p-ISSN : 1411-3597 e-ISSN : 2527-7286 DO : 10.35965/eco.v26i1.8695 244 Analisis Kapasitas Saluran Drainase dan Limpasan Permukaan pada Saluran Sekunder Jalan Belimbing Kecamatan Wara Kota Palopo Analysis of Drainage Channel Capacity and Surface Runoff in the Secondary Drainage Channel of Belimbing Street, Wara District, Palopo City Rahmat Kausar*, Indrajaya, Muarif * Email: [email protected] Program Studi Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Andi Djemma Diterima: 05 Januari 2026 / Disetujui: 30 April 2026 ABSTRAK Drainase merupakan salah satu infrastruktur penting dalam mengendalikan limpasan air hujan pada kawasan perkotaan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kapasitas saluran drainase eksisting dan limpasan permukaan pada saluran sekunder di Jalan Belimbing Kecamatan Wara Kota Palopo. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kuantitatif dengan analisis hidrologi dan hidraulika. Analisis curah hujan dilakukan menggunakan distribusi Gumbel dan Log Pearson Tipe III untuk memperoleh curah hujan rencana, sedangkan debit banjir rencana dihitung menggunakan metode rasional. Selanjutnya kapasitas saluran eksisting dihitung dan dibandingkan dengan debit banjir rencana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa debit banjir rencana pada periode ulang 2 tahun sebesar 0,29 m³/det, periode ulang 5 tahun sebesar 0,46 m³/det, dan periode ulang 10 tahun sebesar 0,57 m³/det. Sementara itu kapasitas saluran eksisting hanya berkisar antara 0,22–0,24 m³/det. Hal ini menunjukkan bahwa kapasitas saluran drainase eksisting tidak mampu menampung debit banjir rencana sehingga diperlukan perencanaan ulang saluran drainase agar dapat menampung limpasan air hujan secara optimal. Kata Kunci: Drainase Perkotaan, Debit Banjir Rencana, Kapasitas Saluran, Limpasan Permukaan ABSTRACT Drainage is an important infrastructure in controlling rainwater runoff in urban areas. This study aims to analyze the capacity of the existing drainage channel and surface runoff in the secondary drainage channel on Belimbing Street, Wara District, Palopo City. The research method used was a quantitative approach through hydrological and hydraulic analysis. Rainfall analysis was carried out using the Gumbel and Log Pearson Type III distributions to determine the design rainfall, while the design flood discharge was calculated using the Rational method. Furthermore, the capacity of the existing channel was calculated and compared with the design flood discharge. The results showed that the design flood discharge for the 2-year return period was 0.29 m³/s, for the 5-year return period was 0.46 m³/s, and for the 10-year return period was 0.57 m³/s. Meanwhile, the capacity of the existing drainage channel ranged only from 0.22 to 0.24 m³/s. These results indicate that the existing drainage channel capacity is insufficient to accommodate the design flood discharge; therefore, a redesign of the drainage channel is required to optimally convey rainwater runoff. Keywords: Revenue This work is licensed under Creative Commons Attribution License 4.0 CC-BY International license A. PENDAHULUAN Drainase merupakan kebutuhan masyarakat serta menjadi salah satu komponen penting dalam perencanaan fasilitas dasar yang dirancang sebagai kota dan infrastruktur wilayah (Lakawa et sistem pengaliran air guna