DAN GEREJA MASEHI ADVENT HARI KETUJUH Lawrence R

advertisement
DRAMA
DAN
GEREJA MASEHI ADVENT HARI KETUJUH
(DRAMA and the SEVENTH-DAY ADVENTIST CHURCH)
Sebuah Tinjauan Singkat
tentang Sejarah Perkembangan Drama
di dalam Gereja Tuhan dari Eden Hingga Saat Ini
dengan Penekanan pada Bagaimana Drama Masuk
ke Dalam Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh
Dan Saran-saran Untuk Membalikkan
Kecenderungan Ini
Lawrence R. Hawkins, M.D.
E-mail : [email protected]
Telepon: 509 525-4024
Fax
: 509 522-2448
College Place, Washington
Desember 2000
(Sumber: www.temcat.com)
I – PENDAHULUAN
Gereja-gereja dan lembaga-lembaga Masehi Advent
Hari Ketujuh (untuk selanjutnya disingkat MAHK) semakin banyak menggunakan produksi-produksi teater (drama) dan musik Kristen kontemporer dalam
usaha untuk menarik dan memegang orang muda dan
memuaskan keinginan para generasi “baby boomer”
dan “GenX.” Inilah saatnya bagi para orangtua, pendeta, dan pimpinan lembaga untuk meninjau kembali posisi mereka tentang drama. Pertanyaan yang HARUS
dijawab adalah, “Apakah nasehat ilham yang diberikan kepada gereja ini tentang penggunaan drama
dan penerapannya bagi masa kini?”
Ada sebuah pertanyaan relevan yang perlu digali sehubungan dengan sikap yang semakin mendukung terhadap drama dalam gereja-gereja dan lembaga-lembaga MAHK di seluruh dunia. Apakah kita
sebagai sebuah gereja dan sebagai pribadi-pribadi
telah siap sepenuhnya untuk memahami masalahmasalah yang terlibat dalam penggunaan drama?
Apakah kita telah begitu nyaman dan mantap dalam
kebenaran-kebenaran gereja MAHK sehingga kita tidak akan diperdaya oleh kompromi yang sedang menyelinap masuk? Apakah kita telah sepenuhnya berserah kepada Tuhan sehingga Roh Kudus akan memberi kita kemampuan rohani untuk mengetahui dan
membedakan sehingga pikiran kita dapat diterangi
tentang apa metode yang tepat untuk “mengemas
2
atau membundel Injil?” Apakah kita telah menjadi begitu terbiasa dengan drama dari industri perfilman
yang ditayangkan di layar-layar televisi kita sehingga
kita tidak mampu lagi membedakan betapa itu telah
menjadi perangkap bagi kita, anak-anak kita, dan gereja kita? Apakah kita, melalui pelajaran Alkitab dan
Roh Nubuat setiap hari secara teratur, mempersiapkan pikiran kita sehingga kita tidak akan mengizinkan
apapun yang menyebabkan kita, keluarga kita, atau
gereja kita mengorbankan kebenaran, meskipun
pengkhianatan, kesesatan, dan aniaya akan menjadi akibatnya (dan sebagiannya berasal dari antara
orang-orang di dalam gereja kita sendiri)?
Ketika sebuah metode untuk menyampaikan kebenaran dianjurkan, maka nasehat Paulus kepada Timotius diperlukan: “Usahakanlah supaya engkau layak
di hadapan Allah sebagai seorang pekerja yang tidak
usah malu, yang berterus terang memberitakan perkataan kebenaran itu.” –2 Timotius 2:15.
Tuntunan terbaik bagi orang Kristen MAHK yang
ingin menggunakan sebuah metode untuk “membundel Injil” lagi-lagi diberikan oleh Rasul Paulus. Ia mengatakan dalam satu ayat: “Jadi akhirnya, saudarasaudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis,
semua yang sedap didengar, semua yang disebut
kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.”
Filipi 4:8.
Dan apakah ada gereja lain yang memiliki tulisan-tulisan yang begitu bagus, tepat dan penuh oto3
ritas untuk memuliakan firman Tuhan dibandingkan
dengan Gereja MAHK? Berikut ini dua contohnya:
“Hanya orang-orang yang telah menjadi murid Kitab Suci yang rajin dan yang telah menerima
kasih akan kebenaran akan dilindungi dari khayalan besar yang menguasai dunia.”—The Great
Controversy, hlm. 624, 625.
“Tidak cukup hanya mengetahui apa yang telah
dipikirkan dan diajarkan oleh orang lain tentang Alkitab.Pada saat penghakiman, setiap orang harus mempertanggungjawabkan dirinya sendiri kepada Tuhan,
dan masing-masing sekarang harus belajar sendiri
tentang kebenaran.”—Education, hlm. 188.
“Betapa sebuah pelajaran yang kita miliki bagi
para orangtua dan pengawas-pengawas orang muda,
dan bagi orang-orang yang bekerja dalam pelayanan
kepada Tuhan. Ketika kejahatan yang ada tidak dihadapi dan diperbaiki, karena manusia memiliki keberanian terlalu sedikit untuk menegur kesalahan,
atau karena mereka memiliki minat terlalu sedikit
atau terlalu malas untuk mengurangi kekuatan mereka demi melakukan usaha-usaha yang tulus untuk
menyucikan keluarga atau gereja Tuhan, mereka
bertanggung jawab atas kejahatan yang mungkin
menjadi akibat dari pengabaian akan kewajiban
mereka. Kita sama bertanggung jawabnya terhadap kejahatan yang kita perbaiki pada orang lain,
melalui teguran, peringatan, melalui pengaruh wewenang orangtua atau pendeta, seolah-olah kita
4
sendirilah yang bersalah atas perbuatan itu.”—
Testimonies, vol. 4, 516.
Sementara tampaknya benar bahwa beberapa
kalangan menyerukan “Alkitab dan Alkitab Saja,” tidak
ada alasan untuk tidak mempelajari pernyataan dari
orang yang disebut nabi Gereja MAHK di “zaman Victoria” untuk menuntun keputusan kita dalam menggunakan drama. Terbitan khusus Adventist Review
tanggal 29 April 1999 menyatakan bahwa gereja masih memegang kepercayaan dasar ke 17 yang berbunyi:
Salah satu karunia Roh Kudus adalah nubuatan. Karunia ini adalah tanda pengenal dari gereja
yang sisa dan dinyatakan dalam pelayanan Ellen G.
White. Sebagai utusan Tuhan, tulisan-tulisannya adalah sumber kebenaran yang berwenang dan berkelanjutan yang menyediakan bagi gereja penghiburan, tuntunan, petunjuk dan perbaikan. Tulisantulisan itu juga menjelaskan bahwa Alkitab adalah
standar ujian bagi segala ajaran dan pengalaman.
Sesungguhnya, berlawanan dengan “pandangan-pandangan” sebagian orang, yang menyatakan Roh Nubuat adalah “terang kecil” daripada
Alkitab, kita harus mengingat bahwa Roh Nubuat
adalah berasal dari Roh Kudus yang sama yang
mengilhami para penulis Alkitab. Pelajaran lebih terinci tentang terang besar dan terang kecil dalam dilihat dalam khotbah Saudara Lawrence Nelson berjudul “MENGHADAPI KRISIS” (Dengan Terang Kecil
dan Terang Besar—Bagian 1 dan 2 (Lampiran 1).
5
Karena jikalau Setan dapat merendahkan Roh
Nubuat, melalui cara ini dan yang lain, sehingga Kesaksian-Kesaksian diabaikan—dibiarkan berdebu di
rak-rak buku, ia mengetahui bahwa umat Tuhan tidak
akan dapat mengenali tipuan-tipuannya yang terakhir—tipuan-tipuan yang hanya dapat ditunjukkan
secara jelas oleh Roh Nubuat, dan Roh Nubuat juga
mengatakan bagaimana menghindarinya. Janganlah
pernah lupa bahwa, sekiranya mungkin, Setan menginginkan kita semua binasa!, Nelson, Bag. 1, hlm. 8.
Perhatikan baik-baik kutipan dari Selected Messages, Vol. 1, hlm. 48:
Tipuan Setan yang paling akhir adalah
menjadikan kesaksian Roh Nubuat
ti-dak
berpengaruh. “Bila tidak ada wahyu, menjadi liar-lah
rakyat” (Amsal 29:18). Setan akan bekerja dengan
rajin,dengan berbagai cara dan melalui berbagai agen,
untuk menggoyahkan kepercayaan umat Tuhan
yang sisa kepada kesaksian yang sejati—Letter 12,
1890.
Adalah menjadi tujuan dari tulisan ini untuk menyelidiki secara singkat perkembangan-perkembangan
sejarah drama sejak pertama kali diperkenalkan oleh
Setan di Taman Eden, di zaman Perjanjian Lama dan
Baru, di Zaman Kegelapan, dan masuknya drama ke
dalam Gereja MAHK. Akhirnya, saran-saran disampaikan tentang bagaimana menggunakan metode-metode praktis untuk menuntun para orangtua, guru, pimpinan lembaga, dan pendeta untuk mendidik orang
muda untuk memahami, melakukan dan berbagi kesa6
lehan mula-mula tanpa perlu menggunakan penyampaian-penyampaian teatrikal.
7
II – DEFINISI-DEFINISI
Seringkali pendapat-pendapat disampaikan bahwa kata-kata seperti “teatrikal” atau “drama” sebagaimana
yang digunakan oleh Ellen White memiliki makna berbeda-beda dibandingkan maknanya sekarang ini. Suatu perbandingan tentang penggunaan yang didefinisikan dalam kamus-kamus yang berwenang pada zamannya dan pada zaman kita diadakan. Perbandingan
ini menunjukkan bahwa makna kata-kata tersebut
tidak pernah berubah selama 166 tahun terakhir.
Bacalah definisi-definisi berikut ketika anda membaca
tulisan ini.
DEFINISI-DEFINISI
Aktor – “kata benda. 1. Orang yang berlakon atau
mempertunjukkan; seorang pelaku aktif. 2. Orang
yang melakonkan suatu tokoh atau bermain dalam sebuah sandiwara; pemain sandiwara panggung.” American Dictionary of the English Language. N. Webster
1828, Vol. I, hlm. 3.
Aktor – “kata benda. 1. seseorang pemain sandiwara: PELAKU. 2.a: orang yang melakonkan suatu tokoh
dalam produksi drama. B. seorang pemain teater. C.
seseorang yang berkelakuan seolah melakonkan suatu bagian.” Webster’s Ninth New Collegiate Dictionary,
1984, hlm. 54.
8
Munafik (hipokrit) -- Strong’s Concordance: 5273,
hupokrites (hoop-ok-ree-tace'); dari 5271; seorang
pelaku dari sebuah tokoh (pemain panggung), yaitu
(secara kiasan) penipu, orang yang menyembunyikan
watak aslinya (“munafik”)” 5271. hupokrinomai (hoopok-rin'-om-ahee); pernyataan tengah antara 5259 dan
2919; memutuskan (berbicara atau bertindak) palsu,
yaitu (secara kiasan) menyembunyikan (berpura-pura): KJV—berpura-pura.
CATATAN: Setiap kali kata munafik (hypocrite) digunakan dalam Perjanjian Baru, ini selalu digunakan
oleh Yesus. Kata ini terdapat 14 kali dalam Matius, 1
kali dalam Markus, dan 5 kali dalam Lukas, setiap kali
digunakan untuk menunjuk kepada orang-orang Farisi.
Menarik untuk diperhatikan bahwa kata Yunani hypocrite, digunakan sekitar 2000 tahun, mendefinisikan
seseorang sebagai seorang pemain sandiwara
yang melakonkan seorang tokoh dalam atau seorang pemain sandiwara panggung. Definisi-defisini
untuk kata aktor yang digunakan di tahun 1828 dan
1984 juga mendefinisikan aktor sebagai pemain sandiwara panggung. Seorang aktor atau hipokrit akan dibahas lebih mendalam kemudian.
Drama – “kata benda. [Dari bhs. Yunani, membuat].
Sebuah puisi atau komposisi yang menggambarkan
kehidupan manusia, dan dirancang untuk dilakonkan.
Jenis utama drama adalah tragedi dan komedi: jenis
9
lain yang lebih rendah adalah komedi tragis, opera,
dll.” American,1828, Vol. I, hlm. 67.
Drama - "kata benda [Latin dramt-, drama, Yunani,
perbuatan, drama, dari kata dran berlaku, bertindak].
1: sebuah komposisi dalam puisi atau prosa yang dimaksudkan untuk memotret kehidupan atau tokoh
atau menyampaikan kisah biasanya melibatkan konflik-konflik dan emosi melalui tindakan dan dialog dan
biasanya dirancang untuk pertunjukan teater.” Webster’s, 1984, hlm. 381.
Dramatize (mendramatisir) – “kata kerja. Menyusun
dalam bentuk drama; atau mengolah sebuah komposisi dalam bentuk sandiwara.” American, 1828, Vol. I,
hlm. 67.
Dramatize (mendramatisir) – “kata kerja. 1: mengadaptasi (misalnya dari novel) untuk sebuah pertunjukan teater. 2: melakonkan atau mewakili tokoh melalui
drama.” Webster’s, 1984, hlm. 381.
Fiksi – “kata benda. [Latin fictio, dari fingo, berpurapura.] 1. Tindakan berpura-pura, mengarang-ngarang
atau membayangkan ; misalnya, fiksi dalam pikiran
belaka. Stillingfleet. 2. Yang berpura-pura, dikarangkarang, atau dibayangkan. Contoh: Kisah itu hanya
sebuah fiksi belaka.” American, 1828, Vol. I, hlm. 82.
Fiksi – “kata benda 1a: sesuatu yang dikarang melalui imajinasi atau pura-pura; arti khusus: kisah ka10
rangan. B. karya-karya sastra fiksi (seperti novel
atau cerpen). 2: suatu anggapan tentang adanya kemungkinan sebagai sebuah fakta meskipun kebenarannya dipertanyakan. 3 : perbuatan berpura-pura atau
membuat karangan imajinasi.” Webster’s, 1984, hlm.
460.
CATATAN:Karena pertunjukan teater, sandiwara, drama dan akting seringkali menggunakan fiksi, topik ini
akan dibahas lebih lanjut kemudian.
Sandiwara – “kata benda. 7. Sebuah komposisi drama: komedi atau tragedi; sebuah komposisi yang tokoh-tokohnya dinyatakan dalam bentuk dialog dan tindakan. 8. Pertunjukan atau pameran sebuah komedi
atau tragedi; misalnya, bermain dalam sebuah sandiwara. Ia menonton setiap sandiwara.” American, 1828,
Vol. II, hlm. 36.
Sandiwara – “kata benda 7a: pertunjukan panggung
dari suatu lakon atau kisah. B: sebuah komposisi:
DRAMA.” Webster’s, 1984, hlm. 902.
Bermain sandiwara – “kata kerja. 14. memainkan
bagian dalam sebuah panggung; melakonkan sebuah
tokoh. Contoh: “seorang raja akan mendengar kamu
bermain sandiwara malam ini,” Shakespeare. 15.
Menjadi seorang tokoh. “Pengadilan adalah teater di
mana beberapa orang bermain sandiwara.” Donne.
American, 1828, Vol. II, hlm. 36.
11
Bermain sandiwara – “kata kerja 3b (1): bermain dalam sebuah produksi drama (2) PERTUNJUKAN, MEMAINKAN (apa pertunjukan yang sedang dimainkan
dalam gedung teater?).” Webster’s, 1984, hlm. 902.
Teater – “kata benda. 1. Di zaman kuno, suatu bangunan di mana pertunjukan diselenggarakan bagi hiburan penonton. 2. Di zaman modern, sebuah bangunan tempat pameran pertunjukan drama, seperti
tragedi, komedi dan farce; sebuah gedung sandiwara;
terdapat panggung sandiwara, ruang belakang, ruang
penonton di samping, galeri dan orkestra.” American,
1828, Vol. II, hlm. 92.
Teater – “kata benda 1a: bangunan tempat terbuka
untuk pertunjukan drama atau tontonan di zaman Yunani dan Roma kuno. b: sebuah bangunan untuk pertunjukan drama. c: sebuah bangunan atau tempat untuk mempertunjukkan film.” Webster’s, 1984, hlm.
1222.
Teatrik, Teatrikal – “a. tentang sebuah teater atau
pertunjukkan kisah; yang menyerupai cara pemain
drama; contoh: pakaian teatrikal, pertunjukan teatrikal,
gerak teatrikal,” American, 1828, Vol. II, hlm. 91.
Teatrikal, juga teatrik “kata sifat … 1: berhubungan
dengan teater atau pertunjukan sandiwara (kostum teatrikal) 2: ditandai dengan kepura-puraan atau kepalsuan emosi.” Webster’s, 1984, hlm. 1222.
12
Pembahasan lebih lanjut tentang topik ini baca:
THE BROKEN BLUEPRINT (Cetak biru yang telah
rusak). Mengapa cetak biru Pendidikan tidak diikuti pada saat ini? Bagaimanakah sekolah-sekolah
kita telah berubah alur? Buku ini memberi anda informasi tersebut! Untuk pertama kalinya keseluruhan kisah yang mengherankan diceritakan dalam sebuah buku tunggal.
13
III – SEBUAH SURVEI SINGKAT TENTANG
PERKEMBANGAN DAN PENGGUNAAN
DRAMA
Di Eden
Pengenalan drama ke dalam rumah, sekolah dan tempat-tempah peribadatan bukanlah sebuah konsep
baru. Setan menggunakan drama di Taman Eden,
yang adalah rumah, sekolah dan gereja bagi orangtua
pertama kita. Bermain sebagai seekor ular yang indah
dengan pohon pengetahuan kebaikan dan kejahatan
sebagai sarana pendukungnya, ia meyakinkan Hawa,
melalui kata-kata (kebohongan) yang dipersiapkan
secara cerdik, untuk menerima sarannya bahwa Hawa
dapat menjadi Tuhan dan tidak akan pernah mati. Dari
sebuah drama tunggal tersebut, yang dilakonkan dengan latar panggung Eden, planet ini telah dijerumuskan ke dalam pemberontakan yang penuh kemarahan.
Di sisi lain, sebelum Kejatuhan, Tuhan berbicara
langsung kepada orangtua kita. Ia mengajari mereka
dengan kebenaran mutlak dan memberi mereka pikiran yang diperlengkapi dengan kemampuan mengingat
secara sepenuhnya agar mereka menyimpan baik-baik segala petunjukNya. Dan bahkan setelah Kejatuhan,
Ia tidak meninggalkan mereka. Secara pribadi Ia menjanjikan kepada Adam dan Hawa bahwa ada jalan keluar. “Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan ketu14
runannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu,
dan engkau akan meremukkan tumitnya." Kejadian
3:15. Sementara tradisi lisan menjadi rusak, Tuhan
menyediakan petunjuk-petunjukNya dalam bentuk tulisan. Namun demkian, baik tradisi lisan maupun bentuk tulisan, Tuhan menyatakan kepada manusia, pada
serangan dosa, bahwa kepala Setan akan diremukkan
(dikalahkan) dan tumit AnakNya akan diremukkan (kemenangan). Janji ini mengisyaratkan pengorbanan
Manusia-Tuhan yang disebut Yesus. Tidak ada sandiwara dimainkan di sini! Kehidupan, kematian dan
kebangkitanNya adalah dan terus menerus merupakan sebuah kenyataan.
Di Zaman Perjanjian Lama
Banyak contoh pertunjukan sandiwara diambil dari
Perjanjian Lama. Di sini ada tiga: Yakub berpura-pura
menjadi Esau, saudara-saudara Yusuf mengatakan kisah yang telah mereka karang tentang kematian saudara mereka kepada ayah mereka (dan pendukung
bagi kisah mereka—jubah berlumuran darah), dan
kegilaan Daud yang pura-pura. Masing-masing kejadian ini digunakan untuk menipu, sama seperti Setan di Taman Eden.
David Lee menyampaikan masalah ini dalam
perspektif yang tepat ketika ia menuliskan dalam pamflet berjudul Drama? Truth-full? or Pretentious?
(Drama? Penuh Kebenaran? Pura-pura?) hlm. 8.
15
Tetapi bukankah Tuhan menggunakan drama di
zaman Alkitab? Ya jikalau yang dimaksudkan dengan
“drama” adalah kegiatan-kegiatan yang tidak biasa
dan menyedot perhatian umat. Namun kita tidak
menemukan bukti bahwa utusan-utusan Tuhan
pernah menggunakan “drama” dalam artian sebagaimana para pendukung drama saat ini menggunakannya.
Dalam sejumlah peristiwa, para imam (seperti
dalam pelayanan bait suci) dan para nabi (Yesaya
20:2, 3; Yeremia 24:1-10; 27:2-12; 32:1-19; Yehezkiel
4;1-5; 12:2-7) membuat penyajian grafis yang dirancang oleh Tuhan untuk menyampaikan pekabaran
kepada umatNya yang telah merosot mundur. (Lihat
Education 41; CG 19: “tokoh dan lambang-lambang …
perumpamaan yang dilakonkan”). Perlu dicatat bahwa
dalam memberikan pelajaran-pelajaran visual ini, para
utusan tidak pernah mengalahkan kepribadian mereka. “Khotbah-khotbah” visual mereka melibatkan
rasa sakit, penderitaan, dan waktu, dan dirancang
oleh Tuhan untuk membangkitkan rasa ingin tahu,
pertanyaan, dan perasaan belas kasihan dari umat
yang tidak peka dan “tegar tengkuk.” Mereka bukan semata-mata “meniru” atau berpura-pura atau
melakonkan tokoh lain. Mereka adalah kenyataan
yang sangat sakit dan penuh doa! Tentang beberapa upacara korban, Tuhan mengumumkan kemuakkanNya (lihat Mazmur 51:16; Yesaya 1:10-28). Sesungguhnya, Tuhan “memberi kepada mereka ketetapan-ketetapan yang tidak baik dan peraturan-pera16
turan, yang karenanya mereka tidak dapat hidup. Aku
membiarkan mereka menjadi najis dengan persembahan-persembahan mereka, dalam hal mereka mempersembahkan sebagai korban dalam api semua yang
terdahulu lahir dari kandungan, supaya Kubuat mereka tertegun, agar mereka mengetahui bahwa Akulah
TUHAN.” (Yehezkiel 20:25, 26). Tuhan menghendaki
hubungan yang penuh kasih dan penurutan dengan
mereka, bukan sistem persembahan korban yang berdarah-darah (lihat Yeremia 7:19-30). “Dengan tidak
memandang lagi zaman kebodohan, maka sekarang
Allah memberitakan kepada manusia, bahwa di manamana semua mereka harus bertobat.” (Kisah 17:30).
Kami percaya bahwa tidaklah adil mengutip upacara bait suci dalam Perjanjian Lama dan Yehezkiel
untuk membela drama yang penuh kepura-puraan.
Orang-orang yang mengutip dalam usaha ekstrim
untuk menyentuh hati banyak orang, mungkin
akan memperoleh kebenaran dan kuasa yang lebih
besar melalui berpuasa dan berdoa bagi Israel modern selama 180 hari+, sebagaimana dilakukan
oleh Yehezkiel.
A.W. Tozer dalam bukunya The Menace of the
Religious Movie (Ancaman Film Rohani), menjelaskan topik ini secara lebih lengkap:
Profesi akting tidak berasal dari orang-orang
Ibrani. Itu bukanlah bagian dari pola ilahi. Alkitab
menyebutkannya, namun tidak pernah menyetujuinya. Drama, sebagaimana yang diwariskan kepada
kita, dimulai di Yunani. Pada awalnya drama ada17
lah bagian dari penyembahan kepada dewa Dionisus dan diselenggarakan dengan sukaria mabukmabukan. –Kutipan dari The Menace of the Religious
Movie," hlm. 15 (Lampiran 3)
Di Zaman Kristus
Drama, akting, dan prduksi-produksi teater adalah
menonjol di kalangan orang Yunani dan dipadukan
oleh orang-orang Roma. Ampiteater dibangun di seluruh Kekaisaran Roma dan produksi-produksi teater
dikenal hingga zaman Kristus dan para pengikutNya. Namun, kita tidak menemukan di dalam Alkitab bahwa Yesus atau salah satu penulis Perjanjian Baru memberi contoh atau menyarankan
penggunaan drama untuk menyampaikan Injil.
Sebaliknya, Kristus menggunakan metode penyampaian Kabar Baik keselamatan melalui penyembuhan (pekerjaan kesehatan), pengajaran
(pekerjaan pendidikan), khotbah (penginjilan) dan
percakapan berhadapan langsung (kesaksian pribadi). Injil dipenuhi dengan teladan-teladan Kristus
dalam menggunakan metode-metode ini.
PerintahNya kepada para muridNya adalah, “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku
dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak
dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan
ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai
kepada akhir zaman." Matius 28:19-20. Pastilah pe18
rintah itu bukan berbunyi, “Karena itu pergilah, adakan pertunjukan-pertunjukan teater.” Perhatikan nasehat ilham berikut ini:
Tuhan telah memberikan bukti kasihNya kepada dunia. Tidak ada kepura-puraan, tidak ada sandiwara, dalam apa yang dilakukanNya. Ia memberikan karunia yang hidup, yang mampu menderita
kehinaan, pengabaian, malu dan celaan. Kristus
melakukan ini semua sehingga Ia dapat menyelamatkan manusia yang telah jatuh. Sementara manusia
merancang rencana dan metode-metode untuk menghancurkan Dia, Anak Allah yang Mahatahu datang ke
dunia kita untuk memberi teladan dari pekerjaan besar yang harus dilakukan untuk menebus dan menyelamatkan manusia. Namun saat ini orang-orang
yang angkuh dan tidak taat berusaha keras untuk
memperoleh nama besar dan kehormatan besar
dari sesamanya dengan menggunakan karunia dari Tuhan untuk menghibur (to amuse).—Manuscript
42, 1898 [Evangelism 267.1].
Apapun yang dilakukan karena dirangsang oleh
kewajiban orang Kristen yang kudus, karena anda
adalah penatalayan yang dipercayakan talenta untuk
dipergunakan sebagai berkat bagi diri anda dan orang
lain, akan memberikan kepuasan yang mendasar;
karena segala sesuatu dilakukan untuk kemuliaan
Tuhan. Saya tidak dapat menemukan contoh di dalam
kehidupan Kristus di mana Ia membaktikan waktuNya
demi permainan dan hiburan. Ia adalah Pendidik
yang Agung bagi kehidupan masa kini dan masa
19
mendatang. Saya belum pernah menemukan satu
kejadianpun di mana Ia mendidik para muridNya
untuk terlibat dalam hiburan sepakbola ataupun
pertandingan-pertandingan tinju, untuk mendapatkan latihan fisik, atau dalam pertunjukan teater;
dan Yesus adalah pola dalam segala hal. Kristus,
Penebus dunia, memberikan kepada setiap orang
pekerjaan masing-masing dan meminta kepada
mereka “giat
bekerja hingga Aku datang.”—
Fundamentals of Christian Education, hlm. 229.
Beberapa orang mengatakan bahwa tulisan-tulisan Ellen White tidak menunjukkan suatu kutukan
secara menyeluruh terhadap segala program-program
yang dilakonkan. Ia terutama berbicara menentang
lagu-lagu rendahan dan isyarat-isyarat kotor, tentang drama sensasional yang menggambarkan kebiasaan-kebiasaan jahat dan kecenderungan-kecenderungan berdosa. Akan tetapi dalam Manuscript Release 909 sebagaimana dicatat dalam 11MR
hlm 334-342, ia menasehati seorang ibu yang
membawa anak-anaknya ke teater sebagai berikut:
Seandainya anda, saudaraku, terus mengenal
Tuhan, anda akan pada masa sekarang ini mendapatkan pencerahan dari Matahari Kebenaran. Keselamatanmu hanyalah terletak pada mengikut jejak
langkahNya. Tetapi dengan tidak mengambil pendirian yang tegas untuk memberi sanksi apapun atas
kehadiran anda pada pertunjukan teater anak-anak
anda, anda telah mendorong mereka dalam memilih
bagaimana menggunakan talenta mereka. Kemampu20
an dan kuasa mereka adalah milik Tuhan, namun itu
sekarang tidak digunakan untuk bergabung bersama
Kristus. Seluruh talenta dipinjamkan kepada mereka
agar digunakan untuk menghormati dan memuliakan
Tuhan sehingga mereka dapat memenangkan jiwa-jiwa menjauh dari segala sesuatu tentang jenis hiburan
yang mempesonakan ini, yang menyerap pikiran dan
membawanya menjauh dari Tuhan dan hal-hal surgawi. Namun mereka belum pernah memiliki pengetahuan rohani tentang apakah itu kebenaran. Prinsip-prinsip kebenaran belum pernah ditanamkan di dalam jiwa
jiwa mereka. Godaan yang menipu bahwa mereka
bisa menjadi berkat bagi dunia sementara bekerja
sebagai artis adalah sebuah tipuan dan perangkap,
bukan hanya kepada diri mereka sendiri, melainkan juga bagi jiwa anda. Kristus berkata, “Di luar Aku, kamu
tidak akan dapat berbuat apa-apa.” Dapatkah Tuhan
Yesus Kristus menerima tontonan-tontonan teatrikal
ini sebagai pelayanan yang dilakukan bagiNya? Apakah Ia dapat dipermuliakan dengan itu? Tidak. Segala jenis pekerjaan ini dilakukan untuk melayani
pemimpin yang lain. 11MR, hlm.. 335.2.
Ada segudang pertunjukan-pertunjukan teatrikal di dunia ini, namun tingkatan yang tertingginya sekalipun adalah tanpa Tuhan. Sekarang kita
perlu mengarahkan jiwa-jiwa kepada Juruselamat
yang tergantung di salib. Tipuan, pemaksaan, dan
setiap pekerjaan jahat ada di dunia kita. Setan, musuh jahat yang berpakaian malaikat, sedang bekerja
untuk menipu dan menghancurkan. Tujuan kematian
21
Kristus adalah untuk mengumumkan kebenaranNya, dan tidak ada seorang pria, wanita ataupun
anak-anak yang dapat melakukan ini dengan kekuatannya sendiri, atau dengan perkataannya sendiri. 11MR, hlm. 338.
Di Zaman Kegelapan
Setelah “pertobatan” kaisar Konstantin, Gereja Kristen (yang kemudian menjadi Gereja Katolik Roma)
menyatukan orang-orang kafir yang tidak bertobat
dan tidak diajar ke dalam jemaat mereka. Orangorang kafir yang setengah bertobat ini membawa
bersama mereka tata ibadah misa, jubah imam kafir, lagu-lagu mantera yang menghipnotis dari para
penyanyinya, dan katedral yang megah (yang sebelumnya adalah kuil-kuil kafir) dengan seni fresko, patung-patung dan lukisan-lukisan. Mengikuti
misa adalah pertunjukan teatrikal yang berulangulang bagi para penyembah kafir. Alkitab dilarang
dan tradisi mengambil alih tempat “Demikianlah
firman Tuhan.”
Berkomentar tentang drama yang terjadi di Abad
Pertengahan, Tozer melanjutkan: “Jenis pertunjukan
yang menceritakan Kehidupan Yesus (Miracle Plays)
sangat populer di Abad Pertengahan. Pertunjukan ini
adalah pertunjukan dramatis dengan tema-tema rohani yang dilakonkan di panggung untuk hiburan penduduk. Pertunjukan ini adalah usaha-usaha yang
salah arah untuk mengajarkan kebenaran rohani
22
melalui penampilan drama; yang lebih buruk lagi
adalah bahwa pertunjukan ini sangat tidak terhormat dan seluruhnya tercela…
Orang-orang yang mengharapkan teladan dari
pertunjukan tentang drama kehidupan Yesus sudah
pasti mengabaikan beberapa fakta penting. Misalnya,
mode dalam drama-drama kehidupan Yesus seperti ini bertepatan dengan periode kemerosotan
Gereja yang sangat menyedihkan yang pernah
ada. Ketika Gereja pada akhirnya bangkit dari kegelapan moralnya yang sangat lama, pertunjukan jenis
ini kehilangan ketenarannya dan akhirnya mati. Dan
semoga tetap diingat, bahwa sarana yang digunakan
Tuhan untuk membawa Gereja keluar dari kegelapan adalah bukan drama; melainkan sarana Alkitab
dengan khotbah yang dibaptiskan oleh Roh Kudus. Orang-orang yang berpikiran sungguh-sungguh
menyampaikan kebenaran bagaikan guntur dan
orang-orang berbalik kepada Tuhan.
Sesungguhnya sejarah akan menunjukkan
bahwa tidak ada kemajuan rohani, kebangunan rohani ataupun peningkatan kehidupan rohani yang
berhubungan dengan seni peran dalam bentuk
apapun. Roh Kudus tidak pernah menghormati
kepura-puraan.
Apakah mungkin bahwa pola sejarah sedang berulang? Bahwa kemunculan film rohani adalah gejala dari keadaan kesehatan rohani kita yang menurun pada saat ini? Saya khawatir demikian. Hanya
ketidakhadiran Roh Kudus dari mimbar dan ku23
rangnya kemampuan orang-orang Kristen untuk
mengenali kebenaran yang sejati yang menjadi
penyebab dari penyebaran drama rohani di kalangan apa yang disebut dengan gereja-gereja injili.
Gereja yang dipenuhi Roh Kudus tidak akan
mentolerir hal itu—Tozer, hlm. 16, 17.
Betapa sebuah kontras dengan pelayanan Alkitab dan pelayanan yang tanpa kepura-puraan dari
kaum Waldensia dari Pegunungan Piedmont. Jauh
tinggi di sekolah-sekolah terpencil, orang-orang muda
diajar untuk menghapalkan sebagian besar Kitab
Suci dan banyak yang dipersiapkan oleh sekolahsekolah mereka menjadi misionaris ke seluruh bagian Eropa. Ketika mereka meninggalkan rumah di pegunungan yang terpencil untuk berbagi Injil, mereka
ditemani oleh anggota yang lebih dewasa dan lebih
berpengalaman yang mengajarkan kepada mereka
bagaimana bekerja demi keselamatan pria, wanita dan
anak-anak yang telah dikurung dalam kegelapan rohani oleh sistem kepausan.
Tidak ada pertunjukan teater yang dilakukan
oleh para pahlawan ini. Kehidupan merekalah yang
menjadi saksi bagi drama kehidupan dan kematian
yang sesungguhnya.
Dalam banyak kasus, jurukabar kebenaran tidak
tampak lagi. Ia telah berpindah ke negara lain, atau
ia telah menghabiskan hidupnya di dalam penjara
bawah tanah yang tidak diketahui, atau tulang-tulangnya memutih di tempat di mana ia telah menjadi saksi kebenaran. Akan tetapi perkataan yang di24
tinggalkannya tidak akan dapat dimusnahkan. Perkataan ini bekerja di dalam hati manusia; hasil yang
penuh berkat hanya akan diketahui pada saat penghakiman.—The Great Controversy, hlm. 75.
Drama di dalam Gereja Masehi Advent Hari
Ketujuh
Selama Hidup Ellen G. White
1866—Setelah Mengamati Acara Dr. Jackson di
Danville, New York:
Pada tanggal 16 Agustus 1865, James White
menderita stroke lengan kanan sebagai akibat dari
tekanan kerja untuk gereja yang terus menerus. Dalam majalah Review tanggal 20 Februari 1866, yang
berjudul “Our Late Experience, (Pengalaman Kami
Akhir-Akhir ini), Ellen White menjelaskan tentang perjalanan pribadi mereka menuju pemulihan kesehatan
suaminya. Mereka pergi ke lembaga Dr. Jackson. Dr.
Jackson dan staf dokternya menyarankan kegiatan-kegiatan untuk memulihkan kesehatan yang tidak dapat
disetujui oleh keluarga White. Salah satu dari kegiatan itu adalah menonton teater. Pernyataan pertama
Nyonya White tentang menonton teater adalah sebagai berikut:
Kami tidak bisa menghadiri kelas pagi Dr. Jackson selama beberapa kali karena alasan-alasan berikut: Pertama dan alasan yang terbesar adalah suasa25
na panas di dalam ruangan menyebabkan otak suami saya menjadi kaku dan sakit. Ketika ia berbicara
tentang topik Kesehatan, kami menjadi terlalu terserap
padahal pikiran kami yang lelah, karena pikiran kami
akan mulai berjalan, membandingkan falsafah Dr.
Jackson dengan fakta yang ada di dalam pikiran kami,
yang kami terima dari otoritas yang lebih tinggi dan tidak pernah salah. Pikiran akan menjadi bergairah lalu
lelah. Terutama dalam kasus suami saya. Dan lagi, Dr.
Jackson dan para dokter lainnya berusaha mengajukan dan mempertahankan gagasan-gagasan yang tidak dapat kami terima dari pendirian keagamaan kami, khususnya tentang hiburan dan kesenangan,
menari, permainan kartu, menonton teater, dll., kami tidak dapat melihat keselarasan antara ajaran
agamanya dan ajaran-ajaran Kristus yang tercatat
di dalam Perjanjian Baru.
Kami tidak membahas pertentangan keagamaan, bukan juga memaksakan pandangan-pandangan
kami, bukan juga bertemu untuk membahas iman kami. Kami pergi ke Dansville untuk mengistirahatkan
tubuh dan pikiran kami. Dan meskipun kami mengira
akan mendengarkan dan melihat apa yang kami tidak
dapat terima dan gabungkan, namun hal-hal ini, kendati berlawanan dengan usaha-usaha kami, kurang lebih akan menggairahkan pikiran; dan di malam-malam
ketika kami tidak dapat tidur kami membandingkan
kehidupan Kristus, ajaran-ajaranNya tentang hakekat sebagai orang Kristen, dengan ajaran yang pada
26
saat ini disampaikan di lembaga tersebut, dan kami
tidak dapat menemukan keselarasannya.
Sementara kami mengambil bagian secara aktif
dalam Reformasi Kesehatan, dan dua kali berada di
Dansville, sekali sebagai pengunjung, dan sekali lagi
sebagai pasien, dan telah memuji ketrampilan para
dokternya dalam menyembuhkan penyakit dengan
menggunakan air dan pengobatan sehat lainnya, banyak yang mengira bahwa kami telah menyetujui dan
menerima segala hal yang diajarkan oleh para pimpinan lembaga tersebut. Pertanyaan yang sering diajukan
kepada kami, bukan saja oleh orang-orang kita, melainkan juga oleh para pimpinan dari denominasi-denominasi lain, “Apakah anda menyetujui permainan kartu, menari, dan menonton teater? Saya mengerti
bahwa mereka mengaku rohani, dan mereka mencampurkan segala bentuk hiburan ini dengan keyakinan mereka.” Menjadi sangat perlu bagi kita untuk
berbicara secara tegas dan mengatakan bahwa kita
tidak mengambil bagian dalam masalah ini, dan kami
tidak menyetujui bahwa hiburan-hiburan seperti itu
disarankan oleh orang-orang Kristen sebagai sesuatu yang tidak berbahaya. Saya mendengar lebih
dari satu orang ibu di Dansville yang berkomentar
bahwa ia telah memuji para dokter di Dansville kepada
anak-anak mereka, namun tidak akan mengizinkan
anak-anak mendengar mereka menyarankan hiburanhiburan ini; karena ia mengajarkan kepada anak-anak
mereka bahwa pengaruh hiburan-hiburan adalah jahat; dan bahwa ia telah mengetahuinya dalam pe27
ngalaman pengamatannya, dan tidak melihat ciri
yang menyelamatkan yang akan menyebabkan dia
mengubah pikirannya tentang pengaruh jahatnya,
khususnya pada orang-orang muda. Saya pernah ditanya, “Bolehkah anda mengirim anak-anak muda, jauh dari pengawasan anda, namun tetap aman, kepada
lembaga itu untuk belajar cara hidup yang baik, dan
memperoleh kembali kesehatan yang telah hilang?”
Saya harus mengatakan bahwa saya tidak boleh, kecuali mereka adalah anak-anak yang telah diketahui
memiliki pikiran yang mandiri, dan prinsip-prinsip
rohani yang teguh. Hanya inilah yang akan menjadi
perlindungan dalam menghadapi orang-orang
yang berusaha untuk menutupi hiburan-hiburan ini
dan menyebutnya tidak berbahaya, dan perlu bagi
kesehatan, dan berusaha membujuk mereka untuk
bergabung dan menari, permainan kartu dan menonton teater.—Review, 20 Februari 1866.
1878—Bahaya Mengincar Langkah Orang Muda:
Tentang festival-festival dan pertunjukanpertunjukan teatrikal dalam gereja-gereja modern,
Ellen White menuliskan peringatan berikut:
Kematian, yang hadir dalam rupa pakaian
Surga, mengincar jalan orang muda. Dosa ditutupi
dengan kekudusan gereja. Berbagai bentuk hiburan di dalam gereja-gereja di zaman kita telah
menghancurkan ribuan orang, yang bagi mereka
mungkin tetap benar dan tetap menjadi pengikut
28
Kristus. Kerusakan tabiat telah dilakukan oleh
festival-festival dan pertunjukan-pertunjukan teatrikal gereja-gereja modern, dan ribuan orang akan
musnah; namun orang-orang tidak akan menyadari akan bahayanya, tidak juga pengaruh-pengaruhnya yang menakutkan. Banyak orang muda, laki-laki dan perempuan, telah kehilangan jiwa mereka melalui pengaruh-pengaruh yang merusak ini.—
Review, 21 November 1878.
Ingatlah pernyataan ini ketika membaca tentang
hasil dari seorang perempuan muda yang mengambil
bagian dalam pertunjukan drama gereja di gereja Metodis dalam bagian yang berjudul “1881—DewanDewan Masyarakat Sastra.”
1880—Nasehat bagi Para Pendeta untuk Memberitakan Firman:
Dalam Testimonies, Vol. 4, hlm. 415, terdapat
penyebutan awal tentang drama sehubungan dengan
pemberitaan firman oleh para pendeta kita:
Dunia ini dipenuhi oleh kesalahan dan dongeng-dongeng. Hal-hal baru dalam bentuk dramadrama sensasional semakin banyak memikat pikiran, dan teori-teori yang absurd (tidak masuk akal
dan sia-sia) berlimpah yang merusak kemajuan
moral dan dan rohani. Pekerjaan Tuhan membutuhkan orang-orang yang memiliki kecerdasan, pemikiran dan penguasaan akan Alkitab,untuk menghadapi arus pasang perlawanan. Kita tidak boleh
29
menyetujui keangkuhan, pikiran sempit, dan ketidakkonsistenan, meskipun pakaian kesalehan
mungkin dikenakan ke atasnya. Orang-orang yang
telah memiliki kuasa kebenaran yang menguduskan di dalam hati mereka akan memberi pengaruh
yang penuh bujukan. Mengetahui bahwa para pendukung kesalahan tidak dapat menciptakan ataupun menghancurkan kebenaran, mereka akan berusaha untuk bersikap tenang dan bertimbang rasa.
1881—Nasihat tentang Masyarakat Sastra
Dalam sebuah artikel yang ditulis oleh Ellen
White yang berjudul “Masyarakat Sastra”, Review 4
Januari 1881, ada sebuah catatan tentang perbincangan yang terjadi dengan seorang perempuan muda Metodis yang ingin menjadi artis. Perbincangan ini
menunjukkan sikap konsisten Nyonya White tentang
drama. Tampaknya perempuan muda ini lebih ingin
menjadi artis daripada memberikan dirinya kepada
Kristus. Yang menarik juga untuk diperhatikan adalah
bahwa keinginannya untuk menjadi artis adalah
pertama-tama timbul oleh karena mengambil bagian dalam drama dan drama pendek (skit) di dalam Gereja Metodis. Artikel selengkapnya adalah sebagai berikut:
Tujuan dan sasaran yang mendorong pembentukan masyarakat-masyarakat sastra mungkin baik;
namun kecuali hikmat dari Tuhan mengatur organisasi-organisasi ini, maka ini akan menjadi kejahatan
30
yang pasti. Berbagai hiburan diperkenalkan untuk
menjadikan pertemuan-pertemuan menarik dan
memikat bagi dunia, dan oleh karenanya apa yang
dilakukan oleh masyarakat-masyarakat sastra sering
merosot menjadi pertunjukan-pertunjukan teatrikal
yang merendahkan moral, dan tidak masuk akal
dan murahan. Semuanya ini memuaskan pikiran
daging, yang berseteru dengan Tuhan; namun ini
tidak menguatkan daya nalar ataupun mendukung
moral. Sedikit demi sedikit, unsur-unsur rohani dikesampingkan oleh yang bukan rohani, dan usaha
untuk menyelaraskan prinsip-prinsip yang pada
dasarnya saling bertentangan terbukti sebagai sebuah kegagalan yang pasti. Ketika umat Tuhan dengan sukarela bergabung dengan hal-hal duniawi
yang tidak kudus, dan mengunggulkannya, mereka
akan digiring menjauh dari Tuhan melalui pengaruh yang tidak menguduskan atas pilihan mereka
sendiri.
Banyak masyarakat sastra sesungguhnya adalah teater-teater muda dalam skala murahan, dan ini
memberi pengalaman panggung kepada orang muda.
Sementara menulis tentang topik ini, mata saya
mengarah kepada satu kejadian penting dalam kehidupan nyata:
“Tidak penting, Nyonya W., saya telah mencoba berkali-kali, dan saya tidak bisa menjadi orang Kristen.”
“Jadi, katamu (kamu telah mencoba) setahun
yang lalu, namun menurutmu tidak terjadi apa-apa.”
31
“Saya kira sekarang juga tidak terjadi apa-apa,
saya tidak merasakan perbedaan diri saya dengan diri
saya dahulu, dan saya tidak percaya saya akan pernah bisa menjadi orang Kristen.”
“Si pembicara pertama adalah seorang gadis
cerdas berusia sekitar 20 tahun, yang setahun sebelumnya mengunjungi sahabatnya yang lebih dewasa
dan berbicara tentang keinginannya yang sungguhsungguh untuk menjadi orang Kristen. Tidak diragukan
bahwa ia bersungguh-sungguh, dan lawan bicaranya
tampaknya sangat bingung memahami mengapa sahabat mudanya ini belum menemukan kedamaian. Keduanya berdiri di pintu yang setengah terbuka pada ruangan sekolah Sabat, di mana sedang berlangsung
acara gladibersih sebuah ‘pertunjukan’; dan gadis
itu, sembari melihat ke dalam, tampaknya ingin segera
mendapatkan saran untuk pemikiran lebih lanjut.
“Saya percaya, gadis ini berkata ragu, ada satu
hal yang tidak bisa saya hentikan.”
“Hentikan itu sekarang, sayang.”
“Tetapi saya tidak bisa.”
“Datang dulu kepada Yesus, dan Ia akan memberimu kuasa.”
“Saya tidak mau Ia memberiku kuasa. Saya
percaya jikalau saya tahu bahwa saya akan hilang dalam tiga minggu sejak malam ini, saya lebih baik hilang daripada menghentikan keinginan saya ini.”
“Dan apakah sesuatu yang begitu dicintai dan
berharga ini, sehingga lebih berharga daripada keselamatanmu?”
32
“Oh, bukannya lebih berharga, hanya saya semakin mencintainya, dan saya tidak dapat dan tidak
mau menghentikannya. Yaitu saya—saya ingin menjadi artis; saya tahu saya berbakat; saya selalu berharap ada jalan terbuka bagi saya untuk naik panggung, dan saya masih terus berharap.”
“Apakah menurutmu itu salah, jikalau memang
ada jalan terbuka?”
“Saya tidak tahu apakah itu dosa; tetapi saya tidak dapat melakukannya dan tetap menjadi Kristen;
keduanya tidak bisa sejalan.”
“Bagaimana kamu bisa memiliki selera panggung? Saya yakin kamu bukan dari keluarga yang suka menonton teater?”
“Oh tidak! Ayah dan ibu saya adalah orang Metodis; mereka selalu menentang teater. Saya masuk
Sekolah Minggu sepanjang hidup saya. Mereka selalu
menyuruh saya bernyanyi dan ambil bagian dalam
pertunjukan ketika saya berumur 4 tahun, dan saya
bermain sebagai malaikat dan peri dalam dialognya;
dan ketika saya semakin besar, saya selalu mengatur
tablo dan teka-teki, dll. Kemudian saya bergabung dengan kelompok sosial yang dibentuk oleh orang-orang
muda gereja. Pertama-tama kami mementaskan “Mrs.
Jarley’s Wax-works,” dan menyanyikan “Pinafore” untuk keuangan gereja; kemudian kami menjadi lebih
ambisius, belajar dan memiliki kelompok teater, dan
musim dingin yang lalu kami menyewa gedung Mason’s Hall dan mementaskan serangkaian pertunjukan Shakespeare, yang hasilnya dapat membayar33
kan sebagian besar dari hutang gereja. Namun itu
hanyalah pekerjaan kelas dua. Saya ingin melakukan
hal yang nyata, naik ke panggung sebagai sebuah
profesi. Ayah saya tidak akan mengetahui hal ini; tetapi saya berharap suatu saat akan terbuka jalan sehingga saya bisa melaksanakan keinginan saya.
“Dan sementara ini, apakah kamu tidak mau datang kepada Yesus dan diselamatkan?”
“Tidak, saya tidak dapat melakukan itu dan tetap memiliki harapan ini, dan saya tidak akan menghentikan harapan saya.”
“Demikianlah, si pengunjung berlalu dengan sedih, memikirkan kekacauan yang menyedihkan yang
menyebabkan pria dan wanita rela menjual hak kesulungan mulia mereka sebagai anak-anak Tuhan;
juga tentang benih-benih yang telah ditaburkan oleh
sekolah Minggu, lalang di antara gandum, dan panenan yang mengerikan yang akan dihasilkan dari
penaburan benih yang bermaksud baik namun tidak bijaksana.”—Review, 4 Januari 1881.
Kemudian di dalam artikel lain dalam edisi Review yang sama, Nyonya White membahas tentang
masyarakat sastra Advent:
Kami telah mempelajari untuk merancang suatu
rencana bagi pembentukan suatu masyarakat sastra
yang akan memberi keuntungan bagi semua orang
yang terlibat di dalamnya,—sebuah masyarakat yang
seluruh anggotanya akan merasakan suatu tanggung
jawab moral untuk melaksanakan apa yang seharusnya, dan untuk menghindarkan kejahatan yang me34
nyebabkan perkumpulan seperti itu sangat berbahaya bagi prinsip agama. Orang-orang dengan penuh
pertimbangan dan penilaian yang baik, yang memiliki
hubungan yang hidup dengan Surga, yang akan melihat kecenderungan jahat, dan, tidak tertipu oleh Setan,
akan bergerak maju di jalan integritas, terus menerus
memegang panji Kristus,—sebuah kelompok yang seperti ini diperlukan untuk mengontrol di dalam masyarakat. Pengaruh seperti itu akan menghasilkan penghormatan, dan menjadikan perkumpulan ini sebuah
berkat daripada kutuk. Jikalau pria dan wanita dewasa
akan bergabung dengan orang-orang muda untuk mengatur dan menyelenggarakan suatu masyarakat sastra, maka ini akan menjadi berguna dan menarik. Namun ketika perkumpulan seperti ini merosot menjadi
kesempatan bersenang-senang dan sukaria gaduh,
maka tidak ada sesuatu kesastraan ataupun sesuatu
yang mengangkat di sana. Perkumpulan ini akan menjadi kehinaan baik bagi pikiran maupun moral.”—
Review, 1/4/81 (untuk artikel selengkapnya, lihat Lampiran 4).
Kita harus mengingat bahwa tiga tahun sebelum
nasehat ini dituliskan, Luther Warren, berusia 14 tahun dan Harry Fenner, berusia 17 tahun, memulai
sebuah organisasi orang muda dengan tujuan utama, pelayanan Kristen dan keselamatan bagi teman-teman mereka yang keluar dari gereja. Ketika
melacak organisasi-organisasi orang muda yang dimulai dari Warren dan Fenner, Malcolm J. Allen (ketua
Pemuda Advent selama lebih dari 30 tahun dan Di35
rektur Pathfinder dan Orang Muda di General Conference pada saat penulisan bukunya (1995) yang berjudul Divine Guidance or Worldly Pressure (Tuntunan
Ilahi atau Tekanan Duniawi), hlm. 27 & 28 menulis:
Di tahun 1881, perkumpulan orang muda kedua
tercatat dimulai di Mt. Vernon, Ohio, dengan maksud
dan tujuan serupa. Dua puluh lima tahun kemudian,
bermunculan kelompok-kelompok serupa secara mandiri di berbagai belahan dunia. Tampaknya tidak ada
petunjuk resmi yang diberikan oleh gereja. Akan tetapi, sebuah pola kesatuan tampak jelas ketika Tuhan
menuntun gerejaNya untuk bergerak maju bersama.
Anggota-anggota yang menyadari kebutuhan orang
muda menanggapi motivasi dan dorongan Roh Kudus
untuk bekerja bersama mereka. Pada saat yang sama
banyak tulisan muncul dari pena Nyonya E.G. White
yang mendesak suatu pekerjaan bagi orang muda kita
dan agar gereja menerima tanggung jawab terhadap
mereka.
Dimulai dari Luther Warren dan Harry Fenner
di tahun 1879, kelompok-kelompok ini secara alamiah
mulai bermunculan. Pada pergantian abad itu, lebih
dari 70 kelompok orang muda telah terbentuk di dalam
gereja. Ibid., hlm. 47.
Organisasi-organisasi orang muda ini bukanlah
kelompok masyarakat sastra yang khas pada zaman
itu. Mengetahui kebutuhan khusus akan jenis masyarakat sastra bagi orang muda kita, Nyonya White menuliskan nasehat berikut dalam Signs of the Times,
29 Mei 1883:
36
Orang-orang muda, dapatkah anda membentuk perkumpulan, dan sebagai laskar Kristus, mendaftar dalam pekerjaan, memberikan segala kemampuan, ketrampilan dan talenta kepada Pelayanan Tuhan kita, sehingga anda dapat menyelamatkan jiwa-jiwa bagiNya? Biarlah perkumpulanperkumpulan ini dibentuk di setiap gereja untuk
melakukan pekerjaan ini.
Akankah orang-orang muda yang sungguhsungguh mengasihi Yesus bergabung sebagai para pekerja, bukan saja bagi mereka yang mengaku
sebagai pemelihara hari Sabat, melainkan juga mereka yang bukan pemeluk iman keyakinan ini?
Perkembangan selanjutnya akan dibahas lebih
lanjut dalam Bagian Tahun 1900.
1881—Nasehat Ellen White kepada Pelajar di
Battle Creek College yang Tinggal Bersama
Keluarga-Keluarga:
Di masa-masa awal berdirinya Battle Creek
College, belum terdapat asrama. Banyak mahasiswa
tinggal di rumah-rumah keluarga yang berada di sekitar kampus. Bahaya-bahaya “hiburan teatrikal”
secara jelas digambarkan melalui pernyataan berikut yang dituliskan kepada para mahasiswa:
Yang termasuk wilayah kesenangan yang
paling berbahaya adalah teater. Bukannya menjadi
sekolah moralitas dan kebajikan, sebagaimana
yang sering diakui demikian, teater adalah tempat
37
ketidakbermoralan yang terpanas. Kebiasaan-kebiasaan jahat dan kecenderungan-kecenderungan
berdosa diperkuat dan didukung oleh hiburan-hiburan ini. Lagu-lagu rendahan, isyarat-isyarat kotor, ungkapan-ungkapan dan sikap-sikap, menurunkan imajinasi dan menghina moral. Setiap
orang muda yang memiliki kebiasaan menonton
pertunjukan seperti itu akan merosot dalam prinsipnya. Tidak ada pengaruh di negeri ini yang lebih
berkuasa untuk meracuni imajinasi, menghancurkan kesan-kesan rohani, dan menumpulkan kesenangan akan hidup dan kenyataan hidup yang tenang, selain hiburan-hiburan teatrikal. Kecintaan
akan adegan-adegan meningkatkan setiap pemanjaan, seperti keinginan akan minuman beracun
akan memperkuat penggunaannya. Satu-satunya
jalan aman adalah mengutuk teater, sirkus, dan setiap tempat hiburan yang meragukan.—Testimonies, Vol. 4, hlm. 652, 653.
1881—Sanitarium Battle Creek:
Pada masa-masa awal Battle Creek Sanitarium, beberapa orang menyarankan agar Sanitarium
memiliki pertunjukan drama kecil dan kits (drama
pendek) untuk menghibur dan mendidik pasien. Tuhan
memberikan Ellen White kesaksian berikut tentang
masalah ini dalam sebuah artikel yang berjudul “Position and Work of the Sanitarium” (Kedudukan dan
pekerjaan Sanitarium):
38
Hiburan-hiburan teatrikal atau duniawi tidak
mendasar bagi kesejahteraan Sanitarium ataupun
bagi kesehatan para pasien. Semakin banyak mereka memiliki kesenangan semacam ini, semakin
sedikit mereka akan merasa senang kecuali jika
hal semacam ini terus menerus diadakan. Pikiran
ini sedang dalam keadaan demam keresahan akan
sesuatu yang baru dan menggembirakan, sesuatu
yang justru tidak boleh dimiliki (oleh pasien). Dan
jikalau hiburan-hiburan ini sekali saja diizinkan,
maka orang akan terus berharap, dan pasien akan
kehilangan kesukaan akan pengaturan cara menghabiskan waktu secara sederhana.—Testimonies,
Vol. 4, hlm. 578.
1883—Pengamatan Ellen White Ketika Dalam
Perjalanan:
Duduk di kursi di sebelah kami di dalam kereta
adalah seorang artis, tampaknya seorang wanita yang
memiliki kemampuan dan banyak kualitas yang baik,
yang jikalau dibaktikan untuk pelayanan Tuhan, mungkin memenangkan baginya pujian Tuhan, “Baik, kamu
hamba yang baik dan setia.” Wanita ini dan saya sendiri adalah aktor-aktor dalam panggung kehidupan, tetapi, oh, betapa besar perbedaan pekerjaan kami! Saya tidak merasakan sedikitpun godaan untuk menginginkan kehormatannya, saya tidak dahaga akan
sambutan tepuk tangan dari banyak orang yang
39
suka kesenangan dan kebodohan yang mencari kegembiraan yang tidak alami di dalam drama.
Teater adalah tempat buruk untuk memperkuat prinsip-prinsip kebajikan. Sebaliknya, pengaruhnya sangat berbahaya baik kepada kesehatan
maupun moral. Pengawal wanita ini mengatakan
bahwa agak berat baginya kehilangan waktu tidurnya dari malam ke malam hingga jam dua atau tiga
pagi, dan kemudian menghabiskan sebagian besar
siang hari untuk tidur. Aturan yang telah ditetapkan ilahi tentang siang dan malam hari diabaikan,
kesehatan dikorbankan, demi hiburan bagi orangorang yang lebih mencintai kesenangan daripada
mencintai Tuhan. Akibatnya adalah merendahkan
moral bagi semua yang terlibat. Dua atau tiga malam seminggu yang dihabiskan untuk menghadiri
pesta, atau pertunjukan opera atau teater,akan melemahkan baik pikiran maupun tubuh, dan mencegah perkembangan kekuatan tabiat yang mendasar dan bermanfaat bagi masyarakat. Satu-satunya
hiburan yang aman adalah yang tidak mengasingkan pemikiran keyakinan yang sungguh-sungguh;
satu-satunya tempat yang aman adalah tempat di
mana kita dapat membawa Yesus bersama kita.—
Review, “Notes of Travel,” 6 November 1883.
1888 – Cucu Perempuan Ellen White Bermain
Sebagai Malaikat dalam Drama Kecil:
Pada hari Sabat pagi, 22 Desember 1888, Ellen
White menghadiri sebuah pertunjukan teatrikal yang
40
diselenggarakan oleh Sekolah Sabat Battle Creek
yang di dalamnya cucu perempuannya yang berumur
6 tahun, Ella W. White, bermain dan memakai kostum sebagai malaikat. Ada dekorasi panggung, aktor,
musik dan puisi. Empat hari kemudian, pada hari Rabu
pagi, 26 Desember 1888, ia menulis sebuah surat kepada Saudara Morse. Di dalam suratnya tampak jelas
bahwa Nyonya White mengutuk program tersebut.
