Ajaran Sosial Gereja tentang Orang Miskin Norbertus Jegalus

advertisement
Ajaran Sosial Gereja tentang Orang Miskin
Norbertus Jegalus
Pendahuluan
Tahun ini kita merayakan secara khusus sebagai “Tahun Injil Orang Miskin”. Ini sangat sesuai dengan
ajakan Paus Fransikus agar kita kaum Kristen kembali kepada semangat dasar Injil, yakni
kemiskinan dan perhatian terhadap orang miskin. Tema Tahun Injil Orang Miskin ini, berikut ini,
diuraikan berdasarkan “Ajaran Sosial Gereja”, dengan cahaya pemikiran filsafat sosial. Karena itu kita
akan berbicara tentang kemiskinan dan ketidakadilan struktural.
Ketidakadilan struktural
menyebabkan, apa yang sudah umum dikenal dalam sosiologi
pembangunan dan juga ekonomi pembangunan, “kemiskinan struktural”. Kemiskinan struktural
adalah kemiskinan yang muncul sebagai gejala sosial akibat dari struktur masyarakat yang bisa kita
sebut “tidak sosial”. Struktur masyarakat itu miskin sehingga tidak mampu memberi jalan keluar dari
ketergantungan sejumlah besar anggota masyarakatnya.
Bentuk konkretnya dapat kita jumpai apabila kita terjun langsung di tengah-tengah orang hidup
terlantar. Begitu banyak petani yang hutangnya menumpuk di tangan para pengijon. Di mana-mana
petani-petani kecil terpaksa menjual lahan tanah garapan kepada orang kota yang kaya karena
membutuhkan uang tunai untuk membiayai sekolah anak-anak. Di sini Gereja dipanggil untuk
menjadi terang di tengah-tengah penderitaan dan kemiskinan masyarakat itu sebagai akibat struktur
masyarakat yang tidak sosial atau tidak adil.
Ada dua macam ketidakadilan, yaitu ketidakadilan individual dan ketidakadilan sosial (ketidakadilan
struktural). Adapun masalah fundamental dalam pastoral Sosial Ekonomi adalah ketidakadilan
struktural ini. Bagaimana Gereja menghadapinya? “Ketidakadilan individual” juga masalah pastoral
Sosial Ekonomi Gereja, namun masalah ini tidak begitu rumit dan berat untuk dihadapi oleh Gereja.
Karena Gereja dapat mewartakan pertobatan kepada orang itu, baik melalui kotbah di Gereja
maupun melalui pendekatan kunjungan pribadi, untuk menyadarkannya. Namun “ketidakadilan sosial”
tidak mudah dihadapi oleh Gereja, karena ketidakadilan struktural ini tidak secara langsung
disebabkan oleh sikap seorang individu yang tidak adil. Ketidakadilan sosial ini terjadi secara
bersama-sama melalui tindakan politis, ekonomis dan sosial budaya.
Teologi Orang Miskin
Kitab Suci tentang Orang Miskin
Allah, menurut Kitab Suci baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, tidak netral. Allah selalu
berpihak, yaitu berpihak kepada orang miskin dan menderita. Kisah tentang persoalan atau
perjuangan keadilan sosial tersebar di dalam Alkitab. Di dalam Perjanjian Lama itulah pewartaan
para nabi: Nabi-nabi sebelum pembuangan, seperti Amos, Yesaya, Mikha, Hosea, Zefaya dan
Habakuk; nabi-nabi Masa Pembuangan, seperti, Yeremia, Yehezkiel, Deutero Yesaya; dan nabi-nabi
sesudah Pembuangan, seperti Yesaya, Zakaria dan Maleakhi.1
Perjanjian Lama menampakkan situasi penindasan atas Israel oleh bangsa-bangsa lain, dan juga, di
antara kaum Israel sendiri, penindasan atas orang miskin oleh orang kaya dan orang berkuasa.
