BAB II PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA PANAS BUMI (PLTP)

advertisement
9
BAB II
PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA PANAS BUMI (PLTP)
Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) merupakan suatu pembangkit
listrik yang memanfaatkan tenaga panas dari perut bumi dalam bentuk uap air dan
merupakan energi terbarukan bila penggunaannya menggunaan prinsip siklus dengan
pompa injeksi. Di bawah ini akan membahas mengenai jenis-jenis sumber energi panas
bumi dan beberapa jenis-jenis PLTP yang ada.
2.1. Jenis-Jenis Sumber Energi Panas Bumi
Prinsip kerja PLTP sebenarnya bergantung pada jenis sumber panas bumi dan
hal ini dibedakan berdasarkan cara mendapatkan sumber panas bumi itu sendiri. Oleh
karena itu, jenis-jenis ini identik dengan seberapa dalam sumur-sumur produksi itu
digali sebab kedalaman reservoir sumur produksi akan mempengaruhi temperatur serta
tekanan fluida kerja.
PLTP menggunakan energi panas (kalor)dari inti bumi atau magma yang
panasnya mengalir menuju permukaan bumi. Maka dari itu, jika kita menggali lapisan
demi lapisan bumi, maka kalor yang kita dapatkan akan semakin besar karena semakin
dekat
dengan
sumbernya.
Prinsip
sederhana
itulah
yang
digunakan
dalam
PLTP.Ditambah lagi, di dalam bumi ternyata terdapat rongga-rongga yang volumenya
relatif besar dan kebanyakan rongga itu terisi oleh air. Panas dari perut bumi atau aliran
http://digilib.mercubuana.ac.id/
10
magma oleh sebab adanya gunung berapi, akan memanaskan air yang terjebak
itu, sehingga air itu akan menjadi uap dan memiliki tekanan serta enthalpy yang tinggi.
Hal inilah yang dimanfaatkan untuk dikonversikan kembali energinya menjadi energi
listrik pada akhirnya. Gambar 2.1 menjelaskan bagaimana proses pemanfaatan sumber
panas bumi menjadi energi listrik.
Gambar 2.1 : Ilustrasi bagaimana sistem panas bumi digunakan untuk pembangkit
energi listrik
(Sumber ; Gordon Denbow Christopher, “Pedagogical development and technical research in
the area of geothermal power production”, 2011)
Ada empat jenis sumber panas bumi hingga saat ini dan terus berkembang, yaitu
Hydrothermal, Geopressured, Petrothermal, dan Magma Energy.Semuanya dibedakan
berdasarkan kedalaman letak reservoir-nya di dalam bumi dari permukaan.
http://digilib.mercubuana.ac.id/
11
Gambar 2.
2.2 Jenis-jenis sumber energi panas bumi
Jenis yang paling banyak digunakan dalam PLTP di dunia adalah
hydrothermal.Sumber
Sumber panas bumi jenis in
ini memiliki kedalaman rata-rata
rata 2000-3000
2000
m
dan temperatur fluidanya dapat mencapai 315°C dengan tekanan 88-20
20 bar tergantung
kualitas reservoir-nya.Sumber
nya.Sumber panas bumi ini memiliki dua sub-tipe
tipe lagi sesuai dengan
jenis fluidanya, yakni hidrotermal dominasi uap dan hidrotermal dominasi cairan.
Gambar 2.
2.3 Sistem Panas Bumi Hidrotermal
( Sumber : Pudjanarsa, A. dan Nursuhud,Djati,
Nursuhud,Djati,Mesin
Mesin Konversi Energi Edisi Revisi,
Revisi hal.
251).
http://digilib.mercubuana.ac.id/
12
Geopressured merupakan sumber panas bumi yang kedalaman sumur
produksinya sekitar 2000-10.000 m dan kondisi fluidanya bertemperatur lebih rendah,
yakni sekitar 160°C namun bertekanan yang sangat tinggi (sekitar 1000 bar) dan
memiliki kadar garam yang sangat tinggi. Biasanya berbentuk jenuh dengan gas alam,
umumnya CH4.3
Untuk sumber panas bumi berjenis petrothermal atau lebih dikenal dengan
sebutan Hot Dry Rock (HDR), kedalamannya hampir sama dengan jenis geopressured,
akan tetapi, tidak ada fluida yang diambil dari reservoir. Sumber panas ini hanya
memanfaatkan batuan panas dekat magma bumi untuk memanaskan air yang
diinjeksikan dari permukaan bumi dan hasil pemanasan tersebut (sudah berupa uap
kering) diambil kembali untuk memutar turbin atau memanaskan fluida kerja di
permukaan.Reservoir yang berupa rongga-rongga dalam bumi juga dibuat dengan
menggunakan bom, bukan terbentuk secara alamiah.
