pdf Bab4

advertisement
AGAMA DAN PENGETAHUAN
Impian tentang ‘my home is my castle’ mempunyai akar yang kuat
dalam Islam. Oleh karena itu mengintip dan menguping kelakuan
tetangga atau merepotkannya haram hukumnya. Bila setelah
mengetuk pintu tiga kali belum ada tanggapan, kita harus tahu
diri dan tidak mengganggu tuan rumah. Singkatnya, setiap orang
tidak boleh mencampuri urusan orang lain. 1
Lain lagi halnya dalam urusan menuntut ilmu atau kehausan
ilmiah. Menurut al-Qur’an dan Sunnah Rasul ini harus menjadi
sifat dasar umat Islam.
Al-Qur’an berkali-kali menyeru manusia mempergunakan akalnya
untuk mengembangkan ilmu pengetahuan (QS. 20:14):
“Tiadakah kamu menggunakan akal pikiran?“ (QS. 2:44)
“Tidakkah kamu lihat...?“ (QS. 31:20)
”Tidakkah kamu memikirkannya?“ (QS. 6:50)
Kita juga dapat mengartikan wahyu pertama yang disampaikan
kepada Muhammad (QS. 96:1-5) sebagai seruan untuk menimba ilmu
dengan perantara baca tulis; dengan pemberantasan buta huruf.
”
Bacalah!
dan
Tuhanmu-lah
yang
paling
Pemurah,
Yang
mengajarkan kalian
(manusia) dengan perantaraan pena, Dia mengajarkan manusia
apa yang tidak
diketahui nya“(QS. 96:3-5)
Seorang muslim yang senantiasa menggunakan akalnya selalu
mengingat Allah dalam keadaan duduk, berdiri dan berbaring,
mendahulukan
obyektivitas
dari
kepentingan
pribadi
dan
mengutamakan bukti, bukan dugaan. 2 Ini sesuai dengan hadits
Nabi yang terkenal yang menyuruh umat islam untuk menuntut
ilmu, bila perlu sampai ke negeri Cina - sebuah upaya yang sama
susahnya dengan pergi ke bulan di zaman sekarang. Ia sangat
menghormati ilmu pengetahuan, hingga ia pernah mengatakan,
bahwa di hari kemudian dawat ulama akan ditimbang dengan darah
syuhada - dan dawat ulama akan lebih berat dari darah syuhada. 3
Para sahabat Nabi, di antaranya khalifah-khalifah pertama
menganggap serius himbauan ini. Ini dicerminkan oleh jawaban
yang diberikan oleh Ali bin Abi Thalib, ketika ia ditanya
apakah ia menggunakan tulisan-tulisan lain selain al-Qur’an.
Tidak,
jawabnya.
Ia
hanya
menggunakan
Kitabullah,
yang
memberikan kekuatan pemahaman pada seorang muslim dan secarik
kertas (yaitu catatan tentang tiga keputusan Nabi). 4
1
Bandingkan QS. 24:27 dan Hadits Nabi dalam Shahih Muslim nr. 5354 dan seterusnya, juga Hadits nr. 12,
dalam: Al-Nawawi, Hadits ‘Arbain, Leicester 1979
2
lihat QS. 3:75; 30:29; 43:20; 45:24
3
Abduelkadir Karahan, Kirk Hadis, Istanbul 1991, Hadits 22, Halaman 52
4
Shahih al-Bukhari, Buku Pengetahuan (III), Hadits 111
30
Semangat
keilmuan
ini
yang
dikaitkan
dengan
kesediaan
menggunakan
akalnya
merupakan
ladang
yang
subur
bagi
pertumbuhan ilmu pengetahuan umat islam sejak abad ke 8. Di
bahwa ini adalah 14 buah contohnya 5 :
•
Ibnu Firas (wafat 888), orang yang pertama menggunakan alat
bantu terbang.
•
Muhammad bin Musa al-Khwarismi (wafat 846), bapak aljabar
dan algorithmus - istilah yang diambil dari namanya
•
Abu Bakr al-Razi atau di Barat di kenal dengan nama Rhazes
(864-935). Kitab ilmu kedokterannya, Mansuri, dipakai di
universitas-universitas Barat selama berabad-abad - di sana
dikenal dengan nama Liber Almansoris.