Penindasan yang dimaksud adalah suatu penyalahgunaan kekuasaan serta penggunaan kekerasan
1
Herman Hendriks CICM, Keadilan Sosial dalam Kitab Suci, Yogyakarta: Kanisius, 1990, hlm. 43.
untuk memaksakan kehendak, atau dalam bahasa yang lebih umum, perbuatan kasar dari si kuat
terhadap si lemah.
Para nabi itu secara kasar mencela segala bentuk penindasan dan ketidakadilan, kecurangankecurangan, monopoli tanah, penyuapan terhadap hakim-hakim. Namun kebanyakan perjuangan
para nabi itu gagal untuk memberi dampak yang sungguh-sungguh atas masyarakat zamannya.
Mengapa perjuangan para nabi itu gagal? Karena mereka dipandang oleh penguasa sebagai
pemberontak terhadap status quo politik, sosial, ekonomi, dan agama zamannya. Mereka tidak
dianggap pejuang melainkan musuh bangsa, pengacau bangsa. Baru setelah pembuangan ke Babel,
nabi-nabi memperoleh pengakuan. Malapetaka pembuangan itu menunjukkan bahwa nabi-nabi
benar, dan bahwa istana raja, para pemimpin militer, kalangan atas, dan kalangan agama, salah.
Sekarang bangsa yang terhina itu berbalik kepada nabi-nabi untuk mencari harapan serta tuntunan.2
Bagaimana dengan Yesus? Ada banyak kutipan dalam Perjanjian Baru, seperti Injil Markus, Matius,
dan terutama Lukas dan Kisah Para Rasul, tentang orang miskin dan menderita. Lukas dikenal
sebagai “penginjil kaum miskin”. Dalam bahasa sosiologi, Injil Lukas adalah Injil sosial.3 Cintakasih
Allah terhadap orang kecil dan miskin adalah salah satu ciri inti dalam pewartaan Yesus. Allah
mencintai semua orang, terlebih mereka yang kecil, miskin dan lemah. Cintakasih itu tidak lepas dari
kenyataan bahwa orang kecil dan miskin itu senantiasa menjadi korban para penguasa dan orang
kaya (Lk 1: 51-54).
Yesus merasa secara khusus diutus kepada orang melarat, tahanan dan sakit itu. Perutusan itu
terwujud secara nyata dalam seluruh hidupNya, baik dalam pewartaan maupun dalam karyaNya.
Kotbah di Bukit (Lk 6: 20-26), perumpamaan tentang Lazarus (Lk 16: 19-23) adalah contoh jelas
bahwa Yesus memihak orang melarat dan tidak enggan menyebut celaka bagi orang kaya.
Begitu pula mujizat Yesus terutama ditujukan kepada orang menderita, tetapi tidak pernah dilakukan
sebagai tanda bukti bagi para penguasa. Untuk membela kepentingan rakyat kecil, Yesus mencela
golongan yang kaya dengan perkataan yang keras dan kasar sekali (Lk 11: 37-53). Kalau orang yang
menderita membutuhkan pertolonganNya, Yesus tidak peduli akan aturan dan pendapat para
pemuka agama, dan menangkis kecaman mereka dengan tegas (Lk 6: 6-16).
Ajaran Vatikan II tentang Orang Miskin
Dalam kotbah Pembukaan Konsili Vatikan II, pada 12 Oktober 1962, Paus Yohanes XXIII
menyinggung tentang Gereja Orang Miskin, meskipun kemudian tema kemiskinan atau masalah
orang miskin tidak menjadi tema sentral konsili. Perspektif kristologis dari Gereja Orang Miskin dan
semangat kemiskinan dikemukakan di dalam Lumen Gentium, artikel 8, tentang Gereja miskin, dan
Lumen Gentium, artikel 42, tentang semangat kemiskinan. Kemudian di dalam Gaudium et Spes konsili
mengajak murid-murid Kristus untuk ikut serta dalam suka dan duka masyarakat, terutama yang
miskin dan terlantar. Namun semangat dasar Konstitusi Pastoral tentang Gereja dalam Dunia
Moderen ini bukan tentang kepedulian terhadap orang miskin melainkan mengenai pengakuan
otonomi dunia, dan dalam konteks itulah ia menanggapi soal kemiskinan.
