BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Bangsa Indonesia

advertisement
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
Bangsa Indonesia dianugerahi kekayaan sumberdaya alam hayati (SDAH) yang
berlimpah, baik di darat, maupun di perairan. Sumberdaya alam hayati merupakan sumberdaya
yang strategis, dikuasai oleh negara untuk dikelola secara optimal dan berkelanjutan bagi
terwujudnya kesejahteraan masyarakat Indonesia yang berkesinambungan. Keanekaragaman
hayati Indonesia memang berlimpah, namun jumlahnya bukan tidak terbatas, serta rawan dari
bahaya kepunahan apabila dimanfaatkan secara berlebihan. Pemanfaatan secara berlebihan
sampai pada tahap tertentu akan dapat memusnahkan keberadaannya.
Sebagaimana yang diutarakan sebelumnya bahwa Satwa liar memiliki nilai Ekonomis
yang tinggi. Pemanfaatan sumber daya alam hayati untuk tujuan perdagangan, khususnya satwa
liar telah lama dilakukan secara fisik seperti dalam bentuk daging, kulit dan bagian-bagian lain
dari padanya yang bernilai ekonomis maupun estetika seperti atraksi dan pemeliharaan satwa liar
yang memperlihatkan keindahan fisik, suara dan karakter species satwa liar. Namun dalam
perkembangannya keberadaaan Satwa ini semakin hari semakin berkurang bahkan hampir
mendekati kepunahan.
Kepunahan dalam biologi berarti hilangnya keberadaan dari sebuah spesies atau
sekelompok takson. Waktu kepunahan sebuah spesies ditandai dengan matinya individu terakhir
spesies tersebut, walaupun kemampuan untuk berkembang biak tidak ada lagi sebelumnya 1.
Kepunahan merupakan ancaman nyata bagi berbagai makhluk hidup. Sayangnya, kepunahan
yang menimpa puluhan bahkan ratusan spesies hewan dan tumbuhan di seluruh dunia bukanlah
karena seleksi alam, di mana yang kuat yang menang. Kepunahan itu lebih karena seleksi buatan
1
Vadlybio08, 2012,Kepunahan/Dieth Species(online), http://vadlyaidianata.wordpress.com/2012/10/18/kepunahandieth-species/ (18 mei 2013)
manusia, di mana yang tak terjamah tangan manusia yang bisa bertahan hidup2. Kepunahan suatu
spesies yang menjadi mangsa atau pemangsa dalam suatu ekosistem berdampak pada
peningkatan atau penurunan jumlah populasi spesies lain. Begitu seterusnya, hingga semua
spesies musnah dan ekosistem menjadi rusak dan tidak bisa kembali seperti semula.
Ada beberapa factor yang menyebabkan terjadinya kepunahan diantaranya adalah :
1.Kerusakan Hutan
2.Perburuan Liar
3.Pertambahan Penduduk
4.Perkembangan Teknologi
5.Daya Regenerasi Yang Rendah
6.Campur Tangan Manusia
7.Bencana Alam Besar
8.Didesak Populasi Lain Yang Kuat3
1. Kerusakan Hutan
Berkurangnya luas hutan menjadi faktor penting penyebab terancam punahnya satwa liar
Indonesia, karena hutan menjadi habitat utama bagi satwa liar itu. Daratan Indonesia pada
tahun 1950-an dilaporkan sekitar 84% berupa hutan (sekitar 162 juta ha), namun kini
pemerintah menyebtukan bahwa luasan hutan Indonesia sekitar 138 juta hektar. Namun
berbagai pihak menybeutkan data yang berbeda bahwa luasan hutan Indonesia kini tidak lebih
dari 120 juta hektar.4
2
Ibid
Ibid,
4
Admin, 2012, Fakta tentang Satwa Liar di Indonesia(online), http://www.profauna.net/id/fakta-satwa-liar-diindonesia#.UI_vAFJS5Y0 (30 oktober 2012)
3
Kerusakan hutan juga berperan dalam menurunnya kenekaragaman hayati (spesies).
Betapa tidak hutan sebagai rumah bagi satwa semakin hari semakin berkurang, akibat
berkurangnya luas hutan maka mempengaruhi juga terhadap perubahan iklim. Konversi hutan
menjadi perkebunan sawit, tanaman industry dan pertambangan menjadi ancaman serius bagi
kelestarian satwa liar, termasuk satwa langka seperti orangutan, harimau sumatera, dan gajah
sumatera, dengan demikian mendorong kepunahan spesies semakin bertambah tinggi.
2. Perburuan Liar
Perburuan liar banyak dilakukan oleh masyarakat ,misalnya perburuan burung jalak
putih, karena jenis burung itu laku dijual mahal di pasar-pasar burung di kota, sehingga para
pemburu liar ini mendapat penghasilan yang cukup besar dari memperdagangkan burung itu.
Selain sebagai factor ekonomi, perburuan satwa liar itu juga sering berjalan seiring dengan
pembukaan hutan alami. Satwa liar dianggap sebagai hama oleh industri perkebunan,
sehingga di banyak tempat satwa ini dimusnahkan. Dan hal ini tentu saja menambah panjang
deretan kepunahan jenis satwa di Indonesia.
Setelah masalah habitat yang semakin menyusut secara kuantitas dan kualitas,
perdagangan satwa liar menjadi ancaman serius bagi kelestarian satwa liar Indonesia. Lebih
dari 95% satwa yang dijual di pasar adalah hasil tangkapan dari alam, bukan hasil
penangkaran. Lebih dari 20% satwa yang dijual di pasar mati akibat pengangkutan yang tidak
layak. Berbagai jenis satwa dilindungi dan terancam punah masih diperdagangkan secara
bebas di Indonesia. Semakin langka satwa tersebut makan akan semakin mahal pula
harganya5.
Sebanyak 40% satwa liar yang diperdagangkan mati akibat proses penangkapan yang
menyakitkan, pengangkutan yang tidak memadai, kandang sempit dan makanan yang kurang.
5
Ibid,
Perdagangan satwa liar itu adalah kejam! Sekitar 60% mamalia yang diperdagangkan di pasar
burung adalah jenis yang langka dan dilindungi undang-undang. Sebanyak 70% primata dan
kakatua yang dipelihara masyarakat menderita penyakit dan penyimpangan perilaku. Banyak
dari penyakit yang diderita satwa itu bisa menular ke manusia6.
3. Pertambahan Penduduk
Pertambahan penduduk adalah ancaman terbesar dari masalah lingkungan hidup di
Indonesia dan bahkan dunia saat ini. Setiap orang memerlukan energi, lahan dan sumber daya
yang besar untuk bertahan hidup. Jika populasi bisa bertahan pada taraf yang ideal, maka
keseimbangan antara lingkungan dan regenerasi populasi dapat tercapai.
4. Perkembangan Teknologi
Semakin maju perkembangan teknologi, banyak cara praktis dan mudah yang dapat
dilakukan, misalnya dalam bidang pertanian , di gunakannya pupuk kimia dan pestisida yang
semakin tak terkendali. Perkembangan teknologi yang pesat, memudahkan orang untuk
mengeksploitasi keanekaragaman hayati secara berlebihan semakin mudah dilakukan.
5. Daya Regenerasi Yang Rendah
Banyak hewan yang butuh waktu lama untuk masuk ke tahap berkembang biak, biasa
memiliki satu anak perkelahiran, butuh waktu lama untuk merawat anak, sulit untuk kawin,
anaknya sulit untuk bertahan hidup hingga dewasa, dan sebagainya.
6. Campur Tangan Manusia
Adanya manusia terkadang menjadi malapetaka bagi keseimbangan makhluk hidup di
suatu tempat. Manusia kadang untuk mendapatkan sesuatu yang berharga rela membunuh
secara membabi buta tanpa memikirkan regenerasi hewan atau tumbuhan tersebut. Gajah
6
Ibid
misalnya dibunuhi para pemburu hanya untuk diambil gadingnya, harimau untuk kulitnya,
monyet untuk dijadikan binatang peliharaan, dan lain sebagainya.Perubahan areal hutan
menjadi pemukiman, pertanian dan perkebunan juga menjadi salah satu penyebab percepatan
kepunahan spesies tertentu. Mungkin di jakarta jaman dulu terdapat banyak spesies lokal,
namun seiring terjadinya perubahan banyak spesies itu hilang atau pindah ke daerah wilayah
lain yang lebih aman.
7. Bencana Alam Besar
Adanya bencana super dahsyat seperti tumbukan meteor seperti yang terjadi ketika
jaman dinosaurus memungkinkan banyak spesies yang mati dan punah tanpa ada satu pun
yang selamat untuk meneruskan keturunan di bumi. Sama halnya dengan jika habitat spesies
tertentu yang hidup di lokasi yang sempit terkena bencana besar seperti bancir, kebakaran,
tanah longsor, tsunami, tumbukan meteor, dan lain sebagainya maka kepunahan mungkin
tidak akan terelakkan lagi.
8. Didesak Populasi Lain Yang Kuat
Kompetisi antar predator seperti macan tutul dengan harimau mampu membuat pesaing
yang lemah akan terdesak ke wilayah lain atau bahkan bisa mati kelaparan secara masal yang
menyebabkan kepunahan.
A. Pengaturan tentang satwa liar yang di lindungi menurut Undang-undang No. 5 Tahun
1990.
Dalam Pasal 2 ayat 1 PP No 8 Tahun 1999 tentang Pemanfaatan jenis tumbuhan dan Satwa
Liar, disebutkan bahwa Satwa liar dan jenis tumbuhan ternyata dapat dimanfaatkan dengan
tujuan agar jenis tumbuhan dan satwa liar dapat didayagunakan secara lestari untuk sebesarbesarnya kemakmuran rakyat. Adapun pemanfaatanya menurut Pasal 28 UU No. 5 Tahun
1990, tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya dapat dilakukan dalam
bentuk:
a. pengkajian, penelitian dan pengembangan;
b. penangkaran;
c. perburuan;
d. perdagangan;
e. peragaan;
f. pertukaran;
g. budidaya tanaman obat-obatan;
h. pemeliharaan untuk kesenangan.
Senada dengan penjelasan diatas,
dalam Pasal 3 PP No.8 Tahun 1999 tentang
Pemanfaatan jenis tumbuhan dan Satwa Liar juga mengatur bahwa Pemanfaatan jenis tumbuhan
dan satwa liar dapat dilaksanakan dalam bentuk:
a. Pengkajian, penelitian dan pengembangan;
b. Penangkaran;
c. Perburuan;
d. Perdagangan;
e. Peragaan;
f. Pertukaran;
g. Budidaya tanaman obat-obatan; dan
h. Pemeliharaan untuk kesenangan.
Dari beberapa bentuk pemanfaatan diatas penulis membatasi pada Penangkaran,
Perburuan, Perdagangan, dan Pemeliharaan untuk kesenangan dalam kajian kali ini, sebab ke
empat hal tersebut adalah
kajian yang sering menjadi topic pembicaraan menyangkut
pemanfaatan jenis satwa liar yang dilindungi.
