Lebih jelasnya Hans J. Morgenthau dalam buku Politics Among

advertisement
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Suatu negara tidak dapat memenuhi seluruh kebutuhannya sendiri. Negaranegara kemudian berinteraksi satu sama lain dan menjalin kerjasama untuk
memenuhi kebutuhan dalam negerinya. Hubungan kerjasama dilakukan
berdasarkan kepentingan dan tujuan nasional yang ingin dicapai negara.
Hubungan kerjasama dilakukan dalam berbagai tingkatan mulai dari bilateral,
regional, hingga multinasional. Dalam hubungan tersebut, negara berupaya untuk
mencapai kepentingan nasionalnya yang pada dasarnya bertujuan untuk
kesejahteran rakyat dan kedaulatan negara.
Kerjasama dilakukan dalam berbagai bidang mulai dari ekonomi, politik,
militer, dan sosial budaya. Kerjasama ekonomi diperlukan, misalnya melalui
perdagangan internasional guna memenuhi kebutuhan dalam negeri, baik itu
kebutuhan akan pangan, energi, bahan mentah, dan sebagainya. Sedangkan
kerjasama dalam bidang politik, diperlukan terutama untuk memperoleh
dukungan atau kemitraan, ini akan berguna ketika memerlukan dukungan dalam
forum internasional. Selanjutnya dalam bidang militer, juga penting untuk
menjalin hubungan baik, guna menjaga perdamaian, bukan hanya di dalam negeri
tetapi juga partisipasi dalam penyelesaian konflik yang terjadi antar negara lain.
Hubungan antar negara di dunia terus mengalami perkembangan secara
berkesinambungan seiring dengan perubahan dunia internasional serta kemajuan
teknologi dan informasi. Tidak dapat dipungkiri bahwa globalisasi dengan segala
1
dampaknya turut andil memunculkan isu-isu baru yang bersifat global. Hal
tersebut pada akhirnya menjadi isu politik antar negara sebagai bagian dari
interaksi dalam forum bilateral, regional, dan multilateral. Isu global ini
cenderung pula berkembang menjadi isu politik.1
Dalam hubungan internasional, melalui diplomasi negara yang memiliki
kemampuan politik, ekonomi, dan militer melakukan penekanan terhadap negara
yang lemah. Negara yang kemampuan diplomasinya lemah akan terdesak dan
mengikuti keingianan negara yang lebih kuat. Hal demikian akan sangat
merugikan negara karena dengan mudah dapat dikontrol oleh negara lain. Secara
tidak langsung negara lemah tidak memiliki kebebasan dalam menentukan arah
kebijakan politiknya yang pada akhirnya berdampak pada pencapaian kepentingan
dan tujuan nasional.
Setiap negara pastinya memiliki kepentingan dalam dunia internasional
guna memenuhi kebutuhan dalam negerinya. Untuk memastikan kebutuhan
tersebut terwakili dan terpenuhi dalam komunitas global dan regional, maka
negara perlu merumuskan kebijakan luar negeri. Kebijakan tersebut selanjutnya
dijadikan pedoman bagi negara dalam menjalin hubungan dengan negara lain.
Dalam memperjuangkan kepentingan nasional, peran diplomasi sangat penting
karena dapat menentukan tercapai atau tidaknya tujuan negara.
Dalam era globalisasi ini, ploblematika yang dihadapi negara semakin
kompleks, lebih menantang, dan dengan tingkat persaingan yang semakin tinggi
pula. Perubahan dunia menuntut negara untuk semakin kreatif dalam berkompetisi
1
Abdul Irsan, 2010, Peluang dan Tantangan Diplomasi Indonesia, Jakarta: Himmah Media,
hal.52.
2
di taraf internasional dan regional. Persaingan semakain ketat, utamanya dalam
kancah perpolitikan internasional mulai dari lembaga hingga organisasai regional
dan internasional. Kawasan yang selama ini terabaikan pun mulai menampakkan
diri dan menunjukkan pertumbuhan perekonomian yang melaju pesat. Dengan
demikian, negara yang tidak memiliki daya saing mungkin saja tidak akan mampu
bertahan terhadap tuntutan dunia.2
Oleh karenanya, dalam menjalin hubungan dengan negara lain suatu negara
memerlukan kekuatan atau power agar dapat mencapai kepentingannya. Power
negara sangat penting dan diperlukan dalam berbagai forum guna memperoleh
dukungan dari negara lain ataupun dalam kerjasama, baik bilateral, regional,
maupun multilateral. Kepemilikan power dapat menjadikan suatu negara mampu
mempengaruhi bahkan mengontrol negara lain untuk bertindak atau mengambil
kebijakan yang akan memberikan keuntungan bagi negara pemilik power.
Meski demikian, power tidak muncul begitu saja melainkan dengan
beberapa kekuatan dasar yang mesti dimiliki mulai dari segi ekonomi, sosial,
politik, dan militer. Suatu negara dengan power lebih dibanding negara lainnya
akan lebih mudah untuk meraih kepentingan nasionalnya. Sedangkan bagi negara
yang kekuatannya kurang, akan memiliki posisi yang lemah dalam proses tawarmenawar kepentingan tersebut. Untuk memperoleh power tersebut, seluruh negara
akan melakukan berbagai upaya termasuk dengan memberdayakan segala potensi
yang dimilikinya.
2
Faisal Basri, 2010, “Asa dan Upaya pada Tahun 201”, Kompas, 27 Desember 2010, hal. 3.
3
Negara kemudian menggunakan kekuatan nasional (national power) guna
meraih kepentingan nasionalnya. Elemen-elemen national power ini menurut
Hans J. Morgenthau (1948) terdiri atas sembilan unsur, yakni; geografi, sumber
daya alam, kemampuan industri, kesiagaan militer, penduduk, karakter nasional,
moral nasional, kualitas diplomasi, dan kualitas pemerintah.3 Namun demikian
dalam konteks kekinian, kesembilan elemen tersebut dapat diformulasi secara
garis besar menjadi: geografis dan segenap isinya, man power atau tenaga ahli,
kemampuan industri dan teknologi, ilmu pengetahuan dan informasi, serta
keterampilan diplomasi. Kedudukan atau posisi suatu negara yang didukung oleh
keunggulan geografis, sumber daya alam dan sumber daya manusianya turut
menentukan kekuatannya terutama dalam menjalin kerjasama dengan negara lain.
National power yang dimiliki kemudian dijadikan sarana kekuatan dalam
menjalin hubungan internasional. Dengan kepemilikan power yang besar, dapat
membawa suatu negara untuk secara leluasa memperjuangkan kepentingannya.
Hal ini dapat terlihat atau terjelma dalam percaturan serta dinamika hubungan
antarnegara, baik dalam konteks dunia internasional maupun di kawasan. Di mana
masing-masing negara akan berjuang mengejar kepentingan nasionalnya dengan
mengandalkan national power-nya. Selain menyokong upaya pencapaian tujuan
negara, national power juga turut menentukan kualitas diplomasi negara tersebut.
Pelaksanaan diplomasi serta partisipasi Indonesia dalam mengikuti proses
perkembangan politik dunia seringkali harus menghadapi kondisi dan situasi
3
Hans. J. Morgenthau dan Kenneth W. Thompson, 2010, Politik Antar Bangsa, terj. S. Maimoen,
at al, Jakarta, Yayasan Obor Indonesia, hal.135-173.
4
dunia yang tidak selalu kondusif dengan kepentingan nasionalnya. 4 Bantarto
Bandoro (2005) menyatakan bahwa politik luar negeri Indonesia di era globalisasi
dewasa ini menghadapi tantangan yang begitu rumit ditambah pula dengan
perubahan-perubahan internasional yang begitu cepat dan sulit diantisipasi. Oleh
karena itu, menurutnya sangat mendesak bagi Indonesia untuk memobilisir
seluruh sumber daya yang ada dalam masyarakat, untuk membantu mendukung
diplomasi internasional dalam mengatasi tantangan global.5
Sebagai salah satu pelaku hubungan internasonal, Indonesia perlu
membangun national power-nya. Negara yang dapat memberdayakan kekuatan
nasionalnya secara maksimal akan memegang peranan dominan yang tentunya
akan berpengaruh pada pengambilan kebijakan dalam penyelesaian masalah
ataupun isu-isu global. Sebagai salah satu negara anggota ASEAN, Indonesia
perlu untuk memperkuat national power-nya guna mendukung diplomasinya
dalam taraf regional. Di mana kita ketahui bahwa secara umum kekuatan nasional
Indonesia masih dikategorikan sebagai negara middle power.
Indonesia berusaha untuk meningkatkan kekuatan nasionalnya sesuai
dengan program pengembangan atau pembangunan nasional yang dilakukan oleh
pemerintah, baik pembangunan yang bersifat jangka pendek, jangka menengah,
maupun jangka panjang. Salah satu kebijakan yang ditempuh oleh pemerintah
Indonesia adalah menjalin kerjasama dalam berbagai bidang dengan negaranegara di ASEAN. Hal ini juga dalam rangka mendukung diplomasi Indonesia di
ASEAN. Keketuaan Indonesia di ASEAN pada tahun 2011 memberikan
4
5
Abdul Irsan, Op. Cit, hal. 94.
Bantarto Bandoro, ed., 2005, Mencari Desain Baru Politik Luar Negeri Indonesia, Jakarta: CSIS,
hal. 4.
5
kesempatan untuk dapat berkontribusi positif dalam pengembangan kawasan serta
menunjukkan kepemimpinan Indonesia. Selain itu memberikan kesempatan untuk
menunjukkan diplomasi Indonesia utamanya dalam menghadapi permasalahanpermasalahan di kawasan.
Pada dasarnya Indonesia telah memiliki kemampuan dan kekuatan nasional.
Kekuatan nasional Indonesia dapat dilihat utamanya dari aspek geografi
(wilayah), sumber kekayaan alam, serta kuantitas penduduknya. Indonesia
memiliki wilayah yang luas, alam yang kaya, serta sejarah bangsa dan
keanekaragaman etnik yang tersebar di seluruh wilayah. Hal ini merupakan
kekuatan yang sangat penting bagi Indonesia dalam meraih tujuan nasionalnya. 6
Salah satu fondasi kekuatan nasional yang dimiliki Indonesia dan sudah
dikenal dunia sejak dulu ialah posisi geografisnya yang berada pada posisi silang
dunia, yakni antara dua benua dan dua samudera, kekayaan negara yang terdiri
atas barang tambang maupun flora dan fauna, demokratisasi dimana Indonesia
tergolong sebagai negara dunia ketiga yang sukses menyelenggarakan pemilu
langsung presiden dan parlemen secara damai. Di samping itu Indonesia memiliki
penduduk muslim terbesar di dunia dan tergolong Islam moderat. Semua
komponen tersebut dapat menjadi elemen national power Indonesia.
Indonesia dikaruniai dengan potensi alam melimpah baik di darat maupun di
laut. Namun, kenyataannya hingga sekarang masih banyak penduduk Indonesia
yang belum dapat menikmati kemakmuran tersebut. Oleh karena itu, penting bagi
6
Ermaya Suradinata, 2005, Hukum Dasar Geopolitik dan Geostrategi dalam Kerangka Keutuhan
NKRI, Jakarta: Suara Bebas, hal. 71.
6
pemerintah untuk lebih memperhatikan pengelolaan kekayaan negara agar potensi
yang dimiliki dapat memberikan kesejahteraan dan kemakmuran bagi rakyat.7
Wilayah Indonesia yang luas serta posisi yang strategis memerlukan
pengelolaan dan pemanfaatan secara optimal dan bijak dari seluruh komponen
masyarakat. Sejak dulu Indonesia telah menjadi jalur perdagangan antar bangsa.
Wilayah Indonesia pun baik di darat, laut, maupun udara menyimpan potensi
besar dalam menunjang perekonomian Indonesia. Melalui pemanfaatan wilayah
daratan sebagai lahan pangan. Lautan selain memberikan hasil laut yang
melimpah juga merupakan jalur transportasi bagi perdagangan. Selain itu, ruang
angkasa dapat dimanfaatkan untuk komunikasi modern dan teknologi.8
Indonesia memiliki posisi strategis yang memungkinkannya memegang
peran penting dalam dunia internasional. Meski demikian Indonesia masih harus
menghadapi banyak tantangan dan permasalahan, mulai dari masalah ekonomi,
politik, sosial, dan keamanan. Kenyataannya, luas wilayah Indonesia tidak
diimbangi dengan kemerataan penduduknya sehingga beberapa daerah utamanya
perkotaan sangat padat. Di lain pihak posisi strategis Indonesia menjadikannya
rawan karena dapat dimasuki dari berbagai penjuru. Wilayah lautnya yang kaya
baik hasil laut berupa perikanan maupun tambang menjadikannya rawan terhadap
konflik dengan negara tetangga.9
Indonesia memiliki sumber daya alam melimpah akan tetapi belum
diimbangi dengan kualitas sumber daya manusianya. Ditambah dengan pola
konsumsi minyak yang berlebihan dan tidak seimbang dengan persediaan energi.
7
Abdul irsan, Op. Cit, hal. 7.
Ermaya Suradinata, Op. Cit. hal. 71-73.
9
Ibid, hal. 35.
8
7
Hal ini pada akhirnya akan membawa Indonesia pada kelangkaan energi karena
belum mampu memberdayakan Sumber Daya Alam dengan efesien dan efektif.
Bahkan hutan Indonesia yang merupakan energi terbarukan pun terancam rusak
dan areal hutan semakin berkurang. Pembalakan liar dan kebakaran terjadi sebagai
akibat dari kelalaian dalam melestarikan dan menjaganya. Greenpeace mencatat
bahwa tingkat kerusakan hutan Indonesia mencapai 3.8 juta hektar per tahun.10
Jika hal tersebut terus berlanjut, maka akan terjadi bencana alam seperti
banjir dan longsor yang parah, terjadi pencemaran udara yang dapat
mempengaruhi negara lain utamanya negara tetangga. Ini akan menimbulkan
kritikan terhadap Indonesia karena tidak dapat menjaga areal hutannya yang
merupakan paru-paru dunia. Dengan demikian akan semakin menjadikan
Indonesia terpuruk dan menempati posisi yang lemah dalam forum internasional
dan khususnya di negara-negara ASEAN. Persoalan tersebut juga dapat menjadi
hambatan terhadap kesuksesan diplomasi Indonesia di ASEAN.
Dari segi kependudukan, Indonesia menempati urutan keempat di dunia
setelah RRC, India, dan AS. Indonesia memiliki kuantitas penduduk yang sangat
besar yakni sekitar 241.973.879 jiwa berdasarkan sensus tahun 2005. 11 Meski
demikian potensi ini belum mampu menunjang pembangunan nasional Indonesia.
Indonesia dihadapkan pada keterbatasan kualitas Sumber Daya Manusia serta
minimnya moral masyarakat. Korupsi terjadi di berbagai sendi kehidupan
Ahmad Syafii Ma’arif, 2011, “Indonesia 2050 Seperti Apa?”, Kompas, 17 Oktober 2011, dalam
http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2011/10/17/02125333/Indonesia.2050.seperti.Apa.,
diakses tanggal 13 Februari 2013.
11
Sri Hayati dan Ahmad Yani, 2007, Geografi Politik, Bandung: Refika Aditama, hal.82.
10
8
masyarakat. Hasil survei Political and Economic Risk Consultancy sejak 19982005 menempatkan Indonesia pada posisi buruk dalam korupsi.12
Dalam lingkup regional terutama dengan disepakatinya perjanjian
perdagangan bebas atau AFTA tahun 2003, maka Indonesia harus bersiap akan
dampak yang mungkin timbul. Sejak tahun 1998 hingga kini Indonesia masih
mengalami keterpurukan ekonomi, sosial, politik, dan pertahanan keamanan, serta
kecenderungan terjadi konflik etnis. Indonesia juga besar kemungkinan terkena
dampak lingkungan dari perkembangan dunia yang makin maju. Potensi
masyarakat Indonesia pun belum diberdayakan secara maksimal. Di lain pihak,
krisis multidimendial yang melanda Indonesia belum terpulihkan ditambah
dengan kondisi ketahanan nasional yang lemah. Sehingga proses pembangunan
nasional tidak berjalan lancar dan stabilitas nasional terganggu.13 Hal ini tentunya
dapat menghambat pengembangan kemampuan dan kekuatan nasional Indonesia.
Meski demikian, dunia menilai bahwa Indonesia merupakan negara yang
kompeten dan dapat meminimalisir dampak dari krisis global. Melihat bahwa
dalam krisis perekonomian tahun 2008-2009, Indonesia tidak terlalu terkena
dampak dari krisis tersebut dan perekonomiannya terbilang cukup stabil.14
Indonesia semakin dipertimbangkan dan dianggap sebagai bagian dari organisasi
dunia. Ini dilihat dari pencapaian Indonesia dengam masuknya ke G-20. Indonesia
sudah mulai dilibatkan dalam memikirkan, membahas, dan merumuskan sesuatu
terkait dengan permasalahan dunia internasional. Indonesia dapat mengandalkan
12
Riant Nuggroho D. & Tri Hanurita S., 2005, Tantangan Indonesia: Solusi Pembangunan
Negara Berkembang, Jakarta: PT. Elex Media Kumputindo, hal. 109-111
13
Ermaya Suradinata, Op. Cit. Hal. 82.
14
Susilo Bambang Yudhoyono, 2010, “Soft Power Memperkuat Formula Diplomasi”, Tabloid
Diplomasi, No. 28 Tahun III, 15 Februari-14 Mare 2010, Hal. 4.
9
kekayaan budaya, ide, nilai-nilai serta material lainnya yang dapat menjadi selling
point Indonesia dalam diplomasi pada tingkat global maupun regional.15
Meski demikian, tidak dapat dipungkiri bahwa hingga kini Indonesia masih
bergelut dengan krisis multidimensial yang melanda negara. Berbagai pergolakan
terjadi dalam negeri, ditambah konflik yang terjadi dengan beberapa negara
tetangga.
Indonesia
pun
harus
tanggap
dalam
menghadapi
pengaruh
perkembangan dunia yang terus berubah dari waktu ke waktu. Selain itu di tingkat
regional pun sumber daya manusia Indonesia masih terbilang rendah dibanding
beberapa negara ASEAN lainnya. Pengelolaan wilayah serta sumber daya alam
yang belum optimal. Di lain pihak, kepemilikan hasil alam serta kondisi dan letak
geografis Indonesia yang strategis akan menjadi perhatian bangsa-bangsa lain.
Sehingga besar kemungkinan bagi negara lain untuk berupaya memanfaatkan
potensi dan sumber daya yang dimiliki Indonesia bagi kepentingan negaranya. 16
Dalam pelaksanaan diplomasinya, Indonesia masih harus menghadapi
banyak tantangan. Perkembangan politik dunia turut mempengaruhi diplomasi
Indonesia. Selain harus menghadapi kebijakan politik dan diplomasi negaranegara besar, Indonesia juga dihadapkan pada beragam permasalahan dengan
negara-negara tetangga di kawasan. Meski demikian, kebijakan politik luar negeri
bebas aktif tetap menjadi acuan negara dalam setiap interaksinya.17
Dalam hal politik keamanan, Indonesia merupakan negara yang cukup
dipandang dan dihormati di kawasan Asia Tenggara. Karena itu, masalah
Susilo Bambang Yudhoyono, 2010, “Indonesia Semakin Diperhitungkan”, Tabloid Diplomasi,
No. 28 Tahun III, 15 Februari-14 Maret, 2010, Hal. 5.
16
Abdul Irsan, Op. Cit, hal. 9.
17
Ibid.
15
10
perbatasan Indonesia dengan negara lain perlu segera diselesaikan agar tidak
mempengaruhi stabilitas kawasan. Di lain pihak, Indonesia pun berkepentingan
untuk membentuk kerjasama ASEAN yang lebih kokoh guna membina stabilitas
kawasan
Asia
Tenggara.
Namun,
Indonesia
masih
harus
menghadapi
permasalahan bilateral dengan sesama anggota ASEAN yang hingga sekarang
belum terselesaikan. Persoalan-persoalan bilateral seperti sengketa perbatasan,
illegal logging, kasus TKI, dan sebagainya, dapat mengganggu hubungan antar
negara bila tidak ditangani dengan bijak. Selain mengancam keharmonisan
hubungan bilateral, juga dapat mempengaruhi pertumbuhan ASEAN sendiri dan
dapat mengganggu solidaritas sesama anggota, bahkan stabilitas kawasan.18
Oleh karena itu, sangat penting bagi Indonesia untuk memperkuat kekuatan
nasionalnya karena akan menjadi bargaining Indonesia dan berperan penting
dalam mendukung diplomasinya. Dengan demikian Indonesia dapat mencapai
kepentingan nasionalnya. Keberhasilan dalam diplomasi ini tentunya akan
berdampak positif terhadap pencapaian tujuan nasional Indonesia di ASEAN. Hal
inilah yang menjadi dasar bagi penulis memilih judul “Strategi Penguatan
National Power dalam Mendukung Diplomasi Indonesia di ASEAN”.
B. Batasan dan Rumusan Masalah
Penelitian ini akan membahas mengenai bagaimana penguatan national
power dalam mendukung diplomasi Indonesia di ASEAN. Berdasarkan latar
belakang masalah yang telah di ungkapkan sebelumnya maka permasalahan yang
akan dibahas dalam penelitian ini dibatasi hanya pada diplomasi Indonesia di
18
Ibid, hal. 20.
11
ASEAN. Di mana lingkup bahasan difokuskan pada analisis strategi penguatan
national power Indonesia khususnya dalam pemanfaatan potensi sumber daya
alam dan kondisi geografis serta pemberdayaan sumber daya manusianya.
Berdasarkan batasan tersebut, maka rumusan masalah yang akan dibahas
dalam penelitian ini antara lain:
1. Bagaimana potensi kekuatan nasional Indonesia dari segi geografis,
sumber daya alam, dan jumlah penduduknya dalam mendukung
diplomasi Indonesia di ASEAN?
2. Bagaimana strategi penguatan national power Indonesia guna
mendukung diplomasinya di ASEAN?
C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian
Berdasarkan permasalahan yang akan diteliti, maka penelitian ini bertujuan:
1. Untuk mengetahui dan menggambarkan potensi kekuatan nasional
(national power) yang dimiliki Indonesia Indonesia dari segi geografis,
sumber daya alam, dan jumlah penduduknya dalam mendukung
diplomasi Indonesia di ASEAN.
2. Untuk mengetahui strategi yang dibutuhkan dalam menguatkan
national power Indonesia guna mendukung diplomasinya di ASEAN.
Adapun kegunaan dari penelitian ialah sebagai berikut:
1. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi pertimbangan bagi
pemerintah sebagai salah satu alternatif kebijakan dalam rangka
menguatkan national power Indonesia dalam mendukung diplomasi
12
Indonesia
di
ASEAN
serta
sebagai
rujukan
untuk
lebih
mengoptimalkan pemanfaatan potensi yang dimiliki Indonesia.
2. Dapat menjadi referensi ilmiah bagi peneliti lain khususnya penstudi
ilmu hubungan internasional yang tertarik membahas lebih lanjut
mengenai objek dalam penelitian ini.
