Tanggung jawab Lingkungan dari Bisnis : Pendekatan Peraturan

advertisement
MODUL PERKULIAHAN
Business Ethics
and GCG
Bisnis, Lingkungan dan
Keberlanjutan
Fakultas
Program Studi
Pasca
MM
Tatap Muka
10
Kode MK
Disusun Oleh
35040
Dr. Achmad Jamil
Abstract
Kompetensi
Membahas tentang bentuk tanggung
jawab lingkungan perusahaan dari
beberapa pendekatan diantaranya
pasar, peraturan, dan keberlanjutan
Diharapkan Mahasiswa paham
mengenai bagaimana tanggung jawab
lingkungan perusahaan dari beberapa
pendekatan diantaranya pasar,
peraturan, dan keberlanjutan
Pembahasan
Pendahuluan
Kita harus bertindak dalam cara yang melindungi lingkungan alam dari degradasi?
Mengapa bisnis harus memperhatikan dan menghargai lingkungan alam?. Seluruh umat
manusia bergantung pada lingkungan alam untuk dapat bertahan hidup. Manusia
membutuhkan air bersih untuk minum, udara segar untuk bernafas, tanah dan lautan yang
subur untuk menghasilkan makanan, lapisan ozon yang tebal untuk menangkal radiasi sinar
matahari, dan biosfer yang menjaga keseimbangan iklim yang rapuh dimana manusia tetap
akan dapat hidup di muka bumi ini. Dalam ilmu ekologi dan pemahaman mengenai sistem
alam yang saling terkait membantu kita untuk memahami betapa manusia sangat bergantung
pada ekosistem. Jika dahulu kita berfikir bahwa ikan yang ada di lautan tidak akan pernah
habis untuk ditangkap nelayan dan bahwa atmosfer terlalu luas untuk dapat diubah oleh
manusia, sekarang kita memang mehami bahwa keseimbangan lingkungan yang tepat
sangatlah penting untuk memelihar sistem yang menunjang kehidupan.
Pada akhir abad ke -19, manusia mulai menyadari adanya alasan berdasarkan
kepentingan pribadi untuk melindungi lingkungan alam. Gerakan konservasi, tahap pertama
dari environmentalisme moden, mulai menyerukan pendekatan yang lebih terkendali dan
hati-hati terhadap alam. Dari perspektif ini, alam masih dihargai sebagai sumberdaya, yang
menyediakan manusia dengan manfaat langsung (udara, air, makanan) dan manfaat tidak
langsung (barang-barang dan jasa yang dihasilkan oleh bisnis). Para pendukung gerakan
konservasi berargumen menentang eksploitasi sumberdaya alam seolah-olah alam dapat
menyediakan pasokan bahan yang tidak pernah habis. Mereka menegaskan bahwa bisnis
memiliki pertimbangan rasional untuk menjaga sumberdaya financial. Lingkungan alam,
seperti halnya modal, memiliki kapasitas yang produktif untuk menghasilkan laba jangka
panjang hanya jika dikelola dan digunakan secara hati-hati.
Tanggung Jawab Bisnis terhadap Lingkungan: Pendekatan Pasar
Ada beberapa pendekatan terhadap masalah lingkungan yang mempercayakan pada
pasar yang efisien, maka manajer bisnis yang bertanggung jawab hanya perlu mencari
keuntungan dan membiarkan pasar untuk mengalokasikan sumberdaya secara efisien. Dengan
melakukan ini, bisnis memenuhi perannya di dalam sebuah sistem pasar, yang pada
gilirannya melayani kebaikan keseluruhan (utilitarianisme) yang lebih besar.. disisi lain, jika
peraturan pemerintah adalah pendekatan yang memadai, maka bisnis harus mengembangkan
2016
2
Business Ethics And Good Governance
Dr. Achmad Jamil
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
struktur yang mematuhi peraturan untuk memastikan bahwa bisnis telah mematuhi peraturan
tersebut.