Artikel 8 ini dibuka dengan pembicaraan tentang eklesiologi, yakni pembicaraan tentang hakikat
Gereja yang sekaligus kelihatan dan tak kelihatan, yang kemudian dilanjutkan secara berturut-turut
2
Ibid., hlm. 43-44.
3
Ibid., hlm. 91.
tentang tiga gagasan yang menggambarkan kondisi riil Gereja yang dihidupi oleh manusia dengan
segala keterbatasannya, yakni: miskin, berdosa dan menderita. Jadi Gereja yang dihidupi oleh
manusia konkret adalah Gereja yang memiliki keterbatasan. Dan ada tiga ciri yang menggambarkan
keterbatasan itu, yakni “Gereja Miskin”, “Gereja Berdoa”, dan “Gereja Mengembara”.
Tentang Gereja Miskin: Konsili di sini mengajarkan bahwa Gereja itu harus serupa dengan Kristus,
dan Kristus itu miskin, maka Gereja juga harus miskin: “Seperti Kristus melaksanakan karya
keselamatan dalam kemiskinan dan penganiayaan, begitupn Gereja”. Jadi, Gereja sendiri harus hidup
miskin seperti Kristus, dan Gereja harus mengikuti kepalanya dalam perhatian dan cintakasihNya
terhadap orang miskin. Kemiskinan Kristus adalah tanda cintakasihNya terhadap manusia. Sikap ini
harus merupakan sikap Gereja pula. Dan kemiskinan Gereja pertama-tama adalah rasa solidernya
dengan orang miskin. Tanda bahwa Gereja adalah Gereja Kristus kalau pewartaan Gereja itu
berpusat pada orang miskin dan kecil. Kemiskinan Gereja berarti Gereja bersama dengan Kristus
menyatukan diri dengan orang miskin yang oleh Kristus disebut “saudaraKu”.4
Ajaran Sosial Gereja tentang Orang Miskin
Berikut ini dapat digambarkan secara sepintas ensiklik-ensiklik dan surat apostolik yang berbicara
tentang kemiskinan. Karena Ajaran Sosial Gereja mempunyai keprihatinan tertentu yang muncul
dalam konteks zamannya sebagai tanggapan Gereja atas persoalan itu, maka ada perkembangan atau
pergeseran ajaran sosial Gereja dari waktu ke waktu.
Rerum Novarum (1891), ensiklik pertama tentang Ajaran Sosial Gereja, untuk pertama kali secara
resmi Gereja mendekati persoalan buruh secara struktural, artinya sebagai masalah keadilan sosial.
Masalah buruh tidak lagi dipandang sebagai masalah individual si pemilik perusahaan berhubungan
dengan buruhnya. Sejak itu disadari bahwa kemiskinan buruh diangkat ke ranah sosial, sehingga
penanganannya tidak cukup dengan tindakan karitatif saja.
Cara pandang struktural ini kemudian dikemukakan lagi dalam Ensiklik Quadragesimo Anno (1931).
Ajaran sosial terpenting dari ensiklik ini adalah untuk pertama dalam Gereja Katolik menetapkan
prinsip solidaritas dan prinsip subsidiaritas. Kedua prinsip ini untuk mengatur struktur masyarkat
demi mengatasi permusuhan kelas. Tanpa solidaritas dan subsidiaritas, yang lemah selalu kalah.
Sedangkan dalam Ensiklik Mater et Magistra (1961) untuk pertama kali dalam ajaran sosial Gereja
dibicarakan masalah kemiskinan dari negara-negara berkembang, yaitu negara-negara yang
membutuhkan bantuan. Setahun kemudian Yohanes XXIII mengeluarkan Ensiklik Pacem in Terris
(1962) menghubungkan masalah kemiskinan dan ketidakadilan dengan perdamaian. Perdamaian
hanya bisa dicapai kalau tidak ada kemiskinan atau ketidakadilan. Kalau mau damai hapus
kemiskinan dan ketidakadilan.
