Uploaded by common.user153427

Efektivitas Penanggulangan Kemiskinan di Sumatera Utara 2020-2025

advertisement
UNIVERSITAS ANDALAS
EFEKTIVITAS PERENCANAAN
PENANGGULANGAN KEMISKINAN DI
SUMATERA UTARA: ANALISIS TREN,
GARIS KEMISKINAN, DAN CAPAIAN
KINERJA DAERAH TAHUN 2020-2025
Dosen pengampu : Dr. Sri Maryati, SE, MSi.
Oleh:
KELOMPOK 8 SUMATERA UTARA
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Kemiskinan akan menghambat akses kesehatan, pendidikan,
perkerjaan layak, dan memperlebar ketimpangan.
Penghapusan kemiskinan jadi tujuan utama SDGs 2030, tapi
pada 2026 masih ada 826 juta orang hidup dalam
kemiskinan ekstrem (United Nations, 2026).
Kemiskinan Indonesia turun dari 9,78% (2020) ke 8,47%
(2025) dan Sumatera Utara selalu dibawah angka nasional
yaitu 8,75% (2020), naik jadi 9,01% (2021), lalu turun ke
7,36% (2025).
Garis kemiskinan Sumatera Utara naik dari Rp 502.904 ke
Rp666.546.
Capaian yang belum sejalan dengan target perencanaan:
1.Perpres 18/2020 target 6,00% (2024), realisasi 7,99%
(selisih 1,99 poin).
2.RPJMD 2025-2029, target 2,82-3,82% butuh
penurunan 0,89-1,14 poin per tahun.
PENDAHULUAN
1.2 RUMUSAN MASALAH
1.Bagaimana perkembangan dan tren tingkat kemiskinan di Provinsi
Sumatera Utara selama periode 2020-2025?
2.Bagaimana perkembangan Garis Kemiskinan di Provinsi Sumatera
Utara selama periode 2020-2025 dan faktor-faktor apa yang
mempengaruhinya?
3.Bagaimana capaian kinerja pembangunan daerah dalam upaya
penanggulangan kemiskinan di Provinsi Sumatera Utara?
4.Bagaimana kesesuaian perencanaan pembangunan daerah dengan
upaya penanggulangan kemiskinan di Provinsi Sumatera Utara?
5.Apa saja faktor yang mendukung dan menghambat perencanaan
penanggulangan kemiskinan di Provinsi Sumatera Utara?
6.Apa implikasi hasil analisis kemiskinan terhadap perencanaan ekonomi
daerah di Provinsi Sumatera Utara?
KERANGKA TEORITIS
1.Konsep dan pengukuran kemiskinan
Kemiskinan adalah kondisi kekurangan kesejahteraan, diukur dengan membandingkan
pendapatan atau konsumsi terhadap batas tertentu (World Bank Institure, 2005 dalam
BPS Sumatera Utara, 2025).
Keterbatasan memenuhi hak dasar, yitu pangan, kesehatan, pendidikan, pekerjaan,
perumahan, rasa aman, dan partisipasi sosial politik (Bappenas, 2005 dalam BPS
Sumatera Utara, 2025).
Dua jenis kemiskinan: Relatif dan Absolut
BPS memakai kemiskinan absolut dengan pendekatan kebutuhan dasar (basic needs
approach).
Tiga indikator utama: Presentase penduduk miskin (P0), indeks kedalaman kemiskinan
(P1), dan indeks keparahan kemiskinan(P2)
Data dirilis dua kali setahun yaitu Maret (terbit Juli) dan September (terbit Januari).
KERANGKA TEORITIS
2.Garis Kemiskinan
Garis kemiskinan adalah penentu jumlah penduduk miskin. Penduduk dikatakan miskin
jika pengeluaran per kapita per bulannya di bawah garis ini.
Cara hitung: Pendekatan kebutuhan dasar, berdasarkan konsumsi sekitar 20% penduduk
yang berada tepat di atas garis kemiskinan sementara.
Komponen: Paket makanan dan non makanan
Tren garis kemiskinan di Sumatera Utara naik konsisten dari Rp388.156 (2016) ke
Rp666.546 (2025) per kapita per bulan. Makanan menyumbang > non makanan,
penyumbang terbesar adalah beras, lalu rokok kretek filter pada 2025. Non makanan
penyumbang terbesar adalah perumahan.
KERANGKA TEORITIS
3.Perencanaan Pembangunan Daerah dan Kebijakan Kemiskinan
UU No. 25 Tahun 2004 (SPPN): RPJP 20 tahun, RPJMN 5 tahun, dan rencana tahunan
(RKP/RKPD). RPJMD harus mengacu pada RPJMN.
