pengaruh hormon pmsg terhadap kualitas telur - E

advertisement
Vol.14.No.1.Th.2007
The way to increase of layer duck
The Increasing Of Afkir Duck’s Egg Quality With Pregnant Mare’s Serum
Gonadotropin (Pmsg) Hormones
Roimil Latifa*
Jurusan Biologi, FKIP, Universitas Muhammadiyah Malang
Jl. Raya Tlogomas No.246 Malang, Telp. (0341) 464318
Email: [email protected]
ABSTRACT
Background: This research is conducted to know the influence of PMSG hormone injection in many dosage (10, 15,
and 25 IU) to the layer duck in the last phase of production toward the eggs quality (weight and density of eggshell,
protein and cholesterol content of yolk).
Methods: The samples of the research were layer duck which entered the last phase of production (afkir) from
Mojosari farmer. Forty layer ducks were divided into 4 treatments group and each group consist of 10 duck as
repetition. The first group as control which is given physiologic NaCl as intramuscularly to the chest muscle; second
group, third and fourth as treatment groups were given PMSG hormone injection with dossages 10 IU, 15 IU and 25 IU
respectively. The hormones were given by intramuscular for 8 weeks with two weeks interval. The research was based
on Completely Randomized Design. To test hypothesis, the data were analized with One-Way Anova and continued by
Least Significant Different (LSD) 5 %.
Result: The result of research shows that the injection of 15 IU PMSG hormone has highly significant (P  0,01)
toward egg quality (weight of egg, yolk, and albumin, the weight and density of eggshell, and protein content). The 25
IU PMSG hormone has highly significant (P  0,01) influenced the decreasing of yolk cholesterol content.
Key words : Layer duck, PMSG hormone, egg quality.
Upaya Peningkatan Kualitas Telur Itik Afkir Dengan Hormon Pregnant Mare’s Serum Gonadotropin (Pmsg)
ABSTRAK
Latar Belakang: Dalam pengembangan Bibit Itik, baik secara kuantitatif maupun kualitatif, selain selain melalui
seleksi juga harus didukung oleh pengelolaan reproduksi yang baik. Tingkat produksi telur dan kualitas telur unggas
berkaitan erat dengan umur. Semakin bertambah umur unggas, produksi dan kualitas telur akan menurun.
Hormon sangat berperan dalam peningkatan produksi dan kualitas telur. PMSG (Pregnant Mare Serum Gonado trophin)
sebesar 20 IU terbukti meningkatkan produksi ayam kampung (Sarinana, 1993). Diperlukan penelitian tentang peran
PMSG terhadap peningkatan kualitas telur pada itik petelur afkir.
Metoda: Empat puluh itik petelur afkir dari peternakan Mojosari digunakan dalam penelitian ini. Itik dibagi kedalam
empat kelompok, kelompok pertama (kontrol) diberi pakan dengan penambahan NaCl fisiologis, kelompok dua, tiga,
dan empat diberi pakan dengan hormon PMSG masing-masing 10 IU, 15 IU, dan 25 IU. Hoemon diberikan melalui
suntikan intramuscular selama 8 minggu dengan interval setiap dua minggu.
Hasil : Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian hormone PMSG dengan dosis 15 IU memberikan pengaruh
sangat nyata (P  0,01) terhadap kualitas telur ( berat telur, berat yolk dan albumin, berat dan kepadatan kerabang, serta
kandungan protein) Pemberian PMSG 25 IU memberikan pengaruh sangat nyata (P  0,01) terutama terhadap
penurunan kolesterol yolk.
Kata kunci : Itik petelur, hormone PMSG, kualitas telur
* Jurusan Biologi, FKIP, Universitas Muhammadiyah Malang
21
Latifa
PENDAHULUAN
Produksi dan reproduksi merupakan dua
hal yang tidak dapat dapat dipisahkan dalam
bidang peternakan. Kegagalan reproduksi
baik karena faktor pengelolaan maupun faktor
intern ternak itu sendiri merupakan hambatan
dalam berproduksi. Fungsi reproduksi sangat
tergantung pada suatu mekanisme hormonal
yang kompleks. Oleh karena itu guna
mengatasi problem-problem reproduksi perlu
secara pasti diketahui faktor-faktor fisiologis
yang mendasari.
Ternak itik sangat populer dikalangan
masyarakat pedesaan, karena mempunyai
beberapa keuntungan antara lain: memerlukan
modal yang relatif kecil sehingga dapat terjangkau
oleh
daya
beli
peternak,
kemampuan
berreproduksi
lebih
cepat
dan
dapat
memanfaatkan limbah pertanian, sehingga dengan
melihat potensi ternak itik tersebut perlu adanya
pengkajian pengelolaan usaha peternakan itik
sehingga membuahkan hasil seperti yang
diharapkan. Sampai saat ini usaha peternakan itik
masih berpola tradisional dan sangat sederhana
tanpa diimbangi ketrampilan beternak yang
memadai bagi para peternak. Ternak itik
merupakan sumber protein hewani dengan biaya
produksi murah dan relatif tahan penyakit, relatif
tahan terhadap penyakit. Itik Mojosari adalah
salah satu jenis itik yang potensial untuk
dikembangkan. Itik ini dikenal sebagai itik lokal
Indonesia yang berasal dari desa Tropodo,
kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto.
Dipelihara secara luas oleh masyarakat secara
turun-temurun (Ciptaan, 2001).
