nandong smong nyanyian warisan sarana penyelamatan diri dari

advertisement
NANDONG SMONG NYANYIAN WARISAN SARANA
PENYELAMATAN DIRI DARI BENCANA TSUNAMI DALAM
BUDAYA SUKU SIMEULUE DI DESA SUKA MAJU: KAJIAN
MUSIKAL,TEKSTUAL, FUNGSIONAL, DAN KEARIFAN
LOKAL
SKRIPSI SARJANA
O
L
E
H
YOMI HARSA JUNINDI ALWI
NIM: 120707003
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
FAKULTAS ILMU BUDAYA
DEPARTEMEN ETNOMUSIKOLOGI
MEDAN
2017
i
2
NANDONG SMONG NYANYIAN WARISAN SARANA
PENYELAMATAN DIRI DARI BENCANA TSUNAMI DALAM
BUDAYA SUKU SIMEULUE DI DESA SUKA MAJU: KAJIAN
MUSIKAL,TEKSTUAL, FUNGSIONAL, DAN KEARIFAN LOKAL
SKRIPSI SARJANA
YOMI HARSA JUNINDI ALWI
NIM: 120707003
Disetujui
Pembimbing I,
Pembimbing II,
Drs. Muhammad Takari, M.Hum., Ph.D.
NIP 196512211991031001
Drs. Fadlin, M.A.
NIP 196102201998031003
Skripsi ini diajukan kepada Panitia Ujian Fakultas Ilmu Budaya, Universitas
Sumatera Utara Medan, untuk melengkapi salah satu syarat Ujian Sarjana Seni
dalam bidang disiplin Etnomuskologi
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
FAKULTAS ILMU BUDAYA
DEPARTEMEN ETNOMUSIKOLOGI
MEDAN
2017
ii
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena dengan
rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang
berjudul “Nandong Smong Nyanyian Warisan Sarana Penyelamatan Diri dari
Bencana Tsunami dalam Budaya Suku Simeulue di Desa Sukamaju: Kajian
Musikal, Tekstual, Fungsional, dan Kearifan Lokalnya.”
Skripsi ini diajukan untuk menyelesaikan tugas akhir yang menjadi salah
satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Seni (S.Sn.) dari Departemen
Etnomusikologi, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sumatera Utara.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. Bapak Prof. Dr. Runtung, S.H., M.Hum. selaku rektor Universitas Sumatera
Utara beserta jajarannya.
2. Bapak Dr. Budi Agustono, M.Si. selaku Dekan Fakultas Ilmu Budaya beserta
jajarannya.
3. Bapak Drs. Muhammad Takari, M.Hum., Ph.D. selaku ketua Departemen
Etnomusikologi dan juga pembimbing I. Terima kasih banyak kepada Bapak
Drs. Fadlin, M.A. selaku Kepala Laboratorium dan juga sebagai dosen
pembimbing II. Tanpa bimbingan dan masukan dari kedua dosen pembimbing
skripsi ini tidak akan bisa terselesaikan dengan baik.
4. Tak lupa pula penulis mengucapkan terima kasih kepada Ibu Dra. Heristina
Dewi, M.Pd. selaku sekretaris Departemen Etnomusikologi. Dan terima kasih
kepada seluruh staf dosen pengajar, dosen praktek dan pegawai di Departemen
Etnomusikologi.
iii
5. Pada kesempatan kali ini penulis ingin mempersembahkan dan mengucapkan
terima kasih yang tak terhingga kepada kedua orang tua yang sangat saya
cintai, Ayahanda Mohd. Arief, S.H. dan Ibunda tersayang Lawinah, Amd.Keb.
Terima kasih atas ketulusan dan kasih sayang serta dukungan dalam bentuk
moril dan materil hingga keterlibatan langsung di lapangan.
6. Dan juga terima kasih kepada adik kandung saya Febrina Munawara Alwi
yang selalu memberikan semangat,“Rajin-rajin sekolah ya dek”.
7. Terima kasih kepada seluruh informan yang terlibat di dalam skripsi ini,
terutama kepada Abangda Suherman dan Abangda Jamil yang telah
meluangkan waktunya untuk memberikan banyak informasi dan data-data
mengenai objek penelitian.
8. Kepada Bapak dr. Armidin (salah satu budayawan Simeulue). Tak lupa pula
penulis mengucapkan terima kasih telah meluangkan waktu untuk wawancara
dan memberikan pengetahuan tentang smong di Simeulue.
9. Kepada Kepala Desa Suka Maju Bapak Julnaidi, S.E. beserta staf terima kasih
telah memberikan informasi tentang Desa Suka Maju.
10. Untuk yang terus membantu penulis mendapatkan inspirasi, Raudhatul
Jannah, S.Sn., Rahmatika Luthfiana Sholikhah, dan Firlianda Ilham: “Semoga
kita cepat sarjana juga.”
11. Terima kasih kepada teman-teman satu angkatan 2012 (12EFM) di
Etnomusikologi yang tidak bisa penulis sebutkan namanya satu persatu.
Begitu juga seluruh pengurus IME (Ikatan Mahasiswa Etnomusikologi) dan
seluruh pengurus IKA (Ikatan Alumni Etnomusikologi).
iv
Penulis telah melakukan hal yang terbaik dan semampu mungkin dalam
tulisan ini. Namun, penulis menyadari bahwa tulisan ini tidak dapat dikatakan
sempurna, oleh karena itu kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan.
Medan,
Januari 2017
Penulis
Yomi Harsa Junindi Alwi
NIM: 120707003
v
ABSTRAK
Skripsi ini bertajuk “Nandong Smong Nyanyian Warisan Sarana
Penyelamatan Diri dari Bencana Tsunami dalam Budaya Suku Simeulue di Desa
Sukamaju: Kajian Musikal, Tekstual, Fungsional, dan Kearifan Lokalnya.”
Penelitian ini mengkaji empat aspek dari nandong smong di Desa Sukamaju
Simeulue Aceh, yaitu: (1) musikal, (2) tekstual, (3) fungsional, dan (4) kearifan
lokalnya. Dalam penelitian ini, untuk mengkaji keempat aspek nandong smong,
digunakan teori-teori tersendiri: untuk musikal digunakan teori weighted scale,
untuk tekstual digunakan teori semiotik, untuk fungsional digunakan teori fungsi,
dan kearifan lokal digunakan teori etnosains (etnometodologi). Metode dan teknik
yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif dengan berdasar kepada
observasi lapangan, terlibat langsung, wawancara, dan perekaman data dalam
bentuk audiovisual. Hasil penelitian ini adalah sebagai berikut: (1) dari aspek
musikal, nandong smong menggunakan tangga nada mikrotonal khas Simeulue,
dalam bentuk semi free meter, dan tekstur heterofonis; (2) dari aspek tekstual
nandong smong adalah termasuk ke dalam jenis syair, terdiri dari lima bait, yang
secara keseluruhan bercerita tentang apa itu tsunami (smong) dan bagaimana
menyelamatkan diri dari smong tersebut, makna yang dikandung teks smong
sebagian besar adalah makna denotatif dan sedikit saja makna konotatif yang
metaforik; (3) secara fungsional, nandong smong memiliki guna dan fungsi.
Penggunaan nandong smong adalah: (i) memeriahkan suasana pesta perkawinan,
(ii) memeriahkan suasana pesta khitanan, (iii) memeriahkan upacara penyambutan
tamu, (iv) untuk memeriahkan acara ulang tahun kemerdekaan Indonesia, (v)
meresmikan gedung pemerintahan, (vi) untuk kegiatan pariwisata, (vii)
pertunjukan budaya, dan lain-lainnya, sesuai dengan perkembangan zaman.
Sementara terdapat dua fungsi utama nandong smong yakni: (a) untuk
memberitahu gejala dan fenomena tsunami serta (b) memberitahu bagaimana
menyelamatkan diri dari bencana tsunami ini, ditambah fungsi-fungsi lainnya
seperti: (c) menjaga keseimbangan kosmologis, (d) komunikasi, (e)
kesinambungan kebudayaan, (f) memperkuat identitas kebudayaan Simeulue, (g)
penghayatan agama Islam, (h) hiburan, dan (i) integrasi sosiobudaya. (4) Dari
aspek keraifan lokal, maka nandong smong mengekspresikan kearifan orang
Simeulue dalam menghadapi bencana.
Kata kunci: nandong, smong (tsunami), musikal, tekstual, fungsional, kearifan
lokal.
vi
DAFTAR ISI
ABSTRAK ............................................................................................
KATA PENGANTAR ..........................................................................
DAFTAR GAMBAR ............................................................................
DAFTAR ISI ........................................................................................
i
ii
iii
v
BAB I
1
1
17
17
17
18
19
19
25
26
27
28
31
19
25
33
34
35
38
38
39
39
40
PENDAHULUAN..................................................................
1.1 Latar Belakang Masalah ....................................................
1.2 Pokok Masalah..................................................................
1.3 Tujuan dan Manfaat ..........................................................
1.3.1 Tujuan ......................................................................
1.3.2 Manfaat ....................................................................
1.4 Konsep dan Teori ..............................................................
1.4.1 Konsep .....................................................................
1.4.2 Teori ........................................................................
1.4.2.1 Teori Weighted Scale ...................................
1.4.2.2 Teori Semiotik .............................................
1.4.2.3 Teori Fungsi.................................................
1.4.2.4 Teori Etnosains ............................................
1.4.1 Konsep .....................................................................
1.4.2 Teori ........................................................................
1.5 Metode Penelitian .............................................................
1.5.1 Kerja Lapangan (Field Work) ...................................
1.5.1.1 Studi Pustaka ................................................
1.5.1.2 Observasi ......................................................
1.5.1.3 Wawancara ...................................................
1.5.1.4 Dokumentasi .................................................
1.5.2 Kerja Laboratorium (Desk Work) ..............................
1.6 Lokasi Penelitian ...............................................................
BAB II: ETNOGRAFI UMUM SUKU SIMEULUE DI DESA SUKA
MAJU, KECAMATAN SIMEULUE TIMUR, KABUPATEN
SIMEULUE ACEH DAN NANDONG SMONG .................. 41
2.1 Asal-usul Suku Simeulue ................................................. 42
2.2 Wilayah Budaya Etnik Simeulue ...................................... 43
2.3 Masyarakat Simeulue di Desa Suka Maju ......................... 44
2.4 Sistem Religi .................................................................... 46
2.5 Sistem Kekerabatan .......................................................... 47
2.6 Sistem Matapencaharian................................................... 48
2.7 Bahasa ............................................................................. 49
2.8 Kesenian .......................................................................... 50
2.9 Sekilas Adat Simeulue ..................................................... 52
2.9.1 Adat Makan Sirih ................................................... 54
2.9.2 Masyarakat Adat Simeulue dan Alam ..................... 61
2.10 Nandong Smong di Simeulue ......................................... 66
vii
BAB III: KAJIAN MUSIKAL ........................................................
3.1 Pemusik .......................................................................
3.2 Instrumen Pengiring dan Klasifikasi Organologi ...........
3.2.1 Biola ....................................................................
3.2.2 Kedang (Gendang) ...............................................
3.3 Transkripsi Vokal dan Musik Pengiring.........................
3.3.1 Teknik Trsnskripsi ................................................
3.3.2 Hasil Transkripsi ..................................................
3.3.3 Strktur Pertunjukan ...............................................
3.4 Analisis .........................................................................
3.4.1 Tangga Nada .......................................................
3.4.2 Nada Dasar (Pitch Center) ...................................
3.4.3 Wilayah Nada ......................................................
3.4.4 Jumlah Nada .......................................................
3.4.5 Jumlah Inrterval ...................................................
3.4.6 Pola Kadensa ......................................................
3.4.7 Formula Melodi ...................................................
3.4.8 Analisis Bentuk, Frase, dan Motif Melodi
Nandong Smong ..................................................
3.4.9 Kontur .................................................................
3.4.10 Analisis Waktu ..................................................
3.4.10.1 Semi Free Meter ...................................
3.4.10.2 Aksentuasi ............................................
3.4.10.3 Tempo ..................................................
3.4.10.4 Durasi ..................................................
60
60
62
62
63
65
65
67
75
79
79
80
83
84
85
87
88
89
94
95
95
97
98
100
BAB IV: KAJIAN TEKSTUAL .........................................................
4.1 Nandong Smong sebagai Syair.......................................
4.2 Struktur Teks Nandong Smong .....................................
4.3 Arti Harfiah ...................................................................
4.4 Makna Denotatif dan Konotatif Nandong Smong ...........
102
103
113
115
116
BAB V: KAJIAN FUNGSIONAL .......................................................
5.1 Pengetian Penggunaan dan Fungsi ................................
5.2 Penggunaan Nandong Smong ........................................
5.2.1 Untuk Memeriahkan Suasana Upacara Pesta
Pernikahan ...........................................................
5.2.2 Untuk Mememriahkan Suasana Upacara Pesta
Khitanan ..............................................................
5.2.3 Untuk Memeriahka Upacara Penyambutan
Tamu Daerah .......................................................
5.2.4 Berbagai Guna Lainnyya .....................................
5.3 Fungsi Nandong Smong .................................................
5.3.1 Fungsi Memberitahu Gejala dan Peristiwa
Tsunami ...............................................................
5.3.2 Fungsi Memberitahu Cara Menyelamatkan
Diri dari Bencana Tsunami ..................................
5.3.3 Fungsi Menjaga Keseimbangan Kosmologis ........
121
122
126
viii
127
132
134
135
135
136
137
138
5.3.4 Fungsi Komunikasi ...............................................
5.3.5 Fungsi Kesinambungan Kebudayaan ....................
5.3.6 Fungsi Memperkuat Identitas Kebudayaan
Simeulue .............................................................
5.3.7 Fungsi Penghayatan Agama Islam ........................
5.3.8 Fungsi Hiburan .....................................................
5.3.9 Fungsi Integrasi Sosiobudaya ................................
139
141
BAB VI: KAJIAN KEARIFAN LOKAL ........................................
6.1 Pengertian Kearifan Lokal ............................................
6.2 Kepercayaan Tradisional Simeulue dan Agama
Islam sebagai Sumber Kearifan Lokal ..........................
6.3 Kearifan tentang Menghadapi Bencana .........................
6.3.1 Bencana ...............................................................
6.3.2 Pembagian Bencana dan Faktor-faktor
Terjadinya Bencana .............................................
6.3.3 Bencana Gempa dan Tsunami di Aceh .................
6.3.4 Kearifan Berguru kepada Alam ............................
149
149
BAB VII: KESIMPULAN DAN SARAN .........................................
7.1 Kesimpulan ...................................................................
7.2 Saran .............................................................................
166
166
168
DAFTAR PUSTAKA ..........................................................................
169
ix
143
143
145
146
153
155
155
157
158
163
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dalam mengisi dan menjalani kehidupannya, manusia memiliki
keperluan individu dan mengatur dirinya sendiri, serta kepentingan sosial
sebagai bahagian dari masyarakatnya.1 Selain itu manusia juga mnjadi
bahagian yang tidak terpisahkan dari alam sekitar, baik berupa tumbuhan,
hewan, tanah, bahkan bumi, planet lain, bulan, bintang, galaksi, dan
seluruhnya. Alam ini mengajarkan manusia bagaimana belajar mengelola
kehidupannya. Pada bumi yang berada di kawasan kutub atau daerah dingin,
manusia menyesuaikan dengan keadaan di tempat yang seperti ini yang
beriklim relatif dingin dengan membuat pakaian yang relatif tebal, yang terbuat
dari bulu hewan, atau juga benang katun, wol, dan sejenisnya yang berfungsi
untuk menjaga tubuh dari serangan hawa dingin. Sebaliknya pada alam yang
beriklim tropis, manusia membuat pakaian relatif lebih tipis, untuk
menyesuaikan tubuh dengan kondisi panas yang terjadi di lingkungannya.
Demikian pula pengelolaan makanan, di daerah dingin biasanya makanan yang
diasup oleh manusia adalah makanan berupa lemak, ditambah dengan rempahrempah untuk menjaga daya panas tubuh, demikian pula minuman yang dapat
menjaga pasa tubuh seperti wodka, sake, anggur, dan sejenisnya. Di daerah
1
Masyarakat (society) adalah kesatuan hidup manusia yang berinteraksi
menurut suatu sistem adat istiadat tertentu yang bersifat kontinu, dan terikat oleh suatu
rasa identiti bersama. Lihat Koentjaraningrat (1974:11). Menurut J.L. Gillin dan J.P.
Gillin, yang dimaksud masyarakat adalah: "... the largest grouping in which common
customs, traditions, attitudes and feelings of unity are operative,"--yang ertinya:
"kelompok manusia yang terbesar, yang secara umum memiliki adat istiadat, tradisi, sikap,
dan rasa bersatu, yang merupakan kesatuan tingkah laku mereka." Lebih jauh lihat J.L.
Gillin dan J.P. Gillin (1954:139).
1
tropis makanan dan minuman yang diasup manusia adalah yang khas kawasan
ini, seperti mereka banyak minum air untuk menjaga sirkulasi air dalam tubuh,
demikian pula makanan berupa karbohidrat, sayuran segar, dan sejenisnya. Jadi
intinya alam memberikan pelajaran berharga bagi manusia di manapun di muka
bumi ini.
Alam juga selain sebagai sumber kehidupan, juga dapat memunculkan
berbagai peristiwa bencana. Di antara bencana-bencana alam itu adalah: banjir
(baik dari laut maupun sungai), kemarau, kebakaran hutan, kebakaran hunian,
asap, gunung meletus yang memuntahkan lahar dan juga asap, bahkan awan
panasnya menyapu bersih lingkungan di seputar gunung tersebut, sampai juga
di tepi lautan berupa bencana tsunami. Dalam konteks Indonesia dan dunia,
bencana tsunami 2 yang terkenal adalah yang terjadi pada tahun 2004 yang lalu,
2
Tsunami (bahasa Jepang: 津波; tsu = pelabuhan, nami = gelombang, secara harafiah
berarti "ombak besar di pelabuhan") adalah perpindahan air yang disebabkan oleh perubahan
permukaan laut secara vertikal dengan tiba-tiba, disebabkan oleh gempa bumi yang berpusat di
bawah laut, letusan gunung berapi bawah laut, longsor bawah laut, atau hantaman meteor di
laut. Gelombang tsunami dapat merambat ke segala arah. Tenaga yang dikandung dalam
gelombang tsunami adalah tetap terhadap fungsi ketinggian dan kelajuannya. Di laut dalam,
gelombang tsunami dapat merambat dengan kecepatan 500–1000 km per jam. Setara dengan
kecepatan pesawat terbang. Ketinggian gelombang di laut dalam hanya sekitar 1 meter. Dengan
demikian, laju gelombang tidak terasa oleh kapal yang sedang berada di tengah laut. Ketika
mendekati pantai, kecepatan gelombang tsunami menurun hingga sekitar 30 km per jam,
namun ketinggiannya sudah meningkat hingga mencapai puluhan meter. Hantaman gelombang
tsunami bisa masuk hingga puluhan kilometer dari bibir pantai. Kerusakan dan korban jiwa
yang terjadi karena tsunami bisa diakibatkan karena hantaman air maupun material yang
terbawa oleh aliran gelombang tsunami. Dampak negatif yang diakibatkan tsunami adalah
merusak apa saja yang dilaluinya, seperti bangunan, tumbuhan, dan mengakibatkan korban
jiwa manusia, genangan, pencemaran air asin pada lahan pertanian, tanah, dan air bersih.
Sejarawan Yunani bernama Thucydides merupakan orang pertama yang mengaitkan tsunami
dengan gempa bawah laut. Namun hingga abad ke-20, pengetahuan mengenai penyebab
tsunami masih sangat minim. Penelitian masih terus dilakukan untuk memahami penyebab
tsunami: geologi, geografi, dan oseanografi pada masa lalu menyebut tsunami sebagai
"gelombang laut seismik.” Beberapa kondisi meteorologis, seperti badai tropis, dapat
menyebabkan gelombang badai yang disebut sebagai meteor tsunami yang ketinggiannya
beberapa meter di atas gelombang laut normal. Ketika badai ini mencapai daratan, bentuknya
bisa menyerupai tsunami, meski sebenarnya bukan tsunami. Gelombangnya bisa menggenangi
daratan. Gelombang badai ini pernah menggenangi Burma (Myanmar) pada Mei 2008.
Wilayah di sekeliling Samudra Pasifik memiliki Pacific Tsunami Warning Centre (PTWC)
yang mengeluarkan peringatan jika terdapat ancaman tsunami pada wilayah ini. Wilayah di
2
dengan titik pusat kejadian di Aceh. Walau demikian, tsunami yang terjadi di
Aceh ini, dalam konteks dunia, bukanlah satu-satunya yang terjadi. Secara
sejarah, tsunami terjadi pula di berbagai belahan dunia ini, termasuk di Jepang.
Istilah tsunami sendiri berasal dari kata dalam bahasa Jepang. Dalam konteks
dunia, berikut ini adalah 27 peristiwa tsunami.
1. Tahun 426 SM: Teluk Maliakos, Yunani Timur. Inilah pertama kalinya
orang menghubungkan tsunami dengan gempa yang terjadi sebelumnya.
2. Tanggal 21 Juli 365: Alexandria, Mediterania Timur, Tsunami setinggi lebih
dari 30 meter. Membunuh ribuan orang, kapal terhembalang ke daratan
sejauh 3,2 kilometer.
3. Tahun 684: Hakuho, Jepang, tsunami pertama yang tercatat di Jepang,
setelah gempa 8,4 pada skala Richter.
4. Tahun 887: Ninna Nankai, Jepang, tsunami melantakkan Kyoto. Pantai dan
teluk Osaka rusak berat.
5. Tahun 1361: Shuhei Nankai, Jepang, gempa 8,4 SR dan tsunami Nankaido
menewaskan 660 orang, menghancurkan 1.700 rumah.
6. Tahun 1541: Nueva Cadiz, Venezuela, Kota Nueva Cádiz, yang berpenghuni
1.500 orang, disapu gempa dan tsunami.
7. Tahun 1605: Keich, Nankaido, Jepang, gempa 8,1 SR dan tsunami 30 meter
menenggelamkan 5.000 orang.
8. Tahun 1700: Pulau Vancouver, Kanada, gempa Cascadia, yang berkekuatan
9 MW, menyebabkan tsunami besar yang merambat ke Pasifik Barat Laut
hingga ke Jepang.
sekeliling Samudera Hindia sedang membangun Indian Ocean Tsunami Warning System
(IOTWS) yang akan berpusat di Indonesia (https://id.wikipedia.org/wiki/Tsunami).
3
9. Tahun 1707: Jepang, gempa 8,4 SR memicu tsunami 25,7 meter yang
menghantam Kochi Prefecture, menghancurkan 29 ribu rumah dan
menewaskan lebih dari 50 ribu orang.
10. Tahun 1755: Lisabon, Portugal, tsunami setinggi 15 meter menewaskan
ratusan ribu orang. Dalam empat jam, gelombang tsunami sampai ke
Cornwall, Inggris, sejauh 1.600 kilometer.
11. Tahun 1771: Kepulauan Yaeyama, Okinawa, Jepang, tsunami setinggi 85
meter menenggelamkan belasan ribu orang.
12. Tahun 1792: Gunung Unzen, Kyushu, Jepang, letusan gunung api
menyebabkan tanah longsor, yang menimbulkan tsunami setinggi 100
meter (megatsunami kecil).
13. Tahun 1833: Sumatera, Hindia Belanda (Indonesia), gempa berkekuatan
8,8-9,2 SR mengakibatkan tsunami besar yang menyapu pesisir barat
Sumatera.
14. Tahun 1854: Nankai, Tokai, dan Kyushu, Jepang, gempa Ansei terdiri atas
dua gempa 8,4 SR dan satu gempa 7,4 SR dalam tiga hari, yang
menghasilkan gelombang setinggi 28 meter dan menewaskan 100 ribu
orang.
15. Tahun 1868: Kepulauan Hawaii, gempa 7,5 SR memicu longsor Gunung
Mauna Loa, yang memicu tsunami setinggi 18 meter. Tsunami menyapu
semua rumah dan manusia di pulau itu.
4
16. Tahun 1868: Arica, Cile, gempa 8,5 SR di palung laut Peru-Cile
melahirkan tsunami yang menerjang pelabuhan Arica dan Peru,
menewaskan 70 ribu orang.
17. Tahun 1883: Krakatau, Selat Sunda, Hindia Belanda (Indonesia), muntahan
magma Krakatau menyebabkan dasar laut runtuh dan menimbulkan
tsunami hingga 40 meter di atas permukaan laut. Tsunami menerjang
Samudra Hindia dan Pasifik hingga ke pantai barat Amerika dan Amerika
Selatan.
18. Tahun 1896: Meiji Sanriku, Jepang, tsunami mencapai 30 meter dan
menewaskan 27 ribu orang.
19. Tahun 1923: Kanto, Jepang, gempa besar Kanto meratakan Tokyo,
Yokohama, dan sekitarnya, diikuti tsunami 12 meter.
20. Tahun 1958: Teluk Lituya, Alaska, Amerika, gempa menyebabkan
megatsunami setinggi 520 meter.
21. Tahun 1960: Valdivia, Cile, gempa terbesar, 9,5 SR di lepas pantai Cile
memicu tsunami paling dahsyat pada abad ke-20. Gelombang setinggi 25
meter menyebar ke Samudra Pasifik hingga pantai Sanriku, Jepang, 22
jam kemudian. Lebih dari 6.000 orang di seluruh dunia tewas.
22. Tahun 1964: Alaska, Amerika, gempa 9,2 SR mengguncang Alaska, British
Columbia, California, dan kota pantai di barat laut Pasifik serta
menimbulkan tsunami lebih dari 30 meter.
23. Tahun 2004: Pantai barat Aceh, Samudra Hindia, pada 26 Desember,
gempa 9,1 SR menimbulkan tsunami besar yang menewaskan 166 ribu di
Aceh dan 320 ribu orang dari delapan negara yang dilewati gelombang itu
5
hingga ke Thailand, pantai timur India, Sri Lanka, bahkan pantai timur
Afrika di Somalia, Kenya, dan Tanzania.
24. Tahun 2005: Nias, Indonesia, gempa 8,7 SR di lepas pantai Nias
menewaskan 1.300 orang.
25. Tahun 2006: Pangandaran, Indonesia, gempa 7,7 SR mengguncang dasar
Samudra Hindia, 200 km selatan Pangandaran, memicu gelombang tinggi
hingga 6 meter di Pantai Cimerak. Sekitar 800 orang dilaporkan hilang.
26. Tahun 2007: Kepulauan Solomon, gempa 8,1 SR dekat Kepulauan
Solomon menimbulkan tsunami setinggi 5 meter, yang menyebar hingga
ke Jepang, Selandia Baru, dan Hawaii.
27. Tahun 2011: Sendai, Jepang, gempa kekuatan 8,9 SR di pesisir timur
Honshu, Jepang, memicu tsunami setinggi 10 meter dan menyebar ke
Samudra
Pasifik.
(sumber:
https://m.tempo.co/read/news/2011/03/12
12/095319473/27-tsunami-dahsyat-yang-pernah-mengguncang-dunia).
Kembali ke peristiwa tsunai di Aceh. Pada hari Minggu pagi, 26
Desember 2004, di berbagai kawasan di Aceh mengalami bencana alam gempa
bumi yang mencapai 9,3 skala Ritcher, yang kemudian menimbulkan tsunami3
yang mengakibatkan kurang lebih 500.000 nyawa melayang dalam sekejap di
seluruh tepian pesisir pantai Aceh yang berbatasan langsung dengan Samudera
Hindia. Di daerah Aceh merupakan korban jiwa terbesar di dunia dan ribuan
bangunan hancur lebur, ribuan mayat hilang (tidak ditemukan), dan ribuan
3
Dalam skripsi ini kata tsunami ditulis dengan huruf miring (italics) hanya pada kata
pertama di setiap bab saja, tidak keseluruhannya, untuk mengefektifkan penulisan. Huruf
miring ini biasanya merujuk kepada istilah bukan bahasa Indonesia, seperti bahasa etnik
(daerah) dan juga asing. Huruf miring juga digunakan untuk menguatkan tekanan tifografis.
Lebih lanjut lihat pada PUEBI (Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia) yang dikeluarkan
oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan tahun 2015.
6
mayat pula dikuburkan secara massal. Gempa terjadi tepatnya jam 07.58.53
WIB, pusat gempa terletak pada bujur 3.316o N 95.854 o E kurang lebih sebelah
barat Aceh sedalam 10 kilometer di bawah permukaan laut. Gempa ini
berkekuatan 9,3 dalam skala richter4 dan dengan ini merupakan gempa bumi
terdahsyat dalam kurun waktu 40 tahun terakhir yang menghantam Aceh,
Pantai Barat Semenanjung Malaysia, Thailand, Pantai Timur India, Sri Lanka,
bahkan sampai pantai Timur Afrika. Kepanikan ini terjadi dalam hitungan 500600 detik (sekitar 10 menit). Beberapa pakar gempa menganologikan kekuatan
gempa ini mampu membuat seluruh bola bumi bergetar di atas 1 cm. Gempa
yang berpusat di tengah Samudera Indonesia ini juga memicu gempa bumi di
berbagai belahan dunia. Begitu dahsyatnya bencana alam tsunami ini, hingga
samapai sekarang memori masyarakat Aceh, Indoneia, bahkan dunia masih
terus terkenang peristiwa tersebut, terutama setiap tanggal 26 Desember setiap
tahunnya.
Di sisi lain, selain dari dampak fisik, psikologis, terdapat pula peristiwa
lainnya, sebagai ekspresi dari kearifan lokal setempat, khususnya di Simeuleu,
dalam merespons bencana tsunami ini. Di pulau Simeulue yang letaknya
4
Skala Richter atau disingkat SR dapat didefinisikan sebagai logaritma (basis 10) dari
amplitudo maksimum, yang diukur dalam satuan mikrometer, dari rekaman gempa oleh
instrumen pengukur gempa (seismometer) Wood-Anderson, pada jarak 100 km dari pusat
gempanya. Sebagai contoh, misalnya kita mempunyai rekaman gempa bumi (seismogram) dari
seismometer yang terpasang sejauh 100 km dari pusat gempanya, amplitudo maksimumnya
sebesar 1 mm, maka kekuatan gempa tersebut adalah log (10 pangkat 3 mikrometer) sama
dengan 3,0 skala Richter. Skala ini diusulkan oleh fisikawan Charles Richter. Untuk
memudahkan orang dalam menentukan skala Richter ini, tanpa melakukan perhitungan
matematis yang rumit, dibuatlah tabel sederhana seperti gambar di samping ini. Parameter yang
harus diketahui adalah amplitudo maksimum yang terekam oleh seismometer (dalam
milimeter) dan beda waktu tempuh antara gelombang-P dan gelombang-S (dalam detik) atau
jarak antara seismometer dengan pusat gempa (dalam kilometer). Dalam gambar di samping ini
dicontohkan sebuah seismogram mempunyai amplitudo maksimum sebesar 23 milimeter dan
selisih antara gelombang P dan gelombang S adalah 24 detik maka dengan menarik garis dari
titik 24 dt di sebelah kiri ke titik 23 mm di sebelah kanan maka garis tersebut akan memotong
skala 5,0. Jadi skala gempa tersebut sebesar 5,0 skala Richter.
7
sekitar 150 km dari lepas pantai barat Aceh dan berada di atas pertemuan
lempeng Asia-Australia dan Samudra Hindia ini, hanya tujuh orang warga
pulau Simeulue yang meninggal dunia. Salah satu faktor kultural adalah
nenek moyang orang Simeulue telah mewariskan nandong smong.
Nandong smong adalah sebuah genre nyanyian rakyat Simeulue Aceh,
yang dapat dikelompokkan kepada cerita rakyat (folklor)5 berupa penjelasan
atau narasi multi-indeksikal mengenai situasi alam yang dikenali dengan
tsunami. Dalam nyanyian ini terkandung ajaran budaya, jika terjadi gempa,
kemudian
terdapat
ombak
besar
di
lautan,
dan
ombak
tersebut
menenggelamkan kampung, kemudian terjadi lagi gempa yang kuat, dan air
laut surut, maka dinasehatkan agar seluruh masyarakat di kawasan ini segera
lari ke tempat yang tinggi, agar selamat dari bencana alam, yang kemudian
secara internasional disebut dengan tsunami.
Peristiwa alam berupa tsunami ini juga direspons oleh masyarakat Aceh
pada umumnya dan termasuk Simeulue yang religius. Di dalam ajaran Islam,
mengenai bencana (termasuk tsunami ini) juga dijelaskan di berbagai ayatnya.
Salah satu ayat Al-Quran adalah Surah Al An’aam ayat 63.
5
Folklor secara umum dapat dikonsepkan sebagai cerita rakyat, yakni cerita yang
berkembang di dalam kebudayaan rakat. Dari bentuk atau genre folklor, yang paling banyak
diteliti para ahli folklor adalah cerita prosa rakyat. Menurut William R. Bascom, ceritera prosa
rakyat dapt dibagi ke dalam tiga golongan besar, yaitu: (1) mite (myth), (2) legenda (legend)
dan (3) dongen (folktale). Mitos adalah ceritera prosa rakyat yag dianggap benar-benar terjadi
serta dianggap suci oleh yang empunya cerita. Mite ditokohi oleh para dewa atau makhluk
setengah dewa. Peristiwa terjadi di dunia lain, atau di dunia yang bukan seperti kita kenal
sekarang, dan terjadi pada masa lampau. Di sisi lain, legenda adalah prosa rakyat yang
mempunyai ciri-ciri yang mirip dengan mite, yaitu dianggap pernah benar-benar terjadi, tetapi
tidak dianggap suci—namun legenda ditokohi oleh manusia, meski kadangkala memiliki sifatsifat luar biasa, dan sering juga dibantu makhluk-makhluk ajaib. Tempat terjadinya adalah di
dunia seperti yang kita kenal sekarang, waktu terjadinya belu begitu lama. Konsep mengenai
dogeng adalah prosa rakyat yang tidak dianggap benar-benar terjadi oleh yang empunya cerita,
tidak terikat oleh waktu dan ruang (lihat lebih lanjut Bascom 1965:3-20). Parafrase pengertian
tiga bentuk ceritera rakyat ini lihat James Danandjaja (1984:50-51).
8
63. Katakanlah: "Siapakah yang dapat menyelamatkan kamu dari
bencana di darat dan di laut, yang kamu berdoa kepada-Nya dengan
rendah diri dengan suara yang lembut (dengan mengatakan:
"Sesungguhnya jika Dia menyelamatkan kami dari (bencana) ini,
tentulah kami menjadi orang-orang yang bersyukur."
Ayat Al-Quran di atas meberikan penjelasan bahwa Allah menurunkan
bencana baik di darat maupun di laut (dalam hal ini tsunami dari laut). Setiap
yang ditimpa bencana sudah seharusnya berrdoa dengan rendah diri dan
dengan suara yang lembut. Kemudian selepas Allah menyelematkan mereka
maka jadilah mereka manusia yang bersyukur. Nandong smong juga selain
sebagai pembelajaran tentang apa itu tsunami, juga di dalmnya mengandung
unsur-unsur doa, agar manusia diselamatkan dari bencana tsunami.
Menurut penjelasan para informan, berangkat dari bencana alam serupa
yang terjadi pada tahun 1833 dan 1907 para leluhur di kepulauan ini
mewariskan kisah nyata yang mengisahkan tentang tsunami, apabila terjadi
gempa besar, air laut surut, dan hewan berlarian ke gunung, maka seluruh
penduduk diwajibkan juga untuk segera berlari ke dataran tinggi yang lebih
tinggi, guna untuk menghindari hantaman ombak laut yang dahsyat. Para
pendahulu kami mewariskan ini melalui sebuah nyanyian yang disebut sebagai
nandong smong.
Dari beberapa teks dari nandong smong salah satu cuplikan di
antaranya adalah sebagai berikut.
9
Unen ne alek linon
Fesang bakat ne mali
Manoknop sao hampong
Tibo-tibo mawi
Diawali oleh gempa
Disusul ombak yang besar sekali
Tenggelam seluruh kampung
Tiba-tiba saja
Anga linon ne mali
Uwek suruik sahuli
Maheya mihawali
Fano me singa tenggi
Jika gempanya kuat
Disusul air yang surut
Segeralah cari
Tempat kalian yang lebih tinggi
Teks nandong smong di atas adalah menceritakan tentang jikalau kejadian alam
terjadi seperti itu, maka bersiap-siaplah semuanya untuk menyelamatkan diri di
tempat yang lebih tinggi untuk menghindari bencana alam, yang kemudian
disebut tsunami.
Secara musikal, nandong smong ini mengutamakan komunikasi tekstual
dibanmdingkan musikalnya. Secara etnomusikologis, nandong smong ini dapat
dikategorikan sebagai musik yang logogenik,6 yakni lebih mengutamakan
sajian teks dibandingkan melodi atau ritmenya. Tujuan utama adalah
memberikan arah bagaimana merespons gejala alam berupa bencana tsunami.
