Nip. 550 004 607

advertisement
PERATURAN DAERAH KOTA TARAKAN
NOMOR 08 TAHUN 2004
TENTANG
PENDIRIAN PERUSAHAAN DAERAH PELABUHAN
KOTA TARAKAN
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
WALIKOTA TARAKAN,
Menimbang : a. bahwa dalam rangka mengatur dan mengurus rumah tangga Daerah
dibidang pemerintahan, pembangunan dan kemasyarakatan, diperlukan
pembiayaan yang bersumber dari Pendapatan Asli Daerah;
b. bahwa sebagai pelaksanaan dari Otonomi Daerah di bidang Perhubungan
perlu dilakukan penataan dalam pengaturan kepelabuhanan dengan
pendirian Perusahaan Daerah Pelabuhan Kota Tarakan dalam Peraturan
Daerah.
Mengingat
: 1. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1962 tentang Perusahaan Daerah
(Lembaran Negara Tahun 1962 Nomor 10, Tambahan Lembaran Negara
Nomor 2387) jo. Undang-undang Nomor 6 Tahun 1969 tentang Pernyataan
Tidak Berlakunya Berbagai Undang-undang dan Peraturan Pemerintah
Pengganti Undang-undang (Lembaran Negara Tahun 1969 Nomor 37,
Tambahan Lembaran Negara Nomor 2901);
2. Undang-undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Kepegawaian
(Lembaran Negara Tahun 1974 Nomor 55, Tambahan Lembaran Negara
Nomor 3041) jo. Undang-undang Nomor 43 Tahun 1999 tentang Perubahan
Atas Undang-undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok
Kepegawaian (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 169, Tambahan
Lembaran Negara Nomor 3890);
3. Undang-undang Nomor 21 Tahun 1992 tentang Pelayaran (Lembaran
Negara Tahun 1992 Nomor 98, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3493);
4. Undang-undang Nomor 29 Tahun 1997 tentang Pembentukan Kotamadya
Daerah Tingkat II Tarakan (Lembaran Negara Tahun 1997 Nomor 82,
Tambahan Lembaran Negara Nomor 3711);
5. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah
(Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 60, Tambahan Lembaran Negara
Nomor 3839);
6. Undang-undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan
Antara Pemerintah Pusat dan Daerah (Lembaran Negara Tahun 1999
Nomor 72, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3838);
7. Undang-undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan
(Lembaran Negara Tahun 2003 Nomor 39, Tambahan Lembaran Negara
Nomor 4279);
8. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan
Pemerintah dan Kewenangan Propinsi Sebagai Daerah Otonom (Lembaran
Negara Tahun 2000 Nomor 54, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3952);
9. Peraturan Pemerintah Nomor 69 Tahun 2001 tentang Kepelabuhan
(Lembaran Negara Tahun 2001 Nomor 127, Tambahan Lembaran Negara
Nomor 4145);
10. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2003 tentang Pedoman Organisasi
Perangkat Daerah (Lembaran Negara Tahun 2003 Nomor 14, Tambahan
Lembaran Negara Nomor 4262).
Dengan persetujuan
DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KOTA TARAKAN,
MEMUTUSKAN :
Menetapkan
: PERATURAN DAERAH KOTA TARAKAN TENTANG
PERUSAHAAN DAERAH PELABUHAN KOTA TARAKAN.
