Berikut ini adalah potongan batuan dari Gunung

advertisement
GUNUNG PARANGAN
Gunung Parangan atau sering disebut Devil Toward ini terletak di daerah
Karangsambung. Karangsambung dikenal oleh ahli kebumian sebagai kompleks mélange Luk
Ulo yang merupakan rekam dari proses dinamika bumi yaitu zona subduksi. Zona subduksi atau
penekukan terjadi ketika lempeng samudra bertabrakan dengan lempeng benua dan menelusu ke
bawah lempeng benua tersebut ke dalam astenosfer. Berikut ini adalah kenampakan sebagian
dari gunung parangan yang ditambang oleh warga secara illegal.
Berdasarkan gambar di atas terlihat batuannya berstruktur collumnar joint atau kekar.
Kekar adalah struktur rekahan pada batuan dimana tidak ada atau relatif sedikit sekali terjadi
pergeseran. Kekar adalah jenis struktur batuan dalam bentuk bidang pecah. Sifat bidang ini
memisahkan batuan menjadi bagian-bagian terpisah, sehingga struktur kekar ini merupakan jalan
atau rongga kesarangan batuan untuk dilalui cairan dari luar beserta materi lain seperti air, gas
dan unsur-unsur lain yang menyertainya. Sifat kesarangan batuan akibat kekar bertalian erat
dengan proses mineralisasi. Mineralisasi yang terjadi mineralisasi logam dasar termasuk logam
emas dan perak yang menguntungkan bagi manusia. Berikut ini gambar batuan dengan rongga
kesarangan yang mengalami proses mineralisasi.
Berikut ini adalah potongan batuan dari Gunung Parangan.
Diperkirakan
bahwa
Gunung
Parangan
merupakan hasil intrusi magmatis yang diduga
merupakan lanjutan dari jalur magmatis selatan
Pulau Jawa dan Sumatera. Magma (bahan
gunung api) yang menerobos ini membeku
sebelum sampai ke permukaan. Sejalan dengan
waktu, tanah di atas intrusi ini tererosi, dan
terbentuklah Gunung Parangan. Ciri-ciri batuan
yang berada di Gunugn Pucangan ini bila dilihat secara makroskopis adalah berwarna abu-abu,
berbutir sedang, tersusun atas mineral piroksen dan plagioklas, dan berbentuk seperti jarum yang
saling bersilangan terbentuk dari magma yang menerobos ke dekat permukaan. Berdasarkan cara
pembentukan dan ciri-ciri yang dimiliki, batuan di Gunung Parangan ini termasuk dalam batuan
beku Diabas yang kaya kandungan Fe dan kemungkinan terjadinya pada kala Miosen.
Batuan diabas termasuk langka di Indonesia karena untuk membentuk batuan jenis ini
diperlukan kondisi tertentu, sedangkan Indonesia merupakan wilayah yang termasuk dalam deret
busur gunung api yang memiliki tipe gunungapi kerucut sehingga magma yang dihasilkan
secara umum adalah magma andesitik. Diabas Gunung Parang Karangsambung merupakan salah
satu bahan galian golongan C. Diabas yang memiliki sifat yang kompak, pejal dan keras menjadi
salah satu bahan galian yang untuk pembangunan fisik di daerah Kebumen. Diabas Gunung
Parangan dapat dikatakan penyuplai batuan untuk bangunan fisik terbanyak di daerah Kebumen
utara. Kekar-kekar kolom yang ada pada batuan ini semakin memudahkan bagi penambang
dalam menggali untuk memperoleh bongkah batuan. Meskipun diabas merupakan batuan beku
yang mempunyai sifat padat, kompak dan cukup keras, namun nilai kuat tekan yang maksimal
704,85 kg/cm2 masih dibawah andesit yang mencapai 1.489,6 kg/cm2. Berdasarkan syarat mutu
batu alam untuk bahan bangunan (SII. 0378 – 80) batuan diabas Gunung Parang Karangsambung
hanya layak untuk batu hias/tempel, tonggak dan batu tepi jalan, dan penutup lantai/troto.
PILLOW LAVA
Kali Lokidang merupakan cabang atau anak sungai Luk Ulo. Di daerah ini terdapat batu
gamping merah, batu rijang dan batu basalt. Batu gamping merah dan Rijang secara teori
merupakan batuan yang hanya bisa ditemui di dasar lautan. Batuan ini terbentuk dari proses
sedimentasi dari hasil pelapukan batuan yang kemudian mengalami transport ke laut.
Sedimentasi dibedakan menjadi dua, yaitu:
1. Sedimentasi di dasar laut dangkal. Contohnya Gamping.
2. Sedimentasi di dasar laut dalam (lebih dari 4000m). Contohnya Rijang (chert)
Gunung berapi bawah laut adalah ciri-ciri biasa pada dasar laut. Setengah dari gunung api
bawah laut tersebut aktif dan pada laut dangkal menunjukkan kehadirannya dengan melontar uap
dan serpihan batu tinggi dari permukaan laut. Sedangkan yang lainnya terletak amat dalam
sehingga tekanan air yang amat berat di atasnya menghalang letupan pembebasan uap dan gas,
hal ini dapat diketahui melalui hidrofon dan petukaran warna air karena gas gunung berapi.
