pelatihan teknis dasar karantina tumbuhan

advertisement
MENGENAL TARGET PEST
KARANTINA TUMBUHAN
GOLONGAN BAKTERI
Oleh
LENNY HARTATI HARAHAP, SP. MSi
(POPT Ahli Muda pada Balai Besar Karantina Pertanian
Belawan)
PENDAHULUAN
Bakteri (dari kata Latin bacterium; jamak: bacteria) adalah kelompok
organisme yang tidak memiliki membran inti sel.Organisme ini termasuk ke dalam
domain prokariota dan berukuran sangat kecil (mikroskopik), serta memiliki peran
besar dalam kehidupan di bumi.Beberapa kelompok bakteri dikenal sebagai agen
penyebab infeksi dan penyakit, sedangkan kelompok lainnya dapat memberikan
manfaat dibidang pangan, pengobatan, dan industri.Struktur sel bakteri relatif
sederhana: tanpa nukleus/inti sel, kerangka sel, dan organel-organel lain seperti
mitokondria dan kloroplas.Hal inilah yang menjadi dasar perbedaan antara sel
prokariot dengan sel eukariot yang lebih kompleks. Bakteri dapat ditemukan di
hampir semua tempat: di tanah, air, udara, dalam simbiosis dengan organisme lain
maupun sebagai agen parasit (patogen), bahkan dalam tubuh manusia.Pada
umumnya, bakteri berukuran 0,5-5 μm, tetapi ada bakteri tertentu yang dapat
berdiameter hingga 700 μm, yaitu Thiomargarita.Mereka umumnya memiliki dinding
sel, seperti sel tumbuhan dan jamur, tetapi dengan bahan pembentuk sangat
berbeda (peptidoglikan).Beberapa jenis bakteri bersifat motil (mampu bergerak) dan
mobilitasnya ini disebabkan oleh flagel.
Jenis-jenis Bakteri
Berdasarkan cara memperoleh makanannya, bakteri dapat digolongkan menjadi dua
golongan yaitu bakteri heterotrof dan bakteri autotrof.
a. Bakteri Heterotrof
Bakteri ini hidup dengan memperoleh makanan berupa zat organik dari
lingkungannya karena tidak dapat menyusun sendiri zat organik yang
dibutuhkannya. Zat organik diperoleh dari sisa-sisa organisme lain. Bakteri yang
mendapatkan zat organik dari sampah, kotoran, bangkai dan juga sisa makanan,
kita sebut sebagai bakteri saprofit. Bakteri ini menguraikan zat organik dalam
makanan menjadi zat anorganik, yaitu CO2, H2O, energi dan mineral. Di dalam
lingkungan bekteri pembusuk ini berfungsi sebagai pengurai dan penyedia nutrisi
1
bagi tumbuhan. Jika Anda memperhatikan lingkungan tempat pembuangan
sampah, sering terlihat adanya makanan yang membusuk. Itu disebabkan oleh
bakteri pembusuk. Sedangkan dalam usus manusia terdapat juga bakteri yang
hidup secara saprofit (menguraikan serat-serat pada makanan) dan
menguntungkan adalah bakteri Escherichia coli. Selain bakteri heterotrof yang
saprofit, ada juga yang bersifat parasit (merugikan) baik pada manusia, hewan
maupun tumbuhan. Bakteri ini menyebabkan sakit (patogen). Beberapa contoh
bakteri yang patogen di antaranya:
b. Bakteri Autotrof
Bakteri Autotrof adalah bakteri yang dapat menyusun zat makanan sendiri dari
zat anorganik yang ada. Dari sumber energi yang digunakannya, bakteri autotrof
(auto = sendiri, trophein = makanan) dibedakan menjadi dua golongan, yaitu:
bakteri fotoautotrof dan bakteri kemoautotrof.
1. Bakteri fotoautrotof
Bakteri fotoautrotof yaitu bakteri yang memanfaatkan cahaya sebagai energi
untuk mengubah zat anorganik menjadi zat organik melalui proses
fotosintesis. Contoh bakteri ini adalah: bakteri hijau, bakteri ungu.
2. Bakteri kemoautrotof
Bakteri kemoautrotof adalah bakteri yang menggunakan energi kimia yang
diperolehnya pada saat terjadi perombakan zat kimia dari molekul yang
kompleks menjadi molekul yang sederhana dengan melepaskan hidrogen.
Contoh bakteri ini adalah: Nitrosomonas. Nitrosomonas dapat memecah NH3
menjadi NH2, air dan energi.
Energi yang diperoleh digunakan untuk menyusun zat organik. Contoh lain
adalah Nitrosococcus dan Nitrobacter. Di samping itu pada tumbuhan kacangkacangan antara lain kacang tanah, pada akar tanaman tersebut kita temukan bintilbintil. Pada bintil-bintil akar tanaman tersebut merupakan tempat bakteri Rhizobium
berada. Bakteri yang hidup pada bintil-bintil akar tanaman kacang-kacangan ini hidup
bersimbiosis, dan bintil akar tumbuh karena rangsangan dari zat tumbuh yang
dihasilkan oleh bakteri tersebut dan juga dapat menyuburkan tanah. Selain itu ada
pula beberapa jenis bakteri yang mampu memfiksasi N2 (nitrogen bebas dari udara)
di atmosfer ke dalam tanah, yang kemudian N2 ini akan dimanfaatkan oleh
tumbuhan dalam pembentukan protein. Bakteri tersebut antara lain, Azotobacter
vinelandi, Clostriddium pasteurianum dan Rhodospirillium rubrum
Di samping terdapat bakteri yang dikelompokkan berdasarkan cara mendapatkan
makanan, ada juga penggolongan bakteri berdasarkan sumber oksigen yang
diperlukan dalam proses respirasi. Bakteri itu dikelompokan sebagai berikut:
1. Bakteri aerob, yaitu bakteri yang menggunakan oksigen bebas dalam proses
respirasinya. Misal: Nitrosococcus, Nitrosomonas dan Nitrobacter.