memenuhi al., 2025; Putri Wulandari & Andriyus, Jurnal Ilmiah Ecosystem Volume 26 Nomor 1, Hal. 244-251, Januari - April 2026 245 2024). Sistem drainase berfungsi untuk bahwa ketidaksesuaian antara kapasitas mengalirkan, membuang, atau mengurangi saluran drainase dan debit limpasan kelebihan air dari suatu kawasan sehingga merupakan salah satu penyebab utama lahan dapat dimanfaatkan secara optimal terjadinya (Sari et al., 2025). Sistem drainase yang permukiman. Selain itu, Abrianto et al. baik sangat diperlukan terutama pada (2022) juga menyatakan bahwa evaluasi kawasan tingkat kapasitas saluran drainase diperlukan kepadatan penduduk yang tinggi, karena untuk mengetahui kemampuan saluran mampu menjaga kondisi lingkungan agar dalam tetap sehat serta mencegah terjadinya sehingga dapat meminimalkan potensi genangan atau banjir. banjir. Penelitian lain juga menunjukkan perkotaan Konsep dengan drainase genangan menampung pada debit kawasan air hujan konvensional bahwa peningkatan intensitas curah hujan merupakan upaya untuk membuang atau serta perubahan penggunaan lahan dapat mengalirkan secepat meningkatkan debit limpasan permukaan mungkin menuju saluran terdekat hingga yang harus ditampung oleh sistem drainase akhirnya dialirkan ke badan air penerima. (Affandy & Andhika, 2025; Zhou et al., Namun dalam perkembangannya, sistem 2019). kelebihan air drainase konvensional sering Permasalahan serupa juga terjadi di menimbulkan berbagai permasalahan Jalan Belimbing, Kecamatan Wara, Kota lingkungan apabila tidak direncanakan Palopo. Pada kawasan tersebut sering dengan baik, seperti meningkatnya potensi terjadi genangan air ketika hujan dengan banjir di wilayah hilir, berkurangnya intensitas daerah resapan air, serta menurunnya observasi lapangan dan informasi dari kualitas lingkungan akibat perubahan tata masyarakat setempat, kondisi tersebut guna lahan (Nugraha et al., 2025). diduga disebabkan oleh beberapa faktor, Beberapa penelitian sebelumnya tinggi. Berdasarkan hasil seperti berkurangnya daerah resapan air, menunjukkan bahwa kapasitas saluran pertumbuhan penduduk yang drainase yang tidak sesuai dengan debit pembangunan permukiman yang kurang limpasan permukaan dapat menyebabkan memperhatikan terjadinya genangan air pada kawasan lingkungan, serta adanya sedimentasi dan perkotaan. Magrib & Tiwery (2023) dan penumpukan Mohammad et al. (2023) menjelaskan drainase yang menghambat aliran air. sistem sampah pada tinggi, drainase saluran Jurnal Ilmiah Ecosystem Volume 26 Nomor 1, Hal. 244-251, Januari - April 2026 246 Selain itu, sistem drainase yang tidak menggunakan metode distribusi Gumbel terintegrasi dan Log Pearson Tipe III. Selanjutnya dengan baik juga menyebabkan aliran air terkonsentrasi dilakukan pada menggunakan daerah tertentu sehingga meningkatkan potensi genangan. uji distribusi Chi-Square dan distribusi yang paling sesuai. diperlukan analisis terhadap kapasitas eksisting Setelah curah hujan rencana serta diperoleh, dilakukan analisis intensitas perhitungan debit limpasan permukaan hujan dan perhitungan debit banjir rencana yang terjadi pada kawasan tersebut. Oleh menggunakan karena itu, penelitian ini dilakukan untuk Selanjutnya dilakukan analisis kapasitas menganalisis kapasitas saluran drainase saluran dan debit limpasan permukaan di Jalan dibandingkan dengan debit banjir rencana