D. Kerangka Konseptual
Setiap negara di dunia memiliki tujuan nasional masing-masing dan akan
saling berinteraksi dalam percaturan dunia yang mempertemukan beragam
kepentingan negara. Untuk meraih kepentingan dan tujuan nasional tersebut, tiap
negara membuat rencana atau menyusun strategi. Strategi merupakan perencanaan
umun atau paket rencana yang mengantar pada pencapaian tujuan, terutama yang
bersifat jangka panjang. Juga didefinisikan sebagai suatu seni merencanakan jalan
terbaik untuk memperoleh keuntungan atau kesuksesan. Berdasarkan Greenwood
Encyclopedia of International Relations, strategi ialah suatu rencana umum yang
dirancang untuk pencapaian tujuan militer atau politik, melalui cara apapun baik
politik, ekonomi, militer, atau diplomasi.19
Kekuatan nasional dan diplomasi merupakan alat bagi negara dalam
mewujudkan kepentingan nasionalnya. Kepentingan nasional menurut Frankel
yang dikutip oleh R. Soeprapto yaitu “keseluruhan nilai yang hendak ditegakkan
oleh suatu bangsa. Kepentingan nasional dapat melukiskan aspirasi negara dan
19
Cathal J. Nolan, 2002, The Greenwood Encyclopedia of International Relations, Vol.IV S-Z,
London, Greenwood Press, Hal. 11602.
13
dapat dipakai secara operasional yang aplikasinya dapat dilihat pada kebijakan
negara.”20
Konsep kepentingan nasional merupakan dasar untuk menjelaskan
perilaku luar negeri suatu negara dan sangat penting untuk menjelaskan serta
memahami perilaku internasional. Kepentingan nasional juga dapat dijelaskan
sebagai tujuan fundamental dan faktor penentu akhir yang mengarahkan para
pembuat keputusan dari suatu negara dalam merumuskan kebijakan luar
negerinya. Kepentingan nasional suatu negara secara khas merupakan unsur-unsur
yang membentuk kebutuhan negara yang paling vital, seperti pertahanan,
keamanan, militer, dan kesejahteraan ekonomi.21
Meski demikian, tidak semua negara dapat meraih tujuan nasionalnya
sesuai yang diinginkan. Untuk memastikan bahwa tujuan tersebut dapat tercapai
maka dirumuskan suatu kebijakan luar negeri. Kebijakan luar negeri ini sendiri
merupakan perpanjangan dari politik dalam negeri. Adapun Politik Luar Negeri
sendiri merupakan refleksi dari politik dalam negeri suatu negara yang
dipengaruhi oleh situasi global maupun regional. Kebijakan luar negeri dijadikan
pedoman dalam hubungan dengan negara lain. Akan tetapi kebijakan luar negeri
ini tergantung pada kepentingan dan kekuatan suatu negara. 22
Dalam pengertian luas, politik luar negeri merupakan pola perilaku yang
diwujudkan oleh suatu negara sewaktu memperjuangkan kepentingannya dalam
hubungannya dengan negara lain. Arti penting dari politik luar negeri adalah
20
J. Frankel dalam R. Suprapto, 1997, Hubungan Internasional: Sistem, Interaksi, dan Perilaku,
Jakarta: RajaGrafindo Persada, hal. 144.
21
Anak Agung Banyu Perwita dan Yanyan Mochamad Yani, 2005, Pengantar Ilmu Hubungan
Internasional, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, hal.35.
22
R. Suprapto, Op. Cit, hal. 187-188.
14
prinsip-prinsip mempertahankan keutuhan negara, mempromosikan kepentingan
ekonomi, memelihara keamanan negara, dan membangun kekuatan yang mampu
melakukan perang jika diperlukan. Carlton Clymer Rodee dkk menyatakan politik
luar negeri sebagai pola perilaku yang diwujudkan oleh negara sewaktu
memperjuangkan kepentingannya dalam hubungannya dengan negara lain mulai
dari cara menentukan tujuan, menyusun prioritas, menggerakkan mesin
pengambilan keputusan pemerintah, mengelola sumber daya manusia dan alam
untuk bersaing dengan negara lain dalam dunia internasional.23
Dalam upaya pencapaian tujuan nasional, negara melakukan diplomasi
dalam hubungannya dengan negara lain. Diplomasi merupakan seluruh kegiatan
untuk melaksanakan politik luar negeri suatu negara dalam hubungannya dengan
bangsa dan negara lain. Diplomasi dapat bersifat bilateral maupun multilateral.
Harol Nicholson sebagai diplomat dan pengkaji serta praktisi hubungan
Internasional,
mendefinisikan
diplomasi
sebagai
manajemen
hubungan
internasional melalui negosiasi di mana hubungan tersebut diselaraskan dan diatur
oleh Duta Besar dan para wakilnya. Diplomasi merupakan seni dan praktik
bernegosiasi oleh seseorang yang disebut diplomat yang biasanya mewakili
sebuah negara atau organisasi.24
Meski demikian, tidak semua negara dapat meraih kepentingan
nasionalnya sesuai yang diharapkan. Tercapai atau tidaknya kepentingan suatu
negara sangat bergantung pada kekuatan negara dalam mempengaruhi negara lain.
Beberapa negara memiliki posisi yang kuat dan ada yang lemah. Negara yang
23
24
Carlton Clymer Rodee dkk., 2002, Pengantar Ilmu Politik, Jakarta:Rajawali Press, Hal. 499.
R. Suprapto, Op. Cit, hal.209-210.
15
memiliki kekuatan nasional dan dapat memanfaatkannya akan memiliki kekuatan
(power) baik dalam hubungan bilateral, regional, dan secara global. Kekuatan
nasional (national power) ialah kapasitas atau kemampuan negara suatu negara
yang dipergunakan agar keinginannya dipatuhi oleh bangsa lain. Ini melibatkan
kapasitas untuk menggunakan kekerasan atau ancaman penggunaan kekuatan atas
bangsa-bangsa lain. Dengan menggunakan kekuatan nasional, suatu bangsa
mampu mengendalikan perilaku negara-negara lain sesuai dengan kehendaknya.
Menurut Hartman, National Power menunjukkan kemampuan suatu
negara untuk memenuhi tujuan nasional. Ini memberitahu kita berapa kuat atau
lemah suatu bangsa tertentu dalam mengamankan tujuan nasional. Menurut
Padelford dan Lincon, kekuatan nasional adalah kombinasi dari kekuatan dan
kapasitas negara yang digunakan untuk memenuhi kepentingan dan tujuan
nasional. Coulumbis dan Wolfe membagi unsur-unsur kekuatan nasional dalam
dua kategori, yakni Tangible Elements dan Intangible Elements. Unsur-unsur
kekuatan nasional meliputi populasi, luas wilayah, sumber daya alam dan
kapasitas industri, kekuatan dan mobilitas militer, kepemimpinan nasional,
organisasi-organisasi birokrasi, tipe dan gaya pemerintahan, keterpaduan
mayarakat, diplomasi, dukungan luar negeri, serta peristiwa-peristiwa tertentu.25
Kekuatan nasional merupakan seluruh potensi yang dimiliki negara yang
dapat dipergunakan untuk meraih kepentingan nasionalnya. Kekuatan nasional
(national power) menurut Morgenthau dalam bukunya Politik Antar Bangsa
terdiri atas sembilan unsur yakni kemampuan geografi, sumber daya alam,
25
Coulombis dan Wolfe dalam Nuraini Wiliadewi, 2008, Skripsi Makna dan dan Tujuan
Kebijakan Politik Luar Negeri Republik Indonesia dalam Tatanan Concentic Circle, Hal. 28
16
kemampuan industri, kekuatan militer, penduduk, karakter nasional, moral
nasional, kualitas diplomasi, dan kualitas pemerintah.26 Menurut Carlson, bahwa
adanya kekuatan di setiap negara disebabkan oleh berbedanya potensi atau unsur
kekuatan tiap negara. Dasar pembentukan kekuatan negara yang paling utama
ialah penduduk, sumber daya alam, dan industri.27
Namun demikian, Indonesia sebagai negara berkembang masih menempati
posisi yang terbilang lemah dibandingkan dengan negara-negara besar seperti
Amerika Serikat, China, Jepang dan bahkan tertinggal jauh oleh India, Singapura,
dan Malaysia yang merupakan tetangga Indonesia dan berada dalam satu
kawasan. Ini menunjukkan kekuatan nasional Indonesia masih sangat lemah dan
tertinggal dibanding negara-negara di kawasan Asia lainnya. Karenanya perlu
penguatan national power agar dapat bersaing dan menjadi bargaining power
Indonesia dalam menjalankan diplomasinya utamanya di ASEAN.
E. Metode Penelitian
1. Tipe Penelitian
Dalam penelitian ini peneliti akan menggunakan metode penelitian
deskriptif. Melalui metode ini akan digambarkan mengenai diplomasi Indonesia di
ASEAN dan strategi seperti apa yang diperlukan dalam rangka penguatan
national power Indonesia untuk mendukung diplomasi tersebut. Dengan
menggunakan metode ini, pembahasan dimulai dengan menggambarkan kekuatan
26
27
Hans J. Motgenthau dan Kenneth W. Thompson, Loc Cit.
Carlson dalam Sri Hayati dan Ahmad Yani, Op Cit, Hal.64.
17
nasional Indonesia serta gambaran mengenai perkembangan diplomasi Indonesia
di ASEAN hingga pada strategi penguatan kekuatan nasional tersebut.
2. Teknik Pengumpulan Data
Guna memahami serta menyelesaikan permasalahan dalam penelitian ini,
maka peneliti melakukan pengumpulan data dari berbagai sumber. Teknik
pengumpulan data yang akan dilakukan berupa telaah pustaka (library research).
Data diperoleh dari literatur-literatur mulai dari jurnal, buku, artikel majalah, surat
kabar, dan bahan tertulis lainnya. Pengumpulan data juga dilakukan melalui
wawancara dengan pihak-pihak yang berkecimpung di bidang yang akan dibahas
oleh peneliti. Selain itu data-data dari berbagai media elektronik baik radio, TV,
dan internet yang berhubungan dengan permasalahan yang dibahas dan dapat
menunjang dalam menganalisa permasalahan dalam penelitian ini.
Adapun sumber literatur yang diperlukan untuk mengumpulkan data
tersebut akan diperoleh melalui tempat-tempat sebagai berikut:
1. Perpustakaan Pusat Universitas Hasanuddin di Makassar.
2. Perpustakan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas
Hasanuddin Makassar.
3. Perpustakaan Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia di Jakarta.
4. Perpustakaan Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional Republik
Indonesia di Jakarta.
5. Perpustakaan Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia .
6. Center of Strategic and International Studies di Jakarta
18
Selain itu dilakukan wawancara dengan berbagai pihak antara lain :
1. Peneliti pada Pusat Penelitian Politik Lembanga Ilmu Pengetahuan
Indonesia (P2P LIPI).
2. Staff Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) Republik Indonesia.
3. Jenis Data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini ialah data sekunder. Data
teoritis yang berhubungan dengan permasalahan yang akan dibahas, berasal dari
berbagai literatur dan sumber-sumber lain yang terkait. Data yang diperoleh akan
dianalisa guna menjawab permasalahan dalam penelitian ini.
4. Teknik Analisa Data
Teknik analisa yang akan peneliti pergunakan yakni analisa data kualitatif.
Dimana peneliti akan menganalisis permasalahan dalam penelitian ini berdasarkan
data kualitatif tersebut. Peneliti bertujuan membuat penjelasan secara sistematis,
faktual, akurat mengenai permasalahan yang diteliti melalui library research.
5. Metode Penulisan
Dalam penelitian ini peneliti akan menggunakan metode deduktif.
Pembahasan dalam penelitian lebih dahulu menggambarkan permasalahan secara
umum. Kemudian permasalahan dalam penelitian ini selanjutnya akan dianalisa
untuk memperoleh hasil yang lebih khusus.
19
BAB II
TELAAH PUSTAKA
A. Konsep Kepentingan Nasional
Dalam merumuskan suatu kebijakan, kepentingan nasional merupakan hal
fundamental yang perlu diperhatikan, khususnya dalam kerangka politik luar
negeri. Berarti bahwa keputusan dan tindakan politik luar negeri didasarkan pada
pertimbangan-pertimbangan atas dasar kepentingan negara. Kepentingan nasional
umumnya selalu berkaitan dengan keamanan, kesejahteraan, dan kekuasaan.28
Kepentingan nasional mengandung nilai-nilai yang merupakan dasar dalam
mencapai tujuan, untuk itu perlu disusun suatu strategi kebijakan. Kebijakan yang
dibuat bukan hanya terkait kepentingan dan urusan dalam negeri melainkan juga
hubungan bilateral, regional, dan multinasional.
Konsep kepentingan nasional sangat penting dalam menjelaskan dan
memahami perilaku internasional dan merupakan dasar untuk menjelaskan
perilaku luar negeri suatu negara. Realis menyamakan kepentingan nasional ini
sebagai upaya negara untuk mengejar power (kekuasaan). Dengan demikian
negara dapat mengembangkan dan memelihara kontrol terhadap negara lain.29
Kekuatan nasional dan kepentingan nasional saling berkaitan. Seperti yang
dikatakan oleh Morgenthau bahwa kepentingan nasional sebagai suatu konsep
harus diartikan sebagai power, berarti bahwa posisi power yang harus dimiliki
negara merupakan pertimbangan utama yang memberikan bentuk pada
28
Budiono Kusumohamidjojo, 1987, Hubungan Internasional: Kerangka Studi Analisis, Jakarta:
Bina Cipta, hal 35.
29
Anak Agung Banyu Perwita dan Yanyan Mochamad Yani, Op. Cit, hal. 35.
20
kepentingan nasional.30 Oleh karena itu, kekuasan dan kepentingan nasional
dianggap sebagai sarana sekaligus tujuan negara utuk survival dalam ranah politik
internasional. Jadi, kepentingan, power (kekuasaan) dan kekuatan nasional akan
selalu beriringan dalam setiap tindakan dan interaksi negara dengan negara lain.
Kepentingan nasional didefinisikan sebagai penggunaan kekuasaan secara
bijaksana untuk menjaga berbagai kepentingan yang dianggap paling vital bagi
kelestarian negara bangsa. Dalam arti minimum, kepentingan nasional berarti
kelangsungan hidup (survival). Kemampuan minimun negara adalah melindungi
identitas fisik, politik, dan kulturnya dari gangguan negara-negara lain.31
Kepentingan nasional dapat dijelaskan sebagai tujuan fundamental dan
faktor penentu akhir yang mengarahkan para pembuat keputusan dari suatu negara
dalam merumuskan kebijakan luar negerinya. Kepentingan nasional secara khas
merupakan unsur-unsur yang membentuk kebutuhan negara yang paling vital,
seperti pertahanan, keamanan, militer, dan kesejahteraan ekonomi. Lebih jelasnya
dapat dilihat pada tulisan R. Soeprapto dalam bukunya, di mana ia menyatakan
bahwa “kepentingan nasional diakui sebagai konsep kunci dalam politik luar
negeri.”32
Konsep kepentingan nasional tersebut dipertegas oleh pernyataan J. Frankel
yang mengatakan bahwa kepentingan nasional pada hakikatnya merupakan
keseluruhan nilai yang hendak ditegakkan bangsa. Lebih lanjut, ia mengatakan
bahwa kepentingan nasional dapat melukiskan aspirasi negara dan dapat dipakai
30
R. Soeprapto, Op. Cit, hal. 143.
Morgentahau dalam Mohtar Mas’oed, 1990, Ilmu Hubungan Internasional: Disiplin dan
Metodologi, Jakarta: LP3ES, hal. 18 dan 141.
32
Jack C. Plano dan Roy Olton dalam Anak Agung Banyu Perwita dan Yanyan Mochamad Yani,
Op. Cit, hal. 35; R. Soeprapto, Op. Cit, hal. 149.
31
21
secara operasional melalui aplikasinya pada kebijakan-kebijakan aktual serta
rencana-rencana negara yang hendak dituju.33
Dengan demikian secara operasional, kepentingan nasional menyangkut
segala kebijakan negara serta rencana-rencana yang hendak dicapai. Namun,
kepentingan nasional pun dapat menjadi polemik antar pengambil kebijakan, di
mana kepentingan nasional ini digunakan sebagai justifikasi terhadap tindakan
suatu negara. Hal demikian terkadang menimbulkan konflik baik dalam negeri
maupun antarnegara, yang pada ujungnya dapat menimbulkan pertikaian bahkan
perang. Ini dikarenakan adanya perbedaan kepentingan dan pertentangan terhadap
kebijakan negara sebagai wujud dari kepentingan tersebut. Perselisihanperselisihan internasional yang terjadi merupakan salah satu konsekuensi dari
kepentingan-kepentingan nasional yang bertentangan.
R. Soeprapto mengatakan bahwa:
Setiap bangsa tidak bisa menghindar dari konsep kepentingan
nasional karena konsep tersebut berkaitan erat dengan tujuantujuan nasional. Agar bisa lebih mendekati ketepatan dalam
menentukan bagaimana cara kepentingan nasional dicapai oleh
suatu pemerintah atau negara, dan kepentingan-kepentingan apa
saja yang sudah dicapai, kita perlu menghubungkan formulaformula kepentingan dengan variabel-variabel seperti kualitas,
kepribadian maupun cita-cita para pembuat keputusan, filosofi,
struktur dan proses pemerintahan, kultur masyarakat, lokasi
geopolitik serta kapabilitas negara, jenis-jenis tantangan dan
tekanan yang dihadapi dari negara tetangganya, negara-negara
besar dan organisasi internasional.34
33
34
J. Frankel dalam R. Soeprapto, Op. Cit, hal. 144.
Ibid, hal 147.
22
Kepentingan nasional menyangkut berbagai aspek dalam negeri yang
ditujukan terhadap negara lain. Sebagaimana pernyataan Dr. Budiono yang
dikutip oleh R. Soeprapto yang mengatakan bahwa:
berbagai sasaran politik luar negeri dapat mencakup lebih dari
satu kategori dan dapat mempunyai lebih dari satu sifat
sekaligus. Kepentingan nasional jarang dapat dibaca secara
sederhana, aspeknya sering tidak dapat ditafsirkan secara
eksklusif. Kepentingan nasional selalu berkaitan erat dengan
keamanan, kesejahteraan dan power.35
Sufri Yusuf dalam bukunya menyatakan bahwa:
Kepentingan nasional termasuk dalam visiun dan diperjuangkan
oleh suatu bangsa atau negara untuk dipergunakan dalam rangka
ketertiban nasional. Konsep ini adalah buatan manusia dan
dirumuskan oleh pemimpin-pemimpin negara dan para ahli teori
politik dan dipatuhi oleh masyarakat, karena disangkutkan pada
situasi sosial dan kebudayaan bangsa. Ini adalah fenomena
sosial dan mencerminkan adanya nilai-nilai, ide-ide,
kepentingan golongan dan juga kepentingan para perumusnya.
Kepentingan nasional bukanlah suatu teori yang terinci, akan
tetapi lebih banyak dipergunakan pada waktu-waktu pemilihan
apa saja dalam bentuk simbol atau slogan. Kepentingan nasional
dibentangkan kepada rakyat sebagai doktrin-doktrin dan dalam
satu negara, kepentingan nasional itu dapat berubah-ubah sesuai
waktu, situasi dan kondisi.36
Pertentangan mengenai konsep kepentingan nasional ini seringkali terjadi
dikarenakan sulitnya memahami inti dari pengertian kepentingan nasional yang
sebenarnya. Kebijakan atau tindakan pemerintah bahkan seringkali bertentangan
dengan aspirasi rakyat meski kebijakan yang diambil dengan alasan kepentingan
nasional. Negara mesti bertindak secara realistis dalam mencapai kepentingan
nasionalnya. Morgenthau menyatakan bahwa “the action of state are determinated
not by moral principles and legal commitments but by consideratin of interest and
35
36
Budiono dalam R. Soeprapto, Op Cit. hal 151.
Suffri Yusuf, 1989, Hubungan Internasional dan Politik Luar Negeri: Sebuah Analisis Teoritis
dan Uraian Tentang Pelaksanaannya, Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, hal. 77.
23
power”.37 Setiap keputusan nasional harus selalu berdasar pada keuntungan
nasional yang konkret dan bisa ditunjukkan dalam batas-batas prudensi bukan
berdasarkan moralistik-legalistik.38
Dalam hal ini Coulombis dan Wolfe mencoba menyusun kriteria yang dapat
dipakai untuk mendefinisikan kepentingan nasional, yang diharapkan dapat
memudahkkan dalam menyusun serta mengimplementasikan kebijakan-kebijakan,
kriteria tersebut antara lain; kriteria filosofi–operasional, kriteria ideologis,
kriteria hukum dan moral, kriteria pragmatis, kriteria kemajuan profesi, kriteria
partisipan atau pengikut, kriteria kepentingan birokrasi, kriteria etnik atau rasial,
kriteria kelas dan status, dan kriteria ketergantungan luar negeri.39
B. Kebijakan Politik Luar Negeri
Kesejahteraan dan kedaulatan merupakan hal yang akan selalu menjadi
dasar perjuangan suatu negara. Setiap negara yang berdaulat memiliki kebijakan
yang mengatur hubungannya dengan negara lain baik dalam kerangka bilateral
dan multilateral maupun dalam organisasi secara regional dan internasional.
Kebijakan tersebut merupakan bagian dari politik luar negeri dan merupakan
pencerminan dari kepentingan nasional negara. Kepentingan nasional ini
merupakan tujuan nasional negara, yang mana untuk mencapainya dilakukan
melalui politik luar negeri.
Kepentingan nasional merupakan kunci dalam politik luar negeri yang
selalu diperjuangkan dan dipertahankan oleh negara. Menurut Coulombis dan
37
Morgenthau dalam Scott Burchil, at al, 2005, Theories of International Relation, Third Edition,
New York: Palgrave Macmilan, hal. 48.
38
R. Soeprapto, Op. Cit, hal. 152.
39
Coulombis dan Wolfe dalam R. Soeprapto, Op. Cit, hal.153-154.
24
Wolfe bahwa, “politik luar negeri merupakan sintetis dari tujuan atau kepentingan
nasional dengan power dan kapabilitas.” Tujuan dari politk luar negeri ini ialah
untuk mewujudkan kepentingan nasional di mana dalam pelaksanaannya
didahului dengan penetapan kebijakan dan keputusan dengan memperhatikan
faktor internal (nasional) dan eksternal (internasional).40
Politik luar negeri merupakan refleksi dari politik dalam negeri yang
dipengaruhi oleh perkembangan situasi regional maupun internasional.41 Pada
dasarnya politik luar negeri bertujuan untuk mencapai kepentingan atau tujuan
nasional suatu negara dalam hubungannya dengan negara lain. Sesuai definisi
yang dikemukakan oleh Carlton Clymer Rodee dkk yang menyatakan bahwa:
politik luar negeri ialah sebagai pola perilaku yang diwujudkan oleh
suatu negara sewaktu memperjuangkan kepentingannya dalam
hubungannya dengan negara lain yakni mulai dari cara menentukan
tujuan, menyusun prioritas, menggerakkan mesin pengambilan
keputusan pemerintah, dan mengelola sumber daya manusia dan alam
untuk bersaing dengan negara lain dalam lapangan internasional.42
Pada dasarnya politik luar negeri merupakan ‘action theory’ atau
kebijaksanaan suatu negara yang ditujukan pada negara lain untuk mencapai
kepentingan tertentu. Secara umum, politik luar negeri merupakan perangkat nilai,
sikap, arah serta sasaran untuk mempertahankan, mengamankan, dan memajukan
kepentingan nasional dalam percaturan internasional. Yang mana merupakan
strategi dasar untuk mencapai tujuan dalam dan luar negeri sekaligus menentukan
keterlibatan negara dalam isu-isu internasional maupun lingkungan sekitarnya
40
R. Soeprapto, Op. Ci , hal 187-188.
Ganewati Wuryandari, Ed., 2008, Politik Luar Negeri Indonesia di Tengah Pusaran Politik
Domestik, Pustaka Pelajar : Yogyakarta, hal. 45
42
Carlton Clymer Rodee dkk., Op. Cit, hal. 499.