1. Penangkaran Satwa Liar.
Untuk menjamin lestarinya keberadaan dan fungsi sumberdaya alam hayati, serta
guna menjamin terwujudnya kesejahteraan masyarakat Indonesia secara berkelanjutan,
perlu dilakukan tindakan konservasi berupa pengelolaan yang berkelanjutan yang
menjamin terjadinya keseimbangan antara kegiatan pelindungan dan pemanfaatan sumber
daya alam hayati, salah satunya adalah melalui kegiatan Penangkaran Satwa Liar.
Dunia internasional telah menetapkan 3 pilar pengelolaan keanekaragaman hayati,
yaitu : (1) Konservasi, (2) pemanfaatan lestari (berkelanjutan), dan (3) pembagian yang
adil dari pemanfaatan sumber daya genetik dan unsur keanekaragaman hayati lainnya.
Hal ini telah membuat fokus baru yang lebih terarah dibanding dengan Strategi
Konservasi Dunia yang digalang oleh International Union for Conservation of Nature
(IUCN), pada tahun 1982 yang diadopsi oleh UU No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi
Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, yang mendasarkan konservasi pada 3P
(Pelindungan sistem penyangga kehidupan, Pengawetan plasma nutfah, dan Pemanfaatan
berkelanjutan)7.
Mengenai boleh tidaknya seseorang atau badan hukum menyimpan, memelihara
atau memiliki satwa dilindungi, hal tersebut diperbolehkan dengan mengacu pada
ketentuan dan syarat yang berlaku dalam Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 1999
tentang Pemanfaatan Jenis Tumbuhan dan Satwa liar. Salah satunya dengan melakukan
penangkaran atau membeli satwa dilindungi dari penangkaran.
7
Penangkaran adalah
Kementrian Kehutanan, Rancangan Undang-undang tentang Konservasi Keanekaragaman Hayati (Konservasi
Kehati)
mengembangbiakan satwa-satwa domestik. Satwa domestic tersebut awalnya liar dan
ditangap melalui perburuan, jerat, jaring dari alam bebas. Penangkaran adalah salah satu
upaya penyelamatan dan perbanyakan populasi jenis untuk menghindarkan kepunahan8.
Penangkaran Satwaliar merupakan program konservasi eksitu yang sangat
penting untuk mengembangkan populasi jenis-jenis satwaliar yang terancam punah,
maupun untuk mengembangkan populasi satwaliar yang memiliki nilai ekonomi tinggi.
Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 1999 tentang Pemanfaatan jenis
tumbuhan dan Satwa Liar Pasal 7 ayat (1),(2) penangkaran untuk tujuan pemanfaatan
jenis dilakukan melalui kegiatan :
a. Pengembangbiakan satwa atau perbanyakan tumbuhan secara buatan dalam
lingkungan yang terkontrol
b. Penetasan telur dan atau pembesaran anakan yang diambil dari alam.
c. Penangkaran dapat dilakukan terhadap jenis tumbuhan dan satwa liar yang
dilindungi atau yang tidak dilindungi.
Dalam regulasinya dikatakan bahwa siapa saja baik perorangan atau badan hukum,
koperasi dan lembaga konservasi diperbolehkan untuk melakukan penangkaran dengan
atas izin dari Menteri yang dalam hal ini adalah Menteri Kehutanan, dengan syarat-syarat
yang tercantum dalam peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 1999 tentang Pemanfaatan
Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar Pasal 15 ayat (1) dan (2) sebagai berikut :
a. mempekerjakan dan memiliki tenaga ahli di bidang penangkaran jenis yang
bersangkutan;
b. memiliki tempat dan fasilitas penangkaran yang memenuhi syarat-syarat teknis;
8
Admin, 2011, Pemanfaatan dan Penangkaran Satwa Langka (online),
http://dawibo.wordpress.com/2011/03/28/pemanfaatan-dan-penangkaran-satwa-langka/ (20 mei 2013)
c. membuat dan menyerahkan proposal kerja.
Dalam menyelenggarakan kegiatan penangkaran, penangkar berkewajiban untuk:
a. membuat bukti induk tumbuhan atau satwa liar yang ditangkarkan;
b. melaksanakan sistem penandaan dan atau sertifikasi terhadap individu jenis yang
ditangkarkan;
c. membuat dan menyampaikan laporan berkala kepada pemerintah.
Selain ketentuan diatas, penangkar wajib memberi penandaan dan atau sertifikasi
atas hasil tumbuhan dan satwa liar yang ditangkarkan. (Pasal 14 ayat (1), apabila
ketentuan diatas tidak dilakukan maka dapat dikenai sanksi sebagaimana yang tercantum
dalam Pasal 55 yakni, dapat dihukum denda administrasi sebanyakbanyaknya Rp.
10.000.000,00 (sepuluh juta rupiah) dan atau pencabutan izin usaha penangkaran.
Penangkaran satwa liar di Indonesia merupakan suatu bentuk konservasi ek-situ
yaitu konservasi tumbuhan dan/atau satwa yang dilakukan di luar habitat alaminya. untuk
melindungi kelestarian jenis masih mempunyai banyak permasalahan yang harus segera
diatasi supaya kelestarian dan keseimbangan ekosistem dapat terwujud. Permaslahan
secara umum dalam pengelolaan konservasi ek-situ satwa liar adalah ukuran populasi
yang terbatas, hal ini disebabkan oleh luas area pengelolaan/pemeliharaan/penangkaran
satwa liar sangat terbatas dan tidak terlalu besar sehingga populasi yang ditampung juga
terbatas9. Permasalahan umum lainnya adalah terjadinya penurunan kemampuan adaptasi,
daya survive dan keterampilan belajar satwa, kondisi ini disebabkan oleh keadaan satwa
liar di lembaga konservasi sangat bergantung kepada manusia sehingga sifat alamiahnya
semakin lama semakin menurun. Permasalahan lainnya adalah variabilitas genetik satwa
9
Ibid,
liar yang terbatas karena di dalam lembaga konservasi ek-situ, satwa liar hanya mendapat
pasangan reproduksi yang sama dalam reproduksinya sehingga akan melemahkan
sumberdaya genetik satwa liar. Selain itu, dana yang besar juga merupakan kendala yang
dihadapi dalam konservasi ek-situ satwa liar, hal ini disebabkan oleh bentuk lembaga
konservasi merupakan suatu bentuk usaha yang padat modal10.
Untuk melakukan kegiatan konservasi sebagaimana di maksud hanya dapat di
lakukan oleh Lembaga Konservasi. Lembaga Konservasi adalah lembaga yang bergerak
di bidang konservasi tumbuhan dan/atau satwa liar di luar habitatnya (ex-situ), baik
berupa lembaga maupun lembaga non pemerintah. Sedangkan yang dimaksud dengan
Lembaga konservasi untuk kepentingan umum adalah lembaga yang bergerak di bidang
konservasi tumbuhan dan/atau satwa liar di luar habitatnya (ex-situ), baik berupa lembaga
pemerintah maupun lembaga non pemerintah yang dalam peruntukan dan pengelolaannya
mempunyai fungsi utama dan fungsi lain untuk kepentingan umum. Selain itu ada juga
yang dinamakan Lembaga konservasi untuk kepentingan khusus adalah lembaga yang
bergerak di bidang konservasi tumbuhan dan/atau satwa liar di luar habitatnya (ex-situ),
baik berupa lembaga pemerintah maupun lembaga non pemerintah yang dalam
peruntukan dan pengelolaannya difokuskan pada fungsi penyelamatan atau rehabilitasi
satwa11.
Dalam hal penangkaran, satwa yang hendak ditangkarkan dapat diambil langsung di
alam liar dan sumber-sumber lain yang sah dengan ketentuan yang berlaku dan atas izin
menteri Kehutanan, hal ini tercantum dalam Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 1999
tentang Pemanfaatan Jenis Tumbuhan dan Satwa liar pada Pasal 8, apabila seseorang
10
Ibid,
Yasmen chaniago,2012,Pengertian-pengertian dalam Konservasi Tumbuhan atau Satwa Liar(online),
http://www.wisatakandi.com/2012/12/pengertian-pengertian-dalam-konservasi.html(18 mei2013)
11
melanggar ketentuan tersebut maka dikenai sanksi yang tercantum dalam Pasal 50 ayat
(3), dengan serta merta dapat dihukum denda administrasi sebanyak-banyaknya Rp.
40.000.000,00 (empat puluh juta rupiah) dan atau dihukum tidak diperbolehkan
melakukan kegiatan pemanfaatan tumbuhan dan satwa liar.
2. Perburuan
Tindakan pemerintah melindungi satwa langka, ternyata tidak diikuti dengan
kesadaran masyarakat yang terus melakukan perburuan terhadap binatang-binatang
langka yang hidup dihutan-hutan yang ada di Indonesia, sebagai salah satu contoh adalah
perburuan yang dilakukan di salah satu hutan di Lampung Timur, perburuan liar secara
tradisional menggunakan kawanan anjing dan tombak maupun menggunakan alat
lengkap termasuk senjata api, masih menjadi ancaman yang serius atas keberadaan satwa
liar langka dan dilindungi12.
Berburu adalah menangkap dan/atau membunuh satwa buru termasuk mengambil
atau memindahkan telur-telur dan/atau sarang satwa buru (Pasal 1 ayat (1) PP No.13
tahun 1994 tentang Perburuan Satwa Buru), sedangkan Perburuan adalah segala sesuatu
yang bersangkut paut dengan kegiatan berburu, Satwa buru adalah jenis satwa liar
tertentu yang ditetapkan dapat diburu.
Pelaku perburuan liar secara tradisional umumnya dilakukan warga yang tinggal di
sekitar kawasan hutan di Lampung, antara lain untuk mendapatkan satwa langka yang
akan diambil dagingnya untuk konsumsi, maupun sekelompok pemburu liar dengan
peralatan lengkap dan jaringan luas menggunakan senjata api, untuk tujuan komersial
mendapatkan satwa langka, bahkan untuk dijual ke luar negeri.
12
Admin, 2010,Perburuan Satwa Langka Sulit di Hentikan (online), http://www.manadotoday.com/perburuansatwa-langka-sulit-dihentikan (18 mei 2013)
Contoh lain di daerah Sulawesi Utara, satwa yang dilindungi ini banyak dijumpai
di pasar-pasar tradisional, akibat para pedagang dengan leluasa memasarkan satwa yang
memang dilindungi undang-undang ini., sebagai Salah satu contoh di pasar Langowan
hampir semua binatang langka dapat dijumpai disini, mulai dari babi rusa, kus-kus
bahkan ular Pyton (Patola-red) dijual bebas disini. Keunikan yang dijumpai, memang tak
lepas dari gaya hidup masyarakat Minahasa, karena bagi mereka hewan tersebut
merupakan hidangan mewah. Namun ternyata sebagian besar masyarakat khususnya yang
melakukan perburuan satwa liar yang dilindungi ini tidak mengetahui jika binatang yang
mereka buru tersebut termasuk dalam satwa langka yang dilindungi, karena menurut
mereka satwa-satwa ini memiliki kulitas rasa daging yang lezat, sehingga permintaan
mengenai satwa-satwa ini selalu banyak, sedangkan hasil tangkapannya selalu terbatas,
karena sulitnya mendapatkan binatang ini, maka tidak heran ada juga masyarakat yang
berani membayar dengan harga tinggi13.
