Peran Implementasi Manajemen Rantai Pasokan

advertisement
Peran Implementasi Manajemen Rantai Pasokan dalam Perekonomian
Era Global (Studi pada Perusahaan Manufaktur di Indonesia)
Lina Anatan
Fakultas Ekonomi, Universitas Kristen Maranatha, Bandung
Abstract
Supply chain management is one of the economic decisions that uses a strategic tool to
achieve competitiveness and sustainability in the global economy era. The focus of this study
investigate the moderating role of supply chain uncertainty (supplier uncertainty, process uncertainty,
demand uncertainty) on the relationship of supply chain management practices and supply chain
management performance. Data are collected through mailed questionnaire. The total questionnaires
are 500 sent to CEOs firms in Indonesia. Seventy three of useable questionnaires returned yielding the
response rate of 14,60%. Through the simple regression the analysis and moderated regression
analysis, three hypotheses are supported and one hypothesis is not supported. It means that supply
chain management practices have significant effects on supply chain performance, and supply chain
uncertainty has a role as moderating variable between the relationship of supply chain management
practices and supply chain performance.
Keywords: Supply Chain Management practices, supply chain uncertainty, supply chain performance.
I. Pendahuluan
Perekonomian era global memiliki karakteristik yang khas, yaitu adanya ketidakstabilan pasar
yang mengakibatkan perusahaan harus memiliki keunggulan kompetitif baik dalam hal harga maupun
kualitas. Dampak nyata era ekonomi global adalah munculnya liberalisasi perdagangan yang
membawa dampak hilangnya batas geografis yang membatasi ruang lingkup perdagangan suatu
perusahaan. Pada era ini kegiatan operasional perusahaan telah berbasis pada teknologi informasi
seperti internet yang mendorong pada perkembangan paradigma perusahaan yang semula hanya
memfokuskan pada downstream yaitu konsumen menjadi fokus pada upstream yaitu kemitraan bisnis.
Kemitraan bisnis sangat diperlukan untuk mengatasi kesulitan yang dihadapi dalam memperoleh
sumber daya yang dibutuhkan dalam proses produksi, salah satunya adalah melalui manajemen rantai
pasokan (supply chain management). Implementasi manajemen rantai pasokan perlu memfokuskan
pada kecepatan, kualitas, dan fleksibilitas sebagai cara untuk merespon kebutuhan konsumen untuk
menciptakan superior customer value.
Dalam perkembangan bisnis saat ini, karakteristik rantai pasokan dalam fleksibilitas
perusahaan dan praktik-praktik manajemen rantai pasokan telah mengalami perubahan untuk
meningkatkan kinerja rantai pasokan (Stonebraker dan Liao, 2004). Praktik-praktik manajemen rantai
pasokan dalam konteks ini terkait dengan serangkaian aktivitas yang dilaksanakan dalam suatu
organisasi untuk mencapai keefektifan manajemen rantai pasokan, yang meliputi kemitraan strategik
pemasok, hubungan dengan konsumen, tingkat information sharing, kualitas informasi, postponement
(Li et al., 2006). Praktik-praktik manajemen rantai pasokan tersebut merupakan faktor yang penting
untuk mencapai koordinasi yang efektif dalam rantai pasokan dan menjadi pengendali disepanjang
rantai pasokan.
Studi-studi mengenai manajemen rantai pasokan telah banyak dilakukan pada negara-negara
maju seperti Amerika dan Australia, tetapi hanya sedikit penelitian dilakukan di Asia, khususnya di
122
Peran Implementasi Manajemen Rantai Pasokan dalam Perekonomian
Ea Global (Studi pada Perusahaan Manufaktur di Indonesia)
(Lina Anatan
Indonesia. Tidak dapat dipungkiri, pengelolaan rantai pasokan khususnya di negara kepulauan seperti
Indonesia pada dasarnya sangat diperlukan untuk kelangsungan hidup perusahaan karena makin
kompetitifnya tuntutan persaingan yang memaksa perusahaan untuk memperluas pangsa pasar tanpa
mempedulikan batasan geografis antar daerah, antar propinsi, antar pulau, bahkan antar negara,
sehingga keterlibatan dalam suatu rantai pasokan sangat diperlukan untuk meningkatkan kinerja
perusahaan.
Penelitian ini dilakukan untuk mengisi kesenjangan pengetahuan dalam bidang manajemen
rantai pasokan. Penelitian dimotivasi oleh alasan yaitu: Pertama, masih kurangnya penelitian empiris
yang sistematis yang secara simultan menguji pengaruh praktik-praktik manajemen (kemitraan
strategik pemasok, hubungan dengan konsumen, tingkat information sharing, kualitas information,
postponement) terhadap kinerja rantai pasokan yang dikaji dari perspektif customer facing (reliabilitas,
responsiveness, fleksibilitas) dan internal facing (biaya, dan aset). Kedua, Untuk memberikan
masukan sebagai bahan pertimbangan bagi praktisi dalam proses pengambilan keputusan terkait
dengan praktik-praktik manajemen rantai pasokan untuk meningkatkan kinerja perusahaan dalam
rantai pasokan.