Belimbing, untuk mengetahui kemampuan saluran Palopo, drainase kesesuaian Smirnov-Kolmogorov untuk menentukan Berdasarkan permasalahan tersebut, saluran uji Kecamatan sehingga Wara, dapat Kota diketahui kemampuan saluran drainase dalam menampung debit air serta hujan memberikan rekomendasi perencanaan drainase yang lebih efektif B. metode drainase rasional. eksisting dan dalam menampung limpasan air hujan C. HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Analisis Curah Hujan Rencana Analisa curah hujan rencana adalah analisa curah hujan untuk mendapatkan METODE PENELITIAN tinggi curah hujan tahunan tahun ke n yang Penelitian ini menggunakan metode mana akan digunakan untuk mencari debit kuantitatif dengan pendekatan analisis banjir rancangan. Jika di dalam suatu area hidrologi dan hidraulika. Data yang terdapat beberapa alat penakar atau digunakan dalam penelitian ini terdiri dari pencatat curah hujan, maka dapat diambil data primer dan data sekunder. Data primer nilai rata-rata untuk mendapatkan nilai diperoleh melalui observasi lapangan curah hujan hujan area. untuk mengetahui kondisi eksisting saluran drainase, sedangkan data sekunder berupa data curah hujan tahunan yang diperoleh dari instansi terkait. Analisis curah hujan dilakukan untuk menentukan curah hujan rencana Jurnal Ilmiah Ecosystem Volume 26 Nomor 1, Hal. 244-251, Januari - April 2026 247 Tabel 1 Curah Hujan Harian Maksimum No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Tahun 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2021 2022 2023 2024 jumlah N = RATA RATA = Xi 34,45 31,83 40,55 50,33 39,67 62,92 70,67 58,00 44,08 36,42 468,92 10 46,89 Xi-X -12,44 -15,06 -6,35 50,33 -7,23 16,03 23,78 11,11 -2,81 -10,48 46,89 (Xi-X)² 154,68 226,75 40,27 2533,44 52,20 256,80 565,25 123,40 7,89 109,73 4070,414 (Xi-X)³ -1923,80 -3414,53 -255,59 127517 -377,15 4115,23 13438,83 1370,71 -22,15 -1149,38 139298,89 (Xi-X)⁴ 23926,52 51417,11 1622,03 6418340,8 2724,91 65946,56 319508,27 15226,34 62,20 12039,71 6910814,39 Sumber Data: Hasil Penelitian, 2025 2. Analisis Debit Banjir Rencana Pengaliran (C), dikarenakan daerah di Pada Lokasi drainase kawasan Lokasi Penelitian adalah Perhitungan Daerah Penelitian, digunakan koefisien pengaliran Perkotaan. debit banjir sebesar 0,95 sesuai pada tabel 2. Koefisien rencana dengan periode ulang 2 tahun. Tabel 2 Hasil Perhitungan Debit Banjir Rencana Pada Titik ke-2 periode (tahun) L (M) C I (mm/jam) A (Ha) Q (m/det) 2 990 0,95 17,73 6,25 0,29 5 990 0,95 27,91 6,25 0,46 10 990 0,95 34,67 6,25 0,57 Sumber Data: Hasil Penelitian, 2025 3. Analisis Kapasitas Eksisting Saluran Drainase Tabel 3 Kondisi Eksisting Saluran Sekunder Drainase Pada Jalan Belimbing saluran sekunder STA Kiri STA Ukuran Saluran b (m) m H (m) L (m) 0 + 000 0,30 0,5 0,40 100 0 + 100 0,30 0,5 0,42 100 0 + 200 0,31 0,5 0,40 100 0 + 300 0,30 0,51 0,41 100 0 + 400 0,32 0,5 0,40 100 0 + 500 0,32 0,5 0,42 100 0 + 600 0,30 0,51 0,41 100 0 + 700 0,31 0,52 0,41 100 0 + 800 0,32 0,52 0,42 100 0 + 900 0,30 0,5 0,40 150 Q saluran Q rencana (m3/det) Kondisi Eksisting Saluran Batu Pecah Disemen Ket Jurnal Ilmiah Ecosystem Volume 26 Nomor 1, Hal. 244-251, Januari - April 2026 248 Dimensi eksisting (m3/det) saluran sekunder Kiri eksistin g (m3/det) b m H 0+000 0,30 0,50 0,40 0,23 0+100 0,30 0,50 0,42 0,23 0+200 0,31 0,50 0,40 0,23 0+300 