Dalam Regulasinya jelas dikatakan dalam Pasal 17 ayat (1) PP No 8 Tahun 1999
tentang Pemanfaatan jenis tumbuhan dan Satwa Liar, bahwa Perburuan jenis satwa liar
dilakukan untuk keperluan olah raga buru (sport hunting), perolehan trofi (hunting
trophy), dan perburuan tradisional oleh masyarakat setempat. Untuk melakukan
perburuan jenis satwa demi keperluan olah raga buru (sport hunting), perolehan trofi
(hunting trophy), setiap orang wajib memiliki akta buru yang terdiri dari :
a. akta buru burung;
b. akta buru satwa kecil;
c. akta buru satwa besar.
Untuk memperoleh akta buru harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :
13
Ibid,
a. berumur minimal 18 tahun;
b. telah lulus ujian memperoleh akta buru;
c. membayar pungutan akta buru.
Akta buru sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) memuat hal-hal sebagai berikut :
a. identitas pemburu;
b. masa berlaku akta buru;
c. golongan satwa buru.
Hal tersebut diatas sebagaimana yang diatur dalam Pasal 10 ayat (1), (2), dan (3).
Di pasal selanjutnya Pasal 11 ayat (1) Peraturan Pemerintah No.13 Tahun 1994 tentang
Perburuan Satwa Buru dikatakan akta buru dapat diberikan kepada calon pemburu setelah
yang bersangkutan lulus ujian untuk memperoleh akta buru yang diselenggarakan oleh
Kepolisian Negara Republik Indonesia bersama Departemen yang mengurus bidang
kehutanan. Selain itu pula dalam Pasal 15 PP No. 13 tahun 1994 tentang Perburuan Satwa
Buru mengatakan surat izin berburu memuat hal-hal sebagai berikut :
a. nomor akta buru;
b. identitas pemburu;
c. jenis dan jumlah satwa buru yang akan diburu;
d. alat berburu;
e. tempat berburu;
f. masa berlaku izin berburu;
g. ketentuan larangan dan sanksi bagi pemburu.
Selain itu, surat izin berburu tidak dapat dipindahtangankan atau dipergunakan oleh
orang lain. Dengan demikian jelas bahwa perburuan hanya dapat dilakukan terhadap
satwa yang tiadk termasuk dalam kategori di Lindungi oleh Undang-undang, namun
untuk melakukan perburuan harus disertai dengan surat izin berburu yang diberikan oleh
lembaga Negara terkait.
3. Perdagangan
Pemanfaatan sumber daya alam hayati untuk tujuan perdagangan, khususnya satwa
liar telah lama dilakukan secara fisik ekstraktif seperti dalam bentuk daging, kulit dan
bagian-bagian lain dari padanya yang bernilai ekonomis maupun estetika seperti atraksi
dan pemeliharaan satwa liar yang memperlihatkan keindahan fisik, suara dan karakter
species satwa liar.
Pemanfaatan Tumbuhan dan satwa liar yang dilindungi dewasa ini ternyata telah
menimbulkan masalah besar bagi keberadaan satwa tersebut yakni berkurangnya
perhatian terhadap kelestarian populasi, misal perdagangan/penyelundupan satwa ke luar
negeri (illegal trading) dan kepemilikan satwa tanpa ijin. Hal ini apabila tidak di cegah
maka akan berpotensi tidak hanya terjadi penurunan populasi satwa secara drastis, tetapi
akan mengakibatkan terjadinya kepunahan suatu jenis satwa khususnya terhadap satwa
liar yang dilindungi Undang-undang.
Menurut Convention on International Trade in Endangered Species
(CITES),
Indonesia termasuk negara yang memberikan kontribusi cukup besar dalam perdagangan
organ satwa liar di dunia14. Perdagangan organ satwa liar diperuntukkan untuk memasok
perdagangan obat tradisional, makanan khas, dan aksesoris (termasuk bulu/kulit
binatang). Harga organ-organ satwa liar tersebut sangat tinggi di pasaran pengecer.
14
Jafar
M
Sidik,
2012,
Internet
jadi
media
perdagangan
liar
satwa(online),
http://www.antaranews.com/berita/329068/internet-jadi-media-perdagangan-liar-satwa, (31 oktober 2012)
Misalnya saja seperti empedu Harimau Sumatera bisa lebih tinggi dari harga emas (logam
mulia), hiasan dinding dari kulit harimau bisa laku dengan harga Rp26 juta per buah15.
Bahkan perkembangan terbaru dari Perdagangan Satwa langka ini adalah di
lakukan dengan menggunakan media jejaring social internet. Perdagangan satwa langka
yang selama ini berlangsung tertutup dan ilegal atau hanya bisa dijumpai di pusat-pusat
perdagangan satwa tertentu, kini lebih mudah dan terbuka asal mengerti teknologi
internet. Dalam satu tahun terakhir ini, berbagai jenis satwa langka bisa didapatkan
dengan mudah melalui situs-situs perdagangan online, bahkan sudah merambah jejaring
sosial seperti Facebook dan twitter.
Pemilik satwa langka secara terang terangan
mempromosikan satwanya lewat
jejaring sosial, modus operandinya yakni penjual memasang foto satwa yang
diperdagangankan dan memuat No HP penjual serta harganya. Pembeli terlebih dahulu
mentransfer sejumlah uang, kemudian satwa liar yang dibeli dikirim melalui jasa
pengiriman barang atau diambil langsung pada tempat yang ditentukan sepihak oleh
pedagang secara tertutup, akibatnya perdagangan itu sulit ditangani karena sistem
perdagangannya dilakukan dengan media social yang transaksinya seringkali tidak
bertemu langsung dengan pedagangnya. Hal ini jelas mempersulit proses penyelidikan
dan penyidikan yang akan dilakukan oleh pihak yang berwajib.
Jenis satwa yang banyak diperdagangkan melalui media internet itu antara lain
kancil (Tragulus javanicus), trenggiling (Manis javanica), kijang (Muntiacus mutjack),
kucing hutan (Prionailurus bengalensis), lutung jawa (Trachypithecus auratus), kukang
(Nycticebus sp), elang jawa (Nisaetus bartelsi), elang hitam (Ictinaetus malayensis),
kakatua raja (Probosciger atterimus) dan kakatua seram (Cacatua molucensis). Adapun
15
Ibid
situsjejaring social yang melakukan perdagangan satwa langka melalui media internet di
antaranya adalah Toko Bagus, Kaskus dan Berniaga.com, namun kemudian di tahun 2012
Situs Toko Bagus sepakat dengan ProFauna untuk tidak menayangkan iklan yang
menawarkan satwa dilindungi. Kebijakan dari Toko Bagus itu merupakan contoh yang
baik dan seharusnya segera ditiru oleh perusahaan lainnya16
Namun perlu diperhatikan bahwa dalam melakukan Perdagangan atau jual beli
Satwa liar baik dalam bentuk utuh, daging, kulit dan bagian-bagian lainnya, tidak serta
merta dapat dilakukan begitu saja melainkan harus diawali dengan penetapan kuota
pengambilan atau penangkapan satwa liar dari alam yang merupakan batas maksimal
jenis dan jumlah spesimen satwa liar yang dapat diambil dari habitat alam. Penetapan
kuota pengambilan atau penangkapan satwa liar didasarkan pada prinsip kehati-hatian
dan dasar-dasar ilmiah untuk mencegah terjadinya kerusakan atau degradasi populasi17.
Penyusunan kuota didasari bahwa ketersediaan data potensi satwa liar yang
menggambarkan populasi dan penyebaran setiap jenis masih sangat terbatas, sehingga
membutuhkan peran LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) dan perguruan tinggi untuk
membantu memberikan informasi mengenai potensi dan penyebaran jenis satwa liar yang
dapat dimanfaatkan.
Pengendalian dan pengawasan perdagangan satwa juga dilakukan terhadap
penangkapan satwa liar dari alam, hal ini bertujuan supaya satwa liar dapat dimanfaatan
sesuai dengan izin yang diberikan (tidak melebihi kuota tangkap) oleh BKSDA (Balai
Konservasi Sumber Daya Alam), sebagaimana yang diatur dalam Pasal 19 ayat (1) PP No
16
Endang Sukarelawati, 2012, Modus baru Perdagangan Satwa Langka “via online”(online),
http://www.antaranews.com/berita/350524/modus-baru-perdagangan-satwa-langka-via-online (20 mei 2013)
17
Admin, 2011, Pemanfaatan dan Penangkaran Satwa Langka (online),
http://dawibo.wordpress.com/2011/03/28/pemanfaatan-dan-penangkaran-satwa-langka/ (20 mei 2013)
8 Tahun 1999 tentang Pemanfaatan jenis tumbuhan dan Satwa Liar bahwa Perdagangan
jenis tumbuhan dan satwa liar hanya dapat dilakukan oleh Badan Usaha yang didirikan
menurut hukum Indonesia setelah mendapat rekomendasi Menteri, dalam hal ini
dilakukan oleh BKSDA (Balai Konservasi Sumber Daya Alam). Hal ini di tujukan agar
penangkapan spesimen satwa liar tidak merusak habitat atau populasi di alam, serta untuk
spesimen yang dimanfaatkan dalam keadaan hidup supaya tidak menimbulkan kematian
dalam jumlah yang banyak yang disebabkan oleh cara pengambilan atau penangkapan
yang tidak benar. Pengecualian dari Pasal 19 ayat (1) diatas adalah perdagangan dalam
skala terbatas dapat dilakukan oleh masyarakat yang tinggal di dalam dan sekitar Areal
Buru dan di sekitar Taman Buru sebagaimana diatur dalam ketentuan peraturan
perundangundangan tentang perburuan satwa buru.
Menurut Tarsoen Waryono Pelanggaran-pelanggaran dalam bidang perlindungan
satwa liar terbesar dilakukan dengan penangkapan dan pemasaran satwa liar secara ilegal
yang dapat dikelompokkan menjadi 3 (tiga), yaitu :
1. Kelompok pemanfaat di daerah Hulu
2. Kelompok Perantara
3. Kelompok pemnafaatan daerah Hilir18.
a. Kelompok pemanfaat di daerah hulu.
