehan Sadat adalah seorang perempuan yang energik, dinamis, berani dan
punya keinginan untuk meningkatkan hak-hak wanita di Mesir. Orang terpesona
dan setengah kaget atas keberaniannya pada saat suaminya akan disumpah
menjadi presiden. Jehan melangkah melewati ambang pintu terlebih dulu. Hal ini
18
Mohammed Heikal, Anwar Sadat: kemarau Kemarahan, h. 9
Bambang Widiatmoko, “Sadat, Anwar Al-“ dalam Ensiklopedia Nasional Indonesia,
(Jakarta: Cipta Adi Pustaka, 1990), h. 313
20
Ahmad Munif, 50 Tokoh Legendaris Dunia, h. 15
19
16
dinilai sangat radikal di sebuah negara Islam, tempat para wanita diharuskan
berjalan di belakang suaminya. Dengan nada membela istrinya, Sadat mengatakan
bahwa ia dan istrinya ingin membuka babak baru bagi hak asasi perempuan di
Mesir. Sejak menjadi ibu negara pada 17 Oktober 1970, Jehan Sadat semakin
sibuk, terutama dalam kegiatan sosial untuk membantu rakyat kecil yang tinggal
di Lembah Nil. Jehan juga aktif di Bulan Sabit Merah (Palang Merah) tiga tahun
sejak sebelum menjadi ibu negara sampai tiga tahun kemudian setelah menjadi
ibu negara. Jehan juga seorang akademikus yang memperoleh Master of Art
bidang sastra Arab pada 1980 dari Universitas Kairo.21
Empat tahun setelah kematian suaminya, Jehan lebih banyak tinggal di
Washington, mengajar di American University dan University of South Carolina
tentang wanita di negeri Islam. Jika ia mengunjungi Mesir, ia selalu berziarah ke
makam Anwar Sadat. Di matanya selalu terbayang percikan darah Sadat yang
membasahi lantai kayu mimbar. “Aku selalu teringat jerit dan tangis ketakutan
cucu perempuanku di tengah desingan peluru yang menghantam tembok
penghalang di sampingku,” ujarnya.22
Para idealis perwira muda berbicara politik, memperdebatkan cara terbaik
untuk membersihkan negara mereka dari Inggris. Pada 1939 Sadat memasuki
Korps Sinyal. Sementara Nasser berada di Sudan, Sadat merencanakan tindakan
langsung melawan Inggris. Sesekali ia bertemu dengan Hassan Al-Banna, guide
agung Ikhwanul Muslimin, kelompok fanatik agama yang ingin mengubah Mesir
21
22
http://panglima-ali.com/2011/04/jehan-sadat-selalu-mencintai-sadad/
Ahmad Munif “50 Tokoh Legendaris Dunia”, h. 15
17
menjadi teokrasi23.
Ketika Anwar Sadat bertugas di Manqabat, ia bertemu pertama kalinya
dengan Nasser. Dalam bukunya Sadat menyebut bahwa ketika tiba di Manqabat ia
sebenarnya sudah menjadi Revolusioner rahasia yang jauh lebih matang daripada
rekan-rekan perwiranya yang kebanyakan tidak punya pendidikan politik.
Pertemuan pertama Sadat dan Nasser dipandang agak berbeda
“Meskipun Nasser dan saya bertemu pada usia beliau Sembilan belas, saya
tidak bisa mengatakan bahwa hubungan kami pernah melebihi saling
percaya dan saling hormat: sama sekali bukan sesuatu yang bisa kita
namakan persahabatan. Tidak mudah bagi Nasser untuk mempunyai
sahabat dalam arti kata sebenarnya, karena ia punya kecenderungan untuk
waspada , curiga, sangat pahit dan mudah naik pitam.24
Yang memberikan pengaruh lebih berarti terhadap kariernya adalah orang
lain yang dijumpai Sadat di Maadi. Ia seorang perwira angkatan udara. Ia bernama
Hassan Ezzat. Ezzat adalah anggota satuan kelompok gelap dalam angkatan udara
yang juga mempunyai hubungan dengan Jendral Aziz el-Masri inspektur jendral
angkatan darat. Tujuan dari kelompok ini ialah mengadakan kerjasama dengan
Jerman, dengan menggunakan tentara mereka yang sedang maju untuk mengusir
Inggris dan memerdekakan sejati bagi Mesir.
Selama kepemimpinan Nasser, Sadat pernah menjadi juru bicara di
Parlemen Mesir selama sepuluh tahun. Ia selalu mencintai teater dan salah satu
ambisi awalnya adalah menjadi actor. Nasser memberinya pekerjaan sebagai Juru
Bicara karena kata Nasser, Sadat mempunyai suara yang bagus dan dapat
berpidato dengan retorika seperti orang Suriah.
23
24
http://www.answers.com/topic/anwar-al-sadat#ixzz1JMu9m5zX
Mohammed Heikal, Anwar Sadat: Kemarau Kemarahan, h. 12
18
Anwar sadat adalah satu dari tiga perwira Mesir yang menggulingkan
Monarki Mesir bersaama Nasser tahun 1953. Sejak muda dia telah berjuang
melawan Inggris dan tahun 1942 ia ditangkap kemudian dalam Ketentaraan dia
dekat dengan Nasser dan sejak Nasser berkuasa ia selalu mendampinginya. 25
Pada tahun 1969, setelah memegang berbagai jabatan dalam pemerintahan
Mesir. Sadat dipilih Gammal Abdel Nasser untuk menjabat sebagai wakil
Presiden. Nasser mengangap bahwa pada saat itu memang giliran Sadat.26 Setelah
Gamal Abdel Nasser meninggal, Anwar Sadat dilantik dan dipilih menjadi
presiden27
Anwar Sadat memerintah dalam bayang-bayang pendahulunya, Gamal
Abdul Nasser. Memang Nasser sangat berpengaruh pada waktu itu. Orang-orang
pro-Nasser masih sangat kuat dan berdiri di belakang Wakil Presiden Ali-Sabry.
Sadat menyadari betul jika ingin kedudukannya tidak goyah dan pemerintahannya
bisa kuat, pengaruh Nasser harus dihilangkan atau setidak-tidaknya dieliminir. Ia
singkirkan para penentang, merekrut militer dan birokrat senior dari kalangan
atas. Presiden Sadat kemudian membentuk Majelis Nasional di bawah undangundang yang memberikan wewenang untuk membersihkan lawan-lawannya dan
menempatkan Angkatan Bersenjata di bawah perintahnya.
25
Presiden Sadat Dibunuh, Kompas Rabu, 7 Oktober 1981
Karen Amstrong. Perang Suci: dari Perang Salib Hingga Perang Teluk, (Jakarta:
Serambi, 2004), h.,503
27
Lugger Ballack. Kisah Tragis 28 Penguasa: Intrik, Spionase dan Pembunuhan.
(Jakarta: Visimedia, 2007. Cet I), h.107
26
19
B. Pendidikan
Anwar Sadat awalnya mengenyam pendidikan atas dasar neneknya yang
ingin sekali menyekolahkan cucunya mengikuti jejak ayahnya. Mula-mula
neneknya memasukan Anwar Sadat ke pengajian didekat desa ia tinggal, di sana
ia belajar menulis, membaca dan menghafal Al- Qur’an.28 Kemudian ia
disekolahkan oleh ayahnya di Gereja Koptik di Toukh, ayahnya memilih sekolah
swasta ini karena biaya pendidikannya ini tidak terlalu mahal. Namun tidak
beberapa lama kemudian Anwar Sadat pindah ke sekolah Perkumpulan Islam.
Sekolah itu terletak di Zaitun, tidak jauh dari rumahnya, dari sekolah inilah ia
baru mengetahui tanggal kelahirannya yakni 25 Desember 1918. Di sekolah
perkumpulan Islam Sadat belajar di kelas awal dan dua tahun di tingkat
pendidikan dasar. Sadat lulus dengan angka yang cukup baik. Kemudian Sadat
pindah ke sekolah Sultan Hussein di Heliopolis di sini ia tamat dengan
memperoleh General Certificate of Primary Education. Pada tahun 1930 Sadat
dan abangnya Taalat masuk sekolah pertama raja Fuad I. 29
Ia mengikuti abangnya Taalat ke sekolah negeri normal untuk anak laki-laki
setingkatnya, tapi ketika ia di sekolah lanjutan pertama, sesuatu hal terjadi yang
mengakibatkan ia harus meninggalkan sekolah itu dan pindah ke sekolah lain
yang lebih rendah statusnya. Dalam autobiografinya Sadat menyebutkan secara
tidak langsung kejadian yang kurang enak itu:
“Saya sadar bahwa kegagalan saya merupakan titik balik dalam hidup
saya. Saya sadar kegagalan merupakan sebuah pertanda bahwa tuhan
28
Anwar Sadat, Anwar Sadat Mencari Identitas sebuah Autobiografi, Terj, Banu
Iskandar, ett. all.,”.(Jakarta; Tiara Pustaka, 1983), h.5
29
Anwar Sadat, Anwar Sadat Mencari Identitas sebuah Autobiografi, h. 9
20
kecewa terhadap saya, mungkin karena kealpaan saya, mungkin karena
ketakaburan saya .... Begitulah, dalam semangat yang demikian dan
dalam perasaan yang kabur itu- kombinasi rasa dosa dan taubat – saya
menyerahkan skripsi saya ke sekolah lain.”
Selama ia duduk di bangku sekolah menengah di Kairo kehidupan
keluarganya berada di garis kemiskinan. Dengan gaji terbatas ayahnya harus
membiayai sekolah tiga belas putra dan putrinya. Maka walupun tinggal di kairo
mereka membuat roti sendiri dengan tungku besar karena tidak mampu membeli
roti yang biasa penduduk Mesir membeli di toko-toko roti. 30
Masa-masa sekolahnya sangat tidak menyenangkan karena terbentur
faktor ekonomi yang sangat minim. Karena kedaaan ekonomi yang minim itulah
Anwar Sadat hanya mempunyai satu stel jas tua yang dipakai untuk sekolah dan
tidak pernah diganti atau diperbaharui. Hal ini sangat jauh berbeda dengan temanteman usianya di sekolah, yang terpenting bagi Sadat adalah jasnya itu memenuhi
kebutuhannya. Ia tidak mempermasalahkan apakah jas itu bagus atau jelek, mahal
ataupun murah tidak menjadi soal baginya. Ia selalu tampil apa adanya, sebagai
pemuda desa yang menggap bahwa menggarap tanah lebih mulia dari pada
penduduk desa yang hanya hidup dari berdagang.
