militer dan politik: studi kasus kudeta militer pada presiden

advertisement
MILITER DAN POLITIK: STUDI KASUS KUDETA MILITER
PADA PRESIDEN MOHAMMAD MURSI DI MESIR TAHUN
2013
Skripsi
Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh
Gelar Sarjana Sosial (S.Sos)
Oleh:
Miftachul Choir Al Ayyubi
1110112000024
PROGRAM STUDI ILMU POLITIK
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2015 / 1436 H
ABSTRAK
Miftachul Choir Al Ayyubi
Militer dan Politik: Studi Kasus Kudeta Militer Pada Presiden Mohammad
Mursi di Mesir Tahun 2013
Di Mesir, militer menjadi kelompok yang berkuasa dalam jalannya
pemerintahan. Militer sejak lama berkuasa di Mesir lewat kelompok Free Officer,
kelompok yang melakukan kudeta pertama kali pada Raja Farouq pada tahun
1952. Sejak saat itu tampuk kekuasaan, pergantian pemimpin, dan penentuan
regulasi di Mesir dipengaruhi Militer. Ditambah Dewan Agung Militer (Supreme
Council of the Armed Forces – SCAF) yang kini mengawasi setiap jalannya
pemerintahan di Mesir. Mohammad Mursi, presiden terpilih dari kelompok
Ikhwanul Muslimin menjadi bulan-bulanan, hanya setahun kepemimpinannya
kemudian dikudeta militer. Militer belum rela bila kekuasaan di Mesir kini beralih
ke tangan pihak lain, lewat ultimatum 48 jam militer mengumumkan
pengambilalihan pemerintahan atas Mursi. Dengan begini militer mengalami
kemunduran secara profesional dan termasuk menjadi tentara pretorian. Tentara
yang intervensi dalam jalannya politik.
Rakyat berdemontsrasi di alun-alun Tahreer dengan alasan ekonomi tidak
membaik pada setahun jalannya Mursi berkuasa, menganggap Mursi hanya
perwakilan yang mementingkan Ikhwanul Muslimin karena dominasi parlemen,
dan menuduh gagal menertibkan huru-hara yang terjadi akibat faktor tersebut.
Ditambah dekrit Mursi pada 22 November yang disinyalir memiiki kekuasaan
tidak terbatas yang akan dimiliki Mursi, padahal itu langkah Mursi untuk
mengamankan pemerintahannya dari geliat politik militer yang coba
menggerogoti dari dalam.
Militer berafiliasi dengan kelompok oposisi menggadang-gadang Mursi
untuk turun, dengan menyamakan persepsi rakyat dan oposisi. Setelah militer
berhasil menyamar dalam pesamaan persepsi dengan rakyat, militer bertindak
sebagai harapan rakyat. Padahal langkah militer ini untuk kudeta agar
pengambilalihan kekuasaan menjadi tidak begitu kentara. Akibat kudeta ini
membuat demokrasi yang baru dijajaki mesir menjadi cacat, Mesir kembali
diperintah oleh militer yang memenangkan pemilu pascakudeta.
i
KATA PENGANTAR
Penelitian
ini
merupakan
yang
paling
menarik
untuk
dikaji.
Kepemimpinan Mesir setelah Mubarak jatuh dipegang oleh Muhammad Mursi,
presiden yang kala itu maju lewat sayap politik Ikhwanul Muslimin. Setelah
Mursi terpilih militer melakukan kudeta pada setahun kepemimpinannya, menjadi
menarik karena banyak hal yang terjadi. Selain Mesir baru saja menjajaki
demokrasi, ada ketidakrelaan militer yang sejak lama menguasai Mesir kini harus
kehilangan pamornya dalam segala bidang. Pada awalnya penelitian ini ingin
melihat apa saja kah faktor yang memotivasi militer melancarkan kedetanya, dan
bagaimana militer melakukannya. Karena idealnya pada negara yang baru
menjajaki demokrasi, berbagai golongan turut serta mendukung jalannya transisi,
bukan menjegal. Semoga penelitian ini bermanfaat dan dapat berkembang
menjadi lebih baik lagi.
Peneliti ingin menyampaikan banyak terimkasih ada tiap orang juga
lembaga yang turut membantu menyeleaikan penelitian ini. Dalam kesempatan ini
peneliti ingin menyampaikan terimakasih kepada:
1. Bapak Prof. Dr. Dede Rosyada, MA selaku Rektor Universitas UIN Syarif
Hidayatulah Jakarta.
2. Bapak Prof. Dr. Zulkifli, MA selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu
Politik UIN Syarif Hidayatulah Jakarta.
3. Bapak Dr. Iding Rosyidin selaku Ketua Program Studi Ilmu Politik UIN
Syarif Hidayatulah Jakarta.
ii
4. Ibu Suryani M. Si, selaku Sekretaris Program Studi Ilmu Politik UIN
Syarif Hidayatulah Jakarta.
5. Bapak Dr. Nawiruddin selaku pembimbing juga teman diskusi yang selalu
menyempatkan waktu di sela-sela kesibukannya. Berkat pembimbing
membuat peneliti hati-hati dan teliti dalam menulis, sehingga penelitian ini
bisa berhasil dengan baik.
6. Terimakasih yang terdalam peneliti sampaikan kepada Mukarrom Chusni
Amari dan Siti Hodijah. Sebagai orang tua tak henti-hentinya memberikan
dukungan moril dan materil. Serta doa yang tak pernah putus membuat
semangat peneliti tak putus hingga akhir penelitian ini. Adinda adik
tersayang
Isti
dan
Nadya
yang
tiap
malamnya
menyempatkan
membangunkan peneliti kala tertidur dalam pengerjaan penelitian ini.
7. Kepada Bapak Hamdan Basyar dan Zuhairi Misrawi peneliti ucapkan
terimakasih telah memberikan data dan pengetahuan bagi kebutuhan
penulisan skripsi ini. Sehingga penelitian ini menjadi matang untuk
dipresentasikan.
8. Kepada Radityo, Chacha, Alfi, Azha, Nafis Ayok, Nurhadi, Jekry, Sulton,
Nafis, Wases, Silvi Widodo, Yan, dan Farhany. Peneliti ucapkan banyak
terimakasih karena canda tawa kalian selalu jadi penghibur dalam
kebuntuan berfikir tengah malam.
9. Kepada Aisyah, Andini, Lulu, Lela, Afril, Adis, Indragiri, Erwin, Camen
Ferdi, Rizky Botsam, Ompong Novian, Ikbal, Angga, Aslusani, Ambon
Febri, Ican, Ade, Dona, Oye, Rijal Jideng, Yosep, Masrizal, Dara Amalia,
iii
Zhahrah Qamarani, Ismet, Ade Kumis, Brian dan seluruh kawan-kawan
Ilmu Politik 2010 Peneliti ucapkan terimakasih. Karena setia berdiskusi
kecil dan mendengar keluh kesah peneliti.
10. Tak lupa terimakasih peneliti ucapkan pada staf TU Pak Jajang dan Pak
Amali yang banyak membantu peneliti dalam melengkapi urusan
administrasi.
iv
DAFTAR ISI
ABSTRAK .........................................................................................................................i
KATA PENGANTAR ...................................................................................................... ii
DAFTAR ISI ..................................................................................................................... v
DAFTAR TABEL ........................................................................................................... vii
DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................................. viii
BAB I
PENDAHULUAN
A.
B.
C.
D.
E.
F.
BAB II
Pernyataan Masalah ............................................................................. 1
Pertanyaan Penelitian .......................................................................... 11
Tujuan dan Manfaat Penelitian ........................................................... 11
Tinjauan Pustaka ................................................................................. 12
Metodologi Penelitian ......................................................................... 14
Sistematika Penelitian ......................................................................... 15
KERANGKA TEORI
A. Hubungan Sipil Militer Dalam Perspektif Modern ............................. 17
1. Kontrol Sipil Atas Militer Dan Intervensi Militer ........................ 17
B. Konflik. ............................................................................................... 20
1. Pengertian Konflik. ....................................................................... 20
2. Jenis Konflik. ................................................................................ 23
3. Resolusi Konflik. .......................................................................... 23
C. Kudeta ................................................................................................. 24
1. Pengertian Kudeta. .......................................................................... 24
2. Sebab-Sebab Terjadinya Kudeta ................................................... 26
D. Tentara Pretorian ................................................................................. 31
1. Pretorian Jenis Moderator ............................................................. 37
2. Pretorian Jenis Pengawal............................................................... 39
3. Pretorian Jenis Penguasa ............................................................... 40
BAB III
DINAMIKA KEKUASAAN DAN DEMOKRATISASI DI
MESIR
A. Peran Militer Dalam Peta Kekuasaan Di Mesir .................................. 43
B. Perkembangan Transisi Demokrasi Di Mesir ..................................... 47
BAB IV
KUDETA PRESIDEN MURSI
A. Krisis Pemerintahan Sipil.................................................................... 60
B. Politik Militer Dan Oposisi ................................................................. 67
C. Militer Pasca Kejatuhan Mursi............................................................ 74
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan ......................................................................................... 79
B. Saran .................................................................................................... 80
v
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................................ix
LAMPIRAN-LAMPIRAN
vi
DAFTAR TABEL
Tabel III.B.1
Hasil Pemilu Parlemen 2011 ..............................................50
Tabel III.B.2.
Hasil Perolehan Suara Pemilu Presiden Mesir Putaran .....54
vii
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1
Data Transkip Wawancara Hamdan Basyar
Lampiran 2
Data Transkip Wawancara Zuhairi Misrawi
Lampiran 3
Surat Pengantar Wawancara/Mencari Data
Lampiran 4
Surat Keterangan Selesai Wawancara
Lampiran 5
Foto Dokumentasi Wawancara
viii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Pernyataan Masalah
Di kawasan Middle East and North Africa (MENA), perkembangan dan
gaya pemerintahan banyak diwarnai oleh kekuatan basis lokal suku tradisional
(kabilah), doktrin agama, dan kelompok bersenjata atau biasa disebut tentara
militer. Pada negara yang penguasanya didukung oleh kelompok bersenjata dan
basis lokal yang sengaja dibuat loyal bagi penguasa, akan mengarah pada gaya
kepemimpinan yang otoritarian1. Dibeberapa bagian negara seperti Mesir dan
Libya tidak lepas dari kekuasaan rezim militer yang melakukan kudeta. Rezim
Gammal Abdul Nasser di Mesir dan Muammar Gaddafi di Libya berhasil
melakukan kudeta dan berkuasa dalam kurun waktu yang lama. Mereka bertahan
dengan menggunakan aparat militer, polisi rahasia serta partai politik dominan
buatan sendiri untuk menguasai parlemen, dan menggunakan jaringan antar suku
untuk menjaga stabilitas kekuasaan ditingkat bawah. Pemimpin ini banyak
memperoleh kekuatan politiknya karena latar belakang militer mereka. Esprit de
corps, jaringan komunikasi dan hirarki ala militer membuat kekuasaan mereka
tetap terjaga di tengah arus oposisi yang mereka hadapi.2
1
Otoritarianisme adalah gaya kepemimpinan yang menggunakan kekuasaannya secara
keras, kaku, dan tanpa kompromi. Semua dijalankan atas nama negara dan untuk negara, jenis
pemerintahan ini mirip dengan pemerintahan model militer yang dilakukan dengan kekerasan,
disertai dengan pembatasan-pembatasan terhadap kebebasan hak pribadi, hak-hak politik, serta
sipil. Otoritarianisme juga merupakan gaya pemerintahan dari filsafat kekuasaan monarki absolut
abad 16-17 M di Inggris dan Prancis.
2
Mohammad Riza Widyarsa, “Rezim Militer dan Otoriter di Mesir, Suriah dan Libya,”
Jurnal Al-Azhar Indonesia Seri Pranata Sosial I, no. 1 (4 September 2012): h. 273.
1
Penelitian ini mengambil kasus Mesir karena memiliki perbedaan dengan
negara yang lain, Mesir pasca kejatuhan Mubarak adalah mulainya penjajakan
negara Mesir pada sistem yang lebih demokratis. Menjadi Mesir pertama kali
mempunyai pemimpin yang bebas dari latar belakang militer bukan hasil kudeta,
tapi menjadi yang paling demokratis dalam sejarah Mesir. Karena dalam sejarah
dominasi militer yang kuat membuat Mesir tidak menjadi negara yang
sepenuhnya demokratis, melainkan hanya demokrasi secara simbolik. Dibagian
lain, perbedaan kasus penggulingan rezim terjadi di Libya yang merupakan
dampak dari kelanjutan perubahan rezim di Tunisia dan Mesir, yaitu efek domino
dari Arab Spring3(musim semi Arab).4
Pada perjalanan pemerintahan Mesir, rezim Husni Mubarak berkuasa
kurang lebih tiga puluh tahun dengan gayanya yang otoriter. Hal-hal paling
mendasar dari sistem otoritariansme
yang diterapkan Mubarak
adalah
pemerintahan yang sewenang-wenang menggunakan hukum dengan segala
instrumen negara yang memaksa untuk memonopoli kekuasaan dan menolak hakhak politik kelompok lain untuk meraih kekuasaan.5 Sebelum Mubarak,
pemerintahan Mesir dipegang oleh Jendral Mohammad Naguib lewat kudeta
3
Di penghujung tahun 2010 dan awal tahun 2011 terjadi pergolakan besar-besaran di
Dunia Arab yang terjadi dari Afrika Utara sampai ke Timur Tengah, dari Aljazair sampai ke
Bahrain. Satu persatu rezim diktator bertumbangan mulai dari Zein al-Abidine Ben Ali di Tunisia
dan Husni Mubarak di Mesir. Demikian rezim lainnya di Aljazair, Suriah, Yaman, Libya dan
Bahrain yang masih bertahan diterpa angin demonstrasi.Berawal dari Muhammad Bouazzi di
Tunnisia yang membakar diri, aksi ini menyulut semangat pemuda berdemonstrasi menuntut
keadilan, dan semangat ini menular ke negara negara Arab.
4
Hery Sucipto, “Babak Baru Mesir-AS.” Republika,17 Februari 2012, h. 5.
5
Maye Kassem, Egyptian Politics: The Dynamics of Authoritarian Rule (United States of
America: Lynne Rienner Publisher Inc, 2004), h. 3.
2
militernya tahun 1952 yang melibatkan Kelompok Perwira Bebas (Free Officer)6.
Naguib tak lama memerintah karena segera digeser oleh Nasser (1952-1970),
kemudian diteruskan Anwar Sadat (1970-1981), dan Hosni Mubarak (1981-2011)
setelah Sadat ditembak mati pada acara parade militer. Perlu diketahui mereka
semua adalah tentara, dan bagian dari kelompok Perwira Bebas (Free Officer).7
Pada 25 Januari 2011 terjadi demonstrasi yang dimulai oleh pemuda
menentang kepemimpinan Mubarak dan menuntut perubahan, massa menamakan
hari itu dengan Yawm Al Ghadab(hari kemarahan). Pergolakan yang terjadi di
sejumlah provinsi seperti Bani Suez, Mansoura, Tanta, Alexandria, dan Port Said.
Aksi ini membawa pesan penting yaitu tidak inginnya rakyat dengan
kepemimpinan totaliter secara politik, rakyat yang berkumpul di lapangan Tahrer
berhari-hari membuktikan bahwa Mesir sedang mengalami kebuntuan politik
yang luar biasa.8 Kesalahan lain Mubarak adalah terlena begitu lama dengan
kekuasaannya ditambah Mubarak ingin mewariskan kekuasaan pada putranya
Gamal Mubarak, proses politik itu memperjelas ke arah pembentukan dinasti
politik. Rakyat juga bosan dengan gayanya yang reaktif terhadap kritik yang
mudah menangkap para pengkritik.9
6
Kelompok Perwira bebas adalah kelompok yang secara politis dan rahasia terbentuk
pada tahun 1939, kelompok ini beranggotakan Anwar Sadat, Abdel Munim, Abdul Rauf, Abdul
Lathief El Baghdadi, Hussein, Hassan Izzat, Amned Ismail Ali. karena Anwar Sadat ditahan pada
musim panas, pucuk kepemimpinan kelompok ini dipegang oleh Gamal Abdul Nasser pada awal
tahun 1943 yang baru saja kembali dari Sudan. Pada awalnya kelompok ini bersepakat melakukan
revolusi membebaskan Mesir di bawah jajahan Inggris. Selanjutnya kelompoknya ini terlibat
dalam kudeta raja Farouq pada 23 Juli 1952,di bawah komando Jendral Naguib dan Kolonel
Gamal Abdul Nasser.
7
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Militer dan Demokratisasi di Nigeria,
Mesir, dan Afrika Selatan (Jakarta: P2P-LIPI, 2001), h. 62-71.
8
Zuhairi Misrawi, “Mesir di Persimpangan Jalan,” Kompas, 11 Februari 2011, h. 6.
9
“Mubarak Terlena Begitu Lama Peringatan Bagi Pemimpin Yang Lengah,” Kompas, 7
Februari 2011, h. 1.
3
Gaya pemerintahan otoriter dipandang menjadi sebuah penurunan kualitas
pemerintahan, bahkan penurunan ini juga dirasakan oleh kelompok yang
notabenenya pro dengan peguasa otoriter itu sendiri. secara jelas Guillermo A.
O'Donnell mengatakan:
”Tidak hanya pihak oposan, tetapi juga kebanyakan mereka yang
berada di dalam rezim menyimpulkan bahwa pengalaman pemerintahan
otoriter adalah sebuah kegagalan total, bahkan pun jika diukur dengan
standar yang ditetapkan oleh rezim yang bersangkutan. Pihak oposisi
terdorong bertindak karena kegagalan yang sudah demikian jelasnya.
Kelompok penguasa, termasuk angkatan bersenjata, semakin lama
semakin tidak percaya pada kapasitas mereka sendiri. Mereka terpecah
secara parah akibat tuduhan-tuduhan mengenai siapa pihak yang
seharusnya bertanggung jawab atas kegagalan yang diderita rezim
tersebut.”10
Mubarak akhirnya mengundurkan diri pada 11 Februari 2011, setelah
gelombang protes kurang lebih selama 15 hari yang diwarnai kekerasan berdarah.
Pemerintahan transisi diserahkan pada militer di bawah Jendral Hussein Tantawi,
Mahkamah Agung Mesir kemudian memerintahkan Perdana Menteri Ahmad
Syafiq untuk menjalankan pemerintahan selama enam bulan sampai akhir pemilu
parlemen dan presiden.11 Militer yang memegang kendali pada transisi kekuasaan
di bawah Husssein Tantawi dituntut rakyat sebagai kelompok pengawal
demokrasi untuk segera menyelenggarakan Pemilihan Umum (Pemilu). Rakyat
menuntut Pemilu disegerakan, agar militer sebagai penguasa transisi tidak
bertindak di luar batas. Berdasarkan tuntutan-tuntutan itu, pemerintahan transisi
segera menyelenggarakan Pemilihan Umum Parlemen pada 2011. Terdapat hasil
10
Guillermo A. O'Donnell, Transisi Menuju Demokrasi Rangkaian Kemungkinan dan
Ketidakpastian (Jakarta: PT. Pustaka LP3ES, 1993), h. 28.
11
Muhammad Ikbal dan Nuran Soyomukti, Ben Ali, Mubarak, Khadafy: Pergolakan
Politik jaziah Arab Abad 21 (Bandung: MEDIUM, 2011), h. 84-87.
4
yang sangat berbeda pada Pemilu parlemen karena Partai Demokratik Nasional
(NDP)12, yaitu partai alat Mubarak tidak lagi mendominasi dan ini menjadi
pertanda bahwa adanya pembaharuan konstelasi politik di Mesir. kemudian
pemilu presiden dlaksanakan, Pemilu paling demokratis sejak tahun 1984.13
Pemilu presiden dilaksanakan dua kali pada tanggal 23-24 Mei dan 16-17
Juni, ini dilakukan karena tidak satupun dari 13 kandidat yang mendapatkan suara
mayoritas pada putaran pertama. Hasil pemilu ini dimenangkan oleh Muhammad
Mursi kandidat dari Partai Kemerdekaan dan Keadilan (FJP) sayap politik
Ikhwanul Muslimin, dengan perolehan 51,73% suara. Sedang Ahmad Syafiq yang
berasal dari mantan Perdana Menteri rezim Mubarak mendapat 48,27% suara.14
Terlihat militer tetap ingin mengambil andil tampuk kekuasaan Mesir, dengan
Syafiq yang mengikuti kontestasi pemilu presiden. Perlu diketahui Syafiq adalah
Marsekal Angkatan Udara Mesir dan Mantan Perdana Menteri Mesir, dianggap
loyalis dan representasi dari rezim Mubarak.15
12
NDP (Partai Demokat Nasional) adalah partai yang dibentuk dan diketuai oleh
Mubarak. Partai ini dibentuk guna mempertahankan dominasinya dalam Dewan Nasional
(parlemen), terbukti sejak pemilihan umum tahun 1984 hingga akhir pemerintahannya yang
ditumbangkan revolusi rakyat. Sejak kudeta tahun 1952, konstitusi Mesir memberikan kesempatan
kepada presiden untuk dipilih kembali melalui referendum. Dalam referendum itu parlemen hanya
mengajukan satu calon presiden. Prosedur ini dikontrol oleh partai yang berkuasa pada masa itu,
dan merupakan bentuk negara otoritarian yang dikuasai oleh satu partai politik. Partai politik yang
berkuasa sejak tahun 1952 memiliki berbagai nama, namun kenyataannya hanya satu, atau partai
lain mewarisi kekuasaan monolit dan tabiat partai sebelumnya. Sebelum muncul NDP (Partai
Demokratik Nasioal) partainya Mubarak yang dibuat pada 1976 sudah ada beberapa partai yang
sifatnya mendominasi. Dalam pemilu parlemen yang diselenggarakan antara 1976 dan 2005, NDP
terus mempertahankan suara mayoritas di parlemen. Selama itu NDP tetap mempertahankan
kandidat tunggalnya sebagai presiden yaitu Husni Mubarak.
13
Zuhairi Misrawi, “Mesir dan Demokrasi Kaum Islamis,” Kompas, 8 Februari 2011, h. 7.