Kelompok ini adalah para penagkap di alam bisanya merupakan masyarakat
yang tinggal di sekitar hutan sebagai habitat satwa liar. Kelompok ini merupakan
kelompok yang paling rentan terhadap bujukan untuk menangkap satwa liar karena
keterbatasan pengetahuan dan perbedaan sosial ekonomi dengan masyarat di luar
18
Tarsoen Waryono,Aspek Pengendalian Perdagangan Ilegal Satwa Liar yang di Lindungi di Provinsi DKI Jakarta,
Kumpulan Makalah Periode 1987-2008(pdf), Jakarta, 2009, Hal.2-3
hutan. Walaupun banyak suku di Indonesia yang memiliki kearifan dalam menjaga
keseimbangan ekosistem hutan, tetapi ketidakberdayaan terhadap akses informasi,
sosial dan ekonomi menyebabkan lunturnya budaya yang menjaga keseimbangan
ekosistem hutan, sehingga menyebabkan mereka melakukan perburuan terhadap
satwa liar. Dalam Pasal 1 Butir 4 PP No. 13 Tahun 1994 tentang Perburuan Satwa
Buru mengatur juga mengenai satwa buru, dimana satwa buru adalah jenis satwa liar
tertentu yang ditetapkan dapat diburu, berdasarkan asas kelestarian manfaat dengan
memperhatikan populasi, daya dukung habitat, dan keseimbangan ekosistem. Dan
yang terpenting adalah dalam Pasal 3 ayat (1) PP No. 13 tahun 1994 tentang
Perburuan Satwa Buru dikatakan bahwa Satwa buru pada dasarnya adalah satwa liar
yang tidak dilindungi. Dengan demikian jelaslah sudah Satwa liar yang dilindungi
dilarang untuk di buru.
b. Kelompok Perantara
Kelompok ini bergerak sangat dinamis ke segala penjuru tanah air untuk
melakukan negosiasi dan memesan berbagai satwa liar yang dilindungi. Kebanyakan
kelompok ini terdiri dari orang-orang yang telah mengetahui bahwa pemanfaatan
satwa liar telah diatur oleh pemerintah dan mereka berspekulasi untuk memperoleh
keuntungan besar dan cepat tanpa memperhitungkan prinsip-prinsip kelestarian.
Faktor ekonomi adalah alas an kuat bagi kelompok ini sehingga mengenyampingkan
prinsip-prinsip kelestarian lingkungan, yang tanpa mereka sadari tindakan mereka itu
akan merugukan lingkungan karena habitat yang tidak terjaga, sehingga pada
akhirnya akan merugikan generasi-generasi mendatang.
c. Kelompok Pemanfaatan Hilir
Pedagang di perkotaan yang secara sembunyi-sembunyi menjual jenis satwa liar
yang dilindungi baik untuk kalangaan domestik maupun luar negeri. Kebijakan
pemerintah untuk perlindungan satwa liar adalah: (a). Perlindungan sistem ekologis
penyangga kehidupan, (b) Pengawetan keanekaragaman hayati, dan (c). Pemanfaatan
secara Lestari. Kelompok ini dalam perkembangannya tidak hanya melakukan
transaksi jual beli secara langsung, tetapi juga memanfaat media internet untuk
melakukan perdagangan terhadap satwa liar yang dilindungi oleh Undang-undang.
Dalam melakukan perdagangan satwa persoalan penting yang perlu diperhatikan
adalah dalam hukum positif kita jelas menekankan bahwa Tumbuhan dan satwa liar
yang dapat diperdagangkan hanyalah jenis satwa liar yang tidak dilindungi sebagaimana
diatur dalam Pasal 18 ayat (1) PP No 8 Tahun 1999 tentang Pemanfaatan jenis tumbuhan
dan Satwa Liar. Selain itu tiap-tiap perdagangan tumbuhan dan satwa liar baik untuk
tujuan ekspor maupun impor wajib dilengkapi dengan dokumen yang sah. Dokumendokumen yang dimaksud sah apabila telah mendapatkan Izin mentri dan memenuhi
syarat-syarat sebagaimana yang diatur dalam Pasal 24 ayat (2) PP No. 8 tahun 1999
tentang Pemanfaatan jenis tumbuhan dan Satwa Liar, sebagai berikut:
a. memiliki dokumen pengiriman atau pengangkutan;
b. izin ekspor, re-ekspor, atau impor;
c. rekomendasi otoritas keilmuan (Scientific Authority).
Agar perdagangan satwa ini tidak akan merugikan bagi masyarakat, bangsa dan
Negara maka perlu adanya pengawasan yang dilakukan oleh pemerintah terkait, sebagai
salah satunya adalah pengendalian perdagangan satwa liar di dalam negri harus dilakukan
dengan upaya pengendalian dalam penerbitan SATS-DN (Surat Angkut Tumbuhan dan
Satwa Dalam Negri), pemeriksaan stok satwa yang ada pada pengedar ataupun penangkar
satwa, serta pemeriksaan stok yang akan dimohonkan SATS-LN atau yang akan
diekspor. Dalam pelaksanaan pengendalian dan pengawasan peredaran satwa liar di
dalam negri maka BKSDA telah bekerjasama dengan Balai/Kantor Karantina Hewan
yang ada di daerah. Sedangkan untuk peredaran ke luar negri maka BKSDA melakukan
kerja sama dengan Balai/Kantor Karantina dan Kantor Pelayanan Bea dan Cukai,
kepolisisn, serta Departemen Perdagangan (Deperindag).
Dalam proses pengiriman atau pengangkutan tumbuhan dan satwa yang dilindungi
dari dan ke suatu tempat di wilayah Republik Indonesia atau dari dan keluar wilayah
Republik Indonesia menurut Pasal 25 ayat (1) dan ayat (2) PP No. 7 Tahun 1999 tentang
Pengawetan jenis tumbuhan dan Satwa dilakukan atas dasar ijin Menteri, harus
dilengkapi dengan sertifikat kesehatan tumbuhan dan satwa dari instansi yang
berwenang, dan dilakukan sesuai dengan persyaratan teknis yang berlaku.
Senada dengan hal itu dalam Pasal 42 PP No. 8 tahun 1999 tentang Pemanfaatan
jenis tumbuhan dan Satwa Liar menjelaskan bahwa Pengiriman atau pengangkutan jenis
tumbuhan dan satwa liar dari satu wilayah habitat ke wilayah habitat lainnya di
Indonesia, atau dari dan ke luar wilayah Indonesia, wajib dilengkapi dengan dokumen
pengiriman atau penangkutan. Dokumen dinyatakan sah, apabila telah memenuhi syaratsyarat sebagai berikut:
a. standar teknis pengangkutan;
b. izin pengiriman;
c. izin penangkaran bagi satwa hasil penangkaran;
d. sertifikat kesehatan satwa dari pejabat yang berwenang.
Izin pengiriman sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) huruf b wajib memuat
keterangan tentang:
a. jenis dan jumlah tumbuhan dan satwa;
b. pelabuhan pemberangkatan dan pelabuhan tujuan;
c. identitas Orang atau Badan yang mengirim dan menerima tumbuhan dan satwa;
d. peruntukan pemanfaatan tumbuhan dan satwa.
Sedangkan untuk 11 (sebelas) tumbuhan liar jenis Raflesia dan satwa liar tertentu
hanya dapat di pertukarkan atas persetujuan Presiden diatur dalam Pasal 34 PP No.8
Tahun 1999 tentang Pemanfaatan jenis tumbuhan dan Satwa Liar. Tumbuhan jenis
Raflesia dan satwa liar yang dimaksud adalah:
a. Anoa (Anoa depressicornis, Anoa quarlesi);
b. Babi rusa (Babyrousa babyrussa);
c. Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus);
d. Badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis);
e. Biawak Komodo (Varanus komodoensis);
f. Cendrawasih (Seluruh jenis dari famili Paradiseidae);
g. Elang Jawa, Elang Garuda (Spizaetus bartelsi);
h. Harimau Sumatera (Phantera tigris sumatrae);
i. Lutung Mentawai (Presbytis potenziani);
j. Orangutan (Pongo pygmaeus);
k. Owa Jawa (Hylobates moloch)
4. Pemeliharaan Untuk Kesenangan
Pemelihara satwa sebagai
hewan kesayangan semakin hari mengalami
peningkatan. Sisi positifnya adalah peningkatan ini juga diiringi dengan kepeduliaan si
pemelihara terhadap hewannya, hal ini dapat dilihat dari maraknya pet shop-pet shop
yang berdiri dengan omzet yang lumayan besar. Namun sayangnya, peningkatan tersebut
juga seiring dengan peningkatan pemeliharaan satwa liar dilindungi, karena ternyata
masih banyak juga satwa-satwa liar dilindungi yang diperdagangkan dan dipelihara, dan
bahkan saat ini sudah terdapat banyak komunitas atau klub yang menyebut komunitasnya
sebagai “pencinta” satwa liar tersebut, serta juga banyak media massa yang meliputnya
sebagai satwa yang bisa dijadikan pet animal.
Kebanyakan masyarakat yang mempunyai atau memelihara satwa liar adalah juga
merupakan pemelihara hewan domestik (anjing, kucing, dan kelinci). Walupun beberapa
diantaranya adalah calon pemelihara atau belum pernah memelihara hewan. Sebagian
pemelihara satwa liar (kebanyakan kukang, otter, kucing hutan, elang, dan primata
tertentu) mengaku bahwa mereka memelihara karena “lucu”, eksotik, kasihan, dan alasan
ekonomi, dan status sosial. Apabila ditanyakan mengenai status satwa liar tersebut,
sebagian besar dari mereka memelihara satwa liar karena ketidaktahuan mereka, dan
sebagian lagi mengaku sudah mengerti mengenai status satwa liar tersebut dan menurut
mereka alas an memelihara karena semakin langka satwa tersebut maka semakin menarik
untuk dijadikan hewan peliharaan.
Informasi-informasi dan kampanye-kampanye pelarangan pemeliharaan satwa liar
sebaiknya memang harus sering-sering digalakkan kepada masyarakat, terutama pihakpihak yang memang mempunyai relasi dengan si pemelihara hewan kesayangan supaya
tidak ikut-ikutan memelihara satwa liar. Tidak memelihara satwa liar dan tidak
memperdagangkan satwa liar merupakan salah satu cara untuk menjaga kelestarian satwa
liar di habitatnya. Satwa liar akan lebih aman dan berkembang jika mereka hidup di
habitatnya. Perlu juga diwaspadai bahwa semakin satwa liar dekat dengan manusia, maka
akan banyak terjadi perpindahan penyakit dari satwa ke manusia (zoonosis) dan
kepunahan mereka akan cepat terjadi.
Berdasarkan pasal 2 PP No. 7 tahun 1999 tentang Pengawetan jenis tumbuhan dan
Satwa yang merupakan turunan hukum dari UU No.5 tahun 1990 tentang Konservasi
Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, Pemeliharaan atau pengawetan (bahasa
hukum pemeliharaan yaitu upaya untuk menjaga agar keanekaragaman jenis tumbuhan
dan satwa beserta ekosistemnya baik di dalam maupun di luar habitatnya tidak punah),
bertujuan untuk :
a. Menghindarkan jenis tumbuhan dan satwa dari bahaya kepunahan;
b. Menjaga kemurnian genetik dan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa;
c. Memelihara keseimbangan dan kemantapan ekosistem yang ada; agar dapat
dimanfaatkan bagi kesejahteraan manusia secara berkelanjutan.
Dalam Peraturan Pemerintah ini secara jelas termuat bagaimana mengkategorikan
jenis satwa yang dilindungi, dan bagaimana dasar pertimbangan yang digunakan untuk
mengkategorikan satwa yang dilindungi dan tidak dilindungi, terdapat dalam Pasal 4,5
dan 6 berbunyi :
Pasal 4
(1) Jenis tumbuhan dan satwa ditetapkan atas dasar golongan:
a. tumbuhan dan satwa yang dilindungi;
b. tumbuhan dan satwa yang tidak dilindungi.
(2) Jenis-jenis tumbuhan dan satwa yang dilindungi sebagaimana dimaksud dalam
ayat (1) huruf a adalah sebagaimana terlampir dalam Peraturan Pemerintah ini.