Ketika anda selesai membaca surat kepada Saudara
Morse secara keseluruhan, yang diambil dari 2MR,
hlm. 235-238 (Letter 5, 1888), anda akan memahami
mengapa ia membuat pernyataan berikut (lihat Lampiran 5 tentang surat itu secara lengkap). (Definisi
dari kata “mengutuk” adalah mengumumkan bahwa sesuatu itu patut dicela, salah atau jahat, biasanya setelah mempertimbangkan bukti-bukti dan
tanpa keraguan”—Webster’s Ninth New Collegiate
Dictionary.)
Saya harus mengatakan bahwa saya menderita
karena hal-hal ini, begitu tidak sejalan dengan pekerjaan reformasi yang sedang kami majukan di dalam
gereja dan di dalam lembaga-lembaga kita, sehingga
saya seharusnya merasa lebih baik jikalau saya tidak
hadir.—2MR, hlm. 236.
Surat ini akan dibahas lebih lanjut ketika meninjau sebuah tulisan oleh A. L. White di tahun 1963
berjudul “Dramatic Productions in SDA Institutions” (Produksi-produksi drama dalam lembagalembaga MAHK).
41
1890—Komentar-komentar tentang Kesesatan di
Yordan:
Tampak dalam bahan dari bab yang berjudul
“Apostasy at the Jordan” (Kesesatan di Yordan), dalam buku Patriarchs and Prophets (Para Nabi dan
Bapa), bahwa orang-orang Kristen dapat menjadi
rusak melalui pertunjukan drama sebagaimana
bangsa Israel kuno di Baal-peor. Pemujaan di kuil
Baal-peor dalam bentuk drama memikat anak-anak Israel menuju kompromi yang mematikan. Apakah
ada perbedaannya pada hari ini? Kita diperingatkan:
Banyak kesenangan-kesenangan yang populer di dunia sekarang ini, bahkan bagi orang-orang
yang mengaku diri orang Kristen sekalipun, cenderung memiliki akhir yang sama seperti kesenangan
kafir. Sesungguhnya hanya sedikit dari hiburan
tersebut yang tidak diperhitungkan oleh Setan untuk menghancurkan jiwa-jiwa. Melalui drama, ia bekerja di berbagai zaman untuk menggairahkan nafsu dan memuja kejahatan. Opera, dengan pertunjukan yang mempesona dan musik yang membingungkan, pesta topeng, tari-tarian, meja kartu,
Setan menggunakan semuanya ini untuk menghancurkan batasan-batasan prinsip dan membuka
pintu bagi kemanjaan sensual. Dalam setiap pertemuan demi kesenangan yang mendorong keangkuhan atau memanjakan selera, dimana orang digiring untuk melupakan Tuhan dan kehilangan pandangan akan minat kepada perkara-perkara yang
42
kekal, di sana Setan mengikatkan rantainya di sekeliling jiwa-jiwa.—Patriarchs and Prophets, hlm.
459. (Para Nabi dan Bapa)
1893—Nasehat tentang Acara-acara Sekolah
Sabat:
Anak-anak dapat dengan cepat dilatih dalam
“kebanggaan dan kesenangan akan pertunjukan.”
Ciri-ciri ini dapat didorong oleh acara-acara Sekolah Sabat. Nyonya White menyuarakan peringatan
dalam jurnal Christian Education, yang dibukukan
dalam Fundamentals of Christian Education, hlm.
253:
Dalam Sekolah Sabat, pria dan wanita diterima sebagai pejabat dan guru-guru, yang tidak memiliki pikiran rohani, dan tidak menghidupkan minat dalam pekerjaan yang diberikan kepada mereka; namun hal-hal ini dapat diatur menjadi baik hanya melalui bantuan Roh Kudus. Kejahatan yang
sama telah terjadi bertahun-tahun sebagaimana
yang ada di dalam gereja-gereja kita. Formalitas,
kebanggaan, dan kesenangan akan pertunjukan telah mengambil alih kesetiaan yang sejati dan kesalehan yang sederhana. Kita dapat melihat suatu
keteraturan yang berbeda jikalau saja orang-orang
mengasingkan dirinya sepenuhnya bagi Tuhan,
dan kemudian membaktikan talenta mereka untuk
pekerjaan Sekolah Sabat, selalu bertambah dalam
pengetahuan, dan mendidik dirinya sendiri se43
hingga mereka akan dapat mengajar orang lain dengan metode terbaik untuk diterapkan di dalam pekerjaan ini; akan tetapi para pekerja tidak perlu
mencari metode-metode untuk membuat pertunjukan, menghabiskan waktu dalam pertunjukanpertunjukan teater dan musik, karena ini tidak
memberi manfaat bagi siapapun. Tidak baik bagi
anak-anak untuk dilatih untuk berpidato dalam
acara khusus. Mereka harus dimenangkan kepada
Kristus, dan sebagai ganti dari menghabiskan
waktu, uang, dan usaha untuk membuat sebuah
pertunjukan, biarlah seluruh usaha dilakukan untuk mengumpulkan hasil panenan.
Dan pernyataan berikut ini oleh Nyonya White
menekankan pernyataan sebelumnya dan diambil dari
Counsels on Sabbath School Work, hlm. 46:
Kebanggaan, kekaguman akan diri sendiri,
dan keberanian adalah ciri-ciri nyata anak-anak
masa kini, dan ini semua adalah kutukan bagi zaman ini. Ketika saya melihat hal yang tidak sesuai
dengan Kristus ini, pernyataan yang tanpa kasih
dalam segala sisinya, dan kemudian melihat para
orangtua dan guru-guru, yang berusaha mempertunjukkan kemampuan dan pengetahuan anakanak dan para murid mereka, saya merasakan kepedihan di dalam hati; karena saya mengetahui
bahwa ini adalah jalan yang berlawanan dengan jalan yang harus kita tempuh.
44
1893—Akal Dikacaukan oleh Pertunjukanpertunjukan Teater:
Lagi-lagi, kita dinasehati untuk melindungi orang
orang muda kita dari pertunjukan-pertunjukan teatrikal ketika mereka menempuh pendidikan, karena ini
akan mengacaukan akal mereka sementara kebenaran sedang dinyatakan kepada mereka.
Pekerjaan Setan adalah menggiring manusia
untuk mengabaikan Tuhan, memikat dan menyerap pikiran sehingga Tuhan tidak ada di dalam pikiran mereka. Pendidikan yang mereka terima memiliki watak mengacaukan pikiran, dan menutupi
terang yang sejati. Setan tidak menginginkan agar
orang-orang memiliki pengetahuan tentang Tuhan;
dan ia akan sangat puas jikalau ia dapat mengadakan permainan-permainan dan pertunjukan-pertunjukan teatrikal yang akan mengacaukan akal orang
orang muda, sehingga manusia akan musnah dalam kegelapan sementara terang bersinar di sekeliling mereka.—Review, 13 Maret 1900.
1900—Nasehat tentang Ruang Perkuliahan dan
Masyarakat Sastra: Tinjauan Ulang
Sembilan belas tahun kemudian, Nyonya White
mengulangi kembali nasehatnya yang diberikan dalam
Review di tahun 1881 tentang masyarakat sastra dan
ruang-ruang perkuliahan. Menulis kepada organisasi-organisasi pemuda MAHK, yang anggota-anggo45
tanya mulai menggunakan panggung dan drama di
dalam perkumpulan masyarakat sastra dan ruangruang perkuliahan mereka, ia berkata:
Jikalau ruang-ruang perkuliahan dan masyarakat sastra anda dibuat sebagai sebuah kesempatan
untuk membahas Alkitab, itu akan lebih menjadi masyarakat intelek daripada jikalau perhatian dialihkan
kepada pertunjukan-pertunjukan teatrikal. Betapa
kebenaran-kebenaran yang agung dan mulia yang harus diperhatikan oleh pikiran dan digali dari Firman
Tuhan!
Orang-orang yang menjadi anggota kelompokkelompok masyarakat sastra, yang mengaku mengasihi dan menghormati perkara-perkara yang kudus,
namun mengizinkan pikirannya merosot kepada
perkara-perkara yang dangkal, yang tidak nyata,
yang sederhana dan murahan, peran-peran fiktif,
adalah sedang melakukan pekerjaan iblis sama seperti ketika mereka menonton dan bergabung dengan pemandangan-pemandangan ini.—MS 41,
1900, hlm. 246. 1.
Setelah membaca artikel yang lengkap, tampak
bahwa kompromi dan kebimbangan tentang drama
dan fiksi terjadi berangsur-angsur di dalam gereja.
Nasehatnya adalah bahwa masyarakat sastra dan ruang perkuliahan haruslah digunakan untuk mendukung pencarian firman Tuhan. (Artikel selengkapnya lihat Lampiran 6).
Malcolm J. Allen, pemimpin Pemuda Advent
General Conference menulis dalam bukunya Divine
46
Guidance or Worldly Pressure? Youth Ministries in
the Seventh-day Adventist Church (Tuntunan ilahi
atau tekanan duniawi? Pelayanan orang muda dalam
gereja MAHK), menggambarkan keadaan gereja pada
pergantian abad tersebut.
Flora Plummer, yang secara aktif terlibat dalam
pekerjaan dan perkembangan pelayanan orang muda
di gereja pada saat itu, secara jelas menggambarkan
masalah yang dihadapi gereja sehubungan dengan
orang muda di tahun 1901.
Hingga tahun 1901 tidak diambil satu langkah apapun oleh General Conference tentang perkembangan pekerjaan orang-orang muda. Keadaan
pada saat itu sangat tidak mendukung. Sementara pengaruh dari apa yang telah dilakukan hanya dapat
dirasakan oleh beberapa konferens saja, tidak ada keseragaman di dalam tindakan. Rencana organisasi
bervariasi menurut gagasan pemimpin-pemimpin konferens masing-masing. Perkumpulan-perkumpulan dibentuk, dan seringkali tidak berkelanjutan karena kurangnya minat. Beberapa diselenggarakan sedemikian
sehingga menjadi celaan bagi gerakan secara keseluruhan. Kesulitan-kesulitan dihadapi. Tampaknya penghalang-penghalang tak terhingga banyaknya bermunculan. Konservatisme menyuarakan seruan tanda
bahaya.
Pada saat yang sama masing-masing gereja
dan kelompok-kelompok orang percaya berhadapan
dengan kenyataan bahwa anak-anak dan orang muda
kehilangan minat akan pekabaran, dan semakin ce47
pat menjauh. Pikiran-pikiran yang tenang mulai bertanya, di manakah orang-orang muda kita sepuluh tahun yang lalu? Apakah bagian mereka dalam tanggung jawab akan pekerjaan Tuhan? Apakah gereja-gereja kita di manapun secara materi memperkuat dan
membantu untuk memusatkan tenaga, antusiasme dan
kestabilan dari orang-orang perkasa yang beberapa tahun sebelumnya adalah anak-anak dalam jemaat kita?
Jawaban yang harus diberikan oleh setiap gereja akan
pertanyaan tersebut menunjukkan kebutuhan yang
universal akan usaha-usaha yang diarahkan dengan
baik untuk melaksanakan perintah Roh Nubuat delapan tahun yang lalu—Flora Plummer, “Early
History of the Seventh-day Adventist Young People’s work” (G.C. Archives, No. LF 3048) hlm. 53, 54.
Setelah Pertemuan General Konferens tahun
1901, Komite General Konferens membebankan tanggung jawab pengaturan program orang muda di tangan Departemen Sekolah Sabat. Nyonya Plummer,
Sekretaris GC di Departemen Sekolah Sabat, menulis
kepada Nyonya White untuk meminta nasehat sebelum merancang sebuah rencana bagi organisasi.
Saya bermaksud berkonsultasi dengan anda perihal Pekerjaan Orang Muda, mengingat pengalaman
anda adalah sangat berharga. Yang sangat mengejutkan saya adalah bahwa saya menduduki jabatan di
mana saya ditugaskan untuk merencanakan gerakan
tersebut, karena General Konferens telah meletakkannya di bawah tanggung jawab Departemen Sekolah
Sabat.
48
Keadaannya adalah begini: di berbagai tempat—namun sebagian besar di dalam gereja-gereja
kita—selama dua tahun terakhir, perkumpulan-perkumpulan orang muda telah dibentuk. Semuanya ini
menerapkan peraturan dan undang-undang yang panjang atau pendek, dan banyak telah dilakukan demi
pelaksanaan pekerjaan ini. Di beberapa tempat hasilnya adalah cukup baik, sementara di tempat lain adalah kegagalan. Penyebab kegagalan adalah karena
orang-orang muda memilih kepengurusan, komite-komite, program mereka sendiri, dll, tanpa berkonsultasi dengan gereja, dan roh bekerja telah hilang dalam usaha untuk mendapatkan unsur “hiburan,”
“perbaikan bersama,” dan ciri-ciri sosial dalam
“perkumpulan tersebut,” yang merupakan perangkap bagi orang muda kita. Gereja tidak dapat berbuat
apa-apa, karena di dalam perundangan itu mereka tidak disertakan. Keadaan ini tidak berlaku untuk seluruh perkumpulan, namun bahaya ini selalu ada—Ibid.,
Allen, hlm. 56, 57.
Allen menyampaikan kepada pembacanya jawaban Nyonya White melalui anaknya, W. C. White
dalam surat tertanggal 15 Juli 1901. Jawaban dari W.
C. White tiba dalam beberapa hari.
Saudari yang kekasih,
Surat anda tertanggal 11 Juli tiba di tangan saya
beberapa hari yang lalu dan dibaca dengan penuh minat. Saya menyampaikannya kepada Saudari Druillard dan memintanya membacakan untuk Ibu dan Sau49
dara Peck dan mengumpulkan terang yang dia peroleh sehubungan dengan pertanyaan yang anda sampaikan. Ini telah dilakukan. Ibu berkata bahwa telah
ditunjukkan kepadanya dan bahwa ia telah menulis
tentang pekerjaan orang muda, dan roh dan tenaga,
dan usaha-usaha yang berjangkauan luas demi semua
kelompok orang dan segala lini pekerjaan orang Kristen, sebagaimana dilaporkan melalu para pejabat
dalam The Christian Endeavor Societies (Masyarakat Usaha Kristen). Usaha-usaha ini telah mengesankan beliau sebagai usaha yang layak ditiru, dan telah diinstruksikan kepada beliau bahwa tenaga, kesetiaan dan kewaspadaan dan pengabdian dalam
masyarakat-masyarakat ini menjadi teladan bagi
umat kita, daripada rencana organisasi, undangundang dan mekanismenya. (Surat dari W.C. White
kepada L.Flora Plummer, ditulis dari St. Helen,
Kalifornia, 25 Juli 1901).
Nasehat itu jelas. Kita tidak boleh meniru dunia dalam hal struktur, organisasi ataupun mekanisme pelaksanaannya bagi perkumpulan-perkumpulan orang muda kita. Kita juga dihimbau untuk tidak meniru program-program ataupun isinya. Apa
yang dianggap sebagai bernilai untuk diteladani adalah tenaga, kesetiaan, dan dedikasi kepada prinsipprinsip keselamatan dan pelayanan yang terbukti dalam Christian Endeavor Society. Ibid. Allen, hlm. 59.
Tahun 1907, dalam Pertemuan General Conference di Gland, Swiss, dibentuk Departemen
Orang Muda dalam General Konferens. Departemen
50
ini diserahkan di bawah pimpinan M. E. Kern yang
handal dan segera “Missionary Volunteer Society”
(Masyarakat Sukarelawan Misionaris) dikembangkan.
Khayal Ellen White tentang masyarakat sastra
yang tepat dicapai melalui pendirian “Missionary Volunteer Society” (Masyarakat Sukarelawan Misionaris). Di bawah kepemimpinan orang-orang yang berpengalaman dengan kasih yang mendalam kepada
orang muda dan Pekabaran Tiga Malaikat, masyarakat-masyarakat ini memenangkan ribuan orang kepada Kristus dan pekabaran Advent melalui pelayanan
orang muda kepada orang muda dan orang dewasa.
Banyak pekerja muda gereja memperoleh hasrat bekerja demi keselamatan jiwa-jiwa karena pengaruh dari Masyarakat Sukarelawan Misionaris Junior dan Senior, dan melalui membaca buku-buku yang disarankan oleh Masyarakat tersebut yang mencerminkan
kehidupan orang-orang misionaris Kristen yang besar.
Kematian dari MV Societies adalah sebuah komentar yang menyedihkan dan panjang. Bagi orangorang yang hendak mempelajari topik ini secara lebih
mendalam, penulis sangat menyarankan untuk membaca buku Malcolm J. Allen. Buku ini tidak terbit lagi,
tetapi hampir seluruh perpustakaan universitas Advent
memiliki satu edisinya.
1902 bulan Maret—Sikap Dewan Sekolah Walla
Walla College terhadap Kantata Ratu Ester.
51
Pada saat persiapan akhir sedang dilakukan bagi pertunjukan paduan suara kantata Ratu Ester, di
kampus Walla Walla College, anggota dewan sekolah hadir untuk suatu pertemuan. Latihan pertunjukan
itu mendapat perhatian yang cukup besar oleh dewan
sebagaimana dicatat dalam tindakan resmi dewan
pada tanggal 31 Maret 1902:
Sementara tampaknya bagi Dewan Manajer
Walla Walla College bahwa penyelenggaraan kantata Ester dengan kostum dan panggung bukanlah
demi manfaat sekolah, maka, diputuskan, bahwa kami meminta orang-orang yang bertanggung jawab atas
masalah ini untuk mengusahakan agar penyelenggaraan dilakukan dalam lagu tanpa kostum, panggung
ataupun akting.
Dewan Manajer meminta orang-orang yang berhubungan dengan Walla Walla College untuk mengadakan dengan segera usaha-usaha untuk mengubah
keadaan saat ini dan meningkatkan nada dan roh sekolah ini untuk mencapai tujuan ideal sekolah ini didirikan. Kami selanjutnya mengarahkan bahwa untuk
selanjutnya di dalam ruang ibadah ataupun ruangruang lainnya dalam lembaga ini tidak boleh didirikan panggung, kostum, atau tirai dipasang, sehingga tidak ada pentas hiburan umum yang membutuhkan hal-hal semacam itu.—Sixty Years of Progress at Walla Walla College, p. 136.
Mohon agar kejadian ini diingat kembali ketika
membaca bahan tentang drama di Walla Walla College dalam bagian tahun 2000 dan 2001.
52
1902 bulan Oktober—Peringatan tentang Membaca
[menonton film] Fiksi [drama]:
Sementara nasehat ini dituliskan kepada anggota Gereja MAHK untuk mengungkapkan bahaya
fiksi; drama dan fiksi adalah hampir sama. (Silakan
baca Lampiran 7 tulisan Leslie Hardinge.)
Di tahun 1902, Ellen White menulis sebuah artikel dalam Youth Instructor tanggal 9 Oktober 1902.
Di dalamnya ia menuliskan secara lengkap bahayabahaya bagi orang muda dan dewasa tentang membaca fiksi. Di manapun ia menggunakan kata “membaca,” “pembaca,” dan “bacaan” dalam kutipan di bawah ini, ditambahkan kata-kata “menonton film,” “penonton film,” dan tontonan film” dalam kurung; pada
kata-kata “buku-buku,” “kisah-kisah,” “cerita-cerita,”
“kisah cerita,” dan “karya sastra” telah ditambahkan
kata-kata “film” dan “film-film”; pada kata “fiksi” ditambahkan kata “drama”; pada kata “menerbitkan” ditambahkan kata “mementaskan”; pada kata “penulis” ditambahkan kata “sutradara.” Mungkin ini tampaknya
membingungkan, namun setelah membaca artikel selengkapnya dalam Lampiran 8, pembaca akan memahaminya. Hanya dua paragraf dikutip di sini.
Setan mengetahui bahwa pikiran sangat dipengaruhi oleh apa yang dimasukkan ke dalamnya. Ia berusaha menggiring baik orang muda maupun orang dewasa untuk membaca [menonton]
buku-buku cerita, kisah-kisah dan karya sastra
lainnya [film, film-film]. Para pembaca [penonton
53
film] dari karya sastra seperti itu [drama] menjadi
tidak siap dengan kewajiban yang terletak di hadapan mereka. Mereka hidup dalam kehidupan
yang tidak nyata, dan tidak memiliki keinginan untuk meneliti Kitab Suci, untuk makan manna surgawi. Pikiran yang membutuhkan penguatan menjadi dilemahkan, dan kehilangan kuasanya untuk
mempelajari kebenaran-kebenaran agung yang
menghubungkan misi dan pekerjaan Kristus—kebenaran yang akan membentengi pikiran, membangunkan imajinasi dan menyalakan hasrat yang
tulus dan kuat untuk menang sebagaimana Kristus telah menang.
Jikalau saja sejumlah besar buku-buku [drama] yang diterbitkan [dipentaskan] dilahap, sebuah
bencana akan tetap tinggal yang melakukan pekerjaan yang mengerikan pada pikiran dan hati. Kisah-kisah cinta, kisah-kisah [film-film] yang menggairahkan dan sembrono, dan bahkan kelas bukubuku [film-film] yang disebut novel keagamaan
[film rohani]—buku-buku [film-film] yang di dalamnya si penulis [sutradara] menempelkan suatu pesan moral,--adalah sebuah kutukan kepada para
pembacanya [para penontonnya]. Perasaaan-perasaan keagamaan barangkali dijalin di sepanjang
buku cerita [film] itu, namun dalam sebagian besar
kasus, Setan yang berjubah malaikat, semakin
efektif dalam menipu dan memikat. Tidak ada
orang yang begitu kuat dalam prinsip-prinsip yang
benar, tidak ada orang yang begitu aman dari
54
pencobaan, sehingga mereka terlindungi ketika
membaca [menonton] kisah-kisah [film-film] ini.
Penulis makalah ini telah meninjau setiap “kemunculan” kata. Jumlah “kemunculan” pada setiap kata
dalam kurung dalam CD penelitian Legacy of Light
Spirit of Prophecy edisi 1999 untuk kata drama (42),
drama-drama (4), aktor (47), aktor-aktor (69), aktris (6)
fiksi (86), teater (139), teater-teater (43) dan teatrikal
(121). Semua kata-kata ini dalam konteks seni drama
ditemukan sangat sesuai dengan bahan yang disampaikan dalam bagian di atas. Setiap orang yang memiliki tulisan-tulisan E. G. White dalam bentuk CD, dan
meninjau pernyataan-pernyataan sehubungan dengan
kata-kata tersebut akan menjadi yakin bahwa nasehat
Ellen White tidak gagal untuk mengungkapkan kutukan menyeluruh terhadap acara-acara yang
dilakonkan.
Sejak Zaman Ellen White Hingga Akhir Tahun
1940-an
Setelah kematian Nyonya White, dan hingga
pertengahan dan akhir tahun 1940-an, kepemimpinan gereja mempertahankan standar-standar Alkitabiah yang diterima dari para pionir Gereja
MAHK. Dari tulisan-tulisan mereka yang dipublikasikan, jelaslah bahwa mereka sangat percaya dan
menentang segala jenis drama digunakan dalam
Sekolah Sabat, acara khotbah ataupun lembagalembaga pendidikan kita. Nasehat tentang drama se55
belum dan segera setelah kematian Ellen White berkisar tentang teater langsung, yang kemudian disebut
“teater resmi” yang dibedakan dengan gambar film
bergerak.
Sebelum tahun 1903, ketika karya film Edwin
Porter, The Great Train Robbery, merevolusi industri film bergerak, film-film awal saat itu dibuat dalam setting teater, banyak yang merupakan rekaman
dari drama panggung. Produksi ini barangkali adalah
awal dari seni penyuntingan, atau pengubahan adegan
di sekitarnya, dalam gambar bergerak. Di tahun 1915,
D.W. Griffith mengeluarkan The Birth of a Nation.
Film ini berdurasi hampir 3 jam dan sepenuhnya diiringi latar belakang musik orkestra, yang dimainkan
oleh orkestra teater. Sementara industri bertumbuh,
gedung-gedung bioskop berkembang subur. Proyektor
dapat diputar setiap dua atau tiga jam, tidak membutuhkan pemain atau dekorasi di dalam bioskop, dan
“hiburan” jenis ini menjadi mudah diperoleh dan dibeli
oleh publik secara umum. Orang-orang Advent tidak
kebal terhadap menonton “film bisu.” Namun kepemimpinan gereja terus menerus menyuarakan peringatan-peringatan tentang teater langsung dan “layar perak.”
Sebagai tambahan, mereka yang masih muda
ataupun dewasa di tahun 40-an hingga awal 80-an,
mengingat dengan jelas tim musik yang menyediakan
musik bagi Voice of Prophecy. Brad Braley memainkan organ, Olive Braley memainkan piano, dan
56
Del Delker dan the King’s Heralds bernyanyi, kualitas dan watak musiknya adalah sempurna.
Brad adalah “penghibur” organ film bisu,
dan juga tukang reparasi organ. Ia dipanggil untuk
memasang sebuah organ di Southern Missionary
College (sekarang bernama Southern Adventist University). Di sana ia bertemu dengan Olive Rogers, seorang guru musik di kampus tersebut. Kisah cinta berkembang dari pertemuan itu dan kemudian Brad memilih menjadi orang Kristen MAHK dan menikahi
Olive. Banyak pembaca mungkin masih ingat musik
indah yang dimainkan Olive dan Brad ketika mereka
mengiringi H. M. S. Richards, Del Delker, dan The
King’s Heralds pada serangkaian pertemuan perkemahan musim panas, Pertemuan General Konferens,
dan juga dari rekaman-rekaman musik mereka.
Setelah Brad menjadi seorang Kristen, ia meninggalkan bermain musik untuk “layar perak” karena ia menyadari bahwa karya-karya industri musik tidak sesuai dengan profesi seorang Kristen.
Brad dan Olive bercerita kepada saya bahwa setelah
kematian H.M. S. Richards, tim Voice of Prophecy
yang baru menginginkan agar mereka memasukkan lebih banyak “beat” (hentakan) ke dalam musiknya. Keduanya menolak menuruti permintaan
ini, karena merasa arah musik duniawi dapat menguasai gereja kita.
Sementara tulisan ini bukan penelitian yang menyeluruh tentang peringatan-peringatan kepemimpinan
selama tahun-tahun tersebut, yang dikirimkan kepada
57
anggota MAHK melalui Review, pekabaran-pekabaran
tersebut adalah konsisten dan langsung.
1926—Sebuah
Peringatan
Terhadap
Bergerak dan Teater-teater Lainnya
Layar
Sekitar sebelas tahun setelah kematian Ellen
White, Review menyuarakan peringatan yang jelas
kepada anggota gereja tentang “layar perak.” Pertemuan Dewan di Musim Gugur yang diselenggarakan
di Des Moines, Iowa, melahirkan sebuah resolusi. Dalam edisi tanggal 11 Februari 1926, Penatua Wilcox
membagikan resolusi Pertemuan Musim Gugur dan
memberikan nasehat berikut:
Dengan segala sarana yang ada di dalam kuasanya, Setan sedang berusaha untuk mengubah
penghuni bumi ini untuk menjauh dari Tuhan. Usaha-usahanya berbagai macam, perangkap-perangkapnya adalah berlipat-lipat. Ia tidak peduli apa sarana yang digunakannya asalkan dapat mencapai
tujuannya yang mematikan. Usaha-usaha demi
mencapai keunggulan, kecintaan akan kehidupan
dan kedudukan sosial, dan iming-iming emas, perjuangan demi kompetensi, dan ambisi pendidikan,
minat akan kesenangan,--semua ini dan banyak lagi sarana yang digunakan si penipu besar itu untuk
membuat manusia agar melupakan Tuhan, dan
membiarkan waktu dan tenaga mereka menjadi begitu terpikat sehingga pada akhirnya menggiring
kepada kehancuran final.
58
Terhadap beberapa kejahatan besar yang diselenggarakan di Des Moines, Iowa sebelumnya, Dewan
Pertemuan Musim Gugur menyuarakan peringatan
pasti kepada saudara-saudara seiman. Resolusi berikut ini disebarkan tentang gambar bergerak dan
hiburan-hiburan komersial:
MENGINGAT, kebutuhan untuk mengangkat
standar terhadap setiap pengaruh yang mengancam kehidupan dan kesejahteraan gereja, dan
MENIMBANG, gambar bergerak atau teater
lainnya semakin menjadi ancaman bagi moralitas
dan berpengaruh dalam menghancurkan kerohanian, dalam banyak kasus menggiring kepada standar kehidupan yang rendah dan palsu, maka,
DIPUTUSKAN, bahwa Dewan ini mengumumkan ketidaksetujuannya yang mendalam tentang
menonton teater gambar bergerak dan tempat-tempat hiburan yang meragukan lainnya, dan mengingatkan para pekerja, pejabat gereja dan anggota
awam, tua dan muda, untuk menjauh dari praktekpraktek jahat ini.
MENIMBANG bahwa kita sedang hidup di hari-hari terakhir, di mana “manusia mencintai kesenangan lebih daripada mencintai Tuhan,”
DIPUTUSKAN, bahwa kami memperingatkan
umat kami terhadap roh zaman yang cinta kesenangan ini, dan hiburan-hiburan komersial yang
telah meluas.
Kami meminta perhatian pembaca terhadap sebuah laporan dari sebuah khotbah oleh Penatua M.E.
59
Kern dalam Review edisi ini (11 Februari 1926).
Khotbah ini disampaikan di hadapan para mahasiswa
di Washington Missionary College dan para perawat
di Washington Sanatorium pada kebaktian Sabat pagi beberapa waktu sebelumnya.
Saudara Kern secara khusus berbicara tentang
watak dari teater gambar bergerak, dan pengaruh
besar bentuk hiburan ini kepada dunia. Tidak perlu
mengulang kembali pernyataannya dalam artikel ini.
Kami sangat sejalan dengan kesimpulannya, dan kami
menganjurkan orang muda dan tua untuk membaca
khotbah ini.
Adalah menyedihkan bahwa kita perlu menyerukan dalam kolom-kolom majalah gereja sebuah peringatan terhadap kejahatan-kejahatan besar
ini. Namun demikian, kita harus percaya, dari surat-surat yang datang kepada kami dari berbagai
lapangan, bahwa ada sejumlah saudara-saudara
kita yang menyerah kepada pengaruh yang tidak
kudus ini. Sayangnya, orang-orang yang terpengaruh itu bukan hanya anggota-anggota gereja yang
lebih muda. Beberapa saudara-saudara kita yang
lebih tua telah begitu kehilangan roh kehadiran
Kristus yang sejati di dalam hati mereka, sehingga
mereka menjadi pengunjung setia tempat-tempat
hiburan yang meragukan ini. Dan yang lebih menyedihkan lagi adalah mengetahui bahwa kadangkala ada pembicara MAHK yang menjadi pengunjung bioskop yang setia. Teks tulisan Wilcox selengkapnya terdapat dalam Lampiran 9.
60
1926—Khotbah M.E. Kern Di Hadapan Mahasiswa
Washington Missionary College dan Para Perawat
Washington Sanitarium:
Dalam sebuah khotbah di sekolah dan sanitarium, yang disebutkan oleh Penatua Wilcox, Penatua
M. E. Kern secara jelas menggariskan bahaya-bahaya teater langsung dan industri film sekuler.
Khotbah ini adalah pemaparan yang penuh informasi
dan penalaran. Berikut ini adalah bagian dari pemaparan M. E. Kern, “Teater,” yang diterbitkan dalam
Review, 11 Februari 1926, Artikel selengkapnya lihat
Lampiran 10.
Salah satu bentuk hiburan komersial yang paling luas penyebarannya pada saat ini adalah teater.
Melalui penemuan proyektor gambar bergerak, pertunjukan-pertunjukan teater telah menjadi tersedia
bagi semua kota kecil dan juga kota besar…
Bagaimana dengan teater? Selama lebih dari
24 abad teater telah ada. Apakah rekornya? Kesaksian sejarah menyatakan bahwa teater selalu merupakan ancaman bagi moral. “Para penulis besar
klasik seperti Plato, dan Aristoteles, dan Avid dan
Juvenal, dan Tacitus, dan penulis lainnya menulis
keras menentang teater,—bukan sekedar menentang kejahatan dan kekerasan insidental, melainkan menentang pengaruh dan kecenderungannya
sebagai sebuah lembaga.” Solon, seorang pembuat hukum yang besar di Yunani, mengutuk profesi
ini bahwa “melalui rangsangannya cenderung ke61
pada tabiat yang palsu, dan melalui pengungkapan perasaannya tidak jujur dan tulus, merusak integritas manusia.” Sejarawan Schaff mengatakan
bahwa teater Romawi menjadi “rumah kejahatan,”
dan Macaulay mengatakan bahwa dari sejak teater
dibuka di Inggris, teater-teater menjadi “seminariseminari kejahatan.”
Bioskop adalah teater modern massal (banyak orang) dan telah mewarisi segala kesalahan
dari pendahulunya, dan lebih banyak lagi. Seorang
penulis yang dikutip dalam Literary Digest edisi 14
Mei 1921, dalam sebuah artikel tentang “The NationWide Battle Over Movie Purification” (Pertempuran
nasional melawan pemurnian bioskop) mengatakan:
Kita tidak mengetahui moral dari bioskop yang
lebih buruk daripada moral-moral panggung. Akan tetapi bioskop yang salah lebih berbahaya, karena
bioskop menjangkau lebih banyak orang, dan khususnya lebih banyak anak-anak yang lebih mudah
menerima kesan dan meniru ….
Nyonya Ellen O’Grady, sebelumnya wakil komisaris polisi Kota New York, mengatakan kepada
Parlemen New York dalam sebuah dengar pendapat
tentang perencanaan hukum pengaturan gambar bergerak:
Saya mengetahui dari pengalaman saya sendiri bahwa sebagian besar kenakalan remaja adalah disebabkan oleh pengaruh jahat film-film. Saya akan mengutip kasus demi kasus anak-anak lelaki
62
dan perempuan yang menjadi salah karena filmfilm…
Tampaknya, saudara-saudara kekasih, bahwa
satu-satunya jalan yang aman adalah “Janganlah
menempuh jalan orang fasik, dan janganlah mengikuti jalan orang jahat. Jauhilah jalan itu, janganlah
melaluinya, menyimpanglah dari padanya dan jalanlah terus.” Amsal 4:14, 15. Dan kita seharusnya
berdoa, “Lalukanlah mataku dari pada melihat hal
yang hampa, hidupkanlah aku dengan jalan-jalan
yang Kautunjukkan!” Mazmur 119:37.
Yang terakhir, izinkanlah saya meminta perhatian anda tentang kenyataan bahwa profesi sebagai
aktor adalah tidak alamiah dan secara radikal salah. Ini adalah profesi yang tidak berharga. Kutukan
Salomo adalah benar.
Istilah “hipokrit” (munafik) dan “memainkan
peran di panggung” adalah identik dalam artinya
yang mula-mula. “Munafik,” baik dalam bentuk Yunani maupun Latin, adalah ditujukan oleh seorang
aktor di dalam teater…
Ada teater di Yerusalem di zaman Yesus.
Apakah menurut anda Yesus dan para muridNya
menghadirinya? Ketika Herodes memperkenalkan teater, ini dituduh oleh Yosephus, seorang penulis Yahudi, sebagai perusak moral. Anda tidak dapat membayangkan Yesus menyetujuinya, bukan? Dapatkah anda membayangkan Yesus menonton bioskop
jikalau Ia ada di bumi pada hari ini?—hlm. 1-4.
63
1928—J.E. Fulton dalam Review:
J.E. Fulton, seorang misionaris pionir ke Fiji
dan presiden dari Konferens Pacific Union pada
masa itu, menyuarakan keprihatinannya dalam sebuah artikel yang berjudul “The Dangers of the Religious Drama” (Bahaya-bahaya drama keagamaan) dalam Review 6 Desember 1928. Artikel selengkapnya
terdapat dalam Lampiran 11. Prinsip yang digariskan
dalam artikel ini adalah sebagai berikut:
… Bukankah anak-anak kita dan beberapa
orang-orang yang lebih tua dipersiapkan untuk
menghadiri pertunjukan teatrikal dengan pengenalan drama ke dalam gereja-gereja dan sekolahsekolah Sabat yang berwatak dramatik? Marilah kita menjauhkan segala bentuk yang sejenis ini dari
perkumpulan-perkumpulan kita. Segala pertunjukan yang berwatak duniawi, seperti drama dan pertunjukan teatrikal, harus dijauhkan dari pelaksanaan-pelaksanaan keagamaan kita.—hlm. 2.
1928—J.A. Stevens Menyampaikan Kutipan dari
sebuah Artikel dalam The Sunday School Times:
Stevens mengutip artikel ini dan menyampaikan
konsep-konsep yang digariskan oleh penulisnya kepada para pembaca Review. Bacaan lengkap dari artikel
yang informatif ini terdapat pada Lampiran 12.
Adalah membesarkan hati pada saat ketika
standar semakin menurun ada kerangka editorial
64
yang diperlukan sebagai jawaban yang tegas terhadap
pertanyaan di atas yang menjadi judul dari sebuah artikel yang bagus dalam The Sunday School Times.
Begitu banyak gereja yang telah berusaha untuk bersaing dengan teater dengan menampilkan di panggung atraksi-atraksi spektakuler, sehingga tidaklah mengherankan bahwa teater-teater merangsang gereja dengan usaha untuk menyelenggarakan pertunjukan setengah sakral. Sebuah surat kepada editor majalah Times menimbulkan komentar
yang dapat dibaca dan bermanfaat bagi setiap umat
MAHK.—hlm. 1.
1933—Gereja Tabernacle Battle Creek
Sementara menjadi pendeta di Gereja Tabernacle Battle Creek, Carlyle B. Haynes, memperhatikan bahwa teater, kepura-puraan, dan akting sedang membuat jalan masuk ke dalam Gereja Tabernacle. Ia sangat prihatin dengan kejadian ini. Dalam sebuah khotbah yang disampaikan di akhir tahun
1933 dan diterbitkan kembali dalam Review, 1 Maret
1934, ia mengatakan:
Karena saya sendiri telah berada di tempat di
mana saya tidak bisa berdiam diri lebih lama lagi. Saya ingin agar diketahui oleh setiap orang bahwa saya
menyayangkan kelemahan yang menggiring kepada
pengabaian standar-standar gereja… saya bermaksud menyampaikan dalam rapat majelis Gereja Tabernacle berikutnya tentang keputusan berikut dan mene65
kankan untuk dilaksanakan.—hlm. 2. (Tentang pelaksanaan dari keputusan tersebut secara penuh dan suara bulat oleh Rapat Majelis Tabernacle pada tanggal
8 Januari 1934, lihat Lampiran 13.)
1934—Francis Wilcox, Editor dari Review, Menyampaikan Keprihatinan Para Pimpinan tentang
Drama dalam Tiga Tajuk Rencana (Editorial):
Gereja MAHK dan para pimpinan lembaga dan anggota-anggota yang cermat mewaspadai
kenyataan bahwa produksi teatrikal drama sedang
berlangsung, dan bioskop-bioskop dipertontonkan
di beberapa gereja dan sekolah. Masalah ini disampaikan kepada gereja melalui Saudara Francis Wilcox, editor Review, melalui tiga himbauan yang sangat informatif yang diterbitkan dalam edisi tanggal 25
Januari, 1 Februari dan 8 Februari 1934 yang berjudul “The Religious Drama” (Drama Keagamaan).
(Artikel-artikel selengkapnya lihat Lampiran-Lampiran
14-16.) Tidak diragukan lagi apa pendirian kepemimpinan MAHK dan sebagian besar anggota tentang drama. Bagi mereka, pendirian itu bukanlah sebuah
pilihan, melainkan sebuah sebuah keyakinan, sebuah standar yang tidak dapat diubah. Saudara
Wilcox menerima banyak surat dari lapangan dari anggota-anggota yang prihatin. Berikut ini adalah beberapa kutipan pilihan dari artikel-artikel tersebut:
Sebagian saudara-saudara kita menjadi terperangkap oleh kesenangan duniawi, dan tentang ba66
haya inilah saya bermaksud hendak menyuarakan sebuah peringatan dalam artikel ini. Tentang kejahatan
menonton pertunjukan teater dan bioskop, barangkali saya hanya perlu berbicara sedikit, meskipun beberapa anggota kita menghadiri pertemuan seperti itu.
Namun ada orang-orang lain, yang tidak menghadiri
bentuk-bentuk kesenangan yang meragukan ini,
merasa tanpa beban untuk menghadiri pertemuan-pertemuan yang pada dasarnya berwatak sama, jikalau
bukan memiliki tingkat bahaya yang sama. Sebagian
orang yang menolak pergi menonton drama yang
dimainkan dalam sebuah teater, merasa tanpa beban untuk menonton drama yang dimainkan dalam
sebuah gereja atau tempat pertemuan. Jikalau drama memiliki latar belakang sejarah atau setting keagamaan, ini menjadikannya banyak alasan untuk menonton kesenangan seperti itu. Dan ketika drama dengan
watak seperti itu disetujui di luar gereja, langkah logis
selanjutnya adalah berusaha membawanya masuk
ke dalam gereja-gereja dan lembaga-lembaga kita
sendiri. Ini dilakukan dengan anjuran bahwa pawai
atau drama-drama keagamaan seperti itu adalah bersifat mendidik atau memberi pelajaran moral yang
baik.
Jikalau saja saya hanya satu-satunya yang prihatin terhadap hiburan-hiburan seperti itu yang sedang berusaha memasuki sekolah-sekolah dan gereja-gereja kita, saya akan merasa harus mempertanyakan penilaian saya, tetapi saya senang bahwa dari
surat menyurat saya mengetahui bahwa ada banyak
67
orang lain yang merasakan pengaruh yang mendalam dari hiburan-hiburan seperti ini, dan hiburan
ini mulai mendapat tempat di dalam beberapa pertemuan umat kita…
Saya percaya bahwa pertimbangan yang sungguh-sungguh harus diberikan kepada pertanyaan ini,
khususnya oleh pejabat-pejabat gereja dan oleh para pimpinan konferens dan lembaga-lembaga. Pengenalan ke dalam sekolah-sekolah dan gereja-gereja kita tentang pawai dan drama dan dramatisasi
dari berbagai kejadian, meskipun yang bersifat sejarah ataupun pendidikan, memiliki kecenderungan untuk menghapuskan penolakan akan menonton teater dalam pikiran banyak orang.—Review,
25 Januari 1934.
Dalam menyuarakan peringatan ini, saya tidak
sedang memikirkan gereja atau lembaga manapun. Kita telah diberi peringatan terhadap hiburan-hiburan duniawi dalam kutipan yang telah saya berikan dalam artikel ini, peringatan-peringatan itu tidak akan disuarakan jikalau tidak terdapat bahaya. Anda yang membaca perkataan ini akan mengetahui seberapa besar bahaya yang kita hadapi di dalam gereja kita, di dalam lembaga kita.—Review, 1 Februari 1934.
Sangat disayangkan bahwa pertunjukan-pertunjukan atau drama-drama dalam bentuk apapun
dibawa masuk ke dalam gereja-gereja dan lembaga-lembaga kita, yang akan merangsang dalam
segala tingkatan agen-agen atau metode-metode
yang telah digunakan selama berabad-abad oleh
68
musuh kebenaran untuk mempromosikan pekerjaan jahatnya. Saya mengetahui bahwa beberapa pertunjukan keagamaan saat ini memiliki sangat sedikit,
itupun jikalau ada, tanggapan tentang kejahatan, dan
bentuk–bentuk hiburan ini sendiri yang digunakan di
dalam gereja atau lembaga kita mungkin relatif tidak
berbahaya: akan tetapi bahayanya adalah bahwa ini
adalah langkah pertama di jalan yang pada akhirnya menggiring untuk semakin mendekat turun kepada dunia dan mejauh dari Tuhan. Ini adalah sebuah langkah menjauh dari roh kesederhanaan
yang yang menjadi ciri gerakan ini selama bertahun-tahun.
Kita tidak akan pernah bisa menyelamatkan
orang muda kita dan anak-anak dengan menyelenggarakan acara-acara di dalam lembaga atau
gereja kita yang terus menerus mendukung kesenangan akan hiburan. Sesungguhnya, ketika dukungan ini dilakukan terus menerus menjadi watak
alamiahnya, mereka akan kehilangan minat akan
dunia pelayanan Kristen yang tenang dan khidmat.
Mereka akan bosan dengan pertemuan-pertemuan
doa, khotbah tentang Injil, pelajaran Sekolah Sabat.
Maka adalah lebih baik untuk mempertimbangkan prinsip ini dalam usaha yang dianjurkan demi
keselamatan orang-orang muda dan anak-anak dalam
setiap departemen di gereja. Kita harus menyadari
bahwa pengubahan tabiat hanya dapat dilakukan
oleh Tuhan Yesus Kristus, pengajaran tentang Injil
69
keselamatan, mempelajari firman Tuhan, berdoa
dan usaha yang disucikan. Adalah sangat tepat
untuk memberi setting yang menyenangkan dan menarik bagi setiap pelayanan di dalam gereja, namun
Gereja MAHK tidak akan pernah selamat melalui
tata upacara ataupun acara-acara sastra. Hal-hal ini
dalam keadaan tertentu mungkin menolong, namun
sesungguhnya ini hanyalah pertolongan yang pincang.
—Review, 8 Februari 1934.
1935—Pertemuan Dewan Musim Gugur Merekomendasikan Pemecatan bagi Penonton Bioskop
dan Teater:
Kami menghimbau kepada para pendeta, pekerja, umat di mana saja, untuk tetap menjejakkan
kaki mereka pada “jalan-jalan yang lama,” dan tidak memindahkan “patokan-patokan mula-mula”
dari pekabaran ini.
Dalam kasus di mana anggota gereja bermain kartu bridge atau permainan kartu di rumah-rumah mereka, atau menghadiri pertemuan di tempat-tempat lain; atau mengadakan tari-tarian di rumah mereka atau menghadirinya di tempat lain;
atau menghadiri pertunjukan dalam teater atau rumah bioskop, kami merekomendasikan bahwa
usaha yang setia harus dilakukan untuk mengembalikan orang-orang seperti itu dari kesalahan jalan mereka; namun jikalau ini terbukti tidak berhasil, maka mereka HARUS DIKELUARKAN DARI KE70
ANGGOTAAN GEREJA.—Review, 5 Desember
1935.
Jikalau saja rekomendasi ini diikuti saat ini,
maka banyak anggota gereja MAHK yang bertahan
untuk menonton bioskop, teater atau membeli atau
menyewa video produksi drama di VCR mereka,
tidak akan lagi menjadi anggota gereja MAHK.
1937—Laporan Komite Pendidikan Visual kepada
General Konferens tanggal 10 Maret 1937:
Tampaknya bahwa tahun 1937 adalah tahun
yang sangat penting bagi gereja untuk mengulangi
pendiriannya tentang drama. Beberapa waktu sebelum
terbitnya Tajuk Rencana Review tertanggal 18 Maret, 25 Maret, 1 April, 8 April, dan 15 April, gereja
telah membentuk komite pendidikan visual untuk
mengkaji pendidikan visual. Kelima artikel yang tegas
dan meyakinkan ini selengkapnya terdapat dalam
Lampiran-Lampiran 17-21. Berikut ini adalah beberapa
kutipan dari artikel-artikel tersebut:
Permintaan seringkali disampaikan bahwa kita
harus memberikan hiburan seperti ini kepada orang
muda kita, karena jikalau tidak mereka akan pergi
kepada dunia untuk memperolehnya. Argumentasi
ini, dalam perkiraan saya, jatuh ke atas dirinya
sendiri. Bukannya mengembalikan orang muda kita dari dunia melalui pertunjukan drama, kita malah sedang menciptakan di dalam mereka sebuah
71
selera kepada hal-hal ini, yang mereka akan usahakan di tempat lain.—Review, 18 Maret 1937.
Dari salah satu pembaca kami yang sangat
ingin mengetahui yang benar, datang pertanyaan ini:
“Ada beberapa pertanyaan yang harus saya tanyakan kepada anda. Saya menanyakannya karena
keinginan yang rendah hati untuk mengetahui yang
benar dan melakukan yang benar di hadapan Tuhan.
Pertama, apakah benar bagi orang MAHK menonton bioskop? Saya berusia 60 tahun, dan telah diajarkan tentang pekabaran ini. Saya selalu diajari bahwa menonton teater, bioskop dan hiburan-hiburan
duniawi adalah salah. Tetapi saya sekarang diberitahu bahwa, meskipun itu bukan yang terbaik, itu
bukan dosa, sehingga orang boleh menonton jikalau mereka menginginkannya. Saya tidak mengerti
penalaran seperti ini. Maukah anda menjelaskan hal
ini kepada saya?
“Pertanyaan lain: Jika saya mengetahui ada
pria dan wanita yang menonton bioskop, bolehkah
saya memilih mereka untuk menduduki jabatan di
dalam gereja? Saya seorang ketua Sekolah Sabat di
sini, dan ada beberapa orang yang bisa menjadi guru
Sekolah Sabat yang baik, namun setiap anggota jemaat mengetahui bahwa mereka menonton bioskop, dan saya merasa tidak nyaman untuk menunjuk mereka sebagai guru-guru. Apakah saya terlalu
kuno, dan harus mengabaikan keyakinan-keyakinan yang telah saya pegang dalam waktu begitu
72
lama? Saya tidak mau menjadi seorang fanatik, tetapi saya ingin melakukan apa yang benar.”
Apakah jawaban yang akan anda berikan untuk pertanyaan-pertanyaan tersebut? Apakah anda
menganggap bahwa dalam menghadapi orangorang yang menonton bioskop atau teater, pembaca ini terlalu kuno? Apakah menurut anda waktu
telah berubah, dan bahwa apa yang dianggap dosa
20 tahun yang lalu sekarang adalah benar?
Rasul Yohanes memberikan petunjuk ini kepada gereja pada zamannya:
“Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa
yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi
dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam
orang itu. Sebab semua yang ada di dalam dunia,
yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta
keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa,
melainkan dari dunia. Dan dunia ini sedang lenyap
dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya.”
1 Yohanes 2:15-17.
Apakah menurut anda petunjuk ini berlaku bagi
gereja zaman para rasul, tetapi tidak berlaku bagi gereja yang sisa? Saya tidak bisa menganggap demikian. Kebenaran Tuhan yang kekal tetap tidak berubah, dan apa yang telah tertulis sebelumnya adalah ditulis untuk menjadi petunjuk di masa kini. Saya percaya bahwa standar Gereja MAHK masa lalu
harus dipertahankan, meskipun beberapa gereja
telah menurunkan standar itu ke dalam debu.
73
Dan apakah jawaban anda terhadap pertanyaan
apakah pria dan wanita yang menonton teater dan bioskop boleh menduduki jabatan di dalam gereja? Bolehkah mereka ditunjuk sebagai guru-guru Sekolah
Sabat? Dalam penilaian saya, ini adalah sangat tidak
konsisten. Pria dan wanita yang menduduki jabatan dalam kepemimpinan di dalam gereja Kristus
harus menyatakan prinsip-prinsip pekabaran Injil
di dalam kehidupan mereka. Berdiri sebagai wakil
gereja, mereka harus menyatakan prinsip-prinsip
gereja.
Sesungguhnya, daripada dijadikan pimpinan, anggota-anggota gereja yang demikian seharusnya menjadi sasaran bagi pekerjaan misionaris
oleh mereka yang mengetahui pengaruh jahat
yang ditunjukkan oleh orang-orang yang salah
tuntunan ini. Ini adalah rekomendasi dari Pertemuan
Dewan di Musim Gugur di tahun 1935 di Louisville,
Kentucky…--Review, 25 Maret 1937.
Demikianlah kutipan-kutipan hanya dari dua artikel saja. Pembaca sebaiknya meninjau masing-masing artikel ini sebelum membaca lebih jauh.
Komite General Konferens pada tanggal 10
Maret 1937 menyetujui temuan-temuan komite pendidikan visual dan temuan tersebut diterbitkan dalam
The General Conference Bulletin on Movies. Lihat
Lampiran 19 untuk laporan selengkapnya. Berikut ini
adalah rekomendasi-rekomendasi bagi film-film yang
dapat diterima dan tidak dapat diterima:
74
1. Film-film yang dapat diterima:
a. Film-film Industri—Gambar-gambar yang menunjukkan proses-proses produksi, perkayuan, pertambangan, produksi minyak, peralatan umum, transportasi, perdagangan, penyampaian berita dan informasi, dll.
b. Pemandangan—gambar-gambar dari taman-taman
nasional dan yang lain, pemandangan alam, pendakian gunung, penjelajahan, dan yang serupa.
c. Perjalanan—Gambar-gambar dari negara-negara
lain, kebiasaan bangsa-bangsa, adat istiadat, dan
kehidupan mereka (tidak termasuk pemandangan
yang mungkin dapat memberi pengaruh merusak).
d. Kehidupan Liar dan Alam—Gambar-gambar tentang Pelayanan Hutan, dan kehidupan binatang di
berbagai negara dan bangsa. Perkembangan kehidupan serangga, tanaman, ikan, burung dan binatang (kecuali yang menekankan kepada kekerasan).
e. Seni dan Arkeologi—(Tidak termasuk film-film
yang menggambarkan seni yang korup dan tidak
senonoh).
f. Film warta berita dan Sejarah masa kini—(tidak
termasuk film-film yang melawan standar yang kita
yakini).
g. Film-film pendidikan—Film-film yang memberikan
informasi dan mengajarkan kebenaran dalam setiap
cabang pelajaran.
75
h. Gambar-gambar tempat-tempat—Gambar-gambar yang berhubungan dengan tempat-tempat bersejarah.
i. Pekerjaan-pekerjaan dan kegiatan-kegiatan denominasi kita.
2. Film-film yang tidak diterima:
a. Film yang menggambarkan Kristus dan orangorang yang menerima ilham.
b. Film-film yang menggambarkan orang bercinta
romantis.
c. Film-film yang menunjukkan adegan yang berlawanan dengan standar-standar dan ideal MAHK,
seperti tari-tarian populer, permainan kartu, judi, mabuk-mabukan, dll.
d. Film-film yang menggambarkan kejahatan dan
pemanjaan akan kejahatan.
e. Film-film yang menggambarkan adegan-adegan
kekerasan atau kekejaman, seperti misalnya
perkelahian berhadiah.
f. Film-film yang merendahkan kekudusan pernikahan dengan menggambarkan kehancuran keluarga, atau mengolok-olok kehidupan keluarga
dan hubungan keluarga.
g. Film-film yang menggambarkan pemandangan
kehidupan malam, minum-minum, bermabukmabukan, kegirangan, kesukariaan yang gaduh,
perilaku kasar.
h. Film-film yang menggambarkan adegan-adegan
merokok sebagai kegiatan sosial. (Gambar-gam76
bar yang menunjukkan proses dalam pabrik, misalnya, si pekerja mungkin merokok, mungkin
tidak termasuk dalam kategori ini karena perhatian penonton terpusat pada proses daripada
merokok sebagai kegiatan yang diinginkan.)
i. Film-film yang melalui olok-olok, sindiran sugestif, atau komedi yang kasar, menurunkan penilaian penonton terhadap agama atau pelayanan
kependetaan, atau kehormatan kepribadian manusia, atau agen-agen penegak hukum.
j. Film-film yang bersifat ilmu pengetahuan atau
sejarah yang mencampurkan antara penyelewengan fakta dan kenyataan.
k. film-film sejarah populer yang menyelewengkan
fakta sejarah dan membelokkan kebenaran,
yang menunjukkan adegan-adegan kekerasan
dan pertumpahan darah. Review, 18 April 1940.
Silakah membaca kembali tuntunan ini ketika
anda membaca revisi tahun 1950, tulisan White tahun
1963 (Lampiran 22) dan Tuntunan tahun 1974 bagi
Penggunaan Dramatisasi di kalangan MAHK (Lampiran 29).
Bersama dengan nasehat yang diberikan kepada anggota gereja MAHK oleh para pemimpinnya
dan dinyatakan dalam The General Conference Bulletin on Movies, para pimpinan dari denominasi lain
menyuarakan keprihatinan mereka tentang bagaimana industri perfilman membuat jalan masuk ke
dalam gereja Kristen. Salah satu pemimpin adalah
77
A.W. Tozer dalam bukunya The Menace of the Religious Movie (Bahaya Film-film Keagamaan). Kutipankutipan dari buku ini terdapat dalam Lampiran 3 (Buku
selengkapnya telah dicetak ulang oleh Mennonite
Rod and Staff Publishing House dan masih
beredar).
Segala sesuatu yang ditulis tentang bioskop keagamaan dapat diterapkan kepada televisi dan program video keagamaan. Pada kenyataannya, sementara temanya mungkin didasarkan atas kebenaran
Alkitab atau kejadian nyata, hasil akhirnya seringkali
adalah kepura-kepuraan dan kemunafikan. Ketika
ada bagian dalam produksi drama adalah fiktif, penonton mungkin tidak mampu membedakan antara
kebenaran dan fiksi. Sekali lagi, marilah kita diingatkan kepada nasehat rasul Paulus, “Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang
manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya
itu.”—Filipi 4:8.
1940—Review Mengulangi
Menonton Teater:
Peringatan
Terhadap
Kita hidup di zaman sensasi. Kecintaan akan
teater dan drama telah meningkat setiap tahun.
Rumah-rumah pertunjukan muncul di mana-mana,
dan kerumunan penonton teater dan penontonnya.
Bioskop-bioskop secara terus menerus bertam78
bah. Secara alamiah, daya tarik-daya tarik ini memikat orang muda.
Kita tidak pernah boleh memperlengkapi
lembaga-lembaga kita dengan hal-hal yang berwatak sama, sementara masih berharap untuk dapat
memegang orang muda kita. Sesungguhnya, kita
harus menjadi sangat berhati-hati jangan sampai
pengganti yang kita sediakan akan menciptakan
sebuah kecintaan akan hal-hal yang justru kita
usahakan untuk dihindarkan. Bertahun-tahun yang
lalu utusan Tuhan mengetahui bahaya ini, dan
memberikan nasehat yang amat tegas sebagai berikut: (diikuti kutipan dari tiga paragraf dari Testimonies, Vol. IV, hlm. 577, 578.) —Review, 4 April 1940.
1945—Penatua F.M. Wilcox Terus Memegang
Standar-Standar:
Sementara gereja-gereja dan lembaga-lembaga pendidikan kita terus menerus mengabaikan
batasan-batasan bagi produksi teater, Penatua Wilcox lagi-lagi menyampaikan kepada anggota gereja
tentang pandangan mula-mula MAHK tentang drama.—Review, 18 Oktober 1945:
Metode-metode duniawi, seperti pertunjukan
drama, dan drama-drama keagamaan dan pawaipawai keagamaan, digunakan di beberapa gereja
dan lembaga kita. Semua ini adalah salah.
79
Sejak Pertengahan 1940-an Hingga Saat Ini
Sampai ketika munculnya “layar perak,” umat
MAHK jarang menonton teater. Sebagian besar
umat MAHK di tahun 20-an dan 30-an menghindari
rumah-rumah bioskop. Di akhir tahun 30-an dan
awal tahun 40-an, permintaan akan film-film “yang
dapat diterima” untuk fungsi-fungsi sosial dan sekolah semakin meningkat. Beberapa dari film-film
ini telah dipertunjukkan di dalam bioskop-bioskop
setempat beberapa tahun sebelumnya.
Namun ketika pertunjukan teater menjadi terjangkau melalui televisi di akhir tahun 40-an dan
awal 50-an, teater dibawa masuk ke dalam rumah
tangga Advent. Para orangtua Advent yang prihatin
dan tersadar menonton produksi Hollywood dengan kecurigaan. Mereka melihat apa sesungguhnya
produksi drama televisi—yaitu standar rendah, seks,
kekerasan dan terutama serangan kepada nilai-nilai Kekristenan. Sebagian besar nilai manfaat televisi, seperti juga bioskop sewaan yang digunakan
oleh gereja-gereja dan lembaga-lembaga pendidikan kita, kalah dibandingkan dengan bahaya-bahayanya. Rasio antara resiko dan manfaatnya terlalu besar dan orangtua-orangtua yang prihatin memilih
untuk tidak memiliki televisi di rumahnya.
