Awam Idola atau Idola Awam Katolik

advertisement
Awam Idola
atau
Idola Awam Katolik
Tulisan ini saya rangkai dengan satu tujuan : mengajak awam bertanya diri. Sebagai seorang
awam Katolik, apakah mimpi hidupnya? Bahasa sederhananya, ingin jadi orang Katolik seperti
siapa ? siapakah idolanya ?
Siapakah Idola Orang Katolik
Kitab Suci mengajarkan bahwa impian hidup seorang Katolik idealnya adalah seperti Yesus.
Setidaknya hiduplah seperti para murid Yesus. Sejarah Gereja sesudah Yesus menyediakan
banyak contoh kehidupan orang Katolik seperti apa? Ada banyak tokoh besar orang beriman
dalam Gereja, santo maupun bukan santo, yang sudah meninggal maupun yang masih hidup,
yang sungguh pantas jadi idola orang Katolik. Pernahkah bertanya, sejujur dan sejatinya, siapa
idola kita orang Katolik ?
Antara Cita-cita dan Realita
Sepanjang sejarah, orang Katolik berusaha untuk mewujudkan idealismenya. Orang Katolik
berupaya untuk bisa hidup sesempurna mungkin hingga mendekati gaya hidup Yesus. Sejarah
hidup membiara memberi gambaran paling jelas tentang hal ini. St. Paulus menganjurkan,
untuk hidup sebagai perawan (1Kor 7). St. Cyprianus di abad 2 mulai menuliskan bagaimana
sebaiknya cara hidup para perawan suci tersebut.
Di awal abad 4 muncul idealisme baru tentang cara hidup orang Katolik. Yakni cara hidup para
pertapa di padang gurun Mesir. Di kemudian hari, St. Antonius dan St Pakhomeus mulai
membuat aturan hidup para pertapa itu lewat kaul kemurnian dan kemiskinan. Kalau para
pertapa itu gemar dengan askese dan menyiksa diri, St. Basilius membaharuinya dengan
berfokus pada cinta akan Allah dan sesama. Perkembangan selanjutnya, St Ambrosius
mempromosikan St Maria sebagai teladan hidup para imam. Setelah itu, selibat dijadikan
sebagai syarat untuk tahbisan imam.
Pada permulaan abad 5, St. Agustinus mulai membuat Regula untuk hidup membiara. Seabad
kemudian, St. Benediktus mendirikan biara baru dan mengawali cara hidup membiara yang
baru. Ciri cara hidup baru ini adalah hidup berkomunitas, dipimpin oleh regula dan seorang
abbas. Cara hidup tersebut berkembang lagi, hingga memunculkan biara Cluny. Biara ini
mengutamakan liturgi yang indah dan karya seni yang tinggi. Hidup komunitas dibuat menjadi
semacam federasi komunitas.
Idola Katolik Awam
Page 1
Di abad 12, muncul St. Dominikus dan St. Fransiskus, sebagai reaksi atas kemerosotan Gereja
dan masyarakat kala itu. Biara mereka berada di tengah kota. Biara ini jadi biara aktif, berkarya.
Buat mereka ini, tak ada waktu untuk berlama lama berliturgi bersama. Mereka
mengembangkan doa, meditasi pribadi. Tidak ada lagi stabilitas loci (kaul untuk tinggal
menetap di suatu tempat). St. Thomas Aquinas, menguatkan sokoguru hidup membiara
dengan tiga kaul hidup membiara.
Pada awal abad 15, ketika kehidupan Gereja dan masyarakat dunia kacau, muncul devosi
moderna. Suatu upaya untuk mengetrapkan hidup rohani kalangan mistik pada hidup kaum
awam . Di abad 16, Ignatius Loyola, merintis biara aktif kontemplatif. Para yesuit pengikutnya
adalah biarawan yang aktif dalam berkarya sekaligus kontemplatif dalam karyanya.
Demikianlah sejarah hidup membiara pada awalnya adalah sejarah pencarian wujud ideal
seorang awam Kristen (Katolik). Pada awalnya, adalah kisah para orang beriman yang
dipermandikan oleh para murid Yesus. Di antara mereka ada sebagian awam yang berusaha
hidup lebih ideal. Sebagian awam itu kemudian menjadi awam istimewa. Keistimewaan itu
kemudian berubah dari pembedaan antara awam biasa dan awam istimewa. Pembedaan
tersebut kemudian berubah menjadi pemisahan. Itu terjadi sejak pola hidup membiara mulai
menemukan bentuknya. Pemisahan itu justru makin kentara ketika sebagian dari kelompok
istimewa itu adalah kelompok imam. Sebagian dari para biarawan1 itu adalah imam dan atau
ada awam yang menjadi imam.
Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa sebenarnya sejarah semua upaya pencarian jati diri
kemuridan Yesus (awam). Sejarah itu telah mengalami deviasi atau pergeseran kalau bukan
perubahan. Perubahan tersebut seiring dengan perubahan sejarah Gereja (Perdana) sampai
Gereja Kita dewasa ini. Dari Gereja kaum beriman awam (Perdana) menjadi Gereja kaum
biarawan (St. Antonius), juga Gereja imam (St Ambrosius). Sejak saat itu, sejarah awam praktis
terhenti. Yang kemudian menjadi nyata dan jaya adalah Gereja hirarki.