Para pembela pendekatan pasar berpendapat bahwa masalah lingkungan adalah masalah
ekonomi yang patut mendapat solusi ekonomi. Pada dasarnya, masalah lingkungan
melibatkan alokasi dan distribusi dari sumberdaya yang terbatas. Pasar yang efisien dapat
menanggapi tantangan lingkungan, terlepas dari peduli atau tidaknya kita terhadap alokasi
sumberdaya yang tidak dapat diperbaharui seperti minyak dan gas, atau dengan kapasitas
bumi untuk menyerap produk sampingan dari industri seperti CO2 atau PCB
Tanggung jawab Lingkungan dari Bisnis : Pendekatan Peraturan
Sebuah consensus luas muncul di amerika Serikat pada tahun 1970-an bahwa pasar yang
tidak teratur oleh undang-undang adalah pendekatan yang tidak memadai terhadap tantangan
lingkungan. Sebaliknya peraturan pemerintah dilihat sebagai cara yang lebih baik untuk
menanggapi masalah lingkungan. Hukum utama untuk penanganan terkait keprihatinan
lingkungan adalah hukum tort. Hanya individu yang dapat membuktikan bahwa mereka telah
dirugikan oleh polusi yang dapat mengajukan tuntutan hukum atas polusi udara dan air.
Pendekatan hukum ini menempatkan beban pembuktian pada orang yang telah dirugikan ,
dan yang paling baik hanya menawarkan kompensasi atas kerugian setelah adanya fakta.
Konsensus yang muncul adalah bahwa masyarakat memiliki dua kesempatan untuk
menetapkan tannggung jawab lingkungan perusahaan. Sebagai konsumen, individu dapat
meminta produk yang ramah lingkungan di pasar. Sebagai warga Negara, individu dapat
mendukung legislasi yang terkait dengan lingkungan. Selama bisnis merespons pasar dan
mematuhi undang-undang, bisnis telah bertanggung jawab terhadap lingkungan.
Menurut filsuf Norman Bowie, membela versi pandangan yang sempit mengenai tanggung
jawab sosial perusahaan yang telah dimodifikasi. Bowie berargumen bahwa, selain dari tugas
untuk tidak menyebabkan kecelakaan terhadap manusia, dan mematuhi undang-undang,
perusahaan tidak memiliki tanggung jawab khusus. Bisnis secara sukarela dapat memilih
untuk melakukan hal-hal yang baik berkenaan dengan lingkungan, akan tetapi bisnis tidak
memiliki kewajiban untuk melakukannya. Bisnis seharusnya bebas untuk mengejar
keuntungan dengan merespons permintaan perekonomian pasar tanpa perhatian khusus
terhadap tanggung jawab lingkungan. Sejauh masyarakat menginginkan barang-barang yang
ramah lingkungan, maka mereka bebas untuk mengekspresikan keinginan tersebut melalui
undang-undang atau di dalam pasar. Tanpa permintaan itu, bisnis tidak memiliki tanggung
jawab khusus terhadap lingkungan.
2016
3
Business Ethics And Good Governance
Dr. Achmad Jamil
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Ada beberapa masalah yang menunjukkan bahwa pendekatan Bowie tidak memadai dalam
jangka panjang diantaranya sebagai berikut:
1. Pendekatan ini merendahkan pengaruh yang dimiliki bisnis dalam menetapkan undangundang.
2. Pendekatan ini juga merendahkan kemampuan bisnis untuk mempengaruhi pilihan
konsumen
3. Jika kita bergantung pada undang-undang untuk melindungi lingkungan, tingkat
perlindungan lingkungan hanya akan ada sejauh jangkauan undang-undang. Akan
tetapi, sebagian besar isu lingkungan, khususnya masalah polusi, tidak memperhatikan
kewenangan hukum.
4. Model peraturan ini berasumsi bahwa pertumbuhan ekonomi secara lingkungan dan etis
tidak membahayakan. Peraturan menetapkan batas sampingan pada bisnis dalam
mengejar keuntungan, dan sejauh bisnis tetap mematuhi batasan tersebut, jalan apapun
yang ditempuh manajemen untuk meraih keuntungan akan mendapat legitimasi etis.
Apa yang hilang dalam pembahasan ini adalah fakta yang sangat penting bahwa ada banyak
cara untuk mengejar keuntungan di dalam batasan undang-undang. Jalan yang berbeda untuk
meraih profitabilitas dapat menimbulkan konsekuensi lingkungan yang sangat berbeda.
