PENGARUH PERAN SERIKAT PEKERJA

advertisement
PENGARUH PERAN SERIKAT PEKERJA TERHADAP
PERJANJIAN KERJA BERSAMA
PADA PT UNITED TRACTORS, Tbk
Oleh
WAWAN ERFIANTO
H24104010
PROGRAM SARJANA ALIH JENIS MANAJEMEN
DEPARTEMEN MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2014
PENGARUH PERAN SERIKAT PEKERJA TERHADAP
PERJANJIAN KERJA BERSAMA
PADA PT UNITED TRACTORS, Tbk
SKRIPSI
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
SARJANA EKONOMI
pada Program Sarjana Alih jenis Manajemen
Fakultas Ekonomi dan Manajemen
Institut Pertanian Bogor
Oleh
WAWAN ERFIANTO
H24104010
PROGRAM SARJANA ALIH JENIS MANAJEMEN
DEPARTEMEN MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2014
Judul Skripsi : Pengaruh Peran Serikat Pekerja Terhadap Perjanjian Kerja
Bersama Pada PT United Tractors, Tbk.
Nama
: Wawan Erfianto
NIM
: H24104010
Menyetujui,
Dosen Pembimbing
Lindawati Kartika SE, M.Si
NIP. 198601182009122001
Mengetahui,
Ketua Departemen,
Dr. Mukhamad Najib, STP, MM
NIP. 19760623 200604 1 001
Tanggal lulus :
RINGKASAN
WAWAN ERFIANTO. H24104010. Pengaruh Peran Serikat Pekerja Terhadap
Perjanjian Kerja Bersama Pada PT United Tractors, Tbk. Dibawah bimbingan
LINDAWATI KARTIKA
Wujud dari kesetaraan antara Pekerja dan Pengusaha di PT United
Tractors, Tbk di tandai dengan dilakukannya perundingan dan disepakatinya
Perjanjian Kerja Bersama. PT United Tractors, Tbk, adalah perusahaan publik
yang tercatat di Bursa Efek Indonesia, Oleh karena itu perusahaan juga melakukan
upaya sosialisasi dan penerapan seluruh aturan yang terkandung dalam Kode Etik
Perusahaan sebagai sumber acuan dari semua nilai, prinsip, etika dan kebijakan
dalam membentuk budaya Perusahaan. Perjanjian Kerja Bersama merupakan
salah satu kode etik dan aturan yang harus dijalankan oleh Perusahaan. Perjanjian
Kerja Bersama sebagai aturan pengelolaan sumber daya manusia di Perusahaan
adalah hal yang tidak bisa dikesampingkan. Proses perundingan sampai dengan
disepakatinya Perjanjian Kerja Bersama juga merupakan hal yang diamati oleh
semua pihak. Tidak disepakatinya Perjanjian Kerja Bersama bisa menjadikan
nama perusahaan kurang baik di mata investor, yang bisa berakibat kepada
turunnya harga saham perusahaan. Lamanya proses perundingan Perjanjian Kerja
Bersama, bisa menjadi hal buruk bagi organisasi apalagi jika sampai terjadi
deadlock. Oleh karena itu dilakukan penelitian yang bertujuan melihat bagaimana
persepsi Pekerja terhadap peran Serikat Pekerja, bagaimana persepsi Pekerja
terhadap Perjanjian Kerja Bersama serta bagaimana pengaruh peran Serikat
Pekerja terhadap Perjanjian Kerja Bersama di PT United Tractors, Tbk. Peran
tersebut adalah menampung aspirasi dan keluhan Pekerja, perwakilan Pekerja,
memperjuangkan hak dan kepentingan anggota, membantu menyelesaikan
perselisihan hubungan industrial, meningkatkan disiplin dan semangat kerja
anggota dan menyalurkan aspirasi dan saran kepada manajemen.
Penelitian dilakukan dengan metode statistik melalui analisis kuantitatif
dengan analisis regresi linier berganda untuk mengetahui pengaruh dari variabel
bebas yaitu peran Serikat Pekerja terhadap variabel terikat yaitu terbentuknya
Perjanjian Kerja Bersama. Metode pengumpulan data mengenai pengaruh peran
Serikat Pekerja terhadap tahapan terbentuknya Perjanjian Kerja Bersama di PT
United Tractors, Tbk, dilakukan dengan dua metode. Pengumpulan data primer
dalam yang digunakan dalam penelitian ini adalah survey dengan alat bantu
berupa kuesioner. Sedangkan untuk data sekunder diperoleh dari pencatatan
secara langsung dan observasi Studi kepustakaan.
Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa anggota setuju dengan
semua peran Serikat Pekerja dan juga dengan isi Perjanjian Kerja Bersama yang
ada. Namun terkait dengan pengaruh peran Serikat Pekerja terhadap Perjanjian
Kerja Bersama terlihat bahwa ada peran Serikat Pekerja yang mempengaruhi yaitu
peran memperjuangkan hak dan kepentingan anggota dan peran meningkatkan
disiplin dan semangat kerja anggota sedangkan peran Serikat Pekerja yang lainnya
belum memberikan pengaruh terhadap Perjanjian Kerja Bersama di PT United
Tractors, Tbk.
ii
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Purbalingga, Jawa Tengah tanggal 11 Juli 1979.
Penulis merupakan anak ketiga dari lima bersaudara, yang lahir dari pasangan
Bapak Ahmad Junaedi dan Ibu Surwati. Tanggal 3 februari 2007, penulis menikah
dengan seorang Peneliti Eka Prihatinningtyas dan sudah dikarunia dua orang putra,
Ehan Faiyaz Erfianto dan Ejaz Fayzan Erfianto.
Tahun 1985, penulis mengawali pendidikan sekolah dasar di SDN
Kertanegara 1 kab. Purbalingga dan lulus tahun 1991, kemudian melanjutkan
pendidikan di SMPN 1 Bobotsari dan lulus tahun 1994. Penulis melanjutkan
pendidikan di SMAN 1 Purbalingga pada tahun 1994-1997. Pada tahun 1997-2000
Penulis melanjutkan pendidikan ke tingkat perguruan tinggi pada Program
Diploma Jurusan Teknik Elektro, Program Studi Teknik Telekomunikasi,
Politeknik Negeri Universitas Diponegoro, Semarang. Pada tahun 2010 Penulis
melanjutkan pendidikan pada Program Alih Jenis Manajemen, Departemen
Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Sejak tahun 2001 penulis mempunyai status sebagai seorang Pekerja
sekaligus aktif di kepengurusan Serikat Pekerja tingkat nasional dengan
menduduki jabatan sebagai wakil presiden Federasi Serikat Pekerja ASPEK
Indonesia dan sebagai wakil presiden di Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia.
Untuk kegiatan internasional penulis pernah mengikuti training employee services
yang diselenggarakan International Labour Organization di Bangkok, Thailand dan
pernah mewakili delegasi Indonesia dari buruh pada acara International Labour
Conference di Genewa, Swiss.
iii
KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur dipanjatkan kehadirat Allah SWT atas limpahan
rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan
baik. Judul skripsi ini adalah Pengaruh Peran Serikat Pekerja Terhadap
Perjanjian Kerja Bersama Pada PT United Tractors, Tbk. Skripsi ini disusun
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Program
Sarjana Alih Jenis Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut
Pertanian Bogor.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh
karena itu, penulis mengharapkan saran maupun kritik yang membangun untuk
sarana sebagai perbaikan yang berkelanjutan upaya penyempurnaan skripsi ini.
Akhir kata penulis berharap semoga skripsi ini dapat memberikan kontribusi
pemikiran bagi semua pihak yang berkepentingan dan memberikan manfaat bagi
yang membacanya.
Bogor, Oktober 2014
Penulis
iv
UCAPAN TERIMAKASIH
Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada berbagai
pihak yang telah membantu, membimbing, memberikan saran dan dorongan dalam
penyelesaian skripsi ini. Oleh karena itu, penulis ingin mengucapkan terima kasih
yang sebesar-besarnya kepada:
1.
Lindawati Kartika SE, M.Si. selaku dosen pembimbing yang dengan sabar
telah memberikan berbagai masukan dan selama penyusunan skripsi ini.
2.
Team Industrial Relation department PT United Tractors, Tbk yang telah
mengizinkan penelitian ini dilaksanakan.
3.
Jajaran Badan Eksekutif Serikat Pekerja United Tractors, yang telah
memberikan arahan dan masukan dalam pengambilan data .
4.
Seluruh Anggota Serikat Pekerja Serikat Pekerja United Tractors, yang telah
menjadi responden dalam penelitian.
5.
Eka prihatinningtyas ST, MT yang telah memberikan doa, kasih sayang dan
motivasinya.
6.
Ehan Faiyaz Erfianto dan Ejaz Fayzan Erfianto, yang menjadi inspirasi dan
motivasi.
7.
Kedua orang tua, kakak dan adikku yang telah memberikan dukungan dan
doa sehingga skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik.
v
DAFTAR ISI
Halaman
RINGKASAN .................................................................................................. ii
RIWAYAT HIDUP ........................................................................................ iii
KATA PENGANTAR .................................................................................... iv
UCAPAN TERIMA KASIH ........................................................................... v
DAFTAR ISI .................................................................................................. vi
DAFTAR TABEL ........................................................................................ viii
DAFTAR GAMBAR....................................................................................... ix
DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................... x
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ............................................................................................ 1
1.2 Perumuan Masalah ...................................................................................... 4
1.3 Tujuan Penelitian ........................................................................................ 5
1.4 Manfaat Penelitian ...................................................................................... 5
1.5 Ruang Lingkup Penelitian ........................................................................... 5
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Hubungan Industrial .................................................................................... 6
2.1.1 Sarana Hubungan Industrial .............................................................. 7
2.1.2 Pekerja ............................................................................................. 8
2.1.3 Serikat pekerja ................................................................................ 10
2.1.4 Sifat Dan Tujuan Serikat pekerja .................................................... 11
2.1.5 Peran Dan Fungsi Serikat pekerja ................................................... 11
2.2 Hubungan Kerja Dan Perjanjian Kerja ...................................................... 12
2.3 Perjanjian Kerja Bersama .......................................................................... 14
2.3.1 Kewenangan Pembuatan Perjanjian Kerja Bersama ......................... 15
2.3.2 Tahapan Terbentuknya Perjanjian Kerja Bersama ............................ 16
2.4 Tinjauan Penelitian Terdahulu................................................................... 17
III. METODE PENELITIAN
3.1 Kerangka Penelitian ..................................................................................
3.2 Lokasi Dan Waktu Penelitian ....................................................................
3.3 Sumber Data .............................................................................................
3.4 Metode Pengumpulan Data .......................................................................
3.5 Metode Penarikan Sampel .........................................................................
3.6 Pengolahan Dan Analisis Data ..................................................................
3.6.1 Analisis Deskriptif...........................................................................
3.6.2 Uji Validitas Dan Realibilitas ..........................................................
3.6.3 Asumsi Klasik .................................................................................
vi
18
20
20
20
21
22
22
22
23
3.6.4 Uji Hipotesis ................................................................................... 25
3.6.5 Koefisien Determinasi ..................................................................... 26
3.6.6 Regresi Linear berganda .................................................................. 27
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Visi Dan Misi Perusahaan ........................................................................... 28
4.1.1 Struktur Organisasi............................................................................ 29
4.1.2 Gambaran Umum Serikat Pekerja ...................................................... 30
4.2 Gambaran Umum Perjanjian Kerja Bersama Pada PT United Tractors, Tbk. 31
4.3 Gambaran Umum Responden ...................................................................... 35
4.3.1 Jabatan Responden ............................................................................ 35
4.3.2 Golongan Responden ........................................................................ 35
4.3.3 Masa Kerja Responden ...................................................................... 36
4.3.4 Usia Responden................................................................................. 37
4.3.5 Jenis Kelamin Responden .................................................................. 37
4.3.6 Pendidikan Responden ...................................................................... 38
4.4 Analisis Deskriptif ...................................................................................... 38
4.4.1 Peran Serikat Pekerja Menampung Aspirasi Dan Keluhan Pekerja..... 39
4.4.2 Peran Serikat Pekerja Sebagai Perwakilan Pekerja............................. 40
4.4.3 Peran Serikat Pekerja Memperjuangkan Hak Dan Kepentingan Anggota
.................................................................................................................. 41
4.4.4 Peran Serikat Pekerja Membantu Menyelesaikan Perselisihan Hubungan
Industrial.................................................................................................... 42
4.4.5 Peran Serikat Pekerja Meningkatkan Disiplin Dan Semangat Kerja
Anggota ..................................................................................................... 44
4.4.6 Peran Serikat Pekerja Menyalurkan Aspirasi Dan Saran Kepada
Manajemen ................................................................................................ 45
4.4.7 Perjanjian Kerja Bersama .................................................................. 47
4.4.8 Peran Serikat Pekerja Dan Perjanjian Kerja Bersama ......................... 50
4.5 Analisis Kuantitatif .................................................................................... 51
4.5.1 Uji Validitas ...................................................................................... 51
4.5.2 Uji Reliabilitas .................................................................................. 51
4.5.3 Uji Normalitas ................................................................................... 51
4.5.4 Uji Multikolinearitas ......................................................................... 52
4.5.5 Uji Heteroskedastisitas ...................................................................... 53
4.5.6 Uji Hipotesis Secara Parsial dengan Uji t ........................................... 54
4.5.7 Uji Hipotesis Secara Simultan dengan Uji F (Uji Model) ................... 55
4.5.8 Koefisien determinasi (Uji R2)........................................................... 56
4.6 Pengaruh Peran Serikat Pekerja Terhadap Perjanjian Kerja Bersama ........... 56
4.7 Implikasi manajerial .................................................................................... 60
V. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan ................................................................................................. 62
5.2 Saran........................................................................................................... 62
DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................... 64
LAMPIRAN .................................................................................................... 66
vii
DAFTAR TABEL
No.
Halaman
1. Jabatan Responden …………………………………………….………….. 35
2. Golongan Responden ……………………………………………...…........ 36
3. Masa Kerja Responden ……………………………………………...…..... 36
4. Usia Responden …………………………………………………...…...…. 37
5. Jenis Kelamin Responden ………….……………………………...…...…. 38
6. Pendidikan Responden ……………………………………………...…...... 38
7. Kriteria interpretasi skor ……………….…………………………...…...... 39
8. Peran Serikat Pekerja Menampung Aspirasi Dan Keluhan Pekerja………. 39
9. Peran Serikat Pekerja Sebagai Perwakilan Pekerja…………………….…. 41
10. Peran Serikat Pekerja memperjuangkan hak dan kepentingan anggota…… 42
11. Peran Serikat Pekerja membantu menyelesaikan perselisihan hubungan
industrial…………………………………………………………………… 43
12. Peran Serikat Pekerja meningkatkan disiplin dan semangat kerja anggota.. 44
13. Peran Serikat Pekerja menyalurkan aspirasi dan saran kepada manajemen. 46
14. Perjanjian Kerja Bersama…………………………………………………. 48
15. Persepsi anggota terhadap peran Serikat Pekerja dan Perjanjian Kerja
Bersama………………………………………………………………...…. 50
16. Hasil uji normalitas………………………………………………………... 52
17. Hasil uji multikolinearitas…………………………………………………. 53
18. Hasil perhitungan uji F…………………………………………………….. 55
19. Hasil pengujian koefisien determinasi (Uji R2)…………………………… 56
20. Pengaruh peran Serikat Pekerja terhadap Perjanjian Kerja Bersama……... 58
viii
DAFTAR GAMBAR
No.
Halaman
1. Kerangka pemikiran penelitian …………………………………………… 19
2. Struktur organisasi human capital division PT United Tractors, Tbk…...... 30
ix
DAFTAR LAMPIRAN
No.
Halaman
1.
2.
3.
4.
5.
6.
Daftar pertanyaan dan kuesioner wawancara penelitian .......................... 66
Karaktereristik responden ....................................................................... 75
Hasil uji validitas.................................................................................... 77
Hasil uji realibilitas ................................................................................ 79
Uji asumsi regresi ................................................................................... 80
Regresi linear berganda .......................................................................... 82
x
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar belakang
Pemerintah indonesia saat ini telah mengeluarkan kebijakan pengurangan
bahan bakar yang berbahan dasar fosil yaitu minyak bumi, dan mentransformasikan
menggunakan bahan bakar gas ataupun batubara. Dengan adanya otonomi daerah,
maka pemerintah daerah saat ini mempunyai hak untuk memberikan ijin konsesi
pertambangan. Dua hal diatas mengakibatkan pertumbuhan tambang batubara
menjadi sangat pesat, baik dari jumlah maupun harga batubara tersebut. Dimana
jumlah yang dihasilkan meningkat dari 129 metric ton menjadi 220 metric ton,
sedangkan pertumbuhan harga di tahun 2011 mengalami kenaikan mencapai 55%
dengan harga US$ 104,6.
Hampir seluruh pertambangan batubara di indonesia adalah sistem open pit,
sehingga memerlukan alat-alat berat untuk memindahkan lapisan tanah penutup
batubara maupun untuk mengambil batubara yang ada. Sehingga dengan
meningkatnya bisnis batubara maka diikuti oleh bisnis alat berat. United Tractors,
sebagai perusahaan alat berat dengan jumlah pelanggan 70% adalah customer yang
bergerak disektor pertambangan batubara dengan kontribusi terhadap pendapatan
perusahaan sekitar 80%, ikut merasakan dampak positif dari perkembangan bisnis
batubara tersebut. Dimana pada semester I tahun 2011, pasar alat berat nasional naik
45% menjadi 8.500 unit, hingga akhir tahun menjadi sekitar 16 ribu-17 ribu unit, atau
naik sekitar 40%-45% dibanding tahun 2011 sekitar 13 ribu unit. Bahkan
diprediksikan hingga tahun 2015 pasar alat berat rata-rata akan tumbuh 40%. PT
United Tractors, Tbk sebagai distributor alat berat untuk merk Komatsu, Scania, UD
Truck, Bomag dan Valmet saat ini menjadi pemimpin pasar dengan menguasai lebih
dari 50% market share khususnya di sektor pertambangan dan perkebunan, dengan
rata-rata pertumbuhan jumlah unit terjual 20% per tahun untuk lima tahun terakhir
dengan pertumbuhan pendapatan perusahaan 35%.
Pertumbuhan bisnis perusahaan yang menggembirakan, menjadi harapan bagi
Pekerja yang ada di PT United Tractors, Tbk memberikan korelasi positif terhadap
apa yang mereka dapatkan dari perusahaan. Artinya ketika pendapatan perusahaan
meningkat maka benefit yang diberikan oleh perusahaan kepada Pekerjanya juga
1
mengalami peningkatan. Agar hal tersebut bisa terwujud harus ada kesetaraan posisi
antara Pekerja dan Pengusaha, karena jika tidak misalnya posisi pengusaha lebih
tinggi dari Pekerjanya maka Pekerja cenderung akan ditekan dan dipekerjakan dengan
semena-mena tanpa mendapatkan penghargaan yang jelas. Sebaliknya jika posisi
Pekerja lebih kuat dibanding Pengusaha, akan mengakibatkan proses mogok kerja
yang berulang sehingga menghambat produktivitas perusahaan. Wujud dari
kesetaraan antara Pekerja dan Pengusaha di PT United Tractors, Tbk di tandai dengan
dilakukannya perundingan dan disepakatinya Perjanjian Kerja Bersama. Apa saja
benefit yang diterima oleh Pekerja semuanya diatur didalam Perjanjian Kerja
Bersama.
Perjanjian Kerja Bersama merupakan hasil dari kesepakatan yang dilakukan
oleh pihak Pengusaha dan Serikat Pekerja yang isinya mendekati keinginan mereka
untuk mengatur syarat-syarat kerja hak dan kewajiban kedua belah pihak. Karena
Perjanjian Kerja Bersama ini adalah sebagai dasar hubungan industrial yang
dijalankan di PT United Tractors, Tbk maka disepakatinya Perjanjian Kerja Bersama
menjadi sesuatu yang penting bagi Perusahaan maupun Pekerjanya. Tanpa
kesepakatan Perjanjian Kerja Bersama, tidak mungkin hubungan industrial bisa
dijalankan karena sesuai dengan peraturan yang berlaku, bahwa ketika suatu
perusahaan pernah menyepakati Perjanjian Kerja Bersama, ketika masa berlakunya
habis tidak bisa digantikan hanya dengan Peraturan Perusahaan, tetapi harus kembali
berunding untuk menyepakati Perjanjian Kerja Sama yang baru.
PT United Tractors, Tbk, adalah perusahaan publik yang tercatat di Bursa
Efek Indonesia, dengan kepemilikan saham terbesar 54% adalah PT Astra
Internasional, Tbk. Perusahaan melaksanakan penawaran umum saham perdana di
Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya pada 19 September 1989 menggunakan
nama PT United Tractors Tbk (UNTR), ini menandai komitmen United Tractors
untuk menjadi perusahaan kelas dunia berbasis solusi di bidang alat berat,
pertambangan dan energi guna memberi manfaat bagi para pemangku kepentingan.
Oleh karena itu perusahaan juga melakukan upaya sosialisasi dan penerapan seluruh
aturan yang terkandung dalam Kode Etik Perusahaan serta intensif mensosialisasikan
butir-butir budaya perusahaan sebagai nilai-nilai perusahaan untuk diwujudkan dalam
perilaku seluruh jajaran Perusahaan sehari-hari, untuk membangun nilai yang
2
berfungsi sebagai sumber acuan dari semua nilai, prinsip, etika dan kebijakan dalam
membentuk budaya Perusahaan.
Perjanjian Kerja Bersama merupakan salah satu kode etik dan aturan yang
harus dijalankan oleh Perusahaan. Dari sini kita bisa melihat betapa pentingnya posisi
Perjanjian Kerja Bersama di PT United Tractors, Tbk karena ada tidaknya Perjanjian
Kerja Bersama di Perusahaan akan dinilai oleh publik. Investor di bursa saham akan
melihat sebuah perusahaan tidak sebatas dari pendapatan dan pertumbuhan
perusahaan, namun tata kelola perusahaan yang baik juga menjadi pertimbangan bagi
mereka, oleh karena itu keberadaan Perjanjian Kerja Bersama sebagai aturan
pengelolaan sumber daya manusia di Perusahaan adalah hal yang tidak bisa
dikesampingkan. Proses perundingan sampai dengan disepakatinya Perjanjian Kerja
Bersama juga merupakan hal yang diamati oleh semua pihak. Tidak disepakatinya
Perjanjian Kerja Bersama bisa menjadikan nama perusahaan kurang baik di mata
investor, yang bisa berakibat kepada turunnya harga saham perusahaan.