PENDIRIAN
BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1
Dalam Peraturan Daerah ini yang dimaksudkan dengan :
1. Daerah adalah Kota Tarakan;
2. Pemerintah Kota adalah Kepala Daerah beserta perangkat Daerah Otonom yang lain
sebagai Badan Eksekutif Daerah;
3. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, selanjutnya disebut DPRD adalah Badan Legislatif
Daerah;
4. Kepala Daerah adalah Walikota Tarakan;
5. Perusahaan Daerah adalah semua perusahaan yang didirikan berdasarkan Undangundang Nomor 5 Tahun 1962 tentang Perusahaan Daerah yang modalnya untuk
seluruhnya atau untuk sebagian merupakan kekayaan Daerah yang dipisahkan;
6. Perusahaan Daerah Pelabuhan yang selanjutnya disebut PD PEL adalah Perusahaan
Daerah Pelabuhan Kota Tarakan;
7. Direksi adalah Direksi PD PEL Kota Tarakan;
8. Badan Pengawas adalah Badan Pengawas PD PEL Kota Tarakan;
9. Pelabuhan adalah tempat yang terdiri dari daratan dan perairan di sekitarnyadengan
batas-batas tertentu sebagai tempat kegiatan pemerintahan dan kegiatan ekonomi yang
dipergunakan sebagai tempat kapal bersandar, berlabuh, naik turun penumpang dan atau
bongkar muat barang yang dilengkapi dengan fasilitas keselamatan pelayaran dan
kegiatan penunjang pelabuhan serta sebagai tempat perpindahan intra dan antar moda
transportasi.
BAB II
PENDIRIAN
Pasal 2
(1) PD PEL dinyatakan didirikan dengan Peraturan Daerah ini;
(2) PD PEL adalah Badan Hukum dibidang pengelolaan dan pelayanan kepelabuhanan yang
kedudukannya diperoleh dengan berlakunya Peraturan Daerah ini.
Pasal 3
Dengan tidak mengurangi ketentuan dalam Peraturan Daerah ini, maka terhadap
Perusahaan berlaku segala ketentuan perundang-undangan yang berlaku.
BAB III
TEMPAT KEDUDUKAN
Pasal 4
PD PEL berkedudukan dan berkantor pusat di wilayah Daerah.
BAB IV
TUJUAN
Pasal 5
Tujuan PD PEL ialah memenuhi hajat hidup masyarakat serta melaksanakan Pembangunan
Daerah Khususnya dan Pembangunan Ekonomi Nasional Umumnya dalam rangka
meningkatkan kesejahteraan dan memenuhi kebutuhan rakyat, menuju masyarakat adil dan
makmur berdasarkan Pancasila.
BAB V
TUGAS POKOK DAN FUNGSI
Pasal 6
Tugas pokok PD PEL adalah menyelenggarakan pengelolaan dan pelayanan bidang
kepelabuhanan yang meliputi Jasa Kapal, Jasa Barang, Jasa Teknis, Jasa Umum,
Perencanaan, Pemasaran serta Manajemen Sumber Daya Manusia dan Keuangan.
Pasal 7
Dalam melaksanakan tugas pokok sebagaimana dimaksud Pasal 6 Peraturan Daerah ini, PD
PEL mempunyai fungsi :
1. Penyelenggaraan pelayanan Jasa Kapal;
2. Penyelenggaraan pelayanan Jasa Barang;
3. Penyelenggaraan pelayanan Jasa Teknik;
4. Penyelenggaraan pelayanan Jasa Umum;
5. Penyelenggaraan perencanaan pengelolaan kepelabuhanan;
6. Penyusunan program pemasaran jasa kepelabuhanan;
7. Pengelolaan manajemen Sumber Daya Manusia dan Keuangan.
BAB VI
MODAL
Pasal 8
(1) Modal dasar PD PEL terdiri atas kekayaan Daerah yang dipisahkan;
(2) Dengan persetujuan DPRD, modal PD PEL sebagaimana dimaksud ayat (1) Pasal ini,
dapat ditambah dari penyisihan sebagian Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah,
penyertaan modal Pemerintah dan pinjaman lain Daerah.
BAB VII
SAHAM
Pasal 9
(1) Saham PD PEL terdiri dari Saham Prioritas dan Saham Biasa;
(2) Saham Prioritas hanya dapat dimiliki oleh Pemerintah Kota;
(3) Saham Biasa dapat dimiliki oleh Pemerintah Kota, Perorangan dan atau Badan Hukum
dan pesertanya terdiri dari Warga Negara Indonesia;
(4) Besarnya jumlah nominal dari Saham Prioritas dan Saham Biasa ditetapkan oleh Kepala
Daerah;
(5) Pembayaran saham-saham dengan “goodwill” tidak diperbolehkan.