0,30 0,51 0,41 0,22 0+400 0,32 0,50 0,40 0,24 0+500 0,32 0,50 0,42 0,24 0+600 0,30 0,51 0,41 0,22 0+700 0,31 0,52 0,41 0,23 0+800 0,32 0,52 0,42 0,24 0+900 0,30 0,50 0,40 0,23 2 tahu n 5 tahu n 10 tahun 0,29 0,46 0,57 tidak aman untuk 2,5 dan 10 tahun Sumber Data: Hasil Penelitian, 2025 Dari hasil perhitungan Q saluran Curah hujan yang tinggi dapat eksisting dengan perhitungan Q rencana, menyebabkan limpasan yang yang besar, Saluran sekunder drainase: periode 2 tahun sementara kemiringan tanah yang curam sebesar Q = 0,29 m³/det, 5 tahun sebesar Q dapat memcepat aliran. Jenis tanah juga = 0,46m³/det dan 10 tahun sebesar Q = berperan penting, karena tanah yang tidak 0,57 m³/det. diketahui bahwa kondisi dapat menyerap air dengan baik dapat kapasitas saluran drainase sudah tidak meningkatkan mampu lagi menampung besarnya debit kepadatan penduduk banjir sehingga diperlukan perencanaan terbangun juga ulang agar dapat menampung debit banjir. limpasan drainase, karena permukaan yang Faktor-faktor yang mempengaruhi keras dan tidak dapat menyerap air dapat terjadinya limpasan di akibatkan oleh limpasaan. dapat dan Selain itu, luas area mempengaruhi meningkatkan aliran air dipermukaan. beberapa faktor seperti pegaruh intensitas Tabel 4. Hasil Perhitungan Kapasitas curah hujan dan durasi hujan yang tinggi Saluran Drainase Sebelah Kiri dapat meningkatkan limpasan, terutama Posisi Kapasitas itu STA 0+000 0,23 m3 /det Penumpukan sampah dan polusi dapat STA 0+100 0,23 m3 /det STA 0+200 0,23 m3 /det STA 0+300 0,22 m3 /det STA 0+400 0,24m3 /det jika tanah sudah jenuh. selain menyumbat saluran drainase, sehingga menyebabkan limpasan yang tidak teratur. Jurnal Ilmiah Ecosystem Volume 26 Nomor 1, Hal. 244-251, Januari - April 2026 249 STA 0+500 0,24 m3 /det STA 0+600 0,24 m3 /det STA 0+700 0,22 m3 /det STA 0+800 0,24 m3 /det STA 0+900 0,23 m3 /det terhadap meningkatnya debit limpasan yang kapasitas saluran drainase eksisting (0,22– 0,24 m³/det) lebih kecil dibandingkan debit banjir rencana hingga periode ulang 10 tahun (0,57 m³/det), yang mengindikasikan bahwa sistem drainase tidak mampu menampung limpasan air hujan secara optimal. Kondisi ini menunjukkan adanya kapasitas hidraulik saluran dan beban limpasan yang dihasilkan akibat curah hujan dan karakteristik daerah tangkapan. Temuan ini sejalan dengan penelitian oleh Patskoski et al. (2015) yang menyatakan bahwa kegagalan sistem drainase perkotaan umumnya disebabkan oleh ketidaksesuaian antara kapasitas saluran dan peningkatan limpasan oleh Selain itu, rendahnya Hasil analisis menunjukkan bahwa antara ditampung sistem drainase. Sumber Data: Hasil Penelitian, 2025 ketidakseimbangan harus akibat urbanisasi. Selain itu, studi oleh Kindt (2018) dalam konsep hidrologi terapan menunjukkan bahwa metode rasional yang digunakan dalam penelitian ini merupakan pendekatan yang umum dan efektif untuk menghitung debit puncak pada daerah perkotaan dengan luas tangkapan relatif kecil. Penelitian lain juga menunjukkan bahwa peningkatan intensitas hujan akibat kapasitas saluran juga dipengaruhi oleh faktor nonhidrologis seperti penyempitan dimensi sedimentasi, saluran, serta penumpukan sampah yang menghambat aliran air. Hal ini sesuai dengan penelitian oleh Mori et al. (2018) yang menyatakan bahwa performa sistem drainase perkotaan tidak hanya dipengaruhi oleh desain