daftar isi - pnpm pisew

advertisement
1
TEKNIK PENDAMPINGAN
(diadopsi dari "Kepemimpinan Situasional" tulisan Kenneth H. Blanchard)
A. PENDAMPINGAN SITUASIONAL DAN GAYA KOMUNIKASI
1. Pendampingan Dan Gaya Pendampingan
Hampir
setiap
saat
anda
mencoba
Gaya pendampingan
mempengaruhi perilaku orang lain, yang anda
adalah pola perilaku
tampilkan dalam suatu proses mempengaruhi. Jika
yang anda tampilkan
anda berminat mengembangkan kemampuan
ketika
anda
anggota anda dan membangun suatu iklim kerja
yang mampu membangkitkan semangat mereka
mencoba
mencapai tingkat produktivitas tinggi dalam jangkamempengaruhi
pendek maupun jangka-panjang, anda perlu
perilaku orang lain.
meninjaunya kembali dalam gaya pendampingan
anda sendiri. Gaya pendampingan adalah pola perilaku yang anda tampilkan
ketika anda mencoba mempengaruhi perilaku orang lain sebagaimana mereka
sendiri menganggapnya demikian. Jika pandangan anda terhadap perilaku
anda sendiri sudah demikian menarik dan penting. Itu belum seberapa jika
dibandingkan dengan pandangan mereka yang anda coba pengaruhi tersebut.
Selama ini, jika orang-orang berbicara soal pendampingan, mereka
menandainya dalam dua kutub yang saling bertentangan, yakni;
pendampingan otokratis (bersifat serba mengarahkan dan memerintah) di satu
sisi, dan pendampingan demokratis (bersifat mendorong dan mendukung).
Pendampingan otokratis didasarkan pada kedudukan pemilikan kekuasan dan
kewenangan, sementara pendampingan demokratis lebih dikaitkan dengan
kekuatan pribadi dan peran-serta anggota yang dipimpin dalam proses
pemecahan masalah dan pembuatan keputusan. Tenennbaum dan Schmidt,
2
dalam sebuah tulisan klasik mereka di Harvard Business Review
menyatakan, kedua sifat pimpinan ini - otokratis dan demokratis - adalah dua
gaya pendampingan dalam suatu garis kontinum dari pemimpin yang sangat
otokratis di salah satu ujungnya ke pemimpinan yang sangat demokratis pada
ujung yang lain.
2. Pendampingan Situasional
Hasil-hasil penelitian ternyata kemudian menunjukan, gaya pendampingan
cenderung sangat bervariasi dari satu situasi ke situasi lainnya. Kalau kita
menganggapnya dalam satu garis kontinum sebagai dua gaya pendampingan
ini atau itu sangat tidak tepat, meskipun perilaku banyak pendamping terutama
ditandai oleh kegiatan-kegiatan mereka memberikan pengarahan atau perintah
kepada masyarakatnya untuk menyelesaikan tugas, namun cukup banyak juga
pendamping yang lebih memusatkan perhatian mereka pada penciptaan
suasana yang mendukung terjalinnya hubungan baik antara dirinya dengan
para masyarakatnya. Pada situasi lainnya, perilaku mengarahkan dan
memerintahkan serta perilaku menumbuhkan dukungan tersebut, ternyata bisa
terjadi bersamaan dan tergabung dalam berbagai variasinya. Jadi, ke dua jenis
perilaku tersebut memang bukan sifat gaya pendampingan ini atau itu.
Jelasnya, pola-pola perilaku pendamping tersebut dapat digambarkan sebagai
berikut:
Tinggi
Mengarahkan Rendah
Mendorong Tinggi
G-3
Mengarahkan Tinggi
Mendorong Tinggi
G-2
Mengarahkan Rendah
Mendorong Tinggi
G-4
Mengarahkan Tinggi
Mendorong Tinggi
G-1
Perilaku
Mendorong
Rendah
Rendah
Perilaku
Tinggi
Mengarahkan
Terdapat empat jenis gaya pendampingan yang terlihat pada gambar
diatas. Masing-masing gaya menampilkan suatu gabungan perilaku
mengarahkan dan perilaku menumbuhkan dukungan yang berbeda-beda satu
sama lain. Berbagai penggabungan tersebut, masing - masing dapat
dibedakan satu sama lain atas dasar tiga matra pokok, yakni :
1. Besarnya pengarahan atau perintah yang diperlukan dan diberlakukan sang
pendamping.
2. Besarnya dukungan dan dorongan semangat yang diperlukan dan diberikan
sang pendamping.
3
3. Besarnya keterlibatan
pembuatan keputusan.
masyarakat
(anggota,
yang
dipimpin)
dalam
3. Perilaku Pendamping yang Mengarahkan dan yang Mendorong
Perilaku Mengarahkan (Directive Behaviour) diartikan sebagai: tindakan
yang dilakukan oleh seorang pendamping dalam bentuk komunikasi satu arah :
menjelaskan peran masyarakat dan memerintahkan kepada masyarakat apa
yang mesti mereka kerjakan, di mana mereka harus mengerjakannya, kapan,
dan bagaimana caranya serta melakukan pengawasan ketat terhadap
pelaksanaan dan hasil kerja masyarakat tersebut.
Perilaku Mendorong (Supportive Behaviour) diartikan sebagai : tindakan
yang dilakukan seorang pendamping dalam bentuk komunikasi dua arah, lebih
banyak mendengarkan saran dan pendapat masyarakat, memberikan banyak
dukungan dan dorongan semangat, memperlancar dan mempermudah
terjadinya hubungan antar setiap orang, dan melibatkan masyarakat dalam
pengambilan keputusan.
Seperti terlihat pada gambar diatas tadi, Gaya-1 (G1) adalah gaya
pendampingan yang sangat banyak (tinggi) perilaku mengarahkan atau
memberi perintah, dan sangat sedikit (rendah) perilaku yang menumbuhkan
dukungan dan dorongan semangat. Pendamping bergaya seperti ini
memberikan penjelasan sangat terinci (tentang tujuan yang harus dicapai dan
peran yang harus dijalankan) kepada masyarakatnya dan secara ketat
mengawasi pelaksanaan tugas serta hasil kerja masyarakat tersebut. Gaya-2
(G2) adalah gaya pendampingan yang tinggi perilaku mengarahkan maupun
menumbuhkan dorongan semangat. Pendamping bergaya seperti ini juga
menjelaskan secara terinci keputusan yang diambilkan kepada masyarakat,
tetapi tetap terus melakukan pengawasan ketat terhadap pelaksanaan tugas
dan hasil kerja masyarakat tersebut. Gaya-3 (G3) adalah gaya pendampingan
yang sangat rendah dalam perilaku mengarahkan, namun tinggi dalam perilaku
yang menumbuhkan dorongan semangat. Pendamping bergaya seperti ini
membuat keputusan-keputusan bersama dengan masyarakatnya dan memberi
dorongan kepada masyarakatnya untuk menyelesaikan pelaksanaan
keputusan-keputusan tersebut. Gaya-4 (G4) adalah gaya pendampingan yang
sangat rendah perilaku mengarahkan maupun yang menumbuhkan dorongan
semangat. Pendamping bergaya seperti ini mengalihkan semua keputusan dan
melimpahkan tanggung jawab serta wewenangnya kepada masyarakat untuk
melaksanakan keputusan-keputusan tersebut.
4
4. Perilaku Pendampingan
Pembuatan Keputusan
Sebagai
Gaya
Pemecahan
Masalah
dan
Sebagaimana didefinisikan tadi, gaya pendampingan adalah pola perilaku
yang anda lakukan jika anda mencoba mempengaruhi perilaku orang lain
sebagaimana dipandang oleh orang-orang tersebut. Karena perilaku
masyarakat pada dasarnya adalah sebagai tanggapan terhadap gaya
pendampingan yang anda berlakukan kepada mereka dalam rangka proses
pemecahan masalah dan pembuatan keputusan organisasi, keempat gaya
pendampingan tadi dapat juga diartikan sebagai suatu proses pemecahan
masalah dan pembuatan keputusan. Jika digambarkan akan terlihat sebagai
berikut :
Tinggi
Melibatkan
(Participating)
Mengajak
(Consulting)
G3
G2
Melimpahkan
(Delegating)
Memerintah
(Telling)
G4
G1
Perilaku
Mendororong
Rendah
Rendah
Perilaku
Tinggi
Mengarahkan
Perilaku pendamping yang sangat mengarahkan dan kurang
menumbuhkan dorongan (G1) dinamakan juga sebagai proses " Memerintah “
(Telling), karena gaya ini sangat ditandai oleh cara berkomunikasi satu arah.
Pendamping menetapkan peranan masyarakatnya apa yang menjadi tugastugas mereka, bagaimana cara melaksanakan, kapan, dan dimana harus
dilaksanakan. Pemecahan masalah dan pembuatan keputusan diprakarsai
sendiri oleh sang pendamping, dan pelaksanaannya diawasi ketat olehnya.