Pasal 10
(1) Saham-saham dikeluarkan atas nama;
(2) Saham Biasa dapat dipindahtangankan;
(3) Hak, wewenang dan kekuasaan Saham Prioritas dilakukan oleh Kepala Daerah;
(4) Kepala Daerah menetapkan mengenai pendaftaran, penggantian, pemindahan,
administrasi, dan lain-lain yang berhubungan dengan pengeluaran saham setelah
mendengar saran dan pertimbangan Badan Pengawas.
BAB VIII
RAPAT PEMEGANG SAHAM
Pasal 11
(1) Tata tertib rapat pemegang Saham Prioritas dan rapat umum pemegang Saham Prioritas
dan Biasa diatur dengan Keputusan Direksi atas persetujuan Badan Pengawas;
(2) Keputusan dalam rapat pemegang Saham Prioritas dan rapat umum pemegang Saham
Prioritas dan Biasa diambil dengan kata mufakat;
(3) Apabila tidak dicapai kata mufakat sebagaimana dimaksud ayat (2) Pasal ini, maka
pendapat-pendapat yang dikemukakan dalam musyawarah disampaikan kepada Kepala
Daerah dalam hal pengambilan keputusan dengan memperhatikan pendapat-pendapat
dimaksud.
BAB IX
DIREKSI
Pasal 12
(1) PD PEL dipimpin oleh Direksi yang terdiri dari Direktur Utama dan dibantu paling banyak 3
(tiga) orang Direktur;
(2) Anggota Direksi adalah Warga Negara Indonesia yang diangkat dan diberhentikan oleh
Kepala Daerah dengan mengutamakan calon dari swasta atas usulan Badan Pengawas;
(3) Dalam hal calon Direksi sebagaimana dimaksud ayat (2) Pasal ini, bukan berasal dari
swasta maka yang bersangkutan harus melepaskan terlebih dahulu status
kepegawaiannya;
(4) Persyaratan untuk dapat diangkat menjadi anggota Direksi antara lain :
a. Warga Negara Indonesia;
b. Anggota Direksi harus memiliki profesionalisme dan memiliki ahlak sertamoral yang
baik untuk memimpin PD PEL;
c. Membuat dan menyajikan proposal yang berisi visi, misi dan strategi perusahaan;
d. Tidak ada hubungan keluarga dengan Kepala Daerah, anggota Direksi lainnya dan
Badan Pengawas sampai derajat ketiga, baik menurut garis lurus maupun garis
kesamping termasuk menantu dan ipar, kecuali atas kepentingan perusahaan diizinkan
oleh Kepala Daerah;
e. Anggota Direksi tidak boleh berdagang atau mempunyai kepentingan di salah satu
perusahaan baik langsung atau tidak langsung;
f. Anggota Direksi tidak boleh merangkap jabatan lain;
(5) Susunan Organisasi dan pengangkatan anggota Direksi sebagaimana dimaksud ayat (4)
Pasal ini, diatur lebih lanjut dengan Keputusan Kepala Daerah.