Dalam upaya pengembangan bibit itik, baik
secara kuantitatif maupun kualitatif, selain
melalui seleksi juga harus didukung oleh
pengelolaan reproduksi yang baik. Tingkat
produksi dan kualitas telur berkaitan erat dengan
umur. Dengan bertambahnya umur kualitas telur
akan menurun, sehingga jumlah telur yang pecah
bertambah (Appleby et al, 1992). Bila penurunan
produksi telur ini terus berlanjut hingga dibawah
60% maka akan menyebabkan kerugian karena
biaya pemeliharaan menjadi tidak seimbang
dengan hasil yang diperoleh.
22
Jurnal Protein
Penurunan produksi telur itik sehubungan
dengan penambahan umur erat hubungannya
dengan fungsi fisiologis organ-organ reproduksi.
Fungsi organ-organ reproduksi sangat dipengaruhi
oleh hormon gonadotropin yang dihasilkan oleh
kelenjar hipofisa anterior (North , 1984 ).
Hormon gonadotropin yang dihasilkan oleh
hipofisa anterior terdiri dari folicle stimulating
hormone (FSH) dan Luteinizing hormone (LH).
Hormon FSH mempengaruhi pertumbuhan folikel
muda menjadi folikel masak. Disamping oosit , di
dalam folikel yang sedang berkembang, terdapat
sel theca dan beberapa sel granulosa. Selanjutnya
hormon FSH juga mempengaruhi sekresi steroid
yaitu esterogen dan progesteron., yang dihasilkan
oleh sel theca dan sel granulosa, yang penting
untuk pembentukan kuning telur, albumin dan
cangkang telur. Hormon LH dapat mendorong
pertumbuhan folikel menjadi folikel praovulasi
dan diikuti terjadinya ovulasi. Hormon
progesteron juga berperan dalam pertumbuhan
saluran reproduksi (oviduck) dan proses peletakan
telur. Hanya 7 hingga 10 ovum yang memasuki
perkembangan cepat. Selama kira-kira 10 hari
ovum pertama masak diikuti dengan peletakan
telur (Hafez, 2000 dan Parkhurst, 1988). Hasil
penelitian Sarmanu (1993), pemberian hormon
PMSG sebesar 20 IU pada ayam kampung dapat
meningkatkan produksi telur.
Dari latar belakang tersebut di atas maka
perlu kiranya dilakukan suatu penelitian tentang
peran PMSG terhadap kualitas telur itik petelur
afkir.
MATERI DAN METODE PENELITIAN
Lokasi Penelitian
Pengujian kualitas telur itik dilakukan di
Laboratorium Kimia Universitas Muhammadiyah
Malang. Populasi dalam penelitian ini adalah
semua telur itik petelur fase akhir produksi
(mengalami penurunan produksi sampai 50 –
60 %). Sampel yang digunakan dalam
penelitian ini adalah 40 biji telur yang diambil
secara acak.
Variabel Penelitian
Variabel penelitian meliputi variabel bebas,
variabel tergantung dan variabel kendali.
Vol.14.No.1.Th.2007
1. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah
pemberian perlakuan yang terdiri dari
beberapa konsentrasi hormon PMSG (15 IU,
20 IU dan 25 IU) dengan interval penyuntikan
hormon PMSG setiap 2 minggu sekali.
Penyuntikan dilakukan secara intramuscular
pada paha itik petelur fase akhir produksi.
2. Variabel tergantung berupa produksi dan
kualitas telur, kualitas telur meliputi
pengukuran berat cangkang telur, tebal
cangkang telur, berat putih telur dan berat
kuning telur, kadar protein kuning telur serta
kadar kolesterol kuning telur.
3. Variabel kendali dalam penelitian ini adalah :
umur, berat badan itik, ukuran kandang dan
pakan yang diberikan dan perawatan.
Rancangan Penelitian ini dilakukan dengan
menggunakan rancangan acak lengkap, dengan 4
kelompok perlakuan dan 10 ulangan Perlakuan
yang diberikan adalah penyuntikan intramuskuler
hormon PMSG dengan konsentrasi berbeda yaitu
15 IU, 20 IU dan 25 IU sebagai kelompok
perlakuan dan kelompok kontrol disuntik dengan
aquades.
Analisis Data
Data yang terkumpul disajikan dalam
bentuk tabel dan dianalisis dengan Analisis
Varian Satu Arah. Selanjutnya bila terdapat
perbedaan yang bermakna dilanjutkan dengan Uji
Beda Nyata Terkecil (BNT) (Steel and Torrie,
1995 ; Sudjana, 1996).
Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui peran hormon PMSG
terhadap kualitas telur dinyatakan dengan berat
telur, berat cangkang telur, tebal cangkang, berat
putih telur dan berat kuning telur serta kadar
protein, lemak dan kolesterol telur dari itik fase
akhir produksi. Dari hasil penelitian ini
diharapkan dapat memberi informasi mengenai
peranan PMSG untuk meningkatkan kualitasi
telur tik fase akhir produksi.
HormonPregnant Mare`s Serum Gonadotropin
(PMSG)
1. Biosintesis Hormon PMSG
Menurut beberapa peneliti yang dikutip
oleh Hardjopranjoto (2000), Pregnant Mare`s
Serum Gonadotropin (PMSG) adalah hormon
yang terdapat dalam serum darah kuda yang
sedang bunting dan sebangsanya seperti zebra
atau keledai. Dari sejarahnya, Cole dan Hart
The way to increase of layer duck
menemukan hormon ini untuk pertama
kalinya pada tahun 1930 dalam serum darah
kuda bunting. Menurut Hafez (2000), sintesis
hormon PMSG terjadi dalam sel epitel
berbentuk
mangkuk
dari
jaringan
endometrium uterus. Segera setelah disintesis
hormon PMSG akan dibawa dalam sirkulasi
darah untuk selanjutnya dibawah menuju
organ sasaran yaitu kelenjar ovarium, dimana
hormon ini bekerja sebagai pendorong
pertumbuhan folikel baru yang ada di ovarium
(Hardjopranjoto, 2000 dan Partodihardjo,
1982). sekresi hormon PMSG oleh sel
endometrium pada kuda mulai meningkat
pada hari ke 40 dan mencapai puncaknya pada
hari ke 80 masa kebuntingan. Kemudian
kadarnya akan menurun setelah hari ke 80
dari masa kebuntingan dan mencapai kadar
terendah pada hari ke 180 dari masa
kebuntingan (Mc Donald, 1975 dan
Hardjopranjoto, 2000).