2. Bakteri anaerob, yaitu bakteri yang tidak menggunakan oksigen bebas dalam
proses respirasinya. Misal: Streptococcus lactis
2
Sedangkan berdasarkan kebutuhan terhadap oksigen, bakteri dikelompokkan lagi
menjadi:
1. Bakteri aerob obligat: yaitu bakteri yang hanya dapat hidup dalam suasana
mengandung oksigen. Misal: Nitrobacter dan Hydrogenomonas.
2. Bakteri anaerob obligat: yaitu bakteri yang hanya dapat hidup dalam suasana
tanpa oksigen. Misal: Clostridium tetani.
3. Bakteri anaerob fakulatif: yaitu bakteri yang dapat hidup dengan atau tanpa
oksigen. Misal: Escherichia coli, Salmonella thypose dan Shigella.
Berdasarkan struktur sel, makhluk hidup secara garis besar dibagi atas 2
golongan yaitu Prokariot dan Eukariot. Berbeda dengan eukariot yang merupakan
makhluk hidup multiselular, prokariot adalah makhluk hidup paling sederhana yang
terdiri dari satu sel. Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dibidang genetika,
makhluk hidup kemudian dibedakan atas 3 golongan besar (domain) berdasarkan
sekuen nukleotida ribosomal RNA (Woese et al), yaitu Bacteria (eubacteria), Eucarya
(eukaryotes) dan Archaea (archaebacteria). Dahulunya archaea dan bacteria berada
dalam kelompok besar prokariota.
Perbedaan Prokariot VS Eukariot :
Penciri
Prokariot
Eukariot
Nukleus
Tiada(nukleoid)
Ada(bermembran)
Membran
Sederhana
Kompleks, invaginasi
Kromosom
Kromosomal
DNA
: Multiple, linier
tunggal, sirkuler
Ekstrakromosom
(plasmid) : 1 atau lebih,
sirkuler
Diameter sel
1 -5 μm
10-100 μm
Organel
bermembran
Tiada
Ada(mitokondria,
badan
golgi,
peroksisom)
Ribosom
70S
70S dan80S
Flagella
Ada
Microtubular
Replikasisel
Pembelahan biner
Mitosis
Peptidoglikan
Ada
Tiada
Contoh
Bakteri, Archaea
Fungi,algae,
nematoda,
serangga, hewan, tumbuhan
kloroplast,
lisosom,
Archaea adalah kelompok bakteri yang hidup dilingkungan ekstrim (lingkungan
anaerobic, hipersalin, hidrothermal, geothermal ). Beberapa hidup pada
temperatur melebihi 100 C, pada lingkungan yang sangat basa atau sangat asam,
3
atau pada air dengan konsentrasi garam yang ekstrim.
menyerang tumbuhan.
Archaea tidak ditemukan
Klasifikasi
Klasifikasi adalah meletakkan organisme kedalam kelompok taksonomik
berdasarkan persamaan karakter yang dimiliki. Klasifikasi Bakteri Patogen Tanaman
mengikuti Bergey’s Manual of Determinative Bacteriology, Ninth Edition (1994) :
KINGDOM PROKARIOT
BAKTERI – Memiliki membran dan dinding sel
Devisi I : GRACCILICUTES – Bakteri Gram negatif
Klas : PROTEOBACTERIA – Umumnya bersel tunggal
Famili : Enterobacteriaceae
Genus : Erwinia
Famili : Pseudomonadaceae
Genus : Acidovorax, Pseudomonas, Rhizobacter,
Xanthomonas, Xylophilus
Famili : Rhizobiaceae
Genus : Agrobacterium, Rhizobium
Famili : Genus : Xylella
Devisi II : FIRMICUTES – Bakteri Gram Positif
Klas : FIRMIBACTERIA – Umumnya bersel tunggal
Genus : Bacillus, Clostridium
Klas : THALLOBACTERIA – bakteri bercabang
Genus : Arthrobacter, Clavibacter, Curtobacterium,
Rhodococcus, Streptomyces
MOLLICUTES (Mycoplasma like organism (MLO) – hanya memiliki membran
sel, dinding sel absen
Devisi III: TENERICUTES
Klas : Mollicutes
Famili : Spiroplasmataceae
Genus : Spiroplasma
Famili : Genus : belum ditetapkan, dikenal sebagai
phytoplasma (dulu disebut
micoplasmalike organisms (MLO)
Devisi IV: MENDISICUTE
Klas : Archaeobacteria
4
Morfologi
Morfologi bakteri sangat sederhana, sehingga sangat tidak mungkin hanya
menggunakan morfologi sel untuk informasi taksonomi. Namun demikian morfologi
tetap bernilai dalam taksonomi. Morfologi bakteri yang dipertimbangkan adalah :
A. Bentuk sel
- Umumnya berbentuk batang (rod shape)
- Benang bercabang (filamentous) : Streptomyces
- Seperti spiral (spirillum) : Spiroplasma
- Tidak beraturan (pleomorphic) : Phytoplasma
B. Ukuran Sel
- Sangat kecil dan bervariasi : 1,0 - 5,0 x 0,5 - 1,0 µm, diameter 0,6 - 3,5 µm
- Diamati dengan mikroskop pada pembesaran maksimum (100 X)
- Detil struktur sel dapat diamati dengan menggunakan mikroskop elektron
Tipikal sel bakteri dan bagian-bagiannya adalah seperti gambar di bawah ini.
Struktur Sel bakteri dapat dibagi atas 3 bagian utama yaitu :
1. Dinding sel
2. Bagian internal berupa protoplasma yang mengandung :
• Membran sel
• Inclusion body
• Mesosom
• Ribosom
• Nukleoid (DNA)
3. Bagian eksternal
•
•
•
Kapsul
Flagela
Pili
5
Dinding sel
Dinding sel bakteri sangat tipis dan elastis ,terbentuk dari peptidoglikan yang
merupakan polimer unik yang hanya dimiliki oleh golongan bakteri. Fungsinya
dinding sel adalah- memberi bentuk sel, member perlindungan dari lingkungan luar
dan mengatur pertukaran zat-zat dari dan ke dalam sel
Teknik pewarnaan Gram adalah untuk menunjukan perbedaan yang mendasar
dalam organisasi struktur dinding sel bakteri atau cell anvelope.
Bakteri Gram positif memiliki dinding sel relatif tebal, terdiri dari berlapis-lapis
polymer peptidoglycan (disebut juga murein). Tebalnya dinding sel menahan
lolosnya komplek crystal violet-iodine ketika dicuci dengan alkohol atau aseton.