Pasal 13
(1) Direksi dalam mengelola PD PEL mempunyai tugas sebagai berikut :
a. Memimpin dan mengendalikan semua kegiatan PD PEL;
b. Menyampaikan Rencana Kerja 5 (lima) tahunan dan Rencana Kerja Anggaran PD PEL
tahunan kepada Badan Pengawas untuk mendapatkan pengesahan;
c. Melakukan perubahan terhadap program kerja setelah mendapat persetujuan Badan
Pengawas;
d. Membina karyawan;
e. Mengurus dan mengelola kekayaan PD PEL;
f. Menyelenggarakan administrasi umum dan keuangan;
g. Mewakili PD PEL baik didalam maupun diluar pengadilan;
h. Menyampaikan laporan berkala mengenai seluruh kegiatan termasuk neraca dan
perhitungan laba/rugi kepada Badan Pengawas;
(2) Direksi melaksanakan pengurusan dan pembinaan PD PEL menurut kebijaksanaan yang
telah ditetapkan oleh Badan Pengawas sesuai kebijaksanaan umum Pemerintah Kota;
(3) Tata tertib dan cara menjalankan PD PEL diatur dalam peraturan yang ditetapkan oleh
Direksi dengan persetujuan Badan Pengawas;
(4) Dalam hal Direksi mewakili PD PEL di pengadilan sebagaimana dimaksud ayat (1) huruf g
Pasal ini, Direksi dapat memberikan kuasa kepada seorang atau beberapa orang
karyawan PD PEL, baik sendiri maupun bersama-sama atau kepada orang/Badan lain.
Pasal 14
Direksi dalam mengelola PD PEL mempunyai wewenang sebagai berikut :
1. Mengangkat dan memberhentikan karyawan;
2. Mengangkat, memberhentikan dan memindahtugaskan karyawan dari jabatan dibawah
Direksi;
3. Menandatangani neraca dan perhitungan laba/rugi;
4. Menandatangani ikatan hukum dengan pihak lain
Pasal 15
(1) Anggota Direksi mempunyai masa jabatan paling lama 4 (empat) tahun dan dapat
diangkat kembali hanya untuk 1 (satu) kali masa jabatan dalam kedudukan yang sama
setelah masa jabatan tersebut berakhir;
(2) Dikecualikan dari ketentuan sebagaimana dimaksud ayat (1) Pasal ini, apabila Direktur
diangkat menjadi Direktur Utama;
(3) Badan Pengawas harus mengajukan calon Direksi kepada Kepala Daerah paling lama 3
(tiga) bulan sebelum masa jabatan Anggota Direksi berakhir sebagaimana dimaksud ayat
(1) Pasal ini.
Pasal 16
(1) Anggota Direksi berhenti atau dapat diberhentikan oleh Kepala Daerah karena :
a. Meninggal dunia;
b. Atas permintaan sendiri;
c. Berakhirnya masa jabatan sebagaimana dimaksud Pasal 15 ayat (1) Peraturan Daerah
ini;
d. Tidak cakap jasmani atau rohani (kesehatan) sehingga tidak dapat menjalankan
tugasnya;
e. Tidak melaksanakan tugas sesuai dengan program kerja yang telah disetujui;
f. Melakukan tindakan merugikan PD PEL;
g. Dihukum pidana berdasarkan putusan Pengadilan Negeri yang telah mempunyai
kekuatan hukum yang tetap;
h. Terbukti ada hubungan keluarga sebagaimana dimaksud Pasal 12 ayat (4) huruf d
Peraturan Daerah ini.
(2) Pemberhentian dilakukan karena alasan sebagaimana dimaksud ayat (1) huruf f dan g
Pasal ini, maka Anggota Direksi yang bersangkutan diberhentikan dengan tidak hormat;
(3) Sebelum dilakukan pemberhentian sebagaimana dimaksud ayat (2) Pasal ini, Anggota
Direksi yang bersangkutan diberi kesempatan untuk membela diri yang harus
dilaksanakan dalam waktu 1 (satu) bulan setelah Anggota Direksi yang bersangkutan
diberi tahu tentang niat pemberhentian itu oleh Kepala Daerah;
(4) Badan Pengawas memeriksa pengajuan pembelaan Anggota Direksi yang akan
diberhentikan sebagaimana dimaksud ayat (3) Pasal ini, dan selanjutnya memutuskan
apakah pembelaan diri tersebut dapat diterima atau tidak;