2. Metabolisme dan Ekskresi Hormon PMSG
Segera setelah disuntikkan dalam tubuh
hewan, hormon PMSG akan berada dalam
sirkulasi darah selama beberapa jam. Hormon
ini berbeda dengan gonadotropin lain dari
kelenjar hipofisa anterior seperti FSH atau
LH, karena hormon ini tidak cepat
menghilang dari sirkulasi darah karena 50 %
dari aktivitas PMSG akan tetap mempunyai
efek biologis setelah 24 jam dan efek biologis
itu menurun menjadi 12 % setelah 72 jam.
Karena itu hormon PMSG dikatakan
mempunyai paruh hidup (half life) yang
panjang yaitu sekitar 26 jam. Karena alasan
inilah maka suatu suntikan tunggal hormon
PMSG sama efektifnya dengan suntikan
ganda dengan dosis yang dibagi dalam
beberapa kali.
Hormon PMSG tidak dikeluarkan
dalam urine atau feses dan juga tidak
disimpan dalam uterus, hati, ginjal, gonad,
paru-paru atau limpa sebagai residu. Menurut
beberapa peneliti, aktivitas biologi hormon
PMSG dapat menurun karena adanya reduksi
ikatan disulfida, atau terlepasnya asam amino
bebas oleh pengaruh panas atau oleh berbagai
enzim tubuh yang bersifat proteolitik dan
glikolitik
seperti
trypsin,
pepsin,
chymotrypsin, papain, carboxypeptidase,
ptyalin dan taka-diastase. Enzim-enzim
penginaktifasi hormon banyak terdapat di hati
23
Latifa
dan ginjal). Pada hewan betina ovarium
merupakan target organ dari hormon PMSG,
setelah berikatan dengan target organ PMSG
mengalami reduksi ikatan disulfida, akibatnya
mengalami penurunan fungsi biologis
(Hardjopranjoto, 2000; Turner, 1976;
DiPalma, 1971)).
3. Pengaruh Biologi PMSG Eksogen Pada
Hewan Betina
PMSG eksogen mempunyai pengaruh
biologis yang sama dengan FSH dan
mengandung sedikit pengaruh LH. Baik pada
hewan betina maupun hewan jantan. Pada
hewan betina, PMSG mempunyai beberapa
pengaruh seperti mendorong pertumbuhan
folikel muda pada ovarium menjadi folikel
yang lebih dewasa, meningkatkan sintesis
hormon steroid oleh sel granulosa dari folikel,
meningkatkan jumlah cairan folikel, dan
meningkatkan jumlah sel granulosa dari
folikel (Hardjopranjoto, 2000).
Menurut Nalbandov (1998) pemberian
hormon
PMSG
dapat
menggertak
pertumbuhan folikel apabila diberikan secara
subkutan, tetapi bila diberikan secara
subkutan diikuti dengan suntikan intravena
dapat mendorong ovulasi pada hewan betina.
Menurut Soehermin (1990), hormon PMSG
dapat merangsang pembentukan telur pada
ayam petelur yang menderita gangguan
reproduksi pada umur 23 minggu. Dosis
hormon PMSG yang paling baik pengaruhnya
terhadap produksi telur pada ayam petelur
menurut peneliti adalah 20 IU. Dan menurut
Hu dan Liu (1995), dengan penyuntikan
hormon PMSG dengan dosis 8 IU pada
mencit yang belum dewasa merangsang
pertumbuhan folikel baru. Sementara itu
laporan Hubbard dan Rajas (1994),
mengatakan bahwa ovulasi diikuti oleh proses
luteinisasi pada ovarium hamster dapat
dicapai dengan penyuntikan hormon PMSG.
Younis dkk, (1994) menyatakan bahwa
pertumbuhan beberapa folikel antral pada kera
(Macaca fascicularis) dapat dirangsang
dengan penyuntikan hormon PMSG pada
dosis 1000 IU. Sementara itu Selvaraj dkk.
(1994) menyatakan bahwa hormon PMSG
dapat menggertak peningkatan kadar estrogen
dalam serum dan cairan folikel pada tikus
muda.
24
Jurnal Protein
Penyuntikan hormon PMSG pada
burung finch diluar musim kawin dapat
mendorong terjadinya pertumbuhan folikel
dan diikuti terjadinya ovulasi (Zuckerman,
1977). Sedangkan pada burung kenari, Steel
(1972) melaporkan bahwa penyuntikan
PMSG dapat mempercepat proses bertelur.
Menurut Nalbandov (1998) hormon
PMSG yang disuntikkan pada ayam yang
tidak diberi tambahan pakan menyebabkan
ayam tetap bertelur sampai 11 hari, sedangkan
menurut Mustofa (1990), penyuntikan ayam
petelur yang mengalami keterlambatan
bertelur dengan dosis 20 IU dapat
meningkatkan jumlah bertelur hingga 26 kali
lipat dibandingkan dengan kelompok yang
tidak mendapat suntikan PMSG. Sementara iti
penelitian
Sarmanu
(1993),
dengan
penyuntikan kombionasi antara PMSG dan
HCG dapat meningkatkan produksi telur dan
berat telur pada ayam kampung yang
dipelihara secara intensif.