Letupan bawah laut yang besar sekalipun mungkin tidak mengocak permukaan laut. Gunung
berapi bawah laut seringkali membentuk tiang menegak. Setelah beberapa lama, ia mungkin
timbul pada permukaan laut sebagai pulau yang baru
Suatu hal yang menakjubkan, batuan dari samudra yang terbentuk 60-140 juta tahun yang
lalu bisa ditemui di Karangsambung. Menurut ilmu Geologi hal ini terjadi karena
Karangsambung dahulunya merupakan daerah subduksi, yaitu zona pertemuan 2 lempeng,
lempeng benua Eurasia dan lempeng samudra Hindia. Dahulu arah penunjamannya dari Timur
ke barat, dan dimungkinkan dari Karangsambung memanjang ke arah Kalimantan Selatan. Hal
ini ditunjukkan dari karakteristik batuan yang sama diakibatkan hasil proses pergeseran lempeng
yang sama. Pertemuan lempeng samudera akan menunjam kebawah dikarenakan berat jenis yang
lebih besar dibandingkan lempeng benua. Penunjaman terus berlangsung sampai ke perut bumi
yang mempunyai suhu dan tekanan yang tinggi, sehingga batuan menjadi meleleh kemudian ada
yang muncul keluar dari perut bumi. Singkapan-singkapan batuan kuno yang ada di
Karangsambung perlahan muncul di permukaan dikarenakan erosi tanah. Jadi bisa disimpulkan
bahwa batuan Karangsambung dahulunya merupakan batuan dasar lautan.
Pada daerah ini, sering dikenal dengan istilah Pillow Lava. Lava Bantal (pillow lava),
sesuai dengan namanya, aliran lava ini bentuknya menyerupai bantal yang tumpang tindih
dengan bentuk bekas aliran lava yang bongkahannya besar-besar hingga menyerupai seperti
bantal. Bekas aliran lava seperti ini disebabkan adanya proses pendinginan magma yang keluar
dari dalam perut bumi. Proses pendinginan ini berlangsung sangat cepat. Ketika magma keluar,
magma ini langsung terkena suhu dingin. Proses pembekuan yang tiba-tiba akibat kontak
langsung dengan masa air laut ini, membentuk mineral-mineral yang tidak terpilah dengan baik,
gumpalan-gumpalan magma mengalami proses pendinginan yang belum sempurna. Pendinginan
yang belum sempurna ini membentuk batuan yang kasar. Akan tetapi, tubuh lavanya masih
membentuk geometri mirip bantal sehingga disebut lava bantal (pillow lava). Proses
terbentuknya lava bantal adalah saat mengalir dan mengalami pendinginan serentak oleh air laut,
selanjutnya bagian kulitnya langsung membeku dan tertahan tekanan hidrostatis sehingga
membentuk batuan beku membulat atau melonjong. Bentuknya bulat lonjong inilah yang disebut
lava bantal dan pada umumnya berkomposisi basalt yang bersifat asam. Hal ini mengakibatkan
gumpalan-gumpalan magma mengalami proses pendiginan yang belum sempurna. Pendinginan
yang belum sempurna ini membentuk batuan yang kasar. Hal ini sering terjadi pada gunung
berapi yang terletak di dasar laut. Seketika magma keluar, langsung bertemu dengan arus laut
yang dingin di dasar laut. Ukuran dari lava bantal ini sekitar 30 – 60 cm, dengan jarak antar
bantal berdekatan yang diantaranya diisi oleh batuan klastik. Sering dijumpai bersamaan dengan
batuan sedimen marine sehingga dapat disimpulkan terbentuk di bawah permukaan air.
Berdasarkan ciri-ciri fisiknya, lava bantal ini terbentuk pada zona pemekaran lantai
samudera (sea floor spreading) sebagai bagian kegiatan vulkanik bawah laut. Ciri fisik batuan ini
adalah membentuk pola bantal, berwarna hitam, keras, bertekstur afanitik. Saat ini, singkapan
batuan lava bantal di kali Muncar berwujud dinding lava hampir tegak karena telah mengalami
pengangkatan dan pensesaran yang dicirikan adanya kekar dan cermin sesar sebagai konsekuensi
dari aktivitas tektonik yang cukup kuat.
Menurut pakar geologi Prof. Emmy Suparka (1988), berdasarkan pentarikhan penentuan
umur absolut menggunakan metoda radiometrik K/Ar, batuan ini berumur 81 juta tahun atau
terbentuk pada zaman Kapur Akhir. Batuan ini lebih muda dari batuan tertua yang ditemukan di
pulau Jawa yaitu batuan metamorfik batu sekis mika di Kompleks Melange Luk Ulo yang
berumur 117 juta tahun atau terbentuk pada zaman Kapur Awal
Gunung api bawah laut terbentuk pada pada daerah “Pemekaran Kerak Samudera (zona
divergen). Karena adanya arus konveksi yang berlawanan (saling bertolak belakang),
menyebabkan kedua lempeng semakin menjauh .Pada proses ini menyebabkan zona pemekaran
menjadi tipis. Hal ini menyebabkan cairan pijar (magma) dari lapisan astenosfer menembus dan
menerobos kerak melalui zona yang tipis. Karena pengaruh pendinginan secara tiba-tiba akibat
temperatur yang sangat berbeda, menyebabkan magma ini membeku secara tiba-tiba dan
membentuk gugusan gunung api bawah laut yang masih aktif. Pada umumnya pada daerah
gugusan gunung api bawah laut dijumpai lava bantal akibat pembekuan yang secara tiba-tiba
kontak dengan air . Pada umumnya, gunung api yang terbentuk pada zona ini mempunyai ukuran
yang cukup besar. Pembentukan gugusan gunung api bawah laut berada pada sepanjang daerah
pemekaran lantai dasar samudera.