Bakteri Gram negatif memiliki dinding sel berupa lapisan tipis peptidoglycan, yang
diselubungi oleh lapisan tipis outer membrane yang terdiri dari lipopolysaccharide
(LPS). Daerah antara peptidoglycan dan lapisan LPS disebut periplasmic space
(hanya ditemui pada Gram negatif) adalah zona berisi cairan atau gel yang
mengandung berbagai enzymes dan nutrient-carrier proteins. Kompleks Crystal
violet-iodine mudah lolos melalui LPS dan lapisan tipis peptidoglycan ketika sel
diperlakukan dengan pelarut. Ketika sel diberi perlakuan pewarna tandingan
Safranin O, pewarna tersebut dapat diserap oleh dinding sel bakteri Gram negatif
.
Protoplasma
Yaitu semua material yang terdapat didalam dinding sel
a. Membran sel : Terdapat dibagian dalam dinding sel, terdiri dari phospholipid
yang tersusun bilayer , dan mengandung berbagai protein yaitu:
– Enzym untuk reaksi
– Pori untuk proses difusi
– Reseptor untuk transpor
– Reseptors untuk mengenal, komunikasi, dan penempelan
b. Sitoplasma : Merupakan cairan sel yang terdapat didalam plasma membran.
Terdiri dari 80% air, ribosom, berbagai enzim, koenzim, senyawa organik
(protein, lemak, karbohidrat, dll), senyawa anorganik.
c. Ribosom : organel sel yang berfungsi sebagai pabrik protein
d. Mesosome : Invaginasi dari plasma membran, dalam bentuk vesikel, tubule,
atau lamela
e. Nukleoid : Material genetik bakteri/kromosom bakteri/DNA , berbentuk circular
(melingkar), membawa sifat yg mengatur viabilitas bakteri
f. Plasmid : Material genetik non esensial, ekstra kromosom, berbentuk
melingkar tetapi ukuran lebih kecil dari DNA, membawa sifat-sifat tambahan
ketahanan terhadap antibiotik, ultra violet, patogenisitas, produksi bakteriosin,
dll, tetapi tidak membawa sifat untuk viabilitas sel. Plasmid dapat berpindah
antar bakteri, atau dari bakteri ke sel tanaman inang (contoh pada
Agrobakterium tumefaciens)
6
Bagian eksternal
a. Flagela
Alat untuk bergerak, struktur utamanya adalah protein yang disebut flagellin,
fleksibel, ukuran diameter10-15µm, panjang 10-20µm
b. Pili/Fimbriae
Merupakan alat untuk menempel pada permukaan (adhesin) substrat. Pili ada
yang khusus digunakan untuk konjugasi, disebut pili sex. DNA bakteri dapat
ditransfer dari satu sel bakteri ke sel bakteri lain selama proses konjugasi.
c. Kapsul/envelope
Merupakan selubung sel bakteri berupa extracellularpolysacharide (EPS).
Berupa kapsul bila melekat erat pada dinding sel atau berupa lendir dengan
struktur longgar Berfungsi sebagai pelindung sel dari kekeringan dan
serangan mikroorganisme lain; alat untuk melekat pada permukaan; berperan
dalam penyerapan ion selektif; dan dalam interaksi inang-patogen
Reproduksi
Reproduksi dengan pembelahan biner (1 sel membelah menjadi 2). Selama proses
pembelahan, material genetik juga menduplikasi diri dan membelah menjadi dua,
dan mendistribusikan dirinya sendiri pada dua sel baru. Bakteri membelah diri dalam
waktu yang sangat singkat.Pada kondisi yang menguntungkan berduplikasi setiap 20
menit.
Cara Reproduksi selain pembelahan biner antara lain :
Konjugasi : reproduksi seksual dimana bakteri bertukar bahan genetik sebelum
membelah diri, sehingga turunannya memiliki gen baru. Material genetik ditransfer
melalui pili sex.
Transformasi – bakteri mengambil gen dari bakteri lain yang telah mati dari
lingkungannya
Transduksi – virus menyisipkan gen baru ke dalam sel bakteri. Metoda ini
digunakan dalam bioteknologi untuk menghasilkan bakteri yang dapat menghasilkan
insulin.
METODE DETEKSI DAN IDENTIFIKASI
Pengamatan Visual dan Pengumpulan Informasi
1. Kenali identitas tanaman yang akan dianalisa
Selain identitas tanaman, sebanyak mungkin informasi tentang
pertanaman harus dikumpulkan, contohnya lokasi pertanaman, cara
budidaya, cara irigasi, aplikasi pestisida, dan informasi iklim terbaru.
2. Kenali gejala dan tanda penyakit
Kumpulkan informasi tentang penyebaran penyakit di pertanaman.
Apabila mungkin, amati perkembangan gejala dari gejala awal sampai
gejala lanjut.
3. Kumpulkan informasi secara nasional maupun regional tentang semua jenis
penyakit yang dilaporkan menyerang tanaman dimaksud.
7
1. Gejala / Symptom
Symptom adalah eksternal dan internal manifestasi dari penyakit pada tanaman.
 Bentuk atau pertumbuhan yang abnormal
 Kehilangan hasil
 menurunnya kualitas hasil atau nilai estetik dari produk tanaman.
 Dapat diamati pada bagian tanaman seperti bercak daun, hawar daun, bercak
buah, busuk umbi,kanker batang, layu, kerdil,dll)
 Gejala berbeda untuk species pathogen dan tanaman inang yang berbeda.
2. Tanda / Signs
 Manifestasi keberadaan patogen pada jaringan tanaman sakit.
 Bisa berupa struktur tertentu yang dihasilkan oleh patogen atau hasil interaksi
antara patogen dan tanaman inang.
 Sign penting untuk membuktikan gejala yang timbul disebabkan oleh patogen
tanaman dan tidak karena faktor abiotik.