Anwar Sadat saat berusia tujuh tahun, pindah ke Kairo beserta seluruh
keluarganya. Ia melanjutkan sekolah di kota itu. Pada tahun 1940 Anwar Sadat
lulus di Akademi Militer Kerajaan Kairo dalam usia 22 tahun. Masa sekolah di
kairo membuka mata pikiran Anwar Sadat untuk melihat perbedaan antara
kehidupan kota dan kehidupan desa. Anwar Sadat selalu memberi kesimpulan
30
Anwar Sadat, Anwar Sadat Mencari Identitas sebuah Autobiografi, h. 11
21
bahwa ia tidak menyukai kehidupan kota. Karena baginya kota sudah banyak
dipengaruhi oleh budaya orang Inggris. 31
Terlepas dari kegiatan politik yang ia tekuni, setelah lulus dari Akademi,
Sadat menekuni kegiatan budaya yang sama pentingnya karena kegiatan ini
mendukung kegiatan politik. Oleh sebab itu ia mendaftarkan diri pada Lembaga
Inggris di Mesir dan memperoleh gelar BA dari Universitas London.32
Ia sangat menyukai sekali membaca. Karena itu ketika ia berlibur ia selalu
menyempatkan dirinya untuk pergi ke Kairo untuk membeli buku di toko loakan
di dekat taman Izbekiah. Apabila ia bertugas ke suatu daerah ia menulis surat ke
berbagai penerbit dan toko buku untuk meminta daftar buku. Barangkali inilah
yang membedakan Anwar Sadat dengan teman-teman lainnya. Ketika ada di
Manqabad biasanya ada bus Angkatan Bersenjata yang setiap hari Kamis siang
mengangkut Sadat dan teman-teman ke Asyut. Sore itu teman-teman Sadat
mencari tempat-tempat hiburan, sedangkan Sadat hanya duduk di kedai kopi dekat
stasiun kereta api, menghisap pipa, dan membaca buku yang ia beli di Kairo
hingga saat teman-teman Sadat kembali dari tempat hiburan dan siap pulang.
Kemudian Sadat bersama-sama teman-temannya kembali dari tempat hiburan dan
pulang dengan bus menuju asrama. 33
Sebagai anak sekolah, Sadat sering berdemonstrasi menentang Inggris,
yang menduduki Mesir pada waktu itu. Sadat lulus dari akademi pada tahun 1938.
Di sana ia pertama kali bertemu Nasser, seorang pemimpin alami, serius dan agak
menyendiri. Sebagai anak dari seorang petani Sadat dikenal sebagai anak yang
31
Mohammed Heikal, Anwar Sadat: Kemarau Kemarahan, h.14
Anwar Sadat, Anwar Sadat Mencari Identitas sebuah Autobiografi, h. 26
33
Anwar Sadat, Anwar Sadat Mencari Identitas sebuah Autobiografi, h. 26
32
22
sederhana.
Sikapnya
dibentuk
oleh
kemiliteran.
Dia
sangat
mencintai
keluarganya. Kegemarannya adalah menghisap pipa membaca novel detektif
nonton film serta menggunakan pakaian tani yang longgar. Sadat juga orang yang
religius namun ia tidak puritan.34
Pada tanggal 26 Agustus 1936 ditandatangani persetujuan penghapusan
persyaratan untuk menjadi seorang perwira guna mengembangkan pasukan Mesir.
Maka terbukalah peluang bagi pemuda-pemuda seperti Anwar Sadat dan Gamal
Abdel Nasser untuk menjadi perwira. Masa pendidikan diperpendek menjadi
sembilan bulan. Sadat lulus dari Akademik Militer kerajaan sebagai letnan dua
infanteri pada bulan Februari 1938.35
C. Karya-karya Anwar Sadat
Ketika ia mendekam di penjara, Anwar Sadat mengalami masa-masa sulit.
Ia merasa sangat kesepian. Untuk mengusir rasa sepi yang diderita ini ia banyak
membaca buku. Meskipun di dalam penjara ia senang belajar bahasa, sehingga di
samping mampu berbicara dalam bahasa Arab dan Inggris, ia juga menguasai
bahasa Jerman, Prancis, dan Persia. Perkenalannya dengan beberapa penulis
Amerika Serikat, seperti Douglas dab Zane Greyy, membuat ambisi Sadat untuk
belajar Politik kian meledak. Namun, jika ditanya siapa lagi yang amat
mempengaruhi kepribadiannya, maka Sadat akan pasti menjawab Khalifah Oemar
Ibn Khattab. 36
34
Presiden Sadat Dibunuh , Kompas Rabu, 7 Oktober 1981
Mohammed Heikal, Anwar Sadat: Kemarau Kemarahan, h.14
36
Anshari dan Anas Sadaruaan, Anwar Sadat Antara Pahlawan dan Penghianat
(Surabaya: Bina Ilmu, 1982), h, 1
35
23
Meskipun demikian, ia tidak hanya dipengaruhi oleh beberapa tokoh di
atas. Beberapa orang besar lainnya yang ia kagumi juga berpengaruh kendati tidak
sebesar pengaruh orang-orang di atas. Setidaknya ada beberapa tokoh lagi yang di
sebut-sebut sangat dikagumi oleh Anwar Sadat. Di antaranya adalah Zahran,
figure sentral yang menjadi teman akrabnya sejak kecil di Mesir, meskipun
Zahran tidak seperti Douglas, namun ia cukup berpengaruh terhadap Sadat.
Sementara yang lain, Mustofa Kemal Attaturk, Mohandas Gandhi, Adolf Hitler,
Hasan al-Banna dan Gamal Abdul Nasser adalah figur yang ia kagumi.
Dari berbagai pertemuan dan petualangannya dengan sejumlah tokohtokoh di atas ditambah lagi minat bacanya yang tinggi ketika Sadat mendekam di
penjara, maka ia menghasilkan sejumlah karya-karyanya. Karya besarnya antara
lain:
1. The full Story of the Revolusion (1954)
2. Unknow Pages of the Revolusion (1955)
3. Revolusion on the nile (1957)
Sementara dalam karya lain adalah:
1. Son, This is your uncle gamal Memorirs of Anwar Sadat (1958)
2. In Search of Identity: An Autobiography (1978)
3. The Story of his life and of his country after (1918)
4. The prince of the Island (1956)37
5. Thirty Month in Prison (buku ini menceritakan watak Anwar
37
http://en.wikipedia.org/wiki/Anwar_Sadat
24
Sadat, buku ini sempat ditarik dari penerbitan namun setelah ia jadi
Presiden kemudian buku ini diterbitkan kembali)38
38
Mohammed Heikal, Anwar Sadat: kemarau Kemarahan,h. 18
BAB III
MESIR PADA MASA ANWAR SADAT
A. Kondisi Pemerintahan di Mesir
Pada masa pemerintahannya Sadat memberi sebuah identitas Islami yang
khas pada Mesir dibandingkan masa Nasser. Pada masanya berbagai mesjid baru
dibangun dan orang-orang kaya didorong melalui potongan pajak untuk
menyumbang proyek-proyek pembangunan suci. Hukum Islam diperkenalkan
lagi. Murtad menjadi pelanggaran hukum berat dan muncul pembicaraaan untuk
menerapkan hukum potong tangan bagi pencuri. Penjualan alkohol dilarang di
jalanan dan dibatasi hanya boleh di bar-bar dan klub-klub khusus. Sebuah stasiun
radio Islami menyajikan pembacaan al-Qur’an sepanjang hari, bahkan adzan pun
dikumandangkan di program- program radio Mesir.
Untuk mendorong Islam bangkit, Sadat ingin mencampurkan agama ke
dalam pemerintahannya. Namun pada kenyataannya adalah bahwa sistem
pemerintahan yang diperbaharui Sadat mendorong munculnya radikalismerevolusioner baru di Mesir. Tentu saja rakyat Mesir bukan satu-satunya yang
menemukan kekuatan Islam pada saat itu. Selama tahun 1970-an, muncul gerakan
Islam yang kuat di Iran. Mestinya gejala ini bisa membuat Sadat waspada. Ia
sahabat baik Syah Iran. Ia memandang Iran yang saat itu negara maju yang
memodernisasikan diri, sebagai model bagi Mesir tapi pada tahun yang sama
dengan perjanjian Camp David antara Mesir dan Israel, sebuah Revolusi Islami
menumbangkan rezim kuat Syah Iran dan Syah Reza Muhammad Pahlevi tepaksa
25
26
mengungsi ke Mesir.39
Pada tahun 1970-an pemerintah mesir terang-terangan merujuk kepada
Islam. Sadat banyak sekali menggunakan lambang-lambang dari retrorika Islam.
Ia menyebut dirinya sebagai “Presiden Mukmin” karena ia menggunakan lambang
Islam pada pemerintahannya tersebut. Ia pernah mendorong pembangunanpembangunan mesjid dalam skala yang belum pernah ada sebelumnya. Ia juga
pernah melancarkan dan melegitimasi perang Mesir-Israel 1973 sebagai Jihad.
Sadat juga membebaskan angota Ikhwanul Muslimin dari penjara dan
mengijinkan mereka untuk menjalankan fungsi mereka dalam kehidupan
masyarakat, dan mendukung terbentuknya organisasi-organisasi mahasiswa Islam
di kampus-kampus untuk membendung pengaruh kubu Nasseris dan Kelompok
kiri.40
Setelah
ia dapat
mengembalikan
kehormatan
Arab,
yang telah
dilumpuhkan secara parah pada tahun 1967, masyarakat Mesir tidak perlu lagi
merasa berada dalam situasi bertahan dan dengan sendirinya bersikap memusuhi
dan bersikap negative pada gagasan Perdamaian. Pencapaian perang Oktober
1973 juga meningkatkan gengsi Anwar Sadat di negerinya sendiri. Ia kini dapat
menunjukan bahwa bila Nasser telah membuat orang Arab terhina, maka Sadat,
pada tahun 1973 telah memungkinkan bangsa-bangsa- Arab untuk sekali lagi
mengangkat kepala mereka. Tetapi Sadat ingin melangkahkan satu tahap lebih
jauh. Ia ingin dapat mengatakan bahwa jika Nasser telah kehilangan Semenanjung
39
Karen Amstrong, Perang Suci: dari Perang Salib Hingga Perang Teluk, (Jakarta:
Serambi, 2004), h. 506-507
40
John. L. Eposito dan John O. Voll., Demokrasi Di Negara-Negara Muslim, (Bandung:
Mizan, 1999), h. 236
27
Sinai pada tahun 1967, maka ia merebutnya kembali untuk Mesir. Kini setelah ia
mengangkat kehormatan bangsa Arab di Medan tempur dan membuktikan bahwa
mesir adalah sebuah kekuatan yang harusnya diperhitungkan. Ia mengusulkan
kepada Henry Kessinger selama negosiasi–negosiasi setelah perang bahwa ia
sungguh-sungguh memikirkan untuk memperbaharui tawaran damai yang ia buat
pada tahun 1971, yang telah ditolak dengan penuh cercaan oleh perdana Menteri
Golda Meir dan Menteri Pertahanan Moshe Dayan. 41
Setelah Empat tahun berkuasa Anwar Sadat mencoba membangun kembali
kepercayaan orang-orang Mesir. Ia berkonsentrasi pada perkembangan ekonomi.
Pada tanggal 6 Oktober 1973 Sadat mulai membangun jembatan, hotel-hotel
berbintang, jalan tol dan bangunan megah lainnya. Ia berhasil meyakinkan para
investor dari dalam negeri dan negara-negara teluk untuk membangun kembali
Kairo sebagai kota modern. 42
Kebijakan Politik dan Ekonomi Sadat bersikap terbuka memungkinkan
berkembangnya gerakan-gerakan Islam beragam dan bewajah majemuk. Ikhwanul
Muslimin muncul dari penjara dan kini mereka membentuk barisan kembali.