Pada awalnya, banyak umat Kristen MAHK
yang tulus membenci produksi-produksi Hollywood dan kemudian acara-acara televisi, namun
secara bertahap mereka melihat, dan akhirnya me80
nyambut. Di pertengahan tahun 30-an, beberapa
pemimpin di dalam akademi-akademi, universitas-universitas kita dan beberapa gereja mungkin telah melupakan atau mengabaikan nasehat tentang drama
yang diberikan oleh nabiah kita dan kepemimpinan gereja. Namun di akhir tahun 40-an dan 50-an, filmfilm layar lebar mulai menjadi daya tarik dalam beberapa acara mahasiswa di sekolah-sekolah dan
acara-acara sosial gereja.
Beberapa orangtua, yang telah dengan hati-hati
melindungi anak-anak mereka di rumah dari fiksi dan
drama, melihat bahwa pikiran anak-anak mereka dirusak oleh produksi-produksi Hollywood di dalam
gereja-gereja dan sekolah-sekolah kita. Dengan masuknya VCR dan video, videogames, dan sekarang jaringan internet sedunia, orang muda MAHK telah dibanjiri oleh drama dan dunia hiburan.
Pemerhati yang seksama yang memperhatikan
bagaimana pertumbuhan industri perfilman dan mengamati masuknya televisi dan video ke dalam kebudayaan Amerika, dapat melacak penerimaan secara berangsur-angsur oleh Gereja Advent terhadap drama ke
dalam infrastruktur rumah tangga, gereja dan sekolah
sejak pertengahan tahun 1940-an dan sesudahnya.
1946—Konferens Kalifornia Tenggara Berjuang
Mempertahankan Batasan:
Banyak pimpinan berusaha untuk mempertahankan nasehat yang ditetapkan oleh para pionir kita
81
dan mengulanginya dalam Pertemuan Dewan Musim
Semi dan Musim Gugur tahun 1934, 1937, dan
1938, akan tetapi hal ini menjadi semakin sulit. John
Hancock ditunjuk sebagai direktur pemuda di Konferens Kalifornia Tenggara di tahun 1946. Dalam makalahnya yang berjudul “Is Dramatization Wrong?”
(Apakah Dramatisasi Salah) (Lihat Lampiran 25), yang
disampaikan kepada Komite tentang Tuntunan bagi
Olah Raga dan Drama pada tanggal 28-31 Januari
1974, ia mengatakan:
Saya adalah mahasiswa tahun pertama di universitas ketika Pertemuan Dewan Musim Gugur tahun
1934 membuat aksi dengan merekomendasikan bahwa dalam acara-acara Sekolah Sabat “tidak boleh
ada usaha untuk mengadakan drama atau pawai.
Penampilan yang membutuhkan kostum, atau dramatisasi dari kehidupan tokoh-tokoh Alkitab atau
peristiwa-peristiwa keagamaan, harus dihindarkan.” Aksi ini selanjutnya merekomendasikan “kesederhanaan adalah yang terutama dalam penampilan suatu tindakan atau dialog, atau memainkan
bagian sebagai tokoh dalam peristiwa atau adegan
misionaris.”
Kemudian, di tahun 1935 dan 1938 Pertemuan
Dewan Musim Gugur melakukan aksi menghimbau
“kepada para pendeta kita, para pengerja, dan
umat di mana saja berada, untuk tetap menjejakkan kaki mereka di “jalan yang mula-mula” dan untuk tidak memindahkan “tonggak-tonggak mulamula” dari pekabaran ini.” Termasuk dalam him82
bauan ini adalah seruan untuk bekerja dengan setia bagi para anggota yang mengadakan pesta permainan kartu bridge dan permainan kartu sejenis
di rumah-rumah mereka dan orang-orang yang menonton teater atau bioskop, merekomendasikan jikalau orang-orang itu tidak berbalik dari kesalahan
jalan mereka, mereka harus dikeluarkan dari keanggotaan gereja…
Saya masih ingat dengan baik kesulitan-kesulitan yang kita hadapi sebagai pimpinan dalam menafsirkan beberapa hal ini. Di tahun 1946 saya menjadi
direktur pemuda di Konferens Kalifornia Tenggara. Selalu ada gangguan terus menerus tentang film-film malam minggu yang diperoleh gereja-gereja atau sekolah-sekolah dari agen-agen persewaan film. Konferens Uni Pasifik menetapkan sebuah komisi peninjau
film, sebagai usaha untuk membuat sebuah daftar dari
film-film “yang disetujui” bagi sejumlah tata kesopanan
Advent sendiri, namun ada perbedaan pendapat di antara para peninjau itu sendiri tentang apa yang benar
dan apa yang salah. John Hancock, “Is Dramatization
Wrong.” —hlm. 2-4.
1947—Tuntunan Dewan Musim Gugur 1934
Diulangi:
Rekomendasi-rekomendasi Pertemuan Dewan
Musim Gugur tahun 1934 tentang drama dan pawai diterbitkan kembali dalam pamflet Departemen Sekolah Sabat di tahun 1947:
83
Kami merekomendasikan:
1. Bahwa para pengurus dan pimpinan divisi merencanakan acara dan seluruh kegiatan mereka
sedemikian sehingga memasukkan ke dalam sekolah Sabat-sekolah Sabat di mana saja suatu
roh penghormatan kepada rumah Tuhan dan
FirmanNya yang kudus.
2. Bahwa dalam acara-acara tidak boleh ada usaha
untuk mempertunjukkan drama atau pawai. Penampilan yang membutuhkan kostum, atau dramatisasi dari kehidupan tokoh-tokoh Alkitab
atau peristiwa-peristiwa keagamaan, harus dihindarkan.
3. Bahwa “kesederhanaan yang terutama membedakan penampilan suatu tindakan atau dialog, atau memainkan bagian sebagai tokoh dalam peristiwa atau adegan misionaris.” Sabbath
School Department [pamphlet], 1947 [Dikutip dalam
Drama? Truthfull? or Pretentious?” David J. Lee,
hlm. 12.]
1950—Acara Televisi Faith for Today (Iman untuk
masa kini)
Masuknya gereja MAHK ke dalam televisi dimulai pada “…suatu hari hujan gerimis di awal April
1950. Saya seorang pendeta di sebuah gereja yang
bertumbuh subur di kota Brooklyn, New York, dan tengah berada jauh dari gereja saya untuk tugas rumah
sakit,” tulis Saudara William Fagar Sr. dan Nyonya
84
Virginia Fagal dalam buku mereka yang berjudul This
Is Our Story (Inilah Kisah Kami), hlm. 5. Ia melanjutkan:
Ketika kembali di sore hari, saya disambut oleh
sekretaris saya dengan berita bahwa saya dibutuhkan
segera di Hotel Victoria di daerah Times Square New
York. Beberapa pejabat pimpinan dari kantor pusat kita di Washington, D.C. berada di sana, dan mereka telah berusaha menghubungi saya setiap 10 menit dan
heran mengapa sekretaris saya tidak berhasil menyampaikan pesan mereka kepada saya…
Ketika melihat ke arah hadirin, saya memperhatikan presiden General Konferens, pejabat tertinggi
di gereja, hadir bersama dengan sekretaris dan bendahara. Di samping itu, sekelompok orang termasuk
kepala Departemen Radio dan dua atau tiga orang
lainnya. ...
Mereka memberitahu saya, bahwa gereja hendak “bereksperimen” dengan televisi. Sebuah komite
telah dibentuk untuk meneliti kemungkinan-kemungkinannya, dan sekelompok orang di hadapan saya telah datang dari Washington ke New York untuk mematangkan rencana-rencana.
Pagi hari itu mereka telah datang ke kantor jaringan televisi American Broadcasting Company (ABC)
dan telah menandatangani sebuah kontrak untuk sebuah acara setengah jam setiap minggu pada hari
Minggu malam, mulai tanggal 21 Mei. Sekarang mereka kekurangan sebuah acara dan seseorang yang
akan diberi tanggung jawab untuk acara tersebut. Me85
reka mengatakan kepada saya bahwa sayalah orang
yang mereka inginkan untuk membuat acara tersebut
dan menyiarkannya. Saya hanya memiliki waktu sekitar 6 minggu untuk mempersiapkankan sebelum saat
yang menentukan pada malam tanggal 21 Mei, Ibid,
hlm. 5-6.
Selanjutnya adalah sejarah. Penatua Fagal bertemu dengan para pejabat ABC. “—Saya mendengarkan dengan seksama beberapa saran konkrit yang
mereka berikan, para direktur yang ditunjuk untuk acara kami menyimpulkan nasehat mereka secara sederhana dalam perkataan ‘Jangan berkhotbah.” “Gunakan teknik-teknik drama untuk menyampaikan kisahkisah kehidupan nyata,” kata mereka. Ibid., hlm 19, 20.
Dan begitulah dasar ditentukan bagi acara Faith for
Today. “Maka kami memutuskan untuk mencoba pendekatan kisah selama 12-15 menit, diikuti dengan
khotbah pendek selama 5 menit untuk menekankan
beberapa butir.” Ibid., hlm. 20.
Penggunaan drama oleh Saudara Fagal dalam acara Faith for Today adalah “berlebihan” bagi
sebagian orang Advent. Ia menggambarkannya sebagai berikut:
Format cerita Faith for Today pada mulanya dipilih sebagai sebuah sarana untuk menjangkau pemirsa di luar gereja atau orang muda—pada mulanya
adalah satu pokok perdebatan yang nyata. Kenyataan
bahwa di masa-masa awal penayangannya, sketsa
selama 15 menit diikuti dengan khotbah pendek selama 5 menit—dengan musik dan iklan bagi kursus Alki86
tab surat menyurat—hampir tidak meredakan perasaan kecewa beberapa orang. Ibid., hlm. 46.
Di tahun 1955 diputuskan untuk memfilmkan
acara-acara sebagai ganti dari penampilan langsung.
Penatua Fagal menulis, “Kami segera menghadapi kenyataan bahwa para amatir kita yang berdedikasi
menjadi tidak memadai bagi situasi film profesional.
Sesungguhnya, adalah tidak mungkin bagi sebagian
besar dari mereka untuk menyisihkan waktu dari pekerjaan sehari-hari mereka untuk acara rekaman film
sehari penuh. Maka kami menghadapi perlunya menyewa orang-orang profesional yang biasa tampil
di depan kamera untuk menjadi ilustrasi kisah-kisah secara efektif.” Ibid., hlm. 98.
Di tahun 1972, serial drama Westbook Hospital yang lengkap ditetapkan, diikuti dengan film drama sepanjang satu jam tentang kehidupan dan martir
John Huss, dan segera setelahnya acara televisi spesial “The Harvest”.
Dalam komunikasi pribadi pada tanggal 4 April
1999, dengan Dan Matthews, pada saat itu adalah Direktur Faith for Today, diketahui bahwa menjelang
akhir dari serial “Westbrook Hospital” (di awal 80-an),
masing-masing acara menghabiskan biaya produksi
sebesar $80.000. Biaya ini menjadi ditentang dan serial drama berakhir. “Life Style Magazine” menggantikan produksi drama. Selama percakapan, Saudara
Matthews membuat satu pernyataan penting. Ia
mengatakan, “Saya percaya, jikalau Kristus hidup
sekarang, Ia akan menggunakan drama.” Setelah
87
meneliti bahan untuk tulisan ini, penulis sangat tidak setuju.
Sementara anda membaca bagian tahun 1961
dan 1974, ingatlah penggunaan drama yang semakin meluas oleh Faith for Today sejak tahun 1950
hingga 1975. Sayangnya, buku Penatua Fagal tidak
berisikan informasi untuk memberikan gambaran kepada pembaca tentang alasan-alasan yang digunakan
untuk membela penggunaan produksi drama sehubungan dengan pendirian gereja sebelumnya tentang
drama.
1951—MV Leaflet #47:
Dalam tulisan “Is Dramatization Wrong?”
Saudara Hancock melanjutkan untuk menggambarkan pengikisan secara bertahap terhadap posisi gereja sebelumnya tentang produksi teater dan industri
perfilman:
Kemudian muncul televisi dan masuknya gereja sendiri ke dalam bidang drama. Sekitar waktu
inilah maka versi kita tentang Daniel 2 diproduksi dalam bentuk film layar lebar yang lengkap. Tekanan
mulai bermunculan dan saya melihat ketika anjuran
Pertemuan Dewan Musim Dingin tahun 1951 dihapuskan agar apa yang sedang dilakukan sejalan dengan kebijakan resmi gereja. Perkataan “orang-orang
yang menerima ilham” dihapuskan dari daftar larangan
penggambaran dengan film, karena serial baru filmfilm keagamaan, yang sedang diproduksi oleh produ88
ser film swasta tentang kehidupan Paulus dan tokohtokoh Alkitab lainnya, dengan semangat digunakan
baik oleh gereja maupun kelompok-kelompok sekolah
dalam pertemuan-pertemuan keagamaan dan pelajaran di dalam ruangan kelas.
Sementara televisi dan setumpuk film-film yang
tersedia dari agen-agen persewaan mulai memperkeruh keadaan, maka menjadi jelaslah bahwa tindakan
gereja sekarang harus dipelajari kembali. Maka di tahun 1951 aksi penting terakhir dilakukan sehubungan
dengan topik ini oleh Dewan Musim Gugur. Aksi ini
adalah perbaikan dari pernyataan tahun 1937, dan sekali lagi tidak menyetujui segala film bergerak atau
acara televisi yang menggambarkan pertunjukan
teatrikal yang didramakan dan fiktif, dan menyatakan bahwa sejarah drama teatrikal dan wataknya
saat ini menunjukkan secara umum bertentangan
dengan moralitas ideal tertinggi, dan asing bagi
kehidupan rohani. Maka seluruh keanggotaan gereja, tua dan muda, dipanggil untuk berdiri melawan film bergerak dan acara televisi yang mendramakan adegan-adegan yang bertentangan dengan moralitas ideal yang tinggi yang telah disebutkan dalam standar-standar gereja kita.
Akan tetapi, kemudian dilakukan penyesuaikan dalam pendirian kita sebelumnya dengan memasukkan dramatisasi tokoh-tokoh sejarah dan Alkitab” “Kami mengakui bahwa ada film-film dan acara
televisi yang dapat diterima yang menggambarkan kehidupan nyata, dan adegan-adegan sejarah atau bah89
kan Alkitab yang telah didramakan. Penggunaan film
atau televisi secara sah bagi penyampaian pekabaran
atau bagi pendidikan dan juga tujuan-tujuan rekreasi,
tidak harus dikutuk. Tidak diragukan bahwa ada kesempatan-kesempatan yang baik untuk mengabarkan
Injil dan menjangkau jutaan orang melalui sarana ini;
namun sebagaimana banyak perkara dalam kehidupan, film dan televisi adalah perpaduan berbahaya
dari kebaikan dan kejahatan. Keduanya telah digunakan sebagian besar oleh kejahatan dengan akibat bahwa film dan televisi populer cenderung
menghancurkan standar-standar tabiat Kristen.
Maka, pengetahuan yang jelas akan yang benar
dan salah diperlukan, supaya kita dapat melindungi jiwa kita dengan baik.”
Kemudian terdapat daftar petunjuk untuk memilih film, dengan membawa daftar di tahun 1937 sejalan
dengan posisi yang telah disesuaikan. Departemen
Pemuda diminta untuk mempersiapkan sebuah MV
Leaflet untuk memberikan petunjuk ini kepada orang
muda dan dewasa. Pada halaman 6-8 dari MV Leaflet
#47 terdapat daftar:
I. Presentasi yang dapat diterima:
a. Film-film Industri—Film-film yang menunjukkan
proses pembuatan, pengolahan kayu, pertambangan, produksi minyak, sarana umum, transportasi, perdagangan dan penyebaran berita
dan informasi.
b. Proses Ilmiah dan Riset Makanan
90
c. Perjalanan—Film-film dari negara-negara lain,
kebiasaan-kebiasaan setempat, adat istiadat,
dan kehidupan (tidak termasuk adegan-adegan
yang dapat memberi pengaruh yang tidak sehat).
d. Alam dan Kehidupan Liar—Film-film tentang
taman-taman nasional dan taman-taman lainnya, pemandangan alam, pendakian gunung,
penjelajahan, Dinas Kehutanan, kehidupan binatang di berbagai negara, kehidupan dan perkembangan serangga, tanaman, ikan, burung,
dan binatang (tidak termasuk film-film yang
menekankan kekejaman).
e. Arkeologi dan Seni yang Sehat—Film-film yang
sesuai dengan standar-standar yang kita akui
tentang kesopanan Kristen.
f. Film-film warta berita dan Sejarah Masa Kini—
(Tidak termasuk film-film yang bertentangan dengan standar-standar yang kita akui).
g. Film-film Pendidikan—film-film yang menyebarkan informasi dan mengajarkan kebenaran dalam setiap bidang pengajaran.
h. Sejarah—Film-film tentang peristiwa sejarah
otentik yang digambarkan secara tepat, dan sesuai dengan standar yang ditetapkan dalam
pernyataan ini.
i. Pekerjaan dan Kegiatan Denominasi kita
j. Biografi—Film-film tentang tokoh-tokoh terhormat, yang patut ditiru dan digambarkan secara
91
tepat, dan sesuai dengan standar yang ditetapkan dalam pernyataan ini.
II. Presentasi yang tidak dapat diterima:
a. Film-film tentang Kristus.
b. Seluruh gambar film atau televisi yang menggambarkan drama teater fiktif.
c. Film yang menggambarkan adegan bercinta
yang intim.
d. Film-film yang merendahkan penghormatan kepada kekudusan perkawinan dengan penggambaran gangguan dalam rumah tangga atau olokolok tentang kehidupan rumah tangga dan hubungan rumah tangga.
e. Film-film yang menggambarkan adegan-adegan
yang bertentangan dengan standar-standar dan
ideal MAHK, seperti tarian, permainan kartu,
perjudian, minum-minum, kehidupan malam,
mabuk-mabukan, sukaria yang gaduh dan perlakuan kasar.
f. Film-film yang menggambarkan kejahatan dan
pemanjaan pelaku kejahatan.
g. Film-film yang menggambarkan adegan kekerasan, kejahatan, atau kebrutalan, seperti pertandingan tinju atau gulat profesional.
h. Film-film yang menggambarkan adegan merokok atau minum-minuman keras sebagai kegiatan sosial yang diinginkan.
i. Film-film yang menjadikan olok-olok atau sindiran atau komedi kasar yang dalam pandangan
92
penonton merendahkan, penghormatan kepada
hukum Tuhan, agama, atau pelayanan kependetaan, atau kehormatan kepribadian manusia
atau agen-agen penegakan hukum.
j. Film-film tentang tokoh-tokoh ilmiah atau sejarah yang membelokkan fakta atau menyimpangkan kebenaran.
k. Film-film yang menggunakan bahasa-bahasa
yang kasar, mencemarkan atau vulgar.
l. Kartun animasi yang bertentangan dengan standar kepantasan dalam bagian ini.
Departemen Pemuda menyebarluaskan MV
Leaflet #47 seperti daun-daun di musim gugur, namun
sebagian dari rekomendasi tersebut segera menjadi
ketinggalan zaman melalui praktek-praktek penerimaan yang nyata. Sebuah film keagamaan yang baru
tentang kehidupan Kristus diproduksi berjudul “I Beheld His Glory,” dan para penginjil kita tiba-tiba mendapati bahwa film ini adalah pertunjukan pembukaan
acara yang hebat untuk menarik orang banyak di luar
negeri dan kemudian di Amerika Utara. Film “Ten
Commandments” oleh Cecil B. DeMille mengaburkan
pemikiran banyak orang Advent, kendatipun majalah
Time terbitan tanggal 12 November 1956 menyebut
film ini menggelikan dan mengatakan bahwa “sesungguhnya ada saat-saat ketika tampaknya Hukum Ketujuh sajalah yang menarik perhatian DeMille; hingga
ke titik di mana peristiwa Eksodus (Keluar) dari Mesir
itu sendiri tampaknya hampir seperti Sexodus—yaitu
93
akibat dari kisah cinta Musa yang tidak bahagia (dan
sepenuhnya khayalan).” Majalah Time selanjutnya mengatakan, “Tidak mungkin untuk menghindarkan kesan bahwa si pembuat film menyebut nama Tuhan
dengan sia-sia.”
Ketika saya remaja sedang bertumbuh, film besar pertama tentang kehidupan Kristus yang berjudul
“King of Kings” mendapat sambutan besar di bioskop-bioskop, dan gereja kita berdiri menentang
penggambaran Kristus ini. Saya telah menyaksikan
terjadi perubahan setahap demi setahap di dalam pendirian kita sebagai sebuah gereja dalam masalah ini,
hingga pendirian kita saat ini membawa masuk film
layar lebar tentang kehidupan Kristus ke dalam gerejagereja kita, dan sambutannya sedemikian besar di antara jemaat sehingga kita harus mengulangi pemutarannya pada minggu kedua untuk membawa orang banyak masuk ke dalam rumah Tuhan. Departemen Pemuda bertempur sia-sia untuk mempertahankan rekomendasi Dewan Musim Gugur tahun 1951 yang menyebutkan dalam daftar bahwa film yang tidak dapat
diterima termasuk “gambar bergerak yang menokohkan Kristus.” MV Leaflet #47 ditarik dari peredaran
di Toko Buku Advent, dan sepengetahuan saya,
sekarang tidak ada leaflet yang tersedia yang diterbitkan oleh departemen ataupun kantor gereja
manapun yang memberi daftar film-film yang dapat
diterima dan tidak dapat diterima. Jikalau seseorang akan berdiri hari ini dan bersuara tentang
beberapa dari pertunjukan yang tidak dapat dite94
rima seperti yang tercantum pada halaman 7 dari
leaflet tersebut, ia akan berhadapan dengan topan
badai kritikan dan pertentangan, barangkali bahkan cemoohan.--Is Dramatization Wrong? hlm. 4-6.
1954—Shakespeare di Southern Missionary
College
Di awal tahun 50-an, Southern Missionary
College (sekarang bernama Southern Adventist University) mulai mengajarkan Shakespeare. Berkomentar tentang terbitnya sebuah artikel dalam Signs of
the Times tentang Shakespeare, kita memiliki nasehat
ilham berikut ini:
Saudara-saudara, marilah kita menggunakan
akal budi kita. Dalam berbagai cara kita sedang
menjauh dari Tuhan. Oh betapa saya merasa malu
tentang edisi Signs of the Times baru-baru ini!
Pada halaman pertama ada sebuah artikel tentang
Shakespeare, seorang manusia yang mati beberapa hari setelah pesta pora mabuk-mabukan, kehilangan nyawanya melalui kemanjaan selera yang
salah. Dalam artikel ini dikatakan bahwa ia melakukan banyak pekerjaan yang baik. Manusia dipujipuji. Perkara benar dan salah diletakkan pada tingkatan yang sama, dan diterbitkan di dalam sebuah
tulisan yang digunakan oleh umat kita untuk menyampaikan pekabaran malaikat ketiga kepada banyak orang yang tidak dapat dijangkau oleh Firman yang dikhotbahkan.
95
Ketika kita menyampaikan pekabaran dalam
kemurniannya, kita tidak perlu menggunakan gambar-gambar yang menceritakan tempat kelahiran
Shakespeare, atau gambar-gambar yang serupa
dengan ilustrasi dewi-dewi kafir yang digunakan
untuk mengisi tempat kosong pada halaman pertama dari edisi “Review and Herald” yang terbaru.
Kita tidak boleh mendidik orang lain dengan cara
seperti ini. Tuhan menentang artikel dan ilustrasi
seperti itu. Saya memiliki kesaksian langsung tentang hal ini, kita tidak boleh memuji kekafiran atau
manusia yang tidak memilih untuk melayani Tuhan. Bertahun-tahun yang lalu, teguran disampaikan kepada editor kita tentang saran untuk membaca bahkan buku-buku seperti “Uncle Tom’s
Cabin,” “Aesop’s Fables,” dan “Robinson
Crusoe.” Orang-orang yang mulai membaca karyakarya seperti itu biasanya ingin terus membaca
novel-novel. Melalui membaca kisah-kisah yang
memuji-muji, mereka dengan cepat kehilangan kerohanian mereka. Ini adalah salah satu penyebab
utama kerohanian yang lemah dan tidak menentu
dari banyak orang muda kita. (MS 169, 1902, hlm. 6,
7, “The Work of the St. Helena Sanitarium: Our Institutional Work to be Denominational,” 14 Juli 1902.) —
MR 6, hlm. 279, 280.
Tetaplah ingat pernyataan ini ketika anda membaca pertunjukan drama Shakespeare oleh Walla
Walla College di tahun 2001.
96
Pada pertengahan tahun 50-an, sudah diketahui umum bahwa kelas-kelas bahasa Inggris dan sastra di SMA juga menuntut siswa mempelajari karyakarya fiksi yang merupakan pemberontakan terbuka terhadap nasehat Tuhan dalam Roh Nubuat.
Dan pada saat bersamaan dengan penayangan film
seri “Westbrook Hospital” oleh Faith for Today, pintu
dibuka untuk mempengaruhi perkembangan jurusanjurusan drama di dalam sekolah-sekolah kita. Sementara bukanlah tujuannya untuk meneliti masuknya fiksi
ke dalam sekolah-sekolah kita, fiksi dan drama adalah
hampir serupa. (Lihat Lampiran 6 dan 7.)
1961–Walla Walla College Membuka Jurusan
Drama Bulan April 1961
“Donnie Rigby, profesor pensiunan yang mengajar pelajaran komunikasi di WWC selama lebih dari
35 tahun, menyutradarai produksi teatrikal pertama
di dalam sekolah pada bulan April 1961. pertunjukan drama musikal “Heidi”—didasarkan atas buku
terkenal karya Johanna Spyril, dipadukan dengan
musik yang dimainkan oleh band Jerman, the Walla
Walla Symphony, dan paduan suara putri, dan juga
beberapa penyanyi solo oleh anggota. Produksi ini
memulai program drama di WWC.” Valley Times,
Jumat, 23 November, 2001, hlm. B-5.
Pada 50 tahun sebelumnya dewan sekolah
telah memutuskan sebagai berikut: “Tampaknya
menurut Dewan Manajer Walla Walla College bah97
wa penyelenggaraan kantata Ester dengan menggunakan kostum dan panggung tidak akan memberi manfaat terbaik bagi sekolah, maka, diputuskan bahwa kami meminta orang-orang yang bertanggung jawab dalam hal ini untuk membatasi
usaha mereka pada penyelenggaraannya dalam lagu tanpa kostum, panggung, ataupun diperankan.”
(Lihat 1902-Maret di atas).
Apakah rekomendasi ini hanyalah sebuah tingkah dari Dewan Manajer yang terlalu konservatif, atau
apakah ini didasarkan atas prinsip-prinsip abadi yang
ditetapkan oleh para pionir gereja kita dan diteruskan
oleh Dewan? Mungkinkah bahwa Dewan Walla
Walla College tahun 1961, yang banyak diantaranya bertumbuh dalam keluarga yang memiliki televisi di rumahnya dan hiburan produksi Hollywood
di sekolah-sekolah dan gereja-gereja, telah kehilangan pandangan kepada prinsip-prinsip pokok
tentang drama? Mungkinkah dukungan dari General
Konferens terhadap produksi drama oleh Faith For Today memiliki pengaruh terutama kepada WWC untuk
memulai jurusan drama di sekolahnya? Pembahasan
lebih lanjut tentang jenis-jenis drama yang sekarang
memancar dari jurusan drama WWC akan dibahas
kemudian.
1963—Tulisan A.L. White berjudul “Dramatic Productions in SDA Institutions” (Produksi-produksi
Drama di Lembaga-lembaga MAHK):
98
Pada bulan Februari 1963, Arthur White, sekretaris Penerbitan Ellen G. White dan juga adalah
cicit Ellen White, menyebarkan sebuah tulisan berjudul “Dramatic Productions in SDA Institutions”
(Produksi-produksi Drama di dalam Lembaga-lembaga
MAHK). Alasannya menuliskan makalah ini adalah
“Telah ada permintaan kepada The White Estate
tentang bahan-bahan dari pena Ellen G. White
yang mungkin menyangkut pertanyaan tentang
produksi acara-acara drama dalam lembaga-lembaga MAHK.” Hlm. 1 (Tulisan selengkapnya, lihat
Lampiran 22).
Dan mengapa ada pertanyaan-pertanyaan?
Televisi ada di hampir semua rumah orang Advent
Amerika Utara pada saat itu, dan film-film layar lebar Hollywood adalah daya tarik gereja dan pertemuan-pertemuan lembaga, dan banyak orang dalam kepemimpinan bersimpati dengan seni drama.
Sebagai contoh, Faith for Today menjadikan drama
sebagai gaya dalam gereja Advent dengan menggunakannya untuk mengemas Injil.
Inilah saatnya bagi The White Estate untuk menetapkan kembali tonggak-tonggak lama para pioner
mula-mula kita menentang wilayah-wilayah dan kepemimpinan gereja yang semakin menginginkan drama.
Atau apakah ini saatnya untuk menemukan satu jalan
kompromi? Ingatlah, the Missionary Volunteer Society akan segera menghilang; kebebasan berbicara, kelompok hippies (flower power), dan gerakangerakan musik rock sedang menanjak; dan “jurang
99
pemisah antar generasi” sedang dimaklumkan.
(Catatan: flower power adalah sebuah kelompok (cult)
yang muncul dan berkembang di tahun 1960-an, yang
menolak gagasan-gagasan konvensional misalnya dalam hal berpakaian dan nilai-nilai sosial, dan yang
mendukung perdamaian dan kasih, dengan menggunakan bunga sebagai lambang keyakinan mereka)
Namun demikian, ada banyak pemimpin, pelajar dan orangtua di seluruh Divisi Amerika Utara
yang sangat prihatin karena sekolah-sekolah
memulai jurusan-jurusan drama dan jurusan-jurusan bahasa dan sastra Inggris menambahkan lebih
banyak karya fiksi dalam daftar bacaan wajib mereka.
Khususnya perhatikan pernyataan dalam tulisan
White yang terdapat dalam paragraf kedua di halaman
pertama:
Sebuah survei tentang nasehat-nasehat ini gagal menunjukkan kutukan secara menyeluruh terhadap segala acara-acara yang dilakonkan. Dengan perkataan lain, Ellen White tidak mengutuk suatu acara
hanya karena acara itu didramakan. Dalam hal ini, nasehat-nasehat yang menyentuh produksi drama adalah serupa dengan nasehat sehubungan dengan olah
raga, dan yang menarik, keduanya dibahas bersama
dalam dua pernyataan peringatan. Nyonya White tidak
mengutuk “gerak badan sederhana yang menggunakan bola,” (AH 499) namun sementara ia membahas
prinsipnya, ia menunjukkan resiko besar yang biasanya menyertai kegiatan-kegiatan olah raga. Nyonya
100
White tidak mengutuk acara yang dilakonkan dengan
sederhana yang dilakukan oleh Sekolah Sabat Battle
Creek di tahun 1888, namun dalam banyak pernyataannya, ia dengan jelas menunjukkan banyak resiko
yang hampir pasti yang menyertai “pertunjukan-pertunjukan” dan “acara-acara teatrikal.”—A. L. White,
Dramatic Productions in SDA Institutions, Februari
1963.
A. L. White melanjutkan pernyataannya bahwa
Nyonya White tidak mengutuk drama Sekolah Sabat
yang dihadirinya, namun menulis kepada Saudara
Morris sebuah kritikan yang penuh perenungan dan
menyenangkan.
Adalah amat penting bahwa nasehat yang diberikan kepada orang yang mengatur acara tentang bagaimana agar acara dibuat supaya lebih efektif, namun tidak ada kutukan tentang acara itu karena adegan yang dilakonkan. —A. L. White, hlm. 5.
Pada hari Sabat pagi, 22 Desember 1888, Ellen
White menghadiri sebuah pertunjukan teatrikal yang
diselenggarakan oleh Sekolah Sabat Battle Creek
yang di dalamnya cucu perempuannya, Ella W. White,
mengenakan kostum dan berperan sebagai malaikat.
Ada hiasan panggung pendukung, aktor, musik dan
puisi. Empat hari kemudian, pada hari Rabu pagi, 26
Desember 1888, ia menulis sebuah surat kepada Saudara Morris. Dalam surat ini tampak jelas bahwa
Nyonya White benar-benar mengutuk acara tersebut. (Definisi kata “mengutuk” adalah “menyatakan
sebagai yang patut dicela, salah, atau jahat, biasanya
101
setelah mempertimbangkan bukti dan tanpa keraguan”—Webster’s Ninth New Collegiate Dictionary.).
Surat selengkapnya ada pada Lampiran 5.
Surat itu dimulai dengan, “Saya telah bangun
pukul tiga pagi ini untuk menulis beberapa baris kepada anda.” Ketika anda membaca keseluruhan artikel,
anda akan memahami mengapa ia membuat pernyataan berikut:
Saya harus mengatakan bahwa saya merasa
menderita karena perkara-perkara ini, begitu tidak
sejalan dengan pekerjaan reformasi yang kita telah
usahakan untuk dimajukan di dalam gereja dan
lembaga kita, dan saya tentu akan merasa lebih
baik jikalau saja saya tidak pernah hadir di sana.—
2MR, hlm. 236.
Sesungguhnya, ia hanya membuat tiga komentar penerimaan dan 22 komentar tidak menerima.
Apakah ini kedengaran seperti sebuah kritik yang menyenangkan tentang bagaimana membuat drama agar
menjadi lebih baik, atau apakah ini seperti sebuah
teguran yang keras?
Dua daftar dibuat di bawah ini, tentang komentar Nyonya White yang menunjukkan penerimaan dengan kritik yang penuh perenungan tentang acara itu
dan komentar Nyonya White yang menunjukkan ketidaksetujuan dan kutukan langsung.
Komentar-komentar Penerimaan:
1. Baris 1-2: “Saya senang dengan mercusuar, dan
pemandangannya.”
102
2. Baris 4-5: “Bagian yang dimainkan oleh anak-anak
adalah baik.”
3. Baris 4-5: “Bacaannya adalah tepat.”
Komentar-komentar Ketidaksetujuan
1. Baris 1: “Saya telah bangun jam tiga pagi ini
untuk menulis kepada anda beberapa baris.”
2. Baris 2-4: “…adegan yang telah membutuhkan
begitu banyak usaha keras adalah sesuatu
yang seharusnya dapat menjadi bagian yang
paling berkesan, namun gagal menjadi sesuatu
yang memiliki kekuatan dan menonjol dibandingkan dengan begitu banyak waktu dan tenaga yang digunakan untuk melakukannya.”
3. Baris 5-10: “Kemudian jikalau ada perbincangan yang mantap dan baik tentang kejadian itu
sehubungan dengan anak-anak dan guru-guru
dalam sekolah Sabat yang bekerja dengan tulus demi keselamatan jiwa-jiwa anak-anak di
bawah tanggung jawab anda, memberikan persembahan yang paling dapat diterima kepada
Yesus, pemberian hati mereka sendiri, dan perkataan-perkataan yang menarik, pendek dan
benar sesuai dengan kemampuan mereka untuk melakukannya, bukankah itu akan sejalan
dengan pekerjaan yang telah kita usahakan di
dalam gereja ini?
4. Baris 11-14. “Setiap ketukan sekarang harus
serasi dengan satu tujuan besar, mempersiapkan hati, sehingga masing-masing murid-murid
103
5.
6.
7.
8.
9.
dan guru-guru harus seperti terang yang dinyalakan pada lilin yang akan memberi terang kepada semua orang yang ada di dalam rumah,
yang akan membawa gagasan dengan jelas
tentang sebuah mercusuar yang menuntun
jiwa-jiwa sehingga iman mereka tidak akan
hancur berkeping-keping.”
Baris 14-16: “Dapatkah anda mengatakan kepada saya apakah kesan yang menonjol dari dua
puisi yang disampaikan oleh dua wanita di sana sehubungan dengan pekerjaan ini?”
Baris 17-18: “Nyanyiannya adalah seperti yang
kita harapkan dalam setiap pertunjukan teatrikal, tidak ada satu katapun yang dapat dibedakan.”
Baris 18-19: “Tentulah kapal yang terkena topan badai akan hancur dihantam karang, jikalau tidak ada lebih banyak terang yang berasal
dari mercu suar dibandingkan dengan yang
tampak dalam perbuatan.”
Baris 19-22: “Saya harus mengatakan bahwa
saya merasa menderita karena perkara-perkara
ini, begitu tidak sejalan dengan pekerjaan reformasi yang sedang kita usahakan untuk dimajukan di dalam gereja dan di dalam lembaga-lembaga kita, sehingga saya tentu akan merasa lebih baik jikalau saya tidak pernah hadir
di sana.”
Baris 22-25: “Ini adalah kesempatan yang harus diperoleh bukan hanya bagi anak-anak se104
kolah Sabat, tetapi perkataan yang seharusnya
dikatakan sehingga akan memperdalam kesan
akan perlunya mencari perkenan Juruselamat
itu yang mengasihi mereka dan memberikan
DiriNya bagi mereka.”
10. Baris 25-29: “Seandainya [hanya] lagu-lagu
hymn yang berharga yang dinyanyikan, “PadaMu Batu Zaman, aku minta lindungan” (‘Rock
of ages, cleft for me, let me hide myself in
Thee’), dan “Yesus yang berkasihan, aku lari
padaMu, sambil angin keras lawan dan ombak
pun memalu” (‘Jesus lover of my soul, let me
to Thy bosom fly, while the billows near me
roll, while the tempest still is high’). Jiwa-jiwa
siapakah yang diilhami dengan semangat baru
dan segar bagi Tuhan kita dalam nyanyian-nyanyian tersebut yang kebajikannya adalah berbeda dengan penampilan penyanyinya?”
11. Baris 30-34: “Sementara usaha-usaha keras dilakukan demi penampilan ini, pertemuan-pertemuan sedang dilakukan dengan perhatian
mendalam yang seharusnya menarik perhatian,
dan yang memanggil kehadiran setiap jiwa sehingga mereka tidak akan kehilangan sesuatu
dari pekabaran yang disampaikan oleh Tuhan
kita kepada mereka. Sekarang hari Natal ini telah berlalu dengan beban catatannya, dan kita
ingin segera mengetahui hasilnya.”
12. Baris 34-35: “Akankah penampilan tersebut
membuat mereka yang terlibat di dalamnya
105
menjadi lebih memikirkan perkara-perkara rohani?”
13. Baris 35-36: “Akankah penampilan itu meningkatkan perasaan kewajiban kepada Bapa kita di
surga yang telah mengirimkan AnakNya ke dalam dunia pada pengorbanan yang tak terhingga untuk menyelamatkan manusia yang telah
jatuh dari kehancuran total?”
14. Baris 36-37: “Apakah pikiran disadarkan untuk
memahami Tuhan karena kasih besarNya bahwa Ia telah mengasihi kita?”
15. Baris 38-42. “Kami berharap, setelah hari Natal
berlalu, bahwa orang-orang yang telah berusaha begitu keras sekarang akan menyatakan suatu semangat yang pasti dan tulus, usaha-usaha tanpa pamrih demi keselamatan jiwa-jiwa
para guru sekolah Sabat, sehingga pada akhirnya mereka masing-masing akan bekerja keras
demi keselamatan jiwa-jiwa di dalam kelas-kelas mereka, untuk memberi mereka petunjukpetunjuk pribadi tentang apa yang harus mereka lakukan agar selamat.”
16. Baris 42-47. “Kami berharap bahwa mereka
akan menyediakan waktu untuk bekerja dalam
kesederhanaan dan dalam ketulusan bagi jiwajiwa di bawah pengawasan mereka, dan bahwa
mereka akan berdoa bersama mereka, dan bagi
mereka, sehingga mereka dapat memberikan
kepada Yesus persembahan berharga jiwa-jiwa
mereka, sehingga mereka menjadi lambang
106
yang sejati bagi mercu suar dalam sinar terang
yang bersinar dari usaha-usaha keras mereka
dalam nama Yesus, yang seharusnya disampaikan dalam kasih, mereka sendiri memahami
sinar terang untuk kemudian membagikan terang ini kepada orang lain, dan oleh karenanya
tidak akan berhenti hanya pada pekerjaan permukaan saja.”
17. Baris 47-54: “Tunjukkan saja ketrampilan dan
sikap yang mulia dalam memenangkan jiwa-jiwa kepada Yesus sebagaimana yang telah anda tunjukkan dalam usaha keras bagi penampilan yang baru lewat ini. Tunjukkan kepada
mereka dalam usaha-usaha anda, dengan hati
dan jiwa yang penuh pertolongan, menjadi Bintang yang bersinar keluar kepada langit yang
gelap moral pada saat ini, bahkan Terang kepada dunia. Biarlah terangmu bersinar sehingga
jiwa-jiwa yang terkena topan badai mungkin
akan memandang kepada terang itu dan menghindarkan dari batu karang yang tersembunyi
di bawah permukaan air. Pencobaan-pencobaan sedang menunggu siap untuk menipu mereka, jiwa-jiwa ditekan oleh perasaan bersalah,
siap untuk tenggelam dalam keputusasaan. Bekerjalah untuk menyelamatkan mereka; tunjukkanlah mereka kepada Yesus yang begitu mengasihi mereka sehingga Ia memberikan nyawaNya bagi mereka.”
107
18. Baris 55-59: “Terang dunia bersinar ke atas kita sehingga kita dapat menyerap sinar ilahi dan
membiarkan terang ini bersinar kepada orang
lain dalam perbuatan-perbuatan baik sehingga
banyak jiwa akan dituntun untuk memuliakan
Bapa kita di surga. Ia telah lama menderita, tidak rela bahwa ada yang binasa, namun semuanya harus bertobat, dan yang menyusahkan
hati Yesus adalah bahwa begitu banyak orang
yang menolak tawaran belas kasihan dan kasihNya yang tak terbandingkan.”
19. Baris 60-62: “Apakah semua orang yang memainkan suatu peranan menarik dalam acara
malam yang lalu akan bekerja dengan giat dan
penuh minat untuk menunjukkan dirinya berkenan kepada Tuhan dalam melakukan pekerjaan
bagi Tuhannya, sehingga mereka dapat menunjukkan dirinya pekerja-pekerja yang cerdas
yang tidak perlu merasa malu?”
20. Baris 62-64: “Oh, biarlah guru-guru dalam sekolah Sabat diilhami sepenuhnya oleh roh pekabaran pada masa kini, membawa pekabaran
itu ke dalam pekerjaan mereka.”
21. Baris 64-67: “Ada jiwa-jiwa yang harus diselamatkan, dan sementara di dalam pekerjaan sekolah Sabat ada banyak daftar isian dan sejumlah besar waktu digunakan untuk membaca
laporan dan catatan, hanya ada sedikit waktu
untuk benar-benar membiarkan terang bersinar
dalam sinar yang tetap dan jelas dalam pe108
tunjuk-petunjuk yang diperlukan untuk menyelamatkan jiwa anak-anak dan orang muda.”
22. Baris 67-71: “Kurangi pidato-pidato yang rumit,
kurangi komentar-komentar yang berkepanjangan, dan sampaikan kebenaran dengan jelas dan langsung, jangan ada perkataan yang
disampaikan memamerkan pengetahuan yang
dalam; bukti terbesar dari pengetahuan yang
sesungguhnya bukan kata-kata dalam pidato,
melainkan adalah kesederhanaan yang besar.
Semua orang yang telah mengambil pengetahuan Yesus akan meniru Dia dalam cara tuntunan mereka.”
Kesimpulan dari pernyataan dalam AH 499 tentang “gerak badan sederhana bermain bola,” dan dari
pertunjukan drama hari Natal Surat 5, 1888, Nyonya
White tidak “menyatakan kutukan yang menyeluruh
terhadap segala acara yang dilakonkan,” adalah tidak
berbicara sesuai fakta. Kita harus bertanya, “Apakah
pernyataan-pernyataan nasehat dan ketidaksetujuan
dibuat oleh seseorang yang menikmati drama dan hanyalah memberi suatu kritikan bagaimana membuatnya menjadi lebih baik? Pada kenyataannya, buktibukti dari Surat 5, 1888, bukan sebuah penerimaan
terhadap drama Natal, melainkan sebuah kutukan
yang tegas dan penuh kebaikan.
Jikalau paragraf ini, yaitu paragraf selanjutnya,
dan penafsiran Arthur White tentang sikap Ellen White
terhadap drama yang dihadirinya sebagaimana digambarkan di atas dalam 2MR, hlm. 235-238 (Surat 5,
109
1888) adalah berasal dari tulisannya, maka setiap
orang yang membacanya akan menyimpulkan bahwa Ellen White tidak lain adalah mengutuk penggunaan drama. Kedua paragraf dan penafsirannya
sesungguhnya membantah keseimbangan tulisannya.
Misalnya, dua pernyataan penutup yang dikutipnya pada halaman 8 secara jelas menegaskan sikap Nyonya
White terhadap drama.
Yesus Kristus adalah teladan bagi orang
Kristen dalam segala hal. Tentang Yesus, Nyonya
White menulis:
Saya tidak bisa menemukan satu kejadian di
mana Ia mendidik para muridNya untuk terlibat dalam hiburan sepak bola atau pertandingan-pertandingan tinju, sebagai gerak badan, atau dalam
pertunjukan teatrikal, dan Kristus adalah pola kita
dalam segala hal.—Fundamentals of Christian Education, hlm. 229.
Suatu prinsip penuntun yang masuk akal untuk
selalu diingat tentang pertanyaan sejenis yang telah
kita pelajari adalah dinyatakan dalam Testimonies,
Vol. 5, hlm.360:
Teladan dan pengaruh kita haruslah menjadi
suatu kuasa di pihak reformasi. Kita harus menghentikan setiap praktek yang akan menutupi hati
nurani dan mendorong kepada pencobaan. Kita tidak boleh membukakan pintu yang akan memberi
kesempatan kepada Setan masuk ke dalam pikiran
seseorang yang telah dibentuk dalam citra Tuhan.
110
Sementara adalah sangat disayangkan bahwa
Hancock mengikuti pernyataan A. L. White sebagaimana dikatakan dalam tulisannya yang berjudul “Is
Dramatization Wrong?”, hlm. 13; namun keseluruhan
nada tulisan Hancock dapat disimpulkan dari paragraf
terakhirnya:
Bukankah ini saatnya bagi kita untuk mengarahkan tenaga orang muda kita menjauh dari dunia teater yang penuh kepura-puraan menuju kenyataan
sepenuhnya tentang pekabaran tentang hidup mati sebuah masyarakat yang segera menuju kepada penutupan tirai? Apakah kita telah hanyut, barangkali
hampir tidak kentara menjauh dari jalan-jalan yang
lama dan perlu untuk mendengarkan peringatanperingatan dari para pemimpin pionir kita yang
mengetahui bahwa “nafsu memimpin Setan adalah
untuk menyimpangkan orang-orang yang pandai
dan menyebabkan manusia menginginkan penampilan-penampilan dan pertunjukan-pertunjukan teatrikal” (Evangelism, hlm. 266). Apakah ini saatnya
bagi suara dari Pertemuan Dewan Musim Gugur untuk
mendukung pendirian mula-mula gereja dalam bidang
masalah ini sehingga dapat mendekatkan kepada kebangunan rohani dan reformasi?—Hancock, hlm. 14.
1974—Komite tentang Tuntunan bagi KegiatanKegiatan Kompetitif dan Drama
Pada tanggal 28-31 Januari 1974, General
Konferens membentuk sebuah komite terdiri atas 37
111
orang terpilih, sebagian dari mereka membaca tulisantulisan tentang olah raga kompetitif dan sebagian dari
mereka membaca tentang drama (Lihat Lampiran 23).
Ketika berkomunikasi dengan General Konferens untuk mempersiapkan tulisan ini, petugas arsip GC hanya dapat menemukan tiga tulisan yang dijadualkan
untuk disampaikan, yaitu tulisan Josephine Benton,
J. H. Hancock, dan Frank Knittel. Dua tulisan lainnya
ditulis untuk komite, yaitu oleh Phyllis Paytee dan
Leslie Hardinge. Tulisan-tulisan lainnya mungkin telah hilang atau tidak disampaikan atau tidak diserahkan.
Masing-masing tulisan akan dikomentari secara
singkat. Pembaca dapat menemukan teks selengkapnya dari tulisan-tulisan tersebut dalam Lampiran.
Tulisan Josephine Benton adalah kumpulan
wawancara informal dengan produser, pelaku dan
penonton produksi drama. Isinya bersifat subyektif, ”tanpa usaha berpura-pura memberi jawaban.”
Hlm. 8 (lihat Lampiran 24).
Tulisan J.H. Hancock adalah bersifat menyeluruh, tercatat dan obyektif. Tulisannya telah banyak
dikutip dalam tulisan ini. Lihat Lampiran 25.
Tulisan Frank Knittel dimulai dengan “Saya
menganggap bahwa beberapa penampilan adeganadegan oleh para pemain adalah kegiatan yang dapat
diterima oleh MAHK.” Frank Knittel, “Shall We Use
Commercial Drama In Seventh-day Adventist
Schools,” hlm. 1. Ia melanjutkan pada hlm. 4: “Selama masa hidup saya, saya telah melihat hanya seki112
tar 150 produksi panggung—sekitar 75 dari jumlah
itu diproduksi di satu universitas—dan saya pernah
melihat hanya satu di arena umum yang secara pribadi saya nilai cocok untuk ditampilkan di kampus
MAHK.” (Lihat Lampiran 26).
Knittel membawakan tulisan ini ketika ia adalah
presiden dari Southern College of SDA (Knittel
menjabat sebagai Dekan Administrasi dari tahun
1968-1971 dan Presiden dari tahun 1971-1982). Barangkali pendapatnya bahwa “beberapa penampilan
adegan-adegan oleh para pemain adalah kegiatan
yang dapat diterima oleh MAHK” dapat menjelaskan
sikap kepemimpinan kampus tersebut terhadap pertunjukan Dido and Aeneas delapan tahun kemudian
pada jam 8 malam, tanggal 18 Maret 1990 di Ackerman Auditorium, Southern College of SDA.
Lampiran 27 berjudul “The Witches’ Den Opera at Southern College of SDA” (Opera Gua Penyihir di Kampus MAHK Southern College) menggambarkan opera dan suasana produksinya. (Penulis
memiliki rekaman video dari penampilan tersebut. Anda boleh meminta kopiannya).
Phyllis Bryan Paytee menyerahkan kepada komite sebuah tulisan berjudul “Drama in the Elementary Classroom” (Drama di ruang kelas sekolah dasar) Perhatikan pernyataan utamanya dalam paragraf
pertama dari tulisannya (Lihat Lampiran 28):
Pada saat kata “drama” disebutkan, kita menemukan diri kita di wilayah yang penuh perdebatan. Baik Alkitab maupun Roh Nubuat menyatakan peri113
ngatan dan larangan bagi orang Kristen yang tergoda untuk mengambil bagian dalam setiap kegiatan yang berwatak teatrikal dan sensasional, baik
yang ditampilkan di dalam teater maupun di dalam
lembaga-lembaga kita. Akan tetapi, pada saat yang
sama, baik Alkitab maupun Roh Nubuat tidak memberikan kutukan langsung tentang drama sebagai
sebuah sarana belajar.
Tidak diragukan lagi bahwa ia telah membaca
tulisan White, karena dalam kesimpulannya pada halaman 5, ia menyatakan pola pikirnya:
Guru sekolah dasar yang menggunakan drama kelas yang informal sebagai sarana bagi program-program pengajaran untuk memberikan apresiasi, wawasan, dan pemahaman baru akan memilih hanya adegan-adegan drama yang akan memenuhi kebutuhan belajar tertentu. Ia akan memilih bahan-bahan yang memiliki unsur-unsur dasar yang mudah digariskan dan muda bagi muridmurid untuk diubah ke dalam bentuk tindakan dan
dialog sederhana. Guru juga harus mengenal
anak-anak dan bahan itu dengan sangat baik dan
mencoba menggabungkan keduanya dalam cara
yang terbaik.
Pada tanggal 3 Maret 1975, sebuah ringkasan
dari komite 28-31 Januari 1974 ditulis dengan judul
“Guidelines for the Use of Dramatization Among
SDAs” (Tuntunan bagi penggunaan dramatisasi di
kalangan MAHK), dan disetujui oleh komite khusus
General Konferens. Tema pokok dalam tulisan terse114
but adalah untuk mendorong penggunaan drama
dengan beberapa kehati-hatian tertentu. Pintu air
bah drama telah dibukakan dan segera rumah-rumah, gereja-gereja dan lembaga-lembaga kita dibanjirinya. (Lihat Lampiran 29).
Tulisan Arthur White tahun 1963 dan ringkasan tanggal 3 Maret 1975, yaitu ringkasan dari komite
tanggal 28-31 Januari 1974, yang berjudul “Guidelines for the Use of Dramatization Among SDAs”
dan bersamaan dengan berkembangnya mentalitas
“baby boomer” (generasi yang lahir pasca perang dunia II, yaitu antara tahun 1945-1965), jurusan-jurusan
drama di kampus kita bertumbuh ke arah yang berlawanan dengan rekomendasi yang diberikan oleh
Roh Nubuat dan kepemimpinan gereja selama lebih dari 80 tahun. Bagaimanakah ini bisa terjadi?
1995—Manual MAHK, Revisi 1995, Edisi ke-15:
Pada halaman 151, di bawah sub-judul “Radio
and Television” terdapat pernyataan-pernyataan berikut:
Radio dan televisi telah mengubah suasana
keseluruhan dari dunia modern kita dan telah membawa kepada kita kontak yang mudah dengan kehidupan, pemikiran dan kegiatan-kegiatan dari seluruh
penjuru dunia. Radio dan televisi adalah agen-agen
pendidikan yang besar. Melalui sarana tersebut kita
dapat memperluas pengetahuan kita tentang peristi-
115
wa-peristiwa di dunia, dan menikmati diskusi-diskusi
penting dan musik-musik terbaik.
Namun sayangnya, radio dan televisi juga terus menerus membawa kepada pemirsanya pertunjukan-pertunjukan teatrikal dan banyak pengaruh lainnya yang tidak sehat maupun mengangkat.
Jikalau kita tidak memilih-milih dan tegas, radio
dan televisi akan mengubah rumah-rumah kita
menjadi teater dan pertunjukan penyanyi keliling
yang murahan dan jorok.
Keselamatan bagi kita dan anak-anak kita
adalah terdapat dalam kepastian, melalui pertolongan Tuhan, untuk mengikuti nasehat rasul Paulus: “Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang
benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua
yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.” (Filipi 4:8).
Jikalau para orangtua, pendeta, dan pimpinanpimpinan lembaga mengikuti nasehat sederhana ini,
hampir setiap saluran televisi (kecuali beberapa
acara pada saluran pendidikan) akan dihapuskan,
bersama dengan seluruh produksi video drama.
1996—Ensiklopedia MAHK, Edisi Revisi II, M-Z:
Pada halaman 424 dan 425, pada judul “Visual
Entertainment,” saran berikut diberikan tentang produksi drama:
116
Ini meliputi bentuk-bentuk pertunjukan seperti serial kartun, film, televisi, video, menonton
teater dan olah raga komersial. Pilihan-pilihan jenis pertunjukan bagi umat MAHK telah diatur melalui prinsip-prinsip umum yang dapat diterapkan
dalam berbagai tingkat yang berbeda-beda.
Gambar telah dikenal sebagai salah satu sarana paling efektif untuk mempengaruhi perilaku manusia. Jikalau ini benar, maka terbukti bahwa terdapat
kemungkinan besar bagi kebaikan dan kejahatan dalam gambar, bergantung kepada watak dari apa yang
digambarkan. Karenanya, salah satu kriteria dasar
yang telah digunakan umat MAHK untuk menentukan
apa yang layak dan tidak layak ditonton oleh orang
Kristen adalah watak dari sesuatu yang digambarkan.
Serial Kartun. Ini biasanya berupa serangkaian
lukisan dalam urutan cerita. Misalnya, ini dapat menggambarkan kisah Alkitab; kehidupan liar, peristiwa sejarah, atau proses ilmiah; atau gambar adegan kejahatan, kekerasan, dan ketidakbermoralan. Watak dari
kegiatan yang digambarkan adalah apa yang seharusnya menentukan apakah kartun-kartun tersebut
layak ditonton oleh orang Kristen. Umat MAHK
menggunakan serial kartun untuk mengajarkan kisah-kisah Alkitab dan menyampaikan informasi ilmiah dan sejarah kepada anak-anak, namun menganggap “komik” secara umum adalah merusak
pembentukan tabiat yang sehat.
Gambar Bergerak dan Video. Perkembangan
gambar-gambar bergerak, khususnya yang dilengkapi
117
dengan suara, telah memungkinkan penggambaran
yang sangat realistis dari produksi drama. Orangorang Kristen konservatif yang sebelumnya telah
mengetahui pengaruh jahat dari teater melihat akibat-akibat yang sama dari film yang diproduksi
secara massal. Telah diketahui dengan baik bahwa
pengaruh dari adegan-adegan yang digambarkan,
khususnya terhadap anak-anak dan orang-orang
muda, adalah sangat kuat, dan isi dari sebagian
besar pertunjukan drama bukanlah menuju ideal
yang tinggi. Pertunjukan-pertunjukan ini seringkali
menampilkan sesuatu yang semu dan biasa menjadi tampak glamor, dan juga aspek kekerasan dan
kejahatan dalam kehidupan, dan menonjolkan watak dan tindakan yang tidak pantas.
Umat MAHK telah diperingatkan (dalam Buku
Tuntunan Gereja, thn. 1990, hlm. 145) “terhadap pengaruh yang halus dan sinis dari teater gambar
bergerak,” yang menjadi sekolah pelatihan, yang
dalam pandangan orang Kristen, bagi nilai-nilai
yang palsu—keduniawian, kemalasan, dan cinta
kesenangan—dan seringkali menampilkan orangorang muda yang bergabung dalam perkumpulanperkumpulan yang berbahaya.
Sementara mengutuk teater gambar bergerak, umat MAHK tidak menentang tontonan gambar bergerak yang bukan teatrikal, jikalau watak
dari kegiatan yang digambarkan tersebut adalah
sehat dan mendidik dan jikalau kesederhanaan
ditunjukkan dalam jumlah waktu yang digunakan.
118
Lembaga-lembaga yang didukung gereja mempertunjukkan film-film selektif bagi kelompok mereka sendiri.
Televisi. Melalui televisi, keputusan tentang
apakah yang boleh ditonton telah menjadi masalah
harian dalam keluarga. Gereja MAHK tidak mengutuk televisi, namun menasehatkan anggota untuk
menggunakan prinsip-prinsip yang sama tentang
gambar bergerak kepada seluruh acara, dan selanjutnya, untuk tidak menghabiskan terlalu banyak waktu menonton acara bagus sekalipun. Berikut ini adalah bagian dari pernyataan yang disiapkan
di bawah petunjuk Komite General Konferens dan diterbitkan tahun 1956 (“What About Television?”
(Bagaimana tentang televisi?) hlm. 4): “kecuali para
pemirsa terus menerus waspada, TV menghabiskan sejumlah besar waktu mereka. Orang-orang
Kristen adalah penatalayan dari talenta waktu,
yang bertanggung jawab kepada Tuhan terhadap
setiap saat untuk meningkatkannya demi kemuliaanNya. Waktu telah diberikan kepada manusia
bagi perbaikan diri, bagi kerja dan gerak badan,
bagi persekutuan dengan Tuhan, bagi pelayanan
kepada Tuhan dan manusia, bagi rekreasi dan sukacita, dan oleh karenanya harus digunakan dalam
acara yang seimbang sehingga akan membawa kemuliaan bagi Tuhan dan akan memenuhi kebutuhan dan kewajiban hidup seseorang.”
Tuntunan Gereja (The Church Manual, 1990,
hlm. 145) memberikan nasehat berikut ini tentang televisi: “Keselamatan bagi diri kita sendiri dan bagi
119
anak-anak kita terletak pada ketetapan, dengan
pertolongan Tuhan, untuk mengikuti nasehat rasul
Paulus: “Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua
yang benar, semua yang mulia, semua yang adil,
semua yang suci, semua yang manis, semua yang
sedap didengar, semua yang disebut kebajikan
dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.” (Filipi
4:8).
Kehadiran di Teater dan Olah Raga Komersial. Berbeda dengan bentuk-bentuk hiburan visual lainnya yang telah dibahas dalam artikel ini, panggung
(termasuk drama dan opera) dan olah raga komersial (termasuk pertunjukan komersial) menggunakan pemain langsung, namun banyak prinsip
yang berlaku bagi serial kartun, gambar bergerak,
dan televisi juga berlaku di sini. Ellen White menulis tentang panggung: “Dari antara tempat-tempat kesenangan yang paling berbahaya adalah teater. Bukannya menjadi sekolah bagi moralitas dan
kebajikan, sebagaimana yang sering diakui demikian, ini adalah sarang bagi ketidakbermoralan.