(5) Apabila ternyata Badan Pengawas dapat menerima pembelaan dari Anggota Direksi yang
bersangkutan sebagaimana dimaksud ayat (4) Pasal ini, maka kehendak pemberhentian
tersebut harus dibatalkan;
(6) Selama persoalan mengenai pemberhentian Anggota Direksi sebagaimana dimaksud ayat
(3) Pasal ini, belum ada keputusan, maka Kepala Daerah dapat memberhentikan untuk
sementara Anggota Direksi yang bersangkutan;
(7) Apabila dalam waktu 2 (dua) bulan setelah pemberhentian sementara dijatuhkan
sebagaimana dimaksud ayat (5) Pasal ini, belum ada keputusan, maka pemberhentian
sementara tersebut menjadi batal dan Anggota Direksi yang bersangkutan dapat segera
menjalankan jabatannya lagi, kecuali apabila keputusan tersebut diperlukan Keputusan
Pengadilan dan hal tersebut harus diberitahukan kepada yang bersangkutan;
Pasal 17
(1) Direksi memerlukan persetujuan Badan Pengawas dalam hal :
a. Mengadakan perjanjian-perjanjian kerjasama usaha dan pinjaman yang mungkin dapat
berakibat terhadap berkurangnya aset dan membebani anggaran PD PEL;
b. Memindahtangankan atau menghipotikkan atau menggadaikan benda bergerak dan
atau tidak bergerak milik PD PEL;
c. Penyertaan modal dalam perusahaan lain;
(2) Apabila Direktur Utama berhalangan, maka tugasnya dilakukan oleh seorang Anggota
Direksi yang tertua dalam jabatannya atas penunjukan Direktur Utama;
(3) Direksi bertanggung jawab kepada Kepala Daerah melalui Badan Pengawas.
BAB X
KETENTUAN TARIF
Pasal 18
Ketentuan tarif Pelabuhan ditentukan oleh Direksi dengan memperhatikan ketentuan dalam
peraturan perundang-undangan yang berlaku.
BAB XI
BADAN PENGAWAS
Pasal 19
(1) Badan Pengawas dibentuk dan diangkat oleh Kepala Daerah dengan persetujuan DPRD;
(2) Badan Pengawas sebagaimana dimaksud ayat (1) Pasal ini, terdiri dari unsurunsur
pejabat Pemerintah Kota, Perorangan dan Masyarakat Konsumen yang profesional sesuai
dengan bidang usaha PD PEL yang berjumlah paling banyak 3 (tiga) orang dan seorang
diantaranya dipilih menjadi ketua merangkap anggota;
(3) Persyaratan untuk dapat diangkat menjadi Badan Pengawas antara lain :
a. Warga Negara Indonesia;
b. Menyediakan waktu yang cukup;
c. Tidak ada hubungan keluarga dengan Kepala Daerah, anggota Direksi lainnya dan
Badan Pengawas sampai derajat ketiga, baik menurut garis lurus maupun garis
kesamping termasuk menantu dan ipar;
(4) Pengangkatan Badan Pengawas sebagaimana dimaksud ayat (1) Pasal ini, ditetapkan
dengan Keputusan Kepala Daerah.
Pasal 20
(1) Badan Pengawas mempunyai tugas sebagai berikut :
a. Mengawasi kegiatan operasional PD PEL;
b. Memberikan pendapat dan saran kepada Kepala Daerah atas pengangkatan dan
pemberhentian Direksi;
c. Memberikan pendapat dan saran kepada Kepala Daerah atas program kerja yang
diajukan oleh Direksi;
d. Memberikan pendapat dan saran kepada Kepala Daerah terhadap laporan neraca dan
perhitungan laba/rugi;
e. Memberikan pendapat dan saran atas laporan kinerja PD PEL;
(2) Badan Pengawas menetapkan kebijaksanaan PD PEL secara terarah sesuai
kebijaksanaan umum Pemerintah Kota.
Pasal 21
Badan Pengawas mempunyai wewenang sebagai berikut :
1. Memberikan peringatan kepada Direksi yang tidak melaksanakan tugas sesuai dengan
program kerja yang telah disetujui;
2. Memeriksa Direksi yang diduga merugikan PD PEL;
3. Mengesahkan Rencana Kerja dan Anggaran PD PEL;
4. Menerima atau menolak pertanggungjawaban keuangan dan program kerja Direksi pada
tahun berjalan.
