CULTURAL TURN DAN LINGUISTIC TURN: BAHASA, MAKNA, DAN NARASI SEJARAH Mata Kuliah: Sejarah Pemikiran Disusun oleh Kelompok 4: 1. Putri Dahlia Adha (A1J124034) 2. Erni (A1J124006) 3. Rahmat Firdaus (A1J124010) 4. Dila (A1J124068) Program Studi Ilmu Sejarah Universitas Jambi 2026 PENDAHULUAN Perkembangan ilmu sejarah: Kajian sejarah tidak hanya membahas politik, peperangan, dan tokoh besar, tetapi juga kebudayaan dan kehidupan masyarakat. Perubahan cara pandang: Bahasa, simbol, dan makna mulai diperhatikan dalam memahami peristiwa masa lalu. Munculnya pendekatan baru: Cultural Turn dan Linguistic Turn memberikan cara pandang baru dalam menafsirkan dan menulis sejarah. Tokoh pemikiran: Hayden White, Michel Foucault, dan Clifford Geertz memberikan sumbangan penting terhadap perkembangan pemikiran tersebut. PENGERTIAN DAN LATAR BELAKANG Cultural Turn (Giliran Budaya) Linguistic Turn (Giliran Linguistik) • Pendekatan yang memberikan perhatian terhadap kebudayaan, simbol, nilai, dan makna. • Pendekatan yang menekankan peran bahasa dalam membentuk pemahaman terhadap realitas. • Dalam sejarah, pendekatan ini membantu memahami tradisi dan kehidupan masyarakat. • Dalam sejarah, bahasa dan narasi memengaruhi cara suatu peristiwa diceritakan. Latar Belakang • Berkembang dalam pemikiran abad ke-20. • Dipengaruhi filsafat bahasa, teori sastra, strukturalisme, dan pascastrukturalisme. • Memperluas kajian sejarah dari peristiwa menuju bahasa, budaya, dan makna. HAYDEN WHITE: SEJARAH SEBAGAI NARASI Pemikiran Utama • Dalam Metahistory (1973), White menjelaskan bahwa penulisan sejarah memiliki bentuk narasi. • Sejarawan memilih dan menyusun fakta menjadi sebuah cerita sejarah. • Cara menyusun cerita dapat memengaruhi pemahaman pembaca terhadap masa lalu. Empat Bentuk Narasi (Emplotment) 1. Romance: perjuangan dan kemenangan. 2. Tragedy: konflik dan kegagalan. 3. Comedy: penyelesaian konflik. 4. Satire: kritik terhadap keadaan. Inti Pemikiran: Fakta sejarah tetap penting, tetapi penyajiannya melibatkan pilihan dan penafsiran sejarawan. MICHEL FOUCAULT: WACANA DAN PENGETAHUAN Pemikiran Utama Contoh dalam Sejarah • Dalam The Archaeology of Knowledge (1972), Foucault membahas bagaimana pengetahuan terbentuk dalam periode tertentu. • Wacana bukan sekadar percakapan, tetapi praktik yang membentuk cara suatu persoalan dipahami. • Dokumen kolonial menggunakan istilah tertentu untuk menggambarkan masyarakat pribumi. • Setiap periode memiliki aturan mengenai hal-hal yang dapat dibicarakan dan diakui sebagai pengetahuan. • Istilah tersebut dapat menunjukkan sudut pandang dan kepentingan pemerintah kolonial. Inti Pemikiran: Sejarawan perlu mengkaji bagaimana pengetahuan dibentuk melalui wacana dan kondisi sejarah. CLIFFORD GEERTZ: KEBUDAYAAN DAN MAKNA Pemikiran Utama • Dalam The Interpretation of Cultures (1973), Geertz memandang kebudayaan sebagai jaringan makna yang dibentuk manusia. • Simbol dan tindakan masyarakat memiliki makna yang perlu dipahami berdasarkan konteksnya. • Penelitian budaya tidak cukup hanya mencatat tindakan, tetapi juga harus menafsirkan maknanya. Konsep Thick Description Thin description: hanya menjelaskan tindakan yang terlihat. Thick description: menjelaskan tindakan beserta makna dan konteksnya. Contoh: Sabung ayam di Bali tidak hanya dipahami sebagai hiburan, tetapi juga berkaitan dengan status, kehormatan, dan hierarki sosial. PERBANDINGAN KETIGA TOKOH Tokoh Fokus Pemikiran Kontribusi Hayden White Narasi dan bahasa Menjelaskan penyusunan fakta menjadi cerita sejarah. Michel Foucault Wacana dan pengetahuan Mengkaji pembentukan pengetahuan dalam suatu periode. Clifford Geertz Kebudayaan dan makna Memahami makna simbol dan tindakan masyarakat. Persamaan: Ketiganya memperluas cara memahami masa lalu, tidak hanya melalui kronologi peristiwa, tetapi juga melalui bahasa, wacana, dan kebudayaan. PENGARUH TERHADAP HISTORIOGRAFI Penafsiran fakta: Fakta sejarah dipahami berdasarkan konteks sosial dan budaya. Perhatian terhadap bahasa: Pilihan kata dan narasi memengaruhi cara peristiwa disampaikan. Kajian kebudayaan: Simbol, tradisi, dan identitas masyarakat menjadi bagian penting penelitian. Kajian kekuasaan: Dokumen dan wacana dapat digunakan untuk melihat hubungan pengetahuan dan kekuasaan. Peran sejarawan: Sejarawan tidak hanya mencatat peristiwa, tetapi juga menafsirkan makna di balik sumber sejarah. PENERAPAN DALAM PENELITIAN SEJARAH 1. Sejarah Kebudayaan • Mengkaji makna motif dan simbol pada songket Jambi. • Memahami hubungan kebudayaan dengan identitas masyarakat. 2. Sejarah Surat Kabar • • Membandingkan pemberitaan suatu peristiwa dari berbagai surat kabar. Mengidentifikasi sudut pandang dan penggunaan bahasa. 3. Sejarah Kolonial • Mengkaji istilah dalam dokumen pemerintah kolonial. • Memahami cara pemerintah menggambarkan masyarakat pribumi. KRITIK DAN KETERBATASAN Kelebihan Keterbatasan • Memperluas objek kajian sejarah. • Penafsiran dapat dipengaruhi sudut pandang peneliti. • Memperhatikan kelompok masyarakat yang sebelumnya kurang mendapat perhatian. • Terlalu berfokus pada narasi dapat mengaburkan fakta sejarah. • Membantu memahami makna budaya dan bahasa. • Makna budaya tidak selalu sama bagi setiap kelompok masyarakat. Pentingnya Kritik Sumber Kritik eksternal: memeriksa keaslian dan asal-usul sumber. Kritik internal: memeriksa isi, kredibilitas, dan sudut pandang penulis. KESIMPULAN • Cultural Turn dan Linguistic Turn memperluas cara pandang dalam memahami sejarah melalui kebudayaan, bahasa, dan makna. • Hayden White menekankan pentingnya narasi dalam penulisan sejarah. • Michel Foucault menjelaskan hubungan wacana dan pembentukan pengetahuan. • Clifford Geertz menekankan pemahaman makna di balik simbol dan tindakan masyarakat. • Ketiga pemikiran tersebut memperkaya historiografi, tetapi tetap harus didukung fakta dan kritik sumber. Kesimpulan Utama: Sejarah bukan hanya membahas apa yang terjadi pada masa lalu, tetapi juga bagaimana peristiwa tersebut diceritakan, dimaknai, dan dipahami oleh masyarakat.