4. Folikel dan Kuning Telur
Pada itik yang telah mencapai dewasa
kelamin, diameter folikel mencapai 40 mm
sebelum diovulasikan. Folikel yang masak
terdiri dari oosit, selaput vitelin, zona radiata,
lapisan perivetelin, lapisan sel granulosa,
basal lamina, sel theka interna, theka eksterna,
jaringan ikat longgar dan epithelium
superfisial sebagai lapisan paling luar (Hafez,
1997). Folikel golongan unggas termasuk itik
tidak mempunyai antrum dan cairan folikel
(Turner, 1976). Ovum mengisi penuh kantong
folikel (Nalbandov, 1998). Masing-masing
folikel terletak di permukaan ovarium dengan
perantaraan tangkai folikel, yang tertanam
dalam jaringan ikat yang berpembuluh darah
dalam ovarium. Masing-masing tangkai
mengikat banyak folikel. Sesudah ovulasi,
tangkai yang ditinggalkan akan digunakan
lagi oleh folikel yang berikutnya (Turner,
1976).
Pada itik, folikel merupakan jaringan
pada ovarium yang paling cepat tumbuh,
dimulai dengan garis tengah 1 mm dan berat
100 miligram, kemudian menjadi masak
dengan berat 18 hingga 20 gram. Seluruh
proses pembentukan telur pada unggas
membutuhkan
waktu
sembilan
hari
(Nalbandov, 1998).
Vol.14.No.1.Th.2007
Kuning telur pertama mulai masak
karena bahan-bahan kuning telur yang
dihasilkan oleh hati langsung ditransportasi
melalui darah. Sehari atau dua hari kemudian,
kuning telur kedua mulai berkembang dan
selanjutnya kuning telur berikutnya. Pada
waktu telur pertama dikeluarkan, maka dalam
ovarium terdapat 5 hingga 10 kuning telur
yang sedang tumbuh. Pembentukan kuning
telur hingga menjadi kuning telur yang masak
membutuhkan waktu kira-kira 10 hari. Mulamula deposisi bahan kuning telur sangat
lambat dan berwarna terang. Akhirnya ketika
ovum mencapai diameter 6 mm, kuning telur
bertambah dengan cepat, diameter bertambah
4 mm setiap hari. Kuning telur tersusun atas
lemak dan protein, mambentuk lipoprotein
yang disintesa oleh hati dengan pengaruh
estrogen (North, 1984). Setelah oosit
mengandung kuning telur maksimal, maka
folikel akan diovulasikan. Ovulasi adalah
pelepasan oosit dari folikel di daerah yang
disebut stigma. Stigma adalah bagian dari
folikel yang mudah pecah karena tipis, yang
terdiri dari otot polos, terletak pada sisi yang
berlawanan dengan pedicle. Beberapa menit
sebelum terjadi ovulasi, otot stigma
berkontraksi dan menekan folikel. Tekanan
yang keras ini menyebabkan pecahnya daerah
stigma, diikuti oleh keluarnya ovum dari
stigma dan ditangkap oleh infundibulum
(Nasheim et al., 1997 ).
5. Cangkang Telur
Cangkang telur merupakan pelindung
telur. Cangkang telur dihasilkan oleh kelenjar
uterus. Cangkang telur tersusun atas kalsium
karbonat, dan sedikit natrium, kalium dan
magnesium (North, 1984). Mineral-mineral
itu tertimbun dalam matriks organik yang
terdiri dari protein dan mucopolysacharida
(Nesheim, 1979). Kalsifikasi atau pengapuran
cangkang telur mulai terjadi sebelum telur
memasuki uterus yaitu pada bagian isthmus.
Sekumpulan kecil kalsium nampak pada
bagian luar selaput cangkang sebelum telur
meninggalkan isthmus.
Dalam uterus pertumbuhan kristal
kalsid terus berlangsung dengan kecepatan
yang konstan (kira-kira 300 mg kalsium per
jam). Saluran reproduksi tidak menyimpan
kalsium dan kira-kira 20 % kalsium dalam
darah dipindahkan menuju uterus (Hafez,
The way to increase of layer duck
2000).
Pembentukan
cangkang
telur
membutuhkan suplai ion kalsium yang cukup
ke kelenjar uterus dan adanya ion karbonat
dalam kelenjar uterus dalam jumlah yang
cukup untuk membentuk kalsium karbonat
dalam cangkang telur. Sumber utama ion
karbonat untuk pembentukan cangkang itu
adalah CO2 yang berasal dari darah atau
metabolisme kelenjar uterus (Nesheim et al.,
1979).
Kebanyakan kalsium diperoleh dari
makanan melalui absorbsi usus halus, tetapi
beberapa berasal dari kalsium cadangan yaitu
tulang rawan dari tulang panjang dengan cara
mobilisasi kalsium terutama pada malam hari
ketika itik tidak makan, dan cangkang telur
sedang dalam proses pembentukan.
Kalsium karbonat dari cangkang
dibentuk dari ion kalsium dan ion karbonat
yang berasal dari suplai darah dan ion
karbonat yang berasal dari darah dan kelenjar
cangkang., kebutuhan akan kalsium menjadi
tinggi selama periode produksi.