(3) Perubahan dari jenis tumbuhan dan satwa yang dilindungi menjadi tidak
dilindungi dan sebaliknya ditetapkan dengan Keputusan Menteri setelah
mendapat pertimbangan Otoritas Keilmuan
Pasal 5
(1) Suatu jenis tumbuhan dan satwa wajib ditetapkan dalam golongan yang
dilindungi apabila telah memenuhi kriteria:
a. mempunyai populasi yang kecil;
b. adanya penurunan yang tajam pada jumlah individu di alam;
c. daerah penyebaran yang terbatas (endemik).
(2) Terhadap jenis tumbuhan dan satwa yang memenuhi criteria sebagaimana
dimaksud dalam ayat (1) wajib dilakukan upaya pengawetan.
Pasal 6
Suatu jenis tumbuhan dan satwa yang dilindungi dapat diubah statusnya
menjadi tidak dilindungi apabila populasinya telah mencapai tingkat pertumbuhan
tertentu sehingga jenis yang bersangkutan tidak lagi termasuk kategori jenis
tumbuhan dan satwa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat(1).
Dari ketentuan tersebut status perlindungan hanya digolongkan menjadi dua yakni
yang dilindungi (sudah langka dan terancam punah) dan tidak dilindungi (belum langka
dan belum punah), untuk satwa yang tidak dilindungi yang populasinya masih banyak
juga perlu dilakukan pengawasan, agar supaya tidak berubah statusnya menjadi
dilindungi akibat pemanfaatan yang tidak terkontrol. Dari lampiran Peraturan Pemerintah
Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan jenis tumbuhan dan Satwa, disebutkan ada 236
(dua ratus tiga puluh enam) jenis Satwa yang di lindungi yang terdiri dari Mamalia 70
(tujuh puluh) jenis, aves 70 (tujuh puluh) jenis, reptilia 30 (tiga puluh) jenis, Insecta 19
(Sembilan belas) jenis, pisces 7 (tujuh) jenis, bivalbia 14 (empat belas) jenis, dan satu
jenis anthozowa.
Berdasarkan lampiran Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 tentang
Pengawetan jenis tumbuhan dan Satwa tersebut, di lingkungan BKSDA Sulawesi Utara
termasuk Gorontalo terdapat 68 (enam puluh delapan) jenis Satwa liar yang di lindungi
dengan rincian sebagai berikut.
Tabel 3 : Daftar Jenis Satwa yang dilindungi di Lingkungan BKSDA Sulawesi Utara.
No.
Nama Kelas Nama Indonesia
I
Mamalia
Nama Latin / Ilmiah
1.
Anoa Dataran Rendah
Bubalus depressicornis
2.
Anoa Dataran Tinggi
Bubalus quarlesi
Cynopithecus niger /Macaca
3.
Kera Hitam
nigra
4.
Rusa
Cervus timorensis
5.
Monyet Jambul
Macaca tongkeana
6.
Kera/Dihe
Macaca hecki
7.
Babirusa
Babyrousa babyrussa
8.
Musang Sulawesi
Macrogalidia musschenbroekii
9.
Kuskus Kecil
Phalanger ursinus
10.
Tangkasi
Tarsius spectrum
11.
Bajing Tanah
Lariscus spectrum
No.
Nama Kelas Nama Indonesia
Nama Latin / Ilmiah
12.
Duyung
Dugong dugong
13.
Lumba-lumba
Ziphiidae dolphinidae
14.
Paus
Cetacea order
II
Pisces
1.
Raja Laut
Coelacanth sp.
III
Reptilia
1.
Ular Sanca Bodo
Phyton molurus
2.
Ular Sawah (Patola)
Phyton reticulates
3.
Buaya
Crocodylus porosus
4.
Soa-soa
Hydrosaurus sp.
5.
Penyu Belimbing
Dermochelys coriacea
6.
Kura-kura
Carettochelys sp.
1.
Kupu-kupu Bidadari
Cethosia myrina
2.
Kupu-kupu Raja
Troides amphrysus
3.
Kupu-kupu Raja
T. Miranda
4.
Kupu-kupu Raja
T. meoris
5.
Kupu-kupu Raja,
T. palate
6.
Kupu-kupu Raja
T. riedeli
7.
Kupu-kupu Raja
0. paradise
1.
Rangkong
Aceros cassidix
2.
Maleo
Macrocephalon maleo
3.
Gosong
Megapodius cumingii
4.
Kuntul Kolam Punggung
IV
V
Insecta
Aves
Aedola speciosa
Hitam
5.
Cangak Merah
Ardea purpurea
6.
Pecuk Ular
Anhinga melanogaster
No.
VI
Nama Kelas Nama Indonesia
Nama Latin / Ilmiah
7.
Elang Laut
Accipiter trinotalus
8.
Alap-alap
Accipiter modogaster
9.
Pengisap Madu
Aethophyga siparaja
10.
Mandar Sulawesi
Aramidopsis platennis
11.
Kuntul Kerbau
Bubulcus ibis
12.
Raja Udang
Ceyx fallax
13.
Raja Udang
Alcedo meinting
14.
Bangau Hitam
Ciconia episcopus
15.
KuntuI Kecil
Egretta garzeta
16.
Kuntul Besar
Egretta alba
17.
Raja Udang Biru
Halcyon chloris
18.
Serindit Sulawesi
Loriculus exilis
19.
Elang lkan Kelabu
Ichtyopaga ichtyatus
20.
Elang Hitam Ekor Cabang
Priniturus flaricaus
21.
Kowak Merah
Prioniturus platurus
22.
Kangkareng
Pelargopsis melanorhichus
23.
Raket Bercak Merah
24.
Betet Raket Mantel Emas
25.
Raja Udang Kepala Putih
26.
Nuri Sulawesi
Tanygnathus sumatranus
1.
Akar Bahar
Anthiphates sp.
2.
Kima Raksasa
Tridacna gigas
3.
Kima Selatan
Tridacna derasa
4.
Kima Cina
Hippopus porcellanus
Crustacea
No.
Nama Kelas Nama Indonesia
Nama Latin / Ilmiah
5.
Kima Lobang
Tridacna croceda
6.
Kima Sisik
Tridacna squarmosa
7.
Kima Kecil
Tridacna maxima
8.
Kima Tapak Kuda
Hippopus hippopus
9.
Triton
Charonia tritonis
10.
Telapak Kuda
Tachipleus gigas
11.
Ketam Tapak Kuda
Birgus latro
12.
Kepala Karnbing
Cassis comuta
13.
Batulaga
Turbo marmoratus
14.
Nautilus Berongga
Nautilus pompillus
Sumber : Data BKSDA Sulawesi Utara.
Jenis-jenis satwa yang ada dalam lampiran Peraturan Pemerintah tersebut menjadi
batasan pengertian satwa yang dilindungi pada Pasal 21 ayat (2) Undang-Undang
Konservasi, sehingga aturan menjadi jelas yakni adanya larangan memiliki, memelihara
dan menyimpan satwa yang dilindungi yang dimaksud ialah satwa-satwa yang terdapat
atau terdaftar dalam lampiran peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 tentang
Pengawetan jenis tumbuhan dan Satwa tersebut. Di luar daftar satwa dilindungi tersebut
bebas untuk dipelihara tetapi juga harus dengan kontrol dan pengendalian yang baik
sehingga statusnya tidak berubah menjadi dilindungi, sebab dari penggolongan yang
sudah ditetapkan tersebut sewaktu-waktu bisa berubah ststusnya dari yang dilindungi
menjadi tidak dilindungi dan sebaliknya dari yang tidak dilindungi menjadi dilindungi,
sesuai kriteria atau pertimbangan yang ditapkan oleh Peraturan pemerintah ini.
Namun, walaupun telah ada larangan mengenai kepemilikan Satwa liar yang
dilindungi, tetap saja masih ada masyarakat yang gemar memelihara satwa liar
dilindungi dengan alas an untuk kesenangan di lingkungan BKSDA Sulut sendiri dari
rentan waktu 5 tahun terakhir sampai dengan tahun 2013 ini tercatat ada 5 (lima)
kepemilkan satwa yang Sah yaitu :
1. Pusat Penyelematan Satwa (PPS) Tasikoki di Minahasa Utara
2. Taman Satwa Tandurusa di Bitung
3. Penangkaran Karang oleh PT Mata Karang di Pulau Bangka Minahasa Utara.
4. Penangkaran Penyu di Kombi – Minahasa.
5. Balai Penelitian Kehutanan (BPK) Manado
Sedangkan untuk data kepemilkan yang tidak Sah dari hasil
operasi
Penanggulangan Peredaran Tumbuhan dan Satwa Liar terdapat 6 (enam) Kepemilikan
satwa yang tidak Sah, yaitu :
1. Anoa sitaan dari Bolmong Utara di titipkan di Taman Sataw Tandurusa sebanyak 1
ekor
2. Anoa sitaan dari Bolmong Utara di titipkan di BPK Manado sebanyak 2 ekor
3. Sampiri di titipkan di BPK Manado sebanyak 16 ekor Kasus dalam proses
penyidikan PPNS.
4. Yaki / Macaca di titipkan di PPS Tasikoki sebanyak 5 ekor.
5. Burung Kasuari dititipkan di PPS Tasikoki sebanyak 1 ekor.
6. Burung Nuri dititipkan di PPS Tasikoki sebanyak 1 ekor.
Untuk menanggulangi persoalan mengenai kepemilkan Satwa liar yang dilindungi
ini langkah-langkah yang Ditempuh BKSDA Sulut Dalam Perlindungan Satwa Liar
adalah sebagai berikut :
1. Sosialisasi tentang perlindungan tumbuhan dan satwa dilindungi, dilaksanakan
setiap tahuan di dua seksi wilayah.
2. Kerjasama dengan LSM perlindungan satwa seperti :
a. WCS IP – Sulawesi s.d tahun 2012
b. Birth life s.d tahun 2007
c. Ms Lynn clayton / Yayasan Nantu s.d sekarang
d. Macaca Nigra project s.d sekarang
e. PPS Tasikoki s.d sekarang
f. Selamatkan Yaki s.d sekarang
g. Taman Satwa Tandurusa.
h. PT. Matahari Kahuripan Pantera mulai tahun 2013.
i. Dll.
3. Operasi perlindungan satwa :
a. Kerjasama dengan Ms Lynn clayton / Yayasan Nantu
b. Operasi TSL di wilayah Bolmong dan Minahasa Selatan19.
Menurut Bpk. Muhazir Madina, S.Hut, staf Perlindungan SPTN 1 suwawa untuk
daerah Gorontalo sendiri sebagai wilayah dari BKSDA sulut, kasus mengenai
kepemilikan Satwa liar yang di lindungi ini masih belum menonjol yang terbaru
sekarang adalah mengenai kepemilikan beberapa satwa liar yang dilindungi seperti
19
Data BKSDA Sulut 2013
buaya,burung kaka tua yang ada di taman wisata Water Boom, langkah yang telah
diambil adalah melakukan pendataan dan sosialisasi agar kepemilikan satwa tersebut di
daftarkan dengan cara di urus perizinannya, sejauh ini yang di lakukan baru sebatas itu.