Lalu Paus Paulus VI mengeluarkan Populorum Progressio (1967), ensiklik mengenai ajaran sosial
pertama yang sepenuhnya berbicara tentang perkembangan bangsa-bangsa serta mengenai hubungan
antara negara kaya dan negara miskin. Sedangkan dalam Octogesima Adveniens (1971) Paus Paulus VI
membuka kepincangan-kepincangan antara negara kaya dan negara miskin. Ia juga membicarakan
diskriminasi rasial dan alienasi oleh konsumerisme.
4
Dr. T. Jacobs, Konstitusi Dogmatis “Lumen Gentium” Mengenai Gereja. Terjemahan, Introduksi, Komentar, Jilid I,
Yogyakarta: Kanisius, 1970, hlm. 209-213.
Pada tahun yang sama Paus Paulus VI mengeluarkan dokumen De Iustitia in Mundo, yang berbicara
tentang penegakan keadilan sebagai dimensi konstitutif pewartaan Injil. Pewartaan Injil tanpa usaha
menegakkan keadilan bukanlah pewartaan Injil yang sungguh-sungguh. Dalam nada yang sama Paus
menulis Surat Apsotolik Evangelii Nuntiandi (1975), bahwa pewartaan Injil baru sebuah pewartaan
Injil yang utuh bila memperhatikan timbal balik antara Injil dan kehidupan konkret manusia.
Pewartaan Injil tidak boleh mengabaikan masalah-masalah keadilan, pembebasan dan perdamaian di
dalam dunia.
Kemudian Yohanes Paulus II mengeluarkan Ensiklik Laborem Exercens (1981) mengenai pekerjaan
manusia. Martabat manusia pekerja sangat dijunjung tinggi. Ia mendesak perubahan radikal yang
membela orang-orang tak berdaya berhadapan dengan orang-orang atau kelompok-kelompok
berkuasa. Kerangka ajaran ini kemudian dilanjutkan dalam Ensiklik Sollicitudo Rei Socialis (1987), yang
sangat menekankan perlunya perubahan struktur-struktur dan mekanisme-mekanisme yang tidak
adil, serta perlunya solidaritas global. Paus di sini menekankan bahwa Gereja dipanggil untuk
membela orang miskin, Gereja harus berdiri di pihak orang miskin.
Sedangkan dalam Centesimus Annus (1991), Yohanes Paulus II mengemukakan kembali prinsip
perhatian khusus bagi orang miskin, dengan beberapa nada baru, seperti: penilaian yang agak positif
tentang ekonomi sistem pasar, ekonomi persaingan bebas dan ekonomi internasional yang liberal.
Namun Paus tetap menekankan bahwa negara tetap harus berperan untuk mengatur sistem ekonomi
pasar demi tidak mengorbankan orang msikin dan kecil.
Tanggapan Gereja
Gereja Karitatif
Bentuk yang paling tua tanggapan terhadap orang miskin dan menderita adalah tindakan cintakasih
(caritas) berupa memberi derma, pakaian dan makan, melayani orang sakit dan yatim-piatu.
Singkatnya, memberikan barang dan jasa yang dibutuhkan oleh yang berkekurangan guna
mengurangi penderitaan mereka.
Karya karitatif bisa dalam dua model, yakni karya karitatif individual dan karya karitatif institusional.
Karya karitatif individual adalah tindakan amal secara perorangan, seperti umumnya dilakukan oleh
orang-orang kaya, dan jangan lupa, juga dilakukan oleh orang-orang berkuasa. Sedangkan karya
karitatif institusional itulah yang dilakukan oleh lembaga-lembaga bantuan, baik itu miliki Gereja
maupun milik masyarakat.