Pasal 22
(1) Badan Pengawas berhenti atau dapat diberhentikan karena :
a. Meninggal dunia;
b. Atas permintaan sendiri;
c. Tidak cakap jasmani atau rohani (kesehatan) sehingga tidak dapat menjalankan
tugasnya;
d. Tidak melaksanakan tugas dan wewenangnya;
e. Terlibat dalam tindakan yang merugikan PD PEL;
f. Dihukum pidana berdasarkan putusan Pengadilan Negeri yang telah mempunyai
kekuatan hukum yang tetap;
(2) Apabila Badan Pengawas diduga melakukan salah satu perbuatan sebagaimana
dimaksud ayat (1) huruf c, d dan e Pasal ini, Kepala Daerah segera melakukan
pemeriksaan terhadap yang bersangkutan;
(3) Apabila berdasarkan hasil pemeriksaan Badan Pengawas sebagaimana dimaksud ayat (2)
Pasal ini, terbukti melakukan perbuatan yang dituduhkan maka Kepala Daerah paling
lama 12 (dua belas) hari kerja segera mengeluarkan:
a. Keputusan Kepala Daerah tentang pemberhentian sebagai Badan Pengawas terhadap
perbuatan yang dimaksud ayat (1) huruf c, d dan f Pasal ini;
b. Keputusan Kepala Daerah tentang pemberhentian sementara sebagai Badan
Pengawas terhadap perbuatan yang dimaksud ayat (1) huruf e Pasal ini.
Pasal 23
(1) Badan Pengawas mempunyai masa jabatan paling lama 3 (tiga) tahun dan dapat diangkat
kembali hanya untuk 1 (satu) kali masa jabatan dalam kedudukan yang sama setelah
masa jabatan tersebut berakhir;
(2) Kepada Ketua dan para anggota Badan Pengawas diberikan imbalan jasa yang diatur
oleh Kepala Daerah dan dibebankan pada Anggaran PD PEL.
Pasal 24
Apabila diperlukan untuk membantu tugas Badan Pengawas dapat dibentuk Sekretariat
Badan Pengawas dengan anggota paling banyak 2 (dua) orang terdiri dari 1 (satu) orang
Pejabat Pemerintah Kota dan 1 (satu) orang dari PD PEL, dengan honararium dibebankan
kepada Anggaran dan Belanja PD PEL.
BAB XII
TANGGUNG JAWAB DAN TUNTUTAN
GANTI RUGI KARYAWAN
Pasal 25
(1) Semua karyawan PD PEL termasuk anggota Direksi dalam kedudukannya yang demikian,
tidak dibebankan tugas penyimpanan uang, surat-surat berharga dan barang-barang
persediaan, yang karena tindakan melawan hukum atau karena melalaikan kewajiban dan
tugas yang dibebankan kepada mereka dengan langsung atau tidak langsung telah
menimbulkan kerugian bagi PD PEL, diwajibkan mengganti kerugian tersebut;
(2) Ketentuan-ketentuan tentang tuntutan ganti rugi berlaku sepenuhnya terhadap karyawan
PD PEL;
(3) Semua karyawan PD PEL yang dibebani tugas penyimpanan pembayaran atau
penyerahan uang dan surat-surat berharga milik PD PEL dan barang-barang persediaan
milik PD PEL yang disimpan di dalam gudang atau tempat penyimpanan yang khusus dan
semata-mata digunakan untuk keperluan itu diwajibkan memberikan pertanggungjawaban
tentang pelaksanaan tugasnya kepada Badan Pengawas;
(4) Karyawan sebagaimana dimaksud ayat (3) Pasal ini, tidak perlu mengirimkan
pertanggungjawaban mengenai cara mengurusnya kepada Badan Pengawas apabila
tuntutan terhadap karyawan tersebut dilakukan menurut ketentuan yang ditetapkan bagi
karyawan Bendaharawan Daerah;
(5) Semua surat bukti dan surat lainnya bagaimanapun juga sifatnya yang termaksud bilangan
tata buku dan administrasi PD PEL disimpan ditempat PD PEL atau ditempat lain yang
ditunjuk oleh Kepala Daerah kecuali jika untuk sementara dipindahkan ke Badan
Pengawas, dalam hal dianggap perlu untuk kepentingan suatu pemeriksaan;
(6) Untuk keperluan pemeriksaan yang bertalian dengan penetapan pajak dan pemeriksaan
akuntan pada umumnya, surat bukti dan surat lainnya sebagaimana dimaksud ayat (5)
Pasal ini, untuk sementara dapat dipindahkan ke Kantor Akuntan Negara.