Perilaku pendamping yang sangat mengarahkan dan juga sangat
menumbuhkan dorongan semangat (G2) dinamakan sebagai proses "
Mengajak " (Consulting)7, karena sang pendamping pada gaya ini masih
merupakan pemegang kendali hampir semua keputusan, namun mulai lebih
banyak menggunakan cara berkomunikasi dua arah dengan masyarakat dan
mulai lebih banyak memberi dorongan semangat kepada masyarakat. Selain
masih tetap melakukan pengawasan ketat terhadap masyarakat, sang
pendamping juga sudah mulai banyak meminta dan mendengar pendapat dan
saran masyarakat tentang keputusan-keputusan yang diambilnya, dan meminta
(mengajak) mereka untuk membicarakannya.
5
Perilaku pendamping yang kurang mengarahkan tapi sangat banyak
memberikan dorongan semangat (G3) dinamakan sebagai proses "Melibatkan”
(Participating), karena kendali pemecahan masalah dan pembuatan keputusan
mulai banyak dialihkan kepada masyarakat. Masyarakat lebih banyak dilibatkan
dalam proses pemecahan masalah dan pembuatan keputusan. Komunikasi
dua arah semakin sering dilakukan, dan sang pendamping lebih banyak
mendengarkan dan memberi kemudahan dan kelancaran proses pemecahan
masalah dan pembuatan keputusan yang dilakukan masyarakat. Gaya seperti
ini memang tepat karena masyarakat memang umumnya mampu dan memiliki
pengetahuan yang diperlukan untuk melaksanakan tugas-tugas yang ada.
Perilaku pendamping yang kurang mengarahkan dan juga kurang memberi
dorongan semangat (G4) disebut sebagai proses "melimpahkan" (Delegating),
karena pembuatan keputusan sudah sepenuhnya dilimpahkan kepada
masyarakat. Sang pendamping hanya ikut mendiskusikan permasalahannya
saja sampai pada tingkat perumusan masalah. Pada taraf ini, masyarakat
benar-benar berwenang penuh untuk memutuskan bagaimana tugas-tugas
mereka harus diselesaikan. Mereka diberi kebebasan penuh untuk
melaksanakannya "menurut cara mereka sendiri", karena mereka memang
memiliki kemampuan maupun kepercayaan diri dalam melaksanakan tanggung
jawab tersebut.
5. Tak Ada Satupun Gaya Pendampingan "Terbaik"
Sekali dicapai suatu kesepakatan, ke empat gaya pendampingan tersebut
ditandai oleh gabungan-gabungan perilaku yang mengarahkan dan
menumbuhkan dorongan semangat dalam berbagai tingkatannya, beberapa
ahli pernah menyatakan, mestinya ada salah satu yang "terbaik" dari keempat
gaya tersebut, yang mampu meningkatkan pertumbuhan perkembangan,
kepuasan manusia, dan produktivitas sekaligus pada semua situasi. Namun,
hasil-hasil penelitian selama beberapa dasa warsa terakhir kembali
menegaskan kesimpulan, tak ada satupun gaya pendampingan terbaik. Para
pendamping yang berhasil adalah mereka yang mampu menyesuaikan dirinya
dengan situasi.
Meskipun pendekatan situasional dalam pendampingan dirasakan perlu,
namun hal itu tidak banyak membantu para pendamping yang selama ini
memang sudah memimpin, yang memang membuat keputusan-keputusan
pendampingan setiap harinya. Jika memang "segalanya tergantung pada
situasi” ini benar, mereka hanya perlu tahu kapan mesti menggunakan gaya
yang mana!
Unsur-unsur situasi yang mempengaruhi suatu gaya pendampingan
tertentu menjadi tepat guna pada situasi yang dihadapinya, antara lain adalah
unsur waktu, tuntutan tugas, iklim organisasi, atasan, kerabat kerja (rekan
sejawat). dan keterampilan serta harapan-harapan para masyarakat. Meskipun
semua faktor ini dan faktor-faktor lainnya, tidak diragukan lagi memang
mempengaruhi keberhasilan suatu
6
gaya pendampingan tertentu, namun jika para pendamping terlebih dahulu
menguji semua unsur situasi yang diajukan para ahli sebelum mereka
memutuskan gaya pendampingan yang akan mereka gunakan, semuanya
justru bisa tidak berlaku sama sekali. Inilah alasan mengapa Hersey dan
Blanchard berdasarkan pendekatan Pendampingan Situasional mereka pada
faktor kunci yang mereka temukan memiliki pengaruh terbesar terhadap gaya
pendampingan pada segala situasi, yakni faktor masyarakat (anggota,
pengikut). Pada dasarnya, mereka menemukan, taraf perilaku mengarahkan
atau mendorong semangat yang dilakukan oleh seorang pendamping
bergantung pada taraf perkembangan masyarakat dalam melaksanakan suatu
tugas, peran, atau sasaran tertentu yang diberikan oleh sang pendamping
secara perseorangan maupun melalui kelompok.
6. Taraf Perkembangan yang Didampingi
Taraf perkembangan yang dimaksudkan disini adalah kemampuan (ability)
dan kemauan (wilingness) masyarakat untuk melaksanakan suatu tugas tanpa
pengawasan. Kemampuan adalah suatu fungsi dari pengetahuan atau
keterampilan yang diperoleh dari pendidikan, latihan dan atau pengalaman.
Kemauan adalah suatu fungsi dari kepercayaan diri dan dorongan semangat.
Dalam pembicaraan tentang taraf perkembangan seseorang penting
dicamkan, orang sama sekali "tidak berkembang sempurna" atau "tidak
berkembang sama sekali". Dengan kata lain, perkembangan (seseorang)
bukanlah suatu konsep umum tapi suatu konsep tugas yang khas. Itu
sebabnya dikatakan, orang-orang cenderung berada pada berbagai tingkatan
atau taraf perkembangan yang berbeda-beda tergantung pada tugas, peranan,
dan sasaran tertentu yang diberikan kepada mereka.
Sebagai contoh, sebutlah seorang insinyur mungkin sangat
berkembang (mampu dan mau) menangani soal-soal teknis dari suatu
pekerjaan. Tapi tidak demikian halnya jika ia dihadapkan pada soal-soal
pengaturan angggaran pekerjaan tersebut. Dengan demikian sangat tepat bagi
atasan sang insinyur dalam menghadapi masyarakatnya yang satu ini dengan
sedikit mungkin pengarahan dan dorongan dalam hal pekerjaan teknis, tetapi
dengan banyak pengarahan pengawasan ketat terhadap pekerjaan pengaturan
anggaran
yang
ketepatgunaan
dan
keberdayahasilan
gaya
pendampingan dalam kaitannya dengan taraf perkembangan masyarakat
dalam melaksanakan tugas yang sesuai. Hal ini digambarkan sebagai berikut :
7
Gaya Pendampingan
PARTICIPATING
G3
G2
CONSULTING
DELEGATING
G4
G1
Tinggi
M4
Sedang
M3
Rendah
M2
M1
Arah Perkembangan Masyarakat
Taraf perkembangan masyarakat digambarkan sebagai suatu kontinum di
bawah gambar empat gaya pendampingan sang pendamping. Taraf
perkembangan masyarakat tersebut dibagi menjadi empat tingkatan; rendah
(M1), rendah ke sedang (M2), sedang ke tinggi (M3), dan tinggi (M4). Tiap
tingkatan memperlihatkan suatu gabungan berbeda antara kemampuan
dengan kemauan, sebagai berikut:
MAMPU
Dan
MAU
M4
MAMPU
Tapi
TIDAK MAU
M3
TIDAK
MAMPU
Tapi
MAU
M2
TIDAK
MAMPU
Dan
TIDAK MAU
M1
Gambar diatas juga sekaligus memperlihatkan hubungan antara setiap
taraf perkembangan dengan gaya pendampingan yang tepat untuknya, yang
bergerak dari M1 ke M4.
Gaya pendampingan "Memerintah" untuk taraf perkembangan rendah.
Orang-orang yang tidak mampu dan tidak mau (M1) memegang tanggung
jawab melakukan sesuatu, adalah orang-orang yang tidak berkemampuan atau
tidak percaya diri. Dalam banyak kasus, ketidakmauan mereka itu akibat dari
rasa tak bisa (insecurify) atau karena kekurangan pengalaman dan
pengetahuan yang diperlukan untuk suatu tugas. Gaya pendampingan
memerintah (G1) yang memberi pengarahan-pengarahan terinci dan
pengawasan ketat, adalah gaya yang sangat mungkin efektif menghadapinya.
Sekali lagi, gaya ini disebut gaya "memerintah" karena ditandai oleh penentuan
peran masyarakat yang dilakukan oleh sang pendamping yang kemudian
menyampaikan (memerintahkan) masyarakat untuk melaksanakannya dengan
penjelasan terinci tentang apa, bagaimana, kapan, dan dimana dilaksanakan.
Gaya pendampingan "Mengajak" untuk tingkat perkembangan rendah ke
sedang. Orang-orang yang tidak mampu tetapi mau (M2) memegang tanggung
jawab suatu tugas adalah orang yang percaya diri tapi tak punya keterampilan.
