distribusi antara anggrek terestr

advertisement
TAMBAHAN PUSTAKA
Distribution between terestrial and epiphyte orchid.
Menurut Steeward (2000), distribusi antara anggrek terestrial dan epifit dipengaruhi
oleh ada atau tidaknya vegetasi lain dan juga keadaan musim maupun kelembaban
didaerah tersebut. Pertumbuhan anggrek dipengaruhi oleh ketinggian dari permukaan
laut, terutama pada daerah tropis. Pada ketinggian yang rendah atau dekat dengan
laut, keadaan lingkungan akan terasa panas pada siang hari dan cukup dingin pada
malam hari. Pada ketinggian yang tinggi atau hampir puncak pegunungan dapat
tertutupi oleh salju, dan cuaca terasa panas sepanjang hari dan terasa sangat dingin
sepanjang malam.
Steeward, J. 2000. Orchids. Timber Press, Portland, Oregon, London.
Keanekaragaman Hayati
Keanekaragaman hayati (biodiversity atau biological diversity) merupakan
istilah yang digunakan untuk menggambarkan kekayaan berbagai bentuk kehidupan
di bumi ini mulai dari organisme bersel tunggal sampai organisme tingkat tinggi.
Keanekaragaman hayati mencakup keragaman habitat (ekosistem), keragaman
spesies (jenis) dan keragaman genetik (variasi sifat dalam spesies).
1. Keanekaragaman genetik di dalam jenis (keanekaragaman tingkat gen)
Keanekaragaman genetik adalah keanekaragaman di dalam jenis
(keanekaragaman tingkat gen) yang meliputi populasi yang perbedaannya jelas
dalam jenis yang sama atau variasi genetik di dalam populasi.
Keanekaragaman genetik adalah suatu tingkatan biodiversitas yang merujuk
pada jumlah total variasi genetik dalam keseluruhan spesies yang mendiami sebagian
atau seluruh permukaan bumi yang dapat didiami. Sifat dari setiap makhluk hidup
ditemukan oleh sepasang gen (genotip) yang berasal dari induk jantan dan betina.
Ciri utama keanekaragaman tingkat genetik ditunjukan adanya variasi individuindividu dalam satu spesies. Berikut ini contoh keanekaragaman tingkat gen.
Ketiga tanaman anggrek spesies di atas merupakan anggrek Dendrobium
bracteosum yang merupakan contoh keanekaragaman tingkat gen, yang ditunjukan
dengan adanya perbedaan warna dalam satu spesies.
2. Keanekaragaman jenis
Keanekaragaman jenis (keanekaragaman tingkat jenis) yaitu menunjukan
variasi jenis di dalam suatu daerah. Keanekaragaman tingkat jenis adalah
keanekaragaman variasi jenis yang ditemukan diantara organisme yang tergolong
dalam spesies yang berbeda, baik yang termasuk dalam famili atau tidak di dalam
suatu daerah. Berikut ini contoh keanekaragaman tingkat jenis.
Kedua
tanaman anggrek
spesies diatas
merupakan
jenis
anggrekBulbophyllum yang merupakan contoh keanekaragaman tingkat jenis. Sekilas
kedua anggrek spesies tersebut mirip, namun keduanya memiliki perbedaan yang
menonjol. Perbedaan itu ditunjukan pada struktur dan ukuran bunga serta struktur
daun.
3. Keanekaragaman ekosistem
Keanekaragaman ekosistem, contohnya ekosistem pantai, sawah, hujan jati,
sabana, hutan bakau dan lain-lain. Semua makhluk hidup berinteraksi dengan
lingkungannya yang berupa faktor biotik dan faktor abiotik. Faktor biotik meliputi
berbagai jenis makhluk hidup. Faktor abiotik meliputi iklim, cahaya, suhu, air,
kelembaban, salinitas serta tingkat keasaman dan kandungan mineral. Di dalam
ekosistem, komponen biotik harus dapat berinteraksi dengan komponen biotik
lainnya dan juga dengan komponen abiotik agar dapat bertahan hidup. Komponen
biotik sangat beragam, demikian pula komponen abiotik berbeda kualitas dan
kuantitasnya. Sehingga hal ini menyebabkan keanekaragaman hayati pada tempat
yang berlainan akan menyusun ekosistem yang berbeda pula.
Bagaimana tanaman yang ada di sekitar kita berbeda-beda? Adakah faktor yang
mempengaruhinya? Adakah manfaat dari keanekaragaman tersebut?
Tanaman anggrek spesies diatas merupakan jenis anggrek Ascosentrum
miniatum dan Vanda sp yang merupakan contoh keanekaragaman tingkat ekosistem.
Kedua jenis anggrek tersebut mempunyai habitat hidup yang berbeda. Ascosentrum
miniatum merupakan jenis anggrek dengan ekosistem terestrial sedangkan Vanda sp
merupakan jenis anggrek yang mempunyai ekosistem udara.
A. Faktor-faktor
yang
mempengaruhi
keanekaragaman
hayati.
Ada dua faktor penyebab terjadinya keanekaragaman yaitu faktor genetik dan faktor
lingkungan. Setiap sifat organisme dikendalikan oleh sepasang faktor keturunan
(gen), satu dari induk jantan dan lainnya dari induk betina. Keanekaragaman pada
gen ditunjukan dengan adanya variasi dalam satu jenis. Misal variasi
jenis Dendrobium bracteosum, Dendrobium tanii, dan lain-lain.