14
“Mohammed Mursi dari Ikhwanul Muslimin menang dalam pilpres Mesir,” BBC
Indonesia, 24 Juni 2012. Artikel diakses pada 30 Desember 2014 dari
http://www.bbc.co.uk/indonesia/dunia/2012/06/120624_Mesir_pilpres.shtml
15
“Egyptian Elections: Preliminary Results,” Jadaliyya Egypt Updates. Dalam Wikipedia
The
free
Encyclopedia,
artikel
diakses
pada
30
Desember
2014
dari
http://www.jadaliyya.com/pages/index/3331/egyptian-elections_preliminary-results_updated- dan
http://en.wikipedia.org/wiki/Elections_in_Egypt
5
Setelah Mursi menang dan menjadi presiden pertama Mesir yang terpilih
secara demokatis, massa terjun ke alun-alun Tahreer unjuk rasa menuntut Mursi
turun. Massa mengatakan parlemen yang baru terbentuk terlalu didominasi Islam
(Ikhwanul Muslimin), rakyat menginginkan pemerintahan yang proporsional. Dari
hasil pemilu parlemen, Kelompok Ikhwanul Muslimin mengambil dua per tiga
kursi di parlemen, hasil akhir menunjukkan bahwa Ikhwanul Muslimin dan Partai
Keadilan (FJP) memenangkan 235 kursi, atau 47,18 persen.16
Massa juga mengatakan kalau Mursi akan membawa Mesir menjadi
negara Islam, ini bertolak belakang dengan Mesir yang bercorak sekuler. Di lain
sisi, massa berteriak setelah Mursi mengeluarkan dekritnya pada Kamis 22
November 2012. Dekrit itu menyatakan bahwa Mursi mempunyai otoritas
tertinggi, final, dan tidak dapat diganggu gugat oleh siapapun. Para demonstran
anti pemerintah yang menentang dekrit adalah kelompok Islam moderat, kubu
liberal, sayap golongan kiri, Kristen Koptik, gerakan pemuda Tamarod, juga
koalisi oposisi dalam Front Penyelamat Nasioal (National Salvation Front / NSF)
yang dipimpin oleh Mohamed El Baradei. Semua kelompok tersebut adalah
kelompok yang mempunyai kepentingan sendiri-sendiri di Mesir, namun dengan
keluarnya dekrit Mursi membuat mereka mempunyai common enemy yaitu Mursi,
Ikhwanul Muslimin, dan kelompok pendukung Mursi.17 Mursi sendiri berdalih,
kalau dekrit yang dikeluarkannya untuk melindungi revolusi, kehidupan bangsa,
keamanan, persatuan, dan kesatuan nasional. Mursi berjanji akan melepaskan
16
“Ikhwanul Muslimin Dominasi Parlemen Baru Mesir,” Republika Online, 24 Juni 2012.
Artikel diakses pada 30 Desember 2014 dari http://www.republika.co.id/berita/internasional/timurtengah/12/01/23/ly890c-ikhwanul-muslimin-dominasi-parlemen-baru-Mesir
17
Ali Munhanif, “Berakhirnya Revolusi Tanpa Ideologi,” GATRA 4 September 2013, h.
87.
6
segala kekuasaannya itu, ketika undang-undang baru sudah disusun dan disahkan.
Namun yang terjadi justru Mursi dituding menumpuk kekuasaan, ingin menjadi
diktator baru yang sama seperti Mubarak hanya dengan cara dan wajah berbeda.18
Pergantian kekuasaan di Mesir memperlihatkan situasi politik Mesir tidak
terlepas dari gerak militer yang selalu membayangi kekuasaan, proses transisi
demokratisasi di Mesir tidak berjalan baik dan berumur pendek. Secara jelas
Guillermo A. O'Donnell mengatakan:
“..transisi-transisi dari beberapa rezim otoriter tertentu menuju
„sesuatu yang lain‟, yang tidak pasti. “sesuatu” yang bisa jadi pemulihan
suatu demokrasi politik, atau restorasi bentuk baru yang mungkin lebih
buruk. Hasilnya mungkin hanya kekisruhan, yakni penggiliran kekuasaan
di antara serangkaian pemerintahan yang gagal menyodorkan alternatif
pemecahan yang dapat bertahan atau dapat diramalkan bagi masalah
pelembagaan kekuatan politik. Transisi juga dapat berkembang menjadi
konfrontasi sengit dan meluas, yang membuka jalan bagi rezim-rezim
revolusioner yang ingin memperkenalkan perubahan drastis dari kenyataan
politik yang ada.”19
Transisi menjadi begitu rentan terhadap perubahan-perubahan politik yang
diakibatkan dari banyaknya kekuatan politik yang ingin menyelesaikan transisi itu
sendiri, atau dengan kata lain ingin mengisi kekosongan pemerintahan tersebut.
Pada awal kepemimpinannya Mursi mencopot Jendral Hussein Tantawi dengan
alasan ingin melepas semua hal yang berbau rezim Mubarak, kemudian Mursi
mengangkat Abdul Fattah Al Sisi sebagai Kepala Angkatan Bersenjata.20 Pada
perjalanannya Sisi juga lah yang mengkudeta Mursi dengan mengumumkan
ultimatum 48 jam bagi Mursi untuk mundur, menahan Mursi pasca kudeta, dan
18
Trias Kuncahyono, Tahrir Square Jantung Revolusi Mesir (Jakarta: PT. Kompas Media
Nusantara, 2013), h. 23-228.
19
Guillermo A. O‟Donnell, Transisi Menuju Demokrasi Rangkaian Kemungkinan dan
Ketidakpastian, h. 1.
20
Trias Kuncahyono, Tahrir Square Jantung Revolusi Mesir, h. XXII.
7
menangkapi serta menembaki anggota Ikhwanul Muslimin yang dianggap
pendukung militan Mursi. Pada Rabu 3 Juli 2013, Mursi resmi digulingkan oleh
militer Mesir. Sebelum kudeta, pihak militer mengultimatum Mursi untuk
berkompromi agar kondisi Mesir yang sedang bergejolak bisa dipadamkan dalam
waktu selambat-lambatnya 48 jam sejak Senin 1Juli 2013. Bila itu tidak berhasil
dilakukan, militer mengancam akan mengambil “langkah sendiri” dengan dalih
menyelamatkan negara.21 Soal transisi Guillermo A. O'Donnell mengatakan
secara jelas:
“Militer mungkin mendukung transisi lebih karena mereka
meyakini hal ini baik bagi angkatan bersenjata, bukan karena antusiasme
terhadap demokrasi. Hal ini membuat perencanaan kudeta berisiko tinggi
dan rawan akan kegagalan, terutama jika kita mempertimbangkan
banyaknya perwira mliter yang bersikap oportunis pada pilihan-pilihan
politiknya. Kalangan oportunis ini pada dasarnya berharap untuk berada
pada pihak pemenang, dan jika mereka ragu terhadap pertarungan itu,
mereka tampaknya akan memilih untuk mendukung situasi yang ada
daripada daripada alternatif-alternatif yang sifatnya memberontak.”22
Militer menyelaraskan sejauhmana kepentingan pribadi mereka sejalan
dengan berbagai faktor pendukung lainnya, yang kemudian bisa dipakai untuk
menjalankan kudeta tanpa harus terlihat kalau kudeta ini murni berdasarkan
kepentingan sendiri. Militer akan sigap mengkudeta ketika rakyat meneriakkan
keburukan pemerintah, selain mosi tidak percaya rakyat dan segala kekacauan
yang terjadi selama protes, akan dijadikan faktor pendukung yang membuat
kepentingan militer merebut kekuasaan tidak kentara. Seolah-olah militer bersama
21
Muhammad Ibrahim Ramdani, “Krisis Politik di Mesir,”artikel diakses pada 1
September 2013 dari http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,pdf-ids,50-id,46756-lang,id-c,esait,Obama+Bukan+Juru+Damai+Sejati+Konflik+Arab+Israel-.phpx;
22
Guillermo A. O‟Donnell, Transisi Menuju Demokrasi Rangkaian Kemungkinan dan
Ketidakpastian, h. 37.
8
dengan kelompok orang-orang yang merasa dirugikan pemerintah, padahal militer
hanya memakai tuntutan kelompok itu agar tindakan kudeta mereka dianggap
keniscayaan dan pro terhadap rakyat.23
Beberapa alasan mengapa Mursi dengan cepat kehilangan dukungan di
dalam negeri dan selanjutnya dikudeta militer, diantaranya adalah: Petama, karena
dominasi kaum Ikhwanul Muslimin. Meningkatnya rasa ketidaksukaan rakyat
pada Ikhwanul Muslimin, yaitu partai pemenang Pemilu Mesir yang juga partai
asal Mursi. Mursi dianggap terlalu banyak memberikan posisi penting pada
Ikhwanul Muslimin. Terakhir, dia menunjuk tujuh gubernur baru yang semuanya
berlatar belakang Ikhwanul Muslimin. Namun pendukung Mursi membantah hal
ini, Mursi beralasan sudah menawarkan kursi penting di pemerintahan pada kubu
oposisi namun semua ditolak. Begitupun para wakil dari kaum sekular, liberal,
dan Kristen Koptik yang mengundurkan diri dari majelis.24
Kedua, karena memburuknya ekonomi. Kondisi perekonomian Mesir kian
memburuk setelah setahun Mursi memerintah. Mulai dari investasi yang jarang
datang, harga pangan meroket, serta seringya mati listrik karena kurangnya bahan
bakar. Menyebabkan kesejahteraan Mesir semakin memburuk. Di sisi lain
sebenarnya sudah diusahakan pinjaman lunak dari IMF sebnyak US$ 4,8 miliar.
Namun andai itu disetujui malah membuat Mesir semakin sulit, ini mengharuskan
pemerintah Mesir memotong subsidi di berbagai sektor.
Ketiga, karena pelanggaran demokrasi dan HAM. Mursi dinilai gagal
memelihara kesetabilan pada setahun kepemimpinannya. Baik dalam pelanggaran
23
Eric A. Nordlinger, Militer Dalam Politik: Kudeta dan Pemerintahan (Jakarta: Rineka
Cipta, 1990), h. 92.
24
Trias Kuncahyono, Tahrir Square Jantung Revolusi Mesir, h. 67.
9
Hak Asasi Manusia, demokrasi dan toleransi beragama. Belum lagi Mursi dinilai
gagal melakukan reformasi sektor keamanan terutama di kepolisian, militer dan
dinas intelijen Mesir. Ketika polisi Mesir terlibat pembantaian di Port Said,
Januari 2013 lalu dan 30 orang meninggal, Mursi dinilai tidak berusaha menindak
pelakunya dengan tegas. Serangan terhadap gereja Kristen Koptik dan kaum
minoritas pun meningkat.25
Keempat, karena Dekrit Presiden 22 November 2012. Keputusan Mursi
menerbitkan dekrit presiden ini pada 22 November 2012 lalu, dinilai sebagai
kesalahan fatal. Dalam dekrit ini, Mursi memecat jaksa agung, membuat semua
keputusan presiden kebal dari gugatan hukum (judicial review), dan menegaskan
keabsahan parlemen Mesir, keabsahan parlemen sebelumnya sempat digugat
beberapa pihak termasuk pihak militer.Sebulan setelah dekrit itu diterbitkan,
pemerintahan Mursi menggelar referendum untuk mengesahkan konstitusi baru
Mesir. Tindakan ini pun dikritik karena dinilai sepihak dan terburu-buru.
Konstitusi itu dinilai hanya mencerminkan kepentingan kelompok Mursi dan tidak
dibuat dengan mempertimbangkan elemen politik lain di Mesir.26
25
Komite Nasional Untuk Kemanusiaan Dan Demokrasi Mesir (KNKMD), Buku Putih
Tragedi Kemanusiaan Pasca Kudeta Mesir di Mesir (Jakarta: KNKMD, 2014), h. 181.
26
The Guardian, “Empat Alasan Presiden Mesir Digulingkan,” artikel diakses pada 14
November 2013 dari http://www.tempo.co/read/news/2013/07/04/115493383/Empat-AlasanPresiden-Mesir-Digulingkan
10
B. Pertanyaan Penelitian
Penelitian ini ingin meneliti kejatuhan Presiden Mursi yang dilakukan
pihak militer pada tanggal 3 Juli 2013. Peneliti membatasi pada alasan-alasan dan
proses militer mengkudeta Presiden Mursi yang telah terpilih secara demokratis
lewat pemilu 24 Juni 2012.
Dari ulasan dan pembatasan masalah di atas, peneliti mengajukan
pertanyaan penelitian sebagai berikut:
1) Apa faktor-faktor yang membuat militer mengkudeta Mursi?
2) Bagaimana proses militer dalam mengkudeta Mursi?
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian
Melihat realita yang terjadi di Mesir, dengan mengetahui penyebabpenyebab terjadinya penggulingan oleh pihak militer. Penelitian ini sangat
bermanfaat untuk menganalisis kasus kudeta militer. Apalagi pada masa isu Arab
Spring yang marak dengan susulan-susulan protes, penggulingan rezim, serta
revolusi yang sebenarnya didalangi militer.
Jadi, dalam penelitian ini bertujuan untuk:
1) Mengetahui faktor-faktor penyebab militer melakukan kudeta
terhadap Presiden Mursi yang telah dipilih secara demokratis.
2) Mengetahui langkah-langkah yang diambil militer dalam proses
kudeta Presiden Mursi di Mesir tahun 2013.
11
Sedangkan manfaat dalam penelitian ini adalah adalah:
1. Mengetahui soal penyebab dan bagaimana langkah militer
mengkudeta Presiden Mursi. Serta mengidentifikasi tentara militer
Mesir yang mengalami kemunduran ke arah tentara pretorian.
2. Sebagai sarana untuk menambah literatur ilmu politik dalam kajian
politik Timur Tengah, khususnya terhadap hubungan militer dan
pemerintahan sipil dalam suatu negara.
3. Sebagai tambahan informasi ataupun literatur dalam penelitian
serupa bagi insan akademis khususnya di lingkungan UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta dan umumnya bagi masyarakat luas.
D. Tinjauan Pustaka (Literatur Review)
Telah banyak studi yang memfokuskan diri pada penilitian Timur tengah,
di antara banyaknya buku dan jurnal yang telah ditemukan. Ada beberapa buku
penelitian yang sangat berkesinambungan dalam kasus ini. Di antaranya yang
pertama adalah,Skripsi Penelitian Andi Anggana mahasiswa UIN Syarif
Hidayatullah, tentang Proses Demokratisasi di Mesir: Studi Kasus Penggulingan
Hosni Mubarak pada tahun 2011 lalu. Dalam skripsi ini menjelaskan proses
demokratisasi dan runtuhnya rezim Mubarak, pembahasan mengenai faktor-faktor
internal dan eksternal yang mengakibatkan runtuhnya rezim. Dalam skripsi ini
lebih mengedepankan pedekatan-pendekatan demokrasi untuk melihat secara luas
kejatuhan Husni Mubarak. Skripsi ini banyak mejelaskan polemik politik yang
12
terjadi di Mesir sebelum terjadinya kudeta Presiden Mursi setelah terpilih lewat
pemilu. Sehingga penelitian yang kini peneliti buat adalah kesinambungan dari
rangkaian kejadian politik di Mesir dan lebih menyoroti soal hubungan militer dan
pemerintahan sipil.
Kemudian, buku Pertarungan dalam Berdemokrasi: Politik di Mesir,
Turki, dan Israel yang ditulis oleh Hamdan Basyar, pada bahasan khusus Negara
Mesir buku ini menjelaskan efek domino dari Musim Semi Arab dan polemik
politik di Mesir. Dalam buku ini banyak menjelaskan bagaimana militer dan
golongan oposisi di Mesir terhadap Mursi betarung lewat kebijakan-kebijakan
dalam parlemen. Memberikan penjelasan pada peneliti langkah-langkah yang
diambil oleh militer lewat jalur pertarungan konstitusi. Sedangkan tulisan peneliti
lebih melihat kepada langkah yang selanjutnya militer ambil setelah mendapatkan
kekuatannya melalui perdebatan konstitusi.
Serta, pada buku Tahrir Square Jantung Revolusi Mesir yang ditulis oleh
Trias Kuncahyono. Buku ini membahas tentang keadaan Negara Mesir pada saat
tergulingnya Mubarak sampai terjadinya kudeta Presiden Mursi, memberikan
gambaran keadaan kota Mesir pada saat berkecamuknya konflik. Dalam bukubuku tersebut memberikan peniliti informasi yang banyak tentang keadaan sosial
politik di Mesir, membantu peneliti dalam penulisan skripsi yang berjudul Militer
dan Politik: Studi Kasus Kudeta Militer Pada Presiden Mohammad Mursi di
Mesir Tahun 2013. Dalam penelitian ini sama sekali berbeda dengan literatur
yang sudah disebutkan, dan penelitian ini sifatnya berkelanjutan dari hal-hal yang
sudah dijelaskan di atas.
13
E. Metodelogi Penelitian
1. Metodelogi Penelitian
Peneliti ini menggunakan jenis penelitian kualitatif. Secara umum jenis ini
bisa menghasilkan temuan-temuan yang tidak dapat dihasilkan oleh penelitian
statistika. Penelitian ini memberikan pengetahuan mengenai sejarah, kondisi
sosial poliik, aktivitas sosial, dan lainnya. Jenis penelitian ini berguna melihat
sedetail mungkin mengenai faktor-faktor yang melatarbelakangi kudeta Presiden
Mursi di Mesir, dan melihat langkah-langkah militer dalam kudeta.
2. Tempat dan Waktu Penelitian
Pelaksanaan penelitian ini dilakukan pada lembaga-lembaga penelitian
yaitu Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Muslim and Moderate Society, dan
Kedutaan Besar Mesir untuk Indonesia. Di antara lembaga tersebut adalah
lembaga yang berkonsentrasi pada isu-isu politik Timur Tengah dan mendukung
dalam memahami penelitian ini. Sedangkan waktu penelitian dilakukan secara
bertahap sampai penelitian selesai.
3. Teknik Pengumpulan Data
a.
Wawancara
Wawancara adalah pertemuan antara peneliti dan responden, di mana
pengumpulan data dilakukan dengan mengajukan pertanyaan langsung oleh
pewawancara kepada responden, Lalu mencatat atau merekan jawaban-jawaban
14
responden.27 Peneliti melakukanwawancara dengan Pengamat Politik Timur
Tengah Hamdan Basyar, Zuhairi Misrawi, dan Trias Kuncahyono.
b. Dokumentasi
Pengumpulan data melalui dokumentasi dilakukan untuk memperoleh data
sekunder, lalu melalui literatur dengan tujuan memeroleh bahan-bahan yang
memberikan penjelasan dari bahan primer ataupun hasil penelitian seperti, jurnal,
karya tulis, dan sebagainya.28
4. Analisis Data Penelitian
Analisis data penelitian untuk mengelola data yang sudah dikumpulkan,
menggunakan metode deskriptif analisis, yaitu metode yang menggambarkan halhal yang menjadi objek penelitianyang diharapkan mampu menjawab berbagai
permasalahan tersebut.29
F. Sistematika Penelitian
Untuk menjelaskan penelitian ini secara lengkap, peneliti memberikan
sistematika penelitian. Sistematika penelitian ini terangkum dalam beberapa bab,
disertai beberapa sub-bab yang terangkum secara garis besar.Adapun deskripsi
dari sistematika penelitian ini dilampirkan sebagai berikut:
27
Irawan Soehartono, Metode Penelitian Sosial, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2008), h.
67.
28
Pupuh Fathurrahman, Metode Penelitian Pendidikan (Bandung: CV Pustaka Setia,
2011), h. 146.
29
Muhammad Idrus, Metode Penelitian Ilmu Sosial: Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif
(Jakarta: Erlangga, 2009) h. 148.
15

BAB 1
: Pendahuluan meliputi: Pernyataan Masalah,
Pertanyaan Masalah, Tujuan dan Manfaat Penelitian, Tinjauan
Pustaka, Metodologi Penelitian, danSistematika Penelitian.

BAB II
:
Kerangka
Teori
bahasannya
meliputi:
PenjelasanTeori Hubungan Sipil Militer dalam Perspektif Modern,
Kontrol Sipil Atas Militer dan Intervensi Militer, Konsep dan
Sebab-Sebab Terjadinya Kudeta, Penjelasan Definisi Militer Jenis
Pretorian Moderator, Jenis Pretorian Pengawal, dan Jenis Pretorian
Penguasa.

BAB III
:Pada
bab
ini
membahas
seputar
Dinamika
Kekuasaan dan Demokratisasi di Mesir, yang bahasannya meliputi
Peran Militer dalam Peta Kekuasaan di Mesir, dan Perkembangan
Demokratisasi dalam Transisi Demokrasi.

BAB IV
:Pada bab ini membahas tentang teknis bagaimana
militer mengkudeta Mursi yang bahasannya meliputi Krisis
Pemerintahan Sipil, Politik Militer dan Oposisi, dan Militer Pasca
Kejatuhan Mursi.

BAB V
: Pada bab ini berisi kesimpulan dan Saran untuk
menyimpulkan pembahasan, guna tercapainya kefahaman yang
komprehensif.
16
BAB II
KERANGKA TEORI
A. Hubungan Sipil Militer Dalam Perspektif Modern
1. Kontrol Sipil Atas Militer dan Intervensi Militer
Berbicara tentara yang ikut campur dalam politik sama dengan mengamati
hubungan antara sipil dan militer, hubungan sipil militer merupakan kajian yang
baru populer pada pertengahan abad 20 pasca Perang Dunia II. Barulah setelah
pasca perang itu para mahasiswa, sarjana sosial, dan ahli sejarah membahas
hubungan sipil militer. Mereka menganalisis secara ilmiah tentang hubungan sipil
militer menyangkut dua aspek, yaitu: kontrol sipil atas militer dan intervensi
militer pada domain polittik.1
Dalam pandangan Huntington, ia melihat bahwa ada dua bentuk hubungan
sipil militer. Pertama, kontrol sipil obyektif (Objective Civilian Control). Istilah
ini mengandung makna profesionalisme militer yang tinggi dan memiliki
pengakuan dari pejabat militer terhadap batas-batas profesionalisme yang menjadi
bidang mereka, subordinasi yang efektif dari militer pada pemimpin politik yang
membuat keputusan pokok tentang kebijakan luar negeri dan militer, pengakuan
dan persetujuan dari pihak pemimpin politik atas kewenangan profesional dan
otonomi bagi militer, minimalisasi intervensi militer dalam politik dan negara.2
Kedua, kontrol sipil subyektif (Subjective Civilian Control), bentuk kontrol ini
1
Amos Perlmutter, Militer dan Politik (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2000), h. XLIII.
Larry Diamond dan Marc F. Plattner, Hubungan Sipil-Militer dan Konsolidasi
Demokrasi (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2000), h. 4.
2
17
adalah memaksimalkan kekuasaan sipil. Model ini juga bisa diartikan sebagai
upaya meminimalkan kekuasaan militer dan memaksimalkan kekuasaan
kelompok-kelompok sipil.3
Michael C. Desch dengan mengacu pada Huntington, menganalisis
munculnya hubungan sipil militer dari persoalan internal maupun eksternal dalam
suatu negara. Desch mencatat suatu negara yang menghadapi tantangan militer
tradisional, yaitu ancaman dari luar, akan lebih memungkinkan memiliki
hubungan sipil militer yang stabil. Ancaman lingkungan seperti itu memaksa
institusi sipil lebih menyatu dan berkerjasama menangani masalah bersama-sama
dengan militer.4 Dalam tulisannya Desch menegaskan:
”Sebaliknya, jika negara menghadapi ancaman internal yang
signifikan, institusi dan otoritas sipil mungkin akan sangat lemah dan
terpecah belah, yang menyulut mereka untuk mengontrol militer. Situasi
seperti ini akan membuat hubungan sipil militer terganggu atau tidak
sehat.”5
Sedangkan dalam penjelasan intervensi militer, secara sederhana diartikan
ketika tentara atau militer masuk, berpartisipasi, mempengaruhi kebijakan poltik
(baik secara langsung atau tidak). Amos Perlmutter melihat ada dua kondisi yang
memberi kesempatan bagi militer untuk melakukan intervensi, yaitu: kondisi
sosial dan politik suatu negara itu sendiri. Pertama, kondisi sosial. Dalam suatu
negara yang kondisi sosialnya lemah, maka kepentingan kelompok akan tersebar
dalam frekuensi yang tinggi. Kalau struktur negara lemah maka institusi-institusi
3
Larry Diamond dan Marc F. Plattner, Hubungan Sipil-Militer dan Konsolidasi
Demokrasi, h. 7.
