perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id commit to user BAB I

advertisement
1
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Indonesia
merupakan
negara
kepulauan
yang
menyebabkan
ketidakmerataan distribusi energi listrik, sehingga masih banyak daerah belum
mendapatkan pasokan listrik. Usaha pemerintah dalam pemecahan masalah
tersebut adalah melalui program penyediaan 10 GW listrik pada tahun 2010
dengan berbagai macam cara terutama pendirian pembangkit listrik berbahan
bakar batubara. Tetapi cadangan bahan bakar batubara tersebut semakin
menipis sehingga diperlukan pemecahan salah satunya dengan substitusi
sumber energi fosil (misalnya: batubara) dengan sumber energi terbarukan
khususnya biomassa, tenaga air dan tenaga angin. Salah satu contoh
pemanfaatan biomassa sebagai sumber energi terbarukan adalah dengan
mengolah limbah cair pabrik kelapa sawit menjadi biometana yang dapat
digunakan untuk bahan bakar pembangkit listrik menggantikan batu bara dan
gas alam (Affandi, 2008).
Selain itu, penggunaan bahan bakar minyak bumi selama ini
menyebabkan tingginya tingkat pencemaran lingkungan melalui emisi yang
dihasilkan, seperti CO2, NOx, SOx, dll. Hal ini terkait langsung dengan isu
dunia mengenai pemanasan global sebagai akibat dari efek rumah kaca.
Untuk itu, diversifikasi dan penguasaan teknologi merupakan yang faktor
penting disamping kesadaran akan kelestarian lingkungan (Witono, 2009).
commit to user
2
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
Biogas adalah gas produk akhir pencernaan atau degradasi anaerobik
bahan-bahan organik oleh bakteri-bakteri anaerobik dalam lingkungan bebas
oksigen atau udara. Salah satu bahan organik yang dapat difermentasi
menjadi biogas adalah Limbah Cair Kelapa Sawit (POME). Komponen
terbesar (penyusun utama) biogas dari POME adalah metana (CH4, 54 – 70
%-vol), karbon dioksida (CO2, 31 – 46 %-vol), dan sebagian kecil H2S (6702500ppmv) (Tong & Jaafar, 2005).
Produksi biometana dengan bahan limbah cair pabrik kelapa sawit
memberikan berbagai keuntungan diantaranya pengurangan jumlah bahan
organik yang menjadi indikator pencemaran lingkungan, serta mengurangi
kandungan racun dalam limbah.
Selama ini biometana hanya dikenal sebagai bahan bakar untuk
keperluan rumah tangga khususnya memasak saja. Padahal biometana juga
bisa dimanfaatkan sebagai sumber energi pembangkit listrik. Kebutuhan
biometana akan semakin meningkat seiring dengan konsumsi listrik di
Indonesia yang setiap tahunnya terus meningkat karena
pertumbuhan ekonomi nasional. Oleh
biomethana
sangat
diperlukan
karena
untuk
itu
peningkatan
pendirian
pabrik
memenuhi sebagian besar
kebutuhan listrik industri dan sebagai sumber energi yang diharapkan dapat
membuka lapangan kerja baru. Listrik yang dihasilkan selain bisa digunakan
untuk kepentingan industri juga bisa digunakan untuk listrik rumah tangga
karena sebagian besar listrik rumah tangga di sekitar pabrik kelapa sawit
masih disuplai dari generator dengan bahan bakar solar.