 Tanda serangan bakteri patogen tanaman bisa berupa ooze, pustul
Karakter Morphologi dan Kultur
• Kemurnian biakan bakteri sangat penting dalam determinasi
• Morphologi Sel :
- bentuk sel
- motility
- susunan flagella
- struktur dinding sel
- struktur lain : kapsul,endospore,
intracellullar lipid
• Morphology Kultur :
- morphologi koloni
- pigmen (diffussible/ nondifussible,
fluorescent / non-fluorescen
Morphologi Koloni
8
Sifat Physiologi dan Biokimia
• Karakter morphology bakteri sangat sederhana sehingga sulit dipakai sebagai
alat identifikasi
• Perlu dilakukan serangkaian uji terpilih untuk mengetahui ada atau tidak ada
enzym tertentu (uji biokimia dan physiologi)
• Prosedur uji biasanya sudah standar dan dipakai secara luas.
• Serangkaian uji yang spesifik diperlukan untuk identifikasi spesies atau
subspesies.
• Uji yang sangat umum lebih spesifik
• Biakan harus murni sebelum melakukan berbagai uji.
Isolasi
Untuk melakukan identifikasi, suatu bakteri harus diisolasi. Media untuk
isolasi atau media yang dipilih dan metode isolasi atau tahapan isolasi ditentukan
berdasarkan bakteri yang dicurigai. Apabila gejala penyakit yang sama disebabkan
oleh bakteri yang berbeda, maka media isolasi untuk kedua bakteri tersebut harus
digunakan.
Media umum untuk isolasi dapat digunakan untuk sebagian besar
phytopatogenik bakteri dan biasanya digunakan bila penyakit belum diketahui
penyebabnya. Media spesifik, media semi-selektif dan media diagnortik tersedia
untuk hampir sebagian besar bakteri. Kandungan media bervariasi dan biasanya
mengandung antibiotik untuk menekan bakteri non-target dan bakteri target
menunjukan karakter diagnostik tertentu pada media tersebut. Media seperti ini
digunakan untuk isolasi bakteri dari bahan perbanyakan tanaman dan dari tanaman
sakit. Penyiapan media tersebut kadang-kadang sangat kompleks dan biasanya
tidak rutin digunakan. Tetapi untuk isolasi beberapa patogen, seperti Erwinia spp
dan Ralstonia solanacearum, disarankan menggunakan media khusus.
Isolasi harus dilakukan dari bagian tanaman yang menunjukan gejala awal
penyakit. Untuk kanker dan hawar, isolasi dari batas antara jaringan yang sakit dan
sehat. Isolasi dari bercak harus dilakukan dari area kecil transparan ( water soaked),
bukan dari dari bercak coklat atau nekrotik yang lebih luas. Bakteri sekunder dan
cendawan biasanya
terdapat dalam jumlah besar pada gejala lanjut.
Mikroorganisme saprofit tersebut biasanya tumbuh lebih cepat pada media agar dari
pada bakteri patogen, menghambat dan menyulitkan isolasi bakteri patogen yang
menjadi target isolasi.
Lakukan sterilisasi permukaan (bila perlu) dengan menggunakan 0,5% larutan
sodium hypoclorit (NaOCl) atau alkohol 70% dengan merendam 30 – 20 menit
(tergantung ketebalan dan tipe jaringan tanaman dan tingkat kontaminasi. Tanaman
dengan gejala layu, daun yang sangat tipis atau daun yang telah kering sebaiknya
tidak disterilisasi permukaan, tetapi dicuci dengan air mengalir. Setelah sterilisasi
permukaan, bilas bahan tanaman sakit dengan air steril beberapa kali untuk
menghilangkan sisa-sisa desinfektan. Bila tanaman mengandung tanah cuci terlebih
dahulu. Bahan tanaman dibiarkan kering sebelum isolasi dilakukan.
9
Isolasi dapat juga dilakukan dengan melakukan maserasi jaringan tanaman
sakit. Hasil maserasi digoreskan (streak plate) pada media yang sesuai dengan loop
inokulasi untuk mendapatkan koloni tunggal. Cara lain adalah dengan meletakkan
jaringan sakit pada tabung reaksi mengandung 2 -3 ml air steril, biarkan bakteri
berdifusi pada suhu ruang selama 30 – 60 menit. Jika bakteri diduga adalah bakteri
layu atau busuk lunak, atau bila terdapat saprofit dalam jumlah besar, sebaiknya
dilakukan plating dengan pengenceran berseri. Pengenceran berseri 1 : 10 terhadap
sap hasil maserasi dibuat dengan menggunakan air steril/buffer saline. Plating 0.1 ml
dengan menyebarkan (spread plate) suspensi bakteri merata pada permukaan agar
yang kering menggunakan L-glass rod. Koloni tunggal yang terpisah lebih mudah
diperoleh dengan cara ini. Media yang sudah diinokulasi diinkubasi terbalik pada
25°C paling kurang 72 jam.
Tahap pertama identifikasi patogen adalah membedakan antara bakteri
phytopatogenik dan saprofitik dengan penampakan koloni pada media isolasi.
Morfologi koloni, kecepatan tumbuh, warna dan penampilan bagi bakteri
phytopatogenik pada media isolasi yang berbeda dapat menjadi penciri.
Bakteri phytopatogenik biasanya tumbuh lebih lambat dari pada bakteri
saprofitik dan koloni hanya muncul antar 36 – 72 jam. Beberapa bakteri yang lambat
tumbuh memerlukan 7 hari atau lebih untuk bisa terlihat pada media agar. Jika media
selektif digunakan, pertumbuhan patogen juga lebih lambat dibandingkan jika
tumbuh pada media umum dan plate harus diinkubasi dan diamati setiap hari paling
kurang 7 – 14 hari. Antibiotik pada media selektif memperlambat pertumbuhan
patogen. Kultur yang murni sangat jarang didapatkan pada media untuk isolasi.
Koloni dari patogen biasanya dominan jika isolasi dilakukan dari infeksi awal
dan dari bahan tanaman yang masih segar. Bahan tanaman dengan gejala yang
lanjut dan sampel yang terlalu lama disimpan sering diinvasi oleh cendawan dan
bakteri saprofitik yang tumbuh cepat. Keberadaan saprofit sering meragukan karena
penampilan yang menyerupai patogen. Contohnya Pantoea aglomerans dengan
pigment kuning dan fluorescent saprofitik pseudomonads menyerupai patogenik
xanthomonads dan pseudomonads.