Kebiasaan-kebiasaan jahat, dan kecenderungankecenderungan berdosa diperkuat dan didukung
oleh pertunjukan-pertunjukan ini. Nyanyian-nyanyian yang rendah, gerakan-gerakan isyarat yang
tidak senonoh, perkataan dan sikap merusakkan
imajinasi dan merendahkan akhlak. Setiap orang
muda yang biasa menonton pertunjukan seperti itu
akan menjadi rusak prinsipnya. Tidak ada pengaruh di negeri kita ini yang lebih kuat untuk mera120
cuni imajinasi, menghancurkan kesan keagamaan,
dan menumpulkan kesukaan akan kesenangan hidup yang sederhana, dibandingkan dengan hiburan-hiburan teatrikal.
“Kesukaan akan pemandangan-pemandangan ini meningkat dengan setiap pemanjaan.. satusatunya jalan yang aman adalah menghindari teater” (MYP 380).
Dukungan terhadap olah raga komersial seperti pertandingan-pertandingan baseball, sepak
bola dan basket dilarang oleh gereja. Maka dalam
Tuntunan Gereja (hlm. 146) dikatakan: “Janganlah
kita mendukung hiburan-hiburan komersial, bergabung dengan orang-orang yang mencintai kesenangan, kesembronoan, keduniawian, yang “lebih
mengasihi kesenangan daripada mengasihi Tuhan.”
1999 - Editorial oleh Royson James, Kolumnis
untuk the Toronto Star:
Berkomentar tentang hilangnya orang muda secara tragis di gerejanya, Bapak James, seorang
MAHK, mengadakan pengamatan yang diterbitkan dalam Review Edisi Dunia pada bulan Mei 1999:
Gereja di Amerika Utara menghadapi sebuah
krisis amat besar. Orang muda kita mempertanyakan tiang-tiang keyakinan iman kita. Mereka menuntut jawaban, jangkar-jangkar yang sesungguhnya sebagai pegangan, dan pemecahan-pemecah121
an modern bagi masalah-masalah milenium baru
ini. Lebih daripada sebelumnya, mereka mencari
model peran untuk memimpin mereka dalam kebangunan rohani abad ke-21...
Banyak orang muda mencari tujuan hidup
mereka. Mereka rindu untuk memahami relevansi
Adventisme dalam milenium berikutnya. Mereka
adalah bagian dari generasi komputer, keturunan
baru yang membutuhkan pendekatan-pendekatan
dan metode-metode baru. Banyak orang muda
yang mengatakan kepada kita bahwa mereka menginginkan iman mereka dalam perbuatan, namun
mereka tidak tahu bagaimana caranya. Mereka tidak mengetahui alasan-alasan di balik banyak ajaran-ajaran gereja. mereka hanya sedikit sekali mengetahui sejarah Gereja MAHK. Mereka mengatakan bahwa mereka ingin ditantang ketika mereka
datang ke gereja, bukan mendengarkan gagasan
lama yang sama setiap waktu.
Inilah tragedi gereja kita di Amerika Utara. Tampaknya tidak ada misi lembaga untuk melibatkan
orang muda kita. Dan jikalaupun ada, misi itu telah
gagal untuk ditonjolkan dalam sekolah-sekolah kita
atau menarik perhatian pendeta-pendeta kita, yaitu misi yang sesungguhnya dimaksudkan untuk dimasukkan ke dalam program-program gereja-gereja setempat.
Apakah kita menjadi heran bahwa pengamatan
ini begitu tepat? Bagaimanakah orang muda dapat
bersemangat tentang gereja jikalau mereka tidak me122
ngetahui sejarahnya atau tidak pernah mengetahui
landasan dari pekabarannya? Di musim gugur 1999,
seorang sahabat yang mengajarkan tentang pekabaran bait suci kepada anak-anak dan orang dewasa
(yang menangkap maknanya yang mendalam dengan
cepat dan menyukainya), bertanya kepada dua pelajar
SMA, yang hadir di rumahnya untuk santap malam,
apakah mereka mau mendengarkan penjelasannya
tentang bait suci. Mereka menerima tawarannya. Setelah dijelaskan, mereka berdua mengakui bahwa mereka sangat sedikit mengetahui tentang perkara itu
dan penjelasannya itu “sangat mendalam.”
1999—Jurusan Drama Walla Walla College (WWC)
masuk Koran
Pada tanggal 28 Mei 1999 sebuah koran lokal
di wilayah Walla Walla, The Union Bulletin menerbitkan artikel berikut:
Drama dengan pemain tunggal seorang perempuan yang dilarang di WWC pindah ke gedung Cordiner Hall, di Whitman College hari Rabu
Oleh Liza L. Diaz
RINGKASAN: Sebuah drama dengan pemain tunggal
seorang perempuan, yang dilarang dari panggung Walla Walla College setelah debutnya, akan dipentaskan
kembali—Di Whitman College.
123
Kimberley Howard percaya bahwa orang bisa
berdiri mengatasi pengaruh-pengaruh yang mungkin
merusak mereka dengan cara menemukan kembali
pelawak di dalam diri mereka.
Itulah tema dari dramanya, “Floating Redundant,” dan sekarang ini yang hendak dilakukannya dalam kehidupannya sendiri adalah melihat karyanya hidup terus.
Pihak Administratif Walla Walla College membatalkan drama dengan pemain tunggal seorang perempuan setelah malam pembukaan. Dua minggu kemudian, pada tanggal 6 Mei, Howard, sang profesor di
bidang drama ini, mengundurkan diri.
Tirai panggung turun? Tidak untuk Howard.
Dramanya selanjutnya akan dipentaskan pada hari
Rabu di Whitman College. Ia akan membawa pertunjukan itu ke Teater Gene Frankel di Kota New York
pada pertengahan Juni.
Pejabat WWC beralasan tentang pembatalan
dramanya adalah masalah isinya. “Saya kira ada banyak keprihatinan yang disampaikan oleh masyarakat
kampus agar menundanya hingga kita membahas keprihatinan tersebut,” kata W.G. Nelson, presiden kampus MAHK tersebut.
Jason Chamberlin, sutradara drama tersebut,
mengatakan bahwa alasan tidak resminya adalah ada
sejumlah kalangan di dalam kampus yang merasa tidak nyaman dengan materinya.
Drama satu pemain tunggal perempuan ini,
yang dipentaskan oleh Howard, menantang kebiasa124
an-kebiasaan sosial sementara perempuan itu mencari identitasnya. Lembaga-lembaga, seperti gereja dan
sekolah, dianggap oleh banyak orang sebagai batu
penjuru masyarakat. Namun Howard membelokkan
persepsi tersebut, menghadirkan lembaga-lembaga tersebut sebagai pengaruh-pengaruh yang merusak.
Drama itu pada mulanya menghadirkan perempuan itu sebagai seorang pelawak. Namun kemudian
ia kehilangan watak pelawaknya, pertama-tama menjadi seorang pelawak lalu menjadi orang yang membosankan. Akhirnya, ia muncul sebagai seorang perempuan dewasa. Namun bukannya ada dalam keadaan
dewasa dan lebih baik, perempuan ini menjadi rusak
dan tidak kreatif.
Bagi Howard, pembatalan dramanya dan pengunduran dirinya adalah yang terbaik. Ia mempertimbangkan untuk membawa “Floating Redundant” dalam
tur ke daerah dan memulai perusahaan teaternya sendiri dengan mantan murid-muridnya.
Ia mengatakan bahwa setelah ia mengundurkan
diri, ia mengalami “fase-fase dukacita,” namun percaya bahwa itu adalah yang terbaik dalam jangka panjang. “Saya tidak dipaksa untuk mengundurkan diri. Itu
adalah semacam keputusan bersama,” katanya. “Pernyataan resminya adalah bahwa ada beberapa perbedaan antara pihak sekolah dan saya tentang penafsiran gaya hidup Advent. “Saya ingin agar para murid
mengetahui bahwa saya tidak marah atau menyimpan
kebencian,” katanya.
125
Menyedihkan, Walla Walla College, salah satu lembaga pendidikan lanjutan milik gereja di
Amerika Utara, telah memetik apa yang ditaburnya
sejak dimulainya pada bulan April 1961.
1999—Laporan berkala (Newsletter) Amazing
Facts, Oktober 1999
Dalam Laporan Berkala ini, Doug Batchelor
membahas masalah musik dan drama yang telah
mengganggunya selama beberapa waktu:
Sahabat,
Sejak beberapa waktu yang lalu saya telah
mendengar “suara kecil yang hening” yang mengesankan kepada saya untuk berbicara kepada anda tentang satu masalah serius yang terus memakan gerejagereja kita bagaikan kanker. Saya telah menghindar
dari perkara yang makin membengkak ini karena takut
disalahmengertikan, namun saya tidak bisa berdiam
diri lebih lama lagi.
Biarlah saya menjelaskannya. Karena begitu
banyak acara pertemuan dalam persiapan bagi seminar Millennium of Prophecy di New York dimulai pada tanggal 15 bulan ini, saya telah memiliki banyak kesempatan untuk mengunjungi ratusan sahabat dan
pendukung di seluruh negeri dan untuk mengamati lusinan pelayanan perbaktian yang berbeda-beda. Keprihatinan saya adalah ini: Saya terkejut dengan ga-
126
ya perbaktian kafir yang menyelinap masuk ke dalam banyak gereja kita.
Kegilaan Musik
Salah satu unsur perbaktian yang paling kuat
yang telah menjadi pemecah belah adalah musik. Dari pesta pora zaman Roma kuno dan tari-tarian perang suku primitif, hingga kepada perilaku gila dalam konser-konser dan peristiwa-peristiwa olah raga modern, musik kafir dengan ritme sinkopatik
yang berat telah digunakan untuk menggairahkan
nafsu daging dan perilaku liar. Banyak gereja Kristen sekarang menyambut musik yang sama ini.
Dan itu bukan sekedar “musik rock Kristen” yang
keras. Saya telah melihat seluruh jemaat yang tampaknya telah terpikat melalui musik New Age (Zaman Baru) dengan lirik dangkal yang berulangulang yang dinyanyikan terus menerus. Jikalau Yesus menyuruh kita tidak berdoa dengan pengulangan yang sia-sia, maka tampaknya Ia tidak ingin
agar kita menyanyi dengan cara yang seperti itu
(lihat Matius 6:7).
Teologia Teater
Sebuah unsur lain yang menyerbu perbaktian
Kristen modern adalah drama. Saya tidak memiliki
masalah moral dengan penggunaan beberapa alat
bantu visual untuk menolong orang memahami kebenaran Alkitab dengan lebih baik. Tuhan meminta para
nabi seperti Yehezkiel dan Yeremia untuk melakukan
127
hal seperti ini (lihat Yeremis 32:14 dan Yehezkiel 5:14). Namun sebagian orang berpendapat bahwa ini
membenarkan produksi drama panggung dengan
tepukan tangan riuh yang mulai masuk ke dalam
gereja.
Permasalahannya adalah banyak orang yang
mengaku Kristen telah menjadi begitu terpikat oleh
menu yang teratur dari film, TV, dan video sehingga pelayanan perbaktian yang khidmat dan
sederhana tanpa drama, drum dan diakon yang
menari tampak membosankan. Banyak orang sekarang datang ke gereja untuk dihibur daripada
memberikan penyembahan, pujian, nyanyian dan
persembahan.
Pembaca dapat melihat isi selengkapnya dari
Laporan berkala Doug Batchelor bulan Oktober
2000 dalam Lampiran 30 (Izin untuk menerbitkan
ulang telah diberikan oleh Amazing Facts kepada penulis pada tanggal 22 November 1999).
2000- Walla Walla College Menampilkan Festival
Drama Satu Babak
Pada hari Kamis, 2 Maret 2000, Walla Walla
Union-Bulletin, surat kabar harian setempat, menerbitkan pada bagian ‘Lokal/Hiburan,’ sebagai berikut:
Para sutradara mahasiswa akan menampilkan
sembilan buah drama satu babak untuk Festival
Drama Satu Babak tahunan Walla Walla College yang
keempat. Setiap drama atau bagian dari drama ber128
langsung sekitar 20 menit, dan materinya berkisar dari
Shakespeare hingga “A Few Good Men.”
Pertunjukan akan dimulai pukul 8 malam Sabtu
dan Minggu dan tanggal 11-12 Maret. Karena ada
sembilan pertunjukan akan ditampilkan, satu pertunjukan lengkap akan berlangsung pada Sabtu dan
Minggu malam. Pertunjukan akan berlangsung di
WWC Village Hall.
Harga tiket adalah $ 7 untuk umum, $5 untuk
pelajar/mahasiswa dan $4 untuk mahasiswa WWC.
Satu tiket berlaku untuk kedua hari akhir pekan. Tiket
dapat dibeli di toko buku kampus atau di pintu masuk.
(Pembaca bisa mengacu kembali pernyataan ilham
tentang Shakespeare pada bagian sebelumnya dari
tulisan ini).
2000—Mei Koran Kampus Walla Walla College
“Collegian” Mendukung Menonton Pertunjukan
Drama dan Terlibat langsung dalam pertunjukan
“Back Seat Show”
Koran kampus Walla Walla College, “Collegian” dalam edisi 4 Mei 2000 menerbitkan kalender
kampus. The Harper Joy Theater terletak di kampus
Whitman College, yaitu kampus sekuler di Walla
Walla, Washington. Drama ini adalah produksi terutama dari para mahasiswa Whitman College.
Pertunjukan itu adalah karya klasik Gilbert dan
Sullivan berjudul “The Pirates of Penzance.” Bagi
para pria, kita memiliki para perompak dan perem129
puan-perempuan yang cantik. Bagi para wanita, kita
memiliki cinta dan hal-hal lain yang anda sukai. Pertunjukan dimulai hari ini di Harper Joy Theater pukul 8
malam. Tiket hanya $5. haruskah kami mengatakannya kepada anda? K-E-N-C-A-N M-U-R-A-H. Paket
ini memiliki apa yang anda perlukan dan segala
tindakan yang anda inginkan dalam kencan. Tetapi, kami kira itu tergantung pada kegiatan santai
anda setelah pertunjukan.
2000—Mei Jurusan Drama Walla Walla College Menampilkan “Resurrexio Domini Nostri” (Kebangkitan Kristus)
Pada tanggal 27 Mei 2000 di Gedung Village
Hall dan pada tanggal 28 Mei 2000, hari Sabat sore
pada pukul 3 sore, “Resurrexio Domini Nostri” (Kebangkitan Kristus) ditampilkan oleh pemain dan kru
mahasiswa Walla Walla College di bawah sutradara
Marilynn Loveless, direktur artistik drama Walla Walla College, dan wakil direktur artistik LuAnn Venden
Herrell. Undangan e-mail Ibu Herrel adalah sebagai
berikut:
Pemain dan kru “Resurrexio Domini Nostri” (Kebangkitan Kristus) mengundang anda untuk bergabung bersama kami bagi penutupan pertunjukan musim semi.
Hadirilah dan dukunglah sekelompok mahasiswa yang berbakat dan bekerja keras dalam penampilan drama abad pertengahan yang memainkan ke130
bangkitan Kristus. Anda disarankan untuk menyoraki tokoh yang buruk, dan menyambut tokoh yang
baik, dan menggunakan drama untuk membantu
merenungkan relevansi dan pentingnya peristiwa
keagamaan yang bersejarah ini. Nikmatilah komedi, drama, pemandangan, dan musik yang mulia
yang dipersembahkan oleh the I Contori dan The
Messengers.
Drama ini memicu sejumlah email dari kalangan
fakultas Walla Walla College. Kutipan-kutipan dari beberapa kiriman email adalah sebagai berikut tanpa
menyebutkan nama pengirimnya. Demi kemudahan,
pengirimnya diberi nomor.
Pengirim #1.
Sementara saya menyaksikan penampilan
minggu lalu, saya prihatin tentang isi dan bahasa
yang digunakan dalam drama tersebut. Tampaknya
isinya adalah katolik dan juga dalam beberapa bagian, tidak alkitabiah. Misalnya, Maria pergi ke surga
setelah kematiannya, kata-kata sumpahan seperti
“Oh God!” dan penceritaan balik tentang Yesus tentang waktu dan cara Yesus naik ke surga, dan ketika
Ia dapat disentuh, dan bagaimana Ia naik ke surga,
dan para serdadu tidur di kuburan. Keprihatinan ini juga dirasakan oleh orang-orang yang hadir. Cerita itu
tampaknya menampilkan gagasan yang sangat bertentangan dengan pernyataan misi WWC. Saya kira
keprihatinan ini juga dirasakan oleh beberapa
orang anggota masyarakat kita yang lebih tua
131
yang meninggalkan tempat segera setelah drama
itu dimulai. Saya tahu drama itu adalah adaptasi, tetapi apakah kita telah melakukan apa saja semampu
kita agar drama ini sesuai untuk kampus Advent? Saya memiliki harapan yang lebih tinggi bagi drama yang
didasarkan pada Alkitab, ditampilkan pada hari Sabat,
di kampus Advent.
Pengirim #2.
Saya tidak menonton drama itu, karena khawatir akan melihat hal-hal yang anda gambarkan dalam pesan anda. Kendati demikian, saya cukup dikacaukan oleh pertentangan di dalam kampus sehingga
saya tidak rela menempatkan diri saya di dalam suasana di mana saya mengetahui saya harus berbicara
dengan cara yang tidak populer.
Saya ragu bahwa pesan anda akan “bergema”
pada banyak orang di kampus, namun saya ingin agar
anda mengetahui bahwa saya adalah salah satu yang
setuju dengan itu. Saya benar-benar khawatir terhadap humor, dongeng, dan anekdot tanpa akhir
yang beredar untuk “menghadirkan Kristus kepada orang-orang dalam bahasa mereka.” Kita sebagai sebuah denominasi telah kehilangan sebagian
besar pemahaman kita akan keagungan dan kekhidmatan pekabaran kita. Sesungguhnya, saya kira
kita telah kehilangan sebagian besar dari pekabaran kita. Dalam konteks itu, saya merasa bahwa
pokok pikiran anda adalah sangat benar. Terima kasih
karena sudah menyatakan pendirian anda.
132
Pengirim #3 kepada Pengirim #1
Tanggapan anda tentang drama itu sedikit mengejutkan saya.
Dengan alasan-alasan yang tidak dapat saya jelaskan sepenuhnya, saya sangat tergerak oleh drama
tersebut dan apa yang dilambangkannya. Kelompok
drama WWC kita dan I Cantori telah memberikan kita
kesempatan untuk merenungkan kerinduan Tuhan kita, kematian dan kebangkitanNya dan apa artinya bagi
kita sekarang dan di masa depan. Saya terganggu dengan sekularisasi yang semakin meningkat dan
privatisasi kehidupan kita. Kapankah kita akan bertemu bersama untuk berbagi pengalaman yang sama?
Pada hari Sabat kita tercerai di 13 gereja di lembah ini
sementara sebagian melakukan kegiatan orang awam
dan yang lain lari ke gunung dan ke batu karang.
Berapa banyakkah dari kita yang menghadiri
pertemuan perbaktian? Pertemuan-pertemuan fakultas? Acara ‘Tas Coklat’ Selasa? Kapankah terakhir kalinya kita mengadakan seminar antar disiplin? Bahkan
bentuk komunikasi ini adalah seruan yang jauh dari
ideal bagi sebuah komunitas yang menyembah Tuhan
Yang Berinkarnasi yang telah memanggil kita untuk
memecah roti bersama-sama. Firman telah menjadi
sebuah sinyal elektronik dan berada di antara kita.
Pengirim #4
Saya menanggapi kritik tentang drama oleh
(Pengirim #1). Menurut saya, poin dalam drama itu ti133
dak ditangkap. Poin dalam drama itu bukanlah penginjilan semata ataupun hiburan, meskipun keduanya tidak perlu saling menghilangkan.
Tepatnya, saya menyesalkan cara yang dipilih
(Pengirim #1) untuk mencoba dan mempermalukan
anda secara terbuka. Roh Kristus yang saya pahami
tidak pernah demikian. Anda adalah aset besar bagi
kita di sini! Tolong jangan merasa putus asa karenanya, saya harap bahwa (Pengirim #1) dapat memikirkan kembali taktik dan memperluas wilayah pemahamannya dengan karya anda.
Tanggapan Pengirim #1 terhadap email dari Pengirim
#4 di atas.
Sementara saya memahami apa yang telah anda sampaikan, saya menyimpulkan bahwa :
1) Saya tidak memahami poin dalam drama tersebut
2) Anda tidak mengatakan kepada saya apa poin dalam drama tersebut.
Maukah anda mengomentari pernyataan prinsip
yang saya sertakan pada akhir email ini? Hal-hal seperti “Saya tidak pernah menemukan contoh-contoh di mana Ia [Yesus] mendidik murid-muridNya
… dalam pertunjukan teater.” Atau “Kebenaran haruslah dinyatakan dalam cara yang paling sederhana, bahkan seperti Kristus menyampaikannya,
sehingga orang dapat memahami apa itu kebenaran. Kebenaran akan menghilangkan awan mendung kesalahan.”
134
Saya hanyalah tidak melihat poin dari sebuah
drama yang jelas-jelas menyatakan kesalahan semata-mata demi pertunjukan teater.
Tanggapan Pengirim #4 kepada email Pengirim #1 di
atas.
Poin dalam drama tersebut pada dasarnya adalah Seni dengan segala kerumitan dan pertanyaan dan
sukacita sementara kita berhubungan dengan pengalaman manusia ini. Ini meluas kepada pemahaman
tentang berbagai budaya sebagaimana dicerminkan
dalam seni mereka, lengkap dengan fakta dan kesalahan. Tugas kitalah untuk mempelajari dari perspektif
mereka dan mengambil bagian dengan mereka dalam
sukacita manusiawi dan belajar dari semuanya itu
sehingga, sebagaimana halnya bidang sosiologi dan
sejarah, kita dapat menghargai estetika keseluruhan
yang menjadi ciri zaman itu. Dalam pemahaman saya,
menghindar dari mendengar atau melihat keyakinan
lain bukanlah tujuan dari peringatan nabiah kita, bukan
pula menghindar dari menonton bentuk-bentuk seni
drama atau penampilannya.
Pada suatu waktu saya tentu telah “mendengar” beliau seperti itu sebagaimana yang anda
pahami. Tetapi dengan pertolongan para mahasiswa
yang bersungguh-sungguh akan karya dan zamannya,
(orang-orang seperti Geo. Knight dalam berbagai bukunya), saya bisa bertanya apakah sesuatu yang di
dalamnya saya ikut ambil bagian, dalam karya sastra
atau apapun, adalah didasarkan pada suatu kepura135
puraan dan ketidakjujuran? Apakah sesuatu yang saya dituntut untuk mengalaminya adalah suatu pilihan
dari perspektif kemanusiaan yang lain? Apakah kebajikan suatu karya terdapat hanya pada penampilan penuh kebanggaan dan sama sekali tidak memiliki arah
penebusan? Apakah sesuatu yang saya bawa mempengaruhi persepsi saya pada derajat tertentu dimana
penyelewengan yang tidak layak tampak secara mencolok?
Masalah-masalah ini selalu menjadi poin kritikan dan penghakiman dalam karya seni bagi orang
Kristen. Pemikiran kritis dibutuhkan sebagaimana halnya perenungan akan kesimpulan-kesimpulan dan pilihan dan persepsi saya sendiri yang membantu bagi
pengalaman saya.
Banyak pembelaan dituliskan untuk membela
seni bagi pembaca Kristen. Secara khusus, masalah
Otentik atau Benar sebagai hal yang berbeda dari
Faktual telah dibahas secara berhati-hati oleh Geo’
Knight dalam Myths About Adventism dan saya
menyarankan anda membaca tulisan ini. Buku-bukunya tentang Ellen White juga telah sangat membantu saya.
Apakah Ellen White masih nabi Tuhan bagi
Gereja MAHK? Sejak kapankah kita membutuhkan
ahli teologia untuk menjelaskan atau menafsirkan
Roh Nubuat bagi kita? Ia menulis dalam bahasa
Inggris, bukan Yunani atau Ibrani. Fakta bahwa
drama masih terus dipertunjukkan di Walla Walla
College menunjukkan pola pikir orang-orang se136
perti Pengirim #4. Sayangnya, sejumlah besar fakultas menganggap baik Alkitab maupun Roh Nubuat tidak bermaksud seperti yang tertulis di dalamnya. Mengapa? Karena Alkitab dan Roh Nubuat
telah “dipengaruhi secara budaya.” Maka kita harus menafsirkan ulang agar menjadi relevan. Relativisme (suatu paham bahwa baik buruknya tindakan
tertentu tergantung dari sikap masyarakat atau orang
tertentu terhadap tindakan itu) telah memasuki kampus Walla Walla College dan berkembang subur.
2000—September Editorial dalam Majalah Gleaner
Mendukung Drama
Dalam edisi September, majalah Uni Pasifik
Utara, Gleaner, sebuah editorial berjudul “Surprising
Facts About Drama and the Church” (Fakta-fakta
Mengejutkan tentang Drama dan Gereja” diterbitkan.
Penulisnya memuji penggunaan drama dan bahkan menyebutkan bahwa pelayanan Bait Suci dalam Perjanjian Lama dan perayaan-perayaan Musim Semi dan Musim Gugur Yahudi adalah “peringatan bergaya drama tentang sejarah Ibrani yang
diperintahkan oleh Kitab Suci.”
Beberapa orang menulis surat kepada editor
tersebut dalam dua edisi berikutnya, berbagi keprihatinan mereka tentang kesimpulan dalam editorial tersebut. Editorial bulan September tahun
2000, “Surat kepada Editor,” dua Surat kepada Edi-
137
tor dan surat penulis berikut tanggapannya dapat
dibaca dalam Lampiran 31.
2000—November Musim Pertunjukan Drama Walla
Walla College Dimulai dengan Drama “The
Crucible.”
Koran mahasiswa Walla Walla College, The
Collegian, Volume 85, Edisi 9, tanggal 30 November 2000, menerbitkan artikel utama halaman depan
berikut.
Jikalau anda sedang menyukai cinta, kebencian, dan pengkhianatan, datanglah ke pertunjukan “The Crucible” oleh Klub Drama WWC di Village Hall mulai Sabtu, 2 Desember, pukul 8 malam.
Drama ini disutradarai bersama oleh Marilynn
Loveless, instruktur bidang komunikasi, dan Jim
Bock, seorang penyiar radio setempat dan aktor profesional yang telah tampil dalam produksi-produksi seperti “The Grapes of Rath” di London. Peter
Schmidt, seorang ahli komunikasi pidato senior, adalah asisten sutradara mahasiswa.
Mahasiswa yang mengambil bagian, Stephanie
Binns, seorang mahasiswa senior (tahun keempat
Jurusan Inggris, dan Adam Lombard, mahasiswa junior (tahun ketiga) di Jurusan Komunikasi, adalah pemeran utama sebagai Abigail Williams dan John
Proctor.
Para mahasiswa telah menghabiskan banyak
waktu demi produksi ini sejak awal Oktober ketika
138
pemeran telah ditentukan: hingga 11 atau 12 jam seminggu, kata Erica Sharp, mahasiswa tingkat pertama
dari jurusan Media komunikasi, yang memerankan
Mercy Lewis.
Drama ini melibatkan segalanya, termasuk
roman, godaan, hawa nafsu, pembunuhan dan
pembalasan dendam, mulai dari adegan pertama,
kata Dana Melashenko, mahasiswa tingkat dua, yang
berperan sebagai Betty Parris. Bahkan ada sedikit
kekerasan ketika Abigail menarik rambut Betty dan
menamparnya.* Drama ini dipenuhi dengan wanitawanita setengah baya yang bersemangat,” kata
Melanshenko.
Salah satu dari dua drama karya Arthur Miller
yang paling terkenal, “The Crucible” adalah kisah
perburuan perempuan sihir yang didasarkan atas kejadian di akhir tahun 1600-an di New England. Miller
menulis drama itu di tahun 1950-an selama masa jaya
aliran McCArthyisme, dan menyejajarkan antara perburuan perempuan sihir dengan tuduhan komunis
yang ditujukan kepada Miller dan orang-orang sezamannya.
Pertunjukan diadakan tanggal 2, 3, 9 dan 10
Desember pukul 8 malam setiap malam. Sebuah pertunjukan pada tanggal 7 Desember, yang akan diikuti
dengan sebuah acara tanya jawab dengan para pemeran dan sutradara dimulai pada pukul 7 malam. Tiket
untuk pertunjukan ini tersedia di Toko Kampus atau di
tempat tiket pada malam pertunjukan. Tiket berharga
$7 bagi umum, $5 untuk mahasiswa dan pensiunan,
139
dan $4 untuk mahasiswa dengan kartu mahasiswa
WWC.
Informasi lebih lanjut hubungi 527-2158 atau
masuk ke Website WWC Jurusan Drama di http://
drama.wwc.edu.
*Adegan ini dipentaskan bagi tempat perbaktian
(kapel) Walla Walla College pada hari Selasa, bagian
awal dari November 2000 di Gereja Kampus. Kapel
didedikasikan untuk membela dan menjelaskan penggunaan drama di kampus tersebut. Kelompok drama
secara khusus diminta oleh koordinator kapel untuk
menampilkan tema “Kristiani” bagi kapel. Pada sebuah
poster yang mengiklankan drama tersebut, kalimat
berikut ini secara menonjol dipampang pada bagian
bawah. (Lihat poster ini pada Lampiran 32). “Drama
ini berisikan beberapa hal yang mungkin tidak
sesuai untuk anak-anak kecil.” Koran mingguan
setempat, Valley Times, pada tanggal 8 Desember
2000 menempatkan artikel berikut pada halaman depan: “WWC performance of ‘The Crucible’ a worthy
rendition of Miller’s masterpiece” (Pertunjukan ‘The
Crucible’ oleh WWC, terjemahan yang layak bagi karya besar Miller”). Paragraf ketujuh mengatakan “Satu
hal yang pasti. Sebagaimana yang dikatakan dalam
pengumuman tentang drama ini, drama ini tidak sesuai untuk anak-anak kecil.” Pertanyaan sesungguhnya yang harus diajukan adalah “Apakah drama ini
sesuai untuk orang muda anda dan saya yang
bersekolah di Walla Walla College?”
140
2001—Maret Adventist Review tentang Akibatakibat Kebudayaan Populer melalui Media Drama
Sambil menggambarkan “pengaruh kebudayaan populer yang merusak,” Jennifer Schwirzer, seorang istri, ibu dan penulis buku menulis dari Putnam,
Connecticut:
Media massa memberikan tiga pesan kepada
orang muda—minum, habiskan uang dan jadilah
aktif secara seksual. Ketiga obsesi ini menghasilkan buah dalam tiga penyakit—kekerasan
yang besar, materialisme, dan ketidakbermoralan.
Dunia seorang muda diikat ke dalam sumber-sumber pesan kematian ini melalui video, televisi, bioskop dan MTV.
Sebagai orangtua, kita harus menyadari bahwa media ini benar-benar bertentangan dengan
tujuan kita. Kita menginginkan agar anak-anak kita
menjadi bahagia dan menyesuaikan diri dengan
tepat: media massa menginginkan memperoleh
uang dari mereka. Tidak ada cara untuk menyelaraskan tujuan anda dan tujuan pedagang-pedagang haus
uang yang ada di balik kamera itu.
Rata-rata remaja menonton TV 21 jam dalam
seminggu, sementara remaja yang sama setiap minggu hanya selama 49 menit saja terlibat percakapan
dengan ibu mereka dan 35 menit dengan ayah mereka. Ini berarti bahwa remaja hanya memiliki 14 kali
lebih banyak input dari media massa dibandingkan
dengan dari orangtua mereka.
141
Kita sedang memanen hasil-hasil dari kerusakan rohani dari orang muda kita. Kerusakan ini
mencemooh usaha-usaha kita untuk menyediakan
perlindungan hukum bagi anggota muda di dunia
kita. Kita mungkin saja melindungi mereka sebagaimana yang kita inginkan, akan tetapi mereka tidak akan selamat sementara mereka tidak terlindungi dari penghancuran diri sendiri melalui pengaruh media. Adventist Review, 15 Maret 2001.
2001—Mei WWC Memainkan Buku C.S.
berjudul The Great Divorce
Lewis
“Roh-roh gemerlapan dan hantu-hantu tembus cahaya berdebat tentang kebajikan kehidupan
duniawi mereka dan landasan bagi surga dan neraka.” Demikianlah artikel dalam Walla Walla Union
Bulletin pada hari Rabu tanggal 9 Mei 2001 hlm. 9,
menggambarkan drama terakhir di akhir tahun. “Tur
multimedia melalui surga dan neraka, Drama ‘The
Great Divorce’ oleh Walla Walla College menggunakan layar putih dan pencitraan melalui proyektor. Keri
Donaldson, memerankan Roh yang berusaha meyakinkan seorang gadis muda, yang diperankan oleh
Kristin Taylor, untuk mengizinkannya menghancurkan Roh jahat yang diikatkan ke punggungnya, yang
dimainkan oleh Kristin Smith.” Bacalah kutipan di bawah foto U-B oleh Greg Lehman (artikel selengkapnya, lihat Lampiran 33).
142
2001—Oktober Mahasiswa WWC Memainkan “Karya Lengkap William Shakespeare (yang disederhanakan)”
APA: “Karya Lengkap William Shakespeare (yang disederhanakan)”
TANGGAL: 13, 14, 18, 20 Oktober, pukul 8 malam.
TEMPAT: Panggung Donnie Rigby di lantai dasar dari
The Canaday Technology Center
TIKET: $5 untuk mahasiswa WWC/staf/fakultas dengan kartu pengenal.
INFORMASI& PEMESANAN: 527-2158. Jikalau anda
mencoba membeli tiket pada pertunjukan obral Sabtu
malam (tanggal 13 Oktober), kami akan menambahkan tempat duduk tambahan. Tersedia lebih banyak
tiket di Toko Kampus dan di pintu masuk. Disarankan
untuk memesan terlebih dahulu.
TEATER JAMUAN MAKAN MALAM: Minggu malam,
21 Oktober pukul 7 malam.
TIKET: $20 (mahasiswa asrama dapat membayar $11
melalui rekening ARAMARK mereka).
Kami berharap anda dapat bergabung dengan
Don & Donnie Rigby, bersulang atas keberhasilan
mereka pada malam istimewa ini. Jamuan makan malam yang lezat akan disajikan (summer vegetable stirfry ravioli, linguini with sun-dried tomato pesto, Caesar
salad, garlic bread sticks and ' double chocolate fudge
cake with raspberry melba sauce) pada pukul 7 malam, diikuti dengan trio kocak berbakat Adam Lombard, Erich Dorzab dan Rudy Scott dalam pertun143
jukan “Karya Lengkap William Shakespeare (yang disederhanakan).”
Catat bahwa ini adalah pertunjukan sebelum
musim pertunjukan. Tiket musiman untuk DRAMA
WWC akan tersedia di Toko Kampus mulai 1 November.
Demikianlah pengumuman untuk pembukaan
drama sekolah yang ditampilkan oleh Jurusan Drama
WWC. Dua kritikus menuliskan artikel-artikel berikut di
dalam Koran The Collegian, tertanggal 4 Oktober
2001, menggambarkan pertunjukan tersebut sebagai
berikut:
“Jika anda ingin tertawa keras dan sering, jangan lupa “Karya Lengkap William Shakespeare (yang
disederhanakan).” Disebutkan dalam pembukaan sebagai pertunjukan “yang belum pernah terjadi dalam sejarah teater.” Dalam waktu kurang dari dua
jam, tiga orang pria menampilkan keseluruhan dari 37
drama besar dari penyair tersebut; dan mereka melakukannya dengan perilaku gila-gilaan yang hiruk
pikuk. Drama itu adalah puncak dari 20 tahun komedi
pendek improvisasi oleh empat Brits of The Reduced
Shakespeare Company. Selama bertahun-tahun mereka mengurangi drama-drama si penyair itu ke dalam
unsur-unsur dasar saja, yang tampaknya meliputi acara masak memasak, sepakbola dan rap.
Dalam pertunjukan perdana di College Place,
seluruh peranan (pria dan wanita) dimainkan oleh
Adam Lombard, Rudy Scott dan Erich Dorzab.
Lombard yang berjingkrak-jingkrak dengan rambut
144
palsu dan rok itu sendiri adalah sesuai dengan harga
tiket masuknya.
Satu catatan penting: Meskipun anda membenci
Shakespeare, anda masih akan menikmati drama ini.
Kekuatan komedinya terletak pada nada olok-olok
dan penggunaan secara seenaknya ungkapan-ungkapan klise si penyair. Tampaknya, anda akan tertawa pada humor di panggung yang anda tonton sementara anda membaca karya-karya Shakespeare
yang lebih tidak masuk akal. Dan jika anda sesungguhnya terjaga lebar ketika pelajaran bahasa Inggris di
SMA, anda akan lebih menikmati kegilaan ini.
Keberhasilan “Karya Lengkap …” ini terletak pada beberapa hal. Karena naskahnya didasarkan pada
improvisasi, maka pertunjukan ini berimajinasi bebas
dan amat menggelikan. Saya tidak membayangkan
bahwa “Romeo dan Juliet” dapat melibatkan Darth
Maul, Nirvana dan pisau karet. Memanfaatkan kebebasan ini, para pemeran menuliskan kembali bagian
dari naskah yang asli didasarkan atas imajinasi mereka. Saya menemukan kemudian bahwa beberapa bagian favorit saya adalah kesalahan pada saat latihan
yang mereka masukkan ke dalam pertunjukan.
Ketiga pemeran tersebut memiliki penguasaan
yang baik tentang waktu, dan koreografi mereka sangat hidup. Drama ini menggunakan banyak komedi kasar dan fisik, yang sangat mudah dilakukan
dengan buruk. Para pemeran ini memainkannya dengan baik, khususnya ketika pertarungan dengan pedang dan pertandingan sepak bola.
145
Drama ini sangat mudah dipahami oleh penonton masa kini karena drama ini menggabungkan gaya
komedi masa kini, ditambah dukungan dan dialog
abad ke-20. Dengan melibatkan penonton, para pemain sering menuju ke penonton, maka, untuk dapat menikmati kelucuannya, pastikan anda memperoleh
tempat terdepan. Belilah tiket segera juga, karena
tempat duduknya terbatas.
Singkatnya, “Karya Lengkap William Shakespeare (yang disederhanakan)” adalah drama yang belum pernah anda saksikan sebelumnya. Menghadiri
sebuah pertunjukan teater dengan suatu harapan adalah selalu berbahaya, tetapi saya bisa katakan aman
jikalau anda masuk ke dalam teater Erich, Rudy dan
Adam, sepanjang anda mengharapkan yang tidak diharapkan.” Brian Bell, penulis film, The Collegian.
“Saya yakin bahwa siapapun yang memiliki gagasan untuk menggabungkan karya-karya lengkap
Shakespeare ke dalam sebuah drama akan menghadapi tentangan keras “Tidak!” oleh perusahaan-perusahaan teater di seluruh dunia barat. Bayangkan dalam setiap dua setengah jam pertunjukan, dikalikan
dengan 37 drama, semuanya jadi satu. Ya ampun. Itu
bahkan tidak termasuk segudang puisi oleh Shakespeare.
“Barangkali karena keputusasaan—atau sinisme—tidak mampu menemukan seorang sutradara bagi Karya Lengkap yang sungguh-sungguh, maka drama "Karya Lengkap ..." muncul, selama 1 jam 45 menit penuh dengan cekikikan dan tertawa terbahak-ba146
hak. Adam Long, Daniel Singer dan Jess Winfield menulis komedi luar biasa ini, dan produksi ini disutradarai oleh mahasiswa WWC Dan Lounsbury. Di panggung, ketiga pemain menggunakan pakaian ketat
“menyebarkan kata-kata suci dari si penyair kepada
orang banyak.” Erich Dorzab, Adam Lombard, dan
Rudy Scott sangat lancar dalam improvisasi mereka—
talenta yang amat penting karena banyaknya interaksi
dengan penonton—dan kemampuan mereka untuk
menyelinap ke belakang panggung dan muncul kembali beberapa saat kemudian sebagai tokoh yang berbeda dan sangat lucu. Ketiga orang ini bahkan telah
menguasa aksen Skot ketika memainkan MacBeth (oh
lihat air ludah beterbangan!).
Sebagian besar kritikus merasa mereka tidak
melakukan tugas mereka dengan benar jikalau mereka tidak menyebutkan satu titik yang salah dalam sebuah produksi yang mereka nikmati seluruhnya. Saya
bukan kritikus seperti itu. Saya duduk selama dua jam
dan saya melihat dua kali sebelum dipertunjukkan secara profesional di Piccadilly Circus oleh the Reduced
Shakespeare Company—dan tertawa pada setiap bagian sekeras saya tertawa di London. Barangkali ketika para pemain meminta maaf sebelum dan sesudahnya, itu adalah latihan kostum yang tidak sempurna di
panggung. Saya tidak pernah memperhatikannya. Sebaliknya, saya duduk di kursi dan menghapuskan air
mata karena tertawa terlalu keras.” Chelsey Ham,
Penulis Film, The Collegian.
Pertunjukan itu menimbulkan keprihatinan di
147
kalangan fakultas di Walla Walla College. Berikut ini
adalah email-email yang berhubungan dengan pertunjukan tersebut. Demi kemudahan, pengirim email akan
diberi nomor.
Pengirim #1 kepada Pengirim #2
Saya berpikir untuk menanggapi ini dengan
tanggapan umum ke seluruh anggota (kampus) namun saya kira pertama-tama saya akan mengirim
tanggapan ini langsung kepada anda dengan beberapa pikiran (dan juga kepada beberapa orang lain). Saya kita pertanyaan utama saya adalah berhubungan
dengan kriteria yang digunakan oleh jurusan drama
WWC untuk menentukan isi drama WWC. Sementara
ada beberapa contoh isi yang dapat saya komentari
dari beberapa tahun yang lain (seperti pertunjukan di
kapel tahun lalu), saya di sini hanya berfokus pada
drama baru yang sedang anda kerjakan. Singkatnya,
perhatian saya adalah masalah kriteria untuk isi.
Inilah yang mengganggu saya—Kampus pernah
dibawah pengawasan beberapa tahun yang lalu tentang bagaimana kita menyelenggarakan segala sesuatu di sini. Dewan meminta WWC untuk secara khusus menjawab beberapa keprihatinan itu. WWC menjawab dengan laporan Komite Tanggapan Komisi,
yang mengatakan pada hlm. 18:
“Dengan alasan ini, kami benar-benar meminta maaf karena tidak selalu berhasil dalam pendidikan rohani bagi para mahasiswa kami. Kami
ingin meyakinkan dewan tentang komitmen dan
148
kasih kami kepada Alkitab, tulisan-tulisan Ellen
White, dan keyakinan-keyakinan gereja kita.”
Saya dan hampir seluruh fakultas di WWC setuju bahwa isi dari laporan komisi tersebut akan membantu memperbaiki baik citra dan cara kerja di dalam
WWC. Beberapa orang berkomentar, seperti yang dikutip di atas, yang sangat menarik perhatian saya, karena komentar-komentarnya adalah pernyataan keras. Tetapi apakah kita bersungguh-sungguh?
Apakah kita benar-benar “kasih kepada tulisan-tulisan Ellen White” sementara kita mengabaikannya?
Ada petunjuk khusus dalam tulisan-tulisan
ilham yang memungkinkan kita menjawab pertanyaan tentang kriteria isi. Banyak pernyataan tentang hal-hal positif yang dapat kita lakukan, dan sedikit
pernyataan tentang hal-hal yang seharusnya tidak kita
lakukan. Pengumuman khusus yang anda sebarkan
berhubungan dengan isi khusus yang telah dibahas
sebelumnya. Sementara saya akan memilih untuk
membahas masalah kriteria isi yang positif, pengumuman khusus ini memaksa saya untuk memikirkan
tentang mengapa kita melakukan hal-hal yang dinasehatkan agar kita tidak melakukannya? Berikut ini
hanyalah dua dari beberapa nasehat seperti itu:
Tentang memberi ilustrasi pada karya sastra kita, ia menulis: Lihatlah, bait suci Tuhan berdiam bersama manusia. Dan Ia dengan penuh kasih karunia turun untuk berdiam di antara mereka. Biarlah orangorang yang menyampaikan kebenaran pada masa
149
kini berdoa dengan sungguh-sungguh agar diberi
kemampuan untuk mengetahui hal-hal rohani secara jelas. Biarlah mereka menjadi iri dengan tulus
demi kehormatan Tuhan Allah semesta alam. Biarlah
mereka melihat dosa dari memuji-muji orangorang seperti Shakespeare, meminta perhatian bagi orang-orang yang kehidupannya tidak memuliakan Tuhan atau menyatakan Kristus.”
Tentang penerbitan satu artikel tentang Shakespeare: “Saudara-saudara, marilah kita menggunakan akal budi kita. Dalam berbagai cara kita sedang menjauh dari Tuhan. Oh betapa saya merasa
malu tentang edisi Signs of the Times baru-baru
ini! Pada halaman pertama ada sebuah artikel tentang Shakespeare, seorang manusia yang mati beberapa hari setelah pesta pora mabuk-mabukan,
kehilangan nyawanya melalui pemanjaan selera
yang salah. Dalam artikel ini dikatakan bahwa ia
melakukan banyak pekerjaan yang baik. Manusia
dipuji-puji. Perkara benar dan salah diletakkan pada tingkatan yang sama, dan diterbitkan di dalam
sebuah tulisan yang digunakan oleh umat kita untuk menyampaikan pekabaran malaikat ketiga kepada banyak orang yang tidak dapat dijangkau
oleh Firman yang dikhotbahkan.
Publikasi artikel ini menyebabkan saya tidak bisa tidur. Saya menjadi sangat tertekan. Jikalau saudara-saudara kita tidak cukup mampu melihat kejahatan dari segala perkara ini, kapankah mereka akan
mampu? Mengapa mereka tidak dapat memahami na150
da dari perkara seperti ini? Kita harus berdiri di tempat kebenaran kekal yang tinggi. Ujung pedang kebenaran tidak boleh ditumpulkan.
Kita harus mengambil langkah yang lurus,
menggunakan kebenaran sebagai pembelah yang
perkasa, untuk memisahkan dari dunia orangorang yang akan berdiri sebagai umat Tuhan yang
istimewa.”
Jikalau Nyonya White menulis tentang penggambaran tempat kelahiran Shakespeare dan publikasi artikel umum tentang dia, apakah menurut anda
yang akan dikatakannya tentang dramanya? Apakah
Nyonya White akan meminta WWC untuk “menggunakan akal budi kita?” Apakah ia akan berkomentar seperti di atas? Ataukah ia akan menulis seperti para kritikus: “Lombard yang berjingkrak-jingkrak dengan rambut palsu dan rok itu sendiri adalah sesuai dengan
harga tiket masuknya,” atau “imajinasi bebas dan sangat lucu.” Saya tidak tahu bagaimana “Romeo dan
Juliet” dapat melibatkan Darth Maul, Nirvana dan pisau karet.” Saya meminta pemikiran anda tentang masalah kriteria isi. Dan jikalau saya telah melupakan sesuatu di sini, atau saya bahkan bukan orang yang tepat di bidang ini, tolong beri tanggapan segera, sebelum saya mengirimkan sesuatu seperti ini ke kampus
secara umum.
Terima kasih, Pengirim #1 10/11/01, 05:46 sore
Pengirim #2 kepada Pengirim #1
Di tahun 1950-an, ketika Washington Mission151
ary College masih berlokasi di Distrik Columbia, seorang mahasiswa seminari yang masih muda dan istrinya menghadiri acara "An Evening with Shakespeare"
(Satu malam bersama Shakespeare). Acara ini menampilkan Basil Rathbone dan Fay Emmerson yang
membacakan bagian-bagian pilihan dari karya si penyair tersebut. Tidak ada kostum atau panggung—hanya dua tempat duduk, beberapa lampu dan pertunjukan yang menyetrum penonton.
Pengalaman ini menjadi titik balik dalam kehidupan di pendeta muda ini. Di sana ia memutuskan
bahwa sejak itu dan selanjutnya ia tidak ingin berkhotbah PADA orang-orang, melainkan menyampaikan
kasih dan kemurahan Tuhan yang menyelamatkan
KEPADA orang-orang. Ia segera menyingkirkan mimbar, karena menganggap itu sebagai pembatas antara
dirinya dan jemaatnya—sebuah tindakan yang berani
dan inovatif pada saat itu sehingga membuat marah
ketua majelis dan menolak untuk memindahkan mimbar tersebut. Saat ini, hal ini adalah praktek yang
biasa.
Mahasiswa seminari muda ini kemudian menjadi pendeta bagi dua gereja MAHK terbesar di dunia—Sligo dengan 3000 anggota di tahun 1950-an
dan 1960-an, dan Gereja Kampus Loma Linda dengan lebih dari 7000 anggota. Ia menjadi ketua konferens dan presiden Columbia Union College selama 8 tahun. Secara keseluruhan, ia membaktikan sisa 50 tahun hidupnya untuk bekerja bagi gereja,
sebelum ia pensiun tahun lalu. Orang itu adalah
152
ayah saya.
Saya ingin melihat setiap mahasiswa teologia
mengikuti kuliah kelas akting saya dan tampil setidaknya dalam satu drama selama kuliah di kampus. Saya
percaya mereka secara khusus perlu memahami apa
yang sangat dipahami oleh Kristus—bagaimana menjangkau orang, membawa mereka kepada pekabaran
keselamatan dengan kisah-kisah dan perumpamaanperumpamaan yang menghibur. Memainkan satu peran adalah juga cara yang amat berharga untuk memahami cara pandang orang lain. Tidak berarti bahwa
kita harus menerapkan cara pandang orang tersebut,
tetapi setidaknya kita bisa mulai memahami mereka.
Itulah salah satu keindahan Perjanjian Lama. Tuhan
menjangkau umatNya dan menemui mereka di
tempat mereka berada—penuh kesalahan, mementingkan diri sendiri, dan berdosa. Sejak Peristiwa 11
September menjadi lebih mendesak bahwa kita belajar
memahami orang lain yang tidak berpikir seperti cara
kita—bukan karena kita ingin menjadi seperti mereka,
melainkan bagaimana lagi cara untuk pernah menjangkau mereka dengan kabar kasih karunia Tuhan
yang menyelamatkan?
Ketika membaca pesan anda, saya bertanya-tanya bagaimana mungkin kita menemukan titik persamaan yang memungkinkan kita berkomunikasi satu
sama lain. Saya khawatir bahwa kita akan selamanya
mendekati perkara ini dari dua kutub yang berlawanan. Sementara saya mungkin tidak setuju dengan anda, ketahuilah bahwa saya akan selalu dengan sema153
ngat membela hak anda untuk menyatakan keyakinan
anda. Bagaimanapun, kita bukan orang-orang Taliban!
Saya memiliki tulisan editorial oleh Milton C.
Wilcox pada tanggal 9 Juli 1902 yang terbit dalam
Signs of the Times, dan saya juga memiliki tulisan
tanggapan White dari Counsels to Writers and
Editors, hlm. 172-176 (bacaan wajib dalam kelas penulisan skenario saya dan kelas Sejarah Teater). Bagi
saya, ini serupa dengan editorial yang muncul dalam
The Gleaner, tentang William Shakespeare. Publikasi
resmi gereja bukanlah forum yang benar untuk
artikel seperti ini dan saya setuju dengan White
bahwa “Semoga Tuhan mengasihani pemahaman
kita jikalau kita tidak memiliki makanan yang lebih
baik untuk diberikan kepada kawanan domba Tuhan.” Namun ia tidak menyarankan agar orang
tidak mempelajari karya-karya Shakespeare, khususnya dalam situasi akademik.
Anda mungkin tertarik untuk mengetahui semakin bertumbuhnya pertentangan tentang siapa sesungguhnya yang menulis karya-karya lengkap Shakespeare. Di tahun 1992, sebuah Alkitab Jenewa, milik
Earl of Oxford yang ke-17, ditemukan di perpustakaan Folger Shakespeare. Banyak bagian yang digarisbawahi dilacak kembali kepada kutipan-kutipan langsung di dalam karya Shakespeare, "The Marginalia
of Edward de Vere's Geneva Bible: Providential
Discovery, Literary Reasoning and Historical Consequence," yang di dalamnya ia membahas pentingnya penemuan ini bagi perdebatan tentang pengarang
154
dan semakin banyaknya bukti bahwa siapapun yang
menulis drama-drama tersebut, sesungguhnya berkenaan dengan masalah-masalah rohani…
Terima kasih karena memberi saya kesempatan
untuk menanggapi khususnya pertanyaan anda tentang kriteria yang kita gunakan dalam perencanaan
musim pertunjukan Drama WWC kami.
Perenungan yang seksama dilakukan dalam pemilihan acara-acara kami sehingga memungkinkan
drama digabungkan ke dalam misi akademik dan misi
kudus sekolah ini. Seluruh drama yang ditampilkan di
kampus ini diteliti dan diedit bagi isi yang mungkin tidak layak. Jurusan komunikasi dan jurusan Inggris bekerja sama untuk menjamin bahwa kami menyeimbangkan kebutuhan untuk memberikan pendidikan seni yang liberal yang, pada saat yang sama, tetap konsisten dengan pernyataan misi sekolah.
Sebagaimana yang saya sampaikan tahun lalu
di kapel, ketegangan yang ada antara sebuah “sistem”
seperti gereja dan imajinasi manusia yang mendukung
bentuk-bentuk kehidupan dan pertumbuhan yang baru, bukanlah sesuatu yang baru. Saya melihat acara
drama mengisi sebuah peranan penting dalam menyediakan katalisator bagi pertumbuhan dan pembaharuan di kampus ini.
Menulis atas nama Ellen G. White Publication di
tahun 1971, W. P. Bradley menunjukkan,
“Tentang pelajaran sastra, Ellen G. White dengan tegas menyatakan bahwa pencarian pengetahuan dalam karya sastra tidak boleh dilarang (CT
155
19, 136). Kami menginginkan agar orang muda supaya cukup berbudaya dalam berbagai bidang dan
dalam kasih karunia sosial sehingga mereka keluar dari sekolah-sekolah kita bukan sebagai orangorang yang membosankan dan tidak tahu apaapa.”
Sekali lagi, terima kasih karena sudah menyediakan waktu untuk menghubungi saya tentang keprihatinan anda. Saya tidak berhadap anda akan tertarik
untuk bekerja sama dengan saya untuk mengembangkan suatu mata kuliah teknik tentang konstruksi pemasangan? Saya menunggu tanggapan anda.
Salam, Pengirim #2.10/11/01, 07:10 malam.
Hampir tidak tampak bahwa penulis ini sedang
membicarakan Walla Walla College, sesungguhnya ia
tinggal lima blok dari sekolah dan tidak mungkin tidak
mengetahui tentang apa yang sedang terjadi di sana.
Tidak diragukan lagi, orang-orang yang tinggal di dekat sekolah-sekolah Divisi Amerika Utara kita (sesungguhnya banyak dari sekolah-sekolah dan gereja-gereja kita di Amerika Utara) dapat mengungkapkan banyak hal tentang drama. Namun ada harapan bagi sekolah-sekolah kita, di tahun 2000, 102 mahasiswa
Walla Walla College menjadi misionaris mahasiswa di
seluruh dunia. Mungkinkah bahwa para misionaris
mahasiswa ini akan segera menggantikan drama
dengan “kesalehan mula-mula”?
156
IV—KESIMPULAN
Tulisan ini telah meninjau ulang secara singkat perkembangan drama dari awal mulanya di Eden hingga
saat ini, dengan penekanan utama pada masuknya
drama ke dalam infrastruktur rumah, sekolah dan gereja MAHK kita dalam 84 tahun terakhir. Kesimpulan
ini berisikan dua bagian. Pertama, sebuah daftar dari
“beberapa” alasan yang nyata akan kecenderungan
ini, dan kedua, beberapa saran bagi pembalikan kecenderungan ini.
a. Alasan-alasan Drama Memasuki Gereja MAHK
1. Serial pertunjukan teatrikal di acara TV Faith
for Today oleh Fagal berjudul ‘Westbrook Hospital”
yang ditayangkan sejak Mei 1950 hingga 1988, menyeret banyak orang di wilayah Divisi Amerika Utara untuk menerima drama sebagai metode sah
“mengemas Injil.” Sebagai tambahan, banyak anggota gereja memilih untuk mengabaikan nasehat
yang diberikan oleh Ellen White dan kepemimpinan gereja selama lebih dari seratus tahun, menganggapnya kuno (“Itu kan untuk zaman mereka”
—pernahkah anda mendengar ini sebelumnya?),
atau mereka tidak pernah mengetahui adanya nasehat tersebut.
2. Banyak orangtua dari generasi ‘baby boomers’ (generasi yang lahir pasca perang dunia II, antara
tahun 1945-1965) mengizinkan anak-anak mereka
157
terpaku pada televisi. Terdapat kebingungan di kalangan orangtua Advent. “Jangan melawan kehendak anakmu, ia akan rusak seumur hidupnya,”
adalah seruan dari generasi Dr. Spock (tokoh dalam
serial TV Star Trex). Sementara sebagian orangtua
mempertanyakan keputusan beberapa pimpinan di
dalam gereja, sekolah, dan penginjil untuk mendorong penggunaan drama, mereka segera memperoleh reputasi sebagai pemecah belah, kritis, dan
pembuat masalah.
3. Tidak diragukan lagi, sejarah selalu berulang. Gereja-gereja nominal telah menunjukkan
kecenderungan yang ajaib untuk mengikuti jejak
kepemimpinan metodologi dunia; Gereja MAHK tidak terkecuali. Pertama, film Injil dengan peranan
fiktifnya memasuki gereja, diikuti dengan film-film
layar lebar Hollywood, acara olah raga, dan televisi
yang didukung oleh VCR/video. Segera kemudian
menyusul gerakan pertumbuhan gereja, pengurapan wanita, dan gerakan perayaan (celebration; karangan Vatikan II) dengan kombinasi musik kontemporer, drama, dan Pantekostalisme. Sayangnya, Gereja MAHK tampaknya mengikuti jejak gereja-gereja nominal tersebut. Tak lama setelah gerakan perayaan, yang berpusat di Konferens Oregon di akhir tahun 80-an dan awal 90-an, drama
tampak bermunculan di mana-mana.
Sebuah tinjauan dari tulisan-tulisan Uni menunjukkan, bahkan kepada pembaca selintas sekalipun,
banyaknya kelompok-kelompok akting di dalam
158
gereja-gereja dan sekolah-sekolah kita. Saat ini,
untuk menentang drama adalah hampir sama dengan
menentang keibuan dan pia apel. Setiap orang yang
mau membaca buku Joe Crew, Creeping Compromise dan Reap the Whirlwind, dari Amazing Facts,
akan memiliki pemahaman yang lebih baik tentang
kompromi-kompromi yang telah terjadi di dalam
Gereja MAHK.
4. Sebagian orang mengaku bahwa metodemetode lama penginjilan khusus Sabat pagi dan
kelas pelajaran Sekolah Sabat tidak lagi berhasil.
Orang muda tidak mempelajari pelajaran mereka
dan tidak tertarik mempelajari Alkitab dengan
menggunakan pelajaran Sekolah Sabat. Ketika
pendekatan-pendekatan “tradisional” pada acara
Sekolah Sabat digunakan, orang-orang muda tidak
kembali. Maka, pendekatan-pendekatan baru diperlukan, metode-metode ini meliputi penggunaan
drama untuk menghibur, dan penyegaran untuk
membujuk mereka datang pada hari Sabat pagi.
5. Guru-guru Sekolah Sabat menemukan bahwa sedikit orangtua mengadakan kebaktian keluarga dan lebih sedikit lagi yang mendorong
anak-anak mereka agar melakukan kebaktian pribadi setiap hari secara teratur. Survei akhir-akhir
ini dalam divisi yang lebih rendah menunjukkan
bahwa bahkan lebih sedikit orangtua yang mempelajari pelajaran Sekolah Sabat bersama anakanak mereka bahkan satu kalipun dalam seminggu.
