kode etik kewirausahaan - Pendidikan Ekonomi

advertisement
KODE ETIK KEWIRAUSAHAAN

APAKAH BISNIS MEMPUNYAI ETIKA ?

Pertanyaan tsb muncul karena masih ada pandangan lama
bahwa bisnis itu immoral, bahkan dianggap sebagai a
necssary evil, kemudian melunak menjadi amoral artinya
moral dan bisnis merupakan dua dunia yang sangat berbeda,
dan keduanya tidak dapat dicampuradukkan.

Menurut DR. Georges Enderle, kualitas etika mengandung 4
unsur
1.
2.
3.
4.
Moral sensibility : perasaaan yang membisikkan
apakah kegiatan bisnis yang akan dijalankan
relevan secara moral
Moral reasoning : memberikan alasan-alasan
yang memadai untuk melanjutkan atau tidak
sebuah kegiatan bisnis
Moral conduct : suatu tindakan moral yang
didasarkan atas perasaan moral dan alasan moral
yang dapat dipertanggungjawabkan.
Moral leadership : kepemimpinan yang bermoral
dan memilki standar moral yang tinggi, yang akan
mempengaruhi pekerjaan di perusahaan.

Etika Bisnis (EB) merupakan etika khusus
(terapan) yang pada awalnya berkembang di AS,
karena kebanyakan telaah dan buku mengenai
bisnis dan manajemen berasal dari negara tsb

Sebagai cabang filsafat terapan, EB menyoroti
segi-segi moral yang mempunyai profesi di bidang
bisnis dan manajemen

1.
Richard T.de George menyebutkan bahwa EB menyangkut
empat kegiatan sbb :
Penerapan prisip-prinsip etika umum dalam praktik bisnis
2. EB tidak hanya menyangkut penerapan prinsip-prinsip etika
pada dunia bisnis tetapi juga matematika
3. Bidang telaah EB menyangkut pandangan-pandangan
mengenai bisnis (hak milik, persaingan, keadilan sosial)
4. EB juga menyentuh bidang yang sangat makro, seperti operasi
perusahaan multinasional, jaringan konglomerat internasional,
dll

Tujuan EB adalah menggugah kesadaran moral
para pelaku bisnis untuk menjalankan good business
dan tidak melakukan monkey business atau dirty
business. EB mengajak para pelaku bisnis
mewujudkan citra dan manajemen bisnis yg baik
(etis) agar bisnis itu pantas dimasuki oleh semua
orang yang mempercayai adanya dimensi dalam
dunia bisnis

.
Laura Nash memberikan definisi EB sebagai studi mengenai
bagaimana norma moral personal diaplikasikan dalam
aktivitas dan tujuan perusahaan. EB menyangkut 3 bidang
dasar pembuatan keputusan manajerial :
1.
Pilihan-pilihan tentang bagaimana seharusnya aturan hukum
itu dan apakah akan mengikuti aturan hukum itu.
2.
Pilihan-pilihan tentang masalah ekonomi dan sosial diluar
ranah hukum
3.
Pilihan-pilihan tentang prioritas kepentingan orang tertentu di
atas kepentingan perusahaan.

Menurut Weiss masalah-masalah
etis yang sering muncul adalah :
menerima atau menawarkan komisi;
mencuri dari perusahaan; memecat
karyawan karena suka menyebar
berita berlebihan; memperhitungkan
biaya tambahan yang disangsikan
untuk memperoleh penggantian dari
perusahaan; membocorkan
informasi rahasia atau rahasia
dagang; memberhentikan karyawan
tanpa pemberitahuan lebih dahulu;
memakai barang-barang
perusahaan untuk kepentingan
pribadi

Tingkat EB menurut Weiss
mengutip pendapat Carroll :
1.
Tingkat Individual, misalnya
menyangkut apakah seseorang
akan berbohong mengenai
rekening pengeluaran, terima
suap
2.
Tingkat Organisasional :
misalnya seseorang atau
kelompok orang ditekan untuk
mengabaikan atau memaafkan
kesalahan rekan sejawat untuk
kepentingan keharmonisan
persahaan
3.
Tingkat Asosiasi : misalnya
penasehat hukum menawarkan
persetujuan tuntutan hukum
atau melakukan transaksi bisnis
ilegal
1.
Tingkat Masyarakat : hukum,
norma kebiasaan dan tradisi
menentukan perbuatan-perbuatan
yang dapat diterima secara sah.
2.
Tingkat Internasional: apakah
seorang karyawan bisa menerima
kebijakan perusahaannya yang
mengadakan hubungan bisnis
dengan pemerintah yang
mendukung apartheid, sementara
hukum dan masyarakatnya
menentang diskriminasi

Tuntutan masyarakat Internasional
agar EB dilaksanakan makin kuat,
khususnya mengenai mutu barang
dan jasa yang dijual di pasar
interbasional (ISO 9000 Series
Standard)