4
A. Malik Haramain, Gus Dur, militer, dan Politik (Yogyakarta: LKiS, 2004), h. 330331.
5
A. Malik Haramain, Gus Dur, militer, dan Politik, h. 331.
18
politik tidak berfungsi efektif. Dengan demikian kontrol sosial menjadi tidak
efektif. Sebab saluran-saluran komunikasi terhambat, kemudian membuat militer
berkesempatan untuk melakukan intervensinya. Kedua, kondisi politik. Intervensi
militer muncul dari persoalan-persoalan sipil. Sering sekali pemerintah sipil
sengaja kembali, atau merapat kepada militer untuk mencari dukungan. Ketika
struktur politik sipil terfragmentasi dalam faksi-faksi politik dan ketika perangkat
konstitusi tidak berjalan.6
Bila Perlmuter lebih melihat faktor eksternal yang mempengaruhi
hubungan sipil militer, S. F. Finner lebih melihat kepada faktor internalnya. Ia
mengatakan:
“…lebih melihat internal militer sebagai faktor utama terjadinya
intervensi. Faktor motivasi biasanya sangat berpengaruh besar apakah
militer akan mengintervensi atau tidak. Faktor ini mencakup beberapa
motivasi antara lain; motivasi sebagai tujuan akhir tentara, dorongan dari
kepentingan nasional, kepentingan kelompok yang meliputi kepentingan
kelas, kepentingan regional, kepentingan korps, dan kepentingan
individu.”7
Dari dua pandangan itu, kita bisa melihat adanya dua jalan yang
menyebabkan militer akhirnya melakukan intervensi terhadap pemerintahan sipil.
Yaitu melihat dari faktor eksternal dan internal yang menjadi motivasi militer
melakukan intervensi. Di lain sisi Finner juga mencatat berapa jalan yang
memungkinan militer melakukan intervensi, yaitu:
6
Amos Perlmutter, Militer dan Politik, h. 144-145.
S. F Finer, The Man on Horseback, The Role of the Military in Politics (Colorado:
Westview Press, 2002) h. 20-24.
7
19
a. Melalui saluran-saluran konstitusi normal (The normal constitusional
chanels).
b. Kolusi dan/atau persaingan dengan otoritas sipil (Collusion and/or
competition with the civilian authoritis).
c. Intimidasi terhadap otoritas sipil (The intimidation of the civilian
authoritis).
d. Mengancam dengan menolak bekerjasama dan/atau dengan kekerasan
terhadap otoritas sipil (Threaths of non-cooperation with, or violence
towards the civilian authoritis).
e. Gagalnya mempertahankan otoritas sipil terhadap kekerasan (Failure
to defend the civilian authoritis from violence).
f. Menggunakan kekerasan terhadap otoritas sipil (The exercise of
violence againts the civilian authorities).8
B. Konflik
1. Pengertian Konflik
Konflik merupakan gejala sosial yang serba hadir dalam kehidupan sosial,
sehingga konflik bersifat inheren artinya konflik akan senantiasa ada dalam setiap
ruang dan waktu, dimana saja dan kapan saja. Dalam pandangan ini, masyarakat
merupakan arena konflik atau arena pertentangan dan integrasi yang senantiasa
berlangsung. Oleh sebab itu, konflik dan integrasi sosial merupakan gejala yang
8
S. F Finer, The Man on Horseback, The Role of the Military in Politics, h. 127.
20
selalu mengisi setiap kehidupan sosial. Hal-hal yang mendorong timbulnya
konflik dan integrasi adalah adanya persamaan dan perbedaan kepentingan sosial.
Di dalam setiap kehidupan sosial tidak ada satu pun manusia yang memiliki
kesamaan yang persis, baik dari unsur etnis, kepentingan, kemauan, kehendak,
tujuan dan sebagainya. Dari setiap konflik ada beberapa diantaranya yang dapat
diselesaikan, akan tetapi ada juga yang tidak dapat diselesaikan sehingga
menimbulkan beberapa aksi kekerasan. Kekerasan merupakan gejala tidak dapat
diatasinya akar konflik sehingga menimbulkan kekerasan dari model kekerasan
yang terkecil hingga peperangan.
Istilah “konflik” secara etimolois berasal dari bahasa Latin “con” yang
berarti bersama dan “fligere” yang berarti benturan atau tabrakan.9 Pada
umumnya istilah konflik sosial mengandung suatu rangkaian fenomena
pertentangan dan pertikaian antar pribadi melalui dari konflik kelas sampai pada
pertentangan dan peperangan internasional. Coser mendefinisikan konflik sosial
sebagai suatu perjuangan terhadap nilai dan pengakuan terhadap status yang
langka, kemudian kekuasaan dan sumber-sumber pertentangan dinetralisir atau
dilangsungkan atau dieliminasi saingannya.10
Konflik artinya percekcokan, perselisihan dan pertentangan. Sedangkan
konflik sosial yaitu pertentangan antar anggota atau masyarakat yang bersifat
menyeluruh dikehidupan. Konflik yaitu proses pencapaian tujuan dengan cara
9
Elly M. Setiadi dan Usman Kolip, Pengantar Sosiologi Pemahaman Fakta dan Gejala
Permasalahan Sosial: Teori, Aplikasi, dan Pemecahannya (Jakarta: Kencana Prenada Media
Group, 2011), h. 345.
10
Irving M. Zeitlin, Memahami Kembali Sosiologi (Yogyakarta: Gajah Mada University
Press, 1998), h. 156.
21
melemahkan pihak lawan, tanpa memperhatikan norma dan nilai yang berlaku.11
Dalam pengertian lain, konflik adalah merupakan suatu proses sosial yang
berlangsung dengan melibatkan orang-orang atau kelompok-kelompok yang
saling menantang dengan ancaman kekerasan.12
Menurut lawang konflik diartikan sebagai perjuangan untuk memperoleh
hal-hal yang langka seperti nilai, status, kekuasaan dan sebagainya dimana tujuan
mereka berkonflik itu tidak hanya memperoleh keuntungan tetapi juga untk
menundukkan pesaingnya. Konflik dapat diartikan sebagai benturan kekuatan dan
kepentingan antara satu kelompok dengan kelompok lain dalam proses perebutan
sumber2 kemasyarakatan (ekonomi, politik, sosial dan budaya) yang relatif
terbatas.13
Dari berbagai pengertian diatas dapat diambil kesimpulan bahwa konflik
adalah percekcokan, perselisihan dan pertentangan yang terjadi antar anggota atau
masyarakat dengan tujuan untuk mencapai sesuatu yang diinginkan dengan cara
saling menantang dengan ancaman kekerasan. konflik sosial adalah salah satu
bentuk interaksi sosial antara satu pihak dengan pihak lain didalam masyarakat
yang ditandai dengan adanya sikap saling mengancam, menekan, hingga saling
menghancurkan.
Konflik
sosial
sesungguhnya
merupakan
suatu
proses
bertemunya dua pihak atau lebih yang mempunnyai kepentingan yang relative
sama terhadap hal yang sifatnya terbatas. Dalam bentuknya yang ekstrem, konflik
itu dilangsungkan tidak hanya sekedar untuk mempertahankan hidup dan
11
Soerjono Soekanto, Kamus Sosiologi (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1993), h. 99.
J. Dwi Narwoko dan Bagong Suyanto, Sosiologi Teks Pengantar dan Terapan (Jakarta:
Kencana Prenada Media Group, 2005), h. 68.
13
Robert lawang, Buku Materi Pokok Pengantar Sosiologi (Jakarta:universitas terbuka
1994), h. 53.
12
22
eksistensi, akan tetapi juga bertujuan sampai ketaraf pembinasaan eksistensi orang
atau kelompok lain yang dipandang sebagai lawan atau saingannya.
2. Jenis Konflik
Dalam konflik ini terbagi dua jenis, diantaranya: (1) Konflik vertikal.
Merupakan konflik antar komponen masyarakat di dalam satu struktur yang
memiliki hierarki. (2) Konflik horizontal. Merupakan konflik yang terjadi antara
individu atau kelompok yang memiliki kedudukan yang relatif sama.14
3. Resolusi Konflik
Dalam terjadinya konflik ada beberapa cara dalam menyelesaikan masalah
diantaranya: (1) Konsiliasi, cara ini terwujud melalui lembaga-lembaga tertentu
yang memungkinkan tumbuhnya pola diskusi dan pengambilan keputusankeputusan diantara pihak-pihak yang berlawanan mengenai persoalan-persoalan
yang mereka pertentangkan. (2) Mediasi, cara ini dilakukan bila kedua belah
pihak yang bersengketa bersama-sama sepakat untk memberikan nasihatnasihatnya tentang bagaimana mereka sebaiknya menyelesaikan pertentangan. (3)
Arbitrasi, cara ini melalui pengadilan dengan seorang hakim (arbiter) sebagai
pengambil keputusan. Arbitrasi berbeda dengan konsiliasi dan mediasi. Seorang
arbiter memberi keputusan yang mengikat kedua belah pihak yang bersengketa,
artinya keputusan seorang hakim harus ditaati. Apabila salah satu pihak tidak
menerima keputusan itu, ia dapat naik banding kepada pengadilan yang lebih
tinggi sampai instansi pengadilan nasional yang tertinggi.15
14
15
Kusnadi, Masalah Kerja Sama, Konflik dan Kinerja (Malang : Taroda, 2002), h. 67.
Nasikun, Sistem Sosial Indonesia (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2003), h. 25.
23
C. Kudeta
1. Pengertian Kudeta
Secara sederhana, kudeta diartikan sebagai kegiatan-kegiatan yang
dilakukan militer untuk merebut kekuasaan, atau aksi politik untuk menggantikan
(mendominasi) suatu kelompok atau rezim yang menjadi saingannya dengan
rezim
sendiri.16
Dalam
melakukan
kudeta,
banyak
faktor-faktor
yang
melatarbelakangi para perwira militer. Namun segala faktor itu tergantung pada
kondisi sosial politik yang ada pada masing-masing negara. Yang paling sering
menjadi motif militer melakukan kudeta adalah kesalahan-kesalahan yang
dilakukan pemerintah sipil yang mengakibatkan menurunnya keabsahan
pemerintahan sipil, baik karena pemerintahan sipil yang dianggap tidak bisa
mengolah negara dengan baik atau juga karena kesengajaan militer ingin merebut
kekuasaan demi kepentingan politiknya.17
Banyak sebutan, konsep, juga definisi yang dipakai dalam hal perebutan
kekuasaan. Demi tercapainya penjelasan yang tepat untuk mendeskripsikan
gejolak perebutan kekuasaan itu sendiri. Secara teknis Edward Luttwak membagi
beberapa penjelasan terkait hal perebutan kekuasaan dalam suatu negara atau
pemerintahan. Pronounciamiento, ini sebetulnya adalah kudeta versi klasik di
Spanyol abad sembilan belas. Dalam versi ini muncul istilah yang namanya
trabajos (kerja) sebelum adanya pronounciamiento itu sendiri, trabajos adalah
fase di mana semua opini-opini perwira terkait pemerintahan dijajaki satu persatu,
16
Eric A. Nordlinger, Militer Dalam Politik: Kudeta dan Pemerintahan (Jakarta: Rineka
Cipta, 1990), h. 150.
17
Eric A. Nordlinger, Militer Dalam Politik: Kudeta dan Pemerintahan, h. 91.
24
kemudian timbul yang namanya copromisos yang maksudnya adalah langkah
pembuatan komitmen serta perhitungan imbalan-imbalan, dan resiko dalam
melakukan tindakan perebutan kekuasaan. Pronounciamiento ini dilaksanakan
oleh seluruh korps perwira dan dipimpin oleh pimpinan angkatan darat.
Selain pronounciamiento, ada yang namanya Putsch, sebenarnya putsch
tidak
berbeda
secara
signifikan
dengan
pronounciamiento.
Kalau
pronounciamiento direncanakan dan dilakukan oleh seluruh perwira angkatan
darat, sedangkan putsch dilakukan salah satu faksi dalam angkatan darat, atau
sipil yang memberontak namun menggunakan kekuatan unit angkaan darat.
Sedangkan kudeta adalah, termasuk campuran dari beberapa pejelasan di atas.
Kudeta tidak harus berjalan dibantu oleh kekuatan massa, namun tidak menutup
kemungkinan karena dengan bantuan massa dapat mempermudah efektifitas
kudeta. Kudeta juga merupakan infiltrasi ke dalam suatu segmen dari segala
kekuatan negara yang kecil namun menentukan, yang kemudian digunakan untuk
mengambil alih pemerintahan.18
Secara garis besar, ada pra kondisi untuk terjadinya kudeta. pertama,
sindrom negara transisi. Di mana pola tradisional sudah rusak sementara pola baru
belum terbentuk. Dalam masyarakat ini, kesatuan masyarakat belum ada,
lembaga-lembaga negara dan kontrol sosial tidak bisa beroperasi secara efektif,
saluran komunikasi sangat minim dan tidak ada lambang-lambang kesatuan
masyarakat. Militer dianggap yang paling mampu mengatasi sindrom ini karena
militer bisa memakai simbol-simbolnya untuk memerintah, dan mempersatukan
18
Edward Luttwak, Kudeta: Praktek Penggulingan Kekuasaan (Yogyakarta: Yayasan
Bentang Budaya, 1999), h. 20-22.
25
masyarakat dengan sifat netral yang dimilikinya, serta kesanggupannya menjalin
komunikasi dengan rakyat bawah. Kedua, terjadinya jurang kelas sosial yang
tajam akibat dari pertumbuhan ekonomi dan perubahan sosial yang sangat cepat
sehingga melahirkan jurang antara kaya dengan miskin. Di mana secara kuantitatif
kaum miskin jauh lebih banyak daripada kaum kaya. Ketiga, terjadinya aksi sosial
berdasarkan kelompok-kelompok (baik yang sadar politik atau tidak) dan
mobilisasi sumber-sumber materil dalam negeri yang rendah.19 Masyarakat
terpecah belah dan hidup berdasarkan nilai-nilainya sendiri, program pemerintah
tidak mendapat dukungan, bahkan selalu dirong-rong sehingga selalu gagal,
sumber materil yang diperlukan pemerintah tidak ada. Para pengusaha berusaha
tidak membayar pajak, kaum birokrat berusaha menerima suap dan petani hanya
menimbun hasil pertaniannya.
2. Sebab-Sebab Terjadinya Kudeta
Dalam pembahasan ini, perlu dikatakan bahwa banyak faktor yang
membuat militer melakukan kudeta, atau mengambil alih pemerintahan. Dari
pertanyaan sederhana tentang kapan kah militer akan mengambil alih
pemeritahan? Sederhananya adalah ketika terdapat kegagalan pemerintahan sipil
dan pada saat yang bersamaan kehilangan keabsahannya. Militer seringkali
menuduh pemerintah yang digulingkan gagal menjalankan tugasnya, melakukan
tindakan yang tidak sah di luar kelembagaannya, tidak bertanggung jawab atas
kemerosotan ekonomi, tidak mampu mengendalikan perasaan kecewa dan
penentangan politik tanpa menimbulkan kekerasan dan kekacauan. Kegagalan itu
19
Eric A. Nordlinger, Militer Dalam Politik: Kudeta dan Pemerintahan, h. 141-182.
26
memperkuat rasa tidak hormat dan benci militer pada pemerintah, kegagalan ini
biasanya akan menggambarkan kemerosotan citra pemerintah sipil di mata
masyarakat yang interest pada politik. Ditambah lagi dengan citra militer sebagai
golongan nasionalis utama, militer mengidentifikasi diri dengan negara, dan
negara sendiri adalah militer. Jadi, yang dianggap baik oleh militer juga baik
untuk negara, dan mencitrakan kudeta sebagai kepentingan menjaga konstitusi
negara.20
Penggambaran motif dan faktor-faktor penyebab terjadinya kudeta dapat
dilihat sebagai berikut: (1) Adanya kepentingan politis dari korporat militer
sendiri; (2) menurunnya keabsahan pemerintahan sipil yang disebabkan gagalnya
mengendalikan kemerosotan kesejahteraan ekonomi (3); banyak timbulnya huruhara kekerasan; (4) dan tindakan pemerintah sipil yang mengacu pada sentralisasi
kekuasaan. Faktor-faktor tersebut menjadi motif pendorong para perwira untuk
melakukan campur tangan, apalagi ketika para perwira memandang rendah para
pemangku kekuasaan. ini lebih memudahkan militer memberi alasan dan
menghalalkan tindakan kudeta pada kelompok sedang berkuasa yang mereka
anggap lemah. Belum lagi kegagalan pemerintah yang keabsahannya menurun
pada kalangan masyarakat yang sadar poitik. Selanjutnya akan dijelaskan motif
dan fakor-faktor terkait timbulnya kudeta.
Pertama, dalam tubuh mliter sendiri. Tidak dipungkiri para perwira militer
memperhatikan masa depan karir poilitik mereka, ini menjadi kepentingan pribadi
para perwira militer. Keinginan mereka untuk mendapatkan promosi, cita-cita
20
Eric A. Nordlinger, Militer Dalam Politik: Kudeta dan Pemerintahan, h. 124-125.
27
politik, dan ketakutan dipecat juga menjadi faktor penting dalan kudeta. Namun
seringkali faktor ini terlihat tidak secara kasat mata, karena sebelumnya militer
coba menyelaraskan sejauh mana kepentingan pribadi mereka sejalan dengan
berbagai faktor pendukung lainnya, yang kemudian bisa dipakai untuk
menjalankan kudeta tanpa harus terlihat kalau kudeta ini murni berdasarkan
kepentingan sendiri. 21 Militer akan sigap mengkudeta ketika rakyat meneriakkan
keburukan pemerintah, selain mosi tidak percaya rakyat dan segala kekacauan
yang terjadi selama protes, akan dijadikan faktor pendukung yang membuat
kepentingan pribadi militer merebut kekuasaan tidak kentara. Seolah-olah militer
bersama dengan kelompok orang-orang yang merasa dirugikan pemerintah,
padahal militer hanya memakai tuntutan kelompok itu agar tindakan kudeta
mereka dianggap keniscayaan dan pro terhadap rakyat.
Kedua, dalam suatu pemerintahan yang keadaan ekonominya baik adalah
suatu kritera prestasi yang sangat penting, tidak dipungkiri bahwa pertumbuhan
ekonomi yang baik itu dijunjung tinggi di seluruh dunia, dan pemerintah dianggap
yang paling bertanggung jawab atas kemajuan ekonomi itu. Ini sangat berkaitan
dengan motif militer yang nantinya akan mengkudeta pemerintahan, karena laju
ekonomi yang rendah akan memicu timbulnya kegaduhan pada masyarakat yang
berpengaruh pada negara secara langsung. Kemunduran ekonomi yang dikelola
pemerintah semakin menambah perasaan tidak hormat militer terhadap
pemerintah, memeperkuat anggapan para perwira profesional dapat berperan
sebagai pembuat keputusan yang berhubungan dengan keputusan ekonomi guna
21
Eric A. Nordlinger, Militer Dalam Politik: Kudeta dan Pemerintahan, h. 92.
28
mempertahankan kepentingan masyarakat dan negara.22 Birokrasi militer yang
solid dan otonom, dapat menciptakan peraturan-peraturan yang penting guna
memacu pembangunan ekonomi, namun di sisi lain militer harus menghadapi dan
meyakinkan kelas-kelas sosial yang ada, agar langkah yang diambil militer ini
dianggap sah dan baik bagi negara. Sebelum tampil, militer harus mencitrakan
kehebatan dan kepedulian yang mencolok agar semakin terlihat meyakinkan,
dengan sebelumnya menawarkan konsep-konsep yang baku atas jalan keluar
menuju kemajuan negara.23
Ketiga, pemerintah sebagai penguasa juga dipercaya sebagai pengelola
keamanan yang baik. Bila banyaknya keresahan dan pertentangan politik tidak
dapat diselesaikan secara baik, akan membuat prestasi pemerintah merosot dan
dinilai tidak mementingkan rakyat sehigga menimbulkan huru-hara kekerasan di
kalangan masyarakat yang tidak merasa puas.24 Pemerintah juga dinilai tidak
berupaya menjalankan tujuan yang mendasar, yaitu menjaga ketertiban serta
melindungi
negara,
dengan
tidak
dapatnya
mengatasi
kekacauan
dan
menghentikan pemogokan-pemogokan atas huru-hara tersebut. Pada saat
pergolakan dan huru-hara terjadi, militer mulai menyadari kalau pemerintah
sangat bergantung pada militer, tanpa dukungan dan ikut campur militer negara
akan rubuh.25 Pada akhirnya, keadaan yang bergejolak itu mengurangi keabsahan
pemerintah. Kemudian banyak orang yang terlibat dalam kancah politik
22
Eric A. Nordlinger, Militer Dalam Politik: Kudeta dan Pemerintahan, h. 29-130.
Louis Irving Horowitz, Revolusi, Militerisasi, dan Konsolidasi Pembangunan (Jakarta:
PT. Bina Aksara, 1985), h. 223.
24
Alfred Stephan, Militer dan Demokratisasi, (Jakarta: PT. Pustaka Utama Grafiti, 1988),
h. 128-131.
25
Eric A. Nordlinger, Militer Dalam Politik: Kudeta dan Pemerintahan, h. 134.
23
29
melancarkan aksi-aksi ujuk rasa, menunjukkan suatu penentangan yang kuat pada
pemerintah, pemerintah dianggap tidak lagi mempunyai hak moral untuk
memerintah. Lalu semakin memperkuat dorongan miiter melakukan kudeta.
Keempat, militer juga menuduh pemimpin sipil melakukan berbagai
tindakan inkonstitusional, termasuk melaksanakan undang-undang secara
sewenang-wenang, perluasan kekuasaan mereka ke dalam bidang yang dilarang
oleh konstitusi dan mempertahankan jabatan melampaui batas yang ditentukan
oleh peraturan. Militer berdalih pada kudeta yang mereka lakukan bertujuan
menghidupkan kembali kegiatan politik yang sehat, memberangus korupsi, dan
meningkatkan kejujuran yang tinggi pada masyarakat. Penyelewengan yang
dilakukan oleh pihak sipil memudahkan para perwira untuk mengambil tindakan
yang inkonstitusional, militer beranggapan pemerintah sipil telah menunjukan
sikap tidak hormat pada konstitusi, ini juga berakibat pada keabsahan pemerintah
sipil yang akan menurun.26
Dalam situasi seperti ini, pemerintah berada di sepanjang antara keabsahan
dan ketidakabsahan. Sebagian rakyat percaya bahwa pemerintah mempunyai hak
moral untuk memerintah, dengan begitu rakyat akan mematuhinya. Namun bila
sebagian besar masyarakat merasa pemerintah tidak memerintah sesuai dengan
peraturan yang ada, dan tidak membuat rakyat sejahtera, sudah dipastikan
pemerintah tidak layak menerima kesetiaan mereka. Senada dengan yang
dikatakan Samuel Huntington bahwa:
26
Eric A. Nordlinger, Militer Dalam Politik: Kudeta dan Pemerintahan, h. 129.