8
Gaya pendampingan "Mengajak" yang memberikan pengarahan terinci (karena
sang masyarakat memang tidak atau kurang terampil) tetapi juga memberi
dorongan semangat dan kemauan yang lebih besar, adalah gaya
pendampingan yang paling tepat menghadapinya. Gaya ini disebut "Mengajak"
karena meskipun tindakan mengarahkan masih tetap dilakukan oleh sang
pemimpin, namun melalui komunikasi dua arah yang juga dilakukannya ia
mengajak masyarakat mengajukan pertanyaan atau saran. Komunikasi dua
arah ini akan membantu terjaganya semangat sang masyarakat tetap tinggi,
meskipun dia memegang suatu tanggung jawab tugas yang tetap diawasi
secara ketat oleh sang pemimpin.
Gaya pendampingan "Melibatkan" untuk taraf perkembangan sedang ke
tinggi. Orang-orang yang mampu tapi tak mau (M3) melakukan suatu tugas
adalah orang yang berada pada taraf ini. Ketidak mauan mereka seringkali
merupakan fungsi dari ketidak percayaan diri atau rasa tak bisa. Jika mereka
memilliki kepercayaan diri namun tetap tak mau melakukan tugasnya, hal ini
lebih merupakan suatu masalah dorongan kehendak dan bukan masalah
perasaan mampu atau tak mampu. Terhadap dua keadaan yang berbeda
tersebut, sang pendamping tetap perlu melakukan komunikasi dua arah dan
aktif mendengarkan dan serta memberikan dorongan semangat pada usahausaha yang dilakukan sang masyarakat untuk lebih membuktikan kemampuan
yang dimilikinya. Gaya pendampingan sedikit mengarahkan tapi banyak
memberi dorongan (G3) adalah yang paling mungkin sangat efektif
menghadapinya, Gaya ini disebut, "melibatkan" karena baik sang pendamping
maupun sang masyarakat saling membagi tugas dalam membuat keputusan.
Peran utama pendamping adalah mendengarkan saran sang masyarakat dan
memberinya kemudahan atau kelancaran untuk melaksanakan tugasnya.
Gaya pendampingan "Melimpahkan" untuk taraf perkembangan tinggi.
Orang-orang pada taraf ini adalah orang-orang yang mampu dan juga mau
(M4) memegang tanggung-jawab suatu tugas, Gaya pendampingan
''melimpahkan" (G4) yang kurang mengarahkan dan sedikit saja memberi
dorongan, adalah gaya yang paling mungkin sangat efektif menghadapinya.
Meskipun sang pendamping masih tetap dapat mengidentifikasi permasalahan
yang ada, namun tanggung jawab untuk merencanakan tindakan-tindakan
pemecahannya sudah diberikan kepada sang masyarakat yang memang
berpengalaman. Sang masyarakat juga diberi keleluasaan untuk menunjukan
dan memutuskan tentang bagaimana, kapan, dan dimana tindakan tersebut
mesti dilaksanakannya, Pada tingkatan ini, para masyarakat sudah mencapai
taraf kematangan jiwa, sehingga sesungguhnya tidak diperlukan lagi
komunikasi dua arah atau dorongan semangat yang berlebihan.
7. Meningkatkan Kemampuan dan Kemauan Orang yang Didampingi
Pendampingan situasional yang diuraikan dalam pengertian tadi, akan
sangat membantu para pendamping dalam menentukan gaya pendampingan
yang mesti digunakan terhadap masyarakat pada suatu situasi tertentu. Tapi,
katakanlah anda sedang menggunakan gaya pendampingan serba
mengarahkan atau memerintah (G1) pada seorang masyarakat yang tidak
berpengalaman, namun ternyata ia mengerjakan tugasnya dengan baik dan
berhasil. Nah, apakah anda akan terus menggunakan gaya pendampingan
9
tersebut sudah lebih dari cukup anda gunakan. Selanjutnya tujuan anda adalah
membantu dia lebih meningkatkan kemauan dan kemampuannya untuk
menyelesaikan tugas yang diberikan kepadanya secara mandiri, sehingga
secara bertahap anda sendiri bisa mulai menggunakan gaya pendampingan
yang tidak terlalu banyak menyita waktu anda (G3 dan G4) dengan tetap
memperoleh hasil terbaik.
Sebagai pendamping, kita punya dua pilihan terhadap orang-orang yang
bekerja dengan kita. Pertama. kita bisa membayar seorang "jagoan' 1 (winner),
yakni seorang yang memiliki kemampuan dan kehendak mengerjakan tugas
pada tingkat ukuran hasil yang diinginkan, hanya sedikit pengawasan (taraf
M4), "Jagoan" seperti ini mudah diawasi. Yang dibutuhkannya hanyalah
mengetahui tujuan, saran dan batas waktu pengerjaan suatu tugas. Sesudah
itu dia akan mampu mengerjakannya dengan caranya sendiri.
Karena "jagoan" seperti itu susah didapatkan dan mahal biayanya, banyak
di antara kita masih tetap suka memilih yang kedua, membayar "calon-calon
jagoan" (potential winners) dan kemudian melatihnya menjadi "jagoan". Dalam
kenyataannya, kecuali jika pendamping memang sadar dan memahami fungsi
latihan dalam pekerjaan, mereka selalu kecewa dan bingung, mengapa sang
"calon jagoan" yang sudah dilatih itu ternyata kemudian tidak mampu
mengerjakan tugasnya dengan baik, Kekecewaan inilah yang seringkali
membuat banyak pendamping terjerumus ke dalam suatu gaya pendampingan
yang sangat umum dikenal sebagai gaya "biarkan dia" Mereka membayar
seseorang untuk memegang tanggung jawab tertentu mengarahkan dengan
jelas dan terinci yang mesti dikerjakan oleh orang tersebut (G1) dan kemudian
"meninggalkannya seorang diri" (G4) dan menganggap, pekerjaan akan
berjalan lancar. Tanpa seorang "jagoan" yang mendapat limpahan wewenang
sedemikian besar (M4), anggapan ini sudah mengandung banyak kesalahan
dan tidak dapat mencapai hasil seperti yang diharapkan oleh sang pemimpin,
sang pendamping yang kecewa ini dengan segera akan memberlakukan
kembali gaya pendampingan yang serba mengarahkan (G1) dan bersifat
menghukum dengan menuntut mengapa segala sesuatunya tidak berjalan
dengan baik perubahan gaya pendampingan seperti ini bisa menjadikan sang
pendamping benar-benar kecewa dan masyarakat bingung atau bahkan
marah.
Untuk mencegah akibat buruk dari gaya "biarkan dia" dan untuk menjaga
semangat kerja staff yang memang produktif dan memuaskan sang
pendamping
perlu
mengetahui
cara
meningkatkan
kemampuan
masyarakatnya. Berikut ini lima langkah yang dapat digunakan untuk itu .
1. Perintahkan padanya yang anda ingin untuk dikerjakan. Anda tak akan bisa
memimpin, kecuali jika masyarakat anda memahami yang mesti mereka
kerjakan, tanggung jawab yang dituntut dalam pekerjaan tersebut dan
kepada siapa mereka bertanggung jawab.
2. Tunjukkan padanya yang anda ingin dikerjakan olehnya. Sekali seorang
mengetahui yang menjadi tanggung jawab, dia pun butuh mengetahui hasil
kerjanya nanti berhasil atau gagal. Perilaku perintahkan dan tunjukkan
adalah perilaku yang bersifat mengarahkan. Jadi, untuk meningkatkan
kemampuan seorang masyarakat yang potensial (M1-M2), umumnya
dimulai
dengan
gaya pendampingan “memerintahkan". Sepanjang
masyarakat belum mengetahui cara melaksanakan suatu tugas secara
10
semestinya tanpa pengarahan dan pengawasan, proses pemecahan
masalah dan pembuatan keputusan masih dalam kendali sang pemimpin.
3. Biarkan mereka mencoba. Sekali masyarakat tahu apa yang mesti
dikerjakan dan hasil yang diharapkan dari dia, saatnya sang pendamping
harus mulai berani mengambil resiko dan membiarkannya melakukan
pekerjaan tersebut menurut caranya sendiri, Jika anda menempuh ini. anda
mesti mengurangi sampai sedikit mungkin pengarahan padanya dan
menyerahkan pekerjaan tersebut. Resikonya adalah : dia mungkin merasa,
kalau kami berbuat salah mungkin anda tidak akan memberinya tanggung
jawab itu lagi. Jadi jelaskan resiko tersebut kepadanya semasuk akal
mungkin. Biarkan mereka memahami sendiri, kesalahan yang terjadi tidak
akan menghancurkan mereka sama sekali.
4. Amati penampilan dan hasil kerja mereka. jika anda sudah mencoba
memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk melakukan sendiri
tugasnya,
jangan
langsung
sepenuhnya
memberlakukan
gaya
pendampingan "melimpahkan" (G4) dan kemudian meninggalkan sama
sekali bekerja sendiri. Karena gaya tersebut tidak banyak menolong dalam
peningkatan produktivitas dan kepuasan hasil kerjanya. Artinya, sesudah
anda memberinya kesempatan melakukan yang mesti ia kerjakan, anda
masih harus tetap mengamati penampilan dan hasil kerjanya, Unsur pokok
dalam pendampingan gaya "memerintah" (Gl) adalah pengawasan yang
ketat, dalam artian melakukan monitoring sesering mungkin.