Perkembangan sejarah selanjutnya, tak banyak yang dapat dicatat. Sampai dengan Konsili
Vatikan II, Gereja menjadi amat hirarkis. Kaum hirarki memegang dominasi atas tata kehidupan
dan tata kegembalaan. Gereja praktis tertutup dan meniadakan tempat dan kesempatan awam
untuk berkiprah dalam Gereja. Ini berbeda dengan Gereja Perdana. Perubahan ini mengandung
konsekuensi penting bagi kaum awam. Yakni bahwa eksistensi awam kemudian hanya menjadi
penonton dan pengikutnya hirarki saja. Artinya sejarah Gerejan telah menjadi sejarah pemuka
dan penguasa agama. Padahal sebenarnya itulah juga yang dikritik oleh Yesus ketika Ia
mengajar di sekitar Galilea dulu.
Baru Paus Yohanes XXIII,2 yang kemudian menyadari eksistensi Gereja demikian perlu di-re-visi.
Kesadaran itu ditindaklanjuti dengan aksi nyata mengadakan konsili. Itulah Konsili Vatikan II.
Konsili Vatikan II berdebat, bertekat, berniat untuk mengubah mindset Gereja keseluruhan.
Konsili Vatikan II memprakarsai upaya perubahan mindset hirarki, imam dan biarawan serta
mindset umat. Umat diajak, diberi tempat dan kesempatan khusus dalam Gereja. Awam punya
1
2
Dengan “biarawan” dlam tulisan ini selalu
Sebetulnya, paus sebelumnya, Pius XI dan Pius XII sudah ingin membuka Konsili Vatikan I.
Idola Katolik Awam
Page 2
panggilan khas,3 sebagaimana imam dan biarawan punya panggilan khusus mereka. Pendeknya,
umat dimimpikan tidak hanya jadi penonton tetapi jadi pelaku. Keterlibatan umat diberi tempat
dan kesempatan besar. Setidaknya, itulah cita-cita Konsili Vatikan II.
Gereja Umat Allah
Ajaran dogmatis Konsili Vatikan II yang paling dasar adalah Lumen Gentium (LG). Di sana Gereja
menegaskan bahwa Gereja adalah Umat Allah, umat beriman Kristiani. Dalam LG, bab IV, artikel
30-38, Gereja khusus membicarakan eksistnsi para awam. Tempat dan kedudukan, panggilan
dan fungsinya dalam Gereja ditegaskan dengan jelas oleh Gereja. Pendeknya, awam tidak lagi
hanya sebagai penonton dalam gerak pastoral Gereja. Awam adalah juga pelaku dalam karya
keselamatan.
Secara ideologi dan konseptual sikap dan ajaran Gereja tentang awam sudah tegas jelas.
Namun, apa yang ideal, realitanya kadang berbeda. Masih ada jurang antara omongan dan
perbuatan. Ada kendala untuk keluar dari kungkungan Gereja menuju ke masyarakat yang lebih
luas. Mungkin karena adanya ketakutan, kegamangan atau bahkan kebelumtahuan bagaimana
mewujudkan cita-cita konsili Vatikan II tentang Awam ini, sehingga proses berjalan stagnan.
Di mana-mana awam masih saja menjadi penonton atau pengikut imam. Awam belum sampai
percaya diri bahwa dirinya adalah parner sejajar dari para imam. Imam juga belum
menempatkan awam sebagai parnernya. Imam masih menempatkan awam sebagai bagian dari
gerak hidup dan karya imamatnya. Semua awam masih dibawa ke dalam lingkungan internal
Gereja. Bahkan lebih sempit lagi ditarik masuk di dunia ibadat, dunianya para imam. Awam
belum didorong untuk menemukan sendiri kerasulannya dalam dunia nyata. Dalam
membangun Kerajaan Allah awam masih menjadi bagian dari karya para imam. Awam belum
sampai mengerti bahwa karya Gereja itu lebih luas daripada karya para imam, hirarki. Karya
Gereja lewat para awam mestinya ada lebih banyak peluangnya. Mulai dari melihat dan
merumuskan kebutuhan umat dan masyarakat pada umumnya. Kesaksian hidup iman dan cinta
dari para awam di tengah dunia. Perbuatan yang hanya bisa dilakukan awam belum terlahir.
Misalnya dalam struktur Dewan Paroki, peran awam hampir tidak ada, sebab akhirnya
keputusan mutlak tetap di tangan pastor paroki.
