KETERBUKAAN INFORMASI KEPADA

advertisement
KETERBUKAAN INFORMASI KEPADA PEMEGANG SAHAM
PT HOLCIM INDONESIA TBK
(“Perseroan”)
Informasi ini dibuat dan ditujukan kepada Pemegang Saham Perseroan berdasarkan Peraturan
Bapepam dan LK No. IX.E.2 Lampiran atas Keputusan Ketua Bapepam dan LK No. KEP614/BL/2011 tanggal 28 November 2011 tentang Transaksi Material dan Perubahan Kegiatan
Usaha Utama dan Peraturan Bapepam dan LK No. IX.E.1 Lampiran atas Keputusan Ketua
Bapepam dan LK No. Kep-412/BL/2009 tanggal 25 November 2009 tentang Transaksi Afiliasi
dan Benturan Kepentingan Transaksi Tertentu.
PT Holcim Indonesia Tbk
Kegiatan Usaha Utama:
Untuk mendirikan dan mengelola pabrik semen dan menjalankan segala usaha yang berguna
sehubungan dengan usaha tersebut termasuk tetapi tidak terbatas pada pengangkutan dan
pengolahan limbah berbahaya dan melaksanakan investasi di perusahaan-perusahaan lain.
Kantor Pusat:
Talavera Suite lantai 15, Talavera Office Park
Jl. Letjen TB Simatupang No. 22 – 26, Jakarta 12430, Indonesia
Telepon: (62-21) 2986 1000
Fax: (62-21) 2986 3333
Website: www.holcim.co.id
Email: [email protected]
Apabila Anda mengalami kesulitan dalam memahami informasi yang termuat dalam
Keterbukaan Informasi ini, atau keragu-raguan dalam membuat suatu keputusan,
Anda dianjurkan untuk berkonsultasi dengan seorang perantara penjual saham,
pengelola investasi, penasihat hukum, akuntan publik atau penasihat profesional
lainnya.
Dewan Komisaris dan Direksi Perseroan, baik secara sendiri-sendiri maupun bersamasama, bertanggung jawab penuh atas kelengkapan dan kebenaran seluruh informasi
atau fakta material yang termuat di dalam Keterbukaan Informasi ini, dan menjelaskan
bahwa informasi yang tercantum di dalam Keterbukaan Informasi ini adalah benar dan
tidak ada fakta material yang tidak diungkapkan di dalam Keterbukaan Informasi ini
yang dapat menyebabkan informasi material yang tercantum dalam Keterbukaan
Informasi ini menjadi tidak benar atau menyesatkan.
1
Jakarta, 11 Februari 2016
DEFINISI
DEFINISI, ISTILAH DAN SINGKATAN
“Akta Jual Beli”
:
Akta Perjanjian Jual Beli Saham No. 03, tanggal 10 Februari 2016 ,
antara Financiere Lafarge SA dan Perseroan, dibuat di hadapan Devi
Yunanda, S.H., M.Kn., Notaris di Jakarta.
“Bapepam” atau
“Bapepam dan LK”
:
Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan sebagaimana
disebutkan dalam Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia No.
184/PMK.01/2010 tanggal 11 Oktober 2010 tentang Organisasi dan
Tata Kerja Kementerian Keuangan.
“Euribor”
:
Kurs per tahun sebagaimana dikutip oleh Bloomberg sebagai
Euro003M untuk Euro 2 hari kerja sebelum pembayaran bunga
selanjutnya untuk periode sebagaimana disahkan oleh Pemberi
Pinjamankepada Perseroan. Dalam hal Euro003M negatif, maka akan
dianggap sebagai nol.
“FL”
:
Financiere Lafarge SA, suatu perusahaan yang didirikan berdasarkan
hukum Perancis yang memiliki kantor terdaftar di 61, Rue des Belles
Feuilles, Paris, 75116, Perancis.
“Hari Kerja”
:
Hari-hari, kecuali hari Sabtu atau Minggu atau hari libur nasional,
dimana bank-bank komersial buka untuk beroperasi secara umum di
Jakarta, Indonesia.
“LafargeHolcim”
:
LafargeHolcim Ltd (sebelumnya dikenal sebagai Holcim Limited),
suatu perusahaan dari Swiss yang terbentuk dari hasil penggabungan
antara Lafarge SA dan Holcim Ltd pada tanggal 10 Juli 2015.
“Masyarakat”
:
Pihak-pihak termasuk badan hukum, baik warga negara Indonesia
ataupun warga negara asing dan badan hukum Indonesia ataupun
badan hukum asing, baik yang berdomisili dan didirikan di Indonesia
ataupun yang berdomisili dan didirikan di luar yurisdiksi Republik
Indonesia.
“Menkumham”
:
Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia (atau
sebutan sebelumnya / di masa yang akan datang yang dapat digunakan
untuk menyebut Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik
Indonesia dari waktu ke waktu).
“Otoritas Jasa
Keuangan” atau
“OJK”
:
Suatu lembaga independen yang dibentuk berdasarkan UndangUndang No. 21 Tahun 2011 tentang Otoritas Jasa Keuangan (“UU
OJK”), yang tugas dan wewenangnya meliputi pengaturan dan
pengawasan atas kegiatan jasa keuangan pada sektor perbankan, pasar
modal, asuransi, dana pensiun, institusi pembiayaan dan sektor-sektor
institusi pembiayaan lainnya. Dimana sejak tanggal 31 Desember 2012,
OJK merupakan institusi yang menggantikan dan menerima hak dan
kewajiban dari Bapepam dan/atau Bapepam dan LK untuk
melaksanakan fungsi pengaturan dan pengawasan sesuai dengan
ketentuan Pasal 55 UU OJK.
2
“Pemberi
Pinjaman”
:
Holderfin B.V., suatu perusahaan terbatas yang didirikan dan diatur
berdasarkan hukum Belanda.
“Pemegang
Saham”
:
Pihak-pihak yang memiliki kepentingan atas Saham Perseroan, baik
dalam bentuk bilyet giro atau rekening penitipan bersama yang
disimpan dan dikelola di rekening efek KSEI, yang terdaftar pada
Daftar Pemegang Saham Perseroan yang dikelola oleh Biro
Administrasi Efek, yakni PT Datindo Entrycom.