Prinsip-prinsip etika yang berlaku :
1.
Prinsip otonomi : sikap dan kemampuan
manusia untuk bertindak berdasarkan
kesadarannya sendiri
2.
Prinsip kejujuran : kejujuran terwujud
dalam pemenuhan syarat-syarat perjanjian
kontrak; mutu barang atau jasa yang
ditawarkan; hubungan kerja dalam
perusahaan;
3.
Prinsip tidak berbuat jahat (nonmaleficence) dan prinsip berbuat baik
(beneficence)
4.
Prinsip keadilan : tidak dikehndaki adanya
perlakuan yang diskriminatif (justia
commutativa)
5.
Prinsip hormat pada diri sendiri : bukan
bersifat egois

Pelaksanaan EB di Indonesia masih
berhadapan dengan beberapa masalah
dan kendala :
1.
Standar moral para pelaku bisnis pada
umumnya masih lemah
2. Banyak perusahaan yang menjalani
konflik kepentingan
3. Situasi politik dan ekonomi yang belum
stabil
4. Lemahnya penegakan hukum, sehingga
menimbulkan anomi
5. Belum ada organisasi profesi bisnis dan
manajemen untuk menegakkan kode
etik bisnis dan manajemen

1.
2.
AZAS ETIKA BISNIS YANG SEHAT
Selalu menjaga produk dan jasa pada pelanggan
melalui kewajaran dan keterbukaan. Kepuasan
pelanggan terhadap produk dan jasa perusahaan
adalah merupakan kunci keberhasilan bagi
perusahaan
Kebersamaan unsur intern dan menghindari kesan
perusahaan mengeksploitasikan karyawan secara
tidak manusiawi
1.
Kebersamaan dengan
lingkungan yaitu dengan
menjaga kelestarian dan
menghindari polusi yang
mengganggu masyarakat
2.
Dalam proses bisnis (transaksi
usaha), selalu didukung
dengan upaya penghayatan
nilai dan norma bisnis serta
kebiasaan atau esensi dunia
usaha yang berlaku
3.
Dalam persaingan bisnis agar
dihindari cara-cara yang tidak
etis melawan saingan seperti
menggunakan isu/fitnah politis.
PARADIGMA PIHAK BERKEPENTINGAN
DAN ETIKA BISNIS

Sudah lama terjadi pergeseran paradigma dalam wacana
manajemen, yaitu dari paradigma yang berorientasi pada
kepentingan pemegang saham (stockholder paradigm) ke
paradigma pihak berkepentingan (stakeholder paradigm)

Pada paradigma pertama CEO berorientasi pada kepentingan
pemegang saham untuk mengeloa perusahaan harus
bertanggung jawab mencapai keuntungan yang sebesar-besarnya
sehingga menyenangkan para pemegang saham

Pardigma kedua pihak manajemen diperhadapkan pada banyak
kepentingan yang pengaruhnya terhadap perusahaan harus
diperhitungkan dengan seksama