Kalsium
dalam
sirkulasi
darah
bersirkulasi dalam dua bentuk yaitu sebagai
kalsium yang tak terdifusi (terikat dengan
protein) dan sebagai kalsium terdifusi (dalam
bentuk ion). Kalsium yang tak terdifusi terikat
pada vitelogenin dan albumin. Perlakuan
dengan estrogen meningkatkan kalsium
plasma terutama dengan merangsang produksi
protein pengikat kalsium. Kalsium plasma
bertambah beberapa minggu sebelum bertelur.
Selama siklus ovulasi dan oviposisi,
konsentrasi kalsium ion mencapai puncak
(2,83 meq/liter atau 5,67 %) 4 jam setelah
oviposisi, kemudian menurun secara nyata
selama
periode
kalsifikasi
cangkang
(minimum 2,42 meq atau 4,85 %) (Sturkie,
1986).
6. Pengaturan Hormonal Pada Ovarium dan
Oviduk
Pertumbuhan folikel didorong oleh
pengaruh hormon FSH dari hipofisa anterior.
Folikel selanjutnya akan mensintesis estrogen,
progesteron dan testoteron (Nalbandov,
1998). Bagian dari folikel yang menghasilkan
steroid adalah sel theca dan sel granulosa. Sel
theka eksterna menghasilkan estrogen (Hafez,
2000). Ada tiga macam estrogen yang
dihasilkan oleh sel theca yaitu estradiol,
estrone dan estriol. Tetapi hanya dua senyawa
25
Latifa
pertama yang dapat ditemukan dalam plasma
darah ayam petelur (Cole dan Cupps, 1969).
Estradiol dihasilkan oleh folikel yang
berukuran kecil dengan diameter 1 hingga 10
mm. Hormon ini dapat mendorong sintesis
protein dalam kuning telur (Hafez, 2000). Di
bawah pengaruh estradiol, hati mampu
menghasilkan
berbagai
lemak
netral,
phospholipid dan kolesterol, yang penting
untuk pembentukan kuning telur atau yolk
(Cole and Cupps, 1969). Pada waktu folikel
praovulasi tumbuh, mulai terjadi peningkatan
sekresi hormon progesteron oleh lapisan sel
theka.
Peningkatan
progesteron
ini
menyebabkan lapisan granulosa menjadi lebih
responsif terhadap hormon LH pada saat
folikel mendekati ovulasi. Progesteron
selanjutnya menggertak peningkatan kadar
LH yang menyebabkan terjadinya ovulasi
(Hafez, 2000).
Sementara itu hormon estrogen
merangsang terjadinya hipertropi dari dinding
oviduk dan diferensiasi dari daerah sekretoris
(Norris, 1980). Sisa estrogen akan bekerja
sama dengan progesteron untuk menggertak
sekresi putih telur, dan memobilisasi kalsium
dari ujung tulang panjang (epifisa) untuk
meningkatkan pengeluaran kalsium dalam
membentuk cangkan telur (Hafez , 2000).
Untuk
proses
peletakan
telur
dibutuhkan hormon prostagla ndin dan arginin
fasotocin. Hormon prostaglandin dihasilkan
oleh sel granulosa dari folikel terbesar
(folikel praovulasi dan folikel pasca ovulasi).
Arginin fasotocin dihasilkan oleh hipofisa
posterior. Hormon prostaglandin dan arginin
fasotocin meningkatkan kontraksi dari otot
polos
pada
kelenjar
cangkang dan
menyebabkan peletakan telur (Hafez, 2000).
Pengambilan folikel pasca ovulasi pada
24 jam setelah ovulasi berakibat tertundanya
waktu peletakan dari telur berikutnya. Hal ini
berarti bahwa folikel yang pecah setelah
ovulasi mempunyai peranan penting dan
menentukan waktu bertelur (Zuckerman,
1977).
7. Kualitas Telur
26
Jurnal Protein
Jumlah telur dan kualitas telur sangat
dipengaruhi oleh suhu lingkungan. Suhu
udara di atas 26,7 0 C akan menurunkan
jumlah telur yang dihasilkan (Rasyaf, 1995).
Suhu lingkungan yang tinggi pada akhir
periode bertelur merupakan kondisi yang
lebih berat daripada ketika periode awal
bertelur (North, 1984).
Menurut Sudariyani (1996) kualitas
telur dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti
perbedaan kelas, strain, famili, individu,
kandungan gizi dalam makanan, penyakit,
umur itik dan suhu lingkungan. Beberapa zat
gizi seperti kalsium, fosfor, mangan dan
vitamin D3 (Cholecalsiferol) penting bagi
unggas karena membantu absorbsi kalsium
dan fosfor dari saluran pencernaan. Sehingga
akan meningkatkan jumlah kedua mineral ini
dalam darah, dan selanjutnya digunakan untuk
pertumbuhan tulang dan pembentukan
cangkang telur.
Ukuran telur bertambah dengan
bertambahnya usia itik. Telur pertama yang
dihasilkan selama periode produksi lebih kecil
dari telur berikutnya. Tetapi dengan
bertambahnya umur kualitas cangkang telur
semakin kurang karena semakin tipis. Ukuran
telur mempengaruhi bentuk telur dan bentuk
telur terutama ditentukan oleh jumlah albumin
yang disekresi oleh bagian magnum dari
oviduk.
Suhu yang tinggi akan mempengaruhi
kualitas putih telur dan mengurangi kekuatan
dan ketebalan cangkang telur. Selain itu suhu
juga mempengaruhi ukuran telur, terutama
suhu di atas 29 0 C (Sudaryani, 1996).