Di tambahkan oleh Bpk. Hendrik Rundengan, SP, Kasi KSDA wilayah 2 Gorontalo,
yang menjadi hambatan bagi pihak BKSDA untuk mengambil alih satwa liar yang
dilindungi tersebut adalah belum adanya tempat atau wadah bagi BKSDA untuk
memelihara satwa liar yang dimaksud di Gorontalo, persoalan ini masih terbentur
dengan persoalan dana untuk pembutan itu20.
Untuk itu hendaknya sebelum memutuskan untuk memelihara hewan atau membeli
hewan untuk dijadikan peliharaan, masyarakat memperhatikan apakah hewan yang
nantinya akan di pelihara tersebut termasuk dalam kategori satwa yang dilindungi, atau
sebalaiknya termasuk golongan satwa yang tidak dilindungi. Sebab dalam ketentuan
Pasal 37 ayat (1) PP No.8 Tahun 1999 tentang Pemanfaatan jenis tumbuhan dan Satwa
Liar memang
setiap orang diberikan kesempatan untuk dapat memelihara jenis
tumbuhan dan satwa liar untuk tujuan kesenangan, namun di ayat selanjutnya ayat (2)
kembali dibatasi bahwa tumbuhan dan satwa liar untuk keperluan pemeliharaan untuk
kesenangan hanya dapat dilakukan terhadap jenis yang tidak dilindungi.
Adapun untuk memperoleh hewan liar yang tidak termasuk dalam kategori yang
dilindungi, diperoleh dari hasil penangkaran, perdagangan yang sah, atau dari habitat
alam sebagaimana yang diatur dalam pasal 39 PP No.8 Tahun 1999 tentang
Pemanfaatan jenis tumbuhan dan Satwa Liar.
20
Hasil wawancara singkat dengan Bpk Muhazir Madina, Staf perlindungan SPTN 1 suwawa dan Bpk.Hendrik
Rundengan, Kasi KSDA Wilayah 2 Gorontalo.
Dengan demikian jelaslah sudah bahwa hukum positif kita hanya membolehkan
masyarakatnya memelihara hewan sebagai suatu kesenangan yang dilakukan terhadap
hewan yang tidak termasuk dalam kategori yang dilindungi.
B. Pertanggung jawaban pidana seseorang yang memiliki
satwa liar yang dilindungi
undang-undang.
Berbicara mengenai penegakan hukum maka hal ini berkaitan dengan aparat penegak
hukum dan masyarakat yang menjadi subyek hukum, keduanya tidak terpisahkan dan saling
berhubungan karena dalam menegakkan hukum bukan menjadi monopoli dari aparat penegak
hukum, tetapi juga masyarakat mempunyai peran yang penting dalam hal menegakkan
hukum. Apalagi dalam penegakan hukum konservasi peran dari masyarakat begitu sangat
penting mengingat di negara ini memiliki kekayaan alam yang luar biasa banyak dan
beragam, disamping itu wilayahnya yang sangat luas sehingga diperlukan kesadaran dari
masyarakat untuk menjaga dan melestarikan alam beserta isinya yang didalamnya termasuk
tumbuhan dan satwa.
Salah satu penyebab maraknya perburuan satwa liar adalah karena budaya yang
tumbuh dan berkembang dalam masyarakat, di mana masyarakat kita pada umumnya senang
atau bahkan sudah menjadi hobi memelihara binatang peliharaan yang terkadang binatang
tersebut dilindungi keberadaaannya di alam liar. Oleh karenanya marak terjadi perdagangan
satwa dilindungi yang berujung pada tindak pidana kepemilikan satwa yang dilindungi secara
illegal.
Interaksi ekologis masyarakat dengan hutan terkait erat dengan kesejahteraan
masyarakat. Misalnya hutan sebagai sumber kayu bakar, sumber mata air, protein hewani,
nabati dan berbagai fungsi ekonomi dan manfaat langsung lainnya yang didapatkan
masyarakat dari hutan. Hubungan keduanya bersifat ketergantungan, saling mempengaruhi
dan mampu merubah lingkungan biofisik tersebut. Persoalan satwa liar tentunya tidak
terlepas dari persoalan lingkungan, sehingga jika terjadi pelanggaran terhadapa satwa liar
maka secara otomatis melanggar pula hukum lingkungan yang berlaku. Hukum lingkungan
adalah sebuah bidang atau cabang hukum yang memiliki kekhasan yang oleh Drupsteen
disebut sebagai bidang hukum fungsional (functioneel rechtsgebeid), yaitu didalamnya
terdapat unsure-unsur hukum administrasi, hukum pidana dan hukum perdata21.
Delik lingkungan adalah perintah dan larangan undang-undang kepada subjek hokum
yang jika dilanggar, diancam dengan penjatuhan sanksi-sanksi pidana, antara lain
pemenjaraan dan denda, dengan tujuan untuk melindungi lingkungan hidup secara
keseluruhan maupun unsure-unsur dalam lingkungan hidup seperti hutan satwa, lahan, udara,
dan air serta manusia22.
Sebagai salah satu unsur lingkungan hidup, satwa merupakan bagian yang tidak
terpisahkan, dimana untuk bertahan hidup dan ber regenerasi, satwa membutuhkan
lingkungan hidup. Namun akhir-akhir ini keberadaan satwa terancam punah bukan karena
factor lingkungan tetapi justru disebabkan oleh gangguan manusia. Untuk mengatasi hal
demikian maka dibuatlah regulasi-regulasi yang mengatur tentang satwa liar yang dilindungi
di Indonesia, namun dalam realitas yang ada ternyata masih banyak juga yang sengaja
ataupun tidak melakukan tindakan-tindakan yang dilarang oleh peraturan perundangundangan yang ada. Sehingga menarik untuk kemudian dipersoalkan mengenai pertanggung
jawaban pidana bagi orang yang melakukan pelanggaran terhadap regulasi yang ada,
hususnya mengenai kepemilikan satwa liar yang di lindungi.
21
Th. G. Drupsteen(1983), dalam Takdir Rahmadi, Hukum Lingkungan di Indonesia, PT.Raja Grafindo Persada,
Jakarta, 2011, Hal 207
22
Takdir Rahmadi, Hukum Lingkungan di Indonesia, PT.Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2011, Hal 221.
Dalam hukum lingkungan dikenal prinsip-prinsip penyelesaian sengketa lingkungan,
dimana jika terjadi persoalan yang menyangkut lingkungan hidup, maka dapat diberikan
sanksi berdasarkan prinsip-prinsip penyelesaian sengketa lingkungan hidup. Prinsip-prinsip
yang dimaksud adalah sebagai berikut :
1. Prinsip Pencemar membayar.
Pencemar semata-mata merupakan seorang yang berbuat pencemaran yang
seharusnya dapat dihindarinya23. Dengan demikian pencemar harus menanggung beban
atau biaya pencegahan dan penanggulangan pencemaran yang ditimbulkannya.
Prinsip pencemar membayar dalam UUPLH diatur dalam pasal 34 UUPLH yang
menyatakan, bahwa setiap perbuatan melanggar hukum berupa pencemaran dan/atau
perusakan lingkungan hidup yang menimbulkan kerugian pada orang lain atau
lingkungan hidup, mewajibkan penanggung jawab usah dan/atau kegiatan untuk
membayar ganti kerugian dan/atau melakukan tindakan tertentu (ayat 1). Ketentuan ini
disebut mengandung “prinsip pencemar memabayar”karena penjelasan otentik ayat (1)
menyatakan sebagai berikut:
Ayat ini merupakan realisasi asas yang ada dalam hukum lingkungan hidup yang
disebut Asas Pencemar Membayar, selain diharuskan membayar ganti kerugian,
pencemar dan/atau perusak lingkungan hidup dapat pula dibebani oleh hakim untuk
melakukan tindakan hukum tertentu.
2. Prinsip Tanggung jawab Mutlak
Apabila dilihat dari maksud dan isinya, prinsip tanggung jawab mutlak yang
dikenal dalm UUPLH (Pasal 35) sebenarnya adalah terjemahan dari istilah Strict Liability
23
Siti Sundari Rangkuti, dalam KoesnadiHardjasoemantri, Hukum Penyelesaian Sengketa Lingkungan Hidup,
Universitas Atmajaya Yogyakarta, Yogyakarta, 2006, Hal 48.
yang artinya adalah tanggung jawab mutlak. Maksudnya, pencemar dan/atau perusak
lingkungan “mutlak” harus bertanggung jawab tanpa perlu dibuktikan unsure
kesalahannya.
3. Prinsip yang diambil dari teori Pertanggung jawaban perdata.
a. Market share liability
Pencemaran lingkungan Hidup bias saja disebabkan oleh banyak indostri. Dengan
menggunakan prisnip ini penggugat harus mengahadirkan sejumlah industry yang
menurut penggugat merugikannya. Dalam penyelesaian sengketa di Pengadilan, beban
pembuktian beralih kepada pihak tergugat, dengan demikian berlaku asas “pembuktian
terbalik”.
b. Risk Contribution
Seperti prinsip market share liability, prinsip ini pun sama dalam hal tujuan, yaitu
untuk membantu meringankan beban penggugat. Menurut prinsip ini tergugat juga
dapat menyeret pihak-pihak lain yang diduga sebagai contributor lainnya selain si
tergugat sendiri24.
c. Concert Action
Menurut prinsip ini, pihak-pihak yang ikut berpartisipasi menimbulkan pencemaran
juga mesti bertanggung jawab. Misalnya pihak konsultan yang member nasehat untuk
tidak mengoperasikan alat pembuangan limbah dapat dituntut supaya bertanggung
jawab atas kerugian yang dialami oleh penggugat, bahkan pemerintah pun dapat
dituntut supaya bertanggung jawab, apabila dengan adanya persetujuan atau izin yang
diberikan pemerintah terhadap suatu usaha atau kegiatan tertentu, justru menimbulkan
24
Achamd Santosa dalam KoesnadiHardjasoemantri, Hukum Penyelesaian Sengketa Lingkungan Hidup,
Universitas Atmajaya Yogyakarta, Yogyakarta, 2006, Hal. 72
pencemaran atau perusakan lingkungan hidup yang menimbulkan kerugian bagi
korban25.
d. Enterprise Liability
Prinsip ini adalah pengembangan lebih lanjut dari Prinsip market share liability.
Prinsip ini ingin membantu penggugat yang tidak dapat menunjuk pelaku pencemaran
dari sejumlah industry yang diduga telah mencemari lingkungan sedangkan disisi lain
industry-industri itu telah mengikuti atau mematuhi standard an petunjuk yang
ditentukan. Menurut Prinsip ini, penggugat diperkenankan melibatkan seluruh industry
yang berpotensi mengakibatkan kerugian kepada penggugat serta pihak-pihak yang
terlibat dalam pemberian RKL dan RPL (AMDAL) dan Perizinan. Semua pihak itu
bertanggung jawab secara bersama atas kerugian yang diderita oleh penggugat sesuai
dengan porsinya masing-masing26.
1. Pertanggung Jawaban Pidana
Pada umumnya Hukum Pidana dikenal sebagai Ultimum Remidium / Alternatif
terakhir yang akan digunakan dalam menyelesaikan suatu permasalahan, namun
sebenarnya tdk hanya sebagai ultimum remidium, Hukum Pidana juga dapat menjadi
Primum remedium, apabila terdapat beberapa syarat tertentu.