Di PT United Tractors, Tbk, antara Pekerja dan Perusahaan sudah pernah
melakukan kesepakatan Perjanjian Kerja Bersama Sebanyak delapan kali, dengan
masa berlaku tiap-tiap Perjanjian Kerja Bersama adalah dua tahun. Perjanjian kerja
Bersama yang saat ini berlaku dan disepakati terakhir kali adalah periode tahun 2014
sampai dengan 2016. Pada proses perundingan Perjanjian Kerja Bersama dua kali
yang terakhir, dinamika yang terjadi cukup panas dibandingkan proses perundingan
sebelumnya. Untuk mencapai titik temu agar terjadi kesepakatan perlu proses diskusi
yang cukup panjang, bahkan untuk perundingan yang terakhir, proses perundingan
yang seharusnya dalam waktu tiga bulan selesai, harus diperpanjang enam bulan
sehingga proses perundingan Perjanjian Kerja Bersama dilaksanakan dalam waktu
Sembilan bulan. Karena adanya perpanjangan waktu perundingan, agar tidak terjadi
kekosongan landasan hukum didalam menjalankan hubungan industrial, maka
Perjanjian Kerja Bersama sebelumnya untuk periode 2012 sampai dengan 2014 yang
seharusnya mempunyai masa berlaku selama dua tahun, diperpanjang selama enam
bulan menjadi dua tahun enam bulan.
Lamanya proses perundingan Perjanjian Kerja Bersama, bisa menjadi hal
buruk bagi organisasi apalagi jika sampai terjadi deadlock karena tidak mencapai
kesepakatan. Ketika masing-masing pihak yang berunding bisa mengakomodir apa
yang menjadi keinginan pihak lain maka perundingan tersebut akan menghasilkan
3
kesepakatan. Namun jika tidak bisa menghasilkan kesepakatan maka akan terjadi
gagalnya perundingan. Ketika terjadi gagalnya perundingan, maka hak dasar
Pekerja/Serikat Pekerja yang dilindungi oleh undang-undang adalah mogok kerja
yang dilakukan secara sah, tertib dan damai. Menurut UU No 21 tahun 2000 gagalnya
perundingan yang dimaksud adalah tidak tercapainya kesepakatan penyelesaian
perselisihan hubungan industrial yang dapat disebabkan karena pengusaha tidak mau
melakukan perundingan walaupun Serikat Pekerja telah meminta secara tertulis
kepada pengusaha sebanyak 2 (dua) kali dalam tenggang waktu 14 (empat belas) hari
kerja atau perundingan yang dilakukan mengalami jalan buntu yang dinyatakan oleh
para pihak dalam risalah perundingan. Resiko yang timbul dari adanya mogok kerja
ini akan merugikan semua pihak. Ketika mogok kerja terjadi maka perusahaan tidak
bisa melaksanakan proses produksinya, sehingga pendapatan perusahaan akan
menurun bahkan jika mogok kerja ini berlangsung dalam jangka waktu lama resiko
terburuk adalah perusahaan akan tutup.
Berdasarkan latar belakang masalah yang dikemukakan di atas, maka peneliti
berminat
mengkaji
tentang
“PENGARUH
PERAN
SERIKAT
PEKERJA
TERHADAP PERJANJIAN KERJA BERSAMA PADA PT UNITED TRACTORS,
Tbk”.
1.2
Perumusan masalah
Sesuai dengan latar belakang penelitian yang telah diuraikan diatas,maka
penelitian ini dirumuskan sebagai berikut :
1. Bagaimana persepsi Pekerja
terhadap peran Serikat Pekerja di PT United
Tractors, Tbk ?
2. Bagaimana persepsi Pekerja terhadap Perjanjian Kerja Bersama di PT United
Tractors, Tbk ?
3. Bagaimana pengaruh peran Serikat Pekerja terhadap Perjanjian Kerja Bersama di
PT United Tractors, Tbk ?
4
1.3
Tujuan penelitian
Berdasarkan rumusan masalah yang sudah disampaikan sebelumnya maka
tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Bagaimana persepsi Pekerja
terhadap peran Serikat Pekerja di PT United
Tractors, Tbk ?
2. Bagaimana persepsi Pekerja terhadap Perjanjian Kerja Bersama di PT United
Tractors, Tbk ?
3. Bagaimana pengaruh peran Serikat Pekerja terhadap Perjanjian Kerja Bersama di
PT United Tractors, Tbk ?
1.4
Manfaat penelitian
Manfaat dari penulisan penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Bagi perusahaan dan organisasi Serikat Pekerja, penelitian ini diharapkan dapat
memberikan informasi mengenai pengaruh peran Serikat Pekerja terhadap
Perjanjian Kerja Bersama di PT United Tractors, Tbk, sehingga dapat dijadikan
referensi dalam memutuskan kebijakan pengelolaan sumber daya manusia yang
akan diimplementasikan.
2. Bagi penulis, penelitian ini memberi pengalaman nyata dalam menganalisis suatu
kondisi, permasalan, dan fakta yang di lapangan serta merumuskannya dengan
teori yang sudah dipelajari selama kuliah.
3. Bagi pembaca, penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan informasi dan bahan
referensi untuk penelitian selanjutnya mengenai hubungan industrial di
perusahaan.
4. Bagi perguruan tinggi, penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan referensi dan
informasi untuk penelitian-penelitian selanjutnya.
1.5
Ruang lingkup penelitian
Penelitian ini adalah terkait peranan Serikat Pekerja terhadap terbentuknya
Perjanjian Kerja Bersama di PT United Tractors, Tbk, yaitu :
1. Peran Serikat Pekerja di PT United Tractors, Tbk menurut Payaman Simanjuntak
(2003).
2. Perjanjian Kerja Bersama di PT United Tractors, Tbk tahun 2014 -2016.
5
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1
Hubungan Industrial
Dalam hubungan industrial pihak pengusaha dengan pekerja merupakan pihak
yang paling penting dan paling berperan di perusahaan. Hubungan industrial yang
harmonis di antara kedua belah pihak bisa terwujud apabila pengusaha dan pekerja
meleksanakan hak dan kewajiban masing-masing, adanya pelanggaran hak dan
kewajiban akan menimbulkan sebuah perselisihan industrial. Pengertian hubungan
industrial menurut Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang ketenagakerjaan
adalah suatu sistem hubungan yang terbentuk antara pelaku dalam proses produksi
barang dan/atau jasa yang terdiri dari unsur pengusaha, pekerja/buruh, dan pemerintah
yang didasarkan pada nilai-nilai Pancasila dan Undang-Undang Negara Republik
Insonesia Tahun 1945. Berdasarkan batasan pengertian tersebut, hubungan industrial
terjadi dalam proses produksi barang dan atau jasa.
Menurut Payaman Simanjuntak (2003) menyatakan bahwa “Hubungan
Industrial adalah hubungan antara semua pihak yang tersangkut atau berkepentingan
atas proses produksi barang atau pelayanan jasa di suatu perusahaan”. Daryanto,SS
(1998) menyatakan bahwa “Harmonis adalah serasi, selaras, cocok”. Sedangkan
Hasan Alwi (2007) menyatakan bahwa “Harmonis adalah bersangkut paut dengan
(mengenai) harmoni; seia sekata”. Sedangkan Smeru (2007) menyatakan bahwa
hubungan industrial yang harmonis adalah hubungan industrial yang didasari oleh
rasa saling percaya, saling menghargai dan dihargai, serta saling memberi.
Berdasarkan beberapa pengertian di atas penulis menyimpulkan bahwa hubungan
industrial yang harmonis adalah hubungan yang terjadi antara pengusaha dan pekerja
dalam suatu organisasi yang terjalin dengan serasi, selaras dan cocok yang didasari
oleh rasa saling percaya, saling menghargai dan dihargai dan saling memberi.
Hubungan kerja terbentuk akibat adanya perjanjian kerja dan peraturan kerja yang
disepakati bersama secara bebas dan sadar oleh tenaga kerja dan pemberi kerja.
6
2.1.1 Sarana Hubungan Industrial
Menurut Payaman Simanjuntak (2003) Penerapan hubungan industrial
dipengaruhi oleh berbagai faktor di dalam dan di luar perusahaan. Untuk menerapkan
prinsip-prinsip hubungan industrial di perusahaan, diperlukan beberapa sarana dan
lembaga yaitu:
1. Peraturan Perusahaan
Peraturan perusahaan memuat ketentuan mengenai kewajiban dan hak Pekerja
serta kewenangan dan kewajiban pengusaha. Kewajiban pekerja antara lain
melakukan pekerjaan yang ditugaskan kepadanya dan terselesaikan menurut
kualitas dan dalam kurun waktu tertentu. Di lain pihak pekerja mempunyai hak
untuk memperoleh upah dan jaminan sosial serta perlindungan atas keselamatan
dan kesehatannya. Pengusaha mempunyai wewenang mengatur sistem kerja,
pembagian fungsi, pembagian kerja dan tim kerja, dan berkewajiban memnuhi
hak-hak pekerja.
2. Lembaga Bipartit
Lembaga atau forum bipartit adalah forum konsultasi antara wakil pengusaha dan
wakil pekerja. Fungsi utama lembaga bipartit adalah untuk menampung dan
menyelesaikan keluhan dan tuntutan pekerja serta masalah-masalah hubungan
industrial pada umumnya.
3. Serikat Pekerja
Partisipasi pekerja dalam hubungan industrial dapat dilakukan secara langsung
dan atau melalui sistem perwakilan dalam bentuk serikat pekerja. Partisipasi
pekerja dalam hubungan industrial merupakan perwujudan hak dan kebebasan
pekerja berorganissasi dan mengeluarkan pendapat.
4. Perjanjian Kerja Bersama
Perjanjian kerja bersama juga memuat ketentuan mengenai kewenangan dan
kewajiban pengusaha, serta kewajiban dan hak pekerja. Perjanjian kerja bersama
adalah peraturan perusahaan sebagai hasil perundingan atau kesepakatan
pengusaha dengan wakil pekerja.
5. Asosiasi Pengusaha
Sama halnya dengan pekerja, pengusaha juga mempunyai hak dan kebebasan
untuk membentuk atau menjadi anggota organisasi atau asosiasi pengusaha.
Asosiasi pengusaha dapat dibentuk menurut sektor industri atau jenis usaha.
7
6. Lembaga Tripartit
Lembaga tripartit adalah forum konsultasi antara wakil-wakil serikat pekerja,
asosiasi pengusaha dan pemerintah. Fungsi utama lembaga tripartit adalah
membantu pemerintah merumuskan kebijakan ketenegakerjaan pada umumnya
dan menyelesaikan masalah-masalah hubungan industrial.
7. Lembaga Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial
Setiap keluhan, perbedaan pendapat atau tuntutan pekerja diharapkan dapat
diselesaikan di lembaga
bipartit.
Bila
lembaga
bipartit tidak mampu
menyelesaikan permasalahan, maka wakil pengusaha atau wakil pekerja dapat
meminta jasa perantara dari pegawai perantara Kementrian Tenagakerja atau
mediator dari lembaga tripartit yang terkait. Bila pegawai perantara atau mediator
tidak bisa menyelesaikan, maka kasus dinyatakan sebagai perselisihan industrial
dan dimintakan untuk diselesaikan oleh Lembaga atau Majelis Penyelesaian
Perselisihan Hubungan Industrial.
8. Peraturan Perundangan Ketenagakerjaan
Peraturan-perundangan ketenagakerjaan pada dasarnya mencakup ketentuan
sebelum bekerja, selama bekerja dan sesudah bekerja.
9. Pendidikan Hubungan Industrial
Pendidikan hubungan industrial diperlukan terutama bagi para pimpinan serikat
pekerja dan pimpinan perusahaan, supaya mereka memahami prinsip-prinsip
hubungan industrial, peraturan-perundangan ketenagakerjaan, peranan dan fungsi
lembaga-lembaga ketenagakerjaan, serta meningkatkan kemampuan mereka
berorganisasi, berunding bersama, dan menyelesaikan perselisihan hubungan
industrial.
2.1.2 Pekerja
Menurut Payaman Simanjuntak (2003) “Pekerja adalah setiap penduduk dalam
usia kerja yang melakukan kegiatan ekonomis, baik dalam hubungan kerja di
perusahaan maupun di luar hubungan kerja seperti pekerja mandiri, pekerja keluarga
dan pekerja di sektor informal lainnya.”Undang-undang No. 13 Tahun 2003 tentang
ketenagakerjaan pasal 1 ayat 4 memberikan pengertian: “Pekerja/buruh adalah setiap
orang yang bekerja dengan menerima upah atau imbalan dalam bentuk apapun.” Dari
pengertian tersebut Pekerja mencakup semua orang yang bekerja pada siapa saja baik
perseorangan, persekutuan, badan hukum atau badan lainnya dengan menerima upah
8
atau imbalan dalam bentuk apapun. Hak Pekerja didasarkan pada kewenangan
pengusaha untuk mengaturnya. Kewajiban Pekerja adalah melakukan pekerjaan
sesuai dengan penugasan pimpinan menurut disiplin kerja dan dalam waktu kerja
yang diaturkan. Hak-hak pekerja menurut Darwan Prints (2000) adalah sebagai
berikut:
1. Hak mendapat upah atau gaji
2. Hak atas pekerjaan dan penghasilan yang layak bagi kemanusiaan
3. Hak bebas memilih dan pindah pekerjaan sesuai bakat dan kemampuannya
4. Hak atas pembinaan keahlian kejuruan untuk memperoleh serta menambah
keahlian dan ketrampilan lagi
5. Hak mendapatkan perlindungan atas keselamatan, kesehatan serta perlakuan yang
sesuai dengan martabat manusia dan norma agama
6. Hak mendirikan dan menjadi anggota Serikat Pekerja
7. Hak atas istirahat tahunan
Sebagai imbalan atas jasa kerja, pekerja berhak memperoleh upah, tunjangantunjangan dan jaminan sosial lainnya, beristirahat, cuti, memperjuangkan haknya
secara langsung melalui serikat pekerja. Disamping itu pekerja berhak memperoleh
berbagai jenis perlindungan: perlindungan tidak melebihi jam kerja tertentu termasuk
jam dan hari istirahat serta cuti tahunan, perlindungan atas keselamatan dan kesehatan
pekerja, perlindungan atas hak berserikat dan berunding dengan pengusaha, serta
perlindungan upah dan penghasilan pada saat tidak mampu melakukan pekerjaan.
Menurut Lalu Husni (2005) mengenai kewajiban Pekerja adalah sebagai
berikut:
1. Buruh/pekerja wajib melakukan pekerjaan, melakukan pekerjan adalah tugas
utama dari seorang pekerja yang harus dilakukan sendiri. Untuk itulah mengingat
pekerjaan yang dilakukan oleh pekerja yang sangat pribadi sifatnya karena
berkaitan dengan keahliannya, maka berdasarkan ketentuan peraturan perundang
undangan jika pekerja meninggal dunia, maka hubungan kerja berakhir dengan
sendirinya (PHK demi hukum).
2. Buruh/pekerja wajib menaati aturan dan petunjuk pengusaha, dalam melakukan
pekerjaan buruh/pekerja wajib menaati petunjuk yang diberikan oleh pengusaha.
Aturan yang wajib ditaati oleh pekerja sebaiknya dituangkan dalam peraturan
perusahaan sehingga menjadi jelas ruang lingkup dari petunjuk tersebut.
9
3. Kewajiban membayar ganti rugi dan denda; jika buruh /pekerja melakukan
perbuatan yang merugikan perusahaan baik karena kesengajaan atau kelalaian,
maka sesuai dengan prinsip hukum pekerja wajib membayar ganti rugi dan denda.
2.1.3 Serikat Pekerja
Serikat pekerja merupakan sebuah keniscayaan yang tidak mungkin dihindari
oleh perusahaan. Serikat pekerja dapat digunakan oleh pekerja sebagai alat untuk
mencapai tujuannya. Suatu kenyataan penetapan besarnya upah dan syarat-syarat
kerja yang lain diserahkan kepada perusahaan dan pekerja sebagai pribadi.
Kedudukan pekerja adalah sangat lemah. Menyadari akan kelemahannya dalam
menghadapi perusahaan itu, mereka merasa perlu adanya persatuan. Dengan adanya
persatuan mereka akan mempunyai kekuatan dalam menghadapi perusahaan. Maka
timbullah serikat pekerja.
Henry Simamora (1999) menyatakan bahwa “Serikat Pekerja adalah sebuah
organisasi yang berunding bagi karyawan tentang upah-upah, jam-jam kerja, dan
syarat-syarat dan kondisi-kondisi pekerjaan lainnya”. Dari pengertian tersebut di atas
dapat diketahui bahwa serikat pekerja merupakan organisasi berunding bagi para
pekerja. Dengan kehadiran Serikat Pekerja para pekerja dapat melakukan negosiasi
dengan pengusaha dalam hal kebijakan perusahaan, sebab ketika ada serikat pekerja
maka menjadi sebuah kewajiban bagi pengusaha untuk menegosiasikan segala sesuatu
dengan serikat pekerja.
Pengertian Serikat Pekerja menurut Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2000
tentang Serikat Pekerja Pasal 1 Ayat 1 adalah sebagai berikut: Serikat Pekerja atau
Serikat Buruh adalah organisasi yang dibentuk dari, oleh dan untuk pekerja/buruh
baik di perusahaan maupun di luar perusahaan, yang bersifat bebas, terbuka, mandiri,
demokratis dan bertanggung jawab guna memperjuangkan, membela serta melindungi
hak dan kepentingan pekerja/buruh serta meningkatkan kesejahteraan pekerja/buruh
dan keluarganya.
Dari pengertian tersebut dapat dijelaskan bahwa serikat pekerja adalah
organisasi yang dibentuk oleh pekerja dan mempunyai sifat bebas, terbuka, mandiri,
demokratis dan bertanggungjawab. Adapun tujuan dari serikat Pekerja adalah
memperjuangkan, membela serta melindungi hak dan kepentingan pekerja/buruh serta
meningkatkan kesejahteraan pekerja/buruh dan keluarganya.
10
2.1.4 Sifat dan Tujuan Serikat Pekerja
Menurut Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2000 tentang Serikat Pekerja yang
tertuang dalam Pasal 3, Serikat Pekerja/Serikat Buruh, federasi dan konfederasi
Serikat Pekerja/Serikat Buruh mempunyai sifat bebas, terbuka, mandiri, demokratis
dan bertanggungjawab. Bebas berarti dalam melaksanakan hak dan kewajibannya
Serikat pekerja tidak di bawah pengaruh atau tekanan dari pihak lain. Terbuka berarti
Serikat Pekerja dalam menerima anggota dan memperjuangkan kepentingan Serikat
Pekerja tidak membedakan aliran politik, agama, suku bangsa dan jenis kelamin.
Mandiri berarti bahwa serikat Pekerja dalam mendirikan, menjalankan dan
mengembangkan organisasinya ditentukan oleh kekuatan sendiri, tidak dikendalikan
oleh pihak lain di luar organisasi. Demokratis berarti dalam pembentukan organisasi,
pemilihan pengurus, memperjuangkan dan melaksanakan hak dan kewajiban
organisasi dilakukan sesuai dengan prinsip demokrasi. Bertanggungjawab berarti
dalam mencapai tujuan dan melaksanakan hak dan kewajibannya Serikat Pekerja
bertanggungjawab kepada anggota masyarakat. Menurut Undang-Undang Nomor 21
Tahun 2000 tentang Serikat Pekerja yang tertuang dalam Pasal 4, Serikat
Pekerja/Serikat Buruh, federasi, konfederasi Serikat Pekerja/Serikat Buruh bertujuan
untuk memberikan perlindungan, pembelaan hak dan kepentingan serta menigkatkan
kesejahteraan yang layak bagi pekerja dan keluarganya.
2.1.5 Peran dan Fungsi Serikat Pekerja
Menurut undang-undang No 13 Tahun 2003, fungsi utama Serikat
Pekerja/Serikat Buruh adalah sebagai berikut:
1. Pihak dalam pembuatan perjanjian kerja bersama dan penyelesaiannya.
2. Wakil pekerja/buruh dalam lembaga kerjasama di bidang ketenagakerjaan sesuai
dengan tingkatannya.
3. Sarana menciptakan hubungan industrial yang harmonis, dinamis dan berkeadilan
sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
4. Sarana penyalur aspirasi dalam memperjuangkan hak dan kepentingan
anggotanya.
5. Perencana, pelaksana dan penanggungjawab pemogokan pekerja/buruh sesuai
dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
6. Wakil pekerja/buruh dalam memperjuangkan kepemilikan saham di perusahaan.
11
Menuru Payaman Simanjuntak (2003) Serikat Pekerja merupakan salah satu
sarana dan pelaksana utama hubungan industrial. Sebagai pelaksana utama hubungan
industrial, Serikat Pekerja mempumyai peranan dan fungsi berikut ini:
1. Menampung aspirasi dan keluhan pekerja, baik anggota maupun bukan anggota
Serikat Pekerja yang bersangkutan
2. Menyalurkan aspirasi dan keluhan tersebut kepada manajemen atau pengusaha
baik secara langsung atau melalui Lembaga Bipartit
3. Mewakili pekerja di Lembaga Bipartit
4. Mewakili pekerja di Tim Perunding untuk merumuskan Perjanjian Kerja Bersama
5. Mewakili pekerja di lembaga-lembaga kerjasama ketenagakerjaan sesuai dengan
tingkatannya seperti Lembaga Tripartit, P4D dan P4P, Dewan Keselamatan dan
Kesehatan Kerja, Dewan Latihan Kerja, dll
6. Memperjuangkan hak dan kepentingan anggota baik secara langsung kepada
pengusaha maupun melalui lembaga-lembaga ketenagakerjaan
7. Membantu menyelesaikan perselisihan industrial
8. Meningkatkan disiplin dan semangat kerja anggota
9. Aktif mengupayakan menciptakan atau mewujudkan hubungan industrial yang
aman dan harmonis
10. Menyampaikan saran kepada manajemen baik untuk penyelesaian keluh kesah
pekerja
maupun
untuk
penyempurnaan
system
kerja
dan
peningkatan
produktivitas perusahaan
Dari sepuluh peran tersebut jika disimpulkan peran Serikat Pekerja adalah
sebagai berikut :
1. Menampung aspirasi dan keluhan Pekerja.
2. Perwakilan Pekerja.
3. Memperjuangkan hak dan kepentingan anggota.
4. Membantu menyelesaikan perselisihan hubungan industrial.
5. Meningkatkan disiplin dan semangat kerja anggota.
6. Menyalurkan aspirasi dan saran kepada manajemen.
2.2
Hubungan Kerja dan Perjanjian Kerja
Perjanjian kerja berdasarkan Undang-Undang No 13 Tahun 2003, Pasal 1
angka 14 memberikan pengertian: “Perjanjian kerja adalah suatu perjanjian antara
pekerja/buruh dan pengusaha atau pemberi kerja yang memuat syarat-syarat kerja hak
12
dan kewajiban kedua belah pihak”. Berdasarkan pengertian perjanjian kerja tersebut,
dapat ditarik beberapa unsur dari perjanjian kerja yakni:
1. Adanya unsur work atau pekerjaan
Dalam suatu perjanjian kerja harus ada pekerjaan yang diperjanjikan (obyek
perjanjian), pekerjaan tersebut haruslah dilakukan sendiri oleh pekerja, hanya
dengan seizin pengusaha dapat menyuruh orang lain.