BAB XIII
TAHUN BUKU
Pasal 26
Tahun Buku PD PEL adalah tahun takwin.
BAB XIV
ANGGARAN PD PEL
Pasal 27
(1) Selambat-lambatnya 3 (tiga) bulan sebelum tahun buku mulai berlaku, Direksi mengajukan
Rencana Anggaran PD PEL kepada Kepala Daerah melalui Badan Pengawas untuk
mendapat pengesahan;
(2) Apabila dalam waktu 2 (dua) bulan terhitung sejak tanggal penerimaan Anggaran PD PEL
oleh Kepala Daerah belum ada keputusan mengenai pengesahan sebagaimana dimaksud
ayat (1) Pasal ini, maka Anggaran PD PEL dimaksud dianggap telah disahkan;
(3) Dikecualikan dari ketentuan sebagaimana dimaksud ayat (2) Pasal ini, apabila Kepala
Daerah mengemukakan keberatan atau menolak yang dimuat dalam Anggaran PD PEL
maka Anggaran PD PEL berpedoman pada Anggaran tahun lalu;
(4) Anggaran tambahan atau perubahan Anggaran yang terjadi dalam tahun buku yang
bersangkutan harus mendapat persetujuan dari Kepala Daerah setelah mendapat
pertimbangan dari Badan Pengawas.
BAB XV
LAPORAN BERKALA PERHITUNGAN HASIL USAHA
DAN KEGIATAN PD PEL
Pasal 28
Laporan berkala perhitungan hasil usaha dan kegiatan PD PEL oleh Direksi disampaikan
kepada Kepala Daerah melalui Badan Pengawas setiap 3 (tiga) bulan dan jika dipandang
perlu dapat dilakukan untuk waktu tertentu.
BAB XVI
LAPORAN PERHITUNGAN TAHUNAN
Pasal 29
(1) Untuk setiap tahun buku oleh Direksi disampaikan perhitungan tahunan laba/rugi kepada
Kepala Daerah melalui Badan Pengawas selambat-lambatnya 3 (tiga) bulan setelah tahun
buku;
(2) Cara penilaian pos dalam perhitungan tahunan harus dijelaskan secara terperinci;
(3) Jika dalam waktu 3 (tiga) bulan setelah mengajukan perhitungan sebagaimana dimaksud
ayat (1) Pasal ini, Kepala Daerah melalui Badan Pengawas tidak ada keberatan tertulis,
maka perhitungan itu dianggap telah disahkan.
BAB XVII
PENETAPAN DAN PENGGUNAAN SERTA
PEMBERIAN JASA PRODUKSI
Pasal 30
(1) Cadangan diam dan atau rahasia tidak boleh diadakan;
(2) Penggunaan laba bersih, setelah terlebih dahulu dikurangi dengan penyusutan, cadangan
tujuan dan pengurangan lain yang wajar dalam PD PEL, ditetapkan sebagai berikut :
a. Untuk Anggaran Belanja Pembangunan Daerah 30 % (tiga puluh persen);
b. Untuk Anggaran Belanja Rutin 25 % (dua puluh lima persen);
c. Lain-lain Anggaran :
1. Untuk cadangan umum 20 % (dua puluh persen);
2. Untuk Sosial dan Pendidikan 10 % (sepuluh persen);
3. Untuk Jasa Produksi (Direksi dan Karyawan) 10 % (sepuluh persen);
4. Untuk Dana Pensiun dan Sokongan 5 % (lima persen);
(3) Penggunaan laba untuk cadangan umum bilamana telah tercapai tujuannya dapat
dialihkan kepada penggunaan lain dengan persetujuan Kepala Daerah;
(4) Cara mengurus dan menggunakan dana penyusutan cadangan tujuan sebagaimana
dimaksud ayat (2) Pasal ini, ditentukan oleh Kepala Daerah atas usulan Badan Pengawas.