Di baguian bawah aliran pillow lava ini, ditemukan batuan besar yang berwujud
menyerupai tembok / dinding raksasa yang cukup unik. Keunikannya adalah batuan ini memiliki
warna yang menarik, yaitu selang-seling antara merah dan hitam. Konon, batuan ini bernama
Rijang dan batuan merah tersebut bernama batu gamping merah. Susunan batuan dasar laut ini,
adalah susunan berlapis berselang-seling antara batu Rijang dan batu gamping Merah.
Pengidentifikasian susunan ini dapat disebut susunan batuan dasar laut. Hal ini diketahui
dari keberadaan fosil Radiolaria, yaitu makhluk hidup jaman purba yang habitatnya ada di
perairan laut dalam. Sehingga para ilmuwan setempat dapat menyimpulkan bahwa adanya Pillow
lava dan susunan berseling antara batuan Rijang dan batu Gamping merah merupakan batuan
penyusun dasar lautan. Aliran lava bantal dicirikan antara lain oleh:
1. Bentuk memanjang agak membulat, seperti bantal guling atau sosis, sekaligus menunjukkan
struktur aliran.
2. Di bagian permukaan tubuh aliran terdapat kulit kaca (glassy skin), sedang ke arah tengah
semakin banyak kristal, atau paling tidak bertekstur afanit.
3. Struktur rekahan dan aliran (ropy wrinkle) terdapat dipermukaan, sedang dari penampang
terlihat struktur konsentris dan rekahan radier.
4. Batuan umumnya berkomposisi basal, mungkin berasosiasi dengan hyaloclastites.
SUNGAI LUK ULO
Daerah Karangsambung terlintasi sebuah sungai yang besar dan penting di Kabupaten
Kebumen, yaitu Sungai Luk Ulo. Sungai ini mempunyai arti penting karena merupakan salah
satu sumber air permukaan di daerah Kebumen. Sungai ini terletak titik koordinat 07°32’15,9”
LS - 109°40’37,6” BT dengan elevasi 75 meter. Sungai Luk Ulo berjarak sekitar 200 m ke arah
barat dari UPT BIKK Karangsambung – LIPI, kaki bukit Pesanggrahan. Sungai Luk Ulo
membelah dua wilayah Kabupaten Kebumen. Bagian barat mulai dari Pejagoan sampai dengan
perbatasan Banyumas, sedangkan bagian timur mulai dari Kota Kebumen sampai dengan
perbatasan Kabupaten Purworejo.
gambar : sungai Luk Ulo dari ketinggian
Luk Ulo berasal dari kata luk dan ulo, luk berarti liku ulo berarti ular. Diberi nama Sungai
Luk Ulo dikarenakan kenampakan sungai yang meliuk-liuk seperti ulo (ular). Bentuk meliuk-liuk
Sungai Luk Ulo menurut penelitian LIPI menunjukkan bahwa pembentukan sungai melalui
proses penerobosan batuan sediman tua yang dinamakan formasi Totogan dan formasi
Waturanda di Karangsambung, dua formasi yang terdiri dari batuan-batuan beku vulkanik.
Sungai Luk Ulo dimana sisi kiri jalan langsung berbatasan dengan sungai dan sisi kanan terdapat
tebing batu yang merupakan batuan sedimen raksasa yang terbentuk dari batuan vulkanik dan
batuan pasir.
Sekitar 300 m ke arah utara tepatnya dari kaki bukit Sipako, terdapat singkapan blok
rijang-batugamping merah yang menunjukan kontak sesar dengan fillit di bagian selatan dan
dengan greywacke di bagian utara. Pada kaki bukit Sipako terdapat singkapan fillit-grafit yang
telah mengalami perlipatan. Batuan ini diinterpretasikan sebagai produk selama proses subduksi
yang mentransfer sedimen palung ke dalam metamorfosa derajat rendah. Singkapan ini telah
mengalami deformasi lanjut yang ditunjukan oleh sesar-sesar naik, jalur milonit, dan fault gouge.
Pada lokasi ini dijumpai batuan sedimen konglomerat berwarna abu-abu cerah dengan
fragmen bervariasi (kuarsa, batupasir, rijang, batuan beku, dan batuan metamorf) yang tersemen
sangat kuat. Konglomerat ini merupakan bongkah sangat besar hasil pelongsoran.
Pada sungai Luk Ulo terdapat batuan metamorf nonfoliasi dan foliasi serta batuan
metamorf derajat tinggih berupa batuan skis mika dan batuan metamorf derajat rendah berupa
fillit. Hal ini dikarenakan temperatur dan tekanannya rendah. Batuan ini berasal dari batu
lempeng di palung-palung yang mengalami tekanan dan temperatur tinggi sehingga terbentuk
batuan metamorf. Batuan ini berasal dari batuan fiolit, contohnya batuan sekismika yang
merupakan pondasi di Pulau Jawa karena merupakan batuan paling tua di Pulau Jawa yaitu
berumur 117 juta tahun (Pre-Tertier), teksturnya berupa repidoblastik.