Gereja Umat Allah sebenarnya tidak mau menggugat kepemimpinan hirarki dalam Gereja,
tetapi mau mengefektifkan kepemimpinan Gereja. Gereja yang hirarkis tak perlu diubah
menjadi Gereja yang demokratis. Tetapi kepemimpinan hirarkis dapat diperkaya justru ketika
awam punya tempat dan kesempatan untuk berkarya. Ini juga bukan soal hak atau kewajiban,
tetap soal panggilan keutuhan hidup dan karya Gereja. Posisi dan eksistensi hirarki, imam sudah
aman, nyaman dan mapan. Karena itu, justru secara eksistensial hirarki tak lagi mampu
mengalami arti hidup dan perjuangan hidup nyata. Padahal umat pada umumnya justru hidup
dan berjuang untuk hidup. Jika sendiri tidak mengalami adanya kebutuhan, dengan sendirinya
juga tidak akan merasa perlu untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Sebut saja misalnya
kebutuhan akan biaya obat sampai biaya kematian. Imam tak mengalami persoalan dalam
kedua hal tersebut. Umat pada umumnya, kedua hal itu merupakan kebutuhan real, yang untuk
3
Dokumen Konsili Vatikan II: Lumen Gentium a.31
Idola Katolik Awam
Page 3
memenuhinya kadang harus memotong kemampuan membiayai hidup, kebutuhan makan
minum sehari-hari. Untuk menggerakkan awam membicarakan, apalagi mengelolanya, sungguh
tidak mudah, sebab awam masih lebih percaya pada imamnya. Awam memilih menunggu apa
kata imamnya. Padahal imam tidak butuh itu semua. Akibatnya dalam Gereja kita, pengelolaan
dan pelayanan biaya obat dan biaya akhir masih sangat sporadis dan minimalis, belum sungguh
dapat dirasa nyata-nyata membantu umat. Di sisi lain, uang umat yang dipercayakan kepada
Gereja sungguh banyak.
Idolanya Awam Katolik
Belum pernah ada penelitian tentang siapa yang menjadi idola sebenarnya orang Katolik?
Barangkali akan ada yang memilih Yesus, atau Keluarga Kudus Nazaret adalah idola mereka.
Tetapi saya punya dugaan sendiri akan hal ini. Supaya tidak menjadi apriori, maka silakan cek
dengan pengalaman Anda, dan orang-orang di sekitar Anda, seberapa benar atau salahkah
dugaan saya ini. Saya menduga bahwa banyak orang Katolik, atau kebanyakan tidak
menempatkan Yesus, atau Keluarga Kudus sebagai idola mereka. Yang menjadi idola adalah
imam. Tanyalah pada orang Katolik, yang jadi omongan sehari-hari ternyata adalah imamnya.
Dalam persepsi banyak umat, imam itu bak dewa kelihatan. Serba sempurna dan tak bercela.
Pikiran dan perasaan orang Katolik lantas menjadi buta. Karena itu, setiap orang, atau setiap
keluarga merasa perlu punya imam sendiri, yang berbeda, yang lebih baik dari imam “milik”
keluarga lain. Kalau ada yang membanggakan, adalah ngobrol dengan imam, dan itu dilihat
orang banyak. Kalau dalam acara pertemuan berkesempatan duduk bersanding dengan imam,
seakan jadi orang istimewa. Kalau mendapat tamu seorang imam, seakan rumah atau
keluarganya menjadi keluarga terpilih, bahkan terberkati, lebih dari rumah atau keluarga katolik
lainnya yang tak sempat dikunjungi imam. Kalau punya perhelatan mantu, yang memimpin
ekaristi di rumah atau di gereja waktu pernikahan lebih dari satu imam, atau malah uskup,
apalagi lebih dari satu, seakan keluarga itu lebih hebat dari orang lain. Bahkan tanpa sadar
membebani kedua mempelai kalau keluarganya nanti tak se’hebat‘ yang memberkati. Kalau di
saat atau tempat ibadat dapat duduk berdiri dekat dengan imam atau imam rasanya sudah
melebihi sang imam sendiri. Prodiakon menjadi jabatan yang lebih membanggakan dalam
lingkungan Gereja, sebab lebih mirip dengan imam. Jubahnya yang hampir sama juga seakan
mengubah dirinya yang awam menjadi setengah atau tiga perempat imam. Kalau saat kematian
yang hadir banyak imam, apalagi yang memimpin ekaristi lebih dari satu imam, seakan
menghapus segala noda perilaku hidupnya. Itu semua membuat saya menarik kesimpulan,
jangan-jangan orang Katolik lebih menghidolakan imam dari Yesus, atau Maria atau Yosef
dalam hidupnya.
Apa yang salah dengan idola demikian? Apa ada aturan atau hukum Gereja yang melarang
menjadikan imam menjadi idola hidupnya? Aturan tidak ada, hukum yang melarang juga tidak
ada. Tetapi yang salah, atau lebih baik dikatakan yang bertanggungjawab mestinya ada. Yaitu
imam atau hirarki. Hirarkilah yang meletakkan kesucian hidup padadiri mereka yang selibat,
tidak menikah. Mereka yang tidak memikirkan perkara duniawi, atau seksualitas. Lingkungan
hidup imam ada di lingkungan ibadat. Begitu rupa sehingga peribadatan menjadi ukuran
kesucian seseorang. Mutu iman seseorang diukur menurut penghayatan keagamaan. Agama
sebenarnya adalah ungkapan iman. Memang tugas imam ada di wilayah agama, di seputar
Idola Katolik Awam
Page 4
ungkapan iman tersebut. Karena imam menjadi idola, maka imam dan apa saja yang di seputar
imam menjadi ukuran untuk menilai mutu hidup seseorang. Bahkan mutu iman pun ditelakkan
pada ungkapan ini, bukan lagi diletakkan pada perbuatan .
Arus dan orientasi hidup dan keagamaan seorang Katolik jelas menuju ke cara hidup imam, ke
dunia para imam, dunia pengungkapan iman. Sementara awam, sebenarnya punya dunia,
punya wilayah sendiri. Wilayah awam ada dalam perwujudan iman, dalam perbuatannya di
tengah kehidupan nyata di tengah dunia. Dan justru inilah yang belum banyak disentuh, apalagi
digarap sepanjang sejarah.