Meskipun masih menjadi partai yang tidak sah, Ikhwan mengerakan kembali
penerbitan-penerbitan dan aktivitasnya dan pada awalnya mendukung pemerintah,
meskipun kadang-kadang juga bersikap kritis. Setelah didera oleh penindasan,
pemenjaraaan dan siksaan, Ikhwan dibawah pimpinan Ommar Tilmassani
mengambil sikap tegas dengan menentang tindakan kekerasan dan menjalankan
41
Karen Amstrong, Perang Suci: dari Perang Salib Hingga Perang Teluk, h. 526-527
Zuhairi Misrawi, Al- Azhar: Menara Ilmu, Reformasi dan Kiblat Keulamaan, (Jakarta:
Kompas, 2010), h. 106
42
28
kebijakan yang jelas untuk berusaha mengadakan perubahan di dalam sistem.43
Hubungan baik Ikhwan dan Sadat tidak berlangsung lama, para tokoh Ikhwan
berani mengkritik masa pemerintah Anwar Sadat dan sistem politik serta
kebijakannya.44
Namun inisiatif-inisiatif Islami Sadat terbukti tidak produktif ketika ia
menemukan kenyataan yang telah diketahui oleh banyak orang dalam konteks
yang berbeda-beda. Organisasi-organisasi mahasiswa yang didukung pemerintah
dengan segera menjadi kekuatan besar di kampus-kampus dan mulai menyapu
bersih hasil pemilihan mahasiswa serta tampil sebagai organisasi yang mandiri.
Semakin lama rezim mendapati dirinya didikte oleh Ikhwan dan Jamaah Islamiah
yang militan sebuah organisasi payung untuk kelompok mahasiswa45.
Mereka mengecam Sadat atas kunjungannya ke Israel, kesediaanya
menandatangani perjanjian Camp David, dukungannya pada Syah Iran dan
kutukan nya terhadap Ayatullah Khoemeini, dan pengesahannya atas reformasi
undang-undang keluarga. Tokoh-tokoh Islam mencemooh dan menolak reformasi
hukum ini karena mereka anggap sebagai hasil pengaruh Barat. Mereka menyebut
undang-undang Jihan, mengacu pada Jihan Sadat, yang ibunya berasal dari Inggris
dan dia sudah terbaratkan.
Kebijakan ekonomi pintu terbuka (infitah) Sadat dianggap sebagai
ketergantungan ekonomi Mesir yang semakin besar pada barat dan mendorong
penetrasai budaya Barat dari pakaian dan prilaku hingga televisi, musik dan video.
43
John. L. Eposito dan John O. Voll, Demokrasi Di Negara-Negara Muslim, h. 236
M. Imdadun Rahmat, Arus Baru Islam Radikal: Transmisi Revivalisme Islam Timur
Tengah Ke Indonesia , (Jakarta: Erlangga,2007), h. 37
45
John. L. Eposito dan John O. Voll, Demokrasi Di Negara-Negara Muslim, h. 237
44
29
yang menguntungkan kaum elite terbaratkan yang menikmati hak istimewa dalam
ekonomi, dengan demikian mendorong tumbunya suatu masyarakat yang di
dalamnya yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin. Meskipun
banyak bergantung pada investasi asing, namun kesejahteraan masyarakat terusmenerus bergantung pada minyak, pada sektor pariwisata, bea teruzan Suez, dan
kiriman uang para pekerja dari luar negeri. Demikianlah hutang luar negeri Mesir
berkembang semakin besar.46
Dengan menyatakan pemisahan agama dan politik, Anwar Sadat
memperketat kendali atas Ikhwan dan berusaha menasionalkan masjid-masjid
(pribadi). Pada 1970-an, jumlah Masjid pribadi berlipat ganda kira-kira 20.000
menjadi 40.000. Dari 46.000 masjid di Mesir, hanya 6.000 yang dikontrol oleh
Kementrian Wakaf.47 Presiden Anwar Sadat yang berkuasa antara 1970-1981,
menjalankan “liberalisasi” baik di sektor ekonomi maupun politik. Setelah perang
Oktober 1973, Sadat membawa Mesir lebih pro-Barat.48
B. Kondisi Masyarakat Mesir Masa Anwar Sadat
Pada masa pemerintahan Presiden Anwar Sadat kondisi masyarakatnya
sangat memprihatinkan karena terjadi krisis moneter. Semua harga bahan pokok
melambung tinggi akibat kebijakan terbuka terhadap investasi asing dan
ketergantungan Sadat terhadap bantuan Amerika Serikat. Rezim baru masa
kepemimpinan Sadat mewarisi kemerosotan ekonomi dan politik yang
46
Ira M. Lapidus, Sejarah Sosial Umat Islam, , (Jakarta:Raja Grafindo Persada, 1999),
Cet ke-I, jilid III h., 127
47
John. L. Eposito dan John O. Voll, Demokrasi Di Negara-Negara Muslim, h. 238
48
M Riza. Sihbudi, Islam, Dunia Arab, Iran: Bara Timur Tengah. (Bandung: Mizan,
1991), h.103
30
ditinggalkan setelah pendahulunya Gammal Abdel Nasser terutama setelah
kekalahan Mesir pada tahun 1967. Hal ini sangat memprihatinkan sekali, karena
pada perang enam hari Mesir melawan Israel telah menghabiskan banyak korban
warga Mesir yang tidak bersalah dan biaya Perang yang dikeluarkan sangat tinggi
hingga Mesir mengalami kerugian yang sangat besar.49
Pada tahun 1973 ekonomi Mesir mengalami Krisis Moneter. Selama lima
tahun antara 1968 -1973 Mesir telah mengeluarkan 8 sampai 9 ribu juta dolar
untuk kepentingan peperangan. Bagi rakyat Mesir itu adalah pengorbanan dan
penderitaan yang luar biasa, Presiden Anwar Sadat dianggap gagal melindungi
rakyatnya dari segala hak-hak kehidupannya.50
Akibat kebijakan infitahnya terhadap perusahan asing yang masuk, Mesir
mengalami krisis yang sangat buruk. Dalam pemerintahan Sadat tidak selalu
berjalan mulus. Pada masanya terdapat begitu banyak korupsi dan terdapat
perbedaan stratifikasi sosial antara si kaya dan si miskin. Orang-orang yang
diuntungkan Infitah hanyalah orang-orang asing dan para miliuner Mesir, bukan
kaum para pebisnis Mesir yang lebih kecil. Hanya 4 % dari kaum muda Mesir
yang mampu menemukan pekerjaan dengan imbalan baik dan masa depan yang
sukses di Mesir baru ini. Selebihnya harus menghadapi pilihan keras. Jika mereka
tinggal di Mesir maka mereka menghadapi masalah pengangguran atau pekerjaan
yang dibayar amat murah serta tidak memiliki rumah tetap, karena bahkan
apartemen kecilpun harganya amat mahal. Akhirnya rakyat mulai merasa tidak
punya harapan dan putus asa. Satu-satunya cara memperbaiki keadaan adalah
49
John. L. Eposito dan John O. Voll, Demokrasi Di Negara-Negara Muslim, h. 235
Mohammad Heikal, Latar Belakang: Perang Arab Israel, (Jakarta: Badan Penerbit
Alda. 1978 Cet I), h. 244
50
31
dengan emigrasi.51
Di negara-negara teluk yang berkembang dan makmur, para intelektual
muda Mesir dan buruh-buruh terampil biasa mendapatkan banyak uang. Ribuan
orang Mesir meninggalkan negerinya untuk waktu yang lama, mengirim uang dari
teluk ke rumah mereka serta menabung untuk masa depan mereka. Di negeri asing
mereka bergabung dengan para pengungsi Palestina, yang juga hidup makmur di
teluk dan kemudian bersama-sama membentuk sebuah kelompok elit baru di
dunia Arab yang sering kali dibenci dan ditakuti.
Ribuan petani juga meninggalkan Mesir untuk bekerja di negara Arab
lainnya, tempat mereka biasa mendapatkan imbalan sekedar untuk membangun
sebuah rumah atau membeli traktor ketika nantinya mereka kembali ke rumah.
Sadat memaksa banyak rekan senegaranya melakukan hijrah dari tanah air mereka
karena ia telah membuat mustahil hidup di Mesir hingga masyarakatnya pun
berpindah.52
Gaya hidup Sadat berbanding terbalik sekali dengan masyarakatnya yang
serba kekurangan. Ia memiliki 120 rumah peristirahatan, banyak di antaranya
dibangun kembali dengan biaya miliyaran Pon Mesir. Ia juga semakin sering
bergaul dengan para desainer Barat. Ia juga sering bergaul dengan para kapitalis
semacam David Rockefeller. Istrinya Jihan berpakaian seperti pakaian orang
Barat dan berprilaku sebagaimana orang Barat. Ini amat mengejutkan orang
Mesir. Jihan menjadi amat luwes bergaul dengan orang Barat. Ketika para tamu
tiba ia seringkali terlihat mencium pipi mereka, yang terus terang dipandang
51
52
Karen Amstrong, Perang Suci: dari Perang Salib Hingga Perang Teluk, h.527
Karen Amstrong, Perang Suci: dari Perang Salib Hingga Perang Teluk, h. 529
32
sebagai perbuatan memalukan bagi orang-orang Mesir.53
Dalam tekanan hidup tersebut banyak kaum muda yang berpaling pada
agama. Kaum Muda bergerombol menuju berbagai asosiasi mahasiswa Islam
(Jama’ah Islamiyyah), mulai mengendalikan kampus setelah perang Oktober.
Pada
tahun 1976 Sadat mengeluarkan peraturan baru yang memungkinkan
asosiasi mahasiswa Islam itu sepenuhnya mengambil alih persatuan-persatuan
Mahasiswa. Pada tahun 1976 mareka (Jama’ah Islamiyyah) menjadi pemimpin
mahasiswa. Kampus kemudian mempertunjukan penampilan Islami. Kaum lelaki
muda memelihara jenggot dan mengenakan Jubah, sedangkan wanita mulai
menyelubungkan wajahnya dengan cadar. Mereka mendesak diberlakukannya
pemisahan seksual laki-laki dan perempuan baik di kelas maupun di bus dan
mulai menggelar Shalat-shalat berjamaah dalam tindakan berskala besar. Seakan
mahasiswa ini lebih cerdas dibanding dengan mahasiswa lain.54
C. Peran Anwar Sadat di Mesir
Anwar Sadat memulai karir sebagai Tentara dan menjadi Presiden ketiga
Mesir, setelah Jenderal Muhammad Najib (1953-1954) dan Kolonel Gammal
Abdul Nasser (1956-1970). Anwar Sadat berpangkat Marshal ketika dilantik
menjadi Presiden (1970-1981). Penggantinya, Presiden Husni Mubarak
Ia
dilantik menjadi Presiden ketika menjabat sebagai kepala Angkatan Udara Mesir
(1981-2011) . Karena itu, tidak heran suasana pemerintahan negeri Mesir terasa
53
`
54
Karen Amstrong, Perang Suci: dari Perang Salib Hingga Perang Teluk , h. 529
Karen Amstrong, Perang Suci: dari Perang Salib Hingga Perang Teluk, h. 530
33
sangat Militeristik.55
Mereka memberlakukan undang-undang darurat Militer sampai kini di
Mesir.