Bagian hulu lembah sungai Luk Ulo berbentuk relatif lurus, sempit dan dalam menyerupai
huruf V. Semakin ke hilir terutama di daerah Karangsambung bentuk lembah sungai Luk Ulo
berubah relatif dangkal dan berkelak-kelok. Dalam sejarah alirannya, sungai bagian hulu
mengalami proses erosi vertikal lebih dominan sehingga lembahnya cukup dalam dan
menyerupai huruf V. Semakin ke hilir erosi yang berkembang adalah erosi horisontal sehingga
kedalaman sungai akan berkurang dan alirannya dapat berbelok-belok atau dikenal dengan
sungai meander. Hal tersebut menyebabkan tali arus dari sungai Luk ulo berada pada tepian
sungai. Sungai Luk Ulo dapat digolongkan menjadi sungai mender ada 4 segmen, yaitu:
1. Kelokan sungai di daerah Kalikayen Pucangan, batuan penyusunnya berupa endapan
alluvial berupa batu lempung serta kompleks melange.
2. Kelokan sungai di daerah Pesanggrahan, batuan penyusunya berupa endapan alluvial.
3. Kelokan sungai di daerah Kedungwaru, di sekitar bukit Pesanggrahan (O) yang dominan di
kontrol oleh litologi penyusun yang resisten (konglomerat). ini terdiri dari material berukuran
lempung, pasir, kerikil dan kerakal.
4. Kelokan sungai di daerah Seling, batuan penyususnnya berupa endapan alluvial.
Dari 4 segmen tersebut, secara umum batuan penyusunnya berupa endapan alluvial yaitu
batu lempung bercampur kerikil. Sehingga mempengaruhi warna sungai Luk Ulo yaitu berwarna
hijau kebiruan. Namun pada saat pengamatan sedang berlangsung musim hujan sehingga warna
sungai menjadi coklat tua. Erosi yang terjadi di Sungai Luk Ulo tergolong tinggi disebabkan
aktivitas penambangan pasir yang besar. Volume pasir yang ditambang lebih besar dari
sedimentasinya jadi lahan yang ada rusak akibat erosi yang tinggi.
Gambar: penambangan pasirdi Sungai Luk Ulo
Selain dimanfaatkan untuk penambangan pasir, sungai ini juga dimanfaatkan warga untuk
irigasi. Sungai Luk Ulo menjadi saluran irigasi yang mengaliri ribuan hektare persawahan
penduduk.
Vegetasi di sekitar sungai Luk ulo tergolong
kurang lebat. Jenis vegetasi nya antara lain pohon pinus
yang berada pada tepian sungai dekat jalan. Hutan pinus
ini tidak terlalu luas. Pohon pinus bukan hanya
dimanfaatkan sebagai vegetasi namun juga dimabil
getahnya untuk dibuat bahan cat. Saat pengamatan
tampak wadah getah pinus pada setiap pohonnya. Wadah
getah ini berada dibawah pohon pinus tepatnya dibawah
aliran getah.
Gambar: pohon pinus di tepi Sungai Lok Ulo
Pada sungai ini terdapat pula beragam jenis bebatuan yang berada ditepi sungai. Selain
batu di tepi sungai ini kami juga menemukan jenis fosil. Keberadaan fosil sangat sulit ditemukan
berbeda dengan jenis-jenis batu pada tepi sungai ini. Sebagian besar batu-batu yang terdapat
pada tepi sungai ini adalah sebagai berikut.
gambar: batu-batu di tepi sungai Luk Ulo
a. Batuan beku
Merupakan batuan yang terbentuk akibat dari pendinginan dan kristalisasi magma
didalam bumi ataupun diluar permukaan bumi. Magma dapat mendingin dan membeku di
bawah atau di atas permukaan bumi. Bila membeku di bawah permukaan bumi, terbentuklah
batuan yang dinamakan batuan beku dalam atau disebut juga batuan beku intrusive (sering
juga dikatakan sebagai batuan beku plutonik). sedangkan bila magma dapat mencapai
permukaan bumi kemudian membeku, terbentuklah batuan beku luar atau batuan beku
ektrusive. Pada saat magma mengalami penurunan suhu / pendinginan akibat perjalanan ke
permukaan bumi, maka mineral-mineral akan terbentuk. Peristiwa tersebut dikenal dengan
peristiwa penghabluran.
Keragaman tekstur batuan beku diakibatkan oleh sejarah pendinginan magma,
sedangkan komposisi mineral bergantung pada kandungan unsur kimia magma induk dan
lingkungan krsitalisasinya.
1. Basalt (Basalt)
Batuan beku basa berwarna gelap (hitam), berbutir halus dan banyk mengndung mineral
plagioklas dan piroksen, kandungan silika (SiO2) rendah (45-50%), Basal berbentuk dari
larutan magma yang menerobos hingga mencapai permukaan bumi berbentuk lava yang
kemudian membeku dengan cepat.
2.
Gabro (Gabbro)
Batuan beku berbutir kasar, komposisi mineralnya sama dengan yang di kandung oleh
Basal. Batuan ini berasal dari magma yang proses pembekuannya secara perlahan dan
lebih dalam dari permukaan bumi (plutonik) dibanding proses pembekuan basal,
sehingga butiran mineralnya tumbuh lebih besar.
3.
Granit (Granite)
Disebut batuan beku asam berbutir kasar. Mineral pembentuknya berwarna terang
(kuarsa ortoklas) proses pembekuannya perlahan dan jauh dari permukaan bumi.
4.