2. Adanya unsur perintah
Manifestasi dari pekerjaan yang diberikan kepada pekerja oleh pengusaha adalah
pekerja yang bersangkutan harus tunduk pada perintah pengusaha untuk
melakukan pekerjaan sesuai dengan yang diperjanjikan.
3. Adanya unsur upah
Upah memegang peranan penting dalam hubungan kerja (perjanjian kerja),
bahkan dapat dikatakan bahwa tujuan utama seorang pekerja bekerja pada
pengusaha adalah untuk memperoleh upah. Sehingga jika tidak ada unsur upah,
maka suatu hubungan tersebut bukan merupakan hubungan kerja.
Sebagai bagian dari perjanjian pada umumnya, maka perjanjian kerja harus
memenuhi syarat syahnya perjanjian sebagaimana diatur dalam Pasal 52 ayat (1)
Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 yang menyebutkan bahwa perjanjian kerja
dibuat atas dasar:
1. Kesepakatan kedua belah pihak;
2. Kemampuan atau kecakapan melakukan perbuatan hukum;
3. Adanya pekerjaan yang diperjanjikan;
4. Pekerjaan yang diperjanjikan tidak boleh bertentangan dengan ketertiban umum,
kesusilaan, dan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Keempat syarat tersebut bersifat kumulatif artinya harus dipenuhi semuanya
baru dapat dikatakan bahwa perjanjian tersebut sah. Perjanjian kerja dapat dibuat
dalam bentuk tertulis atau lisan (Pasal 51 ayat (1) Undang-Undang No 13 Tahun
2003). Secara normatif bentuk tertulis menjamin kepastian hak dan kewajiban para
pihak, sehingga jika terjadi perselisihan akan sangat membantu proses pembuktian.
13
Dalam Pasal 54 Undang-Undang No 13 Tahun 2003 menyebutkan bahwa
perjanjian kerja yang dibuat secara tertulis sekurang-kurangnya memuat keterangan :
1. Nama, alamat perusahaan, dan jenis usaha;
2. Nama, jenis kelamin, umur, dan alamat pekerja/buruh;
3. Jabatan atau jenis pekerjaan;
4. Tempat pekerjaan;
5. Besarnya upah dan cara pembayaran;
6. Syarat-syarat kerja yang memuat hak dan kewajiban pengusaha dan pekerja atau
buruh;
7. Mulai dan jangka waktu berlakunya perjanjian kerja;
8. Tempat dan tanggal perjanjian kerja dibuat;
9. Tanda tangan para pihak dalam perjanjian kerja.
2.3
Perjanjian Kerja Bersama
Materi PKB diatur dalam Undang-Undang No 13 Tahun 2003 dalam Bab XI
mengenai hubungan industrial yaitu dalam Bagian Ketiga. Kemudian dalam Pasal 133
Undang-Undang No 13 Tahun 2003 menyebutkan bahwa mengenai persyaratan serta
tata cara pembuatan, perpanjangan, perubahan, dan pendaftaran Perjanjian Kerja
Bersama diatur dengan keputusan menteri. Adapun keputusan menteri yang dimaksud
adalah Keputusan Menteri Tenaga Kerja Dan Transmigrasi Republik Indonesia
Nomor KEP-48/MEN/IV/2004 Tentang Tata Cara Pembuatan Dan Pengesahan
Peraturan Perusahaan Serta Pembuatan Dan Pendaftaran Perjanjian Kerja Bersama.
Perjanjian Perburuhan/Kesepakatan Kerja Bersama (KKB) atau istilah yang
dipergunakan dalam Undang-Undang No 13 Tahun 2003 adalah Perjanjian Kerja
Bersama (PKB) dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah Collective Labour
Aggrement (CLA).
Berdasarkan Pasal 1 angka 21 Undang-Undang No 13 Tahun 2003 jo Pasal 1
angka 2 Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor KEP48/MEN/IV/2004, PKB yaitu perjanjian yang merupakan hasil perundingan antara
serikat pekerja/serikat buruh atau beberapa serikat pekerja/serikat buruh yang tercatat
pada instansi yang bertanggung jawab dibidang ketenagakerjaan dengan pengusaha,
atau beberapa pengusaha atau perkumpulan pengusaha yang memuat syarat-syarat
kerja, hak dan kewajiban kedua belah Pihak.
14
Dari pengertian diatas terdapat kesamaan yaitu bahwa baik perjanjian
perburuhan atau Perjanjian Kerja Bersama adalah dimaksudkan untuk mengatur
hubungan antara kedua belah pihak dalam melakukan hubungan kerja antara
pekerja/buruh dengan pengusaha. Begitu juga bahwa hal tersebut dimaksudkan juga
sebagai acuan dasar atau sebagai induk dalam membuat perjanjian kerja.
Masa berlakunya PKB paling lama 2 (dua) tahun dan hanya dapat
diperpanjang satu kali untuk paling lama 1 (satu) tahun berdasarkan kesepakatan
tertulis antara serikat pekerja/serikat buruh dan pengusaha.
2.3.1 Kewenangan Pembuatan Perjanjian Kerja Bersama
Kewenangan pembuatan PKB adalah berkaitan dengan pihak yang dapat dan
mempunyai wewenang untuk membuat PKB. Dari pengertian PKB tersebut diatas
sudah dapat diketahui siapa saja para pihak yang dapat melakukan pembuatan PKB.
Para pihak tersebut adalah Serikat Pekerja/Serikat Buruh dan Pengusaha/gabungan
pengusaha.
1. Serikat Pekerja/Serikat Buruh
PKB hanya dapat dirundingkan dan disusun oleh Serikat pekerja yang didukung
oleh sebagian besar pekerja di perusahaan yang bersangkutan. Dengan demikian
para pihak atau subjek yang membuat PKB adalah dari pihak buruh/pekerja
diwakili oleh serikat pekerja/buruh atau beberapa serikat pekerja/buruh di
perusahaan itu dengan pengusaha atau perkumpulan pengusaha. Maksud dengan
perwakilan tersebut supaya pekerja lebih kuat posisinya dalam melakukan
perundingan dengan majikan karena pengurus serikat pekerja umumnya dipilih
orang yang mampu memperjuangkan hak dan kepentingan anggotanya.
2. Pengusaha/Gabungan Pengusaha
Adapun yang dimaksud dengan pengusaha terdapat dalam Pasal 1 ayat (5)
Undang-Undang No 13 Tahun 2003 jo Pasal 1 ayat (4) Keputusan Menteri Tenaga
Kerja dan Transmigrasi Nomor : KEP-48/MEN/IV/2004, adalah:
a. Orang perorangan, persekutuan, atau badan hukum yang menjalankan suatu
perusahaan milik sendiri.
b. Orang perseorangan, persekutuan atau badan hukum yang secara berdiri
sendiri menjalankan perusahaan bukan miliknya.
15
c. Orang perseorangan, persekutuan atau badan hukum yang berada di Indonesia
mewakili perusahaan a dan b tersebut diatas, yang berkedudukan diluar
wilayah Indonesia.
2.3.2 Tahapan Terbentuknya Perjanjian Kerja Bersama
Menurut Indah Budiarti (2012) ada tiga tahapan terbentuknya perjanjian kerja
bersama, yaitu :
1. Tahap Persiapan
Pada tahapan ini pengusaha maupun Serikat Pekerja memilih anggota dan ketua
tim perundingan Perjanjian Kerja Bersama. Sebagai persiapan tim akan
melakukan kajian terhadap materi yang akan diajukan sebagai isi dari Perjanjian
Kerja Bersama serta menentukan strategi yang akan dipakai dalam perundingan
Perjanjian Kerja Bersama.
2. Tahap Perundingan
Tahap perundingan ini diawali dengan penyusunan Tata Tertib atau peraturan
perundingan. Kemudian diteruskan dengan saling menukar draft yang telah
disusun masing-masing tim perunding. Pihak Serikat Pekerja menerima draft yang
diusulkan Pengusaha dan pihak Pengusaha menerima draft yang diusulkan oleh
Serikat Pekerja. Pada tahapan ini masing-masing pihak menegosiasikan agar apa
yang menjadi usulan bisa disepakati oleh kedua belah pihak.
3. Tahap Resolusi
Ada dua kemungkinan yang terjadi pada tahap ini. Jika kedua belah mencapai
kesepakatan, maka terbentuklah Perjanjian Kerja Bersama yang akan disyahkan
dan ditandatangani oleh kedua belah pihak yang berunding kemudian dicatatkan
pada lembaga yang berwenang. Perjanjian Kerja Bersama inilah yang akan
disosialisasikan kepada seluruh Pekerja agar bisa diimplementasikan dengan
pengawasan dari seluruh pihak. Namun jika kedua belah pihak tidak mencapai
kesepakatan, maka akan menemui jalan buntu sehingga bisa terjadi kemelut dalam
hubungan industrial. Hal terburuk yang mungkin terjadi dari akibat kemelut ini
adalah terjadinya mogok kerja. Oleh karena itu diperlukan suatu kompromi agar
mencegah terjadinya deadlock pada proses perundingan Perjanjian Kerja Bersama
ini.
16
2.4
Tinjauan Penelitian Terdahulu
Penelitian mengenai hubungan industrial sebagai bagian dari manajemen
sumber daya manusia masih jarang dilakukan. Ada dua penelitian terdahulu yang
menjadi landasan penelitian ini. Siregar, Halim, 2011 melakukan penelitian mengenai
analisis pengaruh hubungan industrial terhadap kesejahteraan karyawan pada PTPN
IV, menyatakan bahwa Hubungan Industrial tidak memiliki pengaruh secara
signifikan terhadap Kesejahteraan Karyawan. Namun apabila ditinjau secara pengaruh
parsial, faktor Serikat Pekerja memiliki pengaruh signifikan terhadap Kesejahteraan
Karyawan. Penelitian ini secara kuantitatif mengukur pengaruh Serikat Pekerja
terhadap kesejahteraan karyawan. Jika penelitian sebelumnya yang diukur adalah
pengaruh peran Serikat Pekerja terhadap kesejahteraan karyawan, maka pada
penelitian ini yang akan dianalisa adalah pengaruh peran Serikat Pekerja terhadap
Perjanjian Kerja Bersama.
Priyo, Teguh, 2013 melakukan penelitian kualitatif mengenai “Efektifitas
Peranan Serikat Pekerja dalam Pembuatan dan Pelaksanaan Perjanjian Kerja
Bersama”, permasalahan yang diangkat adalah bagaimana efektivitas peranan Serikat
Pekerja dalam pembuatan dan pelaksanaan Perjanjian Kerja Bersama serta faktorfaktor penghambat efektivitas peranan serikat pekerja dalam pembuatan dan
pelaksanaan Perjanjian Kerja Bersama dan upaya-upaya yang dilakukan untuk
mengatasi hambatan tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peranan Serikat
Pekerja dalam pembuatan dan pelaksanaan perjanjian kerja bersama mengalami
beberapa hambatan sehingga belum efektif. Jika penelitian sebelumnya adalah
penelitian kualitatif, maka penulis
menindaklanjuti dengan penelitian kuantitatif
mengenai hubungan industrial ini, yaitu Pengaruh peranan Serikat Pekerja terhadap
Perjanjian Kerja Bersama di PT United Tractors, Tbk.
17
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1
Kerangka Pemikiran
PT United Tractors, Tbk untuk menjaga keberlangsungannya mempunyai visi,
misi dan tujuan yang harus di capai organisasi. Untuk mencapai visi misi dan tujuan
perusahaan diperlukan strategi-strategi yang dilakukan pada proses bisnis perusahaan
termasuk didalam proses pengelolaan karyawannya. Terkait dengan pengelolaan
karyawan
ini,
diperusahaan
terjalin
hubungan
industrial
antara
pemberi
kerja/manajemen dan Pekerja/Serikat Pekerja. Serikat Pekerja sebagai organisasi yang
bertujuan memperjuangkan kesejahteraan Pekerja, dan untuk mewujudkannya sebagai
salah satu pihak yang ada didalam hubungan industrial maka Serikat Pekerja adalah
sebagai pihak yang mempunyai hak untuk berunding di dalam penyusunan perjanjian
kerja bersama. Didalam hubungan industrial yang terjalin, Manajemen dan Serikat
Pekerja melakukan perundingan Bipartit untuk menyusun Perjanjian Kerja Bersama
yang digunakan sebagai landasan berlangsungnya hubungan kerja sekaligus sebagai
dasar perusahaan didalam pengelolaan sumber daya manusia yang ada.
Penelitian ini menganalisis pengaruh variabel peran Serikat Pekerja terhadap
variabel Perjanjian Kerja Bersama. Variabel peran Serikat Pekerja bersumber pada
teori Payaman Simanjuntak (2003). Komponen dalam peran Serikat Pekerja
dijabarkan meliputi menampung aspirasi dan keluhan Pekerja, perwakilan Pekerja,
memperjuangkan
hak
dan
kepentingan
anggota,
membantu
menyelesaikan
perselisihan hubungan industrial, meningkatkan disiplin dan semangat kerja anggota
serta menyalurkan aspirasi dan saran kepada manajemen. Variabel Perjanjian Kerja
Bersama Berdasarkan Pasal 1 Undang-Undang No 13 Tahun 2003. Perjanjian Kerja
Bersama yaitu perjanjian yang merupakan hasil perundingan antara serikat
pekerja/serikat buruh atau beberapa serikat pekerja/serikat buruh yang tercatat pada
instansi yang bertanggung jawab dibidang ketenagakerjaan dengan pengusaha, atau
beberapa pengusaha atau perkumpulan pengusaha yang memuat syarat-syarat kerja,
hak dan kewajiban kedua belah Pihak.
Analisis pengaruh variabel peran Serikat Pekerja terhadap variabel Perjanjian
Kerja Bersama ini dilakukan dengan survey menggunakan alat bantu berupa
kuesioner. Populasi dalam survey adalah anggota Serikat Pekerja PT United Tractors,
18
Tbk. Hasil survey diolah untuk mengetahui apa dan bagaimana masing-masing
variabel peran Serikat Pekerja mempengaruhi variabel Perjanjian Kerja Bersama.
Hasil dari analisis tersebut kemudian digunakan untuk mengetahui apa dan bagaimana
hubungan industrial di PT United Tractors, Tbk. Kerangka pemikiran penulis sajikan
dalam Gambar 1 berikut ini.
PT United Tractors, Tbk
Visi, Misi dan Tujuan Organisasi
Manajemen Pengelolaan
Sumber Daya Manusia
Hubungan Industrial
Peran Serikat Pekerja
Perjanjian Kerja Bersama
(Payaman Simanjuntak, 2003)
(UU 13 tahun 2003)
1. Menampung aspirasi dan
keluhan Pekerja (X1).
2. Perwakilan Pekerja (X2).
3. Memperjuangkan hak
dan kepentingan anggota
(X3).
4. Membantu
menyelesaikan
perselisihan hubungan
industrial (X4).
5. Meningkatkan disiplin
dan semangat kerja
anggota (X5).
6. Menyalurkan aspirasi
dan saran kepada
manajemen (X6).
Perjanjian Kerja Bersama
yaitu perjanjian yang
merupakan hasil
perundingan antara
serikat pekerja dengan
pengusaha yang memuat
syarat-syarat kerja, hak
dan kewajiban kedua
belah Pihak (Y).
Pengaruh Peran Serikat Pekerja
Terhadap Perjanjian Kerja Bersama
Implikasi Manajerial
Rekomendasi
Gambar 1. Kerangka Pemikiran Penelitian
19
Berdasarkan Gambar 1, kerangka pemikiran penelitian diatas penulis akan
melakukan penelitian mengenai pengaruh peran Serikat Pekerja terhadap Perjanjian
Kerja Bersama di PT United Tractors, Tbk. Dari penelitian tersebut akan melihat
implikasi manajerial terkait hubungan industrial yang terjadi. Pembahasan dan
pengkajian hubungan industrial yang terjadi bertujuan untuk memperoleh
rekomendasi dan inisiatif strategis yang bermanfaat bagi Serikat Pekerja dan
Manajemen PT United Tractors, Tbk, khususnya dalam bidang hubungan industrial
yang dijalankan. Dengan adanya rekomendasi tersebut, diharapkan hubungan
industrial yang terjadi di perusahaan bisa berjalan harmonis, berkeadilan serta
berkelanjutan.
3.2
Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di PT United Tractors, Tbk, Jalan Raya Bekasi,
KM 22 Jakarta dengan metode survey dilakukan langsung melalui tatap muka.
Pemilihan lokasi ini dilakukan secara sengaja (purposive) untuk mempelajari
pengaruh peran Serikat Pekerja terhadap terbentuknya Perjanjian Kerja Bersama pada
PT United Tractors, Tbk., karena sampel yang diambil spesifik dari perusahaannya.
Penelitian dilakukan pada bulan agustus sampai dengan oktober tahun 2014.
3.3
Sumber Data
Jenis data yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan
data sekunder. Menurut Umar (2003) data primer adalah data yang harus
dikumpulkan oleh peneliti untuk menjawab tujuan penelitian yang telah dirumuskan,
diperoleh dengan wawancara mendalam dan kuisioner dari karyawan anggota Serikat
Pekerja PT United Tractors, Tbk yang dijadikan sampel. Data sekunder adalah data
yang dikumpulkan oleh orang lain untuk tujuan berbeda dengan tujuan penelitian
yang dirumuskan. Dalam hal ini data yang digunakan adalah buku, skripsi, jurnal,
peraturan perundangan terkait hubungan industrial dan Perjanjian Kerja Bersama serta
data-data lain yang berkaitan dengan topik penelitian yang diambil dari arsip
perusahaan.
3.4 Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data mengenai pengaruh peran Serikat Pekerja terhadap
tahapan terbentuknya Perjanjian Kerja Bersama di PT United Tractors, Tbk,
dilakukan dengan dua metode. Pengumpulan data primer dalam yang digunakan
dalam penelitian ini adalah survey dengan alat bantu berupa kuesioner. Tujuan
penggunaan kuesioner adalah mendapatkan data-data secara akurat yang berhubungan
20
dengan objek penelitian. Sedangkan untuk data sekunder diperoleh dari pencatatan
secara langsung dan observasi Studi kepustakaan, yaitu mencari literatur, penelusuran
data kepustakaan, buku, skripsi, tesis, jurnal, surat kabar, internet, arsip perusahaan
dan peraturan perundangan.
3.5
Metode Penarikan Sampel
Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah non-probability sampling
dimana anggota populasi tidak memilik peluang yang sama untuk terpilih menjadi
sampel. Unsur populasi yang terpilih menjadi sampel disebabkan karena kebetulan
saja. Dalam penelitian ini, metode penarikan sampel yang digunakan adalah metode
kuota (quota sampling) yaitu jika penelitian akan mengkaji suatu fenomena dari
beberapa sisi, maka responden yang akan dipilih adalah orang-orang yang
diperkirakan dapat menjawab semua sisi itu (Umar, 2003). Karena penelitian ini
mengkaji tentang beberapa peran Serikat Pekerja yang bisa dilihat dari keaktifan
anggota didalam kegiatan Serikat Pekerja serta pengkajian tentang Perjanjian Kerja
Bersama yang bisa dilihat dari keaktifan anggota didalam menyampaikan masukan
tentang Perjanjian Kerja Bersama, sesuai dengan metode kuota maka sampel yang
diambil adalah anggota Serikat Pekerja yang aktif didalam kegiatan Serikat Pekerja
dan didalam menyampaikan masukan tentang Perjanjian Kerja Bersama.
Sampel ditentukan berdasarkan jumlah tertentu. Dalam menentukan ukuran
minimal sampel, digunakan rumus Slovin yaitu:
= ()
………………………………………………………………… (1)
Keterangan :
n
= ukuran sampel
N
= ukuran populasi
e
= Persen kelonggaran ketidaktelitian karena kesalahan pengambilan
sampel yang bisa ditolerir (e=10%)
Dari jumlah populasi anggota Serikat Pekerja total 1805 orang setelah dihitung
menggunakan rumus slovin, dengan persen kelonggaran ketidaktelitian karena
kesalahan pengambilan sampel yang bisa ditolerir 10% didapat sampel minimal
sebanyak 95 orang.
21
3.6
Pengolahan dan Analisis Data
Penelitian ini menggunakan skala Likert dengan ukuran ordinal. Menurut
Nazir (1999), skala Likert dengan ukuran ordinal hanya dapat mengetahui rangking
tetapi tidak dapat digunakan untuk mengetahui apakah satu responden lebih baik atau
lebih buruk daripada responden lainnya. Skala Likert yang digunakan dalam
penelitian ini berupa pernyataan dengan pemberian skor untuk setiap jawaban
dengan rank dari 1 sampai dengan 5. Hasil dari penghitungan skor selanjutnya diolah
menggunakan rata – rata tertimbang (weighted mean) untuk memperoleh nilai yang
berasal dari sekelompok data. Hasil penghitungan rata – rata tertimbang selanjutnya
diinterpretasikan sehingga dapat diketahui kategori skornya.
3.6.1 Analisis Deskriptif
Analisis deskriptif merupakan bagian untuk mempelajari alat, teknik atau
prosedur yang digunakan untuk menggambarkan atau mendeskripsikan kumpulan
data atau hasil pengamatan. Data tersebut perlu disajikan supaya mudah dimengerti,
menarik, komunikatif, dan informatif bagi pihak lain. Penyajian data secara umum
dibagi kedalam dua aspek yaitu penyiapan data dan analisis pendahuluan. Penyiapan
data meliputi proses gathering, coding, editing dan input data, sedangkan analisis
pendahuluan meliputi pemilahan, pemeriksaan dan penyusunan data sehingga
diperoleh gambaran, pola, dan hubungan yang lebih bermakna.