Karya amal itu sesuatu yang sangat nyata, jadi sesuatu yang positif. Akan tetapi Gereja karitatif ini
tidak tanpa masalah, atau tidak tanpa kritik. Masalahnya, apakah Gereja selalu memiliki secara
memadai barang-barang untuk didermakan kepada orang miskin dan menderita. Masalah berikutnya,
dan itulah kritik terhadap model pendekatan karitatif ini, orang miskin dan kecil yang menderita itu
langsung kita pandang sebagai “objek”, meski objek kebaikan. Orang kecil dan miskin itu sebagai
objek kebaikan kita, sebagai objek belaskasihan kita. Jadi, kita sudah menempatkan mereka sebagai
orang di luar, sebagai bukan orang kita. Kita tidak sanggup lagi menerima mereka sebagai “subjek”,
sebagai saudara kita.5
5
Franz Magnis Suseno, Beriman dalam Masyarakat. Butir-butir Teologi Kontekstual, Yogyakarta: Kanisius, 1993,
hlm. 29.
Penderma, yang pada umumnya adalah orang kaya dan orang berkuasa, membanggakan diri karena
telah berbuat baik bagi orang miskin, dan karenanya ia dihormati oleh masyarakat. Pendekatan karya
amal ini memang mudah tergelincir kepada kesombongan sosial. Penderma memberikan
sumbangan sering didamping oleh media untuk diwartakan, supaya diketahui oleh banyak orang
bahwa mereka telah berbuat baik bagi sesama.
Tentu kita tidak menghapus model pendekatan karya amal ini. Karena bagaimanapun tindakan
karitatif ini adalah model pelayanan tertua dalam Gereja. Dalam kondisi tertentu, misalnya, bencana
alam, kita masih membutuhkan “dapur umum”. Jadi, kita tetap pertahankan karya karitatif itu, hanya
perlu dengan hati-hati, agar kita tidak tergelincir pada kesombongan sosial, yang juga sudah dikritik
oleh Yesus.
Gereja Solider
Bentuk tanggapan Gereja yang kedua dalam sejarah pelayanan Gereja terhadap yang menderita
miskin dan sakit adalah solidaritas. Mengikuti Yesus berarti mengikuti sikap Yesus dan terutama
sikap Allah sendiri, yang bersolider dengan manusia yang menderita dan berdosa. Salah satu sikap
Yesus yang mencolok adalah solidaritas-Nya terhadap semua orang, terutama mereka yang sakit dan
menderita, dengan pendosa, dengan mereka yang lapar, bahkan Ia solider sampai mati di kayu salib.
Kekhasan solidaritas kristiani adalah bahwa kesetiakawanan itu kelihatan dalam sikap kita
berhadapan dengan orang kecil yang miskin dan lemah, dan bukan dalam sikap kita terhadap orang
kaya dan orang berkuasa. Mengapa setiakawan dengan orang kaya atau berkuasa bukan solidaritas
yang diharapkan Yesus? Menurut Yesus, solidaritas yang sebenarnya kelihatan dimana kita tidak
dapat mengharapkan balasan dari kebaikan kita itu. Sedangkan kesetiakawanan kita dengan orang
kaya atau berkuasa selalu terbuka kemungkinan adanya balasan.
Sikap ini sesuai dengan pesan Injil yakni bahwa Allah tidak netral melainkan berpihak. Tetapi
mengapa Allah berpihak kepada orang miskin dan bukan orang kaya atau orang berkuasa?
Jawabannya, bukan karena orang miskin memiliki sifat-sifat yang istimewa. Allah berada di pihak
kaum miskin sebab mereka adalah orang yang tak berdaya dan tak seorang pun yang membela
mereka. Karena itu, keberpihakan kita kepada orang miskin diambil tidak berdasarkan suatu
gembaran ideal mengenai orang miskin, seakan-akan pada mereka akan kita temukan segala
kebajikan yang kita tidak temukan pada orang kaya dan orang berkuasa, melainkan karena kita
konsekuen pada komitmen kita dengan Allah sendiri yang berpihak orang miskin.