awal, tetapi juga oleh faktor operasional dan pemeliharaan. Ketidakefisienan sistem drainase sering kali disebabkan oleh degradasi kapasitas saluran akibat endapan sedimen dan limbah padat yang mengurangi luas penampang efektif aliran. Penelitian lain juga menunjukkan bahwa perubahan tata guna lahan, terutama peningkatan area meningkatkan sehingga terbangun, koefisien memperbesar debit dapat limpasan puncak (Rizkyandi et al., 2015; Suyanto & Maulidiyah, 2023). Kondisi ini relevan dengan lokasi penelitian yang merupakan kawasan perkotaan dengan koefisien limpasan tinggi (C = 0,95), sehingga sebagian besar air hujan langsung menjadi limpasan permukaan tanpa infiltrasi yang signifikan. perubahan iklim berkontribusi signifikan Jurnal Ilmiah Ecosystem Volume 26 Nomor 1, Hal. 244-251, Januari - April 2026 250 Dengan demikian, hasil penelitian periode ulang 10 tahun sebesar 0,57 ini menegaskan bahwa perencanaan ulang m³/det. Sementara itu, kapasitas saluran sistem drainase sangat diperlukan, baik drainase eksisting pada saluran sekunder melalui peningkatan dimensi saluran kiri berkisar antara 0,22–0,24 m³/det dan maupun penerapan konsep drainase pada saluran sekunder kanan berkisar berkelanjutan seperti sustainable urban drainage systems (SUDS). Pendekatan ini terbukti mampu mengurangi antara 0,26–0,28 m³/det. Hasil tersebut menunjukkan bahwa debit kapasitas saluran drainase eksisting tidak limpasan melalui peningkatan infiltrasi mampu menampung debit banjir rencana dan retensi air hujan di sumbernya. yang terjadi. Oleh karena itu, diperlukan Menurut penelitian oleh Li et al. (2017) perencanaan ulang sistem saluran drainase penerapan sistem drainase berkelanjutan agar mampu menampung debit limpasan dapat meningkatkan kapasitas sistem air hujan secara optimal sehingga dapat secara keseluruhan sepenuhnya bergantung tanpa harus mengurangi potensi genangan air di pada saluran kawasan Jalan Belimbing Kecamatan konvensional. Selain itu, integrasi antara Wara Kota Palopo. analisis hidrologi dan hidraulika seperti DAFTAR PUSTAKA yang dilakukan dalam penelitian ini merupakan langkah penting dalam memastikan bahwa desain drainase yang dihasilkan tidak kapasitas teknis, hanya tetapi memenuhi juga adaptif terhadap perubahan lingkungan di masa depan. D. KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil analisis kapasitas saluran drainase dan debit banjir rencana pada saluran sekunder Jalan Belimbing Kecamatan Wara Kota Palopo, diperoleh bahwa debit banjir rencana pada periode ulang 2 tahun sebesar 0,29 m³/det, periode ulang 5 tahun sebesar 0,46 m³/det, dan Abrianto, R. H., Universitas Trunojoyo Madura, Subari, S., Universitas Trunojoyo Madura, Farid, A., & Universitas Trunojoyo Madura. (2022). Strategi Pengelolaan Sistem Drainase Perumahan Soka Park Kabupaten Bangkalan Sebagai Upaya Pengendalian Banjir. Jurnal Sumberdaya Alam Dan Lingkungan, 9(2), 46–57. https://doi.org/10.21776/ub.jsal.2022.009.02. 