5. Tangani akibat-akibatnya. Alasan utama untuk melakukan pengawasan
monitoring tersebut adalah untuk menangani berbagai akibat yang mungkin
timbul. Akibat yang dimaksud adalah segala sesuatu yang menyertai suatu
perbuatan. Ada tiga akibat utama yang mungkin timbul:
a. Akibat positif atau faktor yang menguatkan (reinforcer), yakni segala yang
menyertai suatu hasil perbuatan yang cenderung lebih mendorong dan
memungkinkan perilaku tersebut diulangi lagi. Misalnya dengan memberi
imbalan usulan kenaikan ke jabatan yang lebih tinggi.
b. Akibat negatif atau faktor yang melemahkan (punisher), yakni segala
sesuatu yang menyertai suatu hasil perbuatan yang cenderung
mengurangi kemungkinan diulangi perilaku tersebut. Misalnya menyuruh
melakukan kembali dengan memperbaiki kesalahan yang ada atau malah
menurunkan masyarakat yang bersangkutan ke tingkat yang lebih rendah.
c. Akibat netral atau faktor yang tidak menguatkan atau melemahkan,
Kecuali jika masyarakat melakukan sesuatu yang benar-benar bagus (dia
kan melakukan terus meskipun tanpa umpan balik dan orang lain), tidak
adanya tanggapan sama sekali secara perlahan-lahan akan mengurangi
kemungkinan ia akan melakukan terus hal itu.
Sebagaimana anda saksikan sendiri. hanya imbalan yang cenderung
meningkatkan kemungkinan suatu perilaku dilakukan kembali yang merupakan
akibat positif. Jadi, kunci untuk mengembangkan kemampuan dan kemauan
kerja orang adalah menjadikan mereka tetap melakukan sesuatu yang baik11
11
Banyak pendamping yang justru membuat masyarakatnya melakukan
sesuatu serba salah, Jadi anda pun perlu memahami, pada awal anda
membina seorang masyarakat agar menjadi seorang yang mampu dan mau,
anda perlu membuatnya mengerjakan tugas-tugasnya kurang lebih baik atau
tak perlu benar-benar baik dulu. Tentu saja anda harus mengusahakan agar
kemampuannya terus meningkat secara bertahap sampai ia benar-benar
mencapai taraf terbaiknya. Jika anda sudah memberi kesempatan pada
seorang masyarakat melakukan sesuatu setelah "mengarahkan dan
menunjukkan" caranya, segera andapun mengurangi perilaku anda yang serba
mengarahkan, Dan jika anda kemudian mengamati, dia telah melakukan
pekerjaannya dengan baik (atau kurang-lebih baik pada permulaannya), anda
harus segera tanggap untuk mulai lebih banyak memberikan dorongan
semangat padanya. Penggambaran arah perkembangan tersebut dalam
bentuk anak-anak tangga bertingkat naik dan turun pada gambar diatas
mengandung arti penurunan perilaku mengarahkan dan peningkatan perilaku
memberi dorongan terus anda melakukan sampai sang masyarakat mencapai
taraf perkembangan sedang (M3) dan (M4), anda juga tepat jika secara
bertahap mulai mengurangi perilaku mengarahkan dan juga perilaku
memberikan dorongan padanya.
Pada saat dia mencapai taraf perkembangan yang tertinggi inilah sang
masyarakat tidak hanya mencapai kemampuan terbaiknya melakukan tugas.
tetapi berarti juga ia memang telah menikmati imbalan kepuasan dari hasil
kerjanya yang baik tersebut ini tidak lantas berarti pekerjaan sang masyarakat
lantas akan menjadi lepas kendali sama sekali karena kendali pekerjaan
tersebut sekarang sudah menjadi bagian sehati (inherent) dengan dirinya
sendiri, dan bukannya dipaksakan dari luar oleh sang pemimpin, Pada
tingkatan ini, seseorang merasa mendapat imbalan positif yang setimpal
terhadap hasil kerjanya jika mereka diberi tanggung jawab lebih besar dan
keleluasaan untuk melakukan pekerjaanya menurut cara mereka sendiri.
M4
M3
M2
M1
Arah Perkembangan Masyarakat
Ini pun tidak berarti tak ada lagi rasa saling percaya dan hormat antara sang
pendamping dengan sang masyarakat (malah dalam kenyataannya justru
semakin bertambah), tapi sekadar berarti sang pendamping semakin berkurang
perannya dalam menciptakan suasana tersebut pada seorang masyarakat
yang sudah sedemikian tinggi kemampuan dan kemauan kerjanya 12.
Lebih dari sekedar membantu dan memberikan dukungan, andapun akan
menyaksikan, orang-orang yang mudah mencapai taraf perkembangan seperti
itu adalah orang-orang yang sangat percaya diri, sangat mampu, sangat
12
bertanggung jawab, sangat bisa dipercaya dan memuaskan, jika dilibatkan dalam
proses pemecahan masalah dan pembuatan keputusan. Semua inilah yang
menjadikan mereka sebagai orang-orang yang suka mendengarkan dan
meminta umpan-balik dari orang untuk lebih membentuk kepercayaan dirinya,
dorongan semangat, serta kemauan kerjanya.
Sebaliknya, jika anda terus saja berperilaku serba mengarahkan dan
mengawasi ketat pekerjaan orang-orang seperti ini, anda akan menyaksikan,
anda telah salah langkah menghadapi masyarakat anda. Sangat mungkin,
anda tidak akan pernah melihatnya lagi sebagai orang yang penuh
kepercayaan diri, berkemampuan, bertanggung jawab, dapat dipercaya dan
memuaskan, pada saatnya perlakuan anda yang salah terhadapnya, justru
akan membalikkan sama sekali kemampuan hasil kerjanya. Jadi, aspek
pengembangan Pendampingan Situsiasional dan kebutuhan untuk
mengalihkan secara bertahap pengawasan dari luar yang bersifat
mengarahkan menjadi pengendalian dari dalam diri sendiri yang bersifat
mendorong, adalah aspek paling kritis dari apa pengembangan dan
peningkatan kemampuan dan kemauan kerja masyarakat.
Dalam pengembangan kemampuan masyarakat, faktor picu yang
melahirkan perubahan dalam gaya pendampingan adalah penampilan hasil
kerja (performance). Perbaikan dalam masa kerja bergerak searah dengan
pergeseran gaya pendampingan yang sesuai secara bertahap melalui jenjang
anak-tangga perkembangan yang digambarkan, dari G1 ke G2 ke G3 dan
akhirnya ke G4. Ada satu hal penting yang harus diingat baik-baik, tahap
pencapaian hasil terbaik dapat dicapai jika semua gaya pendampingan
tersebut pernah dilalui dengan baik pula. Dengan kata lain, seorang
masyarakat yang tidak berpengalaman sekalipun sesungguhnya dapat
mencapai taraf kemampuan terbaik seperti masyarakat lain yang sangat
berpengalaman, jika saja sang pendamping mengarahkan dan mengawasinya
secara ketat sejak awal sampai akhirnya ia mencapai peningkatan terhadap
taraf yang lebih tinggi. Persoalannya, apa yang mesti dikorbankan untuk itu ?
jawabnya adalah waktu dan tenaga sang pemimpin, Kesimpulannya,
kemampuan terbaik dicapai oleh seorang masyarakat jika ia mampu
melakukan pekerjaannya pada ukuran hasil yang diharapkan hanya dengan
sedikit atau tanpa pengawasan sama sekali.
8. Mencegah Kemunduran
Jika perbaikan atau peningkatan kemampuan dan kemauan seseorang
masyarakat bergerak maju ke depan melalui anak-anak tangga pada gambar
tadi, sebaliknya penurunan kemampuan dan kemampuan kerja mereka
bergerak mundur ke belakang melalui anak-anak tangga yang sama dari G4 ke
G3 ke G2 dan akhirnya ke G1 lagi, Dengan kata lain, pada saat tampak adanya
gejala penurunan kemampuan dan kemaunan kerja masyarakat, oleh berbagai
sebab (misalnya : percekcokan di rumah tangga, perubahan kondisi kerja,
pengenalan teknologi baru dan sebagainya) sangat mendesak bagi sang
pendamping untuk juga menilai kembali perlakuannya terhadap masyarakat
yang bersangkutan sesuai dengan tingkat perkembangan mundur yang
dialaminya.
Sebagai contoh, sebutlah ada seorang masyarakat yang selama ini mampu
menampilkan hasil kerja yang amat baik. Anggap saja tiba-tiba ia mengalami
13
suatu perselisihan keluarga yang kemudian segera mempengaruhi
kemampuan dan kemauan kerjanya. Pada situasi ini sangat tepat bagi sang
pendamping untuk segera memberikan pengarahan dan dorongan semangat
lagi secukupnya, sampai ia akhirnya mencapai kembali taraf kemampuan
terbaiknya. Ambil contoh lain : seorang bertugas membantu rekannya yang
memegang suatu tanggung jawab tertentu, dan ternyata orang ini sangat
mampu dan bersemangat (G4), sehingga bisa ditinggalkan bekerja sendiri
tanpa diawasi. Anggaplah, kemudian ia diusulkan untuk menduduki suatu
jabatan tersendiri. Sebagai seorang tenaga pembantu, ia memang cakap dan
dapat dihadapi dengan gaya melimpahkan wewenang penuh kepadanya (G4).
