Uploaded by mfairuzalmuktafi

Analisis Kapasitas Saluran Drainase dan Limpasan Permukaan

advertisement
p-ISSN : 1411-3597
e-ISSN : 2527-7286
DO
: 10.35965/eco.v26i1.8695
244
Analisis Kapasitas Saluran Drainase dan Limpasan Permukaan pada
Saluran Sekunder Jalan Belimbing Kecamatan Wara Kota Palopo
Analysis of Drainage Channel Capacity and Surface Runoff in the Secondary Drainage
Channel of Belimbing Street, Wara District, Palopo City
Rahmat Kausar*, Indrajaya, Muarif
*
Email: [email protected]
Program Studi Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Andi Djemma
Diterima: 05 Januari 2026 / Disetujui: 30 April 2026
ABSTRAK
Drainase merupakan salah satu infrastruktur penting dalam mengendalikan limpasan air hujan pada
kawasan perkotaan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kapasitas saluran drainase eksisting
dan limpasan permukaan pada saluran sekunder di Jalan Belimbing Kecamatan Wara Kota Palopo.
Metode penelitian yang digunakan adalah metode kuantitatif dengan analisis hidrologi dan hidraulika.
Analisis curah hujan dilakukan menggunakan distribusi Gumbel dan Log Pearson Tipe III untuk
memperoleh curah hujan rencana, sedangkan debit banjir rencana dihitung menggunakan metode
rasional. Selanjutnya kapasitas saluran eksisting dihitung dan dibandingkan dengan debit banjir
rencana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa debit banjir rencana pada periode ulang 2 tahun sebesar
0,29 m³/det, periode ulang 5 tahun sebesar 0,46 m³/det, dan periode ulang 10 tahun sebesar 0,57 m³/det.
Sementara itu kapasitas saluran eksisting hanya berkisar antara 0,22–0,24 m³/det. Hal ini menunjukkan
bahwa kapasitas saluran drainase eksisting tidak mampu menampung debit banjir rencana sehingga
diperlukan perencanaan ulang saluran drainase agar dapat menampung limpasan air hujan secara
optimal.
Kata Kunci: Drainase Perkotaan, Debit Banjir Rencana, Kapasitas Saluran, Limpasan Permukaan
ABSTRACT
Drainage is an important infrastructure in controlling rainwater runoff in urban areas. This study
aims to analyze the capacity of the existing drainage channel and surface runoff in the secondary
drainage channel on Belimbing Street, Wara District, Palopo City. The research method used was a
quantitative approach through hydrological and hydraulic analysis. Rainfall analysis was carried out
using the Gumbel and Log Pearson Type III distributions to determine the design rainfall, while the
design flood discharge was calculated using the Rational method. Furthermore, the capacity of the
existing channel was calculated and compared with the design flood discharge. The results showed
that the design flood discharge for the 2-year return period was 0.29 m³/s, for the 5-year return period
was 0.46 m³/s, and for the 10-year return period was 0.57 m³/s. Meanwhile, the capacity of the existing
drainage channel ranged only from 0.22 to 0.24 m³/s. These results indicate that the existing drainage
channel capacity is insufficient to accommodate the design flood discharge; therefore, a redesign of
the drainage channel is required to optimally convey rainwater runoff.
Keywords: Revenue
This work is licensed under Creative Commons Attribution License 4.0 CC-BY International license
A.
PENDAHULUAN
Drainase merupakan
kebutuhan
masyarakat
serta
menjadi
salah satu
komponen penting dalam perencanaan
fasilitas dasar yang dirancang sebagai
kota dan infrastruktur wilayah (Lakawa et
sistem pengaliran air guna memenuhi
al., 2025; Putri Wulandari & Andriyus,
Jurnal Ilmiah Ecosystem Volume 26 Nomor 1, Hal. 244-251, Januari - April 2026
245
2024). Sistem drainase berfungsi untuk
bahwa ketidaksesuaian antara kapasitas
mengalirkan, membuang, atau mengurangi
saluran drainase dan debit limpasan
kelebihan air dari suatu kawasan sehingga
merupakan salah satu penyebab utama
lahan dapat dimanfaatkan secara optimal
terjadinya
(Sari et al., 2025). Sistem drainase yang
permukiman. Selain itu, Abrianto et al.