41
25
(kawasan). Dengan kata lain politik luar negeri ialah pedoman dalam memilih
tindakan yang ditujukan keluar wilayah suatu negara. 43
Negara merupakan aktor utama yang melakukan politik luar negeri.
Interaksi negara yang dilakukan melalui politik luar negerinya dalam rangka
memperoleh tujuan nasional. Hubungan antarnegara ini memungkinkan adanya
kerjasama dalam berbagai bidang. Dengan demikian, negara dapat memenuhi
kebutuhan dalam negerinya yang tidak dapat dipenuhi sendiri. Meski demikian,
interaksi antar negara tidak selalu berjalan mulus.
Politik luar negeri suatu negara merupakan perpaduan antara kepentingan
nasional, tujuan nasional bangsa, kedudukan atau konfigurasi geopolitik dan
sejarah nasionalnya, serta dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Dengan
kata lain, politik luar negeri merupakan suatu upaya untuk mempertemukan
kepentingan nasional, khususnya rencana pembangunan nasional dengan
perkembangan dan perubahan lingkungan internasional. Selain itu, dengan
berkiprah dalam kancah internasional, negara diharapkan dapat mengartikulasikan
kepentingan dan kebutuhan dalam negeri sehingga persoalan dalam negeri dapat
terselesaikan. Politik luar negeri ini diarahkan pada upaya untuk mengkaitkan
strategi dan kebijakan pembangunan serta tindakan yang diambil dalam
berinteraksi dengan negara lain.
Dalam forum regional maupun internasional seringkali terjadi benturan
kepentingan antarnegara. Karenanya, dalam rangka mencapai tujuan nasional dan
menghindari atau meminimalisir kemungkinan terjadinya perselisihan maka
43
Anak Agung Banyu Perwita dan Yanyan Mochamad Yani, Op. Cit, hal 47- 48.
26
diperlukan pedoman atau kebijakan yang dapat menjadi patokan dalam
pelaksanaan politik luar negeri. Maka, negara kemudian merumuskan kebijakan
luar negerinya dengan mempertimbangkan kondisi eksternal negara yang dalam
pelaksanannya dilakukan melalui diplomasi.
Kebijakan luar negeri merupakan strategi atau rencana tindakan yang
dirumuskan oleh para pembuat keputusan negara dalam menghadapi negara lain
atau unit politik internasional lainya, dan dikendalikan untuk mencapai tujuan
nasional spesifik yang dituangkan dalam terminologi kepentingan nasional.44
Rossenau mengatakan bahwa:
pengertian kebijakan luar negeri yakni upaya suatu negara melalui
keseluruhan sikap dan aktivitasnya untuk mengatasi dan memperoleh
keuntungan dari lingkungan eksternalnya, kebijakan luar negeri
ditujukan untuk memelihara dan mempertahankan kelangsungan
hidup suatu negara.45
Selanjutnya menurut K.J. Holsti yakni:
kebijakan luar negeri meliputi semua tindakan serta aktivitas negara
terhadap lingkungan eksternalnya dalam upaya memperoleh
keuntungan dari lingkungan tersebut, serta peduli akan berbagai
kondisi internal yang menopang formulasi tindakan.46
Politik luar negeri disesuaikan dengan tujuan atau sasaran yang hendak
dicapai. Menurut K.J. Holsti tujuan dari politik luar negeri suatu negara dapat
dibedakan dalam tiga ktiteria. Pertama ialah nilai atau value yang menjadi tujuan
pembuat keputusan. Kedua ialah jangka waktu yang dibutuhkan, terbagi atas
jangka panjang, menegah maupun jangka pendek. Ketiga yakni tipe tuntutan yang
44
Jack C.Plano dan Roy Olton dalam Anak Agung Banyu Perwita & Yanyan Mochamad Yani, Op.
Cit, hal. 49.
45
Rossenau dalam Anak Agung Banyu Perwita &Yanyan Mochamad Yani, Op. Cit. hal 50
46
KJ. Holsti dalam Anak Agung Banyu Perwita &Yanyan Mochamad Yani, Op. Cit. hal 50.
27
diajukan suatu negara terhadap negara lain.47 Untuk mewujudkan tujuan nasional
tersebut, maka disusun strategi baik berupa strategi jangka panjang, menengah,
atau jangka pendek, yang pencapaiannya dilakukan melalui diplomasi dalam
jangka waktu tertentu pula. Pencapaian tujuan nasional ini disesuaikan dengan
faktor-faktor politik, ekonomi, sosial budaya, dan pertahanan keamanan negara.
Dalam menentukan politik luar negeri terdapat banyak faktor yang berperan,
baik yang sifatnya internal maupun eksternal. Faktor yang mempengaruhi
perumusan kebijakan luar negeri diantaranya ialah ukuran wilayah negara dan
jumlah penduduk, lokasi geografis serta teknologi.48 Faktor lain berupa struktur
politik dan ekonomi serta kepribadian suatu bangsa, kebudayaan, ideologi, sejarah
maupun lokasi geografis negara juga turut berperan. Selain itu, tantangan dari luar
pun turut berpengaruh dalam penentuan atau penyusunan politik luar negeri.49
Menurut Morgenthau, unsur-unsur kekuatan nasional pun turut berperan dalam
menentukan politik luar negeri.50
Adapun sikap serta garis besar politik luar negeri Indonesia diatur dalam
UU RI No. 37 tahun 1999 Tentang Hubungan Luar Negeri. Pada pasal 1 ayat (2)
yang menyatakan bahwa:
Politik Luar Negeri adalah kebijakan, sikap, dan langkah Pemerintah
Republik Indonesia yang diambil dalam melakukan hubungan dengan
negara lain, organisasi internasional, dan subyek hukum internasional
lainnya dalam rangka menghadapi masalah internasional guna
mencapai tujuan nasional.51
47
Ibid, hal. 52.
Anak Agung Banyu Perwita dan Yanyan Mochamad Yani, Op. Cit, hal. 57-58.
49
Suffri Yusuf, Op. Cit, hal 110.
50
Ibid, hal 85.
51
Republik Indonesia, UU No. 37 Tahun 1999 Tentang Hubungan Luar Negeri, dalam
http://www.bpkp.go.id/uu/filedownload/2/44/406.bpkp, diakses tanggal 20 Februari 2013.
48
28
C. Konsep Diplomasi
Diplomasi berkaitan dengan seluruh proses dalam hubungan luar negeri,
termasuk perumusan kebijakan dan pelaksanaannya. Selain itu juga mencakup
teknik operasional di mana suatu negara mencari kepentingannya di luar wilayah
yurisdiksinya.52 Diplomasi yang dilakukan disesuaikan dengan kebijakan yang
dikeluarkan dengan mempertimbangkan berbagai aspek baik geografis, ekonomi
dan sumber daya, kekuatan militer maupun sosial budaya suatu negara. Kegiatan
diplomasi merupakan pelaksanaan dari kebijakan politik luar negeri yang
memperjuangkan kepentingan nasional serta bagian dari strategi untuk mencapai
sasaran nasional dalam hubungan internasional.
Politik luar negeri, diplomasi, dan hubungan internasional merupakan
rangkaian yang membentuk satu kebijakan yang akan diambil pemerintah.
Diplomasi
berfungsi
untuk
mengatur
cara-cara
yang digunakan
untuk
melaksanakan politik luar negeri ataupun untuk menentukan taktik guna mencapai
sasaran. Jadi, pada hakikatnya diplomasi ialah sarana agar pelaksanaan kebijakan
di bidang luar negeri dapat dilakukasn secara efektif. Meski demikian, diplomasi
bukan suatu kebijakan melainkan cara dan teknik yang dilakukan oleh negara
dalam melaksanakan tujuan dari kebijakan luar negeri.53
Sir Victor Wellesley dalam bukunya menyatakan bahwa :
“Diplomasi bukanlah merupakan kebijakan, tetapi merupakan suatu
upaya untuk memberikan pengaruh terhadap kebijakan tersebut.
Namun, diplomasi dan kebijakan keduanya saling melengkapi karena
sesuatu tidak akan dapat bertindak tanpa kerjasama satu sama lain.
Diplomasi tidak dapat dipisahkan dari kebijakan atau politik luar
52
Jack C. Plano dan Roy Olton, dalam Sumaryo Suryokusumo, 2004, Praktek Diplomasi, Jakarta:
STIH IBLAM, hal. 53.
53
Sumaryo Suryokusumo, Op. Cit, hal.57.
29
negeri, tetapi keduanya bersama-sama merupakan kebijakan eksekutif,
yaitu kebijakan untuk menetapkan strategi, diplomasi, dan taktik”54
Jelas bahwa politik atau kebijakan luar negeri berkaitan dengan substansi
dan isi dari hubungan luar negeri sedangkan diplomasi berhubungan dengan
metodologi untuk melaksanakan politik luar negeri tersebut.55 Diplomasi dan
kebijakan ini saling melengkapi dalam melaksanakan politik luar negeri.
Karenanya, politik luar negeri, kebijakan luar negeri, dan diplomasi mempunyai
hubungan erat dalam membentuk dan menciptakan peran suatu negara dalam
politik internasional.
JR. Childs, mengatakan bahwa “politik luar negeri suatu negara merupakan
substansi hubungan luar negeri, sedangkan diplomasi merupakan proses
pelaksanaan kebijakan.”56 Berarti bahwa setiap kebijakan dalam politik luar negeri
kemudian akan ditindaklanjuti melalui diplomasi. Pelaksanaan kebijakan luar
negeri suatu negara mengandalkan diplomasi guna mencapai kepentingan atau
tujuannya. Kualitas diplomasi suatu negara akan menentukan tercapai atau
tidaknya tujuan negara utamanya dalam berinteraksi dengan negara lain.
Kegiatan diplomasi merupakan pelaksanaan dari kebijakan politik luar
negeri yang memperjuangkan kepentingan nasional secara utuh untuk kepentingan
bangsa dan negara. Dalam kegiatan diplomasi ini terdapat dua hal penting yang
saling berhubungan, yakni penyusunan strategi politik luar negeri dan pelaksanaan
kebijakan luar negeri. Diplomasi merupakan bagian dari strategi untuk mencapai
sasaran nasional utamanya dalam memperjuangkan kepentingan yang berlawanan
54
Sir Victor Wellesley dalam Sumaryo Suryokusumo, Op. Cit, hal.7.
Sumaryo Suryokusumo, Op. Cit, hal 53-54.
56
JR. Child dalam S.L. Roy dalam R. Soeprapto, Op. Cit, hal. 213..
55
30
dengan negara lain. Karena dalam mengejar tujuan tersebut, terkadang terjadi
benturan kepentingan antar negara yang memiliki kepentingan yang berbeda-beda.
Di sinilah peran penting diplomasi, bukan hanya untuk kepentingan nasional,
tetapi juga dalam menangani permasalahan yang timbul.
Diplomasi sebagai unsur penting dalam hubungan antar negara selalu
memiliki keterkaitan dengan kebijakan pemerintah baik sifatnya global, regional,
maupun dalam konteks kepentingan bilateral. Berdasarkan sejarah, praktik
diplomasi menjadi senjata ampuh dalam menyelesaikan permasalahan antar
negara sehingga mencegah terjadinya perang dan menjaga perdamaian.
Karenanya, diplomasi dapat menjadi andalan pemerintah dalam menangani
permasalahan antar negara maupun untuk memperoleh tujuan nasional.
Pelaksanaan serta pemahaman akan diplomasi ini terus berkembang dari
waktu ke waktu. Diplomasi berasal dari bahasa Yunani, “Diploun” yang berarti
melipat, hal ini dikarenakan pada saat itu interaksi antar negara terutama dalam
menyampaikan pesan dilakukan melalui surat. Pengertian diplomasi terus
berkembang namun pada umumnya sering dikaitkan sebagai kegiatan politis yang
dilakukan oleh seseorang yang mewakili negaranya pada negara lain. Diplomasi
juga sering digunakan dalam berbagai bidang baik dalam kegiatan ekonomi,
militer, maupun sosial budaya.57
Dalam kehidupan sehari-hari diplomasi memiliki arti yang beragam. Para
ahli memberikan defenisi yang berbeda-beda terhadap diplomasi. Banyak penulis
dan ahli yang memberikan batasan dan arti diplomasi sendiri dan belum ada
57
R. Soeprapto, Op. Cit, hal.209.
31
keseragaman terkait pengertian diplomasi ini, sehingga mempunyai arti yang
berbeda sesuai penggunaannya. Meski para pakar hubungan internasional dan
diplomasi telah memberikan definisi mengenai diplomasi ini yang mencakup
berbagai aspek, namun belum dianggap cukup komprehensif. Pengertian atau
definisi diplomasi ini cenderung berkembang sesuai muatan makna yang
terkandung di dalam diplomasi tersebut.
Sir Ernest Satow dalam bukunya A Guide to Diplomatic Practice,
memberikan definisi bahwa :
Diplomacy is the application of intelligence and tact to the conduct of
official relation between the government of independent states,
extending sometimes also to their relation with vassal states, or more
briefly still, the conduct if bussiness between states by peacefull
means.58
Bedasarkan definisi tersebut, diplomasi merupakan penerapan kemampuan
dan pengetahuan serta kecerdasan dan kelincahan pemerintah dalam menjalin
hubungan dengan pemerintah negara lain. Meski demikiaan interaksi antarnegara
di sini masih dalam sudut pandang tradisional yakni berupa hubungan dilakukan
oleh pemerintah. Pelaksanan hubungan luar negeri yang dilakukan secara nyata
tanpa menimbulkan permusuhann atau perselisihan. Di mana dalam interaksi antar
negara tersebut diplomasi digunakan oleh pemerintah untuk mencapai tujuannya
dan memperoleh dukungan dari negara lain atas prinsip dan keputusan yang
diambilnya. Diplomasi dianggap sebagai suatu kemampuan bagi pemerintah
untuk membendung dan mengurangi terjadinya konflik internasional.
58
Sumaryo Suryokusumo, Op. Cit, hal 9.
32
Praktek diplomasi diibaratkan sebagai bisnis internasional atau seni yang
dilakukan oleh para diplomat. Ini karena diplomasi merupakan usaha yang
dilakukan untuk membuat orang lain menerima jalan pikiran kita. Dalam salah
satu pernyataan Harold Nicholson mengatakan bahwa “diplomasi adalah
manajemen hubungan internasional melalui negosiasi di mana hubungan negara
diselaraskan dan diatur oleh Duta Besar dan wakil negara, merupakan bisnis atau
seni para diplomat.”59
Lain lagi menurut Sumaryo Suryokusumo, ia mengatakan bahwa
“diplomasi merupakan suatu cara komunikasi yang dilakukan antar berbagai
pihak termasuk negosiasi antara wakil-wakil yang sudah diakui. Praktik diplomasi
ini sudah melembaga sejak dulu dan telah menjelma sebagai aturan-aturan hukum
internasional.”60 Dalam hal ini, diplomasi menjadi salah satu proses politik dalam
menjalankan kebijakan luar negeri serta ditujukan untuk mempengaruhi kebijakan
pemerintah negara lain. Diplomasi menjadi alat dalam berunding dalam
menyelesaikan permasalahan antarnegara maupun secara internasional.
K.M. Panikar dalam bukunya The Principal and Practice of Diplomacy
memberikan definisi bahwa “diplomasi dalam kaitannya dengan politik
internasional adalah seni mengedepangkan kepentingan suatu negara dalam
hubungnnya dengan negara lain.” Ivo D. Duchacek berpendapat bahwa diplomasi
biasanya didefinisikan sebagai “praktek pelaksanaan politik luar negeri suatu
negara dengan cara negosiasi dengan negara lain.”61 Jelas bahwa diplomasi
merupakan perpanjangan dari politik luar negeri. Dengan kata lain diplomasi
59
Harold Nicholson dalam R. Soeprapto, Op. Cit, hal. 210.
Sumaryo Suryokusumo, Op. Cit, hal.10.
61
Ivo D. Duchacek dalam R. Soeprapto, Op. Cit, hal. 210.
60
33
merupakan pelaksanaan dari kebijakan politik luar negeri itu sendiri. Diplomasi
dilakukan dalam upaya mencapai tutjuan dan kepentingan negara.
Pendapat yang sama juga dikemukakan Harold Nicholson dalam bukunya
Diplomacy, beliau memberikan lima macam definisi tentang diplomasi namun
yang sering digunakan dalam hubungan internasional yakni bahwa “diplomasi
ialah perundingan yang disertai dengan proses dan mekanisme yang ada di
dalamnya.”62 Berarti bahwa dalam setiap kegiatan diplomasi tidak terlepas dari
perundingan-perundingan dengan melibatkan wakil-wakil negara. Dalam setiap
perundingan atau negosiasi diperlukan kemampuan dari pelaku diplomasi tersebut
baik dalam berunding maupun memperoleh informasi. Karena, kelengkapan
informasi terkait objek pembicaraan diperlukan sebagai sumber referensi dalam
menyelesaikan permasalahan yang dihadapi.
Diplomasi menurut Ian Brownlie dalam bukunya Principle of Public
International Law yang kemudian dikutip oleh Sumaryo Suryokusumo dalam
bukunya Praktik Diplomasi, menyatakan bahwa “diplomasi merupakan setiap cara
yang diambil untuk mengadakan dan membina hubungan dan berkomunikasi satu
sama lain, atau melaksanakan transaksi politik maupun hukum yang dalam setiap
hal dilakukan melalui wakil-wakilnya yang mendapat ototisasi.”63 Pada
hakikatnya, diplomasi merupakan proses negosiasi serta hubungan antar negara
yang dilakukan oleh pemerintah, dan untuk melakukannya perlu kecerdasan dan
kemampuan untuk mempengaruhi orang lain. Kemampuan untuk berunding harus
dilakukan secara maksimal untuk memperoleh hasil sesuai yang diharapkan.
62
63
Harold Nicholson dalam Suffri Yusuf, Op. Cit, hal. 118.
Sumaryo Suryokusumo, Op. Cit, hal. 11.
34
Di lain pihak RP. Barston dalam bukunya Modern Diplomacy yang dikutip
oleh Sumaryo Suryokusumo, menyatakan bahwa:
diplomasi menyangkut pengelolaan dari hubungan antar negara
termasuk hubungan negara-negara dengan pelaku-pelaku lainnya.
Diplomasi juga menyangkut pemberian saran, penentuan serta
pelaksanaan politik luar negeri. Dengan demikian, diplomasi juga
merupakan cara negara berhubungan dan berunding dengan negara
lain melalui wakil-wakil yang diutusnya untuk membicarakan,
mengkoordinasikan, dan menjamin pencapaian kepentingan yang
dilakukan dalam berbagai cara bahkan dengan ancaman.64
Menurutnya, diplomasi juga sering dianggap sebagai sesuatu yang dikaitkan
dengan kegiatan yang dilakukan secara damai meskipun hal tersebut terjadi pada
masa perang atau konflik, misalnya diplomasi untuk mencari izin penerbangan
agar dapat melakukan serangan udara. Jadi, diplomasi dilakukan dalam rangka
mencari penyelesaian ataupun membuat keputusan terkait suatu persoalan yang
mana hal ini dilakukan dalam berbagai kondisi. Namun, pada hakikatnya
diplomasi merupakan cara dalam melakukan hubungan antar negara melalui wakil
resminya dengan melibatkan seluruh proses hubungan luar negeri mulai dari
perumusan kebijakan hingga pelaksanaannya.
Diplomasi sekarang ini telah diakui sebagai senjata ampuh yang bersifat
multidimensial yang digunakan dalam menghadapi berbagai persoalan maupun
perbedaan kepentingan negara serta situasi dan lingkungan yang berbeda-beda
dalam hubungan antar negara. Dalam berdiplomasi, harus melihat kecocokan
kepentingan negara sendiri dan negara lain sehingga dapat dicari atau ditentukan
jalan keluar dalam merujukkan kepentingan-kepentingan bertentangan. Perlu juga
diketahui tujuan dan kekuatan yang dimiliki serta informasi mengenai negara
64
Ibid.
35
yang dihadapi atau yang menjadi tujuan diplomasi. Hal ini untuk mengantisipasi
resiko yang mungkin terjadi utamanya bila timbul salah paham antar negara atau
kesalahan dalam menilai tujuan dan kekuatan negara lain. Jadi, diplomasi
dijalankan untuk memupuk, mempertahankan persahabatan, saling pengertian,
serta kerjasama dan menangani masalah-masalah yang belum disetujui bersama
hingga tercapainya kesesuaian paham.
Dalam hubungan internasional, diplomasi yang dilakukan oleh negara
berbeda-beda tergantung pada situasi dan kondisi yang dihadapi. Indonesia
sendiri, meski politik luar negerinya tetap sama, namun diplomasi yang
dilakukannya terus berganti disesuaikan dengan persoalan yang sedang
dihadapinya. Diplomasi dapat dilakukan dalam berbagai dimensi baik bilateral,
regional, maupun multinasional.
Dalam menghadapi permasalahan internasional, maka diplomasi multilateral
memainkan peranan penting khususnya yang dilakukan melalui organisasiorganisasi internasional seperti PBB. Sedangkan dimensi regional lebih
menyangkut pada kepentingan bersama dalam suatu kawasan guna menciptakan
stabilitas dan kerjasama di berbagai aspek seperti yang dilakukan oleh negaranegara ASEAN.
Diplomasi menjadi instrumen penting bagi negara dalam berinteraksi
dengan negara lain baik secara bilateral, regional, maupun multinasional. Dengan
kata lain diplomasi sebagai alat dalam mencapai tujuan dan kepentingan negara.
Sesuai yang disebutkan oleh Dr. Budiono yang dikutip oleh R. Suprapto, bahwa
sebagai suatu instrumen, diplomasi berfungsi meniadakan suatu keadaan yang
36
merugikan kepentingan nasional, mempertahankan keadaan yang menguntungkan
kepentingan nasional, serta menegakkan keadaan yang diperlukan demi
kepentingan nasional. Berarti keberhasilan dalam menjalankan politik luar negeri,
tidak terlepas dari kegiatan diplomasi yang dilakukan.65
Meski demikian diplomasi dapat dianggap berhasil bila pihak yang diajak
berunding dapat diyakinkan untuk menerima atau mengakui posisi kita hingga
tercapai suatu kompromi yang memuaskan kedua pihak. Kesuksesan dalam
diplomasi ini dipengaruhi oleh keterampilan para pelaku diplomasi untuk
mengetahui lingkungan wilayah kerjanya, mulai dari sifat, cita-cita, situasi politik,
ekonomi, sosial budaya, keamanan, struktur, maupun kekuatan dan kelemahan
negara yang dihadapi. Disamping itu, perlu diperhatikan bahwa keberhasilan
diplomasi juga tidak terlepas dari kemampuan pelaku diplomasi atau diplomat
dalam memahami kondisi, kelemahan dan kekuatan negara sendiri yakni berupa
kekuatan nasional atau national power yang dimiliki. Kekuatan atau power adalah
salah satu yang menyebabkan berhasilnya perundingan antar negara.