30
“romantisnya hubungan sipil-militer sebagaian besar tergantung
dari tindakan pemimpin sipil dalam mengelola pemerintahan. Romantisme
itu akan hilang ketika pemerintah sipil tidak mampu meningkatkan
perkembangan ekonomi, memelihara ketertiban umum, dan hukum. Dalam
situasi seperti itu, politisi mungkin tergoda untuk menggunakan militer
dalam setiap permasalahan yang terjadi, dan mungkin lebih jauh lagi demi
memperoleh ambisi politik mereka. atau malah mliter sendiri yang sedari
awal aktif berniat untuk memperoleh kekuasaan dengan memanfaatkan
momentum tersebut.”27
Apalagi ketika pemerintah memperkaya diri sendiri dengan mengorbankan
kepentingan umum, lalu terindikasi terdapat kesewenangan dalam memerintah,
dan menghalangi kelompok lain dalam pemerintahan untuk memperoleh
fungsinya sebagai penguasa politik.28
D. Tentara Pretorian
Dalam kudeta dan perebutan kekuasan, militer memiliki peran yang besar.
Bahkan kudeta telah diidentikan oleh kekuatan militer dalam pengambilalihan
kekuasaan. Pretorianisme mengacu pada situasi di mana tentara tampil sebagai
aktor politik utama dan dominan yang secara langsung menggunakan kekerasan
atau mengancam untuk merebut suatu kekuasaan. Istilah ini diambil dari campur
tangan militer pada Kerajaan Roma, pada awalnya kerajaan ini dibentuk sebagai
kesatuan unit khusus yang bertugas melindungi maharaja. Namun akhirnya
dengan kekuatan militer yang mereka punya, menumbangkan raja dan menguasai
pemerintahan juga pemilihan umum. Angkatan bersenjata dalam semua negara
27
Larry Diamond dan Marc F. Plattner, Hubungan Sipil-Militer dan Konsolidasi
Demokrasi, h. xv.
28
Eric A. Nordlinger, Militer Dalam Politik: Kudeta dan Pemerintahan, h. 135.
31
mempunyai pengaruh yang sangat besar, termasuk pengaruh politik. Selain
sebagai lambang kekuatan negara, ia juga merupakan alat penahan utama dari
serangan luar maupun dalam.
Soal militer, Samuel Huntington berpandangan dalam kerangka hubungan
sipil militer menjadi dua yaitu, tentara pretorian dan tentara profesional. Tentara
pretorian atau tentara jenis penakluk (warior) dalam hal ini mewakili kelompok
militer yang berkuasa, menjalankan pemerintahan, dan menentukan keputusankeputusan politik. Paham ini tumbuh dan berkembang sebelum abad ke-19 ketika
profesi perwira sebagai pengelola kekerasan (manager of violence) masih
merupakan monopoli para kerabat istana. Munculnya revolusi Perancis 1789,
menandai perubahan dari “tentara pencari keuntungan materi” menjadi “tentara
panggilan suci (abdi negara)”, inilah yang kemudian dikatakan Huntington
sebagai awal berkembangnya paham tentara profesional. Sebenarnya bukan hanya
dinyatakan oleh Huntington, jauh sebelumnya seorang ilmuwan Perancis, de
Tocqueville sudah berbicara tentang profesi dan kehormatan militer.
Huntington
memberikan
tiga
ciri
pokok
tentang
tumbuhnya
profesionalisme militer, yaitu : pertama, mensyaratkan keahlian, profesi militer
menjadi spesifik serta memerlukan pengetahuan dan keterampilan. Kedua, militer
memiliki tanggung jawab sosial khusus, artinya seorang perwira militer
mempunyai tugas pokok kepada negara. Berbeda dengan sebelumnya, di mana
seorang perwira seolah hanya menjadi milik pribadi komandan dan harus setia
kepadanya sebagai suatu bentuk disiplin mati. Pada masa profesionalisme,
seorang perwira berhak untuk mengoreksi atasannya, jika si atasan melakukan
32
hal-hal yang bertentangan dengan kepentingan nasional. Ketiga, seorang militer
harus berkarakter korporasi (corporate character) yang pada kemudian
melahirkan rasa esprit de corps yang kuat.29
Ketika ketiga ciri militer profesional di atas terpenuhi, pada akhirnya
melahirkan apa yang disebut Huntington the military mind, yang menjadi dasar
hubungan militer dan negara. Ini membuat Negara Kebangsaan (nation state)
mejadi suatu bentuk tertinggi organisasi politik. Sehingga inti dari military mind
menjadi suatu ideologi yang berisi pengakuan militer pada supremasi
pemerintahan sipil. Bagi perwira militer, tidak ada kemuliaan yang paling tinggi,
kecuali kepatuhan kepada negarawan sipil. Jadi menurut Huntington, kaum
militer yang melakukan intervensi politik pada hakikatnya menyalahi etika militer
profesionalnya. Bahkan Huntington menganggap intervensi militer dalam politik
sebagai pembusukan politik (political decay) dan dianggap sebagai kemunduran
ke arah tentara pretorian.30 Tetapi dalam perspektif tentara pretorian, militer
seolah akan terlihat seperti kaum elite yang membawa pada modernisasi, kaum
militer juga dinilai melihat jauh ke depan, punya keinginan kuat untuk
kepentingan korporasinya, dan untuk mendorong modernisasi di negaranya.
Jadi, tentara akan menjadi tentara pretorian apabila mereka mengancam
atau menggunakan kekuatan dan kekuasaan mereka untuk mendominasi politik
lalu menguasai pemerintahan. Tentara pretorianisme modern yang campur tangan
29
Samuel P. Huntington, The Soldier and The State: The Theory and Politics Civil
Military Relations (Cambridge: Harvard University Press, 1957), h. 7-18.
30
Samuel P. Huntington, Tertib Politik dalam Masyarakat yang Sedang Berubah
(Jakarta: CV Rajawali, 1983), h. 37-40.
33
dalam pemerintahan akan mendominasi eksekutif sehingga terjadi pembusukan
politik dan kekuasaan eksekutif menjadi tidak efektif.
Kemudian rezim pemerintahan akan menjadi rezim militer karena perwira
militer sendiri yang merebut kekuasaan. Timbul pertanyaan, apakah rezim ini
terus menjadi rezim militer pada duapuluh tahun kemudian dan seterusnya? Eric
Nordlinger mengatakan,
“rezim militer adalah rezim di mana militer telah merebut
kekuasaan melalui kudeta, perwira atau mantan perwira militer menduduki
jabatan tinggi pemerintahan. Mereka bergantung terutama pada perwira
militer yang masih aktif untuk mempertahankan kekuaaan itu, walaupun
pihak sipil juga diberi bagian untuk peran yang penting (namun biasanya
tidak penting).”31
Contohnya adalah Mesir, walaupun sudah dijabat oleh Nasser (lalu Sadat
dan Mubarok pada berikutnya), tetapi strukturnya banyak diisi oleh orang-orang
berlatar belakang militer. Nampaknya Eric melihat ini secara substnsial pada
pemerintahan.
Tentara pretorian cenderung melakukan kudeta. Kudeta ini dilakukan bila
militer merupakan kelompok yang paling solid, paling terorganisir secara politik
dan tidak ada oposisi yang kuat. Kudeta dilaksanakan oleh aktivis politik dan
kelompok politik dalam organisasi militer, perwira yang memiliki ambisi politik
dan perwira yang tidak menganggap militer sebagai profesi seumur hidup. Korps
Perwira dipolitisir oleh perwira lain yang secara politik atau ideologi terikat
dengan politisi sipil atau sipil yang minta perlindungan tentara atau karena
kejadian perjuangan anti kolonial, datangnya kemerdekaan atau kekacauan
31
Eric A. Nordlinger, Militer Dalam Politik: Kudeta dan Pemerintahan, h. 45.
34
ekonomi. Kudeta militer diorganisir oleh koalisi para aktivis politik dalam militer
dan sekutu-sekutu mereka atau oleh persekongkolan para perwira yang mendapat
dukungan politik dari luar militer. Keputusan kudeta tergantung dari kesiapan
politik dan saat yang tepat. Adapun kudeta ini memperoleh legitimasinya dari
sekutu-sekutu militer dan orang-orang yang sealiran dengan oposisi rezim lama
serta dari orang-orang yang tidak senang terhadap rezim lama dan para oportunis.
Para perwira yang bersatu mempunyai kekuatan yang besar, dan
berpotensi mempertahankan atau pun mengambil alih pemerintahan sipil.
Biasanya, mereka menggunakan senjata pada perebutan kekuasaan (sebagian
lainnya tidak musti menggunakan senjata). Pihak militer biasanya terang terangan
menonjolkan diri mereka dan menuntut agar diberi ruang dalam politik, dia
meminta arena politik diperluas. Secara tidak langsung ini adalah acaman militer
kepada pemerintah sipil, militer mengatakan bila diberi hak-hak politik, maka
kudeta akan terhindarkan, padahal ini adalah awal masuknya militer yang sedikit
demi sedikit akan menguasai kekuasaan pmerintahan sipil itu.
Dalam kajian mengenai pretorianisme, yang menjadi acuan adalah prestasi
pemerintahan sipil. Ini sangat penting, karena selalu menjadi penilaian sejauh
mana pemerintahan sipil dapat mengelola negara seperti yang dikehendaki oleh
rakyat, dan malah dikagumi oleh negara lain. Karena militer pretorian selalu
menyepelekan kinerja pemerintahan sipil, dan berpidato akan memulihkan
ekonomi dan memelihara keamanan negara pada saat pemeintahan sedang hiruk
pikuk diterpa goncangan politik.
35
“Militer selalu ahli membandingkan dan menonjolkan kineranya
yang lebih baik, ketika kinerja pemerintah sipil melemah. Militer
mempunyai landasan, apabila pemerintahan tidak lagi mampu mengelola
ekonomi dengan baik, huru-hara kekerasan tejadi di mana-mana,
pemerintah betindak tidak sah, militer lah yang seharusnya turun tangan
dan menjadi harapan.”32
Walau pada berikutnya, militer juga akan dinilai kinerjanya oleh rakyat
apakah lebih baik atau buruk dari pemerintah sipil yang militer gulingkan.
Terkadang rakyat agak sulit memberontak kekuatan persenjataan militer yang
telah berkuasa, tidak semudah militer menjatuhkan pemerintahan sipil.
Seorang pretorian coba untuk menunjukkan kalau mereka adalah perwira
yang bertanggung jawab dan berjiwa nasional. Seorang pretorian memiliki rasa
nasionalisme yang kuat untuk mementingkan orang banyak, ini membuat
pretorian tidak mempunyai pilihan lain untuk mempertahankan konstitusi dari
pengaruh pemerintahan sipil yang tidak stabil. Pretorian akan segera menentukan
apakah perlu adanya campurtangan ketka negara terancam. Dalam campurtangan,
sebagian kudeta dianggap perlu dengan urgensi rusaknya prinsip konstitusi karena
tindakan pemerintah yang korup, tindakan yang sewenang-wenang dan tidak sah.
Pemerintah melakukan suatu yang bertentangan dengan kepentingan negara
dengan membenarkan anasir subversif yang mengancam keamanan negara dengan
memicu konflik kelas, golongan, dan suku. Yang pada akhirnya menyulut pada
kekacauan politik, mengarah pada tingkat pertumbuhan ekonomi yang rendah,
memperbesar pengannguran, dan meningkatkan inflasi, atau gagal menjalankan
rancangan ke arah modernisasi dan perubahan sosial ekonomi.
32
Eric A. Nordlinger, Militer Dalam Politik: Kudeta dan Pemerintahan, h. 14.
36
Pada waktu yang sama, para pretorian dengan yakin akan memulihkan
kembali situasi politik dan ekonomi dalam negeri. Mereka bersedia dan merasa
mampu karena perwira militer mempunyai semangat nasionalisme yang tinggi,
tidak mempunyai kelemahan seperti para politisi, serta mahir dalam bidang teknik
manajerial.33
“Yang menonjol dari pretorian adalah sebagai juru selamat, dan
berjanji akan memulihkan dan memperbaiki kegagalan pemerintah sipil.”34
Hampir semua pretorian menyatakan akan menyerahkan kembali
pemerintahan kepada pihak sipil yang dipilih secara demokratis, dan para
pretorian pun menerima prinsip penguasaan sipil. Tetapi terpaksa ikut
campurtangan karena terdorong rasa tanggung jawab mereka pada konstitusi dan
negara. Jadi, pemerintah sipil akan dipulihkan secepat mungkin, segera setelah
dipulihkannya ekonomi dan politik dan mengadakan pemilu yang bebas dan
teratur. Tentara yang menjadi pretorian dibedakan manjadi tiga macam, yaitu jenis
(1). pretorian moderator, (2). pretorian pengawal, dan (3). pretorian penguasa.
1. Pretorian Jenis Moderator
Sebetulnya semua jenis tentara pretorian adalah tentara yang sama-sama
menggunakan kekuasaannya untuk intervensi dan menggulingkan kekuasaan
pemerintah. Perbedaannya adalah mereka mempunyai motif dan batas-batas
dalam ikut campur yang berbeda. Berikut ini adalah penjelasannya agar lebih
mudah memahami tentara pretorian dan jenis-jenisnya.
33
34
Louis Irving Horowitz, Revolusi, Militerisasi, dan Konsolidasi Pembangunan, h.221.
Eric A. Nordlinger, Militer Dalam Politik: Kudeta dan Pemerintahan, h. 32.
37
Pretorian moderator tidak menguasai pemerintahan secara menyeluruh,
tetapi mengawasi pemerintahan sipil dengan tidak serta merta menerima
supermasi penuh dari pihak sipil. Moderator pretorian bertindak sebagai
kelompok yang berpengaruh dan terlibat dalam politik, kadangkala juga
mengancam pemerintah untuk kudeta. Terkadang, mereka akan melakukan suatu
kudeta pemerintah sipil dan menggantinya dengan pemerintahan sipil lain yang
sejalan dan dapat diterima oleh militer. Apalagi ketika militer sudah menunjukan
keinginan mereka, ini harus diserap oleh pemerintahan sipil guna menghindari
kudeta dan mempertahankan kekuasaan masing-masing (militer dan pemerintah
sipil sama-sama memiliki peran kuat dalam pemerintahan).
Tentara pretorian moderator ini coba menghindari diri untuk menguasai
pemerintahan, dan jenis pretorian ini juga tidak terlalu menonjol dari jenis tentara
lain. Mereka mempertahankan status quo, menjaga keseimbangan (atau ketidak
seimbangan)
kelompok
yang
sedang
bersaing,
dan
menjaga
stabilitas
pemerintahan. Pretorian jenis ini lebih memusatkan perhatiannya pada konflik
politik yang sedang terjadi. Pihak militer mengambil alih pemerintahan sementara
guna mencegah berlangsungnya pemilhan umum, karena militer lebih suka
langsung mengganti pemerintahan sipil dengan peemimpin sipil yang baru, karena
sudah pasti lebih sejalan dan diterima oleh militer (militer sudah mempersiapkan
pengganti sebelum kudeta pengganti dilakukan). Kudeta ini juga dilakukan
seandainya kelompok yang baru aktif dalam politik mengangkat terlalu banyak
wakil pemerintahan dari kelompoknya sendiri, karena itu kudeta pengganti
38
dilakukan untuk menentang hal semacam itu dan lebih memudahkan militer
mengangkat lebih banyak orang yang sesuai dengan kehendak miiter.35
Hematnya, tentara jenis pretorian ini bertindak sebagai golongan yang
konservatf, sesuai dengan penjelasan mengapa mereka tidak menguasai
pemerintahan secara keseluruhan. Di lain sisi, moderator pretorian beranggapan
lebih mudah mengalihkan perubahan kekuasaan dengan menggunakan kuasa
mutlak, tanpa menguasai pemerintahan sepenuhnya sendiri. Di sini militer
moderator bertindak sebagai penekan, namun secara tidak langung mengarahkan
pemerintah sipil atas dasar kemauannya, namun juga siap mengancam akan
melakukan kudeta bila pemerintah berjalan tidak sesuai dengan keinginan militer
(tidak menutup kemungkinan miiter moderator ini akan menjadi pemerintah atau
penguasa).
2. Pretorian Jenis Pengawal
Berbeda dengan pretorian moderator yang menguasai pemerintahan
secara tidak langsung, tetapi secara substansial mengarahkan pemerintah sesuai
dengan kemauannya. Namun, pretorian pengawal adalah jenis yang akan
menguasai pemerintahan secara langsung, dan ia menguasai kurang lebih sampai
beberapa tahun kedepan. Karena pretorian pengawal beranggapan akan lebih
mudah menguasai pemerintahan secara keseluruhan, daripada hanya dari belakang
layar, mereka merasa lebih leluasa. Pengawal pretorian berbuat demikian
disebabkan tidak adanya pilihan lain karena tidak ada golongan elit yang dapat
mempertahankan status quo politik dan ekonomi, atau bila militer tidak
35
Eric A. Nordlinger, Militer Dalam Politik: Kudeta dan Pemerintahan, h. 35.
39
mengkudeta, kekuasaan akan berpindah ke tangan elit politik yang tujuannya
berbeda sama sekali dengan militer.36
Pretorian pengawal coba meningkatkan kecakapan atau merubah arah
kebijakan pemerintah sebelumnya. Sasaran pada pasca awal-awal kudeta biasanya
pemecatan elit politik yang sering melakukan korupsi, elit yang suka berlaku
curang dalam penyusunan struktur pemerintahan dan pembagian fungsi
administrasi juga kekuasaan. Pengawal pretorian memberi perhatian besar pada
pertumbuhan ekonomi dan menangkal inflasi yang malambung tinggi, anggaran
belanja yang berlebihan, dan neraca pembayaran defisit yang terjadi di bawah
pemerintahan sipil. Pretorian pengawal adalah “dokter bedah yang ganas”, berani
melakukan pembedahan di dalam organisasi politik, walau sebenarnya tidak
melakukan secara benar untuk memperbaiki kelemahan dan kecacatan pemerintah
sipil setelah militer ini berhasil merebut kekuasaan.
Perlu diketahui kalau semua rezim militer (rezim yang berkuasa hasil dari
kudeta) adalah otoritarian, karena mereka menghapuskan atau membatasi hak
berpolitik. Sebagian kelompok suku (kepentingan, serikat pekerja, atau juga
keagamaan), surat kabar dibolehkan untuk berekspresi, namun sebenarnya mereka
dibatasi.
3. Pretorian Jenis Penguasa
Pretorian penguasa ini tidak jauh berbeda dengan jenis pretorian yang lain,
tetapi cita-cita politiknya sangat besar dan tinggi melebihi kedua jenis pretorian
yang sebelumnya. Penguasa pretorian ini jarang di temukan dibandingkan dua
36
Eric A. Nordlinger, Militer Dalam Politik: Kudeta dan Pemerintahan, h. 38.
40
jenis pretorian lain, diperkirakan juga kasusnya tidak lebih dari 10 % dari semua
kasus campur tangan militer. Namun cita-cita politik mereka yang amat tinggi
membuat mereka menjadi bagian yang sangat penting. Dibanding jenis pretorian
yang lain, pretorian penguasa tidak hanya menguasai pemeritnahan, tetapi
mendominasi rezim tersebut, dan kadangkala menguasai sebagian besar
kehidupan politik, ekonomi, dan sosial melalui pembentukan struktur yang
termobilisasi. Kadang kala mereka menganggap dirinya sebagai golongan
modernisasi yang radikal dan revolusioner.37
Pretorian jenis ini mendominasi sebuah rezim sebelum kudeta dengan
waktu yang cukup panjang, karena mereka menyadari bahwa perubahan yang
mereka inginkan membutuhkan waktu yang lama dalam pelaksanaannya. Kalau
pretorian pengawal berajanji akan mengembalikan pemerintahan setelah beberapa
tahun mereka berkuasa, pretorian penguasa tidak pernah membuat janji dan hanya
mengatakan akan mengembalikan pemerintahan. Pretorian penguasa bermaksud
mengadakan perubahan yang radikal dan menyeluruh dengan menghapuskan
hampir semua pusat kekuasaan dominatif yang ada. Seperti pretorian pengawal,
pretorian jenis ini memberikan perhatian di bidang ekonomi terutama memulihkan
kembali kegiatan ekonomi yang sudah beku dengan menggunakan cara yang
hampir sama seperti jenis pretorian lain lakukan. Penguasa pretorian tidak
bersedia kompromi dengan kritik dan penentangan, tidak seperti dua jenis
pretorian lainnya. Sebagian kelompok penguasa pretorian mencoba memobilisasi
orang banyak dengan membentuk partai (atau gerakan) massa yang mereka kuasai
37
Eric A. Nordlinger, Militer Dalam Politik: Kudeta dan Pemerintahan, h. 40.
41
secara eksklusif. Pola pemerintahan ekonomi dan masyarakat mereka dilakukan
dari atas secara langsung, demi mencapai ambisi pretorian penguasa.38
38
Eric A. Nordlinger, Militer Dalam Politik: Kudeta dan Pemerintahan, h. 42.
42
BAB III
DINAMIKA KEKUASAAN DAN DEMOKRATISASI DI MESIR
Dalam bab ini menjelaskan Mesir yang dalam sejarahnya diikuti oleh
peranan militer yang aktif, menggambarkan dari awal bagaimana peran militer
dalam sosial dan politik di Mesir. Pembahasan perkembangan pemerintahan pasca
runtuhnya Mubarak, juga mulainya proses politik yang lebih demokratis pada
pemerintahan Muhammad Mursi. Serta bagaimana respon masyarakat dan oposisi
dalam menyikapi pemerintahan yang terpilih secara demokratis ini.
A.