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
3
digilib.uns.ac.id
1.2 Kapasitas Pabrik
Dalam pemilihan kapasitas pabrik biometana ada pertimbangan yang
perlu diperhatikan yaitu ketersediaan bahan baku yang berupa limbah cair
pabrik kelapa sawit. Limbah cair ini diperoleh dari hasil pengolahan kelapa
sawit PT Perkebunan Nusantara VIII (PTPN VIII), pabrik kelapa sawit (PKS)
Kertajaya, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten yang merupakan salah satu
sentra pengembangan kelapa sawit nasional di Indonesia. Pada tahun 2013
PTPN VIII PKS Kertajaya mengolah Tandan Buah Segar kelapa sawit
sebanyak 80 tonTBS/jam (www.industri.kontan.co.id). Kapasitas pabrik
pengolahan limbah cair kelapa sawit yang pernah ada di Indonesia untuk
produksi listrik sebesar 45 ton TBS/jam di PTPN V Tandun, Riau
(www.riaupos.co.id).
Untuk 1 TBS kelapa sawit dapat dihasilkan sekitar 0,56 m3 Limbah Cair
Kelapa Sawit (LCKS). Sedangkan dari 1 m3 LCKS dapat dihasilkan 28,3 m3
biogas dengan kandungan metana sebesar 62,5% (Tong & Jaafar, 2005).
Dengan mempertimbangkan faktor - faktor diatas pabrik Biometana
direncanakan hanya mengolah POME dari hasil pengolahan 45 ton TBS/jam,
dengan kebutuhan bahan baku Limbah Cair Kelapa Sawit dari PTPN VIII
PKS Kertajaya sebesar 25,2 m3/jam sehingga di dapatkan kapasitas pabrik
Biometana sebesar 3.530.000 Nm3/tahun.
1.3 Lokasi Pabrik
Penentuan lokasi pabrik sangat menentukan kemajuan dan
to user
kelangsungan dari industri, commit
baik pada
masa sekarang maupun pada masa
4
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
yang akan datang karena hal ini berpengaruh terhadap faktor produksi dan
distribusi dari pabrik yang didirikan. Pemilihan yang tepat mengenai lokasi
pabrik harus memberikan suatu perhitungan biaya produksi dan distribusi
yang minimal serta pertimbangan sosiologi, yaitu pertimbangan dalam
mempelajari sikap dan sifat masyarakat di sekitar lokasi pabrik.
Berdasarkan
faktor-faktor tersebut
maka pabrik
pembuatan
biometana sebagai sumber energi listrik ini direncanakan berlokasi di
Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Dasar pertimbangan dalam pemilihan
lokasi pabrik ini adalah:
a. Bahan Baku
Suatu pabrik sebaiknya berada di daerah yang dekat dengan sumber
bahan baku. Bahan baku berupa POME direncanakan diperoleh dari
pabrik kelapa sawit milik PTPN VIII PKS Kertajaya di Kabupaten Lebak,
Propinsi Banten yang menghasilkan POME sebanyak 44,8 m3/jam.
Kebutuhan POME untuk pabrik biometana ini sebanyak 25,2 m3/jam
sehingga dapat tercukupi.
b. Transportasi Bahan Baku
Lokasi yang dipilih dalam rencana pendirian pabrik ini merupakan
kawasan perkebunan kelapa sawit dan bersebelahan dengan pabrik kelapa
sawit, sehingga distribusi bahan baku dapat berjalan dengan lancar yaitu
dengan menggunakan pompa yang akan terhubung dengan pabrik
pengolahan limbah cair kelapa sawit.
commit to user
5
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
c. Kebutuhan Tenaga Listrik dan Bahan Bakar
Dalam pendirian suatu pabrik, tenaga listrik dan bahan bakar adalah
faktor penunjang yang paling penting. Kebutuhan tenaga listrik untuk
operasi awal pabrik dapat diperoleh dari Perusahaan Listrik Negara
(PLN) wilayah Banten. Sedangkan untuk seterusnya pabrik akan
menggunakan listrik yang akan dihasilkan sendiri.
d. Kebutuhan air
Air merupakan kebutuhan penting bagi suatu pabrik kimia, baik
untuk keperluan proses maupun untuk keperluan lainnya. Sumber air
proses dapat diperoleh dengan mengambil air dari sungai Ciujung di
dekat PKS Kertajaya.
e. Tenaga Kerja
Tenaga kerja merupakan modal untuk pendirian suatu pabrik.