Seterusnya nanadong smong ini, apabila dikaitkan dengan konteks
kebudayaan di mana ia hidup, maka memiliki guna dan fungsi. Di antara guna
nandong smong adalah belajar secara budaya apa itu tsunami dan bagaimana
6
Logogenik adalah sebuah penajian music dalam konteks kebudayaan yang
mengutamakan teks atau lirik, sehingga berkaitan erat dengan seni sastra dan bahasa. Di dalam
kebudayaan masyarakat Sumatera Utara, sebagai contoh dalam budaya Angkola dan
Mandailing dikenal musik onang-onang dan jeir, dalam kebudayaan Pesisir dikenal
sikambang, di dalam masyarakat Melayu ditemukan syair, gurindam, nazam, sinandong, dan
masih banyak lagi yang lainnya. Sebaliknya terdapat pula sajian musik melogenik, yaitu
mengutamakan sajian musik itu sendiri dalam bentuk ritme, melodi, harmoni, atau gabungan
keseluruhannya. Dalam tekik sajian demikian, unsur teks (lirik) lagu tidak diutamakan. Di
dalam kebudayaan masarakat Sumatera Utara, sajian seperti ini contohnya adalah gordang
sambilan, gordang tano (Angkola dan Mandailing), ensambel genderang sipitu-pitu (Pakpak
dan Dairi), gondang sabangunan (Batak Toba), dan lain-lainnya.
10
menyelematkan diri dari bencana tsunami. Lebih jauh, fungsi nandong smong
adalah sebagai sarana penyelamatan diri dari bencana tsunami, kontinuitas
generasi manusia, menjaga hubungan manusia dengan manusia, juga dengan
alam, dan termasuk manusia dengan Tuhan, yang di dalam konsep masyarakat
Simeulue yang berpegang kepada ajaran Islam adalah menjaga hubungan
horizontal yang disebut hablum minannas dan hubungan vertikal yang
diistilahkan dengan hablum minallah. Fungsi lainnya dari nandong smong
adalah melestarikan kebudayaan Simeulue, memperkuat identitas kebudayaan,
sebagai sarana komunikasi, hiburan, dan lain-lainnya.
Selain itu, menurut pengalaman penulis, nandong smong ini selama
sekitar dua dasawarsa terakhir selalu disajikan dalam bentuk seni pertunjukan.
Misalnya untuk menyambut tetamu di Simeulue, peresmian gedung baru,
pertunjukan budaya, dan sejenisnya. Perkembangan ini adalah sebagai salah
satu tujuan sosialisasi nandong smong di dalam masyarakat, juga memperkuat
identitas kebudayaan Simeulue yang memiliki ciri khasnya, dan juga fungsi
merespons gejala alam akan terjadinya bencana tsunami, dan lain-lainnya.
Kalau dikaji lebih jauh, nandong smong ini mengandung berbagai
kearifan lokal (local wisdom). Kearifan lokal atau sering disebut local wisdom
dapat dipahami sebagai usaha manusia dengan menggunakan akal budinya
(kognisi) untuk bertindak dan bersikap terhadap sesuatu, objek, atau peristiwa
yang terjadi dalam ruang tertentu. Pengertian di atas, disusun secara etimologi,
di mana wisdom dipahami sebagai kemampuan seseorang dalam menggunakan
akal pikirannya dalam bertindak atau bersikap sebagai hasil penilaian terhadap
11
sesuatu, objek, atau peristiwa yang terjadi. Sebagai sebuah istilah wisdom
sering diartikan sebagai kearifan.
Local secara spesifik menunjuk pada ruang interaksi terbatas dengan
sistem nilai yang terbatas pula. Sebagai ruang interaksi yang sudah didesain
sedemikian rupa yang di dalamnya melibatkan suatu pola-pola hubungan
antara manusia dengan manusia atau manusia dengan lingkungan fisiknya. Pola
interaksi yang sudah terdesain tersebut disebut setting. Setting adalah sebuah
ruang interaksi tempat seseorang dapat menyusun hubungan-hubungan face to
face dalam lingkungannya. Sebuah setting kehidupan yang sudah terbentuk
secara langsung akan memproduksi nilai-nilai. Nilai- nilai tersebut yang akan
menjadi alasan hubungan mereka atau menjadi acuan tingkah laku mereka
(http://ibda.files.wordpress.com/2008/04/2-landasan-keilmuan-kearifanlokal.pdf, diunduh 2 Maret 2015).
Kearifan lokal menurut Ridwan (2008), merupakan pengetahuan yang
muncul dari periode panjang yang berevolusi bersama-sama masyarakat dan
lingkungannya dalam sistem lokal yang sudah dialami bersama-sama. Proses
evolusi yang begitu panjang dan melekat dalam masyarakat dapat menjadikan
kearifan lokal sebagai sumber energi potensial dari sistem pengetahuan kolektif
masyarakat untuk hidup bersama secara dinamis dan damai. Pengertian ini
melihat kearifan lokal tidak sekadar sebagai acuan tingkah-laku seseorang,
tetapi lebih jauh, yaitu mampu mendinamisasi kehidupan masyarakat penuh
keadaban.
Dalam kerangka kajian terhadap nandong smong ini, maka menurut
penulis terdapat berbagai kearifan lokal. Di antaranya adalah: (1) kearifan
12
manusia menjaga hubungan dengan alam, (2) kearifan merespon tanda-tanda
alam yang akan menimbulkan bencana tsunami, (3) kearifan pendidikan
kosmologis kepada generasi berikutnya, (4) kearifan menjaga identitas
kebudayaan lokal, dan lain-lain.
Dengan memperhatikan hal-hal di atas, maka penulis tertarik untuk
meneliti lebih lanjut dalam bentuk karya ilmiah dengan pendekatan
etnomusikologis. Etnomusikologi adalah sebuah ilmu yang mengkaji musik
dalam konteks kebudayaan. Nandong smong ini sangat relevan untuk dikaji
secara ilmiah melalui disiplin etnomusikologi, dengan fokus kajian musik di
dalam konteks kebudayaan, baik secara struktural dari disiplin musikologi,
maupun secara kontekstual dari disiplin antropologi (etnologi), seperti yang
didefinisikan oleh Merriam, sebagai berikut.
Ethnomusicology carries within itself the seeds of its own
division, for it has always been compounded of two distinct
parts, the musicological and the ethnological, and perhaps its
major problem is the blending of the two in a unique fashion
which emphasizes neither but takes into account both. This dual
nature of the field is marked by its literature, for where one
scholar writes technically upon the structure of music sound as
a system in itself, another chooses to treat music as a
functioning part of human culture and as an integral part of a
wider whole. At approximately the same time, other scholars,
influenced in considerable part by American anthropology,
which tended to assume an aura of intense reaction against the
evolutionary and diffusionist schools, began to study music in
its ethnologic context. Here the emphasis was placed not so
much upon the structural components of music sound as upon
the part music plays in culture and its functions in the wider
social and cultural organization of man. It has been tentatively
suggested by Nettl (1956:26-39) that it is possible to
characterize German and American "schools" of ethnomusicology, but the designations do not seem quite apt. The
distinction to be made is not so much one of geography as it is
one of theory, method, approach, and emphasis, for many
13
provocative studies were made by early German scholars in
problems not at all concerned with music structure, while
many American studies have been devoted to technical
analysis of music sound (Merriam 1964:3-4).7
Apa yang dikemukakan oleh Merriam seperti kutipan di atas, bahwa
para pakar atau ahli etnomusikologi membawa dirinya sendiri kepada benihbenih pembagian ilmu, yaitu musikologi dan antropologi. Selanjutnya dalam
memfusikan kedua disiplin ini, maka dalam etnomusikologi akan menimbulkan
kemungkinan-kemungkinan masalah besar dalam rangka mencampur kedua
disiplin itu, tentu saja setiap etnomusikolog akan berada dalam fokus keahlian
ilmu pada salah satu bidangnya saja, tetapi tetap mengandung kedua disiplin
tersebut.
Sifat dualisme lapangan studi etnomusikologi ini, dapat ditandai dari
bahan-bahan bacaan yang dihasilkannya. Katakanlah seorang sarjana
etnomusikologi menulis secara teknis tentang struktur suara musik sebagai
suatu sistem tersendiri. Di lain sisi, sedangkan sarjana lain memilih untuk
memperlakukan
musik sebagai
suatu
bagian dari fungsi kebudayaan
manusia, dan sebagai bagian yang integral dari keseluruhan kebudayaan.
Di dalam masa yang sama, beberapa sarjana dipengaruhi secara luas oleh
para pakar antropologi Amerika, yang cenderung
untuk mengasumsikan
kembali suatu reaksi terhadap aliran-aliran yang mengajarkan teori-teori
evolusioner difusi, dimulai
dengan
7
melakukan studi musik
dalam
Di dalam konteks pengaplikasian disiplin etnomusikologi di Indonesia dan dunia,
terdapat sebuah buku yang terus populer sampai sekarang ini, dalam realitasnya menjadi
“bacaan wajib ” bagi para pelajar dan mahasiswa etnomusikologi seluruh dunia, dengan
pendekatan kebudayan, fungsionalisme, strukturalisme, sosiologis, dan lain-lainnya, yaitu
karya Alan P. Merriam, yang bertajuk The Anthropology of Music. Buku yang diterbitkan
tahun 1964 oleh North Western University di Chicago Amerika Serikat ini, menjadi semacam
“karya utama” di antara karya-karya yang berciri khas etnomusikologis.
14
konteks etnologisnya. Dalam kerja yang seperti ini, penekanan etnologis yang
dilakukan para sarjana ini lebih luas dibanding dengan kajian struktur
komponen suara musik sebagai suatu bagian dari permainan musik dalam
kebudayaan, dan fungsi-fungsinya dalam organisasi sosial dan kebudayaan
manusia yang lebih luas.
Hal tersebut telah disarankan secara bertahap oleh Bruno Nettl yaitu
terdapat kemungkinan karakteristik "aliran-aliran"
Jerman dan
melakukan
Amerika,
etnomusikologi
yang sebenarnya tidak persis sama.
studi etnomusikologi ini, tidak begitu berbeda, baik
di
Mereka
dalam
geografi, teori, metode, pendekatan, atau penekanannya. Beberapa studi
provokatif
awalnya
dilakukan
oleh
para sarjana
Jerman.
Mereka
memecahkan masalah-masalah yang bukan hanya pada semua hal yang
berkaitan dengan struktur musik saja.
Para
sarjana
Amerika telah
mempersembahkan teknik analisis suara musik.
Dari kutipan di atas tergambar dengan jelas bahwa etnomusikologi
dibentuk dari dua disiplin ilmu dasar yaitu antropologi dan musikologi.
Walaupun terdapat variasi penekanan bidang yang berbeda dari masingmasing ahlinya.
Namun terdapat persamaan
bahwa mereka
sama-sama
berangkat dari musik dalam konteks kebudayaannya.
Secara khusus, mengenai beberapa definisi tentang etnomusikologi
telah dikemukakan dan dianalisis oleh para pakar etnomusikologi. Pada tulisan
edisi berbahasa Indonesia, Rizaldi Siagian dari Universitas Sumatera Utara
(USU) Medan, dan Santosa dari Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI)
Surakarta, telah mengalihbahasakan berbagai definisi etnomusikologi, yang
15
terangkum dalam buku yang bertajuk Etnomusikologi, tahun 1995, yang diedit
oleh Rahayu Supanggah, terbitan Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia, yang
berkantor pusat di Surakarta. Dalam buku ini, Alan P. Merriam mengemukakan
42 definisi etnomusikologi dari beberapa pakar, menurut kronologi sejarah
dimulai oleh Guido Adler 1885 sampai Elizabeth Hesler tahun 1976.8
Dari semua penujelasan tentang apa itu etnomusikologi, maka dapatlah
ditarik kesimpulan bahwa etnomusikologi adalah sebuah disiplin ilmu
pengetahuan yang merupakan hasil fusi dari antropologi (etnologi) dan
musikologi, yang mengkaji musik baik secara struktural dan juga sebagai
fenomenal sosial dan budaya manusia di seluruh dunia. Para ahlinya (lulusan
sarjana etnomusikologi atau peringkat magister dan doktoral) disebut sebagai
etnomusikolog. Ilmu ini sangat relevan dalam mengkaji musikal, tekstual,
fungsional, dan kearifan yang terkandung di dalam nandong smong pada
kebudayaan masyarakat Simeulue.
Oleh sebab itu, timbul pertanyaan di benak penulis, apakah sebenarnya
pengertian smong bagi masyarakat pendukungnya yakni etnik Simeulue?
8
Buku tersebut ini disunting oleh seorang etnomusikolog dari Institut Seni Indonesia
(ISI) Surakarta, yaitu R. Supanggah, diterbitkan tahun 1995, dengan judul ringkas
Etnomusikologi. Diterbitkan di Surakarta oleh Yayasan bentang Budaya, Masyarakat Seni
Pertunjukan Indonesia. Buku ini merupakan kumpulan enam tulisan oleh empat pakar
etnomusikologi (Barat) seperti: Barbara Krader, George List, Alan P. Merriam, dan K.A.
Gourlay; yang dialihbahasakan oleh Santosa dan Rizaldi Siagian. Dalam buku ini Alan P.
Merriam menulis tiga artikel, yaitu: (a) “Beberapa Definisi tentang ‘Musikologi Komparatif’
dan ‘Etnomusikologi’: Sebuah Pandangan Historis-Teoretis,” (b) “Meninjau Kembali Disiplin
Etnomusikologi,” (c) “Metode dan Teknik Penelitian dalam Etnomusikologi.” Sementara
Barbara Krader menulis artikel yang bertajuk “Etnomusikologi.” Selanjutnya George List
menulis artikel “Etnomusikologi: Definisi dalam Disiplinnya.” Pada akhir tulisan ini K.A.
Gourlay menulis artikel yang berjudul “Perumusan Kembali Peran Etnomusikolog di dalam
Penelitian.” Buku ini barulah sebagai alihbahasa terhadap tulisan-tulisan etnomusikolog
(Barat). Ke depan, dalam konteks Indonesia diperlukan buku-buku panduan tentang
etnomusikologi terutama yang ditulis oleh anak negeri, untuk kepentingan perkembangan
disiplin ini. Dalam ilmu antropologi telah dilakukan penulisan buku seperti Pengantar Ilmu
Antropologi yang ditulis antropolog Koentjaraningrat, diikuti oleh berbagai buku antropologi
lainnya oleh para pakar generasi berikut seperti James Dananjaya, Topi Omas Ihromi, Parsudi
Suparlan, Budi Santoso, dan lain-lainnya.
16
Bagaimanakah makna yang terkandung pada nandong smong tersebut? Pada
saat apa nandong smong tersebut dinyanyikan? Benarkah smong merupakan
kearifan lokal? Dengan demikian penulis memberi judul skripsi ini dengan
“Nandong Smong Seni Warisan Suku Simeulue di Desa Sukamaju Simeulue
sebagai Sarana Penyelamatan Manusia dari Bencana Tsunami: Kajian Musikal,
Tekstual, Fungsional dan Kearifan Lokal.”
1.2
Pokok Permasalahan
Penulis membatasi pokok permasalahan dalam penulisan skripsi ini,
agar penulisan ini lebih terarah nantinya. Adapun pokok permasalahan tersebut
adalah:
1.
Bagaimanakah struktur musikal nandong smong pada suku Simeulue di
Desa Sukamaju?
2.
Bagaimanakah makna tekstual yang terkandung dalam nandong smong
pada suku Simeulue di Desa Sukamaju?
3.
Sejauh apa fungsi
nandong smong pada suku Simeulue di Desa
Sukamaju?
4.
Kearifan lokal seperti apa yang terkandung dalam nandong smong pada
suku Simeulue di Desa Sukamaju?
1.3
Tujuan dan Manfaat
1.3.1 Tujuan
Penulis memiliki beberapa tujuan dalam penulisan skripsi ini. Berikut
adalah tujuan tersebut:
17
1.
Mengetahui dan menganalisis makna tekstual yang terkandung dalam
nandong smong pada suku Simeulue di Desa Sukamaju.
2.
Mengetahui dan menganalisis struktur musikal nandong smong pada suku
Simeulue di Desa Sukamaju.
3.
Mengetahui dan menganalisis sejauh apa fungsi nandong smong pada
suku Simeulue di Desa Sukamaju?
4.
Mengetahui dan menganalisis kearifan lokal seperti apa yang terkandung
dalam nandong smong pada suku Simeulue di Desa Sukamaju?
1.3.2 Manfaat
Penulis berharap skripsi ini dapat bermanfaat bagi:
1. Pemerintah Daerah
Penelitian ini diharapkan dapat membantu pemerintah daerah dalam
melestarikan budaya lokal dengan menjadikan skripsi ini kedalam
sebuah buku.
2. Kalangan Akademis
Penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan dan pengetahuan
kalangan akademis mengenai tradisi lisan Smong yang ada di Simeulue.
3. Penulis
Manfaat penelitian ini bagi penulis adalah menambah wawasan tentang
Smong yang merupakan tradisi lisan dari kampung halaman penulis.
18
1.4
Konsep dan Teori
Agar jelas pemahaman mengenai konsep dan teori, maka di dalam
skripsi ini dijelaskan dua terminologi tersebut. merupakan unsur pokok dari
suatu penelitian. Merton mendefenisikan sebagai berikut: “Konsep merupakan
definisi dari apa yang perlu diamati. Seterusnya, konsep menentukan antara
variabel-variabel mana kita ingin menentukan hubungan empiris” (Merton,
1963:89).
Selanjutnya yang dimaksud dengan teori yang menjadi dasar acuan di
dalam skripsi ini adalah merujuk kepada uraian Sumantri (1993:143), yang
menurutnya, teori merupakan landasan atau kerangka berfikir dalam membahas
permasalahan.
Teori juga merupakan pengetahuan ilmiah yang mencakup
penjelasan mengenai suatu faktor tertentu dari sebuah disiplin keilmuan. Tanpa
teori hanya ada pengetahuan tentang serangkaian fakta saja, tetapi tidak akan
ada ilmu pengetahuan.
1.4.1 Konsep
Di dalam skripsi ini konsep yang perlu dijelaskan adalah: (1) nandong,
(2) smong, (3) tekstual, (4) musikal, (5) fungsional, dan (6) kearifan lokal.
Penjelasan ini diperlukan untuk lebih mengarahkan tema penelitian yang
penulis lakukan.
Yang pertama, nandong merupakan salah satu kesenian tradisional
yang ada di Kabupaten Simeulue. Belum ada buku yang menuliskan tentang
arti dari kata nandong, penulis sebagai putra daerah Simeulue berpendapat
19
bahwa kata “nandong” diambil dari bahasa Indonesia, yaitu “senandung.”
Senandung berarti nyanyian atau alunan lagu dengan suara lembut untuk
menghibur diri atau menidurkan bayi. Oleh karena bahasa yang digunakan
mirip seperti minang yang bnayak menggunakan huruf vocal “O”, kata
senandung perlahan berubah menjadi “senandong” hingga menjadi kebiasaan
masyarakat menyebut nandong. Jadi, nandong adalah nyanyian atau alunan
lagu
yang dinyanyikan dengan makna
lirik
yang
bertujuan untuk
mengingatkan, menasehati, dan memberitahu kepada penonton tentang
kehidupan sehari-hari.
Kedua, istilah smong berasal dari bahasa Simeulue yang artinya air laut
naik ketika gempa bumi atau lebih dikenal dengan istilah tsunami (dalam
bahasa Jepang). Jadi, nandong smong adalah jenis nyanyian atau alunan lagu
yang berkisah tentang peristiwa tsunami yang menghantam pulau Simeulue
pada tahun 1833 dan 1907 silam. Oleh karena itu, pada peristiwa tsunami yang
terjadi tahun 2004 lalu sebagian besar masyarakat suku Simeulue dapat
selamat. Dari nyanyian tersebut akan menghasilkan suatu makna. Makna
tersebut adalah suatu yang tersirat dibalik bentuk dan aspek isi dari suatu kata
atau teks yang kemudian terbagi menjadi dua bagian, yaitu makna konotatif
dan makna denotatif. Makna konotatif adalah makna kata yang terkandung arti
tambahan sedangkan makna denotatif adalah kata yang tidak mengandung arti
tambahan atau disebut makna sebenarnya (Keraf, 1991:25).
Ketiga musikal, yang merupakan usnur serapan dari bahasa Inggris
musical. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata musikal berarti: (1)
berkenaan dengan musik, (2) mempunyai kesan musik, (3) mempunyai rasa
20
peka terhadap musik. Dalam skripsi sarjana ini, konsep musikal dikaitan dan
merujuk kepada nandong smong. Dalam hal ini nandong smong berkait dengan
musik, di dalamnya memiliki unsur-unsur nada dan waktu. Nandong smong
juga memiliki kesan sebagai musik, dalam hal ini adalah teks yang dinyanyikan
yang berakar dari tradisi nyanyian Simeulue. Nandong smong juga bagi
masyarakat pendukungnya dirasakan memiliki aspek musik, yang bagi
senimannya haruslah peka terhadap melodi dan ritme nandong smong ini.
Keempat istilah tekstual, yang juga merupakan unsur serapan dari
bahasa Inggris, textual. Tekstual adalah kata sifat dari teks. Di dalam Kamus
Umum Bahasa Indonesia, yang dimaksud teks adalah: (1) naskah yang berupa
a. kata-kata asli dari pengarang; b. kutipan dari kitab suci untuk pangkal ajaran
atau alasan; c. bahan tertulis untuk memberikan pelajaran, berpidato, dean
sebagainya. (2) wacana tertulis. Dalam konteks penelitian ini, aspek tekstual
nandong smong dikaitkan dengan teks (naskah) tradisi yang diwariskan secara
lisan berupa nyanyian, juga kutipan dari ajaran adat berupa teks mengenai
tsunami dan cara menyelamatkan diri dsari bencana tsunami tersebut. Juga teks
sebagai sarana pembelajaran tentang apa itu tsunami dan cara menyelamatkan
diri dari bencana yang ditimbulkannya. Teks nandong smong adalah wacana
kelisanan, yang pada masa sekarang sudah dituliskan.
Kelima fungsional di dalam bahasa Indonesia ini juga adalah sebagai
unsur serapan dari bahasa Inggris functional. Menurut Kamus Besar Bahasa
Indonesia (KBBI), yang dimaksud dengan fungsional adalah kata sifat yang
meksudnya (1) berdasarkan jabatan, (2) dilihat dari segi fungsi. Kemudian
yang dimaksud dengan fungsi adalah: (a) jabatan atau pekerjaan, (b) faal, yakni
21
kerja bagian-bagian tubuh, (3) dalam ilmu matematika berarti besaran yang
berhubungan, jika besaran yang satu berubah, maka besaran yang lain juga
berubah; (4) kegunaan suatu hal; (5) Di dalam ilmu linguistik berarti peran
sebuah unsur bahasa di satuan sintaksis yang lebih luas (seperti nomina
berfungsi sebagai subjek). Kata bentukan dari fungsi adalah kata kerja
berfungsi, yang artinya adalah (a) berkedudukan atau bertugas sebagai; dan (b)
berguna, menjalankan tugasnya. Dalam kaitannya dengan skripsi ini, yang
berkaitan dengan studi fungsional, maka kata fungsional merujuk bagaimana
nandong smong berperan, bertugas, berguna, memberikan dampak secara
sosiokultural kepada masyarakat pendukungnya, yakni masyarakat Simeulue,
khususnya di daerah penelitian.
Keenam kearifan lokal yang merupakan istilah yang sangat populer
beberapa tahun belakang ini di dalam ilmu-ilmu sosial dan budaya. Di dalam
bahasa Inggris keraifan lokal disebut dengan local wisdom. Terminologi
kearifan lokal adalah padanan dari bahasa Inggris local wisdom. Di dalam
kamus, kata bentukan ini terdiri dari dua kata, yaitu, kearifan (wisdom) dan
lokal (local). Dalam Kamus Inggris Indonesia karya John M. Echols dan
Hassan Shadily, kata local berarti setempat, sedangkan wisdom (kearifan) sama
dengan kebijaksanaan. Secara umum maka local wisdom (kearifan setempat)
dapat dipahami sebagai gagasan-gagasan setempat (local) yang bersifat
bijaksana, penuh kearifan, bernilai baik, yang tertanam dan diikuti oleh
segenap anggota masyarakatnya. Dalam konteks disiplin antropologi, dikenal
pula istilah sejenis yaitu local genius. Dalam bahasa Indonesia dapat
dimaknakan sebagai genius lokal.
22
Dalam sejarah perkembangan ilmu antropologi, terminologi local
genius ini merupakan istilah yang pada awalnya dikenalkan oleh Quaritch
Wales. Para antropolog membahas secara panjang lebar pengertian local genius
ini (lihat Ayatrohaedi, 1986). Antara lain Haryati Soebadio mengatakan bahwa
local genius adalah juga cultural identity, identitas kepribadian budaya bangsa
yang menyebabkan bangsa tersebut mampu menyerap dan mengolah
kebudayaan asing sesuai watak dan kemampuan sendiri (Ayatrohaedi,
1986:18-19). Sementara Moendardjito (Ayatrohaedi, 1986:40-41) mengatakan
bahwa unsur budaya daerah potensial sebagai local genius karena telah teruji
kemampuannya untuk bertahan sampai sekarang. Ciri-cirinya ada lima, yaitu
sebagai berikut:
(1) mampu bertahan terhadap budaya luar;
(2) memiliki kemampuan mengakomodasi unsur-unsur budaya luar;
(3) mempunyai kemampuan mengintegrasikan unsur budaya luar ke dalam
budaya asli;
(4) mempunyai kemampuan mengendalikan; dan
(5) mampu memberi arah perkembangan budaya.
Lebih jauh lagi, Gobyah (2003), mengatakan bahwa kearifan lokal
adalah kebenaran yang telah mentradisi atau ajeg dalam suatu daerah. Kearifan
lokal merupakan perpaduan antara nilai-nilai suci firman Tuhan dan berbagai
nilai yang ada. Kearifan lokal terbentuk sebagai keunggulan budaya
masyarakat setempat maupun kondisi geografis dalam arti luas. Kearifan lokal
merupakan produk budaya masa lalu yang patut secara terus-menerus dijadikan
23
pegangan hidup. Meskipun bernilai lokal tetapi nilai yang terkandung di
dalamnya dianggap sangat universal.
Menurut Caroline Nyamai-Kisia (2010), kearifan lokal adalah sumber
pengetahuan yang diselenggarakan dinamis, berkembang, dan diteruskan oleh
populasi tertentu yang terintegrasi dengan pemahaman mereka terhadap alam
dan budaya sekitarnya. Kearifan lokal adalah dasar untuk pengambilan
kebijakan pada peringkat lokal di berbagai bidang sosiobudaya, seperti:
kesehatan, pertanian, pendidikan, pengelolaan sumber daya alam, kegiatan
masyarakat pedesaan, penanganan bencana alam, dan lain-lainnya. Dalam
kearifan lokal, terkandung pula kearifan budaya lokal. Kearifan budaya lokal
sendiri adalah pengetahuan lokal yang sudah sedemikian menyatu dengan
sistem kepercayaan, norma, dan budaya, serta diekspresikan dalam tradisi dan
mitos yang dianut dalam jangka waktu yang lama.
Dalam konteks penelitian ini, maka nandong smong memiliki dan
mengandung kearifan-kearifan lokal, yang ditransmisikan berdasarkan tradisi
kelisanan, yang mengacu kepada dasar kebudayaan Simeulue adat bersendikan
syarak (agama Islam). Dalam hal ini seperti uraian di atas, kearifan lokal yang
terkabdung di dalam nandong smong adalah pemahaman tentang tsunami, cara
menyelamatkan diri dari tsunami, dan yang paling dalam adalah pengakuan
manusia Simeulue akan eksistensi Allah, yang menurunkan bencana dan
sekaligus ilmu menangani bencana tersebut, Dialah Tuhan Yang Maha Kuasa.
Ketujuh tradisi lisan, yang menurut Jan Vansina, dalam tulisannya
yang bertajuk Oral Tradition as History (1985:27-28), yang diterbitkan oleh
James Currey Publishers, New York, Amerika Serikat, mendefinisikan tradisi
24
lisan sebagai "pesan verbal berupa pernyataan yang dilaporkan dari masa silam
kepada generasi masa kini, dan pesan itu haruslah berupa pernyataan yang
dituturkan, dinyanyikan, atau diiringi alat musik. Lebih jauh menurutnya
haruslah ada penyampaian melalui tutur kata dari mulut sekurang-kurangnya
sejarak satu generasi.” Lebih jauh Vansina menyatakan bahwa definisi yang
diajukannya adalah yang berfungsi untuk kalangan sejarawan. Para sosiolog,
pakar bahasa, atau sarjana seni verbal mengajukan pendekatannya masingmasing, yang untuk kasus khusus (sosiologi) mungkin saja menekankan
pengetahuan umum, fitur kedua yaitu membedakan bahasa dari dialog
(bahasawan) biasa, dan fitur terakhir adalah bentuk dan isi yang mendefinisi
seni (pendongeng)."
1.4.2 Teori
Sesuai dengan empat pokok masalah seperi yang telah dikemukakan
pada pokok permasalah di bab ini, maka setiap pokok masalah dipecahkan
dengan menggunakan teori-teori. (1) Untuk pokok masalah musikal, digunakan
teori “bobot tangga nada” (weighted scale); (2) pokok malasah tekstual
digunalan teori semiotik. (3) Selanjutnya pokok masalah fungsional dengan
teori fungsioanl (penggunaan dan fungsi). Pokok masalah kearifan lokal
digunakan teori etnosains.
Teori merupakan pengetahuan ilmiah yang mencakup penjelasan
mengenai suatu faktor tertentu dari sebuah disiplin keilmuan (Sumantri
1993:143). Sebagai landasan teori dalam penelitian ini, penulis menggunakan
25
beberapa teori dari para ahli etnomusikolog serta antropolog dunia. Berikut
adalah beberapa teori tersebut.
1.4.2.1 Teori Weighted Scale
Untuk menganalisis musikal nandong smong digunakan “teori”
weighted scale. Pada prinsipnya teori weighted scale adalah teori yang lazim
dipergunakan di dalam disiplin etnomusikologi untuk menganalisisi melodi
baik itu berupa musik vokal atau instrumental. Ada delapan parameter atau
kriteria yang perlu diperhatikan dalam menganalisis melodi, yaitu: (1) tangga
nada (scale), (2) nada dasar (pitch center), (3) wilayah nada (range), (4) jumlah
nada (frequency of note), (5) jumlah interval, (6) pola-pola kadensa (cadence
patterns), (7) formula melodi (melody formula), dan (8) kontur (contour)
(Malm dalam terjemahan Takari 1993:13).
Dalam hal ini, tangga nada dapat diartikan sebagai nada-nada yang
digunakan di dalam suatu komposisi musik, sebagai dasar pengembangan
melodi atau harmoni. Misalnya tangga nada C mayor di dalam kebudayaa
musik Barat, terdiri dari nada-nada c-d-e-f-g-a-b-c’. Nada dasar adalah nada
yang menjadi pusat tonalitas suatu komposisi musik, misalnya nada dasar dari
tangga nada C Mayor di dalam kebudayaan musik Barat adalah nada c.
Wilayah nada atau teba nada atau interval, adalah jarak antara nada terendah
dengan nada tertinggi yang terdapat dalam suatu komposisi musik, biasanya
dikur dengan satuan laras, langkah, sent, dan lainnya. Jumlah nada adalah
munculnya secara kuantitatif nada-nada dalan suatu komposisi musik, yang
juga mempertimbangkan durasi atau nilainya. Jumlah interval adalah
26
bagaimana secara kuantitatif interval (jarank nada yang satu ke nada
berikutnya) dalam suatu musik, biasanya diukur dengan istilah musik seperti
prima murni, sekunde minor, sekunde mayor, ters minor, ters mayor, dan
seterusnya. Pola-pola kadensa adalah beberapa nada di akhir-akhir frase atau
bentuk nelodi musik. Sementera formula melodi adalah bentuk-bentuk dasar
yang membentuk keseluruhan rangkaian melodi. Sementara unsur melodi yang
disebut kontur Adalah garis lintasan melodi.
Dalam rangka penelitian ini, sebelum menganalisis melodi nandong
smong yang disajikan oleh narasumber penulis, maka terlebih dahulu data
audio ditranskripsi ke dalam notasi balok dengan pendekatan etnomusikologis.
Setelah dapat ditransmisikan ke dalam bentuk notasi yang bentuknya visual,
barulah notasi tersebut dianalisis. Dalam kerja ini juga penulis melakukan
penafsiran-penafsiran.
1.4.2.2 Teori Semiotik
Selanjuutnya Untuk menganalisis teks yang dinyanyikan, penulis
menggunakan teori William P. Malm. Malm menyatakan bahwa dalam musik
vokal, hal yang sangat penting diperhatikan adalah hubungan antara musik
dengan teksnya. Apabila setiap nada dipakai untuk setiap silabel atau suku
kata, gaya ini disebut silabis. Sebaliknya, bila satu suku kata dinyanyikan
dengan beberapa nada disebut melismatik. Studi tentang teks juga memberikan
kesempatan untuk menemukan hubungan antara aksen dalam bahasa dengan
aksen pada musik, serta sangat membantu melihat reaksi musikal bagi sebuah
kata yang dianggap penting dan pewarnaan kata-kata dalam puisi (Malm dalam
27
terjemahan Takari 1993:15). Oleh karena itu, untuk mengetahui apakah teks ini
silabis atau melismatis, penulis menggunakan metode weighted scale yang
dikemukakan oleh Bruno Nettl.
Selain itu dalam konteks menganalisis makna teks nandong smong ini
penulis menggunakan teori semiotik. Teori semiotik adalah sebuah teori
mengenai lambang yang dikomunikasikan. Istilah semiotik berasal dari bahasa
Yunani, semeion. Panuti Sudjiman dan van Zoest (dalam Bakar 2006:45-51)
menyatakan bahwa semiotika berarti tanda atau isyarat dalam satu sistem
lambang yang lebih besar. Menurut Ferdinand de Saussure (perintis semiotika
dan ahli bahasa), semiotik adalah the study of “the life of signs within society”.
Secara harafiah dapat diartikan dengan studi dari tanda-tanda kehidupan
dalam masyarakat. Selain itu, teori pendekatan semiotik sosial (social
semiotics) yang diperkenalkan oleh Halliday juga menyatakan bahwa bahasa
adalah sistem arti dan sistem lain (yaitu sistem bentuk dan ekspresi) untuk
merealisasikan arti tersebut.
1.4.2.3 Teori Fungsi
Sebagai tambahan penelitian ini, peneliti ingin melihat fungsi apa yang
terdapat pada nandong smong. Untuk itu digunakan teori fungsi, baik dalam
antropologi maupun etnomusikologi.
Dalam disiplin antropologi Radcliffe-Brown mengemukakan bahwa
fungsi sangat berkait erat dengan struktur sosial masyarakat. Bahwa struktur
sosial itu hidup terus, sedangkan individu-individu dapat berganti setiap masa.
Dengan demikian, Radcliffe-Brown yang melihat fungsi ini dari sudut
28
sumbangannya dalam suatu masyarakat, mengemukakan bahwa fungsi adalah
sumbangan satu bagian aktivitas kepada keseluruhan aktivitas di dalam sistem
sosial masyarakatnya. Tujuan fungsi adalah untuk mencapai tingkat harmoni
atau konsistensi internal, seperti yang diuraikannya berikut ini.
By the definition here offered ‘function’ is the contribution
which a partial activity makes of the total activity of which it is
a part. The function of a perticular social usage is the
contribution of it makes to the total social life as the functioning
of the total social system. Such a view implies that a social
system ... has a certain kind of unity, which we may speak of as
a functional unity. We may define it as a condition in which all
parts of the social system work together with a sufficient degree
of harmony or internal consistency, i.e., without producing
persistent conflicts can neither be resolved not regulated
(1952:181).
Selaras dengan pandangan Radcliffe-Brown, nandong smong bisa
dianggap sebagai bahagian dari struktur sosial masyarakat Simeulue.
Pertunjukan nandong smong adalah salah satu bahagian aktivitas yang bisa
menyumbang kepada keseluruhan aktivitas, yang pada saatnya akan berfungsi
bagi kelangsungan kehidupan budaya masyarakat pengamalnya, yaitu
masyarakat Simeulue. Fungsinya lebih jauh adalah untuk mencapai tingkat
harmoni dan konsistensi internal. Pencapaian kondisi itu, dilatarbelakangi oleh
berbagai kondisi sosial dan budaya dalam masyarakat Simeulue, misalnya
lingkungan kepulauan dan maritim, daerah penerapan syariat Islam,
masyarakat yang merujuk pada adat, dan lain-lainnya.
Secara etnomusikologis, kajian mengenai fungsi musik dalam
masyarakat ini, selalu didekati dengan teori uses and functions dari Allan P.
Merriam yang dalam bukunya The Anthropologhy of Music (1964:223-226)
29
menguraiakn contoh sepuluh fungsi musik yaitu; (1) fungsi pengungkapan
emosional, (2) fungsi pengungkapan estetika, (3) fungsi hiburan, (4) fungsi
komunikasi, (5) fungsi perlambangan, (6) fungsi reaksi jasmani, (7) fungsi
yang berkaitan dengan norma sosial, (8) fungsi pengesahan lembaga sosial dan
upacara keagamaan, (9) fungsi kesinambungan kebudayaan, dan (10) fungsi
pengintegrasian masyarakat.