HASIL DAN PEMBAHASAN
Data hasil penelitian pada itik petelur fase
akhir produksi yang telah menurun produksi
telurnya sampai menjadi 50 - 60 % dari produksi
normal setelah diberikan hormon PMSG secara
intramuscular selama 8 minggu, dengan interval
penyuntikan 2 minggu sekali. Data setiap variabel
penelitian yang diamati dapat dilihat pada
beberapa tabel di bawah ini.
Vol.14.No.1.Th.2007
The way to increase of layer duck
Tabel 1. Rerata dan simpangan baku berat telur , berat kuning telur dan berat putih
telur itik fase akhir produksi setelah mendapatkan suntikan PMSG selama 8
minggu dengan interval 2 minggu sekali
Variabel yang diamati
Kelompok
Berat telur utuh
Berat kuning telur
Berat putih telur
Perlakuan
(gram)(X S D)
(gram) (X  S D)
(gram)(X  S D)
Kontrol
63,24 a  1,7784
22,56 a  0,7888
31,76 a  1,2586
PMSG 10 IU
66,18 b  0,6349
23,65 b  1,1170
32,86 ab  1,6584
PMSG 15 IU
68,06 c  0,8687
24,52 b  1,2880
34,14 b  1,6866
PMSG 25 IU
66,86 b  1,7784
23,84 b  1,3039
31,94 a  1,7283
Keterangan : Tanda huruf yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan adanya perbedaan
yang bermakna.
Dari Tabel 1. dapat dilihat rata-rata berat
utuh telur itik setelah memperoleh suntikan
hormon PMSG selama 8 minggu dengan interval 2
minggu sekali. Hasil analisis statistik dengan
anava satu arah (lampiran) menunjukkan bahwa
penyuntikan PMSG pada itik petelur fase akhir
produksi berpengaruh sangat nyata (P< 0,01)
meningkatkan berat telur itik. Hasil uji statistik
selanjutnya dengan uji Beda Nyata Terkecil
menunjukkan bahwa berat telur itik tertinggi
terdapat pada kelompok perlakuan P2 (dosis
PMSG 15 IU) yaitu sebesar 68,06  0,8687 gram
dan berat telur itik terendah terdapat pada
kelompok kontrol yaitu sebesar 63,24  1,7784
gram. Namun berat telur itik antara kelompok P1
(suntikan PMSG 10 IU) dan kelompok perlakuan
P3 (suntikan PMSG 25 IU) tidak menunjukkan
perbedaan yang nyata.
Tabel 2. Rerata dan simpangan baku berat cangkang telur dan tebal cangkang
telur itik fase akhir produksi setelah mendapatkan suntikan PMSG
selama 8 minggu dengan interval 2 minggu sekali
Variabel yang diamati
Kelompok
Berat cangkang telur
Tebal cangkang telur
Perlakuan
(mg)  SD
(mm)  SD
Kontrol
8,93 a  0,6390
0,374 a  0,0013
10 IU
9,97 b  0,9390
0,416 b  0,0033
15 IU
10,73 c  0,7856
0,484 c  0,0022
25 IU
10,28 bc  0,6410
0,430 b  0,0048
Keterangan : Tanda huruf yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan adanya perbedaan
yang bermakna.
Berdasarkan analisis varian satu arah
(lampiran) menunjukkan bahwa penyuntikan
PMSG pada itik petelur fase akhir produksi
berpengaruh sangat nyata (P < 0,01)
meningkatkan berat cangkang telur. Hasil uji
statistik selanjutnya dengan uji Beda Nyata
Terkecil menunjukkan berat cangkang telur
tertinggi pada kelompok perlakuan P2 (suntikan
PMSG 15 IU) yaitu sebesar 10,73  0,7856 mg
dan berat cangkang telur terendah pada kelompok
kontrol yaitu sebesar 8,93  0,6390 mg.
27
Latifa
Jurnal Protein
Tabel 3. Rerata dan simpangan baku kadar protein kuning telur dan kadar kolesterol
kuning telur itik fase akhir produksi setelah mendapatkan suntikan PMSG
selama 8 minggu dengan interval 2 minggu sekali
Variabel yang diamati
Kadar protein kuning telur
Kadar Kolesterol kuning telur
Kelompok Perlakuan
(%)   SD
(mg)  SD
Kontrol
17,23 a  1,2436
250,87 d  17,27
PMSG10 IU
17,56 a  1,3146
229,76 c  26,05
PMSG15 IU
20,69 b  1,9832
208,52 b  57,91
PMSG25 IU
18,06 a  1,8214
189,67 a  15,51
Keterangan : Tanda huruf yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan adanya perbedaan yang bermakna.
Berdasarkan analisis varian satu arah
(lampiran) terhadap kadar protein kuning telur
menunjukkan bahwa penyuntikan PMSG pada itik
petelur fase akhir produksi berpengaruh sangat
nyata (P < 0,01) meningkatkan kadar protein
kuning telur. Hasil uji statistik selanjutnya dengan
uji Beda Nyata Terkecil menunjukkan bahwa
kadar protein tertinggi terdapat pada kelompok
perlakuan P2 (suntikan PMSG 15 IU) yaitu
sebesar 20,69  1,9832 % dan kadar protein
terendah terdapat pada kelompok kontrol yaitu
sebesar 17,23  1,2436 %.
PEMBAHASAN
1. Berat Utuh Telur Itik
Hasil analisis statistik varians satu arah
dan uji statistik berikutnya dengan uji Becla
Nyata
Terkecil,
menunjukkan
bahwa
pemberian hormon PMSG pada itik fase akhir
produksi bersifat signifikan. Hal ini berarti
bahwa berat utuh telur itik mengalarm
peningkatan akibat penyuntikan PMSG.