Dengan ditambahnya plant di PTPN VIII diharapkan dapat menyerap
tenaga kerja potensial yang cukup banyak di daerah tersebut. Tenaga
kerja di daerah ini meliputi tenaga kerja terdidik maupun tidak terdidik
serta tenaga kerja terlatih maupun tidak terlatih.
f. Pemasaran Produk
Biometana yang dihasilkan akan digunakan sebagai bahan bakar
pembangkit listrik. Tabel 1.1 memperlihatkan proyeksi kenaikan
kebutuhan listrik di Jawa dan Sumatera. Dengan pertimbangan tersebut
pabrik biometana lebih menjanjikan untuk didirikan di Pulau Jawa.
commit to user
6
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
Tabel 1.1 Proyeksi Kebutuhan Listrik di Pulau Jawa dan Lainnya
Tahun
Sektor Industri (TWh)
Sektor Rumah Tangga (TWh)
Pulau Jawa
Pulau Sumatera
Pulau Jawa
Pulau Sumatera
2014
145
29
50
12
2015
150
30
55
14
2016
160
34
60
16
2017
170
36
70
17
2018
180
39
80
19
(Muchlis & Permana, 2004)
Berikut peta lokasi pendirian pabrik :
Lokasi Pabrik Biomethana
PKS Kertajaya
Gambar 1.1commit
Lokasi to
Pabrik
user Biometana
7
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
1.4
Tinjauan Pustaka
1.4.1
Limbah cair
Limbah cair yang dihasilkan oleh Pabrik Minyak Kelapa Sawit
(PMKS) berasal dari air kondensat pada proses sterilisasi, air dari proses
klarifikasi, air hydrocyclone, dan air pencucian. Jumlah air pembuangan
tergantung pada system pengolahan, kapasitas olah pabrik dan keadaan
peralatan klarifikasi. Limbah cair PMKS mengandung bahan organik yang
relatif tinggi dan tidak bersifat toksik karena tidak menggunakan bahan
kimia dalam proses ekstraksi minyak (Subdit Pengelolaan Lingkungan
Direktorat Pengolahan Hasil Pertanian DITJEN PPHP, 2006)
Tabel 1.2 Karakteristik Limbah Cair Pabrik Kelapa Sawit
Parameter
Nilai
pH
4,5
Suhu (oC)
55
BOD (g/l)
25
COD (g/l)
56,635
Minyak (g/l)
4,330
Total Suspended Solid/ C50H90O6(g/l)
Air (% wt)
19,610
95,5
(Arthur & Glover, 2012)
commit to user
8
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
Tabel 1.3 Komposisi Fatty Acid Limbah Cair Pabrik Kelapa Sawit
Fatty Acid
% massa
Capric acid
4,29
Lauric acid
9,22
Myristic acid
12,66
Palmitic acid
29,38
Heptadecanoid acid
1,39
10-heptadecanoic acid
1,12
Stearic acid
11,41
Oleic acid
8,54
Lenoleic acid
4,72
Linolenic acid
4,72
Arachidic acid
7,56
Eicosatrienoic acid
1,49
Arachidonic acid
1,12
Eicosapentaeonic acid
0,36
Behenic acid
2,62
(Ahmad et al., 2011)
1.4.2
Biometana
Biometana merupakan biogas dengan kadar metana (CH4) yang
tinggi, sedangkan karbondioksida (CO2) terdapat dalam jumlah yang
sedikit. Biogas didapat dari hasil penguraian material organik seperti
kotoran hewan, kotorancommit
manusia,
tumbuhan oleh bakteri pengurai
to user
perpustakaan.uns.ac.id
9
digilib.uns.ac.id
metanogen pada sebuah biodigester. Proses penguraian material organik
terjadi secara anaerob (tanpa oksigen). Sedangkan untuk mendapatkan
biometana perlu dilakukan proses pemurnian.