Secara lugas, Merriam membedakan pengertian fungsi ini dalam dua
istilah, yaitu penggunaan dan fungsi. Menurutnya, membedakan pengertian
penggunaan dan fungsi adalah sangat penting. Para ahli etnomusikologi pada
masa lampau tidak begitu teliti terhadap perbedaan ini. Jika kita berbicara
tentang penggunaan musik, maka kita menunjuk kepada keebiasaan (the ways)
musik dipergunakan dalam masyarakat, sebagai praktik yang biasa dilakukan,
atau sebagai bahagian daripada pelaksanaan adat istiadat, sama ada ditinjau
dari aktivitas itu sendiri mahupun kaitannya dengan aktivitas-aktivitas lain
(1964:210). Lebih jauh Merriam menjelaskan perbedaan pengertian antara
penggunaan dan fungsi sebagai berikut.
Music is used in certain situations and becomes a part of them,
but it may or may not also have a deeper function. If the lover
uses song to w[h]o his love, the function of such music may be
analyzed as the continuity and perpetuation of the biological
group. When the supplicant uses music to the approach his god,
he is employing a particular mechanism in conjunction with other
mechanism as such as dance, prayer, organized ritual, and
ceremonial acts. The function of music, on the other hand, is
enseparable here from the function of religion which may perhaps
be interpreted as the establishment of a sense of security vis-á-vis
the universe. “Use” them, refers to the situation in which music is
employed in human action; “function” concerns the reason for its
30
employment and perticularly the broader purpose which it serves.
(1964:210).
Dari kutipan di atas terlihat bahwa Merriam membedakan pengertian
penggunaan dan fungsi musik berasaskan kepada tahap dan pengaruhnya
dalam sebuah masyarakat. Musik dipergunakan dalam situasi tertentu dan
menjadi bahagian dari situasi tersebut.
Penggunaan bisa atau tidak bisa
menjadi fungsi yang lebih dalam. Merriam memberikan contoh, jika seeorang
menggunakan nyanyian yang ditujukan untuk kekasihnya, maka fungsi musik
seperti itu bisa dianalisis sebagai perwujudan dari kontinuitas dan
kesinambungan keturunan manusia—[yaitu untuk memenuhi kehendak
biologis bercinta, kawin dan berumah tangga dan pada akhirnya menjaga
kesinambungan keturunan manusia]. Jika seseorang menggunakan musik untuk
mendekatkan diri kepada Tuhan, maka mekanisme tersebut behubungan
dengan mekanisme lain, seperti menari, berdoa, mengorganisasikan ritual dan
kegiatan-kegiatan upacara. “Penggunaan” menunjukkan situasi musik yang
dipakai dalam kegiatan manusia; sedangkan “fungsi” berkaitan dengan alasan
mengapa si pemakai melakukan, dan terutama tujuan-tujuan yang lebih jauh
dari sekedar apa yang dapat dilayaninya. Dengan demikian, selaras dengan
Merriam, menurut penulis penggunaan lebih berkaitan dengan sisi praktis,
sedangkan fungsi lebih berkaitan dengan sisi integrasi dan konsistensi internal
budaya.
31
1.4.2.4 Teori Etnosains
Meneurut Ahimsa Putra (1985), etnosains dan/atau etnometodologi
merupakan teori baru dalam dunia ilmu sosial, khususnya di Indonesia
meskipun kedua pendekatan tersebut telah berkembang sejak dekade 1960-an.
Perspektif etnosains ada di dalam antropologi, sedangkan etnometodologi
berada dalam lingkup kajian sosiologi. Etnosains dan etnometodelogi
mempunyai kesamaan dalam penggunaan prefiks etno, atau folk, yaitu
pendekatan yang dilakukan peneliti dari kacamata orang-orang yang terlibat
di dalamnya. Maka, sebenarnya etnosains dan etnometodologi bukanlah barang
baru bagi antropologi karena sudah sejak lama metode verstehen dikenal.
Etnosains muncul dan berangkat dari tradisi-tradisi antropologi yang
mempunyai tujuan akhir “to grasp the native’s point of view, his relation to
life to realize his vision of his world” (Malinowsky). Kemudian diikuti oleh
Murdock yang menyusun suatu sistem data dari ratusan kebudayaan untuk
memudahkan usaha tersebut yang disebut Human Relation Area Files, yang
mana menurut Goodenough, di situ ada tiga masalah pokok, yaitu (1)
ketidaksamaan data etnografi yang disebabkan oleh perbedaan minat di
kalangan ahli antropologi sendiri. Akibatnya terjadi kepincangan data dalam
etnogafi mereka sehingga menyulitkan usaja-usaha untuk menemukan prinsipprinsip kebudayaan lewat studi perbandingan; (2) seberapa jauh data yang
tersedia benar-benar dapat diperbandingkan, mengingat para antropolog
menggunakan metode yang berbeda-beda dalam menempatkan data tersebut;
(3) diperlukan kriteria lagi yang rupanya antara antropologi terdapat perbedaan.
Pada masa berikutnya pemikiran Goodenough yang menekankan hakikat
32
kebudayaan pada aspek – aspek pengetahuan kognitif manusia juga menjadi
warna tersendiri dalam kajian antropologi kontemporer termasuk di dalamnya
etnosains. Penekanan pengertian kebudayaan sebagai sistem pengetahuan,
menurut
penulis
akan
memudahkan
antropologi
dalam
melukiskan
kebudayaan, yaitu dengan memakai model dalam fonologi dalam ilmu
linguistik. Di dalam fonologi dikenal istilah fonemik (penulisan bunyi bahasa
dengan memakai cara si pemakai bahasa) dan fonetik (penulisan bunyi bahasa
dengan simbol universal yang telah disepakati oleh ahli bahasa). Analog
dengan hal di atas kemudian dalam antropologi dikenal istilah emik dan etik
yang akan memudahkan dalam pelukisan kebudayaan serta membuat kajiankajian kebudayaan menjadi kompatible dengan studi komparasi. Dari hal-hal
tersebutlah kemudian muncul studi-studi Etnosains. Etnosains sendiri oleh
Sturtevant didefinisikan sebagai suatu “system of knowledge and cognition
typical of given cultures.”
1.5
Metode Penelitian
Metode adalah cara atau jalan yang berhubungan dengan upaya ilmiah,
maka metode menyangkut masalah cara kerja, yaitu: cara kerja untuk dapat
memahami
objek
yang
menjadi
sasaran
ilmu
yang
bersangkutan
(Koentjaraningrat, 1985:7). Dengan demikian dalam tulisan ini penulis
menerapkan metode penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif.
Peneletian yang bersifat deskriptif akan menggambarkan secara tepat
sifat suatu individu, keadaan, gejala atau frekwensi adanya hubungan tertentu
33
antara satu gejala dengan gejala lainya dalam masyarakat. Sedangkan
pendekatan yang bersifat kualitatif yaitu rangkaian kegiatan atau proses yang
dilakukan peneliti dalam mendapatkan data dan informasi mengenai suatu
masalah dalam kondisi aspek kehidupan tertentu pada objeknya.
Menurut Bruno Nettl (1964: 62-64) dalam penelitian etnomusikologi
terdapat dua cara kerja yaitu field work (kerja lapangan) dan desk work (kerja
laboratorium).
Dengan demekian untuk menjawab permasalahan dalam
penelitian serta untuk mendapat hasil akhir yang diinginkan, penulis
menggunakan kedua cara kerja tersebut.
1.5.1 Kerja Lapangan (Field Work)
Peristiwa dan fakta budaya pertunjukan musikal di lapangan, menjadi
data primer atau utama dalam konteks penelitian etnomusikologi. Lapngan
yang dimaksud dalam kajian etnomusikologi adalah peristiwa musikal yang
dilatarbelakangi oleh faktor budaya dan sosial, di mana peristiwa musikal
tersebut terjadi. Dalam penelitian ini, peristiwa musikal adalah pertunjukan
nandong smong dalam berbagai peristiwa budaya di dalam kebudayaan
Simeulue, yang fungsi utamanya adalah untuk memberikan penjelasan secara
multi-indeksikal peristiwa tsunami dan cara menyelamatkan diri dari peristiwa
tsunami tersebut.
Kerja lapangan yang dilakukan oleh penulis adalah dengan cara turun
langsung pada objek yang akan diteliti, yaitu pertunjukan nandong smong
dalam upacara penyembutan tamu. Dalam hal mendapatkan informasi serta
data-data yang berkaitan penulis melakukan berbagai macam cara, yaitu
34
melalui
studi
pustaka,
observasi,
wawancara
atau
interview,
dan
dokumentasi—dengan uraian sebagai berikut.
1.5.1.1 Studi Pustaka
Pada tahap ini penulis dituntut untuk mendapatkan konsep dan teori
serta informasi yang dapat digunakan sebagai pendukung penelitian pada saat
melakukaan penelitian dan penulisan skripsi nantinya. Sehingga diperlukan
membaca tulisan-tulisan ilmiah, situs internet, buku, dan informasi lain yang
berkatitan dengan objek yang akan diteliti.
Dalam melakukan studi kepustakaan ini, dijumpai beberapa karya
ilmiah berupa makalah, skripsi sarjana, dan artikel yang terkait dengan kajian
penelitian penulis yakni nandong smong dan terutama hubungan fungsionalnya
dengan bencana alam tsunami.
(1) Dina Oktaviani dengan NIM 0806344641,menulis sebuah skripsi sarjana
di Universitas Indonesia yang berjudul “Resiliensi Remaja Aceh yang
Mengalami Bencana Tsunami (Resilience among Acehnese Adolessence
Victims of Tsunami Disaster)” Skripsi ini diajukan ke Fakultas Psikologi,
Universitas Indonesia, 2012. Isi dan inti kajian skripsi ini adalah mengenai
keadaan resiliensi (meaningfulness, perseverance, equanimity, selfreliance, dan existential aloneness) para remaja Aceh yang mengalami
bencana tsunami pada tahun 2004. Pendekatan dalam skripsi ini adalah
melalui disiplin psikologis. Skripsi ini menjadi bahan rujukan penulis juga,
terutama dari sisi psikologi, namun tema utama penulis adalah nyanyian
smong di Simeulue, dengan pendekatan utama etnomusikologis.
35
(2) Fakhriyani dengan NIM 06193031, dari Universitas Andalas, Jurusan Ilmu
Politik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, tahun 2011, menulis sebuah
skripsi yang berjudul “Implementasi Kebijakan Mitigasi Bencana Gempa
dan Tsunami Pemerintah Kota Padang.” Fakhriyani menulis skripsi ini
dengan pendekatan ilmu politik, terutama mengkaji pemerintah Kota
Padang dalam mengangani atau mengelola bencana gempa dan tsunami
sebagai amanat UU No. 4 Tahun 2007, yang terjadi di Kota Padang pada
tahun 2004.
Dari hasil penelitian yang dilakukan, peneliti menarik
kesimpulan bahwa Pemerintah Kota Padang dalam melaksanakan
implementasi kebijakan mitigasi bencana baik struktur dan non struktur
masih menghadapi banyak kendala. Dalam hal ini Bapak Wali Kota
Padang yaitu Fauzi Bahar yang sadar terhadap kekhawatiran dan
kecemasan warganya untuk menghadapi bencana telah melakukan upaya
dengan membangun shelter dan sosialisasi sadar bencana. Namun dalam
pelaksanaannya mitigasi bencana membutuhkan dana dan pelaksana yang
tidak hanya berasal dari personil pemerintah yaitu BPBD tetapi juga NGO
dan LSM yang sadar bencana. Skripsi ini menjadi acuan penulis dalam
melihat penanganan bencana tsunami, namun berbeda dengan fokus kajian
penulis yang secara etnomusikologis lebih mengkaji smong sebagai sarana
kultural penyelamatan diri dari bencana tsunami.
(3) Asriningsih Dewi Murtani dengan NIM 0203033, menulis skripsi tahun
2009, yang berjudul “Potret Kehidupan Anak-anak Aceh pada Tsunami
dalam Komik ‘Kisah dari Aceh’: Studi Komunikasi Massa dengan
Analisis Semiotika terhadap Komik ‘Kisah dari Aceh’ Karya Garin
36
Nugroho.” Mahasiswi ini adalah berasal dari Jurusan Ilmu Komunikasi,
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sebelas maret
Surakarta. Kajian skripsi ini berfokus pada bagaimana komunikasi massa
yang diuraikan di dalam novel karya Garin Nugroho tersebut, dengan
pendekatan ilmu komunikasi. Hasil penelitan beliau memperlihatkan
ratusan ribu anak Aceh mengalami gangguam psikologs trauma terhadap
tsunami, yang juga digambarkan di dalam karya novel tersebut.
(4) Kurniawati, dari Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka Jakarta,
menulis sbuat artikel yang thick description, berjudul “Bencana Tsunami
NAD serta Dampak Pasca-Tsunami bagi Kesehatan Lingkungan.” Dalam
artikel ini, Kurniawati mengkaji tentang berbagai dampak pasca-tsunami
Aceh 2004 bagi kesehatan lingkungan. Tulisan ini menggunakan
pendekatan ilmu kesehatan, dan menjadi rujukan penulis tentang kesehatan
lingkungan dalam konteks tsunami.
(5) Surfia Miana dan Didit Dwi Subagyo dari Fakultas Ilmu Budaya,
Universitas Indonesia, menulis sebuah artikel hasil penelitiannya tahun
2012 yang bertajuk “Gempa Bumi Besar Jepang Timur dan Tsunami
Maret 2011: Upaya Pemerintah Jepang untuk Mmeulihkan Pariwisata
Jepang pasca Bencana.”
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa
pemerintah Jepang melalui berbagai upaya dan kebijakannya di bidang
pariwisata
mampu
merekonstruksi wilayah pariwisata
(khususnya
Tohoku), dan memulihkan geliat pariwisata. Jepang bahkan berhasil
meningkatkan rasio pertumbuhan pariwisata nasional secara positif.
Tulisan ini menjadi salah satu sumber bagaimana sebuah daerah pariwisata
37
korban bencana tsunami, dapat bangkit kembali, bahkan melebihi
eksistensi sebelum tsunami.
1.5.1.2 Observasi
Nurkancana (1986:142) mengatakan, “observasi adalah suatu cara
untuk mengadakan penilaian dengan jalan mengadakan pengamatan secara
langsung dan sistematis. Data-data yang dieperoleh dalam obsevasi itu
dicatat dalam suatu catatan observasi. Kegiatan pencatatan hal ini adalah
merupakan bagian dari pada kegiatan pengamatan”.
Dalam tahap ini peneliti dituntut untuk melakuakan berbagai
pengamatan pada saat proses kegiatan yang diteliti berlangsung. Sehingga
peneliti belajar tentang prilaku dan makna dari prilaku tersebut. Sebagaimana
diungkapkan oleh Marshall (1995) “through observation, the researcher learn
about behavior and the meaning attached to those behavior.” Artinya melalui
observasi atau pengamatan, seorang peneliti melihat langsung dan belajar
mengenai prilaku dan makna-makna dari apa yang diamatinya tersebut.
1.5.1.3 Wawancara
Terdapat tiga jenis wawancara yaitu wawancara berfokus (focused
interview), wawancara bebas (free interview), wawancara sambil lalu (casual
interview) (Koentjaraningrat, 1986:139). Sebelum melakukan ketiga cara
dalam wawancara tersebut, tentu saja penulis harus menyiapkan daftar
pertanyaan yang perlu ditanyakan pada saat mewawancarai informan sesuai
dengan topik penelitian. Selain daftar pertanyaan keahlian dalam melakukan
38
teknik wawancara agar informan menjawab dengan leluasa juga sangat
diperlukan bagi seorang peneliti.
1.5.1.4 Dokumentasi
Untuk merekam data hasil penelitian dan wawancara penulis
menggunakan smartphone LG L-Fino dalam pengambilan gambar maupun
perekaman video. Gambar yang didokumentasi adalah mengenai: pertunjukan
nandong smong, alat-alat musik untuk pertunjukan, para seniman saat
pertunjukan, pakaian yang digunakan dalam mempertunjukan nandong smong,
lingkungan dan arena tempat dilksanakannya pertunjukan nandong smong, dan
aspek-aspek sejenis lainnya.
Selain gambar, dalam penelitian ini juga direkam secara auditif,
nyanyian nandong smong. Rekaman untuk bahan dokumentasi ini adalah
berbentuk audio dalam format mp3 (dalam ilmu teknologi informasi), yang
dijadikan bahan dasar traskripsi dan analisis musik dalam rangkaian kajian
musikal. Rekaman lainnya adalah berupa audiovisual (video), dalam format
mp4, yang kemudian dijadikan dasar kajian.
Selain itu, untuk memback up data-data visual, audio, dan audiovisual
ini, dari media smartphone tadi penulis pindahkan (trasferring data) pada
laptop dan hard disk external dalam mendokumentasikan
bersangkutan, yang diperoleh dari kerja lapangan.
39
data-data yang
1.5.2 Kerja Laboratorium (Desk Work)
Data-data yang telah terkumpul baik dalam bentuk rekaman gambar,
audio, maupun audiovisual dan catatan selanjutnya diolah kembali dalam tahap
kerja laboratorium, sebagaimana yang lazim disarankan di dalam disiplin
etnomusikologi. Sehingga hasil kerja ini menentukan apakah kita penulis perlu
mencari data tambahan atau justru sebaliknya mereduksi data yang tidak
diperlukan.
Dalam kerangka kerja laboratorium ini, penulis melakukan analisis
data, berupa transkripsi, dengan menggunakan perangkat lunak sibelius, namun
dengan transkripsi secara manual, yang kemudian secara notasi dipindahkan ke
notasi sibelius (notasi balok). Seterusnya data gambar diolah ke dalam format
jpg dan diinsert ke word office, menurut format skripsi di Fakultas Ilmu
Budaya, Universitas Sumatera Utara.
Analisis data, keseluruhannya dilakukan di laboratorium, yang tentu
saja
spesifik
etnomusikolgi.
Analisis
dilakukan
melalui
pendekatan
etnomnusikologis, namun dalam konteks multidisiplin ilmu. Analisis
mencakup empat bidang, sesuai dengan pokok masalah yang telah ditentukan,
yakni: musikal, tekstual, fungsional, dan kearifan lokal.
1.6
Lokasi Penelitian
Adapun lokasi penelitian adalah Desa Suka Maju, Kecamatan Simeulue
Timur, Kabupaten Simeulue, Aceh. Desa adalah sebuah wilayah pemerintahan
administratif yang dipimpin oleh kepala desa, dibantu oleh para perangkat
desanya. Di atasnya ada kecamatan dan kabupaten. Lokasi desa ini merupakan
40
salah satu desa yang terkena bencana tsunami 2004, yaikni 7 orang meninggal
dunia, desa lain di kecamatan ini tidak terdapat korban manusia. Desa Suka
Maju ini adalah salah satu dari 17 desa di Kecamatan Simeulue Timur.
41
BAB II
ETNOGRAFI UMUM SUKU SIMEULUE
DI DESA SUKA MAJU, KECAMATAN SIMEULUE TIMUR,
KABUPATEN SIMEULUE ACEH DAN NANDONG SMONG
Pada Bab II ini, penulis mendeskripsikan aspek etnografis1 suku (etnik)
Simeulue,2 khususnya yang terdapatbdi lokasi penelitian, yakni Desa Suka
Maju, Kecamatan Simeulue Timur, Kabupaten Simeulue, Provinsi Aceh.
Deskripsi etnografis ini penting untuk memberikan wawasan dan pemahaman
kita mengenai bagaimana latar belakang budaya tempat hidupnya nandong
smong, sebagai warisan tradisi yang memiliki fungsi kearifan lokalnya yakni
1
Dalam tulisan ini, pengertian etnografi mengacu kepada disiplin atropologi, seperti
yang dikemukakan oleh Koentjaraningrat (1990). Etnografi berasal dari istilah ethnic yang arti
harfiahnya suku bangsa dan graphein yang artinya mengambarkan atau mendeskripsikan.
Etnografi adalah jenis karya antropologis khusus dan penting yang mengandung bahan-bahan
kajian pokok dari pengolahan dan analisis terhadap kebudayaan satu suku bangsa atau
kelompok etnik. Oleh karena di dunia ini ada suku-suku bangsa yang jumlahnya relatif kecil,
dengan hanya beberapa ratus ribu warga, dan ada pula kelompok etnik yang berjumlahrelatif
besar, berjuta-juta jiwa, maka seorang antropolog yang membuat karya etnografi tidak dapat
mengkaji keseluruhan aspek budaya suku bangsa yang besar ini. Oleh karena itu, untuk
mengkaji budaya Simeulue misalnya, yang mencakup berbagai tempat, maka seorang
antropolog bisa saja memilih etnografi masyarakat Simeulue di Desa Suka Maju, atau lebih
besar sedikit masyarakat Simeulue Kabupaten Simeulue Timur, atau masyarakat Simeulue
Barat, dan seterusnya. Ada pula istilah yang mirip dengan etnografi, yaitu etnologi. Arti
etnologi berbeda dengan etnografi. Istilah etnologi adalah dipergunakan sebelum munculnya
istilah antropologi. Etnologi adalah ilmu yang mempelajari manusia dan kebudayaannya di
seluruh dunia, sama maknanya dengan antropologi, yang lebih lazim dipakai belakang hari
oleh para ilmuwannya atau dalam konteks sejarah ilmu pengetahuan manusia.
2
Kesatuan hidup orang-orang Simeulue dalam tulisan ini disebut dengan suku, suku
bangsa, atau etnik. Yang dimaksud etnik adalah adalah suatu golongan manusia yang anggotaanggotanya mengidentifikasikan dirinya dengan sesamanya, biasanya berdasarkan garis
keturunan yang dianggap sama. Identitas suku ditandai oleh pengakuan dari orang lain akan
ciri khas kelompok tersebut seperti kesamaan budaya, bahasa, agama, perilaku, dan ciri-ciri
biologis. Menurut pertemuan internasional tentang tantangan-tantangan dalam mengukur dunia
etnik pada tahun 1992, "Etnisitas adalah sebuah faktor fundamental dalam kehidupan manusia.
Ini adalah sebuah gejala yang terkandung dalam pengalaman manusia" meskipun definisi ini
seringkali mudah diubah-ubah. Yang lain, seperti antropolog Fredrik Barth dan Eric Wolf,
menganggap etnisitas sebagai hasil interaksi, dan bukan sifat-sifat hakiki sebuah kelompok
(Barth, 1969:831). Proses-proses yang melahirkan identifikasi seperti itu disebut etnogenesis.
Secara keseluruhan, para anggota dari sebuah kelompok suku bangsa mengklaim
kesinambungan budaya melintasi waktu, meskipun para sejarawan dan antropolog telah
mendokumentasikan bahwa banyak dari nilai-nilai, praktik-praktik, dan norma-norma yang
dianggap menunjukkan kesinambungan dengan masa lalu itu pada dasarnya adalah temuan
yang relatif baru.
42
menjelaskan apa itu tsunami dan bagaiamana manusia menyelematkan diri dari
bencana tsunami tersebut.
2.1 Asal-usul Suku Simeulue
Suku Simeulue yang ada di pulau Simeulue sudah ada sejak ribuan
tahun yang lalu, mulai dari zaman penjajahan Belanda yang mengusai daerah
ini, zaman penjajahan jepang, hingga masa kemerdekaan sekarang ini. Tidak
dapat dipastikan sejak kapan suku Simuelue ada karena belum ada yang
melakukan penelitian terhadap itu, yang penulis dapatkan di lapangan hanyalah
sejarah tentang Teungku Diujung yang dianggap sebagai nenek moyang suku
Simeulue.
Pada abad ke 14 sampai 15 seorang ulama yang berasal dari Sumatera
Barat yang bernama Teungku Halilullah sedang melakukan perjalanan menuju
Mekkah untuk menunaikan haji, dalam perjalanannya Halilullah singgah di
Aceh dan mengunjungi Istana Kesultanan Aceh Darusalam. Beliau berjumpa
dengan Sultan Aceh kala itu Sultan Ali Mughayat Syah, dalam silaturahminya,
Sultan Aceh menyarankan kepada Halilullah agar niat melaksanakan hajinya
diganti dengan mengislamkan sebuah pulau yang bernama Pulo U. Halilullah
menerima saran Sultan Aceh tersebut namun ia tidak mengetahui jalan menuju
Pulo U tersebut. Sultan Aceh langsung memerintahkan seorang gadis bernama
Meulur yang berasal dari Pulo U untuk memberi petunjuk jalan, karena
dikhawatirkan akan menyebabkan fitnah, maka Teungku Halilullah dan Putri
Meulur dinikahkan.
43
Hal yang menyebabkan Sultan Ali Mughayat Syah memerintahkan
Teungku Halilullah untuk mengislamkan Pulo U tersebut karena pulau tersebut
telah dikuasai oleh seseorang yang bernama Songsongbulu dan menyebarkan
ajaran sesat. Ketika Teungku Halilullah dan Putri Meulur tiba di Pulo U, terjadi
peperangan antara Songsongbulu melawan Teungku Halilullah. Namun
peperangan tersebut bukanlah perang bersenjata, melainkan perang ilmu sihir.
Kedua belah pihak melaksanakan perjanjian jika salah satu dari mereka
menang akan menguasai pulau itu dan yang kalah angkat kaki dari pulau
tersebut. Peperangan yang terbilang sangat sederhana, yaitu dengan memasak
telur di dalam lautan. Teungku Halilullah menang dan mengusir Songsongbulu
dari Pulo U, dan mengislamkan seluruh masyarakat yang ada di pulau, pada
masa kekuasaannya Teungku Halilullah mengganti nama Pulo U menjadi
Pulau Simeulue yang diambil dari nama istrinya yaitu “Putri Meulur.”
Sejarah ini terbukti benar dengan adanya artefak dari masa kekuasaan
Songsongbulu, hingga makam Teungku Halilullah sekeluarga yang masih ada
hingga saat ini. Oleh masyarakat Simeulue saat ini Teungku Halilullah dikenal
dengan sebutan Teungku Diujung yang dikarenakan letak makam beliau yang
berada diujung Pulau Simeulue (Muhammad Nurdin Faturrahman, 2009).
2.2 Wilayah Budaya Etnik Simeulue
Masyarakat suku Simeulue adalah masyarakat yang tersebar di seluruh
kepulauan Simeulue saja, kecuali beberapa dari mereka yang berpindah karena
alasan khusus seperti tuntutan pekerjaan dan pendidikan. Pulau Simeulue
adalah pulau yang terletak di Kabupaten Simeulue Provinsi Aceh, Indonesia.
44
Berada kurang lebih 150 km dari lepas pantai barat Aceh, Kabupaten
Simeulue berdiri tegar di Samudera Hindia (Indonesia). Kabupaten Simeulue
merupakan pemekaran dari Kabupaten Aceh Barat sejak tahun 1999. Suku
Simeulue adalah suku yang mendominasi di kepulauan ini. Hampir 80 % dari
jumlah penduduk pulau Simeulue bersuku Simeulue. Selebihnya suku Aceh,
Minangkabau, Batak, Jawa, dan Tionghoa. Peta pulau Simeulue dapat dilihat
pada peta berikut ini.
Peta 2.1:
Wilayah Budaya Suku Simeulue
2.3 Masyarakat Simeulue di Desa Suka Maju
Desa Suka Maju adalah satu desa yang terletak di tengah kota Sinabang
ibu kota Kabupaten Simeulue, sesuai surat keputusan Gubernur Aceh nomor 52
tahun 1999 tanggal 19 oktober 1999 tentang pengukuhan desa persiapan hasil
45
pemecahan Desa Sinabang menjadi desa definitif. Suka Maju secara geografis
memiliki luas lebih kurang 2 km dan mempunyai batas-batas wilayah yaitu,
sebelah utara berbatasan dengan laut Samudera Hindia, sebelah selatan
berbatas dengan Desa Sinabang, sebelah barat berbatasan dengan Desa Suka
Karya, dan sebelah timur berbatasan dengan laut Samudera Hindia.
Gambar 2.1:
Denah Desa Suka Maju
(Sumber: Kantor Kepala Desa Suka Maju, 2016)
No
1
2
Jenis Kelamin
Laki-laki
Perempuan
Jumlah Total
Jumlah Penduduk
1402
1284
2686
Tabel 2.1:
Jumlah Penduduk Desa Suka Maju Berdasarkan Jenis Kelamin
(Sumber: Sekretariat Sekretaris Desa Suka Maju, Oktober 2015)
46
Tabel di atas merupakan jumlah penduduk keseluruhan dari tiga dusun
dan enam belas RT, yaitu Dusun Melati terdiri dari 6 RT, Dusun Mawar terdiri
dari 5 RT dan Dusun Sedap Malam terdiri dari 5 RT.
Gambar 2.2:
Kantor Kepala Desa Suka Maju, Simeulue Timur
(Dilihat dari Depan)
Sumber: Yomi, 2016
2.4 Sistem Religi
Pada saat sekarang masyarakat Simeulue secara keseluruhan telah
menganut agama Islam. Terkait dengan letak geografis masyarakat Simeulue
yang berada di daerah pesisir Aceh menjadi alasan kuat bagi masyarakat
Simeulue menganut agama islam. Masuknya agama Islam ke pulau Simeulue
melalui pendatang-pendatang, baik itu pendatang sebagai pedagang maupun
47
sebagai mubaligh3. Hal ini juga ditandai dengan adanya makam Teungku Di
Ujung yang ditemukan sekitar abad ke-15, Teungku Di Ujung yang merupakan
seorang ulama besar dari Minangkabau yang menyebarkan Islam di pulau
Simeulue.
2.5 Sistem Kekerabatan
Masyarakat suku Simeulue menganut sistem kekerabatan patrilineal,
yaitu suatu adat masyarakat yang mengatur keturunan berasal dari pihak ayah.
Kata patrilineal berasal dari bahasa Latin, yaitu pater yang berarti ayah dan
linea yang berarti garis. Jadi patrilineal berarti mengikuti “garis keturunan
yang ditarik dari pihak ayah.” Jika ibu meninggal, yang bertanggung jawab
terhadap anak yang ditinggalkan adalah ayah. Namun jika ayah yang
meninggal, yang bertanggung jawab terhadap anak bukanlah ibu, melainkan
wali dari pihak ayah, yaitu saudara laki-laki kandung dari ayah, masyarakat
menyebutnya dengan amarehet.4 Meskipun demikian, bukan berarti bahwa ibu
lepas dari tanggungjawab sebagai seorang ibu. Ada upacara adat yang
dilaksanakan setelah ayah meninggal. Upacara yang dilakukan dihadiri oleh
amarehet dan laulu5 si anak, sanak saudara serta dari hukum adat6 di kampung.
3
Mubaligh merupakan orang-orang yang menyebarkan agama Islam. Dalam Kamus
Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia, mubaligh ialah ahli kumpulan agama yang dihantar ke
luar negeri untuk menyebarkan ajaran agama mereka melalui dakwah, pendidikan, khidmat
sosial dan sebagainya. Perkataan "mubaligh" berasal dari bahasa Arab yaitu, ‫ ﻣﺒﺎﻟﻎ‬yang
bermaksud "berlebihan" atau "berluasan," yang menakrifkan usaha memperluaskan penyebaran
agama oleh orang yang bergelar mubaligh.
4
Amarehet dalam sistem kekerabatan etnik Simeulue adalah saudara kandung laki-laki
dari pihak ayah, baik itu abang ayah maupun adik laki-laki ayah.
5
Laulu dalam sistem kekerabatan etnik Simeulue adalah saudara kandung laki-laki dan
perempuan dari pihak ibu. Baik itu abang ibu maupun adik ibu.
6
Hukum adat adalah sistem hukum yang dikenal dalam lingkungan kehidupan sosial
di Indonesia dan negara-negara lainnya seperti Jepang, India, dan Tiongkok. Hukum adat
adalah hukum asli bangsa Indonesia. Sumbernya adalah peraturan-peraturan hukum tidak
48
Pihak amarehet meminta hak asuh anak jatuh kepada mereka dan kemudian
pihak laulu menolaknya, dan meminta hak asuh tetap berada pada ibu. Sampai
saat sekarang ini adat ini masih dipegang kuat oleh masyarakat suku Simeulue.
2.6 Sistem Matapencaharian
Sumber matapencaharian masyarakat pada umumnya adalah bekerja di
sektor pertanian, perikanan, peternakan, dan pegawai negeri sipil (PNS). Di
sektor pertanian mengusahakan berbagai komoditas, yang paling diandalkan
adalah cengkeh, kelapa (kopra), dan kakao. Sektor perikanan yang menjadi
andalan masyarakat. Hal ini dikarenakan oleh area tangkapan (fishing ground)
seluas 305.000 ha atau sekitar 4 mil dari bibir pantai ke laut bebas di sekeliling
pulau. Di samping itu, pesisir barat dan utara merupakan lintasan ikan tuna.
Saat ini salah satu investor telah membuka usaha di bidang penangkaran udang
lobster yang ditampung dari nelayan setempat untuk kebutuhan dalam negeri
dan luar negeri. Peternakan Simeulue terkenal dengan ternak kerbaunya untuk
dipasok ke pulau Sumatera. Pegawai Negeri Sipil bekerja pada bidang
pemerintahan, kesehatan, dan pendidikan. Dari 2.686 jiwa penduduk di Desa
Suka Maju memiliki beragam pekerjaan seperti tabel di bawah ini.
tertulis yang tumbuh dan berkembang dan dipertahankan dengan kesadaran hukum
masyarakatnya. Karena peraturan-peraturan ini tidak tertulis dan tumbuh kembang, maka
hukum adat memiliki kemampuan menyesuaikan diri dan elastis. Selain itu dikenal pula
masyarakat hukum adat yaitu sekelompok orang yang terikat oleh tatanan hukum adatnya
sebagai warga bersama suatu persekutuan hukum karena kesamaan tempat tinggal ataupun atas
dasar keturunan.
49
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
Jenis Pekerjaan
PNS
TNI/Polri
Pengusaha
Pedagang
Petani dan Perkebunan
Nelayan dan Buruh Nelayan
Buruh Harian
Pelajar/Mahasiswa
Wiraswasta
Lainnya
Persentase
12%
3,7%
2%
4,5%
0,5%
33%
13,5%
16,5%
9%
5,3%
Tabel 2.2:
Persentase Penduduk Desa Suka Maju Berdasarkan Pekerjaan
(Sumber: Sekretariat Sekretaris Desa Suka Maju, Oktober 2015)
2.7 Bahasa
Kabupaten Simeulue memiliki sepuluh kecamatan dan empat bahasa
yang berbeda yang digunakan sesuai dengan letak geografis yang mereka
diami. Adapun bahasa-bahasa tersebut adalah bahasa devayan, sigulai, aneuk
jamee (bahasa ini hampir serupa dengan bahasa Minangkabau, banyak
menggunakan huruf vocal “O”) dan leukon.
Di Desa Suka Maju yang merupakan objek penelitian, mayoritas
masyarakat menggunakan bahasa aneuk jamee dan sebagiannya lagi berbahasa
Indonesia. Bahasa devayan meliputi daerah Simeulue Timur, Teupah Tengah,
Teupah Selatan dan Teupah Barat. Bahasa sigulai meliputi daerah Simeulue
Tengah, Simeulue Cut, Teluk Dalam, Simeulue Barat, Sibigo, Alafan, dan
Salang. Sedangkan bahasa leukon meliputi daerah Alafan saja, namun bahasa
ini sudah jarang digunakan masyarakat, karena masyarakat penuturnya
semakin berkurang.
50
Dari keempat bahasa tersebut, masing-masing memiliki struktur bahasa
yang sangat jauh berbeda, seperti bahasa devayan dengan bahasa sigulai.
Pengguna bahasa devayan tidak mengetahui bahasa sigulai, dan sebaliknya
masyarakat pengguna bahasa sigulai tidak mampu berbahasa devayan. Namun
demikian, sebagian besar masyarakat penutur bahasa devayan dan sigulai
mampu berbahasa aneuk jamee. Bahasa aneuk jamee ini hampir serupa dengan
bahasa dari suku Minangkabau, yaitu rata-rata kata-katanya menggunakan
huruf vokal “O” di ujungnya. Untuk menjembatani komunikasi antara
masyarakat penutur bahasa devayan dengan sigulai, umumnya masyarakat
menggunakan bahasa aneuk jamee dan bahasa Indonesia tentunya.
Namun ada satu bahasa yang penuturnya sangat sedikit, yaitu bahasa
leukon. Bahasa leukon meliputi daerah ujung kepulauan Simeulue, yang
bernama Alafan. Struktur bahasa leukon ini sangat jauh berbeda dengan
bahasa devayan dan aneuk jamee, namun hampir memiliki kesamaan dengan
bahasa sigulai. Oleh karena letak geografis penuturnya yang berada di ujung
dan jumlah penuturnya yang sedikit maka bahasa ini sudah jarang ditemukan
penuturnya bahkan bisa terbilang punah.
2.8 Kesenian
Masyarakat Simeulue memiliki beberapa jenis kesenian, yaitu
Nandong, Buai, Nanga-nanga, debus, tari gelombang, tari andalas dan
sikambang. Kesenian Simeulue sangat berbeda dengan kesenian Aceh di
daratan. Pada umumnya kesenian Simeulue memiliki banyak kesamaan dengan
kesenian Melayu dan Minangkabau. Hal ini disebabkan oleh akulturasi budaya
51
yang dibawa oleh para pedagang yang berasal dari pulau Sumatera (Padang,
Sibolga, dan Nias) dan juga di pengaruhi oleh letak geografis. Ciri-ciri
kesenian yang berada di daerah ini memakai alat musik gendang, biola, dan
jenis nyanyian senandung.