Sedangkan, untuk energi magma hingga saat ini sedang masih dikembangkan
dan belum ada yang beroperasi secara komersil. Jenis sumber panas bumi ini
kedalamannya lebih dalam dari geopressured dan menggunakan cara yang hampir sama
dengan HDR.
2.2. Jenis-Jenis PLTP Berjenis Hydrothermal
Seperti yang digambarkan pada gambar 2.2, bahwa ada dua kelas sumber energi
panas bumi yang berjenis hydrothermal, yakni uap air berdominasi uap (vapor
dominated steam) dan uap air berdominasi cairan (liquid dominated steam).Oleh karena
3
Persentasi “Energi Panas Bumi (Geothermal)” silde 34 oleh Dr. Ir. T. A. Fauzi Soelaiman (Dosen ITB)
pada Januari 2008.
http://digilib.mercubuana.ac.id/
13
bentuk sumber energi yang berbeda itu, maka secara garis besar sistem pembangkit
yang digunakan untuk memanfaatkan energi tersebut juga berbeda.
2.2.1. Dry Steam System
Untuk uap air berdominasi uap, sistem pembangkitnya sangat lebih
sederhana. Hal ini dikarenakan sumber energi di dalam reservoir sudah berupa uap
air (berfase gas) dan cenderung lebih bersih daripada jenis lainnya. Walaupun
lapangannya sangat jarang ditemukan, sumber energi panas bumi jenisini adalah
yang paling cocok untuk dijadikan pembangkit listrik karena biaya per kWh-nya
sangat murah dibandingkan jenis lainnya, seperti yang tertera pada tabel 2.1 di
bawah ini.
Tabel.2.1 : Perbandingan dari dasar sistem konversi energi panas bumi.
Reservoir
Utilization
Plant cost and
temperatures, °C
efficiency, %
complexity
Single-flash
200-260
30-35
moderate
Widespread
Double-flash
240-320
35-45
Moderate è high
Widespread
Dry-steam
180-300+
50-65
Low è moderate
Special sites
Basic Binary
125-165
25-45
Moderate è high
Widespread
Type of Plant
Current usage
(Sumber :DiPippo Ronald, “Geothermal Power Plants; Principles, Applications, Case Studies
and Environment Impact”. Elsevier, 2008, Hal 193)
Dari tabel di atas, kita juga dapat melihat bahwa untuk PLTP jenis dry steam
merupakan jenis PLTP yang sangat baik, dimana efisiensi pemanfaatannya
merupakan yang paling baik dan paling murah biaya pembuatannya daripada jenis
yang lainnya.
http://digilib.mercubuana.ac.id/
14
Prinsip kerja untuk sebuah PLTP jenis ini juga sangat sederhana.Seperti yang
dijelaskan pada gambar 2.4 di bawah ini, uap air dari reservoir dialirkan langsung ke
turbin dan hanya disaring oleh moisture removal yang berfungsi untuk membuang air
yang terkondensasi di dalam pipa.Non Condensible Gas (NCG) yang terkandung
juga relatif lebih sedikit dibandingkan jenis lainnya. Sedangkan gambar 2.5
menjelaskan bagaimana proses termodinamika secara umum.
Gambar 2.4 :Skematik PLTP dry-steam secara sederhana
Seperti yang digambarkan pada gambar 2.4, siklus untuk PLTP berjenis drysteam tampak sederhana, dimana uap dari sumur produksi dialirkan langsung ke
turbin untuk diubah energi panasnya menjadi energi mekanik dan akhirnya diubah
lagi menjadi energi listrik di generator.Uap dari turbin kembali dikondensasikan
menjadi air kondensat di kondensor dimana air pendinginnya berasal dari cooling
tower dan kembali ke cooling tower lagi setelah dari kondensor.Air kondensat dari
kondensor dialirkan ke cooling tower jika jumlah air pendingin di cooling tower
http://digilib.mercubuana.ac.id/
15
berada di bawah level minimumnya, sedangkan jika jumlah air pendingin cukup,
maka air kondensat akan dialirkan menuju sumur-sumur injeksi untuk diinjeksikan
kembali ke dalam bumi.