Bakteri yang berperan dalam pembentukan biogas adalah bakteri
pendegradasi, bakteri pembentuk asam, bakteri asetogen dan bakteri
pembentuk gas metana. Bakteri pendegradasi terdiri atas bakteri
selulolitik, bakteri proteolitik, dan lipolitik. Bakteri-bakteri ini akan
mengubah protein, selulosa, dan lemak menjadi asam amino, glukosa, dan
asam lemak. Bakteri pembentuk asam akan berperan dalam fermentasi
hasil hidrolisis menjadi asam-asam lemak volatil, seperti asam butirat,
propionat, laktat, asetat, dan alkohol. Bakteri asetogen berperan dalam
mengoksidasi hasil fermentasi asam menjadi asam asetat, CO2, dan
hidrogen yang menjadi substrat bakteri metana. Bakteri pembentuk gas
metana berperan dalam merombak asam asetat menjadi metan dan CO2
oleh kelompok bakteri metanogen asetotrofik, serta hidrogen dan CO2
menjadi metana dan air oleh kelompok bakteri metanogen hidrogenotrofik
(Fitria, 2011).
1.4.3
Langkah-Langkah Pembentukan Biogas
Secara umum, langkah-langkah pembentukan biogas ada 3 yaitu :
1. Hidrolisis
Pada langkah pertama, bahan organik secara enzimatis diuraikan
oleh enzim ekstraselular (selulosa, amilase, proteinase, dan lipase)
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
10
digilib.uns.ac.id
mikroorganisme. Bakteri mendekomposisi rantai panjang karbohidrat,
protein dan lemak menjadi bagian yang lebih pendek. Sebagai contoh,
polisakarida diubah menjadi monosakarida. Protein dibagi menjadi
peptida dan asam amino.
2. Asidogenesis
Pada tahap ini produk yang telah dihidrolisa dikonversikan
menjadi asam lemak volatil, alkohol, aldehid, keton, amonia,
karbondioksida, air dan hidrogen oleh bakteri pembentuk asam. Asam
– asam organik yang terbentuk adalah asam asetat, asam propionat,
asam butirat dan asam valerat.
3. Asetogenesis
Asam lemak volatil dengan empat atau lebih rantai karbon tidak
dapat digunakan secara langsung oleh metanogen. Asam-asam organik
ini dioksidasi terlebih dahulu menjadi asam asetat dan hidrogen oleh
bakteri asetogenik penghasil hidrogen melalui proses yang disebut
asetogenesis. Asetogenesis juga temasuk pada produksi asetat dari
hidrogen dan karbon dioksida oleh asetogen dan homoasetogen.
Kadang-kadang proses asidogenesis dan asetogenesis dikombinasikan
sebagai satu tahapan saja.
4. Pembentukan Metana
Pada akhirnya gas metana diproduksi dengan dua cara. Pertama
adalah mengkonversikan asetat menjadi karbon dioksida dan metana
oleh organisme asetropik dan cara lainnya adalah dengan mereduksi
commit to user
11
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
karbon dioksida dengan hidrogen oleh organisme hidrogenotropik.
Metanogen yang dominan digunakan pada reaktor biogas adalah
Methanobacterium,
Methanothermobacter,
Methanobrevibacter,
Methanosarcina, dan Methanosaeta
(Deublien & Steinhauser, 2008)
1.4.4
Parameter Fermentasi
Pada dasarnya efisiensi produksi biogas sangat dipengaruhi oleh
berbagai faktor meliputi : suhu, derajat keasaman (pH), konsentrasi asamasam lemak volatil, nutrisi (terutama nisbah karbon dan nitrogen), zat
racun, waktu retensi hidrolik, kecepatan bahan organik, dan konsentrasi
amonia.