Kesenian buai merupakan jenis nyanyian vokal yang dinyanyikan oleh
perempuan untuk menidurkan anak yang bercerita tentang nasehat, pujian, dan
shalawat. Kesenian nanga-nanga juga dinyanyikan oleh perempuan yang berisi
tentang ratapan, kesedihan, dan kepahitan yang dialami dalam kehidupan
sehari-hari.
Kedua jenis kesenian ini sudah mulai kurang diminati oleh masyarakat
karena menurut mereka musik dan nyanyian yang ada di televisi, radio, dan
internet itu lebih nikmat ketika didengarkan. Bahkan menurut pengalaman
penulis, tidak sampai setengahnya masyarakat Simeulue, khususnya di daerah
desa Suka Maju jika ditanya tentang dua jenis kesenian ini, mereka tidak lagi
mengetahuinya dan bahkan kembali memberikan pertanyaan, “Apa itu buai
dan nanga-nanga?”
Jenis kesenian yang terbilang populer adalah nandong, tari andalas,
tari gelombang, dan debus. Keempat jenis kesenian ini adalah bagian dari
upacara adat perkawinan. Pada malam-malam sebelum upacara pernikahan,
biasanya dimainkan kesenian debus dan nandong, baik di kediaman mempelai
pria maupun wanita. upacara penikahan dapat berlangsung di kediaman
mempelai wanita dan mesjid, tetapi tidak dapat dilangsungkan di kediaman
mempelai pria. Di saat mempelai pria dan wanita pulang ke kediaman
mempelai pria, biasanya kedua mempelai disambut dengan tari gelombang.
52
Sesudah itu pada malam hari setelah upacara pernikahan, biasanya dimainkan
kesenian tari andalas dan sikambang. Tari gelombang juga dimainkan saat ada
tamu daerah, misalnya dalam penyambutan presdien, menteri, gubernur, dan
tamu istimewa lainnya. Dalam konteks ini, biasanya tari gelombang dimainkan
di airport atau bandara, yaitu saat tamu turun dari pesawat. Selain di bandara,
tari gelombang juga dimainkan di lokasi tujuan tamu tersebut, sepeti pendopo
bupati, pelabuhan, pantai, dan beberapa tempat lainnya yang merupakan tujuan
dari kunjungan tamu.
2.9 Sekilas Adat Simeulue
Adat adalah kebiasaan yang dibiasakan, kemudian berubah menjadi
persyaratan, peraturan dan ketentuan yang melembaga dalam masyrakat.
Menurut penjelasan verbal para iniforman, adat menurut masyarakat Aceh,
termasuk menurut etnik Simeulue adalah terdiri dari tiga kategori, sebagai
berikut.
(1) Adat Tullah, ialah aturan atau ketentuan yang berdasarkan Kitabullah
(Al-Qur’an). Adat Tullah tidak boleh dirubah-rubah.
(2) Adat mahkamah ialah aturan dengan ketentuan yang dibuat mahkamah
rakyat atau diputuskan oleh pemerintah yang resmi.
(3) Adat tunah ialah adat yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat
dan harus sesuai dengan adat tullah dan adat mahkamah.
Peristiwa tsunami (smong) yang telah terjadi berkali-kali di Simeulue ataupun
di Aceh dan dunia pada umumnya, termasuk ke dalam jenis adat Tullah, yaitu
53
ketentuan berdasarkan kehendak Allah terhadap dunia ini. Jadi bencana apapun
di dunia ini datangnya atas kehendak Allah Yang Maha Kuasa.
Di dalam kebudayaan suku Simeulue adat ini sangat berperan dalam
masyarakat, terutatam di desa-desa bahkan ada pelanggaran atau kecelakaan
bahkan pertengkaran, perkelahian
dapat di selesaikan melalui adat sesuai
dengan tangga-tangganya. Contoh-contohnya adalah sebagai berikut.
Jika pelanggaran atau masalah cukup menurut adat dengan 1 (satu) sirih
belingkar (batil sirih). Dapat juga ditingkat dangan 1 (satu) buah sipulut atau
nasi pulut selengkapnya. Hal-hal yang dianggap berat dengan 1 (satu) ekor
kambing bahkan 1 (satu) ekor kerbau. Selanjutnya, kalau pelanggaran sampai
adanya darah yang tertumpah dalam istilah “setitik darah, sekunca darah”
dibarengi dengan kain putih dan emas. Dengan contoh tersebut di atas dapat
dipahami bahwa kekerabatan dan persaudaraan dalam masyarakat simeulue
melalui adat masih sangat relevan dan membudaya karena masih dapat
diselesaikan persoalan-persoalan dalam masyarakat melalui hukum adat.
Dengan contoh tersebut di atas dapat diketahui bahwa dalam realitasnya
kekerabatan dan persaudaraan dalam masyarakat Simeulue melalui adat masih
sangat relevan dan membudaya karena masih dapat diselesaikan persoalanpersoalan dalam masyarakat melalui hukum adat.
Dalam kehidupan kemasyarakatan baik perkawinan, pertanian, dan
kehidupan sosial lainnya peran adat sangat menentukan antara lain: (1)
peminangan, (2) pernikahan, (3) peresmian perkawinan (walimatul ursy), (4)
sarah papar, (5) sunat Rasul (khitan), (6) maulaulu, (7) turun ke sawah, (8)
kenduri blang, (9) mendoa padi (shalawat), (10) kenduri laut, dan lain-lain.
54
Konsep utama adat di Aceh, termasuk di Simeulue diungkapkan secara
puitis sebagai berikut.
Adat bak Po Teumeurohom,
Hukom bak Syiah Kuala,
Kanun bak Putroe Phang,
Peusan bak Laksamana.
Menyangkut adat dikuatkan dalam Undang-undang Republik Indonesia
Nomor 11 tahun 2006 tentang pemerintahan Aceh, Bab XIII Pasal 98.
Lembaga adat berfungsi dan berperan sebagai wahana partisipasi masyarakat
dalam penyelenggaraan pemerintahan Aceh dan pemerintahan kabupaten kota
di bidang keamanan, ketentraman, kerukunan, ketertiban masyarakat.
Penyelesaian masalah sosial kemasyarakatan secara adat ditempuh
melalui lembaga adat. Lembaga adat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan
ayat (2) meliputi: (a) Majelis adat, (b) Imeum Mukim, (c) Kepala Mukim atau
nama lain, (d) Imeum Cik atau nama lain, (e) Keucik, (f) Kepala Desa, (g)
Ketua Gampong atau nama lain, (h) Tuha Peut atau nama lain, (i) Tuha Lapan
atau nama lain, (j) Imeum Meunasah, Imam Mesjid, atau nama lain, (k)
Keujreun Blang atau nama lain, (l) Panglima Laot atau nama lain, (m) Pawag
Glee atau nama lain, (n) Peutua Seuneubok, (o) Haria Peukan atau nama lain,
(p) Syahbanda atau nama lain.
2.9.1 Adat Makan Sirih
Kegiatan budaya yang penting di dalam masyarakat Simeulue adalah
adat makan sirih. Tradisi makan sirih merupakan warisan budaya masa silam,
55
lebih dari 3000 tahun yang lalu hingga saat ini. Budaya makan sirih hidup di
Asia Tenggara yang didukung oleh berbagai golongan, meliputi masyarakat
kelas bawah, menengah, dan atas, serta kalangan kerajaan. Tradisi makan sirih
ini tidak diketahui secara pasti dari mana berasal, menurut cerita-cerita sastra
tradisi ini berasal dari India. Tetapi jika ditelusuri berdasarkan bukti linguistik,
kemungkinan besar tradisi makan sirih ini berasal dari Indonesia.
Pelaut terkenal Marco Polo menulis dalam catatannya di abad ke-13
bahwa orang India mengunyah segumpal tembakau. Sementara itu penjelajah
terdahulu seperti Ibnu Batutah dan Vasco de Gama menyatakan bahwa
masyarakat Timur memiliki kebiasaan memakan sirih.
Di daerah Aceh, mengunyah ranup (sirih) merupakan salah satu bagian
tradisi yang sudah turun-temurun dilakukan. Apabila dikaji pada masa lalu,
para nenekmoyang di Aceh memiliki tradisi makan sirih. Tradisi makan sirih
ini dibawa oleh rumpun Melayu yang merantau ke Aceh sekitar tahun 500
sebelum Masehi. Sirih yang dimakan berisikan biji pinang yang sudah diparut,
gambir dan sedikit kapur sirih. Kapur diyakini dapat memperkuat cengkraman
gusi terhadap gigi. Berikut adalah gambar seperangkat sirih.
56
Gambar 2.3:
Batel Angak (Cerana Sirih)
Sumber: www.busanamuslimbukittinggi.com
Gambar 2.4:
Batel Angak (Cerana Sirih) dan Isinya
57
Gambar 2.5:
Tutu Angak (Penumbuk Sirih)
Sumber: www.melayuonline.com
Gambar 2.6:
Daun Sirih
Sumber: www.melayuonline.com
58
Gambar 2.7:
Gambir
Sumber: google.com
59
Gambar 2.8:
Biji Pinang
Sumber: google.com
Gambar 2.9:
Kapur Sirih
Sumber : google.com
60
Masyarakat Aceh (khususnya Simeulue) memiliki beberapa makna sosial
dan kultural terhadap batel angak. Pemaknaan yang beragam terjadi karena
sirih atau ranup dalam kehidupan masyarakat digunakan dalam berbagai
aktivitas, sehingga makna yang terkandung menjadi berlainan. Secara
terperinci makna sirih adalah sebagai berikut.
a. Batel angak sebagai simbol pemuliaan tamu. Hal ini sangat jelas
terlihat dalam kesenian dan berbagai jamuan kepada tamu, besan dan
juga orang yang dihormati. Memuliakan tamu dengan batel angak,
demikian makna utama dari penyajian sirih kepada tamu.
b. Batel angak sebagai simbol perdamaian dan kehangatan sosial. Hal ini
dapat dilihat ketika berlangsung musyawarah untuk menyelesaikan
persengketaan, upacara perdamaian, upacara peusijuk dan upacara
lainnya. Sirih melambangkan sifat dan watak para peserta musyawarah
yang dijiwai oleh semangat setia kawan, setia kata, hidup rukun dan
damai.
c. Batel angak sebagai media komunikasi sosial. Makna sirih secara
simbolik adalah sebagai pemberian kecil antara pihak-pihak yang akan
mengadakan suatu pembicaraan. Batel angak adalah lambang formalitas
dalam interaksi masyarakat Aceh, setiap pembicaraan dimulai dengan
menghadirkan batel angak dan kelengkapannya.
Geertz mengatakan bahwa sirih atau ranup sebagai sebuah bagian dari
kebudayaan yang masih dipraktekkan masyarakat Aceh. Tidak hanya sebagai
kompleks-kompleks tingkah laku konkret, misalnya, adat istiadat, kebiasaankebiasaan, tradisi-tradisi, kumpulan-kumpulan kebiasaan, seperti yang pada
61
umumnya sampai hari ini, melainkan sebagai seperangkat mekanisme kontrol
yaitu rencana, resep, aturan, intruksi untuk mengatur tingkah laku.
2.9.2 Masyarakat Adat Simeulue dan Alam
Membicarakan nandong smong sebagai kearifan lokal untuk memahami
apa itu tsunami, dan bagaimana cara orang Simeulue mmenyelamatkan diri
dari bencana ini, tidak dapat dilepaskan dari bagaimana masyarakat Simeulue
memandang alam. Dalam kajian antropologis, bagaimana manusia memandang
alam ini disebut dengan kosmologi.7
Etnik Simeulue dapat dikategorikan sebagai orang maritim, karena
lingkungan alam tempat tinggalnya adalah pulau Sinmeulue, yang keseluruahn
pantainya langsung berhadapan dengan Samudera Hindia. Dalam suasana alam
maritim di khatulistiwa ini, segala aktivitas orang Simeulue berkaitan dengan
bagaimana cara mengelola alam kelautan atau bahari bagi kepentingan hidup
mereka, baik kepentingan jasmani dan ekonomis maupun kebutuhan
spiritualnya. Semua ini mengarah kepada kosmologi yang mereka bangun dari
masa ke masa.
Menurut Zainal Kling (2004:41) kebiasaan dan ketetapan corak
kehidupan kelompok manusia tidak hanya ditentukan oleh sifat saling respons
7
Kosmologi yang dimaksud dalam skripsi ini adalah ilmu yang mempelajari struktur
dan sejarah alam semesta berskala besar. Secara khusus, ilmu ini berhubungan dengan asal
mula dan evolusi dari suatu subjek. Kosmologi dipelajari dalam astronomi, filosofi, dan agama.
Kosmologi yang penulis uraikan ini adalah berkait dengan budaya SImeulue dan agama Islam
yang menjadi agama orang Simeulue. Selain itu, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)
arti kosmologi/kos·mo·lo·gi/ n 1 ilmu (cabang astronomi yang menyelidiki asal-usul, struktur,
dan hubungan ruang waktu dari alam semesta; 2 ilmu tentang asal-usul kejadian bumi,
hubungannya dengan sistem matahari, serta hubungan sistem matahari dengan jagat raya; 3
ilmu (cabang dari metafisika) yang menyelidiki alam semesta sebagai sistem yang beraturan.
62
sesama mereka saja, tetapi juga ditentukan oleh kesatuan dengan alam—atau
kebiasaan sikap terhadap alam di tempat manusia itu tinggal dan berusaha
mencari kehidupan. Setiap hari, secara tetap manusia mencari rezeki dari
sumber-sumber alam (dan juga jasa), baik siang maupun malam, juga menurut
perjalanan matahari dan bulan, turun naik dan pasang surut air laut, dan juga
ketetapan perubahan musim hujan,panas, dan angin. Di daerah-daerah di luar
khatulistiwa, bahkan dikenal empat musim, yaitu: panas, daun gugur, dingin,
dan semi.
Sifat alam yang sangat tetap ini menetapkan pula prilaku manusia, yang
berhubung dengan keadaan alamnya untuk dapat menetukan jadwal kerja dan
mencari sumber kehidupan mereka. Menurut Takari (2015), keadaan alam
lingkungan manusia inilah yang kemudian melahirkan peradaban-peradaban
mereka sendiri, yang berbeda dari satu kelompok manusia dengan kelompok
manusia lainnya. Dalam masyarakat yang tinggal di kawasan laut, pastilah
mereka menumpukan kehidupannya pada ekosistem laut. Mereka akan mencari
ikan dengan berbagai spesiesnya, menanam rumput laut, membangun
kerambah untuk budidaya ikan, mengolah hutan bakau dengan segala kekayaan
alamnya, menanam kelapa dan tumbuhan khas pesisir pantai, sampai juga
mengadakan sarana wisata maritim, membuat perahu dengan teknologinya,
sampan, jermal, dan sejenisnya. Sehingga kebudayaan yang dihasilkan mereka
adalah kebudayaan maritim.
Masyarakat Simeulue adalah masyarakat kelautan, karena habitat dan
ekosistemnya adalah pulau dan lautan. Mereka bekerja menyesuaikan diri
63
dengan alam sekitarnya. Mereka juga memikiki konsep-konsep tersendiri
mengenai alam ini.
Bagi masyarakat Simeulue alam adalah ciptaan Tuhan Yang Maha
Kuasa. Manusia diciptakan di dunia juga menjadi bahagian dari alam. Jadi oleh
karena itu janganlah merusak dan mengeksploitasi alam. Orang-orang
Simeulue meyakini bahwa alam itu selain bumi dengan segala isinya, termasuk
pulau dengan berbagai tumbuhannya seperti kelapa, bakau, hutan-hutan,
dengan dilengkapi berbagai jenis pohon. Demikian pula lautan dengan berbagai
kekayaan alamnya seperti berbagai jenis ikan, udang, teripang, kerang, cumicumi, dan lainnya, juga terdapat terumbu karang, dan lain-lainnya.
Bagi masyarakat Simeulue selain ajaran adat, mereka juga memandang
alam ini sebagai rahmat Allah kepada mereka, seperti yang diajarkan di dalam
agama Islam. Alam adalah sumber mata pencaharian manusia, alam juga
mengajarkan bagaimana mengisi hdup. Termasuk pula kapan seorang nelayan
mesti ke laut, petani menanam tanam-tanaman, disesuaikan dengan keadaan
alam di dalam ruang dan waktu yang tertentu. Kepercayaan tentang alam ini di
dalam kebudayaan etnik Simeulue secara agama di antaranya merujuk kepada
Al-Quran sebagai berikut.
(1) Q.S. Al-Mu’min ayat 64
64
Artinya: 64. Allah-lah yang menjadikan bumi bagi kamu tempat
menetap dan langit sebagai atap, dan membentuk kamu lalu
membaguskan rupamu serta memberi kamu rezki dengan sebahagian
yang baik-baik. Yang demikian itu adalah Allah Tuhanmu, Maha
Agung Allah, Tuhan semesta alam.
(2) Q.S. An Nahl ayat 65
Artinya: 65. Dan Allah menurunkan dari langit air (hujan) dan dengan air
itu dihidupkan-Nya bumi sesudah matinya. Sesungguhnya pada yang
demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Tuhan) bagi
orang-orang yang mendengarkan (pelajaran).
Orang-orang Simeulue juga meyakini bahwa alam ini kadangkala dapat
memberikan bencana, seperti kebakaran, kebanjiran, kemarau, gerhana, hujan
yang disertai angin puting beliung, angin tornado, tsunami, dan lain-lainnya.
Dalam menghadapi bencana alam ini, setiap orang Simeulue sebagai umat
Islam, perlu berdoa agar dijauhkan dari bencana. Namun kalaupun bencana
alam datang, maka diperluakan upaya untuk menyelamatkan diri dari bencana
tersebut. Menurut ajaran Islam bencana alam ini juga menjadi bagian dari
kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa, seperti yang terdapat di dalam Al-Quran
berikut ini.
65
(1) Q.S. Surah Al An’aam ayat 63.
63. Katakanlah: "Siapakah yang dapat menyelamatkan kamu dari
bencana di darat dan di laut, yang kamu berdoa kepada-Nya dengan
rendah diri dengan suara yang lembut (dengan mengatakan:
"Sesungguhnya jika Dia menyelamatkan kami dari (bencana) ini,
tentulah kami menjadi orang-orang yang bersyukur."
(2) Q.S. Al An’aam ayat 64:
Artinya: 64. Katakanlah: "Allah menyelamatkan kamu dari bencana itu
dan dari segala macam kesusahan, kemudian kamu kembali
mempersekutukan-Nya."
(3) Q.S. Al-Baqarah ayat 164
Artinya: 164. Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih
bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa
apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari
langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati
(kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan
pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi;
sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi
kaum yang memikirkan.
66
Dari sebahagian saja ayat-ayat Al-Qura’an seperti yang dikutip di atas
menjelaskan kepada umat Islam, termasuk etnik Simeulue, bahwa alam ini
adalah tempat manusia mengisi kehidupannya. Alam adalah sumber dari
peradaban manusia. Namun adakalanya Allah mencoba manusia dengan
bencana-bencana alam, yang di dalamnya terkandung nilai-niai pembelajaran
kerohanian manusia.
2.10 Nandong Smong di Simeulue
Nandong merupakan salah satu kesenian tradisional yang ada di
Kabupaten Simeulue. Sejauh pengamatan penulis, belum ada buku yang
menuliskan tentang arti dari kata nandong. Penulis sebagai putra daerah
Simeulue berpendapat bahwa kata nandong diambil dari bahasa Indonesia,
yaitu kata senandung. Senandung berarti nyanyian atau alunan lagu dengan
suara lembut untuk menghibur diri atau menidurkan bayi. Oleh karena bahasa
yang digunakan mirip seperti Minangkabau yang banyak menggunakan huruf
vocal “O”, kata senandung perlahan berubah menjadi “senandong” hingga
menjadi kebiasaan masyarakat menyebut nandong. Jadi, nandong adalah
nyanyian atau alunan lagu yang dinyanyikan dengan makna lirik yang
bertujuan untuk mengingatkan, menasehati, dan memberitahu kepada penonton
tentang kehidupan sehari-hari.
Smong berasal dari bahasa Simeulue yang artinya air laut naik, ketika
gempa bumi atau lebih dikenal dengan istilah tsunami (dalam bahasa Jepang).
Jadi, nandong smong adalah jenis nyanyian atau alunan lagu yang berkisah
67
tentang peristiwa tsunami. Dalam sejarah tercatat bahwa tsunami ini
menghantam pulau Simeulue pada tahun 1833 dan 1907 silam.
Pada tahun 1833 terjadi smong (tsunami) di kepulauan ini, berselang 74
tahun kemudian tepatnya pada tahun 1907 smong kembali melanda daerah
kepulauan ini. Dari bencana alam ini, para orang tua menceritakan kepada anak
cucu mereka jika terjadi gempa dan air laut surut, segeralah lari ke dataran
yang lebih tinggi.
Menurut penjelasan seorang informan bernama bapak Suherman (58
tahun), dituturkan sebagai berikut: ”Para nenek moyang kami menurunkan atau
memberi tahu nasehat ini melalui cara bernandong, yaitu bersenandung dengan
diiringi oleh alunan biola dan kedang. Karena kebiasaan inilah makanya kami
selamat waktu tsunami 2004.”
Nandong smong ini sering dilantunkan oleh para seniman nandong di
saat ada acara berkumpul-kumpul, hari-hari besar nasional maupun daerah
bahkan termasuk ke dalam salah satu rangkaian dari pada upacara adat
pernikahan, sehingga ini sudah dianggap sebagai “tradisi asli” dari Simeulue.
Oleh karena kentalnya tradisi ini sehingga smong mendapat penghargaan dari
PBB (Perserikatan Bangsa-bangsa) karena pengetahuan lokal dan tradisi
lisannya mampu meminimalisasi korban saat tsunami tahun 2004.
UN (United Nations) atau di Indonesia lebih dikenal dengan PBB
(Perserikatan Bangsa-bangsa) melalui program ISDR8 (International Strategy
for Disaster Reduction) memberikan penghargaan kepada masyarakat
8
ISDR adalah sebuah organisasi untuk mengawasi pengembangan kebijakan
pengurangan bencana alam.
68
Simeulue, yaitu Sasakawa Award9 pada 13 oktober 2005. Penghargaan ini
diberikan karena masyarakat memiliki kearifan lokal smong, sehingga 80.500
masyarakat Simeulue dapat selamat dari bencana tsunami 2004.
Bencana
tsunami saat ini termasuk dahsyat, karena menyapu dan melanda berbagai
negara, seperti: Indonesia, Thailand, Malaysia, India, dan lain-lainnya. Dilihat
dari pusat gempa, pulau Simeulue tempat bermukimnya orang Simeulue paling
dekat jaraknya. Pemerintah di Kabupaten Simeulue pun dibandingkan dengan
berbagai pemerintah di kawasan-kawasan tsunami seperti Jepang, ketinggalan
dari segi teknologi komunikasi tentang tsunami, seperti sirene di lautan sebagai
tanda terjadinya tsunami, demikian juga teknologi penanda gempa, yang dalam
hal ini ditangani oleh BMKG (Badan Meteorologi dan Geofisika) tidaklah
secanggih di negara-negara maju.
Dalam hal ini tradisi lisan nandung smong sangat berfungsi sebagai
sarana ilmu pengetahuan tradisional orang Simeulue, dalam konteks
memahami apa itu tsunami, yang ditandai dengan gejalanya dan kemudian
peristiwanya. Demikian pula tradisi ini dapat memberikan pengetahuan
kolektif masyarakt Simeulue dalam rangka menyelamatkan diri dari bencana
tsunami. Itulah beberapa faktor keunggulan kearifan lokal dalam nandong
smong ini. Berikut ini adalah penghargaan Sasakawa Award.
9
Sasakawa Award adalah satu dari tiga penghargaan yang sangat prestisius di tingkat
Global. Nominasi untuk memenangkan Sasakawa Award for Disaster Reduction tak hanya dari
Indonesia. Tapi juga berasal dari negara-negara di seluruh dunia.
69
70
71
Gambar 2.10:
Kutipan Penting Sasakawa Award atas Eksistensi Nandong Smong
72
Adapun isi penghargaan PBB kepada masyarakat Simeulue atas
nandong smong ini, dalam terjemahan bahasa Indonesia adalah sebagai berikut.
Bupati Kabupaten Simeulue menerima sebuah penghargaan yang
bergengsi dari PBB
Bangkok, 13 oktober 2005, Bupati Simeulue menerima sebuah
penghargaan yang bergengsi dari PBB karena menyelamatkan ribuan nyawa
pada tsunami 26 desember.
Terima kasih untuk kepercayaan terhadap pengetahuan yang mereka
miliki tentang melihat bagaimana tanda-tanda laut dan reaksi kerbau-kerbau
menjauh dari laut. Penduduk yang berjumlah sekitar 80.500 jiwa meninggalkan
daerah pesisir menuju bukit-bukit terdekat pada hari minggu pagi.
Walau demikian, ada juga sebanyak tujuh orang yang meninggal karena
tsunami di pulau ini. Ketika 163.795 meninggal di provinsi Aceh.
Penduduk pemilik smong menerima penghargaan Sasakawa Award
sebagai bencana yang menghancurkan. Cerita tentang apa yang terjadi di laut
sebelum
tsunami dan bagaimana kerbau-kerbau berlari kencang ke
pegunungan, seperti yang telah diceritakan oleh nenek moyang beberapa tahun
silam dengan cerita-cerita lain tentang nenek moyang mereka. Seperti yang
dikatakan Muhammad Ridwan yang merupakan pemimpin dari penduduk
Simeulue, dia mengatakan hal ini setelah mendapatkan penghargaan.
Tradisi lisan ini (smong) dibentuk oleh masyarakat Simeulue, karena
terjadi kehancuran yang telah mengejutkan penduduk baik itu yang berprofesi
sebagai petani, nelayan, dan pedagang ketika sebuah gempa yang diikuti
73
dengan tsunami menghantam kepulauan ini pada tahun 1907, yang telah
membunuh ribuan jiwa.
Lebih lanjut dikatakan Ridwan, “Sejak itu kami telah belajar bagaimana
untuk melarikan diri dan desember yang lalu itu membutuhkan sekitar 30 menit
untuk berada di daratan yang lebih tinggi.” Ridwan, umur 53, adalah sekretaris
daerah Kabupaten Simeulue.
Penerbangan dan ribuan nyawa selamat karenanya. Ini juga yang
menakjubkan masyarakat Simeulue berada di lokasi yang sangat dekat dengan
pusat gempa bumi yang berada di Samudra Hindia. Gempa bumi inilah yang
memicu tsunami.
Di lain sisi, “Apa yang terjadi di Simeulue adalah sesuatu prestasi yang
unik di tengah kematian di Aceh yang dikarenakan tsunami,” Nannie
Hudawati, seorang pejabat senior di Badan Nasional Penanggulangan Bencana
(BPNB), atau disebut dengan IPS. “itu adalah satu penduduk yang memiliki
cara tradisional untuk menanggulangi tsunami.”
Dua penduduk lain yang juga bertahan dengan bergantung pada
pengetahuan tradisional dan melarikan diri ke tempat yang aman--jipsi laut
yang berada di sepanjang pantai selatan Thailand dan penduduk suku yang
tinggal di daerah terpencil India, yaitu pulau Andaman dan Nicobar.
Nandong smong disajikan pada saat-saat tertentu, seperti pada acara
pertunjukan kesenian daerah Aceh, dalam penyambutan tamu istimewa, pada
malam hari di saat sebelum atau sesudah upacara pernikahan, dan juga
terkadang di saat pesta setelah khitanan10 pun juga dimaikan. Demikian ulasan
10
Pelaksanaan (upacara) memotong kulup; sunatan. Sumber: kbbi.web.id/khitanan
74
mengenai aspek etnografi dan keberadaan nandong smong di dalam
kebudayaan etnik Simeulue di Provinsi Aceh. Keberadaan etnik Simelulue
terekspresi dalam nandong smong. Dapat dikatakan bahwa nandong smong ini
adalah ikon dari peradaban masyarakat Simeulue. Seni inilah yang menjadi
garda depan identitas kebudayaan Simelulue, yang dikenal di seluruh
Nusantara bahkan dunia.
.
75
BAB III
KAJIAN MUSIKAL
Bab III ini adalah khusus berisikan materi kajian musikal. Kajian ini
mencakup tentang pemusik dalam pertunjukan smong, alat-alat musik yang
digunakan, transkripsi dan analisis nandong smong (berdasarkan weighted scale,
seperti yang telah diuraikan di bab pendahuluan. Tujuan tama dari studi atau kajian
musikal ini adalah untuk melihat bagaimana budaya musik smong ini
dipertunjukkan, dan bagaimana pula stuktur musik yang dihasilkannya. Dengan
mengetahui aspek musikal ini, maka secara keilmuan, berdasarkan pemahaman
secara etnomusikologis, msaka kita dapat memahami karakteristik khas kebudayaan
masyarakat Simeulue.
3.1 Pemusik
Pemusik di dalam kebudayaan etnik Simeulue sangatlah dihormati.
Pemusik, termasuk pemusik dalam kesenian nandong smong dipandang sebagai
tokoh adat, yang memahami baik secara mendalam maupun meluas mengenai adatistiadat etnik Simeulue. Pemusik dipandang sebagai kelas sosial terpandang secara
kebudayaan. Biasanya menjadi pemusik bukanlah sebagai pekerjaan utama dalam
kebudayaan Simeulue. Pemusik adalah bahagian dari pengabdian diri dalam
konteks memelihara dan mengembangkan kebudayaan. Di dalam kehidupan
masyarakat, mereka biasanya bekerja di bidang-bidang lain, seperti sebagai petani,
nelayan, pegawai negeri sipil, tentara, dan lain-lainnya. Seorang pemusik melekat
statusnya selama ia masih menjadi pemain musik. Pemusik juga sekali gus
dipandang sebagai tokoh dan pemelihara adat. Oleh karenanya, seorang pemusik
60
dihormati di dalam kehidupan sehari-hari maupun di atas pentas pertunjukan.
Berikut ini adalah foto penampilan pemusik dengan pakaian adat Simeulue, serta
alat musik kedang dan biola, sebelum menyajikan pertunjukan nandong smong.
Gambar 3.1:
Pemusik. Jamil (63 Tahun, Kiri) dan Suherman (58 Tahun, Kanan)
(Dokumentasi: Penulis, September 2016)
Setiap kelompok seni memiliki pakaian khas yang mewakilkan budaya di
daerahnya, begitu juga dengan kelompok seni yang ada di Simeulue. Para musisi
tradisional di daerah ini umumnya memakai baju dan celana berwarna kuning
mengkilat dan memakai kain songket khas Aceh, yang dikenakan seperti memakai
kain sarung, tetapi hanya dari bagian pinggang dan lutut saja yang tertutupi. Foto
pakaiannya dapat dilihat pada gambar di atas.
61
Menurut Suherman, “Warna kuning melambangkan kemewahan karena
pada zaman dahulu hanya para petinggi seperti Kerajaan yang boleh memakai
warna ini dan kain songket ini merupakan upaya kami untuk melestarikan kain
tradisional Aceh.” Menurut hasil pengamatan penulis di lapangan, perpaduan
pakaian yang digunakan memiliki kesamaan dengan daerah pesisir barat di
Indonesia. Hal ini terjadi dikarenakan oleh akulturasi budaya yang dibawa oleh para
pendatang dan pedagang ke Simeulue. Para pendatang di Simeulue berasal dari
beberapa wilayah pesisir barat, yaitu Minangkabau, Pesisir, Nias, dan Melayu.
3.2 Instrumen Pengiring dan Klasifikasi Organologis
Umumnya, dalam sebuah pertunjukan nyanyian selalu ada alat musik
sebagai pengiring nyanyian tersebut, walaupun bukan sebagai suatu keharusan.
Begitu juga dengan nandong smong ini yang memiliki dua jenis alat musik
pengiring nyanyiannya.
Curt Sach dan Hornbostel dalam tulisannnya Classification of Musical
Instrument menyebutkan bahwa alat musik dapat diklasifikasikan menurut sumber
bunyinya. Dalam penelitian lapangan yang penulis lakukan, terdapat dua jenis alat
musik pengiring yang mainkan, yaitu biola dan gendang. Berikut adalah
penjelasannya.
3.2.1Biola
Biola merupakan alat musik yang berasal dari eropa yang tergolong kedalam
klarifikasi alat musik chordophone, yaitu alat musik yang sumber bunyinya adalah
getaran dari dawai atau senar. Di Indonesia, biola sangat sering digunakan sebagai
salah satu alat musik pengiring kesenian tradisional, umumnya di daerah pesisir
62
barat. Biola yang digunakan oleh seniman Simeulue ini secara kasat mata terlihat
sama persis dengan biola pada umumnya, namun yang membedakannya adalah
biola ini dibuat secara otodidak oleh bapak Gagak, bahan bakunya diambil dari
kayu hutan pilihan dan membuat nya sendiri di rumah. Pembuatan biola ini
mengadopsi bentuk biola pada umumnya. Yang menjadikan khas dari biola ini ada
bentuk nya yang tipis dan suara nya yang nyaring. Pak Gagak merupakan satusatunya pembuat biola di Simeulue. Berikut adalah gambar biola buatan tangan
bapak Gagak.
Gambar 3.2:
Biola Buatan Tangan oleh Bapak Gagak.
Dokumentasi: Penulis, September 2016.
3.2.2 Kedang (Gendang)
Kedang adalah gendang dalam bahasa Simeulue. Alat musik pukul jenis
membranophone double head ini berbentuk silendris atau tabung yang kedua sisi
tidak sama besarnya. Alat musik ini terbuat dari kayu yang dilubangkan pada
bagian tengahnya dan ditutupi oleh kulit kambing yang sudah diolah pada bagian
63
kanan dan kiri sebagai membrannya. Pada bagian membran kanan diikat
menggunakan rotan ke bagian membran kiri, lalu ditarik hingga erat. Namun karena
kurangnya bahan baku rotan, pembuat kedang menggunakan tali jenis nylon
sebagai pengganti rotan.
Gambar 3.3:
Kedang dan Pemukulnya
Dokumentasi: Penulis, September 2016.
64
Gambar 3.4:
Kedang
Dokumentasi: Penulis, September 2016.
3.3 Transkripsi Vokal dan Musik Pengiring
3.3.1 Teknik Transkripsi
Dalam bidang ilmu musikologi dan etnomusikologi, transkripsi adalah
proses mengubah bunyi sebagai hasil dari pengamatan dan pendengaran suatu
musik ke dalam bentuk simbol atau notasi. Banyak jenis notasi di dunia ini, baik
yang didasari oleh sistem tulisan masyarakatnya, maupun yang diadopsi dari
budaya lain, termasuk notasi balok dan angka dari kebudayaan Barat.
Pada bagian ini penulis melakukan transkripsi dengan menggunakan notasi
Barat. Penulis memilih notasi Barat agar dapat menggambarkan pergerakan melodi
secara grafis. Penulis merasa notasi barat merupakan pilihan tangga nada notasi
yang paling tepat untuk bisa mewakili nada pada setiap simbolnya, hasil transkripsi
yang dibuat oleh penulis merupakan gambaran nada yang mendekati melodi asli
65
dalam lagu, dalam arti kata lain, melodi yang sudah penulis transkrip ke dalam
notasi Barat tidak sama persis dengan yang asli.
Teknik transkripsi yang penulis gunakan adalah sebagai berikut.
(1) Notasi ditulis dalam sebuah sistem (gabungan beberapa alat musik dan vokal),
yang mewakili bunyi gendang (kedang) pada paranada atas, kemudian di
tenbgahnya paranada untuk menuliskan vokal (nyanyian), dan paranada ketiga
paling bawah adalah notasi untuk biola. Contohnya dapat dilihat pada notasi
berikut ini.
(2) Bunyi gendang ditulis dengan menggunakan tanda berikut ini agar
diasosiasikan dengan ritme bukan denggan melodi.
(3) Vokal dan biola dalam setiap baris dituliskan dengan menggunakan tanda
mula dua mol (yaitu nada bes dan es), sesuai dengan frekuensi aslinya.
Namun dalam konteks ini, bukan seperti halnya musik Barat yang jika
menggunakan dua mol berarti nada dasar mayornya adalah Bes Mayor
(minor relatifnya G Minor).
66
(4) Karena musik nandong smong ini, tidak terlalu terikat pada meter yang
pasti, maka tanda birama tidak dituliskan. Musik ini adalah semi free meter.
Contohnya adalah sebagai berikut.
3.3.2 Hasil Transkripsi
Berdasarkan teknik transkripsi seperti diurai di atas, maka didapatlah
hasilnya melalui penulisan yang menggunakan perangkat lunak sibelius. Berikut
adalah hasil transkripsi cuplikan
nandong smong, yang penulis transkripsikan
bersama bantuan dari Mario Y. Sinaga.