3.6.2 Uji Validitas dan Realibilitas
Analisis validitas menurut Arikunto (2002) adalah suatu ukuran yang
menunjukkan tingkat-tingkat kevalidan atau kesahihan suatu instrumen. Uji validitas
digunakan untuk mengukur sah atau valid tidaknya suatu kuesioner. Suatu kuesioner
dikatakan valid jika pertanyaan pada kuesioner mampu untuk mengungkapkan sesuatu
yang akan diukur oleh kuesioner tersebut. Pengujian validitas dilakukan dengan
melakukan korelasi bilvariate antara masing-masing skor indikator dengan total skor
konstruk. Hasil analisis korelasi bilvariate dengan melihat output Pearson Correlation
(Ghozali, 2005). Teknik analis butir instrumen untuk menguji validitas empirik
menggunakan rumus Pearson Correlation Product Moment yaitu :
…………………………………… (2)
22
Keterangan :
r
= nilai koefisien pearson
N
= jumlah responden
X
= skor butir instrumen
Y
= total skor
Uji reliabilitas untuk mengetahui sejauh mana data dapat memberikan hasil
yang relatif tidak berbeda bila dilakukan pengukuran kembali pada subyek yang sama
atau dapat dikatakan untuk menunjukkan adanya persesuaian antara sesuatu yang
diukur dengan jenis alat pengukur yang dipakai. Adapun dalam pengujian reliabilitas
ini menggunakan rumus alpha (Ghozali, 2005). Dengan taraf signifikan (α) = 0,6,
apabila r xy > r tabel, maka quesioner sebagai alat pengukur sudah memenuhi syarat
reliabilitas. Keterandalan (reliability) instrumen atau pertanyaan ditentukan dengan
menggunakan rumus Alpha Cronbach, yaitu:
………………………………………………………… (3)
Keterangan :
α
= nilai koefisien Alpha - Cronbach
K
= butir instumen yang sahih
2
= jumlah ragam butir instumen yang sahih
2
= ragam skor total
σb
Σt
3.6.3 Asumsi Klasik
1. Uji Normalitas
Bertujuan menguji apakah dalam model regresi, residu dari persamaan regresi
distribusi normal ataukah tidak. Model regresi yang baik adalah memiliki
distribusi data normal atau mendekati normal. Caranya adalah dengan melihat
normal probability plot yang membandingkan distribusi kumulatif dari distribusi
normal. Distribusi normal akan membentuk satu garis lurus diagonal. Jika
distribusi data adalah normal maka garis yang menggambarkan data
sesungguhnya akan mengikuti garis diagonal. Adapun cara analisis yang
dilakukan adalah dengan menggunakan grafik normal plot, dimana :
a. Jika penyebaran data mengikuti garis normal, maka data berdistribusi normal.
b. Jika penyebaran data tidak mengikuti garis normal, maka data distribusi tidak
normal. (Ghozali, 2005)
23
Uji normalitas dengan grafik dapat menyesatkan karena secara visual dapat
kelihatan tidak normal padahal secara statistik bisa sebaliknya. Adapun uji
normalitas dengan statistik yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji
Kolmogorov-Smirnov (KS test), yaitu dengan melihat angka profitabilitas
signifikan dimana data dapat disimpulkan berdistribusi normal jika angka
signifikansinya lebih besar dari 0,05.
2. Uji Multikolonieritas
Bertujuan untuk menguji model regresi ditemukan adanya korelasi antara variabel
bebas (independen). Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi di
antara variabel bebas. Jika variable bebas saling berkorelasi, maka variabel –
variabel ini tidak ortogonal. Variabel ortogonal adalah variabel bebas yang nilai
korelasi antara sesama variabel bebas sama dengan nol. Langkah menganalisis
asumsi multikolinieritas yaitu :
a. Jika nilai VIF lebih kecil dari angka 5 maka tidak terjadi problem
multikolinieritas.
b. Jika nilai VIF lebih dari angka 5 maka terjadi problem multikolinieritas.
(Santoso, 2001)
3. Uji Heteroskdastisitas
Bertujuan menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan variance
dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain akibat besar kecilnya nilai
salah satu variabel bebas atau adanya perbedaaan nilai ragam dengan semakin
meningkatnya nilai variabel bebas. Jika variance dari residual suatu pengamatan
ke pengamatan yang tetap, maka disebut Homoskedastisitas dan jika berbeda
disebut Heteroskedastisitas atau yang terjadi Heteroskedastisitas. Kebanyakan
data cross section mengandung situasi Heteroskedastisitas karena data ini
menghimpun data yang mewakili berbagai ukuran (kecil, sedang dan besar).
Prosedur uji dilakukan dengan Uji Glejser. Pengujian kehomogenan ragam sisaan
dilandasi pada hipotesis:
Ho : ragam residual homogen
Ha : ragam residual tidak homogeny
24
Prosedur pengujian kehomogenan ragam residual adalah:
a. Lakukan pendugaan parameter model regresi linier dengan metode kuadrat
terkecil.
b. Hitung sisaan dari model regresi yang diperoleh dari langkah pertama.
c. Buat regresi nilai mutlak residual,
terhadap peubah penjelas dengan bentuk
fungsional.
d. Lakukan uji keberartian koefisien regresi. Jika koefisien regresi tidak nyata
maka terdapat hubungan yang penting secara statistis di antara peubah
sehingga dapat disimpulkan bahwa sisaan mempunyai ragam homogen
(konstan) (Gujarati, 2003).
3.6.4 Uji Hipotesis
1. Uji Hipotesis Secara Parsial dengan Uji t
Adalah uji yang digunakan untuk menyatakan signifikansi pengaruh variabel
bebas secara parsial terhadap variabel terikat. Untuk menguji variabel yang
berpengaruh antara peran Serikat Pekerja (X1, X2, X3, X4, X5 dan X6) terhadap
terbentuknya Perjanjian Kerja Bersama (Y), maka dilakukan pengujian dengan ttest. Dapat dilihat pada langkah-langkah di bawah ini :
a. Hipotesis yang akan diuji dengan taraf nyata (α) = 5% (uji dua arah)
Ho : β = 0
artinya tidak ada pengaruh antara peran Serikat Pekerja (X1,
X2, X3, X4, X5 dan X6) terhadap terbentuknya Perjanjian
Kerja Bersama (Y)
Ha : β > 0
artinya ada pengaruh antara peran Serikat Pekerja (X1, X2,
X3, X4, X5 dan X6) terhadap terbentuknya Perjanjian Kerja
Bersama (Y)
b. Kesimpulan :
i.
Apabila t hitung < - t tabel atau t hitung > t tabel, maka Ho ditolak artinya
ada pengaruh antara peran Serikat Pekerja (X1, X2, X3, X4, X5 dan X6)
terhadap terbentuknya Perjanjian Kerja Bersama (Y)
ii.
Apabila t hitung > - t tabel atau t hitung < t tabel, maka Ho diterima,
artinya tidak ada pengaruh antara peran Serikat Pekerja (X1, X2, X3, X4,
X5 dan X6) terhadap terbentuknya Perjanjian Kerja Bersama (Y)
25
2. Uji Hipotesis Secara Simultan dengan Uji F
Adalah uji yang digunakan untuk menyatakan signifikansi pengaruh variabel
bebas secara bersama-sama (simultan) terhadap variabel dependen (y) yang
dilakukan dengan uji F yang diuji dengan taraf nyata (α) = 5% (uji satu arah)
dapat dilihat di bawah ini :
a. Hipotesis yang akan diuji adalah sebagai berikut :
Ho : β1,2,3,3,4,5,6 = 0 artinya tidak ada pengaruh yang positif dan signifikan
antara peran Serikat Pekerja (X1, X2, X3, X4, X5 dan
X6) terhadap terbentuknya Perjanjian Kerja Bersama
(Y) secara simultan (bersama-sama)
Ha : β1,2,3,4,5,6 > 0
artinya ada pengaruh yang positif dan signifikan antara
peran Serikat Pekerja (X1, X2, X3, X4, X5 dan X6)
terhadap terbentuknya Perjanjian Kerja Bersama (Y)
secara simultan (bersama-sama)
b. Kesimpulan
-
Apabila F hitung ≤ F tabel, maka Ho diterima dan Ha ditolak artinya
peran Serikat Pekerja (X1, X2, X3, X4, X5 dan X6) terhadap
terbentuknya Perjanjian Kerja Bersama (Y) secara simultan (bersamasama)
-
Apabila F hitung > F tabel, maka Ho ditolak atau Ha diterima artinya
peran Serikat Pekerja (X1, X2, X3, X4, X5 dan X6) terhadap
terbentuknya Perjanjian Kerja Bersama (Y) secara simultan (bersamasama)
3.6.5 Koefisien Determinasi
Analisis ini digunakan untuk mengetahui kemampuan variable bebas (X)
dalam menjelaskan variabel tidak bebas (Y) yang besarnya merupakan kuadrat dari
koefisien korelasi dan penggunaannya dinyatakan dalam prosentase. Koefisien
determinasi dapat dicari dengan rumus sebagai berikut : (Santoso, 2001)
R = r2 x 100%
Dimana :
R = koefisien determinasi
r = koefisien korelasi
26
3.6.6 Regresi Linier Berganda
Regresi linier berganda digunakan untuk mengetahui pengaruh dari variabel
bebas yaitu peran Serikat Pekerja terhadap variabel terikat yaitu terbentuknya
Perjanjian Kerja Bersama. Bentuk regresi linier berganda adalah sebagai berikut
:(Hasan, 2002).
Y = β0 + b1X1 + b2X2 + b3X3 + b4X4 + b5X5 + b6X6 + e
Dimana :
Y
= variabel terikat (Perjanjian Kerja Bersama)
X1
= variabel bebas (peran menampung aspirasi dan keluhan Pekerja)
X2
= variabel bebas (peran perwakilan Pekerja)
X3
= variabel bebas (peran
memperjuangkan hak dan kepentingan
anggota)
X4
= variabel bebas (peran membantu menyelesaikan perselisihan
hubungan industrial)
X5
= variabel bebas (peran meningkatkan disiplin dan semangat kerja
anggota)
X6
= variabel bebas (peran menyalurkan aspirasi dan saran kepada
manajemen)
β0
= konstanta
b1,2,3,4,5,6
= koefisien regresi masing-masing variabel bebas
Dengan menggunakan persamaan nominal regresi linier berganda di atas,
dapat ditemukan besarnya koefisien b1, b2, b3, b4, b5 dan b6 sehingga dapat
ditentukan bentuk persamaan regresi.
27
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1
Visi Dan Misi Perusahaan
PT United Tractors, Tbk berdiri pada tanggal 13 Oktober 1972 dan bergerak
sebagai distributor alat berat Komatsu di Indonesia. Pada tanggal 19 September 1989,
United Tractors menjadi perusahaan publik dan mencatatkan sahamnya di Bursa Efek
Jakarta dan Bursa Efek Surabaya sebagai PT United Tractors, Tbk (UNTR) dengan
kepemilikan terbesar yaitu PT. Astra International Tbk. Saat ini, PT United Tractors,
Tbk mempunyai 3 (tiga) unit bisnis utama yaitu mesin konstruksi, kontraktor
penambangan dan pertambangan. Visi PT United Tractors, Tbk adalah Menjadi
perusahaan kelas dunia yang berbasis pada solusi dibidang alat berat, pertambangan
dan energi, untuk menciptakan manfaat bagi pemegang kepentingan. Misi PT United
Tractors, Tbk adalah menjadi Perusahaan yang bertekad membantu pelanggan meraih
keberhasilan dengan pemahaman yang komprehensif dan berkelanjutan, menciptakan
peluang kepada seluruh bagian dariperusahaan untuk meningkatkan status sosial dan
peningkatan diri melalui prestasi, menciptakan nilai tambah yang berkelanjutan bagi
pemegang kepentingan dengan memelihara keseimbangan Ekonomi, Sosial dan
Lingkungan serta memberikan kontribusi bagi kesejahteraan bangsa.
Terkait dengan pengelolaan sumber daya manusia di perusahaan ada dua misi
yang terkait yaitu menciptakan peluang kepada seluruh bagian dariperusahaan untuk
meningkatkan status sosial dan peningkatan diri melalui prestasi serta memberikan
kontribusi bagi kesejahteraan bangsa. Dari dua misi tersebut Divisi Human Capital
sebagai organisasi yang bertanggung jawab mengelola sumber daya manusia,
mempunyai tugas bagaimana menjadi partner yang nyata bagi pimpinan perusahaan
maupun rekan kerja melalui fungsi :
1. Partner dari fungsi operasi perusahaan.
2. Pengembangan organisasi.
3. Mengembangkan bakat Pekerja
4. Administrasi
5. Agen perubahan
28
4.1.1 Struktur Organisasi
Kerangka pengelolaan sumber daya manusia di PT United tractors, adalah :
1. Industrial relation management, adalah proses pengelolaan hubungan industrial
untuk menciptakan iklim kerja yang harmonis.
2. Reward management, adalah proses pengelolaan kompensasi dan benefit bagi
Pekerja untuk mempertahankan dan memberikan semangat kepada para talent
perusahaan.
3. Recruitment management, adalah
proses penerimaan Pekerja agar jumlahnya
tepat, kualifikasinya tepat dan waktunya tepat.
4. People development management, adalah proses pengembangan Pekerja untuk
menciptakan kompetensi dan karakter sesuai kebutuhan perusahaan.
5. Performance management, adalah proses pengukuran dan evaluasi performance
Pekerja dan organisasi untuk mengoptimalkan performance tersebut.
6. Termination management, adalah proses pengelolaan Pekerja yang akan keluar
untuk memenuhi etika dan tata aturan yang ada.
7. Organization development management, adalah proses pengelolaan organisasi
untuk menciptakan organisasi perusahaan produktif, efektif dan efisien
Dari kerangka pengelolaan diatas, maka terlihat bahwa fungsi mengelola
hubungan industrial perusahaan ada pada departemen Industrial manajemen sesuai
struktur organisasi pada Gambar 2 dibawah ini.
29
Direktur
Human
capital
Human
Capital
Division
Industrial
Relation
Department
Reward
System
Department
Organisasi
Development
Department
Recruitment
Assesment
Department
People
Development
Department
Industrial
relation
Section
Sub
Contractor
Section
Gambar 2. Struktur organisasi human capital division PT United Tractors, Tbk
Sumber : data internal perusahaan
Dari Gambar 2, kita bisa ketahui bahwa komunikasi antara Serikat Pekerja
dan manajemen perusahaan dilakukan oleh Industrial Relation Section yang
bertangung jawab kepada Industrial Relation Departement Head. Industrial Relation
Departement ada di bawah Human Capital Division, dengan penanggung jawab
tertinggi dari keseluruhan proses ada dibawah Direktur Human Capital.
4.1.2 Gambaran Umum Serikat Pekerja
Serikat Pekerja United Tractors atau lebih sering disebut SPUT adalah
organisasi Serikat Pekerja tingkat perusahaan yang anggotanya hanya untuk karyawan
PT United Tractors, Tbk. SPUT dalam hubungan organisasi Serikat Pekerja nasional
beraffiliasi dengan Federasi Serikat Pekerja khusus sektor jasa ASPEK Indonesia
(Asosiasi Serikat Pekerja Indonesia) yang bergabung dibawah naungan Konfederasi
Serikat Pekerja Indonesia (KSPI). Affiliasi internasional dari SPUT adalah UNI
Global, yaitu Federasi Serikat Pekerja sektor jasa internasional yang berkantor di
Nyon, Swiss.
30
Bergabungnya SPUT dengan affiliasi nasional maupun internasional adalah
untuk mencari dukungan dan bantuan ketika isu yang diperjuangkan adalah terkait
kebijakan pemerintah. Namun terkait dengan perjuangan organisasi di tingkat
Perusahaan, SPUT lebih mengutamakan perundingan antara Serikat Pekerja dengan
Manajemen.
SPUT didirikan di Jakarta, pada tanggal 16 Mei 2008 dengan tujuan :
1. Menghimpun dan mempersatukan seluruh aspirasi pekerja PT United Tractors Tbk
serta mewujudkan kesetiakawanan dan solidaritas diantara pekerja.
2. Menciptakan kehidupan dan penghidupan pekerja serta pola hubungan industrial
yang selaras dan serasi dengan membela dan mempertahankan hak-hak dasar dan
kepentingan pekerja, menuju terwujudnya tertib sosial, tertib hukum dan tertib
demokrasi.
3. Meningkatkan kesejahteraan anggota serta memperjuangkan perbaikan nasib,
syarat-syarat kerja serta penghidupan yang layak sesuai dengan kemanusian yang
adil dan beradab.
4.
Menciptakan iklim dan suasana kerja yang sehat dan kondusif
Struktur organisasi SPUT adalah Musyawarah Anggota (MUSYATA) sebagai
pemegang kekuasaan dan kedaulatan tertinggi organisasi dan Badan Eksekutif Serikat
Pekerja United Tractors (BESPUT) yang kepemimpinannya berlaku kolektif kolegial.
Untuk pembagian kerja di oraganisasi BESPUT terdiri dari Ketua Umum, Sekretaris
Jenderal, Bendahara dan Ketua Bidang. Sesuai dengan tujuan organisasi, maka
didalam bekerjanya BESPUT akan menerima masukan aspirasi Pekerja yang menjadi
anggota Serikat Pekerja kemudian memperjuangkannya ke manajemen.
4.2
Gambaran Umum Perjanjian Kerja Bersama Pada PT United Tractors, Tbk
Perjanjian Kerja Bersama yang saat ini berlaku di PT United Tractors, Tbk
adalah Perjanjian Kerja Bersama periode 2014 sampai dengan 2016. Perjanjian Kerja
Bersama tersebut di sepakati antara Perusahaan dan Serikat Pekerja pada tanggal 29
april 2014. Walaupun merupakan kesepakatan antara Pengusaha dan Serikat Pekerja,
agar pemerintah melakukan monitoring dan evaluasi pelaksanaan syarat-syarat kerja
di Perusahaan, maka Perjanjian Kerja Bersama tersebut telah didaftarkan ke
Kementrian Tenaga Kerja melalui Direktur Persyaratan Kerja, Kesejahteraan Dan
Analisis Diskriminasi, Direktur Jenderal Pembinaan Hubungan Industrial Dan
Jaminan Sosial Tenaga Kerja pada tanggal 16 mei 2014.
31
Sebagai kesepakatan yang memuat syarat-syarat kerja, hak dan kewajiban
Pekerja maupun Perusahaan, Perjanjian Kerja Bersama di PT United Tractors, Tbk
terdiri dari 18 bab dan 106 pasal. Isi dari Perjanjian Kerja Bersama tersebut dimulai
dari hal yang umum, pengakuan hak Pengusaha dan Serikat Pekerja, hubungan kerja,
waktu kerja, produktivitas, pendidikan dan latihan, pengupahan, tunjangan-tunjangan,
pengobatan dan perawatan kesehatan, jaminan sosial dan kesejahteraan, pensiun, cuti
dan hari libur, keselamatan dan kesehatan kerja, tata tertib, sanksi dan pelanggaran,
pemutusan hubungan kerja, penyelesaian keluh kesah serta pelaksanaan dari
Perjanjian Kerja Bersama tersebut.
Hal umum yang dibahas pada Perjanjian Kerja Bersama diantaranya apa yang
menjadi tujuan Perjanjian Kerja Bersama, bagaimana mencapai tujuan tersebut,
pengertian dan istilah yang ada didalam Perjanjian Kerja Bersama, pihak yang
membuat kesepakatan, luasnya perjanjian, kewajiban pihak-pihak yang mengadakan
perjanjian serta hubungan industrial yang terjadi di PT United Tractors, Tbk. Pasalpasal mengenai pengakuan hak Pengusaha dan Serikat Pekerja isinya tentang
kesepakatan pengakuan Pengusaha tentang hak Serikat Pekerja dan pengakuan Serikat
Pekerja tentang hak dan wewenang Pengusaha, fasilitas dan bantuan yang diberikan
oleh Pengusaha untuk Serikat Pekerja, dispensasi yang diberikan untuk keperluan
Serikat Pekerja, jaminan bagi Serikat Pekerja, jaminan bagi Pengusaha serta lembaga
kerja sama bipartit di PT United Tractors, Tbk.
Pada bab hubungan kerja Perjanjian Kerja Bersama, hal yang disepakati
diantaranya mengenai penerimaan kerja termasuk persyaratan yang harus dipenuhi
didalam penerimaan kerja, masa percobaan karyawan, perjanjian kerja waktu tertentu,
penempatan kerja tenaga asing, bagaimana penilaian kompetensi dan performance
kerja, golongan Pekerja yang berlaku di Perusahaan, bagaimana promosi bagi Pekerja,
perjalanan dinas yang dilaksanakan Pekerja serta penempatan dan mutasi bagi
Pekerja. Kesepakatan mengenai waktu kerja antara lain mengenai hari dan waktu
kerja yang berlaku, disiplin waktu kerja serta pasal tentang kerja lembur dan
perhitungan upah lemburnya.
Bagaimana
upaya-upaya
Serikat
Pekerja
agar
terjadi
peningkatan
produktivitas Pekerja sehingga terjadi pertumbuhan Perusahaan merupakan hal yang
disepakati pada bab produktivitas. Karena Pengusaha dan Serikat Pekerja menyadari
bahwa salah satu cara untuk meningkatkan produktivitas adalah dengan cara
32
peningkatan kompetensi Pekerja melalui pendidikan dan pelatihan, maka disepakati
pendidikan dasar dan pendidikan fungsional yang dilaksanakan di Perusahaan,
pelatihan kerja serta fasilitas untuk pendidikan dan pelatihan tersebut.
Sebagai hak dasar dari Pekerja adalah menerima upah, maka didalam bab
Perjanjian Kerja Bersama dibahas mengenai pengupahan secara detail, mulai struktur
upah atau gaji pokok, proses kenaikan upah pokok, tunjangan dan fasilitas yang
berhak diterima Pekerja serta prosedur pembayaran upah yang masih berhak diterima
Pekerja walaupun yang bersangkutan berhalangan karena sakit atau ditahan.
Tunjangan, bonus dan insentif merupakan pasal-pasal yang disepakati juga
terkait benefit yang di terima Pekerja. Benefit lain yang diterima Pekerja dan
disepakati dalam Perjanjian Kerja Bersama ini adalah pengobatan dan perawatan
kesehatan, mulai dari bantuan pengobatan, bantuan kacamata, bantuan alat bantu
dengar, bantuan rawat inap dirumah sakit, pengobatan diluar negeri, bantuan
perawatan persalinan serta keluarga berencana.
Pasal-pasal Perjanjian Kerja Bersama pada bab jaminan sosial dan
kesejahteraan, pasal-pasal yang disepakati yaitu mengenai jaminan sosial tenaga
kerja, asuransi kecelakaan kerja, dana pensiun, bantuan pernikahan bagi Pekerja,
santunan kematian, bantuan sosial, olah raga dan kesenian, usaha koperasi, bantuan
beasiswa bagi anak Pekerja, rekreasi bagi Pekerja dan keluarganya, kerohanian serta
penghargaan masa kerja mulai dari 10 tahun.
Kesepakatan tentang Pekerja pensiun isinya apa yang akan di terima oleh
Pekerja mulai dari masa persiapan pensiun sampai dengan pensiun. Cuti, ijin dan libur
merupakan hak karyawan yang perlu diatur pelaksanaannya dalam Perjanjian Kerja
Bersama yang mencakup dari cuti tahunan, cuti panjang, cuti lapangan, cuti
pengganti, cuti hamil dan melahirkan, cuti haid, ijin tidak masuk bekerja karena ada
keperluan keluarga, ijin khusus untuk ujian pendidikan dan ibadah keagamaan, ijin
meninggalkan pekerjaan diluar tanggungan Perusahaan serta hari-hari libur resmi
nasional.