Gereja Profetis
Solidaritas itu harus dimiliki oleh setiap pengikut Kristus. Akan tetapi keprihatinan atau solidaritas
itu bersifat mendua. Di satu pihak sikap solidaritas memang merupakan dasar segenap perjuangan
demi keadilan yang berorientasi pada manusia konkret. Di lain pihak sikap solidaritas itu tidak
memadai karena bersifat sepihak dan tidak menghapus sebabnya, yakni ketergantungan. Berprihatin
dapat menjadi kedok untuk mengelak dari apa yang harus dituntut dari kita, yakni membebaskan
mereka yang menderita miskin, mengakui hak mereka yang lemah, dan melepaskan kekuasaan kita
atas mereka.
Kalau kita hanya sampai pada sikap “karitatif” dan “solider”, maka itu berarti kita masih
memandang bahwa kemiskinan dan penderitaan orang-orang kecil itu sebagai fakta alamiah, sebagai
nasib, dan bukan sebagai akibat dari struktur sosial yang tidak adil. Karitas dan solidaritas tetap kita
pertahankan dan jalankan, namun harus dilengkapi dengan sikap “profetis”. Gereja harus berani
membongkar ketidakadilan struktur-struktur masyarakat yang menyebabkan adanya kemiskinan, atau
boleh juga kita sebut pemiskinan.
Sikap profetis di sini ada dua model: “profetis kritis” dan “profetis kreatif”. Profetis kritis, itu berarti,
Gereja mengeritik atau membongkar sampai ke akarnya struktur sosial yang tidak adil yang
menyebabkan kemiskinan atau pemiskinan itu. Sedangkan profetis kreatif, itu berarti, Gereja
melibatkan diri secara konkret mengambil tindakan mengatasi keadaan itu, misalnya, dengan
membangun pertanian dan peternakan. Gereja membangun di sini sebenarnya juga sebuah kritik
kepada pemerintah, karena sesungguhnya pemerintahlah yang melakukan pembangunan itu. Dengan
kata lain, harus dihindari bahaya mengeritik melulu, tanpa usulan positif yang lebih baik. Pendekatan
profetis kreatif ini juga akan lebih meyakinkan daripada hanya kritik.
Penutup
Kerinduan untuk mengikuti Kristus dan mencari serta menemukan Allah, hanyalah otentik kalau
diwujudkan dalam keterlibatan cinta mendahulukan orang miskin dan menderita. Akan tetapi
perwujudan tanggung jawab sosial itu, baik dijalankan secara pribadi maupun secara institusional,
selalu berhadapan dengan kenyataan, yang bisa kita sebut dosa sosial atau struktur-struktur dosa.
Menurut amanat aspostolik Yohanes Paulus II (1984), Reconciliatio et paenitentia”, dosa sosial itu
berarti: pertama, menunjuk pengaruh sosial atas dosa, sebagai akibat solidaritas manusiawi kena dan
mempengaruhi orang lain; kedua, dosa-dosa yang melawan sesama, seperti dosa-dosa melawan
keadilan yang dilakukan oleh individu melawan komunitas maupun oleh komunitas melawan
individu; ketiga, melawan rencana Allah berkaitan dengan struktur-struktur sosial. Dalam arti terakhir
ini dosa tertanam dalam struktur-struktur kehidupan masyarakat.
Maka dari itu, dosa sosial itu menciptakan lingkungan yang memungkinkan dosa personal
dipermudah dan dianggap wajar. Di sini ada hubungan timbal balik antara dosa pribadi dan dosa
sosial, dosa pribadi memperkuat struktur dosa dan struktur dosa menyeret dosa pribadi. Strukturstruktur itu adalah kenyataan konkret, yang meskipun semula berakar pada dosa pribadi, namun
pada gilirannya mempunai kekuatan sendiri. Artinya, pada gilirannya kekuatan-kekuatan dosa yang
terwujud dalam struktur sosial tersebut menjadi sulit dibasmi, juga kalau individu-individu
menghendakinya.