D. Konsep Kekuatan Nasional (National Power)
Konsep tentang kekuatan nasional atau national power tidak dapat
dipisahkan dari konsep kekuatan atau power. Setiap negara memiliki kekuatan,
namun kekuatan tersebut berbeda-beda di setiap negara. Perbedaan kekuatan ini
disebabkan oleh perbedaan sumber daya, potensi atau unsur kekuatan yang ada
pada negara tersebut. Potensi inilah yang kemudian dikembangkan dan menjadi
65
Dr. Budiono dalam R. Soeprapto, Op. Cit, hal.212.
37
kekuatan nasional tiap negara. Dengan kata lain kekuatan negara saling
bergantung antar unsur kekuatan yang dimiliki.
Kekuatan atau power dapat pula dimaknai sebagai kemampuan untuk
menggerakkan orang lain dengan ancaman. Sesuai yang dikatakan oleh Sprout
yang melihat power dalam konotasinya dengan militer di mana power
mengandung unsur paksaan atau ancaman. Sedangkan menurut Frankel, power
berarti “kapasitas untuk menghasilkan efek-efek atas pikiran dan tindakan orang
lain. Power suatu negara merupakan kapabilitas untuk mengontrol perilaku negara
lain.”66 Dengan kata lain power adalah kemampuan untuk memperoleh apa yang
diinginkan untuk mencapai tujuan politik luar negeri melalui kontrol terhadap
lingkungan eksternal yang berubah.
Minix & Hawley (1998) dalam bukunya Global Politics, menyebutkan
bahwa power ialah totalitas kemampuan suatu negara yang bersumber dari alam,
buatan, psikologis, dan sosial.67 Power menjadi sangat penting karena menjadi
alat mencapai tujuan negara, juga berperan dalam kontrol sumber daya baik
sumber daya alam dan sumber daya manusia. Dalam lingkup global dan regional,
keberadaan power suatu negara dapat menjadikannya mampu mempengaruhi
perilaku atau kebijakan negara lain.
Hans J. Morgenthau mendefinisikan power sebagai suatu hubungan antara
dua aktor politik, di mana aktor A memiliki kemampuan untuk mengontrol dan
mengendalikan pemikiran dan tindakan aktor B. Menurut Couloumbis & Wolfe,
66
67
R. Soeprapto, Op. Cit, hal.125-127.
Minix & Hawley dikutip oleh Kirana Wira, 2012, dalam http://kirana-wirafisip12.web.unair.ac.id/artikel_detail-61352-Umum-NATIONAL%20POWER.html,
diakses
tanggal 13 Februari 2013.
38
power sebagai payung konsep memiliki tiga unsur, yakni kekuatan atau ancaman,
pengaruh, dan otoritas.68 Power dalam ilmu hubungan internasional sesuai yang
dikatakan oleh Arnold Schwarzenberger yang dikutip oleh Anak Agung Banyu
Perwita dan Yanyan Mochamad Yani, ialah perpaduan antara pengaruh persuasif
dan kekuatan koersif, juga dapat diartikan sebagai fungsi dari jumlah penduduk,
teritorial, kapabilitas ekonomi, kekuatan militer, stabilitas politik, dan kepiawaian
diplomatis internasional. Oleh karenanya, national power suatu negara bukan saja
menyangkut kekuatan militer melainkan juga termasuk teknologi, sumber daya
alam, bentuk pemerintahan, dan kepemimpinan politik, serta ideologi negara.69
National Power adalah kombinasi dari kekuatan dan kapasitas negara yang
digunakan untuk mencapai kepentingan dan tujuan nasional. Berdasarkan definisi
dari Frederich Hartman (1978) dalam bukunya The Relation of Nations,
menyatakan bahwa “national power as the strength or capacity that a sovereign
nation-state can use to achieve its national interest.” Dalam hal ini, national
power merupakan keseluruhan elemen power yanng dimiliki suatu negera, di
mana satu elemen power saja tidak dapat menentukan kekuatan suatu negara.
Berarti bahwa kekuatan nasional merupakan kemampuan negara dalam
memberdayakan elemen-elemen kekuatan atau sumber daya yang dimiliki untuk
meraih tujuan nasionalnya. Hal ini juga dapat menunjukkan sejauh mana kekuatan
dan kelemahan negara dalam hubungannya dengan negara lain.70
68
R. Soeprapto, Op. Cit, hal.121-123.
Anak Agung Banyu Perwita dan Yanyan Mochamad Yani, Op. Cit, hal. 13.
70
Frederich Hartman dalam Olayiwola Abegunrin, 2003, Nigerian Foreign Policy Under Military
Rule 1966-1999,Westport:Praeger Publisher, hal.69; David Jablonsky dalam J. Boone
Bartholomees, Jr., ed, 2004, U.S. Army War College Guide to National Security Policy and
Strategy, 1st Edition, Pennsylvania:Strategic Studies Institute, hal. 103-102.
69
39
National power merupakan kemampuan dari situasi dunia dalam setiap
masa. Jadi, national power adalah hal yang dinamis yang terus berubah seiring
dengan perkembangan dunia. Khususnya sekarang, kekuatan banyak diwakili oleh
industri. Sejalan dengan perubahan dunia, maka power dalam hubungan
internasional pun turut berganti. Dari yang awalnya penekanan pada kekuatan
militer, kini beralih ke faktor-faktor lain seperti teknologi, ekonomi, dan budaya.71
Meski demikian, kekuatan (power) tidak muncul dengan sendirinya
melainkan dipengaruhi berbagai unsur. Minix dan Hawley mengatakan bahwa
“sumber atau unsur power terdiri atas sumber alami yang meliputi geografis,
sumber daya alam, populasi, sumber sosial-psikologis meliputi sumber daya
manusia termasuk stabilitas nasional, dan terakhir sumber sintetis berupa industri
dan militer.” Di samping itu, Carlson berpendapat bahwa “dasar pembentukan
kekuatan negara yang paling utama adalah penduduk, sumber daya alam, dan
industri.” David Jablonsky menggolongkan national power ini ke dalam dua
kategori yakni sumber kekuatan nasional alami yakni geografi, sumber daya alam,
dan penduduk dan sumber kekuatan sosial berupa ekonomi, politik, militer,
psikologis, serta informasi. 72
Lebih jelasnya Hans J. Morgenthau dalam buku Politics Among Nations,
menyebutkan bahwa power atau kekuatan negara yang juga dikenal sebagai
national power mempunyai sembilan unsur, yakni:73
71
David Jablonsky dalam J. Boone Bartholomees, Jr., ed, Op. Cit, hal.102; Sri Hayati dan Ahmad
Yani, Op. Cit, hal. 64.
72
Minix & Hawley, Loc Cit.; Sri Hayati dan Ahmad Yani, Op. Cit, hal. 64.
73
Hans. J. Morgenthau dan Kenneth W. Thompson, Op. Cit, hal. 135-173.
40
1. Geografi.
Faktor geografi memainkan peranan penting dalam menentukan power
negara atau aktor. Meskipun hal ini masih menjadi perdebatan, namun
sangat relevan dalam menentukan potensi kekuatan negara. Faktor geografi
ini merupakan faktor paling stabil yang menjadi andalan kekuatan negara
dan berhubungan dengan lingkungan hidup di mana kehidupan negara
tersebut berlangsung.
Faktor geografi mulai dari letak geografis, luas, bentuk, iklim, topografi,
perbatasan, arus laut, jenis tanah, faktor geologis, dan unsur geografis
lainnya, berpengaruh terhadap pandangan dan kapasitas suatu negara.
Faktor letak/lokasi geografis negara sangat berpengaruh terhadap kekuatan
negara baik di dalam maupun di luar negeri. Letak geografis ini dapat turut
menentukan arah politik suatu negara serta politik luar negerinya. Di lain
pihak lokasi pun sangat berkaitan dengan iklim, yang mana ini akan
berpengaruh terhadap kekuatan nasional suatu negara. Namun demikian,
unsur geografis pada dasarnya adalah faktor alam yang harus dapat dikelola
dan dimanfaatkan agar dapat menjadi kekuatan bagi negara.
2. Sumber Daya Alam.
Faktor relatif stabil lainnya yang mempunyai pengaruh penting terhadap
kekuatan suatu negara dalam hubungannya dengan negara-negara lain yakni
sumber daya alam. Sumber daya alam merupakan potensi dasar bagi
perekonomian negara. Sumber daya alam yang terkandung dalam bumi
adalah asset untuk membangun kekuatan negara. Negara yang memiliki
41
kuantitas sumber daya alam yang banyak berada pada posisi potensial
dibanding negara lain yang kuantitas sumber daya alamnya lebih sedikit.
Faktor sumber daya alam ini melingkupi ketersediaan pangan, potensi
minyak bumi, bahan mentah, dan sebagainya. Dalam kasus ketersediaan
pangan, negara yang berswasembada pangan dapat menjamin penduduknya
tidak akan mengalami kelaparan. Bahan mentah pada zaman perang hingga
zaman industri modern menjadi bahan utama pengolahan industri. Negara
dengan bahan mentah yang berlimpah dan memiliki akses mudah
menguasainya di luar teritori negara, sangat berimplikasi pada kekuatan
nasional negara tersebut. Sejak Perang Dunia I, minyak sebagai sumber
energi sangat penting dalam kebutuhan industri dan perang. Karenanya,
negara pemilik minyak bumi memperoleh kekuatan yang signifikan dalam
urusan internasional.
Setiap negara di dunia baik yang wilayahnya luas maupun kecil, memiliki
sumber daya meski belum termanfaatkan secara maksimal. Jenisnya pun ada
yang dapat diperbaharui dan tidak dapat diperbaharui, bisa berupa pangan,
bahan mineral, sumber energi, sumber daya air, sumber daya tanah, maupun
lingkungan seperti hutan dengan banyak pepohonan. Sumber daya alam ini
sangat berarti demi keberlangsungan pembangunan negara.
Dengan sumber daya alam yang melimpah, akan mempermudah dalam
membangun perekonomian negara, sebaliknya bila negara hanya memiliki
sedikit atau bahkan tidak mempunyai sumber daya alam, kemungkinan
42
rentan terhadap stabilitas ekonomi, politik maupun, keamanan. Oleh
karenanya, negara yang kurang sumber daya alamnya akan mencoba
memenuhi kebutuhan dalam negerinya dengan menjalin hubungan dengan
negara lain dalam kerjasama ekspor-impor, bahkan sampai terjadi
eksplositasi terhadap negara yang kaya akan sumber daya alam ini. Karena
itu, negara harus dapat mengelola dan memanfaatkan secara bijak sumber
daya alamnya karena meskipun kaya akan sumber daya alam, namun tidak
akan berguna bila tidak dapat dikelola dengan baik.
3. Populasi atau penduduk.
Potensi penduduk merupakan faktor esensial bagi suatu negara di samping
faktor wilayah, karena sering dijadikan tolak ukur untuk mengetahui
peranan dan kekuatan negara. Negara yang memiliki penduduk banyak akan
menjadi kekuatan besar bila diiringi dengan kemajuan teknologi dan
industrinya. Elemen kekuatan nasional berupa penduduk ini bukan hanya
dilihat dari segi jumlah penduduknya melainkan juga penyebaran penduduk
tersebut dalam suatu wilayah. Selain itu pertimbangan atas kemampuan dan
pendidikan dengan kata lain keunggulan sumber daya manusia yang berada
dalam suatu negara akan dapat menopang perkembangan dan kemajuan
negara tersebut.
4. Kemampuan Industri.
Kemampuan industri adalah kemampuan suatu negara untuk memproduksi
barang-barang yang berguna. Kemampuan industri berhubungan erat
dengan sumber daya alam sebagai elemen pokok kekuatan negara.
43
Kemampuan industri suatu negara juga dipengaruhi oleh kemajuan
teknologi, ketersediaan bahan baku, dan sebagainya. Semakin tinggi
teknologi yang dimiliki serta banyaknya bahan baku yang tersedia, maka
semakin banyak produksi barang di negara tersebut.
Kapabilitas industri banyak berkontribusi terhadap kekuatan ekonomi
negara utamanya pada masa damai. Kekuatan industri secara tidak langsung
berkontribusi terhadap standar hidup masyarakat. Bila masyarakat suatu
negara menerima perkembangan industri, maka dapat mempengaruhi
keputusan penduduk negara tersebut untuk menerima kebijakan-kebijakan
pemerintah.
Meski demikian jika negara tidak memiliki teknologi, industri, serta dasar
untuk memproses dan menjual atau mengelola sumber daya alamnya secara
tepat maka akan dianggap sebagai negara dengan kapabilitas industri yang
lemah. Secara otomatis hanya akan menjadi pengekpor bahan mentah dan
lemah dalam ekspor produk jadi. Negara-negara industri identik dengan
kekuatan besar dalam politik dunia. Negara dengan cadangan bahan mentah
yang besar tapi tidak didukung kemampuan industri yang memadai maka
tidak dapat menjadikannya sebagai kekuatan politik dalam hubungan
internasional negara tersebut. Karena itu, negara perlu memperhatikan
perkembangan industri dalam negeri guna mendukung perekonomian dan
pembangunan nasional.
44
5. Kesiagaan Militer.
Kekuatan militer seringkali menjadi kekuatan yang paling ditonjolkan oleh
suatu negara. Namun, kesiagaan militer ini harus ditunjang oleh geografi,
sumber daya alam dan kemampuan industri suatu negara. Kesiagaan militer
memerlukan pranata militer yang mampu mendukung politik luar negeri
yang ditempuh negara. Kesiagaan militer ini dapat diperoleh dengan
dukungan teknologi militer, kepemimpinan serta kuantitas maupun kualitas
angkatan bersenjata.
Ketergantungan kekuatan nasional atas kesiapan militer sangat jelas dan
memerlukan pranata militer yang ampuh mendukung politik luar negeri
yang ditempuh oleh negara. Untuk mengetahui keefektifan kekuatan militer
ini maka dilihat dari keterampilan dan pendidikan pasukan serta kualitas
kepemimpinannya, motivasi, moral, kesetiaan, pertempuaran yang dialami,
sistem logistik, bahkan doktrin militer serta strategi dan taktik yang
ditempuh. Namun negara dengan pemimpin yang tangkas akan menjadi
negara yang lemah apabila tidak memiliki jumlah pasukan yang besar dan
berkualitas.
6. Karakter Nasional.
Karakter merupakan sifat kejiwaan, ahlak dan budi pekerti manusia, serta
watak yang dimiliki. Karakter nasional di sini dapat diartikan sebagai
karakter dari keseluruhan warga negara. Karakter nasional lebih kepada
pembentukan cara pandang dari perkembangan nasional. Karakter nasional
ini dapat berubah dari waktu ke waktu. Bila karakter nasionalnya bagus
45
maka imej negara di mata dunia pun turut bagus, begitupun sebaliknya.
Setiap negara memiliki karakter nasional yang berbeda tergantung pada
kondisi wilayahnya. Karakter nasional akan mempengaruhi kekuatan
nasional negara di mana negara yang karakter nasionalnya kuat akan
memiliki kekuatan lebih dibanding negara lainnya, misalnya dalam sebuah
perundingan atau bahkan dalam perang.
7. Moral Nasional.
Moral nasional ialah tingkat kebulatan tekad suatu bangsa untuk mendukung
politik luar negeri pemerintahnya baik dalam waktu damai maupun perang.
Moral nasional menyebar dalam segenap kegiatan dan komponen negara.
Ini berarti pula, moral yang dimiliki keseluruhan warga negara berpengaruh
terhadap pandangan negara lain terhadap negara tersebut.
8. Kualitas Diplomasi.
Diplomasi dalam hubungan internasional merupakan penyelenggaraan
hubungan antara dua negara atau lebih dan berfifat resmi. Diplomasi
dianggap berhasil dan berkualitas bila dicapai kesepakatan yang
menguntungkan bagi negara atau negara tidak mengalami kerugian dari
kesepakatan yang dicapai maupun ketika dalam proses diplomasi. National
power sangat ditentukan oleh kualitas diplomasi yang dilakukan negara.
Unsur kekuatan nasional ini menggabungkan elemen-elemen kekuatan
nasional lainnya menjadi suatu kesatuan yang terpadu, memberikan arah
dan bobot serta meningkatkan kemampuan dan kekuatan yang dimiliki
negara dalam berhadapan dengan negara lain. Diplomasi yang berjalan
46
lancar dapat memberikan efek maksimun terhadap elemen power yang
lainnya dalam situasi internasional di mana kepentingan negara sedang
diperjuangkan.
Diplomasi harus bisa memanfaatkan dengan baik unsur-unsur kekuatan
lainnya yang tersedia dan dapat dipergunakan, sehingga dapat menutupi
kekurangan-kekurangan di bidang lain. Dengan memberdayakan unsur
kekuatan negara lainnya dengan sebaik-baiknya, maka diplomasi dapat
meningkatkan kekuatan nasional. Diplomasi yang bermutu tinggi akan
membawa keserasian antara tujuan dan sarana diplomasi luar negeri dengan
sumber kekuatan nasional yang tersedia.
9. Kualitas Pemerintah.
Pemerintah sebagai pihak yang mengurus atau mengendalikan negara
merupakan faktor yang tak kalah penting dalam menentukan power.
Peranan seorang pemimpin sangat berpengaruh dalam pengambilan
keputusan atau kebijakan. Karena melalui keputusan yang diambilnya dapat
menentukan atau membatasi eksploitasi kekuatan dari pihak atau negara
lain. misalnya saja dalam hal sumber daya alam hasus dapat mengambil
kebijakan yang tepat agar mampu meningkatkan potensi kekuatan nasional
secara maksimal.
Pemerintah yang baik harus mampu memilih tujuan dan metode politik luar
negerinya dengan mengingat kekuatan yang tersedia untuk membantunya
mencapai hasil maksimum. Pemeritah harus bisa melakukan perimbangan
antara politik luar negerinya dengan kekuatan yang tersedia, dan melihat
47
perimbangan antar unsur-unsur kekuatan yang berbeda. Dengan kata lain
kuantitas dan kualitas yang cukup dalam gabungan yang tepat sumbersumber kekuatan yang memungkinkan negara mencapai hasil maksimal.
Selain itu pemerintah harus memperoleh dukungan rakyat atas politik luar
negeri yang ditempuhnya.
Dalam konteks kehidupan politik negara Indonesia, dikenal istilah
Ketahanan Nasional yang memiiliki pengertian hampir sama dengan power, yakni
kondisi dinamis suatu bangsa berisi keuletan dan ketangguhan yang mengandung
kemampuan mengembangkan kekuatan nasional dalam menghadapi dan
mengatasi segala tantangan, ancaman, hambatan serta gangguan yang datang baik
dari dalam maupun luar secara langsung maupun tidak, yang dapat
membahayakan integritas, identitas dan kelangsungan hidup bangsa dan negara
serta tujuan nasional. Pemerintah Orde Baru telah menetapkan unsur-unsur yang
menjadi kekuatan nasional Indonesia yang meliputi letak geografis dan bentuk
negara, kekayaan alam, jumlah penduduk, ideologi, dan kondisi ekonomi, politik,
sosial, budaya, dan keamanan.74
74
Sri Hayati dan Ahmad Yani, Op. Cit, hal.64; Ganewati Wuryandari, Op. Cit,, hal.50-52.
48
BAB III
KEKUATAN NASIONAL INDONESIA DAN PERKEMBANGAN
DIPLOMASI INDONESIA DI ASEAN
A. Kekuatan Nasional Indonesia
Kekuatan nasional (national power) merupakan gabungan dari seluruh
elemen kekuatan negara. Dalam hal ini, para ahli hubungan internasional
memberikan penggolongan yang bervariasi terhadap unsur kekuatan yang dimiliki
negara. Secara umum unsur kekuatan negara dapat kita lihat pada penggolongan
menurut Morgenthau yang dapat mewakili pendapat-pendapat dari ahli lainnya
dalam mengelompokkan elemen-elemen kekuatan negara.
Meski demikian, tiap negara memiliki ketetapan tersendiri mengenai unsurunsur kekuatan yang dimilikinya. Hal tersebut dilihat dari situasi dan kondisi
dalam negeri, kemampuan masyarakatnya, dan disesuaikan dengan perubahan
global. Jadi, antara negara yang satu dan yang lainnya akan mempunyai kekuatan
nasional yang berbeda satu sama lain. Ini juga akan menentukan seberapa kuat
negara tersebut dibanding negara lain.
Indonesia mempunyai ketetapan tersendiri mengenai unsur-unsur kekuatan
nasionalnya. Kekuatan nasional tersebut merupakan penjabaran dari Ketahanan
Nasional terkait dengan politik luar negeri. Adapun unsur kekuatan nasional yang
dimaksud meliputi; letak geografis dan bentuk negara, kekayaan alam, jumlah
penduduk, ideologi, dan kondisi ekonomi, politik, sosial, budaya, dan keamanan.
Untuk mengetahui faktor-faktor yang dapat menjadi kekuatan negara Indonesia,
dapat dilihat dalam pembahasan mengenai elemen kekuatan negara berikut:
49
1. Geografi
Indonesia merupakan negara kepulauan (archipelago state) yang memiliki
keanekaragaman bentuk muka bumi baik di daratan dan di lautan. Konsep negara
kepulauan ini secara resmi ditetapkan dalam Konvensi Perserikatan BangsaBangsa mengenai Hukum Laut atau United Nations Convention on Law of the Sea
1982 (UNCLOS ’82). Pengakuan dunia ini merupakan hasil dari perjuangangan
politik pemerintah Indonesia. Pernyataan sebagai negara kepulauan ini pertama
kali disampaikan oleh PM Djuanda pada 13 Desember 1957. Selanjutnya
Indonesia secara resmi diakui sebagai negara kepulauan sejak diratifikasinya
UNCLOS ’82 ke dalam hukum nasional melalui penerbitan UU No. 17 Tahun
1985 yang berlaku sebagai hukum positif sejak 16 November 1994.75
Ditinjau dari bentuk wilayahnya, Indonesia adalah negara dengan bentuk
divided atau separated, karena daratannya terpisah-pisah oleh perairan laut.
Struktur fisik negara Republik Indonesia terdiri atas pulau-pulau besar dan kecil
yang menyebar di seluruh wilayah nusantara. Di bagian barat terdiri dari pulaupulau besar sedangkan di bagian timur merupakan kumpulan pulau kecil kecuali
Irian Jaya. Menurut perhitungan terakhir, secara keseluruhan jumlah pulau di
Indonesia ialah 17.504 buah pulau yang terdiri dari lima pulau besar yakni Pulau
Sumatera, Pulau Jawa, Pulau Kalimantan, Pulau Sulawesi, dan Irian Jaya, empat
kepualauan yakni Kepulauan Riau, Kepulauan Bangka Belitung, Kepulauan Nusa
Tenggara, dan Kepulauan Maluku, serta ribuan pulau-pulau kecil.76
Tedjo Edhy Purdjianto, 2009, “Peran TNI Angkatan Laut dalam Penegakan Kedaulatan Negara
dan Keamanan di Laut”, Jurnal Diplomasi, Vol. 1, no. 2, September Tahun 2009, Jakarta:
Pusdiklat Deplu RI, hal. 27.