159
6. Sekolah-sekolah dasar, akademi, dan universitas kita meluluskan pelajar yang tampaknya
semakin sedikit mengetahui perkembangan sejarah keyakinan MAHK. Mereka mungkin tidak diajarkan tentang hal ini atau tidak mendengarkan pekabaran “masa kini” yang unik dari Gereja MAHK
di dalam rumah tangga, mimbar gereja atau sekolah-sekolah mereka. Ini terbukti dari kurangnya pengetahuan yang ditunjukkan oleh lulusan akademi
dan SMA kita. Akibatnya, beberapa orangtua dan
banyak orang muda melihat sedikit perbedaan antara lembaga pengajaran kita dengan sekolah-sekolah sekuler dunia.
Di tahun 1986, Perusahan Seltzer Dailey diminta untuk mengadakan penelitian tentang sikap
anggota MAHK tentang lembaga pendidikan kita.
Survey dikirimkan kepada anggota secara umum, pendidik, pelajar, dan pendeta. Penemuan tentang sikap
dari orang-orang MAHK di bawah usia 25 tahun ini
perlu direnungkan:
- Kurang yakin tentang pentingnya pendidikan
Advent.
- Pendapat lebih rendah tentang kualitas akademik dari sekolah/universitas Advent kita.
- Pendapat lebih tinggi tentang kualitas dari sekolah/universitas negeri.
- Berkomentar keras tentang sekolah/universitas
tempat mereka belajar.—Seventh-day Adventist
Education, Planning Research: Preliminary
Findings, hlm. 50.
160
7. Banyak orang muda yang begitu terpengaruh oleh industri hiburan, sehingga pelajaran Alkitab dan gereja tampak bodoh dan membosankan.
Maka, mereka lebih tertarik pada gaya perbaktian
perayaan (celebration) dengan musik dan dramanya.
8. Saat ini, orang muda kita dikelilingi dan ditelan oleh materialisme (teori filsafat yang menganggap materi atau zat sebagai dasar segala sesuatu)
yang merasuki budaya Barat dan relativisme (paham bahwa baik buruknya tindakan tertentu tergantung dari sikap masyarakat atau orang tertentu terhadap tindakan itu) yang telah menyusupi banyak jalan kehidupan mereka. Bersama dengan aliran-aliran ini datanglah kekaburan tentang kemutlakan
Alkitab.
9. Pandangan “higher criticism” telah menguasai setiap lembaga pendidikan sekuler dan
sebagian besar jurusan teologia universitas di
Amerika Utara. (Pernyataan ini disahkan dalam buku
Receiving the Word oleh Samuel Koranteng-Pipim,
(Berrien Books, PO Box 195, Berrien Springs, MI,
1966). Mahasiswa yang lulus dari lembaga-lembaga yang mengajarkan metode “higher critical”
(kritis dalam tingkatan lebih tinggi) dalam menafsirkan Alkitab segera akan menerima dan menguraikan konsep-konsep ini. Mereka diajarkan bahwa
dokumen-dokumen ilham Gereja MAHK—yaitu
Alkitab dan Roh Nubuat, mendapat pengaruh bu161
daya. (Pembaca akan lebih memahami sepenuhnya
tentang apa yang diajarkan kepada orang muda di
usia universitas setelah membaca buku oleh Alden
Thompson berjudul Hard Questions, Honest Answers (Pertanyaan-pertanyaan sulit, jawaban-jawaban jujur) Haggerstown, MD, Review and Herald. Thompson adalah seorang pengajar di jurusan
teologia di Walla Walla College.
Silakan bandingkan buku Thompson tersebut
dengan buku Issues in Revelation and Inspiration,
disunting oleh Frank Holbrook dan Leo Van Dolson
(Berrien Springs, MI, Adventist Theological Society
Publishing). Tidak lama setelah mahasiswa diajarkan
konsep-konsep yang dijabarkan di dalam buku Thompson, mahasiswa ini tidak akan percaya lagi kepada
tonggak-tonggak kebenaran yang disampaikan
oleh ilham ilahi kepada para pionir kita. Ungkapan
klise yang umum adalah “Konsep-konsep dan prinsip-prinsip yang dikembangkan oleh para pionir
MAHK adalah “dipengaruhi secara budaya” oleh
Zaman Victoria, yang ditetapkan bagi zaman mereka, tetapi bukan untuk masa kini.” Sebagai akibatnya, mereka telah menggenapi sendiri pandangan
nubuatan yang diberikan kepada kita oleh Ellen
White lebih dari seratus tahun yang lalu. Dan janganlah kiranya ada keraguan bahwa ini sedang
terjadi saat ini. Dalam sebuah tulisan yang diserahkan kepada penulis, buktinya adalah jelas. Tulisan ini dapat dibaca pada Lampiran 34.
162
10. Dengan tulisan A.L. White yang beredar
setelah tahun 1963 dan posisi liberal yang diambil
oleh komite di tahun 1975 dalam Tuntunan bagi
Kegiatan-kegiatan Kompetisi dan Drama, kepemimpinan MAHK menyerah kepada para pemilihnya.
11. Sebagian orang mengatakan bahwa drama di zaman Ellen White adalah lebih kasar, vulgar
dan cabul dibandingkan dengan sekarang. Tetapi
John H. Hancock mematahkan pendapat itu dengan mengatakan:
Memang, [drama] cukup jahat di masa itu,
namun apakah yang akan dikatakan oleh hamba
Tuhan tentang gambar bergerak saat ini dan produksi-produksi panggung New York? Kecabulan,
kekasaran, sodomi, seks dan kekerasan digambarkan jauh melampaui drama-drama di panggung di
zaman Nyonya White.—Hancock, hlm. 8.
12. Meski kedengaran sedikit mengulang,
“What’s Right About Drama?” (Apakah yang Benar
tentang Drama) menolak beberapa alasan lain bagi
drama memasuki rumah, sekolah dan gereja kita.
Lihat Lampiran 35.
b. Saran-saran untuk Mengakhiri Drama di dalam
Gereja MAHK
Bagaimanakah Cara Melibatkan Generasi
Muda dalam Misi Gereja?
163
Tindakan Positif terhadap sebuah Catatan Negatif:
Mereka adalah bagian dari generasi komputer,
jenis baru yang membutuhkan pendekatan-pendekatan dan metode-metode baru. Banyak yang telah mengatakan kepada kami bahwa mereka ingin meletakkan iman mereka dalam perbuatan, tetapi mereka tidak tahu bagaimana caranya. Mereka tidak mengetahui alasan-alasan di balik ajaran-ajaran gereja.
Mereka hanya sedikit mengetahui sejarah Gereja
Advent. Mereka mengatakan bahwa mereka ingin ditantang ketika mereka datang ke gereja, bukan mendengarkan gagasan-gagasan lama yang sama setiap
saat,” kata Royson James dalam “Cityscapes,” yang
berjudul “Dear Pastor” (Pendeta Yang Terhormat) dalam Review Edisi Dunia, bulan Mei 1999.
Tetapi bagaimanakah kita merancang pendekatan-pendekatan dan metode-metode baru bagi “Generasi komputer” ini jikalau mereka “hanya sedikit saja
mengetahui sejarah Gereja Advent” dan tidak mau
“mendengarkan gagasan-gagasan lama yang sama
setiap saat” yang disampaikan kepada para pionir
kita?
Mereka adalah seperti kisah Ahimaas, anak seorang imam sebagai pembawa kabar (saudara jauh
Harun, imam besar pertama), sahabat Raja Daud, dan
kemudian anak menantu Raja Salomo. Kisah ini dicatat dalam 2 Samuel 18:19-33. Ketika Absalom terbunuh, Ahimaaz meminta Yoab apakah ia boleh lari
164
membawa pesan kepada Raja Daud. Yoab mengatakan tidak, dan mengirim orang Etiopia yang mengetahui fakta itu. Ahimaas meminta lagi, dan Yoab membiarkan ia lari. Ahimaas berlari lebih cepat daripada
orang Etiopia, namun ketika ia tiba, ia tidak membawa
pesan.
Apakah perbedaannya jikalau seribu pendekatan dan metode dirancang agar para Generasi komputer ini terlibat di dalam misi gereja MAHK jikalau mereka tidak memiliki pekabaran apapun?
1. Ajarlah Generasi Muda tentang Sejarah Advent
dan Kebenaran-Kebenaran Masa Kini:
Agar generasi muda saat ini melayani gereja,
mereka perlu mengetahui pekabaran yang ingin
mereka sampaikan. Banyak dari generasi ini, pria
dan wanita muda—sebagian akan menjadi pemimpin kita di masa depan, tidak memiliki pengetahuan yang jelas tentang sejarah Advent dan misi
gereja kita. Hampir 80 % dari orang muda kita meninggalkan gereja. Apakah saat ini terlalu terlambat
bagi mereka? Apakah saat ini terlalu terlambat untuk
mengisi kekurangan pengetahuan ini?
Beberapa tahun yang lalu saya menghadiri sebuah acara pemakaman dari seorang mantan anggota
sekolah Sabat orang muda yang saya ajar. Ia mati tertembak dalam keadaan kacau setelah kehilangan arah
di dalam hutan belantara musik populer dan obatobatan. Saya menjadi sangat sedih dan bersalah atas
kehilangan nyawa orang muda ini, namun saya tidak
165
siap bagi banyak mantan anggota kelas orang muda yang memenuhi gereja untuk memberi penghormatan terakhir mereka—belasan orang muda,
sebagian besar dari mereka tidak pernah menginjakkan kaki di gereja kami selama bertahun-tahun.
Kami berpelukan, saling menghibur satu sama
lain, kami menguburkan rekan muda kami, kemudian
kami berpisah, tidak menemukan persamaan setelah
berbagi begitu begitu banyak selama waktu yang begitu lama.
Apakah ini jenis pekerjaan yang anda inginkan,
Pendeta [orangtua, guru, pimpinan lembaga]? Apakah
benar-benar menjadi keinginan anda untuk menjadikan orang muda bergairah tentang Kristus dan gerejaNya? Jika demikian, hasil-hasil yang mulia menanti
anda. —Royson James, Review.
2. Hentikan Gaya Perbaktian Perayaan (Celebration) dan Dukungan Willow Creek
Sementara kepemimpinan Divisi Amerika Utara telah mengetahui bahwa sebagian besar generasi
muda kita meninggalkan gereja melalui pintu belakang, apakah yang telah dilakukan oleh kepemimpinan gereja untuk mendapatkan mereka kembali? Mereka telah memasukkan ke dalam gereja kita metode
pertumbuhan gereja Willow Creek (sebuah gerakan Protestan sesat) yang meliputi gaya perbaktian
perayaan dengan musik rock Kristiani kontemporer, drama, dan Dispensasionalisme (hukum Moral
dipakukan di kayu salib). Dan apakah hasilnya?
166
Lebih dari tujuh gereja gaya perayaan MAHK telah
masuk ke dalam denominasi kita, dan tentu lebih
banyak yang akan mengikuti. Beberapa mengabaikan masalah-masalah teologia (seperti Sabat,
keaslian Roh Nubuat, otoritas gereja, dll.), dan
yang lain mengabaikan persepuluhan. Anda akan
segera memahami ke mana gerakan pertumbuhan
gereja ini membawa kita ketika anda membaca buku
Samuele Bacchiocchi berjudul The Sabbath Under
Crossfire.
Orang-orang seperti Dale Ratzlaff, umat
MAHK generasi ketiga, pendidik, pendeta, dan pemelihara hari Sabat, dalam bukunya Sabbath in Crisis, menyerang Sabat hari ketujuh dengan bergabung dengan teologia Dispensasionalisme dan Teologia Perjanjian Baru. (Teologia Dispensasionalisme memiliki ajaran bahwa sejarah keselamatan berkembang tahap demi tahap, sesuai dengan pembagian waktu oleh Allah, didasarkan atas pandangan-pandangan John Nelson Darby, 1800-1882) Dan seorang
mantan pendeta gereja perayaan MAHK, Clay
Peck, yang sekarang melayani sebagai pendeta senior di Jemaat Grace Place, di Berthoud, Colorado,
telah bergabung dengan Ratzlaff. Buku Peck berjudul New Covenant Christians. Barangkali perkembangan akhir-akhir ini adalah kegenapan dari sebuah
pernyataan dari The Great Controversy hlm. 608
(Kemenangan Akhir):
Sementara topan mendekat, sejumlah besar
kelompok yang telah mengaku beriman kepada pe167
kabaran malaikat ketiga, namun tidak dikuduskan
melalui penurutan kepada kebenaran, mengabaikan kedudukan mereka, dan bergabung dengan
kelompok penentang. Dengan bergabung dengan
dunia dan mengambil rohnya, mereka telah memandang perkara-perkara dalam terang yang hampir sama; dan ketika ujian tiba, mereka siap memilih sisi yang mudah dan populer. Orang-orang
bertalenta dan berkedudukan yang menyenangkan, yang sebelumnya bersukacita dalam kebenaran, menggunakan kuasa-kuasa mereka untuk menipu dan menipu dan menyesatkan jiwa-jiwa. Mereka menjadi musuh yang paling sengit dari saudara-saudara mereka sebelumnya. Ketika pemelihara
hari Sabat dihadapkan kepada pengadilan untuk
membela iman mereka, orang-orang yang telah sesat ini adalah agen-agen Setan yang paling efisien
untuk memberikan gambaran yang salah dan untuk menuduh mereka, dan melalui laporan-laporan
yang palsu dan sindiran-sindiran mempengaruhi
penguasa untuk melawan mereka.
3. Adakan Penelitian Mengapa Generasi Muda
Meninggalkan Gereja Advent:
Tampaknya, karena sebagian terbesar generasi muda tidak diajarkan suatu pengetahuan tentang Sejarah Advent atau pekabaran kebenaran
masa kini di dalam rumah tangga, gereja, dan sekolah, apakah yang dapat dilakukan? Apakah kita siap untuk kehilangan sebagian terbesar dari gene168
rasi selanjutnya? Semoga tidak terjadi! Sebuah penelitian yang mendalam dan menyeluruh harus diadakan untuk menentukan mengapa “Umat-Ku binasa
karena tidak mengenal Allah; karena engkaulah
yang menolak pengenalan itu maka Aku menolak
engkau menjadi imam-Ku; dan karena engkau melupakan pengajaran Allahmu, maka Aku juga akan
melupakan anak-anakmu.” (Hosea 4:6).
Ini bukanlah perburuan tukang sihir, melainkan
demi keberlangsungan Gereja MAHK. Penelitian ini
tidak hanya dilakukan oleh kepemimpinan saja. Gelombang besar harus berasal dari keimamatan
orang percaya, anggota di dalam gereja, yang harus memulai suatu penelitian tentang bagaimana
menyelamatkan orang muda kita. Dalam dunia email dan mesin fax saat ini, perkara ini dapat dilakukan
dengan cepat dan berhasil. Tuhan menolong kita!!
Tindakan Positif terhadap Catatan Positif:
Tidak diragukan lagi, generasi yang dibesarkan
dengan komputer adalah sangat memahami tentang
perangkat lunak dan perangkat keras. Anak lelaki saya
baru berusia 10 tahun ketika kami memiliki komputer
untuk pertama kalinya, dan dalam beberapa hari saja
ia dapat mengetahui apa yang bagi saya memerlukan
waktu berbulan-bulan untuk menyerapnya. Sekarang
anak-anak menekan tombol-tombol keyboard komputer sebelum usia sekolah. Komputer menjadi sesuatu
yang wajib di banyak bidang usaha. Jika menurut anda tidak, ingatlah kembali tentang persiapan untuk
169
mencegah krisis Y2K (yaitu, krisis yang diperkirakan
akan terjadi dalam teknologi komputer menjelang pergantian abad 20 menuju abad 21).
Dan banyak orang menggunakan komputer dan
internet untuk menyampaikan kepada dunia pekabaran akhir zaman yang diberikan Tuhan kepada Gereja
MAHK. Salah satu organisasi itu adalah TAGnet.org
yang terletak di Mountain View, California. Kepala
surat pada Newsletter bulan Juli-Agustus 1999
berbunyi:
“TAGnet adalah singkatan dari Three Angel
Global Networking (Jaringan Sedunia Pekabaran
Tiga Malaikat) dan adalah organisasi yang dijalankan oleh sekelompok orang MAHK yang rindu
menggunakan teknologi komputer untuk kepentingan kemanusiaan. TAGnet adalah anggota ASI.
Tujuan kami bukanlah sebagai badan penerbit namun untuk memberdayakan dan memperkuat organisasi-organisasi yang berusaha melayani kemanusiaan dalam berbagai cara.”
1. Dorong Acara-acara yang Memanfaatkan Talenta
Orang Muda Kita:
Inilah saatnya untuk mendorong dan menunjukkan kepada orang muda kita bagaimana menggunakan talenta-talenta pemberian Tuhan dalam teknologi
komputer untuk menyebarkan kabar baik kedatangan
Kristus yang segera. Betapa lebih memuaskan menerima e-mail dari pria dan wanita yang menggambarkan
pertobatan mereka kepada Tuhan dan Guru mereka
170
daripada menghapalkan baris-baris kalimat bagi
pertunjukan drama teater.
Dalam The Gleaner edisi 19 Maret 1999, Jere
Patzer, presiden Uni Pasifik Utara, menceritakan peristiwa seperti itu dalam sebuah editorial yang berjudul
“Thank-you Heidi, You’re an Inspiration” (Terima
kasih Heidi. Anda benar-benar memberi inspirasi). Berikut ini kutipan dari editorial yang paling menghibur
tersebut:
Beberapa minggu yang lalu, seorang generasi
muda yang menarik, profesional, pandai bicara, dan
tampaknya sangat setia datang menemui saya di kantor saya. Ia bernama Heidi Halvorson.
Ia menceritakan kepada saya pandangannya
tentang menjangkau dunia bagi Yesus melalui internet. Dan ia tidak saja berbicara tentang itu! Ia bersiapsiap untuk memulai penyampaian Injil di internet secara interaktif dan dinamis yang dijadualkan untuk dimulai tanggal 3 Mei dengan dukungan penuh dari gerejanya dan orang-orang yang telah dikirim oleh Tuhan
untuk menghubunginya.
Ia sedang berada dalam perjalanan iman, dan
seingat saya, Tuhan telah menyediakan dan memungkinkan dia untuk menggunakan talentanya secara penuh waktu (full-time) “dengan semangat menghubungkan dunia internet dengan kuasa dan pribadi Yesus
Kristus melalui penginjilan Alkitab on-line.”
Sementara ia menceritakan lebih banyak
kesaksiannya yang mencengangkan, saya mengetahui bahwa Heidi telah menghabiskan waktu satu tahun
171
sebagai mahasiswa misionaris. Selama waktu itu, ia
mulai secara bersungguh-sungguh belajar Alkitab,
membaca seluruhnya hingga 6 kali pada tahun itu, dalam berbagai versi. Seseorang tidak perlu berbicara
dengan dia terlalu lama untuk menyadari bahwa ia
mengasihi Yesus, GerejaNya, dan misiNya. Kehidupannya yang dibaktikan sepenuhnya tampak jelas
membuat sebuah perbedaan.
Saya tidak malu mengatakan bahwa Heidi telah
memberi saya inspirasi. Betapa menggetarkan melihat
seseorang pada awal kehidupan dewasa dan profesionalnya dibaktikan sepenuhnya, itu dimulai dengan
menyediakan waktu untuk membaca Firman.
Ya, ia memberi pengaruh kepada saya. Saya
ragu apakah saya akan dapat membaca Alkitab 6 kali
tahun ini, tetapi saya memutuskan untuk membacanya
lebih banyak daripada sebelumnya, dan saat ini saya
berada di jalur untuk mencapai tujuan itu.
2. Kembangkan Program Raksasa Misionaris
Mahasiswa:
Pengalaman Heidi sebagai seorang misionaris
mahasiswa menunjuk kepada satu cara yang amat
penting untuk mengajar kepada orang muda bagaimana “mengemas Injil.” Gereja Mormon didirikan pada saat yang hampir sama dengan Gereja MAHK.
Tampaknya kita telah membiarkan orang-orang
Mormon mempermalukan kita. Siapakah yang belum pernah melihat dua pemuda berpakaian rapi berkunjung dari rumah ke rumah, membagikan buku-buku
172
bacaan, dan mengadakan pelajaran-pelajaran tentang
keyakinan mereka? Mahasiswa-mahasiswa ini dikirim
ke seluruh dunia. Sebagai hasilnya, menurut US New
and World Report, November 2000, Gereja Mormon
adalah gereja yang berkembang amat pesat di dunia. Tidak diperlukan taktik perayaan pertumbuhan
gereja Willow Creek di sini. Namun kita bisa menggandakan praktek ini karena kita mendorong wanita dan pria untuk melakukan pekerjaan ini. Bayangkan saja! Ribuan mahasiswa dari setiap universitas Advent di dunia keluar sebagai misionaris-misionaris mahasiswa.
Para mahasiswa dapat didorong untuk mengambil bagian—atau mungkin disyaratkan sebagai misionaris mahasiswa, sesuai dengan kemampuan mereka. Mereka akan memperoleh sejumlah besar kesempatan untuk mengisi kebutuhan yang mendesak di
seluruh dunia untuk mengajar bahasa Inggris di sekolah-sekolah bahasa, sekolah rumah mision anak-anak,
mengambil bagian dalam penginjilan garis depan,
membantu guru-guru sekolah dasar dan menengah,
membantu membangun fasilitas yang dibutuhkan, melayani di rumah sakit dan klinik, atau membantu keluarga misionaris di dalam organisasi-organisasi seperti Adventist Frontier Missions (Misi Garis Depan
Advent), yang mengirimkan misionaris-misionarisnya
ke tempat-tempat yang belum terjamah sebelumnya.
Sekali lagi, sebagaimana Dr. Jere Patzer menceritakan tentang Heidi:
173
Sementara ia menceritakan lebih banyak tentang kesaksiannya yang mencengangkan, saya mengetahui bahwa Heidi telah menghabiskan waktu satu
tahun sebagai mahasiswa misionaris. Selama waktu
itu, ia mulai secara bersungguh-sungguh belajar Alkitab, membaca seluruhnya hingga 6 kali pada tahun itu,
dalam berbagai versi. Seseorang tidak perlu berbicara
dengan dia terlalu lama untuk menyadari bahwa ia
mengasihi Yesus, GerejaNya, dan misiNya. Kehidupannya yang dibaktikan sepenuhnya tampak jelas
membuat sebuah perbedaan.—Ibid. Gleaner, Maret
1999.
Sementara tentara kecil mahasiswa ini kembali
ke kampus-kampus mereka, bayangkan pengaruh rohani, model peran, perubahan sikap dan tujuan dari pria dan wanita muda ini, barangkali sebanyak seperempat dari seluruh jumlah mahasiswa setiap tahun
kembali, dan seperempatnya lagi dikirim keluar. Bayangkan saja apa yang bisa terjadi kepada kampuskampus universitas di akhir masa empat tahunnya, ketika hampir setiap mahasiswa telah menjalani sebagai
misionaris mahasiswa, kecuali kelas tahun pertama.
Jikalau orang-orang Mormon melakukannya, kita harus melakukannya dengan lebih baik! Lagipula, bukankah kita percaya kita memiliki pekabaran terakhir bagi akhir zaman? Atau, apakah kita masih
memilikinya?
174
3. Dirikan Kembali Sebuah Organisasi Serupa dengan Missionary Volunteer Society (Masyarakat
Sukarelawan Misionaris) yang Sangat Sukses di
Masa Lalu:
Penulis pernah berkesempatan menghadiri Seminar Orang Muda Dasar dan Lanjutan oleh Bill Gothard, dan juga konferensinya bagi para dokter. Tuan
Gothard, atas berkat Tuhan, telah mengembangkan
sepasukan tentara orang-orang muda yang telah terlatih dengan baik. Di samping seminarnya, ia telah mendirikan program sekolah rumah yang menghasilkan
orang-orang muda yang berdedikasi dan cemerlang
yang pergi ke kota-kota dan negara-negara dengan
cara hidup yang baru. Kurikulumnya dirancang sehingga seluruh keluarga dapat menjadi pelajar bersama-sama dengan anak-anak mereka. Tujuan program ini adalah untuk melatih seluruh anggota keluarga bagaimana menjadi perkasa dalam roh dengan menjadi bijaksana melalui pemahaman akan
prinsip kehidupan alam semesta, menjadi dewasa
dengan mengembangkan tabiat saleh, memiliki pengetahuan dengan mempelajari isi akademik yang
benar dan relevan, dan dengan sukses menguasai
ketrampilan-ketrampilan praktis.
Lembaga ini menawarkan pendidikan jurusan
hukum jarak jauh dan juga sebuah program yang disebut ALERT, yang mengajar orang-orang muda pengobatan gawat darurat, usaha bangunan, dan sejumlah ketrampilan-ketrampilan praktis lainnya termasuk kelas-kelas magang.
175
Kesempatan-kesempatan terbuka bagi orangorang muda ini di seluruh dunia untuk mengatasi apa
yang mungkin belum pernah terbayangkan. Mereka telah menciptakan satu paradigma baru dalam pendidikan. Sebagai gantinya pergi kuliah di kampus untuk
mendapatkan pendidikan, mereka menunjukkan kepada para pendidik bagaimana mendidik tabiat. Sebagai gantinya batasan pada praanggapan-praanggapan
sekuler, mereka belajar menjadi pemecah masalah
yang kreatif dan bijaksana.
Melalui serangkaian peristiwa, segera setelah
kejatuhan Tirai Besi, Tuan Gothard membawa 300
orang muda dari program sekolah rumahnya ke
Rusia. Sementara mengunjungi pejabat-pejabat
pemerintahan di Moskow, mereka meminta bertemu dengan Direktur Pendidikan Rusia.
Kemudian mereka diberitahu bahwa direktur ini
tidak tertarik untuk bertemu dengan orang-orang muda
Amerika. Ia tidak terkesan dengan perilaku atau penampilan orang-orang muda Amerika sebelumnya.
Karyawannya memberikan pesan kepadanya bahwa
orang-orang muda ini berbeda dan ia harus datang
dan bertemu dengan mereka.
Hasil dari pertemuan itu adalah di luar dugaan.
Direktur ini bukan saja terkesan oleh orang-orang muda tersebut, tetapi ketika ia memahami bahwa mereka
ingin membantu mendidik prinsip-prinsip tabiat kepada anak-anak di sekolah mereka dan membantu
membangun kembali keluarga-keluarga Rusia,
sebuah perjanjian tertulis kemudian ditandatangani un176
tuk membuka 2000 sekolah bagi Basic Seminar
Youth Ministry (Pelayanan Orang Muda Seminar Dasar).
Selain mengajar di sekolah-sekolah, para
mahasiswa bertemu di rumah-rumah dengan para
orangtua, dan mengadakan pertemuan dengan keluarga-keluarga di tempat-tempat pertemuan di seluruh kota.
Para pejabat Rusia sangat terkesan dengan kecemerlangan dan dedikasi para mahasiswa sehingga
mereka mengizinkan organisasi ini menggunakan
kampus seluas sekitar 1,5 hektar berikut bangunannya untuk mendirikan rumah yatim piatu. Para
pejabat juga mempercayakan kepada mereka
anak-anak yatim piatu, anak-anak terlantar, dan remaja nakal dan meminta agar mereka dapat melatih ribuan anak-anak jalanan.
Ketika Walikota Indianapolis, Stephen Goldsmith, mendengar laporan-laporan tentang kejadian di
Rusia, ia meminta organisasi ini untuk memulai program serupa di kotanya. Sebuah hotel berkamar 300
disediakan untuk pusat pelatihan. Undangan-undangan resmi telah berdatangan dari kota-kota lainnya di
AS.
Konferensi Internasional pertama bagi para
Walikota dan Pimpinan Pemerintahan diadakan di tahun 1996. Dalam konferensi tiga hari itu, mereka menangkap visi dari Kota Tabiat dan mengambil konsepkonsep tersebut ke wilayah pemerintahan mereka.
Pertumbuhan konferensi dan Kota-kota Tabiat ini
177
adalah hasil langsung dari pengaruh para mahasiswa dan keluarga mereka.
Pintu terus terbuka di negara-negara lain, seperti Taiwan, Singapura dan bahkan Cina. Sebuah
delegasi terdiri atas 17 pejabat pemerintahan dari ibukota Cina, Beijing, menerima pelatihan di Kantor Pusat
Lembaga di Illinois, tentang prinsip-prinsip dan tabiat
Alkitabiah dan mereka sangat tercengang dengan apa
yang telah mereka pelajari dan dengan orang-orang
muda yang bersemangat yang mereka temui. Pimpinan mereka berkata, “Pelatihan ini adalah amat penting
bagi bangsa kami. Kami bermaksud hendak mengundang anda untuk datang ke Cina dengan Seminar anda.”
Orang-orang muda ini memberi pengaruh
karena mereka berbeda, berbeda dalam berpakaian, pilihan musik dan rekreasi mereka, perilaku,
kedewasaan, dan perhatian kepada orang lain. Sebagai contoh, seorang anak berusia 14 tahun disekolahkan di rumah dalam program Pendidikan Lembaga
ini telah memiliki usaha pemotongan rumput. Ia berkata kepada seorang janda, “Saya ingin melakukan
pekerjaan ini untuk anda tanpa dibayar karena inilah
cara saya untuk membayar kembali kepada Tuhan
atas apa yang diberikanNya kepada saya.”
Mengapa saya harus menceritakan semua ini
kepada pembaca? Karena kita telah menjadi ekor
dan bukan kepala. Di tahun 1908, kita diberikan
janji ini:
178
Semua orang yang terlibat dalam pelayanan
adalah tangan-tangan bantuan bagi Tuhan. Tidak
ada jenis pekerjaan yang memberi manfaat yang
lebih besar bagi orang muda. Mereka adalah pekerja bersama dengan malaikat; mereka adalah
agen-agen manusia yang melaluinya para malaikat
menyelesaikan misinya. Para malaikat berbicara
melalui suara mereka, dan bekerja melalui tangan
mereka. Dan pekerja-pekerja manusia ini, bekerja
sama dengan agen-agen surga, memberi manfaat
bagi pendidikan dan pengalaman. Sebagai sarana
pendidikan, apakah yang dapat disamai oleh “pelajaran di universitas”? Dengan bala tentara pekerja orang muda seperti ini, yang dilatih dengan benar, akan menyelesaikan betapa segera pekabaran
tentang Juruselamat yang telah disalibkan, bangkit
dan segera datang kembali akan dibawa ke seluruh dunia!—Youth Instructor, 3 Maret 1908.
Sebuah Masyarakat Sukarelawan Misionaris
modern adalah kebutuhan yang amat mendesak—
SEKARANG. Tidak ada seorang generasi baru yang
pernah menghadiri sebuah pertemuan Masyarakat Sukarelawan Misionaris secara langsung. Mengapa? Karena Masyarakat ini dibiarkan mati. Silakan baca
buku tulisan Malcolm J. Allen.
Dapatkah anda membayangkan kerohanian dan
pengaruhnya kepada mahasiswa universitas ketika
acara buka Sabat Jumat malam dan tutup Sabat Sabtu malam diisi oleh para misionaris mahasiswa yang
baru kembali? Dalam hanya empat tahun hampir tiga
179
perempat dari seluruh jumlah mahasiswa akan menjadi mahasiswa yang dapat melihat dunia dan misi
gereja kita dari pengalaman nyata. Ini akan dapat
membangkitkan sebuah organisasi yang serupa dengan Masyarakat Sukarelawan Misionaris yang lama.
Beri nama organisasi apapun, namun aturlah organisasi itu dengan konsep yang sama dengan yang aslinya. Pintu belakang Gereja akan segera berhenti
membuka bagi orang-orang muda yang meninggalkan gereja.
Barangkali minat yang sungguh-sungguh demi
keselamatan sesama mahasiswa, sanak saudara,
dan masyarakat di sekitarnya akan menggantikan
kebutuhan akan pertandingan olah raga di dalam
kampus-kampus universitas kita. Barangkali para
mahasiswa akan menantikan misionaris-misionaris di
mana mereka dapat melayani orang lain dan satu sama lain sebagai model peran sebagai gantinya kepribadian olah raga ataupun Hollywood. Barangkali
jurusan drama akan digantikan dengan kelas-kelas
yang akan mempersiapkan tentara orang muda,
“yang dilatih dengan benar,” untuk menerima
Hujan Akhir dan menyuarakan Seruan Nyaring.
4. Adakan Program Sedunia Penginjilan Literatur
Mahasiswa Masa Liburan:
Ketika kuliah di universitas dan program
pascasarjana, penulis menggunakan enam kali
masa liburan musim panas sebagai penginjil litera180
tur. Tuhan itu baik dan setiap tahun beasiswa diperoleh sehingga menutup biaya sekolah. Hanya kekekalan yang akan menceritakan ‘saksi-saksi yang hening’
(tulisan-tulisan) yang ditinggalkan di ribuan rumah
tangga. Adalah tantangan untuk mengetuk dari pintu
ke pintu setiap hari, khususnya ketika kembali bekerja
pada hari Senin pagi setelah menghabiskan akhir pekan yang tenang dengan teman-teman di pantai. Tanyakanlah setiap orang yang telah menghabiskan musim panas yang panjang berjalan berjam-jam pada hari-hari yang panas dan lembab jikalau itu mudah. Sementara kebutuhan akan beasiswa selalu hadir di kepala kami, kenyataan bahwa kami meninggalkan sebuah pekabaran pengharapan adalah sumber yang
menyebabkan kami bertahan. Satu-satunya cara penginjil literatur bertahan adalah tetap memiliki hubungan yang dekat dengan Bapa di Surga.
Setiap musim panas di seluruh dunia, ratusan
mahasiswa penginjil literatur menempatkan ribuan dan
ribuan bacaan yang berisikan kebenaran di rumah-rumah dan tempat-tempat bisnis. Tentara pria dan wanita muda ini, dipertahankan oleh janji para malaikat
yang menemani mereka, meninggalkan buku-buku
dan jurnal-jurnal yang membawa Pekabaran Tiga
Malaikat kepada dunia yang hendak mati. Marilah
kita menambah jumlah ini dengan ratusan penginjil literatur mahasiswa!
Di Charlotte, Carolina Utara, musim panas
1999, Cheryl Martin, seorang penginjil literatur mahasiswa menerima iklan gratis. Dalam majalah Southern
181
Union, Southern Tidings, bulan September, halaman 6, kisah berikut ini ditulis:
Koran Menampilkan Penginjil Literatur Mahasiswa
Ketika editor The Charlotte Observer membeli
satu set buku-buku Alkitab dari seorang penginjil literatur mahasiswa, orang ini menjadi berpikir, Siapakah
orang-orang muda ini dan mengapa mereka melakukan pekerjaan ini? Editor menugaskan seorang wartawan dan jurufoto untuk mengikuti kisahnya. Sebagai
hasilnya, mahasiswa ini menjadi berita utama dalam
koran terbesar di negara bagian itu, The Charlotte
Observer.
Selama musim panas para penginjil literatur
mahasiswa menyusuri kota dan wilayah-wilayah di sekitar Charlotte. Ketika wartawan dan juru foto bertemu
dengan para mahasiswa untuk meliput kisahnya, ke16 mahasiswa ini telah menyelesaikan minggu terbesar mereka. Hanya dalam seminggu para mahasiswa
ini menjual buku-buku berisikan kebenaran seharga lebih dari $18.000. Setiap minggu mahasiswa rata-rata
menerima pendaftaran 40 peserta pelajaran Alkitab
yang kemudian mereka sampaikan kepada guru
Alkitab.
Gadis dalam Mimpinya
Angel Chamber sangat terkejut ketika ia membukakan pintu. Di hadapannya berdiri seorang gadis
yang pernah ia lihat di dalam mimpinya. Bukan saja
satu kali mimpi, tetapi tiga kali. Gadis yang mengetuk
182
pintunya adalah Cheryl Martin, seorang lulusan dari
Southern Adventist University, yang bekerja sebagai
guru Alkitab di wilayah Charlotte. Kunjungan Cheryl
adalah tindak lanjut atas minat pelajaran Alkitab yang
diteruskan oleh Michele Goodwin, seorang penginjil
literatur mahasiswa. Sebagai hasil dari kunjungannya,
Angel mengundang dua orang temannya bergabung
dengan mereka dan sekarang ketiganya sedang belajar Alkitab.
183
V. PENUTUP
Perkembangan drama di planet Bumi dan di dalam
Gereja MAHK telah ditinjau secara singkat. Telah digambarkan pengamatan-pengamatan penulis tentang
keterlenaan Gereja Advent secara berangsur-angsur
dalam “kisah cinta” dengan drama. Dan akhirnya, saran-saran telah diberikan tentang bagaimana generasi
muda, atau generasi lainnya dapat secara tepat
terlibat dalam misi Gereja Advent.
Jikalau anda merasa bahwa tulisan ini telah
menunjukkan perlunya menghapuskan pertunjukan-pertunjukan teatrikal dari dalam gereja-gereja
dan lembaga-lembaga kita, meyakinkan anda untuk menghapuskan waktu menonton TV dan drama
video, dan meyakinkan anda untuk menjalankan
sebuah reformasi di dalam rumah, gereja, dan konferens anda, maka bagikanlah tulisan dan Lampiran-lampirannya kepada orangtua, pendeta, dan
pimpinan lembaga dan konferens anda, untuk merancang metode-metode untuk memulai pemecahan yang disarankan di dalam tulisan ini, dan setiap
gagasan tambahan yang akan dituntun oleh Tuhan
dan kepada anda dan orang-orang lain untuk dikembangkan. Marilah kita semua bekerja dan berdoa bagi reformasi dan kebangunan rohani di dalam gereja kita yang kita kasihi ini.
Maranatha.
184
LAMPIRAN
185
LAMPIRAN 1a.
“MENGHADAPI KRISIS”
—Dengan Terang Kecil dan Terang Besar—
Bagian 1
Lawrence Nelson
1 Januari 2000
(Disunting dari naskah asli yang dipersiapkan untuk rekaman
kaset. Digunakan atas izin).
Pendahuluan
Setiap hari membawa kita semakin dekat kepada Krisis Terakhir! Tulisan ilham menggambarkannya sebagai “masa kesesakan seperti yang belum pernah ada sebelumnya,” yang “segera akan
menyembur di hadapan kita sebagai kejutan yang
luar biasa!”
Tuhan telah mengetahui sebelumnya tentang
intensitas dari konflik akhir zaman ini: Ia mengetahui
bahwa anda dan saya tidak akan pernah mampu
berdiri di depan “kekuatan kuasa” Setan yang perkasa tanpa pertolongan khusus dari Roh Kudus.
Karena Setan akan segera “menyebabkan, sehingga kepada semua orang, kecil atau besar, kaya
atau miskin, merdeka atau hamba, diberi tanda pada
tangan kanannya atau pada dahinya, dan tidak seorang pun yang dapat membeli atau menjual selain dari
186
pada mereka yang memakai tanda itu, yaitu nama binatang itu atau bilangan namanya.” Wahyu 13:16, 17.
Betapa kita bersyukur karena Tuhan telah
memberikan Roh Nubuat kepada gerejaNya yang
bersama-sama dengan Alkitab akan memungkinkan umatNya, melalui kuasa Kristus, untuk bersiap
dan melalui krisis akhir zaman, dan melaluinya dengan jaminan kemenangan ilahi!
Karena hanya melalui FirmanNyalah kita dapat diyakinkan bahwa Kristus akan berdiri di sisi
setiap orang yang dengan setia menggenapi syarat ilahi yang secara jelas dinyatakan kepada kita
melalui tulisan-tulisan ilham ini.
Sebelum kita melanjutkan menggali tuntunan
ilahi, marilah kita pertama-tama meminta pertolongan Tuhan:
Bapa yang penuh kasih, inilah saatnya bagi
kami untuk bangun dari ketidaksadaran yang menakutkan dari Setan yang sedang menutupi umatNya, Bapa, bukalah pikiran rohani kami sehingga
kami dapat memahami petunjuk ilahi yang telah
Engkau berikan kepada kami, sehingga kami dapat
menghadapi krisis yang akan datang dengan tanpa
gentar sebagai tentara-tentara salib. Kami meminta
ini di dalam nama Yesus yang kudus, Amin.
Kita memulai pelajaran kita dengan membaca
dari buku Tuhan, Alkitab: ”Dengan demikian kami makin diteguhkan oleh firman yang telah disampaikan
oleh para nabi. Alangkah baiknya kalau kamu memperhatikannya sama seperti memperhatikan pelita
187
yang bercahaya di tempat yang gelap sampai fajar
menyingsing dan bintang timur terbit bersinar di dalam
hatimu. Yang terutama harus kamu ketahui, ialah bahwa nubuat-nubuat dalam Kitab Suci tidak boleh ditafsirkan menurut kehendak sendiri, sebab tidak
pernah nubuat dihasilkan oleh kehendak manusia, tetapi oleh dorongan Roh Kudus orang-orang berbicara
atas nama Allah. 2 Petrus 1 :19-21.
Ellen White menulis tentang Roh Kudus: Roh
Kudus tidak diberikan—tidak pernah juga dianugerahkan—untuk menggantikan Alkitab; karena Alkitab secara tegas menyatakan bahwa Firman Tuhan adalah
standar yang melaluinya segala pengajaran dan pengalaman harus diuji. Yesaya berkata: "Carilah pengajaran dan kesaksian!" Siapa yang tidak berbicara sesuai
dengan perkataan itu, maka baginya tidak terbit fajar.
(Yesaya 8:20). The Great Controversy, Pendahuluan,
hlm. 7 (Kemenangan Akhir).
Tulisan-tulisan Roh Nubuat telah lulus dalam setiap ujian Alkitab yang Kudus! Tulisan-tulisan ini telah terbukti benar tentang Firman Tuhan!
Sesungguhnya, Ellen White memperbesar terang
yang diberikan kepada para nabi di masa lalu,
menjadikan perkataan-perkataan mereka lebih jelas dan lebih mudah dipahami dalam penerapannya secara khusus di zaman kita. Tuhan telah menyatakan melalui jurukabarNya pada akhir zaman:
Roh Kudus adalah pengarang dari Kitab Suci dan
Roh Nubuat—Selected Messages, Vol. 3, hlm. 30.
188
Dan dalam Surat 92, 1900, kita membaca: Alkitab haruslah menjadi penasehatmu. Pelajarilah,
dan juga Kesaksian-kesaksian yang telah diberikan oleh Tuhan; karena tulisan-tulisan ini tidak
pernah bertentangan dengan FirmanNya.
Maka, karena Roh Kudus adalah pengarang
baik Alkitab maupun Roh Nubuat, saya yakin anda
akan setuju dengan saya bahwa tujuan utama dari
keduanya adalah untuk menuntun pria dan wanita
kepada Juruselamat kita yang adalah terang dan
keselamatan dunia!
Ada dua kutipan singkat dalam Roh Nubuat
yang sering kita dengar dikutip di antara kita. Namun
kutipan ini sering dikeluarkan dari konteksnya. Pernyataan-pernyataan ini kemudian ditafsirkan dan dijelaskan secara salah, bukan hanya oleh perorangan, melainkan bahkan oleh beberapa pimpinan gereja kita! Dalam pelajaran ini kita akan mencari makna sesungguhnya dari pernyataan pertama dari dua
kutipan ini. Pelajaran dari kutipan kedua akan dibahas
pada Bagian Kedua dari tulisan ini.
Bacaan yang akan kita bahas hari ini diambil
dari Review & Herald tanggal 20 Januari 1903: Sangat sedikit perhatian diberikan kepada Alkitab,
dan Tuhan telah memberikan terang yang lebih kecil untuk menuntun pria dan wanita kepada terang
yang lebih besar.
Segera pertanyaan harus muncul: Siapakah
“terang yang lebih kecil,” dan siapakah “terang
yang lebih besar?” Di sinilah Setan mulai meng189
hancurkan kepercayaan kepada tulisan-tulisan
hamba-hamba Tuhan!
Sekarang, cara terbaik untuk mempelajari makna dari suatu ungkapan yang membingungkan adalah
bertanya kepada pengarangnya apa yang dimaksudkannya. Tentulah, Ellen White akan menjelaskan apa
yang dimaksudkan oleh Roh Kudus, yang mengilhami
pikirannya, agar disampaikannya. Akan menjadi baik
bagi kita untuk membaca bacaan yang sering dikutip
di dalam konteksnya.
Tetapi, pertama-tama, ada sejumlah bacaan lain di mana Ellen White menggunakan ungkapan ini,
“terang lebih kecil” dan “terang lebih besar.” Dalam
memecahkan pernyataan ini, pernyataan-pernyataan
ini akan membantu. Kita akan memulai dengan salah
satu pernyataan yang terdapat dalam Roh Nubuat,
Vol. 2, hlm. 83, 84. Perhatikan dengan seksama keterangannya tentang pekerjaan Yohanes Pembaptis:
Nabi Yohanes adalah penghubung antara
dua dispensasi. Ia adalah terang yang kecil yang
harus diikuti oleh terang yang besar. Ia harus
menggoncangkan kepercayaan orang-orang kepada tradisi mereka, menyebabkan mereka mengingat dosa-dosa mereka, dan menuntun mereka kepada pertobatan; sehingga mereka akan siap untuk menghargai pekerjaan Kristus. Tuhan berkomunikasi kepada Yohanes melalui ilham, menerangi pemahaman nabi ini, sehingga ia menjauhkan takhayul dan kegelapan dari pikiran orang-orang Yahudi yang jujur, yang melalui ajaran-ajaran
190
yang salah telah terkumpul ke atas mereka dari generasi ke generasi.
Namun murid yang terkecil yang mengikut Kristus, yang menyaksikan mujizat-mujizatNya, dan yang
menerima pelajaran-pelajaran petunjuk ilahiNya dan
perkataan-perkataan penghiburan yang keluar dari bibirNya, adalah lebih beruntung daripada Yohanes
Pembaptis. Tidak ada terang yang telah dipancarkan
atau akan memancar begitu jelas kepada pikiran manusia yang telah jatuh, seperti yang telah memancar
dari ajaran-ajaran dan teladan-teladan Yesus. Kristus
dan misiNya hanya sedikit sekali dipahami dan dilambangkan di dalam pengorbanan perlambangan
itu…
Meskipun tidak satupun dari para nabi yang
mempunyai misi yang lebih tinggi atau pekerjaan
yang lebih besar daripada yang dilakukan Yohanes, ia tidak boleh dipandang sebagai hasil dari pekerjaannya sendiri. Ia tidak diberi kesempatan bersama
Kristus dan menyaksikan kuasa ilahi yang mengikuti
terang yang lebih besar…
Apakah anda memperhatikan perkataan terakhir—“ kuasa ilahi yang mengikuti”... Siapa? Tidak
diragukan lagi, jawabannya adalah Kristus, “Terang
yang lebih besar.” Kalimat ini secara tegas menyatakan terang yang lebih besar adalah Kristus! Dan
siapakah yang disebut oleh Nyonya White sebagai
“terang yang lebih kecil?” Nabi Yohanes! Dalam
kutipan ini ia telah mendefinisikan kedua istilah ini
dalam bahasa yang tidak dapat salah! Dan semen191
tara kita membaca kutipan-kutipan lain dari tulisan-tulisannya, kita akan menemukan bahwa ia adalah konsisten.
Sekarang marilah kita melihat kutipan kedua
yang terdapat dalam Review & Herald, 8 April 1873.
Di sini Ellen White menulis bahwa Yohanes adalah:
“Salah satu nabi terbesar yang telah dikirimkan
oleh Tuhan sebagai jurukabar ke bumi… Kristus
berkata tentang dia bahwa ia lebih dari nabi-nabi
lainnya…”tidak ada nabi yang lebih besar daripada
Yohanes Pembaptis.”
Dalam konteks perkataan ini, Ellen White melanjutkan: “Yohanes adalah terang yang lebih kecil
yang harus diikuti oleh terang yang lebih besar.”
Dan siapakah terang yang lebih besar itu yang mengikuti Yohanes? Kita semua akan menjawab:
YESUS!
Selanjutnya pernyataan ketiga, kita akan menuju The Desire of Ages halaman 220 (Kerinduan Segala Zaman):
Nabi Yohanes adalah penghubung antara
dua dispensasi, sebagai wakil Tuhan, ia berdiri tegak untuk menunjukkan hubungan antara hukum
dan nabi kepada dispensasi Kristen. Ia adalah terang yang lebih kecil, yang harus diikuti oleh terang yang lebih besar. Pikiran Yohanes diterangi
oleh Roh Kudus, sehingga ia dapat menerangi
umatnya; [dan sekarang perhatikan perkataan ini:]
namun tidak pernah ada terang yang bersinar
ataupun akan bersinar sedemikian terang ke atas
192
manusia yang telah jatuh sebagaimana yang memancar dari ajaran dan teladan Yesus.
Dari sini hanya ada satu kesimpulan: Yohanes,
terang yang lebih kecil, haruslah menunjukkan hubungan antara hukum dan nabi-nabi dalam Perjanjian Lama kepada Kristus, yaitu “terang yang lebih
besar” yang datang setelah dia.
Dan Alkitab mendukung bahwa definisi Ellen
White adalah benar! Kita membaca dalam Yohanes
1:6-9: “Datanglah seorang yang diutus Allah, namanya
Yohanes; ia datang sebagai saksi untuk memberi kesaksian tentang terang itu, supaya oleh dia semua
orang menjadi percaya. Ia bukan terang itu, tetapi ia
harus memberi kesaksian tentang terang itu. Terang
yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang,
sedang datang ke dalam dunia.” Yohanes 1:6-9.
Dalam Yohanes 5:35 dan 36 Yesus berkata: “Ia
adalah pelita yang menyala dan yang bercahaya dan
kamu hanya mau menikmati seketika saja cahayanya
itu. Tetapi Aku mempunyai suatu kesaksian yang lebih
penting dari pada kesaksian Yohanes, ...”
Kemudian dalam Yohanes 9:5, Yesus mengumumkan: “Akulah terang dunia." Jikalau tidak pernah ada terang yang bersinar atau akan bersinar
seterang Kristus, tentulah seluruh nabi dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru adalah “terangterang yang lebih kecil.” Hal ini tidak perlu dipertanyakan lagi!
Dalam kutipan keempat, Ellen White berbicara
tentang era Perjanjian Lama sebagai “terang yang
193
lebih kecil” dan era Perjanjian Baru sebagai “terang yang lebih besar.” Kita mengutip dari buku
This Day With God, hlm. 246:
Dengan kedatangan Kristus yang pertama
kali diumumkan dalam era terang yang lebih besar
dan kemuliaan; namun benar-benar adalah sikap
tidak bersyukur yang penuh dosa untuk meremehkan dan mengolok-olok terang yang lebih kecil karena terang yang lebih mulia dan penuh telah tiba.
Orang-orang yang meremehkan berkat-berkat dan
kemuliaan di zaman Yahudi adalah tidak siap untuk memperoleh manfaat dari pekabaran Injil….
Maka kita dapat melihat secara jelas bahwa Ellen
White tidak berubah dari definisinya yang telah ditetapkan. Kedatangan Kristus yang pertama yang diumumkan dalam masa “terang dan kemuliaan
yang lebih besar.” Tuhan, melalui para nabi dalam
Perjanjian Lama, telah menetapkan “Terang dan
kemuliaan yang lebih kecil di zaman Yahudi.” Tujuan dari zaman ini adalah untuk menetapkan pelayanan bait suci yang menunjuk ke masa depan kepada “terang yang lebih besar” untuk diumumkan
dengan kedatangan Kristus yang pertama.
Sekarang kita akan membahas kutipan dalam
Review & Herald, 20 Januari 1903: Dari kutipan ini
telah dinyatakan dari mimbar-mimbar dan buku-buku
kita bahwa Ellen White mengacu kepada Alkitab
sebagai “terang yang lebih besar” dan dirinya sendiri dan tulisan-tulisannya sebagai “terang yang
lebih kecil.”
194
Secara khusus saya mengacu kepada bagian
buatan manusia. Dalam Selected Messages, Vol. 3,
hlm. 30 [1980], secara jelas dipromosikan pendapat
yang salah ini, bagian ini berbunyi: Relationship of
E. G. White Writings to Bible—The Lesser Light
(Hubungan antara Tulisan-tulisan E.G. White dengan Alkitab—Terang yang lebih Kecil). Segera
setelah bagian ini, tertulis kutipan dari Review & Herald:
Perhatian sangat sedikit diberikan kepada
Alkitab, dan Tuhan telah memberikan terang yang
lebih kecil untuk menuntun pria dan wanita kepada
terang yang lebih besar. .—Review & Herald, 20 Januari 1903. (Dikutip dalam Colporteur Ministry, 125.)
Sekarang, biarlah saya bertanya kepada anda:
Pernahkah anda membaca kutipan ini dalam konteksnya? Ketika kita membacanya, silakan perhatikan tujuan dari artikel Review tersebut. Dari awal hingga akhirnya Nyonya White mempromosikan penjualan
[apa] buku-bukunya. Kepada siapa?Kepada orangorang di dunia. Mengapa? “untuk menuntun mereka kepada Juruselamat”—yaitu Terang yang Lebih
Besar!
Sekarang perhatikan dengan seksama sementara kita membaca kalimat ini dalam konteksnya:
Saya bersyukur kepada Bapa Di Surga karena
minat saudara-saudara saya dalam penyebaran buku
Christ’s Object Lessons(Perumpamaan-perumpamaan Tuhan Yesus). Dengan penjualan buku ini akan
ada banyak manfaat yang dicapai, dan pekerjaan akan
195
terus berlangsung. Namun usaha-usaha orang-orang
kita tidak boleh terpaku hanya pada satu buku ini...
Buku-buku yang lebih besar, Patriarchs and Prophets (Para Nabi & Bapa), Great Controversy (Kemenangan Akhir), dan Desire of Ages (Kerinduan Segala Zaman), harus dijual di mana-mana. Buku-buku ini
berisikan kebenaran untuk masa kini,--kebenaran
yang harus dikumandangkan ke seluruh penjuru
dunia. Tidak boleh ada sesuatupun yang menghalangi penjualannya.
Lebih banyak buku-buku yang lebih besar akan
dapat dijual jikalau anggota-anggota gereja telah bangun dan menyadari pentingnya kebenaran-kebenaran di dalam buku-buku ini, dan telah menyadari tanggung jawab mereka untuk menyebarkannya. Saudarasaudara, maukah anda mengusahakan untuk menyebarkan buku-buku ini?
Ia melanjutkan,
Saudari White bukanlah pengarang buku-buku itu.
Buku-buku itu mengandung petunjuk yang telah
diberikan kepadanya oleh Tuhan selama masa hidup dan bekerjanya. Buku-buku tersebut berisikan
terang yang menghiburkan dan berharga yang telah dikaruniakan oleh Tuhan dengan belas kasihan
kepada hambaNya agar disampaikan ke seluruh
dunia. Dari halaman-halaman ini terang ini harus
bersinar ke dalam hati pria dan wanita, yang menuntun mereka kepada Juruselamat mereka. Tuhan telah mengumumkan bahwa buku-buku ini
harus disebarkan di seluruh penjuru dunia. Di da196
lamnya terdapat kebenaran yang bagi penerimanya adalah rasa hidup bagi kehidupan. Buku-buku
itu adalah saksi yang hening bagi Tuhan. Di masa
lalu buku-buku itu telah menjadi sarana untuk menerangkan dan mempertobatkan banyak jiwa. Banyak yang telah membacanya dengan pengharapan yang penuh sukacita, dan dengan membacanya, telah dituntun untuk melihat pentingnya pengorbanan pendamaian Kristus, dan melihat kebenaran dalam kuasanya…
Tuhan telah mengirimkan kepada umatNya
banyak petunjuk, baris demi baris, hukum demi
hukum, sedikit di sini dan sedikit di sana. Hanya
sedikit perhatian diberikan kepada Alkitab, dan
Tuhan telah mengirimkan terang yang lebih kecil
untuk menuntun pria dan wanita kepada terang
yang lebih besar… (Tentulah ini disampaikan dengan sangat jelas.]
Sebagian dari buku-buku Ellen White dirancang
untuk disebarluaskan secara meluas kepada umum.
Mengapa? Karena dari halaman-halaman buku-buku
itu, “terang harus bersinar ke dalam hati pria dan
wanita, untuk menuntun mereka kepada Juruselamat.”
Ia tentulah mengungkapkan pemikiran yang sama, ketika dalam beberapa kalimat selanjutnya, ia mengatakan: “Tuhan telah memberikan terang yang
lebih kecil untuk menuntun pria dan wanita kepada
terang yang lebih besar,” karena orang-orang telah
197
mengabaikan Alkitab yang telah diberikan Tuhan
kepada dunia untuk tujuan ini.
Ellen White menunjuk kepada tulisan-tulisannya sendiri, meskipun itu berharga dan diilhami,
sebagai “terang yang lebih kecil” untuk menuntun
orang-orang di dunia kepada Yesus Kristus—yaitu
“terang yang lebih besar.” Jikalau kutipan ini berarti apa yang dipercayai secara umum, bahwa “terang yang lebih besar” yang dimaksudkan adalah
Alkitab, maka ini tidak akan konsisten dengan seluruh kutipannya yang lain di mana ia mendefinisikan terang yang lebih besar itu adalah Kristus.
Maka kita harus menyimpulkan dari artikel ini
bahwa Ellen White tidak memaksudkan bahwa tulisan-tulisannya adalah lebih rendah daripada Alkitab. Karena Roh Kudus adalah pengarang dari tulisan-tulisannya, sebagaimana dikatakan dalam
Selected Messages, Vol. 3, p. 30, dan karena Tuhan, bukan Ellen White, adalah sumber dari tulisan-tulisannya, sebagaimana dikatakan dalam Review & Herald, 20 Januari 1903, maka siapakah
orang-orang yang mengajarkan bahwa tulisan-tulisan Ellen White adalah kelas dua (lebih rendah)?
Tidak lain adalah kalangan Liberal di antara
kita yang digunakan oleh Setan agar Roh Nubuat
“tidak memberi pengaruh apa-apa.” Ellen White diajar oleh Roh Kudus Tuhan yang sama dengan
Roh Kudus yang mengajar para nabi di zaman dahulu. Dan jikalau Yohanes Pembaptis, nabi terbesar di antara para nabi, adalah “terang yang lebih
198
kecil,” maka tentulah para nabi adalah semuanya
terang-terang yang lebih kecil. Kristus sajalah
yang menjadi “terang yang lebih besar.”
Dalam kisah penciptaan, ada ilustrasi yang menarik yang akan membantu kita untuk memahami perbedaan antara terang yang lebih kecil dan terang yang
lebih besar. Ini terdapat dalam Kejadian 1:16:
“Maka Allah menjadikan kedua benda penerang
yang besar itu, yakni yang lebih besar untuk menguasai siang dan yang lebih kecil untuk menguasai malam.”
Saya menyukai bagaimana John Janiuk menarik perhatian kita kepada dua ilustrasi dalam bukunya
The Great Controversy Endgame, #3, hlm. 23,24. Ia
menunjukkan bahwa di dalam konteks ayat ini, dua
pertanyaan terjawab. Yaitu, (1) Apakah terang yang
lebih besar itu? Jawabannya: matahari yang menguasai siang, atau terang yang memancar dari dirinya sendiri. Dan (2) Apakah terang yang lebih kecil itu yang menguasai malam? Bulan. Apakah bulan memiliki terang dalam dirinya sendiri? TIDAK!
Yang dapat dilakukan oleh bulan adalah memantulkan terang dari matahari. Bukankah ini mengajarkan kepada kita suatu prinsip Alkitab yang penting?
Terang yang lebih besar memiliki terang di
dalam dirinya sendiri, sementara terang yang lebih
kecil hanya dapat memantulkan terang. Seribu bulan bersama-sama tidak dapat menjadi terang yang
199
lebih besar, karena terang yang lebih besar adalah
terang yang asli—matahari!
Janiuk menyimpulkan bahwa para penulis Alkitab dan Ellen White tidak memiliki terang di dalam diri mereka sendiri. Sebagai bulan, mereka hanya dapat memantulkan terang yang asli dari Yesus Kristus—SURYA KEBENARAN! Berbicara secara rohani, Kristus adalah Surya Kebenaran.
Alkitab menjanjikan di dalam Maleakhi 4:2 bahwa sebagai Surya Kebenaran, Ia akan bangkit bagi
kita “dengan kesembuhan pada sayapnya.”