Pertama : korban jumlahnya sangat besar.
Kedua : terdakwa merupakan recidivist,
Ketiga; kerugian tidak dapat dipulihkan (irreparable)27.
25
Ibid
KoesnadiHardjasoemantri, Hukum Penyelesaian Sengketa Lingkungan Hidup, Universitas Atmajaya Yogyakarta,
Yogyakarta, 2006, Hal 74
27
Dr.H.G. de Bunt dalam Edy OS. Hiariej, Fiat Justicia,Buletin Fakultas Hukum Universitas Gajah Mada,
Yogyakarta,2011,hal 1.
26
Oleh karena itu penggunaan hukum pidana sebagai primidium remidium harus dilihat
berdasarkan situasinya.
Mengenai kepemilikan satwa liar, peneliti juga melihat aturan pidana dalam hal
memiliki satwa liar yang dilindungi kedalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana
(KUHP). Namun ternyata dalam KUHP kita tidak ada aturan yang khusus mengatur tindak
pidana kepemilikan satwa yang dilindungi, dalam Kitab Undang-undang ini hanya
mengatur tanggung jawab dari para pemelihara hewan peliharaan untuk menjaga dan
merawatnya sebaik mungkin dan tidak di perbolehkan untuk melakukan penganiyayaan
terhadap hewan baik yang di pelihara maupun hewan liar di habitatnya. Hal ini
sebagaimana yang diatur dalam pasal 302 dan Pasal 490 KUHP.
Pasal 302 KUHP
(1) diancam dengan pidana paling lama tiga bulan atau denda paling banyak tiga ratus
rupiah karena melakukan penganiayaan ringan terhadap hewan :
ke-1 barang siapa tanpa tujuan yang patut atau secara melampaui batas, dengan
sengaja menyakiti atau melukai atau merugikan kesehatannya;
ke-2 barang siapa tanpa tujuan yang patut atau dengan melampaui batas yang
diperlukan untuk mencapai tujuan itu, dengan sengaja tidak memberi makanan
yang diperlukan untuk hidup kepada hewan, yang seluruhnya atau sebagian
menjadi kepunyaannya dan ada di bawah pengawasannya, atau kepada hewan
yang wajib dipeliharanya
(2) jika perbuatan tersebut mengakibatkan sakit lebih dari seminggu, atau cacat atau
menderita luka-luka berat lainnya, atau mati, yang bersalah dikenakan pidana penjara
paling lama sembilan bulan, atau denda paling banyak tiga ratus rupiah, karena
penganiayaan hewan.
(3) Jika hewan kepunyaan yang bersalah, maka hewan dapat dirampas
(4) Percobaan melakukan kejahatan tersebut tidak dipidana
Dari pasal diatas terlihat bahwa unsur pasalnya lebih mengarah pada perlakuan
terhadapa satwa atau hewan peliharan, bahkan ketika seseorang yang mempunyai hewan
peliharaan lalai dalam memberi makan pada hewan pemeliharaannya orang tersebut dapat
dikenai sanksi pidana, apalagi jika karena perbuatannya satwa atau hewan tersebut
menjadi sakit, atau bahkan sampai mati, maka ancaman sanksinya pun menjadi lebih
berat. Selain itu dalam Pasal 490 KUHP juga mengatur bahwa diancam dengan kurungan
paling lama enam hari, atau denda paling banyak dua puluh rupiah :
ke-1 barangsiapa menghasut binatang terhadap orang atau hewan yang sedang dinaiki
atau dimuati barang;
ke-2 barangsiapa tidak mencegah binatang yang ada dibawah penjagaannya, waktu
menyerang orang atau hewan yang dinaiki atau dimuati barang;
ke-3 barangsiapa tidak menjaga secukupnya binatang buas yang ada dibawah
penjagaannya, supaya tidak menimbulkan kerugian;
ke-4 barang siapa memelihara binatang buas yang berbahaya tanpa melaporkan kepada
polisi atau pejabat lain yang ditunjuk untuk itu, atau tidak menaati peraturan yang
diberikan oleh pejabat tersebut tentang hal itu.
Pasal ini tidak masuk dalam buku II KUHP tentang kejahatan tetapi masuk dalam
buku III KUHP tentang Pelanggaran. Unsur dari Pasal ini hampir sama dengan Pasal 302
KUHP yakni tentang bagaimana hewan peliharaan yang menjadi tanggung jawab
seseorang diperlakukan, bedanya ketentuan ini lebih mengarah ke bagaimana satwa atau
hewan peliharaan yang dimiliki tidak menggangu ketertiban umum. Apabila dilihat dari
sanksinya aturan dalam KUHP ini sudah tidak begitu memberikan efek jera bagi pelaku,
dikarenakan ancaman penjara dan denda sebagaimana diatur sudah tidak sesuai dengan
keadaan sekarang.
Dalam UU No 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan walaupun tidak secara eksplisit
mengatur tentang tindak pidana kepemilikan satwa yang dilindungi, tetapi dalam Pasal 50
ayat (3) huruf m terdapat larangan untuk mengeluarkan, membawa, dan mengangkut
tumbuh-tumbuhan dan satwa liar yang tidak dilindungi undang-undang yang berasal dari
kawasan hutan tanpa izin dari pejabat yang berwenang, dengan ancaman pidana penjara
paling lama 1 (satu) tahun dan denda paling banyak Rp. 50.000.000,- (lima puluh juta
rupiah). Ketentuan dari Pasal ini bukan merupakan kejahatan tetapi berupa pelanggaran.
Sedangkan dalam perspektif UU No. 5 Tahun 1990 , tentang Konservasi Sumber Daya
Alam Hayati dan Ekosistemnya, kepemilikan satwa liar memang sudah jelas dilarang
sebagaimana yang di rumuskan dalam Pasal 21 ayat (2) sebagai berikut :
Setiap orang dilarang untuk :
a. menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut,
dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup;
b. menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut, dan memperniagakan satwa yang
dilindungi dalam keadaan mati;
c. mengeluarkan satwa yang dilindungi dari suatu tempat di Indonesia ke tempat lain
di dalam atau di luar Indonesia;
d. memperniagakan, menyimpan atau memiliki kulit, tubuh, atau bagian-bagian lain
satwa yang dilindungi atau barang-barang yang dibuat dari bagian-bagian tersebut
atau mengeluarkannya dari suatu tempat di Indonesia ke tempat lain di dalam atau
di luar Indonesia;
e. mengambil, merusak, memusnahkan, memperniagakan, menyimpan atau memiliki
telur dan atau sarang satwa yang dillindungi.
Berikut akan di uraikan Unsur dari Pasal 21 ayat (2) Undang-Undang Konservasi :
a. Unsur tindak pidana pada huruf a.
1) menangkap,
2) melukai,
3) membunuh,
4) menyimpan,
5) memiliki,
6) memelihara,
7) mengangkut, dan
8) memperniagakan
9) satwa yang dilindungi
10) dalam keadaan hidup;
b. Unsur tindak pidana pada huruf b.
1) menyimpan,
2) memiliki,
3) memelihara,
4) mengangkut, dan
5) memperniagakan
6) satwa yang dilindungi
7) dalam keadaan mati;
c. Unsur tindak pidana pada huruf c.
1) mengeluarkan
2) satwa yang dilindungi
3) dari suatu tempat di Indonesia ke tempat lain di dalam atau di luar Indonesia;
d. Unsur tindak pidana pada huruf d.
1) memperniagakan,
2) menyimpan atau memiliki kulit, tubuh atau bagian-bagian lain satwa yang
dilindungi atau
3) barang-barang yang dibuat dari bagian-bagian satwa tersebut
4) atau mengeluarkannya dari suatu tempat di Indonesia ke tempat lain di dalam
atau di luar Indonesia;
e. Unsur tindak pidana pada huruf e.
1) mengambil,
2) merusak,
3) memusnahkan,
4) memperniagakan,
5) menyimpan atau memiliki
6) telur dan/atau sarang satwa yang dilindungi.
Apabila merujuk pada unsur-unsur tersebut maka tindak pidana kepemilikan satwa
yang dilindungi yang dimaksud sangat luas, bukan hanya menyimpan, memiliki dan
memelihara satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup seperti yang tercantum dalam
Pasal 21 ayat (2) huruf a, tetapi lebih dari itu yang juga tercantum pada huruf b,d dan e
yakni menyimpan, memiliki dan memelihara satwa yang dilindungi dalam keadaan mati
atau hanya kulit, tubuh dan bagian-bagaiannya. Selain daripada itu menyimpan atau
memiliki telur dan/ atau sarang satwa yang dilindungi juga merupakan bagian dari tindak
pidana kepemilikan satwa yang dilindungi yang kesemua tindakan tersebut memiliki
sanksi yang tegas dan jelas bagi para pelanggarnya yang tercantum dalam pasal 40 ayat (2)
yakni dengan ancaman pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling
banyak Rp. 100.000.000,00 (seratus juta rupiah)
Pengecualian dari pasal 21 ayat (2) tersebut hanya dapat dilakukan untuk keperluan
penelitian, ilmu pengetahuan, dan atau penyelamatan jenis tumbuhan dan satwa,
sebagaimana yang diatur dalam Pasal 22 ayat (1). Selain itu Pengecualian dari larangan
menangkap, melukai, dan membunuh satwa yang dilindungi dapat pula dilakukan dalam
hal oleh karena suatu sebab satwa yang dilindungi membahayakan kehidupan manusia,
sebagaimana diatur dalam Pasal 22 ayat (3).
Hal ini senada dengan apa yang dilarang dalam Pasal 50 ayat (3) UU No.41 Tahun
1999 tentang Kehutanan, dimana setiap orang dilanrang mengeluarkan, membawa, dan
mengangkut tumbuh-tumbuhan dan satwa liar yang tidak dilindungi undang-undang yang
berasal dari kawasan hutan tanpa izin dari pejabat yang berwenang. Pengecualian dari
larangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 hanya dapat dilakukan untuk keperluan
penelitian, ilmu pengetahuan, dan atau penyelamatan jenis tumbuhan dan satwa yang
bersangkutan, seperti pemberian atau penukaran jenis tumbuhan dan satwa kepada pihak
lain di luar negeri dengan izin Pemerintah. Selain itu pengecualian dari larangan
menangkap, melukai, dan membunuh satwa yang dilindungi dapat pula dilakukan dalam
hal oleh karena suatu sebab satwa yang dilindungi membahayakan kehidupan manusia
sebagimana yang diatur dalam pasal 22 UU No. 5 Tahun 1990.
2. Sanksi Pidana
Ketentuan Sanksi pidana mengenai kepemilikan Satwa liar ini diatur dalam Undangundang Repoblik Indonesia Nomor 5 Tahun 1990, tentang Konservasi Sumber Daya Alam
Hayati dan Ekosistemnya Pasal 40 ayat (2) yang mana dikatakan bahwa Barang siapa
dengan sengaja melakukan pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 21 ayat (1) dan ayat (2) serta Pasal 33 ayat (3) dipidana dengan pidana penjara
paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp. 100.000.000,00 (seratus juta
rupiah). Pasal ini mengatur mengenai Sanksi yang diberikan kepada pelaku yang dengan
sengaja dan dengan diketahuinya melanggar ketentuan yang diatur dalam hukum positif.