Andesit (Andesite)
Batuan beku berwarna abu-abu gelap yang terbentuk sebagai lava mempunyai basat.
Andesit dapat dibedakan dengan basat dengan adanya mineral-mineral kasar seperti
plagioklas, homlenda dan biolit.
5.
Diabas (Diabase)
Batuan beku berwarna abu-abu yang berbutir sedang. Mineral piroksen dan plagioklas
berbentuk seperti jarum yang sling bersalingan. Diabas terbentuk dari magma hingga
menerobos dekat permukaan.
6.
Dasit (Dasite)
Batuan beku berwarna abu-abu terang dicirikan dengan mineral plagioklas berbutir kasar
dalam masa dasar lebih halus.
b. Batuan sedimen
Batuan yang terbentuk oleh proses pengendapan mineral dari partikel-partikel batuan. Batuan
sedimen umumnya membentuk susunan yang berlapis-lapis.
1. Rijang (Chert)
Disebut sebagai batuan sedimen laut dalam. Batuan ini terbentuk oleh proses
pengendapan yang terjadi pada dasar samudra. Fosil renik Radiolaria yang dijumpai di
dalam batu rijang di daerah karang sambung menunjukan umur 85 juta tahun hingga 140
juta tahun yang lalu.
2. Konglomerat (Conglomerate)
Batuan sedimen klastik yang disusun oleh flagmen dan butiram mineral batuan berbentuk
membulat berukuran kecil (lebih besar dari 2 mm). Fragmen-Fragmen ini diikat oleh
masa dasar batu pasir.
3. Batugamping Numulites (Nummulite Limestone)
Yaitu batuan sedimen bioklastik yang dipenuhi oleh posil foraminivera nummulites. Fosil
nummulites memberi petunjuk bahwa batuan ini diendapkan di laut dangkal dan berumur
hingga 55 juta tahun yang lalu.
4. Batu Gamping Merah (kalsilutite)
Batuan ini terbentuk di dasar laut dalam dimana batu gamping masih bisa terbentuk. Di
daerah karang sambung batu gamping merah berselang seling dengan batu rijang.
5. Kalkarenit (calcarenit)
Merupakan jenis batu gamping klastik yang berukuran butir menyerupai butir batu pasir.
Batuan ini terbentuk dilingkungan laut. Butiran berukuran pasir bis aberupa mineral
kuarsa di dalam masa dasar karbonat.
c. Batuan Metamorf
Yaitu btuan yang terbentuk dari batuan asal yang dipengaruhi oleh tekanan dan
temperatur
1.
Kuarsit (Quarzite)
Batuan metamorf yang disusun oleh mineral kuarsa (SiO2) berwarna putih terang.
Kuarsit terbentuk dari metamorposa batu pasir kuarsa
2. Serpentinit (Serpentinite)
Yaitu batuan metamorf yang merupakan ubahan dari batuan ultra basa (misalnya dunite)
penyusun kerak samudra serpentinit memiliki warna kehijauan yang ornamental
3.
Skis Mika (Mica schist)
Yaitu batuan metamorf berwarna putih keperakan oleh hadirnya mineral mika.
Umumnya kepingan mika berukuran lebih dari 1 mm saling berangkai membentuk
bidang-bidang yang saling sejajar (disebut schistosity).
4.
Filit (Phyllite)
Yaitu batuan metamorf hasil dari metamorfik regional suatu daerah, berbutir halus yang
merupakan ubahan dari batu lempung. Filit berwarna hitam keperakan dari minerl klorit,
muskopit dan serisit yang membentuk saling sejajar.
5.
Marmer (Marble)
Yaitu batuan metamorf yang masif (tidak berpoliasi) berwarna terang dan biasanya
sangat keras. Marmer merupakan ubahan dari batu gamping
6.
Gneis (Gneiss)
Yaitu batuan metamorf berbutir kasar dan memperlihatkan “perlapisan”. Kesan
perlapisan ini sebagai hasil pemisahan mineral-mineral warna gelap dan mineral
berwarna terang.
PUCANGAN
Secara geografis Desa Pucangan :
a. Geologi
Geologi merupakan salah satu ilmu bantu dalam geografi dalam mengkaji bagian litosfer
khususnya batuan. Batuan yang ada di kawasan Pucangan ini memiliki jenis batuan dasar
Metamorf yang berupa Serpentinit. Serpentinit merupakan batuan ubahan dari batuan ultra
basa berwarna hijau mengkilap hasil pembekuan magma pada kerak samudera. Proses
ubahannya sendiri terjadi dalam dua fase. Fase pertama terjadi pada saat batuan tersebut
bersentuhan dengan lingkungan air laut, sedangkan fase kedua terjadi pada saat masuk ke
zone tunjaman dan terangkat ke permukaan bumi. Kesan mengkilap dan bergaris-garis tipis
akibat bergesekan antar batuan karena terjadi patahan. Sekitar satu kilometer di sebelah utara
lokasi ini pernah diusahakan tambang asbes hasil ubahan lebih lanjut dari batuan serpentinit.