“Peraturan No.
IX.E.1”
:
Keputusan Ketua Bapepam dan LK No. KEP-412/BL/2009 tanggal 25
November 2009 tentang Transaksi Afiliasi dan Benturan Kepentingan
Transaksi Tertentu.
“Peraturan No.
IX.E.2”
:
Keputusan Ketua Bapepam dan LK No. Kep-614/BL/2011 tanggal 28
Februari 2011, Peraturan No. IX.E.2 tentang Transaksi Material dan
Perubahan Kegiatan Usaha Utama.
“Perjanjian Jual
Beli Bersyarat”
:
Perjanjian Jual Beli Bersyarat tanggal 29 Desember 2015 antara
Financiere Lafarge SA sebagai penjual dan Perseroan sebagai pembeli.
“Perseroan”
:
PT Holcim Indonesia Tbk, suatu perseroan terbatas terbuka dengan
kegiatan usaha utama untuk mendirikan dan mengelola pabrik semen
dan menjalankan segala usaha yang berguna sehubungan dengan usaha
tersebut termasuk tetapi tidak terbatas pada pengangkutan dan
pengolahan limbah berbahaya dan melaksanakan investasi di
perusahaan-perusahaan lain.
“POJK No. 32”
:
Peraturan OJK No. 32/POJK.04/2014 tanggal 8 Desember 2014
tentang Rencana dan Penyelenggaraan Rapat Umum Pemegang Saham
Perusahaan Terbuka.
“POJK No. 33”
:
Peraturan OJK No. 33/POJK.04/2014 tanggal 8 Desember 2014
tentang Direksi dan Dewan Komisaris Emiten atau Perusahaan Publik.
“PT LCI”
:
PT Lafarge Cement Indonesia, suatu perusahaan terbatas yang
didirikan di Republik Indonesia, memiliki kantor terdaftar di Jalan
Banda Aceh-Meulaboh KM 17 Gampong Mon Ikeun, Lhoknga, Aceh
Besar.
“Undang-Undang
Pasar Modal”
:
Undang-Undang No. 8 Tahun 1995 tanggal 10 November 1995 tentang
Pasar Modal, Lembaran Negara Republik Indonesia No. 64 Tahun 1995,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia No. 3608, serta
peraturan-peraturan pelaksananya.
I.
PENDAHULUAN
Dalam rangka memenuhi Peraturan No. IX.E.2 dan Peraturan No. IX.E.1, Direksi dan Dewan
Komisaris Perseroan berniat untuk membuat Keterbukaan Informasi ini untuk menyediakan
informasi yang jelas dan lengkap kepada Pemegang Saham Perseroan (“Keterbukaan
Informasi”). Perseroan telah membeli seluruh saham FL di dalam entitas anaknya, yaitu PT
LCI (selanjutnya akan disebut sebagai “Transaksi”), sesuai dengan syarat dan ketentuan
sebagaimana diatur dalam Perjanjian Jual Beli Bersyarat dan Akta Jual Beli. Akta Jual Beli telah
3
ditandatangani oleh Perseroan dan FL pada saat penutupan Transaksi pada tanggal 10 Februari
2016 (“Penutupan”).
Pada saat Penutupan, Perseroan wajib membeli secara efektif dari FL, dan FL sebagai pemilik
yang sah secara hukum dan sebagai pemilik atas manfaat, menjual secara efektif kepada
Perseroan seluruh saham berjumlah 1.948.040 lembar saham yang dimiliki oleh FL di dalam PT
LCI (“Saham”), bebas dan bersih dari segala pembebanan dan disertai dengan seluruh hak dan
manfaat yang melekat pada Saham.
Transaksi merupakan suatu transaksi material berdasarkan Peraturan IX.E.2 dikarenakan
jumlah nilai Transaksi berada di antara 20%-50% dari jumlah modal Perseroan berdasarkan
laporan keuangan Perseroan yang telah diaudit untuk periode yang berakhir pada 30 Juni 2015.
Dengan demikian, sesuai dengan Peraturan No. IX.E.2, Perseroan hanya diwajibkan untuk
mengumumkan kepada Masyarakat, informasi spesifik sehubungan dengan Transaksi
setidaknya pada 1 (satu) surat kabar yang berperedaran nasional di Indonesia dan mengirimkan
bukti terkait pengumuman dalam surat kabar tersebut kepada OJK bersamaan dengan
dokumen-dokumen pendukungnya paling lambat 2 (dua) Hari Kerja sejak Penutupan.
Lebih lanjut, Transaksi juga merupakan Transaksi Afiliasi berdasarkan Peraturan No. IX.E.1
dikarenakan kesamaan pemegang saham pengendali pada Perseroan dan FL, yakni
LafargeHolcim. LafargeHolcim merupakan perusahaan Swiss yang muncul sebagai hasil
penggabungan antara Lafarge SA dan Holcim Ltd pada 10 Juli 2015 (“Transaksi
Penggabungan”). Pada tanggal 8 Desember 2015, KPPU telah menerbitkan surat terkait opini
tidak berkeberatan atas Transaksi Penggabungan.
Transaksi telah dilaksanakan sesuai dengan prinsip-prinsip kewajaran (arm’s length basis), dan
Transaksi juga telah dinyatakan sebagai transaksi yang wajar berdasarkan sebuah pendapat
kewajaran yang dikeluarkan oleh KJPP Jennywati, Kusnanto & Rekan, penilai independen yang
terdaftar di OJK. Ringkasan dari pendapat kewajaran tersebut dimuat dalam Bagian IV
Keterbukaan Informasi ini. Oleh karenanya, Direksi dan Dewan Komisaris Perseroan, bersamasama dan masing-masing, dengan ini menyatakan bahwa Transaksi ini bukan merupakan
Transaksi yang mengandung Benturan Kepentingan sebagaimana diatur dalam Peraturan No.