Ada keengganan untuk menyentuh dan menggarap dunia awam ini. Pertama belum ada
kedudukan yang sejajar antara imam dan awam. Awam, yang secara politik tak pernah
berkuasa, selalu menjadi underdog dalam Gereja. Baru Konsili Vatikan II yang terbuka mata
hatinya dengan menempatkan awam pada panggilan khasnya, yang dicirikan oleh
keduniawiannya.
Karena awam tak pernah mendapat kesempatan untuk mendalami keawaman dan peran serta
panggilannya maka, awam juga selalu ketinggalan. Ketertinggalan ini sedemikian rupa sehingga
awam sendiri sudah tidak tahu lagi jati dirinya. Awam telah kehilangan kepercayaan diri akan
panggilan khasnya sebagai awam.
Orang awam Katolik tidak tahu jati dirinya, maka juga tidak pernah bangga menjadi awam
Katolik. Karena itu juga tidak tahu perannya dalam pembangunan dan pengembangan Gereja.
Awam hanya siap menjadi pendhèrèk atau pengikutnya awam. Awam tidak punya keyakinan
dan kepercayaan diri bahwa dirinya bukan elementer dari imam, melainkan komplementer
terhadap panggilan imam. Gereja justru menjadi seimbang dan matang jika awam berperan
sebagai awam, dengan segala kelebihan dan kelemahan awam. Sebut saja contoh berikut. Kalau
bicara soal perjuangan hidup dan iman, awam lebih mengalaminya. Apa artinya mengandalkan
Tuhan, ketika segala andalan telah musna semua, awam umumnya lebih mengalaminya secara
nyata. Tetapi kalau bicara tentang keamanan dan kenyamanan, imam lebih banyak
mengalaminya. Kalau mengalami Tuhan sebagai andalannya, imam akan lebih banyak bicara
normatif, konseptual daripada awam. Itu berarti kalau Gereja mau berbicara tentang nilai
sebuah pergulatan, awam pada umumnya lebih kaya. Hanya mungkin tak biasa merefleksikan
dan merumuskannya. Percaya bahwa Tuhan itu penyelenggara hidup kita, akan lebih mudah
diucapkan olem imam kita, daripada diucapkan oleh awam yang sehari-harinya hidup atas dasar
penyelenggaraan Tuhan.
Bolehkah dikatakan bahwa sebenarnya karya misi Gereja Katolik selama ini telah gagal. Sebab
ternyata Yesus bukan jadi idolanya orang Katolik. Kalau Yesus yang menjadi idola (idol=
berhala), tak pernah menjadi berhala. Sebab Yesus memang Tuhan. Menyembah Yesus adalah
memang menyembah Tuhan. Karena menyembah Yesus mustahil berarti menyembah berhala.
Tetapi kalau bukan Yesus yang jadi idola, maka mungkin saja menjadi berhala. Seluruh Kitab
Suci PL, tak mengijinkan umat menyembah ilah lain selain Yahwe. Ketika bangsa Israel meminta
raja, Yahwe lewat para nabiNya sudah mengingatkan,bahkan melarang Israel memiliki raja.(2
Sam 7:12; 2 Raj 19:19) Sebab dengan punya raja, mereka akan mengidolakan rajanya, dan
Idola Katolik Awam
Page 5
melupakan Tuhan, raja semesta alam. Peringatan tersebut tak dihiraukan, sampai Israel lupa
bahwa rajanya adalah Tuhan. Karena itu, Israel kemudian diperingatkan, sebelum dihancurkan,
dipecah jadi dua kerajaan, utara dan selatan. Setelah kerajaan Israel dihancurkan, umat pun
belum bertobat, maka dibuanglah mereka ke pembuanagn di Asyria. Di pembuangan itulah
akhirnya bangsa Israel menyadari kesalahannya, hingga akhirnya kembali menyembah,
merindukan Yahwe Allahnya.
Yesus diutus untuk memenuhi janji Yahwe. Perjanjian baru seluruhnya mengisahkan bahwa
Yesuslah satu-satunya jalan kebenaran dan hidup.(Yoh 14:6) Hanya melalui dia orang dapat
sampai kepada Bapa. Ketika berpesan kepada para muridNya pun, Yesus tidak berkata pergilah
dan babtislah semua orang menjadi muridmu, melainkan “babtislah semua orang menjadi
muridKu.” Tidak mengidolakan Yesus dalam hidup dan karya hidup orang Katolik, sebenarnya
bisa dikategorikan tak sesuai dengan maksud pewartaan Yesus, dan juga pewartaan Gereja.
Gereja dimaksudkan menjadi wujud konkret paguyuban para murid Yesus di dunia ini. Murid
Yesus adalah mereka yang percaya pada Tuhan melalui ajaran Yesus. Ajaran Yesus tidak sama
dengan mengajar orang-orang untuk jadi imam. Ada macam-macam panggilan hidup, kata
Paulus (1 Kor 7:1-8). Ada yang dipanggil untuk kawin dan tidak kawin (Mat 22: 30; Mrk 12:25;
Luk 20:35).