Anwar
Sadat
memperoleh
hadiah
Nobel
karena
langkahnya
menandatangani perjanjian damai Camp David antara Mesir dan Israel pada
1978.56 Ia menjadikan Mesir Negara Arab pertama yang mengakui keberadaan
Israel. Sebagai anggota Free Officer Commite, ia turut berperan dalam
menggulingkan pemerintahan raja Farruk di tahun 1952. Anwar Sadat pernah
menjadi anggota dewan komando revolusioner, menjadi Menteri Negara (19541956), dan menjadi Pemimpin dewan Nasional (1960-1968).57 Anwar Sadat
memegang berbagai posisi pemerintah, termasuk Direktur Hubungan Tentara
Publik, Sekretaris Jenderal Uni Nasional, Partai Politik Mesir, dan Presiden dari
Majelis Nasional.
Presiden Mesir Gammal Abdel Nasser meninggal, karena serangan
jantung pada tanggal 28 September 1970. Presiden Anwar dipilih untuk
menggantikan Nasser. Pada tanggal 15 Oktober 1970, Sadat dilantik menjadi
presiden Republik Mesir. Dalam masa pemerintahannya ada yang tidak senang
dengan naiknya Sadat sebagai Presiden. Itu terbukti dengan pecahnya kudeta pada
bulan Mei 1971.58 namun, Sadat berhasil memadamkan kudeta itu. Sadat
memodifikasi sikap garis keras Mesir terhadap Israel, yang diwariskan oleh
55
Achmad Desmon A, Ensiklopedi Peradaban dunia: Sebuah Ensikopedi Praktis nan
Lengkap 4000 peristiwa penting 900 tokoh dunia dan ratusan artikel menarik, (Jakarta: Restu
Agung. 2007), h. 628
56
http://bataviase.co.id/node/320851
57
Achmad Desmon A, Ensiklopedi Peradaban dunia: Sebuah Ensikopedi Praktis nan
Lengkap 4000 peristiwa penting 900 tokoh dunia dan ratusan artikel menarik, (Jakarta: Restu
Agung, 2007), h. 628
58
Baaklini, Abdo, Et.all. Legislatif Politics in Arab Word, (London: Lynne Rinner
Publishers, 1999, h. 226
34
Nasser. Meski demikian, mesir di bawah Sadat tetap menuntut agar Israel mundur
dari wilayah-wilayah yang direbut dan diduduki dalam Perang 1967.59
Dalam karier politik Anwar Sadat, seperti yang dia tulis dalam
Otobiografinya, menyebutkan bahwa ketika ia tiba di Manqabat dalam tugas
kemiliteranya, ia sebetulnya sudah seorang revolusioner, namun masih bergerak
secara rahasia. Sadat jauh lebih matang dari pada rekan-rekan perwiranya yang
tidak punya pendidikan politik. Dikatakan bahwa Ia berusaha keras dalam
perbincangan-perbincangan yang panjang, untuk membuka mata rekan-rekannya
terhadap realitas keadaan yang pada umumnya dan posisi Inggris pada khususnya
walaupun tidak ada bukti atas pengakuan ini.60
Anwar Sadat pada tanggal 15 Januari 1950 menjadi kapten lagi dalam
ketentaraan Mesir. Pada saat itu ia sudah menikah dengan Jihan Rouf. Mereka
tinggal di sebuah Flat di lingkungan Manial Kairo. Tetapi para penguasa Militer
berfikir bahwa orang-orang yang Kontroversial ini lebih baik ditempatkan diluar
Kairo dan demikianlah ia ditugasi di Rafah, Sinai Utara.61
Pada akhir 1951 Anwar Sadat dengan resmi diajak menjadi anggota
gerakan Perwira Bebas. Hampir semua gerakan itu kecuali Nasser sangat
menentang dimasukkannya Sadat sebagai perwira bebas, karena apa yang telah
dilakukan Sadat, tetapi Nasser memandangnya begitu berbeda, semua perwira
Junior yang mempunyai pengalaman politik secara potensial berguna bagi
gerakan itu dan bahwa kaitan Sadat dengan Istana jangan disia-siakan. Ia dapat
59
Trias Kuncahyono, Jalur Gaza: Tanah Terjanji, Intifada, dan Pembersihan Etnis,
(Jakarta: Kompas. 2009). h. 27
60
Muhammad Haekal, Anwar Sadat: Kemarau Kemarahan, (Jakarta: Grafiti Perss.
1984), h. 13
61
Anwar Sadat, Anwar Sadat Mencari Identitas sebuah Autobiograf, h. 137
35
menyampaikan informasi mengenai apa yang sedang terjadi di Istana dan
barangkali menyampaikan kepada istana informasi yang menyesatkan tentang
Perwira Bebas.
Menjelang akhir tahun 1951, Sadat diminta oleh Nasser untuk bergabung
dengan lingkaran dalam gerakan Klandestin pejabat sukarela. Ia memainkan peran
langsung kecil dalam kudeta yang dipimpin oleh Jenderal Muhammad Naguib
yang menggulingkan Monarki dan membawa gerakan untuk kekuasaan pada
bulan Juli 1952, tetapi ia dipilih untuk menyiarkan pengumuman pertama dari
kudeta pada pagi hari itu terjadi. Kemudian ia menjadi editor Koran alJumhuriyya.
Semenjak Sadat berada di Akademi Militer di Abasia, ia mulai berkenalan
dengan kehidupan politik yang sebenarnya. Ia berkampanye untuk kemerdekaan
Mesir dalam arti yang sebenarnya.62 Ia bergabung dengan Gerakan Perwira Bebas,
yang bertekad untuk membebaskan Mesir dari kekuasaan Britania Raya. Pada
Perang Dunia II ia dipenjarakan oleh Britania atas usaha-usahanya untuk
mendapatkan bantuan dari Kekuatan Poros dalam mengusir pasukan-pasukan
pendudukan Britania. Ia ikut serta dalam kudeta 1952 yang menggulingkan Raja
Farouk II. Ketika revolusi meletus, ia diperintahkan mengambil alih jaringan
Radio dan mengumumkan pecahnya Revolusi kepada rakyat Mesir.
Kemudian pada tahun 1958 ia menjadi juru bicara parlemen bersama
setelah dibentuk UNI Mesir dan Syiria (Republik Persatuan Arab). Kemudian ia
diangkat sebagai Menteri Luar Negeri yang membuatnya menjadi lebih banyak
62
Anshari Thayib dan Anas Sadaruan, Anwar Sadat antara Pahlawan dan Penghianat
(Surabaya: Bina Ilmu, 1982), h. 1
36
berhubungan dengan dunia luar. Pada 20 Februari 1961 Anwar Sadat menjadi
pembicara dalam Dewan Nasional dan bertanggung jawab dalam propaganda
melawan Israel. Tahun 1966 sehari setelah presiden Nasser mengkritik habishabisan kebijaksanaan Amerika Serikat di Timur Tengah, Sadat pergi ke
Washington dan dapat bersikap dingin dan sopan ketika bertemu dengan Presiden
AS Lindon B Jonson.
Pada tahun 1964-1967 Anwar Sadat ditunjuk menjadi salah satu wakil
Presiden Mesir. Kemudian ia terpilih menjadi Presiden setelah kematian Nasser
pada tahun 1970. Untuk menyelesaikan konflik Arab-Israel, Sadat pergi
mengunjungi Israel pada November 1977, setelah itu Anwar Sadat mengadakan
perundingan perdamaian dengan Israel yang dikenal dengan perjanjian Camp
David pada tahun 1978, pada tanggal 6 Oktober 1981 Anwar Sadat ditembak mati
kelompok yang tidak senang dengan kebijakan politiknya yang berdamai dengan
Israel.
BAB IV
ANWAR SADAT DALAM UPAYA PERDAMAIAN MESIR-ISRAEL
A. Upaya Anwar Sadat dalam Perdamaian Mesir-Israel
Sementara Presiden Anwar Sadat mencari cara penyelesaian perdamaian
dengan Israel, pada saat yang sama pula Presiden Anwar Sadat menghadapi
masalah perekonomian dalam negeri yang rapuh. Upaya penyelesaian perdamaian
dengan Israel diyakini oleh Sadat dapat meningkatkan pembangunan di dalam
negeri khususnya di bidang ekonomi karena menurutnya dalam suasana negara
yang aman dan stabil dapat meningkatkan investor asing yang masuk. Dengan
keyakinan ini pula, di tengah gejolak di dalam negeri Mesir sebagai akibat
terpuruknya perekonomian dan kebuntuan proses perdamaian Arab-Israel,
Presiden Anwar Sadat tetap melakukan perundingan perdamaian dengan Israel.
Perjuangan Anwar Sadat untuk meraih perdamaian merupakan suatu cerita
panjang yang sudah dimulai dari pemilihan sebagai seorang Presiden Mesir pada
tanggal 15 Oktober 1970. Meskipun hubungan diplomatik Mesir dan Amerika
sudah terputus, namun delegasi Amerika Serikat yang dipimpin oleh duta besar
Richardson datang untuk ikut berbelasungkawa atas meninggalnya Nasser. 63
Secara mengejutkan dan sangat berani Anwar Sadat melakukan perjanjian
damai Camp David yang diprakarsai Jimmy Carter dan Henry Kissinger.
Perjanjian ini memang mengembalikan wilayah Mesir yang sebelumnya direbut
oleh Israel pada perang 1967, namun tidak mengembalikan dataran Tinggi Golan
63
Anwar Sadat, Anwar Sadat Mencari Identitas sebuah Autobiografi, Terj, Banu
Iskandar, ett. all.,”.(Jakarta; Tiara Pustaka. 1983), h. .375
37
38
yang direbut Israel kepada Syria pada perang 1967. Perang menghadapi Zionisme
Israel selama enam hari pada tahun 1967 ini berakibat didudukinya wilayah Mesir
(Semenanjung Sinai) oleh Israel dan menambah permasalahan baru lagi bagi
Mesir. 64
Pada tanggal 6 Oktober 1973, pasukan Mesir menyerang Israel yang saat
itu tengah merayakan Yom Kippur (Hari Perdamaian).65 Mesir di bawah Presiden
Sadat telah berusaha untuk dapat merebut kembali Semenanjung Sinai dengan
kekuatan Militer. Untuk dapat melakukannya, Militer Mesir harus dapat
menyeberangkan personil dan kendaraan lapis baja menyeberangi Terusan Suez
dengan cepat sebelum Militer Israel dapat memberikan respon yang berarti. Tugas
ini tidaklah ringan karena terdapat hambatan utama yaitu garis pertahanan BarLev.
Dalam peperang ini Israel mengalami kekalahan yang cukup berarti
hingga berefek kepada beberapa kebijakan yang menyulitkan pihak Eropa.
Negara-negara Liga Arab melakukan embargo minyak hingga mengakibatkan
harga minyak dunia melambung tinggi. Bagi negara-negara pengekspor minyak
saat itu, termasuk Indonesia, kebijakan ini melahirkan apa yang disebut Bom
Minyak (Oil Boom). Untuk menyelesaikan masalah ini maka diadakan konferensi
di Jenewa pada bulan Desember 1973, namun tidak menghasilkan apa-apa.66
Pada waktu itu serangan terhadap Israel tidak hanya dari Selatan, yakni
64
Hermawati, Sejarah Agama dan Bangsa Yahudi, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada,
2005), h.170
65
Yom Kippur adalah satu-satunya hari puasa wajib bagi orang-orang yahudi yang
dirayakan sekitar bulan September atau Oktober. Tujuan perayaan ini adalah untuk menghapus
dosa-dosa Israel. Pada hari itu diadakan upacara yang meriah di kenisah. Jadi Yom kippur adalah
hari suci bagi orang-orang yahudi.