Karena Yesus adalah Terang Kehidupan. Dari Desire of Ages hlm. 463, saya mengutip perenungan yang indah ini: “Maka Yesus berkata pula
kepada orang banyak, kata-Nya: "Akulah terang
dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan
berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup."(Yohanes 8:12).
Ketika Ia mengatakan perkataan ini, Yesus berada di halaman bait suci khususnya membahas tentang pelayanan Perayaan Bait Suci. Di pusat halaman
ini berdiri dua tiang yang indah, yang mendukung tiang-tiang lampu yang berukuran besar. Setelah upacara korban petang hari, seluruh lampu dinyalakan, yang memberi terang ke seluruh Yerusalem.
Upacara ini adalah untuk memperingati tiang api yang
menuntun bangsa Israel di padang belantara, dan juga
dianggap mengacu kepada kedatangan Mesias. Pada malam hari ketika lampu-lampu dinyalakan, halam-
200
an ini adalah sebuah pemandangan yang menimbulkan sukacita.
Dalam penerangan Yerusalem, orang-orang
menyatakan pengharapan mereka akan kedatangan
Mesias untuk memberikan terangNya kepada bangsa
Israel. Tetapi bagi Yesus pemandangan ini memiliki
makna yang lebih luas. Sebagaimana terang yang
memancar dari bait suci menerangi sekelilingnya,
demikianlah juga Kristus, sebagai sumber terang
rohani, menerangi kegelapan dunia. Namun lambang itu adalah tidak sempurna, terang yang besar
itu [di sini Nyonya White berbicara tentang matahari,
dan Yesus Sendiri telah dipersamakan dengan terang
yang asli] yang dengan tanganNya sendiri matahari
telah diletakkan di langit adalah pernyataan yang
lebih benar tentang kemuliaan misiNya.
Pemikiran yang sama dinyatakan dalam Counsels to Parents, Teachers and Students, hlm. 54:
Matahari bersinar di langit adalah pernyataan dari
Dia yang adalah kehidupan dan terang dari segala
sesuatu yang telah diciptakanNya…
Akan tetapi janganlah kita pernah melupakan bahwa manusia memiliki bagian dalam tindakan penyelamatan dunia. Karena Yesus berkata,
“Kamu adalah terang dunia.” Namun kemanusiaan
tidak memiliki terang di dalam dirinya sendiri. Manusia disamakan, bukan dengan matahari, melainkan dengan bulan. Manusia hanya dapat memantulkan terang Yesus. Dengarkanlah kutipan dari
201
Mount of Blessings, hlm. 40 (Khotbah di Atas
Bukit):
Manusia sendiri tidak memiliki terang. Di luar Kristus kita adalah seperti lilin kecil yang tidak
dinyalakan, seperti bulan ketika wajahnya tidak
menghadap matahari; kita tidak memiliki satupun
sinar terang untuk menerangi kegelapan dunia.
Akan tetapi ketika kita berpaling kepada Surya Kebenaran, ketika kita datang bertemu dengan Kristus, seluruh jiwa bersinar dengan terang karena
kehadiran ilahi.
Para pengikut Kristus haruslah lebih dari sekedar terang di tengah-tengah manusia. Mereka
haruslah menjadi terang dunia…
Sebagaimana halnya dengan bulan, seluruh
makhluk manusia adalah “terang-terang yang lebih
kecil,” baik ia seorang nabi, imam, ataupun raja.
Tetapi ketika manusia memalingkan wajahnya kepada Kristus, dan menghubungkan dirinya dengan
Dia, mereka akan dapat memantulkan terang
Kristus kepada dunia.
Saya mengutip bacaan berikut ini dari This Day
With God, hlm. 93:
Adalah kesempatan istimewa bagi orang
Kristen untuk berhubungan dengan Sumber terang, dan melalui hubungan yang hidup ini lalu
menjadi terang bagi dunia.
Sementara terang matahari adalah terang,
kehidupan dan berkat bagi segala bentuk kehidupan, demikianlah seharusnya orang-orang Kristen,
202
melalui perbuatan-perbuatan baik mereka, melalui
sukacita dan penghiburan mereka, menjadi terang
bagi dunia. Sementara terang matahari menghalau
bayangan kegelapan malam dan mencurahkan kemuliaannya pada lembah dan gunung, demikianlah
seharusnya orang Kristen memantulkan Surya Kebenaran yang bersinar ke atas mereka.
Bukankah ini indah?
Oh, betapa suatu kesempatan istimewa untuk memantulkan terang yang bersinar dari “Surya Kebenaran!” Buku That I May Know Him,hlm. 341, memberi nasehat kepada kita:
O, pastikanlah anda menerima pancaran terang dari Sumber segala terang. Ia adalah Terang
utama alam semesta surga yang besar dan Terang
yang besar bagi dunia.
Semoga nasehat yang indah ini digenapi di dalam diri kita masing-masing: Kehormatan rajani dari
tabiat Kristen akan bersinar terang sebagaimana
matahari, dan pancaran sinar dari wajah Kristus
akan dicerminkan ke atas mereka yang telah menyucikan diri mereka sebab Dia adalah suci.
Ingatlah selalu bahwa “Surya Kebenaran telah
bangkit. Kristus kebenaran kita sedang bersinar
dalam terang ke atas kita (Bible Commentary, Vol.
7, hlm. 932). Saudara-saudara kekasih, Kristus telah melakukan ini bagi kita karena Ia mengasihi kita!
Selanjutnya kita membaca, kali ini dalam Bible
Commentary, Vol. 6, hlm. 1118:
203
Kristus “mengasihi gereja, dan memberikan
dirinya baginya.” Itulah harga bagi darahNya. Putra Allah yang kudus terlihat berjalan di antara tujuh kaki dian. Yesus Sendiri memberi minyak dari
lampu-lampu yang menyala ini. Dialah yang menyalakan apinya, ”Di dalam Dia adalah kehidupan;
dan kehidupan adalah terang bagi manusia.” Tidak
ada kaki dian, tidak ada gereja, yang bersinar dari
dirinya sendiri. Dari Kristus terpancarkan seluruh
terangnya.
Lagi, dari Selected Messages, Vol. 2, 249, kita
diberi janji:
Aniaya itu mungkin berat, namun pandanglah kepada Yesus setiap saat—bukan untuk berjuang, melainkan untuk beristirahat dalam kasihNya.
Ia memperhatikan anda. [Saya menyukai hal ini!]
Kita mengetahui bahwa sementara aniaya
semakin dekat menekan, pengharapan bertumbuh
semakin besar. Terang Surya Kebenaran akan
bersinar ke dalam hati anda dengan kuasa kesembuhannya.
Sekarang dengan kebenaran-kebenaran yang
mulia di hadapan kita, kita akan lebih mudah memahami kerusakan yang telah dilakukan terhadap
gereja ketika melalui kesalahpahaman, atau berbagai sarana, tulisan-tulisan Ellen White diremehkan
sebagai “terang yang lebih kecil” daripada Alkitab.
Setan memahami berkat dan penghiburan yang luar biasa dari Kesaksian-kesaksian itu bagi gereja
Tuhan ketika kesaksian itu dipelihara dan dipela204
jari oleh anggota-anggotanya. Saya khawatir kesalahpahaman ini adalah salah satu saja dari berbagai cara yang digunakan oleh Setan untuk merusak pelayanan jurukabar Tuhan kepada Gereja
yang Sisa sehingga pada akhirnya tulisan-tulisannya tidak akan berpengaruh apa-apa dalam kehidupan banyak orang.
Karena, jikalau Setan dapat meremehkan
Roh Nubuat, dan dengan demikian, Kesaksian-kesaksian dapat diabaikan—ditinggalkan di rak-rak
buku kita untuk menimbun debu, ia mengetahui
bahwa umat Tuhan tidak akan dapat melacak penipuannya yang terakhir—penipuan-penipuan yang
bukan saja ditunjukkan oleh Roh Nubuat secara jelas, melainkan juga bagaimana menghindarkannya. Jangan pernah lupa, bahwa, jika memungkinkan, Setan menginginkan kita semua binasa!
Perhatikan baik-baik kutipan ini dari Selected
Messages, Vol. 1, hlm. 48:
Tipuan Setan yang paling akhir adalah untuk
menjadikan kesaksian Roh Tuhan tidak berpengaruh apa-apa. “Bila tidak ada wahyu, menjadi liarlah
rakyat. Berbahagialah orang yang berpegang pada
hukum.” (Amsal 29:18). Setan akan bekerja dengan
mahirnya, dalam berbagai cara dan melalui berbagai agen, untuk menggoyahkan kepercayaan umat
Tuhan yang sisa kepada kesaksian yang sejati.
Oh, sahabat, janganlah kita meremehkan
“terang yang lebih kecil” di akhir zaman, atau me-
205
mandang tulisan-tulisan Ellen White lebih rendah
daripada perkataan-perkataan Tuhan.
Saya harus jujur kepada anda, selama 60 tahun
masa pelayanan saya kepada Tuhan saya telah secara teratur menggunakan Alkitab dan Roh Nubuat dalam khotbah-khotbah saya kepada orang-orang MAHK
dan dalam seluruh pelayanan saya melalui rekaman
kaset. Karena saya selalu percaya bahwa baik Alkitab maupun Roh Nubuat berasal dari sumber otoritas yang sama—Roh Kudus!
Sekarang, ada satu perenungan yang lebih
penting: Pada awal mulanya, ketika Kristus menciptakan dunia ini, Ia menempatkan terangNya yang menyembuhkan ke atas bumi yang masih kosong dan tidak berbentuk. “Berfirmanlah Allah: "Jadilah terang."
Lalu terang itu jadi. Dan Allah menamai terang itu siang, dan gelap itu malam. Jadilah petang dan jadilah
pagi, itulah hari pertama.” (Kejadian 1:3, 5). Pada hari
pertama itu tidak ada terang dari matahari ataupun dari bulan—matahari dan bulan belum diciptakan hingga
pada hari keempat. Tetapi “ada terang”! Siapakah terang itu? Itulah Yesus, Sang Pencipta, Yang adalah “terang” itu dan di bumi yang dijadikan baru,
akan ada suatu masa ketika di Yerusalem Baru tidak akan diperlukan lagi “terang” dari matahari
ataupun bulan, karena kita membaca dari Wahyu
21:23:
“Dan kota itu tidak memerlukan matahari dan
bulan untuk menyinarinya, sebab kemuliaan Allah meneranginya dan Anak Domba itu adalah lampunya.”
206
Yesus dahulu, hari ini dan selamanya adalah
Surya Kebenaran. Terang Lebih Besar bagi kita selamanya! Oh, betapa seorang Juruselamat, pujilah
namaNya!
Saya menghimbau kepada anda sekalian di dalam nama Tuhan dan Allah kita: Marilah kita menghadapi krisis yang akan datang dengan jaminan mutlak kemenangan di dalam Kristus, karena kita telah
menerima Roh Nubuat dan Alkitab sebagai terangterang yang lebih kecil yang menuntun kita kepada
Terang Besar—Surya Kebenaran, Yesus Kristus,
Dialah sendiri yang mampu menyelamatkan kita.
Mari kita berdoa-Bapa kami di Surga, kami bersyukur kepadaMu
karena informasi yang positif yang menghibur kami
untuk percaya tanpa ragu bahwa tulisan-tulisan
Ellen White dan Alkitab keduanya dikarang oleh
Roh KudusMu. Berikanlah kami keberanian untuk
membaca, mempelajari, dan menuruti segala ajaran di dalam dua sumber ilham yang telah Engkau
karuniakan sehingga kami dapat memahami sepenuhnya apa yang akan segera terjadi di dunia.
Kami berterima kasih kepadaMu karena janji
dari AnakMu yang Kekasih: “Barangsiapa menang,
ia akan Kududukkan bersama-sama dengan Aku di
atas takhta-Ku, sebagaimana Aku pun telah menang dan duduk bersama-sama dengan Bapa-Ku
di atas takhta-Nya.” Karena kami memohon ini di
dalam nama Yesus, AMIN.
207
Di Bagian 2 dari tulisan ini, kita membahas bagian kedua dari Roh Nubuat yang sering dikutip di luar konteksnya dan disalahgunakan, yang dapat menyebabkan kehancuran bagi umat Tuhan!
208
LAMPIRAN Ib
“MENGHADAPI KRISIS”:
Dengan Terang lebih Kecil dan Terang lebih Besar
Bagian 2
Lawrence Nelson
1 Februari 2000
Pendahuluan
Di Bagian 1 kita berbicara tentang dua kutipan
pendek dari Roh Nubuat yang sering diambil di luar
konteksnya, disalahpahami, dan kemudian disalahgunakan. Kutipan yang telah kita bahas terdapat dalam
Review & Herald, 20 Juni 1903, yang berbunyi: Sangat sedikit perhatian diberikan kepada Alkitab
dan Tuhan telah memberikan terang yang lebih kecil untuk menuntun pria dan wanita kepada terang
yang lebih besar.
Di Bagian 1 kita membaca acuan-acuan di mana Ellen White dengan jelas mendefinisikan bagi kita
arti dari dua istilah tersebut: semua nabi, jelasnya
(termasuk nabi-nabi Alkitab dan Ellen White) adalah “terang-terang yang lebih kecil,” yang menuntun kita kepada Kristus yang adalah “terang yang
lebih besar.” Sebagaimana bulan memantulkan
terang dari matahari, demikianlah seorang nabi,
yang tidak memiliki terang di dalam dirinya sendiri,
hanya dapat memantulkan terang dari Surya Kebe209
naran. Siapakah Kristus?—terang kehidupan! (lihat Spirit of Prophecy, Vol. 2, hlm. 83, 84.)
Sebelum saya memperkenalkan kutipan pendek kedua, marilah kita berdoa:
Oh Bapa yang penuh kasih, kami memohon
kepadaMu untuk membukakan pengertian kami kepada kebenaran-kebenaran surgawiMu. Isilah kami
dengan Roh KudusMu dengan rasa dahaga yang
tak terpuaskan untuk diisi dari “terang-terang yang
lebih kecil” dariMu, dan dipersiapkan untuk bertemu dengan “terang yang lebih besar”—Yesus,
Surya Kebenaran kami. Semoga kami menjadi siap
untuk bertemu dengan kedatanganMu yang segera
tanpa rasa takut. Ini kami mohon di dalam nama
Yesus. AMIN.
Sekarang marilah kita mengenali pernyataan ilham yang akan kita bahas. Saya akan mengutip dari
Prophets and Kings, hlm. 626 (Para Nabi dan Raja):
Perkataan Alkitab, dan hanya Alkitab semata, yang
harus didengarkan dari mimbar.
Sementara kita mendekati penutupan dari
Krisis Terakhir, Setan tampaknya lebih bersungguh-sungguh daripada sebelumnya untuk menjauhkan Roh Nubuat agar tidak disampaikan kepada
umat Tuhan yang sisa! Sebuah penelitian terhadap
kalimat ini dalam konteksnya secara jelas menyatakan
bahwa Ellen White di sini tidak menunjuk kepada
mimbar-mimbar gereja MAHK, melainkan kepada
saat-saat ketika pendeta atau pengerja MAHK berdiri di hadapan orang-orang Kristen di dunia. Baca210
lah Prophets and Kings, hlm. 623-627 (Para Nabi
dan Raja), dan akan menjadi sangat jelas mimbar
apa yang dimaksudkannya.
Saat ini kita hanya berkesempatan membahas
beberapa pemikiran dari halaman 625, 626:
Antara hukum-hukum manusia dan hukumhukum Yehovah pada akhirnya akan datang konflik dari pertentangan antara kebenaran dan kesalahan. Terhadap pertempuran inilah kita akan masuk… banyak yang telah menolak ajaran-ajaran
yang merupakan tiang-tiang kebenaran Kristen.
Fakta agung tentang penciptaan sebagaimana dinyatakan oleh para penulis ilham, kejatuhan manusia, pengorbanan pendamaian, kekekalan hukum—
semuanya ini secara praktis ditolak oleh sebagian
besar dunia yang mengaku Kristen.
Saya melanjutkan membaca:
Orang-orang Kristen harus bersiap-siap menghadapi sesuatu yang segera akan memecah dunia
sebagai suatu kejutan yang membingungkan, dan
persiapan ini harus dilakukan oleh mereka dengan
mempelajari dengan tekun perkataan Tuhan dan
berusaha keras untuk menyesuaikan kehidupan
mereka kepada hukum-hukumNya ... Tuhan memanggil kebangunan rohani dan reformasi. Perkataan dari Alkitab dan Alkitab semata, harus didengarkan dari mimbar. Namun Alkitab telah dirampok dari kuasanya, dan akibatnya tampak dalam
penurunan dalam kehidupan kerohanian. Dalam
banyak khotbah-khotbah saat ini tidak ada mani211
festasi ilahi yang membangunkan hati nurani dan
memberi kehidupan kepada jiwa-jiwa… Biarlah firman Tuhan berbicara ke dalam hati. Biarlah orangorang yang telah mendengar hanya tradisi dan teori dan maksim (pernyataan-pernyataan) manusia,
mendengar suaraNya yang dapat memperbaharui
jiwa ke dalam kehidupan kekal.
Kita mungkin bertanya, Apakah Ellen White berbicara tentang gereja-gereja MAHK ketika ia berkata,
“banyak yang telah menolak ajaran-ajaran yang merupakan tiang-tiang kebenaran Kristen?” Ia melanjutkan
untuk menyebut tiang-tiang yang dimaksudkannya:
Fakta agung tentang penciptaan sebagaimana dinyatakan oleh para penulis ilham, kejatuhan manusia, pengorbanan pendamaian, kekekalan hukum—
semuanya ini secara praktis ditolak oleh sebagian
besar dunia yang mengaku Kristen.
Ia tidak mungkin memasukkan Gereja
MAHK, karena orang MAHK yang sejati benar-benar percaya kepada “Fakta agung tentang penciptaan sebagaimana dinyatakan oleh para penulis ilham, kejatuhan manusia, pengorbanan pendamaian, kekekalan hukum.” “Tuhan memanggil kebangunan rohani dan reformasi.” Untuk mencapainya, ketika mengajar orang-orang yang mengaku
Kristen, ia berkata, “Perkataan dari Alkitab dan Alkitab semata, harus didengar dari mimbar.” Tolong perhatikan bahwa Ellen White tidak mengatakan dari “mimbar-mimbar kita,” melainkan dari
“mimbar.”
212
Betapa menyedihkan bahwa beberapa pendeta MAHK di gereja-gereja besar telah menggunakan
kalimat pendek ini untuk menghalangi umat Tuhan
dari mendengarkan Roh Nubuat. Setelah pensiun,
saya pernah menjadi majelis gereja dari sebuah gereja
besar di Kalifornia Selatan. Di gereja ini yang beranggotakan sekitar 1200 orang, pendeta menginstruksikan dewan majelis bahwa mereka tidak pernah boleh menggunakan Roh Nubuat dari mimbarnya. Kemudian ia mengutip pernyataan yang baru saja kita
baca.
Tentulah ketika berbicara di hadapan hadirin
yang terdiri atas orang-orang Kristen dan orang tidak percaya, tidak tepat menggunakan tulisan-tulisan Ellen White, kita mendapatkan nasehat ini dalam Testimonies, Vol. 5, hlm. 669:
Saya mengatakan bahwa beberapa orang telah mengambil jalan yang tidak bijaksana; ketika
mereka berbicara tentang iman mereka kepada
orang yang tidak percaya, dan ketika bukti diminta,
mereka membaca dari tulisan-tulisan saya, bukannya mencari bukti di dalam Alkitab. Ditunjukkan
kepada saya bahwa cara ini tidak konsisten, dan
akan membuat prasangka pada orang tidak percaya terhadap kebenaran. Kesaksian-kesaksian tidak
memiliki bobot bagi mereka yang tidak mengenal
roh kesaksian tersebut. Tulisan-tulisan tersebut tidak boleh dijadikan acuan dalam kasus demikian.
Maka, sebagai seorang pendeta, ketika saya memberi
pelajaran Alkitab kepada orang yang tidak perca213
ya, dan dalam pertemuan-pertemuan penginjilan
ketika saya berkhotbah, saya selalu membuktikan
setiap pernyataan dari Alkitab. Ini sejalan dengan
Selected Messages, Vol. 3, hlm. 29:
Dalam pekerjaan kepada orang banyak, janganlah menonjolkan, dan mengutip apa yang telah ditulis oleh Saudari White, sebagai otoritas untuk mempertahankan pendirian anda. Hal ini tidak
akan meningkatakan iman dalam kesaksian-kesaksian tersebut. Bawalah bukti-bukti anda, jelas dan
tegas, dari Firman Tuhan. Perkataan “Demikianlah
Firman Tuhan” adalah kesaksian terkuat yang dapat anda sampaikan kepada orang banyak.
Kita dapat juga menyebutkan bahwa ketika
berbicara di hadapan “orang-orang Kristen di dunia
[atau di hadapan kelompok lain tentang masalah itu],
pendeta tidak boleh menyampaikan khotbah-khotbah yang berisikan cerita-cerita atau anekdotanekdot, atau injil menurut Majalah Time, dll, hanya untuk menghibur mereka. Ellen White menyatakan, “Biarlah orang-orang yang hanya pernah mendengar tradisi dan teori dan maksim manusia”
mendengar “perkataan-perkataan dari Alkitab dan
Alkitab semata!” —Christ’s Object Lessons, hlm. 40.
Kita menyimpulkan bahwa untuk alasan-alasan
yang amat baik adalah tidak tepat menggunakan tulisan-tulisan Ellen White dalam pertemuan-pertemuan
umum, seperti kampanye penginjilan atau ketika memberi pelajaran Alkitab kepada seseorang, atau bahkan
214
ketika berdiskusi dengan orang tidak percaya atau
anggota gereja-gereja duniawi.
Setelah kita mengetahui bahwa jika tidak tepat
menggunakan Roh Nubuat, marilah kita mencari jawaban untuk pertanyaan: Kapankah tepat waktunya?
Kembali ke halaman-halaman Roh Nubuat, kita
akan segera mengamati bahwa dalam banyak kesempatan, Tuhan menginstruksikan kepada Ellen White
untuk mengirimkan kesaksian-kesaksian untuk dibacakan dari mimbar-mimbar kita, bukan hanya di
dalam gereja-gereja kita, melainkan juga di dalam
pertemuan-pertemuan perkemahan kita.
Biarlah saya menyebutkan beberapa contoh.
Ketika berbicara di pertemuan perkemahan di Illinois,
dari Battle Creek Letters, hlm. 49 (juga dalam Selected
Messages, Vol. 1, hlm. 27), saya mengutip:
Ketika saya pergi ke Colorado saya sangat terbeban bagi anda sehingga, dalam kelemahan saya,
saya menulis (bulan September 1881) banyak halaman untuk dibacakan di pertemuan perkemahan anda. Lemah dan gemetar, saya bangkit pada pukul tiga
pagi untuk menulis kepada anda. Tuhan berbicara
melalui tanah liat…
Tetapi catatan itu sepenuhnya telah dilupakan; pertemuan perkemahan telah berlalu, dan tulisan itu tidak dibacakan hingga ke General Konferens.
Dalam biografi Ellen White, Arthur White berkomentar bahwa kesaksian ini tiba dari Ellen White pa215
da pertengahan pertemuan perkemahan Illinois, dan
bahwa tidak ada alasan bagi para pimpinan untuk
mengabaikan pembacaannya sebagaimana yang
diminta.
Maka kita mengetahui bahwa bukan saja di
zaman kita bahwa beberapa pimpinan MAHK
menghindari, jikalau mungkin, pembacaan kesaksian Roh Tuhan dari mimbar-mimbar gereja-gereja
kita. Ellen White menghadapi masalah yang sama.
Tolong perhatikan bahwa ia merasa kebutuhan
yang amat mendesak bahwa kesaksian ini harus
dibacakan di dalam pertemuan perkemahan tersebut, sehingga, meskipun sakit, ia bangun pada pukul 3 pagi untuk menuliskannya. Tetapi, sayangnya, kesaksian itu tidak dibacakan.
Dicatat dalam Manuscript 8, hlm. 250 dan 296,
bahwa Ellen White mengirimkan dua manuskrip besar untuk dibacakan di pertemuan perkemahan
Avondale, Australia. Maka ini bukanlah satu-satunya praktek yang dilakukan oleh Ellen White.
Selain mengirimkan kesaksian-kesaksian kepada pertemuan-pertemuan perkemahan, Tuhan memerintahkan kepadanya untuk mengirimkan kesaksian-kesaksian yang dikirimkannya ke gereja-gereja
untuk dibacakan kepada jemaat. Dua kesaksian seperti ini dikirimkan ke gereja Battle Creek, Michigan,
yang disimpan bagi kita saat ini dalam Testimonies,
Vol. 5, hlm. 45-84. meskipun Tuhan memerintahkan
kepadanya untuk mengirimkan kesaksian-kesaksian ini, sekali lagi ia mendapat masalah. Permin216
taannya diabaikan selama berminggu-minggu, saya mengutip dari Testimonies, Vol. 5, hlm. 62:
Saudara-saudari di Battle Creek:
Saya mengerti bahwa kesaksian yang saya kirimkan
kepada Saudara____, dengan permintaan untuk dibacakan kepada gereja, telah ditahan dari anda selama
berminggu-minggu, setelah diterimanya. Sebelum
mengirimkan kesaksian tersebut pikiran saya begitu
dikesankan oleh Roh Tuhan sehingga saya tidak bisa
beristirahat baik siang maupun malam sampai saya
menuliskannya kepada anda.
Sekali lagi ia merasakan kebutuhan yang
amat mendesak untuk menyampaikan kesaksian
ini kepada gereja sehingga ia tidak dapat beristirahat siang dan malam. Tetapi sayang! Meskipun
perasaan kemendesakannya, kesaksian pertamanya telah ditahan selama berminggu-minggu. Kesaksian tersebut berisikan antara lain nasehat berikut yang terdapat dalam Testimonies, Vol. 5, hlm.
61. Ia menunjukkan di sini bahwa ada masalah di
dalam gereja. Saya kutip:
Banyak dari pendeta-pendeta muda kita, dan
beberapa telah memiliki pengalaman yang matang,
mengabaikan firman Tuhan, dan juga meremehkan
kesaksian-kesaksian dari RohNya. [Dan saya menambahkan, kita tentu dapat melihatnya hari ini.] Mereka tidak mengetahui apa isi kesaksian-kesaksian
ini, dan tidak ingin mengetahuinya, mereka tidak
ingin menemukan dan memperbaiki kekurangan
dalam tabiat mereka.
217
Kesaksian berikut ini dikirimkannya ke Battle
Creek untuk dibacakan kepada gereja, yang berisikan
berbagai nasehat. Beban utamanya adalah untuk
memanggil mereka kepada pertobatan. Ia mengatakan kepada mereka bahwa mereka telah mati secara rohani, perlu menyalib diri mereka sendiri,
menyesal dan bertobat. Bahwa gereja telah rusak.
Berbicara langsung kepada mereka, ia melanjutkan, “Dosa-dosa anda telah memisahkan anda dari
Tuhan.” Anda harus meninggalkan setiap dosa
yang mengepung.” Kemudian ia memperingatkan:
“Jikalau anda terus dalam keadaan rohani anda
saat ini, tidak ada yang dapat dinubuatkan terhadap anda kecuali kejahatan.”
Kesaksian-kesaksian Ellen White ini menjawab pertanyaan kita, apakah pantas menggunakan
Roh Nubuat di mimbar-mimbar kita?
Jikalau Tuhan mengatakan bahwa kesaksian-kesaksian Roh Nubuat yang menegur dosa, dll.,
harus dibacakan dari mimbar-mimbar gereja kita
pada zamannya—tentulah ini juga tepat di zaman
kita! Mengapa menjadi tidak tepat membaca nasehat dari Tuhan di dalam gereja-gereja kita dan di
dalam pertemuan-pertemuan perkemahan kita—
SEKARANG—ketika tidak diragukan lagi nasehat
ini lebih mendesak kebutuhannya dibandingkan
dengan di tahun 1880an?
Kita menyimpulkan bahwa adalah tepat untuk
menggunakan tulisan-tulisan Alkitab dan Roh Nubuat bersama-sama di dalam gereja, yaitu:
218
1) dalam Sekolah Sabat
2) dalam Jam-jam Khotbat
3) dalam kelompok-kelompok doa
Saya mengutip: “Kebenaran-kebenaran tambahan tidak diterbitkan; tetapi Tuhan melalui Kesaksian-kesaksian itu menyederhanakan kebenaran-kebenaran yang agung yang telah diberikan, dan dengan
cara yang dipilihNya membawa kebenaran-kebenaran
tersebut ke hadapan umat, untuk membangunkan,
dan mengesankan pikiran, sehingga tidak ada lagi
orang membuat-buat alasan.” (Testimonies, Vol. 5,
hlm. 665)
Maka marilah kita tidak menjadi takut untuk
berdiri di belakang mimbar dan membaca dari Roh
Nubuat. Siapakah yang mengetahui cara yang lebih baik untuk memberi nasehat daripada Tuhan?
Sekarang kita melanjutkan dari ilustrasi di dalam Israel
modern kepada ilustrasi yang serupa dari Israel zaman dahulu. Namun, untuk ilustrasi ini, kita tidak akan
menganggap Yeremia sebagai nabi zaman dahulu,
melainkan nabi yang hidup di zaman modern—yang
sesungguhnya demikian ketika catatan yang begitu
hidup ini dituliskan dalam Yeremia 36:1-8, 18-23:
Dalam tahun yang keempat pemerintahan Yoyakim bin Yosia, raja Yehuda, datanglah firman ini dari
TUHAN kepada Yeremia, bunyinya: "Ambillah kitab
gulungan dan tulislah di dalamnya segala perkataan
yang telah Kufirmankan kepadamu mengenai Israel,
Yehuda dan segala bangsa, dari sejak Aku berbicara
kepadamu, yakni dari sejak zaman Yosia, sampai
219
waktu ini. Mungkin apabila kaum Yehuda mendengar
tentang segala malapetaka yang Aku rancangkan hendak mendatangkannya kepada mereka, maka mereka
masing-masing akan bertobat dari tingkah langkahnya
yang jahat itu, sehingga Aku mengampuni kesalahan
dan dosa mereka." Jadi Yeremia memanggil Barukh
bin Neria, lalu Barukh menuliskan dalam kitab gulungan itu langsung dari mulut Yeremia segala perkataan
yang telah difirmankan TUHAN kepadanya.
Pada suatu kali Yeremia memberi perintah kepada Barukh: "Aku ini berhalangan, tidak dapat pergi
ke rumah TUHAN. Jadi pada hari puasa engkaulah
yang pergi membacakan perkataan-perkataan TUHAN
kepada orang banyak di rumah TUHAN dari gulungan
yang kautuliskan langsung dari mulutku itu; kepada
segenap orang Yehuda yang datang dari kota-kotanya
haruslah kaubacakannya juga. Mungkin permohonan
mereka sampai di hadapan TUHAN dan mereka masing-masing bertobat dari tingkah langkahnya yang
jahat itu, sebab besar murka dan kehangatan amarah
yang diancamkan TUHAN kepada bangsa ini."
Lalu Barukh bin Neria melakukan tepat seperti
yang diperintahkan kepadanya oleh nabi Yeremia untuk membacakan perkataan-perkataan TUHAN dari
kitab itu di rumah TUHAN. –
Selanjutnya dari ayat 18:
Jawab Barukh kepada mereka: "Segala perkataan ini
langsung dari mulut Yeremia kepadaku, dan aku menuliskannya dengan tinta dalam kitab." Lalu berkatalah
para pemuka itu kepada Barukh: "Pergilah, sembunyi220
kanlah dirimu bersama Yeremia! Janganlah ada orang
yang mengetahui di mana tempatmu!" Kemudian pergilah mereka menghadap raja di pelataran, sesudah
mereka menyimpan gulungan itu di kamar panitera Elisama. Mereka memberitahukan segala perkataan ini
kepada raja. Raja menyuruh Yehudi mengambil gulungan itu, lalu ia mengambilnya dari kamar panitera
Elisama itu. Yehudi membacakannya kepada raja dan
semua pemuka yang berdiri dekat raja. Waktu itu adalah bulan yang kesembilan dan raja sedang duduk di
balai musim dingin, sementara di depannya api menyala di perapian. Setiap kali apabila Yehudi selesai
membacakan tiga empat lajur, maka raja mengoyakngoyaknya dengan pisau raut, lalu dilemparkan ke dalam api yang di perapian itu, sampai seluruh gulungan
itu habis dimakan api yang di perapian itu.
Ayat-ayat ini mengilustrasikan dua perkara:
bahwa Tuhan memerintahkan seorang nabi untuk
menulis sebuah pesan, dengan permintaan bahwa
pesan itu harus dibacakan di gereja dalam pendengaran jemaat (dalam hal ini gereja adalah bait suci).
Ayat ini juga menyatakan sikap pemimpin ini ketika
ia menolak kesaksian Tuhan yang telah dikirimkan
untuk membangunkan dirinya dan umatnya kepada pertobatan sehingga mereka dapat menerima
pengampunan dan keselamatan. Dalam kemarahan, raja itu membakar kesaksian Yeremia di dalam
api!
Ada sebuah pernyataan yang sangat mengejutkan tentang pendeta-pendeta gereja kita yang telah di221
kirimkan oleh Tuhan kepada kita saat ini—kepada Israel modern. Ini ditemukan dalam Testimonies to Ministers, hlm. 409, 410. Marilah kita tidak meremehkan bahwa ada saat-saat ketika kesesatan begitu
besar sehingga pengumuman yang begitu mengejutkan seperti ini diperlukan. Saya kutip:
Pendeta-pendeta yang tidak dikuduskan sedang menempatkan diri mereka melawan Tuhan.
Mereka memuji Kristus dan allah dari dunia ini dalam satu nafas yang sama... Jikalau dosa penipuan
dan kesaksian palsu dipertunjukkan oleh satu gereja yang telah memiliki terang yang besar, bukti
yang besar, maka gereja itu akan membuang pekabaran yang telah dikirimkan oleh Tuhan, dan
menerima pernyataan-pernyataan yang paling tidak masuk akal, dan anggapan-anggapan yang salah dan teori-teori yang salah. Setan tertawa atas
kebodohan mereka, karena ini mengetahui kebenaran itu.
Banyak yang akan berdiri di mimbar-mimbar
kita dengan obor nubuatan palsu di tangan mereka, yang dinyalakan dari obor neraka Setan. Jika
keraguan dan ketidakpercayaan telah dipelihara,
[kemudian perhatikan akan yang akan terjadi:] pendeta-pendeta yang setia akan dipindahkan dari jemaat yang merasa mengetahui begitu banyak…
Dalam Testimonies, Vol. 5, hlm. 77, kita membaca satu bagian yang melanjutkan topik yang sama:
Siapakah yang mengetahui apakah Tuhan
akan menyerahkan anda kepada penipuan yang
222
anda senangi? Siapakah yang mengetahui bahwa
pengkhotbah-pengkhotbah yang setia, teguh dan
sejati adalah orang yang terakhir yang akan menawarkan injil kedamaian kepada gereja-gereja kita
yang tidak tahu berterima kasih? Bisa terjadi bahwa para pemusnah sedang mendapatkan pelatihan
di bawan tangan Setan dan hanya menunggu kepergian beberapa orang pemegang standar, lalu
kemudian mengambil alih tempat mereka, dan dengan suara nabi palsu, berseru, damai, damai, sementara Tuhan tidak berbicara tentang kedamaian.
Saya jarang menangis, namun sekarang mata saya
penuh air mata; air mata itu berjatuhan ke atas kertas
ketika saya menulis. Bisa terjadi bahwa tidak lama
lagi segala nubuatan di antara kita akan berakhir,
dan suara yang selama ini telah membangunkan
orang-orang mungkin tidak akan lagi mengganggu
ketenangan tidur tubuh daging mereka.
Betapa sebuah gambaran! Bukankah prediksiprediksi ini sedang digenapi sekarang?
Jikalau Ellen White ditunjukkan dalam khayal
beberapa dari gereja-gereja MAHK yang baru yang
“ditanam” oleh Divisi Amerika Utara—SEKARANG—
bagaimanakah ia akan bisa berhenti menangis? Bagaimanakah ia menahan air mata untuk tidak menutupi matanya? Banyak dari gereja-gereja baru ini
adalah gereja-gereja perayaan yang khas. Pimpinan-pimpinan gereja mungkin menyangkal kenyataan ini, namun mereka telah menunjukkan semua
ciri dari kesesatan itu. Kebisingan yang mereka
223
buat dengan “musik” dan teriakan dan tarian tentulah akan membuat Yesus Sendiri menangis!
Tidak ada keraguan tentang perihal itu; melalui hambaNya, Tuhan telah menubuatkan bahwa
pengaruh setan seperti ini akan dibawa masuk ke
tengah-tengah kita “sesaat sebelum penutupan
pintu kasihan.” Perhatikan nubuatan yang menyedihkan berikut ini dari Selected Messages, Vol. 2,
hlm. 36:
Segala hal yang kasar akan dinyatakan. Akan ada teriakan, dengan drum, musik dan tari-tarian, akal sehat makhluk yang rasional akan menjadi
begitu bingung sehingga mereka tidak dapat dipercayakan untuk membuat keputusan-keputusan
yang benar. Dan ini mereka sebut dengan gerakan
Roh Kudus! [Anda paham bukan?]
Roh Kudus tidak pernah menyatakan dirinya
melalui metode-metode seperti itu, dalam kegaduhan bunyi-bunyian. Ini adalah temuan Setan untuk menutupi metode-metode yang sesungguhnya
untuk menjadikan kebenaran yang murni, tulus,
mengangkat, memampukan dan menguduskan itu
menjadi tidak berpengaruh pada zaman ini. Lebih
baik tidak pernah memiliki perbaktian kepada Tuhan yang dipadukan dengan musik daripada
menggunakan alat musik untuk melakukan pekerjaan yang pada bulan Januari yang lalu dinyatakan
kepada saya akan dibawa ke dalam pertemuanpertemuan perkemahan kita. Kebenaran untuk masa kini tidak memerlukan hal ini dalam pekerjaan
224
mempertobatkan jiwa-jiwa. Kegaduhan bunyibunyian mengejutkan akal sehat dan menyesatkan, yang jikalau dilakukan dengan benar dapat
menjadi suatu berkat. Kuasa-kuasa agen-agen setan bergabung dengan keributan dan kegaduhan,
untuk mengadakan karnaval, dan ini diistilahkan
dengan pekerjaan Roh Kudus.
Berbicara tentang gereja-gereja perayaan saat
ini, bukan hanya “kegaduhan bunyi-bunyian” yang mereka sebut dengan “musik” itu adalah sebuah kejahatan, melainkan juga skit (drama pendek) dan drama yang tidak masuk akal yang menjadi bagian dari apa yang mereka sebut pelayanan “perbaktian.”
Segala macam drama seperti itu dengan jelas dikutuk dalam firman Tuhan! Tuhan telah menasehatkan: “Jangalah ada sesuatu yang berwatak teatrikal diperkenalkan.” (Review & Herald, 14 Februari
1907).
Jikalau kita telah membaca peringatan yang
mengejutkan itu secara pribadi, dan juga membacakan
kepada orang-orang dari mimbar-mimbar gereja-gereja kita dan pada pertemuan-pertemuan perkemahan
kita, kita akan diselamatkan dari keterlibatan dengan kesesatan yang mengerikan ini! Melalui kelalaian kita, bukankah kita, sebagaimana raja Israel,
membakar tulisan-tulisan yang dikirimkan oleh Tuhan
ke dalam api?
Sementara kita memiliki gereja-gereja perayaan di tengah-tengah kita selama beberapa dekade dengan “menanam” gereja-gereja demikian, tampaknya
225
para pemimpin sekarang sedang mengusahakan
secara lebih keras daripada sebelumnya untuk
mempromosikan jenis perbaktian ini.
Dalam sebuah majalah gereja resmi, North Pacific Union Gleaner, Agustus 1999, kita menemukan
iklan berikut di OASIS CHRISTIAN CENTER di Vancouver, Washington. Saya mengutip: “Sebuah tempat yang menyegarkan bagi orang-orang yang telah
berhenti ke gereja, namun tidak putus dengan Tuhan.
Acara Anak-anak yang menyenangkan’ Skit-skit Drama; Band No-Jive, dll. Bukan gereja yang biasa. Cobalah.” Oasis Christian Center yang diiklankan ini adalah salah satu dari gereja-gereja perayaan yang
“ditanam” oleh MAHK.
Dari Selected Messages, kita baru saja membaca bahwa praktek-praktek seperti itu adalah temuan Setan, dan bahwa kuasa-kuasa agen-agen
setan bergabung dengan keributan dan kegaduhan
untuk mengadakan karnaval.”
Sulit untuk menyadari bahwa kita sedang memaafkan dan melaksanakan “karnaval Advent” di
dalam gereja! Mungkinkah ini pekerjaan dari “para
pemusnah” yang telah dilatih “di bawah tangan
Setan?” Dalam hubungan ini marilah kita melihat Testimonies to Ministers, hlm. 109, 110, dan membaca
kembali nubuatan yang amat mengerikan:
Banyak yang akan berdiri di MIMBAR-MIMBAR kita dengan obor nubuatan palsu di tangan
mereka, yang dinyalakan dari obor neraka Setan.
226
Satu kutipan lagi dari kesaksian yang dikirimkan
untuk dibacakan di Gereja Battle Creek yang tentu saja berlaku bagi kita saat ini—kepada para pemimpin
Gereja Tuhan yang Sisa:
Ada orang-orang di antara kita yang dalam
kedudukan dengan tanggung jawab yang mengatakan bahwa pendapat-pendapat dari beberapa filsuf yang angkuh, katanya, lebih dapat dipercaya
daripada kebenaran di dalam Alkitab, atau kesaksian-kesaksian Roh Kudus.—Testimonies, Vol. 5,
hlm. 79.
Sekarang saya akan mengajukan kepada anda
sebuah pertanyaan yang mengusik pikiran, dan bagi
beberapa orang mungkin mengganggu: Yang manakah yang akan anda pilih untuk didengarkan dari
mimbar gereja—suara-suara dari “Banyak orang
yang akan berdiri di mimbar-mimbar kita,” yang
mengajarkan ajaran-ajaran iblis dan mengadakan
pelayanan yang rohnya “dinyalakan dari obor neraka Setan?” Ataukah anda akan memilih untuk mendengar suara-suara pendeta yang setia yang berdiri di belakang “mimbar” mengajarkan kebenarankebenaran Alkitab, dan ketika, tepat saatnya, mengutip dari Kesaksian-kesaksian yang diilhamkan
oleh Roh Kudus Tuhan? Pikirkanlah…
Tuhan mengumumkan kemalangan kepada
GEMBALA-GEMBALA PALSU!:
“Malanglah pendeta-pendeta yang menghancurkan dan mencerai-beraikan domba-domba
di padang rumputku!”
227
"Celakalah para gembala yang membiarkan
kambing domba gembalaan-Ku hilang dan terserak!" -- demikianlah firman TUHAN. Sebab itu beginilah firman TUHAN, Allah Israel, terhadap para gembala yang menggembalakan bangsaku: "Kamu telah
membiarkan kambing domba-Ku terserak dan tercerai-berai, dan kamu tidak menjaganya. Maka ketahuilah, Aku akan membalaskan kepadamu perbuatan-perbuatanmu yang jahat, demikianlah firman TUHAN.” (Yeremia 23:1-2).
Kemudian lagi dalam Yehezkiel 34:18, 19:
Apakah belum cukup bagimu bahwa kamu menghabiskan padang rumput yang terbaik? Mesti pulakah kamu injak-injak padang rumput yang lain-lain
dengan kakimu? Belum cukup bahwa kamu minum
air yang jernih? Mesti pulakah yang tinggal itu kamu keruhkan dengan kakimu? Apakah dombadomba-Ku seharusnya memakan rumput yang sudah diinjak-injak kakimu dan meminum air yang
sudah dikeruhkan kakimu?
Maka Tuhan akan menimpakan kemalangan
kepada PENDETA-PENDETA PALSU!
Di masa-masa seperti ini, apakah kewajiban
dari pendeta-pendeta Tuhan yang setia? Yesaya berseru: “Serukanlah kuat-kuat, janganlah tahan-tahan! Nyaringkanlah suaramu bagaikan sangkakala,
beritahukanlah kepada umat-Ku pelanggaran mereka dan kepada kaum keturunan Yakub dosa mereka!” (Yesaya 58:1).
228
Dalam Testimonies, Vol. 1, hlm. 321, hamba
Tuhan menasehatkan:
Di saat yang mengerikan ini, sesaat sebelum
Kristus datang untuk kedua kalinya, para pengkhotbah Tuhan yang setia harus menyampaikan
kesaksian yang lebih menohok daripada yang disampaikan oleh Yohanes Pembaptis. Sebuah pekerjaan yang penting dan penuh tanggung jawab
ada di hadapan mereka dan orang-orang yang berbicara tentang hal-hal yang baik-baik, Tuhan tidak
akan mengakui mereka sebagai gembala-gembalaNya. Kemalangan yang mengerikan akan turun ke
atas mereka.
Maka kepada jemaat dan orang-orang awam di
Israel modern, saya mengutip dari Testimonies to Ministers, hlm. 10:
Janganlah ada jiwa yang mengeluhkan hamba-hamba Tuhan yang telah datang kepada mereka
membawa pekabaran dari surga. Janganlah lagi
mencari-cari kesalahan-kesalahan mereka dan berkata, “Mereka terlalu positif; mereka berbicara terlalu keras.” Mereka mungkin berbicara keras; tetapi bukankah itu diperlukan? Tuhan akan menjadikan telinga-telinga pendengarnya merah jikalau
mereka tidak memperhatikan suara Tuhan atau
amaranNya. Ia akan menuntut mereka yang menolak firman Tuhan.
Sementara kita menghadapi krisis terakhir, kita
membaca dari Selected Messages, Vol. 3, hlm. 83,
84:
229
Manusia mengusahakan rencana demi rencana, dan musuh akan berusaha membujuk jiwajiwa menjauh dari kebenaran, namun orang-orang
yang percaya bahwa Tuhan telah berbicara melalui
Saudari White dan telah memberikan kepadanya
sebuah pekabaran, akan selamat dari banyak penipuan yang akan datang di hari-hari terakhir.
Betapa menyedihkan bahwa Ellen White harus
menuliskan surat berikut ini, yang dituliskan kepada
orang-orang yang hendak mengurangi tulisan-tulisannya yang dikarang oleh Roh Kudus!
Saya telah mencoba melakukan kewajiban
saya kepada anda dan kepada Tuhan Yesus, yang
saya layani dan yang pekerjaanNya saya cintai.
Kesaksian-kesaksian yang telah saya sampaikan
kepada anda dalam kebenaran telah ditunjukkan
kepada saya oleh Tuhan. Saya sedih karena anda
telah menolak terang yang diberikan… Apakah anda mengkhianati Tuhanmu, karena, dalam belas
kasihanNya yang besar, Ia telah menunjukkan kepadamu di mana kedudukan anda secara rohani?
Ia mengetahui setiap maksud hati. Tidak ada yang
tersembunyi dari Tuhan. Bukanlah saya yang anda
khianati, bukanlah saya yang anda lawan dengan
begitu sengit. Adalah Tuhan, yang telah memberikan kepada saya pekabaran ini untuk disampaikan
kepada anda.—Manuscript Releases, Vol. 5, hlm.
139.
230
Di tahun yang sama, 1903, Ellen White menulis
kepada orang-orang yang tidak lagi mau percaya kepada Kesaksian-kesaksian:
Satu hal yang pasti: Orang-orang MAHK
yang berdiri di bawah panji-panji Setan pertamatama akan meninggalkan iman mereka kepada peringatan-peringatan dan teguran-teguran yang terdapat dalam Kesaksian-kesaksian Roh Tuhan.—
Selected Messages, Vol. 3, hlm. 84.
Sebagai gantinya mengabaikan Alkitab dan Kesaksian-kesaksian, marilah kita bertanya dengan semangat: "Adakah datang firman dari TUHAN?" (Yeremia 37:17).
Perkataan-perkataan dari Tuhan berikut ini terdapat dalam Yehezkiel 33:11 dan Yeremia 22:29:
Katakanlah kepada mereka: Demi Aku yang hidup,
demikianlah firman Tuhan ALLAH, Aku tidak berkenan kepada kematian orang fasik, melainkan
Aku berkenan kepada pertobatan orang fasik itu
dari kelakuannya supaya ia hidup. Bertobatlah,
bertobatlah dari hidupmu yang jahat itu! Mengapakah kamu akan mati, hai kaum Israel? (Yehezkiel
33:11).
Hai negeri, negeri, negeri! Dengarlah firman
TUHAN! (Yeremia 22:29).
Marilah kita berdoa:
Bapa yang penuh kasih, ampunilah umatMu yang
telah mengundang kuasa Setan untuk masuk ke
dalam gereja kami melalui perayaan, dan apa yang
disebut musik rock Kristen dan drama, dengan
231
penggunaan drum dan bahkan tarian. Bukalah mata para pemimpin kami yang memutuskan untuk
memaksakan temuan iblis mereka ke atas umatMu
yang berharga ini! Tolonglah orang-orang yang setia ketika mereka bergumul akan roh penghormatan yang kudus, sehingga semua orang akan merasakan kehadiranMu yang kudus ketika kami berbakti. Berilah kami, O Tuhan, suatu pelayanan
yang akan mengkhotbahkan pekabaran-pekabaran
akhir zaman dari firmanMu, Alkitab, dan Roh Nubuat. Bangunkanlah para pendeta kami untuk memberikan kami khotbah-khotbah yang akan membantu kami mempersiapkan diri dan siap menghadapi krisis yang akan datang! Kami memohon
semua ini di dalam nama Yesus. AMIN.
LAMPIRAN 2
DEFINISI-DEFINISI
(Catatan penerjemah: tidak terdapat teks dalam naskah asli.)
232
LAMPIRAN 3
“ANCAMAN DARI FILM KEAGAMAAN”
(Kutipan-kutipan dari buku A.W. Tozer)
Sejak usia 20 tahun hingga kematiannya 41 tahun kemudian, A.W. Tozer adalah seorang penulis yang produktif dan seorang pendeta yang setia dari Gereja-Gereja Persekutuan di Nuter Fort dan Morgantown, Virginia Barat; Toledo, Ohio; Indianapolis, Indiana; Chicago, Illinois; dan Toronto di Kanada. Pemahamannya
tentang konsep-konsep rohani telah dikenal luas di kalangan orang-orang Kristen. Dalam Pengantar kepada
bukunya, 52 Favorite Chapters The Best of A. W.
Tozer, Warren W. Wiersbe menulis,
Apakah yang terdapat dalam tulisan-tulisan A.
W. Tozer yang memikat kita dan tidak membiarkan kita pergi? Tozer tidak menikmati keistimewaan belajar di sebuah pendidikan universitas ataupun seminari, atau pendidikan Sekolah Alkitab dalam hal
ini, namun ia telah mewariskan kepada kita satu rak
buku-buku yang akan digali kekayaan rohaninya hingga Tuhan datang.
A.W. Tozer menulis dengan keyakinan. Ia tidak
tertarik untuk menggelitik telinga orang-orang Kristen
Atena yang mencari sesuatu yang baru. Tozer menggali kembali sumur-sumur tua dan memanggil kita
kembali ke jalan yang lama, dan ia dengan semangat
percaya dan mempraktekkan apa yang diajarkannya.
Pernah ia mengatakan kepada seorang teman saya,
“Saya telah batal mengkhotbahkan diri saya dalam se233
tiap mimbar Konferensi Alkitab di negara ini!” Orangorang tidak akan bergegas masuk untuk mendengarkan seorang manusia yang kesaksiannya menjadikan
mereka merasa tidak nyaman. Hlm. 8.
Gambaran Tozer tentang dirinya sendiri telah
menggambarkan sikapnya terhadap perkara-perkara
rohani. “Saya kira falsafah saya adalah begini: Segala
sesuatu adalah salah hingga Tuhan membenarkannya
Ibid., hlm. 7.
Kutipan-kutipan dari buku A.W. Tozer, “ANCAMAN
DARI FILM KEAGAMAAN”
Ketika Tuhan memberikan kepada Musa cetak biru
Kemah Suci, Ia sangat berhati-hati menyertakan setiap detail; kemudian, agar jangan sampai Musa mendapatkan pengertian bahwa ia dapat memperbaiki rencana mula-mula, Tuhan memperingatkan dia dengan
khidmat, “Menurut segala apa yang Kutunjukkan kepadamu sebagai contoh Kemah Suci dan sebagai contoh
segala perabotannya, demikianlah harus kamu membuatnya." (Keluaran 25:9). Tuhanlah, bukan Musa
yang menjadi arsiteknya. Memutuskan rencana tersebut adalah hak prerogatif Yang Maha Kuasa. Tidak
seorangpun yang berani menghalanginya meski selebar rambutpun.
Gereja Perjanjian Baru juga dibangun sesuai
dengan sebuah pola. Bukan hanya ajaran-ajarannya
yang berasal dari ilahi, melainkan juga metode-metodenya. Ajaran-ajaran itu dengan jelas dinyatakan da234
lam begitu banyak kata. Sebagian dari metode-metode
tersebut yang diikuti oleh Gereja Perjanjian Baru yang
mula-mula telah diberikan atas perintah langsung;
yang lain digunakan dengan persetujuan khusus dari
Tuhan, karena sebelumnya telah diperintahkan kepada para rasul oleh Roh Kudus.
Dari rencana Tuhan yang dinyatakanNya kita
menjauh menuju kepada kebinasaan kita. Setiap perpindahan menghasilkan dua akibat: akibat segera dan
akibat dalam waktu lama. Akibat yang segera menyentuh pribadi-pribadi dan orang-orang yang dekat dengan dia; akibat dalam waktu lama hingga ke masa
depan dalam waktu yang tidak diketahui, dan banyak
yang memberi pengaruh kejahatan bagi seluruh Gereja Tuhan di bumi.
Godaan untuk memperkenalkan hal-hal “baru”
ke dalam pekerjaan Tuhan selalu terlalu kuat bagi seseorang untuk dilawan. Gereja telah menderita luka-luka yang tidak terkatakan di tangan-tangan orang yang
memiliki niat baik namun salah tuntunan, yang merasa bahwa mereka mengetahui bagaimana menjalankan pekerjaan Tuhan lebih baik daripada Kristus dan para rasul melakukannya. Serangkaian mobil boks yang padat tidak akan cukup untuk mengusir
sebuah truk keagamaan yang telah dibawa ke dalam
pelayanan Tuhan dengan harapan untuk memperbaiki
pola yang mula-mula. Hal-hal ini, satu per satu ataupun seluruhnya, telah menjadi penghalang bagi kemajuan Kebenaran, dan telah menghalangi struktur rencana ilahi yang oleh para rasul, jikalau mereka datang
235
ke dunia saat ini, hampir tidak akan mengenali kesalahan yang telah menjadi akibatnya.
Tuhan kita sementara berada di bumi menyucikan Bait Suci, dan penyucian secara berkala telah
menjadi penting di Gereja Tuhan sepanjang zaman.
Setiap generasi pasti memiliki orang-orang yang
amatir dan ambisius yang muncul dengan temuantemuan yang bersinar yang ia paksakan kepada para imam di hadapan altar. Bahwa Alkitab tidak membenarkan keberadaan temuan itu tampaknya tidak memusingkannya sama sekali. Temuan itu dibawa dengan segala cara dan disampaikan dengan nama keOrtodoks-an. Segera saja ia masuk di dalam pikiran
orang-orang Kristen pada umumnya dengan segala
hal yang baik dan kudus. Tentu saja, menyerang temuan itu adalah dianggap menyerang Kebenaran itu
sendiri. Ini adalah teknik lama yang lazim yang sering
dan sudah lama dilakukan oleh orang-orang yang setia kepada kesalahan sehingga saya keheranan bagaimana mungkin anak-anak Tuhan dapat dikuasainya
[1-3].
Saya percaya bahwa guru-guru agama yang
paling bertanggung jawab akan setuju dengan pandangan bahwa segala usaha untuk mengajarkan kebenaran rohani melalui hiburan adalah sia-sia dan
sangat berbahaya bagi jiwa. Namun hiburan adalah
menguntungkan, dan pertimbangan ekonomi selalu
berkuasa dalam memutuskan apa yang boleh dan tidak boleh ditawarkan kepada umum—bahkan di dalam gereja.
236
Pengalaman rohani yang mendalam hanya
berasal dari banyak belajar, berdoa dengan tulus
dan merenungkan secara mendalam. Adalah benar
bahwa manusia hanya dengan berpikir tidak akan menemukan Tuhan; adalah juga benar bahwa manusia tidak dapat mengenal Tuhan dengan baik tanpa melakukan banyak pemikiran yang khidmat. Film-film keagamaan, yang memikat langsung tingkat terendah
dalam pikiran kita, hanya dapat menciptakan kebiasaan mental yang buruk yang tidak sesuai dengan
jiwa-jiwa untuk dapat menerima kesan-kesan rohani
yang sesungguhnya. [10, 11].
Film-film keagamaan adalah sebuah ancaman
bagi agama yang sesungguhnya karena ia melibatkan
akting, yaitu pelanggaran akan kejujuran.
Tidak diragukan lagi, hal yang paling berharga
yang dimiliki setiap orang adalah kemanusiaan pribadinya; yang olehnya ia menjadi dirinya sendiri dan bukan orang lain; yang tidak boleh dihilangkan oleh manusia itu sendiri atau dibagikan kepada orang lain. Masing-masing dari kita, betapapun rendahnya tempat
kita dalam tataran sosial, adalah satu ciptaan yang
khas. Masing-masing adalah seorang manusia baru
yang utuh yang memiliki kepribadiannya sendiri yang
terpisah, yang menjadikannya selamanya satu individu
yang terpisah, yaitu satu makhluk manusia pribadi.
Kualitas inilah yang unik yang menyebabkan manusia
menikmati setiap imbalan kebajikan dan menjadikannya bertanggung jawab atas setiap dosa. Diri pribadinyalah, yang bertahan selamanya, dan yang membe237
dakannya dari setiap makhluk ciptaan yang lain yang
telah dan selalu akan diciptakan.
Karena manusia adalah makhluk yang sedemikian, semua guru-guru moral, dan khususnya Kristus
dan para rasulnya, menjadikan kejujuran sebagai dasar bagi kehidupan yang baik. Perkataan ini, sebagaimana yang digunakan dalam Perjanjian baru, adalah
seperti memegang pot yang halus ke arah matahari
untuk menguji kemurniannya. Dalam terang sinar matahari, segala bahan yang asing akan segera tampak.
Maka ujian kejujuran adalah mendasar dalam tabiat manusia. Manusia yang jujur adalah seseorang
yang di dalam dirinya tidak terdapat sesuatu yang
asing; ia adalah satu bagian yang utuh; ia telah
memelihara agar kepribadiannya tidak ternoda.
Kejujuran bagi setiap orang berarti hidup dengan menyatakan tabiatnya yang sesungguhnya.
Pertentangan Kristus dengan orang-orang Farisi berpusat pada kebiasaan moral mereka yang bermain
peran. Orang-orang Farisi terus menerus berpura-pura menjadi apa yang sesungguhnya bukan dirinya. Ia
mencoba untuk mengosongkan “ke-aku-annya” sendiri dan tampak di mata orang lain sebagai orang yang
lebih baik. Ia mengenakan watak yang palsu untuk
mencapai efek tertentu. Kristus berkata ia adalah seorang munafik.
Bukan sekedar kebetulan asal usul kata “munafik” (hypocrite) berasal dari panggung. Ini berarti aktor. Dengan instink ketepatan yang biasanya menandai asal usul kata, kata ini telah digunakan untuk
238
melambangkan seseorang yang melanggar kejujurannya dan memainkan satu bagian yang palsu. Seorang
aktor adalah seseorang yang mengambil watak
orang lain yang bukan dirinya dan memainkannya
untuk mencapai efek tertentu. Semakin penuh ia
dikuasai oleh kepribadian lain, semakin baik ia sebagai seorang aktor.