Media selektif atau semi selektif digunakan untuk memudahkan identifikasi
awal dari koloni bakteri target. Media King’s B adalah media diagnostik, namun
sangat memudahkan identifikasi awal terhadap Pseudomonads (pathogenik dan
non-pathogenik) karena menghasilkan pigmen fluoresen biru sampai hijau bila
diamati dibawah lampu near UV. Erwinia busuk lunak yang ditumbuhkan pada
media dasar polypectat menghasilkan lubang pada permukaan media karena
degradasi pectat oleh bakteri. Hydrolisis pati (zona terang disekeliling koloni) dan
lypolisis Tween 80 (presipitasi kristal disekeliling koloni) digunakan untuk
membedakan Xanthomonads.
Beberapa koloni tunggal yang diduga patogen target dimurnikan dengan
menggoreskan koloni bakteri pada media non-selektif menggunakan loop inokulasi.
Inkubasi dan amati kemurniannya. Biakan murni ditunjukan dengan penampilan
koloni yang seragam, baik bentuk, ukuran, dan warna koloni. Untuk mendapatkan
isolat yang benar-benar murni perlu dilakukan beberapa kali penggoresan ulang
dengan mengambil satu koloni tunggal. Bila isolat telah murni, dapat dilakukan
10
pengujian karakter bakteri seperti uji patogenisitas, morfologi, fisiologi dan biokimia.
Bakteri yang telah teridentidikasi selanjutnya dapat dikoleksi dan disimpan.
Flagella dan Motilitas
Jumlah dan orientasi flagella adalah penting secara taxonomi. Pewarnaan
flagella untuk mikroskop cahaya tersedia tetapi hasilnya kurang bagus. Mikroskop
elektron sering digunakan untuk mempelajari flagelasi. Metode ”hanging drop”
dapat digunakan untuk mengetahui flagelasi dan motilitas menggunakan mikroskop
kompon.
Gerakan berenang yang cepat dan tiba-tiba adalah karakter dari bakteri
dengan polar flagela. Bakteri dengan peritrichous flagela memperlihatkan gerakan
berenang yang lambat diikuti dengan gerakan berguling yang tidak beraturan.
Berdasarkan flagela bakteri dapat dibedakan atas :
- monotrich : satu flagela pada salah satu kutub
- lopotrich : flagela banyak, pada salah satu kutub
- amphitrich : flagela terdapat pada kedua kutub
- peritrich : flagela terdapat diseluruh permukaan sel
Pewarnaan Gram
Pengujian Gram bakteri biasanya adalah pengujian yang paling awal
dilakukan, karena pengelompokan berdasarkan uji Gram menentukan penggolongan
besar bakteri. Pewarnaan Gram menunjukan perbedaan yang mendasar dalam
organisasi struktur dinding sel bakteri atau amplop sel.
Bakteri Gram positif mempunyai dinding sel relatif tebal, terdiri dari beberapa
lapis polymer peptidoglycan (disebut juga murein). Tebalnya dinding sel menahan
lolosnya komplek crystal violet-iodine ketika dicuci dengan alkohol atau aseton.
Bakteri Gram negatif mempunyai
dinding sel berupa lapisan
tipis
peptidoglycan, yang diselubungi oleh lapisan tipis outer membrane yang terdiri dari
lipopolysaccharide (LPS). Daerah antara peptidoglycan dan lapisan LPS disebut
periplasmic space (diwarnai dengan abu-abu); adalah zone cairan atau gel yang
mengandung berbagai enzymes dan nutrient-carrier proteins. Kompleks Crystal
violet-iodine mudah lolos melalui LPS dan lapisan tipis peptidoglycan ketika sel
diperlakukan dengan pelarut.
11
Mayoritas bakteri patogen tanaman adalah Gram-negatif, aerobik, berbentuk
batang atau Gram negatif, anaerobik fakultatif, berbentuk batang. Sebagian besar
bakteri Gram positif tergolong Actinomycetes yang digolongkan kepada kelompok
Coryneform dan Actinomycetales.
Hanya sedikit bakteri tanpa dinding sel yang
bersifat patogenik pada tanaman.
Reaksi Gram, bentuk sel dan ukuran sel menentukan kriteria identifikasi
selanjutnya untuk menentukan apakah bakteri kemungkinan patogen tanaman atau
tidak. Gunakan biakan yang masih muda (24 jam) untuk pewarnaan Gram. Bakteri
Gram Positif akan berwarna ungu gelap sedangkan bakteri gram negatif akan
berwarna merah.
Diagram Prosedur Pewarnaan Gram :
Aplikasi
crystalviolet 1
menit
Aplikasi Iodine
1menit
Pencucian
alkohol, 5-10
detik
Aplikasi safranin,
30 detik
12
CATATAN:
- Bakteri gram positif corynoform dan bakteri gram negatif patogen tanaman
berbentuk batang
- Sterptomyces mempunyai pertumbuhan seperti miselium
- Bakteri Gram negatif dan Gram positif berbentuk kokus (cocci) dan bakteri
berbentuk batang menghasilkan spora bukan bakteri pathogen tanaman.
- Sel bakteri corynoform umumnya lebih kecil dari bakteri Gram positif lainnya
(< 0.8 µl dengan konfigurasi yang unik (berbentuk L dan Y).
Uji KOH Solubility
Cara cepat untuk membedakan bakteri Gram-negatif dan Gram-positif adalah
dengan menguji solubilitas bakteri pada KOH 3%. Jika suspensi bakteri berupa
benang berlendir bisa terangkat oleh loop, bakteri adalah Gram negatif. Jika
terbentuk suspensi encer, berarti bakteri Gram positif. Dengan metode ini kita tidak
dapat mengetahui bentuk dan ukuran sel bakteri.
Pengujian Karakter Fisiologi dan Biokimia Bakteri
Karena morfologi tidak cukup untuk memberi informasi taxonomi, maka
membedakan bakteri umumnya menggunakan karakter physiologi dan biokimia.
Berbagai uji telah tersedia untuk karakterisasi bakteri sampai ketingkat
spesies. Resep media dan standar prosedur pengujian banyak tersedia pada
berbagai buku referensi al :
13
Introduction to Practical Phytobacteriology (Goszczynska et al, 2000); Laboratory
Guide for Identification of Plant Pathogenic Bakteria (Schaad et all. 2001), dll.