Permendagri No 86 Tahun 2017: Tata cara perencanaan, pengendalian, dan evaluasi
daerah. Bappeda mengkoordinasikan dan evaluasi RPJMD harus menjelaskan capaian
beserta faktor yang mempengaruhinya.
Inpres No. 4 Tahun 2022: Percepatan penghapusan kemiskinan ekstrem hingga
mendekati 0% pada 2024, dengan sasaran berbasis P3KE.
Inpres No. 8 Tahun 2025: Pengganti Inpres 4/2022, dengan sasaran berbasis DTSEN
dan melibatkan lebih dari 40 kementerian/lembaga.
Tiga strategi yang sama di kedua Inpres: Mengurangi beban pengeluaran,
meningkatkan pendapatan, dan menurunkan kemiskinan.
Penanggulangan kemiskinan di Sumatera Utara adalah bagian dari sistem perencanaan
berjenjang.
KERANGKA TEORITIS
4.Teori Pendukung
Teori lingkaran setan (vicious circle of poverty) oleh Nurkse (1953): Modal terbatas
membuat produktivitas rendah, lalu pendapatan, tabungan, dan investasi rendah,
sehingga kemiskinan berulang (Maulani dkk., 2019; Kuncoro, 2006 dalam Susanto &
Pangesti, 2019).
Teori sosial demokrat: Kemiskinan bersifat struktural karena akses ke sumber daya
ekonomi tersumbat, sehingga peran pemerintah penting (Sukirno, 2006 dalam Susanto
& Pangesti, 2019).
Teori Struktural (Andre Gunder Frank): Kemiskinan muncul akibat politik ekonomi dunia,
bukan hanya faktor domestik (Sukirno, 2006 dalam Susanto & Pangesti, 2019).
Capability Approach (Amartya Sen): Kemiskinan membatasi akses terhadap gizi,
pendidikan dan kesehatan, sehingga menciptakan lingkaran kemiskinan berkelanjutan
(Fausiah dkk., 2026).
5.Efektivitas Perencanaan
Kuncoro (2012, dalam Bugis dkk., 2026): Perencanaan efektif jika sesuai kebutuhan
daerah
Efektif apabila berjalan sesuai waktu, dan hasilnya sesuai target (Ra’is dkk., 2020).
Dipakai sebagai acuan menilai realisasi kemiskinan Sumatera Utara terhadap target
RPJMD dan RPPJMN.
PEMBAHASAN
Tabel 3. 1 Penduduk Miskin Sumatera Utara
dan Nasional, 2020-2025
3.1 Analisis Tren Kemiskinan 2020-2025
Persentase penduduk miskin Sumatera Utara tercatat
8,75% pada 2020, naik menjadi 9,01% pada 2021,
kemudian turun menjadi 7,36% pada 2025.
Kenaikan tajam pada 2021 terjadi akibat tekanan
pandemi Covid-19, tetapi setelah itu angka kemiskinan
terus menurun setiap tahun.
Sepanjang 2020-2025, kemiskinan berkurang 1,39 poin
persentase, setara dengan 143,04 ribu jiwa atau 11,15%,
dengan rata-rata penurunan 0,28 poin per tahun.
Penurunan terbesar terjadi pada 2025 (0,63 poin) dan
2022 (0,59 poin), sedangkan yang terkecil terjadi pada
2024 (0,16 poin).
Selalu di bawah nasional, selisih 1,03-1,21 poin
Penurunan Sumut (1,39 poin) hanya sedikit di atas
nasional (1,31 poin), sehingga bergerak searah dengan
tren nasional, bukan lebih cepat darinya
Grafik 3.1 Presentase Penduduk Miskin
Provinsi Sumater Utara Tahun 2020-2025
3.2 ANALISIS GARIS KEMISKINAN
Garis kemiskinan Sumatera Utara naik dari Rp502.904 pada 2020
menjadi Rp666.546 pada 2025, atau meningkat 32,54% dengan ratarata 5,80% per tahun. Kenaikan tertinggi terjadi pada 2023 (7,49%),
sedangkan yang terendah terjadi pada 2025 (3,76%).
Sementara itu, garis kemiskinan nasional naik 33,98%, dari Rp454.652
menjadi Rp609.160, sehingga kenaikannya sedikit lebih tinggi daripada
Sumut. Akibatnya, selisih garis kemiskinan Sumut dengan nasional
menyempit dari 10,61% pada 2020 menjadi 9,42% pada 2025.
Adapun penentu utama garis kemiskinan terdiri dari komoditas
makanan dan non-makanan. Pada kelompok makanan, beras memberi
sumbangan terbesar, diikuti rokok kretek filter di posisi kedua,
sedangkan pada kelompok non-makanan, perumahan menjadi
komponen yang paling berpengaruh.