Dari gambar 2.5, kita dapat melihat bahwa titik 1 merupakan titik yang
menggambarkan tekanan, temperatur, dan enthalpy uap air yang berada pada inlet
turbin, di titik tersebut air dalam fase uap jenuh dengan derajat kekeringan 100%.
Sedangkan, proses 1-2 merupakan proses ekspansi yang berlangsung pada turbin
secara aktual, Proses 1-2a merupakan proses ekspansi isentropis ideal pada turbin,
sedangkan 2-3 merupakan proses kondensasi yang terjadi pada kondensor.
Gambar 2.5 : Diagram Tekanan- Enthalpy (P-h) dan Temperatur-Entropy (T-s) proses
PLTP dry-steam secara sederhana
2.2.2. Single Flash Steam System
Salah satu jenis PLTP yang digunakan untuk memanfaatkan sumber energi
panas bumi liquid dominated steam adalah PLTP single flash steam system. Jenis
PLTP ini merupakan jenis yang paling banyak di Indonesia, bahkan di dunia jika
http://digilib.mercubuana.ac.id/
16
dibandingkan dengan jenis PLTP-PLTP yang lainnya.4Hal ini dikarenakan jenis ini
adalah jenis yang paling sederhana untuk memanfaatkan sumber energi panas bumi
dominasi cairan.
Gambar 2.6 menggambarkan skema aliran uap untuk PLTP single flash steam
system dimana uap dari dalam bumi keluar dalam bentuk fluida dua fase (mixture
steam-liquid).Oleh karena adanya penurunan tekanan (pressure drop) yang terjadi
pada katup di sumur produksi dan cyclone separator, maka fase uap dan cairnya
terpisah yang juga dipisahkan pada separator tadi. Penurunan tekanan pada enthalpy
tetap disebut proses throttling. Dalam dunia PLTP, proses ini disebut proses
flashing5, karena bukan hanya terjadi penurunan tekanan semata, akan tetapi proses
ini membuat derajat kekeringan steam meningkat dan artinya menjadi lebih bersih
dan aman untuk turbin. Dapat dikatakan bahwa proses ini juga merupakan “proses
pencucian/pemisahan uap” sehingga uap dapat dimanfaatkan.
Hasil pemisahan fluida dua fase (geofliud)pada separator yang berfase gas
(uap) adalah steam.Steam dari separator kemudian dialirkan ke turbin. Dari titik ini,
prosesnya sama seperti dry-steam, dimana uap akan memutar turbin yang di-couple
dengan generator dan menghasilkan listrik. Uap dari turbin juga dikondensasikan
untuk diinjeksikan kembali ke bumi.
Sedangkan, bagian cair dari geofluid yang dipisahkan di dalam separator
disebut brine.Brine pada PLTP jenis ini langsung dikirimkan ke sumur-sumur injeksi
5
Ada yang menyebutkan proses cetus pada beberapa referensi yang artinya dalam kamus besar bahasa
Indonesia adalah pecah
http://digilib.mercubuana.ac.id/
17
untuk diinjeksikan kembali ke bumi, walau sebenarnya masih memiliki panas
kandung yang cukup tinggi.
Gambar 2.6 : Skematik PLTP Single Flash Steam System secara sederhana
Ada beberapa cara dalam penempatan separator. Ada yang menempatkan di
tiap-tiap sumur kemudian menyalurkan uap ke power house(gambar 2.7a). Ada yang
menempatkannya di suatu titik dan menggabungkan pipa-pipa dari beberapa sumur
dan menyalurkan satu pipa ke power house(gambar 2.7b). Ada juga yang
menempatkannya di dekat power house dan menggabungkan semua pipa-pipa dari
sumur produksi (gambar 2.7c).
http://digilib.mercubuana.ac.id/
18
Gambar 2.7 : Jenis-jenis sistem-sistem separator
Secara termodinamika, gambar 2.8 menjelaskan secara sederhana bagaimana
aliran uap dan proses PLTP jenis ini. Titik 1-2 merupakan aliran fluida dua fase dari
reservoir hingga ke separator. Di sinilah proses flashing terjadi. Titik 2-5 merupakan
proses pemisahan brine, sedangkan 2-3 merupakan proses pemisahan steam
dankeduanya terjadi di cyclone separator. Titik 3-4a merupakan proses ekspansi
pada turbin ideal yang berlangsung isentopis, dan titik 3-4 adalah proses ekspansi
aktualnya. Pada titik 4-5’ steam dikondensasikan di kondensor.