Tapi sebagai seorang pejabat yang belum berpengalaman, tentu saja sang
pendamping harus merubah gaya pendampingan dalam menghadapinya
dengan lebih banyak memberi dorongan semangat terlebih dahulu, dan
kemudian secara bertahap memberikan pengawasan dan melakukan
pengawasan terhadap pekerjaan barunya tersebut (bergerak dari G4 ke G3
dan kemudian ke G2). Gaya pendampingan ini terus dilanjutkan sampai dia
benar-benar mencapai tingkat kemampuan dan kemauan tinggi dalam tugas
barunya tersebut. Pada saat itulah, gaya kepemimpinan untuk menghadapinya
bergerak kembali dari G2 ke G3 dan akhirnya ke G4 lagi. atau berganti-ganti di
antara ketiga gaya tersebut sesuai dengan perkembangan yang terjadi, Tetap
menggunakan gaya yang sama terus menerus malah bisa melumpuhkannya
sama sekali, jika situasinya memang tidak menghendaki demikian.
Singkatnya, pendamping yang berdaya hasil mengetahui dengan baik keadaan
para masyarakatnya dan cukup luwes untuk merubah gaya kepemimpinannya
menurut situasi yang ada. Dalam memberikan suatu tanggung jawab dan tugastugas kepada masyarakat, baik secara perseorangan maupun kelompok, taraf
perkembangan
kemampuan
dan
kemauan
kerja
masyarakat
harus
dipertimbangkan lebih dahulu. Seorang pemimpin mesti meragamkan gaya
kepemimpinannya dalam menghadapi kebutuhan masyarakatnya terhadap
pengarahan dan dorongan semangat dirinya : mestilah dicamkan baik-baik,
seorang atau sekelompok masyarakat mengembangakan pola-pola perilaku
mereka sendiri dan cara-cara mereka dalam melaksanakan suatu pekerjaan,
termasuk norma-norma, kebiasaan-kebiasaan, tradisi dan nilai-nilai, Meskipun
seorang pendamping menggunakan suatu gaya pendampingan yang khas pada
sekelompok masyarakat, ia mesti sadar memberlakukan gaya pendampingan yang
berbeda-beda pada setiap orang dalam kelompok tersebut, karena setiap orang
selalu berbeda dalam taraf perkembangan kemampuan dan kemauan kerjanya
masing-masing. Pergeseran gaya pendampingan bisa ditempuh dengan cara
bergerak maju dari Gl ke G2 ke G3 dan lalu ke G4,atau sebaliknya bergerak
mundur dari G4 ke G3 ke G2 dan akhirnya Gl, mesti dilakukan secara bertahap
menurut situasi yang ada, inilah yang membuat pendekatan model Pendampingan
Situasional sebagai suatu model pengembangan yang amat bermanfaat bagi sang
pendamping maupun sang masyarakat.
14
B. PENDAMPINGAN MENGELOLA MASYARAKAT
Dalam mendalami
pihak yang didampingi
situasional 'mengajarkan,
pendampingan adalah
organisasi. Aspek-aspek
berikut :
teori pendampingan situasional, terutama dari sudut
(masyarakat, anggota, staff). Teori pendampingan
salah satu unsur terpenting yang menentukan perilaku
tingkat perkembangan masyarakat atau anggota
pendampingan disinggung secara sepintas sebagai
1. TINGKAT PERKEMBANGAN MASYARAKAT
Tingkat perkembangan seorang masyarakat ditentukan oleh dua faktor, yaitu :
1. Mampukah ia melakukan pekerjaannya ?
Faktor ini berkaitan dengan tingkat keahlian, pengetahuan. kemampuan dan
bakat. Hal ini bersifat sangat khas pada setiap orang dan bervariasi pada
setiap jenis pekerjaan.
2. Maukah ia mengerjakan pekerjaan itu ?
Faktor ini berkaitan dengan tingkat semangat, motivasi, minat dan kemauan
serta kepercayaan diri seorang masyarakat dalam melaksanakan tugastugas yang diberikan kepadanya. Hal ini juga bersifat sangat khas yang bisa
berbeda pada setiap orang, keadaan dan jenis pekerjaan.
Kedua faktor diatas secara bersamaan menentukan tingkat perkembangan
kemampuan dan kemauan suatu masyarakat. Agar mudah dipahami,
perhatikan bagan berikut:
SANGAT
MAMPU
MAMPU
TAK
TIDAK
MAMPU
MAMPU
(TAPI BELAJAR)
4
3
2
1
SANGAT
MAU (TAPI
MAU
TIDAK
MAU
TAK YAKIN)
MAU
2. DAUR PERKEMBANGAN MASYARAKAT
Seperti terlihat pada bagan tadi, perkembangan kemampuan (keahlian,
keterampilan, pengetahuan) dan kemauan (dorongan semangat, minat,
kepercayaan diri) seorang masyarakat bergerak bertahap dari kanan ke kiri
(arah anak panah hitam pada gambar). Penggambaran daur ini didasari
anggapan masyarakat atau anggota umumnya masuk ke suatu organisasi
pada tahap ketika kemampuan dan kemauan kerjanya masih rendah (Tingkat
1). Tidak sepenuhnya benar demikian, apalagi pada organisasi nirlaba. Orangorang umumnya masuk bergabung kedalamnya lebih karena kesamaan
gagasan dan dengan semangat tinggi untuk ikut mewujudkan gagasan
tersebut. Namun, hal ini bisa ditentukan dalam banyak kejadian nyata di
banyak organisasi. Tanpa menghiraukan dari tingkatan mana seorang
masyarakat atau staff pertama kali masuk dan bergabung ke dalam organisasi
15
anda, pada akhirnya anda harus meningkatkan kemampuan dan kemauannya
mencari taraf tertinggi sebagaimana digambarkan pada bagan tadi (Tingkat
4). Tentu saja, ini juga menjadi tujuan anda sendiri sebagai seorang
pendamping (atasannya), sehingga anda bisa lebih banyak melimpahkan
wewenang dan tanggung jawab kepadanya dan anda kemudian punya lebih
banyak waktu untuk mengerjakan hal-hal yang lebih penting kaidah yang harus
dicamkan adalah :
Salah satu tugas utama seorang pendamping adalah memimpin dengan
cara sedemikian rupa setiap saat, agar orang-orang yang dipimpinnya
menjadi lebih mampu dan lebih mau bekerja mencapai hasil terbaik.
Memimpin pada hakekatnya adalah mengembangkan
pendampingan orang-orang yang kita pimpin.
potensi
Sekarang, kita akan memahami satu-persatu pengertian dari setiap tingkat
perkembangan masyarakat dalam bagan tadi.
Tingkat 1 : ”TIDAK MAMPU dan TIDAK MAU”
Pada tingkat ini, masyarakat belum memiliki pengetahuan, keahlian, dan
keterampilan serta minat dan kepercayaan diri yang dibutuhkan untuk suatu
pekerjaan. Karena tidak tahu bagaimana mengerjakan tugas yang diberikan
kepadanya, masyarakat anda pada tingkat ini bisa kehilangan minat pada
pekerjaan tersebut (motivasi dan kepercayaan diri rendah). Jadi, anda sebagai
pendamping atau atasannya, mesti memberitahu, menjelaskan dan
mengarahkan kepadanva bagaimana cara rnelaksanakan pekerjaan tersebut
dengan benar dan serinci mungkin. Karena, jika dia kemudian merasa mampu
dan bisa mengerjakannya, minat dan kepercayaan dirinya akan tumbuh
dengan sendirinya, Namun ingat, jangan dulu terlalu cepat sering memberi
pujian jika dia berhasil melaksanakan perkerjaannya sesuai apa yang anda
inginkan, karena hal itu bisa saja malah membuat cepat berpuas diri dan tidak
mau belajar lebih banyak lagi atau berhenti berkembang sama sekali. Dengan
kata lain, gaya pendampingan yang sesuai terhadap masyarakat semacam ini
adalah gaya pendampingan "Memerintah" (Telling), yakni banyak memberi
pengarahan dan sedikit saja memberi dorongan semangat. Anggap sajalah
pada tahap ini seorang masyarakat atau staff baru, sedang menjalani masa
"latihan" atau "magang”nya. secara rinci, langkah-Iangkah yang harus
dilakukan adalah :
 Katakan padanya apa yang dia kerjakan
 Perlihatkan bagaimana caranya hal itu mesti dikerjakan
 Berikan kesempatan padanya untuk mencoba mengerjakannya sendiri
 Jika ia berhasil baik, beri imbalan (pujian sewajarnya atau imbalan lain)
 Jika gagal, ulangi lagi mengarahkan dia dari awal
 Dan seterusnya demikian.