•
Ibnu Sina atau Avicenna (980-1037), seorang filosof dan
pakar ilmu kedokteran. Ensiklopedi ilmu kedokterannya masih
dipakai di Barat hingga abad ke 19.
•
al-Hassan bin al-Haytsam
camera obscura.
•
Abu al-Rayhan al-Biruni, jenius serba bisa bergaya Wolfgang
von Goethe. Ia juga adalah seorang diplomat dan pakar dalam
bidang-bidang ilmu sejarah, bahasa Sanskerta, astrologi,
mineralogi, pharmakologi, dan lain-lain.
•
Umar al-Khayyam (wafat antara 1123 dan 1131), seorang
pujangga sekaligus ahli matematika, pernah mereformasi
sistem penanggalan India yang jauh lebih tepat daripada
sistem Gregorian (1582).
•
Ibnu Rusyd atau Averroes (1126-1198), seorang filosof.
Ulasannya
tentang
filsafat
Aristoteles
sangat
besar
pengaruhnya dalam perkembangan filsafat Barat. Secara sambil
lalu ia juga menemukan noda bintik pada matahari (sunspot).
•
Ibnu an-Nafis (wafat 1288), seorang dokter dari Mesir yang
telah menemukan peredaran darah.
•
Ibnu Battutah (1304-1368 atau 1377), seorang petualang ala
Marco Polo dari Maroko, yang telah mengembara dari Timbuktu,
Beijing sampai ke Wolga.
•
Ibnu Khaldun (1332-1406) dari Andalusia. Al-Muqaddimah,
tulisannya yang menjadi pembuka karyanya tentang sejarah
atau
Alhazen
(965-1039),
penemu
5
Bandingkan dengan beberapa karya Joseph Schacht dan C.E. Bosworth, Das Vermaechtis des Islam, Jilid 2,
Munich 1983; Thomas Arnold dan Arthur Guillaume, The Legacy of Islam, Oxford 1931; Marshall G. S.
Hodgson, The Venture of Islam, 2 Jilid, Chicago,1974; Alistair Crombie, griechisch-arabische
Naturwissenschaften und Abendlaendisches Denken, dalam: Europa und der Orient 800-1900, Guetersloh 1989
31
dunia (Kitab al-Ibar) menetapkannya sebagai
sosiologi dan metode kritik sejarah modern. 6
pendiri
ilmu
•
Ahmad ibnu Majid, seorang navigator yang menjadi bapak ilmu
bahari di abad ke 15.
•
Laksamana Piri Reis (1480-1553), ahli geografi laut dari
Turki. Karyanya, Kitab-i Bahriye (Kitab ilmu bahari), dan
peta-peta maritimnya yang akurat masih mencengangkan hingga
kini. 7 Juga rekannya, Seyyidi Ali Reis (wafat 1562) yang
telah
mengukur
pantai-pantai
Asia
dan
mengembangkan
astronomi maritim.
Keterangan singkat di atas telah membuktikan, bahwa bukan
Baratlah yang telah melanjutkan dan mengembangkan warisan
Yunani kuno, tapi dunia Islam. Melihat perkembangan yang pesat
di bidang ilmu pengetahuan dan teknik, jelas bagi kita bahwa
pada abad pertengahan arus budaya hanya mengalir satu arah.
Karena, seperti yang dikatakan oleh Marshall Hogdson, orangorang islam hampir tidak menemukan sesuatu yang berharga di
Barat. Ketika Barat hanyalah Netto-Importeur (konsumen) - mulai
dari kincir angin, dendang troubadour samai bentuk bangunan
Gotik. Fenomena yang di masa sekarang ini akan disebut sebagai
imperialisme kultur, tentu saja meninggalkan banyak jejak di
bidang bahasa. Kita masih menemukan warisan kosakata Arab, bila
kita menggunakan kata admiral, algebra, ziffer (angka dalam
bahasa Jerman), amalgam, alkohol, laute (semacam gitar),
gitare, alkoven (ruangan kecil untuk tidur), muslin (kain
muslin/kain kasa), tarif, magazin (tempat penyimpanan, gudang)
atau razia.