Tanggung Jawab Lingkungan Perusahaan: Pendekatan Keberlanjutan
Konsep pengembangan/pembangunan yang berkelanjutan (sustainable development)
dan praktik bisnis yang berkelanjutan menyarankan visi baru yang radikal untuk
mengintegrasikan
tujuan
lingkungan
dan
keuangan,
dibandingkan
dengan
model
pertumbuhan yang sebelumnya. Ketiga tujuan ini, keberlanjutan ekonomi, lingkungan dan
etis, sering kali disebut sebagai tiga pilar keberlanjutan.
Pembangunan yang berkelanjutan adalah pembangunan yang memenuhi kebutuhan
saat ini tanpa mengompromikan kemampuan generasi yang akan datang untuk memenuhi
kebutuhan mereka sendiri. Seorang ekonom Herman daly merupakan salah satu pemikir
ternama yang menyuarakan sebuah pendekatan inovatif terhadap teori ekonomi berdasarkan
konsep pembangunan yang berkelanjutan. Daly membuat kasus yang meyakinkan untuk
memahami pembangunan ekonomi yang berkelanjutan melebihi standar yang lebih umum
dari pertumbuhan ekonomi. Kecuali kita membuat perubahan yang signifikan di dalam
pemahaman kegiatan ekonomi, kecuali kita mengubah cara kita berbisnis secara meyakinkan,
2016
4
Business Ethics And Good Governance
Dr. Achmad Jamil
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
kita akan gagal memenuhi kewajiban etis dan lingkungan yang mendasar. Menurut daly, kita
memerlukan perubahan paradigm utama dalam cara kita memahami kegiatan ekonomi.
Model arus sirkular menjelaskan sifat transaksi ekonomi dalam hal arus sumber daya dari
bisnis sampai ke rumah tangga dan kembali lagi kebisnis. Bisnis menghasilkan barang dan
jasa untuk merespons permintaan pasar dari rumah tangga, kemudian mengirim barang dan
jasa tersebut ke rumah tangga untuk ditukarkan dengan pembayaran yang diterima oleh
bisnis. Pembayaran ini selanjutnya dikembalikan lagi ke rumah tangga dalam bentuk upah,
gaji, sewa, keuntungan, dan bunga. Rumah tangga menerima pembayaran sebagai pertukaran
atas tenaga kerja, lahan, modal dan keahlian wirausaha untuk menghasilkan barang dan jasa.
Hal ini dapat dilihat Gambar 1.
Gambar 1. Model Arus Sirkular
Barang dan Jasa
Konsumsi
Upah, sewa
Bunga, keuntungan
RUMAH
TANGGA
BISNIS
Sumber daya:
Tenaga Kerja, Lahan
Modal, Keahlian Wirausaha
Pembayaran
Dua aspek dari model sirkular ini perlu diperhatikan: pertama, model ini tidak membedakan
sumber daya alam dari faktor produksi lainnya. Model ini tidak menjelaskan asal dari sumber
daya. Sumber daya hanyalah hal-hal dimiliki oleh rumah tangga seperti tenaga kerja, modal,
dan keahlian wirausaha, yang dapat dijual kepada bisnis. Kedua, bahwa model ini
memperlakukan pertumbuhan ekonomi sebagai solusi atas semua penyakit sosial dan tidak
memiliki batasan. Agar dapat mengikuti pertumbuhan penduduk, ekonomi harus tumbuh,
agar dapat menyediakan standar hidup yang lebih tinggi, ekonomi harus tumbuh. Untuk
mengurangi kemiskinan, kelaparan dan penyakit, ekonomi harus tumbuh. Kemungkinan
bahwa ekonomi tidak dapat tumbuh sampai waktu yang tidak terbatas bukanlah bagian dari
model ini.