Model rantai pasokan dalam studi ini dikembangkan berdasarkan literatur konseptual
manajemen rantai pasokan yang dikemukakan oleh Li et al., (2006) yang menunjukkan adanya
keterkaitan antara praktik-praktik manajemen rantai pasokandan kinerja bisnis perusahaan. Modifikasi
model dengan menambahkan ketidakpastian dalam manajemen rantai pasokan sebagai variabel
moderator mengacu pada studi oleh Batnagar dan Sohal (2005). Studi ini memfokuskan pada
pembahasan empat pertanyaan penelitian yang diajukan meliputi: 1) Apakah praktik-praktik
manajemen rantai pasokan memiliki pengaruh signifikan terhadap kinerja rantai pasokan? 2) Apakah
ketidakpastian dalam rantai pasokan memoderasi hubungan antara praktik-praktik manajemen dan
kinerja rantai pasokan?
II. Landasan Teori dan Pengembangan Hipotesis
2.1 Praktik-Praktik Manajemen Rantai Pasokan
Dalam implementasi manajemen rantai pasokan, praktik-praktik manajemen rantai pasokan
memainkan peranan yang penting dalam meningkatkan kinerja perusahaan. Praktik-praktik
manajemen didefinisikan sebagai serangkaian aktivitas yang dilaksanakan dalam suatu organisasi
untuk mencapai keefektifan manajemen rantai pasokan. Beberapa penulis memberikan pandangan
yang berbeda-beda tentang praktik-praktik manajemen seperti dijelaskan pada Tabel 1. Dalam
penelitian ini, praktik-praktik manajemen rantai pasokan yang digunakan meliputi lima variabel yang
mewakili upstream (kemitraan pemasok strategik), downstream (hubungan dengan konsumen,
pergerakan informasi diantara rantai pasok), level dan kualitas information sharing, dan proses rantai
pasokan internal.
Kemitraan strategik pemasok merupakan hubungan jangka panjang antara organisasi dengan
pemasoknya dan dibentuk untuk memfasilitasi masing-masing organisasi untuk mencapai keuntungan
jangka panjang (Sheridan, 1998; Claycomb et al., 1999; Noble, 1997). Kemitraan strategis
menekankan pada hubungan jangka panjang secara langsung yang mendukung proses perencanan dan
usaha pemecahan masalah (Gunasekaran et al., 2001) yang memungkinkan perusahaan untuk bekerja
lebih efektif dengan pemasok yang memiliki kemauan untuk berbagi tanggung jawab untuk menjamin
keberhasilan produk sehingga diperlukan peran pemasok sejak dimulai keputusan desain produk untuk
membantu memilihkan komponen dan teknologi terbaik, pilihan desain yang efektif, dan penilaian
desain.
Hubungan dengan konsumen mengacu pada paktik-praktik secara menyeluruh yang dilakukan
untuk mengelola keluhan konsumen, mengembangkan hubungan jangka panjang dengan konsumen,
dan memperbaiki kepuasan konsumen (Claycomb et al., 1999; Tan et al., 1998). Pengelolaan
hubungan dengan konsumen merupakan komponen penting dalam praktik manajemen rantai pasokan
karenadapat digunakan sebagai hambatan dalam kompetisi (Noble, 1997). Hubungan yang baik
dengan konsumen diperlukan untuk mencapai kesuksesan manajemen rantai pasokan dan
123
Zenit
Volume 1 Nomor 2 Agustus 2012
memungkinkan organisasi untuk memiliki keunggulan khusus dibanding pesaing yaitu kepuasan dan
loyalitas konsumen (Magretta, 1998).
Tabel I Fokus Praktik-praktik Manajemen Rantai Pasokan pada Penelitian Terdahulu
Peneliti
Praktik-Praktik Manajemen Rantai Pasokan
Tan et al. (1998)
Pembelian, kualitas, hubungan dengan konsumen
Kovarado & Koto
Kompetensi inti yang meliputi Electronic Data Interchange (EDI) dan
(2001)
eliminasi persediaan yang berlebihan dengan mengurangi customization
pada rantai pasok akhir
Tan et al. (2002)
Integrasi rantai pasokan, pembagian informasi, kaakteristik SCM,
manajemen pelayanan konsumen, kapabilitas just in time (JIT)
Chen & Paultaj (2004)
Penguangan pemasok, hubungan jangka pendek, komunikasi cross
functional team, keterlibatan pemasok untuk mengukur hubungan
pembeli dan pemasok
Mon & Mentzer (2004) Visi dan tujuan, information sharing, sharing resiko dan prestasi,
kerjasama, integrasi proses, hubungan jangka panjang, dan
kepemimpinan rantai pasokan.