Peran Militer Dalam Peta Kekuasaan Di Mesir
Sejarah keterlibatan militer di Mesir pertama kali adalah, ketika para
perwira militer yang tergabung dalam Organisasi Perwira Bebas (Free Officer)
menggulingkan (kudeta) rezim Raja Farouk pada 23 Juli 1952. Para perwira bebas
ini adalah perwira yang peduli dengan bangsanya, karena pada waktu itu Mesir
dijajah Inggris. Itulah yang membuat para perwira mulai membicarakan masa
depan bangsanya pada pertemuan-pertemuan rahasia (di Klab Perwira daerah
Kubri Al Qubbah). Puncak dari diskusi itu adalah terbentuknya Organisasi
Perwira Bebas (Free Officer) pada tahun 1939, bersepakat mempergunakan
kesempatan untuk melakukan revolusi bersenjata melawan Inggris yang sedang
menjajah. Beberapa anggota Organisasi Perwira Bebas di antaranya: Anwar
Saddat, Abdel Munim, Abdul Rauf, Abdul Lathief El Baghdadi, Hussein, Hassan
Izzat, Amned Ismail Ali. Namun karena Anwar Saddat ditahan pada musim panas,
43
pucuk kepemimpinan ini dipegang oleh Gamal Abdul Nasser pada awal tahun
1943 yang baru saja kembali dari Sudan.1
Kudeta ini dikomandoi oleh Kolonel Gamal Abdul Nasser dan Jendral
Muhammad Naguib. Setelah kudeta berhasil, menjadi bentuk penguasaan militer
yang diwujudkan dalam RCC (Revolution Command Council) yang dipimpin
Naguib, Naguib dikukuhkan menjadi perdana menteri dan gubernur militer,
sedangkan Nasser menjadi Deputi Perdana Menteri pada bulan September 1952.2
Pada Desember 1952 mereka menyatakan Konstitusi Mesir tahun 1923 tidak
berlaku lagi, partai politik dilarang, dan puncaknya pada Juni 1953 dihapusnya
sistem monarki Mesir. Selanjutnya dengan cepat Naguib memproklamirkan Mesir
sebagai negara republik yang secara otomatis menjadikannya sebagai kepala
pemerintahan, dan Nasser menjadi menteri dalam negerinya.3 Namun pada April
1954 RCC memaksa Naguib untuk mengundurkan diri secara sukarela, dan
Nasser yang menggantikannya, kemudian Nasser memasukkan sebagian besar
perwira-perwira mantan Organisasi Perwira Bebas (Free Officer) ke dalam
kabinetnya. Mesir diperintah dengan kepemimpinan tunggal Nasser yang
melibatkan RCC sebagai alat pendukung kekuasaannya.
Pada 23 Juni 1956, Nasser melakukan reformasi politik domestik dengan
mengeluarkan konstitusi baru lewat referendrum nasional dan membubarkan RCC
pada Juli 1956. Walau RCC telah dibubarkan, Mesir tetap dipegang oleh suatu
1
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Militer dan Demokratisasi di Nigeria,
Mesir, dan Afrika Selatan (Jakarta: P2P-LIPI, 2001), 75-76.
2
Emory C. Bogle, The Modern Middle East: From Imperealism to Freedom 1800-1958
(New Jersey: Prentice Hall, 1996), 336.
3
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Militer dan Demokratisasi di Nigeria,
Mesir, dan Afrika Selatan, h. 64.
44
rezim militer di bawah kepemimpinan tunggal Nasser. Selanjutnya Nasser
membentuk ASU (Arab Socialist Union) pada Desember 1962, sebelumnya
Nasser telah membentuk Partai Kemerdekaan yang didominasi oleh tentara,
tujuannya adalah propaganda dan menanamkan ideologi tentara pada masyarakat
untuk mendapat dukungan sipil. Namun usaha Nasser gagal total dan berikutnya
juga gagal ketika membentuk NU (National Union).4
Pada perjalanannya, ASU menjadi satu satunya organisasi yang diakui
oleh pemerintah dan menjadi alat pendukung Nasser dalam memerintah. ASU
dibuat guna menggiring seluruh komponen masyarakat Mesir agar pro dan
mendukung Nasser, jika masyarakat tidak mau mendukung akan menjadi target
tekanan politik dari penguasa militer Mesir.5 Seperti kelompok Persaudaraan
Muslim (Ikhwanul Muslimin) yang menjadi oposisi karena menolak kooperatif
dengan ASU juga Nasser, akhirnya membuat Ikhwanul Muslimin dianggap
organisasi ilegal, dan dikecam keberadaannya oleh negara. Ikhwanul Muslimin
menjadi organisasi bawah tanah dalam penantiannya menggulingkan rezim
Nasser.
“Gamal Abdul Nasser memberikan peranan utama kepada
kelompok militer untuk melakukan penggalangan terhadap masyarakat
sipil di Mesir. Di samping itu ia berkeyakinan bahwa hanya tentara yang
dapat memperbaharui, memerintah, dan memperkuat negeri Mesir dengan
berhasil.”6
4
Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Militer dan Demokratisasi di Nigeria, Mesir, dan
Afrika Selatan, h. 83.
5
Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Militer dan Demokratisasi di Nigeria, Mesir, dan
Afrika Selatan, h. 66-67.
6
Amos Perlmutter, Militer dan Politik, h. 242.
45
Setelah masa kepemimpinan Nasser berakhir karena sakit yang
dideritanya, membuat Anwar Saddat secara otomatis selaku wakil presiden
menggantikan Nasser. Pada saat pergantian kepemimpinan, agaknya Saddat
terlihat setengah hati. Namun Saddat maju karena melihat sengitnya perebutan
untuk menggantikan kursi kepresidenan. Setelah mendapat restu dan keputusan
Komite Eksekutif ASU juga dukungan dari Majelis Nasional (memang peran dari
lembaga ini dirancang untuk hanya menyetujui keputusan Komite Eksekutif
ASU), Saddat akhirnya menang. Secara aklamasi rakyat memilh Saddat sebagai
presiden dengan suara 90.04% pada 15 Oktober 1970.7 Saddat melancarkan
program liberalisasi politik dan ekonominya. Dalam politik Saddat membentuk
Partai Demokrat Nasional (NDP) pada bulan Juli 1978 dan menjadi ketuanya,
partai pemerintah ini adalah alat andalan bagi Saddat, partai ini menguasai dua
peritga parlemen.. Saddat juga membubarkan ASU pada tahun 1979 demi
menghindari persaingan politik. Dalam bidang ekonomi, Saddat memberikan
kewenangan luas pada militer sebagai hadiah dukungan pada rezimnya. Peranan
militer dalam ekonomi meningkat, karena Saddat sendiri yang mengarahkan
militer untuk mengembangkan ekonomi mereka.8
Anwar Saddat mengakhiri masa kepemiminannya dengan meninggal karena
ditembak kelompok Jihad radikal pada saat melihat parade militer pada 6 Oktober
1981.9 Yang kemudian membuat Husni Mubarak memegang tampuk kekuasaan di
7
Mohammad Heikal, Autum of Fury: The Assossonation of Saddat (London: Corgi,
1984), 46.
8
Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Militer dan Demokratisasi di Nigeria, Mesir, dan
Afrika Selatan, h. 69.
9
M. Agastya ABM, Arab Spring: Badai Revolusi Timur Tengah Yang Penuh Darah
(Yogyakarta: IRGiSoD, 2013), 49.
46
Mesir, perpolitikan di bawah Mubarak stabil dengan mengandalkan partai
pemerintah NDP (Partai demokat Nasional) yang juga diketuai Mubarak. Terbukti
dengan berhasilnya mempertahankan dominasinya dalam Dewan Nasional sejak
pemilihan umum tahun 1984 hingga akhir pemerintahannya yang ditumbangkan
revolusi rakyat. Mubarak sangat diuntungkan karena para Pejabat Perwira Bebas
banyak yang sudah tua, meninggal dunia, dan mengundurkan diri dari
perpolitikan. Mubarak juga tidak terlibat langsung dalam Organsasi Perwira
Bebas yang dibentuk pada 1939.10 Ketiga pemimpin Mesir tersebut menggunakan
pola yang sama, yaitu dengan menggunakan militer sebagai unsur utama
mempertahankan dan menjalankan pemerintahan. Ditambah dengan organisasi
atau partai politik dominan yang isinya juga militer.
B.
Perkembangan Transisi Demokrasi Di Mesir
Pada perjalanan pemerintahan Mesir, otoritarianisme menguasai Mesir
kurang lebih tiga puluh tahun di bawah rezim Husni Mubarak. Hal-hal paling
mendasar dari sistem otoritariansme yang diterapkan Mubarak adalah,
pemerintahan yang sewenang-wenang menggunakan hukum dengan segala
instrumen negara yang memaksa untuk memonopoli kekuasaan dan menolak hakhak politik kelompok lain untuk meraih kekuasaan. Maye Kassem mengatakan
bahwa negara-negara otoriter (termasuk dalam kasus Mesir), keberhasilan
penguasa
otoriter
dalam
melanggengkan
10
kekuasaannya
adalah
dengan
Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Militer dan Demokratisasi di Nigeria, Mesir, dan
Afrika Selatan, h. 71-72.
47
menggunakan sistem patronage dan cooptation, dan pemaksaan aparat negara
untuk mengatur masyarakat.11 Strategi itu juga terlihat digunakan pada rezim
Nasser dan Saddat.
Sejak awal berkuasa, Mubarak menyatakan dirinya berjalan bersamaan
dengan prinsip-prinsip demokrasi, Mubarak juga sangat menentang terlalu
lamanya seorang presiden dalam menjabat dan tidak ingin memonopoli
pembuatan kebijakan. Pada realitanya pandangan Mubarak berbeda, Mubarak
mendasari pendapatnya dengan alasan bahwa Mesir adalah negara yang sedang
berkembang dan harus berprioritas pada pembangunan ekonomi, alasan itu lah
yang menjadi dasar legitimasinya dalam berkuasa.12 Selain itu Mubarak
melakukan pemberlakuan hukum darurat setiap tiga tahun setelah terbunhnya
Saddat. Dengan begitu memberikan keleluasaan pada rezim untuk mengontrol
setiap bentuk aktifitas politik. Dalam hukum darurat itu misalnya: rezim berhak
mensensor segala bentuk kegiatan yang mengandung unsur kebebasan
berpendapat. Hukum darurat itu juga membuat sah pemerintah mensensor segala
media (pers) dan bentuk ekspresi lainnya sebelum terpublikasi.13 Begitulah
fenomena pada masa pemerintahan Mubarak, yang kemudian mengundurkan diri
pada 11 Februari 2011, setelah gelombang protes selama kurang lebih 15 hari
yang diwarnai kekeraan berdarah. Ini dipicu oleh kemuakan, kemarahan, dan
frustasi rakyat Mesir. Setelah Mubarak tumbang, ia menyerahkan kekuasaannya
pada militer. Mahkamah Agung Mesir kemudian memerintahkan Perdana Menteri
11
Maye Kassem, Egyptian Politics: The Dynamics of Authoritarian Rule (United States
of America: Lynne Rienner Publisher Inc, 2004), h. 3.
12
Maye Kassem, Egyptian Politics: The Dynamics of Authoritarian Rule, h. 27.
13
Maye Kassem, Egyptian Politics: The Dynamics of Authoritarian Rule, h. 55.
48
Ahmad Syafiq untuk menjalankan pemerintaan selama enam bulan sampai akhir
pemilu parlemen dan presiden.14
Pasca tumbangnya Mubarak, rakyat Mesir hidup dalam kegembiraan dan
pesta pora revolusi. Namun di lain sisi, pembangunan dan penguatan demokrasi
masih sangat rancu. Setidaknya ada dua hal yang dapat menghambat penguatan
institusi demokrasi pasca Mubarak yang krusial dan harus diperhatikan. Pertama,
masih kuatnya anasir-anasir “Mubarakisme”, yaitu mereka yang masih loyal pada
rezim Mubarak. Pemerintah yang mengendalikan birokrasi di Mesir adalah para
loyalis Mubarak. Militer yang mendapat mandat memimpin pemerintahan transisi
adalah pihak yang paling loyal. Kedua, adalah memantau sejauh mana militer
dalam menjalankan pemerintahan transisi untuk memenuhi tuntutan keadilan
rakyat.15
Militer yang memegang kendali pada transisi kekuasaan di bawah
Husssein Tantawi, dituntut oleh rakyat sebagai kelompok pengawal demokrasi
untuk segera menyelenggarakan Pemilihan Umum (Pemilu). Rakyat menuntut
Pemilu disegerakan, agar militer sebagai penguasa transisi tidak bertindak di luar
batas. Berdasarkan tuntutan-tuntutan tersebut, pemerintahan transisi segera
menyelenggarakan Pemilihan Umum Parlemen pada 2011.
14
Muhammad Ikbal dan Nuran soyomukti, Ben Ali, Mubarak, Khadafy: Pergolakan
Politik jaziah Arab Abad 21 (Bandung: MEDIUM, 2011), h. 84-87.
15
Zuhairi Misrawi, “Mesir Pasca Mubarak,” Kompas, 14 Februari 2011, h. 6.
49
Tabel III.B.1. Hasil Pemilu Parlemen 2011
NO
PARTAI
JUMLAH KURSI
PARLEMEN
1
Democratic Alliance for Egypt
235
2
Blok Islamis
123
3
New Wafd Party
41
4
Egyptian Bloc
35
5
Al-Wasat Party
10
6
The Revolution Continues Alliance
9
7
Reform and Development Party
9
8
Freedom Party
4
9
National Party of Egypt
5
10
Egyptian Citizen Party
4
11
Union Party
2
12
Conservative Party
1
13
Democratic Peace Party
1
14
Justice Party
1
15
Arab Egyptian Unity Party
1
16
Nasserist Party
1
17
Calon Independen
21
50
18
Calon Pilihan
10
Keterangan: (1) Democratic Alliance For Egypt terdiri dari Ketua Aliansi
Freedom and Justice party, dan anggota-anggotanya seperti Dignity Party, Ghad
El-Thawara Party, Civilization Party, Islamic Labour Party, Egyptian Reform
Party, dan Afiliasi Independen. (2) Blok Islam terdiri dari Al-Nour Party, Building
and Development Party, New wafd Party, dan Authenticity Party. (3) Egyptian
Bloc terdiri dari Saine Democratic Party, Free Egyptianis Party, dan progressive
Unionist Party. (4) The Revolution Continues Alliance terdiri dari Socialist
Popular Alliance Party, Freedom Egypt Party Equality, dan Development Party.
Dari hasil Pemilu parlemen dapat dilihat bahwa Partai Demokratik
Nasional, Partai yang selalu memenangi dan menjadi alat Mubarak tidak lagi
mendominasi. Ini menjadi pertanda bahwa adanya pembaharuan konstelasi politik
di Mesir. Selanjutnya diadakan Pemilu Presiden, Pemilu paling demokratis sejak
tahun 1984.16 Pemilu dilaksanakan dua kali, karena pada pemilu pertama tanggal
23-24 Mei 2012 tidak satupun dari 13 kandidat yang mendapatkan suara
Mayoritas. Pada pemilu putaran kedua yang digelar tanggal 16-17 Juni, kandidat
Presiden Mesir dari Partai Kemerdekaan dan Keadilan (FJP), Mohammad Mursi,
meraih suara terbanyak. Berdasarkan hasil penghitungan suara sementara, calon
dari partai yang menjadi sayap politik Ikhwanul Muslimin ini meraih sedikitnya
51,73% suara, mengalahkan mantan perdana menteri Ahmed Shafiq. Sementara
Syafiq yang berasal dari mantan Perdana Menteri rezim Mubarak mendapat
48,27% suara.17
16
Zuhairi Misrawi, “Mesir dan Demokrasi Kaum Islamis,” Kompas, 8 Februari 2011, h.
7.
17
“Mohammed Mursi dari Ikhwanul Muslimin menang dalam pilpres Mesir,” BBC
Indonesia, 24 Juni 2012. Artikel diakses pada 30 Desember 2014 dari
http://www.bbc.co.uk/indonesia/dunia/2012/06/120624_Mesir_pilpres.shtml
51
Diantara, tiga belas nama kandidat yang mengkuti Pemilihan Umum
Presiden adalah:
1. Mohammad Mursi dari Ikhwanul Muslmin, yang didukung oleh
Freedom and Justice Party (Partai Ikhwanul Muslimin).
2. Ahmed Shafik, (Marsekal Angkatan Udara Mesir dan Mantan
Perdana Menteri Mesir, dianggap loyalis dan representasi dari
rezim Mubarak.
3. Hamdeen Sabahi, yang didukung dari Dignity party sekaligus
sebagai ketua partai.
4. Abdel Moneim Aboul Fotouh, Sekertaris Jendal Persatuan Dokter
Arab, didukung oleh Al-Nour Party, Al-Wasat Party, dan Egyptian
Current Paty.
5. Amr Moussa, sebagai Menteri Luar Negeri Mesir dengan jalur
Independen.
6. Mohammad Salim Al-Awa, Kepala Asosiasi Budaya dan Interaksi
Mesir, dengan jalur Independen.
7. Khaled Ali, seorang aktivis buruh dan pengacara dengan jalur
Independen.
8. Abu Al-Izz Al-Hariri, anggota dan didukung oleh Sociaist Popular
Alliance Party.
9. Hisham Bastawisy, Wakl Presiden Mahkamah Kasasi Mesir,
didukung oleh National Progressive Unionist Party dan kelompok
Tagammu.
52
10. Mahmoud Houssam, dengan jalur Independen.
11. Mohammad Fawzi Issa, didukung oleh Democratic Generation
Party.
12. Houssam Khairallah, didukung oleh Democratic Peace Party.
13. Abdulla Alashaal, didukung oleh Authenticity Party.18
18
“Egyptian Elections: Preliminary Results,” Jadaliyya Egypt Updates. Dalam Wikipedia
The
free
Encyclopedia,
artikel
diakses
pada
30
Desember
2014
dari
http://www.jadaliyya.com/pages/index/3331/egyptian-elections_preliminary-results_updated- dan
http://en.wikipedia.org/wiki/Elections_in_Egypt
53
Tabel III.B.2. Hasil Perolehan Suara Pemilu Presiden Mesir Putaran
Pertama 23–24 Mei dan Putaran Kedua 16–17 Juni 2012
NO
NAMA
PARTAI
KANDIDAT
PUTARAN
PUTARAN
PERTAMA
KEDUA
SUARA
1
%
SUARA
%
Mohammad
Freedom and
Mursi
Justice Party 5,764,952 24.78% 13,230,131 51.73%
(FJP)
2
Ahmed
Independen
5,505,327 23.66% 12,347,380 48.27%
Shafik
3
Hamdeen
Dignity
Sabahi
Party
Abdel
Independen
4,820,273 20.72%
4
Moneim
4,065,239 17.47%
Aboul
Fotouh
5
Amr Moussa
Independen
6
Mohammad
Independen
Salim
Al-
2,588,850 11.13%
235,374
1.01%
134,056
0.58%
40,090
0.17%
Awa
7
Khaled Ali
8
Abu
Independen
Al-Izz Socialist
54
Al-Hariri
Popular
Alliance
Party
9
Hisham
National
Bastawisy
Progressive
29,189
0.13%
23,992
0.10%
23,889
0.10%
22,036
0.09%
12,249
0.05%
Unionist
Party
10
Mahmoud
Independen
Houssam
11
Mohammad
Democratic
Fawzi Issa
Generation
Party
12
13
Houssam
Democratic
Khairallah
Peace Party
Abdulla
Authenticity
Alashaal
Party
Sumber: Egyptian Elections: Preliminary Results Dalam Wikipedia The
free Encyclopedia http://www.jadaliyya.com/pages/index/3331/egyptianelections_preliminary-results_updateddan
http://en.wiGLGL
kipedia.org/wiki/Elections_in_Egypt
55
Mursi memang menjadi presiden pertama di Mesir yang terpilih secara
demokatis,
namun
pasca
terpilihnya
Mursi
justru
menjadi
masa-masa
menegangkan yang menjadi awal krisis politik di Mesir. Pasalnya, rakyat terjun
ke alun-alun Tahreer berunjuk rasa menuntut Mursi turun. Massa mengatakan
kalau parlemen yang baru terbentuk terlalu didominasi Islam (Ikhwanul
Muslimin), rakyat menginginkan pemerintahan yang proporsional. Memang dari
hasil pemilu parlemen, kelompok Ikhwanul Muslimin mengambil dua per tiga
kursi di parlemen. Hasil akhir menunjukkan bahwa Ikhwanul Muslimin dan Partai
Keadilan (FJP) memenangkan 235 kursi, atau 47,18 persen.19 Belum lagi
dikatakan kalau Mursi akan membawa Mesir menjadi negara Islam, ini bertolak
belakang dengan Mesir yang bercorak sekuler. Di lain sisi, massa berteriak setelah
Mursi mengeluarkan dekritnya pada Kamis, 22 November 2012. Dekrit itu
menyatakan bahwa Mursi mempunyai otoritas tertinggi, final, yang tidak dapat
diganggu gugat oleh siapapun. Mursi sendiri berdalih, kalau dekrit yang
dikeluarkannya itu untuk melindungi revolusi, kehidupan bangsa, keamanan,
persatuan, dan kesatuan nasional. Mursi berjanji akan melepaskan segala
kekuasaannya itu, ketika undang-undang baru sudah disusun dan disahkan.
Namun yang terjadi malah Mursi dituding menumpuk kekuasaan, ingin menjadi
diktator baru yang sama seperti Mubarak hanya dengan cara dan wajah berbeda.20
19
“Ikhwanul Muslimin Dominasi Parlemen Baru Mesir,” Republika Online, 24 Juni
2012.
Artikel
diakses
pada
30
Desember
2014
dari
http://www.republika.co.id/berita/internasional/timur-tengah/12/01/23/ly890c-ikhwanul-muslimindominasi-parlemen-baru-Mesir
20
Trias Kuncahyono, Tahrir Square Jantung Revolusi Mesir (Jakarta: PT. Kompas Media
Nusantara, 2013), h. 23-228.
56
Para demonstran anti pemerintah yang menentang dekrit adalah kelompok
Islam moderat, kubu liberal, sayap golongan kiri, Kristen Koptik, gerakan pemuda
Tamarood,
juga koalisi oposisi dalam Front Penyelamat Nasioal (National
Salvation Front NSF) yang dipimpin oleh Mohamed El Baradei. Semua kelompok
tersebut adalah kelompok yang mempunyai kepentingan sendiri-sendiri di Mesir,
namun dengan keluarnya dekrit Mursi membuat mereka mempunyai common
enemy yaitu Mursi, Ikhwanul Muslimin, dan kelompok pendukung Mursi. Dekrit
Mursi didukung oleh kelompok agamis (Islam) dengan motor utama Ikhwanul
Muslimin yang sayap politiknya adalah Partai Keadilan dan kebebasan, yang
dituduhkan oposisi mendominasi parlemen.
Disamping itu, keadaan ekonomi Mesir yang sedang menurun membuat
rakyat semakin frustasi. Dengan melakukan demonstrasi tersebut massa juga
berharap agar ekonomi dapat pulih menjadi semakin baik. Akibat dari krisis
politik di Mesir, membuat keadaan ekonomi, keamanan, kesejahteraan pangan
secara sigifikan menurun. Terhitumg setelah tumbangnya Mubarak, angka
pengangguran mencapai 13,2%, pada bulan Mei PBB mengumumkan angka
kemiskinan dan keamanan pangan di Mesir melonjak tajam dalam 3 tahun
terakhir, angka kekurangan gizi juga melesat menjadi 31%. Demikian juga
aktivitas politik menjadi jalan di tempat, investasi asing terancam, dan
kesempatan untuk menerima bantuan dari International Monetary Fund (IMF)
57
menjadi sulit. Akibat krisis politik ini, banyak pihak yang khawatir Mesir akan
menyusul negara-negara berkembang lain yang tumbang.21
21
“Kudeta Mursi Hentikan Pemulihan Ekonomi Mesir,” Bisnis, 24 Juni 2012. Artikel
diakses pada 30 Desember 2014 dari http://kabar24.bisnis.com/read/20130704/19/148837/kudetaMursi-hentikan-pemulihan-ekonomi-Mesir
58
BAB IV
KUDETA PRESIDEN MURSI
Dalam bab ini sebenarnya melanjutkan bahasan bab sebelumnya dalam
menguak ketidakstabilan politik yang terjadi di Mesir, sebelumnya telah
dijelaskan sejarah miiter yang sejak lama mendominasi arena politik Mesir.