76
Badan Pusat Statistik, 2012, Statistik Indonesia 2012, Jakarta: BPS, hal.9.
75
50
Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia yang sebagian
besar wilayahnya berupa lautan yakni meliputi duapertiga dari total luas wilayah
Indonesia. Luas wilayah laut yakni 5,8 juta km2, yang terdiri dari 2,8 juta km2
perairan Laut Nusantara atau landas kontinen, 0,3 km2 Laut Teritorial, dan Zona
Ekonomi Eksklusif (ZEE) dengan luas 2,7 juta km2. Sedangkan luas wilayah
daratan ialah 1.910.931,32 km2. Secara lebih detail, luas daerah dan jumlah pulau
di Indonesia menurut provinsi tahun 2012 dapat dilihat pada tabel berikut: 77
Tabel 3.1. Luas Daerah dan Jumlah Pulau Menurut Provinsi Tahun 2012
Provinsi
Luas (km²)
Aceh
Sumatera Utara
Sumatera Barat
Riau
Kepulauan Riau
Jambi
Sumatera Selatan
Kepulauan Bangka Belitung
Bengkulu
Lampung
DKI Jakarta
Jawa Barat
Banten
Jawa Tengah
DI Yogyakarta
Jawa Timur
Bali
Nusa Tenggara Barat
Nusa Tenggara Timur
Kalimantan Barat
Kalimantan Tengah
Kalimantan Selatan
Kalimantan Timur
Sulawesi Utara
Gorontalo
Sulawesi Tengah
Sulawesi Selatan
Sulawesi Barat
Sulawesi Tenggara
Maluku
Maluku Utara
Papua
Papua Barat
Indonesia
Jumlah Pulau
57.956,00
72.981,23
42.012,89
87.023,66
8.201,72
50.058,16
91.592,43
16.424,06
19.919,33
34.623,80
664, 01
35.377,76
9.662,92
32.800,69
3.133,15
47.799,75
5.780,06
18.572,32
48.718,10
147.307,00
153.564,50
38.744,23
204.534,34
13.851,64
11.257,07
61.841,29
46.717,48
16.787,18
38.067,70
46.914,03
31.982,50
319.036,05
97.024,27
663
419
391
139
2.408
19
53
950
47
188
218
131
131
296
23
287
85
864
1.192
339
32
320
370
668
136
750
295
651
1.422
1.472
598
1.945
1.910.931,32
17.504
Sumber: Badan Pusat Statistik Indonesia
77
Direktorat Kelautan dan Perikanan, Bappenas, 2011, “Strategi Pengembangan Infrastruktur
Perikanan dalam Mendukung Peningkatan Daya Saing”, Info Kajian Bappenas, vol. 81, no. 21,
Desember 2011, Jakarta: Bappenas, hal. 11; Badan Pusat Statistik, Op. Cit, hal.9.
51
Secara geografis, Kepulauan Indonesia terletak di antara dua benua yakni
Benua Asia dan Benua Australia serta dua samudra yaitu Samudera Pasifik dan
Samudera Hindia. Hal ini menempatkan Indonesia pada posisi silang strategis
sebagai jalur lalu lintas dalam hubungan internasional. Letak tersebut memberikan
keunggulan komparatif karena berada dekat dengan pasar dunia seperti China,
Jepang, Amerika, dan Uni Eropa, serta beberapa negara industri baru di Asia
seperti India, Singapura, dan Korea Selatan. 78
Sebagai negara maritim, Indonesia termasuk dalam kelompok multi-sea and
insular location karena memiliki banyak perbatasan laut dengan negara tetangga.
Salah satu keuntungan dari lokasi maritim ialah lebih banyak memiliki sumber
daya alam baik di darat maupun laut. Selain itu juga berpengaruh terhadap
pengembangan kekuatan dan ketahanan negara. Di antara negara-negara ASEAN,
Indonesia memiliki wilayah maritim dengan garis pantai yang paling panjang.
Oleh karena itu, Indonesia memiliki hak mengelola sekitar separuh dari kawasan
ekonomi ekslusif keseluruhan anggota ASEAN.79
Dilihat dari lokasi vicinal-nya, Indonesia termasuk negara yang memiliki
banyak perbatasan dengan negara tetangga. Tercatat sekitar 10 negara yang
berbatasan langsung dengan Indonesia. Negara-negara tersebut antara lain Papua
Nugini, Australia, India, Malaysia, Singapura, Vietnam, Philipina, Thailand,
Republik Palau, dan Timor Leste, serta Brunei Darussalam. Indonesia terletak
cukup jauh dari negara adidaya di bidang kekuatan militer, tetapi cukup dekat
78
79
Badan Pusat Statistik, Op. Cit, hal.5; Direktorat Kelautan dan Perikanan, Bappenas, Loc. Cit.
KusnantoAnggoro, “Strategi Pertahanan Kepulauan, Diplomasi Kelautan dan Kekuatan Matra
Laut Indonesia”, Jurnal Diplomasi, Op.Cit, hal. 63
52
dengan negara adidaya di bidang ekonomi dengan segala dampak positif dan
negatifnya terhadap pembangunan.80
Ditinjau dari segi astonomis, Indonesia terletak antara 94˚ 58̍ 21̎ dan 141˚ 00̍
00̎ Bujur Timur serta 6˚ 04̍ 30̎ Lintang Utara dan 11˚ 00̍ 36̎ Lintang Selatan.
Dengan demikian, jarak dari barat (Sabang) ke timur (Merauke) ialah 5.110 km
dan jarak dari utara (Pulau Sangir) ke selatan (Pulau Roti) ialah 1.888 km. Posisi
ini merupakan wilayah yang di lalui oleh garis khatulistiwa pada garis lintang 0˚
sehingga pergantian siang dan malam diterima secara seimbang.81
Kedudukan astronomis tersebut menjadikan Indonesia beriklim tropis
dengan temperatur tinggi dan tetap, juga tekanan udara yang rendah, lembab, serta
memiliki curah hujan tinggi. Keadaan iklim dipengaruhi oleh angin muson yang
bertiup dua kali setahun dengan arah yang tetap. Dari bulan April hingga
September bertiup Angin muson Tenggara yang merupakan angin yang kering
dan tak banyak mendatangkan hujan sehingga sebagian wilayah Indonesia diliputi
musim kemarau. Kemudian dari September hingga April bertiup angin muson
barat yang banyak mendatangkan hujan. Hampir di seluruh wilayah Indonesia
mempunyai curah hujan cukup tinggi sehingga memiliki hutan yang relatif lebat.82
Iklim tropis ini sangat menguntungkan karena perubahan cuaca dari hari ke
hari ditandai oleh keadaan yang teratur. Tidak terdapat suhu yang teramat tinggi
80
Achmad Chaldun, 2004, Atlas Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS): Indonesia wawasan Nusantara
dan Dunia, Surabaya: PT. Karya Pembina Swajaya, hal. 66-67; Chappy Hakim, 2011,
Pertahanan Indonesia: Angkatan Perang Negara Kepulauan, Jakarta: Red & White Publishing,
hal. 33-34; Ermaya Suradinata, Op. Cit. hal. 37.
81
Badan Pusat Statistik, Op. Cit, hal, 9; The State Ministry of Environment, 2008, State of The
Environment Report in Indonesia 2007, Jakarta: The State Ministry of Environment, hal.7.
82
The State Ministry of Environment, 2007, State of The Environment Report in Indonesia 2006,
Jakarta: The State Ministry of Environment, hal. 14; Atlas Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS):
Indonesia wawasan Nusantara dan Dunia, Op. Cit, hal.56.
53
atau terlalu rendah dan tidak sering terjadi gangguan-gangguan cuaca yang terlalu
ekstrem. Letak negara yang dilalui garis khatulistiwa memungkinkannya terhindar
dari serangan badai tropis yang sangat merugikan. Selain itu sebagian besar
wilayah hanya mengalami dua musim yang berganti tiap setengah tahun.
Wilayah Indonesia juga terdiri dari dataran rendah dan dataran tinggi.
Dataran rendah terletak di sepanjang dan sekitar pantai, sedangkan dataran tinggi
terletak agak ke dalam dan jauh dari pantai yang terkadang dibelah oleh sungai
yang menjadi sumber kehidupan bagi daerah sekitarnya. Keadaan topografi
Indonesia memiliki keuntungan tersendiri karena terbuka peluang pemanfaatan
sumber daya energi yang berasal dari panas bumi secara optimal. Selain itu
perbedaan arus pasang surut serta energi air terjun yang berpotensi besar sebagai
pembangkit listrik.
Pulau-pulau besar seperti Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan Irian
Jaya merupakan tanah bergunung, sedangkan sebagian pulau lainnya ialah dataran
rendah yang luas. Pulau-pulau tersebut berada di sebelah luar, sehingga dapat
melindungi pulau-pulau kecil terhadap cuaca buruk. Pada pulau-pulau ini terdapat
danau dan sungai yang dapat dilayari, sehingga selain sebagai pemisah juga
menjadi penyambung wilayah antarpulau di Indonesia. Sungai-sungai besar
seperti Sungai Musi, Batanghari, Bengawan Solo, Brantas, Mahakam, Kapuas,
dan Barito merupakan jalan lalu lintas penting yang menghubungkan daerah
pedalaman dan pantai.83
83
Mahendro Sumardjo, 2007, “Meningkatkan Pemahaman Geopolitik Indonesia dalam
Pemanfaatan Kondisi dan Konstelasi Geografi Guna Mewujudkan Kesejahteraan Rakyat di
Daerah dalam Rangka Stabilitas Nasional”, Taskap Lemhannas, Jakarta: Lemhannas RI, hal. 28.
54
Indonesia memiliki 8 selat strategis yakni Selat Malaka, Selat Singapura,
Selat Sunda, Selat Lombok, Selat Ombai/Wetar, Selat Karimata, dan Selat
Halmahera. Selat tersebut membentuk tiga corong laut strategis yang dikenal
dengan corong barat yakni lintasan melalui Selat Sunda dan Selat Karimata,
corong tengah yang melintasi Selat Lombok dan Selat Malaka, dan corong timur
yang melintasi Selat Wetar dan Laut Banda.84 Keberadaan selat ini kemudian
menjadikan wilayah perairan Indonesia sebagai jalur perdagangan dunia.
Dengan konfigurasi
geografi
wilayah
berbentuk
kepulauan,
maka
perbatasan negara pun bervariasi terdiri dari batas wilayah daratan dan batas
wilayah perairan. Di darat Indonesia berbatasan dengan Papua Nugini di sebelah
timur, sebelah utara berbatasan dengan wilayah Serawak dan Sabah Malaysia, di
selatan berbatasan dengan Timor Leste. Kawasan perbatasan darat ini terletak di
tiga pulau, empat provinsi, dan 15 kabupaten dengan karakteristik kawasan
perbatasan berbeda-beda dalam bidang sosial, ekonomi, politik dan kebudayaan.
Di wilayah maritim, Indonesia berbatasan langsung dengan Samudera
Hindia di sebelah barat, di sebelah utara berbatasan dengan India, Selat Malaka,
Selat Singapura, Laut Cina Selatan, Malaysia, Singapura, Vietnam, Filipina, dan
sebelah timur berbatasan dengan Samudera Pasifik dan Papua Nugini, sebelah
selatan berbatasan langsung dengan Laut Arafuru, Samudera Hindia, Australia,
dan Timor Leste. Kawasan perbatasan maritim umumnya pulau-pulau terluar
Indonesia. Menurut hasil survei dan pemetaan Dinas Hidro-Oseanografi TNI
84
Awang Faroek Ishak, 2003, Membangun Wilayah Perbatasan Kalimantan dalam Rangka
Memelihara dan Mempertahankan Integritas Nasional, Jakarta:Indomedia, hal. 2.
55
Angkatan Laut, terdapat 92 pulau terluar yang tersebar di wilayah Indonesia dan
12 dintaranya adalah pulau-pulau strategis.85
Batas wilayah perairan Indonesia secara lebih rinci berdasarkan perbatasan
ZEE dan landas kontinen, ialah sebagai berikut:86
1. Perbatasan ZEE dan landas kontinen dengan Australia, di perairan
sebelah selatan NTT, Maluku, dan Irian Jaya.
2. Berbatasan dengan ZEE dan landas kontinen dengan Timor Leste di
sebelah tenggara (di sebelah timur NTT).
3. Perbatasan ZEE dan landas kontinen dengan Filipina di sebelah utara
Kepulauan Sangir Talaud dan Kalimantan.
4. Perbatasan ZEE dan landas kontinen dengan Malaysia, di sebelah timur
laut Sumatera dan di sebelah barat dan utara Pulau Kalimantan.
5. Perbatasan ZEE dan landas kontinen dengan Vietnam di sebelah utara
Kepulauan Natuna.
6. Perbatasan ZEE dengan Rep.Palau di sebelah utara Maluku dan Papua.
7. Perbatasan landas kontinen dengan India di sebelah barat Aceh.
8. Perbatasan landas kontinen dengan Thailand di sebelah utara Aceh.
9. Perbatasan laut teritorial dengan Singapura di sebelah Pulau Batam.
10. Perbatasan maritim dengan Papua Nugini yang merupakan kepanjangan
garis batas keduan negara di daratan.
Perairan merupakan fitur geografis yang mendominasi wilayah Indonesia
maupun kawasan Asia Tenggara. Sebagai negara yang berbentuk ‘circum
85
86
Chappy Hakim, Op. Cit, hal. 34, 35, dan 38.
Atlas Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS): Indonesia wawasan Nusantara dan Dunia, Op. Cit, hal. 11.
56
marine’, transportasi lautan berperan penting dalam sirkulasi nasional. Posisi
Indonesia yang berada pada jalur transportasi dunia, merupakan potensi ekonomi
sangat besar dan strategis seiring dengan perkembangan dan pergeseran pusat
ekonomi dunia dari Atlantik ke Asia Pasifik. Dimana hampir 70 persen total
perdagangan dunia berlangsung di antara negara-negara Asia Pasifik. Lebih dari
75 persen barang-barang yang diperdagangkan ditransportasikan melalui laut, dan
45 persennya melalui Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) yang melewati
Selat Malaka, Selat Lombok, Selat Makassar, dan laut-laut Indonesia lainnya. 87
Alur pelayaran yang berada di perairan Indonesia merupakan Garis
Perhubungan Laut (GPL) atau Sea Lanes of Communication (SLOC) dan Sea
Lanes of Oil Trade (SLOT ) bagi masyarakat internasional. Jalur laut tersebut
membentang dari Teluk Parsi ke arah barat menuju Eropa Barat dan ke arah timur
menuju Jepang dan AS. Jalur lalu lintas laut ini secara politis maupun ekonomis
sangat strategis karena menyangkut kelangsungan hidup berbagai negara. Sekitar
80 persen pasokan minyak dan gas untuk tiga raksasa ekonomi Asia Timur yakni
Jepang, China dan Korea Selatan, diangkut melalui perairan Indonesia. 88
Karakteristik geografis Indonesia, mulai dari luas wilayah, bentuk, lokasi,
iklim, topografi, serta perbatasannya, masing-masing memiliki dampak positif dan
negatif. Negara-negara pengguna jalur laut, memiliki kepentingan besar pada
terjaminnya kelancaran distribusi barang dan energi bagi pembangunan ekonomi
negaranya. Dengan demikian, kawasan perairan Indonesia maupun perairan Asia
Ermaya Suradinata, Op. Cit, hal. 36; Pria Siswadi Ismail, 2009, “Pemanfaatan Keunggulan
Geografi Indonesia Guna Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat dalam Rangka Mendukung
Ketahanan Nasional”, Taskap Lemhannas, Jakarta: Lembaga Ketahanan Nasional RI, hal.79.
88
Tedjo Edhy Purdjianto, Op. Cit, hal. 29; Pria Siswadi Ismail, Op. Cit, hal. 64.
87
57
Tenggara memiliki arti yang sangat vital dan strategis bagi perdagangan
internasional. Luas wilayah yang mendominasi kawasan turut menempatkan
Indonesia sebagai kekuatan utama dan kunci stabilisator keamanan kawasan.
Meski demikian, letak geografis tersebut juga menjadikan Indonesia rawan
karena terbuka dari segala penjuru, selain itu luas wilayah perairan dengan
kekayaan laut yang melimpah juga menimbulkan banyaknya terjadi illegal fishing
karena pengawasan wilayah yang tidak intensif. Di samping itu banyaknya pulaupulau terluar Indonesia yang tidak berpenghuni dan belun dikelola sehingga
kemungkinan besar diklaim oleh negara lain.
2. Sumber Daya Alam
Indonesia sebagai negara kepulauan dengan wilayah yang luas terdiri atas
darat, laut, dan udara dengan karakteristik yang dimiliki masing-masing pulaunya
memiliki potensi kandungan kekayaan sumber daya alam yang besar yang bahkan
mungkin tidak dimiliki oleh negara lain. Sebagai salah satu negara tropis yang
dikenal dengan ‘zamrud khatulistiwa’, Indonesia kaya akan sumber daya alam
baik berupa flora, fauna, hutan, sumber daya tambang dan sebagainya. Secara
geografis, terdapat empat provinsi Indonesia yang memiliki sumber kekayaan
alam terkaya di Indonesia yakni Aceh, Riau, Kalimantan Timur dan Papua.89
Indonesia kaya akan sumber daya alam baik hayati dan non hayati serta
terbarukan maupun yang tidak terbarukan. Indonesia pun memiliki sumber daya
yang dapat diberdayakan untuk industri pariwisata. Baik berupa pantai, flora dan
faunanya yang langka maupun kondisi alamnya. Jumlah dan kualitas sumber daya
89
Ganewati Wuryandari, Ed., Op. Cit, hal. 51; Pria Siswadi Ismail, 2009, “Pemanfaatan
Keunggulan Geografi Indonesia Guna Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat dalam Rangka
Mendukung Ketahanan Nasional”, Taskap Lemhannas, Jakarta: Lemhannas RI. hal. 65.
58
alam sangat banyak dan tersebar di berbagai daerah. Kualitasnya pun sangat bagus
sehingga dapat diekspor ke berbagai negara, dengan demikian dapat memenuhi
devisa negara. Jenis sumber daya alam yang diekspor seperti minyak bumi, gas
alam dan bahan tambang lainnya serta hasil pertanian, perkebunan, peternakan,
perikanan, pariwisata, dan hasil industri.
Dari segi topografinya, wilayah daratan Indonesia terdiri dari rangkaian
pegunungan, dataran rendah, danau, rawa-rawa, serta ribuan alur sungai besar dan
kecil. Terdapat dua rangkaian pegunungan yakni pegunungan Sirkum Pasifik di
Irian Jaya dan rangkaian pegunungan Mediteran di Sumatera, Jawa, Nusa
Tenggara dan berbelok melalui Maluku, serta di atas Sulawesi hingga Sangir
Talaud.90 Pengunungan-pengunungan berpengaruh terhadap tinggi rendahnya
curah hujan di beberapa wilayah. Keadaan ini menguntungkan bagi pengelolaan
sumber daya alam seperti pertanian yang mendukung pembangunan nasional. Di
samping itu, di deretan pulau-pulau Indonesia terdapat rangkaian pegunungan
yang ditebari oleh gunung berapi yang masih aktif. Letusan lahar gunung berapi
ini memungkinkan penyuburan tanah di daerah sekitarnya.
Tingkat biodiversitas yang dimiliki merupakan tertinggi kedua di dunia
setelah Brazil. Indonesia memiliki sekitar 10% dari tanaman berbunga yang
dikenal di dunia, terdapat sekitar 6 ribu jenis anggrek mulai dari yang terbesar
sampai yang terkecil serta anggrek yang langka, 12% dari spesies mamalia, 16%
atau 781 jenis hewan reptil, 17% dari jenis burung, 18% dari jenis terumbu
karang, dan 25% dari hewan laut serta hutan bakau terbesar di dunia. Saat ini
90
State of The Environment Report in Indonesia 2006, Op. Cit, hal. 16.
59
Indonesia memiliki jenis mamalia terbesar di dunia yakni sekitar 515 spesies dan
30 persen diantaranya hanya terdapat di Indonesia. Tingginya tingkat
keanekaragaman hayati yang dimiliki negara, dapat menjadi tulang punggung
perkembangan ekonomi berkelanjutan bagi negara tersebut.91
Di bidang agrikultur, Indonesia terkenal atas kekayaan tanaman
perkebunannya, seperti biji coklat, karet, kelapa sawit, cengkeh, tembakau, kapas,
kopi, tebu, dan kayu. Banyak diantara hasil perkebunan ini menempati urutan atas
dari segi produksinya di dunia. Indonesia menempati peringkat pertama dalam
produk cengkeh dan pala, peringkat kedua penghasil karet alam dan minyak sawit
mentah, dan pengekspor terbesar kayu lapis yakni sekitar 80 persen.92
Indonesia dikenal sebagai negara agraris karena sebagian besar
penduduknya mempunyai pencaharian di bidang pertanian atau bercocok tanam.
Data statistik tahun 2001 menunjukkan bahwa 45 persen penduduk Indonesia
bekerja di bidang agrikultur. Tahun 2008, Indonesia memiliki lahan seluas
19.037.097 Ha yang digunakan untuk tanaman pangan berupa padi, kedelai,
jagung, kacang tanah, kacang hijau dan ubi kayu. Pertanian di Indonesia juga
menghasilkan berbagai macam tumbuhan komoditi ekspor. Adapun luas areal
perkebunan tahun 2010 berdasarkan jenis komoditinya antara lain; kelapa sawit
854.800 ha, kelapa 3.739.300 ha, karet 3.445.400 ha, kopi 1.210.400 ha, kakao
1.650.600 ha, tebu 436.600 ha, teh 122.800 ha, dan tembakau seluas 122.800 ha.93
91
State of The Environment Report in Indonesia 2006, Op. Cit, hal. 7; State of The Environment
Report in Indonesia 2007, Op. Cit, hal. 4.
92
Sohibi,
2010,
“10
Rekor
Kekayaan
Alam
Indonesia”,
dalam
http://unikapik.blogdetik.com/2010/07/16/10-rekor-kekayaan-alam-indonesia/, diakses tanggal
10 Januari 2013.
93
Badan Pusat Statistik, Op. Cit, hal. 193, 238-239.
60
Meski demikian terjadi penyusutan luas panen lahan padi nasional. Tahun
2010 terjadi penyusutan seluas 12,63 ribu hektar atau 0,1 persen dari total luas
lahan. Secara keseluruhan, lahan pertanian berkurang 27 ribu hektar pertahun.
Penurunan luas panen tidak hanya terjadi pada padi, tetapi juga pada komoditas
lainnya. Meski demikian, produksi gabah masih mampu mengalami kenaikan.
Badan Ketahanan Pangan Nasional menyampaikan bahwa sepanjang tahun 2009
telah terjadi alih fungsi lahan pertanian hingga mencapai 110 ribu hektar.