Sedangkan untuk setiap orang karena kelalaiannya melakukan pelanggaran terhadap
ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 ayat (1) dan ayat (2) serta Pasal 33 ayat
(3) dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun dan denda paling banyak
Rp. 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) Pasal 40 ayat (4) UU No. 5 tahun 1990.
Selanjutnya Pasal 50 dijelaskan bahwa
(1) Barang siapa tanpa izin menggunakan tumbuhan dan atau satwa liar yang dilindungi
untuk kepentingan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (2) dihukum karena
melakukan perbuatan yang dilarang menurut ketentuan Pasal 21 Undang-undang
Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan
Ekosistemnya.
(2) Perbuatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dengan serta merta dapat dihukum
denda administrasi sebanyak-banyaknya Rp.50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah)
dan atau dihukum tidak diperbolehkan melakukan kegiatan pengkajian, penelitian dan
pengembangan terhadap tumbuhan liar dan satwa liar untuk waktu paling lama 5
tahun.
(3) Barang siapa mengambil tumbuhan liar dan atau satwa liar dari habitat alam tanpa
izin atau dengan tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4
ayat (3), Pasal 8 ayat (2), Pasal 29 dan Pasal 39 ayat (2) dengan serta merta dapat
dihukum denda administrasi sebanyak-banyaknya Rp.40.000.000,00 (empat puluh
juta rupiah) dan atau dihukum tidak diperbolehkan melakukan kegiatan pemanfaatan
tumbuhan dan satwa liar.
Bagi yang melakukan perdagangan terhadap satwa liar sebelum memenuhi kategori
sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 10 ayat (1) atau Pasal 11 ayat (1) atau tidak
memenuhi kewajiban sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 dihukum karena melakukan
perbuatan yang dilarang menurut ketentuan Pasal 21 Undang-undang Nomor 5 Tahun
1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Dengan ancaman
hukuman denda administrasi sebanyak-banyaknya Rp.100.000.000,00 (seratus juta rupiah)
dan atau pencabutan izin usaha yang bersangkutan sebagaimana yang diatur dalam Pasal
54 PP no. 8 Tahun 1999 tentang Pemanfaatan jenis tumbuhan dan Satwa Liar. Selanjutnya
dalam Pasal 56 dikatakan barangsiapa melakukan perdagangan satwa liar yang dilindungi
dihukum karena melakukan perbuatan yang dilarang menurut ketentuan Pasal 21 Undangundang Nomor 5 Tahun 1990 Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya,
dengan ancaman hukuman denda administrasi sebanyak-banyaknya Rp.200.000.000,00
(dua ratus juta rupiah) dan atau pencabutan izin usaha yang bersangkutan. Sedangkan
untuk keperluan Eskpor, re-ekspor, atau impor tumbuhan liar dan atau satwa liar tanpa
izin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 ayat (1), atau tanpa dokumen, atau
memalsukan dokumen, atau menyimpang dari syarat-syarat dokumen sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 26 dihukum karena melakukan perbuatan penyelundupan, dengan
ancaman hukuman denda administrasi sebanyak-banyaknya Rp.250.000.000,00 (dua ratus
lima puluh juta rupiah) dan atau pencabutan izin usaha perdagangan yang bersangkutan
sebagaimana yang diatur dalam Pasal 59 PP No. 8 Tahun 1999 tentang Pemanfaatan jenis
tumbuhan dan Satwa Liar.
Adapun untuk pemilhara satwa liar untuk kesenangan terhadap satwa liar yang tidak
dilindungi, itu dibolehkan, tetapi bagi pemelihara satwa liar yang di lindungi hukum
positif atau tidak memenuhi Pasal 40 dan Pasal 41 ayat (2) dengan serta merta dapat
dihukum denda administrasi sebanyak-banyaknya Rp.5.000.000,00 (lima juta rupiah) dan
atau perampasan atas satwa yang dipelihara sebagaimana diatur dalam Pasal 62 PP No.8
tahun 1999 tentang Pemanfaatan jenis tumbuhan dan Satwa Liar.
Apabila terjadi pelanggaran terhadap hukum positif mengenai kepemilikan satwa liar
yang di lindungi, maka tumbuhan dan satwa tersebut dirampas untuk Negara, untuk
kemudian dikembalikan ke habitatnya atau diserahkan kepada lembaga-lembaga yang
bergerak di bidang konservasi tumbuhan dan satwa, kecuali apabila keadaannya sudah
tidak memungkinkan untuk dimanfaatkan sehingga dinilai lebih baik dimusnahkan
sebagaimana yang diatur dalam Pasal 24 UU No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi
Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.
Penegakan hukum konservasi tidak saja menggunakan hukum pidana tetapi juga
menggunakan hukum administrasi negara, hal ini bisa dilihat dalam hal perizinan yang
harus dipenuhi oleh eseorang atau badan hukum yang berkeinginan untuk memiliki atau
memelihara satwa yang dilindungi yang syarat dan ketentuannya diatur dalam Peraturan
Pemerintah Nomor 8 Tahun 1999 tentang Pemanfaatan Tumbuhan dan Satwa Liar
3. Prosedur Penanganan Tindak Pidana
Apabila terjadi pelanggaran sebagaimana yang diatur diatas, maka tindakan dalam
penanganan Kejahatan Tumbuhan dan Satwa Liar ditindaki dengan melakukan Penyidikan
terhadap pelanggaran itu. Untuk melakukan penyidikan Selain Pejabat Penyidik
Kepolisian Negara Republik Indonesia, juga Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu di
lingkungan departemen yang lingkup tugas dan tanggung jawabnya meliputi pembinaan
konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya, diberi wewenang khusus sebagai
penyidik sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang
Hukum Acara Pidana, untuk melakukan penyidikan tindak pidana di bidang konservasi
sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. Penyidik sebagaimana dimaksud, mempunyai
kewenangan sebagaimana yang diatur dalam Pasal 39 ayat (3) UU No. 5 tahun 1990
tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya yaitu :
a. melakukan pemeriksanaan atas laporan atau keterangan berkenaan dengan tindak
pidana di bidang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya;
b. melakukan pemeriksaaan terhadap orang yang diduga melakukan tindak pidana di
bidang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya;
c. memeriksa tanda pengenal seseorang yang berada dalam kawasan suaka alam dan
kawasan pelestarian alam;
d. melakukan penggeledahan dan penyitaan barang bukti tindak pidana di bidang
konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya;
e. meminta keterangan dan bahan bukti dari orang atau badan sehubungan dengan
tindak pidana di bidang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya;
f. membuat dan menandatangani berita acara;
g. menghentikan penyidikan apabila tidak terdapat cukup bukti tentang adanya tindak
pidana di bidang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya.
Setelah dilakukan penyidikan dan telah cukup alat bukti, maka dilakukan penangan
terhadap pelanggaran yang dimaksud dengan prosedur penanganannya sebagai berikut :
1) Penegakan hukum secara preventif adalah suatu tindakan untuk mencegah terjadinya
gejala yang bersangkutan.
Dapat dilakukan oleh Polisi Kehutanan atau bekerjasama dengan mitra kerja PHKA
atau instansi terkait atau aparat penegak hukum lainnya melakukan kegiatan
sosialisasi, pembinaan serta penyuluhan peraturan perundangan, pengenalan jenis
tumbuhan dan satwa liar dilindungi maupun tidak.
Upaya ini dilakukan dan dilaksanakan untuk menekan adanya pelanggaran hukum
yang dilakukan oleh masyarakat. Dengan tujuan agar masyarakat dengan penuh
kesadaran untuk mengurangi atau menghentikan pemakai pengguna tumbuhan dan
satwa liar dalam kegiatan kehidupannya, seperti perdagangan secara komersil tanpa
penggunaan prosedur ijin yang sah.
2) Kegiatan Operasi Intelijen
Dapat dilakukan oleh Polisi kehutanan, instansi terkait yang berwenang, bekerjasama
dengan aparat penegak hukum lainnya dengan tujuan untuk mendapatkan informasi
awal tentang tindak pidana tumbuhan dan satwa liar agar dalam melakukan operasi
represif dapat berjalan tepat sasaran.
3) Penegakan hukum secara represif.
Selain penegakan hukum secara preventif juga dilakukan secara represif. Definisi dari
represif itu sendiri adalah suatu tindakan yang dilakukan untuk menanggulangi
terhadap terjadinya gejala yang bersangkutan, yaitu melakukan tindakan hukum
terhadap pelaku pelanggaran terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku
yang berhubungan dengan tumbuhan dan satwa liar.
Dapat dilaksanakan secara fungsional oleh Polisi Kehutanan, operasi gabungan
bersama dengan aparat penegak hukum di instansi terkait.
4) Proses Yustisia
Dapat dilaksanakan oleh PPNS (Penyidik Pegawai Negeri Sipil) Kementerian
Kehutanan dan atau bekerjasama dengan aparat penegak hukum dan instansi terkait
mulai dari menyelidiki, menyidik sampai pemberkasan diterima oleh jaksa melalui
penyidik POLRI.
5) Penangan Barang Bukti
Penanganan barang bukti baik itu hasil operasi pengamanan fungsional maupun
gabungan, bagi satwa yang masih hidup bisa dikembalikan ke habitat alam setelah
memenuhi syarat didahului dengan izin dari pengadilan negeri setempat, dan sebelum
dilepasliarkan dilakukan habituasi, begitu juga harus menyisakan beberapa sesuai
kebutuhan untuk barang bukti untuk keperluan di persidangan. Sedangkan bagi satwa
maupun bagian-bagian yang lain yang dilindungi bagi keadaannya sudah tidak
memungkinkan untuk dimanfaatkan lebih baik dimusnahkan.
6) Putusan Pengadilan
Pernyataan hakim yang diucapkan dalam sidang pengadilan terbuka, yang dapat
berupa pemidanaan atau bebas atau lepas dari segala tuntutan hukum dalam hal serta
menurut cara yang diatur dalam undang-undang. Dan keputusan pengadilan
sepenuhnya merupakan wewenang hakim, karena hakim akan mencari kebenaran
materiil yaitu kebenarannya terjadi atau kebenaran yang senyata-nyatanya ada dalam
suatu perkara pidana.
Menurut pasal 183 KUHAP hakim tidak boleh menjatuhkan pidana kepada seorang
kecuali apabila dengan sekurang-kurangnya dua alat bukti yang sah ia memperoleh
keyakinan bahwa suatu tindak pidana benar-benar terjadi dan bahwa terdakwalah yang
bersalah melakukannya, maka disinilah peran PPNS atau penyidik POLRI dituntut
lebih profesionalis dalam tugas penyidikannya agar bisa membuktikan pakta di dalam
perkara persidangan28.
28
Suhendart, SP. 2012, Perspektif Hukum Terhadap Pengamanan Tumbuhan dan Satwa Liar(online),
http://www.ksda-bali.go.id/?p=746,(30 oktober 2012)
Download