Gambar 2.8 : Diagram Tekanan- Enthalpy (P-h) proses PLTP single flash steam system
secara sederhana
http://digilib.mercubuana.ac.id/
19
2.2.3. Double Flash Steam System
Pembangkit listrik dengan tipe double flash steam system merupakan
pengembangan dari pembangkit jenis single flash system. Skema proses untuk
double flash steam system tidak jauh berbeda dari single flash steam system. Hanya
ada penambahan flasher pada sisi keluaran separator yang berfungsi sebagai pemisah
atau pengekstrak uap kembali dari brine dengan menggunakan prinsip yang hampir
sama dengan separator. Skema dari PLTP double flash terlihat pada gambar 2.9.
Gambar 2.9 Skematik PLTP Double Flash Steam System
2.2.4. Binary Cycle System
Pembangkit listrik dengan tipe Binary Cycle ini berbeda dengan flash steam,
yang dalam operasinya air atau uap air dari reservoir tidak berhubungan langsung
dengan unit turbin/generator. Umunya fluida panas bumi yang digunakan untuk
http://digilib.mercubuana.ac.id/
20
pembangkit listrik adalah fluida yang mempunyai temperatur sedang 200 0C, tetapi
secara tidak langsung fluida panas bumi temperatur sedang berkisar antara (100 0C –
200 0C) juga dapat digunakan untuk pembangkit listrik yaitu dengan cara memanasi
fluida organik yang mempunyai titik didih rendah seperti terlihat Gambar 2.10.
Uap dari fluida organik ini kemudian digunakan untuk menggerakkan turbin
sehingga menghasilkan listrik.
Gambar 2.10. Siklus Biner dengan brine dari separator
sebagai media pemanas
Cara kerjanya adalah uap panas dialirkan kesalah satu pipa di heat exchanger
untuk menguapkan cairan dipipa lainnya yang disebut dengan pipa kerja.Cairan di
pipa kerja memakai cairan yang memiliki titik didih yang rendah seperti Iso-butana
atau Iso-Pentana.Uap yang dihasilkan oleh heat exchanger dialirkan untuk memutar
turbin dan selanjutnya menggerakkan generator untuk menghasilkan listrik.Uap
panas yang dihasilkan di heat exchanger inilah disebut secondary (binary) fluid.
Keuntungan dari teknologi binary cycle ini adalah dapat dimanfaatkan oleh
panas bumi bersuhu rendah. Selain itu teknologi ini tidak mengeluarkan emisi.
http://digilib.mercubuana.ac.id/
21
Karena alasan tersebut teknologi ini diperkirakan akan banyak dipakai dimasa yang
akan datang.
2.3. Pemilihan Fluida Kerja
ORC adalah sebuah proses yang menjanjikan untuk mengkonversi panas
bersuhu rendah dan medium menjadi tenaga listrik. Proses ini bekerja seperti sebuah
Clausius-Rankine steam power plant, tetapi menggunakan sebuah fluida kerja
sebagai ganti air. Sehingga, thermal efficiency pada binary cycle akan lebih kecil
daripada teknologi konvensional direct/flashing steam karena temperatur sumber
fluida panas bumi relatif lebih rendah. Oleh karena itu untuk meningkatkan thermal
efficiency, parameter-parameter yang mempengaruhi efisiensi ini, seperti misalnya
disain heat exchanger dan pemilihan fluida kerja, menjadi tantangan tersendiri untuk
dikaji lebih mendalam. Proses ini harus memiliki efisiensi termal yang tinggi dan
harus dapat menggunakan sumber panas yang tersedia. Lebih lanjut, fluida kerja
harus memenuhi kriteria keamanan, harus ramah lingkungan dan relatif berharga
murah.