2 Affandy, N. A., & Andhika, Y. E. (2025). Evaluasi Efektivitas Drainase Jalan Kusuma Bangsa dalam Mengatasi Intensitas Banjir Tahunan dan Strategi Mitigasi Genangan Air di Kabupaten Lamongan. Journal of Applied Civil Engineering and Infrastructure Technology, 7(2), 88–94. https://doi.org/10.52158/jaceit.v7i2.107 7 Kindt, R. (2018). Ensemble species distribution modelling with transformed Jurnal Ilmiah Ecosystem Volume 26 Nomor 1, Hal. 244-251, Januari - April 2026 251 suitability values. Environmental Modelling & Software, 100, 136–145. https://doi.org/10.1016/j.envsoft.2017.1 1.009 Lakawa, I., Hujiyanto, H., Sufrianto, S., Ilham, V. A., Makkawaru, A., Saputra, K. A., & Setiawan, A. K. (2025). Peningkatan Kapasitas Masyarakat Dalam Perencanaan Infrastruktur Sederhana di Kelurahan Benu-Benua Kota Kendari. Sultra Jurnal Pengabdian Masyarakat, 1(2), 89–96. https://doi.org/10.54297/sjpm.v1i2.877 Li, W., Lei, L., Yun, Z., & Jiangtao, F. (2017). Fabrication of titanium carburizing electrodes for capacitive deionization. Water Science and Technology, 76(4), 754–760. https://doi.org/10.2166/wst.2017.210 Magrib, N. I. D., & Tiwery, C. J. (2023). Perencanaan Saluran Drainase sebagai Upaya Penanggulangan Banjir. ARIKA, 17(1), 11–22. https://doi.org/10.30598/arika.2023.17.1.11 Mohammad, R. F., Ferryati Masitoh, & Didik Taryana. (2023). Evaluasi Kapasitas Saluran Drainase untuk Pengendalian Limpasan Permukaan (Studi Kasus: Sisi Selatan Desa Kaliwungu). Media Komunikasi Geografi, 24(2), 232–248. https://doi.org/10.23887/mkg.v24i2.67 044 Mori, J., Fini, A., Galimberti, M., Ginepro, M., Burchi, G., Massa, D., & Ferrini, F. (2018). Air pollution deposition on a roadside vegetation barrier in a Mediterranean environment: Combined effect of evergreen shrub species and planting density. Science of The Total Environment, 643, 725–737. https://doi.org/10.1016/j.scitotenv.2018 .06.217 Nugraha, B. R. A., Suryaningrum, I., Amanda, P., Agfanisa, R., Ardeny, A. N. F., Pratama, L. S., Haris, A., Fariz, T. R., Jabbar, A., Kholil, P. A., & Faizah, N. (2025). Perubahan Tata Guna Lahan Terhadap Daya Dukung Fungsi Lindung Daerah Aliran Sungai (Das) Babon di Semarang Dan Sekitarnya. Jurnal Riptek, 19(1), 77–86. https://doi.org/10.35475/riptek.v19i1.305 Patskoski, J., Sankarasubramanian, A., & Wang, H. (2015). Reconstructed streamflow using SST and tree-ring chronologies over the southeastern United States. Journal of Hydrology, 527, 761–775. https://doi.org/10.1016/j.jhydrol.2015.0 5.041 Putri Wulandari, A. & Andriyus. (2024). Evaluasi Pelaksanaan Tugas Dinas Pekerjaan Umum Dan Penataan Ruang Kota Pekanbaru Dalam Pemeliharaan Saluran Drainase Di Pekanbaru. Jurnal Mahasiswa Pemerintahan, 378–389. https://doi.org/10.25299/jmp..18035 Rizkyandi, I., Sarwono, B., & Savitri, Y. R. (2015). Perencanaan Sistem Drainase Di Daerah Aliran Sungai (Das) Kali Dapur / Otik Sehubungan Dengan Perkembangan Kota Lamongan. Jurnal Hidroteknik, 1(2), 43. https://doi.org/10.12962/jh.v1i2.1664 Sari, H., Muttaqin, Z., & Aulia, R. (2025). Analisis Sistem Drainase Desa di Kabupaten Aceh Utara. MARAS : Jurnal Penelitian Multidisiplin, 3(3), 1181–1187. https://doi.org/10.60126/maras.v3i3.12 21 Suyanto, S., & Maulidiyah, A. (2023). Analisis Kapasitas Saluran Drainase Calung Dalam Penanganan Banjir Di Kota Pasuruan. Composite: Journal of Civil Engineering, 2(2), 44–55. https://doi.org/10.26905/jtsc.v2i2.1092 5 Zhou, Q., Leng, G., Su, J., & Ren, Y. (2019). Comparison of urbanization and climate change impacts on urban flood volumes: Importance of urban planning and drainage adaptation. Science of The Total Environment, 658, 24–33. https://doi.org/10.1016/j.scitotenv.2018 .12.184 Jurnal Ilmiah Ecosystem Volume 26 Nomor 1, Hal. 244-251, Januari - April 2026