Sedangkan kemampuan Pemerintah mencetak lahan pertanian baru per tahunnya
hanya sampai 50 ribu hektar sebagaimana disampaikan Kementerian Pertanian.94
Perkembangan luas lahan tanaman pangan serta produksi pangan
Indonesia dapat dilihat pada tabel berikut:95
Tabel 3.2. Perkembangan Luas Panen dan Produksi Tanaman Pangan
Indonesia Tahun 2008-2012
Komoditi
Padi
Luas Panen (000 Ha)
Produksi (000 Ton)
Jagung
Luas Panen (000 Ha)
Produksi (000 Ton)
Kedelai
Luas Panen (000 Ha)
Produksi (000 Ton)
Kacang Tanah
Luas Panen (000 Ha)
Produksi (000 Ton)
Ubi Kayu
Luas Panen (000 Ha)
Produksi (000 Ton)
Ubi Jalar
Luas Panen (000 Ha)
Produksi (000 Ton)
2008
2009
2010
2011
2012
12.327,4
60.325,9
12.883,6
64.398,9
13.253,5
66.469,4
13.203,6
65.756,9
13.440,9
68.594,1
4.001,7
16.317,3
4.160,7
17.629,7
4.131,7
18.327,6
3.864,7
17.643,3
3.997,3
18.941,1
591,0
775,7
722,8
974,5
660,8
907,0
622,3
851,3
566,7
779,7
633,9
770,1
622,6
777,9
620,6
779,2
539,5
691,3
575,8
743,8
1.204,9
21.757,0
1.175,7
22.039,1
1.183,0
23.918,0
1.184,7
24.044,0
1.178,1
23.712,0
174,6
1.881,8
183,9
1.057,9
181,1
2.051,0
178,1
2.196,0
179,3
2.291,8
Sumber : Badan Pusat statistik
Chairil, 2010, “Penyusutan Luas Lahan Tanaman Pangan Perlu Diwaspadai”, dalam
http://www.setneg.go.id/index.php?option=com_content&task=view&id=4617&Itemid=29,
diakses tanggal 20 Februari 2013.
95
Badan Pusat Statistik, Op. Cit, hal. 193
94
61
Areal hutan Indonesia merupakan yang terbesar ke-3 di dunia. hal ini
memberikan keunggulan bagi Indonesia karena luas hutannya sehingga dikenal
sebagai paru-paru dunia. Indonesia memiliki wilayah untuk hutan lindung seluas
32.006.000 ha, hutan suaka alam dan pelestarian alam seluas 24.391.000 ha, hutan
produksi terbatas 22.787.000 ha, hutan produksi tetap 33.948.000 ha, hutan buru
167.000 ha, dan hutan produksi yang dapat dikonservasi 20.977.000 ha. Total
seluruh areal hutan Indonesia yakni sekitar 134.276.000 ha. Sumber daya hutan
ini meliputi hutan kayu, rotan, damar, dan getah.96 Namun, sumber daya ini belum
dikelola dengan baik. Tiap tahunnya hutan Indonesia mengalami penyempitan
sebagai akibat dari pembalakaan liar, kebakaran, dan sebagainya.
Kerusakan hutan terjadi setiap saat dengan laju kerusakan yang lebih cepat
dibandingkan pemulihannya. Berdasarkan pemaparan Kementerian Lingkungan
Hidup pada tahun 2011, disebutkan bahwa kerusakan hutan sekitar 1,1 hektare per
tahun, sedangkan pemulihan hutan yang rusak tersebut hanya sekitar 0,5 hektare
per tahun. Akibatnya, kondisi kerusakan lingkungan yang terjadi hampir di
seluruh pelosok Indonesia dan menimbulkan berbagai bencana alam. Kebakaran
hutan yang membinasakan berjuta-juta hektar hutan di Sumatera dan Kalimantan
mengakibatkan terjadinya selimut asap yang tebal dan membahayakan kesehatan
manusia, keamanan perjalanan udara, serta kerugian ekonomi yang sangat besar.
Hal ini juga mengganggu sejumlah negara ASEAN seperti Singapura, Malaysia,
dan Brunei Darussalam yang berbatasan langsung dengan Indonesia. 97
96
97
Badan Pusat Statistik, Op. Cit, hal. 242.
Gloria Samantha, 2012, “Penguasaan SDA Indonesia Tidak Merata”, dalam
http://nationalgeographic.co.id/berita/2012/05/penguasaan-sda-indonesia-tidak-merata, diakses
tanggal 10 Januari 2013; Sri Hayati dan Ahmad Yani, Op. Cit, hal. 99.
62
Letak Indonesia yang diapit oleh Samudera Hindia, Samudera Pasifik dan
Laut Cina Selatan berpengaruh besar terhadap kekayaan dan keanekaragaman
hayati sumber daya perikanan. Indonesia memiliki 11 Wilayah Pengelolaan
Perikanan (WPP) yaitu di WPP I di Selat Malaka dan Laut Andaman, WPP II
Selat Karimata, Laut Natuna, dan Laut Cina Selatan, WPP III di Laut Jawa, WPP
IV di Selat Makassar, Teluk Bone, Laut Flores, dan Laut Bali, WPP V di Teluk
Solo dan Laut Banda, WPP VI di Laut Aru, Laut Arafura, dan Laut Timor Timur,
WPP VII di Laut Maluku, Laut Halmahera, Laut Seram, dan Teluk Berau, WPP
VIII di Laut Sulawesi & Utara Pulau Halmahera, WPP IX di Teluk Cenderawasih
& Samudera Pasifik, WPP X di Samudera Hindia di sisi Barat Sumatera dan Selat
Sunda, WPP XI di Samudera Hindia di selatan Jawa sampai Laut Timor Barat.98
Dari sumber kekayaan alam laut yang dimiliki terdapat sekitar 26.000 jenis
ikan dari 28.400 jenis ikan di dunia. Total potensi produksi lestari (Maximum
Sustainable Yield atau MSY) sumber daya perikanan laut Indonesia adalah 6,4
juta ton pertahun dengan jumlah tangkapan yang diperbolehkan (Total Allowable
Catch) adalah 80-90 persen dari MSY yaitu sekitar 5,12 – 5,76 juta ton pertahun,
ini berdasarkan oleh FAO’s Code of Conduct For Responsible Fisheries. Produksi
perikanan budidaya Indonesia pada tahun 2010 sekitar 5,37 juta ton dan perikanan
tangkap sebesar 5,38 juta ton. Indonesia juga dikenal sebagai negara pengekspor
tuna terbesar khususnya ke Jepang.99
Indonesia merupakan negara yang berpotensi besar sebagai penghasil
komoditas perikanan dunia. Berdasarkan FAO Food Outlook 2008, Indonesia
98
99
Direktorat Kelautan dan Perikanan, Bappenas, Op. Cit. hal 11.
Ibid.
63
menepati peringkat ke-4 produsen perikanan dunia setetah China, Peru, dan AS.
Namun, nilai ekspor perikanannya hanya menempati peringkat ke-9 di bawah
Vietnam dan Thailand yang berada dalam satu kawasan.100 Ini menunjukkan
bahwa potensi kekayaan laut Indonesia belum dimanfaatkan secara optimal.
Selain kekayaan alam hayati, juga terdapat sumber daya mineral berupa
mineral strategis seperti minyak bumi, gas bumi, panas bumi, timah, nikel, bauksit
dan cadangan bijih berkadar tinggi, serta mineral biasa yaitu aspal, belerang,
perak, fosfat, mangan, dan pasir besi. Timah banyak terdapat di Sumatera dan
Sulawesi dengan perkiraan potensi sekitar 7,8 persen dari cadangan dunia. Nikel
terdapat di Sulawesi, Irian Jaya, dan Maluku Utara. Tembaga di Irian Jaya,
bauksit di Kalimantan dan Kep. Riau, batu bara di Sumatera Selatan, Kalimantan,
Jawa, Sulawesi dan Irian Jaya dengan potensi diperkirakan 28 milyar ton. Selain
itu gas alam banyak terdapat di Sumatera. Minyak bumi di Sumatera, kalimantan,
Jawa, dan Papua. Besi dan bijih mangan terdapat di Jawa, aluminium dan aspal di
Sulawesi, kemudian emas dan perak terdapat di Sumatera, Jawa dan Sulawesi.101
Indonsia memiliki cadangan minyak sebesar 9,7 milyar barrel, dengan
cadangan minyak terbukti sekitar 4,7 milyar barel pada tahun 2002. Produksi
minyak tahun 2002 sekitar 1,25 juta bph, dan 1,01 di tahun 2003, tahun 2004
menurun hingga 1,001 juta bph. Tahun 2010, produksi minyak sekitar 1,03 juta
bph dengan jumlah ekspor 404,100 bph. Saat ini Indonesia memiliki cadangan
Moeldoko, 2012, “Memperkuat Bargaining Power Indonesia Guna Menjaga Keamanan
Kawasan
ASEAN”,
Jurnal
On
Line
Lemhannas,
dalam
http://lemhannasjurnal.com/pdf/MEMPERKUAT%20%E2%80%9CBARGAINING%20POWE
R%E2%80%9D%20INDONESIA%20%20GUNA%20MENJAGA%20KEAMANAN%20KAW
ASAN%20ASEAN%20%20.pdf., diakses tanggal 18 Agustus 2012.
101
Atlas Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS): Indonesia wawasan Nusantara dan Dunia, Op. Cit, hal.59;
Bambang Surdjanto, Op.cit, hal. 23-24.
100
64
minyak terbukti sekitar 4 milyar barel per 1 Januari 2013. Untuk gas, Indonesia
merupakan produsen terbesar ke-6 dengan cadangan potensial dan cadangan
terbukti sebesar 170-180 trilliun kaki kubik (TCF). Adapun cadangan gas terbukti
yang dimiliki hingga tahun 2012 sebesar 3,994 trilyun meter kubik. Produksi gas
alam Indonesia sebagian besar dikelola menjadi LNG dan LPG.102
Indonesia adalah produsen timah terbesar kedua di dunia, berada pada
posisi ke-5 di dunia untuk produsen nikel, produsen tembaga terbesar, dan
produsen terbesar ke-7 untuk emas dan batu bara. Indonesia penghasil gas alam
cair (LNG) terbesar yakni mencapai 20 persen dari suplai seluruh dunia. Meski
menguasai 22,9 persen pangsa pasar dunia, namun kedudukan Indonesia semakin
terancam dengan munculnya pesaing-pesaing seperti Rusia, Iran, Qatar,
Turkmenistan, Saudi Arabia, AS, Uni Emitar Arab, Nigeria, Algeria yang juga
memiliki cadangan gas alam yang besar.103 Meski pendapatan dari sektor tambang
ini sangat besar, namun jumlah sumber daya alam ini sangat terbatas oleh
karenanya harus digunakan secara efisien.
Tambang Grasberg di Tembagapura memiliki cadangan 2.500 metrik ton,
yang mengandung 1,13 persen tembaga, 1,05 gram/ton emas, dan 3,8 gram/ton
perak. Namun, mayoritas saham pertambangan ini dikuasai oleh PT. Freeport
sehingga produksi yang dihasilkan hanya menguntungkan segelintir orang dan
pihak asing. Bukan hanya itu, tambang batu hijau di pulau Sumbawa yang juga
Sri Hartati Samhadi, 2005, “Kealpaan Negara Amankan Masa Depan Bangsa” Kompas, 16
Agustus
2005;
CIA
World
Factbook,
2013,
“Indonesia”,
dalam
https://www.cia.gov/library/publications/the-world-factbook/geos/id.html, diakses tanggal 29
Februari 2013.
103
Inas, 2012 “Perusahaan Asing Ramai-ramai Kuras Kekayaan Alam Indonesia”, dalam
http://www.dakta.com/berita/nasional/26149/perusahaan-asing-ramai-ramai-kuras-kekayaanalam-indonesia.html/ diakses 10 Januari 2013; Sohibi, Loc. Cit.; Sri Hartati Samhadi, Loc. Cit.
102
65
dikuasai oleh PT. Newmont. Di mana masa tambang batu hijau diperkirakan
sampai 25 tahun dan produksi per tahun mencapai 245.000 ton tembaga dan 18
ton emas. Daerah tambang ini memilki cadangan 1.000 metrik ton terdiri dari
tembaga 0,52 persen dan emas 0,4 gram/ton.104
Berikut data hasil produksi beberapa jenis bahan tambang Indonesia mulai
dari tahun 2007 hingga 2011:105
Tabel 3.3. Hasil Produksi Bahan Tambang Indonesia Tahun 2007-2011
Jenis Bahan
Tambang
Satuan
2007
2008
Minyak Bumi
Gas Alam
Timah
Batu Bara
Bauksit
Nikel
Emas
Perak
Temabaga
000 barel
MMSCF
ton
000 ton
000 m. ton
000 m. Ton
Kg
Kg
m. ton
348.348
2.805.999
66.137
216.946
11.663
7.113
117.854
268.967
2.814.952
357.500
1.891.929
53.228
240.249
16.791
6.527
64.035
224.163
2.397.899
2009
246.313
3.060.467
46.078
256.181
14.720
5.802
127.716
326.773
3.484.124
2010
2011
344.888
3.407.592
43.256
275.164
27.410
5.975
206.315
258.717
3.466.771
329.195
2.584.367
40.195
240.000
40.643
5.825
69.112
227.171
2.700.826
Sumber: Badan Pusat Statistik
Indonesia mempunyai kekayaan alam melimpah dengan ukuran wilayah
yang luas. Namun, keunggulan tersebut belum diiringi dengan kemampuan
teknologi yang cukup khususnya teknolgi industri. Dibandingkan dengan negaranegara maju seperti Amerika Serikat dan Jepang, dan sekarang muncul Korea,
China, dan India, maka Indonesia tertinggal jauh, bahkan oleh negara ASEAN
seperti Singapura dan Malaysia.106 Ini menandakan Indonesia belum merupakan
negara dengan tingkat industrialisasi tinggi dibandingkan Singapura, Malaysia,
104
Inas, Loc. Cit.
Badan Pusat Statistik, Op. Cit, hal. 275.
106
Sri Hayati dan Ahmad Yani, Op. Cit, hal.71.
105
66
dan Thailand serta belum memanfaatkan sumber daya alamnya sebagai nilai
ekspor dalam bentuk barang jadi dan kebanyakan hanya berupa bahan mentah.
Meski demikian berdasarkan data Kementerian Perindustrian, menunjukkan
peningkatan hasil industri Indonesia. Dari pemantauan ekspor 31 kelompok hasil
industri dari tahun 2007 hingga 2011 menunjukkan adanya peningkatan nilai
ekspor dari US$ 76.460.827.880 pada 2007 menjadi US$ 122.188.727.150 di
tahun 2011. Meski pada tahun 2009 mengalami penurunan menjadi US$
73.435.840.877, namun tahun 2010 kembali mengalami peningkatan hingga
mencapai US$ 98.015.076.416.107 Berikut data perkembangan industri Indonesia
menurut industri pengolahan non migas dari tahun 2007 hingga 2012:
Tabel 3. Laju Pertumbuhan Industri Pengolahan Non Migas Tahun 2007Triwulan Pertama Tahun 2012 (%)
No.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
Lapangan Usaha
Makanan, Minuman dan
Tembakau
Tekstil, Brg. kulit &
Alas kaki
Brg. kayu & Hasil hutan
lainnya
Kertas dan Barang
cetakan
Pupuk, Kimia & Barang
dari karet
Semen & Brg. Galian
bukan logam
Logam Dasar Besi &
Baja
Alat Angk., Mesin &
Peralatannya
Barang lainnya
Pertumbuhan Industri
Pengolahan Non Migas
Pertumbuhan PDB
2010
2011
2012
(s.d. TW I)
2,7805
9,1884
8,1857
0,5999
1,7667
7,5181
1,4145
3,4501 -1,3808
-3,4670
0,3497
-0,8573
2007
2008
5,0508
2,3401 11,2193
-3,6796 -3,6440
-1,7425
2009
5,7935 -1,4841
6,3398
1,6695
1,4958
0,4987
5,6856
1,6444
4,7009
3,9508
9,1917
3,3962 -1,4945 -0,5115
2,1793
7,1883
6,1073
1,6900 -2,0528 -4,2599
2,3838
13,0567
5,5737
9,7317
10,3802
6,9999
6,2255
4,4594
9,7925 -2,8746
-2,8215 -0,9564
3,1941
3,0026
1,8244
4,2099
5,1501
4,0468
2,5614
5,1165
6,8270
6,1265
6,3450
6,0137
4,6289
6,1954
6,4570
6,3077
Sumber : Kementerian Perindustrian RI
Kementerian Perindustrian Republik Indonesia, 2012, “Pemantauan Ekspor 31 Kelompok Hasil
Industri”, dalam http://www.kemenperin.go.id/statistik/kelompok.php?ekspor=1, diakses tanggal
18 Januari 2013.
107
67
3. Penduduk
Indonesia termasuk salah satu negara dengan penduduk terpadat di dunia
setelah China, India, dan Amerika serikat. Berdasarkan hasil survei BPS tahun
2010, jumlah penduduk Indonesia mencapai 237.556.363 juta orang dengan usia
produktif yang terbesar. Populasi Indonesia hingga Juli 2012 seperti yang
tercantum dalam CIA World Fatcbook berjumlah 248.216.193 jiwa dengan
tingkat pertumbuhan penduduk 1,04 persen. Selain total penduduknya yang besar,
Indonesia pun memilki bonus demografi karena jumlah penduduk yang berusia
produktif lebih dominan dibandingkan dengan jumlah penduduk berusia tidak
produktif. Berdasarkan struktur usia sekitar 27,3 persen dari penduduk berusia 014 tahun, dan usia 15-64 tahun mencapai 66 persen dari jumlah penduduk,
selebihnya 6,1 persen penduduk berusia 65 tahun ke atas.108
Bukan hanya jumlah penduduknya yang besar, Indonesia juga memiliki
keanekaragaman etnis. Di setiap pulau di Indonesia berdiam penduduk dengan
berbagai variasi etnis, bahasa, seni budaya, agama kepercayaan, adat-istiadat dan
kebiasaan. Terdapat lebih dari 740 etnis dan menggunakan 583 bahasa dan dialek
dari 67 bahasa induk yang digunakan berbagai etnis di Indonesia. Beberapa suku
bangsa utama seperti Jawa 40,6 persen, Sunda 15 persen, Madura 3,3 persen,
Minagkabau 2,7 persen, Betawi 2,4 persen, Bugis-Makassar 2,4 persen, dan sukusuku lainnya seperti di Papua Ambon, dan Sumatera.
109
Keanekaragaman etnis
dengan kebudayaannya masing-masing memberikan keunggulan bagi Indonesia
dari segi pariwisata karena merupakan salah satu daya tarik bagi wisatawan.
108
109
Badan Pusat Statistik, Op. Cit, hal.2; CIA World Fatcbook, Loc Cit.;
Sohibi, Loc. Cit.; Cia World Factbook, Loc. Cit
68
Indonesia dulunya pernah dipuji sebagai salah satu negara yang berhasil
menaikkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) atau Human Development Index
(HDI) . Namun, sejak tahun 1975 pencapaian Indonesia berada jauh dibawah ratarata. Berdasarkan hasil pengukuran oleh UNDP, Indonesia masih termasuk
kategori negara yang tingkat HDI-nya relatif rendah yakni 0,6 dan menempati
peringkat ke-108 di dunia dari 168 negara yang diukur. Dalam laporan UNDP
tahun 2004, Indonesia berada di peringkat 111 dari 175 negara. Indeks ini
menempatkan Indonesia pada kategori negara-negara yang masih Medium Human
Development. Dibandingkan negara-negara ASEAN, Indonesia menempati urutan
ke-7 di bawah Singapura, Brunei Darussalam, Malaysia, Sri Lanka, Thailand dan
Filipina. Pada tahun 2002 dan 2003 posisi Indonesia berada dibawah Vietnam.110
Penduduk merupakan salah satu modal dasar dan sumber daya manusia
yang produktif bagi pembangunan nasional di segala bidang. Upaya peningkatan
kualitas penduduk telah dilakukan pemerintah sejak tahun 1967.111 Namun sampai
sekarang Indonesia masih tetap bergelut dengan permasalahan kualitas penduduk,
serta penyebaran penduduk yang tidak merata dan hanya terkonsentrasi di daerah
tertentu seperti di Pulau Jawa dan di daerah perkotaan.
Pertumbuhan penduduk Indonesia meningkat setiap tahunnya. Pada
dekade 1980-an Indonesia berhasil menekan laju pertumbuhan penduduk melalui
program Keluarga Berencana. Namun, ternyata tidak diiringi dengan kondisi
sosial ekonomi yang signifikan, baik dari sisi kesejahteraan, kesehatan maupun
P. Bambang Wisudo, 2005, “Involusi Menuju Bangsa Terjajah”, Kompas, 16 Agustus 2005; Sri
Hayati dan Ahmad Yani, Op. Cit, hal.71-72.
111
Chappy Hakim, Op. Cit, hal. 42.
110
69
pendidikan.112 Peningkatan jumlah penduduk yang tidak terkendali dengan tingkat
pendidikan yang rendah berpengaruh terhadap kualitas sumber daya manusia.
Angka pengangguran yang cukup tinggi merupakan masalah serius yang
perlu diatasi pemerintah. Tahun 2003 tingkat pengangguran sekitar 9,7 persen dan
meningkat di tahun 2004 menjadi 9,9 persen, dan mencapai sekitar 11,2 persen
tahun 2005. Tingkat pengangguran mengalami penurunan sejak tahun 2006 dari
10,3% menurun hingga 7,1%, tahun 2010 dan terus menurun menjadi 6,3% dari
jumlah penduduk tahun 2012.113
Meski Indonesia memiliki banyak sumber daya alam, kenyataannya
Indonesia salah satu negara yang banyak penduduk miskinnya. Berdasarkan data
Biro Statistik tahun 2005 jumlah penduduk miskin mencapai 51,5 juta jiwa. Pada
bulan September 2012, jumlah penduduk miskin di Indonesia 28,59 juta orang,
jumlah ini berkurang sebesar 0,30 persen dibandingkan dengan penduduk miskin
pada Maret 2012 yang sebesar 29,13 juta orang. 114
Meskipun
demikian,
Indonesia
termasuk
sebagai
negara
yang
pertumbuhan ekonominya stabil bahkan cenderung meningkat. Meskipun sempat
mengalami kemunduran pada akhir tahun 1990-an akibat krisis ekonomi yang
melanda sebagian besar Asia. Pertumbuhan PDB tahun 2004 dan 2005 melebihi 5
persen dan terus berlanjut. Sektor jasa menjadi penyumbang terbesar PDB yakni
mencapai 45,3 persen tahun 2005, sektor industri menyumbang 40,7 persen, dan
sektor pertanian 14,0 persen. Sekarang ini PDB Indonesia mencapai 1 trilliun
112
Ganewati Wuryandari, ed., Op. Cit, hal. 51.
Badan Pusat statistik, Op. Cit, hal. 2.
114
Badan Pusat Statistik, 2013, Berita Resmi Statistik, No. 06/01/Th. XVI, 2 Januari 2013, hal.1,
dalam http://www.bps.go.id/brs_file/kemiskinan_02jan13.pdf, diakses tanggal 15 Februari 2013.