Garis kemiskinan sangat dipengaruhi harga pangan pokok dan rokok
TABEL 3. 2 GARIS KEMISKINAN
NASIONAL DAN SUMATERA
UTARA
3.3-3.4. CAPAIAN KINERJA DAN
EFEKTIVITAS PERENCANAAN
CAPAIAN TERHADAP
TARGET
Menurut Perpres 18/2020, target kemiskinan Sumut pada
2024 adalah 6,00%, tetapi realisasinya mencapai 7,99%,
sehingga meleset 1,99 poin:
1. Untuk mencapai target tersebut, dibutuhkan penurunan
0,57 poin per tahun, padahal yang terealisasi hanya 0,17
poin per tahun.
2. Hal ini terjadi karena target ditetapkan sebelum pandemi,
sehingga tidak mengantisipasi kenaikan pada 2021.
Sementara itu, pada RPJMD 2025-2029, target 2025
sebesar 6,96-7,46% dan realisasinya 7,36%, sehingga
target tercapai, tetapi mendekati batas atas.
Namun,
target
2029
(2,82-3,82%)
membutuhkan
penurunan 0,89-1,14 poin per tahun, atau 3-4 kali lipat laju
historis (0,28).
PENILAIAN
EFEKTIVITAS: EFEKTIF
SEBAGIAN
Perencanaan berdampak nyata, dengan 143,04 ribu jiwa
keluar dari kemiskinan.
Target tahun pertama RPJMD (2025) terpenuhi, karena
7,36% berada dalam rentang 6,96-7,46%.
Namun, target Perpres 2024 tidak tercapai dan meleset 1,99
poin.
Selain itu, target 2029 tidak terjamin tanpa percepatan 3-4
kali lipat dari laju historis.
Dengan demikian, perencanaan sudah berdampak nyata,
tetapi belum mencapai target periode sebelumnya dan
perlu dipercepat untuk mengejar target 2029.
3.4 FAKTOR PENDUKUNG, PENGHAMBAT,
DAN IMPLIKASI
PENDUKUNG
PENGHAMBAT
IMPLIKASI
Kerangka kebijakan
nasional semakin terarah
melalui Inpres 4/2022 dan
Inpres 8/2025.
Kerangka ini memuat tiga
strategi, yaitu mengurangi
beban pengeluaran,
meningkatkan
pendapatan, dan
menurunkan kantong
kemiskinan
Selain itu, penyasarannya
berbasis DTSEN (Data
Tunggal Sosial dan
Ekonomi Nasional).
Pertumbuhan ekonomi
melambat, dari 5,03%
menjadi 4,53%.
Selain itu,
pengangguran, PDRB,
dan pengeluaran per
kapita turut
memengaruhi
kemiskinan
Kualitas hunian (sanitasi
dan air bersih) serta
partisipasi pendidikan
juga berperan.
Di sisi lain, garis
kemiskinan terus naik.
Padukan program
ekonomi dengan
layanan dasar dan
pendidikan, sehingga
penanganannya tidak
bersifat sektoral.
Sasar
kabupaten/kota
tertinggal
berdasarkan DTSEN.
Selain itu, jaga harga
kebutuhan pokok
agar penurunan 0,891,14 poin per tahun
dapat tercapai.
KESIMPULAN DAN
SARAN
1.KESIMPULAN
Tingkat kemiskinan Sumatera Utara turun dari 8,75% (2020) menjadi 7,36% (2025), atau 1,39 poin dengan
rata-rata 0,28 poin per tahun. Penurunan ini searah dengan tren nasional dan terjadi di tengah kenaikan garis
kemiskinan sebesar 32,54% (Rp502.904 menjadi Rp666.546), yang didominasi oleh beras, rokok kretek filter,
dan perumahan. Target Perpres 18/2020 sebesar 6,00% pada 2024 tidak tercapai (meleset 1,99 poin),
sedangkan target RPJMD 2025 tercapai dengan realisasi 7,36%. Namun, target 2029 membutuhkan laju
penurunan 3-4 kali lipat dari laju historis. Dengan demikian, perencanaan penanggulangan kemiskinan dinilai
efektif sebagian: berdampak nyata, tetapi belum memenuhi target periode sebelumnya dan belum terjamin
mencapai target 2029 tanpa percepatan.
2.SARAN
Pemerintah daerah dan Bappeda perlu menetapkan target antara tahunan serta evaluasi berkala sesuai
Permendagri 86/2017 agar kesenjangan terhadap target 2029 tidak menumpuk. Program penciptaan
lapangan kerja perlu dipadukan dengan peningkatan sanitasi, air bersih, dan pendidikan, serta diarahkan ke
kabupaten/kota tertinggal berdasarkan DTSEN. Inflasi dan harga kebutuhan pokok, terutama beras, juga
perlu dijaga karena komponen makanan menjadi penentu utama garis kemiskinan.
PENUTUP
TERIMAKASIH
Download