Li et al. (2006)
Kemitraan strategik pemasok, hubungan dengan konsumen. Tingkat
information sharing, kualitas information, postponement
Sumber: Diolah
Tingkat pembagian informasi berkaitan dengan tingkat kepentingan dan ketepatan informasi
yang dikomunikasikan ke mitra bisnis dalam rantai pasokan. Information sharing merupakan salah
satu faktor penting dalam implementasi manajemen rantai pasokan (Lalonde, 1998; Yu et al., 2001;
Childhouse dan Towill, 2003). Lalonde (1998) mengemukakan bahwa information sharing merupakan
salah satu dari ”building blocks” yang menunjukkan hubungan yang solid antar mitra bisnis yang
tergabung dalam rantai pasokan. Information sharing pada dasarnya memiliki dua aspek penting yaitu
kuantitas dan kualitas information sharing yang keduanya dianggap sebagai konstruk yang
mempengaruhi information sharing. Aspek kuantitas (tingkat) information sharing mengacu pada
kepentingan dan ketepatan informasi yang dikomunikasikan pada mitra rantai pasokan (Monezka,
1998). Informasi yang dibagikan bisa bervariasi dari level strategik hingga taktis, baik informasi
tentang aktivitas logistik maupun informasi pelanggan.
Kualitas information sharing penting untuk mencapai keefektifan rantai pasokan, tetapi
dampak information sharing akan dirasakan signifikan tergantung pada informasi yang dibagikan,
kepada siapa informasi tersebut dibagikan, kapan dan bagaimana informasi tersebut dibagikan
(Monezka et al., 1998). Dampak information sharing sangat dipengaruhi oleh kualitas informasi yang
mencakup aspek seperti akurasi, ketepatan waktu, kecukupan informasi, dan kredibilitas pertukaran
informasi. Jarell (1998) mengemukakan bahwa information sharing di sepanjang rantai pasokan dapat
menciptakan fleksibilitas, tetapi untuk mencapai fleksibilitas tersebut diperlukan informasi yang
akurat dan tepat waktu, untuk itu distorsi informasi harus dihilangkan yaitu dengan mencapai
informasi seakurat mungkin dan perusahaan harus memastikan bahwa pergerakan informasi berjalan
lancar tanpa penundaan atau keterlambatan dan tidak terjadi distorsi atau paling tidak diupayakan
seminimum mungkin.
Penundaan didefinisikan sebagai praktik-praktik pembuatan, penyediaan, bahan, dan
pengiriman) dalam rantai pasokan yang memungkinkan perusahaan untuk lebih fleksibel dalam
mengembangkan variasi produk yang berbeda untuk memenuhi perubahan kebutuhan konsumen dan
membedakan suatu produk untuk memodifikasi fungsi permintaan.. Dua pertimbangan utama dalam
mengembangkan suatu strategi postponement adalah dengan menentukan seberapa besar penundaan,
penentuan langkah mana yang digunakan untuk melalukan penundaan. Strategi ini perlu disesuaikan
dengan tipe-tipe produk, permintaan pasar, dan struktur hambatan dalam system manufaktur dan
logistic (Pagh dan Cooper. 1998).
124
Peran Implementasi Manajemen Rantai Pasokan dalam Perekonomian
Ea Global (Studi pada Perusahaan Manufaktur di Indonesia)
(Lina Anatan
2.2 Kinerja Rantai Pasokan
Salah satu model acuan yang dipakai dalam pengukuran kinerja adalah model SCOR (Supply
Chain Operation Reference). Model SCOR mengintegrasikan tiga elemen utama dalam manajemen
yaitu business process reengineering (BPR), benchmarking, dan process measurement (Hwang et al.,
2008). Model SCOR membagi proses-proses rantai pasokan menjadi lima proses inti yaitu plan,
source, make, deliver, dan return. Plan merupakan proses yang menyeimbangkan permintaan dan
pasokan untuk menentukan tindakan terbaik dalam memenuhi kebutuhan pengadaan, produksi, dan
pengiriman yang mencakup proses menaksir kebutuhan distribusi, perencanaan produksi, perencanaan
material, perencanaan material, perencanan kapasitas, dan melakukan penyesuaian perencanaan
manajemen rantai pasokan dan perencanaan finansial. Source adalah proses pengadaan barang maupun
jasa untuk memenuhi permintaan, proses ini mencakup penjadwalan pengiriman dari pemasok,
menerima, mengecek, dan memberikan otorisasi pembayaran untuk barang yang dikirim pemasok,
memilih pemasok, mengevaluasi kinerja pemasok, dan sebagainya. Make merupakan proses untuk
menstransformasi bahan baku atau komponen menjadi produk yang diinginkan pelanggan, meliputi
penjadwalan produksi, melakukan kegiatan produksi dan melakukan pengetesan kualitas, mengelola
barang setengah jadi, dan memelihara fasilitas produksi. Deliver merupakan proses untuk memenuhi
permintaan terhadap barang maupun jasa. Proses deliver meliputi order management, transportasi, dan
distribusi. Sedangkan return merupakan proses pengembalian atau menerima pengembalian produk
karena berbagai alasan. Kegiatan yang terlibat meliputi identifikasi kondisi produk, meminta otorisasi
pengembalian produk cacat, penjadwalan pengembalian, dan melakukan pengembalian. Dalam
penelitian ini pengukuran dimensi kinerja rantai pasokan dilihat dari berbagai dimensi umum yaitu
reliabilitas, responsiveness, fleksibilitas, biaya, dan aset.