1. Alkalinitas
Alkalinitas limbah cair dapat dihasilkan dari hidrokarbon, karbonat
(CO32-) dan bikarbonat (HCO3-) yang berikatan dengan kalsium,
magnesium, kalium dan amonia. Alkalinitas limbah cair membantu
mempertahankan pH agar tidak mudah berubah yang disebabkan oleh
penambahan
asam.
Selain
itu,
alkalinitas
juga
mempengaruhi
pengolahan zat-zat kimia dan biologi serta dibutuhkan sebagai nutrisi
bagi mikroba. Kadar alkalinitas diperoleh dengan menitrasi sampel
dengan larutan standar asam dan diperoleh hasil dalam satuan mg/L
CaCO3.
commit to user
12
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
2. pH
Konsentrasi ion-hidrogen merupakan kualitas parameter yang
penting di dalam limbah cair. pH dapat diartikan sebagai eksistensi dari
kehidupan mikroba di dalam limbah cair (biasanya bernilai 6 - 9).
Limbah cair memiliki pH yang sulit diatur karena adanya proses
pengasaman pada limbah cair.
3. Nutrisi
Nutrisi bagi pertumbuhan mikroba dalam limbah cair umumnya
adalah nitrogen dan fosfor (NP). Untuk mendapatkan sludge yang kecil
pada proses anaerobik, maka diperlukan kadar NP yang cukup. Oleh
karena itu, penambahan N dan/atau P yang dibutuhkan tergantung dari
substrat dan nilai dari SRT (Solid Retention Time). Biasanya jumlah
nutrisi yang dibutuhkan seperti NP dan sulfur (S) pada rentang 10-13, 22,6 dan 1-2 mg/100 mg limbah. Namun, agar metanogenesis yang terjadi
maksimum, konsentrasi NPK biasanya 50, 10, dan 5 mg/L. Kandungan
N dapat diperoleh dari berbagai macam senyawa, salah satunya
CO(NH2)2 (Urea).
(Deublien & Steinhauser, 2008)
1.4.5
Pengolahan Limbah Cair Kelapa Sawit (POME)
Proses pengolahan POME menjadi biogas biasanya memakai
proses fermentasi anaerob dan aerob. Fermentasi anaerob berarti selama
proses fermentasi tidak ada udara yang masuk di dalam reaktor.
Sedangkan fermentasi aerob berarti selama proses fermentasi ada udara
commit to user
13
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
yang masuk di dalam reaktor. Fermentasi anaerob dan aerob memiliki
beberapa keuntungan dan kerugian, yang ditunjukkan pada tabel 1.4 :
Tabel 1.4 Keuntungan dan Kerugian Fermentasi Anaerobik
Fermentasi Anaerob
Keuntungan
Penggunaan
rendah
Fermentasi Aerob
energi Proses relative cepat
(tidak
ada
aerasi)
Menghasilkan
produk
Kerugian
Efektif
untuk
metana menangani
(CH4) lebih banyak.
beracun
Pengolahan
Memerlukan
memerlukan
waktu yang
besar
limbah
energi
(perlu
yang lama
proses aerasi)
Start up lambat
Produk metana (CH4)
yang dihasilkan sedikit
1.4.6
Nilai Potensial Biogas
Biogas yang bebas pengotor (H2O, H2S, CO2, dan partikulat
lainnya) dan telah mencapai kualitas pipeline adalah setara dengan gas
alam. Dalam bentuk ini, gas dapat digunakan sama seperti penggunaan gas
alam. Pemanfaatannya pun telah layak sebagai bahan baku pembangkit
listrik, pemanas ruangan, dan pemanas air. Jika dikompresi, biogas dapat
menggantikan gas alam terkompresi yang digunakan pada kendaraan. Di
to userbiogas ini akan terus meningkat
Indonesia nilai potensial commit
pemanfaatan
14
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
karena adanya jumlah bahan baku biogas yang melimpah dan rasio antara
energi biogas dan energi minyak bumi yang menjanjikan. Berdasarkan
sumber Departemen Pertanian, nilai kesetaraan biogas dengan sumber
energi lain ditunjukkan pada tabel 1.5 :
Tabel 1.5 Kesetaraan Biogas dengan sumber lain
Bahan Bakar
Jumlah
Biogas
1 m3
Elpiji
0,46 kg
Minyak tanah
0,62 liter
Minyak solar
0,52 liter
Bensin
0,8 liter
Gas kota
1,5 m3
Kayu bakar
3,5 kg
Tabel 1.6 menunjukan perbandingan penggunaan biomethana dan bahan
bakar lain untuk bahan bakar pembangkit listrik.