Tingkat 2 : "TIDAK MAMPU tapi MAU (BELAJAR)"
Pada tingkat ini, seorang masyarakat tetap masih belum sepenuhnya
mampu mengerjakan suatu tugas dengan baik kalau anda kurang memberinya
16
dorongan semangat, tapi malah lebih banyak mengarahkannya, Sebut sajalah
dia itu "bodoh, tapi rajin". Sebutan ini banyak benarnya, karena masyarakat
pada tingkat ini biasanya tidak mau mengakui, dia memang belum memiliki
pengetahuan dan keterampilan yang cukup untuk mengerjakan tugasnya,
meskipun dia sudah berkali-kali membuat kesalahan fatal. Dalam hal ini, anda
sebagai pendamping harus mengatakan padanya. Dia masih perlu pengarahan
dan harus belajar lagi. Tapi hati-hatilah, jangan sampai dia tersinggung dan
mengakibatkan minat serta semangatnya yang sudah mulai tumbuh menjadi
padam lagi. Dengan kata lain, beri dia banyak pengarahan, tapi juga banyak
dorongan semangat, jika perlu ajak dia bicara dan minta pendapatpendapatnya.
Singkatnya,
anda
mulai
menerapkan
gaya
t
pendampingan' mengajak" (Consulting) terhadapnya.
Tingkat 3 : “MAMPU tapi TIDAK MAU”
Pada tingkat ini, seorang masyarakat sesungguhnya sudah memiliki cukup
pengetahuan dan keterampilan untuk mengerjakan tugasnya dengan baik,
hanya saja dia sendiri merasa belum yakin betul pada kemampuannya itu.
Menghadapi masyarakat seperti itu, anda sebagai pendamping mestinya mulai
mengurangi pengarahan kepadanya, tapi tetap memberi dorongan semangat.
Itulah memang dibutuhkannya, karena ia memang kurang yakin saja, kalau dia
memang mampu mengerjakan tugasnya tersebut. Sebutlah dia itu "mampu tapi
tak sadar bahwa dia mampu". Kalau anda kurang memberinya dorongan
semangat, tapi malah lebih banyak mengarahkannya, salah-salah dia malah
menjadi sebal dan dongkol pada anda. Kalau itu terjadi, bukannya
menumbuhkan kepercayaan dirinya. Tapi malah bisa membuatnya malas dan
bosan. Hal ini mungkin dilema tersendiri bagi anda sebagai pendamping
(atasan), sementara dia sendiri bisa saja jadi gelisah dan bingung jika anda
hampir tidak pernah memberi dorongan semangat lagi dan hanya melulu
memberikan pengarahan. Karena itu, anda harus melibatkan diri setiap ada
kesempatan kedalam pelaksanaan pekerjaannya atau sebaliknya anda
melibatkan dia ke dalam pelaksanaan pekerjaan anda dengan kata lain, anda
mulai menggunakan gaya pendampingan "melibatkan' 1 (Participating)
terhadapnya sedikitnya saja memberikan pengarahan, tapi banyak memberi
dorongan, sampai ia benar-benar yakin, dia sebenarnya mampu mengerjakan
tugas dengan baik tanpa perlu diarahkan oleh orang lain, termasuk oleh anda
sebagai atasannya.
Tingkat 4 : "MAMPU dan MAU"
Pada tingkat ini, seorang masyarakat benar-benar telah memiliki
pengetahuan dan keterampilan serta minat dan semangat kerja tinggi dalam
melaksanakan pekerjaannya. Jadi anda sebagai pendamping mesti
menghadapinya dengan cara mulai mengurangi dan sesedikit mungkin
memberikan pengarahan dan juga dorongan semangat kepadanya. Hampir
tidak ada masalah pada masyarakat seperti ini. Barangkali justru andalah
sebagai pendamping yang jadi masalah, berhenti memberikan pengarahan
17
atau perintah, mungkin jadi perkara tersendiri bagi anda ini memang "trauma
pemimpin" dimana-mana (karena sudah terbiasa memberi perintah, lantas
bingung sendiri ketika diminta untuk tidak memberikan perintah lagi). Ini perlu
anda camkan baik-baik, karena jika anda tidak bisa menahan diri untuk
memberi pengarahan dan bimbingan kepada masyarakat seperti itu, dia sendiri
nanti bisa cepat muak dan kesal pada anda. lalu motivasi kerjanya berubah
;bukan lagi karena kesadaran dan tanggung jawab sendiri, atau karena ada
makna yang bernilai baginya dalam pekerjaan tersebut (daya tarik, tantangan,
manfaat. peluang), tapi lebih karena ia cuma ingin cepat berlalu dari anda dan
tidak mau berada berlama-lama bersama dengan anda. Jadi “biarkan dia”
Dengan kata lain, anda sebagai pendamping sudah harus mulai menggunakan
gaya pendampingan “melimpahkan” (Delegating) terhadapnya.
Idealnya, semua masyarakat anda mestinya berada pada Tingkat 4
tersebut, dan anda juga semestinya berada pada posisi pendamping dengan
Gaya 4. Tapi ini memang lebih mudah diucapkan daripada dilakukan, bahkan
sudah ditentukan dalam kenyataan pendampingan selama ini. Untuk
mencapainya diperlukan beberapa persyaratan khusus, yakni :
1. Tanggung Jawab
Harus jelas yang bertanggung jawab atas sesuatu tugas dan orang yang
bertanggung jawab tersebut harus mengetahuinya.
2. Ukuran Hasil
Harus jelas ukuran hasil kerja yang akan dicapai, sehingga semua orang
tahu mereka bekerja untuk dan harus menghasilkan apa.
3. Umpan Balik
Harus ada sistem yang dapat memberikan umpan balik, baik kepada
masyarakat maupun kepada atasan, sehingga mereka semua tahu kapan
saatnya dikatakan mereka telah menyelesaikan pekerjaan dengan baik, dan
apakah mereka memang telah bekerja dengan baik atau belum.
4. Konsekuensi
Harus jelas apa konsekuensi suatu pelaksanaan pekerjaan setelah tugas
tersebut selesai dikerjakan dan diketahui hasilnya, kalau bagus harus
dihargai, kalau jelek harus diperbaiki kembali.
Jika suatu organisasi sudah siap dengan ke empat persyaratan tersebut,
sang pendamping sebaiknya siap pula mulai melimpahkan (mendelegasikan)
lebih banyak wewenang serta tanggung jawab kepada masyarakatnya. Kata
orang idealnya di dunia ini tidak ada lagi pendamping atau yang dipimpin, jika
semua orang memang benar-benar sudah mampu dan mau, sudah pandai dan
rajin, sudah sadar dan ahli. Tapi keadaan itu tampaknya cuma ada dalam
angan-angan (utopia). Jadi yang terbaik memang adalah mencoba terus
secara bertahap demi tahap mencapainya, karena angan-anganpun bukan
sesuatu yang musykil dan mustahil.
Bagan yang menggambarkan tingkat-tingkat perkembangan masyarakat
tadi merupakan suatu pengandaian, yang prosesnya berlangsung secara
18
alamiah. Untuk mencapai tingkat 4 dari tingkat 1, mungkin dibutuhkan waktu
beberapa jam saja, atau beberapa hari, minggu, bulan atau bahkan tahunan,
tergantung pada sifat dari tugas yang akan dikerjakan. Menurut teori
pendampingan situasional, semua itu bisa terjadi dan prosesnya bisa
dipercepat, jika sang pendamping dan masyarakat memang berperilaku
menurut kaidah-kaidah yang diuraikan tadi. Namun kenyataan yang ada tidak
selamanya seindah yang kita bayangkan, Dalam kenyataannya "Manusia itu
tetap manusia".
3. MEMPERTAHANKAN KEMAMPUAN DAN KEMAUAN KERJA MASYARAKAT
Motivasi kerja seseorang ternyata bisa sangat dramatis: mengatasi batasbatas waktu dan tuntutan pekerjaan serta lingkungan sekitarnya (anda lihat.
ada orang yang mau bekerja siang-malam tanpa imbalan materi apapun:
karena apa ?). Tetapi seseorang juga ternyata juga bisa kehilangan motivasi
kerjanya secara drastis (anda tahu ada orang yang lebih suka memilih tidak
mengerjakan apa-apa daripada mengerjakan suatu pekerjaan yang justru
dibayar dengan upah tinggi: karena apa ?).
Menurutnya motivasi kerja seseorang tidaklah semudah jika dibandingkan
dengan penurunan dalam kemampuan kerjanya. Salah satu yang kita ketahui
dengan baik tentang manusia selama ini adalah bahwa pengetahuan dan
keterampilan yang dimiliki seseorang biasanya lebih cepat menurun, atau
bahkan menghilang, dibandingkan dengan semangat dan kemauan mereka.
Jadi, apa yang menjadikan sesuatu pekerjaan atau tugas benar-benar menarik
dan merangsang motivasi seseorang? Meskipun masalah ini sampai sekarang
masih lebih banyak yang tidak diketahui dari pada diketahui, nampaknya kita
bisa bersepakat, beberapa faktor di bawah ini sangat mempengaruhi motivasi
kerja seseorang, yaitu :
1. Banyaknya variasi keterampilan yang digunakan dalam pelaksanaan suatu
tugas. Semakin bervariasi keterampilan yang diperlukan, semakin
meningkatkan motivasi orang untuk mengerjakan
2. Adanya sesuatu makna yang bisa dipetik dari tugas tersebut dari sudut
pandang orang yang akan melaksanakannya, apakah tugas itu punya kaitan
langsung atau dampak nyata bagi kehidupan dan lingkungannya ? Semakin
bermakna tugas itu dalam pandangannya, semakin meningkatkan
motivasinya.