Pergantian pemimpin digawangi oleh miiter, menjelaskan bagaimana militer
berkuasa di antara pergantian kepala pemerintahan yang notabenenya adalah
orang militer. Pada bab ini dijelaskan alasan-alasan rakyat meneriakkan presiden
terpilih Muhammad Mursi untuk mundur, polemik yang berujung pada kudeta.
Selain itu juga menjelaskan mengapa demokrasi berumur pendek, padahal Mesir
baru saja bereksperimen melangkah pada negara yang menjalankan nilai
demokrasi. Dan menjelaskan manuver politik militer dalam pra atau pasca kudeta
Presiden Mursi.
Militer sebagai kelompok solid di Mesir sejak lama belum rela bila
pemerintahan yang baru dipegang oleh sipil, ditambah kelompok sipil yang
memenangi proses demokrasi adalah kalangan Islam yaitu Ikhwanul Muslimin,
Kelompok yang sejak lama ditekan keberadaannya. Pada bab ini memiliki
bahasan yang dibagi menjadi tiga: (1) krisis pemerintahan sipil di Mesir; (2)
politik militer dan oposisi di Mesir; (3) dan militer pasca kejatuhan Mursi.
59
A.
Krisis Pemerintah Sipil
Mursi, presiden Mesir yang terpilih secara demokratis pada pemilu dua
putaran 23-24 Mei dan 16-17 Juni 2012, pemilu yang berlangsung dua putaran
karena tidak satupun dari 13 kandidat yang mendapatkan suara mayoritas pada
putaran pertama. Muhammad Mursi kandidat dari Partai Kemerdekaan dan
Keadilan (FJP) sayap politik Ikhwanul Muslimin memperoleh 51,73% suara.
Sedang Ahmed Syafiq yang berasal dari mantan Perdana Menteri rezim Mubarak
mendapat 48,27% suara.1 Terpilihnya Mursi menjadi semangat baru bagi Mesir,
pada keadaan transisi pasca tumbangnya Mubarak membuat Mursi di elu-elukan
sebagai orang yang dapat menyatukan Mesir. Ditambah pertama kalinya Mesir
mempunyai presiden dengan cara yang demokratis dan bukan dari kalangan
militer yang sejak lama memimpin Mesir dengan cara yang otoriter.
Selang setahun kepemimpinanya, rakyat berbalik protes dengan alasanalasan yang berujung pada kudeta yang dilakukan militer. Rakyat meneriakkan
adanya dominasi kaum Ikhwanul Muslimin, rasa ketidaksukaan rakyat meningkat
pada Ikhwanul Muslimin. Mursi dianggap terlalu banyak memberikan posisi
penting pada Ikhwanul Muslimin di parlemen. Namun Mursi membantah hal ini,
dengan alasan sudah menawarkan kursi penting di pemerintahan pada kubu
oposisi namun ditolak. Begitupun para wakil dari kaum sekular, liberal, dan
Kristen Koptik yang mengundurkan diri dari majelis. Faktor monopoli kekuasaan
Ikhwanul Muslimin tersebut menjadi signifikan dan mengakibatkan Mursi
1
“Egyptian Elections: Preliminary Results,” Jadaliyya Egypt Updates. Dalam Wikipedia
The
free
Encyclopedia,
artikel
diakses
pada
30
Desember
2014
dari
http://www.jadaliyya.com/pages/index/3331/egyptian-elections_preliminary-results_updated- dan
http://en.wikipedia.org/wiki/Elections_in_Egypt
60
digulingkan.2 Mursi merasa percaya diri karena telah dipilih oleh rakyat.
sayangnya Mursi mengabaikan ada sebagian jumlah besar yang tidak memilihnya,
terlalu percaya diri kalau semua rakyat memilihnya 100%. Dengan kata lain dapat
dikatakan Mursi kurang berkompromi dengan kelompok-kelompok lain dalam hal
akomodasi politik.3
Dalam suatu pemerintahan yang baru terbentuk ada berbagai macam
kalangan plural yang ikut serta menjadi kekuatan politik, berbagai kalangan yang
plural itu tidak bisa dinafikan atau hanya menonjolkan satu golongan saja untuk
unggul dalam pemerintahan. Kesepakatan pembagian kekuasaan menjadi paling
penting untuk memelihara stabilitas pemerintahan yang terdiri dari berbagai
macam kekuatan politik. Otto Kirchheimer dalam tulisannya menjelaskan:
“Orang akan melihat semakin pentingnya kesepakatan dalam dunia
ini, menunjukkan bahwa kompromi-kompromi ini melibatkan sejumlah
penyesuaian terhadap kontradiksi yang berlangsung antara muatan sosial
dengan bentuk politik. Ketika distribusi yang mendasari kekuasaan de
facto dalam kelas-kelas, kelompok-kelompok, dan institusi-institusi
berbeda dari distribusi kekuasaan secara de jure, maka kesepakatan seperti
itu memungkinkan suatu masyarakat untuk mengubah struktur
kelembagaannya tanpa harus disertai konfrontasi keras, dan atau dominasi
satu kelompok atas kelompok lainnya.”4
Tidak hanya itu, rakyat di alun-alun Tahreer menuntut soal kesejahteraan
ekonomi. Selama kepemimpinan Mursi rakyat tidak merasa sejahtera karena
kondisi perekonomian tidak membaik mulai dari investasi yang jarang datang dan
harga pangan meroket. Ini berkaitan dengan pihak militer Mesir yang selama
2
Wawancara Pribadi dengan Zuhairi Misrawi, Ciputat 24 April 2015.
Wawancara Pribadi dengan Hamdan Basyar, Jakarta 11 Juni 2015.
4
Lembaga Penelitian, Pendidikan, dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES),
Transisi Menuju Demokrasi Rangkaian Kemungkinan dan Ketidakpastian (Jakarta: PT. Pustaka
LP3ES, 1993), h. 59.
3
61
berpuluh-puluh tahun mempunyai dwifungsi dalam menjaga kestabilan politik.
Kelompok militer di Mesir mempunyai taruhan besar setiap kali ada pemimpin
baru, karena 5-40 persen perekonomian di Mesir dikelola dan dimiliki militer.
Seperti bahan baku untuk industri, konstruksi, produksi, bahkan bisnis real-estate
juga dipegang militer. Buruknya ekonomi ini berkaitan juga dengan Mursi yang
mencopot Kepala Angkatan Bersenjata Hussein Tantawi yang diganti Abdul
Fattah Al Sisi. Mursi menganggap Tantawi yang notabenenya loyalis Mubarak
akan mengancam posisinya, justru ini adalah kesalahan Mursi karena secara tidak
langsung mengancam militer.
”...di sisi lain bisa dilihat banyak perusahaan di Mesir berkaitan
dengan militer, ketika militer ditekan mereka berusaha memainkan
perekonomian agar rakyat tidak sejahtera. Seperti memainkan harga
makanan, maka rakyat akan tidak sejahtera lalu memicu protes
pemberontakan. Memicu rakyat berpikir tidak sejahtera dipimpin oleh
sipil. Dengan kata lain ekonomi “dimainkan” oleh militer.”5
Dalam suatu pemerintahan, keadaan ekonomi yang baik dan sejahtera
adalah kritera prestasi yang sangat penting, dan pemerintah dianggap yang paling
bertanggung jawab atas kemajuan ekonomi itu. Ini sangat berkaitan dengan motif
militer yang nantinya akan mengkudeta pemerintahan, karena laju ekonomi yang
rendah akan memicu timbulnya kegaduhan pada masyarakat yang berpengaruh
pada negara secara langsung. Kemunduran ekonomi yang dikelola pemerintah
semakin menambah perasaan tidak hormat militer terhadap pemerintah,
memperkuat anggapan militer dapat berperan sebagai pembuat keputusan yang
5
Wawancara Pribadi dengan Hamdan Basyar, Jakarta 11 Juni 2015.
62
berhubungan dengan ekonomi untuk memperbaiki kesejahteraan masyarakat dan
negara.6
Militer sebagai birokrasi yang solid dan otonom, bisa membuat peraturanperaturan penting guna memacu pembangunan ekonomi, namun di sisi lain militer
terlebih dahulu harus menghadapi dan meyakinkan kelas-kelas sosial yang ada,
agar langkah yang diambil militer ini dianggap sah dan baik bagi negara. Sebelum
tampil, militer harus mencitrakan kehebatan dan kepedulian yang mencolok agar
semakin terlihat meyakinkan, dengan sebelumnya menawarkan konsep-konsep
yang baku atas jalan keluar menuju kemajuan negara.7
Keadaan negara yang kacau dengan meluasnya protes di beberapa daerah,
membuat kondisi pemerintahan semakin buruk dan membuat militer mulai
mengamati untuk ambil bagian dalam mengamankan negara. Ini adalah
momentum yang dimanfaatkan militer untuk ikut berpolitik di tengah kekisruhan.
Seperti yang dikatakan Amos Perlmutter, Secara garis besar, ada pra kondisi
untuk terjadinya kudeta. pertama, sindrom negara transisi. Di mana pola
tradisional sudah rusak sementara pola baru belum terbentuk. Dalam masyarakat
ini, kesatuan masyarakat belum ada, lembaga-lembaga negara dan kontrol sosial
belum beroperasi secara efektif, saluran komunikasi sangat minim dan tidak ada
lambang-lambang kesatuan masyarakat. Militer dianggap yang paling mampu
mengatasi sindrom ini karena militer bisa memakai simbol-simbolnya untuk
memerintah, dan mempersatukan masyarakat dengan sifat netral yang dimilikinya,
serta kesanggupannya menjalin komunikasi dengan rakyat bawah.
6
Eric A. Nordlinger, Militer Dalam Politik: Kudeta dan Pemerintahan, h. 29-130.
Louis Irving Horowitz, Revolusi, Militerisasi, dan Konsolidasi Pembangunan (Jakarta:
PT. Bina Aksara, 1985), h. 223.
7
63
Kedua, terjadinya jurang kelas sosial yang tajam akibat dari pertumbuhan
ekonomi dan perubahan sosial yang sangat cepat sehingga melahirkan jurang
antara kaya dengan miskin. Di mana secara kuantitatif kaum miskin jauh lebih
banyak daripada kaum kaya. Ketiga, terjadinya aksi sosial berdasarkan kelompokkelompok (baik yang sadar politik atau tidak) dan mobilisasi sumber-sumber
materil dalam negeri yang rendah.8
Selain itu Mursi juga dikritik karena tidak dapat menjaga kedamaian
pelanggaran demokrasi dan HAM. Pada setahun kepemimpinannya, Mursi dinilai
gagal memelihara kesetabilan dalam pelanggaran Hak Asasi Manusia, demokrasi
dan toleransi beragama. Mursi dinilai gagal menjaga keamanan terutama di
kepolisian, paramiliter dan dinas intelijen Mesir. Pada Januari 2013 terjadi
pembantaian yang memakan banyak korban jiwa di Port Said yang melibatkan
Kepolisian Mesir, selain itu serangan terhadap kaum minoritas seperti Gereja
Kristen Koptik pun meningka. Dalam hal ini Mursi dinilai tidak berusaha
menindak pelakunya dengan tegas.9
Soal keamanan negara, pemerintah sebagai penguasa dipercaya sebagai
pengelola keamanan yang baik. Bila banyaknya keresahan dan pertentangan
politik tidak dapat diselesaikan secara baik, akan membuat prestasi pemerintah
merosot dan dinilai tidak mementingkan rakyat sehigga menimbulkan huru-hara
kekerasan di kalangan masyarakat yang tidak merasa puas.10 Pemerintah juga
8
Eric A. Nordlinger, Militer Dalam Politik: Kudeta dan Pemerintahan (Jakarta: Rineka
Cipta, 1990), h. 141-182.
9
Komite Nasional Untuk Kemanusiaan Dan Demokrasi Mesir (KNKMD), Buku Putih
Tragedi Kemanusiaan Pasca Kudeta Mesir di Mesir (Jakarta: KNKMD, 2014), h. 181.
10
Alfred Stephan, Militer dan Demokratisasi, (Jakarta: PT. Pustaka Utama Grafiti, 1988),
h. 128-131.
64
dinilai tidak berupaya menjalankan tujuan yang mendasar, yaitu menjaga
ketertiban serta melindungi negara, dengan tidak dapatnya mengatasi kekacauan
dan menghentikan pemogokan-pemogokan atas huru-hara tersebut.
Pada saat pergolakan dan huru-hara terjadi, militer mulai menyadari kalau
pemerintah sangat bergantung pada militer, tanpa dukungan dan ikut campur
militer negara akan rubuh.11 Pada akhirnya, keadaan yang bergejolak itu
mengurangi keabsahan pemerintah. Kemudian banyak orang yang akan terlibat
dalam kancah politik melancarkan aksi-aksi ujuk rasa, menunjukkan suatu
penentangan yang kuat pada pemerintah, pemerintah dianggap tidak lagi
mempunyai hak moral untuk memerintah. Lalu semakin memperkuat dorongan
militer melakukan kudeta.
Pemerintahan Mesir di bawah kepemimpinan Mursi adalah masa transisi
Mesir dalam berdemokrasi, satu langkah ke depan memulai nilai-nilai yang
demokratis. Namun Mursi belum mempunyai referensi demokrasi internal yang
tepat untuk diaplikasikan, tentang bagaimana cara mengakomodasi kepentingan
yang beraneka ragam. Dalam demokasi pasti ada perbedaan pendapat, tetapi
demokrasi hanya akan berjalan bila ada modal sosial yaitu kesepakatan untuk
saling percaya sebagai suatu bangsa meskipun berbeda-beda pendapat dan
kepentingan, dan ini diikat dalam kegiatan-kegiatan sosial kelompok masyarakat
sipil. Hal ini lah yang belum berhasil dibangun dan dimiliki Mesir.
11
Eric A. Nordlinger, Militer Dalam Politik: Kudeta dan Pemerintahan, h. 134.
65
“Demokrasi yang terjadi di Mesir adalah pilihan terakhir yang
dipilih rakyat, daripada kembali ke zaman otoriter. Rakyat memilih Mursi
karena mulai menyadari nilai-nilai demokrasi itu penting, namun di sisi
lain rakyat menyadari bahwa stabilitas lebih penting. Stabilitas dan
keragaman terancam di kepemiminan Mursi (Ikhwanul Muslimin), ini
menjadi kemunduran demokrasi di Mesir. Pada awalnya rakyat
menganggap Ikhwanul Muslimin sanggup menjaga keragaman,
memulihkan ekonomi, dan menciptakan stabilitas politik. Namun pada
akhirnya gagal, ini yang membuat rakyat akhirnya kembali berpaling pada
militer sebagai kelompok yang mampu mewujudkan keinginan rakyat. “12
Rakyat kehilangan figur dan menganggap stabilitas itu lebih penting,
daripada menjalani demokrasi bersama pemimpin yang tidak sanggup menjaga
keragaman. Nilai demokrasi yang diterapkan di Mesir baiknya adalah demokrasi
yang merangkul seluruh kalangan. Dalam kegaduhan yang semakin parah
menambah momentum dan kekuatan militer menjadi harapan bagi rakyat atas
kesalahan-kesalahan yang telah dibuat pemerintah sipil. Dengan baik Eric A.
Nordlinger menjelaskan:
“...dari krisis pemerintahan yang terjadi akibat kegagalan
pemerintahan sipil, dan pada saat yang bersamaan kehilangan
keabsahannya di mata masyarakat. Militer mulai menuduh pemerintah
yang digulingkan gagal menjalankan tugasnya, tidak bertanggung jawab
atas kemerosotan ekonomi, tidak mampu mengendalikan perasaan kecewa
dan penentangan politik yang menimbulkan kekerasan dan kekacauan.”13
Kegagalan-kegagalan itu memperkuat rasa tidak hormat dan benci militer
serta rakyat pada pemerintah, kegagalan ini menggambarkan kemerosotan citra
pemerintah sipil di mata masyarakat baik yang interest pada politik maupun tidak.
Ditambah lagi dengan citra militer sebagai golongan nasionalis utama, karena
militer mengidentifikasi diri dengan negara, dan negara sendiri adalah militer.
12
Wawancara Pribadi dengan Zuhairi Misrawi, Ciputat 24 April 2015.
Eric A. Nordlinger, Militer Dalam Politik: Kudeta dan Pemerintahan (Jakarta: Rineka
Cipta, 1990), h. 124-125.
13
66
Jadi, yang dianggap baik oleh militer juga baik untuk negara, dan mencitrakan
kudeta sebagai kepentingan menjaga konstitusi negara.14
B.
Politik Militer dan Oposisi
Fenomena Arab Spring telah menyebabkan perubahan peta politik di
sebagian negara Arab. Efek domino dari Arab Spring juga telah membuat
Presiden Husni Mubarak yang berkuasa di Mesir puluhan tahun harus mundur
dari jabatannya, Mesir mulai berjalan ke arah demokrasi setelah mundurnya
Mubarak. Melihat perubahan ini ada harapan besar agar militer tidak terlibat lagi
dalam urusan politik, namun kenyataannya militer belum rela melepaskan
“kenikmatan” berpolitiknya. Proses demokrasi di Mesir tercederai dengan militer
mengkudeta Mohammad Mursi, presiden Mesir yang terpilih secara demokratis
lewat pemilu. Sejak lama militer menguasai politik Mesir dari tahun 1952, ketika
kalangan “Perwira Bebas” yang dipimpin Gamal Abdul Nasser mengambil alih
kekuasaan dari raja Farouq, ini bisa dijadikan awal keterlibatan militer dalam
dunia politik. Sejak saat itu penguasa Mesir selalu dari kalangan militer. Presiden
Muhammad Naguib, Presiden Gamal Abdul Nasser Presiden Anwar Sadat, dan
Presiden Husni Mubarak, adalah tokok-tokoh militer yang menjalankan
kekuasaan di Mesir sejak 1952 sampai 2011. Tidak hanya itu, kalangan elite
militer mempunyai kedudukan tinggi dan terhormat dalam strata kehidupan
14
Eric A. Nordlinger, Militer Dalam Politik: Kudeta dan Pemerintahan, h. 125.
67
politik di Mesir. Tercermin dengan adanya Dewan Agung Militer (Supreme
Council of the Armed Forces – SCAF).15
Pada jatuhnya Mubarak 11 Februari 2011 membuktikan eksistensi militer
tetap ada dan berpengaruh pada politik Mesir, karena kekuasaan berikutnya justru
berada di tanan SCAF. SCAF kemudian membuat amandemen terbatas pada
konstitusi Mesir, 30 Maret 2011. Namun karena adanya desakan nasional dan
internasional akan pentingnya demokrasi di Mesir, memaksa militer memberikan
peluang kepada elite sipil untuk dapat bersaing meraih kekuasaan lewat pemilu.
Militer mendapat penentangan keras dari rakyat bila masuk ke ranah politik
terlalu jauh, seperti zaman Mubarak yang melahirkan otoritarianisme.16 Dengan
adanya desakan itu maka dilangsungkan lah pertama kali pemilu parlemen, yang
dilanjutkan dengan pemilu presiden. Pada pemilu parlemen (Majlis as-Sa’ab)
yang menang adalah Patai Kebebasan dan Keadilan (FJP) yang berafiliasi pada
gerakan Ikhwanul Muslimin. Selain itu rakyat juga memilih Majelis Tinggi
(Majlis as-Syura) dalam parlemen Mesir. Dalam Majelis Tinggi (Majlis as-Syura)
juga menunjukan kemenangan dari aliansi FJP, dengan demikian kekuatan politik
Islam lah yang menguasai Mesir dalam pemilu parlemen.
Kemenangan partai Islam itu mengagetkan elite Mesir yang cenderung
liberal sekuler, begitupun militer yang menghawatirkan kemenangan tersebut.
Kemudian kemenangan kelompok Islam (Ikhwanul Muslimin) mendapatkan
tantangan dari SCAF dan kelompok liberal, dan di sisi lain militer tetap berusaha
mencari peluang untuk tetap tampil dalam dunia politik. Mereka merasa tidak
15
Hamdan Basyar, Pertarungan Dalam Berdemokrasi: Politik di Mesir, Turki dan Israel
(Jakarta: UI Press, 2015), h. 27.
16
Wawancara Pribadi dengan Zuhairi Misrawi, Ciputat 24 April 2015.
68
cukup sebagai penonton, militer masih ingin menentukan jalannya kehidupan
politik Mesir.
Di beberapa negara, pemilu digunakan sebagai terminal bagi pertarungan
elite. Artinya, setelah pemilu selesai mereka akan menjalankan pemerintahan
sampai pada pemilu berikutntya. Namun itu tidak terjadi karena oposisi bertarung
di tempat lain. Selang selesainya pemilu parlemen ada keputusan dari Mahkamah
Konstitusi Mesir, UU pemilu yang memperbolehkan partai politik dapat
mencalonkan anggotanya lewat jalur independen dianggap inkonstitusional. Maka
parlemen hasil pemilu dianggap tidak sah dan harus dibubarkan, dengan demikian
kemenangan yang digapai kelompok Ikhwanul Muslimin menjadi bias. Meskipun
parlemen dibubarkan, Mahkamah menyatakan keputusan yang telah dibuat oleh
parlemen sah dan harus dijalankan.17
Sebelum Presiden Muhamad Mursi resmi dilantk, SCAF mengeluarkan
dekrit pada 17 Juni 2012 yang memberikan kekuasaan legislatif bagi SCAF.
Alasannya adalah untuk mengisi kekuasaan legislatif akibat pembubaran parlemen
hasil pemilu. Dengan begitu SCAF dapat mengangkat Dewan Konstituante baru
sesuai dengan kepentingan mereka. Di sisi lain Mursi yang dilantik pada 30 Juni
2012 mengeluarkan dekrit 8 Juli 2012, untuk memulihkan anggota parlemen yang
telah dibekukan. Namun pada hari berikutnya Mahkamah Konstitusi menyatakan
bahwa tidak ada banding untuk keputusan pembubaran Majelis Rakyat, pada 17
Juli 2012 mereka harus sudah dibubarkan. Kemudian Presiden Mursi berusaha
menunjukan kekuatannya dengan mengeluarkan dekrit pada 12 Agustus 2012.
17
Hamdan Basyar, Pertarungan Dalam Berdemokrasi: Politik di Mesir, Turki dan Israel,
h. 26-31.
69
Dekrit itu berisi 4 pasal guna menjinakkan militer.18 Dengan begitu kekuasaan
yang ada di tangan SCAF sejak 17 Juni itu dibatalkan, Mursi juga mengganti
kepala SCAF Jendral Tantawi untuk membuat militer menjadi relatif dalam
kekuasannya. Tindak perlawanan ini justru berbalik menjadi senjata makan tuan
bagi Mursi. Hamdan Basyar secara jelas mengatakan:
”...adanya keterburu-buruan dari Mursi sendiri, Mursi buru-buru
berdemokrasi dan menghilangkan militer dalam politik. Padahal tidak
semudah itu untuk membubarkan organsasi yang telah lama solid.