67
Notasi 3.1:
NANDONG SMONG
Transkripsi oleh :
Yomi Harsa dan Mario Y Sinaga
175
68
110
69
125
70
71
72
73
74
3.3.3 Struktur Pertunjukan
Berdasarkan hasil transkripsi pada notasi di atas, maka menjeaskan kepada kita
pertunjukan nandong smong memiliki norama-norma (urutan) pertunjukannya. Pertama
sekali yang mengisi pertunjukan ini adalah pola ritme kedang, yang dalam hal ini dimulai
dari birama 1 sampai 52. Pola ritme kedang sebanyak 52 bar ini, berdasarkan pola-pola
yang dihasilkan pemain kedang adalah pola ritme: (1) empat ketukan yang diisi durasi not
seperempat, (2) pola ritme gabungan ketukan-ketukan dupel; (3) gabungan dupel dan
kuadrupel, sebagai berikut.
1.
.
2.
3.
Urutan pertunjukan berikutnya adalah biola. Sebagaimana peran biola pada musik
Simeulue pada umumnya, biola berfungsi sebagai melodi yang menjadi acuan penandong
masuk, secara heterofonis. Biola juga menjadi jembatan melodis antara bentuk melodi
vokal. Demikian pula pertunjukan smong ini. Bentuk melodi biola sebelum masuk vokal,
adalah sebagai berikut.
75
76
Kemudian masuklah vokal penandong smong ini pada birama yang ke-120.
Adapun ketika nandong smong dipertunjukkan, maka baik kedang maupun biola main
bersama-sama dan menghasilkan tekstur musik heterofonis. Dalam hal ini melodi biola dan
vokal memiliki garis melodi secara umum hampir sama, namun dengan varisasi-variasi
yang berbeda. Selengkapnya dapat dilihat pada notasi awal di atas. Notasi khusus vokal
nandong smong ini dapat dilihat pada notasi berikut ini.
77
Notasi 3.2:
NANDONG SMONG
(Bagian Vokal Saja)
78
3.4 Analisis
3.4.1 Tangga Nada
Tangga nada atau scale yang dimaksud dalam skripsi ini adalah nadanada yang dipakai dalam nandong smong, yang berkaitan dengan melodi serta
nada dasar (tonika). Tangga nada ini memiliki nada-nada anggota, yang
membangun melodi secara keseluruhan.
Dalam mendeskripsikan tangga nada, penulis mengurutkan nada-nada
yang terdapat dalam melodi nyanyian tersebut, berdasarkan kaidah penyusunan
tangga nada atau modus melodi di dalam kebudayaan musik manapun di dunia
ini. Dari hasil transkripsi diperoleh nada-nada anggota tangga nada nandong
smong ini sebagai berikut.
Notasi 3.3:
Tangga Nada Nandong Smong
Adapun jarak antara nada-nada anggota tanggga nada ini adalah:
200 -- 200 -atau
1 --
1 --
200 -1
--
100 -- 100 -- 100 -- 200
½ -- ½ -- ½ --- 1
sent
laras
Tangga nada tersebut dilihat dari hubungan antara nada yang satu dengan yang
lainnya memiliki formula-formula interval yang menyusunnya sebagai berikut
ini.
79
Notasi 3.4:
Hubungan Antarnada dalam Tangga Nada Nandong smong
Dengan demikian tangga nada yang digunakan oleh penyanyinya untuk
menyanyikan nandong smong ini dapat diklasifikasikan kepada tangga nada
yang menggunakan delapan nada, bisa jadi ini pengembangan dari tangga nada
yang lazim dalam kebudayaan Aceh yakni heptatonik.19
3.4.2 Nada Dasar (Pitch Center)
Dalam menentukan nada dasar pada nandong smong ini, penulis
menggunakan tujuh kriteria-kriteria generalisasi yang ditawarkan oleh Bruno Nettl
dalam bukunya Theory and Method in Etnomusicology (1963:147), yaitu sebagai
berikut.
19
Jika sebuah tangga nada (scale) menggunakan dua nada disebut dengan ditonik, tiga
nada tritonik (sedangkan tritonus berkait dengan interval kuart aughmented contohnya F ke B
atau balikannya kuint diminished, contoh B ke F), empat tetratonik, lima pentatonik, enam
sektatonik, dan tujuh heptatonik. Sementara tangga nada diatonik adalah tangga nada yang
mengacu kepada tangga nada musik Barat secara umum, yang menggunakan dua jenis interval
yaitu penuh dan setengah, dengan bentuknya pada tangga nada mayor maupun minor (natural,
harmonis, melodis, dan zigana).
80
1. Patokan yang paling umum adalah melihat nada mana yang paling sering
muncul dan nada mana yang paling jarang dipakai dalam suatu komposisi
musik.
2. Kadang-kadang nada yang memiliki nilai ritmisnya besar dianggap nada
dasar, meskipun jarang dipakai.
3. Nada yang dipakai pada awal atau akhir komposisi maupun pada bagian
tengah komposisi dianggap mempunyai fungsi penting dalam tonalitas
tersebut.
4. Nada yang menduduki posisi paling rendah dalam tangga nada ataupun
posisi tepat berada ditengah-tengah dapat dianggap penting.
5. Interval-interval yang terdapat antara nada kadang-kadang dipakai
sebagai patokan. Contohnya sebuah posisi yang digunakan bersama
oktafnya, sedangkan nada lain tidak memakai. Maka nada pertama
tersebut boleh dianggap lebih penting.
6. Adanya tekanan ritmis pada sebuah nada juga bisa juga bisa dipakai
sebagai patokan tonalitas.
7. Harus diingat barangkali ada gaya-gaya musik yang mempunyai sistem
tonalitas yang tidak bisa dideskripsikan dengan patokan-paokan diatas.
Untuk mendeskripsikan sistem tonalitas seperti itu, cara terbaik
tampaknya adalah pengalaman lama dan pengenalan akrab dengan
musik tersebut (terjemahan Marc Perlman 1963:147).
Dengan melihat ketujuh kriteria di atas, maka dapat diuraikan nada
dasar pada nandong smong ini adalah seperti berikut.
1
Nada yang paling sering dipakai adalah nada: Bes
81
2
Nada yang memiliki nilai ritmis terbesar: Bes
3
Nada awal yang paling sering dipakai: Bes, dan nada akhir yang
paling sering dipakai: D
4
Nada yang memiliki posisi paling rendah: Bes
5
Nada yang dipakai sebagai duplikasi oktaf: D
6
Nada yang mendapat tekanan ritmis: D
7
Berdasarkan dari pengalaman musikal penulis, maka kemungkinan
besar nada dasar lagu nandong smong ini adalah nada: Bes
Tabel 3.1:
Nada Dasar yang Dipergunakan pada Nandong smong
No
Kriteria
Nada
1
K1
Bes
2
K2
Bes
3
K31
Bes
4
K32
D
5
K4
Bes
6
K5
D
7
K6
D
8
K7
Bes
82
3.4.3 Wilayah Nada
Wilayah nada dapat didefiniskan merupakan retang antara nada yang
terendah sampai yang tertinggi yang digunakan dalam sebuah bangunan musik,
terutama yang berkaitan dengan melodi. Wilayah nada ini selalu juga dalam
istilah musik disebut dengan ambitus atau range.
Dengan berpedoman pada hasil transkripsi seperti terurai di atas maka
wilayah nada yang digunakan penyanyi nandong smong ini adalah dari nada
terendahnya yaitu Bes di bawah C tengah, dan nada tertinggi adalah nada D.
Jika di gambarkan di dalam notasi adalah sebagai berikut ini.
Notasi 3.5:
Wilayah Nada Nandong smong
Bes
D
1600 sent
8 laras
Dengan demikian tergambar dengan jelas bahwa ambitus suara yang
diekspresikan oleh penyaji nandong smong adalah satu oktaf lebih dua laras.
83
3.4.4 Jumlah Nada
Jumlah nada adalah banyaknya nada yang dipakai dalam suatu musik
atau nyanyian. Dalam menentukan jumlah nada-nada dari vokal dan musik
yang dimainkan, terdapat dua cara yang dilakukan. Pertama adalah melihat
banyaknya kemunculan setiap nada tanpa melihat durasinya secara komulatif.
Kedua, melihat kemunculannya dan menghitung durasi komulatif. Dalam hal
ini, penulis menggunakan cara yang pertama, yaitu dengan menghitung nada
yang digunakan di dalam nandong smong. Adapun nada-nada yang digunakan
di dalam nandong smong adalah sebagai berikut.
No
Nada
1
Bb
2
C
3
D
4
Eb
5
F
6
Gb
7
G
8
A
Jumlah
Jumlah
19
17
14
41
39
4
17
16
182
Tabel 3.2:
Jumlah Nada yang Digunakan
84
Notasi 3.6:
Jumlah Nada-nada yang Digunakan pada Nandong smong
19
17
14
41
39
4
17
16
3.4.5 Jumlah Interval
Interval adalah jarak antara satu nada dengan nada yang lain yang terdiri
dari interval naik maupun turun. Sedangkan jumlah interval adalah banyaknya
interval yang dipakai dalam suatu musik atau nyanyian. Berikut ini adalah
interval dari nyanyian nandong smong tersebut.
Tabel 3.3:
Interval yang Digunakan Nandong smong
Interval
Posisi
Naik
Total
Turun
1P
110
110
2m
3
2
5
2M
66
39
105
30
10
40
3m
3M
4P
85
5P
8
20
28
6M
1
8
9
3.4.6 Pola Kadensa
Pengertian kadensa adalah pergerakan nada akhir dari suatu frasa lagu.
Pola kadens dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu semi kadens (half cadence)
dan kadens penuh (full cadence). Semi kadens adalah suatu bentuk istirahat
yang tidak lengkap atau tidak selesai dan memberi kesan adanya gerakan ritme
yang lebih lanjut. Sedangkan kadens penuh adalah suatu bentuk istirahat di
akhir frase yang terasa selesai sehingga pola kadens seperti ini tidak
memberikan kesan untuk menambah gerakan ritem. Berikut ini adalah
penggunaan kadens pada lagu nandong smong.
86
Notasi 3.7:
Pola Kadensa Nandong smong
Seperti terlihat pada notasi di atas, kadens a diisi oleh nada G pada posisi
up beat durasi not seperenam belas dilanjutkan ke nada F sebesar not
seperenam belas dan diakhiri oleh nada Es dengan durasi not sembilan
perenam belas.
Kemudian kadens b, diisi oleh nada terendah pada komposisi lagu ini
yakni Bes sebesar seperenam belas, dilanjutkan dengan meloncat ke nada Es di
87
atasnya dengan durasi not seperenam belas, dilanjutkan ke nada C sebesar not
seperenam belas, diakhiri dengan nada D dengan durasi not setengah.
Sementara kadens yang mengakhiri bentuk nandong smong ini (kadens c)
adalah dimulai dari nada Bes dengan durasi sebesar not seperdelapan,
kemudian dilanjutkan ke nada C yang juga berdurasi not seperdelapan, dan
diakhiri oleh nada D dengan durasi not setengah. Keempat kadens inilah yang
menjadi dasar komposisi kadens dalam nandong smong.
3.4.7 Formula Melodi
Formula melodi yang akan dibahas dalam tulisan ini meliputi bentuk,
frasa dan motif. Bentuk adalah gabungan dari beberapa frasa yang terjalin
menjadi satu pola melodi. Frasa adalah bagian-bagian kecil dari melodi.
Akhirnya unit terkecil yaitu motif adalah ide melodi sebagai dasar
pembentukan melodi.
William P. Malm mengemukakan bahwa ada beberapa istilah dalam
menganalisis bentuk, yaitu:
1. Repetitif yaitu bentuk nyanyian yang diulang-ulang.
2. Ireratif yaitu bentuk nyanyian yang memakai formula melodi yang kecil
dengan kecenderungan pengulangan-pengulanag di dalam keseluruhan
nyanyian.
3. Strophic yaitu bentuk nyanyian yang diulang tetapi menggunakan teks
nyanyian yang baru atau berbeda.
4. Reverting yaitu bentuk yang apabila dalam nyanyian terjadi pengulangan
pada frasa pertama setelah terjadi penyimpanganpenyimpangan melodi.
88
5. Progresive yaitu bentuk nyanyian yang terus berubah dengan menggunakan
materi melodi yang selalu baru.
Melihat kepada hal yang dikemukakan oleh Malm mengenai bentuk
nyanyian, maka penulis mengambil kesimpulan bahwa melodi dari nyanyian
tersebut adalah strophic yang artinya bentuk nyanyian yang diulang tetapi
menggunakan teks nyanyian yang baru atau berbeda.
3.4.8 Analisis Bentuk, Frase, dan Motif pada Nandong Smong
Secara garis besar, bentuk melodi nandong smong, ada dua yang dalam
hal ini diidentifikasi dengan bentuk A dan bentuk B. Bentuk melodi nandong
smong A, disusun oleh frase a dan frase b. Di sisi lain, bentuk B diisi dan
dikomposisikan oleh frase c1 dan c2.
Frase-frase yang membentuk komposisi bentuk A dan B nandong smong
ini adalah: (1) frase a, (b) frase b, (c) frase c1, dan (d) frase c2. Frase-frase
yang kemudian menyusun bentuk binari inilah yang menjadi dasar penandong
smong, menyajikan melodinya secara kontinu dalam pertunjukan atau konteks
sosialnya.
89
Notasi 4.8:
Frase-frase Nandong smong
Dari notasi di atas dapat dideskripsikan dua frase yang membentuk melodi
vokal smong ini sebagai berikut.
(i) Frase A, pada birama pertama dimulai dengan nada Bes dengan durasi
not setengah. Diteruskan ke nada Bes dengan durai not seperenam
belas, ke nada C durasi seperenam belas, nada Bes kembali durasi
seperenam belas, dan nada A durasi seperenam belas. Diteruskan ke
beat berikut, dengan nada yang persis sama dengan nada beat
sebelumnya, yakni nada Bes, C, Bes, C, A masing-masing durasi
90
seperenam belas. Duteruskan ke beat selanjutnya dengan menggunakan
nada Bes durasi seperdelapan dan nada C juga seperdelapan,
dilanjutkan ke ketukan berikut yakni nada Bes not seperdelapan, nada A
seperenam belas, nada Bes seperenam belas, beat berikutnya masingmasing not seperenam belas dengan nada C, Bes, C, Bes; diteruskan ke
ketukan berikut yang juga kuadrupel artinya masing-masing not
seperenam belas dengan nada-nada A, Bes, C, Bes. Kemudian
kuadrupel dengan rangakain nada A, Bes, D, C. Seterusnya durasi
kuadrupel, dengan nada Bes, A, C, Bes. Masih durasi sama dengan nada
A, G, A, Bes, diteruskan ke A, G, F, Es. Kemudian masih sama
kuadrupel Es, F, Es, G, diteruskan ke F, Es, F, Es. Kemudian
dilanjutkan ke Es, F, Es, G, dilanjutkan ke F, G, F, Es, terus ke Es, F,
Es, G, serta F, G, F, dan Es dengan durasi yang panjang yakni not
sembilan perenam belas.
(ii) Frase B, dimulai dengan nada Es not sepeerenam belas, lanjut Ges
seperdelapan, ke F seperenam belas, dan dilanjutkan
ke ketyukan
berikut dengan durasi kuadrupel yang diisi empat nada Es, F, Es, F.
Dilanjutkan ke kuadrupel juga dengan nada masibg-masing, Es, F, G, F.
Diteruskan ke durasi berikut, yang masih kuadrupel dengan nada-nada
G, F, Es, F. Setersunya, kuadrupel dengan nada-nada Es, F (masingmasing seeperenam belas) dan Ges seperdelapan.
Kembali lagi ke
kuadrupel yang diisi nada-nada Es, F, Es, F. Diteruskan ke kuadrupel
G, F, Es, F. Seterusnya adalah Es seperenam belas, F seperenambelas,
dan Ges seperdelapan.
91
(iii) Frase C1, diisi oleh durasi kuadrupel dengan masing-masing rangkaian
nada Es, F, Es, F. Dilanjutkan ke beat berikut yang juga kuadrupel
dengan nada masing-masing Es, F, G, F. Selanjutnya masih kuadrupel
dengan menggunakan nada-nada G, F, Es, F. Seterusnya beat ini diisi
oleh durasi not seperenam belas dengan nada D, sperenambelas Es, dan
seperdelapan nada F. Dilanjutkan ke kuadrupel yang diisi nada-nada D,
Bes, Es, dan C. Rangkaian frase C1 ini diakhiri olehh nada D dengan
durasi not setengah.
(iv) Frase C2, beat awal diisi oleh ritme kuadrupel dengan nada masingmasing D, Es, D, Es. Beat kedua juga kuadrupel dengan nada-nada
yang mebgisinya D, Es, D, Es. Demikian pula dua beat berikut
menggunakan durasi dan nada yang sama. Setersunya dilanjutkan
dengan dua beat dupel, masing-masing menggunakan nada D, C, Bes,
dan C. Frase ini diakhiri oleh not setengah dengan menggunakan nada
D.
Dari empat frase tersebut, maka selanjutnya lebih detil lagi dapat
dianalisis
motif-motif
melodi
yang digunakan
Selengkapnya dapat diuraikan sebagai berikut.
92
nandong
smong
ini.
Notasi 4.9
Motif-motif Nandong smong
Motif melodi frase A terdiri dari: a, b, a1, c, d, a2, dan a3. Sementara di
sisi lainnya, frse B dibentuk oleh motif-motif: a4, e, f, dan a21. Dengan
demikian motifnya cenderung berkembang terus. Di samping itu, khusus motif
93
a, motif yang statis yaitu rangkaian nada-nada yang sama sangat berkembang
di dalam melodi nandong smong ini.
3.4.9 Kontur
Kontur adalah garis melodi dalam sebuah lagu. Malm (dalam Irawan
1997: 85), yang dapat dibedakan beberapa jenis kontur, yaitu:
1. Ascending yaitu garis melodi yang bergerak dengan bentuk naik dari
nadayang lebih rendah ke nada yang lebih tinggi.
2. Descending yaitu garis melodi yang bergerak dengan bentuk turun dari nada
yang lebih tinggi ke nada yang lebih rendah.
3. Pendulous yaitu garis melodi yang bentuk gerakannya melengkung dari nada
yang lebih tinggi ke nada yang lebih rendah, kemudian kembali lagi ke nada
yang lebih tinggi atau sebaliknya.
4. Conjuct yaitu garis melodi yang sifatnya bergerak melangkah dari satu nada
ke nada yang lain baik naik maupun turun.
5. Terraced yaitu garis melodi yang bergerak berjenjang baik dari nada yang
lebih tinggi ke nada yang lebih rendah atau dimulai dari nada yang lebih
rendah ke nada yang lebih tinggi.
6. Disjuct yaitu garis melodi yang bergerak melompat dari satu nada ke nada
yang lainnya, dan biasanya intervalnya di atas sekonde baik mayor maupun
minor.
7. Static yaitu garis melodi yang bentuknya tetap yang jaraknya mempunyai
batas-batasan.
94
Garis kontur yang terdapat pada melodi nandong smong adalah
ascending, descending dan static. Untuk lebih jelasnya dapat kita lihat pada
penjelasan di bawah ini.
(a) Frase A adalah descending, yakni menurun.
(b) Frase B adalah statis, agak bergerak ke atas.
(c) Frase C1 adalah statis dan agak menurun
(d) Frase C2 juga statis dan agak menurun
3.4.10 Analisis Waktu
Nandong smong selain dikomposisikan oleh dimensi ruang (tangga nada)
juga disusun berdasarkan waktu. Aspek waktu ini mencakup: meter,
aksentuasi, tempo, durasi, aksentuasi, dan.lain-lainnya. Inilah aspek-aspek
yang mendukung dimensi waktu.
3.4.10.1 Semi Free Meter
Meter yang dimaksud di dalam skripsi ini adalah kesatuan unit-unit
ketukan yang menjadi siklus dari melodi nandong smong. Secara umum meter
95
yang digunakan dalam nandong smong ini adalah semi free meter, namun
masih dapat dilacak, agak mengarah ke meter empat. Oleh karena itu dalam
transkripsi tidak dimasukkan tanda biramanya. Proses pembentukan meter
dalam lagu ini dapat dikonsepkan sebagai berikut.
Bagan 4.1:
Meter Nandong Smong yang Semi Free Meter
Kemudian diterapkan di dalam melodi dan ritme adalah sebagai berikut.
(a) Melodi vokal panandong
96
(b) Melodi biola
(c) Ritme kedang
dan seterusnya.
3.4.10.2 Aksentuasi
Sebagaimana lazimnya melodi yang terikat dalam meter dan juga pulsa
dasar, maka nandong smong dalam menyusun dimensi ruang menggunakan
aksentuasi-aksentuasi metrik, dan sekaligus juga melodis. Aksentuasiaksentuasi metrik ini, berdasarkan aspek audio, adalah:
1. Untuk ketukan pertama di setiap birama adalah intensitas kuat,
2. Untuk ketukan kedua di setiap birama adalah intensitas lemah,
3. Untuk ketukan ketiga di setiap birama adalah intensitas sedang, dan
4. Untuk ketukan keempat pada setiap birama adalah intensitas lemah,
Keempat intensitas (aksentuasi) ini dapat digambarkan sebagai berikut.
97
Bagan 4.1:
Aksentuasi Metrik Nandong smong
Aksentuasi seperti terurai di atas adalah aksentuasi berdasarkan meter
yang digunakan. Selain itu, aksentuasi juga terjadi dalam melodi, yang menjadi
bahagian terintegrasi dari keseluruhan melodi. Aksentuasi melodi di dalam
nandong smong secara umum memiliki hubungan dengan aksentuasi meter,
namun perjalanan melodi juga memberikan aksentuasi ritmenyya tersendiri
juga, namun tidak sampai berlawanan. Ang jelas dasar aksentuasinya adalah
ostinato (ulangan-ulangan).
3.4.10.3 Tempo
Tempo adalah cepat lambatnya sebuah komposisi musik disajikan.
Tempo ini bisa saja dideskripsikan dengan kata-kata atau juga bisa ditentukan
berdasarkan ketukan-ketukan pada metronom (Metronom Maelzal). Dalam
98
musik Barat misalnya tempo ini dideskripsikan dengan kata-kata: largo,
adagio, moderate, tempo dimarcia, presto, prestissimo, dan lain-lainnya.
Setelah m,endengarkan secara audio, maka tempo ang digunakan dalam
nandong smong, berdasarkan sistem metronom adalah sekitar 120 kietukan
dasar per menit. Artinya adalah dalam satu menit terdapat ketukan dasar
sebanyak 120. Atau dalam setiap detiknya ada dua ketukan dasar. Jika
dideskripsikan dengan kata-kata, maka tempo yang digunakan pada nandong
smong ini adalah sedang. Tempo ini dapat dikonsepkan sebagai berikut.
Notasi 4.12:
Tempo Nandong smong
Birama 1 samai 31
MM
= 175
Satu menit 175 ketukan dasar
Birama 32 sampai 52
MM
= 110
Satu menit 110 ketukan dasar
Birama 53 sampai 142
MM
= 125
99
Satu menit 125 ketukan dasar
3.4.10.4 Durasi
Durasi adalah panjang dan pendekna not yang digunakan dalam
konteks menyusun ritme (pola rime dan motif ritme). Dengan melihat notasi
sebagai hasil transkripsi, maka durasi-durasi yang digunakan dalam nandong
smong ini adalah sebagai berikut:
Durasi not
1. Not seperempat
2. Not seperdelapan
3. Not seperenam belas
Dikaitkan dengan garapan durasi pada setiap ketukan dasar, maka nandong
smong ini dikomposisikan dengan:
a. Satu ketukan dasar diisi oleh not seperempat
b. Satu ketukan dasar diisi oleh dua not seperdelapan
c. Satu ketukan dasar diisi oleh satu not seperenam belas, satu not
seperenam belas dan satu not seperdelapan.
d. Satu ketukan dasar diisi oleh gabungan empat not seperenambelas yang
membentuk ritme kuadrupel.
Dapat digambarkan sebagai berikut.
100
Notasi 4.13
Garapan Durasi Per Satu Ketukan Dasar
Nandong smong
101
BAB IV
KAJIAN TEKSTUAL
Pada Bab IV ini, penulis khusus melakukan kajian tekstual terhadap
teks nandong smong. Kajian tekstual ini, hanya memfokuskan perhatian
kepada lima bait nandong smong, yang berupa syair. Kelima bait teks syair
nandong smong tersebut, kemudian dianalisis memakai pendekatan teori
semiotik. Namun demikin pada bagian ini, diulas juga mengenai apa itu syair
secara luas di Nusantara (Alam Melayu), karena syair dalam kebudayaan
Simeulue berkait erat dengan syair di dalam kebudayaan Melayu, yang
awalnya dipelopori oleh Hamzah Fansuri, berdasarkan kajian pustaka, dan
realitas budaya di Simeulue.
Sebagai teori utama untuk mengkaji aspek tekstual nandong smong ini
adalah semiotik, maka kembali lagi dijelaskan bahwa istilah semiotik sendiri
berasal dari kata Yunani, yaitu semion yang berarti tanda. John Fiske (2007)
berpandangan bahwa semiotika adalah studi tentang tanda dan cara tanda itu
bekerja. Sedangkan Preminger (dalam Sobur, 2007) menyebutkan semiotik
merupakan ilmu tentang tanda-tanda. Semiotik itu mempelajari sistem-sistem,
aturan-aturan, konvensi-konvensi yang memungkinkan tanda-tanda tersebut
memiliki arti.
Dalam mengungkap tanda-tanda maupun makna yang terkandung
dalam lirik smong, penulis terlebih dahulu menuliskan teks dan artinya secara
harfiah. Kemudian setelah itu melihatnya secara struktural, baru kemudian
mengraikan maknanya secara budaya, baik makna denotatif (harfiah) maupun
konotatif, ditambah dengan penafsiran-penafsiran penulis.
102
4.1 Nandong Smong sebagai Syair
Nandong smong berdasarkan ilmu sastra, dapat dikategorikan sebagai
genre syair. Apa yang dimaksud syair, adalah karya sastra yang umumnya
menceritakan sesuatu, terdiri dari bait-bait teks, satu bait umumnya empat
baris, mengikuti peratura rina di ujung-ujung barisnya, bisa bersajak rata a-a-aa, mauun binari a-b-a-b. Genre sastra ini umum dijumpai di dalam berbagai
kebudayaan di Nusantara, termasuk di Simeulue, yang masuk dalam rumpun
bahasa Mdelayu Polinesia.
Genre sastra Melayu (termasuk di Simeulue) yang disebut syair ialah
suatu bentuk puisi Melayu tradisional yang sangat populer. Kepopularen syair
sebenarnya bersandar pada sifat penciptaannya yang berdaya melahirkan
bentuk naratif atau cerita, sama seperti bentuk prosa, yang tidak dipunyai oleh
pantun, seloka, atau gurindam.
Dari bentuk kata atau istilahnya jelas bahwa kata ini berasal dari bahasa
Arab. Kamus al-Mabmudiyah (1934) karangan Syed Mahmud ibnu Almarhum
Abdul Qadir al-Hindi memberikan makna kata syair sebagai "karangan empat
baris yang sama sajak (s-j-?)nya pada akhir keempat-empat kalimat dan sama
pertimbangan perkataannya" (Syed Mahmud 1934:159). Dari konteksnya kita
faharmi apa yang dimaksudkan dengan sajak (s-j-?) ialah persamaan bunyi di
akhir tiap-tiap baris atau rawi. Tentu saja keterangan yang terdapat dalam
Kamus Al-Mahmudiyah sangat ringkas, karena penyusun kamus ini menyadari
bahwa semua orang Melayu [termasuk orang Simeulue] pasti tahu apa itu syair
(Siti Hawa Haji Salleh 2005:1).
103
Begitu pentingnya kedudukan syair ini dalam kebudayaan Islam atau
Melayu. Maka Al-Qur’an pun memuat perbincangan tentang syair ini dalam
beberapa ayat. Dalam Al-Qur’an Asy Syu’araa’ (26:224) dijelaskan bahwa
para penyair itu diikuti oleh orang-orang yan g sesat.
Artinya:
Dan penyair-penyair itu diikuti oleh orang-orang yang sesat.
Kemudian dalam surat yang sama Al-Qur’an Asy Syu’araa’ (26:225), bahwa
para penyair itu mengembara di tiap-tiap lembah.
Artinya:
Tidakkah kamu melihat bahwasanya mereka mengembara di tiap- tiap
lembah
Yang dimaksud dalam ayat ini ialah bahwa sebagian penyair-penyair itu suka
mempermainkan kata-kata dan tidak mempunyai tujuan yang baik yang
tertentu dan tidak punya pendirian.
Di ayat lain yaitu ayat 226, diterangkan bahwa penyair itu hanya suka
mengatakan tetapi tidak melakukan apa yang dikatakannya.
Selengkapnya
firman Allah dalam Al-Qur’an Asy Syu’araa’(26: 226) adalah sebagai berikut.
104
Artinya:
dan bahwasanya mereka suka mengatakan apa yang mereka
sendiri tidak mengerjakan(nya)?
Setelah memberikan peringatan bagi para penyair yang “menyimpang,” di
ayat 227 Allah memuji dan memberikan jaminan kepada para penyair yang
beriman dan beramal saleh, walau awalnya mereka menderita dan dizalimi.
Selengkapnya Al-Qur’an surat Asy Syu’araa’(26: 227) sebagai berikut.
Artinya:
Kecuali orang-orang (penyair-penyair) yang beriman dan beramal
saleh dan banyak menyebut Allah dan mendapat kemenangan
sesudah menderita kezaliman. Dan orang-orang yang zalim itu
kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali.
Di dalam Al-Qur’an surah Yaasiin (36;69), sebagai pernyataan bahwa
Al-Qur’an itu bukan ciptaan Nabi Muhammad tetapi adalah wahyu Allah
melalui Malaikat Jibril, Allah berfirman sebagai berikut.
Dan Kami tidak mengajarkan syair kepadanya (Muhammad) dan
bersyair itu tidaklah layak baginya. Al Qur.an itu tidak lain
hanyalah pelajaran dan kitab yang memberi penerangan.
105
Ayat-ayat Al-Qur’an yang berisi tentang penyair dan syair tersebut di
atas, tampaknya adalah ingin meluruskan ide dan praktik terhadap sastra syair
ini dalam rangka tauhid kepada Allah, bukan sebaliknya “bermain dengan
kata-kata” untuk ingkar kepada Tuhan, dan memilih jalan syetan.
Dalam Dunia Melayu, lebih lanjut menurut Harun Mat Piah
para
pengkaji yang meneliti syair sepakat menyatakan baawa kata syair berasal dari
bahasa Arab sy’r yang umumnya merujuk kepada pengertian puisi dalam apaapa jua jenisnya seperti yang difahami dalam istilah Inggris poem atau poetry
(Harun Mat Piah 1989:210). Sementara itu, dalam bahasa Arab kata sy’r
melahirkan kata sya’ir dengan membawa maksud penulis atau pencipta puisi,
penyair, atau penyajak.
Dalam bentuk asalnya, syair tidak mungkin dikelirukan dengan seloka
dan gurindam karena cara penulisannya. Syair yang pada mulanya ditulis
dalam tulisan Jawi (Arab Melayu), ditulis berpasang-pasangan, yaitu dua
kalimat (ayat) pada baris pertama dengan dipisahkan oleh suatu tanda hiasan
atau bunga di tengah-tengahnya. Biasanya dua pasangan ayat (yaitu empat
baris) mempunyai bunyi akhir sama, walaupun kadang-kadang ditemui
sepasang ayat sahaja yang mempunyai rima akhir yang sama (Siti Hawa Haji
Salleh 2005:4).
Kekeliruan terjadi ketika syair
dalam tulisan Jawi diperturunkn ke
dalam tulisan Romawi dan mungkin karena keterbatasan ruang, empat baris
syair berpasang-pasangan terpaksa diletakkan sebagai suatu rangkap yang
terdiri dari empat baris. Baris-baris syair ini biasanya ditransliterasikan dalam
106
bentuk yang sangat berbeda dengan yang asalnya dalam tulisan jawi (ArabMelayu).
Baris-baris membawa maksud atau amanat syair, semuanya membawa
maksud amanat yang berkaitan. Jika ditransliterasikan ke dalam tulisan Latin
dalam bentuk rangkap empat baris, maka mudah dikelirukan dengan seloka
(Siti Hawa Haji Salleh 2005:5).
Za’ba dalam bukunya Ilmu Mengarang Melayu (1962 dan sebelumnya)
menyatakan bahwa penulisan syair tidaklah terkungkung pada monorima saja.
Beliau mengemukakan beberapa contoh yang memperlihatkan variasi yang
berbeda, seperti syair dua baris serangkap berima a/b, a/b, a/b, dan seterusnya;
syair tiga baris serangkap dengan rima a/a/b, a/a/b, dan seterusnya; syair empat
baris serangkap berima a/a/a/b, c/c/c/d, dan seterusnya.
Contoh dua baris serangkap berima a/b, a/b:
Dihitung banyak tidak terkira,
Apabila dijumlahkan menjadi satu.
Melompat tak seperti kera,
Hanya tak pandai memanjat pintu.
Menghidupi memelihara,
Tetapi orang benci bercampur bersatu.
(Za’ba 1962:236 dalam Harun Mat Piah 1989:232).
Contoh syair tiga baris serangkap berima a/a/b, a/a/b:
Islam kita wei kejatuhan,
Sebab karut masuk tembahan,
Quran hadis terbulang-baling.
Hadis firman dapat ubahan,
Maksud hakiki perpecahan,
Punding bengkok kena perguling.
(Za’ba 1962:235 dalam Harun Mat Piah 1989:232)
107
Contoh syair empat baris serangkap berima a/b/a/b.
Kamilah raja tuan di sini,
Harta pun kami yang punya,
Orang yang duduk di bumi ini,
Mendengar kami gentar semuanya.
Bukalah pintu kami titahkan,
Nabi Sulaiman empunya perintah,
Jangan sekali kamu ingkarkan,
Derhaka kamu jika dibantah.
(Za’ba 1962:234 dalam Harun Mat Piah 1989:234)
Contoh syair empat baris serangkap berima a/a/a/b, c/c/c/d
Wahai Ramadhan syahar berpangkat,
Tuan kemana lenyap berangkat?
Dukanya kami tidak bersukat,
Hendak menurut tidak berdaya.
Sekali setahun tuan bermegah,
Menjelang kami sebulan singgah,
Kami bercengkerama belum semenggah,
Tuan pun lenyap dari dunia.
Syair empat baris serangkap berima a/a/a/b, c/c/c/d, e/e/e/f, dan diulang
semula:
Kalau kita ditanya orang:
Kemudi manusia apakah gerang?
Berilah jawab dengannya terang:
Akal, akal, akal, akal.
Kalau kita lagi ditanya:
Haluan manusia apa ditanya?
Berilah jawab yang sempurna:
Hati, hati, hati, hati.
Kalau kita ditanya pula:
Perahu manusia nayatakan sila,
Terangkan dengan berhati rela:
Ilmu yang sihat, ilmu yang sihat.
(Za’ba 1962:107-8 dalam Harun Mat Piah 1989:237)
108
Meskipun menggunakan pendekatan yang berbeda, seperti A. Teeuw yang
menggunakan pendekatan ekstensif (emik) dan Syed Naquib al-Attas yang
menggunakan pendekatan intensif, para sarjana ini tidak dapat menafikan
bahwa dalam realitinya Hamzah Fansuri yang memesatkan penggunaan syair
dalam perkembangan kesusastraan Melayu. Oleh karenanya, soalan yang perlu
dibagi jawaban ialah sangat menentukan seperti yang dikemukakan Harun Mat
Piah (1989:216):
Pertamanya, apakah syair itu merupakan bentuk puisi MelayuIndonesia yang asli (purba), ertinya telah ada sebelum kedatangan
Islam atau, keduanya, benarkah syair dikarang dandicipta oleh
Hamzah Fansuri dan hanya dikenali dan berkembang selepas
Hamzah Fansuri (m. 1630 Masihi)
Harun Mat Piah mengemukakan empat kesimpulan berasaskan kepada
berbagai-bagai pendapat dan polemik yang timbul berhubung dengan syair
yang dikemukakan oleh para sarjana.
Tanpa mengulangi satu per satu
penghujahan yang dikemukakan oleh para sarjana dan mengulangi lagi asalusul syair dan lain-lain yang berkaitan dengannya, kita lihat keempat simpulan
mengenai syair yang dikemukakan oleh Harun Mat Piah (1989:209-210).
(1)
Bahwa istilah syair berasal dari bahasa Arab; dan penggunaannya
dalam bahasa Melayu hanya sebagai istilah teknik.
(2)
Bahwa syair Melayu itu, walau ada kaitannya dengan puisi Arab,
tetapi tidak berasal dari syair Arab dan Persia, atau sebagai
penyesuaian dari mana-mana genre puisi Arab atau Persia. Dengan
perkataan lain, syair adalah cipataan asli masyarakat Melayu.
(3)
Ada kemungkinan syair itu berasal dari puisi Melayu MalaysiaIndonesia asli.
109
(4)
Bahwa syair Melayu dicipta dan dimulakan penyebarannya oleh
Hamzah Fansuri dan beracuankan puisi Arab-Persia.