baik sangat diperlukan terutama pada
(2022) juga menyatakan bahwa evaluasi
kawasan
tingkat
kapasitas saluran drainase diperlukan
kepadatan penduduk yang tinggi, karena
untuk mengetahui kemampuan saluran
mampu menjaga kondisi lingkungan agar
dalam
tetap sehat serta mencegah terjadinya
sehingga dapat meminimalkan potensi
genangan atau banjir.
banjir. Penelitian lain juga menunjukkan
perkotaan
Konsep
dengan
drainase
genangan
menampung
pada
debit
kawasan
air
hujan
konvensional
bahwa peningkatan intensitas curah hujan
merupakan upaya untuk membuang atau
serta perubahan penggunaan lahan dapat
mengalirkan
secepat
meningkatkan debit limpasan permukaan
mungkin menuju saluran terdekat hingga
yang harus ditampung oleh sistem drainase
akhirnya dialirkan ke badan air penerima.
(Affandy & Andhika, 2025; Zhou et al.,
Namun dalam perkembangannya, sistem
2019).
kelebihan
air
drainase
konvensional
sering
Permasalahan serupa juga terjadi di
menimbulkan
berbagai
permasalahan
Jalan Belimbing, Kecamatan Wara, Kota
lingkungan apabila tidak direncanakan
Palopo. Pada kawasan tersebut sering
dengan baik, seperti meningkatnya potensi
terjadi genangan air ketika hujan dengan
banjir di wilayah hilir, berkurangnya
intensitas
daerah resapan air, serta menurunnya
observasi lapangan dan informasi dari
kualitas lingkungan akibat perubahan tata
masyarakat setempat, kondisi tersebut
guna lahan (Nugraha et al., 2025).
diduga disebabkan oleh beberapa faktor,
Beberapa
penelitian
sebelumnya
tinggi.
Berdasarkan
hasil
seperti berkurangnya daerah resapan air,
menunjukkan bahwa kapasitas saluran
pertumbuhan
penduduk
yang
drainase yang tidak sesuai dengan debit
pembangunan permukiman yang kurang
limpasan permukaan dapat menyebabkan
memperhatikan
terjadinya genangan air pada kawasan
lingkungan, serta adanya sedimentasi dan
perkotaan. Magrib & Tiwery (2023) dan
penumpukan
Mohammad et al. (2023) menjelaskan
drainase yang menghambat aliran air.
sistem
sampah
pada
tinggi,
drainase
saluran
Jurnal Ilmiah Ecosystem Volume 26 Nomor 1, Hal. 244-251, Januari - April 2026
246
Selain itu, sistem drainase yang tidak
menggunakan metode distribusi Gumbel
terintegrasi
dan Log Pearson Tipe III. Selanjutnya
dengan
baik
juga
menyebabkan aliran air terkonsentrasi
dilakukan
pada
menggunakan
daerah
tertentu
sehingga
meningkatkan potensi genangan.
uji
distribusi
Chi-Square
dan
distribusi yang paling sesuai.
diperlukan analisis terhadap kapasitas
eksisting
Setelah
curah
hujan
rencana
serta
diperoleh, dilakukan analisis intensitas
perhitungan debit limpasan permukaan
hujan dan perhitungan debit banjir rencana
yang terjadi pada kawasan tersebut. Oleh
menggunakan
karena itu, penelitian ini dilakukan untuk
Selanjutnya dilakukan analisis kapasitas
menganalisis kapasitas saluran drainase
saluran
dan debit limpasan permukaan di Jalan
dibandingkan dengan debit banjir rencana
Belimbing,
untuk mengetahui kemampuan saluran
Palopo,
drainase
kesesuaian
Smirnov-Kolmogorov untuk menentukan
Berdasarkan permasalahan tersebut,
saluran
uji
Kecamatan
sehingga
Wara,
dapat
Kota
diketahui
kemampuan
saluran
drainase
dalam
menampung
debit
air
serta
hujan
memberikan rekomendasi perencanaan
drainase yang lebih efektif
B.
metode
drainase
rasional.
eksisting
dan
dalam menampung limpasan air hujan
C.
HASIL DAN PEMBAHASAN
1.