2016
5
Business Ethics And Good Governance
Dr. Achmad Jamil
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Daly gan berargumen bahwa ekonomi neoklasik, dengan penekanannya pada pertumbuhan
ekonomi sebagai tujuan dari kebijakan ekonomi, pada akhirnya akan gagal memenuhi
tantangan ini kecuali pandangan ini menyadari bahwa ekonomi hanyalah sebuah subsistem di
dalam biosfer bumi. Kegiatan ekonomi bertempat di dalam biosfer ini dan tidak dapat
berkembang melebihi kapasitas biosfer untuk mendukung kehidupan. Semua faktor ayng
terlibat dalam produksi-sumber daya alam, modal, keahlian wirausaha dan tenaga kerja –
semuanya berasal dari kapasitas produktif bumi. Dengan pengetahuan akan hal ini, seluruh
model klasik akan terbukti tidak akan stabil jika sumberdaya bergerak melalui sistem ini pada
tingkatan yang melebihi kapasitas produktif bumi atau melebihi kapasitas bumi untuk
menyerap limbah atau produk sampingan dari produksi ini. Dengan demikian kita perlu
mengembangkan suatu sistem ekonomi yang menggunakan sumberdaya hanya pada
tingkatan yang dapat terus berlanjut dalam jangka panjang dan yang dapat mendaur ulang
atau mengggunakan kembali baik produk sampingan dari proses produksi maupun produk itu
sendiri. Model ini dapat dilihat pada gambar 2. Model ini berbeda dalam beberapa hal dengan
model gambar 1yaitu: pertama, model yang berkelanjutan mengakui bahwa ekonomi berada
di dalam biosfer yang terbatas yang terdiri dari sebuah lapisan yang melingkupi permukaan
bumi dengan luas hanya beberapa mil. Dari hukum termodinamika pertama, kita mengetahui
bahwa materi dan energy sesungguhnya tidak dapat diciptakan, materi atau energy hanya
dapat di transfer dari bentuk yang satu ke bentuk yang lain. Kedua, ada energy yang hilang
pada setiap tahapan dari kegiatan ekonomi. Konsisten dengan hukum termodinamika yang
kedua, jumlah energy yang dapat dipakai akan menurun seiring waktu. “energy limbah” terus
menerus meninggalkan sistem ekonomi sehingga energi baru dengan entropi rendah harus
mengalir secara konstan ke dalam sistem. Pada akhirnya, satu-satunya energy dengan entropi
yang rendah adalah matahari. Ketiga, model ini tidak lagi memperlakukan sumber daya alam
sebagai faktor produksi yang sama dan tidak dapat dijelaskan yang muncul dari rumah
tangga. Sumberdaya alam berasal dari biosfer dan tidak dapat diciptakan ex nihilo. Pada
akhirnya, pola ini mengakui bahwa limbah diproduksi pada setiap tahapan kegiatan ekonomi
dan kemudian di buang kembali ke dalam biosfer.
Gambar 2. Model Ekonomi sebagai sebuah subset dari Biosfer (atau ekosistem)
2016
6
Business Ethics And Good Governance
Dr. Achmad Jamil
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Barang dan jasa
Konsumsi
Energi Panas
Energy, Sumberdaya Alam
Limbah(polusi sampah)
Upah, sewa,
Bunga, keuntungan
Energi panas
Rumah
tangga
BISNIS
Sumberdaya:
Tenaga Kerja, lahan, Modal
Keahlian Wirausaha
Energy,
Sumberdaya Alam
Limbah(polusi
sampah)
Pembayaran
Kesimpulan dari model di atas, dalam jangka panjang, sumber daya dan energy tidak dapat
dipakai, dan limbah tidak dapat dihasilkan, pada tingkat dimana biosfer tidak dapat
menggantikan atau menyerap mereka tanpa membahayakan kemampuannya untuk
menunjang kehidupan manusia. Inilah yang disebut daly sebagai “batasan biofisik untuk
pertumbuhan”. Biosfer dapat menghasilkan sumber daya secara tak terbatas, dan dapat
menyerap limbah secara tak terbatas, namun hanya pada tingkat tertentu dan dengan jenis
kegiatan ekonomi tertentu. Inilah tujuan dari pembangunan yang berkelanjutan. Menemukan
tingkat dan jenis kegiatan ekonomi ini, dan dengan demikian menciptakan praktik bisnis yang
berkelanjutan, adalah tanggung jawab lingkungan perusahaan yang utama.