Panggilan Awam
Seorang awam dipanggil menjadi awam, bukan menjadi imam. Konstitusi Dogmatis tentang
Gereja, bab IV artikel no 30-33) Konsili Vatikan II, mengajarkan bahwa “ciri khas dan istimewa
kaum awam yakni sifat keduniaannya”. (a.31). Awam dipanggil … untuk menunaikantugas
pengudusan dunia dari dalam. Mereka memancarkan iman, harapan dan cinta … terutama
dengan kesaksian hidup mereka …( a.31). Jadi tempat, fungsi serta kedudukan, maupun
panggilan awam adalah ciri keduniaannya. Panggilan awam justru diberi peran komplementer
atas panggilan imam, bukan elementer dari panggilan imam, sebagai pembonceng imam....
Panggilan awam juga bukan panggilan kelas dua dalam Gereja. Tetapi memang nyata juga
bahwa karena yang sering digembar-gemborkan, adalah panggilan imam, yang banyak bicara
adalah para imam, maka banyak orang mengira bahwa hanya ada satu panggilan. Panggilan
imam/biarawan/wati. Panggilan lain tak dikenal bahkan tak dianggap ada. Kalau ada pun jadi
panggilan kelas dua. Juga akibat ajaran Gereja sebelum Konsili Vatikan II, yang tak memberi
tempat dan peran awam sebagaimana mestinya. Kini ketika kesadarn itu sudah mulai ada dan
panggillan awam mendapat tempat semestinya, orang Katolik sudah tidak melihatnya lagi.
Dalam Dekrit Konsili Vatikan II tentang Kerasulan Awam, dijelaskan bahwa bidang kerasulan
awam itu berbeda dengan imam. Itu justru dimaksudkan untuk saling melengkapi dan saling
memperkaya Gereja. (Dekrit tentang Kerasulan Awam, a.5-14). Kalau awam tidak menjalani
panggilan khasnya, dan hanya sibuk dalam lingkungan imam, maka Gereja menjadi tidak
imbang, atau malah pincang. Pincang karena kekayaan awam tidak dapat mewarnai apalagi
mempengaruhi hidup dan karya Gereja. Sebab sumbangan khas Awam minim kalau tak boleh
dikatakan tidak ada. Ide, pemikiran dan pengalaman awam , tidak dapat diintegrasikan dalam
ide, pemikiran dan pengalaman Gereja secara utuh. Sehebat-hebatnya imam, tanpa awam,
Idola Katolik Awam
Page 6
Gereja hanya akan menjadi miskin, kerdil belaka. Gereja justru akan utuh, kaya, dengan
efektivitas kaum awam dalam membangun Gereja, (nusa dan bangsa).
Kelangkaan atau ketiadaan peran yang berarti yang dimainkan oleh awam, akan membuat
Gereja menjadi miskin. Miskin iman, miskin perbuatan, miskin kesaksian. Bukan hanya secara
kuantitas awam lebih banyak dari imam. Tetapi juga karena secara kualitas iman, kasih, harapan
sebagian awam lebih konkret dibandingkan dari para imam. Percaya pada Tuhan ketika
segalanya kecukupan, seperti dialami para imam, itu mudah. Tetapi tidaklah mudah, untuk
dapat tetap percaya, ketika tak ada lagi yang dapat diharapkan: dirinya, hartanya, saudara,
kenalan, semua sudah tak ada lagi. Bahkan sudah tidak ada orang yang dapat dipinjami uang
buat sekedar makan minum sehari-hari. Kalau punada, sudah tidak ada lagi yang dapat
dijagakan untuk jaminannya. Pada saat seperti itu, masihkah orang dapat percaya? Sebab
kekayaan awam, dalam kasih, iman dan harapan, tidak dapat disumbangkan sepenuhnya demi
kekayaan Gereja. Gereja hanya diisi oleh konsepsi akan ajaran, tetapi tak ada pengalaman
konkret yang mendukungnya.
Karena mengidolakan awam, cowok-cowok muda minder, dan kurang percaya diri
Salah satu akibat tidak langsung dialami oleh para cowok, tua maupun masih muda. Mereka
tidak punya keyakinan, kepercayaan diri. Bahkan sekedar tampil beda di hadapan para cewek,
incaran dan pujaan hatinya. Setiap cowok, siapa pun dia, di hadapan cewek Katolik selalu
dibandingkan dengan cowok yang imam, apalagi idolanya. Bagi cewek Katolik tiada cowok yang
lebih cowok dari pada cowok yang dicirikan atau bercirikan oleh seorang imam. Ibaratnya orang
berperang, banyak cowok Katolik sudah menyerah sebelum maju berperang. Yang pemalu
menjadi makin minder, rendah diri. Yang pemberani selalu merasa akan senantiasa kalah, bila
dirinya dibandingkan dengan seorang imam. Seakan mau dikatakan bahwa kelelakian seorang
cowok Katolik, diukur sesuai dengan kelelakian seorang imam. Pada gilirannya, kenyataan ini
justru makin menurunkan nilai kelelakian seorang cowok Katolik di mata cewek Katolik. Banyak
cewek yang tidak lagi tertarik pada cowok Katolik. Ketika proses waktu berjalan terus, banyak
cewek Katolik memilih menangis dalam kesendirian, atau memilih pria beristri, bahkan mereka
yang beda agama, hanya karena mereka tampil lebih PD, atau pun mendekati imam terntentu,
siapa tahu harapan menjadi kenyataan . Apalagi ada kenyataan juga bahwa imamnya akhirnya
menikah dengan gadis Katolik yang dikenal dan mengenalnya.