Rumus keanekaragaman adalah
F = fenotip
G = genotip
L = lingkungan
Fenotip adalah sifat yang tampak dari luar pada makhluk hidup meliputi bentuk wajah,
warna kulit, warna mata dan lain-lain. Fenotip merupakan hasil perpaduan sifat yang
dibawa oleh gen (genotip) dan faktor lingkungan. Gen pada setiap individu,
walaupun bahan dasar penyusunnya sama, tetapi susunannya berbeda-beda
tergantung masing-masing individu.
Faktor yang menyebabkan keanekaragaman gen pada makhluk hidup
yaitu reproduksi dan mutasi.
1. Reproduksi adalah perkawinan antara dua individu sejenis, sehingga menghasilkan
keturunan yang memiliki susunan perangkat gen dari kedua induk/orang tuanya.
Kombinasi susunan perangkat gen dari dua induk tersebut akan menyebabkan
keanekaragaman individu dalam satu spesies berupa varietas-varietas.
Reproduksi ada 2 macam, yaitu secara generatif (seksual) dan vegetatif
(aseksual).
a.
Reproduksi secara generatif memungkinkan terjadinya peleburan sel kelamin jantan
dan sel kelamin betina, sehingga terbentuk kombinasi sel kelamin menghasilkan
keturunan yang bervariasi secara genetik.
b. Reproduksi secara vegetatif tidak terjadi peleburan sel kelamin jantan dan sel
kelamin betina, sehingga hanya diwariskan bersama atau ditautkan.
Misal: budidaya anggrek dengan menggunakan tunas.
2. Mutasi adalah perubahan susunan bahan genetik dalam tubuh makhluk hidup,
sehingga dapat memunculkan sifat baru yang berbeda dari induk. Mutasi dapat
terjadi karena faktor dari luar, misalnya: faktor fisika (radiasi), faktor kimia
(pestisida), obat, zat-zat kimia pada makanan dan faktor biologi (virus). Mutasi
terjadi secara perlahan dan membutuhkan waktu yang lama, sehingga perubahan
fenotip akibat mutasi tidak langsung dapat diketahui.
B. Manfaat Keanekaragaman Anggrek
Berikut ini merupakan beberapa manfaat keanekaragaman anggrek bagi
kehidupan antara lain:
1. Secara ekonomis, tanaman anggrek dapat dibudidayakan dan dijadikan sebagai lahan
bisnis karena mempunyai daya jual yang tinggi. Anggrek sebagai tanaman hias.
2. Secara ekologis, tanaman anggrek dapat menjadi bioindikator terhadap kerusakan
suatu ekosistem. Hal ini dikarenakan penyerbukan anggrek membutuhkan bantuan
manusia atau serangga. Serangga sendiri membutuhkan madu bunga anggrek untuk
makanan. Sehingga apabila keberadaan tanaman anggrek di bumi rusak, maka dapat
merusak ekosistem makhluk hidup yang lain, contohnya serangga.
Manfaat anggrek yang begitu besar, mendorong untuk dilakukan beberapa
langkah konservasi guna mendukung dan menjaga kelestarian tanaman anggrek.
Indonesia memiliki spesies anggrek terbanyak kedua setelah Brasil. Dari
26.000 jenis anggrek spesies yang ada di dunia, 5.000 jenis diantaranya berada di
Indonesia. Namun baru 1.500 yang teridentifikasi dan 70 spesies diantaranya telah
punah karena habitat endemiknya telah hilang akibat pembalakan dan perusakan
hutan. Diantaranya yang telah punah adalahDendrobium lowii dan Spathoglottis
aurea (Anggrek tanah kuning).
Pada tahun 1999, pemerintah Indonesia mengeluarkan PP nomor 7 yang
mengatur tentang perlindungan anggrek. PP nomor 7 tersebut melindungi 29 jenis
anggrek spesies, 3 diantaranya masuk dalam daftar Appendix I CITES, sementara 26
jenis sisanya masuk dalam daftar Appendix II. CITES (Convention on International
Trade in Endangered Species) adalah konvensi internasional tentang perdagangan
flora dan fauna liar yang telah langka berdasarkan kesepakatan berbagai negaradan
Indonesia turut meratifikasikan dengan Keputusan Presiden No. 43 Tahun 1978,
dengan memegang otoritas manajemen adalah Ditjen Departemen Kehutanan dan
memegang otoritas keilmuan adalah LIPI. Isi Appendix adalah sebagai berikut:
1. Appendix I adalah perdagangan internasional yang bersifat komersial dan seluruhnya
dilarang kecuali dari hasil penangkaran.
2. Appendix II adalah perdagangan internasional yang diperbolehkan tetapi dikontrol
melalui kuota.
3. Appendix III adalah perdaganagan internasional yang diperbolehkan tetapi dikontrol
berupa pengawasan oleh Negara lain.
Anggrek
yang
dilindungi
misalnya Paraphalaenopsis
laycocki,
Paraphalaenopsislabukensis, Paraphalaenopsis serpentilingua, Phalaenopsis
gigantean, Coelogyne pandurata, Spathoglottis aurea dan Gramatophylum
Speciosum. Sementara itu ada jenis anggrek yang tidak dilindungi PP tapi masuk
dalam daftar Appendix, diantaranyaDendrobium lowii (Appendix I), Phalaenopsis
amabilis (Appendix II) dan Bulbophyllum lobbii (Appendix II).
Untuk menambah pengetahuan kamu mengenai tingkat keanekaragaman hayati dan
faktor penyebab serta manfaat keanekaragaman hayati. Kerjakanlah latihan berikut
ini dengan baik dan benar
Rangkuman
.
Download