Peluang Bisnis dalam Ekonomi yang Berkelanjutan
Mengapa sebuah perusahaan harus mengejar strategi dari keberlanjutan? Atas alasan
kepentingan pribadi bisnis itu saja, suatu kasus yang kuat dapat dibuat untuk mengambil
langkah saat ini demi mencapai masa depan yang berkelanjutan. Setidaknya ada lima alasan
yang membentuk suatu kasus persuasive untuk menyimpulkan bahwa upaya mengejar
strategi yang berkelanjutan hampir selalu menjadi kepentingan pribadi bisnis. Diantaranya:
1. Keberlanjutan adalah suatu strategi jangka panjang yang baik. Bisnis perlu mengadopsi
praktik yang berkelanjutan untuk menjamin kelangsungan hidup dalam jangka panjang.
Perusahaan yang gagal beradaptasi terhadap kurva dari penurunan ketersediaan sumber
daya alam dan kenaikan permintaan yang
saling mengerucut berisiko kehilangan
kelangsungan hidup mereka sendiri. Contoh industri penangkapan ikan di laut.
2016
7
Business Ethics And Good Governance
Dr. Achmad Jamil
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
2. Potensi pasar yang besar belum terpenuhi diantara perekonomian dunia yang sedang
berkembang hanya dapat dipenuhi dengan cara yang berkelanjutan. Terdapat banyak
sekali peluang bisnis untuk melayani milyaran orang yang membutuhkan, serta
meminta barang dan jasa ekonomis. Dasar dari piramida ekonomi menunjukkan
pasardari perekonomian yang terbesar dan memiliki pertumbuhan tercepat dalam
sejarah manusia. Meskipun begitu, besarnya ukuran pasar itu sendiri membuatnya tidak
mungkin untuk memenuhi permintaan ini dengan praktik industri abad ke -19 dan ke-20
yang merusak lingkungan.
3. Penghematan biaya yang signifikan dapat dicapai melalui praktik yang berkelanjutan.
Bisnis melakukan penghematan biaya yang signifikan untuk dapat bergerak menuju
efisiensi lingkungan. Penghematan penggunaan energy dan bahan tidak hanya akan
mengurangi pembuangan lingkungan, namun juga berarti mengurangi pengeluaran yang
sia-sia. Meminimalkan limbah adalah hal yang masuk akan atas dasar financial maupun
lingkungan.
4. Terdapat keunggulani kompetitif bagi bisnis yang berkelanjutan. Perusahaan yang
berada didepan pada kurva keberlanjutan akan memiliki dua keunggunlan yaitu
melayani konsumen yang peduli lingkungan dan menikmati sebuah keunggulan
kompetitif untuk menarik para karyawan yang memiliki rasa bangga dan puas karena
bekerja di perusahaan yang maju.
5. Keberlanjutan adalah strategi manajemen resiko yang baik. Menolak untuk bergerak
menuju keberlanjutan menawarkan banyak hambatan yang ingin dihindari oleh
perusahaan yang inovatif. Menghindari peraturan pemerintah yang akan datang adalah
salah satu manfaat yang nyata. Perusahaan yang mengambil inisiatif untuk bergerak
kearah keberlanjutan kemungkinan juga akan menjadi perusahan yang menetapkan
standar dari praktik dalam bidangnya. Jadi, ketika peraturan memang akan dibuat,
kemungkinan besar perusahaan tersebut akan berperan dalam menentukan seperti apa
peraturan tersebut jadinya. Mencegah tanggung jawab untuk produk yang tidak
berkelanjutan merupakan manfaat potensial lainnya. Ketika kedasaran sosial berubah,
sistem legal mungkin akan segera mulai menghukum perusahaan yang saat ini lalai
karena gagal meramalkan terjadinya bahaya yang disebabkan oleh praktik mereka yang
tidak berkelajutan.
Implikasi yang tepat dari keberlanjutan ini akan berbeda antara perusahaan dan industri
tertentu, namun tiga prinsip umum ini akan memandu untuk bergerak kearah keberlanjutan.