Membuat militer bangkit dengan berujung pada kudeta.”19
Mursi merasa belum aman dengan nasib Dewan Konstituante yang tengah
menggodok konstitusi baru, karena lembaga itu masih dapat dibubarkan oleh
Mahkamah Konstitusi dan anggotanya dapat saja dikatakan inkonstitusional lagi.
Maka Mursi mengeluarkan dekrit 22 November 2012, dekrit yang berisi tujuh
pasal ini memberikan kekuasaan yang hampir tidak terbatas pada Mursi sendiri.
Dekrit itu ternyata memicu protes dari rakyat banyak, kelompok liberal pun yang
tadinya sudah agak diam kembali bersuara, dan lapangan Tahreer dipadati
demonstran menuntut pencabutan dekrit yang dianggap otoriter itu. Seminggu
setelah dekrit itu dikeluarkan, pada 30 November 2012 Dewan Konstituante
berhasil menyepakati draft konstitusi baru tanpa kehadiran kelompok liberal.
Kemudian Mursi memutuskan untuk mengadakan referendum terhadap draft
konstitusi tersebut pada 15 Desember, hasilnya rakyat menyetujui draft konstitusi
menjadi konstitusi baru Mesir. Rupanya referendum itu belum menyurutkan
demonstran yang berunjuk rasa di lapangan Tahreer, bahkan mereka menolak
18
Hamdan Basyar, Pertarungan Dalam Berdemokrasi: Politik di Mesir, Turki dan Israel,
19
Wawancara Pribadi dengan Zuhairi Misrawi, Ciputat 24 April 2015.
h. 32.
70
referendum. kaum pengunjuk rasa mengatakan konstitusi itu dinilai hanya
mencerminkan
kepentingan
kelompok Mursi
dan tidak dibuat
dengan
mempertimbangkan elemen politik lain di Mesir.20
Melihat gejolak yang semakin menjadi-jadi, Mursi mengambil langkah
untuk meredakan gejolak dengan mengadakan Dialog Nasional dengan tokohtokoh nasional pada 9 Desember 2012. Hasilnya Mursi mengeluarkan dekrit lagi
yang berisi pencabutan dekrit sebelumnya, setelah kurang lebih sepuluh jam
mereka bertukar pikiran. Walaupun dekrit sudah dicabut, protes terhadap Mursi
terus berlanjut. Memasuki tahun 2013 pihak oposisi terus menggoyang kekuasaan
Mursi. Kelompok oposisi dan Tamarood yaitu kelompok yang terdiri dari pemuda
tetap meramaikan lapangan Tahreer dengan tuntutan mundurnya Presiden Mursi.
Pada saat itu militer kembali mengambil momentum untuk mengambil alih
kekuasan di Mesir dengan menyamakan tujuannya dengan rakyat, karena militer
melihat rakyat semakin banyak berdemo menuntut Mursi. Dengan sangat baik
Eric A. Nordlinger menjelaskan motivasi dan cara-cara yang ditempuh militer
untuk mengkudeta, adalah:
“Tidak dipungkiri para perwira militer memperhatikan masa depan
karir poilitik mereka, ini menjadi kepentingan pribadi para perwira militer.
Keinginan mereka untuk mendapatkan promosi, cita-cita politik, dan
ketakutan dipecat juga menjadi faktor penting dalan kudeta. Namun
seringkali faktor ini terlihat tidak secara kasat mata, karena sebelumnya
militer coba menyelaraskan sejauh mana kepentingan pribadi mereka
sejalan dengan berbagai faktor pendukung lainnya, yang kemudian bisa
dipakai untuk menjalankan kudeta tanpa harus terlihat kalau kudeta ini
murni berdasarkan kepentingan sendiri.”21
20
The Guardian, “Empat Alasan Presiden Mesir Digulingkan,” artikel diakses pada 14
November 2013 dari http://www.tempo.co/read/news/2013/07/04/115493383/Empat-AlasanPresiden-Mesir-Digulingkan
21
Eric A. Nordlinger, Militer Dalam Politik: Kudeta dan Pemerintahan, h. 92.
71
Pihak militer akan sigap mengkudeta ketika rakyat meneriakkan
keburukan pemerintah, selain mosi tidak percaya rakyat dan segala kekacauan
yang terjadi selama protes, dijadikan faktor pendukung yang membuat
kepentingan pribadi militer merebut kekuasaan tidak kentara. Seolah-olah militer
bersama dengan kelompok orang-orang yang merasa dirugikan pemerintah,
padahal militer hanya memakai tuntutan kelompok itu agar tindakan kudeta
mereka dianggap keniscayaan dan pro terhadap rakyat.
Dari segala runtutan kegagalan yang pemerintah sipil lakukan, kalangan
militer mengangap Mursi tidak sanggup lagi menanggung kekacauan tersebut.
Maka pada tanggal 1 Juli 2013 pukul 16.30 (waktu Mesir), militer di bawah
kendali Abdel Fattah as-Sisi memberikan ultimatum pada Mursi untuk
menyelesaikan masalah politik Mesir dalam waktu 48 jam. Militer mengancam
akan mengambil langkah sendiri bila Mursi tidak menuruti tuntutan Militer.
Untuk menjawab desakan militer, Mursi yang merasa dipilih oleh rakyat dan
mempunyai legitimasi kekuasaan yang kuat menolak ultimatum militer.
Karena permintaan militer ini ditolak oleh Mursi, maka militer
melaksanakan ancamannya dengan pengambilalihan kekuasaan pada 3 Juli 2013
malam. Kudeta militer itu telah mengakhiri kekuasaan Mursi yang dipilih secara
demokratis. Al-Sisi menyebutlan roadmap (peta jalan) yang ditempuh melalui
empat hal, yaitu: (1). Penangguhan Konstitusi Baru yang telah di referendum pada
Desember 2012; (2). Percepatan pemilihan presiden. Ketua Mahkamah Konstitusi
ditunjuk menjadi presiden sementara sampai pemilu; (3). Pembentukan
pemerintahan koalisi nasional; (4). Pembentukan Komisi untuk mengamandemen
72
Konstitusi. Tidak jelas atas dasar kewenangan apa Jendral Al-Sisi membuat
pernyataan tersebut. Bila mengacu pada konstitusi yang berlaku saat itu maka
kalangan militer tidak boleh terlibat dalam kegiatan politik praktis. Mereka adalah
alat negara yang menjaga keamanan dan keselamatan negara, posisi mereka juga
di bawah Presiden yang menjadi Panglima Tertinggi Militer. Dalam kondisi
tertentu presiden tidak dapat menjalankan tugas, maka pasal 153 Konstitusi Mesir
menyebutkan, bahwa yang menjalankan tugas kepresidenan sementara adalah
Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (Majlis Sa’ab). Bila Dewan Perwakilan tidak
ada, maka tugas kepresidenan sementara dijalankan oleh Ketua Majlis Syuro
sampai ada pemilu presiden.22
Apapun namanya dan alasannya, kudeta adalah pengingkaran dari proses
demokratisasi yang tengah tumbuh di alam kebebasan Mesir pascarevolusi 11
Februari 2011. Eric A. Nordlinger secara jelas mengatakan:
“Secara sederhana, kudeta diartikan sebagai kegiatan-kegiatan
yang dilakukan militer untuk merebut kekuasaan, atau aksi politik untuk
menggantikan (mendominasi) suatu kelompok atau rejim yang menjadi
saingannya dengan rejim sendiri.”23
Militer telah merampas proses demokrasi dan menghilangkan kesempatan
Mesir untuk mengekspresikan kebebasan melalui demokrasi. Masyarakat Mesir
kembali ke titik nol dan mereka mulai berdemokrasi lagi dari awal. Semestinya di
negara yang mengikuti aturan berdemokrasi, semua kalangan menjadi pengawal
terselenggaranya demokratisasi. Samuel Huntington mengatakan bahwa militer
22
Hamdan Basyar, Pertarungan Dalam Berdemokrasi: Politik di Mesir, Turki dan Israel,
23
Eric A. Nordlinger, Militer Dalam Politik: Kudeta dan Pemerintahan, h. 150.
h. 2.
73
yang ikut serta dalam proses politik, adalah tentara yang mengalami kemunduran
ke arah pretorian.
“...kaum militer yang melakukan intervensi politik pada hakikatnya
menyalahi etika militer profesionalnya. Bahkan Huntington menganggap
intervensi militer dalam politik sebagai pembusukan politik (political
decay) dan dianggap sebagai kemunduran ke arah tentara pretorian.”
Tentara pretorian atau tentara jenis penakluk (warior) dalam hal ini
mewakili kelompok militer yang berkuasa, menjalankan pemerintahan, dan
menentukan keputusan-keputusan politik. Jadi, tentara akan menjadi tentara
pretorian apabila mereka mengancam atau menggunakan kekuatan dan kekuasaan
mereka untuk mendominasi politik lalu menguasai pemerintahan. Tentara
pretorian yang campur tangan dalam pemerintahan akan mendominasi eksekutif
sehingga terjadi pembusukan politik dan kekuasaan eksekutif menjadi tidak
efektif. Kemudian rezim pemeritahan akan menjadi rezim militer karena perwira
militer sendiri yang merebut kekuasaan.24
C.
Militer Pasca Kejatuhan Mursi
Setelah militer berhasil mengkudeta Presiden Mursi lewat ultimatum 48
jam, kini militer menyiapkan taktik selanjutnya guna menguasai Mesir secara
menyeluruh. Mulai dari pengubahan draft konstitusi 2012 agar menguntungkan
pihak militer, dan pengadaan pemilu presiden secepatnya. Setelah kudeta. Jendral
Al-Sisi membekukan konstutisi lama agar mempunyai alasan mengganti dengan
konstitusi baru yang relevan, lewat pemerintahan transisi yang dibuat militer di
24
Eric A. Nordlinger, Militer Dalam Politik: Kudeta dan Pemerintahan, h. 45.
74
bawah Adly Mansour (pengangkatan presiden sementara) dengan mengangkat 50
orang sebagai komite pembuat konstitusi dengan dilanjutkannya pemilu. Kini
militer melangsungkan pemilu presiden lebih dulu daripada pemilu parlemen.
Tercatat bahwa Sisi mendominasi pemilihan dengan perolehan suara 96.91%,
sedangkan saingannya Hamden Sabbahi hanya mendapat 3,09%.25 Militer tidak
mau kecolongan saat pemilu parlemen yang menang bukan dari golongan militer.
Tujuannya adalah pada saat militer terpilih menjadi presiden maka memiliki
kuasa untuk membuat konstitusi dan mendominasi jalannya pemerintahan.
Langkah yang diambil miiiter selanjutnya adalah membumihanguskan Ikhwanul
Muslimin. Kemudian barulah militer menyiapkan pemilu parlemen agar
keabsahannya semakin diakui.26
Setelah kudeta militer yang melengserkan Presiden Mursi, Ihkwanul
Muslimin menjadi organisasi tertuduh yang menyebabkan politik di Mesir tidak
stabil. Kalangan militer mendeskriditkan Ikhwanul Muslimin dengan perlahan
membuatnya bersalah. Bahkan militer meminta ulama-ulama moderat membantu
mengkebiri Ikhwanul Muslimin yang masih melakukan tindak perlawanan pasca
kudeta.
Mantan Mufti Mesir, Ali Gomaa mengungkapkan kekesalannya pada
kekacauan agama akibat perlawanan Ikhwanul Muslimin. Gomaa menyitir ayatayat suci tentang larangan dan pengkafiran terhadap orang lain karena tidak
senada dan memiliki perspektif berbeda. Gomaa mengharamkan Muslim Mesir
25
Al-Ahram Online, “Egypt's preliminary 2014 presidential election results “, artikel
diakses
pada
14
November
2013
dari
http://english.ahram.org.eg/NewsContent/1/64/102437/Egypt/Politics-/LIVE-Egypts--presidentialelection-results.aspx
26
Wawancara Pribadi dengan Hamdan Basyar, Jakarta 11 Juni 2015.
75
yang ikut dalam aksi Ikhwanul Muslimin untuk kembali mendudukan Mursi
sebagai pemimpin. Dia mengatakan Ikhwanul Muslimin dan menuduh semua lini
yang ikut Ikhwanul Muslimin pantas dibunuh, “Bahkan dengan darah sekalipun,
kita harus melawan ini,” katanya seperti yang disadur dari New York Times.27
Selain itu militer juga membuat tayangan-tayangan di televisi Mesir untuk
menyudutkan Ikhwanul Muslimin. Juru Bicara Militer Kolonel Aly membenarkan
adanya tayangan-tayangan yang menyudutkan Ikhwanul Muslimin yang didanai
oleh militer. Lewat tayangan pidato-pidato keagamaan dalam kajian budaya dan
agama. Militer mendekati kalangan ulama moderat untuk memberikan fatwa
tentang Ikhwanul Musimin, fatwa haram hukumnya bila rakyat melawan
pemerintah dan komandan keamanan negara yang dikomandoi militer. Di
sejumlah televisi Mesir ditemukan banyak tayangan mirip iklan yang dikemas
dalam bentuk yang agamis dengan menampilkan tokoh-tokoh ulama. Tayangan
tersebut menempatkan Departemen Militer sebagai sponsor. Misalnya ada
pernyataan dari Abdel Galil, bekas pejabat yang mengurusi persoalan agama dan
rumah ibadah ketika Husni Mubarak menjabat sebagai presiden. Dia menyatakan
bahwa Ikhwanul Muslimin adalah kelompok yang dibenci oleh masyarakat Mesir.
Peryataan tokoh agama senior ini mengimbangi desakan Ihwanul Muslimin
tentang perlawanan rakyat Mesir terhadap rezim sementara. Bagi Abdul Galil
27
Republika Online, “Ikhwanul Muslimin Dikebiri Ayat Suci”. Artikel diakses pada 14
November
2014
dari
http://www.republika.co.id/berita/internasional/timurtengah/13/08/26/ms50xz-ikhwanul-muslimin-dikebiri-ayat-suci
76
Ikhwanul Muslimin adalah kelompok pemaksa di dalam kultur keberagaman di
Mesir.28
Pertarungan pasca kudeta semakin menyudutkan posisi kalangan Islamis.
Tokoh-tokoh Ikhwanul Muslimin dipenjara dan dituduh menghasut rakyat untuk
melawan penguasa. Ikhwanul Muslimin pun tidak mendapat kursi satu pun dalam
Komite-50 bentukan Presiden sementara Adly Mansour. Jatah kaum Islam hanya
diperuntukan bagi kelompok moderat dan Institusi Al Azhar, dan perwakilan
agama-agama lain untuk kelompok Kristen dan minoritas. Selain itu, ada jatah
sepuluh kursi mewakili perempuan, kepolisian dan militer. Terbentuknya Komite50 itu memudahkan jalan untuk mengubah paksa Konstitusi Mesir hasil
referendum tahun 2012. Konstitusi itu dianggap kontroversi oleh kalangan liberal
dan mliter, karena hanya mengadopsi kepentingan Ikhwanul Muslimin.29
Draft Konstitusi baru Mesir selesai selama dua hari (30 November-1
Desember 2013) oleh Komite-50, dan mereka melakukan voting pasal demi pasal
terhadap rancangan konstitusi itu. Draft Konstitusi baru Mesir kini terdiri dari 247
pasal, lebih banyak daripada Konstitusi 1971 (211 pasal) maupun Konstitusi 2012
(236 pasal). Banyaknya draft dalam konstitusi baru menunjukkan adanya
kepentingan dari pihak yang diadopsi di dalamnya. Tampaknya militer Mesir
semakin kokoh dalam kekuasaan politik. Ada salah satu isi draft konstitusi baru
yang sangat menguntungkan militer, misalnya Menteri Pertahanan adalah
28
Republika Online, ” Militer Mesir Minta Ulama Moderat Keluarkan Fatwa Haramkan
IM”.
Artikel
diakses
pada
14
November
2014
dari
http://www.republika.co.id/berita/internasional/timur-tengah/13/08/26/ms50ln-militer-mesirminta-ulama-moderat-keluarkan-fatwa-haramkan-im
29
Hamdan Basyar, Pertarungan Dalam Berdemokrasi: Politik di Mesir, Turki dan Israel,
h. 37.
77
Panglima Militer dan harus mendapatkan persetujuan dari Dewan Agung Militer
(Supreme Council of the Armed Forces-SCAF). Artinya seorang presiden tidak
dapat mengangkat atau menurunkan Menteri Pertahanan tanpa campur tangan
SCAF. Tidak hanya itu anggaran belanja militer tidak dibahas oleh parlemen, ini
menunjukkan betapa kuatnya militer yang tidak dapat diawasi oleh parlemen.
Ditambah lagi adanya aturan yag menyatakan bahwa masyarakat sipil dapat
dihukum oleh pengadilan militer bila menyerang tempat militer.30
Konstitusi baru Mesir memberikan kekuasaan pada militer untuk berkuasa
sesuai kepentingannya. Hal itu dapat menjelaskan bahwa militer tidak mau
dikembalikan ke barak dan mengalami kemunduran menjadi tentara pretorian.
Karena pretorianisme mengacu pada situasi di mana tentara tampil sebagai aktor
politik utama dan dominan yang secara langsung menggunakan kekerasan atau
mengancam untuk merebut suatu kekuasaan.
30
Hamdan Basyar, Pertarungan Dalam Berdemokrasi: Politik di Mesir, Turki dan Israel,
h. 39-42.
78
BAB V
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Dalam setiap negara yang menjalankan demokrasi, kudeta dianggap sebagai
hal yang melanggar anilai-nilai yang ada pada demokrasi. Kudeta menjadi
tindakan yang ilegal karena secara paksa mengambil kekuasaan dari pemerintah
yang secara demokratis sudah terpilih lewat pemilu. Mursi mendapatkan serangan
kudeta dari militer karena militer tidak ingin dikembalikan ke barak, dan tidak
rela bila pemerintahan Mesir yang telah lama dipegang Militer harus jatuh ke
tangan pihak lain. Seperti telah di jelaskan pada Bab 3 sejarah militer menguasai
Mesir, dan SCAF sebagai organisasi militer yang sejak lama mendominasi
jalannya pemerintahan Mesir.
Militer mengkudeta di saat rakyat beserta pihak oposisi meneriakkan
kegagalan-kegagalan pemerintahan Mursi, militer memanfaatkan momentum itu
agar kelihatan samar dalam menyamakan persepsi serta menggiring rakyat dan
oposisi mengatakan kalau Mursi gagal menjalankan pemerintahan. Militer
memanfaatkan momentum di mana pada setahun kepemimpinan Mursi tidak
menunjukan kemajuan ekonomi yang signifikan. Serta menuduh Mursi hanyalah
perwakilan yang hanya mementingkan kelompok Ikhwanul Muslimin, menuduh
Mursi tidak dapat mendamai kan huru-hara yang terjadi di Mesir. Padahal
kerusuhan tersebut juga merupakan hasil militer memprovokasi ada saat
terjadinya ketidakstabilan di Mesir.
79
Lewat pemberian ultimatum 48 jam militer menurunkan Mursi, terlihat
dari rangkaian kudeta tersebut bahwa itu adalah rangkaian skenario militer untuk
mengkudeta. Dengan militer mengkudeta Mursi dan ikut andil dalam perpolitikan
Mesir, menandakan bahwa Militer mesir mengalami kemunduran ke arah tentara
pretorian. Tentara yang tidak profeisional menjalankan tuganya sebagai pengaman
negara, namun malah menjadi penentu kebijakan. Membuat demokrasi yang bari
saja dijajaki Mesir menjadi tidak sempurna dan mencederai demokrasi secara
sesungguhnya.
B. Saran
Pada
negara
yang
sedang
menjajaki
demokasi
seharusnya
ada
kemakluman dan dukungan dari segala elemen negara dalam rangka memajukan
negaranya, Mesir yang baru menjajaki demokrasi tentu saja belm sempurna dalam
mengatasi masalah dalam setahun kepemimpinan. Ada baiknya bila aktor-aktor
politik, kelompok oposisi dan militer tidak terburu-buru dalam menuduh
pemerintah tidak dapat memajukan negara.
Seharusnya bisa disadari dengan terlalu cepatnya aksi protes yang
berlangsung dan aksi penuntutan yang terjadi malah membuat negara tidak stabil,
dan menghambat Mesir dalam melakukan perbaikan di segala sektor. Militer pun
harusnya menyadari tugas dan wewenangnya dalam negara, bukan malam
bertindak diluar batas kewenangan dan haknya yang malah akhirnya memicu
ketidakstabilan di Mesir.
Bila militer mempunyai sikap dewasa dan patriotik yang sebenarnya, akan
membela dan memberi masukan pada pemerintah agar Mesir menjadi lebih baik
80
juga konsentrasi dalam perbaikan negara. Juga mengawal jalannya demokrasi
yang baru saja dijajaki Mesir.
81
DAFTAR PUSTAKA
Sumber Buku dan Jurnal
ABM, M. Agastya. Arab Spring: Badai Revolusi Timur Tengah Yang Penuh
Darah. Yogyakarta: IRGiSoD, 2013.
Basyar, Hamdan. Pertarungan Dalam Berdemokrasi: Politik di Mesir, Turki dan
Israel. Jakarta: UI Press, 2015.
Bogle, Emory C. The Modern Middle East: From Imperealism to Freedom 18001958. New Jersey: Prentice Hall, 1996.
Diamond, Larry dan Plattner, Marc F. Hubungan Sipil-Militer dan Konsolidasi
Demokrasi. Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2000.
Elly M. Setiadi dan Usman Kolip. Pengantar Sosiologi Pemahaman Fakta dan
Gejala Permasalahan Sosial: Teori, Aplikasi, dan Pemecahannya.
Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2011.
Fathurrahman, Pupuh. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: CV Pustaka
Setia, 2011.
Finer, S. F. The Man on Horseback, The Role of the Military in Politics.
Colorado: Westview Press, 2002.
Haramain, A. Malik. Gus Dur, militer, dan Politik. Yogyakarta: LKiS, 2004.
Heikal, Mohammad. Autum of Fury: The Assossonation of sadat. London: Corgi,
1984.
Horowitz, Louis Irving. Revolusi, Militerisasi, dan Konsolidasi Pembangunan.
Jakarta: PT. Bina Aksara, 1985.
Huntington, Samuel P. The Soldier and The State: The Theory and Politics Civil
Military Relations. Cambridge: Harvard University Press, 1957.
Huntington, Samuel P.. Tertib Politik dalam Masyarakat yang Sedang Berubah.
Jakarta: CV Rajawali, 1983.
Idrus, Muhammad. Metode Penelitian Ilmu Sosial: Penelitian Kualitatif dan
Kuantitatif. Jakarta: Erlangga, 2009.
Ikbal, Muhammad dan Soyomukti, Nuran. Ben Ali, Mubarak, Khadafy:
Pergolakan Politik jaziah Arab Abad 21. Bandung: MEDIUM, 2011.
Irving M. Zeitlin. Memahami Kembali Sosiologi. Yogyakarta: Gajah Mada
University Press, 1998.