Ilmu-ilmu non eksakta, dan terutama ilmu-ilmu pengetahuan alam
di dunis Islam menjadi layu sejak abad ke 14. Salah satu
penyebabnya adalah teori menutup pintu ijtihad (lihat bab
Fundamentalisme).
Secara
de
facto
hal
ini
menghambat
penelitian. Ilmu pengetahuan hanya mengandalkan apa-apa yang
sudah ditemukan; bernostalgia dengannya dan mengulangnya
kembali (taqlid). Menurutnya, hal yang penting dan patut
diketahui telah dikenal (baik) oleh generasi yang dekat dengan
masa kewahyuan.
Untuk ini ada alasan yang mereka temui dalam al-Qur’an dan
sunnah rasul. Ayat al-Qur’an berikut ini:
“Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa
yang telah Engkau ajarkan
kepada kami...”(QS. 2:32)
dipandang sebagai pernyataan, bahwa segala usaha untuk mencari
ilmu yang tak disinggung al-Qur’an hanya sia-sia belaka.
Tidakkah Tuhan menyinggung juga ilmu yang tak bermanfaat (QS
2:102)?
6
The Muqqadimah, diterjemahkan oleh Franz Rosenthal, Princeton 1976
Kitab-i Bahriye Piri Reis, Istanbul 1988
7
32
Demikianlah ulama-ulama yang menentang ilmu pengetahuan dan
filsafat berpendapat, sementara di lain kesempatan mereka
menghormati Nabi yang kadang-kadang sengaja tidak memberi
jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tertentu. Dari pandangan ini
tumbuh pada abad ke 15 semacam doktrin yang memusuhi ilmu
pengetahuan dalam berbagai aspek. 8
Gejala ini diperkuat lagi oleh rasa takut terhadap keburukan
yang
dapat
ditimbulkan
oleh
pembaharuan
(bid’ah).
Pada
prinsipnya, Sunnah Rasul membedakan pembaruan yang bermanfaat
(bid’ah hasanah) dan pembaruan berdampak negatif. Untuk yang
terakhir ini hukumannya di akhirat sangat berat. Oleh karena
itu orang langsung mencurigai segala macam pembaruan. Dan orang
segera mengasosiasikan bid’ah dengan pembaruan yang buruk.
“Lindungilah diri kalian dari hal-hal yang baru, karena segala
yang baru adalah pembaruan, dan segala pembaruan akan
menyesatkan...“ 9
Sepanjang abad pertengahan istilah bid’ah dipergunakan untuk
menghambat kemajuan.
Tema ini masih hangat di kalangan negara Islam dalam
mengantisipasi tantangan zaman. Sehingga Profesor Hassan Ben
Saddik (dari Tanger) diperkenankan menyampaikannya dalam sebuah
pidato di hadapan Raja Hassan II di Rabat, Maroko pada tanggal
24 Maret 1991. Singkatnya, umat diingatkan kembali, bahwa
hadits di atas hanya berkaitan dengan masalah teologi dan
etika,
dan
pada
dasarnya
tidak
menghambat
pengembangan
teknologi. 10
Keruntuhan yang dimulai di abad ke 14 ini tidak berlangsung
sekaligus. Terutama di bidang teologi, literatur dan arsitektur
- contohnya Taj Mahal (1634) dan Mesjid Biru di Istanbul yang
dibangun bersamaan dengannya masih kita jumpai nama-nama
besar seperti Syeikh Wali Allah (1703- 1763) dari India,
Muhammad bin Abd al-Wahab (1703-1787) di Arabia dan Amadu Bamba
(1850-1927) di Senegal. Mereka semua adalah perintis gerakan
reformasi
fundamentalis.
Tarikat-tarikat
yang
sekarang
menguasai Afrika Barat seperti Muridiyah dan Ahmadiyah atau
Tijaniyah yang berpusat di Fes juga lahir di masa keruntuhan
ini.