113
70
dollar AS. Meski demikian, pertumbuhan tersebut belum cukup besar dalam
mempengaruhi tingkat pengangguran. Peraturan usaha yang berbelit-belit, pasar
tenaga kerja yang terbatas, dan rendahnya investasi jangka panjang di sektor
pertanian yang merupakan sektor pendukung bagi 60 persen masyarakat miskin di
Indonesia turut berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi dalam negeri.115
B. Kebijakan Politik Luar Negeri Indonesia
Indonesia menjalankan politik luar negerinya sesuai dengan kebutuhan dan
kepentingan dalam negerinya. Prinsip bebas aktif dipegang sebagai pedoman
pelaksanaan Politik Luar Negeri Indonesia. Landasan konstitusional pelaksananan
Politik Luar Negeri Indonesia ialah Undang Undang Dasar 1945 yang di
dalamnnya memuat kepentingan nasional Indonesia. Kebijakan politik luar negeri
yang bebas aktif ini dipertegas dalam Sidang Majelis Permusyawaratan Rakyat
Sementara tahun 1966. Prinsip bebas aktif ini kemudian menjadi landasan
pendirian sikap dan langkah yang diambil dalam menghadapi permasalahan dunia
maupun di kawasan Asia Tenggara.116
Sejak berdirinya, negara Indonesia memiliki politik luar negeri yang tidak
berubah. Meski demikian, dalam setiap periode pemerintahan Indonesia terjadi
pemaknaan yang bervariasi terhadap prinsip-prinsip yang menjadi landasan dalam
pelaksanaan politik luar negerinya. Perbedaan interpretasi tersebut memungkinkan
bagi pemerintah dalam membuat dan mengambil kebijakan luar negerinya
berdasarkan situasi dan kondisi di dalam maupun luar negeri tanpa terikat.
Susilo Bambang Yudhoyono, 2012, “Presiden RI: Indonesia Bukan Lagi Negara Dunia Ketiga”,
dalam www.presidenri.go.id, diakses tanggal 30 Januari 2013
116
Sumaryo Suryokusumo, Op. Cit, hal.125-126.
115
71
Kebijakan yang diambil disesuaikan dengan kebutuhan negara saat ini tanpa
mengesampingkan kepentingan Indonesia kedepannya.
Dalam setiap periode kepemimpinan mulai dari Presiden Soekarno hingga
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, memiliki perbedaan dalam menjalankan
politik luar negerinya. Hal ini dikarenakan perbedaan situasi dan kondisi yang
dihadapi pada masa pemerintahan tersebut yang kemudian juga mempengaruhi
kebijakan luar negeri yang diambil. Meski prinsip politik luar negerinya tetap
sama, namun landasan operasionalnya berbeda. Pelaksanaan politik luar negeri
senantiasa berubah sesuai deangan kepentingan nasional yang juga menghasilkan
kebijakan yang berbeda. Baik dalam pengambilan kebijakan terkait dengan
permasalahan dalam negeri maupun dalam hubungannya dengan negara lain
khususnya negara-negara tetangga Indonesia dalam hal ini anggota ASEAN.
Regionalisme memperoleh perhatian khusus dalam pelaksanaan politik luar
negeri Indonesia. Indonesia merasa perlu adanya kerjasama regional di Asia
Tenggara khususnya dalam bidang ekonomi dan pembangunan. Inilah yang
kemudian melandasi pembentukan pembentukan Perhimpuanan Bangsa-Bangsa
Asia Tenggara atau Assosiation of South East Asia Nation (ASEAN). Dalam
pendirian ASEAN ini, diplomasi Indonesia melakukan peranan yang tidak kecil.
Indonesia merupakan salah satu negara yang aktif dalam upaya pendirian
organisasi regional tersebut dan turut mempromosikan kerjasama ekonomi dan
politik di kawasan Asia Tenggara.117
117
Ganewati Wuryandari, Op. Cit, hal. 120.
72
ASEAN dibentuk berdasarkan prakarsa Menteri Luar Negeri Indonesia.
Selanjutnya, kerjasama negara-negara Asia Tenggara dalam wadah ASEAN
dimulai dengan ditandatanganinya Deklarasi Bangkok pada 8 Agustus 1967 oleh
Indonesia, Malaysia, Singapura, Filipina, dan Muangthai (Laos). Kelima negara
ini kemudian dikenal sebagai negara pendiri dan anggota awal ASEAN yang
disebut sebagai The original five. Salah satu tujuan pendirian ASEAN ini ialah
guna menggalang kekuatan untuk menanggulangi penyebaran komunisme di
wilayah Asia Tenggara serta berbagai agenda kerja lainnya.118
Kepentingan nasional Indonesia yang tertuang dalam Pembukaan UUD
1945 diantaranya ialah untuk
menjaga ketertiban dunia. Realitasnya baik di
kawasan maupun secara internasional negara senantiasa dihadapkan pada krisiskrisis ataupun konflik serta ancaman baik yang nyata maupun tidak langsung.
Karenanya selain menjalin hubungan dan kerjasama bilateral, dalam upaya
menjaga perdamaian dunia juga penting untuk melakukan pendekatan pada
organisasi kawasan. Dalam hal ini penting bagi Indonesia untuk mempererat
kerjasama serta mengintensifkan interaksi dengan ASEAN dan secara berkala
mengadakan dialog antar anggota .
ASEAN sebagai satu-satunya organisasi kawasan di Asia Tenggara yang
beraggotakan 10 negara termasuk Indonesia menjadi sasaran utama politk luar
negeri Indonesia. Selain karena faktor regional dan termasuk dalam lingkaran
konsentrik (concentic cyrcle) terdekat, bagi Indonesia kawasan Asia-Pasifik
khususnya Asia Tenggara tetap menjadi teater utama bagi politik luar negeri
A. Irawan J.H, 1999, “Regionalisme Ekonomi Negara–negara Asia Tenggara (AFTA/ ASEAN
Free Trade Area): Figur dan Prospek”, dalam Andre H. Pereira, Ed., Perubahan Global dan
Perkembangan Studi Hubungan Intrnasional, Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, hal. 244.
118
73
Indonesia dan ASEAN merupakan wadah untuk mencapai kepentingan Indonesia.
Dalam hal ini kepentingan Indonesia di ASEAN dapat di lihat dalam berbagai
kebijakan pemerintah dari masa ke masa.
Indonesia memiliki beragam kepentingan di ASEAN, kepentingan dan
kebijakan ini terus berubah seiring dengan pergantian pemerintahan di Indonesia.
Secara umum, kepentingan Indonesia seperti yang tercantum dalam Pembukaan
UUD 1945, yakni melindungi segenap bangsa dan tumpah darah Indonesia,
memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut
melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi
dan keadilan sosial.119 Kepentingan inilah yang menjadi tujuan negara yang dalam
pencapaiannya dilakukan melalui politik luar negeri.
Indonesia memiliki tujuan nasional yang hendak dicapai dalam berbagai
bidang dan tingkatan. Dalam konteks regional, ASEAN menjadi sasaran utama
kepentingan Indonesia. Kepentingan Indonesia di ASEAN dapat di tinjau sejak
kemerdekaannya hingga sekarang. Hingga tahun 1990an, bagi Indonesia ASEAN
mempuyai enam fungsi utama. Pertama, memberikan kredibilitas yang baik bagi
Indonesia di mata Internasional. Kedua, meyakinkan dunia internasional atas
kontribusi Indonesia terhadap pembagunan harmonis di tingkat regional. Ketiga,
ASEAN berfungsi sebagai penyanggah terhadap subversi dan serangan eksternal.
Keempat, ASEAN dapat mendorong negara-negara anggotannya menjadi lebih
mandiri dan otonom. Kelima, Indonesia dapat memanfaatkan ASEAN untuk
Republik Indonesia, “Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945”, dalam
Ermaya Suradinata, Op. Cit, hal.157.
119
74
meningkatkan posisi tawar secara internasional. Keenam, melalui ASEAN
Indonesia dapat meyakinkan anggota lainnya akan posisi Indonesia.
Selain harus menghadapi krisis multidimensial, Indonesia dihadapkan pada
arus perkembangan negara-negara disekitarnya dan permasalahan transnational
crime. Oleh karenanya, negara harus mampu mengatisipasi laju perkembangan
negara-negara tetangga serta mengambil berbagai inisiatif untuk menempatkan
Indonesia sebagai pusat hubungan-hubungan kerjasama di Asia Tenggara. Dengan
kepemimpinan Indonesia di Tahun 2011 diharapkan mampu membentuk
komunitas ASEAN sebagai kekuatan pemersatu menciptakan stabilitas politik dan
ekonomi di Asia Tanggara. Indonesia sangat berkepentingan terhadap stabilitas
politik dan keamanan, mengingat kepentingan pembanguan nasional yang sangat
ditentukan oleh hubungan Indonesia dengan negara-negara di kawasan. Di lain
pihak, Indonesia tetap ingin mempertahankan perannya sebagai negara yang
disegani dan menjadi leader di ASEAN.
Kepentingan Indonesia di ASEAN cukup kompleks namun pada intinya
lebih kepada aspek politik dan keamanan serta pemulihan citra Indonesia.
Utamanya bila ASEAN dapat menjadi stabilisator kawasan Asia Tenggara.
Dengan adanya jaminan keamanan dan stabilitas kawasan, maka kegiatan
perekonomian ASEAN pun dapat terjamin kelangsungannya. Secara tidak
langsung ini akan berdampak positif bagi Indonesia.
Berbagai kebijakan diambil pemerintah terkait dengan kepentingan
Indonesia ini di ASEAN. Diantaranya dalam Ketetapan MPR tanggal 22 Maret
1973 yang memungkinkan pemerintah mengambil langkah-langkah untuk
75
memantapkan stabilitas wilayah Asia Tenggara sehingga memungkinkan negaranegara di kawasan ini mampu mengurus masa depannya sendiri melalui
pembangunan ketahanan nasional masing-masing, serta memperkuat wadah dan
kerjasama antara negara anggota ASEAN. Kemudian sesuai Petunjuk Presiden 11
April 1973, dijabarkan berbagai upaya-upaya yang perlu dilakukan antara lain
untuk memperkuat dan mempercepat kerjasama antar negara-negara dalam
lingkungan ASEAN, memperkuat persahabatan dan memberi isi yang lebih nyata
terhadap hubungan bertetangga baik dengan tetangga-tetangga Indonesia, serta
mengembangkan setiap unsur dan kesempatan untuk memperkokoh perdamaian
dan stabilitas di wilayah Asia Tenggara. 120
Pada masa orde baru, politik luar negeri Indonesia lebih difokuskan pada
upaya pembangunan di bidang ekonomi dan peningkatan kerjasama internasional.
Dalam pidato Presiden Soeharto di depan MPRS tahun 1996, ditekankan untuk
menjaga stabilitas keamanan dan pembangunan ekonomi. Pemikiran bahwa
stabilitas keamanan dapat mempengaruhi pembangunan ekonomi, menjadi
pedoman pengambilan kebijakan politik luar negeri untuk membangun hubungan
yang baik dengan pihak-pihak barat dan bertetangga yang baik (good
neighborhood) melalui ASEAN. 121
Pasca orde baru, tujuan utama Indonesia tetap sama dan kepentingan
nasional tetap konsisten namun dengan arah kebijakan lebih terfokus pada
kerangka
120
121
mewujudkan
nasionalisme
pembangunan
guna
mewujudkan
Ganewati Wuryandari, ed., Op. Cit, hal. 31-32.
Ibid. hal. 33 dan 115.
76
kesejahteraan bangsa agar dapat sejajar dengan bangsa-bangsa lain.122 Pada masa
Presiden Habibie, kepentingan nasional dalam dunia diplomasi lebih merujuk
pada upaya pemulihan ekonomi. Sedangkan di masa Presiden Abdurrahman
Wahid, selain mencari dukungan guna pemulihan ekonomi juga dalam mengatasi
konflik domestik dan mempertahankan integritas teritorial Indonesia. Hal ini
berlanjut hingga kepemimpinan Presiden megawati dengan ditambah kepentingan
dalam mengatasi masalah terorisme. Berbagai kepentingan dan persoalan yang
dihadapi pemimpin sebelumnya kemudian berlanjut hingga kepemimpinan
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sekarang.123
Pelaksanaan politik luar negeri pada masa kabinet gotong-royong tahun
2001-2004, ditetapkan sasaran-sasaran yang perlu dicapai antara lain memperbaiki
performa diplomat Indonesia dalam rangka suksesnya pelaksanaan diplomasi proaktif di semua bidang, meningkatkan kualitas diplomasi dalam rangka mencapai
pemulihan ekonomi melalui intensifikasi kerjasama regional dan internasional,
dan memperluas perjanjian ekstradisi serta mengintensifkan kerjasama dengan
negara-negara tetangga dalam kerangka ASEAN dengan tujuan memelihara
stabilitas dan kemakmuran di wilayah Asia Tenggara.124
Pada pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, agenda utama
politik luar negerinya terletak pada tiga program utama yang termuat dalam RPJM
2004-2009, yakni pemuliahan ekonomi dan mengawal demokrasi serta menjaga
keutuhan integritas nasional. Dalam hal ini diambil kebijakan untuk meningkatkan
kerjasama internasional yang bertujuan memanfaatkan secara optimal berbagai
122
Ibid.
Ibid, hal. 179-180.
124
Ibid, hal. 35.
123
77
peluang dalam diplomasi dan kerjasama internasional. Peningkatan kerjasama
utamanya kerjasama ASEAN, yang memiliki kepentingan yang sejalan dengan
Indonesia. Langkah mementingkan kerjasama ASEAN dalam penyelenggaraan
hubungan luar negeri merupakan aktualisasi dari pendekatan ASEAN sebagai
concentric circle utama politik luar negeri Indonesia.125
Fokus kebijakan dan diplomasi pemerintah ialah untuk memulihkan kembali
citra internasional Indonesia. Politik luar negeri diharapkan mampu memainkan
fungsinya untuk membantu pemulihan ekonomi khususnya pasca krisis 19971998, serta membantu menjaga keutuhan negara dan bangsa. Dengan
membaiknya reputasi Indonesia dan kredibilitas sebagai negara demokrasi,
menjadi modal untuk merevitalisasi pengaruh starategis Indonesia di tingkat
regional dan global.126
C. Perkembangan Diplomasi Indonesia di ASEAN
Politik luar negeri dan diplomasi Indonesia merupakan hasil kerjasama
seluruh elemen bangsa yang menjadikan Indonesia memiliki peran dan pengaruh
yang lebih besar di kawasan ASEAN. Sehingga dapat pula memberikan kontribusi
melalui diplomasi di forum global. Diplomasi senantiasa memainkan peranan
penting dalam perjuangan rakyat untuk mempertahankan dan mengisi
kemerdekaan. Diplomasi digunakan untuk mencapai tujuan pembangunan
nasional guna mewujudkan kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia.
125
126
Ibid, hal. 40.
Ibid. hal 9-10.
78
Sejak kemerdekaannya, Indonesia telah menjalankan beragam diplomasi
sesuai perjalanan sejarah dan perkembangan yang terjadi. Perhatian dalam
diplomasi Indonesia dicurahkan pada berbagai bidang mulai dari politik, ekonomi,
sosial, kemanusiaan, hukum internasional, keamanan serta ketertiban dunia.127
Diplomasi di kawasan merupakan salah satu pilar penting dari diplomasi
Indonesia. Dalam upaya mengembangkan kerjasama kawasan, Indonesia
melakukan diplomasi yang senantiasa mengedepankan pengembangan arsitektur
kawasan yang memungkinkan kerjasama dalam menghadapi tantangan-tantangan
keamanan bersama baik yang bersifat tradisional maupun non-tradisional.128
Meski demikian kemampuan, efektivitas, serta pamor diplomasi Indonesia
dewasa ini dalam beberapa kesempatan menunjukkan banyak penurunan
dibanding dulu. Pada masa kepemimpinan dua presiden Indonesia sebelumnya,
Soekarno dan Soeharto, kemampuan dan kepiawaian Indonesia dalam
berdiplomasi terbilang amat disegani. Akan tetapi pasca reformasi pamor
Indonesia baik di mata internasional maupun sesama anggota kawasan (ASEAN)
menjadi semakin surut. Peran Indonesia dinilai semakin melemah utamanya pasca
reformasi dan krisis tahun 1998. Pergolakan politik dan kekacauan di Timor
Timur pasca jajak pendapat membuat citra Indonesia terpuruk.129
Pada masa Orde Lama, kekuatan diplomasi Indonesia terletak pada rasa
nasionalisme dan kekuatan argumennya. Soekarno sebagai pemimpin saat itu,
127
Suffri Yusuf, Op. Cit., hal. 136.
Marty Natalegawa, 2012, “Pernyataan Pers Tahunan Menlu: Diplomasi Indonesia Konsisten
Mengelola Perubahan”, Tabloid Diplomasi, No.51 Tahun V, 15 Januari- Februari 2012, hal. 5.
129
Aditya Revianur, 2013, “Diplomasi Indonesia Fokus Jaga Perdamaian Dunia”, dalam
http://internasional.kompas.com/read/2013/01/04/15334438/Diplomasi.Indonesia.Fokus.Jaga.P
erdamaian.Dunia, diakses tanggal 10 Januari 2013.
128
79
berusaha menjadi tokoh yang mengemuka dengan memperkenalkan Indonesia
sebagai salah satu negara yang patut diperhitungkan dalam politik dunia melalui
keikutsertaan Indonesia dalam sejumlah organisasi internasional. Sifat diplomasi
Indonesia di masa Soekarno dikenal dengan haluan politik luar negeri yang
revolusioner dan anti-imperialisme serta bersifat sangat konfrontatif. Memasuki
rezim Orde Baru, sifat politik luar negeri Indonesia berganti ke arah politik yang
bersifat kooperatif. Orientasi politik luar negeri berupa pembangunan ekonomi
dalam negeri melalui kerja sama dengan negara-negara lain. Diplomasi yang
dilakukan di masa Orde Baru disebut juga sebagai Diplomasi Pembangunan
(Diplomacy For Development). Diplomasi pembangunan Indonesia tersebut dapat
dikatakan berhasil dalam memperoleh bantuan luar negeri.130
Pada masa reformasi, Indonesia lebih memiliki kedudukan setara dalam
menjalin hubungan diplomatis dengan negara-negara barat yang lebih maju.
Kesetaraan dalam hubungan diplomatiknya terlihat dari berbagai pembicaraan dan
perundingan dengan negara maju dalam kerangka bahasan yang sama misalnya
terkait isu nuklir Iran, Indonesia pun turut dalam melaksanakan demokrasi, dan
penghormatan nilai-nilai HAM, dan lebih mudah berinteraksi dengan negara lain.
Kondisi tersebut membuat kepercayaan tinggi bagi bangsa Indonesia untuk lebih
aktif untuk merintis kerjasama antarnegara.
Meski diplomasi Indonesia saat ini cenderung lemah dalam berhadapan
dengan negara-negara ASEAN di tingkat bilateral, namun pemerintah tetap
optimis dengan kemampuan diplomasi Indonesia. Sebagaimana dikatakan oleh
130
Bambang Cipto, 2007, Hubungan Internasional di Asia Tenggara: Teropong Terhadap
Dinamika, Realitas, dan Masa Depan, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, hal. 13 dan 15.
80
Menlu Marty Natalegawa yang menyatakan bahwa hingga kini posisi Indonesia
di ASEAN masih menjadi penentu. Indonesia justru berperan penting sebagai
faktor pemersatu sekaligus penyeimbang baik di dunia Internasional maupun di
kawasan Asia Tenggara sendiri. Dalam konteks ASEAN, Indonesia menjadi
faktor perekat hubungan antar negara anggota dan dalam konteks yang lebih luas
diharapkan dapat berperan sebagai penentu keseimbangan yang dinamis (dynamic
equilibrium). Dengan kemampuan diplomasinya, Indonesia bisa bergerak dengan
lincah dan menciptakan keseimbangan di kawasan.131
Dalam pelaksanaan diplomasinya, Indonesia ditunjang oleh faktor-faktor
dalam negeri berupa kebudayaan, adat-istiadat, nilai-nilai, prinsip-prinsip, dan
pandangan hidup serta sejarah bangsa. Pendirian Departemen Luar Negeri pada 19
Agustus 1945 serta sejarah diplomasi Indonesia membuktikan bahwa setelah
proklamasi, Republik Indonesia dengan cepat dapat menunjukkan kapasitasnya
dalam menjalin hubungan dengan negara lain.132 Meski situasi politik saat itu
memberikan banyak tantangan bagi diplomasi, bukan hanya dari dalam negeri
tetapi juga konstelasi politik saat itu yang dilanda Perang Dingin.
Dari orde lama hingga dimulainya orde baru tahun 1966 yang berlangsung
hingga tahun 1997, diplomasi Indonesia telah banyak mengalami perubahanperubahan dalam kebijakan politik luar negerinya. Dalam kurun waktu tersebut
Indonesia telah menghadapi banyak persoalan baik dalam maupun luar negeri
khususnya dengan negara tetangga di kawasan Asia Tenggara. Sebagai Menteri
Luar Negeri pada saat itu, Adam Malik menyatakan bahwa Indonesia harus
131
132
Ibid.
Suffri Yusuf , Op. Cit, hal. 133-134.
81
berusaha mengembalikan kewibawaannya di dunia internasional. Dari sini
lahirlah diplomasi Indonesia yang disebut diplomasi bebas aktif. Prinsip politik
luar negeri ini kemudian menjadi landasan dalam sikap dan langkah yang diambil
pemerintah dalam menghadapi masalah dunia dan terkhusus masalah-masalah di
kawasan Asia Tenggara.133
Terbentuknya organisasi ASEAN merupakan buah dari hasil diplomasi
Indonesia di Asia Tenggara dalam upayanya mencapai kepentingan nasional
dalam menjaga stabilitas regional guna menjamin rencana pembangunan
Indonesia.134 Dengan memprakarsai terbentuknya ASEAN, Indonesia juga telah
berhasil memberikan bobot terhadap kerjasama di kawasan. Melalui fora ASEAN
ini pula Indonesia telah memulai langkah secara high profile ketika Menteri luar
Negeri Mochtar Kusumaatmadja mengawal cocktail party di akhir tahun 1970an
untuk menyelesaikan konflik Kamboja.135 Selain itu diplomasi Indonesia turut
pula dalam mencari jalan penyelesaian Perang Vietnam dan seusai perang tersebut
juga sibuk dalam penanggulangan masalah pengungsi Vietnam.136
Citra Indonesia masa orde baru dikenal sebagai negara anti-komunis di
mana hal tersebut sangat mendominasi kebijakan-kebijakan politik dan keamanan
dalam negeri.137 Hal ini turut berpengaruh terhadap kebijakan luar negeri
Indonesia dan hubungannya dengan negara-negara ASEAN. Meski demikian,
peran aktif serta kemampuan diplomasi pemerintah Indonesia menjadikannya
sebagai negara yang disegani diantara anggota ASEAN. Peran pemerintah ini
133
Sumaryo Suryokusumo, Op. Cit, hal.125.
Ganewati Wuryandari, ed., Loc. Cit.
135
Sumaryo Suryokusumo, Op. Cit, hal. 126.
136
Suffri Yusuf, Op. Cit, hal. 136
137
Ganewati Wuryandari, ed., Op. Cit, hal. 132.
134
82
sangat berpengaruh terhadap pelaksanaan diplomasi dan peran aktif Indonesia
dalam pembahasan masalah-masalah regional dan internasional.