IX.E.1. Namun, dikarenakan Transaksi juga merupakan suatu Transaksi Material berdasarkan
Peraturan No. IX.E.2, dengan demikian sesuai dengan angka 5.a.1 dari Peraturan No. IX.E.1,
Perseroan hanya perlu untuk memenuhi persyaratan berdasarkan Peraturan No. IX.E.2
Direksi Perseroan mengumumkan Keterbukaan Informasi ini untuk kepentingan Pemegang
Saham Perseroan, demi menyediakan informasi spesifik sehubungan dengan Transaksi yang
dilaksanakan oleh Perseroan berkaitan dengan hal tersebut di atas dan sesuai dengan ketentuan
hukum dan peraturan perundang-undangan yang berlaku, khususnya Peraturan No. IX.E.2.
II.
LATAR BELAKANG DAN MANFAAT DARI TRANSAKSI
Perseroan adalah penyedia bahan dan jasa atas bangunan berbahan dasar semen yang saat ini
beroperasi di Indonesia, dengan menyediakan kebutuhan ritel domestik yang ekstensif dan
pasar pembangunan perumahan nasional serta proyek-proyek komersil dan infrastruktur.
4
Transaksi ini bertujuan untuk mengembangkan dan mendorong pertumbuhan usaha Perseroan;
sehingga setelah Transaksi diselesaikan, diharapkan dapat terjadi peningkatan daya saing
Perseroan, kualitas pelayanan Perseroan, efisiensi pembelian barang modal untuk tujuan
peningkatan pendapatan Perseroan, dan lebih memperkuat posisi Perseroan di industri semen,
khususnya di wilayah Sumatera.
Transaksi juga akan memfasilitasi konsolidasi usaha-usaha pembuatan dan penjualan semen,
beton jadi dan bahan bangunan terkait lainnya milik LafargeHolcim di Indonesia di bawah
Perseroan yang juga akan mendukung sinergi dan efisiensi.
III.
INFORMASI MENGENAI TRANSAKSI
A. Obyek Transaksi
Obyek dari Transaksi adalah 1.948.040 (satu juta sembilan ratus empat puluh delapan ribu
empat puluh) lembar saham di dalam PT LCI yang dimiliki oleh FL atau mewakili sekitar
99,99% (sembilan puluh sembilan koma sembilan sembilan persen) dari seluruh modal
ditempatkan dan disetor penuh dari PT LCI, bebas dan bersih dari seluruh pembebanan dan
disertai dengan seluruh hak dan manfaat yang melekat padanya akan dijual ke Perseroan
pada Penutupan. Perseroan tidak akan diwajibkan untuk menyelesaikan pembelian atas
hanya sebagian dari Saham kecuali pembelian keseluruhan Saham diselesaikan secara
bersamaan.
B. Nilai Transaksi
Berdasarkan Akta Jual Beli, total nilai transaksi yang harus dibayarkan adalah
Rp2.138.933.197.129 (dua triliun seratus tiga puluh delapan miliar sembilan ratus tiga puluh
tiga juta seratus sembilan puluh tujuh ribu seratus dua puluh sembilan Rupiah) yang
dibayarkan dalam mata uang Rupiah (“Nilai Transaksi”).
Berdasarkan laporan keuangan Perseroan yang telah diaudit untuk periode yang berakhir
pada 30 Juni 2015, Nilai Transaksi tersebut di atas melebihi 20% (dua puluh persen) tetapi
tidak melebihi 50% (lima puluh persen) dari jumlah modal Perseroan. Oleh karena itu,
Transaksi diklasifikasikan sebagai transaksi material sebagaimana didefinisikan dalam
Peraturan No. IX.E.2, yang perlu diumumkan ke Masyarakat pada setidaknya 1 (satu) surat
kabar berperedaran nasional di Indonesia dan mengirimkan bukti pengungkapan pada surat
kabar tersebut kepada OJK beserta dokumen pendukung terkait paling lambat 2 (dua) Hari
Kerja setelah Penutupan Transaksi.
C. Pembiayaan Transaksi
Sebagai tambahan, untuk tujuan pembiayaan Transaksi, Perseroan telah memperoleh dua
fasilitas pinjaman dari Pemberi Pinjaman, yang merupakan pemegang saham pengendali
Perseroan. Fasilitas pinjaman pertama sejumlah EUR 50.000.000 (“Pinjaman A”) dan
fasilitas pinjaman kedua sejumlah EUR 100.000.000 (“Pinjaman B”). Pinjaman A dan
5
Pinjaman B dianggap sebagai satu rangkaian dengan Transaksi dan juga merupakan
Transaksi Afiliasi berdasarkan Peraturan No. IX.E.1.
Ketentuan-ketentuan utama dari Pinjaman A dan B adalah sebagai berikut:
1. Tujuan:
Perseroan akan menggunakan seluruh jumlah yang dipinjam berdasarkan Pinjaman A
dan Pinjaman B untuk membeli saham PT LCI.
2. Pelunasan:
Untuk Pinjaman A, Perseroan akan membayar Pinjaman A dengan cicilan tunggal, yang
dimulai pada akhir tahun ke-5 sejak penarikan.
Untuk Pinjaman B, Perseroan akan melunasi Pinjaman dengan dua kali cicilan, yaitu (i)
50% dari jumlah penarikan akan dilunasi pada akhir tahun ke-4 sejak penarikan, dan (ii)
sisa 50% dari jumlah penarikan akan dilunasi pada akhir tahun ke-6 sejak penarikan.
3. Bunga:
Untuk Pinjaman A, suku bunga yang dikenakan adalah pada tingkat 4.09% di atas
Euribor. Sedangkan untuk Pinjaman B, suku bunga yang dikenakan adalah pada tingkat
4.29% di atas Euribor.
4. Pelunasan Dipercepat:
Perseroan dapat, tanpa premi atau denda, melakukan pembayaran dipercepat atas
Pinjaman A dan Pinjaman B secara sebagian atau seluruhnya bersamaan dengan bunga
yang harus dibayar, dengan ketentuan bahwa Perseroan telah memberikan
pemberitahuan tertulis 5 hari sebelumnya kepada Pemberi Pinjaman.