Bakteri patogen tanaman penting antara lain dari genus Erwinia, Pantoea,
Acidovorax, Pseudomonas, Ralstonia, Burkholderia, Xanthomonas, Xylella,
Agrobacterium, Clavibacter, Clostridium, Bacillus, dan Streptomyces. Beberapa uji
sederhana untuk membedakan genus bakteri patogen tumbuhan seperti pada Tabel
di bawah ini. Untuk pengujian sampai tingkat spesies diperlukan pengujian yang
lebih mendalam terhadap sifat biokimia dari bakteri uji.
Tabel 1. Kunci identifikasi genus bakteri patogen tanaman ( Shaad, 2001)
Character
Erw Pa Aci
n
Ps
e
Ra
l
Bu Xa Xyl Agr Cla Clo Ba
r
n
c
St
r
Gram positive
-
-
-
-
-
-
-
-
-
+
+
+
+
Grows
anaerobically
+
+
-
-
-
-
-
-
-
-
+
+
-
Grows aerobically
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
-
+
+
Colonies yellow or
orange on YDC, or
NBY
-
+a
-
-
-
-
+b
+c
-
+d
-
-
-
Colonies mucoid on
YDC at 30°C
-
-
+
-
+
-
+
-
+
+ ND ND
-
Fluorescent
pigment on KB
-
-
-
+
-
-
-
-
-
-
-
-
-
Diffusible
nonfluorescent
pigment on KB
-
-
-
-
-
+
-
-
-
-
-
-
-
Urease
-e
-
+
-
+
V
-
+
N
D
-
Oxidase
-
-
+
-
+
+f
-
-
+
-
-
+
V
Grows at 40°C
-
V
+
-
-
+g
-
-
-
-
+
+
-
More than four
peritrichous flagella
+
+
-
-
-
-
-
-
-
-
V
V
-
Growth
agar
-
-
-
-
-
-
-
-
+
-
-
-
-
Spore formed
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
+
+
-
Aerial mycellium
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
+
on
D1M
ND ND N
D
14
Postulat Koch
Karena bakteri tersebar luas di lingkungan sebagai epiphyt, keberadaan
bakteri pada tanaman/bagian tanaman yang bergejala belum membuktikan bahwa
bakteri adalah penyebab penyakit pada tanaman tersebut.
Perlu dilakukan
percobaan untuk membuktikan suatu bakteri sebagai penyebab penyakit. Kriteria
untuk menentukan agen penyebab penyakit pertama kali didefinisikan oleh Robert
Koch (1880) dan sekarang dikenal sebagai Postulat Koch, yaitu sebagai berikut :
1. Konstan asosiasi : Patogen harus selalu ditemukan bersosiasi dengan
penyakit pada semua tanaman sakit yang diamati.
2. Isolasi : Patogen harus dapat diisolasi dan ditumbuhkan sebagai biakan murni
pada media sintetis.
3. Inokulasi : Patogen dari biakan murni harus menghasilkan penyakit yang
sama ketika diinokulasikan pada tanaman sehat.
4. Reisolasi : Patogen harus dapat diisolasi kembali dalam bentuk biakan murni
dan karakternya harus persis sama dengan pengamatan pada tahap 2.
Inokulasi bakteri pada tanaman inang untuk melihat apakah bakteri
menimbulkan penyakit disebut juga dengan uji patogenisitas. Kemampuan suatu
bakteri untuk menimbulkan penyakit pada suatu spesies atau kultivar tanaman
tertentu merupakan kriteria penting dalam menentukan status spesies dan patovar
bakteri. Uji patogenisitas dilakukan terhadap isolat bakteri dengan menginfiltrasi
suspensi bakteri kedalam jaringan tanaman dan selanjutnya respon tanaman
diamati.
Reaksi Hipersensitif
Kemampuan bakteri menyebabkan penyakit (pathogenicity) bisa diketahui
dengan menginduksi penyakit pada tanaman inang (dengan menginfiltrasi bakteri
kedalam tanaman inang) atau dengan reaksi hypersensitif (dengan infiltrasi bakteri
pada tanaman bukan inang).
Bila suatu bakteri patogen diinfiltrasi pada area
terbatas pada daun tanaman maka akan terjadi 3 tipe raksi tergantung kepada jenis
spesies atau patovar bakteri, yaitu :
1. Reaksi hypersensitif : terjadi kematian sel tanaman yang cepat, tanpa terjadi
penyebaran bakteri ke jaringan sekitarnya.
2. Reaksi penyakit : respon inang lambat terhadap infiltrasi bakteri, sehingga
bakteri menyebar pada bagian lain dari tanaman. Tanaman menjadi layu
bahkan mati.
3. Tidak ada reaksi
Reaksi hipersensitif tidak terjadi dengan bakteri non-phytopatogenik.
Kemampuan bakteri tanaman menghasilkan HR pada tanaman non-inang,dapat
digunakan sebagai uji patogenisitas dari isolat bakteri patogen. HR dapat digunakan
untuk hampir semua bakteri patogen tanaman termasuk yang menyebabkan
penyakit nekrotik, layu, dan beberapa bakteri penyebab busuk lunak. HR biasanya
tidak terjadi dengan bakteri erwinia busuk lunak, kelompok agrobacteria dan
Pseudomonas savastanoi subsp. savastanoi dan patogen oportunistik seperti
Pseudomonas marginalis.
15
Reaksi hypersensitif adalah respon resistensi tanaman untuk melokalisasi
bakteri sehingga tanaman dapat mengatasi serangan berbagai jenis bakteri yang
berpotensi menyebabkan penyakit.
Tanaman tembakau biasanya digunakan untuk uji HR, karena daunnya
mudah untuk diinfiltrasi, dan tanaman mudah dipelihara pada kondisi laboratorium.
Inokulum bakteri pada fase pertumbuhan aktif (log phase) dengan konsentrasi 10 8 –
109 sel/ml diinfiltrasi ke dalam ruang interselular daun menggunakan syring. Reaksi
nekrotik yang terlokalisir berwarna pucat atau dan merah perunggu muncul dalam
jangka waktu 24 jam setelah infiltrasi bakteri.