BAB XVIII
PENGANGKATAN DAN PEMBERHENTIAN KARYAWAN
Pasal 31
(1) Kedudukan hukum karyawan, gaji, pesangon/pensiun dan penghasilan lain PD PEL
ditetapkan oleh Kepala Daerah sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku;
(2) Direksi mengangkat dan memberhentikan karyawan PD PEL dengan persetujuan Badan
Pengawas setelah mendapatkan persetujuan Kepala Daerah dan tidak bertentangan
dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
BAB XIX
PENGAWASAN
Pasal 32
(1) Dengan tidak mengurangi hak instansi atasan/Badan lain menurut peraturan perundangundangan yang berlaku, Kepala Daerah melalui Badan Pengawas berwenang
mengadakan penyelidikan dan pemeriksaan tentang segala sesuatu mengenai pekerjaan
pengurusan Rumah Tangga PD PEL, menurut peraturan perundangan yang berlaku;
(2) Kepala Daerah dapat menunjuk pejabat Pemerintah Kota untuk melakukan pengawasan
atas pengurusan dan pembinaan PD PEL serta pertanggungjawabannya, dan hasil
pengawasan dilaporkan kepada Kepala Daerah;
(3) Kepala Daerah dapat meminta Akuntan Publik, Badan Hukum maupun lembaga-lembaga
pengurus lainnya untuk melakukan pemeriksaan ataskepengurusan PD PEL.
BAB XX
PEMBUBARAN
Pasal 33
(1) Pembubaran PD PEL dan penunjukan Panitia likuidasi ditetapkan dengan Keputusan
Kepala Daerah dengan persetujuan DPRD;
(2) Semua kekayaan PD PEL setelah diadakan likuidasi menjadi milik Pemerintah Kota;
(3) Pertanggungjawaban likuidasi oleh likuidatur disampaikan kepada Pemerintah Kota yang
memberikan pembebasan tanggung jawab atas kerugian yang diderita oleh pihak ketiga
apabila kerugian itu dibebankan oleh karena dan perhitungan laba rugi yang disahkan
tidak menggambarkan keadaan PD PEL yang sebenarnya.
BAB XXI
KETENTUAN PERALIHAN
Pasal 34
Pada saat berlakunya Peraturan Daerah ini, semua peraturan pelaksanaan yang telah ada
dinyatakan tetap berlaku sepanjang peraturan itu tidak bertentangan dengan Peraturan
Daerah ini.
BAB XXII
KETENTUAN PENUTUP
Pasal 35
Hal-hal yang belum diatur dalam Peraturan Daerah ini sepanjang mengenai teknis
pelaksanaannya akan diatur lebih lanjut dalam Keputusan Kepala Daerah dengan
persetujuan DPRD.
Pasal 36
Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.
Agar setiap orang dapat mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Daerah
ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Kota Tarakan.
Ditetapkan di Tarakan
pada tanggal 27 April 2004
WALIKOTA TARAKAN,
ttd.
dr. H. JUSUF, SK
Diundangkan dalam Lembaran Daerah Kota Tarakan
Tahun 2004 Nomor 08 Seri D-06 Tanggal 30 April 2004
SEKRETARIS DAERAH,
ttd
Drs. H. BAHARUDDIN BARAQ, M.Ed
Pembina Utama Muda
Nip. 550 004 607
Download