5. Peristiwa Cidera Janji:
Peristiwa yang merupakan peristiwa cidera janji berdasarkan Pinjaman A dan Pinjaman
B antara lain sebagai berikut:
a. Jika Perseroan gagal melakukan pembayaran kepada Pemberi Pinjaman padasaat
jatuh tempo dan harus dibayar atas jumlah pokok, bunga ataupun jumlah lainnya
yang merupakan kewajiban Perseroan untuk membayarnya;
b. Jika pernyataan dan jaminan Perseroan sebagaimana tercantum dalam Pinjaman A
dan Pinjaman B terbukti tidak benar, tidak akurat atau menyesatkan;
c. Jika Perseroan gagal melaksanakan atau melanggar salah satu ketentuan dari
Perjanjian ini;
d. Jika Perseroan menjadi insolven atau tidak mampu untuk membayar utangnya saat
jatuh tempo atau melakukan suatu tindakan kepailitan.
6
D. Pihak-Pihak dari Transaksi
1. Perseroan
a. Sejarah Singkat
Perseroan merupakan sebuah perseroan terbatas terbuka yang pertama kali
didirikan berdasarkan hukum Negara Republik Indonesia di bawah kerangka
Undang-Undang No. 1 Tahun 1970 sebagaimana diubah oleh Undang-Undang No. 11
Tahun 1970 tentang Penanaman Modal Asing, berdasarkan Akta Pendirian No. 53
tanggal 15 Juni 1971, dibuat dihadapan Abdul Latief S.H., Notaris di Jakarta, yang
disahkan oleh Menkumham berdasarkan Keputusan No. JA.5/149/7 tanggal 23
September 1971 dan diumumkan pada Berita Negara Republik Indonesia No. 82
tanggal 12 Oktober 1971, Tambahan No. 466.
Pada tanggal 6 Agustus 1977, Perseroan memperoleh pemberitahuan efektif dari
Ketua Bapepam berdasarkan Surat No. SI-001/PM/E/1977 untuk Penawaran Umum
atas 178.750 lembar saham. Pada tanggal 8 Agustus 1977, saham-saham ini telah
terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
Perseroan mengubah statusnya dari perusahaan penanaman modal asing (PMA)
menjadi perusahaan penanaman modal dalam negeri (PMDN) berdasarkan
persetujuan dari Kepala Badan Koordinasi Pasar Modal No. 17/V/1988 tanggal 19
November 1988.
Anggaran dasar Perseroan telah diubah dari waktu ke waktu, terakhir kali pada
tahun 2015 berdasarkan Akta Pernyataan Keputusan Pemegang Saham No.36
tanggal 19 Mei 2015, dibuat dihadapan Aryanti Artisari, S.H., M. Kn., Notaris di
Jakarta, dimana Perseroan mengubah anggaran dasarnya untuk memenuhi POJK
No. 32 dan POJK No. 33. Perubahan tersebut telah disetujui oleh Menkumham
berdasarkan Surat Keputusan No. AHU-AH.01.03-0942178 tanggal 17 Juni 2015,
dan didaftarkan pada Daftar Perusahaan No. AHU-3519839.AH.01.11.Tahun 2015
tanggal 17 Juni 2015.
b. Kegiatan Usaha
Berdasarkan Pasal 3 anggaran dasar Perseroan, ruang lingkup kegiatan usaha
Perseroan adalah untuk bergerak terutama dalam kegiatan industri, perdagangan,
pertambangan (bahan mentah dan bahan bakar industri semen),transportasi dan
7
pengelolaan limbah berbahaya serta untuk menanamkan modal di perusahaanperusahaan lain.
c. Permodalan dan Susunan Pemegang Saham
Struktur permodalan dan struktur kepemilikan saham Perseroan pada tanggal
Keterbukaan Informasi ini, berdasarkan Daftar Pemegang Saham tanggal 31
Desember 2015 yang diterbitkan oleh PT Datindo Entrycom sebagai Biro
Administrasi Efek Perseroan adalah sebagai berikut:
NAMA PEMEGANG SAHAM
Holderfin B. V., Belanda
Masyarakat
Total
PERSENTASE
KEPEMILIKAN
SAHAM
JUMLAH
SAHAM
6.179.612.820
1.483.287.180
7.662.900.000
80,64%
19,36%
100%
JUMLAH SAHAM
DITEMPATKAN (DALAM
JUTA RUPIAH)
3.089.807
741.643
3.831.450
d. Dewan Komisaris dan Direksi
Struktur Direksi dan Dewan Komisaris Perseroan pada tanggal Keterbukaan
Informasi berdasarkan Akta Pernyataan Keputusan Pemegang Saham No. 35 tanggal
19 Mei 2015, dibuat dihadapan Aryanti Artisari S.H., M.Kn., Notaris di Jakarta, yang
telah diberitahukan kepada Menkumham sebagaimana dibuktikan dengan Surat No.
AHU-AH.01.03-0941849 tanggal 16 Juni 2015, dan telah didaftarkan dalam Daftar
Perusahaan pada Menkumham di bawah No. AHU-3519459.AH.01.11.Tahun 2015
tanggal 16 Juni 2015, adalah sebagai berikut:
Dewan Komisaris
Presiden Komisaris
Wakil Presiden Komisaris
Komisaris
Komisaris
Komisaris
Komisaris Independen
Komisaris Independen
: Kuntoro Mangkusubroto
: Ian Thackwray
: Daniel Bach
: Patrick McGlinchey
: Hendra Kartasasmita
: John Daniel Rachmat
: Kemal Azis Stamboel
Direksi
Presiden Direktur
Direktur
Direktur
Direktur
Direktur
Direktur
: Gerhard W. Schutz
: Derek Williamson
: Francois Goulut
: Mochamad Fazri Yulianto*
: Jan Kunigk**
: Kent Carson***
8
Direktur
Direktur Independen
: Wiwik Muji Wahyuni
: Farida Helianti Sastrosatomo
Catatan:
* Telah mengundurkan diri efektif pada tanggal 1 Juli 2015
** Telah mengundurkan diri efektif pada tanggal 25 Januari 2016
*** Telah mengundurkan diri efektif pada tanggal 3 September 2015
2. FL
FL adalah suatu perusahaan terbatas yang didirikan berdasarkan hukum Perancis, yang
memiliki kantor terdaftar di 61, Rue des Belles Feuilles, Paris, 75116, Perancis dan
terdaftar dalam Daftar Perdagangan dan Perusahaan Paris di bawah nomor 552 017 196.