66
Tiar Anwar Bahtiar, Hamas Kenapa Dibenci Israel, ( Jakarta: Hikmah. 2009), h.90
39
dari Mesir, tetapi juga dari Utara yaitu Suriah. Pasukan Israel tak berdaya
menghadapi serangan dadakan Mesir di Sinai. Sementara di wilayah Dataran
Tinggi Golan, pasukan Suriah juga melakukan serangan dadakan yang membuat
tentara Israel tidak berdaya. Perang pun segera meluas, tidak hanya didarat, tetapi
juga di udara.
Dalam benak Anwar Sadat berkecamuk pikiran untuk mencoba
mengakhiri rentetan peperangan yang ia yakini tidak akan dimenangkan oleh
Arab, tetapi masih ada perspektif yang lebih luas yakni negosiasi-negosiasi
langsung yang disponsori oleh Amerika. Ketika perdamaian tercapai dengan
Israel, maka Mesir dapat saja menjadi sekutu yang lebih penting bagi Amerika
dengan segala konsikuensi yang mungkin mengikutinya berupa dukungan
ekonomi maupun sikap Amerika yang lebih menguntungkan terhadap klaim-klaim
atas Arab Palestina.
Sedangkan dalam pandangan pemerintah Israel pada waktu itu tujuannya
berbeda, yaitu membuat perdamaian dengan Mesir yang merupakan musuh
bebuyutan, meskipun dengan taruhan mereka harus mundur dari Sinai, sehingga
mereka bisa mengonsentrasikan kekuatan untuk mendapatkan tujuan politik
mereka yang lebih esensial, yakni menempatkan penduduk Yahudi di wilayah
taklukan yaitu di Tepi Barat dan secara perlahan menguasai daerah tersebut, dan
bisa berhubungan secara efektif dengan oposisi mana saja yang datang dari Suriah
dan PLO. Maka, dalam pembahasan-pembahasan yang diikuti oleh Sadat selama
perjalanannya, masalah utamanya adalah keterkaitan yang akan dibuat antara
perdamaian Mesir-Israel dan status Tepi Barat.
40
Kemenangan Presiden Sadat pada perang 1973 antara lain yaitu
berhasilnya menyebrangi Terusan Suez dan menghancurkan benteng pertahanan
Israel (Ar Lev Line) di tepi timur. Dan secara bersamaan, tentara Suriah juga
berhasil menekan pasukan Israel melalui Dataran Tinggi Golan. Namun demikian,
Mesir tidak dapat mempertahankan kemenangan awalnya karena pada 20 Oktober
1973 pasukan Israel berhasil mengepung pasukan tentara Mesir di Tepi Barat
Terusan.
Peperangan yang menewaskan 2500 orang tentara Israel dan 9000 orang
tentara Mesir ini akhirnya dapat diakhiri setelah kedua negara atas sponsor PBB
pada tanggal 22 November 1973 menyetujui untuk melakukan gencatan senjata.
Pada peperangan ini, Mesir merasa puas dengan keberhasilannya setelah kecewa
dengan kekalahanya oleh Israel pada tahun 1967. Untuk pertama kalinya Negara
Arab bersatu dalam bertindak sehingga kedua negara super power tidak berfungsi,
Eropa Barat bingung, Israel tertekan dan senjata minyak Arab sangat ampuh. 67
Walaupun tidak memberikan kemenangan mutlak bagi Mesir, namun
dengan berakhirnya perang ini, Mesir berhasil menarik perhatian dunia
internasional dan AS tentang kebuntuan perdamaian Arab- Israel yang telah
berlangsung lama. Di samping itu, Mesir berhasil pula menghancurkan kondisi No
War No Peace dengan Israel.68
Pada tahun 1977, Anwar Sadat mengadakan kunjungan ke Jerusalem atas
undangan Perdana Menteri Israel, Menachem Begin yang merupakan awal
67
Mohammed Heikal, Anwar Sadat: Kemarau Kemarahan, Terj, Arwah Setiawan,
(Jakarta: Temprin, 1986), h. 45
68
Hermawati, Sejarah Agama dan Bangsa Yahudi, (Jakarta: PT. Raja Grafindo
Persada,2005), h. 172
41
perundingan perdamaian antara Israel dan Mesir. Pada tahun 1978, terciptalah
Perjanjian Damai Camp David, yang mana Anwar Sadat dan Menachem Begin
menerima hadiah nobel Perdamaian. Bagaimana pun tindakan ini ditentang hebat
oleh dunia Arab. Banyak yang percaya bahwa hanya dengan ancaman militer
dapat memaksa Israel berunding mengenai Palestina, dan perjanjian damai Camp
David menepikan Mesir yang dianggap kekuatan militer di dunia Arab yang
signifikan disamping Syria dan Irak pada saat itu.69
Pada tahun 1978 Kesepakatan damai telah dicapai oleh Mesir dan Israel
melalui mediasi negara Amerika Serikat. Menurut kesepakatan tersebut, harus ada
perdamaian resmi antara Mesir dan Israel dan juga beberapa bentuk otonomi yang
ditetapkan kemudian bagi Tepi Barat dan Gaza, terhitung setelah lima tahun
pembahasan mengenai status pastinya. Namun, tidak ditemukan keterkaitan resmi
antara kedua masalah tersebut. Dalam perundingan tentang otonomi, maka segera
terlihat bahwa gagasan-gagasan Mesir maupun Amerika dan Israel menolak untuk
menghentikan
kebijakannya
pada
pemukiman
Yahudi
diwilayah-wilayah
taklukan.70
69
Ahmad Munif, 50 Tokoh Legendaris Dunia, h.14
Albert Hoouranni, Sejarah Bangsa Bangsa Muslim, Terj, Irfan Abu Bakar, (Bandung:
Mizan, 2004), h.773
70
42
Peta Mesir. 71
Dunia kemudian dikejutkan oleh keputusan Anwar Sadat pada tahun 1977.
Pada tanggal 20 November 1977, Anwar Sadat mengunjungi Jerussalem.
Perjalanan yang menghubungkan Tel Aviv dengan Jerussalem tersebut
diselesaikan menjelang kunjungan Presiden Mesir Anwar Sadat ke Israel.
Presiden Anwar Sadat menjadi pemimpin Arab pertama yang mengunjungi Israel.
Menteri pertahanan Israel yaitu Ezer Weizmann, menulis bahwa pada abad 20 ada
dua perjalanan yang terkenal: perjalanan manusia pertama ke bulan dan perjalanan
Presiden Anwar Sadat ke Jerussalem. Yang satu merupakan perjalanan paling
berani dan paling panjang, sedangkan Anwar Sadat merupakan perjalanan
Perdamaian.72
71
http://id.wikipedia.org/wiki/Mesir
Trias Kuncahyono, Jerusalem: Kesucian Konflik dan Pengadilan Akhir, (Jakarta:
Kompas. 2009), h. 110
72
43
Pada tahun 1978 Presiden Mohammad Anwar Sadat pernah mengatakan:
“Saya ulangi apa yang saya katakan di depan Knesset lebih dari setahun
lalu setiap kehidupan yang hilang dalam sebuah peperangan adalah
kehidupan seseorang manusia, terlepas apakah itu kehidupan seorang
Arab atau Israel. Istri yang menjadi janda adalah seorang manusia yang
berhak hidup dalam sebuah keluarga yang bahagia, Arab atau Israel.
Anak-anak yang tidak berdosa yang kehilangan perhatian dan
pengasuhan orangtua, semua itu anak-anak kita terlepas apakah hidup
ditanah Arab atau Israel dan kita harus memperlihatkan tanggung jawab
yang sangat besar untuk memberikan kebahagiaan kepada mereka dimasa
sekarang ini dan kecerahan dimasa datang………….”73
Perjanjian ini mengundang kontroversi. Negara-negara Arab terutama
orang Palestina, mengutuknya dan menganggap perjanjian ini sebagai
pengkhianatan. Yasser Arafat menyatakan "Biarkan mereka menandatangani apa
yang mereka suka. Kedamaian palsu tidak akan berlangsung." Di sisi lain,
perjanjian ini membuat Presiden Mesir Anwar Sadat dan Perdana Menteri Israel
Menachem Begin mendapat hadiah nobel Perdamaian hingga Anwar Sadat
menjadi tidak populer di negara-negara Arab dan negaranya sendiri karena
keputusannya itu.74
Sebelum penandatanganan perjanjian itu, Mesir dan Syria menjadi
kekuatan penyeimbang yang sangat diperhitungkan Israel dan AS. Tetapi dengan
sangat taktis Israel dan AS merangkul Mesir, dengan mengembalikan
Semenanjung Sinai kepadanya. Tapi, Israel menolak mengembalikan dataran
tinggi Golan kepada Syria.75 Perjalanan Anwar sadat adalah perjalalanan
Perdamaian. Hari kedua perjalanan kunjungannnya ke Jerussalem, 20 November
1977, bertepatan dengan hari raya Idhul Adha. Pertama-tama Sadat mengunjungi
73
Trias Kuncahyono, Jerusalem: Kesucian Konflik dan Pengadilan Akhir, h. 286
http://id.wikipedia.org/wiki/Perjanjian_Damai_Israel-Mesir
75
http://bataviase.co.id/node/320851
74
44
Temple Mount (Bukit Kuil), tempat pengurbanan Abraham, dan Kemudian Shalat
di Mesjid Al-Aqsha.