Tapi cahaya-cahaya tadi dibuat remang-remang oleh kurangnya
jumlah ilmuwan muslim dan aktivitas reaksioner dari ulama-ulama
anti pembaharuan. Pada tahun 1580 atas perintah mereka,
observatorium di Istanbul yang baru selesai dibangun tahun
sebelumnya dihancurkan. Masih di Istanbul, pada tahun 1745
mereka berhasil menutup percetakan pertama di dunia Islam yang
berdiri tahun 1728. Tidak heran kalau di Mesir pada tahun 1875
8
An-Nawawi, ibid, Hadits nr. 30
An-Nawawi, ibid, Hadits nr. 28; bandingkan juga Hadits nr. 5 dan juga Shahih Muslim, al-Hadits nr. 6466-6470
10
Ceramah dimana saya diikutsertakan, pada beberapa hari sesudahnya dimuat dalam 4 episode dari ‘Le Matin
du Sahara et du Maghreb’. Pembicara menyatakan bahwa mengheningkan cipta dan undian berhadiah untuk
amal adalah (contoh-contoh) pembaharuan yang haram.
9
33
hanya terdapat 5000 sekolah menengah, sementara di Universitas
al-Azhar yang tidak berkompeten lagi di dunia ilmu pengetahuan
terdapat 11000 mahasiswa.
Sebagai akibatnya, hingga kini hanya seorang warga dunia Islam
yang berhasil mendapatkan Hadiah Nobel, yaitu Ahmed Abdessalam,
ahli fisika dari Pakistan. 11
Filsafat Islam juga berkali-kali dituduh ikut andil dalam
menurunnya
kemampuan
umat
di
bidang
pemikiran.
Namun,
sejarahnya
yang
demikian
gemilang
membuat
orang
susah
12
menganalisanya.
Sudah sejak abad ke 9, cendekiawan muslim berusaha menafsirkan
al-Qur’an - yang bukan merupakan sebuah disertasi filsafat - ke
dalam sistem pemikiran yang logis dan menyeluruh dengan
menggunakan pendekatan filsafat Yunani. Aliran Mu’tazilah yang
tumbuh di Bagdad dan Basra memang dapat dipandang sebagai
penganut pemikiran Yunani, tapi pendekatan mereka lebih condong
pada teologi filsafat ketimbang filsafat teologi. Karena bagi
kaum Mu’tazilah juga berlaku prinsip pada mulanya adalah alQur’an. Jadi mereka bersandar pada eksistensi Tuhan dan
kewahyuan
al-Qur’an.
Mereka
tidak
mempertanyakan
Tuhan,
melainkan sifat-sifat Tuhan.
Dalam usahanya mencari titik temu antara al-Qur’an dan akal,
mereka terpeleset ke lembah spekulasi dan bid’ah, meskipun
mereka tidak meragukan ayat-ayat al-Qur’an yang tidak sejalan
dengan akal mereka, melainkan mentafsirkannya secara alegoris.
Namun demikian, tema andalan mereka menyeret mereka ke posisi
yang dipandang oleh kaum ortodoks sebagai skandal dan
penghujatan.
„ Tuhan tidak memiliki sifat seperti yang digambarkan oleh 99
nama Allah (Asma ul-Husna). Sifat-Nya integral, jadi meskipun
ada QS. 41:47, sifat-Nya tidak diferensial.
„ dunia ini bukan makhluk, jadi abadi sifatnya.
„ al-Qur’an adalah makhluk
„ manusia,
yang
mempunyai
hak
mencipta,
memiliki
hak
berkehendak (lihat bab Takdir); yang buruk hanya ciptaannya.
Ia tak kan bangkit lengkap dengan jasmaninya.
Jelas sudah, bahwa kaum Mu’tazilah mendahulukan akalnya
daripada al-Qur’an dan dengannya melahirkan gambaran Tuhan yang
semarak dan mendebarkan hati.