Bacon pernah berkata sesuatu bahwa beberapa profesi yang berwatak demikian, bahwa semakin
trampil seseorang dapat memainkan wataknya, semakin buruk manusia itu sesungguhnya. Ini secara
sempurna menggambarkan profesi akting. Keluar dari watak kita sendiri dengan alasan apapun adalah selalu berbahaya, dan mungkin berakibat fatal bagi jiwa.
Betapapun baiknya maksudnya, seseorang yang mengenakan watak yang palsu telah mengkhianati jiwanya sendiri dan telah memberi luka yang mendalam
kepada sesuatu yang kudus di dalam dirinya.
Tidak seorangpun yang pernah hadir di hadapan Yang Maha Kudus, yang telah merasakan betapa
tingginya hak istimewa yang kudus untuk menjadi
citraNya, akan mau lagi untuk memainkan suatu peran atau mempermainkan perkara yang paling kudus
ini, yaitu hatinya yang paling tulus dan dalam. Ia kemudian akan hanya menjadi dirinya sendiri, memelihara kejujuran jiwanya sendiri dengan khidmat.
Untuk memproduksi sebuah film keagamaan,
seseorang harus menyamarkan kepribadiannya sendiri untuk beberapa waktu, dan memainkan kepribadian orang lain. Tindakan-tindakannya harus dianggap
239
palsu, dan orang-orang yang menontonnya dengan
persetujuan berbagi dengan kepalsuan tersebut.
Berpura-pura berdoa, menunjukkan kesedihan yang
saleh, bermain dalam perbaktian di hadapan kamera
untuk mencapai efek tertentu—betapa mengejutkannya bagi hati yang khidmat! Bagaimana mungkin
orang Kristen yang menyetujui kepura-puraan ini
akan pernah memahami nilai kejujuran sebagaimana diajarkan oleh Tuhan kita? Apakah akhir dari sebuah generasi Kristen yang diberi makanan penipuan
seperti itu yang menyamar sebagai iman para bapa
pendahulu kita?
Anjuran bahwa semua ini tentulah baik karena
dilakukan demi kemuliaan Tuhan adalah sebuah alasan pembenaran yang amat lemah yang seharusnya tidak membodohi siapapun yang telah mencapai usia
mental di atas 6 tahun. Pendapat seperti itu sejajar dengan aturan kelayakan yang jahat yang mengatakan
bahwa hasilnya adalah yang diperhitungkan, dan yang
menguduskan caranya, betapapun jahatnya cara itu,
hasilnyalah yang dipertimbangkan. Murid sejarah yang
bijaksana akan mengetahui ajaran yang tidak bermoral
ini. Gereja yang dituntun oleh Roh Kudus tidak akan
melakukan hal ini. [12-15]
Sekarang, tentang film keagamaan, di manakah
otoritasnya? Penyimpangan yang begitu jauh dari
pola lama, di manakah otoritasnya? Memperkenalkan seni akting kafir kepada Gereja, di manakah
otoritasnya? Biarlah para pendukung film mengutip satu ayat saja dari Alkitab, dalam terjemahan apapun,
240
untuk membenarkan penggunaannya. Mereka tidak
akan dapat menemukannya. Yang dapat mereka lakukan adalah memohon kepada psikologi dunia atau
mengulang dengan cerdas bahwa “zaman modern
menuntut metode-metode modern.” Namun Alkitab—
kutiplah satu ayat saja yang dapat mengesahkan
peran dalam film sebagai sarana Roh Kudus. Mereka tidak dapat melakukannya.
Karena setiap orang Kristen harus mendapatkan otoritas Alkitab untuk menerima film keagamaan
atau menolaknya, dan setiap produser dari film-film
seperti itu, ia harus berhadapan dengan wajah-wajah
orang-orang yang jujur dan khidmat, harus menunjukkan dukungan Alkitab atau berhenti saja berusaha
melakukan itu.
Akan tetapi, kata seseorang, tidak ada yang tidak Alkitabiah tentang film keagamaan; ini sematamata sebuah media baru bagi penyampaian pekabaran lama, sebagaimana percetakan adalah sebuah metode penulisan yang lebih baik dan baru dan radio
adalah penguatan bagi ucapan manusia.
Kepada perkataan ini, saya menjawab: Film
bukanlah pe-modern-an atau perbaikan dari setiap
metode yang Alkitabiah; melainkan sebuah media
yang sama sekali asing bagi Alkitab dan sama sekali tidak sah. Ini adalah bermain akting—hanya itu,
dan tidak lain. Ini adalah perkenalan ke dalam pekerjaan Tuhan sesuatu yang tidak netral, melainkan buruk secara keseluruhan. Percetakan adalah
netral; demikian juga radio; demikian juga kamera.
241
Alat-alat ini dapat digunakan untuk tujuan baik ataupun buruk atas kehendak penggunanya. Namun bermain akting adalah buruk pada dasarnya karena
melibatkan permainan emosi yang sesungguhnya
tidak dirasakan. Ini membentuk suatu kontradiksi moral yang besar karena menyebut sebuah kebohongan
sebagai pelayanan akan kebenaran. [18, 19].
Tuhan telah menentukan empat metode saja
untuk memelihara Kebenaran—dan film keagamaan bukan salah satunya. Tanpa mencoba mengatur
metode-metode in dalam urutan kepentingannya, metode-metode ini termasuk: (1) doa, (2) nyanyian, (3)
pengumuman tentang pekabaran melalui perkataan, dan (4) perbuatan baik. Keempat metode inilah
yang diberkati oleh Tuhan. semua metode-metode Alkitab lainnya adalah bagian dari dan berada di dalam
kerangka keempat metode ini. [20].
Film keagamaan adalah tidak selaras dengan roh Alkitab secara keseluruhan dan berlawanan
dengan suasana hati kesalehan yang sejati.
Menyelaraskan roh film keagamaan dengan
roh Alkitab yang Kudus adalah tidak mungkin. Segala perbandingan adalah tidak mungkin dan, jikalaupun tidak terlalu serius, akan menjadi sangat lucu. Cobalah membayangkan bagaimana Elia muncul
di hadapan Ahab dengan satu rol atau gulungan film!
Bayangkan Petrus berdiri di hari Pentakosta dan berkata, “Tolong nyalakan lampu.” Ketika Yeremia ragu
dalam bernubuat, karena ia bukan seorang pembicara yang lancar, Tuhan menjamah mulutnya dan berka242
ta, "Sesungguhnya, Aku menaruh perkataan-perkataan-Ku ke dalam mulutmu.” Barangkali Yeremia telah
melakukannya dengan cukup baik tanpa jamahan ilahi
jikalau ia memiliki proyektor 16mm dan satu rol film.
Biarlah manusia berani membandingkan pertunjukan film keagamaannya dengan roh dalam Kitab
Kisah Para Rasul. Biarlah ia menemukannya dalam 1
Korintus Pasal 12. Biarlah ia melihatnya di sisi khotbah Savonarola yang bersemangat, atau hujaman Luther, atau khotbah-khotbah surgawi Wesley, atau himbauan Edward yang mengerikan. Jikalau ia tidak dapat
melihat perbedaannya dalam jenis, maka ia adalah
terlalu buta untuk dapat dipercaya dengan kepemimpinan di dalam Gereja Tuhan yang Hidup. Satu-satunya hal yang pantas yang dapat dilakukannya dalam
situasi itu adalah bertelut dan berseru seperti Bartimeus yang malang, “"Rabuni, supaya aku dapat melihat!"
Akan tetapi beberapa orang berkata, “Kami tidak bermaksud untuk menggantikan metode penyampaian Injil yang biasa. Kami hanya ingin menambahkannya.” Dalam hal ini saya menjawab: Jikalau film diperlukan untuk menambahkan penyampaian yang diurapi, ini hanya bisa terjadi jikalau metode yang telah
ditentukan oleh Tuhan tidak memadai dan film dapat
melakukan sesuatu yang tidak dapat dilakukan oleh
metode yang ditentukan oleh Tuhan. Apakah perkara
itu? Kami dengan terbuka menjamin bahwa film dapat
menghasilkan efek yang tidak dapat dihasilkan oleh
khotbah (dan yang tidak pernah akan diusahakan dalam khotbah), namun beranikah kita mengusahakan
243
efek tersebut dalam terang kehendak Tuhan yang dinyatakan dan dalam menghadapi penghakiman dan
kekekalan yang panjang? [24-26].
Saya menentang film keagamaan karena efeknya yang berbahaya terhadap setiap orang yang
berhubungan dengannya.
Pertama, efek jahat terhadap “para aktor”
yang memainkan bagian dari berbagai tokoh dalam pertunjukan; bukan karena ini tidak terduga.
Siapakah yang berani, sementara dalam persekutuan dengan Tuhan, memainkan peran sebagai seorang nabi? Siapakah yang berani berpura-pura
menjadi seorang rasul, bahkan dalam sebuah pertunjukan? Di manakah penghormatannya? Di manakah rasa takutnya? Di manakah rasa rendah hatinya? Setiap orang yang mau memainkan suatu bagian untuk tujuan apapun, pertama-tama adalah mendukakan Roh dan mengabaikan suaraNya di dalam
hatinya. Dan kemudian segala sesuatu akan tampak
baik baginya. “Ia makan dari debu; hatinya yang menipu telah menyingkirkannya.” Namun ia tidak dapat
menghindarkan diri dari pekerjaan rahasia hukum jiwa.
Sesuatu yang tinggi dan mulia akan mati di dalam dirinya; dan yang terburuk adalah ia tidak pernah curiga
terhadap hal ini. Inilah kutukan yang selalu mengikuti
pencelakaan diri. Orang-orang Farisi adalah contohnya. Mereka adalah orang mati yang berjalan, dan
tidak pernah membayangkan betapa sesungguhnya mereka telah mati.
244
Kedua, ini menyamakan agama dengan dunia teater. Beberapa waktu yang lalu saya melihat dalam sebuah majalah Fundamental sebuah iklan dari
sebuah film keagamaan yang akan disambut dalam
halaman teater dalam setiap majalah kota. Diilustrasikan dengan gambar umpan seks seorang laki-laki dan
perempuan muda dalam pelukan yang mesra, dan dihiasi dengan kata-kata seperti “bertajuk panjang, drama, kesedihan, roman,” ini berasal dari Hollywood dan
rumah produksi murahan. Melalui bisnis seperti ini, kita menjual pemisahan Kekristenan kita, dan tidak ada
perkara lain selain kesedihan yang dihasilkan darinya,
cepat atau lambat.
Ketiga, selera drama yang dikembangkan
melalui film ini tidak akan terlalu lama memuaskan
pikiran orang muda dengan hal-hal rendah yang
ditawarkan oleh film keagamaan. Orang muda kita
akan menuntut hal-hal yang nyata; dan apakah jawaban kita ketika mereka bertanya mengapa mereka tidak
boleh meniru dari film yang biasa diputar di bioskop?
Keempat, generasi yang sedang bertumbuh
akan secara alamiah memandang agama sebagai
salah satu bentuk hiburan yang lebih rendah. Sesungguhnya, generasi sekarang ini telah melakukannya sampai tingkat yang mengejutkan, dan film injil
menguatkan pandangan itu dengan mengacaukan antara agama dan kesenangan atas nama ke-ortodoksan. Tidak diperlukan wawasan yang tinggi untuk dapat
melihat bahwa film keagamaan telah menjadi semakin
245
menggetarkan ketika selera para penontonnya menjadi semakin terangsang.
Kelima, film keagamaan adalah sahabat bagi
pengkhotbah yang malas. Jikalau mode ini terus berlanjut dan menyebar maka tidak akan lama lagi setiap
orang yang memiliki kemampuan cukup untuk mengatakan doa yang keras, dan mempunyai cukup mentalitas untuk tetap fokus di depan sebuah proyektor, akan
menjadi seorang nabi Tuhan Yang Maha Tinggi. Hamba Tuhan dapat bersantai saja sepanjang minggu dan
datang pada hari Minggu tanpa beban. Segala sesuatu telah dilakukan baginya di studio. Ia hanya perlu
memasang layar dan mengecilkan lampu, dan selanjutnya yang lain berjalan tanpa kerja keras.
Di manapun film digunakan, nabi itu digantikan
oleh sebuah proyektor. Hal yang dapat dilakukan oleh
nabi-nabi yang tergantikan tersebut adalah mengakui
bahwa mereka adalah teknisi-teknisi dan bukan juru
khotbah. Biarlah mereka mengakui bahwa mereka bukan orang yang diurapi dan dikirim oleh Tuhan bagi
pekerjaan kudus. Biarlah mereka menolak pengurapan
dan membuang kepura-puraan mereka.
Membiarkan bahwa mungkin ada beberapa
orang yang benar-benar dipanggil dan diberi karunia
oleh Tuhan, namun yang telah mengizinkan dirinya dikuasai oleh hal-hal mainan baru ini, bahayanya adalah
besar. Sepanjang mereka dapat mundur dari film, tekanan kepada juru khotbah akan berkurang. Kebiasaan dan ritme yang menjadi ciri dari khotbah yang besar akan hilang dari pelayanan mereka. Betapapun
246
besarnya karunia alami mereka, betapapun nyatanya
bujukan kuasa mereka, mereka masih tidak akan pernah dapat bangkit. Sementara rol ini masih di tangan
untuk membantu mereka, mereka tidak akan pernah
dapat melakukannya. Film akan menentukan nasib
mereka menjadi orang biasa. [26-29].
Sebagai kesimpulan:
Satu hal yang mungkin mengganggu jiwa-jiwa yang tulus: mengapa begitu banyak orang baik
yang setuju kepada film keagamaan. Daftar orangorang yang bersemangat tentang film termasuk orang-orang yang tidak dapat dianggap orang Kristen di perbatasan. Jikalau ini adalah sebuah kejahatan, mengapa orang-orang itu tidak menghindarinya?
Jawabannya adalah kurangnya kemampuan
mengetahui secara rohani. Banyak orang yang
berbalik kepada film adalah orang-orang yang, baik melalui ajaran langsung atau melalui pengabaian, merendahkan pekerjaan Roh Kudus. Mereka telah meminta ampun kepada Roh Kudus dan mengesampingkan Roh melalui ketidakpercayaan mereka sehingga mengakibatkan penolakan keluar.
Sekarang kita membayar harga dari kebodohan kita. Terang telah pergi dan orang-orang baik dipaksa untuk tersandung di dalam kegelapan intelek
manusia.
Film keagamaan pada saat ini mengalami masa
kehamilan dan tampaknya segera akan mengerumuni
247
gereja-gereja seperti sekawanan belalang di atas bumi. Gambarannya telah pasti; ini berasal dari bawah,
bukan dari atas. Seluruh psikologi modern telah bersiap bagi invasi serangga ini. kalangan Fundamentalis
telah bosan dengan manna dan menginginkan daging
merah. Apa yang mereka dapatkan adalah pengganti yang menyedihkan bagi kesenangan duniawi
yang penuh nafsu dan tanpa larangan ini, namun
saya mengira itu dianggap lebih baik daripada tidak sama sekali, dan ini menyelamatkan muka dengan berpura-pura tampak rohani.
Janganlah kita, karena demi perdamaian, tetap diam saja sementara orang-orang tanpa wawasan rohani mengatur menu makanan anak-anak
Tuhan. Saya mendengar seorang pimpinan dari sebuah universitas Kristen berkata beberapa waktu yang
lalu bahwa Gereja menderita “epidemi keamatiran.”
Komentar ini benar namun menyedihkan, dan film keagamaan menampilkan keamatiran yang menggila.
Kesatuan di antara orang-orang Kristen adalah sesuatu yang didambakan, namun bukan dengan
mengorbankan kebenaran. Adalah baik berada
bersama-sama dengan kawanan, namun saya menolak untuk pergi dalam kebisuan mengikuti kawanan yang sesat menuju tebing yang curam.
Jikalau Tuhan telah memberikan hikmat untuk melihat kesalahan pertunjukan keagamaan, kita mempunyai kewajiban kepada Gereja untuk melawan secara terbuka. Kita tidak boleh mencari
perlindungan dalam “kediaman dengan rasa ber248
salah.” Kesalahan tidak diam; ia amat vokal dan
agresif luar biasa. Kita tidak akan boleh lebih lemah dari itu. Namun marilah kita memikirkan: masih ada ribuan orang Kristen yang berduka melihat
dunia menguasai. Jikalau kita membuat sebuah
garis pemisah dan meminta perhatian terhadapnya, kita akan kaget betapa banyak orang berada
di sisi kita dan membantu kita menjauhi si penyusup ke dalam Gereja ini, yaitu Roh Hollywood. [29,
30].
249
LAMPIRAN 4
THE REVIEW AND HERALD, 4 Januari 1881
Ellen G. White
Telah menjadi bahan pembahasan kami untuk merancang pendirian sebuah masyarakat sastra yang akan
memberi manfaat bagi semua orang yang terlibat di
dalamnya—sebuah masyarakat yang seluruh anggotanya akan merasakan suatu tanggung jawab moral untuk menyelenggarakan apa yang seharusnya, dan
menghindarkan kejahatan-kejahatan yang menjadikan
perkumpulan seperti itu berbahaya bagi prinsip keagamaan. Orang-orang yang memiliki pertimbangan
dan penilaian yang baik, yang memiliki hubungan
yang hidup dengan Surga, yang akan melihat kecenderungan-kecenderungan jahat, dan, tidak tertipu oleh Setan, akan maju ke depan di jalan integritas, terus berpegang erat pada panji Kristus—kelompok seperti ini perlu mengawasi perkumpulan-perkumpulan seperti ini. Pengaruh seperti ini akan menghasilkan penghormatan, dan menjadikan pertemuanpertemuan ini suatu berkat daripada kutukan. Jikalau
pria dan wanita dewasa bergabung dengan orangorang muda untuk membentuk dan melaksanakan suatu masyarakat sastra, perkumpulan ini dapat menjadi
berguna dan menarik. Namun ketika pertemuan-pertemuan ini turun menjadi kesempatan untuk bersenangsenang dan keriangan yang hiruk pikuk, maka pertemuan ini bukan sastra ataupun mengangkat. Pertemuan ini merendahkan pikiran dan moral.
250
Pembacaan Alkitab, penelitian yang kritis
tentang topik-topik Alkitab, tulisan-tulisan tentang
topik-topik yang akan meningkatkan pikiran dan
memberi pengetahuan, pelajaran tentang nubuatan
atau pelajaran-pelajaran berharga dari Kristus—kesemuanya ini memiliki pengaruh untuk memperkuat kuasa mental dan meningkatkan kerohanian.
Dan mengapa Alkitab tidak boleh dibawa ke dalam
pertemuan-pertemuan seperti itu? Ada pengabaian
yang menyedihkan terhadap firman Tuhan, bahkan
oleh orang-orang yang dipandang cerdas.
“Kitab yang penuh keajaiban! Lilin terang dari Tuhan!
Bintang kekekalan! Satu-satunya terang
Melaluinya manusia dapat melayari Laut kehidupan,
dan tiba di pantai kebahagiaan dengan selamat.”
Mengapa buku ini—harta yang amat berharga
ini—tidak ditinggikan dan dihargai sebagai seorang sahabat yang berharga? Ini adalah peta kita untuk melalui lautan kehidupan yang penuh badai. Ini adalah buku penuntun kita, yang menunjukkan jalan menuju istana kekal, dan tabiat yang harus kita miliki untuk menjadi penghuninya. Tidak ada buku yang pembacaannya
akan mengangkat dan menguatkan pikiran ketika kita
mempelajari Alkitab. Di sini pikiran akan menemukan
tema-tema dari watak yang paling mengangkat untuk
memanggil kuasanya. Tidak ada sesuatupun yang
memberi kesegaran dalam segala kemampuan kita
seperti menghubungkannya dengan kebenaran-kebe251
naran wahyu yang besar. Usaha untuk memahami
dan mengukur pemikiran-pemikiran yang besar ini melebarkan pikiran. Kita dapat menggali dalam-dalam ke
dalam tambang kebenaran, dan mengumpulkan harta
yang amat berharga untuk memperkaya jiwa. Di sini kita akan belajar cara untuk hidup yang benar, cara
untuk mati yang aman.
Pengenalan yang baik akan Alkitab akan
mempertajam kuasa-kuasa untuk mengetahui, dan
melindungi jiwa terhadap serangan Setan. Alkitab
adalah pedang Roh, yang tidak akan gagal untuk
menaklukkan musuh. Inilah satu-satunya tuntunan
dalam segala perkara iman dan praktek kehidupan.—Ellen G. White.
252
LAMPIRAN 5
SURAT 5, 1888
(Kepada Saudara Morse, 26 Desember 1888)
(Manuscript Release No. 145, 2MR 235-238)
ADEGAN-ADEGAN YANG DILAKONKAN
Saya telah bangun pada pukul 3 pagi ini untuk menulis
beberapa baris kepada anda. Saya senang dengan
mercusuarnya, dan adegan-adegan yang telah membutuhkan begitu banyak usaha keras yang seharusnya
dapat menjadi bagian yang paling mengesankan, namun gagal menunjukkan kekuatan dan menonjol dibandingkan dengan begitu banyak waktu dan tenaga
yang digunakan untuk melakukannya.
Bagian yang dimainkan oleh anak-anak adalah
bagus. Pembacaannya adalah tepat. Kemudian jikalau
ada perbincangan yang mantap dan baik tentang kejadian itu sehubungan dengan anak-anak dan guru-guru
dalam sekolah Sabat yang bekerja dengan tulus demi
keselamatan jiwa-jiwa anak-anak yang berada di bawah tanggung jawab anda, memberikan persembahan
yang paling dapat diterima kepada Yesus, yaitu penyerahan hati mereka sendiri, dan perkataan-perkataan
yang menarik, pendek dan benar sesuai dengan kemampuan mereka untuk melakukannya, bukankah itu
akan sejalan dengan pekerjaan yang telah kita usahakan di dalam gereja ini?
Setiap coretan sekarang harus serasi dengan
satu tujuan besar, mempersiapkan hati, sehingga ma253
sing-masing murid-murid dan guru-guru harus seperti
terang yang dinyalakan pada lilin yang akan memberi
terang kepada semua orang yang ada di dalam rumah,
yang akan membawa gagasan dengan jelas tentang
sebuah mercusuar yang menuntun jiwa-jiwa sehingga
iman mereka tidak akan hancur berkeping-keping. Dapatkah anda mengatakan kepada saya, apakah kesan
yang menonjol dari dua puisi yang disampaikan oleh
dua wanita di sana sehubungan dengan pekerjaan
ini?”
Nyanyiannya adalah sesuai dengan yang kita
harapkan dalam setiap pertunjukan teatrikal, dan tidak
ada satu katapun yang dapat dibedakan.”Tentulah kapal yang terkena topan badai akan hancur dihantam
karang, jikalau tidak ada lebih banyak terang yang berasal dari mercusuar dibandingkan dengan yang tampak dalam perbuatan. Saya harus mengatakan bahwa
saya merasa sakit karena perkara-perkara ini, begitu tidak sejalan dengan pekerjaan reformasi yang
kita telah usahakan untuk dimajukan di dalam gereja dan lembaga kita, dan saya tentu akan merasa
lebih baik jikalau saja saya tidak hadir di sana.
Ini adalah kesempatan yang harus diperoleh bukan hanya bagi anak-anak sekolah Sabat, melainkan
perkataan yang seharusnya dikatakan sehingga akan
memperdalam kesan akan perlunya mencari perkenan
Juruselamat itu yang mengasihi mereka dan memberikan DiriNya bagi mereka. Seandainya [hanya] lagulagu hymn yang berharga yang dinyanyikan, “PadaMu Batu Zaman, aku minta lindungan” (‘Rock of ages,
254
cleft for me, let me hide myself in Thee’), dan “Yesus
yang berkasihan, aku lari padaMu, sambil angin keras
lawan dan ombak pun memalu” (‘Jesus lover of my
soul, let me to Thy bosom fly, while the billows near
me roll, while the tempest still is high’). Jiwa-jiwa siapakah yang diilhami dengan semangat baru dan segar
bagi Tuhan kita dalam nyanyian-nyanyian tersebut
yang kebajikannya ada di dalam penampilan penyanyipenyanyinya?”
Sementara usaha-usaha keras dilakukan untuk
menyelenggarakan penampilan ini, pertemuan-pertemuan telah dilakukan dengan penuh perhatian, yang
seharusnya menarik minat dan yang memanggil kehadiran setiap jiwa agar mereka tidak akan kehilangan
sesuatu dari pekabaran yang disampaikan oleh Tuhan
kita kepada mereka.
Sekarang hari Natal ini telah berlalu dengan beban catatannya, dan kita ingin segera mengetahui hasilnya. Akankah penampilan tersebut menjadikan mereka yang terlibat di dalamnya menjadi lebih memikirkan perkara-perkara rohani? Akankah penampilan itu
meningkatkan rasa kewajiban kepada Bapa kita di surga yang telah mengirimkan AnakNya ke dalam dunia
pada pengorbanan yang tak terhingga untuk menyelamatkan manusia yang telah jatuh dari kehancuran total? Apakah pikiran disadarkan untuk memahami Tuhan karena kasih besarNya bahwa Ia telah mengasihi
kita?”
Kami berharap, setelah hari Natal berlalu, bahwa orang-orang yang telah berusaha begitu keras se255
karang akan menyatakan suatu semangat yang pasti
dan tulus, usaha-usaha tanpa pamrih demi keselamatan jiwa-jiwa para guru sekolah Sabat, sehingga pada
akhirnya mereka masing-masing akan bekerja keras
demi keselamatan jiwa-jiwa di dalam kelas-kelas mereka, untuk memberikan anak-anak mereka petunjuk-petunjuk pribadi tentang apa yang harus mereka lakukan
agar selamat. Kami berharap bahwa para guru akan
menyediakan waktu untuk bekerja dalam kesederhanaan dan dalam ketulusan bagi jiwa-jiwa di bawah
pengawasan mereka, dan bahwa para guru akan berdoa bersama mereka, dan bagi mereka, sehingga mereka dapat memberikan kepada Yesus persembahan
berharga jiwa-jiwa mereka, sehingga mereka menjadi
lambang yang sejati bagi mercu suar dalam sinar terang yang bersinar dari usaha-usaha keras mereka dalam nama Yesus, yang seharusnya disampaikan dalam kasih, mereka sendiri memahami sinar terang untuk kemudian membagikan terang ini kepada orang lain, dan oleh karenanya tidak akan terjadi perasaan puas hanya dengan pekerjaan permukaan saja.
Tunjukkan saja ketrampilan dan sikap yang mulia dalam memenangkan jiwa-jiwa kepada Yesus sebagaimana yang telah anda tunjukkan dalam usaha keras bagi penampilan yang baru usai ini. Tunjukkan kepada mereka dalam usaha-usaha anda, dengan hati
dan jiwa yang penuh pertolongan, menjadi Bintang
yang bersinar keluar kepada langit yang gelap moral
pada saat ini, bahkan Terang kepada dunia. Biarlah terangmu bersinar sehingga jiwa-jiwa yang terkena to256
pan badai mungkin akan memandang kepadanya dan
menghindarkan dari batu karang yang tersembunyi di
bawah permukaan air. Pencobaan-pencobaan tengah
menunggu untuk menipu mereka, jiwa-jiwa ditekan
oleh perasaan bersalah, siap untuk tenggelam dalam
keputusasaan. Bekerjalah untuk menyelamatkan mereka; tunjukkan mereka kepada Yesus yang begitu
mengasihi mereka sehingga Ia memberikan nyawaNya
bagi mereka.
Terang dunia bersinar ke atas kita sehingga kita
dapat menyerap sinar ilahi dan membiarkan terang ini
bersinar kepada orang lain dalam perbuatan-perbuatan baik sehingga banyak jiwa akan dituntun untuk memuliakan Bapa kita di surga. Ia telah lama menderita,
tidak rela bahwa ada yang binasa, namun semuanya
harus bertobat, dan adalah menyusahkan hati Yesus
bahwa begitu banyak orang yang menolak tawaran belas kasihan dan kasihNya yang tak terbandingkan.
Apakah semua orang yang memainkan suatu
peranan menarik dalam acara malam yang lalu akan
bekerja dengan giat dan penuh minat untuk menunjukkan dirinya berkenan kepada Tuhan dalam melakukan
pekerjaan bagi Tuhannya, sehingga mereka dapat menunjukkan dirinya sebagai pekerja-pekerja yang cerdas yang tidak perlu merasa malu? Oh, biarlah guruguru dalam sekolah Sabat diilhami sepenuhnya oleh
roh pekabaran pada masa kini, dan membawa pekabaran itu ke dalam pekerjaan mereka.
Ada jiwa-jiwa yang harus diselamatkan, dan sementara di dalam pekerjaan sekolah Sabat ada ba257
nyak bentuk dan sejumlah besar waktu digunakan untuk membaca laporan dan catatan, hanya ada sedikit
waktu untuk benar-benar membiarkan terang bersinar dalam sinar yang tetap dan jelas dalam petunjuk-petunjuk yang diperlukan untuk menyelamatkan jiwa anak-anak dan orang muda. Kurangi pidato-pidato yang rumit, kurangi komentar-komentar
yang berkepanjangan, dan sampaikan kebenaran
dengan jelas dan langsung, jangan ada perkataan
yang disampaikan untuk memamerkan pengetahuan yang dalam. Bukti terbesar dari pengetahuan
yang sesungguhnya bukanlah kata-kata dalam pidato, melainkan kesederhanaan yang agung. Semua orang yang telah mengambil pengetahuan Yesus akan meniru Dia dalam cara tuntunan mereka.
258
LAMPIRAN 6
MASYARAKAT SASTRA:
PERTUNJUKAN-PERTUNJUKAN TEATER
ELLEN G. WHITE
(1MR 244-146)
Tujuan dan sasaran yang mendorong pembentukan
masyarakat-masyarakat sastra mungkin baik; namun
kecuali hikmat dari Tuhan dan ketergantungan terus
menerus kepada Tuhan dipelihara oleh semua orang,
ini akan menjadi kegagalan yang pasti untuk memberi
pengaruh yang menyelamatkan.
Ketika umat Tuhan dengan sukarela bergabung
dengan dunia atau memberikan kepada orang-orang
yang memiliki hanya sedikit pengalaman keagamaan
suatu keunggulan di dalam masyarakat sastra ini, mereka tidak memiliki pandangan yang tinggi tentang perkara-perkara kekal. Mereka melangkah ke luar garis
dari sejak langkah pertama. Barangkali ada batasanbatasan, aturan-aturan yang telah ditetapkan, namun
demikian, unsur-unsur duniawi tetap memimpin. Manusia berada di wilayah musuh, yang dipimpin dan
dikuasai oleh kuasanya, akan memiliki pengaruh
yang menguasai, kecuali jikalau di sana terdapat
kuasa yang tidak terbatas untuk melawan mereka.
Setan menggunakan manusia sebagai agen-agennya
untuk menyarankan, memimpin, menyodorkan tindakan berbeda, dan berbagai hal yang menghibur yang
tidak memberi kekuatan kepada moral atau mengang259
kat pikiran, namun sepenuhnya duniawi. Segera unsur keagamaan dihilangkan, dan unsur-unsur bukan agama menjadi pemimpin.
Pria dan wanita yang tidak akan terperangkap, yang akan berjalan lurus di jalur integritas, setia dan benar kepada Tuhan surgawi yang mereka
takuti, kasihi dan muliakan, dapat memperoleh suatu pengaruh kuasa untuk memegang umat Tuhan.
Pengaruh seperti ini akan menghasilkan penghormatan. Namun kebimbangan antara kewajiban dan
dunia memberikan keuntungan bagi dunia dan
pasti akan meninggalkan kuasa pembentuknya, sehingga agama, Tuhan dan surga, hampir tidak akan
pernah masuk ke dalam pikirannya.
Jikalau orang muda, pria dan wanita dewasa,
harus membuat sebuah perkumpulan di mana pembacaan dan pelajaran Alkitab harus menjadi tema utama, memegang dan mempelajari nubuatan, dan mempelajari pelajaran-pelajaran Kristus, akan ada kekuatan
di dalam perkumpulan tersebut. Tidak ada buku yang
dibacakan yang di dalamnya pikiran menjadi begitu
terangkat dan dikuatkan dan diluaskan sebagaimana
Alkitab. Dan tidak ada sesuatu yang akan memberi kesegaran baru ke dalam seluruh kemampuan kita seperti ketika berhubungan dengan kebenaran yang besar tentang Firman Tuhan, yang mempersiapkan pikiran untuk memahami dan mengukur kebenaran-kebenaran tersebut.
Jikalau pikiran mengambil tingkatan yang
rendah, itu biasanya karena pikiran dibiarkan beru260
rusan dengan fakta-fakta biasa dan tidak dipanggil
untuk berlatih memahami kebenaran-kebenaran
yang mulia dan mengangkat, yang bertahan dalam
kekekalan. Perkumpulan-perkumpulan masyarakat
sastra dan ruang-ruang kuliah (lyceums) ini secara
hampir universal memberi pengaruh yang sepenuhnya
bertentangan dengan apa yang dikatakannya, dan
mencederai orang muda. Ini tidak boleh terjadi, namun
karena unsur-unsur yang tidak kudus yang memimpin,
karena keduniawian menginginkan perkara-perkara
yang menyenangkan diri mereka sendiri, hati mereka
tidak selaras dengan Yesus Kristus; mereka berada
dalam kelompok musuh Tuhan, dan mereka tidak akan
dipuaskan oleh jenis hiburan yang akan menguatkan
dan meneguhkan kerohanian anggota perkumpulan
masyarakat tersebut. Perkara-perkara rendah dan
murahan dibawa masuk, yang tidak mengangkat atau
mengajar, melainkan hanya menghibur.
Cara bagaimana perkumpulan ini diselenggarakan menuntun pikiran menjauh dari perenungan yang
serius, menjauh dari Tuhan, menjauh dari surga.
Dengan menghadirinya, pemikiran-pemikiran dan pelayanan-pelayanan rohani menjadi terasa hambar. Kurang ada keinginan untuk berdoa terus menerus, untuk
agama yang murni dan tidak ternoda. Pemikiran dan
percakapan bukan tentang tema-tema yang mengangkat, namun berkisar tentang topik-topik yang dibawa
masuk ke dalam perkumpulan tersebut. Apakah artinya sekam bagi gandum? Pemahaman akan pelan-pelan menurun menuju dimensi perkara-perkara yang
261
biasa, hingga kuasa pikiran menjadi menyempit, dan
ini menunjukkan apa yang telah menjadi makanannya.
Pikiran yang menolak segala hal-hal murah ini,
dan berusaha untuk tetap memikirkan kebenaran-kebenaran yang mengangkat, penuh pertimbangan,
mendalam dan luas, akan menguatkan. Pengetahuan
tentang Alkitab adalah di atas segala pengetahuan
yang memperkuat kecerdasan. Jikalau ruang-ruang
kuliah dan masyarakat sastra anda dibuat sebagai sebuah kesempatan untuk membahas Alkitab, itu akan
lebih menjadikan masyarakat intelek daripada jikalau
perhatian dialihkan kepada pertunjukan-pertunjukan
teatrikal. Betapa kebenaran-kebenaran yang agung
dan mulia yang harus diperhatikan oleh pikiran
dan digali dari Firman Tuhan! Pikiran akan menjadi
lebih dalam dan semakin dalam dalam pencarian,
menjadi lebih kuat dengan segala usaha untuk memahami kebenaran, namun demikian masih ada
perkara-perkara yang tidak terbatas di atas sana.
Orang-orang yang menjadi anggota kelompokkelompok masyarakat sastra, yang mengaku mengasihi dan menghormati hal-hal yang kudus, namun mengizinkan pikirannya merosot kepada hal-hal permukaan, yang tidak nyata, yang sederhana dan murahan,
peran-peran fiktif, adalah sedang melakukan pekerjaan
iblis sama dengan ketika mereka memandang dan
bersatu dengan adegan-adegan ini. Jikalau mata
mereka terbuka, mereka akan melihat bahwa Setan
adalah pimpinannya, penghasut mereka, melalui
agen-agen yang hadir yang mengira diri mereka
262
sesuatu yang berharga. Namun Tuhan mengumumkan bahwa hidup dan tabiat mereka lebih ringan daripada kesia-siaan. Jikalau perkumpulan-perkumpulan ini harus menjadikan Tuhan dan kebesaranNya, belas kasihanNya, pekerjaanNya menjadi wataknya, kemuliaan dan kuasaNya sebagaimana yang dinyatakan dalam ilham, pelajaran mereka, mereka akan
memperoleh berkat dan kekuatan.—MS 41, 1900, hlm.
10-12. (“Commandment Keeping,” 23 Juli 1900.)
Jikalau kita menganggap manfaat-manfaat yang
diberikan kepada kita sebagai milik kita, untuk digunakan sesuai dengan kesenangan kita, menjadi pameran, mencari sensasi, Tuhan Yesus, yaitu Penebus
kita, dipermalukan oleh tabiat-tabiat orang-orang
yang mengaku para pengikutNya.
Apakah Tuhan telah memberikan anda kecerdasan? Apakah itu digunakan sesuai dengan kecenderunganmu? Dapatkah anda memuliakan Tuhan dengan dididik untuk memainkan watak dalam drama, dan untuk menghibur penonton melalui cerita
dongeng? Bukankah Tuhan telah memberikan anda
kecerdasan untuk digunakan bagi kemuliaan namaNya
dalam menyebarkan Injil Kristus? Jikalau anda menginginkan karir publik, ada pekerjaan yang dapat anda
lakukan. Bantulah kelompok yang anda tampilkan dalam drama itu. Kembalilah kepada kenyataan. Berikan
simpatimu di mana dibutuhkan dengan sungguh-sungguh mengangkat orang-orang yang tertunduk. Nafsu
penguasaan Setan adalah untuk menyimpangkan
orang-orang cerdas dan menyebabkan manusia
263
merindukan pertunjukan-pertunjukan dan teater.
Pengalaman dan tabiat orang-orang yang terlibat
dalam pekerjaan ini akan sesuai dengan makanan
yang diberikan kepada pikirannya.
264
LAMPIRAN 7
ALKITAB DAN DRAMA MODERN
Oleh Leslie Hardinge
Sebuah Makalah yang disampaikan kepada Komite
Tuntunan bagi Kegitan dan Drama Kompetitif,
Januari 1974
Dalam makalah ini, DRAMA berarti sebuah komposisi sastra, yang sekarang biasanya ditulis dalam bentuk prosa, diatur untuk dilakonkan, dan dibagi atas beberapa babak yang terdiri atas berbagai adegan. Seorang penulis naskah drama berusaha untuk menggambarkan kehidupan atau watak, atau menceritakan suatu kisah melalui tindakan orang-orang yang disebut aktor. Drama merekam konflik dan ketegangan dalam kehidupan manusia dan mengatur perkara-perkara sedemikian untuk mencapai suatu klimaks atau titik puncak
dalam satu jam atau dua jam yang bisa tragis atau komik atau lucu. Drama dimaksudkan untuk ditampilkan
di hadapan penonton sebagai hiburan.
Sementara ada drama dalam kehidupan yang
nya-a, dalam makalah ini, drama dianggap bersifat fiksi. Drama bersifat fiksi karena penulis naskah drama
menggunakan dialog, yang kesemuanya dikarang oleh
si penulis sendiri, kecuali jikalau ia mendapatkan ilham
ataupun menjadi saksi mata tentang keabsahan faktanya. Di samping itu, sementara diambil dari kehidupan
nyata, pengaturan adegan-adegan dalam episode di265
tentukan sendiri oleh si penulis naskah yang menempatkan adegan satu per satu semata-mata untuk mencapai efek tertentu yang ada di dalam pikirannya. Di
bagian akhir, drama mencapai penutup, yang bisa menyenangkan atau tragis, yang seluruh pemain dan setiap episode dan hampir setiap kata telah dimanipulasi
oleh si penulis naskah. Ini adalah definisi fiksi. Oleh
karenanya drama adalah fiksi.
Adalah sangat benar bahwa bahkan setiap hari
yang paling menjemukan memiliki sifat dramatis, yaitu
saat-saat puncak dan mendebarkan. Karena Alkitab
meliputi seluruh aspek kehidupan manusia, Kitab Suci
yang diilhamkan memiliki saat-saat dramatis. Namun, tidak ada usaha dramatis terhadap efek dalam Alkitab. Sangat sedikit ditemukan dialog di dalam
kisah kudus ini dan apa yang terdapat di dalamnya tidak membangun ketegangan dan penyelesaian dalam
bentuk klimaks. Tujuan Alkitab adalah untuk menyatakan kebenaran, dan bukan untuk menghibur melalui efek konflik dan pertentangan yang mendebarkan.
Drama, sebagaimana yang ditampilkan oleh sebagian terbesar penulis naskah drama, berisikan potret
tentang penyimpangan dan kelemahan manusia.
Drama tidak menunjukkan kepada yang benar dan
yang salah dalam tindakan, melainkan menampilkan
perwatakan yang ditujukan untuk hiburan. Sebagian
besar produksi drama menyatakan konflik antar jenis
kelamin. Di lain pihak, sebuah drama yang menggambarkan hubungan monogami yang bahagia dengan
266
tanpa konflik dan ketegangan tidak akan berhasil pada
pertunjukan pertama tanpa siulan keras! Perkawinan
yang tenang dan bahagia, dengan anak-anak yang
bertumbuh ke arah perkembangan kebajikan Kristiani,
bukanlah bahan cerita yang dituntut oleh penonton teater. Sebaliknya, perampokan kasih sayang satu pasangan secara sembunyi-sembunyi oleh pihak ketiga,
konflik dan perselisihan, ketegangan emosi, kematian
dan penderitaan perang antara bangsa, antara putih
dan merah, antara polisi dan perampok, antara kejujuran dan hukum—kesemuanya ini adalah tema-tema
sebagian besar produksi drama. Tujuan drama bukanlah untuk menyatakan kebenaran, meskipun “pelaku yang baik” kadang menang, namun adalah untuk
menghibur dan menghasilkan uang. Drama dirancang
untuk menggiring penonton kepada hubungan empati
dengan si aktor seolah ia mengalami sendiri, yang bersamanya ia merasakan dan meningkat emosinya. Tulisan ilham mengutuk empati dari orang-orang yang
“mengambil kesenangan di dalam mereka” dan juga
para aktor “yang melakukan hal-hal ini.”
Alkitab berisikan kutukan yang jelas kepada
penonton yang menikmati penggambaran atau akting tentang dosa. Marilah kita membaca Roma 1:2932. Ayat-ayat ini menyebutkan rupa-rupa kelaliman,
kejahatan, keserakahan dan kebusukan, kedengkian,
pembunuhan, perselisihan, tipu muslihat dan kefasikan. “Mereka adalah pengumpat, pemfitnah, pembenci
Allah, kurang ajar, congkak, sombong, pandai dalam
kejahatan, tidak taat kepada orang tua, tidak berakal,
267
tidak setia, tidak penyayang, tidak mengenal belas kasihan.” Ayat-ayat ini berisikan sebuah daftar perbuatan-perbuatan jahat pria dan wanita. Setelah melengkapi katalog kejahatan, Rasul Paulus melanjutkan:
“Sebab walaupun mereka mengetahui tuntutan-tuntutan hukum Allah, yaitu bahwa setiap orang yang melakukan hal-hal demikian, patut dihukum mati, mereka
bukan saja melakukannya sendiri, tetapi mereka juga
setuju dengan mereka yang melakukannya.” Bagian
yang terakhir adalah amat vital dalam makalah ini. Bagi orang Kristen, membaca atau menonton sebuah
penggambaran oleh aktor drama yang berisikan
hal-hal yang didaftarkan oleh Paulus, dan kemudian “menikmati” perilaku ini, baik dalam novel maupun drama atau kisah cerita, menjadikan dirinya
asesori moral yang menyebabkan murka Tuhan.
Surga mengutuk orang-orang yang berlaku demikian dalam kehidupan nyata. Surga mengutuk orangorang yang melakukan dosa-dosa dalam drama
atau novel. Surga juga mengutuk para pembaca
atau penonton yang menikmati dramatisasi dari
adegan-adegan melawan norma-norma kebenaran
yang dinyatakan oleh Tuhan. Akibatnya bagi mereka
yang terlibat dalam melakukan dan menonton dan berbagi seolah merasakan sendiri adalah bahwa “maka
Allah menyerahkan mereka kepada pikiran-pikiran
yang terkutuk, sehingga mereka melakukan apa yang
tidak pantas” (Roma 1:28). Dengan kata lain, orangorang yang memenuhi pikirannya dengan cara menguasai sebuah drama untuk melakonkan potensi
268
dramanya, atau orang-orang yang menonton, melalui media atau melalui teater, penggambaran tentang dosa dan kelemahan manusia, akhirnya mengembangkan “pikiran yang merendahkan.” Karena dengan melihat “mereka diubahkan” (2 Korintus
3:18).
Ada bacaan Alkitab penting lainnya yang di dalamnya Roh Kudus telah memberikan kepada orang
Kristen tentang kriteria untuk menilai kebenaran atau
kesalahan dalam setiap produksi sastra. Menulis kepada orang-orang di Filipi, Paulus memberikan 7 (tujuh)
petunjuk. Kita harus menerapkan masing-masing dalam mempertimbangkan drama. Apakah itu “benar”?
Bahkan jikalaupun kita menilai bahwa drama berisikan
kebenaran, apakah yang dikatakannya “jujur?” Jikalau
drama lolos dari dua pintu gerbang ini, apakah itu
“murni” Berapa banyak yang disebut drama saat ini
adalah “murni”? Bahkan jikalau ia memperoleh nilai “A”
dalam tiga kriteria di atas, apakah itu “menyenangkan”? Perang dan konflik dan dosa adalah jorok. Kemudian apakah ia memiliki “catatan bagus”” atau
“penuh kebajikan”? atau akhirnya “pantas menerima pujian”? Jikalau drama atau novel atau kisah cerita memberi jawaban “ya” pada ketujuh kriteria di atas,
orang-orang Kristen diizinkan. “Pikirkanlah perkaraperkara ini.” Jikalau tidak, maka, jelaslah, ini tidak disetujui Surga.
Marilah kita mempertimbangkan sumber drama
sebagaimana yang ada di dunia saat ini. Yesus selalu
meminta kita mempertimbangkan asal-usulnya. Ini
269
membuat perbedaan. Ia bertanya, “Dapatkah orang
memetik buah anggur dari semak duri atau buah ara
dari rumput duri? (Matius 7:16). Kemudian Ia melanjutkan, “Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedang pohon yang tidak baik
menghasilkan buah yang tidak baik.” (Matius 7:17).
Maka sumbernya adalah sangat menentukan.
Kualitas Kristiani dari kehidupan pribadi
para aktor dan aktris dalam bisnis drama, baik di
televisi atau film dan juga dalam teater langsung,
tidak perlu banyak kita komentari di sini. Dapatkah
anda menyebutkan seorang aktor dan aktris yang terkenal yang tidak mengalami perceraian di pengadilan? Sesuatu yang salah secara moral dengan apa
yang terjadi sebelum langkah ini diambil, demikian juga setelahnya! Bertahun-tahun yang lalu, memiliki
anak di luar perkawinan akan menghancurkan karir
si aktris. Sekarang ini malah mendorongnya! Apakah
anda akan membeli barang kalengan dari sebuah pengalengan yang menggunakan produk busuk dengan
kondisi kotor, tidak sehat, dengan orang-orang sembrono dan berpenyakit yang menanganinya? Saya kira
tidak! Anda akan menjelaskan dengan tepat mengapa
tempat seperti itu tidak akan menghasilkan sesuatu
makanan yang baik, dan sehat. Dan anda benar. Sumbernya benar-benar menentukan! Tidak ada drama
yang dilakonkan oleh para aktor dan aktris yang
berdosa dapat menjadi sesuatu yang baik.
Apakah motif para aktor dan aktris dalam penampilan drama? Apakah mereka berusaha menam270
pilkan kepada hadirin tentang kebenaran, kebaikan,
perbuatan baik dan pertolongan? Apakah mereka menekankan sesuatu yang murni dan benar? Atau apakah mereka menyatakan watak manusia dalam segala
kejahatan yang jorok dan bodoh? Dan mengapa? Untuk menampilkan talenta dan ketrampilan mereka
sendiri dan menghasilkan uang, banyak uang! “Dari
buahnyalah kamu akan mengenal mereka” kata Yesus
(Matius 7:16).
Marilah kita mempertimbangkan lebih lanjut tentang sumber drama dari sudut pandang si penulis naskah drama. Manusia jenis apakah yang menulis untuk
produksi drama? Apakah motif mereka? Apakah tujuan
keseluruhan yang mereka miliki dalam penyampaian
mereka? Apakah mereka menginginkan untuk menghibur? Mendidik? Mengilhami kehidupan yang baik dan
kematian yang kudus? Perhatikan baik-baik kehidupan
pribadi para penulis drama “besar”, dan anda akan terkejut mengakui bahwa mereka tidak tampak memiliki
kebajikan dalam terang Alkitab. “Dari buahnyalah
kamu akan mengenal mereka” kata Yesus.
Apakah efek langsung dari produksi drama di
dalam sekolah-sekolah dan universitas-universitas kita? Segera setelah jurusan “drama” mulai “pentas,” keberatan untuk menonton teater langsung
runtuh di dalam pikiran banyak orang. Alasan mereka bahwa penonton harus berkonsentrasi tentang apa
yang bernilai moral dan nada tinggi dan mengabaikan
atau tidak memperhatikan bagian yang cabul dan kasar dan tidak bermoral. Datanglah beberapa kali me271
ngunjungi teater untuk mengagumi ketrampilan para
aktor dan aktris, dan memperhitungkan talenta dan
teknik mereka dalam menggambarkan emosi dan
menyatakan watak, maka penghalang untuk tidak
menonton teater segera menjadi runtuh.
Di sekolah dasar, anak-anak mungkin diajarkan
untuk menampilkan adegan-adegan yang diambil dari
Alkitab. Adegan apakah yang harus dipilih? Pengamatan menunjukkan bahwa yang dipilih adalah bagian
yang menggembirakan. Tetapi Alkitab tidak memberikan banyak sentuhan dramatis dan penggambaran
yang menggembirakan, maka si guru—penulis naskah
drama memperkenalkan temuan khayalan untuk menambahkan “drama.” “Penambahan” seperti ini kepada Alkitab adalah dilarang oleh Tuhan (Wahyu
22:18). Ini mengakibatkan dua efek yang tajam. Pertama, ini mengacaukan anak-anak itu sehingga ketika
mereka kemudian membaca Alkitab sendiri, ia bertanya-tanya darimanakah rincian-rincian itu berasal. Kedua, norma-norma “kebenaran” dihancurkan tanpa pikir. Ia mengira, Lalu apa salahnya? Jikalau kita harus
memberi tambahan di sana sini untuk menarik perhatian, mengapa tidak?
Segera ia akan membaca fiksi, baik drama maupun novel, dan menikmati setiap adegan yang menggembirakan, menegangkan dan menipu. Kisah-kisah
Alkitab yang sederhana, tenang, dan hening menjadi
menjemukan. Setelah beberapa lama, ia tidak membaca Alkitab lagi. Kemudian ia bahkan tidak dapat memahaminya, jikalaupun ia membaca. Otaknya telah
272
menjadi demam, ia harus memperoleh sesuatu yang
penuh sensasi, yang menggembirakan! Kemudian, ia
bahkan tidak akan puas dengan ketegangan empati
dan yang seolah menjadi pengalaman sendiri yang
ada dalam novel atau drama, melainkan ia harus mencoba sendiri kegiatan yang digambarkan dalam drama
itu. Dahulu, J. Edgar Hoover menulis: “ Orang-orang
muda kita telah dibiarkan masuk ke dalam kejahatan;
mereka tidak sengaja masuk ke sana. Terlalu sering
mereka digiring oleh romantisme murahan dari orangorang tanpa pikir yang menggambarkan para gerombolan penjahat sebagai tokoh yang harus dipuja dan
yang menekankan kepada imbalan keuangan dari kejahatan sebagaimana digambarkan dalam berita utama, bukannya menunjukkan harga yang harus dibayarkan dari setiap dolar yang ternoda.” Tuhan menyatakan dalam peringatan, “Jangan sesat! Allah tidak
membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang
ditabur orang, itu juga yang akan dituainya.” (Galatia
6:7).
Segala jenis kejahatan dilakonkan di dalam
drama saat ini. Melalui cara ini anak-anak diajarkan
untuk berbuat dosa. Efek akhir dari drama di TV atau
film atau teater menghancurkan moral dan akhirnya
menuju kematian kedua. “Dari buahnyalah kamu akan
mengenal mereka” kata Yesus. F.D. Nichol mengutip
dalam salah satu editorialnya, dari sebuah artikel dalam The Saturday Review of Literature yang berjudul
“The Kingdom of the Blind” (Kerajaan Orang Buta).
Subjudulnya adalah “An Ex-Moving Picture Review273
er Considers His Ex-Job” (Seorang Mantan Peresensi Film Mempertimbangkan Bekas Pekerjaannya). Ini
adalah pandangan mendalam dari sang “ahli” ini. “Saya jengkel dan berpendapat bahwa 90 % dari film
yang ditayangkan di Amerika adalah begitu kasar,
tanpa otak, dan dungu sehingga tidak masuk akal
jikalau menulis tentang film-film tersebut dalam
terbitan apapun yang tidak dimaksudkan untuk
dibaca sambil makan permen karet” (RH. Vol 123,
No. 45). Ini tentu saja berlaku tentang teater langsung
dan TV.
Dulu sekali, Daniel Defoe menyatakan: “Iblis tidak berkaki belah.” Dari sini kita dapat mencatat bahwa perkara-perkara tidak selalu sebagaimana tampaknya. Drama mungkin tampak tidak bersalah dan tidak
berbahaya, namun dalam kenyataannya efek ini tampak. Marilah kita kembali kepada terang Alkitab tentang penonton drama modern; termasuk pembacanya.
Tuhan mengutuk dia melalui apa yang tersirat dalam
perkataan ini: “Orang yang hidup dalam kebenaran,
yang berbicara dengan jujur, yang menolak untung hasil pemerasan, yang mengebaskan tangannya, supaya
jangan menerima suap, yang menutup telinganya, supaya jangan mendengarkan rencana penumpahan darah, yang menutup matanya, supaya jangan melihat
kejahatan, dialah seperti orang yang tinggal aman di
tempat-tempat tinggi, bentengnya ialah kubu di atas
bukit batu; rotinya disediakan air minumnya terjamin.”
(Yesaya 33:15, 16). Tetapi bagaimanakah dengan
orang-orang yang tidak mendisiplinkan dirinya. Mereka
274
terkutuk. John K. Ryan, menulis dalam Forum beberapa tahun yang lalu, mengatakan perkataan-perkataan yang amat benar untuk saat ini: “Sadisme, kanibalisme, kebuasan, erotisme kasar, penganiayaan,
pembunuhan, penculikan, monster-monster, orangorang gila, makhluk-makhluk setengah binatang buas,
setengah manusia, melodrama kasar; kisah-kisah kejahatan dan penjahat; ekploitasi besar-besaran di pulau-pulau asing dan tanaman-tanaman aneh, kisah-kisah bajak laut… Kekasaran, humor murahan, dan kecerdikan murahan. Kisah-kisah sentimental, yang dirancang untuk tingkatan pikiran tolol yang umum. Kebodohan dalam pemikiran dan pengungkapan. Semuanya ini, hari demi hari, minggu demi minggu, telah
menjadi makanan mental anak-anak Amerika, tua dan
muda.” (Dikutip dari Signs, 21 Februari 1939. hlm. 5.
Perhatikan tanggalnya!).
Pernahkah anda memikirkan implikasi dari perintah Tuhan kepada orang Israel? “Maka haruslah kamu menghalau semua penduduk negeri itu dari depanmu dan membinasakan segala batu berukir kepunyaan
mereka; juga haruslah kamu membinasakan segala
patung tuangan mereka dan memusnahkan segala bukit pengorbanan mereka.” (Bilangan 33:52). Segala
patung tuangan yang diam, namun melemahkan
dan membinasakan moral dari orang-orang Kanaan kuno harus dibinasakan atas perintah Tuhan
jikalau orang Israel ingin mencapai ideal Ilahi. Betapa banyak tayangan dramatis film, teater dan TV
275
sekarang ini yang terhitung mengikis moral dan
menghancurkan norma-norma Israel modern.
Dalam mempelajari drama orang Kristen harus
mempertimbangkan jumlah besar waktu yang dihabiskan oleh pelajar untuk mempelajari bagiannya sehingga watak yang digambarkannya dapat masuk ke
dalam “kulit” (meresap). Identifikasi dengan seorang
tokoh yang bahkan mungkin bukan orang Kristen adalah bersifat menghancurkan tabiat si aktor. Kemudian
pertimbangkan waktu yang diperlukan untuk berkoordinasi dengan semua aktor dan memproduksi sebuah
drama setelah lusinan latihan, dan anda akan menghabiskan banyak waktu yang jauh tidak seimbang dengan keuntungan yang akan diperoleh. Pertimbangkan juga efeknya kepada para aktor. Kebanggaan
yang mereka miliki dalam akting mereka adalah nafas
mereka, dan kebutuhan vital ke-aku-an mereka untuk
memperoleh tepukan tangan meriah ditujukan kepada mereka oleh penonton adalah makanan mereka.
Apakah ini baik?
Menggambarkan adegan-adegan, menggunakan kata-kata, memotret tokoh dalam setiap drama adalah berarti memamerkan sebuah gaya hidup
yang asing bagi seorang MAHK sejati. Pada pelajar
drama harus memaksa dirinya ke dalam cetakan yang
pertimbangan baiknya mengatakan kepadanya bahwa
ini bertentangan dengan Alkitab. “Dengan melihat,” dengan menjadi seperti tokoh itu, “ia diubahkan ke dalam” keserupaan dengan tokoh yang digambarkannya.
276
Jika para pelajar drama mengatakan sesuatu
yang tidak diyakininya, dalam bahasa yang tidak disetujuinya, dan menyatakan sikap dan perasaan yang
asing bagi konsep-konsep dan standar-standar Tuhannya, maka motif dan perasaannya tentang yang benar
dan salah akan menjadi kacau. Ia pada akhirnya akan
menjadi percaya, karena guru sastra dan dramanya
mengatakan demikian, bahwa drama adalah satu bentuk seni yang menampilkan “budaya” dan mencerminkan wawasan ke dalam kehidupan yang berguna. Maka, ketika ia mempelajari Alkitab, standar-standarnya
kemudian menjadi kacau.
Kecenderungan alamiah para pelajar drama
adalah untuk meninggikan diri dan memperoleh tepukan tangan dan ini menyebabkan ia mengambil bagian dan masuk sepenuhnya ke dalam apa yang dilakukannya, dan segera kerohaniannya dan keinginannya akan kebenaran-kebenaran yang sederhana
dalam Alkitab menjadi berkurang dan perkataanperkataan Tuhan menjadi tampak bodoh. Dengan
amat segera ia akan terdengar mengatakan. “Saya tidak melihat ada sesuatu yang salah dalam drama.”
Dan apa yang sesungguhnya sedang ia akui adalah
bahwa ia sekarang tidak dapat melihat! Ia telah
menjadi buta dan memerlukan “salep mata” untuk
membuka perspektifnya tentang norma-norma dalam perkataan Tuhan.
Tujuan utama dalam seni pertunjukan adalah
kesenangan, dan hiburan, dan akhirnya adalah
bahwa kenyataan tentang kehidupan menjadi ka277
bur. Dosa, kebrutalan, dominasi, sesuatu yang berlebihan, cinta akan tepukan tangan, penolakan
akan norma-norma dalam Filipi 4 dan Roma 1 dan
hasil dari mengajarkan drama, dan mengambil bagian dalam pertunjukan-pertunjukan fiksi menghancurkan kesenangan akan kenikmatan kehidupan sehari-hari yang tenang dan sukacita sederhana
dari perbaktian yang sejati, dan mengacaukan gagasan tentang yang benar dan salah sementara
merangsang keinginan akan kegembiraan, cinta
keduniawian dan kesenangan itu sendiri.
Sehubungan dengan pelajar drama dalam terang Alkitab, hanya ada satu jawaban. Drama tidak dapat bertahan hidup dalam pemandangan Terang bagi
dunia.