2.3 Ketidakpastian dalam Rantai Pasokan
Ketidakpastian dalam persaingan dan kondisi lingkungan bisnis membawa dampak pada
ketidakpastian yang terjadi dalam rantai pasokan baik terkait dengan ketidakpastian pemasok, proses,
maupun permintaan (Wong dan Boon, 2008; Kinra dan Kotzab, 2008). Ketidakpastian yang terjadi
menimbulkan banyak masalah yang berdampak pada total biaya produksi, misalnya kemungkinan
stock out akan menyebabkan rush-order, dan kelebihan stock. Kemungkinan lain adalah biaya promosi
penjualan dan biaya discount yang terjadi karena ketidaktepatan waktu proses penyampaian barang ke
konsumen akhir sehingga perusahaan harus menanggung lost sales. Fenomena tersebut lebih dikenal
dengan bullwhip effect diakibatkan oleh adanya distorsi informasi permintaan dari rantai bawah
(enduser) ke rantai diatasnya, sehingga kuantitas permintaan sering tidak dapat terpenuhi secara
maksimal.
Schroeder (2000) mengemukakan empat faktor penyebab timbulnya Bullwhip Effect, yaitu: 1).
Peramalan permintaan yang kurang tepat, karena tidak adanya pembagian informasi. Solusi permalan
dapat dilakukan dengan menggunakan smoothing method dari data keseluruhan penjualan yang ada, 2)
Order Batching, dapat terjadi jika ada penumpukan order, 3) Fluktuasi harga, memicu timbulnya
bullwhip effect karena jika ada diskon rush demand dan akan menyebabkan rush order material,
artinya menyelesaikan pemenuhan permintaan yang meningkat menimbulkan masalah pada rantai lain
karena rush order material meningkat, kemungkinan biaya pesan menjadi tinggi dan sebaliknya, 4)
Rationing, artinya jika permintaan melebihi penawaran maka permintaan tersebut akan dijatah
dengan menggunakan perbandingan yang sama atas pemesanannya.
2.4 Model Penelitian dan Pengembangan Hipotesis
Gambar 1 menunjukkan model penelitian manajemen rantai pasokan yang dalam penelitian
ini. Model penelitian menjelaskan bahwa praktik-praktik manajemen rantai pasokan yang meliputi
lima dimensi utama adalah manajemen kemitraan strategik pemasok, hubungan dengan konsumen,
tingkat information sharing, kualitas information, postponement memiliki pengaruh terhadap kinerja
rantai pasokan. Berdasarkan literatur yang ada maka dikembangkan model penelitian yang
125
Zenit
Volume 1 Nomor 2 Agustus 2012
menujukkan hubungan praktik-praktik manajemen rantai pasokan, ketidakpastian dalam rantai
pasokan, dan kinerja rantai pasokan.
Gambar 1 Model Penelitian
Ketidakpastian Dalam
Rantai Pasokan
Praktik-Praktik
Manajemen Rantai Pasokan
Kemitraan Strategik Pemasok
Hubungan Dengan Konsumen
Level Information Sharing
Kualitas Information
Postponement
Ketidakpastian Pemasok
Ketidakpastian Proses
Ketidakpastian Permintaan
H2
H1
Kinerja
Rantai pasokan
Reliabilitas
Responsiveness
Fleksibilitas
Biaya
Aset
Sumber: Batnagar dan Sohal (2005) dan Li et al., (2006)
Model konseptual rantai pasokan yang dikembangkan dalam studi ini menunjukkan bahwa
praktik-praktik manajemen rantai pasokan memiliki dampak langsung terhadap kinerja rantai pasokan
(Shin et al., 2000; Stock et al., 2000). Praktik-praktik manajemen rantai pasokan diharapkan dapat
meningkatkan kinerja rantai pasokan secara menyeluruh. Misalnya kemitraan stratejik pemasok
memiliki pengaruh langsung terhadap biaya dan tingkat respon terhadap kebutuhan konsumen (Carr
dan Person, 1999), praktik-praktik hubungan dengan konsumen juga memiliki pengaruh terhadap
tingkat responsif perusahaan terhadap kebutuhan konsumen (De Toni dan Nassimbeni, 2000). Makin
tingginya level information sharing akan mengakibatkan makin rendahnya biaya (Lin et al, 2002).
Berdasarkan argumen-argumen dan hasil studi empiris yang dilakukan beberapa peneliti sebelumnya,
maka maka dikembangkan hipotesis:
Hipotesis 1: Praktik-praktik manajemen rantai pasokan memiliki pengaruh signifikan terhadap
kinerja rantai pasokan
Bhatnagar dan Sohal (2005) mengemukakan bahwa interaksi yang kompleks dan dinamis
antara pemasok diantara rantai pasokan membawa dampak pada ketidakpastian perencanaan dalam
suatu rantai pasokan. Ketidakpatian dalam rantai pasokan ini dikelompokkan dalam tiga sumber
ketidakpastian yaitu ketidakpastian pemasok, ketidakpastian proses, dan ketidakpastian permintaan.