11
Dia termasuk dalam Sekte-Ahmadiyyah heterodoks Pakistan
Bandingkan M. M. Sharif (Penerbit), A History of Muslim Philosophy, 2 Jilid, Wiesbaden 1963; Majid Fakhry,
A History of Islamic Philosophy, London 1903; Georges Anawati, Filsafat, Teologi dan Mistik, dalam: Das
Vermaechtnis des Islam, ibid; Oliver Leaman, An Introduction to Medieval Islamic Philosophy, Cambridge
1985; dan Buku karyaku terdahulu tentang aturan Filsafat Islam, Zur Rolle der islamische Philosophie, Koeln
1984
12
34
Aliran rasional yang berdasar pada filsafat Aristoteles ini
meraih puncaknya melalui Ibnu Rusyd atau Averroes di abad ke
12. 13
Selain itu golongan ortodoks juga dibuat pusing oleh filosof
muslim lainnya, yang mencoba menciptakan harmoni antara ajaran
islam dan ajaran emanasi, gnostik dan mistik cahaya di bawah
pengaruh
neo
platonisme
yang
memiliki
cara
pandang
iluminatoris, seperti yang ditunjukkan oleh tiga nama besar,
yaitu Abu Nasr Muhammad al-Farabi atau Alpharabius (sekitar
873-950), Muhy al-Din Ibnu ‘Arabi (1165-1240) 14 dan Abu Ali
Husain bin Sina atau Avicenna (980-1037). 15
Tak lama kemudian timbul reaksi dalam bentuk aliran Asy’ariyah.
Mereka membantah premis-premis yang menjadi dasar seluruh
pemikiran Mu’tazilah, yaitu pandangan, bahwa persepsi manusia
dan logika dapat membawa manusia pada pemahaman hakikat
metafisika. Pimpinannya, Abu al-Hasan al-Asy’ari (873-935)
tidak hanya menjadikan filsafat sebagai bawahan teologi
kembali. Ia mengobrak-abrik seluruh jajaran metafisika termasuk
pemikiran tentang hukum-hukum kausalitas. Menurut al-Asy’ari
dan penyempurnanya, Abu Hamid al-Ghazali atau Algazel (10581111) 16 sesuatu yang ada di luar hukum ilahi - dan tak dapat
diduga manusia - hanya kehendak dan ide Tuhan.
Serangan terakhir yang dilancarkan atas filsafat spekulatif
tersebut adalah buku al-Ghazali tentang filsafat yang inkoheren
(Tahafut al-Falasifah) yang membantah Ibnu Sina. Polemik ini
memancing Ibnu Rusyd satu generasi kemudian untuk menulis
‘inkoheren yang inkoheren’. Sejak itu tercapailah titik puncak
di mana, golongan Sunni yakin, bahwa pengetahuan tentang Tuhan
dan sifat-Nya hanya dapat ditemukan dalam wahyu - yang menutup
pertanyaan-pertanyaan selanjutnya -, dan tidak melalui akal
pikiran manusia. Seorang muslim harus menerima kalam ilahi
sebagaimana adanya, dan tidak terjerumus ke dalam kecenderungan
filsafat yang terlalu bersemangat mengucap kata bagaimana.
Sejak itu cendekiawan muslim menghindari metafisika. Filsafat
Islam hanya ada dalam bentuk mistik yang seringkali dipengaruhi
pemikiran Syiah (lihat bab: Mistik), seperti tarekat al-Ikhwan
al-Safa di Basra. 17
Dengannnya filsafat ortodoksi telah mencapai klimaks dalam hal
pemikiran kritis yang radikal yang membawanya pada logika yang
bersahaja melalui agnotisme (yang dijiwai oleh al-Qur’an), yang
kini - setelah 1000 tahun - tampak modern. Bukan Ludwig
13
Ibnu Rusyd, Tahafut al-Tahafut (The Incoherence of the Incoherence), London 1978; juga, On the Harmony of
Religion and Philosophy, London 1961; Hans Wilderotter, Aristoteles, Averroes und der Weg der arabischen
Philosophie nach Europa, dalam: Europa dan Dunia Timur 800-1900, Gueterloh 1989
14
Ibn ‘Arabi, La Profession de Foi, Paris 1985