Tabel 1.6 Konversi energi listrik biomethana dengan sumber lain
Bahan Bakar
Jumlah
Konversi ke listrik (kWh)
Biomethane (97% methane)
1 Nm3
9,67
Gas Alam
1 Nm3
11
Bensin
1 liter
9,06
Diesel
1 liter
9,8
commit to user
(Hudde, 2010)
15
perpustakaan.uns.ac.id
1.4.7
digilib.uns.ac.id
Macam – macam Proses Pembuatan Biogas
Macam – macam proses pembuatan biogas ada tiga, yaitu :
1. Proses Phsycrophillic
Proses pembuatan biogas secara Phsycrophilic berjalan pada suhu rendah
yaitu 10 oC. Bakteri yang bekerja pada proses ini ditemukan di daerah
subtropis.
2. Proses Mesophillic
Proses pembuatan biogas secara Mesophillic berlangsung pada suhu 1050oC. Bakteri yang bekerja pada proses ini ditemukan di daerah tropis.
3. Proses Thermophilic
Proses pembuatan biogas secara Thermophilic berlangsung pada suhu 5080oC. Bakteri yang bekerja pada proses ini ditemukan di daerah tambang
minyak yang berasal dari perut bumi.
(Siregar, 2009)
1.4.8
Pemilihan Proses
Proses yang dipilih dalam pembuatan biomethana pada pabrik ini adalah
proses Thermophilic. Pemilihan proses ini didasarkan pada jika sistem
tangki tertutup dan proses biologis menggunakan bakteri thermophilic
reaksi biologis akan berlangsung lebih cepat bila dibandingkan dengan
menggunakan bakteri mesophilic (Subdit Pengelolaan Lingkungan
Direktorat Pengolahan Hasil Pertanian DITJEN PPHP, 2006).
commit to user
16
perpustakaan.uns.ac.id
1.5
digilib.uns.ac.id
Kegunaan Produk
Komponen utama dari biometana adalah metana (CH4) sehingga
dapat digunakan sebagai sumber energi alternatif. Contohnya untuk bahan
bakar memasak dan pembangkit listrik. Selain itu limbah dari pembuatan
biogas dapat digunakan sebagai pupuk organik baik cair maupun padat.
1.6
Sifat Fisis dan Kimia
1.6.1
Bahan Baku
Limbah Cair Pabrik Minyak Kelapa Sawit
Karakteristik Limbah Cair Pabrik Minyak Kelapa Sawit :
Parameter
: Nilai
pH
: 4,5
Suhu (oC)
: 55
BOD (g/l)
: 25
COD (g/l)
: 56,635
Minyak (g/l)
: 4,330
Total Suspended Solid (g/l)
: 19,610
Air (%wt)
: 95,5
(Arthur & Glover, 2012)
Asumsi yang dipakai:
 Minyak yang terdapat dalam POME merupakan CPO.