Ketidakpastian pemasok disebabkan oleh variabilitas kinerja pemasok terkait dengan keterlambatan
pengiriman. Ketidakpastian pemasok didefinisikan sebagai tingkat perubahan kualitas produk dan
kinerja pengiriman pemasok yang tidak dapat diprediksi. Lee dan Billington (1992) mengemukakan
beberapa sumber ketidakpastian pemasok yang meliputi: tingkat penguasaan teknologi pemasok,
waktu tunggu, kinerja pengiriman, dan kualitas material atau bahan baku. Ketidakpastian yang
diakibatkan oleh pemasok seperti keterlambatan pengiriman material/bahan baku, kerusakan material,
dan waktu tunggu yang tidak pasti akan menghambat proses produksi perusahaan yang akan
mengakibatkan terjadinya inefisiensi dalam segala bidang baik dalam hal variabilitas pemesanan,
peningkatan safety stock, peningkatan biaya logistik, dan penggunaan sumber daya yang tidak efisien
(Yu, et al., 2001).
Ketidakpastian proses atau ketidakpastian teknologi merupakan akibat dari proses produksi
yang tidak reliabel misalnya karena kerusakan mesin. Ketidakpastian teknologi didefinisikan sebagai
perubahan teknologi dalam suatu industri yang tidak dapat diprediksi. Perkembangan teknologi
informasi yang pesat akan dapat memberikan berbagai manfaat dan kesempatan bagi perusahaan jika
perusahaan dapat memanfaatkan perkembangan teknologi yang ada dengan benar. Kondisi ini
memberikan manfaat bagi perusahaan tetapi akan dapat menjadi hambatan dan tantangan yang
merugikan jika perusahaan tidak dapat beradaptasi dan menguasai perkembangan teknologi yang ada,
khususnya bagi perusahaan yang bersaing secara individual (stand-alone competition).
Ketidakpastian konsumen didefinisikan sebagai tingkat perubahan permintaan yang tidak
dapat diprediksi dan dirasakan. Kondisi persaingan bisnis yang terjadi telah mengalami perubahan
paradigma dari supplier-driven, dimana produk dan jasa dihasilkan tergantung pada kemampuan
126
Peran Implementasi Manajemen Rantai Pasokan dalam Perekonomian
Ea Global (Studi pada Perusahaan Manufaktur di Indonesia)
(Lina Anatan
produsen menjadi customer-driven, dimana setiap keputusan produksi ditentukan oleh keinginan dan
kebutuhan konsumen. Dalam kondisi ini, permintaan konsumen cenderung tidak dapat diprediksi dan
tidak pasti baik dalam hal volume, waktu, maupun tempat. Konsumen saat ini menginginkan lebih
banyak pilihan produk, pelayanan yang lebih baik, kualitas yang lebih tinggi, dan pengiriman yang
lebih cepat.
Studi yang dilakukan Bhatnagar dan Sohal (2005) membuktikan bahwa ketidakpastian dalam
rantai pasokan memiliki pengaruh signifikan terhadap kinerja rantai pasokan yang diukur dari
pespektif waktu tunggu, persediaan, kualitas, pelayanan konsumen, dan fleksibilitas. Ketika tingkat
ketidakpastian tinggi, serta kebutuhan konsumen cenderung bersifat fluktuatif, rantai pasokan yang
memiliki kinerja baik akan menguntungkan perusahaan yang terlibat didalamnya. Oleh karena itu,
dapat disimpulkan bahwa pengaruh ketidakpastian dalam rantai pasokan terhadap kinerja rantai
pasokan akan lebih besar dalam kondisi lingkungan yang dinamis dibandingkan dalam kondisi
persaingan yang stabil (Wong dan Boon, 2008; Kinra dan Kotzab, 2008; Boyle et al., 2008; Trkman
dan Mac Cormack, 2009). Untuk itu dikembangkan hipotesis:
Hipotesis 2: Ketidakpastian dalam rantai pasokan memoderasi hubungan antara praktik-praktik
manajemen dan kinerja rantai pasokan
III.
Metode Penelitian
3.1 Sampel Penelitian dan Teknik Pengumpulan Data
Populasi penelitian meliputi seluruh perusahaan manufaktur yang beroperasi di Indonesia
yang terdaftar dalam Direktori Perusahaan Manufaktur yang diterbitkan oleh Biro Pusat Statistik,
tahun 2005. Sampel ditentukan dengan menggunakan teknik purposive sampling dan sampel yang
dipilih adalah perusahaan manufaktur dengan kriteria memiliki skala besar, bergerak di bidang usaha
otomotif, permesinan, elektronik, dan komputer. Studi pada penelitian ini menggunakan data primer.
Data primer diperoleh melalui penyebaran kuesioner (mailed questionnaires) pada perusahaanperusahaan manufaktur. Target responden menggunakan yaitu CEO (manajemen puncak).
Pendistribusian kuesioner dilakukan selama dua bulan dengan batas pengembalian selama empat
minggu setelah diterimanya surat oleh perusahaan.