15
Bandingkan Gerhard Endress, “Der erste Lehrer”, tentang Aristoteles dari Arab dan Konsep Filsafat, dalam:
Festschrift fuer A. Falaturi, Koeln 1991, hal 151 dan seterusnya; lebih jauh Avicenna on Theology, London 1951
16
sangat berkesan sentuhan ’pengakuan’ darinya: Der Erretter aus der Irrtum, Felix Meiner nr. 389, Hamburg
1988; diantara Karya besarnya yang lebih dari 400 tulisan lihat Ihya Ulum al-Din, 4 Jilid, Lahore; untuk yang
beraliran mistik lihat ‘Al-Ghazali Misykat al-Anwar’, Pancaran Relung Cahaya, Felix Meiner nr. 390, Hamburg
1987,; Farid Jabre, La Notion de la Ma’rifa chez Ghazali, Beirut 1958
17
Bandingkan Ikhwan al-Safa, Manusia dan Hewan Didepan Raja Jin, Felix Meiner nr. 433, Hamburg 1990
35
Wittgenstein di abad ke 20, melainkan al-Asy’ari di abad ke 9
yang telah mendengungkan akhir filsafat. Bukan David Hume dan
teori ilmiah baru, tapi aliran al-Asy’ari yang pertama kali
menyadari, bahwa hukum kausalitas tak dapat dibuktikan. Bukan
Immanuel Kant dan kritikus bahasa modern yang mengembangkan
pemikiran kriis yang radikal, tapi filosof-filosof muslim di
abad ke 9.
Bila pemikir-pemikir kritis dari Barat ini tidak membawa kultur
Barat menuju keruntuhan, mengapa orang menuduh filsafat Islam
yang bertanggungjawab atas kemunduran kultur di dunia Islam?
Dari latar belakang ini timbul pertanyaan, bagaimana hubungan
Islam dengan disiplin ilmu lainnya, terutama ilmu pengetahuan
alam modern.
Sebelumnya harus kita ketahui, bahwa kaum muslimin beranggapan
bahwa hasil-hasil penelitian tak kan bertentangan dengan alQur’an. Oleh karena itu, bila ada yang tidak selaras, ini
diakibatkan oleh kesalahan penafsiran - baik al-Qur’an maupun
hasil penelitian.
Masalah yang sesungguhnya dalam kaitan ini adalah pemahaman
ilmiah modern. Umat Islam tidak hanya menuduh ilmu pengetahuan
telah merampas kedudukan agama, tapi juga tidak berprestasi
dalam
posisinya
yang
baru.
Seyyed
Hossein
Nasr
telah
memformulasikannya dengan tepat dalam sebuah sidang fisika dan
astrofisika yang diadakan oleh Max-Planck-Gesellschaft bulan
April 1983:
“Islam tidak dapat menerima reduksionisme yang dianut ilmu
pengetahuan
modern,
yaitu
degradasi
metafisika
menjadi
psikologi, psikologi menjadi biologi, biologi menjadi kimia,
kimia menjadi fisika, dan dengannya semua faktor kebenaran
didepresiasikan ke titik terendah, yaitu dalam bentuk fisis.”
Ini perlu dijelaskan lebih lanjut:
Yang pertama, islam menganggap ilmu pengetahuan di Barat
terlalu otonom (l’art pour l’art) dan terlalu percaya diri.
‘Extra scientiam nulla salus’ (tiada kesucian di luar ilmu
pengetahuan), demikian kira-kira kredo para ilmuwan, sebagai
umat tanpa agama. Mereka mendefinisikan Tuhan sebagai titik
celah, manusia sebagai faktor risiko dalam proses teknik dan
sistem sosial sebagai mesin trivial. Sehingga seperti yang
diformulasikan oleh Jürgen Habermas, moral berubah menjadi
modernitas
seperti
seni
berubah
menjadi
prinsip
Pada
kenyataannya,
agama
di
era
ilmu
subyektifitas. 18
pengetahuan ini dipandang
sebagai bentuk pemecahan masalah
kehidupan yang irrasional dan ketinggalan zaman. Nietzsche
mencoba membunuh Tuhan - pasti tidak berhasil; ilmuwan mencoba
membunuh kepercayaan pada-Nya - ini mungkin berhasil.