Terutama pada dosis 15 IU. Penyuntikan
PMSG memacu terbentuknya estrogen dan
progesteron (Johnson et al., 1985). Estrogen
dan progesteron merangsang sintesa protein,
baik protein putih telur maupun protein
kuning telur. Sehingga secara keseluruhan
berat telur secara utuh meningkat. Sedangkan
Hafez (2000) menyatakan bahwa besar
kecilnya ukuran telur unggas sangat
dipengaruhi oleh kandungan protein dan
asam-asam amino dalam pakan. Hal ini
mengingat lebib dari 50% berat kering telur
adalah protein (Anggorodi, 1985).
28
2. Berat Kuning Telur Itik
Rata-rata berat kuning telur itik
tertinggi dicapai pada kelompok perlakuan P2
(pemberian PMSG 15 IU) yaitu sebesar
24,522 ± 1,282 grain dan rata-rata berat
kuning telur itik terendah dicapai pada
kelompok kontrol yaitu sebesar 22,563 ±0,789
grarn. Hal tersebut membuktikan bahwa
PMSG
memacu
folikel-folikel
untuk
mensekresi estrogen. Estrogen mempengaruhi
hati untuk mernbentuk protein kuning telur
(Norris, 1980). Pengambilan protein kuning
telur oleh folikel diatur oleh hormon
gonadotropin (Hafez, 2000). Peningkatan
berat kuning telur itik pada kelompok
perlakuan lebih tinggi dibanding kelompok
kontrol. Ini sejalan dengan hasil penelitian
Imal el al., 1972 dan Sturkie, 1986) yang
menyatakan bahwa penyuntikan PMSG dapat
memgkatkan vitelin serum yang penting
untuk pembentukan kuning telur dalarn
folikel.
3. Berat Putih Telur Itik
Rata-rata berat putih telur itik pada
penelitian
ini
menunjukkan
adanya
peningkatan yang sangat nyata (P < 0,01).
Rataan tertinggi dicapai pada kelompok
periakuan P2 (pemberian PMSG 15 IU) yaitu
sebesar 34, 135 gram ± 1,687 dan rataan
terendah terletak pada kelompok kontrol yaitu
sebesar 31,757 gram ± 1,258. Berat putih telur
pada kelompok perlakuan menunjukkan
peningkatan yang nyata dibandingkan dengan
kelompok
kontrol.
PMSG
memacu
terbehtuknya estrogen dan progesteron
(Johson et al., 1985). Estrogen merangsang
sintesa protein ovalbumin conalbumin
Vol.14.No.1.Th.2007
(ovotransferrin) dan lysosyme yang dihasilkan
oleh kelenjar tubular dari magnum. Sedang
progesteron merangsang sintesa protein putih
telur yang lain yaitu avidin yang dihasilkan
oleh sel goblet dalam magnum (Norris, 1980
dan Sturkie, 1986).
4. Berat dan Tebal Cangkang Telur
Peningkatan berat dan tebal cangkang
telur itik setelah penyuntikan hornon PMSG
selama 8 minggu dengan interval 2 minggu
sekali mempunyai pengaruh yang sangat
bermakna (P < 0,01) sehingga dapat
meningkatkan berat dan tebal cangkang telur.
Diketahui PMSG dapat meningkatkan kadar
estrogen progesteron dalarn serurn darah.
Estrogen yang dihasilkan oleh sel theca dari
folikel yang sedang tumbuh dan progesteron
dihasilkan oleh sel granulosa dari folikel yang
besar yang tumbuh dibawah pengaruh PMSG
(Johnson et al., 1985). Estrogen dan
progesteron yang meningkat akan mendorong
hormon paratiroid untuk pelepasan kalsium
dari tulang rawan (epifise) tulang panjang dan
memperbaiki penyerapan kalsiurn oleh
dinding usus dari makanan dalam usus,
dengan demikian penyediaan kalsium untuk
kulit telur menjadi lancar (Hardjopranjoto,
1998). Dalam memproduksi telur, unggas
membutuhkan sejumlah besar kalsium (North,
1984). Estrogen bekerja secara sinergis
dengan progesteron dalam darah yang
selanjutnya
dapat
digunakan
untuk
membentuk cangkang telur (Hafez, 2000).
Hormon estrogen juga mendorong fungsi
kelenjar paratiroid. Kelenjar paratiroid
mensekresi parathormon yang bekerja pada
usus halus sehingga dapat meningkatkan
absorbsi kalsium yang berasal dari pakan
dalam usus kemudian masuk ke dalam darah.
Disamping itu parathormon juga dapat
meningkatkan kerja dari sel osteoklas yang
ada dalam tulang untuk melarutkan kalsium
dari ujung tulang rawan atau epifise dari
tulang panjang selanjutaya kalsium masuk ke
dalam darah (Hardjopranjoto, 2000). Kalsiun
dalam darah digunakan oleh kelenjar
cangkang untuk mernbentuk cangkang telur
(Nesheim et al., 1979).
5. Kadar Protein Kuning Telur
Protein yang terkandung di dalam telur
merupakan salah satu indikator penting yang
The way to increase of layer duck
menentukan kualitas telur. Hasil analisis
statistik varians satu arah dan uji statistik
Beda Nyata Terkecil 5 % (Jainpiran 1.2)
menunjukkan bahwa ratarata kadar protein
teritnggi pada kelompok P2 (pemberian
PMSG 15 IU) yaltu sebesar 20,684 ± 1,983 %
sedangkan rata-rata kadar protein terendah
terfetak pada kelompok kontrol yaitu sebesar
17,228 ± 1,244 %. Protein kuning telur
disintesis di dalam hati atas pengaruh honnon
estrogen. Estrogen dibasilkan oleh folikel
yang sedang berkembang selanjutnya dibawa
oleh darah menuju hati. Protein yang
terkandung dalam kuning telur terdiri dari 2
macam yaitu ovovitelin dan ovolivetin.