3.2 Variabel dan Pengukuran
Praktik-praktik manajemen rantai pasokan. Praktik-praktik manajemen didefinisikan sebagai
serangkaian aktivitas yang dilaksanakan dalam suatu organisasi untuk mencapai keefektifan
manajemen rantai pasokan.Praktik-praktik manajemen rantai pasokan dalam penelitian ini meliputi:
manajemen kemitraan strategik pemasok, hubungan dengan konsumen, tingkat information sharing,
kualitas information, postponement (Li, 2006; Chen & Paultaj (2004). Skala Likert 5 point digunakan
untuk mengukur tingkat perhatian perusahaan terhadap strategi operasi (1= sangat tidaksetuju, 5 =
sangat setuju). Ketidakpastian Rantai Pasokan. Ketidakpastian rantai pasokan dalam penelitian ini
diadopsi dari studi yang dilakukan Bhatnagar dan Sohal (2005) yang meliputi ketidakpastian pemasok,
ketidakpastian proses, dan ketidakpastian permintaan). Ketidakpastian pemasok didefinisikan sebagai
tingkat perubahan kualitas produk dan kinerja pengiriman pemasok yang tidak dapat diprediksi.
Ketidakpastian teknologi didefinisikan sebagai perubahan teknologi dalam suatu industri yang tidak
dapat diprediksi. Ketidakpastian konsumen didefinisikan sebagai tingkat perubahan permintaan yang
tidak dapat diprediksi dan dirasakan. Skala Likert 5 point digunakan untuk melihat kinerja perusahaan
dibandingkan kinerja rata-rata industri (1= sangat tidak setuju, 5= sangat setuju). Kinerja rantai
pasokan. Kinerja rantai pasokan diukur dengan menggunakan metode SCOR yang meliputi lima
dimensi penting yaitu reliabitas, responsiveness, fleksibilitas, biaya, dan aset (Pujawan, 2005). Skala
Likert 5 point digunakan untuk melihat kinerja perusahaan dibandingkan kinerja rata-rata industri (1=
Jauh lebih rendah, 5= Jauh lebih tinggi)
127
Zenit
Volume 1 Nomor 2 Agustus 2012
IV. Hasil Analisis Data
4.1 Tingkat Pengembalian dan Profil Responden
Sejumlah 500 kuesioner dikirimkan melalui pos pada perusahaan yang menjadi target
responden. Dari total kuesioner yang dikirimkan 73 kuesioner kembali dan diisi secara lengkap
digunakan dalam analisis data seperti disajikan dalam Tabel II.
Tabel II Sampel dan Tingkat Pengembalian
Total kuesioner yang dikirimkan
Perusahaan tutup/pindah alamat
Perusahaan menolak berpartisipasi
Total Kuesioner kembali
Tingkat pengembalian
Tingkat pengembalian berdasarkan kuesioner yang diolah
500
17
5
84
84/500 x 100%= 16,8%
73/500 x 100%= 14,6%
Sumber: Data Diolah
Dari 73 perusahaan yang telah berpartisipasi dalam studi ini, semuanya adalah perusahaan
manufaktur berskala besar, menurut kriteria yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu berdasarkan
jumlah tenaga kerja yang dimiliki masing-masing perusahaan. Profil perusahaan yang berpartisipasi
dalam penelitian ini semuanya adalah perusahaan swasta yang terjun dalam bidang usaha masingmasing selama lebih dari lima tahun. sebagian besar perusahaan yang berpartisipasi dalam penelitian
ini telah beroperasi lebih dari 30 tahun (58,9%). Berdasarkan bidang usaha sebagian besar perusahaan
bergerak dalam barang logam, permesinan, otomotif, elektronik , dan komputer (42.5%). Sebagian
besar perusahaan merupakan milik pengusaha lokal (64.4%), berdasarkan jumlah tenaga kerja
sebagian besar perusahaan memiliki tenaga kerja diatas 100-999 orang (56.2%), dan berdasarkan aset
yang dimiliki sebagian besar perusahaan memiliki asset lebih dari 1 trilyun Rupiah (30.1%).
4.2 Pengujian Validitas Dan Reliabilitas
Hasil pengujian reliabilitas dan validitas instrumen disajikan dalam Tabel III. Hasil studi ini
menunjukkan reliabilitas instrument yang cukup tinggi. Cronbach alpha untuk semua instrumen untuk
mengukur masing masing variabel berkisar dari 0,785 – 0,900. Dilihat dari koefisien homogenitasnya
semua signifikan pada alpha .01, Hal ini menunjukkan bahwa hampir semua item yang digunakan
dalam penelitian ini reliabel dan valid, kecuali item pertanyaan dua kemitraan strategik pemasok harus
dibuang karena memiliki homogenitas item yang tidak signifikan.