Ia kemudian mengunjungi tempat-tempat suci Kristen dan Yahudi yaitu
Gereja Makam Kudus dan Yad Vashem, tempat peringatan Holakous. Bahkan,
Sadat pada sore harinya berpidato di depan para anggota Knesset (para Parlemen
Israel) di Jerussalem. Kunjungan itu dilakukan semata-mata untuk mengusahakan
perdamaian. Pada kesempatan itu, Anwar Sadat mengemukakan pandangannya
mengenai perdamaian, mengenai status wilayah pendudukan wilayah-wilayah
yang direbut Israel dalam perang tahun 1967, yakni Gurun Sinai, Tepi Barat, Gaza
dan sebagian Jerussalem dan masalah penggungsi Palestina. Kunjungan Anwar
Sadat ini sungguh Merupakan
sebuah kejuataan bagi siapa saja. Di awal
pidatonya ia mengatakan:
“Saya datang dihadapan anda semua pada hari ini dengan niat teguh
untuk menciptakan sebuah kehidupan baru dan perdamaian. Kita semua
mencintai tanah ini dengan niat teguh untuk menciptakan sebuah
kehidupan baru dan perdamaian. Kita semua mencintai tanah ini, Tanah
Tuhan kita semua, Umat Muslim, Kristen dan Yahudi semua menyembah
tuhan….”76
76
Trias Kuncahyono, Jalur Gaza: Tanah Terjanji, Intifada, dan Pembersihan Etnis,
(Jakarta: Kompas. 2009), h. 28
45
Presiden Jimmy Carter berjabat tangan dengan Sadat dan Perdana Menteri Israel
Menachem Begin pada penandatanganan Perjanjian Perdamaian Israel-Mesir77
Kunjungan Anwar Sadat ke Jerussalem itulah yang antara lain, mendorong
ditandatanganinya perjanjian Camp David, 17 September 1978. Naskah perjanjian
itu ditandatangani oleh Presiden Mesir Anwar Sadat dan Perdana Menteri Israel
Manachaem Begin, disaksikan oleh Presiden AS Jimmy Carter. Ada dua naskah
yang ditandatangani di Camp David, AS, yakni A Framework for Peace in the
Middle East dan A Framework for the Conclusion of a peace Treaty between
Egypt and Israel. Naskah kedua itulah yang menjadi dasar dicapainya perjanjian
perdamaian antara Mesir-Israel ditandatangani pada bulan Maret 1979. Sebagai
bagian dari perjanjian itu, Israel menarik mundur pasukannya dari Gurun Sinai
secara bertahap dan menyerahkan seluruh wilayah yang direbut dalam perang
tahun 1967 itu kepada Mesir pada tanggal 25 April 1982.78 Israel akan menarik
mundur tentara mereka serta mengevakuasi pemukiman-pemukiman secara
77
78
http://en.wikipedia.org/wiki/Anwar_Sadat
Trias Kuncahyono, Jerusalem: Kesucian Konflik dan Pengadilan Akhir, h. 113
46
bertahap dan akan diizinkan secara bebas untuk melewati Selat Tiran dan Teruzan
Suez.79
Perundingan yang berlangsung selama 12 hari antara Presiden Mesir
Anwar Sadat dan Perdana Menteri Israel Menachem Begin ini dinamai Camp
David, karena pertemuan antar pemimpin Mesir dan Zionis Israel dilakukan di
tempat peristirahatan para presiden AS, Camp David di Frederick County,
Maryland. Perjanjian ini kemudian melahirkan perjanjian damai Israel-Mesir pada
tahun 1978.80
Pada tanggal 2 Desember 1979 Liga Arab mengadakan pertemuan untuk
membekukan hubungan diplomatik dengan Mesir. Liga Arab sangat kecewa pada
keputusan damai yang dilakukan oleh Presiden Mesir.81 Kemudian ia menyerukan
perundingan perdamaian dengan semua saudara Arab yang diadakan di Kairo
pada bulan Desember di Mena House, tetapi PLO, Syiria, Irak, Yaman Selatan,
Aljazair dan Libya menolak untuk hadir. Marah oleh penolakan tersebut Anwar
Sadat memberi respon dengan memerintahkan agar tiga ratus diplomat mereka
meninggalkan Mesir. Namun hanya satu saja Negara yang mendukung Anwar
Sadat yaitu Syah Iran, ia mendukung atas inisiatif perdamaian Sadat bukan saja di
hadapan dunia, tetapi terutama untuk negara-negara Arab.82
79
Karen Amstrong, Perang Suci: dari Perang Salib Hingga Perang Teluk, (Jakarta:
Serambi, 2004), h. 557
80
mainsource:http://konspirasi.com/peristiwa/militer-mesir-picu-emosi-rakyat-patuhiperjanjian-camp-david/
81
Jehan Sadat, Otobiografi Istri Presiden Mesir: Jehan Sadat Kisah Seorang Perempuan
Mesir, Bagian ke- II, h. 129
82
Jehan Sadat, Otobiografi Istri Presiden Mesir: Jehan Sadat Kisah Seorang Perempuan
Mesir, h.131
47
B. Dampak Dari Perdamaian Mesir Israel
Permasalahan yang dihadapi oleh Mesir untuk melanjutkan proses
perdamaian khususnya setelah perjanjian tersebut adalah sulitnya mengembalikan
kepercayaan bangsa-bangsa di kawasan yang rawan konflik ini terhadap Mesir, di
samping menjalin hubungan dengan negara-negara besar Iainnya seperti Amerika
Serikat dan Uni Soviet.
Akan tetapi kunjungan Anwar Sadat ke Jerussalem dan penandatanganan
perjanjian dengan Israel itu menuai keras reaksi pro dan kontra.
Setelah
melakukan perdamaian yaitu pada tanggal 18 Januari 1978 ketika itu terjadi
ledakkan di Iskandariah dan Kairo. Puluhan ribu rakyat turun ke jalan-jalan untuk
melakukan protes. Rakyat yang hidupnya sudah berat, kini mendapat tekanan
yang memungkinkan mereka tidak dapat hidup. Gerakan protes ini segera
menyebar ke seluruh kota besar Mesir. 83
Liga Arab misalnya menentang kebijakan Anwar Sadat. Maka pada tahun
1979, Liga Arab membekukan keanggotaan Mesir, bahkan Markas Besar Liga
Arab di pindah dari Kairo ke Tunis, Tunisia. Namun tidak sampai tahun 1989,
Mesir kembali diakui sebagai anggota dan markas besar Liga Arab dikembalikan
lagi ke Kairo. Sikap penentangan yang lebih keras justru dilakukan sekelompok
rakyat Mesir yang berakhir dengan pembunuhan Sadat. 84
Memang dari kepentingan Nasional langkah Anwar Sadat dapat
dimengerti, tetapi dari sudut kepentingan yang lebih luas, apa yang dilakukan oleh
Sadat jelas sangat merugikan perjuangan bangsa Arab dan Palestina dalam
83
H. Sihombing dan K. Dwiyana, Buku Pinta Politikus Dunia, (Jakarta: Pustaka
Delapratasa., 2002), h. 1
84
Trias Kuncahyono, Jerusalem: Kesucian Konflik dan Pengadilan Akhir, h.113
48
menghadapi kekuatan gabungan Israel-AS. Karenanya tidak mengherankan jika
Liga Arab yang disponsori negara-negara Arab seperti: Suriah, Libya, Aljazair,
Yaman Selatan dan Irak sepakat mengeluarkan Mesir dari Organisasi tersebut.
Keputusan itu diambil dalam KTT Liga Arab di Baghdad, 27 Maret 1979. Negaranegara anggota Liga Arab juga sepakat memutuskan semua bentuk hubungan
politik dan ekonomi mereka dengan Mesir. Namun, dalam kenyataannya, hanya
Suriah, Libya, dan Yaman Selatan yang cukup konsisten menjalankan “Politik
anti Mesir” sampai tahun 1988. Bagi As’ad, Presiden Syiria dan pemimpin Libya
(Mu’amar Khadafi), Sadat adalah penghianat perjuangan bangsa Arab dan
Palestina” yang telah melakukan dosa yang tak terampuni.85
Anwar Sadat yang berkuasa antara 1970-1981, menjalankan “liberalisasi”
baik di sektor Ekonomi maupun Politik. Setelah perang Oktober 1973, Sadat
membawa Mesir lebih pro-Barat, khususnya AS. Tahun 1979, mereka
menggerakkan demonstrasi di Universitas Minya dan Asyut untuk memprotes
diterimanya Syah Iran di Mesir. Tahun 1981, mereka dituduh terlibat dalam
pembunuhan reaksi terhadap penangkapan besar-besaran para anggota Ikhwan
dan Jamaah, yang dilakukan rezim Sadat. 86
Namun sejalan dengan penandatanganan perjanjian Camp David, kondisi
ekonomi Mesir mengalami perubahan antara lain dihentikannya bantuan-bantuan
dari negara-negara Arab. The Arab Fund for Ekomonic and Social Development
menghentikan semua bantuan dan kredit untuk Mesir. Pada bulan Mei 1979
Saudi Arabia dan Qatar menyatakan keluar dari The Arab Organization for
85
M Riza. Sihbudi, Islam, Dunia Arab, Iran: Bara Timur Tengah. (Bandung: Mizan,
1991), h. 108
86
M Riza. Sihbudi, Islam, Dunia Arab, Iran: Bara Timur Tengah, h.103
49
Industrilization (AOI) yang merupakan perusahaan berkedudukan di Mesir,
sehingga perusahaan ini runtuh.
Dihapuskannya dari perusahaan tersebut tentunya sangat berarti bagi
Mesir. Namun Presiden Anwar Sadat berharap kesulitan ekonomi tersebut tidak
berjalan lama karena dapat diatasi melalui “Carter Plan”, dimana mesir akan
mendapatkan bantuan sebesar US$ 12.250 juta selama 5 tahun terutama yang
berasal dari Amerika Serikat, Eropa Barat dan Jepang. Mesir mendapat bantuan
kedua terbesar setelah Israel dari Amerika Serikat. Mesir mendapat bantuan
sebesar US$ 300 juta dan yang terpenting adalah paket bantuan sejumlah US$ 1,5
juta untuk bidang Militer. Pada awal tahun 1980-an, Amerika Serikat
menyediakan dana terbesar US$ 1000 juta per tahun.87
Ketergantungan akan bantuan ekonomi dari negara
Amerika tersebut
menurut keputusan di AS merupakan kelemahan Mesir yang terbesar, sehingga
bantuan ekonomi tersebut dapat dijadikan alat yang ideal dalam membangun
pengaruh AS di Mesir.
88
di samping itu Mesir menyadari bahwa bantuan
ekonomi akan mendorong terciptanya stabilitas dalam negeri yang pada akhirnya
mempengaruhi peran dan posisi Mesir baik di Timur Tengah maupun di
internasional. Akibat kebijakan pintu terbuka terjadi kesenjangan ekonomi secara
meluas, sehingga membangkitkan reaksi yang sama dengan kesenjangan yang
87
R. A. Arief, Politik Luar Negeri Mesir Pasca Perjanjian Camp David : Peran Mesir
Bagi Terciptanya Stabilitas Politk Timur Tengah, (Tesis S2 Bidang Ilmu Sosial Program Studi
Ilmu Politik Kekhususan Ilmu Hubungan Internasional, Universitas Indonesia, 2000 ) , h. 52
88
R. A. Arief, Politik Luar Negeri Mesir Pasca Perjanjian Camp David : Peran Mesir
bagi Terciptanya Stabilitas Politk Timur Tengah, h. 52
50
menimbulkan terbentuknya Ikhwanul Muslimin.89
Kegagalan dalam menumbuhkan perekonomian dan kemakmuran di dalam
negeri ditandai tingginya tingkat penganguran dan pertumbuhan penduduk serta
tidak ada pelarangan Pers selama dua tahun terakhir masa kepemimpinannya.
Situasi ini semakin menyudutkan posisinya sebagai seorang Presiden Mesir.
Masyarakat Mesir terbelah dalam menyikapi keputusan Anwar Sadat itu.
Apalagi pada tahun 1981 ia melakukan tindakan represif terhadap kalangan
radikal yang terus menentangnya. Langkahnya menuai kecaman dari seluruh
dunia dan dianggap melanggar HAM. Maka pada September 1981, satu bulan
sebelum tewas tertembak, ia mengeluarkan dekrit membubarkan “Jam’iyah”.
Keputusan itu menimbulkan dendam bagi gerakan Jam’iyah.90
Pada tanggal 6 Oktober 1981 dikenang sebagai hari kemenangan Mesir
atas Israel. Anwar Sadat memimpin parade mengenang kemenangan itu. Ia berdiri
di mimbar, tiba-tiba salah satu truk dalam parade itu keluar dari barisan tepat
didepan mimbar tempat Sadat berdiri. Saat melihat Letnan pertama Khaled
Islambouli meloncat dari truk dan berlari mendekatinya, Sadat mengira bahwa
Letnan muda itu hendak menghormatinya.