Analisis Curah Hujan Rencana
Analisa curah hujan rencana adalah
analisa curah hujan untuk mendapatkan
METODE PENELITIAN
tinggi curah hujan tahunan tahun ke n yang
Penelitian ini menggunakan metode
mana akan digunakan untuk mencari debit
kuantitatif dengan pendekatan analisis
banjir rancangan. Jika di dalam suatu area
hidrologi dan hidraulika. Data yang
terdapat beberapa alat penakar atau
digunakan dalam penelitian ini terdiri dari
pencatat curah hujan, maka dapat diambil
data primer dan data sekunder. Data primer
nilai rata-rata untuk mendapatkan nilai
diperoleh melalui observasi lapangan
curah hujan hujan area.
untuk
mengetahui
kondisi
eksisting
saluran drainase, sedangkan data sekunder
berupa data curah hujan tahunan yang
diperoleh dari instansi terkait.
Analisis curah hujan dilakukan
untuk menentukan curah hujan rencana
Jurnal Ilmiah Ecosystem Volume 26 Nomor 1, Hal. 244-251, Januari - April 2026
247
Tabel 1 Curah Hujan Harian Maksimum
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
Tahun
2015
2016
2017
2018
2019
2020
2021
2022
2023
2024
jumlah
N
=
RATA RATA =
Xi
34,45
31,83
40,55
50,33
39,67
62,92
70,67
58,00
44,08
36,42
468,92
10
46,89
Xi-X
-12,44
-15,06
-6,35
50,33
-7,23
16,03
23,78
11,11
-2,81
-10,48
46,89
(Xi-X)²
154,68
226,75
40,27
2533,44
52,20
256,80
565,25
123,40
7,89
109,73
4070,414
(Xi-X)³
-1923,80
-3414,53
-255,59
127517
-377,15
4115,23
13438,83
1370,71
-22,15
-1149,38
139298,89
(Xi-X)⁴
23926,52
51417,11
1622,03
6418340,8
2724,91
65946,56
319508,27
15226,34
62,20
12039,71
6910814,39
Sumber Data: Hasil Penelitian, 2025
2.
Analisis Debit Banjir Rencana
Pengaliran (C), dikarenakan daerah di
Pada
Lokasi
drainase
kawasan
Lokasi
Penelitian
adalah
Perhitungan
Daerah
Penelitian, digunakan koefisien pengaliran
Perkotaan.
debit
banjir
sebesar 0,95 sesuai pada tabel 2. Koefisien
rencana dengan periode ulang 2 tahun.
Tabel 2 Hasil Perhitungan Debit Banjir Rencana Pada Titik ke-2
periode (tahun)
L (M)
C
I (mm/jam)
A (Ha)
Q (m/det)
2
990
0,95
17,73
6,25
0,29
5
990
0,95
27,91
6,25
0,46
10
990
0,95
34,67
6,25
0,57
Sumber Data: Hasil Penelitian, 2025
3.
Analisis Kapasitas Eksisting Saluran Drainase
Tabel 3 Kondisi Eksisting Saluran Sekunder Drainase Pada Jalan Belimbing
saluran sekunder
STA
Kiri
STA
Ukuran Saluran
b (m)
m
H (m)
L (m)
0 + 000
0,30
0,5
0,40
100
0 + 100
0,30
0,5
0,42
100
0 + 200
0,31
0,5
0,40
100
0 + 300
0,30
0,51
0,41
100
0 + 400
0,32
0,5
0,40
100
0 + 500
0,32
0,5
0,42
100
0 + 600
0,30
0,51
0,41
100
0 + 700
0,31
0,52
0,41
100
0 + 800
0,32
0,52
0,42
100
0 + 900
0,30
0,5
0,40
150
Q
saluran
Q rencana (m3/det)
Kondisi Eksisting Saluran
Batu Pecah Disemen
Ket
Jurnal Ilmiah Ecosystem Volume 26 Nomor 1, Hal. 244-251, Januari - April 2026
248
Dimensi eksisting
(m3/det)
saluran
sekunder
Kiri
eksistin
g
(m3/det)
b
m
H
0+000
0,30
0,50
0,40
0,23
0+100
0,30
0,50
0,42
0,23
0+200
0,31
0,50
0,40
0,23
0+300
0,30
0,51
0,41
0,22
0+400
0,32
0,50
0,40
0,24
0+500
0,32
0,50
0,42
0,24
0+600
0,30
0,51
0,41
0,22
0+700
0,31
0,52
0,41
0,23
0+800
0,32
0,52
0,42
0,24
0+900
0,30
0,50
0,40
0,23
2
tahu
n
5
tahu
n
10
tahun
0,29
0,46
0,57
tidak aman untuk 2,5
dan 10 tahun
Sumber Data: Hasil Penelitian, 2025
Dari hasil perhitungan Q saluran
Curah
hujan
yang
tinggi
dapat
eksisting dengan perhitungan Q rencana,
menyebabkan limpasan yang yang besar,
Saluran sekunder drainase: periode 2 tahun
sementara kemiringan tanah yang curam
sebesar Q = 0,29 m³/det, 5 tahun sebesar Q
dapat memcepat aliran. Jenis tanah juga
= 0,46m³/det dan 10 tahun sebesar Q =
berperan penting, karena tanah yang tidak
0,57 m³/det. diketahui bahwa kondisi
dapat menyerap air dengan baik dapat
kapasitas saluran drainase sudah tidak
meningkatkan
mampu lagi menampung besarnya debit
kepadatan
penduduk
banjir sehingga diperlukan perencanaan
terbangun
juga
ulang agar dapat menampung debit banjir.