Ada enam jenis pihak
berkepentingan :
1. Pelanggan: sebagai wujud
tanggung jawab kepada
pelanggan yaitu : (1)
memberikan produk serta jasa
dengan kualitas terbaik dan
sesuai dengan keinginan
mereka; (2) memperlakukan
pelanggan secara adil dalam
semua transaksi termasuk
pelayanan yang memuaskan; (3)
menjamin keselamatan dan
kesehatan pelanggan dalam
menggunakan produk dan jasa;
(5) menghormati integritas
budaya pelanggan
2. Pekerja : perusahaan bertanggung
jawab (1) memberikan pekerjaan dan
imbalan yang dapat memperbaiki
kondisi kehidupan mereka; (2)
menyediakan kondisi kerja yang
memenuhi syarat kesehatan dan
martabat pekerja; (3) bersikap jujur
dalam berkomunikasi dengan pekerja
dan terbuka dalam memberikan
informasi; (4) bersedia
mendengarkan dan sejauh mungkin
bertindak atas saran, gagasan,
permintaan, dan keluhan pekerja; (5)
mengajak bermusyawarah bilamana
terjadi konflik; (6) menghindari praktik
diskriminasi dan menjamin perlakuan
serta kesempatan yang sama kepada
pekerja, sekalipun berbeda gender,
usia, suku, dan agama;
(7) mengembangkan diversifikasi
pekerjaan dalam bisnis agar pekerja
dapat sungguh-sungguh
didayagunakan;
(8) melindungi pekerja dari
kemungkinan terkena penyakit dan
kecelakaan di tempat kerja;
(9) mendorong dan membantu pekerja
dalam mengembangkan
pengetahuan dan ketrampilan yang
relevan dan dapat dialihkan;
(10) tanggap terhadap masalah
pengangguran dalam pembuatan
keputusan bisnis dan bekerja sama
dengan pemerintah, serikat kerja,
dan pihak-pihak lain yang
menangani masalah ini.
3.
Pemegang saham : pihak
manajemen memiliki tanggung
jawab atas kepercayaan yang
diberikan untuk mengelola
perusahaan yaitu : (1)
menenerapkan manajemen
yang profesional dan tekun
guna memperoleh keuntungan
yang wajar dan kompetitif atas
modal yang telah ditanamkan;
(2) memperlihatkan informasi
yang relevan kepada investor
mengenai masalah tuntutantuntutan legal dan hambatan
persaingan; (3) menghemat,
melindungi, dan menumbuhkan
aset-aset investor; (4)
menghargai permintaan, saran,
keluhan dan solusi dari investor
4.
Pemasok : hubungan perusahaan
dengan pemasok dan subkontraktor
harus didasarkan pada sikap saling
menghormati. Perusahaan
bertanggung jawab untuk
(1) mengusahakan terwujudnya prinsip
keadilan dan kejujuran dalam semua
aktivitas, baik dalam menentukan
harga, pemberian lisensi, dan hak-hak
untuk menjual;
(2) menjamin bahwa aktivitas bisnis
perusahaan bebas dari segala bentuk
pemaksanaan dan proses yuridis
yang tidak perlu;
(3) membantu penciptaan stabilitas
hubungan jangka panjang dengan
pemasok dalam bentuk pengambilan
keuntungan secara wajar, kualitas
yang terjaga, kontiunitas, dan bahan
baku yang kompetitif;
(4) berbagi informasi dengan pemasok
dan melibatkan mereka dalam
perencanaan perusahaan;
(5)
membayar pemasok tepat pada waktunya dan sesuai dengan
persetujuan dengan mereka; (6) mencari, mendukung, dan
mengutamakan pemasok dan subkontraktor yang menghargai
martabat manusia.
5.
Pesaing :Persaingan ekonomi secara wajar merupakan satu
tuntutan dasar bagi tumbuhnya kesejahteraan bangsa. Karena itu
setiap perusahaan harus menghormati persaingan dan
bertanggung jawab untuk : (1) mengembangkan pasar terbuka
bagi perdagangan dan investasi; (2) mengembangkan perilaku
bersaing yang menguntungkan masyarakat dan lingkungan serta
mengembangkan sikap saling menghormati di antara sesama
pesaing; (3) menghindarkan diri dari pemberian hadiah yang
dapat dipertanyakan agar keuntungan tetap kompetitif; (4)
menghormati hak milik intelektual dan merek produk; (5) menolak
mencuri gagasan, baik untuk inovasi maupun penciptaan produk.
5.
Masyarakat : perusahaan bertanggung jawab kepada
masyarakat, dalam hal:
(1) menghormati hak asasi manusia dan lembaga-lembaga
demokrasi dan mengembangkan pelaksanaannya;
(2) mengakui kewajiban sah pemerintah terhadp masyarakat
dan mendukung kewajiban sah; pemerintah terhadap
masyarakat dan mendukung kebijakan publik yang bertujuan
untuk mengembangkan manusia melalui hubungan yang
harmonis antara perusahaan dan bagian-bagian masyarakat;
(3) bekerja sama dengan kekuatan-kekuatan yang ada di
masyarakat, yang bertujuan untuk meningkatkan standar
kesehatan, pendidikan, keselamatan di tempat kerja, dan
kesejahteraan ekonomi;
(4) mengembangkan dan merangsang pembangunan
berkelanjutan serta memainkan peran dalam memelihara dan
meningkatkan lingkungan fisik dan konservasi sumber daya
tanah;
(5) mendukung perdamaian, keamanan, keanekaragaman, dan
keutuhan sosial;
(6) menghargai keutuhan budaya lokal;
(7) menjadi warga perusahaan yang baik melalui pemberian
sumbangan, pendidikan dan kebudayaan, dan partisipasi pekerja
dalam masyarakat dan masalah-masalah sipil.
1.
2.
UNSUR-UNSUR ETIKA PENGUSAHA INDONESIA
Sistem etika pengusaha Indonesia merupakan
suatu unsur-unsur kepatutan atas kegiatankegiatan usaha yang sekaligus mencerminkan
iktikad baiknya dalam turut mengupayakan
kepentingan bersama pengusaha Indonesia
Nilai Dasar dan kebersamaan
3.
4.
5.
Nilai Profesi dan kegiatan Usaha : (1) orientasi pada
kepentingan dan kebutuhan masayarakat; (2) Profesi dan
kegiatan usaha yang dilindungi; (3) harkat dan martabat; (4)
kebersamaan dan saling mendukung; (5) unsur
profesionalisme; (6) dasar-dasar hubungan kerja antar
pengusaha;
Unsur-unsur Kerukunan: (1) keadilan dalam dunia usaha; (2)
tanggung jawab pada negara; (3) beban kebersamaan; (4)
tanggung-jawab eksteren; (5) perlindungan atas hubungan kerja
yang baik
Unsur Persaingan Tidak Sehat : (1) kebersamaan dalam
mencegah persaingan tidak sehat; (2) perilaku di luar kepatutan
yang mendapat sanksi a. ketidak-jujuran, b. menyesatkan
pemerintah, c. melanggar hak-hak pihak lain, d. penguasaan
atas suatu cabang usaha )
Download