Untuk melindungi kesehatan dan keselamatan Pekerja selama bekerja di
Perusahaan, maka Pengusaha dan Pekerja menyepakati pasal-pasal mengenai
keselamatan, kesehatan dan perlengkapan kerja. Pasal-pasal yang ada adalah
mengenai hygiene Perusahaan dan kesehatan (Hyperkes), pakaian kerja, alat-alat kerja
serta perlindungan kesehatan dan keselamatan kerja.
33
Produktivitas adalah hasil dari pelaksanaan kewajiban karyawan yang diatur
melalui pasal-pasal peraturan tata tertib di Perjanjian Kerja Bersama. Dimulai dari tata
tertib registrasi bagi Pekerja, tata tertib keselamatan kerja dan lingkungan hidup, tata
tertib kesehatan dan kebersihan, tata tertib keamanan serta yang terakhir adalah sikap
dan tanggung jawab, baik atasan kepada bawahan maupun sebaliknya yaitu bawahan
kepada atasan. Ketika ada kewajiban bagi Pekerja, agar kewajiban tersebut
dilaksanakan
maka
disepakati
pasal-pasal mengenai
sanksi-sanksi terhadap
pelanggaran, mulai dari peringatan lisan, surat peringatan pertama, surat peringatan
kedua, surat peringatan ketiga sampai dengan sanksi pemutusan hubungan kerja.
Walaupun pengusaha mencegah semaksimal mungkin terjadinya pemutusan
hubungan kerja, namun bisa saja hal tersebut terjadi sebagai pilihan terakhir yang
tidak bisa dihindari sehingga diperlukan kesepakatan ketika terjadi pemutusan
hubungan kerja agar hak Pekerja dan Pengusaha terlindungi. Kewajiban dan hak
Pekerja serta Perusahaan saat terjadi pemutusan hubungan kerja disepakati dalam
Perjanjian Kerja bersama. Jenis pemutusan hubungan kerja yang terjadi bisa pada
masa percobaan, atas kehendak Pekerja, secara massal, karena tidak mampu bekerja
atau sakit berkepanjangan, meninggal dunia, kesalahat berat, perubahan kepemilikan
perusahaan, perusahaan tutup maupun karena perusahaan pailit. Dari berbagai jenis
pemutusan hubungan kerja tersebut akan ada perbedaan benefit yang didapatkan
Pekerja dengan dasar perhitungan uang pesangon, uang penghargaan masa kerja dan
uang pisah yang disepakati di dalam Perjanjian Kerja Bersama.
Didalam hubungan industrial yang terjadi di PT United Tractors, Tbk bisa saja
terjadi ada beberapa permasalahan sehingga tata cara penyelesaian dan pengaduannya
diatur dalam kesepakatan Perjanjian Kerja Bersama, dengan prioritas penyelesaian
dimulai dari atasan langsungnya berjenjang sampai melalui Serikat Pekerja. Perjanjian
Kerja Bersama ini ditutup dengan peraturan peralihan dan pelaksanaannya sehingga
mencegah kekosongan tidak adanya peraturan yang dipakai dalam hubungan
industrial di Perusahaan ketika masih dalam proses penyusunan Perjanjian Kerja
Bersama yang baru.
34
4.3
Gambaran Umum Responden
Responden yang dipilih sebagai responden dalam penelitian ini adalah anggota
Serikat Pekerja PT United Tractors, Tbk yang berjumlah 106 orang. Dari jumlah
kuesioner sebanyak 106 kuesioner dengan pertanyaan seperti pada Lampiran 1
seluruhnya kembali. Kemudian dari 106 kuisioner tersebut data yang diolah valid dan
reliabel adalah 106 kuesioner, dengan identitas responden yang ada pada Lampiran 2.
4.3.1 Jabatan Responden
Jabatan responden terkait dengan tugas dan tanggung jawab responden
diperusahaan. Semakin tinggi jabatan responden maka tugas dan tanggung jawabnya
semakin tinggi. Secara umum ketika makin tinggi jabatan seseorang diperusahaan
maka akan semakin membawa kepentingan perusahaan. Tabel 1, berikut ini gambaran
jabatan responden di perusahaan :
Tabel 1. Jabatan Responden
Jabatan
Jumlah Prosentase
Officer/Staf
46
43%
Section Head/Staf
38
36%
Ahli
Manager
22
21%
Total
106
100%
Dilihat dari Tabel 1, dapat diketahui bahwa jumlah responden sebanyak 106,
dimana sebarannya 46 atau 43% responden mempunyai jabatan officer atau staf, 38
responden atau 36% mempunyai jabatan section head/staf ahli dan 22 atau 21%
mempunyai jabatan manager. Pemeringkatan jabatan dari yang terendah sampai yang
tinggi yaitu officer/staf, section head/staf ahli serta yang tertinggi adalah manager.
Dari sebaran jabatan responden sudah memenuhi piramida jabatan, dimana pada level
terendah jumlahnya banyak dan semakin tinggi jumlahnya akan mengecil.
4.3.2 Golongan Responden
Golongan responden menunjukkan tingkat kompetensi yang dimiliki
responden dan diakui perusahaan. Golongan responden ini akan berpengaruh pada
kompensasi yang diterima oleh responden dari perusahaan. Tabel 2 menunjukkan
sebaran golongan responden diperusahaan :
35
Tabel 2. Golongan Responden
Golongan
1 s/d 3
4A s/d 4D
4E up
Total
Jumlah Prosentase
32
30%
51
48%
23
22%
106
100%
Dilihat dari Tabel 2, dapat diketahui bahwa jumlah responden sebanyak 106,
dimana sebarannya 32 atau 30% responden mempunyai golongan 1 sampai dengan 3,
51 responden atau 48% mempunyai golongan 4A sampai dengan 4D serta 23 atau
22% mempunyai golongan 4E ke atas. Karyawan dengan golongan 1 sampai dengan 3
di perusahaan adalah kelompok jabatan terendah diperusahaan. Pada golongan ini
karyawan masih berhak mendapatkan upah lembur dan belum bisa menduduki jabatan
sebagai leader. Golongan 4A sampai dengan 4D adalah tempat duduknya para calon
pemimpin perusahaan, sehingga jumlahnya paling besar. Para lulusan S1 yang baru
ketika masuk ke perusahaan ada pada golongan ini. Begitu masuk golongan 4A maka
karyawan tersebut tidak lagi berhak atas upah lembur. Golongan 4E ke atas adalah
para leader di perusahaan. Golongan ini merupakan jabatan manajerial yang
menjalankan organisasi perusahaan sehingga karyawan pada golongan ini
mendapatkan berbagai fasilitas dari perusahaan.
4.3.3 Masa Kerja Responden
Masa kerja responden diperusahaan menunjukkan bagaimana proses
regenerasi yang terjadi diperusahaan. Tabel 3 dibawah menunjukkan masa kerja
responden diperusahaan :
Tabel 3. Masa Kerja Responden
Masa Kerja
Jumlah Prosentase
< 5 tahun
20
19%
5 s/d 10 tahun
27
25%
>10 s/d 15 tahun
19
18%
>15 s/d 20 tahun
16
15%
>20 s/d 25 tahun
14
13%
> 25 tahun
10
9%
Total
106
100%
Dilihat dari Tabel 3, dapat diketahui bahwa jumlah responden sebanyak 106,
dimana sebarannya paling tinggi adalah masa kerja 5 sampai dengan 10 tahun
sebanyak 27 atau 25% responden, sedangkan responden dengan masa kerja diatas 25
36
tahun adalah paling kecil sebanyak 10 atau 9% responden. Yang menarik dari sebaran
tersebut adalah responden dengan masa kerja kurang dari lima tahun, lima sampai
dengan sepuluh tahun, serta lebih dari sepuluh tahun sampai dengan lima belas tahun
masing-masing jumlahnya lebih besar dibandingkan dengan masa kerja diatas lima
belas tahun sampai dengan dua puluh tahun, diatas dua puluh tahun sampai dengan
dua puluh lima tahun maupun diatas dua puluh lima tahun. Hal ini disebabkan karena
pada tahun 1998 perusahaan mengalami krisis sehingga harus mengurangi jumlah
karyawan, namun setelah lepas dari krisis perusahaan mengalami pertumbuhan yang
cukup bagus sehingga melakukan perekrutan karyawan dalam jumlah besar.
4.3.4 Usia Responden
Usia sangat berpengaruh dalam kehidupan sehari–hari sehingga perbedaan
usia sangat berpengaruh terhadap selera, keinginan dan motivasi Pekerja. Berikut ini
pada Tabel 4 akan ditampilkan kelompok usia responden anggota Serikat Pekerja PT
United Tractors, Tbk :
Tabel 4. Usia Responden
Usia
Jumlah Prosentase
< 25 tahun
5
5%
25 s/d 30 tahun
20
19%
>30 s/d 35 tahun
28
26%
>35 s/d 40 tahun
19
18%
>40 s/d 45 tahun
19
18%
>45 s/d 50 tahun
10
9%
>50 s/d 55 tahun
5
5%
Total
106
100%
Berdasarkan Tabel 4 di atas dapat dilihat bahwa umur responden sangat
variatif. Jumlah responden paling banyak adalah usia diatas tiga puluh sampai dengan
tiga puluh lima tahun sebanyak 28 atau 26% serta paling sedikit usia kurang dari dua
puluh lima tahun atau diatas lima puluh sampai dengan lima puluh lima tahun masingmasing hanya 5 atau 5% responden.
Dari data tersebut bahwa paling banyak yang ada diperusahaan adalah usia
produktif. Harapannya dengan usia produktif maka kinerja dan motivasinya masih
cukup tinggi.
4.3.5 Jenis Kelamin Responden
Untuk mengetahui perbandingan antara jenis kelamin laki-laki dan
perempuan, dapat dilihat pada Tabel 5 sebagai berikut :
37
Tabel 5. Jenis Kelamin Responden
Jenis Kelamin
Laki – laki
Perempuan
Total
Jumlah Prosentase
105
99%
1
1%
106
100%
Dilihat data dari Tabel 5, bahwa dari 106 responden, sebanyak 105 responden
berjenis kelamin laki-laki artinya lebih dari 99%. Hal ini menunjukkan bahwa di
perusahaan didominasi Pekerja laki-laki. Hal ini di sebabkan karena bisnis perusahaan
terkait penjualan alat berat dengan lokasi operasi di remote area maka akan lebih
mudah dilakukan oleh laki-laki dibandingkan dengan perempuan.
4.3.6 Pendidikan Responden
Tabel 6, menunjukkan pendidikan anggota Serikat Pekerja yang dijadikan
sampel pada penelitian :
Tabel 6. Pendidikan Responden
Pendidikan
Jumlah Prosentase
SLTA/SMU/SMK
37
35%
Diploma
29
27%
Sarjana
40
38%
Total
106
100%
Dilihat dari Tabel 6, dapat diketahui bahwa jumlah responden sebanyak 106,
dimana sebarannya 37 atau 35% responden mempunyai tingkat pendidikan
SLTA/SMU/SMK, 29 responden atau 27% mempunyai tingkat pendidikan diploma
dan 40 atau 38% mempunyai tingkat pendidikan sarjana.
Kondisi ini menunjukkan bahwa perusahaan membutuhkan Pekerja dengan
pendidikan SLTA/SMU/SMK dalam jumlah tinggi untuk tenaga operasional di
lapangan dan pendidikan sarjana dalam jumlah tinggi karena harus memahami
pekerjaannya yang syarat dengan pekembangan teknologi.
4.4
Analisis Deskriptif
Berdasarkan hasil tanggapan dari 106 orang responden tentang pengaruh peran
Serikat Pekerja terhadap Perjanjian Kerja Bersama, maka peneliti akan menguraikan
secara rinci jawaban responden yang dikelompokan dalam satu katagori skor dengan
menggunakan perhitungan rata-rata tertimbang. Hasil penghitungan rata-rata
tertimbang selanjutnya diinterpretasikan sehingga dapat diketahui kategori skornya.
Kriteria interpretasi hasil penghitungan terdapat pada Tabel 7 berikut :
38
Tabel 7. Kriteria interpretasi skor
Skor
Jawaban
4,3 – 5
Sangat setuju
3,5 – 4,2
Setuju
2,7 – 3,4
Ragu-ragu
1,9 – 2,6
Tidak setuju
1 -1,8
Sangat tidak setuju
Sumber: Umar, 2003
Nilai rata-rata dari tanggapan reponden kita bandingkan dengan tabel 7
tersebut sehingga jawaban responden untuk setiap kriteria apakah masuk kategori
sangat setuju, setuju, ragu-ragu, tidak setuju atau sangat tidak setuju.
4.4.1 Peran Serikat Pekerja Menampung Aspirasi Dan Keluhan Pekerja
Hasil penelitian dari 106 responden tentang Peran Serikat Pekerja menampung
aspirasi dan keluhan Pekerja (X1) digunakan pendapat responden mengenai Serikat
Pekerja berfungsi menampung aspirasi dari anggota, ketika ada hal yang tidak sesuai
dengan Perjanjian Kerja Bersama maka anggota menyampaikan kepada Serikat
Pekerja, ketika ada hal yang belum di atur dalam Perjanjian Kerja Bersama maka
Pekerja menyampaikan kepada Serikat Pekerja, Serikat Pekerja mengadakan sambung
rasa untuk mendengarkan masukan dari anggota Serikat Pekerja serta Serikat Pekerja
menyediakan sarana komunikasi untuk menampung keluhan dari Pekerja, bisa dilihat
pada Tabel 8, berikut :
Tabel 8. Peran Serikat Pekerja Menampung Aspirasi Dan Keluhan Pekerja
Jawaban
No
Pertanyaan
SS
S
R
TS
STS
5
4
3
2
1
Ratarata
Ket
1
Serikat Pekerja berfungsi menampung
aspirasi dari anggota
53
50
3
0
0
4,5
Sangat
Setuju
2
Ketika ada hal yang tidak sesuai dengan
Perjanjian Kerja Bersama, maka anggota
menyampaikan kepada Serikat Pekerja
39
63
4
0
0
4,3
Sangat
Setuju
3
Ketika ada hal yang belum di atur dalam
Perjanjian Kerja Bersama, maka Pekerja
menyampaikan kepada Serikat Pekerja
31
70
5
0
0
4,2
Setuju
4
Serikat Pekerja mengadakan sambung rasa
untuk mendengarkan masukan dari
anggota Serikat Pekerja
47
49
9
1
0
4,3
Sangat
Setuju
39
Lanjutan Tabel 8.
Jawaban
No
5
Pertanyaan
Serikat Pekerja menyediakan sarana
komunikasi, untuk menampung keluhan
dari Pekerja
SS
S
R
TS
STS
5
4
3
2
1
38
54
9
5
0
Rata-rata total
Ratarata
Ket
4,2
Setuju
4,3
Sangat
Setuju
Berdasarkan Tabel 8 di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa tanggapan
responden terhadap variabel tentang Peran Serikat Pekerja menampung aspirasi dan
keluhan Pekerja diperoleh skor rata-rata sebesar 4,3 yang berarti berada di antara
rentang skala 4,3 s/d 5 atau pada kategori sangat setuju. Jika kita lihat tanggapan
responden untuk masing-masing pernyataan mereka mengatakan sangat setuju yaitu
Serikat Pekerja berfungsi menampung aspirasi dari anggota, ketika ada hal yang tidak
sesuai dengan Perjanjian Kerja Bersama maka anggota menyampaikan kepada Serikat
Pekerja serta Serikat Pekerja mengadakan sambung rasa untuk mendengarkan
masukan dari anggota Serikat Pekerja.
4.4.2 Peran Serikat Pekerja Sebagai Perwakilan Pekerja
Hasil penelitian dari 106 responden tentang Peran Serikat Pekerja sebagai
perwakilan Pekerja (X2) digunakan pendapat responden mengenai Serikat Pekerja
bertindak atas nama anggota, hanya Serikat Pekerja yang bisa berunding dengan
manajemen, pengurus Serikat Pekerja dipilih oleh anggota secara demokratis, jumlah
Pengurus Serikat Pekerja disesuaikan secara proporsional dengan jumlah anggotanya
serta semua yang ingin disampaikan oleh Pekerja kepada manajemen harus melalui
Serikat Pekerja, bisa dilihat pada Tabel 9, berikut :
40
Tabel 9. Peran Serikat Pekerja Sebagai Perwakilan Pekerja
Jawaban
No
Pertanyaan
SS
S
R
TS
STS
5
4
3
2
1
Ratarata
Ket
1
Serikat Pekerja bertindak atas nama
anggota
40
63
3
0
0
4,3
Sangat
Setuju
2
Hanya Serikat Pekerja yang bisa berunding
dengan manajemen
23
54
16
11
2
3,8
Setuju
3
Pengurus Serikat Pekerja dipilih oleh
anggota secara demokratis
47
54
2
3
0
4,4
Sangat
Setuju
4
Jumlah Pengurus Serikat Pekerja
disesuaikan secara proporsional dengan
jumlah anggotanya
25
61
15
4
1
4,0
Setuju
5
Semua yang ingin disampaikan oleh
Pekerja kepada manajemen harus melalui
Serikat Pekerja
21
47
14
21
3
3,6
Setuju
4,0
Setuju
Rata-rata total
Berdasarkan Tabel 9 di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa tanggapan
responden terhadap variabel tentang Peran Serikat Pekerja sebagai perwakilan Pekerja
diperoleh skor rata-rata sebesar 4 yang berarti berada di antara rentang skala 3,5 s/d
4,2 atau pada kategori setuju. Namun jika kita lihat dari masing-masing pernyataan,
responden mengatakan sangat setuju atas dua hal yaitu Serikat Pekerja bertindak atas
nama anggota dan pengurus Serikat Pekerja dipilih oleh anggota secara demokratis.
Sedangkan pada pernyataan yang lain responden menyatakan setuju, yaitu hanya
Serikat Pekerja yang bisa berunding dengan manajemen, , jumlah Pengurus Serikat
Pekerja disesuaikan secara proporsional dengan jumlah anggotanya serta semua yang
ingin disampaikan oleh Pekerja kepada manajemen harus melalui Serikat Pekerja.
4.4.3 Peran Serikat Pekerja Memperjuangkan Hak Dan Kepentingan Anggota
Hasil penelitian dari 106 responden tentang Peran Serikat Pekerja
memperjuangkan hak dan kepentingan anggota (X3) digunakan pendapat responden
mengenai apa yang dilakukan oleh Serikat Pekerja sesuai dengan kepentingan
anggota, semua yang menjadi hak Pekerja sudah di perjuangkan oleh Serikat Pekerja,
semua yang disepakati antara Serikat Pekerja dan Manajemen merupakan kebutuhan
Pekerja, semua yang disepakati oleh Serikat Pekerja dan Manajemen bisa diterima
41
oleh sebagian besar Pekerja serta anggota Serikat Pekerja sepakat terhadap apa yang
diperjuangkan Serikat Pekerja bisa dilihat pada Tabel 10, berikut :
Tabel 10. Peran Serikat Pekerja memperjuangkan hak dan kepentingan anggota
Jawaban
No
Pertanyaan
SS
S
R
TS
STS
5
4
3
2
1
Ratarata
Ket
1
Apa yang dilakukan oleh Serikat Pekerja
sesuai dengan kepentingan anggota
29
67
9
1
0
4.2
Setuju
2
Semua yang menjadi hak Pekerja sudah di
perjuangkan oleh Serikat Pekerja
16
58
28
4
0
3.8
Setuju
3
Semua yang disepakati antara Serikat
Pekerja dan Manajemen merupakan
kebutuhan Pekerja
28
61
12
4
1
4.0
Setuju
4
Semua yang disepakati oleh Serikat
Pekerja dan Manajemen bisa diterima oleh
sebagian besar Pekerja
24
60
18
4
0
4.0
Setuju
5
Anggota Serikat Pekerja sepakat terhadap
apa yang diperjuangkan Serikat Pekerja
28
69
8
1
0
4.2
Setuju
4,0
Setuju
Rata-rata total
Berdasarkan Tabel 10 di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa tanggapan
responden terhadap variabel tentang Peran Serikat Pekerja memperjuangkan hak dan
kepentingan anggota diperoleh skor rata-rata sebesar 4 yang berarti berada di antara
rentang skala 3,5 s/d 4,2 atau pada kategori setuju. Jika kita lihat tanggapan responden
untuk masing-masing pernyataan mereka mengatakan setuju apa yang dilakukan oleh
Serikat Pekerja sesuai dengan kepentingan anggota, semua yang menjadi hak Pekerja
sudah di perjuangkan oleh Serikat Pekerja, semua yang disepakati antara Serikat
Pekerja dan Manajemen merupakan kebutuhan Pekerja, semua yang disepakati oleh
Serikat Pekerja dan Manajemen bisa diterima oleh sebagian besar Pekerja serta
anggota Serikat Pekerja sepakat terhadap apa yang diperjuangkan Serikat Pekerja.
4.4.4 Peran Serikat Pekerja Membantu Menyelesaikan Perselisihan Hubungan
Industrial
Hasil penelitian dari 106 responden tentang Peran Serikat Pekerja membantu
menyelesaikan perselisihan hubungan industrial (X4) digunakan pendapat responden
mengenai ketika ada anggota yang mengalami permasalahan dengan manajemen
maka penyelesaiannya dibantu oleh Serikat Pekerja, pengurus Serikat Pekerja selalu
42
siap setiap saat ketika diminta membantu anggota yang mempunyai permasalahan,
dengan dibantu oleh Serikat Pekerja penyelesaian permasalahan bisa lebih cepat dan
diterima oleh semua pihak, ketika mendapatkan laporan dari anggota ada
permasalahan dengan manajemen,
Serikat Pekerja
akan
mengawal
proses
penyelesaiannya sampai dengan selesai serta Pekerja merasa lebih nyaman jika
penyelesaian masalahnya di bantu oleh Serikat Pekerja bisa dilihat pada Tabel 11,
berikut :
Tabel 11. Peran Serikat Pekerja membantu menyelesaikan perselisihan
hubungan industrial
Jawaban
No
Pertanyaan
Ratarata
Ket
0
4,3
Sangat
Setuju
0
0
4,2
Setuju
17
4
0
4,0
Setuju
61
15
2
0
4,1
Setuju
55
14
5
0
4,1
Setuju
4,1
Setuju
SS
S
R
TS
STS
5
4
3
2
1
1
Ketika ada anggota yang mengalami
permasalahan dengan manajemen maka
penyelesaiannya dibantu oleh Serikat
Pekerja
45
51
9
1
2
Pengurus Serikat Pekerja, selalu siap
setiap saat ketika diminta membantu
anggota yang mempunyai permasalahan
32
64
10
3
Dengan dibantu oleh Serikat Pekerja,
penyelesaian permasalahan bisa lebih
cepat dan diterima oleh semua pihak
28
57
4
Ketika mendapatkan laporan dari anggota
ada permasalahan dengan manajemen,
Serikat Pekerja akan mengawal proses
penyelesaiannya sampai dengan selesai
28
5
Pekerja merasa lebih nyaman jika
penyelesaian masalahnya di bantu oleh
Serikat Pekerja
32
Rata-rata total
Berdasarkan Tabel 11 di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa tanggapan
responden terhadap variabel tentang Peran Serikat Pekerja membantu menyelesaikan
perselisihan hubungan industrial diperoleh skor rata-rata sebesar 4,1 yang berarti
berada di antara rentang skala 3,5 s/d 4,2 atau pada kategori setuju. Responden
mengatakan sangat setuju untuk ketika ada anggota yang mengalami permasalahan
dengan manajemen maka penyelesaiannya dibantu oleh Serikat Pekerja. Sedangkan
untuk hal yang lain responden hanya mengatakan setuju.