limpasan drainase, karena permukaan yang
Faktor-faktor yang mempengaruhi
keras dan tidak dapat menyerap air dapat
terjadinya limpasan di akibatkan oleh
limpasaan.
dapat
dan
Selain
itu,
luas
area
mempengaruhi
meningkatkan aliran air dipermukaan.
beberapa faktor seperti pegaruh intensitas
Tabel 4. Hasil Perhitungan Kapasitas
curah hujan dan durasi hujan yang tinggi
Saluran Drainase Sebelah Kiri
dapat meningkatkan limpasan, terutama
Posisi
Kapasitas
itu
STA 0+000
0,23 m3 /det
Penumpukan sampah dan polusi dapat
STA 0+100
0,23 m3 /det
STA 0+200
0,23 m3 /det
STA 0+300
0,22 m3 /det
STA 0+400
0,24m3 /det
jika
tanah
sudah
jenuh.
selain
menyumbat saluran drainase, sehingga
menyebabkan limpasan yang tidak teratur.
Jurnal Ilmiah Ecosystem Volume 26 Nomor 1, Hal. 244-251, Januari - April 2026
249
STA 0+500
0,24 m3 /det
STA 0+600
0,24 m3 /det
STA 0+700
0,22 m3 /det
STA 0+800
0,24 m3 /det
STA 0+900
0,23 m3 /det
terhadap meningkatnya debit limpasan
yang
kapasitas saluran drainase eksisting (0,22–
0,24 m³/det) lebih kecil dibandingkan debit
banjir rencana hingga periode ulang 10
tahun (0,57 m³/det), yang mengindikasikan
bahwa sistem drainase tidak mampu
menampung limpasan air hujan secara
optimal. Kondisi ini menunjukkan adanya
kapasitas
hidraulik saluran dan beban limpasan yang
dihasilkan
akibat
curah
hujan
dan
karakteristik daerah tangkapan. Temuan
ini
sejalan
dengan
penelitian
oleh
Patskoski et al. (2015) yang menyatakan
bahwa
kegagalan
sistem
drainase
perkotaan umumnya disebabkan oleh
ketidaksesuaian antara kapasitas saluran
dan
peningkatan
limpasan
oleh
Selain itu, rendahnya
Hasil analisis menunjukkan bahwa
antara
ditampung
sistem
drainase.
Sumber Data: Hasil Penelitian, 2025
ketidakseimbangan
harus
akibat
urbanisasi. Selain itu, studi oleh Kindt
(2018) dalam konsep hidrologi terapan
menunjukkan bahwa metode rasional yang
digunakan dalam penelitian ini merupakan
pendekatan yang umum dan efektif untuk
menghitung debit puncak pada daerah
perkotaan dengan luas tangkapan relatif
kecil. Penelitian lain juga menunjukkan
bahwa peningkatan intensitas hujan akibat
kapasitas
saluran juga dipengaruhi oleh faktor nonhidrologis
seperti
penyempitan
dimensi
sedimentasi,
saluran,
serta
penumpukan sampah yang menghambat
aliran air. Hal ini sesuai dengan penelitian
oleh Mori et al. (2018) yang menyatakan
bahwa performa sistem drainase perkotaan
tidak hanya dipengaruhi oleh desain awal,
tetapi juga oleh faktor operasional dan
pemeliharaan.
Ketidakefisienan
sistem
drainase sering kali disebabkan oleh
degradasi kapasitas saluran akibat endapan
sedimen
dan
limbah
padat
yang
mengurangi luas penampang efektif aliran.