Kegiatan usaha utama FL antara lain:
a.
b.
c.
pembelian, pemesanan dan penjualan atas setiap saham, saham rekanan atau hak
perusahaan dalam jenis apapun di perusahaan atau usaha di Perancis ataupun luar
negeri, baik yang sudah berdiri maupun yang masih akan didirikan;
setiap bentuk investasi lainnya, penempatan dan penggunaan modalnya dalam
bentuk surat utang, dana negara dan efek lainnya yang dapat dialihkan, pinjaman
dan uang muka lainnya; dan
untuk menjalankan kegiatan pembiayaan dalam grup dan memberikan bentukbentuk jaminan bukan uang sesuai dengan peraturan yang berlaku di Perancis;
Sampai dengan tanggal Keterbukaan Informasi ini, struktur pengurusan dari FL adalah
sebagai berikut:
President
: Patrice Tourliere
E. Informasi PT LCI
1. Sejarah Singkat
PT Lafarge Cement Indonesia adalah sebuah perseroan terbatas terbuka yang didirikan
di Negara Republik Indonesia dengan nama PT Semen Andalas Indonesia berdasarkan
Akta Pendirian No. 115 tanggal 11 April 1980, dibuat dihadapan Kartini Muljadi S.H.,
Notaris di Jakarta, dengan status sebagai perusahaan penanaman modal asing
berdasarkan Undang-Undang No. 1 tahun 1967 sebagaimana diubah berdasarkan
Undang-Undang No. 11 tahun 197o tentang Penanaman Modal Asing yang telah
disahkan oleh Menkumham, sebagaimana diubah dari waktu ke waktu, berdasarkan
Keputusan No. Y.A.5/556/18 tanggal 16 Desember 1980, yang telah didaftarkan ke
Kantor Panitera Pengadilan Negeri Banda Aceh di bawah No. 171/1980 tanggal 29
Desember 1980, dan telah diumumkan di Berita Negara Republik Indonesia No. 34
tanggal 28 April 1981, Tambahan No. 340.
9
Perseroan kemudian mengubah namanya dari PT Semen Andalas Indonesia ke PT
Lafarge Cement Indonesia berdasarkan Akta Pernyataan Keputusan Pemegang Saham
No. 74 tanggal 18 Maret 2010, dibuat dihadapan Misahardi Wilamarta, S.H., M.H.,
M.Kn., LL.M., Notaris di Jakarta, yang telah disahkan oleh Menkumham berdasarkan
Keputusan No. AHU-17780.AH.01.02.Tahun 2010 tanggal 8 April 2010, telah
didaftarkan pada Daftar Perusahaan pada Menkumham berdasarkan daftar No. AHU0026212.AH.01.09.Tahun 2010 tanggal 8 April 2010, dan telah diumumkan diBerita
Negara Republik Indonesia No. 18 tanggal 4 Maret 2011, Tambahan No. 3902. (“Akta
No. 74/2010”)
2. Kegiatan Usaha
Sesuai dengan Pasal 3 dari anggaran dasar PT LCI, ruang lingkup dari kegiatan usahanya
adalah untuk bergerak terutama di bidang industri.
3. Permodalan dan Komposisi Pemegang Saham
Struktur kepemilikan saham PT LCI sebelum dan sesudah Penutupan adalah sebagai
berikut:
Sebelum Penutupan:
NO
NAMA PEMEGANG
SAHAM
JUMLAH
SAHAM
1.
Financiere Lafarge
1.948.040
2.
PT Aroma Cipta
Anugrahtama
100
Total
1.948.140
JUMLAH SAHAM DITEMPATKAN
(DALAM JUTA RUPIAH)
122.385.613.000
atau
setara
dengan US$ 194.804.000.
6.282.500 atau setara dengan US$
10.000.
122.391.895.500
atau
setara
dengan US$ 194.814.000.
PERSENTASE
KEPEMILIKAN
SAHAM
99,99%
0,01%
100%
Setelah Penutupan:
NAMA PEMEGANG
SAHAM
JUMLAH
SAHAM
1.
PT Holcim Indonesia
Tbk
1.948.040
2.
PT Holcim Beton
100
NO
Total
1.948.140
JUMLAH SAHAM DITEMPATKAN
(DALAM JUTA RUPIAH)
122.385.613.000
atau
setara
dengan US$ 194.804.000.
6.282.500 atau setara dengan US$
10.000.
122.391.895.500
atau
setara
dengan US$ 194.814.000.