Ovovitelin adalah protein yang banyak
mengandung unsure fosfor, sedangkan
ovolivetin adalah protein yang mengandung
sedikit fosfor tetapi banyak mengandung
unsur sulfur (Riis, 1983; Hafez, 2000). Selain
itu. asam-asarn amino yang diserap dari pakan
di dalam hati itik akan dibentuk menjadi
protein yang selanjutnya ditransportasi
menuju ovariurn dalam. proses pernbentukan
telur (Riis, 1983; Lehninger, 1990).
6. Kadar Kolestelor Kuning Telur
Kolesterol merupakan salah satu zat
gizi, namun manusia cenderung mengurangi
konsurnsi kolesterol karena membawa
berbagai gangguan terhadap kesehatan
manusia
diantaranya
adalah
penyakit
arterosklerosis
dan
jantung
koroner.
Kolesterol merupakan produk khas dari
metabolisme
hewan
(Murray,
1997).
Mengingat telur merupakan salah satu sumber
kolesterol terbesar dibanding bahan pangan
lain, maka perlu. upaya untuk menurunkan
kadar kolesterol melalui pembenian hormon
PMSG. Dari hasil analisis statistik Anava
satu. arah menunjukkan bahwa pemberian
hormon PMSG bersifat signifikan. Hal ini
membuktikan PMSG dapat menurunkan kadar
kolesterol kuning telur. Hal ini sejalan dengan
pendapat Guyton (1994), bahwa penurunan
kadar kolesterol telur bisa diakibatkan oleh
hormon estrogen. Hormon estrogen yang
dihasilkan oleh folikel yang sedang
berkernbang akan menekan aktivitas enzirn
HMG - Ko A Reduktase sehingga aktivitas
biosintesis kolesterol terhambat.
Dengan demikian maka kolesterol
endogen dalam tubuh itik tidak sampai
29
Latifa
diangkut ke dalam ovarium, tetapi lebih
banyak yang dibuang ke luar tubuh melalui
feces dan urine (Riis, 1983; Hafez, 2000).
Estrogen dapat juga mempengaruhi aktivitas
enzim lipase
hepatik dengan
jalan
meningkatkan metabolisme HDL yang
tugasnya mengangkut kolesterol jaringan
dalam hati. Kerja HDL yang meningkat akan
diikuti oleh banyaknya kolesterol yang
diangkut ke hati, sehingga kadar kolesterol
dalam darah akan berkurang dan sebaliknya
akan terjadl peningkatan kadar kolesterol
dalam hati yang selanjutnya akan disekresikan
ke dalam empedu menjadi asam empedu atau
dikeluarkan bersama feses (Murray, 1997).
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Dari analisis data yang telah dilakukan
dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
a. Penyuntikan
hormon
PMSG
dapat
meningkatkan kualitas telur itik afkir (masa
akhir produksi) yang dilihat dari berat dan
tebal cangkang, berat utuh telur, berat kuning
telur, berat putih telur dan kadar protein
kuning telur. (Penyuntikan hormon PMSG
dapat menurunkan kadar kolesterol kuning
telur itik masa akhir produksi)
b. Dosis PMSG sebesar 15 IU meningkatkan
kadar protein kuning telur itik afkir dan pada
dosis PMSG sebesar 20 IU menurunkan kadar
kolesterol kuning telur.
DAFTAR PUSTAKA
1. Anonimous. 2002. Beternak Itik Tanpa Air.
Agromedia Pustaka. Jakarta. Hal 4-9.
2. Anggorodi, R. 1985. Ilmu Makanan Ternak
Unggas. UI Press. Jakarta. Hal 53-55.
.
30
Jurnal Protein
3. Appleby, M.C., Hughes, B.O., Elson, A.
1992. Poultry Production System. Behaviour.
Management and Welfare. CAB International.
Walling Ford. P: 30-31.
4. Blakely, J. and Bade, D.H. 1991. Ilmu
Peternakan. Terjemahan; Srigandono, B.
Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Hal. 76.
5. Callesen, H.A. and T. Greve. 1992. Use of
PMSG Antiserum in Superovulated Cattle.
Theriogenology. 38 : 959-968.
6. Dieleman, S. J., Bavers, M.M. and De Loos,
F.A.M. 1993. PMSG/Anti PMSG in Cattle. A
Simple and Efficiency Superovulatory
Treatment. Theriogenology. 39 : 25-41.
7. Griffin, H.D. 1992. Manipulation of Egg Yolk
Cholesterol. A Physiology View. World Poul.
Sci. J. 48: 101-112.
8. Guyton, A.C. 1994. Buku Ajar Fisiologi
Kedokteran. Terjemah. A. Darma dan E.
Lukmanto. P.T. E.G.C. Penerbit. Buku
Kedokteran. Jakarta.
9. Hafez, E. S. E. 2000. Reproduction in Farm
Animals. 7 th Ed. Lea & Febiger. Philadelphia.
P: 385-393. 394-398.
10. Hardjopranjoto,
S.
2000.
Diktat
Endokrinologi Umum. Pragram Pascasarjana.
Universitas Airlangga. Surabaya. Hal. 209223.
11. Hardjopranjoto,
S.
1988.
Fisiologi
Reproduksi. Edisi ke 2. Fakultas Kedokteran
Hewan. Universitas Airlangga. Surabaya. .
Hal.
149
–151.
Download