Table III Chronbach Alpha and Homogenitas item Untuk Semua Variabel
Variable
Jumlah Jumlah item yang Cronbach
Homogenitas
items
di keluarkan
Alpha
item
Praktik SCM
25
2
.824
.327- .672
Ketidakpastian Lingkungan
9
0
.785
.256 - .695
Kinerja SCM
13
0
.850
.397 - .694
Sumber: Data Diolah
4.3 Pengujian Hipotesis dan Pembahasan
4.3.1 Pengujian Hipotesis 1
Untuk menguji hipotesis 1 yaitu bahwa praktik-praktik manajemen rantai pasokan memiliki
pengaruh signifikan terhadap kinerja rantai pasokan dalam penelitian ini digunakan model regresi
sederhana (simple regression). Tabel IV. menunjukkan hasil pengujian pengaruh praktik-praktik
128
Peran Implementasi Manajemen Rantai Pasokan dalam Perekonomian
Ea Global (Studi pada Perusahaan Manufaktur di Indonesia)
(Lina Anatan
manajemen rantai pasokan terhadap kinerja rantai pasokan. Semua penyimpangan terhadap asumsi
klasik seperti normalitas, homoskedastisitas, non multikolinieritas dan autokorelasi telah diuji. Dari
hasil pengujian hipotesis diketahui bahwa hipotesis 1 yang menyatakan bahwa praktik-praktik
manajemen rantai pasokan memiliki pengaruh signifikan terhadap kinerja rantai pasokan didukung
Dep
Var
KRP
Para
meter
intercept
Praktik SCM
Sumber: Data Diolah
Table IV Hasil Pengujian Hipotesis 1
B
SE
t
Sig
F
1.906
.421
.601
.151
3.171
2.783
.002
.007
7.743
Sig
.007a
R2
.314a
4.3.2 Pengujian Hipotesis 2
Pengujian Hipotesis 2 dilakukan untuk memberikan bukti empiris adanya pengaruh
pemoderasian ketidakpastian dalam rantai pasok terhadap hubungan praktik-praktik manajemen
rantai pasok dan kinerja rantai pasok. Hasil Pengujian Hipotesis 4 dirangkum dalam Tabel 5. Kolom
blok pada Tabel V. memperlihatkan urutan pemasukan variabel kedalam persamaan untuk pengujian
hipotesis peran pemoderasian ketidakpastian dalam rantai pasok terhadap hubungan praktik-praktik
manajemen rantai pasok dan kinerja rantai pasok.. Blok 1 memperlihatkan bahwa yang pertama
dimasukkan adalah variabel praktik-praktik manajemen rantai pasokan. Blok ini menunjukkan nilai R2
sebesar 0.098. Ketika variabel ketidakpastian dalam rantai pasokan dimasukkan dalam persamaan
(Blok 2), nilai R2 meningkat menjadi 0. 181 dan ΔF sebesar 7.741. Peningkatan tersebut adalah
signifikan dengan nilai signifikansi 0.001 < 0.05 (sig 5%). Ini menunjukkan bahwa sebesar 7.741%
variasi variabel kinerja rantai pasokan dapat dijelaskan oleh variabel ketidakpastian dalam rantai
pasokan sedangkan 92.359% dijelaskan oleh faktor lain. Pada tahap selanjutnya (Blok 3) ketika
variabel interaksi dimasukkan kedalam persamaan, nilai R2 meningkat 0.190 dari blok 2 sehingga
menjadi 0.330 dan ΔF= 7.741. Peningkatan tersebut signifikan karena nilai signifikansi sebesar 0.01
lebih kecil dari 5% (sign < 5%). Berdasarkan kriteria MRA seperti dikemukakan pada bagian metode
penelitian, maka dapat disimpulkan bahwa variabel ketidakpastian dalam rantai pasokan merupakan
quase moderator.
Table V Hasil Pengujian Hipotesis 2
Model
Standardized
Uji t
R2
Δ R2
ΔF
Sign
Coeffisien
B
T
Sign
1
(Constant)
1.906
3.171
.002
.098
.086
7.743 .007a
Praktik SCM .421
2.783
.007
2
(Constant)
2.083
3.586
.001
.181
.158
7.741 .001a
Praktik SCM .687
3.896
.000
Uncertainty
-.334
-2.660
.010
3
(Constant)
-1.817
-.392
.696
.190
.154
5.380 .002a
Praktik SCM 1.631
1.448
.152
Uncertainty
.769
.589
.558
Moderator
-.266
-.848
.399
Sumber: Data Diolah
V. Penutup
Hasil pengujian hipotesis pertama mendukung hipotesis yang diajukan yaitu bahwa praktikpraktik manajemen rantai pasokan juga terbukti memberikan pengaruh dalam meningkatkan kinerja
rantai pasokan. Hipotesis kedua yang menguji peran moderasi dalam studi ini didukung dan hasil studi
empiris menunjukkan bahwa variabel ketidakpastian lingkungan berperan sebagai moderating variabel
129
Zenit
Volume 1 Nomor 2 Agustus 2012
yang memoderasi hubungan antara praktik-praktik manajemen rantai pasokan dan kinerja rantai
pasokan. Dengan memahami berbagai faktor yang mempengaruhi kinerja rantai pasokan diharapkan
dapat memberikan kontribusi dalam meningkatkan daya saing organisasi yang pada akhirnya akan
membawa dampak positif dalam meningkatkan kinerja dan daya saing perusahaan dalam ekonomi
global.
Penelitian ini masih memiliki beberapa keterbatasan antara lain: Pertama, Sampel
penelitian meliputi beberapa industri (multiple industry). Komposisi industri dalam sampel mungkin
menunjukkan adanya variabilitas kinerja antar industri sehingga efek industri perlu dikontrol. Tetapi
dalam penelitian ini kontrol atas efek industri belum dilakukan Kedua, Dalam pengukuran kinerja
rantai pasokan perusahaan, responden masih menggunakan perceptual method sehingga dapat
menimbulkan bias dalam pengukuran. Ketiga, studi ini menggunakan data yang sebagian besar
diperoleh melalui mail survey yang mungkin terdapat ketidakseriusan responden dalam menjawab
pertanyaan penelitian sehingga dapat menimbulkan bias dan membuat hasil analisis tidak bagus.