Sejak
terbentuknya
ASEAN,
Indonesia
banyak
berperan
dalam
memprakarsai pertemuan-pertemuan di tingkat ASEAN. Selain itu juga aktif
menjadi penengah dalam berbagai konfrontasi antarnegara anggota ASEAN.138
Pada tahun 1976, ketika Indonesia menjadi ketua KTT ASEAN di Bali, melalui
perundingan antar kepala negara tersebut kemudian berhasil disepakati landasan
yang penting bagi kerjasama ekonomi dan keamanan melalui Declaration of
ASEAN Concord (Bali Concord) dan Treaty of Amity and Cooperation . Dokumen
yang dihasilkan ini menjadi pondasi yang kuat bagi hubungan persahabatan di
antara negara-negara ASEAN dan melalui Treaty of Amity and Cooperation untuk
pertama kalinya ASEAN dapat membentuk suatu mekanisme regional untuk
menyelesaikan pertikaian di antara anggota-anggotanya secara damai .139
Pada tahun 1996, keadaan politik dalam negeri Indonesia mulai mengalami
perubahan. Indonesia mulai ditempa krisis moneter. Stabilitas dalam negeri tidak
mampu lagi dipertahankan dan kerusuhan serta demonstrasi besar-besaran terjadi
di berbagai wilayah yang berujuang pada berakhirnya masa orde baru. Secara
umum kondisi domestik pasca orde baru penuh gejolak politik di samping
kebangkrutan ekonomi yang berpengaruh negatif terhadap rasa percaya diri
Indonesia dalam wacana politik global. 140
Reformasi yang terjadi disertai dengan krisis moneter yang melanda
berbagai negara Asia turut berpengaruh terhadap diplomasi Indonesia di kawasan.
138
Ganewati Wuryandari, ed., Op. Cit, hal. 122.
Sumaryo Suryokusumo, Op. Cit, hal.128
140
Ganewati Wuryandari, ed., Op. Cit, hal. 139 dan 237.
139
83
Kinerja diplomasi Indonesia mengalami kemunduran sejak runtuhnya orde baru
dan politik luar negeri Indonesia menjadi semakin sensitif, khususnya terkait
reaksi internasional atas persoalan Hak Asasi Manusia (HAM) di Indonesia. Sejak
tahun 1998 Indonesia mengalami keterpurukan dalam berbagai dimensi yang juga
menyebabkan keterpurukan dalam konstelasi politik Internasional.141
Sejak berakhirnya masa orde baru dan krisis berkepanjangan sejak 1997
menjadikan Indonesia terlihat sebagai negara yang tak berdaya di tengah beberapa
negara anggota ASEAN.142 Diplomasi Indonesia terhadap Sipadang-Ligitan yang
tidak berhasil serta berkurangnya wibawa Indonesia di mata negara-negara
tetangga seperti Malaysia, Singapura, dan Australia. Hal ini menunjukkan
semakin melemahnya kemampuan diplomasi Indonesia.143
Semakin lemahnya kekuatan diplomasi Indonesia di ASEAN diperparah
dengan kebijakan politik luar negeri Indonesia di masa Presiden Abdurrahman
Wahid. Gagasan pembentukan forum atau poros baru yang sangat jelas
bertetangan dengan semangat dan kerjasaman ASEAN bukan hanya menunjukkan
kegagalan Indonesia dalam berdiplomasi tetapi berpengaruh pula terhadap
tanggapan negara-negara ASEAN terhadap konsistensi Indonesia.144 Kemudian di
era Megawati, terjadi banyak aksi separatisme seperti di Aceh dan Papua serta
serangkaian teror bom mulai dari peledakan di Atrium Senen, bom Bali I dan II,
141
Ganewati Wuryandari, ed., Op. Cit, Hal.123
Aris
Heru
Utomo,
2009,
“Peran
Indonesia
di
ASEAN”,
dalam
http://politik.kompasiana.com/2009/09/15/peran-indonesia-di-asean-2/, diakses 15 Juli 2012.
143
Ganewati Wuryandari, ed., Op. Cit, Hal. 175.
144
Sumaryo Suryokusumo, Op. Cit, hal. 135.
142
84
serta teror bom di hotel JW. Marriot dan sebagainya. Ini kemudian menjadi
sorotan negara-negara lain terkait dengan keamanan dalam negeri Indonesia.145
Diplomasi
Indonesia mengalami keterpurukan sebagai akibat dari
instabilitas dalam negeri. Realitas politik dan ekonomi yang terpuruk
menyebabkan kualitas diplomasi Indonesia tidak mampu bersaing melawan
negara tetangganya Malaysia dalam peradilan internasional. Kekalahan Indonesia
diperadilan
internasional
dalam
memenangkan
Kasus
Sipadang-Ligitan
memperlihatkan diplomasi Indonesia yang lemah dan no profile.146
Meski demikian, secara perlahan Indonesia mulai bangkit dan menunjukkan
kemampuannya melalui berbagai pencapaian yang diraih baik secara global
maupun regional. Memasuki masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono,
transisi
politik
yang sempat
bergejolak
sejak
dimulainya
demokratisasi tahun 1998 mulai stabil. Hal ini kemudian mendorong Indonesia
untuk kembali aktif terlibat dalam menyelesaikan permasalahan-permasalahan
regional dan internasional. Indonesia aktif dalam menyodorkan platform baru bagi
kerjasama ASEAN melalui gagasan Masyarakat Keamanan ASEAN.147
Di masa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, dalam politik luar
negerinya, berpijak pada diplomasi yang disebut sebagai ‘mengarungi samudera
yang penuh tantangan’. Namun, realisasainya tetap didasarkan pada prinsip bebas
aktif, tidak mengijinkan adanya pangkalan militer di Indonesia, mengutamakan
kebebasan berpikir dan kemandirian bertindak secara konstruktif, identitas
internasional, konektivitas, dan pentinganya bebas aktif berdasarkan pada corak
145
Ganewati Wuryandari, Op. Cit, hal.190.
Ibid, hal.183.
147
Ibid, hal.191.
146
85
nasional Indonesia.148 Melalui diplomasi presiden yang intens disertai inisitifinisiatif yang segar dalam menghadapi permasalahan regional maupun global
memberikan citra yang cukup positif bagi Indonesia.149
Dalam bidang politik dan keamanan pasca reformasi, Indonesia menjadi
negara terdepan dalam menerapkan demokrasi dalam kehidupan bernegara.
Selanjutnya Indonesia berupaya mengajak negara-negara ASEAN untuk turut
menerapkan demokrasi. Di bidang HAM, Indonesia adalah negara pertama di
ASEAN yang memiliki komisi HAM. Indonesia juga mulai memperlihatkan
kestabilan dalam pertumbuhan ekonomi. Terlihat dari kemampuan Indonesia
untuk bertahan dari krisis ekonomi 2008 yang melanda hampir seluruh dunia.
Pengakuan terhadap Indonesia dapat dilihat dengan diikutkannya sebagai salah
satu anggota G-20. Ini dapat memberikan poin bagi Indonesia di mata negaranegara ASEAN yang secara tidak langsung dapat mempermudah perjuangan
dalam mewujudkan kepentingan nasional Indonesia.
Di ASEAN, Indonesia ialah penggagas ide mengenai Komunitas ASEAN
(ASEAN Community).150 Usulan mengenai komunitas ASEAN yang bukan hanya
menyandarkan pada kerjasama ekonomi seperti diusulkan Singapura, melainkan
mencakup aspek lain seperti kerjasama politik dan keamanan serta kerjasama
sosial-budaya.151 Komunitas ASEAN 2015 awalnya disetujui untuk dibentuk pada
KTT ASEAN di Bali tahun 2003. Pembentukan Komunitas ASEAN dengan tiga
pilar utamanya yakni ASEAN Security Community (ASC), ASEAN Economic
148
Inayati dalam Ganewati Wuryandari, ed., Op. Cit, hal. 214-215.
Atiqah Nur Alami dalam Ganewati Wuryandari, ed., Op. Cit, hal. 53.
150
Ibid.
151
Aris Heru Utomo, Loc. Cit.
149
86
Community (AEC), dan ASEAN Socio-Cultural Community (ASCC) merupakan
salah satu wujud capaian dari diplomasi Indonesia di ASEAN.
Keberhasilan penandatanganan Piagam ASEAN pada 15 Desember 2008
menjadi dasar kuat bagi terbentuknya Komunitas ASEAN. Di sinilah peran dan
daya tawar diplomasi Indonesia dapat dilihat utamanya dalam menerjemahkan
konsep-konsep besar ke dalam ketentuan-ketentuan yang harus disepakati
bersama dalam Piagam ASEAN ini. Indonesia juga yang memperjuangkan
dimasukkannya elemen demokratisasai serta penghormatan dan penegakan HAM,
dalam kerjasama politik dan keamanan yang kemudian dituangkan dalam Piagam
ASEAN dan cetak biru kerjasama politik dan keamanan.152
Sebagai salah satu pendiri ASEAN, segala perubahan yang terjadi di
ASEAN merupakan tantangan bagi Indonesia untuk lebih memperlihatkan
kepemimpinannya dan guna menyambut terbentuknya ASEAN Community 2015.
Di tahun 2011, sebagai ketua ASEAN Indonesia berupaya memimpin ASEAN
menuju komunitas kawasan yang harmonis, aman, tenteram, dan damai dengan
kerjasama yang lebih erat dan saling menguntungkan.153 Berbagai usulan
pemerintah Indonesia juga dimuat dalam Bali Concord I dan Bali Concord II.
Kepiawaian diplomasi Indonesia dewasa ini dapat dilihat dalam KTT
ASEAN di Bali tahun 2011, di mana dalam pembahasan mengenai konflik
Kamboja dan Thailand, Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan
Indonesia, Djoko Suyanto menegaskan bahwa penyelesaian konflik di dalam
152
Aris Heru Utomo, Loc. Cit.
Luhur Hertanto, 2011, “KTT ASEAN 2011 Hasilkan Bali Concord III”, dalam
http://news.detik.com/read/2011/11/17/165144/1769604/10/ktt-asean-2011-hasilkan-baliconcord-iii, diakses 15 Juli 2012.
153
87
ASEAN menjadi urusan internal ASEAN. Hal penting lain ialah mengenai cara
penanganan masalah pertahanan dan keamanan di wilayah masing-masing yang
bisa mempengaruhi kawasan. Dalam hal ini, dibahas bahwa kerja sama
pertahanan ASEAN bukan mengarah pada pembentukan pakta pertahanan
regional. Melalui KTT ASEAN ini, dihasilkan Bali Concord III yang memuat
kesepakatan untuk memastikan partisipasi dan kontribusi aktif ASEAN dalam
mengatasi berbagai permasalahan fundamental global dewasa ini..154
Diplomasi Indonesia dalam hubungan multilateral cukup berhasil. Namun,
diplomasi secara bilateral dangan negara-negara anggota ASEAN, terlihat bahwa
diplomasi Indonesia masih lemah. Di taraf bilataral, banyak perundingan yang
dilakukan dengan negara ASEAN yang belum berhasil.155 Dalam hubungnnya
dengan Singapura maupun Malaysia di mana diplomasi Indonesia selalu saja
mengalami kendala. Ini terlihat dalam beberapa kasus mulai dari sengketa
Sipadang-Ligitan, kasus TKI, perjanjian ekstradisi dengan Singapura, kasus
pencurian pasir Indonesia, illegal Logging, klaim budaya, dan sebagainya.
Indonesia juga masih lemah dalam hal diplomasi ekonomi dibanding
beberapa negara ASEAN lainnya. Indonesia masih banyak terfokus pada
diplomasi terkait dengan politik dan keamanan. Kelemahan lainnya yakni dalam
hal sosial-budaya di mana banyak terjadi klaim terhadap budaya Indonesia oleh
negara tetangga. Pada akhirnya menimbulkan sentimen antar masyarakat kedua
belah pihak. Dari segi ekonomi, Indonesia masih kalah dari Singapura, Malaysia,
Anri Syaiful, 2011, “PBB Akui Cara ASEAN Kelola Konflik”, dalam
http://news.liputan6.com/read/363036/pbb-akui-cara-asean-kelola-konflik, diakses tanggal 7
Februari 2013.
155
Wawancara dengan Adriana Elisabeth, Jakarta, 26 Juni 2012.
154
88
dan Thailand bahkan hampir dilampaui oleh Vietnam. Ini dikarenakan kurangnya
diplomasi pemerintah serta kondisi dalam negeri yang diliputi krisis
multidimensial dan kecenderungan konflik antar daerah perbatasan.156
Dalam hubungan dengan Singapura, Indonesia senantiasa berada pada posisi
dirugikan. Ekspor pasir ke Singapura menyebabkan adanya pulau-pulau Indonesia
yang rusak dan hilang. Ditambah dengan kalkulasi perbatasan laut terkait
pelebaran wilayah Singapura yang bila ditelusuri justru sangat merugikan
Indonesia. Selain itu, kesepakatan Ekstradisi Indonesia-Singapura tahun 2007
yang dikaitkan dengan Defence Cooperation Agreement (DCA) justru lebih
banyak menguntungkan Singapura.157
Di lain pihak pengelolaan sumber daya alam yang belum signifikan dan
terkoordinasi serta kurangnya pengawasan terhadap wilayah perbatasan dan
pulau-pulau terluar Indonesia. Sehingga banyak hasil alam Indonesia yang
diselundupkan dan dikuasai serta dimanfaatkan oleh negara lain. Jadi, dapat
dikatakan bahwa diplomasi Indonesia terhadap tetangga sesama anggota ASEAN
belum berhasil atau masih lemah.
Meski demikian, secara regional Indonesia masih dianggap sebagai
pemimpin di ASEAN dan sangat diharapkan utamanya dalam hal pertahanan dan
keamanan ASEAN. Terbukti dengan diplomasi Indonesia yang realisasinya dapat
dilihat secara lebih lanjut pada KTT ASEAN 2011 melalui kesepakatan bahwa
156
157
Ibid.
Ganewati Wuryandari, Op. Cit, hal. 181.
89
ASEAN bukan pakta pertahanan. Dengan demikian kemungkinan perang dapat
dihindari serta stabilitas keamanan di kawasan dapat lebih terjaga.158
Dalam konteks ASEAN, negara–negara ASEAN menyadari bahwa
Indonesia memiliki cakupan geografi sangat luas dengan jumlah penduduk
terbanyak di antara negara anggota ASEAN. Jika stabilitas keamanan dalam
negeri terganggu maka dapat mempengaruh stabilitas kawasan. Seringnya terjadi
ancaman dan aksi terorisme yang melibatkan pelaku asal negara tetangga seperti
Malaysia. Ditambah dengan maraknya transnational crime yang melibatkan
beberapa negara ASEAN seperti Filipina dan Thailand cukup meresahkan bagi
pemerintah dalam negeri juga menjadi perhatian negara ASEAN. Karenanya
pemerintah merasa perlu kerjasama yang lebih aktif dengan negara-negara
ASEAN sehubungan dengan masalah keamanan antar negara di kawasan. Karena
itu perlu ada kerjasama dengan aparat-aparat keamanan di tiap negara.159
Penanganan isu-isu illegal logging perlu lebih diperhatikan agar tidak
berdampak negatif terhadap hubungan antarnegara di ASEAN. Dalam hal ini,
diplomasi Indonesia sangat penting guna melindungi hak-haknya atas kekayaan
alam yang dimilikinya agar tidak diselundupkan ke negara tetangga. Diplomasi
Indonesia dalam menangani kasus illegal logging ini tampak dari kesepakatannya
dengan Malaysia dan Filipina dalam Agreement on Information Exchange and
Establihsment of Communication Producedures pada 7 Mei 2002. Inti
kesepakatan tersebut ialah berupa kerjasama trilateral dalam pertahanan,
perbatasan dan keamanan bersama mencakup data intelejen untuk memberantas
158
159
Wawancara dengan Adriana Elisabeth, Jakarta, 26 Juni 2012.
Ganewati Wuryandari, Op. Cit, hal.223 dan 227-228
90
terorisme, penyelundupan, bajak laut, pembajakan, pendatang ilegal, drug
trafficking, pencurian sumber daya laut, polusi laut, dan penyelundupan senjata.
Kesepakatan ini selanjutnya diikuti Thailand, Kamboja, dan Brunei darussalam.160
Capaian lain diplomasi Indonesia di ASEAN antara lain tercapainya
pembentukan Komisi HAM ASEAN (AICHR), Institut Perdamaian dan
Rekonsiliasi ASEAN (AIPR) dan berlangsungnya kembali dialog Traktat
Kawasan Bebas Nuklir di Asia Tenggara (SEANWFZ).161 Selama Indonesia
menjadi ketua ASEAN, beberapa konflik berhasil dirundingkan melalui
mekanisme dialog diantaranya isu Thailand-Kamboja, isu Laut Cina Selatan,
kemajuan signifikan dalam SEANWFZ, dan tentang isu maritim dalam ASEAN
Maritime Forum (AMF).
Secara umum, diplomasi Indonesia telah menciptakan dan memelihara
stabilitas keamanan dan perdamaian di tingkat kawasan maupun global. Indonesia
telah mengintensifkan perundingan perbatasan dengan negara tetangga. Selama
tahun 2012, telah dilaksanakan 32 kali perundingan perbatasan dengan 7 negara,
yang meliputi 15 kali dilakukan perundingan batas maritim dan 17 kali
perundingan batas darat. Perundingan-perundingan batas maritim mengalami
kemajuan signifikan di tingkat teknis dan telah mendapat dorongan pada tingkat
tinggi agar dicapai kemajuan lebih lanjut. Upaya pencegahan dan deteksi dini
serta perlindungan terhadap WNI di luar negeri pun membuahkan hasil terbukti
dengan berkurangnya pelaporan kasus yang dihadapi warga negara Indonesia.
160
Ganewati wuryandari, Op. Cit, hal. 230.
A. Dody R., 2012, “Menlu RI Marty Natalegawa Paparkan Capaian Diplomasi Indonesia
kepada Awak Media Asing”, dalam http://nrmnews.com/2012/12/11/menlu-ri-marty-natalegawapaparkan-capaian-diplomasi-indonesia-kepada-awak-media-asing, diakses 10 Januari 2013.
161
91
Selain itu telah dilakukan konsolidasi demokrasi dan nilai-nilai HAM di kawasan
dan global melalui kerangka ASEAN maupun Bali Democracy Forum.162
Ketika timbul keraguan mengenai kesamaan pandangan ASEAN mengenai
Laut China Selatan, Indonesia bergerak melalui shuttle diplomacy selama 36 jam
untuk
mengkonsolidasikan
posisi
ASEAN
sesuai
six-point
principles.
Selanjutnya, diplomasi Indonesia mendorong momentum pelaksanaan secara
menyeluruh Declaration of Conduct termasuk regional code of conduct melalui
disepakatinya elemen-elemen dasar CoC. Menteri Luar Negeri Indonesia
menegaskan bahwa ketika sengketa Laut China Selatan mencuat, Indonesia
dengan
tanggap
mendorong
terjalinnya
komunikasi
diplomatik
yang
mengedepankan pilihan diplomasi bagi penyelesaian sengketa tersebut.163
Selanjutnya, diplomasi Indonesia di ASEAN pada tahun 2013 diarahkan
pada upaya peningkatan momentum pelaksanaan secara menyeluruh DoC Laut
China Selatan. Indonesia juga akan secara konsisten mengingatkan pentingnya
seluruh negara mengikatkan diri pada “Bali Principles” yang disepakati dalam
KTT Asia Timur di Bali tahun 2011. Di samping itu juga langkah-langkah
konkret guna memperkuat ketiga pilar Komunitas ASEAN dan memastikan
kemajuan yang seimbang di antara ketiga pilar tersebut. Serta Keberlanjutan
komitmen untuk menjadikan ASEAN sebagai forum kerja sama yang peopleoriented, people-centred, and people-driven.
Mitra Tarigan, 2013, “9 Refleksi Kementerian Luar Negeri”, Tempo, 4 Januari 2013, dalam
http://www.tempo.co/read/news/2013/01/04/078452173/9-Refleksi-Kementerian-MenteriLuar-Negeri, diakses tanggal 20 Februari 2013.
163
Hindra Liu , 2012, “AS Belum Putuskan Pangkalan Militer di Pulau Cocos”, dalam
http://internasional.kompas.com/read/2012/03/30/06502872/AS.Belum.Putuskan.Pangkalan.Mi
liter.di.Pulau.Cocos, diakses tanggal 20 Februari 2013.
162
92
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari pembahasan yang telah dikemukakan pada bab-bab sebelumnya,
kesimpulan yang dapat ditarik sebagai berikut:
1. Indonesia memiliki potensi kekuatan nasional statis dari segi geografis,
sumber daya alam dan jumlah penduduknya. Meski demikian, dalam hal ini
kekuatan nasional belum dioptimalkan secara signifikan untuk mendukung
diplomasi Indonesia, karena kemampuan diplomasi selama ini bergantung
pada sumber daya dan kemampuan diplomat sendiri atau wakil negara
dalam suatu negosiasi.
2. Untuk mencapai tujuan nasional, maka Indonesia terus berupaya
mengoptimalkan national power-nya melalui berbagai strategi yang
dilakukan pemerintah baik yang bersifat jangka pendek, menengah maupun
jangka panjang, agar dapat mendukung kegiatan diplomasi Indonesia di
ASEAN. Strategi yang dilakukan pemerintah diantaranya dengan
memperkuat pertahanan dan kemanan negara, promosi dan proteksi
terhadap kekayaan alam Indonesia, serta peningkatan kualitas sumber daya
manusia sebagai tenaga kerja profesional dengan keterampilan dan keahlian
masing-masing. Potensi kekuatan nasional Indonesia dapat menjadi nilai
tawar (bargaining) dalam pelaksanaan diplomasi Indonesia. Dengan
demikian akan mempermudah pencapaian kepentingan nasional Indonesia.
93
B. Saran
1. Indonesia harus mampu mesinergiskan potensi kekuatan nasional yang
dimilikinya sehingga mampu menjadi penyokong dalam diplomasi yang
dilakukan terhadap negara-negara ASEAN. Sebab pada dasarnya
kemampuan diplomasi merupakan suatu kesatuan kekuatan nasional negara
yang saling berkaitan dengan elemen kekuatan negara lainnya.
2. Pengoptimalan kekuatan negara diperlukan untuk pembangunan nasional
Indonesia dalam rangka mendukung diplomasi Indonesia di ASEAN. Di
bidang politik dan militer negara dapat mengandalkan potensi atau kondisi
geografisnya. Kemudian di bidang ekonomi, kekuatan sumber daya alam
Indonesia dapat menjamin kestabilan dan kesejahteraan ekonomi.
Selanjutnya kekuatan dari segi jumlah penduduk bila sumber daya
manusianya
mampu
ditingkatkan
kualitasnya,
maka
akan
dapat
menciptakan kekuatan dalam hal ekonomi dan sosial budaya. Dengan
keberhasilan pencapaian pembangunan di segala bidang, maka negara lain
akan memandang Indonesia sebagai negara yang kuat dan sukses dalam
mengelola potensi nasionalnya. Dalam hubungan antarnegara di ASEAN
pun akan mempermudah diplomasi Indonesia karena adanya kepercayaan
terhadap kemampuan Indonesia yang terbukti dari cara dan kemampuannya
mengatasi persoalan multidimensial dalam negeri.
94
Download