J. Dwi Narwoko dan Bagong Suyanto. Sosiologi Teks Pengantar dan Terapan.
Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2005.
Kassem, Maye. Egyptian Politics: The Dynamics of Authoritarian Rule. United
States of America: Lynne Rienner Publisher Inc, 2004.
Komite Nasional Untuk Kemanusiaan Dan Demokrasi Mesir (KNKMD), Buku
Putih Tragedi Kemanusiaan Pasca Kudeta Mesir di Mesir. Jakarta:
KNKMD, 2014.
Kuncahyono, Trias. Tahrir Square Jantung Revolusi Mesir. Jakarta: PT. Kompas
Media Nusantara, 2013.
Kusnadi. Masalah Kerja Sama, Konflik dan Kinerja. Malang : Taroda, 2002.
ix
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Militer dan Demokratisasi di
Nigeria, Mesir, dan Afrika Selatan. Jakarta: P2P-LIPI, 2001.
Lembaga Penelitian, Pendidikan, dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES).
Transisi Menuju Demokrasi Rangkaian Kemungkinan dan
Ketidakpastian. Jakarta: PT. Pustaka LP3ES, 1993.
Luttwak, Edward. Kudeta: Praktek Penggulingan Kekuasaan. Yogyakarta:
Yayasan Bentang Budaya, 1999.
Nasikun. Sistem Sosial Indonesia. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2003.
Nordlinger, Eric A. Militer Dalam Politik: Kudeta dan Pemerintahan. Jakarta:
Rineka Cipta, 1990.
Perlmutter, Amos. Militer dan Politik. Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2000.
Riza Widyarsa, Mohammad, “Rezim Militer dan Otoriter di Mesir, Suriah dan
Libya.” Jurnal Al-Azhar Indonesia Seri Pranata Sosial I, no. 1
(September 2012): h. 273.
Robert lawang. Buku Materi Pokok Pengantar Sosiologi. Jakarta: Universitas
terbuka 1994.
Soehartono, Irawan. Metode Penelitian Sosial.Bandung: Remaja Rosdakarya,
2008.
Soerjono Soekanto. Kamus Sosiologi. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1993.
Stephan, Alfred. Militer dan Demokratisasi. Jakarta: PT. Pustaka Utama Grafiti,
1988.
Sumber Media Massa
“Mubarak Terlena Begitu Lama Peringatan Bagi Pemimpin Yang Lengah.”
Kompas, 7 Februari 2011.
Misrawi, Zuhairi. “Mesir dan Demokrasi Kaum Islamis.” Kompas, 8 Februari
2011.
Misrawi, Zuhairi. “Mesir di Persimpangan Jalan.” Kompas, 11 Februari 2011.
Munhanif, Ali. “Berakhirnya Revolusi Tanpa Ideologi.” GATRA 4 September
2013.
Sucipto, Hery. “Babak Baru Mesir-AS.” Republika,17 Februari 2012.
Sumber Website
Al-Ahram Online, “Egypt's preliminary 2014 presidential election results, “
artikel
diakses
pada
14
November
2013
dari
http://english.ahram.org.eg/NewsContent/1/64/102437/Egypt/Politics/LIVE-Egypts--presidential-election-results.aspx
BBC Indonesia, “Mohammed Mursi dari Ikhwanul Muslimin menang dalam
pilpres Mesir,” artikel diakses pada 30 Desember 2014 dari
http://www.bbc.co.uk/indonesia/dunia/2012/06/120624_Mesir_pilpres.sh
tml
BBC Indonesia, “Mohammed Mursi dari Ikhwanul Muslimin menang dalam
pilpres Mesir,” artikel diakses pada 30 Desember 2014 dari
http://www.bbc.co.uk/indonesia/dunia/2012/06/120624_Mesir_pilpres.s
html
x
Bisnis, “Kudeta Mursi Hentikan Pemulihan Ekonomi Mesir,” artikel diakses pada
30
Desember
2014
dari
http://kabar24.bisnis.com/read/20130704/19/148837/kudeta-Mursihentikan-pemulihan-ekonomi-Mesir
Ibrahim Ramdani, Muhammad. “Krisis Politik di Mesir.” artikel diakses pada 1
September 2013 dari http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,pdfids,50-id,46756-lang,id-c,esait,Obama+Bukan+Juru+Damai+Sejati+Konflik+Arab+Israel-.phpx;
Jadaliyya Egypt Updates, “Egyptian Elections: Preliminary Results,” artikel
diakses
pada
30
Desember
2014
dari
http://www.jadaliyya.com/pages/index/3331/egyptianelections_preliminary-results_updateddan
http://en.wikipedia.org/wiki/Elections_in_Egypt
Jadaliyya Egypt Updates, “Egyptian Elections: Preliminary Results,” artikel
diakses
pada
30
Desember
2014
dari
http://www.jadaliyya.com/pages/index/3331/egyptianelections_preliminary-results_updatedRepublika Online, “Ikhwanul Muslimin Dikebiri Ayat Suci,” artikel diakses pada
14
November
2014
dari
http://www.republika.co.id/berita/internasional/timurtengah/13/08/26/ms50xz-ikhwanul-muslimin-dikebiri-ayat-suci
Republika Online, “Ikhwanul Muslimin Dominasi Parlemen Baru Mesir,” artikel
diakses
pada
30
Desember
2014
dari
http://www.republika.co.id/berita/internasional/timurtengah/12/01/23/ly890c-ikhwanul-muslimin-dominasi-parlemen-baruMesir
Republika Online, ” Militer Mesir Minta Ulama Moderat Keluarkan Fatwa
Haramkan IM,” artikel diakses pada 14 November 2014 dari
http://www.republika.co.id/berita/internasional/timurtengah/13/08/26/ms50ln-militer-mesir-minta-ulama-moderat-keluarkanfatwa-haramkan-im
The Guardian, “Empat Alasan Presiden Mesir Digulingkan,” artikel diakses pada
14
November
2013
dari
http://www.tempo.co/read/news/2013/07/04/115493383/Empat-AlasanPresiden-Mesir-Digulingkan
Sumber Wawancara
Wawancara Pribadi dengan Hamdan Basyar. Jakarta, 11 Juni 2015.
Wawancara Pribadi dengan Zuhairi Misrawi. Ciputat, 24 April 2015.
xi
MILITER DAN POLITIK: STUDI KASUS KUDETA MILITER
PADA PRESIDEN MOHAMMAD MURSI DI MESIR TAHUN
2013
Pertanyaan penelitian : 1. Mengapa militer mengkudeta Presiden Mursi?
2. Bagaimana proses militer dalam mengkudeta Presiden
Mursi?
Daftar pertanyaan wawancara:
Hamdan Basyar
1. Di MENA (Middle East and North Africa) segala perkembangan politik,
kekuasaan dan gaya pemerintahan diwarnai oleh tiga faktor yaitu;
kekuatan basis lokal tradisional (kabilah), doktrin agama dan tentara
(militer). Bagaimana menurut anda dan sejauh mana faktor-faktor tersebut
berpengaruh? Atau kah ada faktor lainnya? Jelaskan ! Manakah faktorfaktor yang paling signifikan? Sejauh mana itu berpengaruh dan apa
dampaknya bagi pemerintahan di Mesir?
Jawab: Saya kira segala faktor yang anda sebutkan itu masih ada. Setelah
kudeta tahun 1952, militer menjadi lebih menonjol yang tadinya tentara
berada di bawah kekuasaan pemerintah. Semenjak kejadian itu tampuk
kekuasaan Mesir selalu dipegang oleh militer. Ada pertanyaan mengapa
Mesir dikatakan sebagai negara militer padahal pemimpinnya sudah
pensiun? Karena pergantian kekuasaan itu beralih dari militer ke militer.
Jadi memang di Mesir kekuatan militer lah yang sekarang menonjol.
2. Dalam sejarahnya, Mesir selalu dipimpin dari kalangan militer. Apakah
dengan begitu membuat model kekuasaan Mesir harus selalu diisi oleh
kalangan militer? Sebagai contoh Mursi dikudeta oleh militer dari
jabatannya karena Mursi bukan dari militer. Jelaskan !
Jawab: Sebenarnya tidak selalu harus dari kalangan militer. Bila kita
berkaca dari negara demokrasi versi barat, pemerintahan yang
penguasaannya diduduki oleh militer adalah bentuk yang tidak sehat
dalam demorasi. Dalam pemerintahan militer, militer menafikan adanya
perbedaan karena militer mengguakan sistem komando. Jadi bila ada yang
tidak sejalan dan tidak sesuai dengan perintah maka akan dilibas. Padahal
nilai nilai demokrasi itu adalah adanya perbedaan dan pluralitas sangat
dihargai. Jadi bila ingin melihat peran militer dari sistem demokrasi
seharusnya militer dipisahkan dari praktik politik.
3. Pada saat Mursi memenangi pemilu, adalah goresan sejarah awal bagi
Mesir untuk menuju pemerintahan yang bercorak demokratis. Namun
mengapa demokrasi di Mesir berumur pendek? Faktor apa saja yang
menyebabkan? Mana faktor yang paling signifikan?
Jawab: Pertama saya melihat adanya keterburu buruan dari Mursi sendiri,
Mursi buru buru berdemokasi dan menghilangkan militer dalam politik.
Padahal tidak semudah itu untuk membubarkan organsasi yang telah lama
solid. Membuat militer bangkit dengan berujung pada kudeta. Kedua,
Mursi merasa percaya diri karena telah dipilih oleh rakyat. sayangnya
Mursi mengabaikan ada sebagian jumlah besar yang tidak memiih Mursi,
terlalu percaya diri kalau semua rakyat memilih dia 100%. Dalam kata lain
bisa dikatakan Mursi kurang berkompromi dengan kelompok kelompok
lain dalam hal akomodasi politik.
4. Menurut anda faktor faktor apa saja kah yang menyebabkan Mursi
diprotes rakyat hingga berakhir dengan kudeta? Mana yang paling
signifikan?
Jawab: Selama kepemimpinannya rakyat tidak merasa sejahtera karena
kondisi perekonomian tidak membaik. Namun di sisi lain bisa dilihat
banyak perusahaan di Mesir itu berkaitan dengan militer, nah ketika
militer ditekan mereka berusaha memainkan agar rakyat tidak sejahtera.
Seperti memainkan harga makanan, maka rakyat akan tidak sejahtera lalu
memicu protes pemberontakan. Memicu rakyat berpikir tidak sejahtera
dipimpin oleh militer. Dengan kata lain ekonomi “dimainkan” oleh militer.
5. Pasca Mubarak tumbang dan terplihnya Mursi, adalah masa-masa transisi
bagi Mesir, apakah ketidaksiapan pemerintah Mesir dalam fase transisi
dimanfaatkan militer untuk berpolitik?
Jawab: Ya, militer dengan organisasi SCAF yang cukup mempunyai andil
dalam politik. Selain itu juga Ikhwanul Muslimin yang mengakar sejak
lama namun dianggap terlarang oleh negara. Namun militer lebih kuat dan
diakui secara formal sebagai kelompok yang solid. Pada saat tumbangnya
Mubarak, rakyat meminta demokratisasi dengan diadakannya pemilu.
Segera kemudian pemilu parlemen, namun militer tidak menduga ketika
keran demokrasi dibuka kelompok islam lah (IM) yang mencuat ke
permukaan.
6. Bagaimana kah anda melihat kasus kudeta ini, setuju atau tidak kah anda
bila dikatakan kudeta ini atas mandat rakyat? jelaskan?
Jawab: Apapun bahasanya, ini tetaplah kudeta. Karena dlihat dalam sistem
demokrasi kudeta itu menyalahi aturan. Dalam demokrasi pergantian
kekuasaan melewati proses pemilu. Di sini militer hanya berdalih
mengkudeta untuk kepentingan rakyat. padahal pada akhir cerita militer
mengambil tampuk kekuasaan dari pemerintahan yang telah dipilih. Atau
dengan kata lain ingin berkuasa lagi.
7. Dapatkah anda jelaskan bagaimana militer menyamakan persepsi dengan
rakyat sehingga kudeta yang dilakukan adalah untuk kebaikan rakyat?
Momentum apa yang digunakan? Dan motivasi apa yang digunakan
militer dalam kudeta ini?
Jawab: Sebelum adanya kudeta (ancaman 48 jam) Sisi melakukan
pertemuan dengan Mursi dengan menyuruhnya mundur, namun Mursi
menolak karena merasa dipilih oleh rakyat. setelah itu Sisi melakukan
pertemuan dengan kelompok lain (Al Azhar, Kristen Koptik, Golongan
Liberal) untuk melihat persepsi mereka terhadap pemerintah. Dalam
pertemuan ini Sisi melihat keuntungan kepentingan bersama tidak
memihak pada Mursi (kontra). Dengan begitu Sisi melihat hitungan politik
memihak pada milter bila akan melakukan kudeta.
8. Dapatkah anda jelaskan langkah langkah taktis militer dalam mengkudeta
Mursi sedari awal?
Jawab: Setelah kudeta pengambil alihan 48 jam. Sisi membekukan
konstutisi lama agar ada alasan untuk mengganti dengan konstitusi baru
yang relevan, lewat pemerintahan transisi yang dibuat militer di bawah
Adly Mansour (pengangkatan presiden sementara). Mengangkat 50 orang
sebagai komite pembuat konstitusi. Selanjutnya melakukan pemilu, namun
berbeda seperti dahulu saat Mubarok turun. Kini militer melangsungkan
pemilu presiden lebih dulu daripada pemilu parlemen. Militer tidak mau
kecolongan saat pemilu parlemen yang menang bukan dari golongan
militer. Karena pada saat militer telah terpilih menjadi presiden maka
memiliki kuasa untuk membuat konstitusi dan mendominasi jalannya
pemerintahan. Selanjutnya miiiter membumihanguskan Ikhwanul
Muslimin. Kemudian baru lah militer menyiapkan pemilu parlemen agar
keabsahannya semakin diakui secara tanda kutip.
9. Menurut anda apakah intervensi militer ke dalam politik dapat dianggap
sebagai kemunduran ke arah tentara pretorian? Termasuk kepada tipe
pretorian yang mana kah militer Mesir ini?
Jawab: Jelas ini adalah kemunduran. Tapi bila melihat pada sejarahnya
memang militer sudah kuat dan bercokol lama. Ditandai dengan SCAF
yang ikut campur. Dilihat dari demokrasi tentu ini adalah kemunduran.
MILITER DAN POLITIK: STUDI KASUS KUDETA MILITER
PADA PRESIDEN MOHAMMAD MURSI DI MESIR TAHUN
2013
Pertanyaan penelitian : 1. Mengapa militer mengkudeta Presiden Mursi?
2. Bagaimana proses militer dalam mengkudeta Presiden
Mursi?
Daftar pertanyaan wawancara:
Zuhairi Misrawi
1. Di MENA (Middle East and North Africa) segala perkembangan politik,
kekuasaan dan gaya pemerintahan diwarnai oleh tiga faktor yaitu;
kekuatan basis lokal tradisional (kabilah), doktrin agama dan tentara
(militer). Bagaimana menurut anda dan sejauh mana faktor-faktor tersebut
berpengaruh? Atau kah ada faktor lainnya? Jelaskan ! Manakah faktorfaktor yang paling signifikan? Sejauh mana itu berpengaruh dan apa
dampaknya bagi pemerintahan di Mesir?
Jawab: Secara umum, itu memang menjadi pilar pilar konstelasi politik di
Timur Tengah. Tetapi di setiap negara mempunyai ke khasan nya sendiri,
misalnya di Mesir militer menjadi faktor penentu dalam politik karena
Mesir mempunyai sejarah panjang tentang bagaimana militer berkuasa. Di
samping itu militer menguasai kantong kantong ekonomi sekitar 70%, dan
sebagiannya lagi dikuasai oleh Ikhwanul Muslimin. Jadi untuk kasus
Mesir harus diakui bahwa militer mempunyai pengaruh yang signifikan
dalam stabilitas politik.
2. Dalam sejarahnya, Mesir selalu dipimpin dari kalangan militer. Apakah
dengan begitu membuat model kekuasaan Mesir harus selalu diisi oleh
kalangan militer? Sebagai contoh Mursi dikudeta oleh militer dari
jabatannya karena Mursi bukan dari militer. Jelaskan !
Jawab: Sebenarnya bukan hanya persoalan apakah pemimpin yang ada di
Mesir ini harus dari kalangan militer atau tidak, tetapi lebih tentang siapa
yang mampu menjaga stabilitas kekuasaan politik dan nasionalisme. Mesir
mepunyai banyak keragaman paham agama, politik dan keragaman budaya
yang terbentuk dari sejarah panjang Mesir sendiri, juga terbentuk dari
banyaknya budaya negara tetangga. Pada saat dibukanya keran demokrasi
di Mesir, memang masyarakat (sipil) yang mempunyai peluang terutama
dari kalangan Ikhwanul Muslimin (terbukti dari kemenangannya pada
pemilu). Namun sayangnya Ikhwanul Muslimin sebagai mayoritas tidak
menjamin keberagaman di sana. Lalu militer selain mempunyai senjata
untuk mejaga stabilitas juga dipercaya menjadi golongan yang paling
nasionalis. Jadi masyarakat percaya militer bisa menjaga nilai nilai yang
plural di Mesir, namun juga tidak melulu membuat militer menjadi
golongan yang dikedepankan jika ada golongan lain yang sanggup
menjaga keberagaman. Bila ada golongan lain yang sanggup, maka militer
akan kembali ke barak untuk menjaga pertahanan.
3. Pada saat transisi tumbangnya Mubarak, pemerintahan dipegang oleh
Jendral Tantawi, apakah ini indikasi kalau militer ingin kembali
mengonsolidasikan kekuasaan untuk menguasai Mesir pasca Mubarok?
Jawab: Bukan, itu adalah pilihan rakyat. Rakyat lebih percaya pada militer
untuk menjaga transisi kekuasaan. karena tidak ada institusi yang lebih
kuat dari militer, namun juga militer mendapat penentangan keras dari
rakyat bila militer masuk ke ranah politik terlalu jauh layaknya zaman
Mubarok yang melahirkan otoritarianisme. Di sisi lain Ikhwanul Muslimin
membuat koalisi dengan militer dengan harapan mendapat dukungan.
4. Pada saat Mursi memenangi pemilu, adalah goresan sejarah awal bagi
Mesir untuk menuju pemerintahan yang bercorak demokratis. Namun
mengapa demokrasi di Mesir berumur pendek? Faktor apa saja yang
menyebabkan? Mana faktor yang paling signifikan?
Jawab: Sebenarnya demokrasi yang terjadi di Mesir adalah pilihan
terakhir, dibanding kembali ke zaman otoriter. Rakyat memilih Mursi
karena mulai menyadari nilai nilai demokrasi itu penting, namun di sisi
lain stabilitas juga penting. Stabilitas dan keragaman terancam di
kepemiminan Mursi (Ikhwanul Muslimin), sebenarnya ini juga
kemunduran demokrasi di Mesir. Pada awalnya rakyat menganggap
Ikhwanul Muslimin sanggup menjaga keragaman, memulihkan eknomi,
dan menciptakan stabilitas politik. Namun pada akhirnya gagal, ini yang
membuat rakyat akirnya kembali berpaling kepada militer sebagai
kelompok yang mampu mewujudkan keinginan rakyat. Pada intinya
adalah rakyat kehilangan figur dan menganggap stabilitas itu lebih
penting, ketimbang menjalani demokrasi bersama pemimpin yang tidak
sanggup menjaga keragaman. Nilai demokrasi yang diterapkan di Mesir
baiknya adalah demokrasi yang merangkul seluruh kalangan.
5. Menurut anda apa saja faktor-faktor dan kebijakan yang dibuat Mursi
sehingga membuat Mursi terguling dan terlihat minus di mata rakyat?
Mana yang paling signifikan, jelaskan !
Jawab: Beberapa faktor signifikan yang mengakibatkan Mursi digulingkan
adalah monopoli kekuasaan oleh Ikhwanul Muslimin. Mursi (Ikhwanul
Muslimin) memonopoli dewan konstituante yang hampir 75 % dikuasai
Ikhwanul Muslimin, dilain hal juga Mursi mengganti 17 gubernur yang
diganti dari kalangan Ikhwanul Muslimin. Dari monopoli kekuasaan ini
tercermin adanya Ikhwanisasi di Mesir, yang membuat Mursi kehilangan
pengaruhnya. Ini juga dianggap sebagai penentangan terhadap amanat
revolusi yaitu kebebasan, keadilan dan hidup mulia. Ini yang membuat
rakyat berbalik memprotes Mursi. Seandainya Ikhwanul Muslimin mau
referendum dan mau pemilu ulang kemungkinan akan membuat Mursi
mendapatkan wibawa dan keabsahannya di mata masyarakat. Sayangnya
mereka ngotot, dengan melakuan pilihan buruk tidak mau mengikuti
mekanisme demokrasi. Sehingga terjadilah demonstrasi besar besaran
yang di galangi gerakan Tamarood beserta oposisi, kemudian demonstrasi
ini didukung oleh militer. Secara tidak langsung ini adalah kudeta militer
atas mandat rakyat. Seandainya Mursi mau berkomromi tidak akan terjadi
demonstrasi, Mursi (dan Ikhwanul Muslimin) menganggap pemenang
dapat mengambil segalanya (the winner take all).
6. Menurut anda bagaimana pola hubungan antara pemerintahan Mursi
dengan militer dan oposisi? Jelaskan ! Bisa kah anda jelaskan afiliasiafiliasi kubu politik yang ada di Mesir. Di mana posisi militer, oposisi,
kelompok pendukung dan kontra Mursi. Dalam peristiwa kudeta ini.
Jelaskan !
Jawab: Pola hubungan pemerintahan antara Mursi dengan militer berjalan
seperti biasa, militer menjadi dewan penasehat yang menjelaskan tentang
keadaaan kondisi sosial politik negara. Namun Mursi bersikap keras
kepala dengan menganggap sebagai presiden yang terpilih secara sah dan
kurang begitu menanggapi teriakan teriakan rakyat dan oposisi. Ini yang
membuat protes meledak besar. Faktor ini juga yang membuat Mursi
kehilangan wibawanya.
7. Menurut anda apakah demonstrasi yang berujung kudeta terhadap Mursi
masih bagian dari keberlanjutan protes pada Mubarok yang belum usai dan
bagian dari efek domino Arab Spring?
Jawab: Iya, memang gelombang Arab Spring itu berawal dari Tunnisia dan
menjadi semangat menjalar ke negara negara tetangga.
8. Menurut anda kapankah militer mencoba masuk ke dalam politik yang
berujung pada kudeta terhadap Mursi?
Jawab: Dalam hal ini, rakyat yang meminta militer untung mengambil
langkah. Selain itu juga militer melihat bahwa adanya kesamaan cita cita
dengan rakyat, maka waktu itu diadakan pertemuan antara militer dengan
kelompok kelompok oposisi. Militer menganggap rakyat sukar
menggulingkan penguasa tanpa militer, dan rakyat melihat militer menjadi
partner yang tepat untuk menjalankan cita cita bersama rakyat.
Foto Dokumentasi Wawancara Zuhairi Misrawi
Foto Dokumentasi Wawancara Hamdan Basyar
Download