Terlepas dari beberapa keterbatasan penelitian yang dimiliki, penelitian ini diharapkan dapat
memberikan manfaat bagi bahan pertimbangan perusahaan dalam mengimplementasikan praktikpraktik manajemen rantai pasokan dan memformulasikan strategi bersaing secara tepat dalam
merespon kondisi lingkungan bisnis yang makin turbulence dan tidak dapat diprediksi. Hasil
penelitian ini diharapkan juga memberikan kontribusi terhadap akademisi maupun praktisi terutama
dalam mengembangkan literatur manajemen operasi pada umumnya dan manajemen rantai pasokan
serta manajemen strategik pada khususnya.
Daftar Pustaka
Bhatnagar,R., Sohal, A.S., 2005. Supply chain competitiveness: measuring the impact of location factors,
uncertainty and manufacturing practices. Technovation, 25, 443–456
Boyle,E., Humphreys,P., McIvor, R., 2008. Reducing supply chain environmental uncertainty through eintermediation: An organisation theory perspective. International Journal of Production Economics.
114, 347– 362
Carr, A.S., Person, J.N., 1999. Strategically managed buyers and seller relationship and performance outcome.
Journal of Operation Management, 17 (5), 497-519.
Childhouse, D.R. Towill, S., 2003. Simplified material flow holds the key to supply chain integration, Omega,
31 (1), 17–27.
Claycomb C, Droge C, Germain R., 1999. The effect of justin- time with customers on organizational design and
performance. International Journal of Logistics Management, 10(1), 37–58.
De Toni A., Nassimbeni G., 2000. Just in time purchasing: an empirical study of operational practice, supplier
development and performance. Omega, 28 (6), 631-651
Gunasekaran A, Patel C, Tirtiroglu E., 2001. Performance measures and metrics in a supplychain environment.
International Journal of Operations and Production Management, 21(1/2), 71–87.
Hwang,D.Y.,Lin,Y.C., Lyu, J., 2008. The performance evaluation of SCOR sourcing process—The case study of
Taiwan’s TFT-LCD industry. International Journal of Production Economics. 115, 411– 423
Kinra, A., Kotzab, H., 2008. A macro-institutional perspective on supply chain environmental complexity.
International Journal of Production Economics115, 283– 295
Jarrel, J.L., 1998. Supply chain economics. World Trade, 11 (11), 58-61
Lalonde,BJ., 1998. Building a supply chain relationship, Supply Chain Management Review, 2 (2), 7–8.
130
Peran Implementasi Manajemen Rantai Pasokan dalam Perekonomian
Ea Global (Studi pada Perusahaan Manufaktur di Indonesia)
(Lina Anatan
Li, S., Lin, B., 2006. Accessing information sharing and information quality in supply chain management.
Decision Support System, 1-16.
Li, S., Nathan, B.R., Nathan, T.S., Rao, S.S., 2006. The impact of supplychain management practices on
competitive advantage and organizational performance. Omega. 34, 107-124
Lin, F., Huang, S., Lin, S., 2002. Effects of information sharing on supply chain performance in electronic
commerse, IEEE Transaction on Engineering Management, 49 (3), 258 – 268.
Magretta J., 1998. The power of virtual integration: an interview with Dell computers’ Michael Dell. Harvard
Business Review,76(2), 72–84.
Monczka, K.J. Petersen, R.B. Handfield, G.L. Ragatz, 1998. Success factors in strategic supplier alliances: the
buying company perspective, Decision Science, 29 (3), 5553–5577.
Noble D., 1997. Purchasing and supplier management as a future competitive edge. Logistics Focus, 5(5), 23–7
Pagh JD, Cooper MC., 1998. Supplychain postponement and speculation strategies: how to choose the right
strategy. Journal of Logistics Management 19(2), 13–33.
Pujawan, I.Y, 2005. Supply Chain Management. Edisi 1. Penerbit Guna Widya, Surabaya.
Sheridan JH., 1998. The supply-chain paradox. Industry Week. 247(3), 20–9.
Shin, H., Collier, D.A., Wilson, D.D., 2000. Supply management orientation and supplier/buyer performance.
Journal of Operation Management, 18 (3), 317-333.
Trkman, P., Cormack, K., 2009. Supply chain risk in turbulent environments—A conceptual model for
managing supply chain network risk. International Journal of Production Economics. Available online
18 March 2009
Spekman RE, Kamauff Jr JW, Myhr N., 1998. An empirical investigation into supplychain management: a
perspective on partnerships. Supply Chain Management, 3(2), 53–67.
Stock, G.N., Greis, N.P., Kasarda, J.D.,2000. Entreprise Logistics and supply chain structure: the role of fit.
Journal of operations management, 18 (5), 531-547.
Stonebraker, P.W., Liao, J, 2004. Environmental turbulence, strategic orientation: Modeling supply chain
integration. International Journal of Operations & Production Management. 24 (9), 1037-1054
Yu, Z.X, H. Yan, T.C.E., Cheng, 2001. Benefits of information sharing with supply chain partnership, Industrial
Management and Data Systems, 101 (3), 114-116.
131
Download