Struktur batuan tersebut massive dan terkekarkan. Pecahanannya concoidal dan kekerasannya
3-4<6. Batuan ini termasuk batuan paramagnetic.
b. Geomorfologi
Pucangan terletak pada titik koordinat South 07° 31’17’’, East 109° 41’33,6’’. Di kawasan
Pucangan ini bentuk lahan/ unit fisiografinya berupa pegunungan lipatan. Bentuk ini
dipengaruhi oleh proses geologis berupa patahan yang dapat dilihat dari struktur lipatannya
yang bergaris-garis. Ditinjau dari segi topografinya, Pucangan memiliki sudut kemiringan 03%, bentuk lereng tidak beraturan yang salah satunya disebabkan oleh eksploitasi batuan
Surpentit seperti yang telah dikemukakan di atas. Sedangkan di kawasan Pucangan, tingkat
erosi tergolong sedang. Hal ini disebabkan oleh tanah di sekitarnya berupa tanah lempung
yang diketahui dari vegetasi yang ada di lingkungan tersebut.
c. Vegetasi
Vegetasi di wilayah Pucangan ini beraneka ragam sesuai dengan kondisi tanahnya. Tanah
yang terletak di daerah banjir relative subur karena banyak mengandung materi dari aliran
air. Di tempat ini banyak ditemukan padi, sedangkan untuk daerah yang lebih tinggi terdapat
pohon kelapa, ketela pohon dan bambu. Untuk daerah puncak gunung hanya ditemukan
berbagai jenis rumput. Oleh karena itu bentuk daunnya meruncing. Pola penyebaran
vegetasinya menyebar yang dipengaruhi oleh relief daerahnya yang tidak rata, berbatu dan
berlapis-lapis.
d. Cuaca dan iklim
Iklim suatu daerah disusun oleh unsure-unsur yang variasinya besar, sehingga tidak mungkin
dua tempat yang berbeda mempunyai ikklim yang identik. Iklim pada saat itu adalah
penghujan tapi suhu yang dirasakan panas. Hal ini dikarenakan angin yang dibawa adalah
angin kering, selain itu daerah Pucangan ini merupakan daerah bayangan hujan sehingga
hujan yang dibawa terhalang oleh perbukitan memanjang dari formasi Waturanda.
Cuaca di wilayah Pucangan pada saat observasi dilakukan adalah cerah. Ini dapat dirasakan
dengan suhu udaranya yang panas. Kondoso langit di Pucangan pada saat itu adalah berawan.
e. Perairan
Perairan yang ada di wilayah Pucangan berasal dari Daerah Aliran Sungai (DAS) Sungai Luk
Ulo yang bentuk penampang sungainya berkelok-kelok yang mana hal ini disesuaikan
dengan keadaan perbukitan dan gunung yang ada di sekitarnya. Jika musim hujan, debit air
sungai ini akan tinggi sebaliknya jika musim kemarau maka debit airnya rendah. Secara
geomorfologi, Sungai Luk Ulo termasuk ke dalam sungai antecedent yakni sungai yang dapat
mempertahankan arah aliran setelah terjadinya pengangkatan. Di sungai Luk Ulo berbentuk
meander dengan banyaknya sedimentasi di setiap kelokan yang dimanfaatkan penduduk
untuk dijadikan areal pertambangan pasir.
f. Tata guna lahan
Daerah ini termasuk daerah pra-tersier yang memiliki cirri-ciri yang berbentuk prisma
runcing dan juga bisa disebut kompleks mélange, dimana bentuk alami dari daerah ini
merupakan daerah semak terbuka. Disana juga terdapat hutan jati yang bisa bertahan hidup
lama dengan cara menggugurkan daunnya pada saat musim kemarau. Pohin kelpa banyak
dijumpai pada perkebunan parennials yang terdapat di daerah pratersier ini. Lahan pertanian
di daerah ini banyak dikelilingi sawah yang berjenis tanaman padi karena saluran irigasi yang
digunakan bersifat setengah teknis.
Letak astronomis pucangan terletak pada 07 31 34,3 LU dan 109 40 37,5 LS tepatnya di
Bukit Pesanggrahan. Di lokasi ini terdapat batuan berwarna hijau gelap dan mengkilat yang
dinamakan serpentinit. Batu ini adalah batuan dari batuan ultra basa berwarna gelap. Merupakan
hasil dari pembekuan magma pada kerak samudera.
Proses terjadinya batuan ini terbagi menjadi dua fase, yaitu:
1. Fase pertama
Terjadinya pada saat batuan ini bersentuhan dengan lingkungan.
2. Fase kedua
Terjadi pada saat masuk zona tunjaman dan terangkat ke permukaan bumi.
Penggunaan lahan di daerah puncangan untuk lahan persawahan basah (padi) dan
tegalan.Pada daerah sebelah selatan digunakan untuk persawahan basah (padi) karena
lahannya yang berupa dataran.Sedangkan pada bagian utara lebih digunakan untuk tegalan
dikarenakan lahannya berupa dataran tinggi dan batuan. Di sekitar daerah ini dimanfaatkan
sebagai lahan pertanian padi.
Batuan Serpentinit merupakan batuan metamorf yang terbentuk dari mineral serpentin
akibat perubahan basalt dasar laut yang bertekanan tinggi pada temperatur rendah. Mineral
serpentin tergolong dalam kelas mineral Silikat yaitu Phyllosilicates. Batuan Serpentinit sering
digunakan untuk batu hias dan dipakai untuk industri mineral. Batuan ini banyak ditemukan di
negara Swedia, Italia, Rusia, di wilayah California, dan pertambangan Norberg dan wilayah
Karangsambung ini termasuk di dalamnya.