Penelitian lain juga menunjukkan bahwa
perubahan tata guna lahan, terutama
peningkatan
area
meningkatkan
sehingga
terbangun,
koefisien
memperbesar
debit
dapat
limpasan
puncak
(Rizkyandi et al., 2015; Suyanto &
Maulidiyah, 2023).
Kondisi ini relevan dengan lokasi
penelitian
yang
merupakan
kawasan
perkotaan dengan koefisien limpasan
tinggi (C = 0,95), sehingga sebagian besar
air hujan langsung menjadi limpasan
permukaan tanpa infiltrasi yang signifikan.
perubahan iklim berkontribusi signifikan
Jurnal Ilmiah Ecosystem Volume 26 Nomor 1, Hal. 244-251, Januari - April 2026
250
Dengan demikian, hasil penelitian
periode ulang 10 tahun sebesar 0,57
ini menegaskan bahwa perencanaan ulang
m³/det. Sementara itu, kapasitas saluran
sistem drainase sangat diperlukan, baik
drainase eksisting pada saluran sekunder
melalui
peningkatan
dimensi
saluran
kiri berkisar antara 0,22–0,24 m³/det dan
maupun
penerapan
konsep
drainase
pada saluran sekunder kanan berkisar
berkelanjutan seperti sustainable urban
drainage systems (SUDS). Pendekatan ini
terbukti
mampu
mengurangi
antara 0,26–0,28 m³/det.
Hasil tersebut menunjukkan bahwa
debit
kapasitas saluran drainase eksisting tidak
limpasan melalui peningkatan infiltrasi
mampu menampung debit banjir rencana
dan retensi air hujan di sumbernya.
yang terjadi. Oleh karena itu, diperlukan
Menurut penelitian oleh Li et al. (2017)
perencanaan ulang sistem saluran drainase
penerapan sistem drainase berkelanjutan
agar mampu menampung debit limpasan
dapat meningkatkan kapasitas sistem
air hujan secara optimal sehingga dapat
secara
keseluruhan
sepenuhnya
bergantung
tanpa
harus
mengurangi potensi genangan air di
pada
saluran
kawasan Jalan Belimbing Kecamatan
konvensional. Selain itu, integrasi antara
Wara Kota Palopo.
analisis hidrologi dan hidraulika seperti
DAFTAR PUSTAKA
yang dilakukan dalam penelitian ini
merupakan
langkah
penting
dalam
memastikan bahwa desain drainase yang
dihasilkan
tidak
kapasitas
teknis,
hanya
tetapi
memenuhi
juga adaptif
terhadap perubahan lingkungan di masa
depan.
D.
KESIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan hasil analisis kapasitas
saluran drainase dan debit banjir rencana
pada saluran sekunder Jalan Belimbing
Kecamatan Wara Kota Palopo, diperoleh
bahwa debit banjir rencana pada periode
ulang 2 tahun sebesar 0,29 m³/det, periode
ulang 5 tahun sebesar 0,46 m³/det, dan
Abrianto, R. H., Universitas Trunojoyo
Madura, Subari, S., Universitas
Trunojoyo Madura, Farid, A., &
Universitas Trunojoyo Madura. (2022).
Strategi Pengelolaan Sistem Drainase
Perumahan Soka Park Kabupaten
Bangkalan
Sebagai
Upaya
Pengendalian
Banjir.
Jurnal
Sumberdaya Alam Dan Lingkungan,
9(2), 46–57.
https://doi.org/10.21776/ub.jsal.2022.009.02.
2
Affandy, N. A., & Andhika, Y. E. (2025).
Evaluasi Efektivitas Drainase Jalan
Kusuma Bangsa dalam Mengatasi
Intensitas Banjir Tahunan dan Strategi
Mitigasi Genangan Air di Kabupaten
Lamongan. Journal of Applied Civil
Engineering
and
Infrastructure
Technology,
7(2),
88–94.
https://doi.org/10.52158/jaceit.v7i2.107
7
Kindt, R. (2018). Ensemble species
distribution modelling with transformed
Jurnal Ilmiah Ecosystem Volume 26 Nomor 1, Hal. 244-251, Januari - April 2026
251
suitability
values.