4. Direksi dan Dewan Komisaris
10
PERSENTASE
KEPEMILIKAN
SAHAM
99,99%
0,01%
100%
Struktur Direksi PT LCI pada tanggal Keterbukaan Informasi berdasarkan Akta
Pernyataan Keputusan Pemegang Saham No. 02 tanggal 10 Februari 2016, dibuat
dihadapan Devi Yunanda S.H., M.Kn., Notaris di Jakarta, adalah sebagai berikut:
Direksi
Presiden Direktur
Direktur
Direktur
Direktur
: Ika Tjondrodihardjo
: Michel Nayah
: Dhamayanti Suhita
: Raden Ali Permadiono Sumedi
Struktur Dewan Komisaris PT LCI pada tanggal Keterbukaan Informasi adalah sebagai
berikut:
Dewan Komisaris
Komisaris Utama
Komisaris
Komisaris
: Gerhard W. Schutz
: Farida Helianti Sastrosatomo
: Christian Pierre Herrault
5. Ringkasan Laporan Keuangan
Selanjutnya, berikut adalah ringkasan informasi keuangan PT LCI untuk periode 2014
dan 2015 berdasarkan laporan keuangan dari Perseroan yang telah diaudit untuk
periode 2014 dan 2015 yang telah diaudit oleh Kantor Akuntan Publik Osman Bing
Satrio & Eny (anggota dari Deloitte Touche Tohmatsu Limited):
11
LAPORAN POSISI KEUANGAN KONSOLIDASIAN
30 SEPTEMBER, 2015
30-Sep-15
31-Dec-14
Jutaan Rp
Jutaan Rp
116,026
138,519
9,790
11,062
ASET
ASET LANCAR
Kas dan setara kas
Piutang Usaha
Piutang lain-lain
Pihak berelasi
Pihak ketiga
Aset derivatif
Persediaan
Pajak dibayar dimuka
Biaya dibayar dimuka dan uang muka
Jumlah Aset Lancar
260
519
10,086
18,775
5,178
3,332
215,785
192,260
9,554
22,059
63,920
86,265
430,599
472,791
164,104
121,937
22,126
45,216
ASET TIDAK LANCAR
Aset derivatif
Tagihan pengembalian pajak
Aset tetap – setelah dikurangi
akumulasi penyusutan sebesar Rp 606,602 juta
2,394,797
2,417,241
Properti tambang
pada tahun 2015 dan Rp 551,594 juta pada 2014
118,737
121,731
Goodwill
102,203
102,203
Aset tidak lancar lainnya
22,544
7,604
Jumlah Aset Tidak Lancar
2,824,511
2,815,932
JUMLAH ASET
3,255,110
3,288,723
12
LAPORAN POSISI KEUANGAN KONSOLIDASIAN
30 SEPTEMBER, 2015
30-Sep-15
31-Dec-14
Jutaan Rp
Jutaan Rp
225,425
250,892
LIABILITAS DAN EKUITAS
LIABILITAS JANGKA PENDEK
Hutang Usaha
Pihak berelasi
20,230
Pihak ketiga
Hutang Lain-lain
Pihak berelasi
5,845
Pihak ketiga
-
Hutang pajak
5,961
99,749
6,151
4,004
Uang muka dari Pelanggan
12,749
14,008
Deposito
12,953
6,388
Biaya masih harus dibayar
90,663
61,648
528,000
255,000
Pinjaman jangka pendek
Pinjaman jangka panjang jatuh tempo dalam satu tahun
Pihak berelasi
Tota Liabilitas Jangka Pendek
293,140
248,800
1,174,926
966,680
219,855
435,400
LIABILITAS JANGKA PANJANG
Pinjaman jangka panjang –setelah dikurangi bagian jatuh
tempo dalam satu tahun pihak berelasi
Liabilitas imbalan kerja
61,806
48,516
214,818
186,928
4,259
4,259
500,738
675,103
122,392
122,392
Tambahan modal disetor
983,062
983,062
Saldo laba
473,992
547,168
1,579,446
1,652,622
Liabilitas pajak tangguhan -neto
Provisi jangka panjang
Jumlah Liabilitas Jangka Panjang
EKUITAS
Modal Saham – nilai nominal Rp 62,825 (US$ 100) per saham
Modal dasar,Modal ditempatkan dan disetor
- 1,948,140 shares
Ekuitas yang diatribusikan kpd pemilik perusahaan
Kepentingan non Pengendali
(5,682)
Total Ekuitas
1,579,446
1,646,940
TOTAL LIABILITAS DAN EKUITAS
3,255,110
3,288,723
13
LAPORAN LABA RUGI DAN PENGHASILAN KOMPREHENSIF LAIN KONSOLIDASIAN
Untuk periode sembilan bulan yang berakhir
pada tanggal 30 September 2015
PENJUALAN
30-Sep-15
30-Sep-14
Jutaan Rp
(Unaudited)
Jutaan Rp
1,254,859
1,304,484
BEBAN POKOK PENJUALAN
996,063
1,057,379
LABA BRUTO
258,796
247,105
Beban usaha
(152,720)
(163,206)
Biaya bunga
(72,376)
(67,461)
Laba (rugi) selisih kurs - neto
(46,425)
8,605
Pendapatan bunga
1,195
Laba (rugi) transaksi derivatif
44,013
297
(57,552)
Lainnya - neto
(73,700)
RUGI SEBELUM PAJAK
(41,217)
747
BEBAN PAJAK
(29,703)
(1,094)
RUGI TAHUN BERJALAN
(70,920)
(32,559)
(31,465)
PENDAPATAN KOMPREHENSIF LAIN
Pos yang tidak akan dikelompokan dalam Laba (rugi):
Rugi pengukuran kembali aktuaria dari imbalan kerja
setelah dikurangi pajak
(5,441)
TOTAL PENDAPATAN KOMPREHENSIVE TAHUN BERJALAN
(76,361)
(32,559)
(67,735)
(28,583)
RUGI BERSIH PERIODE BERJALAN YANG DIATRIBUSIKAN KEPADA:
Pemilik Perusahaan
Kepentingan non Pengendali
(3,185)
(3,976)
(70,920)
(32,559)
(73,176)
(28,583)
TOTAL PENDAPATAN KOMPREHENSIVE PERIODE BERJALAN
YANG DIATRIBUSIKAN KEPADA:
Pemilik Perusahaan
Kepentingan non Pengendali
14
(3,185)
(3,976)
(76,361)
(32,559)
F. Dampak dari Transaksi Terhadap Keuangan Perseroan
Berikut adalah ringkasan informasi keuangan terkonsolidasi proforma sampai dengan
tanggal 30 September 2015 (dalam juta Rupiah) berdasarkan laporan keuangan dari
Perseroan yang untuk periode 30 September 2015, yang telah ditelaah oleh Kantor Akuntan
Publik Purwantono, Sungkoro & Surja:
15
16
17
18
Informasi terkait laporan kinerja keuangan terkonsolidasi telah dipersiapkan untuk
menjelaskan dampak atas laporan posisi keuangan terkonsolidasi dari Perseroan dan
entitas-entitas anaknya apabila Transaksi telah diselesaikan pada Penutupan. Informasi
pada kinerja keuangan terkonsolidasi berasal dari sejarah laporan posisi keuangan
terkonsolidasi Perseroan tanggal 30 September 2015 dan penyesuaian-penyesuaian kinerja,
yang dipersiapkan sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan Indonesia.