 Sumber bahan organik yang terdegradasi menghasilkan metana
dianggap sebagai total suspended solid.
commit to user
17
perpustakaan.uns.ac.id
1.6.2
digilib.uns.ac.id
Produk
Karakteristik kandungan Biomethana
a. Gas Metana (CH4)
Sifat Fisis
 Berat molekul
: 16,04 g/mol
 Titik didih
: -161,4 oC
 Titik leleh
: -182,6 oC
 Suhu Swanyala
: 537 oC
(Perry, 2007)
Sifat Kimia
 Reaksi pembakaran sempurna gas metana menghasilkan gas karbon
dioksida dan uap air
CH4 + O2
CO2 + H2O
 Reaksi halogenasi gas metana menghasilkan klorometan dan HCl
CH4 + Cl2
CH3Cl + HCl
(Fessenden, 1989)
b. Gas Karbon Dioksida (CO2)
Sifat Fisis

Berat molekul
: 44,01 g/mol

Titik didih
: -78,5 oC

Titik leleh
: -56,6 oC pada 5,2 atm
(Perry,2007)
commit to user
18
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
Sifat Kimia
 Karbon dioksida bereaksi dengan natrium hidroksida membentuk
natrium karbonat
NaOH + CO2
Na2CO3 + H2O
(Vogel,1985)
1.6.3
Bahan Pembantu
1.6.3.1
Ferro Klorida (FeCl2)
Sifat Fisis
 Berat molekul
: 126,7 gr/mol
 Titik lebur
: 677 oC
 Kelarutan dalam air
: 64,4 gr/100 ml pada 10 oC
105,7 gr/100 ml pada 100 oC
 Densitas
: 3,16 gr/cm3
 Specific gravity
: 2,7
(Perry,2007)
Sifat Kimia
 Larut dalam aseton
 Tidak larut dalam etil eter
 Bahan yang korosif sehingga harus disimpan dalam ruang tertutup
 Agen flokulan dalam pengolahan air limbah buangan
(Perry,2007)
commit to user
19
perpustakaan.uns.ac.id
1.6.3.2
digilib.uns.ac.id
Natrium Hidroksida (NaOH)
Sifat Fisis
 Berat Molekul
: 40 gram/mol
 Titik didih
: 1390 oC pada tekanan 1 atm
 Titik leleh
: 318,4 oC
 Titik beku
: -85 oC
 Densitas
: 2,13 gram/mL
 Berwarna putih
(Perry,2007)
Sifat Kimia
 Mudah larut dalam air.
 Tidak larut dalam aseton.
 Higroskopis
(Perry, 2007)
1.6.3.3
Nickel (II) Chloride (NiCl2)
Sifat Fisis
 Berat molekul
: 129,599 gr/mol
 Titik lebur
: 973 OC (1.246,15 K)
 Specific gravity
: 3,544
 Kelarutan dalam air
: 87,6 g / 100 ml pada 100 C
 Berwarna padatan kuning
commit to user
(Perry,2007)
20
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
Sifat Kimia
 Tidak tahan panas karena akan terdekomposisi
 Reaktif terhadap asam
 Bahan tidak korosif
(Vogel,1985)
1.6.3.4
Cobalt (II) Chloride (CoCl2)
Sifat Fisis
 Berat molekul
: 129,839 gr/mol
 Titik lebur
: 1049 OC ( 1.322,15 K)
 Specific gravity
: 3,356
 Kelarutan dalam air
: 105 g / 100 ml pada 96 C
 Berwarna padatan biru
(Perry,2007)
Sifat Kimia
 Tidak larut dalam ammonia
 Bersifat higroskopis
 Tidak bersifat korosif
(Perry,2007)
1.6.3.5
Urea (H2NCONH2)
Sifat Fisis
 Berat molekul
: 60,07 gr/mol
 Titik lebur
: 132,7 0C
 Densitas
commit
to user
: 1,323
gr/cm3
21
perpustakaan.uns.ac.id
 Kelarutan dalam air
digilib.uns.ac.id
: 100 gr/100 ml pada 17 0C
 Tingkat keasaman (pKa) : 0,18
 Berupa padatan berwarna putih
(Perry,2007)
Sifat Kimia
 Bersifat higroskopis
 Larut dalam metanol
 Tidak korosif terhadap stainless steel 304 dan 316
(Vogel,1985)
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
commit to user
Download