278
LAMPIRAN 8
Youth Instructor, 9 Oktober 1902
Pendidikan adalah sebuah persiapan bagi kuasakuasa fisik, kecerdasan dan rohani bagi penampilan terbaiknya dalam segala kewajiban kehidupan. Kuasa untuk bertahan, dan kekuatan dan kegiatan otak, dikurangi atau ditambahkan melalui bagaimana itu digunakan. Pikiran harus didisiplinkan
sehingga segala kuasanya akan berkembang secara simetris.
Banyak orang muda menyukai buku-buku [dan
drama]. Mereka ingin membaca [menonton] segala
sesuatu yang mereka bisa dapatkan. Biarlah mereka
mendengarkan apa yang mereka baca [tonton] dan
juga apa yang mereka dengar. Saya telah diperintahkan bahwa mereka ada dalam bahaya terbesar karena menjadi rusak melalui bacaan yang tidak tepat
[menonton]. Setan memiliki ribuan cara untuk meresahkan pikiran orang muda. Mereka tidak dapat menjadi aman tanpa perlindungan sesaatpun. Mereka harus menjaga pikiran mereka, sehingga mereka tidak dipikat oleh godaan-godaan musuh. Setan mengetahui
bahwa pikiran sangat dipengaruhi oleh makanan
apa yang diberikan kepadanya. Ia berusaha menggiring orang muda dan orang dewasa untuk membaca [menonton] buku-buku cerita, dongeng-dongeng dan bacaan-bacaan lainnya [film, film, film].
Para pembaca [penonton] dari bacaan-bacaan [dra279
ma-drama] seperti itu menjadi tidak layak bagi kewajiban yang terbentang di hadapan mereka. Mereka hidup dalam kehidupan yang tidak nyata, dan tidak memiliki keinginan untuk menyelidiki Alkitab,
memakan dari manna surgawi. Pikiran yang perlu dikuatkan menjadi dilemahkan, dan kehilangan kuasanya untuk mempelajari kebenaran-kebenaran
agung yang berhubungan dengan misi dan pekerjaan Kristus,—kebenaran-kebenaran yang akan
memberi perlindungan kepada pikiran, membangkitkan
imajinasi, dan menyalakan keinginan yang kuat dan tulus untuk menang sebagaimana Kristus telah menang.
Jikalau sejumlah besar buku-buku [drama] dilahap, maka bencana akan mewabah dan akan melakukan pekerjaan yang mengerikan di dalam pikiran dan
hati. Kisah-kisah cinta, dongeng-dongeng yang
menggembirakan dan sembrono, dan bahkan jenis
buku-buku [film-film] yang disebut novel-novel
[film] keagamaan,--buku-buku [film] yang oleh penulisnya [produsernya] ditempeli sebuah pesan
moral,—adalah kutukan bagi pembacanya. Perasaan-perasaan keagamaan mungkin dijalin di sepanjang buku cerita [film], namun sebagian besar di
dalamnya, Setan mengenakan jubah malaikat, semakin efektif untuk memikat dan menipu. Tidak
ada seorangpun yang begitu teguh dalam prinsip
yang benar, tidak ada seorangpun yang begitu
aman dari pencobaan, sehingga mereka akan
aman dari membaca [menonton] kisah-kisah [filmfilm] tersebut.
280
Para pembaca fiksi [penonton drama] adalah
memanjakan suatu kejahatan yang menghancurkan kerohanian, menutupi keindahan halaman-halaman yang kudus. Ini menciptakan kegembiraaan
yang tidak menyehatkan, membuat demam imajinasi, menjadikan pikiran tidak layak bagi kebermanfaatan, menghentikan doa oleh jiwa-jiwa, dan
menyebabkannya tidak layak bagi latihan kerohanian apapun. Tuhan telah menganugerahkan banyak
orang muda dengan kemampuan yang unggul; namun
terlalu sering mereka telah menyebabkan kuasa-kuasa
mereka melemah, kacau dan melemahkan pikiran mereka, sehingga selama bertahun-tahun mereka tidak
bertumbuh dalam kasih karunia atau dalam pengetahuan tentang alasan-alasan bagi iman kita, karena pilihan bacaan mereka yang tidak bijaksana. Orangorang yang menunggu kedatangan Tuhan yang segera, yang menunggu perubahan yang ajaib, yaitu
ketika “yang telah binasa menjadi tidak binasa,”
seharusnya pada masa belas kasihan ini berdiri di
tempat bertindak yang lebih tinggi.
Sahabat-sahabat muda, pertanyakanlah pengalamanmu tentang pengaruh kisah-kisah [film-film] yang
menggembirakan. Dapatkah engkau, setelah membaca [menonton]nya, membuka Alkitab dan membaca
dengan penuh minat kepada perkataaan-perkataan kehidupan? Bukankah engkau akan menemukan bahwa
Alkitab tidak menarik? Daya tarik dari kisah cinta
[film] ada di dalam pikiran, menghancurkan nada
sehatnya, dan menjadikannya tidak mungkin bagi
281
anda untuk memusatkan perhatian kepada kebenaran-kebenaran yang penting dan khidmat yang
berhubungan dengan kesejahteraan kekalmu.
Watak pengalaman keagamaan seseorang
dinyatakan melalui watak buku-buku [film-film]
yang dipilih untuk dibaca [ditonton]nya di saat-saat senggangnya. Untuk memperoleh kesehatan pikiran dan prinsip-prinsip keagamaan yang masuk
akal, orang muda harus hidup dalam persekutuan
dengan Tuhan melalui firmanNya. Dengan menunjukkan jalan keselamatan melalui Kristus, Alkitab menjadi penuntun kita menuju kehidupan yang lebih tinggi
dan lebih baik. Alkitab berisikan sejarah dan biografi
yang paling menarik dan paling mendidik yang pernah
ditulis. Orang-orang yang imajinasinya belum dibelokkan karena membaca fiksi akan mendapati bahwa Alkitab adalah buku yang paling menarik dari
segala buku.
Buanglah dengan segala ketetapan hati segala bacaan-bacaan sampah (menonton film]. Semua ini tidak akan menguatkan kerohanianmu, melainkan akan memperkenalkan ke dalam pikiran perasaan-perasaan yang melemahkan imajinasi, menyebabkan engkau kurang berpikir tentang Yesus
dan kurang memahami pelajaran-pelajaranNya.
Bebaskanlah pikiran dari segala sesuatu yang akan
menggiringnya ke arah yang salah. Jangan membebaninya dengan kisah-kisah [film-film] sampah,
yang tidak memberikan kekuatan kepada kuasa-kuasa
282
moral. Pemikiran memiliki watak yang sama dengan makanan yang disediakan bagi pikiran.
Alkitab adalah buku dari segala buku. Jikalau
engkau mengasihi perkataan Tuhan, mencarinya setiap kali engkau mendapatkan kesempatan, engkau
akan memiliki harta kekayaannya, dan akan sepenuhnya dilengkapi dengan segala perbuatan baik, kemudian engkau akan menjadi yakin bahwa Yesus membawa engkau mendekat kepada DiriNya. Namun membaca Alkitab dengan cara seenaknya, tanpa berusaha memahami pelajaran yang ingin disampaikan
Kristus, sehingga engkau akan menurut kepada tuntutannya, adalah tidak cukup. Ada harta di dalam perkataan Tuhan yang dapat ditemukan hanya melalui masuk ke kedalaman tambang kebenaran.
Pikiran jasmani menolak kebenaran; namun
jiwa yang dipertobatkan mengalami perubahan yang
ajaib. Buku yang sebelumnya adalah tidak menarik karena menyatakan kebenaran-kebenaran yang menjadi
saksi terhadap orang berdosa, sekarang menjadi makanan jiwa, sukacita dan penghiburan dalam kehidupan. Surya kebenaran memancar dalam halaman-halaman kudus itu, dan Roh Kudus berbicara melalui perkataan-perkataan itu ke dalam jiwa. Bagi orang yang
mengasihi Kristus, Alkitab adalah taman Tuhan.
Janji-janjinya adalah menyebabkan hati bersyukur
sebagaimana harum bunga bagi indra kita.
Biarlah semua orang yang telah mengusahakan kecintaan kepada bacaan ringan [menonton
film], sekarang memalingkan perhatian mereka ke283
pada perkataan nubuatan yang pasti. Ambilah Alkitabmu, dan mulailah belajar dengan minat yang segar akan catatan-catatan kudus dalam Perjanjian
Lama dan Baru. Semakin sering dan rajin engkau
mempelajari Alkitab, semakin indah ia akan tampak, dan semakin sedikit kesenanganmu akan bacaan-bacaan ringan [menonton film]. Ikatkanlah
buku yang berharga ini ke dalam hatimu. Ia akan
menjadi sahabat dan penuntunmu.—Nyonya E. G.
White.
284
LAMPIRAN 9
Standar-standar Moral dan Rohani—No. 5
Peringatan terhadap Gambar Bergerak
dan Teater Lainnya
Oleh F.M. Wilcox
(Review and Herald, 11 Februari 1926).
Melalui segala cara dalam kuasanya, Setan mengusahakan untuk mengubah penghuni bumi menjauh
dari Tuhan. usahanya berbagai cara, perangkap-perangkapnya berlipat ganda. Perhatiannya bukan pada
cara apa yang digunakannya sepanjang ia mencapai
tujuan mautnya. Usaha untuk memperoleh kedudukan tinggi, kecintaan akan kehidupan dan kedudukan sosial, pikatan emas, pergumulan untuk memperoleh kemampuan, ambisi bagi pendidikan, kesukaan akan kesenangan,—ini dan banyak sarana
lain digunakan oleh si penipu ulung untuk menggiring manusia melupakan Tuhan, dan membiarkan
waktu dan tenaga mereka menjadi begitu terpikat
dan terpikat sehingga pada akhirnya menggiring
kepada kehancuran final mereka.
Terhadap segala kejahatan besar ini, Pertemuan pada Musim Gugur yang akhir-akhir ini diselenggarakan di Des Moines, Iowa, menyuarakan peringatan pasti kepada saudara-saudara seiman kita. Keputusan berikut ini disetujui tentang gambar bergerak
dan hiburan-hiburan komersial:
285
Mengingat, kebutuhan untuk mengangkat standar terhadap setiap pengaruh yang mengancam kehidupan dan kesejahteraan gereja, dan
Mempertimbangkan, gambar bergerak atau teater lainnya semakin menjadi ancaman bagi moralitas dan berpengaruh menghancurkan kerohanian,
dalam banyak kasus menggiring kepada standar
kehidupan yang rendah dan palsu, maka,
Diputuskan, bahwa Dewan ini mengumumkan
ketidaksetujuannya yang mendalam tentang menonton teater gambar bergerak dan tempat-tempat
hiburan yang meragukan lainnya, dan mengingatkan para pekerja, pejabat gereja dan anggota
awam, tua dan muda, untuk menjauh dari praktekpraktek jahat ini.
Menyadari, bahwa kita sedang hidup di harihari terakhir, di mana “manusia mencintai kesenangan lebih daripada mencintai Tuhan,”
Diputuskan, bahwa kami memperingatkan kepada umat kami terhadap roh zaman yang cinta kesenangan ini, dan hiburan-hiburan komersial yang
telah meluas.
Kami meminta perhatian pembaca terhadap sebuah laporan dari sebuah khotbah oleh Penatua M. E.
Kern dalam Review edisi ini (11 Februari 1926).
Khotbah ini disampaikan di hadapan para mahasiswa
the Washington Missionary College dan para perawat the Washington Sanatorium pada acara perbaktian Sabat pagi beberapa waktu sebelumnya.
286
Saudara Kern secara khusus berbicara tentang
watak dari teater gambar bergerak, dan pengaruh besar bentuk hiburan ini kepada dunia. Tidak perlu mengulangi kembali pernyataannya dalam artikel ini. Kami sangat sejalan dengan kesimpulannya, dan kami
menganjurkan agar orang tua dan muda membaca
khotbah ini.
Menyedihkan bahwa ada kebutuhan untuk
menyerukan dalam kolom-kolom majalah gereja
sebuah peringatan terhadap kejahatan-kejahatan
besar ini. Namun demikian, kita harus percaya, dari
surat-surat yang datang kepada kami di berbagai lapangan, bahwa ada sejumlah saudara-saudara kita
yang menyerah kepada pengaruh yang tidak kudus
ini. Sayangnya, orang-orang yang terpengaruh itu
bukan hanya anggota-anggota gereja yang lebih
muda. Beberapa saudara-saudara kita yang lebih
tua telah begitu kehilangan roh kehadiran Kristus
yang sejati dari dalam hati mereka, sehingga mereka menjadi pengunjung setia tempat-tempat hiburan yang meragukan ini. Dan yang lebih menyedihkan lagi adalah mengetahui bahwa kadangkala ada
pembicara MAHK yang menjadi pengunjung bioskop yang setia.
Terhadap kepemimpinan dalam denominasi ini
dibebankan tanggung jawab besar, yaitu kepemimpinan yang dinyatakan dalam pekerjaan pendeta, guruguru di sekolah-sekolah kita, para dokter di sanitariumsanitarium kita, para manajer di percetakan kita, atau
para pejabat lokal di gereja kita. Surga meminta per287
tanggungjawaban kita sebagai pimpinan umat atas
apa yang mereka lakukan, bukan saja atas efeknya
bagi kehidupan kita sendiri, melainkan juga pengaruhnya kepada orang lain. Orang-orang yang berdiri pada kedudukan pemimpin harus menjaga jiwajiwa karena mereka harus mempertanggungjawabkannya pada hari penghakiman terakhir. Ada bahaya ketika kita sebagai pemimpin di dalam gereja
Tuhan gagal membedakan antara yang kudus dan
yang profan. Ada bahaya bahwa standar-standar
rendah di dunia di sekeliling kita akan menutupi
pemandangan kita, sehingga kita tidak dapat melihat dengan jelas, dan kita akan digiring untuk menilai pertanyaan-pertanyaan yang amat penting
menurut standar dunia dan bukan menurut standar Tuhan.
Kami terkesan oleh sebuah pertanyaan yang diajukan oleh salah satu pekerja kami beberapa waktu
yang lalu. Ia bertanya apakah saat ini kita merasa bahwa kita harus memegang standar yang sama tentang
kehidupan sosial, hiburan, dll, yang dipegang sebelum
Perang, atau 25-30 tahun yang lalu. Ia menyampaikan
pendapatnya bahwa dalam penilaiannya, standar-standar telah berubah, bahwa kita hidup di dunia yang baru, dan bahwa kita harus memiliki pertanyaan-pertanyaan yang berbeda dari pertanyaan-pertanyaan para
bapa kita, bahwa Gereja MAHK, sebagaimana halnya
dengan beberapa gereja besar di dunia lainnya, harus
memberi pemahaman yang lebih liberal atau bebas
terhadap pertanyaan-pertanyaan ini.
288
Inilah cara penalaran yang di dalamnya ribuan dunia Kristen yang besar saat ini telah dimanjakan, dan kita mengetahui buah yang menurunkan
moral yang dihasilkan dari penalaran seperti ini.
Sedikit demi sedikit gereja-gereja besar di dunia telah ditarik menjauh dari standar-standar lama tentang kesederhanaan, keyakinan Kristen, dan kehidupan Kristen.
Kita mengatakan kepada saudara ini, Tuhan tidak pernah berubah. Prinsip-prinsip moral tidak
pernah berubah; dalam segala pertanyaan tentang
kehidupan sosial, hubungan kita dengan kesenangan dunia yang di dalamnya terlibat prinsip
moral, di dalamnya pembentukan tabiat adalah hasilnya, kita harus menggunakan standar yang sama saat ini sebagaimana 10 atau 50 tahun yang lalu. Dengan prinsip-prinsip kebenaran dan kesucian
dan kesalehan yang sama yang digunakan untuk
menghakimi para bapa kita, demikianlah kita akan
dihakimi.
Tuhan memiliki satu standar yang sama bagi
segala zaman. Jikalau persahabatan dengan dunia
adalah permusuhan dengan Tuhan di zaman rasul Paulus, maka persahabatan yang sama adalah permusuhan dengan Tuhan pada zaman ini. Jikalau berteman dengan dunia adalah musuh Tuhan 10 tahun lalu,
atau 100 tahun lalu, atau 2000 tahun lalu, maka berteman dengan dunia adalah musuh Tuhan pada zaman ini.
289
Terlalu banyak pimpinan gereja ini telah mengabaikan proses pembentukan rumah lebah madu
yang telah berlangsung, dan pengaruh dari kesenangan akan dunia yang telah terdapat pada anggota-anggota gereja. Inilah saatnya bagi kita untuk mengangkat
suara kita untuk memprotes. Inilah saatnya untuk
memanggil para anggota Gereja MAHK, tua dan
muda, kepada standar yang lebih tinggi dalam
Kristus Yesus. Inilah saatnya bagi setiap pendeta
MAHK, setiap guru di sekolah-sekolah kita, setiap
pimpinan di dalam lembaga kita, untuk berdiri teguh namun penuh kebaikan melawan pengaruhpengaruh yang akan menjauhkan orang-orang
yang ada di bawah pemeliharaan mereka kepada
prinsip-prinsip kebenaran dan kesalehan.
Banyak yang dapat dikatakan tentang pertanyaan ini, namun kami membatasi pembahasan pada saat
ini. Lagi-lagi kami meminta perhatian kepada prinsipprinsip yang disampaikan dalam khotbah Profesor
Kern. Berikutnya, dalam terbitan sebelumnya, kami
menyampaikan laporan tentang sebuah khotbah oleh
Penatua Meade MacGuire, yang berjudul, “Christ
and the Heart,” (Kristus dan Hati), yang di dalamya ia
membahas beberapa prinsip agung yang menjadi
dasar pertanyaan tentang hiburan-hiburan. Petunjuk
yang diberikannya adalah melengkapi apa yang disampaikan oleh Saudara Kern, dan kedua khotbah ini
harus dipelajari bersama. Semoga Tuhan memberkati
penyampaian mereka untuk mendidik setiap pembaca.
290
LAMPIRAN 10
SUKACITA TUHAN KITA
VS.
HIBURAN-HIBURAN DUNIAWI
Oleh M. E. Kern
(Review and Herald, 11 Februari 1926)
Teater
Salah satu bentuk hiburan-hiburan komersial yang paling menyebar luas saat ini adalah teater. Melalui penemuan proyektor gambar bergerak, pertunjukanpertunjukan teater telah menjadi tersedia bagi semua kota kecil dan juga kota besar. Para pendukung drama bisu membual bahwa itu adalah industri
keempat di Amerika, dan bahwa hampir seperlima dari
seluruh penduduk menyaksikan pertunjukan setiap hari. Barangkali para pendidik dan pekerja keagamaan
dan kesehatan memperhatikan suatu lembaga yang
memberi pengaruh begitu meluas, khususnya ketika
kita memikirkan betapa besar proporsi penonton yang
terdiri atas anak-anak dan orang muda.
Apakah ujian-ujian yang harus diterapkan
oleh seorang Kristen kepada segala jenis hiburan
yang menantang perlindungannya?
291
Pertama-tama, selalu aman bagi seorang
Kristen untuk tidak terlibat dalam setiap bentuk hiburan yang menghubungkan dia dengan sebuah
lembaga jahat. Misalnya, meja kartu. Ini adalah lembaga yang jahat di seluruh dunia. Saya pernah melihatnya di jalan-jalan raya di Eropa “Kristen”, di pulau
Borneo nun jauh di sana, dan di Cina tengah. Itu sama
saja di mana-mana. Ini adalah sarana para penjudi.
Latar belakangnya adalah ketidakjujuran, dan telah
ternoda oleh perkelahian yang membawa kematian, dan meninggalkan jejak watak buruk di manamana. Setumpuk kartu menunjukkan suatu lembaga
kecurangan yang telah mengutuk manusia. Demikian
juga tarian telah menjadi lembaga kejahatan sedunia. Ruang dansa umum dianggap oleh segala penganjur perbaikan bangsa sebagai sebuah lembaga yang merendahkan.
Bagaimana dengan teater? Selama lebih dari
24 abad teater telah ada. Apakah rekornya? Kesaksian sejarah adalah bahwa teater selalu merupakan
ancaman bagi moral. “Para penulis besar klasik seperti Plato, dan Aristoteles, dan Avid dan Juvenal,
dan Tacitus, dan penulis lainnya menulis keras menentang teater,—bukan sekedar menentang kejahatan dan kekerasan insidental, melainkan menentang pengaruh dan kecenderungannya sebagai sebuah lembaga.” Solon, seorang ahli hukum yang besar di Yunani, mengutuk profesi ini karena “melalui
rangsangannya cenderung kepada tabiat yang palsu, dan melalui pengungkapan perasaannya tidak
292
jujur dan tulus, merusak integritas manusia.” Sejarawan Schaff mengatakan bahwa teater Romawi
menjadi “rumah kejahatan,” dan Macaulay mengatakan bahwa dari sejak teater dibuka di Inggris, teaterteater menjadi “seminari-seminari kejahatan.”
Barangkali ada beberapa pertunjukan drama
moral dan beberapa tokoh moral, namun tidak ada teater moral di dunia. Edwin Booth mencoba mendirikan sebuah teater moral yang di depan lampu sorotnya tidak akan ada kecabulan yang spektakuler. Usahanya bangkrut, karena hanya memberi pemasukan 5
sen. Henry Irving mencoba hal yang sama, namun
para manajer harus mengubah acaranya untuk mencegah kegagalan finansial.
Bioskop adalah teater modern bagi massa
(banyak orang) dan telah mewarisi segala kesalahan dari pendahulunya, dan lebih banyak lagi. Seorang penulis yang dikutip dalam Literary Digest edisi
14 Mei 1921, dalam sebuah artikel tentang “The Nation-Wide Battle Over Movie Purification” (Pertempuran nasional melawan pemurnian bioskop) mengatakan:
Kita tidak mengetahui moral apa dari bioskop yang lebih buruk daripada moral-moral panggung. Akan tetapi bioskop yang salah lebih memberi bahaya, karena bioskop menjangkau lebih banyak orang, dan khususnya lebih banyak anakanak yang lebih mudah meniru dan diberi kesan ….
Kedua, teater memberi gagasan yang palsu
dan ekstrim tentang kehidupan. Kehidupan manusia
293
ditampilkan dalam aspek-aspeknya yang terburuk, pengalaman-pengalaman yang paling merendahkan. Tema-tema utama dalam teater sekarang ini, dan selalu
demikian, adalah nafsu manusia—kemarahan menggiring kepada kegilaan, ambisi, iri hati; kemarahan
menggiring kepada pembunuhan, dan nafsu menggiring kepada perselingkuhan dan kehancuran kehidupan.
Penampilan tentang kehidupan yang tidak tepat itu hanya memiliki efek malang bagi para penontonnya. Sementara kadang diusahakan untuk menunjukkan pembalasan dari suatu perbuatan kejahatan, lebih sering terjadi bahwa “kehidupan berperilaku jahat
digambarkan sebagai kehidupan penuh kebebasan
dan sukacita.” Kelonggaran dalam moral dibuat
tampak “tidak terlalu buruk,” bahkan dapat diterima, “dengan syarat-syarat tertentu.” Penyesalan
yang besar dan penderitaan seumur hidup yang dialami seseorang dan orang lain sebagai akibat dari pelanggaran hukum, biasanya tidak ditampilkan. Kebenaran-kebenaran yang kudus tentang kehidupan, kebenaran-kebenaran yang dipertahankan sampai mati
oleh pria dan wanita yang mulia, difitnah dengan tidak
terang-terangan; dan orang-orang, khususnya orang
muda, menjadi bingung dalam pemikirannya.
Nyonya Ellen O’Grady, yang sebelumnya adalah wakil komisaris polisi Kota New York, mengatakan kepada Parlemen New York dalam sebuah dengar pendapat tentang perencanaan hukum pengaturan gambar bergerak:
294
Saya mengetahui dari pengalaman saya sendiri bahwa sebagian besar kenakalan remaja adalah disebabkan oleh pengaruh jahat film-film. Saya
akan mengutip kasus demi kasus anak-anak lelaki dan
perempuan yang menjadi salah karena film-film…
Dan orang lain berkata:
Dengan isyarat-isyarat tersembunyi dan sindiran-sindiran yang cerdik, imajinasi dinyalakan
dan pemikiran-pemikiran jahat dibangunkan. Hampir tidak ada kejadian, betapapun buruknya, yang
tidak dipelajari di teater, sehingga menjadikannya
sebuah universitas kejahatan dan ketidakbermoralan bagi pikiran orang muda.
Himbauan universal dalam film adalah hubungan asmara antara pria dan wanita. Para aktor menyadari keefektifan himbauan ini, dan telah berusaha keras untuk menjadikan ketegangan seks menjadi paling menonjol dalam produksi mereka. Himbauan ini
adalah suatu dorongan yang tidak membutuhkan rangsangan, suatu dorongan yang dalam banyak orang tidak berada di bawah kontrol penalaran. Pikiran dibakar oleh gambar-gambar hidup yang sangat memberi dorongan, dan kehidupan tidak bermoral seringkali menjadi akibatnya.
Selama Perang Dunia, ada seorang perempuan
muda dari negara bagian lain yang menginap di rumah
kami, yang dengan semangat kepahlawanan datang
ke Washington untuk melakukan kewajibannya. Tentu
saja ia mengira bahwa ia dapat mengunjungi beberapa
teater di ibukota negara sementara ia berada di sini.
295
Namun ia menyatakan kepada istri saya tentang kejijikannya kepada teater karena praktis setiap pertunjukan yang telah disaksikannya memiliki adegan kamar tidur. Tampaknya ia tidak menyadari sebelumnya
tentang standar rendah dari bentuk pertunjukan yang
populer ini. Beberapa waktu yang lalu seorang rabi Yahudi dan seorang pengkhotbah Kristen berseru melawan “produk penyakit kusta moral” yang dipamerkan di
panggung-panggung New York, terhadap pertunjukanpertunjukan yang merupakan “inkarnasi kasar dari
ketidaksucian, yang berkisar tentang pameran kaus kaki dan pakaian dalam.” Dan pembela teater
yang menjawab tantangan itu berkata:
Kami tidak bersimpati besar dengan seruan bagi panggung yang bersih. Bagi kami, kami lebih suka
melihat sedikit lebih banyak sampah dan kekotoran
dan keringat di dalam kelumpuhan kita saat ini. Jikalau
harus membuat sebuah pilihan antara perilaku tidak
bermoral di dalam teater dan tekanan Puritan, kami
berkata bawalah tempat-tempat tidur sebatalion ke
atas panggung.
Biarlah saya bertanya kepada anda, para sahabat Kristen, pernahkah menertawakan dosa itu benar? Apakah benar untuk pergi ke tempat yang didedikasikan untuk kebodohan, dan duduk dan dihibur dengan gambaran tentang prinsip-prinsip kejahatan yang mengubah dunia ini ke dalam lembah
dan bayang-bayang kematian, membawa Anak
Allah dari langit, dan mengirimNya ke Getsemani
296
dan kayu salib? Apakah anda pernah menonton
film dan tidak tertawa kepada dosa?
Namun saya mendengar beberapa orang berkata, “Ada film-film yang bagus.” Apa benar? Barangkali
ada beberapa hal yang baik dicampurkan dengan hal
buruk. Inilah rencana iblis untuk mencampurkan
kebaikan dengan kejahatan untuk menangkap kakikaki orang-orang yang tidak waspada yang masih
tertarik akan dorongan kebaikan itu. Namun dari penyelidikan saya, saya setuju dengan Dr. Hall, bahwa
dalam setiap pertunjukan film ada suatu saran
yang tidak murni. Saya telah bertanya kepada banyak orang yang menonton film, apakah ini benar, dan
saya tidak pernah mendapatkan jawaban negatif.
The Sunday School Times bercerita tentang
seorang pendeta yang sangat terganggu oleh keadaan
kerohanian yang rendah di dalam gerejanya. Ia mencurigai teater sebagai satu penyebabnya. Pada suatu
malam penuh badai (malam yang menyebabkan acara
pertemuan doa menjadi berantakan) ia keluar untuk
menyelidiki. Ia pergi ke teater di mana “Salome” sedang dipertunjukkan,—“penggambaran yang mengerikan, merendahkan, dan cabul tentang kisah Herodes
dan Yohanes Pembaptis dalam Alkitab.” Ia melihat
tempat pertunjukan itu penuh sesak, dan dua ratus
umatnya yang utama ada di sana. Ia tinggal selama
pertujukan yang seluruhnya mengerikan dari karikatur
tentang kisah Alkitab itu. Ia keluar pada tengah malam,
ia bertemu dengan banyak anggota jemaatnya di lobi
yang amat mewah, orang-orang ini merasa terkejut
297
melihat pendeta mereka ada di sana. Ia menghadapi
satu masalah. Sementara ia menghabiskan sisa malam itu untuk belajar, muncul di dalam pikirannya
bahwa sepanjang orang-orang yang mengaku Kristen mendukung melalui uang dan kehadiran mereka dalam penampilan seperti “Salome”, maka Roh
Kudus tidak dapat menjangkau hati dan kehidupan
orang-orang yang mematikan seluruh perasaan
mereka yang halus, dan mematikan syaraf-syaraf
kerohanian mereka dengan menontoh hal-hal seperti itu. Apakah ia benar?
Namun orang-orang MAHK mengatakan kepada saya bahwa film “The Ten Commandments”
adalah sebuah film yang bagus, dan saya harus
menontonnya. Mereka mengakui bahwa adegan
sukaria yang gaduh di sekeliling patung anak lembu emas dinyatakan dalam realitas yang hidup. Tuhan memanggil umatNya untuk menghukum para
pelaku dari pesta pora yang mengerikan itu, namun kita membayar pria dan wanita untuk memainkan kembali demi kesenangan kita.
Dalam Mazmur 5:5 kita membaca: “Sebab Engkau bukanlah Allah yang berkenan kepada kefasikan;
orang jahat takkan menumpang pada-Mu.” Dalam Amsal 14:9 kita membaca bahwa “Orang bodoh mencemoohkan korban tebusan,” dan dalam Pengkhotbah
5:3 dikatakan, bahwa Tuhan “tidak senang kepada
orang-orang bodoh.” Maka orang-orang yang menonton teater, menikmati apa yang tidak disenangi
oleh Tuhan. Dalam Yesaya 33, sebuah pertanyaan
298
diajukan, Siapakah yang akan selamat? Jawabannya
adalah pada ayat 15: “Orang yang hidup dalam kebenaran, yang berbicara dengan jujur, … yang menutup telinganya, supaya jangan mendengarkan
rencana penumpahan darah.” Ini menghapuskan
drama, karena tragedi adalah tema umum dalam
drama. Juga, orang “yang menutup matanya, supaya jangan melihat kejahatan.” Ini menghapuskan
drama bisu, bukan? Ketika anda menonton film,
apakah anda menutup mata agar tidak melihat kejahatan?
Tampaknya, saudara-saudara kekasih, bahwa
satu-satunya jalan yang aman adalah “Janganlah
menempuh jalan orang fasik, dan janganlah mengikuti jalan orang jahat. Jauhilah jalan itu, janganlah
melaluinya, menyimpanglah dari padanya dan jalanlah terus.” Amsal 4:14, 15. Dan kita seharusnya
berdoa, “Lalukanlah mataku dari pada melihat hal
yang hampa, hidupkanlah aku dengan jalan-jalan
yang Kautunjukkan!” Mazmur 119:37.
Yang terakhir, izinkanlah kami meminta perhatian anda tentang kenyataan bahwa profesi sebagai
aktor adalah tidak alamiah dan secara radikal adalah salah. Ini adalah profesi yang tidak berharga.
Kutukan Salomo adalah benar.
Istilah “hipokrit” (munafik) dan “memainkan
peran di panggung” adalah identik dalam arti mulamulanya. “Munafik,” baik dalam bentuk Yunani maupun Latin, adalah ditujukan bagi seorang aktor di
dalam teater.
299
Ada sesuatu dalam segala bisnis penampilan; sesuatu yang tidak nyata yang menggiring kepada kesalahan.
Sementara barangkali ada perkecualian terhadap seluruh hukum, adalah kenyataan yang telah diketahui umum bahwa para aktor teater adalah satu kelas watak yang tidak berharga. Tidak bisa sebaliknya, sebagaimana seorang kritikus teater dari London Press berkata beberapa tahun yang lalu:
Kehidupan panggung, menurut pengalaman
saya, memiliki kecenderungan untuk mematikan
perasaan-perasaan yang halus, menghancurkan sifat batin pria dan wanita dan menggantikan kejujuran dan kebenaran dengan kepalsuan dan kekosongan; dan perhatikanlah, saya berbicara dari pengalaman langsung tentang panggung selama lebih dari 37 tahun.
Dr. Charles Blanchard, presiden dari Wheaton College, mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang hal ini:
Apakah mungkin seorang pria, selama lima tahun berperan dalam 25 drama, bahwa ia adalah suami
dari 25 atau 30 wanita yang berbeda-beda, tanpa mengalami bahaya kerohanian? Apakah mungkin bagi seorang wanita memerankan bahwa ia telah dipikat dan
menjadi orang buangan, tanpa terluka secara moral?
Apakah mungkin bagi seorang wanita yang telah menikah untuk memerankan bahwa ia menikah dengan seorang pria lain selain suaminya, dan memerankan keadaannya sehidup mungkin, sehingga membangkitkan
300
minat dan tepukan tangan penontonnya, tanpa membahayakan dirinya? Apakah mungkin bagi seorang pria
memerankan bahwa ia adalah seorang pencuri atau
pembunuh, tanpa membahayakan tabiatnya? Dan
apakah mungkin bagi orang-orang yang menonton para pemeran ini memainkan hal-hal ini, tanpa menjadi
terluka sendiri?
Setiap orang yang mengetahui watak alami manusia dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan ini hanya dengan satu jawaban: “Tidak mungkin.” Seorang
pria yang mengikuti bisnis teater selama beberapa tahun sebelum ia menjadi seorang Advent, mengatakan
kepada saya bahwa tidaklah mungkin bagi seseorang untuk tetap memegang profesinya dan memelihara agar dirinya murni. Bisnis teater tampaknya
merendahkan para pendukungnya; dan ingatlah
bahwa “apa yang tidak dapat dilakukan tanpa kecenderungan membahayakan moral, tidak dapat ditonton tanpa kecenderungan membahayakan moral.”
Himbauan
Saya bersimpati kepada semua orang, khususnya orang muda, yang telah menjadi terpikat oleh filmfilm. Saya juga mengetahui bahwa dalam banyak hal
adalah tidak mungkin untuk menghentikan kebiasaan ini tanpa pertolongan ilahi. Namun anda, sahabat, berhentilah dan pikirkanlah! Anda barangkali
ditarik ke dalam film tanpa berpikir. Tetapi seka301
rang, pikirkanlah hal-hal melalui terang fakta yang
diberikan dan prinsip-prinsip yang ditetapkan. Kekaburan intelek adalah salah satu bahaya besar dalam setiap bentuk pencobaan.
Ketika anda kembali menonton film, apakah
anda merasa seperti memiliki saat persekutuan yang
indah bersama Tuhan? Seorang anak lelaki, yang
kembali ke rumah dari setelah melakukan pertunjukan
perdananya, tidak salah ketika ia mengatakan kepada
ibunya bahwa jikalau ibunya pergi ke satu pertunjukan,
maka ia tidak akan pernah ingin pergi ke pertemuan
doa. Apakah kehadiran dalam teater menjadikan anda
lebih bersemangat dalam usaha-usaha misionaris?
Apakah anda ingin ditemukan di dalam teater ketika Yesus datang?
Ada teater di Yerusalem di zaman Yesus. Apakah menurut anda Yesus dan para muridNya menghadirinya? Ketika Herodes memperkenalkan teater ini,
ini dituduh oleh Yosephus, seorang penulis Yahudi,
sebagai perusak moral. Anda tidak dapat membayangkan Yesus menyetujuinya, bukan? Dapatkah anda
membayangkan Yesus menonton bioskop jikalau
Ia ada di bumi pada hari ini? Jikalau Yesus tidak,
apakah kita harus melakukannya? Biarlah saya meminta perhatian anda kepada pernyataan tentang kemungkinan persatuan dengan Kristus, yang terdapat
dalam “The Desire of Ages,” hlm. 668:
Jikalau kita mau, Ia akan ikut mengalami pemikiran-pemikiran dan tujuan-tujuan kita, sehingga
menyatukan hati dan pikiran kita kepada kesesuai302
an dengan kehendakNya, sehingga ketika kita hanya akan melakukan dorongan-dorongan dari diri
kita yang menurut kepadaNya.
Tentulah kesenangan utama orang-orang dari gerakan advent adalah perenungan akan rumah
kekal mereka, bersama-sama memajukan pekerjaanNya, dan kegiatan-kegiatan pemenangan jiwa.
The Sunday School Times tepat sekali ketika menyatakan:
Biarlah selalu diingat: semakin penuh anggota gereja manapun melakukan penyerahan kepada kuasa Tuhan Yesus Kristus, semakin mereka
menemukan bahwa doa adalah metode utama mereka, dan pekabaran Injil adalah misi mereka, semakin sedikit mereka akan memerlukan atau memikirkan tentang “hiburan-hiburan.” Ini telah terbukti
berulang-ulang, dan baik pada orang muda maupun orang tua.
Sehubungan dengan teater, kesimpulan saya,
dalam perkataan roh nubuat, adalah begini:
Yang termasuk wilayah kesenangan yang
paling berbahaya adalah teater. Bukannya menjadi
sekolah moralitas dan kebajikan, sebagaimana
yang sering diakui demikian, teater adalah tempat
ketidakbermoralan yang terpanas. Kebiasaan-kebiasaan jahat dan kecenderungan-kecenderungan
berdosa diperkuat dan didukung oleh hiburan-hiburan ini. Lagu-lagu rendahan, isyarat-isyarat kotor, ungkapan-ungkapan dan sikap-sikap, menurunkan imajinasi dan menghina moral. Setiap
303
orang muda yang memiliki kebiasaan menonton
pertunjukan seperti itu akan merosot dalam prinsipnya. Tidak ada pengaruh di negeri ini yang lebih
berkuasa untuk meracuni imajinasi, menghancurkan kesan-kesan rohani, dan menumpulkan kesenangan akan hidup dan kenyataan hidup yang tenang, selain hiburan-hiburan teatrikal. Kecintaan
akan adegan-adegan meningkatkan setiap pemanjaan, seperti keinginan akan minuman beracun akan memperkuat penggunaannya. Satu-satunya jalan aman adalah mengutuk teater, sirkus, dan setiap tempat hiburan yang meragukan.—Counsels to
Teachers, hlm. 334, 335.
Saya menutup, sebagaimana saya membukanya, dengan pemikiran berikut—bahwa sukacita Tuhan adalah obat yang ampuh untuk segala hiburan
duniawi. Kita membaca dalam mitos-mitos tua bahwa
putri-putri duyung yang menyanyikan pria-pria menuju
kematian, namun mereka akan mati jika gagal. Dikatakan bahwa ketika para serdadu Argon melewati mereka, Jason memerintahkan Orfeus untuk memainkan lira mereka. Daya pikat nyanyian dan musik ini adalah
lebih kuat daripada nyanyian putri duyung ini, dan para
serdadu Argon berlayar dengan aman. Kemudian para
putri duyung ini melemparkan dirinya ke laut, dan berubah menjadi batu karang.
Kita tidak bisa menyebabkan putri duyung kesenangan dunia ini gagal, kecuali kita membawa daya pikat yang lebih besar daripada yang mereka miliki. Sukacita harus mengalahkan sukacita, dan musik harus
304
mengalahkan musik. Anak Tuhan harus memiliki satu
musik di dalam jiwanya yang jauh lebih indah daripada
lagu apapun dari si putri duyung di dunia yang penuh
tipu daya ini.
305
LAMPIRAN 11
BAHAYA-BAHAYA DRAMA ROHANI
Oleh J. E. Fulton
(Review and Herald, 6 Desember 1928)
Di tempat pertemuan perkemahan Oakland akhir-akhir ini, setelah penyampaian tentang bahayabahaya menonton film bagi orang muda dan tua, termasuk tokoh-tokoh Alkitab yang ditampilkan di layar,
seorang wanita muda mengisahkan kepada saya suatu cerita yang saya harap setiap orang MAHK akan
mendengarkan. Saya tidak kenal dengan saudari ini,
namun ia terkesan oleh khotbah itu, dan datang kepada saya untuk meyakinkan saya bahwa saya benar dengan pendirian yang saya ambil. Ia berkata, sejauh
yang saya bisa ingat:
Semasa kanak-kanak saya berusaha mengikut
Tuhan, namun dibujuk oleh seorang teman yang lebih
tua untuk menonton film yang tampaknya benar, karena itu tentang tokoh yang amat saleh. Namun daya
tarik teater yang indah dan pikatan lembaga itu menyeret kaki saya, dan saya kehilangan kasih kepada Tuhan. Kemudian selama 10 tahun saya melibatkan diri dalam bisnis teater film. Sekarang saya telah
menemukan jalan untuk kembali, dan saya ingin mengatakan bahwa apa yang anda katakan itu semuanya
sangat benar, dan harus ada peringatan yang dibe306
rikan kepada orang muda dan tua untuk menjauh
dari segala film, termasuk drama keagamaan.
Ada banyak hal dalam pertunjukan teatrikal
dan khususnya drama-drama keagamaan, yang
tampaknya tidak berbahaya dan bahkan baik. Namun bukankah penipuan itu mengenakan jubah malaikat terang? Asal mula kejahatan di dunia ini dicatat
dalam Kejadian 3. Perempuan itu, ketika ia melihat
buah terlarang itu, dan mendapatinya menyenangkan
bagi mata dan baik untuk dimakan, dan sesuatu yang
diinginkan untuk menjadikan manusia bijaksana, maka
ia menyerah. Dosa pertama melayani selera daging
dan kesenangan dan ambisi bagi keuntungan diri
sendiri. Sekarang ini pria dan wanita mencari apa
yang telah memikat Hawa. Peningkatan diri adalah
ajaran dunia, dan ini kedengaran sangat waras dan
bijaksana. Banyak pendeta dan pendidik keagamaan mengatakan kepada orang muda bahwa apa
yang memimpin sepanjang jalan peningkatan diri
adalah benar dan terpuji. Namun ini adalah ajaran
iblis; karena kepada orangtua pertama kita, musuh
berkata: “kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat." Sebagaimana seorang
penulis dengan jujur telah mengatakan, “Injil diri sendiri, dan khususnya peningkatan diri, diumumkan
dengan penuh semangat, bukan hanya oleh para
pemimpin gerakan-gerakan dunia yang tidak mengakui agama, bahkan khususnya oleh para pemimpin keagamaan!” Tingkatkan dirimu, berusahalah bahkan untuk maju dan menanjak, berbuatlah
307
sesuatu bagi dirimu sendiri, naiklah hingga kemungkinan tertinggi, carilah pengetahuan, “jadilah
seperti Allah”!
Namun Injil Yesus berbeda dan tidak demikian,
yang mengajarkan kepada kita untuk “menyangkal diri” dan tidak menjadi Allah, melainkan menjadi “anak-anak kecil,” dan bukannya mencari kesenangan duniawi, melainkan mengasihi Allah dan perkara-perkara yang berasal dari Allah. Saat ini, yang
dikenal sebagai para murid dari Guru itu sedang
menjual Yesus demi kesenangan dan uang. Iblis
sangat erat kaitannya dengan bisnis ini dan sebagaimana ular dengan Hawa, dan untuk tujuan yang sama,—untuk mengalahkan, menipu, memikat, melalui layar yang menarik dari apa yang “sedap kelihatannya,” dan menggiring manusia sepanjang garis budaya, bukan kepada Kristus.
Di dalam banyak drama keagamaan, yang
bekerja saat ini adalah di penggoda tua itu; sekarang bukan berpakaian seperti ular, melainkan berpakaian malaikat terang. Tampaknya ia sekarang
turun dengan kuasa besar untuk menggambarkan
Kristus. Tidak akan lama lagi ia akan menyamar sebagai Kristus, mengaku bahwa ia sendiri adalah
Kristus, dan ini akan menjadi karya agung dalam
produksi drama tentang kehidupan Kristus.
Drama Terbesar Setan
Tidak pernah pekerjaan Kristus dapat dilakukan sepenuhnya dalam drama kecuali jikalau muji308
zat ditampilkan, dan orang sakit disembuhkan. Inilah rencana si musuh besar di dalam sebuah drama besar di masa mendatang.
Setan sendiri bertobat, kepada aturan perkara-perkara modern. Ia akan tampil dalam watak malaikat terang. Melalui keagenan Spiritisme, mujizat
akan diadakan, orang sakit disembuhkan, dan banyak keajaiban yang tidak dapat disangkal akan dilakukan.—The Great Controversy, hlm. 599.
Sebagai adegan puncak dari drama penipuan besar ini, Setan sendiri akan menyamar sebagai
Kristus. Di berbagai belahan dunia ini, Setan akan
menyatakan dirinya di antara manusia sebagai makhluk mulia dengan terang yang berkilau, menyamai penggambarkan Anak Allah oleh Yohanes dalam Wahyu.—Ibid., hlm. 624.
Sebuah drama tentang kehidupan Kristus
hanya menjadikannya semakin menipu. Bagaimanakah kita bisa melihat manusia-manusia di dunia
ini, artis, aktor, dan seringkali pria dan wanita yang
tidak bermoral, menyamar sebagai Kristus dan peristiwa-peristiwa Alkitab, dan kita menyetujuinya
dengan kehadiran kita dan uang kita? Ini tidak akan memuliakan Kristus, melainkan manusia, dan
Kristus disalibkan kembali oleh orang-orang yang
mengaku pengikutNya yang hadir di sana dan
menghina Dia secara terbuka.
Akan tetapi bukankah anak-anak kita dan beberapa orang-orang yang lebih tua dipersiapkan untuk
menghadiri pertunjukan teatrikal dengan penge309
nalan drama ke dalam gereja-gereja dan sekolahsekolah Sabat yang berwatak dramatik? Marilah kita menjauhkan segala bentuk yang sejenis ini jauh
dari perkumpulan-perkumpulan kita. Segala pertunjukan yang berwatak duniawi, seperti drama
dan pertunjukan teatrikal, harus dijauhkan dari pelaksanaan-pelaksanaan keagamaan kita.
Dengan bersekutu dengan para pemuja berhala dan bergabung dalam perayaan-perayaan merekalah orang-orang Ibrani digiring untuk melanggar hukum Tuhan, dan membawa penghukuman
kepada bangsa itu. Maka sekarang, dengan menggiring para pengikut Kristus untuk bersekutu dengan orang-orang yang tidak saleh dan bersatu dalam hiburan-hiburan merekalah, maka Setan paling
berhasil dalam memikat mereka ke dalam dosa.—
Patriarch and Prophets, hlm. 458.
Peringatan-peringatan seperti ini adalah sangat keras dan tepat pada waktunya. Biarlah kita
diajar. Setan sedang memainkan permainannya.
Akankah kita yang telah diperingatkan akan menjadi sesat? Kita merasakan ada bahaya, dan kita menyarankan bahwa para pimpinan gereja dan lembaga-lembaga, dan para pekerja kita di mana saja,
agar terjaga penuh terhadap apa yang tampak oleh
penulis sebagai satu dari kejahatan dan bahaya
terbesar yang pernah ada bagi gereja. akankah kita
masing-masing berdiri diam sementara agen-agen
musuh ini maju tanpa ditegur, ketika kita mengetahui bentuk kesenangan ini adalah pendorong ke310
banggaan diri, pengotor jiwa, jalan menuju nafsu,
dan kutukan bagi agama yang sejati?
Nafas Neraka
Nafas beracun neraka menyebar di antara parfum dan pakaian mode dan para penonton teater
yang sembrono, dan kematian dan kehancuran adalah akhirnya. Apakah jadinya orang-orang yang bekerja di siang hari dan bermain di sepanjang malam hari? Orang-orang yang telah menyerahkan
tengah malam mereka demi kesenangan mata dan
pesta pora larut malam dan jalan-jalan keliling naik
mobil, tentulah tidak berada di jalan yang sempit,
namun bergegas ke jalan lebar menuju kematian.
Teater telah menyebabkan penolakan dan
bahkan kutukan dari orang-orang baik dan bijaksana sepanjang zaman. Pada penampilannya yang
pertama, 500 tahun sebelum kelahiran Kristus, teater mendapatkan celaan dari umat Tuhan, dan juga
dari para pemimpin dunia kafir. Para penulis sejarah
menceritakan bahwa salah satu penyebab kemerosotan di Yunani dan Roma adalah kegilaan dunia
akan pertunjukan. Orang-orang Kristen mula-mula
membaktikan diri mereka untuk mendukung pemimpin mereka dengan pelayanan yang layak, namun mereka menunjukkan ketidaksetujuan mereka
dengan keras terhadap pertunjukan-pertunjukan
populer. Jikalau suatu saat ada kesederhanaan
yang lebih jauh di dunia ini, maka dianggap perlu
311
memisahkan diri dari dunia dan kesenangannya,
apakah sikap kita saat ini?
Dan bukan hanya para pimpinan Yahudi, kafir dan Kristen yang mengutuk teater, namun bahkan orang-orang panggung itu sendiri. Macready,
seorang yang dikenal luas di dunia dalam lingkaran
teater, mengatakan ketika ia pensiun dari panggung,
“Tidak satupun anak-anak saya, dengan persetujuan saya, dengan alasan apapun, akan pernah memasuki teater, tidak juga mereka boleh berhubungan dengan aktor atau aktris pertunjukan.”
Pejabat di luar gereja kita berbicara sebagai berikut:
Tidak pernah ada suatu generasi yang begitu
memberontak melawan orang-orang yang lebih tua,
dalam penilaian saya, revolusi mental ini berasal terutama dari film-film bergerak, dengan beberapa
bantuan dari mobil. Kita memiliki generasi yang sangat bergairah dengan seks, sangat asertif (tegas
dalam pernyataan diri sendiri), percaya diri, dan
kritis terhadap orangtua. Tidak diragukan bahwa
kehadiran keinginan seks yang menguasai dalam
kehidupan anak lelaki telah dimulai setidaknya sejak dua atau tiga tahun, melalui rangsangan filmfilm.—Dikutip dari William Sheafe Chase, D. D., Superintendent, International Reform Federation.
Ilustrasi tentang Kapal
Orang Kristen, sementara masih berada di dunia, bukanlah “dari dunia ini,” dan demikianlah pula
312
sukacita dunia ini bukanlah miliknya, karena ia
harus berpisah dari dunia, dan mengasihi Tuhan
dan menjadikan perkara-perkara surgawi sebagai
kesukaannya. Penulis seringkali mengilustrasikan pemisahan dari dunia ini seperti kapal di tengah lautan.
Sebuah kapal dibuat untuk mengapung di atas air.
Adalah bencana besar ketika air masuk ke dalam kapal. Adalah cukup baik bagi orang Kristen berada
di dunia, namun ia pasti akan menyebabkan kapal
kandas dan hancur ketika dunia masuk ke dalam
dirinya “Mereka bukan dari dunia, sama seperti
Aku bukan dari dunia.” Yohanes 17:16.
Film adalah rancangan dan sarana duniawi
demi kepuasan dan kesenangan orang-orang duniawi. Itu bukanlah tempat bagi orang Kristen. “Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat
orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh” (Mazmur 1:1). Ayat ini melarang orang Kristen untuk berhubungan dengan sesuatu seperti
yang terdapat dalam teater. Sebagaimana orang lain
telah menulis:
Kita yakin bahwa ada banyak orang Kristen dan
orang bermoral yang menonton teater dengan alasan
ini atau itu, namun sebagian besar, sejauh ini, adalah
orang-orang yang longgar dalam perkara moral. Di
sana anda akan bertemu dengan orang-orang yang
telah kehilangan segala kasihnya akan rumah, orang-orang yang sembrono, orang-orang profan,
pemboros, pemabuk, dan pelacur jalanan rendah313
an. Mereka ada di seluruh bagian tempat itu; mereka berkerumun di galeri, dan bersama-sama berteriak keras dalam tepukan tangan menyambut kepada karikatur agama, ejekan kepada kebajikan, atau
isyarat kepada kecabulan.
Itulah sebabnya kita diminta oleh Tuhan untuk
“tidak berdiri di jalan orang berdosa” tidak juga “duduk
dalam perkumpulan pencemooh.” Salah satu jalan
utama dosa masuk ke dalam jiwa adalah melalui
mata, dan Yohanes memperingatkan terhadap “keinginan mata” (1 Yohanes 2:16). Ribuan orang telah
kehilangan kasih kepada Tuhan melalui keinginan
mata, dan banyak yang kemudian kehilangan permata yang amat berharga, yaitu kesederhanaan.
Tentang sah-tidaknya pergi ke tempat-tempat
hiburan yang meragukan itu, Dr. Guthrie memberikan
nasehat yang amat baik:
Kami dengan penuh keyakinan mengatakan
bahwa apapun yang anda ketahui tidak sesuai dengan
kewajiban keagamaanmu, atau mengganggu pelaksanaannya, apapun yang mengusir pikiranmu atau mendinginkan semangat perbaktianmu, apapun yang
menghalangi untuk membaca Alkitab atau berdoa, ketika pemikiran tentang Juruselamat yang berlumuran
darah atau Tuhan yang kudus, tentang jam kematian,
atau hari penghakiman, jatuh seperti bayangan dingin
dalam kesukaanmu, kesenangan yang tidak dapat anda syukuri kepada Tuhan, dan anda tidak meminta
berkat Tuhan, yang ingatan akan itu menghantui di hari kematian, dan menikamkan duri yang tajam di bantal
314
yang tidak nyaman—hal-hal ini bukanlah untuk anda.
Ini semua menjauhkan anda; dalam hal ini janganlah
berkompromi dengan dunia, namun jadilah berubah dengan pembaharuan pikiran anda—“Jangan
sentuh, jangan cicipi, jangan pegang.” Jangan pernah pergi ke tempat yang Tuhan tidak akan pergi
bersamamu; jangan pernah ditemukan di mana anda tidak akan suka kematian menemui anda di sana; jangan pernah memanjakan diri dalam kesenangan yang tidak membawa pantulan pagi hari,
jagalah diri anda agar tidak ternoda dari dunia; bukan saja dari nodanya, melainkan juga bahkan dari
kecurigaannya.
315
LAMPIRAN 12
“BAGAIMANA DENGAN FILM
KEAGAMAAN?
Oleh A. J. Stevens
(Sunday School Times, 28 Januari 1928)
Adalah membesarkan hati bahwa pada saat standarstandar semakin menurun di masa kini, kita masih
menemukan tulang punggung editorial yang diperlukan
untuk memberikan jawaban yang tak terbantahkan terhadap pertanyaan di atas yang menjadi laporan utama
sebuah artikel dalam Sunday School Times. Begitu
banyak gereja telah mencoba berkompetisi dengan
teater dengan menampilkan daya tarik spektakuler,
sehingga sama sekali tidak mengejutkan jikalau kita menemukan teater merangsang gereja-gereja
dengan usaha menampilkan drama-drama setengah kudus. Sebuah surat kepada editor Sunday
School Times meminta komentar yang dapat dibaca
demi manfaat bagi setiap orang MAHK.
Surat Pembaca
Ada satu perkara yang sangat ingin saya lihat
untuk dibahas dalam Sunday School Times. Saya mengacu kepada drama-drama keagamaan yang telah
begitu laris. Dalam beberapa drama ini, tidak ada satupun orang yang sesungguhnya melakonkan Kristus,
namun dalam beberapa drama yang lain, pelakonan ini
316
dilakukan sampai ke detail yang amat kecil. Drama
berjudul “_____” yang telah ditayangkan bertahun-tahun di teater terbuka di Hollywood, menampilkan adegan-adegan yang diambil dari Injil, dan orang yang
melakonkan menjadi Kristus menghabiskan waktu antara adegan yang satu dengan adegan berikutnya dengan merokok.
Dalam film berjudul “___”, saya melihat bahwa
keinginan Kristus, termasuk penyaliban dan kebangkitanNya yang sesungguhnya, dilakonkan dengan sangat
mendetail. Drama-drama ini didukung oleh para pendeta dan pekerja Kristen, dan ribuan orang-orang Kristen pergi menontonnya, dan terpesona olehnya.
“Jikalau seseorang protes, ia akan berhadapan
dengan segala jenis argumen tentang ‘segala kebaikan yang dicapai’, “watak manusia yang indah yang
bermain sebagai Kristus,’ dan kita bahkan diberitahu,
dalam segala kesungguh-sungguhan, bahwa ia ‘sesungguhnya menghidupkan bagian itu.’ “Si X” adalah
orang yang amat rohani, anda tahu bukan, kata mereka, dan “orang-orang tidak mau ke gereja menjadi mau
pergi ke gereja dan melihat hal-hal ini, dan coba pikirkan betapa mengangkatnya hal ini,’ dan selalu ditutup
dengan ‘ Baiklah, kalau saja anda pergi dan menonton
sendiri, anda akan merasakannya secara amat berbeda.’
“Dalam pemikiran saya, ini adalah penodaan;
adalah hujatan ketika mengkomersialkan hal-hal
yang amat kudus. Saya tidak dapat percaya bahwa
ada kebaikan yang datang daripadanya. Saya ingin
317
mengetahui apa pendapat Times tentang perkara ini.”
—Seorang pembaca dari California.
Tanggapan
“Selama setengah abad The Sunday School
Times telah secara konsisten memegang keyakinan
bahwa, sebagaimana seorang aktor muda yang bertobat mengatakan tahun lalu dalam kolom ini, ‘Seorang Kristen tidak mendapat tempat di sisi manapun dari lampu sorot kamera.’ Profesi drama, atau
teater, adalah merendahkan moral. Profesi ini tidak berharga untuk dipelajari seumur hidup dan
ke-etiaan yang dituntutnya dari orang-orang yang
ingin mencapai puncak profesi ini. Profesi ini didasarkan atas kepalsuan; tampak sebagai keberhasilan yang sesungguhnya bukan sebuah keberhasilan seseorang. Sementara hanya ada sedikit perkecualian menonjol di kalangan ini, tentang pria dan wanita yang tidak terseret olehnya, jejak kehancuran
umum dalam tabiat tidak dapat dibandingkan dengan profesi ataupun panggilan hidup yang memiliki nama baik manapun. Dan bersamanya, seperti
jam-jam larut malam, pengabaikan standar kesederhanaan standar, kebebasan antar jenis yang
memalukan, dan kecenderungan-kecenderungan
lainnya, memiliki kisah-kisahnya sendiri dan membawa akibat-akibat yang tak terelakkan.
“Inilah profesi yang menghasilkan drama-drama
keagamaan di masa kini. Para aktor dan aktrisnya
membentuk perusahaan yang menghadirkan drama318
drama keagamaan ini, adalah menampilkan, dengan
semangat dan fasilitas yang sama, dengan drama-drama yang lain yang tidak akan ditonton oleh seorang
Kristen yang konsisten manapun. Tidak diragukan
lagi ada beberapa drama keagamaan perkecualian
yang baik di akhir-akhir ini, baik di panggung maupun
di “layar perak,”—dalam film-film,--dan tema-tema dari
drama seperti itu, dan bahkan peristiwa dan detailnya,
mungkin sebagian besar tidak ditolak. Namun, kenyataannya tetap bahwa bahkan motif terbaik dari produksinya adalah komersial dan perdagangan; watak-watak pelakunya adalah memiliki profesi drama yang merendahkan moral; dan orang-orang Kristen yang
menonton drama seperti itu memberikan pengaruhnya kepada sebuah bisnis yang lebih membahayakan masyarakat dan menghancurkan kehidupan dibandingkan bisnis yang punya nama baik lainnya di masa kini.
“Orang-orang Kristen tidak perlu memberikan pengaruh mereka kepada hal-hal ini. Memang
benar, sebagaimana dicatat oleh penulis surat pembaca, bahwa kita diberitahu dengan amat mengesankan
tentang banyak hal-hal baik yang dicapai oleh dramadrama keagamaan. Namun apakah pembaca The
Sunday School Times pernah mendengar tentang satu
jiwapun yang diselamatkan, dilahirkan kembali dengan
iman di dalam Kristus sebagai Juruselamat, melalui
drama keagamaan komersial seperti ini? The Times
meragukan apakah hasil seperti itu telah pernah ada.
Bahkan sekalipun ada, ini hanyalah sebuah contoh
319
Tuhan menjadikan kutukan manusia untuk memuji
Tuhan; dan Tuhan tidak menginginkan anak-anakNya
mendorong kutukan manusia.
320
Download