Pemilihan fluida kerja yang optimal merupakan tantangan tersendiri, karena
jumlah fluida yang tersedia dan jumlah parameter yang perlu dikaji sangat banyak.
Kihara dan Fukunaga (1975) dan West, dkk. (1979) merekomendasikan beberapa
kriteria minimal yang dapat digunakan untuk menseleksi fluida kerja, antara lain:
a) Ketersediaan Properti Fluida
Fluida kerja bisa berupa senyawa non organik (air, ammonia,
karbondioksida) atau senyawa organik (hidrokarbon, halokarbon). Fluida
jenis organik dipilih karena properti fisika dan termodinamika fluida-fluida
tersebut telah banyak diketahui dan mudah diperoleh.
http://digilib.mercubuana.ac.id/
22
b) Tekanan Kondensasi
Tekanan kondensasi pada titik kondensasi awal dalam kondenser harus
seminimal mungkin untuk meminimalisir harga kondenser per unit
permukaan transfer panas, akan tetapi harus lebih besar dari pada tekanan
atmosfer. Fluida dengan tekanan kondensasi kurang dari tekanan atmosfer
akan beroperasi pada kondisi vakum sehingga menyebabkan kemungkinan
terjadinya kebocoran udara masuk ke dalam sistem. Oleh karena itu fluida
dengan tekanan kondensasi di bawah 1 bar abs.akan dieliminasi dari
pemilihan fluida kerja.
c) Temperatur Kritis
Semua fluida yang mempunyai temperatur kritis kurang dari temperatur
kondensasi terendah 37°C (catatan: dengan asumsi sink temperature 27°C
dan perbedaan pinch point temperature 10°C) akan dieliminasi dari
pemilihan fluida kerja. Selain itu, fluida yang selalu berada pada kondisi fase
uap superheated akan dieliminasi karena fluida ini akan relatif memerlukan
pompa dengan daya tinggi.
d) Berat Molekul
Berat molekul fluida akan mempengaruhi disain turbin. Hasil eksperimen
oleh para ahli turbin menunjukkan bahwa untuk menghasilkan power output
yang sama, meningkatnya berat molekul akan meningkatkan mass flowrate
(laju alir) yang diperlukan, menurunkan tip speed turbin dan menurunkan
kecepatan suara di dalam fluida.
http://digilib.mercubuana.ac.id/
23
e) Bentuk Kurva Uap Jenuh
Untuk menghindari superheat yang berlebihan dalam kondenser dan
kondensasi pada saat keluar turbin, uap jenuh fluida kerja harus berada
hampir vertikal pada diagram suhu-entropi. Superheat tidak diinginkan
karena koefisien transfer panas pada daerah superheat lebih kecil dari pada
daerah penguapan dan kondensasi. Kondisi fluida kerja pada saat keluar dari
turbin ditentukan oleh kemiringan kurva uap jenuh pada diagram T-s
(temperatur – entropi). Fluida yang mempunyai kurva vertikal pada uap
jenuhnya cenderung akan mempunyai efisiensi tinggi. Fluida yang berada
pada kondisi campuran cair dan uap (yaitu berada di sebelah kiri kurva uap
jenuh) akan menyebabkan masalah korosi, sedangkan uap superheated (yaitu
berada di sebelah kanan kurva uap jenuh) akan menyebabkan naiknya heat
rejection di dalam kondenser. Untuk memprediksi kondisi-kondisi tersebut,
parameter I-factor direkomendasikan oleh Kihara dan Fukunaga (1975)
sesuai dengan persamaan 2.1 berikut.
I =1 -
T cond
( dT
C
ds ) sat.vap .
(2.1)
dimana,
I
: I - faktor
Tcond
: Temperatur kondensasi yang terkait dengan tekanan
kondensasi.
C
: Specific heat pada tekanan konstan.
(dT/ds)sat.vap.
: Temperature gradient pada temperatur saturasi di
diagram T-s.
http://digilib.mercubuana.ac.id/
24
Pada turbin outlet, fluida yang mempunyai kurva uap vertikal, I = 1;
fluida dengan campuran basah, I < 1; dan untuk uap superheated, I > 1. Ifactor didalam batasan 0,65 ≤ I ≤ 1,50 akan dipilih menjadi batas screening
awal.
f) Pertimbangan Keamanan
Fluida kerja harus memiliki kestabilan termal yang tinggi, nonfouling,
tidak korosif, tidak beracun dan tidak mudah terbakar. Fluida yang
mempunyai tingkat toxic tinggi atau mudah terbakar (flammable) akan
dieliminasi, kecuali fluida-fluida tersebut mempunyai keunggulan menyolok
dibandingkan dengan kategori lain.