Untuk bakteri kelompok
xanthomonads reaksi tembakau kurang bagus, dan dapat digantikan dengan
tanaman tomat dan cabe.
Gbr. 1. Respon daun terhadap infiltrasi bakteri menyebabkan reaksi kompatibel,
inkompatibel dan saptofitik, tergantung kepada spesies atau patovar bakteri
(Siegee, 1984)
16
Deteksi dan Identifikasi Bakteri Patogen Tanaman dengan Cara Cepat
Deteksi dan identifikasi dengan cara konvensional memerlukan waktu yang
lama karena memerlukan proses isolasi, uji morfologi, physiologi dan biokimia,
bahkan uji patogenisitas. Untuk laboratorium karantina tumbuhan yang memerlukan
pengujian yang cepat dan akurat identifikasi bakteri dengan metode konvensional
terlalu lambat sehingga alternatif pengujian dengan metode yang modern, cepat dan
akurat sangat diperlukan. Namun demikian, pengujian konvensional tidak boleh
ditinggalkan, terutama sebagai pembuktian ilmiah yang diterima secara luas oleh
dunia internasional terhadap keberadaan dan status bakteri patogen tanaman.
Teknik pengujian yang dapat menjadi alternatif antara lain pengujian dengan
teknik serologi dan PCR dimana bakteri tidak perlu diisolasi dari sampel tanaman,
sehingga sangat menghemat waktu pengujian. Uji serologi dengan teknik ELISA
sangat populer untuk deteksi bakteri yang menyerang tanaman/bagian tanaman,
dimana pengujian dalam dilakukan untuk jumlah sampel yang besar. Pengujian
ELISA dan uji serologi lainnya adalah berdasarkan reaksi antara antibody dan
antigen. Sedangkan pengujian dengan teknik PCR adalah berdasarkan amplifikasi
DNA patogen secara invitro dengan menggunakan primer yang spesifik.
Pengujian dengan sistem Biolog sangat membantu identifikasi isolat murni
bakteri secara cepat karena hanya memerlukan satu hari inkubasi terhadap suspensi
bakteri di dalam mikroplate yang telah dicoating dengan 96 jenis substrat biokimia
yang terseleksi. Bakteri yang berbeda memiliki kemampuan yang berbeda dalam
memanfaatkan berbagai jenis sumber karbon sebagai sumber karbon tunggal.
Reaksi dibaca dengan reader. Pola pertumbuhan bakteri menghasilkan profil
metabolik/fingerprint dari mikroorganisme
dibandingkan dengan database pada
software Biolog untuk menetapkan spesies bakteri yang diuji. Sistem ini mampu
mendeteksi sampel mikroorganisme dari jenis bakteri, yeast, dan cendawan, dimana
lebih dari 2000 database tersedia.
Analisa asam lemak dinding sel bakteri/fame (fatty accid methyl ester) dengan
menggunakan peralatan GC (gas chromatography), merupakan salah satu cara
cepat untuk identifikasi bakteri yang telah berupa isolat murni. Pola fatty acid yang
dihasilkan dengan software yang tersedia secara otomatis dibandingkan dengan
database. Sherlock MIDI System, salah satu produk alat identifikasi cepat asam
lemak bakteri, mampu mendeteksi sampel mikroorganisme dari jenis bakteri, yeast,
dan cendawan, memiliki 2000 database berdasarkan pola chromatography
mikroorganisme.
17
PENGENALAN GEJALA PENYAKIT TANAMAN
YANG DISEBABKAN OLEH BAKTERI
Gejala penyakit tanaman yang disebabkan oleh bakteri dapat diklasifikasikan
menjadi 4 kelompok utama :
1. Kematian cepat sel-sel jaringan tanaman yang diinvasi oleh bakteri patogen
yang menimbulkan terakumulasinya pigmen gelap, seperti hasil oxidasi
polyphenols dan melanin seringkali berasosiasi dengan khlorosis disekitar
jaringan.
Contoh : bercak nekrotik (spot), hawar (blight), dan canker
Bakteri penyebab : kelompok xanthomonads dan pseudomonads
 Xanthomonas campestris pv. vesicatoria, penyebab leaf spot pada
tomat dan cabe
 Pseudomonas syringae pv. tabaci, penyebab angular leaf spot dan
wildfire pada tembakau
 Xanthomonas axonopodis penyebab pustul pada kedelai
 Xanthomonas oryzae pv oryzae penyebab Bacterial Leaf Blight pada
padi
 Xanthomonas axonopodis pv. dieffenbachiae, hawar pada anthurium
 Xanthomons campestris, hawar pada ketela pohon
 Xanthomonas axonopodis pv citri pada jeruk (citrus canker)
Gejala Xanthomonas campestris pv. vesicatoria pada tomat (Plant
Protection Service, Wageningen, Cabi 2005)
2. Invasi yang progresif jaringan vaskular yang diikuti oleh nekrosis jaringan yang
berdekatan yang bisa menyebabkan layunya tanaman inang.
Contoh : layu pembuluh, menguning
Bakteri penyebab : Clavibacter michiganensis (subsp. michiganensis, subsp.
insidiosum, subsp. sepedonicus ), Pantoea stewartii, Erwinia tracheiphila,
Ralstonia solanacearum, dan Xylela fastidiosa
3. Hancurnya jaringan tanaman karena hancurnya sel, yang dikenal sebagai gejala
busuk lunak (soft-rot).
Contoh : busuk lunak
Bakteri penyebab : Xanthomonas campestris pv. campestris, Erwinia carotovora
(subsp. atroseptica, subsp. caratovora), Erwinia chrysanthemi, Clavibacter
michiganensis subsp. sepedonicum.
18
Busuk Lunak pada kentang disebabkan oleh
Pectobacterium carotovorum subsp. carotovorum (Cabi, 2005)
4. Abnormalitas pembelahan, pemanjangan, dan perkembangan sel, menghasilkan
pertumbuhan berlebihan (overgrowths)
Contoh : tumor, nodule (bintil), and fasiasi.