Batu Serpentinit
Mineral Serpentin mengandung chrysotile yaitu mineral serpentin yang mengkristal
membentuk serat tipis yang panjang. Mineral serpentin memiliki beberapa senyawa kimia antara
lain:
1. Antigorite; (Mg, Fe)3 Si2 O5 (OH)4
2. Clinochrysotile; Mg3 Si2 O5 (OH)4
3. Lizardite; Mg3 Si2 O5 (OH)4
4. Orthochrysotile; Mg3 Si2 O5 (OH)4
5. Parachrysotile; (Mg,Fe)3 Si2 O5 (OH)4
Berikut karakteristik Batu Serpentinit:
1. Warna Hijau kehitaman, cokelat, merah dan hitam
2. Kekerasan 2,5-5
3. Bidang Belahan (Cleavage) Tidak ada
4. Kilauan (Luster) Berminyak atau lilin
5. Bentuk Kristal Ortorombik, monoklin, dan heksagonal
6. Berat Jenis 2,5-2,6
7. Goresan Putih
Berikut ini adalah gambar batu Serpentinit di daerah Pucangan.
Batuan serpentinit berwarna hijau gelap mengkilap. Batuan ubahan dari batuan ultra basa
berwarna gelap hasil pembekuan magama pada kerak samudera ini terjadinya batuan ini melalui
dua fase, fase pertama terjadi saat batuan ini bersentuhan dengan lingkungan laut, sedangkan
fase kedua terjadi pada saat masuk zona tunjaman dan terangkat ke permukaan bumi.
Untuk mencapai daerah pucangan yang merupakan tempat yang memiliki batu serpentinit
ini tidaklah terlalu sulit, karena berada di tepi jalan persis. Tempatnya cukup mencolok karena
seperti bukit dengan warna yang berbeda dari sekelilingnya.
KALI MUNCAR
Kali Muncar terletak pada titik koordinat 07°30’47,5” LS - 109°42’27,1” BT. Lokasi Kali
Muncar terletak di desa Setor kecamatan Sadang. Kali Muncar terletak cukup jauh dari base
camp Karangsambung. Untuk mencapainya harus berjalan kaki melewati persawahan dan
menyusuri sungai. Hal ini tidaklah melelahkan karena akan disuguhi pemandangan nan elok di
sepanjang perjalanan menuju lokasi. Secara visual kita akan dapat menikmati pemandangan yang
menakjubkan.
Pada dinding Kali Muncar terdapat batuan sedimen berwarna merah memanjang sekitar
100 meter seperti kelir atau layar pertunjukan wayang dengan batuan beku pada bagian atasnya
laksana kenong dan gongnya. Sehingga masyarakat sekitar menamakan singkapan batuan ini
dengan nama Watu Kelir. Bentuk watu kelir ini seperti kue lapis, karena formasi batuannya
selang-seling antara rijang dengan gamping merah. Batuan rijang terbentuk di kedalaman 4000
meter di bawah permukaan laut, sementara gamping merah terbentuk di bawah kedalaman 4000
meter. Hal ini disebabkan karena pengaruh tektonik yang naik turun sehingga terbentuklah
formasi selang-seling ini.
Jenis batuan yang terdapat di lokasi ini yaitu:
a. Bagian atas
Batuan beku di bagian atas dinding terdapat batuan bulat memanjang yang
merupakan lava basal berstruktur bantal yang sering disebut pillow. Batuan ini merupakan
batuan beku ekstrusif yakni membeku diluar atau diatas permukaan tetapi hampir masuk ke
dalam air. Proses pembentukan batuan mengalami hidrostatis sehingga bentuknya bulat atau
berbentuk dome. Batuan ini kemungkinan terbentuk di laut (lempeng samudra) sehingga
batuan ini bersifat basa dan berwarna gelap. Batuan ini juga disebut sebagai pilow basa atau
pilow lava. Lava ini terbentuk pada zone pemekaran dasar samudera, yang berdasarkan
penentuan umur secara radioaktif diketahui berumur 81 juta tahun atau pada zaman kapur.
Batuan pada lokasi ini membuktikan bahwa setidaknya sekitar 81 juta tahun lalu kawasan ini
merupakan dasar samudera dengan kedalaman lebih dari 8.000 meter. Melalui gaya tektonik
yang sangat kuat, daerah ini mulai terangkat di atas muka laut pada kala Eosen 55 juta tahun
lalu.
b. Bagian dinding
Bagian dinding merupakan batuan sedimen yang terdiri atas lapisan rijang dan lapisan
lempung merah gampingan. Kedua batuan ini memiliki struktur yang berbeda dimana batu
gamping merah berwarna merah muda, sedang batu rijang berwarna coklat dengan
strukturnya lebih halus dan terlihat lebih mengkilap. Batu rijang merupakan batuan yang
mengandung silikat. Sedangkan batu gamping berwarna merah karena terdapat oksidasi besi,
diantara kedua batuan tersebut terdapat garis-garis berwarna putih yang merupakan mineral
proses pelapukan batu gamping yang mengkristal membentuk kalsit. Kedua batuan ini saling
berdampingan padahal apabila kita teliti masing-masing diendapkan di tempat yang berbeda.
Batu gamping merah ini diendapkan dilaut dangkal sedangkan batu rijang diendapkan di laut
dalam. Batuan rijang terbentuk di kedalaman 4000 meter di bawah permukaan laut,
sementara batu gamping merah terbentuk di bawah kedalaman 4000 meter. Formasi selang
seling ini terbentuk karena pengaruh tektonik yang naik turun (berfluktuasi). Berikut adalah
gambar hasil dokumentasi dari pengamatan kami.