43
4.4.5 Peran Serikat Pekerja Meningkatkan Disiplin Dan Semangat Kerja Anggota
Hasil penelitian dari 106 responden tentang Peran Serikat Pekerja
Meningkatkan disiplin dan semangat kerja anggota (X5) digunakan pendapat
responden mengenai Serikat Pekerja mendorong produktivitas Pekerja melalui pasalpasal yang di sepakati dalam Perjanjian Kerja Bersama, Serikat Pekerja mendorong
disiplin Pekerja melalui pasal-pasal yang di sepakati dalam Perjanjian Kerja Bersama,
sebagai proses penegakan disiplin kerja Serikat Pekerja menyepakati bahwa ketika
ada pelanggaran yang dilakukan oleh Pekerja maka yang bersangkutan mendapatkan
surat peringatan, serikat Pekerja menyepakati dengan manajemen agar Pekerja yang
melakukan usaha-usaha peningkatan produktivitas diberikan recognition/penghargaan
serta Serikat Pekerja Menyampaikan kepada anggota, bahwa semangat kerja anggota
berpengaruh positif pada produktivitas perusahaan bisa dilihat pada Tabel 12, berikut:
Tabel 12. Peran Serikat Pekerja meningkatkan disiplin dan semangat kerja
anggota
Jawaban
No
Pertanyaan
SS
S
R
TS
STS
5
4
3
2
1
Ratarata
Ket
1
Serikat Pekerja mendorong produktivitas
Pekerja melalui pasal-pasal yang di
sepakati dalam Perjanjian Kerja Bersama
32
64
10
0
0
4,2
Setuju
2
Serikat Pekerja mendorong disiplin
Pekerja melalui pasal-pasal yang di
sepakati dalam Perjanjian Kerja Bersama
35
56
14
1
0
4,2
Setuju
3
Sebagai proses penegakan disiplin kerja,
Serikat Pekerja menyepakati bahwa ketika
ada pelanggaran yang dilakukan oleh
Pekerja maka yang bersangkutan
mendapatkan surat peringatan
37
59
9
0
1
4,2
Setuju
4
Serikat Pekerja menyepakati dengan
manajemen agar Pekerja yang melakukan
usaha-usaha peningkatan produktivitas
diberikan recognition/penghargaan
33
58
13
2
0
4,2
Setuju
5
Serikat Pekerja Menyampaikan kepada
anggota, bahwa semangat kerja anggota
berpengaruh positif pada produktivitas
perusahaan
37
55
13
1
0
4,2
Setuju
4,2
Setuju
Rata-rata total
44
Berdasarkan Tabel 12 di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa tanggapan
responden terhadap variabel tentang Peran Serikat Pekerja membantu menyelesaikan
perselisihan hubungan industrial diperoleh skor rata-rata sebesar 4,2 yang berarti
berada di antara rentang skala 3,5 s/d 4,2 atau pada kategori setuju. Jika kita lihat
secara detail responden menyatakan setuju pada semua pernyataan, yaitu Serikat
Pekerja mendorong produktivitas Pekerja melalui pasal-pasal yang di sepakati dalam
Perjanjian Kerja Bersama, Serikat Pekerja mendorong disiplin Pekerja melalui pasalpasal yang di sepakati dalam Perjanjian Kerja Bersama, sebagai proses penegakan
disiplin kerja Serikat Pekerja menyepakati bahwa ketika ada pelanggaran yang
dilakukan oleh Pekerja maka yang bersangkutan mendapatkan surat peringatan,
serikat Pekerja menyepakati dengan manajemen agar Pekerja yang melakukan usahausaha peningkatan produktivitas diberikan recognition/penghargaan serta Serikat
Pekerja Menyampaikan kepada anggota, bahwa semangat kerja anggota berpengaruh
positif pada produktivitas perusahaan.
4.4.6 Peran Serikat Pekerja Menyalurkan Aspirasi Dan Saran Kepada Manajemen
Hasil penelitian dari 106 responden tentang Peran Serikat Pekerja
Menyalurkan aspirasi dan saran kepada manajemen (X6) digunakan pendapat
responden mengenai apa yang disampaikan oleh Anggota kepada Serikat Pekerja akan
diteruskan kepada manajemen, Manajemen dan Serikat Pekerja menetukan anggota
LKS Bipartit, Serikat Pekerja mengadakan LKS Bipartit dengan manajemen sebagai
sarana menyalurkan aspirasi Pekerja, Manajemen lebih mendengarkan apa yang
disampaikan oleh Serikat Pekerja dibandingkan Pekerja menyampaikan secara
langsung serta Serikat Pekerja menyampaikan hasil kesepakatannya dengan
manajemen kepada seluruh anggota bisa dilihat pada Tabel 13, berikut :
45
Tabel 13. Peran Serikat Pekerja menyalurkan aspirasi dan saran kepada
manajemen
Jawaban
No
Pertanyaan
SS
S
R
TS
STS
5
4
3
2
1
Ratarata
Ket
1
Apa yang disampaikan oleh Anggota
kepada Serikat Pekerja akan diteruskan
kepada manajemen
32
63
11
0
0
4,2
Setuju
2
Manajemen dan Serikat Pekerja
menetukan anggota LKS Bipartit
28
70
8
0
0
4,2
Setuju
3
Serikat Pekerja mengadakan LKS Bipartit
dengan manajemen sebagai sarana
menyalurkan aspirasi Pekerja
33
72
1
0
0
4,3
Sangat
Setuju
4
Manajemen lebih mendengarkan apa yang
disampaikan oleh Serikat Pekerja
dibandingkan Pekerja menyampaikan
secara langsung
25
51
21
7
2
3,8
Setuju
5
Serikat Pekerja menyampaikan hasil
kesepakatannya dengan manajemen
kepada seluruh anggota
45
55
6
0
0
4,4
Sangat
Setuju
4,2
Setuju
Rata-rata total
Berdasarkan Tabel 13 di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa tanggapan
responden terhadap variabel tentang Peran Serikat Pekerja menyalurkan aspirasi dan
saran kepada manajemen diperoleh skor rata-rata sebesar 4,2 yang berarti berada di
antara rentang skala 3,5 s/d 4,2 atau pada kategori setuju. Responden mengatakan
setuju jika apa yang disampaikan oleh anggota kepada Serikat Pekerja akan
diteruskan kepada Manajemen, Manajemen dan Serikat Pekerja menetukan anggota
LKS Bipartit serta Manajemen lebih mendengarkan apa yang disampaikan oleh
Serikat Pekerja dibandingkan Pekerja menyampaikan secara langsung. Namun
responden mengatakan sangat setuju Serikat Pekerja mengadakan LKS Bipartit
dengan manajemen sebagai sarana menyalurkan aspirasi Pekerja serta Serikat Pekerja
menyampaikan hasil kesepakatannya dengan Manajemen kepada seluruh anggota.
46
4.4.7 Perjanjian Kerja Bersama
Hasil penelitian dari 106 responden tentang Perjanjian Kerja Bersama (Y)
digunakan pendapat responden mengenai tentang persyaratan umum yang diperlukan
dalam penerimaan Pekerja di perusahaan, evaluasi performance dan kompetensi
Pekerja menjadi tanggung jawab atasan langsung Pekerja dan dilaksanakan setahun
dua kali, setiap Pekerja diberikan kesempatan seluas-luasnya untuk promosi sebagai
bentuk apresiasi Perusahaan atas kompetensi yang dimiliki Pekerja, demi lancarnya
kegiatan Perusahaan, pekerja bisa ditugaskan untuk melakukan perjalanan dinas baik
didalam maupun diluar negeri, demi pendayagunaan tenaga kerja perusahaan dapat
memutasikan Pekerja ke seluruh Divisi/Department/Cabang/Site maupun ke anggota
kelompok Perusahaan, upah Pekerja disesuaikan dengan status, jabatan dan golongan,
struktur gaji pokok/upah pokokyang berlaku diatur berdasarkan golongan/subgolongan dengan mempertimbangkan harga pasar masa kerja dan kemampuan
Perusahaan,tunjangan dan fasilitas yang di terima Pekerja disesuaikan dengan jabatan
dan golongannya, upah diterima Pekerja yang tidak bisa memenuhi pekerjaannya
karena sakit, untuk keperluan istirahat Pekerja berhak menggunakan hak cuti, Pekerja
wajib mengetahui kewajibannya di Perusahaan dan melaksanakannya dengan sebaikbaiknya, setiap ada perubahan data pribadi Pekerja wajib memberitahukan ke
Perusahaan, sikap dan tanggung jawab atasan terhadap bawahan maupun sikap dan
tangung jawab bawahan terhadap atasan, kewajiban Pekeja dan Perusahaan jika
terjadi pemutusan hubungan kerja, tata tertib registrasi Pekerja tata tertib keselamatan
kerja dan lingkungan hidup tata tertib kesehatan dan kebersihan serta tata tertib
keamanan bisa dilihat pada Tabel 14, berikut :
47
Tabel 14. Perjanjian Kerja Bersama
Jawaban
No
Pertanyaan
SS
S
R
TS
STS
5
4
3
2
1
Ratarata
Ket
1
Tentang persyaratan umum yang
diperlukan dalam penerimaan Pekerja di
perusahaan
23
71
12
0
0
4.1
Setuju
2
Evaluasi performance dan kompetensi
Pekerja menjadi tanggung jawab atasan
langsung Pekerja dan dilaksanakan
setahun dua kali
26
62
14
4
0
4.0
Setuju
3
Setiap Pekerja diberikan kesempatan
seluas-luasnya untuk promosi sebagai
bentuk apresiasi Perusahaan atas
kompetensi yang dimiliki Pekerja
35
50
17
4
0
4.1
Setuju
4
Demi lancarnya kegiatan Perusahaan,
Pekerja bisa ditugaskan untuk melakukan
perjalanan dinas baik didalam maupun
diluar negeri
38
60
7
1
0
4.3
Sangat
Setuju
5
Demi pendayagunaan tenaga kerja,
Perusahaan dapat memutasikan Pekerja ke
seluruh Divisi/Department/Cabang/Site
maupun ke anggota kelompok Perusahaan
26
72
8
0
0
4.2
Setuju
6
Upah Pekerja disesuaikan dengan status,
jabatan dan golongan
33
63
9
1
0
4.2
Setuju
7
Struktur gaji pokok/upah pokokyang
berlaku diatur berdasarkan golongan/subgolongan dengan mempertimbangkan
harga pasar, masa kerja dan kemampuan
Perusahaan
30
64
10
2
0
4.2
Setuju
8
Tunjangan dan fasilitas yang di terima
Pekerja disesuaikan dengan jabatan dan
golongannya
28
66
9
3
0
4.1
Setuju
9
Upah diterima Pekerja yang tidak bisa
memenuhi pekerjaannya karena sakit
33
66
7
0
0
4.2
Setuju
10
Untuk keperluan istirahat Pekerja berhak
menggunakan hak cuti
54
50
1
1
0
4.5
Sangat
Setuju
11
Pekerja wajib mengetahui kewajibannya
di Perusahaan dan melaksanakannya
dengan sebaik-baiknya
48
56
2
0
0
4.4
Sangat
Setuju
48
Lanjutan Tabel 14.
Jawaban
No
Pertanyaan
SS
S
R
TS
STS
5
4
3
2
1
Ratarata
Ket
12
Setiap ada perubahan data pribadi Pekerja
wajib memberitahukan ke Perusahaan
44
56
5
1
0
4.3
Sangat
Setuju
13
Sikap dan tanggung jawab atasan terhadap
bawahan maupun sikap dan tangung
jawab bawahan terhadap atasan
35
62
9
0
0
4.2
Setuju
14
Kewajiban Pekeja dan Perusahaan jika
terjadi pemutusan hubungan kerja
34
68
3
1
0
4.3
Sangat
Setuju
15
Tata tertib registrasi Pekerja, tata tertib
keselamatan kerja dan lingkungan hidup,
tata tertib kesehatan dan kebersihan serta
tata tertib keamanan
37
65
4
0
0
4.3
Sangat
Setuju
4,2
Setuju
Rata-rata total
Berdasarkan Tabel 14 di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa tanggapan
responden terhadap variabel tentang Peran Serikat Pekerja menyalurkan aspirasi dan
saran kepada manajemen diperoleh skor rata-rata sebesar 4,2 yang berarti berada di
antara rentang skala 3,5 s/d 4,2 atau pada kategori setuju.
Responden menyatakan setuju bahwa isi Perjanjian Kerja Bersana tentang
persyaratan umum yang diperlukan dalam penerimaan Pekerja di perusahaan, evaluasi
performance dan kompetensi Pekerja menjadi tanggung jawab atasan langsung
Pekerja dan dilaksanakan setahun dua kali, setiap Pekerja diberikan kesempatan
seluas-luasnya untuk promosi sebagai bentuk apresiasi Perusahaan atas kompetensi
yang dimiliki Pekerja, demi lancarnya kegiatan Perusahaan, demi pendayagunaan
tenaga
kerja
perusahaan
dapat
memutasikan
Pekerja
ke
seluruh
Divisi/Department/Cabang/Site maupun ke anggota kelompok Perusahaan, upah
Pekerja disesuaikan dengan status, jabatan dan golongan, struktur gaji pokok/upah
pokok
yang
berlaku
diatur
berdasarkan
golongan/sub-golongan
dengan
mempertimbangkan harga pasar masa kerja dan kemampuan Perusahaan,tunjangan
dan fasilitas yang di terima Pekerja disesuaikan dengan jabatan dan golongannya,
upah diterima Pekerja yang tidak bisa memenuhi pekerjaannya karena sakit serta
sikap dan tanggung jawab atasan terhadap bawahan maupun sikap dan tangung jawab
bawahan terhadap atasan. Untuk hal yang lain responden menyatakan sangat setuju.
49
4.4.8 Peran Serikat Pekerja Dan Perjanjian Kerja Bersama
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dijelaskan sebelumnya untuk persepsi
anggota Serikat Pekerja terhadap peran Serikat Pekerja dan perjanjian Kerja Bersama
adalah seperti pada Tabel 15 berikut ;
Tabel 15. Persepsi anggota terhadap peran Serikat Pekerja dan Perjanjian
Kerja Bersama
Item
Rata-rata
Persepsi
Variabel
Peran menampung aspirasi dan keluhan
X1
4,3
Sangat Setuju
Pekerja
X2
Peran perwakilan Pekerja
Peran memperjuangkan hak dan
X3
kepentingan anggota
Peran membantu menyelesaikan
X4
X5
perselisihan hubungan industrial
Peran meningkatkan disiplin dan semangat
kerja anggota
Peran menyalurkan aspirasi dan saran
X6
kepada manajemen
Y
Perjanjian Kerja Bersama
4,0
Setuju
4,0
Setuju
4,1
Setuju
4,2
Setuju
4,2
Setuju
4,2
Setuju
Dari tabel 15 diatas kita melihat bahwa anggota setuju dengan semua peran
Serikat Pekerja dan juga dengan isi Perjanjian Kerja Bersama yang ada. Berdasarkan
analisa deskriptif penelitian diatas terlihat bahwa anggota Serikat Pekerja di PT
United Tractors, Tbk setuju dengan peran Serikat Pekerja United Tractors
menampung
aspirasi dan
memperjuangkan
hak
dan
keluhan
Pekerja,
kepentingan
sebagai
anggota,
perwakilan
membantu
Pekerja,
menyelesaikan
perselisihan hubungan industrial, meningkatkan disiplin dan semangat kerja anggota
serta menyalurkan aspirasi dan saran kepada manajemen. Bahkan mereka mengatakan
sangat setuju bahwa Serikat Pekerja United Tractors menampung aspirasi dan keluhan
Pekerja. Terhadap isi dari Perjanjian Kerja Bersama anggota Serikat Pekerja rata-rata
menyatakan setuju terhadap Perjanjian Kerja Bersama PT United Tractors, Tbk.
50
4.5
Analisis Kuantitatif
Sesuai dengan kata ‘kuantitatif’ yang mengandung makna hitungan atau
angka, maka analisis kuantitatif menggunakan dasar pendekatan angka. Hasil
kuisioner dari responden diolah dengan software SPSS, untuk dianalisa sesuai
pendekatan statistik agar hasilnya memenuhi kaidah ilmiah.
4.5.1 Uji Validitas
Uji validitas dimaksudkan untuk mengukur sah atau valid tidaknya suatu
kuesioner. Suatu kuesioner dikatakan valid apabila pertanyaan pada kuesioner mampu
mengungkapkan sesuatu yang tidak diketahui. Uji validitas yang digunakan adalah
dengan melakukan korelasi bilvariate antara masing-masing skor indikator dengan
total skor konstruk. Suatu indikator pernyataan dikatakan valid apabila korelasi antara
masing-masing indikator menunjukkan hasil yang signifikan sesuai tabel pada
Lampiran 3. Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahwa semua item pertanyaan
adalah valid sehingga dapat dilakukan langkah selanjutnya.
4.5.2 Uji Reliabilitas
Uji reliabilitas dilakukan untuk mengukur suatu kuesioner yang merupakan
indikator dari variabel atau konstruk. Suatu kuesioner dikatakan reliable atau handal
jika jawaban seseorang terhadap pertanyaan adalah konsisten atau stabil dari waktu ke
waktu. Indikator untuk uji reliabilitas adalah Cronbach Alpha, apabila nilai Cronbach
Alpha > 0.6 menunjukkan instrumen yang digunakan reliable (Ghozali, 2005). Hasil
uji reliabilitas ini ditunjukkan pada tabel Lampiran 4. Berdasarkan hasil perhitungan
maka dapat diketahui bahwa semua variabel dalam pertanyaan adalah reliabel, karena
lebih besar dari 0,6 atau 60 %.
4.5.3 Uji Normalitas
Untuk menguji apakah distribusi data normal atau tidak, salah satu cara
termudah untuk melihat normalitas adalah melihat histogram yang membandingkan
antara data observasi dengan distribusi yang mendekati distribusi normal. Namun
demikian dengan hanya melihat histogram hal ini bisa menyesatkan khususnya untuk
jumlah sample yang kecil. Metode yang lebih handal adalah dengan melihat Grafik
Plot Normal, yang membandingkan distribusi kumulatif dari data sesungguhnya
dengan distribusi kumulatif dari distribusi normal. Distribusi normal akan membentuk
satu garis lurus diagonal dan ploting data akan dibandingkan dengan garis diagonal.
Jika distribusi data adalah normal, maka garis yang menggambarkan data
51
sesungguhnya akan mengikuti garis diagonalnya (Ghozali, 2005). Namun uji
normalitas dengan grafik dapat menyesatkan karena secara visual dapat kelihatan
tidak normal padahal secara statistik bisa sebaliknya. Adapun uji normalitas dengan
statistik yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji Kolmogorov-Smirnov (KS
test), yaitu dengan melihat angka profitabilitas signifikan dimana data dapat
disimpulkan berdistribusi normal jika angka signifikansinya lebih besar dari 0,05
seperti yang terlampir pada Tabel 16 dibawah :
Tabel 16. Hasil uji normalitas
Unstandardized
Residual
N
106
Normal Parameters
a,b
Mean
.0000000
Std. Deviation
Most Extreme Differences
3.89857168
Absolute
.074
Positive
.074
Negative
-.043
Kolmogorov-Smirnov Z
.761
Asymp. Sig. (2-tailed)
.608
Berdasarkan tabel 16 diatas terlihat bahwa nilai Kolmogorov-Smirnov berada
diatas cut off value yang telah disepakati, yaitu 0.05 maka disimpulkan data
terdistribusi secara normal.
4.5.4 Uji Multikolinearitas
Pada dasarnya model persamaan regresi berganda dengan menggunakan dua
variabel bebas atau lebih, hampir selalu terdapat kolinier ganda. Multikolinier ditandai
dengan nilai R (korelasi berganda) yang tinggi. Uji multikolinearitas dimaksudkan
untuk mengetahui adanya hubungan antara variabel bebas dalam model regresi.
Apabila terjadi multikolinearitas maka variabel bebas yang berkolinier dapat
dihilangkan. Untuk menguji ada tidaknya multikolinearitas dalam suatu model regresi
salah satunya adalah dengan melihat nilai tolerance dan lawannya, serta Variance
Inflation Factor (VIF). Kedua ukuran ini menunjukkan setiap variabel independen
manakah yang dijelaskan oleh variabel lainnya. Tolerance mengukur variabilitas
variabel independen yang terpilih yang tidak dijelaskan oleh variabel independen
lainnya. Jadi nilai tolerance yang rendah sama dengan nilai VIF tinggi (karena VIF =
1/Tolerance) dan menunjukkan adanya kolinearitas yang tinggi. Nilai cut off yang
umum dipakai untuk menunjukkan adanya multikolinearitas adalah nilai Tolerance <
52
0.10 atau sama dengan nilai VIF > 10. Bila nilai tolerance > 0.10 atau sama dengan
nilai VIF < 10, berarti tidak ada multikolinearitas antar variable dalam model regresi
(Ghozali, 2005). Hasil pengujian multikolinearitas dalam penelitian ini digambarkan
dalam Tabel 17 sebagai berikut :
Tabel 17. Hasil uji multikolinearitas
Variabel
Collinearity
Statistics
Tolerance
VIF
X1
.565
1.769
X2
.593
1.687
X3
.508
1.968
X4
.416
2.407
X5
.496
2.018
X6
.460
2.174
Hasil perhitungan nilai tolerance pada Tabel 17 menunjukkan semua variabel
independen mempunyai nilai lebih dari 0,10, begitu pula dengan nilai VIF, semua
variable independen mempunyai nilai kurang dari 10. Dengan demikian dapat
disimpulkan model regresi tersebut tidak terdapat problem multikolinearitas. Maka
model regresi yang ada layak untuk dipakai.
4.5.5 Uji Heteroskedastisitas
Heteroskedastisitas terjadi apabila tidak ada kesamaan deviasi standar nilai
variabel dependen pada setiap variabel independen. Prosedur uji dilakukan dengan Uji
Glejser sesuai Lampiran 5. Dengan melihat Lampiran 5, berikut hasil uji
heterokedastisitas untuk masing-masing variabel :
1. Nilai p untuk peran menampung aspirasi dan keluhan Pekerja adalah 0,196.
2. Nilai p untuk peran perwakilan Pekerja adalah 0,276.
3. Nilai p untuk peran memperjuangkan hak dan kepentingan anggota adalah
0,190.