18
Juergens Habermas, Der philosophische Diskurs der Moderne, Frankfurt 1985
36
Ilmu pengetahuan yang positif dan empiris sekalipun tak kan
dapat mengganti agama yang didesaknya sebagai pemberi makna dan
norma. Keduanya beroperasi di wilayah yang berbeda. Bahkan
dengan metode serius trial and error - dengan terus menyalahkan
hipotesa baru - yang diperkenalkan Popper ilmu pengetahuan
tetap tidak memiliki wewenang normatif, dan tetap terikat pada
hal-hal yang quantitatif. Moral bukanlah fungsi fisiologi,
makna bukanlah hasil dari ikatan kimia, dan cinta benar-benar
tidak ilmiah.
Fakta menunjukkan, bahwa ilmu pengetahuan hanya membawa
skepsis, ketidakpastian, pemujaan data dan statistik serta
krisis identitas yang laten bagi manusia modern di bidang
ideologi. Paling ia hanya dapat menawarkan semacam eskatologi
pasca Kristen yang sekular dengan ideologi kemajuannya. 19 Ia
terus-menerus membawa masalah baru, tanpa memberikan jawaban
yang pasti, sehingga André Malraux pernah bertanya, apakah
peradaban ‘masalah dan sesaat’ ini benar-benar peradaban yang
ideal. Michael Harrington juga pernah menanyakan hal yang sama,
di mana kita bisa menemukan etika sosial, yang dapat
menyelamatkan kita dari kejeniusan kita, dalam masyarakat
teknologi yang serba relatif ini? 20
Bukan hanya kaum muslimin yang menolak ilmu pengetahuan
menggantikan agama. 21 Pencari norma baru, seperti Hans-Georg
Gadamer atau Helmut Kuhn tidak mau ketinggalan. Orang menyebut
fenomena ini kembali ke metafisika, yang diakibatkan oleh
kesadaran yang terlambat, bahwa semakin tercerahkan dunia,
semakin diperlukan agama; paling tidak untuk melegitimasi
kekuasaan
dan
hukum,
motivasi
dan
pembentukan
kelompok
masyarakat. Singkatnya, semakin jelas, bahwa teologi dan ilmu
politik saling membutuhkan dan ide penyingkiran agama terbatas
sifatnya. 22
Ini merupakan dampak dari bergugurannya paham darwinisme,
freudanisme, marxisme dan fisika klasik, ditambah oleh fakta,
bahwa otak tak dapat meneliti otak. 23 Pakar-pakar sains mulai
rendah hati sejak mereka menyadari, bahwa apa yang mereka sebut
hukum alam hanyalah berupa aproksimasi, dan dunia bukanlah
sebuah mesin yang berfungsi berdasarkan pemahaman kausalitas
yang umum dewasa ini.
Ilmu pengetahuan yang mulai bersahaja ini masih belum dianggap
tidak memihak oleh para akademisi muslim, dan karenanya harus
diislamisasi. Maksud ini dilatarbelakangi oleh:
19
Bandingkan Karl Loewith, Meaning in History, Chicago 1949
Juergens Habermas, ibid; Michael Harrington, The Politics at God’s Funeral: The Spritual Crisis of Western
Civilization, New York 1983
21
Bandingkan juga Alfre North Whitehead, Wie entsteht Religion?, Frankfurt 1985; Jean-Francois Lyotard, The
Postmodern Condition, Manchester 1986; Ernest Gellner, Relativism and the Social Science, Cambridge 1985
22
Parvez Manzoor, The Crisis of Intellect and Reason in the West, The Moslem World Book Review, Leicester
1987 nr.2, halaman 3
23
Bandingkan Ed. Quinteen Skinner, The Return of Grand Theory in the Human Sciences,; persoalan utama dari
penelitian otak terletak pada keadaan kesadaran bukan pada panca-indera (mata ataupun telinga)
20
37
kolonisasi dunia Arab membuat kelompok elitnya terdorong untuk
menjiplak
peradaban
Barat.
Tapi
hasilnya
mengecewakan.
Kebanyakan mahasiswa muslim masih tertinggal dari rekanrekannya dari Barat dalam menguasai ilmu. Sementara mereka yang
berhasil malah kehilangan ikatan pada akar budayanya sendiri.