Sadat segera bersiap untuk menerima penghormatan. Tidak disangka
seorang perwira lain melemparkan granat tangan dan disusul suara rentetan
tembakan yang diarahkan kepada Sadat. Sejumlah peluru yang dilepaskan Khalled
Islambouli bersarang di tubuh Sadat. Baru lima puluh detik kemudian petugas
89
Shireen T Hunter, Politik Kebangkitan Islam, Terj. Ajat S. U. (Yogyakarta: Tiara
Wacana Yogni, 2001), h. 33
90
http://panglima-ali.com/2011/04/jehan-sadat-selalu-mencintai-sadad/
51
keamanan berhasil menghentikan serangan itu.
Kebijakan Sadat terhadap Israel dan AS memang tidak hanya ditentang
oleh para pemimpin Arab “garis keras” di dalam negeri Mesir sendiri. Pada 6
Oktober 1981, dalam suatu parade militer di Kairo, Kelompok “Fundamentalis”
Tanzim Al-Jihad (organisasi perang suci) menembak mati Sadat.91
Helikopter segera membawa Sadat dan istrinya Jihan menuju Rumah
Sakit. Laporan resmi dari Rumah Sakit mengatakan bahwa Sadat datang dalam
keadaan koma, tanpa tekanan darah dan denyut nadi yang tidak dapat dicatat.
Luka-luka akibat tembakan berada tepat di dada kirinya dan ada pula yang
bersarang di lehernya inilah yang menyebabkan fatalnya kondisi Sadat. Pada
pukul 02.40 tidak terdapat aktifitas pada otak dan jantungnya dan Sadat pun
dinyatakan meninggal dunia.92
Sadat dan tujuh orang pejabat pemerintah berdiri disampingnya tewas
terbunuh, sedangkan 28 orang lainnya terluka. Sadat tewas saat bersama
rakyatnya memperingati hari kemenangan. Dalam kalender hijriyah, Sadat
meninggal pada perayaan Idul Adha.93
91
92
M Riza. Sihbudi, Islam, Dunia Arab, Iran: Bara Timur Tengah, h. 108
Ahmad Munif “50 Tokoh Legendaris Dunia”. (Jogyakarta: Narasi, 2007), Cet Ke II,
h.98
93
Trias Kuncahyono, Jerusalem: Kesucian Konflik dan Pengadilan Akhir, h. 116
52
Insiden penembakan Anwar Sadat tahun 1981. 94
“Mesir kehilangan putra terbaiknya,” kata Wakil Presiden Hosni
Mubarak, yang kemudian menggantikannya memimpin negeri Piramida itu. Ia
berjanji akan melanjutkan kebijaksanaan Sadat, tetap berdamai dengan Israel.
Anwar Sadat pernah bergandeng tangan dengan kalangan Islam fundamentalis
untuk melawan dan mengusir kaum komunis Inggris.
Upacara pemakaman Anwar Sadat diadakan jauh dari kesan seorang
Presiden yang meninggal dunia tapi dilaksanakan dengan cara yang amat
sederhana. Banyak orang Mesir yang salah tafsir mengenai pemakaman ini.
Karena keadaan yang darurat inilah yang menghalangi acara pemakaman
dilakukan jauh dari kesan memberikan pengormatan terbesar kepada sang
94
http://www.eramuslim.com/berita/dunia/dua-orang-yang-terlibat-pembunuhanpresiden-mesir-anwar-sadat-dibebaskan.htm
53
Presiden Mesir. 95
Pembunuhan Anwar Sadat sangat mengejutkan dunia. Sadat adalah
Pemimpin Muslim pertama setelah Saladin yang mendapat penghormatan dan
kekaguman dari Barat. Namun Saladin adalah pahlawan perang suci, sedangkan
Sadat adalah pahlawan perdamaian. Perjalanan bersejarahnya ke Jerussalem pada
November 1977 menjadi legenda perdamaian pada abad ke-20 dalam dunia yang
penuh dengan kekerasan. Pemuda yang menembak Sadat itu tidak melihatnya
sebagai pahlawan perdamaian, begitu pun juga jutaan rakyatnya sendiri.
Pada hari pemakaman, istri Presiden Anwar Sadat yaitu nyonya Jihan
Sadat sudah dapat mengatasi kesedihannya dan ikut menyaksikan seluruh upacara.
Ia juga menyaksikan ketika peti jenazah almarhum Sadat dimasukan kedalam
makam dari batu hitam yang tertulis diatasnya dengan huruf emas“Atas nama
Tuhan yang Maha Kuasa dan penyayang mereka yang mati atas namanya
tidaklah dianggap mati karena mereka hidup dan diberkati disisi Tuhan” 96
Selain itu pada pemakamannya tanggal 10 Oktober 1981, para pemimpin
Barat berdatangan untuk menghormati orang besar itu. Ada tiga orang mantan
Presiden Amerika Serikat, Menteri Luar Negeri Alexander Haig dan Menteri
Pertahanan Caspar Weinberger. Perdana Menteri Israel Begin juga datang dengan
Menteri pertahanannya, Ariel Sharon.
Datang juga penasihat para Perdana Menteri dan para Presiden-Presiden
Eropa. Pangeran Charles mewakili Inggris. Tapi tidak bagi kalangan orang Mesir
95
“Presiden Sadat dimakamkan dengan upacara sangat sederhana.” Kompas 11 Oktober
96
“Presiden Sadat dimakamkan dengan upacara sangat sederhana.” Kompas 11 Oktober
1981.
1981
54
sendiri, pemimpin Arab lainnya juga tidak hadir dalam pemakaman itu.
Tampaknya pembunuhan ini tidak bisa sekedar dihubungkan dengan beberapa
orang fanatik, dan
orang yang pencinta damai itu begitu dibenci oleh
masyarakatnya sendiri. 97
C. Respon Masyarakat Mesir Terhadap Perdamaian Tersebut.
Setelah perjanjian itu ditandatangani timbul berbagai respon dari
perdamaian Camp david ini dilontarkan kepada pemerintah Mesir, masyarakat
merasakan perdamaian ini tidak perlu terjadi karena mereka mengangap bahwa
perjanjian ini peluang bagi Israel untuk mendikte negara Timur Tengah dari
Perjanjian Camp David Mesir-Israel. Mereka menuduh kebijakan Sadat tersebut
merupakan solusi yang salah dalam menciptakan perdamaian di negaranya.
Orang Mesir sangat tidak menyukai perjanjian Camp David. Banyak orang
Mesir yang tertekan dengan para saudara Arabnya. Mereka berkaitan dengan
implikasi dan kerangka kerja untuk perdamaian. Ketika Sadat mencoba
mendorong orang-orang Mesir untuk menjadi turis di Israel guna membantu
proses normalisasi, rakyat tidak mengindahkan dan menolak mengunjungi semua
negeri yang menindas rekan Arab mereka. Rakyat Mesir juga tertekan dengan
isolasi mereka dari dunia arab lainnya.
Orang orang Palestina yang berada di kamp-kamp dekat Damaskus
membakar foto-foto Anwar Sadat dan melempar bom ke Kedutaan Mesir. Tidak
hanya itu, di negara-negara lain, misalnya di Yunani, sekelompok mahasiswa
97
Karen Amstrong. Perang Suci dari Perang Salib Hingga Perang Teluk. h, 502
55
Arab menyerbu Kedutaan Mesir dan orang-orang Palestina di Spanyol menduduki
Kedutaan Mesir dan menahan duta besar akibat keputusan Presiden Sadat yang
melakukan damai dengan Israel.98
Kini negeri Mesir dipaksa untuk memisahkan diri dari identitas Arab,
masyarakat menolak atas keputusan Anwar Sadat yang memberi dampak semakin
gencarnya Westernisasi di negeri mereka setelah Camp David. Mereka terganggu
oleh parade para bintang Barat melewati Mesir seakan mengabaikan kehormatan
peradaban kuno Mesir. 99
Akibat dari Perjanjian Camp David timbulah penentangan-penentangan
yang dilakukan kelompok-kelompok masyarakat. Misalnya kelompok Ikhwanul
Muslimin, pada awalnya mereka pernah bergandengan tangan dengan Anwar
Sadat, tidak beberapa lama kemudian karena kebijakan yang dilakukan Anwar
Sadat dianggap tidak sesuai dengan apa yang mereka harapkan, mereka mulai
menentang hingga mereka memasuki pusat-pusat kekuasaan pemerintah.
Pada tanggal 20 September 1978 ada sebuah artikel dengan keras
menyerang kerangka kerja untuk perdamaian dengan alasan politis yang sama
dengan para pemimpin Arab lain. Tetapi sebab utama dari ketidak setujuan
persaudaraan Muslim adalah bahwa perjanjian semacam itu berarti sebuah
pelanggaran terhadap Syariat. Israel kini menjadi bagian wilayah perang dan tak
satupun rezim yang mengaku muslim boleh berbuat perjanjian seperti itu.100
Kunjungan Anwar Sadat ke Jerussalem dan penandatanganan perjanjian
98
Jehan Sadat, Otobiografi Istri Presiden Mesir: Jehan Sadat Kisah Seorang Perempuan
Mesir, Bagian ke- II, h 128
99
Karen Amstrong, Perang Suci dari Perang Salib Hingga Perang Teluk, h. 559
100
Karen Amstrong, Perang Suci dari Perang Salib Hingga Perang Teluk, h, h. 560
56
dengan Israel itu menuai reaksi pro dan kontra. Liga Arab misalnya menentang
kebijakan Anwar Sadat. Pada tahun 1979 Liga Arab membekukan keanggotaan
Mesir bahkan markas besar Liga Arab dipindahkan dari Kairo ke Tunisia. Sikap
penentangan yang lebih keras lagi justru dilakukan sekelompok rakyat Mesir yang
berakhir dengan pembunuhan terhadap Presiden Anwar Sadat.101
Kelompok Masyarakat yang berpengaruh sekali di Mesir yaitu Ikhwanul
Muslimin selama tahun 1970, dan berbagai media juga mengkritik keras
kebijaksanaan perdamaian Sadat. Ikhwanul Muslimin memanfaatkan Liberalisasi
yang dilakukan Anwar Sadat untuk bangkit mereka bergerak untuk berdemontrasi
memprotes Perjanjian Camp David.102
A1-I’tisham, misalnya, mengatakan bahwa perdamaian Camp David itu
hanyalah sebuah ilusi. Apa yang dilakukan Sadat tersebut diibaratkan sebagai
“persekutuan” dengan musuh Allah, musuh Rasul, musuh kaum beriman, musuh
kemanusiaan dan keadilan. “Dari lubuk hati kami, kami yakin perdamaian itu
palsu. Itu merupakan invasi tersembunyi kaum Yahudi terhadap masyarakat
Mesir yang merupakan kubu pertahanan Islam. Mesir adalah garis terakhir
pertahanan menghadapi tiga musuh Islam: penjajah Barat, kaum zionis dan
komunis,” tulisan Al-I’tisham. 103
Pada tingkat tertentu, oposan Islam bertemu dengan oposan sekuler dan
kemudian membentuk semacam koalisi anti Sadat. Hal inilah yang membuat
Sadat sangat marah dan menghadapi mereka dengan tangan besi. Ia juga pernah
“merangkul” kaum muslimin garis keras itu dengan memberlakukan hukum Islam
101
Trias Kuncoro, Jerusalem: Kesucian Konflik dan Pengadilan Akhir, h. 116
M Riza. Sihbudi, Islam, Dunia Arab, Iran: Bara Timur Tengah, h.. 103
103
Ahmad Munif, 50 Tokoh Legendaris Dunia, h. 15
102
57
dan menghukum orang Islam yang meninggalkan agamanya. Namun upaya itu
tidak terlalu berhasil, karena mendapat tekanan opini dunia.104 Perdamaian
memenangkan sahabat baru untuk Mesir, tetapi telah mengubah kawan lama
menjadi musuh.