IV.
RINGKASAN DARI LAPORAN DAN PENDAPAT PIHAK INDEPENDEN ATAS
TRANSAKSI
Kantor Jasa Penilai Publik (“KJPP”) Jennywati, Kusnanto & rekan (“JKR”) sebagai KJPP
resmi berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan No. 2.09.0022 tanggal 24 Maret 2009 dan
terdaftar sebagai kantor jasa profesi penunjang pasar modal di Bapepam dan LK dengan Surat
Tanda Terdaftar Profesi Penunjang Pasar Modal dari Bapepam dan LK No. 05/BL/STTDP/B/2010 (penilai bisnis), telah ditugaskan oleh manajemen Perseroan untuk memberikan
pendapat sebagai penilai independen atas kewajaran Transaksi dan nilai pasar wajar 99,99%
saham LCI sesuai dengan surat penawaran dan/atau penugasan JKR No. JK/150709-002
tanggal 9 Juli 2015 dan No. JK/150709-005 tanggal 9 Juli 2015 serta addendum No. JK/151015001 tanggal 15 Oktober 2015 yang seluruhnya telah disetujui oleh manajemen Perseroan.
1. Ringkasan Laporan Penilaian 99,99% Saham LCI
Ringkasan laporan penilaian 99,99% saham LCI sebagaimana tertuang dalam laporannya
No. JK/SV/151223-001 tanggal 23 Desember 2015 adalah sebagai berikut:
1. Pihak-pihak yang Bertransaksi
Pihak-pihak yang bertransaksi adalah Perseroan selaku pihak pembeli serta FL selaku
pihak penjual.
19
2. Obyek Penilaian
Obyek penilaian dalam laporan penilaian 99,99% saham LCI adalah nilai pasar wajar
99,99% saham LCI.
3. Tujuan dan Maksud Penilaian
Tujuan penilaian adalah untuk memperoleh pendapat yang bersifat independen tentang
nilai pasar wajar dari Obyek Penilaian yang dinyatakan dalam mata uang Rupiah
dan/atau ekuivalensinya pada tanggal 30 September 2015.
Maksud dari penilaian adalah untuk memberikan gambaran tentang nilai pasar wajar
dari Obyek Penilaian yang selanjutnya akan digunakan sebagai rujukan dan
pertimbangan oleh manajemen Perseroan dalam rangka pelaksanaan Rencana
Transaksi.
4. Kondisi Pembatas dan Asumsi-Asumsi Pokok
Penilaian ini disusun berdasarkan kondisi pasar dan perekonomian, kondisi umum
bisnis dan keuangan serta peraturan-peraturan Pemerintah yang berlaku sampai dengan
tanggal penerbitan laporan penilaian ini.
Penilaian Obyek Penilaian yang dilakukan dengan metode diskonto pendapatan
ekonomi mendatang didasarkan pada proyeksi laporan keuangan yang disusun oleh
manajemen LCI. Dalam penyusunan proyeksi laporan keuangan, berbagai asumsi
dikembangkan berdasarkan kinerja LCI pada tahun-tahun sebelumnya dan berdasarkan
rencana manajemen di masa yang akan datang. JKR telah melakukan penyesuaian
terhadap proyeksi laporan keuangan tersebut agar dapat menggambarkan kondisi
operasi dan kinerja LCI yang dinilai pada saat penilaian ini dengan lebih wajar. Secara
garis besar, tidak ada penyesuaian yang signifikan yang JKR lakukan terhadap target
kinerja LCI yang dinilai. JKR bertanggung jawab atas pelaksanaan penilaian dan
kewajaran proyeksi laporan keuangan berdasarkan kinerja historis LCI dan informasi
manajemen LCI terhadap proyeksi laporan keuangan LCI tersebut. JKR juga
bertanggung jawab atas laporan penilaian LCI dan kesimpulan nilai akhir.
Dalam penugasan penilaian ini, JKR mengasumsikan terpenuhinya semua kondisi dan
kewajiban Perseroan. JKR juga mengasumsikan bahwa dari tanggal penilaian sampai
dengan tanggal diterbitkannya laporan penilaian tidak terjadi perubahan apapun yang
berpengaruh secara material terhadap asumsi-asumsi yang digunakan dalam penilaian.
5. Metode Penilaian yang Digunakan
Metode penilaian yang digunakan dalam penilaian Obyek Penilaian adalah metode
diskonto pendapatan ekonomi mendatang dan metode kapitalisasi kelebihan
pendapatan.
Metode diskonto pendapatan ekonomi mendatang dipilih mengingat bahwa kegiatan
usaha yang dilaksanakan oleh LCI di masa depan masih akan berfluktuasi sesuai dengan
perkiraan atas perkembangan usaha LCI. Dalam melaksanakan penilaian dengan
metode ini, operasi LCI diproyeksikan sesuai dengan perkiraan atas perkembangan
usaha LCI. Pendapatan ekonomi mendatang yang dihasilkan berdasarkan proyeksi
20
laporan keuangan dikonversi menjadi nilai kini dengan tingkat diskonto yang sesuai
dengan tingkat risiko. Indikasi nilai adalah total nilai kini dari pendapatan ekonomi
mendatang tersebut.
Metode kapitalisasi kelebihan pendapatan merupakan metode penilaian yang
berdasarkan pada pendekatan neraca. Dengan metode ini, nilai dari semua komponen
aset dan liabilitas harus disesuaikan menjadi nilai pasar atau nilai pasar wajarnya,
kecuali untuk komponen-komponen yang telah menunjukkan nilai pasarnya (seperti
kas/bank atau utang bank).
Selain aset berwujud, nilai pasar aset takberwujud juga harus dihitung. Untuk
menghitung nilai aset tak berwujud, terlebih dahulu dihitung nilai aset berwujud bersih
dengan mengurangkan nilai pasar wajar kewajiban dari nilai pasar wajar aset berwujud
(setelah semua nilai pada laporan posisi keuangan disesuaikan). Setelah itu,
diperkirakan nilai pendapatan yang diharapkan per tahun dari nilai aset berwujud bersih
tersebut dengan menggunakan tingkat pengembalian yang wajar.