Pengkaji lainnya yaitu Mohd. Yusof Md. Nor dan Abdul Rahman Kaeh
(1985:vii) mengemukakan empat kesimpulan juga, namun sedikit berbeda
dengan kesimpulan yang dikemuakakn oleh Harun Mat Piah, yaitu:
(1) Karena kata syair datangnya dari Arab-Persia, maka syair dianggap
datang dari luar.
(2) Meskipun kata syair ada kaitannya dengan bahasa Arab-Persia,
tetapi bentuk syair ialah ciptaan orang Melayu di Nusantara ini.
(3) Syair sudah ada sejak abad kelima belas di Melaka.
(4) Syair dikarang oleh Hamzah Fansuri dan berkembang selepasnya.
Sementara Siti Hawa Salleh menambahkan bahwa selain simpulan
seperti di atas ada sebuah lagi aspek yang berkaitan dengan eksistensi syair di
dunia Melayu. Menurutnya, kegiatan keagamaan dalam tradisi merayakan
Maulidur Rasul (Maulid Nabi) memperkenalkan dan merapatkan masyarakat
Melayu dengan puisi barzanji. Mungkin pada mulanya puisi didendangkan
dalam bahasa Arab asalnya dan kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa
Melayu sambil memberi perhatian kepada rima akhir setiap baris. Akhirnya
para penyair Melayu sendiri mencipta puisi-puisi dengan berpandukan
penulisan puisi barzanji.
Contoh-contoh yang dipetik dari buku barzanji
memperlihatkan bahwa bentuk penciptaan puisi itu ialah bentuk syair seperti
yang wujud sekarang.
Kegiatan menyanyikan puisi barzanji dalam majlis
Maulidur Rasul (maulid Nabi) setiap tahun pasti meninggalkan kesan terhadap
110
selera puisi masyarakat Melayu. Dengan itu, tentulah sedikit sebanyak lagu
barzanji ini memainkan peranan dalam menyebarkan penciptaan puisi jenis ini
yang akhirya bernamakan syair. Selain itu, tidak dapat dinafikan bahwa minda
masyarakat Melayu lebih mudah menerima puisi barzanji dengan struktur
kalimat dan rima akhirnya karena kebiasaan mereka dengan bentuk puisi yang
sedia ada dalam kesusastraannya sendiri.
Dengan wujudnya berbagai-bagai jenis syair dalam kesusastraan
Melayu, ternyata bahwa puisi jenis ini amat disukai oleh masyarakat Melayu
zaman silam. Syair menyediakan satu lagi cara untuk menyampaikan cerita
selain bentuk prosa. Walaupun pantun berkait berdaya menyam-paikan sesuatu
kisah yang panjang, menuruti penceritaannya dapat memberikan tekanan
kepada pembaca atau pendengar karena struktur pantun berkait yang terpaksa
mengulang sebut maksud dalam rangkap awal sebelum mengungkapkan
informasi dalam rangkap yang berikutnya.
Oleh itu, pantun berkait tidak
digunakan secara meluas untuk menyampaikan cerita yang panjang-panjang
seperti yang dapat dilakukan oleh syair (Siti Hawa Salleh 2005:23).
Dalam Dunia Melayu hampir setiap genre kesusastraan Melayu
tradisional mempunyai versinya dalam bentuk syair, selain dalam bentuk
prosa—hingga terdapat satu kumpulan karya yang besar tercipta dalam bentuk
syair. Dengan demikian, daam perbendaharaan kesusastraan Melayu terdapat
syair agama, syair sejarah, syair hikayat, syair nasehat, dan lain-lain. Syair
juga muncul dalam karya prosa tradisional, baik untuk selingan mauun
penghias bahasa dan juga dapat sebagai penyampai alternatif. Kepopularannya
dikekalkan melalui iramanya yang tersendiri hingga syair termasuk ke dalam
111
kumpulan dendangan irama asli, menjadi sebahagian dari nyanyian dalam
persembahan bangsawan dan mempunyai peminat atau audiensnya sendiri.
Contoh syair dalam Dunia Melayu: (a) syair sejarah (Syair Sultan Maulana,
Syair Perang Mengkasar, Syair Muko-Muko), (b) syair keagamaan (Syair
Makrifat, Syair Mekah dan Medinah, Syair Hari Kiamat), (c) syair
hikayat/hiburan/romantis (Syair Harith Fadzillah, Syair Gul Bakawali, Syair
Jauhar Manikam), (d) syair hikayat panji (Syair Ken tambuhan, Syair Panji),
syair nasihat (Syair Nasihat, Syair Nasihat Pengajaran untuk Memelihara
Diri, Syair Nasihat kepada Pemerintah), dan (e) syair perlambangan, kiasan
atau sindiran (Syair Ikan Terubuk, Syair Ikan Tongkol, Syair Bereng-bereng)
(Siti Hawa Haji Salleh 2005:24).
Dari uraian secara meluas seperti terurai di atas, maka menurut
pendapat para informan dan masyarakat Simeulue, khususnya di daerah
penelitian, nandong smong adalah bergenre syair. Apalagi jika dikaitkan
dengan keberadaan sastra di Aceh, maka salah seorang tokohnya adalah
Hamzah Fansuri, disebut sebagai tokoh awal penulis syair di Nusantara.
Kemudian masyarakat Simeulue, dalam rangka menerangkan peristiwa tsunami
(smong) dan cara menyelamatkan diri darinya, maka digunakan media syair
nadong smong ini.
Masih berdasarkan uraian mengenai syair di Alam Melayu atau
Nusantara, maka nandong smong ini lebih jauh masuk ke dalam syair hikayat.
Dalam hal ini syair nandong smong menceritakan hikayat tentang terjadinya
tsunami, tanda-tanda tsunami, dan cara penyelematan diri dari tsunami
tersebut.
112
4.2 Struktur Teks Nandong Smong
Analisis lirik lagu selain dapat dikaji mengenai tema dan isi dari lirik
lagu, juga dapat dilihat dari kategorisasi (apakah termasuk pada, nasehat,
sindiran, wawasan, puisi bebas, dan lain-lain). Selain itu dapat pula dilihat dari
segi hubungan antara setiap suku kata yang dinyanyikan dan melodinya,
apakah termasuk pada bentuk silabis atau melismatis. Dapat pula dilihat dari
segi kesesuaian antara pemenggalan suku katanya dan melodi yang dihasilkan.
Dalam mengkaji stuktur teks smong yang juga merupakan tradisi lisan
atau tradisi budaya, dipergunakan konsep struktur wacana Van Dijk dengan
modifikasi berdasarkan kebutuhan kajian. Dalam berbagai tulisannya, Van Dijk
(1985a: 1-8, 1985b: 1-11, 1985d: 1-8) menyebutkan bahwa ada tiga kerangka
struktur teks yakni struktur makro, superstruktur dan struktur mikro.
Struktur makro merupakan makna keseluruhan, makna global atau
makna umum dari sebuah teks yang dapat dipahami dengan melihat topik atau
tema dari sebuah teks. Jika dilihat dari segi tema smong ini, secara makna
keseluruhan terlihat jelas bahwa teks ini termasuk dalam topik atau tema
komunikasi. Karena smong merupakan cara masyarakat berkomunikasi dengan
sesama masyarakat tentang bagaimana menyelamatkan diri ketika terjadi
bencana gempa bumi dan tsunami.
Super struktur atau struktur alur merupakan kerangka dasar sebuah teks
yang meliputi rangkaian elemen sebuah teks dalam membentuk satu kesatuan
bentuk yang koheren. Dengan kata lain superstruktur merupakan skema atau
alur sebuah teks. Sebuah teks secara garis besar tersusun atas tiga elemen yaitu
113
pendahuluan (introduction), bagian tengah (body) dan penutup (conclusion),
yang masing-masing harus saling mendukung secara koheren. Berikut adalah
bentuk alur teks smong.
a. Pendahuluan (introduction)
Enggelan mon sao surito (dengarlah suatu kisah)
Inang maso semonan (pada zaman dahulu kala)
Manoknop sao fano (tenggelam suatu desa)
Uwilah da sesewan (begitulah dituturkan)
b. Bagian tengah (body)
Unen ne alek linon (diawali oleh gempa)
Fesang bakat ne mali (disusul ombak besar)
Manoknop sao hampong (tenggelam seluruh negeri)
Tibo-tibo maawi (secara tiba-tiba)
Anga linon ne mali (jika gempanya kuat)
Uek suruik sahuli (disusul air yang surut)
Maheya mihawali (segeralah cari tempat)
Fano me senga tenggi (dataran tinggi agar selamat)
Ede smong kahanne (itulah smong namanya)
Turiang da nenekta (sejarah nenek moyang kita)
Miredem teher ere (ingatlah ini semua)
Pesan navi-navi da (pesan dan nasihatnya)
c. Penutup (conclusion)
Smong dumek-dumek mo (tsunami air mandimu)
Linon uwak-uwakmo (gempa ayunanmu)
Elaik keudang-keudang mo (petir gendang-gendangmu)
Kilek suluih-suluih mo (halilintar lampu-lampumu)
Struktur mikro adalah struktur teks secara linguistik teoritis. Linguistik
teoritis yang dimaksud disini mencakup tataran bahasa seperti bunyi
(fonologis), kata (morfologis), kalimat (sintaksis), wacana (diskursus), makna
114
(semantik), maksud (pragmatik), gaya bahasa (stilistik), dan bahasa kiasan
(figuratif).
4.3 Arti Harfiah
Untuk mempermudah analisis lirik smong, penulis terlebih dahulu
mengartikan lirik tersebut secara harfiah, lirik tersebut adalah seperti yang
dapat dilihat pada Tabel 5.1 berikut ini.
No
Bait
I
II
III
IV
V
No
Larik
1.
2.
3.
4.
Teks Nandong Smong
(Bahasa Simeulue)
Enggelan mon sao surito
Inang maso semonan
Manoknop sao fano
Uwilah da sesewan
Arti harfiah dalam bahasa
Indonesia
Dengarlah suatu kisah
Pada zaman dahulu kala
Tenggelam suatu desa
Begitulah dituturkan
Jenis wacana dan
temanya
Eksplanasi,
Dituturkan nenek
moyang dahuku kala
tenggelam suatu desa
5.
6.
7.
8.
Unen ne alek linon
Fesang bakat ne mali
Manoknop sao hampong
Tibo-tibo maawi
Diawali oleh gempa
Disusul ombak besar
Tenggelam seluruh negeri
Secara tiba-tiba
9.
10.
11.
12.
Anga linon ne mali
Uek suruik sahuli
Maheya mihawali
Fano me senga tenggi
Jika gempanya kuat
Disusul air yang surut
Segeralah cari tempat
Dataran tinggi agar selamat
Eksplanasi,
Ciri smong: gempa,
ombak besar,
tenggelam seluruh
negeri
Eksplanasi,
Cara menyelamatkan
diri dari smong
13.
14.
15.
16.
Ede smong kahanne
Turiang da nenekta
Miredem teher ere
Pesan navi-navi da
Itulah smong namanya
Sejarah nenek moyang kita
Ingatlah ini semua
Pesan dan nasihatnya
Eksplanasi,
Itulah smong
17.
18.
19.
20.
Smong dumek-dumek mo
Linon uwak-uwakmo
Elaik keudang-keudang mo
Kilek suluih-suluih mo
Tsunami air mandimu
Gempa ayunanmu
Petir gendang-gendangmu
Halilintar lampu-lampumu
Nasihat dan hiburan,
smong bagian dari
kehidupan
Tabel 5.1:
Analisis Arti Lima Bait Teks Nadong Smong
Teks nandong smong di atas, terdiri dari empat bait teks. Setiap bait
disusun oleh empak larik (baris). Keseluruhannya berjumlah 20 larik.
Kemudian setiap larik disusun oleh empat kata. Suku-suku kata yang mengisi
setiap baris bervariasi antara enam sampai delapan suku kata.
115
Bahasa yang digunakan adalah bahasa Simeulue. Pemilihan kata atau
diksi adalah kata-kata: benda, kerja, keterangan (keadaan, kejadian, tempat,
dan lainnya). Kata-kata yang digunakan lebih cenderung menggunakan katakata yang bermakna denotatif ketimbang konotatif, menjelaskan dengan
sejelas-jelasnya, dan mudah ditangkap maknanya.
4.4 Makna Konotatif dan Denotatif Syair Smong
Lirik lagu yang menggunakan bahasa daerah ataupun, jika diartikan ke
dalam bahasa Indonesia kemungkinan sangatlah tidak sesuai dengan apa yang
dimaksudkan pada teks aslinya. Oleh karena itu, penulis ingin menjelaskan
makna
sebenarnya
yang terkandung dalam
lirik
smong ini,
untuk
mempermudah proses penggalian makna yang terkandung, penulis membagi
liriknya ke dalam lima bagian bait puisi syair, yaitu sebagai berikut.
a. Larik nomor 1, 2, 3, dan 4 (bait I)
Larik:
Enggelan mon sao surito (dengarlah suatu kisah)
Inang maso semonan (pada zaman dahulu kala)
Manoknop sao fano (tenggelam suatu desa)
Uwilah da sesewan (begitulah dituturkan)
Makna bait pertama di atas keseluruhannya adalah makna denotatif.
Setersunya makna denotatif dari teks di atas adalah, orang tua yang sedang
menceritakan kepada anaknya tentang sebuah desa yang tenggelam oleh lautan
pada zaman dahulu. Orang tua tersebut mengetahuinya dari orang tuanya dan
kemudian menceritakan kembali kepada anaknya. Pada zaman dahulu, terjadi
116
bencana alam luar biasa yang menyebabkan tenggelamnya salah satu desa di
pulau Simeulue, begitulah menurut cerita nenek moyang kita.
Secara kontekstual teks ini menjelaakan kepada pendengarnya bahwa
cerita tentang tenggelamnya suatu desa itu, berasal dari nenek moyang orang
Simeulue. Cerita tersebut dituturkan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Dengarkanlah cerita ini, karena penting bagi seluruh masyarakat Simeulue,
terutama tentang smong dan bagaimana menyelematkan diri dari vencana
smong tersebut.
b. Lirik nomor 5, 6, 7 dan 8 (baiat II)
Lirik:
Unen ne alek linon (diawali oleh gempa)
Fesang bakat ne mali (disusul ombak besar)
Manoknop sao hampong (tenggelam seluruh negeri)
Tibo-tibo maawi (secara tiba-tiba)
Makna denotatif (makna sesuangguhnya) dari teks di atas adalah,
menjelaskan bahwa sebelum desa tersebut tenggelam, ada beberapa tandatanda alam dan gempa yang berkekuatan besar mengguncang desa itu. Selepas
itu, setelah terjadi gempa, berselang beberapa menit, lalu air laut surut hingga
mencapai kering di dasar lautan, kemudian air laut yang surut dengan seketika
naik membentuk ombak yang sangat besar dan menenggelamkan seluruh desa
di pesisir pantai. Teks ini menjelaskan dari satu indeks makna ke indeks makna
berikutnya. Secara semiosis dapat digambarkan pada bagan berikut.
117
Bagan 5.1
Makna Multi-indeksikal pada Bait II Nandong Smong
c. Lirik nomor 9, 10, 11 dan 12 (baid III)
Lirik:
Anga linon ne mali (jika gempanya kuat)
Uek suruik sahuli (disusul air yang surut)
Maheya mihawali (segeralah cari tempat)
Fano me senga tenggi (tempat kalian yang tinggi)
Makna denotatif teks di atas adalah untuk menghindari bencana alam
tersebut, jika terjadi gempa yang dahsyat (pada masa sekarang diukur 7.0 ke
atas, dalam skala ricther), perhatikanlah tanda-tanda alam, seperti seluruh
hewan berlarian ke gunung terdekat dan air laut surut dari bibir pantai hingga
mencapai kering, segeralah berlari ke daratan yang lebih tinggi seperti gunung
yang jauh dari bibir pantai. Tinggalkan semua harta benda dan selamatkan
sanak saudara.
Jika gempanya kuat, maka akan menimbulkan tsunami. Jika gempanya
dirasa tidak kuat (berdasarkan pengalaman orang Simeulue), dan air laut
Hindia tidak surut, maka tidak perlu mencari tempat yang tinggi, karena gempa
tersebut tidak menimbulkan tsunami. Namun dalam hal ini perlu berhati-hati,
118
karena bisa saja setelah gempa yang relatif lemah, akan terjadi gempa yang
dahsyat yang dapat menimbulkan tsunami.
d. Larik nomor 13, 14, 15 dan 16 (bait IV)
Lirik:
Ede smong kahanne (itulah smong namanya)
Turiang da nenekta (sejarah nenek moyang kita)
Miredem teher ere (ingatlah ini semua)
Pesan navi-navi da (pesan dan nasihatnya)
Makna denotatif dari bait keempat teks nandong smong ini adalah
menurut dari cerita nenek moyang di Simeulue, bencana alam tersebut adalah
smong namanya. Pesan dan nasihat mereka ini harus kita ingat dan ceritakan
kembali ke anak cucu. Dari penggalan lirik ini masyarakat sudah diingatkan
tentang bencana alam yang akan terjadi, sehingga masyarakat di pulau
simeulue dapat selamat dari bencana tsunami 2004, karena masih melestarikan
kearifan lokal dan tradisi lisan ini secara turun-temurun.
Teks ini menjleaskan dengan tegas, itulah tsunami atau dalam bahasa Simeulue
disebut smong. Tsunami ini sangat berbahaya bagi kehidupan, karena ia berupa
gelombang besar dan menyapu bersih daratan yang dilaluinya. Gelombang
besar ini adalah sebagai proses alam yang harus dihindari, dengan cara segera
lari ke daerah dataran tinggi.
e. Lirik nomor 17, 18, 19 dan 20 (bait V)
Lirik:
Smong dumek-dumek mo (tsunami air mandimu)
Linon uwak-uwakmo (gempa ayunanmu)
Elaik keudang-keudang mo (petir gendang-gendangmu)
Kilek suluih-suluih mo (halilintar lampu-lampumu)
119
Makna dari teks ini keseluruhannya adalah berupa konotatif metaforik.
Bagi orang Simeulue teks “Tsunami adalah air mandi kalian,” merupakan
sebuah kalimat penyemangat agar tidak takut dengan tsunami, tetapi segeralah
berlari ke pegunungan jika ada tsunami. “Gempa itu adalah ayunan kalian,”
guncangan gempa bukan lah sesuatu hal untuk ditakuti, melainkan jika terjadi
gempa kita jangan panik, tetap lah fokus untuk menghindar dari bangunan yang
mudah roboh dan menyelamatkan diri. “Petir sebagai alunan gendang kalian,”
bermakna jangan takut pada suara petir, anggaplah petir itu sebagai suara
tabuhan gendang. Yang terakhir adalah “kilat sebagai lampumu” bermakna
kilat itu adalah penerang jalan kalian di malam hari.
Teks tersebut di atas keseluruhannya adalah berupa gaya bahasa
metafora. Inti dari teks di atas adalah smong meskipun berbahaya, baik
terhadap diri sendiri maupun kehidupan lainnya di dunia ini yang dilanda
olehnya, tetaplah berfilsafat hidup alam adalah bahagian dari diri manusia.
Bencana sedahsyat apapun, pahami saja sebagai pelajaran di dalam hidup.
Filsafat hidup orang Simeulue dalam hal ini adalah mari belajar dari alam yang
terkembang ini. Jadi smong atau tsunami tak perlu ditakuti, tetapi direspos
dengan penuh kearifan dan kebijakan. Demikian makna konotatif, dalam
tafsiran semiotik menurut penulis.
120
BAB V
KAJIAN FUNGSIONAL
Pada Bab V ini, kajian difokuskan kepada aspek fungsional dari
nandong smong dalam kebudayaan etnik Simeulue, Provinsi Aceh. Fungsi
yang dimaksudkan di dalam tulisan ini merujuk kepada apad yang
dikemukakan Merriam (1964). Kata fungsional pada bab ini merujuk kepada
dua pengertian, yakni penggunaan (uses) dan fungsi (functions).
Dalam kerangka berpikir etnomusikologis, sebuah kebudayaan musik
akan hidup, tumbuh, dan berkembang jika musik tersebut berfungsi di dalam
masyarakat. Sebaliknya, sebuah kebudayaan musik akan lenyap seiring
datangnya waktu dan perubahan zaman, jikalau musiktersebut tidak lagi
fungsional di dalam masyarakat pendukungnya. Di lain sisi kebudayaan musik
juga dapat mengalami perubahan atau bertransformasi ke dalam bentuk baru,
baik karena menyesuaikan dengan perubahan zaman, atau beradaptasi dengan
lingkungan baru, atau pendukung baru. Perubahan juga dapat terjadi karena
faktor-faktor: teknologi, ekonomi, organisasi, dan lain-lainnya.
Dalam konteks nandong smong, hal yang paling kuat dari seni ini
menurut penulis adalah karena fungsinya di dalam masyarakat. Fungsi ini terus
menerus menguat dari satu generasi ke generasi berikutnya, yang disampaikan
secara kelisanan. Bagi etnik Simeulue fungsi utama dari nyanyian ini adalah
sebagai sarana pembelajaran apa itu tsunami (smong) dan bagaimana
menyelematkan diri ketika terjadi tsunami. Inilah yang menjadi fungsi utama
121
smong, sehingga smong hidup terus-menerus di dalam kebudayaan etnik
Simeulue, Aceh.
5.1 Pengertian Penggunaan dan Fungsi
Menurut Bronislaw Malinowski, yang dimaksud fungsi itu intinya
adalah bahwa segala aktivitas kebudayaan itu sebenarnya bermaksud
memuaskan suatu rangkaian dari sejumlah keinginan naluri makhluk manusia
yang berhubungan dengan seluruh kehidupannya. Kesenian sebagai contoh dari
salah satu unsur kebudayaan, terjadi karena mula-mula manusia ingin
memuaskan keinginan nalurinya terhadap keindahan. Ilmu pengetahuan juga
timbul karena keinginan naluri manusia untuk tahu. Namun banyak pula
aktivitas kebudayaan yang terjadi karena kombinasi dari beberapa macam
human need (kebutuhan manusia) itu. Dengan pemahaman ini seorang peneliti
bisa menganalisis dan menerangkan banyak masalah dalam kehidupan
masyarakat dan kebudayaan manusia.1
Selaras dengan pendapat Malinowski, nandong smong di dalam
kebudayaan etnik Simeulue, timbul dan berkembang karena dibutuhkan untuk
memuaskan suatu rangkaian keinginan naluri masyarakat Simeulue Aceh pada
umumnya. Nandong smong timbul, karena masyarakat pengamalnya ingin
memuaskan keinginan nalurinya terhadap keselamatan jiwa dari bencana
1
Lihat Koentjaraningrat (ed.) Sejarah Teori Antropologi I (1987:171). Abstraksi
tentang fungssi yang ditawarkan oleh Malinowski berkaitan erat dengan usaha kajian etnografi
dalam antropologi. Pemikiran Malinowski mengenai syarat-syarat metode etnografi
berintegrasi secara fungsional yang dikembangkan dalam kuliah-kuliahnya tentang metodemetode penyelidikan lapangan dalam masa penulisan buku etnografi mengenai kebudayaan
masyarakat Trobiands, selanjutnya menyebabkan bahwa konsepnya mengenai fungsi sosial
daripada adat, tingkah laku manusia
dan institusi-institusi sosial menjadi mantap
(Koentjaraningrat, 1987:67).
122
tsunami. Namun lebih jauh dari itu, akan disertai dengan fungsi-fungsi lainnya,
seperti integrasi masyarakat, hiburan, kontinuitas budaya, pendidikan budaya,
komunikasi, penghayatan tentang alam, dan lainnya.
A.R. Radcliffe-Brown mengemukakan bahwa fungsi sangat berkait erat
dengan struktur sosial masyarakat. Bahwa struktur sosial itu hidup terus,
sedangkan individu-individu dapat berganti setiap masa. Dengan demikian,
Radcliffe-Brown yang melihat fungsi ini dari sudut sumbangannya dalam suatu
masyarakat, mengemukakan bahwa fungsi adalah sumbangan satu bagian
aktivitas kepada keseluruhan aktivitas di dalam sistem sosial masyarakatnya.
Tujuan fungsi adalah untuk mencapai tingkat harmoni atau konsistensi internal,
seperti yang dihuraikannya berikut ini.
By the definition here offered ‘function’ is the contribution
which a partial activity makes of the total activity of which it is
a part. The function of a perticular social usage is the
contribution of it makes to the total social life as the functioning
of the total social system. Such a view implies that a social
system ... has a certain kind of unity, which we may speak of as
a functional unity. We may define it as a condition in which all
parts of the social system work together with a sufficient degree
of harmony or internal consistency, i.e., without producing
persistent conflicts can neither be resolved not regulated
(1952:181).
Selaras dengan pandangan Radcliffe-Brown, nandong smong di dalam
budaya Simeulue boleh dianggap sebagai bagian daripada struktur sosial
masyarakat Simeulue. Seni pertunjukan smong adalah salah satu bahagian
aktivitas yang bisa menyumbang kepada keseluruhan aktivitas, yang pada
saatnya akan berfungsi bagi kelangsungan kehidupan budaya masyarakat
pengamalnya, yakni etnik Simeulue. Fungsinya lebih jauh adalah untuk
123
mencapai tingkat harmoni dan konsistensi internal. Pencapaian kondisi itu,
dilatarbelakangi oleh berbagai kondisi sosial dan budaya dalam masyarakat
Simeulue, seperti sebagai masyarakat maritim, teguh memegang adat, sangat
bertoleransi, dan selalu berguru kepada alam, serta berbagai faktor sosial dan
kebudayaan lainnya.
Dalam bidang etnokoreologi atau antropologi tari, Soedarsono yang
melihat fungsi seni, terutama dari hubungan praktis dan integratifnya,
mereduksi tiga fungsi utama seni pertunjukan (baik tari, musik, teater, dan
seejenisnya), yaitu: (1) untuk kepentingan sosial atau sarana upacara; (2)
sebagai ungkapan perasaan pribadi yang dapat menghibur diri dan (3) sebagai
penyajian estetik (1995). Selaras dengan pendapat Soedarsono nandong smong
mempunyai fungsi sosial, ungkapan perasaan peribadi yang dapat menghibur
diri dan penyajian estetika.
Dengan tetap bertolak dari teori fungsi, yang kemudian mencoba
menerapkannya dalam disiplin ilmu etnomusikologi, lebih lanjut secara tegas
Merriam membedakan pengertian fungsi ini dalam dua istilah, yaitu
penggunaan dan fungsi. Menurutnya, membedakan pengertian penggunaan dan
fungsi adalah sangat penting. Para ahli etnomusikologi pada masa lampau
tidak begitu teliti terhadap perbedaan ini. Jika kita berbicara tentang
penggunaan musik, maka kita merujuk kepada kebiasaan (the ways) musik
dipergunakan dalam masyarakat, sebagai praktik yang biasa dilakukan, atau
sebagai bahagian dari pelaksanaan adat istiadat, baik ditinjau dari aktivitas itu
sendiri maupun kaitannya dengan aktivitas-aktivitas lain (1964:210). Lebih
124
jauh Merriam menjelaskan perbedaan pengertian antara penggunaan dan fungsi
sebagai berikut.
Music is used in certain situations and becomes a part of them,
but it may or may not also have a deeper function. If the lover
uses song to w[h]o his love, the function of such music may be
analyzed as the continuity and perpetuation of the biological
group. When the supplicant uses music to the approach his god,
he is employing a particular mechanism in conjunction with other
mechanism as such as dance, prayer, organized ritual, and
ceremonial acts. The function of music, on the other hand, is
enseparable here from the function of religion which may perhaps
be interpreted as the establishment of a sense of security vis-á-vis
the universe. “Use” them, refers to the situation in which music is
employed in human action; “function” concerns the reason for its
employment and perticularly the broader purpose which it serves.
(1964:210).
Dari kutipan di atas terlihat bahwa Merriam membedakan pengertian
penggunaan dan fungsi musik berasaskan kepada tahap dan pengaruhnya
dalam sesebuah masyarakat. Musik dipergunakan dalam situasi tertentu dan
menjadi bahagian dari situai tersebut. Penggunaan bisa atau tidak bisa menjadi
fungsi yang lebih dalam. Dia memberikan contoh, jika seeorang menggunakan
nyanyian yang ditujukan untuk kekasihnya, maka fungsi musik seperti itu bisa
dianalisis sebagai perwujudan dari kontinuitas dan kesinambungan keturunan
manusia—[yaitu untuk memenuhi kehendak biologis bercinta, kawin dan
berumah tangga dan pada akhirnya menjaga kesinambungan keturunan
manusia]. Jika seseorang menggunakan musik untuk mendekatkan diri kepada
Tuhan, maka mekanisme tersebut behubungan dengan mekanisme lain, seperti
menari, berdoa, mengorganisasikan ritual dan kegiatan-kegiatan upacara.
“Penggunaan” menunjukkan situasi musik yang dipakai dalam kegiatan
manusia; sedangkan “fungsi” berkaitan dengan alasan mengapa si pemakai
125
melakukan, dan terutama tujuan-tujuan yang lebih jauh dari sekedar apa yang
dapat dilayaninya. Dengan demikian, selaras dengan Merriam, menurut penulis
penggunaan lebih berkaitan dengan sisi praktis, sedangkan fungsi lebih
berkaitan dengan sisi integrasi dan konsistensi internal budaya.
Berkaitan dengan penggunaan dan fungsi nandong smong etnik
Simeulue di Provinsi Aceh, maka penggunaan mahupun fungsinya mencakup
berbagai aktivitas sosial budaya. Lihat uraikan berikut ini.
5.2 Penggunaan Nandong Smong
Bagi masyarakat Simeulue nandong smong tujuan dan fungsi utamanya
adalah sarana penyelamatan diri terhadap bencana tsunami (smong), sebagai
satu kearifan lokal yang sarat nilai. Dari fungsi utama ini, maka secara
kultural, nandong smong digunakan dalam berbagai aktivitas masyarakatnya,
baik yang sifatnya formal seperti perkawinan atau nonformal seperti untuk
mengiringi anak tidur. Yang penting adalah sampainya isi pesan apa itu
tsunami dan bagaimana upaya menyelamatkan diri dari tsunami. Berikut ini
dianalisis beberapa penggunaan nandong smong di dalam kebudayaan etnik
Simeulue Aceh.
Penggunaan nandong smong di Simeulue Aceh mencakup berbagaibagai aktivitas, seperti: memeriahkan suasana pesta perkawinan, memeriahkan
suasana pesta khitanan, untuk mengiringi upacara-upacara tradisional seperti
kenduri laut, untuk festival-festival budaya, untuk mengiringi acara-acara
perasmian, untuk kepentingan pariwisata, meresmikan gedung pemerintahan,
126
menyambut tetamu kehormatan, memeriahkan hari ulang tahun kemerdekaan
Indonesia, dan lain-lain.
5.2.1 Untuk Memeriahkan Suasana Pesta Perkawinan
Aktivitas perkawinan adat budaya Simeulue, biasanya dimulai dari
tahap pelamaran (ba ranub). Selepas itu dilanjutkan dengan pertunangan (jakba
tanda). Kemudian dilakukan persiapan menjelang perkawinan, potong gigi,
merawat tubuh, khatam Quran, akad nikah dan antar linto, dan peusijeuk.
(1) Tahapan melamar (ba ranub), untuk mencarikan jodoh bagi anak
lelaki yang sudah dianggap dewasa maka pihak keluarga akan mengirim
seorang yang bijak dalam berbicara (disebut theulangke) untuk mengurusi
perjodohan ini. Jika theulangke telah mendapatkan gadis yang dimaksud maka
terlabih dahulu dia akan meninjau status sang gadis. Jika belum ada yang
punya, maka dia akan menyampaikan maksud melamar gadis itu.
Pada hari yang telah di sepakati datanglah rombongan orang-orang
yang dituakan dari pihak pria ke rumah orang tua gadis dengan membawa sirih
sebagai penguat ikatan berikut isinya seperti: gambe, pineung reuk, gapu,
cengkih, pisang raja, kain atau baju serta penganan khas Aceh. Setelah acara
lamaran iini selesai, pihak pria akan mohon pamit untuk pulang dan keluarga
pihak wanita meminta waktu untuk bermusyawarah dengan anak gadisnya
mengenai diterima-tidaknya lamaran tersebut.
127
(2) Tahapan pertunangan (jakba tanda), bila lamaran diterima,
keluarga pihak pria akan datang kembali untuk melakukan peukeong haba
yaitu membicarakan kapan hari perkawinan akan dilangsungkan, termasuk
menetapkan berapa besar uang mahar (disebut jeunamee) yang diminta dan
beberapa banyak tamu yang akan diundang. Biasanya pada acara ini sekaligus
diadakan upacara pertunangan (disebut jakba tanda)
Acara ini pihak pria akan mengantarkan berbagai makanan khas daerah
Aceh, buleukat kuneeng dengan tumphou, aneka buah-buahan, seperangkat
pakaian wanita dan perhiasan yang disesuaikan dengan kemampuan keluarga
pria. Namun bila ikatan ini putus ditengah jalan yang disebabkan oleh pihak
pria yang memutuskan maka tanda emas tersebut akan dianggap hilang.
Namun demikian, kalau penyebabnya adalah pihak wanita maka tanda emas
tersebut harus dikembalikan sebesar dua kali lipat.
(3) Persiapan menjelang perkawinan, seminggu menjelang akad nikah,
masyarakat Simeulue secara bergotong royong akan mempersiapkan acara
pesta perkawinan. Mereka memulainya dengan membuat tenda serta membawa
berbagai perlengkapan atau peralatan yang nantinya dipakai pada saat upacara
perkawinan. Adapun calon pengantin wanita sebelumnya akan menjalani ritual
perawatan tubuh dan wajah serta melakukan tradisi pingitan. Selam masa
persiapan ini pula, sang gadis akan dibimbing mengenai cara hidup berumah
tangga serta diingatkan agar tekun mengaji.
(4) Selain itu akan dialksanakan tradisi potong gigi (disebut gohgigu)
yang bertujuan untuk meratakan gigi dengancara dikikir. Agar gigi sang calon
pengantin terlihat kuat akan digunakan tempurung batok kelapa yang dibakar
128
lalu cairan hitam yang keluar dari batok tersebut ditempelkan pada bagian gigi.
Setelah itu calon pengantin melanjutkan dengan perawatan luluran dan mandi
uap.
Selain tradisi merawat tubuh, calon pengantin wanita akan melakukan
upacara kruet andam yaitu mengerit anak rambut atau bulu-bulu halus yang
tumbuh agar tampak lebih bersih lalu dilanjutkan dengan pemakaian daun
pacar (bohgaca) yang akan menghiasi kedua tangan calon pengantin. Daun
pacar ini akan dipakaikan beberapa kali sampai menghasilkan warna merah
yang terlihat alami.
Setelah itu, acara dilanjutkan dengan mengadakan pengajian dan
khataman Al-Quran oleh calon pengantin wanita yang selanjutnya disebut
calon dara baro. Sesudahnya, dengan pakaian khusus, calon dara baro
mempersiapkan dirinya untuk melakukan acara siraman (seumano pucok) dan
didudukan pada sebuah tikaduk meukasap.
Dalam acara ini akan terlihat beberapa orang ibu akan mengelilingi
calon dara baro sambil menari-nari dan membawa syair yang bertujuan untuk
memberikan nasihat kepada calon dara baro. Pada saat upacara siraman
berlangsung, Calon dara baro akan langsung disambut lalu dipangku oleh
nye’wanya atau saudara perempuan dari pihak orang tuanya. Kemudian satu
persatu anggota keluarga yang dituakan akan memberikan air siraman yang
telah diberikan beberapa jenis bunga-bungaan tertentu dan ditempatkan pada
meundam atau wadah yang telah dilapisi dengan kain warna berbeda-beda
yang disesuaikan dengan silsilah keluarga.
129
(5) Upacara akad nikah dan antar linto, pada hari pelaksanaan yang
telah ditentukan, akan dilakukan secara antar linto (menghantar pengantin
pria). Namun sebelum berangkat kerumah keluarga calon, calon pengantin pria
yang disebut calon linto baro menyempatkan diri untuk terlebih dahulu
meminta ijin dan memohon doa restu pada orang tuanya. Setelah itu calon linto
baro disertai rombongan pergi untuk melaksanakan akad nikah sambil
membawa mas kawin yang diminta dan seperangkat alat solat serta bingkisan
yang diperuntukan bagi calon lint calon dara baro.
Sementara itu sambil menunggu rombongan calon linto baro tiba
hingga acara ijab Kabul selesai dilakukan, calon dara baro hanya
diperbolehkan menunggu di kamarnya. Selain itu juga hanya orangtua serta
kerabat dekat saja yang akan menerima rombongan calon linto baro. Saat akad
nikah berlangsung, ibu dari pengantin pria tidak diperkenankan hadir tetapi
dengan berubahnya waktu kebiasaan ini dihilangkan sehingga ibu pengantin
pria bisa hadir saat ijab kabul. Keberadaan sang ibu juga diharapkan saat
menghadiri acara jamuan besan yang akan diadakan oleh pihak keluarga
wanita.
Setelah ijab kabul selesai dilaksanakan, keluarga calon linto baro akan
menyerahkan jeunamee yaitu mas kawin berupa sekapur sirih, seperangkat kain
adat dan paun yakni uang emas kuno seberat 100 gram. Setelah itu dilakukan
acara menjamu besan dan seleunbu linto/dara baro yakin acara suap-suapan di
antara kedua pengantin. Makna dari acara ini adalah agar keduanya dapat
seiring sejalan ketika menjalani biduk rumah tangga.