104
Ahmad Munif, 50 Tokoh Legendaris Dunia, h. 15
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dengan melihat uraian pemaparan dalam bab skripsi ini dapat disimpulkan
bahwa Anwar Sadat dalam upaya perdamaian Mesir Israel sangat berperan dalam
mengembalikan situasi Mesir yang sudah hancur stabilitas politiknya. Ia sangat
menyadari betapa sengsaranya masyarakat Mesir akibat perang melawan Israel. Ia
sudah lama ingin menyudahi rentetan perang ini menjadi perdamaian abadi.
Namun keputusannya untuk melakukan perdamaian dengan Israel menuai Pro dan
Kontra oleh golongan gerakan Islam di Mesir. Mereka menganggap perjanjian
Camp David sebagai permainan Politik untuk mengekalkan agresi Israel atas
kaum Muslim.
Perjanjian Camp David yang ditandatangani oleh Mesir dan Israel
menyebabkan terjadinya perubahan kondisi politik di kawasan Timur Tengah.
Negara-negara Arab yang tidak menyetujui perjanjian tersebut memboikot dan
memutuskan hubungannya dengan Mesir. Dampak terbesar dari perjanjian Camp
David ini dikeluarkanya Mesir dari Liga Arab. Mesir sangat mengharapkan bahwa
dengan perjanjian damai dengan Israel dapat menciptakan stabilitas politik di
negaranya melalui kesediaan Israel untuk mengembalikan wilayah-wilayah Arab
yang ia dikuasai.
Akibat penandatanganan perjanjian damai ini, Anwar Sadat mendapat
tekanan dari dalam negeri khususnya dari kelompok fundamentalis Islam dan para
58
59
pelajar Mesir yang menyebabkan Anwar Sadat mengambil tindakan represif yang
mendapat kecaman karena terdapat banyak pelanggaran HAM. Akibat tindakan
ini pula, Anwar Sadat akhirnya terbunuh dalam parade Militer pada ulang tahun
ke-8 perang Yom Kippur.
Salah satu alasan lain Sadat melakukan perdamaian dengan Israel yaitu
karena terpuruknya Ekonomi Mesir. Upaya penyelesaian damai dengan Israel ini
diyakini oleh Sadat dapat meningkatkan pembangunan dalam negeri Mesir,
khususnya dalam bidang ekonomi karena menurut Sadat, situasi negara yang
aman akan mendorong banyak investor asing yang masuk ke Mesir. Mesir
menyadari bahwa bantuan ekonomi akan mendorong terciptanya stabilitas dalam
negeri yang pada akhirnya mempengaruhi peran dan posisi Mesir baik di posisi
Timur Tengah maupun dunia internasional.
Permasalahan yang dihadapi oleh Mesir untuk melanjutkan proses
perdamaian khususnya setelah perjanjian tersebut adalah sulitnya mengembalikan
kepercayaan bangsa-bangsa di kawasan yang rawan konflik terhadap Mesir, di
samping menjalin hubungan dengan negara-negara besar Iainnya seperti Amerika
Serikat dan Uni Sovyet. Perjanjian ini mengundang kontroversi, di Negara-negara
Arab terutama orang Palestina, menganggap perjanjian ini merupakan keputusan
yang kurang tepat karena hanya memikirkan kepentingan Mesir saja dan
mengorbankan saudara Arabnya sendiri.
Sebelum penandatanganan perjanjian Camp David , Mesir dan Syria
menjadi kekuatan penyeimbang yang sangat diperhitungkan Israel dan AS. Tetapi
dengan sangat taktis Israel dan AS merangkul Mesir, dengan mengembalikan
60
Semenanjung Sinai kepadanya dan Israel menolak mengembalikan dataran tinggi
Golan kepada Syria. Berkat "jasanya" dalam perjanjian Camp David itulah Anwar
Sadat mendapat hadiah Nobel di bidang perdamaian
Meski banyak penentangnya, perjanjian Camp David tetap merupakan
peristiwa bersejarah, perdamaian antara Mesir dan Israel masih tetap berlangsung
hingga kini. Namun pada kedua pihak masih ada kelompok radikal yang
berpendapat, tentang kekuasaan, kekuatan atau fanatisme ideologis itu lebih baik
ketimbang perdamaian dengan Israel. Bagi mereka, perjanjian Camp David masih
merupakan kesalahan. Namun bagi banyak pihak di Israel dan Mesir, perjanjian
itu selama beberapa tahun ini setidaknya membawa ketenangan dan keamanan
meski terbatas.
B. Saran
1. Kesulitannya memperoleh referensi yang valid karena buku-buku
mengenai Presiden Anwar Sadat masih sangat sedikit sekali di berbagai
perpustakaan yang ada, hingga perlunya kerjasama antara pemerintah
Mesir dan Indonesia untuk memberikan sumber-sumber yang valid ke
peperpuskaan yang ada.
2. Meski menuai pro dan kontra sebaiknya keputusan yang diambil oleh
Presiden Anwar Sadat dalam perdamaian Camp David ini seharusnya di
tanggapi dengan tangan terbuka oleh semua pihak baik dari masyarakat
Mesir Israel maupun masyarakat Islam dunia hingga terciptanya rasa
Perdamaian yang abadi.
61
DAFTAR PUSTAKA
Abdurrahman, Dudung, Metodologi Penelitian Sejarah. Jakarta: Logos Wacana
Ilmu, Cet II 1999
Amstrong, Karen, Perang Suci: dari Perang Salib Hingga Perang Teluk, Jakarta:
Serambi, 2004
Arief, R. A, Politik Luar Negeri Mesir Pasca Perjanjian Camp David: Peran
Mesir bagi Terciptanya Stabilitas Politik Timur Tengah, Jakarta: Tesis
UI, 2000
Baaklini, Abdo, Et.all. Legislatif Politics in Arab Word, London: Lynne Rinner P
Baehaki, Ahmad, Inkosistensi Anwar Sadat tentang Demokrasi, Jakarta: UIN
Syarif Hidayatullah, 2007ublishers, 1999
Bahtiar, T. Anwar, Hamas Kenapa Dibenci Israel, Jakarta: Hikmah, 2009
Ballack, Lugger, Kisah Tragis 28 Penguasa: Intrik, Spionase dan Pembunuhan,
Jakarta: Visimedia. 2007. Cet I
Desmon A, Achmad, Ensiklopedi Peradaban dunia: Sebuah Ensikopedi Praktis
nan Lengkap 4000 peristiwa penting 900 tokoh dunia dan ratusan artikel
menarik, Jakarta: Restu Agung, 2007
Eposito, John L, Dunia Islam Modern, Jilid II, Bandung: Mizan, 2001
--------------------, Ensiklopedi Oxford, Dunia Islam Modern, Bandung: Mizan,
1995
Eposito John. L, dan O. Voll, John, Demokrasi Di Negara-Negara Muslim:
Problem dan Prospek, Terj. Rahmani Astuti, Bandung: Mizan, 1999
62
Gottschlak, Louis, Mengerti Sejarah, Terj. Nugroho Susanto, Jakarta: Universitas
Indonesia Perss, 1985.
Hanafi, Hassan, Aku Bagian dari Fundamentalisme Islam, Yogyakarta: Islamika,
2003
Haeikal, Mohammed, Anwar Sadat: Kemarau Kemarahan. Terj. Arwan Setiawan,
Jakarta: PT. Temprin. 1986
--------------------------, Latar belakang: Perang Arab Israel, Jakarta: Badan
Penerbit Alda. 1978 Cet I
Hermawati, Sejarah Agama dan Bangsa Yahudi, Jakarta: PT. Raja Grafindo
Persada.
Hunter, Shireen T, Politik Kebangkitan Islam, Terj. Ajat S. U. Yogyakarta: Tiara
Wacana Yogni, 2001
Husein, Machnun, Prospek Perdamaian Timur Tengah, Yogyakarta: Pustaka
Pelajar, 1991
Houranni, Albert, Sejarah Bangsa-Bangsa Muslim. Terj. Irfan Abu Bakar,
Bandung: Mizan, 2004
Kuncahyono, Trias, Jalur Gaza: Tanah Terjanji, Intifada, dan Pembersihan Etnis,
Jakarta: Kompas, 2009
------------------------, Jerusalem: Kesucian Konflik dan Pengadilan Akhir. Jakarta:
Kompas. 2009.
Lapidus, Ira M, Sejarah Sosial Umat Islam, Terj. Ghufron A. Mas’adi. Bagian
Ketiga, Jakarta: Raja Grafindo Persada, Cet 1, 1999.
Maulachela, Muhammad Anis, Palestina dalam Pandangan Imam Khomeini,
63
Jakarta: Pustaka Zahra, 2004 Cet I.
Misrawi, Zuhairi, Al- Azhar: Menara Ilmu, Reformasi dan Kiblat Keulamaan,
Jakarta: Kompas, 2010
Munif, Ahmad, 50 Tokoh Legendaris Dunia. Jogyakarta: Narasi, Cet Ke II. 2007.
Nasution, Harun, Pembaharuan dalam Islam: Sejarah Pemikiran dan Gerakan,
Jakarta: Bulan Bintang, 1996
Sadat, Jehan, Otobiografi Istri Presiden Mesir: Jehan Sadat Kisah Seorang
Perempuan Mesir Bagian Kedua, Terj. Dra. Myra Sidharta dan Drs. Iwan
Fridolin, Jakarta: Pustaka Sinar Harapan. 1992 Cet. I
Sadaty, Anwar, Mencari Identitas sebuah Autobiografi, Terj. Drs. Banu Iskandar,
Marwan, dan Dra. Lanny anggawati. Jakarta; Tiara Pustaka. 1983
Saikal, Amin, Islam dan Barat, Konflik atau Kerjasama, Jakarta: Sanabil.
2006.Cet. I
Shadily, Hasan, Ensiklopedi Indonesia Jilid V, Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve,
1984
Sihbudi, M Riza, Menyandera Timur Tengah; Kebijakan AS dan Israel atas
Negara-negara Muslim, Jakarta: Mizan, 2007.
----------------------, Islam, Dunia Arab, Iran: Bara Timur Tengah,
Bandung:
Mizan, 1991
Sihombing, H. dan Dwiyana, K, Buku Pintar Politikus Dunia, Jakarta: pustaka
Delapratasa, 2002
ainsource:http://konspirasi.com/peristiwa/militer-mesir-picu-emosi-rakyat-patuhi-
64
perjanjian-camp-david/
http://www.eramuslim.com/berita/dunia/dua-orang-yang-terlibat-pembunuhanpresiden-mesir-anwar-sadat-dibebaskan.htm
http://panglima-ali.com/2011/04/jehan-sadat-selalu-mencintai-sadad/
http://id.wikipedia.org/wiki/Mesir
“Presiden Sadat Dibunuh”. Kompas 7 Oktober 1981
“Presiden Sadat dimakamkan dengan upacara sangat sederhana”. Kompas 11
Oktober 1981.
“Sidang Komisi Militer Mesir- Israel”. Kompas, 12 Januari 1978
Download