3. Jelasnya tugas tersebut sebagai suatu kesatuan yang dapat dirincikan
bagian-bagiannya secara jelas pula. Semakin jelas seseorang dapat melihat,
tugas tersebut memang mampu ia kendalikan dan ia tahu letak awal dan
akhirnya, semakin meningkatkan motivasinya.
4. Besarnya kewenangan yang dirasakan oleh seseorang jika ia melaksanakan
pekerjaan tersebut. Semakin besar kewenangan yang tersedia bagi
seseorang untuk menemukan apa yang mesti ia lakukan, bagaimana ia
melakukan itu, kapan, dimana, dan dengan siapa ia melakukan semakin
meningkatkan motivasinya untuk melakukan tugas tersebut.
19
5.Tersedianya umpan balik dalam pelaksanaan tugas tersebut, seberapa jauh
seseorang dapat melihat. jika ia mengerjakan tugas itu nanti ia dapat
mengetahui penilaian hasil kerjanya (bagus atau jelek). Ini perlu untuk
memuaskan hatinya dengan. misalnya, membandingkannya dengan hasil
kerja orang lain. Semakin tersedia?. kemungkinan memperoleh umpan-balik
langsung dalam suatu pekerjaan, semakin meningkatkan motivasi seseorang
untuk mengerjakannya.
Lima faktor di atas boleh dikatakan merupakan faktor-faktor yang sangat
mempengaruhi motivasi kerja seorang masyarakat. Dengan memahaminya
baik-baik, anda dapat meningkatkan kemampuan pendampingan anda
sambil juga mengembangkan kemampuan dan kemauan kerja masyarakat
anda. Namun, ini tidak lantas berarti segalanya sudah selesai sampai di sini,
sebab cepat atau lambat, dalam kenyataannya motivasi seseorang yang
bagaimana pun juga tingginya akan menurun kembali pada suatu saat oleh
satu dan lain sebab yang beragam.
4. DAUR PERKEMBANGAN MUNDUR
Jika anda perhatikan kembali bagan tingkat-tingkat perkembangan tadi,
anda bisa menaksir arah perkembangan seorang masyarakat bisa saja berbalik
mundur (menurun kembali) dari kiri ke kanan.
TIDAK TERAMPIL
LAGI
KETERAMPILAN
BERKURANG
SANGAT
MAMPU
MAMPU
MENOLAK
KERJA
TAK
TIDAK
MAMPU
MAMPU
(TAPI
MENURUN
KEMBALI
BELAJAR)
4
3
2
1
SANGAT
MAU (TAPI
MAU
TIDAK
MAU
TAK YAKIN)
MINAT
BERKURANG
TIDAK BERMINAT
LAGI
MAU
MINAT BERUBAH
(BERTENTANGAN)
Proses perkembangan mundur atau penurunan kembali ini, dapat dijelaskan
sebagai berikut :
Dari 4 ke 3 : "KETERAMPILAN BERKURANG atau MINAT BERKURANG"
Keterampilan seseorang bisa menurun karena tidak tersedia cukup
kesempatan untuk terus berlatihan dan mempraktekkannya. Hal ini sering
20
terjadi, disamping oleh sebab-sebab lain seperti gangguan kesehatan fisik
maupun mental. Jika itu terjadi, anda sebagai pendamping mesti
"memundurkan" gaya pendampingan anda dari Gaya 4 ke Gaya 3 kembali
lebih banyak memberi dorongan semangat kepada masyarakat yang
bersangkutan dan melibatkannya dan setiap kesempatan bekerja "bersama"
anda (dalam suasana setaraf) bukan "dibawah anda ". Ini berarti anda
memberinya kesempatan untuk mepraktekkan dan menemukan kembali tingkat
ketrampilan terbaik yang dimilikinya. Pengarahan tidak terlalu diperlukan
karena sebenarnya ia menurun, tindakan yang sama juga dianjurkan agar anda
tempuh, Tidak ada yang salah dengan menurunkan minat kerja seseorang
(mungkin cuma karena ia lelah, atau sedang bentrok dengan istrinya dirumah,
atau sebab-sebab lainnya). Apalagi jika ternyata memang tugas-tugas yang
anda berikan kepadanya banyak mengandung ketidak jelasan dan anda tidak
pernah menjelaskan hal itu kepadanya (pantas ia pusing). Sebagai
pendamping anda mesti selalu siap menghadapi kemungkinan seperti itu, dan
anda sudah harus siap pula dengan peluang-peluang baru (kegiatan atau
tugas baru yang lebih menarik dan menantang) sebelum minat dan
kemampuan kerjanya lebih menurun lagi dan benar-benar anjlok. Penyediaan
peluang-peluang baru seperti itu biasanya sangat membantu dia membuat
analisa terhadap keadaan atau sebab-sebab yang membuat minat kerjanya
menurun dan kemudian bersama-sama anda berusaha menemukan jalan
keluarnya.
Dari 3 ke 2 : "TIDAK TERAMPIL atau TIDAK BERMINAT LAGI"
Jika ternyata keterampilan dan minat kerja seorang masyarakat terus saja
menurun dan akhirnya dia benar-benar menjadi tidak terampil atau tidak
berminat lagi melaksanakan tugasnya, pada saat itulah anda sebagai
pendamping dituntut untuk memberikan pengarahan dan dorongan semangat
yang lebih besar lagi. Pengarahan diperlukan untuk membentuk kembali
keterampilannya yang menurun, disamping menunjukkan bahwa keterampilan
yang hilang itu membawa dampak yang kurang baik bagi organisasi maupun
dirinya sendiri. Tindakan pengarahan ketat dan dorongan semangat terus
menerus merupakan cara terbaik untuk meyakinkan dia tentang apa artinya
menjadi tidak terampil dan tidak berminat lagi pada pekerjaan.
Dari 2 ke 1 : "MENOLAK KERJA atau MINAT BERTENTANGAN
Dalam kasus-kasus tertentu yang jarang terjadi, organisasi anda mungkin akan
menghadapi satu atau lebih karyawan yang keterampilan pisik dan mentalnya
anjlok sampai titik terendah. Pada saat itu, mereka akan menolak kerja, atau
melakukan kegiatan-kegiatan yang sama sekali bertentangan dengan kegiatan
organisasi dan bahkan bisa menimbulkan bahaya bagi orang lain maupun
dirinya sendiri, Jika ini sampai terjadi, anda sebagai pendamping punya dua
pilihan : memberi mereka tugas baru yang lebih mereka sukai, atau PHK Tapi
tindakan terakhir ini hanya boleh terjadi Jika anda sudah mencoba melakukan
pengarahan yang terinci dan mengajak mereka bicara baik-baik, namun gagal.
Jika anda sudah mencoba melakukan tugas tersebut dengan baik, dan
ternyata masih tetap gagal juga anda boleh memecat mereka dengan hati yang
lebih lapang.
21
Kasus yang lebih sering terjadi adalah berubahnya minat kerja seorang
masyarakat sampai demikian rupa bertentangan tujuan dan kepentingan
organisasi. Jika ini terjadi, pelan tapi pasti, dia akan segera menemukan jalan
pelarian bagi minat barunya : atau dia keluar (mengundurkan diri atau kemauan
sendiri) atau tetap bekerja tapi malas dan seadanya saja, atau mulai membuat
kesulitan-kesulitan baru (sengaja berbuat konyol atau salah, mengganggu
rekan sekerjanya, menjadikan anda nampak sedemikian bodoh, dan menjadi
bahan tertawaan, mengorganisir pemberontakan kecil-kecilan, dan
sebagainya), atau bahkan bertingkah aneh-aneh yang membuat orang lain
bingung sekaligus jengkel (tapi justru membuatnya makin senang dan terhibur).
Di sinilah anda diharapkan pada dua pilihan tadi memutasikannya, atau
memecatnya sama sekali (habis perkara).
Itulah gambar proses daur ulang perkembangan mundur yang mungkin dialami
oleh masyarakat atau staff anda. Proses ini berlangsung dengan pengandaian
terjadi secara alamiah, tahap demi tahap. Untuk anda sendiri, sebagai
pemimpin, hadapi setiap perkembangan dengan gaya yang sesuai dan
memang tepat, Tingkat 1 atau proses mundur dari 2 ke 1, hadapi dengan Gaya
1, dan seterusnya. Jangan mengambil jatan pintas, dan itulah memang kaidah
dasar dari teori pendampingan situasional.
5. MEMAHAMI PERBEDAAN-PERBEDAAN KEPRIBADIAN
Meskipun anda sudah membaca semua dan mencoba memahami dengan
baik tentang teori pendampingan situasional, namun mungkin anda masih akan
menemukan kesulitan dalam menentukan cara terbaik untuk memerintah,
mengajak, melibatkan, dan atau melimpahkan wewenang kepada seseorang
(masyarakat).