130
(6) Upacara peusijeuk, yakni melakukan upacara tepung tawar,
memberi dan menerima restu dengan cara memerciki pengantin dengan air
yang keluar dari daun seunikeuk, akar naleung sambo, maneekmano, onseukee
pulut, ongaca dan lain sebagainya minimal harus ada tiga yang pakai. Acara ini
dilakukan oleh beberapa orang yang dituakan (sesepuh) sekurangnya lima
orang.
Pada saat sekarang ini bagi masyarakat Aceh kebanyakan ada anggapan
bahwa acara ini tidak perlu dilakukan lagi karena dikhawatirkan dicap meniru
kebudayaan Hindu. Namun di kalangan ureungchik (orang yang sudah tua dan
sepuh) budaya seperti ini merupakan tata cara adat yang mutlak dilaksanakan
dalam upacara perkawinan. Namun kesemuanya tentu akan berpulang lagi
kepada pihak keluarga selaku pihak penyelenggara, apakah tradisi seperti ini
masih perlu dilestarikan atau tidak kepada generasi seterusnya.
Dalam konteks penyajian nandong smong, maka sebelum nandong
smong disajikan pada malam hari sebelum upacara pernikahan, orang tua dari
mempelai pria atau wanita melakukan pengantaran batel2 yang dibungkus
dengan kain kuning ke rumah ketua sanggar. Batel tersebut berisikan daun
sirih, kapur sirih, gambir, dan buah pinang. Kemudian ketua sanggar membuka
bungkus batel tersebut dan mengolah sirih beserta bahan lain di dalamnya
untuk malangak.3 Ini adalah sebagai tanda bahwa mereka mau memainkan
nandong4 di rumah mempelai pria atau wanita.
2
Batel berbentuk seperti baskom terbuat dari logam kuningan, tempat untuk
meletakkan sirih dan perlengkapannya juga dibungkus kain kuning. Masyarakat Minangkabau
menyebutnya sebagai carano. Masyarakat melayu menyebutnya tepak sirih.
3
Malangak adalah aktivitas memakan sirih, di dalam kebudayaan masyakat Simeulue.
Dalam konteks makan sirih ini, maka selain sirih, disertai juga dengan gambir, kapur, dan
pinang. Aktivitas makan sirih juga terdapat di berbagai kebudayaan etnik di Nusantara, seperti
131
Nandong smong biasanya disajikan ketika malam hari sebelum upacara
adat pernikahan dilaksanakan, nandong dipertunjukkan oleh 15-30 orang
dengan durasi yang mencapai sekitar 12 jam. Hal yang sama juga berlaku
kepada orang tua yang ingin mengkhitan anaknya.
Gambar 6.1:
Pengantin Simeulue dan Busana Adatnya
Sumber: (http://acehtourismagency.blogspot.co.id/2012/07/
upacara-perkawinan-adat-aceh.html
5.2.2 Untuk Memeriahkan Suasana Upacara Khitanan
Acara berkhitan (sunat Rasul atau sirkumsisi) merupakan salah satu
aktivitas dalam peradaban Islam. Berdasarkan hukum Islam, yang juga menjadi
Melayu, Alas, Gayo, Karo, Mandailing-Angkola, Batak Toba, Nias, Minangkabau, dan lainlainnya.
4
Nandong merupakan kesenian tradisional Simeulue, nandong smong adalah salah
satu judul senandung yang dilantunkan.
132
rujukan adat Simeulue, berkhitan adalah wajib ‘ain—wajib dilakukan oleh
setiap individu muslim, sesuai ajaran Nabi Muhammad. Usia untuk berkhitan
tidak ada ketentuannya, tetapi biasanya untuk anak perempuan dilakukan
setelah berusia lebih setahun, anak lelaki lebih dari tujuh tahun menjelang akil
baligh (usia remaja).
Biasanya pada saat anak dikhitan, disertai acara yang berhubungan
dengan adat-istiadat, iaitu kenduri sebagai rasa syukur dan mohon keselamatan
kepada Allah. Dalam budaya Simeulue, acara khitan ini dilaksanakan menurut
hari baik dan bulan baik, biasanya Sya’ban, Syawal, Zulhijjah, atau Zulkaidah.
Sesuai dengan penanggalan Islam, berdasarkan pada siklus tahun qamariah
(siklus bulan mengedari bumi),5 dimulai dari tahun awal kali Nabi Muhammad
dan pengikutnya hijrah (migrasi sementara) dari Mekah ke Medinah.
Acara khitan untuk anak lelaki biasanya dilangsungkan dengan meriah.
Sehari sebelum anak dikhatan, ia diarak keliling kampung, didandani seperti
layaknya seorang pengantin, dan dipeuseujuk, agar selamat dan sejahtera
dalam hidupnya.
Pada hari yang ditentukan, anak tersebut dikhitan. Setelah selesai
dikhatan ditidurkan di sebuah ranjang. Beberapa masa kemudian, didudukkan
di pelaminan. Di depan pelaminan disediakan makanan.
Saat anak didudukkan di pelaminan inilah biasanya dipersembahkan
berbagai kesenian Simeuleu seperti nandong, nandong smong, syaer, panton,
5
Di dunia ini ada pelbagai sistem kalender yang digunakan oleh manusia. Ada yang
mengikut sistem bumi mengedari matahari seeperti kalender Masihi. Ada pula yang mengikut
bulan mengelilingi bumi seperti kalender Islam dan Jawa. Ada juga kalender-kalender lain
seperti China, Thailand, Batak Toba, Karo, Simalungun dan lainnya.
133
dan lain-lainnya. Kesenian smong dianggap sebagai bahagian dari seni khas
Simeulue.
Nandong yang disajikan di dalam pernikahan atau khitanan dimainkan
semalam suntuk, dimulai pada pukul 20.00 WIB setelah shalat Isya dan
jamuan makan malam dari tuan rumah, penandong mulai memainkan rall6 dan
saramo pada kedang sebagai tanda dimulainya nandong (intro) dan diikuti
oleh alunan biola. Setelah beberapa bar alunan biola yang dimainkan,
kemudian masuk nyanyian vokal.
Pada pukul 22.00–23.00 WIB adalah waktu istirahat sambil meminum
kopi hitam dan beberapa jenis kue-kue. Setelah dirasa istirahat cukup, para
penandong melanjutkan kembali melantunkan beberapa tema, lirik-lirik yang
di lantukan pun dapat dalam bahasa aneuk jamee maupun devayan, kegiatan ini
berlangsung hingga pukul 03.00 WIB.
Istirahat kedua pada pukul 03.00–04.00 WIB. Setelah itu nandong pun
dilanjutkan kembali, pada bagian ini suara penandong umumnya melengking
tinggi, dengan frekuensi yang juga tinggi. Suara vokal bernada tinggi bertujuan
agar para pemain tidak mengantuk. Nandong berakhir di saat adzan Subuh
berkumandang dan para pemain melaksanakan shalat Subuh, dan pulang ke
rumah masing-masing.
5.2.3 Untuk Memeriahkan Upacara Penyambutan Tamu Daerah
Sedangkan untuk acara nasional seperti penyambutan tamu baik dari
ibukota Jakarta maupun dari daerah lain, ulang tahun daerah, dan sebagainya
6
Rallentando adalah sebuah rangkaian untuk menunjukkan bagian dari komposisi
dengan memperlambat tempo secara bertahap. Singkatannya adalah rall.
134
biasanya panitia penyelenggara cukup membuat undangan resmi atau
menghubungi melalui telepon atau handphone, whatsapp, dan pesan singkat
kepada ketua sanggar nandong smong.
Dalam konteks tersebut di atas, tidak hanya nandong bertema smong
saja yang dimainkan. Untuk keperluan ini, para penandong juga memainkan
atau mempertunjukkan tema-tema lainnya, misalnya tema pembangunan,
agama, filsafat hidup, perkembangan sosial budaya, pemerintahan, yang
temanya ini bisa saja diminta oleh para pejabat eksekutif melalui orang-orang
kepercayaannya kepada para seniman nandong.
5.2.4 Berbagai Guna Lainnya
Guna lainnya nandong smong ini juga tidak terbatas, sesuai dengan
keseuaian konteks sosialnya. Selain untuk memeriahkan upacara perkawinan,
upacara khitanan, menyambut tamu, juga digunakan untuk berbagai konteks
seperti: (1) menyambut ulang tahun kemerdekaan Indonesia; (2) meresmikan
gedung-gedung pemerintahan; (3) pembukaan dan mengisi acara-acara
kepariwisataan; (4) pertunjukan budaya; dan lain-lainnya. Demikian kira-kira
kajian penulis mengenai guna nandong smong ini dalam konteks kebudayaan
etnik Simeulue secara khusus, Aceh dan Nusantara secara umum. Selanjutnya
kajian yang lebih jauh dan lebih abstrak adalah fungsi nandong smong.
5.3 Fungsi Nandong Smong
Menurut penulis, berdasarkan teori fungsionalisme antropologi (dari
Malinowski maupun Radcliffe-Brown) juga uses and functions etnomusikologi
135
(dari Merriam), maka fungsi nandong smong adalah: (1) fungsi memberi tahu
gejala dan peristiwa tsunami; (2) fungsi memberitahu cara menyelamatkan diri
dari bencana tsunami; (3) fungsi menjaga keseimbangan kosmologis; (4)
fungsi komunikasi; (5) fungsi kesinambungan kebudayaan; (6) fungsi
memperkuat identitas kebudayaan Simeulue; (7) fungsi penghayatan agama
Islam, (8) fungsi hiburan, (9) fungsi integrasi sosiobudaya, dan lain-lainnya,
seperti uraian berikut ini.
5.3.1 Fungsi Memberitahu Gejala dan Peristiwa Tsunami
Fungsi utama nandong smong, menurut kajian dan tafsiran penulis
adalah untuk mempelajari gejala dan peristiwa tsunami, yang dialami oleh
nenek moyang Simeulue beberapa ratus tahun yang lampau, dan sangat
mungkin akan terulang kembali. Mengenai gejala dan peristiwa tsunami ini
jelas terkandung di dalam teksnya.
Unen ne alek linon (diawali oleh gempa)
Fesang bakat ne mali (disusul ombak besar)
Manoknop sao hampong (tenggelam seluruh negeri)
Tibo-tibo maawi (secara tiba-tiba)
Teks dari tradisi lisan ini mengisyaratkan bahwa apa itu tsunami (smong),
yakni peristiwa alam yang dimulai dengan gempa. Gempa ini umumnya terjadi
di Samudera Hindia, tentu saja gempa yang berkeuatan dahsyat (kini dapat
diukur oleh skala Ritcher). Setelah gempa, maka, akan disusul ombak besar
dari Lautan Hindia, bahkan sangat besar dibanding ombak hari-hari biasa, bisa
mencapai puluhan meter. Kemudian tenggelamlah seluruh negeri, terutama
136
kawasan tepi pantai. Kejadian ini hanya makan waktu sekejap saja atau tibatiba saja yang dalam bahasa Simeulue disebut dengan tibo-tibo maawi.
Dari teks ini tegambar fungsi utama nandong smong menjelaskan
dengan sejelas-jelasnya gejala tsunami dan peristiwanya, yang menurut penulis
adalah multi indeksikal. Artinya satu kejadian akan disusul dengan kejadian
lain, sampai akhirnya tenggelamlah seluruh negeri (wilayah Simeulue). Inilah
salah satu fungsi utama nandong smong.
5.3.2 Fungsi Memberitahu Cara Menyelamatkan Diri dari Bencana
Tsunami
Fungsi
nandong
smong
berikutnya
adalah
memberitahu
cara
menyelamatkan diri dari bencana tsunami. Fungsi ini penting ditinjau dari
aspek kontinuitas generasi manusia Simeulue, agar tidak menjadi korban dari
tsunami. Cara menyelamatkan diri itu terkandung dalam contoh teks yang
dikutip berikut ini.
Anga linon ne mali (jika gempanya kuat)
Uek suruik sahuli (disusul air yang surut)
Maheya mihawali (segeralah cari tempat)
Fano me senga tenggi (dataran tinggi agar selamat)
Ede smong kahanne (itulah smong namanya)
Turiang da nenekta (sejarah nenek moyang kita)
Miredem teher ere (ingatlah ini semua)
Pesan navi-navi da (pesan dan nasihatnya)
Teks di atas memiliki fungsi penyelamatan diri dari tsunami. Dimulai
dari penjelasan atau pemberitahuan jika gempanya kuat, yang kemudin disusul
air yang surut, maka nenek moyang orang Simeulue melalui syair ini
137
menganjurkan agar keturunannya segeralah mencari tempat dataran tinggi, agar
mereka semua selamat dari bencana tsunami atau smong. Pemberitahuan ini,
tentu saja dikaitkan juga dengan peristiwa gempa yang tidak menimbulkan
smong, yaitu jika gempanya tidak kuat, dan air laut tidak surut, maka tidak
perlu terburu-buru mencari dataran yang tinggi, karena peristiwa gempa
tersebut tidak akan menyebakan tsunami. Namun demikian mereka perlu juga
berhati-hati setiap adanya gempa.
Dalam budaya Simeulue, gempa kuat dan kemudian air laut turun,
kemudian berubah menjadi gelombang besar yang dahsyat dan biasanya
memuluh-lantakkan daratan (pulau) disebut dengan smong. Melalui tradisi
lisan ini dijelaskann bahwa smong menjadi sejarah kebudayaan mereka, sejak
zaman nenek moyangnya ada, dan mengalami peristiwa tersebut. Oleh karena
itu, nenek moyang orang Simeulue mengajarkan dan memberitahukan tentang
tsunami ini melalui nandong smong. Dengan demijian dua fungsi utama
nandong smong, adalah untuk memberitahu apa itu tsunami dan memberitahu
bagaimana menyelematkan diri dari bencana tsunami ini, berdasarkan
pengalaman nenek moyang mereka.
5.3.3 Fungsi Menjaga Keseimbangan Kosmologis
Fungsi lainnya nandong smong, menurut penulis adalah untuk menjaga
keseimbangan kosmologis. Masyarakat Simeulue memiliki konsep tersendiri
dalam memandang alam. Bagi orang-orang Simeulue, alam ini mencakup juga
dirinya. Alam terdiri dari alam kasat mata, yakni bumi, planet, satelit, bintang,
tata surya, galaksi, dan lain-lainnya, juga alam gaib. Hal ini juga selaras
138
dengan ajaran agama Islam yang nereka anut, bahwa Allah menciptakan alam
dan seisinya ini. Kemudian dijelaskan bahwa alam itu ada yang kasat mata dan
juga ada alam gaib.
Menyatunya orang Simeulue dengan alam, terutama
dalam konteks smong, tercermin dalam teks yang penuh dengan makna
berikut.
Smong dumek-dumek mo (tsunami air mandimu)
Linon uwak-uwakmo (gempa ayunanmu)
Elaik keudang-keudang mo (petir gendang-gendangmu)
Kilek suluih-suluih mo (halilintar lampu-lampumu)
Dalam rangka mengisi dan menjalani kehidupannya, orang-orang
Simeulue, tidak mengeksploitasi alam, merusak alam, dan melawan kehendak
alam yang telah diatur regulasinya oleh Allah. Bagi orang Simeulue, alam
adalah tempat mencari kehidupan, untuk membutuhi kehidupan individu,
keluarga inti, keluarga luas, suku, bangsa, dan semua manusia. Olehh karena
itu jangan merusak alam. Dalam konteks tsunami ini, maka selain nandong
smong, orang-orang Simeulue juga memelihara hutan bakau di sekitar pantai,
menanam tanam-tanaman khas pulau, gunanya adalah untuk memecah
gelombang dahsyat jika terjadi tsunami. Jadi salah satu fungsi lainnya dari
nandong smong adalah untuk menjaga keseimbangan kosmologis.
5.3.4 Fungsi Komunikasi
Fungsi lainnya dari nandong smong ini adalah sebagai sarana
komunikasi. Dalam fungsi yang sedemikian rupa ini, pertunjukan nandong
smong
yang digunakan pada berbagai acara kutural, selain memberikan
139
pengetahuan juga berfungsi komunikasi. Dalam hal ini orang yang menyajikan
nandong smong adalah sebagai komunikator. Mereka ini adalah penyanyi
(penandong), pemain biola, dan kedang. Selanjutnya orang yang menonton
pertunjukan nandong smong dalam ilmu komunikasi disebut sebagai
komunikan.
Mereka menerima pesan-pesan pertunjukan nandong smong. Pesan
yang diterima ada dua bentuk. Yang pertama adalah bentuk verbal melalui teks
nandong smong yang dilantunkan penandong. Yang kedua adalah bentuk
nonverbal, berupa alunan melodi, ritme nyanyian, maupun ritme kedang.
Kesemua bentuk komunikasi ini menjadi bahagian yang saling menguatkan
dalam proses komunikasi mengenai tema utamanya smong.
Jadi fungsi
komunikasi dalam hal ini, masih dalam kaitan dengan fungsi utama
memberitahu apa itu tsunami dan bagaimana upaya menyelamatkan diri dari
tsunami.
Selain itu, disadari atau tidak nandong smong ini juga adalah sebagai
bagian dari komunikasi orang-orang Simeulue yang masih hidup dengan nenek
moyangnya yang telah meninggal. Baik yang baru meninggal atau beberapa
generasi ke atas. Komunikasi ini berupa nenek moyang mereka memberikan
pesan komunikasi tentang tsunami. Bagi orang Simeulue sebagaimana umat
Islam lainnya di dunia, setiap saat mereka dapat berkomunikasi kepada
kerabatnya melalui doa kepada Allah, agar nenek moyang mereka diterima di
sisi Allah dalam tempat yang sebaik-baiknya. Demikian nandong smong yang
berfungsi sebagai sarana komunikasi.
140
5.3.5 Fungsi Kesinambungan Kebudayaan
Berkenaan dengan fungsi sumbangan musik untuk kesinambungan dan
stabilitas kebudayaan, Merriam menjelaskan bahwa tidak semua unsur
kebudayaan memberikan tempat untuk mengekspresikan emosi, hiburan,
komunikasi, dan seterusnya. Musik adalah perwujudan kegiatan untuk
mengekspresikan nilai-nilai.
Dengan demikian fungsi musik ini menjadi
bagian dari berbagai ragam pengetahuan manusia lainnya, seperti sejarah, mite,
dan legenda, yang berfungsi menyumbang kesinambungan kebudayaan, yang
diperoleh melalui pendidikan, pengawasan terhadap prilaku yang salah,
menekankan kepada kebenaran, dan akhirnya menyumbangkan stabilitas
kebudayaan (Merriam, 1964:225).
Dalam kaitannya dengan fungsi nandong smong untuk kesimabungan
dan stabilitas kebudayaan, maka menjadi bagian dari fungsi utamanya yakni
sebagai sarana pengetahuan orang Simeulue tentang tsunami dan cara
menyelamatkan diri dari tsunami.
Dengan memahami hal ini, selanjutnya
orang-orang Simeulue sebagian besar selamat dari bencana tersebut.
Selanjutnya setelah tsunami selesai mereka kembali ke rumah masing-masing,
walaupun telah diluluhlantakkan tsunami. Mereka masih bisa membangun
sarana dan prasarana kehidupannya kembali. Kemudian perlahan tetapi pasti
mengisi hidupnya kembali dengan penuh harapan ke masa depan. Mereka
kemudian
membangun
kebudayaannya.
Dengan
demikian
terjadi
kesinambungan dan stabilitas kebudayaa. Bahkan lebih jauh fungsi nandong
smong ini adalah untuk kesinambungan keturunan manusia Simeulue, dalam
konteks menyelematakan diri dari bencana tsunami, dan kemudian setelah
141
selamat membangun peradabannya kembali. Terjadi pula stabilitas kebudayaan
setelah itu. Hal ini tercermin dari dua bait nandong smong berikut.
Enggelan mon sao surito (dengarlah suatu kisah)
Inang maso semonan (pada zaman dahulu kala)
Manoknop sao fano (tenggelam suatu desa)
Uwilah da sesewan (begitulah dituturkan)
Ede smong kahanne (itulah smong namanya)
Turiang da nenekta (sejarah nenek moyang kita)
Miredem teher ere (ingatlah ini semua)
Pesan navi-navi da (pesan dan nasihatnya)
Sesuai dengan kajian Merriam di atas, nandong smong dalam budaya
Simeulue Aceh, berfungsi pula memberikan sumbangan untuk kelestarian dan
stabilitas kebudayaan Simeulue.
Di dalam nandong smong ini terkandung
unsur-unsur sejarah, mite, dan legenda, yang pada saatnya mampu memberikan
sumbangan untuk kelestarian kebudayaan. Melalui nandong smong bisa
dipelajari prilaku-prilaku yang dipandang benar dan salah oleh masyarakat
pendukungnya. Di dalam nandong smong terkandung nilai-nilai moral.
Fungsi nandong smong lainnya adalah sebagai sarana untuk kelestarian
budaya Simeulue.
Bahwa seperti dicontohkan di dalam ajaran agama,
kebudayaan manusia itu bisa saja mati, dan ada juga yang lestari. Contoh
berbagai kebudayaan yang musnah itu adalah: Ad, Tsamud, Madyan, Ur, dan
lainnya—dan yang lestari adalah beberapa umat Nabi Nuh, dan tentu saja umat
Islam, sejak Nabi Adam Alaihissalam hingga kini. Melalui nandong smong,
ajaran-ajaran adat berakarkan agama Islam akan terus lestari mengikuti
dimensi ruang dan waktu. Bahawa kebudayaan Simeulue itu harus diturunkan
dari generasi ke generasi berikutnya agar tidak musnah ditelan zaman.
142
Generasi muda haruslah dikawal dan dipandu agar mereka meneruskan dan
melestarikan kebudayaan Simeulue ini ke generasi-generasi mendatang.
5.3.6 Fungsi Memperkuat Identitas Kebudayaan Simeulue
Menurut penulis, salah satu fungsi nandong smong yang lain adalah
memperkuat identitas kebudayaan Simeulue. Nandong smong hanya terdapat
di dalam kebudayaan masyarakat Simeulue. Nandong smong juga meruapakan
tradisi lisan yang penuh dengan kearifan lokal, yang membuat orang Simeulue
dikenal di seluruh dunia. Bahkan PBB pun memberikan penghargaan atas
eksistensi nandong smong di Simeulue ini.
Sebagai sebuah seni yang memprkuat identitas kebudayaan, maka
masyarakat Simeulue, sangat giat melakukan sosialisasi seni ini dalam
berbagai aktivitas sosial dan kebudayaan. Bahkan dalam paket-paket olahan
makanan, teks nandong smong juga ditulisakan di bungkus paket tersebut.
Demikian pula pembelajarannya untuk anak sekolah, mulai dari taman kanakkanak, sekolah dasar, menengah perta, dan menegah atas, sebagai bagian dari
muatan lokal. Demikian pula dalam aktivitas kampanye politik pun, biasanya
para calon selalu mensosialisasikan nandong smong ini. Dengan dermikian
nandong smong adalah memperkuat identitas kebudayaan Simeulue, di
samping tradisi-tradisi lisan lainnya.
5.3.7 Fungsi Penghayatan Agama Islam
Fungsi nandong smong lainnya adalah untuk penghayatan agama Islam.
Artinya adalah di dalam nandong smong terdapat nilai-nilai ajaran Islam,
143
terutama tenrang alam, bencana, menyikapi bencana, dan yang penting adalah
semua itu datangnya dari Allah Subhanahu Wataala. Menurut keterangan para
informan, ajaran Islam yang terkadung dari nandong smong ini, adalah seperti
yang difirmankan Allah di dalam Al-Quran, mengenai kisah Nabi Nuh dan
bahteranya. Orang-orang yang beriman meyakini bahwa akan terjadi banjir
besar, dan sesuai dengan arahan nabi Nuh naik ke dalam bahtera, selanjutnya
orang-orang yang memusuhi Nabi Nuh dan mengingkari kekuasaan Allah tidak
mau naik ke perahu karena tidak meyakini akan adanya banjir besar. Akhirnya
selamatlah orang-orang beriman yang berada di perahu Nabi Nuh dan
tenggelamlah orang-orang yang memusuhi Nabiyullah Nuh. Hal ini
digambarkan di dalam Al-Quran, Surah Yunus ayat 73 sebagai berikut.
Artinya: 73. Lalu mereka mendustakan Nuh, maka Kami
selamatkan dia dan orang-orang yang bersamanya di dalam
bahtera, dan Kami jadikan mereka itu pemegang kekuasaan dan
Kami tenggelamkan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat
Kami. Maka perhatikanlah bagaimana kesesudahan orang-orang
yang diberi peringatan itu.
Selain itu, seni budaya nandong smong di Simeuue Aceh ini berfungsi
sebagai ekspresi spiritualitas Islam. Bahwa seni Islam tidak hanya menghargai
bentuk, material dan fisiknya saja. Nandong smong terdiri dari aspek
spiritualitas dan fisik sekali gus. Kedua-duanya berjalan selaras dan seiring.
Spiritualitas dalam seni Islam adalah memancarkan hakikat kebenaran dan
144
kesempurnaan.
Bahwa dimensi spiritualitas dalam seni Islam di Simeulue
mencerminkan jiwa seniman muslim melalui karyanya, didasari oleh nilai-nilai
kebenaran yang diarahkan dan dibimbing oleh Allah sebagai Tuhan semesta
alam. Dengan demikian, spiritulitas dalam seni nandong smong dibimbing oleh
hakikat ketuhanan. Nilai-nilai spiritualitas ini melampaui batas-batas bentuk
dan fisik.
5.3.8 Fungsi Hiburan
Berkaitan dengan fungsi seni untuk hiburan, Merriam membicarakannya seperti yang penulis kutip berikut ini.
Music provides an entertainment function in all societies.
It needs only to be pointed out that a distinction must be probably
be drawn between “pure” entertainment, which seems to be a
particular feature of music in Western society, and entertainment
combined with other functions. The latter may well be a more
prevalent feature of nonliterate societies (Merriam, 1964:223).
Nandong smong milik masyarakat Simeulue, salah satu fungsinya adalah
untuk hiburan. Di Simeulue Aceh, nandong smong tetap hidup karena salah
satunya adalah berfungsi untuk hiburan. Kelompok-kelompok seni pertunjukan
tradisional biasanya melakukan kegiatannya di panggung, di rumah yang punya
hajat, di gedung, dan lainnya. Fungsi dalam konteks ini adalah menghibur
pengunjung. Dalam kaitan ini, menurut, faktor ekonomi adalah menjadi alasan
utama dalam rangka hiburan ini.
Fungsi nandong smong sebagai sarana hiburan bukanlah bermakna
hiburan yang terlepas dari ajaran Islam. Justeru hiburan di sini adalah untuk
145
memenuhi keinginan dasar manusia akan rasa keindahan melalui berbagai
dimensinya. Bahwa manusia secara alamiah, menyukai keindahan. Sesudah
menikmati keindahan ia akan terhibur, dan jiwanya terisi oleh aspek-aspek
ruhiyah dan pencerahan (aufklärung). Dengan demikian nandong smong juga
mengandung fungsi sebagai hiburan, yang berdasar kepada fitrahnya dan
sebagai salah satu anugerah dan nikmat yang diberikan oleh Allah.
5.3.9 Fungsi Integrasi Sosiobudaya
Fungsi nandong smong lainnya adalah untuk integrasi masyarakat
Simeulue. Berkenaan dengan fungsi seni sebagai sumbangan untuk integrasi
masyarakat, Merriam menjelaskannya seperti yang penulis kutip berikut ini.
Music, then, provides a rallying point around which the
members of society gather to engage in activities which require
the cooperation and coordination of the group. Not all music is
thus performed, of course, but every society has occasions
signalled by music which draw its members together and reminds
them of their unity (Merriam, 1964:227).
Menurut Merriam, salah satu fungsi musik adalah sebagai wahana untuk
berkumpul para anggota masyarakatnya. Musik seperti ini biasanya
mengajak para warga masyarakatnya untuk turut serta beraktivitas. Dalam
konteks itu, mereka saling memerlukan kerjasama dan koordinasi
kelompok. Walau demikian, Merriam juga tidak menyatakan bahwa semua
musik berfungsi sebagai kontribusi untuk integrasi, tetapi umumnya setiap
kelompok masyarakat mempunyai muSik seperti yang digambarkannya itu.
Melalui musik ini para anggota masyarakatnya diajak untuk beraktivitas
146
bersama, dan mengingatkan akan pentingnya mereka sebagai satu kesatuan
kelompok.
Konsep yang dikemukakan Merriam tersebut sangat tepat dalam
menggambarkan salah satu fungsi yang terjadi dalam nandong smong
dalam kebudayaan etnik Simeulue. Dari serangkaian fungsi nandong
smong, menurut penulis, fungsinya yang juga penting adalah memberi
sumbangan kepada integrasi masyarakat. Melalui nandong smong ini,
orang Simeulue diingatkan pentingnya bekerjasama dalam memahami,
meyelamatkan diri dari tsunami, saling berkomunikasi, dan itu akan lebih
terintegrasi dengan cara bekerjasama. 7
Fungsi nandong smong sebagai integrasi sosiobudaya, artinya adalah
bahwa masyarakat Simeulue atau yang lebih luas seluruh umat manusia,
memiliki berbagai perbedaan ras, bangsa (nasional), status sosial dan
ekonomi, agama, kepercayaan, sekte, stereotipe, jenis kelamin, dan lainlainnya. Mereka yang berbeda ini, perlu berkomunikasi dan saling
7
Contoh lain fungsi seni yang memberikan sumbangan untuk integrasi
masyarakat adalah tarian yang terdapat
pada masyarakat Andaman, yang
dideskripsikan Radcliffe-Brown seperti berikut:
The Andamanese dance (with its accompanying song) may therefore be
described as an activity in which, by virtue of the effect of rhythm and melody, all the
members of a community are able harmoniously to cooperate and act in unity ...
The pleasure that the dancer feel irradiates itself over everything arouns him
and he is filled with geniality and good-will towards his companions. The sharing
with others of an intense pleasure, or rather the sharing in a collective expression of
pleasure, must ever incline us to such expansive feelings. ...
In this way the dance produces a condition in which the unity, harmony and
concord of the community are at a maximum, and in which they are intensely felt by
every member. It is also produce this condition. I would maintain, that is the primary
social function of the dance. The well-being, or indeed the existence, of the society
depends on the unity and harmony that obtain in it, and the dance, by making that
unity intensely felt, is a menas of maintaning it. For the dance affords an opportunity
for the direct action of the community upon the individual, and we have seen that it
exercises in the individual those sentiments by which the social harmony is maintained
(Radcliffe-Brown, 1948:249-252).
147
berhubungan sosial, karena makhluk manusia itu memerlukan manusia lain.
Dalam konteks sedemikian rupa mereka memerlukan integrasi sosial, agar
terjalin hubungan antara individu atau kumpulan manusia, yang diatur oleh
hukum atau norma-norma sosial yang ada. Salah satu fungsi nandong
smong adalah untuk mewujudkan integrasi sosiobudaya. Bahwa masyarakat
Simeulue itu sendiri memiliki berbagai perbedaan. Oleh kerana itu mereka
perlu mengadakan integrasi sosiobudaya dalam tingkat suku maupun
kawasan Aceh dan Nusantara. Selain itu juga, Islam sebagai panduan etnik
Simeulue di Aceh, secara konseptual adalah sebuah agama dengan gagasan
dan melakukan konsep rahmat kepada seluruh sekalian alam. Jadi Islam
tentu saja harus toleran dan menghargai perbedaan-perbedaan sesama umat
manusia dan lingkungan alam.
Hal ini juga tercermin dalam nandong
smong.
148
BAB VI
KAJIAN KEARIFAN LOKAL
6.1 Pengertian Kearifan Lokal
Istilah kearifan lokal (lokal wisdom) terdiri atas dua kata, yaitu kearifan
(wisdom) dan lokal (local). Kata kearifan (wisdom) berarti kebijaksanaan,
sedangkan kata lokal berarti setempat. Dengan demikian, kearifan lokal atau
kearifan setempat (local wisdom) dapat dipahami sebagai gagasan-gagasan dan
pengetahuan setempat yang bersifat bijaksana, penuh kearifan, bernilai baik,
dan berbudi luhur yang dimiliki, dipedomani, dan dilaksanakan oleh anggota
masyarakatnya.
Kearifan lokal itu diperoleh dari tradisi budaya atau tradisi lisan.
Alasannya adalah karena kearifan lokal merupakan kandungan tradisi lisan
atau tradisi budaya yang secara turun-temurun diwarisi dan dimanfaatkan
untuk menata kehidupan sosial masyarakat dalam segala bidang kehidupannya
atau untuk mengatur tatanan kehidupan komunitas.
Kearifan lokal adalah kebijaksanaan atau pengetahuan asli suatu
masyarakat yang berasal dari nilai luhur tradisi budaya untuk mengatur tatanan
kehidupan masyarakat. Jika kearifan lokal itu difokuskan pada nilai budaya,
maka juga dapat didefinisikan dengan cara lain. Kearifan lokal adalah nilai
budaya lokal yang dapat dimanfaatkan untuk mengatur tatanan kehidupan
masyarakat secara arif dan bijaksana (Sibarani: 2012). Definisi pertama lebih
menekankan pada kebijaksanaan atau kearifan untuk menata kehidupan sosial
yang berasal dari nilai budaya yang luhur, sedangkan definisi kedua
149
menekankan nilai budaya luhur yang digunakan untuk kebijaksanaan atau
kearifan menata kehidupan sosial.
Pemahaman bahwa nandong smong dapat dikatakan sebagai kearifan
lokal dapat dilihat dari pendekatan perspektif struktural, kultural, dan
fungsional. Dari perspektif struktural, kearifan lokal dapat dipahami dari
keunikan struktur sosial yang berkembang di lingkungan masyarakat. Struktur
sosial tersebut tidak hanya menjelaskan tentang institusi sosial, organisasi
sosisal dan kelompok sosial, yang hadir di tengah masyarakat lokal, tetapi
bertautan dengan dominasi wewenang dan kekuasaan yang melahirkan kelas,
stratifikasi atau tipologi masyarakat.
Perspektif kultural lebih menekankan pada konteks kearifan lokal
sebagai nilai yang diciptakan, dikembangkan dan dipertahankan dari
masyarakat sendiri dan karena kemampuannya mampu bertahan dan menjadi
pedoman hidup masyarakat. Pada dasarnya, ada 5 (lima) dimensi kultural
tentang kearifan lokal, yaitu: (1) pengetahuan lokal, (2) budaya lokal, (3)
keterampilan lokal, (4) sumber daya lokal, dan (5) proses sosial lokal (Ife,
2002:101-102).
Perspektif fungsional lebih memahami kearifan lokal dari perspektif
kemampuan masyarakat untuk melaksanakan fungsi-fungsinya. Parsons (1986)
meletakkan fungsi masyarakat dari dimensi: adaptasi (adaptation), pencapaian
tujuan (goal achievement), integrasi (integration), dan pemeliharaan pola
(latern pattern maintanace), yang secara akronim fungsi-fungsi itu dalam ilmu
pengetahuan sosial dan budaya disebut dengan AGIL.
150
Secara substansial, kearifan lokal itu adalah nilai dan norma budaya
yang berlaku dalam menata kehidupan masyarakat. Nilai dan norma yang
diyakini kebenarannya menjadi acuan dalam bertingkah laku sehari-hari
masyarakat setempat. Oleh karena itu, sangat beralasan jika Greetz mengatakan
bahwa kearifan lokal merupakan identitas yang sangat menentukan harkat dan
martabat manusia dalam komunitasnya. Hal itu berarti kearifan lokal yang di
dalamnya berisi nilai dan norma budaya untuk kedamaian dan kesejahteraan
dapat digunakan sebagai dasar dalam pembangunan masyarakat.
Tradisi budaya yang hidup di setiap masyarakat pada umumnya
diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui media lisan dari
“mulut ke telinga.” Oleh karena sifat pewarisannya, tradisi budaya seperti itu
disebut juga tradisi lisan. Tradisi budaya itu mungkin dalam bentuk proses
aktivitas, proses penciptaan kebudayaan, atau proses berkomunikasi. Dengan
demikian, tradisi lisan adalah kegiatan budaya tradisional suatu masyarakat
yang diwariskan secara turun-temurun dengan media lisan (verbal) maupun
tradisi lisan yang bukan lisan (non-verbal).
Tradisi budaya atau tradisi lisan memiliki ciri-ciri sebagai berikut ini:
(1) Merupakan kegiatan budaya berbentuk lisan (sebagaian lisan dan bukan
lisan); (2) Memiliki konteks penggunaannya yakni konteks situasi, konteks
sosial, konteks budaya, dan konteks ideologi; (3) Dapat diamati dan ditonton;
(4) Bersifat tradisional; (5) Diwariskan secara turun-temurun; (6) Proses
penyampaian “dari mulut ke telinga;” (7) Mengandung nilai-nilai dan normanorma budaya; (8) Memiliki versi-versi; (9) Milik bersama komunitas tertentu;
151
(10) Berpotensi direvitalisasi, dilestarikan, dan diangkat sebagai sumber
industri budaya (Sibarani, 2012: 43-46).