2016
8
Business Ethics And Good Governance
Dr. Achmad Jamil
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Perusahaan serta industri harus menjadi lebih efisien dalam menggunakan sumberdaya alam:
mereka harus meniru pr oses produksi keseluruhannya pada proses biologis; dan mereka
harus menekankan produksi jasa alih-alih produksi produk. Prinsip-prinsip untuk bisnis yang
keberlanjutan diantarannya:
1. Eko-efisien, “mengerjakan sesuatu lebih banyak dengan sumberdaya yang lebih
sedikit”, telah menjadi pedoman lingkungan selama sepuluh tahun. Seperti juga halnya
perusahaan bisnis dapat meningkatkan efisiensi energy dan bahan dalam hal seperti
penerangan, desain bangunan, desain produk, dan saluran distribusi.
2. Limbah yang meninggalkan siklus ekonomi dikembalikan lagi ke dalam siklus sebagai
sumberdaya yang produktif. Produksi putaran tertutup berusaha untuk menginegrasikan
kembali limbah ke dalam proses produksi. Di dalam situasi ideal, limbah dari sebuah
peusahaan menjadi sumberdaya bagi perusahaan lain, dan sinergi seperti ini dapat
menciptakan taman ekoindustri. Sama halnya dengan proses biologi seperti siklus
fotosintesis “ limbah” dari sebuah kegiatan menjadi sumber daya untuk kegiatan yang
lain, prinsip ini sering disebut biomimicry. Tujuannya adalah untuk meonghilangkan
limbah secara keseluruhan alih-alih menguranginya. Jika kita benar-benar meniru
proses biologi, hasil akhir dari dari sebuah proses pada akhirnya dapat digunakan
kembali sebagai sumberdaya yang produktif dari proses lainnya hanya dengan
menambahkan energi matahari.
3. Melampaui eko-efisien dan biomimicry, melibatkan peralihan dalam model bisnis dari
produk ke jasa. Model ekonomi dan manajerial tradisional menerjemahkan permintaan
pelanggan sebagai permintaan untuk produk –mesin cuci, karpet, lampu, elektronik
konsumen,
AC,
mobil,
computer
dan
seterusnya.
Ekonomi
berbasis
jasa
menerjemahkan permintaan pelanggan sebagai permintaan akan jasa-untuk mencuci
baju, melapisi lantai, mendekorasi bangunan, menghibur, udara yang sejuk, transportasi,
pengolahan kata dan seterusnya.
Evolusi strategi bisnis menuju biomimicry dapat dipahami dalam suatu kontinum.
Tahap paling awal telah dijelaskan sebagai “mengambil-membuat-menghasilkan limbah”.
Dengan kata lain, bisnis mengambil sumberdaya, membuatnya menjadi produk, dan
membuang sisanya. Tahap kedua menggambarkan bisnis bertanggung jawab atas produknya
“dari hidup sampai mati”. Terkadang disebut sebagai tangggung jawab “siklus hidup”,
pendekatan ini telah mendapatkan tempat dalam pemikiran industri dan peraturan. Tanggung
jawab dari hidup sampai mati atau “siklus hidup” menyatakan bahwa bisnis bertanggung
2016
9
Business Ethics And Good Governance
Dr. Achmad Jamil
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
jawab atas seluruh hidup produknya, meliputi pembuangan akhir bahkan setelah penjualan.
Jadi, sebagai contoh, model dari hidup sampai mati akan menyatakan bahwa bisnis
bertanggung jawab terhadap kontaminasi air bawah tanah yang disebabkan oleh produknya
bahkan setelah bertahun-tahun dikubur di dalam tanah.
Tanggung jawab dari hidup sampai hidup kembali memperluas ide ini lebih jauh dan
menyatakan bahwa bisnis seharusnya bertanggung jawab untuk memasukkan kembali hasil
akhir produknya ke dalam siklus produktif. Tanggung jawab ini, pada gilirnnya, akan
menciptakan insentif untuk merancang kembali produk sehingga mereka dapat didaur ulang
dengan efisien dan mudah.
2016
10
Business Ethics And Good Governance
Dr. Achmad Jamil
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Daftar Pustaka
Hartman, L.P., dan Desjardin, J. (2011). Etika Bisnis: Pengambilan Keputusan untuk
Integritas Pribadi dan Tanggung jawab Sosial. Penerbit Erlangga.
2016
11
Business Ethics And Good Governance
Dr. Achmad Jamil
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Download