Menurut Yohanes Paulus II, struktur-struktur dosa itu hanya bisa dihadapi dengan tindakan
bersama, yakni solidaritas. Dan perwujudan solidaritas itu berbeda-beda menurut posisi sosial setiap
orang beriman. Misalnya: (1) Bagi orang berkuasa, solidaritas adalah perubahan sikap hati mereka
untuk menolak kehausan akan kuasa dan membuat kebijakan politik yang mencakupi kepentingan
semua masyarakat. (2) Bagi orang kaya, solidaritas adalah perubahan sikap untuk melawan
keserakahan keuntungan dan melibatkan diri pada penciptaan kebaikan bersama. (3) Bagi orang
miskin sendiri, solidaritas adalah tekad mereka bersama untuk menuntut hak-hak mereka secara
legitim.
Adapun tantangan terhadap solidaritas saat ini adalah konsumerisme. Mengapa konsumerisme
sebagai tantangan solidaritas dengan orang miskin? Karena sesungguhnya konsumerisme itu suatu
sikap yang tidak wajar secara sosial. Konsumerisme adalah sikap orang yang terdorong untuk terusmenerus menambahkan tingkat konsumsi, bukan karena konsumsi itu dibutuhkan melainkan lebih
demi status sosial. Jadi, konsumerisme adalah sebuah hedonisme. Dan budaya hedonistik itu dapat
mengkorupsikan tatanan sosial. Karena untuk memenuhi keinginan itu orang akan berusaha dengan
berbagai jalan, entah pantas atau tidak pantas secara moral, untuk mencapai uang dan barang-barang
mewah secara banyak-banyaknya. Tatanan sosial ekonomi pun rusak.
Karena dosa pribadi dan struktur dosa mempunyai hubungan timbal balik, maka pertobatan pribadi
dan pertobatan sosial diperlukan agar perubahan struktur demi kemajuan masyarakat bisa tercipta.
Pertobatan pribadi mempunayi pengaruh sosial dan dapat menggerakkan pertobatan komunal. Pada
gilirannya pertobatan pribadi-pribadi dan pertobatan komunal diharapkan dapat mewujud dalam
tindakan atau gerakan sosial yang bersifat struktural untuk mengubah struktur-struktur yang
menindas.*
Kupang, 10 Oktober 2014
Norbertus Jegalus
Dilahirkan di Manggarai, 23 Juni 1962: Menamatkan SDK di Manggarai; SMP dan SMA di Seminari
Kisol, Manggarai; Studi Filsafat/Teologi di STFK Ledalero, Maumere dan meraih Sarjana Filsafat
1989; menjadi Staf Pengajar Seminari Kisol, 1989-1990; kemudian sebagai Awam menjadi Asisten
Dosen Teologi Dogmatik pada STFK Ledalero di bawah bimbingan Dr. Georg Kirchberger, SVD,
sambil menerjemahkan dari Inggris dan Jerman bahan-bahan teologi untuk kebutuhan perkuliahan di
STFK Ledalero, 1990-1991, dan satu semester mengajar teologi pada Institut Pastoral Indonesia
Filial Dili (1991); sejak berdiri Seminari Tinggi St. Michael, Penfui-Kupang (Fakultas Filsafat Agama,
Unwira Kupang) pada 1991, menjadi dosen filsafat sampai saat ini. Menerima beasiswa KAAD
(Lembaga Beasiswa Konferensi Para Uskup Jerman untuk Kaderisasi Awam Katolik) untuk melanjutkan studi
program MA (Magister Artium) dalam bidang Filsafat Politik pada Institut für Gesellschaftspolitik,
Hochschule für Philosophie, SJ, München (2000), dan Dr.phil. (Doctor philiosophiae) juga dalam
bidang Filsafat Politik, pada Geschwister-Scholl Intsitut für Politische Wissenschaft, Ludwig-MaximiliansUniversität, München, Jerman (2008).
Download