Ciri-ciri di atas bersifat komulatif, artinya semua tradisi budaya atau
tradisi lisan sekaligus memiliki ciri-ciri itu kalau hanya memiliki satu atau dua
ciri di atas kebiasaan itu belum tentu tergolong pada tradisi lisan atau tradisi
budaya. Dalam pemahaman penulis selama penelitian, baik itu di lapangan
maupun pada saat wawancara, smong memiliki seluruh ciri-ciri tradisi lisan
tersebut.
Kearifan lokal dapat dikaji melalui tradisi budaya atau tradisi lisan yang
dimiliki oleh suatu masyarakat, berikut adalah uraian bahwa smong dapat
dikatakan sebagai kearifan lokal karena memiliki ciri-ciri sebagai tradisi
budaya atau tradisi lisan:
1. Merupakan kegiatan budaya berbentuk lisan, sebagaian lisan dan bukan
lisan;
2. Memiliki konteks penggunaannya yakni konteks situasi, konteks sosial,
konteks budaya, dan konteks ideologi;
3. Dapat diamati dan ditonton;
4. Bersifat tradisional;
5. Diwariskan secara turun-temurun;
6. Proses penyampaian “dari mulut ke telinga”;
7. Mengandung nilai-nilai dan norma-norma budaya;
8. Memiliki versi-versi;
9. Milik bersama komunitas tertentu; dan
152
10. Berpotensi direvitalisasi, dilestarikan, dan diangkat sebagai sumber industri
budaya.
6.2 Kepercayaan Tradisional Simeulue dan Agama Islam sebagai Sumber
Kearifan Lokal
Masyarakat Simeulue Aceh memiliki sejumlah kearifan lokal dalam
penanggulangan bencana. Di antaranya, masyarakat Simeulue Aceh memiliki
institusi adat yang bertangung jawab mengelola lingkungan dan memastikan
tidak ada pengrusakan yang bisa menimbulkan bencana, seperti institusi adat:
Ulee Seneuboek, Ketuha Uteun yang menjaga pengelolaan hutan dalam
pemukiman mereka dan Panglima Laot yang bertanggung jawab dalam
mengatur penggunaan sumberdaya laut dan menjaga kelestarian alam laut
(Aswar, 2009).
Beberapa orang yang dituakan di desa mampu memprediksi lebih
akurat tentang waktu terjadinya banjir, sehingga musim cocok tanam
disesuaikan untuk menghindari bersamaan
dengan
datangnya banjir.
Pengetahuan ini belakangan semakin hilang di desa-desa, terutama pasca
tsunami terjadi perubahan besar pada kondisi alam, sehingga ilmu tradisonal
yang dimiliki oleh masyarakat di desa-desa di Aceh sudah sulit memperkirakan
tanda-tanda alam (Aswar, 2009).
Masyarakat Aceh memiliki memori kolektif tentang tsunami yang
terjadi pada tahun 1907. Memori kolektif bahwa setiap gempa besar orang
153
harus mencari bukit sudah direkam dalam hadih maja1 lokal di Simeulue,
sehingga memori ini mudah diturunkan kepada generasi berikutnya yang tidak
mengalami tsunami tahun 1907. Pengetahuan inilah yang telah membantu
masyarakat Aceh bisa menyelamatkan diri dari tsunami 2004 (Aswar, 2009).
Dilihat dari aspek pranata sosial, masyarakat Simeulue Aceh
mempunyai kelembagaan pranata sosial yang cukup lengkap, dan demokrasi
yang sangat kuat. Lembaga tersebut mempunyai struktur yang diisi oleh
berbagai cerdik pandai, yaitu ahli agama/ ulama, ahli pemerintahan/ mukim,
ahli ekonomi (hariya) dan tokoh adat. Dari bawah hingga ke atas mempunyai
saluran yang saling berkoordinasi satu sama lainnya sehingga pengambilan
keputusan dapat dilakukan secara musyawarah, demokratis, cepat, dan tepat
(Aswar, 2009).
Fungsi yang dijalankan oleh kelembagaan pranata sosial masyarakat
tidak hanya mengurusi hal-hal yang berkaitan dengan sosial kemasyarakatan,
tetapi juga menyangkut kegiatan ekonomi masyarakat. Hingga saat ini,
kepercayaan masyarakat terhadap pemimpin-pemimpin pranata sosial seperti;
tokoh ulama, mukim di pemerintahan, tokoh ekonomi, dan tokoh adat masih
sangat kuat (Aswar, 2009). Kesemuanya ini mengacu kepada adat dan ajaran
agama Islam, yang menjadi cirri khas masyarakat Simeulue dan Aceh pada
umumnya. Selanjutnya dasar adat itu juga tercermin di dalam nandong smong
yang memiliki kearifan lokal.
1
Hadih maja merupakan peribahasa Aceh yang diucapkan sebagai salah satu kearifan
lokal. Kini sudah jarang digunakan oleh masyarakat, budaya linguistik permainan bahasa aceh
menjadi sebuah tradisi yang biasanya diucapkan orang tua saat ini, untuk mengingatkan
kembali jangan sampai budaya peradaban aceh masa lalu hilang begitu saja.
154
6.3 Kearifan tentang Menghadapi Bencana
6.3.1 Bencana
Menurut Bakornas PB (2007), bencana terjadi jika ada ancaman yang
muncul dengan kondisi kerentanan yang ada secara sederhana hubungan
ancaman dan kerentanan dapat digambarkan sebagai berikut.
Ancaman + Kerentanan = Bencana
Bagan 6.1:
Kejadian Bencana
Ancaman termasuk smong adalah suatu kejadian atau peristiwa yang
berpotensi menimbulkan kerusakan, kehilangan jiwa manusia, kerusakan
lingkungan, dan menimbulkan dampak suatu kondisi yang ditentukan oleh
psikologis. Kerentanan adalah suatu kondisi yang ditentukan oleh faktor-faktor
atau proses-proses fisik, sosial, ekonomi, dan sosial budaya dan lingkungan
yang mengakibatkan peningkatan kerawanan masyarakat dalam menghadapi
ancaman bencana (Bakornas PB, 2007).
Bencana alam adalah konsekuensi dari kombinasi aktivitas alami (suatu
peristiwa fisik, seperti letusan gunung, gempa bumi, tanah longsor) dan
aktivitas manusia. Kerugian yang terjadi dalam bidang keuangan dan
struktural, bahkan sampai kematian yang disebabkan karena ketidakberdayaan
manusia akibat kurang baiknya manajemen keadaan darurat. Kerugian yang
155
dihasilkan tergantung pada kemampuan untuk mencegah atau menghindari
bencana dan daya tahan mereka. Pemahaman ini berhubungan dengan
pernyataan “bencana muncul bila ancaman bahaya bertemu dengan
ketidakberdayaan.” Dengan demikian, aktivitas alam yang berbahaya tidak
akan menjadi bencana alam di daerah tanpa ketidakberdayaan manusia,
misalnya gempa bumi di wilayah tak berpenghuni. Konsekuensinya,
pemakaian istilah “alam” juga ditentang karena peristiwa tersebut bukan hanya
bahaya atau malapetaka tanpa keterlibatan manusia. Besarnya potensi kerugian
juga tergantung pada bentuk bahayanya sendiri, mulai dari kebakaran, yang
mengancam bangunan individual, sampai peristiwa tubrukan meteor besar
yang berpotensi mengakhiri peradaban umat manusia (Tohari, 2008).
Namun demikian, pada daerah yang memiliki tingkat bahaya tinggi
(hazard) serta memiliki kerentanan/ kerawanan (vulnerability) yang juga tinggi
tidak akan memberi dampak yang hebat/ luas jika manusia yang berada di sana
memiliki ketahanan terhadap bencana (disaster resilience). Konsep ketahanan
bencana merupakan evaluasi kemampuan sistem dan infrastruktur-infrastruktur
untuk mendeteksi, mencegah, dan menangani tantangan-tantangan serius yang
hadir. Meskipun daerah tersebut rawan bencana dengan jumlah penduduk yang
besar jika diimbangi dengan ketahanan terhadap bencana yang cukup akan
meminimalisir dampak yang di timbulkan akibat bencana (Hilman, 2007).
Bencana lingkungan yang melanda berbagai daerah di tanah air
diperkirakan akan terus meluas dan mengkhawatirkan apabila faktor
pencegahan tidak menjadi fokus penanganan. Secara geologis, klimatologis,
dan geografis, wilayah Indonesia tergolong rentan. Kajian geologis
156
menunjukkan, batuan belum padat atau solid mendominasi struktur batuan di
Indonesia. Hujan di atas normal bertempo lama, didukung kemiringan bukit,
dan terbatasnya tutupan lahan menimbulkan gerakan tanah (Tohari, 2008).
6.3.2 Pembagian Bencana dan Faktor-faktor Terjadinya Bencana
Menurut Depkes RI (2007), bencana dapat dikelompokkan menjadi
bencana alam dan bencana non alam, yaitu bencana yang disebabkan oleh
perbuatan manusia. Faktor-faktor yang dapat menyebabkan tingginya risiko
bencana baik yang disebabkan oleh faktor alam maupun non alam antara lain
sebagai berikut.
(a) Kondisi alam serta perbuatan manusia dapat menimbulkan bahaya bagi
makluk hidup, yang dapat dikelompokkan menjadi bahaya geologi,
bahaya hidrometeorologi, bahaya biologi, bahaya teknologi dan
penurunan kualitas lingkungan.
(b) Kerentanan yang tinggi dari masyarakat, infrastruktur serta elemenelemen di dalam suatu wilayah yang berisiko bencana.
(c) Kapasitas yang rendah dari berbagai komponen di dalam masyarakat.
Dengan beragamnya faktor penyebab bencana serta luasnya ruang
lingkup dan dimensi bencana sesuai UU No 24 Tahun 2007, maka dibutuhkan
keterlibatan beragam keahlian dalam upaya mengatasi dan pengurangan risiko
bencana, mulai dari keilmuan sosial menyangkut kelembagaan, organisasi,
pemberdayaan keluarga dan masyarakat, sampai di bidang teknik dan ahli
dinamika model dan analisis system (Depkes RI, 2007).
157
6.3.3 Bencana Gempa dan Tsunami di Aceh
Istilah gempa bumi sesungguhnya bermacam-macam tergantung dari
penyebabnya, misalnya gempa vulkanik, gempa runtuhan, gempa imbasan dan
gempa buatan. Gempa vulkanik disebabkan oleh desakan magma ke
permukaan, gempa runtuhan banyak terjadi di pengunungan yang runtuh,
gempa imbasan biasanya terjadi di sekitar dam (penahan air) dikarenakan
fluktuasi air dam (penahan air) dan gempa buatan adalah gempa yang dibuat
oleh manusia seperti ledakan nuklir atau ledakan untuk mencari bahan mineral.
Sedangkan gempa yang disebabkan oleh tabrakan atau tumbukan antar
lempeng. Skala gempa tektonik jauh lebih besar di bandingkan dengan jenis
gempa lainnya sehingga dampaknya lebih besar terhadap bangunan (Ella dan
Usman, 2008).
Teori tentang gempa dikatakan bahwa lapisan kulit bumi dengan
ketebalan 100 Km mempunyai temperatur relatif jauh lebih rendah di
bandingkan dengan lapisan dalamnya (mantel dan inti bumi) sehingga terjadi
aliran konveksi dimana massa dengan temperatur tinggi mengalir kedaerah
temperatur rendah atau sebaliknya. Teori aliran konveksi ini sudah lama
berkembang untuk menerangkan
pergeseran lempeng tektonik yang menjadi penyebab utama terjadinya gempa
bumi tektonik atau lebih dikenal dengan gempa bumi (Ella dan Usman, 2008).
Teori yang terbaru menerangkan bahwa gempa tektonik berasal dari
dekade 1960-an. Menurut teori ini kerak bumi terdiri dari 14 lempeng tektonik
besar dan puluhan lempeng kecil yang selalu bergerak. Lempengan ini terus
bergerak karena bagian dalam bumi bentuknya adalah cairan pekat. Cairan-
158
cairan tersebut selalu mengalir, walaupun rata-rata pergerakannya hanya
beberapa sentimeter pertahun (Ella dan Usman, 2008).
Menurut Ella dan Usman (2008), bentuk lempengan yang tidak rata
sering terjadi gesekan dalam pergerakan ini. Energi yang disebabkan oleh
gesekan ini sebagian besar lepas dalam bentuk panas ke dalam bumi dan
sebagian kecil saja yang terasa oleh kita sebagai goncangan atau di kenal
sebagai energi seismik. Selain terjadi pergeseran lempeng bisa juga terjadi
perekahan di dalam lempeng itu sendiri. Jika ada gaya yang bekerja cukup
besar, maka lempeng kerak bumi akan retak dan mengakibatkan goncangan.
Goncangan tersebut akan menyebabkan timbulnya patahan pada permukaan
bumi.
Secara umum terdapat tiga tipe patahan, yaitu patahan normal, patahan
balik dan patahan mendatar. Jika kekuatan gempa saling berlawanan arah maka
akan terjadi saling tarik menarik sehingga menimbulkan patahan normal yang
saling menjauh dan terjadi bidang naik turun, namun jika kekuatan gempa
searah maka akan terjadi tumbukan sehingga menimbulkan patahan balik ada
kedua bidang akan naik turun, sedangkan jika arah kekuatan gempa bergeser ke
kiri atau ke kanan maka patahan terjadi secara mendatar (Ella dan Usman,
2008).
Gempa bumi atau letusan gunung berapi yang terjadi di bawah laut
mengakibatkan terjadinya kerak bumi keatas dan kebawah dan kemudian
menyebabkan dasar laut naik dan turun secara tiba-tiba. Pergerakan naik dan
turun dasar laut ini seterusnya menggerakkan air laut, menciptakan pergerakan
gelombang yang kuat dan ketika gelombang ini sampai di pantai atau daratan,
159
kecepatannya melambat dan tumbuh menjadi tembok air yang tinggi (Ella dan
Usman, 2008).
Menurut Ella dan Usman (2008), laut yang dalam ukuran gelombang
tsunami agak rendah, gelombang tampak seperti ombak biasa, tingginya hanya
sekitar satu meter dan lewat tanpa disadari oleh kebanyakan nelayan, namun
ketika mencapai laut dangkal gelombang tsunami tumbuh hingga tiga puluh
meter. Dalam laut yang gelombang tsunami dapat bergerak hingga 900
km/jam, tapi ketika mencapai laut dangkal dekat daratan gelombang tersebut
melambat. Pada kedalaman 15 meter kecepatannya bisa menjadi 45 km/jam,
kecepatan ini masih terlalu sukar bagi orang-orang di pantai untuk dapat lari
menyelamatkan diri.
Gelombang tersebut mendorong ke depan dengan berat lautan di
belakangnya, ketika itu rumah dan bangunan roboh, jalan hilang, kapal
terlempar, jembatan putus, manusia dan hewan terhempas dan tertarik ke laut
serta semua yang tidak tertanam kuat di dalam tanah akan tercabut oleh
tsunami (Ella dan Usman, 2008).
Gempa dengan 9.1 skala richter dan menyebabkan tsunami yang terjadi
di Nanggroe Aceh Darussalam pada tanggal 26 Desember 2004 merupakan
salah satu bencana alam terbesar di dunia yang menimpa Indonesia. Setelah 45
menit terjadi gempa, gelombang tsunami menyapu bersih pesisir pantai NAD
sepanjang 800 km hanya dalam beberapa menit. Gempa susulan yang terjadi
pada tanggal 28 Maret 2005 menambah jumlah korban, termasuk di Nias,
Simeulue dan Aceh Bagian Selatan (LIPI-UNESCO/ISDR, 2006).
160
Berdasarkan laporan bersama BRR (Badan Rehabilitasi dan Rekontruksi)
dan mitra internasional (Desember, 2005), dinyatakan bahwa bencana tersebut
telah menyebabkan 167.900 orang meninggal atau hilang, 500.000 orang
kehilangan rumah di Aceh, 13.500 orang kehilangan rumah di Nias. Laporan
Media Center Aceh menyebutkan bahwa bencana tersebut telah menyebabkan
192.000 orang mengungsi, 120.000 rumah rusak/hancur serta sebagian besar
infrastruktur ekonomi dan sosial juga rusak. Bagi semua korban yang tertimpa
bencana, peristiwa tersebut telah meninggalkan beragam trauma yang
mendalam. Korban jiwa yang begitu besar secara langsung mempengaruhi
ketersediaan SDM di Aceh, maupun kemampuan kelembagaan pemerintah dan
non pemerintah untuk merekonstruksi, merehabilitasi dan me-recovery wilayah
yang rusak dan masyarakat yang tingkat ekonominya rentan dan miskin (LIPIUNESCO/ISDR, 2006).
Aceh dalam peta geologi termasuk wilayah yang rawan gempa, sehingga
gempa dalam berbagai skala sering terjadi. Data seratus tahun terakhir
menunjukkan bahwa gempa yang menimbulkan bencana di Aceh terjadi pada
tahun 1936 (9 orang meninggal), 1983 (100 orang luka-luka), 2004
(menimbulkan tsunami dan kurang lebih 230.000 orang meninggal). Hingga
saat ini gempa skala kecil sering terjadi di NAD (Badan Arsip NAD, 2005).
Dalam seratus tahun terakhir, tsunami terjadi di Aceh sebanyak 2 kali
(tahun 1907 dan 2004). Korban jiwa pada tsunami tahun 1907 mencapai 400
orang, sedangkan pada tahun 2004 mencapai kurang lebih 230.000 orang
dengan kerusakan yang sangat parah pada berbagai infrastruktur dasar (Badan
Arsip NAD, 2005).
161
Secara teoritis, tsunami lebih mudah diprediksi dibandingkan dengan
gempa. Adanya tenggang waktu antara terjadinya gempa dan tibanya tsunami
di pantai memungkinkan untuk dapat menganalisa karakteristik gempa.
Informasi tersebut kemudian dapat segera disampaikan ke masyarakat sebelum
gelombang tsunami menerjang pantai. Ide inilah yang mendasari didirikannya
pusat system peringatan dini tsunami (Tsunami Warning System) di beberapa
Negara Pasifik (Hilman, 2007).
Persoalan di Indonesia adalah tenggang waktu tersebut hanya berkisar
antara 10-50 menit saja, karena jarak antara pusat gempa dan garis pantai tidak
lebih dari 200 km. Hal ini berbeda dengan di negara-negara pasifik yang
tenggang waktunya dapat mencapai satu sampai tiga jam. Akibat terbatasnya
waktu untuk menyampaikan informasi dan fasilitas komunikasi yang belum
memadai, sangat mungkin terjadi informasi belum sampai sementara
gelombang tsunami telah menyapu pantai (Hilman, 2007).
Pemahaman
masyarakat
terutama
terhadap
karakter
bencana
merupakan jaminan investasi keselamatan hidup di masa depan, mengingat
pengalaman sejarah peristiwa bencana lebih banyak menyisakan kepiluan dan
penderitaan. Sekalipun peristiwa bencana di Indonesia merupakan kejadian
yang selalu berulang, namun begitu mudahnya masyarakat melupakan
dahsyatnya akibat yang ditimbulkan.
Hal ini terutama terdapat pada peristiwa bencana yang siklus
kejadiannya cukup lama, sementara upaya untuk menyediakan media bagi
pembelajaran bencana untuk masyarakat belum terencana dengan baik.
Sehingga pada setiap kejadian bencana selalu timbul kepanikan dan tidak
162
pernah siap. Salah satu hal yang perlu dilakukan adalah memasyarakatkan
pendidikan kebencanaan sehingga mampu memberi jaminan investasi bagi
keselamatan hidup manusia di masa depan (PSB-UGM, 2008).
Untuk dapat memahami suatu situasi ataupun kejadian apakah situasi
tersebut membahayakan dirinya atau tidak, masyarakat membutuhkan
pengetahuan khususnya dibidang bencana atau bahaya yang ditimbulkan akibat
bencana. Terutama bagi keluarga yang memilih berdomisili di daerah rawan
bencana, karena seharusnya masyarakat yang berdomisili di daerah yang rawan
terhadap bencana perlu ditekankan bagaimana cara seharusnya mempersiapkan
diri dan keluarganya untuk menghadapi bencana sebaik mungkin.
6.3.4 Kearifan Berguru kepada Alam
Nenek moyang orang Aceh menetapkan suatu kearifan lokal selalu
belajar dari alam, sebagai Contoh kearifan lokal juga telah mampu menjadi
peringatan dini yang efektif dan terbukti menyelamatkan banyak orang dari
tsunami sebagaimana kearifan lokal yang dikembangkan masyarakat Pulau
Simelue. Sehingga ketika terjadi megatsunami pada 2004, ribuan manusia
terselamatkan. Mereka belajar dari kejadian tsunami yang terjadi beberapa
ratusan tahun silam dan mengembangkannya menjadi sistem peringatan dini.
Teriakan smong yang berarti air laut surut dan segera lari menuju ke bukit
merupakan kearifan lokal yang melekat di hati setiap penduduk Pulau
Simeulue (Yusuf, 2007).
Sebagai manusia yang bijak tentu kita dapat memaknai segala bencana
yang terjadi di alam ini, yang memiliki pertanda dan maksud yang dapat kita
163
tangkap, tidak saja melalui kecerdasan intelegensi (IQ) tetapi juga melalui
kecerdasan spiritual (SQ) kita. Kearifan lokal dan mitos yang berkaitan dengan
gempa tidak saja muncul pada saat sekarang. Hal tersebut telah ada sejak dulu
dan setiap wilayah yang pernah mengalami gempa akan menjaga kelestarian
mitos tersebut secara turun temurun (Yusuf, 2007).
Peristiwa smong tahun 1907 diceritakan secara turun-temurun antar
genarasi dalam masyarakat Simeulue. Bukan hanya cerita tentang kedahsyatan
smong dan akibat yang ditimbulkannya, tetapi juga mengenai gejala-gejala
alam yang mendahuluinya. Sehingga generasi yang hidup pada masa sekarang
memiliki pengetahuan yang cukup mengenai gejala-gejala alam yang
berpotensi mendatangkan smong. Kisah smong diceritakan oleh nenek atau ibu
kepada cucu dan anak-anak pada waktu senggang atau menjelang tidur. Cerita
lisan yang dikisahkan secara turun-temurun itu disebut terma nafi-nafi
(Abubakar, 2009).
Melalui nafi-nafi, pengetahuan tentang tanda-tanda smong tetap lestari
dan tersebar luas di Simeulue dan nyaris meliputi semua tingkatan usia. Karena
nafi-nafi, saat tsunami membunuh ratusan ribu penduduk Aceh tahun 2004,
masyarakat Pulau Simeulue yang dikelilingi lautan hanya mendapati tujuh
orang penduduknya meninggal dunia. Ketika gempa dahsyat menggoyang
Simeulue pada Minggu kelabu itu, laki-laki dewasa di sana segera berlari ke
pinggir laut. Begitu melihat air laut surut, mereka membawa anggota
keluarganya ke gunung atau perbukitan, sehingga terhindar dari amukan
tsunami (Abubakar, 2009).
164
Keberhasilan masyarakat Simeulue dalam menghadapi bencana
smong/tsunami kiranya dapat menjadi pelajaran penting bagi kita untuk
mempelajari kembali dan merevitalisasi kearifan-kearifan budaya lokal (local
wisdom). Kearifan budaya lokal tersebut secara kontinu dan simultan perlu
dilestarikan, jika tidak maka secara gradual akan terlupakan dan hilang. Upaya
melestarikan pengetahuan tentang bencana alam melalui nafi-nafi, sayangnya
tidak tersosialisasi. Terma smong sendiri hanya dimiliki oleh masyarakat
Simeulue, tanpa tersosialisasi kepada masyarakat di luar pulau itu. Seandainya
seluruh masyarakat yang berdomisili di Aceh memiliki pengetahuan itu, tentu
saja korban manusia yang jatuh dapat diminimalisir secara drastis. Begitupun
tentang terma yang digunakan, tentu bencana dahsyat pada 26 Desember 2004
itu akan dinamai dengan smong, bukan tsunami (Abubakar, 2009)
Selain yang telah disebutkan di atas, masyarakat Aceh juga memiliki
kearifan lokal dalam menghadapi bencana yaitu pada arsitektur bangunan
Rumoh Aceh. Sebagai aset budaya arsitektur rumoh Aceh masih harus tetap
dipelihara dan dipertahankan, karena di samping identitas budaya suku bangsa,
juga ada sisi positifnya didalamnya yaitu mampu mengantisipasi terhadap
bencana seperti kebakaran, angin topan, banjir dan tsunami serta bencana
gempa (Dinas Perkotaan dan Pemukiman, 2006).
165
BAB VII
KESIMPULAN DAN SARAN
7.1 Kesimpulan
Setelah diuraikan dan dikaji secara intensif dan ekstensif dari Bab I
sampai Bab VI, maka pada Bab VII ini, penulis menarik kesimpulan dan
kemudian memberikan saran-saran, baik untuk kepentingan akademis mauun
kepentingan pengelolaan seni budaya warisan tradisi masyarakat Simeulue
nandong smong ini
Skripsi ini bertajuk “Nandong Smong Nyanyian Warisan Sarana
Penyelamatan Diri dari Bencana Tsunami dalam Budaya Suku Simeulue di Desa
Sukamaju: Kajian Musikal, Tekstual, Fungsional,
dan Kearifan Lokalnya.”
Penelitian ini mengkaji empat aspek dari nandong smong di Desa Sukamaju
Simeulue Aceh, yaitu: (1) musikal, (2) tekstual, (3) fungsional, dan (4) kearifan
lokalnya. Dalam penelitian ini, untuk mengkaji keempat aspek nandong smong,
digunakan teori-teori tersendiri: untuk musikal digunakan teori weighted scale,
untuk tekstual digunakan teori semiotik, untuk fungsional digunakan teori fungsi,
dan kearifan lokal digunakan teori etnosains (etnometodologi). Metode dan teknik
yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif dengan berdasar kepada
observasi lapangan, terlibat langsung, wawancara, dan perekaman data dalam
bentuk audiovisual.
Kesimpulan penelitian ini adalah sebagai berikut. (1) Dari aspek musikal,
nandong smong menggunakan tangga nada mikrotonal khas Simeulue, dalam
bentuk semi free meter, dan tekstur heterofonis;
166
(2) Dari aspek tekstual nandong smong adalah termasuk ke dalam jenis
syair, terdiri dari lima bait, yang secara keseluruhan bercerita tentang apa itu
tsunami (smong) dan bagaimana menyelamatkan diri dari smong tersebut, makna
yang dikandung teks smong sebagian besar adalah makna denotatif dan sedikit
saja makna konotatif yang metaforik; (3) secara fungsional, nandong smong
digunakan dalam berbagai aktivitas budaya Simeulue seperti pesta perkawinan,
khitanan, menyambut tetamu, pesta budaya, pertunjukan, dan lainnya. Sementara
terdapat dua fungsi utama nandong smong yakni untuk memberitahu gejala dan
fenomena tsunami serta memberitahu bagaimana menyelamatkan diri dari
bencana tsunami ini, ditambah fungsi-fungsi lainnya seperti: komunikasi,
kesinambungan kebudayaan, hiburan; (4) dari aspek keraifan lokal, maka nandong
smong mengekspresikan kearifan orang Simeulue dalam menghadapi bencana.
167
DAFTAR PUSTAKA
Al-Quran, 1995. Jakarta: Departemen Agama Republik Indonesia.
Abdullah Sanny, 2007. “The Smong Wave From Simeulue”. Pemerintah
Kabupaten Simeulue
Alex Sobur, 2006. Analisis Teks Media: Suatu Pengantar Untuk Analisis Semiotik
dan Analisis Framing. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Amiruddin, 2006. Aceh dan Serambi Mekkah. Banda Aceh.
Anonim.2009.Pemetaan Resiko Bencana Gunung Api Merapi Sebuah “Jejak
Langkah” Pembelajaran. Yogyakarta: Pusat Studi Bencana UPN Veteran
Yogyakarta dan Oxfam GB Indonesia Untuk Forum Merapi.
Azharudin Agur, 1996. Bunga Rampai Simeulue. Banda Aceh: Aneuk Mentua.
Arsin Rustam, 2007. Simeulue Menapak Jalan Hutan Belantara.
Asriningsih Dewi Murtani, 2009. “Potret Kehidupan Anak-anak Aceh pada
Tsunami dalam Komik ‘Kisah dari Aceh’: Studi Komunikasi Massa dengan
Analisis Semiotika terhadap Komik ‘Kisah dari Aceh’ Karya Garin
Nugroho.” (skripsi sarjana). Jakarta: Universitas Indonesia.
Azwar, 2009. Teori Manusia: Sikap dan Pengukurannya. Jakarta: Pustaka Pelajar.
Ayatrohaedi, 1986. Kepribadian Budaya Bangsa (Local Genius). Jakarta: Pustaka
Jaya
Bascom, William R., 1965. “The Forms of Folklore: Prose Narratives.” Journal of
American Folklore. Volume 78, nombor 307, Januari-Mac 1965.
Barth, Fredrik (ed.), 1969. Ethnic Groups and Boundaries: The Social
Organization of Cultural Difference. Bergen: Universitetsforlaget; London:
Allen & Unwin.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI, 2015. Pedoman Umum Ejaan
Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Depdiknas. 2005. Kamus Besar Bahasa Indonesia . Jakarta: PT Balai Pustaka.
Dina Oktaviani, 2010, “Resiliensi Remaja Aceh yang Mengalami Bencana
Tsunami (Resilience among Acehnese Adolessence Victims of Tsunami
Disaster).” skripsi sarjana, Jakarta: Universitas Indonesia.
Ella Yulaelawati dan Usman Syihap. 2008. Mencerdasi Bencana Banjir. Jakarta:
Gramedia Widiasarana Indonesia.
Fakhriyani, 2011. “Implementasi Kebijakan Mitigasi Bencana Gempa dan
Tsunami Pemerintah Kota Padang” (skripsi sarjana). Padang: Universitas
Andalas, Jurusan Ilmu Politik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.
Fiske, John. 2007. Cultural and Communication Studies: Suatu pengantar paling
komperensif. Jogjakarta: Jalasutra. (Diterjemahkan oleh Yosal Iriantara dan
Idi Subandy Ibrahim)
Friedlander 1975 Being Indian in Hueyapan, Hobsbawm and Ranger 1983 The
Invention of Tradition, Sider 1993 Lumbee Indian Histories.
Gillin, J.L. dan J.P. Gillin. 1954. For A Science of Social Man. New Yor:
McMillan.
Harun Mat Piah, 1989. Puisi Melayu Tradisional: Suatu Pembicaraan Genre dan
Fungsi. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.
168
Heddy Shri Ahimsa-Putra, 1985. “Etnosains dan Etnometodologi: Sebuah
Perbandingan” dalam. Masyarakat Indonesia. Agustus 1985 Jilid XII
Nomor 2.
Ife, James William, 2002. Community-Basede Alternative in an Age of
Globalization. Canberra: Pearson Education.
James Danandjaja, 1984. Folklor Indonesia: Ilmu Gosip, Dongeng, dan Lain-lain.
Jakarta: Grafiti Pers.
Koentjaraningrat. 1991. Metode-metode Penelitian Lapangan. Jakarta: PT
Gramedia Utama.
Koentjaraningrat, 1974. Kebudayaan, Mentalitet, dan Pembangunan. Jakarta:
Gramedia.
Koentjaraningrat (ed.), 1980a. Metode-metode Penelitian Masyarakat. Jakarta:
Gramedia.
Koentjaraningrat, 1980b. Sejarah Teori Antropologi I. Jakarta: Rineka Cistra.
Koentjaraningrat, 1980c. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Aksara Baru.
Koentjaraningrat. 2009. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta.
Kurniawati, 2009. “Bencana Tsunami NAD serta Dampak Pasca-Tsunami bagi
Kesehatan Lingkungan.”
Malm, William P. 1979. Music Culture of the Pacific, Near East, and Asia.
(Diterjemahkan oleh Muhammad Takari). Medan: USU Press.
Marshall, J., 1995. Gender and Management: A Critical Review of Research.
California: University of California.
Merriam, Alan P. 1964. The Anthropology of Music. USA: Northwestern
University Press.Marshall, C dan Rossman. 1995. Designing Qualitative
Research. London: Sage Publication.
Merton, Robert K., 1963. Concepts and Social Order. Pennsylvania: University of
Pennsylvania.
Muhammad Takari et al., 2015. Adat Perkawinan Melayu: Gagasan, Terapan,
Fungsi, dan Kearifannya. Medan: Bartong jaya.
Muhammad Umar, 2002. Darah dan Jiwa Aceh. Banda Aceh.
Nasarudin, 1995. Benda Cagar Budaya. Banda Aceh: Pemerintah Provinsi Aceh.
Nettl, Bruno. 1964. Theory and Method in Ethnomusicology. London: Collier
Macmillan.
Nettl, Bruno, 1973. Folk and Traditional of Western Continents, Englewood
Cliffs, New Jersey: Prentice Hall.
Nettl, Bruno, 1992. “Ethnomusicology: Some Definitions, Problems and
Directions.” Music in Many Cultures: An Introduction. Elizabeth May (ed.).
California: University California Press.
Nurkancana, Wayan dan Sumartana. 1986. Evaluasi Pendidikan. Surabaya: Usaha
Nasional.
Panuti Sudjiman dan Aart Van Zoest (peny.) 1992. Serba-serbi Semiotik. Jakarta:
Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama.
Parsons, Talcott and Edward A. Shils, (eds). 1962. Toward A General Theory of
Action. New York. Harper Torch Books.
Pudentia (eds). 2008. Metodologi kajian tradisi lisan. Jakarta: Asosiasi Tradisi
Lisan.
169
Putra, Dedi Shri Ahimsa, 1985. “Etnosains dan Etnometodologi: Sebuah
Perbandingan,” dalam Majalah Ilmu-ilmu Sosial Indonesia Nomor 2.
Jakarta: Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia.
Radcliffe-Brown, A.R., 1952., Structure and Function in Primitive Society.
Glencoe: Free Press.
Rahayu Supanggah (ed.), 2005. Etnomusikologi. Surakarta: yayasan Bentang
Budaya.
Sibarani, Robert. 2004. Antropolinguistik: Antropologi Linguistik dan Linguistik
Antropologi. Medan: Penerbit Poda.
Sibarani, Robert. 2012. Kearifan Lokal: Hakikat, Peran dan Metode Tradisi
Lisan. Jakarta: Asosiasi Tradisi Lisan (ATL).
Siti Hawa Haji Saleh, 2005. Hikayat Merong Mahawangsa. Kuala Lumpur:
Dewan bahasa dan Pustaka.
Sobary, Mohammad. 1999. “Kearifan Lokal dalam Tradisi Lisan” dalam Warta
ATL. Edisi V/JUNI/1999
Soedarsono, 1995. “Notasi Laban: Suatu Kemungkinan Sistem Notasi Tari bagi
Indonesia.” Pengetahuan Elementer Tari dan Beberapa Masalah Tari. F.X.
Sutopo Cokrohamijoyo (ed.). Jakarta: Direktorat Kesenian Proyek
Pengembangan Kesenian Jakarta, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Surfia Miana dan Didit Dwi Subagyo, 2012. “Gempa Bumi Besar Jepang Timur
dan Tsunami Maret 2011: Upaya Pemerintah Jepang untuk Mmeulihkan
Pariwisata Jepang pasca Bencana” (laporan penelitian). Jakarta: FIB
Universitas Indonesia.
Syed Mahmud ibnu Abdul Kadir Al-Hindi, 1934. Kamus Al-Mahmudiyah.
Vansina, Jan. 1985. Oral Tradition as History. Wisconsin: University of
Wisconsin.
Wayan Nurkancana dan P.P.N. Sumartana, 1986. Evaluasi Pendidikan. Surabaya:
Usaha Nasional.
Yuyun S. Suriasumantri, 1983. Ilmu dalam Perspektif. Jakarta: Yayasan Obor dan
Leknas Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia.
Za’ba, 1962. Ilmu Mengarang Melayu. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan
Pustaka.
Zainal Kling, 2004. “Adat Melayu.” di dalam Abdul Latiff Abu Bakar dan
Hanipah Hussin (ed.), 2004. Kepimpinan Adat Perkawinan Melayu
Melaka. Melaka: Institut Seni Malaysia Melaka.
Sumber Internet
https://m.tempo.co/read/news/2011/03/1212/095319473/27-tsunami-dahsyatyang-pernah-mengguncang-dunia
https://id.wikipedia.org/wiki/Tsunami
http://ibda.files.wordpress.com/2008/04/2-landasan-keilmuan-kearifan-lokal.pdf,
www.busanamuslimbukittinggi.com
www.busanamuslimbukittinggi.com
kbbi.web.id/khitanan
I Ketut Gobyah, “Berpijak pada Kearifan Lokal”, dalam http://www.balipos.
co.id , didownload 17/9/03.
170
Nyamai-Kisia, Caroline. 2010. Kearifan Lokal dan Pembangunan Indonesia.
http://phenomenaaroundus. blogspot. com/2010/06/ kearifan-lokal …
171
LAMPIRAN
172
173
174
175
176
177
178
179
180
181
182
183
184
185
186
187
188
189
Download