4. Nilai p untuk peran membantu menyelesaikan perselisihan hubungan
industrial adalah 0,064.
5. Nilai p untuk peran meningkatkan disiplin dan semangat kerja anggota adalah
0,615.
6. Nilai p untuk peran menyalurkan aspirasi dan saran kepada manajemen adalah
0,169.
53
Dari hasil pengujian tersebut didapat bahwa nilai p seluruh variabel adalah > α
(α = 0,05), sehingga dapat disimpulkan bahwa koefisien regresi tidak nyata maka
terdapat hubungan yang penting secara statistik di antara peubah sehingga dapat
disimpulkan bahwa sisaan mempunyai ragam homogen (konstan) atau dengan kata
lain tidak terdapat gejala heterokedastisitas. Dengan terpenuhi seluruh asumsi klasik
regresi di atas maka dapat dikatakan model regresi linear berganda yang digunakan
dalam penelitian ini adalah sudah layak atau tepat. Sehingga dapat diambil interpretasi
dari hasil analisis regresi berganda yang telah dilakukan.
4.5.6 Uji Hipotesis Secara Parsial dengan Uji t
Hasil uji hipotesis secara parsial dengan uji t dapat dilihat pada lampiran 6.
Hasil uji hipotesis secara parsial dengan uji t dapat dilihat pada lampiran 6 berikut ini:
1. Pengaruh peran menampung aspirasi dan keluhan Pekerja terhadap Perjanjian
Kerja Bersama.
Berdasarkan tabel diperoleh tingkat signifikansinya sebesar 0,115 > 0,05, ini
menandakan bahwa peran menampung aspirasi dan keluhan Pekerja (X1)
tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap Perjanjian Kerja Bersama
(Y).
2. Pengaruh peran perwakilan Pekerja terhadap Perjanjian Kerja Bersama.
Berdasarkan tabel diperoleh tingkat signifikansinya sebesar 0,553 > 0,05, ini
menandakan bahwa peran perwakilan
Pekerja (X2) tidak mempunyai
pengaruh yang signifikan terhadap Perjanjian Kerja Bersama (Y).
3. Pengaruh peran
memperjuangkan hak dan kepentingan anggota terhadap
Perjanjian Kerja Bersama.
Berdasarkan tabel diperoleh tingkat signifikansinya sebesar 0,001 < 0,05, ini
menandakan bahwa peran memperjuangkan hak dan kepentingan anggota
(X3) mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap Perjanjian Kerja Bersama
(Y).
4. Pengaruh peran membantu menyelesaikan perselisihan hubungan industrial
terhadap Perjanjian Kerja Bersama.
Berdasarkan tabel diperoleh tingkat signifikansinya sebesar 0,379 > 0,05, ini
menandakan bahwa peran membantu menyelesaikan perselisihan hubungan
industrial (X4) tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap Perjanjian
Kerja Bersama (Y).
54
5. Pengaruh peran meningkatkan disiplin dan semangat kerja anggota terhadap
Perjanjian Kerja Bersama.
Berdasarkan tabel diperoleh tingkat signifikansinya sebesar 0,000 < 0,05, ini
menandakan peran meningkatkan disiplin dan semangat kerja anggota (X5)
mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap Perjanjian Kerja Bersama (Y).
6. Pengaruh peran menyalurkan aspirasi dan saran kepada manajemen terhadap
Perjanjian Kerja Bersama.
Berdasarkan tabel diperoleh tingkat signifikansinya sebesar 0,298 > 0,05, ini
menandakan peran menyalurkan aspirasi dan saran kepada manajemen (X6)
tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap Perjanjian Kerja Bersama
(Y).
4.5.7 Uji Hipotesis Secara Simultan dengan Uji F (Uji Model)
Uji F (kelayakan model) dimaksudkan untuk mengetahui mengetahui besarnya
pengaruh variabel - variabel bebas (independent) peran Serikat Pekerja yaitu peran
menampung aspirasi dan keluhan Pekerja (X1), peran perwakilan Pekerja (X2), peran
memperjuangkan hak dan kepentingan anggota (X3), peran membantu menyelesaikan
perselisihan hubungan industrial (X4), peran meningkatkan disiplin dan semangat
kerja anggota (X5) dan peran menyalurkan aspirasi dan saran kepada manajemen
(X6) secara simultan (bersama-sama) terhadap variabel terikat (dependent) yaitu
Perjanjian Kerja Bersama (Y). Hasil perhitungan uji F dapat dilihat pada Tabel 18
berikut:
Tabel 18. Hasil perhitungan uji F
Sum of
Squares
Model
1
Df
Mean Square
Regression
2742.620
6
457.103
Residual
1595.880
99
16.120
Total
4338.500
105
55
F
28.356
Sig.
.000a
Berdasarkan Tabel 18 diatas diperoleh tingkat signifikansi sebesar 0,000 <
0,05, ini menandakan bahwa peran Serikat Pekerja yaitu peran menampung aspirasi
dan keluhan Pekerja (X1), peran perwakilan Pekerja (X2), peran memperjuangkan
hak dan kepentingan anggota (X3), peran membantu menyelesaikan perselisihan
hubungan industrial (X4), peran meningkatkan disiplin dan semangat kerja anggota
(X5) dan peran menyalurkan aspirasi dan saran kepada manajemen (X6) secara
simultan memiliki pengaruh terhadap Perjanjian Kerja Bersama (Y). Dengan
demikian model regresi dalam penelitian ini adalah baik.
4.5.8 Koefisien determinasi (Uji R2)
Hasil perhitungan nilai koefisien determinasi (R2) dapat dilihat pada Tabel 19
berikut ini :
Tabel 19. Hasil pengujian koefisien determinasi (Uji R2)
Model
R
1
.795a
R Square
.632
Adjusted R
Square
.610
Std. Error of
the Estimate
4.01497
DurbinWatson
2.080
Berdasarkan hasil perhitungan seperti pada Tabel 19, diperoleh nilai Koefisien
Determinasi yang disesuaikan (adjusted R²) adalah 0.632 artinya 63.2 persen variasi
dari variabel bebas (peran menampung aspirasi dan keluhan Pekerja, peran
perwakilan Pekerja, peran memperjuangkan hak dan kepentingan anggota, peran
membantu menyelesaikan perselisihan hubungan industrial, peran meningkatkan
disiplin dan semangat kerja anggota dan peran menyalurkan aspirasi dan saran kepada
manajemen) dapat menerangkan variabel tak bebas (Perjanjian Kerja Bersama).
4.6
Pengaruh Peran Serikat Pekerja Terhadap Perjanjian Kerja Bersama
Analisis statistik yang digunakan dalam penelitian ini yaitu regresi linier
berganda. Analisis ini digunakan untuk mengetahui besarnya pengaruh variabel variabel bebas (independent) peran Serikat Pekerja yaitu peran menampung aspirasi
dan keluhan Pekerja (X1), peran perwakilan Pekerja (X2), peran memperjuangkan
hak dan kepentingan anggota (X3), peran membantu menyelesaikan perselisihan
hubungan industrial (X4), peran meningkatkan disiplin dan semangat kerja anggota
(X5) dan peran menyalurkan aspirasi dan saran kepada manajemen (X6) terhadap
variabel terikat (dependent) yaitu Perjanjian Kerja Bersama (Y). Besarnya pengaruh
variabel independent peran Serikat Pekerja ( X1, X2, X3, X4, X5 dan X6) dengan
variabel dependent Perjanjian Kerja Bersama (Y) secara bersama-sama dapat dihitung
melalui suatu persamaan regresi berganda.
56
Y = β0 + b1X1 + b2X2 + b3X3 + b4X4 + b5X5 + b6X6 + e
Berdasarkan perhitungan melalui komputer dengan menggunakan program
SPSS diperoleh hasil regresi dapat dilihat pada lampiran 7. Berdasarkan lampiran 7,
maka persamaan regresi yang terbentuk pada uji regresi ini adalah:
Y = 3.860 + 0.348 X1 – 0.112 X2 + 0.794 X3 + 0.199 X4 + 0.957 X5 + 0.279 X6
Dimana :
Y
= variabel terikat (Perjanjian Kerja Bersama)
X1
= variabel bebas (peran menampung aspirasi dan keluhan Pekerja)
X2
= variabel bebas (peran perwakilan Pekerja)
X3
= variabel bebas (peran memperjuangkan hak dan kepentingan anggota)
X4
= variabel bebas (peran membantu menyelesaikan perselisihan hubungan
industrial)
X5
= variabel bebas (peran meningkatkan disiplin dan semangat kerja anggota)
X6
= variabel bebas (peran menyalurkan aspirasi dan saran kepada manajemen)
Dari persamaan diatas, dapat diketahui bahwa dari enam variabel independent
peran Serikat Pekerja yang di analisa, lima variabel berpengaruh positif dan satu
variable berpengaruh negative terhadap variabel dependent Perjanjian Kerja Bersama.
Variabel yang berpengaruh tinggi peran
memperjuangkan hak dan kepentingan
anggota dan peran meningkatkan disiplin dan semangat kerja anggota. Kemudian
variabel yang berpengaruh negatif adalah peran perwakilan Pekerja.
Berdasarkan pengujian dari pengaruh peran Serikat Pekerja terhadap
Perjanjian Kerja Bersama, dari enam peran yang diteliti, ada hipotesis yang terbukti
terima Ho artinya tidak ada pengaruh antara peran Serikat Pekerja terhadap
terbentuknya Perjanjian Kerja Bersama untuk empat variabel, empat peran tidak
mempunyai pengaruh signifikan terhadap Perjanjian Kerja Bersama tersebut, yaitu :
1. Peran menampung aspirasi dan keluhan Pekerja
2. Peran perwakilan Pekerja
3. Peran membantu menyelesaikan perselisihan hubungan industrial
4. Peran menyalurkan aspirasi dan saran kepada manajemen
Menurut anggota bahwa peran Serikat Pekerja United Tractors belum
menampung aspirasi dan keluhan Pekerja, belum menjadi perwakilan Pekerja,belum
membantu menyelesaikan perselisihan hubungan industrial serta belum menyalurkan
57
aspirasi anggota kepada manajemen ketika melakukan pembuatan Perjanjian Kerja
Bersama.
Untuk hipotesis yang lain terbukti tolak Ho artinya ada pengaruh antara peran
Serikat Pekerja terhadap terbentuknya Perjanjian Kerja Bersama. Untuk dua peran
Serikat Pekerja yang mempunyai pengaruh signifikan terhadap Perjanjian Kerja
Bersama, yaitu ;
1. Peran memperjuangkan hak dan kepentingan anggota
2. Peran meningkatkan disiplin dan semangat kerja anggota
Untuk pengaruh peran Serikat Pekerja terhadap Perjanjian Kerja Bersama
pada PT United tractors, Tbk dapat dilihat pada Tabel 20 berikut :
Tabel 20. Pengaruh peran Serikat Pekerja terhadap Perjanjian Kerja Bersama
No
Item
Pengaruh
1
Peran menampung aspirasi dan keluhan Pekerja
Tidak
2
Peran perwakilan Pekerja
Tidak
3
Peran memperjuangkan hak dan kepentingan anggota
4
Peran membantu menyelesaikan perselisihan hubungan
industrial
Berpengaruh
Tidak
5
Peran meningkatkan disiplin dan semangat kerja anggota
Berpengaruh
6
Peran menyalurkan aspirasi dan saran kepada manajemen
Tidak
Dengan data dari tabel 20, terlihat bahwa pada Perjanjian Kerja Bersama PT
United Tractors, Tbk ada peran Serikat Pekerja yang mempengaruhi dan ada peran
Serikat Pekerja yang belum memberikan pengaruh.
Hasil pengujian regresi berganda diperoleh nilai koefisien regresi sebesar
0,794 dengan nilai signifikasi 0,001 < 0,05 artinya peran memperjuangkan hak dan
kepentingan anggota berpengaruh positif terhadap Perjanjian Kerja Bersama artinya
ketika Serikat Pekerja semakin memperjuangkan hak dan kepentingan anggotanya
maka Perjanjian Kerja Bersama yang terbentuk akan semakin positif. Hal ini sesuai
Pasal 1 angka 21 Undang-Undang No 13 Tahun 2003 jo Pasal 1 angka 2 Keputusan
Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor KEP-48/MEN/IV/2004, PKB yaitu
perjanjian yang merupakan hasil perundingan antara serikat pekerja/serikat buruh atau
beberapa serikat pekerja/serikat buruh yang tercatat pada instansi yang bertanggung
jawab dibidang ketenagakerjaan dengan pengusaha, atau beberapa pengusaha atau
perkumpulan pengusaha yang memuat syarat-syarat kerja, hak dan kewajiban kedua
58
belah Pihak. Dari pengertian tersebut ada hal yang perlu di garis bawahi bahwa
Perjanjian Kerja Bersama adalah memuat hak baik Pekerja maupun Pengusaha. Peran
memperjuangkan hak dan kepentingan anggota dalam implementasinya antara lain,
apa yang dilakukan oleh Serikat Pekerja sesuai dengan kepentingan anggota, semua
yang menjadi hak Pekerja di perjuangkan oleh Serikat Pekerja, semua yang disepakati
antara Serikat Pekerja dan Manajemen merupakan kebutuhan Pekerja, semua yang
disepakati oleh Serikat Pekerja dan Manajemen bisa diterima oleh sebagian besar
Pekerja serta anggota sepakat terhadap apa yang diperjuangkan Serikat Pekerja.
Hasil pengujian regresi berganda diperoleh nilai koefisien regresi sebesar
0,957 dengan nilai signifikasi 0,000 < 0,05 artinya peran meningkatkan disiplin dan
semangat kerja anggota berpengaruh positif terhadap Perjanjian Kerja Bersama
artinya ketika Serikat Pekerja semakin meningkatkan disiplin dan semangat kerja
anggotanya maka Perjanjian Kerja Bersama yang terbentuk akan semakin positif.
Meningkatkan disiplin dan semangat kerja adalah bagian dari syarat-syarat kerja yang
harus dipenuhi oleh Pekerja. Hal ini sesuai dengan Pasal 1 angka 21 Undang-Undang
No 13 Tahun 2003 jo Pasal 1 angka 2 Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan
Transmigrasi Nomor KEP-48/MEN/IV/2004, PKB yaitu perjanjian yang merupakan
hasil perundingan antara serikat pekerja/serikat buruh atau beberapa serikat
pekerja/serikat buruh yang tercatat pada instansi yang bertanggung jawab dibidang
ketenagakerjaan dengan pengusaha, atau beberapa pengusaha atau perkumpulan
pengusaha yang memuat syarat-syarat kerja, hak dan kewajiban kedua belah Pihak.
Bagaimana meningkatkan semangat kerja dan disiplin dari anggota Serikat Pekerja di
antaranya adalah Serikat Pekerja mendorong produktivitas Pekerja melalui pasal-pasal
yang di sepakati dalam Perjanjian Kerja Bersama, Serikat Pekerja mendorong disiplin
Pekerja melalui pasal-pasal yang di sepakati dalam Perjanjian Kerja Bersama, sebagai
proses penegakan disiplin kerja Serikat Pekerja menyepakati bahwa ketika ada
pelanggaran yang dilakukan oleh Pekerja maka yang bersangkutan mendapatkan surat
peringatan, Serikat Pekerja menyepakati dengan manajemen agar Pekerja yang
melakukan usaha-usaha peningkatan produktivitas diberikan recognition/penghargaan
serta Serikat Pekerja menyampaikan kepada anggota, bahwa semangat kerja anggota
berpengaruh positif pada produktivitas perusahaan.
Dari dua peran Serikat Pekerja yang berpengaruh signifikan terhadap
terbentuknya Perjanjian Kerja Bersama maka peran yang paling signifikan adalah
59
peran Serikat Pekerja meningkatkan disiplin dan semangat kerja anggota dengan
standar koefisien 0,957 kemudian disusul peran memperjuangkan hak dan
kepentingan anggota standar koefisien 0,794 artinya Serikat Pekerja lebih
mendahulukan peran meningkatkan disiplin dan semangat kerja anggota dibandingkan
peran memperjuangkan hak dan kepentingan anggota.
4.7
Implikasi Manajerial
Berdasarkan penelitian bahwa anggota setuju dengan semua peran Serikat
Pekerja dan juga dengan isi Perjanjian Kerja Bersama yang ada. Ini adalah hal yang
positif bagi Serikat Pekerja maupun bagi Perusahaan, karena hal ini menunjukkan
kesamaan pemahaman yang dimiliki Pekerja, Serikat Pekerja dan Perusahaan. Serikat
Pekerja harus selalu bisa memenuhi ekpektasi sesuai persepsi anggota mengenai
perannya, sehingga anggota akan memberikan kepercayaan dan amanatnya kepada
Serikat Pekerja. Ketika ada peran yang tidak bisa dijalankan oleh Serikat Pekerja,
maka akan menimbulkan penilaian negatif dari anggota. Manajemen perusahaan harus
memberikan kepercayaan dan penilaian positif kepada Serikat Pekerja maupun
anggotanya karena dari penelitian terlihat bahwa anggota Serikat Pekerja paham
dengan peran organisasinya dan dari semua peran tersebut adalah hal yang konstruktif
bagi perusahaan. Anggota Serikat Pekerja sangat setuju dengan isi Perjanjian Kerja
Bersama yang ada saat ini, artinya Perjanjian Kerja Bersama tersebut bisa dijadikan
landasan berjalannya hubungan industrial, baik secara hukum karena merupakan
kesepakatan dua pihak maupun secara isi karena disetujui oleh anggota. Sehingga
seharusnya ketika Perjanjian Kerja Bersama yang ada saat ini diimplementasikan,
hubungan industrial yang terjadi harmonis, adil dan berkelanjutan. Isi Perjanjian Kerja
Bersama yang disetujui oleh persepsi anggota perlu dipertimbangkan lagi oleh
Manajemen dan Serikat Pekerja untuk digunakan kembali pada Perjanjian Kerja
Bersama berikutnya.
Dari hasil penelitian terlihat bahwa pada Perjanjian Kerja Bersama PT United
Tractors, Tbk ada peran Serikat Pekerja yang mempengaruhi dan ada peran Serikat
Pekerja yang belum memberikan pengaruh. Bagi Serikat Pekerja untuk peran yang
sudah memberikan pengaruh harus dipertahankan, sedangkan untuk peran yang belum
berpengaruh harus dilakukan evaluasi sehingga semua peran Serikat Pekerja bisa
memberikan pengaruh terhadap Perjanjian Kerja Bersama. Pencapaian perjuangan
tertinggi dari organisasi Serikat Pekerja adalah ketika ada Perjanjian Kerja Bersama
60
yang disepakati. Artinya semua peran Serikat Pekerja akan berujung pada
kesepakatan Perjanjian Kerja Bersama. Didalam penyusunan Perjanjian Kerja
Bersama berikutnya, Serikat Pekerja perlu persiapan yang lebih dibandingkan
penyusunan Perjanjian Kerja Bersama yang saat ini berlaku, agar seluruh peran
Serikat Pekerja memberi pengaruh pada Perjanjian Kerja Bersama yang akan
disepakati. Adanya beberapa peran Serikat Pekerja yang tidak berpengaruh pada
Perjanjian Kerja Bersama yang telah disepakati, perlu menjadi bahan evaluasi bagi
Perusahaan. Manajemen perlu memastikan kepada Pekerja melalui sambung rasa atau
survey, walaupun ada beberapa peran yang belum berpengaruh terhadap Perjanjian
Kerja Bersama yang disepakati bukan berarti kesepakatan tersebut tidak memenuhi
ekspektasi Pekerja. Perlu dipastikan lagi oleh manajemen, walaupun peran tersebut
tidak berpengaruh pada Perjanjian Kerja Bersama, tetapi pada interaksi sehari-hari
antara Serikat Pekerja dan Pengusaha peran-peran tersebut bisa saja sudah dilakukan
untuk mencegah terjadinya kebuntuan komunikasi. Satu hal yang harus selalu menjadi
harapan Pekerja dan Pengusaha adalah ketenangan, baik Pekerja yang bekerja dengan
tenang maupun Pengusaha yang berusaha dengan tenang. Agar ketenangan terjadi
maka peran Serikat Pekerja secara keseluruhan harus dioptimalkan. Jika ada peran
yang tidak berfungsi maka bisa menjadi sumbatan komunikasi yang akan
menyebabkan kebuntuan hubungan industrial. Efek dari kebuntuan dalam hubungan
industrial adalah produktivitas Pekerja maupun Perusahaan akan terganggu, sehingga
apa yang menjadi harapan Pekerja maupun Pengusaha yaitu pendapatan yang optimal
tidak tercapai.
61
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1
Kesimpulan
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dapat diketahui, bahwa :
1. Pekerja paham dan mempunyai persepsi positif terhadap peran Serikat Pekerja
menampung aspirasi dan keluhan Pekerja, perwakilan Pekerja, memperjuangkan
hak dan kepentingan anggota, membantu menyelesaikan perselisihan hubungan
industrial, meningkatkan disiplin dan semangat kerja anggota, menyalurkan
aspirasi dan saran kepada manajemen di PT United Tractors, Tbk.
2. Pekerja paham dan mempunyai persepsi positif terhadap isi Perjanjian Kerja
Bersama di PT United Tractors, Tbk yang saat ini berlaku.
3. Faktor yang berpengaruh terhadap terbentuknya Perjanjian Kerja Bersama adalah
peran memperjuangkan hak dan kepentingan anggota dan peran meningkatkan
disiplin dan semangat kerja anggota. Dari dua peran Serikat Pekerja yang
berpengaruh tersebut, peran yang berpengaruh positif paling besar adalah peran
Serikat Pekerja peran meningkatkan disiplin dan semangat kerja anggota, kondisi
ini disebabkan bahwa sebelum membicarakan hak dan kewajiban, maka hal yang
pertama kali di tentukan di Perjanjian Kerja Bersama adalah syarat-syarat kerja
dan disiplin serta semangat kerja anggota merupakan bagian dari syarat kerja yang
harus dipenuhi.
5.2
Saran
1. Agar semua anggota Serikat Pekerja setuju dengan peran meningkatkan disiplin
dan semangat kerja anggota, maka :
a. Manajemen maupun Serikat Pekerja perlu memberikan pemahaman ke
seluruh Pekerja tentang peran Serikat Pekerja tersebut.
b. Sebagai proses penegakan disiplin kerja seperti yang telah disepakati pada
Perjanjian Kerja Bersama bahwa ketika ada pelanggaran yang dilakukan oleh
Pekerja maka Manajemen mengeluarkan surat peringatan.
c. Manajemen memberikan recognition/penghargaan kepada Pekerja yang
melakukan usaha-usaha peningkatan produktivitas seperti yang telah
disepakati oleh Serikat Pekerja dengan Manajemen.