Berdasarkan pada kriteria-kriteria diatas, fluida kerja yang telah dikaji
oleh para ahli bisa dikelompokkan kedalam 4 grup, yaitu: karbondioksida,
amonia, halokarbon dan hidrokarbon.
Pada proses screening awal, penggunaan karbondioksida dan amonia
dapat dieliminasi dengan alasan:
-
Temperatur kritis karbondioksida sangat rendah (31°C).
-
Walaupun secara thermal stabil, amonia adalah fluida yang sangat
beracun dan mudah terbakar.
Fluida halokarbon dan hidrokarbon menunjukkan banyak keunggulan
dalam hal properti termodinamika untuk penerapannya di binary cycle.
Properti fluida-fluida hidrokarbon dan hidrokarbon yang telah dipelajari oleh
Kihara dan Fukunaga adalah seperti yang ditunjukkan pada Tabel 2.2.
http://digilib.mercubuana.ac.id/
25
Tabel 2.2. Properti Fluida Kerja untuk Rankine Cycle*
Fluid
Molecular
Weight
HALOCARBONS
R-11
137,37
R-12
120,91
R-114
170,92
R-500
99,01
Critical
Temperature
( °C )
Critical
Pressure
( bar abs )
Condensing
Pressure
( bar abs )
I-Factor
Heat Transfer
Coefficient
( W/m2K )
197.8
111.7
145.6
105.6
44.09
41.16
32.68
44.26
1.59
8.48
3.17
10.76
1.10
0.91
0.68
0.89
2970
2953
3009
3095
HYDROCARBONS
Propane
44,10
96.65
42.36
12.76
0.89
n-Butane
58,12
152.05
37.18
3.59
0.75
n-Pentane
72,15
196.50
32.40
1.10
0.78
Isobutane
58,12
135.05
36.85
5.03
0.83
Isopentane
75,15
187.75
34.09
1.45
0.71
* Source : Kihara and Fukunaga(1975), West, et.al. (1979) and Reynold (1979)
3821
3441
3452
3350
3214
Dari hal-hal diatas dapat disimpulkan bahwa hidrokarbon merupakan
pilihan terbaik untuk aplikasi fluida kerja pada binary cycle. Untuk detail
design PLTP Binary dipilih n-Pentane sebagai fluida kerjanya karena tidak
mudah terbakar kalau bersentuhan dengan api dan telah teruji.
2.4. Analisis Neraca Massa dan Neraca Panas (Heat and Mass Balance Analysis)
Seperti yang telah dijelaskan diatas, proses kerja PLTP binary cycle adalah
berdasarkan pada proses Siklus Rankine Organik Sederhana (SIMPLE DESIGN
ORC). Gambar 2.10 dan 2.11 masing-masing memperlihatkan diagram T-s dan
diagram P-h. Proses termodinamika yang terjadi di dalam setiap komponen
PLTP binary cycle dihitung sebagai sebuah control volume yang berada dalam
kondisi tetap (steady state) dengan mengacu kepada mass balance dan heat
balance, dan siklus ini diasumsikan bekerja dalam kondisi ideal dan reversible
http://digilib.mercubuana.ac.id/
26
(friction dan heat losses diabaikan).Selain itu, pinch point juga ditetapkan untuk
setiap alat penukar kalor (Heat Exchanger).
Gambar 2.11. Diagram T-s pada Fluida n-Pentane
Gambar 2.12. Diagram P-h pada Fluida n-Pentane
Dari analisa ini, kita dapat melihat bahwa yang dapat diubah-ubah dalam
merencanakan PLTP jenis single flash system menjadi binary cycle system
adalah jalur separator-nya dengan menyalurkan air panas yang semula menuju
http://digilib.mercubuana.ac.id/
27
turbin menjadi menuju heat exchangers. Separatornya pun beralih fungsi
menjadi pemisah kotoran saja.
http://digilib.mercubuana.ac.id/
Download