Terombang-ambing antara dua budaya membuatnya frustrasi dan
menjadikannya konsumen teknologi yang tidak mereka kuasai.
Dampak buruknya yang banyak kita amati adalah teknofobia.
Mereka mempersetan teknologi Barat, karena dia diciptakan di
lingkungan ateis dan mendorong sikap skepsis yang kritis.
Sebaliknya muslim yang bijak menganggap netral teknik apa pun
dan mendukung penggunaannya dalam konteks masyarakat Islam. 24
Lebih positif lagi adalah seruan islamisasi pengetahuan, yang
bukannya bermaksud memusnahkan sama sekali pola Barat, tapi ide
untuk mereformasi sistem pendidikan dan perguruan tinggi yang
islami. 25
Pada kenyataannya, sekolah dan universitas di negeri-negeri
muslim berada dalam kondisi yang buruk, karena pelajaran
dilaksanakan berdasarkan metode meniru dan mencontoh tanpa
adanya analisa kritis. Otoritas guru masih dirasa absolut,
hafalan masih diutamakan. Karena itu masyarakat Islam secara
keseluruhan - dimulai oleh ayah dalam keluarga - harus
menyadari, bahwa kemajuan teknologi bisa dicapai bila tersedia
suasana yang memungkinkan kebebasan berpikir yang kreatif. Hal
ini sudah harus dimulai di taman kanak-kanak. Tak ada jalan
lain - apalagi jalan yang lebih singkat - untuk mencapai
prestasi tinggi dalam ilmu pengetahuan.
Sayang masih ada ide islamisasi ilmu pengetahuan yang bertujuan
lain, yang mengingatkan kita pada Jerman di tahun 30-an, yaitu
usaha untuk memuliakn bangsa Jerman dengan menyingkirkan unsur
Yahudi di bidang matematika dan menjadikan Biologi sebagai
sarana legitimasi keunggulan ras Aria. Sama konyolnya, bila
mahasiswa muslim secara sungguh-sungguh menuntut penelitian di
bidang ilmu sejarah, sosiologi, kedokteran, politologi dan
biologi (pelajaran evolusi) dikaitkan dengan ‘fakta’ dalam alQur’an dan Sunnah. Hal ini jelas sebuah kekeliruan.
Ilmu pengetahuan baru bisa disebut islami, bila ada prestasi
menonjol yang dihasilkan oleh muslim yang saleh, dan bila
masyarakat menetapkan proritas lain, karena telah bisa melihat
dari kacamata muslim. Impian tentang penyatuan ilmu pengetahuan
tak
dapat
menggantikan
spesialisasi.
Juga
tidak
dengan
komputerisasi bank data Islam yang universal dan analisa teks
al-Qur’an dengan cara digital seperti di Institut Alif di
Paris.
24
Demikian misalnya peraih Hadiah Nobel A. Abdessalam, dalam, Islam et Sciences, El Moujahid, Aljazair,
tanggal 16-17 April 1989
25
Bandingkan Das Einbringen des Islam in das Wissen, Int. Inst. fuer Islamisches Gedenkengut und Muslim
Studenten Vereinigung e.V..1988; Dawud Assad, The Islamisation of Knowledge, dalam: The Muslim World
tanggal 21 Des 1985.
38
Singkatnya, ilmu pengetahuan Islam adalah ilmu pengetahuan,
yang ditekuni oleh kaum muslimin dengan metode ilmiah dan dalam
semangat ilmiah. Definisi lainnya hanyalah merupakan permainan
kata-kata atau mempunyai makna yang berbeda.
Untungnya, terutama di bidang ilmu non-eksakta, ada tanda-tanda
kembalinya rasa haus akan ilmu pengetahuan di dunia Islam. Dan
wajar kalau muslim asal Eropa atau Amerika memainkan peranan
penting dalam hal ini. Di antaranya adalah karya kehidupan
islami yang luar biasa dari Leopold Weiss (Muhammad Asad, lahir
tahun 1900 - 1992).
Dalam tafsir al-Qur’annya ia tulis sebuah dedikasi:
“li qawmin yatafakkarun - dipersembahkan bagi orang-orang yang
berpikir.”
39
Download