62
2. Manajemen perlu terus membina dan menjaga Hubungan Industrial dengan
Pekerja dan Serikat Pekerja agar seluruh peran Serikat Pekerja berpengaruh
terhadap Perjanjian Kerja Bersama.
3. Serikat Pekerja diharapkan untuk lebih banyak membicarakan segala sesuatunya
dengan anggota atau Pekerja agar apa yang ada dalam perjanjian kerja bisa
diketahui bersama, disepakati bersama dan memberikan keuntungan bersama
antara Pekerja, Serikat Pekerja dan Perusahaan, adanya media khusus untuk
menampung aspirasi anggota Serikat Pekerja diantaranya lebih sering melakukan
sambung rasa antara Serikat Pekerja, Pekerja dan Manajemen, sebaiknya
penyempurnaan Perjanjian Kerja Bersama disesuaikan dengan aspirasi anggota,
serta selalu melibatkan anggota dan perjuangkan apa yang merupakan jadi
kepentingan anggota agar semua peran Serikat Pekerja memberikan pengaruh
terhadap Perjanjian Kerja Bersama.
4. Perjanjian Kerja Bersama adalah dasar hubungan yang dipakai antara Pekerja dan
Perusahaan sehingga kedepannya perlu dilakukan penelitian pengaruh isi
Perjanjian Kerja Bersama terhadap engagement Pekerja.
63
DAFTAR PUSTAKA
-----------. 2000. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 21 Tahun 2000
Tentang Serikat Pekerja/Serikat Buruh. Jakarta. Sekretariat Negara
Republik Indonesia.
-----------. 2003. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2003
tentang Ketenagakerjaan. Jakarta. Sekretariat Negara Republik
Indonesia.
-----------. 2004. Keputusan Menteri Tenaga Kerja Dan Transmigrasi Republik
Indonesia Nomor: KEP-48/MEN/IV/2004 Tentang Tata Cara
Pembuatan Dan Pengesahan Peraturan Perusahaan Serta Pembuatan
Dan Pendaftaran Perjanjian Kerja Bersama. Jakarta. Sekretariat
Jenderal Kemenakertrans.
-----------. 2004. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2004
Tentang Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial. Jakarta.
Sekretariat Negara Republik Indonesia.
-----------. 2011. Anggaran Dasar Anggaran rumah Tangga Serikat Pekerja
United Tractors. Jakarta. Serikat Pekerja United Tractors.
-----------. 2014. Perjanjian Kerja Bersama PT United Tractors, Tbk 2014 – 2016.
Jakarta. PT United Tractors, Tbk.
-----------. 2014. www.unitedtractors.com. (Agustus 2014).
-----------. 2014. http://intranet-ut. (Agustus 2014).
Alwi, Hasan. 2007. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta. Balai Pustaka.
Arikunto, suharsimi. 2002. Metodologi penelitian. Jakarta. PT. Rineka Cipta.
Darwan, Prints. 2002. Hukum Ketenagakerjaan Indonesia. Bandung. PT Citra
Aditya Bakti.
Daryanto,SS. 1998. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia. Surabaya. Apollo.
Ghozali, Imam. 2005. Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program SPSS. Edisi
Kedua. Semarang. Badan Penerbit universitas Diponegoro.
Gujarati, Damodar. 2003. Ekonometrika Dasar. Edisi Keenam. Jakarta. Erlangga.
Budiarti, Indah. 2012. Perjanjian Kerja Bersama. Revised edition.
www.psiapyouthnetwork.org
Husein, Umar. 2003. Metodologi Penelitian Untuk Skripsi dan Tesis Bisnis.
Jakarta. PT. Gramedia Pustaka.
Husni, Lalu. 2003. Pengantar Hukum Ketenagakerjaan Indonesia. Jakarta.
Rajawali Press.
Nazir, Moh. 1999. Metode penelitian. Jakarta. Ghalia Indonesia.
Priyo, Teguh. 2013. Efektifitas Peranan Serikat Pekerja dalam Pembuatan dan
Pelaksanaan Perjanjian Kerja Bersama. Skripsi. Malang. Universitas
Brawijaya.
Santoso, Singgih. 2001. Statistic Non Parametrik. Jakarta. Elex Media
Komputindo.
Simamora, Henry. 1999. Manajemen sumber Daya Manusia. Yogyakarta. Bagian
Penerbitan STIE YKPN.
64
Siregar, Halim. 2011. Analisis pengaruh hubungan industrial terhadap
kesejahteraan karyawan pada PTPN IV. Skripsi. Medan. Universitas
Sumatra Utara.
Simanjuntak, payaman. 2003. Manajemen Hubungan Industrial. Jakarta. Pustaka
Sinar Harapan.
Smeru. 2007. Hubungan Industrial di Jabotabek, Bandung dan Surabaya pada
Era Kebebasan Berserikat. www.smeru.or.id. 3 Juni 2008
65
Lampiran 1. Daftar pertanyaan dan kuesioner wawancara penelitian
KUESIONER PENELITIAN
PENGARUH PERAN SERIKAT PEKERJA
TERHADAP PERJANJIAN KERJA BERSAMA
PADA PT UNITED TRACTORS, Tbk
Diharapkan Bapak/Ibu dapat mengisi kuesioner ini secara lengkap, objektif dan
benar adanya, karena kuesioner ini adalah untuk penelitian skripsi dengan tujuan
ilmiah sehingga diperlukan data yang valid dan akurat.
Peneliti
Wawan Erfianto
H24104010
PROGRAM SARJANA ALIH JENIS MANAJEMEN
DEPARTEMEN MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2014
66
Lanjutan Lampiran 1.
PENGANTAR
Kepada :
Yth. Bapak/Ibu Responden
Bapak/Ibu terhormat,
Berkaitan dengan penelitian yang akan dilakukan sebagai syarat untuk
menyelesaikan studi dan melakukan evaluasi hubungan industrial di PT United
Tractors, Tbk, maka kami memerlukan partisipasi dari Bapak Ibu untuk
memeberikan informasi melalui kuisioner ini. Setiap orang tentu memiliki
jawaban yang berbeda karena itu pilihlah jawaban dengan memberi tanda silang
(X) pada kolom yang paling sesuai menurut Bapak/Ibu :
SS
: Sangat Setuju
S
: Setuju
R
: Ragu-ragu
TS
: Tidak Setuju
STS
: Sangat Tidak Setuju
Tidak ada jawaban yang dianggap salah, semua jawaban adalah benar. Data yang
kami peroleh akan kami jaga kerahasiannya dan tidak berhubungan dengan
penilaian kinerja Bapak/Ibu yang mengisi kuisioner ini.
Atas perhatian dan kerjasama Bapak/Ibu dalam pengisian kuisioner ini kami
sampaikan terima kasih.
Hormat Kami,
Penyusun
67
Lanjutan Lampiran 1.
IDENTITAS RESPONDEN
Jabatan
:(
) Officer/Staf
( ) Section Head/Staff Ahli
( ) Manager
Golongan
:(
) 1 s/d 3
( ) 4A s/d 4D
( ) 4E up
Masa Kerja : (
) < 5 tahun
( ) 5 s/d 10 tahun
( ) >10 s/d 15 tahun
( ) >15 s/d 20 tahun
( ) >20 s/d 25 tahun
( ) > 25 tahun
Usia
:(
) < 25 tahun
( ) 25 s/d 30 tahun
( ) >30 s/d 35 tahun
( ) >35 s/d 40 tahun
( ) >40 s/d 45 tahun
(
) >45 s/d 50 tahun
( ) >50 s/d 55 tahun
Jenis Kelamin: (
) Laki – laki
( ) Perempuan
Pendidikan
:(
) SLTA/SMU/SMK
( ) Diploma
( ) Sarjana
68
Lanjutan Lampiran 1.
KUISIONER
No
SS S
Pernyataan
R
TS STS
Peran Serikat Pekerja menampung aspirasi dan keluhan Pekerja
1
Serikat Pekerja berfungsi menampung aspirasi
dari anggota
2
Ketika ada hal yang tidak sesuai dengan
Perjanjian Kerja Bersama, maka anggota
menyampaikan kepada Serikat Pekerja
3
Ketika ada hal yang belum di atur dalam
Perjanjian
Kerja
Bersama, maka
Pekerja
menyampaikan kepada Serikat Pekerja
4
Serikat Pekerja mengadakan sambung rasa
untuk mendengarkan masukan dari anggota
Serikat Pekerja
5
Serikat
Pekerja
menyediakan
sarana
komunikasi, untuk menampung keluhan dari
Pekerja
No
SS S
Pernyataan
Peran Serikat Pekerja sebagai perwakilan Pekerja
6
Serikat Pekerja bertindak atas nama anggota
7
Hanya Serikat Pekerja yang bisa berunding
dengan manajemen
8
Pengurus Serikat Pekerja dipilih oleh anggota
secara demokratis
9
Jumlah Pengurus Serikat Pekerja disesuaikan
secara proporsional dengan jumlah anggotanya
10
Semua yang ingin disampaikan oleh Pekerja
kepada manajemen harus melalui Serikat
Pekerja
69
R
TS STS
Lanjutan Lampiran 1.
No
SS S
Pernyataan
R
TS STS
Peran Serikat Pekerja memperjuangkan hak dan kepentingan anggota
11
Apa yang dilakukan oleh Serikat Pekerja sesuai
dengan kepentingan anggota
12
Semua yang menjadi hak Pekerja sudah di
perjuangkan oleh Serikat Pekerja
13
Semua yang disepakati antara Serikat Pekerja
dan Manajemen merupakan kebutuhan Pekerja
14
Semua yang disepakati oleh Serikat Pekerja
dan Manajemen bisa diterima oleh sebagian
besar Pekerja
15
Anggota Serikat Pekerja sepakat terhadap apa
yang diperjuangkan Serikat Pekerja
No
SS S
Pernyataan
R
TS STS
Peran Serikat Pekerja membantu menyelesaikan perselisihan hubungan
industrial
16
Ketika
ada
anggota
permasalahan
dengan
yang
mengalami
manajemen
maka
penyelesaiannya dibantu oleh Serikat Pekerja
17
Pengurus Serikat Pekerja, selalu siap setiap saat
ketika
diminta
membantu
anggota
yang
mempunyai permasalahan
18
Dengan
dibantu
oleh
Serikat
Pekerja,
penyelesaian permasalahan bisa lebih cepat dan
diterima oleh semua pihak
19
Ketika mendapatkal laporan dari anggota ada
permasalahan
dengan
manajemen,
Serikat
Pekerja akan mengawal proses penyelesaiannya
sampai dengan selesai
20
Pekerja merasa lebih nyaman jika penyelesaian
masalahnya di bantu oleh Serikat Pekerja
70
Lanjutan Lampiran 1.
No
SS S
Pernyataan
R
TS STS
Peran Serikat Pekerja meningkatkan disiplin dan semangat kerja anggota
21
Serikat
Pekerja
mendorong
produktivitas
Pekerja melalui pasal-pasal yang di sepakati
dalam Perjanjian Kerja Bersama
22
Serikat Pekerja mendorong disiplin Pekerja
melalui pasal-pasal yang di sepakati dalam
Perjanjian Kerja Bersama
23
Sebagai
proses
penegakan
disiplin
kerja,
Serikat Pekerja menyepakati bahwa ketika ada
pelanggaran yang dilakukan oleh Pekerja maka
yang
bersangkutan
mendapatkan
surat
peringatan
24
Serikat
Pekerja
menyepakati
dengan
manajemen agar Pekerja yang melakukan
usaha-usaha
peningkatan
produktivitas
diberikan recognition/penghargaan
25
Serikat
Pekerja
anggota,
bahwa
berpengaruh
Menyampaikan
semangat
positif
kerja
pada
kepada
anggota
produktivitas
perusahaan
71
Lanjutan Lampiran 1.
No
SS S
Pernyataan
R
Peran Serikat Pekerja menyalurkan aspirasi dan saran kepada
manajemen
26
Apa yang disampaikan oleh Anggota kepada
Serikat
Pekerja
akan
diteruskan
kepada
manajemen
27
Manajemen dan Serikat Pekerja menetukan
anggota LKS Bipartit
28
Serikat Pekerja mengadakan LKS Bipartit
dengan manajemen sebagai sarana menyalurkan
aspirasi Pekerja
29
Manajemen lebih mendengarkan apa yang
disampaikan oleh Serikat Pekerja dibandingkan
Pekerja menyampaikan secara langsung
30
Serikat
Pekerja
menyampaikan
hasil
kesepakatannya dengan manajemen kepada
seluruh anggota
72
TS STS
Lanjutan Lampiran 1.
No
SS S
Pernyataan
R
TS STS
Perjanjian Kerja Bersama
Serikat Pekerja dan Pengusaha menyepakati didalam Perjanjian Kerja
Bersama:
31
Tentang persyaratan umum yang diperlukan
dalam penerimaan Pekerja di perusahaan
32
Evaluasi performance dan kompetensi Pekerja
menjadi tanggung jawab atasan langsung
Pekerja dan dilaksanakan setahun dua kali
33
Setiap Pekerja diberikan kesempatan seluasluasnya untuk promosi sebagai bentuk apresiasi
Perusahaan atas kompetensi yang dimiliki
Pekerja
34
Demi lancarnya kegiatan Perusahaan, Pekerja
bisa ditugaskan untuk melakukan perjalanan
dinas baik didalam maupun diluar negeri
35
Demi pendayagunaan tenaga kerja, Perusahaan
dapat
memutasikan
Pekerja
Divisi/Department/Cabang/Site
ke
seluruh
maupun
ke
anggota kelompok Perusahaan
36
Upah
Pekerja
disesuaikan
dengan
status,
jabatan dan golongan
37
Struktur gaji pokok/upah pokokyang berlaku
diatur
berdasarkan
golongan/sub-golongan
dengan mempertimbangkan harga pasar, masa
kerja dan kemampuan Perusahaan
38
Tunjangan dan fasilitas yang di terima Pekerja
disesuaikan dengan jabatan dan golongannya
39
Upah
diterima
Pekerja
yang
tidak
memenuhi pekerjaannya karena sakit
73
bisa
Lanjutan Lampiran 1.
No
SS S
Pernyataan
R
TS STS
Perjanjian Kerja Bersama
Serikat Pekerja dan Pengusaha menyepakati didalam Perjanjian Kerja
Bersama:
40
Untuk keperluan istirahat Pekerja berhak
menggunakan hak cuti
41
Pekerja wajib mengetahui kewajibannya di
Perusahaan
dan
melaksanakannya
dengan
sebaik-baiknya
42
Setiap ada perubahan data pribadi Pekerja wajib
memberitahukan ke Perusahaan
43
Sikap dan tanggung jawab atasan terhadap
bawahan maupun sikap dan tangung jawab
bawahan terhadap atasan
44
Kewajiban Pekeja dan Perusahaan jika terjadi
pemutusan hubungan kerja
45
Tata tertib registrasi Pekerja, tata tertib
keselamatan kerja dan lingkungan hidup, tata
tertib kesehatan dan kebersihan serta tata tertib
keamanan
Menurut Bapak/Ibu sejauh ini adakah saran dan kritik terhadap peran Serikat
Pekerja dalam penyempurnaan Perjanjian Kerja Bersama :
....................................................................................................................................
....................................................................................................................................
....................................................................................................................................
....................................................................................................................................
....................................................................................................................................
....................................................................................................................................
....................................................................................................................................
Terima Kasih
74
Lampiran 2. Karaktereristik responden
Jabatan
Frekuensi
Persentase (%)
Officer/Staf
46
43.4
Section Head/Staff Ahli
38
35.8
Manager
22
20.8
Total
106
100.0
Golongan
Frekuensi
Persentase (%)
1 s/d 3
32
30.2
4A s/d 4D
51
48.1
4E up
23
21.7
Total
106
100.0
Masa Kerja
Frekuensi
Persentase (%)
< 5 tahun
20
18.9
5 s/d 10 tahun
27
25.5
>10 s/d 15 tahun
19
17.9
>15 s/d 20 tahun
16
15.1
>20 s/d 25 tahun
14
13.2
> 25 tahun
10
9.4
Total
106
100.0
Usia
Frekuensi
Persentase (%)
< 25 tahun
5
4.7
25 s/d 30 tahun
20
18.9
>30 s/d 35 tahun
28
26.4
>35 s/d 40 tahun
19
17.9
>40 s/d 45 tahun
19
17.9
>45 s/d 50 tahun
10
9.4
>50 s/d 55 tahun
5
4.7
Total
106
100.0
75
Lanjutan Lampiran 2.
Jenis Kelamin
Frekuensi
Persentase (%)
Laki-laki
105
99.1
Perempuan
1
.9
Total
106
100.0
Pendidikan
Frekuensi
Persentase (%)
SLTA/SMU/SMK
37
34.9
Diploma
29
27.4
Sarjana
40
37.7
Total
106
100.0
76
Lampiran 3. Hasil uji validitas
Variabel
Peran
Menampung
Aspirasi Dan
Keluhan Pekerja
Peran Perwakilan
Pekerja
Peran
Memperjuangkan
Hak Dan
Kepentingan
Anggota
Peran Membantu
Menyelesaikan
Perselisihan
Hubungan
Industrial
Peran
Meningkatkan
Disiplin Dan
Semangat Kerja
Anggota
Peran
Menyalurkan
Aspirasi Dan
Saran Kepada
Manajemen
Pertanyaan
Koef.Korelasi
Sig.
N
Keterangan
Q1
.768
.000
106
Valid
Q2
.717
.000
106
Valid
Q3
.830
.000
106
Valid
Q4
.798
.000
106
Valid
Q5
.751
.000
106
Valid
Q6
.464
.000
106
Valid
Q7
.630
.000
106
Valid
Q8
.662
.000
106
Valid
Q9
.756
.000
106
Valid
Q10
.741
.000
106
Valid
Q11
.685
.000
106
Valid
Q12
.737
.000
106
Valid
Q13
.679
.000
106
Valid
Q14
.751
.000
106
Valid
Q15
.617
.000
106
Valid
Q16
.729
.000
106
Valid
Q17
.733
.000
106
Valid
Q18
.786
.000
106
Valid
Q19
.807
.000
106
Valid
Q20
.787
.000
106
Valid
Q21
.801
.000
106
Valid
Q22
.827
.000
106
Valid
Q23
.716
.000
106
Valid
Q24
.780
.000
106
Valid
Q25
.808
.000
106
Valid
Q26
.751
.000
106
Valid
Q27
.737
.000
106
Valid
Q28
.694
.000
106
Valid
Q29
.597
.000
106
Valid
Q30
.704
.000
106
Valid
77
Lanjutan Lampiran 3.
Variabel
Perjanjian Kerja
Bersama
Pertanyaan
Koef.Korelasi
Sig.
N
Keterangan
Q31
.622
.000
106
Valid
Q32
.658
.000
106
Valid
Q33
.647
.000
106
Valid
Q34
.683
.000
106
Valid
Q35
.751
.000
106
Valid
Q36
.771
.000
106
Valid
Q37
.666
.000
106
Valid
Q38
.731
.000
106
Valid
Q39
.689
.000
106
Valid
Q40
.625
.000
106
Valid
Q41
.737
.000
106
Valid
Q42
.649
.000
106
Valid
Q43
.802
.000
106
Valid
Q44
.717
.000
106
Valid
Q45
.746
.000
106
Valid
78
Lampiran 4. Hasil uji realibilitas
Variabel
X1
X2
X3
X4
X5
X6
Y
Jml Butir
5
5
5
5
5
5
15
Koef. Alpha
0.820
0.655
0.729
0.825
0.844
0.688
0.923
79
Keterangan
Reliabel
Reliabel
Reliabel
Reliabel
Reliabel
Reliabel
Reliabel
Lampiran 5. Uji asumsi regresi
Uji Normalitas
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
Unstandardized
Residual
N
106
a,b
Normal Parameters
Mean
.0000000
Std. Deviation
Most Extreme Differences
3.89857168
Absolute
.074
Positive
.074
Negative
-.043
Kolmogorov-Smirnov Z
.761
Asymp. Sig. (2-tailed)
.608
a. Test distribution is Normal.
b. Calculated from data.
Uji Multikolonieritas
Coefficientsa
Model
1
Unstandardized Standardized
Coefficients
Coefficients
Std.
B
Error
Beta
Collinearity
Statistics
t
Sig. Tolerance VIF
(Constant)
3.860
1.972
1.958 .053
X1
X2
X3
.348
-.112
.794
.219
.188
.228
.129 1.592 .115
-.047 -.596 .553
.298 3.484 .001
.565 1.769
.593 1.687
.508 1.968
.225
.211
.267
.084 .885 .379
.393 4.536 .000
.094 1.047 .298
.416 2.407
.496 2.018
.460 2.174
X4
.199
X5
.957
X6
.279
a. Dependent Variable: Y
80
Lanjutan Lampiran 5.
Uji Heteroskedastisitas
Coefficientsa
Standardized
Unstandardized Coefficients
Model
1
B
Std. Error
(Constant)
3.616
1.253
X1
-.181
.139
X2
-.131
X3
Coefficients
Beta
t
Sig.
2.887
.005
-.168
-1.302
.196
.119
-.138
-1.095
.276
-.191
.145
-.180
-1.320
.190
X4
.267
.143
.282
1.870
.064
X5
-.068
.134
-.070
-.504
.615
X6
.235
.169
.199
1.387
.169
a. Dependent Variable: AbsRes
81
Lampiran 6. Regresi linear berganda
Koefisien Determinasi
Model Summaryb
Adjusted R Std. Error of
Model
R
R Square
Square
the Estimate
a
1
.795
.632
.610
4.01497
a. Predictors: (Constant), X6, X1, X2, X3, X5, X4
b. Dependent Variable: Y
DurbinWatson
2.080
Uji Hipotesis Secara Simultan dengan Uji F
ANOVAb
Sum of
Model
Squares
Df
Mean Square
1
Regression
2742.620
6
457.103
Residual
1595.880
99
16.120
Total
4338.500
105
a. Predictors: (Constant), X6, X1, X2, X3, X5, X4
b. Dependent Variable: Y
82
F
28.356
Sig.
.000a
Lanjutan Lampiran 6.
Uji Hipotesis Secara Parsial dengan Uji t
Coefficientsa
Unstandardized Standardized
Collinearity
Coefficients
Coefficients
Statistics
Std.
Model
B
Error
Beta
t
Sig. Tolerance VIF
1 (Constant)
3.860
1.972
1.958 .053
X1
.348
.219
.129 1.592 .115
.565 1.769
X2
-.112
X3
.794
X4
.199
X5
.957
X6
.279
a. Dependent Variable: Y
.188
.228
.225
.211
.267
-.047
.298
.084
.393
.094
83
-.596
3.484
.885
4.536
1.047
.553
.001
.379
.000
.298
.593
.508
.416
.496
.460
1.687
1.968
2.407
2.018
2.174
Download