Karena mengidolakan awam, cewek-cewek muda kesulitan menemukan cowok idola...
Cewek muda yang mau hidup tulus , di jalan lurus kadang mengalami frustrasi. Sebab di antara
cowok Katolik tak ditemukan pria-pria muda yang punya keyakinan diri dan kejantangan sikap
dan tindakannya. Justru karena banyak cowok Katolik yang penakut, kurang berani mendekati
cewek Katolik. Kalaupun cewek Katolik yang mendekati, cowok Katoklik juga kurang PD. Bisa
dimengerti bahwa cowok yang lebih PD adalah mereka yang sudah menikah. Pilihan kedua
adalah cowok yang lebih gentle walaupun berbeda agama. Bahkan tidak disangkal kalau ada
cewek Katolik yang sedia dan senang menjadi perempuan “simpanan”, mulai dari para
pendidik, pejabat yang berpangkat. Di mana prinsip moral cewek Katolik kita? Jangan bicara
moral, kalau ketersediaan cowok yang handal sulit ditemukan. Mereka ini hanya kurban dari
Idola Katolik Awam
Page 7
kenyataan, kalau bukan kepincangan dalam Gereja, yang sangat mengidolakan imam dalam
mindset maupun perilaku hidup sehari-harinya.
Apa yang dapat kita lakukan?
Berhentilah mengidolakan hidup seorang imam dalam hidup, kasih, iman dan harapanmu.
Kecuali kalau memang punya niat dan cita-[cita untuk menjadi imam. Itupun kalau dapat
mengidolakan Yesus tentu lebih baik lagi. Semua umat Katolik yang lain, yang tak ingin jadi
imam, biarawan/wati, silakan mengidolakan Yesus, dan jadilah muridNya. Hentikan semua
idealisme hidup Katolik sejati adalah hidup seperti imam. Bukan karena imam itu negatif, tetapi
karena salah tempat. Mulailah membangun idealisme seorang awam pilihan dan utusan Tuhan.
Sebagai awam tak perlu berdoa/beribadat, sebagaimana seorang imam berdoa/beribadat,
sebab memang tugas panggilannya memimpin jemaat beribadat. Siapa yang akan memimpin
jemaat untuk berbuat, kalau bukan dari seorang awam. Siapa awam itu, kalau tidak mulai dari
diri kita? Mulailah membangun diri sebagai awam sejati. Awam yang dipanggil dan diutus di
tengah dunia. Pengudusan dunia oleh seorang awam beda dengan yang dilakukan oleh imam.
Bukan kotbah yang diharapkan dari seorang awam, melainkan kesaksian hidup dan perbuatan
nyata bagi sesama di tengah dunia. Tugas awam adalah membantu membuat kotbah imam
makin mutu, mengena, dengan kekayaan iman, kasih dan harapan yang disumbangkan oleh
awam kepada imamnya. Tetapi pengkotbahnya tetaplah imam, Awam hanya menyediakan
bahan dan tanggapan yang makin membuat kotbah imam bermutu tinggi.
Tempatkan diri sebagai awam di tempat yang sejajar, bukan underbow imam. Sebab imam dan
awam punya kedudukan yang setara dalam tata bangunan Gereja umat Allah. Imam dan awam
tidak dapat dan tidak mungkin saling merendahkan apalagi meniadakan. Tetapi karena secara
waktu, jam terbang imam jauh lebih banyak dari pada jam terbang awam, maka upaya untuk
mengejar ketinggalan itu harus diupayakan dengan ekstra, baik waktu maupun tenaganya.
Untungnya jumlah awam, jauh lebih banyak daripada imam, sehingga ketinggalan tersebut
mestinya tidak perlu merisaukan atau menjadi masalah. Kekayaan pengetahuan, pengalaman
awam mestinya terlalu berharga untuk dibiarkan berlalu begitu saja. Sebenarnya Gereja juga
terlalu naif, buta, arogan kalau membiarkan aset awam ini musna ditelah sejarah dan berlalu
begitu saja.
Sekarang ini, pemberdayaan aset awam masih sebatas lingkup ibadat, dan akibat yang dekat
dari ibadat. Demikian sehingga yang sudah dimanfaatkan barulah uang umat. Ini bukan melek
finansial, melainkan hanya akibat langsungdari ibadat. Kalau Gereja sudah melek finansial, tak
mungkin menyia-nyiakan aset yang berharga para awamnya. Dari kepakaran, kepiawaian
awam saja, Gereja sudah memiliki aset luar biasa. Belum dari sisi pengalaman kasih/cinta, iman
dan harapan umat. Itu bagaikan goodwill, yang tak ternilai namun belum disentuh, apalagi
dberdayakan. Sebab dari sisi seorang imam, tak muncul kebutuhan tersebut. Managemen imam
adalah management peribadatan dan persembahan. Belum sampai managemant aset dan
management sumber daya manusia. Dari sini jelas bahwa sebenarnya potensi Gereja untuk bisa
berkarya di tengah dunia, sebenarnya masih sangat luar biasa. Potensi itu ada. Peluang nya juga
Idola Katolik Awam
Page 8
menghadang dan sangat menantang. Bahwa potensi dan peluang demikian tak dilirik Gereja,
sebenarnya adalah bukti kuat dan nyata dari kemiskinan Gereja. Kemiskinan berpikir,
kemiskinan bermimpi sebagai akibat konkret dan nyata karena Gereja tidak melibatkan apalagi
menempatkan awam di posisi dan fungsi semestinya, sebagai parner imam/hirarki. Sekaranglah
saatnya awam mulai berkiprah,
Sungguh sayang bahwa para awam, yang pernah bercita-cita menjadi imam pun banyak yang
masih mengidolakan imam sebagai orientasi hidup dan karyanya. Be real lah. Jadilah awam
yang bermutu, sebab panggilan dan pengutusanmu adalah awam, bukan imam.