Sebagai langkah selanjutnya perlu dihitung pendapatan normal dari perusahaan yang
dinilai dengan menyesuaikan laporan laba rugi komprehensif. Selisih antara pendapatan
normal dengan pendapatan yang diharapkan merupakan kelebihan pendapatan yang
dihasilkan oleh aset berwujud bersih. Nilai aset tak berwujud kemudian dihitung dengan
cara mengkapitalisasikan kelebihan pendapatan tersebut dengan tingkat kapitalisasi
yang sesuai. Langkah berikutnya adalah menghitung indikasi nilai pasar wajar saham
dengan menjumlahkan nilai aset berwujud bersih dan nilai aset tak berwujud.
Pendekatan dan metode penilaian di atas adalah yang JKR anggap paling sesuai untuk
diaplikasikan dalam penugasan ini dan telah disepakati oleh pihak manajemen LCI.
Tidak tertutup kemungkinan untuk diaplikasikannya pendekatan dan metode penilaian
lain yang dapat memberikan hasil yang berbeda.
Selanjutnya, nilai-nilai yang diperoleh dari tiap-tiap metode tersebut direkonsiliasi
dengan melakukan pembobotan.
6. Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisa atas seluruh data dan informasi yang telah JKR terima dan
dengan mempertimbangkan semua faktor yang relevan yang mempengaruhi penilaian,
maka menurut pendapat JKR, nilai pasar wajar Obyek Penilaian pada tanggal 30
September 2015 adalah sebesar Rp 2.150,27 miliar.
2. Ringkasan Laporan Pendapat Kewajaran atas Transaksi
Ringkasan laporan pendapat kewajaran atas Transaksi sebagaimana tertuang dalam
laporannya No. JK/FO/160210-001 tanggal 10 Februari 2016 adalah sebagai berikut:
1. Pihak-pihak yang Bertransaksi
Pihak-pihak yang bertransaksi adalah Perseroan selaku pihak pembeli serta FL selaku
pihak penjual.
21
2. Obyek Transaksi
Obyek transaksi dalam Pendapat Kewajaran atas Transaksi adalah transaksi akuisisi atas
99,99% saham LCI dari FL dan transaksi peminjaman dana dari Pemberi Pinjaman yang
dilakukan oleh Perseroan.
3. Maksud dan Tujuan Pendapat Kewajaran
Maksud dan tujuan penyusunan laporan pendapat kewajaran atas Transaksi adalah
untuk memberikan gambaran kepada Direksi Perseroan mengenai kewajaran Transaksi
dan untuk memenuhi ketentuan yang berlaku, yaitu Peraturan IX.E.1 dan Peraturan
IX.E.2.
4. Kondisi Pembatas dan Asumsi-Asumsi Pokok
Pendapat Kewajaran ini disusun berdasarkan kondisi pasar dan perekonomian, kondisi
umum bisnis dan keuangan serta peraturan-peraturan Pemerintah terkait dengan
Transaksi pada tanggal Pendapat Kewajaran ini diterbitkan. Dalam penyusunan
Pendapat Kewajaran ini, JKR menggunakan beberapa asumsi, seperti terpenuhinya
semua kondisi dan kewajiban Perseroan serta semua pihak yang terlibat dalam
Transaksi. Transaksi akan dilaksanakan seperti yang telah dijelaskan sesuai dengan
jangka waktu yang telah ditetapkan serta keakuratan informasi mengenai Transaksi yang
diungkapkan oleh manajemen Perseroan.
Pendapat Kewajaran ini harus dipandang sebagai satu kesatuan dan penggunaan
sebagian dari analisa dan informasi tanpa mempertimbangkan informasi dan analisa
lainnya secara utuh sebagai satu kesatuan dapat menyebabkan pandangan dan
kesimpulan yang menyesatkan atas proses yang mendasari Pendapat Kewajaran. JKR
juga mengasumsikan bahwa dari tanggal penerbitan Pendapat Kewajaran sampai
dengan tanggal terjadinya Transaksi ini tidak terjadi perubahan apapun yang
berpengaruh secara material terhadap asumsi-asumsi yang digunakan dalam
penyusunan Pendapat Kewajaran ini.
5. Pendekatan dan Prosedur Pendapat Kewajaran atas Transaksi
Dalam evaluasi Pendapat Kewajaran atas Transaksi ini, JKR telah melakukan analisa
melalui pendekatan dan prosedur Pendapat Kewajaran atas Transaksi dari hal-hal
sebagai berikut:
a. Analisa atas Transaksi;
b. Analisa kualitatif dan kuantitatif atas Transaksi; dan
c. Analisa atas kewajaran Transaksi.
6. Kesimpulan
Berdasarkan ruang lingkup pekerjaan, asumsi-asumsi, data dan informasi yang
diperoleh dari manajemen Perseroan yang digunakan dalam penyusunan laporan
pendapat kewajaran ini, penelaahan atas dampak keuangan Transaksi sebagaimana
22
diungkapkan dalam laporan pendapat kewajaran ini, JKR berpendapat bahwa Transaksi
adalah wajar.
23
V.
INFORMASI TAMBAHAN
Untuk memperoleh informasi lanjutan terkait Transaksi, Para Pemegang Saham dari Perseroan
dapat mengajukan pertanyaan kepada Sekretaris Perusahaan Perseroan, pada Hari Kerja dan
jam kerja Perseroan di alamat berikut:
PT Holcim Indonesia Tbk.
Kantor Pusat
Talavera Suite lantai 15, Talavera Office Park
Jl. Letjen TB Simatupang No. 22 – 26, Jakarta 12430, Indonesia
Telepon: (62-21) 2986 1000
Fax: (62-21) 2986 3333
Website: www.holcim.co.id
Email: [email protected]
U.p. Sekretaris Perusahaan
Jakarta, 11 Februari 2016
Direksi Perseroan
24
Download