Bakteri penyebab : Agrobacterium tumefaciens, Agrobacterium rhizogenes,
Rhodococcus fascians, Pseudomonas savastanoi subsp. Savastanoi
Gejala puru pada pangkal batang mawar dan mossy gall pada bunga oleh Rhizobium
radiobacter (Nigel Cattlin/Holt Studios International dan Larry W. Moore, Cabi 2005)
Iustrasi gambar berikut adalah jenis gejala yang ditimbulkan oleh kelompok genus
bakteri penting patogen tanaman.
19
Tabel berikut dapat menjadi kunci diagnosis bakteri penyebab penyakit tanaman
berdasarkan gejala khas pada tanaman inang.
Inang
Kacang
tanah
Kubis
Cabe
Kedelai
Tomat
Ubi kayu
Gejala
Kemungkinan Penyebab
Layu
Ralstonia solanacearum
Necrosis tepi daun,
menguning
Busuk batang
X. campestris pv. campestris
Spot daun
Layu
Spot buah
X.campestris pv. vesicatoria
Psudomonas solanacearum
X.campestris pv. vesicatoria
Spot daun (hawar)
Pustul
P. syringae pv. syringae
X. campestris pv. glycines
Layu pembuluh
Spot buah
Canker dan layu
Ralstonia solanacearum
X.campestris pv. vesicatori
Clavibacter
michiganensis
michiganensis
Spot daun
Layu
Erwinia carotovora
subsp.
X. campestris pv. manihotis
X. campestris pv. manihotis
Layu, necrosis
Ralstonia solanacearum
Pisang
Padi
Spot daun, batang
Daun bergaris
Daun menguning
Psudomonas avenae
X. oryzae pv. oryzicola
X. oryzae pv. oryzae
Spot daun
Pseudomonas andropogonis
Sorgum
Layu
Erwinia stewartii
Clavibacter michiganensis subsp. nebrakensis
Jagung
Busuk batang
Busuk akar
Erwinia chrysanthemi
Clavibacter michiganensis subsp. nebrakensis
Layu
Jahe
Ralstonia solanacearum
20
Bakteri yang menguntungkan adalah sebagai berikut :
1. Pembusukan/penguraian sisa-sisa mahluk hidup contohnya Escherichia colie
2. Pembuatan makanan dan minuman hasil fermentasi contohnya :




Acetobacter pada pembuatan asam cuka
Lactobacillus bulgaricus pada pembuatan yoghurt
Acetobacter xylinum pada pembuatan nata de coco
Lactobacillus casei pada pembuatan keju yoghurt.
3. Berperan dalam siklus nitrogen sebagai bakteri pengikat nitrogen yaitu Rhizobium
leguminosarum yang hidup bersimbiosis dengan akar tanaman kacang-kacangan
dan Azotobacter chlorococcum.
4. Penyubur tanah contohnya Nitrosococcus, Nitrosomonas dan Nitrobacter yang
berperan dalam proses nitrifikasi mengikat Nitrogen bebas di udara dalam bentuk
akhir ion nitrat yang dibutuhkan tanaman. Proses nitrifikasi sebenarnya terdiri dari
dua tahap yaitu :


Nitritasi : oksidasi amonia (NH3) menjadi nitrit (NO2-) oleh bakteri nitrit. Proses
ini dilakukan oleh kelompok bakteri Nitrosomonas dan Nitrosococcus.
Nitratasi : oksidasi senyawa nitrit menjadi nitrat (NO3-) oleh bakteri nitrat.
Proses ini dilakukan oleh kelompok bakteri Nitrobacter
5. Penghasil antibiotik contohnya adalah :



Bacillus polymyxa penghasil antibiotik untuk pengobatan infeksi bakteri gram
negatif
Bacillus subtilis penghasil antibiotik untuk pengobatan infeksi bakteri gram
positif
Streptomyces griseus penghasil antibiotik streptomisin untuk pengobatan TBC
6. Pembuatan zat kimia misalnya aseton dan butanol oleh Clostridium
acetobutylicum
7. Berperan dalam proses pembusukan sampah dan kotoran hewan sehinggga
menghasilkan energi alternatif metana berupa biogas. Contohnya
methanobacterium
8. Penelitian rekayasa genetika dalam berbagai bidang.sebagai contoh dalam bidang
kedokteran dihasilkan obat-obatan dan produk kimia bermanfaat yang disintesis
oleh bakteri, misalnya enzim, vitamin dan hormon.
Bakteri yang merugikan sebagai berikut :
1. Pembusukan makanan contohnya Clostridium botulinum
2. Penyebab penyakit pada manusia contohnya :
21




Mycobacterium tuberculosis penyebab penyakit TBC
Vibrio cholerae penyebab kolera atau muntaber
Clostridium tetani penyebab penyakit tetanus
Mycobacterium leprae penyebab penyakit lepra
3. Penyebab penyakit pada hewan contohnya Bacilluc antrachis penyebab penyakit
antraks pada sapi
4. Penyebab penyakit pada tanaman budidaya contohnya :

Pseudomonas solanacearum penyebab penyakit pada tanaman tomat,
lombok, terungdl
22
DAFTAR PUSTAKA
Agrios, G. N. 1997. Plant Pathology, 4th Ed. Academic Press.
Crowtherm JR. 1996. ELISA-Theory and Practice. IST Publishers, Singapure.
Goszczynska, T, Serfontein JJ, Serfontein S. 2000. Introduction to Practical
Phytobacteriology. Safrinet, Pretoria.Kiado, Budapest.
Lelliott RA and Stead DE, 1987. Methods for Diagnosis of Bacterial Diseases of
Plants. Blackwell Scientific Publications, Oxford.
Riza, D. 2011, Identifikasi Bakteri Penyakit Tumbuhan, Modul Pelatihan Teknis
Dasar Karantina Tumbuhan, Jakarta
Schaad NW, Jones JB and Chun W. 2001. Laboratory Guide for Identification
of Plant Pathogenic Bacteria. APS Press, St. Paul, Minessota.
Shivas R, et al. 2005. Management of Plant Pathogen Collection. Australian
Government - Departement of Agriculture, Fisheries and Forestry.
Sigee, DC. 1993. Bacterial Plant Pathology : Cell and Molecular Aspects.
Cambridge University Press, Cambridge.
23
24
Download