Komposisi gamping (kalsium karbonat) dalam batu gamping merah sekitar 60%. Kalsium
karbonat dalam batu gamping merah dapat dibuktikan dengan meneteskan larutan HCl pada
lapisan yang berwarna merah muda dimana akan terbentuk gelembung-gelembung berwarna
putih. Gelembung-gelembung tersebut adalah gas-gas CO2 hasil reaksi dari kalsium karbonat
dengan HCl sesuai dengan persamaan reaksi berikut:
CaCO3(s)
Kalsium Karbonat
+ 2HCl(l)
Asam Klorida
CaCl2(s) + H2O(aq) + CO2(g)
Kalsium Klorida
Karbon Dioksida
Rijang merupakan batuan sedimen yang diendapkan di laut dalam (abyssal).
Berdasarkan kandungan fosil renik Radiolaria (Wakita,dkk 1996) menunjukan bahwa batuan ini
berusia 80 juta tahun atau Zaman Kapur Atas, sedangkan batu gamping merah adalah endapan
plankton gampingan yang mungkin terkumpul pada bagian-bagian meninggi.
Rijang adalah batuan endapan silikat kriptokristalin dengan permukaan licin (glassy).
Batuan ini termasuk di dalam batuan pra tersier yang termasuk dalam kelompok batuan sedimen
pelagos biogen yang terdiri dari rijang (chert) dan batugamping merah. Ada yang menyebutnya
sebagai “batu api” karena jika diadu dengan baja atau batu lain akan memercikkan bunga api
yang dapat membakar bahan kering. Rijang biasanya berwarna kelabu tua, biru, hitam, atau
coklat tua. Rijang terutama ditemukan dalam bentuk nodul pada batuan endapan seperti kapur
atau gamping. Sejak Zaman Batu, rijang banyak dipergunakan untuk membuat senjata dan
peralatan seperti pedang, mata anak panah, pisau, kapak, dll.
Kebanyakan perlapisan rijang tersusun oleh sisa organisme penghasil silika seperti
diatom dan radiolaria. Endapan tersebut dihasilkan dari hasil pemadatan dan rekristalisasi dari
lumpur silika organik yang terakumulasi pada dasar lautan yang dalam. Lumpur tersebut
bersama-sama terkumpul dibawah zona-zona plangtonik radiolaria dan diatom saat hidup di
permukaan air dengan suhu yang hangat. Saat organisme tersebut mati, cangkang mereka
diendapkan perlahan di dasar laut dalam yang kemudian mengalami akumulasi yang masih
saling lepas. Material-material tersebut diendapkan jauh dari busur daratan hingga area dasar
samudra, saat suplai sedimen terrigenous rendah, dan pada bagian terdalam dari dataran abyssal
terdapat batas ini dinamakan carbonate compensation depth (CCD), dimana akumulasi materialmaterial calcareous tidak dapat terbentuk. Hal ini dikarenakan salah satu sifat air adalah air
dingin akan mengikat lebih banyak CO2 dibandingkan air hangat. Di laut, terdapat satu batas
yang jelas di mana kandungan CO2 di bawah lebih tinggi. Di bawah batas tersebut, kandungan
CO2 sangat tinggi akibatnya organisme yang mengandung karbonat akan larut di CCD sehingga
tidak akan mengendap karena tidak pernah sampai ke dasar laut. Carbonate compensation depth
ini terletak sekitar kedalaman 2500 meter atau 2,5 kilometer di bawah permukaan laut. Di atas
carbonate compensation depth, sekitar 2000 meter, terdapat suatu daerah yang disebut lysocline.
Di sini, sebagian karbonat sudah mulai melarut sebagian. Berberapa perlapisan rijang belum
tentu berasal dari bahan organik. Bisa saja berasal dari presipitasi silika yang berasal dari dapur
magma yang sama pada basaltik bawah laut (lava bantal) yang mengalami presipitasi bersamaan
dengan perlapisan rijang.
Proses pembentukan rijang belum jelas atau disepakati. Secara umum batuan ini
terbentuk sebagai hasil perubahan kimiawi pada pembentukan batuan endapan terkompresi yang
terjadi pada proses diagenesis. Ada teori yang menyebutkan bahwa bahan serupa gelatin yang
mengisi rongga pada sedimen, misalnya lubang yang digali oleh mollusca, yang kemudian akan
berubah menjadi silikat. Teori ini dapat menjelaskan bentuk kompleks yang ditemukan pada
rijang. Rijang (Chert) merupakan batuan yang sangat keras dan tahan terhadap proses lelehan,
masif atau berlapis, terdiri dari mineral kuarsa mikrokristalin, berwarna cerah hingga gelap.
Rijang dapat terbentuk dari hasil proses biologi (kelompok organisme bersilika, atau dapat juga
dari proses diagenesis batuan karbonat). Batuan sedimen silika tersusun dari mineral silika
(SiO2). Batuan ini dihasilkan dari proses kimiawi dan atau biokimia. Batuan ini juga berasal dari
kumpulan organisme yang tersusun dari silika seperti diatome, radiolaria dan sponges. Batuan
karbonat juga dapat menjadi batuan bersilika apabila terjadi reaksi kimia, dimana mineral silika
mengganti kalsium karbonat.
Download