Dan bagi seorang awam, kiprah yang sesungguhnya bukanlah di lingkungan ibadat, atau Gereja.
Kiprah awam ada di tengah dunia, dengan kesaksian hidup dan perbuatannya di tengah
masyarakat. Jangan bangga hanya jadi prodiakon awam. Banggalah jadi diri Anda sekarang ini,
apa pun profesi Anda : tani, buruh, guru, angkatan, pejabat dll. Kalau sekarang belum bisa
merasa bangga, sekarang lah saatnya untuk berfokus, mengembangkan keawaman kita, sesuai
profesi kita. Jadi tani lestari juga panggilan jaman. Jadi buruh berkualitas ;pun panggilan awam.
Jadi guru yang bermutu, yang penddidik sejati itu pun panggilan khas awam. Semua tak dapat
dibandingkan apalagi digantikan oleh dan dengan panggilan imam.
Sudah sewajarnya yang dapat membuat doa keluarga adalah ibu bapak atau anak-anak dalam
keluarga, bukan seorang imam. Jangan lagi mengharapkan doa-dari seorang imam untuk
membuat doa keluarga yang mengena dan bermutu. Yang bisa membuat lagu tentang asmara,
semestinyalah seorang awam yang sarat cinta, bukan seorang imam. Yang semestinya dapat
mengajar dengan kualitas prima adalah guru yang bermutu, bukan imam itu. Yang lebih tahu
dan mampu mencintai anak-anak mestinya juga para orangtua, bukan para imam kita. Yang
menjadikan nasi goreng itu enak adalah karena masakan seorang ibu, bukan karena jajan
bersama imam idolanya.
Usul pada imam, sebaiknya jangan memutlakkan ajaran bahwa taraf tertinggi kehidupan adalah
kehidupan imam/biarawan/biarawai. Setiap orang dapat mencapai taraf tertinggi dalam
hidupnya, asal ia menghidupi dan dihidupi oleh cinta, iman dan harapan sejati. Bagaimana tetap
hidup ddengan penuh kasih, iman dan harapan ketika tak ada sesuatu atau seseorang pun yang
dapat diandalkan dalam hidupmu. Itulah panggilan awam. Berani menjadi saksi. Berani
memberi kesaksian konkret, bukan di gereja atau di mimbar, tetapi di mana pun kita berada.
Itulah kelebihan awam, dapat merasul di mana pun, dan kapan pun dengan siapa pun.
Awam mengusulkan, imam menguduskan
Secara ideal, mestinya awam Katolik yang harus maju mengelola kebutuhan hidupnya tersebut
dengan restu para imamnya. Imam belum memberi restu, awam belum berani maju. Imam
belum mempercayai awam, awam belum percaya diri sebab idola awam masih ditelakkan pada
diri imam, di dunia imam. Padahal dunia awam ada belahan beda dengan dunia para imam.
Dunia imam ada dalam pelayanan, pegajaran, pengudusan. Dunia awam ada dalam dunia
perbuatan, pergulatan, pemenuhan, penciptaan hidup dan kelangsungan kehidupan. Dua
dunia yang bereda, bukan berpisah tapi saling memperkaya. Sayangnya, dunia awam ini
rupanya belum pernah secara serius dikelola, dan dikembangkan. Akibatnya, kekayaan
Idola Katolik Awam
Page 9
pengalaman pengelolaan awam juga belum banyak yang dapat direfleksi dan dijadikan
referensi. Ini memang pantas disesalkan sebab Gereja Perdana justru terdiri dari awam, asli
didikan Yesus, yang defakto juga seorang awam. Yesus tak pernah mengklaim diriNya imam.
Gerejalah yang mengajarkan bahwa Yesus adalah imam agung.
Dengan uraian di atas sebenarnya idealnya orang awam Katolik sesuai dengan kekayaan
pegalaman profesi, pengalaman iman, pengalaman perbuatan dan pengalaman pemenuhan
kebutuhan hidup, merumuskan bentuk tata khidupan Gereja. Dan imam melayani atau
mengimbangi dengan kekayaan dari sisi imam. Materi hidup dan penghidupan Gereja mesti
diangkat dan dirumuskan oleh awam sendiri. Imam menambahkan dengan dimensi imamatnya.
Jadi yang menentukan bentuk dan wujud paguyuban dan penghayatan iman adalah awam, dan
hirarki memberkatinya.
Model Gereja, bentuk ibadat, rumusan doa, pilihan lagu, dll awam lah yang menentukan, dan
imam melayani. Isi dogma, pelayanan sakramen diserahkan kepada para imam. Karya sosial
kemasyarakatan, awam yang menentukan, tetapi pemberkatan, polese pelayanan sakramen
ada di tangan para imam. Kalau Gereja dikembangkan dengan cara demikian, maka dapat
terjadi bahwa wujud konkret Gereja akan menjadi Gereja Paguyuban atau Gereja Komunitas.