Environmental
Modelling & Software, 100, 136–145.
https://doi.org/10.1016/j.envsoft.2017.1
1.009
Lakawa, I., Hujiyanto, H., Sufrianto, S., Ilham,
V. A., Makkawaru, A., Saputra, K. A.,
& Setiawan, A. K. (2025). Peningkatan
Kapasitas
Masyarakat
Dalam
Perencanaan Infrastruktur Sederhana di
Kelurahan Benu-Benua Kota Kendari.
Sultra Jurnal Pengabdian Masyarakat,
1(2), 89–96.
https://doi.org/10.54297/sjpm.v1i2.877
Li, W., Lei, L., Yun, Z., & Jiangtao, F. (2017).
Fabrication of titanium carburizing
electrodes for capacitive deionization.
Water Science and Technology, 76(4),
754–760.
https://doi.org/10.2166/wst.2017.210
Magrib, N. I. D., & Tiwery, C. J. (2023).
Perencanaan Saluran Drainase sebagai
Upaya Penanggulangan Banjir. ARIKA,
17(1), 11–22.
https://doi.org/10.30598/arika.2023.17.1.11
Mohammad, R. F., Ferryati Masitoh, & Didik
Taryana. (2023). Evaluasi Kapasitas
Saluran Drainase untuk Pengendalian
Limpasan Permukaan (Studi Kasus: Sisi
Selatan Desa Kaliwungu). Media
Komunikasi Geografi, 24(2), 232–248.
https://doi.org/10.23887/mkg.v24i2.67
044
Mori, J., Fini, A., Galimberti, M., Ginepro, M.,
Burchi, G., Massa, D., & Ferrini, F.
(2018). Air pollution deposition on a
roadside vegetation barrier in a
Mediterranean environment: Combined
effect of evergreen shrub species and
planting density. Science of The Total
Environment,
643,
725–737.
https://doi.org/10.1016/j.scitotenv.2018
.06.217
Nugraha, B. R. A., Suryaningrum, I., Amanda,
P., Agfanisa, R., Ardeny, A. N. F.,
Pratama, L. S., Haris, A., Fariz, T. R.,
Jabbar, A., Kholil, P. A., & Faizah, N.
(2025). Perubahan Tata Guna Lahan
Terhadap Daya Dukung Fungsi Lindung
Daerah Aliran Sungai (Das) Babon di
Semarang Dan Sekitarnya. Jurnal
Riptek, 19(1), 77–86.
https://doi.org/10.35475/riptek.v19i1.305
Patskoski, J., Sankarasubramanian, A., &
Wang, H. (2015). Reconstructed
streamflow using SST and tree-ring
chronologies over the southeastern
United States. Journal of Hydrology,
527,
761–775.
https://doi.org/10.1016/j.jhydrol.2015.0
5.041
Putri Wulandari, A. & Andriyus. (2024).
Evaluasi Pelaksanaan Tugas Dinas
Pekerjaan Umum Dan Penataan Ruang
Kota Pekanbaru Dalam Pemeliharaan
Saluran Drainase Di Pekanbaru. Jurnal
Mahasiswa Pemerintahan, 378–389.
https://doi.org/10.25299/jmp..18035
Rizkyandi, I., Sarwono, B., & Savitri, Y. R.
(2015). Perencanaan Sistem Drainase
Di Daerah Aliran Sungai (Das) Kali
Dapur / Otik Sehubungan Dengan
Perkembangan Kota Lamongan. Jurnal
Hidroteknik,
1(2),
43.
https://doi.org/10.12962/jh.v1i2.1664
Sari, H., Muttaqin, Z., & Aulia, R. (2025).
Analisis Sistem Drainase Desa di
Kabupaten Aceh Utara. MARAS :
Jurnal Penelitian Multidisiplin, 3(3),
1181–1187.
https://doi.org/10.60126/maras.v3i3.12
21
Suyanto, S., & Maulidiyah, A. (2023). Analisis
Kapasitas Saluran Drainase Calung
Dalam Penanganan Banjir Di Kota
Pasuruan. Composite: Journal of Civil
Engineering,
2(2),
44–55.
https://doi.org/10.26905/jtsc.v2i2.1092
5
Zhou, Q., Leng, G., Su, J., & Ren, Y. (2019).
Comparison of urbanization and climate
change impacts on urban flood volumes:
Importance of urban planning and
drainage adaptation. Science of The
Total Environment, 658, 24–33.
https://doi.org/10.1016/j.scitotenv.2018
.12.184
Jurnal Ilmiah Ecosystem Volume 26 Nomor 1, Hal. 244-251, Januari - April 2026
Download