Masalahnya, ada orang yang lebih suka dengan cara pembicaraan yang
singkat, praktis, tidak bertele-tele, dan langsung pada pokok persoalan.
Sementara itu, ada orang yang justru menyenangi penjelasan terinci, banyak
data dan informasi, lengkap dengan keterangan tentang yang akan terjadi
sesudahnya. Ada lagi orang yang lebih suka jika pembicaraan itu menyentuh
perasaan dan mempengaruhi pendapat orang lain, sementara ada juga orang
yang justru lebih menyenangi pembicaraan tentang konsep pemikiran yang
melatar belakangi suatu proses tertentu serta bagaimana konsep tersebut
diterapkan sebagai bagian dari suatu sistem yang lebih besar dan menyeluruh.
Perbedaan-perbedaan tersebut disebut sebagai ciri kepribadian, Untuk
mengetahui lebih lanjut tentang ciri kepribadian yang berbeda-beda tersebut,
kita dapat menggunakan tipologi yang dikembangkan oleh Reimer-Trump dan
kawan-kawan, berikut ini, dengan mengambil contoh reaksinya masing-masing
terhadap gaya pendampingan "memerintah'' (Telling, Gaya 1) dalam bagan
pendampingan situasional.
22
PENGGERAK (DOER):
Ciri kepribadian orang-orang yang menyukai pembicaraan singkat, praktis,
tidak bertele-tele, langsung pada inti persoalan, Tidak sabaran, ingin segera
mengetahui yang menjadi pokok (tujuan dan isi) pembicaraan. Meraka juga
umumnya ingin segera mengetahui umpan-balik tentang cara dan hasil kerja
mereka.
PEMIKIR (THINKER) :
Ciri kepribadian orang yang suka menyelidiki latar belakang pemikiran suatu
tindakan yang akan atau sedang dikerjakan, serta apa tindakan yang akan
menyertai atau akan dilakukan nantinya. Bagi para 'pemikir' ini, segala sesuatu
berjalan dan bergerak dalam suatu alur kegiatan yang runtut dari kejadian ke
kejadian berikutnya.
PERASA (FEELER) ;
Ciri kepribadian yang sangat mempedulikan orang lain, sehingga untuk setiap
tindakan mereka selalu ingin tahu dampaknya terhadap pikiran maupun
perasaan orang lain. Mereka ingin disenangi dan dihargai.
PENGGAGAS (INTUITOR):
Ciri kepribadian yang ingin tahu, mengapa? Bagi mereka, setiap tindakan
mestinya merupakan bagian dari sesuatu yang lebih besar (gagasan, cita-cita
dsb). Mereka akan selalu mencoba mengkaitkan antara suatu pekerjaan
(betapapun sepelenya) dengan hal-hal yang serba besar "wah"!
Tentu saja, keterangan tentang empat ciri kepribadian di atas hanyalah
sekedar contoh beberapa reaksinya saja, dan sangat tidak memadai. Untuk itu,
lebih baik anda lihat langsung tabel-tabel pada beberapa halaman berikut.
Tabel-tabel tersebut berisi uraian singkat, tapi lebih lengkap tentang ciri-ciri
dasar umum dari setiap jenis kepribadian diatas. Tabel-tabel tersebut bisa
membantu anda mengenali kelebihan dan kekurangan setiap jenis kepribadian
kesenangan-kesenangan mereka, gaya mereka, lingkungan kerja, cara
berkomunikasi mereka dan sebagainya. Juga tentang pandangan setiap jenis
kepribadian terhadap jenis kepribadian lainnya sebagai sumber konflik
potensial diantara keempatnya. Dengan demikian, anda lebih siap menghadapi
masyarakat atau rekan sekerja anda, bahkan juga atasan anda, dengan
mengenal baik : apa jenis ciri kepribadian mereka, apa kecenderungankecederungannya, dan apa sesungguhnya persepsi anda terhadap setiap jenis
kepribadian tersebut, dan bagaimana sebaiknya anda bersikap menghadapi
mereka. Dengan pemahaman tersebut:
1. Amati dan analisa dulu apa jenis kepribadian utama seseorang (masyarakat,
rekan sekerja, atasan) anda yang akan anda ajak bicara.
2. Pahami dengan baik jenis ciri kepribadian anda sendiri secara jujur, anda
akan tahu bagaimana orang-orang yang akan anda ajak bicara itu selama ini
memandang diri anda.
3. Tetapkan pola dan cara komunikasi terbaik dan paling mungkin anda
lakukan terhadapnya. Dalam hal ini, sebaiknya anda ikuti pola dan cara
23
berpikir mereka, misalnya ; jika anda seorang "pemikir1' cobalah
berkomunikasi dengannya dengan gaya seorang "pemikir" pula, dan
seterusnya.
6. CIRI KEPRIBADlAN DAN KONFLIK ANTAR PRIBADI
Pengetahuan tentang ciri kepribadian orang lain terutama akan sangat berguna
jika ciri kepribadian kita sendiri sangat berbeda atau bertentangan dengannya.
Banyak konflik antar pribadi justru karena ciri kepribadian antar setiap orang
memang berbeda.
Tetapi jika orang-orang menghayati adanya perbedaan tersebut dan menyadari
akan kelebihan dan kekurangannya masing-masing, perbedaan itu justru dapat
digunakan sebagai suatu sumber kekuatan yang bisa mendukung terjadinya
kemajuan dan pembaharuan-pembaharuan.
7. CIRI KEPRIBADIAN DAN EVOLUSI ORGANISASI NIRLABA
Ada dua jenis ciri kepribadian yang sering dikenali dan disebut-sebut pada
orang-orang yang bergabung dalam organisasi nirlaba selama ini, yaitu
kepribadian "pencetus" (founder) dan "pelanjut" (maintainer) Berikut ini adalah
suatu daftar ringkas tentang sifat-sifat dasar dan umum kedua jenis ciri
kepribadian tersebut (bandingkan dengan daftar sifat-sifat utama empat jenis
ciri kepribadian oleh Reimer Trump, dkk tadi) :

















PENCETUS
PEL
Lebih cenderung mengembangkan
hal-hal baru
Penuh gagasan
Banyak diarahkan oleh hal-hal dari
luar dirinya
Menyenangi masalah-masalah
kemasyarakatan
Sangat sadar politik
Senang mencoba-coba
Menyepelekan soal-soal rutin
Tidak sabaran
Sukar diduga (apa maunya)
Cekatan memimpin dan mengatur
Punya citra diri kuat
Lebih suka menemukan hal-hal
baru dari apa yang sudah ada
daripada mesti memulai dari awal
lagi sama sekali
Tidak suka diperintah
Tanggap
Agak sembrono
Suka meninggalkan sesuatu
terbengkalai (tidak tuntas)
Jelek sebagai penilik
PELANJUT


















Sabar
Stabil
Tergantung
Sangat tertib dalam soal waktu
Belajar dari orang lain
Tak suka politik
Banyak diarahkan oleh hal-hal dari
dirinya
Lamban mengikuti perkembangan
Orang rumah yang baik
Suka keteraturan dan kerapihan
Memiliki ingatan yang baik pada hal-hal
rutin
Menjelaskan sesuatu dengan urut,
tertatur dan jelas
Bagus sebagai penilik / pelatih / guru
Susah memahami konsep-konsep
Lamban / kurang tanggap
Tertib dan teratur
Melakukan segala sesuatu dengan baik
Segera memperbaikin diri bila mendapat
teguran
24
Tipologi di atas mungkin lebih memperjelas pada anda, jenis kepribadian
"pencetus" memiliki banyak persamaan dengan kepribadian "intuitor" dan
beberapa ciri "pelanjut" memiliki banyak persamaan dengan kepribadian pemikir.
8. CIRI KEPRIBADIAN DAN PENDAMPINGAN SITUASIONAL
Selanjutnya gambar berikut ini akan membantu anda untuk memadukan
konsep jenis ciri kepribadian dengan konsep teori pendampingan situasional.
Seperti anda ketahui, dalam hal ini penting untuk tidak hanya sekedar tahu
tahap perkembangan para masyarakat (anggota), tetapi juga harus tahu
termasuk jenis kepribadian apakah mereka itu, Pada gambar tersebut terlihat
empat ciri kepribadian yang bisa berlaku pada ke empat gaya pendampingan
dan ke empat tingkat perkembangan anggota dalam kerangka pendampingan
situasional. Demikian pula sebaliknya.
Anda tentu saja memiliki suatu gaya pendampingan alamiah dan suatu ciri
kepribadian utama. Mungkin sekarang anda dapati pada gambar tersebut.
Setelah itu, anda semakin paham, terdapat banyak kemungkinan bagi seorang
pendamping yang baik untuk secara lebih berdaya hasil memimpin berbagai
ragam kepribadian masyarakatnya yang bisa sangat membantu mereka
mengembangkan karir lebih baik pula. Perhatikan gambar tersebut dibawa ini
dan capailah suatu pemahaman dan wawasan pengertian yang lebih baik.
Download