Komunitas profesional, kategorial, fungsional, kategorial sesuai dengan kenyataan dan
kebutuhan nyata awam yang ada.
Mimpi atau Goal Gereja
Dengan reposisi awam seperti itu tidak dimaksudkan awam mengambil alih panggilan dan tugas
imam. Yang dimaksud adalah awam mau mewujudkan Gereja Umat Allah, bukan hanya Gereja
imam Tuhan. Untuk membangun mimpi Gereja pun akan jauh lebih agung daripada mimpinya
Gereja imam Tuhan. Gereja imam Tuhan, mimpinya akan mewujud dalam bentuk gedung
gereja, tempat iabadat, karya pendidikan dll. Tetapi Gereja Umat Allah akan memimpikan
punya lembaga keuangan sendiri yang mampu menanggung biaya obat, biaya akhir umatnya,
bahkan merambah ke seluruh masyarakat. Ketika lembaga itu menjadi makin besar malah tidak
hanya mampu menjamin biaya pengobatan, melainkan juga menjamin asuransi jiwa dll. Mimpi
demikian akan menjawab kebutuhan umat, bahkan kebutuhan masyarakat. Mimpi seperti itu
memang ada di wilayah awam. Baiklah kalau tetap perlu berkat dan bingkai penguatan para
imam.
Langkah pertama
Segala mimpi memerlukan langkah pertama untuk mewujudkannya. Langkah pertama itu dapat
berupa membangun kepercayaan diri sebagai awam. Membangun kebersamaan, paguyuban
dengan dasar minat, bakat, dan lebih luas daripada berdasar ibadat. Paguyuban berdasar
profesi dan bukan hanya bersahabat dengan orang seagama. Bangun kebanggan ngobrol
dengan awam lain, yang sukses, yang beriman, yang berpengalaman. Supaya dengan demikian
kita belajar menghargai pengalaman ke-awam-an kita, dan pengalaman awam lain. Buang jauhjauh perasaan tidak butuh orang lain, atau malah membangun pergaulan tertutup, melainkan
bangunlah paguyuban atau persaudaraan pluraristis, dengan sesama awam, sesama manusia,
Idola Katolik Awam
Page 10
juga yang dirasa kurang nyaman. Hanya kalau kita bergaul dengan awam sehat/sukses, apapa
pun agamanya, kita pun akan jadi sehat/sukses.
Pasti tidak mudah untuk mengayunkan langkah pertama ini. Sebab kita, awam sudah terbiasa
jadi jago kandang. Beraninya di kandang sendiri. Sekaranglah waktunya untuk keluar kandang,
dan membangun medan untuk bersaksi sebagai orang awam Katolik. Kecuali itu, kita memang
kesulitan mencari referensi bagaimana awam berkiprah dari sejarah Gereja, sebab sejarah
Gereja telah berubah dari sejarah awam menjadi sejarah biarawan dan imam. Namun
demikian, Gereja senantiaa berubah. Maka kenyataan sejarah yang demikian pun dapat
dijadikan sebagai tantangan untuk mencoba mewarnai wajah Gereja. Barangkali kita dapat
berharap pada para awam yang entrepreneur untuk menshare kan semangat
entrepreneurshipnya. Semangat untuk berani berubah. Berani tampil beda. Berani mengambil
resiko. Tetapi benar-benar memberi nilai tambah pada dunia dan sesama. Gereja akan memberi
nilai tambah pada dunia dan sesama, kalau Gereja berani mewartakan keselamatan jiwa raga.4
Pewartaan keselamatan oleh imam, masih cenderung keselamatan jiwa, tetapi belum
keselamatan raga. Tugas dan panggilan awam justru membantu Gereja supaya dapat memberi
nilai tambah pada dunia dan sesama melalui perwujudan keselamatan raga. Atinya keselamtan
yang diwartakan Gereja haruslah juga berupa membawa keselamatan raga. Raga ini butuh
makan minum, butuh kesehatan, bahkan setelah mati pun butuh perawatan selayaknya.
Idealnya, sisi ini harus menjadi bagian peran awam dalam mengembangkan Gereja. Misalnya
dengan membentuk lembaga keuangan umat yang bertujuan untuk melayani kebutuhan obat
dan atau kematian warga. Kalau wadah ini berkembang, dan sungguh dirasakan manfaatnya
oleh umat, awam katolik, apalagi oleh masyarakat, maka wajah Gereja pasti akan berubah.
Maaf hal ini tak dapat diharapkan muncul dari tugas pelayanan imam, sebab imam sendiri tidak
merasakan kebutuhannya. Gereja idealnya dapat menjawab kebutuhan umat, kebutuhan
awam. Kebutuhan awam tidak hanya keselamtan jiwa, tetapi juga keselamatan raga. Bukan
hanya selamat nanti setelah mati, tetapi juga selamat (muka dan hidupnya) justru ketika masih
hidup ini, alias sebelum mati. Dan di sinilah awam lebih mengerti maknanya, lebih merasakan
kebutuhan dan maknanya, lebih mungkin menikmati manfaatnya juga.
Semarang,
23 Juli 2012
YR Widadaprayitna
4
Keselamatan raga maksudnya kebutuhan raga juga ditanggapi: kelaparan, kesakitan, kematian juga.
Idola Katolik Awam
Page 11
Download